kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Pura di Badung’ Category

SALAH satu pura berstatus Sad Kahyangan di Kabupaten Badung adalah Pura Luhur Uluwatu. Pura yang berdiri di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan ini, dalam pengider-ider Bali berada di arah barat daya, tempat memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Batara Rudra.

Pura ini terletak di ujung barat daya Pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut. Berdasarkan beberapa sumber, Pura Uluwatu pada mulanya digunakan sebagai tempat memuja seorang pendeta suci abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya yaitu Dang Hyang Nirartha yang datang ke Bali di akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang dinamakan moksah atau ngeluhur di Pura ini.

Pura Uluwatu terletak pada ketinggian sekitar 97 meter dari permukaan laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut Alas Kekeran yang dihuni banyak kera, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura. Untuk bisa sampai di utama mandala Pura, umat mesti melewati sejumlah anak tangga. Di utama Pura ini terdapat prasada dan palinggih Meru Tumpang Tiga. Di sana juga terdapat palinggih Dalem Bejurit. Di situ terdapat prasada, tempat moksahnya Danghyang Dwijendra, berdampingan dengan monumen berupa dua buah perahu yang dipakai berlayar sewaktu datang ke Pulau Bali.

Pura Luhur Uluwatu juga banyak dikunjungi turis mancanegara. Piodalan di Pura Uluwatu jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia.

Dosen IHDN Denpasar Drs. Ketut Wiana, M.Ag. mengatakan berdasarkan Lontar Kusuma Dewa, Pura Uluwatu didirikan atas anjuran Mpu Kuturan sekitar abad ke-11. Dalam lontar itu disebutkan, Pura Uluwatu salah satu dari enam Pura Sad Kahyangan di Bali.

Lontar Kusuma Dewa tersebut dibuat sekitar tahun 1005 Masehi atau tahun Saka 927. Hal itu didasarkan pada adanya pintu masuk Pura Luhur Uluwatu menggunakan Candi Paduraksa bersayap. Candi tersebut sama dengan candi masuk di Pura Sakenan. Di candi Pura Sakenan tersebut terdapat Candra Sangkala dalam bentuk Resi Apit Lawang yaitu dua orang pandita berada di sebelah-menyebelah pintu masuk. Hal ini menunjukkan angka tahun yaitu 927 Saka.

Lanjut Wiana, dalam Lontar Padma Bhuwana juga disebutkan tentang pendirian Pura Luhur Uluwatu sebagai Pura Padma Bhuwana oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11. Candi bersayap seperti di Pura Luhur Uluwatu terdapat juga di Lamongan, Jatim. Pura Luhur Uluwatu berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewa Rudra dan terletak di barat daya Pulau Bali. Pura ini didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka dan Padma Bhuwana.

Sebagai pura yang didirikan dengan konsepsi Sad Winayaka, Pura Luhur Uluwatu sebagai salah satu dari Pura Sad Kahyangan untuk melestarikan Sad Kertih (Atma Kertih, Samudra Kertih, Danu Kertih, Wana Kertih, Jagat Kertih dan Jana Kertih). Sedangkan sebagai pura yang didirikan berdasarkan konsep Padma Bhuwana, Pura Luhur Uluwatu didirikan sebagai aspek Tuhan yang menguasai arah barat daya. Pemujaan Dewa Siwa Rudra adalah pemujaan Tuhan dalam memberi energi kepada ciptaan-Nya.

Di Pura Luhur Uluwatu, terdapat Meru Tumpang Tiga. Di sebelah kanan dari Jaba Pura Luhur Uluwatu ada Pura Dalem Jurit sebagai pengembangan Pura Luhur Uluwatu pada zaman kedatangan Dang Hyang Dwijendra pada abad ke-16 Masehi.

Pura Luhur Uluwatu juga memiliki beberapa pura Prasanak atau Jajar Kemiri. Pura Prasanak tersebut antara lain Pura Parerepan di Desa Pecatu, Pura Dalem Kulat, Pura Karang Boma, Pura Dalem Selonding, Pura Pangeleburan, Pura Batu Metandal dan Pura Goa Tengah. Semua Pura Prasanak tersebut berada di sekitar wilayah Pura Luhur Uluwatu di Desa Pecatu.

Mulai Pura Pekendungan

Wakil Rektor I Unhi Drs. I.B. Dharmika, M.A. mengatakan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha melakukan tirtayatra dan darmayatra diawali ketika beliau berada di Pura Pakendungan, Tabanan. Dalam perjalanan suci ini beliau juga melakukan Darmayatra memberikan darmawacana kepada warga pesisir, para nelayan, warga subak tentang hal-hal praktis yang telah mereka lakukan sehari-hari guna meningkatkan kualitas kehidupan jasmaniah dan spiritualnya. Akhirnya beliau tiba di sebuah tempat di ketinggian yang kemudian disebut Pura Luhur Uluwatu. Di tempat ini beliau kemudian melakukan tapa, yoga, semadhi dan melalui bisikan jiwa yang paling dalam, bahwa tempat ini sangat cocok serta mengandung kekuatan-kekuatan kesucian untuk melepaskan diri, melepaskan jiwa atma untuk menuju alam Ciwa.

Tempat itu adalah betul-betul tempat yang suci untuk ngeluhur melepaskan jiwa menuju alam sunya. Batu karang yang putih bagaikan seorang sadhaka (wiku), Sadhaka artinya ia yang melaksanakan sadhana. Sadhana dalam kitab Wrehaspatitatwa disebut sebagai jalan untuk menuju Sang Hyang Wisesa Paramartha atau jalan kelepasan.

Lewat Kidung Rasmi Sancaya, karangan Dang Hyang Nirartha ada disebutkan demikian: Sebagai seorang kawi yang belum mendapat kasih Dewi Keindahan, maka saya pun berkeliling menelusuri pantai senantiasa mendambakan kasih-Nya; setelah menuruti belak-belokkan pantai yang sepi, saya tiba di bukit kapur, juga jurang-jurangnya yang dalam, kemudian kembali menuju puncak bukit. Di sana saya mengaso, di bawah pohon kamalaka, sambil menulis karya sastra, menikmati keindahan samudra yang ombaknya senantiasa membentur tebing, mengeluarkan asap putih, bagaikan asap tungku pemujaan.

Beliau kemudian menetap beberapa hari di daerah ini, melakukan aktivitas-aktivitas kesucian, menata tempat ini dan mulai membangun tempat suci. Di sini beliau mendapatkan wahyu, pikiran-pikiran jernih untuk mencapai tujuan hidup moksahtam menyatunya atman dengan Brahmam. (lun)

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=41423

Pura Dang Kahyangan Gunung PayungSumber Kehidupan dan Kemakmuran

Menemukan mata air di tengah perbukitan gersang adalah karunia yang tiada tara. Demikian pula dengan pencarian rohani seseorang akan Sang Pencipta.

Pura Dang Kahyangan Gunung Payung terletak di daerah perbukitan pesisir pantai selatan Pulau Bali. Atau kurang lebih 30 kilometer arah selatan Kota Denpasar. Pura ini berada di wilayah Desa Adat Kutuh Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung.

Lokasi pura yang berada di daerah perbukitan membuat Pura Dang Kahyangan Gunung Payung disebut pula sebagai Pura Bukit Payung. Bagaimana sebenarnya sejarah Pura Bukit Payung itu? Makna apa yang terkandung di balik berdirinya pura tersebut?

======================================================

KATA ”Payung” yang diberikan untuk nama bangunan suci ini bukanlah diambil dari lokasi perbukitan yang menyerupai payung. Akan tetapi, pemberian nama ini sangat terkait dengan perjalanan suci dari Maharesi suci Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra.

Berdasarkan pada lontar perjalanan suci (dharmayatra) Maharesi Danghyang Dwijendra, disebutkan setelah Maharesi datang ke Pura Luhur Uluwatu dan memberikan nasihat kepada masyarakat sekitar untuk memanfaatkan dan menjaganya, Danghyang Nirartha kemudian melakukan perjalanan ke arah timur melalui daerah berbukit.

Ketika tiba di sebuah daerah yang sangat indah dan memiliki vibrasi spiritual yang kuat, tepatnya di sebelah barat daya Bualu (sekarang Desa Adat Kutuh), Danghyang Nirartha bersama dengan para pengiringnya beristirahat untuk melepas lelah dan menikmati indahnya pemandangan yang ada di tempat Beliau berpijak tersebut.

Mendengar kedatangan Maharesi, masyarakat sekitar pun datang berbondong-bondong mengaturkan sembah dan mohon tuntunan agama kepada beliau. Setelah mendengarkan keluh-kesah warga dan memberikan tuntunan kepada masyarakat sekitar, maka Danghyang Nirartha berusaha untuk memenuhi permintaan warga.

Danghyang Nirartha lantas menancapkan gagang payung yang dibawanya. Berkat kekuatan spiritual yang dimiliki, secara tiba-tiba menyemburlah air suci dari tancapan gagang payungnya tersebut.

Air suci dan hening tersebut selanjutnya dimanfaatkan oleh beliau, para pengiring dan masyarakat sekitar.

Sebelum Maharesi meninggalkan desa tersebut untuk melanjutkan perjalanan suci kembali, beliau memberikan nasihat kepada masyarakat sekitar agar senantiasa menjaga air amerta (air kehidupan) yang keluar dari tancapan payung tersebut. Dan oleh masyarakat sekitar, di lokasi air suci itu didirikan sebuah pura yang kini dikenal dengan Pura Gunung Payung.

