kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Klungkung@yahoogroups.com’ Category

.

KERANGKA PELAKSANAAN PENGINTEGRASIAN PERENCANAAN DESA DI KABUPATEN KLUNGKUNG

.

OLEH : Agung Swastika

.

Prinsip-prinsip

.

  1. Mendorong efektivitas pelaksanaan regulasi (peraturan) : Semua kegiatan yg dilakukan berdasar pd & untuk penguatan pelaksanaan peraturan ( Produk hukum) yg tlh ditetapkan, yg berkaitan langsung maupun yg relevan bagi penguatan penyelenggaraan pembangunan partisipatif.
  2. Menyatu & menguatkan mekanisme reguler : Semua kegiatan yg dilakukan terintegrasi & menjadi bagian dr kegiatan reguler sesuai ketentuan penyelenggaraan pemerintahan.
  3. Keberlanjutan : Upaya pengintegrasian yg dilakukan pd th 2010 sebagai jembatan serta memastikan keberlanjutan pengintegrasian sesuai RPJM Desa.

.

Syarat dan Ketentuan

.

  1. Penyiapan pengintegrasian tahun 2011 adalah agenda wajib bagi desa partisipan yg memenuhi syarat sbb :

Sdh mengikuti pelaksanaan PNPM-MP sekurangnya 2 th pd th 2010, baik pernah maupun blm pernah didanai usulannya.

Memiliki sarana & prasarana (Kantor Desa) yg dianggap layak.

Perangkat Pemerintah Desa sekurangnya terdiri dari : seorang Sekretaris Desa & sekurangnya 2 orang Kepala Urusan (Kaur).

Sudah terbentuk BPD

  1. Setiap desa partisipan PNPM-MP, wajib melaksanakan proses dan tahapan kegiatan Perencanaan PNPM-MP tahun 2010, guna memproses usulan prioritas (Desa), yg mencukupi untuk mengakses BLM PNPM-MP TA 2010 dan 2011 sesuai ketentuan PNPM-MP.
  1. Proses dan tahapan kegiatan Perencanaan, ditetapkan sesuai Matrik Kegiatan & Jadwal Penyiapan Pengintegrasian.

.

Penyiapan Pengintegrasian

.

Kegiatan Perencanaan

Yaitu serangkaian kegiatan yg dilakukan untuk memroses usulan kegiatan yg akan diajukan ke PNPM-MP TA 2010 dan 2011.

Dilakukan sesuai skenario optimalisasi (Pendayagunaan hasil MAD Penetapan Usulan atau MAD Prioritas atau Musdes Perencanaan) &/atau normal sesuai ketersediaan usulan hasil perencanaan sebelumnya di setiap desa.

.

Penyusunan RPJM Desa

.

Sudah memiliki RPJM Desa

.

Peninjauan ulang & penyempurnaan RPJM Desa sesuai Permendagri No. 66 Tahun 2007. Langkah yg dilakukan :

Mengkaji data-data (potensi, masalah & gagasan) hasil PG sebelumnya.

Menggali & menghimpun data-data baru sesuai kondisi desa senyatanya.

Perumusan RPJM Desa.

Pembahasan hasil perumusan RPJM Desa

Penetapan RPJM Desa

Penyusunan Rancangan RKP Desa tahun 2011.

.

Rencana kegiatan pembangunan desa untuk satu tahun anggaran (2011), yg sdh mencantumkan besar & sumber dananya. Dg demikian, sdh terpilah secara jelas rencana kegiatan /usulan yg akan diajukan untuk mengakses BLM PNPM-MP TA 2011.

Tim Penyusun RKP Desa dibentuk sesuai ketentuan yang ditetapkan dalam Permendagri No. 66 Th 2007.

RKP Desa disusun sesuai Form sesuai lampiran Permendagri No.66 Th 2007.

.

Belum memiliki RPJM Desa

.

Kegiatan yang harus dilakukan adalah penyusunan RPJM Desa sesuai tahapan kegiatan sebagai berikut :

Melakukan Pengkajian Keadaan Desa

Menyusun Rancangan (Draft) RPJM Desa

Membahas Rancangan (Draft) RPJM Desa

Menetapkan RPJM Desa.

Menyusun Rancangan RKP Desa tahun 201

.

Kegiatan dan Jadwal Pelaksanaan Tahun 2010

.

.

PENJELASAN PERENCANAAN

.

Perencanaan & Penyusunan RPJMDes dilakukan secara simultan/bersamaan

Perencanaan (PG sampai MD 2) hrs menghasilkan Prioritas usulan SPP dan Non SPP, sesuai ketentuan PNPM-MP , yg mencukupi kebutuhan untuk tahun 2010 & 2011

PU & VU adalah kegiatan yang diprioritaskan untuk diajukan /mengakses BLM TA. 2010

MAD 2 & 3 dan RAB/Desain hanya untuk Usulan tahun 2010.

MAD 2 & 3 untuk Usulan tahun 2011 menyatu dengan Musrenbang Kecamatan tahun 2011.

.

PENJELASAN PENYUSUNAN RPJMDes

.

Musrenbang Pembahasan Draft RPJMDes menyatu dg MD 3

PU & VU dimaksud adalah kegiatan Penulisan & Verifikasi Paket Usulan yg tlh ditetapkan pada MD 2, yg akan diajukan untuk mengakses BLM TA. 2011

Penyusunan RAB & Desain Usulan yg akan diajukan untuk mengakses BLM TA. 2011

.

Kegiatan dan Jadwal Pelaksanaan Pengintegrasian Tahun 2011.

.

.

Kegiatan dan Jadwal Pelaksanaan Pengintegrasian Tahun 2011

.

Bangunan diatas memang sangat berkesan bagi sebagian besar masyarakat Klungkung, baik itu yang merupakan generasi sekarang maupun generasi jaman dulu. Masyarakat Klungkung generasi sekarang mengenali gedung diatas sebagai sebuah gedung Museum Semarajaya, dimana didalamnya di simpan pusaka bersejarah milik kerajaan Klungkung dijaman dulu yang merupakan saksi bisu yang bisa menjelaskan kebesaran kerajaan Bali jaman dulu yang berpusat di Swecapura dan di Semarapura.

Sementara masyarakat Klungkung masa kini mengenalinya sebagai Museum Semarajaya, lain halnya dengan masyarakat Klungkung jaman dulu, dimana gedung diatas merupakan gedung sekolah lanjutan di jaman belanda dan merupakan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Klungkung ketika generasi saya masih duduk di bangku sekolah SMP di tahun 1985 hingga 1988, hingga akhirnya pemerintah daerah Klungkung merekonstruksi fungsi dari keberadaan gedung diatas menjadi gedung Museum Semarajaya dan menjadi bagian dari object wisata yang terintegrasi dengan Taman Gili Kertagosa serta Pemedal Agung yang terletak di sebelahnya.

Bila melihat gedung diatas selalu terbesit bayangan ketika pernah sekolah didalamnya, yang memunculkan harapan agar suatu saat nanti bisa “mengulangi” masa-masa indah ketika sekolah dimasa remaja dan bisa bertemu kembali dengan teman-teman seangkatan ketika sekolah dikala itu lewat acara reuni. Kata “reuni” belakangan ini memang sering di dengar dan menjadi kata yang begitu populer berkat adanya website jejaring pertemanan sosial yang bernama facebook, sehingga membuat kata reuni menjadi trend saat ini dan menambah musim yang terdapat di tanah air, yaitu tidak hanya musim kemarau dan musim hujan, melainkan bertambah satu lagi menjadi “musim reuni”. Dan ini semua terjadi berkat adanya atau berkat populernya facebook dikalangan semua generasi muda dan tua.

Website jejaring Facebook yang di ciptakan oleh anak pinter nan berbakat yang masih berumur 25 tahun, yang bernama Mark Zuckerberg, selain bermanfaat untuk menambah jumlah kenalan baru di dunia maya, facebook juga bermanfaat untuk berhubungan kembali dengan teman-teman yang sudah lama tidak pernah kita jumpai. Berkat facebook pula teman-teman SMP 1 Klungkung khususnya angkatan 85 mulai terhubungkan kembali. Rasa gembira dan kangen bercampur menjadi satu ketika melihat wajah teman-teman masa sekolah ketika SMP. Rasa rindupun cukup terobati walaupun hanya dengan melihat mereka dari foto-foto.

Menggunakan momentum 25 tahun pertemanan sejak angkatan ini mulai masuk SMP 1 Klungkung di tahun 1985 dan mulai kenal satu dengan yang lainnya, akhirnya kami semua sepakat untuk mengadakan “reuni perak” tidak hanya sebatas melakukan temu kangen antar sesama teman SMP 1 Klungkung angkatan 85, tetapi juga akan melakukan temu muka dengan para guru pengajar SMP yang mengajar kami dulu. Dan reuni ini pun di sepakati akan di laksanakan di sekolah SMP 1 Klungkung pada tanggal 31 July 2010 yang bertepatan dengan hari ulang tahun SMP 1 Klungkung.

Dalam rangka mewujudkan reuni ini, salah satu teman kami Cuncun Junaidi Kusuma bersama Made Wardana berinisiatif memprakarsai pertemuan pertama untuk menyamakan pendapat, disalah satu rumah makan di denpasar pada hari minggu tanggal 24 Januari 2010.  Terlihat dari pertemuan pertama ini, penampilan teman-teman SMP memang tidak banyak yang berubah (kecuali badan mereka yang sudah mulai subur dan terawat). Melepaskan “baju” profesi yang mereka tekuni saat ini, hampir setiap individu mencoba memulai diskusi dengan topik-topik ringan sembari mengingat-ingat nama-nama teman seangkatan kami yang lainnya.

Dari sekian banyak profesi yang ditekuni teman-teman SMP saat ini, seperti menjadi dokter spesialis, dokter umum, komputer programmer, karyawan Bank, pariwisata, wiraswasta (usaha sendiri), hinga PNS pegawai negeri sipil, topik diskusi dari teman-teman SMP ini tidaklah seputar pekerjaan masing-masing yang di gelutinya sekarang ini, melainkan mendiskusikan teman-teman kami yang memiliki prestasi ketika kami masih duduk di bangku sekolah SMP 1 Klungkung dulu. Seperti Fery Suryawan, Wiwik Suryanto, Christin Tjandrawati, Ida Bagus Mahendra, yang kala itu terus beredar menjadi juara umum (juara paralel antar kelas).

Fery Surayawan, Wiwik Suryanto dan Christin Tjandrawati, bahkan sempat mengharumkan nama sekolah SMP 1 Klungkung menjadi juara cerdas tangkas P4 mewakili kabupaten Klungkung. Wiwik Suryanto bahkan menjadi Siswa Teladan terbaik yang berprestasi tidak hanya mewakili kabupaten Klungkung, tetapi juga mewakili Povinsi Bali ketingkat nasional.

Tidak hanya seputar prestasi akademik yang dimiliki oleh teman-teman SMP 1 Klungkung angkatan 85 ini, dalam hal kegiatan extra kurikuler seperti kegiatan Pramuka, teman-teman angkatan 85 ini, juga memiliki prestasi yang cukup kita banggakan. Group pramuka pria yang bernama regu Elang dan group pramuka wanita yang bernama regu Mawar, selain mengharumkan sama sekolah SMP 1 Klungkung, group pramuka ini juga ikut mengharumkan nama kabupaten Klungkung dalam ajang perlombaan pramuka tingkat provinsi Bali yang berlangsung di Blahkiuh tahun 1987. Saat itu regu Elang dan regu Mawar memang tidak bisa memenangkan Lomba Tingka Pramuka ini di tingkat provinsi sebagai syarat agar bisa melaju ke tingkat selanjutnya di tingkat nasional, karena kami di kalahkan oleh wakil dari kabupaten Buleleng, namun demikian kami cukup berbesar hati untuk menjadi juara 2. Dan yang lebih membanggakan kami adalah ketika lomba cerdas tangkas akademik yang merupakan bagian dari sekian banyak perlombaan dalam lomba tingkat pramuka ini, regu elang dan regu mawar lah yang menjadi juaranya, dimana regu elang diwakili oleh wiwik suryanto, putu adi parnama, wayan sarjana. Sementara regu mawar di waikili oleh Dewa Ayu Astari, dan kawan-kawan.

Kembali ke topik reuni, menindak lanjuti pertemuan yang pertama yang berlangsung pada hari minggu tanggal 24 januari 2010, Made Wardana bersama Wayan Sarjana berinisiatif menemui kepala sekolah SMP 1 Klungkung, yaitu bapak Drs. I Gusti Ketut Suwela, yang pada saat kami sekolah dulu di tahun 1985 masih mengajar mata pelajaran Aljabar. Pak gusti ketut suwela menyampaikan rasa bahagianya akan kunjungan wakil angkatan 85 yang masih ingat akan almamaternya (sekolah SMP 1 Klungkung), dan pihak sekolah akan berusaha kooperatif mendukung terwujudnya reuni ini.

Pada kesempatan itu, pak gusti ketut suwela juga sempat “curhat” tentang kondisi sekolah SMP 1 Klungkung yang sekarang ini serba jauh dari kondisi standard. Lab komputer yang menjadi pusat pelatihan komputer bagi anak didik siswa SMP 1 Klungkung, katanya komputernya sering ngadat dan error.  Seperti kebanyakan laboratorium dari sekolah yang ada di tanah air, para siswa bukannya melakukan praktek dan penelitian step by step seperti apa yang tertulis atau di jabarkan dalam modul yang harus di kerjakan, melainkan siswa lebih banyak menghabisakan waktunya melakukan penelitian (ngoprek memperbaiki) terhadap alat praga yang jauh dari standard (alias rusak) yang semestinya digunakan untuk meneliti percobaan tersebut. Namun demikian, dengan segala keterbatasan dari fasilitas yang ada  tersebut, disikapi oleh para pengajar SMP 1 Klungkung beserta para siswanya untuk selalu belajar dengan lebih kreatif tanpa pernah merasa mengeluh, seperti meniru kata pepatah: “a pessimist sees the difficulty in every opportunity. An optimist sees the opportunity in every difficulty“.

Berbekal dari laporan diskusi hasil kunjungan wakil alumni angkatan 85 ketika berkunjung ke SMP 1 Klungkung tanggal 4 Februari , kemudian pertemuan kedua yang sudah di sepakati pada hari minggu tanggal 7 februari 2010 dilaksanakan dengan tujuan untuk mencarikan format solusi permasalahan SMP 1 Klungkung sekaligus membahas kelanjutan persiapan reuni. Pertemuan yang berlangsung di Kusamba dirumah putu adi parnama, yang menjadi sponsor selain atas nama pribadi juga mewakili teman-teman kelas D lainnya, yaitu kelas dimana Parnama dulu berasal. Pada pertemuan ini selain terbentuk hasil yang lebih konkret, seperti diputuskannya struktur kepanitiaan umum serta kepanitiaan yang mewakili kelas masing-masing (mulai dari kelas A hingga kelas F), juga menghasilkan kesepakatan yang lain seperti program kerja jangka pendek dan program kerja jangka panjang. Yang mana diharapkan pertemanan kembali ini tidak hanya terhenti pada sebatas reuni yang akan diadakan tanggal 31 Juli 2010, tapi juga di harapkan bisa membentuk semacam perkumpulan resmi yang bisa menjadi partner dari sekolah SMP 1 Klungkung.

Lebih lanjut dalam reuni nanti, selain bisa melakukan temu kangen antar sesama teman seangkatan 85, juga diharapkan bisa terjadi interaksi antara teman angkatan 85 dengan para guru yang pernah mengajar saat itu dan para guru yang mengajar saat ini. Pada reuni nanti, teman-teman juga sepakat untuk berusaha menyumbangkan , minimal, 1 perangkat komputer PC untuk mendukung kegiatan belajar komputer di sekolah SMP 1 Klungkung. Komputer PC yang di sumbangkan akan di usahakan tanpa di lengkapi operating system. Hal ini di harapkan agar para siswa SMP 1 Klungkung yang saat ini sedang menuntut ilmu, bisa lebih kreatif dan belajar menginstall operating system  yang berbasis open source.  Bila mengalami kesulitan akan instalasi software operating system dan software aplikasi lainnya yang berbasis open source, pihak sekolah  selanjutnya diharapkan bisa bekerja sama dengan departement pendidikan klungkung yang memang saat ini juga sedang menggalakan FOSS (Free Open Source Software).

Selain menghasilkan kesepakatan diatas, pada reuni nanti juga akan di isi acara formal sambutan resmi dari wakil angkatan 85, sambutan resmi dari kepala sekolah SMP 1 Klungkung, sambutan resmi dari wakil guru yang mengajar saat itu. Disamping acara formal, acara reuni juga akan di isi dengan acara hiburan yang akan melibatkan adik-adik siswa SMP 1 Klungkung yang saat ini masih menuntut ilmu di SMP 1 KLungkung.

Sebagai kenang-kenangan bagi para peserta yang menghadiri reuni ini, baju kaos angkatan 85 pun akan di disain dan di jual bebas kepada para peserta reuni beserta pasangannya yang hadir (suami atau istrinya). Baju kaos ini di harapkan disamping dijadikan sebagai bentuk “identitas” dari angkatan 85 , juga digunakan sebagai sumber penggalian dana yang akan digunakan sebagai dana abadi angkatan, dana operational reuni, serta dana untuk pembelian komputer PC yang akan di sumbangkan ke sekolah SMP 1 Klungkung.

Merasa cukup puas dengan kemajuan dari pertemuan yang diselenggarakan di Kusamba, ketua panitia yang terpilih Wayan Sarjana bersama teman-teman yang hadir mensepakati akan mengadakan pertemuan yang ketiga yang akan di laksanakan pada hari minggu tanggak 21 Maret 2010 di Gelgel dirumah Made Wardana. Pertemuan ketiga nanti akan dilaksanakan atas nama wakil dari kelas A, oleh karena itu Amir Faisal yang merupakan bagian dari kelas A mengajak seluruh teman-teman kelas A lainnya untuk bersama-sama mensukseskan rapat pertemuan tgl 21 Maret 2010 nanti.

Akhir kata, rasa rindu setelah sekian lama tidak berjumpa dan semangat “ngayah” yang didasari niat baik untuk bisa berkontribusi kepada sekolah SMP 1 Klungkung bercampur menjadi satu. Thema yang akan di usung dalam reuni nanti, selain mengedepankan persaudaraan, teman-teman yang hadir juga sepakat untuk bisa meniru thema kampanye dari president amerika serikat yang terpilih Barack Obama ketika beliau berkampanye dengan thema “We will make a change“, Namun thema ini sepertinya dirasa terlalu berat untuk di pikul mengingat teman-teman seangkatan 85 masih berumur relatif cukup muda dan baru memulai meniti karir dan usaha. Sebagai ganti dari thema tadi angkatan 85 ini akan mencoba mengusung thema yang realistik yang sekiranya benar-benar bisa di wujud-nyatakan agar jangan sampai ibarat “jauh panggang dari api”. Untuk menyesuaikannya dengan kemampuan masing-masing  serta keterbatasan waktu yang ada dari setiap individu, thema dari Barack Obama mungkin tidak bisa di tiru sama persis, namun demikian angkatan 85 SMP 1 Klungkung ini mencoba alternatif lain meniru thema kampanye dari president SBY yang berpasangan dengan Jususf Kalla sebagai wakil presidentnya ketika pemilihan president tahun 2004 dimana thema yang di ususng saat itu adalah “Bersama kita bisa ” (….berkontribusi kepada sekolah SMP 1 Klungkung….)

