Pura Agung Amerta Bhuana, Batam
Salah satu Pura di kota Batam sebagai sarana tempat ibadah umat Hindu adalah Pura Agung Amerta Bhuana yang letaknya sangat strategis dan nyegara gunung. Pura ini mempunyai hamparan pemandangan alam yang indah. Di sekitarnya terhampar Danau Sei Ladi dan Selat Malaka.
Di Pura ini terdapat bangunan Padmasana yang megah setinggi kurang lebih 15 meter yang merupakan Padmasana terbesar dan tertinggi di Indonesia. Tempat Hyang widhi bersthana ini dibangun berornamen Hindu klasik yang digabungkan dengan konsep modern monumental akan memperkaya Pulau Batam sebagai salah satu gerbang pariwisata di Indonesia bagian barat laut sebagai miniatur kebhinekaan Indonesia.
Tinjauan Historis Pura Agung Amerta Bhuana adalah dimulai pada tahun 1999 yang merupakan tahun yang memberikan semangat baru bagi umat Hindu di Batam, karena surat dari Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Batam yang bernomor 013/PHDI/BTM/VI/99 tertanggal 09 Juni 1999 yang inti pokok dari surat itu adalah permohonan lokasi tanah untuk pura kepada Ketua Otorita Batam, bapak Ismeth Abdullah , mendapat tanggapan yang menggembirakan.
Sampai saat ini Parisada telah diberikan dokumen sebagai referensi sehubungan dengan keberadaan pura diantaranya :
· Surat Ijin Prinsip No : 247/IP/KA/VII/99, tertanggal 26 Juli 1999
· Hasil pengukuran Lokasi No : 383/AT.2/X/1999, tertanggal 18 Oktober 1999
· Kode Gambar PL No. : 99010773
Semenjak dikeluarkannya legal aspek oleh otorita Batam, maka Parisada Batam membentuk Panitia Pembangunan Pura yang diketuai oleh Bapak Ketut Widiana Sulatra dengan surat keputusan bernomor 015/PHDI/BTM/VII/1999, mulai bekerja secara bertahap untuk mewujudkan cita-cita membangun pura. Parisada Batam selalu berpikir kedepan serta mengantisipasi hal hal yang tak diinginkan dimasa masa yang akan datang baik secara skala maupun niskala, maka dari itu langkah yang telah dilakukan untuk senantiasa mendapatkan limpahan Wara Nugraha dari Hyang Widhi adalah sebagai berikut :
1. Meditasi Bersama.
Meditasi bersama dilakukan untuk menentukan letak titik Padmasana, yang telah dilaksanakan pada tanggal 8 Maret tahun Masehi 2000 dari jam 19.00 – 22.00 WIB. Yang dipimpin oleh Maha Pendeta Ida Pedanda Gde Oka Kemenuh dari Jakarta
2. Peletakan Batu Pertama
Peletakan Batu Pertama telah dilaksanakan pada tanggal 04 Juni tahun Masehi 2000. Upacara inipun dipimpin oleh Maha Pendeta Ida Pedanda Gde Oka Kemenuh yang dihadiri oleh umat Hindu di Batam dan sekitarnya.
3. Pemelaspasan Alit
Setelah beberapa bangunan utama selesai, dibangun agar bisa digunakan untuk melakukan persembahyangan, maka diadakan upacara pensucian yang telah dilakasanakan pada tanggal 03 Agustus 2003. Bangunan yang disucikan pada waktu itu meliputi sebuah Padmasana, Candi bentar, dan Balai Pawedan serta areal parkir dengan jalan melingkar. Upacara ini dihadiri oleh bapak Dirjen Bimas Hindu dan Budha Departemen Agama RI. Dan dipimpin oleh Maha pendeta Ida Pedanda Gde Oka Kemenuh.
4. Pelinggih Penglurah Ratu Gde Dalem Bumi
Pelinggih ini dibangun setelah sebulan upacara pemlaspasan alit dan telah dihaturkan upacara Pemakuh pada tanggal 10 Oktober 2003. Upacara dilaksanakan bertepatan dengan persembahyangan Purnama. Dan dipuput oleh Pinandita di Batam yaitu Pinandita Putu Satria Yasa & Pinandita I Wayan Catra Yasa.
5. Pelinggih Pengapit Lawang.
Pelinggih ini dibangun sebulan setelah pelinggih Panglurah dan telah dihaturkan upacara pemangkuhan pada tanggal 8 Nopember 2003
6. Papan Nama Pura Agung Amerta Bhuana
Papan Nama dibangun setelah sebulan pelinggih pengapit lawang, terletak dipinggir jalan di areal Parkir / Pratamaning Mandala. Upacara Pemangkuh, telah dilaksanakan pada tanggal 06 Maret 2004 bertepatan dengan persembahyangan Purnama Sasih Kesanga.
