kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Pemlapasan Pura di Jerman Sedot Perhatian Warga

Posted by Adnyana under Pura di Eropa on May 13, 2012 @ 3:43 am

Prosesi pemlapasan atau penyucian pura Tri Hita Karana di Garten der Welt (Taman Dunia) Marzan, Berlin, menyedot perhatian seribuan warga setempat. Pemplapasan rumah suci ini dipimpin langsung oleh pendeta dari Bali.

Seluruh rangkaian prosesi ini terealisasi berkat kerja keras wadah masyarakat Bali di Berlin dan sekitarnya, Nyama Braya Bali, yang didukung sepenuhnya oleh KBRI Berlin, demikian Sekretaris III- Penerangan, Sosial dan Budaya Purno Widodo dalam keterangan pers kepada detikcom (7/5/2012).

Dinginnya udara Berlin yang hanya sekitar 12C saja ternyata tak menyurutkan minat warga Jerman untuk menyaksikan prosesi penyucian, yang dimeriahkan dengan drama tari Calon Arang dan berbagai tarian Bali lainnya oleh mahasiswa dari Universitas Hindu Indonesia.

Dalam cuaca mendung tersebut tak kurang dari seribuan orang berdesakan ingin melihat dari posisi terdepan bagaimana cerita terjalin dalam dialog dan gerakan tari memikat diiringi gamelan Bali yang dinamis nan mistis itu, Sabtu (5/5/2012).

Jadilah taman seluas 30 hektar Garten der Welt ini tenggelam dalam nuansa serba Bali, ditingkah dentang lonceng magis Bali dan aroma mistis spiritual dari dupa menggelayut di atmosfir taman tersebut. Warna-warni busana tradisional Bali juga menambah semarak jalannya prosesi.

Manager Garten der Welt Beate Reuber menyatakan kegembiraan luar biasa dengan penyelenggaraan prosesi pemlapasan dan drama tari Calon Arang, yang merupakan bagian dari Balinese Temple Fest dalam rangka merayakan ulang tahun ke-25 taman tersebut.

“Hari ini Nyama Braya Bali telah berhasil menarik warga Jerman untuk melihat dan mempelajari lebih terperinci berbagai wawasan berharga tentang Bali. Ini pengalaman luar biasa, tidak saja bagi saya tetapi juga masyarakat Jerman pengunjung taman ini,” ujar Reuber.

Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman dalam sambutan yang dibacakan oleh Kuasa Usaha ad Interim (KUAI) Diah Rubianto menyambut baik acara yang juga bagian dari diplomasi untuk memperkokoh pondasi persahabatan masyarakat Indonesia-Jerman yang berbeda latar belakang budaya.

Menurut Dubes, tepat 60 tahun lalu Indonesia-Jerman resmi mengikat diri dalam hubungan diplomatik dan membangun jembatan untuk mempromosikan saling pengertian dan mengembangkan semangat kerjasama.

“Dan kini saya merasa sangat gembira bahwa langkah tersebut membuahkan hasil dengan dilangsungkannya acara budaya seperti yang disaksikan hari ini, demikian Dubes.

Sejalan dengan Reuber, Dubes juga menyampaikan bahwa prosesi penyucian pura di taman Garten der Welt tersebut telah membuka dimensi baru mengenai budaya Bali dan keberadaan budaya Indonesia di Jerman.

“Suatu penghormatan tak terhingga, bukan saja untuk masyarakat Bali di Jerman, tetapi Indonesia secara keseluruhan mengingat hal ini merupakan manifestasi dari keragaman agama dan budaya Indonesia, yang telah menjadi aset Indonesia paling bernilai,” pungkas Dubes.

Dua tahun lamanya acara ini dipersiapkan, terutama mencari tempat untuk prosesi ritual agama Hindu yang dipandang layak di Berlin, sebelum akhirnya kesepakatan dicapai dengan pengelola taman Garten der Welt.

Dengan bantuan Kementerian Agama RI dan Pemerintah Daerah Bali, selanjutnya didatangkan seorang pendeta dari Bali untuk memimpin prosesi penyucian, 61 mahasiswa Universitas Hindu Indonesia, termasuk juga berbagai material bangunan pura dari batu, yang biasa disebut Padmasana.

Sebelumnya berbagai tarian Bali seperti tari Kebyar Duduk, Jauk Manis hingga Legong Keraton juga mendapat sambutan meriah dari pengunjung. Tarian sama dua hari sebelumnya juga sukses dipentaskan di Museum Etnologi Berlin.

Sementara itu pura Tri Hita Karana di dalam Garten der Welt sesuai kesepakatan kedua belah pihak kini diperluas fungsinya sebagai tempat peribadatan masyarakat Bali di Jerman, selain juga untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia.

http://news.detik.com/read/2012/05/09/011623/1912567/10/pemlapasan-pura-di-jerman-sedot-perhatian-warga?9922022

Festival ogoh ogoh terbesar digelar di Belgia

Posted by Adnyana under Pura di Eropa on @ 3:41 am

Festival Ogoh-Ogoh untuk kedua kalinya digelar KBRI Brusel bekerjsama dengan Dirjen Bimas Hindu, Kementerian Agama RI dan Universitas Hindu Indonesia di Pura Agung Santi Bhuana, Kingdom of Ganesa, Taman Indonesia yang berada di kawasan wisata Pairi Daiza, Brugelette, Belgia, Minggu siang.

Sekitar 300 umat Hindu Bali di Eropa beserta keluarganya turut berpartisipasi dengan penuh semangat dalam prosesi ogoh-ogoh di Parc Pairi Daiza, sekitar 90 km selatan kota Brussel yang berlangsung dengan meriah dan disaksikan oleh pengunjung taman wisata Pairi Daiza.

Acara ini dihadiri Dutabesar RI untuk Belgia dan Luxemburg dan Uni Eropa Arif Havas Oegroseno, dan CEO Pairi Daiza, Eric Domb yang juga Konsul Jenderal Kehormatan RI untuk Wilayah Walonia Belgia, serta Kriss Bosaert, Konsul Kehormatan RI wilayah Flanderen dan Wakil Rektor Universitas Hindu Indonesia Drs I Wayan Winaja.

Tiga pecalang termasuk satu pecalang bule Didier dari Belgia ikut menjaga lancarnya pelaksanaan festival ogoh ogoh yang dihadiri tidak saja umat Hindu Bali yang ada di Belgia dan warga Indonesia di Eropa tetapi juga wisatawan yang datang berwisata di Taman wisata Pairi Daiza.

Festival ogoh-ogoh diawali dengan sembahyang bersama umat Hindu di Belgia serta di Eropa yang datang dari Belanda, Jeman, Perancis, Luksemburg dan Spanyol dipimpin Made Agus Wardana, ketua banjar Santi Dharma komunitas masyarakat Hindu Bali di Belgia.

Dalam upacara sembahyang di Pura yang terbesar di luar Indonesia itu Made Agus Wardana menyampaikan ritual keagamaan seperti Kidung Wargasari, nyanyian pemujaan yang dinyanyikan bersama sama dilanjutkan dengan Tri Sandya dan Panca Sembah, berlangsung secara hikmah dalam cuaca musim semi Eropa dibawah 10 derajat celsius.

Selain itu juga dipersembahkan Banten Sari yang dibuat oleh wanita Hindu Bali di Belgia dengan mengunakan prasarana yang sederhana, sesajian dan gebokan berupa buah-buahan, bunga dan buah ditumpuk indah yang sering dilihat dalam upacara di Bali.

Usai upacara sembahyangan acara dilanjutkan dengan makan siang bersama dengan sajian makanan khas Bali berupa, lawar berupa daging cincang dicampur bumbu lengkap, pecing berupa sayur kangkung dan bemesisit dan babi kecap serta sambel mata yang membuat rasa rindu umat Hindu Bali di Eropa terobati.

Acara dilanjutkan dengan pertunjukkan kesenian berupa tari tarian Bali , Tari Gabor yaitu tari Selamat datang, Baris Tunggal, Legong Kuntul, Barong dance lengkap dengan kera yang cenaka membuat penonton tergelitik dan dilanjutkan dengan tari kecak Sunda Upasunda yang berhasil menghipnotis para penonton dengan irama cak cak kecak nya.

Tari Kecak Sunda Upasunda dengan koreografer I Ketut Gede Rudita SSn dibawakan mahasiswa dan mahasiswi UNHI yang membuat penonton terpesona dan kagum dengan gerakan dan irama yang dinamis itu menceritakan kisah dua raksasa kakak beradik yang ingin menguasai dunia dan mengalahkan para dewa dengan cara bertapa untuk mendapatkan kekuatan , sayangnya ada bidadari yang mengoda mereka.

