kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Pura di Eropa’ Category

Saniscara Keliwon Kuningan tanggal 22 Mei 2010, umat Hindu dimanapun berada melangsungkan perayaan Kuningan, tidak terkecuali umat Hindu yang berada di kota Hamburg atau di negeri Jerman pada umumnya. Perayaan Kuningan kali ini terasa berbeda dari perayaan Kuningan sebelumnya yang biasa diselenggarakan oleh Nyama Braya Bali (NBB) di Jerman. NBB tempek Hamburg yang kali ini berkesempatan menjadi penyelenggara perayaan Kuningan, secara bersamaan juga melangsungkan karya Ngenteg Linggih Pura yang baru dibangun di Hamburg, tepatnya di depan halaman Museum für Völkerkunde (Museum Etnologie yang memamerkan hampir seluruh etnis kebudayaan dunia). Pura yang baru di pelaspas di halaman Museum ini bernama „Pura Sangga Bhuana”.

Sejarah Singkat Pembangunan Pura

Pura yang dibangun atas inisiatif Luh Gede Juli Wirahmini Biesterfeld, wanita kelahiran Desa Banyuatis, Buleleng yang saat ini berdomisili di Hamburg, sesungguhnya sudah direncanakan sejak tahun 2004, secara bertahap dimulai dari kegiatan memamerkan benda-benda kesenian bali didalam ruangan Museum di salah satu departementnya yang khusus memamerkan tentang kebudayaan etnis Bali, kemudian di tahun 2006 diikuti dengan mewujudkan rumah gedong kerajaan berasitektur bali di dalam ruangan Museum, hingga akhirnya di tahun 2008 ketika NBB Hamburg menyelenggarakan Kuningan, keinginan untuk mendirikan Pura mulailah di wujud nyatakan di awali dengan upacara mecaru „ngeruak“ membuat dasar bangbang untuk bangunan Padmasana yang dipimpin oleh Ida Bhagawan Dwija. Selanjutnya di tahun 2009 Padmasana mulai dibangun oleh undagi (arsitektur Pura) I Nyoman Artana yang juga didatangkan langsung dari Bali. Atas sweca nugraha Ida Sang Hyang Widi Wasa di tahun 2010 tepatnya pada saat perayaan Kuningan 22 Mei 2010 Pura yang baru di bangun ini diresmikan seperti layaknya Pura di Bali, yang upacara Pemlaspasan dan Ngenteg Linggih di pimpin oleh Ida Bhagawan Dwija Nawa Sandi.

Jalannya Upacara Pemlaspasan Pura dan Perayaan Kuningan di Hamburg

Seperti tertulis pada surat undangan yang disebarluaskan oleh Juli Wirahmini bekerja sama dengan pihak Museum Völkerkunde Hamburg, upacara pemlaspasan Pura dilaksanakan pada hari sabtu kliwon kuningan 22 mei 2010, tepatnya dimulai jam 10 pagi. Sebelum upacara dimulai, cuaca di Hamburg saat itu tampak mendung dan sempat terjadi gerimis hujan, tak pelak cuaca dingin saat itu membuat umat yang hadir berpenampilan pakaian adat bali hampir semua melengkapi dirinya dengan jaket yang tebal pula. Namun seiring berjalannya mata jarum jam, cuacapun berangsur membaik hingga akhirnya matahari bersinar terang.

Ketika memasuki area Pura, umat yang hadir disambut dengan suara gamelan yang dimainkan oleh group gamelan “Anggur Jaya”  pimpinan Sebastian Goethe dan Ni Wayan Goethe yang anggotanya berasal tidak hanya dari Freiburg, melainkan juga dari Basel, Muenchen, Heidelberg, dll. Dentuman kendang yang dimainkan oleh Wayan Pica serta Lantunan suara seruling yang dimainkan oleh anggota sekehe gamelan, membuat suasana di Hamburg benar-benar terasa seperti di Bali.

Setelah umat yang hadir selesai bertegur sapa dan berkangen-kangenan, tiba saatnya Ida Bhagawan Dwija yang memimpin jalannya upacara meminta kepada umat yang hadir untuk mengambil sikap duduk agar jalannya upacara bisa dimulai. Sementara Ida Bhagawan Dwija mulai melafalkan mantra, penari „Topeng Jago“ mulai menari dihadapan umat. Pementasan  Topeng Jago yang termasuk jenis tari bebali disaat upacara sedang berlangsung adalah bertujuan untuk mengusir Buta Kala sehingga upacara pemlaspasan bisa berjalan dengan lancar. Seperti jenis tarian topeng lainnya, tari Topeng Jago juga menggambarkan suatu hubungan interaktif antara penari dan penabuh. Keduanya saling mempengaruhi dan keduanya secara bergantian memberi sinyal tertentu yang bisa menghasilkan gerakan tari yang berbeda-beda.

Setelah penampilan Topeng Jago, kemudian diikuti dengan rentetan upacara mecaru – mlaspas (memangguh, memirak, nyengker, mcaru Rsi Gana Bebek, mlaspas, memakuh, ngurip, masucian)

Selanjutnya diikuti dengan penampilan “Topeng Tua” yang bermakna filosofi orang tua “ngentegang” anaknya yaitu umat yang hadir.

Usai penampilan Topeng Tua, kemudian diikuti dengan pementasan „Topeng Penasar“ yang banyak bertutur atau membeberkan jalannya upacara yang akan berlangsung serta menjelaskan makna filosofi yang terkandung didalamnya termasuk pula tentang keberadaan dekorasi atau aksesori yang ada di sekeliling Pura seperti kober nawa sanga, kober hanoman, umbul-umbul serta bendera yang berwarna-warni tak luput dijelaskannya. Karena fungsi nya sebagai pengutara dasar cerita maka tokoh ini disebut “Penasar”. Tatwa Hindu dijabarkannya dengan gaya bahasa yang mudah di cerna oleh umat yang hadir.

Upakara yang digunakan pada upacara pemlaspasan Pura di Hamburg ini dijelaskannya juga, bila dilihat dari tingkatan upakara (utama, madya, nista) termasuk tingkatan “Madyaning Utama” karena disesuaikan dengan “Desa Kala Patra”. Karena terbatasnya lahan yang ada di depan museum, maka prinsip kesucian yang bersifat horizontal “Tri Mandala” :

1. Utama mandala = jeroan,
2. Madya mandala = jaba tengah,
3. Nista mandala = jaba

yang biasa dijumpai di Pura di Bali, ditransformasi menjadi prinsip kesucian yang bersifat vertical “Tri Angga” yang pada pembangunan Padmasana dikenal dengan nama “Tri Loka”:

1. Bhur Loka = dasar yaitu badawang nala-naga basuki-naga antaboga,
2. Bwah Loka = badan yaitu karang boma-garuda wisnu kencana, angsa,
3. Swah Loka = puncak padmasana yaitu berbentuk singasana yang diapit oleh dua naga taksaka .

Sehingga bangunan Padmasana terlihat saling melengkapi dengan bangunan Museum yang tinggi, demikian di wacanakan oleh Topeng penasar disaat upacara berlangsung.

Perihal nama dari Pura di Hamburg ini juga dijelaskan oleh Topeng Penasar, Pura ini tidak dinamai “Pura Jagadnata” seperti layaknya Pura yang ada di Bali, melainkan dinamai ” Pura Sangga Bhuana”, karena alasan secara phisik Pura Jagadnata memerlukan tambahan pelinggih lainnya seperti Piasan, Pelinggih Purusa sebagai simbol gunung agung dan pelinggih Pradana sebagai simbol gunung batur, sementara lahan yang tersedia di depan Museum ini tidaklah cukup luas, namun bila di maknai secara filosofi “Jagat = Bhuana”, Sangga = menyangga / menopang. Jadi Pura Jagat-Nata yang bermakna Pura penguasa dunia diganti dengan Pura Sangga Bhuana yang bermakna Pura Penyangga dunia , yang diharapkan dapat menopang dunia / menjaga kehidupan umat yang ada di Hamburg / Jerman / Eropa…

Setelah Topeng Penasar sekian lama „berdharma wacana“  dihadapan umat, Ida Bhagawan Diwija yang memimpin jalannya upacara menginstruksikan kepada umat untuk melaksanakan Pemuspaan “Ngider Bhuana”  dan secara bersamaan diminta mementaskan Tari Rejang Dewa dengan tujuan untuk “memendak” Ida Bhatara untuk turun kedunia.

Yang menarik dari penampilan tari rejang dewa yang dipentaskan oleh anak gadis yang memang benar-benar masih “virgin” sehingga kesucian dan kesakralan dari jenis tari wali ini benar-benar terjaga.

Setelah ngider bhuana dan peenampilan tari rejang dewa usai, kemudian ditampilkannya tari „Topeng Sida Karya“ yang bertujuan melinggihan (Ngenteg Linggih) Ida Bhatara secara niskala di Padmasana..

Bersamaan dengan penampilan Topeng Sida Karya, umat ngaturang ngayah meletakkan “symbol” Ida Sang Hyang Widi tepat dipuncak Padmasana

Setelah kesemua ritual diatas selesai, akhirnya persembahyangan bersama dimulai, diawali dengan puja trisandya dan dilanjutkan dengan kramaning sembah. Selanjutnya tirtha wangsuh-pada dan bija dibagikan. Untuk mengisi waktu luang, Ida Bhagawan Dwija melaksanakan Dharma-wacana dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan kedalam bahasa jerman oleh I Gusti Aryani Kriegenburg-Wilems.

Pada dharma wacana itu, Ida Bhagawan Dwija menjelaskan secara detail akan makna dari „Padmasana“, yang merupakan bangunan symbol pemuja Tuhan secara umum, atau Sanghyang Tri Purusha, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai : Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa. Lebih lanjut Ida Bhagawan juga  menjelaskan Palinggih „Pengrurah“Sanghyang Widhi sebagai manifestasi Bhatara Kala, pengatur kehidupan dan waktu.

Ida Bhagawan juga mengajak seluruh umat yang hadir untuk meneladani pohon pisang, yang karena kodratnya pohon pisang ada atau bermanfaat untuk mahluk lain dan tanpa mengharapkan pamerih. Oleh karenanya bila ada upacara keagamaan di Bali, pohon pisang selalu digunakan. Disamping meneladani pohon pisang, Ida Bhagawan juga mengajak umat yang hadir untuk menelaadani binatang ayam, yang semenjak bangun pagi langsung “berangkat” kerja untuk menafkahi dirinya. Kesemua dharma wacana dari Ida Bhagawan Dwija ini diterjemahkan oleh Gusti Aryani, sehingga hampir semua warga jerman yang menyaksikan jalannya upacara ini manggut-manggut menganggumi inti sari dari dharma wacana dari Bhagawan Dwija, pertanda mereka juga setuju.

Ida Bhagawan Dwija juga menjelaskan bahwa secara perlahan tapi pasti, keberadaan komunitas kita ataupun agama kita mulai dikenali serta di akui, tidak hanya oleh masyarakat Jerman tetapi juga oleh pemerintah Jerman, terbukti dengan diberikannya ijin untuk membangun Pura ini di Museum Völkerkunde Hamburg. Ida Bhagawan mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih kepada Museum Völkerkunde dan kepada Ibu Luh Gde Juli Wirahmini Biesterfeld, yang telah secara bersama-sama mewujudkan Pura Sangg Bhuana ini.

Dengan dibangunnya Padmasana / Pura di Hamburg ini, Bhagawan Dwija berharap kepada umat yang hadir di Hamburg, bisa semakin yakin akan Sang Hyang Widi Wasa, yaitu Tuhan dengan tanpa sifatnya (Nirguna Brahman) dan Tuhan dengan sifat-sifatnya (Saguna Brahman).

Dharma Wacana dari Ida Bhagawan Dwija merupakan akhir dari upacara di pagi hari, yang selanjutnya dilanjutkan dengan acara makan siang bersama. Namun sebelum umat beranjak menuju tempat dimana makanan siang di hidangkan, semua umat melakukan foto bersama.

Sambutan dan Hiburan

Waktu menunjukkan jam 14.30 , jalannya acara dilanjutkan dengan sambutan resmi dari President Director Museum Völkerkunde Prof. Dr. Wulf Köpke, staff pameran yang menanggung jawabi departement Bali di Museum Völkerkunde Dr. Jeanette Kokkot, serta pemberian souvernir dari pihak Museum kepada Juli Wirahmini, Ida Bhagawan Dwija, undagi I Nyoman Artana, serta kepada penari yang datang dari Bali. Karena terkesan dengan Dharma Wacana dari Ida Bhagawan Dwija tentang keteladanan pohon pisang,  Prof. Dr. Wulf Köpke pun akhirnya menyerahkan tanda kenang-kenangan berupa tunas pohon pisang kepada Ida Bhagawan Dwija, yang disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari penonton yang hadir. Ida Bhagawan Dwija dalam sambutannya juga menyerahkan kenang-kenangan kepada pihak museum berupa perangkat upacara yang dibawa beliau dari bali dan dipergunakan untuk melangsungkan upacara Ngenteg Linggih di Pura Sangga Bhuana ini, diberikan seutuhnya kepada pihak Museum untuk ditempatkan didalam ruang pameran museum Völkerkunde.

Waktu terus berjalan, acara sambutan pun selesai juga, sehingga acara dilanjutkan dengan acara hiburan, seperti tari panjembrama, tari Jauk keras, tari Bondres , dan tari Joged yang mengikut sertakan penonton yang hadir.

Penyineban

Di saat hari menjelang sore, setelah acara hiburan usai, Upacara penyineban dipimpin oleh Ida Bhagawan Dwija dilangsungkan sebagai pertanda jalannya upacara Ngenteg Linggih telah berakhir. Umat yang menghadiri persembahyangan juga dimita Ida Bhagawan Dwija untuk mengumpulkan uang logam Euro (yang merupakan bagian dari Panca Datu) untuk ditanamkan kedalam lubang tanah, bersama bebantenan lainnya yang merupakan bagian dari prosesi Mendem Pedagingan.

Dimasukkannya uang logam Euro yang merupakan bagian dari Panca Datu atau 5 element dari bahan yang terbuat dari logam yang terdapat di bumi ini, seperti:
1. emas berwarna kuning yang melambangkan kebesaran dan kemasyuran,
2. Perak yang berwarna Putih yang melambangkan kemurnian,
3. Perunggu yang berwarna merah melambangkan spirit dan keutamaan dalam kehidupan,
4. Baja berwarna hitam melambangkan air,
5. jenis berlian yang terbuat dari campuran keempat jenis logam tadi.

Kelima inti dari metal tadi berfungsi sebagai dasar dari energi listrik yang menghubungkan bangunan-bangunan suci yang ada di Pura dengan energy dari bumi. Dimasukkannya kelima element tersebut di percaya bahwa bangunan suci sudah di hubungkan oleh energy cosmic, sehingga bangunan itu akan memancarkan taksu „kekuatan dari dalam“ seperti menarik kekuatan dan meningkatkan daya yang menakjubkan.

Terimakasih

.

Terimakasih saya panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa kepada Pemerintah Jerman lewat Museum Völkerkunde Hamburg yang telah mengijinkan pendirian Pura ini di Jerman dan juga terimakasih kepada Luh Gede Juli Wirahmini Biesterfeld yang telah mendanai hingga Pura ini bisa terwujudkan di Hamburg. Semoga amal bakti serta ke ikhlasannya di berkati oleh Ida Sang Widi Wasa.

.

.

Alamat Pura Sangga Bhuana Hamburg

.

http://www.voelkerkundemuseum.com/

Museum für Völkerkunde Hamburg

Rothenbaumchaussee 64

20148 Hamburg

.

Sumber Foto: Made Sukasta Mindhoff, Putu Alex, Gde Brahmantara, Ayu Komang Lenk, Wayan Werdhi Agung, Kadek Megah Bintaranny, Yulistya Negara, Sri Herschel, Mirco Schröder

Saniscara Umanis Wuku Watugunung tanggal 27 Februari 2010, yang merupakan perayaan Sang Hyang Aji Saraswati kembali di rayakan oleh umat Hindu dimanapun berada, tidak terkecuali oleh umat hindu yang berdomisili di Eropa (Belgia, Jerman, Belanda dan sekitarnya).

Penghormatan kepada dewi Saraswati, manifestasi Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam fungsinya sebagai dewi ilmu pengetahuan, untuk daerah Belgia dan sekitarnya di pusatkan di Pura Agung Santi Bhuana yang berlokasi di Brugelette, sekaliguas merayakan Piodalan di Pura ini. Persembahyangan Saraswati di Pura Agung Santi Bhuana Belgia ini tidaklah dirayakan di pagi hari seperti layaknya perayaan saraswati yang di selenggarakan di Bali atau ditanah air yang selesai tepat sebelum tengah hari (jam 12.00).  Namun persembahyangan Saraswati di Pura di Belgia ini dílaksanakan  sekitar jam 14.00 waktu Belgia. Hali ini di sesuaikan dengan Desa (tempat), Kala (waktu), Patra (keadaan) , dimana umat yang melakukan persembahyangan di Pura ini berdomisili “tempat” cukup berjauhan (selain umat dari Belgia,  umat juga datang dari Jerman dan Belanda), Perayaan Saraswati kali ini datang di “waktu” musim semi sehingga suhu udara masih cukup dingin, “keadaan” cuaca di musim semi ini matahari bersinar cukup telat disiang hari.  Dengan alasan-alasan tadi akhirnya persembahyangan saraswati kali ini dilaksanakan di siang hari. Walaupun persembahyangan saraswati yang di laksanakan di Pura Agung Santi Bhuana berlangsung dalam suasana kesederhanaan, namun tetaplah penuh makna.

Persembahyangan saraswati yang sekaligus merupakan piodalan di Pura Agung Santi Bhuana Belgia ini, bila di badingkan perayaan 7 bulan lalu yang di selenggarakan tanggal 1 Agustus 2009, dimana umat hindu yang hadir pada saat itu ada yang dari swiss, perancis, beberapa orang dari jerman dan tentunya sebagian besar dari belgia, namun kali ini dari sekitar 70 orang umat umat yang hadir , terdapat sekitar 30 umat hindu datang secara berkelompok dari Belanda. Sebelum dimulainya persembahyangan, umat hindu yang hadir di Pura Agung Santi Bhuana Belgia ini, laki ataupun perempuan bergotong royong mempersiapkan jalannya upacara. Sementara bapak-bapak sibuk membersihkan pura dan mempersiapkan gamelan bali yang di koordinatori oleh kelian banjar santi belgia Made Agus Wardana, sedangkan ibu-ibu nya sibuk mempersiapkan banten upacaranya yang di pimpin oleh Pinandita I Made Sutiawijaya MBA.

Setelah itu jalannya upacara di mulai dengan gamelan pembuka yang dimainkan oleh kaum prianya, di ikuti dengan tarian rejang dewa yang ditarikan oleh para wanitanya. Yang unik dari persembahan tari rejang dewa yang sesungguhnya merupakan simbol widyadari atau bidadari yang turun kedunia menuntun Ida Bathara, ketika di tarikan di perayaan saraswati di pura belgia ini para penarinya walaupun mengenakan pakaian kebaya bali namun di balut dengan jaket tebal, hal ini dikarenakan suhu udara kali ini memang masih terasa cukup dingin.

Setelah suguhan tari rejang dewa usai, umat kemudian melantunkan kidung warga sari bersama, yang di pimpin oleh Made Agus Wardana.

Sesegera setelah kidung usai, Pinandita selanjutnya memimpin jalannya persembahyangan bersama. Namun tepat sebelum persembahyangan muspa dimulai, Pinandita Sutiawijaya menjelaskan kepada umat yang hadir bahwa selain akan melaksanakan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa lewat muspa panca sembah, pada saat perayaan saraswati ini juga dilaksanakan pemujaan kepada Sang Hyang Aji Saraswati dan pemujaan kepada Ida Batara yang berstana di Pura Pulaki, yang merupakan pusatnya Pura Melanting.