Dimulai dari belajar berkontribusi terhadap lingkungan yang paling kecil yaitu lingkungan keluarga, desa,  sekolah dan seterusnya, yang walaupun kecil dan sederhana namun tetap penuh makna. mengutip pidato yang pernah disampaikan oleh President Sukarno ” Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati dan menghargai jasa para pahlawannya”. Seperti inilah misi yang ingin di jalankan oleh angkatan 85 SMP 1 Klungkung disaat melakukan reuni nanti, selain melangsungkan temu kangen dengan sesama teman seangkatan juga mencoba menjalin komunikasi harmonis dengan sekolah SMP 1 Klungkung yang kami kenal sejak 25 tahun yang lalu.

Idea-idea kecil yang masih berupa “embrio” dari setiap individu teman-teman angkatan 85 SMP 1 Klungkung , kami coba rajut dan kumpulkan menjadi satu,  dengan asas kebersamaan dan gotong royong serta selalu berkeyakinan bahwa sesuatu yang di koordinasikan dan di persiapkan dengan rapi suatu saat nanti pasti bisa menjadi besar  dan dapat di wujud nyatakan, mengutip kata pepatah: “Great strategy will be nothing without execution, execution without proper preparation will also be meaning less“.

Semoga pikiran baik datang dari segala arah.

Foto diatas: Rapat persiapan ke 1 di Denpasar  January di sponsori oleh Cuncun Junaidi Kusuma

Foto diatas: Rapat persiapan ke 2 di Kusamba 7 Februari dirumah Putu Adi Parnama

Foto diatas: Rapat persiapan ke 3 di Gelgel 21 Maret 2010 di rumah Made Wardana

Foto diatas: Rapat persiapan ke 4 di Warung Be Pasih Renon  April 2010 di sponsori oleh Putu Hadi Dharmawan

Foto diatas: Rapat persiapan ke 5,   May 2010 di rumah Agung Arya di Akah Klungkung

Foto diatas: Rapat persiapan ke 6,   Juni 2010 di rumah Wayan Sarjana di Klungkung

Foto diatas: Rapat persiapan ke 7,   Juli 2010 di rumah Putu Yuda Aryawan di Senggoan  di Klungkung

Undangan REUNI 31 Juli 2010 di sekolah SMP 1 Semarapura Klungkung

Sumber Foto diatas Widnyana Sudibya dan Alumni SMP 1 Klungkung angkatan 85

Rosenmontag yang berasal dari kata “Roose” dan “Montag” artinya Hari “Green Monday”, yang merupakan perayaan Karnival terbesar yang ada di Jerman yang di selenggarakan setiap tahun. biasanya hari ini di gunakan sebagai pertanda berakhirnya musim dingin dan memasukinya musim Semi. Dan untuk tahun ini akan berlangsung pada hari senen 15 Februari 2010. Karnival ini berlangsung di negara tidak hanya di Jerman melainkan di negara-negara yang berbahasa Jerman seperti di Swiss dan Austria. di Jerman sendiri Festival ini di pusatkan di daerah Rhineland yaitu daerah yang di lalui oleh sungai Rhein seperti Mainz, Dusseldorf, Köln, dan Aachen, yang dulunya merupakan daerah pendudukan Katolik Romawi. yang mana perayaan karnival ini di persembahkan oleh pemerintahan romawi kepada para buruh yang mendiami daerah sepanjang sungai Rhein sebagai hari pesta rakyat.

perayaan Karnival seperti di Köln dan Dusseldorf benar-benar mencuri perhatian masyarakat tidak hanya dari kota tetangga tetapi juga mengundang perhatian masyarakat dari negara tetangga seperti belanda, belgia dan perancis untuk datang berduyun-duyun menonton karnival ini yang cukup membantu pemerintah kota setempat untuk mendapatkan turis musiman. yang unik dari karnival ini, tidak saja peserta karnival yang berpakaian warna-warni tetapi juga para pengunjung atau penonton juga berpakaian seperti peserta karnival, jadi serasa sulit untuk membedakan yang mana peserta karnival sesungguhnya dan yang mana merupakan penonton. Perayaan Karnival ini selain memberikan pendapatan tambahan bagi kota penyelenggara dan masyarakatnya, juga memberikan keunikan tersendiri bagi kotanya.

Hari Rosenmontag ini tidaklah merupakan hari libur nasional, tapi anak-anak sekolahan di biarkan libur sedangkan lingkungan perkantoran tetaplah buka seperti biasa tapi boleh tidak masuk (alias fakultative). Meniru keberhasilan kota Köln, Dusseldorf, Mainz, Aachen dengan karnival Rosenmontagnya, kota-kota lainya di Jerman, juga tidak mau kalah untuk turut serta  bisa mengundang wisatawan domestik ataupun manca negara untuk mengunjungi kotanya, seperti Frankfurt juga menyelenggarakan Parade Budaya di setiap bulan Juni yang juga belakangan ini terkenal sebagai “trademark” dari kota itu untuk mengumpulkan masyarakatnya untuk tumpah ruah ke jalan berbaur dengan para wisatawan. Kota lainnya yang ada di Jerman seperti kota berlin, Stuttgart, Munchen, dll juga melakukan hal serupa di setiap hari terpenting milik kota tersebut. Bahkan perayaan di kota Munchen sendiri sekarang di kenal hingga ke manca negara dengan “Oktoberfest”, dimana tradisi Pesta rakyat di Munchen ini yang di dominasi dengan penjualan minuman bir asli provinsi Bayer di selenggarakan sebulan suntuk, ibarat kota Las Vegas yang tidak kenal matinya siang dan malam.

Festival dan Karnival di Kabupaten Klungkung

Menghubungkan cerita diatas dengan peristiwa di tanah air, di Bali kita mengenal istilah Pesta Kesenian Bali yang di selenggarakan setiap bulan juni-juli selama sebulan penuh yang juga merupakan trademark dari provinsi bali untuk mengundang wisatawan untuk datang berduyun-duyun ke bali. disamping tradisi Pesta Kesenian Bali, saat ini juga mulai bertumbuhan karnival-karnival lainnya didaerah kabupaten seperti di jermbrana, Buleleng, di Sanur yang dikenal dengan Sanur Village Festival, di Kuta yang di kenal dengan Kuta Festival, dan lain-lain. di setiap sehari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi masyarakat Hindu Bali secara serempak juga menyelenggarakan Festival yang di barengi dengan perlombaan seni Ogoh-Ogoh yang turut membantu menciptakan ciri khas dan keunikan dari Bali dan masyarakatnya itu sendiri.

Sama halnya dengan festival Ogoh-Ogoh, di kabupaten Klungkung (kalau tidak salah) juga diadakan festival dan karnival di setiap perayaan 17 Agustusan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.  Namun sayang gaung promosinya kurang begitu terdengar hingga ke wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara yang datang berkunjung ke bali, ntah mungkin karena di saat yang sama di kota lainnya juga terdapat perayaan yang sama, tapi alangkah baiknya bila festival dan karnival ini di selenggarakan bersamaan dengan peringatan Hari Puputan Klungkung di setiap 28 April setiap tahunnya, sehingga disamping memiliki keunikan tersendiri juga pesan Puputan Klungkung bisa terus di sampaikan kepada masyarakat.

Tradisi bersejarah dan unik yang dirayakan dan di kemas melalui karnival sepertinya patut untuk kita lestarikan, meniru perayaaan karnival-karnival klasik dari negeri Jerman, sehingga kita bisa terus berbagi cerita dan nilai sejarah kepada anak cucu kita dengan mengajaknya menonton karnival dan mengajaknya untuk menapak tilasi perjuangan-perjuangan para leluhur kita pada puputan Klungkung 28 april 1908 , sehingga membuat kita bisa berbangga menjadi warga klungkung. dan yang terpenting lagi adalah pemerintah daerah (pemda) Klungkung bahu membahu bersama dengan masyarakatnya  membantu menggerakkan roda perekonomian daerah kabupaten klungkung dengan menyelenggarakan pesta rakyat yang unik yang bisa mengundang wisatawan untuk datang berduyun-duyun berkunjung ke kabupaten Klungkung. semoga.

Kembali ke Rosenmontag, semenjak 1823, Rosenmontag memiliki Moto (thema) yang berbeda-beda dari tahun ke tahun. Sementara di negeri maju berusaha untuk melestarikan tradisi budaya mereka yang di wariskan secara turun temurun, lain lagi di negeri kita malah sebaliknya, yaitu semakin banyaknya peraturan daerah yang baru di buat yang melarang (membatasi) pelestarian perayaan tradisi rakyat, sebagai contoh seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa kabupaten di Bali yang mengeluarkan larangan untuk tidak merayakan festival Ogoh-Ogoh sehari sebelum perayaan Nyepi dengan alasan keamanan dan ke kidhmatan perayaannya Nyepi.

  • 1823 Thronbesteigung des Helden Carneval
  • 1824 Besuch der Prinzessin Venetia beim Helden Carneval
  • 1825 Der Sieg der Freude
  • 1826 Fahrt nach dem Monde
  • 1827 Die Prüfung
  • 1828 Alte und neue Zeit
  • 1829 Der große Narrentag
  • 1830 (kein Zug: Regierungsverbot)
  • 1831 Hanswursts Wiedergeburt
  • 1832 Die Kölner Messe des Jahres 1832
  • 1833 kein Zug
  • 1834 Das Orakel
  • 1835 Der Kölner Karnevals-Sprudel
  • 1836 Der Stein der Weisen
  • 1837 Carneval der Jahre Bezwinger
  • 1838 Hanswurst läßt sich erbauen ein Monument
  • 1839 Aller-Welt-Aktien-Börse
  • 1840 Das Turnier
  • 1841 Der gordische Knoten und seine Lösung
  • 1842 Die ächt kölnische olympischen Spiele
  • 1843 Die Köllsche Huhschull (Die kölnische Hochschule)
  • 1844 2 Züge: Die Großjährigkeit des Hanswurstes als Stellvertreter des Helden Carneval (Große KG) (Montag)
    Hanswurst als Emanzipierter (Allgemeine KG) (Dienstag)
  • 1845 2 Züge: Der Conkurs-Congreß aller Vereine (Große KG)
    Hanswurstliche Kirmes (Allgemeine KG)
  • 1846 Die hanswurstliche Colonie an der Weinküste
  • 1847 Jubelfeier der 25jährigen Thronbesteigung des Helden Carneval
  • 1848 Das tag- und nachtvolle, das heißt gescholtene oder Schaltjahr 1848
  • 1849 Die Reise nach Californien
  • 1850 Narren-Reichstag
  • 1851 (kein Zug: Preußische Zensur)
  • 1852 Ich hab‘s gewagt (Kappenfahrt)
  • 1853 Zug ohne Motto
  • 1854 Hanswurstliche Industrie Ausstellung
  • 1855 Zug ohne Motto („ein aus dem täglichen Leben genommenes witzreiches Allerlei“)
  • 1856 (kein Zug)
  • 1857 (kein Zug)
  • 1858 Train de Plaisier
  • 1859 Napoleon und seine Franzosen
  • 1860 Carnevals-Congreß von 1860
  • 1861 (kein Zug: Landestrauer um König Friedrich Wilhelm IV.)
  • 1862 Narren-Landtag I
  • 1863 Narren-Landtag II
  • 1864 Maskenzug, aber ohne Thema
  • 1865 Strauß bunter Ideen
  • 1866 Hanswurstliche Industrie-Ausstellung
  • 1867 Prinzessin Venetia beim Helden Karneval (wegen Regen Zug auf Karnevalsdienstag verlegt)
  • 1868 (kein Zug wegen Unwetters)
  • 1869 Verherrlichung des Weinjahres 1868
  • 1870 Die Eröffnung des Suezkanals
  • 1871 (kein Zug wg. deutsch-französischem Krieg)
  • 1872 Kein Motto
  • 1873 Die Jubelfeier der Reform von 1823 (Schnee behindert den Zug)
  • 1874 Närrische Universität
  • 1875 Närrische Lebensversicherungsanstalt
  • 1876 Ohne Motto (Internationale Gartenbau-Ausstellung 1875)
  • 1877 Festspiel der Nibelungen
  • 1878 König Wein
  • 1879 Einzug der Prinzessin Isabella 1235
  • 1880 Bunter Blumenstrauß
  • 1881 Musik aus allen Ländern (kein Zug: Starkes Schneetreiben)
  • 1882 Jan und Griet
  • 1883 Thema unbekannt
    2 Züge: Große K.G; Große Kölner am Karnevalsdienstag
  • 1884 Das Weinjahr 1883 (Vorverlegung auf Karnevalssonntag)
  • 1885 Held Carneval als Kolonisator
  • 1886 Die vier Jahreszeiten
  • 1887 Die größten Volksfeste der bedeutendsten Culturvölker (Zug bereits am Sonntag wg. Reichstagswahl)
  • 1888 Köln in alter und neuer Zeit
  • 1889 Die Künste huldigen dem Prinzen Karneval
  • 1890 Italien, Land der Sonne, huldigt dem Prinzen Karneval Zug ohne Musik wegen Tod der Kaiserwitwe Augusta
  • 1891 Närrische Ausstellung
  • 1892 Köln als Seehafen
  • 1893 Heimkehr des Prinzen Karneval aus dem Reich der Sagen und Märchen
  • 1894 Concurrenz aller Feste der Welt mit dem Kölner Carneval
  • 1895 Hervorragende Leistungen großer Männer, Dichter und Componisten
  • 1896 Zeitung – Neueste Nachrichten
  • 1897 Die Griesgramschlacht
  • 1898 Bunte Reihe Kölner Themen
  • 1899 Flüsse und Ströme als Gast bei Vater Rhein
  • 1900 Zwei Jahrtausende rheinischen Lebens
  • 1901 Was uns das neue Jahrhundert bringt
  • 1902 Schiller und Goethe auf dem Carneval zu Köln
  • 1903 Lebende Lieder
  • 1904 Des Prinzen Rheinfahrt bei seiner Heimkehr aus dem Süden
  • 1905 Eine Blütenlese aus dem Kölner Adressbuch
  • 1906 Das Prunkmahl des Prinzen Karneval
  • 1907 Bilder aus dem Kölner Leben
  • 1908 Bilder aus dem Kölner Leben
  • 1909 Die verkehrte Welt
  • 1910 Aus aller Welt
  • 1911 Verkörperte Zitate
  • 1912 Deutsche Städte huldigen der Colonia und dem Prinzen Karneval
  • 1913 Sang und Klang im Karneval
  • 1914 Weltausstellung in Köln
  • 1915 (kein Zug: Erster Weltkrieg)
  • 1916 (kein Zug)
  • 1917 (kein Zug)
  • 1918 (kein Zug)
  • 1919 (kein Zug: britische Besatzung untersagte Karnevalsumzüge (bis 1926))
  • 1920 (kein Zug)
  • 1921 (kein Zug)
  • 1922 (kein Zug)
  • 1923 (kein Zug)
  • 1924 (kein Zug)
  • 1925 (kein Zug)
  • 1926 (kein Zug)
  • 1927 Aus der Neuen Zeit (Bunte Kappenfahrt)
  • 1928 Die Pressa im Spiegel des Kölner Karnevals
  • 1929 Ab- und Aufbau im Spiegel des Kölner Karnevals
  • 1930 Die Welt im Jahre 2000
  • 1931 (kein Zug wg Weltwirtschaftskrise)
  • 1932 (kein Zug wg. Weltwirtschaftskrise)
  • 1933 Karneval wie einst
  • 1934 Kölner Bilder
  • 1935 Prinz Karneval filmt
  • 1936 Alt Kölle läv en Spröch un Zitate
  • 1937 Märchen und Sagen aus aller Welt
  • 1938 Die Welt im Narrenspiegel
  • 1939 Singendes, klingendes, lachendes Köln
  • 1940 (kein Zug wg. Zweitem Weltkrieg)
  • 1941 (kein Zug)
  • 1942 (kein Zug)
  • 1943 (kein Zug)
  • 1944 (kein Zug)
  • 1945 (kein Zug)
  • 1946 (kein Zug)
  • 1947 (kein Zug)
  • 1948 (kein Zug)
  • 1949 – „Mer sin widder do un dunn wat mer künne!“
  • 1950 – „Kölle, wie et es un wor, zick 1900 Johr“
  • 1951 – „Kölle en Dur un Moll“
  • 1952 – „Kölsche Krätzger“
  • 1953 – „Kölsch Thiater“
  • 1954 – „Dat löstige Patentamp Kölle“
  • 1955 – „Lachende Sterne über Köln“
  • 1956 – „Spaß an der Freud“
  • 1957 – „Laßt Blumen sprechen“
  • 1958 – „Mer jöcken öm de Welt“
  • 1959 – „Schlagerparodie 1959“
  • 1960 – „Jedem Dierche sie Pläsierche!“
  • 1961 – „Meer Weetschaffswunderkinder“
  • 1962 – „Wat et nit all gitt“
  • 1963 – „Köln läßt grüßen kunterbunt Presse, Fernsehen und Funk“
  • 1964 – „Kölsch Panoptikum“
  • 1965 – „Olympiade der Freude“
  • 1966 – „Kaum zu glauben“
  • 1967 – „Dat Klockespill vum Rothuusturm“
  • 1968 – „Märchen und Wunder unserer Zeit“
  • 1969 – „Köln serviert internationale Speisen a la carte“
  • 1970 – „Rosen, Tulpen und Narzissen, das Leben könnte so schön sein“
  • 1971 – „Hexenküche der Werbesprüche“
  • 1972 – „Wir sind alle kleine Sünderlein“
  • 1973 – „Fastelovend wie hä es un wor, zick 150 Johr“
  • 1974 – „Zustände wie im alten Rom“
  • 1975 – „Seid umschlungen Millionen“
  • 1976 – „Sang und Klang mit Willi Ostermann“
  • 1977 – „Mer losse de Pöppcher danze“
  • 1978 – „Flohmarkt Colonia“
  • 1979 – „Kölsche in aller Welt“
  • 1980 – „Mer losse d’r Dom verzälle“
  • 1981 – „Circus Colonia“
  • 1982 – „Karneval der Schlagzeilen – Närrische Nachrichten“
  • 1983 – „Es war einmal… Kölner Karneval wie ein Märchen“
  • 1984 – „Hits us Kölle un us aller Welt“
  • 1985 – „Ene Besuch em Zoo – Met jroße un met kleine Diere“
  • 1986 – „Fastelovend der Rekorde“
  • 1987 – „Janz Kölle dräump – un jede Jeck dräump anders“
  • 1988 – „Kölle Alaaf – COLONIA FEIERT FESTE“
  • 1989 – „Wir machen Musik – Met vill Harmonie“
  • 1990 – „Hereinspaziert, hereinspaziert – Zur größten Schau der Welt“
  • 1991 – „Kinema Colonia“ (kein offizieller Rosenmontagszug in diesem Jahr wegen Golfkrieg)
  • 1992 – „Et kütt wie et kütt“
  • 1993 – „Sinfonie in Doll“
  • 1994 – „Hokuspokus – kölsche Zauberei“
  • 1995 – „Colonia ruft die Narren aller Länder“
  • 1996 – „Typisch Kölsch“
  • 1997 – „Nix bliev wie et es – aber wir werden das Kind schon schaukeln“
  • 1998 – „Fastelovend und Dom im Jubiläumsfieber“
  • 1999 – „999 Jahre – Das waren Zeiten“
  • 2000 – „Kölle loß jon, ins neue Jahrtausend”“
  • 2001 – „Köln kann sich mit allen Messen“
  • 2002 – „Janz Kölle es e Poppespill“
  • 2003 – „Klaaf und Tratsch – auf kölsche Art“
  • 2004 – „Laach doch ens, et weed widder wäde!“
  • 2005 – „Kölle un die Pänz us aller Welt“
  • 2006 – „E Fastelovendsfoßballspill“
  • 2007 – „Mir all sin Kölle!“
  • 2008 – „Jeschenke för Kölle – uns Kulturkamelle“
  • 2009 – „Unser Fastelovend - himmlisch jeck“
  • 2010 - „In Kölle jebützt“

References: http://de.wikipedia.org/wiki/K%C3%B6lner_Rosenmontagszug

Sumber Foto-Foto diatas: diambil dari internet (terima kasih).