Akhirnya kedua nya berperang untuk memperebutkan bidadari dan dalam pertarungan tersebut tidak ada yang kalah dan menang yang secara simbolis digambarkan sebagai dua tokoh raksasa yang berwujud ranga berbulu putih dan merah yang bermakna pada introspeksi diri.

Selain itu juga ditampilkan grup gamelan Vikasati yang dibawakan oleh anak anak KBRI Brusel dan masyarakat Indonesia di Belgia yang memainkan lagu instrumental.

Sebelumnya ditampilkan gamelan instrumental yang memainkan tabu Jayasemara buah karya I Wayan Brata.

Acara puncak festival ogoh ogoh diawali dengan parade anak anak penari cilik dan ibu ibu yang membawa gebokan yang menyusuri persawahan yang mengambarkan suasana di Bali.

Ogoh-ogoh berupa DetyaNiwata Kawaca dan Arunja, diarak oleh mahasiswa Universitas Hindu Indonesia, Denpasar sedangkan ogoh ogoh Dewi Saraswati khusus diarak oleh mahasiswi.

Sementara ogoh-ogoh Anoman yang dibuat oleh mahasiswa Universitas Hindu Indonesia Denpasar semester empat fakultas pendidikan agama dan seni itu diarak oleh masyarakat Hindu Bali Belanda yang tergabung dalam banjar suka duka.

Pada kesempatan itu Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Prof Dr Ide Bagus Yuda Triguna mengibahkan berupa barong dan randag untuk KBRI Brusel kepada Dutabesar RI untuk Belgia, Arif Havas Oegroseno.

Dubes Havas kepada ANTARA London mengatakan penyelenggaraan serangkaian acara festival ogoh ogoh yang diadakan di Pura Agung Shanti Bhuwana adalah dalam rangka memperomosikan budaya Indonesia utamanya Bali sebagai daya tarik wisata ke Indonesia.

Apalagi Pura Agung Santi Bhuana, berada di taman wisata Pairi Daiza, banyak dikunjungi oleh wisatawan tidak saja yang datang dari Belgia tetapi negara Eropa lainnya, ujar Dubes.

Selain itu KBRI brusel berupaya memfasilitasi umat Hindu Bali di Belgia dan di Eropa agar dapat melaksanakan kegiatan keagamaan sebagai wujud dari tolerasi keberagamaan di Indonesia. Serta memberikan jiwa kehidupan pada bangunan Pura Hindu Bali di tengah-tengah peradaban Eropa dan sekaligus memperkenalkan keragaman tradisi Indonesia yang sangat kaya dengan makna luhur.

Menurut Dubes, festival ogoh-ogoh ini juga untuk menunjukkan budaya toleransi dan gotong-royong yang merupakan kekuatan khas bangsa Indonesia.

Dubes Havas juga menyampaikan penghargaan dan berterima kasih kepada Eric Domb, pemilik Parc Pairi Daiza yang telah mendukung penuh penyelenggaraan festival Ogoh-ogoh di taman budaya seluas 55 hektar yang setiap tahun dikunjungi sekitar sejuta turis dari seluruh Eropa.

Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Prof Dr Ide Bagus Yuda Triguna mengatakan bahwa festival ogoh ogoh yang diadakan di Belgia merupakan yang terbesar di luar Indonesia dalam upaya melestarikan budaya kebudayaan hindu Bali di Eropa.

Dikatakannya kunjungannya di Belgia dalam rangka membawa misi Art Mission& Interfaith Dialogue Europa yang didukung oleh Dirjen Bimas Hindu, Kementerian agama RI dan Universitas Hindu Indonesia sekaligus meresmikan Pura Marzahn di Berlin. Sebelumnya digelar serangkaian pertunjukkan yang dimulai dari Frankfurt, Berlin, Brusel dan dilanjutkan ke Leiden, Belanda.

Sementara itu secara terpisah Eric Domb kepada ANTARA London mengakui bahwa ia sangat terkesima dengan festival ogoh ogoh. “Its Wonderfull,” ujar Eric yang sangat mencintai budaya Indonesia . Untuk itu dalam mengisi tamannya dengan sejumlah kekayaan aristektur Indonesia seperti Pura yang banyak ditemui di Bali, bangunan rumah Toraja serta persawahan dan saung, berupa rumah rumahan tanpa dinding.

Eric mengakui untuk mewujudkan arsitektur Indonesia di taman itu ia mengimpor 350 kontainer batu seberat 8000 ton dari gunung Merapi dan Gunung Agung serta puluhan arsitek tradisional dan artisan dari Magelang dan Bali untuk membangun pura yang terbesar di luar Indonesia.

“Pura ini saya persembahkan untuk masyarakat Indonesia,” ujar Eric Domb yang pertama kali berkunjung ke Bali di saat ia berusia 17 tahun dan berencana juga akan membangun tempat peribadatan agama lainnya di Taman yang juga terdapat berbagai macam binatang seperti Flaminggo dan juga Gajah dari Indonesia.

“Indonesia merupakan negara yang sangat beragam dan sangat saya cintai,” ujar Eric Domb menambahkan bahwa festival ogoh ogoh merupakan acara yang sangat menarik dan penuh dengan makna itu juga berhasil menarik wisatawan yang datang ke taman wisata yang berada di bekas tempat pertapaan.

Salah satu umat Hindu Bali yang berdomisili di Jerman, Ni Nyoman Suyadni mengatakan bahwa ia terharu dengan diadakannya festival ogoh-ogoh ini. Ni Nyoman yang tinggal di Koln selama 22 tahun sangat terkesan sekaligus merasa teeobati kerinduan akan suasana Bali dan bisa melaksanakan persembahyangan dengan hikmad sesama umat Hindu se Eropa.

Kegiatan ini diharapkannya dapat menjaga identitas diri sebagai orang Bali dalam menjaga tradisi budaya yang sangat istimewa tersebut, ujar pemilik sanggar Bali Puspa yang mendidik anak anak dan juga masyarakat Jerman yang ingin belajar menari Bali dan main gamelan.

Sementara di Berlin hari Sabtu lalu , bertepatan dengan Bulan Purnama diresmikan Pura terbesar di Jerman Tri Hita Karana oleh Dirjen Bimas Hindu dan disucikan oleh Ida Pedanda Grya Tunjuk, demikian Ni Nyoman Suyadni yang juga penari Bali. (ZG)

http://www.antaranews.com/berita/309378/festival-ogoh-ogoh-terbesar-digelar-di-belgia

Pementasan drama tari ‘Calon Arang’ yang ditampilkan mahasiswa dari Universitas Hindu Indonesia berhasil memukau ribuan masyarakat Jerman di Taman Dunia atau Garten der Welt Marzan, Berlin.

Dinginnya udara Berlin yang hanya sekitar 12? C tidak menyurutkan minat warga Jerman untuk menyaksikan ‘Calon Arang’, kata Sekretaris III-Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Berlin Purno Widodo kepada ANTARA London, Selasa (7/5).

Dikatakannya dalam cuaca mendung tersebut tidak kurang dari seribu orang berdesakan ingin melihat dari posisi terdepan menyaksikan jalinan cerita dalam suatu dialog dan gerakan tari memikat diiringi gamelan Bali yang dinamis nan mistis.

Tetabuhan gamelan Bali yang memang menghentak dan terdengar seperti sensasi magis, ditambah wangi dupa dan taburan bunga-bunga sesaji menambah semarak acara Balinese Templefest yang diusung Perhimpunan Masyarakat Hindu Indonesia di Berlin.

Nyama Braya Berlin bekerjasama dengan pihak pengelola Taman Dunia Berlin serta didukung Kedutaan Besar Indonesia di Berlin serta Kementerian Agama RI yang mendatangkan 61 Mahasiswa Universitas Hindu Indonesia untuk menunjukkan keelokan dan keagungan budaya Bali kepada masyarakat Jerman.

Purno Widodo mengatakan pentas Drama Tari Calon Arang merupakan sajian pamungkas dari acara Balinese Temple Fest yang diselenggarakan di Taman tersebut.

Sebelumnya berbagai tarian Bali seperti tari Kebyar Duduk, Jauk Manis hingga Legong Keraton dipertunjukan dan mendapat sambutan meriah dari pengunjung taman. Dua hari sebelumnya berbagai tarian tersebut juga dipentaskan di Museum Etnologi Berlin

Dubes RI untuk Republik Federal Jerman dalam sambutannya yang dibacakan Kuasa Usaha ad Interim Diah Rubianto menyambut baik acara yang bukan hanya dinilai sebagai pertunjukan budaya tetapi juga merupakan bagian dari diplomasi guna memperkokoh pondasi persahabatan dua masyarakat yang berbeda latar belakang budaya tersebut.

Tepat 60 tahun yang lalu Indonesia dan Jerman secara resemi mengikat diri memasuki babak baru dalam satu hubungan diplomatik dan membangun jembatan untuk mempromosikan rasa saling pengertian dan mengembangkan semangat kerja sama, ujarnya.

