kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Pura di Jawa’ Category

Pura Giri Selaka, Alas Purwo, Banyuwangi

Ingin Jadi Sumbu Kebangkitan Majapahit

Ketika Kerajaan Majapahit runtuh abad ke-14, para manggala kerajaan berucap, ”Boleh saja kerajaan mereka dihancurkan, tetapi tunggu lima ratus tahun lagi anak cucu mereka akan bangkit dan menagih kembali bekas wilayah Majapahit.” Itulah yang diyakini sebagian besar umat Hindu Banyuwangi, sehingga kini ada kebanggaan bagi mereka untuk kembali ke agama Hindu. Semangat itulah yang menyertai pelaksanaan piodalan di Pura Giri Selaka, Alas Purwo, pada hari Pagerwesi, Rabu (11/9) lalu. Bagaimana kondisi umat Hindu di sekitar Ala Purwo saat ini? Masalah apa yang dihadapi umat Hindu di sana untuk kembali kepada jati diri sebagai Hindu?

Mendengar nama Alas Purwo, imajinasi orang pasti akan tertuju pada sebuah kawasan hutan lebat. Hal itu memang benar, Alas Purwo adalah sebuah kawasan hutan Taman Nasional di bawah lingkup Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Lantas apa hubungannya antara Pura Giri Selaka dan Alas Purwo itu?

Itulah fenomena yang tampaknya mengiringi keberadaan hampir semua pura bersejarah, tidak saja di Bali namun juga di Jawa. Untuk menuju Pura Alas Purwo yang disungsung umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, para pemedek mesti memasuki kawasan hutan Taman Nasional Alas Purwo. Dari pintu depan kawasan hutan Taman Nasional, diperlukan waktu satu jam menuju Pura Giri Selaka dengan kondisi jalan yang belum beraspal.

Di kanan-kiri kita hanya berjejer hutan jati, dan jumlah masyarakat yang lewat pun bisa dihitung dengan jari. Bagi pemedek yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, masyarakat sekitar menyiapkan sebuah angkutan tradisional yang lazim disebut grandong. Angkutan ini mirip sebuah mobil truk, akan tetapi mesinnya menggunakan mesin genset. Harga sewanya menuju Pura Giri Selaka sekitar Rp 2.500 per sekali angkut.

Untuk menemukan Pura Giri Selaka, memang harus siap banyak bertanya kepada masyarakat di sepanjang perjalanan. Jika tidak, jangan harap perjalanan bisa lancar, apalagi baru sekali-dua kali ke tempat tujuan. Pasalnya, banyak cabang jalan yang tanpa pelang nama Alas Purwo, sehingga perjalanan dari Bali menuju Alas Purwo bisa kita tempuh 9-10 jam dengan kondisi seperti itu.

Pura Giri Selaka berada di tengah hutan dan sekitar tiga kilometernya adalah kawasan wisata pantai Plengkung, bibir Alas Purwo itu sendiri. Di kawasan ini, memang tidak ada satu pun rumah penduduk. Kalau mau bermalam, pihak pengelola Taman Wisata menyediakan sejumlah penginapan sederhana, jaraknya sekitar satu kilometer dari Pura Giri Selaka. Meski tersedia sejumlah penginapan, tampaknya para pemedek yang ingin tangkil ke Pura Giri Selaka lebih memilih makemit di areal pura. Apalagi, areal pura saat ini telah mencapai luas dua hektar hasil pemberian Menteri Kehutanan sebagai penanggung jawab Taman Nasional bersangkutan.

Menurut sesepuh umat Hindu Tegaldlimo, Pemangku Ali Wahono, sebetulnya Pura Giri Selaka ditemukan secara tidak sengaja oleh umat di sekitarnya pada tahun 1967. Saat itu, masyarakat Kecamatan Tegaldlimo melakukan perabasan terhadap sejumlah kawasan hutan Alas Purwo untuk bercocok tanam. Daerah di sekitar pura pun tampak cukup makmur dengan hasil palawijanya. Suatu ketika, di tempat berdirinya Pura Alas Purwo yang oleh masyarakat disebut Situs Alas Purwo, ada sebuah gundukan tanah.

Masyarakat ingin meratakan dan menjadikan lahan cocok tanam. Tanpa diduga, ada bungkahan-bungkahan bata besar yang masih tertumpuk. Persis seperti gapura kecil. Lantas masyarakat sekitarnya membawa bungkahan bata-bata itu ke rumahnya. Ada yang menjadikan bahan membuat tungku dapur, ada juga untuk membuat alas rumah. Rupanya, keluguan masyarakat itu telah menyebabkan munculnya musibah bagi warga yang mengambil bata-bata tersebut.

Selang beberapa saat setelah mengambil bata itu, semuanya jatuh sakit. Pada saat itulah, ada sabda agar bongkahan batu bata tersebut dikembalikan ke tempatnya semula. Bongkahan-bongkahan itu adalah tempat petapakan maharesi suci Hindu zaman dulu. Meski belum ada catatan resmi dalam prasasti, masyarakat mempercayai yang malinggih di situs Pura Alas Purwo adalah Empu Bharadah. Tetapi, ada juga yang menyebut Rsi Markandiya sebelum mereka menuju Bali. Selanjutnya, masyarakat setempat sangat yakin dengan kekuatan dan kesucian situs Alas Purwo tersebut. Sampai ada keinginan seorang warga untuk memagari situs itu agar aman dari jangkauan orang jahil. Akan tetapi, belum sampai tuntas mewujudkan keinginannya, warga tersebut keburu meninggal. Dari kejadian itu didapatkan sabda, kalau situs Alas Purwo itu wajib dipuja semua umat manusia di muka bumi ini tanpa dibatasi sekat-sekat golongan.

Kemudian ada upaya dari pihak Dinas Purbakala untuk menjadikan situs Alas Purwo sebagai benda peninggalan sejarah. Di sisi lain, umat Hindu yang mayoritas bertempat tinggal di sekitar Mariyan — nama kawasan yang telah dibabat hutannya itu — tetap meyakini kalau situs itu adalah milik nenek moyang Hindu zaman dulu. Untuk menghindari adanya kejadian yang tak diinginkan, umat Hindu akhirnya membuatkan sebuah pura, sekitar 65 meter dari situs Alas Purwo saat ini. Sementara situs itu sendiri dibiarkan seperti semula, namun tetap menjadi tempat pemujaan bagi semua umat manusia, tak terbatas hanya umat Hindu.

Bicara soal kesucian dan keajaiban situs Alas Purwo ini, memang berderet peristiwa menjadi pengalaman masyarakat penyungsung-nya. Itulah sebabnya, sejumlah pejabat maupun mantan pejabat terkenal pernah melakukan pemujaan di situs Alas Purwo ini. Tujuannya pun bermacam-macam. ”Hampir semua yang di-tunas, kesuecan Ida Batara yang malinggih di sini. Hanya, semua kembali kepada swakarma-nya,” ujar Mangku Adi, salah seorang pemangku setempat. Seiring dengan perjalanan waktu, pada tahun 1972 ada kebijakan Departemen Kehutanan dan Perkebunan untuk menagih kembali lahan hasil rabasan penduduk di kawasan Mariyan tersebut. Secara bertahap lahan dikembalikan menjadi hutan jati seperti sekarang ini, dan semua penduduk yang melakukan perabasan hutan itu kembali ke kampung masing-masing. Proses pengembaliannya ini selesai pada tahun 1975. Setelah itulah, situs Alas Purwo tinggal pada kesendiriannya, jauh dari rumah penduduk.

Meski demikian, Departemen Kehutanan memberikan kebebasan kepada mayarakat yang ingin melakukan persembahyangan atau pun meditasi di situs tersebut. Apalagi, umat Hindu yang kini telah kembali ”pulang” ke kawitan-nya setelah peristiwa G-30-S/PKI tahun 1965 lalu. Mereka beranggapan sekaranglah kebangkitan Hindu itu akan terbukti, setelah 500 tahun runtuhnya Majapahit pada abad ke-14. Dan, itu salah satunya dimulai dari kerinduan umat Hindu Banyuwangi untuk menelesuri jejak nenek moyangnya. Diharapkan, dari situs Alas Purwo inilah bisa jadi sumbu penghubung Hindu tanah Jawa kelak. * Agus Astapa

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/9/25/bd1.htm

Berbuat Baik untuk Leluhur dan Keturunan

Dasa puuvaanparaan vamsyan
Aatmanam caikavim sakam
Braahmiputrah sukrita krnmoca
Yedenasah pitr rna
(Manawa Dharmasastra III.37).

