kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Pura di Jembrana’ Category

Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan
Tempat Mohon ”Mertha”

Keberadaan Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan pada awalnya merupakan Pura Hulun Swi atau Pura Bedugul panyungsungan krama subak. Tetapi, kini pura yang berada di perbukitan Dusun Dangin Pangkung Jangu, Poh Santen, Mendoyo ini menjadi pura penyungsungan umat Hindu yang ada di Jembrana dan Bali. Bagaimana asal-usul pura tersebut?

===========================================================

Menurut I Wayan Sentra, salah seorang penglingsir Desa Poh Santen, ditemukannya Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan berawal dari keadaan Subak Pecelengan Pedukuhan dan Babakan Poh Santen. Ketika itu, subak lanus tidak pernah menghasilkan (mertha). Selain itu sawah juga diganggu babi berkepala kuning.

Klian Subak I Gusti Made Rebah bersama krama lalu mohon petunjuk di Pura Hulun Swi Pura Bedugul Pecelengan Pedukuhan. Di sana mereka mendapat pawisik, kalau ingin mendapat mertha, pergilah ke utara ke hutan Pasatan. Di sana ada batu besar yang diapit pohon plawa dan andong. Di tempat itulah krama diminta melakukan pemujaan dan permohonan sesuai dengan keinginan.

Krama subak pun berjalan ke tengah hutan dan menemukan tempat yang dimaksud dalam pawisik. Tempat tersebut pertama kali ditemukan Kumpi Sabda. Setelah beristirahat sejenak, mereka pun bersembahyang. Saat bersembahyang, muncul sinar dari batu besar yang membuat kaget krama subak. Usai sembahyang, mereka nunas tirta dan pulang kembali ke rumah.

Sejak saat itu, wilayah Pesubakan Pecelengan Pedukuhan dan Babakan Poh Santen mulai menampakkan hasil.

Sebagai wujud syukur dan rasa bakti, krama subak pun rutin melakukan persembahyangan di tempat tersebut. Pembangunan pertama dilakukan di batu besar yang memancarkan sinar. Sebagai pemangku pertama ditunjuklah Kumpi Sabda pada tahun 1755. Untuk seterusnya, keturunan Kumpi Sabda-lah yang menjadi pemangku yakni Pan Toyo, Pan Sider dan kini I Wayan Geder.

Sentra menambahkan, sekitar tahun 1939, hutan Pasatan masih merupakan hutan rimba. Belum ada jalan menuju pura. Seiring perkembangan zaman, hutan pun mulai dibuka. ”Pada tahun 1953 hutan mulai dibuka. Kepada yang membuka hutan, kami minta wilayah pura seluas timur barat 20 depa dan utara selatan 50 depa jangan diganggu. Setelah itu, pada tahun 1971 dilakukan rehab pura secara swadaya,” tandas penglingsir yang menjadi klian subak ketiga di Subak Pedukuhan Pecelengan ini.

Selanjutnya pura ini dijadikan Pura Pesimpangan Hulun Danu untuk memuliakan dan memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudan Dewi Sri yang memberi kesejahteraan bagi masyarakat. Berikutnya, pura ini disebut Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan ini.

Pujawali di Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan jatuh pada Anggara Kliwon (Anggarkasih) Julungwangi. Setiap tahun sekali, krama subak mengaturkan sarin tahun dan setiap tiga tahun sekali menyelenggarakan ngusabha.

Sebagai pendukung untuk melaksanakan pujawali, Raja Jembrana ke-7 Anak Agung Bagus Negara memberikan satu petak tegal seluas 1985 ha sebagai pelaba pura. Berikutnya, bukan hanya krama subak yang sembahyang di Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan, warga dari Mendoyo Dangin Tukad, Pergung dan Yeh Kuning pun datang mengaturkan bakti. Saat ini Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan memiliki beberapa pelinggih di antaranya pelinggih  Dewa Ayu Mesari Merthan Jagat, Tedung Jagat, Hulun Danu Idewa, Taksu, Padma, Meru dan Pepelik Ratu Nyoman.

Bendesa Pakraman Poh Santen I Gusti Agung Komang Suryadiasa menambahkan, pengempon Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan adalah Subak Ketengking, Semanggon serta Pedukuhan/Pecelengan, sedangkan pekandelnya krama Desa Pakraman Poh Santen.