“Saya merasa sangat senang bahwa berbagai upaya tersebut membuahkan hasil dengan dilangsungkannya acara budaya seperti yang disaksikan hari ini,” kata Dubes Pratomo.

Penyucian Pura Bali

Acara pentas Drama Tari Calon Arang tersebut merupakan bagian dari acara Balinese Temple Fest di Berlin dimana acara terpentingnya adalah berupa ritual keagamaan penyucian atau pemlapasan Pura Hindu Tri Hita Karana yang terletak di Taman Garten der Welt tersebut.

Taman seluas 30 hektar tersebut tahun ini merayakan ulang tahun yang ke-25 dengan salah satu acara perayaannya adalah dengan menyelenggarakan Pesta Adat Bali.

Salah satu bagian taman tersebut terdapat Taman Bali yang kini difungsikan sebagai tempat peribadatan Masyarakat Bali yang berada di Jerman.

Masyarakat Bali di Berlin dan sekitarnya yang tergabung dalam wadah Nyama Braya Bali kini telah mengalami sensasi upacara di pura yang nyata. Suara eksotis lonceng Bali dan dupa memenuhi taman tersebut.

Warna-warni busana tradisional warga Bali menyemarakkan upacara yang disaksikan oleh warga Jerman yang menyemut untuk melihat bagaimana ritual Bali yang sesungguhnya.

Manager Taman Garten der Welt, Beate Reuber menyatakan kegembiraan yang luar biasa dengan penyelenggaraan acara pemlapasan tersebut.

“Hari ini Nyama Braya Bali berhasil menarik pengunjung yang sebagian besar merupakan warga Jerman untuk melihat dan mempelajari secara lebih terperinci berbagai wawasan berharga tentang Bali.

Hal ini tentunya merupakan pengalaman yang luar biasa, tidak saja bagi saya secara pribadi tetapi juga bagi masyarakat Jerman Pengunjung taman ini, ujar Mrs. Reuber.

Sejalan dengan pernyataan sang Manager Taman, Duta Besar RI menyatakan Penyucian Pura yang terletak di Taman tersebut membuka suatu dimensi baru mengenai Budaya Bali dan keberadaan Budaya Indonesia di Jerman.

Hal ini menghadirkan suatu penghormatan yang tidak terhingga, bukan saja untuk masyarakat Bali di Jerman, tetapi bagi Indonesia secara keseluruhan mengingat hal ini merupakan manifestasi dari keragaman agama dan budaya Indonesia, hal mana juga telah menjadi aset Indonesia yang paling bernilai.

Menurut Purno Widodo, keseluruhan rangkaian acara tersebut merupakan kerja keras dari Keluarga Besar Bali di Jerman (Nyama Braya Bali) yang didukung sepenuhnya KBRI Berlin. Dua tahun lamanya acara ini dipersiapkan, karena desakan kebutuhan akan tempat upacara Hindu yang dipandang layak di Berlin, ujar Purno Widodo.

Setelah melakukan pendekatan dengan pengelola taman dimana terdapat miniatur taman Bali disana maka kedua belah pihak sepakat untuk memperluas fungsi Taman Bali yang bernama Tri Hita Karana tersebut seperti Pura yang ada di Bali, selain juga untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia.

Guna keperluan tersebut, dengan bantuan Kementerian Agama dan juga Pemerintah Daerah Bali maka didatangkanlah langsung dari Bali berbagai atribut bangunan dari Batu yang biasa disebut Padmasana.

Penyucian Pura ini dipimpin langsung oleh Pendeta yang juga didatangkan langsung dari Bali. Kini masyarakat Bali di Jerman telah memiliki tempat ibadah yang indah yang dapat juga dinikmati oleh pengunjung taman Garten der Welt.

http://www.republika.co.id/berita/senggang/seni-budaya/12/05/08/m3okpl-pementasan-calon-arang-pukau-ribuan-masyarakat-jerman

Makna Tatwa Upacara Atma Wedana

Posted by Adnyana under Tatwa Hindu on April 25, 2012 @ 7:41 am

Awananta Atma dateng ring Acintya Pada, mangkana pemekas Mpungku Sang Dewa Pitara. (Kutipan Lontar Pitra Puja).

Maksudnya : Karena itu Sang Hyang Atma sampai pada alam yang tak terpikirkan (Acintya Pada). Oleh karena itu beliau disebut Dewa Pitara.

Upacara Atman Wedana adalah tergolong Pitra Yadnya yang dilakukan setelah upacara Ngaben. Tujuan upacara Atma Wedana dinyatakan dalam Lontar Pitra Puja yang dikutip di atas. Tujuan Atma Wedana dinyatakan juga dalam Lontar Ligia sebagai berikut: ”Sang Dewa Pitara mur umungsi ana ring Acintya Bhuwana”. Artinya, Beliau Dewa Pitara berangkat menuju alam yang disebut Acintya Bhuwana. Sedangkan tujuan Upacara Sradha menurut Lontar Negara Kertagama disebut: ”Mulih maring Siwa Buddha Loka”. Maksudnya, setelah upacara Sradha, Atman itu menuju alam yang disebut Siwa Buddha.

Prof. Dr. Ida Bagus Mantra dalam orasi ilmiahnya menyatakan, konsepsi dasar upacara Memukur atau Atma Wedana itu sama dengan upacara Sradha menurut Lontar Negara Kerta Gama. Karena itu candi di Jawa yang tergolong Candi Atma Pratistha bukanlah kuburan Raja tetapi tempat pemujaan Dewa Pitara Sang Raja yang diidentikkan dengan Dewa-Dewa Hindu, seperti Raja Erlangga diidentikkan dengan Dewa Wisnu.

Prof. Dr. Soekmono juga membuktikan melalui suatu penelitian bahwa dalam sumuran candi di Jawa itu tidak ditemukan abu tulang jenazah sang raja. Yang ditemukan sejenis pedagingan Pura di Bali. Orasi ilmiah itu disampaikan oleh Prof. Dr. Ida Bagus Mantra saat upacara Dies Natalis Fakultas Sastra Udayana Denpasar yang saat itu masih berada di bawah Universitas Airlangga Surabaya.

Menurut konsep Upanisad: ”Brahman Atmanaikyam” yang artinya Atman itu adalah Brahman. Maksudnya, Atman yang menjiwai manusia itu adalah tiada lain adalah Tuhan atau Brahman. Tuhan sebagai jiwa alam semesta atau Bhuwana Agung disebut Braman, sedangkan Tuhan sebagai jiwa pada diri manusia atau Bhuwana Alit disebut Atman. Kalau manusia meninggal menurut Wrehaspati Tattwa hanya Atman yang berpisah dengan badan kasarnya yang berasal dari unsur Panca Maha Bhuta. Menurut Lontar Gayatri, saat manusia meninggal Atman disebut Preta. Setelah dilangsungkan Upacara Ngaben, Atman tersebut Pitara. Setelah Upacara Atma Wedana dilangsungkan, barulah Atman disebut Dewa Pitara. Hakikat Upacara Pitra Yadnya itu adalah upacara Diksita yaitu upacara peningkatan status Atman yang berada dalam selubung Tri Sarira. Karena menurut ketentuan Atharvaveda XII.1.11, setiap umat Hindu wajib menjaga tegaknya kehidupan di Ibu Pertiwi dengan melakukan enam hal. Salah satu adalah melakukan diksa yaitu membangun kesadaran jiwa yang terang dengan Jnyana Agni atau sinar suci ilmu pengetahuan. Setelah hal itu dicapai, dilakukan upacara diksa. Kalau saat masih hidup tidak sempat, maka setelah meninggal di-diksa saat upacara Ngaben dengan upacara yang disebut Ngaskara. Menurut Wisnu Yamala, kata diksa berasal dari bahasa Sansekerta dari akar kata ”di” dan ”ksa”. ”Di” artinya divya Jnyana atau sinar ilmu pengetahuan dan ”ksa” artinya ksaya atau melenyapkan, menghilangkan. Dengan demikian ”diksa” artinya divya jnyana atau sinar suci ilmu pengetahuan yang melenyapkan kegelapan atau kebodohan.

Kalau manusia meninggal dan belum diaben maka roh atau Atman disebut Preta ditempatkan di setra, di bawah naungan Bhatara Prajapati. Saat penguburan kalau menggunakan Tirtha Pengentas Tanem boleh diaben kapan saja. Kalau tidak pakai Tirtha Pengentas Tanem wajib diaben paling lama dalam setahun. Kalau tidak demikian, Atman yang disebut Preta akan menjadi Atma Diya Diyu yang dapat mengganggu ketenteraman kehidupan masyarakat desa.

