kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

KERANGKA PELAKSANAAN PENGINTEGRASIAN PERENCANAAN DESA

Posted by Adnyana under Klungkung@yahoogroups.com on August 31, 2010 @ 3:09 pm

.

KERANGKA PELAKSANAAN PENGINTEGRASIAN PERENCANAAN DESA DI KABUPATEN KLUNGKUNG

.

OLEH : Agung Swastika

.

Prinsip-prinsip

.

  1. Mendorong efektivitas pelaksanaan regulasi (peraturan) : Semua kegiatan yg dilakukan berdasar pd & untuk penguatan pelaksanaan peraturan ( Produk hukum) yg tlh ditetapkan, yg berkaitan langsung maupun yg relevan bagi penguatan penyelenggaraan pembangunan partisipatif.
  2. Menyatu & menguatkan mekanisme reguler : Semua kegiatan yg dilakukan terintegrasi & menjadi bagian dr kegiatan reguler sesuai ketentuan penyelenggaraan pemerintahan.
  3. Keberlanjutan : Upaya pengintegrasian yg dilakukan pd th 2010 sebagai jembatan serta memastikan keberlanjutan pengintegrasian sesuai RPJM Desa.

.

Syarat dan Ketentuan

.

  1. Penyiapan pengintegrasian tahun 2011 adalah agenda wajib bagi desa partisipan yg memenuhi syarat sbb :

Sdh mengikuti pelaksanaan PNPM-MP sekurangnya 2 th pd th 2010, baik pernah maupun blm pernah didanai usulannya.

Memiliki sarana & prasarana (Kantor Desa) yg dianggap layak.

Perangkat Pemerintah Desa sekurangnya terdiri dari : seorang Sekretaris Desa & sekurangnya 2 orang Kepala Urusan (Kaur).

Sudah terbentuk BPD

  1. Setiap desa partisipan PNPM-MP, wajib melaksanakan proses dan tahapan kegiatan Perencanaan PNPM-MP tahun 2010, guna memproses usulan prioritas (Desa), yg mencukupi untuk mengakses BLM PNPM-MP TA 2010 dan 2011 sesuai ketentuan PNPM-MP.
  1. Proses dan tahapan kegiatan Perencanaan, ditetapkan sesuai Matrik Kegiatan & Jadwal Penyiapan Pengintegrasian.

.

Penyiapan Pengintegrasian

.

Kegiatan Perencanaan

Yaitu serangkaian kegiatan yg dilakukan untuk memroses usulan kegiatan yg akan diajukan ke PNPM-MP TA 2010 dan 2011.

Dilakukan sesuai skenario optimalisasi (Pendayagunaan hasil MAD Penetapan Usulan atau MAD Prioritas atau Musdes Perencanaan) &/atau normal sesuai ketersediaan usulan hasil perencanaan sebelumnya di setiap desa.

.

Penyusunan RPJM Desa

.

Sudah memiliki RPJM Desa

.

Peninjauan ulang & penyempurnaan RPJM Desa sesuai Permendagri No. 66 Tahun 2007. Langkah yg dilakukan :

Mengkaji data-data (potensi, masalah & gagasan) hasil PG sebelumnya.

Menggali & menghimpun data-data baru sesuai kondisi desa senyatanya.

Perumusan RPJM Desa.

Pembahasan hasil perumusan RPJM Desa

Penetapan RPJM Desa

Penyusunan Rancangan RKP Desa tahun 2011.

.

Rencana kegiatan pembangunan desa untuk satu tahun anggaran (2011), yg sdh mencantumkan besar & sumber dananya. Dg demikian, sdh terpilah secara jelas rencana kegiatan /usulan yg akan diajukan untuk mengakses BLM PNPM-MP TA 2011.

Tim Penyusun RKP Desa dibentuk sesuai ketentuan yang ditetapkan dalam Permendagri No. 66 Th 2007.

RKP Desa disusun sesuai Form sesuai lampiran Permendagri No.66 Th 2007.

.

Belum memiliki RPJM Desa

.

Kegiatan yang harus dilakukan adalah penyusunan RPJM Desa sesuai tahapan kegiatan sebagai berikut :

Melakukan Pengkajian Keadaan Desa

Menyusun Rancangan (Draft) RPJM Desa

Membahas Rancangan (Draft) RPJM Desa

Menetapkan RPJM Desa.

Menyusun Rancangan RKP Desa tahun 201

.

Kegiatan dan Jadwal Pelaksanaan Tahun 2010

.

.

PENJELASAN PERENCANAAN

.

Perencanaan & Penyusunan RPJMDes dilakukan secara simultan/bersamaan

Perencanaan (PG sampai MD 2) hrs menghasilkan Prioritas usulan SPP dan Non SPP, sesuai ketentuan PNPM-MP , yg mencukupi kebutuhan untuk tahun 2010 & 2011

PU & VU adalah kegiatan yang diprioritaskan untuk diajukan /mengakses BLM TA. 2010

MAD 2 & 3 dan RAB/Desain hanya untuk Usulan tahun 2010.

MAD 2 & 3 untuk Usulan tahun 2011 menyatu dengan Musrenbang Kecamatan tahun 2011.

.

PENJELASAN PENYUSUNAN RPJMDes

.

Musrenbang Pembahasan Draft RPJMDes menyatu dg MD 3

PU & VU dimaksud adalah kegiatan Penulisan & Verifikasi Paket Usulan yg tlh ditetapkan pada MD 2, yg akan diajukan untuk mengakses BLM TA. 2011

Penyusunan RAB & Desain Usulan yg akan diajukan untuk mengakses BLM TA. 2011

.

Kegiatan dan Jadwal Pelaksanaan Pengintegrasian Tahun 2011.

.

.

Kegiatan dan Jadwal Pelaksanaan Pengintegrasian Tahun 2011

.

pohon puleDalam perjalanan persiapan “Karya Agung Ngenteg Linggih, Mupuk Pedagingan lan Memungkah” di Pura Puseh dan Pura Bale Agung Desa Adat Kemoning yang rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2012, para Penglingsir dan Pemangku mendapatkan pawisik untuk membuat Tapakan Ida Bhatara berupa Barong. Pembuatan Tapakan Ida Bhatara ini telah disepakati dalam paruman agung Desa Adat Kemoning serta paruman alit klian desa dan klian banjar, Jero Mangku Kahyangan Tiga pada tanggal 18 Juli 2010.

Proses pembuatan Tapakan Ida Bhatara dimulai dengan Upacara Nunas Kayu Pule di Setra, pada tanggal 21 Juli 2010. Mulai pagi hari telah dilakukan pembersihan di area pohon pule dan memotong kayu bunut yang melilit pohon pule. Pada malam harinya, mulai sekitar jam 22.00 mulai dilakukan pemotongan (nunas) kayu pule yang diawali dengan ngaturang banten dan sesajen lainnya kehadapan Ida Bhatara. Proses nunas kayu ini adalah saat-saat yang dinantikan warga, semua mata warga tertuju pada gergaji mesin yang berada diatas ketinggian lebih dari 10 meter. Apalagi ketika saat setelah kayu terpotong, proses untuk menurunkan kayu adalah saat yang menegangkan, selain karena malam hari, juga karena kayu tidak boleh menyentuh tanah, sebab akan digunakan untuk Tapakan Ida Bhatara yang disakralkan. Kayu Pule yang akan dijadikan Tapakan Ida Bhatara sebanyak 8 potong kayu. Warga desa sudah dibagi-bagi menurut banjar untuk nyanggra (bertanggung jawab) terhadap masing-masing potongan kayu tersebut. Untuk menurukan potongan kayu yang ke 6,7 dan 8 (masih jadi satu) adalah yang tersulit karena harus dipotong di bawah sehingga untuk menurunkan kayu dengan mencapai panjang 3 meter dan berdiameter hampir 1 meter adalah hal yang sangat sulit walaupun telah dibantu dengan alat berat.

Syukur akhirnya sekitar jam 3 pagi pelaksaanaan nunas kayu dapat terselesaikan dengan baik dan dilanjutkan dengan membawa potongan kayu-kayu tersebut ke Pura Dalem.

Tanggal 28 Juli 2010, di Pura Dalem sekitar pukul 10 pagi mulai dilakukan pemotongan kayu sesuai ukuran yang akan dijadikan Barong, Rarung, Telek dan Jau. Pemotongan ini selesai sekitar jam 13.00. Sekitar pukul 15.00, kayu-kayu bakal Tapakan Ida Bhatara dibawa ke Bangli untuk dibentuk(diukir).

Perkiraan biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan Tapakan Ida Bhatara adalah sebagai berikut:

1. Tapakan Barong                 : Rp. 110.000.000,-
2. Rarung                              : Rp.     7.500.000,-
3. Telek 6 stel @ 5.500.000     : Rp.   33.000.000,-
4. Jauk                                  : Rp.     7.500.000,-
5. Upakara                            : Rp.   40.000.000,-
Total                                       : Rp. 198.000.000,-

Jika dilihat dari biaya yang dibutuhkan adalah sangatlah besar sehingga inilah saatnya warga desa adat kemoning (khususnya) dan warga Hindu Dharma (umumnya) untuk menunjukkan astiti bhakti kehadapan Ida Bhatara (Ida SangHyang Widhi Wasa) serta sumbangsih ke Desa Adat Kemoning yang tercinta. Pembuatan Tapakan Ida Bhatara ini suatu kejadian yang sangat langka dalam kehidupan bagi warga desa adat kemoning, serta ini akan menjadi sejarah bagi generasi warga desa adat kemoning yang akan datang.

Dana punia dapat disalurkan langsung ke panitia, atau melalui LPD Desa Pakraman Kemoning, atau pun lewat transfer ke:

Rekening BCA a.n : I Ketut Sudasma SPD   No Rek : 3950164653

Untuk yang transfer melalui rekening bank, mohon setelahnya dikonfirmasi lewat mailinglist kemoning atau konfirmasi ke panitia (I Ketut Sudasma sebagai ketua penggalian dana/08123966590).