Pengempon dan pekandel saat ini tengah merencanakan pembangunan Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan. Wakil Bendesa Pakraman Poh Santen I Made Sarka ditunjuk sebagai ketua umum panitia pembangunan. Dia didampingi beberapa pengurus dan anggota

Sejarah Pasatan

Terkait sejarah Pasatan, ada pawisik yang diterima I Wayan Kendra, sadeg atau pembantu pemangku. Dia mendapatkan pawisik itu tidak berurutan namun setelah dirangkai menjadi suatu yang berkaitan.

Rangkaian tersebut berawal dari Batari Hyang Dewi Dhanuh berkeliling Bali. Dalam perjalanan di Bali bagian Barat ditemukan perbukitan yang kering (kasat) karena tak ada air. Beliau pun berlaku sebagai pertapa bergelar Hyang Bahu Daha atau Hyang Bahu Dari. Dari yoganya itu, muncul air dari gunung. Air yang mengalir ke utara menjadi sumber air panas, sedangkan yang ke selatan berupa air dingin yang mengairi sawah.

”Beliau juga mayoga mohon putra. Dari yoganya itu muncul dua putra dari bahu. Salah satunya bernama Hyang Dukuh Sakti Pacekan. Anaknya ini kemudian berjalan ke bukit. Di sebuah batu besar. Hyang Dukuh Sakti Pacekan menancapkan batang plawa dan andong yang diberikan oleh ibunya. Saat itu juga ada sabda, kapan batu yang diapit plawa dan andong ini ditemukan, maka lokasinya akan menjadi khayangan jagat,” tutur sadeg yang biasa disapa Mangku Partini ini.

Kisah mengenai babi berkepala kuning ternyata diyakini oleh krama subak. Babi tersebut merupakan ancangan Hyang Dukuh Sakti Pacekan. Karena itulah, menurut Mangku Partini, saat pujawali di Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan, tidak diperkenankan mengaturkan daging babi. Babi itu ancangan Hyang Dukuh Sakti Pacekan.

Dia juga menceritakan pawisik mengenai keberadaan Danghyang Nirarta dalam kaitan dengan Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan. Suatu ketika, Danghyang Nirarta kehilangan putrinya. Dalam pencarian tersebut, Danghyang Nirarta bertemu dengan orang tua berpakaian putih yang memberinya petunjuk untuk berjalan di utara bukit. Orang tua itu adalah penguasa yang bergelar Hyang Dukuh Sakti Pacekan.

Singkat cerita, Danghyang Nirarta pun menemukan putrinya Ida Ayu Swabhawa duduk sambil menangis di batu besar yang diapit pohon plawa dan andong. Kepada ayahnya, Ida Ayu Swabhawa mohon ampun dan mohon diberi kasujatmika (ilmu rahasia kepanditaan) untuk menebus doa. Keinginan ini pun dipenuhi Danghyang Nirarta. Sesudah diberikan ilmu itu, Ida Ayu Swabhawa menggaib. Di tempat itu pula Danghyang Nirarta menanam batu mustika yang memancarkan lima warna sesuai arah mata angin.

Danghyang Nirarta juga bersabda, ”Karena ananda tidak mau kembali, terus menangis di atas batu sampai batu tersebut basah, air mata ananda sebagai Merthan Jagat, Tedung Jagat, Hulun Danu Idewa dan kapan batu yang diapit oleh pohon plawa dan andong itu diketemukan, tempat ini supaya dijadikan panyungsungan jagat.”

Mangku Partini menambahkan, plawa yang berasal dari kata ”pal” berarti kawitan, sedangkan andong berasal dari kata ”anda” dan ”ong” yang merupakan sastra suci.

Sementara itu, lontar Puri Agung Negara juga mencantumkan keberadaan Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan. Pada saat Anak Agung Ngurah Jembrana memerintah, beliau memiliki dua putra yakni Anak Agung Gde Agung dan Anak Agung Made Ngurah.

Setelah dua tahun pernikahan, Anak Agung Made Ngurah tidak juga dikaruniai putra. Anak Agung Ngurah Jembrana lalu menyelenggarakan pemujaan di Pura Taman Sari, Batu Agung, Negara. Dalam pawisik yang diterima, Anak Agung Made Ngurah diminta pergi ke hutan Pasatan dan mencari sebuah pelinggih yang sudah rusak. Bila menemukan pelinggih tersebut, bersemedilah mohon kepada Sang Hyang Widhi agar dianugerahi putra.