Maksudnya:
Seorang anak yang lahir dari Brahma Vivaha, jika ia melakukan perbuatan baik akan dapat membebaskan dosa-dosa sepuluh tingkat leluhurnya dan sepuluh tingkat keturunannya dan ia sendiri yang kedua puluh satu.

SLOKA Manawa Dharmasastra ini memiliki makna yang sangat luas. Untuk menyelamatkan leluhur dan keturunan harus dimulai dari melakukan perkawinan dengan cara yang terhormat. Perkawinan Brahma Vivaha adalah jenis perkawinan yang paling terhormat. Di samping dilakukan dengan landasan cinta sama cinta yang juga sangat penting dilakukan dengan pertimbangan kerohanian yang dalam.

Kalau dari perkawinan ini melahirkan putra dan putra itu berperilaku dan berbuat baik maka perbuatan baik itu akan dapat membebaskan dosa-dosa leluhur dan keturunannya, di samping diri sang putra sendiri. Perbuatan baik yang bagaimana dapat menyelamatkan membebaskan leluhur dan keturunan tersebut. Dalam Narada Purana disebutkan nasihat Dewa Yama kepada Raja Bagirata yang ingin membebaskan dosa-dosa leluhurnya yang pernah menghina dan menyiksa Resi Kapila yang sedang bertapa.

Salah satu nasihat Dewa Yama kepada Raja Bagirata adalah dengan jalan melanjutkan cita-cita suci dari leluhur. Cita-cita suci leluhur itu tidak semata-mata melakukan meditasi atau Dewasraya. Tetapi, dengan melakukan perbuatannya nyata seperti menjaga tetap lestarinya Sarwaprani (tumbuh-tumbuhan dan hewan). Menolong mereka yang sedang susah dan menderita. Membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang memiliki keahlian dan keterampilan. Membangun pasar, tempat peristirahatan, menghormati mereka yang berjasa, dan menegakkan keadilan, serta memelihara tempat pemujaan, dst.

Dengan perbuatan baik itulah leluhur akan bebas dari dosa dan kemudian keturunan mendapatkan keselamatan. Untuk memelihara dan melestarikan tumbuh-tumbuhan dan hewan leluhur umat Hindu di zaman lampau meninggalkan warisan konsep kawasan suci. Kawasan suci itu disebut Alas Angker, Alas Rasmini atau Alas Arum. Salah satu cara melestarikan kawasan suci tersebut dengan membangun tempat pemujaan sederhana dengan areal yang tidak luas. Tempat pemujaan di hutan itu tidak perlu didatangi oleh banyak umat. Umat yang datang ke tempat pemujaan di hutan itu hanyalah orang-orang yang terpilih yang memang benar-benar bertujuan untuk melakukan pemujaan yang tulus. Bukan untuk rekreasi atau untuk mereka yang berkaul yang memohon atau melestarikan jabatan, mohon memenangkan tender proyek dan tujuan-tujuan duniawi lainnya. Karena itu, banyak leluhur kita di masa lampau meninggalkan hutan-hutan yang disebut alas angker. Di Bali banyak hutan yang distatuskan sebagai Alas Angker.

Tetapi, sekarang sudah banyak yang dirusak ditebangi pohon-pohon yang berfungsi sebagai waduk menahan air. Di Pulau Jawa pun masih banyak ada peninggalan Alas Angker seperti misalnya Alas Purwa di Jawa Timur. Alas Purwa ini juga merupakan peninggalan leluhur di masa lampau sebagai Alas Angker.

Arti hutan yang distatuskan sebagai Alas Angker oleh leluhur di masa lampau bertujuan menjaga hutan dengan menstatuskan hutan itu sebagai hutan yang keramat. Hutan yang disebut Alas Angker itu karena tempatnya dikeramatkan. Di sana tentu banyak vibrasi kesucian yang tersembunyi di balik lebatnya pepohonan di hutan tersebut. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki kepekaan rohani akan sangat tertarik untuk datang ke tempat-tempat yang seperti itu. Kita tentunya sangat mengharap siapa pun boleh datang ke hutan yang angker seperti itu, cuma yang perlu dijaga adalah niat suci dan tulus ikhlas. Janganlah datang dengan tujuan untuk rekreasi duniawi atau memanjatkan permohonan yang Rajasika dan Tamasika.

Kalau Alas Angker tidak lagi memancarkan keangkerannya maka orang-orang yang berniat jahat seperti pencuri kayu hutan akan tidak merasa takut datang ke hutan yang sudah merosot keangkerannya. Di sinilah kita tidak melanjutkan konsep Alas Angker yang ditinggalkan oleh leluhur kita. Kalau ini sampai terjadi tinggal kita menunggu balasannya. Balasan itu akan menyengsarakan rakyat seperti hutan gundul, banyak pohon yang tumbang, sumber air menghilang, udara terpolusi, cuaca menjadi makin panas.

Dari alam yang rusak itu manusia tinggal memetik buah penderitaan darinya. Dengan merusak alam seperti itu, leluhur dan keturunan pun tidak akan terbebaskan dari dosa-dosanya. Kita bersyukur kepada umat di Jawa Timur yang makin sadar untuk menjaga keangkeran hutannya seperti umat Hindu di Alas Purwa. Semoga hutan-hutan berserta isinya dijaga dengan cara niskala diikuti dengan cara-cara yang sekala yaitu dengan langkah nyata melestarikan hutan tersebut.

* Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/9/25/bd3.htm

Umat Hindu di Sekitar Alas Purwo
Jati Diri sebagai Penganut Hindu Mulai Bangkit

PIODALAN di Pura Giri Selaka, Alas Purwo, Banyuwangi, yang jatuh tiap hari Pagerwesi, selalu menyisakan keunikan tersendiri. Seperti tampak pada piodalan Rabu (11/8) lalu, perpaduan unsur Hindu Bali dengan Hindu Jawa menjadi sarana pemersatu ke tujuan yang sama, yakni pemujaan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Umat Hindu Banyuwangi seolah mendapatkan tuntutan spiritual untuk menemukan kembali nenek moyangnya. Umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo, yang mewilayahi Pura Giri Selaka, Alas Purwo, Banyuwangi saat ini jumlahnya sekitar 1.500 KK. Mereka tersebar di sembilan desa. Sebagian besar mata pencaharian mereka sebagai petani.

Menurut Ketua Parisada Kecamatan Tegaldlimo Yuwono, jika menengok sejarah nenek moyang mereka di bumi Jawa, semuanya bermula dari ajaran Hindu. Hanya, situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan mereka muncul. Mereka tidak berani terang-terangan menunjukkan jati diri sebagai umat Hindu. Mereka umumnya mengaku diri sebagai penganut kepercayaan atau kebatinan.

Baru sejak tahun 1967, mereka mencoba menemukan identitas diri sebagai umat Hindu. Itu pun sebagian besar mereka yang memang imannya kuat. Lain halnya yang tidak kuat, apalagi mayoritas umat Hindu tinggal jauh di pedalaman dan berada di golongan miskin. Mereka menutup diri yang pada akhirnya tak percaya diri.

Meski mereka lama hidup terasing, niat untuk kembali mencari jati dirinya yang sebenarnya sangat tinggi. Dengan perjuangan yang tidak kenal lelah, umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo akhirnya berhasil mewujudkan sebuah Pura Giri Selaka, Alas Purwo, sebagai salah satu simbol Hindu yang kini mereka banggakan. Pura yang menelan lahan dua hektar itu, memang awalnya adalah sebuah situs yang masuk catatan Dinas Kepurbakalaan.

Berbekal dengan keyakinan umat Hindu itulah, sejak 1996, Pura Giri Selaka, Alas Purwo mulai dirintis pembangunannya. Jumlah dana yang dianggarkan membangun pura itu mencapai Rp 12 milyar dan dibagi menjadi tiga tahap. Untuk tahap I, pembangunan telah mencapai pada upacara pemelaspasan kori agung, padmasana dan sejumlah pelinggih. Untuk tahap berikutnya, ditargetkan dalam lima tahun ke depan.