Diharapkan dana untuk pembuatan Tapakan Ida Bhatara sudah terkumpul sebelum akhir bulan Nopember 2010 karena pada tanggal 3 Desember 2010 rencananya akan diadakan upacara Masupati Tapakan Ida Bhatara.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

- I Wayan Mustika              HP : 081337717370

- I Ketut Sudasma, S.Pd      HP : 08123966590

- I Dewa Nyoman Oka         HP : 08124624134

Meru, Makna dan Fungsinya

Posted by Adnyana under Ajeg Hindu on July 6, 2010 @ 7:20 pm

Meru merupakan salah satu bangunan suci umat Hindu di Bali, yang sangat agung, megah dan monumental, sarat dengan kandungan makna simbolis dan kekuatan religius. Meru dijumpai pada pura-pura besar di Bali dengan ciri khasnya adalah atapnya yang bertumpang tinggi.

Meru tidak hanya dijumpai di pura-pura di Bali, tapi juga pada upacara-upacara ngaben (kremasi) di Bali sebagai wadah sawa atau watang (mayat) pada upacara pitra yadnya. Apa sesungguhnya makna dan fungsi, serta bagaimana tata letak, bentuk, sampai ornamen meru?

MERU dibangun berdasarkan pada keakuratan proporsi, logika teknik konstruksi dan keindahan ragam hias, yang berpegang teguh kepada kearifan lokal arsitektur tradisional Bali seperti Hasta Kosala Kosali, Hasta Bumi, Lontar Andha Buana, Lontar Jananthaka, dll. Konstruksi meru merupakan konstruksi tahan gempa yang telah teruji keandalannya. Gempa yang sangat dahsyat dengan kekuatan yang sangat besar yang pernah terjadi di Bali (seperti di Seririt, Buleleng), dimana bangunan konstruksi modern banyak yang roboh, namun bangunan-bangunan suci di Bali — khususnya meru — masih berdiri dengan kokoh, kuat, stabil, dan tegak.

Makna dan Fungsi Meru

Meru, didasarkan kepada kutipan yang tercantum pada lontar-lontar warisan leluhur seperti Lontar Andha Bhunana, mengandung makna simbolis atau filsafat sbb.;

Matang nyan meru mateges, me, ngaran meme, ngaran ibu, ngaran pradana tattwa; muah ru, ngaran guru, ngaran bapa, ngaran purusa tattwa, panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak. Meru ngaran pratiwimbha andha bhuana tumpangnya pawakan patalaning bhuana agung alit.

Artinya, “Oleh karena itu meru berasal dari kata me, berarti meme = ibu = pradana tattwa, sedangkan ru berarti guru = bapak = purusa tattwa, sehingga meru berartibatur kelawasan petak (cikal bakal leluhur). Meru berarti lambang atau simbol alam semesta, tingkatan atapnya merupakan simbol tingkatan lapisan alam yaitu bhuana agung dan bhuana alit”.

Jadi, berdasarkan keterangan dalam Lontar Andha Bhuana tersebut, meru memiliki dua makna simbolis yaitu meru sebagai simbolisasi dari cikal bakal leluhur dan simbolisasi atau perlambang dari alam semesta. Lebih lanjut diuraikan, meru punya dua makna sbb.;

1. Meru sebagai perlambang atau perwujudan dari Gunung Mahameru – gunung adalah perlambang alam semesta sebagai stana para Dewata, Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) atau Papulaning Sarwa Dewata. Meru mempunyai makna simbolis dari gunung juga diuraikan dalam Lontar Tantu Pagelaran, Kekimpoi Dharma Sunia dan Usana Bali.

Dalam hal ini, meru sebagai Dewa Pratista — berfungsi sebagai tempat pemujaan atau pelinggih para Dewa. Meru sebagai Dewa Pratista terdapat dalam kompleks pura seperti Pura Sad Kahyangan, Kahyangan Jagat dan Kahyangan Tiga.

2. Meru melambangkan “Ibu” dan “Bapak” sebagaimana diuraikan dalam Lontar Andha Bhuana. Ibu mengandung pengertian Ibu Pertiwi yaitu unsur pradhana tattwa dan Bapak mengandung makna “Aji Akasa” yaitu unsur purusa tattwa. Manunggalnya pradhana dan purusa itulah merupakan kekuatan yang maha besar yang menjadi sumber segala yang ada di bumi. Inilah yang merupakan landasan bahwa meru berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur di kompleks pura-pura Pedarman Besakih. Di sini, meru sebagai Atma Pratista yaitu berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur atau sebagai stana Dewa Pitara.

Berdasarkan uraian itu, kesimpulannya, meru bermakna sebagai perlambang Gunung Mahameru, perlambang Tuhan Yang Maha Esa (alam semesta) dan “Ibu Bapak” (purusa pradhana), berfungsi sebagai tempat pemujaan atau stana para dewa-dewi, betara batari, dan roh suci leluhur. Hal ini lebih tegas juga diuraikan dalam Lontar Purana Dewa, Kesuma Dewa, Widhi Sastra, Wariga Catur Winasa Sari dan Jaya Purana.

Filosofi Atap

Keindahan dan keagungan meru ditonjolkan oleh bentuk atapnya yang bertingkat-tingkat yang disebut atap tumpang. Ini dapat dibedakan atas meru tumpang satu, dua, tiga, lima, tujuh, sembilan, dan sebelas.

Meru sebagai perlambang atau simbolis alam semesta, tingkatan atapnya merupakan simbolis tingkatan lapisan alam yaitu bhuana agung (alam besar atau makrokosmos) dan bhuana alit (alam kecil atau mikrokosmos) dari bawah ke atas sebanyak sebelas tingkatan.

Tingkatan tersebut yaitu

1 = Sekala,

2 = Niskala,

3 = Cunya,

4 = Taya,

5 = Nirbana,

6 = Moksa,

7 = Suksmataya,

8 = Turnyanta,

9 = Ghoryanta,

10 = Acintyataya,

11 = Cayen.

Ada juga meru beratap 21, namun biasanya ini dapat dilihat pada wadah atau bade pada saat ada upacara ngaben di Bali. Meru “khusus” ini memiliki pengertian Dasa Dewata sebagai dasar pokok, kemudian ditambah 11 tangga atma sebagai kelanjutannya.

Tingkatan-tingkatan atap meru adalah simbolisasi penyatuan dasa aksara (huruf suci) sebagai urip (jiwa) dari meru atau alam semesta. Sepuluh huruf suci ini merupakan urip bhuana yang letaknya di 10 penjuru alam semesta termasuk di tengah.

Ke-10 huruf itu adalah huruf suci

sa (letaknya di timur, dewanya Iswara dan warnanya putih),

ba (selatan, Brahma, merah),

ta (barat, Mahadewa, kuning)

a (utara, Wisnu, hitam),

i (tengah, Ciwa, campuran atau panca warna),

na (tenggara, Mahesora, merah muda atau dadu),

ma (barat daya, Rudra, jingga),

si (barat laut, Sangkara, hijau),

wa (timur laut, Sambu, biru)

ya (tengah atas, Ciwa, panca warna).

Penunggalan 10 huruf itu menjadi satu lambang aksara suci bagi umat Hindu yaitu Omkara (huruf suci Sanghyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa). Sedangkan pengejawatahan ke-10 huruf suci dan huruf suci Omkara dalam meru diuraikan sbb.:

* Meru beratap 11

adalah lambang dari 11 huruf suci — 10 huruf suci + huruf suci Omkara sebagai lambang Eka Dasa Dewata.

* Meru beratap 9

adalah lambang 8 huruf di seluruh penjuru (sa, ba, ta, a, na, ma, si, wa) + satu huruf Omkara di tengah, 9 huruf itu lambang Dewata Nawa Sanga.

* Meru beratap 7

adalah lambang 4 huruf (sa, ba, ta, a) + 3 huruf di tengah (i, Omkara, ya). Ini lambang Sapta Dewata/Rsi.

* Meru beratap 5

adalah simbolis dari 5 huruf (sa, ba, ta, a) + satu huruf Omkara di tengah. Ini lambang Panca Dewata.

* Meru beratap 3

adalah simbolis dari 3 huruf di tengah (i, Omkara, ya), merupakan lambang Tri Purusa yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa.

* Meru beratap 2

adalah simbolis dari dua huruf di tengah (i, ya) adalah lambang dari Purusa dan Pradhana (Ibu-Bapak).

* Meru beratap 1

adalah simbolis dari penunggalan ke-10 huruf suci itu yaitu “Om” atau Omkara sebagai perlambang Sang Hyang Tunggal (Sanghyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa).

Bentuk dan Ornamen Meru

Meru secara tata letak berada pada tempat pemujaan di halaman utama (jeroan) dari suatu pura. Dari segi orientasi, meru umumnya menghadap ke barat sebagai tempat pemujaan utama berderet pada sisi timur dari utara ke selatan (kaja-kelod) dengan bangunan-bangunan padma, gedong, dan pemujaan suci lainnya sehingga arah pemujaan menghadap ke timur ke arah matahari terbit. Namun di beberapa pura di Bali, terkait dengan kondisi alam dan filosofis khusus dari pura bersangkutan, ada meru yang menghadap ke selatan seperti Pura Kehen, Bangli, dan menghadap timur laut seperti Pura Uluwatu, Badung, sehingga arah pemujaannya menghadap ke ke utara (Pura Kehen) dan dan barat daya (Pura Uluwatu).

Dari segi bentuk, meru seperti bangunan suci lainnya dibedakan atas bagian kepala (atap), badan (ruang pemujaan atau tempat meletakkan pratima), dan kaki (bebaturan) atau yang dikenal dengan konsep Tri Angga. Walaupun meru dapat dibagi atas tiga bagian (kaki, badan, dan kepala), namun secara proporsi dan penyelesaiannya sangat berbeda. Dalam penyelesaian proporsi bebaturan, tampak badan (ruang pemujaan), penyelesaian tumpang atap meru dan penggunaan ornamen serta bahannya pun sangat bervariasi sesuai dengan kondisi masing-masing daerah di Bali.

Ini berdasarkan pengamatan pada meru yang ada di kompleks Pura Besakih, Pura Batur, Pura Taman Ayun, Pura Kehen, Pura Danau Beratan, dll. Sedangkan dari segi dimensi, denah meru berbentuk segiempat dengan ukuran dasar bervariasi, 5m x 5m, 3m x 3m, sampai 7m x 7m dan tingginya pun bervariasi sampai mencapai 10m, bahkan lebih tergantung jumlah tumpang atapnya.