Saat upacara Ngaben melepaskan badan raga atau Stula Sarira sebagai selubung atman dan Atman yang disebut Preta meningkat statusnya menjadi Pitara. Setelah Upacara Ngaben selanjutnya dilangsungkan upacara Atma Wedana. Tujuannya, meningkatkan status Pitara menjadi Dewa Pitara.

Kelanjutan upacara Atma Wedana ini dilakukan upacara Nyegara Gunung dengan tujuan Maajar-ajar untuk mendapatkan tambahan ”ajah-ajah” atau pengetahuan dari Ida Bhatara di Gunung seperti Ida Bhatara di Besakih dan Ida Bhatara Segara seperti di Pura Goa Lawah. Setelah beberapa lama Dewa Pitara mendapatkan ajah-ajah dari Ida Bhatara di Gunung dan Bhatara di Segara seperti Ida Bhatara di Besakih dan Ida Bhatara di Goa Lawah maka selanjutnya dilakukan upacara Dewa Pitara Pratistha yang sudah tergolong upacara Dewa Yadnya karena Atman sudah disebut Dewa Pitara. Upacara inilah yang umumnya disebut Ngalinggihan Dewa Hyang atau Nuntun Dewa Hyang di Merajan Kamulan untuk menjadi Bhatara Hyang Guru dengan acuan Lontar Purwa Bhumi Kamulan.

Upacara Atma Wedana ini menurut Lontar Siwa Tattwa Purana ada lima jenis yaitu upacara Nganseng, Nyekah, Memukur, Maligia dan Ngeluwer. Lima jenis upacara Atma Wedana makna Tattwanya sama saja. Perbedaannya terletak pada besar kecilnya upacara. Atman Wedana yang terkecil adalah Nganseng, terus Nyekah, Memukur, Maligia dan yang terbesar adalah Ngaluwer. Upacara Atma Wedana Ngaluwer ini sepanjang pengetahuan penulis belum pernah ada yang memilihnya karena syaratnya cukup berat. Upacara Dewa Pitara Pratistha yang umumnya disebut upacara Nuntun Dewa Hyang di Kamulan diuraikan sangat rinci dalam Lontar Purwa Bhumi Kamulan sebagai proses menstanakan Dewa Pitara sebagai Bhatara Hyang Guru di Merajan Kamulan. Dalam Lontar Purwa Bumi Kamulan dinyatakan bahwa setelah upacara Memukur Sang Dewa Pitara rika mapisan lawan Dewa Hyangnia nguni. Artinya setelah upacara Memukur di sanalah Dewa Pitara bersatu dengan Dewa Hyangnya yang dahulu. Ini artinya perjalanan hidup manusia menuju alam niskala adalah Merajan Kamulan, bukan di setra. Setra itu adalah tempat sementara dari perjalanan Sang Hyang Atma. Ini artinya setra itu sebagai tempat untuk melangsungkan prosesi awal Sang Hyang Atma kembali bersatu dengan keluarganya sebagai Bhatara Hyang Guru yang umumnya distanakan sebagai Ulun Pekarangan. Karena Sang Hyang Atman akan mejadi Bhatara Hyang Guru maka saat prosesi Pitra Yadnya itu ada upacara Maperas yaitu menyerahkan segala hal yang belum mampu diselesaikan saat masih hidup kepada keturunannya. Bentuk upacara itu dengan menyerahkan pada keturunannya tiga lembar daun dapdap dengan sebelas uang kepeng. Ini adalah simbol dari berbagai hal baik yang bersifat material dan nonmaterial yang diserahkan kepada keturunan yang diupacarai. Dengan demikian Dewa Pitara yang distanakan sebagai Bhatara Hyang Guru itu tidak ada beban lagi karena sudah diambil-alih oleh keturunannya, sehingga sebagai Bhatara Hyang Guru fokus menuntun keturunannya dari niskala.

oleh: Veda Vakya

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=15&id=56154

Pura Besakih

Posted by Adnyana under Pura di Karangasem on April 1, 2012 @ 3:08 pm

Pura Besakih

PURA Agung Besakih merupakan pusat kegiatan upacara agama bagi umat Hindu. Di Pura ini setiap tahun dilangsungkan Karya Ida Batara Turun Kabeh, setiap sepuluh tahun sekali dilangsungkan upacara Panca Bali Krama dan setiap seratus tahun diselenggarakan upacara Eka Dasa Rudra.

Pelaksanaan Karya Ida Batara Turun Kabeh tahun 2012 ini, jatuh pada Purnama Kedasa, Jumat (6/4) mendatang.

Pura Agung Besakih secara spiritual adalah sumber kesucian dan sumber kerahayuan bagi umat Hindu. Bangunan yang utama di Pura Besakih adalah palinggih Padma (Padmasana) Tiga. Letaknya di Pura Penataran Agung Besakih. Palinggih tersebut terdiri atas tiga bangunan berbentuk padmasana berdiri di atas satu altar. Di Pura Penataran Agung ini Karya Ida Batara Turun Kabeh dilangsungkan.

Menurut berbagai sumber, bangunan suci Padma Tiga yang berada di Pura Agung Besakih adalah tempat pemujaan Tri Purusa yakni

- Siwa,
- Sada Siwa,
- Parama Siwa (Tuhan Yang Mahaesa).

Padmasana tersebut dibangun dalam satu altar atau yoni. Palinggih padmasana merupakan sthana Tuhan Yang Mahaesa. Padmasana berasal dari kata padma dan asana.

- Padma berarti teratai
- asana berarti tempat duduk atau singgasana.

Tuhan Yang Mahaesa secara simbolis bertahta di atas tempat duduk atau singgasana teratai atau padmasana. Padmasana lambang kesucian dengan astadala atau delapan helai daun bunga teratai. Bali Dwipa atau Pulau Bali dibayangkan oleh para Rsi Hindu zaman dulu sebagai padmasana, tempat duduk Tuhan Siwa, Tuhan Yang Mahaesa dengan asta saktinya (delapan kemahakuasaan-Nya) yang membentang ke delapan penjuru (asta dala) Pulau Bali masing-masing dengan dewa penguasanya.

1. Dewa Iswara berada di arah Timur, bersemayam di Pura Lempuyang.
2. Dewa Brahma di selatan bersemayam di Pura Andakasa.
3. Dewa Mahadewa di barat (Pura Batukaru),
4. Dewa Wisnu di utara (Pura Batur),
5. Dewa Maheswara di arah tenggara (Pura Goa Lawah),
6. Dewa Rudra di barat daya (Pura Uluwatu),
7. Dewa Sangkara di barat laut (Pura Puncak Mangu),
8. Dewa Sambhu di timur laut (Pura Besakih),
9. Dewa Siwa bersemayam di tengah, pada altar dari Pura Besakih dengan Tri Purusa-Nya yaitu

- Parama Siwa,
- Sada Siwa
- Siwa.

Tri Purusa tersebut dipuja di Padmasana Tiga Besakih. Palinggih Padmasana Tiga tersebut merupakan intisari dari padma bhuwana, yang memancarkan kesucian ke seluruh penjuru.

Sementara pembangunan Pura Agung Besakih dan Pura-pura Sad Kahyangan lainnya adalah berdasarkan konsepsi Padma Mandala, bunga padma dengan helai yang berlapis-lapis (Catur Lawa dan Astadala).

Pura Besakih adalah sari padma mandala atau padma bhuwana.

Catur Lawa
1. Pura Gelap,
2. Pura Kiduling Kerteg,
3. Pura Ulun Kulkul
4. Pura Batumadeg .

Astadala
1. Pura Lempuyang Luhur,
2. Goa Lawah,
3. Andakasa,
4. Luhur Uluwatu,
5. Batukaru,
6. Puncak Mangu,
7. Pura Batur
8.

Pura-pura tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Pura-pura tersebut pusat kesucian dan kerahayuan bagi umat Hindu.

Sementara itu praktisi pendidikan Hindu Ketut Wiana sempat mengatakan Pura Besakih sebagai huluning Bali Rajya, hulunya daerah Bali. Pura Besakih sebagai kepala atau jiwanya Pulau Bali. Hal ini sesuai dengan letak Pura Besakih di bagian timur laut Pulau Bali.
Timur laut adalah arah terbitnya matahari dengan sinarnya sebagai salah satu kekuatan alam ciptaan Tuhan yang menjadi sumber kehidupan di bumi. Pura Besakih juga hulunya berbagai pura di Bali.

Kata Wiana, di Padma Tiga ini Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Tri Purusa, tiga manifestasi Tuhan sebagai jiwa alam semesta. Tri artinya tiga dan purusa artinya jiwa. Tuhan sebagai Tri Purusa adalah jiwa agung tiga alam semesta yakni

1. Bhur Loka (alam bawah),
2. Bhuwah Loka (alam tengah)
3. Swah Loka (alam atas).

- Tuhan sebagai penguasa alam bawah disebut Siwa atau Iswara.
- Tuhan Sebagai jiwa alam tengah, disebut Sadha Siwa
- Tuhan sebagai jiwa agung alam atas, disebut Parama Siwa atau Parameswara.