Kurangnya dana bagi umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo bukanlah menjadi faktor penghambat pembangunan Pura Giri Selaka, Alas Purwo. Sejumlah donatur berdatangan, utamanya umat Hindu dari Bali. Tak terkecuali juga Gubernur Bali Dewa Made Beratha. ”Kami hanya ingin mendorong umat Hindu sekitar Alas Purwo, merekalah yang kelak menjadi penyokong utama keberadaan Hindu di Banyuwangi,” ujar Gubernur Bali Dewa Made Beratha yang turut hadir saat piodalan Pagerwesi belum lama ini.

Ketua panitia piodalan Pura Giri Selaka, Alas Purwo, Suparno mengatakan, dipilihnya Pagerwesi sebagai hari piodalan merupakan hasil kesepakatan umat Hindu Banyuwangi. Kebetulan pula, mendem pedagingan Pura Giri Selaka, Alas Purwo pertama kali dilaksanakan bertepatan dengan hari Pagerwesi.

Untuk tiap kali proses piodalan, umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo selalu diusahakan menjadi ujung tombak karya. Dalam proses pembangunan, peran umat Hindu dari Bali juga dilibatkan secara tidak langsung. Seperti dituturkan pemangku Pura Giri Selaka Mangku Adi, hampir semua rangkaian piodalan dituntun sesepuh Hindu dari Bali. Mereka selalu menyebut sesepuh Hindu, sebagai penghargaan atas kedalaman terhadap ajaran-ajaran Hindu yang dulu mereka sempat abaikan. Sebutlah untuk piodalan pada Pagerwesi yang lalu, karya di-puput oleh Ida Pedanda Gde Putra Bajing dan Ida Pedanda Putra Tembau. Sementara untuk proses lainnya, telah dipercayakan kepada para pengemong dan tokoh Hindu setempat.

Seperti halnya di sejumlah pura lainnya di luar Bali, untuk di Pura Giri Selaka, Alas Purwo, semangat kegotongroyongan dan ngayah umat sangat tinggi. Walaupun mereka tinggal jauh dari Pura Giri Selaka, tetapi untuk rangkaian piodalan telah memanggil semangat ngayah. Mereka beramai-ramai datang ke pura. Seperti dikatakan Suparno, dua hari sebelum piodalan, mereka telah makemit di Pura Giri Selaka. Tidak saja, para orang tua, tetapi juga sejumlah anak muda dan anak-anak Hindu pun memiliki semangat ngayah yang tinggi.

Pembina Yayasan Widya Puspita Soekardi yang khusus membina anak-anak sekolah, mengaku ada kebanggaan yang didapatkan anak-anak mereka ketika ngayah menari di pura atau dalam tiap kali acara keagamaan. Itulah sebabnya, yayasan yang berdiri sejak dua tahun lalu itu, tidak pernah bersedia tampil di luar acara piodalan atau keagamaan. Dengan demikian, anak-anak Hindu Banyuwangi sejak kecil telah tertanam sifat mayadnya, sebagai filosofi mendasar dari ajaran Hindu.

Ia mengatakan, kalau sudah diajak ngayah, mereka pasti senang, walaupun hanya tidur di bawah tenda selama dua atau tiga hari sebelum piodalan. Soekardi menambahkan, untuk di Pura Giri Selaka, memang pihaknya membawa tenda khusus untuk makemit penarinya. Selain melibatkan sejumlah tarian daerah Banyuwangi sebagai sarana ngayah dalam piodalan kali ini, para generasi muda Hindu Kecamatan Tegaldlimo, lokasi Pura Giri Selaka, juga menyediakan waktunya untuk membuat canang sari bagi para pemedek. Hal itu dilakukan sejak hampir seminggu sebelum piodalan dilaksanakan. Dengan demikian, pemedek yang ingin tangkil, jangan kaget bila panitia piodalan telah menyiapkan segala sarana persembahyangan.

”Kami bangga akan filosofi Hindu yang mengajarkan semangat mayadnya. Mudah-mudahan kawan-kawan kami yang lain, bisa kembali seperti kami,” ujar Suyono, seorang pemuda setempat. Yang dia maksud kawan lain, tentunya mereka yang selama ini berpaling ke keyakinan lain, meski mengakui nenek moyangnya adalah penganut Hindu. Keyakinan itu didapatkan setelah melihat berbagai tradisi yang dilaksanakan selama ini oleh masyarakat setempat, dengan menyerupai ajaran Hindu. ”Kami perlu pembinaan intensif lagi soal ajaran Hindu dan bersyukur kawan-kawan dari Bali bersedia menuntut kami di Jawa,” katanya. * Agus Astapa

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/9/25/bd2.htm

Petilasan Prabu Siliwangi

Posted by Adnyana under Pura di Jawa

Terpilihnya Petilasan Prabu Siliwangi

TERPILIHNYA bukit di Kampung Warung Loak, Desa Taman Sari, Kelurahan Ciapus, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, sebagai bakal tempat pemujaan (pura) pemeluk agama Hindu Bali itu bermula dari kehadiran suatu perasaan mistik yang dialami Anggawijaya pada tahun 1984 lalu.

“Saat itu sedang bulan purnama dan saya tengah sembahyang di bukit ini. Saat sembahyang saya merasakan sesuatu energi yang sangat kuat. Makanya saya mendatangi sejumlah rekan, baik pemangku (pelayan pura), pedande (pendeta), maupun mereka yang dapat merasakan adanya energi di suatu tempat, baik yang ada di Jakarta maupun mereka yang ada di Bali,” tutur Anggawijaya.

Setelah terkumpul sekitar 20 orang, seorang di antaranya adalah Gubernur Provinsi Bali Dewa Berata yang saat itu masih menjabat sebagai Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) Provinsi Bali. Mereka mulai sembahyang bersama dengan formasi setengah lingkaran, menjelang pukul 00.00.

“Waktu itu kami yakin bahwa memang di tempat ini ada energi yang sangat kuat. Makanya kami bersepakat untuk kembali sembahyang untuk minta diberikan tanda yang nyata dari Sang Hyang Widi kalau memang benar di sini bisa dibangun pura,” kata Mangku Made Suyatna Wiguna, Pemangku Pura Lempuyang di Bali yang ikut dalam rombongan tersebut.

Keheningan yang tengah berlangsung buyar seketika saat terdengar dentingan besi yang beradu dengan batu. “Waktu itu saya langsung mengingatkan yang lain agar segera mencari sesuatu. Ternyata Komang Agung menemukan sebuah keris berukuran sekitar tujuh sentimeter di sisi kiri tempat dia bersila,” tambahnya.

Tidak lama kemudian kembali ditemukan tiga buah permata yang besarnya mencapai satu ruas ibu jari orang dewasa. “Warnanya pun ada yang hijau, merah, dan kecoklat-coklatan. Namun, semua itu kami kuburkan kembali di tempat yang sekarang didirikan pura ini,” kata Agung yang juga Panitia Pelaksana Penyucian Leluhur Umat Hindu se-Bumi Parahyangan.

Saat itu, menurut Anggawijaya, dia dan rombongan kecil tersebut sama sekali tidak tahu bahwa bakal tempat pura itu merupakan salah satu dari sekian banyak petilasan Prabu Siliwangi yang memang penganut Hindu.

“Cuma memang dalam rencana pembangunan pura ini kami memohon doa restu dari berbagai pihak. Antara lain ke pura penawasangaan di Bali dan Jawa, seperti Pura Lempuyang, Goa Lawah, Andakasha, Uluatu, Batu Karu, Puncak Mangu, Batur, Besakih, dan Pura Semeru,” kata Komang Agung.

Di samping itu, lanjutnya, mereka juga memohon doa restu kepada kebuyutan yang ada di Bumi Parahyangan, seperti ke Badyu, Gunung Gede, Tangkuban Perahu, Kawah Ratu Gunung Salak, Kawali, Candi Cangkuang, dan kebuyutan lainnya.

Menurut Aki Ainun yang mengaku telah berusia 373 tahun karena sudah hidup sejak zaman Kerajaan Kalingga, lokasi tempat dibangunnya pura itu memang salah satu tempat petilasan Prabu Siliwangi. “Malah di sinilah tempat menghilangnya Prabu Siliwangi dengan sejumlah pasukan dan pengikutnya,” tutur Bambang Saleh yang menerjemahkan penuturan Aki Ainun dalam bahasa Sunda.

Itu artinya, tambah Aki Ainun yang tinggal dari Kampung Cihideng, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Prabu Siliwangi itu sudah mencapai tahap moksa (menghilang tanpa bekas). Tahapan yang diinginkan setiap pemeluk agama Hindu. “Karena bila kita mencapai tahapan moksa, berarti kita juga sudah sama dengan para dewa atau Atma itu sendiri,” jelasnya.

