kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Pura di Buleleng’ Category

Pura Ponjok Batu, Penyeimbang Bali Utara

Pura Ponjok Batu merupakan salah satu Penyungsungan Jagat atau Pura Dang Kahyangan, selain Pura Pulaki di Desa Banyupoh, Gerokgak. Pura ini terletak di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Memang tidak ada data pasti mengenai awal keberadaan pura ini. Namun yang diketahui, keberadaan pura ini tak bisa lepas dari sejarah kedatangan Pendeta Siwa Sidanta yaitu Danghyang Nirartha (Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke-15, saat masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Bali.

===========================================================

Pura ini memiliki rekaman sejarah yang panjang dan unik. Hal tersebut ditelusuri lewat temuan arkeologi, efigrafi dan folklore (cerita rakyat) yang hidup di tengah masyarakat Julah dan sekitarnya.

Berdasarkan kajian arkeologis, saat penggalian di lokasi perbaikan pura tahun 1995 ditemukan sarkopah/sarkopagus. Kini sarkopah itu disimpan bersama sarkopah lainnya di halaman depan Pura Duhur Desa Kayuputih, Banjar. Sarkopah (peti mayat) terbuat dari batu cadas, banyak ditemukan di beberapa daerah di Bali.

Sistem penguburan menggunakan sarkopah berlangsung sejak zaman perundagian di Bali tahun 2500-3000 SM, atau sekitar 5.000 tahun lalu. Berarti di sekitar kawasan Pura Ponjok Batu pernah dihuni masyarakat yang mendukung budaya sarkopah. Sarkopah merupakan tempat disemayamkannya jasad orang yang dihormati masyarakat. Pada zaman perundagian, masyarakat percaya pemujaan roh nenek moyang dan orang-orang yang dihormati, seperti kepala suku atau ketua adat. Seperti halnya tradisi pembuatan mumi di Mesir, Babilonia, Siria dan lainnya.

Sementara menurut kajian efigrafi atau prasasti, Desa Julah sebagai pemukiman sangat ramai. Ini diketahui dari prasasti yang dikeluarkan raja-raja dari Dinasti Warmadewa, masing-masing masa pemerintahan Raja Sang Sri Aji Ugrasena (tahun 923 M), Raja Sri Aji Tabanendra Warmadewa (955 M), Raja Sri Janasadhu Warmadewa (975 M), Raja Sri Dharma Udayana Warmadewa (1011 M), Raja Putri Sang Adnyadewi, Prabu Marakatta (1022-1026 M), Raja Sri Paduka Anak Wungsu dan Raja Sri Prabu Jayapangus (1181 M).

Raja-raja yang pernah berkuasa itu hampir semuanya pernah mengeluarkan prasasti tentang keberadaan Desa Julah. Di sana disebutkan pula bahwa tugasnya menjaga sebaik-baiknya semua pura yang ada di wilayah Desa Julah. Kendati tidak disebutkan dengan jelas tentang Pura Ponjok Batu, tetapi dipastikan Pura Ponjok Batu merupakan salah satu pura yang ikut dirawat. Di pura itu juga ditemukan beberapa patung, di antaranya patung Dewa Siwa, Nandini dan Ganesa. Ini merupakan petunjuk bahwa perhatian raja Dinasti Warmadewa terhadap Pura Ponjok Batu sangat besar.

Masa kekuasaan Warmadewa berlangsung sampai 1343, ditandai dengan jatuhnya Kerajaan Bedahulu oleh Majapahit. Selanjutnya pemerintahan di Bali dipegang Dinasti Kepakisan yang berpusat di Samprangan, lalu pindah ke Gelgel. Sampai kekuasaan Dalem Waturenggong, mulai ada perhatian terhadap Pura-pura di Bali Utara/Denbukit. Diawali dengan kedatangan Danghyang Nirartha. Saat itu Pura-pura yang ada di Bali Utara mendapat kunjungan kembali dalam bentuk dharma yatra, mulai dari Pura Pulaki dan pura lainnya, termasuk Ponjok Batu.

Danghyang Nirartha kemudian melanjutkan perjalanannya ke Lombok, setelah menolong seorang bendega atau awak perahu asal Lombok, yang sedang karam di sekitar pantai Ponjok Batu. Dikisahkan, awak perahu itu melihat batu bersinar di tengah laut. Batu didatangi, dibelah. Tetapi kemudian mereka tidak bisa berangkat sampai datang pertolongan dari Danghyang Nirartha. Batu itu hingga kini masih ada di pantai Ponjok Batu.

Sejak kedatangan Danghyang Nirartha,  nilai spiritual tempat suci kembali bangkit. Pura Ponjok Batu mulai memancarkan sinar secara terus-menerus, walaupun Danghyang Nirartha telah meninggalkan tempat itu menuju ke Lombok, seperti terungkap dalam lontar Dwijendra Tattwa.

Sementara berdasarkan folklore, Pura Ponjok Batu berasal dari cerita Ida Batara di Bali yang menimbang beratnya Bali Utara dari Pura Penimbangan di Desa Panji. Ternyata Bali Utara bagian timur lebih ringan. Maka Ida Batara menambah tumpukan batu di bagian timur Bali Utara sehingga timbangan itu menjadi seimbang.

Pura Ponjok Batu telah beberapa kali dipugar. Pemugaran terakhir dimulai 1994 hingga dilakukannya upacara Ngenteg Linggih pada Saniscara Wayang Karo, 8 Agustus 1998. Pura ini terbuat dari batu hitam yang didesain sedemikian rupa agar keberadaannya tetap kuat. Saat ini, pelinggih yang ada di Pura Ponjok Batu meliputi:

1. Padmasana

2. Pelinggih Dang Hyang Nirartha

3. Pelinggih Ciwa

4. Pelinggih Ganesa

5. Pelinggih Batara Baruna

6. Pelinggih Seluang

7. Pelinggih Ratu Ayu Pangenter

8. Pelinggih Taksu (Dewa Gede Ngurah)

9. Pelinggih Ratu Bagus Mas Pengukiran

10. Pelinggih Ratu Bagus Mas Subandar

11. Pelinggih Taksu (Ratu Bagus Penyarikan)

12. Bale Pesandekan

13. Bale Paselang

14. Bale Ongkara

15. Bale Gegitaan

16. Bale Reringgitan

17. Bale Kulkul

18. Bale Pegat

19. Bale Paninjoan

Sementara menurut pemangku di Pura Ponjok Batu Jro Mangku Ketut Ludri (50) dan Jro Mangku Nengah Widi (37), piodalan di Pura ini dilaksanakan dua kali setahun masing-masing saat Purnama Desta dan Sasih Kasa Purnama Kasa, Pangelong Ping Tiga (sasih gemuh) yang jatuh 13 Juli 2006. Sedangkan piodalan Purnama Desta nanti pada 12 Mei 2006. Menurut Jro Mangku, pada piodalan Purnama Desta, diikuti pangempon pura ini yaitu warga Desa Adat Bangkah, Tejakula. Sedangkan pada saat piodalan Sasih Kasa, diikuti warga se-Kecamatan Tejakula. Saat odalan atau Purnama Tilem, banyak warga pedek tangkil ke pura ini, termasuk para pejabat. “Biasanya banyak yang nunas tamba, melukat dan nunas keselamatan,” ujar Jro Mangku Nengah Widi.

Konsep Nyegara Gunung

Ada tradisi yang ada hingga sekarang dan masih berjalan di wilayah Pura Ponjok Batu. Pura ini memiliki hubungan dengan Pura Bukit Sinunggal di Desa Tajun, Kubutambahan. Setiap ada upacara melasti Ida Batara di Pura Bukit Sinunggal dan Pura-pura lain di Tajun, upacara pemelastian selalu diselenggarkan di Pura Ponjok Batu karena di sana terdapat sumber air tawar yang memiliki kesucian dan dikatakan sebagai air campuhan antara air darat dan laut.

Hubungan antara Pura Ponjok Batu dan Pura Bukit Sinunggal sangat erat. Pura Ponjok Batu sebagai zenit bawah dan Pura Bukit Sinunggak di Tajun sebagai zenit atas. Ini membuktikan adanya keserasian yang kekal antara segara dan gunung. Bali punya nilai spiritual sangat tinggi karena sepanjang pantai Bali Utara, jarak pantai dan gunung sangat berdekatan, sehingga tingkat kesucian segara sama dengan kesucian daerah pegunungan. Karena itu, upacara nyegara gunung dalam upacara pitra yadnya sangat penting dilaksanakan. (ari)

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/3/22/bd1.htm

Pura Ponjok Batu

Paropakaranam yesam, jagarti hrdaye satam
Nasyanti vipadas tesam, sampadah syuh pade pade.
(Canakya Nitisastra, XVII.15)

Maksudnya:

Beliau yang selalu dalam hatinya memikirkan kepentingan-kepentingan orang lain, segala kesulitannya musnah dan memperoleh keberuntungan dalam setiap langkahnya.

