kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Pura di Klungkung’ Category

Pura Goa Lawah–Stana Dewa Maheswara, Pusat ”Nyegara-Gunung”

Dari ribuan jumlah pura di Bali, beberapa di antaranya berstatus Pura Khayangan Jagat. Salah satunya Pura Goa Lawah. Pura ini berdiri di wilayah pertemuan antara pantai dan perbukitan dengan sebuah goa yang dihuni beribu-ribu kelelawar. Lontar Padma Bhuwana menyebutkan Pura Goa Lawah merupakan salah satu kayangan jagat/sad kahyangan sebagai sthana Dewa Maheswara dan Sanghyang Basukih, dengan fungsi sebagai pusat nyegara-gunung. Bagaimana sejarah pura yang menempati posisi di bagian tenggara itu?

Pura Goa Lawah merupakan suatu kawasan yang suci dan indah. Di situ ada perpaduan antara laut dan gunung (lingga-yoni). Seperti namanya, di pura ini terdapat goa yang dihuni ribuan kelelawar. Gemuruh riuh suara kelelawar tiada henti, pagi, siang apalagi malam. Sekejap puluhan, ratusan bahkan ribuan ekor terbang. Sebentar lagi datang, bergantungan, bergelayutan, berdesak-desakkan di dinding-dinding karang goa. Terdengar begitu riuh bagaikan nyanyian alam yang abadi sepanjang masa. Belum lagi munculnya ular duwe, lelawah (kelelawar) putih, kuning dan brumbun, menambah suasana makin mistik di Pura yang berada di Desa Pesinggahan, Dawan, Klungkung itu.

Sementara di mulut goa terdapat beberapa palinggih stana para Dewa. Di pelatarannya, juga berdiri kokoh beberapa meru dan sthana lainnya.

Lokasinya sekitar 20 kilometer di sebelah timur kota Semarapura, Klungkung atau kurang lebih 59 kilometer dari kota Denpasar. Umat Hindu silih berganti menghaturkan bhakti dengan berbagai tujuan. Terutama ketika berlangsung piodalan/pujawali yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali (210 hari) yakni pada Anggara Kasih Medangsia. Upacara nyejer selam 3 hari dengan penanggung jawab, pengempon pura yakni Krama Desa Pakraman Pesinggahan.

Di samping juga dilaksanakan aci penyabran yang dilakukan secara rutin pada hari-hari suci seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, Pagerwesi, Saraswati, Siwaratri dan lainnya.

Begitu juga dengan umat Hindu dari seluruh pelosok Bali, setiap harinya ada saja yang menggelar upacara meajar-ajar atau nyegara-gunung.

Siapa yang membangun Pura Goa Lawah dan kapan dibangun?

Sulit mengungkap dan membuka secara gamblang misteri itu. Di samping karena usia bangunan pemujaan tersebut sudah tua, juga jarang ada narasumber yang benar-benar mengetahui seluk beluk keberadaannya.

Memang, ada beberapa lontar yang selintas menulis keberadaan Pura Goa Lawah. Tetapi, sangat jarang yang berani membuka secara jelas dan gamblang, siapa dan kapan salah satu pura Sad Kahyangan itu dibangun.

Jika dirunut dari kata goa lawah, secara harfiah sedikit tidaknya dapat dijelaskan bahwa goa berarti goa (lobang) dan lawah berarti kelelawar. Jadi goa lawah bisa diartikan goa kelelawar. Dalam beberapa lontar, sekilas ada yang menyimpulkan secara garis besarnya bahwa pura-pura besar yang berstatus Kahyangan jagat dan Sad Kahyangan di Bali dibangun oleh pendeta terkenal, Mpu Kuturan.

Hal itu terbukti dengan disebutnya Pura Goa Lawah dalam lontar Mpu Kuturan. Sebagaimana dihimpun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Klungkung yang saat ini tengah mempersiapkan penerbitan buku tentang ”Pura Goa Lawah.” Dalam rekapan buku yang rencananya dipasupati bersamaan dengan pujawali di Pura Goa Lawah, 23 Mei mendatang, diceritakan, Mpu Kuturan datang ke Bali abad X yakni saat pemerintahan dipimpin Anak Bungsu adik Raja Airlangga. Airlangga sendiri memerintah di Jawa Timur (1019-1042). Ketika tiba, Mpu Kuturan menemui banyak sekte di Bali. Melihat kenyataan itu, Mpu Kuturan kemudian mengembangkan konsep Tri Murti dengan tujuan mempersatukan semua sekte tersebut.

Kedatangan Mpu Kuturan membawa perubahan yang sangat besar di wilayah ini, terutama mengajarkan masyarakat Bali tentang cara membuat pemujaan terhadap Hyang Widhi yang dikenal dengan sebutan kahyangan atau parahyangan.

Mpu Kuturan pula yang mengajarkan pembuatan Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali serta mengukuhkan keberadaan Kahyangan Jagat yang salah satunya adalah Goa Lawah. Sebagaimana tertulis dalam lontar Usana Dewa, Mpu Kuturan juga tercatat sebagai perancang bangunan pelinggih di Pura-Pura seperti gedong dan meru serta arsitektur Bali. Begitu juga dengan berbagai jenis upacara-upakara dan pedagingan pelinggih. Hal itu termuat dalam lontar Dewa Tatwa. Mpu Kuturan telah membuat landasan prikehidupan yang sangat prinsip seperti aturan-aturan ketertiban hidup bermasyarakat yang diwarisi sampai saat ini dalam bentuk Desa Pakraman.

Di samping nama Mpu Kuturan, patut juga dicatat perjalanan Danghyang Dwijendra atau Danghyang Nirartha yang dikenal juga dengan gelar Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Maha pandita ini berada di Bali saat Bali dipimpin Raja Dalem Waturenggong (1460-1550 Masehi), seorang raja yang sangat jaya pada masanya dan membawa kejayaan Nusa Bali. Danghyang Nirartha merupakan seorang pendeta yang melakukan tirthayatra ke seluruh pelosok Pulau Bali, termasuk juga ke pulau Lombok dan Sumbawa.

Kaitannya dengan Pura Goa Lawah. Lontar Dwijendra Tatwa menyebutkan perjalanan Danghyang Nirartha diawali dari Gelgel menuju Kusamba. Tetapi, di Kusamba Danghyang Nirartha tidak berhenti. Perjalanannya berlanjut hingga ke Goa Lawah. Saat itulah, Danghyang Nirartha bisa melihat gunung yang indah. Perjalanan dihentikan. Sang pendeta masuk ke tengah Goa. Melihat-lihat goa kelelawar yang jumlahnya ribuan. Di puncak gunung goa itu bunga-bunga bersinar, jatuh berserakan tertiup angin semilir, bagaikan ikut menambah keindahan perasaan sang pendeta yang baru tiba. Dari sana beliau memandang Pulau Nusa yang terlihat indah. Lalu membangun padmasana yang notebena tempat bersthana para dewa.

Pura Goa Lawah awalnya dipelihara dan dijaga Gusti Batan Waringin atas petunjuk Ida Panataran yang notebene putra dari Ida Tulus Dewa yang menjadi pemangku di Pura Besakih. Penunjukkan itu mengingat Goa Lawah memiliki hubungan benang merah dengan Pura Besakih. Pura Goa Lawah merupakan jalan keluar Ida Bhatara Hyang Basukih dari Gunung Agung tepatnya di Goa Raja, terutama ketika berkehendak masucian di pantai.

Dalam babad Siddhimantra Tatwa disebutkan ada kisah pertemuan antara Sanghyang Basukih di kawasan Besakih dengan Danghyang Siddhimantra, salah seorang keturunan Mpu Bharadah. Sanghyang Basukih yang merupakan nagaraja, memiliki peraduan di sebuah goa yang berada di bawah Pura Goa Raja Besakih yang konon tembus ke Goa Lawah. Dalam hubungan ini acapkali terlihat secara samar sosok seekor naga ke luar dari Pura Goa Lawah, menyeberang jalan lalu menuju pantai. Orang percaya itulah Sanghyang Basukih yang berdiam di goa sedang menyucikan diri, mandi ke laut.

Goa dari Pura Goa Lawah ini, menurut krama Pesinggahan tembus di tiga tempat masing-masing di Gunung Agung (Goa Raja Besakih), Talibeng dan Tangkid Bangbang. Ketika Gunung Agung meletus tahun 1963, ada asap mengepul keluar dari muara goa lawah. Ini suatu bukti Goa Raja Besakih tembus Goa Lawah.

Jika menengok ke belakang yakni pada zaman Megalitikum, di mana pada zaman itu selain menghormati kekuatan gunung sebagai kekuatan alam yang telah menyatu dengan arwah nenek moyang yang mempunyai kekuatan gaib, juga menghormati kekuatan laut di samping kekuatan-kekuatan alam lainya, seperti batu besar, goa, campuhan, kelebutan dan lainnya. Dalam kehidupan masyarakat Bali yang kental dengan pengaruh dan sentuhan agama Hindu, pemujaan terhadap kekuatan segara-gunung memang merupakan dresta tua. Tetapi sampai saat ini masih bertahan dan terus berlanjut. Karena pada intinya, pemujaan terhadap Dewa Gunung atau Dewa Laut, sesungguhnya telah mencakup pemujaan kepada kekuatan alam yang notabene penghormatan yang amat lengkap. Atas dasar itulah, Pura yang awalnya sangat sederhana itu, kini lebih dikenal sebagai kekuatan alam yang bersatu dengan kekuatan magis arwah nenek moyang. Laut yang berada di depan pura, sekarang telah menyatu dengan segala kekuatan yang dihormati dan dipuja masyarakat guna mendapat ketentraman dan kesejahteraan hidup.

Dari kilasan di atas, jelas bahwa Pura Goa Lawah memiliki sejarah yang cukup panjang. Berawal dari pemujaan alam goa kelelawar, gunung dan laut di zaman Megalitikum, lalu dikembangkan/ditata dan kemudian dibangun pelinggih-pelinggih sthana para Dewa dan Bhatara oleh Mpu Kuturan abad X kemudian disempurnakan lagi dengan membangun Padmasana oleh Danghyang Dwijendra pada abad XIV-XV. Lengkaplah keberadaan Pura Goa Lawah, seperti yang kita lihat dan warisi sampai sekarang. Namun yang perlu dicatat, Nyegara-Gunung yang digelar di Pura Goa Lawah, mengandung makna terima kasih ke hadapan Hyang Widhi dalam manifestasi Girinatha (pelindung gunung) dan Baruna sebagai penguasa laut, atas pemberian amerta baik kepada sang Dewa Pitara-jiwa leluhur yang telah suci maupun kepada sang Yajamana, Sang Tapini dan Sang Adrue Karya. Atas dasar konsep inilah Umat Hindu memuliakan gunung dan laut sebagai sumber penghidupan. Memuliakan gunung dan laut bukan berarti umat Hindu menyembah gunung dan laut, tetapi yang dipuja  adalah Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai pelindung gunung dan penguasa laut.

* bali putra

Membaca Pertanda Alam

KEBERADAAN ribuan kelelawar berwarna hitam yang menghuni goa di Pura Goa Lawah, itu biasa. Namun, munculnya ular duwe di sela-sela bebatuan dan kelelawar berwarna putih, kuning dan brumbun, tampaknya memendam ribuan misteri yang sulit diungkapkan dengan akal sehat. Munculnya kelelawar, khususnya yang berwarna putih dan ular duwe, biasanya membawa wangsit (pesan) bahwa akan terjadi sesuatu yang menimpa alam, khususnya Bali.

Kemunculannya merupakan pertanda akan adanya bencana atau kejadian-kejadian, seperti tanah longsor, gempa bumi, pembunuhan, gunung meletus, tsunami, bom dan lain-lain.

Hal itu sudah dibuktikan sejak zaman dulu. Sebagaimana dituturkan Jero Mangku Tirtawan, pemangku pura setempat. Dikatakannya, beberapa tahun lalu, begitu kelelawar putih muncul, berbagai kejadian terjadi, seperti pembunuhan di Klungkung, Karangasem, bunuh diri di berbagai daerah. Termasuk bom Bali, 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005 lalu. Bahkan bencana tsunami yang melanda Aceh, itu sudah diprediksi karena munculnya kelelawar putih.

Sebelumnya, ular duwe yang muncul sekilas di celah bebatuan, ditemukan mati tanpa sebab. Percaya atau tidak, pasca-matinya ular duwe tersebut, kemakmuran dan kesuburan alam juga makin terkikis. Dalam konsep Hindu, ular (naga) merupakan dasar bumi yang melilit kura-kura Benawang Nala sebagai sumber panas bumi. Dengan matinya ular tersebut secara mendadak tanpa sebab sebagai nyasa sumber kesuburan alam telah habis.

Beberapa bulannya lagi, masyarakat kembali dikejutkan dengan matinya ular duwe untuk kedua kalinya. Sebelum ular duwe tersebut mati ditandai dengan berjalan ke sana kemari dari pagi kemunculannya sampai siang hari. Tepat siang hari ular itu mati.

Jero Mangku Tirtawan saat itu mengaku was-was. Karena dia memprediksi bakal terjadi pergantian kepemimpinan secara mendadak. Tetapi kejadiannya malah lain. Saat itu terjadi pembunuhan di salah satu di Denpasar.

Sebelum dipralina ular duwe tersebut ditaruh di depan bale pesamuan sambil memohon petunjuk sulinggih untuk melaksanakan upacara pemralina ke segara. Ketika menjelang sore, persiapan upakara pemrelina sudah selesai ada seorang pemedek yang menghalangi pelaksanaan upacara dimaksud sebab menurutnya ular duwe tersebut akan mengeluarkan senjata. Ucapan orang tersebut memang benar pukul 23.00 Wita dari badan ular duwe tersebut keluar pamor. Pamor itu berubah menjadi senjata yang berbentuk dupa mecanggah. Ketika akan siap-siap nganyut ular duwe tersebut, muncul sinar biru mengelilingi Bale Pengaruman Utama Mandala Pura Goa Lawah, seiring hilangnya sinar hujan lebat mengguyur pelataran pura, lalu dilanjutkan dengan nganyut ular duwe ke segara. Pada malam  tersebut pemedek berserta Sulinggih menghaturkan guru piduka dan pejati di tempat memrelina ular tersebut, tiba-tiba muncul sinar putih lalu sinar tersebut diam di depan sulinggih kemudian dibawa ke Pura. Setelah di Pura sinar tersebut berubah menjadi senjata berbentuk pasepan.

* bali putra

http://www.balipost.com/balipostcetaK/2006/1/11/bd1.HTM

Bhatara Tengahing Segara

Ava divas tarayanti
Sapta
suryasya rasmayah.
Apah
samudrriya dharaah. (Atharvaveda VII.107.1).

Maksudnya: Sinar tujuh matahari itu menguapkan secara alami air laut ke langit biru. Kemudian dari langit biru itu hujan diturunkan ke bumi.

Tuhan menciptakan alam dengan hukum-hukumnya yang disebut rta. Matahari bersinar menyinari bumi. Air adalah unsur terbesar yang membangun bumi ini.

Demikianlah sinar matahari dengan panasnya menyinari bumi termasuk air laut dengan sangat teratur. Itulah hukum alam ciptaan Tuhan. Air laut yang terkena sinar matahari menguap ke langit biru. Air laut yang kena sinar matahari itu menguap menjadi mendung. Karena hukum alam itu juga mendung menjadi hujan. Air hujan yang jatuh di gunung akan tersimpan dengan baik kalau hutannya lebat. Dari proses ala ciptaan Tuhan inilah ada kesuburan di bumi. Bumi yang subur itulah sumber kehidupan semua makhluk hidup di bumi. Semuanya itu terjadi karena rta yaitu hukum alam ciptaan Tuhan. Alangkah besarnya karunia Tuhan kepada umat manusia. Itulah hutang manusia kepada Tuhan. Manusia akan sengsara kalau proses alam berdasarkan rta itu diganggu.

Untuk menanamkan sikap hidup tidak merusak proses alam itulah Tuhan dipuja sebagai Dewa Laut. Dalam tradisi Hindu di Bali Tuhan sebagai Dewa Laut itu disebutBhatara Tengahing Segara”. Di Bali Pura Goa Lawah merupakan Pura untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Laut. Pura Goa Lawah di Desa Pesinggahan Kecamatan Dawan, Klungkung inilah sebagai pusat Pura Segara di Bali untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Laut. Dalam Lontar Prekempa Gunung Agung diceritakan Dewa Siwa mengutus Sang Hyang Tri Murti untuk menyelamatkan bumi. Dewa Brahma turun menjelma menjadi Naga Ananta Bhoga. Dewa Wisnu menjelma sebagai Naga Basuki. Dewa Iswara menjadi Naga Taksaka. Naga Basuki penjelmaan Dewa Wisnu itu kepalanya ke laut menggerakan samudara agar menguap menajdi mendung. Ekornya menjadi gunung dan sisik ekornya menjadi pohon-pohonan yang lebat di hutan. Kepala Naga Basuki itulah yang disimbolkan dengan Pura Goa Lawah dan ekornya menjulang tinggi sebagai Gunung Agung. Pusat ekornya itu di Pura Goa Raja, salah satu pura di kompleks Pura Besakih. Karena itu pada zaman dahulu goa di Pura Goa Raja itu konon tembus sampai ke Pura Goa Lawah. Karena ada gempa tahun 1917, goa itu menjadi tertutup.