Sumber air yang berbentuk bulakan kecil sampai saat ini tetap terawat dan senantiasa tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang melanda. Air dalam bulakan inilah yang dalam kesehariannya dimanfaatkan sebagai tirta yang diberikan kepada setiap umat yang mengaturkan bakti ke Pura Dang Kahyangan Bukit Payung.

Bendesa Adat Kutuh, Kuta Selatan Wayan Litra menuturkan, pura ini diempon oleh krama Desa Adat Kutuh. Dipercaya oleh masyarakat di sana, Pura Dang Kahyangan Bukit Payung merupakan sumber kehidupan atau sumber kemakmuran krama Kutuh.

Meskipun di-empon krama Desa Adat Kutuh, fakta turun-temurun menunjukkan bahwa pura ini juga menjadi tempat pemujaan umat Hindu dari luar Desa Adat Kutuh.

Dipercaya, di pura ini berstana manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa yakni Batari Sri dan Batari Danu yang dicirikan dengan gedong linggih. Pamedek yang tangkil ke pura khususnya saat piodalan datang dari segala penjuru guna nunas kerahayuan kepada Beliau.

Oleh karena itu, berdasarkan pada fakta pustaka yang ada, maka sejak tahun 2005 lalu, keberadaan Pura Gunung Payung telah diakui dan disetujui oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Badung dan Kantor Agama Kabupaten Badung sebagai salah satu dari enam Pura Dang Kahyangan yang ada di Kabupaten Badung.

Kondisi fisik Pura Dang Kahyangan Gunung Payung beberapa waktu lalu cukup memprihatinkan. Sejumlah kerusakan di pelinggih dan bangunan pura terjadi. Selain faktor usia dan alam, kondisi ini juga tidak lepas dari keterbatasan finansial krama pangempon untuk melakukan perawatan maksimal.

Pangempon pun berembuk, berinisiatif untuk merehab dan menata Pura Dang Kahyangan Gunung Payung dengan tujuan untuk senantiasa menjaga kesucian dan kesakralan pura dan sekitarnya. Selain itu pula, untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada umat yang melakukan persembahyangan.

Di balik keterbatasan yang terjadi selama ini, maka secara bertahap krama pangempon yang berjumlah 600 KK memulai pemugaran dan penataan pura pada bulan Oktober 2007. Pemugaran menelan dana sekitar Rp 1,5 milyar, di mana dana yang digunakan berasal dari pemerintah, para donatur dan swadaya masyarakat. Pemugaran pelinggih tersebut diselesaikan sebelum piodalan di pura ini yang jatuh pada purnamaning kaulu sasih kaulu atau jatuh sekitar bulan Januari 2008 lalu.

Saat ini, demikian pula sebelumnya, krama Desa Kutuh khususnya selalu berupaya merawat pura yang punya nilai historis ini. Pangempon pura secara berkelanjutan setiap tiga bulan sekali mengadakan pembersihan di pura. Sementara untuk sehari-hari, ada beberapa jero mangku yang siap ngaturang ayah guna menjaga kesucian pura atau untuk melayani umat yang tangkil ke pura ini. (ded)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/7/bd1.htm

Pura Gunung Payung dan Danghyang Dwijendra

Yan ring pandita ksama, mudita, santosa, upeksa
ris
mardawa, sang sastrajnya, wuwusnira amrta
pada
nyangde satusteng praja. (Nitisastra.I.6).

Maksudnya:
Ciri
Pandita adalah ksama (pemaaf), mudita (berbudhi luhur), santosa (sabar), upeksa (amat teliti dan hati-hati), mardawa (lemah lembut), sastrajnya (berpengetahuan suci), wuwusnira amrta (ucapannya bagaikan air penghidupan) yang membuat senangnya banyak orang.

PADA zaman dahulu perjalanan suci seorang pandita ke tengah-tengah umat untuk melakukan swadharma-nya sebagai orang suci. Salah satu swadharma pandita adalah melakukan perjalanan untuk menyebarkan pendidikan kerohanian kepada umat. Dalam Sarasamuscaya 40 dinyatakan: panadahan upadesa. Artinya menyebarkan pendidikan kerohanian. Karena hakikat hidup adalah rohani sebagai pengendali kehidupan jasmani. Seperti dinyatakan dalam Katha Upanishad bahwa badan jasmani ini diumpamakan sebagai badannya kereta, indria diumpamakan bagaikan kuda kereta.

Pikiran bagaikan tali kekang kereta, kesadaran Budhi bagaikan kusir kereta. Sedangkan Atman diumpamakan bagaikan pemilik kereta. Ini artinya yang menentukan ke mana gerak kereta diarahkan adalah atas kehendak pemilik kereta. Selanjutnya kusir kereta dengan tali kekangnya yang mengarahkan Indria dan badan kereta. Pikiran Budhi dan Atman adalah unsur-unsur rohani dari pada manusia. Unsur-unsur rohani inilah yang wajib dikuatkan eksistensinya dengan berguru pada pandita. Karena itu pandita disebut Adi Guru Loka. Artinya guru yang utama atau guru yang terkemuka.

Sebagai Adi Guru Loka pandita itu tidaklah mereka yang hanya diupacarai sebagai pandita dan berbusana pandita melalui proses diksa. Mereka yang dinyatakan sebagai pandita hendaknya mereka yang sudah memiliki ciri-ciri seperti yang dinyatakan dalam Kekawin Nitisastra I.6 yang seperti kutipan di atas. Umat yang terpanggil untuk menjadi pandita seyogianya melalui proses pendidikan dan latihan keagamaan Hindu yang ketat.

Pendidikan dan latihan itu dapat dilakukan dalam bentuk pendidikan dan latihan yang bersifat tradisional maupun dalam bentuk pendidikan modern. Setelah adanya berbagai kemajuan di mana telah dapat diwujudkan sifat dan sikap hidup seperti apa yang dinyatakan dalam Nitisastra I.6 tersebut barulah upacara diksa dan busana pandita dikenakan.

Dengan demikian empat fungsi pandita seperti dinyatakan dalam Sarasamuscaya 40 akan lebih mudah dilakukan. Empat fungsi pandita tersebut adalah Sang Satyawadi artinya beliau yang senantiasa berbicara berdasarkan kebenaran Veda. Sang Apta artinya beliau yang dapat dipercaya oleh umat. Sang Patirthan artinya beliau yang dijadikan tempat mohon penyucian diri oleh umat dan sang Panadahan Upadesa.

Nampaknya Danghyang Dwijendra sebagai pandita telah mengamalkan petunjuk-petunjuk sastra agama Hindu tersebut sehingga beliau disebutkan Pedanda Sakti Wawu Rauh. Kata Sakti menurut Wrehaspati Tattwa 14 adalah memiliki banyak ilmu dan banyak kerja berdasarkan ilmu tersebut. Tidaklah seperti pemahaman kini di mana sakti itu dipahami mereka yang memiliki magic power yang berkonotasi negatif. Ilmu yang dimiliki itu adalah ilmu yang disebut Para Widya dan Apara Widya. Para Widya itu adalah ilmu tentang kerohanian. Sedangkan Apara Widya adalah ilmu tentang keberadaan dan pengelola dunia ini dengan baik dan benar. Dua ilmu itulah yang dibutuhkan oleh kehidupan umat manusia di dunia ini.

Demikianlah perjalanan suci Danghyang Dwijendra di Bali mendatangi umat dan memberikan kesejukan pada umat. Saat beliau datang di daerah Kuta Selatan untuk mengakhiri keberadaan beliau di dunia sekala menuju dunia niskala beliau sempat datang ke Desa Kutuh di Kuta Selatan di suatu bukit dekat pantai selatan Bali. Di tempat itu beliau menjadi sang Patirthan artinya beliau memberi prayascita atau penyucian pada umat yang datang memohon penyucian diri pada sang Pandita. Di samping itu beliau juga melakukan penadahan Upadesa, artinya memberi pendidikan kerokhanian kepada umat.

Karena kesaktian beliau itu tangkai payung yang beliau tancapkan di tanah perbukitan yang kering itu dapat menimbulkan sumur dengan air yang tiada pernah kering sampai saat ini. Di tempat inilah umat mendirikan pura yang kini disebut Pura Gunung Payung. Itu artinya di pura ini atas kedatangan Danghyang Dwijendra terdapat vibrasi kesucian yang wajib dipelihara oleh generasi selanjutnya.

Danghyang Dwijendra diyakini mencapai dunia niskala dengan moksha di Pura Luhur Uluwatu di Desa Pecatu yang tidak jauh dari Pura Gunung Payung. Pura Luhur Uluwatu adalah satu dari Pura Kahyangan Jagat sebagai pemujaan Tuhan dalam manivestasinya sebagai Dewa Rudra. Pura Luhur Uluwatu didirikan atas anjuran Mpu Kuturan pada abad ke-11 Masehi. Pendirian Pura Luhur Uluwatu dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa dengan landasan konsepsi Sad Winayaka.

Pura Luhur Uluwatu ini memiliki banyak pura prasanak atau pura jajar kemiri. Ini artinya di areal perbukitan Kuta Selatan ini sejak zaman dahulu sudah terpatri vibrasi kesucian yang dipelihara dengan adanya banyak Pura Prasanak dari Pura Luhur Uluwatu. Di antaranya adalah Pura Gunung Payung ini. Karena itu sebagai generasi penerus seyogianya dalam menata kawasan di areal Pura Luhur Uluwatu termasuk di areal Pura Gunung Payung seyogianya memperhatikan nilai-nilai spiritual yang sudah terbukti memberikan vibrasi kesucian pada areal tersebut bersinergi dengan areal suci lainnya di seluruh Bali.