Palinggih padma paling kanan tempat memuja Sang Hyang Parama Siwa. Bangunan ini biasa dihiasi busana hitam. Sebab, alam yang tertinggi (Swah Loka) tak terjangkau sinar matahari sehingga berwarna hitam.

Bangunan padma yang terletak di tengah adalah lambang pemujaan terhadap Sang Hyang Sadha Siwa. Busana yang dikenakan pada padma tengah itu berwana putih. Warna putih lambang akasa.

Sedangkan, bangunan padma paling kiri lambang pemujaan Sang Hyang Siwa yaitu Tuhan sebagai jiwa Bhur Loka. Busana yang dikenakan berwarna merah. Di Bhur Loka inilah Tuhan meletakkan ciptaan-Nya berupa stavira (tumbuh-tumbuhan), janggama (hewan) dan manusia.

Jadi, palinggih Padma Tiga merupakan sarana pemujaan Tuhan sebagai jiwa Tri Loka.

Karena itu dalam konsepsi rwa-bhineda,

- Pura Besakih merupakan Pura Purusa,
- Pura Batur sebagai Pura Predana.

Padmasana yang berada di tengah, busananya putih-kuning sebagai simbol Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera.

- Putih lambang kesucian
- kuning lambang kesejahteraan.

Sedangkan busana warna merah pada padma paling kiri bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Warna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Sthitti dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Siwa bermanifestasi menjadi Tri Murti.

Sementara di kompleks Pura Besakih,
- manifestasi Tuhan sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg,
- manifestasi Tuhan sebagai Batara Wisnu di Pura Batu Madeg
- manifestasi Tuhan sebagai Batara Iswara di Pura Gelap.

Di tingkat Pura Padma Bhuwana,
- Batara Wisnu dipuja di Pura Batur, simbol Tuhan Mahakuasa di arah utara.
- Bhatara Iswara dipuja di Pura Lempuhyang Luhur, simbol Tuhan di arah timur
- Batara Brahma dipuja di Pura Andakasa, simbol Tuhan Mahakuasa di arah selatan.

Sementara di tingkat desa pakraman, Batara Tri Murti itu dipuja di Pura Kahyangan Tiga.

http://balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=63862

Pura Luhur Puncak Adeng

Posted by Adnyana under Pura di Tabanan on March 18, 2012 @ 2:32 am

Pura Luhur Puncak Adeng

BANYAK pura yang tersebar di Bali memiliki makna dan filosifi berbeda. Salah satunya, Pura Luhur Puncak Adeng, di Banjar Munduklumbang Desa Angseri, Baturiti. Pura di puncak gunung ini dipercaya sebagai tempat berstanannya Hyang Wisnu, simbol kemakmuran. Pura ini menjadi langganan untuk meminta penyembuhan berbagai penyakit. Para balian pun wajib tangkil ke pura ini agar lebih mataksu.

Pura Luhur Puncak Adeng berada persis di puncak Bukit Adeng, sekitar 30 kilometer arah utara Kota Tabanan. Perlu perjuangan keras untuk mencapai pura ini. Selain letaknya di atas dataran tinggi, jalan menuju lokasi juga cukup terjal. Pemedek harus rela berjalan kaki untuk mencapai pelataran pura.

Sedikitnya, lebih dari 1.000 anak tangga yang harus didaki. Pemedek wajib menyiapkan tenaga ekstra sebelum tangkil. Apalagi, cuaca di lokasi selalu mendung dan kerap kali diguyur hujan.

Pura Luhur Puncak Adeng berkaitan erat dengan silsilah Jatiluwih. Nama Puncak Adeng berawal dari terbakarnya tiga puncak di deretan anak gunung tersebut. Tak diketahui kapan nama itu muncul. Adeng dalam bahasa Bali berarti gosong. Kala itu, abu puncak yang terbakar terempas angin hingga ke puncak di sebelahnya. Lambat laun, puncak ini dikenal dengan Puncak Adeng, sedang puncak yang terbakar disebut Puncak Bukit Puwun Tengah.

Penglingsir Pura Luhur Puncak Adeng, Jero Putus Puncak Adeng, menuturkan pura ini muncul sejak zaman keeamasan Kerajaan Tabanan, sekitar tahun 1900. Pendirinya salah satu leluhur asal Jatiluwih yang dikenal dengan Pan Alon. Sejarah ini berawal saat pria tersebut dituduh mencuri kerbau di kampungnya. Oleh warga, dia diserahkan ke Puri Tabanan untuk diadili. Karena dituduh bersalah, Pan Alon disiksa oleh punggawa kerajaan. Namun aneh, meski terus disiksa, dia tetap bugar, bahkan tak mampu dibunuh.

Pihak kerajaan akhirnya melepaskannya. Syaratnya, dia tak diperbolehkan lagi kembali ke Jatiluwih. Pan Alon akhirnya dipelihara oleh salah satu warga di Banjar Bolangan, Babahan, Penebel. Lalu, dipindahkan ke Senganan Kawan, Desa Senganan. Selama dipelihara warga, Pan Alon rajin bekerja. Dia juga melanjutkan kegemarannya berburu menjangan ke puncak gunung.

Ketika berburu, Pan Alon selalu membawa takilan, nasi terbungkus kulit buah. Suatu ketika, Pan Alon mendapatkan banyak buruan. Karena capek, dia berniat beristirahat sambil menyantap bekalnya. Namun nahas, nasi yang dibawanya mendadak hilang karena diambil seekor harimau besar. Kejadian ini membuatnya penasaran. Dia pun mengikuti harimau tersebut. Ternyata, nasi yang dibawanya tak dimakan oleh harimau, melainkan diletakkan di atas sebuah batu pelinggih. Sejak itulah, tempat itu didirikan pura dan terus disakralkan hingga sekarang.

Para pengempon-nya juga keturunan asli dari Pan Alon, termasuk Jro Putus Puncak Adeng. ”Pura itu warisan leluhur kami dan dijaga secara turun temurun,” katanya didampingi putra bungsunya, Ketut Sugiri Yasa, Sabtu (17/3) kemarin.

Pujawali dan piodalan Pura Luhur Puncak Adeng digelar setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Anggara Kasih Dukut. Pura ini di-sungsung oleh Desa Pekraman Senganan Kawan, Senganan Kanginan, Munduk Paku, kebendesaan se-Payangan Marga, Desa Pakraman Bugbugan dan Desa adat Pagi.

Meski puranya berada di wilayah Baturiti, seluruh penyungsung-nya berada di Penebel. Selain desa adat, para pekaseh ikut menyungsung pura ini. Sebab, seluruh mata air yang mengairi subak di Yeh Panahan berasal dari Pura tersebut.

Ada sejumlah pelinggih di Pura Luhur Puncak Adeng, Di antaranya, pelinggih pecalang agung di pintu masuk pura, puseh, dalem, beji, taman manik selaka untuk melukat, pelinggih gede, pelinggih pemukian, pesimpangan bukit puwun, pesimpangan puncak tapak, sekaligus puncak lainnya. Yang menarik, seluruh pelinggih tersebut masih dibiarkan alami. Sebab, ketika akan direhab selalu ditolak secara niskala. Karena dikenal dengan taksunya, pura ini selalu menjadi langganan pejabat untuk tangkil. Yang menarik lagi, etnis Tionghoa dari berbagai daerah di Bali kerap kali ikut tangkil. ”Biasanya mereka bermeditasi,” kata Jro Putus. Saat pujawali pura ini selalu dibanjiri pemedek dari berbagai penjuru Bali. Anehnya, meski tempatnya sempit, namun cukup menampung berapa pun pemedek yang tangkil. (udi)

http://balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=63367

Pura Luhur Batukaru Penyangga Kemakmuran Pertanian Bali

Posted by Adnyana under Pura di Tabanan on February 5, 2012 @ 2:14 am

Pura Luhur Batukaru Penyangga Kemakmuran Pertanian Bali

.
PERTANIAN di Bali tak bisa dipisahkan dengan budaya leluhur pulau ini. Ini dibuktikan dengan banyaknya pura yang berkaitan dengan pertanian. Salah satunya, Pura Luhur Batukaru, di Desa Wangaya Gede, Penebel, Tabanan.

Pura yang menjadi bagian dari Sad Kahyangan Bali ini merupakan penyangga kemakmuran pertanian di Bali. Pura ini juga mengingatkan krama Bali akan pentingnya menjaga dan melestarikan pertanian.

Pemujaan dan upacara di Pura Luhur Batukaru seluruhnya berkaitan erat dengan kemakmuran pertanian.