Keberadaan Pura Goa Lawah ini dinyatakan dalam beberapa lontar seperti Lontar Usana Bali dan juga Lontar Babad Pasek. Dalam Lontar tersebut dinyatakan Pura Goa Lawah itu dibangun atas inisiatif Mpu Kuturan pada abad ke XI Masehi dan kembali dipugar untuk diperluas pada abad ke XV Masehi. Dalam Lontar Usana Bali dinyatakan bahwa Mpu Kuturan memiliki karya yang bernamaBabading Dharma Wawu Anyeneng‘ yang isinya menyatakan tentang pendirian beberapa Pura di Bali termasuk Pura Goa Lawah dan juga memuat tahun saka 929 atau tahun 107 Masehi. Umat Hindu di Bali umumnya melakukan Upacara Nyegara Gunung sebagai penutup upacara Atma Wedana atau disebut juga Nyekah, Memukur atau Maligia.

Upacara ini berfungsi sebagai pemakluman secara ritual sakral bahwa atman keluarga yang diupacarai itu telah mencapai Dewa Pitara. Upacara Nyegara Gunung itu umumnya di lakukan di Pura Goa Lawah dan Pura Besakih salah satunya ke Pura Goa Raja.

Pura Besakih di lereng Gunung Agung dan Pura Goa Lawah di tepi laut adalah simbol lingga yoni dalam wujud alam. Lingga yoni ini adalah sebagai simbol untuk memuja Tuhan yang salah satu kemahakuasaannya mempertemukan unsur purusa dengan predana. Bertemunya purusa sebagai unsur spirit dengan predana sebagai unsur meteri menyebabkan terjadinya penciptaan. Demikiankah Gunung Agung sebagai simbol purusa dan Goa Lawah sebagai simbol pradana. Hal ini untuk melukiskan proses alam di mana air laut menguap menjadi mendung dan mendung menjadi hujan. Hujan ditampung oleh gunung dengan hutannya yang lebat. Itulah proses alam yang dilukiskan oleh dua alam itu. Proses alam itu terjadi atas hukm Tuhan. Karena itulah di tepi laut di Desa Pesinggahan dirikan Pura Goa Lawah dan di Gunung Agung dirikan Pura Besakih dengan 18 kompleksnya yang utama. Di Pura itulah Tuhan dipuja guna memohon agar proses alam tersebut tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya. Karena dengan berjalannya proses itu alam ini tetap akan subur memberi kehidupan pada umat manusia.

Pujawali atau piodalan di Pura Goa Lawah ini untuk memuja Bhatara Tengahing Segara dan Sang Hyang Basuki dilakukan setiap Anggara Kasih Medangsia. Di jeroan Pura, tepatnya di mulut goa terdapat pelinggih Sanggar Agung sebagai pemujaan Sang Hyang Tunggal. Ada Meru Tumpang Tiga sebagai pesimpangan Bhatara Andakasa. Ada Gedong Limasari sebagai Pelinggih Dewi Sri dan Gedong Limascatu sebagai Pelinggih Bhatara Wisnu. Dua pelinggih inilah sebagai pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Basuki dan Bhatara Tengahing Segara.

Ketut Gobyah

http://www.balipost.com/balipostcetaK/2006/1/11/bd2.htm

Situs Religius, Mutiara Terpendam di Klungkung

DALAM hal akselerasi atau percepatan perkembangan sektor kepariwisataan, boleh jadi Kabupaten Klungkung dikategorikan tertinggal jauh dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Bali. Bumi Serombotan ini tidak punya objek wisata yang “secemerlang” pantai Kuta, pantai Sanur, Tanah Lot, Lovina, Candidasa maupun kawasan eksotik Nusa Dua. Dunia pariwisata Klungkung relatif sepi dari ingar-bingar kehadiran wisatawan mancanegara maupun domestik. Masih untung, kabupaten dengan luas wilayah tersempit di Bali ini memiliki Kertha Gosa dan Taman Gili yang mampu memikat wisatawan lewat kemegahan arsitektur dan lukisan wayang stil Kamasan yang memenuhi langit-langit bangunannya. Di luar itu, tidak ada lagi objek wisata yang memikat. Sementara kawasan pantai berpasir putih di Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan bak mutiara terpendam yang dipisahkan oleh Selat Badung berarus garang. Belum bisa digosok secara optimal akibat ketiadaan fasilitas penunjang seperti dermaga yang representatif, air bersih yang mencukupi, hotel-hotel maupun fasilitas penunjang kepariwisataan lainnya. Kondisi ini memaksa sektor kepariwisataan Klungkung tetap “merangkak” dalam mengejar ketertinggalannya dari “saudara-saudara kandungnya” di Bali.

Namun, di balik segala keminusan itu, Klungkung memiliki sejumlah “mutiara terpendam” lain yang potensial diasah menjadi objek wisata alternatif sekaligus untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat. Mutiara terpendam itu adalah Pura-pura besar yang berdiri megah di wilayah Klungkung daratan maupun pulau tandus Nusa Penida. Sejumlah pura yang bisa dimasukkan ke dalam “barisan” itu adalah Pura Kentel Gumi (Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan), Pura Penataran Agung (Kelurahan Semarapura Kangin, Klungkung), Pura Dasar (Desa Gelgel, Klungkung), Pura Watu Klotok (Desa Tojan, Klungkung) dan Pura Goa Lawah (Desa Pesinggahan, Dawan), Pura Dalem Ped (Desa Ped, Nusa Penida), Pura Bukit Mundi (Desa Klumpu, Nusa Penida), Pura Batu Medau (Desa Suana, Nusa Penida) dan Pura Goa Giri Putri (Desa Suana, Nusa Penida).

“Pura-pura itu setiap piodalan diluberi oleh umat Hindu dari seluruh Bali untuk tujuan pedek tangkil. Dari segi arsitektur, pura-pura itu juga menyiratkan kemegahan dan keunikan tersendiri,” kata Kasubdin Bina Objek Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Klungkung I Wayan Yudara, B.A.

Kendati memiliki banyak mutiara terpendam, tambah Yudara, ternyata baru dua lingkungan pura (bukan pura-red) yang dimasukkan sebagai objek dan daya tarik wisata (ODTW) yakni lingkungan Pura Goa Lawah dan Pura Watu Klotok oleh Pemkab Klungkung. Dari dua pura Kahyangan Jagat tersebut, hanya Pura Goa Lawah yang sudah dikelola secara profesional atau “dijajakan” kepada wisatawan mancanegara dan domestik. Sementara Pura Watu Klotok belum ada pengelolaan khusus, mengingat kawasan suci belum banyak “dilirik” wisatawan. Untuk bisa menikmati kemegahan Pura Goa Lawah yang terkenal dengan koloni kelelawarnya dari dekat, setiap wisatawan wajib membayar retribusi atau bea masuk. Nilai retribusi itu adalah Rp 2.000 untuk dewasa dan Rp 1.000 untuk anak-anak. Khusus untuk umat Hindu yang berpakaian sembahyang dengan tujuan tangkil (bersembahyang), dibebaskan dari kewajiban membayar retribusi. “Semua pendapatan dari retribusi itu masuk ke kas daerah. Pemkab Klungkung punya sebuah tim khusus untuk memungut retribusi atau pun mengelola objek wisata pura tersebut,” kata Yudara menambahkan, pengelolaannya tetap melibatkan desa adat dan desa dinas setempat.

Meskipun leading sector pengelolaannya adalah Disbudpar Klungkung, pihak-pihak yang ditugaskan untuk memungut retribusi, memantau aktivitas wisatawan serta pengamanan wilayah dipercayakan kepada sejumlah krama setempat. “Untuk mempertahankan kesucian pura, tidak sembarang tamu bisa masuk ke lingkungan pura. Wisatawan yang sedang menstruasi, misalnya, jelas dilarang keras. Di pintu masuk, kita telah pasang papan-papan peringatan. Mereka juga diwajibkan mengenakan kain dan amed (selendang) yang sudah dipersiapkan petugas,” katanya seraya menegaskan, dengan adanya kewajiban membayar retribusi itu bukan berarti wisatawan bisa berbuat seenaknya. Rambu-rambu yang ada wajib untuk ditaati.

Retribusi yang ditangguk dari objek wisata Pura Goa Lawah tidak sepenuhnya masuk ke kas daerah. Sebagian di antaranya masuk ke kas Bendesa Adat Pesinggahan sebesar 8%, Desa Dinas Pesinggahan (2%) dan 5% didistribusikan kepada petugas sebagai upah pungut. “Kontribusi untuk desa adat maupun desa dinas tetap ada, sebab itu hak mereka. Biasanya, kontribusi dari retribusi itu dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan pura dan perbaikan-perbaikan fisik pura yang sifatnya ringan. Pemanfaatan kontribusi sepenuhnya wewenang bendesa adat dan krama-nya untuk mengaturnya. Yang jelas, kami juga melakukan pembinaan-pembinaan intensif untuk menumbuhkan sadar wisata bagi petugas maupun warga lainnya yang beraktivitas di lingkungan Pura Goa Lawah. Di sana juga ada kios-kios yang menjual suvenir dan makanan ringan sehingga para pedagang juga wajib dibina agar tidak merusak citra kepariwisataan kita,” katanya. Dia menambahkan, kunjungan wisatawan ke Pura Goa Lawah termasuk tinggi. Pada 2001 lalu, angka kunjungan wisatawan mencapai 30.913 orang. Sayang, angka itu anjlok menjadi 19.796 orang pada 2002 lalu. Penurunan angka kunjungan wisatawan secara drastis tentu berkaitan erat dengan Tragedi Kuta 12 Oktober 2002.

Nusa Penida

Menurut Yudara, potensi pengembangan wisata religius juga terbuka lebar di Nusa Penida. Pulau tandus ini memang memiliki sejumlah pura megah yang bisa “dijual” kepada wisatawan. Pendapat Yudara itu dibenarkan pengelola Bungalo Nusa Garden, Nusa Penida Dewa Koming Widartha. Ditegaskan, para pelaku pariwisata di Nusa Penida belum ada yang melirik potensi wisata religius ini. Padahal, ada sejumlah pura atau bangunan suci yang sangat layak dikembangkan untuk kepentingan tersebut seperti: Pura Luhur Dalem Ped, Pura Bukit Mundi, Pura Batu Medaung dan Pura Goa Giri Putri. Pura-pura ini tidak hanya cocok untuk umat yang mendambakan kedamaian rohani, bentuk arsitektur bangunannya yang unik dengan ragam ukiran yang khas juga diyakini mampu “membius” para wisatawan. “Tujuan utama mereka datang ke sini memang untuk ngaturang sembah (sembahyang-red). Tetapi, di sela-sela kegiatan tirtayatra itu kan bisa diselingi dengan melihat-lihat keindahan alam Nusa Penida yang lain. Dengan begitu, masa tinggal wisatawan itu di Nusa Penida bertambah panjang,” ujarnya.

Widartha menambahkan, dua pura yang sangat layak difavoritkan untuk kepentingan ini adalah Pura Luhur Dalem Ped dan Pura Goa Giri Putri. Pura Luhur Dalem Ped yang merupakan pura kahyangan jagat, misalnya, memiliki beberapa pelinggih pemujaan yang mencuatkan nuansa spiritualitas yang kental. Di bagian utara kompleks pura ini juga berdiri megah Pura Segara dengan arsitektur khas menyerupai ulam agung (ikan besar). Di bagian lain juga ada taman yakni aelinggih yang dikelilingi kolam, palinggih Ida Batara Ratu Gede Mas Mecaling yang diyakini oleh krama Hindu sebagai penguasa jagat dan sejumlah palinggih lainnya. Seluruh bangunan itu memiliki arsitektur yang khas dengan ornamen atau ukiran batu padas putih khas Nusa Penida. “Paling tidak, dua kali dalam setahun krama Hindu di Bali pedek tangkil ke Pura Luhur ini untuk memohon keselamatan. Jumlah pemedek tidak hanya ratusan, tetapi mencapai ribuan,” katanya.

Sementara di Pura Goa Giri Putri, para wisatawan akan disuguhi keajaiban alam yang memukau. Kompleks pura dengan arsitektur sederhana ini “tersembunyi” di dalam perut bumi (goa) yang sangat luas. Di dalam goa terdapat banyak stalaktit dan stalakmit yang indah. Di sana juga terdapat mata air sebagai sumber tirta yang dikeramatkan karena diyakini mendatangkan kesejahteraan dan keselamatan bagi pemedek. Hanya, pada waktu masuk ke dalam goa agak sulit. Para pemedek harus merangkak sekitar tiga meter melalui celah bebatuan yang sempit, sebelum akhirnya mencapai bagian goa yang cukup luas menyerupai terowongan bawah tanah. Di bagian inilah didirikan sejumlah palinggih untuk menggelar persembahnyangan. Di dinding goa bagian atas, juga terdapat cerukan (goa kecil-red) dengan bebarapa palinggih pemujaan. Namun, untuk sampai ke sana para pemedek harus menaiki sebuah tangga yang terbuat dari kayu. Pada areal ini juga terdapat sebuah ruangan berdiameter sekitar satu meter yang beralaskan pasir hitam. Konon, tempat ini sering dijadikan sebagai tempat meditasi dan ngalap (memohon) berkah. “Siapa pun yang masuk ke dalam goa ini, pasti akan terperangkap dalam suasana khusyuk. Tempat di sini sangat cocok untuk menenangkan pikiran,” kata Widartha. (ian)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/1/18/bd1.htm

Pura-pura di Bali yang Memikat Wisatawan

Daya Pikat Wisata Pura dan Program Otonomi

SALAH satu kekhawatiran yang sempat terlontar ke permukaan mengenai pelaksanaan otonomi daerah di Bali adalah pemkab-pemkab akan mengeruk PAD melalui segala potensi yang ada di wilayahnya. Termasuk situs-situs berupa tampat-tempat suci atau pura di wilayahnya. Dilemanya, Pura-pura tersebut banyak menghadirkan nilai-nilai yang memang memikat bagi wisatawan. Sebut misalnya, nilai arsitektur, arkeologis, kesejarahan, mitologis, atau beraneka ritualnya. Karena itulah situs-situs berupa pura di Bali, selain menjadi tempat persembahyangan umat Hindu, juga didatangi wisatawan. Lalu bagaimana pemkab menghadapi dilema antara menjaga nilai kesucian pura dan program menggenjot potensi PAD di era otonomi? Laporan utama Kultur kali ini dari Biro-biro Bali Post di Bali: Adnyana Ole, Budana, Asmara Putra, Pujawan, Sumatika, Subagiadnya.

————————————————————

Buleleng memiliki sejumlah situs pura di sekitar Danau Tamblingan, Kecamatan Banjar. Selain Pura Tamblingan yang diempon masyarakat Buleleng dan masyarakat Tabanan, di lereng bukit yang mengitari danau terdapat beberapa pura kecil yang menyimpan sejarah peradaban sejak zaman pemerintahan Raja Ugrasena pada abad ke-11. Melihat lingkungannya yang alami, hutan hijau dan air yang jernih, Pemkab Buleleng mulai melirik kawasan pura ini sebagai kawasan wisata spiritual dan sejarah.

Untuk persiapan menjadikan Tamblingan sebagai kawasan wisata suci dalam hening, Pemkab Buleleng telah menyiapkan berbagai perangkat keras maupun lunak. Wakil Bupati Buleleng Gede Wardana mengatakan, awal tahun ini pihaknya menyiapkan beberapa ekor kuda di tapal batas Danau Tamblingan. Pengelolaan kuda-kuda itu bakal diserahkan kepada masyarakat adat di sekitar danau sebagai langkah awal perkenalan objek wisata alam ini. Nantinya, selain kuda, alat transportasi apa pun tak boleh memasuki kawasan danau. Menurutnya, prospek penataan Danau Tamblingan menjadi objek wisata spiritual sekaligus wisata berkuda sangat cerah.

Selain kegiatan wisata secara umum, Danau Tamblingan juga akan difokuskan menjadi pusat kegiatan-kegiatan spiritual seperti tapa brata, yoga semadi. Penetapan Danau Tamblingan sebagai pusat kegiatan spiritual diharapkan mampu menanamkan konsep berpikir Tri Hita Karana di kalangan masyarakat Buleleng. ”Selain menyimpan nilai-nilai sakral, sesuai keyakinan masyarakat Bali, Danau Tamblingan juga disebut Sunan Jagat Bali sebagai salah satu peninggalan leluhur,” kata Wardana.

Harus Menaati Aturan

Di kabupaten Karangasem, baru Pura Besakih yang dikenal dan kerap dikunjungi wisatawan karena daya tariknya, dari lima pura besar (Kahyangan Jagat, Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan) yang ada di wilayah ujung timur Pulau Bali itu, seperti Pura Silayukti, Andakasa, Lempuyang, Pasar Agung dan Besakih sendiri.

Koordinasi antara Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, Dinas Pariwisata dengan Kantor Kesos, serta Parsenibud Pemkab Karangasem tetap berjalan. Saat banyak muncul keluhan soal oknum pramuwisata liar beroperasi di Besakih yang dikhawatirkan merusak citra Pura Besakih yang suci, digelar diklat pramuwisata dengan peserta pramuwisata lokal Besakih.

Tampaknya, tak cuma pemerintah, kalangan tokoh masyarakat pun sepakat tak begitu saja melakukan promosi guna menjadikan pura sebagai objek atau daya tarik pariwisata untuk tujuan komersial. Klian Desa Adat Bugbug Karangasem IW Mas Suyasa, S.H. secara tegas mengatakan, kalau pihaknya tak mengumbar tempat suci (pura) sebagai objek atau pun daya tarik untuk industri pariwisata.

Sebenarnya, kata Mas Suyasa, beberapa waktu lalu di Bugbug, di wilayahnya, ada pura yang potensial memiliki daya tarik wisata. Misalnya, Pura Gumang di Bukit Gumang, terletak di kawasan hutan wisata Desa Adat Bugbug. Di sana ada sekitar 300 kera jinak yang kerap turun ke pinggir jalan ”menyapa” pengunjung. ”Kami tak bakal mengumbar promosi tempat suci untuk tujuan komersial, dengan iming-iming PAD. Kalau semua tempat suci kita ‘jual’ nantinya kita bakal menerima akibatnya,” paparnya.

