kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Pura di Tabanan’ Category

Pura Penataran Beratan

Posted by Adnyana under Pura di Tabanan

Pura Penataran Beratan–
Keindahan Alam dan Manisnya Madu Spiritual

Pura Dangkahyangan Penataran Beratan atau disingkat Pura Penataran Beratan adalah sebuah tempat suci yang terletak di tepi Danau Beratan, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Keindahan alam yang terdiri atas air danau yang tenang dan sejuk serta hijau pepohonan di sekitarnya menjadi ciri khas dari pura ini. 

Dari Kota Denpasar, untuk mencapai pura ini harus menempuh jarak sekitar 51 km.  Udara pegunungan yang dingin akan menyapa setiap pengunjung yang memasuki kawasan Candikuning.  Pura yang terletak pada ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut ini memang terkenal memiliki suhu yang sangat nyaman yakni berada pada kisaran 18-22 derajat Celsius.  Sangat berbeda dengan suhu udara di tempat lainnya yang rata-rata lebih tinggi.  Selain itu kabut tipis yang menyelimuti daerah pegunungan ini menjadi pesona tersendiri. Daerah Bedugul, Baturiti memang terkenal dengan pesona alamnya, terutama berasal dari pemandangan Danau Beratan.  Daerah ini sangat subur dan sentra penanaman sayur dan tanaman hias.

Jika pemedek memasuki areal pura ini, pesona indahnya alam dan getaran spiritual sangat terasa.  Di samping karena hawanya yang sangat sejuk, air Danau Beratan yang tenang dan sejuk seolah mengingatkan manusia pada keagungan spiritual. Bagi para pemedek Pura Penataran Beratan menjadi salah satu tujuan tirtayatra yang sangat bermakna.  Sedangkan bagi para pelancong, areal pura yang tergabung dalam objek wisata Danau Beratan ini mampu memberikan rasa terang, senang dan damai dengan pelukan pesona keindahan alamnya.

Di pura yang diperkirakan dibangun pada zaman kerajaan di Bali ini, ada sesuatu keindahan yang sukar untuk diterjemahkan ke dalam kata-kata.  Banyak pengunjung yang menyatakan sebagai suatu keindahan yang menyentuh rasa terdalam, semacam nektar (madu) spiritual.  Sejauh mata memandang, hijau pegunungan dan jernihnya air laut akan menggugah perasaan terdalam manusia, yang mengingatkan pada keagungan ciptaan Tuhan yang harus dirawat dan dijaga oleh manusia.  Bisa menikmati alam yang indah ini merupakan satu kesempatan yang indah yang mungkin akan terus terbayang sepanjang perjalanan hidup.

Pura pertama yang ditemui ketika memasuki areal ini adalah  Pelinggih Pande.  Di sini dapat ditemui peninggalan prasejarah yang berupa sarkopagus, alat-alat rumah tangga dan benda-benda peninggalan kuno lainnya.  Benda-benda ini dibuatkan pelinggih sederhana  di areal pura yang sempit itu. Pura ini bersebelahan dengan pohon beringin besar yang telah berusia lebih dari seratus tahun. Setiap hari tertentu, para pasemetonan Pande sering melakukan pemujaan di tempat ini. Selain itu persis di depan Pura Penataran terdapat Pura Dalem Purwa.

Pura Penataran Beratan merupakan pura utama yang terdiri atas beberapa pelinggih dan meru. Areal utama mandala dari pura ini juga merupakan daerah yang terluas dari beberapa pura yang ada.  Selain pintu utama, pemedek dapat memasuki pura melalui dua pintu bagian depan dan satu pintu yang tembus persis di tepi danau.  Aturan di pura ini sangat ketat, di utama mandala hanya dapat dimasuki oleh mereka yang melakukan persembahyangan saja dan berpakaian adat. Suasana di dalam pura terasa sangat berbeda dengan di luar.  Di situ lebih tenang dan lebih khidmat, tanpa ada wisatawan yang lalu-lalang, apalagi ditambah dengan bau dupa yang semerbak. Umat yang masuk ke dalam pura ini benar-benar bermaksud untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sayang sekali, kondisi pura ini memprihatinkan karena banyak bangunan yang mulai lapuk serta keropos.

Sementara itu, selain Pura Penataran, pura yang terletak pada danau yakni pura dengan meru tumpang 11 dan meru tumpang 3 menjadi sorotan lensa para pengunjung.  Pura dengan meru tumpang 11 merupakan penghayatan terhadap Batara Pucak Mangu dan tumpang 3 merupakan pemujaan Dewi Danu.  Dua pura yang terletak di danau terutama saat air danau penuh menjadi pemandangan tersendiri.  Pura Dewi Danu merupakan penghayatan akan kesejahteraan bumi, di mana air merupakan sumber kemakmuran dan kesejahteraan jagat.  Dengan melakukan pemujaan terhadap Dewi Danu, diharapkan kesejahteraan masyarakat Bali semakin meningkat dan kesadaran manusia untuk memelihara sumber-sumber alam semakin meningkat.  Sebab, mata air merupakan sumber kehidupan bagi manusia.

Keunikan lain dari areal pura ini adalah adanya sejenis pagoda yang terdapat arca Buddha.  Banyak pengunjung yang mengira bahwa tempat ini khusus dibangun untuk memuja Sang Buddha, tetapi konon bangunan ini justru dibangun oleh umat Hindu.  Akan tetapi hingga kini masyarakat Hindu jarang melakukan pemujaan di tempat ini, hanya ada beberapa umat Buddha yang melakukan sembah bakti.

Hampir setiap hari banyak pemedek dari berbagai daerah berdatangan untuk tujuan tertentu di antaranya upacara yang berhubungan dengan pitra yadnya maupun dewa yadnya.  Selain itu, pura ini diyakini sebagai tempat untuk memohon kemakmuran dan rezeki. 

10 Pengider

Terdapat 10 pura pengider pada Pura Penataran Beratan.  Masing-masing dewa yang distanakan pada pura pengider ini berbeda. Kesepuluh pura pengider itu adalah  Pura Pucak Mangu, Pura Manik Umawang (Ulun Danu), Pura Rejeng Besi, Pura Pucak Resi Sangkur, Pura Pucak Candi Mas, Pura Teratai Bang, terletak di lokasi Kebun Raya. Pura Batu Meringgit terletak di lokasi Kebun Raya, Pura Pucak Pungangan, Pura Pucak Sari, dan Pura Kayu Sugih.

Pada saat piodalan yang jatuh pada Anggarkasih Julungwangi ini, kesepuluh Batara yang berstana di masing-masing pura pengider distanakan dan dipuja selama piodalan berlangsung.  Namun, dalam keseharian Tri Murti yakni Brahma, Wisnu dan Siwa merupakan fokus pemujaan di pura ini.

Menurut beberapa sumber pemujaan Tri Murti di pura ini merupakan suatu bentuk pencarian spiritual yang seimbang dan selaras atau sesuai dengan masyarakat Bali. Pura ini di-empon oleh empat satakan, yang merupakan pengempon secara turun-temurun.  Satakan Candikuning sebagai pekandel dari pura ini yang terdiri atas lima desa pakraman, Satakan Bangah, Satakan Baturiti dan Satakan Antapan. Keempat satakan ini bekerja bahu-membahu dalam pelaksanaan piodalan maupun perawatan dari pura ini.  Sementara Puri Marga merupakan penganceng, sedangkan Puri Mengwi, Belayu dan Perean sebagai pengabeh.

Ketua Badan Pengelola Objek Wisata Penataran Beratan IGN Budana Arta menyatakan sejak 30 tahun terakhir Pura Penataran ini tidak pernah direhab, sehingga kondisinya banyak yang sudah lapuk. Menurutnya, sebagai suatu tempat pemujaan, kelayakan pura ini patut dipertimbangkan. Sedangkan sebagai tempat wisata keunikan berupa kekunoan sering dianggap alami merupakan satu daya tarik tersendiri. Akan tetapi sebagai tempat pemujaan dianggap sangat layak untuk dilakukan rehab.

Artha menyatakan sejak Maret lalu telah dilakukan rehab tahap I yang terdiri atas tujuh pelinggih yang sudah keropos. Dana yang dibutuhkan untuk hal ini sebesar Rp 600 juta.   Sedangkan untuk tahap II nanti, pihaknya merencanakan akan melakukan rehab pagar, candi dan bangunan lainnya yang diperkirakan menelan dana sebesar Rp 2 milyar.

Kesepuluh pura pengider ini sangat terkenal di kalangan masyarakat Baturiti, bahkan Pura Pucak Sangkur sering dikaitkan dengan tempat memohon bagi para pejabat di lingkungan Propinsi Bali.  Pada saat bulan purnama banyak pemedek yang tangkil baik dengan tujuan peningkatan spiritual maupun keinginan duniawi.  Alamnya yang teduh dan tenang di pura ini sering dijadikan sebagai tempat meditasi banyak penekun spiritual.

Suatu kekeliruan yang telah meluas terjadi bahwa Pura Penataran ini sering disebut Pura Ulun Danu.  Menurut Artha, setelah dilakukan rembuk antartokoh-tokoh ternyata yang benar merupakan Pura Penataran.  Sedangkan yang dinyatakan sebagai Pura Ulun Danu adalah Pura Manik Umawang yang letaknya memang di daerah hulu dari danau.  Nama Ulun Danu terus melekat dengan belum digantinya pelang nama objek wisata Ulun Danu di pintu masuk areal ini.  untuk hal tersebut, Artha mengaku akan segera mengganti papan nama tersebut dengan nama pura yang sebenarnya. Selain itu, sejarah pembangunan pura yang belum tercatat akan diupayakan untuk dikumpulkan sumber-sumbernya yang selanjutnya akan dibukukan. 

Selain melakukan rehab terhadap pura yang ada di areal objek wisata Beratan, menurut Artha, tugas berat lainnya yang harus dilakukannya bersama seluruh komponen masyarakat Bali adalah menjaga kelestarian tempat tersebut.  Seluruh masyarakat Bali hendaknya menjaga sumber alam ini dengan bijak.  Sebab, jika terjadi penyusutan volume air yang diakibatkan oleh perilaku manusia, kesuburan dan keindahan alam Bali akan terancam.  Sebab, danau merupakan sumber kesuburan jagat. * surpi

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/4/12/bd1.htm

Gusti Agung Putu dan Ulun Danu Beratan

Trini chandamsi kavayo viyetire,
purupam
darsatam visvacaksanam
apo
vata osadhyastani
ekasmin
bhuvana arpitani. (Atharvaveda XVII.I.17). 

Maksudnya: Orang bijak mendapatkan tiga benda yang menutup seluruh alam semesta. Benda itu memiliki bentuk dan aspek yang berbeda yaitu air, udara dan tanam-tanaman. Semua benda itu disediakan untuk setiap dunia. 

AIR, udara dan tumbuh-tumbuhan adalah sebagian dari unsur alam yang membentuk bumi ini. Dengan kehadiran tiga wujud alam itu disertai dengan matahari yang selalu bersinar maka terbangunlah sumber kehidupan bagi hewan dan umat manusia penghuni bumi ini.

Eksistensi sumber alam itu terjadi atas anugerah Tuhan Yang Mahakuasa. Karena itu Tuhan dipuja sebagai pencipta, pelindung dan pemralina dari semua unsur alam beserta dengan segala isinya.

Tuhan dipuja sebagai Batara Sangkara sebagai pencipta, pelindung dan pemralina tumbuh-tumbuhan. Pura Puncak Mangu di Kecamatan Petang sebagai media pemujaan Tuhan sebagai Batara Sengkara. Pura Puncak Mangu berada di hutan di puncak Gunung Mangu. Saat Gusti Agung Putu berhasil mendirikan Kerajaan Mengwi maka didirikanlah Pura Ulun Danu Beratan. Salah satu fungsi Pura Ulun Danu Beratan adalah sebagai Pesimpangan dari Batara yang dipuja di Pura Puncak Mangu.

Sejarah keberadaan Pura Ulun Danu Beratan di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan diuraikan dalam Lontar Babad Mengwi. Diceritakan, I Gusti Agung Putu dalam suatu pertandingan yang bersifat kesatria dikalahkan oleh I Gusti Ngurah Batu Tumpeng atau Ki Ngurah Kekeran. Sebagai orang yang kalah, I Gusti Agung Putu menjadi tawanan dan diserahkan kepada I Gusti Ngurah Tabanan. Oleh I Ngurah Tabanan, I Gusti Agung Putu diserahkan kepada seorang Patih dari Marga yang bernama I Gusti Bebalang. Tidak begitu lama di Marga, I Gusti Agung Putu berniat meningkatkan kesaktian dan kesuciannya. Niat ini muncul atas renungan mendalam karena kalah dalam perang tanding melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Untuk meningkatkan kemampuan diri, ia melakukan tapa brata di puncak Gunung Mangu. Dalam tapa brata itu  Gusti Agung Putu mendapat berbagai pencerahan dan kesaktian sebagai seorang kesatria.

