
Memaknai Puputan Klungkung…….
Menyadari Pentingnya Manusia Bali Bergandengan Tangan
Tanggal 28 April ini, masyarakat Bali memperingati Puputan Klungkung. Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan sejarah perjuangan rakyat Bali dalam menegakkan harga diri manusia Bali dan kedaulatan tanah Bali. Ketika sebuah peristiwa bersejarah diperingati, sejatinya mereka yang terlibat dalam “resepsi” peringatan itu telah melakukan usaha pemberian makna atas peristiwa itu. Sejarah sendiri juga sebuah usaha pemberian makna. Karena peristiwa itu dipandang cukup penting sehingga wajib diberikan perhatian istimewa. Hal ini juga berlaku pada peristiwa perang antara Kerajaan Klungkung dan Belanda yang ditutup dengan klimaks nan tragis yakni kematian raja, kerabat dan sebagian rakyatnya yang lebih dikenal dengan sebutan Puputan Klungkung. Pemberian makna terhadap Puputan Klungkung telah terjadi sepanjang usia peristiwa tersebut. Jika kini masyarakat Bali menandai peristiwa itu dengan peringatan seabad, itu berarti seabad pula masyarakat Bali mencoba memaknai peristiwa tersebut.
============================================================
Dalam sarasehan “Refleksi Seabad Puputan Klungkung dan Kebangkitan Nasional” di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, pengasuh rubrik “Tamiang Bali” DenPost Minggu Made Sujaya, S.S. menemukan ada dua pandangan umum terkait pemaknaan peristiwa Puputan Klungkung itu.
Pandangan pertama yang lebih bersifat konservatif dan mapan yang memaknai Puputan Klungkung sebagai bentuk heorisme dan patriotisme Raja Klungkung Ida I Dewa Agung Klungkung bersama kerabat dan rakyat Klungkung dalam membela kedaulatan dan kehormatan kerajaan dari nafsu kuasa Belanda. Sikap heroisme dan patriotisme itu dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu dan budaya Bali. Sikap patriotisme raja, kerabat dan rakyat Klungkung itu memang terbingkai dalam kesadaran yang sangat lokal, membela kerajaan, belum dilandasai kesadaran dan rasa nasionalisme sebagai bangsa. Akan tetapi, Puputan Klungkung ditempatkan sebagai mozaik sejarah perjuangan bangsa dalam menentang penetrasi kekuasaan kolonial Belanda.
Pandangan kedua yang memaknai Puputan Klungkung sebagai sebuah kesia-siaan, bentuk keputusasaan, bahkan ada yang menganggapnya kekonyolan sejarah. Pandangan ini mempertanyakan keputusan raja untuk ber-puputan sebagai sebuah ketidakcerdasan strategi. Penganut pandangan ini berpendapat raja semestinya mengambil jalan diplomasi atau jalan damai sehingga kerajaan dan rakyat bisa diselamatkan.
“Pandangan kedua yang umumnya tidak ditemukan dalam literatur-literatur tentang Puputan Klungkung ini memang terasa apriori. Lebih dari itu, pandangan semacam ini melihat sejarah dari ukuran-ukuran masa kini yang tentu saja tidak sama konteks zamannya. Nilai dalam suatu zaman, kerap kali berbeda bahkan kontradiktif pada zaman lainnya sebagai akibat dari penetrasi nilai-nilai baru. Karena itu pula, makna Puputan Klungkung pada pandangan kedua ini sudah sering dibantah,” tegas penulis buku “Sepotong Nurani Kuta” dan “Perkawinan Terlarang” ini.
Keragaman Makna
Menurut Sujaya, keragaman makna atas Puputan Klungkung adalah sebuah keniscayaan. Artinya, pandangan-pandangan yang berbeda bahkan kontradiktif dengan pandangan yang sudah mapan merupakan suatu hal yang tidak terhindari. Ditegaskan, sebuah peristiwa sejarah tidak berbeda jauh dengan sebuah teks dalam pemahaman teori sastra yang bisa melahirkan keragaman makna. Bahkan, tanggapan pembaca atau pun masyarakat terhadap suatu peristiwa sejarah kerap kali berubah-ubah atau mengalami pergeseran dalam setiap zaman. “Perkembangan pemaknaan yang saya alami dalam meresepsi peristiwa Puputan Klungkung sejak duduk di bangku SMP hingga sekarang merupakan sebuah contoh sederhana. Pergeseran makna atas peristiwa Gerakan 30 September 1965 bisa disebut sebagai contoh yang lain,” katanya mencontohkan.