”Kalaupun ada pura atau tempat suci menjadi daya tarik wisata dan didatangi pengunjung, jangan sampai diberikan leluasa menjamah kawasan suci,” tegasnya.

Jembrana belum Maksimal

Keberadaan objek wisata dengan menampilkan keindahan alam, situs purbakala atau lingkungan sekitar pura secara umum di Jembrana belum tergarap secara maksimal. Dari 12 objek wisata itu, kebanyakan menampilkan keindahan alam berupa pantai. Sementara penetapan pura sebagai objek wisata memang tidak ada. “Pura yang secara langsung menjadi objek wisata di Jembrana memang tidak ada. Namun, kalau keindahan di sekeliling pura, seperti di kawasan Rambut Siwi, bisa dijadikan objek wisata,” ujar Kepala Kantor Pariwisata Jembrana Drs. I Wayan Yastawa.

Dikatakan, situs berupa pura yang menjadi objek wisata secara langsung tidak ada. Karena dari penetapan objek wisata, sebagian besar merupakan kawasan pantai, serta keindahan alam lainnya. Hanya terdapat satu objek wisata situs purbakala, yakni museun manusia purba di Gilimanuk. Karena berupa museum, pengelolanya jelas dari instansi terkait. Kontribusi dari penetapan kawasan wisata kepada desa adat/pakraman sampai saat ini belum dikelola secara baik. Masalahnya, pendapatan dari sektor pariwisata masih sangat minim. Hal ini mengakibatkan kontribusi ke desa adat belum bisa dilakukan. Masalah lainnya, seperti yang terjadi di kawasan wisata Rambut Siwi, pengempon pura menyerahkan pengelolaan pura kepada panitia, sehingga Dinas Pariwisata dalam melakukan koordinasi terkait hal-hal tertentu akan dilakukan bersama panitia.

Untuk di Rambut Siwi, retribusi masuk ke kawasan wisata ini hanya Rp 500/orang. Selama tahun 2001, jumlah retribusi dari kunjungan wisatawan hanya sebanyak 215.000. Selama ini, kata dia, memang pernah ada niat untuk melibatkan unsur desa adat dalam mengelola suatu objek wisata. Namun karena belum adanya pendapatan yang memuaskan dari sektor ini, peran desa adat sampai kini belum terlihat semarak. Sangat berbeda dengan daerah lain di Bali yang sektor paiwisatanya sangat menjanjikan.

Bangli, Sembilan Pura

Di Bangli sedikitnya ada sembilan pura yang akan dan sudah menjadi daya tarik wisatawan. Masing-masing memiliki keunikan dan sejarah tersendiri, Pura Kehen, Ulun Danu Batur di Desa Batur, Ulun Danu di Desa Songan, Puncak Penulisan, Dalem Balingkang, Bukit Jati, Pura Jati, Pancering Jagat di Trunyan dan Pura Nataran Agung Bangli. ”Kesembilan pura tersebut kini sudah mulai ditata,” ujar Bupati Bangli I Nengah Arnawa, S.Sos.

Dalam pengelolaannya, pemkab bekerja sama dengan desa adat melalui koordinasi rutin dan terpadu. Sementara untuk pendanaan, Pemkab Bangli sudah mengucurkan bagi paguyuban pemangku se-Bangli yang tiap tahun terus dianggarkan.

Dari segi keamanan, karena sangat erat kaitannya dengan adat pura yang dijadikan salah satu objek wisata unggulan di Bangli mendapat penjagaan yang cukup ketat oleh pecalang, hansip dengan sistem pakemitan. Di samping itu, pemeliharaan sehari-hari pura yang dijadikan objek pariwisata ditangani oleh beberapa orang tenaga kebersihan. ”Mereka ditempatkan di masing-masing pura tersebut,” ujarnya.

Karena menyangkut pariwisata, kontribusi desa adat terhadap pemkab sekitar 20-40%. Dana tersebut berasal dari retribusi, sesari canang dan wisatawan yang menyumbang.

Retribusi ke Desa Pakraman

Khusus untuk Gianyar, sejumlah situs purbakala berupa pura dari dulu sudah dijadikan objek pariwisata. Seperti kawasan Goa Gajah, Gunung Kawi dan beberapa tempat lainnya, sangat diandalkan Pemkab Gianyar untuk dijadikan primadona tujuan wisata. Tiap tahunnya tidak sedikit pemasukan yang diberikan situs purbakala itu untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah.

Seperti kawasan wisata Goa Gajah pengelolaannya menerapkan sistem mutualisme. Berbagai pihak yang berkepentingan di dalamnya dipastikan kecipratan pembagian retribusi. Mulai tahun ini, Pemkab Gianyar telah mengalokasikan pembagian retribusi secara adil. Pemangku mendapat bagian 25 persen, desa pakraman 12,5 persen, Kantor Purbakala 2,5 persen dan sisanya pemerintah.

Kadis Pariwisata Gianyar Wayan Arthana, S.H. mengakui, sejumlah situs purbakala tetap diandalkan untuk menarik para wisatawan. Namun yang pasti, dalam pengelolaan termasuk rehabilitasi situs-situs itu, pemerintah tidak pernah lepas tangan. Pemerintah akan melakukan perbaikan hal-hal yang dipandang perlu, dengan tetap mengedepankan desa pakraman setempat.

Menurutnya, pembagian retribusi tersebut sudah sangat adil. Pembagian 25 persen yang diberikan kepada pemangku, dimaksudkan untuk biaya pujawali tempat itu dan keperluan lainnya. Begitu pula halnya pembagian kepada desa pakraman, dimaksudkan bahwa desa pakraman itu juga diharuskan ikut melestarikan situs purbakala tersebut. Pengelolaan terhadap sejumlah situs itu, melibatkan semua instansi terkait. Mulai Dinas Pariwisata, Bagian Purbakala dan Kadis Kebudayaan, juga bersama-sama memikirkannya. Termasuk desa pakraman yang mewilayahi situs itu, juga ikut bersama-sama melestarikannya.

————————————-

Pura-pura yang Memikat Wisatawan

Buleleng      : - Pura Tamblingan
Karangasem : - Pura Besakih
- Pura Silayukti
- Andakasa
- Lempuyang
- Pasar Agung
Jembrana    : - Rambut Siwi
Bangli          : - Pura Kehen
- Pura Ulun Danu Batur (Batur)
- Pura Ulun Danu (Songan)
- Pura Puncak Penulisan
- Pura Dalem Balingkang
- Pura Bukit Jati
- Pura Jati
- Pura Pancering Jagat
- Pura Nataran Agung
Klungkung    : - Pura Kentel Gumi
- Pura Penataran Agung
- Pura Dasar
- Pura Watu Klotok
- Pura Goa Lawah
- Pura Dalem Ped
- Pura Bukit Mundi
- Pura Batu Medau
- Pura Goa Giri Putri
Gianyar       : - Pura Goa Gajah
- Pura Gunung Kawi

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/1/18/bd4.htm

Pura Gowa Lawah

Posted by Adnyana under Pura di Klungkung

GOA LAWAH

May 14th, 2008 by klungkung

Cicit kelelawar bagai tak henti-hentinya di Pura Goa Lawah ini sepanjang hari-sepanjang malam .Pura Goa Lawah berlokasi di Kecamatan Dawan, Klungkung dan berada dipinggir utara jalan arteri antara kota Semarapuira- ibukota Kab.Klungkung, kearah timur menuju kota Amlapura- ibukota Kab.Karangasem.Jarak Pura Goa Lawah dari Denpasar- ibukota Propinsi Bali sekitar 49 KM, atau 10 KM sebelah timur kota Semarapura.

Posisi Goa Lawah terletak pada koordinat 8 derajat, 31 menit Lintang Selatan dan 115 derajat, 30 menit Bujur Timur pada ketinggian sekitar 5 meter dari muka air laut pasang tertinggi.

Pura yang dihuni ribuan kelelawar ini memiliki status sebagai KahyanganJjagat, dalam hal ini Sad Kahyangan tempat sthana Ida Sang Hyang Basukih dan menurut Padma Bhuwana, pura ini berada diarah tenggara sebagai kedudukan Dewa Maheswara.

Sebagaimana pura-pura besar Kahyangan lainnya, maka terasa sulit mengetahui dengan sebenarnya siapa pendiri dan kapan didirikannya Pura Goa Lawah ini. Diperkirakan Maha Pandita Mpu Kuturan memiliki hubungan kesejarahan dengan pendirian dan keberadaan Pura Goa Lawah ini.

Dang Hyang Nirartha dijaman pemerintahan Dalem Waturenggong merupakan Maha Pandita lain yang pernah datang ketempat ini. Pengemong Pura Goa Lawah adalah kramadesa adat Pesinggahan.

Pada bulan-bulan baik- sasih ayu dan hari-hari baik-rahina subhadiwasa, umat Hindu banyak berdatangan ketempat ini. Di Pura ini umat Hindu melakukan upacara Nyegara Gunung, karena lokasinya berada ditepi laut dan diperbukitan atau gunung. Hanya beberapa meter disebelah selatan pura terdapat pantai sedangkan gunung itu sendiri diwakili oleh perbukitan dimana pura dan goa ini berlokasi. Konon Goa ini tembus ke Gunung Agung dan diperkirakan merupakan bekas aliran sungai bawah tanah.

Upacara Nyegara Gunung atau Upacara Ngajar-ajar/Majar-ajar sendiri merupakan suatu upacara kelanjutan dari upacara Pitra Yadnya dalam hal ini dari tingkatan Nyeka, Mamukur sampai Maligia Punggel dalam kaitan dengan upacara Ngalinggihan Dewa Pitara di Sanggah Pamerajan. Disamping itu Upacara Nyegara Gunung diselenggarakan pula dalam kaitan dengan selesainya suatu upacara Dewa Yadnya.

Dalam kaitan dengan penyelenggaraan pemeliharaan pura secara niskala atau rohaniah di pura ini diselenggarakan upacara Piodalan atau Pujawali setiap 210 hari sekali bertepatan dengan hari Anggara Kasih atau Selasa Keliwon wuku Medangsia dengan tingkatan upacara : Padudusan Alit dan Padudusan Agung yang diselenggarakan bergantian.

Sementara dalam pemeliharaan fisik serta pengembangannya, Pura Goa Lawah yang diemong oleh kramadesa Pasinggahan, hendaknya dapat mengikuti tata pemeliharaan dan pengembangan sebuah pura Kahyangan Jagat khususnya Sad Kahyangan.

Penyelenggaraan pemeliharaan baik dalam bentuk upacara maupun pemeliharaan fisik hendaknya juga menjadi perhatian seluruh umat Hindu. Perhatian khusus, hendaknya diusahakan penanaman buah-buahan untuk keperluian makanan kelelawar sehingga kehidupannya terjamin dari masa- kemasa, disamping kebutuhan penanaman bunga-bungaan dan pepohonan yang selaras dengan konsep penataan sebuah pura.

Orientasi persembahyangan di pantai mengarah ke selatan atau ke laut. Sedangkan orientasi persembahyangan di Pura Goa Lawah ke arah Goa atau kearah utara. Diatas bukit terdapat juga sebuah Pura Yakni : Pura Pucak Sari.
Palebahan atau areal pura dibagi atas Tri Mandala : Jeroan, sebagai utama mandala dimana Goa ini berada dengan beberapa Pelinggih utama; Jaba Tengah, sebagai madya mandala diisi dengan beberapa pelinggih dan Jaba Sisi adalah pantai atau segara Goa Lawah yang dipisahkan dengan jalan Semarapura- Amlapura
dengan kawasan jaba tengah dan jeroan.

Pura ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan karena keberadaan goa kelelawarnya sendiri serta bangunan pura dan kegiatan umat bersembahyang. Pura ini memiliki fasilitas yang cukup memadai, seperti Parkir, Wantilan,Urinoir / jamban serta beberapa tempat berteduh baik bagi pemedek ataupun wisatawan nusantara maupun mancanegara. Semua fasilitas ini seyogyanya ditata kembali sehingga tepat fungsi dan selalu berada dalam keadaan bersih dan rapi.

Pura Segara Watu Klotok

Posted by Adnyana under Pura di Klungkung

Pura Watu Klotok dari Batu ”Makocok”—
”Meminang” Kesuburan, Pesucian Batara Besakih

Pura Luhur Watu Klotok yang berdiri megah di wawengkon Banjar Celepik, Desa Tojan, Klungkung — sekitar tujuh kilometer dari jantung kota Semarapura — memang ditakdirkan menjadi salah satu pura penting di gumi Bali. Tiap Saniscara Pon Sinta tiba, pura kahyangan jagat yang dinyakini sebagai linggih pesucian Ida Batara Besakih ini dipastikan didatangi jutaan umat Hindu dari seluruh penjuru Bali. Mereka datang untuk memohon keselamatan dunia akhirat. Bagi para petani, pura ini juga merupakan tempat yang tepat untuk ”meminang” kesuburan dan keselamatan sawah serta lahan pertanian.

——————————–

Panorama bentang pantai berpasir hitam yang memagari Pura Watu Klotok dengan debur ombak yang seperti tak pernah lelah mencumbu bibir pantai sepanjang masa, memang menawarkan suasana magis-religius nan kental. Vibrasi itu terasa kian sempurna manakala umat yang pedek tangkil akan terperangkap dalam kesenyapan, karena pura ini ‘’steril” dari ingar-bingar suara mesin kendaraan serta hiruk-pikuk aktivitas penduduk. Sungguh, sebuah situs yang mahasempurna untuk mendekatkan serta menyatukan diri dengan Sang Maha Pencipta.

Sayang, tak banyak catatan sejarah yang merekam pembangunan pura ini, sehingga masih banyak misteri yang belum tersingkap. Dari sedikit catatan sejarah itu, terdapat Lontar Dewa Purana Bangsul yang antara lain memuat: “Beliau Hyang Raja Kertha, datang ke pinggir laut tenggara yang diberi nama Silajong Watu Klotok, demikian disebut orang, mendirikan pura buat menjaga upacara untuk danau, mendatangkan hujan lebat, mengalirkan air selalu membawa kehidupan segala tumbuh-tumbuhan bagai jiwa alam sekalian”.

Bunyi lontar itu menunjukkan bahwa Pura Watu Klotok dibangun oleh Raja Kertha untuk memohon kesuburan dan keselamatan di sawah. Siapakah Raja Kertha itu? Pertanyaan itu terjawab tuntas dalam Lontar Kusuma Dewa yang menegaskan Raja Kertha adalah Mpu Kuturan. Tokoh agamawan, pendeta terkenal yang membangun pura-pura berstatus kahyangan jagat dan sad kahyangan di Bali. Sementara dalam Lontar Babad Bendesa Mas disebutkan, Mpu Kuturan membangun Pura Penataran Agung Padang, Pura Goa Lawah, Pura Dasar Gelgel, Pura Watu Klotok dan Pura Agung Kentel Gumi.

Tidak jelas benar, tahun berapa pura-pura besar itu dibangun. Namun dari sejumlah catatan sejarah, Mpu Kuturan tiba di Bali pada tahun Saka 923 (tahun 1001 Masehi), maka pembangunan pura-pura itu diperkirakan sekitar dekade tahun itu juga. Mpu Kuturan merupakan salah satu dari lima pendeta bersaudara “Panca Tirtha” (Mpu Gni Jaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Bharadah dan Mpu Kuturan-red) yang sempat melakukan perjalanan suci ke tanah Bali. Saat di Bali, Mpu Kuturan berpasraman di Silayukti Teluk Padang (Padangbai-red) dan dikenal sebagai salah seorang pengokoh sendi-sendi kehidupan beragama Hindu di Bali.

Kesuburan Makhluk Hidup

Sementara itu, Lontar Raja Purana Besakih menyebutkan bahwa pantai Watu Klotok merupakan pantai terpilih sebagai genah pesucian Ida Batara Besakih. Ketika Rsi Markandhya meletakkan panca datu di Pura Basukian/Besakih abad VIII — selanjutnya ditata dan dikembangkan oleh Mpu Kuturan — maka sejak saat itu perairan Watu Klotok dipakai sebagai pusat pesucian Ida Batara Kabeh di Besakih. Dengan adanya batu makocok yang bersinar di tepian pantai Watu Klotok, maka tempat ini tidak semata sebagai genah pesucian. Tetapi juga di-sungsung oleh umat yang mengolah tanah sawah, memohon keselamatan, kesuburan di sawah agar terbebas dari merana (hama penyakit-red) yang menyerang sawah mereka. Sampai kini, upacara mohon pakuluh atau lebih dikenal dengan upacara neduh lan pengusabaan masih digelar secara rutin. Upacara nangluk merana ini berlangsung tiap Purnamaning Kelima.

Upacara lain yang sering digelar di areal Pura Watu Klotok (pantai-red) adalah mulang pakelem dalam rangkaian upacara-upacara besar di Pura Besakih seperti Eka Dasa Rudra, Tri Bhuana, Eka Bhuana, Candi Narmada dan Panca Bali Krama lainnya. Selain sebagai rasa syukur atas jasa-jasa Sang Hyang Kala Sunia juga bermakna memohon hujan untuk kesuburan dan kehidupan segala tumbuh-tumbuhan serta kemakmuran seluruh makhluk hidup kepada Sang Penguasa Samudera. Di samping itu, masyarakat setempat juga seringkali menggelar upacara ngangkid, malukat dan neduh di atas bentang pantai berpasir hitam ini.

Masyarakat setempat juga meyakini pantai Watu Klotok memendam misteri yang sulit dianalisis dengan akal sehat. Bentang pantai dari Ketapang Kembar hingga pantai Sidayu adalah kawasan misteri yang merupakan teritorial ”Pasukan Kopassus” Ratu Gde Nusa. Siapa pun yang berani berbuat onar dan tidak senonoh — terutama saat mandi — jangan harap bisa pulang dengan selamat. Pantangan itu tampaknya sangat dipatuhi oleh masyarakat.