Untuk memelihara vibrasi kesucian di kawasan bukit Kuta Selatan ini semua pihak hendaknya bertimbang cermat dan seimbang dengan konsep Tri Semaya. Konsep Tri Semaya itu adalah Atita, Nagata dan Wartamana. Apa pun yang dilakukan saat ini (Wartamana) hendaknya terlebih dahulu menelaah dengan cermat di masa lalu (Atita) dan dengan berpikir panjang apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang.

Dengan demikian kita tidak meninggalkan begitu saja nilai-nilai luhur di masa lalu yang susah payah dikerjakan oleh para pendahulu kita. Demikian juga hendaknya kita berusaha melihat ke depan agar jangan sampai kita meninggalkan persoalan-persoalan yang membuat generasi mendatang penuh beban derita karena kesalahan kita saat ini.

Dengan konsep Atita, Nagata dan Wartamana inilah kita akan bisa hidup sejahtera dengan berkelanjutan dari generasi ke generasi selanjutnya sepanjang masa. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/7/bd2.htm

Pura Luhur Uluwatu
Tempat Pemujaan Dewa Rudra

Pura Luhur Uluwatu merupakan salah satu dari enam buah pura yang berstatus Sad Kahyangan Jagat. Pura ini berdiri megah di ujung barat daya Pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut.

Pura ini berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung — dari Denpasar ke selatan sekitar 31 km.

Pura Uluwatu terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.

Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan. Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalan-nya. Piodalan di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan dan Pura Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia setiap 210 hari. Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu adalah Dewa Rudra.

Bagaimana sejarah berdirinya pura ini?

Untuk bisa sampai pada jabaan pura, kita mesti menaiki anak tangga. Pada jabaan pura terdapat bangunan sedahan pengapit, bale kulkul, bale murda dan bale sakenem. Dari jabaan menuju jaba tengah kita melewati candi bentar berbentuk sayap burung yang melengkung. Untuk mencapai jeroan pura, kita melewati candi kurung yang memakai dwarapala yang berbentuk arca Ganesha. Pada utama mandala pura terdapat prasada dan palinggih berupa Meru Tumpang Tiga, palinggih tajuk, piasan catur pandaka. Pada bagian kiri dari jabaan Pura Luhur Uluwatu terdapat Pura Dalem Jurit (Bejurit) terdapat antara lain prasada, tempat moksanya Danghyang Dwijendra berdampingan dengan monumen berupa dua buah perahu yang dipakai berlayar sewaktu datang ke Pulau Bali.

Bangunan lain di Pura Dalem Jurit adalah gedong tumpang dua, paibon, sedahan pengapit dan bale asta rsi. Di sekitar lokasi Pura Luhur Uluwatu juga dihuni kera

Sejarah Luhur Uluwatu

Dalam beberapa sumber disebutkan, sekitar tahun 1489 Masehi datanglah ke Pulau Bali seorang purohita, sastrawan dan rohaniwan bernama Danghyang Dwijendra. Danghyang Dwijendra adalah seorang pendeta Hindu, kelahiran Kediri, Jawa Timur.

Danghyang Dwijendra pada waktu walaka bernama Danghyang Nirartha. Beliau menikahi seorang putri di Daha, Jawa Timur. Di tempat itu pula beliau berguru dan di-diksa oleh mertuanya. Danghyang Nirartha dianugerahi bhiseka kawikon dengan nama Danghyang Dwijendra.

Setelah di-diksa, Danghyang Dwijendra diberi tugas melaksanakan dharmayatra sebagai salah satu syarat kawikon. Dharmayatra ini harus dilaksanakan di Pulau Bali, dengan tambahan tugas yang sangat berat dari mertuanya yaitu menata kehidupan adat dan agama khususnya di Pulau Bali. Bila dianggap perlu dharmayatra itu dapat diteruskan ke Pulau Sasak dan Sumbawa.

Danghyang Dwijendra datang ke Pulau Bali, pertama kali menginjakkan kakinya di pinggiran pantai barat daya daerah Jembrana untuk sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan dharmayatra. Di tempat inilah Danghyang Dwijendra meninggalkan pemutik (ada juga menyebut pengutik) dengan tangkai (pati) kayu ancak. Pati kayu ancak itu ternyata hidup dan tumbuh subur menjadi pohon ancak. Sampai sekarang daun kayu ancak dipergunakan sebagai kelengkapan banten di Bali. Sebagai peringatan dan penghormatan terhadap beliau, dibangunlah sebuah pura yang diberi nama Purancak.

Setelah mengadakan dharmayatra ke Pulau Sasak dan Sumbawa, Danghyang Dwijendra menuju barat daya ujung selatan Pulau Bali, yaitu pada daerah gersang, penuh batu yang disebut daerah bebukitan.

Setelah beberapa saat tinggal di sana, beliau merasa mendapat panggilan dari Hyang Pencipta untuk segera kembali amoring acintia parama moksha. Di tempat inilah Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh teringat (icang eling) dengan samaya (janji) dirinya untuk kembali ke asal-Nya. Itulah sebabnya tempat kejadian ini disebut Cangeling dan lambat laun menjadi Cengiling sampai sekarang.

Oleh karena itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh ngulati (mencari) tempat yang dianggap aman dan tepat untuk melakukan parama moksha. Oleh karena dianggap tidak memenuhi syarat, beliau berpindah lagi ke lokasi lain. Di tempat ini, kemudian dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Kulat. Nama itu berasal dari kata ngulati. Pura itu berlokasi di Desa Pecatu.

Sambil berjalan untuk mendapatkan lokasi baru yang dianggap memenuhi syarat untuk parama moksha, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh sangat sedih dan menangis dalam batinnya. Mengapa? Oleh karena beliau merasa belum rela untuk meninggalkan dunia sekala ini karena swadharmanya belum dirasakan tuntas, yaitu menata kehidupan agama Hindu di daerah Sasak dan Sumbawa. Di tempat beliau mengangis ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Ngis (asal dari kata tangis). Pura Ngis ini berlokasi di Banjar Tengah Desa Adat Pecatu.

Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh belum juga menemukan tempat yang dianggap tepat untuk parama moksha. Beliau kemudian tiba di sebuah tempat yang penuh batu-batu besar. Beliau merasa hanya sendirian. Di tempat ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Batu Diyi. Juga di tempat ini Danghyang Dwijendra merasa kurang aman untuk parama moksha. Dengan perjalanan yang cukup melelahkan menahan lapar dan dahaga, akhirnya beliau tiba di daerah bebukitan yang selalu mendapat sinar matahari terik. Untuk memayungi diri, beliau mengambil sebidang daun kumbang dan berusaha mendapatkan sumber air minum. Setelah berkeliling tidak menemukan sumber air minum, akhirnya Danghyang Dwijendra menancapkan tongkatnya. Maka keluarlah air amertha. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang disebut Pura Payung dengan sumber mata air yang dipergunakan sarana tirtha sampai sekarang.

Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh kemudian beranjak lagi ke lokasi lain, untuk menghibur diri sebelum melaksanakan detik-detik kembali ke asal. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura bernama Pura Selonding yang berlokasi di Banjar Kangin Desa Adat Pecatu. Setelah puas menghibur diri, Danghyang Dwijendra merasa lelah. Maka beliau mencari tempat untuk istirahat. Saking lelahnya sampai-sampai beliau sirep (ketiduran). Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Parerepan (parerepan artinya pasirepan, tempat penginapan) yang berlokasi di Desa Pecatu.

Mendekati detik-detik akhir untuk parama moksha, Danghyang Dwijendra menyucikan diri dan mulat sarira terlebih dahulu. Di tempat ini sampai sekarang berdirilah sebuah pura yang disebut Pura Pangleburan yang berlokasi di Banjar Kauh Desa Adat Pecatu. Setelah menyucikan diri, beliau melanjutkan perjalanannya menuju lokasi ujung barat daya Pulau Bali. Tempat ini terdiri atas batu-batu tebing. Apabila diperhatikan dari bawah permukaan laut, kelihatan saling bertindih, berbentuk kepala bertengger di atas batu-batu tebing itu, dengan ketinggian antara 50-100 meter dari permukaan laut. Dengan demikian disebut Uluwatu. Ulu  artinya kepala dan watu berarti batu.

Sebelum Danghyang Dwijendra parama moksha, beliau memanggil juragan perahu yang pernah membawanya dari Sumbawa ke Pulau Bali. Juragan perahu itu bernama Ki Pacek Nambangan Perahu.  Sang Pandita minta tolong agar juragan perahu membawa pakaian dan tongkatnya kepada istri beliau yang keempat di Pasraman Griya Sakti Mas di Banjar Pule, Desa Mas, Ubud, Gianyar. Pakaian itu berupa jubah sutra berwarna hijau muda serta tongkat kayu. Setelah Ki Pacek Nambangan Perahu berangkat menuju Pasraman Danghyang Dwijendra di Mas, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh segera menuju sebuah batu besar di sebelah timur onggokan batu-batu bekas candi peninggalan Kerajaan Sri Wira Dalem Kesari. Di atas batu itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh beryoga mengranasika, laksana keris lepas saking urangka, hilang tanpa bekas, amoring acintia parama moksha.

Demikianlah, sejak Danghyang Dwijendra yang disebut juga Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh parama moksha atau disebut Ngaluhur Uluwatu, pura ini disebut Luhur Uluwatu.