Bagian badan ditutup dengan menggunakan bahan kayu atau pasangan batu bata, batu kali, paras atau batu karang (sesuai kondisi lokasi) dan di dalamnya terdapat pepaga (altar) atau bale-bale yang berfungsi sebagai tempat menaruh pratima berupa lingga, arca, patung dewa-dewi sebagai simbol sinar manifestasi kekuatan Hyang Widi Wasa dan sesajen pada saat upacara berlangsung serta dilengkapi dengan pintu masuk untuk manusia yang melakukan persembahyangan di dalam ruangan atau badan meru. Karakter pada ruang pemujaan ini memiliki sifat vertikalisme yang tinggi, sehingga seakan-akan orang ditarik ke atas. Hal ini disebabkan oleh pengaruh bentuk ruang di dalamnya yang menerus dari bawah ke atas, sehingga terjadi tarikan udara ke atas yang dihembuskan menerebos melalui celah-celah antar tumpang atap meru.

Dari segi bentuk bebaturan (kaki), meru dibedakan atas meru dengan bebaturan tinggi dan pendek. Dari segi stabilitas massa, maka bentuk meru dengan batur pendek akan lebih stabil dibandingkan batur tinggi.

Kestabilan ini erat kaitannya dengan titik berat massa bangunan. Umumnya, meru dengan batur pendek banyak dijumpai pada pura-pura di pegunungan. Di samping lebih stabil, juga karena hiasan ornamen atau ragam hias pada bebaturan-nya akan lebih sedikit atau lebih ekonomis. Namun secara umum, bentuk dan dimensi dari meru didasarkan kepada aturan Hasta Kosala Kosali sehingga menghasilkan keharmonisan antara ketepatan proporsi, kekuatan konstruksi dan keindahan ragam hias.

Ornamen pada meru hampir serupa dengan bangunan suci pura lainnya yang sarat dengan kekarangan dan pepatraan yang menunjukkan keharmonisan manusia dengan alamnya yaitu melambangkan flora dan fauna. Pada ujung atap limas meru yang digolongkan ke bagian kepala, umumnya ditemukan ornamen yang disebut murdha seperti murdha bantala pada meru di Pura Besakih. Pada bagian badan meru, terutama pada bagian atas pintu gedong, biasanya terdapat ornamen karang sae. Daun pintunya biasanya memakai ukiran bermotif patra olanda. Selanjutnya pada sendi atau tatakan saka (kolom) memakai patung singa seperti yang terdapat di meru Pura Besakih, atau ada juga yang memakai sendi biasa seperti yang terdapat pada meru di Pura Batur.

Ornamen yang terdapat pada bagian bebaturan berupa pepalihan, karang asti atau karang gajah pada setiap sudut, karang tapel pada bagian tengah di keempat sisi pada bagian paling dasar di atas tepas hujan. Kemudian pada bagian atasnya terdapat karang goak di keempat sudut dan karang bunga dan simbar gantung pada bagian tengah.

Ornamen berupa patung naga dan bedawang nala (kura-kura) biasanya dapat dilihat pada bagian dasar kaki dan tangga meru. Naga dan kura-kura sebagai perlambang kemakmuran. Juga dilengkapi patung-patung lain sesuai dengan kondisi masing-masing pura seperti arca dewa, arca manusia, dan lain-lain.

http://blackinjpn.multiply.com/journal/item/57/Meru

Nardayana, Dalang Inovatif Cenk Blonk

Posted by Adnyana under Ajeg Bali on July 5, 2010 @ 4:41 pm

KOMPAS.com — Ia terlahir dari keluarga petani miskin dan tak punya leluhur berdarah seni mendalang wayang kulit. Namun, keuletan belajar dan kecintaan terhadap seni mengantarkannya menjadi dalang wayang kulit bali. Ia sukses dan populer sejak 15 tahun lalu dengan sebutan dalang inovatif Cenk Blonk. Dialah I Wayan Nardayana.

Pria ini dikenal karena pertunjukan wayang kulitnya memasukkan lelucon serta obrolan ceplas-ceplos segar dan aktual di sela pertunjukannya. Sejak tahun 2002, ia terus memodifikasi pentas wayang kulitnya dengan permainan lampu warna-warni serta berbagai suara untuk mendukung cerita.

Bahkan, ia membawa sekitar 50 kru dan satu generator listrik berkekuatan 7.000 watt setiap kali mentas. Layar yang dia gunakan tak biasa, 6 meter dan tinggi 1,5 meter.

Maka, meski pertunjukannya tidak semalam suntuk—hanya dua setengah jam— kemunculan wayang Cenk Blonk serasa angin segar di antara pementasan seni yang sepi ide. Penonton pun bisa membeludak.

Kemasan pencahayaan yang apik, disertai lelucon hingga obrolan ceplas-ceplos ala rakyat, menjadikan penonton berusia tua dan generasi muda tak beranjak selama pertunjukan. Nardayana menyisipkan lelucon segar dan kritik sosial melalui tokoh rakyat Nang Klenceng dan Nang Eblong. Kedua tokoh itu punya bentuk lucu, dari kepalanya yang botak dan berkucir, serta gigi tonggos. Kedua tokoh yang dia mainkan inilah yang membuat Nardayana dikenal sebagai dalang Cenk Blonk.

Awal pentas tahun 1992, Nardayana menggunakan nama kelompoknya, Gita Loka. Tiga tahun kemudian ia menggunakan nama Cenk Blonk hingga kini.

Tiyang (saya) tidak sengaja, sebelum mentas mendengar obrolan beberapa orang sambil menunggu pertunjukan mengatakan wayang Cenk Blonk mau mulai, ayo cepat cari tempat. Tiyang tertarik dan mengganti Gita Loka menjadi wayang Cenk Blonk,” kata Nardayana di rumahnya, Desa Belayu, sekitar 40 kilometer dari Denpasar.

Penggunaan huruf K menggantikan G pada Nang Klenceng (Cenk) dan Nang Eblong (Blonk), lanjut Nardayana, agar terkesan lebih gaul. Lagi-lagi ini juga menjadi bagian cara menarik penonton. Apalagi, saat itu ia belum berinovasi dengan tata pencahayaan warna-warni.

”Setiap hari, tiyang memperbarui bahan guyonan atau kritik sesuai tren berita-berita di media massa atau masyarakat sekitar Bali. Tiyang tetap perlu memerhatikan siapa saja penonton saat pertunjukan. Ya, biar nyambung dengan penontonnya dan mereka terhibur,” ujarnya.

Berawal dari kesedihan

Kepiawaian mendalang berawal dari kesedihan Nardayana terhadap sebagian masyarakat yang meninggalkan pertunjukan seni wayang kulit. Sekitar tahun 1989 dia bertekad mengembalikannya.

Saat itu, ia masih bekerja sebagai tukang parkir di salah satu pusat perbelanjaan. Sepulang bekerja, Nardayana mendapati pertunjukan wayang kulit yang sepi penonton. Ia langsung memilih meninggalkan pekerjaannya untuk belajar seni pedalangan.

Dia mencari tetangganya yang membuat wayang dan dalang. Tiga tahun kemudian, Nardayana pentas perdana di Pura Parungan, Tabanan. Ia dibayar sekitar Rp 250.000 untuk sekali pentas dengan layar 2 x 1 meter. Dia hanya mengajak beberapa orang penabuh gamelan.

Ketertarikan terhadap kesenian sebenarnya sudah ditunjukkan sejak di bangku SMA. ”Kala itu tiyang dibayar Rp 2.500 setiap pentas topeng untuk acara adat di sekitar rumah,” tuturnya.

Setelah pentas berkeliling dan terus berinovasi dengan tata lampu, ia lalu dibayar sekitar Rp 10 juta setiap kali pentas. Dia mampu manggung lebih dari tiga kali dalam sehari mengingat waktu pentas hanya dua setengah jam lamanya. Sebulan, ia mampu pentas di lebih dari 40 lokasi.

”Tetapi tiyang juga bisa tidak dibayar jika masyarakat yang meminta tak punya uang. Apalagi, mereka yang punya kaul,” ujarnya. Bagi Nardayana, inovasi pewayangan dengan tata cahaya berwarna tidak merusak tatanan yang ada. Bahkan, hal itu memperkaya seni wayang.

”Menurut tiyang, budaya bisa berubah setiap saat. Tetapi, ini tidak berlaku pada spiritualnya. Tiyang memang mengubah penampilan, tetapi tidak mengubah spiritualnya,” katanya.

Tak sedikit orang, termasuk kalangan seniman, sempat memusuhinya karena Nardayana dinilai merusak pakem pewayangan. Namun, ia tutup telinga dan terus berkarya. Bahkan, dia memperkaya ilmu otodidaknya dengan kembali ke bangku kuliah yang sempat ditinggalkannya karena tak ada biaya.

Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dipilihnya sebagai penguat dan pengayaan idenya. Sementara spiritualnya, dia gali dalam kuliah S-2 di Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.

”Saya ingin terus belajar dan berencana mengambil S-3,” ujar Nardayana.

Sayangnya, ketika Kompas berkunjung ke rumahnya di Belayu, Nardayana tidak mengizinkan mengambil gambar wayang Cenk dan Blonk miliknya, meski ia mengaku memiliki enam keropak atau kotak berisi tokoh wayang lengkap.

”Maaf, tiyang menghargai sekali wayang-wayang ini. Oleh karena itu, tiyang tidak bisa sembarangan mengeluarkannya jika tidak ada kepentingan langsung untuk pentas atau upacara.”

Namun, kata Nardayana membesarkan hati, jika ingin melihat pementasannya, di pasaran sudah beredar enam albumnya berupa VCD berbahasa Bali dan bahasa Indonesia.

”Wah, kalau tiyang tidak belajar bahasa selain bahasa Bali, wayang tidak akan bisa maju. Ini pertunjukan seni yang seharusnya bisa dinikmati siapa saja dan datang dari suku atau negara mana pun. Oleh karena itu, tiyang pun tak puas sampai di sini. Inovasi harus jalan terus dan berkembang. Jika tidak, tiyang dan wayang ditinggalkan masyarakat. Tiyang tidak mau itu terjadi,” Nardayana menegaskan.