Kapal Ro-Ro demikianlah nama sebuah kapal bisa memuat kendaraan yang berjalan masuk kedalam kapal dengan penggeraknya sendiri dan bisa keluar dengan sendiri juga sehingga disebut sebagai kapal roll on - roll off disingkat Ro-Ro, untuk itu kapal dilengkapi dengan pintu rampa yang dihubungkan dengan moveble bridge atau dermaga apung ke dermaga. Kapal Roro selain digunakan untuk angkutan truk juga digunakan untuk mengangkut mobil penumpang, sepeda motor serta penumpang jalan kaki. Angkutan ini merupakan pilihan populer antara Jawa dengan Sumatera di Merak - Bakauheni, antara Jawa dengan Madura dan antara Jawa dengan Bali.

Secara garis besar kapal yang termasuk jenis RoRo antara lain: kapal penyeberangan/ferry yang melayani lintasan tetap seperti Lintas Merak-Bakauheni, Lintas Ujung-Kamal, Lintas Ketapang-Gilimanuk, Lintas Padangbay-Lembar, Lintas Padangbay – Nusa Penida. Selain itu jenis kapal roro lainnya adalah kapal pengangkut mobil (car ferries), dan kapal general cargo yang beroperasi sebagai kapal RoRo. Salah satu kapal roro yang melayani lintas Padangbay – Nusa Penida yang “dioperasikan” oleh pemerintah Kabupaten Klungkung yang berkapasitas 500 Gross ton merupakan kapal buatan PT PAL Indonesia yang di pesan oleh pemerintah provinsi Bali yang serah terimanya dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2006 oleh Direktur Pengembangan Usaha PAL Indonesia kepada pimpinan kegiatan pengadaan kapal Pemerintah Provinsi Bali, serta disaksikan oleh Direktur Pembangunan Kapal PAL Indonesia dan Gubernur Propinsi Bali di galangan PAL Indonesia.


Ukuran Utama Kapal sbb. :
Panjang Keseluruhan : 39.50 m
Panjang Garis tegak : 32.50 m
Lebar : 11.60 m
Sarat Air : 2 m
Gross tonase : ± 500 GRT
Kecepatan Maksimal : 12 Knot
Kapasitas Muat : 200 penumpang , 8 truk, 6 mobil penumpang
Mesin Utama : Motor diesel 4 langkah 2 x 829 tenaga Kuda
Anak Buah Kapal : 8 orang

Kapal roro ini mulai menjadi perbincangan dimilis Klungkung@yahoogroups.com ketika salah satu anggota milis, Gusti Putu,  meminta saran kepada anggota lainnya seputar issue  kapal yang merupakan aset pemerintah daerah klungkung namun pengoperasiannya tidaklah dilakukan oleh putra daerah klungkung dalam arti selama ini tenaga pengoperasiannya masih ditangani oleh pihak ketiga, disamping itu juga daerah tujuan berlabuh dari kapal roro ini tidaklah di daerah kawasan kabupaten klungkung melainkan berlabuh di pelabuhan milik kabupaten tatangga yaitu pelabuhan padang bai. Jadi kalau di cermati lebih seksama selama bertahun-tahun terdapat kerugian ganda di pihak kabupaten klungkung.

Pertanyaan mengenai topik pengoperasian kapal roro dan ketidak siapan dermaga dipihak kabupaten klungkung di tanggapi oleh peserta diskusi di milis Klungkung berikut ini:

3.1. Gde Pandhe Wisnu Suyantara ST, yang saat ini sedang menempuh study master di Universitas Chalmers Goteborg Swedia kelahiran Desa tegak Klungkung, yang mengatakan bahwa program pembangunan dermaga dan kapal sesungguhnya sudah dicanangkan sejak tahun 2000-an. disaat pemerintahan Bupati Tjokorda Ngurah. Banyak langkah yang sudah dilakukan pemerintah beserta wakil rakyat pada saat itu untuk memajukan pembangunan di Nusa Penida, salah satunya dengan pembangunan dermaga sebagai langkah awal membuka pulau Nusa Penida. Ini ide mendasarnya., demikian dinyatakan gede Pandhe.

Kalau pas itu saja kita bisa membangun dermaga dan melobi pemerintah propinsi dan pusat untuk menyediakan dana dan kapal, kenapa sekarang tidak? saya rasa pemerintah sekarang tinggal melanjutkan. Pertanyaannya adalah sejauh mana niat dan upaya yang uda dilakukan pemerintah sekarang. Hampir 2 periode berjalan semenjak Bupati Tjok lengser dan memberikan tampuk kekuasaan kepada Bupati Candra, tetapi tetap aja program pembangunan dermaga di Klungkung daratan tidak bisa terwujud. Saya rasa masalahnya ada di Program Dermaga di Klungkung daratan. Dana sudah ada di Propinsi dan sempat di pangkas gara-gara pemda klungkung tidak memberikan upaya yang positif terhadap pembangunan dermaga ini. Kalau dermaga di Klungkung daratan sudah selesai saya rasa kapal dengan leluasa bisa kita operasikan.

Gambar Dermaga di Nusa Penida.

Dan setahu saya program ini (dermaga Nusa, dermaga Klungkung daratan, dan Kapal Roro) merupakan satu program terintegrasi. Jadi disini dirancang ketika kapal roro datang, kedua dermaga sudah siap. cuma masalahnya dermaga Klungkung tidak kurun rampung dan menyebabkan sepertinya kapal roro yang diberikan pemprop memberatkan pemda klungkung.

Saya rasa yang perlu kita lakukan adalah mempercepat program pembangunan dermaga di Klungkung daratan. Kalau kapal roro dihentikan dan dikembalikan ke Pemprop, saya rasa itu malah sebuah langkah yang sangat merugikan bagi pembangunan di Nusa Penida, padahal saat ini berbagai proyek sedang diarahkan untuk mengangangkat kesejahteraan nyama braya kita di seberang lautan sana termasuk dari Propinsi.

Memang saat ini kapal tersebut masih dioperasikan oleh pihak ketiga, dan biayanya jauh dari pendapatan yang bisa dihasilkan selama sebulan.Tapi itu lebih dikarenakan hanya ada satu trip PP dalam sehari, seandainya jumlah trip bisa ditingkatkan, salah satunya dengan pembangunan dermaga, saya rasa kita bisa mencapai BEP atau pun untung dalam beberapa tahun mendatang.

Pemerintah mengalami kerugian, saya rasa karena kesalahan pemerintah sendiri yang tidak segera membangun dermaga ini dengan berbagai alasan yang ada. Padahal kalau di track ke belakang, kita bisa liat, setelah Pemerintahan Tjok Ngurah dengan ketua DPRD I Wayan Sutena pas itu, Klungkung bisa memiliki dermaga dan kapal roro, hanya dalam jangka 5 tahun kurang. Sekarang sudah lebih dari 5 tahun, 1 dermaga pun tidak rampung, demikian Gde Pandhe mengakhiri komentarnya.

3.2. Nyoman Parsua ikut sumbang saran demi kemajuan kabupaten klungkung dengan mengatakan Tingkat perekonomian masyarakat Nusapenida meningkat sejak beroperasinya kapal roro dimaksud, tapi masalah pengoperasiannya diserahkan kepada pihak ketiga untuk memparmudah penyelesaian komisinya. tinggal menghitung jumlah persentase dikalikan nilai kontrak dan berhubungan dengan satu orang saja (pengontrak) . sama dengan 5 kapal ikan yang sudah tidak ketahuan keberadaannya juga dikontrakkan.

3.3.  Wayan Surya, menyatakan bahwa masyarakat nusa penida sepertinya sangat terbantu dengan keberadaan kapal roro ini, dan perekonomian mereka mungkin lebih meningkat. Namun bila permasalahannya terletak pada ketidaksiapan SDM dalam pengoperasian kapal roro ini kenapa tidak dikirim para PNS yang tidak punya tupoksi untuk belajar mengeoperasikannya, dan belajarnya langsung dengan pihak ketiga tersebut ?. wayan surya juga memiliki kecenderungan bahwa hal ini mungkin merupakan sebuah proses untuk lebih berkembangnya Kabupaten Klungkung, karena kemungkinan dermaga akan segera di bangun, dengan alasan tanah di sekitar daerah tersebut sudah dibebaskan juga.

3.4. Dr. Ir. Gde Pradnyana, staf ahli BP Migas kelahiran Desa Galiran Klungkung, mengomentari diskusi yang sedang berlangsung dengan mengatakan: tanpa bermaksud mengecilkan semangat membangun, Pak Gde mengatakan tidak melihat ada lokasi di Klungkung daratan yg cocok utk membangun dermaga roro. Semua pantai kita, mulai dari Banjarangkan sampai Wates semuanya curam dan berhadapan langsung dengan samudera Hindia. Jadi sekalipun dananya ada, lokasinya (rasanya) tidak ada di Klungkung. Kalaupun dipaksakan (secara teknis bisa saja dibuat, misalnya dilindungi dengan breakwater, dsb) maka biayanya akan sangat mahal dan tidak ekonomis, demikian penjelasan pak Gde Pradnyana.

Gambar: Kapal Roro berlabuh di pelabuhan Padang Bai


Gambar: pelabuhan Padang Bai di teluk padang bai

3.5. Ir. I Dewa Nyoman Mawang, berkomentar Sebelum adanya kapal Roro transportasi dari Bali ke Nusa penida lebih sulit terutama arus barang dan mobil, kalau sekarang masyarakat Nusa Penida lebih maju baik infrastrukturnya maupun yang lainnya.

Cita cita pendahulu kita untuk memajukan klungkung yang sebagian ada di Nusa Penida tahap awal sudah ada modal awal, sehingga perlu dilanjutkan lebih serius lagi terutama pelatihan tenaga untuk pengoperasian kapal tersebut seperti yang diusulkan Pak Wayan Surya dan pengadaan Dermaga. Saya kira pemda Klungkung perlu pemikiran atau gagasan gagasan kreatif untuk melanjutkan cita-cita tsb. Terutama lobby-lobby ke pusat biar perencanaan perencanaan yang ada bisa segera terwujud.

3.6. I Made Putra Jelantik ST, kelahiran Nusa Penida yang saat ini berwirausaha di Jakarta mengatakan manfaat atas keberadaan/ serta kerugian atas ketiadaan kapal roro nusa jaya abadi (nja) dijabarkan sbb :

I. Ditinjau dari sisi orang Nusa penida

1. Keuntungan atas keberadaan kapal roro nja :
1. Masyarakat Nusa Penida sudah tidak perlu lagi bayar mahal atas barang-barang pangan/sandang/ papan
2. Arus barang produksi Nusa penida ke Bali jadi lancar sehingga harga jual/beli lebih terbuka (tdk dipermainkan tengkulak)
3. Pemuda Nusa penida saat ini bangga dengan kemajuan daerahnya
4. Pemuda Nusa Penida tidak frustasi sehingga mereka tidak meninggalkan pulaunya untuk merantau ke daerah lain
5. Pemuda Nusa Penida tidak meninggalkan pulaunya dengan melepas hak atas tanahnya kepada orang Jakarta/Surabaya
6. Sirnanya kesan terisolasi yang selama ini menekan mental orang Nusa Penida (kami sdh bosa disebut sebagai daerah tertinggal)

2. Kerugian atas ketiadaan kapal roro nja :

1. ekonomi biaya tinggi bagi masyarakat Nusa Penida
2. petani mati krn harga dipermainkan oleh tengkulak yang sebagian besar punya kapal/perahu sendiri
3. mental orang Nusa Penida akan tertekan dengan adanya kesan terisolasi
4. Pemuda akan hijrah ke daerah lain dengan sekalian menjual tanahnya kepada orang jakarta/surabaya yg mungkin bukan Hindu untuk modal usaha di daerah lain
5. Pemuda yang tetap bertahan di Nusa Penida akan bergejolak minta cerai dengan Klungkung (wacana ini sudah ada sejak dahulu tp tidak mendapat dukungan dari para sesepuh mengingat sejarah….tapi anak muda sudah tidak pernah mikirin sejarah lagi..dan mereka lebih senang gabung dengan Kab. Badung)..sepertinya sekarang geliat ingin cerai ini sudah redup karena terobati oleh adanya kapal roro nja..disinilah kecerdasan Pemda saat ini yang pinta baca apa keinginan Pemuda Nusa Penida.

Atas untung/rugi di atas coba bandingkan dengan kerugian Pemda Klungkung apa tindakan yang harus diambil? saya sebagai pemuda Nusa Penida berpikir bahwa Klungkung akan rugi besar bila meniadakan kapal roro nusa jaya abadi (tidak sebanding dengan kerugian financial yang dialami saat ini)….Pemda Klungkung di bawah pak Candra sangat cerdas dan peduli Nusa penida..beliau sudah tahu benar bahwa kerugian yang sangat besar akan dialami Klungkung (secara keseluruhan) bila kapal roro nja diberhentikan pengoperasiannya.

Saran saya…semeton sekalian mohon hati-hati atas wacana tentang Nusa Penida…kalo memang saat ini Klungkung hanya bisa numpang di Dermaga Padang Bay Karangasem silahkan lakukan ini sambil menunggu selesainya dermaga daratan Klungkung… jangan mundur ke belakang…kerugian finacial saat ini lebih kecil bila di bandingkan dengan  keuntungan (manfaat) yang dirasakan oleh masyarakat Nusa Penida atas keberadaan kapal roro nja.

Dan coba semeton berpikir seandainya semeton berada dalam posisi sebagai masyarakat Nusa Penida…… .atau coba semeton tinggal di Nusa Penida selama 1 tahun dan rasakan bagaimana rasanya???

3.7. Ketut Adnyana , kemoning,  menanggapi topik seputar  pembangunan Dermaga di Klungkung daratan, yang dikutipnya dari koran balipost, yang mana tertulis pembangunan dermaga di eks galian C sudah dimasukkan dalam program kerja bupati sekarang. Perihal kapan realisasi perwujudan Dermaganya, ini mungkin bisa di tanyakan kepada pihak Pemda Klungkung, demikian diungkapkan oleh Ketut Adnyana, yang detail artikel balipostnya bisa dibaca secara lengkap di artikel berikut:

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=28005

APBD Klungkung Defisit Rp 35,65 miliar

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Klungkung tahun 2010 dirancang defisit Rp 35,65 miliar. Belanja daerah dirancang Rp 434,542 miliar sedangkan pendapatan daerah hanya Rp 398,882 miliar yang bersumber dari Pendapatan Asli daerah (PAD), Dana Perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. Hal itu terungkap dalam pidato pengantar nota keuangan Ranperda tentang APBD Klungkung tahun 2010 yang disampaikan Bupati Klungkung, Wayan Candra kehadapan pimpinan dan anggota DPRD di Ruang Paripurna Gedung Sabha Nawa Natya DPRD Klungkung, Senin (11/1).

Terjadinya defisit diakibatkan besarnya belanja daerah yang melebihi pendapatan daerah. Sebagai akibat meningkatnya belanja tidak langsung yang dipengaruhi peningkatan belanja pegawai. Peningkatan belanja pegawai terjadi karena adanya kenaikan gaji pegawai sebesar 5 persen dan penambahan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang kini masih proses pengusulan Nomor Identitas Pegawai (NIP) ke BKN.

Belanja daerah Rp 434,542 miliar diantaranya dialokasikan untuk biaya tak langsung Rp 309,41 miliar yang mengalami peningkatan Rp 20,76 miliar (7,19 persen) dari APBD Induk 2009 Rp 288,64 miliar. Sedangkan untuk belanja langsung Rp 125,12 miliar. Menurun Rp 62,24 miliar (33,22 persen) dari Induk 2009 Rp 187,37 miliar. Sementara itu, pendapatan daerah yang bersumber dari PAD Rp 28,82 miliar, dana perimbangan Rp 332,81 miliar dan lain-lain pendapatan yang sah Rp 332,81 miliar.

