kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Pura di Karangasem’ Category

Fungsi Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih 

Siwa Tattwa ngaranya sukha tanpa wali duhkha.
Sadasiwa
Tattwa ngaranya tanpa wwit tanpa tungtung ikang sukha. Paramasiwa Tattwa ngaranya niskala tan wenang winastwan ikang sukha.
(Dikutip Dari Wrehaspati Tattwa.50) 

Maksudnya:

Hakikat memuja Tuhan Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang tidak berbalik pada kedukaan. Memuja Tuhan sebagai Sadasiwa akan mencapai kebahagiaan yang tidak ada awal dan tidak akhirnya. Memuja Tuhan sebagai Paramasiwa mencapai kebahagiaan niskala yang tidak dapat dilukiskan kebahagiaan itu

PELINGGIH Padma Tiga di Pura Besakih sebagai sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Parama Siwa.

Pelinggih Padma Tiga sebagai media pemujaan Sang Hyang Tri Purusa yaitu Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Besakih dan juga dalam beberapa sumber lainnya seperti dalam Pustaka Pura Besakih yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali tahun 1988. Busana hitam di samping busana warna putih dan merah dari Padma Tiga bukan simbol dari Wisnu, tetapi simbol dari Parama Siwa.

Dalam Mantra Rgveda ada dinyatakan bahwa keberadan Tuhan Yang Maha Esa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian saja. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap karena tidak dijangkau oleh sinar matahari. Tuhan juga maha-ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Parama Siwa dalam pustaka Wrehaspati Tattwa itu.

Busana hitam Padma Tiga yang berada di kanan atau yang mengarah ke Pura Batu Madeg itu bukan lambang pemujaan Wisnu. Tetapi pemujaan untuk Parama Siwa yang berada di luar alam semesta. Parama Siwa adalah Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman artinya tanpa sifat atau manusia tidak mungkin melukiskan sifat-sifat Tuhan Yang Mahakuasa itu. Sedangkan Padma Tiga yang di tengah busananya putih kuning sebagai simbol dalam Tuhan keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera.

Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan. Sedangkan busana warna merah pada Padma Tiga yang di kiri atau yang mengarah pada Pura Kiduling Kreteg bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Warna merah dalam Pelinggih Padma Tiga yang di bagian kiri memang arahnya ke Pura Kiduling Kreteg. Padma Tiga yang berwarna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Stithi dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Siwa bermanifestasi menjadi Tri Murti.

Untuk di kompleks Pura Besakih sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg. Sebagai Batara Wisnu di Pura Batu Madeg dan sebagai Batara Iswara di Pura Gelap. Di tingkat Pura Padma Bhuwana sebagai Batara Wisnu dipuja di Pura Batur simbol Tuhan Mahakuasa di arah utara. Dipuja sebagai Bhatara Iswara di Pura Lempuhyang Luhur di arah timur dan sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Andakasa simbol Tuhan Mahakuasa di arah selatan.

Sementara untuk di tingkat desa pakraman, Batara Tri Murti itu dipuja di Kahyangan Tiga. Mengapa ajaran agama Hindu demikian serius mengajarkan umatnya untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa itu dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti. Salah satu ciri hidup manusia melakukan dinamika hidup. Memuja Tuhan sebagai Tri Murti untuk menuntun umat manusia agar dalam hidupnya ini selalu berdinamika yang mampu memberikan kontribusi pada kemajuan hidup menuju hidup yang semakin baik, benar dan tepat.

Pemujaan pada Dewa Tri Murti itu agar dinamika hidup manusia itu berada di koridor Utpati, Stithi dan Pralina. Maksudnya menciptakan sesuatu yang patut diciptakan disebut Utpati, memelihara serta melindungi sesuatu yang sepatutnya dipelihara dan dilindungi disebut Stithi, serta meniadakan sesuatu yang sudah usang yang memang sudah sepatutnya dihilangkan yang disebut Pralina.

Demikianlah keberadaan Pelinggih Padma Tiga yang berada di Mandala kedua dari Pura Penataran Agung Besakih. Di Mandala kedua ini sebagai simbol bertemunya antara bhakti dan sweca. Bhakti adalah upaya umat manusia atau para bhakta untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sedangkan sweca dalam bahasa Bali maksudnya suatu anugerah Tuhan kepada para bhakta-nya. Sweca itu akan diterima oleh manusia atau para bhakta sesuai dengan tingkatan bhakti-nya pada Tuhan.

Bentuk bhakti pada Tuhan di samping secara langsung juga seyogianya dilakukan dalam wujud asih dan punia. Asih adalah bentuk bhakti pada Tuhan dengan menjaga kelestarian alam lingkungan dengan penuh kasih sayang, karena alam semesta ini adalah badan nyata dari Tuhan. Sedangkan punia adalah bentuk bhakti pada Tuhan dalam wujud pengabdian pada sesama umat manusia sesuai dengan swadharma kita masing-masing.

Tuhan telah menciptakan Rta sebagai pedoman atau norma untuk memelihara dan melindungi alam ini dengan konsep asih. Tuhan juga menciptakan dharma sebagai pedoman untuk melakukan pengabdian pada sesama manusia. Dengan konsep asih, punia dan bhakti itulah umat manusia meraih sweca-nya Tuhan yang dilambangkan di Pura Besakih di Mandala kedua ini.

Di Mandala kektiga ini tepatnya di sebelah kanan Padma Tiga itu ada bangunan suci yang disebut Bale Kembang Sirang. Di Bale Kembang Sirang inilah upacara padanaan dilangsungkan saat ada upacara besar di Besakih seperti saat ada upacara Bhatara Turun Kabeh, upacara Ngusaba Kapat maupun upacara Manca Walikrama, apalagi upacara Eka Dasa Ludra.

Upacara padanaan yang dipusatkan di Bale Kembang Sirang inilah sebagai simbol bahwa antara bhakti umat dan sweca-nya Hyang Widhi bertemu. Di Pura Penataran Agung Besakih sebagai simbol Sapta Loka tergolong Pura Luhuring Ambal-ambal. Ini dilukiskan bagaimana umat seyogianya melakukan bhakti kepada Tuhan dan bagaimana Tuhan menurunkan sweca kepada umat yang dapat melakukan bhakti dengan baik dan benar. Semuanya dilukiskan dengan sangat menarik di Pura Penataran Agung Besakih dan amat sesuai dengan konsep Weda kitab suci agama Hindu. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/3/26/bd1.htm

Pura Besakih sebagaiHuluning Bali RajyaBersumber dari Ajaran Suci Weda dan Sastra

Dalam Lontar Padma Bhuwana, Pura Besakih dinyatakan sebagai huluning Bali Rajya. Artinya, Pura Besakih sebagai hulunya daerah Bali. Dengan kata lain, Pura Besakih adalah sebagai kepalanya atau menjadi jiwanya Pulau Bali. Hal ini sesuai dengan letak Pura Besakih di sebelah timur laut Pulau Bali. Timur laut adalah arah gunung dan arah terbitnya matahari dengan sinarnya sebagai salah satu kekuatan alam ciptaan Tuhan yang menjadi sumber kehidupan di bumi ini.

========================================================== 

Adanya Pura Besakih di lereng Gunung Agung sebagai simbol sakral untuk mengingatkan masyarakat Bali agar selalu menjaga kesuburan alam Bali, karena hanya dengan selalu terjaganya kesuburan alam Balilah kemakmuran dan kebahagiaan masyarakat Bali dapat diwujudkan. Matahari dan gunung sebagai salah satu hulunya kehidupan.

Di Pura Besakih sendiri terdapat berbagai simbol yang melukiskan tentang kehidupan sesuai dengan apa yang diajarkan dalam agama Hindu. Di sini juga terdapat konsepsi tentang hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam lingkungannya yang dikenal dengan nama Tri Hita Karana. Dari filosofi Tri Hita Karana inilah diwujudkan konsep-konsep hidup yang lebih detail, baik menyangkut bhakti manusia pada Tuhan, punia atau pengabdian manusia dengan sesamanya dan kasih sayang manusia pada alam lingkungan. Ketiga hubungan itu sangat detail dilukiskan di Pura Besakih dan diimplementasikan dalam kehidupan umat Hindu di seluruh Bali.

Bhakti umat manusia pada Tuhan untuk membangun kekuatan spiritual umat manusia. Dengan kekuatan spiritual itu manusia dapat memiliki moral yang luhur dan mental yang tangguh dalam menghadapi berbagai bentuk tantangan, hambatan dan godaan hidup.

Tiga perilaku berdasarkan ajaran Tri Hita Karana itu disebut Tri Para Artha yang artinya tiga tujuan mulia yaitu asih, punia dan bhakti. Asih itu menyayangi alam. Punia artinya mengabdi dengan tulis ikhlas kepada sesama umat manusia. Bhakti artinya menguatkan sraddha dan bhakti kepada Tuhan.

Misalnya Pura Besakih sebagai hulunya Pura Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali. Pura Penataran Agung Besakih sebagai hulunya Pura Desa di desa pakraman. Pura Basukian di Besakih sebagai hulunya Pura Puseh, Pura Dalem Puri di Besakih hulunya Pura Dalem di desa pakraman.

Di Besakih ada Pura Ulun Kulkul sebagai hulunya kulkul di desa pakraman dan banjar di seluruh Bali. Di Besakih ada Pura Banua sebagai pemujaan Dewi Sri manifestasi Tuhan sebagai dewanya padi. Pura ini sebagai hulunya jineng bangunan sucinya berbentuk Gedong Limas Catu yang atapnya lancip ke atas. Pura ini sebagai hulunya Limas Catu yang umumnya ada di setiap Merajan Gede atau Merajan Gedong Pertiwi di setiap pemujaan keluarga di Bali. Di setiap Merajan Gede di Bali umumnya di sebelah kanan Pelinggih Gedong Pertiwi ada Pelinggih Limas Catu dan Limas Mujung lambang Pelinggih Pesimpangan ke Gunung Agung dan Gunung Batur.

Di Besakih ada Pura Bangun Sakti pemujaan Ananta Bhoga atau Sapta Patala di berbagai pura di seluruh Bali ada juga Pelinggih Sapta Patala sebagai pemujaan Tuhan sebagai dewanya lapisan

Panca Bali Krama
Menegakkan Nilai Kesucian, Bangun Keharmonisan Jagat

Pada Rabu Pahing Wuku Kuningan, 25 Maret 2009 mendatang –tepat pada Tilem Caitra/Kasanga — umat Hindu kembali menyelenggarakan upacara Tawur Panca Bali Krama di Pura Besakih. Karya ini digelar setiap 10 tahun sekali, yaitu pada Tilem Caitra/Kasanga ketika tahun Saka berakhir dengan 0 atau rah windhu. Apa makna upacara ini?

KETUA Sabha Walaka PHDI Pusat Ketut Wiana mengatakan, dalam Lontar Raja Purana, tawur agung yang diselenggarakan setiap 10 tahun itu disebut Panca Bali Krama, sedangkan dalam lontar yang lain disebut Panca Wali Krama. Inti dari tawur tersebut adalah caru. Caru dalam kitab Samhita Swara berarti ‘cantik’ yakni mengharmoniskan kembali. Dalam konteks ini, alam mesti diharmoniskan (butha hita), termasuk sesama individu umat (jana hita) menuju keharmonisan bersama (jagat hita). ‘Tawur agung Panca Bali Krama ini pada esensinya dalah upaya menuju hal-hal yang harmonis. Misalnya alam yang rusak mesti diperbaiki atau dilestarikan, hubungan sesama lebih diharmoniskan dan sebagainya. Jadi, tawur agung ini merupakan momen untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai sistem kehidupan menuju yang harmonis. Atau mengingatkan umat kepada upaya penegakan aspek kehidupan,’ ujar Wiana yang dosen IHDN Denpasar ini.

Dalam hal ini pula, lanjut Wiana, umat perlu menerapkan konsep Tri Kona — Utpeti, Stiti, Pralina — yang lebih tajam. Artinya, perlu menciptakan (utpeti) sesuatu yang diperlukan, memelihara (stiti) hal-hal yang sesuai dengan keperluan zaman dan meninggalkan (pralina) sesuatu atau tradisi yang tidak cocok lagi dengan semangat zaman dalam rangka menegakkan Weda. ‘Weda itu sanatana dharma, kandungannya kekal abadi. Tetapi penerapannya notana, selalu diremajakan sesuai dengan perkembangan zaman,’ katanya.

Saat Terpilih

Sementara itu, Bali TV dalam program acara ‘Pablibagan’ yang ditayangkan Senin (23/2) kemarin juga mengangkat topik ‘Karya Agung Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih 2009′. Acara yang dipandu IB Putu Ardika itu menampilkan IBG Agastia, I Gede Marayana, Drs. I Putu Suwena, S.H. dan Drs. IGM Ngurah, M.Si. sebagai narasumber.

Pada kesempatan itu, sastrawan yang juga tokoh agama IBG Agastia mengatakan sistem upacara umat Hindu di Bali terutama upacara-upacara besar seperti Panca Bali Krama, Eka Dasa Rudra dan yang lainnya diselenggarakan pada saat terpilih dan juga tempat yang terpilih. Ketika matahari dan bulan tepat di atas khatulistiwa — garis yang membelah bumi — itulah waktu yang dipilih untuk melaksanakan Karya Agung Panca Bali Krama (dilaksanakan 10 tahun sekali) maupun Eka Dasa Rudra (100 tahun sekali). Karya agung ini dimaksudkan untuk mengharmoniskan segala unsur yang membangun jagat raya yang disebut Panca Mahabhuta dan Panca Tanmatra. Sehari setelah upacara besar itu umat Hindu memasuki tahun baru Saka.

Upacara agung seperti Panca Bali Krama dan Eka Dasa Rudra, katanya, pada hakikatnya dimaksudkan untuk menegakkan nilai-nilai kesucian, lalu membangun keharmonisan jagat yang disebut jagat hita, bhuta hita, sarwa prani hita. Semua hal itu diharapkan memberikan kerahayuan kepada manusia yang menempati bumi ini. Semoga isi jagat raya (sarwa prani) memberikan prana atau energi kerahayuan pada manusia dan seisi alam. ‘Jadi, ada landasasn filosofi atau tatwa yang mendasari upacara ini. Landasannya menyangkut konsep Panca Mahabhuta, Panca Tanmatra, Panca Brahma, Panca Giri dan Panca Indria,’ katanya.

Astronom I Gede Marayana menambahkan, upacara Panca Bali Krama merupakan upacara Bhuta Yadnya, salah satu dari Panca Mahayadnya — Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Resi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya. Tujuannya adalah untuk mencapai bhuta hita atau jagat hita — keharmonisan kehidupan makhluk dan jagat raya ini (sarwa prani hita). Suatu keistimewaan dalam palaksanaan Panca Bali Krama saat ini yakni waktunya terangkai dengan hari raya Galungan dan Kuningan, bertemu dalam sasih Kasanga.

Karena itu, lanjut Marayana, generasi umat Hindu Bali-Nusantara patut bersyukur dapat ikut serta melaksanakan upacara Tawur Agung Panca Bali Krama, karya yang sedemikian ‘langka’ karena pelaksanaannya secara periodik dalam kurun waktu tertentu — sepuluh tahun sekali. Sepatutnyalah yasa-kerti yang dilakoni umat benar-benar nekeng-tuwas, menyatukan idep, sabda dan bayu, dalam menyukseskan karya tersebut.

Sementara itu, Suwena mengatakan Karya Agung Panca Bali Krama jatuh pada 25 Maret 2009 yang dilanjutkan dengan prosesi Batara Turun Kabeh pada 9 April. Pada kesempatan itu, Suwena juga mengingatkan masyarakat bahwa setelah tanggal 20 Februari tidak diperkenankan melakukan upacara pengabenan, termasuk makinsan ring gni. Apabila setelah itu ada umat yang meninggal, jenazahnya dikubur secepatnya. Itu pun dilakukan malam hari atau setelah matahari terbenam. Apabila hal itu menimpa sulinggih seperti Ida Pedanda, Sri Empu termasuk pemangku, agar dilakukan dengan nyekah di rumah sesuai dresta masing-masing. ‘Dari 20 Februari hingga 27 April 2007 tidak boleh ada upacara pengabenan atau pembakaran mayat,’ katanya. (lun/ian)

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1120&Itemid=26

Purwaka

Pada hari rabu, 25 Maret 2009 (Budha Pahing Kuningan) umat Hindu di Indonesia kembali menyelenggarakan Karya Agung Panca Bali (Wali) Krama sebagai salah satu rangkaian siklus upacara Bhuta Yadnya dalam agama Hindu yang berhubungan dengan Ekadasa Rudra. Apabila Ekadasa Rudra diselenggarakan bertepatan dengan Tilem Caitra saat tahun Saka berakhir dengan 00 atau rah windu tenggek windu atau windu turas (setiap seratus tahun sekali), maka Panca Bali Krama diselenggarakan bertepatan dengan Tilem Caitra saat tahun Saka berakhir dengan 0 atau rah windu (setiap sepuluh tahun sekali) seperti tersurat di dalam lontar Indik Ngekadasa Rudra. Landasan yang digunakan sebagai dasar terselenggaranya Karya Agung Panca Bali Krama tersurat di dalam kitab suci Veda, Samhita, Brahmana, Aranyaka, Upanisad, dan kitab-kitab Purana.

Sebagai salah satu rangkaian siklus Panca Maha Yajnya,Bhuta Yadnya tidak terpisahkan dengan rangkaian Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Resi Yadnya dan Manusa Yajnya karena merupakan satu kesatuan yang utuh.

Kata yajnya memiliki makna yang dalam karena dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Tidak hanya dalam bentuk pelaksanaan upacara, namun dapat berbentuk berbagai aktivitas kerja. Dalam kitab suci Veda, uraian tentang yajnya dan karma (kerja) diuraikan dalam satu kesatuan. Kitab Bhagawad Gita misalnya, tidak hanya menguraikan tentang ethos kerja tetapi juga hakikat kerja. Yajnya dan karma adalah jalan pembebasan, jalan pembebasan diri dari belenggu materialisme.

Karya Agung Ekadasa Rudra telah diselenggarakan di Bali pada Tilem Caitra Saka 1900 (Maret 1979) sebagai rangkaian siklus Bhuta Yadnya, dilanjutkan dengan Karya Agung Panca Bali Krama setiap sepuluh tahun sekali. Terakhir, Panca Bali Krama diselenggarakan bertepatan dengan Tilem Caitra (Tilem Kasanga) Saka 1920, tanggal 17 Maret 19999 yang dipusatkan di Bancingah Agung Pura Panataran Agung Besakih, di kaki Gunung Agung.

Selain diselenggarakan dalam kurun waktu tertentu, Panca Bali Krama juga diadakan pada saat-saat tertentu sesuai keperluan. Menurut teks lontar Bali, tercatat ada beberapa jenis Panca Bali Krama sebagai berikut:

a. Panca Bali Krama yang diadakan pada saat tahun Saka berakhir dengan 0 (rah windu) atau menjelang pasalin rah tunggal, misalnya tahun Saka 1910, 1920, dan seterusnya.

b. Panca Bali Krama Panregteg diadakan tidak terikat dengan rah windu, tetapi dilaksanakan karena Panca Bali Krama sudah lama tidak diadakan.

c. Panca Bali Krama yang diadakan di Pura Panataran Agung Besakih karena terjadi bencana alam yang bertubi-tubi, seperti desa-desa hilang tersapu banjir, desa-desa ditelan bumi karena gempa dahsyat, gunung meletus disertai hujan abu yang menyebabkan bumi gelap gulita, hama merajalela, umur manusia pendek, orang jahat dikira baik, sebaliknya orang baik dikira jahat, dan lain-lain.

d. Panca Bali Krama yang diadakan di tempat-tempat tertentu di luar Pura Panataran Agung Besakih, misalnya di pusat kerajaan (sekarang kabupaten/kota atau propinsi) untuk menyucikan wilayah tertentu. Di masa lalu, pernah diadakan di Denpasar dan Mengwi.

e. Panca Bali Krama Ring Danu, ialah Panca Bali Krama yang diadakan di danau (biasanya dipilih danau yang terbesar) serangkaian dengan upacara Candi Narmada di samudra (laut). Upacara itu seharusnya dilaksanakan sebelum diadakan Karya Agung Ekadasa Rudra. .

Panca Bali Krama: Bhuta Yajna dan Dewa Yajna

Yadnya, yang telah dan akan dilakukan oleh umat Hindu merupakan kewajiban yang patut dilaksanakan. Keseluruhan rangkaian yadnya diklasifikasikan dalam Panca Maha Yajna yang terdiri atas Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Resi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya, seperti disuratkan dalam kitab suci Veda dan secara eksplisit ditegaskan dalam Kitab Satapata Brahmana maupun Manawa Dharmasastra (III, , 68, 69, 70, 71 dan 72) (lihat Die Religionen Indies I, Veda und ulterer Hinduismus, Kohlhamer, 1960). Dengan demikian, pelaksanaan yajna sesungguhnya berlandaskan ajaran kitab suci Veda.

Bhuta Yadnya merupakan persembahan kepada bhuta yang merupakan unsur-unsur yang membangun alam semesta (bhuwana alit maupun bhuwana agung atau segala bentuk material di alam raya ini), disebut panca maha bhuta, terdiri atas prethiwi (unsur tanah), apah (unsur air), teja (unsur sinar), vayu (unsur angin) dan akasa (ether), yang dibentuk oleh lima unsur lebih halus, disebut panca tan matra yang tediri atas gandha (unsur bau), rasa (rasa), sparsa (sinar), rupa (rupa) dan sabda (suara).

Semua unsur tersebut berstruktur dan bersistem dalam harmoni. Namun dalam perjalanan waktu, karena tindakan dan perbuatan manusia, kadangkala mengalami disharmoni. Oleh karena itu dalam kurun waktu tertentu diadakan upacara untuk mengharmoniskannya dengan upacara Bhuta Yajna dan upakara bali, berupa caru atau tawur. Harapan yang ingin dicapai ialah Bhuta Hita atau Jagat Hita maupun Sarwa Prani Hita, keharmonisan yang akan memberikan kerahayuan hidup bagi manusia dan mahluk lainnya.

Bhuta Yajna diadakan di tempat dan pada waktu terpilih (pangaladesa, subhadiwasa), yaitu pada Tilem Caitra (Tilem Kasanga), ketika matahari berada di atas khatulistiwa dan ketika bumi, bulan dan matahari dalam posisi tegak lurus. Posisi Bhuwana Agung pada saat ini (terlebih pada saat sandhya-kala) dipandang sebagai posisi yang tepat untuk mengadakan Bhuta Yajna. Penyelenggaraannya dilakukan di sebuah tempat yang secara simbolis dianggap sebagai madhyanikang bhuwana (tengahnya dunia), di sebuah natar (lebhuh, pempatan) di mana prethiwi (bumi, tanah) dan akasa (langit) bersemuka.

Setelah upacara Bhuta Yajna dilaksanakanlah upacara Dewa Yajna sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Ketika bulan sempurna di langit (purnama) diselenggarakanlah Dewa Yajna. Purnama kadasa (juga Purnama Kartika) adalah purnama yang dianggap paling “sempurna”, karena saat itu bulan purnama berada paling dekat dengan garis khatulistiwa. Inilah yang dipandang sebagai “subhadiwasa” untuk melaksanakan Dewa Yajna.