Oleh Ayu Sulistyowati

http://lipsus.kompas.com/hut45/read/2010/07/05/10085051/Nardayana..Dalang.Inovatif.Cenk.Blonk

Festival Budaya di Frankfurt, Jerman

Posted by Adnyana under Ajeg Bali on July 2, 2010 @ 9:10 am

Gebogan Khas Karangasem Juara II Terbaik

FESTIVAL Budaya Franfurt Jerman yang diikuti Tim Seni Budaya Indonesia dari Perwakilan KJRI-Franfurt Jerman bekerja sama dengan Persatuan Masyarakat Indonesia di Franfurt (Permif), menampilkan pawai Gebogan khas Karangasem serta iringan kesenian angklung serta Barong Bali dan tari Payung Sumatera Barat, akhirnya dinobatkan sebagai juara II terbaik peserta Parade Budaya tahun ini.

Dari informasi KJRI Mira Rchyadi, penampilan Tim Kesenian Indonesia mampu menarik simpati puluhan ribu penonton di sepanjang jalan protokol Franfurt, sehingga dewan juri menobatkan sebagai Penampilan Terbaik kategori dewasa dan kreativitas setelah tim seni budaya Spanyol juara I penampilan terbaik.

Penampilan Indonesia sebagai ajang promosi kebudayaan Indonesia di Jerman diikuti lebih dari 1.500 peserta dari 58 organisasi. Di samping itu, Parade Budaya untuk mempresentasikan keanekaragaman budaya masyarakat Franfurt sebagai kota metropolitan pusat pertahanan dan perbankan di Jerman.

Bupati Karangasem I Wayan Geredeg, S.H. mengapresiasi potensi budaya Karangasem yang dilibatkan pada event Budaya Franfurt Jerman tahun 2010. Gebogan khas Karangasem yang terdiri atas susunan buah dan sampyan gebogan, yang bahannya didatangkan dari Karangasem berikut pakaian khas adat Bali difasilitasi Bupati I Wayan Geredeg, memiliki daya tarik tersendiri. Dibawa secara dijinjing oleh para perempuan secara berderet dalam pawai maka nampak estetika dan nuansa eksotiknya sebagai salah satu budaya unik yang mampu memesona publik dan tim juri Parade Budaya di Franfurt Jerman.

Dengan keberhasilan tersebut, mencerminkan bahwa penghargaan dan apresiasi masyarakat luar negeri terhadap khazanah budaya Bali khususnya khas Karangasem demikian tinggi. Festival tersebut cukup bergengsi dan menjadi media promosi yang efektif dari segi kepariwisataan. Diharapkan dengan keberhasilan tersebut, dapat memberi dampak peningkatan kunjungan wisatawan Jerman ke Bali khususnya ke Karangasem.

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=38049

sumber foto: Izhar Gouzhary

Karya Ngenteg Linggih Pura Sangga Bhuana Hamburg

Posted by Adnyana under Pura di Eropa on May 26, 2010 @ 4:47 am

Saniscara Keliwon Kuningan tanggal 22 Mei 2010, umat Hindu dimanapun berada melangsungkan perayaan Kuningan, tidak terkecuali umat Hindu yang berada di kota Hamburg atau di negeri Jerman pada umumnya. Perayaan Kuningan kali ini terasa berbeda dari perayaan Kuningan sebelumnya yang biasa diselenggarakan oleh Nyama Braya Bali (NBB) di Jerman. NBB tempek Hamburg yang kali ini berkesempatan menjadi penyelenggara perayaan Kuningan, secara bersamaan juga melangsungkan karya Ngenteg Linggih Pura yang baru dibangun di Hamburg, tepatnya di depan halaman Museum für Völkerkunde (Museum Etnologie yang memamerkan hampir seluruh etnis kebudayaan dunia). Pura yang baru di pelaspas di halaman Museum ini bernama „Pura Sangga Bhuana”.

Sejarah Singkat Pembangunan Pura

Pura yang dibangun atas inisiatif Luh Gede Juli Wirahmini Biesterfeld, wanita kelahiran Desa Banyuatis, Buleleng yang saat ini berdomisili di Hamburg, sesungguhnya sudah direncanakan sejak tahun 2004, secara bertahap dimulai dari kegiatan memamerkan benda-benda kesenian bali didalam ruangan Museum di salah satu departementnya yang khusus memamerkan tentang kebudayaan etnis Bali, kemudian di tahun 2006 diikuti dengan mewujudkan rumah gedong kerajaan berasitektur bali di dalam ruangan Museum, hingga akhirnya di tahun 2008 ketika NBB Hamburg menyelenggarakan Kuningan, keinginan untuk mendirikan Pura mulailah di wujud nyatakan di awali dengan upacara mecaru „ngeruak“ membuat dasar bangbang untuk bangunan Padmasana yang dipimpin oleh Ida Bhagawan Dwija. Selanjutnya di tahun 2009 Padmasana mulai dibangun oleh undagi (arsitektur Pura) I Nyoman Artana yang juga didatangkan langsung dari Bali. Atas sweca nugraha Ida Sang Hyang Widi Wasa di tahun 2010 tepatnya pada saat perayaan Kuningan 22 Mei 2010 Pura yang baru di bangun ini diresmikan seperti layaknya Pura di Bali, yang upacara Pemlaspasan dan Ngenteg Linggih di pimpin oleh Ida Bhagawan Dwija Nawa Sandi.

Jalannya Upacara Pemlaspasan Pura dan Perayaan Kuningan di Hamburg

Seperti tertulis pada surat undangan yang disebarluaskan oleh Juli Wirahmini bekerja sama dengan pihak Museum Völkerkunde Hamburg, upacara pemlaspasan Pura dilaksanakan pada hari sabtu kliwon kuningan 22 mei 2010, tepatnya dimulai jam 10 pagi. Sebelum upacara dimulai, cuaca di Hamburg saat itu tampak mendung dan sempat terjadi gerimis hujan, tak pelak cuaca dingin saat itu membuat umat yang hadir berpenampilan pakaian adat bali hampir semua melengkapi dirinya dengan jaket yang tebal pula. Namun seiring berjalannya mata jarum jam, cuacapun berangsur membaik hingga akhirnya matahari bersinar terang.

Ketika memasuki area Pura, umat yang hadir disambut dengan suara gamelan yang dimainkan oleh group gamelan “Anggur Jaya”  pimpinan Sebastian Goethe dan Ni Wayan Goethe yang anggotanya berasal tidak hanya dari Freiburg, melainkan juga dari Basel, Muenchen, Heidelberg, dll. Dentuman kendang yang dimainkan oleh Wayan Pica serta Lantunan suara seruling yang dimainkan oleh anggota sekehe gamelan, membuat suasana di Hamburg benar-benar terasa seperti di Bali.

Setelah umat yang hadir selesai bertegur sapa dan berkangen-kangenan, tiba saatnya Ida Bhagawan Dwija yang memimpin jalannya upacara meminta kepada umat yang hadir untuk mengambil sikap duduk agar jalannya upacara bisa dimulai. Sementara Ida Bhagawan Dwija mulai melafalkan mantra, penari „Topeng Jago“ mulai menari dihadapan umat. Pementasan  Topeng Jago yang termasuk jenis tari bebali disaat upacara sedang berlangsung adalah bertujuan untuk mengusir Buta Kala sehingga upacara pemlaspasan bisa berjalan dengan lancar. Seperti jenis tarian topeng lainnya, tari Topeng Jago juga menggambarkan suatu hubungan interaktif antara penari dan penabuh. Keduanya saling mempengaruhi dan keduanya secara bergantian memberi sinyal tertentu yang bisa menghasilkan gerakan tari yang berbeda-beda.

Setelah penampilan Topeng Jago, kemudian diikuti dengan rentetan upacara mecaru – mlaspas (memangguh, memirak, nyengker, mcaru Rsi Gana Bebek, mlaspas, memakuh, ngurip, masucian)

Selanjutnya diikuti dengan penampilan “Topeng Tua” yang bermakna filosofi orang tua “ngentegang” anaknya yaitu umat yang hadir.

Usai penampilan Topeng Tua, kemudian diikuti dengan pementasan „Topeng Penasar“ yang banyak bertutur atau membeberkan jalannya upacara yang akan berlangsung serta menjelaskan makna filosofi yang terkandung didalamnya termasuk pula tentang keberadaan dekorasi atau aksesori yang ada di sekeliling Pura seperti kober nawa sanga, kober hanoman, umbul-umbul serta bendera yang berwarna-warni tak luput dijelaskannya. Karena fungsi nya sebagai pengutara dasar cerita maka tokoh ini disebut “Penasar”. Tatwa Hindu dijabarkannya dengan gaya bahasa yang mudah di cerna oleh umat yang hadir.

Upakara yang digunakan pada upacara pemlaspasan Pura di Hamburg ini dijelaskannya juga, bila dilihat dari tingkatan upakara (utama, madya, nista) termasuk tingkatan “Madyaning Utama” karena disesuaikan dengan “Desa Kala Patra”. Karena terbatasnya lahan yang ada di depan museum, maka prinsip kesucian yang bersifat horizontal “Tri Mandala” :

1. Utama mandala = jeroan,
2. Madya mandala = jaba tengah,
3. Nista mandala = jaba

yang biasa dijumpai di Pura di Bali, ditransformasi menjadi prinsip kesucian yang bersifat vertical “Tri Angga” yang pada pembangunan Padmasana dikenal dengan nama “Tri Loka”:

1. Bhur Loka = dasar yaitu badawang nala-naga basuki-naga antaboga,
2. Bwah Loka = badan yaitu karang boma-garuda wisnu kencana, angsa,
3. Swah Loka = puncak padmasana yaitu berbentuk singasana yang diapit oleh dua naga taksaka .

Sehingga bangunan Padmasana terlihat saling melengkapi dengan bangunan Museum yang tinggi, demikian di wacanakan oleh Topeng penasar disaat upacara berlangsung.