Pawisik ini kemudian disampaikan kepada Anak Agung Made Ngurah yang selanjutnya berangkat bersama rakyatnya pada tahun 1745. Setelah menempuh perjalanan sambil berburu, mereka masuk hutan yang penuh pacet. Meski demikian, perjalanan tetap dilakukan sampai Anak Agung Made Ngurah menemukan pelinggih yang dimaksud. Dia pun bersemedi dan memperoleh firasat, keinginannya mendapatkan putra akan terwujud. Putra yang lahir itu diberi nama Anak Agung Putu Pasatan. (wah)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/8/23/bd1.htm

Memfungsikan Sumber Daya Alam

Trini chandamsi kavayo viyatire.
Puru upam darsatam visvacaksanam
Apo vata osadhayastani
Ekasmin bhuvana arpitani.
(Atharvaveda XVIII.I.17)

Maksudnya :
Orang bijaksana menganggap tiga benda yang utama menutupi alam semesta terutama bumi ini. Bentuknya berbeda-beda tetapi saling melengkapi. Tiga hal itu adalah air, udara dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan. Tiga benda ini tersedia di setiap dunia.

DALAM Chanakya Nitisastra ada istilah Triji Ratna Permata yang artinya ada tiga ratna permata bumi yaitu air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. Orang bodoh akan menganggap emas perak atau batu-batuan di bumi itu sebagai ratna permata. Dalam kutipan Atharvaveda di atas ada Trini Chanda yang bermakna ada tiga yang indah bersinar di bumi ini yaitu air, udara dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan serta obat-obatan sebagai tiga yang membuat bumi ini indah dan bersinar sejuk.

Memang kalau air, udara dan tumbuh-tumbuhan itu rusak keberadaannya di bumi ini semua makhluk hidup terutama umat manusia akan hidup penuh derita, hati manusia pun tidak cerah bersinar dalam menghadapi hidup. Dalam ajaran Hindu banyak cara untuk menanamkan agar manusia yakin dan paham bahwa tiga sumber alam itu sangatlah penting untuk dihormati, dipelihara dan dilindungi dari pencemaran. Karena hidup ini akan tidak indah kalau tiga sumber alam itu tidak berfungsi dengan baik karena ulah manusia.

Salah satu cara orang-orang suci yang memiliki kemampuan spiritual akan memperoleh imajinasi karena mampu berkomunikasi dengan alam niskala dengan sangat meyakinkan. Orang-orang suci zaman dahulu di Bali dengan kemampuan imajinasi yang menembus aspek sekala dan niskala menyusun suatu cerita-cerita yang bernuansa mistik religius.

Misalnya dalam Lontar Prekempa Pura Hulun Danu Batur ada diceritakan tentang berdirinya Pura Luhur Pasatan di Banjar Dangin Pangkung Jangu Desa Pohsanten Kecamatan Mendoyo, Jembrana. Cuplikan singkat cerita dalam lontar tersebut dimuat dalam diktat tentang berdirinya Pura Luhur Pasatan yang disusun oleh Panitia Pembangunan Pura Dang Kahyangan Luhur Pasatan.

Dalam diktat tersebut terdapat cukilan singkat Lontar Prekempa Pura Hulun Danu Batur tentang kisah Pura Pasatan tersebut. Diceritakan tatkala kehidupan sosial ekonomi dan budaya rakyat Bali belum stabil Batari Hyang Dewi Dhanuh yang berstana di Pura Hulun Danu Batur itu berkeliling di seluruh Bali. Saat beliau berada di bagian barat Pulau Bali di suatu perbukitan dalam keadaan sangat kering. Keadaan kering tiadanya air itu dalam bahasa Bali disebut kasatan. Hal itu menyebabkan Batari Hyang Dewi Dhanuh sangat kasihan pada rakyat Bali. Karena tanpa air hidup ini akan menjadi tak bersinar. Batari Hyang Dewi Dhanuh pun melakukan tapa brata dengan bergelar Hyang Bahu Daha atau Hyang Bahu Dhari. Kata bahu dalam bahasa Sansekerta artinya banyak dan daha artinya terbakar. Maksudnya Hyang Dewi Dhanuh itu melakukan olah tapa brata untuk mengeksistensikan kesucian (Hyang) beliau untuk mengatasi kekeringan areal yang keadaannya bagaikan terbakar.