***SETELAH penentuan tersebut, mulailah dilakukan upacara ngeruak yakni acara pembukaan dan pengalihan status tanah dari sawah atau perkebunan menjadi tanah untuk pembangunan pura. “Tanah untuk pura luasnya sekitar 2,5 hektar,” jelas Komang Agung.

Tanah itu kemudian dibagi tiga bagian, masing-masing bagian utama, madya, dan nista. Bagian utama itu untuk tempat berdirinya patmasana, tempat pemujaan kepada Sang Hyang Widi. Patmasana ini berbentuk tugu yang dibawa oleh seekor bedawang (kura-kura) yang sekaligus melambangkan dasar alam semesta ini.

Gerakan bedawang jelas akan membuat alam semesta ini juga gonjang-ganjing. Untuk itulah, agar tidak goyang terus-menerus maka diikat oleh naga yang sekaligus melambangkan energi yang ada di alam semesta ini.

Di sebelahnya, dibangun candi yang menjadi tempat pemujaan kepada roh para leluhur yang telah disucikan. “Biasanya kalau di Bali, masing-masing keluarga yang satu marga, seperti Anak Agung, Pasek, Wangsa, dan lainnya, memiliki candinya sendiri-sendiri,” kata Pemangku Pura Agung Besakih JRO Mangku Suyasa.

Di samping itu, juga dibangun dua buah balai pepelik (ruang tamu) yang merupakan tempat menerima Sang Hyang Widi yang tidak berbentuk, tetapi dimanifestasikan dalam bentuk yang bebas diterjemahkan oleh setiap individu,” tutur Made Suparta dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Memang belum dapat diketahui berapa lama pembangunan pura yang terletak di bukit yang berada di Kampung Warung Loak ini. Hingga kini baru selesai bagian utama dan sedikit bagian madyanya. “Bisa dua tahun, bisa lima tahun, bahkan bisa puluhan tahun, karena pembangunannya sangat tergantung dari ketersediaan dana,” ucap Komang Agung.

***SELASA (11/9) petang lalu, umat Hindu kembali meneruskan upacara mereka dalam rangka penyucian roh leluhur sekaligus menyucikan Tanah Parahyangan yang sampai pada acara Segara Gunung setelah sebelumnya melakukan ngaben (pembakaran jenazah) dan meligia (penyucian roh). “Pagi tadi kami sudah melaksanakan upacara ngulapin (memanggil roh) di perairan Teluk Jakarta, di depan Pura Cilincing, Jakarta Utara,” jelas Mangku Made Suyatna Wiguna.

Upacara tersebut merupakan salah satu bagian dari prosesi segara gunung. Selanjutnya upacara pralingga (tempat roh) yang merupakan acara mengistanakan (menempatkan) roh pada pura yang ada di gunung di kaki Gunung Salak itu.

“Gunung itu dalam kepercayaan Hindu merupakan pra-lambang dari kesucian. Sedangkan segara itu merupakan kehidupan. Makanya diharapkan dengan keseimbangan kehidupan dan kesucian akan diperoleh kesuburan dan kemakmuran dalam kehidupan setiap insan,” demikian Pemangku Pura Agung Besakih.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0109/13/metro/terp18.htm

CANDI SETO –Peninggalan Raja Brawijaya

Candi Seto terletak di Desa Seto, Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, Jawa tengah ini diperkirakan didirikan pada tahun 1400-an, pada akhir jaman Majapahit. Merupakan salah satu peninggalan dari Raja Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Lokasi candi seluas 215 X 30 meter persegi dan dikelilingi oleh hutan pinus yang rindang.

Menurut ceritanya candi ini merupakan tempat pesanggrahan Brawijaya. Sebenarnya candi ini belum terselesaikan seluruhnya, karena saat itu Brawijaya tengah dalam pelarian dikejar-kejar oleh pasukan Raden Patah dari Demak. Kala itu, dari Desa Seto Brawijaya lalu lari ke Desa Sukuh dan mendirikan pula sebuah candi di sana. Namun, sebelum pindah ke Desa Sukuh, pada puncak Candi Seto ini Brawijaya sempat mendirikan arca dirinya yang dinamakan Nala Genggong.

Untuk menuju candi ini perjalanan dimulai dari Kota Solo, Jawa Tengah. Dari kota batik ini kita menggunakan bus ke jurusan Tawangmangu dan turun di Karangpandan. Route ini memakan biaya Rp 3.000,00 per orang. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan colt minibus ke jurusan Pasar Kemuning, dan dikenakan biaya Rp 1.500,00 per orang. Perjalanan menuju Pasar Kemuning ini mengingatkan kita akan jalur Bogor-Cianjur, karena menanjak dengan jalur yang berliku-liku. Sementara udaranya pun tak kalah sejuknya dengan udara di Puncak Pass.

Dari Pasar Kemuning inilah perjalanan baru menemui permasalahan. Untuk menuju lokasi candi yang masih berjarak sekitar 10 kilometer tak ada angkutan umum yang mau menuju ke sana. Ini disebabkan karena kondisi jalan yang betul-betul membutuhkan ketrampilan ekstra dari pengemudi. Karena selain tanjakan-tanjakan yang curam, di kanan-kiri jalan menganga jurang yang dalam. Ditambah lagi cuaca yang selalu berkabut sehingga kerap menghalangi pandangan. Oleh karena itu, jarang pengemudi yang berani mengambil jalur ini.

Namun demikian, para pelancong tak perlu cemas. Di Pasar Kemuning banyak berderet pengojek yang siap mengantarkan wisatawan ke lokasi candi. Tarifnya berkisar antara Rp 5.000,00 - Rp 10.000,00, tergantung kemampuan kita bernegosiasi, untuk sekali jalan. Selain itu, sebuah kendaraan diesel Isuzu milik Kepala Desa setempat juga bisa dimanfaatkan untuk mengangkut para pelancong. Sampai lokasi untuk sekali jalan dikenakan tarif sebesar Rp 20.000,00, tak peduli berapapun banyak muatannya.

Perjalanan yang penuh tantangan pun mulai terasa tatkala mobil bergerak dari Pasar Kemuning. Belum lagi berjalan jauh, mesin mobil sudah mulai mengeram. Tanjakan-tanjakan tajam sudah harus didaki, ditambah tikungan-tikungannya yang tajam. Namun demikian, rasa ngeri akan berkurang setelah melihat pemandangan yang terpampang.

Kendaraan meliuk-liuk di sela-sela pepohonan teh. Tak jarang kita pun dapat melihat sebuah perkampungan dengan deretan rumah-rumah di bawah sana. Belum lagi udaranya yang betul-betul menyejukkan. Kepenatan pun akan sirna bila kita sampai di sana.

Setelah terlebih dahulu memasuki Desa Seto, kendaraan akhirnya tiba di pelataran Candi. Turun dari kendaraan kita akan segera melihat gerbang candi, yang dinamakan sebagai Gapura Bentar, artinya Gapura Belah. Melihat gapura Candi Seto mengingatkan kita akan bentuk-bentuk gapura di Pulau Bali. Tak salah memang, karena Candi Seto merupakan peninggalan Kerajaan Majpahit yang merupakan kerajaan Hindu di tanah air.

Sebelum memasuki gerbang yang berupa gapura ini, terlebih dahulu mendaki tangga yang terbuat dari batu yang tertata rapi. Memasuki gerbang, sampailah kita di pelataran pertama di mana pada sebelah kiri gerbang terdapat pos penjagaan. Di sini pengunjung diharuskan mencatatkan diri dan dikenakan biaya masuk berupa sumbangan secara sukarela. Pada papan nama candi tertera; Dilindungi UU Peninggalan Sejarah dan Purbakala berdasarkan: Monumenten Ordanantie, No. 238/1931.

Menurut Bapak Soetjipto, sang juru kunci, untuk mencapai puncak candi harus melewati 12 undakan (pelataran). Setiap menuju atau memasuki pelataran selalu melalui gerbang-gerbang kecil yang bentuknya satu sama lain sama, yakni berupa gapura belah tadi. Menurut kepercayaan semakin ke atas maka semakin tinggi tingkat kesucian dari tempat tersebut.

Pada undakan kedua akan didapati (terhampar di tanah) sebuah Arca Bulus (Kura-kura) yang merupakan simbol suci, dan bersambung dengan Lingga (alat kelamin laki-laki) yang rebah. Candi ini memang didominasi oleh arca-arca berbentuk lingga. Menurut juru kunci, perempuan yang tengah mendapat haid dilarang melintas di atas Arca Bulus tersebut. Bila itu dilanggar konon yang bersangkutan akan mendapat kesialan.