(lun/beberapa sumber)

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2006/3/1/bd1.htm

Kekuatan Tri Murti Menyatu di Uluwatu

Tryambakam yajamahe
Sugandhim pusthivardhanam.

Urvarukam iva vandhanat
Mrtyor muksiya mamrtat.
(Rgveda VII.59.12).

Maksudnya: Ya Tuhan sebagai Rudra yang menyebarkan keharuman dan memperbanyak sumber-sumber makanan. Semoga beliau melepaskan kami seperti mentimun dari batangnya, dari kematian tetapi bukan dari keabadian.

MANTRAM ini disebut juga Mantra Mahamertyunjaya sebagai mantra memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra. Pura Luhur Uluwatu adalah tempat suci untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra. Dewa Rudra adalah perwujudan kemahakuasaan yang manunggal dari Dewa Tri Murti. Memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra untuk mendapatkan kekuatan agar manusia memiliki kemampuan hidup untuk mencipta, memelihara dan mempralina sesuatu yang sepatutnya diciptakan, dipelihara dan dipralina.

Pura Luhur Uluwatu berada di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung. Menurut Lontar Kusuma Dewa, pura ini didirikan atas anjuran Mpu Kuturan sekitar abad ke-11. Lontar Kusuma Dewa tersebut dibuat tahun 1005 Masehi atau tahun Saka 927. Hal ini didasarkan pada adanya pintu masuk di Pura Luhur Uluwatu menggunakan candi Paduraksa yang bersayap. Candi tersebut sama dengan candi masuk di Pura Sakenan di Pulau Serangan. Di Candi Pura Sakenan tersebut terdapat candra sangkala dalam bentuk resi apit lawang yaitu dua orang pandita berada di sebelah-menyebelah pintu masuk. Hal ini menunjukkan angka tahun yaitu 927 Saka. Ternyata tahun yang disebutkan dalam Lontar Kusuma Dewa sangat tepat.

Dalam Lontar Padma Bhuwana disebutkan juga tentang pendirian Pura Luhur Uluwatu sebagai Pura Padma Bhuwana oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11. Candi bersayap seperti di Pura Luhur Uluwatu terdapat juga di Lamongan Jatim.

Pura Luhur Uluwatu berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa Rudra atau Batara Agni Maha Jaya dan terletak di barat daya Pulau Bali. Pura ini didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka dan Padma Bhuwana. Sebagai pura yang didirikan dengan konsep Sad Winayaka, Pura Luhur Uluwatu sebagai salah satu dari Pura Sad Kahyangan. Sedangkan sebagai pura yang didirikan berdasarkan Konsepsi Padma Bhuwana, Pura Luhur Uluwatu didirikan sebagai aspek Tuhan yang menguasai arah barat daya dari Padma Bhuwana tersebut. Pemujaan Dewa Siwa Rudra adalah pemujaan Tuhan dalam memberi energi kepada ciptaan-Nya.

Ida Pedanda Punyatmaja Pidada pernah beberapa kali menjabat Ketua Parisada Hindu Dharma Pusat mengatakan bahwa di Pura Luhur Uluwatu memancar energi spiritual tiga dewa. Tiga dewa tersebut adalah Dewa Wisnu di Pura Batur Kintamani, Bangli. Dewa Siwa di Pura Besakih dan Dewa Brahma di Pura Andakasa, Karangasem. Letak pura Luhur Uluwatu memang juga berhadapan dengan ketiga pura tersebut. Kekuatan suci ketiga Dewa Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa) menyatu di Pura Luhur Uluwatu. Untuk menumbuhkan daya cipta yang kreatif pujalah Tuhan dalam menifestasinya sebagai Dewa Brahma. Untuk memiliki ketetapan hati memelihara sesuatu yang patut dipelihara pujalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. Untuk mendapatkan kekuatan untuk menghilangkan sesuatu yang patut dihilangkan pujalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa. Energi spiritual ketiga manifestasi Tuhan itu menyatu dalam Dewa Siwa Rudra yang dipuja di Pura Luhur Uluwatu.

Keberadaan Pura Luhur Uluwatu ini sejak abad XVI Masehi terkait dengan tirthayatra (perjalanan suci) dari seorang pandita Hindu dari Jawa Timur bernama Dang Hyang Dwijendra. Danghyang Dwijendra juga bernama Danghyang Nirartha, putra dari Mpu Penawasikan. Mpu Penawasikan putra dari Mpu Bahula. Mpu Bahula putra Mpu Beradah. Mpu Beradah adik dari Mpu Kuturan yang mendirikan Sad Kahyangan di Bali pada abad ke-11 Masehi, termasuk Pura Luhur Uluwatu.

Istilah mpu adalah gelar pandita dalam bahasa Jawa Kuna. Mpu artinya mengemban. Mungkin istilah mpu merupakan terjemahan kata Swami dalam bahasa Sansekerta. Swami dalam bahasa Sansekerta artinya orang yang telah menguasai atau mengemban kesucian. Dalam naskah kuna Lontar Dwijendra Tattwa disebutkan bahwa Danghyang Dwijendra mengadakan perjalanan suci dari Kerajan Daha di Jawa Timur terus menuju Pasuruan. Dari Pasuruan beliau mengadakan perjalanan ke Blambangan dan akhirnya terus menuju Pulau Bali. Dalam naskah Dwijendra Tattwa itu diceritakan beliau berkeliling di Bali. Sampai di Kerajaan Klungkung dengan Rajanya Dalem Waturenggong. Di kerajaan ini Danghyang Dwijendra dipercaya menjadi Purahita yaitu Pandita Istana mendampingi Dalem Watu Renggong menata kehidupan rakyat Bali. Terakhir setelah beliau menjelang kembali ke alam asal, Beliau datang ke Pura Sakenan. Dari Sakenan menuju Desa Kerobokan. Di sana beliau meninggalkan sebuah peti tempat sirih yang kemudian dikeramatkan di suatu pura. Pura tersebut sejak itu bernama Pura Peti Tenget artinya pura peti keramat. Dari Pura Peti Tenget itulah Beliau menuju Pura Luhur Uluwatu. Di Pura Luhur Uluwatu itulah beliau kembali ke asal, Sang Pencipta.

Pada waktu Danghyang Dwijendra datang ke Pura Luhur Uluwatu, Beliau menjumpai pura dengan cara pemujaan yang masih sederhana sebagaimana sistem pemujaan pada zaman Mpu Kuturan. Di pura tersebut terdapat tiga patung yaitu patung Brahma, patung Ratu Bagus Dalem Jurit dan patung Wisnu. Ratu Bagus Dalem Jurit itulah sesungguhnya Dewa Siwa Rudra.

Pemujaan energi Tri Murti dengan sarana patung ini merupakan peninggalan sistem pemujaan pada zaman Mpu Kuturan. Setelah Danghyang Dwijendra datang, sistem pemujaan pada Tuhan dengan sarana patung pelan-pelan diganti dengan sistem palinggih itu umumnya tidak memperlihatkan wujud patung tertentu. Hal ini nampaknya disesuaikan dengan perkembangan zaman. Agar ada penyesuaian dengan keadaan zaman maka sistem pemujaan dengan sarana patung atau Murti Puja lalu diganti dengan wujud palinggih. Setelah itu didirikan meru tingkat tiga di Pura Luhur Uluwatu sebagai pemujaan Dewa Siwa Rudra di mana aspek Brahma dan Wisnu juga terkait menjadi energi magis religius dalam pemujaan Siwa Rudra di meru tingkat tiga.

Meskipun kedatangan Danghyang Dwijendra memperluas tempat pemujaan di Pura Luhur Uluwatu bukan berarti apa yang telah ada harus ditinggalkan begitu saja. Di Pura Dalem Jurit inilah terdapat patung Brahma Wisnu dan Ratu Dalem Jurit yang merupakan tempat pemujaan Siwa Rudra ketika Mpu Kuturan mendirikan pura tersebut abad ke-11 Masehi. Dari Dalem Jurit kita terus masuk melalui candi bentar. Di jaba tengah ini kita menoleh ke kiri lagi ada sebuah bak air yang selalu berisi air meskipun musim kering sekalipun. Hal ini dianggap suatu keajaiban dari Pura Luhur Uluwatu. Sebab, wilayah Desa Pecatu adalah daerah perbukitan batu karang berkapur yang mengandalkan air hujan. Bak air itu dikeramatkan karena keajaibannya itu. Keperluan air untuk bahan tirtha cukup diambil dari bak air tersebut.

Dari jaba tengah ini kita terus masuk melalui candi kurung Paduraksa bersayap. Candi ini ada yang menduga dibuat pada abad ke-11 Masehi karena dihubungkan dengan candi kurung bersayap di Pura Sakenan. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa candi kurung bersayap seperti ini ada di Jawa Timur. Pada peninggalan purbakala di Sendang Duwur terdapat Candra Sengkala yaitu tanda tahun saka dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno sbb: Gunaning salira tirtha bayu, artinya menunjukkan angka tahun Saka 1483 atau tahun 1561 Masehi, karena candi kurung Paduraksa bersayap di Sendang Duwur sama dengan candi kurung Paduraksa di Pura Luhur Uluwatu. Dengan demikian nampaknya lebih tepat kalau dikatakan bahwa Candi Kurung Paduraksa di Pura Luhur Uluwatu dibuat pada abad XVI.