Di akhir jalannya upacara, Pinandita sempat mejelaskan kenapa disaat melakukan muspa di tambahi dengan pemujaan kepada Ida Batara di Pulaki, karena alasan bahwa Pura Agung Santi Bhuana di belgia ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan Pura Pulaki yang merupakan pusat dari Pura Melanting di Bali. Sesuai saran dari guru spiritual Mr. Eric Domb yang ada di Bali, agar Pura yang terletak di kawasan taman wisata flora dan fauna Parc Paradision di Brugelette ini “nyungsung” Ida Bathara yang berstana di di Pura Melanting. Seperti kita ketahui bersama Pura melanting identik dengan Pura yang ada di setiap pasar yang ada di Bali, dimana Tuhan di puja oleh setiap pedagang untuk membangun sikap religius sebagai landasan moral dan mental dalam melakukan transaksi yang adil dan jujur.

Atau singkat kata, keberadaan Pura Melanting bisa memberikan tuntunan kepada setiap pedagang yang ada di Pasar untuk selalu ingat kepada sang pencipta sembari berusaha (berdagang). Filosofi inipun ingin di tiru oleh Mr. Eric Domb (pemilik Pura Agung Santi Bhuana) yang juga merupakan president dari taman wisata flora dan fauna Parc Paradision. Dengan bakatnya sebagai seorang usahawan, Mr Eric Domb juga ingin selalu diberikan tuntunan oleh Ida Bathara yang berstana di Pura Agung Santi Bhuana ini, sehingga terjadi “komunikasi” yang harmonis yang saling menunjang antara “penghuni” Pura Agung Santi Bhuana dengan “penghuni” Taman Wisata Parc Paradisio lainnya.

Demikian Pinandita Sutiawijaya menjelaskan yang konon Mr. Eric Domb pun meng-iyakan saran guru spiritualnya yang ada di Bali. Dan terbukti setelah adanya Pura Agung Santi Bhuana di kompleks Taman Wisata Parc Paradisio ini, pengunjung taman wisata ini meningkat tajam (sekitar 60%) dari tahun sebelumnya.  Pengunjung yang mengunjungi kompleks area taman wisata ini, selain mendapatkan informasi seputar flora dan fauna, juga mendapatkan informasi budaya dan religi.

Sebelum mengakhiri penjelasannya, Pinandita berharap kepada setiap umat hindu yang ada di eropa, agar bisa belajar dan merenungi setiap usaha dari Mr. Eric Domb dalam mempelajari kebudayaan bali dan agama Hindu yang ia buktikan dengan mengunjungi Bali serta berkonsultasi secara rutin kepada guru spiritualnya yang ada di Bali, dalam rangka mengoptimalkan keberadaan Pura Agung Santi Bhuana yang terletak di Taman Wisata Parc Paradisio ini.

Pinandita Sutiawijaya juga berangan-angan agar Pura Agung Santi Bhuana ini, suatu saat nanti bisa di “empon” di tanggung jawabi oleh seluruh umat hindu yang ada di eropa, dengan cara melaksanakan piodalan saraswati secara bergilir seperti layaknya piodalan Pura yang ada di bali, sehingga bisa timbul rasa memiliki (tanggung jawab) akan pura ini. Salah satu umat hindu yang berasal dari Belanda ketika mendengar keinginan Pinandita saat itu menyatakan kesetujuannya dan bersedia untuk dilibatkan bila umat hindu di Belanda diberikan tanggung jawab untuk melaksanakan piodalan secara bergilir. Ketut Adnyana yang juga ikut serta dalam diskusi itu, mengatakan akan menyampaikan keinginan Pinandita Sutiawijaya kepada organisasi nyama braya bali jerman, yang di ketuai oleh Ibu Gusti Ayu Suputri Sudjiwa agar bisa di diskusikan lebih lanjut.

Ketut Adnyana juga menyampaikan bahwa umat hindu di Jerman pada tanggal 22 mei 2010 akan melaksanakan perayaan kuningan yang di pusatkan di hamburg sekaligus melaksanakan pemlaspasan Pura Jagadnata yang di bangun di area Museum Völkerkunde Hamburg, dan berharap agar umat hindu yang ada di Belgia dan umat hindu di Belanda bisa turut serta menjadi “saksi hidup” jalannya upacara pemlaspasan dan upacara ngenteg linggih.

Ibarat pucuk di cinta ulam tiba, Pinandita Sutiawijaya pun menyampaikan ketertarikannya untuk menyaksikan jalannya upacara pemlaspasan dan ngenteg linggih di hamburg, sekaligus berharap bisa bertemu dengan ketua organisasi Nyama Braya Bali di Jerman untuk menyampaikan maksud ini, bila seandainya umat hindu yang ada di Jerman tertarik untuk melaksanakan Piodalan Saraswati secara bergilir yang di langsungkan di Pura Agung Santi Bhuana.

Setelah berdiskusi bertukar pikiran antar sesama umat hindu yang menghadiri perayaan saraswati sekaligus piodalan Pura Agung Santi Bhuana, umat yang hadir akhirnya di persilahkan menikmati hidangan makanan khas bali yang di sediakan oleh “tuan rumah” umat dari belgia dan beberapa bahkan ada yang di bawa oleh umat hindu dari Belanda. Puas dengan menu hidangan yang di suguhkan di akhir perayaaan saraswati, kaum laki-laki ada yang melanjutkan dengan menari “genjek” dan ada juga yang melakukan foto bersama seperti tampak di foto berikut,

Akhir kata, lewat perayaan saraswati yang datang setiap 210 hari di hari Saniscara Umanis wuku Watugunung, semoga bisa di rayakan tidak hanya sebagai sebuah rutinitas saja atau di maknai tidak hanya berhenti pada ritual saja. Melainkan dari prosesi ritual itu diharapkan terjadi perbaikan dan peningkatan ilmu pengetahuan, wawasan, mental, moral, dan spiritual dari setiap umat yang merayakan dan meyakininya.

Dua Pura Hindu yang cukup besar  akan segera dibangun di Berlin. Menurut masyarakat India yang berdomisili di Jerman mengatakan kini terdapat dua kelompok masyarakat Hindu yang sudah mengajukan izin pembangunan Pura di Neukölln, Berlin. Pura yang pertama bernama Pura  Hindu Sri Ganesha dan Pura yang kedua bernama Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan. Adapun yang membedakan diantara kedua Pura itu adalah terletak pada dewa yang di sembah. Di Pura Hindu Sri Ganesha menyembah Dewa Ganesha yang  merupakan dewa kebijaksanaan, sedangkan di Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan, dewa yang di sembah adalah dewa Murugan, yang merupakan dewa perang dan dewa keindahan. Disamping itu juga, kedua Pura Hindu tersebut dibangun oleh dua yayasan Hindu yang berbeda.

Pura Hindu Sri Ganesha dengan ukuran panjang 18 meter x lebar 18 meter dengan ketinggian 6 meter, dan Gapura pintu masuk menara setinggi 17 meter, serta berada pada area 5.000 meter persegi didalam Taman kota Hasenheide akan menjadikannya sebagai Pura yang terbesar di Jerman dan akan menjadi Pura yang terbesar kedua di Eropa setelah Pura Hindu Shri Venkateswara, yang terletak di dekat Birmingham UK.  Pembangunan Pura Hindu Sri Ganesha ini diperkirakan akan menghabiskan biaya sekitar € 850.000. Pura ini akan mampu menampung pengunjung sembahyang hingga 300 orang sekali waktu. Sementara Pura  Hindu Mayurapathy Sri Murugan akan  menempati area seluas 200 meter persegi dengan 9 meter tinggi Gapura, di area seluas 744 meter persegi yang terletak di sudut jalan Riese di tengah kota Berlin dan diperkirakan akan menghabiskan biaya sekitar € 600.000 .

Pura Hindu Sri Ganesha

Disain Pura :
Layout bangunan Pura  akan berukuran 18 x 18 meter dengan ketinggian 6 meter. Pura akan dibangun sesuai dengan pedoman dari Veda dan Agama sastras dengan warna tradisional. Gapura pertama yang merupakan pintu masuk Pura di disain setinggi 17 meter menghadap jalan (Hasenheide) yang akan dihiasi dengan ikon dan symbol. Gapura kedua, atau dikenal dengan nama Gapura Vimana, diletakkan di atas gedung Pura yang dilambangkan sebagai tempat berstana nya dewa utama yaitu  Sri Ganesha.

Adapun yang melatar belakangi pembangunan Pura Sri Ganesha ini adalah didasari oleh keinginan murni dari masyarakat hindu yang berdomisili di Berlin agar bisa memiliki tempat persembahyangan sendiri setelah sekian lama melakukan persembahyangan doa bersama didalam flat atau diruangan bawah tanah (keller), namun keinginan ini baru dapat di wujudkan di bulan juni  2004 berkat dukungan dari walikota distrik (kabupaten) Neuköln, Heinz Buschkowsky (pejabat dari partai politik SPD), yang dengan murah hati menawarkan lokasi area di Taman Hasenheide sebagai tempat untuk berdirinya Pura tersebut dengan perjanjian kontrak tanah tempat dibangunnya Pura di taman Hasenheide di bebaskan dari sewa tanah hingga tahun 2080. Ditawarkannya area di Taman Hasenheide oleh pemerintah daerah Neuköln, disamping karena ketersediaan ruang yang cukup luas untuk proyek pembangunan Pura ini, tempat ini juga dapat di jangkau dengan sistem transportasi umum (kereta bawah tanah dan bus), dan tempat parkir mobil diarea inipun cukup  memadai serta terintegrasi dengan lingkungan sekitarnya.

Untuk mendukung terwujudnya Pura Hindu Sri Ganesha, kelompok masyarakat hindu di berlin ini membentuk sebuah yayasan dengan nama yang sama dengan nama Pura yang ingin didirikannya, yaitu yayasan Sri Ganesha Hindu Temple,  yang bertujuan untuk mendukung (mempercepat) pelaksanaan pembangunan Pura serta menjadikannya sebagai pusat kegiatan masyarakat dan kebudayaan. Yayasan ini terdaftar di berlin sebagai e.V. (non-profit organisation) pada tahun 2006, dan juga di akui oleh otoritas keuangan di Jerman sebagai sebuah organisasi amal (non profit).

Anggota masyarakat pengikut Pura  Hindu Sri Ganesha ini adalah sebagian besar masyarakat yang beragama Hindu dari seluruh India, termasuk India Tamil, dengan pimpinan yayasannya adalah Avnish Kumar Lugani. Yayasan yang mensponsori pembangunan Pura ini memperkirakan biaya konstruksi yang akan di perlukan adalah sekitar € 850.000.  Dan sesuai dengan aturan agama, pembangunan Pura ini didanai murni dari sumbangan dari anggotanya, para donatur, dan pemerhati kebudayaan india. Lebih lanjut rencana pembangunan Pura Sri Ganesha ini selain diharapkan untuk bisa menjadikannya  sebagai tempat persembahyangan yang dapat melayani kebutuhan religius masyarakat Hindu di Berlin, juga diharapkan bisa menjadikannya sebagai tempat untuk mempromosikan prinsip Hindu dan Veda, tradisi, nilai-nilai dan solidaritas, serta bisa menjadikannya sebagai pusat kebudayaan Hindu yang sesuai dengan nilai-nilai agama yang luas, demikian di ungkapkan oleh Avnish Kumar Lugani kepada harian berliner post.

Rancang bangun Pura Sri Ganesha ini di disain oleh arsitek dari India dengan harapan agar bisa menampilkan keaslian unsur kebudayaan Indianya dan bekerja sama dengan seorang arsitek jerman dengan tujuan agar sesuai dengan peraturan yang berlaku di Jerman. Bahan bangunan yang terbuat dari batu paras akan di datangkan langsung dari India. Pembangunan Pura ini sejatinya  direncanakan untuk dimulai di bulan maret tahun 2009, kemudian di undur hingga 28 oktober 2009. Namun krisis keuangan global yang sedang terjadi saat ini berdampak pada pembangunan Pura Hindu Sri Ganesha yang terletak di taman Hasenheide ini.  Donatur dari India tampaknya cukup berhati-hati dan bersikap menunggu keadaan ekonomi dunia membaik. Terhitung sejak dua tahun setelah upacara peletakan batu pertama, hingga saat ini belum ada pembangunan yang significant, walaupun izin perencanaan sudah dimilikinya, demikian dituliskan dalam harian Berliner Post.

Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan

Pengerjaan Pura yang pertama, yaitu Pura Hindu Sri ganesha,  memang belumlah benar-benar dimulai pembangunannya akibat dari dampak krisis ekonomi dunia,  yang juga berakibat pada rencana pembangunan Pura yang kedua yaitu Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan, hingga saat ini belum juga bisa di wujudkan walaupun kedua-duanya sudah memiliki ijin prinsip untuk bisa memulai konstruksi pembangunan Pura.

Vilwanathan Krishnamurthy, Wakil President dari yayasan Pura Hindu Sri Ganesha, pernah menanyakan kepada para pengikut Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan untuk bekerja sama apakah mereka ingin bergabung untuk satu proyek (Pura Hindu Sri Ganesha), namun para pengikut Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan menolak dengan alsan karena mereka ingin menyembah dewa mereka yaitu Dewa Murugan, yang menjadi symbol dewa perang dan dewa keindahan yang biasa di sembah masyarakat india suku tamil di India bagian selatan dan sri langka. Salah satu wakil dari pengikut Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak bermaksud untuk menandingi keberadaan Pura Hindu Sri Ganesha, melainkan karena alasan murni ingin menyembah Dewa Murugan.

Yayasan Hindu Mahasabhai Berlin, sebagai pendukung pembangunan Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan ini telah menyampaikan rencana kepada pemerintah daerah Neuköln untuk membangun sebuah Pura  Hindu di jalan Riesse di daerah Britz, dimana area seluas 744 meter persegi telah di beli oleh yayasan, dan Pura itu sendiri akan  menempati area seluas 180 meter persegi, demikian di ungkapkan Nadarajah Thiagarajah, juru bicara untuk yayasan Mahasabhai kepada harian Berliner Post. Pembangunan pura ini sesungguhnya sudah bisa di mulai karena ijin prinsip untuk pembangunan pura ini sudah dimilikinya dan upacara peletakan batu  pertama di hadiri oleh walikota pemerintah daerah Neuköln  Heinz Buschkowsky (pejabat dari parati politik SPD) yaitu sekitar awal November lalu.

Walaupun rencana perwujudan kedua pura tersebut sudah mendapatkan ijin prinsip dari pemerintah daerah, bukan berarti pembangunan pura  tersebut tidak mendapatkan hambatan sama sekali, selain karena alasan krisis ekonomi dunia, juga karena salah satu partai extrem kanan NPD (partai penganut paham neo-nazi)  sempat memobilisasi pengikutnya turun kejalan berdemonstrasi untuk menentang berdirinya kedua pura hindu di berlin yang dilaksanakan hampir diwaktu bersamaan itu. Namun demonstrasi ini dapat diatasi oleh pemerintah daerah Neuköln dan beberapa orang diantaranya sempat ditahan polisi setempat.

Mr. Nadarajah Thiagarajah menjelaskan, masyarakat Hindu yang tergabung dalam yayasan Mahasabhai ini sudah ada sejak tahun 1992 dan terdiri dari masyarakat Tamil yang datang dari Sri Lanka, tetapi ada juga yang dari India. Kebanyakan anggota masyarakat Tamil ini telah meninggalkan negeri mereka di pertengahan tahun ‘80-an, ketika terjadi konflik antara mayoritas Sinhala dengan  minoritas Tamil. Di Jerman saat ini terdapat sekitar  60.000 Tamil dari Sri Lanka, yang mana sekitar 45.000 orang adalah penganut Hindu.

Hingga saat ini terdapat sekitar 200 anggota yang biasa melakukan pertemuan persembahyangan bersama dilantai dasar jalan urban 176, ruangan yang sesungguhnya sudah tidak representative lagi untuk dipakai sebagai tempat berkumpulnya banyak orang, demikian kata wakil yayasan Mr. Nadarajah Thiagarajah, yang sudah berdomisili di Berlin sejak tahun 1981. Namun  permasalahan ini akan segera berakhir karena kelompok masyarakat india ini akan segera memiliki Pura sendiri di Berlin.

Menurut University of Lucerne, di Jerman saat ini terdapat sekitar  25 Pura Hindu (tempat /kelompok persembahyangan), kebanyakan diantara mereka melakukan persembahyangan di flat atau ruang bawah tanah. Sejauh ini masyarakat India sudah memiliki Pura Hindu yang cukup besar di Jerman dan juga Eropa yang boleh dikatakan terbesar di Jerman saat ini (sebelum adanya Pura yang akan berdiri di Berlin nanti) yaitu Pura yang  terletak di Hamm, North Rhine-Westphalia, yang bernama Pura skri Kamadchi Ampal.

Pura Hindu skri Kamadchi Ampal di Hamm, North Rhine-Westphalia

Pura Sri Kamadchi Ampal ini dibangun oleh kelompok Tamil Sri Lanka dan diresmikan pada bulan Juli 2002. Pura ini berukuran  700 meter persegi dan dibangun dalam gaya India Selatan. Kebaradaan Pura ini tidak hanya dijadikan sebagai tempat kegiatan keagamaan yang sangat penting bagi umat Hindu di Eropa, tetapi juga merupakan tempat tujuan wisatawan. Terdapat sekitar 15.000 hingga 20.000 pengunjung yang dengan setia datang ke Hamm ketika berlangsungnya Festival di Pura yang diadakan selama dua minggu disetiap musim panas.

Keberhasilan yayasan Pura Sri Kamadchi Ampal yang ada di Hamm ini mengadakan Festival kebudayaan India, menginspirasi yayasan pendukung Pura Sri Ganesha Hindu di Berlin untuk juga merencanakan Festival sejenis di areal Pura di Berlin, yang diperuntukkan terbuka bagi pengunjung umum. Festival yang akan di adakan di Berlin nanti akan menjadi (atau di beri nama) festival musim semi India, demikian diungkapkan oleh Avnish Kumar Lugani. Diharapkan festival ini akan dirayakan pada tanggal 17 Februari nanti di lokasi area persis dimana Pura  akan di bangun, di festival nanti sudah pasti akan banyak di jumpai masyarakat India dengan pakaian tradisional kuning khas India, demikian di ungkapkan oleh Avnish Kumar Lugani, wakil dari yayasan Sri Ganesha Hindu Tempel sembari berpromosi kepada harian Berliner Post.

Foto diatas adalah Pura Hindu Shri Venkateswara di Birmingham, England, yang diresmikan tahun 2006, yang merupakan Pura Hindu terbesar (terluas) saat ini di Eropa.

Di rangkum dari:

Sri Ganesha Hindu temple, Mayurapathy Sri Murugan Hindu Temple, Berliner Morgen Post.

Marzahn demikianlah nama sebuah distrik (kabupaten) di daerah Berlin Timur yang berjarak sekitar 40 km dari landmark kota Berlin „Branderburgtor“, dan merupakan sebuah daerah dengan kompleks perumahan (apartment) yang terpadat di Berlin Timur (atau terpadat di negara Jerman timur jaman dulu). Namun sejak 9 May 1987, selain di kenali sebagai daerah dengan perkampungan penduduk terpadat di Berlin, Marzahn juga mulai dikenali sebagai daerah dengan taman wisata kotanya yang dikenal dengan nama „Berliner Gartenschau“ (atau Berlin Garden Show), yaitu sebuah taman wisata tempat untuk berrekreasi, yang didisain oleh Mr. Gottfried Funecke, yang menawarkan konsep menampilkan hampir semua kebudayaan yang ada di dunia ini, seperti Chinese Garden, Japanese Garde, Balinese Garden, Italianise Garden, Oriental / Midle-East (Arabic) Garden, dll, dimana taman wisata dunia ini di resmikan tanggal 9 May 1987 dalam rangka perayaan ulang tahun kota berlin yang ke 750 tahun.