Dari kekuatan tapa brata  Dewi Dhanuh itu muncul gempa yang dahsyat. Saat itulah Dewi Dhanuh sebagai Hyang Bahu Daha memohon kepada Yang Mahakuasa agar berkenan menciptakan sumber air. Atas olah tapa brata Hyang Bahu Daha itulah Hyang Mahakuasa menciptakan sumber air. Air yang mengalir ke sebelan utara perbukitan yang mulanya kering itu menjadi sumber air panas. Sedangkan yang ke selatan menjadi sumber air dingin. Sumber air yang ke selatan inilah menjadi sumber air untuk mengairi sawah dan ladang.

Dalam kisah Tirthayatra Danghyang Dwijendra salah satu episodenya mengisahkan Danghyang Dwijendra sedang berusaha mencari istri dan putra-putrinya di Bali Barat beliau ketemu sebuah perbukitan yang bernama Penguwungan. Di bukit inilah beliau beristirahat. Saat istirahat itu beliau berusaha melakukan konsentrasi rohani untuk segera dapat menemukan istri dan putra-putrinya.

Tiba-tiba muncul orang tua berpakaian serba putih. Atas pertanyaan Danhyang Dwijendra beliau menyatakan pada zaman dahulu beliau itu adalah penguasa di daerah tersebut dengan gelar ”Ki Dukuh Sakti Pacekan”. Danghyang Dwijendra mendapat petunjuk dari Ki Dukuh Sakti Pacekan agar Danghyang Dwijendra mencari putra dan putrinya di utara bukit Penguwungan. Setelah memberi petunjuk Ki Dukuh Sakti Pacekan gaib.

Petunjuk itu pun diikuti oleh Danghyang Dwijendra dan memang ketemu sebuah perbukitan kering. Di perbukitan yang kasatan atau kering itu ada dua pohon tumbuh tertancap yaitu pohon plawa dan pohon andong yang dahulu ditancapkan oleh Ki Dukuh Sakti Pacekan. Di tempat itulah putra dan putrinya diketemukan. Di perbukitan itu putri Danghyang Dwijendra menangis sampai air mata beliau membasahi batu tersebut. Atas kesidian Danghyang Dwijendra air mata putrinya itu menjadi Merthan Jagat.

Di areal batu itu Danghyang Dwijendra menanam ”Batu Mustika” yang memancarkan lima warna kelima arah penjuru angin. Di tempat inilah kemudian dibangun Pura Luhur Pasatan. Mungkin karena ada sumber air perbukitan yang mulanya kering itu menjadi subur maka memancarlah areal yang rindang karena pepohonan, dari daerah yang subur itulah memancarkan sumber kehidupan yang manjanjikan.

Upacara Pujawali di Pura Luhur Pasatan pada Anggar Kasih Julung Wangi. Di Pura Luhur Pasatan terdapat pelinggih Padma Sari, Meru Tumpang Telu sebagai palinggih utama untuk memuja Ida Batara saat meraga Purusa atau Adyatmika Suksma. Di samping pelinggih Meru Tumpang Tiga di areal jeroan pura terdapat pelinggih Sri Sadana, Ulun Danu, Taksu dan pelinggih pelengkap lainnya. Tiga pelinggih inilah sebagai perwujudan Ida Batara secara Wahya atau nyata dalam menuntun umatnya yang bakti mendapatkan kehidupan yang sejahtera lahir batin. Karena itu sistem pemujaan Hindu selalu dengan konsep Wahya dan Adyatmika. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/8/23/bd2.htm

Meningkatkan Kewaspadaan di Pura Bakungan

Latar belakang keberadaan Pura Bakungan di Desa Gilimanuk Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana patut dijadikan renungan untuk menatap masa depan yang lebih waspada dalam hidup ini. Akibat kecurigaan I Gusti Ngurah Pecangakan atas undangan adiknya, dia berpesan yang salah kepada patihnya. Seandainya I Gusti Ngurah Pecangakan tidak mudah curiga pada undangan adiknya, atau menyelidikan terlebih dahulu apa maksudnya I Gusti Ngurah Bakungan mengundang, mungkin peristiwa yang menyedihkan itu tidak akan terjadi. Mengapa sejarah Pura Bakungan ini perlu diungkap lagi? Pelajaran apa yang kita dapat di balik Pura Bakungan itu?

====================================================

Dalam kehidupan bermasyarakat banyak terjadi permusuhan atau kesalahpahaman karena kekurangwaspadaan menerima informasi. Jangankan informasi itu bersifat lisan, yang tertulis pun perlu dianalisis dan direnungkan terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan. Ketidakwaspadaan I Gusti Ngurah Pecangakan disertai juga ketidakhati-hatian I Gusti Ngurah Pancoran sebagai Manca Agung menerima pesan dan melihat kenyataan.