Oleh karena itu, upacara Ngusaba Kadasa yang disebut juga Bhatara Turun Kabeh.
Menurut pandangan Agama Hindu, manusia hidup “di antara” Bhuta dan Dewa, maka dengan melaksanakan Bhuta Yajna dan Dewa Yajna diharapkan manusia menyadari dirinya yang pada hakikatnya adalah “Cahaya Tuhan” yang berasal dari dan akan kembali kepada “Sang Maha Cahaya”. Bukan sebaliknya ‘jatuh” ke dalam kegelapan (bhuta).

Tetapi bhuta perlu dijaga keharmonisannya (somya) dengan berbagai upaya sebagaimana diajarkan dalam ajaran Agama Hindu. Bhuta Yajna juga diselenggarakan karena manusia menjadikan bhuta (juga tan matra) sebagai obyek indrianya. Obyek indria diupayakan dalam keadaan bhuta hita sehinga dengan demikian kerahayuan hidup akan dapat dicapai. Setelah bhuta menjadi somya, maka Hyang Bhutapati yang juga adalah Hyang Pasupati atau Hyang Jagatpati distanakan lalu dipuja. Dengan demikian, Panca Bali Krama di samping sebagai Bhuta Yajna, pada dasarnya juga adalah Dewa Yajna, pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Panca Bali Krama dan Panca Brahma

Kitab Wrehaspati Tattwa menyuratkan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa disebut sebagai Sadasiwa dengan singgasana Padmasana (singgasana teratai) yang memancar ke arah empat penjuru alam semesta. Secara antrophomorfis diwujudkan dalam empat Kemahakuasaan yang maha gaib sebagai empat Dewa yang menjadi Penguasa empat penjuru alam semesta. Saktinya (Kemahakuasaannya) terdiri atas Wibhu Sakti (Maha Ada), Prabhu Sakti (Maha Kuasa), Jnana Sakti (Maha Tahu) dan Kriya Sakti (Maha Pencipta), disebut Cadu Sakti atau Catur Sakti, yakni Empat Kemahakuasaan Hyang Siwa. Hyang Sadasiwa yang berstana di tengah bunga padma adalah mantratma, mantra sebagai wujudNya. Isana sebagai kepala, Tatpurusa sebagai muka, Aghora sebagai hati, Bhamadewa sebagai badan halus, Sadyojata sebagai wujudNya, Aum. Hyang Sadasiwa (Tuhan Yang Maha Kuasa) wujudnya bening seperti kristal. Kelima wujud itu disebut Panca Brahma atau Panca Dewata, masing-masing denagn bija aksaraNya (aksara suci): SANG, BANG, TANG, ANG, ING. Dalma konsepsi padma bhuwana atau padma mandala masing-masing sebagai:

a. Penguasa penjuru Timur alam semesta (Purwa) adalah Sadyojata denga gelar lain Iswara;
b. Penguasa penjuru Selatan (Daksina) adalah Bhamadewa dengan gelar lain Brahma;
c. PEnguasa penjuru Barat (Pascima) adalah Tatpurusa dengan gelar lain Mahadewa;
d. Penguasa penjuru Utara (Uttara) adalah Aghora dengan gelar lain Wisnu;
e. Penguasa di pusat (Madhya) adalah Siwa sendiri disebut juga ISana, Penguasa Yang Maha Agung.

Panca Brahma (lihat Vasudeva S. Agravala (1984)) adalah penguasa dari Panca Maha Bhuta dan Panca Tanmatra. Sadyojata penguasa Pratiwi (tanah) dan gandha (bau), Bhamadewa penguasa apah (air) dan rasa (rasa), Aghora penguasa teja (api) dan sparsa (cahaya, warna), Tatpurusa penguasa bayu (angin) dan rupa (rupa), Isana adalah penguasa akasa (ether) dan sabda (suara). Panca Brahmajuga menjadi pengendali Panca Jnanendriya atau Panca Bhudindriya. Sebagaimana halnya akasa, Isana juga pengendali srotendriya (indria pendengar), Tatpurusa pengendali twakindriya (indria rasa sentuhan), Aghora (pengendali cakswindriya (indria penglihatan), Bhamadewa pengendali jihwendriya (indria rasa lidah), Sadyojata adalah pengenali ghranendriya (indria penciuman). Seperti diketahui, Panca Tanmatra adalah obyek Panca Jnanendriya, dan Panca Tanmatra adalah unsur dasar yang membangun Panca Maha Bhuta.

Dengan demikian, tampaklah hubungan yang erat antara Panca Brahma dengan Panca Maha Bhuta, Panca Tan Matra, dan Panca Jnanendriya sehingga jelas pulalah makna Karya Agung Panca Bali Krama yang diselenggarakan oleh umat Hindu merupakan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan KekuasaanNya yang membentang ke empat penjuru alam semesta (Bhuta Iswara, Bhutapati) untuk memohon kerahayuan jagat (bhuta hita, jagathita). Bersamaan dengan itu, umat Hindu mengukuhkan kesadarannya tentang hakikat keberadaannya di alam semesta ini, hakikat dirinya yang suci, hakikat tujuan hidupnya untuk manunggal,kembali pada asalnya, Tuhan Yang Maha Suci.

Panca Bali Krama, Panca Giri dan Pura Panataran Agung Besakih

Lontar Tantu Pangelaran menyiratkan bahwa gunung (giri, meru, parwata) memberikan kerahayuan (amreta) kepada manusia yang hidup di kaki dan datarannya. Selain itu, gunung merupakan pusat orientasi kesucian bagi umat Hindu, gunung-gunung dipandang sebagai satu kesatuan sehinga muncul konsepsi panca giri. Kitab-kitab yang mengajarkan ajaran yoga, pertama-tama menguraikan tentang Gunung Mahameru sebagai tempat Sthana Hyang Siwa yang digambarkan sebagai pusat padma dunia raya.

Bagi seorang sadhaka, gunung itu terletak di sahasrara padma, di kepala manusia, tempat Hyang Siwa menurunkan ajaran-ajaranNya yang kemudian dicatat dalam berbagai Yamala, Damara, Siwasutra dan Kitab Tantra dalam bentuk tanya jawab (dialogis catekismus) antara Hyang Siwa dengan SaktiNya Dewi Parwati. Gunung dalam alam sakala maupun niskala sangat penting bagi umat Hindu, dipandang sebagai linga acala, linga yang tidak bergerak.

Karena gunung yang tertinggi (Mahameru, Gunung Agung) dinyatakan berada di pusat padma dunia, maka gunung-gunung yang lain menempati posisi dik widik. Dunia atau wilayah yang lebih kecil digambarkan sebagai bunga padma, disebut padma bhuwana atau padma mandala sehingga dalam konteks Bali, Gunung Agung menempati posisi di tengah padma mandala, Gunung Lempuyang di Timur, Gunung Andakasa di Selatan, Gunung Batukaru di Barat dan Gunung Batur di Utara.

Di tempat tersebut didirikan pura atau tempat suci utama, menempati posisi dik, sementara yang menempati posisi widik adalah Pura Gua Lawah di Tenggara, Pura Luhur Uluwatu di Barat Daya, Pura Pucak Mangu di Barat Laut. Pura Agung Besakih juga menempati posisi Timur Laut (Airsanya). Pura yang biasa disebut Sad Kahyangan tersebut merupakan kesatuan, bagaikan sebuah bunga padma dengan delapan helainya (dala) yang menunjuk delapan penjuru, dengan sarinya berada di tengah.

Pada sari bunga padma yang suci itu didirikan Padma Agung (Padma Tiga) yang merupakan Panataran Agung Besakih masih memiliki dala pada posisi dik, masing-masing Pura Gelap (Timur, Sadyojata, atau Iswara). Pura Kiduling Kreteg (Selatan, Bhamadewa atau Brahma), Pura Ulun Kulkul (Barat, Tatpurusa atau Mahadewa), Pura Batu Madeg (Utara, Aghora atau Wisnu) yang disebut Pura Catur Lokaphala atau Catur Dala. Secara holistik, maka Padma Tiga Pura Panataran Agung Besakih, pertama-tama disangga oleh pura catur dala, selanjutnya ditopang lagi oleh pura Sad Kahyangan (pura utama) yang terletak di delapan penjuru Pulau Bali atau asta dala. Pura Kahyangan Jagat yang didirikan di seluruh Nusantara dapat berfungsi sebagai sahasra dala, seribu kelopak bunga padma.

Apabila pelaksanaan upacara besar di Pura Agung Besakih diperhatikan, khususnya upacara Bhatara Turun Kabeh dalam rangka Panca Bali Krama merefleksikan telah diterapkannya konsepsi padma kuncup. Dalam rangkaian upacara Tabuh Gentuh (setiap tahun), Dewata yang disthanakan pada masing-masing pura catur dala, disatukan di tengah (Pura Panataran Agung). Dewata yang disthanakan di pura catur dala yang lebih jauh (Pura Lempuyang Luhur, Pura Andakasa, Pura Batukaru, Pura Batur) disatukan di Pura Panataran Agung Besakih, dan akhirnya pada upacara Bhatara Turun Kabeh dalam rangkaian Karya Agung Baligya Marebhu Bhumi (seribu tahun sekali), Dewata yang disthanakan di pura sahasra dala secara simbolis juga disatukan di Pura Panataran Agung Besakih. Begitu pentingnya posisi Pura Agung Besaki (dari kata “basuki” berarti rahayu), pura yang senantiasa dijaga keagungan, keindahan dan kesuciannya, sehingga pada dasarnya merupakan perwujudan ajaran Satyam Siwam Sundaram
Panca Bali Krama, Tahun Saka dan Nyepi

Perhitungan penetapan tahun Saka tidak hanya melihat posisi matahari (surya pramana) tetapi juga posisi bulan (candra pramana) sehingga disebut surya candra pramana. Sistem penetapan Tahun Baru Saka menunjukkan bahwa umat Hindu sangat memperhatikan benda-benda “bersinar” di langit sebagai refleksi senantiasa mengembangkan wawasan kesemestaan, kesejagatan (Brahmanda). Benda-benda “bersinar” di langit, secara langsung dirasakan pengaruhnya pada kehidupan manusia di bumi, khususnya kaitannya dengan perubahan musim. Namun, secara spiritual menunjukkan bahwa agama Hindu berorientasi pada “sinar” (divine) sehingga muncullah kata Dewa (dari div berarti bersinar). Umat Hindu menyadari hakikat dirinya adalah “Cahaya Suci Tuhan Yang Maha Kuasa”, selanjutnya ingin membangun dirinya menjadi divine man, lebih lanjut membangun divine society, manusia dan masyarakat yang memancarkan Sinar Suci Tuhan Yang Maha Kuasa. Secara etis, manusia Hindu ingin melenyapkan sifat-sifat kegelapan atau keraksasaan dalam dirinya (asuri sampat) dan memupuk terus sifat-sifat kedewataan (daivi sampat). Inilah landasan yang sangat esensial bagi pembangunan jati diri manusia dan peradaban Hindu.

Surya sebagai benda bersinar di langit yang diam dan tidak berubah merupakan pusat orientasi umat Hindu, bukan pada sesuatu yang berubah. Tuhan Yang Maha Kuasa adalah Abadi. Oleh karena itu, Beliau disebut Sangkan Paraning Dumadi (dari mana dan hendak kemana manusia pergi). Oleh karena itu pula, Surya dijadikan simbol sesuatu yang Abadi, Maha Cahaya, lalu dijadikan sthana Tuhan Yang Maha Kuasa, Hyang Siwa Aditya.

Pada saat Surya tegak di atas khatulistiwa, disebut Wiswayana (apabila Surya berada di sebelah selatan khatulistiwa disebut Daksinayana, bila di utara khatulistiwa disebut Uttarayana) dipandang sebagai saat yang tepat untuk melaksanakan upacara penyucian bhuwana dan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Setelah itu, umat Hindu memasuki tahun baru dengan melaksanakan “brata penyepian”. Artinya, dalam mengawali langkahnya memasuki kehidupan yang baru, umat Hindu melaksanakan ajaran agamanya yang terpenting, yaitu tapa, brata, yoga dan samadhi, yang pada intinya berisi pengendalian diri dan pemusatan pikiran kepada Sang Pencipta.

Pada Hari Nyepi, umat hindu berharap dapat memasuki alam sunya, alam yang sempurna, heneng (tenang) dan hening (jernih). Dang Hyang Kamalanatha (Dang Hyang Dwijendra) dalam karyanya Dharma Sunya dan Dharma Putus menekankan bahwa sunya tersebut adalah kesadaran ketika telah bersatu dengan Paramasiwa yang dipuja sebagai Sang Hyang Sakala Atma (jiwa dari segala yang hidup), dan digambarkan sebagai “Sang Saksat pinakesti ning manah aho” (Beliau yang tak ubahnya sebagai isi pikiran suci), serta “Sang mawak ring tuturku” (Beliau yang mewujud dalam kesadaranku). Demikianlah alam sunya adalah tujuan tertinggi yang diyakini dapat dicapai dengan latihan yang dilakukan terus menerus. Itulah sebabnya Agama Hindu memberi kedudukan terpenting pada ajaran tapa, brata, yoga dan samadhi, antara lain dengan jalan melakukannya secara bersama-sama pada hari Nyepi.

Om Nama Siwaya,
Om Shanti, Shanti, Shanti
Om

Sumber :
Lontar Ngekadasa Rudra; Lontar Widhi Widhanan Ing Tawur Ekadasa Rudra; Raja Purana Besakih, Lontar Ekadasa Rudra; Lontar Indik Karya Ekadasa Rudra; Lontar Bhama Krthih; Lontar Candi Narmada (Koleksi Griha Taman Intaran Sanur, Griha Pidada Karangasem; Griha Wanasari; Griha Lod Rurung Riang Gede; Griha Aan Klungkung; dan Yayasan Dharma Sastra), dan buku “Panca Bali Krama” (Penjelasan Singkat) oleh Ida Bagus Gede Agastia, diterbitkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat Tahun 1998
Dikutif ; KARTA WIDNYANA Darti Sumber Pusata Hindu

SEKILAS TENTANG
TAUR PANCA WALI KRAMA
DI PURA AGUNG BESAKIH
(Disampaikan pada Pembekalan Pinandita DKI, tgl. 21-2-2009 di Jakarta)

1. PENDAHULUAN
Pura Agung Besakih sebagai pura terbesar di Bali dan di Indonesia, merupakan pusat pemujaan umat Hindu . Sebagai pura besar pura Agung Besakih memiliki tatanan upacara-upacaranya yang tersendiri, berbeda dengan pura lain pada umumnya. Sangat banyak jenis upacara yang dilaksanakan di Pura Agung Besakih dari -yang tingkatannya kecil yang bersifat rutin setiap enam bulan atau setahun, sampai yang sangat besar yang dilaksanakan dalam periode 10, 100 bahkan 1000 tahun sekali..
Sejak tahun 1963, hingga saat ini banyak upacara-upacara besar yang telah terlaksana diantaranya :

a. Sukra Pon Julungwangi, 9 Maret 1963 : Upacara Taur Eka Dasa Rudra (Panregteg), yaitu upacara yang bersifat menyusul / melengkapi karena pada waktu yang semetinya telah terlaksana karena satu dan lain hal tidak dapat dilaksanakan.

b. Soma Kliwon Krulut, 10 April 1978 : Upacara Taur Panca Wali Krama menjelang upacara Taur Eka Dasa Rudra. Tahun 1979.

c. Buda Paing Wariga, 28 Maret 1979 : Upacara Taur Eka Dasa Rudra

d. Buda Kaliwon Paang, 8 Maret 1989 : Upacara Taur Panca Wali Krama

e. Buda Wage Krulut, 21 Maret 1993 : Upacara Candi Narmada dan Upacara Taur Panca Wali Krama di Danu Nyegjegang Sanghyang Samudra dan Bhatari Danu.

f. Anggara Umanis Krulut, 23 Maret 1993 : Upacara Taur Tri Bhuwana

g. Buda Wage Menail, 20 Maret 1996 : Upacara Taur Eka Bhuwana .

h. Buda Umanis Prangbakat, 27 Maret 96 : Upacara mendem pedagingan dan mlaspas semua palinggih. Upacara ini dilaksanakan sehubungan telah selesainya satu siklus 100 tahunan yang ditandai dengan dilaksana-kannya upacara Taur Eka Bhuwana, sebagai awal kegiatan untuk siklus berikutnya.

i. Buda Umanis Dukut, 17 Maret 1999 : Upacara Taur Panca Wali Krama
j. Buda Paing Kuningan, 25 Maret 2009 : Upacara Taur Panca Wali Krama.

2. SUMBER SASTRA DAN TEMPAT PELAKSANAAN TAWUR PANCA WALI KRAMA DI BESAKIH.

1) Sumber sastranya.
Cukup banyak lontar-lontar yang mengungkapkan Taur Panca Wali Krama. Kebanyakan mengungkapkan periode pelaksanaan Taur Panca Wali Krama yang dikaitkan dengan upacara Eka Dasa Rudra hingga Eka Bhuwana sebagai satu siklus upacara seratus tahunan. Diantara sumber-sumber tersebut antara lain :.

a. Lontar Widhi Sastraning Taur Eka Dasa Rudra, dari Wanasari Tabanan, menyebutkan :”Huwusning Eka Dasa Rudra patawurakena Bhuta Panca Wali Krama, gaweya sanggar 5, tekaning panggungan panca desa. Wusning mangkana patawurakena Tri Bhuwana, ngaran, patawurakena Gurunya. Sanggar Tawang sanunggal panggungan sawiji. Mangkana yogyaniya gelarakena de sang rumakseng praja mandala, lawan para wiku Aji, sang sampun kreta yaseng yadnya sinanggah Weda Paraga.

b. Lontar Ngeka Dasa Rudra, Geriya Taman Intaran Sanur, menyebutkan : Ngadasa tahun amanca wali Krama ring Basukih; puput panca Wali Krama ping 10 mewasta windu turas, nga. Ring kaping solasniya wawu ngeka dasa rudra rah windu, tenggek windu. .

c. Widhi Sastra Niti Pedanda Sakti Wahu rawuh, antara lain menguraikan bahwa bilamana terjadi “prawesaning jagat rusak” seperti bencana alam, banyak terjadi wabah penyakit patut dilaksanakan upacara Taur Panca Wali Karma di Besakih, dan di batas-batas desa dilaksanakan upacara yang lebih kecil.

d. Lontar Eka Dasa Rudra, Geriya Lod Rurung Riyang Gede, menyebutkan Wusni Eka dasa Rudra, patawurakna Bhuta Panca Wali Krama, lwire amanca desa, pur, da, pas, u, ma. Telasning mangkana Tri Bhuwana, angadegaken sanggar tawang tiga saha panggungan siji sowang, u, ma, da. Wus mangkana patawurakna Gurudya.

e. Lontar Bhama Kretih, menguraikan :”Wusning Eka Dasa Rudra patawurakna bhuta Panca Wali Krama, lwire amanca desa, marep pur, da, pas, u, ma,. I Tlas mangkana muwah patawurakena Tri Bhuwana angadegaken sanggar tawang 3, saha panggungan siji sowang, u, ma, da,. Wus mangkana malih patawurakena Guruniya sanggar tawang 1.

f. Lontar Tingkahing Karya Panca Wali Krama, Geriya Telaga Sanur: menyebutkan : Nihan tingkahing karya Panca Wali Krama keangge ring Negara krama, ring pempatan agung, durung keangge ring parhyangan dewa pacang mahayu jagate ring Bali nganut I sojar ira Sri Jaya Kasunu. Sumber ini menyebutkan Panca Wali Krama untuk tingkat negara karma (desa-desa), tidak digunakan di pura-pura besar seperti Besakih.

g. Purana Pura Agung Besakih, tidak menyinggung periode pelaksanaannya, hanya menguraikan tentang rincian upakaranya yang sedikit berbeda dalam hal binatang korban yang dipergunakan bila dibandingkan dengan sumber-sumber lainnya.

2) Tempat pelaksanaannya.

Tempat pelaksanaan upacara Taur Panca Wali Krama adalah di Bencingah Pura Agung Besakih. Tempat ini diyakini merupakan sentral, oleh karena sesuai dengan struktur pura Agung Besakih, dari tempat ini ke arah bawah disebut soring ambal-ambal” yang melambangkan alam bawah (adhah) yang terdiri atas sapta patala. Sedangkan kearah atas dari bencingah agung disebut luhuring ambal-ambal yang melambangkan alam atas (urdhah) yang terdiri atas saptra loka Disamping Pura Agung Besakih secara umum diyakini sebagai central (madyaning mandala) .

3. BEBERAPA JENIS TAUR PANCA WALI KRAMA

Jenis-jenis upacara Taur Panca Wali Krama:

a. Upacara yang bersifat rutin yaitu ketika tahun saka bilangan satuannya menemui angka nol ( Tenggek windu). Ngadasa tahun amanca wali Krama ring Basukih; puput Panca Wali Krama ping 10 mewasta windu turas, nga. Ring kaping solasniya wawu ngeka dasa rudra rah windu, tenggek windu. (Lontar Ngeka Dasa Rudra, Geriya Taman Intaran Sanur).

b. Panca Wali Krama sebagai penutup Eka Dasa Rudra. (Wusni Eka Dasa Rudra, patawurakna Bhuta Panca Wali Krama, lwire amanca desa, pur, da, pa, u, ma. Telasning mangkana Tri Bhuwana, angadegaken sanggartawang tiga saha panggungan siji sowing, u, ma, da. Wus mangkana patawurakna Gurudya. (Eka Dasa Rudra, Geriya Lod Rurung Riyang Gede, Hal. 9b).

c. Sesuai dengan Lontar Ngeka Dasa Rudra, Geriya Taman Intaran, Sanur, bahwa terkait dengan rangkaian Eka Dasa Rudra, ada Panca Wali Krama di Danu Nyegjegang Bhatari Danu. Diuraikan sebagai berikut : ….. mwah Danu Panca Wali Krama nyegjegang Bhatari Danu nlasang kebo 4, tekaning pangelem.

d. Panca Wali Krama ketika jagat rusak, wenang gelaran Tawur Panca walikrama, sebagaimana disebut dalam lontar Widhi Sastra Niti Pedanda Sakti Wahurawuh:
e. Panca Wali Krama di Negara krama, sebagaimana diuraikan dalam lontar Tingkahing Karya Panca Wali Krama, Geriya Telaga Sanur:

4. RANGKAIAN UPACARA PANCA WALI KRAMA

Sebagaimana biasa diawali dengan ngatur piuning bahwa akan dilaksanakan Taur Panca Wali Krama pada waktunya, dilanjutkan dengan Nuwasen Karya yang disertai dengan nunas tirta pengandeg untuk disiratkan di setra. Dilanjutkan dengan rangkaian-rangkaian persiapan lainnya seperti memineh empehan, membuat madu parka, nanding catur, nanding bagia pulakerti, nyukat genah, nunas tirtha penyaksi karya, dll. Rangkaian lainnya adalah melaksanakan upacara melasti, yang perjalanannya mengikuti rute tertentu sesuai dengan tradisi. Sehari sebelum puncak upacara dilaksanakan upacara Mepepada, dan sore harinya upacara menben. Pada puncak Taur Panca Wali Krama, juga disertai dengan Upacara Padanan, Upacara di Ayun Widhi, pemujaannya dilaksanakan dari Bale Gajah, dan Upacara Tedun ke Paselang bertempat di Bale Paselang Penataran Agung. Tiga hari setelah puncak Taur Panca Wali Krama ditutup dengan upacara Pangremekan. Setelah itu menyusul rangkaian upacara Bhatara Turun Kabeh seperti biasa. Rangkaian terakhir adalah Upacara Penyineban yang disertai dengan melaksanakan tirta panglebar dan akhirnya ditutup dengan upacara Mejauman.