Setelah kita masuk di jeroan kita menjumpai bangunan yang paling pokok yaitu Meru Tingkat Tiga, tempat Pemujaan Dewa Siwa Rudra. Upacara piodalan di pura ini berlangsung setiap 210 hari, pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia.

Pura Luhur Uluwatu memiliki wilayah suci dalam radius kurang lebih lima kilometer. Wilayah ini disebut wilayah kekeran artinya wilayah yang suci tidak boleh ada bangunan apa pun. Dulu hanya hutan lindung dengan berbagai jenis binatangnya. Binatang yang masih tahan sampai sekarang hanyalah kera dan ini pun jumlahnya semakin sedikit. Konon dulu ada kijang, menjangan, kura-kura dan berbagai jenis burung. Di Bali memang Pura Kahyangan yang berstatus Kahyangan Jagat memiliki radius kesucian lima kilometer. Jarak antara Desa Pecatu dengan Pura Luhur Uluwatu memang lima kilometer.

Ada sejumlah pura yang menunjang kesucian Pura Luhur Uluwatu yaitu Pura Pererepan di Desa Adat Pecatu, Pura Dalem Kulat di Banjar Tengah, Desa Adat Pecatu, Pura Karang Boma di Banjar Tengah di atas sebuah bukit. Pura Dalem Selonding di Banjar Kanginan, Pura Dalem Pangeleburan di Banjar Kauh di tepi pantai Desa Adat Pecatu. Pura Goa Batu Metandal di pantai selatan termasuk wilayah Banjar Tengah Desa Adat Pecatu dan Pura Goa Tengah yang terletak di Banjar Tengah.

* Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2006/3/1/bd2.htm

Pura Sakenan

Posted by Adnyana under Pura di Badung

Pura Sakenan
Sekelumit Sejarah dan Cara Sembahyang

SEBAGAIMANA diketahui, dalam suasana merayakan hari raya Kuningan pada Sabtu (7/7) kemarin, Pura Sakenan di Serangan, Denpasar Selatan pun merayakan hari piodalan-nya. Sebagaimana hasil pasamuan atau rapat yang dilaksanakan sebelumnya, rangkaian piodalan di Pura Sakenan digelar pada 7-10 Juni ini.    Dari pasamuan itu pula disinggung perihal tata cara ngaturang bhakti atau bersembahyang di situ. Konon sampai saat ini masih terjadi kerancuan, umat bersembahyang di Pura Dalem Sakenan dan di Pura Susunan Agung, setelah itu langsung pulang.

————–

Pura Sakenan terletak di Pulau Serangan, Desa Serangan, Denpasar Selatan. Pura atau kahyangan ini dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha bersamaan dengan pembangunan beberapa pura lainnya pada zaman pemerintahan raja suami-istri Sri Masula Masuli.

Dalam lontar Usana Bali antara lain disebutkan, Mpu Kuturan juga disebut Mpu Rajakretha. Ia membangun pura berdasar konsep yang dibawanya dari Majapahit (Jawa Timur), diterapkan di Bali seluruhnya. Mengenai bertahtanya Sri Masula Masuli di Bali dapat diketahui dari prasasti Desa Sading, Mengwi, Badung. Prasasti itu bertahun Icaka 1172 atau 1250 M. Di situ disebut, Raja Sri Masula Masuli menjadi raja di Bali sejak tahun Icaka 1100 (1178 M). Raja ini memerintah selama 77 tahun. Artinya, ia mengakhiri pemerintahannya sekitar tahun Icaka 1177 (1255 M).

Ketika Danghyang Nirartha mengadakan perjalanan keliling Bali mengunjungi tempat-tempat suci, ia sampai pula di Pulau Serangan. Lalu, di bagian barat pantai Pulau Serangan dibangunlah pura. Di situ, Danghyang Nirartha dapat menyatukan pikirannya secara langsung. Mengenai peristiwa ini, dalam Dwijendra Tattwa, antara lain diuraikan sbb.; “…sesudah Danghyang Nirartha mensucikan diri di Bukit Payung, lalu beliau meneruskan perjalanan dengan menyusur pantai laut yang sangat indah dan mempesonakan menuju arah utara. Pantai yang dilalui cukup permai dengan pasirnya yang memutih memberikan keindahan alam yang mempesonakan, ditambah lagi dengan herembusnya angin dan lautan yang dapat menyegarkan jasmani beliau.”

Lalu disebutkan lagi, “Dalam perjalanannya ini kemudian beliau menjumpai dua buah pulau kecil yaitu Nusa Dwa. Di pulau ini Danghyang Nirartha lagi beristirahat untuk melepaskan lelah, dan di sinilah beliau menyusun sajak atau kakawin Anjangsana Nirartha. Setelah selesai mencatat dan menyusun segala sesuatu yang berkaitan dengan sajak ini, Danghyang Nirartha lagi melanjutkan perjalanan menuju arah utara.”

Tak dikisahkan bagaimana halnya di dalam perjalanannya, sampailah Danghyang Nirartha di suatu pulau kecil yaitu Serangan. Pada pantai bagian barat Pulau Serangan, Danghyang Nirartha beristirahat sambil mengagumi keindahan alam sekitarnya. Di tempat itu ia merasakan dan menyaksikan perpaduan harmonis antara daratan pulau Serangan dengan laut yang mengelilinginya. Karenanya, Danghyang Nirartha berketetapan hati dan memutuskan untuk tinggal dan bermalam beberapa hari di sana.

Akhirnya, di situlah Danghyang Nirartha membangun palinggih (bangunan suci) di Pura atau Kahyangan Sakenan. Sakenan berasal dan kata cakya yang berarti dapat langsung menyatukan pikiran. Pujawali atau piodalan di Pura Sakenan jatuh pada setiap 210 hari, pada Sabtu Kliwon, wara Kuningan, bertepatan dengan hari raya Kuningan. Sedangkan keramaiannya diselenggarakan pada Minggu Umanis, wara Langkir.

Ada hal penting yang setidaknya harus diperhatikan oleh para umat atau pemedek yang hendak tangkil ngaturang bakti atau bersembayang ke Pura Sakenan. Konon, hal ini masih rancu terjadi. Yang sering terjadi, umat melakukan persembahyangan di Pura Dalem Sakenan (pura yang di pinggir paling barat) dan di Pura Susunan Agung (di sebelah timur Dalem Sakenan), setelah itu langsung pulang.

Dalam pasamuan atau rapat nyanggra piodalan di Pura Sakenan yang sudah digelar, dijelaskan bahwa persembahyangan itu merupakan satu paket. Artinya, pemedek harus bersembahyang (1) ke Pura Susunan Wadon — sekitar 0,5 km ke timur Pura Sakenan), (2) ke Pura Susunan Agung, dan (3) ke Pura Dalem Sakenan — pada pelingih paling barat di pinggir pantai yang berbentuk Padmasana.

Dalam kajian sastranya, rangkaian ini bisa di telusuri dari kata Pura Susunan Wadon, Susunan Agung, dan Pura Dalem Sakenan. Terdapat suatu pengertian Purusa, Pradhana dan Susunan Agung adalah Lingga, Yoni dan Susunan Agung adalah tempat penyatuan antara Purusa dan Pradana — penyatuan sang diri dengan maharoh sebagai asal mula setiap mahluk hidup. Pemahaman inilah yang ditemukan Mpu Kuturan sehingga melahirkan Pura Sununan Lanang dan Susunan Wadon.

Pun dengan kehadiran Dang Hyang Nirartha, juga terjadi hal yang sama. Sehingga, sebagai penghormatan terhadap beliau, maka dibuatkanlah pelinggih Pura Dalem Sakenan yang merupakan penyatuan antara Siwa dan Budha.

* i wayan watra

http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/7/8/bud4.html

Pura Bukit Sari di Sangeh

Posted by Adnyana under Pura di Badung

Melindungi Hutan Kewajiban Semua Pihak

Pemeliharaan hutan pala di Desa Sangeh itu tidak bisa melupakan jasa I Gusti Agung Putu, pendiri Kerajaan Mengwi, dengan gelar Cokorda Sakti Blambangan. Putra angkat Raja Mengwi pertama ini menemukan reruntuhan pelinggih pemujaan di tengah hutan pala tersebut. Dari penemuan putra angkat beliau, Raja memerintahkan membangun kembali pelinggih tersebut dalam wujud lebih lengkap dan lebih besar. Pura itulah sekarang disebut Pura Bukit Sari. Kenapa disebut Pura Bukit Sari?

==========================================================

Raja nampaknya sangat paham akan sikap hidup orang Bali yaitu setiap memulai sesuatu yang baik selalu diawali dengan melakukan pemujaan. Demikianlah Raja Mengwi pertama ini mengajak umat merehabilitasi tempat pemujaan di hutan pala itu sebagai langkah awal untuk melakukan perlindungan dan pemeliharaan hutan pala itu sebagai sumber alam yang mahapenting.

Dalam Canakya Nitisastra XIII.21 dinyatakan bahwa di bumi ini ada tiga Ratna Permata yaitu air, tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan, dan kata-kata bijak. Air akan terpelihara apabila ada kawasan hutan yang terpelihara dan terlindungi dengan sebaik-baiknya. Dengan tersimpannya air melalui hutan yang lestari maka tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan dapat dikembangkan dengan sebaik-baiknya.

Hutan dengan air dan tumbuh-tumbuhan itu akan menjadi sumber kehidupan umat manusia apabila dikelola dengan kata-kata bijak. Hal ini akan terwujud apabila pemimpin seperti raja atau pemegang kekuasaan dalam pemerintahan itu bekerja secara terkoordinasi untuk membangun sinergi dalam menjaga tiga Ratna Permata Bumi tersebut.