HATI nurani Resi Vyasa sangat terkesan ikut berbahagia menyaksikan dua ekor induk burung dengan penuh kasih memberikan makan pada anak-anaknya. Curahan kasih sayang induk burung dengan anak-anaknya itu sangat menggetarkan hati Resi Vyasa yang sedang merenungkan keindahan alam di tepi Sungai Gangga. Sejak itu Resi Vyasa sangat ingin berputra agar dapat menyalurkan kasih sayang dengan hati nurani yang suci.

Karena kerinduan yang suci itu Dewa Narada datang pada Resi Vyasa. Dewa Narada menyatakan bahwa kalau Resi Vyasa ingin berputra, hidupnya harus melalui upaya mewujudkan empat tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha. Empat tujuan hidup itu adalah Dharma, Artha, Kama dan barulah dapat mencapai Moksha.

Kalau Resi Vyasa tidak menempuh hidup sukla Brahmacari beliau bisa hidup dengan hanya mencapai Dharma saja terus dapat mencapai Moksha. Sejak itulah Dewa Narada mengajarkan tentang Catur Purusartha pada Resi Vyasa. Dengan Catur Purusartha itulah umat penganut Veda tujuan hidupnya menjadi sangat jelas.

Demikian juga halnya Danghyang Dwijendra ketika sedang menikmati indahnya pemandangan alam berupa lautan yang berpadu dengan daratan dipayungi oleh langit biru di sebuah tanjung di Bali Utara. Pemandangan yang menggetarkan hati nurani sang Pandita itu sekarang terkenal dengan Ponjok Batu.

Danghyang Dwijendra sangat asyik menyaksikan indahnya pemandangan yang menggetarkan batin sang Pandita. Entah berapa lama Danghyang Dwijendra duduk di atas batu yang agak besar di tanjung tersebut. Sebagai seorang Pandita swadharma beliau hanyalah memikirkan kepentingan orang lain atau masyarakat luas agar bisa hidup sejahtera dan bahagia lahir batin.

Hal itulah yang senantiasa selalu dipikirkan sebagai seorang Pandita. Danghyang Dwijendra juga sedang asyik memikirkan untuk meninjau keadaan masyarakat di Sasak (Lombok). Untuk di Bali, Beliau merasa sudah banyak membantu Raja dalam memberikan tuntutan pada masyarakat di Bali.

Saat Beliau melepaskan pandangan ke laut lepas ke arah timur laut, Beliau melihat ada perahu kandas. Tiang layar perahu yang kandas itu patah, bocor dan tali-temalinya patah semua. Awaknya sejumlah tujuh orang juga dalam keadaan pingsan semuanya. Keadaan itu menyebabkan Danghyang Dwijendra naluri kepanditaan Beliau muncul. Beliau sangat iba melihat kenyataan itu dan berusaha memberi pertolongan pada awak perahu yang nasibnya lagi sial itu.

Dengan kekuatan rohani yang sangat mumpuni Danghyang Dwijendra berhasil membuat tujuh awak perahu itu siuman kembali. Tujuh awak perahu itu sangat berterima kasih pada Danghyang Dwijendra atas pertolongan yang Beliau berikan dengan kadar keikhlasan yang amat tinggi itu. Tanpa pertolongan Pandita Sakti itu mereka sangat yakin tidak mungkin bisa hidup kembali.

Tujuh awak perahu itu pun menceritakan asal-usul terjadinya musibah yang menimpa diri mereka. Sesungguhnya mereka sangat yakin tidak mungkin bisa hidup dalam musibah tersebut. Mereka sudah sangat pasrah atas nasib yang menimpa dirinya setelah berbagai usaha dilakukan atas kecelakaan tersebut. Ketujuh orang awak perahu itu menyatakan dirinya dari Sasak.

Dang Hyang Dwijendra menganjurkan agar mereka memperbaiki perahunya dengan seksama sebelum kembali ke Sasak. Tujuh awak perahu itu pun diberikan berbagai petunjuk dalam memahami dan dan mengatasi berbagai persoalan hidup di dunia ini. Semua petunjuk itu di ikuti oleh awak perahu dari Sasak itu.

Setelah beberapa lama awak perahu itu diajak bermalam di daerah Tejakula, Buleleng Utara itu tibalah gilirannya untuk bersiap-siap kembali ke Sasak. Danghyang Dwijendra pun menyatakan ikut karena memang sudah lama beliau niatkan untuk meninjau keadaan masyarakat Sasak. Pagi hari Beliau pun ikut berangkat ke Sasak dan sampai di Sasak dengan selamat.

Batu tempat Danghyang Dwijendra bermeditasi di Bai Utara itu setiap malam mengeluarkan sinar yang sangat ajaib dan menimbulkan vibrasi spiritual yang sangat luar biasa. Karena itu, umat yang datang tidak semata-mata ingin menyaksikan batu-batu yang bersinar saja, tetapi mereka juga bersembahyang pada Hyang Widhi atau karunia itu.

Akhirnya umat mendirikan Pura yang diberi nama Ponjok Batu artinya tanjung batu. Pelinggih utama di Pura Ponjok Batu pada awalnya adalah dalam wujud Sanggar Agung. Pada mulanya Pura Ponjok Batu itu terletak di sebelah selatan jalan dengan areal yang tidak begitu luas.

Pura Ponjok Batu itu kini sudah diperluas dan berada di sebelah utara jalan dari Singaraja menuju Karangasem. Pura Ponjok Batu itu kini sudah jauh lebih megah dan luas sehingga mampu menampung umat yang cukup banyak, terutama saat ada upacara Pujawali atau hari raya keagamaan Hindu lainnya.

Mengapa sampai batu-batu tempat Danghyang Dwijendra bermeditasi dan menolong awak perahu dari Sasak itu bersinar. Hal ini mungkin dapat kita pahami kalau ditinjau dari kacamata spiritual. Seorang Pandita menurut konsep Hindu adalah orang suci yang hidupnya hanya untuk memikirkan dan memperhatikan nasib orang lain. Demikian juga mereka yang ditolong juga sangat berterima kasih dan tulus menerima. Bertemunya dua ketulusan itulah menyebabkan turunnya anugerah Tuhan berupa vibrasi kesucian dalam wujud sinar itu.

* I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/3/22/bd3.htm

Makna di Balik Simbol Pura Banua

Pura Banua merupakan salah satu kompleks Pura Besakih yang berisi simbol-simbol sakral yang dapat kita gali nilai-nilai simbolisnya. Ada nilai-nilai penuh makna di balik simbol yang berada di Pura Banua tersebut. Secara umum Pura Banua itu adalah sebagai media pemujaan pada Tuhan untuk memohon kekuatan spiritual agar umat mampu mengelola kekayaan alam ciptaan Tuhan itu secara produktif dan efisien. Seperti apa Pura Banua itu?

=================================================

Sesungguhnya manusia lahir ke bumi ini telah dibekali kekayaan berupa naluri untuk mempertahankan dan mengembangkan hidupnya. Dalam Atharvaveda.VII.115.3 menyatakan bahwa sesungguhnya manusia lahir dengan bekal kekayaan yang ada dalam dirinya. Kekayaan itu berupa naluri untuk hidup dan berkembang. Hal itu tergantung pada manusia itu sendiri. Manusia hendaknya berusaha untuk mengelola hidupnya dan menyingkirkan naluri yang buruk dan mengembangkan naluri yang baik. Maksudnya upaya mencari kekayaan itu hendaknya dibatasi untuk mengembangkan jati diri sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan.

Sebagai ciptaan Tuhan manusia memiliki kemampuan untuk menguasai dirinya agar tidak terjebak oleh gejolak indrianya. Indria yang dapat dikuasai akan dapat menjadi kekuatan untuk menguatkan eksistensi diri konsisten berjalan di atas jalan dharma.

Upaya untuk mengembangkan naluri hidup yang positif dan mencegah naluri yang negatif tidak mudah dilakukan tanpa tuntutan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi mengelola sumber daya alam yang tergantung pada hukum Rta. Untuk melindungi naluri yang positif itu Tuhan dipuja sebagai Batari Sri sebagai Sakti Dewa Wisnu pelindung kekayaan. Adanya Pelinggih Gedong sebagai sarana pemujaan Batari Sri sebagai media untuk mengembangkan spirit dalam bentuk berbagai ide dan gagasan-gagasan untuk membangun kemakmuran bersama.

Ide maupun gagasan-gagasan tersebut bersumber dari pengembangan spiritual dari proses pemujaan pada Batara Sri sebagai manifestasi Tuhan. Dengan demikian ide maupun gagasan tersebut bersifat strategis jangka panjang. Artinya ide dan gagasan tersebut tidak akan sampai merusak alam itu sendiri sebagai sumber mengembangkan kemakmuran. Kalau dari awal pengembangan kemakmuran itu dengan pendekatan spiritual maka upaya mencari kemakmuran itu tidak akan bergeser dari kemakmuran untuk hidup bukan kemakmuran untuk mengembangkan keserakahan.