Tak heran, jika pura ini berdiri di lereng gunung yang menjadi sumber mata air. Pura Luhur Batukaru dipercaya menjadi salah satu peninggalan penduduk asli Bali atau dikenal dengan Bali Mula. Sebab, tidak ditemukan bukti tertulis di lokasi, kapan pura tersebut dibangun. Karena berkaitan dengan pertanian, pemujaan di Pura Batukaru mengagungkan Sang Hyang Tumuwuh atau Tuhan Yang Memberikan Pertumbuhan. Karena itu, pura ini diyakini sebagai salah satu saraning kehidupan atau jalan menuju kemakmuran. ”Seluruh upacara di sini, merupakan pemujaan untuk kemakmuran, terutama pertanian,” kata Mangku Gede Luhur Batukaru/Kabayan Lingsir.

Panglingsir Pura Batukaru ini mengaku tak mengetahui secara pasti bagaimana sejarah dari pura tersebut. Apalagi, tidak ada bukti otentik yang ditemukan di lokasi.

Upacara di Pura Batukaru terbagi dalam dua bagian. Masing-masing, pujawali dan upacara rutin pengrastitian subak. Pujawali digelar setiap Wraspati, Umanis, Dungulan atau Umanis Galungan, setiap 210 hari sekali. Puncak upacara digelar selama lima hari, Rabu (1/2) hingga Minggu (5/2). Selama pujwali, seluruh krama adat di delapan desa pakraman di sekitar Gunung Batukaru ngayah menyiapkan berbagai perlengkapan upacara.

Saat pujawali, ribuan pemedek akan tangkil. Mereka tidak hanya datang dari seluruh kabupaten di Bali. Sejumlah krama dari Jawa, Lampung, dan Lombok juga akan ikut tangkil. Tujuannya satu, memohon kemakmuran jagat.

Sementara, upacara pengrastitian subak digelar setiap purnama kapat. Rangkaian upacara diawali dengan pakelem di Kedaton atau puncak Gunung Batukaru. Sebulan kemudian, tepat pada purnama sasih kelima, upacara dilanjutkan dengan mendak toya ulun yeh uma yang berada di sekitar lereng Batukaru. Usai mendak toya, upacara dilanjutkan dengan musim mewinih atau pembenihan bibit padi. Selama pembenihan digelar pengaci di Pura Penyaum.

Sebulan kemudian, ketika bibit siap tanam, digelar upacara di Jero Sasah. Sembari menunggu panen, digelar upacara lanjutan di subak Pengubengan dan Petangan. Menurut Mangku Gede Luhur Batukaru, seluruh upacara ini digelar di kawasan lereng Gunung Batukaru. Khusus pakelem digelar berpindah-pindah. Ada juga pekelem yang digelar di Danau Tamblingan, meski demikian danau ini masih menjadi rangakain Gunung Batukaru yang melambangkan kemakmuran.

Rangakaian upacara subak ini diakhiri dengan tilem sasih kanem. Para krama subak menggelar ritual nangluk merana atau membasmi hama di Pura Pakendungan, Kediri, Tabanan. Upacara subak ini selalu dihadiri para pekaseh se-Bali. Mereka biasanya memohon tirtha yang akan dibagikan ke krama subak masing-masing.

Dijelaskan, rangkaian upacara subak ini sebagai bukti bahwa leluhur Bali sudah memiliki budaya yang mengagungkan pertanian. ”Karena itu, kita tidak boleh meninggalkan pertanian sampai kapan pun,” tegasnya.

Proses tangkil ke Pura Luhur Batukaru juga berbeda dengan pura lain. Pertama, pemedek harus ke Taman Beji untuk penyucian diri, kemudian langsung ke jeroan, terakhir ke Dalem Kahyangan. Karena berbeda, prosesi tangkil ini sempat diubah. Anehnya, lambat laun tetap kembali ke prosesi semula.

Pura Batukaru juga memiliki larangan yang aneh dibanding pura lain. Di antaranya, anak kecil yang belum pernah lepas gigi pertama dilarang masuk, termasuk wanita hamil serta cuntaka. Menurut Mangku Gede, larangan ini sudah ada sejak zaman dahulu. Jika dilanggar, ada saja persoalan yang dihadapi pemedek. ”Ini sudah proses alam, kami tidak bisa menjelaskannya secara ilmiah,” katanya.

Pura Batukaru juga tetap dipertahankan secara alami. Hingga detik ini, bentuk dan posisi pelinggih tetap asli seperti semula. Bahkan, tak satu pun ada cat atau pewarna modern yang digunakan. Hal ini kata Mangku Gede untuk menjaga taksu pura agar tetap terjaga.

Selain krama Bali, pura Luhur Batukaru seringkali digunakan meditasi para turis asing. Setiap hari, pura ini juga menjadi pemandangan eksotik bagi wisatawan mancanegera. Karena itu, para penglingsir pura tetap konsisten menjaga keaslian bangunan pelinggih yang ada di pura.

http://balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=61808

Pembahasan RUU Masyarakat ADAT vs Peta Kasus di Bali

Posted by Adnyana under Adat Bali on February 4, 2012 @ 5:16 pm

PEMBAHASAN RUU MASYARAKAT ADAT VS PETA KASUS DI BALI

PADA Zaman Hindia Belanda, Desa di Bali dan Jawa (seperti halnya Negari di Minangkabau, Kampung di Sumatra Utara, Marga dan Dusun di Palembang, dan lain-lain) adalah kesatuan masyarakat hukum adat yang secara penuh menjalankan fungsi pemerintahan. Namun tatkala pada tahun 1979 diberlakukannya UU No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, fungsi pemerintahan dari kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat itu, termasuk Desa di Bali, diambil alih oleh Desa (di wilayah pedesaan) atau Kelurahan (untuk perkotaan), sehingga dengan demikian praktis seluruh kesatuan masyarakat hukum adat itu mati-kecuali di Bali.

Di Bali, Desa sebagai kesatuan hukum adat tetap hidup karena, meskipun tidak lagi melaksanakan fungsi pemerintahan, ia memiliki fungsi lain yang berkaitan dengan adat-istiadat dan agama (Hindu). Pada masa inilah mulai muncul istilah Desa Adat dan Desa Dinas untuk membedakan bahwa yang disebut terdahulu adalah kesatuan masyarakat hukum adat (fungsi pemerintahan) sedangkan yang disebut belakangan adalah bagain dari system pemerintahan (IDG.Palguna).

Dengan sejarah demikian, hingga saat ini masih saja ada tumpang tindih dalam pelaksanaan kewenangan dari kedua desa tersebut. Pada awal pengalihan kewenangan dari Desa Adat kepada Desa Dinas, ada kewenangan tertentu yang tidak ikut dialihkan. Dengan kata lain, ada kewenangan atau elemen-elemen kewenangan tertentu yang tetap dipegang oleh Desa Adat (sekarang disebut Desa Pakraman). Tumpang tindih terjadi karena keberlakuan kewenangan dari dua Desa tersebut acapkali tertuju pada orang, wilayah, dan hal yang sama. Karenanya, dapat dimengerti kalau kerap terjadi gesekan dalam pelaksanaan kewenangan dimaksud.

Perumusan tata hubungan yang jelas dan tegas antara Desa Adat (Desa Pakraman) dan Desa Dinas mustahil dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu memahami keberadaan Desa Pakraman sebagai kesatuan masyarakat hukum adat yang amsih hidup. Keberadaan Desa Pakraman dan Hak-hak tradisional yang dimilikinya dilindungi oleh Konstitusi (UUD 1945). Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 menyatakan:

Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.

Dengan ketentuan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 di atas berarti Konstitusi mengakui bahwa Desa Pakraman mempunyai kemampuan hukum (legal capacity) untuk mempertahankan hak-hak tradisionalnya di hadapan pengadilan. Kemampuan hukum untuk mempertahankan hak-hak tradisional itu bukan hanya terhadap perbuatan orang-orang perorangan tetapi juga terhadap perbuatan Negara. Selanjutnya, karena hak-hak tradisional itu secara tegas diakui oleh Konstitusi maka hak-hak itu berstatus sebagai hak Konstitusional sehingga pelanggaran terhadapnya merupakan pelanggaran Konstitusional. Oleh karena itu, undang-undang pun tidak boleh melanggar hak-hak tradisional (yang telah diakui sebagai hak konstitusional) kesatuan masyarakat hukum adat tersebut.