Adapun maksud pemerintah daerah Marzahn membuat hampir semua kebudayaan dunia itu didalam sebuah taman wisata kota, selain sebagai bentuk hadiah dari pengelola Taman Wisata ini kepada ibukota Jerman Timur saat itu, yaitu kota Berlin Timur, yang di saat itu masih dalam suasana „perang dingin“ dengan Jerman Barat, yang tentunya agar bisa bersaing dan menandingi keberadaan Taman Wisata Britzer Garden yang ada di kota Berlin Barat. Sehingga dengan adanya Taman Wisata „Berliner Gartenschau“ negara Jerman Timur bisa menunjukkan kepada masyarakat dunia international bahwa penduduk negara Jerman timur, khususnya berlin timur, atau masyarakat distrik Marzahn yang walaupun berpaham komunis, namun selalu mengulurkan tangan terbuka dan welcome kepada tourist international untuk berkunjung kedaerah Marzahn atau berlin timur atau Jerman timur.

Erholungspark Marzahn (Taman Rekreasi Marzahn)

Setelah di resmikannya taman wisata „Berliner Gartenschau“ ini di tahun 1987, di ikuti dengan runtuhnya Tembok Berlin pada tanggal 3 Oktober 1989 yaitu tembok yang memisahkan kota Berlin Barat dengan Berlin Timur, dan selanjutnya di ikuti dengan penyatuan negara Jerman di tahun 1991, untuk meneruskan cita-cita luhur dari para pendahulu Jerman Timur, pemerintahan Jerman bersatu kemudian melanjutkan proyek „Garten der Welt“ (Taman Wisata Dunia) ini, dan nama „Berliner Gartenschau“ pun akhirnya di ganti menjadi „Erholungspark Marzahn“ yang artinya Taman Rekreasi Marzahn dengan harapan  untuk lebih mengedepankan citra „rekreasi“ pada taman ini, dan satu persatu kebudayaan dunia yang memang telah di rencanakan untuk di bangun mulailah di bangun, di mulai dari mewujudkan Chinese Garden seluas 27.000 m2 dengan nilai total proyeknya 4,5 Juta Euro, yang di resmikan pada tanggal 15 October 2000, dan merupakan Chinese garden yang terluas di Eropa. Kemudian di ikuti dengan mewujudkan  Japanese Garden seluas 2.700 m2 dengan nilai total proyeknya 1,5 Juta Euro yang  di resmikan pada tanggal 30 April 2003, dan selanjutnya di ikuti dengan mewujudkan Balinese Garden seluas 500 m2 dengan nilai proyek 385.000 Euro, dengan konsep bangunan rumah bali tradisional beserta sanggah (pemrajan) yang di disain tertutup dan diresmikan pada tanggal 18 Desember 2003.

Setelah peresmian Balinese Garden, kemudian di ikuti dengan mewujudkan  Oriental / Middle-East (arabic) Garden seluas 6.100 m2 dengan nilai total proyek 2,3 Juta Euro, yang di resmikan pada tanggal 7 July 2005. Setelah itu di ikuti dengan mewujudkan Korean Garden seluas 4000 m2 yang merupakan hadiah dari pemerintah Korea dan di resmikan pada tanggal 31 Maret 2006. Setelah Korean Garden kemudian di ikuti satu persatu dengan Hecken-Irrgarten, Pflaster-Labyrinth, Karl-Foester Staudengarten, Italian Renaisance Garden, Christlicher garden, dll, yang pembangunannya terus berlanjut hingga kini.

Balinese Garden (Taman Bali)

Balinese Garden ini di wujudkan oleh Pemerintah Jerman selain karena alasan ingin memperkenalkan salah satu kebudayaan dunia yang memiliki karakter yang kuat yang masih ada di dunia ini, juga di wujudkan sebagai bentuk kerjasama “twint-cities” antara kota Berlin dengan kota Jakarta, yaitu dengan dipersembahkannya „Kebudayaan Bali“ oleh Pemerintah Daerah Berlin di tengah-tengah kota Berlin. Sebagaimana tampak pada gambar diatas, Balinese Garden dengan konsep bangunan rumah bali tradisional beserta sanggah (pemrajan), yang di lindungi oleh atap plastic (rumah kaca) pada bagian atas, sisi kiri dan sisi kanannya, dimaksudkan agar batu bata, paras, atap (raab) duk dan ambengan (somi) yang merupakan inti dari bangunan pelinggih Pura, agar tetap terlihat cantik dan terlindungi dari dinginnya suhu udara khususnya hujan salju bila musim dingin tiba.

Balinese Garden disamping menawarkan keaslian suasana Bali, juga  menawarkan pemandangan yang eksotis tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga tropis yang banyak di jumpai di negara beriklim trofis. Disain dan rancang bangun dari  Rumah Bali dan Sanggah yang ada di Balinese Garden ini mengacu kepada aturan yang berlaku di Bali, yaitu Asta Bumi (aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, serta jarak antar pelinggih) dan Asta Kosala Kosali (aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan). Sehingga pengunjung yang memasuki rumah kaca Balinese Garden ini bisa benar-benar merasakan spirit dari kebudayaan Bali dan seolah-olah seperti sedang berada di Bali.

Pesan menarik lainnya yang juga ingin disampaikan oleh perancang Balinese Garden di Erholungspark Marzahn ini adalah Bali yang merupakan bagian dari negara Indonesia yang berpenduduk mayoritas beragama islam, namun Bali tetap exist dengan kebudayaannya tersendiri yang unique yang di wariskan secara turun temurun. Dijaman dulu ketika Agama Hindu baru dikenali oleh masyarakat Bali kuna, keyakinan ini bisa berbaur dengan adat istiadat lokal balinya, budayanya, alamnya,  hidup berdampingan satu sama lainnya secara harmony hingga akhirnya keyakinan ini dijadikan tuntunan „way of life“ yang dikenal masyarakat dengan „Tri Hita Karana“, yaitu menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan manusia, menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan lingkungan dan sekitarnya, serta menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. Ketiga prinsip keharmonisan hidup yang diyakini oleh masyarakat Bali tersebut bisa di temukan sekaligus didalam area Balinese Garden yang ada di taman Erholungspark Marzahn yang ditampilkan dalam bentuk bangunan Pura model di Bali jaman dulu dengan batu bata merahnya, Bale Piyasan di halaman rumah yang beratapkan ambengan (somi), dan tanaman  serta bunga yang banyak di jumpai di pedalaman Bali.

Informasi dan penjelasan lebih lanjut yang bisa di dapatkan oleh pengunjung dari keberadaan Balinese Garden (Taman Bali) di Taman rekreasi Marzhan (Erholungspark Marzahn) ini adalah informasi tentang model dan tata letak ruangan dari rumah bali kuna yang di bangun berdasarkan Asta Kosala-Kosali dengan dinding rumah dan dinding pekarangan yang dibangun dari campuran lumpur dan batu bata serta informasi detail dari setiap Pelinggih yang terdapat di Sanggah (Pura). Pengunjung  yang memasuki area Taman Bali ini  dituntun melalui sebuah pintu gerbang yang biasa di kenal dengan Angkul-Angkul.

Rumah dan Sanggah (Merajan)  yang terletak di pekarangan rumah dipisahkan oleh dinding tembok. Ketiga pelinggih yang terdapat didalam sanggah setiap hari diberikan persembahan bunga (sesajen), dupa, seperti layaknya sanggah yang ada di Bali. Ketiga pelinggih tersebut adalah: „Pelinggih Kemulan Rong Tiga“ yaitu pelinggih Sanghyang Trimurti, Sanghyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Brahma – Wisnu – Siwa atau disingkat Bhatara Hyang Guru, „Pelinggih Taksu“ yaitu palinggih Sanghyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati sakti (kekuatan) Dewa Brahma dengan Bhiseka Hyang Taksu yang memberikan anugrah Ilmu Pengetahuan , Pelinggih Pengrurah“ yaitu palinggih Sanghyang Widhi dalam manifestasinya sebagai  Bhatara Kala, putra Bhatara Siwa dengan Bhiseka Ratu Ngurah yang bertugas sebagai pecalang atau penjaga Sanggah. Dan pelinggih yang terletak di luar Sanggah adalah „Pelinggih Surya“ yaitu pelinggih Sanghyang Widhi dalam manifestasinya sebagai  Dewa Matahari.

Dalam tradisi kebudayaan Bali Kuna, seperti kita ketahui bersama keberadaan sebuah “taman” atau garden memang tidak di atur dalam Asta Kosala Kosali atau Asta Bumi, namun demikian tumbuh-tumbuhan yang di tanam oleh orang bali jaman dulu memang disesuaikan dengan fungsi dan kebutuhannya, seperti untuk makanan, obat-obatan, bunga persembahan, dan untuk memberikan keteduhan. Dalam Asta Kosala Kosali, selain Sanggah, Bale Daja, Bale Dangin, Bale Delod, Bale Dauh, Paon (Dapur), dan Gelebeg (Lumbung Padi), di areal kosong di belakang rumah biasanya di alokasikan sebagai “Tebe” (hutan kecil).

Di areal Taman Bali ini hutan tropis  yang merupakan ciri khas Tebe  yang ada di bali di isi dengan tumbuh-tumbuhan yang banyak di jumpai di pekarangan rumah, seperti berbagai jenis pakis, bunga kembang sepatu, dan tumbuhan bunga yang sekiranya bisa mencuri perhatian mata pengunjung, yaitu bunga anggrek yang berwarna-warni. Pohon Kamboja (Jepun), salah satu jenis tumbuhan yang dianggap suci / keramat oleh kalangan tertentu di Indonesia, dan bunganya banyak dipakai sebagai bunga persembahyangan di Bali, juga terdapat di Taman Bali ini.

Bali dengan kebudayaannya memang tidak bisa di pisahkan dengan alam dan tumbuh-tumbuhan, salah satunya di kenal adalah  perayaan hari suci Tumpek Wariga, penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan. Demikian juga dengan keberadaan Taman Bali (Balinese Garden) di Taman Erholuspark Marzahn Berlin ini, juga tidak bisa di pisahkan dengan keberadaan perkumpulan masyarakat Bali di Jerman yaitu Nyama Braya Bali Jerman.

Nyama Braya Bali Jerman dan Kuningan di Berlin

Nyama Braya Bali di Jerman, khususnya yang berdomisili di luar Berlin mulai pertama kali mengenali Taman Bali (Balinese Garden) di Erholungspark Marzhan Berlin ini ketika merayakan hari Kuningan 28 Maret 2009 yang lalu. Dimana Nyama Braya Bali Berlin selaku panitia lokal perayaan kuningan menyelenggarakan hari raya Kuningan bekerjasama dengan pengelola taman wisata rekreasi Marzahn (Erholungspark Marzahn) dengan prinsip kerjasama saling menguntungkan satu sama lainnya.

Pengelola taman selaku pemilik Taman Bali berikut Pura Hindu (Sanggah) yang ada di dalamnya, memberikan ijin tempat untuk berkumpulnya masyarakat bali (umat hindu) yang ada di Jerman untuk merayakan hari raya Kuningan, sementara pihak Nyama Braya Bali Berlin selaku panitia dan pengisi acara, selain menyelenggarakan persembahyangan bersama kuningan yang dilaksanakan di hari sabtu kliwon kuningan bagi umat hindu yang berdomisili di seluruh Jerman, juga menyelenggarakan promosi budaya / kesenian bali yang di peruntukkan bagi pengunjung umum selama 2 hari berturut-turut (sabtu 28 maret dan minggu 29 maret 2009) dengan acara utamanya adalah menampilkan hampir segala jenis tari-tarian bali, menjajakan masakan khas bali, serta menampilkan bazar yang menjual pernak-pernik cinderamata khas bali.

Masyarakat berlin dan sekitarnya yang mengunjungi Erholungspark Marzahn khususnya  Taman Balinya, di buat terkagum dan terkesan bisa mengunjungi Taman Bali sekaligus berinteraksi langsung dan mendapatkan penjelasan langsung dari orang balinya sendiri, dan tentunya bisa melihat pertunjukan live tarian bali.

Perayaan Kuningan 28 Maret 2009 saat itui memang terasa spesial, bukan hanya karena bisa membahagiakan pengelola Taman Bali di Erholungspark Marzahn berikut masyarakat Berlin dan sekitarnya yang menonton tarian Bali secara langsung, melainkan juga karena di perayaan kuningan saat itu ada utusan dari bimas Hindu Dharma jakarta yaitu bapak I Ketut Lancar, yang terbang langsung dari Jakarta, di samping untuk menyampaikan pesan dari Dirjen Hindu Dharma Jakarta,  juga untuk memimpin jalannya upacara serta membawa Tirta dari upacara Panca Wali Krama Besakih. jadi walaupun kita yang di Jerman berada jauh dari Bali, tapi juga bisa ikut merasakan sejuknya percikan tirta dari Pura Besakih.

Disamping itu juga, dalam dharma wacana saat itu yang di sampaikan oleh bapak I Ketut Lancar, beliau juga menyampaikan bahwa Dirjen Hindu Jakarta berencana memberikan sumbangan seperangkat Gamelan komplet satu barung kepada Nyama Braya Bali di Jerman, yang  saat ini sebagian (setengah barung) Gamelannya sudah tiba di Jerman, setengah barungnya lagi akan tiba sekitar bulan Juni 2010. Alasan lain kenapa Dirjen Hindu mempertimbangkan memberikan sumbangan Gamelan adalah karena organisasi NBB Nyama Braya Bali Jerman begitu aktif menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang mempertemukan umat sedharma di daratan Jerman pada khususnya, serta di daratan Eropa pada umumnya.  Tidak itu saja, Dirjen Hindu nantinya juga berencana menyumbangkan seperangkat peralatan persembahyangan seperti Bajra (Genta), sehingga kedepannya kelompok NBB di Jerman bisa memiliki pemimpin Agama yang selalu siap memimpin jalannya upacara seperti layaknya jalannya upacara di Bali atau di Indonesia.

Harapan dari Dirjen Hindu terhadap Gamelan yang di sumbangkan ini agar bisa di gunakan semaksimal mungkin tidak hanya di gunakan untuk kepentingan upacara keagamaan semata, tapi juga bisa di gunakan untuk mempererat jalinan persaudaraan diantara sesama Nyama Braya Bali di Jerman, melalui pertemuan berkala di setiap latihan, dan juga berharap bisa di gunakan untuk terus mempromosikan kebudayaan Bali pada khususnya atau Indonesia pada umumnya sehingga kedepannya akan semakin banyak warga jerman yang berniat mengunjungi pulau Bali membantu pariwisata di Bali, demikianlan Dharma Wacana saat itu yang disampaikan oleh utusan Bimas Hindu Jakarta, Bapak I Ketut Lancar.

Terlepas dari kebahagiaan bisa merayakan kuningan bersama umat hindu yang berdomisili di seluruh pelosok jerman, dimana di saat itu diselenggaraan di Taman Bali di Erholungspark Marzhan yang ada Pura Hindunya, sebagian semeton Nyama Braya Bali jerman ada juga yang berbincang-bincang dan ingin mengetahui lebih lanjut akan asal-usul serta sejarah keberadaan Taman Bali ini berikut Puranya, ada juga yang bertanya apakah sudah dilakukan serangkaian upacara memfungsikan Pura secara Niskala seperti layaknya di Bali, yaitu Upacara Pecaruan, Upacara Mendem Pedagingan, Upacara Prayascita /Pemlaspasan, hingga Upacara Ngenteg Linggih, di Pura atau Sanggah / Merajan yang ada di Taman Bali ini. Namun karena keterbatasan waktu dan padatnya acara yang berlangsung selama perayaan Kuningan 28 Maret 2009 itu, di tambah dengan kecilnya kemungkinan untuk bisa berinteraksi secara langsung dengan panitia lokal Nyama Braya Bali Berlin saat itu, akhirnya pertanyaan ini memang belum mendapatkan jawaban resmi dari pihak panitia Nyama Braya Bali Berlin ataupun dari pihak pengelola Taman Wisata Erholungspark Marzahn akan keberadaan Taman Bali berikut Pura / Sanggah / Merajannya ini.

Pura / Sanggah /Pemrajan di Taman Bali Erholungspark Marzahn

Sebagaimana pengertian Pura yang berasal dari Bahasa Sanskerta, yaitu “Phur”, artinya tempat suci, istana, kota, atau tempat persembahyangan untuk umum atau kelompok sosial tertentu yang lebih luas sifatnya dari Sanggah Pamerajan. Sementara Sanggah berasal dari Bahasa Kawi: “Sanggar”, yang berarti tempat untuk melakukan kegiatan (pemujaan suci); dan Pemrajan yang berasal dari Bahasa Kawi: “Praja”, berarti keturunan atau keluarga. Dengan demikian Sanggah Pemrajan dapat diartikan sebagai tempat pemujaan dari suatu kelompok keturunan atau keluarga. Dalam Lontar Siwagama disebutkan bahwa Palinggih utama yang ada di Sanggah Pemrajan adalah Kemulan sebagai tempat pemujaan arwah leluhur.

Walaupun Pura yang ada di Taman Bali di Erholungspark Marzahn ini di disain dengan konsep rumah bali kuna yang merupakan bagian dari tradisi kebudayaan bali, namun keberadaan Pura ini sesungguhnya bisa di optimalkan lagi. Jadi keberadaannya tidak hanya sebatas di pakai sebagai tempat untuk memperkenalkan kebudayaan bali kepada masyarakat berlin pada khususnya atau masyarakat jerman / eropa pada umumnya, namun bisa di gunakan sebagai tempat persembahyangan bagi umat hindu yang berdomisili di Berlin.

Pihak Nyama Braya Bali Berlin atau Nyama Braya Bali Jerman mungkin bisa melakukan pendekatan secara pro-active kepada pihak pengelola Taman Wisata Erholungspark untuk bisa memfungsikan keberadaan Pura Alit ini sebagai Pura yang sesungguhnya , yaitu dengan melakukan serangkaian upacara, seperti apa yang terjadi di Pura Agung Santi Bhuana di Brugelette Belgia. Sesungguhnya Pura di Belgia dan Pura yang ada di Berlin ini memiliki banyak persamaan bila di lihat dari sejarah dan tujuan di bangunnya Pura tersebut, yaitu sama-sama terletak di taman wisata di tengah kota dengan tujuan yang lebih empiris untuk memperkenalkannya kepada masyarakat eropa, dan juga sama-sama di bangun oleh masyarakat eropa. Sementara Pura di Belgia di bangun oleh Pengusaha Belgia (Mr. Eric Domb), sedangkan Pura di Berlin di bangun oleh Pemerintah Daerah Berlin.

Perbedaan diantara keduanya adalah, Pura di Berlin di buat dengan disain tertutup dan terbuat dari batu bata merah, sedangkan Pura di belgia di bangun dengan disain terbuka dan terbuat dari batu alam hitam, seperti tampak di gambar berikut:

Dalam perjalanannya, Pura di Belgia akhirnya bisa menjadi Pura yang benar-benar Pura secara sekala dan niskala seperti layaknya Pura di Bali, setelah dilakukannya upacara pemlaspasan hingga upacara ngenteg linggih pada tanggal 18 May 2009 berkat kerjasama antara pihak pengelola Taman Wisata Parc Paradisio yang di pimpin Mr. Eric Dom dengan pihak pemerintah Indonesia yang di wakili oleh pihak Kementrian Pariwisata Indonesia Bapak Jero Wacik yang mendatangkan Pedanda dan team Bantennya dari Bali. Sementara Pura yang ada di Berlin saat ini secara sekala sudahlah berwujud Pura, namun secara niskala fungsinya belumlah di optimalkan.

Belajar dari pengalaman upacara pemlaspasan yang terjadi di Pura Agung Santi Bhuana Belgia, Nyama Braya Bali Berlin atau Nyama Braya Bali Jerman atas nama organisasi, mungkin bisa meniru hal serupa dengan melakukan upacara sejenis terhadap Pura yang ada di Taman Wisata Erholungspark Marzhan ini, tentunya tidak melakukannya dengan sendiri, melainkan bekerjasama dengan pihak Dirjen Hindu Jakarta atau Pemerintah Provinsi Bali beserta department terkait. Namun bila hal ini memang dirasa terlalu sulit dan rumit bagi organisasi Nyama Braya Bali Jerman, saya yakin pastilah selalu ada jalan lebih sederhana untuk menuju kemuliaanNYA, apalagi bila di hubungkan dengan Agama Hindu yang mengajarkan Dharma Sidhi Arta dimana Iksa (Tujuan) menjadi hal yang Utama untuk kemudian diharmonikan dengan Sakti (Kemampuan), Desa (Ruang), Kala (Waktu) dan Patra (Keadaan).