Berawal dari Batu ”Makocok”

Ketua III Panitia Pelaksana Karya Agung Memungkah dan Pedanan Ngenteg Linggih Pura Watu Klotok Tjokorda Alit Suryadarma, B.A. memperkirakan, Pura Watu Klotok merupakan warisan tradisi megalitik yang mengalami masa keemasannya pada masa perundagian. Saat itu, dihasilkan berbagai bentuk bangunan megalitik yang dijiwai oleh kepercayaan kepada arwah nenek moyang dan kekuatan-kekuatan alam lainnya. Dalam komunitas masyarakat megalitik yang agraris, kesuburan tanah pertanian dan penyediaan air (dari gunung) secara berkelanjutan merupakan sebuah keniscayaan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat. Di samping memuja kekuatan gunung, masyarakat megalitik juga sangat menghormati kekuatan laut. ”Perkawinan” dua kekuatan itu dipercayai akan melahirkan kekuatan yang mahadahsyat.

Kepercayaan itu tetap berkembang subur dalam masyarakat Bali modern yang diimplementasikan ke dalam konsep Nyegara-Gunung. Mereka tetap memuja kekuatan gunung seperti Batara Gunung Agung maupun kekuatan laut seperti Batara Segara atau Batara Baruna secara turun-temurun. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. ”Kepercayaan itu tak lekang dimakan waktu. Dalam hal ini, pemujaan kekuatan Dewa Gunung dan Dewa Laut sekaligus telah mencakup pemujaan kepada kekuatan alam, arwah leluhur. Sebuah wujud penghormatan yang sangat lengkap,” kata Kepala Kantor Perlindungan dan Ketertiban Masyarakat (Lintibmas) Klungkung ini.

Lebih lanjut, Suryadarma menyakini bahwa Pura Watu Klotok yang kini berarsitektur sangat megah itu berasal dari pemujaan pra-Hindu yang wujudnya sangat sederhana. Berupa batu makocok (berbunyi-red) yang bersinar dengan laut mahaluas menghampar di hadapannya. Dua perpaduan kekuatan alam yang bersatu dengan kekuatan magis arwah nenek moyang. Laut di depan pura yang kini sudah menyatu diyakini sebagai sumber kekuatan untuk mendapatkan ketenteraman dan kesejahteraan hidup. Situs ini kemudian dinamai Pura Watu Klotok yang bersumber dari kata watu (batu) dan klotok atau krotok/makocok yang artinya berbunyi. ”Penamaan situs ini jelas bersumber dari sana,” katanya sambil menambahkan, pura ini punya rencang atau unen-unen bikul putih, lelipi poleng dan penyu macolek pamor yang sewaktu-waktu menampakkan wujudnya di hadapan umat yang bersembahyang.

* w. sumatika

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/10/8/bd1hl.htm

‘Mempercantik” Pura Watu Klotok

SEJAK 2002 hingga 2003 ini, Pemkab Klungkung melakukan renovasi total terhadap Pura Watu Klotok. Paling tidak, sekitar Rp 3,5 milyar harus dirogoh untuk menciptakan fisik bangunan nan megah, anggun dan berwibawa yang didominasi bahan-bahan batu alam hitam mengkilat yang didatangkan khusus dari Selat, Karangasem. Tidak hanya itu, lingkungan pura pun ditata dan dipercantik sehingga meningkatkan kenyamanan serta kekhusyukan pemedek yang bersembahyang ke sana.

Menurut Sekda Klungkung Drs. I Gusti Ngurah Rai, M.Si., unsur dan struktur pura mencakup 33 bagian yang tersebar di tiga palemahan (Tri Mandala), yakni Jaba Sisi yang disebut nista mandala sebagai lambang alam Bhur Loka, Jaba Tengah (madya mandala) sebagai lambang Bhwah Loka dan Jeroan (utama mandala) sebagai perlambang Swah Loka. Dalam tiap mandala terdapat sejumlah pelinggih dengan fungsinya sendiri-sendiri. ”Pembagian tri mandala bukan kebetulan semata. Semua itu merupakan tuntunan tata susila bagi tiap umat Hindu yang masuk ke pura. Tuntutan tata susila itu adalah Tri Kaya Parisudha yakni manacika, wacika dan kayika parisudha. Berpikir, berkata dan berbuat yang suci,” paparnya panjang lebar.

Berkaitan dengan rampungnya renovasi Pura Watu Klotok itu, katanya, Pemkab Klungkung akan menggelar Karya Agung Mamungkah, Pedanan dan Ngenteg Linggih di pura setempat. Puncak karya yang diplot menghabiskan dana Rp 800 juta itu jatuh pada Saniscara Pon Sinta atau Sabtu (8/11) mendatang. Sementara rangkaian karya sudah berlangsung sejak Rabu (10/9) lalu yang diawali dengan upacara nuasen karya di Pura Watu Klotok. Seluruh prosesi upacara akan ditutup pada Minggu (23/11) dengan maajar-ajar di Pura Goa Lawah. ”Mengingat padat dan panjangnya rangkaian karya, kami perkirakan dana yang diplot itu tidak mencukupi. Karena itu, kami masih mengharapkan dana punia dari umat se-dharma,” ujar Rai yang juga menjabat Ketua Umum Panitia Pelaksana Karya Agung Mamungkah, Pedanan lan Ngenteg Linggih Pura Watu Klotok itu.

Gusur Pedagang

Ternyata, bukan fisik Pura Watu Klotok saja yang ”dipoles”. Pemkab Klungkung juga sudah merampungkan pembangunan fasilitas parkir insidental di areal pura itu yang bertujuan mengantisipasi luberan pemedek yang ”menyerbu” pura kahyangan jagat itu saat pujawali. Mayoritas pemedek yang berasal dari seluruh penjuru Bali itu jelas menggunakan kendaraan bermotor sehingga fasilitas parkir permanen (luas sekitar 20 are) yang ada dinilai sudah tidak mencukupi lagi.

”Belajar dari pengalaman pada pujawali-pujawali sebelumnya, fasilitas parkir yang ada saat ini memang tidak mampu lagi menampung luberan kendaraan pemedek. Makanya, pembangunan fasilitas parkir tambahan itu dinilai sangat urgen,” kata Rai.

Lahan parkir insidental itu dibangun di sebelah utara bencingah agung pura yang luas totalnya mencapai 0,8 hektar. Karena sifatnya insidental, fasilitas parkir itu tidak diaspal tetapi cukup ditutupi dengan pasir dan batu (sirtu) lalu dipadatkan dengan alat berat. ”Fasilitas parkir tambahan itu bisa menampung sekitar 300 kendaraan. Mudah-mudahan, langkah ini bisa menuntaskan kekroditan perparkiran yang hampir terjadi tiap pujawali di Pura Watu Klotok,” katanya.

Di masa datang, kata Rai, lingkungan Puru Watu Klotok sangat potensial dipromosikan sebagai objek wisata baru di Klungkung. Di samping panorama bentang pantainya yang mempesona, kemegahan Pura Watu Klotok pascarenovasi juga merupakan sebuah garansi untuk menaut hati wisatawan mancanegara maupun domestik. Angka kunjungan wisatawan ke objek wisata ”tidak resmi” ini pun terus merambat naik. Fenomena itu telah disambut oleh sejumlah pedagang dengan mendirikan warung-warung darurat di sana.

Kini, bangunan-bangunan sederhana itu tidak tertata dengan baik dan melanggar sempadan pantai sehingga “merusak” kemegahan Pura Watu Klotok beserta lingkungannya. Khawatir kawasan itu makin “diserbu” pedagang, Pemkab Klungkung terpaksa menerapkan tindakan tegas dengan “menggusur” delapan warung yang sudah telanjur berdiri di tepian pantai berpasir hitam itu. ”Jika dari sekarang tidak diambil tindakan tegas, kami khawatir jumlah warung itu makin menjamur. Kalau sudah begitu, penertibannya pun akan makin sulit,” kata Kepala Kantor Perlindungan dan Ketertiban Masyarakat (Lintibmas) Klungkung Tjokorda Alit Suryadarma, B.A. beberapa waktu lalu.

Meskipun warung-warung itu “digusur”, katanya, bukan berarti Pemkab Klungkung melarang total warganya untuk berjualan di lingkungan pura yang berstatus pura kahyangan jagat itu. Masyarakat masih diizinkan mendirikan bangunan di tanah-tanah milik penduduk setempat dan laba pura yang lokasinya jauh dari bibir pantai serta tidak menghalangi pandangan ke arah pura. ”Kami tidak membongkar paksa warung-warung itu. Setelah kami beri pembinaan, para pemilik warung dengan kesadaran sendiri membongkar warungnya. Sebagai gantinya, mereka membangun kembali warungnya di sebelah utara dan barat pura dengan jarak yang relatif jauh,” katanya dan menambahkan, pembangunan warung itu tidak akan mengganggu aktivitas pemedek maupun wisatawan yang ingin menikmati keindahan Pura dan pantai Watu Klotok.

* w. sumatika

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/10/8/bd2.htm

Weda Wakya
Pura Segara Watu Klotok

Isya vasyam
Idam sarvam.
Jagat yat kim ca
Jagatya jagat.
(Yajurveda XXXX,1)

Maksudnya:

Tuhan berstana di alam semesta (bhuwana agung) baik pada yang bergerak maupun pada yang tidak bergerak.

MANTRA Veda ini memberikan kita pemahaman bahwa stana Tuhan yang sebenarnya adalah pada alam semesta yang disebut Bhuwana Agung dengan segala isinya baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Ini artinya tidak ada bagian alam ini tanpa kehadiran Tuhan. Pura adalah tempat memuja Tuhan yang esa dan yang berstana di alam raya ini. Kalau demikian halnya apakah pura itu bukan stana Tuhan. Karena menurut keyakinan Hindu sebagaimana dinyatakan dalam Mantra Veda ini bahwa Tuhan ada di mana-mana tentunya termasuk di pura.

Apa bedanya di pura dan tidak di pura? Pura adalah simbol atau replika dari Bhuwana Agung ini. Seperti dinyatakan dalam Lontar Dharma Surya baha Meru itu lambang gunung dan gunung lambang Bhuwana. Tumpah-tumpang Meru pinaka uriping bhuwana, pinaka pataling bhuwana. Demikian juga pelinggih pura lainnya adalah lambang bhuwana. Pura adalah media memuja Tuhan. Ini artinya bukan pura yang berwujud fisik itu yang disembah oleh umat Hindu. Pura hanya media memuja Tuhan. Memuja Tuhan menurut keyakinan Hindu bukanlah sekadar memuja. Memuja Tuhan untuk didayagunakan membenahi kehidupan individual dan sosial umat manusia di dunia ini.

Sebelum Mpu Kuturan mendampingi raja menata kehidupan umat Hindu di Bali sudah dikenal adanya tiga pura di setiap kerajaan yaitu Pura Segara, Pura Penataran dan Pura Puncak. Tiga pura itu simbol atau media memuja Tuhan yang berada di Bhur, Bhuwah dan Swah Loka. Pura Watu Klotok yang berada di tepi pantai selatan kota Klungkung tergolong Pura Segara. Konon Pura Segara Watu Klotok inilah sebagai sentra seluruh Pura Segara yang ada di Bali. Fungsi Pura Segara sebagai simbol alam Bhur Loka dalam konsepsi Tri Loka dan sebagai simbol predana dalam konsepsi rwa bhineda. Gunung atau wukir simbol purusa, sedangkan segara simbol predana. Memuja mengusahakan keseimbangan hidup lahir batin di dunia ini. Memuja Tuhan yang menjiwai Tri Loka sebagai simbol untuk mendayagunakan makna pemujaan itu mewujudkan kesucian Tri Loka tersebut. Terbukti perilaku buruk manusia di bumi ini juga dapat merusak keadaan di ruang angkasa. Seperti penggunaan freon yaitu zat yang digunakan dalam air condition dapat merusak lapisan ozon. Dengan terganggunya lapisan ozon itu sinar matahari menjadi terganggu juga fungsinya sebagai sumber kehidupan di planet bumi ini.

Pembuangan asap mesin yang mengandung CO2 secara berlebihan ke udara dapat menimbulkan efek rumah kaca di ruang angkasa. Efek rumah kaca itu menimbulkan pemanasan global, sehingga suhu di bumi ini makin meningkat. Pemujaan Tuhan di Pura Segara Watu Klotok sebagai simbol penjabaran perbuatan suci di Bhur Loka ini sehingga tidak merusak Tri Loka ini.

Pura Segara Watu Klotok sebagai tempat melangsungkan upacara Melasti terutama saat ada upacara besar di Pura Besakih. Misalnya upacara Manca Wali Krama, Eka Dasa Rudra, Meligia Marebu Bumi, dll. Tujuan utama dari Melasti menurut Lontar Sunarigama dan Sang Hyang Aji Swamandala sangatlah universal. Tujuan utama tersebut yaitu untuk menguatkan sradha dan bakti umat kepada Tuhan dan semua manifestasi-Nya. Dengan kuatnya sradha dan bakti umat kepada Tuhan, umat dapat mengentaskan masyarakat dari penderitaan.

Upacara Melasti juga mengandung nilai agar didahului dengan melakukan penguatan individual dengan menghilangkan papa klesa, sebagaimana dinyatakan dalam lontar. Klesa itu sumber kepapaan individual. Klesa terdiri atas lima yaitu: Awidya artinya kegelapan hati nurani, Asmita sifat mementingkan diri sendiri (egois), Raga artinya hidup dengan mengumbar hawa nafsu, Dwesa artinya dikuasai oleh nafsu benci dan dendam dan Abhiniwesa artinya hidup yang selalu diliputi oleh rasa takut.

Tujuan Melasti yang selanjutnya adalah untuk menanamkan niat suci untuk selalu menghindari kerusakan alam lingkungan. Jadinya peningkatan sradha dan bakti itu harus mampu mendorong munculnya kegiatan hidup untuk mensejahterakan kehidupan sosial, penguatan individual dan pelestarian alam secara nyata. Sehingga fungsi Pura Segara Watu Klotok sebagai pusat Pura Segara di Bali sangatlah mulia dan universal.

* I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/10/8/bd3.htm

.

Pemujaan Dalam Goa Terbesar di Bali
Keunikan Pura Goa Giri Putri

DI Bali, banyak terdapat goa yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Dalam salah satu goa di Nusa Penida, ada Pura Goa Giri Putri. Keunikan apa saja yang bisa disimak dari keberadaan pura Kahyangan Jagat yang terletak di Dusun Karangsari, Desa Pakraman Suana, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung ini?

—————–

Konon, di zaman Neolithikum dulu manusia hidup tanpa norma, tanpa kaidah, hingga berlaku suatu pola normatif homo-homini lupus — manusia satu menjadi “serigala” bagi manusia yang lain, lantas berlaku hukum rimba, siapa kuat dia menang. Tiap orang berusaha mempertahankan hidup dari keganasan alam, seperti amukan binatang buas, hujan lebat, terjangan angin, dan sengatan sinar mentari. Lalu mereka perlu tempat perlindungan dan reproduksi keturunan demi keberlangsungan hidup. Selain penggunaan goa seperti itu, goa juga konon dijadikan tempat bertapa untuk memohon anugerah langsung dari para dewata.

Dalam goa umumnya terdapat aliran sungai, kelelawar, ular, dan stalagnit (endapan menyerupai batu tumbuh dari bawah goa mengarah ke langit-langit goa) maupun stalagtit (endapan yang menyerupai bebatuan, muncul dari dinding/langit-langit goa mengarah ke lantai goa). Dalam perkembangannya, manusia memikirkan pola kehidupan baru dengan pola permukiman tetap serta dukungan teknologi yang kian canggih agar mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Meski kehidupan kian modern, namun kenyataan menunjukkan bahwa tradisi prasejarah atau kebudayaan di dalam goa tetap eksis dengan fungsi yang terus berkembang atau berubah.

Kata “giri” itu sendiri artinya gunung, pegunungan atau bukit, sementara “putri” berarti wanita. Dalam konsep ajaran Hindu, “putri” yang dimaksud adalah nama simbolis bagi kekuatan Tuhan, memiliki sifat keibuan atau kewanitaan. Jadi Goa Giri Putri adalah sebuah ruang atau rongga dengan ukuran tertentu sebagai tempat bersemayam kekuatan Tuhan dalam manifestasinya berupa wanita (disebut Hyang Giri Putri), tiada lain adalah salah satu sakti dari kekuatan Tuhan dalam wujud-Nya sebagai Siwa. Di sini, Giri Putri adalah nama yang diberikan pada salah satu goa terbesar yang berada di Pulau Nusa Penida.

Tiga Pura

Pada Purnama Kalima Wraspati Kliwon Klawu, 25 Oktober 2007, merupakan puncak Karya Agung Mamungkah Ngenteg Linggih, Mapeselang Prayungan, lan Pedanan-danan. Piodalan di pura yang di-empon oleh 210 KK Krama Desa Pakraman Karangsari ini dilakukan tiap tahun, yakni pada Purnama Kadasa. Jika masyarakat Bali ingin bertirtayatra ke sana, maka tiga pura utama yang menjadi tujuan adalah Pura Giri Putri, Pucak Mundi, dan Dalem Ped. Biasanya mereka bermalam di Dalem Ped lantaran tempatnya lebih luas, fasilitas mandi dan buang hajat memadai. Pedagang pun banyak, dan suhu udara relatif tak terlalu dingin.