KASUS-KASUS DALAM DINAMIKA HUBUNGAN DESA ADAT DENGAN DESA DINAS DI BALI

Sejak diberlakukannya UU No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (sudah dicabut), hingga kini dinamika hubungan desa Pakraman dan Desa Dinas di Bali masih saja mengalami “tumpang tindih/gesekan”. Misalnya:

  • dalam kewenangan mengatur wilayah/tanah,
  • Lembaga Prekreditan Desa (LPD)/Lembaga keuangan milik desa adat,
  • pola bantuan pemerintah,
  • kependudukan,
  • perijinan,
  • pajak,
  • retribusi,
  • kepariwisataan,
  • asset desa,
  • desa adat yang berkonflik,
  • kewenangan dan sebagainya.

Namun tumpang tindih yang terjadi menyangkut atau tertuju pada orang, wilayah dan hal-hal yang sama dengan urusan yang berbeda, maka “gesekan” yang terjadi relative teredam bahkan cendrung mengarah ke “musyawarah”, untuk saling menguntungkan atau perdamaian.

Dalam perkembangan masyarakat Bali saat ini,

  • kedinasan (desa dinas) cendrung menuntut “azas ketegasan” hukum dan aturan dalam menjalankan kewenangannya.
  • desa adat, dalam aturan desa adat (awig-awig) masih mengedepankan “azas kepatutan”.

Walaupun keduanya sama-sama mengedepankan “azas kemanfaatan” yang sering bertujuan sama. Perubahaan UU dan peraturan lainnya yang begitu cepat dan beragam, pada prakteknya tidak selalu mudah diselaraskan dengan kebutuhan dan kemampuan desa adat. Disamping kesiapan SDM yang terbatas di tingkat desa adat, juga menyangkut tradisi/kearifan lokal dan teknis hukum lainnya.

PASKA PERDA DESA PAKRAMAN DAN TERBENTUKNYA MAJELIS DESA PAKRAMAN

Munculnya beragam kasus menyangkut tumpang tindih dalam pelaksanaan tata kelola hubungan desa adat dan desa dinas, maka atas desakan banyak pihak pemerintah daerah Bali pada tahun 2001 mencanangkan penyusunan Perda Desa Pakraman (Adat). Segenap komponen masyarakat di Bali menyepakati pentingnya mengevaluasi pola hubungan antara desa adat dan desa dinas, demi pembangunan Bali. Waktu itu muncul tiga pandangan utama yaitu :

  1. Bubarkan desa dinas, selanjutnya menjadi sub ordinate dari desa adat.
  2. Tetap mempertahankan desa dinas seperti semula karena antar desa dinas dan desa adat memiliki kewenangan yang berbeda.
  3. Tetap mempertahankan desa dinas seperti semula, tetapi ada beberapa kewenangan desa dinas dikurangi atau dipangkas.

Dari ketiga pilihan tersebut, akhirnya disepakati desa dinas tetap dipertahankan seperti semula.

Setelah melalaui perdebatan yang cukup alot akhirnya ditetapkanlah Perda Provinsi Bali No.3 Tahun 2001, dan mengalami perubahan menjadi Perda Provinsi Bali No.3 Tahun 2003. Berdasarkan mandat Perda Desa Pakraman maka dibentuklah Majelis Desa Pakraman (MDP), sebuah “lembaga payung Satu Langit” tanah Bali. MDP adalah lembaga representative desa adat di Bali. Satu satunya lembaga independen yang memiliki perda di Bali. Dalam kedinasan MDP bernaung dibawah dinas kebudayaan dan pariwisata.

Secara keseluruhan, tugas MDP mengkoordinasikan 1483 desa pakraman dan memiliki kepengurusan di tingkat

  • kecamatan (Majelis Alit),
  • kabupatan (Majelis Mandaya)
  • provinsi (Majelis Utama).

Sayangnya hanya dengan modal Perda, MDP tidak bisa berbuat banyak. Aparatur MDP dan desa Pakaraman tidak memiliki pengetahuan yang memadai dalam teknis hukum Negara. Dan masalah pendanaan juga mengalami keterbatasan, padahal Bali menjadi “makmur” karena pariwisata budaya dan adat. Minimnya anggaran yang diperoleh MDP dari APBD, tidak lepas dari persoalan teknis hukum dalam system pembendaharaan kas negara. Misalnya aspek legalitas, NPWP, dll yang sering menjadi persyaratan pemanfataan kas negara.  Sungguh sangat ironis, jika benar sebuah yayasan saja bisa dibantu 1 milyar dari APBD karena memiliki legalitas Negara. Sedangkan dana operasional MDP hanya dapat dana 500 juta per tahun.

Adanya Perda dan MDP, tidak secara otomatis persoalan hubungan tata kelola hubungan desa Pakaraman dan desa dinas (dalam hal ini Negara) menjadi tuntas. Masalah pun terus berkelanjutan dalam berbagai bidang. Sebagai contoh; dalam implementasi UU Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Lembaga Perkreditan Desa (LPD) yang merupakan asset desa adat menolak diberlakukan UU ini terhadap LPD. Namun karena adanya istilah “Perkreditan” yang menurut UU  perbangkan (BI) merupakan peristilahan perbankan, maka semua lembaga keuangan mikro (termasuk milik desa adat) harus menyesuaikan. Ada usulan untuk merevisi Perda Desa Pakraman dan Perda Lembaga Perkreditan Desa, entah kapan?

Sementara dalam hal kewilayahan/tata ruang, konflik yang muncul dan cukup alot adalah implementasi RTRWP Bali No. 16 Th 2009. Oleh Pemerintah Provinsi (Gubernur) RTRWP ini  dibuat untuk memberi perlindungan terhadap wilayah adat. Namun malah ditentang oleh  bupati dengan berbagai kepentingan. Ada kesan para Bupati ngotot menentang RTRWP Bali No. 16 Th 2009 karena adanya kepentingan pragmatis, dan berlindung dibalik kewenangan otonomi daerah. Istilahnya “Mau arif atau mau duit?” Kalaupun toh RTRWP salah, semestinya tetap bisa dikoreksi dalam “memperteguh” prinsip-prinsip perlindungan dan penghormatan nilai-nilai luhur adat dan desa Pakraman.

Kasus lainnya menyangkut pajak. Misalnya tanah atau asset desa adat banyak yang tidak menghasilkan secara ekonomi (pendapatan/Uang), tapi memiliki nilai budaya dan seni yang mendukung  pariwisata. Belum lagi situs-situs adat lainnya seperti Subak. Banyak terjadi masyarakat adat/subak hanya dapat “uang parkir” saja, sedangkan akumulasi pendapatan dari sector pariwisata Bali yang jumlahnya Triliunan tidak dikembalikan kepada perlindungan dan penghormatan nilai-nilai adat.

Dalam hal pembangunan infrastruktur (fasilitas umum) yang dibangun diatas tanah adat, sering kali menjadi “bom waktu”. Bahkan belakangan banyak pihak juga sepakat kalau dana-dana bantuan tidak diberikan langsung ke desa adat. Karena lemahnya SDM dan pengetahuan teknis hukum di tingkat desa adat sering kali menimbulkan persoalan baru. Ditenggarai timbulnya “konflik bernuansa adat”  belakangan ini karena adanya “aroma” perebutan dana “bantuan” / dana pembangunan.

Belakangan ini yang tidak kalah peliknya adalah menyangkut “desa adat yang berkonflik” dan atau “kasus krimininal murni yang diadatkan”. Yang menarik, baru saja dan masih berlangsung, konflik antar dua desa adat di Kab. Klungkung saat ini “berbuah” perseteruan antara Gubernur Bali dengan Media Bali Post (Kasus ini bahkan masuk ke ranah hukum/pengadilan karena masalah pemberitaan yang keliru).

Ternyata banyak sekali permasalahan yang harus diurai. Namun patut disyukuri, belum selarasnya tata hubungan desa pakraman dan desa dinas di Bali bukan dilandasi oleh niatan untuk saling melemahkan baik oleh desa pakraman maupun  desa dinas. Bahkan keduanya adalah “korban” keterbelenguan aturan Negara yang multi tafsir. Dan tentu jika nanti disahkan dan diberlakukannya RUU Desa  dan RUU Masyarakat Adat, problema baru pasti akan terjadi lagi.

Masih ada puluhan kasus yang belum terpecahkan. Yang menjadi pertanyaan, bagaimanakah hal ini akan dikelola dengan baik oleh pihak-pihak yang berwenang/negara? Dan bagaimana gerakan masyarakat adat di nusantara (Termasuk Aliansi Masyarakat Adat Nusantara-AMAN) mengetahui dan memahaminya sehingga arah gerakan masyarakat adat nusantara menjadi jelas mulai dari mana, dimana, dan kemana? Benarkah eksistensi masyarakat adat bisa tumbuh dan berkembang karena pemberian pengakuan oleh Negara? Bagaimana pula dengan komunitas adat lain di belahan bumi nusantara, yang baru saja bergeliat? Benarkah UU masyarakat adat adalah “kabar gembira” bagi masyarakat adat nusantara? Dan seterusnya.!