Selain arca yang berbentuk lingga, di candi ini juga terdapat 12 arca lainnya. Namun demikian, amat disayangkan candi ini telah kehilangan beberapa arcanya akibat ulah orang-orang yang tak bertanggungjawab. Padahal, candi ini merupakan salah satu bagian dari wisata sejarah. Di mana pengunjung bisa berkeliling candi sambil membayangkan masa-masa lalu bangsa ini. Bangsa yang memiliki kekayaan budaya yang tinggi.

Melihat ruang-ruang candi khayalan kita bisa menjelajah ke masa silam.

Membayangkan Raja Brawijaya tengah istirah sambil mengolah rasa, atau tengah bercengkrama dengan para permaisurinya. Penat berkeliling candi kita bisa istirahat di bawah rindangnya pepohonan pinus yang mengelilingi lokasi candi. Udara sejuk akan menyergap, ditambah kabut tipis yang melayang-layang turun di pucuk candi dan terus membungkus tubuh kita. Semua terasa sejuk dan menyenangkan. Membuat pikiran kita akan segar kembali. Terbebas dari rutinitas kerja sehari-hari.

Selain sebagai tempat wisata budaya, lokasi candi ini juga dimanfaatkan untuk areal perkemahan. Saat-saat musim liburan sekolah areal hutan pinus pun akan penuh dengan tenda-tenda. Anak-anak sekolah mengisi liburannya dengan berkemah di sini. Di samping itu, Candi Seto juga sering dikunjungi oleh orang-orang yang mempunyai tujuan berziarah. Pada hari-hari tertentu, terutama pada hari-hari Raya Hindu atau tiap tanggal 1 Suro sering diadakan upacara keagamaan. Karena memang penduduk di sekitar candi ini kebanyakan menganut agama Hindu. Sedang untuk para peziarah ramai berdatangan pada hari Selasa Kliwon dan Rabu Kliwon. Mereka biasanya berkumpul di bangsal-bangsal yang terdapat pada undakan ke tujuh dan ke delapan.

Potensi yang Belum Optimal

Sebagai salah satu oyek wisata budaya, Candi Seto terlihat belum tergarap secara optimal. Perawatan candi masih terkesan sederhana. Tak heran bila di sana-sini terlihat serakan potongan-potongan batu candi yang dibiarkan teronggok begitu saja. Merupakan bagian dari reruntuhan bangunan candi yang mungkin belum diperbaiki.

Masalah transportasi pun masih menjadi kendala yang cukup serius. Sepinya pengunjung bisa jadi karena mereka kesulitan untuk mencapai lokasi candi. Keramaian obyek wisata ini hanya terjadi pada saat-saat musim liburan sekolah. Itu terjadi karena banyak siswa sekolah yang memanfaatkan areal hutan pinus untuk berkemah. Hari-hari selebihnya pengunjung bisa dihitung dengan jari.

Padahal obyek wisata ini menyimpan keindahan yang luar biasa. Memiliki pemandangan yang indah dan udara pegunungan yang menyejukkan. Belum lagi cerita-cerita sejarah yang melatari berdirinya candi ini. Semua itu bila tergarap optimal, misal, menjadi kalender wisata Pemda setempat, bukan tak mungkin cerita kebesaran masa lalu candi ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berbondong-bondong datang mengunjungi. (Bagus Sidi Pramudya)

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=120976

Candi Prambanan, Candi Hindu Tercantik di Dunia

Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.

Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.

Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

Memasuki candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, anda akan menemui 4 buah ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3 ruangan yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang dalam legenda yang diceritakan di atas.

Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang terletak di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca Brahma.

Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti ‘terbit’ atau ‘bersinar’, biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).

Kemampuan menyelamatkan itu yang dikagumi oleh banyak orang sampai sekarang dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Indonesia menggunakannya untuk lambang negara. Konon, pencipta lambang Garuda Pancasila mencari inspirasi di candi ini. Negara lain yang juga menggunakannya untuk lambang negara adalah Thailand, dengan alasan sama tapi adaptasi bentuk dan kenampakan yang berbeda. Di Thailand, Garuda dikenal dengan istilah Krut atau Pha Krut.

Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.

Sama seperti sosok Garuda, Kalpataru kini juga digunakan untuk berbagai kepentingan. Di Indonesia, Kalpataru menjadi lambang Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Bahkan, beberapa ilmuwan di Bali mengembangkan konsep Tri Hita Karana untuk pelestarian lingkungan dengan melihat relief Kalpataru di candi ini. Pohon kehidupan itu juga dapat ditemukan pada gunungan yang digunakan untuk membuka kesenian wayang. Sebuah bukti bahwa relief yang ada di Prambanan telah mendunia.

Kalau cermat, anda juga bisa melihat berbagai relief burung, kali ini burung yang nyata. Relief-relief burung di Candi Prambanan begitu natural sehingga para biolog bahkan dapat mengidentifikasinya sampai tingkat genus. Salah satunya relief Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) yang mengundang pertanyaan. Sebabnya, burung itu sebenarnya hanya terdapat di Pulau Masakambing, sebuah pulau di tengah Laut Jawa.

http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/candi/prambanan/

 

PURA WIRA BUWANA, CANDI SUKUH, CANDI CETO

dan

PETILASAN KYAYI I GUSTI AGENG PEMACEKAN

(Catatan tirtayatra, Tempek Rempoa - Tanggerang, 6 - 8 Desember 2008)

Pada tanggal 6 Desember 2008, sekitar jam 09.15 satu bus Pariwisata full AC penuh penumpang warga Tempek Rempoa meluncur meninggalkan kawasan Perumahan Bintaro - Jaya. Rombongan yang di lepas oleh seksi Pembinaan Umat, bpk IB Alit Wiratmaja dan dipimpin oleh ketua rombongan bp Mangku Wyn Gede Bawa akan melakukan Tirtayatra ke pura Wira Buwana - Magelang, Candi Sukuh, Candi Ceto dan Petilasan Kiyayi I Gusti Ageng Pemacekan.

Penjelasan Ketua Rombongan, bpk Mangku Wayan Gede Bawa

Didalamrombongan yg berjumlah 35 orang ikut serta Ketua Tempek, bpk Nyoman Sudiarta dan Ibu, Wkl Ketua Tempek Wyn Ardana beserta Ibu, Mangku Ibu Wyn Metra dan DW Putu Suradana & Ibu serta pengurus tempek lainnya. Suasana kebersamaan dan berbagi sangat kental terasa di dalam perjalanan ini, “tat twam asi”  sudah sangat mendarah daging didalam diri semua peserta. Canda dan tawa, karaoke, pembacaan cerita humor, teka-teki silang dan saling “ledek” terjadi tiada henti membuat suasana meriah dan terasa sangat akrab. Makanan sepertinya tidak ada hentinya baik yg di siapkan oleh panitia maupun makanan yang di bawa peserta untuk dibagikan kepada peserta lainnya. Perjalanan in ihauh dari kesan perjalanan tirtayatra yang serius dan religius, layaknya seperti piknik keluarga di liburan saja. Kegembiraan dan keceriaan terpancar dari kakek2, nenek2. bpk2, ibu2, maupun teruna-terunanya peserta tirtayatra ini. Keadaan sunyi hanya beberapa saat saja, yaitu setelah mata mengantuk tak tertahankan, ini terjadi sekitar menjelang subuh. Untuk mengoptimalkan waktu, selama perjalanan bus hanya berhenti untuk istirahat dan makan siang saja. Salah satu tempat peristirahatan yang di singgahi adalah SPBU MURI yang masuk dalam catatan MURI karena memiliki 67 buah toilet bersih, SPBU dengan toilet terbanyak.

PURA WIRA BUWANA - MAGELANG

Candi Bentar Pura Wira Buwana - Magelang

Menjelang tengah malam tanggal 6 Desember rombongan tiba di Magelang dan langsung menuju Pura Wira Buwana, yang berada di area Akademi Militer. Rombongan di terima oleh bpk Mayor Wyn Pipil sebagai penanggung jawab Pura. Peserta Tirtayatra langsung menurunkan barang bawaan & membersihkan badan, sebagian besar langsung mandi dan beberapa peserta hanya cuci muka. Sekitar jam 00.00 dilakukan persembahyangan bersama di pimpin oleh bpk Mangku Wayan Ardana. Wajah lesu dan kelelahan tidak terlihat sedikitpun seolah-olah semuanya itu sirna, yang tinggal hanya keinginan untuk menghadap Ida Sang Hyang Widi Wasa untuk menghaturkan rasa syukur atas semua wara nugrahaNYA. Semua peserta larut dan menyatu dengan keheningan tengah malam. Selesai persembahyangan beberapa orang melanjutkan dengan meditasi dan ngobrol, yang lainnya langsung tergeletak istirahat.