Ternyata kebijaksanaan raja membangun kembali tempat pemujaan yang disebut Pura Bukit Sari di hutan pala Desa Sangeh itu menimbulkan dampak positif memajukan sikap hidup masyarakat memelihara dan mengembangkan hutan pala dengan sebaik-baiknya.

Hutan pohon pala itu tidak saja berfungsi sebagai hutan dalam arti yang luas, sekarang hutan tersebut menjadi salah satu objek wisata alam yang memberikan banyak kesejahteraan pada berbagai pihak. Lestarinya hutan pohon pala ini karena kebijaksanaan Raja Mengwi bersama dengan masyarakat menyebabkan hutan pohon pala itu semakin eksis.

Dari zaman penjajahan Belanda sampai sekarang hutan ini ditetapkan sebagai cagar alam yang mewajibkan semua pihak melindungi, memelihara dan mengembangkan gagasan-gagasan hidup yang baik dan benar melalui hutan pohon pala yang lestari itu. Karena adanya Pura Bukit Sari itulah hutan pohon pala itu menjadikan orang untuk menjauhi tindakan yang tidak senonoh pada hutan tersebut.

Sikap masyarakat yang mensakralkan hutan pohon pala dengan keranya itu menjadi positif karena adanya Pura Bukit Sari di hutan tersebut. Hutan pohon pala tersebut kini telah menjadi objek wisata alam. Menjadi kewajiban kita sebagai generasi penerus menjaga hutan tersebut bersama dengan Pura Bukit Sarinya.

Kita hendaknya sadar bahwa hutan dengan puranya itu wajib kita jaga lebih kuat dengan berbagai ketentuan karena dinamika pariwisata dewasa ini menimbulkan banyak godaan agar kita tidak lalai memegang prinsip hidup seimbang antara berbakti pada Tuhan, menyayangi alam dan mengabdi pada sesama.

Dalam buku Pancawati, salah satu kitab sastra Weda, menyatakan ada tiga jenis hutan yang wajib dijaga keseimbangannya dan kelestariannya. Tiga jenis hutan itu adalah Maha Wana, Tapa Wana dan Sri Wana. Maha Wana itu adalah hutan lindung. Hutan ini harus benar-benar dijaga kuantitas dan kualitasnya. Kalau kuantitas dan kualitas Maha Wana ini terganggu, manusia akan mengalami krisis air, udara sehat dan berbagai sumber hidup alami yang lainnya. Hal ini harus disadari oleh semua pihak. Luas dan kualitas hutan lindung ini tidak boleh sama sekali diganggu.

Tapa Wana adalah hutan hanya untuk tempat bertapa membangun kesucian diri. Di hutan ini hanya boleh ada tempat-tempat pemujaan yang dibangun sedemikian rupa untuk tidak menonjolkan bangunan pisiknya, sehingga tetap yang menonjol adalah hutannya yang rimbun, sejuk dan alami.

Sri Wana adalah hutan produksi untuk mengembangkan tanaman pangan. Sri Wana ini hendaknya jangan dikembangkan dengan ambisi bisnis yang berlebihan mengejar untung sampai mengorbankan kelestarian alam itu sendiri. Pengembangan Sri Wana jangan sampai menimbulkan ketidakadilan ekonomi. Seperti mengembangkan perkebunan dengan cara-cara kapitalisme yang ambisius mencari profit tanpa memikirkan aspek benefitnya untuk kelestarian alam dan masyarakat. Kebutuhan pariwisata akan bahan pangan dapat saja dikembangkan lewat Sri Wana, tetapi eksistensinya jangan sampai merugikan alam dan menimbulkan ketidakadilan ekonomi rakyat.

Dalam tradisi umat Hindu di Bali sudah dikenal adanya beberapa jenis hutan dan lahan yang wajib dijaga keseimbangan posisi dan proporsinya. Dalam tradisi Bali ada yang disebut alas angker yaitu hutan lindung, Ada yang disebut alas harum yaitu hutan untuk tempat pemujaan atau pertapaan yang dibangun dengan tetap menjaga aspek-aspek alaminya. Ada juga alas rasmini yaitu hutan sebagai jalur hijau untuk pemukiman, mungkin ini juga disebut hutan wisata. Ada areal yang disebut abian dan carik utuk mengembangkan tanaman pangan yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari.

Posisi dan komposisi luas dan kualitas pembagian hutan dan areal tersebut dijaga keseimbangannya dengan konsep Rta dan Dharma. Di samping itu daerah Bali yang sangat digandrungi oleh berbagai pihak harus dibatasi dengan berbagai cara yang benar agar Bali jangan sampai kelebihan muatan. Kalau Bali sampai kelebihan muatan bagaikan kapal yang akan karam ditelan gelombang bisnis dan politik yang mengabaikan etika moral. Berbagai perilaku harus dibatasi agar jangan dengan Rta dan Dharma. Artinya, membangun Bali jangan sampai melanggar Rta dan Dharma. Karena hal itu akan dapat menenggelamkan Bali bagaikan kapal yang terlalu sarat dengan muatan. Bali harus dibangun dengan mengikuti Rta dan Dharma ciptaan Hyang Widhi. * wiana

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2007/9/19/bd2.htm

Pura Bukit Sari di Sangeh

Avir vai nama devata
rtena
aste parivrta
tasya
rupena ime vrksah
hrita
haritasrajah.
(Atharvaveda.X.44.1).

Maksudnya:
Terdapat
warna hijau pada daun tumbuh-tumbuhan (klorofil) yaitu unsur yang menyelamatkan hidup yang ada pada hijau daun. Ia ditutupi oleh rta. Karena itu zat warna hijau tersebut yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat.

HUTAN pohon pala di Desa Sangeh tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan Pura Bukit Sari yang berada di tengah hutan pala tersebut. Keberadaan pohon pala ini memang sedikit unik. Karena di sekitar daerah tersebut tidak ada pohon seperti itu.

Hutan pohon pala ini disebut Bukit Sari, padahal daerah di mana pohon pala itu tumbuh berupa dataran saja bukan bukit. Entah siapa yang memberikan nama pohon ini pohon pala. Mungkin tak ada yang pasti tahu betul. Dalam bahasa Sansekerta katapalaartinya melindungi, sedangkan kataphalaartinya buah.

Untuk menyebutkan nama pohon di Pura Bukit Sari Sangeh ini apa pala atau phala, penulis sendiri tidak jelas tahu asal-usulnya. Kalau digunakan kata pala, memang pohon besar dan tinggi-tinggi tersebut sebagai pohon pelindung. Akarnya dalam dan luas dapat meresap dan menyimpan air hujan. Pohonnya yang besar tinggi dan rindang dengan daunnya yang hijau itu juga dapat melindungi udara dari polusi. Karena dalam daun yang hijau itu terdapat unsur yang melindungi kehidupan di sekitarnya. Partikel-partikel kimia yang beterbangan di udara karena ulah manusia dapat disaring oleh hijauan dedaunan dari pohon-pohon di hutan pala tersebut. Banyak lagi sesungguhnya fungsi hutan kalau dilihat dari sudut kehidupan di bumi ini.

Adanya Pura Bukit Sari di hutan pohon pala Desa Sangeh Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung ini diceritakan secara mitologis dalam Lontar Babad Mengwi. Diceritakan putri Ida Batara di Gunung Agung berkeinginan untuk disungsung di Kerajaan Mengwi. Atas kehendak beliau maka hutan pala yang ada di Gunung Agung tempat putri Ida Batara Gunung Agung bermukim pindah secara misterius pada waktu malam.

Perjalanan belum sampai di Kerajaan Mengwi, keadaan sudah siang dan telanjur ada yang mengetahui perjalanan tersebut. Hal ini konon yang menyebabkan hutan pala tersebut tidak bisa berjalan lagi menuju Mengwi dan berhenti di Desa Sangeh sekarang. Konon putra angkat Raja Mengwi yang pertama I Gusti Agung Putu yang bergelar Cokorda Sakti Blambangan menemukan bekas bangunan pelinggih.

Putra angkat Raja Mengwi tersebut bernama Anak Agung Ketut Karangasem. Atas penemuan tersebut Cokorda Sakti Blambangan memerintahkan untuk membangun kembali pura tersebut dan diberi nama Pura Bukit Sari. Yang dipuja di pura tersebut adalah Ida Batara Gunung Agung dan Batara Melanting. Pura Besakih di lereng Gunung Agung itu tergolong Pura Purusa atau sebagai jiwa dari Pulau Bali.

Di Gunung Agung-lah berbagai nilai suci ajaran Weda divisualkan dalam wujud bangunan suci. Berbagai gagasan hidup untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera lahir batin di bumi ini divisualkan dalam wujud bangunan suci dan ritual sakral di Pura Besakih. Sedangkan pemujaan pada Ida Batara Melanting dalam tradisi Hindu di Bali sebagai Dewa Pasar.

Menurut Prof Dr. I Made Titib, Ph.D., Batara Melanting itu tiada lain sebutan untuk Dewi Laksmi bagi umat Hindu di Bali. Dewi Laksmi adalah Dewi Kemakmuran dalam sistem pantheon Hindu. Pemujaan Ida Batara Gunung Agung dan Batari Melanting di Pura Bukit Sari di Desa Sangeh ini adalah bertujuan memuja Tuhan untuk mendapatkan tuntunan spiritual dalam mengembangkan hidup yang penuh dengan gagasan-gagasan kehidupan yang mulia serta untuk membangun kehidupan yang makmur secara ekonomi.