Himbauan dan Harapan

Akhir kata, kelesatrian Pura yang ada di Eropa akan sangat ditentukan oleh ada tidaknya masyarakat pendukung yang membuat pura tersebut menjadi fungsional. Semegah apapun sebuah Pura, kalau dia tidak fungsional, maka lambat laut dia akan sirna. Dengan kata lain, keberadaan sebuah bangunan selalu membutuhkan masyarakat yang mempunyai pertautan nilai terhadapnya. Itulah yang menjadi alasan kenapa banyak candi dan bahkan sebuah Kota Megah di abad ke 13 di Trowulan lenyap tak berbekas. Pura / Candi bahkan Bangunan Kota hanya akan menjadi kumpulan artefak yang glantak-gluntuk tak bernyawa ketika alasan keberadaannya tak lagi bertautan erat dengan nilai dari masyarakat sekitarnya.

Semoga pihak Dirjen Hindu di tanah air ataupun pihak Parisada Hindu Dharma Indonesia bisa secara proactive membantu umatnya dimanapun berada di dunia ini, ikut berpartisipasi aktif dalam hal mewujudkan tempat suci persembahyangan bagi umatnya, meniru apa yang dilakukan oleh pemerintah China ketika mewujudkan Chinese Garden, meniru apa yang dilakukan oleh pemerintah Jepang ketika mewujudkan Japanese Garden, serta meniru apa yang dilakukan oleh pemerintah Korea ketika mewujudkan Korean Garden di Taman Wisata Erholungspak Marzahn Berlin.

Pemerintah Indonesia lewat KBRI di Berlin mungkin sudah banyak membantu dalam mewujudkan Balinese Garden (Taman Bali) di Taman Wisata Erholungspark Marzahn ini, namun demikian perlu kiranya pihak Dirjen Hindu di tanah air ataupun pihak Parisada Hindu Dharma Indonesia juga bisa bekerjasama dengan Nyama Braya Bali di Jerman mewujudkan bangunan Pura yang sudah ada di taman bali ini menjadi “fungsional” sebagaimana layaknya Pura yang ada di Bali ataupun di tanah air, yaitu dengan memberikan dukungan seperti pelaksanaan Upacara Pemlaspasan yang terjadi di Pura Agung Santi Bhuana Belgia.

Ida Sang Hyang Widi Wasa sudah memberikan jalan terang serta petunjuk kepada masyarakat eropa lewat pengusaha Belgia Eric Domb ataupun lewat pengelola Taman Wisata Erholungspark Marzahn Berlin untuk mewujudkan bangunan Pura untuk umat hindu yang ada di Eropa sehingga kita bisa merasa yakin bahwa Tuhan ada dimana-mana (wyapi wyapaka). Semoga ajaran universal dari Agama Hindu serta keterbukaan para pemeluknya bisa semakin diterima oleh masyarakat eropa. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang Widi Wasa dimanapun berada.

.
Di rangkum dari website Erholungspark Marzahn Berlin http://www.marzahn-hellersdorf.net

Di bulan nopember dan desember, sebagian orang memang mengenalnya sebagai musim-musim kelabu … salah satu contohnya adalah masyarakat di tanah air yang mulai khawatir akan musim hujan yang berkepanjangan yang biasanya selalu menimbulkan kebanjiran. Penyanyi tanah air dian pisesha pun tidak luput mengenang bulan-bulan ini dengan lagu cintanya yang berjudul “hujan di bulan desember”.  Bulan Desember oleh kalangan tertentu memang memiliki keunikannya tersendiri, sementara masyarakat di belahan bumi garis katulistiwa menyambut bulan desember ini dengan musim hujan, lain lagi dengan masyarakat di belahan kutub utara menyambut bulan desember ini dengan turunnya hujan salju.

Beberapa orang memang khawatir akan hujan salju ini, seperti orang yang sering lalu lalang di jalan raya, karena jalanan yang mulai licin hingga banyak terjadi kecelakaan,. Tidak ketinggalan bandara internasional Frankfurt sempat di tutup dan beberapa penerbangan sempat di tunda karena alasan lebatnya hujan salju yang mengguyur kota Frankfurt. Dari sekian banyak yang khawatir akan Salju ini, namun ada juga yang menyambut hujan salju ini dengan gembira, khususnya para anak-anak yang dengan begitu gembiranya bermain di bawah rintik-rintik hujan salju.

Hujan salju di bulan desember ini menurut pengamatan sebagian besar masyarakat eropa  memang cukup dingin dan lebih lebat dari tahun-tahun sebelumnya. Turunya salju persis sebelum datangnya hari raya suci umat kristiani disambut gembira oleh warga eropa yang memang sedang menunggu-nunggu kedatangannya, dan kali ini mereka mengatakannya sebagai “White Christmas” karena hujan salju turun dimana-mana tidak hanya di negara jerman melainkan juga di negara tetangganya yaitu Belgia.

Hujan salju yang mengguyur Belgia tidak hanya terjadi di ibu kota negara Belgia Brussel melainkan juga terjadi di Brugelette, dimana didalamnya terdapat Pura Agung Santi Bhuana, yaitu Pura umat Hindu yang baru saja di pelaspas tanggal 18 Mei 2009 dan piodalannya yang pertama di rayakan di hari raya Saraswati 1 Agustus 2009. Pura yang tampak megah dan angker dengan batu alamnya yang berwarna hitam yang didatangkan langsung dari tanah air, dimusim winter ini tampak keputihan di selimuti oleh salju. Pura yang dibangun dengan konsep Tri Angga yang terdiri dari Utama Mandala, Madya Mandala, Nista Mandala, tampak ketiga halamannya penuh di selimuti dengan salju.

Dalam rangka mempersiapkan rahinan rutin bulan purnama yang di bulan desember ini merupakan Purname Kepitu yang jatuh pada tanggal 31 Desember 2009, Klian Banjar umat Hindu di Belgia Made Agus Wardana, menyempatkan diri untuk melakukan survey ke Pura Agung Santi Bhuana yang terletak di tengah-tengah taman wisata Parc Paradisio.  Derasnya hujan salju serta dinginnya suhu udara di sekitar Pura tidak menciutkan semangat Made Agus Wardana selaku Klian banjar untuk ngayah ngecheck keadaan Pura yang dibangun oleh pengusaha Belgia Eric Domb untuk umat hindu di Belgia ini. Survey yang dilakukan Made Agus Wardana ini akan sangat bermanfaat buat umat hindu Belgia yang akan datang tangkil sembahyang Purname tanggal 31 Desember 2009, khususnya sangat membantu dalam menentukan jenis pakaian apa yang sekiranya patut dikenakan di saat tumpukan salju setinggi 10 cm menyelimuti semua halaman Pura dan sikap persembahyangan yang mana sekiranya akan di pilih disaat situasi seperti ini.

Secara umum di bali kita mengenal sikap persembahyangan Padmasana yaitu duduk bersila bagi laki-laki atau bersimpuh bagi wanita, namun di saat musim winter di temani dinginnya hujan salju yang turun rintik-rintik, sikap persembahyangan Pada Asana yaitu sembahyang berdiri, kemungkinan akan menjadi solusi yang tepat untuk melaksanakan persembahyangan di saat tumpukan salju masih tinggi di Pura Agung Santi Bhuana.  Apapun jenis sikap persembahnyangan yang akan dilakukan umat Hindu di Belgia, yang terpenting pikiran tetap terpusatkan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Seperti kita ketahui bersama, Ida Sang Hyang Widi Wasa itu tidak hanya Maha Penyayang dan Maha Pengampun, tapi juga “Maha Mengerti” segala situasi dan kondisi umatnya.

Melihat pemandangan yang terjadi di Pura Agung Santi Bhuana, mulai dari Meru, Bale Pengaruman, Bale Piyasan, Bale Gong, Bale Kulkul, Bale Gedong, yang kesemuanya beratapkan (raab) duk, mungkin bisa memberikan referensi baru bagi para arsitek bali serta perancang Pura yang sekiranya di kemudian hari akan membangun Pura di eropa untuk juga memperhitungkan beban salju pada struktur bangunan pelinggih.

Akhir kata, fenomena yang terjadi di eropa di bulan desember ini yang penuh dengan salju yang membuat seluruh bangunan tampak keputihan, tidak hanya memunculkan kekhusukkan bagi umat kristiani yang merayakan  “White Christmas” tapi juga memunculkan kesan baru yang sangat damai bagi umat hindu di belgia yang akan melakukan persembahyangan rahinan Purname Kepitu , wrespati pon wuku uye, tanggal 31 Desember 2009 di “white tempel” Pura Agung Santi Bhuana Belgia.

Sumber Foto: Made Agus Wardana (Belgia)

Pura Hindu di Hamburg

Posted by Adnyana under Pura di Eropa

.

Pemandangan diatas adalah merupakan salah satu sudut pemandangan kota Hamburg yang terletak di ujung utara negara jerman dan merupakan kota terbesar kedua di Jerman setelah Berlin dan merupakan kota pelabuhan terbesar ke dua di Eropa setelah Rotterdam Belanda. Disamping merupakan kota pelabuhan utama negara jerman, kota Hamburg, juga terkenal karena kecantikan gedung-gedung tuanya, di dukung oleh pemandangan yang alami dan asri dari sungai Elbe yang membelah kotanya hingga menjadikan kota Hamburg merupakan daerah tujuan wisata yang cukup terkenal, tidak hanya terkenal di jerman tapi juga di Eropa.

.

Kota Hamburg seperti layaknya kota metropolitan lainnya di diami tidak hanya oleh penduduk berkebangsaan Jerman, melainkan juga oleh warga multi etnis yang datang dari segala penjuru dunia termasuk juga warga ber-etnis Bali. Dari sekitar 4,3 Juta jiwa penduduk yang mendiami kota Hamburg terdapat hampir sekitar 50an warga Bali yang secara rutin setiap sebulan sekali melaksanakan pertemuan, disamping untuk melakukan persembahyangan bersama juga untuk sekedar temu kangen antar sesama warga bali di rantau. Pertemuan ini biasanya dilaksanakan secara bergilir diantara rumah orang bali di Hamburg yang biasa disebut pertemuan “Banjar Kaja”, namun mulai 22 Mei 2010 yang akan datang pertemuan rutin kemungkinan akan dipusatkan di gedung museum Völkerkunde, yaitu sebuah Museum kebudayaan dan Ethnology yang terletak di daerah Rothenbaumchaussee Hamburg. Adapun alasannya karena di gedung museum Völkerkunde, saat ini sudah mulai di bangun Padmasana, yang pendiriannya di prakarsai oleh Luh Gede Juli Wirahmini Biesterfeld.

.

Rumah Bali, Padmasana di Museum Völkerkunde

.

Berita tentang keberadaan Padmasana di areal museum Völkerkunde sebagai tempat pemujaan umat Hindu sudah pula mulai ramai di bicarakan masyarakat di Hamburg. Artikel tentang Pura ini di muat dengan judul „Balinisesischer Tempel am RothenBaum“ di koran harian „Hamburger Abendblatt“ (http://www.abendblatt.de/ratgeber/extra-journal/article1255436/Balinesischer-Tempel-am-Rothenbaum.html ) yang terbit 3 Nopember 2009.

.

.

Di awal artikel yang dimuat di koran Hamburger Abendblatt di sebutkan bahwa: di depan museum Völkerkunde kemungkinan merupakan satu-satunya Pura Bali yang dapat di akses secara umum di Eropa.Yang upacara peresmiannya (pemlaspasannya) akan dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2010. Arsitek Bali yang bernama I Nyoman Artana, sudah mengambil batu hitam dari peti kayu yang dikirim dari Indonesia. Dan dalam waktu beberapa minggu Artana sudah memasang (menggabungkan) batu-batu tersebut hingga menjadi sebuah Pura (Padmasana) setinggi Pura (Padmasana) yang banyak dijumpai di Bali, dan ketinggiannya pun sudah pula memenuhi standar tinggi sebuah bangunan yang di ijinkan di Jerman.

.

Seperti layaknya pembangunan sebuah Pura atau Padmasana di Bali atau di Indonesia, pembangunan Padmasana di museum Völkerkunde yang terletak di Rothenbaumchaussee juga di bangun dengan aturan yang memenuhi standar di bali, sehingga bangunan Pura yang di wujudkan tidak hanya menampilkan sebuah bangunan dengan nilai seni semata melainkan juga memiliki nilai spiritual yang memenuhi fungsi keagamaan sebagai sebuah Pura tempat pemujaan Tuhan.

.

Lebih lanjut di ungkapkan dalam koran Hamburger Abendblatt, Pak Nyoman Artana, memulai pembangunan Pura ini di bantu oleh 2 orang asistennya yang juga berasal dari Bali. Kedatangan Pak Artana ke Hamburg bukanlah untuk yang pertama kali, pada tahun 2006 pak artana sudah pula membangun sebuah „rumah“ berarsitektur bali yang di dirikan didalam gedung museum. Selain rumah bali ini, sejak 2004 tahun yang lalu museum ini sudah memiliki sebuah pameran tetap yang besar dengan thema Bali. Dan semenjak terdapatnya „rumah bali“ didalam museum, beberapa upacara keagamaan Hindu seperti layaknya perayaan di Bali mulailah sering diadakan di dalam museum oleh masyarakat bali yang berdomisili di Hamburg. Walaupun upacara keagamaan Hindu sering diadakan di Museum Völkerkunde tapi bangunan  Pura yang sebenarnya belumlah ada.

.

.

Keinginan untuk membangun Pura yang sebenarnya di lingkungan area Museum Völkerkunde akhirnya bisa di wujud nyatakan saat ini berkat inisiatif dari Luh Gede Juli Wirahmini Biesterfeld, wanita kelahiran Singaraja yang berdomisili di Hamburg, mendanai pembangunan Pura ini. Juli bertanggung jawab mulai dari pembelian bahan bangunan Pura di Bali, mengorganisasikan pengirimannya dari Bali ke Jerman, hingga menjamin pembiayaan upacara yang sekiranya nanti di perlukan, seperti layaknya pembangunan Pura yang baru di Bali di ikuti dengan upacara pemlaspasan.

.

Sebuah pura Hindu yang dibangun di areal museum Völkerkunde memang dimaksudkan dapat di akses secara terbuka oleh pengunjung umum, mungkin boleh di bilang unik keberadaannya di Eropa. Pura yang di bangun ini memang bukan merupakan bagian dari sebuah pameran, namun demikian diharapkan dapat mendukung tujuan dari Museum yang memang memiliki misi tidak hanya sebatas „menampilkan“ tradisi etnis budaya (sekala), tapi juga ingin agar terdapat roh atau jiwa yang aktiv didalamnya (niskala), demikian di ungkapkan oleh Dr. Jeanette Kokkot, staff pameran yang menanggung jawabi departement Bali di Museum Völkerkunde, kepada koran harian Abendblatt Hamburg.

.

Dr. Jeanette Kokkot juga menambahkan, Pura seperti yang banyak di jumpai di Bali terdapat dalam berbagai jenis dan ukuran yang berbeda-beda, seperti disainnya yang terbuka di kelilingi oleh tembok batu (batu bata), namun Padmasana yang di bangun di museum Völkerkunde sudah menggambarkan kedudukan Sang Hyang Widi Wasa.

.

Lebih lanjut di ungkapkan dalam koran harian Hamburger Abendblatt, di awal nopember 2009 ini Artana  sudah menyelesaikan pekerjaannya dan sudah kembali ke Bali. Bangunan Padmasana yang di bangunnya di depan museum secara skala (fisik) sudah pula selesai di kerjakannya, namun secara niskala masih belumlah berfungsi sebagai sebuah Pura, karena belum di pelaspas. Pemlaspasan ini sejatinya akan di langsungkan pada tanggal 22 Mei 2010 yang bertepatan dengan perayaan Kuningan, dimana semua umat hindu di Jerman akan merayakan hari raya suci hindu ini.

.

Upacara Mendem Pedagingan 30 Agustus 2008

.

Sekedar untuk mengingatkan kembali, Pada hari raya kuningan 30 Agustus 2008, umat Hindu yang berdomisili di Jerman merayakan hari suci ini bersama sama yang dilaksanakan di Hamburg. Upacara perayaan Kuningan ini dipimpin oleh Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi yang terbang langsung dari Bali beberapa hari sebelumnya. Selain memimpin upacara hari raya Kuningan saat itu, juga untuk melaksanakan upacara „Mendem Pedagingan“ sebagai perletakan batu pertama pembangunan Pura di Hamburg.

.

.

Setelah Upacara berakhir, Bhagawan Dwija memberikan wejangan tentang Tri Hita Karana, keharmonisan hubungan “Manusia dengan Tuhan“, “Manusia dengan Manusia” , dan Manusia dengan Alam” dan pembangunan Pura ini juga memakai konsep ini. Selain itu sebagai pembimbing Rohani umat Hindu di Jerman, Bhagawan Dwija juga memberi pesan kepada umat, agar umat hindu berterimakasih kepada negara Jerman, dan melanjutkan hubungan baik yang telah ada, serta menghimbau pada Orang orang jerman yang banyak hadir di upacara itu, agar umat hindu (Nyama Braya Bali) diterima sebagai saudara sendiri, sehingga umat hindu (Nyama Braya Bali) memiliki banyak saudara di perantauan.

.

.

Upacara Pemlaspasan 22 Mei 2010

.

Seperti layaknya pembangunan Pura yang baru, Pura yang ada di Hamburg ini juga akan di upacarai hingga Upacara Mecaru, Upacara Prayascita / pemlaspasan dan Upacara Ngenteg Linggih yang akan di laksanakan di saat perayaan Kuningan yang akan jatuh pada hari Sabtu Kliwon wuku Kuningan 22 Mei 2010. Umat Hindu ataupun Nyama Braya Bali di Jerman beserta panitia perayaan Kuningan dan Pemlaspasan Pura di Hamburg yang akan di pimpin oleh Luh Gede Juli Wirahmini Biesterfeld akan bekerja sama mensukseskan jalannya upacara Pemlaspasan Pura ini.

.

Semoga dengan semakin banyaknya Pura yang berdiri di benua Eropa kita bisa semakin yakin akan prinsip-prinsip Hindu Dharma yang memang bersifat universal bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dunia ini dan kita bisa semakin yakin akan kebesaran serta keagungan dari Ida Sang Hyang Widi Wasa. Walaupun kita hidup jauh merantau hingga ke negeri jerman, kita bisa merasakan Ida Sang Hyang Widi Wasa ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka).

.

Terimakasih

.

Terimakasih saya panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa kepada Pemerintah Jerman lewat Museum Völkerkunde Hamburg yang telah mengijinkan pendirian Pura ini di Jerman dan juga terimakasih kepada Luh Gede Juli Wirahmini Biesterfeld yang telah mendanai hingga Pura ini bisa terwujudkan di Hamburg. Semoga amal bakti serta ke ikhlasannya di berkati oleh Ida Sang Widi Wasa.

.

Harapan

.

Diharapkan kepada setiap umat hindu dimanapun berada khususnya kepada umat hindu yang berdomisili di Jerman dan di Eropa untuk ikut serta menjadi saksi upacara pemlaspasan Pura Jagadnata yang di bangun di area Museum Völkerkunde Hamburg, pada saat perayaan Kuningan 22 Mei 2010.

.

http://www.voelkerkundemuseum.com/

Museum für Völkerkunde Hamburg

Rothenbaumchaussee 64

20148 Hamburg

.

Sumber Foto: Nyama Braya Bali Jerman, Luh Gede Juli Wirahmini Biesterfeld

Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach (Frankfurt)

.

Sabtu Kliwon wuku Kuningan tanggal 24 Oktober 2009, umat Hindu dimanapun berada kembali merayakan rerahinan Kuningan, termasuk umat Hindu yang bermukim di Jerman dan sekitarnya, turut merayakan Kuningan yang perayaannya di pusatkan di kota Offenbach, yaitu sebuah kota yang berjarak sekitar 15km dari kota Frankfurt.

.