Setelah I Gusti Agung merasa cukup mapan, beliau turun gunung dan mendirikan istana di Belayu atau di Bala Ayu. Di sini I Gusti Agung Putu banyak memiliki pengikut. Pertandingan secara kesatria lagi diulang melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Pertarungan akhirnya dimenangkan oleh I Gusti Agung Putu. Setelah kemenangan itu istananya di Belayu dipindahkan ke Bekak dengan nama Puri Kaleran. Di sini I Gusti Agung Putu mendirikan tempat pemujaan dengan nama Taman Ganter dan istananya bernama Kawiapura. Setelah mengalahkan musuh-musuhnya termasuk membantu Raja Tabanan mengalahkan musuhnya, selanjutnya ia mendirikan tempat pemujaan di tepi Danau Beratan untuk memuja Batara di Pura Puncak Mangu. Hal ini terjadi menurut Babad Mengwi tahun Saka 1556.

Pura Ulun Danu Beratan tahap demi tahap diperluas dan disempurnakan bersama dengan rakyatnya, sehingga menjadi Pura Kahyangan Jagat. Pura Ulun Danu terdiri atas empat kompleks pura. Kompleks pelinggih Lingga Petak, kompleks Pura Pesimpangan Puncak Mangu, kompleks Pura Pesimpangan Terate Bang dan kompleks Pura Dalem Purwa.

Kompleks yang paling timur adalah pelinggih Meru Tumpang Tiga stana Lingga Petak. Pura ini dikelilingi oleh tembok penyengker dengan empat pintu berupa candi bentar yang menghadap keempat penjuru. Demikian juga pintu merunya juga ada empat pintu yang juga mengarah ke empat penjuru. Tahun 1968 konon pura ini pernah dipugar. Ternyata di dasarnya terdapat tiga buah batu besar. Yang paling besar adalah batu dengan warna putih bulat panjang diapit oleh batu yang lebih kecil dengan warna merah dan hitam terletak berjejer. Di bawah batu putih itu keluar mata air. Karena itulah pelinggih Meru ini disebut linggih Lingga Petak. Meru Lingga Petak inilah sebagai pemujaan Batara Ulun Danu Beratan.

Menurut Drs. I Gst. Agung Gede Putra (alm) — yang pernah menjabat Kakanwil Depag Propinsi Bali dan juga pernah menjabat Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI — Meru Tumpang Tiga ini mungkin sebagai bentuk pemujaan Siwa Lingga yang pada zaman megalitikum dipakai wujud Lingga Yoni. Pemujaan Tuhan dengan sarana Lingga Yoni untuk memohon kesuburan pertanian. Gunung Mangu sebagai Lingganya dan Danau Beratan sebagai Yoninya. Melalui pertemuan dua unsur alam itulah Tuhan menciptakan kesuburan.

Kompleks yang kedua terletak di sebelah barat Pura Lingga Petak adalah Pura Pesimpangan Puncak Mangu. Dalam Lontar Usana Bali, Puncak Mangu dinyatakan sebagai pemujaan Hyang Danawa. Dalam hal ini Pura Lingga Petak sebagai Purusanya dan Pesimpangan Puncak Mangu sebagai Pradananya. Pertemuan dua unsur inilah memunculkan kesuburan. Dari kesuburan itu munculah tumbuh-tumbuhan dengan Dewanya Sang Hyang Sangkara.

Kompleks yang ketiga merupakan kompleks yang arealnya paling luas adalah kompleks Pesimpangan Pura Terate Bang. Di Pura ini ada pelinggih utama adalah Meru Tumpang Pitu sebagai pemujaan Batara Brahma. Ada pelinggih Kamulan sebagai pemujaan roh suci (Dewa Pitara) dari leluhur raja. Di samping itu ada banyak pelinggih pesimpangan. Ada pelinggih Padmasari Rong Tiga sebagai pemujaan Sang Hyang Tri Purusa. Pelinggih Gedong Manjangan Saluwang sebagai stana Mpu Kuturan. Ada Gedong untuk Ratu Pasek. pda Pelinggih Limas Catu untuk Batara Rambut Sadana. Ada Gedong Limas Mujung untuk Batara Penyarikan. Ada juga palinggih Paruman Alit sebagai stana Batara Kabeh dan banyak lagi ada pelinggih pesimpangan.

Kompleks keempat di bagian pojok tenggara dari kompleks Terate Bang adalah Pesimpangan Dalem Purwa. Palinggih yang paling utama di Pura Pesimpangan Dalem Pura ini adalah sebuah Gedong Pelinggih Batari Uma Bhagawati sebagai Saktinya Batara Siwa pemberi kebahagiaan.

Meskipun pura ini sebagai Pura Ulun Danu yaitu hulunya kehidupan pengairan di pura ini juga dipuja Batara Tri Purusa dan Batara Tri Murti. Tuhan jiwa alam semesta dan Tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan pemralina.

* I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/4/12/bd2.htm

Melindungi ”Tri Chanda” di Pura Luhur Batukaru

Pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Tumuwuh di Pura Luhur Batukaru sebagai suatu pemujaan untuk memotivasi umat manusia agar secara nyata melakukan langkah melindungi Tri Chanda sebagaimana dinyatakan dalam Mantra Atharvaveda XVIII.17. Yang dimaksud Tri Chanda itu adalah air, tumbuh-tumbuhan dan udara. Kalau keberadaan tiga benda yang menutupi bumi ini tidak terganggu oleh ulah manusia yang mau hidup berlebihan maka Tri Chanda itulah yang berfungsi untuk menjadi sumber yang menumbuhkan kehidupan ini. Apa fungsi Tri Chanda di Pura Luhur Batukaru itu?

====================

Tri Chanda itulah yang menyebabkan keberadaan Pura Luhur Batukaru sangat alami sesuai dengan tattwa yang melatarbelakangi keberadaan Pura Luhur Batukaru tersebut. Demikian juga Pura Presanak atau Jajar Kemiri dari Pura Luhur Batukaru ini melambangkan nilai-nilai spiritual yang memotivasi umat agar senantiasa menjaga kelestarian eksistensi Tri Chanda tersebut. Penampilan fisik Pura Luhur Batukaru tersebut amat artistik mengikuti rona alam di lingkungan pura.

Di Pura Luhur Batukaru ini di samping ada bangunan utama, di sebelah timurnya terdapat sumber mata air terdiri atas dua kompleks. Ada kompleks yang berlokasi di jeroan (dalam) pura pokok yang dipergunakan khusus untuk memohon Tirtha (air suci) untuk kepentingan upacara. Kompleks yang kedua adalah untuk kepentingan mandi dan cuci muka sebagai pembersihan diri dalam rangka persiapan untuk bersembahyang.

Upacara piodalan di pura ini jatuh setiap 210 hari sekali yaitu pada setiap Kamis Wuku Dungulan sehari setelah hari raya Galungan. Suatu yang unik di Pura Luhur Batukaru adalah mengenai upacara piodalan dan upacara besar lainnya tidak pernah dipimpin oleh pandita. Upacara cukup dipimpin oleh pemangku yang disebut Jero Kubayan. Di pura ini Dr. R. Goris, seorang ahli ilmu arkeologi, pernah mengadakan penelitian pada tahun 1928.

Di pura ini, Goris banyak menjumpai patung-patung yang tipenya serupa dengan patung yang terdapat di Goa Gajah yaitu patung yang keluar pancuran air dari pusarnya. Bedanya patung di Goa Gajah berdiri, sedangkan yang di Pura Batukaru duduk bersila. Menurut Goris, patung yang terdapat di Batukaru sezaman dengan patung di Goa Gajah.

Pura Luhur Batukaru denahnya dibagi menjadi tiga mandala. Bangunan yang paling utama di denah yang paling utama atau Utama Mandala berupa candi yang bentuknya sangat mirip dengan bentuk candi di Jawa Timur. Bentuknya ramping atapnya terdiri atas perpaduan tingkatan (punden berundak-undak). Candi utama ini diapit oleh Candi Perwara, serta di ujung kiri dan kanannya diapit oleh Padmasana. Jadi pada leretan bangunan utama terdapat lima bangunan atau pelinggih. Di candi utama inilah dipuja Dewa Mahadewa. Masyarakat menyebutnya Ratu Hyang Tumuwuh.

Mengapa Dewa Mahadewa diberi gelar Ratu Hyang Tumuwuh. Karena untuk menjaga keterpaduan air, udara dan tumbuh-tumbuhan di bumi ini. Agar semua alam tersebut terpadu adanya, sebagai langkah awal umat mohon tuntunan Tuhan sebagai Sang Hyang Tumuwuh. Karena Tuhanlah sebagai mahapencipta semua unsur alam tersebut. Sebutan Tuhan sebagai Sang Hyang Tumuwuh memang sebutan yang amat lokal Bali. Tetapi dibaliknya terdapat nilai-nilai universal tentang etika perlakuan sumber-sumber alam ciptaan Tuhan tersebut. Kalau udara kotor, sumber-sumber air tak terlindungi maka tumbuh-tumbuhan pun akan merana. Kalau tumbuh-tumbuhan merana hidup manusia pun akan menderita kekurangan bahan makanan dan obat-obatan.

Pelinggih utama di Pura Luhur Batukaru berbentuk Candi bukan Meru. Ini jelas pengaruh arsitektur Jawa Timur dan India. Candi tersebut merupakan tempat pemujaan Dewa Mahadewa. Candi diapit oleh Candi Perwara. Di sudut timur laut dan barat laut terdapat Pelinggih Padma Ratu Bagus Panji dan Ratu Puseh Kubayan.

Di pojok barat daya ada dua bangunan Gedong paling selatan berjejer. Dua Gedong itu sebagai Pedharman Raja Badung dan Raja Tabanan. Kedua Raja ini adalah satu klan. Di areal Utama Mandala terdapat tidak kurang dari 24 bangunan penting dan pelengkap. Di areal kedua yang disebut Madya Mandala ada sebuah Pelinggih Gedong stana Ratu Pasek sebagai tempat memohon suksesnya upacara yadnya.

Di pojok barat laut ada Gedong Simpen untuk tempat menyimpan Pratima. Di selatan Gedong Simpen tersebut terdapat bangunan Balai Agung dengan dua belas tiang. Balai Agung ini tempat berkumpulnya semua simbol sakral terutama saat Melasti. Pura Batukaru ini di samping sebagai Pura Sad Kahyangan juga berkedudukan sebagai Pura Catur Loka Pala sebagaimana disebutkan dalam Lontar Purana Bali. Di timur Pura Lempuhyang Luhur, di selatan Pura Andakasa, di bBarat Pura Luhur Batukaru dan utara Pura Pucak Mangu.

Pura Luhur Batukaru juga sebagai Pura Padma Bhuwana yaitu sembilan pura yang mengelilingi Pulau Bali. Pura Padma Bhuwana sebagai lambang pemujaan Tuhan yang ada di mana-mana di sembilan penjuru alam semesta. Tidak ada bagian alam semesta ini tanpa kehadiran Tuhan. Keberadaan Tuhan seperti itulah yang diekspresikan di sembilan pura di Pulau Bali.

Kalau penerapan konsep ketuhanan agama Hindu di Bali ini benar-benar dihayati, maka umat Hindu tidak akan berhenti pada sembahyang dengan upacara yadnya saja dalam mengamalkan ajaran. Itu baru langkah mengarah pada aspek niskala untuk membangun daya spiritual umat. Yang niskala itu seharusnya di-sekala-kan dalam perilaku hidup sehari-hari untuk secara aktif menjaga eksistensi Tri Chanda tersebut sesuai dengan sifat alaminya.

Dalam Chanakya Niti XIV, 18 dinyatakan bahwa untuk mendapatkan hidup sejahtera lindungilah lima hal yaitu: Dharma (kesucian agama) Dhana (aset publik), Dhanyam (bahan makanan), Guru Wacana (kata-kata bijak guru suci), dan Ausada (sistem kesehatan). Kelima unsur tersebut akan terjaga dengan diawali untuk melindungi Tri Chanda bumi ini. Di Bali banyak sekali warisan para resi guru suci berupa kata-kata bijak sebagai pegangan untuk menjaga Tri Chanda dan lima hal untuk membangun hidup sejahtra. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/12/12/bd1.htm

Sanghyang Tumuwuh di Pura Batukaru

Avir Vai nama devata,
rtena-aste parivrta,
tasya rupena-ime vrksah,
harita haritasrajah.
(Atharvaveda X. 8.31).

Maksudnya:
Warna hijau pada daun tumbuh-tumbuhan karena mengandung klorofil di dalamnya. Zat klorofil itu menyelamatkan hidup. Hal itu ditetapkan oleh Rta yang ada dalam tumbuh-tumbuhan. Karena zat itu tumbuh-tumbuhan menjadi amat berguna sebagai bahan makanan dan obat-obatan.