5. UPAKARA TAUR PANCA WALI KRAMA

Sesuai dengan lontar Ngeka Dasa Rudra, Geriya Taman Sanur, bahwa Taur Panca Wali Krama di Besakih yang dilaksanakan dalam siklus sepuluh tahunan sekali merupakan satu kesatuan dengan Candi Narmada, Panca Wali Krama di Danu (Nyegjegang Bhatari Danu), Eka Dasa Rudra, Tri Bhuwana dan Eka Bhuwana yang dilaksanakan dalam siklus seratus tahunan sekali.

Dalam satu paket upakara Eka Dasa Rudra dengan rangkaiannya menghabiskan kerbau sebanyak 45 ekor yaitu: rangkaian upacara yang pertama adalah Candi Narmada menghabiskan 5 ekor kerbau, diikuti dengan Panca Wali Krama di Danu, menghabiskan 4 ekor kerbau, dilanjutkan dengan Eka Dasa Rudra menghabiskan 26 ekor kerbau, diikuti lagi dengan Panca Wali Krama, menghabiskan 4 ekor kerbau, setelah itu Tri Bhuwana menghabiskan 4 ekor kerbau dan sebagai rangkaian terakhir Eka Bhuwana menghabiskan 2 ekor kerbau. Tampaknya standar yang dipergunakan dalam upakaranya ditentukan berdasarkan jumlah kerbau yang dipergunakan, tentunya yang lain akan menyesuaikan, seperti banyaknya bebangkit, catur, suci, padudusan agung, dan sebagainya.
Uraian tentang upakara Taur Panca Wali Krama disini tidak dimaksudkan secara teknis dan mendetail, melainkan akan dikemukakan beberapa kelompok upakara yang dipandang menonjol untuk pengkajian lebih lanjut tentang makna filosofisnya. Beberapa kelompok upakara tersebut adalah :

a. Upakara di sanggar Tawang, Akasa dan Pertiwi.
1) Upakara di Sanggar Tawang : Banten yang utama adalah catur, suci, dewa-dewi, dilengkapi pula dengan siwa bahu, pucuk bahu, gana pikulan, panca saraswati, wedya, serta kelengkapan lainnya. Sanggar tawangnya sendiri seperti biasa dihias dengan dahuduh dan peji.

2) Upakara di Sanggar Luhuring Akasa. Memakai Bebangkit putih dengan ulamnya itik putih.

3) Upakara untuk Ibu Pertiwi. Bebangkit ireng (merah ?),dengan ulam babi.
Ketiga kelompok upakara ini tampaknya juga memiliki makna untuk pelestarian ketiga alam tersebut. Untuk mencapat kesejahtraan hidup di dunia ini patut di dukung dengan kelestarian dan keharmonisan alam bawah dan alam atas, yang dikiaskan sebagai bapa akasa dan ibu pertiwi .

b. Upakara di panggungan,
Upakara di panggungan yang terletak pada empat penjuru mata angin (nyatur desa) berupa bebangkit agung masing-masing 1 pasang yaitu memakai ulam itik dan satu lagi memakai ulama bawi, dengan warna sesuai dengan kiblatnya. Kelengkapan lainnya tentu saja tidak dapat dilepaskan adanya gayah utuh, karena tingkat bebangkitnya yang diperguanakan adalah bebangkit agung.

Sedangkan panggungan yang di tengah memakai bebangkit agung 5 buah (manca warna).
Pada masing-masing panggungan juga dilengkapi dengan penjor, di dalam lontar disebutkan : penjorniya petung kinerik denabersih plawaniya andong, paku saji, sinwi wangun pramangke, masurat sanjata paideran.

c. Upakara tawur dengan kelengkapannya.

1) Upakara tawur Panca Wali Krama yang biasa diperguanakan di Bencingan Pura Agung Besakih adalah dalam tingkatan yang utama yaitu dengan “lawa tiga”, (tiga lapisan), bawah (adhah), tengah (madya) dan atas (urdhah). Ketiga lapisan taur tersebut ditandai dengan memakai masing-masing tiga jenis binatang korban pada kelima penjuru: mulai dari timur, selatan, barat, utara dan tengah masing sebagai berikut: lawa paling bawah (adhah) memakai ayam putih, merah, kuning (putih siyungan), hitam dan brumbun. Pada lawa yang ditengah (madya) bertutur-turut menggunakan : angsa, asu bang bungkem, banyak, bawi butuan serta itik belang kalung. Pada lawa yang paling atas (urdhah) terdiri dari: sapi (lembu), kidang, menjangan, kebo serta kambing belang.

Tiga lapisan upakara taur ini mungkin juga ada kaitannya dengan pelestarian tiga lapisan alam semesta yaitu alam bawah, tengah dan atas.

2) Upakara Tri Samaya di sanggar suku tiga

Upakara yang dikenal dengan “tri semaya” ditempatkan pada tempat khusus berupa sanggar suku tiga mengingatkan kita pada ceritra Dewa Wisnu ketika mengalahkan raksasa Bali dengan melangkahkan kakinya (sukunya) pada tiga dunia ini. Apakah ada korelasi makna upakara ini dengan pelestarian tiga alam bhur, bhwah dan swah menarik untuk kita kaji bersama. Inti upakaranya adalah bebangkit.

3) Upakara Panunggun Tawur,
Diantaranya memakai daksina sarwa 7, beras 7 catu, bebangkit, serta kelengkapan upakara lainnya

4) Upakara lantaran bhatara
Upakara ini diletakkan di sor sanggar tawang yang ada di tengah, yang utama memakai kebo yosbrana dengan kelengkapan upakaranya, seperti cau-cau, kekuduk, pering, bebangkit, dan lain-lain, disertai pula dengan upakara Yama Raja, yang memakai sarana tepung sebagai alas untuk menuliskan aksara-aksara suci simbul Yama Raja. Alat penulisnya menggunakan duri pohon bila.

d. Upakara di tempat pemujaan.
Upakara yang utama disini adalah upakara-upakara yang bersifat menyucikan yang utama adalah padyus-dyusan (padudusan agung) dengan tirtha nawa ratna, dan berbagai jenis tirtha penyucian lainnya .

e. Upakara Padanan.
Khusus untuk padanan merupakan satu kesatuan tersendiri karena lengkap dengan Sangar Tawangnya, disertai dengan upakara di Bale Padanan, serta upakara caru dalam tingkat “wrhaspati kalpa” (Memakai sarana ayam lima warna dan asu bangbungkem, diletakkan di arah barat daya (Kelod kauh).

f. Upakara Ayun Widhi,
Upacara di Ayun Widhi juga meliputi tiga unsur, yaitu upakara di luhur yang ditempatkan di Sanggar Tawang lengkap dengan Sanggar Akasa dan Pertiwinya. Upakara di madia, yaitu upakara-upakara di bale panggungan, yang terdiri dari bebangkit agung beserta gayah utuhnya. Dan upakara di sor adalah caru di sor sanggar tawang yang merupakan dasar dari lantaran Ida Bhatara.

g. Upacara tedun ke Paselang.
Paselang juga merupakan satu kesatuan upakara yang terdiri dari upakara di Sanggar Tutuwan, upakara lantaran di sor dan upakara di Bale Paselang. Upakara di Bale paselang yang menonjol adalah pemujaan kehadapan Sanghyang Semara Ratih, yang disertai pula dengan upacara “Majijiwan”

Makna upakara secara umum diuraikan dalam lontar Tingkahing Karya Panca Wali Krama Geriya Telaga Sanur sebagai berikut
Apan pabanten pinaka sarira bhatara, Ikang Sanggar Tawang pinaka Siwalingga Bhatara, bantene ring panggungan agung pinaka Bahuangga Bhatara, Ikang paselang pinaka Jagana bhaga-purus Bhatara Ikang caru sor pinaka Suku delamakan Bhatara,.
Semua binatang korban yang dipergunakan dalam kelompok-kelompok upakara tersebut ditekankan yang masih muda, tidak cacat, dan khusus untuk binatang yang berkaki empat agar belum “metelusuk” dan umurnya telah lewat 6 bulan

Dalam rangkaian taur Panca Wali Krama dan Bhatara Turun Kabeh tahun ini semua pura Pedharman diharapkan agar ikut ngiringang Ida Bhatara melasti ke segara Klotok, dan nyejer sebisanya, sebagai wujud ikut “ngertiyang karya agung ini”.Selanjutnya untuk upakara dalam hubungan dengan Bhatara Turun Kabeh, pada dasarnya berlaku seperti biasa karena telah rutin dilaksanakan setiap tahun sekali. Tidak ada kekhusan walaupun diawali dengan taur Panca Wali Krama.

6. PENUTUP

Demikianlah sekilas tentang taur Panca Wali Krama yang akan dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2009 di bencingah Pura Agung Besakih. Semoga dengan dukungan seluruh umat untuk ikut melaksanakan yasa kirti dengan setulus-tulusnya Karya Agung Panca Wali karma dan Bhatara Turun Kabeh yang kebetulan bertepatan dengan pelaksanaan pemilu Legeslatif 9 April 2009 akan dapat berjalan dengan baik dan lanjur.

Jakarta, 21 Febroari, 2009

Tjokorda Raka Krisnu

http://beritakarangasem.blogspot.com/2009/03/makna-panca-wali-krama.html

 

Pelinggih Tiga Pandita di Pura Besakih

Sang Hyang Brahma Aji maputra tetiga, panua Sang Siwa, pamadya Sang Bodha, pamitut Sang Bujangga, Sang Siwa kapica Agninglayang amrestista akasa, Sang Bodha kapica Agnisara amrestista pawana, Sang Bujangga kapica Agni Sinararasa Mratista sarwaprani, iti ngaran Sang Tri Bhuwana Katon.

(Dipetik dari Lontar Ekapratama)  

Maksudnya:

Hyang Brahma berputra tiga yaitu tertua Sang Siwa, yang kedua Sang Bodha dan yang terkecil Sang Bujangga. Sang Siwa diberi senjata Agni Ngelayang untuk menyucikan akasa, Sang Bodha diberi senjata Agnisara untuk menyucikan atmosfir dan Sang Bujangga diberi senjata Agni Sinararasa untuk menyucikan sarwaprani. Beliau ini disebut Sang Tri Bhuwana Katon.

Di jajaran belakang Padma Tiga dan di depan Balai Pesamuan terdapat tiga pelinggih berjejer. Pelinggih itu umum menyatakan berbentuk gedong, tetapi menurut pendapat penulis itu adalah Pelinggih Meru Tumpang Siki. Pelinggih yang di tengah sebagai pemujaan Mpu Beradah, di kirinya Pelinggih Sang Hyang Siem dan yang di kanan untuk Danghyang Markandia. Tiga pandita ini berbeda paksa, sampradaya atau sektanya.

Mpu Beradah sebagai Pandita Siwa, Sang Hyang Siem adalah dari Budha dan Resi Markandia adalah Bujangga Waisnawa. Tiga pandita atau resi ini nampaknya sebagai perwujudan konsep Sang Tri Bhuwana Katon yang dinyatakan dalam Lontar Eka Pratama. Maksud Sang Tri Bhuwana Katon ini adalah beliau yang suci yang nampak di bumi ini untuk memimpin umat manusia.

Kemungkinan besar konsep Sang Tri Bhuwana Katon ini yang disebut Tri Sadhaka. Katasadhakaartinya orang yang mampu melakukan sadhana yaitu merealisasikan atau mewujudkan kesucian dharma pada dirinya. Kata sadhaka berasal dari kata sadhana yang artinya kegiatan merealisasikan dharma dalam diri. Kalau sudah berhasil barulah disebut sadhaka.

Kalau kita perhatikan makna yang terkandung dalam Lontar Ekapratama tersebut bahwa keberadaan tiga pandita Siwa, Budha dan Bujangga Waisnawa itu sebagai ciptaan Tuhan untuk memimpin umat manusia memelihara kelestarian tiga lapisan bhuwana ini yaitu Bhur, Bhuwah dan Swah Loka.

Pada zaman modern sekarang ini tiga lapisan alam itu setiap hari dijejali oleh perbuatan manusia yang dapat mengotori tiga lapisan alam tersebut. Di Bali khususnya dan di Indonesia umumnya setiap Sasih Kesanga ada upacara Melasti dan upacara Tawur Kesanga di selenggarakan oleh umat Hindu. Upacara tersebut untuk mengingatkan umat agar dalam hidupnya ini senantiasa menegakkan upaya memuja Tuhan untuk menegakan Rta dan Dharma.

Kalau keberadaan alam selalu sesuai dengan Rta maka alam itu akan menjadi sumber penghidupan umat manusia sepanjang zaman. Demikian pula kalau dharma selalu tegak sebagai dasar kehidupan bersama dalam masyarakat maka manusia pun akan selalu dapat mewujudkan kebersamaan yang baik sebagai lingkungan sosial yang dinamis, harmonis dan sinergis. Pemujaan Tuhan untuk tegaknya Rta dan dharma inilah sesungguhnya aplikasi Tri Hita Karana.

Pemujaan Tuhan untuk tegaknya Rta menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alamnya. Sedangkan pemujaan Tuhan untuk tegaknya dharma akan menciptakan hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia. Artinya pemujaan Tuhan yang menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan itu untuk Rta dan dharma.

Saat diselenggarakannya Tawur Kesanga untuk ditingkat propinsi ada tiga pandita yang mapuja. Tiga pandita inilah yang disebut oleh masyarakat umum Tri Sadaka. Pandita Siwa memuja untuk memohon kepada Tuhan agar umat dituntun untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat mengotori akasa. Pandita Budha memuja untuk memohon kepada Tuhan demi kebersihan lapisan atmosfir. Sedangkan Pandita Bujangga memuja Tuhan untuk kesejahteraan sarwaprani.

Tiga lapisan alam ini sesungguhnya tidak terpisah-pisah adanya satu sama lain saling tergantung. Kalau salah atau lapisan yang rusak akan dapat merusak lapisan yang lain. Nampaknya pembuatan pelinggih untuk pemujaan tiga pandita ini didasarkan oleh Lontar Eka Pratama yang dikutip di atas.

Dari penempatan tiga pelinggih untuk tiga resi atau pandita itu dapat diambil sebagai suatu teladan bagi umat Hindu terutama yang ada di Bali bahwa tiga resi itu sebagai penuntun umat dalam mengembangkan pembinaan kehidupan alam dan manusia secara seimbang. Tiga pandita resi itu adalah sebagai Adi Guru Loka artinya sebagai guru yang utama dari masyarakat.

Pemujaan pada tiga sadhaka inilah sebagai suatu peringatan pada umat untuk berguru dalam menjaga kelestarian ibu pertiwi dengan enam hal. Enam hal yang harus dilakukan untuk menjaga tegaknya kelestarian ibu pertiwi dinyatakan dalam Atharvaveda XII.1.1.Ena hal itu adalahSatya. Rta, Tapa, Diksa, Brahma dan Yadnya. Umat pada umumnya dalam melakukan upaya melakukan enam hal menjaga ibu pertiwi atau Sad Pertiwi Daryante. Hendaknya senantiasa memohon tuntunan tiga macam pandita tersebut. Memohon tuntutan untuk menjaga kelestarian akasa, kebersihan udara dari polusi (amratistha pawana) dan menjaga kelestarian sarwaprani.

Satya adalah adalah sikap hidup yang konsisten dan konsekuen bertindak berdasarkan kebenaran dan kejujuran (Satya). Rta adalah perilaku yang menjaga kesejahteraan alam, Tapa adalah perilaku membina ketahanan diri untuk melawan binakinya hawa nafsu. Diksa adalah suatu upaya untuk terus berupaya mencapai kehidupan suci sampai mencapai status Dwijati.

Artinya tidak hanya lahir dari rahim ibu saja, tetapi bisa lahir dari rahimnya Weda melalui tuntunan pandita atau resi. Brahma artinya selalu berdoa dan belajar dengan tekun. Doa dengan mengucapkan mantra-mantra Veda tersebut dapat menguatkan eksistensi Dewi Sampad atau kecenderungan kedewaan.

Yadnya adalah sikap hidup yang senantiasa tulus dan ikhlas untuk rela berkorban demi tujuan yang lebih mulia. Enam hal itulah yang wajib dilakukan oleh umat atas tuntunan tiga pandita resi untuk menjaga agar Sad Pertiwi Daryante itu terlaksana dengan baik. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2007/2/21/bd2.htm

”Tri Sadhaka”, Konsep Spiritual Bukan Wangsa

Adanya pelinggih tiga Pandita Resi di Pura Penataran Agung Besakih seyogianya menjadi bahan renungan kita dalam menegakkan ibu pertiwi di Bali khususnya dan di dunia regional dan global umumnya. Mpu Beradah, Sang Hyang Siem dan Resi Markandia memiliki jasa besar dalam memberikan tuntunan kepada rakyat di Bali dalam membangun ibu pertiwi Bali sebagai wadah kehidupan umat manusia. Resi Markandia dalam Lontar Bhuwana Tattwa dan sumber-sumber lainnya memiliki andil yang cukup besar pada kemajuan Bali.

========================================================== 

Adanya Pura Besakih pada awalnya dalam rintisan Resi Markandia. Demikian juga adanya pertanian sistem subak dan desa dengan corak agrarisnya atas rintisan Resi Markandia. Demikian pula pendirian beberapa pura dengan nilai spiritual yang diaktualkan ke dalam sistem ritual dan sosial.

Beliau telah berjasa besar dalam menanamkan konsep Triji Ratna Permata sebagaimana diajarkan dalam Canakya Niti. Meskipun secara kognitif ajaran tersebut mungkin belum dikenal saat itu.

Tiga Ratna Permata itu adalah air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. Tiga hal inilah yang amat dihargai dalam kehidupan sistem subak dan desa agraris rintisan Resi Markandia dari Waisnawa Paksa itu. Pertanian dengan sistem subak dan desa pakraman dengan corak desa agraris itu telah mendidik umat untuk demikian menghargai air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak tersebut. Hal ini terjadi karena pengabdian Resi Markandia-lah pada awalnya yang merintis.

Demikian juga kehadiran penganut Buddha Mahayana di Bali juga banyak meletakkan berbagai jasa, sampai kalau ada upacara besar harus juga dipimpin oleh Pandita Budha. Sesungguhnya ajaran Sidharta Gautama pada abad ke-4 sebelum Masehi di India bukan dimaksudkan untuk mendirikan suatu agama. Sidharta Gautama setelah mencapai kesadaran spiritual atau kesadaran budhi disebut Buddha.  

Kesadaran budhi yang beliau capai itulah diwartakan untuk memperbaiki keadaan saat itu. Keadaan saat itu dirusak oleh kesalahpahaman dalam mengamalkan ajaran Weda. Saat itu ada dua golongan penganut Weda yaitu Carwakas dan Titiyas. Untuk melepaskan diri dari ikatan nafsu menurut Carwakas dengan cara memenuhi setiap gejolak nafsu. Sedangkan menurut golongan Titiyas untuk melepaskan diri dari penguasaan nafsu, maka alat-alat nafsu itu harus disakiti sampai musnah. Pengumbaran hawa nafsu oleh golongan Carwakas dan penyiksaan alat-alat indria oleh golongan Titiyas menimbulkan rusaknya keadaan masyarakat penganut Weda saat itu.

Keadaan inilah yang diluruskan oleh Sidharta Gautama saat itu dengan tiga ajarannya yaitu Sila, Prajnya dan Semadi. Maksudnya berbuat baik dan benar (Sila) dengan dasar ilmu pengetahuan (Prajnya) serta konsentrasi pada kerja (Semadi). Tiga hal itulah awalnya yang diwartakan oleh Sidharta Gautama. Ajaran yang universal itu juga dianut oleh orang Bali sejak zaman dahulu. Ajaran ini banyak berjasa membuat orang menjadi tenang dan damai menapaki kehidupan di bumi ini. Demikian besar juga jasa-jasa agama dari Buddha Paksa di Bali.

 Karena itu ada Pelinggih Sang Hyang Siem di Penataran Agung Besakih. Di tengah-tengah di antara Pelinggih Resi Markandia dan Sang Hyang Siem ada Pelinggih Mpu Beradah yang beragama Hindu dari Siwa Paksa. Mpu Beradah salah satu dari Panca Tirtha sudah amat dikenal oleh kalangan umat Hindu di Bali. Beliau adalah saudara dari Mpu Kuturan yang juga sebagai mpu yang amat besar jasa-jasanya dalam memajukan kehidupan sosial budaya dengan landasan spiritual keagamaan di Bali.

 Mpu Beradah distanakan di Pelinggih Gedong atau Meru Tumpang Siki di Pura Penataran Agung Besakih. Tiga pandita tersebut berasal dari sekta atau paksa keagamaan Hindu yang berbeda-beda. Meskipun paksa keagamaannya berbeda-beda tetapi semuanya memiliki jasa yang cukup besar bagi Bali dalam artian keseluruhannya.

 Tiga pandita tersebut distanakan di tiga pelinggih berjejer sejajar tidak ada yang tinggi rendah. Apa artinya warisan budaya spiritual leluhur orang Bali di Besakih itu. Tiga pandita tersebut bukan dimunculkan berdasarkan konsep kewangsaan. Pendirian tiga pelinggih untuk tiga pandita resi tersebut didasarkan pada kualitas spiritual.

 Beliau berbeda-besa sekte atau paksa keagamaannya tetapi karena bijak dalam mengelola perbedaan maka perbedaan itu memberikan kontribusi yang amat bermakna bagi kemajuan Bali. Tentunya hal itu akan menjadi warisan yang bisu tanpa arti kalau peninggalan tersebut tidak diterjemahkan dalam konteks kekinian yang semakin pluralistis.

 Dari perbedaan itu hendaknya kita ambil dari hasil akhirnya. Apa hasil akhir dari setiap unsur yang berbeda itu, apa ada memberikan kontribusi pada kehidupan yang sehat, kemajuan pendidikan dan kepedulian umat pada sesamanya. Kalau dari unsur yang berbeda-beda itu keluarannya sama yaitu dapat memberikan kontribusi pada kemajuan hidup bersama di bumi ini.

 Mereka bisa menikmati kehidupan yang semakin sehat lahir batin, semakin berilmu pengetahuan dan semakin peduli dengan penderitaan sesama. Kalau hal itu dihasilkan tentunya sangat kontraproduktif mempersoalkan perbedaan. Apalagi Sri Swami Siwananda dalam buku ”All About Hinduism” menyatakan bahwa agama Hindu menyajikan hidangan spiritual kepada setiap orang sesuai dengan pertumbuhan rohani mereka masing-masing.

 Karena itu tidak ada pertentangan dalam perbedaan Hindu yang indah ini. Apalagi di Indonesia UUD 1945 menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk beragama serta beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu. Kitab suci Weda dan sejarah tradisi Hindu di Bali juga amat menjamin adanya perbedaan metode untuk mencapai tujuan hidup yang sama menurut agama Hindu.

 Peru direnungkan kembali dengan bijak eksistensi Sadhaka di Bali tidak lagi bernuansa kewangsaan tetapi berorientasi pada kualitas spiritual. Karena yang diwariskan oleh sastra-sastra suci Hindu tidak ada nuansa kewangsaannya dalam filosofinya. Ke depan dinamika sosial itu akan semakin tegas, jelas dan keras melakukan tuntutan kesetaraan, persaudaraan dan kemerdekaan dalam kehidupan bersama dalam kehidupan beragama Hindu ini.