Perihal nama dari Pura di Hamburg ini juga dijelaskan oleh Topeng Penasar, Pura ini tidak dinamai “Pura Jagadnata” seperti layaknya Pura yang ada di Bali, melainkan dinamai ” Pura Sangga Bhuana”, karena alasan secara phisik Pura Jagadnata memerlukan tambahan pelinggih lainnya seperti Piasan, Pelinggih Purusa sebagai simbol gunung agung dan pelinggih Pradana sebagai simbol gunung batur, sementara lahan yang tersedia di depan Museum ini tidaklah cukup luas, namun bila di maknai secara filosofi “Jagat = Bhuana”, Sangga = menyangga / menopang. Jadi Pura Jagat-Nata yang bermakna Pura penguasa dunia diganti dengan Pura Sangga Bhuana yang bermakna Pura Penyangga dunia , yang diharapkan dapat menopang dunia / menjaga kehidupan umat yang ada di Hamburg / Jerman / Eropa…

Setelah Topeng Penasar sekian lama „berdharma wacana“  dihadapan umat, Ida Bhagawan Diwija yang memimpin jalannya upacara menginstruksikan kepada umat untuk melaksanakan Pemuspaan “Ngider Bhuana”  dan secara bersamaan diminta mementaskan Tari Rejang Dewa dengan tujuan untuk “memendak” Ida Bhatara untuk turun kedunia.

Yang menarik dari penampilan tari rejang dewa yang dipentaskan oleh anak gadis yang memang benar-benar masih “virgin” sehingga kesucian dan kesakralan dari jenis tari wali ini benar-benar terjaga.

Setelah ngider bhuana dan peenampilan tari rejang dewa usai, kemudian ditampilkannya tari „Topeng Sida Karya“ yang bertujuan melinggihan (Ngenteg Linggih) Ida Bhatara secara niskala di Padmasana..

Bersamaan dengan penampilan Topeng Sida Karya, umat ngaturang ngayah meletakkan “symbol” Ida Sang Hyang Widi tepat dipuncak Padmasana

Setelah kesemua ritual diatas selesai, akhirnya persembahyangan bersama dimulai, diawali dengan puja trisandya dan dilanjutkan dengan kramaning sembah. Selanjutnya tirtha wangsuh-pada dan bija dibagikan. Untuk mengisi waktu luang, Ida Bhagawan Dwija melaksanakan Dharma-wacana dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan kedalam bahasa jerman oleh I Gusti Aryani Kriegenburg-Wilems.

Pada dharma wacana itu, Ida Bhagawan Dwija menjelaskan secara detail akan makna dari „Padmasana“, yang merupakan bangunan symbol pemuja Tuhan secara umum, atau Sanghyang Tri Purusha, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai : Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa. Lebih lanjut Ida Bhagawan juga  menjelaskan Palinggih „Pengrurah“Sanghyang Widhi sebagai manifestasi Bhatara Kala, pengatur kehidupan dan waktu.

Ida Bhagawan juga mengajak seluruh umat yang hadir untuk meneladani pohon pisang, yang karena kodratnya pohon pisang ada atau bermanfaat untuk mahluk lain dan tanpa mengharapkan pamerih. Oleh karenanya bila ada upacara keagamaan di Bali, pohon pisang selalu digunakan. Disamping meneladani pohon pisang, Ida Bhagawan juga mengajak umat yang hadir untuk menelaadani binatang ayam, yang semenjak bangun pagi langsung “berangkat” kerja untuk menafkahi dirinya. Kesemua dharma wacana dari Ida Bhagawan Dwija ini diterjemahkan oleh Gusti Aryani, sehingga hampir semua warga jerman yang menyaksikan jalannya upacara ini manggut-manggut menganggumi inti sari dari dharma wacana dari Bhagawan Dwija, pertanda mereka juga setuju.

Ida Bhagawan Dwija juga menjelaskan bahwa secara perlahan tapi pasti, keberadaan komunitas kita ataupun agama kita mulai dikenali serta di akui, tidak hanya oleh masyarakat Jerman tetapi juga oleh pemerintah Jerman, terbukti dengan diberikannya ijin untuk membangun Pura ini di Museum Völkerkunde Hamburg. Ida Bhagawan mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih kepada Museum Völkerkunde dan kepada Ibu Luh Gde Juli Wirahmini Biesterfeld, yang telah secara bersama-sama mewujudkan Pura Sangg Bhuana ini.

Dengan dibangunnya Padmasana / Pura di Hamburg ini, Bhagawan Dwija berharap kepada umat yang hadir di Hamburg, bisa semakin yakin akan Sang Hyang Widi Wasa, yaitu Tuhan dengan tanpa sifatnya (Nirguna Brahman) dan Tuhan dengan sifat-sifatnya (Saguna Brahman).

Dharma Wacana dari Ida Bhagawan Dwija merupakan akhir dari upacara di pagi hari, yang selanjutnya dilanjutkan dengan acara makan siang bersama. Namun sebelum umat beranjak menuju tempat dimana makanan siang di hidangkan, semua umat melakukan foto bersama.

Sambutan dan Hiburan

Waktu menunjukkan jam 14.30 , jalannya acara dilanjutkan dengan sambutan resmi dari President Director Museum Völkerkunde Prof. Dr. Wulf Köpke, staff pameran yang menanggung jawabi departement Bali di Museum Völkerkunde Dr. Jeanette Kokkot, serta pemberian souvernir dari pihak Museum kepada Juli Wirahmini, Ida Bhagawan Dwija, undagi I Nyoman Artana, serta kepada penari yang datang dari Bali. Karena terkesan dengan Dharma Wacana dari Ida Bhagawan Dwija tentang keteladanan pohon pisang,  Prof. Dr. Wulf Köpke pun akhirnya menyerahkan tanda kenang-kenangan berupa tunas pohon pisang kepada Ida Bhagawan Dwija, yang disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari penonton yang hadir. Ida Bhagawan Dwija dalam sambutannya juga menyerahkan kenang-kenangan kepada pihak museum berupa perangkat upacara yang dibawa beliau dari bali dan dipergunakan untuk melangsungkan upacara Ngenteg Linggih di Pura Sangga Bhuana ini, diberikan seutuhnya kepada pihak Museum untuk ditempatkan didalam ruang pameran museum Völkerkunde.

Waktu terus berjalan, acara sambutan pun selesai juga, sehingga acara dilanjutkan dengan acara hiburan, seperti tari panjembrama, tari Jauk keras, tari Bondres , dan tari Joged yang mengikut sertakan penonton yang hadir.

Penyineban

Di saat hari menjelang sore, setelah acara hiburan usai, Upacara penyineban dipimpin oleh Ida Bhagawan Dwija dilangsungkan sebagai pertanda jalannya upacara Ngenteg Linggih telah berakhir. Umat yang menghadiri persembahyangan juga dimita Ida Bhagawan Dwija untuk mengumpulkan uang logam Euro (yang merupakan bagian dari Panca Datu) untuk ditanamkan kedalam lubang tanah, bersama bebantenan lainnya yang merupakan bagian dari prosesi Mendem Pedagingan.

Dimasukkannya uang logam Euro yang merupakan bagian dari Panca Datu atau 5 element dari bahan yang terbuat dari logam yang terdapat di bumi ini, seperti:
1. emas berwarna kuning yang melambangkan kebesaran dan kemasyuran,
2. Perak yang berwarna Putih yang melambangkan kemurnian,
3. Perunggu yang berwarna merah melambangkan spirit dan keutamaan dalam kehidupan,
4. Baja berwarna hitam melambangkan air,
5. jenis berlian yang terbuat dari campuran keempat jenis logam tadi.

Kelima inti dari metal tadi berfungsi sebagai dasar dari energi listrik yang menghubungkan bangunan-bangunan suci yang ada di Pura dengan energy dari bumi. Dimasukkannya kelima element tersebut di percaya bahwa bangunan suci sudah di hubungkan oleh energy cosmic, sehingga bangunan itu akan memancarkan taksu „kekuatan dari dalam“ seperti menarik kekuatan dan meningkatkan daya yang menakjubkan.

Terimakasih

.

Terimakasih saya panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa kepada Pemerintah Jerman lewat Museum Völkerkunde Hamburg yang telah mengijinkan pendirian Pura ini di Jerman dan juga terimakasih kepada Luh Gede Juli Wirahmini Biesterfeld yang telah mendanai hingga Pura ini bisa terwujudkan di Hamburg. Semoga amal bakti serta ke ikhlasannya di berkati oleh Ida Sang Widi Wasa.

.

.

Alamat Pura Sangga Bhuana Hamburg

.

http://www.voelkerkundemuseum.com/

Museum für Völkerkunde Hamburg

Rothenbaumchaussee 64

20148 Hamburg

.

Sumber Foto: Made Sukasta Mindhoff, Putu Alex, Gde Brahmantara, Ayu Komang Lenk, Wayan Werdhi Agung, Kadek Megah Bintaranny, Yulistya Negara, Sri Herschel, Mirco Schröder

Saraswati di Pura Agung Santi Bhuana Belgia

Posted by Adnyana under Pura di Eropa on March 1, 2010 @ 12:37 pm

Saniscara Umanis Wuku Watugunung tanggal 27 Februari 2010, yang merupakan perayaan Sang Hyang Aji Saraswati kembali di rayakan oleh umat Hindu dimanapun berada, tidak terkecuali oleh umat hindu yang berdomisili di Eropa (Belgia, Jerman, Belanda dan sekitarnya).

Penghormatan kepada dewi Saraswati, manifestasi Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam fungsinya sebagai dewi ilmu pengetahuan, untuk daerah Belgia dan sekitarnya di pusatkan di Pura Agung Santi Bhuana yang berlokasi di Brugelette, sekaliguas merayakan Piodalan di Pura ini. Persembahyangan Saraswati di Pura Agung Santi Bhuana Belgia ini tidaklah dirayakan di pagi hari seperti layaknya perayaan saraswati yang di selenggarakan di Bali atau ditanah air yang selesai tepat sebelum tengah hari (jam 12.00).  Namun persembahyangan Saraswati di Pura di Belgia ini dílaksanakan  sekitar jam 14.00 waktu Belgia. Hali ini di sesuaikan dengan Desa (tempat), Kala (waktu), Patra (keadaan) , dimana umat yang melakukan persembahyangan di Pura ini berdomisili “tempat” cukup berjauhan (selain umat dari Belgia,  umat juga datang dari Jerman dan Belanda), Perayaan Saraswati kali ini datang di “waktu” musim semi sehingga suhu udara masih cukup dingin, “keadaan” cuaca di musim semi ini matahari bersinar cukup telat disiang hari.  Dengan alasan-alasan tadi akhirnya persembahyangan saraswati kali ini dilaksanakan di siang hari. Walaupun persembahyangan saraswati yang di laksanakan di Pura Agung Santi Bhuana berlangsung dalam suasana kesederhanaan, namun tetaplah penuh makna.