Kendati begitu, Sujaya mengingatkan agar keragaman makna atas sejarah tetap diposisikan dalam kerangka memberikan kebermanfaatan dalam menjalani hari ini dan hari esok. Artinya, gemilang atau pun kelam sejarah itu, tetaplah harus fungsional untuk tujuan membangun suatu kehidupan yang lebih baik. Dengan begitu sejarah memiliki arti bagi kehidupan. “Bagi saya, pemaknaan terhadap peristiwa Puputan Klungkung tidak bisa dengan menempatkan peristiwa ini secara otonom. Bagaimana pun, Puputan Klungkung tidaklah peristiwa yang berdiri sendiri. Puputan Klungkung adalah bagian dari sebuah proses penetrasi kolonialisme Belanda di Bali, bahkan di Nusantara. Karena itu, Puputan Klungkung mestilah diletakkan dalam konteks bagaimana Bali merespons penetrasi kolonial yang menurut sejumlah penelitian disebutkan dimulai pada awal abad ke-19,” katanya lagi.
Sujaya menambahkan, Puputan Klungkung merupakan babak akhir dari perlawanan Bali dalam kerangka ideologi tradisional (negara kerajaan-red) menghadapi Belanda. Dalam babak-babak sebelumnya, perlawanan Bali sudah tersaji dalam aneka pilihan warna. Ada yang memilih jalan kompromi atau bekerja sama. Ada yang memilih jalan mengangkat senjata meskipun harus berakhir dengan kematian. Ada pula yang memadukan antara kedua pilihan jalan tersebut. “Klungkung menggunakan berbagai pilihan jalan itu saat berhadapan dengan kolonialisme Belanda. Diawali dengan jalan kerja sama, lalu mengangkat senjata (Perang Kusamba), disusul kompromi dan diplomasi (jalinan kontrak politik dengan Belanda) serta diakhiri dengan jalan mengangkat senjata yang berujung pada puputan,” papar aktivis Sanggar Binduana, Klungkung ini panjang lebar.
Lebih lanjut, alumnus Fakultas Sastra Unud ini memaparkan kilas balik nukilan sejarah Bali di awal abad ke-19. Bermula dari terjadinya perpindahan kekuasaan dari Belanda kepada Inggris di Pulau Jawa. Raja Buleleng Gusti Gde Ngurah Karangasem menguasai Jembrana untuk tujuan menduduki Banyuwangi di Pulau Jawa. Tindakan ini membuat geram pemerintah Inggris di Batavia sehingga dikirimlah satu eskader angkatan laut Inggris ke Buleleng pada tahun 1814. Tujuannya, untuk memberi pelajaran kepada Raja Buleleng. Usaha pemerintah Inggris ini mendapat perlawanan hebat. Tidak saja dari Raja Buleleng, tetapi juga dari semua raja di Bali. Raja-raja lainnya di Bali mengirimkan bantuan pasukannya ke Buleleng untuk membantu kerajaan di bagian utara Bali itu. “Raja-raja Bali itu bertekad untuk berjuang bersama menentang agresi militer dari luar. Sikap ini merupakan pertama kalinya terjadi pada raja-raja Bali pada masa itu,” katanya.