Foto bersama setelah Sembahyang bersama

Sekitar jam 5 pagi sebagian sudah mulai bangun untuk mandi dan bersiap-siap menghadapNYA. Persembahyangan pagi di lakukan sekitar 06.30 dan berakhir sekitar jam 07.00. Selesai sembahyang, rombongan bertemu dengan teruna-teruni SMA Nusantara dan AKMIL yang berdatangan untuk melakukan persembahyangan. Beberapa peserta tirtayatra berfoto bersama para teruna-teruni, dengan nada becanda ada peserta melontarkan keinginannya untuk menjodohkan anaknya dengan teruna-teruni yang kelihatan gagah dan cantik2 ini. Setelah selesai sembahyang semua peserta merapikan barang bawaannya untuk dinaikkan kedalam bus. Selanjutnya sekitar jam 08.15 rombongan mepamit untuk meneruskan perjalanan ke Candi Sukuh.

CANDI SUKUH

Persiapan Sembahyang

Perjalanan ke Candi Sukuh menempuh waktu kurang lebih 2 jam. Bus singgah dibeberapa tempat untuk memberikan kesempatan kepada rombongan membeli oleh-oleh khas Magelang dan SOlo seperti ulekan dari batu, salak dan juga oleh-oleh jajajan Solo berupa bak pia pathok, “entip”, ikan crispy, dan lain-lain. Semua oleh-oleh yang di beli ini sebenarnya mudah di peroleh di Jakarta, namun karena ada perasaan berbeda jika di beli di tempat asalnya dan juga karena menerima titipan maka jadilah mobil bebannya di tambah dengan hasil belanjaan.

Di terminal Karanganyar rombongan harus berganti kendaraan dari Bus menjadi ELF (bus kecil, kapasitas 16 penumpang), karena jalan menuju Candi Sukuh dan Candi Ceto kecil, penuh belokan dan menanjak yang tidak mungkin di lalui oleh Bus. Memanfaatkan waktu menunggu panitia mencari negosiasi ongkos ELF,  didalam bus seksi konsumsi menggelar makanan untuk santapan makan siang berupa ketupat, ayam, telor dan saur serta sambal. Semua peserta melahap semua makanan yang sudah di siapkan panitia di bawah komandan ibu Ketua Tempek.

Selesai makan peserta pindah kedalam 2 buah ELF dan langsung menuju Candi Sukuh. Jalan yang sempit dan penuh belokan serta pemandangan yang sangat indah seperti suasana di Bali, membangkitkan kenangan kepada alam ditanah kelahiran. Tiba di Candi Sukug gerimis kecil dan kemudian panas terik menyambut kedatangan pertisentana dari tempek Rempoa ini. Pemangku dan beberapa ibu-ibu mempersiapkan sarana persembahyangan yang kemudian di lanjutkan dengan persembahyangan bersama dalam cuaca terik matahari. Pengunjung lain, di luar rombongan yang sedang dan akan melihat-lihat Candi Sukuh untuk sementara menepi dan memberikan waktu kepada rombongan tirtayatra yang akan melakukan persembahyangan.

Salah satu ornamen Candi Sukuh

Selesai Sembahyang kabut mulai berdatangan dan udara menjadi sejuk dan sedikit dingin. Menurut pemandu, bagi pengunjung yang mengalami tiga cuaca alam - gerimis,  panas dan kabut seperti ini berarti memperoleh berkah dari yang maha kuasa. Setelah Sembahyang rombongan melihat berbagai patung yang terkesan vulgar. Pikiran apabila tidak di kendalikan dengan baik bisa langsung “ngeres” jika melihat dan memperhatikan patung-patung yang ada di kawasan ini. Selain menampilkan ornamen orang bersenggama secara vulgar, di lantai pelantaran Candi juga terpampang kelas relief yang menggambarkan secara utuh alat kelamin pria yang sedang ereksi, berhadap-hadapan langsung dengan vagina. Lantaran situasinya seperti itu, masyarakat setempat kadang menyebut Candi Sukuh sebagai Candi Rusuh (Saru atau Tabu). “Informasi lebih lebih lengkap dan gambar-gambar yang menggoda dapat di cari lebih lanjut di Internet.

CANDI CETO

Candi Bentar Candi Ceto

perjalanan di lanjutkan ke Candi Ceto yang memakan waktu kurang lebih 45 menit, tidak kalah menantang dan indah panoramanya di bandingkan dengan perjalanan ke Candi Sukuh, jalan menuju Candi Ceto penuh liku dan tanjakan serta hamparan kebun teh. Selama perjalanan sampai tiba di tujuan di warnai dengan hujan lebat. Menjelang mencapai lokasi candi banyak rumah-rumah yang berornamen Bali, hal ini dikarenakan kurang lebih 80% penduduknya beragama Hindu. Rombongan sampai di Candi Ceto kira-kira jam 14.25 dalam guyuran air hujan yang sangat lebat. Dengan penutup kepala dan badan seadanya dan pakaian semua basah kuyup peserta tirtayatra naik ke candi. Undakannya cukup banyak dan ada beberapa Candi Bentar yang harus di lalui, terkesan seperti kalau kita tangkil ke Pura Besakih.  Setelah beberapa saat menunggu, pemangku Candi Ceto datang untuk memimpin persembahyangan. Beberapa orang peserta sembahyang di jeroan candi dan sisanya sembahyang di luar. Persembahyangan berjalan dengan khidmat dalam kondisi hujan lebat, badan basah namun tidak di rasakan sebagai halangan justru membuat bathin dan raga terasa tenang dan tentram.

Di balik Candi ceto, berdiri Candi Saraswati yang karena hujan lebat tidak sempat di datangi. Candi ini merupakan pemberian dari Bupati Gianyar (AA Gd Bharata) kepada Bupati Karanganyar sebagai tanda hubungan pertemanan yang sangat baik.

PETILASAN KYAYI I GUSTI AGENG PEMACEKAN dan

PARAHYANGAN SAPTA PANDITA

Pemedal Agung Petilesan

Sebagai tujuan akhir dari tirtayatra adalah Petilasan Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan dan Parahyangan Sapta Pandita yang ada di Dusun Pasekan, Karangpandan - karanganyar. Rombongan di sambut oleh bpk Nyoman Nasa, dosen Universitas Sebelas Maret - Solo yang berasal dari desa Kemoning, Klungkung sebagai pengurus / pengempon Petilasan ini. ornamen dari petilasan ini di dominasi oleh warna merah - kuning dan bentuk gapuranya ramping dan menjulang tinggi. Persembahyangan di pimpin oleh pemangku Pasek yang di besarkan di Lampung. Selesai sembahyang dilakukan dharmawacana khususnya mengenai sejarah keberadaan dari Petilasan ini yang di percayai sebagai sumbernya warga pasek. Selanjutnya di teruskan dengan makan malam yang telah di sediakan oleh ibu-ibu dari Petilasan. beberapa peserta penghobi tanaman sempat melihat tanaman hias anturium yang sangat prestisius karena harganya yang menjulang. Karanganyar terkenal sebagai sebagai salah satu daerah penghasil anturium, banyak warganya yang kaya karena menjual anturium. Perjalanan kembali ke Jakarta di lakukan setelah selesai makan malam yaitu sekitar jam 20.15 peserta mepamit dari area Petilasan.