Pesan I Gusti Ngurah Pecangakan dan kenyataannya ada kuda berdarah-darah tidak dianalisis dengan logika dan diadakan pengecekan pada pesan yang kenyataan tersebut. Menetapkan suatu keputusan dan memberikan pesan kepada kerabat kerajaan I Gusti Ngurah Pecangakan tidak melalui proses analisis yang memadai. Hanya berdasarkan kecurigaan. Padahal keputusan tersebut amat strategis karena menentukan nasib sebuah kerajaan.

Demikian juga I Gusti Ngurah Pancoran sebagai Manca Agung saat memutuskan bahwa kuda yang berdarah-darah itu sudah pasti darah kakaknya, tidak melalui proses analisis. Padahal keputusan itu sebelum ditetapkan seyogianya melalui analisis. Sejauh mana keadaan kuda yang belepotan darah. Apa tidak sebaiknya dijajaji dahulu keberadaan I Gusti Ngurah Pecangakan apa memang sudah mati dalam pertempuran atau tidak. Hal inilah yang tidak dilakukan. Semuanya lalai tidak waspada, akibatnya dua bersaudara menjadi bermusuhan dan dua kerajaan hancur berantakan.

Kelalaian inilah yang patut direnungkan sebagai latar belakang keberadaan Pura Bakungan. Meskipun hal ini sebagai pengalaman buruk, namun dari pengalaman itu dapat dipetik hikmahnya agar jangan terulang pada diri kita maupun generasi seterusnya.

Untuk mengambil suatu keputusan dalam hidup ini memang ada hal-hal yang wajib kita lakukan sebelumnya. Lebih-lebih di Bali yang keberadaan daerahnya sempit, namun banyak hal yang memuat orang tertarik pada Bali. Ibarat wanita cantik banyak pemuda yang menaruh hati padanya. Dalam menetapkan suatu kebijakan, apalagi yang menyangkut nasib Bali ke depan wajib kita analisis dengan sebaik-baiknya. Kalau salah cara menetapkan suatu kebijakan umat manusia bisa kehilangan Bali yang sebenarnya.

Untuk mengambil suatu keputusan Resi Patanjali menyatakan ada lima tahapan yang wajib dilakukan yakni Tarka artinya segala sesuatunya wajib diperdebatkan terlebih dahulu. Di Bali ada istilah ruang musuhin. Maksudnya segala sesuatu sebelum diambil keputusan wajib dilihat apa baiknya dan apa juga buruknya. Menyangkut ajaran Tarka ini hendaknya tidak disamakan dengan bertengkar. Nirwitarka maksudnya adalah setelah diperdebatkan, maka hasil perdebatan itu direnungkan kembali.

Sawicara artinya hasil renungan tersebut lebih lanjut dianalisis dengan secermat mungkin. Selanjutnya Nirwicara artinya hasil analisis itu kembali direnungkan juga secara mendalam. Tahap akhir barulah Samanta, artinya diambil keputusan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Lima tahapan itulah yang semestinya dilakukan dalam mengambil suatu keputusan, lebih-lebih menyangkut hal-hal yang mengandung risiko besar, apalagi menyangkut kepentingan orang banyak.

Dalam Lontar Siwa Budhagama Tattwa ada juga ajaran untuk mengambil suatu keputusan dengan melakukan lima tahapan yaitu Maya, Upeksa, Indrajala, Wikrama dan Lokika. Maya artinya segala sesuatu data yang masih kabur hendaknya dibuat jelas. Atau tahapan pengumpulan data. Upeksa artinya data yang sudah jelas itu dianalisis dengan cermat. Indrajala artinya hendaknya dari data yang telah teranalisis itu diambil beberapa kesimpulan untuk dianalisis kembali berbagai segi positif dan negatifnya. Wikrama artinya bertindak.

Salah satu dari beberapa kesimpulan dalam proses Indrajala itu harus ditetapkan untuk dilaksanakan. Selanjutnya dilaksanakan dan diyakini paling sedikit segi negatifnya berdasarkan hasil analisis tersebut. Lokika artinya dalam bertindak melaksanakan keputusan yang ditetapkan itu hendaknya selalu berdasarkan pertimbangan logika atau akal sehat.