Pendirian tiga pelinggih untuk tiga resi di belakang Padma Tiga di Pura Penataran Agung Besakih itu patut kita jadikan acuan dalam membina perbedaan. Apalagi menyangkut keyakinan beragama sebagai hak yang paling asasi di muka bumi ini. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2007/2/21/bd1.htm

Pura Besakih sebagaiHuluning Bali Rajya

Dalam Lontar Padma Bhuwana, Pura Besakih dinyatakan sebagai huluning Bali Rajya. Artinya, Pura Besakih sebagai hulunya daerah Bali. Dengan kata lain, Pura Besakih adalah sebagai kepalanya atau menjadi jiwanya Pulau Bali. Hal ini sesuai dengan letak Pura Besakih di sebelah timur laut Pulau Bali. Timur laut adalah arah gunung dan arah terbitnya matahari dengan sinarnya sebagai salah satu kekuatan alam ciptaan Tuhan yang menjadi sumber kehidupan di bumi ini.

==========================================================

Adanya Pura Besakih di lereng Gunung Agung sebagai simbol sakral untuk mengingatkan masyarakat Bali agar selalu menjaga kesuburan alam Bali, karena hanya dengan selalu terjaganya kesuburan alam Balilah kemakmuran dan kebahagiaan masyarakat Bali dapat diwujudkan. Matahari dan gunung sebagai salah satu hulunya kehidupan.

Di Pura Besakih sendiri terdapat berbagai simbol yang melukiskan tentang kehidupan sesuai dengan apa yang diajarkan dalam agama Hindu. Di sini juga terdapat konsepsi tentang hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam lingkungannya yang dikenal dengan nama Tri Hita Karana. Dari filosofi Tri Hita Karana inilah diwujudkan konsep-konsep hidup yang lebih detail, baik menyangkut bhakti manusia pada Tuhan, punia atau pengabdian manusia dengan sesamanya dan kasih sayang manusia pada alam lingkungan. Ketiga hubungan itu sangat detail dilukiskan di Pura Besakih dan diimplementasikan dalam kehidupan umat Hindu di seluruh Bali.

Bhakti umat manusia pada Tuhan untuk membangun kekuatan spiritual umat manusia. Dengan kekuatan spiritual itu manusia dapat memiliki moral yang luhur dan mental yang tangguh dalam menghadapi berbagai bentuk tantangan, hambatan dan godaan hidup.

Tiga perilaku berdasarkan ajaran Tri Hita Karana itu disebut Tri Para Artha yang artinya tiga tujuan mulia yaitu asih, punia dan bhakti. Asih itu menyayangi alam. Punia artinya mengabdi dengan tulis ikhlas kepada sesama umat manusia. Bhakti artinya menguatkan sraddha dan bhakti kepada Tuhan.

Misalnya Pura Besakih sebagai hulunya Pura Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali. Pura Penataran Agung Besakih sebagai hulunya Pura Desa di desa pakraman. Pura Basukian di Besakih sebagai hulunya Pura Puseh, Pura Dalem Puri di Besakih hulunya Pura Dalem di desa pakraman.

Di Besakih ada Pura Ulun Kulkul sebagai hulunya kulkul di desa pakraman dan banjar di seluruh Bali. Di Besakih ada Pura Banua sebagai pemujaan Dewi Sri manifestasi Tuhan sebagai dewanya padi. Pura ini sebagai hulunya jineng bangunan sucinya berbentuk Gedong Limas Catu yang atapnya lancip ke atas. Pura ini sebagai hulunya Limas Catu yang umumnya ada di setiap Merajan Gede atau Merajan Gedong Pertiwi di setiap pemujaan keluarga di Bali. Di setiap Merajan Gede di Bali umumnya di sebelah kanan Pelinggih Gedong Pertiwi ada Pelinggih Limas Catu dan Limas Mujung lambang Pelinggih Pesimpangan ke Gunung Agung dan Gunung Batur.

Di Besakih ada Pura Bangun Sakti pemujaan Ananta Bhoga atau Sapta Patala di berbagai pura di seluruh Bali ada juga Pelinggih Sapta Patala sebagai pemujaan Tuhan sebagai dewanya lapisan zat padat bumi. Pura Jenggala di Besakih sebagai hulunya Pura Prajapati di setiap areal setra di desa pakraman di Bali. Pura Rambut Sedana di Pura Besakih sebagai hulu dari Pelinggih Rambut Sedana atau sering juga disebut Sri Sedana umumnya yang ada di setiap merajan keluarga di Bali. Demikianlah di Besakih ada banyak pura sebagai hulunya pura yang ada di berbagai pelosok daerah Bali.

Pura Besakih memiliki banyak fungsi. Pura Besakih juga sebagai Pura Rwa Bhineda artinya memuja Tuhan sebagai purusa dan pradana. Pura Besakih adalah Pura Purusa, sedangkan Pura Hulun Danu Batur sebagai pradana-nya. Pemujaan Tuhan sebagai pencipta purusa dan pradana untuk menumbuhkan kesadaran umat agar selalu berusaha membangun hidup yang seimbang lahir batin. Pura Besakih juga yang didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka itu melahirkan Pura Sad Kahyangan di Bali. Tujuan pendirian pemujaan Tuhan di Pura Sad Kahyangan untuk menuntun umat menjaga kelestarian Sad Kerti (Atma, Samudra, Wana, Samudra, Jagat dan Jana Kerthi).

Ada sedikitnya sembilan lontar yang menyatakan keberadaan Sad Kahyangan di Bali itu berbeda-beda. Namun dalam seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu menetapkan bahwa Sad Kahyangan yang dijadikan pegangan di Bali adalah menurut Lontar Kusuma Dewa. Alasannya, karena Sad Kahyangan itu dibangun saat Bali masih satu kerajaan. Setelah Bali menjadi sembilan kerajaan, masing-masing kerajaan memiliki Sad Kahyangan menurut pandangan masing-masing kerajaan. Hal itu tidaklah keliru karena itu merupakan kedaulatan masing-masing kerajaan.

Pura Besakih juga berfungsi sebagai Pura Padma Bhuwana. Mantra Veda juga menyatakan: Isavasyam idam jagat. Tuhan berstana di seluruh alam semesta. Jadi, menurut keyakinan agama Hindu Tuhan itu Mahaesa dan ada di mana-mana. Bagaimana memahami kemahaesaan Tuhan itu yang berada di mana-mana tentunya tidak mudah bagi umat yang awam. Untuk melukiskan Tuhan itu Esa dan ada di mana-mana, secara simbolis sakral maka umat Hindu di Bali mendirikan Pura Kahyangan Jagat di sembilan penjuru Bali yang disebut Pura Padma Bhuwana.

Pura Besakih juga sebagai lambang alam bawah dan alam atas. Pura Besakih sebagai simbol alam semesta divisualkan dalam berbagai dimensi. Alam bawah di Pura Besakih disebut Soring Ambal-ambal. Sedangkan alam atas disebut Luhuring Ambal-ambal. Seluruh kompleks Pura Besakih ada yang digolongkan pura di Soring Ambal-ambal dan ada pura yang tergolong di Luhuring Ambal-ambal.

Pura yang tergolong di Soring Ambal-ambal antara lain Pura Pesimpangan, Pura Manik Mas, Pura Bangun Sakti, Pura Merajan Selonding, Pura Goa Raja dengan Pura Rambut Sedana, Pura Besukian, Pura Dalem Puri, Pura Jenggala, Pura Banua dan Pura Merajan Kanginan.

Pura yang tergolong Luhuring Ambal-ambal adalah Pura Penataran Agung Besakih, Pura Batu Madeg, Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Pura Ulun Kulkul, Pura Peninjoan, Pura Tirtha, Pura Pengubengan dan Pura Pasar Agung di Desa Sebudi. Kompleks Pura Besakih ini sering disebut kompleks-kompleks Pura Besakih. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/3/26/bd2.htm

Fungsi Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih

Siwa Tattwa ngaranya sukha tanpa wali duhkha.
Sadasiwa
Tattwa ngaranya tanpa wwit tanpa tungtung ikang sukha. Paramasiwa Tattwa ngaranya niskala tan wenang winastwan ikang sukha.
(Dikutip Dari Wrehaspati Tattwa.50)

Maksudnya:

Hakikat memuja Tuhan Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang tidak berbalik pada kedukaan. Memuja Tuhan sebagai Sadasiwa akan mencapai kebahagiaan yang tidak ada awal dan tidak akhirnya. Memuja Tuhan sebagai Paramasiwa mencapai kebahagiaan niskala yang tidak dapat dilukiskan kebahagiaan itu.

PELINGGIH Padma Tiga di Pura Besakih sebagai sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Parama Siwa.

Pelinggih Padma Tiga sebagai media pemujaan Sang Hyang Tri Purusa yaitu Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Besakih dan juga dalam beberapa sumber lainnya seperti dalam Pustaka Pura Besakih yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali tahun 1988. Busana hitam di samping busana warna putih dan merah dari Padma Tiga bukan simbol dari Wisnu, tetapi simbol dari Parama Siwa.

Dalam Mantra Rgveda ada dinyatakan bahwa keberadan Tuhan Yang Maha Esa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian saja. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap karena tidak dijangkau oleh sinar matahari. Tuhan juga maha-ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Parama Siwa dalam pustaka Wrehaspati Tattwa itu.

Busana hitam Padma Tiga yang berada di kanan atau yang mengarah ke Pura Batu Madeg itu bukan lambang pemujaan Wisnu. Tetapi pemujaan untuk Parama Siwa yang berada di luar alam semesta. Parama Siwa adalah Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman artinya tanpa sifat atau manusia tidak mungkin melukiskan sifat-sifat Tuhan Yang Mahakuasa itu. Sedangkan Padma Tiga yang di tengah busananya putih kuning sebagai simbol dalam Tuhan keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera.

Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan. Sedangkan busana warna merah pada Padma Tiga yang di kiri atau yang mengarah pada Pura Kiduling Kreteg bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Warna merah dalam Pelinggih Padma Tiga yang di bagian kiri memang arahnya ke Pura Kiduling Kreteg. Padma Tiga yang berwarna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Stithi dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Siwa bermanifestasi menjadi Tri Murti.

Untuk di kompleks Pura Besakih sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg. Sebagai Batara Wisnu di Pura Batu Madeg dan sebagai Batara Iswara di Pura Gelap. Di tingkat Pura Padma Bhuwana sebagai Batara Wisnu dipuja di Pura Batur simbol Tuhan Mahakuasa di arah utara. Dipuja sebagai Bhatara Iswara di Pura Lempuhyang Luhur di arah timur dan sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Andakasa simbol Tuhan Mahakuasa di arah selatan.

Sementara untuk di tingkat desa pakraman, Batara Tri Murti itu dipuja di Kahyangan Tiga. Mengapa ajaran agama Hindu demikian serius mengajarkan umatnya untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa itu dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti. Salah satu ciri hidup manusia melakukan dinamika hidup. Memuja Tuhan sebagai Tri Murti untuk menuntun umat manusia agar dalam hidupnya ini selalu berdinamika yang mampu memberikan kontribusi pada kemajuan hidup menuju hidup yang semakin baik, benar dan tepat.

Pemujaan pada Dewa Tri Murti itu agar dinamika hidup manusia itu berada di koridor Utpati, Stithi dan Pralina. Maksudnya menciptakan sesuatu yang patut diciptakan disebut Utpati, memelihara serta melindungi sesuatu yang sepatutnya dipelihara dan dilindungi disebut Stithi, serta meniadakan sesuatu yang sudah usang yang memang sudah sepatutnya dihilangkan yang disebut Pralina.

Demikianlah keberadaan Pelinggih Padma Tiga yang berada di Mandala kedua dari Pura Penataran Agung Besakih. Di Mandala kedua ini sebagai simbol bertemunya antara bhakti dan sweca. Bhakti adalah upaya umat manusia atau para bhakta untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sedangkan sweca dalam bahasa Bali maksudnya suatu anugerah Tuhan kepada para bhakta-nya. Sweca itu akan diterima oleh manusia atau para bhakta sesuai dengan tingkatan bhakti-nya pada Tuhan.

Bentuk bhakti pada Tuhan di samping secara langsung juga seyogianya dilakukan dalam wujud asih dan punia. Asih adalah bentuk bhakti pada Tuhan dengan menjaga kelestarian alam lingkungan dengan penuh kasih sayang, karena alam semesta ini adalah badan nyata dari Tuhan. Sedangkan punia adalah bentuk bhakti pada Tuhan dalam wujud pengabdian pada sesama umat manusia sesuai dengan swadharma kita masing-masing.

Tuhan telah menciptakan Rta sebagai pedoman atau norma untuk memelihara dan melindungi alam ini dengan konsep asih. Tuhan juga menciptakan dharma sebagai pedoman untuk melakukan pengabdian pada sesama manusia. Dengan konsep asih, punia dan bhakti itulah umat manusia meraih sweca-nya Tuhan yang dilambangkan di Pura Besakih di Mandala kedua ini.

Di Mandala kektiga ini tepatnya di sebelah kanan Padma Tiga itu ada bangunan suci yang disebut Bale Kembang Sirang. Di Bale Kembang Sirang inilah upacara padanaan dilangsungkan saat ada upacara besar di Besakih seperti saat ada upacara Bhatara Turun Kabeh, upacara Ngusaba Kapat maupun upacara Manca Walikrama, apalagi upacara Eka Dasa Ludra.

Upacara padanaan yang dipusatkan di Bale Kembang Sirang inilah sebagai simbol bahwa antara bhakti umat dan sweca-nya Hyang Widhi bertemu. Di Pura Penataran Agung Besakih sebagai simbol Sapta Loka tergolong Pura Luhuring Ambal-ambal. Ini dilukiskan bagaimana umat seyogianya melakukan bhakti kepada Tuhan dan bagaimana Tuhan menurunkan sweca kepada umat yang dapat melakukan bhakti dengan baik dan benar. Semuanya dilukiskan dengan sangat menarik di Pura Penataran Agung Besakih dan amat sesuai dengan konsep Weda kitab suci agama Hindu. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/3/26/bd1.htm

Bersumber dari Ajaran Suci Weda dan Sastra

BERDIRINYA Pura Besakih tak lepas dari peran tokoh dan para sulinggih. Adanya pelinggih berbagai tokoh di mandala ketiga Pura Penataran Agung Besakih itu membuktikan leluhur pendiri Pura Besakih adalah orang-orang suci yang amat paham intisari ajaran suci Weda. Orang suci itu bukan sekadar orang yang diupacarai sebagai dwijati dan berpakaian dengan atribut dwijati. Hal itu baru tampak luarnya saja. Upacara dan busana itu memang penting untuk membedakan dengan orang yang bukan dwijati. Tetapi yang juga amat penting adalah mampu berbuat yang berguna untuk menyatukan masyarakat berdasarkan pengetahuan suci yang sudah dimiliki.

Seyogianya setelah memiliki pengetahuan dan kemampuan suci barulah upacara dan busana suci itu diberikan. Karena pengetahuan suci dan kemampuan suci yang diaplikasikan itulah yang dapat meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai tokoh, apalagi disebut orang suci. Akan sangat berbahaya kalau orang yang belum menguasai pengetahuan suci dan mengaplikasikan kesuciannya itu dalam kehidupan diupacarai dan diberi busana suci.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarah pendirian Pura Besakih dengan seluruh kompleksnya benar-benar orang suci. Karena di balik Pura Besakih dengan arsitektur yang amat indah, agung dan sakral itu terdapat konsep-konsep penataan kehidupan yang bersumber dari ajaran suci Weda dan sastra-sastranya. Dalam hal menyatukan umat, Pura Besakih mencerminkan adanya konsep kesetaraan, persaudaraan, dan kemerdekaan.

Di Pura Besakih banyak sekali simbol yang menempatkan sesama manusia setara. Mereka dibedakan berdasarkan profesi dan kualitas tingkah lakunya. Kalau orang itu jahat meskipun keturunan orang suci, dia adalah orang cacat. Tetapi menurut Manawa Dharmasastra, orang yang jahat itu kalau dihukum dengan benar dan adil oleh penguasa yang berwenang, maka penguasa itu akan mendapatkan sorga. Sedangkan orang yang dihukum itu setelah menjalankan hukuman dengan tepat dia seperti bayi baru lahir. Dia pun bisa memperbaiki dirinya untuk kembali pada jalan dharma. Bukan harus dikeluarkan dari masyarakat dan sampai keturunannya dikelompokkan tidak setara dengan orang lain. Tinggi-rendahnya seseorang itu bukan berdasarkan keturunannya, tetapi berdasarkan kualitas perilakunya.

Dalam Subha Sita ada dinyatakan vasudeva kutumbakam semua umat manusia bersaudara. Menurut ajaran Upanisad Brahman Atman Aikyam, Tuhan dan Atman yang bersemayam dalam diri setiap orang itu adalah sama. Dalam konteks ini semua atman manusia berasal dari Brahman. Hakikat manusia di samping sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial.

Manusia itu baru bisa mengekspresikan kemanusiaannya apabila berada di tengah-tengah manusia lainnya. Sebagai makhluk sosial manusia itu disebut sama beda. Maksudnya manusia memiliki berbagai persamaan dan juga sekaligus perbedaan. Kedua-duanya juga ke hukum Rwa Bhineda. Ada perbedaan yang positif saling melengkapi. Dengan perbedaan itu membawa masyarakat bersinergi membangun kekuatan bersama menyelesaikan berbagai permasalahan hidup.

Di Pura Besakih perbedaan dan persamaan itu divisualisasikan secara positif dalam bentuk simbol sakral dalam wujud tempat pemujaan. Visualisasi simbolis sakral itu sebagai media mendidik umat Hindu agar benar-benar arif bijaksana mengelola persamaan dan perbedaan yang merupakan kenyataan hidup di bumi ini.

Sumber membangun sikap arif dan bijaksana itu adalah ilmu pengetahuan suci. Karena itu di mandala ketiga Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Saraswati di Meru Tumpang Pitu. Di mandala ketiga ini berbagai perbedaan golongan baik yang bernuansa dan maupun progresi divisualisasikan. Ini artinya bermacam-macam bentuk perbedaan di bumi ini diciptakan oleh Tuhan.

Demikian juga Tuhan menciptakan ilmu sebagai sumber yang seyogianya dijadikan pegangan oleh umat manusia dalam mengelola perbedaan tersebut. Ini artinya tujuan Tuhan menciptakan berbagai perbedaan itu adalah positif. Perbedaan ciptaan Tuhan itu bukan untuk membuat bumi ini kisruh penuh hiruk-pikuk dengan berbagai perselisihan yang semakin sulit diatasi.

Perbedaan itu diciptakan oleh Tuhan agar semua ciptaannya bisa hidup saling memelihara. Dalam Bhagawad Gita.III.16 menyatakan bahwa barang siapa yang tidak ikut memutar Cakra Yadnya yang bersifat timbal balik ini, ia sesungguhnya telah berbuat jahat. Ia yang hidup hanya memenuhi nafsu indrianya saja, ia hidup dalam kesia-siaan saja.

Bagaimana hidup saling beryadnya antara manusia dengan alam, antara manusia dengan sesama manusia telah dilukiskan dengan sangat cermat di Pura Besakih pada umumnya dan di mandala keempat Pura Penataran Agung pada khususnya. Saling beryadnya itu dilakukan sebagai wujud pemujaan pada Tuhan. Ini artinya pemujaan pada Tuhan belumlah cukup kalau tidak diwujudkan dengan beryadnya pada alam dan sesama manusia.

Kalau kita perhatikan wujud pemujaan Tuhan dewasa ini belumlah seperti apa yang dimaksudkan oleh ajaran yang melatarbelakangi pendirian Pura Besakih itu. Ada juga orang berdalih dan dengan alasan memuja Tuhan merusak proses kehidupan berbagai tumbuh-tumbuhan dan hewan. Demikian juga pemujaan pada Tuhan justru menimbulkan kerusakan lingkungan alam dan merusak kebersamaan yang setara, bersaudara dan menghambat kemerdekaan sesama dalam mengembangkan hidupnya.

Kalau pemujaan pada Tuhan itu didasarkan pada pemahaman yang benar pada ajaran Cakra Yadnya itu, maka tidak ada perilaku yang merusak alam seperti membuang sampah yang terkait dengan upacara sembarangan. Demikian juga membeda-bedakan harkat dan martabat sesama dalam kehidupan beragama. Semakin dalam motivasi pemujaan pada Tuhan itu maka alam akan semakin lestari dan kebersamaan sosial itu akan semakin erat dan dalam kerja sama yang semakin berkualitas. (sut/berbagai sumber)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/3/26/bd3.htm

”Aci Pengenteg Jagat” di Pura Gelap

Di Pura Besakih ada banyak upacara yadnya yang diselenggarakan di setiap kompleks Pura Besakih. Salah satu upacara yadnya itu ada disebut Aci Nyatur yang diselenggarakan di empat Pura Catur Dala. Salah satu upacara Aci Nyatur itu ada disebut Aci Pangenteg Jagat. Aci ini diselenggarakan di Pura Gelap setiap Purnama Sasih Karo sekitar bulan Agustus. Seperti apakah bentuk dan makna upacara itu?

===========================================================

Istilah aci pengenteg jagat ini berasal dari bahasa Bali. Kata ”aci” bersinonim dengan upacara keagamaan Hindu khas Bali. Kata ”pengenteg” berasal dari kata ”enteg” yang artinya juga ”ajeg” atau stabil. Dari kata ”enteg” ini dalam bentuk aktif menjadi ”pengenteg” yang artinya menstabilkan. Sedangkan kata ”jagat” adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan isi bumi ini. Ciptaan Tuhan yang paling sentral adalah manusia. Dalam pengertian ini manusialah sebagai salah satu unsur jagat yang paling menentukan stabil atau tidaknya keadaan jagat ini.

Dari arti Aci Pangenteg Jagat ini terkandung suatu usaha umat manusia sebagai makhluk hidup yang beragama untuk mengusahakan agar jagat ini senantiasa stabil. Menyelenggarakan aci atau upacara yadnya salah satu bentuk usaha untuk membuat jagat ini stabil. Kata ”upacara” dalam bahasa Sansekerta artinya ”mendekat”. Dengan upacara yadnya umat Hindu mendekatkan dirinya pada Tuhan.

Mendekatkan diri pada Tuhan itu diawali dengan mendekatkan diri pada alam lingkungan dengan asih dan kepada sesama manusia dengan punia. Karena ini bentuk aci bagi umat Hindu di Bali berupa banten. Banten menurut Lontar Yadnya Prakerti melambangkan kemahakuasaan Tuhan, lambang diri manusia dan lambang alam.

Untuk mencapai kehidupan jagat yang stabil harus ada rasa dekat manusia dengan Tuhan berdasarkan yadnya kepada sesama manusia berdasarkan punia dan kepada alam lingkungan berdasarkan asih. Agar jagat ini stabil Tuhan telah menciptakan Rta dan Dharma. Rta adalah hukum ciptaan Tuhan untuk menata dinamika alam. Sedangkan Dharma untuk menata dinamika kehidupan umat manusia.

Kalau alam berdinamika menurut Rta maka dari dinamika alam itu akan mendatangkan berbagai manfaat bagi kehidupan manusia. Dengan demikian alam dapat melakukan swadharmanya kepada makhluk lainnya ciptaan Tuhan. Tetapi kalau manusia tidak menaati dharmanya menjaga stabilitas Rta dalam prilakunya maka manusia pun tidak akan mendapatkan manfaat dari alam itu sendiri.