Sikap bersatu raja-raja Bali, kata dia, terbukti ampuh. Pemimpin pasukan Inggris Jenderal Nightingale diperintahkan Batavia untuk memundurkan pasukannya. Pemerintah Inggris tidak bersedia berperang dengan raja-raja Bali yang mempunyai tekad bersatu melawan musuh. Namun, tiga puluh tahun kemudian, semangat bersatu Bali itu mengalami kemerosotan. Ketika Belanda hendak menyerang Kerajaan Buleleng dan Karangasem gara-gara masalah perampasan kapal milik Belanda, raja-raja Bali enggan membantu kedua kerajaan itu. Bahkan, dorongan Raja Klungkung sebagai sasuhunan raja-raja Bali dan Lombok agar raja-raja lainnya membantu Buleleng dan Karangasem tidak mendapat respons yang memadai. Ketidakkompakan raja-raja Bali itu kemudian terbukti makin memudahkan Belanda mencengkeramkan kuku-kuku kekuasaannya di Bali. “Buleleng kemudian jatuh ke tangan Belanda yang menjadi pintu pembuka bagi Belanda untuk menguasai Bali secara keseluruhan. Setelah menguasai Buleleng, Belanda dengan mudah menaklukkan Karangasem, disusul Gianyar yang menyerahkan kedaulatannya, lalu Badung yang dihabisi dalam perang puputan dan terakhir kekalahan Klungkung dalam apa yang kemudian disebut Puputan Klungkung melengkapi kekuasaan Belanda,” katanya. * w. sumatika
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/26/bd2.htm
Betapa Pentingnya Menjaga Persatuan dan Kesatuan
APA yang bisa ditarik dari rangkaian peristiwa sejarah itu? Menurut Sujaya, hal itu menegaskan bahwa Puputan Klungkung adalah buah dari kondisi sosial politik Bali sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang carut-marut dan diwarnai ego masing-masing kerajaan. Kohesivitas dan solidaritas antarkerajaan sangat jauh merosot. Bahkan, yang lebih parah lagi, sejumlah kerajaan terlibat pertikaian yang didasari oleh keinginan yang satu menguasai yang lain. Bukan hanya itu, kerajaan-kerajaan itu tidak segan-segan membantu atau pun meminta bantuan Belanda untuk menaklukkan kerajaan lainnya. Jika saja raja-raja Bali menyadari tentang betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan, saling bantu satu sama lain, memandang ancaman terhadap satu kerajaan sebagai ancaman bagi semua, tentu Puputan Klungkung tidak akan terjadi. Begitu juga Puputan Badung atau pun Gianyar yang memilih jalan tidak populer menyerahkan kedaulatan atas kerajaannya di bawah pengawasan Belanda. “Sampai di sini, makna Puputan Klungkung yang bisa diangkat adalah betapa pentingnya Bali saling bergandengan tangan dan menghindarkan konflik atau pertikaian antarsesama Bali,” tegasnya.
Dalam konteks kekinian, katanya, makna itu bisa diterjemahkan kebijakan antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya semestinya tidak mengesampingkan kenyataan betapa Bali sesungguhnya dalam satu-kesatuan etnik, satu-kesatuan budaya dan satu-kesatuan pulau yang semestinya saling menjaga dan saling memperkokoh. Ego kabupaten/kota, tegasnya, tidak saja menjadi tidak produktif tetapi juga memberi celah bagi penetrasi kepentingan luar yang bertujuan merusak atau setidaknya menguasai Bali. “Perang fisik memang telah berakhir. Tetapi, perang dalam kerangka ideologi atau pun kepentingan tetap terjadi sepanjang masa, termasuk di Bali,” katanya mengingatkan.
Sujaya menambahkan, pemaknaan Puputan Klungkung seperti itu terasa menemukan relevansinya jika dikaitkan dengan momentum peringatan Seabad Kebangkitan Nasional atau pun Setengah Abad Pemerintah Propinsi Bali. Di tingkat nasional kita pun mengalami krisis makna persatuan dan kesatuan sebagai sebuah bangsa. Karenanya, Kebangkitan Nasional yang menjadi momentum tumbuhnya kesadaran untuk bersatu sebagai sebuah bangsa penting dibangunkan dan disegarkan kembali. Pun Bali sebagai sebuah pemerintahan administratif di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia masih berhadapan dengan persoalan ego masing-masing kabupaten sebagai imbas dari otonomi daerah. “Karenanya, momentum peringatan peristiwa Puputan Klungkung yang terjadi seabad lalu yang sesungguhnya pula menandai berakhirnya kedaulatan kerajaan-kerajaan di Bali dan dimulainya masa sebagai jajahan Belanda mesti bisa membangkitkan kesadaran tentang pentingnya menjaga Bali sebagai sebuah kesatuan yang utuh,” tegasnya.