Berdasarkan hasil pengukuran Tim Pengabdian Dosen FT Universitas Warmadewa, Agustus 2007, Goa Giri Putri berada pada ketinggian 150 meter di atas permukaan laut, dengan panjang total lebih kurang 262 meter. Ia memiliki empat bagian besar tempat persembahyangan yakni sebuah di luar goa atau pintu masuk dan tiga di dalam goa (depan, tengah, dan belakang). Sebelum 1990, Goa Giri Putri hanyalah sebuah goa yang dijadikan objek wisata lokal, terutama pada hari Raya Galungan dan Kuningan. Air yang berada di dalam goa dijadikan tirta oleh masyarakat Karangsari dalam rangka upacara Panca Yadnya.

Hingga saat ini belum ditemukan prasasti maupun sumber resmi yang memuat tentang Goa Giri Putri, sehingga belum diketahui kapan dan oleh siapa Goa Giri Putri dibangun. Yang jelas goa ini adalah peninggalan Zaman Prasejarah (Hindu), terus hidup dan dipelihara sampai sekarang. Pada 1990, Gubernur Bali saat itu (Prof. Dr. Ida Bagus Mantra) pernah mengadakan kunjungan ke Nusa Penida dan singgah di Goa Giri Putri, memberikan motivasi kepada masyarakat di situ untuk menjaga keberadaan Goa Giri Putri, baik sebagai objek wisata spiritual maupun sebagai tempat persembahyangan.

Sejak itulah didirikan sejumlah palinggih tempat pemujaan. Goa itu kemudian diberi nama Goa Giri Putri.

Kondisi fisik Goa Giri Putri pada 1990-an dibanding kondisi sekarang, tampak beda. Dulu goa sangat “mengerikan”, gelap, lantai dasar licin, tirta melimpah, dan belum banyak pengunjung. Kini, sebaliknya, terang benderang, lantai dasar tak begitu licin lantaran beberapa bagian sudah dipelester, pun telah tersedia beberapa tangki air. Pintu masuk goa tetap relatif sempit — hanya dapat dimasuki satu orang saja.

Petunjuk “Niskala”

Sebagaimana ditulis dalam buku “Selayang Pandang Pura Giri Putri” dan diceriterakan oleh I Nyoman Dunia selaku Bendesa Adat serta mangku gede Pura Giri Putri, secara keseluruhan ada 13 buah palinggih di situ dengan berbagai wujud arsitektur dan bahan bangunan. Jika hendak bersembahyang ke Pura Giri Putri, begitu turun di pelataran parkir lantas menyeberang jalan, orang sudah berhadapan dengan jalan berundak-undak. Setelah tiba di atas atau di halaman luar goa, orang akan menjumpai palinggih pertama berbentuk Padmasari, tepat berada di samping kanan depan mulut goa.

Berdasarkan petunjuk niskala yang diterima oleh Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa dari Padukuhan Samiaga, Penatih, Denpasar menyebutkan, di palinggih pertama yang dipuja adalah kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujudnya sebagai Hyang Tri Purusa menurut ajaran Siwa Sidhanta. Terdiri atas Paramasiwa (Nirguna-Brahman), Sadasiwa (Saguna-Brahman), dan Siwatma (Jiwatman). Lalu di sebelah kiri pintu masuk goa ada Hyang Ganapati berwujud Lingga Cala dari bahan batu karang sebagai penjaga pintu masuk goa. Di halaman depan goa juga dilengkapi dengan bangunan penunjang sebagai tempat pesandekan atau menerima tamu.

Bila usai bersembahyangan di palinggih Tri Purusa, orang segera dapat memasuki Goa Giri Putri. Biasanya orang yang baru datang pertama kali ke tempat ini akan merasa takut atau waswas mengingat mulut goa sangat kecil, hanya bisa dilalui satu orang saja. Namun itu hanya berjarak sekitar tiga meter, setelah melewati itu, orang-orang akan tercengang dan takjub, karena tidak menyangka sebelumnya bahwa rongga goa sangat lebar dan tinggi serta bisa menampung sekitar 5.000 orang. Tatkala terowongan kecil dilewati, orang akan dapat melihat dua palinggih di dalam bagian depan goa.

Palinggih ketiga, Hyang Sapta Patala, berupa Padmasari dengan perwujudan Naga Basuki di bagian ulon. Hyang Naga Basuki adalah salah satu manifestasi Hyang Widhi Wasa dengan sifat penolong, penyelamat dan pemberkah kemakmuran, diwujudkan dalam bentuk naga bersisik emas berkilauan, penuh pernik mutiara, serta senantiasa berupaya tetap menjaga keseimbangan alam bawah (pertiwi) demi kesejahteraan umat manusia beserta makhluk lainnya. Di samping kanan Hyang Naga Basuki ada palinggih keempat, Pengayengan Ratu Gede berwujud Lingga Cala. Dengan demikian goa ini berfungsi sebagai tempat memohon keselamatan dan ketenteraman umat manusia.

Selanjutnya di bagian tengah-tengah goa dijumpai lima palinggih — tiga di bawah dan dua di atas. Palinggih di bagian bawah sebelah utara berwujud Padmasari, stana Hyang Giri Pati/Siwa. Di sebelah kiri Padmasari ada panyineban Ida Bhatara berwujud Gedongsari. Lalu di bagian bawah selatan ada tempat palukatan dari Hyang Dewi Gangga, dan palinggih Hyang Tangkeb Langit di sebelah barat tangga yang berwujud gedong masif. Sebelum melakukan persembahyangan, di tempat ini wajib melakukan palukatan dasa mala dengan memohon kepada Hyang Giri Putri, Dewi Gangga, dan Hyang Giri Pati agar secara lahir dan batin terlepas dari hal-hal negatif.

Di bagian tengah atas agak ke pinggir ada palinggih Hyang Giri Putri berwujud Padmasari dengan palinggih Pengaruman di samping kiri sebagai tempat men-sthana-kan simbol Dewa-dewi berupa arca dan rambut sedana, serta di sisi kanan ada sumber air suci. Yang unik, keberadaan palinggih ini di tengah-tengah atas dinding goa, agar bisa tangkil orang mesti menaiki tangga baja yang terbuat dari bahan plat mobil. Di bagian dalam dengan jarak sekitar tujuh meter, ada Payogan (peraduan) Hyang Giri Putri - Hyang Giri Pati yang berwujud Padmasari.

Di tempat ini masyarakat biasanya melakukan tapa, yoga dan semadi. Bagian inti goa ini dikelilingi ornamen-ornamen alam yang unik seperti ada taman tirta, warna-warni dinding goa (stalagnit dan stalagtit) diselingi dentingan percikan air dari langit-langit goa dan suara kelelawar. Tempat ini merupakan sthana Hyang Giri Putri sebagai pengendali kekuatan-kekuatan yang ada di dalam goa. Di sinilah orang dapat memohon penyembuhan penyakit melalui percikan tirta suci oleh pemangku atau pangelingsir.

Kemudian pada bagian ujung barat goa ada empat palinggih. Satu berwujud Padmasari sebagai sthana Hyang Siwa Amerta/Mahadewa, sebuah Gedongsari sthana Hyang Sri Sedana/Ratu Syahbandar, sebuah patung Dewi Kwam Im, serta altar Dewa Langit. Semua itu merupakan Dewa Pemurah, Pengasih dan Penyayang serta Dewa-dewi Kemakmuran. Di bagian ini para pamedek dapat melihat dengan jelas pancaran sinar matahari dan indahnya alam sekitar khususnya Gunung Kila (Pura Semuhu) di kejauhan.

Sekarang di bagian ini sudah ada bangunan pendukung (toilet), dilengkapi tangga sebagai sarana keluar goa. Bagian ini jelas memperlihatkan terjadi perpaduan konsep Siwa-Buda di Pura Goa Giri Putri sebagaimana halnya yang biasa terjadi di pura-pura besar lainnya di Bali. Sebenarnya, di dalam Goa Giri Putri ini masih banyak terdapat onggokan (Lingga Cala) batu karang besar dan kecil serta goa-goa kecil di kiri-kanan dinding goa, sehingga kemungkinan besar jumlah palinggih juga akan terus bertambah.

* n.g. suardana,
dan tim dosen
FT Unwar, Denpasar

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2007/11/11/bud3.html

Sifat Kesatria Dalem Dukut Patut Diteladani

Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan upaya Dalem Klungkung menyatukan Nusa Penida dengan Bali. Upaya itu dilakukan untuk membangun hubungan yang lebih produktif antara rakyat Bali dan rakyat Nusa. Hanya saat Ngurah Peminggir diutus oleh Dalem Klungkung mendekati Dalem Nusa ternyata gagal. Kegagalan itu karena Ngurah Peminggir menggunakan kekerasan perang mau menguasai Nusa. Bagaimana hubungan kesejarahan antara Pura Dalem Peed dengan Dalem Dukut?
==============================

SAAT itu Dalem Nusa melepaskan wong samar-nya mengalahkan Ngurah Peminggir dengan pasukannya. Dalem Klungkung melanjutkan upaya penyatuan Pulau Bali dengan Nusa dengan mengutus I Gst. Ngurah Jelantik Bogol. Pendekatan yang digunakan oleh I Gusti Ngurah Jelantik Bogol adalah pendekatan yang etis mengikuti tata krama seorang kesatria sebagai utusan raja. Dalem Dukut pun menerima dengan sangat hormat sesuai dengan tata krama kerajaan dalam menerima utusan raja.

Dalem Dukut atau ada juga sumber yang menyebut Dalem Bungkut bersedia menyerahkan Kerajaan Nusa melalui suatu cara yang terhormat dalam tata krama sebagai kesatria. Dua tokoh ini pun mengadakan perang tanding secara terhormat dengan tidak melibatkan prajurit dan rakyatnya. Mereka melakukan perang tanding secara kesatria tidak berdasarkan kebencian dan kesombongan akan kelebihan diri masing-masing.

I Gst. Jelantik Bogol dalam perang tanding itu menggunakan senjata pemberian kerajaan bernama ”Ganja Malela”. Dalam perang tanding itu senjata Ganja Malela I Gusti Jelantik Bogol patah. Hampir saja I Gst. Jelantik Bogol kalah. Cepat-cepat istrinya, Ni Gusti Ayu Kaler, memberikan senjata bartuah bernama Pencok Sahang. Melihat senjata Pencok Sahang ini Dalem Dukut sudah punya firasat bahwa waktunya sudah tiba untuk kembali ke alam sunia lewat senjata Pencok Sahang.

Peperangan pun dihentikan sementara dan Dalem Dukut menyatakan kepada I Gst. Jelantik Bogol bahwa ia akan kembali ke Sunia Loka lewat senjata Pencok Sahang itu. Dalem Dukut pun menyatakan menyerahkan segala kekayaan Nusa dengan rakyat dan wong samar-nya untuk mendukung Dalem Klungkung memajukan Klungkung.

Senjata Pencok Sahang ini sesungguhnya adalah taring Naga Basuki. Ketika Ni Gst. Ayu Kaler mandi di Sungai Unda ada sepotong kayu bagaikan kayu bakar atau sahang yang selalu menujunya. Setiap kayu itu dijauhkan dari dirinya selalu balik kembali mendekati dirinya. Akhirnya kayu itu dipungut. Setelah dibelah ternyata di dalamnya terdapat sebuah keris yang belum jadi. Keris itulah bernama Pencok Sahang yang tiada lain adalah taring Naga Basuki sendiri.

Yang patut direnungkan latar belakang dari perang tanding Dalem Dukut dengan Jelantik Bogol. Dua orang ini sesungguhnya sudah saling kenal, bahkan bersahabat saat belum menjabat sebagai raja maupun patih. Saat ada panggilan tugas yang berbeda ini mereka kelola dengan bijak sesuai dengan swadharma kesatria. Saat Patih Jelantik Bogol datang ke Nusa membawa tugas Kerajaan Klungkung, Dalem Dukut menyambutnya dengan sangat ramah.

Dalem Dukut menyatakan bahwa jangan karena ada tugas yang berlawanan terus persahabatan menjadi hilang. Demikian juga sebaliknya jangan karena sahabat terus swadharma ditinggalkan sebagai seorang kesatia. Patih Jelantik Bogol membawa pasukan dari Klungkung, tetapi tidak dengan kasar menyerang Kerajaan Nusa. Jelantik Bogol mengatakan pendekatan diplomatik terlebih dahulu dengan cara-cara yang menghormati Dalem Dukut. Raja Nusa ini pun menyambut dengan baik. Dalem Dukut menjamu Patih Jelantik Bogol sebagai seorang teman.

Dalam jamuan tersebut Dalem Dukut menyatakan bahwa Nusa tidak akan kalah kalau Dalem Dukut masih hidup, walaupun semua pasukan Nusa habis. Sebaliknya utusan Dalem Klungkung pun tidak akan kalah kalau Patih Jelantik Bogol tidak gugur di medan perang, meskipun semua pasukan Klungkung gugur dalam pertempuran.

Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol sepakat untuk tidak memberikan pasukannya masing-masing bertempur. Biarlah mereka bergembira membangun komunikasi persaudaraan demi Bali dan Nusa. Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol sepakat untuk melakukan perang tanding dalam melakukan swadharma kesatria. Swadharma Patih Jelantik Bogol adalah menyukseskan misi Dalem Klungkung untuk menyatukan Nusa Penida ke dalam kekuasaan Klungkung, sedangkan Dalem Dukut memiliki swadharma untuk menjaga eksistensi kehormatan Kerajaan Nusa Penida.

Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol perang tanding untuk melakukan swadharmanya masing-masing. Perang tanding itu bukan dilakukan karena kebencian, tetapi atas dorongan melakukan swadharma sebagai kesatria. Dalam melakukan swadharma tersebut mereka tetap juga menjaga persahabatan. Sebelum perang tanding dilangsungkan, Dalem Dukut pun menjamu I Gst. Ngurah Jelantik Bogol sebagai seorang sahabat dengan jamuan kehormatan. Pasukan Klungkung dan Nusa pun ikut berpesta dalam perjamuan tersebut.

Setelah jamuan berlangsung barulah perang tanding dilakukan dengan cara-cara kesatria. Kedua pasukan hanya sebagai saksi perang tanding tersebut. Apalagi rakyat sipil tidak ada yang jadi korban dalam proses penguasaan Nusa oleh Dalem Klungkung. Sifat-sifat kesatria Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol ini patut menjadi renungan kita bersama dalam membangun Bali dalam proses dinamika kehidupan politik untuk mengutamakan sifat-sifat kesatria yang tidak mengorbankan rakyat kecil untuk mewujudkan tujuan mencapai kekuasaan maupun mencari kekayaan.

Bersatunya Nusa dengan Bali menjadi satu sistem pemerintahan dalam proses yang sangat terhormat pada masa pemerintahan Dalem Klungkung. Tidak ada yang kalah menang dalam artian sempit. Dalem Dukut tidak mengerahkan pasukan wong samar-nya melawan I Gst. Jelantik Bogol. Kemungkinan Dalem Dukut melihat suatu kepentingan yang lebih besar dan lebih mulia yaitu bersatunya alam dan rakyat Nusa dengan Bali. Persatuan ini akan membawa kedua daerah lebih mudah maju membangun kesejahteraan hidup bersama antara rakyat Bali dan Nusa Penida lahir batin. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/10/17/bd1.htm

Purusa-Pradana di Pura Dalem Penataran Peed

Ya atmada balada yasya visva
upasate prasisam yasya devah
yasya chaya-amrtam yasya mrtyuh,
kasmani devaya havisa vidhema.
(Rgveda.X.121.2).

Maksudnya:

Tuhan Yang Maha Esa memberikan kekuatan spiritual (rohani) dan fisikal (jasmani). Semua sinar sucinya yang disebut Deva berfungsi atas kehendak Tuhan. Kasih-Nya adalah keabadian, krodanya adalah kematian. Kami semuanya mengaturkan sembah kepada-Nya.

PURA Dalem Penataran Peed di Nusa Penida itu adalah pura untuk memuja Tuhan Yang Mahakuasa sebagai pencipta Purusa dan Pradana. Purusa itu adalah kekuatan jiwa atau daya spiritualitas yang memberikan napas kehidupan pada alam dan segala isinya. Pradana adalah kekuatan fisik material atau daya jasmaniah yang mewujudkan secara nyata kekuatan Purusa tersebut.

Karena itu umat Hindu berbondong-bondong rajin bersembahyang ke Pura Dalem Penataran Peed untuk mendapatkan keseimbangan daya hidup, baik daya spiritual maupun daya fisikal. Karena hanya keseimbangan peran dan fungsi rohani dan jasmani itulah hidup yang harmonis di bumi ini dapat dicapai.

Pemujaan Tuhan sebagai pencipta unsur Purusa dan Pradana ini divisualkan dalam wujud pemujaan di Pura Dalem Penataran Peed. Visualisasi itu merupakan perpaduan konsepsi Hindu dengan kearipan lokal Bali. Di Pura Dalem Penataran Peed ini terdapat dua arca Purusa dan Predana dari uang kepeng yang disimpan di gedong penyimpenan sebagai pelinggih utama di Pura Dalem Penataran Peed. Arca Purusa Predana inilah yang memvisualisasikan kemahakuasaan Tuhan yang menciptakan waranugraha keseimbangan hidup spiritual (Purusa) dengan kehidupan fisik material (Predana).

Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan Batara Siwa menurunkan Dewi Uma dan berstana di Puncak Mundi Nusa Penida diiringi oleh para Bhuta Kala simbol kekuatan fisik material berupa ruang dan waktu. Bhuta itu membentuk ruang dan Kala adalah waktu. Waktu timbul karena ada dinamika ruang. Di Pura Puncak Mundi, Dewi Uma bergelar Dewi Rohini dan berputra Dalem Sahang. Pepatih Dalem Sahang bernama I Renggan dari Jambu Dwipa — kompyang dari Dukuh Jumpungan.