Karena kalau rakus dasarnya maka kemakmuran itu akan membawa malapetaka bagi manusia. Akan muncul ketidakadilan. Dari ketidakadilan itu akan muncul permusuhan di antara sesama manusia. Karena keserakahan itu muncul dari pengembangan naluri yang tidak baik. Atharvaveda tersebut menyatakan agar manusia berusaha untuk membuang naluri-naluri kotor. Dengan berkonsentrasi pada pemujaan pada Batari Sri itu sebagai media religius untuk membendung dan membuang naluri kotor tersebut.

Pemujaan Batari Sri di samping dengan media Pelinggih Gedong juga dengan media Dewa Nini yang disimbolkan dengan seikat padi terpilih dengan hiasan ritual khas Hindu di Bali. Simbol Dewa Nini ini mengandung makna agar ide-ide dan gagasan-gagasan tersebut diwujudkan dalam tataran fragmatis, sehingga tidak mengawang-awang tanpa wujud. Simbol Dewa Nini ini diambil dari padi terpilih agar menjadi contoh untuk terus dikembangkan secara produktif dengan tetap memperhatikan aspek-aspek strategis jangka panjang.

Simbol stana Dewa Nini ini menggunakan padi sebagai simbolnya mengandung makna bahwa ide dan gagasan kemakmuran itu benar-benar nyata wujudnya seperti padi dengan kualitas terpilih itu. Kemakmuran itu hanya angan-angan saja. Dewa Nini ini di stanakan di bagian hulu dari Jineng sebagai media penghormatan kepada Dewa Nini simbol Pradana dari Batara Sri tersebut. Pradana adalah lambang wujud meterial sebagai wadah Purusa.

Jineng atau lumbung itu adalah sebagai tempat menyimpan padi bukan beras dan juga menyimpan sumber bahan makanan yang lainnya seperti jagung dan padi-padian lainnya. Hal ini melambangkan agar penggunaan hasil kekayaan yang diusahakan dari bumi ini digunakan secara hemat dan tepat. Menyimpan dalam bentuk padi itu bertujuan untuk menghemat secara tepat. Agar jangan menggunakan hasil kekayaan bumi ini dengan cara yang tidak benar.

Dalam Atharvaveda VII.115.4. dinyatakan ada kekayaan yang menguntungkan dan ada kekayaan yang tidak menguntungkan. Dalam Mantra Veda tersebut disertai dengan suatu doa semoga kekayaan yang menguntungkan selalu menyertai dan kekayaan yang tidak menguntungkan menjauh. Hal ini bermaksud agar manusia dalam menggunakan kekayaan itu tidak hanya menggunakan pendekatan hawa nafsu semata.

Kekayaan itu merugikan karena cara penggunaannya yang tidak menggunakan nilai-nilai kerohanian. Kekayaan tersebut akan senantiasa menguntungkan kalau penggunaannya menggunakan pendekatan daya spiritual dan kecerdasan intelektual. Agar daya spiritual itu berkembang maka dalam mengelola kekayaan itu dilakukan pemujaan pada Dewi Sri Sakti Dewa Wisnu. Lumbung itu simbol untuk memotivasi umat agar bisa hidup yang hemat dengan tepat.

Agar pengelolaan kekayaan hasil bumi ini ditiru oleh umat seluruhnya maka Jineng di Pura Banua ini adalah sebagai induknya Jineng di seluruh Bali. Dalam Rgveda VIII.45.41 ada suatu doa sbb: Ya Tuhan Yang Mahaesa, semoga melimpahkan kekayaan yang patut kami ditiru yang tersimpan di pegunungan atau di bawah tanah atau yang terbenam di samudera yang jumlahnya tak terhingga.

Mantra Rgveda ini dapat kita pahami sebagai suatu doa agar dalam mengelola kekayaan bumi ini senantiasa mendapat tuntunan Tuhan, sehingga pengelolaan kekayaan di bumi ini menjadi contoh bagi masyarakat luas. Dewasa ini bumi sudah semakin rusak karena pengelolaan kekayaan yang tersimpan di dalam bumi ini menggunakan pendekatan hedonistis. Artinya bumi diolah untuk memenuhi kenikmatan inderawi tanpa kendali.

Adanya balai Pesamuan dengan delapan tiang itu sebagai simbol bahwa dalam mengelola bumi ini dengan hasil-hasilnya hendaknya dilakukan dengan memperhatikan aspirasi masyarakat luas. Segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan bersama harus dipikirkan bersama dengan semangat musyawarah, sehingga tidak ada yang merasa ditinggalkan. Kekayaan alam yang dikandung bumi ini bukan untuk suatu golongan tertentu saja. Kekayaan tersebut untuk semua umat manusia, termasuk makhluk hidup lainnya. Demikianlah nampaknya nilai-nilai yang tersembunyi di balik simbol sakral di Pura Banua Besakih. * wiana

http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/5/9/bd2.htm

Pura Banua Hulunya Lumbung di Bali

Vaisyah krsivalah karyo-
gopah
sasya bhrtvratah,
vartayukto
grhopatah-
ksetra
palo tha Vaisyah.
(Slokantara, 37)

Maksudnya:
Swakarma
vaisya varna adalah bertani, mengembala ternak mengumpulkan padi-padian, berdagang, mengusahakan rumah penginapan dan menjadi pelindung ladang.

BERTANI dan beternak merupakan mata pencaharian awal dari manusia sebelum adanya perkembangan industri barang maupun industri jasa. Dari bertani dan beternak itulah munculnya usaha dagang sebagai lapangan pekerjaan untuk melangsungkan kehidupan. Orang yang bekerja di sektor ekonomi ini disebut Vaisya Varna dalam sistem profesi untuk mendapatkan mata pencaharian berdasarkan Weda.

Tugas petani sebagai Vaisya Varna di samping memproduksi hasil-hasil tersebut agar dapat digunakan sehemat mungkin. Tentunya tidak sampai mengurangi fungsinya untuk membangun hidup sehat sejahtera lahir batin. Memproduksi sumber-sumber kebutuhan hidup sehari-hari itu dan juga menggunakannya agar hemat dan tepat guna bukan pekerjaan yang dapat dilakukan begitu saja.

Pekerjaan itu harus dilakukan dengan ilmu pengetahuan dan juga ketenangan hati. Membina sikap hidup produktif yang hemat tepat guna dapat dilakukan dengan memulainya dari pemujaan pada Tuhan. Pemujaan ini untuk menumbuhkan bahwa pemahaman bahwa Tuhan menghendaki agar semua ciptaan-Nya ini tidak ada yang tersia-siakan. Swami Satya Narayana menyatakan bahwa ada empat hal yang tidak boleh diboroskan. Empat hal ini adalah rezeki, makanan, tenaga, dan waktu.

Hidup produktif dan hemat itu ditanamkan juga dalam sistem pemujaan pada Tuhan oleh umat Hindu di Bali. Karena hidup produktif dan hemat itu salah satu cara untuk membangun hidup yang sejahtera. Hal itu dikembangkan di salah satu kompleks Pura Besakih yang disebut Pura Banua. Di pura ini Tuhan dipuja sebagai Dewa Sri, Sakti Dewa Wisnu sebagai Dewi Kemakmuran.

Pura Banua ini salah satu kompleks Pura Besakih yang juga berkedudukan sebagai hulunya lumbung di Bali. Pura ini terletak bersebelahan dengan Pura Basukian di kanan jalan menuju Pura Penataran Agung Besakih. Katabanuadalam bahasa Bali kuno artinya desa menurut pengertian sekarang. Banua dalam pengertian yang lebih luas adalah suatu wilayah pemukiman untuk membina kerja sama membangun dan memelihara kesejahteraan hidup bersama yang produktif dan hemat. Pelinggih atau bangunan suci yang paling utama di pura ini adalah sebuah pelinggih berbentuk Gedong sebagai stana pemujaan Batari Sri sebagai sakti atau power-nya Dewa Wisnu sebagai Dewa Kemakmuran.

Di pura ini ada sebuah jineng dalam ukuran besar yaitu lumbung padi menurut tradisi umat Hindu di Bali. Sayang lumbung yang disebut jineng itu setelah rusak tidak diperbaiki lagi sehingga bangunan tersebut terhapus. Di lumbung besar itulah hasil-hasil tanah laba Pura Besakih disimpan.

Umat Hindu di Bali kalau memanen padi di sawah umumnya menyisihkan seikat kecil padinya terus diupacarai dan distatuskan sebagai simbol Dewa Nini. Dewa Sri yang dalam hal ini disebut Dewa Nini. Seikat padi yang disimbolkan sebagai Dewa Nini inilah yang distanakan di bagian hulu atau keluwan di ruangan dalam lumbung yang ada di Pura Banua tersebut. Mungkin karena kurang paham akan makna jineng atau lumbung itu maka saat rusak tidak lagi diperbaiki karena saat ini tidak ada lagi orang menyimpan padi dengan cara tradisi seperti dahulu.