Transformasi Sejarah
Pentingnya memaknai peristiwa-peristiwa sejarah seperti Puputan Klungkung juga dilontarkan Kepala Dinas Kebudayaan Bali Drs. I Nyoman Nikanaya, M.M. Ditegaskan, sejarah tidaklah sekadar peristiwa-peristiwa yang terjadi yang terjadi di masa lalu tapi juga merupakan bagian dari masa kini. Sebab, dari sejarah kita bisa memetik banyak pelajaran berharga guna menapak kehidupan di masa kekinian dengan lebih baik. “Mengungkap segi-segi ideologi dari Puputan Klungkung dapat dianggap sebagai modal pembangunan di bidang mental spiritual dan kebudayaan. Semangat perjuangan yang dikobarkan para generasi pendahulu diharapkan dapat memberi inspirasi generasi sekarang dalam menghadapi tugas membangun daerah, bangsa dan negara Indonesia,” ujarnya.
Senada dengan Sujaya, Nikanaya juga memandang perlu digelorakannya upaya transformasi sejarah puputan di Bali melalui bangku sekolah. Dengan begitu, generasi muda Bali sejak usia dini bisa mengenal peristiwa-peristiwa sejarah yang pernah terjadi di tanah kelahirannya secara detail. Setelah mengenal peristiwa sejarah itu, mereka selanjutnya diharapkan bisa memaknainya dalam konteks bangunan sejarah perjuangan bangsa. “Saya berharap, proses transformasi sejarah itu makin diintensifkan di bangku-bangku sekolah. Mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Jika upaya itu tidak secepatnya dilaksanakan, suatu saat nanti generasi muda Bali boleh jadi tidak akan kenal lagi dengan Puputan Klungkung, Puputan Badung, Puputan Margarana dan seterusnya. Padahal, banyak sekali nilai positif yang bisa digali dan diteladani dari rangkaian peristiwa bersejarah tersebut,” ujarnya.
Nikanaya tidak tidak menampik, pelajaran sejarah yang digelar di bangku sekolah selama ini memang belum terlalu dalam menjamah peristiwa-peristiwa sejarah lokal Bali. Bila pun ada buku teks pelajaran yang menyinggungnya, sejarah-sejarah lokal Bali itu hanya disajikan secara sepintas. Karena disajikan secara sepintas, generasi muda Bali pun praktis mengenal sejarah lokal Bali itu secara sepintas pula alias tidak utuh. Dia mencontohkan, hingga satu abad berlalunya peristiwa Puputan Klungkung, banyak pelajar dan mahasiswa yang tidak mengenal peristiwa heroik tersebut. ”Hal serupa juga terjadi untuk peristiwa sejarah penting lainnya yang terjadi di Bali. Harus diakui, generasi muda Bali lebih mengenal kiprah perjuangan Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Teuku Umar dan pahlawan lainnya dibandingkan pahlawan-pahlawan besar yang lahir di tanah Bali. “Peringatan satu abad Puputan Klungkung harus kita jadikan momentum berharga untuk menata kembali pola pembelajaran sejarah itu. Generasi muda Bali tidak boleh diasingkan dari sejarah lokalnya. Mereka wajib tahu, banyak sekali pahlawan besar yang lahir di tanah Bali dan terbukti memberikan kontribusi yang signifikan bagi tegaknya harga diri dan kedaulatan bangsa dan negara ini,” tegasnya.