Dukuh Jumpungan itu lahir dari pertemuan Batara Guru dengan Ni Mrenggi, dayang dari Dewi Uma. Kama dari Batara Guru berupa awan kabut yang disebut limun. Karena itu disebut Hyang Kalimunan. Kama Batara Guru ini di-urip oleh Hyang Tri Murti dan menjadi manusia. Setelah digembleng berbagai ilmu kerohanian dan kesidhian, dan oleh Hyang Tri Murti terus diberi nama Dukuh Jumpungan dan bertugas sebagai ahli pengobatan. Setelah turun-temurun Dukuh Jumpungan menurunkan I Gotra yang juga dikenal I Mecaling. Inilah yang selanjutnya disebut Ratu Gede Nusa.

Ratu Gede Nusa ini berpenampilan bagaikan Batara Kala. Menurut penafsiran Ida Pedanda Made Sidemen (alm) dari Geria Taman Sanur yang dimuat dalam buku hasil penelitian Sejarah Pura oleh Tim IHD Denpasar (sekarang Unhi) antara lain menyatakan sbb: saat Batara di Gunung Agung, Batukaru dan Batara di Rambut Siwi dari Jambu Dwipa ke Bali diiringi oleh seribu lima ratus (1.500) orang halus (wong samar).

Lima ratus wong samar itu dengan lima orang taksu menjadi pengiring Ratu Gede Nusa atas wara nugraha Batara di Gunung Agung. Batara di Gunung Agung memberi wara nugraha kepada Ratu Gede Nusa atas tapa brata-nya yang keras. Atas tapa brata itulah Batara di Gunung Agung memberi anugrah dan wewenang untuk mengambil upeti berupa korban manusia Bali yang tidak taat melakukan perbuatan baik dan benar sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

Di Pura Dalem Penataran Peed ini Ida Batara Dalem Penataran Peed dipuja di Pelinggih Gedong, sedangkan Pelinggih Ratu Gede Nusa berada areal tersendiri di barat areal Pelinggih Dalem Penataran Peed. Pelinggih Dalem Penataran Peed ini berada di bagian timur, sedangkan Pelinggih Padmasana sebagai penyawangan Batara di Gunung Agung berada di bagian utara dalam areal Pura Dalem Penataran Peed. Di Pura Dalem Penataran Peed ini merupakan penyatuan antara pemujaan Batara Siwa di Gunung Agung dengan pemujaan Dewi Durgha atau Dewi Uma di Pura Puncak Mundi.

Dengan demikian Pura Dalem Penataran Peed itu sebagai Pemujaan Siwa Durgha dan Pemujaan Raja disebut Pura Dalem. Sedangkan disebut sebagai Pura Penataran Peed karena pura ini sebagai Penataran dari Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha. Artinya, Pura Penataran Peed ini sebagai pengejawantahan yang aktif dari fungsi Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha.

Di pura inilah bertemunya unsur Purusa dari Batara di Gunung Agung dengan Batari Uma Durgha di Puncak Mundi. Dari pertemuan dua unsur ciptaan Tuhan inilah yang akan melahirkan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya yang disebut Rambut Sedhana. Baik sarana hidup untuk memajukan kesejahteraan maupun sarana untuk mempertahankan kesehatan dan menghilangkan berbagai penyakit.

Upacara pujawali di Pura Dalem Penataran Peed ini dilangsungkan pada setiap Budha Cemeng Klawu. Hari Budha Cemeng Klawu ini adalah hari untuk mengingatkan umat Hindu pada hari keuangan yang disebut Pujawali Batari Rambut Sedhana. Pada hari ini umat Hindu diingatkan agar uang itu digunakan dengan baik dan setepat mungkin. Uang itu sebagai alat untuk mendapatkan berbagai sarana hidup agar digunakan dengan seimbang untuk menciptakan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya. Uang itu sebagai sarana menyukseskan tujuan hidup mewujudkan Dharma, Artha dan Kama sebagai dasar mencapai Moksha.

Berdasarkan adanya Pelinggih Manjangan Saluwang di sebelah barat Tugu Penyimpanan dapat diperkirakan bahwa Pura Dalem Penataran Peed ini sudah ada sejak Mpu Kuturan mendampingi Raja memimpin Bali. Pura ini mendapatkan perhatian saat Dalem Dukut memimpin di Nusa Penida dan dilanjutkan pada zaman kepemimpinan Dalem di Klungkung. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/10/17/bd2.htm

Padharman Ida Dalem Klungkung

Cinaritan linggih I Dewa Tagal Besung meru tumpang solas; Linggih I Dewa Samplangan meru tumpang sia abungkul, Linggih I Dewa Enggong meru tumpang pitu abungkul, linggih I Dewa Sagening meru tumpang lima abungkul, linggih I Dewa Made meru tumpang telu abungkul (kutipan Raja Purana Pura Besakih)

Maksudnya:

Diceritakan pelinggih I Dewa Tegal Besung Meru Tumpang Sebelas, pelinggih I Dewa Samplangan Meru Tumpang Sembilan, Palinggih I Dewa Enggong Meru Tumpah Tujuh, pelinggih I Dewa Sagening Meru Tumpang Lima, pelinggih I Dewa Made Meru Tumpang Tiga.

ADANYA tradisi pendirian Pura Padharma di kompleks Pura Besakih maupun di luar Pura Besakih diperkirakan sebagai pengaruh tradisi Hindu dari Kerajaan Majapahit dari Jawa Timur. Demikian juga halnya dengan Pura Padharman Ida Dalem Klungkung. Pura Padharman Ida Dalem Klungkung ini adalah Pura Padharman yang terbesar di antara Pura Padharman yang ada di kompleks Pura Besakih.

Keberadaan pelinggih di Pura Padharman Ida Dalem Klungkung amat sesuai dengan bunyi teks kutipan Raja Purana Pura Besakih tersebut di atas. Menurut keterangan Drs. Ida Bagus Putu Purwita (sekarang beliau sudah dwijati) bahwa Pura Padharman Ida Dalem Klungkung ini sebelum Gunung Agung meletus Maret 1963 berbentuk Prasada. Palinggih Prasada ini terbuat dari batu bata mirip candi-candi di Jawa. Hanya candi di Jawa menggunakan batu andesit.

Seperti Prasada beratap sebelas dibuat dengan batu bata dan pintu masuknya pada atap pertama bertuliskan ”Sang Hyang Eka Twa Dalem Ketut Kepakisan”. Hal ini menunjukkan bahwa di Prasada beratap sebelas ini adalah Padharman dari raja pertama dari keturunan Mpu Kepakisan dari Jawa Timur yang bergelar Ida Dalem Ketut Krsna Kepakisan. Prasada beratap sembilan sebagai Padharman dari Ida Dalem Sri Semara Kepakisan atau sering disebut Dalem Ketut Ngalesir.

Prasada beratap tujuh juga dibuat dari batu bata sebagai Padharman Ida Dalem Baturenggong. Prasada beratap lima sebagai Padharman Ida Dalem Sagening. Sedangkan Prasada beratap tiga sebagai Padharman Ida Dalem Dimade. Raja yang bergelar Ida Dalem Dimade inilah sebagai Raja terakhir yang bertahta atau purinya di Gelgel atau Sweca Pura. Saat itu, Puri Ida Dalem di Samprangan disebut Linggarsa Pura.

Setelah Ida Dalem Dimade pusat kerajaan berpindah ke Klungkung dengan purinya disebut Smara Pura. Selanjutnya istilah Pura untuk menyebutkan tempat suci seperti Pura Kahyangan, maka pusat kerajaan pun disebut Puri tidak lagi disebut Pura. Di samping Prasada sebagai pelinggih utama terdapat juga dua Pelinggih Gedong beratap ijuk dan ada Meru Tumpang Lima dan Tumpang Tiga.

Demikian keberadaan pelinggih-pelinggih di Pura Padharman Ida Dalem Klungkung sebelum Gunung Agung meletus bulan Maret tahun 1963. Pada waktu Gunung Agung meletus tahun 1963 pelinggih Prasada tersebut hancur semuanya. Untuk memperbaiki Pura Padharman Dalem Klungkung tersebut digunakanlah Meru. Hanya pelinggih Prasada yang beratap sebelas stana Ida Dalem yang pertama saja dikembalikan bentuknya semula berupa Prasada juga. Sedangkan yang lainnya digunakan pelinggih Meru dengan fungsi sama seperti waktu berbentuk Prasada.

Tentang pendirian Padharman di kompleks Pura Besakih menurut Lontar Padma Bhuwana dimulai sejak tahun Saka 1400 atau tahun 1478 Masehi. Sedangkan menurut Lontar Babad Sukahet pendirian padharman di Besakih tahun Saka 1465 atau tahun 1543 Masehi. Bila tahun ini dihubungkan dengan periodisasi tahun pemerintahan dinasti Sri Krsna Kapakisan di Bali, maka pada tahun-tahun tersebut adalah saat pemerintahan Dalem Baturenggong di Bali yang berkeraton di Gelgel atau Sweca Pura. Demikian dinyatakan dalam skripsi Drs. Ida Bagus Putu Purwita (sekarang beliau sudah dwijati) tentang pengertian Padharman di Bali.

Nampaknya Pura Padharman Ida Dalem Klungkung didirikan oleh setiap generasi dari saat kerajaan berkeraton di Sweca Pura sampai di Smara Pura atau kota Klungkung sekarang. Ida Dalem Dimade sudah distanakan di Pelinggih Prasada beratap tiga adalah raja yang terakhir berkeraton di Gelgel. Ini berarti raja yang mendirikan Padharman untuk Ida Dalem Dimade adalah raja yang berkeraton di Smara Pura. Karena tidak mungkin Ida Dalem Dimade membuatkan pelinggih Padharman untuk diri beliau.

Untuk memuja leluhurnya raja-raja di Bali menggunakan istilah Padharman sebagai pengaruh tradisi Hindu pada Kerajaan Majapahit khusus untuk memuja roh suci leluhur orang-orang yang terkemuka dalam kehidupan masyarakat seperti raja, tokoh masyarakat dan para pandita atau resi. Sedangkan untuk memuja roh suci leluhur atau Dewa Pitara masyarakat pada umumnya menurut Lontar Purwa Bumi Kamulan dan beberapa lontar lainnya digunakan Kamulan Taksu sebagaimana diajarkan oleh Mpu Kuturan.

Kamulan Taksu ini menurut Lontar Siwagama didirikan di setiap hulu pekarangan rumah keluarga Hindu di Bali. Kalau keluarga tersebut meluas dan sampai berkembang minimal sepuluh pekarangan maka pemujaan bersama untuk leluhur itu disebut Merajan Gede. Kalau sampai minimal 20 pekarangan disebut Pura Ibu dan minimal 40 pakarangan disebut Pura Dadia atau Panti.

Untuk pemujaan umat yang satu klan atau satu wangsa disebut Pura Kawitan. Keberadaan sistem Wangsa dalam masyarakat Hindu di Bali untuk menguatkan sistem pemujaan leluhur sebagai tangga untuk memuja Tuhan. Karena pemujaan sebelumnya akan menguatkan pemujaan selanjutnya. Demikian dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra. Ini artinya pemujaan leluhur itu untuk menguatkan pemujaan pada Tuhan. Asal jangan berhenti pada pemujaan leluhur saja.

Itu artinya, sistem Wangsa dalam masyarakat Bali bukanlah untuk menentukan stratifikasi sosial dengan paradigma tinggi-rendah (tidak setara antarwangsa yang satu dengan wangsa yang lainnya). Wangsa itu tidak menentukan seseorang itu Brahmana, Ksatria, Waisya maupun Sudra. Sistem Wangsa untuk membangun keakraban atau kerukunan famili, bukan untuk menentukan kasta atau varna seseorang.

Umat dalam satu wangsa itu ada bermacam-macam profesinya. Ada sebagai pandita atau pinandita, ada sebagai birokrat, tentara atau politisi, ada sebagai pengusaha dan ada juga sebagai petani atau buruh.

* Ketut Gobyah

http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/7/25/bd2.htm

Makna Padharman bagi Generasi Penerus

Pemujaan roh suci atau Dewa Pitara di Pura Padharman memiliki makna yang luas dan dalam. Apalagi yang distanakan di Pura Padharman adalah tokoh-tokoh yang memegang peran penting dalam kehidupan bersama dalam masyarakat, bahkan dalam suatu negara kerajaan. Pemujaan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pemujaan leluhur sebagai tangga menuju pemujaan pada Tuhan. Pemujaan di Pura Padharman memiliki makna yang jauh lebih luas daripada pemujaan di Merajan Kamulan Taksu.

==========================================================

Begitu juga pemujaan di Pura Padharman Ida Dalem Klungkung. Setiap roh suci raja yang distanakan di Pura Padharman Ida Dalem Klungkung patut dijadikan bahan renungan bagi generasi penerus, baik bagi keturunan raja secara langsung maupun bagi masyarakat luas. Seperti keberadaan Raja Ida Dalem Sri Krsna Kepakisan. Raja ini adalah putra Mpu Kepakisan dari Jawa Timur. Dari gelar Mpu itu dapat kita simpulkan bahwa Ida Dalem Sri Krsna Kepakisan itu adalah keturunan Brahmana. Karena beliau diangkat oleh Raja Majapahit sebagai raja maka beliau tidak menggunakan gelar Mpu sebagai gelar seorang pandita atau brahmana.

Hal ini dapat diasumsikan bahwa saat itu seorang brahmana tidak sertamerta keturunannya disebut brahmana. Tergantung profesinya dan jabatannya. Ada ayahnya brahmana, putranya sebagai ksatria karena jabatan dan profesinya ada juga seorang yang pada mulanya sebagai ksatria selanjutnya menjadi brahmana. Seperti Mpu Kuturan yang pada mulanya sebagai senapati selanjutnya menjadi brahmana dengan gelar Mpu.

Gelar senapati adalah gelar atau jabatan ksatria pada zaman kerajaan di Bali. Sedangkan gelar mpu adalah gelar untuk jabatan bagi seorang yang sudah dwijati atau sebagai pandita. Dari keberadaan Raja Klungkung Ida Dalem Sri Krsna Kepakisan itu dapat kita simpulkan, bahwa saat itu ajaran Catur Varna berjalan baik. Tidak ada seorang disebut brahmana, ksatria, waisia atau sudra karena berdasarkan keturunan. Semuanya itu ditentukan oleh profesi atau jabatan yang dipegangnya.

Catur Varna ditentukan oleh Guna dan Karma bukan oleh wangsa atau keturunan. Saya yakin sebagian besar umat Hindu sudah paham akan hal ini. Tetapi perubahan ke arah kembali pada ajaran Catur Varna masih demikian lambat. Ada baiknya keberadaan Pura Padharman Ida Dalem Klungkung itu dijadikan bahan renungan. Dengan demikian proses memelihara adat-istiadat Hindu di Bali berdasarkan konsep Tri Kona masih berjalan dengan amat lambat. Hal ini menyebabkan berbagai kemajuan hidup beragama Hindu yang seharusnya kita bisa raih menjadi banyak tertinggal.

Keberadaan Pura Padharman Ida Dalem Klungkung di Besakih dapat dijadikan bahan kajian untuk memetik berbagai nilai-nilai positif yang ada di balik Pura Padharman tersebut. Raja itu memang seorang manusia biasa. Tentunya setiap raja pasti ada sisi terang dan sisi gelapnya. Semuanya itu dapat dijadikan bahan pelajaran dengan konsep Atita, Nagata dan Wartamana.

Apa yang terjadi pada masa lampau (Atita) patut direnungkan secara mendalam untuk menentukan apa yang mungkin kita dapat cita-citakan pada masa yang akan datang (Nagata). Dari dua sudut kajian itulah kita bisa rumuskan langkah saat ini (Wartamana). Dengan cara berpikir seperti itu kita bisa tidak kehilangan masa lampau yang gemilang atau tidak tersandung ulang tentang kesalahan yang mungkin terjadi di masa lampau. Artinya, hal-hal yang baik pada masa lampau dapat dijadikan modal dasar mengembangkan keberhasilan ke depan. Sebaliknya berbagai kegagalan atau kesalahan di mana lampau janganlah terulang lagi pada masa kini.

Pepatah mengatakan jangan kehilangan tongkat untuk kedua kalinya. Pengalaman baik dan buruk pada masa lampau kedua-duanya dapat dijadikan guru menuju kesuksesan hidup ke depan.

Yang juga cukup menarik untuk direnungkan adalah perpindahan pusat kerajaan yang dipimpin oleh Dinasti Ida Dalem Sri Krsna Kepakisan. Pada awalnya pusat kerajaan di Samplangan dengan sebutan Linggarsa Pura di timur kota Gianyar sekarang. Dari Linggarsa Pura Pindah ke Gelgel dengan nama kota Sweca Pura dan terakhir ke Semara Pura kota Klungkung sekarang. Hal ini cukup menarik direnungkan oleh generasi sekarang.

Dalam peristiwa tersebut ada yang dipertahankan dan ada yang selalu siap diubah. Yang tetap dipertahankan adalah kalangsungan eksistensi kerajaan. Yang boleh berubah-ubah adalah pusat pemerintahan kerajaan. Kehidupan bersana akan kacau apabila tidak ada yang memimpin. Karena itu dalam Canakya Nitisastra ada dinyatakan bahwa dalam setiap kehidupan bersama yang bermukim harus ada pemimpin yang zaman dahulu disebut raja. Di samping itu dalam setiap pemukiman hidup bersama itu harus ada Pandita, Vaidya, Danada dan Nadi.

Kata ”raja” sesungguh berasal dari kata rajintah yang artinya membahagiakan rakyat. Menurut Nitisastra hanya pemimpin yang mampu membahagiakan rakyatnyalah yang dapat disebut raja, demi kelangsungan pemerintahan kerajaan. Memang dalam praktiknya ada yang terbalik, ada raja yang lebih mengutamakan kebahagiaan dirinya dari kebahagiaan rakyat. Hal itu adalah suatu penyimpangan dengan idealisme raja menurut ajaran Nitisastra dalam agama Hindu.