PURA Luhur Batukaru adalah pura sebagai tempat memuja Tuhan sebagai Dewa Mega Dewa. Karena fungsinya untuk memuja Tuhan sebagai Dewa yanag menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan memfungsikan air secara benar, maka di Pura Luhur Batukaru ini disebut sebagai pemujaan Tuhan sebagai Ratu Hyang Tumuwuh arti sebutan Tuhan itu adalah Tuhan sebagai yang menumbuhkan.

Ini artinya Tuhan sebagai sumber yang menemukan air dengan tanah sehingga muncullah kekuatan untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan itu akan tumbuh subur dengan daunnya yang hijau mengandung klorofit sebagai zat yang menyelamatkan hidup. Pemujaan Tuhan di Pura Luhur Batukaru hendaknya dijadikan media untuk membangun daya spiritual membangun semangat hidup untuk secara sungguh-sungguh menjaga kesuburan tanah dan sumber-sumber air.

Dengan tanah yang terjaga kesuburannya dan sumber-sumber air terlindungi, maka tumbuh-tumbuhan akan subur. Tumbuh-tumbuhan yang subur akan berlanjut terus apabila udara tidak tercemar oleh emisi CO2. Udara yang tercemar akan dapat menimbulkan acid rain atau hujan asam yang merusak pucuk tumbuhan-tumbuhan. Jadi pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Tumuwuh memiliki makna yang dalam bagi kehidupan umat manusia di bumi ini. Adanya konferensi tentang merubahan cuaca yang diikuti oleh 187 negara di Nusa Dua patut dijadikan momentum untuk mengingatkan diri kita tentang nilai yang terkandung di balik Pemujaan Sang Hyang Tumuwuh di Pura Luhur Batukaru.

Pura Luhur Batukaru terletak di Desa Wongaya Gede Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan. Lokasi pura ini terletak di bagian barat Pulau Bali di lereng selatan Gunung Batukaru. Kemungkinan besar nama pura ini diambil dari nama Gunung Batukaru ini. Bagi mereka yang ingin sembahyang ke Pura Luhur Batukaru sangat diharapkan terlebih dahulu sembahyang di Pura Jero Taksu. Pura Jero Taksu ini memang letaknya agak jauh dari Pura Luhur Batukaru.

Tujuan persembahyangan di Pura Jero Taksu itu adalah sebagai permakluman agar sembahyang di Pura Luhur Batukaru mendapat sukses. Pura Taksu ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan Pura Luhur Batukaru. Setelah itu barulah menuju pancuran yang letaknya di bagian tenggara dari pura utama namun tetap berada dalam areal Pura Luhur Batukaru.

Air pancuran ini adalah untuk menyucikan diri dengan jalan berkumur, cuci muka dan cuci kaki di pancuran tersebut terus dilanjutkan sembahyang di Pelinggih Pura Pancuran tersebut sebagai tanda penyucian sakala dan niskala atau lahir batin sebagai syarat utama agar pemujaan dapat dilakukan dengan kesucian jasmani dan rohani.

Pura Luhur Batukaru ini juga termasuk Pura Sad Kahyangan yang disebut dalam Lontar Kusuma Dewa. Pura Luhur Batukaru sudah ada pada abad ke-11 Masehi. Sezaman dengan Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Guwa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, dan Pura Pusering Jagat. Sebagai penggagas berdirinya Sad Kahyangan adalah Mpu Kuturan.

Banyak pandangan para ahli bahwa Mpu Kuturan mendirikan jagat untuk memotivasi umat menjaga keseimbangan eksistensi Sad Kerti yaitu Atma Kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti, Jagat Kerti dan Jana Kerti.

Pura Luhur Batukaru kemungkinan sebelumnya sudah dijadikan tempat pemujaan dan tempat bertapa sebagai media Atma Kerti oleh tokoh-tokoh spiritual di daerah Tabanan dan Bali pada umumnya. Pandangan tersebut didasarkan pada adanya penemuan sumber-sumber air dan dengan berbagai jenis arca Pancuran. Dari adanya sumber-sumber mata air ini dapat disimpulkan bahwa daerah ini pernah dijadikan tempat untuk bertapa bagi para Wanaprastin untuk menguatkan hidupnya menjaga Sad Kerti tersebut.

Setelah pendirian Pura Luhur Batukaru pada abad ke-11 tersebut kita tidak mendapat keterangan dengan jelas bagaimana keberadaan pura tersebut. Baru pada tahun 1605 Masehi ada keterangan dari kitab Babad Buleleng. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa Pura Luhur Batukaru pada tahun tersebut di atas dirusak oleh Raja Buleleng yang bernama Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.

Dalam kitab babad tersebut diceritakan bahwa Kerajaan Buleleng sudah sangat aman tidak ada lagi musuh yang berani menyerangnya. Sang Raja ingin memperluas kerajaan lalu mengadakan perluasan ke Tabanan. Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dalam perjalanan bertemu dengan daerah Batukaru yang merupakan daerah Kerajaan Tabanan. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti bersama prajuritnya lalu merusak Pura Luhur Batukaru. Pura tersebut diobrak-abriknya.

Di luar perhitungan Ki Panji Sakti tiba-tiba datang tawon banyak sekali galak menyengat entah dari mana asalnya. Ki Panji Sakti beserta prajuritnya diserang habis-habisan oleh tawon yang galak dan berbisa itu. Ki Panji Sakti lari terbirit-birit dan mundur teratur dan membatalkan niatnya untuk menyerang kerajaan Tabanan. Karena pura tersebut dirusak oleh Ki Panji Sakti maka bangunan pelinggih rusak total. Tinggal onggokan berupa puing-puing saja.

Baru pada tahun 1959 Pura Luhur Batukaru mendapat perbaikan sehingga bentuknya seperti sekarang ini. Pada tahun 1977 secara bertahap barulah ada perhatian dari pemerintah daerah berupa bantuan. Sampai sekarang Pura Luhur Batukaru sudah semakin baik keadaannya.

·         I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/12/12/bd2.htm

Pura Luhur Jati Luwih sebagai Sarinya Buana

Di pedalaman hutan Batukaru, pada ketinggian sekitar seribu meter, disembunyikan oleh rimbunnya pepohonan dan dinginnya udara pegunungan, berdiri sebuah pura yang sederhana, Pura Luhur Jati Luwih. Namun pura ini memiliki makna yang sangat istimewa bagi sebagian besar warga Tabanan. Bahkan, pura ini layak dinyatakan sebagai sarinya buana, karena terkait dengan kesuburan jagat serta tempat memohon kesejahteraan. Sejarah pendirian pura ini, sesuai dengan cerita rakyat yang diyakini kebenarannya sangat unik, apa itu?

======================================================

PURA Luhur Jati Luwih berlokasi di wilayah Desa Adat Sarin Buana, Desa Wanagiri, Selemadeg, Tabanan. Berada di tengah-tengah hutan lindung pada sisi sebelah tenggara punggung Gunung Batukaru dengan ketinggian sekitar seribu meter di atas permukaan laut, beriklim pegunungan yang dingin, dengan kelembaban udara yang cukup tinggi.

Pura ini diperkirakan telah berdiri pada abad ke-9 sampai 12 Masehi. Untuk mencapainya, para pamedek dapat melalui jalan raya jalur Denpasar-Gilimanuk, belok ke kanan jurusan Bajera Pupuan Sawah-Wanagiri hingga mencapai Desa Adat Sarin Buana. Dari Desa Sarin Buana kita harus memasuki hutan lindung lebih dari 3 km dengan kemiringan sekitar 45 derajat untuk mencapai pura ini.

Sangat sedikit sumber maupun catatan pengkajian yang mengungkap pendirian Pura Jati Luwih. Sumber yang dapat dikumpulkan melalui penuturan dari pemuka masyarakat, pemangku pura dan pelinggih-pelinggih yang ada, serta tata upacara yang berlaku di pura tersebut. Berdasarkan penuturan Jero Mangku Gede (I Wayan Menteg) yang diyakini kebenarannya secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar, pada zaman dahulu, masyarakat yang bermukim di lereng Gunung Batukaru, khususnya masyarakat di sekitar wilayah pura, mengalami kemarau panjang sehingga lahan pertanian kering tidak menghasilkan. Masyarakat pun mengalami kelaparan oleh peristiwa itu.

Dengan harapan untuk bertahan hidup, sebagian masyarakat masuk ke hutan untuk berburu maupun mendapatkan beberapa bahan makanan. Beberapa di antaranya kawehan (mengalami kehilangan pandangan normal dan mengalami penglihatan gaib) dan melihat sawah yang padinya menguning dan sebuah rumah indah. Oleh sang kakek yang menjadi pemilik rumah dan padi itu, warga tersebut diajak singgah ke rumah.

Di sana warga yang berburu itu diberi beberapa helai bulir bibit padi gaga (tegalan) dan berpesan agar padi tersebut ditanam dan dikembangkan di desanya. Setelah menerima bibit padi, tiba-tiba kakek tersebut menghilang seketika dan rumah yang bagus tersebut kini berubah menjadi bebaturan dalam kesadaran yang pulih dari pemburu tersebut.

Bibit padi tersebut ternyata berkembang dengan baik dan di tempat bebaturan itu didirikan pelinggih untuk mengupacarai setelah padi menguning atau menjelang panen. Pelinggih tersebut diberi nama Pucak Sari. Pura Pucak Sari adalah pura yang pertama didirikan untuk penunasan amerta. Tempat itu diberi tanda dengan pelawa yang ditancapkan. Sementara desa di mana bibit padi itu ditanam dikenal oleh masyarakat sebagai Desa Sarin Buana yang memiliki arti tempat sari-sarinya buana atau inti sari bumi yang memberi sumber kehidupan dan kemakmuran.

Dikatakan Jero Mangku Gede, sebelum zaman kerajaan di Tabanan, Pura Luhur Jati Luwih dikenal dengan Pura Luhur Sarin Buana, sama dengan nama desa adat sebagai pengempon pura tersebut. Mulai pada zaman kerajaan, nama Pura Sarin Buana diubah menjadi Pura Luhur Jati Luwih untuk tidak mengaburkan nama Pura Sarin Buana dengan nama Desa Adat Sarin Buana.

Pura Luhur Jati Luwih berarti pura yang berada di atas, di dataran tinggi, yang benar-benar utama, mulia atau baik (luwih). Menurut keyakinan masyarakat setempat, Pura Luhur Jati Luwih juga bermakna tempat suci yang benar-benar selalu memberikan kebaikan dan kesejatian dari hal yang dimohon pada tempat ini.

Dalam perjalanan sejarah, ternyata Pura Luhur Jati Luwih mengalami beberapa kali renovasi sehingga banyak bukti kepurbakalaan hilang. Seingat pemangku pura, pemugaran yang diketahuinya pertama dilakukan tahun 1971, disusul dengan pemugaran kedua tahun 1978 dan pemugaran ketiga tahun 1993. Berdasarkan cerita, bentuk asli pelinggih sebelum dipugar adalah berbentuk bebaturan yang berundak dengan batu menhir tertancap pada sisi-sisi samping ruang altar pemujaan.

Dari pengkajian yang dilakukan termasuk oleh Bappeda Tabanan disimpulkan, bangunan asli pelinggih Pura Luhur Jati Luwih merupakan bangunan zaman batu besar (megalitikum) dengan tradisi kebudayaan Hindu klasik. Di antara delapan buah pelinggih yang berjajar menghadap ke selatan hanya satu buah  yang masih berbentuk bebaturan hingga kini yaitu pelinggih paling timur untuk pemujaan Ida Batari Pemutering Danu (Ulun Danu).

Sementara bangunan pelinggih lainnya telah diganti dengan bangunan pelinggih gegedongan yaitu gedong kereb dua buah sebagai pelinggih pokok untuk penghayatan ke Pucak Kedaton dan Pelinggih Agung Ida Batara Luhur Jati Luwih. Sedangkan lima buah pelinggih lainnya berbentuk gedong sekapat makereb duk masing-masing beruangan satu.

Ada satu pelinggih penghayatan ke Majapahit berupa Padma Capak Alit, menggambarkan pura tersebut mengalami proses perkembangan dari satu periode ke periode lainnya, dari zaman kuno hingga adanya pengaruh Jawa, yang diperkirakan zaman Mpu Kuturan sebagai tokoh suci sekaligus arsitek penataan pura di Bali.

Uniknya seluruh pelinggih yang ada berupa bangunan pendek-pendek, berbeda dengan pura lainnya di Bali yang menjulang tinggi. Dari peninggalan sejarah dan konsep pemujaan di pura itu, diperkirakan Pura Jati Luwih dibangun zaman Apaniyaga yaitu peralihan zaman Bali Aga ke zaman pengaruh Jawa sekitar abad ke-9 sampai 12 Masehi. Peninggalan sejarah berupa prasasti yang terdapat di Desa Sarin Buana bertahun Caka 1103, zaman pemerintahan Raja Jaya Pangus.