Nikanaya menegaskan, banyak celah yang bisa dimasuki untuk memperkenalkan tokoh-tokoh besar Bali itu kepada generasi muda Bali melalui bangku sekolah. Dalam konsteks penerapan kurikulum yang memberikan keleluasaan masuknya muatan lokal, pengenalan tokoh-tokoh pelaku sejarah lokal itu bisa disisipkan dalam mata pelajaran muatan lokal seperti bahasa Bali dan pendidikan budi pekerti. “Mata pelajaran itu bisa dimanfaatkan sebagai media yang efektif untuk kepentingan itu. Termasuk, mentransformasikan nilai-nilai positif yang terkandung di balik peristiwa sejarah tersebut. Kita bisa memulainya dari sekarang juga. Tidak ada istilah terlambat untuk memulai,” tegasnya sambil menambahkan, perhatian kepada aspek sejarah lokal bukanlah sebagai bentuk euforia otonomi atau pun kebangkitan kesadaran tentang lokalitas. Namun, lebih sebagai usaha mendekatkan generasi muda dengan sejarah lokalnya sendiri sehingga mereka bisa lebih mudah memaknai arti perjuangan bangsanya di masa lalu. * w. sumatika
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/26/bd2.htm
Bondres
Puputan Klungkung
COBALAH kita bertanya kepada anak-anak remaja yang usai mengikuti ujian nasional untuk tingkat sekolah menengah atas: siapa pahlawan dari Klungkung? Mereka tidak tahu. Kalau pertanyaan diteruskan, apa mereka pernah mendengar istilah Puputan Klungkung? Mereka pun ragu dan sempat berpikir lama. ”Puputan Klungkung apa Puputan Badung? Kalau Badung pernah dengar,” kata salah seorang pelajar ini.
Pertanyaan itu yang saya lontarkan Kamis sore yang lalu kepada beberapa pelajar yang usai mengikuti ujian nasional. Padahal pada hari itu, pagi harinya, ada seminar yang membicarakan Puputan Klungkung di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Denpasar. Bahkan seminar ini memperingati Seabad Puputan Klungkung dan Kebangkitan Nasional. Artinya, sudah 100 tahun Puputan Klungkung berlalu, tetapi banyak anak-anak muda yang tak mengetahui sejarah lokal daerahnya sendiri.
Saya pun seringkali mendengar Puputan Klungkung, Puputan Jagaraga dan lain-lainnya, namun yang melekat dalam ingatan saya hanya Puputan Badung yang terjadi jauh sebelumnya, dan Puputan Margarana yang terjadi sesudahnya. Ini disebabkan kedua puputan itu (Badung dan Margarana) sudah memiliki banyak bahan publikasi, baik berupa buku yang bisa disebut modern (hasil penelitian dan dokumentasi otentik),maupun buku yang bercorak tradisional lewat karya sastra geguritan. Untuk Puputan Klungkung, seberapa banyak ada publikasinya? Saya tidak tahu.
Publikasi ini tentu saja penting, karena dari sinilah tingkat kepopuleran sebuah peristiwa akan terwujud. Belajar sejarah adalah belajar sesuatu hal yang populer, tokoh-tokohnya serasa dekat di hati. Anak-anak Bali tahu persis bagaimana kepahlawanan Pangeran Diponegoro, selain bukunya banyak, nama Diponegoro menjadi nama jalan besar di Denpasar. Pahlawan dari Sumatera seperti Teuku Umar, Imam Bonjol diabadikan sebagai nama jalan protokol di Denpasar. Mana ada pahlawan dari Bali yang namanya diabadikan di jalan protokol?
Kalau kita misalnya bertanya kepada para pelajar di Bali, siapa pahlawan wanita di Indonesia, mereka dengan fasih menjawab; Tjut Nyak Dien, Dewi Sartika, Raden Ajeng Kartini. Coba ditanya, apakah mereka tahu Sagung Wah, pahlawan wanita yang gigih di Tabanan? Pasti tidak. Siapa dia? Kapan berperang, mempertahankan apa, di mana berperang dan di mana gugurnya? Tak banyak publikasi yang lahir dari kepahlawanan ini. Bahkan nama-nama pahlawan Bali yang diabadikan pada jalan arternatif (bukan jalan protokol) tak banyak pula diketahui seberapa besar perjuangannya.
Kalau sejarah ini tak begitu melekat di hati banyak orang Bali, kita juga tak tahu apa sumbangan perjuangan mereka untuk bangsa ini. Artinya, apakah ada korelasi antara Puputan Klungkung dengan Kabangkitan Nasional yang terjadi dalam kurun waktu sama. Atau sejauh mana Puputan Klungkung menjadi jiwa dari perang kemerdekaan, apakah perang habis-habisan di Klungkung itu menjadi spirit perjuangan juga bagi prajurit I Gusti Ngurah Rai dalam pertempuran di Marga? Akan halnya andil Puputan Margarana dengan perjuangan bangsa ini tentu saja sangat besar, karena perjuangan I Gusti Ngurah Rai berkaitan erat dengan mempertahankan kemerdekaan. Patriotisme Ngurah Rai itu sudah jelas digambarkan dalam berbagai publikasi dan ini sudah melekat di hati banyak orang Bali.