Mungkin mirip dengan keadaan sekarang. Kewajiban utama pejabat negara pada hakikatnya adalah mengupayakan rasa aman dan kesejahteraan warga negara. Tetapi masih banyak oknum pejabat negara yang lebih mengutamakan kesejahteraan diri dan keluarganya daripada mengurusi warga negara. Tentunya hal ini menyimpang dari hakikat bernegara.

Kembali pada berpindah-pindahnya pusat kerajaan Dinasti Ida Dalem Sri Krsna Kepakisan patut dijadikan bahan studi. Apa yang menjadi pertimbangan utama dari perpindahan tersebut. Apa dari sudut keamanan pusat kerajaan, atau dari sudut pandang strategi pemerintahan atau pertimbangan spiritual.

Demikian juga pusat kerajaan pada awalnya bernama Pura, terus berubah menjadi Puri. Renungan pada semuanya itu akan amat berguna dalam memandang masa lalu (Atita) sebagai bahan dasar untuk merumuskan cita-cita ke depan (nagata). Dengan memadukan cara pandang Atita dengan Nagata maka akan mempermudah generasi sekarang merumuskan langkah yang harus dilakukan pada masa kini (Wartamana).

Sesungguhnya masih banyak nilai yang dapat disimak di balik keberadaan Pura Padharman Ida Dalem Klungkung yang amat berguna untuk pegangan hidup bagi generasi yang sekarang. * wiana

http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/7/25/bd1.htm

Pura Dasar Bhuana Gelgel——-
Berkonsep
Kaula Gusti Menunggal,
Penghormatan
pada Empu Ghana

Pura Dasar Bhuana di Desa Gelgel, Klungkung merupakan salah satu peninggalan sejarah Klungkung yang notabene sebagai pusat kerajaan di Bali. Selain sebagai satu-satunya pura dasar yang ada di Bali, pura ini juga memiliki keunikan dan fungsi khusus. Seperti apa keunikan dan fungsi dari keberadaan pura ini?

————————————————————

PURA Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatikta (Kerajaan Majapahit) pada tahun Caka 1189 atau tahun 1267 Masehi. Pura ini merupakan salah satu Dang Kahyangan Jagat di Bali. Pada masa Kerajaan Majapahit, Pura Dang Kahyangan dibangun untuk menghormati jasa-jasa pandita (guru suci). Pura Dang Khayangan dikelompokkan berdasarkan sejarah. Di mana, pura yang notabene tempat pemujaan di masa kerajaan di Bali, dimasukkan ke dalam kelompok Pura Dang Kahyangan Jagat. Keberadaan Pura Dang Kahyangan tidak bisa dilepaskan dari ajaran Rsi Rena dalam agama Hindu.

Pura atau Ashram dibangun pada tempat di mana Maharsi melakukan yoga semadi. Itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Maharsi. Seperti Pura Silayukti di Karangasem. Silayukti diyakini sebagai tempat moksanya Mpu Kuturan. Demikian pula dengan Pura Dasar Bhuana Gelgel yang dibangun sebagai penghormatan terhadap Empu Ghana. Di pura inilah Mpu Ghana yang notabene seorang Brahmana yang memiliki peran penting perkembangan agama Hindu di Bali, beryoga semadi (berparahyangan).

Sebagaimana namanya, Pura Dasar Bhuana merupakan dasar jagatnya Bali. Kalau pura luhur, jumlahnya banyak. Pura Dasar Bhuana satu-satunya pura dasar di Bali,” ungkap Sekretaris Pengeling Pura Dasar Bhuana Gelgel A.A. Gde Anom Wijaya. Selain sebagai Dang Kahyangan, pura yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Kota Semarapura, Klungkung itu juga merupakan pusat panyungsungan catur warga yang berasal dari soroh/klan di antaranya soroh/klan Satria Dalem, Pasek (Maha Gotra Sanak Sapta Rsi), soroh Pande (Mahasamaya Warga Pande) dan klan Brahmana Siwa. Semuanya merupakan pengabih Ida Batara di Pura Dasar Bhuana Gelgel.

Masing-masing warga memiliki panyungsungan, seperti Meru Tumpang Solaspanyungsungan Para Arya dan Satria Dalem. Meru Tumpang Tigapanyungsungan Keturunan Mpu Geni yang menurunkan trah Pasek. Meru Tumpang Tiga sebagai penyungsungan warga Pande. Padma Tiga yang berada di antara Meru Tumpang Solas dan Meru Tumpang Sia (sembilna), panyungsungan warga Brahmana. Dengan banyaknya soroh/klan yang ada di dalamnya, diyakini Pura Dasar Bhuana merupakan pemersatu jagat dengan konsep bersatunya semua klan yang ada di Bali dengan konsepkaula gusti menunggal”. ”Konsep itu sangat terasa begitu masuk ke pura itu,” tandas Agung Gde Anom Wijaya. Pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Klungkung itu menyebutkan, ketika manusia berada di hadapan-Nya, tidak ada lagi istilah perbedaan trah. Pande, Pasek atau Satria Dalem, semuanya sama.

Pura yang dibangun di atas areal cukup luas itu, juga menjadi panyungsungan Subak Gde Suwecapura. Di antaranya Subak Pegatepan, Kacang Dawa, Toya Ehe dan Toya Cawu. Panyungsungan dilakukan saat Karya Pedudusan Agung lan Pawintenan yang bertepatan dengan Purnama Kapat. Agung Anom Wijaya juga menambahkan, Pura Dasar Bhuana sempat dijadikan objek penelitian oleh peneliti asal Belanda. Di mana, hasilnya diyakini bahwa situs Pura Dasar Bhuana Gelgel hampir mirip dengan situs bekas Kerajaan Majapahit. ”Katanya Gelung Kori Agung mirip dengan Gelung Kori Kerajaan Majapahit,” sebutnya.

Pura Dasar Bhuana terletak di Desa Gelgel, Klungkung. Dari Denpasar, berjarak sekitar 42 kilometer. Pura ini berdiri di atas lahan yang cukup luas. Berdiri megah dan tampak asri di pinggir jalan utama Gelgel-Jumpai. Sebagimana umumnya Pura-pura di Bali, Pura Dasar Bhuana memiliki tiga mandalaNista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala. Di bagian Nista Mandala terlihat keangkeran pohon beringin besar yang tumbuh sejak berabad-abad lamanya.

Masuk ke Madya Mandala, pamedek bisa melihat bangunan-bangunan berupa Pelinggih Bale Agung. Pelinggih ini tampak unik karena panjangnya mencapai 12 meter. Bersebelahan dengan Bale Pesanekan dan pelinggih tempat berstanakan seluruh petapakan dan pratima Pura-pura yang ada di Desa Pakraman Gelgel. Pratima maupun petapakan itu tedun dan distanakan saat berlangsung Karya Agung Pedudusan (Ngusaba) yang dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Kapat.

Sementara di Utama Mandala terdapat belasan pelinggih di antaranya Meru Tumpang Solas, Meru Tumpang Telu, Padma Tiga dan banyak lagi pelinggih lainnya. Dalam setahun, ada dua wali/karya digelar yakni wali bertepatan dengan Pamacekan Agung, serta wali/karya Padudusan yang jatuh pada Purnama Kapat.

Pura Dasar Bhuana di-empon Desa Pakraman Gelgel yang terdiri atas 28 banjar dan tiga desa dinasDesa Gelgel, Desa Kamasan dan Desa Tojan. Keberadaannya berkaitan erat dengan keberadaan Keraton Suwecapura tempo dulu yang juga berada di Gelgel. Namun, jika melihat tahun berdirinya, pura ini sudah ada jauh sebelum Gelgel diperintah raja pertama, Dalem Ketut Ngulesir (1380-1400). Pura yang merupakan warisan maha-agung ini didirikan pada tahun Saka 1189 atau tahun 1267 Masehi.

Sebagaimana sejarahnya, Pura Dasar Bhuana erat kaitannya dengan Mpu Ghana yang hidup pada akhir abad IX Masehi. Pura Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatika sebagai bentuk penghormatan terhadap Mpu Ghana. Empu Ghana merupakan seorang brahmana dengan peran sangat besar terhadap perkembangan agama Hindu di Bali.

Empu Ghana adalah orang suci yang berasal dari Jawa. Tiba di Bali pada masa pemerintahan (suami-istri) Udayana Warmadewa dan Gunapraya Gharmapatni yang berkuasa dan memerintah Bali pada tahun Caka 910 sampai tahun Saka 933 (tahun 988-1011 Masehi). Empu Ghana merupakan brahmana penganut paham Ghanapatya. Seumur hidup menjalankan ajaran Sukla Brahmacari yakni tidak menjalani masa Grahasta (tidak menikah). Kaitannya setelah berdirinya Kerajaan Suwecapura, pura ini dipakai sebagai merajan keluarga raja saat itu. Letak pura ini persis berada di timur laut Keraton Suwecapura. Pada zaman itu, Keraton Suwecapura berdiri di Banjar Jero Agung, Gelgel.

Letak pura ini berada di hulu Keraton Suwecapura. Dulunya, disungsung keluarga Raja Gelgel,” tutur Agung Anom Wijaya. Pura ini memang erat kaitannya dengan keberadaan Kerajaan Suwecapura. Sejumlah situs peninggalan Kerajaan Suwecapura masih tetap dilestarikan di pura ini sampai sekarang. * baliputra

http://www.balipost.com/balipostcetak/2008/3/19/bd2.htm

 

Pura Dasar Bhuana Pemersatu Umat

Brahmane brahmanam, ksatraya
rajanyam
, marudbhyo vaisyam
tapase
sudram.
(Yajurveda.XXX.5).

Artinya:
Tuhan
telah menciptakan Brahmana untuk mengembangkan pengetahuan. Ksatria untuk perlindungan, Vaisya untuk kesejahteraan dan Sudra untuk pekerjaan jasmani.

SALAH satu swadharma pemimpin negara seperti raja adalah membangun sistem sosial yang dapat membangun kebersamaan yang dinamis untuk menciptakan kerukunan sosial. Rukun itu adalah terminal sosial untuk mengantarkan kehidupan bersama dalam keadaan aman dan damai. Keadaan aman dan damai itu sebagai kondisi yang dibutuhkan agar tumbuh potensi-potensi material dan spiritual yang seimbang dan kontinu untuk membangun manusia yang seutuhnya lahir batin sebagai manusia yang hidup bahagia.

Masyarakat yang aman dan damai itu adalah masyarakat yang di dalamnya ada kesetaraan, persaudaraan dan kemerdekaan mengembangkan diri sesuai dengan profesi dan fungsi masing-masing.

Dalam ajaran Hindu ada filosofi dasar membangun masyarakat yang rukun secara vertikal dan horizontal. Bagaikan tampak dara yaitu ada dua garis menyilang. Ada garis vertikal dari bawah ke atas dan ada garis horizontal. Garis vertikal dan horizontal ini menyilang di tengah-tengah. Itulah yang membentuk apa yang disebut dalam simbol Hindu di Bali sebagai tampak dara.

Rukun secara vertikal antargenerasi berdasarkan konsep Catur Asrama. Brahmacari hormat dan bakti pada generasi tua yang Gerhasta Asrama. Demikian juga seterusnya dengan Asrama yang selanjutnya. Demikian juga rukun secara horizontal antara profesi berdasarkan Catur Varna.

Sebagaimana dinyatakan dalam Mantra Yajurveda. XXX.5 bahwa Catur Varna itu sama-sama ciptaan Tuhan berdasarkan Guna dan Karma. Artinya berdasarkan bakat dan pekerjaannya. Catur varna itu kedudukannya paralel horizontal, tidak membeda-bedakan harkat dan martabat sesama manusia.

Keberadaan Pura Dasar Bhuana di Desa Gelgel Klungkung ini sebagai tempat pemujaan untuk menyatukan berbagai golongan yang ada di Bali saat kejayaan Kerajaan Klungkung ketika beribu kota di Gelgel yang waktu itu disebut Sweca Pura. Di Pura Dasar Bhuwana ini di samping ada sarana memuja Tuhan Yang Maha Esa juga terdapat pemujaan Dewa Pitara (roh suci leluhur) dari beberapa warga atau wangsa.

Ada pemujaan Warga Satria Dalem, Warga Pasek Maha Gotra Sanak Sapta Resi, Warga Pande dan Wangsa Dang Hyang Nirartha. Pemujaan berbagai warga nampaknya baru didirikan saat kejayaan Kerajaan Klungkung yang beribu kota di Sweca Pura.

Sebagaimana umumnya pura di Bali berkembangnya secara evolusi sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakatnya. Oleh para peneliti pura ini sudah ada sejak abad ke-10 Masehi sebagai Pasraman Pandita Mpu Graha. Kalau kita perhatikan perkembangan berbagai tempat pemujaan umat Hindu di Bali umumnya pura itu dikembangkan oleh setiap generasi. Ini artinya lewat sistem pemujaan itu umat Hindu menghormati peninggalan-peninggalan leluhurnya dengan melanjutkan apa yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Inilah yang dapat disebut adanya kerukunan antara generasi.

Mengembangkan warisan leluhur itu disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Meskipun demikian substansi universal dari warisan itu sebagai tempat pemujaan untuk membina hidup yang benar dan suci tetap dilanjutkan.

Dalam sistem pemujaan Hindu di samping adanya pemujaan pada Tuhan sebagai unsur yang tertinggi, ajaran Hindu mengajarkan juga pemujaan leluhur atau Dewa Pitara. Karena menurut Sarasamuscaya 250 ada empat pahala orang yang berbakti pada leluhurnya yaitu Kirti, Bala, Yasa dan Yusa.

Sementara dalam Manawa Dharmasastra II.121 dinyatakan bahwa mereka yang tekun berbakti pada leluhurnya akan memperoleh pahala: Ayu, Widya, Yasa dan Bala. Dari ajaran inilah menimbulkan adanya sistem pengelompokan warga. Pandhaninath Prabhu dalam bukunya ”Hindu Social Organisationmenyatakan ada tiga sistem pengelompokan leluhur yaitu berdasarkan Sapinda, Gotra, dan Pravara.

Sapinda kesamaan leluhur berdasarkan kesamaan darah keturunan yang dapat dilacak dengan pasti. Gotra kesamaan keluarga berdasarkan tokoh yang diyakini sebagai leluhurnya sebagai pembentuk wangsa. Pravara kesamaan keluarga didasarkan pada kesamaan sampradaya atau sekte Hindu yang dianutnya.

Di India umat Hindu juga dikelompokkan berdasarkan sistem Gotra. Karena itu ada ratusan bahkan ribuan Gotra. Sistem pengelompokan berdasarkan sistem wangsa ini tidak ada kaitannya dengan kasta, apalagi Catur Varna. Sistem wangsa atau sistem klan Hindu adalah untuk memantapkan ajaran pemujaan leluhur sebagai tangga untuk memuja Tuhan.

Umat Hindu amat yakin akan pahala mulia bagi mereka yang berbakti pada leluhurnya sebagaimana dijanjikan oleh Pustaka Sarasamuscaya dan Manawa Dharmasastra tersebut. Tidaklah tepat kalau sistem wangsa ini dicampuradukkan dengan sistem Catur Varna. Sistem Varna adalah sabda Tuhan sebagai ajaran untuk mengembangkan profesi melalui pengembangan dan pembinaan Guna dan Karma.

Keberadaan Pura Dasar Bhuana ini sebagai pengejawantahan sabda Tuhan menjadi sistem religi untuk menata masyarakat Hindu agar bersatu padu dalam kebhinekaan swadharma sesuai dengan wangsa dan varna-nya. Karena itu sistem wangsa atau soroh harus tetap ditegakkan untuk memuja leluhur mewujudkan empat pahala mulia yaitu hidup sehat sejahtera (ayu), berilmu (widya), mampu berbuat jasa pada sesama hidup ini (yasa) dan memiliki daya tahan diri yang kuat lahir batin (bala).

Sementara menegakkan sistem Catur Varna untuk membina agar setiap orang memiliki profesi yang jelas, benar dan andal. Lebih-lebih di era post modern ini hidup tanpa profesi yang jelas, andal dan berkualitas tidak mungkin dapat memenangkan persaingan hidup yang makin penuh tantangan ini. Karena itu berbagai lembaga Hindu di Bali, baik lembaga tradisional maupun lembaga modern, seyogianya menegakkan sistem pemujaan leluhurnya sebagai tangga memuja Tuhan. Demikian juga dalam membina pengembangan profesi melalui ajaran Catur Varna agar dapat hidup bersaing secara sehat di era global yang semakin penuh dengan hiruk-pikuk persaingan dalam berbagai bidang kehidupan ini. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/3/19/bd1.htm

Pura Kentel Gumi

Posted by Adnyana under Pura di Klungkung

Pura Kentel Gumi
Terdapat Sejumlah Pelinggih, Penangkal Marabahaya

Pura Kentel Gumi merupakan salah satu bagian terpenting dari keberadaan Pura-pura di Bali. Pura yang berlokasi di Desa Tusan, Banjarangkan, Klungkung itu memiliki peran strategis untuk mengamankan jagat Bali — Indonesia pada umumnya — dari berbagai marabahaya. Dengan posisinya yang berada di tengah-tengah (pusaran), Pura Kentel Gumi selain merupakan pusat dari Pura-pura yang ada di Bali, bahkan Jawa, juga merupakan sumber penghidupan masyarakat Bali. Bagaimana cikal-bakal Pura Kentel Gumi ini?

——————————–

SETIAP enam bulan sekali, ribuan umat Hindu pedek tangkil memadati Pura Kentel Gumi. Bukan saja umat pengempon/pengeling pura yang berasal dari Banjarangkan dan sekitarnya, melainkan dari seluruh pelosok Bali. Mereka berduyun-duyun datang ke pura yang pada zamannya (abad XI-red) dikuasai para raja Bali itu, untuk bersembahyang serangkaian dengan piodalan. Piodalan di pura ini berlangsung pada Weraspati Umanis Dunggulan, setiap 210 hari sekali.