Ini berarti pemujaan pada Tuhan di Pura Bukit Sari itu menanamkan gagasan keseimbangan hidup antara membangun gagasan hidup dengan nilai spiritual dalam mewujudkan kemakmuran ekonomi. Memang pada kenyataannya kemakmuran ekonomi justru akan menjadi bumerang untuk mendorong pengumbaran hawa nafsu kalau tidak dikendalikan oleh gagasan-gagasan hidup di bidang spiritual.

Kalau dua aspek kehidupan tersebut diwujudkan secara seimbang maka akan terbentuklah manusia dan masyarakat yang seimbang lahir batin. Kalau manusia dan masyarakat yang demikian itu menghuni bumi ini, maka bumi ini akan menjadi wadah kehidupan yang aman, damai dan sejahtra.

Di Pura Bukit Sari ini terdapat tidak kurang dari 36 bangunan suci. Ada palinggih utama dan ada pelengkap. Ada Pelinggih Padmasari penyawangan Ulun Danu Beratan. Ada dua Padmasari sebagai Pelinggih Ratu Puncak Kangin dan Ratu Puncak Kauh. Kemungkinan pelinggih ini untuk penyawangan ke Gunung Agung dan ke Pura Batur atau Ratu Batara Melanting. Ada Pelinggih Meru Tumpang Sembilan. Ada Pelinggih Padmasana sebagai pemujaan Batara Sada Siwa. Ada empat Padmasari lagi masing-masing sebagai pemujaan Pucak Batur, sebagai Pelinggih Ratu Entap, Ratu Manik Galih dan Batara Wisnu.

Pemujaan Tuhan dalam berbagai fungsi ini umumnya mengarah pada pemujaan Tuhan sebagai Dewa Kemakmuran. Ada Pelinggih Bale Paselang. Pelinggih ini umumnya digunakan untuk upacara Pedanaan yang menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Di pelinggih ini dilukiskan secara ritual sakral hubungan bakti manusia kepada Tuhan dan anugerah Tuhan yang di Bali disebut sweca.

Di Pelinggih Paselang inilah dilukiskan bahwa hanya manusia yang sungguh-sungguh bakti pada Tuhan akan mendapatkan sweca atau anugerah dari Tuhan berupa raksanam atau rasa aman dan damai serta dhanam artinya hidup sejahtera. Ini artinya pelinggih yang disebut Bale Paselang ini memotivasi umat Hindu agar jangan hanya memohon wara nugraha Hyang Widhi tanpa melakukan bakti dan pelayanan pada sesama dan menyayangi isi alam ini.

Dengan bakti yang benar manusia dapat membangun struktur diri agar menjadi wadah pengejawantahan kesucian Atman dalam wujud perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bakti manusia dapat menghindarkan diri sebagai wadah pengumbaran hawa nafsu. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2007/9/19/bd1.htm

Pura Luhur Uluwatu

Posted by Adnyana under Pura di Badung

Pura Luhur Uluwatu sebagai Kahyangan Jagat

Puluhan ribu tempat pemujaan di Bali berdasarkan karakternya dapat dibagi menjadi empat jenis yaitu Pura Kawitan, Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina dan Pura Kahyangan Jagat. Pura Kahyangan Jagat ini dibagi menjadi empat jenis yaitu Pura Kahyangan Jagat yang didirikan berdasarkan konsepsi Rwa Bhineda, Catur Loka Pala, Sad Winayaka dan Padma Bhuwana. Ada beberapa pura yang tergolong berfungsi rangkap baik sebagai Pura Rwa Bhineda, sebagai Pura Catur Loka Pala maupun sebagai Pura Sad Winayaka dan juga sebagai Pura Padma Bhuwana. Pura-pura manakah yang digolongkan menurut peran dan fungsinya?

======================================================

Pura Besakih dan Pura Batur di Kintamani adalah pura yang tergolong Pura Rwa Bhineda. Pura Besakih sebagai Purusa dan Pura Batur sebagai Pradana. Pura Catur Loka Pala adalah Pura Lempuhyang Luhur di arah timur Bali, Pura Luhur Batukaru arah barat, Pura Andakasa arah selatan dan Pura Pucak Mangu arah utara. Pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka ini umumnya disebut Pura Sad Kahyangan.

Tidak kurang dari sembilan lontar menyatakan adanya Pura Sad Kahyangan. Namun setiap lontar menyatakan pura yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan pada zaman dulu di Bali ada sembilan kerajaan dan sekarang dibagi menjadi 7 kabupaten, 1 kota madya, 1 propinsi. Tiap-tiap kerajaan memiliki Sad Kahyangan-nya masing-masing. Ada yang sama dan ada juga yang tidak sama.

Pura Sad Kahyangan yang dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa itu adalah Sad Kahyangan saat Bali masih satu kerajaan. Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu pura yang dinyatakan sebagai Pura Sad Kahyangan dalam Lontar Kusuma Dewa dan juga beberapa lontar lainnya. Pura Luhur Uluwatu itu juga dinyatakan sebagai Pura Padma Bhuwana yang berada di arah barat daya Pulau Bali.

Arah barat daya itu dalam sistem pengider-ider Hindu Sekte Siwa Sidhanta adalah Dewa Siwa Rudra. Dalam konsep Siwa Sidhanta, Dewa Tri Murti itu adalah manifestasi Siwa sebagai sebutan Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi dalam konsep Waisnawa, Tri Murti itu adalah perwujudan Maha Wisnu.

Dalam Rgveda I, 164. 46 dinyatakan bahwa Tuhan itu mahaesa para Wipra atau orang-orang suci menyebutnya dengan banyak nama. Jadinya Pura Luhur Uluwatu itu adalah Pura Kahyangan Jagat yang didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka dan konsepsi Padma Bhuwana. Sebagai Siwa Rudra berkedudukan untuk membumikan purusa wisesa dari Dewa Tri Murti agar umat tertuntun melakukan dinamika hidupnya berdasarkan Tri Kona yaitu kreatif menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan.

Kreatif memelihara dan melindungi sesuatu yang seyogianya dipelihara dan dilindungi. Demikian juga melakukan upaya pralina pada sesuatu yang seyogianya dipralina. Siapa pun yang dapat hidup seimbang berbuat berdasarkan konsep Tri Kona itu dialah orang yang hebat karena sukses dalam hidupnya. Karena itulah Tuhan di Pura Luhur Uluwatu dipuja sebagai Dewa Siwa Rudra. Kata Rudra dalam bahasa Sansekerta artinya hebat atau bergairah.

Keberadaan Pura Luhur Uluwatu ini sejak abad XVI Masehi ada terkait dengan tirthayatra Dang Hyang Dwijendra. Setelah itu didirikanlah Meru Tumpang Tiga di Pura Luhur Uluwatu sebagai pemujaan Dewa Siwa Rudra di mana aspek Brahma dan Wisnu juga terkait menjadi energi magis religius dalam pemujaan Siwa Rudra di Meru Tumpang Tiga. Meskipun kedatangan Dang Hyang Dwijendra memperluas tempat pemujaan di Pura Luhur Uluwatu bukan berarti apa yang telah ada harus ditinggalkan begitu saja.

Di sebelah kiri sebelum masuk pintu Candi Bentar tersebut terdapat kompleks pelinggih yang disebut Dalem Jurit. Di Pura Dalem Jurit inilah terdapat tiga patung Tri Murti yang merupakan tempat pemujaan Siwa Rudra ketika Mpu Kuturan mendirikan pura tersebut abad ke-11 Masehi. Dari Dalem Jurit kita terus masuk melalui Candi Bentar.

Di jaba tengah ini kita menoleh ke kiri lagi ada sebuah bak air yang selalu berisi air meskipun musim kering sekalipun. Hal ini dianggap suatu keajaiban dari Pura Luhur Uluwatu. Sebab, di wilayah Desa Pecatu adalah daerah perbukitan batu karang berkapur yang mengandalkan air hujan. Bak air itu dikeramatkan karena keajaibannya itu. Keperluan air untuk bahan tirtha cukup diambil dari bak air tersebut.

Dari jaba tengah ini kita terus masuk melalui Candi Kurung Padu Raksa bersayap. Candi ini ada yang menduga dibuat pada abad ke-11 Masehi karena dihubungkan dengan Candi Kurung bersayap yang ada di Pura Sakenan. Namun ada juga yang berpendapat bahwa Candi Kurung bersayap seperti ini ada di Jawa Timur peninggalan purbakala di Sendang Duwur dengan Candra Sengkala yaitu tanda tahun Saka dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuna sbb: Gunaning salira tirtha bayu, artinya menunjukkan angka tahun Saka 1483 atau tahun 1561 Masehi.

Candi Kurung Padu Raksa bersayap di Sendang Duwur sama dengan Candi Kurung Padu Raksa di Pura Luhur Uluwatu. Dengan demikian nampaknya lebih tepat kalau dikatakan bahwa Candi Kurung Padu Raksa di Pura Luhur Uluwatu dibuat pada zaman Dang Hyang Dwijendra yaitu abad XVI. Karena Dang Hyang Dwijendra-lah yang memperluas Pura Luhur Uluwatu.