Masalahnya sekarang adalah jika semangat dan jiwa puputan –baik Puputan Klungkung maupun puputan sebelumnya — mau diwariskan kepada masyarakat Bali terutama generasi mudanya, langkah terbaik yang dilakukan adalah penulisan sejarah perjuangan itu secara populer. Penekanan kata populer ini penting, karena kebanyakan sejarah ditulis dengan tidak populer yang pada akhirnya kurang diminati untuk dibaca. Jika penulisan sejarah hanya berkutat pada tahun, nama pelaku, tempat peristiwa, saksi-saksi dan sebagainya, tak ada gereget untuk membacanya. Gaya penulisan disertasi atau karya ilmiah yang baku pada kalangan akademis, membuat orang tak berminat membaca buku sejarah. Ini pernah dilakukan pada saat menggali sejarah Puputan Badung. Ketika hasilnya berupa ”buku statistik” tak banyak orang tertarik, tetapi ketika disampaikan dengan gaya bertutur, kisah perlawanan ini jadi populer. Bahkan berkali-kali kisah Puputan Badung itu ditampilkan dalam bentuk kesenian, baik kesenian drama gong maupun sendratari. Maklum, beberapa tahun lalu, perayaan Pupuan Badung dilakukan dengan sangat ”meriah” dengan puncak acaranya lomba jalan beregu Candi Margarana - Alun-alun Puputan Badung, selain diisi seminar, diskusi budaya dan pameran.
Saat ini muatan lokal di sekolah-sekolah bisa dijadikan jalan untuk memperkenalkan sejarah Bali modern. Yang dimaksudkan sejarah Bali modern adalah sejarah perjuangan membebaskan rakyat Bali dari belenggu penjajahan, baik pada saat menjelang kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan. Sejarah Bali modern bisa dikaitkan pula dengan sejarah perjuangan bangsa ini. Adapun sejarah Bali kuno bisa disebutkan perjalanan tokoh-tokoh suci yang membangun peradaban di Bali, baik yang menata masalah adat, kemasyarakatan maupun agamanya. Semisal kisah kedatangan Mpu Kuturan, kedatangan Danghyang Nirartha dan sebagainya. Justru kisah Bali kuno ini yang banyak melekat di hati orang Bali. Kenapa? Karena publikasinya banyak tersebar, dan peninggalan tokoh-tokoh sejarah itu masih terawat dengan baik berupa pura yang sampai saat ini dikunjungi banyak umat. Kalau Puputan Badung, Puputan Klungkung, Puputan Jagaraga, kenangan apa yang masih tersisa? Bisa saja pemerintah membuatkan patung atau monumen, tetapi akan menjadi ”benda mati” kalau monumen itu tak terurus dan tak memberi penjelasan apa-apa tentang masa lalu. * Putu Setia
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/26/bd1.htm
Catatan Menuju Seabad Puputan Klungkung —
Merajut Kusamba-Smarapura
KUSAMBA, sebuah desa yang relatif besar di timur Smarapura hingga abad ke-18 lebih dikenal sebagai sebuah pelabuhan penting Kerajaan Klungkung. Desa yang penuh ilalang (kusa = ilalang) itu baru tampil ke panggung sejarah perpolitikan Bali manakala Raja I Dewa Agung Putra membangun sebuah istana di desa yang terletak di pesisir pantai itu. Bahkan, I Dewa Agung Putra menjalankan pemerintahan dari istana yang kemudian diberi nama Kusanegara itu. Sampai di situ, praktis Kusamba menjadi pusat pemerintahan kedua Kerajaan Klungkung. Pemindahan pusat pemerintahan ini tak pelak turut mendorong kemajuan Kusamba sebagai pelabuhan yang kala itu setara dengan pelabuhan kerajaan lainnya di Bali seperti Kuta.