Stabilitas jagat akan terwujud apabila Rta dan Dharma benar-benar menjadi landasan dinamika alam dan dinamika umat manusia di bumi ini. Agar Rta dan Dharma benar-benar kuat sebagai dasar dinamika alam dan dinamika prilaku umat manusia maka manusialah sebagai unsur sentral dan unsur yang paling berkepentingan banyak berbuat.

Nampaknya hal inilah yang menjadi paradigma leluhur umat Hindu di Bali pada masa lampau, sehingga ada upacara yadnya yang disebut Aci Pangenteg Jagat di Pura Gelap Besakih. Penyelenggaraan upacara ini setiap tahunnya sebagai suatu prosesi untuk terus-menerus mengingatkan pada umat Hindu di Bali agar senantiasa menjaga tetap stabilnya jagat Bali ini pada khususnya dan bumi ini pada umumnya.

Penyelenggara Aci Pengenteg Jagat ini tentunya sebagai pendekatan spiritual lewat media ritual keagamaan pada tahap awal. Aci ini untuk mengingatkan akan idealisme dan konsep usaha membangun stabilnya jagat. Karena itu Aci Pengenteg Jagat di Pura Gelap setiap Sasih Karo itu hendaknya diposisikan sebagai tonggak untuk mengingatkan umat Hindu terutama di Bali agar senantiasa menjaga stabilitas alam, stabilitas kehidupan sosial dengan diawali dari menjaga stabilitas diri sendiri.

Dalam Lontar Purana Bali dinyatakan adanya enam hal yang wajib dijaga stabilitas dinamikanya sehingga dapat berfungsi dengan sebaik-baik, agar jagat Bali menjadi enteng, ajeg atau stabil. Enam hal itu disebut Sad Kertih. Atma Kertih menjaga stabilitas eksistensi Atman sebagai bagian dari Brahman dalam diri setiap manusia. Samudra, Wana dan Danu Kerti.

Tiga alam ini tidak boleh diabaikan dalam menjaga stabilitas eksistensinya. Karena dalam Samudra, Wana dan Danu terdapat dua dari tiga Ratna Permata Bumi yaitu air dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan. Canakya Nitisastra menyatakan orang bijaksana tidak akan menganggap emas, perak, berlian dan batu mulia itu sebagai Ratna Permata Bumi. Orang bijak akan menganggap hanya adanya tiga Ratna Permata Bumi yaitu air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. Dua dari tiga Ratna Permata Bumi itu ada dalam tiga sumber alam tersebut.

Karena itu, tiga sumber alam tersebut harus benar-benar dijaga stabilitas dinamika eksistensinya. Kalau tiga Ratna Permata Bumi itu tidak berfungsi dengan baik di Bali maka keadaan jagat Bali akan tidak enteg atau ajeg. Samudra, Wana dan Danu Kerti itu sebagai upaya untuk Ngentegang unsur alam dari jagat Bali. Sedangkan Jagat Kerti, Jana Kerti untuk Ngentegang unsur masyarakat dan manusia dari jagat Bali.

Ngentegang unsur alam dan manusia Bali dari sudut pandang spiritual Hindu. Inilah Atma Kerti. Dengan kata lain tegaknya kesucian Atman dalam diri manusia itu diwujudkan dengan menjaga stabilitas dinamika Samudra, Wana, Danu, Jagat dan Jana Kerthi tersebut. Kesucian Atman itulah yang memberikan sinar suci pada pelestarian keenam unsur Sad Kerti tersebut.

Atman sebagai jiwa Bhuwana Alit selalu memancarkan kesucian. Tetapi pancaran kesucian itu tidak selalu dapat menunjukkan perilaku mulia kalau pancaran kesucian Atman itu ditutupi oleh keruhnya pikiran karena dikuasai oleh hawa nafsu yang berasal dari indria. Karena itu kesempurnaan indria hendaknya selalu berada di bawah kendali kesempurnaan pikiran. Pikiran yang kuat berada di bawah kendali kesadaran budi.

Kondisi diri yang demikian itulah akan menjadi media yang mampu mewujudkan kesucian Atman dalam perilaku sehari-hari. Kondisi Bhuwana Alit yang demikian itulah akan mampu menjaga ”entegnya” Rta dan Dharma sebagai dasar mengendalikan dinamika alam dan manusia. Kalau dinamika alam mengikuti Rta dan dinamika manusia mengikuti Dharma maka jagat pun akan menjadi enteg atau stabil.

Demikianlah upacara Aci Pengenteg Jagat di Pura Gelap sebagai suatu momentum untuk mengingatkan umat Hindu di Bali agar selalu menjaga stabilnya Rta dan Dharma agar kehidupan di bumi ini terselenggara dengan sebaik-baiknya. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/12/6/bd1.htm

WEDAWAKYA
Memuja Batara Iswara

Aham rudrebhir vasubhih caramy
aham adityair uta visvadevaih,
aham mitravarunobha bibharmy
aham indragni aham asvinobha.
(Rgveda.X.125.1).

Maksudnya:
Aku gerakkan kekuatan alam menjadi tenaga dan kekayaan. Aku bercahaya menjadi kekuatan yang cemerlang. Aku menyangga sumber kekuatan alam dalam wujud air dan cahaya. Aku adalah pusat energi, cahaya sebagai kehidupan yang datang dari matahari, udara, api dan segala kekuatan alam yang berguna.

PURA Besakih sebagai tempat pemujaan Tuhan adalah simbol Bhuwana Agung. Hal ini sangat sesuai dengan Mantra Yajurveda XXXX.1 yang menyatakan bahwa alam semesta inilah stana Tuhan yang sesungguhnya. Sebagai lambang alam semesta Pura Besakih dibagi menjadi dua bagian yaitu Soring Ambal-ambal dan Luhuring Ambal-ambal. Soring Ambal-ambal itu lambang alam bawah yang disebut Sapta Patala. Sedangkan Luhuring Ambal-ambal lambang alam atas yang disebut Sapta Loka.

Seluruh kompleks Pura Besakih itu terdiri atas 20 kompleks pura. Ada empat pura yang disebut Pura Catur Dala atau Catur Loka Pala yaitu Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Pura Ulun Kulkul dan Pura Batu Madeg. Di tengah-tengah Pura Penataran Agung Besakih terdiri atas tujuh Mandala atau tujuh lapisan alam atas atau Sapta Loka.

Pura Gelap sebagai salah satu Pura Catur Lawa adalah sebagai Pura Pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Batara Iswara pelindung arah timur alam semesta atau Bhuwana Agung. Nama-nama pura di kompleks Pura Besakih itu memang sangat khas lokal Bali. Tetapi di balik ciri khas lokal itu terbungkus konsep yang sangat universal. Memang pemuka-pemuka Hindu di masa lampau sudah menggunakan konsep ”berpikir universal berlaku lokal”. Meskipun tidak dengan istilah seperti itu.

Istilah ”gelap” dalam nama Pura Gelap ini bukan berasal dari bahasa Indonesia. Kata ”gelap” dalam nama Pura Gelap ini berasal dari bahasa Bali kuno yang artinya petir atau kilat dengan sinarnya yang putih menyilaukan itu. Pura Gelap sebagai media pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara yaitu dewanya sinar. Bumi ini bisa menjadi wahana kehidupan karena adanya sinar matahari. Sinar matahari inilah sebagai pemimpin sumber-sumber alam lainnya sehingga berfungsi memberikan kehidupan pada isi alam ini.

Tumbuh-tumbuhan meskipun disiram dengan air yang memadai tidak akan bisa hidup tanpa kena sinar matahari. Karena itu dalam kutipan Mantra Rgveda di atas dinyatakan Tuhan dalam wujud cahaya matahari itulah sebagai sumber kekuatan alam. Rohani orang-orang suci pun akan semakin kuat dengan meditasi pada cahaya alam tersebut. Karena itu pada zaman dulu, konon, Pura Gelap ini tempat meditasi para pandita maupun orang yang menyiapkan diri menjadi pandita.

Pura ini juga dinyatakan sebagai penegak dan pemelihara kesucian ”kependitaan”. Pura Gelap lambang dari pusat sinar Bhuwana Agung. Dengan sinar alam semesta ciptaan Tuhan ini semua kekuatan unsur alam ini menjadi berfungsi sebagai sumber kehidupan semua makhluk hidup penghuni alam ini. Karena itu Pura Gelap ini menjadi pusat meditasi umat manusia yang berkehendak membangkitkan sinar suci yang bersemayam dalam dirinya atau di Bhuwana Alit.

Kalau sinar Bhuwana Agung dapat terpadu dengan sinar di Bhuwana Alit atas usaha umat manusia maka keharmonisan hubungan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit pun terjadi. Hal ini sebagai salah satu penyebab terwujudnya kehidupan yang bahagia atau hita karana. Pura Gelap tidak semata-mata sebagai tempat meditasinya para pandita, tetapi juga sebagai tempat meditasi semua umat terutama mereka yang ingin mengembangkan kepemimpinannya secara baik dan benar.

Areal Pura Gelap ini mula-mulanya tidak begitu besar. Setelah direhabilitasi pura ini diperluas bahkan sekarang menggunakan Kori Agung. Sebelumnya hanya menggunakan Candi Bentar sebagai pintu masuknya. Karena pura ini merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Pura Penataran Agung. Sebelumnya hanya Pura Penataran Agung yang menggunakan Kori Agung atau juga disebut Candi Kurung.

Pelinggih utama di Pura Gelap Besakih ini adalah Meru Tumpang Tiga sebagai media untuk memuja Batara Iswara sebagai manifestasi Tuhan pelindung arah timur dari alam semesta ini. Batara Iswara juga sebagai Dewa kecemerlangan dan kecerahan dari Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. Atap Meru yang bertingkat-tingkat itu lambang engelukunan Dasaksara dan lambang urip bhuwana.

Pengelukunan Dasaksara adalah Aksara ”Om” yang bisa dikembangkan menjadi tiga aksara, lima, tujuh sampai sebelas aksara. Maknanya secara filosofis sama. Meru Tumpang Tiga makna filosofisnya sama dengan Meru Tumpang Lima sampai Sebelas.

Menurut Kekawin Dharma Sunia, Meru itu adalah lambang alam atau Bhuwana stana Tuhan yang sesungguhnya. Meru Tumpang Tiga di Pura Gelap lambang Tri Bhuwana yaitu Bhur, Bhuwah dan Swah Loka. Artinya Tuhan sebagai Batara Iswara menyinari kehidupan di Tri Bhuwana tersebut. Di dalam Meru Tumpang Tiga ini terdapat batu simbol Lingga stana Batara Siwa. Di samping itu, di Pura Gelap ada Pelinggih Sanggara Agung yang menyerupai Padmasana untuk menstanakan tirtha yang diambil dari Pura Tirtha saat ada upacara penting di Pura Penataran Agung Besakih.

Di Pura Gelap terdapat juga Pelinggih Dasar Sapta Patala. Pelinggih ini sebagai media memuja Tuhan sebagai jiwa alam bawah yang terdiri atas tujuh lapisan yang disebut Sapta Patala. Unsur-unsur Sapta Patala ini setelah mendapatkan sinar alam semesta barulah akan berfungsi sebagaimana mestinya. Kerja sama alam inilah yang menghasilkan unsur-unsur alam yang menyebabkan berlangsungnya kehidupan di bumi ini.

Oleh karena itu, manusia hendaknya tidak merusak kerja sama unsur alam ini. Karena kerja sama unsur alam ini berlangsung berkat adanya Rta yaitu hukum alam ciptaan Tuhan. Merusak proses alam sesuai dengan Rta berarti dosa karena tergolong perilaku melawan takdir Tuhan. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/12/6/bd2.htm

Di Balik Sejarah Pura Gumang——–
Yang Dikehendaki Jadi Pemimpin Bukan Rekayasa

Saat I Dewa Gede datang dari Jawa ke Bali tidak banyak penduduk Bali hirau dengan keberadaan I Dewa Gede. Pada mulanya I Dewa Gede ke Bali bukanlah ingin menjadi tokoh. I Dewa Gede ke Bali bertujuan untuk mencari kehidupan yang tenang dan damai. Ternyata di Bukit Juru itulah I Dewa Gede mendapatkan ketenangan hidup sebagai seorang petani biasa. Lebihnya dengan seorang petani biasa hanya melakukan upaya sekala dan niskala secara seimbang dalam hidupnya sebagai seorang petani yang mohon hidup dari usahanya sebagai petani.

============================================================

Sebagai petani I Dewa Gede tidak semata-mata menanam tumbuh-tumbuhan pangan saja. I Dewa Gede juga mengusahakan menanam pohon-pohonan yang di Bali disebut tanem tuwuh. Fungsi tanem tuwuh itu adalah untuk menguatkan tanah sebagai penyimpan air hujan yang turun sesuai dengan musimnya. Dengan usahanya itu muncullah berbagai mata air bahkan sampai muncul sungai yang dapat mengalirkan air sepanjang tahun ke daerah pertanian penduduk.

Usaha I Dewa Gede di samping mengembangkan tanaman pangan dan tanem tuwuh itu disertai dengan melakukan Yoga Semadi setiap hari dan lebih khusus lagi pada hari-hari subha diwasa. Apa yang dilakukan oleh I Dewa Gede itu sangat yakin tidak ada maksud untuk mencari nama dan agar beliau ditokohkan oleh masyarakat. Apa yang beliau lakukan itu sangat yakin tanpa pamerih.

I Dewa Gede melakukan hal itu karena merasakan bersama masyarakat petani betapa beratnya sebagai petani tanpa ada air yang memadai. Panasnya hidup sebagai petani dengan air yang tidak memadai I Dewa Gede bersama dengan masyarakat yang senasib bekerja dan berdoa mengolah alam dengan penuh kasih sayang dan bakti pada Tuhan.

Usahanya bersama masyarakat petani ini ternyata berhasil. Dari keberhasilannya inilah I Dewa Gede dari Jawa ini mendapatkan simpati masyarakat. Beliau pun dijadikan tokoh oleh masyarakat dengan usahanya sukses melestarikan alam. Di alam yang lestari itulah masyarakat dapat membangun kehidupan yang sejahtera.

Inilah hakikat Indra Brata sebagaimana dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra IX.304 dan juga dinyatakan juga dalam kekawin Ramayana sebagai salah satu unsur Asta Brata. Pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang dikehendaki oleh rakyat. Bagaikan air samudera yang menguap karena panasnya matahari. Setelah di angkasa menjadi mendung, terus turun menjadi hujan membuat suburnya tanah dan menjadi sumber kehidupan makhluk hidup di bumi ini.

Demikianlah hakikat Indra Brata yang mestinya dijadikan pegangan dalam kepemimpinan Hindu seperti di Bali ini. Memang seorang pemimpin yang baik bukan yang menghendaki menjadi pemimpin tetapi yang dikehendaki oleh masyarakat luas. Orang yang dikehendaki oleh masyarakat luas.

Orang yang dikehendaki menjadi pemimpin itu bukan dengan merekayasa kehendak rakyat dengan mendadak menaruh belas kasihan pada rakyat serta menghambur-hamburkan uang membantu rakyat. Setelah menjadi pemimpin bergelimangan fasilitas hidup dengan menggunakan uang rakyat.

Dari usaha sekala-niskala I Dewa Gede inilah turunnya karunia Tuhan berupa suburnya daerah Bugbug dan sekitarnya di Karangasem. Inilah yang melatarbelakangi adanya Pura Gumang di Bukit Juru Karangasem. Piodalan di Pura Gumang ini setiap Purnama Sasih Kapat. Penyungsung pura ini ada lima desa yaitu Desa Bubug, Desa Jasi, Desa Bebandem, Desa Datahdan Desa Ngis.

Masyarakat Bugbug yang tinggal di daerah Buleleng pun merasa bertanggung jawab ikut serta ngempon Pura Gumang ini, karena Desa Bugbug sebagai pengempon ngarep dari Pura Gumang. Desa Bugbug tempat Pura Gumang berada terdiri atas tujuh banjar dengan ratusan kepala keluarga. Tidak semua kepala keluarga mendapatkan sawah garapan. Tetapi bagi yang mendapat sawah dengan dialiri air dari sumber mata air dan sungai di Bugbug itu wajib ngayah ke Pura Gumang atau memiliki kewajiban yang lebih dari kepala keluarga yang lainnya.

Sawah-sawah itu memang hak milik pribadi yang dapat dijual kepada pihak lain. Tetapi siapa pun yang memiliki sawah tersebut selanjutnya wajib ngayah yang lebih ke Pura Gumang. Hal ini mungkin menyangkut Pura Gumang yang diyakini sebagai sumber kesuburan dari sawah-sawah yang ada di sekitar daerah Bugbug.

Setiap upacara piodalan pada Purnamaning Sasih Kapat umumnya ada upacara Nyejer selama dua hari. Umumnya Pura-pura yang lainnya nyejer tiga hari sampai sebelas hari. Nyejer tiga hari ini mengandung makna pendakian spiritual dari Bhur Loka menuju Bhuwah Loka dan yang tertinggi mencapai Swah Loka. Tetapi khusus Pura Gumang upacara nyejer-nya cukup dua hari. Dua hari nyejer ini nampaknya sebagai simbol pemujaan bertemunya Purusa Pradana atau bertemunya Lingga dan Yoni.

Pemujaan Purusa dan Pradana atau Lingga Yoni ini sebagai pemujaan untuk memohon kesuburan pertanian. Karena itu nyejer dua hari itu sebagai pesan spiritual untuk terus konsisten melakukan upaya yang seimbang menjaga kesuburan daerah pertanian. Katanyejerdalam bahasa Bali artinya terus teguh dan tegak atau konsisten.

Dalam hidup ini memang akan ada saja pasang-surutnya atau suka dukanya. Ada saja kemungkinan hambatan, gangguan dan tantangan. Kalau semuanya itu dihadapi dengan sikap yang nyejer atau teguh dengan konsisten berpegang pada kebenaran dalam melakukan swadharma maka semuanya itu akan menjadi kekuatan tersendiri. Jadinya nyejer itu sebagai pesan spiritual dalam wujud ritual agar umat konsisten pada prinsip-prinsip hidup berdasarkan dharma dalam menghadapi dinamika kehidupan apalagi sebagai petani amat tergantung pada keadaan alam.

Bhagawad Gita II. 15 menyatakan samaduhkhasukham dhiram. Artinya seimbang dan teguhlah menghadapi dinamika suka dan suka. Dalam Subha Sita ada dinyatakan Sukhamdukham Jayate. Artinya, menanglah melawan suka dan duka. Ini artinya kebahagiaan itu adalah berada di atas suka dan duka. Kalau suka sedang menghampiri hidup kita, maka kita pun tidak lupa diri sampai menjadi orang yang sombong egois. Sebaliknya kalau duka yang datang tidak mudah frustrasi dan putus asa menghadapi hidup ini. Jadinya nyejer itu mengingatkan umat untuk bersikap konsisten menghadapi dinamika hidup. * wiana

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2007/9/12/bd1.htm

Pura Gumang di Bukit Juru Karangasem

Varsikamscaturo nasanyatha
Indro’bhipravarsati
, tathabhi-
Varsetsmam
rastra, kamair
Indra
vratam caran.
(Manawa Dhramasastra, IX, 304)

Maksudnya:
Laksana
Dewa Indra menurunkan hujan yang berlimpah selama empat bulan setiap tahun, demikianlah raja menempati kedudukan bagaikan Dewa Indra dengan menghujankan kemakmuran bagi rakyatnya.

KEBERADAAN Pura Gumang di Bukit Juru, Desa Bugbug, Karangasem ada hubungannya dengan adanya mata air yang mengaliri sawah ladang di sekitar Desa Bugbug. Keterangan tertulis yang bernilai sejarah tentang Pura Gumang di Bukit Juru ini memang sampai saat ini masih belum ditemukan. Keterangan tentang pura tersebut hanya didapat dari keterangan orang tua seperti pemangku yang menjadi jan bangul di Pura Gumang dan juga dari tokoh-tokoh masyarakat yang menaruh perhatian tentang agama dan adat Hindu. Cerita itu didapatkan secara turun-temurun.

Menurut cerita rakyat yang dicatat oleh Tim Penelitian Sejarah Pura IHD (kini Unhi) diceritakan sbb: Dahulu kala ada seorang dari Jawa bernama I Dewa Gede datang ke Bali. Saat I Dewa Gede datang ke Bali, masyarakat Bali tidak begitu hirau. Setelah beberapa lama I Dewa Gede berputar-putar di Bali akhirnya menemukan tempat yang sangat menenangkan hatinya. Tempat itu adalah Bukit Juru yang juga bernama Bukit Gumang.

Di tempat itu I Dewa Gede melakukan olah tapa sambil bertani bersama-sama masyarakat setempat. Di daerah Bukit Juru tersebut pertanian mengandalkan air tadah hujan. Upaya menghijaukan Bukit Juru tidak pernah berhenti dilakukan oleh I Dewa Gede. Di samping itu I Dewa Gede dalam melakukan oleh tapa itu senantiasa memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar muncul mata air dan sungai untuk kesuburan pertanian masyarakat di sekitarnya.

Upaya melakukan penghijauan dengan air tadah hujan dan melakukan tapa brata itu akhirnya suatu saat muncullah mata air di Pura Gumang di Bukit Juru sekarang ini. Keberhasilan usaha I Dewa Gede bersama masyarakat petani secara sekala dan niskala ini menyebabkan I Dewa Gede dicintai oleh rakyat. Hal itu berhasil karena waranugraha Hyang Widhi Wasa. Karena adanya waranugraha itulah akhirnya Pura Gumang didirikan di mata air tersebut.

KataGumangkonon berasal daripaiguman” yang artinya musyawarah. Karena setelah I Dewa Gede berhasil menghijaukan Bukit Juru itu dengan upaya sekala dan niskala akhirnya rakyat mengadakan rapat atau dalam bahasa Bali igum untuk mengadakan upacara di Pura Gumang dan memberikan hadiah sapi kepada I Dewa Gede. Saat itu I Dewa Gede diberikan tambahan nama menjadi I Dewa Gede Gumang. Konon sapi-sapi persembahan rakyat itu baru habis setelah pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Sapi-sapi itu habis ditembaki oleh orang-orang Belanda dan Jepang yang suka berburu di Bukit Juru itu.

Ada juga versi lain tentang keberadaan Pura Gumang Bukit Juru ini. Menurut Jero Mangku Nengah Silur, zaman dahulu kala para dewa turun dari Gunung Mahameru di India ke Jawa dan Bali. Di Bali para dewa ke Pulaki, Silayukti, Candidasa. Di Candidasa ini para dewa menemukan air. Air itu atas kehendak para dewa terus menjadi telaga dengan tamannya.

Para dewa ingin bermeditasi dengan dapat melihat Gunung Agung dengan Pura Besakih-nya secara lurus. Ternyata dari Candidasa para dewa tidak dapat melihat Gunung Agung dengan jelas dan lurus. Terus pindah ke Gunung Gundul, ke Bukit Pejenengan.

Ternyata sama juga Gunung Agung tidak bisa dilihat secara baik. Dari dua tempat itu akhirnya berpindah ke Bukit Juru yang berbahadan tiga. Dari Bukit Juru inilah para dewa baru melihat Gunung Agung dengan lurus. Di Bukit Juru inilah para dewa melakukan musyawarah atau dalam bahasa Bali mapaiguman melakukan yoga dan tapa serta mendirikan pura memuja Hyang Widhi di Pura Besakih.

Lewat paiguman itulah Bukit Juru disebut Bukit Gumang. Yang mapaiguman itu adalah para dewa untuk melimpahkan karunianya pada umat yang berusaha memajukan hidupnya, seperti mengembangkan tradisi kehidupan yang agraris. Di Tampaksiring juga ada Pura Gumang yang dilatarbelakangi oleh pertemuan Dewa Indra dengan para dewa untuk menata kehidupan di Bali setelah dapat mengalahkan Maya Denawa.