Persembahyangan saraswati yang sekaligus merupakan piodalan di Pura Agung Santi Bhuana Belgia ini, bila di badingkan perayaan 7 bulan lalu yang di selenggarakan tanggal 1 Agustus 2009, dimana umat hindu yang hadir pada saat itu ada yang dari swiss, perancis, beberapa orang dari jerman dan tentunya sebagian besar dari belgia, namun kali ini dari sekitar 70 orang umat umat yang hadir , terdapat sekitar 30 umat hindu datang secara berkelompok dari Belanda. Sebelum dimulainya persembahyangan, umat hindu yang hadir di Pura Agung Santi Bhuana Belgia ini, laki ataupun perempuan bergotong royong mempersiapkan jalannya upacara. Sementara bapak-bapak sibuk membersihkan pura dan mempersiapkan gamelan bali yang di koordinatori oleh kelian banjar santi belgia Made Agus Wardana, sedangkan ibu-ibu nya sibuk mempersiapkan banten upacaranya yang di pimpin oleh Pinandita I Made Sutiawijaya MBA.

Setelah itu jalannya upacara di mulai dengan gamelan pembuka yang dimainkan oleh kaum prianya, di ikuti dengan tarian rejang dewa yang ditarikan oleh para wanitanya. Yang unik dari persembahan tari rejang dewa yang sesungguhnya merupakan simbol widyadari atau bidadari yang turun kedunia menuntun Ida Bathara, ketika di tarikan di perayaan saraswati di pura belgia ini para penarinya walaupun mengenakan pakaian kebaya bali namun di balut dengan jaket tebal, hal ini dikarenakan suhu udara kali ini memang masih terasa cukup dingin.

Setelah suguhan tari rejang dewa usai, umat kemudian melantunkan kidung warga sari bersama, yang di pimpin oleh Made Agus Wardana.

Sesegera setelah kidung usai, Pinandita selanjutnya memimpin jalannya persembahyangan bersama. Namun tepat sebelum persembahyangan muspa dimulai, Pinandita Sutiawijaya menjelaskan kepada umat yang hadir bahwa selain akan melaksanakan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa lewat muspa panca sembah, pada saat perayaan saraswati ini juga dilaksanakan pemujaan kepada Sang Hyang Aji Saraswati dan pemujaan kepada Ida Batara yang berstana di Pura Pulaki, yang merupakan pusatnya Pura Melanting.

Di akhir jalannya upacara, Pinandita sempat mejelaskan kenapa disaat melakukan muspa di tambahi dengan pemujaan kepada Ida Batara di Pulaki, karena alasan bahwa Pura Agung Santi Bhuana di belgia ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan Pura Pulaki yang merupakan pusat dari Pura Melanting di Bali. Sesuai saran dari guru spiritual Mr. Eric Domb yang ada di Bali, agar Pura yang terletak di kawasan taman wisata flora dan fauna Parc Paradision di Brugelette ini “nyungsung” Ida Bathara yang berstana di di Pura Melanting. Seperti kita ketahui bersama Pura melanting identik dengan Pura yang ada di setiap pasar yang ada di Bali, dimana Tuhan di puja oleh setiap pedagang untuk membangun sikap religius sebagai landasan moral dan mental dalam melakukan transaksi yang adil dan jujur.

Atau singkat kata, keberadaan Pura Melanting bisa memberikan tuntunan kepada setiap pedagang yang ada di Pasar untuk selalu ingat kepada sang pencipta sembari berusaha (berdagang). Filosofi inipun ingin di tiru oleh Mr. Eric Domb (pemilik Pura Agung Santi Bhuana) yang juga merupakan president dari taman wisata flora dan fauna Parc Paradision. Dengan bakatnya sebagai seorang usahawan, Mr Eric Domb juga ingin selalu diberikan tuntunan oleh Ida Bathara yang berstana di Pura Agung Santi Bhuana ini, sehingga terjadi “komunikasi” yang harmonis yang saling menunjang antara “penghuni” Pura Agung Santi Bhuana dengan “penghuni” Taman Wisata Parc Paradisio lainnya.

Demikian Pinandita Sutiawijaya menjelaskan yang konon Mr. Eric Domb pun meng-iyakan saran guru spiritualnya yang ada di Bali. Dan terbukti setelah adanya Pura Agung Santi Bhuana di kompleks Taman Wisata Parc Paradisio ini, pengunjung taman wisata ini meningkat tajam (sekitar 60%) dari tahun sebelumnya.  Pengunjung yang mengunjungi kompleks area taman wisata ini, selain mendapatkan informasi seputar flora dan fauna, juga mendapatkan informasi budaya dan religi.

Sebelum mengakhiri penjelasannya, Pinandita berharap kepada setiap umat hindu yang ada di eropa, agar bisa belajar dan merenungi setiap usaha dari Mr. Eric Domb dalam mempelajari kebudayaan bali dan agama Hindu yang ia buktikan dengan mengunjungi Bali serta berkonsultasi secara rutin kepada guru spiritualnya yang ada di Bali, dalam rangka mengoptimalkan keberadaan Pura Agung Santi Bhuana yang terletak di Taman Wisata Parc Paradisio ini.

Pinandita Sutiawijaya juga berangan-angan agar Pura Agung Santi Bhuana ini, suatu saat nanti bisa di “empon” di tanggung jawabi oleh seluruh umat hindu yang ada di eropa, dengan cara melaksanakan piodalan saraswati secara bergilir seperti layaknya piodalan Pura yang ada di bali, sehingga bisa timbul rasa memiliki (tanggung jawab) akan pura ini. Salah satu umat hindu yang berasal dari Belanda ketika mendengar keinginan Pinandita saat itu menyatakan kesetujuannya dan bersedia untuk dilibatkan bila umat hindu di Belanda diberikan tanggung jawab untuk melaksanakan piodalan secara bergilir. Ketut Adnyana yang juga ikut serta dalam diskusi itu, mengatakan akan menyampaikan keinginan Pinandita Sutiawijaya kepada organisasi nyama braya bali jerman, yang di ketuai oleh Ibu Gusti Ayu Suputri Sudjiwa agar bisa di diskusikan lebih lanjut.

Ketut Adnyana juga menyampaikan bahwa umat hindu di Jerman pada tanggal 22 mei 2010 akan melaksanakan perayaan kuningan yang di pusatkan di hamburg sekaligus melaksanakan pemlaspasan Pura Jagadnata yang di bangun di area Museum Völkerkunde Hamburg, dan berharap agar umat hindu yang ada di Belgia dan umat hindu di Belanda bisa turut serta menjadi “saksi hidup” jalannya upacara pemlaspasan dan upacara ngenteg linggih.

Ibarat pucuk di cinta ulam tiba, Pinandita Sutiawijaya pun menyampaikan ketertarikannya untuk menyaksikan jalannya upacara pemlaspasan dan ngenteg linggih di hamburg, sekaligus berharap bisa bertemu dengan ketua organisasi Nyama Braya Bali di Jerman untuk menyampaikan maksud ini, bila seandainya umat hindu yang ada di Jerman tertarik untuk melaksanakan Piodalan Saraswati secara bergilir yang di langsungkan di Pura Agung Santi Bhuana.

Setelah berdiskusi bertukar pikiran antar sesama umat hindu yang menghadiri perayaan saraswati sekaligus piodalan Pura Agung Santi Bhuana, umat yang hadir akhirnya di persilahkan menikmati hidangan makanan khas bali yang di sediakan oleh “tuan rumah” umat dari belgia dan beberapa bahkan ada yang di bawa oleh umat hindu dari Belanda. Puas dengan menu hidangan yang di suguhkan di akhir perayaaan saraswati, kaum laki-laki ada yang melanjutkan dengan menari “genjek” dan ada juga yang melakukan foto bersama seperti tampak di foto berikut,

Akhir kata, lewat perayaan saraswati yang datang setiap 210 hari di hari Saniscara Umanis wuku Watugunung, semoga bisa di rayakan tidak hanya sebagai sebuah rutinitas saja atau di maknai tidak hanya berhenti pada ritual saja. Melainkan dari prosesi ritual itu diharapkan terjadi perbaikan dan peningkatan ilmu pengetahuan, wawasan, mental, moral, dan spiritual dari setiap umat yang merayakan dan meyakininya.

Pura Gunung Payung–Sumber Kehidupan dan Kemakmuran

Posted by Adnyana under Pura di Badung on February 17, 2010 @ 7:08 am

Pura Dang Kahyangan Gunung PayungSumber Kehidupan dan Kemakmuran

Menemukan mata air di tengah perbukitan gersang adalah karunia yang tiada tara. Demikian pula dengan pencarian rohani seseorang akan Sang Pencipta.

Pura Dang Kahyangan Gunung Payung terletak di daerah perbukitan pesisir pantai selatan Pulau Bali. Atau kurang lebih 30 kilometer arah selatan Kota Denpasar. Pura ini berada di wilayah Desa Adat Kutuh Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung.

Lokasi pura yang berada di daerah perbukitan membuat Pura Dang Kahyangan Gunung Payung disebut pula sebagai Pura Bukit Payung. Bagaimana sebenarnya sejarah Pura Bukit Payung itu? Makna apa yang terkandung di balik berdirinya pura tersebut?

======================================================

KATA ”Payung” yang diberikan untuk nama bangunan suci ini bukanlah diambil dari lokasi perbukitan yang menyerupai payung. Akan tetapi, pemberian nama ini sangat terkait dengan perjalanan suci dari Maharesi suci Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra.

Berdasarkan pada lontar perjalanan suci (dharmayatra) Maharesi Danghyang Dwijendra, disebutkan setelah Maharesi datang ke Pura Luhur Uluwatu dan memberikan nasihat kepada masyarakat sekitar untuk memanfaatkan dan menjaganya, Danghyang Nirartha kemudian melakukan perjalanan ke arah timur melalui daerah berbukit.

Ketika tiba di sebuah daerah yang sangat indah dan memiliki vibrasi spiritual yang kuat, tepatnya di sebelah barat daya Bualu (sekarang Desa Adat Kutuh), Danghyang Nirartha bersama dengan para pengiringnya beristirahat untuk melepas lelah dan menikmati indahnya pemandangan yang ada di tempat Beliau berpijak tersebut.