Tradisi merayakan Kuningan bersama umat Hindu yang berdomisili di Jerman sesungguhnya sudah di mulai sejak 2006 yang di prakarsai oleh sekelompok kecil ibu-ibu bali di Hamburg. Namun seiring berjalannya waktu perayaan Kuningan di Jerman tidak hanya dilaksanakan oleh kelompok-kelompok kecil, namun dirayakan dalam suatu wadah organisasi „Nyama Braya Bali Jerman“, yang menanggung jawabi seluruh umat Hindu (Bali) yang berdomisili di Jerman dan pelaksanaan perayaan kuningannya dilaksanakan secara bergilir dan bergantian di kota-kota yang berbeda. Adapun maksud dari perayaan Kuningan ini dilakukan secara bergilir dan bergantian di kota-kota yang berbeda adalah untuk memberikan kesempatan kepada setiap umat hindu di jerman untuk belajar menjadi penyelenggara. Dan maksud dari perayaan Kuningan ini diorganisir dalam suatu wadah organisasi NBB adalah dengan tujuan agar umat Hindu yang ada di Jerman dituntut untuk selalu ingat menyamabraya serta selalu meningkatkan persatuan dan solidaritas sosial.

.

Menyadari akan pentingnya persatuan dan kerukunan hidup merantau di negeri orang, Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani – Prior, ketua panitia perayaan Kuningan kali ini, sejak 8 juli mempersiapkan perayaan kuningan ini dengan sebaik-baiknya yaitu dengan membentuk panitia kecil untuk menanggung jawabi perihal banten, konsumsi, hiburan, sehingga umat hindu yang terlahir dengan memiliki Panca Indra (penglihatan, penciuman, peraba, parasa, pendengaran) yang hadir di perayaan kuningan ini bisa „melihat“ nuansa kebalian lewat dekorasi ruangan gedung yang di penuhi pernak-pernik Bali dan bisa melihat kesenian tari-tarian bali, bisa „mencium“ bau wewangian dupa ala di Bali, bisa „meraba“ bunga, kwangen, bija seperti layaknya sembahyang di bali, bisa „merasakan“ masakan khas bali seperti di bali, bisa „mendengarkan“ dentingan suara genta, kidung wargasari, gamelan gong bali seperti layaknya piodalan di Pura di bali.

.

Untuk bisa mewujudkan keinginan diatas pada saat perayaan kuningan kali ini yang jatuh tanggal 24 Oktober 2009 yang di Jerman sudah merupakan musim gugur dimana suhu cuaca sudah mulai mendingin hingga 2 derajat celcius, tempat penyelenggaraan Kuningan akhirnya diadakan disebuah gedung Museum yang berukuran cukup besar dan terletak ditengah jantung kota Offenbach (Frankfurt) yaitu di Deutsche Ledermuseum (atau dalam bahasa inggrisnya di kenal dengan nama German Leather Museum), yang memiliki letak geografis tepat di tengah-tengah negara Jerman sehingga bisa di akses dalam waktu singkat oleh umat hindu yang berdomisili di berbagai penjuru kota di jerman seperti dari Hamburg (utara), Munchen (selatan), Köln (barat), berlin (timur).

.

.

Lebih lanjut, untuk menemukan nuansa Kebalian di dalam ruangan gedung museum yang saban harinya biasa dipakai sebagai „convention center“ tempat pertunjukkan dengan kapasitas 300 tempat duduk, umat hindu yang berdomisili di daerah Frankfurt dan sekitarnya, bekerja bersama-sama mendekorasi ruangan gedung agar tampak terlihat cantik dan memberikan segala yang mereka miliki dirumahnya (seperti lukisan bali, kain prada, kain poleng, patung bali) untuk di pajang didalam gedung menyebabkan ruangan gedung museum sekilas tampak mirip „art shop“ di bali, dan panggung pertunjukkannya pun dihias dengan altar tempat banten sehingga sekilas tampat seperti jaba pura dengan latar belakang „apit lawang“ (pintu gerbang Pura).

.

Hiasan lain yang tampak didalam ruangan gedung museum adalah Tamiang. Disamping karena disain Tamiang yang memang terlihat cantik, namun dibalik nilai seni yang tinggi yang ditunjukkannya, Tamiang juga mengandung makna spiritual didalamnya. Tamiang yang merupakan ciri khas Kuningan yang berasal dari kata tameng yang berarti alat penangkis senjata dan memiliki makna perlindungan serta memiliki makna sebagai lambang Dewata Nawa Sanga, karena menunjuk sembilan arah mata angin, menghiasi di hampir setiap sudut bangunan gedung Museum tempat terselenggaranya Perayaan Kuningan kali ini. Sehingga siapapun yang hadir di perayaan kuningan kali ini akan merasakan kenyamanan dan merasa terlindungi dari setiap godaan dan mara bahaya yang datang.

.

Selain tamiang, yang biasa didapati didalam setiap perayaan Kuningan adalah “endongan”. Namun dalam perayaan Kuningan di Offenbach kali ini, keberadaan Endongan ini oleh Ketut Suastiti Widhya Raksani – Flügel yang menanggung jawabi perihal Banten Kuningan ini, diganti dengan sekumpulan dedaunan yang mudah didapati di Jerman, sesuai dengan prinsip Desa Kala Patra. Selain menunjukkan kesejukan dari pancaran warna hijau dedaunan, terselip makna yang tersirat dari keberadaan “endongan” ini yaitu sebagai pembekalan. Dimana “bekal” yang paling utama dalam mengarungi kehidupan adalah “ilmu pengetahuan dan bhakti (jnana)”. Sementara „senjata“ yang paling ampuh adalah „ketenangan pikiran“. Ketenangan pikiran ini yang tak dapat dikalahkan oleh senjata apa pun. “Ikang manah pinaka witing indra“, yang berarti pikiran itu sumber dari indria. Oleh karenanya senjata pikiranlah yang paling ampuh dan utama dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, baik itu hidup di bali ataupun hidup merantau di jerman. Pesan moral itulah yang ingin disampaikan kepada setiap umat hindu yang hadir di perayaan kuningan di Offenbach.

.

Jadi ketika merayakan Kuningan, Batara-Batari diyakini turun dari kahyangan, dan kemudian kembali lagi ke alamnya sebelum tengah hari (jam 12 di siang hari). Karena itu pada perayaan Kuningan di Offenbach jalannya upacara sengaja di atur sehingga persembahyangan selesai tepat sebelum jam 12.00 di siang hari waktu setempat, dengan maksud agar kita sebagai umat Hindu walaupun merantau jauh hingga ke Jerman, namun tetap bisa melaksanakan „khusuknya“ perayaan Kuningan seperti apa yang tersirat dari makna perayaan Kuningan itu sendiri layaknya kita merayakan Kuningan di Bali. 

.

Jalannya Perayaan Kuningan

.

Seperti layaknya persembahyangngan di Bali, persembahyangan di Offenbach di mulai dengan tarian Rejang Dewa yang di tarikan oleh hampir setiap wanita bali yang menghadiri persembahyangan. Seperti di sebutkan dalam Lontar “Usana Bali” bahwa Tari Rejang adalah simbol widyadari atau bidadari yang turun ke dunia menuntun Ida Bhatara pada waktu melelasti. Dan makna yang tersirat dari tarian ini dihayati benar-benar oleh para wanita bali ketika menarikan tarian Rejang Dewa ini diatas panggung persis terletak didepan altar banten sehingga memancarkan vibrasi kesakralan didalam gedung Museum tempat perayaan kuningan ini.

.

.

Setelah selesainya tarian rejang dewa ini , kemudian jalannya upacara diikuti dengan mekidung bersama untuk memuji kemuliaan Ida Sang Hyang Widi Wasa, salah satunya kidung wargasari. Selanjutnya Tri Sandya dan jalannya upacara dipimpin oleh Gede Brahmantara, seorang mahasiswa yang saat ini sedang menuntut ilmu jurusan Teknik Elektro di uni Hannover Jerman. Tepat sebelum jam 12 siang, persembahyangan diakhiri dengan membawa semua Banten yang dipersiapkan oleh Ketut Suastiti Widhya Raksani – Flügel, selaku penanggung jawab Banten perayaan Kuningan ini, dibawa keliling ruangan dan halaman depan gedung museum oleh para wanita yang hadir dan di iringi dengan gamelan Bleganjur yang dimainkan oleh para laki-laki yang hadir di perayaan Kuningan, seperti tampak digambar berikut:

.

.

Seyogyanya sebelum mengelilingkan Banten Kuningan, menurut susunan acara yang telah dipersiapkan, ketika persembahyangan manca puspa dan meketis tirta usai, selanjutnya akan diikuti dengan Dharma Wacana yang akan di isi oleh salah satu utusan umat hindu dari Belgia yang akan memperkenalkan Pura Agung Santi Bhuwana di Brugelette Belgia, namun program ini urung di selenggarakan karena umat yang telah selesai sembahyang langsung bergegas mengambil Banten untuk dibawa keliling gedung museum. Kalau ditelusuri lebih lanjut, secara tidak sadar sesungguhnya Ida Sang Hyang Widi Wasa telah pula mengingatkan kepada kita semua agar persembahyangan Kuningan di Offenbach diselesaikan tepat sebelum jam 12.00 waktu Offenbach, sehingga Batara-Batari yang kita yakini turun dari kahyangan, dan kemudian kembali lagi ke alamnya sebelum jam 12.00 tengah hari.

.

Hidangan Makanan Khas Bali

.

Setelah umat selesai mengelilingkan banten hingga kedepan gedung museum, Banten pun kembali ditempatkan di altar didepan panggung. Anak-anak kecil yang mungkin memang sudah waktunya untuk bersantap makan siang berhamburan mendekati stand konsumsi, yang diperayaan Kuningan ini ditangggung jawabi oleh Putu Ari Cahyani – Burth. Setali tiga uang dengan para orang dewasa dan para orang tua yang hadir ikut serta pula berhamburan mendekati stand konsumsi yang menyajikan menu utama Babi Guling serta Lawar Bali. Agar lawar Bali terasa hangat dan enak disantap, para laki-laki Nyama Braya Bali seperti Cokorda „lilush“ Widnyana, Wayan Pica, Komang Arnawa, Ketut Sugiri, Wayan „Abuth“ Suryana, Wayan terima, turut serta bahu membahu „ngadon“ lawar bali. Para undangan umum yang sebagian besar warga berkebangsaan jerman, yang memang tidak memiliki pantangan akan makanan khas bali, ketika baru memasuki gedung museum langsung berdiri berjejer ngantre untuk menikmati hidangan makanan khas Bali ini.

.

Sambutan dan Hiburan

.

Setelah hampir sekitar 1,5 jam lamanya waktu jeda untuk menikmati hidangan makanan siang, umat hindu beserta keluarganya yang berjumlah sekitar 100 orang lebih, ditambah undangan umum yang berjumlah sekitar 300 orang, kemudian di panggil untuk kembali ke gedung untuk meneruskan acara selanjutnya, dipandu oleh dua MC, yaitu Gusti Ayu Yunita – Purwanto (MC berbahasa Jerman) dan Yuda Yadnya (MC berbahasa Indonesia).

.

Program acara kesenian yang ditanggung jawabi oleh Ketut Sri Artini – Grosse bekerja sama dengan sanggar tari Bali Puspa Koeln ( http://www.balipuspa.de ), menyusunnya dengan diawali suguhan gamelan “Kompyang” tanpa diiringi tarian, yang dimaksudkan untuk memanggil para hadirin untuk menempati posisi duduk yang telah di sediakan dan memfokuskan perhatiannya ke panggung. Setelah itu acara dilanjutkan dengan acara pengukuhan pengurus NBB (Nyama Braya Bali) Jerman periode 2009 – 2011 dengan ketuanya yaitu Ibu Gusti Ayu Suputri Sudjiwa. Ibu Suputri dalam sambutan sepatah katanya mengajak setiap umat hindu yang ada di jerman untuk mempererat jalinan „menyama braya“ di rantau dan ikut serta memajukan organisasi Nyama Braya Bali di Jerman. Selanjutnya Kepala Perwakilan KJRI Frankfurt ( Diddy Hermawan ) yang turut hadir di perayaan kuningan dalam sambutannya mengatakan merasa bangga dengan kegiatan kelompok Nyama Braya Bali di Jerman, yang selain merayakan hari raya suci agama Hindu, juga melakukan kegiatan promosi kebudayaan dan kesenian, yang menurutnya secara tidak langsung ikut serta membantu menjalankan program pemerintah Indonesia, khususnya dibidang pariwisata. Lebih lanjut pak Diddy menambahkan, dengan telah diresmikannya kepengurusan organisasi „Nyama Braya Bali Jerman“ di hari perayaan kuningan ini, pak Diddy hermawan selaku wakil pemerintah indonesia di Jerman, akan mendaftarkan organisasi NBB agar bisa diakui oleh KBRI. Sehingga bila KBRI Jerman memiliki program acara sosial kemasyarakatan, perkumpulan „Nyama Braya Bali Jerman“ bisa dilibatkan atas nama organisasi.

.

.

Setelah acara sambutan, acara kemudian dilanjutkan dengan program hiburan dengan urutan tarian Rejang Dewa, Sekar Jagat, Mergepati, Joged Bumbung. Sebagian besar dari tarian ini di iringi dengan musik gamelan live dari sekehe gong Bali Puspa Koeln pimpinan Made Sukasta Mindhoff dan Nyoman Suyadni Mindhoff, yang sebagian besar penabuhnya adalah warga jerman.

.

.

Salah satu tarian yang ditampilkan di program hiburan sesi pertama, Tari Sekarjagat, yaitu tarian penyambutan yang menggambarkan kegembiraan para penari dalam menyamut para tamu yang hadir serta menceritakan tentang kecantikan dan keluwesan para gadis sebagai ungkapan bunga bumi (keindahan), dipentaskan oleh Nyoman Suyadni Mindhoff, bersama dua gadis kakak beradik berkewarganegaraan jerman ( Chrisi Galias, Vreni Galias). Tari Sekar Jagat yang diciptakan oleh Bapak Swasthi Widjaya Bandem (sekaligus penata busana) dan gambelan (music traditional bali ) diciptakan oleh Bapak I Nyoman Windha pada tahun 1993 dalam rangka Pembukaan Pameran Wastra Bali di Jakarta, yang lasim digunakan dalam pembukaan suatu acara, dipertunjukkan oleh Chrisi dan Vreni Galias dengan gerakan tangan yang lemah gemulai ditambah dengan senyumnya yang memang manis menunjukkan Chrisi dan Vreni mengerti betul akan makna yang tersirat dari tarian sekarjagat ini. Chrisi dan Vreni yang berlatih tari di sanggar tari Bali Puspa Köln melakukan tugasnya dengan baik dan undangan public yang sebagian besar warga jerman yang menghadiri acara hiburan perayaan Kuningan inipun terkagum-kagum dibuatnya dan „di hipnotis“ seolah-olah para penonton sedang berada di Bali.

.

.

Sebelum program hiburan sesi pertama di akhiri, tarian Joged bumbung yang memang ditunggu-tunggu hadirin baik itu warga bali ataupun para tamu, ditampilkan dengan beberapa pengibing, salah satunya yang beruntung memiliki kesempatan ngibing adalah kepala perwakilah KJRI Frankfurt Bapak Diddy Hermawan dan beberapa warga jerman.

.

.

Jeda istirahat selama 30 menit yang diperuntukkan kepada pengunjung umum dengan maksud agar mereka bisa menikmati hidangan jajanan khas bali, para tamu juga di manjakan dengan suguhan gamelan Bleganjur dari warga bali yang mengiringi para wanita bali membawa Banten keliling gedung museum. Selanjutnya program hiburan sesi kedua kemudian dimulai dengan tari Pendet, tari Telek, tari Sadripu, tari Joged serta di tutup dengan tarian Janger dan Genjek, yang tentunya suguhan tari-tarian di sesi kedua ini tidak kalah serunya dengan pertunjukkan di sesi pertama.

.

Dari beberapa tarian yang ditampilkan di sesi kedua, tampak tarian Sadripu yang dipertunjukkan oleh seorang pria berkebangsaan Jerman bernama Patric, mendapatkan applaus dari para hadirin. Bagi warga bali yang hadir, gerakan tarian dari Patric mengingatkan kita akan legendaris tari bali almarhum Wayan Maria yang lebih sering dikenal dengan nama „Mario“ yang dijaman dulu mempopulerkan tarian terompong, tari kebyar duduk, dll. Pun demikian dengan Patric yang memperagakan tarian Sadripu, yaitu tarian yang di ilhami dari 6 sifat-sifat binatang dalam diri manusia (sadripu) yakni kama (nafsu negatif), krodha (kemarahan), mada (kemabukan), lobha (kerakusan), irsya (iri/dengki) dan moha (kegelapan bathin) yang harus diatasi dan di kendalikan, memukau hadirin dengan gerakan bola matanya yang lincah dan sorotan matanya yang tajam.

.

.

Selain Tarian Sadripu yang memukau penonton, tarian Janger dan Genjek yang dipentaskan oleh sekelompok wanita Nyama Braya Bali Jerman yang sebelumnya melakukan latihan bersama di sanggar tari Bali Puspa Köln ini pun mendapatkan applaus yang cukup tinggi dari penonton. Sebagaimana banyak dikisahkan dalam tarian janger di bali, Tari Janger yang di pertunjukkan di perayaan Kuningan di Offenbach juga menceritakan tarian tentang kelompok muda-mudi yang lagi dimabuk asmara. Mereka bertembang bersautan tentang kisah-kisah asmara, dimulai dari cara berkenalan, menanyakan identitas, dan menjurus ke rayuan. Semuanya dilakukan dengan riang gembira.  Selain karena tarian Janger dan Genjek memiliki lirik lagu yang cukup sederhana dan mudah untuk di lafalkan dan di hapalkan, bahkan mudah untuk di ingat karena bahasanya yang sarat lelucon (komedi), maka penonton yang hadir pun dengan mudah pula untuk menirukan lirik lagunya, yang membuat akhir dari acara hiburan di sesi kedua ini ditutup dengan tepuk tangan yang sangat meriah. Bahkan sebagian besar dari pengunjung memohon agar program tariannya untuk dilanjutkan lagi.

.

.

Penutup

.

Tamu yang hadir yang sebagia besar adalah warga berkebangsaan jerman serasa benar-benar menemukan Bali sehari di Jerman, mulai dari dekorasi disain interior ruangan pertunjukkan yang penuh dengan pernak-pernik bali, kemudian suguhan makanan yang kental dengan khas bali didukung dengan menu utama Babi Guling khas Bali, dan yang terakhir dengan hiburan tari-tarian Bali yang sebagian besar diiringi dengan gamelan live dari sekehe gong „bali puspa“ membuat suasana didalam ruangan gedung museum sangat berkesan dihati para pengunjung. Bahkan di akhir acara pengunjung wanita jerman yang sudah lanjut usia memohon kepada Ketut Suastiti Widhya Raksani – Flügel, yang menanggung jawabi perihal Banten ini, agar boleh minta dan membawa pulang „Tamiang“ yang merupakan ciri khas perayaan kuningan.

.

Di akhir acara ketika para hadirin bersiap untuk pulang meninggalkan gedung museum, Ketut Adnyana yang sedari awal mendatangkan 100 majalah Media Hindu dari Jakarta berjaga di meja layanan di dekat pintu gerbang pintu keluar gedung museum. Adapun maksud dari menyediakan majalah Media Hindu yang berisi penjelasan tentang Pura di Belgia adalah selain untuk memberikan informasi kepada umat Hindu yang ada di Jerman yang berkumpul di acara perayaan Kuningan ini tentang keberadaan Pura Hindu yang ada di Belgia, juga untuk memperkenalkan majalah Media Hindu kepada warga bali di Jerman yang sekiranya berminat untuk berlangganan setiap bulannya agar bisa terus mendapatkan update informasi tentang kegiatan umat hindu di tanag air ataupun kegiatan umat hindu di Bali. Beberapa dari pengunjung, khususnya umat hindu, ada yang tertarik untuk berlangganan, dengan harapan agar bisa mendapatkan berita kegiatan umat ditanah air dan ada juga yang berkomentar ingin belajar tentang agama hindu melalui membaca buku-buku ataupun membaca majalah.

.

Terimakasih

.