Dalam mitologi Maya Denawa dinyatakan, di tempat Dewa Indra mapaiguman inilah dibangun Pura Catur Paiguman selanjutnya disebut Pura Gunung di Tampakdiring.

Di Pura Gumang di Bukit Juru Karangasem terdapat beberapa pelinggih utama dan pelengkap. Ada Pelinggih Gedong sebagai stana Ida Batara Gede Gumang yang juga disebut Ida Batara Gede Manik Mas Kecatur. Di kiri-kanan Palinggih Gedong itu agak mundur sedikit terdapat tiga Pelinggih Taksu yang mengapit Pelinggih Gedong. Dua di kiri Gedong dan satu di kanannya. Tiga Pelinggih Taksu tersebut sebagai Pelinggih Taksu Ida Batara Gede Gumang.

Ada Pelinggih Meru Tumpang Tiga sebagai stana Ida Batara Uma saktinya Dewa Siwa. Mengapa Gedong Pelinggih Ida Batara Gede Gumang disebut Ida Batara Gede Manik Mas Kecatur. Hal ini mungkin sebagai bukti bahwa I Dewa Gede itu pemuja Batara Siwa dengan saktinya Sang Catur Dewi.

Dewa Siwa memiliki empat Sakti yaitu Dewi Uma, Dewi Parwati, Dewi Gangga dan Dewi Gauri. Empat Sakti Siwa inilah yang disebut Sang Catur. Dalam kaitannya memuja Tuhan untuk memohon turunnya mata air dan sungai yang mengalir di daerah Bugbug, Jasi, Bebandem, Datah dan Ngis, ada kaitannya dengan cerita turunnya Sungai Gangga dari Sorgaloka dalam cerita Purana di India.

Pendirian pelinggih untuk I Dewa Gede ini tentunya dibuat setelah I Dewa Gede Gumang sudah berbadan niskala dalam statusnya yang sudah menjadi Dewa Pitara. Umumnya roh suci atau Dewan Pitara seorang tokoh dibuatkan pelinggih bukan oleh diri tokoh tersebut, dapat dipastikan dibuat oleh keturunannya atau masyarakat generasi setelah tokoh tersebut sudah berbadan niskala sebagai Dewa Pitara atau Siddha Dewata. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2007/9/12/bd2.htm

Ilmu dan Seni untuk Persembahan

Adanya Gedong Saraswati dan Pelinggih Ida Ratu Bagus Slonding di Pura Merajan Slonding sebagai simbol yang penuh arti. Pura Merajan Slonding sebagai sentral Pura Soring Ambal-ambal melambangkan konsep sentral dalam penataan dunia bawah atau dunia sekala. Untuk menata dunia ini hendaknya dengan ilmu dan seni. Artinya dunia nyata ini harus ditata dengan ilmu pengetahuan dengan menggunakan daya nalar yang cerdas dan fokus. Namun penggunaan daya nalar yang cerdas dan fokus itu sebagai wujud persembahan pada Tuhan. Artinya betapapun hebatnya daya nalar dan kecerdasan manusia tetap berada di bawah kekuasaan Tuhan.

==========================================================

Kuatnya daya nalar dan kecerdasan yang dimiliki manusia itu atas karunia Tuhan. Harus diyakini bahwa Tuhan menurunkan manusia cerdas untuk menata ciptaannya untuk menegakkan Rta dan Dharma. Ini artinya seorang ilmuwan yang cerdas dengan daya nalar yang hebat seyogianya menggunakan kelebihannya itu untuk menjaga amanat Tuhan memelihara kesejahteraan alam dan kesejahteraan sesama manusia di bumi ini secara adil dengan dasar-dasar nilai-nilai kemanusiaan.

Ini artinya ilmu yang membuat orang menjadi pandai, cerdas dan punya daya nalar itu sebagai sarana untuk menyukseskan swadharma yang diamanatkan oleh Tuhan. Salah satu amanat Tuhan adalah menggunakan ilmu pengetahuan atau Widya yang diturunkan itu untuk mengelola ciptaan-Nya.

Penguasaan ilmu pengetahuan itu menurut Kekawin Nitisastra IV.19 bisa menimbulkan kemabukan. Hal inilah yang wajib dihindari oleh manusia yang serius berkecimpung di bidang ilmu pengetahuan. Kalau ada orang yang tidak mabuk oleh ilmu pengetahuan dan lain-lainnya itu yang dikuasainya, orang yang demikian itulah yang disebut manusia utama atau disebut sang Mahardika.

Mahatma Gandhi juga menyatakan bahwailmu tanpa kemanusiaan dapat menimbulkan dosa sosial”. Didirikannya Pelinggih Gedong Saraswati di Pura Merajan Slonding untuk mengingatkan raja dan rakyat agar jangan sampai menyalahgunakan ilmu pengetahuan untuk merusak nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai alam ciptaan Tuhan tersebut. Karena itu dalam upaya untuk mencari dan mendalami ilmu pengetahuan hendaknya dengan memuja Tuhan melalui Dewi Saraswati.

Dengan demikian diharapkan pengembangan ilmu pengetahuan tidak melanggar nilai-nilai spiritual intisari agama. Demikian juga ilmu tersebut seyogianya dikembangkan secara seimbang antara ilmu eksata dan ilmu sosial. Ilmu eksata untuk menata dan memanfaatkan sumber daya alam secara wajar. Artinya ada keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatannya. Tidak semata-mata alam diolah untuk dieksploitasi demi mendapatkan keuntungan sesaat sampai melebihi daya dukung alam tersebut.

Pengembangan ilmu sosial untuk dapat mengelola kehidupan bersama yang setara, bersaudara dan merdeka dalam mengembangkan jati diri sebagai manusia ciptaan Tuhan. Ilmu sosial bukan untuk mengelola masyarakat agar dengan mudah masyarakat diarahkan sesuai dengan kehendak dan ambisi dari segelintir orang yang berkuasa. Ilmu sosial dikembangkan untuk memberdayakan masyarakat agar mandiri dalam membangun kebersamaannya secara demokratis.

Pemujaan Dewi Saraswati bukan sekadar memuja Tuhan sebagai dewinya ilmu pengetahuan. Pemujaan Tuhan sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan justru untuk membatasi penerapan ilmu pengetahuan tersebut agar jangan sampai merusak nilai-nilai kemanusiaan. Karena hakikat manusia adalah Atman. Sedangkan Atman menurut ajaran Upanishad adalah percikan Brahman sendiri. Atau Brahman Atman aikyam.

Hakikat ilmu pengetahuan yang sejati adalah pengetahuan tentang Atman dan Brahman atau Atman Vidya dan Brahma Vidya. Kalau semua ilmu bertumpu dari Atma Vidya dan Brahma Vidya maka penyalahgunaan ilmu pengetahuan tersebut akan menjadi semakin dapat diminimalisasi.

Swami Satya Narayana menyatakan bahwa lembaga pendidikan dewasa ini lebih banyak mengajarkan peserta didik cara mencari nafkah. Seyogianya pendidikan mengajarkan peserta didik cara mengelola hidup yang benar, tentunya termasuk di dalamnya cara mencari nafkah secara benar dan wajar. Dengan memuja Tuhan sebagai Dewi Saraswati akan dapat dicegah ilmu hanya untuk ilmu. Kalau ilmu untuk ilmu dapat merusak nilai-nilai kemanusiaan dan alam.

Di Pura Merajan Slonding Tuhan dipuja sebagai Ida Ratu Bagus Slonding. Ida Ratu Bagus Slonding ini tidak lain adalah sebutan Tuhan sebagai Dewa Kesenian. Seni juga bukan untuk seni. Gamelan Slonding adalah gamelan sakral yang dipentaskan untuk mengantarkan pemujaan pada dewa-dewa manifestasi Tuhan. Dalam konsep Satyam, Siwam, Sundaram yang artinya kebenaran, kesucian dan keindahan terkandung makna bahwa keindahan suatu seni itu harus untuk menegakkan kebenaran dan kesucian. Kalau seni hanya untuk keindahan dapat saja keindahan tersebut melanggar kebenaran, kesucian dan etika moral. Karena dapat saja keindahan itu hanya untuk menyenangkan gejolak hawa nafsu.

Dengan pemujaan Tuhan sebagai Ida Ratu Bagus Slonding berarti pemujaan itu telah memberikan rambu-rambu untuk membatasi seni agar tidak melanggar kebenaran (Satyam) dan kesucian (Siwam). Dengan pandangan ini, di dunia ini pada hakikatnya tidak ada yang benar-benar bebas nilai. Hanya Tuhan-lah yang tidak terbatas. Tentunya tidak semua pihak sependapat dengan pandangan ini. Ada juga yang menyatakan bahwa seni itu bebas nilai. Asalkan untuk seni ukurannya keindahan. Kalau sudah indah dan menyenangkan seni itu sah-sah saja untuk ditampilkan. Pandangan ini dalam era demokrasi boleh-boleh saja. Tetapi menurut ukuran moral Hindu keindahan itu tidak boleh bertentangan dengan Satyam dan Siwam. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/6/6/bd2.htm

Pura Merajan Slonding

Daivadyantam tadiheta.
Pitrayantamna
tad bhavet.
Pitradyantam
tvihamanah.
Ksipram
nasyati sanvayah.
(Manawa Dharmasastra, III.205).

Maksudnya:
Melakukan
pemujaan leluhur (upacara Sradha) hendaknya dilakukan mendahului pemujaan Dewa manifestasi Tuhan. Hendaknya pemujaan leluhur itu jangan berakhir dengan pemujaan leluhur saja. Kalau pemujaan leluhur berhenti pada pemujaan leluhur tidak dilanjutkan dengan pemujaan Dewa, keluarga itu akan cepat hancur bersama keturunannya.

PURA Merajan Slonding tergolong salah satu dari kompleks Pura Besakih yang memiliki kedudukan yang cukup penting. Pura ini terletak di sebelah utara Pura Ulun Kulkul atau masyarakat menyebutnya di sebelah barat Pura Ulun Kulkul. Pura ini tergolong Pura Soring Ambal-ambal. Pura Merajan Slonding adalah bagian dari Merajannya Raja Kesari Warma Dewa.

Meskipun seorang raja yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas di dalam rumah tempat tinggalnya yang disebut istana atau puri selalu ada juga tempat pemujaan leluhur sang raja sebagai hulu dari pekarangan purinya. Seorang raja sebagai kesatria memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang amat berat.

Dalam Manawa Dharmasastra I.89 dinyatakan kewajiban raja sebagai kesatria adalah mengupayakan rasa aman (Raksanam) dan kesejahteraan (Danam) untuk rakyatnya. Karena itu sebagai kesatria diwajiban untuk setiap hari mengupayakan melakukan pemujaan kepada leluhur dan kepada Tuhan, mempelajari Weda, melakukan upacara yadnya dan mengusahakan pengekangan hawa nafsu (wisayeswaprasaktatih).

Karena demikian beratnya tugas-tugas seorang raja akan Merajan tersendiri bagi seorang raja tentunya amat dibutuhkan untuk melakukan kotemplasi spiritual untuk menguatkan diri bagi seorang raja. Di areal Pura Merajan Slonding inilah tempat Merajan Raja Kesari Warma Dewa.

Mengapa pura ini disebut Merajan Slonding. Karena di pura ini sebagai tempat menyimpan suatu alat musik tradisional yang disebut Slonding. Slonding ini adalah sejenis gamelan Bali yang digunakan saat ada upacara keagamaan yang penting di pura ini.

Gamelan Slonding ini disimpan di sebuah Pelinggih Gedong Penyimpenan bertiang enam beratap ijuk. Di Gedong inilah disimpan Gamelan Slonding, lontar, semua pratima dari semua pura yang tergolong Soring Ambal-ambal. Di Gedong ini juga disimpan prasasti Bradah. Sedangkan berbagai busana sakral dengan perlengkapan pura di Soring Ambal-ambal disimpan di Bale Pengangge.

Di samping itu ada juga Pelinggih Gedong Saraswati bertiang empat beratap ijuk. Di Pura Merajan Slonding ini disebutkan sebagai Linggih Ida Ratu Bagus Slonding. Ada juga Balai Piyasan sebagai tempat mengaturkan sesajen kalau ada upacara besar.

Yang cukup menarik perhatian kita adalah mengapa pratima dan berbagai perlengkapan sakral dari Pura Soring Ambal-ambal disimpan di Pura Merajan Slonding. Dari segi praktisnya sepertinya agak janggal. Karena cukup merepotkan. Mengapa tidak cukup disimpan di masing-masing pelinggih dari Pura Soring Ambal-ambal tersebut. Pura Soring Ambal-ambal ini adalah pura sebagai tempat memuja Tuhan yang memberikan jiwa alam bawah.

Disatukannya pratima dan berbagai sarana sakral tersebut sebagai suatu simbol bahwa di alam bawah tersebut meskipun Tuhan diberikan berbagai sebutan yang berbeda-beda namun sumbernya satu yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Berstana Ida Batara Ratu Mas Malilit di Pura Manik Mas, Ida Batara Ananta Bhoga di Pura Bangun Sakti, Ida Batara Basukian di Pura Basukian, Ida Batara Naga Raja atau Naga Tiga di Pura Goa Raja, dstnya.

Sebutan Tuhan sebagai jiwa alam itu hanya untuk mudah membeda-bedakan fungsi dari sumber alam yang dijiwai oleh Tuhan Yang Maha Esa tersebut. Karena semua sumber alam tersebut tidak mungkin dapat berfungsi sebagaimana mestinya tanpa ada kekuatan Tuhan yang memberikan makna.

Ditempatkannya dalam satu tempat semua pratima dan simbol-simbol sakral tersebut di Pura Merajan Slonding nampaknya bukan semata untuk lebih mudah mengamankannya. Tetapi ada makna lain untuk memberikan motivasi pada sang raja agar dalam membangun kemakmuran rakyatnya dengan memberikan perhatian pada unsur-unsur alam yang disimbolkan oleh semua pura di Soring Ambal-ambal.

Setiap ada upacara di masing-masing Pura Soring Ambal-ambal pratima dan simbol-simbol sakral itu pasti diambil melalui prosesi ritual tertentu. Dari Pura Merajan Slonding. Hal ini akan mengingatkan raja dan rakyat apa makna dari masing-masing pemujaan di setiap pura di Soring Ambal-ambal tersebut.

Demikian juga saat mengembalikan tersebut sebagai suatu proses untuk mengingatkan raja dan rakyat secara berulang-ulang apa makna dari pemujaan tersebut. Dengan cara berulang-ulang itu seyogianya pemaknaan pemujaan itu lebih dapat diwujudkan dengan lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari, baik oleh sang raja maupun dari rakyat sendiri.

Demikian juga adanya Gedong Saraswati sebagai suatu sarana untuk mengingatkan raja dan rakyatnya agar dalam mengelola kehidupan bersama dalam wadah negara kerajaan senantiasa menggunakan ilmu pengetahuan suci yang berasal dari ciptaan Tuhan. Weda tersebut juga ibu atau Weda Mata. Karena dari Weda-lah lahirnya dua macam ilmu yaitu Para Widya dan Apara Widya.

Para Widya adalah ilmu pengetahuan rohani dan Apara Widya adalah ilmu pengetahuan duniawi. Dua ilmu atau kalau diterapkan secara seimbang dan terpadu akan dapat membangun kehidupan yang seimbang antara kehidupan rohani dan kehidupan duniawi. Seimbangnya kehidupan rohani dan duniawi itulah yang akan membawa masyarakat bahagia lahir batin.

* I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/6/6/bd1.htm

Pentingnya Berbakti pada Pandita

Di Pura Merajan Kanginan tempat pemujaan Ida Manik Angkeran dan keluarga di kompleks Pura Besakih ada Pelinggih Gedong. Pelinggih tersebut sebagai media pemujaan Mpu Beradah. Mengapa ada Pelinggih Mpu Beradah di Merajan tersebut? Hal ini sebagai wujud bakti Ida Manik Angkeran kepada Mpu Beradah sebagai salah satu orang suci yang berjasa meletakkan dasar sistem hidup kerohanian Hindu di Bali, termasuk di Pura Besakih.

=========================================================

Ida Manik Angkeran, putra Mpu Siddhi Mantra, baik langsung maupun tidak langsung merasakan jasa-jasa para orang-orang. Dengan semakin eksisnya Pura Besakih sebagai hulunya Pulau Bali maka kehidupan keagamaan Hindu di Bali semakin terarah untuk menguatkan alam Bali dan manusia Bali menjadi dua unsur ciptaan Tuhan untuk saling memperkuat dengan manusia Bali sebagai unsur sentralnya.

Sayang konsep-konsep keagamaan Hindu yang terbungkus dalam kemasan kebudayaan Hindu di Bali masih banyak yang belum dipahami oleh umatnya sendiri secara benar sesuai dengan teksnya yang terdapat dalam berbagai pustaka lontar. Karena itu ke depan dalam rangka membangun Bali yang jagathita amat diperlukan untuk memahami isi teks pustaka lontar itu secara benar, utuh dan terpadu.

Dengan demikian berbagai kesalahpahaman tentang berbagai budaya Hindu di Bali akan dapat diatasi tahap demi tahap. Dengan demikian, Bali yang ajeg atau Bali yang jagadhita akan semakin terwujud.

Ida Manik Angkeran sebagai salah satu penyelenggara berbagai kegiatan keagamaan Hindu di Pura Besakih tentunya memiliki kepekaan spiritual untuk menghargai dan berbakti pada orang-orang suci yang pernah berjasa di bidang kerohanian Hindu di Bali. Ida Manik Angkeran memang pernah tergoda terjun ke dunia judian sampai memotong ujung ekor Naga Basuki yang bertatah emas.

Akibat kesalahan beliau itu Ida Manik Angkeran pernah dihukum oleh Naga Basuki. Ida Manik Angkeran dibakar dengan lidah api Naga Basuki hingga menjadi abu. Berkat permohonan ampun Mpu Siddhi Mantra, ayah Ida Manik Angkeran, kepada Naga Basuki akhirnya Ida Manik Angkeran dihidupkan kembali oleh Naga Basuki. Mitologi ini mungkin simbol saja untuk menggambarkan bahwa Ida Manik Angkeran telah mendapatkan penyucian dari Naga Basuki. Naga Basuki itu adalah sebutan Tuhan sebagai Dewanya air yang memberikan keselamatan semua makhluk hidup. Katabasukiartinya rahayu atau selamat.

Air sebagai sarana penyucian disebut Tirtha. Karena itu di Pura Merajan Kanginan ada pelinggih yang disebut Balai Tegeh untuk stana Batara Tirtha. Tirtha inilah yang mungkin sebagai simbol yang telah menyucikan Ida Manik Angkeran dari kebiasaan buruknya main judi. Setelah kebiasaan buruknya itu dapat dihilangkan maka Ida Manik Angkeran menjadi orang yang sangat sungguh-sungguh mengabdi pada umat yang datang ke Besakih mohon peningkatan rohani.

Adanya gedong sebagai Pelinggih Mpu Beradah itu untuk mengingatkan kita bahwa bentuk Resi Yadnya itu secara garis besarnya ada dua yaitu dengan memuja beliau sebagai pandita dengan sosok pribadi yang suci. Dengan pemujaan itu umat akan mendapatkan vibrasi suci dari seorang pandita apa lagi yang benar-benar Sista atau ahli Weda. Bentuk yang kedua dari Resi Yadnya itu adalah dengan wruh ring kalingganing dadi wwang.

Demikian dinyatakan dalam kitab Agastia Parwa. Makna dari teks Agastia Parwa ini adalah dengan setiap hari teratur mendalami kitab suci dengan kitab-kitab sastranya. Kalau setiap hari kita luangkan waktu beberapa saat saja untuk membaca serta merenungkan teks-teks kitab suci atau kitab-kitab sastranya pasti tahap demi tahap kita akan paham akan hakikat hidup sebagai manusia di dunia ini.

Tujuan dari para resi atau pandita menjabarkan mantra-mantra Weda Sruti sabda Tuhan itu menjadi kitab-kitab sastra agar umat pada umumnya dapat lebih mudah memahami isi kitab suci tersebut. Kalau kita dalami ajaran-ajaran kitab sastra Weda yang disusun oleh para resi, itulah sesungguhnya bentuk bakti kita yang lebih utama pada resi. Apalagi setelah secara teratur kita dalami ajaran kitab-kitab sastra itu kita semakin paham akan hakikat hidup ini, itu berarti kita telah wujudkan tujuan para resi menyusun kitab-kitab sastra yang dijabarkan dari mantra-mantra Weda sabda Tuhan tersebut.

Dalam Sarasamuscaya 40 dinyatakan bahwa ada tiga wujud Dharma yaitu segala apa yang diajarkan dalam kitab Sruti sabha Tuhan itu adalah Dharma. Semua yang diajarkan dalam kiab-kitab Smrti juga disebut Dharma. Demikian juga kebiasaan yang dilakukan oleh Sang Sista atau Pandita ahli dalam menjalankan swadharmanya sebagai Pandita yang Sista juga disebut Dharma.

Tradisi Pandita Sista itu ada empat yaitu Sang Satyawadi, artinya orang yang selalu berbicara tentang kebenaran (Satya). Sang Apta adalah orang selalu dapat dipercaya karena tidak pernah bohong, tidak pernah jahat, tidak pernah kasar dan juga tidak pernah memfitnah orang lain. Sang Patirthan, artinya orang yang telah dijadikan tempat memohon penyucian diri oleh umat.

Selanjutnya adalah Sang Panadahan Upadesa, artinya orang yang senantiasa mengembangkan pendidikan kerohanian. Istilah Upadesa menurut Dr. Rajendra Misra artinya pendidikan kerohanian. Demikianlah seyogianya tradisi orang suci atau Sistacara itu. Kalau empat perilaku suci itu sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari orang yang disebut Sang Pandita, maka beliaulah yang dapat disebut Sang Sista dan itu juga dapat disebut perwujudan Dharma.

Ini artinya Dharma itu dapat dilihat dalam tiga wujud yaitu dalam kitab Sruti sabda Tuhan, dalam kitab Smrti hasil renungan para resi dalam menjabarkan ajaran dalam kitab Sruti. Dan yang ketiga adalah Sistacara atau tradisi orang-orang suci dalam empat kebiasaan suci tersebut.

Nampaknya para resi zaman dahulu di Bali seperti kebiasaan beliau Sang Panca Tirtha telah memberikan suri tauladan yang baik dalam melakukan swadharmanya sebagai orang-orang suci. Meskipun beliau berbeda-beda paksa atau sekte atau sampradaya-nya beliau tetap dapat bersatu membangun Bali yang berbudaya dengan sistem religi Weda atau Hindu.

Meskipun ada di antaranya yang agak dekat dengan kekuasaan, tetapi tidak menggunakan kedekatannya dengan kekuasaan itu sebagai media untuk menekan yang lain. Justru letak harga dirinya kalau dapat menghargai pihak lain yang berbeda dengan dirinya. Kita tidak punya harga diri kalau tidak bisa menghargai orang lain. Manusia memang tercipta berbeda dan sama. Ada aspek yang berbeda tetapi ada aspek yang sama. Marilah kita bina hidup bersama di bumi ini dengan paradigma sama dan beda tersebut. * wiana

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2007/5/16/bd2.htm

Pura Merajan Kanginan

Resi yadnya ngarania kapujan ring sang pandita,
muang
sang wruh ring kalingganing dari wwang
(Dikutip dari Agastia Parwa).