Demikian beberapa konsep pemikiran dalam Susastra Hindu yang wajib kita renungkan dalam setiap mengambil keputusan, apalagi menyangkut hal-hal yang mengandung risiko besar dan dampak sosialnya yang luas.

Keberadaan Pura Bakungan dapat dijadikan media untuk membangun kewaspadaan diri dan sosial dalam menata berbagai aspek kehidupan. Di samping itu dua bersaudara yaitu I Gusti Ngurah Pecangakan dan adiknya I Gusti Ngurah Bakungan setelah perang tanding sama-sama menyadari kelalaiannya sebagai pemimpin. Kesadaran akan kelalaiannya itu menyebabkan dua kerajaan menjadi bermusuhan dan menyebabkan penderitaan rakyat.

Kesadaran itu menyebabkan dua bersaudara itu mohon agar Dewata mem-pralina dirinya. Hal itu sebagai rasa tanggung jawab atas kesalahannya. Hal itu sebagai sifat kesatria, seperti kebiasaan pemimpin di Jepang mundur diri kalau merasa gagal. Ini maksudnya untuk memberi kesempatan kepada orang lain demi kepentingan orang banyak.

Sifat kesatria seperti itu perlu direnungkan agar jangan pemimpin yang jelas sudah gagal tetap memaksakan diri bercokol menjadi pemimpin hanya untuk mendapatkan fasilitas hidup enak. Permohonan dua bersaudara I Gusti Ngurah Pecangakan dan I Gusti Ngurah Bakungan itu bukanlah suatu kekonyolan, tetapi suatu penyerahan diri kepada Hyang Widhi atas kelalaiannya untuk mendapatkan perbaikan.

Ke depan sifat kesatria seperti itu tentunya tidak mesti diwujudkan dengan cara bunuh diri. Akan lebih indah dengan mundur diri kalau memang sudah nyata-nyata gagal sebagai pemimpin. * wiana

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2007/9/5/bd2.htm

Pura Bakungan di Gilimanuk

Agnir jagara tam rcah kamayante
agnir
jagara tamu samani yanti
agnir
jagara tam ayam soma aha.
Tava
asmi sakhye nyokah.
(Rgveda V.44.15).

Maksudnya:
Hyang
Agni selalu menuntun kewaspadaan dengan mengkidungkan Rgveda dengan penuh kasih. Hyang Agni menuntun dengan mengkidungkan Samaveda sebagai Pandita, Agni selalu menuntun kewaspadaan. Sang Hyang Soma mengaku bersalah dan mohon maaf karena lalai dalam menemani Sang Hyang Agni.

WASPADA pada setiap langkah dalam menjalani kehidupan ini wajib dikembangkan agar kita bisa terhindar dari berbagai derita mungkin menimpa diri kita dalam hidup ini. Tanpa kewaspadaan manusia akan sering mengalami berbagai derita yang tidak perlu karena kurang waspada dalam melangkah dalam hidup ini.

Pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Agni memiliki makna yang luas. Salah satu adalah Agni sebagai simbol pemberi penerangan jiwa. Bahkan, dalam Bhagawad Gita IV.19 dinyatakan sebagai Jnyana Agni. Artinya ilmu pengetahuan suci itu bagaikan sinar Sang Hyang Agni yang dapat memberi penerangan jiwa sehingga setiap langkah yang ditapak dalam hidup ini selalu tepat dan benar.

Mereka yang hidupnya senantiasa disinari oleh Jnyana Agni atau sinar ilmu pengetahuan dapat disebut Pandita. Karena dengan Jnyana Agni tersebut seseorang dapat melakukan Niskama Karma atau berbuat baik dengan tulus ikhlas tanpa pamerih. Orang yang hidupnya disinari oleh ilmu pengetahuan suci akan selalu waspada dalam setiap melangkah dalam hidupnya. Meskipun demikian Nitisastra mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan dapat membuat orang mabuk dan kehilangan diri karena salah caranya memahami ilmu pengetahuan itu.

Keberadaan Pura Bakungan di Desa Gilimanuk Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana sebagai pura untuk mengingatkan kita agar jangan sampai kehilangan kewaspadaan dalam melakukan berbagai kebijakan dalam hidup ini. Di wilayah Pura Bakungan sekarang tersebut pada zaman dahulu adalah tempat berdirinya Kerajaan Bakungan. Kerajaan yang berpusat di Desa Gilimanuk itu lenyap karena hal yang amat sepele. Hanya karena ketidakwaspadaanlah kerajaan tersebut menjadi hilang.