Dengan suksesnya perayaan kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach ini, sebagai warga bali yang merantau di Jerman, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada ketua panitia yaitu Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani – Prior yang telah bekerja keras „ngayah“ untuk mempertemukan kami warga bali di hari raya suci umat hindu sehingga kami bisa saling kenal dan lebih dekat menyama braya bali tidak hanya dengan warga bali yang berdomisili di Jerman, melainkan juga ada warga bali yang hadir dari Brussel Belgia, Paris Perancis, Zurich Swiss, Oslo Norwegia. Semoga amal bakti dari Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani – Prior diberkati dan diberikan panjang umur oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa. Warga indonesia lainnya yang juga turut hadir dari berbagi kota di jerman seperti dari kota Erlangen, kota Nurnberg, juga menyampaikan kekaguman mereka akan kompaknya warga bali di Jerman dengan selalu mempromosikan kebudayaan Indonesia lewat pertunjukkan tari-tarian Bali yang memang sangat digemari warga Jerman.

.

Terimakasih juga saya alamatkan kepada Ketua organisasi Nyama Braya Bali Jerman yang baru terpilih, yaitu Ibu Gusti Ayu Suputri Sudjiwa, yang pada saat memberikan sambutan berjanji akan memajukan organisasi Nyama Braya Bali sebagai organisasi untuk memperat tali persaudaraan „menyamabraya“ di rantau di negeri Jerman. Terimakasih juga saya alamatkan kepada Karl-Heinz Flügel (suami dari Ketut Suastiti, seksi Banten Kuningan), yang sedari awal banyak membantu tidak hanya seputar Banten Kuningan tapi juga seputar dekorasi sehingga gedung museum terlihat tampak cantik. Terimakasih juga kepada Sangar tari Bali Puspa pimpinan Made Sukasta Mindhoff yang telah banyak berkorban demi mensukseskan jalannya acara kesenian perayaan kuningan di Offenbach, termasuk terimakasih atas dukungan Made Agus Wardana dan Wayan Sudiartawan yang ikut aktif sedari latihan awal mendukung Balipuspa. Dan tentunya terimakasih kepada setiap umat hindu yang telah bergotong royong bahu membahu yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah aktif mensukseskan jalannya perayaan kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach.

.

Renungan

.

Sebagai generasi penerus Hindu, kita memang sudah sepantasnyalah merayakan Galungan dan Kuningan tidak hanya dengan merayakannya sebagai sebuah rutinitas setiap 210 hari, ataupun hanya memaknainya sebagai sebuah kemenangan Dharma melawan Adharma. Tapi juga bisa „mengajegkan Dharma yang telah di menangkan“, yaitu dengan mengisi kegiatan sehari-hari kita dengan kegiatan yang bermanfaat buat orang banyak ataupun membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada.

.

Seperti tersirat dari makna perayaan kuningan yang sering kita jumpai dalam simbol-simbol, seperti „Tamiang“ yang berasal dari kata tameng yang berarti alat penangkis senjata. Dimana sebagai alat penangkis, tamiang berfungsi sebagai lambang perlindungan. Di samping itu, tamiang juga sebagai lambang Dewata Nawa Sanga, karena menunjuk sembilan arah mata angin. Tamiang juga melambangkan perputaran roda alam — cakraning panggilingan. Lambang itu pulalah yang mengingatkan manusia pada hukum alam. Jika masyarakat tak mampu menyesuaikan diri dengan alam, atau tak taat dengan hukum alam, risikonya akan tergilas oleh roda alam.

.

Selain tamiang, dalam perayaan Kuningan juga terdapat endongan yang bermakna perbekalan. Bekal yang paling utama dalam mengarungi kehidupan adalah ilmu pengetahuan dan bhakti (jnana). Sementara senjata yang paling ampuh adalah ketenangan pikiran. Ketenangan pikiran ini yang tak dapat dikalahkan oleh senjata apa pun.

.

Ikang manah pinaka witing indra, yang artinya pikiran itu sumber dari indria. Itu berarti senjata pikiranlah yang paling ampuh dan utama dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, baik itu hidup di indonesia ataupun hidup dirantau di negeri Jerman.

.

Lewat perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Deutsche Ledermuseum Offenbach , kita semua diharapkan untuk terus mengasah ilmu pengetahuan kita sebagai bekal untuk melaju di era globalisasi ini dan menggunakan ketenangan pikiran sebagai senjata utama alam rangka untuk mencapai „santha jagadhita“ atau kerahayuan atau keharmonisan yang langgeng. Semoga.

.

.

Sumber Foto: Made Sukasta Mindhoff, Frank Gustav Mindhoff, Made Melani, Yani Prem, Isti Dhaniswara, Desak Astuti Jablotskin, Putu Alex, Ketut Sri Artini - Grosse.

Saniscara Umanis Wuku Watugunung tanggal 1 Agustus 2009, seluruh umat Hindu dimanapun berada, baik itu di Bali, di Indonesia, ataupun di luar negeri, kembali larut dalam kekhusyukan persembahyangan Saraswati, yaitu hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, manifestasi Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam fungsinya sebagai dewi ilmu pengetahuan yang di yakini akan mencerahkan dunia ini.

Hari raya yang di rayakan setiap 210 hari untuk memuja Dewi Saraswati ini, yang di lambangkan dengan Dewi yang cantik memegang Kitab Suci (lontar) yang bermakna Beliau membawa misi menyebarkan ilmu pengetahuan, tangan Sang Dewi membawa genitri, sebagai lambang bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang tiada henti dan tidak ada habisnya. Genitri juga menyiratkan bahwa ilmu itu harus dicari dan dipelajari tiada henti. Jangan berhenti untuk belajar dan jangan pernah merasa tua untuk belajar. Belajar seumur hidup. Tangan Sang Dewi membawa wina, yang melambangkan simbol ilmu pengetahuan itu sebagai sesuatu yang indah dan orang yang berilmu hidupnya akan indah. Dewi Saraswati turun disertai unggas angsa, binatang cerdik yang bisa menemukan makanan di dalam lumpur. Makanan masuk ke perut, sedangkan lumpur tidak. Ilmu pengetahun pun demikian, harus disaring sehingga kita bisa menjadi orang yang cerdas dan bijaksana.

Dengan semakin tingginya tingkat kesadaran Umat hindu akan pentingnya ilmu pengetahuan (pendidikan tinggi) agar kita mampu untuk bersaing dan melaju di era globalisasi ini,  Umat Hindu di Belgia menggunakan momentum perayaan hari turunnya Ilmu pengetahuan ini sebagai hari pawedalan di Pura Agung Santi Bhuwana, dengan harapan makna yang tersirat dari hari raya Saraswati tidak hanya di maknai secara filosofis ataupun secara etimology (saras = “sesuatu yang mengalir” atau ucapan, dan wati = “memiliki”) melainkan makna yang tersirat bisa di amalkan dan di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Keberadaan Pura Agung Santi Bhuwana yang pada tanggal 18 May 2009 yang telah melaksanakan karya agung pecaruan, prayascita / pemlaspasan, mendem pedagingan, hingga ngenteg linggih, yang bila di tinjau dari keberadaannya yang  berlokasi di taman wisata konservasi Flora dan Fauna (Parc Paradisio) di Brugelette, serta bila di hubungkan dengan makna hari raya suci umat hindu, sesungguhnya memiliki pertalian yang erat dengan hari raya Tumpek Uye yang jatuh pada hari Sabtu Kliwon wuku Uye, yaitu hari raya untuk penghormatan atau penyucian hewani, sehingga pada perayaan hari raya Tumpek Uye ini sarana upacara yang di persembahkan tidak ada yang memakai korban hewan.

Pun demikian dengan Tumpek Wariga (atau sebagian masyarakat bali mengenalnya dengan nama Tumpek Bubuh, Tumpek Uduh, Tumpek Pengatag, dll) yang jatuh pada hari Sabtu Kliwon wuku Wariga merupakan hari raya untuk penghormatan atau penyucian tumbuh-tumbuhan, sehingga pada perayaan hari raya Tumpek Wariga ini sarana upacara yang di persembahkan tidak ada yang memakai korban tumbuh-tumbuhan. Jadi kedua hari raya tersebut memiliki makna filosofis yang sama dengan maksud serta tujuan dari keberadaan Taman Wisata konservasi Flora dan Fauna Parc Paradisio yang terletak di Brugelette Belgium ini.

Namun menurut penuturan sesepuh umat hindu di Belgia yang membidangi Kerohanian bapak Ir. Made Sutiawijaya MBA, dengan mengacu kepada landasan pentingnya terus mengasah ilmu pengetahuan bagi setiap insan umat hindu sebagai bekal untuk melaju di era globalisasi ini, seperti yang tersirat dari hari raya Saraswati, pawedalan Pura Agung Santi Bhuwana ini akhirnya di tetapkan pada hari raya Saraswati yang jatuh pada hari Sabtu Umanis wuku Watugunung.

Senada dengan Bapak Made Sutiawijaya, sesepuh umat hindu Belgia yang membidangi bidang kesenian, yaitu Bapak Made Agus Wardana S.St menambahkan, dengan tetap menjunjung tinggi akan makna yang terisirat pada hari raya Tumpek Uye dan Tumpek Wariga yang juga jatuh di hari Sabtu, umat hindu di Belgia bersama umat hindu yang berdomisili di eropa lainnya juga akan tetap melaksanakan persembahyangan bersama di Pura ini.

Bapak Made Agus Wardana yang juga membidangi hubungan kemasyarakatan di banjar santi Belgia ini sudah merencanakan akan menyebarkan undangan (menginformasikan) kepada umat hindu yang berdomisili di eropa lainnya, seperti di jerman, belanda, perancis, Swiss, dll, lewat email ataupun lewat Facebook, jauh sebelum datangnya hari raya Tumpek Uye dan Tumpek Wariga.

Upacara Pawedalan di Pura Agung Santi Bhuwana yang bertepatan dengan hari raya saraswati tanggal 1 Agustus 2009 kemaren berlangsung secara khusuk. Umat Hindu yang bersembahyang di Pura tidak hanya datang dari Belgia, namun juga datang dari Jerman (Stuttgart, Frankfurt, Berlin, Hamburg), Swiss, Belanda, Perancis, dan bahkan ada yang datang dari Bali.

layaknya upacara piodalan Pura yang ada di Bali ataupun di indonesia lainnya, Sebelum persembahyangan di mulai, Made Agus Wardana selaku koordinator kesenian bersama beberapa anggota sekehe gamelan Saling Asah Belgia seperti Mr. Eddy Pauwels, Wayan Sudiartawan, dll, “ngaturang ngayah” megambel, diikuti oleh para ibu-ibu bali yang turut serta “ngaturang ngayah” menyumbangkan tari-tarian rejang dewa dan panyembrama seperti Ibu Ir. Ida Ayu Astarini MSc. Ph.D, Ibu Ketut Sri Artini ST. M.Sc, Ibu Lani Dewer, Ibu Putu Heny Schmedtmann, Ibu Nelly Riedi, dll

Setelah berakhirnya tarian, persembahyangan kemudian di mulai dengan Trisandya bersama dan manca puspa yang di pimpin oleh bapak Ir. Made Sutiawijaya MBA. Cuaca yang cukup cerah di Musim Panas saat ini dengan terik matahari yang cukup menyengat, membuat suasana persembahyangan di Pura Agung Santi Bhuwana ini benar-benar terasa seperti bersembahyang di Pura di Bali. Pura Agung Santi Bhuwana yang terletak di areal Taman Wisata Parc Paradisio yang memang ramai di kunjungi wisatawan di akhir pekan, mengingatkan saya akan jalannya persembahyangan di Pura di Bali yang banyak di kunjungi wisatawan juga seperti di Besakih, Pura Tanah Lot, ataupun Pura Uluwatu, dll. Sementara umat hindu yang berjumlah sekitar 90 orang bersembahyang secara khusuk di areal Pura Agung Santi Bhuwana, para wisatawan di luar area pura sibuk mendokumentasikannya lewat foto dan video. Setelah selesainya persembahyangan, para wisatawan begitu antusias bertanya tentang Pura, tentang Hindu, tentang jalannya Upacara, dll, dan umat hindu yang fasih berbahasa perancis pun dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

Dengan pertimbangan untuk lebih memperkenalkan tentang Bali, tentang Hindu, tentang makna hari raya suci umat hindu kepada masyarakat eropa yang belum memiliki kesempatan mengunjungi Bali, Mr. Eric Domb, President Director Parc Paradisio yang mewujudkan berdirinya Pura Agung Santi Bhuwana ini, mengharapkan kepada komunitas umat hindu di Belgia untuk bisa mengajukan jadwal persembahyangan yang akan di laksanakan di Pura Agung Santi Bhuwana secepat mungkin. Sehingga  dengan adanya susunan jadwal persembahyangan di hari raya tertentu, seperti pawedalan di hari raya Saraswati yang jatuh di hari Sabtu Umanis wuku Watugunung, hari raya Tumpek Uye yang jatuh di hari Sabtu Kliwon wuku Uye, hari raya Tumpek Wariga (Tumpek Pengatag, Tumpek Bubuh) yang jatuh di hari Sabtu Kliwon wuku Wariga, serta hari purnama yang datang setiap bulannya, Pihak Parc Paradisio kemudian bisa menginformasikan jadwal persembahyangan ini lewat website Parc Paradisio ataupun brochures kepada wisatawan tertentu “specific visitor” yang sekiranya memiliki ketertarikan tidak hanya perihal kelestarian Flora dan Fauna tetapi juga memiliki ketertarikan di bidang Budaya “culture” atau bidang keagamaan.

Untuk permintaan ini, sesepuh umat hindu di belgia sudah merembugkannya  dan menyepakati bahwa setiap hari raya suci umat hindu yang jatuh di hari Sabtu atau minggu, di pastikan umat hindu akan melaksanakan persembahyangan di Pura Agung Santi Bhuwana. Penjelasan serta makna yang tersirat dari hari raya suci umat hindu yang di rayakannya akan pula di jelaskan dengan detail, sehingga pihak Parc Paradisio bisa menginformasikannya dengan jelas kepada para wisatawan tertentu ini.

Kesempatan berbincang-bincang yang saya miliki ketika bertemu dengan Mr. Eric Domb di luar area Pura, membuat saya terkagum-kagum akan kepribadian dari Mr. Eric Domb.  Dengan wawasannya yang luas serta ketulus hatiannya yang sudah mewujudkan berdirinya Pura hindu ini bagi kami umat hindu di Eropa, beliau mengajarkan kepada kita umat hindu di eropa tentang bagaimana mengatur dan menyusun jadwal persembahyangan upacara secara rapi sehingga kita bisa menginformasikan kepada masyarakat eropa pengunjung Taman Wisata Parc Paradisio ini yang memiliki minat tertentu (baik itu perihal hewani dalam hubungannya dengan hari raya suci umat hindu Tumpek Uye, perihal tumbuh-tumbuhan dalam hubungannya dengan hari raya suci umat hindu Tumpek Wariga, perihal merayakan turunnya ilmu pengetahuan dalam hubungannya dengan umat hindu Hari Saraswati, dll) bisa hadir disaat kita umat hindu merayakannya di Pura Agung Santi Bhuwana dan tentunya bisa bediskusi secara aktif dengan umat hindu yang ada saat itu.

Saya sependapat dengan Mr. Eric Domb, bahwa dengan semakin berkembangnya jaman yang menuntut kita untuk selalu merencanakan sesuatu dengan cara profesional, memang sepantasnyalah kita mengikuti perubahan jaman yaitu menyusun jadwal persembahyangan kita secara profesional pula, yang di sesuaikan dengan Desa Kala Patra. sesuai saran Mr. Eric Domb, kesempatan berbagi informasi kepada masyarakat eropa bisa kita laksanakan di saat kita melaksanakan persembahyangan di Pura ini. dan juga kesempatan untuk bertemu dan berkumpul dengan umat hindu yang ada di eropa untuk lebih mejalin dan mempererat tali persaudaraan menyama braya bali bisa juga kita laksanakan seperti yang di ungkapkan Ibu Gusti Suputri Sudjiwa (Ketua Nyama Braya Bali Jerman yang datang dari Berlin). Senada dengan Ibu Suputri, Ibu Luh Gede Juli Wirahmini penggagas pendirian Pura di Hamburg yang terbang langsung dari Hamburg, berharap dengan keberadaan Pura Agung Santi Bhuwana di Belgia ini bisa mempererat jalinan tali persaudaraan semua umat hindu yang ada di eropa.

Akhir kata, dengan segala kerendahan hati saya panjatkan doa kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa semoga Mr. Eric Domb beserta keluarga beliau selalu dalam lindungannya. dan tak lupa saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada panitia perayaan hari raya Saraswati dan pawedalan Pura Agung Santi Bhuwana yaitu umat hindu di Belgia, serta pihak-pihak yang telah medana punia konsumsi seperti sesepuh umat hindu di belgia Bapak Putu Ardana dan kawan-kawan, sehingga kami umat hindu di eropa setelah melaksanakan persembahyangan bersama bisa melaksanakan makan bersama, yang mengingatkan kami akan suasana kampung halaman di bali dan mengobati kerinduan akan menu-menu masakan balinya.

Semoga Ida Sang Hyang Widi Wasa selalu melindungi kita semua.

Hari Senin Umanis Medangkungan yang jatuh pada tanggal 18 May 2009 merupakan hari bersejarah bagi umat Hindu Dharma yang berdomisili di Belgia pada khususnya atau umat Hindu yang berdomisili di Eropa pada umumnya, karena pada hari tersebut berlangsung upacara suci pemlaspasan Pura Agung Santi Bhuwana yang berlokasi Taman Wisata Burung Parc Paradisio di Brugelette Belgia.

Adapun makna dari nama Pura Agung Santi Bhuwana adalah sebuah tempat yang Agung dan mulia untuk memuja Tuhan (ida Sang Hyang Widi Wasa) yang menyebabkan alam semesta ini harmonis, damai dan sejahtera.

Pemlaspasan Pura ini merupakan bagian dari satu rangkaian acara Peresmian Taman Indonesia (The Kingdom of Ganesha ), yaitu sebuah Kompleks Taman Indonesia seluas 5 hektar di dalam area Taman Wisata Parc Paradisio yang berukuran 55 hektar.  Peresmian acara ini di hadiri oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Jero Wacik yang didampingi oleh Duta Besar RI untuk Belgia, Luxemburg dan Uni Eropa, Nadjib Riphat Kesoema,  Direktur Jenderal Pemasaran Pariwisata, Dr Sapta Nirwandar, Staf Ahli Khusus Menbudpar Harbunangin,  Menteri Urusan Ekonomi, Tenaga Kerja dan Warisan Budaya Wilayah negara bagian Walonia-Begia, Jean Claude Marcourt, serta CEO Parc Paradisio yang juga merupakan pemilik dari Taman Wisata Parc Paradisio Mr. Eric Domb.

Peresmian acara ini di hadiri lebih dari 800 undangan, serta lebih dari 100 umat Hindu yang datang tidak hanya dari Belgia melainkan dari negara tetangga juga seperti Belanda, Jerman, dan Perancis, memadati pelataran Taman Indonesia serta Pelataran Jaba Pura, selain di isi oleh sambutan dari para undangan juga digelar Tari-Tarian dari sanggar Tari dan Gamelan Saling Asah pimpinan Made Agus Wardana. Di salah satu persembahan tarian yang di peragakan oleh istri dari Made Agus Wardana, Pak Mentri Jero Wacik turut berpartisipasi menyumbangkan keahlian / hobby beliau megambel bersama anggota sekehe gong Saling Asah yang membuat decak kagum para pengunjung.

Selain berpartisipasi megambel pada saat acara hiburan, sebelumnya pada saat acara pembukaan Pak Jero Wacik selaku menteri Pariwisata juga memberikan sambutan yang intinya beliau mengatakan: “Taman Indonesia di Belgia ini, tidak hanya pintu dan jendela untuk mengenal Indonesia tapi juga sebuah penghargaan dan kehormatan bagi bangsa Indonesia di Eropa ini”, pun demikian dengan Dubes RI Brussels, Nadjib Riphat Kesoema dalam sambutannya mengatakan proyek Taman Indonesia yang digagas Mr. Eric Domb di Belgia tidak hanya mendekatkan masyarakat Eropa pada Indonesia, tapi juga merupakan pengakuan bahwa Indonesia memiliki keunikan yang menarik bagi dunia dan menjadi perhatian bangsa lain.