Bukti penunjuk lain, juga terdapat peninggalan sejarah yang tersimpan di Pura Siwa Desa Adat Sarin Buana berupa batu berbentuk kepala babi dan beberapa buah gong serta peralatan upacara berupa bajra atau genta. Dari bukti tersebut, menunjukkan Pura Luhur Jati Luwih merupakan pura yang cukup tua dengan karakteristik pemujaan pada puncak gunung sebagai purusa dan ulun danu sebagai pradana. Masyarakat pendukung telah mengenal sistem pertanian dan menetap dalam lingkungan desa pakraman.

Sejak dulu, pura ini dibina atau diayomi langsung oleh Puri Agung Tabanan dan pangenceng dari pura ini adalah Jero Subamia Tabanan yang pada zaman kerajaan sebagai patihnya Raja Tabanan. (upi)

Tempat Memohon ”Jejaton”

PURA Jati Luwih memiliki fungsi ganda, di samping memohon keselamatan dan kerahayuan jagat, juga sebagai tempat untuk memohon keselamatan dan kemakmuran di bidang pertanian. Juga sebagai tempat ngerastiti dalam memohon keselamatan tanaman pangan dari gangguan hama dan memohon turun hujan.

Penyungsung Pura Luhur Jati Luwih di samping Desa Adat Sarin Buana, juga krama subak dengan luas wilayah yang cukup besar, terdiri atas lima subak pekandelan dan 35 pekaseh subak. Karakter khusus lainnya dari pura ini adalah sebagai tempat untuk memohon sartana (jejaton) beras apabila ada upacara besar. Jejaton ini di wilayah Tabanan disebut nguwub.

Pura ini masih berhubungan dengan Pura Pucak Kedaton Batukaru dan Pura Pucak Sari yang ada di Desa Adat Sarin Buana. Di samping itu juga Pura Siwa yang berlokasi di Desa Sarin Buana merupakan tempat penyawangan dan penyimpanan benda pusaka yang masih ada hubungannya dengan pura ini. Di utama mandala pura ini terdapat delapan buah pelinggih serta empat bangunan suci sebagai penyangga.

Pelinggih paling timur merupakan pelinggih kuno berupa bebaturan untuk pemujaan Hyang Pemuterin Danu. Pelinggih Gedong Alit Saka Pat Rong Tunggal sebagai penghayatan ke Gunung Agung, selanjutnya pelinggih sama penghayatan ke Pucak Sari.

Pelinggih utama berupa pemujaan kepada Ida Batara Luhur Jati Luwih berupa pelinggih Gedong Saka Pat Rong Tunggal, terdapat juga pelinggih penghayatan Ida Batara Lingsir Putus di Pucak Kedaton Batukaru, Ida Batara Ayu Padangluwah, Ida Batara Turun Gunung, pelinggih Padma Capah pemujaan Ida Batara Mas Pahit.  Juga masih ada beberapa pelinggih lainnya.

Hal yang menarik yang terdapat di jaba tengah berupa bekas bangunan lumbung padi bersaka empat tempat penyimpanan padi dari subak-subak penungsung dahulunya. Sekitar 400 meter dari pura ini terdapat pelinggih Taman Beji yang terletak di timur laut Pura Luhur Jati Luwih dengan pelinggih berupa bebaturan dengan air pancuran yang keluar dari bilahan batu padas.

Untuk saat ini, direncanakan akan dilakukan rehab terhadap pura yang masih tampak sederhana dengan pagar pembatas hidup, tanpa tembok penyengker ini. Penglingsir Jero Subamia IGG Putra Wirasana selaku penganceng mengaku harus memelihara titik-titik kesucian pura dan melakukan rehab tanpa harus menghilangkan peninggalan-peninggalan kuno yang ada. (upi)

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2008/4/16/bd1.htm

Memohon Jatuhnya Hujan

Varsikamscaturo nasanyatha.
Indro ”bhipravasati,
tathbahivarsetman rastra kamair
indravratam caran.
(Manawa Dharmasastra.IX.304).

Maksudnya:
Laksana Dewa Indra yang menurunkan hujan yang berlimpah selama empat bulan pada musim hujan, demikianlah raja menempati kedudukan bagaikan Indra menurunkan kemakmuran untuk kerajaan.

KEBERADAAN Pura Luhur Jati Luwih di Desa Pakraman Sarin Bhuwana, Desa Wana Giri, Kecamatan Selemadeg, Tabanan adalah salah satu Pura Jajar Kemiri atau Prasanak dari Pura Luhur Batukaru. Pura Luhur Jati Luwih ini bukan Pura Luhur Jati Luwih kawitan warga Bujangga Waisnawa yang berada di Kecamatan Penebel. Pura Batukaru adalah pura untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Mahadewa dalam fungsi beliau sebagai Sang Hyang Tumuwuh. Sang Hyang Tumuwuh itu Tuhan yang dipuja oleh umat Hindu di Bali untuk memotivasi dirinya untuk memahami bahwa tumbuh-tumbuhan itu adalah ciptaan Tuhan.

Tumbuhan itu bukan semata sebagai sarana untuk dimanfaatkan oleh umat manusia sebagai bahan makanan maupun digunakan sebagai sarana hidup di luar makanan. Tumbuh-tumbuhan itu juga sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan yang berhak hidup saling berkontribusi secara timbal balik pada sesama ciptaan Tuhan. Tanpa adanya tumbuh-tumbuhan dengan populasi yang memadai maka berbagai unsur alam dan makhluk hidup di bumi ini tidak bisa berfungsi dengan baik dan benar.

Tanpa adanya tumbuh-tumbuhan hutan yang kuat dan besar yang di Bali disebut tanem tuwuh, maka tanah hutan dan gunung tidak bisa menampung air yang jatuh dari langit. Demikian juga kalau hutan itu gundul tanpa tumbuh-tumbuhan maka hujan juga sulit untuk turun dari langit. Kalau sudah telanjur seperti itu maka bencana kekeringan pun akan berlanjut.

Konon gurun pasir di Etiopia diawali oleh pengundulan hutan yang ganas. Kalau sudah telanjur seperti itu maka akan tidak mungkin menghutankan kembali suatu gurun pasir yang sudah telanjur.

Demikian juga keberadaan Pura Luhur Jati Luwih di Desa Wana Giri Kecamatan Selemadeg ini diawali oleh kemarau panjang. Atas keprihatinan penduduk, maka Tuhan memberikan sinyal sebagai peringatan di mana ada penduduk yang sedang berburu diberikan penampakan gaib. Di Bali disebut kawehan. Dengan melihat sawah dengan padi menguning sampai ada orang gaib memberikan penduduk yang kawehan itu bibit padi gaga untuk ditanam di daerah sawah tadah hujan. Hal ini diceritakan dalam mitologi keberadaan Pura Luhur Jati Luwih tersebut.

Awal nama Pura Jati Luwih ini adalah Pura Sarin Bhuwana yang artinya sari-sarinya bumi. Salah satu sarinya bumi ini adalah padi. Padi itu akan ada tumbuh apabila ada hujan yang turun. Hujan yang turun itu akan berguna apabila tumbuh-tumbuhan yang diturunkan oleh Sang Hyang Tumuwuh di bumi ini tidak dirusak oleh manusia untuk memenuhi kepentingan sesaat. Sejak ada umat yang kawehan itu munculah kesadaran umat untuk mendirikan suatu pelinggih sederhana sebagai sarana pemujaan untuk memohon jatuhnya hujan.

Sejak itu hujan turun sangat teratur. Selanjutnya pura itu disebut Pura Luhur Jati Luwih. Puri Tabanan dengan keluarga menjadi terpanggil untuk menata pura tersebut bersama umat Hindu di sekitarnya, sehingga pura menjadi semakin lengkap seperti dewasa ini. Keberadaan pura tersebut menjadi semakin kuat untuk memotivasi umat untuk melakukan upaya-upaya sekala dan niskala agar hujan terus turun dan tumbuh-tumbuhan terutama padi dapat hidup subur. Dengan suburnya sebagai bahan makanan yang terpokok di Bali maka kesejahteraan masyarakat dapat terjamin.

Yang perlu direnungkan menyangkut keberadaan Pura Luhur Jati Luwih atau Pura Sarin Bhuwana ini adalah menyangkut hubungan Puri Tabanan dengan masyarakat sekitar dalam memelihara eksistensi pura tersebut sebagai Pelinggih Hyang Pemuteran Danu dan ada pelinggih untuk pemujaan Ratu Manik Galih. Hyang Pemuteran Danu itu adalah pemujaan untuk Dewi Danu sebagai manifestasi Dewa Wisnu dalam menjaga dinamika air agar selalu stabil memberikan kehidupan pada seluruh makhluk hidup penghuni bumi ini.

Air laut menguap menjadi mendung, mendung jatuh menjadi hujan. Hujan jatuh di gunung dengan hutannya yang lebat. Dari proses tersebut maka terbentuklah mata air seperti danau dan sungai-sungai mengalirkan air ke dataran yang lebih rendah. Dari proses mata air itulah dapat menimbulkan kesuburan tanaman sebagai unsur yang amat utama dalam menjaga kehidupan di bumi ini.

Kewajiban umat manusia adalah menjaga proses alam itu agar jangan terganggu. Untuk mengingatkan umat agar senantiasa menjaga proses air sebagai unsur alam itu maka Tuhan dipuja sebagai Hyang Pemuteran Danu. Ini adalah metode yang ditempuh oleh leluhur umat Hindu di Bali agar jangan mengganggu proses alam menurut hukum Rta.

Dewasa ini perlindungan proses air sebagai unsur alam yang utama itu perlu lebih ditanamkan kembali agar semakin tumbuh adanya kesadaran untuk menjaga air. Tentunya cara melindungi air dengan cara-cara ilmiah dan norma hukum tetap dilangsungkan. Pemujaan Tuhan sebagai Hyang Pemuteran Danu sebagai pemberi landasan moral dan mental sehingga berbagai godaan dalam penggunaan air dengan tujuan hanya mencari keuntungan sesaat dan sepihak dapat dicegah sedini mungkin.

Adanya Pelinggih sebagai pemujaan Ratu Manik Galih adalah sebagai suatu upaya spiritual untuk menumbuhkan kesadaran dalam memelihara tumbuhan seperti padi agar diproduksi dan didistribusikan secara baik dan adil. Jangan ada yang borong padi saat panen terus ditimbun dan saat paceklik dijual dengan harga berlipat ganda. Ini artinya keberadaan padi dijadikan media untuk merugikan orang banyak.

Padi diciptakan Tuhan adalah untuk memberi kehidupan yang sejahtera pada umat manusia. Menggunakan padi sebagai sarana untuk menguntungkan diri sendiri dengan cara-cara yang tidak jujur dan merugikan orang banyak tentunya dosa besar. Padi adalah salah satu hasil alam yang berfungsi amat strategis, karena ia sebagai bahan makanan yang paling pokok. Pemujaan Tuhan sebagai Ratu Manik Galih di Pura Luhur Jati Luwih adalah sebagai suatu motivasi spiritual agar padi sebagai bahan makanan pokok jangan dijadikan sarana berbuat merugikan masyarakat luas untuk keuntungan diri sendiri.

* I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2008/4/16/bd2.htm

Pura Tanah Lot

Posted by Adnyana under Pura di Tabanan

Pura Tanah Lot ini terletak di Pantai Selatan Pulau Bali yaitu di wilayah kecamatan Kediri, Kabupaten Daerah Tingkat II Tabanan, yang pembangunannya erat kaitannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha di Pulau Bali. Di sini Danghyang Nirartha pernah menginap satu malam dalam perjalanannya menuju daerah Badung dan kemudian ditempat inilah oleh orang-orang yang pernah menghadap kepadaDanghyang Nirartha dibangun bangunan suci (Pura atau Kahyangan) sebagai tempat memuliakan dan memuja Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa ) untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan.

Pura atau Kahyangan ini diberi nama “Pura Pekendungan” yang sekarang lebih dikenal dengan “ Pura Tanah Lot” sebagai salah satu penyungsungan jagat,. Sekarang Pura atau Kahyangan ini sangat terkenal diseluruh Nusantara, malahan tidak mustahil diseluruh dunia, karena merupakan salah satu obyek wisata di pulau Bali yang sering memperoleh kunjungan. . Mereka yang berkunjung ke Pura atau Kahyanagn ini bukan saja wisatawan domestik, akan tetapi tidak jang juga wisatawan dari Luar Negeri.