Nama Kusamba makin melambung manakala ketegangan politik makin menghebat antara I Dewa Agung Istri Kanya selaku penguasa Klungkung dengan Belanda di pertengahan abad ke-19. Sampai akhirnya pecah peristiwa perang penting dalam sejarah heroisme Bali, Perang Kusamba yang menuai kemenangan telak dengan berhasil membunuh jenderal Belanda sarat prestasi, Jenderal AV Michiels.
Drama heroik itu bermula dari terdamparnya dua skoner (perahu) milik G.P. King, seorang agen Belanda yang berkedudukan di Ampenan, Lombok di pelabuhan Batulahak, di sekitar daerah Pesinggahan. Kapal ini kemudian dirampas oleh penduduk Pesinggahan dan Dawan. Raja Klungkung sendiri menganggap kehadiran kapal yang awaknya sebagian besar orang-orang Sasak itu sebagai pengacau sehingga langsung memrintahkan untuk membunuhnya.
Oleh Mads Lange, seorang pengusaha asal Denmark yang tinggal di Kuta yang juga menjadi agen Belanda dilaporkan kepada wakil Belanda di Besuki. Residen Belanda di Besuki memprotes keras tindakan Klungkung dan menganggapnya sebagai pelanggaran atas perjanjian 24 Mei 1843 tentang penghapusan hukum Tawan Karang. Kegeraman Belanda bertambah dengan sikap Klungkung membantu Buleleng dalam Perang Jagaraga, April 1849. Karenanya, timbullah keinginan Belanda untuk menyerang Klungkung.
Ekspedisi Belanda yang baru saja usai menghadapi Buleleng dalam Perang Jagaraga, langsung dikerahkan ke Padang Cove (sekarang Padang Bai) untuk menyerang Klungkung. Diputuskan, 24 Mei 1849 sebagai hari penyerangan.
Klungkung sendiri sudah mengetahui akan adanya serangan dari Belanda itu. Karenanya, pertahanan di Pura Goa Lawah diperkuat. Dipimpin Ida I Dewa Agung Istri Kanya, Anak Agung Ketut Agung dan Anak Agung Made Sangging, Klungkung memutuskan mempertahankan Klungkung di Goa Lawah dan Puri Kusanegara di Kusamba.
Perang menegangkan pun pecah di Pura Goa Lawah. Namun, karena jumlah pasukan dan persenjatan yang tidak berimbang, laskar Klungkung pun bisa dipukul mundur ke Kusamba. Di desa pelabuhan ini pun, laskar Klungkung tak berkutik. Sore hari itu juga, Kusamba jatuh ke tangan Belanda. Laskar Klungkung mundur ke arah barat dengan membakar desa-desa yang berbatasan dengan Kusamba untuk mencegah serbuan tentara Belanda ke Puri Klungkung.
Jatuhnya Kusamba membuat geram Dewa Agung Istri Kanya. Malam itu juga disusun strategi untuk merebut kembali Kusamba yang melahirkan keputusan untuk menyerang Kusamba 25 Mei 1849 dini hari. Kebetulan, malam itu, tentara Belanda membangun perkemahan di Puri Kusamba karena merasa kelelahan.
Hal ini dimanfaatkan betul oleh Dewa Agung Istri Kanya. Beberapa jam berikutnya sekitar pukul 03.00, dipimpin Anak Agung Ketut Agung, sikep dan pemating Klungkung menyergap tentara Belanda di Kusamba. Kontan saja tentara Belanda yang sedang beristirahat itu kalang kabut. Dalam situasi yang gelap dan ketidakpahaman terhadap keadaan di Puri Kusamba, mereka pun kelabakan.
Dalam keadaaan kacau balau itu, Jenderal Michels berdiri di depan puri. Untuk mengetahui keadaan tentara Belanda menembakkan peluru cahaya ke udara. Keadaan pun menjadi terang benderang. Justru keadaan ini dimanfaatkan laskar pemating Klungkung mendekati Jenderal Michels. Saat itulah, sebuah meriam Canon ”yang dalam mitos Klungkung dianggap sebagai senjata pusaka dengan nama I Selisik, konon bisa mencari sasarannya sendiri” ditembakkan dan langsung mengenai kaki kanan Michels. Sang jenderal pun terjungkal.