Sesungguhnya adanya jineng itu jangan dilihat dari fungsi nyata (sekala) dewasa ini. Jineng di Pura Banua itu hendaknya dilihat dari sudut niskala sebagai simbol sakral. Simbol sakral berupa jineng itu sebagai media untuk menanamkan sikap hidup produktif dan hemat kepada umat. Ke depan ada baiknya jineng itu dibangun kembali untuk dijadikan media menanamkan nilai-nilai spiritual kepada generasi penerus agar ia bisa hidup produktif dan hemat sebagai cara membangun hidup yang makmur secara berkelanjutan.

Untuk masyarakat awam ajaran agama yang abstrak itu divisualisasikan dalam bentuk simbol. Dengan simbol itulah berbagai hal bisa dijelaskan secara lebih mudah kepada umat kebanyakan. Apa lagi simbol tersebut terkait dengan pemujaan pada Dewi Sri, Sakti Dewa Wisnu manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kemakmuran. Kehadiran Tuhan sebagai Dewa Kemakmuran diwujudkan sebagai Dewi Sri di pelinggih Gedong dan sebagai Dewa Nini di lumbung pura.

Dewi Sri lambang Tuhan dalam spirit kemakmuran, sedangkan Dewa Nini dalam wujud kongkretnya. Dewi Sri ibarat jiwa atau Purusa-nya, sedangkan Arca Dewa Nini sebagai wujud fisik atau Pradana-nya. Demikianlah dapat diumpamakan. Karena itu Dewa Nini itu disimbolkan dengan seikat padi. Padi yang dijadikan simbol Dewa Nini itu tentunya padi dari pilihan yang terbaik sehingga menjadi contoh produksi untuk diupayakan oleh masyarakat petani mempertahankan kualitas produknya.

Ini artinya seikat padi terpilih sebagai simbol arca itu, di samping bermakna sebagai simbol sakral ia juga memiliki nilai sebagai simbol material untuk dijadikan contoh oleh pada petani dalam mempertahankan dan mengembangkan kualitas produknya.

Di Pura Banua ini di samping ada Gedong dan Jineng stana Dewi Sri dan Dewa Nini ada juga Balai Pesamuan yang terletak di sebelah kiri Gedong Dewi Sri. Balai Pesamuan ini bertiang delapan dan dibagi menjadi dua bagian yang disekat dengan sebilah papan. Balai Pesamuan ini sebagai tempat bertemunya para pemimpin masyarakat Desa Besakih dengan telah ditentukan tempat duduknya masing-masing.

Balai Pesamuan ini sebagai simbol bahwa dalam membangun kehidupan ekonomi agraris itu tidak bisa para petani berjalan sendiri-sendiri. Apa lagi kehidupan petani sangat tergantung pada iklim dan musim yang ditentukan oleh dinamika alam. Para petani harus mendapat tuntunan dari para akhli dan praktisi astronomi yang dalam ajaran Weda disebut Jyothisa.

Di samping ditentukan oleh musim bertani itu juga ditentukan oleh hari baik atau dewasa menanam padi. Yang juga amat menentukan adalah manajemen irigasi. Hal-hal inilah yang akan menjadi pembahasan umat petani dalam mengembangkan kemakmuran bersama. Hidup bersama itu harus dikembangkan berbagai kebijakan melalui suatu musyawarah agar semua informasi yang ada dapat ditata sesuai dengan fungsi dan profesi yang dimiliki oleh masyarakat bersangkutan.* i ketut gobyah

http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/5/9/bd1.htm

Pura Penegil Dharma

Posted by Adnyana under Pura di Buleleng

Pura Penegil Dharma Berawal dari Kerajaan Kawista

 Pura Penegil Dharma berada di wilayah Desa Kubutambahan Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Pura yang tergolong Kahyangan Jagat Nusantara ini sering pula disebut Pura Puseh Penegil Dharma atau Penyusu Dharma. Berdasarkan penuturan Ulu Krama Pura Penegil Dharma Prof. Putu Armaya, pura ini merupakan pura tertua di Bali dan menjadi cikal-bakal Bali. Sebagai pusat kesucian bhuwana agung. Sejarah pendirian pura ini dimulai pada 915 Masehi.

 ======================================================== 

Menurut Prof. Armaya, keberadaan Pura Penegil Dharma tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Ugrasena, pendiri Dinasti Warmadewa dan Maha Rsi Markania atau yang disebut masyarakat Bali sebagai Rsi Markandea. Pura Penegil Dharma sudah ada sebelum Majapahit datang ke Bali. Saat itu Bali masih menyatu dengan Pulau Jawa dan berada di ujung timur pulau itu. Dahulu Bali bernama Prawali. “Itu berdasarkan prasasti Mataram I,” ucap ahli sejarah yang pernah jadi Ketua DPRD Buleleng pada 1977 ini. 

 Dalam prasasti itu juga tertulis bahwa Gunung Merapi meletus hebat pada 914 Masehi. Letusannya menghancurkan ibu kota Kerajaan Mataram I yang berpusat di Candi Boko, Jawa Tengah, di mana penduduknya menganut agama Siwa. Raja Mataram I Sri Sanjaya meninggal karena bencana itu. Kemudian masyarakat setempat yang selamat dipimpin Mpu Sindok mencari tempat baru untuk mendirikan kerajaan. 

 Mereka menyusuri perbukitan selatan Pulau Jawa. Di lereng Gunung Semeru rombongan itu menemukan aliran sungai bernama Berantas. Akhirnya di tepi sungai itu, Mpu Sindok yang begelar Rakai Hino membangun kerajaan yang diberi nama Kahuripan.  

 Sementara Ugrasena, salah seorang anggota keluarga Raja Mataram I tidak ingin turut membangun Kahuripan. Hal tersebut karena dalam meditasinya di Candi Boko, Ugrasena yang seorang spiritualis tinggi itu melihat pralingga Ida Sang Hyang Widhi di ujung timur Pulau Jawa yaitu Prawali bersinar berkilauan. Ugrasena lalu berniat membangun pusat kerajaan baru di Prawali. 

 Di Kahuripan, Ugrasena mendengar bahwa ada parekan Ida Sang Hyang Widhi sedang bertapa di Puncak Gunung Semeru. Namanya Maha Rsi Markania. Nama “Markania” berasal dari kata “parekan”. Ugrasena lalu menghubungi Maha Rsi itu dan bersama-sama mencari pralingga di Prawali. Bersama sebagian rakyat Mataram I mereka akhirnya menemukan pralingga tersebut di tepi danau yang kemudian diberi nama Kawista yang artinya buah bila.  

 Kawista ini juga singkatan dari “Kawi Prayascita”, bermakna wilayah Kawista sebagai ibu kota yang sudah suci karena titah (takdir) sebelum campur tangan manusia yang mengupacarai kesuciannya. Maha Rsi Markania mengatakan tempat itu Gigir Manuk yang berada di wilayah Desa Kubutambahan hingga Air Lutung (Ponjok Batu).

 Kawista dibangun menjadi pusat kerajaan, istana, agama dan petirtaan karena di dalam danau itu ada 118 mata air suci. Ugrasena menjadi Raja Kawista dengan gelar Kesari Warmadewa. Sementara Senapati Kuturan atau Menteri Agama dijabat Rsi Markania yang merangkap sebagai penasihat raja. Kawista inilah nantinya menjadi Pura Penegil Dharma. 

 Batas wilayah Kawista di arah utara adalah laut yang ada hutan bakau sepanjang 200 meter. Di dalamnya terdapat laguna yaitu danau air tawar yang tembus ke laut. Timur: Ponjok Batu (Air Lutung). Selatan: Paradayan Air Tabar (sekarang jadi Desa Bayad, Tajun, Tunjung, Depeha). Barat daya: Bila (sekarang jadi Bila Tua, Bila Bajang, Bengkala, Tamblang) dan di arah barat: Air Raya (Tukad Aya). 

 Di Istana Kawista inilah lahir keturunan Dinasti Warmadewa yaitu putra-putra Kesari Warmadewa. Pertama Janasadhu Warmadewa dengan permaisurinya Sri Wijaya Mahadewi yang menurunkan Udayana. Udayana memiliki permaisuri Mahendradatta, yaitu mindon-nya dari Kerajaan Kahuripan. Keturunan selanjutnya dari Dinasti Warmadewa yaitu Marakata Pangkaja dan Anak Wungsu tidak menghasilkan keturunan (ceput) sehingga tidak ada penerus Kerajaan Kawista yang masih menyatu dengan Pulau Jawa itu. Kawista akhirnya jadi hutan rimba yang ditempati para bromocorah. 