Mendengar kedatangan Maharesi, masyarakat sekitar pun datang berbondong-bondong mengaturkan sembah dan mohon tuntunan agama kepada beliau. Setelah mendengarkan keluh-kesah warga dan memberikan tuntunan kepada masyarakat sekitar, maka Danghyang Nirartha berusaha untuk memenuhi permintaan warga.

Danghyang Nirartha lantas menancapkan gagang payung yang dibawanya. Berkat kekuatan spiritual yang dimiliki, secara tiba-tiba menyemburlah air suci dari tancapan gagang payungnya tersebut.

Air suci dan hening tersebut selanjutnya dimanfaatkan oleh beliau, para pengiring dan masyarakat sekitar.

Sebelum Maharesi meninggalkan desa tersebut untuk melanjutkan perjalanan suci kembali, beliau memberikan nasihat kepada masyarakat sekitar agar senantiasa menjaga air amerta (air kehidupan) yang keluar dari tancapan payung tersebut. Dan oleh masyarakat sekitar, di lokasi air suci itu didirikan sebuah pura yang kini dikenal dengan Pura Gunung Payung.

Sumber air yang berbentuk bulakan kecil sampai saat ini tetap terawat dan senantiasa tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang melanda. Air dalam bulakan inilah yang dalam kesehariannya dimanfaatkan sebagai tirta yang diberikan kepada setiap umat yang mengaturkan bakti ke Pura Dang Kahyangan Bukit Payung.

Bendesa Adat Kutuh, Kuta Selatan Wayan Litra menuturkan, pura ini diempon oleh krama Desa Adat Kutuh. Dipercaya oleh masyarakat di sana, Pura Dang Kahyangan Bukit Payung merupakan sumber kehidupan atau sumber kemakmuran krama Kutuh.

Meskipun di-empon krama Desa Adat Kutuh, fakta turun-temurun menunjukkan bahwa pura ini juga menjadi tempat pemujaan umat Hindu dari luar Desa Adat Kutuh.

Dipercaya, di pura ini berstana manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa yakni Batari Sri dan Batari Danu yang dicirikan dengan gedong linggih. Pamedek yang tangkil ke pura khususnya saat piodalan datang dari segala penjuru guna nunas kerahayuan kepada Beliau.

Oleh karena itu, berdasarkan pada fakta pustaka yang ada, maka sejak tahun 2005 lalu, keberadaan Pura Gunung Payung telah diakui dan disetujui oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Badung dan Kantor Agama Kabupaten Badung sebagai salah satu dari enam Pura Dang Kahyangan yang ada di Kabupaten Badung.

Kondisi fisik Pura Dang Kahyangan Gunung Payung beberapa waktu lalu cukup memprihatinkan. Sejumlah kerusakan di pelinggih dan bangunan pura terjadi. Selain faktor usia dan alam, kondisi ini juga tidak lepas dari keterbatasan finansial krama pangempon untuk melakukan perawatan maksimal.

Pangempon pun berembuk, berinisiatif untuk merehab dan menata Pura Dang Kahyangan Gunung Payung dengan tujuan untuk senantiasa menjaga kesucian dan kesakralan pura dan sekitarnya. Selain itu pula, untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada umat yang melakukan persembahyangan.

Di balik keterbatasan yang terjadi selama ini, maka secara bertahap krama pangempon yang berjumlah 600 KK memulai pemugaran dan penataan pura pada bulan Oktober 2007. Pemugaran menelan dana sekitar Rp 1,5 milyar, di mana dana yang digunakan berasal dari pemerintah, para donatur dan swadaya masyarakat. Pemugaran pelinggih tersebut diselesaikan sebelum piodalan di pura ini yang jatuh pada purnamaning kaulu sasih kaulu atau jatuh sekitar bulan Januari 2008 lalu.

Saat ini, demikian pula sebelumnya, krama Desa Kutuh khususnya selalu berupaya merawat pura yang punya nilai historis ini. Pangempon pura secara berkelanjutan setiap tiga bulan sekali mengadakan pembersihan di pura. Sementara untuk sehari-hari, ada beberapa jero mangku yang siap ngaturang ayah guna menjaga kesucian pura atau untuk melayani umat yang tangkil ke pura ini. (ded)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/7/bd1.htm

Pura Gunung Payung dan Danghyang Dwijendra

Yan ring pandita ksama, mudita, santosa, upeksa
ris
mardawa, sang sastrajnya, wuwusnira amrta
pada
nyangde satusteng praja. (Nitisastra.I.6).

Maksudnya:
Ciri
Pandita adalah ksama (pemaaf), mudita (berbudhi luhur), santosa (sabar), upeksa (amat teliti dan hati-hati), mardawa (lemah lembut), sastrajnya (berpengetahuan suci), wuwusnira amrta (ucapannya bagaikan air penghidupan) yang membuat senangnya banyak orang.

PADA zaman dahulu perjalanan suci seorang pandita ke tengah-tengah umat untuk melakukan swadharma-nya sebagai orang suci. Salah satu swadharma pandita adalah melakukan perjalanan untuk menyebarkan pendidikan kerohanian kepada umat. Dalam Sarasamuscaya 40 dinyatakan: panadahan upadesa. Artinya menyebarkan pendidikan kerohanian. Karena hakikat hidup adalah rohani sebagai pengendali kehidupan jasmani. Seperti dinyatakan dalam Katha Upanishad bahwa badan jasmani ini diumpamakan sebagai badannya kereta, indria diumpamakan bagaikan kuda kereta.

Pikiran bagaikan tali kekang kereta, kesadaran Budhi bagaikan kusir kereta. Sedangkan Atman diumpamakan bagaikan pemilik kereta. Ini artinya yang menentukan ke mana gerak kereta diarahkan adalah atas kehendak pemilik kereta. Selanjutnya kusir kereta dengan tali kekangnya yang mengarahkan Indria dan badan kereta. Pikiran Budhi dan Atman adalah unsur-unsur rohani dari pada manusia. Unsur-unsur rohani inilah yang wajib dikuatkan eksistensinya dengan berguru pada pandita. Karena itu pandita disebut Adi Guru Loka. Artinya guru yang utama atau guru yang terkemuka.

Sebagai Adi Guru Loka pandita itu tidaklah mereka yang hanya diupacarai sebagai pandita dan berbusana pandita melalui proses diksa. Mereka yang dinyatakan sebagai pandita hendaknya mereka yang sudah memiliki ciri-ciri seperti yang dinyatakan dalam Kekawin Nitisastra I.6 yang seperti kutipan di atas. Umat yang terpanggil untuk menjadi pandita seyogianya melalui proses pendidikan dan latihan keagamaan Hindu yang ketat.

Pendidikan dan latihan itu dapat dilakukan dalam bentuk pendidikan dan latihan yang bersifat tradisional maupun dalam bentuk pendidikan modern. Setelah adanya berbagai kemajuan di mana telah dapat diwujudkan sifat dan sikap hidup seperti apa yang dinyatakan dalam Nitisastra I.6 tersebut barulah upacara diksa dan busana pandita dikenakan.

Dengan demikian empat fungsi pandita seperti dinyatakan dalam Sarasamuscaya 40 akan lebih mudah dilakukan. Empat fungsi pandita tersebut adalah Sang Satyawadi artinya beliau yang senantiasa berbicara berdasarkan kebenaran Veda. Sang Apta artinya beliau yang dapat dipercaya oleh umat. Sang Patirthan artinya beliau yang dijadikan tempat mohon penyucian diri oleh umat dan sang Panadahan Upadesa.

Nampaknya Danghyang Dwijendra sebagai pandita telah mengamalkan petunjuk-petunjuk sastra agama Hindu tersebut sehingga beliau disebutkan Pedanda Sakti Wawu Rauh. Kata Sakti menurut Wrehaspati Tattwa 14 adalah memiliki banyak ilmu dan banyak kerja berdasarkan ilmu tersebut. Tidaklah seperti pemahaman kini di mana sakti itu dipahami mereka yang memiliki magic power yang berkonotasi negatif. Ilmu yang dimiliki itu adalah ilmu yang disebut Para Widya dan Apara Widya. Para Widya itu adalah ilmu tentang kerohanian. Sedangkan Apara Widya adalah ilmu tentang keberadaan dan pengelola dunia ini dengan baik dan benar. Dua ilmu itulah yang dibutuhkan oleh kehidupan umat manusia di dunia ini.

Demikianlah perjalanan suci Danghyang Dwijendra di Bali mendatangi umat dan memberikan kesejukan pada umat. Saat beliau datang di daerah Kuta Selatan untuk mengakhiri keberadaan beliau di dunia sekala menuju dunia niskala beliau sempat datang ke Desa Kutuh di Kuta Selatan di suatu bukit dekat pantai selatan Bali. Di tempat itu beliau menjadi sang Patirthan artinya beliau memberi prayascita atau penyucian pada umat yang datang memohon penyucian diri pada sang Pandita. Di samping itu beliau juga melakukan penadahan Upadesa, artinya memberi pendidikan kerokhanian kepada umat.

Karena kesaktian beliau itu tangkai payung yang beliau tancapkan di tanah perbukitan yang kering itu dapat menimbulkan sumur dengan air yang tiada pernah kering sampai saat ini. Di tempat inilah umat mendirikan pura yang kini disebut Pura Gunung Payung. Itu artinya di pura ini atas kedatangan Danghyang Dwijendra terdapat vibrasi kesucian yang wajib dipelihara oleh generasi selanjutnya.

Danghyang Dwijendra diyakini mencapai dunia niskala dengan moksha di Pura Luhur Uluwatu di Desa Pecatu yang tidak jauh dari Pura Gunung Payung. Pura Luhur Uluwatu adalah satu dari Pura Kahyangan Jagat sebagai pemujaan Tuhan dalam manivestasinya sebagai Dewa Rudra. Pura Luhur Uluwatu didirikan atas anjuran Mpu Kuturan pada abad ke-11 Masehi. Pendirian Pura Luhur Uluwatu dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa dengan landasan konsepsi Sad Winayaka.