Maksudnya:

Resi yadnya namanya berbakti pada beliau Sang Pandita dan mereka yang paham akan hakikat hidup sebagai manusia.

HAKIKAT mengabdi pada kehidupan di dunia ini membutuhkan bimbingan guru yang sudah mencapai tingkatan hidup Pandita Acarya. Berguru pada Pandita Acarya itu bukan semata-mata untuk mendalami sastra kerohanian semata. Demikian juga tujuan belajar bukan semata-mata mencari keterampilan untuk mencari nafkah.

Tujuan berguru adalah agar memiliki kemampuan untuk menjalani hidup yang baik dan benar sesuai dengan norma yang ditetapkan dalam kitab suci. Termasuk di dalamnya berbakti pada guru yang berjasa memberikan kita ilmu dengan sejujur-jujurnya dan juga memberi penerangan jiwa sesuai dengan pertumbuhan diri kita masing-masing.

Demikian jugalah Ida Manik Angkeran, putra Mpu Siddhi Mantra dari Jawa Timur, memiliki tempat pemujaan keluarga di kompleks Pura Besakih yang disebut Merajan Kanginan. Ida Manik Angkeran adalah seorang pengabdi yang tulus untuk ikut serta dalam mengeksistensikan dinamika Pura Besakih sebagai tempat pemujaan umat Hindu di seluruh Bali.

Sebagai pengabdi yang tulus, Ida Manik Angkeran tentunya mendapat bimbingan dari para rohaniwan yang sudah sekaliber Pandita Acarya. Karena itulah di Merajan tempat pemujaan keluarga beliau dibangun juga Pelinggih Gedong yang khusus untuk memuja Mpu Beradah, salah satu guru spiritual Ida Manik Angkeran yang telah mencapai status Pandita Acarya. Merajan ini kemungkinan tidak diberikan sebutan khusus. Umatlah yang kemudian menyebutnya Merajan Kanginan.

Umumnya umat melihat Merajan Ida Manik Angkeran ini terletak di sebelah timur Pura Banua tempat memuja Batara Sri dan juga pusat Jineng atau lumbung umat Hindu di Bali. Sesungguhnya letak Merajan Kanginan ini adalah agak di selatan Pura Banua kalau dilihat dengan alat kompas.

Di Merajan Kanginan ini ada sepuluh pelinggih utama dan pelinggih pelengkap. Lima pelinggih terletak di areal dalam atau jeroan pura dan lima lagi terletak di areal tengah atau jaba tengah. Pelinggih di jeroan pura itu ada Pelinggih Balai Pengaruman dan yang di sebelahnya ada pelinggih yang disebut Gedong Busana di sudut uranus atau keluwan pura.

Di Pelinggih ini ditempatkan berbagai perlengkapan sakral dari semua Pelinggih Pura Merajan Kanginan seperti busana dan perlengkapan lainnya. Di sebelah kiri dari Gedong Busana ini terletak pelinggih yang disebut Balai Tegeh. Pelinggih Balai Tegeh ini bertiang empat dan beratap ijuk.

Fungsi utama Pelinggih Balai Tegeh ini adalah sebagai Pelinggih Batara Tirtha. Umat Hindu di Bali pada zaman dahulu kalau yang daerahnya diserang hama semut umumnya mohon kekuatan spiritual dengan mohon Tirtha di Pura Merajan Kanginan ini sebagai sarana sakral untuk menghilangkan hama semut tersebut.

Di areal dalam atau jeroan pura terdapat Pelinggih Gedong Simpen yaitu pelinggih dengan tiang empat beratap ijuk sebagai Pelinggih untuk Mpu Beradah. Mpu Beradah inilah sebagai salah satu Pandita Acarya dari yang memiliki jasa besar bersama-sama pandita yang lainnya dalam menanamkan kehidupan beragama Hindu di Bali. Di areal jeroan juga terdapat pelinggih yang disebut Balai Pengaruman sebagai tempat menata berbagai keperluan upacara yang bertujuan untuk menjaga kesucian Pura Merajan Kanginan tersebut.

Di jaba tengah Pura Merajan Kanginan ini terdapat Pelinggih Pelengkap yaitu ada Balai Paebatan, dapur, Bebaturan, Balai Gong dan Balai Kulkul. Meskipun semuanya itu sebagai bangunan pelengkap, tetapi semuanya memiliki nilai yang tinggi sebagai media untuk mengembangan kehidupan yang berkualitas.

Misalnya ada balai paebatan dan agar dalam menyiapkan berbagai sarana yang berupa makanan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Salah satu syarat yadnya yang disebut Satvika Yadnya menurut Bhagawad Gita XVII.13 adalah adanya suguhan makanan yang disebut srsta annam, artinya makanan yang Satvika.

Dalam tradisi Hindu di India adanya suguhan makanan dalam setiap ada upacara yadnya disebut anna seva. Karena dalam Manawa Dharmasastra ada dinyatakan bahwa betapa pun besar dan mahalnya suatu upacara yadnya kalau ada orang yang kelaparan di sekitar upacara yadnya tersebut maka yadnya tersebut tidak akan berhasil meraih karunia Tuhan. Hal inilah yang menyebabkan umat Hindu setiap melangsungkan upacara yadnya selalu disertai dengan jamuan makanan kepada para atithi yadnya atau tamu yang hadir diundang dalam upacara yadnya tersebut.

Adanya dapur dan balai paebatan di pura tersebut untuk menyiapkan berbagai keperluan upacara yadnya baik sebagai sarana kelengkapan upacara maupun untuk menjamu para tamu upacara. Tujuan adanya dapur dan balai paebatan itu untuk menyiapkan agar makanan tersebut makanan suci atau Satvika Ahara.

 Melalui simbol dapur suci dan balai paebatan itu diharapkan umat agar dalam mencari makanan dan juga menyiapkan makanan menggunakan cara-cara yang dibenarkan oleh dharma dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya saat ada upacara saja umat menyiapkan makanan dengan cara-cara yang suci, tetapi justru upacara itu sebagai proses memotivasi umat agar dalam kehidupannya sehari-hari justru selalu mencari dan juga memilih dan menyiapkan makanan dengan cara-cara yang suci.

 Demikian juga adanya Balai Kulkul dan Balai Gong di pura tersebut memiliki makna yang dalam juga. Balai Kulkul itu sebagai simbol untuk mengupayakan terpeliharanya keamanan atau santiraksa. Salah satu tujuan berbakti pada Tuhan adalah untuk mengembangkan upaya bersama untuk bisa menciptakan rasa aman dan damai dalam kehidupan bersama itu.

 Dalam Manawa Dharmasastra pun pada Ksatria diwajibkan oleh Hyang Widhi agar berusaha untuk memberikan rasa aman (Raksanam) dan sejahtera (Dhanam) kepada masyarakat (Praja). Rasa aman dan sejahtera dalam masyarakat merupakan kebutuhan hidup yang paling utama dalam kehidupan di dunia ini.

 Demikian juga adanya Balai Gong di Jaba Tengah Pura Merajan Kanginan ini sebagai simbol adanya keindahan dari seni dalam mewujudkan ajaran agama. Umat Hindu mengenai ajaran Satyam, Siwam dan Sundaram. Maksudnya agar umat menggunakan kesenian yang indah itu (Sundaram) untuk mewujudkan kebenaran (Satyam) dan kesucian (Siwam). Keindahan seni akan mubazir kalau bukan untuk Satyam dan Siwam.

 · I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2007/5/16/bd1.htm

Pura Lempuyang Madya======
Bukan
hanyaSungsunganWarga Pasek

Pura Lempuyang Madya di Bukit Lempuyang, Karangasem sebenarnya bukan hanya sungsungan (tempat sembahyang) warga Pasek. Namun untuk semua warga dan Pasek cuma diberikan kepercayaan sesuai yang disebutkan dalam bhisama untuk ngelingang (tak melupakan) keberadaan pura itu sejak zaman dulu. Hal tersebut disampaiakn Jero Mangku Gede Wangi, Selasa (5/3) kemarin di Karangasem. Apa saja filosofi di balik kemegahan Pura Lempuyang Madya itu?

====================================================

Pura Lempuyang Madya termasuk Pura Dang Kahyangan. Soal status dan yang kasungsung di pura tersebut diyakinkan lagi oleh salah satu pemangku setempat Jero Mangku Wayan Rai adalah Ida Batara Empu Agenijaya dan Empu Manik Geni. Di mana, Empu Agenijaya masameton (bersaudara) tujuh, di antaranya Mpu Kuturan, Mpu Baradah dan Mpu Semeru. ”Lempuyang Madya seperti Pura Silayukti dan Tanjungsari di Padangbai, di mana masing-masing pura itu adalah tempat nyungsung Batara Mpu Kuturan dan Mpu Baradah,” papar Mangku Wangi.

Dikatakannya, masyarakat yang belum paham menganggap Pura Lempuyang Madya cuma milik warga Pasek atau tempat sembahyang warga Pasek. Soal warga Pasek mendapat tugas ngelingang pura itu, disebutkan dalam prasasti yang bunyinya sebagai berikut: Pasek, Tangkas, muang Bandesa, ayua kita lali ring catur parahyangan (Besakih, Lempuyang, Dasar Buana Gelgel dan Silayukti). Pura di Besakih yang dimaksudkan, palinggih Mpu Semeru yakni pura Caturlawa Ratu Pasek.

Soal warga Pasek dalam prasasti diberikan tanggung jawab menjaga pura itu, diduga karena warga itu lebih dulu berada di Bali dan dipercaya sebagai salah satu unsur pemerintahan desa (macekin).

Mangku Gede Wangi dan Mangku Wayan Rai mengatakan, Pura Lempuyang Madya kini dalam proses pemugaran, serta pelebaran pura. Sebelumnya jeroan pura sangat sempit karena berada di lereng gunung, sehingga kurang representatif dengan membludaknya ribuan umat saat pujawali. Di mana rutin warga ngaturang ayah (gotong-royong) di antaranya memecah dan memindahkan batu-batu untuk pembangunan. Direncanakan, semua palinggih bakal kagingsirang (digeser ke timur) dan kini dalam tahap membangun fondasi.

Setelah pembangunan palinggih yang baru tuntas dan di-pelaspas, barulah Ida Batara kairing manggingsir ke palinggih baru. Sementara itu, barulah palinggih lama di-pralina,” papar Mangku Wangi.

Bangunan besar yang sudah tuntas yakni berupa bale gong, sementara yang belum adalah darma sala (kamar mandi). Sementara palinggih yang ada di antaranya palinggih bebaturan linggih Batara Empu Agenijaya sareng Empu Manikgeni, Gedong Tumpang Siki (satu), dua dan tiga, Manjangan Saluang, Sanggar Agung, Bale Pawedaan, serta Bale Pesandekan.

Sementara pura yang terkait dengan Lempuyang Madya, tambah Mangku Rai, yakni Telaga Sawang, Penataran Lempuyang Madya dan Lempuyang Bisbis. Di Pura Telaga Sawang merupakan linggih tirta dan pasucian Ida Batara. Berdasarkan kepercayaan, setelah Ida Batara Empu Agenijaya tiba dan menetap di Lempuyang, beliau mayoga di Penataran Lempuyang Madya bersama Empu Manikgeni. Dikatakan, pujawali di Pura Lempuyang Madya tiap enam bulan, pada purnama kapat dan sasih kedasa.

Mangku Rai berharap, terkait masih dalam tahap pemugaran pura besar itu, diharapkan umat Hindu yang tinggal di Bali atau di luar Bali menyempatkan diri ngaturang ayah atau ngaturang punia. Apalagi nanti saat pujawali, umat sedharma diharapkan menyempatkan diri pedek tangkil melakukan persembahyangan. Hal itu tak hanya mendoakan mohon keselamatan diri, keluarga dan masyarakat juga keajegan alam semesta.

Jaga Kesucian

Di lain pihak, Ketua MGPSSR Bali Prof. Dr. dr. Wayan Wita menyampaikan saat menghadiri gotong-royong pembangunan pura beberapa waktu lalu, menekankan semua pihak ikut menjaga kesucian pura setempat. Diharapkan 10 km dari pura itu dihindari ada bangunan bersifat komersial, seperti vila atau hotel. Masih dipikirkan bagaimana membuat aturan itu, sehingga bisa diamankan semua pihak.

Jero Mangku Gede Wangi menyampaikan hal yang sama. Menurutnya, menjaga kesucian pura tak hanya menghindari orang cuntaka masuk ke pura, tetapi juga menjaga terhindarnya pura dari kotoran sekala seperti berbagai jenis sampah. Usai sembahyang saagan seperti bekas canang, sisa dupa tidak ditinggalkan begitu saja, tetapi semua harus memungut dan membuangnya di tempat saagan (sampah).

Selama ini banyak umat belum terbiasa, usai sembahyang saagan atau canang bekas ditinggalkan begitu saja. Diharapkan ketika pendidikan umat telah miningkat, kesadaran bersama menjaga kesucian pura kian tumbuh,” katanya.

Sementara di sepanjang jalan, juga dilarang membuang sampah sembarangan apalagi sampah plastik. Soalnya selain sampah menimbulkan kesan kotor (tak suci), sampah plastik juga merusak struktur tanah. Apalagi jalan ke Pura Lempuyang merupakan lereng dan gunung dengan tanah yang labil, sampah plastik menyebabkan tanah menjadi rusak dan mudah longsor.

Selain tak membuang sampah sembarangan corat-coret, tidak mengambil atau mengganggu flora dan fauna. Hal itu guna menghindari hal yang tak diinginkan. Ke pura juga pikiran, perkataan dan perbuatan harus disucikan. Selama ini kita baru bisa mengucapkan tri kaya parisudha, tetapi belum mampu melaksanakan dengan baik,” tambah Mangku Wangi.

Dia mengaku prihatin dengan kian menipisnya kepercayaan dan dalam rangka menjaga kesucian pura dari oknum umat. Mereka menodai kesucian pura, seperti cuntaka masuk pura, bahkan pura ramai kalau menjelang pemilu atau pilkada. Disayangkan juga perilaku oknum yang berjudi mengelabui Ida Batara, agar arena judi tajennya tak digerebek polisi tajen digelar dengan kedok tabuh rah. Tajen sengaja digelar di depan pura atau dekat pura, meski tak ada pujawali tetapi dipasang umbul-umbul atau penjor. ”Ini namanya merusak kesucian pura dan orang lain akan menertawakan kita. Mari kita mawas diri bersama, sudahkah kita melaksanakan tri kaya parisudha,” tandasnya.
* gde budana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/3/5/bd2.htm

Lempuyang Madya
Stana
Mpu Genijaya

Rsibhyah pitaro jatah
pitrbhyo
dewa manavah
devebhyastu
jagat sarvam
caram
sthanvanu purvasah.
(Manawa Dharmasastra. III.201).

Maksudnya:

Dari para Resi lahirlah para leluhur, dari leluhur muncullah para Dewa dan Manawa atau manusia. Tetapi dari para Dewata munculah seluruh dunia ini yang bergerak dan yang tidak bergerak menurut normanya.

SLOKA pustaka sastra Veda ini di dalamnya tersirat suatu konsep dinamika kehidupan yang baik untuk dilakukan dalam kehidupan bersama di bumi ini. Yang dimaksud dengan leluhur lahir dari para Resi itu adalah leluhur yang memiliki kualifikasi untuk menjadi panutan keturunannya.

Dalam kehidupan beragama Hindu di Bali konsepsi penataan sosial dengan landasan sistem raligi Hindu tersebut dapat kita dijumpai dalam sistem sosial Hindu di Bali. Dalam beberapa pustaka lontar ada dinyatakan bahwa leluhur orang-orang suci di Bali adalah Sang Hyang Pasupati yang berstana di Jawa Timur. Dari Sang Hyang Pasupati inilah menurunkan orang-orang suci di Bali yang setelah sebagai Dewa Pitara dipuja di berbagai Kahyangan Jagat di Bali.

Sang Hyang Pasupati sebagai leluhur orang-orang suci di Bali diceritakan dalam berbagai pustaka lontar di Bali. Nampaknya pustaka lontar yang menceritakan Sang Hyang Pasupati itu berasal dari pustaka Jawa Kuna yang bernama Tantu Pagelaran.

Sang Hyang Pasupati diceritakan menurunkan Sapta Hyang untuk berstana di berbagai gunung di Bali. Gunung dalam konsep Hindu tergolong Lingga Acala yaitu tempat suci untuk memuja Dewa manifestasi Tuhan dan para Dewa Pitara atau roh suci leluhur.

Demikianlah Sang Hyang Pasupati menurunkan tujuh orang suci yang dipuja di berbagai Kahyangan Jagat di Bali. Sapta Hyang itu adalah Hyang Putra Jaya dipuja di Pura Besakih. Hyang Dewi Danu dipuja di Pura Batur. Hyang Tugu dipuja Andakasa, Hyang Tumuwuh di Batukaru, Hyang Gumawang di Beratan dan Hyang Manik Corong di Pejeng.

Dari Sapta Hyang inilah terus menurunkan orang-orang suci. Keturunan selanjutnya ada yang disebut Panca Pandita atau sering disebut juga Panca Tirtha yaitu lima orang suci. Panca Pandita tersebut adalah lima orang suci yang bersaudara. Lima orang suci itu adalah Mpu Geni Jaya, Mpu Sumeru, Mpu Gana, Mpu Beradah dan Mpu Kuturan.

Mpu Geni Jaya salah seorang dari Panca Tirtha ini sebagai leluhurnya atau disebut Wangsa Karta dari Parasemeton Pasek Sanak Sapta Resi di Bali. Wangsa Karta adalah sebagai tokoh yang diyakini sebagai pembentuk Gotra dari suatu kelompok keluarga atau klan. Mpu Beradah adalah leluhur Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwijendra.

Wangsa Brahmana Siwa di Bali meyakini Dang Hyang Dwijendra inilah sebagai Wangsa Karta atau pembentuk Gotranya. Demikianlah berbagai kelompok keluarga di Bali meyakini para Resilah sebagai Wangsa Karta atau pembentuk Gotra. Sistem Wangsa atau Gotra ini bukanlah membeda-bedakan harkat dan martabat manusia sebagai sistem Kasta. Tetapi untuk menegakkan pemujaan dan penghormatan pada leluhur.

Leluhur yang dapat melakukan lima kewajiban suci yang disebut Panca Wida dalam Nitisastra VIII.3 akan menurunkan putra-putra yang suputra. Salah satu ciri suputra itu adalah senantiasa berbakti pada leluhurnya. Suputra yang senantiasa berbakti pada leluhur dan pada Dewa manifestasi Tuhan menurut Sarasamuscaya 250 akan mendapatkan empat pahala mulia dalam hidupnya.

Empat pahala mulia itu adalah Ayu, Vidya, Yasa dan Bala. Demikian mulialah sesungguhnya tujuan sistem wangsa dalam membangun sistem sosial yang luhur atau Satsangga. Bukan untuk membeda-bedakan tinggi-rendahnya antara satu wangsa dengan wangsa yang lainnya.

Adanya Sapta Hyang dan Panca Tirtha di Bali ini sebagai suatu penerapan sistem religi Hindu dalam sistem sosial umat Hindu di Bali yang dihubungkan dengan sistem pemujaan. Dengan adanya Sapta Hyang dan Panca Tirtha di Bali diharapkan sebagai sumber inspirasi yang memotivasi umat Hindu agar senantiasa mengarahkan segala aktivitas hidupnya mengikuti tradisi orang-orang suci. Inilah penerapan sistem religi Hindu ke dalam sistem kebudayaan.

Prof. Dr. Koentjaraningrat menyatakan adanya tujuh sistem budaya. Tujuh sistem budaya itu adalah sistem religi, sistem sosial, sistem ilmu pengetahuan, sistem bahasa, sistem seni, sistem mata pencaharian dan sistem teknologi.

Menurut Koentjaraningrat, sistem budaya yang menjadi jiwa dari semua sistem budaya adalah sistem religi. Nampaknya di Bali orang-orang suci di Bali di masa lampau telah demikian cerdas menata ajaran agama Hindu menjadi sistem religi ke dalam kehidupan empiris.

Agama sebagai sabda Tuhan memang bukanlah kebudayaan karena bersifat supraempiris, artinya di luar pengalaman hidup manusia. Agama sabda suci Tuhan diaplikasikan ke dalam kehidupan empiris oleh umat Hindu. Proses aplikasi sabda Tuhan inilah yang melahirkan sistem religi. Dengan sistem religi ini diharapkan umat tergerak mengikuti tradisi mulia leluhurnya yang distanakan di tempat pemujaan.

Demikianlah Mpu Geni Jaya, Wangsa Karta Pasemetonan Warga Pasek Sanak Sapta Resi, distanakan di Pelinggih Gedong di Pura Lempuyang Madya sebagai salah satu wujud sistem religi Hindu ke dalam sistem sosial. Dengan adanya Pelinggih Gedong untuk memuja Mpu Geni Jaya di Pura Lempuhyang Madya akan menjadi sumber motivasi spiritual Pasemetonan Warga Pasek Sanak Sapta Resi untuk menyatukan berbagai persepsinya dalam membangun visi dan misi dalam kehidupan ini untuk membina kehidupan warga yang jagathita.

Ini artinya adanya suatu pura sebagai tempat pemujaan seperti Pura Lempuyang Madya ini bukanlah semata-mata sebagai tempat melangsungkan upacara yadnya. Pura tersebut hendaknya dijadikan sumber inspirasi mengembangkan berbagai persepsi yang baik dan benar tentang berbagai masalah kehidupan. Kalau persepsi umat sudah baik dan benar tentang berbagai persoalan hidup ini maka akan lebih memudahkan dalam merumuskan visi dan misi membangun kehidupan bersama dalam mewujudkan tujuan hidup mencapai Dharma, Artha, dan Kama sebagai landasan mencapai Moksha. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/3/5/bd1.htm

Pura Lempuyang, ”Stana” Dewa Iswara
* Tirta Pingit di Pohon Bambu

Dalam berbagai sumber lontar atau prasasti kuno, ada tiga pura besar yang sering disebut selain Besakih dan Ulun Danu Batur, yakni Pura Lempuyang. Pura Lempuyang Luhur terletak di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang, Karangasem. Pura ini diduga termasuk paling tua di Bali. Bahkan, diperkirakan sudah ada pada zaman pra-Hindu-Buddha yang semula bangunan suci yang terbuat dari batu. Pura Lempuyang itu merupakan stana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara. Bagaimana cikal bakal berdirinya Pura Lempuyang?

ADA sebuah informasi berdasarkan pemotretan dari angkasa luar, di ujung timur Pulau Bali muncul sinar yang amat terang. Paling terang dibandingkan bagian lainnya. Namun tak diketahui pasti dari kawasan mana sinar itu, tetapi diduga dari Gunung Lempuyang.

Soal arti dari Lempuyang, ada berbagai versi. Dalam buku terbitan Dinas Kebudayaan Bali (1998) berjudul ”Lempuyang Luhur” disebutkan, lempuyang berasal dari kata ”lampu” artinya sinar dan ”hyang” untuk menyebut Tuhan, seperti Hyang Widhi. Dari kata itu lempuyang atau lampuyang diartikan sinar suci Tuhan yang terang-benderang (mencorong/menyorot). Pura Lempuyang itu merupakan stana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara.