 Sementara pada 1248, di Singosari dinobatkan dua pangeran muda menjadi raja kembar, setelah perebutan kekuasaan di Daha. Kedua pangeran bersepupu itu masing-masing Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Ranggawuni dinobatkan sebagai raja Jawa bergelar Jaya Wisnu Wardana, sedangkan Mahesa Cempaka menjadi Raja Mancanegara Nusa Atepan yang terdiri tujuh gugusan kepulauan selain Jawa. Dia juga disebut Nara Jaya atau Jaya Pangus. Sebagai raja dia bergelar Narasinga Murti. Sementara Nusa Atepan diberi nama Narasinga Negara dengan lambang singa bersayap. 

 Selanjutnya, Wisnu Wardana memperistri adik Narasinga Murti bernama Waninghiun. Mereka memiliki putra Kertanegara. Sejak itulah terjadi keretakan antara keluarga Wisnu Wardana dengan Narasinga Murti. Muncul isu Narasinga Murti tidak dikehendaki berada di Jawa karena dia raja mancanegara. Maka pada 1250, Narasinga Murti melacak jejak istana leluhurnya di Prawali. Tujuannya untuk dijadikan pusat kerajaan Narasinga Negara. Saat itu Prawali sudah terputus dengan Pulau Jawa dan menjadi pulau tersendiri bernama Bali. Kedua pulau itu terpisah laut sempit yang lebarnya kurang dari 100 meter sehingga diberi nama “Segara Rupet”. 

 Akhirnya Narasinga Murti yang saat itu bernama Suradipa atau Ksatria tanah leluhur menemukan Kawista. Lahirlah istilah Pakraman I Bulian dari kata “muloyo iki pusering jagat prawali”. I Bulian juga berarti tanah yang lain. Pada 1260 sesuai permintaan Pakraman Paradayan Bulian, Narasinga Murti menjadi Pasek di tempat tersebut karena sudah lama terjadi kekosongan kekuasaan di Bali. Kawista juga sudah ditempati para bromocorah yang merampok pedagang yang melewati tempat itu. Dengan menyandang nama Jayasakti, dia lalu menumpas para penjahat itu.  

 Pura Penegil Dharma

 Setelah menumpas para penjahat, Kawista dibangun kembali menjadi areal pura. Di Pura Puseh Panegil Dharma dibangun lima pura yaitu Pura Pucaking Giri (selatan), Pura Patih Patengen Agung (utara), Pura Kertapura yang berfungsi sebagai pesamuan para raja dan patih di Narasinga Nagara (tengah), dalam telaga, Pura Taman Sari Mutering Jagat Istana Dharmadyaksa (timur) dan Pura Kerta Negara Mas sebagai istana raja.

 Sementara pusat itu dikelilingi delapan pura lainnya masing-masing Pura Negara Gambuh Anglayang, Dalem Puri, Maduwe Karang, Patih, Pandita, Candri Manik, Gede dan Pura Sang Cempaka.

 Menurut Prof. Armaya, di Pura Penegil Dharma semua umat harus mohon kesadaran terhadap fungsi panumadian supaya perjuangan hidup berhasil dengan baik. Orang yang bersembahyang ke pura ini harus dalam keadaan bersih lahir batin seperti balita. 

 “Jangan meminta hal-hal aneh seperti kekayaan berlebihan karena tidak akan berhasil. Begitupun niat-niat buruk, tidak akan mempan dilakukan di Pura Penegil Dharma,” ucapnya. 

 Sementara itu, salah seorang pemangku di Pura Penegil Dharma Jro Mangku Gede Nyoman Sara mengatakan pura ini berada di lahan seluas sekitar 1,5 hektar. Piodalan di pura ini berlangsung setiap enam bulan, yaitu saat Buda Manis Julungwangi. Pura ini disungsung seluruh masyarakat Buleleng dan Bali.  

 Pangemongnya dari Desa Pakraman Kubutambahan yang terdiri atas Pasaren, Teruna dan Pemaksan. Jumlahnya lebih dari 500 orang. Para pangemong ini yang menyiapkan segala upacara yang berlangsung di Pura Penegil Dharma.

Pura Pulaki

Posted by Adnyana under Pura di Buleleng

Pura Pulaki, Tempat Suci Peninggalan Prasejarah

Sulit ditampik, lingkungan Pura Pulaki adalah sebuah kawasan suci yang bisa disebut sangat sempurna. Selain memiliki pemandangan alam menakjubkan, aura religius dan kesucian yang berpendar di kawasan pura dan sekitarnya akan terasa jelas, seakan masuk di sela pori-pori kulit. Sebagian umat yang sempat sembahyang ke pura itu bahkan kerap mengaku bulu tipis di lehernya sesekali akan tegak. Mungkin karena takjub yang berlebihan pada keindahan alamnya atau amat terkesan pada aura religius yang dirasakannya.

PURA Pulaki berdiri di atas tebing berbatu yang langsung menghadap ke laut. Di latar belakangnya terbentang bukit terjal yang berbatu yang hanya sekali-sekali saja tampak hijau saat musim hujan. Pura ini tampak berwibawa, teguh dan agung, justru karena berdiri di tempat yang teramat sulit. Apalagi pemandangan yang ditampilkan begitu menawan. Jika berdiri di dalam pura lalu memandang ke depan, bukan hanya laut yang bakal tampak namun juga segugus bukit kecil di sebelah baratnya yang berbentuk tanjung. Kera-kera yang hidup di sekitar pura ini, meski terkesan galak, juga menciptakan daya tarik tersendiri.

Pura Pulaki terletak di Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Buleleng, sekitar 53 kilometer di sebelah barat kota Singaraja. Pura ini terletak di pinggir jalan raya jurusan Singaraja-Gilimanuk, sehingga umat Hindu akan selalu singgah untuk bersembahyang jika kebetulan lewat dari Gilimanuk ke Singaraja atau sebaliknya. Namun jika ingin bersembahyang secara beramai-ramai, umat bisa datang saat digelar rangkaian piodalan yang dimulai pada Purnama Sasih Kapat. Sejarah Pura Pulaki memang tak bisa dijelaskan secara tepat. Namun, dari berbagai potongan data yang tertinggal, sejarah pura itu setidaknya bisa dirunut dari zaman prasejarah.

Ketua Kelompok Pengkajian Budaya Bali Utara Drs. I Gusti Ketut Simba mengatakan, jika mengacu pada sistem kepercayaan yang umum berlaku di Nusantara — sejak zaman prasejarah gunung senantiasa dianggap tempat suci dan dijadikan stana para dewa dan tempat suci para roh nenek moyang — maka diperkirakan Pura Pulaki sudah berdiri sejak zaman prasejarah.  Hal ini merunut pada konsep pemujaan Dewa Gunung, yang merupakan satu ciri masyarakat prasejarah. Sebagai sarana tempat pemujaan biasanya dibuat tempat pemujaan berundak-undak. Semakin tinggi undakannya, maka nilai kesuciannya semakin tinggi. “Seperti Pura-pura di deretan pegunungan dari barat ke timur di Pulau Bali ini,” kata Simba.

Di kawasan Pura Pulaki, di sekitar Pura Melanting, sekitar 1987 ditemukan beberapa alat perkakas yang dibuat dari batu, antara lain berbentuk batu picisan, berbentuk kapak dan alat-alat lain. Berdasar hal itu, dan dilihat dari tata letak dan struktur pura, maka dapat diduga latar belakang pendirian Pura Pulaki awalnya berkaitan dengan sarana pemujaan masyarakat prasejarah yang berbentuk bangunan berundak.

Di sisi lain, dilihat dari letak Pura Pulaki yang terletak di Teluk Pulaki dan memiliki banyak sumber mata air tawar, maka kawasan ini diduga sudah didatangi manusia sejak berabad-abad lalu. Kawasan Pulaki menjadi cukup ramai dikunjungi oleh perahu dagang yang memerlukan air sebagai bahan yang sangat diperlukan dalam pelayaran menuju ke Jawa maupun ke Maluku. Bahkan, kemungkinannya pada waktu itu sudah ada berlaku perdagangan dalam bentuk barter. Barang yang kemungkinan dihasilkan dari kawasan Pulaki adalah gula dari nira lontar. Ini didasarkan hingga kini masih ditemukan tanaman lontar di sepanjang pantai dari Gilimanuk ke timur, termasuk Pulaki.

Dari uraian itu, kata Simba, dapat diduga Pulaki sudah ada sejak zaman prasejarah, baik berhubungan dengan tempat suci, maupun sebagai tempat aktivitas lainnya. Hal ini berlanjut hingga peristiwa penyerangan Bali oleh Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam buku ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang disusun Ketut Ginarsa tertulis bahwa pasukan Gajah Mada turun di Jembrana lalu berbaris menuju desa-desa pedalaman, seperti Pegametan, Pulaki dan Wangaya.