Setelah kita masuk ke jeroan (bagian dalam pura) kita menjumpai bangunan yang paling pokok yaitu Meru Tumpang Tiga tempat pemujaan Dewa Siwa Rudra. Bangunan yang lainnya adalah bangunan pelengkap saja seperti Tajuk tempat meletakkan upacara dan Balai Pawedaan tempat pandita memuja memimpin upacara. Upacara piodalan atau sejenis hari besarnya Pura Luhur Uluwatu pada hari Selasa Kliwon Wuku Medangsia atau setiap 210 hari berdasarkan perhitungan kalender Wuku.

Pura Luhur Uluwatu memiliki wilayah suci dalam radius kurang lebih lima kilometer. Wilayah ini disebut wilayah Kekeran, artinya wilayah yang suci. Yang patut kita perhatikan adalah melindungi wilayah yang disebut sebagai wilayah kekeran. Hendaknya semua pihak menghormati wilayah kekeran tersebut untuk menjaga agar jangan ada bangunan yang tidak terkait dengan keberadaan Pura Luhur Uluwatu itu.

Wilayah kekeran itu hendaknya dijaga agar tetap hijau dengan tumbuh-tumbuhan yang khas Bali. Boleh dikreasi sepanjang untuk mengembangkan tumbuh-tumbuhan hutan dengan tanem tuwuh-nya, sehingga wilayah kekeran itu benar-benar asri dan juga suci tidak dijadikan pengembangan pasilitas yang lainnya. Lebih-lebih berdasarkan Bhisama Kesucian Pura di Pura Kahyangan Jagat seperti Pura Luhur Uluwatu ini harus dijaga tidak boleh ada bangunan di luar fasilitas pura dengan radius apenelengsekitar lima kilometer — harus steril dari bangunan yang tidak ada hubungannya dengan keberadaan Pura Luhur Uluwatu. * wiana

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2007/9/26/bd2.htm

Pura Luhur Uluwatu Stana Dewa Rudra

Utpatti Bhagawan Brahma, stithi Wisnuh tathewaca.
Pralina
Bhagawan Rudrah, trayastre lokya sranah.
(Buana Kosa. 25)

Maksudnya:
Tuhan
sebagai Dewa Brahma sebagai pencipta Utpati, sebagai Dewa Wisnu menjadi pemelihara atau Stithi dan sebagai Dewa Rudra sebagai pemralina. Tuhan dalam wujud tiga Dewa itulah pelindung bumi.

PURA Luhur Uluwatu ini berada di Desa Pecatu Kecamatan Kuta Kabupaten Badung. Pura Luhur Uluwatu dalam pengider-ider Bali berada di arah barat daya sebagai pura untuk memuja Tuhan sebagai Batara Rudra. Kedudukan Pura Luhur Uluwatu tersebut berhadap-hadapan dengan Pura Andakasa, Pura Batur dan Pura Besakih. Karena itu umumnya banyak umat Hindu sangat yakin di Pura Luhur Uluwatu itulah sebagai media untuk memohon karunia menata kehidupan di bumi ini.

Karena itu, di Pura Luhur Uluwatu itu terfokus daya wisesa atau kekuatan spiritual dari tiga dewa yaitu Dewa Brahma memancar dari Pura Andakasa, Dewa Wisnu dari Pura Batur dan Dewa Siwa dari Pura Besakih. Tiga daya wisesa itulah yang dibutuhkan dalam hidup ini. Dinamika hidup akan mencapai sukses apabila adanya keseimbangan Utpati, Stithi dan Pralina secara benar, tepat dan seimbang.

Menurut Lontar (pustaka kuna) Kusuma Dewa Pura ini didirikan atas anjuran Mpu Kuturan sekitar abad ke-11. Pura ini salah satu dari enam Pura Sad Kahyangan yang disebutkan dalam Lontar Kusuma Dewa. Pura yang disebut Pura Sad Kahyangan ada enam yaitu Pura Besakih, Pura Lempuhyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, Pura Luhur Batukaru dan Pura Pusering Jagat.

Berhubung banyak lontar yang menyebutkan Sad Kahyangan, maka tahun 1979-1980 Institut Hindu Dharma (sekarang Unhi) atas penugasan Parisada Hindu Dharma Pusat mengadakan penelitian secara mendalam. Akhirnya disimpulkan bahwa Pura Sad Kahyangan menurut Lontar Kusuma Dewa keenam pura itulah yang ditetapkan. Lontar tersebut dibuat tahun 1005 Masehi atau tahun Saka 927, hal ini didasarkan pada adanya pintu masuk di Pura Luhur Uluwatu menggunakan Candi Paduraksa yang bersayap.

Candi tersebut sama dengan candi masuk di Pura Sakenan di Pulau Serangan Kabupaten Badung. Di candi Pura Sakenan tersebut terdapat Candra Sangkala dalam bentuk Resi Apit Lawang yaitu dua orang pandita berada di sebelah-menyebelah pintu masuk. Hal ini menunjukkan angka tahun yaitu 927 Saka, ternyata tahun yang disebutkan dalam Lontar Kusuma Dewa sangat tepat.

Dalam Lontar Padma Bhuwana disebutkan juga tentang pendirian Pura Luhur Uluwatu sebagai Pura Padma Bhuwana oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11. Candi bersayap seperti di Pura Luhur Uluwatu terdapat juga di Lamongan, Jatim. Pura Luhur Uluwatu berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa Rudra dan terletak di barat daya Pulau Bali. Pura Luhur Uluwatu didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka dan Padma Bhuwana.

Sebagai pura yang didirikan dengan konsepsi Sad Winayaka, Pura Luhur Uluwatu sebagai salah satu dari Pura Sad Kahyangan untuk melestarikan Sad Kertih (Atma Kerti, Samudra Kerti, Danu Kerti, Wana Kerti, Jagat Kerti dan Jana Kerti). Sedangkan sebagai pura yang didirikan berdasarkan Konsepsi Padma Bhuwana, Pura Luhur Uluwatu didirikan sebagai aspek Tuhan yang menguasai arah barat daya. Pemujaan Dewa Siwa Rudra adalah pemujaan Tuhan dalam memberi energi kepada ciptaannya.

Ida Pedanda Punyatmaja Pidada pernah beberapa kali menjabat Ketua Parisada Hindu Dharma Pusat mengatakan bahwa di Pura Luhur Uluwatu memancar energi spiritual tiga dewa. Kekuatan suci ketiga Dewa Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa) menyatu di Pura Luhur Uluwatu. Karena itu umat yang membutuhkan dorongan spiritual untuk menciptakan, memelihara dan meniadakan sesuatu yang patut diadakan, dipelihara dan dihilangkan sering khusus memuja Dewa Siwa Rudra di Pura Luhur Uluwatu.

Salah satu ciri hidup yang ideal menurut pandangan Hindu adalah menciptakan segala sesuatu yang patut diciptakan. Memelihara sesuatu yang patut dipelihara dan menghilangkan sesuatu yang patut dihilangkan. Menciptakan, memelihara dan menghilangkan sesuatu yang patut itu tidaklah mudah. Berbagai hambatan akan selalu menghadang.

Dalam menghadapi berbagai kesukaran itulah umat sangat membutuhkan kekuatan moral dan daya tahan mental yang tangguh. Untuk mendapatkan keluhuran moral dan ketahanan mental itu salah satu caranya dengan jalan memuja Tuhan dengan tiga manifestasinya. Untuk menumbuhkan daya cipta yang kreatif pujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma.

Untuk memiliki ketetapan hati memelihara sesuatu yang patut dipelihara pujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. Untuk mendapatkan kekuatan untuk menghilangkan sesuatu yang patut dihilangkan pujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa. Energi spiritual ketiga manifestasi Tuhan itu menyatu dalam Dewa Siwa Rudra yang dipuja di Pura Luhur Uluwatu.

Pura Luhur Uluwatu ini tergolong Pura Kahyangan Jagat. Karena Pura Sad Kahyangan dan Pura Padma Bhuwana itu adalah tergolong Pura Kahyangan Jagat. Di Pura Luhur Uluwatu ini Batara Rudra dipuja di Meru Tumpang Tiga. Di sebelah kanan dari Jaba Pura Luhur Uluwatu ada Pura Dalem Jurit sebagai pengembangan Pura Luhur Uluwatu pada zaman kedatangan Dang Hyang Dwijendra pada abad ke-16 Masehi.

Di Pura Dalem Jurit ini terdapat tiga patung yaitu patung Brahma, Ratu Bagus Dalem Jurit dan Wisnu. Ratu Bagus Dalem Jurit itulah sesungguhnya Dewa Siwa Rudra dalam wujud Murti Puja. Pemujaan energi Tri Murti dengan sarana patung ini merupakan peninggalan sistem pemujaan Tuhan dengan sarana patung dikembangkan dengan sistem pelinggih. Karena saat beliau datang ke Pura Dalem Jurit itu sistem pemujaan di Pura Luhur Uluwatu masih sangat sederhana karena kebutuhan umat memang juga masih sederhana saat itu.

Pura Luhur Uluwatu juga memiliki beberapa pura Prasanak atau Jajar Kemiri. Pura Prasanak tersebut antara lain Pura Parerepan di Desa Pecatu, Pura Dalem Kulat, Pura Karang Boma, Pura Dalem Selonding, Pura Pangeleburan, Pura Batu Metandal dan Pura Goa Tengah. Semua Pura Prasanak tersebut berada di sekitar wilayah Pura Luhur Uluwatu di Desa Pecatu. Umumnya Pura Kahyangan Jagat memiliki Pura Prasanak. Demikianlah sekilas tentang Pura Luhur Uluwatu. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2007/9/26/bd1.htm