Versi lain menilik ”lempuyang” sebagai sebuah kata yang berdiri sendiri. Di Jawa lempuyang itu menunjuk sejenis tanaman untuk bumbu. Hal itu juga dikaitkan ada banjar di sekitar Lempuyang bernama Bangle dan Gamongan, keduanya juga tanaman sejenis yang bisa dipakai obat atau bumbu. Versi lain juga menyebut dari kata ”empu” atau ”emong” yang diartikan menjaga. Batara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya turun untuk mengemong guna menjaga kestabilan Bali dari berbagai gunjangan bencana alam. Ketiga putra-putri itu yakni Bathara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung) Agung dengan parahyangan di Pura Besakih, Batari Dewi Danuh berstana di Pura Ulun Danu Batur dan Batara Hyang Gni Jaya di Gunung Lempuyang.

Namun, apa pun versi dari lempuyang itu, Pura Lempuyang sendiri memiliki status yang sangat besar, sama seperti Besakih. Baik dalam konsep padma buwana, catur loka pala atau pun dewata nawa sanga. Dalam berbagai sumber lontar atau prasasti kuno, ada tiga pura besar yang sering disebut selain Besakih dan Ulun Danu Batur yakni Lempuyang.

Pura Lempuyang Luhur yang terletak sangat tinggi di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang itu, diduga termasuk pura paling tua di Bali. Bahkan, diperkirakan sudah ada pada zaman pra-Hindu-Buddha yang semula bangunan suci yang terbuat dari batu.

Pada sekitar tahun 1950 di tempat didirikannya Pura Lempuyang Luhur kini, baru ada tumpukan batu dan sanggar agung yang dibuat dari pohon. Di bagian timur berdiri sebuah pohon sidhakarya besar yang kini sudah tak ada diduga tumbang atau mati. Barulah pada 1960 dibangun dua padma kembar, sebuah padma tunggal bale piyasan. Kini, pemugaran dan pemugaran pura kian meningkat.

Mengutif sejumlah sumber kuno, Jero Mangku Gede Wangi — pemangku di pura itu — mengatakan orang Bali apa pun wangsanya tak boleh melupakan pura ini. Paling tidak sekali waktu menyempatkan diri tangkil sembahyang ke pura ini. Sebab, jika tidak pernah atau lupa memuja Tuhan yang manifestasinya berstana di pura ini, selama hidup bisa tak pernah menemukan kebahagiaan, kerap cekcok dengan keluarga atau masyarakat dan bahkan pendek umur.

Kewajiban masyarakat Bali untuk memuja Batara Hyang Gni Jaya di Lempuyang Luhur disebutkan dalam bhisama Hyang Gni Jaya yang tertulis dalam lontar Brahmanda Purana sebagai berikut: ”Wastu kita wong Bali, yan kita lali ring kahyangan, tan bakti kita ngedasa temuang sapisan, ring kahyangan ira Hyang Agni Jaya, moga-moga kita tan dadi jadma, wastu kita ping tiga kena saupa drawa.”

Jero Mangku Gede Wangi mengatakan, untuk memulai belajar ilmu pengetahuan, apalagi ilmu keagamaan Hindu, sangat baik jika dimulai dengan mohon restu di Pura Lempuyang Luhur. Selain itu, banyak pejabat suka bertirtayatra ke pura ini.

Jero Mangku Gede Wangi menyampaikan, di Pura Lempuyang Luhur terdapat tirta pingit di pohon bambu yang tumbuh di areal Pura Luhur. Saat umat nunas tirta, pemangku pura usai ngaturang panguning akan memotong sebuah pohon bambu. Air suci/tirta dari pohon bambu itu di-pundut untuk muput berbagai upacara, kecuali manusa yadnya. ”Siapa pun tak boleh berbuat buruk seperti campah di pura, jika tak ingin kena marabahaya,” ujar Jero Mangku.

Pengayah

Saat pujawali tak terlalu besar pengayah. Biasanya dari Desa Pakraman Purwayu saja. Namun, jika pujawali besar seperti Batara Turun Kabeh dan Batara Masucian ke Segara, pengayah turun dari enam desa pakraman di sekitarnya, seperti Purwayu, Segeha, Basangalas, Ngis, Tista dan Gulinten.

Pada pujawali, pengayah ngamedalang Ida Batara dari pasimpenan di dekat areal parkir pertama. Ida Batara kapundut teruna (pemuda) dan krandan (remaja putri). Sebelum ngayah, mereka mesti mabyakawon (mensucikan diri) di areal Pura Pesimpenan. Ida Batara kairing ke bale piasan Pura Penataran untuk mahias, lalu masucian ke Pura Telaga Mas, kairing munggah ke Pasar Agung dan masandekan sebentar. Berikutnya, barulah kairing ke Luhur dan kalinggihang, kaaturan panyejer tiga hari. Pujawali tiap enam bulan yakni puncaknya pada Wraspati Umanis Dunggulan. * gde budana

Langgar Pantangan, Bisa ”Sengkala”

ADA sejumlah pantangan yang jika dilanggar bisa berakibat buruk. Saat naik ke Lempuyang Luhur, kata Jero Mangku Gede Wangi, sejak awal pikiran, perkataan dan perbuatan harus disucikan. Tak boleh berkata kasar saat perjalanan.

Selain itu, orang cuntaka, wanita haid, menyusuai, anak yang belum tanggal gigi susu sebaiknya jangan dulu masuk pura atau bersembahyang ke pura setempat. Jero Mangku mengatakan, pernah ada rombongan orang sembahyang naik Isuzu dari Negara. Rupanya, sebelum ke Lempuyang rombongan itu melayat orang meninggal lebih dahulu. Mobil rombongan itu pun jatuh terperosok karena tak bisa naik di tanjakan sebelah atas rumah Mangku Pasek. ”Saya dengar salah seorang rombongan sudah mencegah agar jangan langsung ke Pura Lempuyang, tetapi saran itu tak gubris,” ujar Jero Mangku.

Selain sejumlah larangan itu, juga umat yang hendak ke Lempuyang Luhur juga tidak diperkenankan membawa perhiasan emas. Soalnya, umat yang menggunakan perhiasan emas, perhiasan itu kerap hilang misterius. ”Membawa atau makan daging babi saat ke Lempuyang Luhur juga sebaiknya tak dilakukan, karena daging babi itu terbilang cemer. Pantangan ke Pura Lempuyang, hampir sama dengan ke Pura Luhur Batukaru,” kata lulusan APGAH ini.

Jero Mangku mengatakan, masyarakat dan umat yang naik ke Gunung Lempuyang diharapkan tak berbuat buruk, seperti mengambil tanaman, melakukan corat-coret di jalan atau di pura. ”Sampah terutama sampah plastik hendaknya dibawa atau dibuang di tong sampah yang tersedia. Berbakti kepada Tuhan bukan cuma lewat sembahyang, tetapi juga dengan jalan karma marga seperti menjaga kebersihan lingkungan alam atau pura,” katanya.

Jero Mangku mengatakan, belum pernah ada orang yang menghitung pasti berapa sebenarnya jumlah tangga naik ke Pura Luhur yang berketinggian lebih dari 1.174 meter. Ada yang mengatakan 1.750 tangga, ada juga yang mengatakan 1.800.

Sementara itu, dosen STKIP Agama Hindu Amlapura Drs. IP Arnawa, S.Ag. M.Si. mengatakan, cuma bersembahyang –insidental — ke Pura Lempuyang Luhur disebutkan tak harus melakukan pelukatan saat masuk pura. Soalnya, selain ke Lempuyang Luhur umat bisa melukat di pesucian Telaga Mas, saat naik menuju Pura Luhur yang tinggi berbagai kotoran tubuh juga berangsur disucikan. Soalnya, ribuan kali menghela napas seperti saat pranayama, keringat keluar. ”Sembahyang sampai ke Pura Lempuyang Luhur merupakan pendakian spiritual. Umat yang benar-benar niatnya kuat dilandasi Tri Kaya Pasisudha yang mampu dengan mudah mampu mencapai Pura Luhur. Jika ragu-ragu atau tak tulus bisa terjadi halangan, seperti kepayahan bahkan terjatuh di jalan,” ujar Arnawa.

Empat Jalur

Sesungguhnya ada empat jalur/rute untuk mencapai Pura Lempuyang Luhur. Berdasarkan buku yang disusun Dinas Kebudayaan Bali (1998), bisa lewat Desa Purwayu. Dari rute ini bisa melewati Pura Penyimpenan, Penataran Agung, Telaga Mas, Pasar Agung barulah ke Lempuyang Luhur.

Dari jalur melewati Banjar Gamongan, melewati Pura Lempuyang Madya, terus naik ke Pura Telaga Sawang dan Pura Pasar Agung. Sementara dari Banjar Batu Gunung, Desa Bukit melewati Pura Angrekasari, melewati lokasi Tirta Suniamerta, Tirta Jagasatru, Tirta Manik Ambengan, Pura Penataran Silawana Hyangsari, Tirta Sudamala, Tirta Empul, Pura Windusari, Pura Pasar Agung (panyawangan) terus ke Lempuyang Luhur. Jalur terakhir melewati Banjar Jumenang, melewati Pura Penataran Kenusut, Pura Pasar Agung (penyawangan) dan naik ke Lempuyang Luhur. (bud)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/2/15/bd2.htm

Tuhan Itu Esa dan Berada di Mana-mana

Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana berada di sebelah kiri Balai Pesamuan atau di hulu atau di luanan dari Salu Panjang di Pura Penataran Agung Besakih. Kalau Balai Pesamuan simbol alam semesta tempat para dewa manifestasi Tuhan untuk menurunkan karunia kepada semua ciptaan-Nya, sedangkan Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana adalah simbol alam semesta atau Bhuwana Agung yang tunggal sebagai stana Tuhan Yang Maha Esa.

==========================================================

Dua pelinggih warisan arsitektur sakral di Pura Penataran Agung Besakih dapat dijadikan bahan renungan untuk memahami secuil rahasia Tuhan yang amat luas itu. Menurut pemahaman Weda, Tuhan itu esa, tetapi kemahakuasaan Tuhan itu tiada terbatas. Tidak mungkin manusia dapat memahami demikian luasnya kemahakuasaan Tuhan itu.

Adanya dewa-dewa itu tiada lain adalah upaya manusia yang telah berkualifikasi Maharesi untuk menyebutkan kemahakuasaan Tuhan secara terbatas. Kemahakuasaan Tuhan sebagai mahapencipta disebut Dewa Brahma, sebagai pelindung dan pemelihara disebut Dewa Wisnu, sebagai pemeralina disebut Dewa Siwa. Demikian seterusnya.

Tetapi, kemahakuasaan Tuhan bukanlah sebatas itu. Tuhan itu ada di mana-mana yang disebut vyapi vyapaka nirvikara. Artinya, Tuhan ada di mana-mana di tempat yang amat kecil maupun di tempat yang mahaluas sekalipun, tetapi Tuhan selalu mengatasi semuanya itu. Misalnya Tuhan berada di tempat yang busuk, tetapi tidak terpengaruh oleh busuknya tempat tersebut. Demikian juga Tuhan berada di tempat yang harum, tetapi Tuhan tidak terpangaruh oleh harumnya tempat tersebut.

Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana di Penataran Agung Besakih adalah sebagai simbol yang dapat memberikan umat Hindu pemahaman. Tuhan berada di seluruh alam semesta maupun di luar alam semesta. Apa makna dari perlunya pemahaman bahwa Tuhan berada di mana-mana itu.

Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana itu dapat dijadikan rujukan agar umat dapat mendayagunakan keyakinan bahwa Tuhan itu berada di mana-mana. Dapat berdaya guna untuk mengontrol dinamika manusia saat berpikir, berkata, dan berbuat. Kalau keyakinan ini kuat eksistensinya dalam diri umat maka keyakinan itu dapat berfungsi memperbaiki kualitas hidup manusia menuju kualitas yang semakin religius.

Sementara ini keyakinan bahwa Tuhan berada di mana-mana mungkin sebatas keyakinan tanpa didayagunakan lebih lanjut dalam membenahi kehidupan sehari-hari. Beragama bukan sekadar beragama secara formal semata. Beragama itu intinya percaya dan bakti pada Tuhan. Beragama harus dilakukan secara lebih sadar dan berencana, sehingga akan dapat lebih berdaya guna untuk mengatasi berbagai persoalan hidup di bumi ini.

Seperti kepercayaan pada Tuhan hendaknya didayagunakan lebih aktif membangun kesadaran diri. Pernyataan Mpu Kuturan yang menyatakan bahwa Bali adalah Padma Bhuwana. Pernyataan ini mengandung makna bahwa Bali sebagai Padma Bhuwana simbol stana Tuhan Yang Maha Esa.

Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana adalah lambang Padma Bhuwana dalam bentuk arsitektur sakral. Hal ini melambangkan bahwa Tuhan sebagai yang tersuci, tertinggi dan mahakuasa di alam ini. Karena Tuhan sebagai yang tersuci, tertinggi dan mahakuasa di alam ini sangat tidak tepatlah manusia terikat pada dunia ini.

Dunia ini hanyalah media ciptaan Tuhan. Pergunakanlah dunia ini sebagai sarana untuk mencapai kesucian Tuhan. Namun demikian sudah diingatkan di Yajurveda, LX. 1 : Pandanglah dunia ini dengan ketidakterikatan, karena yang langgeng abadi hanyalah Tuhan. Dunia berada pada hukum Tri Kona yaitu Utpati, Stiti dan Pralina.

Ikutilah dunia ini dengan pandangan Tri Kona tersebut. Kalau terikat pada dunia ini umat manusia akan didominasi oleh dinamika Utpati, Stithi dan Pralina itu secara negatif. Gelombang Tri Kona itu sesuatu yang pasti bagi semua ciptaan Tuhan. Manusia harus menerima dengan sadar bahwa semua ciptaan Tuhan itu tidak ada yang lepas dengan hukum Tri Kota itu.

Apa saja yang pernah lahir dan hidup, cepat atau lambat pasti akan mati juga. Semua berada dalam kungkungan ruang dan waktu. Ruang dan waktu ini pun ada di bawah kekuasaan Tri Kona, tidak ada yang langgeng. Suatu saat semua ruang dan waktu itu akan kena hukum Pralaya dari Tuhan.

Ajaran Weda mengajarkan agar manusia terus-menerus berupaya mencari yang langgeng yaitu kebenaran Tuhan Yang Maha Esa. Dengan pemahaman Tuhan itu berada di mana-mana, umat manusia semestinya meyakini bahwa dalam segala aspek kehidupannya Tuhan senantiasa menyertainya.

Karunia akan senantiasa dilimpahkan oleh Tuhan kalau dharma selalu sebagai landasan hidupnya. Derita pun akan dilimpahkan kalau adharma yang dilakukan dalam hidup ini. Sikap hidup yang demikian itu akan menjadi suatu nilai yang utama dalam hidup ini.

Nilai yang diwujudkan adalah nilai menuju kehidupan yang religius. Nilai religius itu adalah sesuatu yang padat makna dengan mendayagunakan unsur rohani sebagai landasan membina kehidupan duniawi. Ini artinya unsur niskala sebagai jiwa kehidupan sekala. Keseimbangan mengaplikasikan niskala dengan sekala sebagai konsep hidup yang didambakan dalam kehidupan ini.

Keyakinan pada keberadaan Tuhan di mana-mana telah menjadi dasar kehidupan sehari-hari, maka karunia pun pasti akan dicapai. Tuhan dalam melimpahkan karunianya melalui dewa-dewa sebagai manifestasinya. Hal ini disimbolkan dalam Balai Pesamuan. Lewat Balai Pesamuanlah disimbolkan Tuhan akan menemui umatnya mencurahkan karunianya sesuai dengan kuantitas, kualitas, kontinuitas dan kapasitas sradha dan bakti umat pada Tuhan.

Tuhan Maha Adil akan selalu melimpahkan karunianya sesuai dengan kadar sradha dan baktinya. Tidak mungkin orang yang berbuat adharma mendapat karunia mulia dalam hidupnya. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/1/31/bd1.htm

Pelinggih Ider Bhuwana

Isa vasam idam sarvam.
yat
kim ca jagatyam jagat.
tena
tyaktena bhunjitha
ma grdhah kasya svid dhanam
(Yajurveda, LX.)

Maksudnya:
Tuhan
Yang Maha Esa itu berstana di seluruh alam semesta baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak yang memiliki kehidupan. Tidak ada bagian alam tanpa kehadiran Tuhan Yang Maha Esa itu. Pandanglah dunia ini dengan ketidakterikatan. Dan, jangan sama sekali menginginkan kekayaan milik orang lain.

Tempat pemujaan umat Hindu yang disebut pura itu adalah simbol alam semesta atau Bhuwana Agung. Karena pada hakikatnya stana Tuhan itu adalah alam semesta itu sendiri. Weda juga menyatakan bahwa Tuhan seperempat maha ada di alam ini dan tiga perempatnya di luar alam semesta.

Di belakang bangunan suci (pelinggih) Padma Tiga pada Mandala kedua Pura Penataran Agung Besakih terdapat sebuah bangunan berupa balai yang dibangun di atas alas yang cukup tinggi sejajar dengan Pelinggih Padma Tiga. Bangunan suci berupa balai tersebut bernama Balai Pesamuan. Di sebelah kiri Balai Pesamuan terdapat Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana. Dua pelinggih ini memiliki hubungan yang sangat erat dalam menggambarkan keberadaan Kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa di alam semesta ini.

Sebagaimana telah diuraikan dalam beberapa tulisan bahwa Pura Besakih sebagai lambang alam semesta stana Tuhan yang Maha Esa. Berbagai dimensi alam semesta (Bhuwana Agung) atau makrokosmos divisualisasikan dalam berbagai simbol dalam berbagai bentuk arsitektur sakral di Pura Besakih. Seperti ada kelompok Pelinggih Soring Ambal-ambal yang menggambarkan alam bawah yang disebut Sapta Patala yaitu tujuh lapisan bumi ke bawah.

Sementara adanya kelompok Pelinggih Luhuring Ambal-ambal sebagai pelinggih yang menggambarkan alam atas yang disebut Sapta Loka yaitu tujuh lapisan langit sorga. Titik sentral Pelinggih Soring Ambal-ambal ada di Merajan Selonding dekat Pura Ulun Kulkul, tempat pemujaan Tuhan sebagai Mahadewa yang ada di bagian barat Pura Penataran Agung Besakih. Sedangkan titik sentral kelompok pelinggih di Luhuring Ambal-ambal ada di Pelinggih Kehen Meru Tumpang Lima di Mandala ketiga Pura Penataran Agung Besakih.

Pelinggih Soring Ambal-ambal dan Luhuring Ambal-ambal itu melukiskan bahwa Tuhan itu berada dan dipuja di kedua lapisan alam semesta itu. Di Balai Pesamuan itu sebagai tempat upacara yang melukiskan berkumpul dan bersatunya semua dewa-dewa manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang dipuja di kompleks Pura Besakih, baik yang ada di Pelinggih Soring Ambal-ambal maupun di Pelinggih Luhuring Ambal-ambal. Upacara yang melukiskan semua dewa manifestasi Tuhan berkumpul di Balai Pesamuan itu umumnya dilakukan saat ada upacara Batara Turun Kabeh. Kata Batara Turun Kabeh artinya semua dewa manifestasi Tuhan yang disebut Batara itu urun dan bersatu untuk memberikan anugerah kepada umatnya yang berbakti pada Tuhan. Upacara Batara Turun Kabeh ini dilakukan setiap tahun pada Sasih Kedasa.

Saat dilangsungkan upacara Batara Turun Kabeh itu simbol-simbol sakral yang utama yang ada di semua kompleks Pura Besakih itu diusung secara ritual dan distanakan di Balai Pesamuan. Hal ini menggambarkan bahwa semua para dewa bersatu untuk memberikan karunia kepada umat sesuai dengan kadar karma dan baktinya.

Hal ini sesungguhnya sangat menarik untuk dipahami secara teologi Hindu. Agama Hindu mengajarkan bahwa Tuhan itu Esa tetapi kemahakuasaan Tuhan itu tiada terbatas. Manusia tidak mungkin dapat memahami dan mampu memuja Tuhan dengan semua kemahakuasaan-Nya.

Dalam ajaran Hindu kemahakuasaan Tuhan itu disimbolkan ada di seluruh penjuru. Artinya ada di delapan penjuru angin dan tiga di tengah yaitu bawah tengah dan atas. Tidak ada penjuru alam ini tanpa kehadiran Tuhan. Seluruh penjuru itu dilambangkan menjadi sebelas penjuru. Seluruh penjuru itu kalau dihubungkan dengan suatu garis akan melingkar bulat. Karena itu, Bhuwana Agung itu dilukiskan sebagai Pelinggih Ider Bhuwana stana Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu kini di Balai Pesamuan ada Pelinggih Ider Bhuwana di Penataran Agung Besakih.

Konsep pemujaan Tuhan menurut Hindu adalah mengaitkan pemujaan itu untuk mencerahkan kehidupan pemujanya. Kalau ia sebagai petani sawah Tuhan dipuja sebagai Dewi Sri. Kalau pedagang di pasar memuja Tuhan sebagai Dewi Laksmi yaitu Tuhan sebagai dewa keberuntungan. Dewi Sri, Tuhan sebagai dewa kesuburan pertanian.

Demikian juga Tuhan dipuja di semua penjuru alam semesta. Kalau Tuhan itu dipuja di sembilan penjuru disebut Dewata Nawa Sangga. Kalau Tuhan itu dipuja di sebelas penjuru maka Tuhan itu dipuja di sebelas penjuru maka Tuhan itu disebut Eka Dasa Dewata. Jadinya sinar kemahakuasaan Tuhan itu ada di mana-mana.

Dalam konsep Siwa Sidhanta, Tuhan yang dipuja untuk melindungi arah timur disebut sebagai Dewa Iswara. Sebagai pelindung arah barat Tuhan dipuja sebagai Dewa Mahadewa. Di arah utara dipuja sebagai Dewa Wisnu dan di selatan Tuhan dipuja sebagai Dewa Brahma. Di tengah dipuja sebagai Dewa Siwa. Demikian seterusnya.

Sesungguhnya Tuhan itu tetap esa dan mahakuasa menurut ajaran agama Hindu. Di seluruh kompleks Pura Besakih, Tuhan dipuja sebagai dewa-dewa sinar kemahakuasaan-Nya. Seluruh dewa manifestasi Tuhan itulah yang dipuja di Balai Pesamuan saat ada upacara Batara Turun Kabeh. Hal ini sebagai suatu upacara untuk mengingatkan umat Hindu agar dalam segala aspeknya kehidupannya selalu berpedoman pada penguatan spiritual yang bersumber dari ajaran agama sabda Tuhan.

Di Balai Pesamuan itulah media untuk menyeimbangkan wawasan hidup yang utuh dan tidak mendikotomikan perbedaan berbagai aspek kehidupan. Misalnya ada orang yang hanya mementingkan sembahyang saja dalam beragama. Tetapi tidak melakukan perbuatan jujur dan baik dalam berbisnis. Justru saat sembahyang mereka mohon kepada Tuhan semoga permainan busuknya dalam bisnis atau politik misalnya tidak diketahui orang lain.

Dewa-dewa yang distanakan di seluruh kompleks Pura Besakih mencerminkan semua aspek kehidupan untuk dimohonkan peningkatan menuju kesucian. Hal inilah yang disatukan di Balai Pesamuan saat ada upacara Batara Turun Kabeh. Balai Pesamuan juga sebagai simbol Ida Batara Tedun menjumpai umatnya. Melakukan pesamuan agar sweca yang dianugerahkan sesuai dengan baktinya umat dan masineb untuk kembali ke keluhuring akasa yaitu alam Brahman. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/1/31/bd2.htm