Beberapa program prioritas yang dijabarkan dalam belanja daerah tersebut diantaranya:
1. pembangunan pasar galiran demi pertumbuhan ekonomi masyarakat,
2. kelanjutan pembangunan dermaga di eks galian C,
3. penataan alur Tukad Unda,
4. pemberantasan penyakit rabies,
5. pengadaan bulldozer untuk penanganan sampah

Sementara itu, berkaitan dengan terjadinya defisit anggaran, Candra menyebutkan hal itu akan dibiayai dari penerimaan pembiayaan daerah yang bersumber dari perkiraan sisa lebih  perhitungan anggaran tahun 2009 dengan besar yang sama yakni Rp 35,65 miliar.(kmb20)

3.8. Komang Oka Suryadhi, asal desa sampalan, menambahkan:
saya sedikit sumbang saran ,semestinya untuk menunjang penyeberangan ke atau dari nusa penida di klungkung daratan harus lebih cepat mewujudkan pelabuhan .disampingkan untuk menambah pendapatan daerah juga bisa membantu masyarakat disekitar pelabuhan  secara ekonomi dan bisa menyerap tenaga kerja.karena selama ini kapal roro beroperasi dari kabupaten tetangga sehingga pendapatan akan masuk ke kabupaten tersebut.disamping itu jadwal penyeberangnyapun akan tergantung dari jadwal penyebrangan padang bai-lembar.sebagai akhir kata semoga pelabuhan di klungkung daratan segera terwujud.
Salam

3.9. I Made Putra Jelantik ST, putra klungkung kelahiran Nusa Penida, menyatakan salut dengan rencana kerja Pemda Klungkung yang berpihak untuk kemakmuran rakyat Klungkung, yang mudah-mudahan terwujud.  Made Jelantik memperkirakan hasil dari program yang direncanakan oleh pemerintah daerah Klungkung akan nampak indah pd jangka panjang 10 tahun yang akan datang. Karena efeknya akan luar biasa dengan terwujudnya program tersebut. Mungkin akan ada ledakan ekonomi yang mengagumkan di klungkung 10 tahun yang akan datang. Dan Gunaksa (area ex. galian C) akan menjadi pusat ekonomi baru bagi Klungkung/Bali ke depannya.  Made Jelantikn juga mengajak untuk mendukung terus program pemerintah yang akan membawa dampak positif bagi kesejahteraan rakyat Klungkung.

3.10. I Nengah Sumerta SE, Banjarangkan, menyatakan sudah sewajaranya kita berterima kasih kepada pemerintah yang beritikad baik mencoba mengerahkan sedikit waktu dan pikiranya untuk memberi pelayanan ke rakyat, tapi jangan sampai itu membuat fungi kontrol kita menurun, entah apa yang membuat saya skeptikal, tapi di klungkung, sistem birokrasi dan manajemen keuangan masih jauh dari transparansi dan akuntabilitas.

3.11. I Dewa Gede Widnyana ST. MSc, asal Banjar Kartini Klungkung alumni Teknik perminyakan ITB dan master perminyakan dari Norwegia, bertanya kepada Pak Pradnyana dan tertarik untuk menanyakan lebih lanjut syarat-syarat untuk pembangunan dermaga dan teknik bangunan pantai. Serta meminta saran / alternatif lain sebagai solusi atas permasalahan penyeberangan Klungkung - Nusa Penida?

3.12. AKBP Drs. I Gede Mahendra Jaya Kusuma SH MM, putra klungkung yang saat ini bertugas di Ternate, juga menyatakan kepeduliannya akan kemajuan kabupaten Klungkung dan berharap kabupaten klungkung bisa segera memiliki dermaga sendiri dan kapal roro bisa di operasikan langsung oleh pihak ASDP klungkung. Pak Gede juga berharap suatu saat nanti kepulauan Nusa Penida bisa terhubungkan dengan kabupaten klungkung melalui sebuah jembatan, demi kesejahteraan masyarakat di Nusa Penida.

3.13. Dr. Ir. Gde Pradnyana, Staf ahli BP Migas kelahiran Desa Galiran Klungkung, menambahkan:
Berikut ini tyang forward 4 buah foto satelit yg tyang ambil dari Google-earth, memperlihatkan pantai yang ada di Klungkung serta lokasi galian-C.

Foto-foto ini menunjukan lokasi galian-C mulai dari Sampalan Kelod dan sampai Tangkas. Lokasinya agak jauh di tengah daratan dan jauh dari pantai (lihat foto-1 dan 2). Jadi kalau mau bikin “teluk” untuk membangun dermaga….kok rasanya seperti mengubah geografi pulau Bali. Bandingkan ukuran galian-C tersebut dengan teluk Padangbai. Dari foto2 ini tyang usulkan: pisahkan pemikiran antar penanganan ex Galian-C dengan pembangunan dermaga.

Gambar Teluk Padang Bai

1. Dermaga

Seperti email tyang sebelumnya, rasanya tidak ada lokasi sepanjang pantai di Klungkung yg ideal untuk dermaga roro. Kalau kita berpikir agak makro (melepaskan “baju” kedaerahan Klungkung), maka solusi praktisnya untuk dermaga ke Nusa Penida memang menggunakan Padangbai saja (foto-3). Tapi kalau mempertimbangkan aspirasi masyarakat Nusa Penida akan kebutuhan dermaga maka lokasi yg “agak pas” mungkin di Kusamba, bukan di muaranya tukad Unda (lihat foto-2). Itupun kalau menggunakan jety (seperti di Padangbai) maka harus dibangun breakwater, seperti yg dipasang di terminal BBM Manggis.

Gambar Jety Pelabuhan

Tapi untuk hal ini harus dilakukan perhitungan (simulasi) secara cermat agar keberadaan jety dan breakwater (tumpukan batu yg menjorok ke tengah laut) tidak menimbulkan gerusan dan abrasi pantai di tempat lain. Ingat bahwa pantai-pantai selatan Bali sangat rawan terhadap abrasi. Pilihan lain adalah dermaga dibangun di dalam kanal, yang digali masuk ke daratan. Tapi inipun (rasanya) membutuhkan breakwater pelindung mulut kanal tsb.

2. Penanganan Galian-C

Lihat foto-4. Galian-C ini berada di bantaran Tukad Unda dan dimasa mendatang, saat gunung Agung meletus (lagi) akan kembali tertimbun lahar dingin. Dimanapun (biasanya) kita sebaiknya tidak membuat bangunan di bantaran sungai. Pemikiran-pemikiran untuk membangun “danau buatan” untuk kapal2 yacht, dsb di bekas Galian-C rasanya harus menunggu sampai aktifitas volcanic Gunung Agung (nunas ampure) mati dulu. Hitungan2 investasi besar2n (membangun waduk dengan kapal2 pesiar dan dikelilingi rumah2 peristirahatan di sekeliling waduk) seperti itu biasanya return-nya puluhan bahkan ratusan tahun, sementara siklus erupsi Gunung Agung juga kurang-lebih periodanya sama. Jadi, menurut tyang, ex galian C sebaiknya difungsikan untuk kegiatan agri-culture saja dikombinasikan dengan perikanan tambak, dsb dimana return on investment-nya bisa lebih pendek.

Foto 1

Foto 2

Foto 3

Foto 4

3.14. dr. kadek Budhiadnya, asal Desa Dawan yang bertugas sebagai dokter di Balikpapan, mengatakan kesetujuannya dengan ide yang sangat logis dari Pak Gde Pradnyana.
Kalaupun harus membangun dermaga karena aspirasi dari warga nusa, mungkin kusamba merupakan tempat yang lebih reasonable.

3.15. Dr. Ing. Nengah Sudja, ahli kelistrikan dan Konsultan di Jakarta yang berasal dari Dawan, mengatakan:

Kalau titiang tidak salah mengerti, lepas dari persoalan teknisnya, diperlukan  penelitian dua kajian ekonomi  !..

Pertama apakah pengadaan/operasinya  Kapal Roro  secara  ekonomi sosial menguntungkan Nusa Penida, Klungkung, Bali ?.

Dengan melakukan kajian kuantitatif, tentunya bisa dihitung berapa besar pendapatan dari pertumbuhan ekonomi Klungkung/ Nusa Penida/  Bali   dibandingkan dengan biaya modal pengadaan kapal tersebut ditambah biaya operasinya untuk beberapa tahun kedepan sampai kapal tsb berhenti beroperasi ( retired).

Kedua mana yang lebih layak,  tetap mengoperasikannya dari Padang Baai  dibandingkan dengan  pembangunan dermaga di Kabupaten  Klungkung (  di Gunaksa / Kusamba) ditambah biaya pengoperasiannya dari Kabupaten Klungkung ke Nusa Penida ?.

Naluri saya memperkirakan untuk masalah:

pertama, keberadaan Kapal Roro secara ekonomis menguntungkan Nusa Penida, Klungkung, Bali . Apalagi karena kapal tsb.sudah ada ( sunk cost). Biaya kapal tak perlu diperhitungkan lagi, keberadaan kapal dengan sendirinya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Daerah.

kedua, pengoperasian dari Padang Baai secara ekonomi jelas lebih murah / layak, karena biaya pembangunan dermaga di Klungkung tak  perlu dikeluarkan lagi  dan  dana yang dialokasikan  bisa dialihkan ke sektor lain. Misalnya untuk bikin kade di Kusamba.

Seyogyanya Pemda Kabupaten Klungkung/ Propensi  Bali dapat memberi penjelasan, pertanggungjawaban  secara rinci  kepada masyarakat mengenai aspek kelayakan kedua masalah diatas.

4. Kesimpulan
(saat ini belum ada, diskusi masih berlanjut)

Beberapa ABK perahu penyeberangan Pulau Bali-Nusa Penida, menggotong barang bawaan penumpang ke tepi pantai saat mereka tiba di Pantai Kusamba, Klungkung, Bali, Kamis(27/8). Penyeberangan menggunakan perahu motor dari pantai kusamba masih menjadi pilihan bagi penumpang karena dinilai lebih cepat dan praktis dari pada kapal roro berkapasitas besar dari dermaga Padangbai yang hanya mampu melayani sekali trip dalam satu hari. (FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana) http://www.antara.co.id/foto/1/1251368059

Artikel ini adalah rangkuman dari hasil diskusi di milis Klungkung@yahoogroups.com, Sumber Foto-Foto diatas dikutip oleh penulis artikel dari internet (terima kasih).

TUMPEK Wayang (yang jatuh pada  hari Sabtu wuku Wayang 6 Februari 2010) merupakan hari istimewa bagi umat Hindu di Bali. Jika ada bayi lahir tepat pada hari itu, konon memiliki sifat-sifat ataupun bakat istimewa baik negatif maupun positif.

Menurut salah satu kalender Bali, orang yang lahir pada wuku Wayang memiliki sifat suka disanjung, perintahnya tak bisa dibantah. Namun, ia juga memiliki pribadi yang halus, pandai bergaul, tutur bahasanya halus dan menarik. Apakah pernyataan itu benar, tentu saja jawabannya beragam. Pasalnya, di atas bumi ini, ribuan bahkan mungkin jutaan orang yang lahir pada Tumpek Wayang dipastikan memiliki sifat yang berbeda, tergantung pada kepercayaan, kultur, bakat, lingkungan dan faktor lainnya.

Bagi umat Hindu di Bali, ada keyakinan bahwa anak yang lahir pada Tumpek Wayang memiliki sifat-sifat negatif karena hari itu dianggap memiliki nilai cemer (kotor) yang membawa sial. Anak tersebut dikhawatirkan dirundung malapetaka, akibat dikejar-kejar Dewa Kala. Menurut lontar “Sapuh Leger”, Dewa Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak yang dilahirkan pada Wuku Wayang.

Untuk memusnahkan sifat-sifat negatif pada anak tersebut serta menghindari bahaya akibat dikejar-kejar Dewa Kala, maka ada solusi yang merupakan keyakinan pula, yakni mohon tirta (air suci) penglukatan atau pengruwatan dari pertunjukan Wayang Sapuh Leger.

Apakah semua itu bisa dipercaya seratus persen? Oleh karena hal ini masalah keyakinan, tentu sulit dijawab dengan pasti. Namun yang jelas, Wayang Sapuh Leger ternyata juga menarik perhatian orang asing. Dalam buku ini ada dikemukakan, pada tahun 2005, seorang warga Prancis menanggap Wayang Sapuh Leger untuk upacara kelahiran putranya. Upacara yang digelar di rumah mertuanya di Baturiti, Tabanan, itu berlangsung khidmat. Apakah ia menanggap Wayang Sapuh Leger hanya untuk jor-joran ataukah memang ia yakin bahwa pertunjukan itu dapat menyelamatkan anaknya?

Oleh karena hal ini masalah yang bersifat irasional, maka sulit dijawab dengan mengemukakan argumenatasi secara rasional. Timbul juga pertanyaan: mengapa Wayang Sapuh Leger yang konon dianggap angker, dan penyelenggaraannya paling berat, sangat mempengaruhi pola pikir umat Hindu di Bali?

Menurut penyusun buku ini, I Dewa Ketut Wicaksana, tidak banyak orang yang menaruh perhatian untuk membuktikan serta mencari jawaban atas penyebabnya.

Kenyataan seperti itu, menurut Wicaksana, hanya diterima begitu saja, tanpa tergelitik untuk menelusuri lebih jauh, untuk menemukan apa yang terjadi di balik konsep penyelenggaraan drama ritual tersebut. Itulah sebabnya, ia tertarik untuk menelusuri, selain ingin mengetahui apa sebenarnya yang ada di balik pertunjukan Wayang Sapuh Leger, juga ingin mengkaji fungsi dan makna pertunjukan wayang tersebut dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Bali.

Dari Tesis

Penelitian Wicaksana tertuang dalam tesis yang dipertahankan di hadapan penguji Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada 1997. Tesis itulah yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku seperti ini, setelah mengalami proses editing seperlunya terutama pada masalah teknis.

Secara garis besar, buku ini terdiri dari lima bab. Bab pertama, Wicaksana menuliskan tentang latar belakang masalah, mengapa ia tertarik meneliti pertunjukan Wayang Sapuh Leger. Sebagaimana penulisan tesis pada umumnya, dalam bab ini, Wicaksana menyodorkan sejumlah teori yang digunakan untuk menjawab permasalahan.

Dalam bab berikutnya, Wicaksana mengungkap tentang genre Wayang Sapuh Leger dalam Wayang Kulit Bali, apa latar belakang dan bagaimana struktur pertunjukan tersebut. Dalam bab ini juga dikemukakan upacara lukatan yang meliputi sesajen, mantram-mantram yang dicantingkan dalam upacara tersebut, pelaku upacara, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dalang dan Dharma Pedalangan.

Dalam bab selanjutnya, Wicaksana mengungkap struktur estetik pertunjukan Wayang Sapuh Leger, dan pada bab empat, ia menganalisis fungsi dan makna pertunjukan seni sakral tersebut bagi kehidupan masyarakat Bali. Buku ini juga dilengkapi dengan lampiran mantram-mantram yang berkaitan dengan pementasan wayang.

Menurut Wicaksana dalam buku ini, secara eksplisit pertunjukan Wayang Sapuh Leger hanya berfungsi untuk upacara dalam siklus kehidupan manusia. Namun secara implisit, pertunjukan ini menyiratkan adanya upacara Panca Yadnya yakni Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya.

Foto-foto yang ditampilkan dalam buku ini meliputi pertunjukan wayang kulit Sapuh Leger, bentuk-bentuk sesajen yang digunakan, dan ada lima dalang yang ditampilkan. Mereka itu empat dalang dari Gianyar yaitu dalang I Wayan Wija, I Made Sija, I Gusti Putu Darta, I Wayan Narta dan satu dalang dari Buduk (Badung) yakni Ida Bagus Puja. Penampilan dalang tersebut dalam gambar lebih banyak terlihat sedang melakukan upacara ritual.

Buku ini tidak saja penting disimak bagi peminat budaya, ilmuwan (peneliti), tapi juga bagi umum terutama bagi mereka yang ingin menekuni dunia pedalangan. Sayang, buku ini dicetak hitam putih, sehingga foto yang ditampilkan belum memberikan gambaran yang maksimal. Jika fotonya dicetak berwarna, serta lebih banyak menampilkan foto wayang Bali, buku ini tentu saja akan lebih afdol.

* wayan supartha

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/27/bud2.html

ADA sebuah fenomena menarik di Bali berkenaan tentang kelahiran anak pada hari yang dianggap keramat yaitu pada waktu wuku Wayang. Fenomena tersebut diyakini oleh orang Bali bahwa yang dilahirkan pada hari tersebut patutlah diupacarai lukatan besar yang disebut sapuh leger. Bagi anak yang diupacarai lahir bertepatan dengan waktu itu dimaksudkan supaya ia terhindar dari gangguan (buruan) Dewa Kala.

Menurut lontar Sapuh Leger dan Dewa Kala, Batara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku Wayang (cf. Gedong Kirtya, Va. 645). Atas dasar isi lontar tersebut, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada wuku Wayang, demi keselamatan anaknya itu, semeton Bali berusaha mengupacarainya dengan didahului mementaskan Wayang Sapuh Leger berikut aparatusnya dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen jenis wayang lainnya.

Menurut sistem perhitungan wuku, satu siklus lamanya 210 hari, karena tiap wuku lamanya 7 hari (Saptawara) dikalikan banyaknya wuku yang berjumlah 30 jenis. Satu bulan wuku lamanya 35 hari, dan setiap akhir bulan wuku itu disebut tumpek. Sehingga ada 6 jenis tumpek yaitu Tumpek Landep, Tumpek Pengarah, Tumpek Krulut, Tumpek Kuningan, Tumpek Kandang, dan Tumpek Wayang. Perhitungan Saptawara kemudian dikombinasikan pula dengan Pancawara (lima hari) dan setiap tumpek adalah jatuh pada Kliwon. Makanya, Tumpek Kliwon dirayakan secara besar di seluruh Bali, seperti Tumpek Kliwon Kuningan yang merupakan rentetan hari raya Galungan, dan diakhiri dengan Tumpek Kliwon Wayang.

Tiap anak yang lahir pada Tumpek Wayang, terutama pada Saniscara Kliwon Tumpek Wayang akan diadakan pergelaran Wayang Sapuh Leger. Kedudukan hari-hari tersebut secara spasial sangat sakral karena merupakan rentetan terakhir dari tumpek yang menurut anggapan orang Bali adalah angker dan berbahaya, karena hari itu dikuasai oleh butha dan kala. Secara mitologis wuku Wayang dianggap sebagai salah satu wuku yang tercemar/kotor, karena pada waktu inilah lahirnya seorang raksasa bernama Dewa Kala sebagai akibat pertemuan (sex relation) yang tidak wajar antara Batara Siwa dan istrinya, Dewi Uma. Mereka melakukan tidak pada tempatnya yang disebut kama salah.

Dari karakteristik hari-hari tersebut, masyarakat Bali percaya bahwa setiap anak yang lahir pada wuku Wayang harus mendapatkan penyucian yang khusus dengan upacara sapuh leger serta menggelar wayang. Pertunjukan wayang kulit yang ada sampai saat ini kenyataannya tidak dapat dilepaskan dengan upacara ritual dengan cerita mitologi. Hal ini dikisahkan karena isinya dianggap bertuah dan berguna bagi kehidupan lahir dan batin yang dipercayai serta dijunjung tinggi oleh pendukungnya.

Hipotesis yang menguatkan tentang latar belakang upacara nyapuh leger dengan media wayang kulit pada Tumpek Wayang adalah data sastra dalam naskah lontar. Salah satunya lontar Kala Purana berbunyi: ”… Muwah binuru sang Pancakumara; katekang ratri masa ning tengah wengi. Hana dalang angwayang, nemoning tumpek wayang, sang anama Mpu Leger. Sampun angrepakena wayang, saha juru redep/ gender/nya, wus pada tinabeh, merdu swaranya, manis arum….”.