Pada awal abad XIV Masehi Bali berada di bawah kekuasaan Majapahit. Saat itu Sri Aji Dalem Krsna Kepakisan sebagai raja pertama dengan pusat kerajaan di Samprangan Gianyar. Untuk menjaga ketertiban kerajaan, Gajah Mada menugaskan seorang Arya dari Pejarakan bertugas di Jembrana bernama Arya Malel Cengkong yang menganut Hindu Wisnu Murti.

Setelah Arya Malel Cengkong, usur beliau digantikan oleh keturunannya yaitu I Gusti Ngurah Gede Pecangakan dengan mendirikan istana di daerah yang banyak burung bangau karena itu disebut Pecangakan. I Gusti Ngurah Gede Pecangakan ini dianugerahi kuda putih oleh Ida Dalem.

Putranya yang kedua bernama I Gusti Ngurah Bakungan mendirikan istana di daerah Bakungan di sekitar daerah Cekik Gilimanuk. Daerah Bakungan ini terletak di tepi sungai yang banyak tumbuh bunga bakung. Putranya yang ketiga I Gusti Ngurah Pancoran menjabat sebagai Manca Agung di Puri Pecangakan.

Demikian cerita rakyat yang dikutip oleh Ni Ketut Sriasih dalam tulisannya tentang Fungsi Pura Bakungan (2001). Pemerintahan kedua kakak beradik ini berhasil membuat daerah Jembrana sejahtera. I Gusti Ngurah Bakungan sesungguhnya juga ingin memiliki kuda putih yang bernama Jaran Rana anugerah Ida Dalem.

Setelah beberapa lama I Gusti Ngurah Bakungan mengadakan upacara Dewa Yadnya dan mengundang kakaknya, I Gusti Ngurah Pecangakan. Undangan ini dilakukan di samping karena tradisi berupacara yadnya memang semestinya demikian juga didorong oleh rasa rindu seorang adik pada kakaknya. Namun I Gusti Ngurah Pecangakan agak curiga karena adiknya pernah didengar menginginkan kuda putih Jaran Rana pemberian Ida Dalem. Atas kecurigaan itu, I Gusti Ngurah Pecangakan sebelum menghadiri undangan adiknya berpesan kepada Manca Agung yang juga adiknya.

Isi pesannya kalau kuda putihnya itu pulang ke Pecangakan dalam keadaan berdarah-darah itu berarti I Gusti Ngurah Pecangakan tewas dalam pertempuran. Kalau begitu keadaannya agar semua penghuni puri masatia bela pati.

Semua kekayaan puri agar ditanam di dalam tanah. Selanjutnya I Gusti Ngurah Pecangakan pun berangkat menuju Bakungan. Di Bakungan, I Gusti Ngurah Pecangakan disambut meriah oleh adiknya karena undangan tersebut didasarkan oleh rasa rindu dan tulus ikhlas sebagai seorang adik pada kakaknya, sama sekali tidak ada tujuan yang tidak baik. Di Puri Bakungan diadakanlah penyemblihan berbagai hewan korban untuk upacara yadnya.

Kuda putih yang dibawa oleh I Gusti Ngurah Pecangakan ketakutan melihat adanya hewan-hewan yang disemblih itu. Kuda tersebut takut dirinya ikut disemblih. Kuda itu pun beringas terus lepas dari kandangnya berlari ke sana ke mari. Saat berlari itulah kuda putih menabrak daging hewan yang disemblih dan masih penuh darah itu. Karena menabrak daging yang masih penuh darah itu kuda putih basah kuyup oleh darah dari daging hewan. Kuda itu lari terus pulang ke Pecangakan dalam keadaan dibasahi darah. Wanita penghuni Puri Pecangakan sebagian besar masatia bela pati.

Manca Agung mengubur kekayaan puri dan dengan tentara Pecangakan menyerang Bakungan. Karena itu timbul kesalahpahaman antara I Gusti Ngurah Pecangakan dengan adiknya. Terjadilah perang tanding yang tidak ada akhirnya. Karena sama-sama kuat, akhirnya kakak beradik ini mohon kepada dewata agar mereka berdua di-pralina. Kedua kakak beradik itu lenyap di dua pulau kembar di daerah Jembrana.