Bagaimana ikwal perjalanan Danghyang Nirartha tatkala berkeliling di Pulau Bali dan sampai ditempat ini, dapat dijumpai didalam Dwijendra Tatwa yang menguraikan dan dapat disarikan sebagai berikut : Pada suatu waktu Danghyang Niratha datang kembali ke Pura Rambut Siwi di dalam perjalanan beliau kelilling pulau Bali, dimana dahulu tatkala beliau baru tiba di Bali dari Brambangan (Blambangan) pada sekitar tahun icaka 1411 atau tahun 1489 M beliau pernah singgah di tempat ini. Setelah berada di Pura Rambut Siwi untuk beberapa lama, kemudian beliau melanjutkan perjalanannya menunju arah Purwa (Timur) dan sebelum berangkat paginya Danghyang Niratha melakukan sembahyang “Surya Cewana” bersama orang-orang yang ada disana. Sesudah menyiratkan (memercikkan )tirtha terhadap orang orang yang ikut melakukan persembahyangan , lalu Danghyang Nirartha kelaur daridalam Pura Rambut Siwi berjalan menuju arah ke Timur. Perjalanan beliau ini menyusuri pantai Selatan pulau Bali dengan diiring oleh beberapa orang yang teraut cinta bhaktinya kepada Danghyang Nirartha.

Dalam perjalannya ini Danghyang Nirartha dapat menyaksikan bagaimana deburan ombak laut menerpa pantai menambah keindahan alam yang sangat mengasyikkan. Terbayang oleh beliau bagaimana kebesaran Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa ) yang telah menciptakan alam semesta dengan segala isinya yang dapat membrikan kehidupan bagi manusia. Dalam hati beliau Dangyang Nirartha membisikkan bahwa menjadi bahwa menjadi kewajiban setiap makluk di dunia ini terutama manusia untuk menyampaikan parama sukmaning idep terhadap sanghyang Wudhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ) karena beliau telah berkenan menciptakan segalanya itu. Karena asyik memperhatikan dan memandang keindahan alam dengan segala isinya, sampai –sampai Dangyang Nirartha tidak merasakan kelelahan didalam perjalanan beliau ini.

Sebagaimana biasanya di dalam perjalanan Danghyang Nirartha senantiasa membawa lontar dan pengrupak (pisau raut untuk menulis pada daun lontar ) sehingga apa-apa yang diangap penting baik yang dilihat maupun yang dirasakan kemudian disusun dalam bentuk kekawin atau gubahan lainnya. Demikian pula mengenai perjalanannya dari Pura Rambut Siwi ini, sehingga karena asyiknya beliau memperhatikan serta memandang dan memikirkan segala sesuatu yang dipandang penting dan akan digubah, tahu-tahu Danghyang Niratha sudah sampai pada suatu tempat di pantai Selatan dipantai Selatan pulau Bali. Di pantai ini terdapat sebuah pulau kecil yang terdiri dari tanah parangan ( tanah keras) dan disinilah Danghyang Nirartha berhennti dan beristirahat.

Tidak antara lama Dangyang Nirartha beristirahat disana,maka berdatanganlah kesana para nelayan untuk menghadap kepada Danghyang Nirartha sambil membawa berbagai persembahan untuk diaturkan kepada beliau. Kemudian setelah sore hari, paranelayan tersebut memohon kepada Danghyang Nirartha agar beliau berkenan bermalam dipondok mereka masing- masing, namun permohonannya ini semua ditolak oleh Danghyang Nirartha, karena beliau lebih senang bermalam di pulau kecil itu. Disamping hawanya segar, juga pemandangannya sangat indah dan dari sana belaiu dapat melepaskan pandangan secara bebas kesemua arah.

Pada malam harinya sebelum Danghyang Nirartha beristirahat, beliau memberikan ajaran-ajaran seperti agama,susila da ajaran kebajikan lainnya kepada orang-orang yang datang menghadap ke sana.. Tatkala itu Danghyang Nirartha menasehatkan kepada orang-orang itu untuk membangun Parhyangan ( Pura atau Kahyangan ) disana karena menurut getaran bhatin beliau yang suci serta petunjuk gaib bahwa tempat itu baik untuk tempat memuja Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang maha Esa ) . dari tempat ini kemudian rakyat dapat memuja kebesaran sanghyang Widhi Wasa ( Tuhan YangMaha Esa ) untuk memohon wara nugrahaNya keselamatan dan kesejahteraan dunia.

Demikian antara lain nasehat Danghyang Nirartha kepada orang-orang yang mengahadap pada malam hari itu, yang akhirnya sesudah Danghyang Nirartha meninggalkan tenpat itu, kemudian oleh orang-orang tersebut dibangunlah sebiuah bangunan suci ( Pura atau Kahyangan ) yang diberi nama “Pura Pakendungan “ yang kini lebih dikenal dengan sebutan “Pura Tanah Lot “.

Source :   Pemda Bali

http://okanila.brinkster.net/mediaFull.asp?ID=796

Pura Teratai Bang

Posted by Adnyana under Pura di Tabanan

Agni di Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung

Pemujaan Sang Hyang Agni di Pura Teratai Bang di Desa Candi Kuning perlu dicermati lebih dalam maknanya bagi umat Hindu di Bali. Pemujaan tersebut bukan untuk memuja api sebagai salah satu dari sumber daya alam. Pemujaan di pura tersebut adalah pemujaan kepada Tuhan sebagai pencipta agni. Dari pemujaan tersebut diharapkan umat mendapatkan berbagai manfaat dalam memahami kedudukan agni dalam kehidupan di bumi ini. Apa makna dari pemujaan Hyang Agni itu? Lalu apa hubungan dengan Pura Teratai Bang?

============================================================

API sering disebut bisa menjadi sahabat dan sekaligus musuh dalam kehidupan ini. Bermusuhan dengan api manusia pasti akan rugi besar. Tetapi dalam bersahabat dengan api dibutuhkan pemahaman yang baik bagaimana memelihara dan menggunakan api secara baik, benar dan tepat. Mungkin tidak ada orang dengan sengaja bermusuhan dengan api. Api bisa jadi musuh kalau orang tidak bisa menggunakan api secara baik, benar dan tepat. Karena itu pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Agni untuk mendapatkan tuntunan secara niskala agar manusia dapat memahami apa sesungguhnya agni tersebut, terutama dalam kaitannya dengan kehidupan makhluk di bumi ini.

Agni memiliki kekuatan yang amat berat. Agni memiliki sifat panas, membakar, kobarannya terus-menerus baru. Sifat-sifat api itulah kalau berfungsi dengan tepat menjadi sumber energi. Seperti bio energi disebabkan oleh adanya agni dalam Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung. Biro energi inilah salah satu unsur yang mengembangkan kehidupan di Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung.

Dalam Ayur Veda dinyatakan ada tiga unsur yang mengembangkan adanya dinamika kehidupan di dalam diri manusia atau Bhuwana Alit. Tiga hal itu disebut Tri Dosha yaitu Vatta, Pitta dan Kapha. Vatta adalah Vayu ini di Bali disebut bayu. Dalam Yajurveda XVII.7 dinyatakan juga agni memiliki ratusan prana dan vyana. Ada lima jenis Vayu atau Prana yang sering disebut Panca Prana yaitu Udana, Prana, Samana, Apana dan Vyana. Udana ini terletak di kerongkongan.

Vayu ini menyebabkan manusia dapat bersuara sehingga manusia dapat berbicara, bernyanyi dan memuat bunyi-bunyi tertentu. Prana adalah tenaga Vayu yang terdapat di jantung. Vayu ini menyebabkan manusia dapat menarik napas dan juga dapat mendorong masuknya makanan ke dalam perut. Samana terletak di lambung dan usus. Samana inilah sebagai tenaga yang dapat menyebabkan pencernaan manusia berfungsi. Apana adalah tenaga atau Vayu yang menyebabkan kotoran dan kencing bisa keluar. Demikian juga sperma, darah menstuasi dan janin bisa keluar dari badan manusia.

Vyana adalah tenaga Vayu yang berada hampir di semua bagian tubuh manusia. Vyana inilah yang menyebabkan cairan tubuh manusia bisa menyebar ke seluruh badan. Demikian Prof. dr. Ngurah Nala menjelaskan dalam majalah Widya Werta 1996. Pitta adalah unsur panas. Tanpa unsur panas ini tidak bisa terjadi metabolisme dalam tubuh manusia.

Pitta ini perlu dipahami sebagai agni ciptaan Tuhan yang ada dalam diri manusia atau Bhuwana Alit. Demikian juga unsur-unsur lainnya sehingga semuanya itu dapat berfungsi menjadikan hidup ini berlangsung. Pitta atau unsur panas ini juga ada lima banyaknya dalam diri manusia. Kalau ini fungsinya terganggu maka berbagai penyakit atau gangguan kesehatan akan muncul.

Demikian sekilas keberadaan agni dalam diri manusia atau Bhuwana Alit untuk dipahami agar manusia memelihara dan bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan kita unsur panas dari agni tersebut. Tanpa agni tersebut manusia tidak bisa hidup wajar. Tetapi kalau keberadaan agni tersebut tidak sesuai dengan Rta atau hukum alam maka agni itu bisa memunculkan penyakit. Karena itu jagalah keberadaan agni tersebut agar senantiasa berada sesuai dengan hukum Rta.

Agni di samping berada di Bhuwana Alit lebih besar keberadaannya di Bhuwana Agung. Pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Agni di Pura Teratai Bang juga untuk mengingatkan umat agar memahami kedudukan agni di Bhuwana Agung. Kalau keberadaan agni di Bhuwana Agung tersebut terganggu sampai tidak sesuai dengan Rta-nya maka bencana pun akan bermunculan mengancam kehidupan di bumi ini.

Dalam berbagai mantra Veda dinyatakan bahwa Tuhan menciptakan bumi dan angkasa. Agni diletakkan di perut bumi sebagai magma dan di angkasa sebagai matahari. Dua agni yang berbeda tempatnya ini bersinergi atas kuasa Tuhan. Keterpaduan dua agni itulah yang menyebabkan adanya dinamika kehidupan di bumi ini. Bumi berputar mengelilingi matahari selama 365 hari dalam setahun.

Dari perputaran bumi ini terjadilah peredaran udara dan muncullah berbagai wujud musim dan cuaca. Udara dan sinar matahari ini bekerja sama secara alami atas kuasa Tuhan menyebabkan air samudera menguap ke angkasa. Di angkasa angin dan sinar matahari kembali terpadu menyebabkan terjadinya mendung. Dalam kondisi tertentu mendung itu turun menjadi hujan.

Permukaan bumi atas kuasa Tuhan bentuknya bermacam-macam. Ada yang datar, ada yang muncul menjadi gunung dan bukit-bukit. Gunung dan bukit-bukit inilah yang menjadi waduk menampung air hujan yang jatuh dari langit. Tentunya kalau gunung dan bukit itu dalam keadaan rimbun dengan hutannya. Ada juga permukaan bumi cekung menjadi danau-danau untuk menampung air hujan yang disimpan oleh gunung dan bukit. Ada juga permukaan bumi yang cekung memanjang menuju dataran yang lebih rendah dalam wujud sungai-sungai berliku-liku mengantar air ke berbagai tempat menimpa penduduk.

Dalam perut bumi ada api yang disebut magma dalam mitologi Hindu di Bali disebut Badawang Nala atau raksasa kura-kura dalam bentuk api. Karena adanya api dalam perut bumi ini, tanah menjadi subur setelah ada air yang mengalir ke tanah di bumi ini. Air muncul dari panasnya matahari. Setelah menjadi hujan berfungsi menyuburkan tanah karena ada agni di perut bumi. Tanpa agni di perut bumi itu, air yang meresap ke tanah tidak mungkin juga menyebabkan suburnya tanah.

Pemahaman akan fungsi agni tersebut amatlah perlu. Dari pemahaman yang dalam dan luas itu manusia seyogianya semakin bersyukur atas kuasa Tuhan tersebut. Untuk menumbuhkan rasa bersyukur pada Tuhan itulah pentingnya ada tempat pemujaan pada Sang Hyang Agni seperti di Pura Teratai Bang ini. Sesungguhnya fungsi agni dalam kehidupan ini amatlah luas.

* wiana

http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/8/1/bd1.htm

Pura Teratai Bang
Pemujaan Sang Hyang Agni

Agne sarasraksa satamurdhan
Satam
te pranah ahasram vyanah
(Yajurveda XVII.7)

Maksudnya:
Ya
Sang Hyang Agni yang memiliki ribuan mata dan kepala. Kemampuan Sang Hyang Agni tiada terkira. Sang Hyang Agni memiliki ratusan prana dan vyana yaitu tenaga hidup dalam diri manusia.

PURA Teratai Bang ini adalah pura yang terletak di Bukit Tapak di Desa Candi Kuning Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan. Pura ini dilingkari oleh kaki Bukit Tapak. Dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul Bukit Tapak itu disebut Bukit Teratai Bang. Karena pura ini terletak di Bukit Teratai Bang maka sebutan dari pura ini adalah Pura Teratai Bang.

Demikian dinyatakan dalam bukuKumpulan Hasil Penelitian Sejarah” yang dilaksanakan oleh Tim dari Institut Hindu Dharma (sekarang Unhi). Pura ini terletak di areal Kebun Raya Bedugul, Candikuning. Untuk mengungkapkan keberadaan pura ini memang tidak mudah karena minimnya data yang ada yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari cerita mitologi yang terdapat dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, Pura Teratai Bang berhubungan dengan cerita keberadaan gunung-gunung dan bukit-bukit di Bali. Cerita Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul ini kemungkinan rekonstruksi dari Lontar Tantu Pagelaran dalam kepustakaan Jawa Kuno.

Dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul tersebut diceritakan Sang Hyang Parameswara bersabda kepada putra-putranya para dewa terutama pada Sang Hyang Gnjayasakti. Putra-putranya itu dinasihati agar datang ke Bali untuk menjaga Bali dan menjadi para dewa di pulau tersebut. Sang Hyang Parameswara menyatakan telah meletakkan gunung-gunung dan bukit-bukit sebagai stana putra-putranya di Bali.

Gunung-gunung tersebut diambil dari bongkahan Gunung Maha Meru dari India. India dalam lontar tersebut dinyatakan dengan istilah Jambudwipa. Memang daerah India itu mirip dengan buah jambu. Dari pecahan Gunung Maha Meru dari Jambu Dwipa tersebut menjadilan di Bali Gunung Agung puncak dari Gunung Maha Meru dan disebut Giri Jaya diletakkan di sudut timur laut Pulau Bali.

Bagian bawahnya sebagai dapur Gunung Hyang Agni menjadi Gunung Batur dan bagian bawahnya lagi menjadi Gunung Rinjani di Lombok. Bagian bawahnya lagi menjadi Gunung Batukaru, Gunung Tapaksahi, Gunung Pengelengan, Gunung Mangu, Gunung Silanjana, Pegunungan Naga Loka, Pulaki, Puncak Sangkur, Bukit Rangda, Bukit Padang Dawa dan Teratai Bang.

Di bagian selatan Pulau Bali pecahan Gunung Maha Meru itu menjadi Gunung Andakasa dan Uluwatu. Di bagian timur dan tenggara menjadi Gunung Byaha, Biasmuntig, Gunung Lempuhyang dan Bukit Seraya. Semua gunung dan bukit tersebut disediakan oleh Sang Hyang Parameswara untuk stana para dewa putra-putra beliau. Dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul itu sangat jelas dinyatakan bahwa adanya Bukit Teratai Bang sebagai stana Dewa putra Sang Hyang Parameswara.

Dalam cerita rakyat yang disusun oleh I Wayan Narji dari Desa Tunjuk dikutip juga dalam buku Kumpulan Hasil Penelitian Sejarah Pura tersebut. Diceritakan ada seorang keturunan keluarga Raja Majalangu yang bernama Ida Sang Ngurah Sakti datang ke Nusa Panida. Di sana beliau mendirikan pasraman bernama Puncak Mundi sebagai tempatnya melakukan samadi. Dari sana pindah ke Munduk Bias di Nusa Panida juga. Dari sanalah beliau ke daratan Bali sampai di Munduk Guliang di Klungkung.

Dari Munduk Guliang terus pergi ke barat bertemu dengan hutan yang banyak menjangannya. Di hutan itu beliau bersemadi sampai memperoleh ilmu kasuksman, karena itu tempat itu didirikan juga pasraman dengan nama Munduk Menjangan. Di tempat beliau beryoga didirikan sebuah pura yang disebut Pura Paroman.

Ida Ratu Ngurah Sakti ini terus-menerus berpindah-pindah untuk melakukan yoga semadi dan sampai juga di Bratan terus ke Candi Mas. Dari Candi Mas inilah terus ke Teratai Bang. Dari Teratai Bang ini juga terus berpindah-pindah mengelilingi Bali dan kembali pulang ke Puncak Mundi di Nusa Penida.

Dilihat dari busana pura dan keterangan Pemangku Pura, yang dipuja di Pura Teratai Bang itu adalah Sang Hyang Agni. Di sebelah Pura Teratai Bang tersebut memang juga terdapat belerang yang senantiasa berasap. Pemujaan Sang Hang Agni inilah pemujaan Dewa Brahma sebagai manifestasi Tuhan dalam fungsinya sebagai Dewa Agni. Jadinya di Pura Teratai Bang itu bukan memuja apinya tetapi yang menciptakan api itu sendiri yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Di Pura Teratai Bang itu sebagai tempat memohon Tirtha Pemuput Karya seperti juga di Pura Puncak Sangkur dan Pura-pura di sekitarnya termasuk untuk pemujaan perseorangan.

Pelinggih utama di Pura Teratai Bang adalah berupa Pelinggih Gedong bertajuk ijuk dengan dua atap. Upacara Piodalan di Pura Teratai Bang ini adalah pada hari Saniscara Kliwon Wuku Landep atau disebut Tumpek Landep. Menurut Lontar Sunarigama, Tumpek Landep itu adalah hari raya sakral umat Hindu di Bali  untuk mengingatkan umat agar menajamkan pikirannya atau idep-nya.

Dalam lontar tersebut dinyatakan: ”Tumpek Landep pinaka lancipaning idep”. Artinya Tumpek Landep sebagai media untuk mempertajam pikiran. Ini artinya Sang Hyang Agni di Pura Teratai Bang itu sebagai pemujaan untuk menguatkan Jnyana Agni yaitu api ilmu pengetahuan sebagai dinyatakan dalam Bhagawad Gita IV.10. Yang dimaksud dengan Jnyana Agni itu adalah ilmu pengetahuan yang dapat memberikan penerangan jiwa.

Dari jiwa yang terang itu muncul Karma yang disebut Niskama Karma. Yang dimaksud dengan Niskama Karma itu adalah perbuatan atau perilaku yang didorong oleh ketulusikhlasan tanpa pamerih akan hasilnya. Api suci yang dirangkul bumi sebagai magma dan yang dirangkul angkasa sebagai matahari menghasilkan kesuburan bumi. Kesuburan bumi itu dikelola dengan kerja yang Niskama Karma akan mengembangkan kesuburan bumi itu menjadi sumber hidup bagi keseimbangan hidup semua makhluk hidup di bumi ini.

Karena itu, pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Agni di Pura Teratai Bang hendaknya dimaknai sebagai motivasi spiritual dalam kegiatan ritual untuk diaktualkan dalam mengembangkan api ilmu pengetahuan dalam menata kesuburan bumi ini. Dengan demikian api di Bhuwana Agung dan di Bhuwana Alit bersinergi membangun hidup yang sejahtera lahir batin.

* I Ketut Gobyah

http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/8/1/bd2.htm

Pura Pucak Rare Angon

Posted by Adnyana under Pura di Tabanan

Menengok Keunikan Pura Pucak Rare Angon Dusun Kangin, Bangli, Baturiti, Tabanan

Hanya dengan Tirta, Wabah Ternak Bisa Sembuh
Hampir semua pura di Bali memiliki keunikan dan kekhasan. Seperti Pura Pucak Rare Angon di Dusun Gunung Kangin, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Konon, tirta di pura itu mampu menangkal wabah. Benarkah?

I KETUT SUGINA, Baturiti

MELIHAT dari namanya, sudah sangat dekat dengan kehidupan peternak. Kata Rare Angon mengandung arti sebagai pemelihara ternah atau hewan. Sehingga, hampir semua peternak di sekitar pura akan memohon berkah demi ternak peliharaannya.

Menuju ke pura ini tidaklah terlalu sulit. Begitu tiba di Pasar Baturiti, Tabanan, kurang lebih menempuh perjalanan 2 kilometer akan tiba di pura itu. Apalagi jalan menuju pura telah beraspal. Pura ini berdiri di tempat yang cukup tinggi. Sehingga, agar bisa mencapai jaba pura harus mendaki puluhan anak tangga. Secara fisik, pura tersebut tidak menampakkan kelebihan dibandingkan bangunan pura lainnya di Bali. Bagian pura terdiri dari jaba pura dan jeroan (bangunan utama). Namun warga di sana meyakini pura terebut memberikan berkah khususnya kepada para peternak baik sapi, babi, kambing maupun ternak jenis unggas.

Kelian Dinas Dusun Gunung Kangin I Nyoman Arcana menerangkan bahwa para peternak di daerah itu maupun desa-desa sekitar sangat meyakini bahwa dewa-dewi yang berstana di pura tersebut selalu memberikan berkah. Sehingga setiap piodalan, warga yang memiliki ternak pasti akan tangkil bersembahyang di pura tersebut memohon berkah. “Jika ada warga yang hendak memulai usaha peternakan, mereka biasanya matur piuning terlebih dahulu di Pura Pucak Rare Angon,” jelasnya.

Selain berkah, kesidian pura tersebut juga sudah banyak dibuktikan para peternak. Arcana mengungkapkan, jika ada ternak peliharaan warga yang terkena wabah penyakit, maka warga akan meminta berkah di pura tersebut. “Hanya dengan percikan tirta, maka penyakit ternak itu sembuh. Warga kami telah membuktikannya,”jelas Arcana.

Begitu mujarabnya tirta yang merupakan berkah dari Pura Pucak Rare Angon, sehingga keunikan dengan cepat menyebar. Tidak saja warga setempat yang suka memohon berkah di pura tersebut, namun banyak juga peternak yang datang dari luar desa bahkan luar Kecamatan Baturiti memohon kesembuhan bagi ternak mereka yang tertimpa wabah. “Ya, sering ada warga yang datang ke pura ini untuk memohonkan berkah bagi ternak peliharaannya,” aku Arcana. ***

http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_radar&id=150525&c=94

Pura Luhur Tamba Waras

Posted by Adnyana under Pura di Tabanan

Pura Luhur Tamba Waras—————-
Tempat Memohon Kesehatan Lahir Batin
 

Pura Luhur Tamba Waras secara geografis terletak di lereng sebelah selatan Gunung Batukaru, tepatnya di Desa Sangketan, Penebel, Tabanan. Pura yang berada pada satu garis dengan Pura Luhur Batukaru ini terletak pada ketinggian sekitar 725 meter dari permukaan laut. Untuk mencapai pura ini pemedek harus menempuh jarak sekitar 22 km dari kota Tabanan. Jika dilihat dari struktur pura, Pura Luhur Tamba Waras atau juga disebut Tambo Waras berkedudukan sebagai gudang farmasinya jagat raya. Fungsi ini dapat dibuktikan dengan munculnya berbagai sarana penting yang berfungsi sebagai bahan obat-obatan, di samping berkaitan erat dengan sejarah, di mana seorang raja dapat disembuhkan dengan mengaturkan permohonan di tempat yang awalnya berupa hutan belantara Batukaru ini.

============================================================ 

PURA Tamba Waras ini berdiri sekitar abad ke-12. Menurut beberapa catatan sejarah, Raja Tabanan yakni Cokorda Tabanan sakit keras dan tidak ditemukan pengobatannya. Para abdi mencarikan obat sesuai dengan petunjuk gaib yang diterima, di mana akan ada asap sebagai petunjuknya. Setelah berjalan di dalam hutan Batukaru, dijumpai asap mengepul yang berasal dari sebuah kelapa di tanah di dalam rumpun bambu. Setelah memohon di tempat itu, didapatkanlah obat. Setelah obat tersebut diaturkan kepada raja, ternyata sang raja sembuh dan sehat kembali. Di tempat itu dibangunlah tempat pemujaan yang dinamakan Tambawaras.

 Kata Tambawaras berasal dari kata tamba + waras. Tamba artinya obat, sedangkan waras artinya normal kembali. Pura Luhur Tamba Waras bermakna pemujaan kekuatan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi dalam fungsi sebagai penyedia gudang farmasi alam semesta (bhuwana agung). Dengan demikian permohonan kerahayuan, kesehatan, kebijaksanaan untuk mencapai kesejahteraan merupakan objek pemujaan di pura ini.

 Pura ini salah satu Pura Catur Angga, berstatus sebagai Sad Kahyangan Jagat Bali. Pura Luhur Tamba Waras termasuk dalam jajar kemiri, yakni juringan yang membangun kekuatan.  Gunung Batukaru dengan puncaknya Kedaton merupakan bentuk manifestasi Hyang Widhi sebagai pelindung kehidupan sarwa prani, dengan menganugerahkan pangurip gumi. Adapun pura jajar kemiri yang dimaksud adalah Pura Luhur Muncaksari dan ke bawahnya Pura Tamba Waras yang terletak di sebelah kanan Pura Luhur Batukaru.  

 Sementara di sebelah kiri terdapat Pura Patali dan Pura Besikalung. Kesempurnaan antara kedua sisi ini dapat memperkuat alam semesta. Dengan demikian Pura Luhur Tamba Waras merupakan satu kekuatan penyangga keutamaan fungsi Ida Batara Sang Hyang Tumuwuh yang berstana di Luhur Batukaru.

 Kesehatan lahir dan batin merupakan modal awal untuk menjalani hidup dengan benar. Pura Tamba Waras adalah kekuatan pemberi anugerah di bidang kesehatan lahir batin dan kelestarian alam semesta. Manifestasi  Catur Loka Pala Batukaru sebagai Aswinodewa. Kebijaksanaan, kejujuran, kemuliaan hati merupakan kesehatan batin untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, di samping kesehatan jasmani atau fisik yang kuat.