Lebaih lanjut Pak Dubes mengatakan, memasuki peringatan 60 tahun dibukanya hubungan diplomatik Indonesia-Belgia di tahun 2009, kerja sama KBRI Brussels dengan Eric Domb (Parc Paradisio) selama ini membuahkan hasil yang istimewa. Taman Indonesia benar-benar terwujud berkat kecintaan seorang Eric Domb terhadap Indonesia, ujar Dubes.

Parc Paradisio

Parc Paradisio, dibangun di tahun 1993 di tengah sisa bangunan kastil tua (chateau) , yang di awal pendiriaannya merupakan sebuah taman wisata burung, namun dalam perjalanannya berkembang tidak hanya menjadi taman wisata burung melainkan juga menjadi taman konservasi flora dan fauna, dengan koleksi sekitar 3500 species binatang dan sekitar 1.500-an species tanaman dan tumbuhan. Uniknya jenis tumbuhan yang ada di taman Parc paradisio tidak hanya jenis tanaman yang biasa di jumpai di negara bermusim dingin melainkan juga ada jenis tanaman tropis seperti pohon pisang  yang banyak di jumpai di Indonesia.

Parc Paradisio di samping giat berburu segala jenis tumbuh-tumbuhan dari berbagai dunia untuk di tanam di areanya, yang di komandoi oleh Direktur Botanical Mr. Bertrand Pettiaux, Parc Paradisio juga giat berburu segala jenis binatang dunia untuk di lestarikan di areanya, yang di pimpin oleh Direktur Zoological + Scientific  Dr. Steffen Petzwall . Oleh karenanya Parc Paradisio saat ini merupakan anggota asosiasi kebun binatang se-Eropa. Namun demikian, menurut penuturan pemilik Parc Paradisio Mr. Eric Domb, beliau lebih suka menyebut Parc Paradisio bukan sebagai sebuah kebun binatang (Zoo Parc), melainkan lebih tertarik menyebutnya dengan nama “Emotion Park“. Kata “Taman Emosi/Kejiwaan” lebih tepat menggambarkan perasaan yang ada di dalam hati para pengunjung ketika di ajak kembali ke alam mengunjungi dan mengelilingi Taman ini, karena perasaan seperti itulah yang di dapati oleh Mr. Eric Domb ketika pertama kali mengunjungi taman ini di tahun 1992 hingga akhirnya memutuskan untuk menghabiskan seluruh sisa hidupnya di taman ini yang akhirnya di beri nama Parc Paradisio.

Sejak tahun 2000 Parc Paradisio, tidak saja menjadi menjadi pusat rekreasi yang menawarkan keakraban alam, tumbuhan, binatang, dan manusia tapi juga taman budaya yang mengibarkan promosi permanen bagi pariwisata, dengan menampilkan miniatur dari kebudayaan yang unik dari berbagai negara di belahan dunia ini. dimulai dengan di bangunnya Taman Wisata China (Chinees Garden) yang pembangunannya selesai di tahun 2005, kemudian di tahun 2006 di susul dengan pembangunan Taman Wisata Indonesia (Indonesian Garden), yang mana di dalamnya  berdiri Pura Bali yang bernama Pura Agung Shanti Buwana, yang ukurannya sama sebesar ukuran pura besar di Bali. Uniknya disini Pura Agung Shanti Buwana di bangun di atas tanah sawah bertingkat, terasering (berundagi / pundukan) seperti persawahan yang ada di bali, seperti tampak di gambar berikut. disamping itu berdekatan dengan Pura terdapat candi besar yang mirip candi Prambanan dengan Roro Jongrang yang menjulang tinggi.

Di dalam kompleks Taman wisata Indonesia, disamping terdapat Pura Bali, juga terdapat Rumah Toraja, replika Candi Borobudur dan rumah tradisional besar ala Nusa Tenggara Timur berderet melingkari ujung taman. keseluruhan bangunan tradisional Indonesia sepertinya memindahkan sebagian miniatur ciri khas dan identitas Indonesia  dengan segala  keaneka ragaman adat istiadatnya dari sabang sampai merauke, di tampilkan mirip seperti Taman Mini Indonesia Indah yang ada di Jakarta.

Beragam arca dewa - dewi Hindu, patung-patung gajah serta lambang dewa Ganesha, hampir terdapat di setiap sudut taman indonesia ini.  Dewa Ganesha, yang dalam kebudayaan hindu adalah putra dewa Syiwa Parwati, yang selain melambangkan sebagai dewa ilmu pengetahuan juga sekaligus melambangkan dewa dari semua makhluk.  Menurut Direktur Zoological + Operational Parc Paradisio  Dr. Steffen Petzwall, didalam kehidupan nyata di dalam hutan, hewan Gajah yang walaupun ukurannya besar namun tidak membahayakan dan bahkan bersahabat. Pesan inilah yang ingin di sampaikan kepada para pengunjung yang mengunjungi komplek Taman Indonesia (Indonesian Garden) dengan menggunakan lambang Ganesha sebagai “icon” dari Indonesian garden ini, sehingga di sebutnya kompleks “The Kingdom of Ganesha”. untuk menyampaikan makna yang tersirat dari dewa Ganesha kepada para pengunjung, selain di tempatkannya banyak patung gajah dan ganesha, juga di buatkanlah kandang Gajah berikut tempat untuk demonstrasi di area Taman Indonesia ini. Dan saat ini sudah terdapat 2 gajah pejantan pinjaman dari kebun binatang Belanda, dan dalam waktu dekat di Parc Paradisio juga akan didatangkan 2 gajah betina asli dari Sumatera pemberian pemerintah Indonesia. Sehingga kedepannya keberadaan gajah di Parc Paradisio bisa di kembang biakkan, dan para pengunjung bisa lebih banyak memiliki kesempatan untuk beriteraksi langsung dengan leluasa dengan para gajah yang ada. Sehingga keberadaan patung gajah, patung dewa Ganesha, hewan Gajah, dan agama Hindu, tampak menjadi suatu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan dengan keberadaan Pura Agung Santi Bhuwana.

Sejarah Pendirian Pura Agung Santi Bhuwana di Parc Paradisio

Menurut penuturan, Dr. Steffen Petzwall Direktur Zoological + Scientific, yang juga merangkap Direktur operational Parc Paradisio, mengatakan idea pertama dari pendirian Pura Hindu ini adalah bermula dari kunjungan Mr. Eric Domb, CEO dan President  yang juga pemilik dari Parc Paradisio ke Bali 30 tahun yang lalu bersama orang tuanya. kemudian setelah memimpin Parc Paradisio, muncul keinginan untuk membuat Parc Paradisio tidak hanya menjadi sebuah Taman wisata Flora dan dan Fauna, yang menawarkan keakraban alam, tumbuhan, binatang, dan manusia tapi juga menawarkan informasi kebudayaan dunia yang memiliki karakter serta peradaban yang kuat yang ada di bumi ini serta bisa berkolaborasi dan mendukung promosi permanen bagi pariwisata.

Teringat akan kunjungan ke Bali yang pernah dilakukan Mr. Eric Domb bersama orang tuanya ke Bali, Mr. Eric Domb kemudian mengunjungi Bali lagi untuk “Brain Storming” dengan mengelilingi seluruh pelosok Bali untuk mencari idea lebih lanjut. Kolaborasi antara agama, adat istiadat, budaya dan masyarakat balinya yang mendukung pariwisata di Bali serta bisa diterima oleh masyarakat dunia (universal), membuat Mr. Eric Domb jatuh cinta akan Bali pada khususnya dan Indonesia  pada umumnya.

Sekembali Mr. Eric Domb dari Bali, beliau kemudian menceritakannya kepada Dr. Steffen Petzwall dan direktur Parc paradisio lainnya. Ibarat Pucuk di cinta ulam tiba, dimana Dr. Steffen Petzwall yang juga sering mengunjungi Bali, akhirnya seia sekata, dan gayung pun bersambut dengan melakukan kunjungan bersama ke Bali untuk merealisasikan idea membuat Indonesian Garden dengan bangunan utamanya Pura yang sama persis seperti di Bali.

Sepulang dari Bali, proyek inipun di mulai pembangunannya di tahun 2006. Pembangunan Kompleks Taman Indonesia yang di mulai dari pembangunan Pura ini, bukannya tanpa hambatan dari masyarakat Belgia ataupun pemerintah Belgia. Karena di lokasi Parc Paradisio terdapat kastil tua, yang di Belgia sendiri sungguh sangat di hormati keberadaannya. pemerintah maupun masyarakat pun khawatir dengan berdirinya bangunan baru akan mengurangi makna dari keberadaan Kastil tua yang menjadi kebanggaan masyarakat Belgia ini. Mr. Eric Domb dengan ketulus hatiannya serta kecintaannya yang mendalam akan Bali dan tentunya dengan pengetahuannya yang luas akan segala seluk beluk tentang Bali dan Hindu, kemudian bisa meyakinkan  Pemerintah Belgia beserta masyarakat Belgia sehingga pembangunan Pura Agung Santi Bhuwana ini bisa di wujudkan di taman Parc Paradisio.

Pun demikian ketika mendatangkan para pekerja langsung dari Bali, juga bukannya tanpa hambatan dari masyarakat Belgia ataupun departement tenaga kerja Belgia. Lagi-lagi Mr. Eric Domb, yang sepertinya memang sudah mendapatkan restu dari Ida Sang Hyang Widi Wasa, tidak hanya bisa meyakinkan masyarakat Belgia , tapi juga bisa membuktikan kepada mereka , bahwa keahlian para pemahat dan tukang ukir dari Bali dan Jawa tengah memang tidak tergantikan oleh masyarakat Belgia. Ketika tukang ukir dari Bali sedang bekerja memahat dan mengukir batu menjadi sebuah patung, masyarakat belgia memang di buatnya terkagum-kagum, mereka seolah-olah tidak percaya karena mereka terbiasa bekerja dengan mesin, sementara Tukang ukir dari Bali bisa merubah sebuah batu balok dengan pahat dan alat ukir lainnya yang berukuran kecil-kecil menjadi sebuah patung dengan nilai seni yang tinggi.

Proyek pembangunan Pura Agung Santi Bhuwana dimulai tahun 2006 dengan mendatangkan arsitek muda Bali, I Ketut Padang Subadra. Ketut Padang dibantu oleh para pemahat dan pengukir dari Bali yang berjumlah delapan orang. Selama dua tahun lebih bekerja siang dan malam dalam suasana berkabut dan bersalju.

Untuk menjaga keaslian dan aroma magis ke-Indonesiaan, batu-batu untuk membangun pura besar dan seluruh lapisan tempat berjalan berasal dari Indonesia. Sekitar 320 kontainer batu-batu candi diimpor dari lereng gunung Merapi, Jawa Tengah. bagi pengunjung yang mengunjungi kompleks Taman Indonesia ini, seperti terhipnotis dan merasakan seperti memang sedang berada di Indonesia di kompleks candi Prambanan dan candi Boroobudur di Jawa tengah, ataupun berada di kompleks Pura Besakih di Bali yang puranya juga terbuat dari Batu alam, walaupun sesungguhnya mereka sedang berada di Brugelette Belgia di Pura Agung Santi Bhuwana.

Pura Agung Santi Bhuwana

Adapun layout dari Pura Agung Santi Bhuwana, adalah sebagai berikut:

Seperti telah di ungkapkan diatas, adapun makna dari nama Pura Agung Santi Bhuwana adalah sebuah tempat yang Agung dan mulia untuk memuja Tuhan (ida Sang Hyang Widi Wasa) yang menyebabkan alam semesta ini harmonis, damai dan sejahtera. Sesuai dengan namanya , siapapun yang melakukan persembahyangan memuja kemuliaan Tuhan dari Pura ini diharapkan bisa mendapatkan kedamaian, sesuai dengan harapan dari Mr. Eric Domb yang ingin di tawarkan kepada pengunjung yang berkunjung mengelilingi suasana alam yang harmoni di Taman Wisata Parc Paradisio.

Mengamati luasnya Pura Agung Santi Bhuwana ini terbagi dalam tiga bagian yang dikenal dengan Tri Mandala.
1. Kanista Mandala: Area terluar dari Pura
2. Madya Mandala: Area Jaba Pura
3. Utama Mandala: Area Suci Pura yang berlokasi di dalam.

Pura ini tampak begitu megah bila di lihat dari bawah dimana tampak persawahan berundagi dan tangga yang di apit oleh dua naga besar, seperti tampak di foto berikut.

Candi Bentar :

Sebagaimana kita ketahui bersama, adapun fungsi dan makna yang tersirat dari struktur Candi Bentar yang saling berhadap-hadapan ini adalah melambangkan simbol dari “Bad Spirit” dan “Good Spirit” yang berarti siapapun yang ingin memasuki Pura ini harus menanggalkan / mengesampingkan sifat-sifat yang tidak baik dan hanya boleh membawa serta sifat-sifat yang baik dalam pikirannya.

Bale Kulkul:

Bale Kulkul adalah sebuah bangunan tempat Kulukul (kentongan) yang di pukul sebagai isyarat kepada pemuja bahwa upacara akan di mulai. Adanya bale Kulkul kembar di sisi kanan dan sisi kiri menggambarkan raksanan, yang artinya adanya rasa aman Sekala dan Niskala, sebagai awal wujud kesempurnaan Weda.

Bale Gong:

Bale Gong melambangkan sebagai bangunan untuk meletakkan Gamelan atau sebagai tempat untuk bermain musik gamelan di saat berlangsungnya upacara.

Kori Agung:

Kori Agung adalah sebagai pintu gerbang yang menjembatani antara dunia micrcosmos (world) dengan dunia macrocosmos (Heaven). Satu hal yang harus di pastikan  bahwa setiap orang yang memasuki pintu gerbang ini haruslah dalam keadaan bersih jasmani dan rohani. Kori Agung ini memiliki 3 pintu utama, dimana yang di tengah-tengah berfungsi sebagai pintu gerbang untuk memasuki area Pura, sementara 2 pintu di sisi kanan dan kiri berfungsi sebagai pintu gerbang untuk keluar.

Piyasan:

Bale Piyasan adalah sebagai tempat untuk mempersiapkan Upacara dan juga untuk membersihkan sarana upacara ataupun simbol Dewa-Dewi menjadi suci upacara keagamaan di mulai.

Pengaruman:

Bale Pengaruman melambangkan sebagai tempat meletakkan sesaji disaat ada upacara keagamaan atau tempat berstana nya manifestasi dari  Ida Sang Hyang Widi Wasa ketika berlangsung upacarta keagamaan.

Meru tingkat Lima:


Meru tingkat 5 ini melambangkan Panca Dewata yang diambil dari lima arah.

1. di Utara adalah Dewa Wisnu,

2. Selatan adalah Dewa Brahma,

3. Timur adalah Dewa Iswara,

4. Barat adalah Dewa Mahadewa,

5. di tengah-tengah adalah Dewa Siwa.

Dugul:

Balai Dugul ini melambangkan Ratu Ngurah Agung sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi Wasa dan selalu di posisikan di ujung dari komposisi lambang yang ada di Pura.

Gedong:

Balai Gedong adalah bangunan untuk menyimpan simbol dewa-dewi atau  Dewi Sri Pratima setelah rangkaian upacara keagamaan berakhir.

Padmasana:


Padmasana terdiri dari dua kata, yaitu “Padma” yang artinya bunga teratai, atau bathin atau pusat. “Sana” artinya sikap duduk, atau tuntunan , atau nasehat, atau perintah. Padmasana mengandung makna Simbol yang menggambarkan kedudukan Hyang Widi sebagai bunga teratai. jadi Padmasana melambangkan sebagai Tuntunan batin atau pusat konsentrasi.

Padmasana di representasikan dengan tiga tingkatan keatas.

1. Dibagian bawah terdapat Naga Antaboga yang melambangkan sumber penghidupan yang tiada batas.

2. di bagian tengah adalah simbol dari lapisan air yang dalam hal ini di visualisasikan dengan Naga Basuki yang berarti aman dan air ini aman untuk kehidupan.

3. di bagian atas adalah atmosfir dari tingkatan udara yang di visualisasikan dengan Naga Tatsaka, yang berarti langit.

Didalam kehidupan di dunia ini, ketiga tingkatan tadi di representasikan oleh tumbuhan , binatang dan manusia yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Jalannya Upacara Pemlaspasan Pura Agung Santi Bhuwana

Disaat berlangsungnya jalannya upacara peresmian ini,  Mr. Eric Domb tampak begitu gagah dan ganteng dengan penampilannya berpakaian adat Bali berbaju putih lengan panjang, destar (udeng) putih, kain ndek biru, dan saput (selimut) putih. begitu juga dengan bapak duta besar tampak gagah berpakaian adat bali. yang menambah suasana di Pura Agung Santi Bhuwana benar-benar seperti piodalan atau karya agung atau pemlaspasan Pura di Bali.

Sementara pihak Parc Paradisio yang dipimpin langsung oleh Mr. Eric Domb bertanggung jawab terhadap kelangsungan acara peresmian taman Indonesia “The Kingdom of Ganesha” secara keseluruhan,  pihak KBRI kedutaan Indonesia di Belgia bertanggung jawab menjembatani pihak parc paradisio dengan komunitas Bali atau Indonesia di belgia, pihak kementrian Pariwisata dan Budaya menanggung jawabi jalinan  kerjasama diantara negara belgia dengan indonesia, komunitas masyarakat hindu di belgia menanggung jawabi dekorasi pura dan area lain di taman indonesia di parc paradisio serta bertanggung jawab mengisi acara hiburan dengan gamelan dan tari-tarian bali, dan pihak utusan langsung dari Bali menanggung jawabi ritual keagamaan proses penyucian / pemlaspasan Pura Agung Santi Bhuwana ini.

Ida Pandita pemuput upacara yang datang dari Bali yaitu IP Putra Telabah (d/h. Prof. Dr dr IB Narendra) dan IP Panji Sogata (d/h IBG Sogata) . Sementara Ibu Jero, ibu Dewi Maha Indah Pertiwi, Ibu Luh Suryati, menanggung jawabi perihal bebantenan yang di perlukan selama proses upacara berlangsung.

Adapun susunan jalannnya upacara di Pura Agung Santi Bhuwana adalah sebagai berikut:

1. Upacara Mecaru

2. Upacara Prayascita / Pemlaspasan

3. Upacara Mendem Pedagingan

4. Upacara Ngenteg Linggih.

Adapun makna dari upacara diatas,

1. Mecaru: adalah untuk mengembalikan keharmonisan antara alam dengan element dasar kehidupan. Element dasar itu termasuk Ether (kosong), Angin, Cahaya, Air, abu. Didalam tubuh manusia kesemua element dasar tersebut di represntasikan oleh Atman (Jiwa), nafas, energy/kekuatan, darah, daging, lemak, tulang.

Kenapa kita melaksanakan Pecaruan:

Ketika kita membuat suatu bangunan di suatu tempat, tempat itu tentu akan mengalami ketidak seimbangan (disharmony). Setiap intervensi atau memasuki suatu lingkungan akan pasti membuat ketidak seimbangan antara mahluk hidup dengan lingkungan alam. Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, ketidak seimbangan ini harus segera di normalisasikan, yang oleh umat hindu di percayai dengan melaksanakan Pecaruan. Jenis Pecaruan, baik itu besar maupun kecil pada prinsipnya memiliki makna yang sama yaitu mengembalikan kesimbangan dan keharmonisan. Kata Caru di ambil dari bahasa Sansekerta
yang berarti “Indah” sehingga kata Mecaru berarti mengembalikan keindahan alam atau lingkungan, inti dari alam , ruang phisik dari kehidupan (yang berhunungan dengan bangunan Pura Hindu)

2. Prayascita adalah untuk menjernihkan pikiran, sementara Mlaspas adalah untuk melepaskan ingatan /kenangan yang tidak baik yang terdapat pada jiwaraga ataupun pikiran dan perasaan manusia.