Kondisi ini memaksa tentara Belanda mundur ke Padang Bai. Jenderal Michels sendiri yang sempat hendak diamputasi kakinya akhirnya meninggal sekitar pukul 23.00. Dua hari berikutnya, jasadnya dikirim ke Batavia. Selain Michels, Kapten H Everste dan tujuh orang tentara Belanda juga dilaporkan tewas termasuk 28 orang luka-luka.
Klungkung sendiri kehilangan sekitar 800 laskar Klungkung termasuk 1000 orang luka-luka. Namun, Perang Kusamba tak pelak menjadi kemenangan gemilang karena berhasil membunuh seorang jenderal Belanda. Sangat jarang terjadi Belanda kehilangan panglima perangnya apalagi Michels tercatat sudah memenangkan perang di tujuh daerah.
Meski akhirnya pada 10 Juni 1849, Kusamba jatuh kembali ke tangan Belanda dalam serangan kedua yang dipimpin Lektol Van Swieten, Perang Kusamba merupakan prestasi yang tak layak diabaikan. Tak hanya kematian Jenderal Michels, Perang Kusamba juga menunjukkan kematangan strategi serta sikap hidup yang jelas pejuang Klungkung. Di Kusamba, pekik perjuangan dan tumpahan darah itu tidak menjadi sia-sia. Belanda sendiri mengakui keunggulan Klungkung ini.
Namun, kemenangan cemerlang di Kusamba 158 tahun silam itu kini tidaklah menjelma sebagai momentum peringatan yang dikenang generasi sekarang. Secara resmi Klungkung memilih peristiwa perang penghabisan di Puri Smarapura yang dikenal dengan Puputan Klungkung, 28 April 1908 sebagai tonggak peringatan perjuangan daerah menentang kolonialisme Belanda.
Memang, Puputan Klungkung yang diakhiri dengan gugurnya Raja Klungkung, Ida I Dewa Agung Jambe bersama para kerabat, keluarga serta pengiring menunjukkan bagaimana semangat perjuangan rakyat Klungkung yang menempatkan kehormatan dan harga diri di atas segalanya. Ketika kata-kata tak lagi bertenaga dan pihak yang diajak bicara tak lagi punya matahati, jalan perang merupakan pilihan paling terhormat. Bukan kemenangan fisik yang dicari, tapi kemenangan kehormatan, harga diri dan spirit. Sampai di sana, kematian menjadi jalan kehidupan (mati tan tumut pejah).
Namun, Perang Kusamba yang mengukuhkan kemenangan secara fisik serta menunjukkan kecerdasan, kecemerlangan, kecerdikan pun kematangan menyusun strategi putra-putri terbaik Klungkung juga suatu hal yang layak untuk dikenang. Pada peristiwa itulah Klungkung dan Bali secara umum dipandang sebagai lawan yang tangguh oleh Belanda. Pada peristiwa itu pula, secara diam-diam, harga diri orang Bali dikukuhkan setelah dua tahun sebelumnya juga tergurat dalam peristiwa Perang Jagaraga di bawah pimpinan Patih I Gusti Ketut Jelantik.
Jika selama ini Klungkung dan juga daerah-daerah lain di Bali terbiasa mengenang kekalahan, tidak salah kini memulai juga untuk mengenang kemenangan. Kita perlu berbangga pada prestasi gemilang pendahulu kita. Ketika kita bisa mengenang kekalahan, kenapa tidak punya keberanian untuk juga memperingati kemenangan. Dengan begitu, kebanggaan sebagai bangsa di kalangan generasi penerus bisa ditumbuhkan. Bukankah tradisi Hindu dengan begitu bersahaja mengajarkan untuk memperingati kemenangan dharma atas adharma seperti dalam hari raya Galungan?
Kini, menuju Seabad Peringatan Puputan Klungkung, patutlah dipertimbangkan merajut benang sejarah antara Kusamba dan Smarapura. Kusambalah awal kebangkitan semangat perjuangan rakyat Klungkung menentang kolonialisme Belanda dan Smarapura dengan Puputan Klungkung menegaskan semangat itu pada puncak terindahnya.
* I Made Sujaya
http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2007/4/29/apresiasi.html