Artinya, setelah dikejar sang Pancakumara oleh Dewa Kala, sampai menjelang tengah malam ada seorang pria/dalang bernama Mpu Leger mempertunjukkan wayang pada waktu Tumpek Wayang. Setelah menghadap di depan kelir segera juru gender membunyikan gamelannya, suaranya merdu dan nyaring….

Gelar Wayang Sapuh Leger pada saat Tumpek Wayang bersifat religius, magis, dan spiritual, yang berhubungan dengan wawasan mitologis, kosmologis, dan arkhais, sehingga memunculkan simbol-simbol yang bermakna bagi penghayatan dan pemahaman budaya masyarakat Bali. Simbol-simbol tersebut terungkap baik lewat lakon, sajian artistik, fungsi, sarana, dan prasarana yang digunakan. Sedangkan maknanya mengendap dan menjadikan sistem nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tinggi bagi kelakuan manusia Bali. Dalam konteks ritual, Wayang Sapuh Leger berfungsi sebagai pemurnian (furikasi) bagi anak/orang yang lahir pada hari yang oleh orang Bali dianggap berbahaya yaitu pada wuku Wayang, sehingga ia berfungsi sebagai pengukuhan atau pengesahan dari bentuk ritual keagamaan dan institusi-institusi sosial budaya masyarakat Bali. Karena salah satu perwujudan dari sistem religi mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas komunitasnya.

Tumpek Wayang juga bermakna ”hari kesenian” karena hari itu secara ritual diupacarai (kelahiran) berbagai jenis kesenian seperti wayang, barong, rangda, topeng, dan segala jenis gamelan. Aktivitas ritual tersebut sebagai bentuk rasa syukur terhadap Sang Hyang Taksu sering disimboliskan dengan upacara kesenian wayang kulit, karena ia mengandung berbagai unsur seni atau teater total. Dalam kesenian ini, semua eksistensi dan esensi kesenian sudah tercakup.

***

Tumpek Wayang dan drama ritual wayang diamati dari aspek filosofinya, berorientasi temporal, spasial dan spiritual. Secara temporal pertunjukan Wayang Sapuh Leger diselenggarakan pada saat-saat tertentu yaitu pada Tumpek Wayang, sehingga mitologi sapuh leger mengharuskan masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa dilarang bepergian pada tengai tepet (tengah hari), sandyakala (sore hari), dan tengah lemeng (tengah malam). Oleh karena diyakini waktu-waktu tersebut adalah waktu transisi yang sering mengancam keamanan seseorang saat melakukan perjalanan.

Tumpek Wayang itu sendiri merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada Sabtu/Saniscara Kajeng Kliwon, Wayang. Saniscara merupakan hari terakhir dalam perhitungan Saptawara; Kajeng adalah hari terakhir dalam perhitungan Triwara; dan Kliwon merupakan hari terakhir dalam perhitungan Pancawara. Sedangkan Tumpek Wayang adalah tumpek terakhir dari urutan enam tumpek yang ada dalam siklus kalender pawukon Bali. Dengan demikian dapat disimpulkan, Tumpek Wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu-waktu peralihan, dan oleh karenanya anak-anak yang lahir pada saat ini ditakdirkan menderita karena mengalami gangguan emosi dan menyusahkan orang lain.

Untuk melawan akibat keadaan yang tidak menguntungkan itu, orang Bali melakukan upacara ”penebusan dosa khusus” yang dinamakan lukatan sapuh leger, dengan harapan Hyang Widhi akan menganugerahkan nasib baik pada anak itu dan menjamin bahwa hari ”lahir yang tidak baik” itu tidak akan berpengaruh buruk pada perkembangan selanjutnya.

Kata ”kala” secara etimologi berarti waktu, ketika, saat, zaman. Jadi Batara Kala artinya dewa waktu atau penguasa waktu. Dari asal-usul etimologi tersebut, dapat disimpulkan bahwa mitos sapuh leger mengandung ajaran, petunjuk, dan pesan yang berdimensi temporal, yakni hendaknyalah orang dapat menguasai waktunya (sendiri) dan tidak membuang-buang waktu untuk perbuatan yang tak ada manfaatnya bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas. Mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, niscaya akan besar sekali mengaruhnya bagi keselamatan dan kesejahteraan. Amanat yang terkandung dalamnya adalah bersifat korektif berupa peringatan kepada umat manusia untuk menghargai waktu (kala), dan mewaspadai pertemuan ”transisi” dua kutub, akibatnya membawa pengaruh positif maupun negatif. Pengaruh positif apabila dua komunitas terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna, komunikasi akan berjalan baik. Apabila sebaliknya, akan terjadi miskomunikasi yang bisa berdampak negatif.

* I Dewa Ketut Wicaksana, SPP., H.Hum.,
dosen pedalangan STSI Denpasar

http://www.iloveblue.com/bali_gaul_funky/jepret/detail/35.htm

Sumber Foto-Foto diatas dari Internet dan baliwww.com dan Widnyana Sudibya.

Membaca artikel dari jawapos berikut tentang olahraga para layang dengan parasut yang dimaksimalkan sebagai bagian dari program pariwisata untuk membantu menggerakan roda perekonomian daerah di provinsi sumatera barat, mengingatkan saya akan olahraga sejenis yang dahulu juga sempat populer di kabupaten klungkung. dimana olahraga terbang “Gantole” yang biasanya berlangsung dari puncak bukit di perbatasan antara desa pesinggahan klungkung dengan daerah wates (karangasem) sempat menjadikan kabupaten klungkung cukup populer di kunjungi oleh wisatawan yang menekuni olahraga ini.

Saat ini pemerintah daerah kabupaten klungkung sebenarnya sedang mencoba untuk bangkit mengejar ke tertinggalannya di sektor pariwisata  dari kabupaten-kabupaten lain di provinsi bali ini,  dengan mencoba menata potensi-potensi daerah yang di milikinya, agar tidak hanya menggantungkan pendapatan dari sektor pariwisata hanya dari kunjungan wisatawan ke Taman Gili Kertagosa yang berlokasi di pusat kota Klungkung.

Salah satu program yang sudah muncul adalah “mengawinkan” bukit dan laut, atau dalam bahasa balinya di kenal dengan istilah konsep “Nyegara Gunung”.  Program Pariwisata “Nyegara” ini sesungguhnya tidaklah terlalu asing bagi telinga kita dimana Kabupaten Klungkung sudah cukup di kenal dengan keindahan kedalaman Lautnya, terutama laut-laut yang terletak di sekitar kepulauan Nusa Penida. Sementara program pariwisata “Gunung” ini memang belum banyak di kenal walaupun sesungguhnya  keindahan panorama alam pedesaan yang terletak di daerah perbukitan salah satunya di desa pesinggahan yang berbatasan dengan kabupaten karangasem pemandangannya sangatlah cantik, karena persis di depan mata bila diarahkan ke selatan akan tampak birunya laut serta kepulauan Nusa Penida yang sangat indah.

Untuk merealisasikan program “Nyegara Gunung” ini , mungkin perlu kiranya bagi pemerintah daerah Klungkung untuk “mengawinkan” antara potensi “Segara” dengan potensi “Gunung” yang di miliki kabupaten Klungkung yaitu salah satunya dengan mencoba mengaktifkan kembali olahraga terbang paralayang di puncak bukit desa pesinggahan atau di maksimalkan kembali di kemas sebagai perpaduan kegiatan olahraga dan berwisata. Sehingga nantinya kegiatan olahraga wisata ini bisa turut membantu menciptakan diversifikasi jenis lapangan pekerjaan bagi masyarakat klungkung di pedesaan, sehingga tidak harus mencari pekerjaan keluar klungkung. semoga.

Bukit Langkisau Painan, Objek Wisata Andalan Pesisir Selatan, Sumatera Barat
Padukan Wisata Alam, Bahari, dan Olahraga Dirgantara

Kalau ada objek wisata yang menggabungkan tiga aktivitas sekaligus, bisa jadi Bukit Langkisau di Painan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) salah satunya. Bukit yang terletak di pesisir pantai barat Sumatera Barat tersebut menyuguhkan wisata bahari, wisata alam, dan olahraga dirgantara.

Meski di pantai, bukit tersebut cukup tinggi, mencapai 214 meter dari permukaan laut. Tantangan yang cukup menarik bagi penyuka wisata alam. Lokasinya tepat di jantung Kota Painan, ibu kota Kabupaten Pessel.

Dari puncak bukit tersebut bisa dinikmati pemandangan Kota Paonan, hamparan pasir putih Pantai Carocok, Pantai Salido, dan pulau-pulau kecil di Samudera India. Saat yang tepat mengunjungi puncak bukit adalah sore menjelang matahari terbenam. Pantulan sinar keemasan di permukaan laut menyajikan pemandangan spektakuler.

Yang gemar berolahraga dirgantara bisa leluasa menikmati paralayang. Ada puluhan pemandu paralayang yang siap mendampingi para wisatawan yang ingin menikmati pemandangan dari udara seraya terbang dengan parasut tersebut.

Parjock, 30, salah satu pemandu paralayang di Painan mengatakan, kegiatan tersebut meningkat saat liburan. ”Banyak yang suka karena tantangannya,” jelasnya.

Setelah terbang layaknya burung dari puncak bukit, wisatawan bisa memilih lokasi pendaratan yang dikehendaki. Mau mendarat di Kota Painan atau di hamparan pasir putih Pantai Salido.

Mencapai lokasi wisata itu pun tidak terlalu sulit. Dari ibu kota Sumatera Barat, Padang, cukup naik bus dengan ongkos Rp 15.000 sekali jalan, sudah sampai di Painan.

Yang ingin berlama-lama dan menginap, tersedia fasilitas penginapan dengan harga terjangkau. Berkisar antara Rp 50.000-150.000. ”Bergantung fasilitasnya,” ungkap seorang pemandu wisata di sana.

Pemkab Pessel memandang objek wisata Bukit Langkisau itu cukup potensial untuk dikembangkan. Tidak berlebihan jika pengembangannya masuk dalam skala prioritas pemkab.

Salah satu perwujudannya adalah pembangunan gazebo dan hotel dan di lokasi. ”Kami juga mereklamasi (menimbun bibir pantai) Pantai Carocok Painan yang berada persis di kaki Bukit Langkisau,” kata Bupati Pessel Nasrul Abit.

Selain mengurangi dampak abrasi, reklamasi direncanakan sebagai pusat lokasi wisata bahari.

Memaknai Puputan Klungkung…….
Menyadari Pentingnya Manusia Bali Bergandengan Tangan

Tanggal 28 April ini, masyarakat Bali memperingati Puputan Klungkung. Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan sejarah perjuangan rakyat Bali dalam menegakkan harga diri manusia Bali dan kedaulatan tanah Bali. Ketika sebuah peristiwa bersejarah diperingati, sejatinya mereka yang terlibat dalam “resepsi” peringatan itu telah melakukan usaha pemberian makna atas peristiwa itu. Sejarah sendiri juga sebuah usaha pemberian makna. Karena peristiwa itu dipandang cukup penting sehingga wajib diberikan perhatian istimewa. Hal ini juga berlaku pada peristiwa perang antara Kerajaan Klungkung dan Belanda yang ditutup dengan klimaks nan tragis yakni kematian raja, kerabat dan sebagian rakyatnya yang lebih dikenal dengan sebutan Puputan Klungkung. Pemberian makna terhadap Puputan Klungkung telah terjadi sepanjang usia peristiwa tersebut. Jika kini masyarakat Bali menandai peristiwa itu dengan peringatan seabad, itu berarti seabad pula masyarakat Bali mencoba memaknai peristiwa tersebut.

============================================================ 

Dalam sarasehan “Refleksi Seabad Puputan Klungkung dan Kebangkitan Nasional” di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, pengasuh rubrik “Tamiang Bali” DenPost Minggu Made Sujaya, S.S. menemukan ada dua pandangan umum terkait pemaknaan peristiwa Puputan Klungkung itu.

Pandangan pertama yang lebih bersifat konservatif dan mapan yang memaknai Puputan Klungkung sebagai bentuk heorisme dan patriotisme Raja Klungkung Ida I Dewa Agung Klungkung bersama kerabat dan rakyat Klungkung dalam membela kedaulatan dan kehormatan kerajaan dari nafsu kuasa Belanda. Sikap heroisme  dan patriotisme itu dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu dan budaya Bali. Sikap patriotisme raja, kerabat dan rakyat Klungkung itu memang terbingkai dalam kesadaran yang sangat lokal, membela kerajaan, belum dilandasai kesadaran dan rasa nasionalisme sebagai bangsa. Akan tetapi, Puputan Klungkung ditempatkan sebagai mozaik sejarah perjuangan bangsa dalam menentang penetrasi kekuasaan kolonial Belanda.

Pandangan kedua yang memaknai Puputan Klungkung sebagai sebuah kesia-siaan, bentuk keputusasaan, bahkan ada yang menganggapnya kekonyolan sejarah. Pandangan ini mempertanyakan keputusan raja untuk ber-puputan sebagai sebuah ketidakcerdasan strategi. Penganut pandangan ini berpendapat raja semestinya mengambil jalan diplomasi atau jalan damai sehingga kerajaan dan rakyat bisa diselamatkan.

“Pandangan kedua yang umumnya tidak ditemukan dalam literatur-literatur tentang Puputan Klungkung ini memang terasa apriori. Lebih dari itu, pandangan semacam ini melihat sejarah dari ukuran-ukuran masa kini yang tentu saja tidak sama konteks zamannya. Nilai dalam suatu zaman, kerap kali berbeda bahkan kontradiktif pada zaman lainnya sebagai akibat dari penetrasi nilai-nilai baru. Karena itu pula, makna Puputan Klungkung pada pandangan kedua ini sudah sering dibantah,” tegas penulis buku “Sepotong Nurani Kuta” dan “Perkawinan Terlarang” ini.   

Keragaman Makna

Menurut Sujaya, keragaman makna atas Puputan Klungkung adalah sebuah keniscayaan. Artinya, pandangan-pandangan yang berbeda bahkan kontradiktif dengan pandangan yang sudah mapan merupakan suatu hal yang tidak terhindari. Ditegaskan, sebuah peristiwa sejarah tidak berbeda jauh dengan sebuah teks dalam pemahaman teori sastra yang bisa melahirkan keragaman makna. Bahkan, tanggapan pembaca atau pun masyarakat terhadap suatu peristiwa sejarah kerap kali berubah-ubah atau mengalami pergeseran dalam setiap zaman. “Perkembangan pemaknaan yang saya alami dalam meresepsi peristiwa Puputan Klungkung sejak duduk di bangku SMP hingga sekarang merupakan sebuah contoh sederhana. Pergeseran makna atas peristiwa Gerakan 30 September 1965 bisa disebut sebagai contoh yang lain,” katanya mencontohkan.

Kendati begitu, Sujaya mengingatkan agar keragaman makna atas sejarah tetap diposisikan dalam kerangka memberikan kebermanfaatan dalam menjalani hari ini dan hari esok. Artinya, gemilang atau pun kelam sejarah itu, tetaplah harus fungsional untuk tujuan membangun suatu kehidupan yang lebih baik. Dengan begitu sejarah memiliki arti bagi kehidupan. “Bagi saya, pemaknaan terhadap peristiwa Puputan Klungkung tidak bisa dengan menempatkan peristiwa ini secara otonom. Bagaimana pun, Puputan Klungkung tidaklah peristiwa yang berdiri sendiri. Puputan Klungkung adalah bagian dari sebuah proses penetrasi kolonialisme Belanda di Bali, bahkan di Nusantara. Karena itu, Puputan Klungkung mestilah diletakkan dalam konteks bagaimana Bali merespons penetrasi kolonial yang menurut sejumlah penelitian disebutkan dimulai pada awal abad ke-19,” katanya lagi.

Sujaya menambahkan, Puputan Klungkung merupakan babak akhir dari perlawanan Bali dalam kerangka ideologi tradisional (negara kerajaan-red) menghadapi Belanda. Dalam babak-babak sebelumnya, perlawanan Bali sudah tersaji dalam aneka pilihan warna. Ada yang memilih jalan kompromi atau bekerja sama. Ada yang memilih jalan mengangkat senjata meskipun harus berakhir dengan kematian. Ada pula yang memadukan antara kedua pilihan jalan tersebut. “Klungkung menggunakan berbagai pilihan jalan itu saat berhadapan dengan kolonialisme Belanda. Diawali dengan jalan kerja sama, lalu mengangkat senjata (Perang Kusamba), disusul kompromi dan diplomasi (jalinan kontrak politik dengan Belanda) serta diakhiri dengan jalan mengangkat senjata yang berujung pada puputan,” papar aktivis Sanggar Binduana, Klungkung ini panjang lebar.

Lebih lanjut, alumnus Fakultas Sastra Unud ini memaparkan kilas balik nukilan sejarah Bali di awal abad ke-19. Bermula dari terjadinya perpindahan kekuasaan dari Belanda kepada Inggris di Pulau Jawa. Raja Buleleng Gusti Gde Ngurah Karangasem menguasai Jembrana untuk tujuan menduduki Banyuwangi di Pulau Jawa. Tindakan ini membuat geram pemerintah Inggris di Batavia sehingga dikirimlah satu eskader angkatan laut Inggris ke Buleleng pada tahun 1814. Tujuannya, untuk memberi pelajaran kepada Raja Buleleng. Usaha pemerintah Inggris ini mendapat perlawanan hebat. Tidak saja dari Raja Buleleng, tetapi juga dari semua raja di Bali. Raja-raja lainnya di Bali mengirimkan bantuan pasukannya ke Buleleng untuk membantu kerajaan di bagian utara Bali itu. “Raja-raja Bali itu bertekad untuk berjuang bersama menentang agresi militer dari luar. Sikap ini merupakan pertama kalinya terjadi pada raja-raja Bali pada masa itu,” katanya.