KEMBALI KE JAKARTA

Senam Peristirahatan di tol Cikampek

Perjalanankembali ke Jakarta berjalan dengan sangat lancar, karena pada tanggal 8 Desember adalah hari raya kurban bagi umat muslim, jalanan menjadi sangat sepi. Perjalanan pulang ini di warnai dengan pembacaan puisi yang dibuat dan dilakukan oleh Ibu Sinar dengan sangat memukau. Kesan-kesan tirtayatra di rangkai menjadi uraian kata-kata yang sangat indah dan sangat menyentuh kalbu para peserta. Aplaus dan tepuk tanganpun meramaikan suasana di pagi hari ini. Disalah satu tempat peristirahatan beberapa peserta juga sempat melakukan senam jari dengan instruktur Ibu SInar. Perjalanan yang demikian lancar mendapat hambatan dan macet di penghujung perjalanan yaitu didalam komplek perumahan Bintaro Jaya, karena banyaknya mobil parkir di jalanan dekat mesjid Bintaro. Rombongan tirtayatra sampai kembali di Pura Rempoa sekitar jam 08.30 dan di akhiri dengan persembahyangan bersama sebagai rasa syukur atas kelancaran dan keselamatan yang di peroleh selama tirtayatra ini.

Akhir Tirtayatra, sembahyang di Pura Mertasari Rempoa

Selesai sembahyang sarapan sudah terhidang, semua peserta dan penjemput menyantap sarapan yang telah di siapkan oleh Ibu2.

Sarapan Bersama

Matur Suksme kepada Panitia dan pengurus tempek atas semua persiapan dan pelaksanaan tirtayatra yang sangat baik yang menjadikan tirtayatra ini memberikan pengalaman spiritual untuk lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta, Pemelihara dan Pemralina - Ida Sang Hyang Widi Wasa.

 

(tra/120109)

Rekonstruksi Situs Majapahit

Posted by Adnyana under Pura di Jawa

Melihat bangunan diatas, mungkin hampir semua dari kita pernah melihat candi bentar sisa kerajaan majapahit  berlokasi di Trowulon yang masih utuh hingga saat ini yang di kenal dengan nama Wringin Lawang.  Menengok kembali ke belakang,  Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 Masehi.  Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389. Majapahit menguasai kerajaan-kerajaan lainnya di Semenanjung Malaya, Borneo, Sumatra, Bali bahkan hingga ke Filipina.  Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu terakhir di Semenanjung Malaya dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam Sejarah Indonesia.

Walaupun di Jaman dulu Kerajaan Majapahit merupakan Kerajaan yang besar, namun saat ini terdapat sedikit bukti fisik sisa-sisa Majapahit dan sejarahnyapun tidak jelas. Sumber utama yang digunakan oleh para sejarawan adalah Pararaton (Kitab Raja-raja) dalam bahasa Kawi dan NagaraKertagama dalam bahasa Jawa Kuno.  Pararaton terutama menceritakan Ken Arok (pendiri Kerajaan Singasari) namun juga memuat beberapa bagian pendek mengenai terbentuknya Majapahit. Sementara NagaraKertagama merupakan puisi Jawa Kuno yang ditulis pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Setelah masa itu, hal yang terjadi tidaklah jelas. Selain Pararaton dan NegaraKertagama terdapat beberapa prasasti dalam bahasa Jawa Kuno maupun catatan sejarah dari Tiongkok dan negara-negara lain.

Cerita-cerita tentang Kerajaan Majapahit belakangan ini mulai banyak di bicarakan oleh komunitas online masyarakat di Indonesia karena Pemerintah Indonesia melalui departemen kebudayaan dengan mentrinya bapak Jero Wacik merencanakan pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) seluas 2.190 meter persegi dan Majapahit Park di daerah persis di area yang termasuk situs pusat kota kerajaan Majapahit di trowulon.

Adapun maksud dari pemerintah membuat Majapahit Park adalah  untuk menyatukan situs-situs peninggalan ibu kota Majapahit di Trowulan dalam sebuah konsep taman terpadu. Jadi tujuannya untuk menyelamatkan situs dan benda cagar budaya dari kerusakan serta untuk menarik wisatawan. Sementara Pusat Informasi Majapahit (PIM) itu  sendiri nantinya akan berupa bangunan berbentuk bintang bersudut delapan yang disebut Cungkup Surya Majapahit, lambang Kerajaan Majapahit. lebih lanjut rencananya, di bawah Cungkup Surya Majapahit itu akan dipamerkan sejumlah koleksi PIM yang belum banyak terekspos. Pengunjung juga bisa berjalan di atas ubin kaca dan melihat langsung struktur bangunan Majapahit yang berada di bawahnya.

Pembangunan Pusat Informasi Majapahit saat ini sudah dilakukan. dan peletakan batu pertama dilakukan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, 3 November lalu. Pembangunan PIM ini sepertinya tidaklah berjalan mulus, selain dalam proses penggalian fondasi bangunannya ditemukan sejumlah peninggalan bersejarah, seperti dinding sumur kuno, gerabah, dan pelataran rumah kuno, di samping itu juga pembangunannya juga di tentang oleh para pemerhati sejarah di tanah air ini, yang tidak menginginkan bengunan tersebut berlokasi tepat di lingkungan kota kerajaan Majapahit jaman dulu itu, yang di yakininya pembangunan PIM dengan bangunan beton ini bisa merusak atau mengurangi nilai historis dari situs Majapahit itu sendiri.

Pro-Kontra proyek pembangunan PIM hingga saat ini terus berlangsung. untuk lebih fair-nya, kalau kita mau melihat secara jujur lebih detail sedikit kebelakang sebelum dilaksanakan proyek pemerintah pusat untuk pembangunan bangunan PIM (Pusat Informasi Majapahit) ini, kerusakan situs Trowulan yang luput dari pengamatan masyarakat nasional adalah kerusakan akibat industri rakyat pembuatan batu bata di sekitar situs Majapahit yang sudah terjadi sejak dulu dan berlangsung bertahun-tahun yang justru menimbulkan kerusakan jauh lebih hebat dari proyek pemerintah ini.  Hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menunjukkan, sekitar 6,2 hektar lahan di situs Trowulan rusak setiap tahunnya untuk pembuatan batu bata rakyat. Masyarakat menggali tanah untuk pembuatan batu bata karena tak ada penghasilan alternatif. Masyarakat juga berharap saat menggali tanah bisa menemukan benda-benda bersejarah yang kemudian bisa dijualnya.

Jadi yang manakah yang benar dan patut di dukung? Apakah rekonstruksi Situs Majapahit patut di teruskan atau di hentikan?

Sesungguhnya situs peninggalan kerajaan Majapahit di Trowulan merupakan salah satu bukti kita memiliki nenek moyang dengan peradaban tinggi tidak kalah dengan bangsa-bangsa di Eropa. meniru kata pepatah: “if we can not make it better, do not make it worst”. Jadi seandainya kita-kita belum bisa menemukan metode yang tepat dalam pengembalian bukti sejarah keberadaan Situs bersejarah ini sebaiknya kita bisa mengingatkan orang lain untuk tidak merusaknya seperti apa yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar Trowulon yang terus menggali tanah di sekitar Trowulon untuk kepentingan membuat batubata atau mungkin berharap bisa menemukan benda-benda bersejarah yang bisa di jualnya.

Mengakhiri tulisan artikel ini yang saya rangkum dari beberapa artikel yang saya baca di berbagai koran nasional online serta beberapa diskusi di berbagai milis, terlepas dari apakah pemerintah sudah melakukan kajian lapangan dengan cermat dan mendalam terhadap re-konstruksi situs Majapahit ini atau belum, tampaknya tantangan dalam usaha mendirikan Pusat Informasi Majapahit ini tidak hanya dari sisi pertanyaan terhadap keutuhan dari benda-benda yang terkubur di bawah tanah yang akan di gali selama proyek PIM ini, melainkan bahkan ada yang menentangnya karena alasan SARA, seperti kekhawatiran proyek ini di khawatirkan bisa menghindukan kembali masyarakat sekitar Trowulon. Semoga kekhawatiran berlebihan seperti itu tidak melebar terlalu liar. pihak yang mendukung pendirian PIM mengatakan dengan jawaban prinsipal, bahwa janganlah Majapahit “HANYA” dipandang sebagai warisan Budaya Hindu, melainkan jadikanlah sebagai “Warisan Budaya Leluhur Bangsa Indonesia”.