Pura Kentel Gumi juga kerap dimanfaatkan umat untuk meresmikan sebuah perhimpunan/kelompok. Salah satunya adalah peresmian Yayasan Sabha Hindu Bali yang terbentuk tahun 2005 lalu.

Bukti bahwa Pura Kentel Gumi merupakan pusat pura dan sumber penghidupan masyarakat Bali, terlihat dari keberadaan pelinggih-pelinggih atau pura-pura besar yang ada di Bali dan Jawa yang dibangun di pura tersebut. Di antaranya, Pura Sadha (Badung), Pura Gunung Agung, Pura Pengayengan Batara Besakih (Meru Tumpang 9, Karangasem), Batur Ulundanu (Bangli), Masceti (Gianyar), Pengayengan Pura di Majapahit dan lainnya, termasuk pelinggih Ratu Arca. ”Sejumlah pura ada di sini. Makanya Kentel Gumi diartikan sebagai pusat atau sumber dari segalanya,” ungkap pengeling pura Cokorda Gde Oka Suryanegara.

Meski demikian, Pura Kentel Gumi tetap tidak dapat dipisahkan dari satu-kesatuan Tri Kahyangan (Besakih, Batur dan Kentel Gumi). Setiap desa pakraman di Bali selalu memiliki Pura Puseh, Pura Desa dan Pura Dalem. Begitu juga dalam konteks Bali, Pura Kentel Gumi merupakan Pusehnya, Besakih merupakan Dalem dan Batur sebagai Pura Desanya.

Pura yang berdiri di atas lahan seluas lima hektar itu terdiri atas dua bagian. Awalnya, pura tersebut hanya berupa gedong dan bale pesamuan yang berada di bagian Maos (Mas) Pahit. Yang pertama kali bermukim di bagian itu adalah Mpu Kuturan (abad XI). Mpu Kuturan bermukim dan kemudian membentuk sekaligus mengembangkan berbagai peraturan. Entah kenapa, pada bagian itu Mpu Kuturan tidak melengkapi pura tersebut dengan Padmasana.

Baru pada zaman Raja Kresna Kepakisan pura itu dilengkapi  dengan Padmasari dengan lokasi di bagian selatan Maos Pahit. Juga dilengkapi dengan Pura Sadha, Gunung Agung, Besakih dan lainnya sebagaimana disebutkan di atas. Meski demikian, kedua lokasi itu selalu bersatu padu dalam setiap pelaksanaan upacara. Setelah itu, seiring dengan perkembangannya, keberadaan pura itu dikuasai oleh raja-raja yang saat itu berkuasa di Bali. Terutama Kerajaan Klungkung (pergeseran Kerajaan Gelgel) sebagai pusat kerajaan di Bali pada zaman itu. Setelah Kerajaan Klungkung runtuh pada tahun 1677 (pertengahan abad XVII), kekuasaan di Bali selanjutnya terpecah belah. Tidak lagi terletak di bawah satu pimpinan (Kerajaan Klungkung). Begitu juga dengan Pura Kentel Gumi, bukan hanya dikuasai Raja Klungkung, tetapi juga pernah dikuasai Raja Gianyar.

Sumanggen

Keunikan lain Pura Kentel Gumi yakni keberadaan sebuah bangunan sumanggen. Bangunan tersebut biasanya terdapat di puri yang dimanfaatkan untuk upacara pitra yadnya maupun manusa yadnya. Dituturkan Cok Suryanegara, keberadaan sumanggen itu sendiri berawal dari seorang putri Raja Klungkung yang sakit. Sang putri menjalani pengobatan pada Dukuh Suladri di Tamanbali, Bangli. Selama dalam pengobatan, sang putri menetap di Bangli. Hingga akhirnya jatuh cinta dengan seorang putra Dukuh Suladri. Lama menjalin asmara, putri raja dan putra dukuh dinikahkan.

Sebagaimana layaknya suami-istri umumnya, putri dan putra dukuh silih berganti mengunjungi mertua masing-masing. Hingga suatu saat, dalam perjalanan menuju Bangli (persisnya di depan Pura Kentel Gumi) sang putri mengalami keguguran. Mayat sang bayi kemudian disemayamkan di sekitar pura tersebut (tentu dengan kondisi belum sebagus sekarang).

Seorang pengamat spiritual yang juga penyusun buku-buku tentang sejarah pura Dewa Ketut Soma menambahkan, keberadaan sumanggen itu kemungkinan ada kaitannya dengan konsep tata ruang puri. Mengingat, Pura Kentel Gumi dikuasai oleh raja-raja yang berkuasa. Sebagaimana konsep puri, kata Dewa Soma, setiap areal puri harus dilengkapi dengan bangunan sumanggen. ”Terkait keberadaan sumanggen di Kentel Gumi saat ini, fungsinya ya… sebagai tempat upakara. Kalau ada tamu penting yang pedak tangkil atau ada kegiatan upacara, bangunan itu juga bisa dimanfaatkan untuk penyimpanan sanganan,” katanya. * baliputra

Pantangan bagi yang Berniat Jahat

KALAU punya pikiran yang macam-macam, jangan coba-coba masuk ke areal Pura Kentel Gumi. Sebab, setiap pikiran jahat itu akan segera terdeteksi dan tidak akan mudah untuk menyembunyikannya. Dari penuturan pegempon/pengeling, Pura Kentel Gumi sangatlah tenget. Siapa pun yang berbuat curang, akan sangat mudah diketahui apabila nunasin (mohon petunjuk) di pura yang notabene tempat berstananya para dewa-dewa itu. ”Jangan coba-coba berani bersumpah di pura ini (Kentel Gumi-red) kalau memang melakukan kesalahan. Lebih baik mengakui kesalahan itu terlebih dahulu, karena sumpah yang dilakukan di sini sangat manjur,” sebut seorang pengempon pura yang ditemui saat kerja bakti membersihkan areal pura usai tawur pakelem beberapa waktu lalu.

Diceritakan, beberapa tahun silam ada sesorang yang berupaya melakukan niat jahat di pura tersebut. Orang itu mencoba membakar atap bale agung yang terbuat dari alang-alang. Meski terbuat dari bahan yang sangat mudah terbakar, upaya jahat orang itu tidak kesampaian, karena api tidak menjalar ke mana-mana. Karena niat jahatnya tidak terlaksana maksimal, orang itu pun putus asa. Dalam ketidaksadarannya, justru dia mengakui perbuatannya di hadapan warga. Sehingga warga tidak lagi bersusah payah mengejar orang yang berniat menghanguskan pura tersebut. ”Kalau dibilang kejadian aneh, sangat banyak di sini. Tetapi tidak usahlah diceritakan agar tidak menimbulkan kesan yang tidak-tidak,” tambah Cok. Suryanegara.

Kata Suryanegara, tidak ada pantangan bagi siapa pun yang ingin masuk, apalagi bersembahyang di Pura Kentel Gumi. Dengan catatan, tidak punya niat jahat dan berperilaku serta berpenampilan yang wajar. (bal)

Tawur Pakelem dengan Upakara Nyanggar Tawang

Dari tahun ke tahun, perkembangan selalu diikuti dengan berbagai kejadian. Berbagai peristiwa yang mengancam keberadaan Bali kerap terjadi. Bom Bali I dan II, perkelahian antarbanjar dan berbagai kerusuhan serta kejadian lainnya, muncul silih berganti mewarnai kehidupan warga di pulau seribu pura ini. Makanya, untuk mengembalikan jagat Bali sebagai alam yang bersih dan suci tanpa noda, untuk pertama kalinya Pemerintah Propinsi Bali menggelar upacara tawur pakelem, Rabu (29/3) lalu.

Hal itu dilakukan sebagai upaya penebusan segala kebingaran yang terjadi saat ini. Upacara dengan upakara nyanggar tawang itu pun dipusatkan di Pura Kentel Gumi. Tentunya dengan berbagai pertimbangan, yakni Kentel Gumi yang notabene sebagai sumber pura dan pusat penghidupan serta sebagai pusat berstananya sebagaimana tercermin dari 25 arca yang terdapat dalam pelinggih ratu arca. Arca-arca itu sebagai perwujudan para dewa seperti Dewa Siwa, Brahma, Wisnu, Durga, Ghanapati, Lingga dan banyak lagi patung-patung yang tidak dapat dinyatakan wujudnya.

Tawur pakelem menggunakan sarana kerbau, kambing, angsa dan bebek. Untuk di Pura Kentel Gumi sendiri, sarana pakelem itu dikubur hidup-hidup di dalam areal pura. Beda dengan pakelem lain yang dirarung (dihanyut) di tengah laut. ”Itu merupakan perlambang kelahiran yang dikembalikan dengan segala kekurangan dan kelebihan ke tempat asalnya. Kegiatan itu juga merupakan bagian dari pencarian jati diri Bali untuk melakukan penyempurnaan,” tandas Cokorda Gde Oka Suryanegara.

Selain di Kentel Gumi, tawur pakelem juga dilaksanakan secara serentak di Pura Besakih dan Angkasa Pura, Tuban. Dirangkai dengan upacara tawur kesanga serangkaian pengerupukan menjelang hari raya Nyepi.

Upacara itu di-puput tiga sulinggih yaitu, Pedanda Siwa dari Dawan Kaler, Pedanda Budha dari Buda Wanasari Karangasem dan Sri Mpu Pujangga dari Keramas Gianyar. (bal)

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2006/4/5/bd1.htm

Kentel Gumi

Hiranyagarbhah samavartatagre
Bhutasya
jatah patireka asit,
Sa dadhara prthivim dyam utemam

Kasmai
devaya havisa vidhema (Rgveda X.121.1)

Maksudnya: Tuhan Yang Mahaesa yang menguasai planet ada dalam diri-Nya. Tuhan itu mahatunggal sebagai pencipta segala. Tuhanlah sebagai penyangga bumi dan langit, sebagai dewata tertinggi sumber kebahagiaan yang suci, kami persembahkan doa kebaktian dengan ketulusan hati.

MENEGAKKAN bumi dimaksudkan menegakkan kebenaran dengan perilaku mulia. Perilaku mulia menegakkan bumi ini diawali dengan meyakini bahwa Tuhanlah sebagai pencipta dan penyangga bumi dan langit.

Tujuan Tuhan menciptakan bumi dan langit adalah sebagai wadah kehidupan semua makhluk terutama manusia untuk memperbaiki kualitas perilakunya. Mengawali perbaikan kualitas perilaku dengan meningkatkan pemujaan pada Tuhan dengan doa persembahan.

Demikianlah Pura Kentel Gumi didirikan untuk menegakkan kualitas perilaku di bumi. Kentel Gumi sama dengan istilah dalam bahasa Bali yaitu enteg gumi yang maknanya tegaknya stabilitas keharmonisan hidup di bumi ini.

Pura Kentel Gumi terletak di Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Pura Agung Kentel Gumi didirikan atas anjuran Mpu Kuturan sebagaimana dinyatakan dalam Lontar Babad Bendesa Mas.

Dalam lontar tersebut dinyatakan atas kehendak Mpu Kuturan didirikanlah Pura Penataran Agung Padang di Silayukti, Pura Gowa Lawah, Pura Dasar Gelgel, Pura Klotok dan Pura Agung Kentel Gumi. Hal ini mengandung makna bahwa kehidupan di bumi akan tegak atau ajeg apabila dilakukan kesadaran rohani. Pura Silayukti di Padang, Karangasem itu adalah Asrama Mpu Kuturan. Fungsi asrama adalah untuk mendidik dan melatih umat mendapatkan pemahaman akan kerohanian.

Pura Goa Lawah adalah pura untuk mendapatkan pemahaman akan kedudukan dan fungsi samudera. Samudera kena sinar matahari berproses menjadi mendung. Mendung menjadi hujan. Hujan ditampung oleh hutan yang tumbuh di gunung. Proses alam itulah yang menyebabkan terjadinya kesejahteraan. Karena itu Pura Goa Lawah disebut stana Tuhan sebagai Hyang Basuki atau Batara Telenging Segara. Basuki artinya rahayu atau selamat.

Sementara Pura Dasar Gelgel adalah tempat suci untuk mempersatukan umat berdasarkan kesetaraan, persaudaraan dan kemerdekaan untuk bereksistensi sesuai dengan swadharma masing-masing. Pelinggih leluhur berbagai warga di Pura Dasar Gelgel untuk mengingatkan pada pemujaan roh suci leluhur (Dewa Pitara), bukan untuk membeda-bedakan harkat dan martabat manusia. Pura Klotok adalah tempat memohon Tirtha Amerta Kamandalu (air suci kehidupan) sebagai puncak dari prosesi ritual melasti. Hal itulah sebagai simbol yang melukiskan jalannya kehidupan untuk mencapai Kentel Gumi atau tegaknya kehidupan. Itulah warisan zaman Mpu Kuturan pada abad ke-11 Masehi.

Dalam Lontar Purana Pura Agung Kental Gumi diceritrakan perjalanan seorang raja dari Tegal Suci Mekah menuju Bali atau Bangsul. Sampai di Desa Tusan, Klungkung, Raja berkehendak mendirikan pemujaan. Salah seorang pengikut Raja bernama Arya Kenceng ditugaskan mewujudkan kehendak sang Raja. Untuk itu maka didirikanlah Meru Tumpang 11, Padmasana, Meru Tumpang 9 stana Batara Maha Dewa, Meru Tumpang 7 stana Batara Segara, Meru Tumpang 5 stana Batara di Batur, Meru Tumpeng 3 stana Batara Ulun Danu dan pelinggih Basundhari Dasa.

Adanya nama Arya Kenceng dalam Lontar Purana Pura Agung Kentel Gumi sebagai pengikut Raja sangat besar kemungkinannya peristiwa itu terjadi abad ke-14 Masehi saat ekspedisi Gajah Mada ke Bali. Nama Arya Kenceng atau Arya Ken Jeng menurut Lontar Babad Tabanan adalah seorang kesatria dari Kauripan (Kediri, Jawa Timur) yang bersaudara dengan Arya Dharma, Arya Sentong, Arya Kuta Waringin, dan Arya Belog. Adanya nama tempat Tegal Suci Mekah kemungkinan nama Pulau Jawa pada abad ke-14 Masehi itu.

Jadi, Pura Kentel Gumi mungkin diperluas saat raja keturunan Raja Sri Kresna Kepakisan berkuasa di Bali. Setelah pemerintahan Raja Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten berakhir atas ekspedisi Gajah Mada ke Bali maka yang memegang tampuk pemerintahan di Bali adalah keturunan Sri Kresna Kepakisan. Kekuasaan raja dari Jawa ini baru stabil atau kentel saat berpusat di Klungkung.

Pada mulanya pusat kerajaan di Samprangan, Gianyar terus pindah ke Gegel. Dari Gelgel lanjut pindah ke Semarapura atau Klungkung. Perpindahan pusat kerajaan ini menandakan keadaan kerajaan tidak stabil karena banyak gangguan. Setelah pusat kerajaan berada di Klungkung inilah keadaan kerajaan baru stabil artinya keadaan gumi Bali menjadi kentel. Kemungkinan istilah enteng gumine dalam bahasa Bali yang sangat populer sampai sekarang di Bali berasal dari zaman stabilnya keadaan Bali di abad ke-14 Masehi itu. Keadaan stabil itu mungkin baru dapat diwujudkan setelah adanya perhatian pada Pura Agung Kentel Gumi yang memang sudah ada sejak zaman Mpu Kuturan.

Pura Kentel Gumi ini di bagian jeroan pura ada tiga kelompok pura. Ada kelompok Pura Agung Kentel Gumi, kelompok Pura Maspahit, dan kelompok Pura Masceti. Seluruh kelompok pura inilah yang disebut Pura Agung Kentel Gumi. Pada kelompok Pura Kentel Gumi ini pelinggih yang paling utama adalah Meru Tumpang 11 sebagai stana Batara Sakti Kentel Gumi yaitu Tuhan yang dipuja sebagai pemberi stabilitas kerajaan dalam arti luas. Pelinggih Pesamuan Agung berbentuk Meru Tumpang 11 sebagai pesamuan Batara di sebelah pura di Pura Agung Kentel Gumi. Balai Mudra Manik sebagai tempat untuk menstanakan pralingga dari sebelah pura di sekitar Pura Agung Kentel Gumi. Ada pelinggih Sanggar Agung Rong Telu stana Mpu Tri Bhuwana yaitu pemujaan Tuhan sebagai Parama Siwa, Sadha Siwa dan Siwa. Ada pelinggih Manjangan Saluwang sebagai stana rohani Mpu Kuturan. Ada pelinggih Catur Muka sebagai tempat pemujaan Batara Brahma. Di kelompok Pura Kentel Gumi ini ada berbagai pelinggih pesimpangan. Ada Pesimpangan Jambu Dwipa sebagai pelinggih Batara Maspahit. Pesimpangan Batara Ulun Danu, Batara di Batur. Ada pesimpangan Batara Gunung Agung berbentuk pelinggih Meru Tumpang 9. Pesimpangan Ratu Segara dan banyak lagi pesimpangan sebagaimana layaknya Pura Kahyangan Jagat umumnya. Pada kelompok Pura Maspahit ada pelinggih Gedong Bata dengan arca manjangan untuk mengingatkan kedatangan Mpu Kuturan ke Bali. Selebihnya sebagai pelinggih pesimpangan. Demikian juga kelompok Pura Masceti ada Pesimpangan Dewa Sadha Siwa dan Siwa, Gunung Agung, Batara Segara dan Ngerurah dan Kemulan Bumi. Upacara Piodalannya setiap Weraspati Manis Wuku Dungulan atau Umanis Galungan.

* Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2006/4/5/bd2.htm

Sumber Foto-Foto diatas dari Widnyana Sudibya