Sikap bersatu raja-raja Bali, kata dia, terbukti ampuh. Pemimpin pasukan Inggris Jenderal Nightingale diperintahkan Batavia untuk memundurkan pasukannya. Pemerintah Inggris tidak bersedia berperang dengan raja-raja Bali yang mempunyai tekad bersatu melawan musuh. Namun, tiga puluh tahun kemudian, semangat bersatu Bali itu mengalami kemerosotan. Ketika Belanda hendak menyerang Kerajaan Buleleng dan Karangasem gara-gara masalah perampasan kapal milik Belanda, raja-raja Bali enggan membantu kedua kerajaan itu. Bahkan, dorongan Raja Klungkung sebagai sasuhunan raja-raja Bali dan Lombok agar raja-raja lainnya membantu Buleleng dan Karangasem tidak mendapat respons yang memadai. Ketidakkompakan raja-raja Bali itu kemudian terbukti makin memudahkan Belanda mencengkeramkan kuku-kuku kekuasaannya di Bali. “Buleleng kemudian jatuh ke tangan Belanda yang menjadi pintu pembuka bagi Belanda untuk menguasai Bali secara keseluruhan. Setelah menguasai Buleleng, Belanda dengan mudah menaklukkan Karangasem, disusul Gianyar yang menyerahkan kedaulatannya, lalu Badung yang dihabisi dalam perang puputan dan terakhir kekalahan Klungkung dalam apa yang kemudian disebut Puputan Klungkung melengkapi kekuasaan Belanda,” katanya. * w. sumatika

 http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/26/bd2.htm

Betapa Pentingnya Menjaga Persatuan dan Kesatuan 

APA yang bisa ditarik dari rangkaian peristiwa sejarah itu? Menurut Sujaya, hal itu menegaskan bahwa Puputan Klungkung adalah buah dari kondisi sosial politik Bali sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang carut-marut dan diwarnai ego masing-masing kerajaan. Kohesivitas dan solidaritas antarkerajaan sangat jauh merosot. Bahkan, yang lebih parah lagi, sejumlah kerajaan terlibat pertikaian yang didasari oleh keinginan yang satu menguasai yang lain. Bukan hanya itu, kerajaan-kerajaan itu tidak segan-segan membantu atau pun meminta bantuan Belanda untuk menaklukkan kerajaan lainnya. Jika saja raja-raja Bali menyadari tentang betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan, saling bantu satu sama lain, memandang ancaman terhadap satu kerajaan sebagai ancaman bagi semua, tentu Puputan Klungkung tidak akan terjadi. Begitu juga Puputan Badung atau pun Gianyar yang memilih jalan tidak populer menyerahkan kedaulatan atas kerajaannya di bawah pengawasan Belanda. “Sampai di sini, makna Puputan Klungkung yang bisa diangkat adalah betapa pentingnya Bali saling bergandengan tangan dan menghindarkan konflik atau pertikaian antarsesama Bali,” tegasnya.

Dalam konteks kekinian, katanya, makna itu bisa diterjemahkan kebijakan antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya semestinya tidak mengesampingkan kenyataan betapa Bali sesungguhnya dalam satu-kesatuan etnik, satu-kesatuan budaya dan satu-kesatuan pulau yang semestinya saling menjaga dan saling memperkokoh. Ego kabupaten/kota, tegasnya, tidak saja menjadi tidak produktif tetapi juga memberi celah bagi penetrasi kepentingan luar yang bertujuan merusak atau setidaknya menguasai Bali. “Perang fisik memang telah berakhir. Tetapi, perang dalam kerangka ideologi atau pun kepentingan tetap terjadi sepanjang masa, termasuk di Bali,” katanya mengingatkan.

Sujaya menambahkan, pemaknaan Puputan Klungkung seperti itu terasa menemukan relevansinya jika dikaitkan dengan momentum peringatan Seabad Kebangkitan Nasional atau pun Setengah Abad Pemerintah Propinsi Bali. Di tingkat nasional kita pun mengalami krisis makna persatuan dan kesatuan sebagai sebuah bangsa. Karenanya, Kebangkitan Nasional yang menjadi momentum tumbuhnya kesadaran untuk bersatu sebagai sebuah bangsa penting dibangunkan dan disegarkan kembali. Pun Bali sebagai sebuah pemerintahan administratif di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia masih berhadapan dengan persoalan ego masing-masing kabupaten sebagai imbas dari otonomi daerah. “Karenanya, momentum peringatan peristiwa Puputan Klungkung yang terjadi seabad lalu yang sesungguhnya pula menandai berakhirnya kedaulatan kerajaan-kerajaan di Bali dan dimulainya masa sebagai jajahan Belanda mesti bisa membangkitkan kesadaran tentang pentingnya menjaga Bali sebagai sebuah kesatuan yang utuh,” tegasnya. 

Transformasi Sejarah

Pentingnya memaknai peristiwa-peristiwa sejarah seperti Puputan Klungkung juga dilontarkan Kepala Dinas Kebudayaan Bali Drs. I Nyoman Nikanaya, M.M. Ditegaskan, sejarah tidaklah sekadar peristiwa-peristiwa yang terjadi yang terjadi di masa lalu tapi juga merupakan bagian dari masa kini. Sebab, dari sejarah kita bisa memetik banyak pelajaran berharga guna menapak kehidupan di masa kekinian dengan lebih baik. “Mengungkap segi-segi ideologi dari Puputan Klungkung dapat dianggap sebagai modal pembangunan di bidang mental spiritual dan kebudayaan. Semangat perjuangan yang dikobarkan para generasi pendahulu diharapkan dapat memberi inspirasi generasi sekarang dalam menghadapi tugas membangun daerah, bangsa dan negara Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan Sujaya, Nikanaya juga memandang perlu digelorakannya upaya transformasi sejarah puputan di Bali melalui bangku sekolah. Dengan begitu, generasi muda Bali sejak usia dini bisa mengenal peristiwa-peristiwa sejarah yang pernah terjadi di tanah kelahirannya secara detail. Setelah mengenal peristiwa sejarah itu, mereka selanjutnya diharapkan bisa memaknainya dalam konteks bangunan sejarah perjuangan bangsa. “Saya berharap, proses transformasi sejarah itu makin diintensifkan di bangku-bangku sekolah. Mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Jika upaya itu tidak secepatnya dilaksanakan, suatu saat nanti generasi muda Bali boleh jadi tidak akan kenal lagi dengan Puputan Klungkung, Puputan Badung, Puputan Margarana dan seterusnya. Padahal, banyak sekali nilai positif yang bisa digali dan diteladani dari rangkaian peristiwa bersejarah tersebut,” ujarnya.

Nikanaya tidak tidak menampik, pelajaran sejarah yang digelar di bangku sekolah selama ini memang belum terlalu dalam menjamah peristiwa-peristiwa sejarah lokal Bali. Bila pun ada buku teks pelajaran yang menyinggungnya, sejarah-sejarah lokal Bali itu hanya disajikan secara sepintas. Karena disajikan secara sepintas, generasi muda Bali pun praktis mengenal sejarah lokal Bali itu secara sepintas pula alias tidak utuh. Dia mencontohkan, hingga satu abad berlalunya peristiwa Puputan Klungkung, banyak pelajar dan mahasiswa yang tidak mengenal peristiwa heroik tersebut. ”Hal serupa juga terjadi untuk peristiwa sejarah penting lainnya yang terjadi di Bali. Harus diakui, generasi muda Bali lebih mengenal kiprah perjuangan Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Teuku Umar dan pahlawan lainnya dibandingkan pahlawan-pahlawan besar yang lahir di tanah Bali. “Peringatan satu abad Puputan Klungkung harus kita jadikan momentum berharga untuk menata kembali pola pembelajaran sejarah itu. Generasi muda Bali tidak boleh diasingkan dari sejarah lokalnya. Mereka wajib tahu, banyak sekali pahlawan besar yang lahir di tanah Bali dan terbukti memberikan kontribusi yang signifikan bagi tegaknya harga diri dan kedaulatan bangsa dan negara ini,” tegasnya.

Nikanaya menegaskan, banyak celah yang bisa dimasuki untuk memperkenalkan tokoh-tokoh besar Bali itu kepada generasi muda Bali melalui bangku sekolah. Dalam konsteks penerapan kurikulum yang memberikan keleluasaan masuknya muatan lokal, pengenalan tokoh-tokoh pelaku sejarah lokal itu bisa disisipkan dalam mata pelajaran muatan lokal seperti bahasa Bali dan pendidikan budi pekerti. “Mata pelajaran itu bisa dimanfaatkan sebagai media yang efektif untuk kepentingan itu. Termasuk, mentransformasikan nilai-nilai positif yang terkandung di balik peristiwa sejarah tersebut. Kita bisa memulainya dari sekarang juga. Tidak ada istilah terlambat untuk memulai,” tegasnya sambil menambahkan, perhatian kepada aspek sejarah lokal bukanlah sebagai bentuk euforia otonomi atau pun kebangkitan kesadaran tentang lokalitas. Namun, lebih sebagai usaha mendekatkan generasi muda dengan sejarah lokalnya sendiri sehingga mereka bisa lebih mudah memaknai arti perjuangan bangsanya di masa lalu. * w. sumatika

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/26/bd2.htm

Bondres
Puputan Klungkung

COBALAH kita bertanya kepada anak-anak remaja yang usai mengikuti ujian nasional untuk tingkat sekolah menengah atas: siapa pahlawan dari Klungkung? Mereka tidak tahu. Kalau pertanyaan diteruskan, apa mereka pernah mendengar istilah Puputan Klungkung? Mereka pun ragu dan sempat berpikir lama. ”Puputan Klungkung apa Puputan Badung? Kalau Badung pernah dengar,” kata salah seorang pelajar ini.

Pertanyaan itu yang saya lontarkan Kamis sore yang lalu kepada beberapa pelajar yang usai mengikuti ujian nasional. Padahal pada hari itu, pagi harinya, ada seminar yang membicarakan Puputan Klungkung di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Denpasar. Bahkan seminar ini memperingati Seabad Puputan Klungkung dan Kebangkitan Nasional. Artinya, sudah 100 tahun Puputan Klungkung berlalu, tetapi banyak anak-anak muda yang tak mengetahui sejarah lokal daerahnya sendiri.

Saya pun seringkali mendengar Puputan Klungkung, Puputan Jagaraga dan lain-lainnya, namun yang melekat dalam ingatan saya hanya Puputan Badung yang terjadi jauh sebelumnya, dan Puputan Margarana yang terjadi sesudahnya. Ini disebabkan kedua puputan itu (Badung dan Margarana) sudah memiliki banyak bahan publikasi, baik berupa buku yang bisa disebut modern (hasil penelitian dan dokumentasi otentik),maupun buku yang bercorak tradisional lewat karya sastra geguritan. Untuk Puputan Klungkung, seberapa banyak ada publikasinya? Saya tidak tahu.

Publikasi ini tentu saja penting, karena dari sinilah tingkat kepopuleran sebuah peristiwa akan terwujud. Belajar sejarah adalah belajar sesuatu hal yang populer, tokoh-tokohnya serasa dekat di hati. Anak-anak Bali tahu persis bagaimana kepahlawanan Pangeran Diponegoro, selain bukunya banyak, nama Diponegoro menjadi nama jalan besar di Denpasar. Pahlawan dari Sumatera seperti Teuku Umar, Imam Bonjol diabadikan sebagai nama jalan protokol di Denpasar. Mana ada pahlawan dari Bali yang namanya diabadikan di jalan protokol?

Kalau kita misalnya bertanya kepada para pelajar di Bali, siapa pahlawan wanita di Indonesia, mereka dengan fasih menjawab; Tjut Nyak Dien, Dewi Sartika, Raden Ajeng Kartini. Coba ditanya, apakah mereka tahu Sagung Wah, pahlawan wanita yang gigih di Tabanan? Pasti tidak. Siapa dia? Kapan berperang, mempertahankan apa, di mana berperang dan di mana gugurnya? Tak banyak publikasi yang lahir dari kepahlawanan ini. Bahkan nama-nama pahlawan Bali yang diabadikan pada jalan arternatif (bukan jalan protokol) tak banyak pula diketahui seberapa besar perjuangannya.

Kalau sejarah ini tak begitu melekat di hati banyak orang Bali, kita juga tak tahu apa sumbangan perjuangan mereka untuk bangsa ini. Artinya, apakah ada korelasi antara Puputan Klungkung dengan Kabangkitan Nasional yang terjadi dalam kurun waktu sama. Atau sejauh mana Puputan Klungkung menjadi jiwa dari perang kemerdekaan, apakah perang habis-habisan di Klungkung itu menjadi spirit perjuangan juga bagi prajurit I Gusti Ngurah Rai dalam pertempuran di Marga? Akan halnya andil Puputan Margarana dengan perjuangan bangsa ini tentu saja sangat besar, karena perjuangan I Gusti Ngurah Rai berkaitan erat dengan mempertahankan kemerdekaan. Patriotisme Ngurah Rai itu sudah jelas digambarkan dalam berbagai publikasi dan ini sudah melekat di hati banyak orang Bali.

Masalahnya sekarang adalah jika semangat dan jiwa puputanbaik Puputan Klungkung maupun puputan sebelumnyamau diwariskan kepada masyarakat Bali terutama generasi mudanya, langkah terbaik yang dilakukan adalah penulisan sejarah perjuangan itu secara populer. Penekanan kata populer ini penting, karena kebanyakan sejarah ditulis dengan tidak populer yang pada akhirnya kurang diminati untuk dibaca. Jika penulisan sejarah hanya berkutat pada tahun, nama pelaku, tempat peristiwa, saksi-saksi dan sebagainya, tak ada gereget untuk membacanya. Gaya penulisan disertasi atau karya ilmiah yang baku pada kalangan akademis, membuat orang tak berminat membaca buku sejarah. Ini pernah dilakukan pada saat menggali sejarah Puputan Badung. Ketika hasilnya berupabuku statistiktak banyak orang tertarik, tetapi ketika disampaikan dengan gaya bertutur, kisah perlawanan ini jadi populer. Bahkan berkali-kali kisah Puputan Badung itu ditampilkan dalam bentuk kesenian, baik kesenian drama gong maupun sendratari. Maklum, beberapa tahun lalu, perayaan Pupuan Badung dilakukan dengan sangatmeriahdengan puncak acaranya lomba jalan beregu Candi Margarana - Alun-alun Puputan Badung, selain diisi seminar, diskusi budaya dan pameran.

Saat ini muatan lokal di sekolah-sekolah bisa dijadikan jalan untuk memperkenalkan sejarah Bali modern. Yang dimaksudkan sejarah Bali modern adalah sejarah perjuangan membebaskan rakyat Bali dari belenggu penjajahan, baik pada saat menjelang kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan. Sejarah Bali modern bisa dikaitkan pula dengan sejarah perjuangan bangsa ini. Adapun sejarah Bali kuno bisa disebutkan perjalanan tokoh-tokoh suci yang membangun peradaban di Bali, baik yang menata masalah adat, kemasyarakatan maupun agamanya. Semisal kisah kedatangan Mpu Kuturan, kedatangan Danghyang Nirartha dan sebagainya. Justru kisah Bali kuno ini yang banyak melekat di hati orang Bali. Kenapa? Karena publikasinya banyak tersebar, dan peninggalan tokoh-tokoh sejarah itu masih terawat dengan baik berupa pura yang sampai saat ini dikunjungi banyak umat. Kalau Puputan Badung, Puputan Klungkung, Puputan Jagaraga, kenangan apa yang masih tersisa? Bisa saja pemerintah membuatkan patung atau monumen, tetapi akan menjadibenda matikalau monumen itu tak terurus dan tak memberi penjelasan apa-apa tentang masa lalu. * Putu Setia

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/26/bd1.htm

Catatan Menuju Seabad Puputan Klungkung —
Merajut Kusamba-Smarapura

KUSAMBA, sebuah desa yang relatif besar di timur Smarapura hingga abad ke-18 lebih dikenal sebagai sebuah pelabuhan penting Kerajaan Klungkung. Desa yang penuh ilalang (kusa = ilalang) itu baru tampil ke panggung sejarah perpolitikan Bali manakala Raja I Dewa Agung Putra membangun sebuah istana di desa yang terletak di pesisir pantai itu. Bahkan, I Dewa Agung Putra menjalankan pemerintahan dari istana yang kemudian diberi nama Kusanegara itu. Sampai di situ, praktis Kusamba menjadi pusat pemerintahan kedua Kerajaan Klungkung. Pemindahan pusat pemerintahan ini tak pelak turut mendorong kemajuan Kusamba sebagai pelabuhan yang kala itu setara dengan pelabuhan kerajaan lainnya di Bali seperti Kuta.

Nama Kusamba makin melambung manakala ketegangan politik makin menghebat antara I Dewa Agung Istri Kanya selaku penguasa Klungkung dengan Belanda di pertengahan abad ke-19. Sampai akhirnya pecah peristiwa perang penting dalam sejarah heroisme Bali, Perang Kusamba yang menuai kemenangan telak dengan berhasil membunuh jenderal Belanda sarat prestasi, Jenderal AV Michiels.

Drama heroik itu bermula dari terdamparnya dua skoner (perahu) milik G.P. King, seorang agen Belanda yang berkedudukan di Ampenan, Lombok di pelabuhan Batulahak, di sekitar daerah Pesinggahan. Kapal ini kemudian dirampas oleh penduduk Pesinggahan dan Dawan. Raja Klungkung sendiri menganggap kehadiran kapal yang awaknya sebagian besar orang-orang Sasak itu sebagai pengacau sehingga langsung memrintahkan untuk membunuhnya.

Oleh Mads Lange, seorang pengusaha asal Denmark yang tinggal di Kuta yang juga menjadi agen Belanda dilaporkan kepada wakil Belanda di Besuki. Residen Belanda di Besuki memprotes keras tindakan Klungkung dan menganggapnya sebagai pelanggaran atas perjanjian 24 Mei 1843 tentang penghapusan hukum Tawan Karang. Kegeraman Belanda bertambah dengan sikap Klungkung membantu Buleleng dalam Perang Jagaraga, April 1849. Karenanya, timbullah keinginan Belanda untuk menyerang Klungkung.

Ekspedisi Belanda yang baru saja usai menghadapi Buleleng dalam Perang Jagaraga, langsung dikerahkan ke Padang Cove (sekarang Padang Bai) untuk menyerang Klungkung. Diputuskan, 24 Mei 1849 sebagai hari penyerangan.

Klungkung sendiri sudah mengetahui akan adanya serangan dari Belanda itu. Karenanya, pertahanan di Pura Goa Lawah diperkuat. Dipimpin Ida I Dewa Agung Istri Kanya, Anak Agung Ketut Agung dan Anak Agung Made Sangging, Klungkung memutuskan mempertahankan Klungkung di Goa Lawah dan Puri Kusanegara di Kusamba.

Perang menegangkan pun pecah di Pura Goa Lawah. Namun, karena jumlah pasukan dan persenjatan yang tidak berimbang, laskar Klungkung pun bisa dipukul mundur ke Kusamba. Di desa pelabuhan ini pun, laskar Klungkung tak berkutik. Sore hari itu juga, Kusamba jatuh ke tangan Belanda. Laskar Klungkung mundur ke arah barat dengan membakar desa-desa yang berbatasan dengan Kusamba untuk mencegah serbuan tentara Belanda ke Puri Klungkung.

Jatuhnya Kusamba membuat geram Dewa Agung Istri Kanya. Malam itu juga disusun strategi untuk merebut kembali Kusamba yang melahirkan keputusan untuk menyerang Kusamba 25 Mei 1849 dini hari. Kebetulan, malam itu, tentara Belanda membangun perkemahan di Puri Kusamba karena merasa kelelahan.