Pendirian Majapahit Park selayaknya di lihat dari sisi positifnya yang bertujuan untuk menyediakan sebuah fasilitas yang bisa menampung dan melestarikan berbagai tinggalan arkeologis Majapahit, sehingga tidak ‘berserakan’ seperti kondisinya sekarang .  Pendirian PIM (Pusat Informasi Majapahit) pun sesungguhnya diilhami oleh upaya untuk melestarikan “Kebudayaan Majapahit”, bukan saja aspek ‘tangible’ (yang dapat diraba/dipegang seperti patung, bata, dsb), tetapi juga aspek ‘intangible’-nya (nilai, norma, aturan, tradisi, dst).  Siapa tahu dengan maksud mulia ini di kemudian hari, apa yang akan di wujudkan di Trowulon bisa meniru museum Terracotta tentara Cina di jaman kerajaan jaman dulu yang bisa menjadikannya sebagai saksi bisu bagi generasi muda cina saat ini, yang bangga akan sejarah leluhurnya. Menarik untuk kita renungkan bersama.

salam waRning,

Pura Pasek di Karanganyar

Posted by Adnyana under Pura di Jawa

Bagi yang memiliki minat dan ketertarikan berwisata spiritual Tirta Yatra, yaitu melakukan perjalanan napak tilas persembahyangan mengunjungi pura-pura, baik yang berada di daratan pulau bali ataupun di nusantara, pastilah mengenal Pura Patilesan (peristirahatan) Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan, yang lebih di kenal sebagai Pura Pasek dan merupakan induk dari Pura Pasek yang ada di daratan Bali. Pura ini terletak di desa Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Indonesia. Kira-kira 35 km sebelah timur kota Solo, satu jam perjalanan ditempuh dengan kendaraan. Letaknya yang tidak jauh dari obyek wisata Tawangmangu, di kaki gunung Lawu membuat pura Pemacekan yang dikelilingi alam nan hijau menjadi semakin sejuk.

Menengok kembali sejarah jaman dulu, pada awalnya bangunan ini memang merupakan tempat peribadatan umat Hindu yang berupa punden atau candi atau pura. Sebagaimana masyarakat Jawa pada zaman dulu memang banyak sekali penganut Hindu, tak terkecuali di wilayah Karangpandan ini. Hal ini terbukti ditemukannya bangunan Hindu di daerah sekitar tak jauh dari pura Pemacekan semisal Candi Sukuh, Candi Cetho, dll. Namun seiring berjalannya waktu, dengan terjadinya akulturasi kebudayaan antara penganut agama lain, penganut Hindu di sekitar pura menjadi semakin sedikit, meski dalam catatan sejarah, bangunan yang memiliki dominasi warna kuning dan merah ini pernah di bangun menjadi lebih megah dan mewah pada masa Pakoe Boewono XII.  Keterlibatan raja dari Keraton Surakarta dalam pembangunan kembali Pura Pemacekan (Pura Pasek) ini adalah cukup beralasan, karena bila di lihat dari silsilah vertikal raja-raja yang yang terpampang di dinding bangunan Pura Pemacekan itu, di mulai dari kerajaan Singosari dimasa pemerintahan Ken Arok hingga raja Surakarta yang sekarang adalah masih memiliki ikatan darah persaudaraan dengan Ki Ageng Pasek atau di kenal dengan nama Pangeran Arya Kusuma ini karena merupakan salah seorang menantu Pangeran Brawijaya V (raja terakhir dari kerajaan Majapahit), yang patilesannya terdapat di dalam bangunan Pura Pasek ini. Ki Ageng Pasek yang dikenal sebagai Arya Kusuma juga adalah seorang senopati kerajaan yang memiliki keahlian khusus, penunggang kuda saat berperang. Hingga meninggalnya dan kemudian dimakamkan di desa Pasek, Kecamatan Karangpandan, kabupaten Karanganyar, yang saat ini tepat di petilesannya didirikan Pura Pemacekan (Pura Pasek).

Piodalan di pura Pemacekan ini biasanya diselenggarakan setiap tujuh bulan saat bulan purnamasidi atau bertepatan dengan pengetan weton dari Ki Ageng Pasek yang mana Upacara Piodalan ini selain di rayakan oleh para pengempon Pura umat Hindu di karanganyar serta daerah Solo dan sekitarnya yang khususnya bermarga Pasek juga dihadiri oleh ratusan warga Hindu Bali dari marga Pasek juga.  Salah seorang Pengempon Pura Pasek ini adalah juga warga dari Desa Kemoning Klungkung yang berdomisili di Solo, yaitu bapak Nyoman Nasa, dalam menjalani masa-masa pension beliau, selalu mengabdikan hari-harinya merawat Pura Pasek ini.

Menghubungkan cerita Pura Pasek yang ada di tanah Jawi ini dengan issue-issue yang berkembang belakangan ini di daratan bali, dimana seiring dengan berjalannya waktu dan semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat di Bali, akhirnya menumbuhkan keingintahuan untuk menelusuri lebih jauh tentang asal-usul  nenek moyang atau leluhur keluarga mereka, yang di mulai tidak hanya ketika leluhur mereka berdomisili di balidwipa (pulau bali), melainkan di telusuri lebih jauh ketika nenek moyang mereka masih berdomisili di jawadwipa (pulau jawa) ketika kerajaan majapahit masih mengalami masa kejayaannya. penelitian oleh setiap individu mengenai silsilah keluarga / kelompok ini kemudian di tuliskan kedalam suatu babad, sehingga akhirnya di Bali saat ini dikenal berbagai macam Babad.  seperti di tuliskan di website babadbali.com (http://www.babadbali.com/babad/babadbali.htm ) yaitu:

Babad Kutawaringin , Babad Sri Nararya Kresna Kepakisan , Babad Satria Kelating , Babad Buleleng , Babad Pasek , Babad Arya Kresna Kepakisan Versi Dokbud Bali , Babad Buleleng Versi Dokbud , Babad Jawa Versi Mangkunegaran , Babad Arya Gajah Para , Babad Ki Tambyak , Babad Manik Angkeran

Lebih lanjut, menelusuri silsilah keluarga sedari nenek moyang baik dengan pergi ke tanah jawi atau melalui membaca babad yang di tulis orang lain, di bali saat ini sepertinya sedang menjadi trend. Salahkah kegiatan mereka ini, tentu tidak. kegiatan untuk mengetahui silsilah keluarga leluhur mereka, disamping akan menambah wawasan dari setiap pembacanya, membaca babad ini juga di khawatirkan sebagian orang akan memisahkan masyarakat bali menjadi kelompok-kelompok (soroh / clan) karena menemukan silsilah dirinya dalam babad.  kekhawatiran yang berlebihan ini mungkin masih dianggap wajar, hal ini untuk menghindarkan terulangnya fenomena masyarakat bali dari penafsiran yang berbeda-beda akan suatu konsep kehidupan bermasyarakat. sebagai contoh penafsiran akan keberadaan sistem wangsa di dalam kehidupan sosial kemasyarakat umat Hindu di Bali. dimana kalau menurut Manawa Dharmasastra, sistem wangsa dalam masyarakat Bali bukanlah untuk menentukan stratifikasi sosial paradigma tinggi-rendah (tidak setara antara wangsa yang satu dengan wangsa yang lainnya). Wangsa itu tidak menentukan seseorang itu Brahmana, Ksatria, Waisya maupun Sudra, melainkan sistem wangsa itu di buat untuk menentukan keakraban atau kerukunan famili, dan bukan untuk menentukan kasta atau varna seseorang. kita harapkan semoga masyarakat bali tidak terjerumus akan pemahaman yang sempit akan Babad ini. Kembali ke topik Babad, untuk apa sesungguhnya fungsi keberadaan Babad itu atau untuk apa Babad itu di tulis?  pada prinsipnya Babad itu adalah sejarah. Babad atau sejarah di tulis untuk melihat perjalanan sebuah peradaban. Dari penulisan ini kita menjadi tahu, siapa tokoh yang memainkan peran dalam peradaban itu.

Mengambil contoh dari salah satu Babad diatas yaitu Babad Pasek, umat Hindu dari seluruh pelosok daratan Bali yang bermarga Pasek, belakangan ini tidak hanya melakukan Tirta Yatra persembahyangan bersama ke Pura Dasar Gelgel Klungkung yang di yakininya sebagai induknya Pura Pasek di Bali , melainkan juga melakukan Tirta Yatra persembahyangan bersama ke Pura Patilesan (peristirahatan) Ki Ageng Pemacekan yang oleh masyarakat Bali di yakininya sebagai induknya Pura Pasek - pura Pasek yang ada di Bali,  dan belakangan ini selalu menunjukkan statistik yang kian terus meningkat bila di lihat dari jumlah kendaraan bis rombongan dari bali.

Akhir kata, seandainya ada pembaca artikel ini yang bermarga Pasek yang tertarik untuk melakukan wisata spiritual Tirta Yatra ke Pura Pasek yang ada di Jawa ini, berikut alamat detailnya: Pura Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan, desa Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

salam waRning,