 Kedua hal ini dapat dimohonkan di pura ini, baik dengan melakukan yoga maupun pelaksanaan ritual yang didasari dengan hati yang suci guna memohon berkat-Nya.

 Desa Adat Sangketan merupakan krama adat Pekandel. Sementara Jero Subamia merupakan pangenceng dari pura ini. Buda Umanis Prangbakat merupakan piodalan yang diselenggarakan di pura ini. Sementara karya mamungkah, mupuk pedagingan dan ngenteg linggih dilaksanakan mulai Saniscara Pon Pahang (10 Juni) lalu dan berakhir Buda Pon Watugunung (13 September) mendatang, dengan puncak karya Rabu (2/8) lalu. 

 Melasti dan Masandekan

Ada tradisi unik yang dijalankan saat piodalan di pura ini yakni pamelastian dengan simpang dan masandekan pada beberapa pura yang dilalui. Upacara melasti di Tanah Lot, dengan memakan waktu perjalanan selama tiga hari dengan berjalan kaki dari Pura Tamba Waras menuju segara. Selama perjalanan Ida Batara akan simpang di beberapa pura dan masandekan di Pura Puseh Desa Adat Kota Tabanan.

 Selain itu, Ida Batara masandekan di Puseh Penatahan Desa Wanasari, Pura Pesimpangan Kuwuban Luhur Batukaru serta bermalam di Pura Desa Adat Kota Tabanan. Keesokan harinya kembali melanjutkan perjalanan menuju pantai Tanah Lot dengan sebelumnya masandekan di Pura Desa Adat Demung dan Pura Dangin Bingin. 

 Sekembalinya dari melasti marerepan di Pura Puseh Desa Adat Kota Tabanan. Hari ketiga, baru dilakukan prosesi mamendak Ida Batara rawuh dari melasti di Pura Luhur Tamba Waras.

 Wakil Bupati Tabanan IGG Putra Wirasana selaku pengenceng pura yang merupakan penglingsir Jro Subamia terlihat mendampingi berbagai upacara yang berlangsung. Dengan dilaksanakan yadnya di tempat ini diharapkan umat mampu menjaga keseimbangan alam Bali. 

 Selain itu, Mangku Gede Tamba Waras menyatakan atas berkat dan tuntunan yang diberikan oleh Ida Bathara yang dipuja di pura ini, diharapkan ada ketenteraman batin dalam setiap individu, rumah tangga serta seluruh masyarakat Bali. Jika hal ini terwujud maka akan ada ketenteraman, kedamaian serta kesuksesan dalam pembangunan di Tabanan dan Bali secara umum. Selain itu, piodalan yang dilaksanakan sebagai wujud terima kasih dan rasa bakti ke hadapan Sang Pencipta yang telah memberikan tuntunan dan berkah kepada umat manusia. 

 Wirasana berharap melalui kebersamaan dalam penyelenggaraan karya, terbentuk rasa kekeluargaan yang menciptakan rasa damai di kalangan umat. Selain itu, karya yang dilaksanakan sebagai wujud rasa bakti segenap umat diharapkan turut membawa keteguhan batin dan kerahayuan jagat, di mana saat ini sebagian besar wilayah Indonesia mengalami bencana. Melalui berbagai piodalan, setiap umat Hindu hendaknya lebih memperkuat keyakinan serta sradha ke hadapan Hyang Widhi, serta mampu menunjukkan sikap yang baik terhadap sesamanya.  * surpi

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/8/9/bd1.htm

Membangun Hidup Sehat 

Dhanikah strotriyo raja
nadi vaidyastu pancamah
panca yatra na vidyate
na tatra divasam vaset.
(Canakya Nitisastra. I.9) 

Maksudnya:

Di mana tidak ada orang kaya (dhanikah), orang suci yang mahir Veda (strotriya), pemimpin (raja), ahli kesehatan (vaidya) dan sungai dengan airnya mengalir (nadi). Sehari pun hendaknya Anda jangan bermukim di tempat itu. 

Kehidupan yang layak dan wajar hanya bisa diwujudkan dalam suatu pemukiman yang memiliki lima unsur seperti dinyatakan dalam kutipan Canakya Nitisastra I.9 tersebut di atas. Salah satu unsur tersebut adalah adanya Vaidya atau ahli ilmu kesehatan. Mereka yang bekerja untuk melayani masyarakat dalam membina hidup sehat inilah yang disebut Vaidya.  

Sakit atau gangguan kesehatan itu berasal dari tiga sumber yaitu Adibautika Vyadi yaitu sakit yang disebabkan oleh serangan penyakit yang berasal dari luar diri manusia. Adyatmika Viyadi yaitu sakit yang bersumber dari dalam diri manusia. Adi Dewika Vyadi yaitu sakit yang berasal dari karma-karma pada penjelmaan masa lalu. 

Menjadi Vaidya atau ahli kesehatan tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan dan ilmu penyakit yang berasal dari dunia nyata ini. Tiga sumber penyakit tersebut harus dipahami oleh seorang Vaidya. Tuhan adalah sumber semua ilmu pengetahuan. 

Pemujaan Tuhan di Pura Tamba Waras di Desa Sangketan Kecamatan Penebel merupakan salah satu pura di Bali yang berfungsi sebagai sarana memuja Tuhan sebagai Dewa Pengobatan dan Kesehatan. Di jeroan Pura Tamba Waras ini terdapat Pelinggih Padma Tiga sebagai Pelinggih Utama sebagai media memuja Ida Batara Tamba Waras sebagai menifestasi Tuhan yang menuntun manusia mendapatkan hidup sehat lahir batin.  

Pelinggih Padma Tiga ini Ida Batara Tamba Waras dipuja di Padma bagian tengah dengan diapit oleh dua Padma yaitu di timurnya dan di baratnya. Padma bagian barat sebagai pelinggih untuk memuja Ida Batara di Puncak Kedaton. Sedangkan Padma yang di timurnya sebagai pelinggih Ida Batara di Gunung Agung. Busana Padma Tiga yang di bagian barat berwarna merah.  

Di tengah stana Ida Batara Tamba Waras dengan busana serbahitam. Padma bagian tengah ini terdapat batu pingit berbentuk telapak kaki. Mungkin lambang telapak kaki Ida Batara Tamba Waras dalam melindungi kesehatan masyarakat. Sedangkan Padma di bagian timur dengan warna serba putih. Tiga warna ini simbol proses Tri Kona yaitu Utpati, Stithi dan Pralina. Hal ini melukiskan bahwa dalam membina kehidupan sehat tanpa penyakit perlu adanya konsep yang dinamis, seimbang dan konsisten antara menciptakan, memelihara dan meniadakan dalam bidang kesehatan.  

Ada hal-hal yang patut diciptakan sebagai suatu kreasi untuk membina hidup sehat. Ada juga sesuatu yang patut dipelihara dan dilindungi. Tetapi ada juga harus di-pralina karena sudah usang. Demikianlah dalam memelihara kesehatan harus dilakukan dengan proses Tri Kona tersebut. Proses Utpati di Pura Tamba Waras dimohonkan di Pura Puncak Kedaton. Pemeliharaan kesehatan dan pengobatan di Padma Tiga bagian tengah Ida Batara Tamba Waras. Sedangkan untuk mralina yang sudah tidak sesuai dengan zaman dalam membangun hidup sehat itu di Padma Tiga bagian timurnya. 

Di areal bagian timur jeroan Pura Tamba Waras terdapat Pelinggih Gedong. Gedong ini sesungguhnya Meru beratap satu. Dalam konsep pengelukunan Dasaksara, Meru Tumpang Satu ini lambang aksara Omkara pinaka uriping bhuwana. 

Menurut Drs. Sugiarta, salah seorang manggala tukang banten Karya Ngenteg Linggih Pura Tamba Waras, Pelinggih Gedong ini media nedungan, nyineb dan pesamuan Ida Batara Tamba Waras. Dalam tradisi ritual Hindu, Tuhan itu disimbolkan bagaikan Raja Diraja dengan aparatur kerajaannya. Tuhan diibaratkan bertempat tinggal di istana diiringi oleh aparaturnya. Tetapi itu semuanya simbolisasi dan visualisasi agar umat lebih mudah dapat menyerap makna dan nilai-nilai suci dari kehidupan berketuhanan tersebut.  

Saat nedunan Ida Batara divisualkan beliau turun ke dunia memberikan berbagai anugerah kepada umat manusia yang berbuat Subha karma. Tuhan juga akan ”menghukum” umatnya yang berbuat dosa sebagai pendidikan agar umat kembali sadar pada jati dirinya sebagai Atman yang suci. Setelah memberikan anugerah dan hukuman divisualisasikan Tuhan itu kembali ke istananya. Saat kembali inilah disebut dengan istilah nyineb.  

Di samping itu, Pelinggih Gedong itu sebagai Pelinggih Pesamuan. Tuhan saat akan turun ke bumi disimbolkan bertemu dengan para dewa aparatur kerajaan Tuhan. Di Pelinggih Pesamuan itulah divisualisasikan ada rapat atau pesamuan untuk menentukan bentuk anugerah dan hukuman yang akan diturunkan kepada umat manusia saat Tuhan turun ke bumi. Demikianlah fungsi Pelinggih Gedong di areal timur jeroan Pura Tamba Waras. Kata Tamba artinya obat dan waras artinya sehat.  

Jadinya di Pura Tamba Waras, Tuhan dipuja untuk membangun kecerdasan spiritual khusus membina kehidupan yang sehat lahir batin. Upacara piodalan di Pura Tamba Waras ini setiap enam bulan wuku yaitu pada Buda Manis Prangbakat. 

Di areal bagian barat agak ke selatan terdapat suatu bangunan suci yang oleh masyarakat disebut Pasepan. Sesungguhnya Pasepan itu adalah Kunda untuk menyelenggarakan upacara Homa Yadnya yang populer dilakukan oleh umat Hindu dari abad X Masehi di Bali. Karena upacara Homa Yadnya itu sebagai media pemujaan Dewa Agni untuk menyinari umatnya yang bakti pada Tuhan sesuai dengan petunjuk kitab suci Weda.* I Ketut Gobiah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/8/9/bd2.htm

Pura Pucak Mangu

Posted by Adnyana under Pura di Tabanan

Pura Pucak Mangu

Pura Pucak Mangu adalah Pura Kahyangan Jagat dengan dua fungsi yaitu sebagai Pura Catur Loka Pala dan Pura Padma Bhuwana. Pura Catur Loka Pala adalah empat pura sebagai media pemujaan kepada Tuhan yang melindungi empat penjuru Bhuwana Agung. Pura Pucak Mangu di arah utara, arah selatan Pura Andakasa, arah timur Pura Lempuyang Luhur dan arah barat Pura Luhur Batukaru. Demikian dinyatakan dalam Lontar Usada Bali. Bagaimana sejarah berdirinya Pura Pucak Mangu itu?

====================================================== 

Pura Padma Bhuwana itu adalah sembilan pura yang berada di sembilan penjuru Bali sebagai lambang Padma Bhuwana yaitu simbol alam semesta atau Bhuwana Agung. Pura Pucak Mangu sebagai Pura Padma Bhuwana berada di arah barat laut tempat memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Batara Sengkara — dewanya tumbuh-tumbuhan.

Di Pura Pucak Mangu beliau dipuja di Meru Tumpang Lima dengan sebutan Batara Pucak Mangu dengan upacara piodalan-nya setiap Purnamaning Sasih Kapat. Sedangkan upacara melastinya ke Pesiraman Pekebutan yang terletak di Desa Bukian di sebelah timur Desa Plaga.

Pura Pucak Mangu memiliki dua Pura Penataran yaitu Pura Penataran di Ulun Danu Beratan di Kabupaten Tabanan dan Penataran di Desa Tinggan Kecamatan Petang Kabupaten Badung. Pura Penataran Tinggan terletak di Desa Tinggan Kecamatan Petang Kabupaten Badung ini didirikan pada tahun 1752 Saka atau 1830 Masehi oleh Cokorda Nyoman Mayun.

Di Pura Penataran Tinggan ini terdapat beberapa pelinggih pokok yaitu Meru Tumpang Sebelas pelinggih Batara Pucak Mangu. Meru Tumpang sembilan pelinggih Batara di Teratai Bang, Meru Tumpang Tiga pelinggih Batara di Pucak Bon, Gedong dengan lima ruang (sejenis Pelangkiran) pelinggih Batara di Pucak Sangkur, Padma Rong Tiga untuk Pengubengan, Padmasana sebagai Surya pelinggih Saksi.