Untuk mengenang kakak beradik itulah keturunannya mendirikan Pura Bakungan untuk menstanakan roh suci (Dewa Pitara) Raja Bakungan dengan pelinggih di sudut timur laut jeroan Pura Bakungan. Sedangkan di barat lautnya ada pelinggih stana Patih Agung. Di jaba tengah di sudut barat laut terdapat Pelinggih Dewa Mas Pengadangan. Karena itu banyak umat yang mohon keselamatan perjalanan di Pura Bakungan ini dengan mohon tirtha di Pelinggih Dewa Mas Pengadangan dan juga mohon agar usaha dapat berhasil. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2007/9/5/bd1.htm

Pura Luhur Rambut Siwi

Posted by Adnyana under Pura di Jembrana

Pura Luhur Rambut Siwi
Berawal dari Sehelai Rambut

Pura Luhur Rambut Siwi terletak di Desa Yeh Embang, Mendoyo, di Kabupaten Jembrana. Pada saat piodalan yang jatuh pada Rabu Umanis Perangkabat, umat dari berbagai penjuru memadati pura yang berlokasi di tepi laut ini. Tepatnya, berada sekitar 17 km arah timur Kota Negara. Bagaimana sejarah pura ini?

——————

ASAL mula Pura Rambut Siwi tertuang dalam Dwijendra Tatwa. Menurut I Ketut Wiana, keberadaan Pura Rambut Siwi sangat terkait dengan mitologi kedatangan Mpu Dang Hyang Nirartha dari Jawa Timur atau Majapahit ke Bali. Wiana mengutip cerita Mpu Bhaskara Murti dari Geria Madu Sudana, Negara, mengatakan, saat Mpu Dang Hyang Nirartha ke Bali salah satu pura yang beliau kunjungi adalah Pura Rambut Siwi. Saat beliau memasuki pura, penjaga pura mengharuskan agar Mpu Dang Hyang Nirartha sembahyang di pura tersebut. Kalau tidak, beliau akan diterkam oleh harimau.

Karena diharuskan, menyembahlah beliau di pura tersebut. Ternyata pura tersebut menjadi hancur berantakan. Karena demikian, penjaga pura akhirnya mohon maaf kepada Mpu Dang Hyang Nirartha. Di samping itu, penjaga pura mohon agar pura itu dikembalikan pada keadaan semula. Atas kewisesaan Mpu Dang Hyang Nirartha, pura itu pun kembali utuh seperti sedia kala. Mpu Dang Hyang Nirartha mengambil sehelai rambut beliau diletakkan di pura tersebut untuk dijadikan sarana pemujaan di pura tersebut. Sejak itulah pura tersebut bernama Pura Rambut Siwi. Nama Rambut Siwi inilah yang lebih populer sampai saat ini.

Penuturan Mangku Gede Pura Luhur Rambut Siwi Ida Bagus Kade Ordo tidak jauh dari cerita Wiana. Mengutip Dwijendra Tatwa, ia menceritakan setelah beberapa lama di Gelgel, Dang Hyang Nirartha ingin menikmati Bali. Beliau pun berangkat ke arah barat sampai di daerah Jembrana berbelok ke selatan dan berbalik lagi ke timur menyusuri pantai.

Sementara itu menurut Ktut Soebandi (alm.) dalam bukunyaSejarah Pembangunan Pura-pura di Bali” menuliskan kedatangan Dang Hyang Nirartha di Bali pada tahun Caka 1411 atau tahun 1489 masehi yang dikisahkan dalam beberapa pustaka, seperti Dwijendra Tattwa dan Babad Catur Brahmana.

Soebandi menuliskan kisah Dang Hyang Nirartha dalam perjalanannya di Bali sempat tinggal di Desa Gading Wani. Beliau mendengar di desa itu masyarakatnya sedang dilanda sakit keras. Bahkan, tidak sedikit yang meninggal akibat sakit yang dideritanya. Kedatangan Dang Hyang Nirartha di desa itu berhasil menyembuhkan penyakit yang diderita masyarakat. Karena itu pula, masyarakat berharap agar Dang Hyang Nirartha bisa tetap tinggal di desa itu.

Sayang, Dang Hyang Nirartha tidak bisa memenuhi keinginan warga setempat, dan Beliau berkenanmenghadiahkanseutas rambutnya sebagai jimat untuk menolak wabah penyakit. Rambut inilah yang kemudian dipuja (Siwi) dan dibuatkan tempat suci sebagai tempat penyimpanan. Karena itulah pura tersebut dinamakan Pura Rambut Siwi. (ara)

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2006/10/22/b3.html