Pura Luhur Uluwatu ini memiliki banyak pura prasanak atau pura jajar kemiri. Ini artinya di areal perbukitan Kuta Selatan ini sejak zaman dahulu sudah terpatri vibrasi kesucian yang dipelihara dengan adanya banyak Pura Prasanak dari Pura Luhur Uluwatu. Di antaranya adalah Pura Gunung Payung ini. Karena itu sebagai generasi penerus seyogianya dalam menata kawasan di areal Pura Luhur Uluwatu termasuk di areal Pura Gunung Payung seyogianya memperhatikan nilai-nilai spiritual yang sudah terbukti memberikan vibrasi kesucian pada areal tersebut bersinergi dengan areal suci lainnya di seluruh Bali.

Untuk memelihara vibrasi kesucian di kawasan bukit Kuta Selatan ini semua pihak hendaknya bertimbang cermat dan seimbang dengan konsep Tri Semaya. Konsep Tri Semaya itu adalah Atita, Nagata dan Wartamana. Apa pun yang dilakukan saat ini (Wartamana) hendaknya terlebih dahulu menelaah dengan cermat di masa lalu (Atita) dan dengan berpikir panjang apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang.

Dengan demikian kita tidak meninggalkan begitu saja nilai-nilai luhur di masa lalu yang susah payah dikerjakan oleh para pendahulu kita. Demikian juga hendaknya kita berusaha melihat ke depan agar jangan sampai kita meninggalkan persoalan-persoalan yang membuat generasi mendatang penuh beban derita karena kesalahan kita saat ini.

Dengan konsep Atita, Nagata dan Wartamana inilah kita akan bisa hidup sejahtera dengan berkelanjutan dari generasi ke generasi selanjutnya sepanjang masa. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/7/bd2.htm

Baru

Posted by Pratama under Uncategorized on February 10, 2010 @ 11:52 am

Benarkah Makna dari hari buda cemeng kelawu itu sehari tidak melakukan transaksi jual beli? begitulah yang saya baca di facebook…

Memaknai Buda Cemeng Kulawu 10 Februari 2010

Posted by Adnyana under Hari Raya Hindu on @ 3:53 am

Perayaan Buda Cemeng Kulawu = Artha yang menanyai pemiliknya

Dalam tradisi, perayaan Budha Wage Kelawu (Cemeng), sering diartikan sebagai perayaan kepada Betara Rambut Sedana; perayaan kepada `Dia’ yang mememiliki kekayaan yang sesungguhnya.

Karena itu, pada hari Rabu, Wage, Kelawu, bagi yang meyakininya, akan menghindari melakukan transaksi jual beli; sebab pada hari itu, “Dia” yang memiliki kekayaan tengah melakukan yoganya. Maka tradisi `ekonomis’ yang menarik; sebab dalam sekali waktu `uang’ tidak dipergunakan. Walau dalam sehari, alangkah menariknya jika seseorang dibebaskan dari `ketakutan’ akan ketiadaan uang. Bayangkan andai serentak terjadi dalam sehari, semua orang tidak melakukan transaksi jual beli (?) Bagaimanakah sesungguhnya memaknai posisi uang dalam kehidupan manusia saat seperti itu (?) Kekacauankah akan terjadi atau akan hadir makna baru dalam menilai uang dalam kehidupan masa kini; yang memang menilai keberhasilan seseorang dari kekayaan, jabatan; dari busana luarnya; tidak peduli asal muasal kekayaan itu; didapatkan dengan jalan suci ataukah menipu? Uang telah terbukti ` menipu’ kejujuran hati, `penguasa’ dan “tuhan” yang sesungguhnya di masa kini.

Dalam pengertian yang luas, perayaan Budha Wage Kelawu; mengingatkan kembali akan keberadaan artha dalam konteks Catur Purusaartha; ( Artha, Kama, Dharma dan Moksa). Tidak dalam pengertian sebatas kekayaan, namun artha yang berasal dari bahasa sansekerta mengandung arti pula sebagai: “tujuan, sebab, motif, makna, pengertian, dalam konteks ide kemakmuran materi’. Artha juga mencakup konsep dalam arti mencapai ketenaran, dan memiliki kedudukan sosial yang tinggi, yang akan kait mengkaitkan proses pencapaiannya dengan tiga lainnya yang ada dalam catur purusaartha, terutama kepada dharma (kebenaran).

Dalam keseharian, Artha, adalah salah satu dari empat tujuan hidup ditempatkan, sebagai tujuan mulia asalkan mengikuti perintah Veda; berdasarkan moralitas! Asalkan berdasarkan dharma (kebenaran), bukan semata karena kama (kesenangan fisik atau emosional). Nah, jika itu terpenuhi maka manusia akan menuju Moksha  (pembebasan). Dalam cara pandang yang lain, Artha ditempatkan juga sebagai salah satu (kewajiban) seseorang dalam kehidupan tahap keduanya, kewajiban mengumpulkan harta benda sebanyak mungkin, namun dengan syarat ; tanpa menjadi serakah, dengan tujuan untuk membantu dan mendukung keluarga serta masyarakatnya.

Di dalam Catur Purusartha telah diingatkan akan tujuan mutlak yang tertinggi bagi umat Hindu; yakni Moksa, yaitu pembebasan Atma dari Triguna (Satwam, Rajas dan Tamas), dapat pula tercapai melalui Reinkarnasi dengan hukum Karmanya (Karma Pala). Untuk mencapai Moksa harus dilandasi dengan Dharma; Setiap tindakan (karma) yang dilakukan harus berdasarkan Dharma; serta ajaran Dharma yang terdapat dalam Weda harus ditegakkan.

Itulah sebabnya, perayaan Budha Wage Kelawu sangatlah penting di masa sekarang ini; sebab negara dan masyarakat Indonesia tengah menonton secara nyata; tindakan korupsi yang tidak hanya dilakukan oleh satu-dua orang saja, korupsi tidak cuma dalam soal mencuri uang negara! Namun hampir disemua lapisan masyarakat telah terjadi pengkorupsian tata krama-tata nilai; nilai-nilai kemanusiaan dilenyapkan dengan cara mengakali aturan, mencari pembenaran bagi kesalahan, yang membelokan penilaian masyarakat kepada tujuan hidupnya makin jauh dari kebenaran (dharma). Kini, mereka yang fashion religius; berpura-pura suci dan taat menjalankan ajaran mulia, dikagumi dan dicontohi, walau jelas, belumlah tentu mereka yang berpura-pura suci itu menjalankan ajaran mulia, hanya `busananya’ yang religius. Dibalik perilaku fashion religius itu yang ada adalah semangat memanfaatkan ajaran agama untuk kepentingan pribadi: untuk keuntungan baik materi, status sosial dan ketenaran. Kemudian `Fashion humanis’, perilaku seolah-olah menjalankan penghormatan kepada keragaman, perilaku sayang lingkungan; tidak membeda-bedakan siapapun; namun dibalik semua itu, membiarkan terjadinya berbagai peristiwa menindas yang lemah; sibuk membangun wacana, bersilat lidah, namun membiarkan kekerasan terjadi dimana-mana baik phisik maupun psikis; baik melalui kekuasaan maupun kecendekiaan. Maka dalam bahasa putus asa; maka zaman ini pun berkata: itu semua ujungnya duit! Uanglah sebabnya!

Harta! Yang memiliki harta seolah tidak akan terkena hukum karma (?) Masyarakat melihat, bagaimana orang yang dipenjara dapat hidup mewah karena hartanya! Pelaku korupsi dapat menjadi calon pejabat publik, mantan pengguna narkoba pun dapat menjadi anggota parlemen, dst!: semuanya `disahkan’ oleh harta, oleh uang! Disucikan dan dibenarkan oleh uang! Karena itu, Artha, pada Budha Wage Kelawu ini; bagi siapa saja; dari gubernur sampai kepala desa, dari pemilik hotel sampai pemilik warung; tengah ditanyai oleh Artha itu sendiri. Benarkan kekayaanmu itu, sedikit ataukah banyak, apakah semua itu didapat berdasarkan dharma?

Jika pun engkau ragu tentang kesucian asal hartamu, lalu berusaha gagah mendandani upacaramu dengan sajen aneka rupa, dengan mengundang pendeta sakti mandraguna: hukum karma tetap menghitung dengan cermat; jika seketika hukumanya tiba, beruntunglah, karena akan segera engkau pahami apa hukumannya bagi yang memiliki artha dengan cara yang salah, jika nanti, kelak setelah engkau tiada atau pada kelahiranmu nanti hukuman itu baru tiba, melalui reinkarnasi barulah hukuman dirasakan oleh anak-cucumu; tersenyumlah saat ini, sebab engkau tertipu oleh kenikmatanmu hari ini, tak akan terbayangkan hukum karma itu bagi kelahiranmu nanti!

Karena itu, tak ada yang terlambat untuk kembali meyogakan diri pada hari Budha Wage Kelawu; segera mengoreksi kekayaan, sedikit ataukah banyak: benarkah didapatkan dengan jalan kebaikan? Berdasarkan dharmakah? Jika tidak: apa boleh buat, hukum dunia boleh ditipu, citra maya dapat mempesona, namun hukum karma berjalan tetap dengan pasti; Atmamu pun terikat pada rajas dan tamas, beribu upacara pun tak akan pernah membuat hidupmu damai, begitu yang dajarkan mengenai Artha, mengenai perayaan Budha Wage Kelawu, perayaan yang mengingatkan kembali tentang tujuan mulia.

Secara tradisi, hari Rabu Wage Kelawu ( 10 Pebruari 2010) ini diyakini: Sang Batara Rambut Sedana tengah beryoga, maka usahakan, jangan melakukan transaksi jual-beli! Tujuannya,: coba diingat-ingat; apa yang engkau pamerkan, apa yang engkau sumbangkan? Apa yang engkau makan, apa yang engkau gunakan, dst. Apakah semua itu didapat dengan jalan dharma? Atau kamu cuma percaya semua itu didapatkan dari jerih payahmu sebagai harta kerkayaanmu! Semata-mata didapatkan dibeli dari uangmu? Tarik nafaslah, heningkan diri. Semoga disaat itu, tujuan mulia menegur hati, bahwa semua kekayaan itu, tiada lain atas karuniaNya! Dan yang tak ternilai adalah jalan kebenaran (dharma) sebagai hartamu!

Selamat merayakan Buda Cemeng Kulawu.

Oleh: Cok Sawitri

Sumber Foto dari internet dan http://farm4.static.flickr.com/3420/3227424305_c9b84e1563.jpg