Menurut Simba, Pulaki juga pernah dijadikan pusat pengembangan agama Hindu sekte Waisnawa sekitar 1380 Masehi seperti tertera dalam buku ”Bhuwana Tatwa Maharesi Markandeya” susunan Ketut Ginarsa. Data lain yang menyebut tentang Pulaki terdapat juga dalam buku ”Dwijendra Tatwa” karangan Gusti Bagus Sugriwa. Di situ ada tertulis, “Baiklah adikku, diam di sini saja, bersama-sama dengan putri kita Ni Swabawa. Ia sudah suci menjadi Batara Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Batara Dalem Ketut yang akan dijunjung dan disembah orang-orang di sini yang akan kanda pralinakan agar tak kelihatan oleh manusia biasa. Semua menjadi orang halus. Daerah desa ini kemudian bernama Pulaki.”

Data lain tentang Pulaki adalah ditemukannya potongan candi yang bentuknya seperti candi yang ada di Kerajaan Kediri. Ditemukan di Pura Belatungan tahun 1987. Dari data itu, maka kesimpulannya keberadaan Pura Pulaki sebagai suatu tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah dan menghilang setelah kehadiran Dang Hyang Nirarta dengan peristiwa dipralinakannya Pura Pulaki sekitar 1489 Masehi. Keberadaan Pura Pulaki tanpa penghuni secara sekala berlangsung cukup lama. Pura Pulaki menghilang dari penglihatan sekala dan daerah ini praktis kosong sejak 1489 sampai sekitar tahun 1920 atau selama sekitar 431 tahun. Namun sebelum itu, dari kurun waktu zaman prasejarah sampai dengan kehadiran Ida Batara Dang Hyang Nirarta tahun 1489, Pura Pulaki masih tetap sebagai tempat pemujaan, baik yang dilaksanakan orang prasejarah, orang Baliaga dengan Sekte Waisnawa yang dikembangkan Rsi Markandeya dan orang pengikut Tri Sakti dengan simbol tiga kuntum bunga teratai yang berwarna merah, hitam dan putih yang dipetik Dang Hyang Nirarta dari kolam yang diperoleh dalam perut naga di Pulaki.

Dipugar

Suatu daerah yang tak dihuni selama ini, sudah pasti menjadi hutan belantara dan hanya dihuni binatang buas, babi hutan, harimau, banteng dan lain-lainnya. Kendati begitu, menurut Simba, masyarakat Desa Kalisada dan beberapa desa di sekitarnya masih tetap setia ngaturang bhakti kepada Batara di Pulaki dengan naik perahu dari Kalisada. Namun saat itu Pura-pura itu sudah tak ada lagi, sehingga pemujaannya dilakukan pada batu-batu yang ada di sekitar Pura Pulaki yang lokasinya berada pada tempat sekarang ini.

Untuk itu, Simba menduga Pura Pulaki sebenarnya berada di dalam hutan, bukan di tempat yang sekarang ini. Lokasi pura yang sekarang diperkirakan sebagai tempat pengayatan karena warga tak berani masuk ke dalam hutan. “Karena tempat ini sudah dihuni binatang buas, sehingga tak mungkin masuk ke pedalaman,” katanya.

Tahun 1920 Pulaki mulai dibuka yang ditandai dengan disewakannya tempat ini oleh pemerintah kolonial Belanda kepada orang Cina bernama Ang Tek What. Kawasan itu kemudian dikembalikan sekitar tahun 1950 yang selanjutnya dilakukan pemugaran-pemugaran terhadap tempat suci di kawasan itu. Pemugaran Pura Pulaki dan pesanakannya dilakukan setelah tahun 1950.

Menurut Simba, Pura Pulaki dan pesanakan, seperti Pura Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Melanting, Pura Belatungan, Pura Puncak Manik dan Pura Pemuteran, tak bisa dipisahkan.  Dilihat dari 7 lokasi Pura-pura tersebut dan sesuai konsep Hindu hal itu termasuk konsep sapta loka, yakni konsep tentang sapta patala, yakni 7 lapisan alam semesta.

* adnyana ole

Pulaki dan Sumsum Tulang Itik

SEJARAH Pura Pulaki tak bisa dilepaskan dari tempat-tempat pemujaan lainnya di Bali. Menurut Ketua Kelompok Pengkajian Budaya Bali Utara Drs. I Gusti Ketut Simba, Buleleng terletak di antara gunung dan laut. Karena jarak pegunungan dan laut sangat dekat maka datarannya yang dimiliki sangat sempit. Ini disebut wilayah nyegara-gunung, suatu daerah yang penuh dengan pusat spiritual dan tempat pemujaan, baik di gunung maupun di tepi laut.

Ketut Simba menjelaskan, bentuk Pulau Bali itu tak ubahnya seperti seekor itik. Kepala menghadap ke barat berhadapan dengan Jawa, punggung ke utara berhadapan dengan laut Jawa dan Laut Bali, ekornya ke timur menghadap ke Lombok. Sementara leher, tembolok, dada, perut, berhadapan dengan Samudera Hindia. Di bagian punggung Pulau Bali terbentang sederetan daerah pegunungan dari barat, daerah Desa Cekik hingga ke timur di Lempuyang Karangasem sehingga Bali seolah dibelah menjadi dua. Bali Selatan dan Denbukit. Denbukit juga dibagi dua, di mana bagian barat biasa disebut dauh enjung dan dangin enjung, di mana batasnya adalah enjung sanghyang.

Ekor itik ini punya makna bahwa Bali punya nilai kesucian yang sangat tinggi. Karena itik binatang suci, terbukti jika orang membikin banten (aturan suci), terutama suci gede, maka binatang ini adalah sarana yang sangat menentukan kesucian banten tersebut. Begitu pula pegunungan yang memanjang dari barat ke timur adalah punggung itik, di mana pada tulang punggung mengandung sumsum dan unsur kehidupan pada dimensi spiritual. “Pada tempat inilah ditemukan garis kundalini,” katanya.

Pura-pura yang ditemukan di sepanjang pantai antara lain Pura Bakungan, Pura Teluk Terima, Labuhan Lalang, Pura Gede Pengastulan, Labuhan Aji, Celuk Agung, Penimbangan, Beji, Puradalem Puri, Gambur Anglayang, Kerta Negara Mas, Pojok Batu, Pura Pulaki dengan pesanakannya dan pura lainnya. Sedangkan di pegunungan dari barat ke timur ada Pura Pucak Manik, Pura Bujangga, Asah Danu, Batukaru, Tamblingan, Puncak Mangu, Bukit Sinunggal, Indrakila, Penulisan, Besakih, Gunung Andakasa, Lempuyang dan lain-lain.

Nah, Pura Pulaki yang dibangun pada tempat perpaduan antara daerah pegunungan dan laut atau teluk. Maka tata letak, struktur dan lingkungan Pura Pulaki ini ditemukan unsur antara segara dan gunung yang menyatu.

* adnyana ole

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2006/1/18/bd2.htm

Mohon Kemakmuran di Pura Pulaki

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2006/1/18/bd1.htm

Yadnyadanatapah karmana
Tyajyam karyam eva tat.
Yadnyodanam tapas vaiva
Pavanani maniinam.

Maksudnya: Hendaknya melakukan dana, yadnya dan tapa tidak pernah dihentikan. Sebab, dana, yadnya dan tapa itulah yang akan menyucikan orang-orang yang bijaksana.

DANA artinya memberikan baik berupa materi maupun nonmateri. Dengan dana itulah manusia hendaknya hidup saling beryadnya. Maksudnya, dana itulah yang dikembangkan agar bisa hidup saling memelihara berdasarkan yadnya dalam kehidupan bersama. Cuma dalam kehidupan bersama untuk saling berdana dan beryadnya itulah banyak godaan. Dalam proses dana dan yadnya itulah kita bertapa.

Tapa artinya kuat menghadapi godaan. Dinamika dana dan yadnya itu sangat tajam dalam kehidupan bisnis di pasar. Pedagang berinvestasi (dana) dalam wujud barang dan jasa agar dapat memberikan pelayanan pada pembeli. Atas pelayanan dagang itu pembeli mendapatkan kemudahan memperoleh barang maupun jasa di pasar. Oleh karena itu, pembeli wajib memberikan nilai tambah pada barang dan jasa yang ia dapatkan. Demikianlah pedagang dan pembeli saling beryadnya di pasar. Kalau tanpa tapa pedagang bisa mengambil keuntungan yang tidak layak. Karena itu semua pihak jangan tidak jujur dalam proses jual-beli di pasar. Agar pedagang dan pembeli bertapa menahan diri dan berbuat jujur maka di setiap pasar di kalangan umat Hindu di Bali ada Pura Melanting. Di Pura Melanting itulah Tuhan dipuja untuk membangun sikap religius sebagai landasan moral dan mental dalam melakukan transaksi yang adil dan jujur. Di pasar inilah dinamika dana, yadnya dan tapa dilakukan dengan terus-menerus. Dengan demikian semua yang ikut terlibat dengan kehidupan pasar akan terbebaskan dari berbagai dosa. Tidak menipu masyarakat seperti meracuni bahan makanan yang dijual dengan zat kimia berbahaya.