Dalam tradisi Bali, Pikiran di artikan sebagai aspek yang menentukan persepsi. Oleh karena itu, pikiran kita seharusnya selalu dapat di kontrol, di bersihkan, di meditasikan sehingga pikiran kita dapat di fokuskan untuk menghargai kegiatan, memuji, melepaskan kehidupan dari segala ciptaan di dunia ini. Dengan demikian orang akan menyadari arti atau tujuan dari hidup yang sesungguhnya, dari mana mereka berasal, kenapa mereka ada di dunia ini, siapa yang akan dapat membuat kelangsungan hidup ini, dan di mana
kehidupan ini akan berakhir.

3. Mendem Pedagingan adalah untuk menambahkan 5 element dari bahan yang terbuat dari logam yang terdapat di bumi ini, seperti:

1. emas berwarna kuning yang melambangkan kebesaran dan kemasyuran,
2. Perak yang berwarna Putih yang melambangkan kemurnian,
3. Perunggu yang berwarna merah melambangkan spirit dan keutamaan dalam kehidupan,
4. Baja berwarna hitam melambangkan air,
5. jenis berlian yang terbuat dari campuran keempat jenis logam tadi.

Kelima inti dari metal tadi berfungsi sebagai dasar dari energi listrik yang menghubungkan bangunan-bangunan suci yang ada di Pura dengan energy dari bumi. Dimasukkannya kelima element tersebut di percaya bahwa bangunan suci sudah di hubungkan oleh energy cosmic, sehingga bangunan itu akan memancarkan taksu „kekuatan dari dalam“ seperti menarik kekuatan dan meningkatkan daya yang menakjubkan.

4. Ngenteg Linggih di lakukan setelah proses Mecaru, Prayascita/Mlaspas, dan Mendem Pedanginan sudah selesai dilakukan dengan maksud bahwa ada sutu kesepakatan sebagai suatu komitment baru pada Pura yang baru di bangun ini.

Bila proses sebelumnya belum dilaksanakan, sesuai dengan keyakinan tradisi Hindu di Bali, bangunan Pura tersebut hanyalah sebuah bangunan biasa seperti rumah atau bangunan gedung lainnya yang terbuat dari bahan bangunan. Kesemua ini hanyalah benda yang tidak berarti (dead objects). Dengan proses upacara yang di sebutkan diatas membuat bangunan ini menjadi sebuah bangunan yang hidup (alive building), yang berarti bahwa bangunan /Pura yang sudah di upacarai ini terhubung dengan energy cosmic yang hidup.

Keseluruhan proses upacara diatas (Mecaru, Prayascita / Mlaspas, Mendem Pedagingan, Ngenteg Linggih) pada dasarnya sebagai sebuah usaha membuat bangunan menjadi “hidup” atau “memberikan kekuatan hidup” kepada bangunan atau daerah, seperti di yakini oleh para leluhur di Bali yang mengartikan bahwa keseimbangan antara mahluk hidup, alam, dan Tuhan adalah yang utama. Mereka harus di upayakan oleh mahluk hidup (manusia) , baik sebagai seorang individu ataupun sebagai mahluk sosial selama hidupnya di dunia ini, dan bukan di kehidupan nanti setelah meninggal, dan juga bukan di saat ada di Sorga atau di Neraka.

Setelah upacara diatas selesai dilaksanakan oleh pihak komunitas umat hindu di area Pura, jalannya acara akhirnya di lanjutkan oleh pihak Parc Paradisio yang di pimpin Mr. Eric Domb beramah tamah dengan para undangan, mengelilingi area Parc Paradisio, area Taman Indonesia, dan kemudian menonton acara tari-tarian yang diperagakan oleh sanggar tari dan gamelan “Saling Asah” pimpinan Made Agus Wardana. Yang menarik dari sanggar tari dan gamelan Saling Asah ini adalah para pemain gamelannya, mulai dari tukang ugal hingga tukang cengceng adalah hampir semuanya adalah warga eropa alias “orang bule”, seperti tampak di gambar berikut. rasa kagum dan hormat pun diberikan oleh hampir semua pengunjung, baik itu para undangan resmi maupun komunitas indonesia yang menghadiri jalannya tari-tarian, ataupun oleh umat hindu yang merantau di eropa.

Suguhan Tarian dan Gamelan dari Sanggar Saling Asah Belgia

Suguhan Gamelan oleh Sekege Gong Saling Asah Belgia yang di motori oleh I Made Agus Wardana serta tari-tarian yang di peragakan oleh para penari membuat para pengunjung tidak ingin beranjak dari pelataran jaba pura, walaupun tari-tarian sudah usai. tepuk tangan bergemuruh dengan cukup panjang sebagai bukti mereka sangat puas dengan apa yang mereka tonton.

Jadwal Piodalan dan Sembahyang rutin di Pura Agung Santi Bhuwana

Setelah berakhirnya rangkaian upacara diatas, kini adalah giliran umat hindu yang berdomisili di belgia pada khususnya atau umat hindu yang berdomisili di eropa untuk terus melestarikan keberadaan Pura ini melalui persembahyangan rutin sehingga taksu dari Pura Agung Santi Bhuwana ini terus bersinar. Walaupun sesungguhnya Pura ini adalah milik dari Mr. Eric Domb, namun di akhir proses upacara diatas Mr. Eric Domb sempat berbincang-bincang dengan Ida Pandita dan mengatakan “This (Temple) is for you” (Pura ini adalah untuk anda umat hindu di belgia / eropa).  adalah kewajiban umat hindu di Belgia / di Eropa untuk melaksanakan ritual lupacara piodalan setiap 6 bulan sekali, atau melakukan persembahyangan Purname Tilem di setiap bulannya.

Komunitas umat Hindu di Belgia saat ini sedang merembugkan perihal jadwal upacara rutin bulanan ataupun jadwal upacara di setiap 6 bulanan. yang pasti di setiap Purnama / Tilem akan selalu ada umat yang tangkil melakukan persembahyangan bersama di Pura Agung Santi Bhuwana ini. sementara Upacara piodalan di setiap 6 bulanan sedang di diskusikan apakah akan mengambil hari raya suci Kuningan atau hari raya Saraswati yang jatuh di setiap hari sabtu. perayaan di setiap Kuningan, biasanya umat hindu di Jerman (Nyama Braya Bali Jerman)  melaksanakan persembahyangan bersama di Jerman dan nantinya akan di pilih untuk melaksanakan upacara piodalan di Pura Jagadnata di Hamburg yang saat ini sedang di bangun. oleh karena terdapat keinginan besar agar jadwal upacara tidak jatuh di hari yang sama, sehingga umat hindu di jerman yang jumlahnya cukup banyak bisa juga tangkil di upacara piodalan Pura di Belgia ini, ada kemungkinan upacara piodalan di Pura di Belgia ini akan di laksanakan di hari raya Saraswati yang juga jatuh di hari sabtu.

Ida Pandita Putra Telabah (d/h. Prof. Dr dr IB Narendra) juga sempat mengusulkan seandainya, komunitas umat hindu di belgia ini ingin merayakan piodalannya di hari sabtu, selain hari raya kuningan dan saraswati, terdapat juga hari raya suci lainnya yang jatuh di hari sabtu, yaitu hari raya Tumpek Wariga dan hari raya tumpek Uye (Tumpek Ngatag), tapi dengan catatan, bila piodalan di laksanakan di hari raya Tumpek Uye di sarankan sarana upacara tidak ada yang memakai korban hewani, karena di hari raya tumpek uye adalah hari raya penyucian hewani. bila piodalan di laksanakan di hari raya tumpek wariga, di sarankan sarana upacara tidak ada yang sampai mengorbankan tumbuh-tumbuhan, karena hari raya tumpek wariga adalah hari raya suci untuk menghormati tumbuh-tumbuhan.

Jadwal buka Taman Wisata Parc Paradisio

berhubung Pura Agung Santi Bhuwana terletak di dalam area taman wisata Parc Paradisio, adalah perlu kiranya untuk mengetahui jadwal buka dari Taman Wisata Parc Paradisio ini dan cara untuk mencapai daerah ini bila ingin berkunjung dengan menggunakan kendaraan roda empat atau kereta api.  Karena lokasi Brugelette ini terletak di pinggiran kota , adalah sangat di sarankan untuk menyewa mobil di bandara Brussel atau di satsiun kereta api di Brussel, sehingga bisa dengan nyaman mencapai Pura ini.

Sesungguhnya lokasi Brugelette adalah diantara kota Brussel dengan perbatasan Perancis. bisa di jangkau dengan kendaraan mobil 45 menit dari kota Brussel, atau 15 menit dari kota Mons dan 30 menit dari Lille.

Taman Parc Paradisio buka 7 hari seminggu hingga awal November , mulai dari jam 10am - 6pm. di bulan July dan Agustus jadwal buka taman ini adalah mulai jam 10am - 7pm.

Awal bulan November hingg awal bulan April tiap tahun, Taman Wisata Parc Paradisio adalah tutup (tidak menerima kunjungan umum), dengan alasan adalah musim dingin, namun demikian bagi umat hindu yang ingin melaksanakan persembahyangan di Pura Agung Santi Bhuwana, pintu gerbang tetap di buka dan persembahyangan tetap bisa di laksanakan , tentunya dengan menghubungi karyawan yang bertugas (on duty) di Parc Paradisio saat itu.

Di pintu gerbang tertulis, harga ticket masuk untuk taman ini adalah 18.50 Euro untuk pengunjung umum berumur 12 tahun hingga 59 tahun. dan 16,5o euro untuk pengunjung senio (lansia), anak-anak di bawah umur 3 tahun tanpa dikenai biaya masuk, dan anak-anak berumur 3 tahun hingga 11tahun di kenai 13,50 euro.

Setelah membaca harga ticket masuk untuk taman wisata Parc Paradisio bagi pengunjung umum, kita umat hindu tidak perlu merasa khawatir, karena menurut penuturan Direktur Operational Parc Paradisio Dr. Steffen Petzwall , bagi pengunjung yang memang ingin melaksanakan upacara / persembahyangan di Pura Agung Santi Bhuwana dan berpakaian seperti layaknya mau sembahyang upacara, akan di berikan kebebasan untuk memasuki areal taman wisata Parc Paradisio. Adalah sangat penting untuk tampil seperti berpakaian sembahyang, minimal dengan menggunakan selendang, sehingga petugas di pintu gerbang bisa mengenali dan bisa membedakan dengan pengunjung umum yang memang ingin mengunjungi Taman Wisata Parc Paradisio ini.

Himbauan dan Harapan

Menyaksikan secara langsung lancarnya jalannya proses upacara Pemlaspasan Pura Agung Santi Bhuwana di Brugelette Belgia ini, melihat ketulusan hati dari Mr. Eric Domb yang sudah membuatkan Pura Hindu di daratan Eropa ini, besar harapan saya kepada umat sedharma dimanapun berada, bila ada kesempatan untuk mengunjungi Eropa atau Belgia, mari luangkan waktu untuk bisa “tangkil” sembahyang ke Pura ini. Ida Sang Hyang Widi Wasa telah memberikan jalan terang serta petunjuk melalui seorang Mr. Eric Domb yang sangat cinta akan Bali dengan membuatkan Pura untuk umat hindu di negeri Belgia, sehingga kita bisa merasakan Tuhan ada di mana-mana (Wyapi Wyapaka). walaupun jauh dari Bali, Namun suasana Bali bisa di temukan di area Taman Wisata Parc Paradisio.

Alamat:

Parc Paradisio, Domaine de Cambron 1, 7940 Brugelette, Belgium

Sumber dari artikel diatas: Liputan langsung dari Pura Agung Santi Bhuwana, wawancara langsung dengan Direktur Operational + Zoological Parc Paradisio Dr. Steffen Petzwall, wawancara langsung dengan Direktur Botanical Garden Parc paradisio Mr. Bertrand Pettiaux, Laporan TVRI Bali, Ibu Dwie Mahenny, koran berita Antara.

salam waRning,

Melihat pemandangan diatas tentunya mengingatkan kita semua akan pintu gerbang bersejarah “brandenburg” yang berlokasi di pusat ibukota negara jerman Berlin.  Kota Berlin yang dulu pernah luluh lantak akibat perang dunia ke dua di tahun 1945 dan kemudian di jaman perang dingin dibelah di pisahkan oleh tembok tinggi yang terkenal dengan sebutan “Tembok Berlin”, sekarang ini jauh terlihat cantik dan ramah yang tidak hanya berfungsi sebagai ibukota pemerintahan negara jerman dimana bundes kanselir Jerman Ibu Angela Merkel berkantor, tetapi juga terkenal karena merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Eropa yang selalu padat dan ramai di kunjungin wisatawan dunia tidak hanya di hari akhir pekan tetapi juga di hari-hari biasa.

di hari sabtu kliwon tgl 28 maret 2009, Umat Hindu dimanapun berada, tidak terkecuali Umat Hindu yang berdomisili di Jerman juga merayakan salah satu hari raya besar umat hindu “Hari Raya Kuningan”. Perayaan Kuningan di Jerman kali ini di pusatkan di kota Berlin persisnya di lokasi taman wisata dunia (Gärten der Welt, Erholungspark Marzahn). Perayaan Kuningan yang berlangsung di Berlin kemaren merupakan gabungan dari  beberapa rentetan hari raya suci umat hindu Galungan, Kuningan dan Nyepi.

Perayaan Kuningan kali ini terasa spesial karena ada utusan dari bimas Hindu Dharma jakarta yaitu bapak I Ketut Lancar, yang terbang langsung dari Jakarta, di samping untuk menyampaikan pesan dari Dirjen Hindu Dharma Jakarta,  melainkan juga untuk memimpin jalannya upacara serta membawa Tirta dari upacara Panca Wali Krama Besakih. jadi walaupun kita yang di Jerman berada jauh dari Bali, tapi juga bisa ikut merasakan sejuknya percikan tirta dari Pura Besakih.

Lebih lanjut, dalam dharma wacana yang di sampaikan oleh bapak I Ketut Lancar, beliau mengatakan permohonan dari Ibu Klian Banjar Nyama Braya Bali (NBB) Jerman Ibu gusti putu alit aryani-Willems, agar NBB Jerman bisa memiliki seperangkat gamelan bali di setujui oleh Dirjen Hindu. Perihal ini di setujui dengan pertimbangan organisasi NBB Nyama Braya Bali Jerman begitu aktif menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang mempertemukan umat sedharma di daratan Jerman pada khususnya serta di daratan Eropa pada umumnya.  Tidak itu saja, Dirjen Hindu nantinya juga akan menyumbangkan seperangkat peralatan persembahyangan seperti Bajra (Genta), sehingga kedepannya kelompok NBB di Jerman bisa memiliki pemimpin Agama yang selalu siap memimpin jalannya upacara seperti layaknya jalannya upacara di Bali atau di Indonesia. Harapan dari Dirjen Hindu terhadap Gamelan yang di sumbangkan ini agar bisa di gunakan semaksimal mungkin tidak hanya di gunakan untuk kepentingan upacara keagamaan semata, tapi juga bisa di gunakan untuk mempererat jalinan persaudaraan diantara sesama Nyama Braya Bali di Jerman, melalui pertemuan berkala di setiap latihan, dan juga berharap bisa di gunakan untuk terus mempromosikan kebudayaan Bali pada khususnya atau Indonesia pada umumnya sehingga kedepannya akan semakin banyak warga jerman yang berniat mengunjungi pulau Bali membantu pariwisata di Bali.

Di gambar berikut tampak Pura yang ada di lokasi Taman Wisata Dunia Berlin, tempat berlangsungnya perayaan Kuningan 28 maret 2009 kemaren. keberadaan Pura di Berlin ini juga mempersatukan warga nyama braya bali di berlin dan sekitarnya di setiap bulannya atau persisnya di setiap purname tilem untuk melakukan persembahyangan bersama.

Perayaan di Berlin ini di koordinatori oleh Ibu Suputri Sudjiwa bersama team dari nyama braya bali berlin. Persiapan yang cukup panjang dari Ibu Suputri Sudjiwa akhirnya berbuah manis dengan suksesnya kelangsungan jalannya perayaan Kuningan ini.  terbukti dengan cukup banyaknya nyama braya bali yang berdomisili di seluruh pelosok Jerman datang ke kota Berlin untuk melakukan persembahyangan bersama ini. Kerinduan akan kampung halaman di bali serta kerinduan merayakan bersama dengan keluarga besar di Bali terobati oleh suara kidung wargasari dari para ibu-ibu bali di saat melaksanakan persembahyangan bersama,  dan juga oleh suara gamelan beleganjur yang di pimpin oleh Bli Wayan Pica yang terus menggema menemani jalannya perayaan Kuningan ini, serasa kita semua berada di Bali di saat piodalan. diluar tenda tempat berlangsungnya upacara, juga terdapat pasar cinderamata dimana para ibu-ibu menjajakan souvenir khas bali dan tentunya masakan khas bali atau indonesia lainnya yang cukup memanjakan pengunjung untuk betah menunggu pertunjukan yang di peruntukkan bagi pengunjung umum. tidak ketinggalan juga masakan Bali yang di sediakan oleh panitia untuk nyama braya bali beserta para undangan  yang tidak kalah lezatnya dengan masakan khas bali yang ada di Bali, adalah seperti sambal bawang mentah, tum celeng, sayur urab, sate lilit, serta menu utama yang paling diminati tentunya Babi Guling, serta jajajan bali lainnya.

Di akhir acara, setelah selesai jalannya upacara keagamaan, setelah usai sambutan dari undangan Ibu Walikota Berlin, Ibu ketua departement kebudayaan Berlin, bapak ketua pengelola Taman Dunia Berlin, bapak utusan KBRI Berlin, serta bapak utusan dari Dirjen Hindu Jakarta, dan juga setelah selesai jamuan makan siang bagi Nyama Braya Bali dan para undangan , dan  tentunya setelah selesai acara foto-foto bersama bagi nyama braya bali di Jerman, kemudian tiba saatnya acara pertunjukkan tari-tarian bagi pengunjung umum. Seperti tampak di gambar berikut, dimana pengunjung umum begitu antusias dan berdesak-desakan mendekati podium agar bisa menonton lebih dekat jalannya tari-tarian seperti tarian panyembrama, tari blisbis, tari oleg tamulilingan, dll. dan yang paling memikat penonton adalah ketika tarian joged bumbung di pagelarkan, dimana penonton “bule” di ikut sertakan berpartisipasi untuk “ngibing” secara bergantian. perasaan haru dan gembira bercampur aduk menjadi satu ketika melihat para tamu undangan ikut serta menari “ngibing”, seolah-olah kita semua bersaudara.

Akhir cerita, saya mengucapkan terimakasih atas perjuangan dari Panitia yang di pimpin oleh Ibu Suputri Sudjiwa yang telah mempertemukan kami Nyama Braya Bali yang berdomisili di seluruh Jerman untuk bisa berkumpul bersama melakukan persembahyangan bersama di negeri orang ini. Perjalanan jauh dari Stuttgart menuju Berlin yang saya tempuh sekitar hampir selama 11 jam dengan kendaraan, terasa tidak berarti apa-apa bila di bandingkan dengan besarnya keinginan untuk mewujudkan berkumpul bersama, bertemu sesama nyama braya bali di jerman.  kelelahan selama perjalanan dan rasa kantuk karena kurang tidur selama perjalanan, sirna terobati oleh rasa senang dan bahagia dengan bersembahyang bersama di perayaan Kuningan kemaren. Terlebih yang membuat saya begitu senang di saat perayaan kuningan kemaren adalah kesempatan untuk ikut berpartisipasi megamel “nigtig” cengceng bersama nyama braya bali yang laki-laki lainnya.

harapan saya, semoga kita semua bisa di pertemukan kembali di acara / perayaan Kuningan berikutnya 6 bulan nanti, yang mungkin akan di laksanakan di kota Hamburg, bersembahyang bersama sekaligus melaspas Pura Jagadnata yang saat ini sedang di bangun. Semoga Ida Sang Hyang Widi selalu memberikan kita panjang umur dan kesehatan, sehingga kita semua bisa mewujudkan apa yang kita cita-cita kan. semoga.

salam waRning,