Hal ini dimanfaatkan betul oleh Dewa Agung Istri Kanya. Beberapa jam berikutnya sekitar pukul 03.00, dipimpin Anak Agung Ketut Agung, sikep dan pemating Klungkung menyergap tentara Belanda di Kusamba. Kontan saja tentara Belanda yang sedang beristirahat itu kalang kabut. Dalam situasi yang gelap dan ketidakpahaman terhadap keadaan di Puri Kusamba, mereka pun kelabakan.

Dalam keadaaan kacau balau itu, Jenderal Michels berdiri di depan puri. Untuk mengetahui keadaan tentara Belanda menembakkan peluru cahaya ke udara. Keadaan pun menjadi terang benderang. Justru keadaan ini dimanfaatkan laskar pemating Klungkung mendekati Jenderal Michels. Saat itulah, sebuah meriam Canon ”yang dalam mitos Klungkung dianggap sebagai senjata pusaka dengan nama I Selisik, konon bisa mencari sasarannya sendiri” ditembakkan dan langsung mengenai kaki kanan Michels. Sang jenderal pun terjungkal.

Kondisi ini memaksa tentara Belanda mundur ke Padang Bai. Jenderal Michels sendiri yang sempat hendak diamputasi kakinya akhirnya meninggal sekitar pukul 23.00. Dua hari berikutnya, jasadnya dikirim ke Batavia. Selain Michels, Kapten H Everste dan tujuh orang tentara Belanda juga dilaporkan tewas termasuk 28 orang luka-luka.

Klungkung sendiri kehilangan sekitar 800 laskar Klungkung termasuk 1000 orang luka-luka. Namun, Perang Kusamba tak pelak menjadi kemenangan gemilang karena berhasil membunuh seorang jenderal Belanda. Sangat jarang terjadi Belanda kehilangan panglima perangnya apalagi Michels tercatat sudah memenangkan perang di tujuh daerah.

Meski akhirnya pada 10 Juni 1849, Kusamba jatuh kembali ke tangan Belanda dalam serangan kedua yang dipimpin Lektol Van Swieten, Perang Kusamba merupakan prestasi yang tak layak diabaikan. Tak hanya kematian Jenderal Michels, Perang Kusamba juga menunjukkan kematangan strategi serta sikap hidup yang jelas pejuang Klungkung. Di Kusamba, pekik perjuangan dan tumpahan darah itu tidak menjadi sia-sia. Belanda sendiri mengakui keunggulan Klungkung ini.

Namun, kemenangan cemerlang di Kusamba 158 tahun silam itu kini tidaklah menjelma sebagai momentum peringatan yang dikenang generasi sekarang. Secara resmi Klungkung memilih peristiwa perang penghabisan di Puri Smarapura yang dikenal dengan Puputan Klungkung, 28 April 1908 sebagai tonggak peringatan perjuangan daerah menentang kolonialisme Belanda.

Memang, Puputan Klungkung yang diakhiri dengan gugurnya Raja Klungkung, Ida I Dewa Agung Jambe bersama para kerabat, keluarga serta pengiring menunjukkan bagaimana semangat perjuangan rakyat Klungkung yang menempatkan kehormatan dan harga diri di atas segalanya. Ketika kata-kata tak lagi bertenaga dan pihak yang diajak bicara tak lagi punya matahati, jalan perang merupakan pilihan paling terhormat. Bukan kemenangan fisik yang dicari, tapi kemenangan kehormatan, harga diri dan spirit. Sampai di sana, kematian menjadi jalan kehidupan (mati tan tumut pejah).

Namun, Perang Kusamba yang mengukuhkan kemenangan secara fisik serta menunjukkan kecerdasan, kecemerlangan, kecerdikan pun kematangan menyusun strategi putra-putri terbaik Klungkung juga suatu hal yang layak untuk dikenang. Pada peristiwa itulah Klungkung dan Bali secara umum dipandang sebagai lawan yang tangguh oleh Belanda. Pada peristiwa itu pula, secara diam-diam, harga diri orang Bali dikukuhkan setelah dua tahun sebelumnya juga tergurat dalam peristiwa Perang Jagaraga di bawah pimpinan Patih I Gusti Ketut Jelantik.

Jika selama ini Klungkung dan juga daerah-daerah lain di Bali terbiasa mengenang kekalahan, tidak salah kini memulai juga untuk mengenang kemenangan. Kita perlu berbangga pada prestasi gemilang pendahulu kita. Ketika kita bisa mengenang kekalahan, kenapa tidak punya keberanian untuk juga memperingati kemenangan. Dengan begitu, kebanggaan sebagai bangsa di kalangan generasi penerus bisa ditumbuhkan. Bukankah tradisi Hindu dengan begitu bersahaja mengajarkan untuk memperingati kemenangan dharma atas adharma seperti dalam hari raya Galungan?

Kini, menuju Seabad Peringatan Puputan Klungkung, patutlah dipertimbangkan merajut benang sejarah antara Kusamba dan Smarapura. Kusambalah awal kebangkitan semangat perjuangan rakyat Klungkung menentang kolonialisme Belanda dan Smarapura dengan Puputan Klungkung menegaskan semangat itu pada puncak terindahnya. 

 * I Made Sujaya

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2007/4/29/apresiasi.html

Menata Sektor Kepariwisataan Klungkung——-
Perkaya Objek dengan Konsep ”Nyegara Gunung”

 DUNIA kepariwisataan Bali pascatragedi bom Kuta memang tengah sekarat. Dalam sekejap mata, petaka yang menikam “jantung” pariwisata Bali dan merenggut ratusan korban jiwa itu telah menyulap kedamaian gumi Bali laksana hantu yang sangat menyeramkan. Wisatawan mancanegara (wisman) kontan menghilang. Objek-objek wisata di seluruh penjuru Bali pun “menggigil” kedinginan menanti kehadiran turis. Gampang ditebak, gemerincing dolar pun tak lagi riuh seiring runtuhnya predikat Bali sebagai the Last Paradise (Sorga Terakhir-red) yang selama ini meninabobokan krama di Pulau Seribu Pura ini. Kini, diperlukan semangat dan kerja keras untuk mengembalikan sorga yang hilang itu, sehingga pariwisata Bali tidak selamanya terkubur dalam “tidur panjang”. Memang, bukan perkara yang mudah!

Kesadaran untuk segera bangkit, tampaknya dipahami betul oleh para decission maker sektor kepariwisataan di Bumi Serombotan, Klungkung. Di musim “paceklik” wisman ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Klungkung yang didaulat bertanggung jawab penuh terhadap upaya pengembangan kepariwisataan, justru mengumpulkan semangat untuk menata potensi-potensi wisata yang dimiliknya. Selanjutnya, potensi-potensi itu akan “disulap” menjadi objek dan daya tarik wisata (ODTW) baru untuk mendukung keberadaan Kertha Gosa dengan Taman Gili-nya, kawasan wisata Pura Goa Lawah serta Desa Wisata Kamasan yang namanya sudah lebih dulu berkibar.

“Saya optimis, kondisi kepariwisataan Bali akan segera pulih. Tragedi bom itu kami jadikan momentum berharga untuk mengkaji kembali strategi pembangunan sektor kepariwisataan Klungkung yang sudah dilaksanakan,” ujar Kadisbudpar Klungkung Drs. Ida Bagus Sudarsana kepada Bali Post, Rabu (9/7) kemarin.

Pria berkumis tebal ini menyimpan optimisme, bahwa pariwisata Bali kembali booming alias “diserbu” wisatawan mancanegara. Hal ini bisa dibuktikan dari peningkatan grafik angka kunjungan wisman di objek-objek wisata di Klungkung, kendati lonjakannya bergerak sangat perlahan. Kondisi menggembirakan ini, kata mantan Kabag Humas Klungkung itu, ditindaklanjutinya dengan melakukan pendataan dan penataan terhadap potensi-potensi wisata yang selama ini belum tergarap dan layak “dijual” kepada wisatawan. Muara dari diversifikasi itu, jelas agar objek-objek wisata di Klungkung lebih variatif sehingga bisa memperpanjang masa tinggal (lenght stay) wisatawan di Klungkung. “Saat ini, kami sedang mempersiapkan belasan objek wisata baru untuk disinergikan dengan objek-objek wisata lainnya yang sudah lebih dahulu eksis,” katanya.

“Kawinkan” Bukit dan Laut

Lantas, objek-objek wisata gres apa saja yang sedang digarap Disbudpar Klungkung untuk memberi “roh” paket wisata berlabel city tour itu? Menurut Kasubdin Bina Objek Disbudpar Klungkung I Nengah Becik, S.H., paling tidak ada sembilan “situs” baru yang layak dinominasikan sebagai objek wisata andalan Bumi Serombotan di masa depan untuk melengkapi 17 objek wisata yang sudah lebih dulu ditetapkan. Barisan “pendatang baru” itu meliputi kawasan Pura Puncak Sari, Pura Puncak Jati, Bukit Buluh, Bukit Buung, Bukit Tengah, Gunung Kawi, pantai Tegal Besar, objek peninggalan budaya Kori Batu dan sentra kerajinan di Desa Satra.

Mayoritas dari objek-objek itu menebarkan keindahan panorama alam pedesaan yang asri dan masih “perawan” atau belum terjamah polusi. Keunggulan lainnya, lokasinya juga bisa terjangkau dalam waktu relatif singkat dari pusat kota serta telah dilengkapi jalan akses untuk kepentingan pariwisata. “Produk yang kami tawarkan kepada wisatawan dari objek-objek itu, ya… memang panorama alam yang eksotis dan eksklusif. Selain itu, objek-objek wisata itu akan tampil lebih sempurna dengan gerak aktivitas keseharian masyarakat pedesaan yang unik serta disarati nuansa religius yang kental. Kalau wisatawan menginginkan suguhan wisata yang lain daripada yang lain, objek-objek itu bisa dijadikan alternatif yang tepat,” katanya seolah berpromosi.

Tawaran yang dilontarkan mantan Kabag Humas Klungkung ini, jelas tidak mengada-ada. Kawasan Pura Puncak Sari, Desa Nyalian di Kecamatan Banjarangkan yang berdiri megah di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut itu, misalnya, memang menebarkan aura keindahan yang tiada tara. Apabila kita berdiri di areal pura ini, lalu menebarkan pandangan ke arah timur, maka mata kita akan “dimanjakan” oleh bentang sawah menghijau dengan terasering-nya yang bertingkat-tingkat. Menghadap ke selatan, Pulau Nusa Penida akan tertampang jelas. Menyeruak indah di antara kebiruan air laut yang menjanjikan perasaan damai. Melepas pandang ke arah barat, maka mata kita akan tertuju pada Pura Maloko yang berdiri megah di puncak bukit. Pura itu “dipagari” petak-petak sawah dan tanaman hortikultura yang menghampar hijau. Nuansa pertanian yang menyejukkan dengan terasering yang indah juga bisa ditemukan di Bukit Buung yang berjarak sekitar 500 meter dari Pura Puncak Sari.

Sebagai “pemanis” panorama, di sini juga terdapat sebuah goa yang dikeramatkan oleh warga setempat. Daya pesona serupa juga bisa dinikmati di kawasan Gunung Kawi, Desa Aan dan Pura Puncak Jati, Desa Selisihan, Banjarangkan. Sedangkan Bukit Buluh (Desa Gunaksa) dan Bukit Tengah (Desa Pesinggahan) akan menawarkan keindahan alam Pulau Nusa Penida di kejauhan dengan bentang laut birunya yang mahaluas. “Meskipun belum ditetapkan sebagai objek wisata, sebenarnya tempat-tempat itu sudah sering dikunjungi wisatawan. Karena karakteristik alamnya yang berbukit-bukit, di sini sangat ideal dikembangkan atraksi wisata hikking (jalan kaki-red),” ujarnya.

Sementara itu, mereka yang menyukai atraksi tarian ombak saling berlomba mencumbu tepian pantai, semestinya tidak melewatkan kunjungannya ke pantai Tegal Besar. Apalagi di tepian pantai berpasir hitam ini sudah berdiri sebuah bungalo yang dilengkapi dengan bar kecil untuk mengobati kepenatan dan dahaga para wisatawan. Objek wisata ini juga didukung oleh keberadaan Pura Segara yang lokasinya sekitar 400 meter di utara pantai. “Untuk Klungkung daratan, objek-objek wisata yang kami jual memang keindahan panorama bukit dan laut. Mungkin, sebagai bentuk implementasi konsep nyegara gunung-lah,” ujar Becik yang menemani Bali Post mengunjungi objek-objek wisata tersebut. (ian)

Klungkung juga Tawarkan ”City Tour”

Kota Klungkung yang tidak terlalu luas sering diplesetkan dengan aklingkungan (hanya sekeliling-red). Sebab, untuk mutar-mutar mengelilingi berbagai objek wisata di kota ini tidaklah perlu waktu lama karena jaraknya memang berdekatan. Untuk itu, tidak berlebihan jika Klungkung juga menawarkan paket City Tour kepada wisatawan yang datang.

Khusus untuk Klungkung daratan, kata Sudarsana, pihak Disbudpar sudah merancang paket wisata khusus berlabel City Tour dalam memuaskan selera wisatawan. Paket ini akan mensinergikan Kertha Gosa dengan objek-objek wisata lainnya yang ada di Klungkung daratan. Termasuk, objek-objek wisata baru berbasis agrowisata yang kini masih dalam tahap penataan. Misalnya, Bukit Abah dan ladang garam tradisional Pesinggahan-Kusamba. Di masa mendatang, aktivitas kepariwisataan Klungkung daratan akan dipusatkan di Kertha Gosa yang terkenal dengan lukisan wayang klasik Kamasan-nya itu.

Berdekatan dengan kompleks bangunan berarsitektur khas Bali ini, juga terdapat Museum Semarajaya, Museum Lukisan Ambron dan Monumen Puputan Klungkung. Setelah puas menikmati suguhan atraksi wisata di sana, wisatawan selanjutnya “digiring” ke objek-objek wisata lainnya yang tersebar merata di segala penjuru Klungkung daratan. “Nantinya, seluruh objek wisata itu diupayakan dijual dalam satu paket. Paling tidak, diperlukan waktu satu hingga dua hari penuh agar wisatawan bisa menikmati objek-objek wisata secara tuntas. Jika konsep city tour ini jalan, saya optimis lenght stay wisatawan akan bertambah panjang. Tidak seperti saat ini, Klungkung baru mampu memposisikan diri sebatas sebagai stop over atau daerah transit semata,” katanya sambil menambahkan, kondisi ini memaksa masyarakat dan Pemkab Klungkung tidak mampu menangguk “berkah” pariwisata secara optimal.

Dengan kata lain, gemerincing dolar justru mengalir lebih deras ke kabupaten/kota lainnya di Bali karena wisatawan cenderung menghambur-hamburkan dolarnya di sana. Sedangkan masyarakat Klungkung hanya pasrah jadi penonton di tengah-tengah kemeriahan “pesta” pariwisata yang berlangsung di depan matanya. Menurut Sudarsana, Klungkung daratan sesungguhnya punya objek wisata yang sangat beragam. Namun, baru segelintir saja yang terbukti mampu memberikan kontribusi nyata dalam mengisi “pundi-pundi” pandapatan asli daerah (PAD).

Masalahnya, dari sejumlah objek yang sudah ditetapkan sebagai objek wisata (berdasarkan SK Bupati Klungkung-red), baru tujuh obyek wisata saja yang dikenakan retribusi. Barisan objek wisata berestribusi itu meliputi Kertha Gosa-Taman Gili, Museum Semarajaya, Monumen Puputan Klungkung, kawasan Pura Goa Lawah, kawasan wisata Nusa Penida serta kawasan Tukad Melangit dan Tukad Unda dengan atraksi wisata tirtanya. Sementara sisanya — seperti pantai Lepang, pantai Timbrah, Pura Watu Klotok, pantai Kusamba, Goa Peninggalan Jepang dan Desa Wisata Kamasan — bisa “dilahap” keindahannya oleh wisatawan secara cuma-cuma alias tanpa dipungut retribusi apa pun.

“Realitasnya memang seperti itu. Klungkung memang kaya potensi wisata, namun baru segelintir saja yang bisa menghasilkan dolar. Kami berharap, konsep city tour yang kami rancang itu mampu memecahkan kebuntuan pendapatan itu,” katanya penuh harap. (ian)

Satria Andalkan Pelepah Pisang

Kreativitas masyarakat Bali sudah diakui sangat tinggi. Inovasi-ionovasi yang ditampilkan, sering membuat decak tidak percaya terutama wisatawan asing. Termasuk, mengolah bahan yang dianggap tidak ada manfaatnya menjadi suatu produk kerajinan bernilai tinggi. Contohnya, apa yang dilakukan sebagian besar masyarakat di Desa Satra, Klungkung. Wisatawan yang ingin mendapatkan aneka suvenir berbahan baku pelepah pisang, disarankan melongok ke Desa Satra, Klungkung. Sebenarnya, desa ini sudah lama disinggahi wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk membeli beraneka jenis produk kerajinan unik dari pelepah pisang. Di sini juga berdiri megah Pura Pauman yang menyimpan nilai historis tersendiri. Daya tariknya, di depan pintu gerbang pura terdapat patung manusia bertopi yang mirip dengan patung Portugis yang terpampang di depan Pemedal Agung Klungkung. Uniknya lagi, saat piodalan di pura ini, warga sangat diharamkan mempersembahkan daging babi. Entah bagaimana historisnya, kenapa hal itu dilarang. (ian)

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2003/7/10/par5hl.htm 

Peninggalan Arsitektur nan Adiluhung dari Klungkung

Ketika baru memasuki pusat Kota Semarapura, orang tentu bakal dapat menyaksikan beberapa elemen kota yang cukup unik dan menarik, seperti adanya patung ”Kanda Pat” di simpang empat, jajaran pertokoan, Monumen Puputan Klungkung dan beberapa peninggalan seperti Bale Kertha Ghosa, Bale Kambang, Pamedal Agung, hingga Museum Semarapura. Kompleks ini terletak di seputar perempatan Jalan Untung Surapati - Jalan Puputan. Mengenang Hari Puputan Klungkung dan HUT Kota Semarapura, 28 April 2005 lalu, apa saja yang bisa disimak dari tampilan beberapa peninggalan arsitekturnya?