Pusat Pura Melanting di Bali adalah di Pura Pulaki. Lebih tepat disebut di kompleks Pura Pulaki. Karena Pura Pulaki sebagai pusatnya dengan enam Pura Pesanakannya yaitu Pura Melanting, Pura Pegaluhan, Pura Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Taman dan Pura Pemuteran. Semua pura tersebut berhubungan dengan Pura Pulaki dan berada di sekitar pura  tersebut.

Keberadaan Pura Pulaki diceritakan dalam beberapa lontar. Seperti Lontar Babad Bali Radjiya, Babad Bhatara Sakti Bahu Rawuh dan Sejarah Pura Gede Pulaki. Semua sumber tertulis itu menceritakan keberadaan Pura Pulaki tersebut berhubungan dengan kedatangan Mpu Dang Hyang Nirartha dari Majapahit ke Bali. Dalam Babad Bhatara Sakti Bahu Rawuh diceritakan Dang Hyang Nirartha datang dari Jawa Timur ke Bali. Sesampai di Bali beliau menjumpai seekor naga besar yang mulutnya menganga lebar. Beliau masuk ke dalam mulut naga tersebut. Di dalam tubuh naga itu Mpu Dang Hyang Nirartha menemui sebuah taman indah dengan bunga tunjung berwarna putih, hitam dan merah. Bunga padma hitam dan merah disumpangkan di kedua telinganya. Sedangkan yang putih dipegang dengan kedua tangannya di depan dada. Setelah itu Mpu Danghyang Nirartha keluar dari mulut naga raja itu. Setelah di luar semua putra-putri beliau tidak mengenalinya. Kemudian istri dan anak-anak beliau lari terpencar. Istri Danghyang Nirartha berusaha mengumpulkan putra-putranya itu. Tetapi hanya satu yang tidak bisa ditemukan bernama Ida Ayu Swabhawa. Tetapi menjadi Dewa Pasar yang disebut Dewa Melanting dan bebas dari tua dan pati.

Dalam sejarah Pura Gede Pulaki dinyatakan bahwa Danghyang Nirartha ke Bali untuk melantik Dalem Watu Renggong yang memerintah di Bali tahun 1460-1550 M. Perjalanan beliau ke Klungkung dilakukan dari Desa Gading Wani. Anak-anaknya ditinggalkan di Desa Gading Wani. Beliau berjanji tidak beberapa lama akan kembali setelah selesai acara di Klungkung. Tetapi nyatanya Danghyang Nirartha dalam waktu yang cukup lama tidak datang. Putri beliau Ida Ayu Swabhawa akhirnya sangat gusar. Desa-desa di sekitarnya dengan 8.000 penduduk dikutuk menjadi wong samar termasuk dirinya. Ida Ayu Swabhawa dengan pengiringnya tinggal di bawah pohon-pohon besar. Pohon-pohon itu memiliki sulur-sulur tempat bergelayut (ngelanting dalam bahasa Bali). Di areal pohon itulah Ida Ayu Swabhawa dibuatkan pelinggih disebut Pura Melanting. Beliau dengan wong samar itulah yang menjadi penguasa pasar. Barang siapa berdagang maupun berbelanja tidak sesuai dengan etika moral dharma akan diganggu hidupnya oleh Dewa Melanting dengan anak buahnya. Kalau di pasar mengikuti dharma maka Dewa Melanting itulah yang akan melidunginya. Di samping distanakan di Pura Melanting ada juga stana beliau yang disebut Pura Tedung Jagat. Pura inilah yang kemudian disebut Pura Pulaki dan juga distanakan roh suci Dang Hyang Nirartha. Karena itu, Pura Melanting dan Pura Pulaki sebagai predana-purusa sebagai tempat pemujaan untuk memohon kemakmuran ekonomi. Pura Pulaki disungsung oleh 14 subak di sekitar Pulaki. Di Pura Pabean tempat pemujaan para nelayan dan para pedagang antarpulau. Mungkin identik dengan Pura Ratu Subandar di Pura Batur dan Besakih. Pura Kertha Kawat juga tergolong kompleks Pura Pulaki sebagai stana Tuhan untuk memohon tegaknya moral etika dan hukum dalam berbisnis. Di pura ini disebut stana Batara Kertaning Jagat. Pura Gunung Gondol terletak 3 km dari pusat Pura Pulaki sebagai stana untuk memuja Dewa Mentang Yudha yaitu Tuhan dalam fungsinya sebagai pelindung dari segala bahaya seperti Dewa Ganesa. Upacara piodalan di Pura Pulaki setiap dua tahun sekali pada Purnamaning Kalima.

* I Ketut Gobyah

Pura Segara Penimbangan

Posted by Adnyana under Pura di Buleleng

Keunikan Pura Segara Penimbangan 

Pura Segara Penimbangan di Desa Panji Kecamatan Sukasada sesungguhnya secara umum sama saja dengan Pura Segara lainnya di Bali. Meski demikian, ada sesuatu hal khusus yang membedakan dengan Pura Segara lainnya. Di Pura Segara Penimbangan ini ada sebuah Pelinggih Taksu yang dijadikan media pemujaan oleh umat Hindu di Desa Panji. Pelinggih Taksu ini juga dijadikan media pemujaan oleh umat Buddha di sekitar Buleleng. Keunikan apa saja yang dimiliki Pura Segara itu?

====================================================== 

Di Pelinggih Taksu ini terdapat sebuah arca batu yang dipahatkan menempel di Pelinggih Taksu tersebut. Arca tersebut dengan style Cina yang berwujud seorang lelaki gemuk duduk bersila, berkepala gundul dengan perut buncit dalam sikap semadi menghadap ke laut Jawa mirip tokoh Buddha Lokeswara. Pelinggih Taksu ini merupakan Pelinggih Ratu Bungkah Kaang. Konon arca tersebut sebagai peringatan nakhoda kapal milik Dampu Awang atau ada juga yang menyebutnya Empu Awang dari Cina yang pernah kandas di pantai Desa Panji.

Menurut catatan sejarah Soegianto Sostrodiwiryo (1994) dalam bukunya berjudul ”I Gusti Ngurah Panji Sakti Raja Bulelengpenerbit CV Kayu Mas Agung menyatakan pada tahun 1618 Masehi kapal milik Dampu Awang kandas menabrak karang di pesisir Segara Penimbangan Desa Panji. Saat ada kapal yang kandas itu ada seorang tokoh yang sakti bernama Ki Barak Panji yang dari sejak lahirnya memiliki kesaktian yang luar biasa putra dari Sri Aji Dalem Sagening dengan selirnya yang bernama Si Luh Pasek. Ki Barak Panji ini memiliki kesaktian yang luar biasa.

Saat ada kapal Dampu Awang kandas, Ki Barak Panji menunjukkan kesaktiannya untuk mengatasi kapal yang kandas tersebut. Dengan menudingkan kerisnya yang bernama Ki Baru Semang ke tengah laut tempat kapal yang kandas itu dengan teriakan histeris, karang yang membuat kapal tersebut kandas terbongkar. Kapal pun bebas dari terkaman batu karang yang memacetkan kapal Dampu Awang tersebut. Nampaknya sejarah terdamparnya kapal Dampu Awang inilah yang menyebabkan di Pura Segara Penimbangan dibuat sebuah Pelinggih Taksu sebagai media pemujaan Ratu Bungkah Kaang. Di atas Pelinggih Taksu tersebut diletakkan sebagai bongkahan batu karang untuk mengingatkan kehebatan Ki Barak Panji menyelamatkan kapal Dampu Awang tersebut.

Tentang cerita Ki Barak Panji, ada cerita menarik dalam bukuBabad Bulelengoleh I Gusti Putu Jelantik (1905). Diceritakan Si Luh Pasek adalah seorang gadis desa yang cukup cantik dan dengan penampilan yang memikat yang berasal dari Desa Panji di wilayah Denbukit. Sejak kecil dia dibawa oleh pamannya mengabdi di Istana Kerajaan Gelegel di Sweca Pura sebagai penyeroan puri.

Pada suatu hari Si Luh Pasek kebetulan buang air kecil atau kencing di suatu tempat. Tanah tempat kencing Si Luh Pasek kebetulan diinjak oleh Dalem. Tanah bekas air kencing Si Luh Pasek terasa panas di kaki Dalem. Dalem menanyakan mengapa tanah itu demikian terasa panas saat diinjak oleh Dalem. Setelah Sri Aji Dalem Sagening tahu tanah tersebut bekas air kencing Si Luh Pasek, maka beliau memikir-mikir tentang keutamaan Si Luh Pasek.