Dengan dibangunnya Pura Penataran Tinggan ini sehingga Pura Pucak Mangu memiliki dua Pura Penataran. Pura Penataran yang pertama didirikan oleh I Gst. Agung Putu yang setelah menjadi Raja Mengwi pertama bergelar Cokorda Sakti Blambangan. Penataran Pura Puncak Mangu yang pertama didirikan tahun 1555 Saka atau tahun 1633 Masehi di tepi Danau Beratan karena itu disebut juga Pura Ulun Danu Beratan. Pura ini berada di sebelah Pura Dalem Purwa.

Di Pura Penataran pertama ini Ida Batara Puncak Mangu distanakan di Pelinggih Meru Tumpang Tiga, pelinggih ini juga disebut Pelinggih Lingga Petak, karena di bawah Meru itu dijumpai batu putih sebesar manusia diapit oleh batu hitam dan batu putih. Ada juga Meru Tumpang Pitu sebagai Pesimpangan Batara Teratai Bang. Meru Tumpang Sebelas sebagai Pelinggih Batara Ulun Danu atau disebut Batara Tengahing Segara.

Penataran Pura Pucak Mangu yang kedua didirikan tahun 1752 Saka atau tahun 1830 Masehi oleh Cokorda Nyoman Mayun. Hal ini disebabkan pada tahun tersebut Kerajaan Mengwi mengalami kemunduran. Puri Marga menguasai daerah di sekitar Danau Beratan pernah tidak patuh dan bermasalah dengan Kerajaan Mengwi.

Karena itu anggota kerajaan dan masyarakat Mengwi mengalami kesulitan kalau ingin sembahyang ke Pura Penataran di Ulun Danu Beratan. Karena itu Raja memutuskan untuk membangun Pura Penataran Pucak Mangu di Desa Tinggan. Hal itulah yang menyebabkan Pura Pucak Mangu memiliki dua Pura Penataran.

Upacara di Pucak Mangu dilakukan dua kali setahun. Pada Purnama Sasih Kapat dilakukan upacara piodalan baik di Pura Pucak Mangu maupun di Pura Penataran Tinggan. Sedangkan Purnama Sasih Kapitu dilakukan upacara Ngebekin di kedua pura tersebut. Upacara piodalan dan upacara ngebekin di Pura Pucak Mangu diselenggarakan oleh delapan kelompok pemaksan yaitu Tinggan, Plaga, Bukian, Kiadan, Nungnung, Semanik, Tiyingan dan Auman. Delapan pemaksan inilah yang membantu Puri Mengwi untuk melaksanakan kedua upacara pokok tersebut.

Di samping upacara piodalan setiap tahun juga diadakan upacara Ngebekin. Fungsi upacara Ngebekin adalah sebagai sarana pemujaan kepada Tuhan sebagai Dewa Sangkara untuk memohon agar hasil tumbuh-tumbuhan terutama padi dapat berhasil dengan baik. Dewa Sangkara adalah manifestasi Tuhan sebagai penjaga tumbuh-tumbuhan. Banten pokok dalam upacara Ngebekin yakni Banten Sorohan Pelupuhan.

Upacara Ngebekin ini tujuannya adalah memohon Tirtha Ngebekin. Umat dari delapan kelompok pemaksan setiap upacara Ngebekin membawa sujang yaitu potongan bambu yang masih hijau sebagai tempat tirtha.

Tirtha Ngebekin ini tidak boleh digunakan untuk nyiratang atau diminumkan kepada manusia. Tirtha Ngebekin itu hanya untuk kasiratang (dicipratkan) kepada sawah ladang dan tumbuh-tumbuhan pertanian. Tirtha Ngebekin itulah sebagai simbol penyucian dan pemeliharaan segala tumbuh-tumbuhan pertanian sebagai sumber hidup umat manusia.

Upacara Ngebekin ini intinya tidak berbeda dengan upacara memandikan Lingga Yoni dalam sistem Siwa Pasupata. Air dengan berbagai perlengkapannya yang dijadikan sarana memandikan Lingga itu menjadi tirtha untuk memercikan tumbuh-tumbuhan di sawah ladang simbol mohon kesuburan. Upacara memandikan Lingga inilah dilanjutkan dengan istilah upacara Ngebekin dalam sistem Siwa Sidhanta. Meski demikian, keberadaan Lingga di Pura Pucak Mangu tetap dipertahankan di Pelinggih Tepasana. Yang menarik di sini adalah banten utama yang digunakan di Pura Pucak Mangu adalah Banten Pelupuhan Bebek.

Banten-banten yang dipersembahkan ke Pura Pucak Mangu tidak boleh menggunakan daging babi. Kecuali kalau ada perbaikan pura terus dilangsungkan upacara Ngeruwak barulah banten Ngeruwak itu saja yang boleh menggunakan guling babi. Sedangkan di Pura Penataran Tinggan dipergunakan Banten Pelupuhan Babi.

Banten Pelupuhan Babi ini menggambarkan cerita Batara Wisnu turun mencari pangkal Lingga ke bawah dengan menjadi babi hitam. Terus ketemu dengan Dewi Wasundhari. Dari pertemuan itu lahirlah Boma. Dewa Wisnu simbol air dan Dewi Wasundhari simbol pertiwi. Pertemuan air dan pertiwi melahirkan Boma. Kata Boma dalam bahasa Sansekerta artinya pohon. Canakya Niti menyatakan bahwa air, tumbuh-tumbuhan, dan kata-kata bijak adalah tiga ratna permata bumi. Kalau tiga hal ini diutamakan oleh manusia maka kehidupan sejahtera itu pasti dicapai. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/10/24/bd2.htm

Pura Pucak Mangu 

Upahvare giringan samgthe ca
Nadinam dhiya vipro ajayata.
(Rgveda VIII.6.28) 

Maksudnya:
Di tempat-tepat yang tergolong hening, di gunung-gunung dan pertemuan dua sungai, di sanalah orang bijak (viprah) mendapatkan pemikiran yang jernih. 

PURA Pucak Mangu mungkin sudah ada sejak zaman budaya megalitikum berkembang di Bali dengan bukti diketemukannya peninggalan Lingga yang cukup besar. Di tempat inilah I Gusti Agung Putu, pendiri Kerajaan Mengwi, melakukan tapa brata mencari keheningan pikiran setelah kalah dalam perang tanding.

I Gusti Agung Putu pun menemukan jati dirinya dan bangkit lagi dari kekalahannya, terus dapat meraih kemenangan sampai dapat mendirikan Kerajaan Mengwi. Di tempat I Gst. Agung Putu bertapa brata itulah Pura Pucak Mangu kembali dipugar dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan umat Hindu yang terus berkembang. Puncak Gunung Mangu ini memang sangat hening untuk melakukan tapa brata untuk perenungkan diri seperti yang pernah dilakukan oleh I Gst. Agung Putu. Menurutnya, kegagalan bukan untuk disesalkan dan berputus asa, tetapi untuk dijadikan pengalaman serta diambil hikmahnya untuk pelajaran diri selanjutnya. Dengan cara itulah kegagalan dapat diubah menjadi awal kesuksesan.

Dalam peta Pulau Bali nama Gunung Mangu hampir tidak dikenal. Mungkin karena Gunung Mangu ini tidak begitu tinggi. Namun kalau kita baca lontar tentang Pura Kahyangan Jagat nama Gunung Mangu ini akan mudah diketemukan. Nama Gunung Mangu ini disebutkan dalam Lontar Babad Mengwi. Leluhur Raja Mengwi yang bernama I Gusti Agung Putu kalah secara kesatria dalam pertempuran melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dari Puri Kekeran.

Karena kalah I Gusti Agung Putu ditawan dan diserahkan kepada I Gst. Ngurah Tabanan sebagai tawanan perang. Oleh seorang patih dari Marga bernama I Gusti Bebalang meminta kepada I Gusti Ngurah Tabanan agar dibolehkan mengajak I Gusti Agung Putu ke Marga. Setelah di Marga inilah timbul niatnya I Gusti Agung Putu ingin membalas kekalahannya dengan cara-cara kestria kepada I Gusti Ngurah Batu Tumpeng.

Sebelum membalas kekalahannya, I Gusti Agung Putu terlebih dahulu bertapa di puncak Gunung Mangu tempat Pura Pucak Mangu sekarang. Di puncak Gunung Mangu inilah I Gusti Agung Putu mendapat pawisik keagamaan dengan kekuatan magis religius. Setelah itu I Gusti Agung Putu kembali menantang I Gusti Ngurah Batu Tumpeng bertempur. Berkah hasil tapanya di Gunung Mangu itulah I Gusti Agung Putu meraih kemenangan melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dan musuh-musuhnya yang lain.

Gunung Mangu ini terletak di sebelah timur laut Danau Beratan. Gunung ini juga bernama Pucak Beratan, Pucak Pengelengan, dan Pucak Tinggan. Orang dari Desa Beratan menyebut gunung tersebut Pucak Beratan. Sedangkan orang yang dari Desa Tinggan menyebutnya Pucak Tinggan. Karena umat di Desa Tinggan-lah yang ngempon aci-aci di Pura Pucak Mangu tersebut.

Nama Pucak Pengelengan menurut penuturan keluarga Raja Mengwi bahwa saat I Gusti Agung Putu bertapa di Pucak Mangu, Batara Pucak Mangu menulis (ngerajah) lidahnya. Setelah itu I Gusti Agung Putu disuruh ngelengan (melihat keseliling). Mana daerah yang dilihat dengan terang itulah nanti daerah kekuasaannya. Karena itulah Pucak Mangu ini juga disebut Pucak Pengelengan.

Pura Pucak Mangu memiliki dua Pura Penataran yaitu Pura Ulun Danu Beratan didirikan oleh I Gusti Agung Putu yang berada di sebelah barat Gunung Mangu dan Pura Penataran Agung Tinggan di sebelah timur Gunung Mangu didirikan oleh keturunannya yaitu  Cokorda Nyoman Mayun.

Di Pucak Mangu ini terdapat sebuah pura dengan ukuran 14 x 24 meter. Di dalamnya ada beberapa pelinggih dan bangunan yang bernilai sejarah kepurbakalaan. Yaitu sebuah Lingga, dengan ukuran tinggi 60 cm dan garis tengahnya 30 cm. Bahannya dari batu alam lengkap dengan bentuk segi 4 (Brahma Bhaga), segi delapan (Wisnu Bhaga) dan bulat panjang (Siwa Bhaga).

Menurut para ahli purba kala, Lingga ini sezaman dengan dengan Lingga di Pura Candi Kuning. Para ahli memperkirakan penggunaan Linga dan Candi sebagai media pemujaan di Bali berlangsung dari abad X - XIV. Setelah abad itu pemujaan di Bali menggunakan bentuk Meru dan Gedong. Kapan tepatnya Pura Pucak Mangu ini didirikan belum ada prasasti atau sumber lainnya dengan tegas menyatakannya.

Dari cerita keluarga Raja Mengwi konon ketika I Gusti Agung Putu akan bersemadi di gunung ini menjumpai kesulitan karena hutannya sangat lebat. Setelah beliau berusaha ke sana-ke mari lalu beliau mendengar suara tawon. I Gusti Agung Putu pun menuju suara tawon itu. Ternyata di tempat suara tawon itu dijumpai reruntuhan pelinggih termasuk Lingga tersebut. Setelah itu kemungkinan pura ini dipugar oleh I Gusti Agung Putu setelah beliau berhasil menjadi Raja Mengwi serta mendirikan Pura Penataran-nya di tepi Danau Beratan.

Nampaknya sampai abad XVIII pelinggih utama di Pura Pucak Mangu adalah Lingga Yoni saja dan bangunan pelengkap lainnya. Setelah pemerintahan I Gst. Agung Nyoman Mayun yang bergelar Cokorda Nyoman Mayun melengkapinya dengan pendirian Meru Tumpang Lima linggih Batara Pucak Mangu. Meru Tumpang Tiga linggih Batara Teratai Bang dan Tepasana tempat Lingga.

Ada juga dibangun Padma Capah sebagai Pengubengan, Pelinggih Panca Resi yang mempunyai lima ruangan yang menghadap ke empat penjuru dan sebuah ruangan berada di tengah, dan bangunan lainnya. Menurut Babad Mengwi, atas perintah Cokorda Nyoman Mayun-lah Pura Penataran Tinggan didirikan tahun Saka 1752 atau 1830 Masehi. Mungkin zaman dahulu menuju ke Pura Penataran Ulun Danu Beratan masih sulit karena keadaan alamnya. Hal itulah barang kali menyebabkan Pura Pucak Tinggan memiliki dua Pura Penataran.

Sampai tahun 1896 saat runtuhnya Kerajaan Mengwi tidak ada tercatat dalam sejarah bahwa Pura Pucak Mangu direstorasi. Tahun 1927 akibat gempa yang dhasyat Pura Pucak Mangu ikut runtuh. Pura tersebut baru direstorasi tahun 1934 - 1935. Tahun 1978 terjadi angin kencang lagi yang merusak pelinggih dan bangunan lainnya. Pada tahun itu juga pura tersebut direstorasi kembali. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/10/24/bd1.htm