———————–

SEPERTINYA, pusat Kota Semarapura dan sekitarnya, diperkaya pula oleh adanya sisa peninggalan arsitektur bersejarah.  Dari gambar ilustrasi yang diperoleh dari beberapa sumber — Ir. I Nengah Lanus (ilustrasi site plan), Adrian Vicker (Kerta Ghosa) dan Ida Bagus Sidemen (”Puputan Klungkung 1908″) — terlihat gambar Puri Klungkung yang luas dan padat massa bangunan, sebelum dihancurkan oleh musuh kerajaan, silam. Di sebelah timur laut dan barat laut perempatan, dulu merupakan alun-alun. Ketika itu, di tenggaranya ada wantilan, pasar, Puri Delod Pasar. Dan, di barat dayanya ada Puri Klungkung, lokasi tempat berdiri Kertha Ghosa, bale kambang, pamedal agung dan museum sekarang. Kondisi semua yang tergambarkan itu masih utuh sebelum terjadi Puputan Klungkung.

Konon dulu, salah satu peninggalan historis seperti Kertha Ghosa, merupakan tempat rapat, berembug atau ruang musyawarah Raja Klungkung bersama para patih dan pemuka kerajaan. Itu berlangsung tatkala kerajaan Klungkung belum jatuh, atau saat bangunan puri belum “dibumihanguskan” Belanda. Sementara bale kambang atau Taman Gili merupakan sebagai balai sidang dan pengadilan, atau tempat memutuskan hasil rapat. Pun ada bagian puri yang tak turut hancur, seperti pamedal agung, masih kokoh berdiri dengan keaslian bentuk, ornamen dan ragam hiasnya.

Ada keunikan lain, di antara dore dan penukub gelung kori atau pamedal agung-nya menempel beberapa patung manusia (orang Belanda?), bahkan ada duduk patung hewan di bawahnya. Apa kira-kira makna keberadaan patung-patung itu? Adakah itu sebagai simbol bahwa puri telah diduduki dan dikuasai manakala puputan berakhir? Mungkinkah patung-patung yang “bertengger” di atas itu dibuat dan dipasang orang Belanda usai puputan — sebagai kenangan dan kemenangan kolonial di masa silam?

Konon di depan pamedal agung itulah Raja Klungkung, Ida Dewa Agung Putera — juga dikenal dengan nama Ida Dewa Agung Jambe — gugur setelah kena tembakan meriam Belanda, dari jarak sekitar 200 meter. Tragedi berdarah Puputan Klungkung itu terjadi pada 28 April 1908 (Ide Anak Agung Gde Agung, “Bali pada Abad XIX”, 1989). Para pembesar kerajaan yang setia kepada raja, keluarga raja, perempuan dan anak-anak tewas diberondong senapan pasukan altileri dan infanteri  Belanda ketika itu.

Di barat pamedal agung ada museum. Sepertinya bangunan ini telah mengalami rehabilitasi usai puputan. Style bangunan museum ini, sebagian mendapat pengaruh dari gaya Belanda. Pilar tinggi besar, atap canopy bentuk pelana. Selasar bangunan ditopang pula oleh pilar-pilarnya. Bagian luar bataran — di depan bawah pilar — terdapat relief tapel barong dan kekarangan di kiri-kanan bawahnya. Bataran itu sendiri cukup tinggi, sekitar 1,5 meter dari muka tanah. Bentuk pae masing-masing pilar berlapis-lapis, bagian bawah pilar masih ada pepalihan gelang lutung, baong capung, sesari, dan lain-lain.

Citra Kota

Warisan arsitektur peninggalan Puri Klungkung, di bawah pemerintahan raja Ida Dewa Agung Jambe tempo dulu itu, merupakan bagian dari “mutiara” arsitektur puri yang diluluhlantakkan kolonial penjajah dan antek-anteknya, pada 1908. Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, didirikan pula Monumen Puputan Klungkung, rancangan arsitek Ir. Ida Ayu Armely (pemenang sayembara monumen, 1982), yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada 28 April 1986 oleh Bupati Kepala Daerah Tk. II Klungkung, dr. Tjokorde Gde Agung.

Wujud monumennya mengacu pada konsep filosofi “lingga-yoni” (purusa-pradana).

Monumen itu memiliki ketinggian 28 meter dari permukaan tanah, 4 pintu dan 8 anak tangga. Bilangan tersebut memaknai monumen dalam hubungannya dengan peristiwa Puputan Klungkung, yang terjadi pada 28 bulan 4 (April) tahun 1908. Di dalam atau interiornya dipajang patung Raja Klungkung, Ida Dewa Agung Jambe bersama pengikut setianya, dilengkapi atau dikelilingi beberapa diorama kisah perjuangan rakyat Bali.

Bersamaan dengan peresmian Monumen Puputan Klungkung ini, Kota Klungkung pun diubah dan diresmikan namanya menjadi Kota Semarapura pada 28 April 1992 oleh Menteri Dalam Negeri, Rudini, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.18 tahun 1992. Selanjutnya, setiap 28 April ditetapkan sebagai Hari Puputan Klungkung dan HUT Kota Semarapura.

Di titik perempatan Jl. Untung Surapati - Jl. Puputan, ada Patung “Kanda Pat”, karya arsitek Ida Bagus Tugur. Empat patung yang mengambil filosofi “Catur Sanak” bersama-sama memperoleh makna dari mitologi tentang air suci yang berasal dari “Sindu Rahasia Muka”. Patung ini berlatar kisah tentang keempat “saudara” manusia saat lahir yakni ari-ari (Sang Anta), tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala) dan air nyom (Sang Dengen), usai mendapat anugerah, berganti nama menjadi Sang Anggapati (Bhagawan Penyarikan) berkedudukan di timur, Sang Prajapati (Bhagawan Mrcukunda) di selatan, Sang Banaspati (Bhagawan Sindu Pati) di barat dan Sang Banaspatiraja (Bhagawan Tatul) di utara.

Adanya arsitektur bernilai sejarah, monumen puputan, sampai patung religius-historis di pusat kota Semarapura merupakan sebagai salah satu aspek yang berperan mengaktualisasikan citra kota itu sendiri. Sebagaimana diungkap Ir. Eko Budihardjo, M.Sc. (dalam “Arsitektur dan Kota di Indonesia”, 1983), ada beberapa tolok ukur yang sepantasnya digunakan dalam penggalian, pelestarian dan pengembangan identitas kota yakni (1) nilai kesejarahan, dalam arti sejarah perjuangan nasional maupun sejarah perkembangan kota, (2) nilai arsitektur lokal/tradisional, (3) nilai arkeologis (candi-candi, benteng, gua), (4) nilai religiositas, (5) nilai kekhasan dan keunikan setempat, baik dalam kegiatan sosial ekonomi maupun sosial budaya, (6) nilai keselarasan antara lingkungan buatan dengan potensi alam yang dimilikinya.

Kota Semarapura punya peninggalan arsitektur yang memiliki beberapa nilai dari tolok ukur seperti itu lantaran punya nilai historis, arkeologis, religiositas, arsitektur lokal, nilai kekhasan, keunikan dan keselarasan. Kiranya, perihal yang bisa diungkap itu merupakan sebagai “roh” yang menjiwai eksistensi arsitekturnya.

Sendi Lempeh

Memasuki kompleks bekas puri, sekarang bisa ditemukan tiga buah candi bentar pada tembok pembatas (panyengker) luarnya. Sebuah terdapat di panyengker timur (pintu masuk pengunjung/wisatawan) dan dua lagi di utara. Satu candi bentar ada dalam halaman, sebagai gerbang masuk menuju bale kambang atau Taman Gili, dihubungkan oleh jalan setapak ber-panyengker. Di atas panyengker itu berdiri patung-patung berbagai jenis dan ukuran, di antaranya patung Semar, Petruk, patung Dewa-Dewi dan lain-lain.

Bangunan Taman Gili memiliki dua lapis bataran, dicapai melalui sekitar 10 anak tangga hingga lantai teratas.

Pada dasarnya, bangunan Gili ini memiliki tiga lapis ketinggian. Lantai pertama, dikitari kolam, keliling tepinya memiliki 27 jenis patung. Sementara tepi terluar kolam itu sendiri memiliki 35 jenis patung (12 di sebelah barat, 12 di timur dan 11 di selatan).

Bangunan beratap dimulai dari lantai (bataran) kedua dengan 14 tiang atau saka. Separo bagian ke atas dari tiang-tiangnya berukir dan memiliki canggah wang. Sendi yang ada pada setiap saka berbentuk lempeh (ceper) bujur sangkar, khas dan unik berukir, berukuran sekitar 50 x 50 cm berketinggian 25 cm. Berlantai terakota berpola pasangan bata mendatar. Lantai ini berfungsi sebagai selasar keliling dari bentuk denah segi empat panjang — memanjang arah utara-selatan).

Menginjak lantai tertinggi, ditemukan pula 14 saka, namun di sini sepenuh tiang-tiangnya berukir. Tepi lantai dikelilingi dengan railing kayu motif jaro, berketinggian sekitar 40 cm dari muka lantainya. Sendi-sendi di bawah tiang berukuran jauh lebih kecil ketimbang sendi-sendi lantai sebelumnya. Namun bahan lantainya serupa dengan material lantai selasar. Konstruksi pertemuan bagian atas tiang dengan balok aslinya tak memiliki canggah wang, kini — untuk membantu kekuatan konstruksi — dipasang besi plat kecil (lebar 3 cm) menyangga sineb dan lambang-nya.

Pada bagian kedua balok yang membentang di bawah atap (ekspose) masing-masing duduk patung singa bersayap, dengan corak dan warna sedikit berbeda. Lebih unik lagi, bidang langit-langit bangunan bale kambang ini sepenuhnya bergambar gaya Kamasan-Klungkung dengan narasi (cerita) Ramayana dan Mahabharata. Warna putih gading kekuning-kuningan. Atap sepenuhnya ditutupi ijuk.

Kertha Ghosa

Bagaimana dengan bangunan Kertha Ghosa itu sendiri? Denah lantai bangunan ini bersegi empat bujur sangkar. Bataran (lantai) pertama relatif tinggi, nyaris mencapai 2,5 meter dari muka tanah. Untuk memasuki bangunan ini mesti melalui anak tangga yang letaknya menyatu di sebelah barat bangunan dengan railing bentuk naga. Lantai (bataran) pertama memiliki 10 tiang (saka) berukir. Setiap tiang ditumpu sendi bermotif patung binatang, di antaranya ada patung gajah, domba, babi, kucing, sapi, sampai macan. Tepi bataran dikelilingi railing kayu berketinggian sekitar 60 cm dari muka lantai. Lantai di atasnya (naik dua undag) terdapat pula 10 saka berukir.

Di ruangan ini masih dipajang satu set furniture (enam kursi berukir dan sebuah meja) sebagai tempat rapat atau bermusyawarah di zaman kerajaan dulu.  Langit-langit sepenuhnya dilapisi lukisan khas gaya Kamasan. Bagian konstruksi kap yang tampak di atas hanya kayu pamucu dan usuk pengapit. Bataran bangunan ini sengaja dibuat tinggi, mungkin lantaran Sang Raja dan para patih serta pengikutnya ingin bisa secara langsung mengamati aktivitas masyarakat yang ada di luar, maupun pemandangan di halaman dalam. Dari sini pula Taman Gili dapat dilihat dan dinikmati dengan jelas.

Bagian dari elemen kota yang dimiliki itu memberi identitas pada kota itu sendiri. Maka, jati diri yang dipunyai kota merupakan sebagai salah satu komponen yang memberi citra. Kendati hanya beberapa massa bangunan bekas puri yang tersisa. Bila disimak ke belakang, terbilang banyak gugus massa bangunan lainnya telah dirobohkan Belanda kala itu. Sebut saja kelompok bangunan puri berarsitektur Bali seperti kanya bawa, saren gede, saren kangin, bale mas, petandakan, rangki, siangan, raja dani, puri gunung, semarabawa, ruang tidur istri raja, ruang tidur putri raja, pewaregan, hingga pamengkang.

Namun, semua itu telah lenyap, kini tinggal kenangan.

Apa yang bisa disaksikan sekarang, patutlah untuk tetap dijaga dan dilestarikan. Pemeliharaan serta perawatan bangunan, baik terhadap peninggalan bersejarah yang ada maupun yang menyusul telah dibangun, seperti Monumen Puputan Klungkung, patung “Kanda Pat” dan patung-patung lainnya, serta gedung perkantoran baru bernuansa Bali, turut memberi kontribusi perkuat identitas dan citra Kota Semarapura.

* i nyoman gde suardana

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2005/5/1/ars1.html

Jumat, 27 Juni 2008:

Semarapura sebagai Ikon Pariwisata Budaya
Suatu Terobosan Mengajegkan Bali

Oleh Nyoman Gunarsa

ORANG Bali mungkin banyak yang tak tahu kalau nama besar Semarapura merupakan ibukota Kerajaan Bali. Tapi ada orang yang sinis menganggap Klungkung cuma “Kota Serombotan”. Sedihnya lagi, hingga sekarang Klungkung dengan ibu kotanya Semarapura malah tak pernah berbenah. Turis hanya numpang lewat ke Klungkung dari Denpasar, Ubud, Gianyar, menuju Karangasem. Apanya yang kurang?

——-

Betul-betul memprihatinkan kasus ini dan merupakan tantangan bagaimana caranya agar Semarapura mampu bangkit dan punya arti dalam kehidupan. Bukankah secara historis, seni budaya Bali lahir dan pusatnya di Semarapura?

Pada abad XV pernah ada masa keemasan di Swecapura Gelgel sewaktu pemerintahan Dalem Watorenggong, lalu pindah ke Semarapura, Klungkung yang sekarang. Boleh dibilang semua seni budaya Bali yang kini berkembang di berbagai kabupaten di Bali, dulu berpusat di Swecapura dan Semarapura. Baik itu seni karawitan, tari, lukisan, patung, wayang, sastra, arsitektur, termasuk tata upacara keagamaan.

Di lain pihak, semua warga Bali merasa ada hubungan emosional dengan Semarapura dan Swecapura karena merupakan pusat kawitan leluhur. Untuk itulah pemerintah mesti mencari suatu terobosan untuk mengajegkan Bali. Semua pretisentana keluarga masyarakat Bali sadar bahwa suatu bangsa, penting memiliki bukti sejarah pusat pemerintahan masa lalu sebagai monumen tempat berkaca atau mulat sarira siapa sebenarnya diri kita.

Tulisan ini sekaligus mengajak seluruh masyarakat Bali supaya kembali merenovasi Puri Semarapura yang telah hancur untuk dijadikan ikon pariwisata budaya di Bali. Yakinlah, para pejabat teras Bali mendatang, baik gubernur, DPR, para camat, bupati, sampai ke akar rumput pada umumnya, pasti mampu membenahi kembali puri yang agung itu sebagai monumen ikon pariwisata budaya Bali.

Kita memiliki tanggung jawab dan jengah karena sudah dibebaskan dari dunia penjajahan yang membelenggu Nusantara selama 3,5 abad, untuk merenovasi Puri Semarapura yang pernah dijadikan medan peperangan. Hina dan malu rasanya bila orang tak peduli dengan apa yang telah dirintis oleh para pejuang kita. Puri hancur berantakan, tetapi kita cuma ongkang-ongkang menikmati kemerdekaan sambil berdemokrasi macongkrah.

Marilah jadikan Semarapura sebagai api perjuangan dan aura energi sebagai motivator jalan keluar agar situs bangunan bersejarah itu bisa berdiri kembali sebagai monumen bangsa. Kita beruntung karena bagian-bagian Puri Semarapura masih tegak berdiri seperti Medal Agung, Kerta Gosa dan Taman Gili. Ini bisa dijadikan rujukan narasumber.

Aturan Kepurbakalaan

Dalam merenovasi peninggalan-peninggalan sejarah maupun tempat suci, supaya jajaran Pemda Bali mengikuti aturan-aturan kepurbakalaan, terutama bangunan yang berusia 100 tahun atau lebih. Hal itu untuk menjaga kelestarian seni budaya Bali yang adiluhung dan melegenda di dunia.

Kalau tak mengikuti aturan-aturan kepurbakalaan, maka kita akan kehilangan fakta sejarah dan tak menghargai ciptaan nenek moyang. Akibatnya, Bali akan selalu baru dan tidak ada yang antik lagi. Kita betul-betul sedih dan merasa kehilangan kalau pelaku pemugaran bangunan kuno itu tak mau mendengarkan saran-saran para sesepuh atau ahli antropolgi maupun pengamat seni. Bangunan tiba-tiba dibolduser tanpa dibuatkan dokumentasi pemetaan bangunan lama.

Di sisi lain, orang cenderung mengikuti mode-mode yang sedang ngetrend dan tidak memperhatikan kekhasan suatu daerah, misalnya memakai batu lahar hitam. Di situ, capaian teknis seni ukirnya sangat rendah dibandingkan dengan kemampuan seniman Bali mengukir berbahan padas (paras) yang betul-betul maksimal.

Kualitas tempat-tempat suci yang dipugar sekarang, di mata para pengamat, dikatakan estetis seni ukirnya menurun, tapi tampak glamor karena penataan ruang tambahan tempat pesandekan dan areal parkir luas ditambah fasilitas-fasilitas lainnya seperti rest room. Pemugaran besar-besaran itu juga tak dilengkapi dengan penanaman pohon langka di Bali yang termasuk dalam “Taru Pariyogan” seperti pohon tigaron, kesturi, nagasari, cempaka, jepun, dan sandat. Padahal, semua itu sangat memberikan aroma spiritual. Sekarang kesannya kering.

Tak Bisa Dibeli

Bali dikenal karena seni budayanya, tapi kita tak menghargai seni budaya yang telah memberikan kita kehidupan tumpah ruah bergelimang materi dunia pariwisata. Buktinya, sekarang hanya meminjam keris dan tombak bekas pusaka Puri Semarapura untuk merayakan 100 tahun Puputan Klungkung saja, kita harus merogoh kocek Rp 3,5 milyar sebagai konpensasi. Apa artinya ini?

Itulah perlunya melestarikan nilai-nilai luhur bangsa. Karya seni ciptaan leluhur kita, apalagi mengandung sejarah heroik dan punya umur 100 tahun, nilainya tak bisa dibeli seberapa pun. Apa bedanya dengan bangunan-bangunan suci yang dibolduser itu?

Semarapura punya reputasi yang luar biasa dalam konstelasi perjuangan nasional dalam perjuangan kemerdekaan. Reputasi yang tak main-main yakni dengan mengorbankan jiwa raga mati di medan perang dengan puputan merupakan suatu perjuangan yang luar biasa. Perjuangan itu sudah cukup menyadarkan kita untuk merenovasi kembali Keraton Semarapura yang berantakan itu, dan menjadikan momentum perayaan 100 tahun Puputan Klungkung sebagai kebangkitan untuk berdiri kembali.

Yakinlah kalau kita benar-benar manusia berbudaya, tempat yang bersejarah itu bisa dibangun dan ditata kembali sebagai monumen kehormatan bagi para pejuang yang gugur memperjuangkan harga diri bangsa demi kemerdekaan yang kita rasakan sekarang. (*)

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2008/5/11/bud4.html