Singkat cerita, Sri Aji Dalem Sagening jatuh cinta pada Si Luh Pasek. Selanjutnya Si Luh Pasek dipersunting oleh Dalem sebagai istri penawing. Diceritakan dalam Babad Buleleng itu Si Luh Pasek hamil dan akhirnya melahirkan bayi lelaki yang tampan dan mungil. Saat kelahiran bayi si Luh Pasek benar-benar menggemparkan. Karena dari ubun-ubun si bayi mengeluarkan sinar berpijar-pijar. Bayi ini diberi nama Gusti Gede Kepasekan. Tetapi raja memanggil putranya dengan sebutanKi Barak”. Karena rambut dan rona wajahnya yang kemerah-merahan.

Pada tahun 1610 Masehi usia Ki Barak menginjak kesebelas tahun. Dalam usia semuda itu dia sudah bisa mengalahkan Ogongan si gila dengan lambaian ikat kepalanya saja. Barak juga dapat mengalahkan orang-orang yang terkenal kuat hanya dengan senyuman saja. Karena kehebatannya itu permaisuri dan juga Dalem khawatir akan kehebatan Ki Barak. Karena Dalem tidak akan mengangkat putra mahkota dari anak yang lahir dari istri penawing, Dalem mencari akal dengan mengirim Ki Barak ke Desa Panji asal ibunya.

Ki Barak dikirim ke Desa Panji Den Bukit asal ibunya. Beliau dikirim ke Desa Panji dengan sejumlah pengiring dan diberikan senjata keris yang sakti-sakti seperti Keris Tunjung Tutur, ada Keris Ki Baru Semang yang juga bernama Keris Ki Mundaran Cacaran.

Di daerah Den Bukit di wilayah Sima Gendis dengan istananya bernama Puri Gendis ada seorang yang bertabiat tidak baik bernama Ki Pungakan Gendis. Atas permintaan rakyat yang dirugikan atas kecongkakan Ki Pungakan Gendis maka Ki Barak Sakti mengalahkan Ki Pungakan Gendis hanya dengan mengarahkan keris Ki Baru Semang ke arah Ki Pungakan Gendis maka tewaslah orang tersebut dari jarak jauh.

Demikianlah kesaktian Ki Barak Panji digunakan untuk menolong orang yang tertekan dan menegakkan kebenaran. Hal inilah menyebabkan hanya dalam usia 20 tahun Ki Barak Panji menjadi amat terkenal karena keberhasilannya membela kebenaran dan melindungi mereka yang tertindas. Ki Barak Panji amat ramah dan sangat hormat pada tetua di Desa Panji. Perilakunya amat memikat hati rakyat di Desa Gendis. Karena keutamaannya itulah Ki Barak Panji dinobatkan sebagai penguasa baru di Den Bukit dengan gelar Ki Gusti Anglurah Panji Sakti. Orang-orang Gendis dengan parhyangan-nya dipindahkan ke Desa Panji.

Demikianlah sekilas cerita Ki Gusti Anglurah Panji Sakti yang juga dipuja roh sucinya di Pura Segara Penimbangan. Kesaktian yang dimiliki oleh Ki Gusti Anglurah Panji Sakti ini digunakan secara positif. Karena pengertian sakti itu sesungguhnya sangat positif.

Dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan sbb: Sakti Ngarania sang sarwa jnyana muang sarwa karya. Artinya orang sakti itu adalah orang yang banyak memiliki ilmu dan banyak bekerja dengan ilmu tersebut. Ki Gusti Anglurah Panji Sakti ini dengan hati yang suci mewujudkan kesaktiannya itu untuk melindungi rakyat dan kebenaran. Hal itulah yang menyebabkan dia diangkat menjadi raja. Kata ”raja” berasal dari kata rajintah artinya yang menyenangkan rakyat. Mereka yang telah menyenangkan rakyatlah disebut raja. * wiana

http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/8/29/bd2.htm

Pura Segara Penimbangan di Desa Panji 

Api ced asi papebhyah
sarvebhyah
papakrttamah.
Sarvam
jnanaplavenai’va
Vrijinam
samtarisyasi.
(Bhagawad Gita IV.36). 

Maksudnya:
Meskipun
engkau adalah yang paling berdosa di antara semua orang berdosa. Dengan perahu ilmu pengetahuan lautan dosa itu akan engkau seberangi.  

PURA Segara Penimbangan di Desa Panji Kecamatan Sukasada, Buleleng bukanlah Pura Segara seperti Pura Segara pada umumnya yang fokusnya memuja Tuhan sebagai Batara BarunaTuhan sebagai penguasa samudera. Pura Segara Penimbangan di samping sebagai Pura Segara pada umumnya juga sebagai pura yang memiliki kaitan dengan sejarah Ki Gusti Anglurah Panji Sakti.

Orang terkenal ini memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menerapkan ilmu pengetahuan dalam menolong sesama yang sedang kesusahan. Ki Gusti Anglurah Panji Sakti yang sebelumnya bernama Ki Barak Panji menolong mereka yang sedang kesusahan dengan menggunakan ilmu pengetahuannya yang telah memperkuat dirinya secara lahir batin. Ilmu yang mampu diterapkan seperti itulah yang dapat membuat orang kuat dan hebat. Kuat dalam bahasa Sansekertanya disebutsakti”.

Keberadaan Pura Segara Penimbangan ini dibangun atas dua hal yaitu sebagai Pura Segara untuk memuja Batara Segara yang tiada lain adalah Batara Baruna dan sebagai memuja roh suci (Dewa Pitara) Ki Gusti Anglurah Panji Sakti. Sebagai orang yang memiliki kemampuan mendayagunakan ilmunya untuk menolong orang lain.

Ki Gusti Anglurah Panji Sakti sendiri tidak menggunakan ilmunya untuk tujuan yang sempit, seperti menyombongkan diri, cari kekayaan yang tidak sah atau dijadian media untuk mengumbar hawa nafsu. Ki Gusti Anglurah Panji Sakti telah mampu menjadi contoh masyarakat luas bahwa memang demikianlah seseorang dalam menggunakan ilmunya itu.

Umat yang merasakan pertolongan Ki Gusti Anglurah Panji Sakti itulah yang mungkin menambahkan fungsi Pura Segara Penimbangan ini menjadi media pemujaan Ki Gusti Anglurah Panji Sakti. Dalam statusnya yang sudah mencapai Dewa Pitara dan dipuja oleh masyarakat, ini berarti Pura Segara Penimbangan di samping sebagai pura untuk memuja Tuhan di Bhur Loka sebagai Batara Baruna juga sebagai pemujaan orang sakti yang telah berhasil menggunakan ilmunya untuk menolong mereka yang sedang kesusahan.

Keberadaan Pura Segara, Pura Penataran dan Pura Puncak konon konsep pemujaan Tuhan di Tri Loka yaitu di Pura Segara untuk Bhur loka, Pura Penataran untuk Bhuwah Loka dan Pura Puncak untuk Swah Loka. Tiga pemujaan tersebut konon sudah ada sebelum Mpu Kuturan mengajarkan tentang pendirian Pura Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman.

Dengan demikian sangat besar kemungkinannya Pura Segara Penimbangan di Desa Panji Kecamatan Sukasada itu sudah ada sebelum ada pelinggih untuk memuja Ki Gusti Anglurah Panji Sakti dalam statusnya yang sudah mencapai Dewa Pitara atau Siddha Dewata. Roh suci atau Dewa Pitara dari Ki Gusti Anglurah Panji Sakti itu distanakan di sudut barat laut Pura Segara Penimbangan dengan sebutan Dewa Taksu Bungkah Kaang.

Pelinggih tersebut sebagai pelinggih yang menyebabkan Pura Segara Penimbangan ini memiliki ciri yang khusus dan berbeda dengan Pura Segara yang lainnya di Bali. Pelinggih-pelinggih yang lainnya merupakan pelinggih utama seperti Padmasana dan beberapa Pelinggih Penyawangan seperti Penyawangan ke Ulun Danu, Dewa Ayu Putering Segara sebagai manifestasi Ida Batara Segara (Dewa Baruna). Dewa Ngurah Pasek karena Ki Gusti Anglurah Panji Sakti ibunya Si Luh Pasek.

Ada juga Penyawangan untuk Dewa Ngurah Majapahit. Ki Gusti Anglurah Panji Sakti adalah putra dari Dalem Sagening dengan istri penawing atau selir Si Luh Pasek berkuasa di Bali atas jasa-jasa Raja Majapahit, karena itu ada juga penyungsungan kepada roh suci Raja Majapahit.

Nama-nama pelinggih di Pura Segara Penimbangan itu umumnya sudah menggunakan sebutan masyarakat pada umumnya. Menurut budaya Bali menyebutkan nama seseorang yang dihormati secara langsung pada zaman dahulu amat tabu atau tidak dibolehkan. Kalaupun menyebutkan nama secara langsung harus didahului dengan ucapantabe pakulun”, baru nama yang akan dituju boleh disebutkan. Kalau menyebutkan nama seseorang yang dihormati secara langsung tanpa menyebutkan terlebih dahulu ucapantabe pakulunmenurut keyakinan orang Bali Hindu, orang tersebut