Dalam Peta Kasus di Bali, mengakarnya kewajiban dan aktivitas adat sehari-hari, cukup memberi jaminan bahwa perubahan akan berjalan relative damai. “Karena visi masyarakat adat Bali hasil rumusan terbaru Majelis Desa Pakaraman Bali adalah; Bali Shanti (Bali Damai). Melalui kebersamaan, kesepakatan menuju kedamaian”.

Faktor yang menguntungkan lainnya adalah; dari segi sejarah, aliansi budaya dan tradisi,  satu Pulau Bali adalah seutuhnya merupakan wilayah/tanah desa Pakraman/adat dan sekaligus juga merupakan wilayah tanah desa dinas. Kelemahan SDM di tingkat desa adat juga cukup terbantu dengan adanya Jurusan Hukum Adat di Universitas Udayana, yang cukup memberikan andil dalam perumusan dan konsultasi legal drafting bagi Komunitas Adat/Pakraman.

Semoga semua yang terlibat dalam pembahasan RUU Masyarakat Adat di DPR RRI, tetap memiliki keteguhan hati untuk melakukan perubahan menuju masyarakat/desa adat dan dinas yang lebih mandiri, bermanfaat, dan bermartabat (**).

Made Nurbawa

(Ketua BPH AMAN BALI)


Short URL: http://metrobali.com/?p=4476

Pura Segara Kahyangan Jagat Batu Putih - Lampung

Posted by Adnyana under Pura di Lampung on January 25, 2012 @ 9:22 pm

.

Bertepatan dengan hari suci Saraswati tanggal 1 Agustus, umat Hindu Ketapang-Lampung Selatan melaksanakan uapacara Ngenteg Linggih Pura Segara Kahyangan Jagat Batu Putih.  Pura ini telah berdiri sejak tahun 1978, yang saat itu diprakarsai oleh Guru Yase (saat ini menjadi pini sepuh) umat di Kec. Ketapang, namun masih berupa pelinggih sederhana, baru sejak tahu 2007 diadakan upacara pemugaran dan selesai pada tahun 2009 ini.  Adapun luas areal pura ini sekitar, 5000 m?   terletak di atas hamparan bukit kapur dengan pemandangan pantai yang sangat indah itulah sebabnya di sebut Pura Batu Putih dan hanya berjarak  kurang dari 16 Km dri pelabuhan Bakauheni,

Upacara dipimpin oleh empat orang pandita, yakni: Romo Jati dari  Jakarta, Pandita Resi Gunung Sari , Pandita Mpu Dharma Jati, dan Pandita Resi Dwijaksara (ketiganya dari Lampung). Upacara diawali dengan upacara pecaruan, melaspas, mendem pedagingan, kemudian dilanjutkan dengan upacara mendak nuntun dan Ngenteg Linggih, dan bertepan dengan hari suci saraswati melaksanakan pujawali untuk pertama kalinya.

Di hari yang sama pura ini juga diresmikan penggunaannya oleh Bupati Lampung Selatan, yang diwakili oleh Asisten II Bidang Kemasyarakatan Bapak Drs. Hi. Tamsiri, MM., Turut hadir dalam acara ini yakni:  Direktur  Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu; Bapak I Ketut Lancar, SH, M.Si., Kajati  Prop. Lampung: Bapak Ketut Artana,  Kakanwil Hum & Ham Prop. Lampung: Bapak Gede Widiarta, Sekretaris Parisada Prop. Lampung: Bapak I Ketut Seregig, SH., MH., Pembimas Hindu Prop. Lampung: Bapak I Wayan Mirta Astawa, S.Ag., MM., Ketua WHDI Prop. Lampung: Ibu Ning, dan tokoh-tokoh lintas agama. saya dapat ngayah di bagian upakara dan mendampingi para Pandita….. ….jadi sekalian nunas ilmu …..

Acara seremonial diawali dengan tari penyambutan yang dibawakan oleh  Mahasiswa IHDN Denpasar, kemudian pembacaan sloka Weda, dan laporan oleh Ketua Panitia, Bapak I Wayan Suda, S.Pd. dalam laporannya ketua panitia mengatakan bahwa pura ini dibangun melalui perjuangan dan perjalanan yang cukup panjang, beliau juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pendanaan pembangunan pura ini. Disamping swadaya masyarakat, pendanaan pembangunan juga mendapat bantuan rutin dari pemerintah daerah sejak tahun 2007-2009. Juga mendapat bantuan dari Dirjen Bimas Hindu dan Gubernur Bali: Bapak Bapak Dewa Made Beratha.

Dalam sambutannya Bupati Lampung Selatan (yang dibacakan oleh Ass. II) mengatakan bahwa keberadaan Pura  Segara ini, agar dapat dijadikan sarana oleh umat Hindu di Lampung sebagai media untuk meningkatkan kualitas kerohanian, sehingga dapat turut menjaga keharmonisan dan  keamanan Lampung Selatan. Dengan kondisi pura yang begitu megah dan indah beliau berharap agar tempat di sekitar kawasan pura ini dapat juga dijadikan sebagai obyek wisata, terutama wisata rohani. Disamping itu beliau juga mengemukakan dengan melihat realita bahwa umat Hindu  di Lampung selatan ini tergolong banyak maka pada tahun anggaran 2010 ini beliau akan menyiapkan formasi guru agama bagi umat Hindu, sehingga pengembangan SDM Hindu dapat ditiangkatkan. Acara diakhiri dengan doa yang dibawakan oleh Bapak Drs. I Nengah Maharta, M.Si. kemudian dilanjutkan dengan penanda tanganan prasasti dan peninjauan lokasi pura. Acara ditutup dengan ramah tamah menikmati makan siang di atas tebing, di kawasan pura segara.

oleh: Shri Danu D.P.

http://cyberdharma.net

Pura Segara di Lampung

Posted by Adnyana under Pura di Lampung on @ 9:17 pm

Dirjen Pembinaan Masyarakat Agama Hindu Ida Bagus Yuda Triguna meletakkan batu pertama pembangunan Pura Segara (Khayangan Jagat) di Pantai Batu Putih, Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Lamsel (29-8).

Selain Bupati Lampung Selatan Zulkifli Anwar, hadir Ketua Parisade Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Lampung I Nengah Pageh Arsana, Ketua PHDI Lamsel Wayan Kontan, Ketua Komisi B DPRD Lamsel Arifin Tiang Negara, Kepala Depag Lamsel Azhari Thabrani, dan Uspika setempat serta ratusan umat Hindu. sedangkan dari kabupaten lain hadir Ketua DPRD Lamtim I Ketut Irawan.

Ketua PHDI Lampung I Nengah Pageh Arsana mengatakan pembangunan Pura Segara (Khayangan Jagat) di Pantai Batu Putih, Ketapang, Lampung Selatan, merupakan bangunan pura tunggal di Lampung.

“Pembangunan Pura Segara di Ketapang akan menjadi pusat sarana persembahyangan umat Hindu di Lampung,” kata I Nengah Pageh.

Dia menjelaskan selain untuk tempat ibadah dan menyucikan diri bagi umat Hindu. Kegunaan Pura Segara dapat dipakai untuk pendidikan anak-anak yang beragama Hindu.

“Sebagai tempat suci dan pendidikan anak, saya imbau umat Hindu dapat membantu dari segi dana. Saya harapkan Pemda setempat dapat ikut berpartisipasi. sehingga pembangunan pura berjalan lancar,” katanya. Sementara Bupati Lamsel Anwar mengatakan Pura Segara di Pantai Batu Putih yang menjadi sarana kegiatan keagamaan Hindu di Kabupaten Lamsel, hendaknya dapat menjadi kebanggaan masyarakat Lamsel.

“Sudah menjadi kewajiban saya selaku bupati membantu pembangunan Pura Segara. Tidak hanya pura, semua pembangunan tempat ibadah, pemerintah membantu sesuai kemampuan,” kata Bupati.

Supaya tidak timbul permasalahan, Bupati menegaskan agar status tanah diperjelas dan dikuatkan dengan adanya sertifikat. Selain itu, jika dihibahkan agar dibuatkan surat hibahnya.

“Saya tidak ingin status tanah menjadi permasalahan, seperti gedung SMP PGRI diCandipuro. Gedungnya dipakai, baru status tanah diributkan. Untuk itu, kalau memang belum ada sertifikatnya, sini saya bantu pembuatannya, tentunya dengan prosedur yang benar,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Pembangunan Pura Segara I Wayan Sude mengatakan pembangunan pura ini setidaknya menelan dana sekitar Rp1 miliar dan ditargetkan selesai dalam lima tahun. n AL/D-3.

Sumber : AAN KRIDOLAKSONO, Lampung Post

http://e-kuta.com/blog/pura-di-luar-bali/pembangunan-pura-segara-lampung.htm