7. Peresmian Oleh Bapak Menteri Agama Republik Indonesia
Peresmian dilakukan hari Rabu tanggal 16 Juni 2004 dihadiri oleh umat Hindu di Batam, tokoh masyarakat, tokoh agama, Muspida, Pejabat di lingkungan Otorita Batam, pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Batam, Ketua Otorita Batam, Walikota Batam, Ka Kanwil Departemen agama Propinsi Tk. I Riau, Dirjen Bimas Hindu Budha Departemen agama RI dan Mentri Agama Republik Indonesia bapak Prof. Dr. H. Agil Said Husin Al Munawar, MA.
Source : http://www.hindubatam.com , http://purahindu.wordpress.com/2008/12/23/pura-agung-amerta-bhuana-batam-indonesia/
KEHIDUPAN BERAGAMA KRAMA HINDU BALI DI KOTA BATAM
Tercatat sekitar 300 kepala keluarga (KK) atau sekitar 700-an krama Hindu Bali yang mukim di seluruh penjuru Batam. Mereka ‘terangkum’ dalam tiga tempek, tidak mengelompok membentuk sebuah banjar. Tiga tempek itu adalah Tempek Batu Aji, Tempek Nagoya, dan Tempek Pulau Bulan.
Menurut Pamangku Pura Agung Amerta Bhuana Putu Satriya Yasa, warga Hindu mulai datang ke Batam sejak sekitar 15-20 tahun lalu. Rata-rata mereka bekerja di sektor formal terutama di perhotelan. Satriya Yasa sendiri bekerja di Holiday Inn.
“Kami di sini sangat diperhatikan pemerintah. Contohnya, pembangunan padmasana ini dilakukan oleh Otorita Batam dengan nilai bantuan sekitar Rp. 800 juta,” ujar pria asal Singaraja, Buleleng ini.
Pembangunan Pura Agung Amerta Bhuana yang .berlokasi di Kelurahan Bintan memang belum tuntas, semisal bangunan panyengker belum ada. Saat ini ada beberapa bangunan yang .tengah dikerjakan. Untuk menuntaskan pembangunan pura itu, diperlukan dana Rp. 4 miliar. Hingga kini, dana baru terkumpul Rp. 2,5 miliar.
“Bangunan inti berupa sebuah padmasana dan sudah berhasil dirampungkan tahun 2002 lalu atas bantuan Otorita Batam senilai Rp. 800 juta,” kata Satriya Yasa.
Bahan-bahan bangunan, terutama batu berukir khusus didatangkan dari Bali. “Seluruh bangunan suci kelengkapan tempat suci umat Hindu satu-satunya di Batam diharapkan rampung tahun depan. Saat itu sekaligus akan digelar kegiatan ritual berskala besar,” imbuh Satriya Yasa.
Ditambahkannya, umat Hindu yang bermukim di Pulau Batam sangat mengharapkan bantuan dan peran serta umat sedharma di tanah air, khususnya Bali untuk bisa merampungkan tempat persembahyangan tersebut. Untuk prpses pembangunan, karena tidak ada tukang khusus, seluruh umat Hindu dilibatkan baik yang ahli bangunan maupun tidak.
Seperti Wayan Budi yang berada di lingkungan pura, ketika rombongan-rombongan dan Bali bersembahyang di Pura Agung Amerta Bhuana. Pria asli Lebih, Gianyar yang ke Batam pada tahun 1993 ini dan datang sehari-hari bekerja di divisi house keeping Hotel Panorama.
Meski Pak Budi tidak memiliki keahlian sebagai tukang batu, tetapi dalam pembangunan pura, Budi bertindak sebagai mandor dan tukang ukir. “Mungkin keahlian sebagai tukang ukir ini sudah turunan, karena keluarga saya (di Gianyar) mahir mengukir,” kata bapak dua orang anak ini.
Walau perhatian pemerintah daerah setempat terhadap kehidupan bermasyarakat dan beragama, khususnya kepada krama Hindu sudah bagus, masalah justru datang dan lingkungan krama Hindu sendiri. Kesulitan yang dihadapi di intern krama Hindu adalah susahnya nara sumber untuk siraman rohani. Siraman rohani selama ini dilakukan saat upacara, seperti tilem, purnama, atau ketika digelar doa bersama. Pada saat seperti
itu, warga Hindu melibatkan FHDI setempat. Namun jika upacara yang digelar berskala besar, pedanda khusus didatangkan dari Bali.
“Kalau ada keperluan agama yang melibatkan seluruh umat, kami berkoordinasi melalui telepon atau pesan singkat (SMS),” kata Satriya Yasa. Masalah kependudukan juga menjadi suatu hal pelik di Batam. Pemda Batam sangat gencar melakukan penertiban kependudukan diberbagai tempat. Untuk mengatasi kekumuhan, pemerintah menyediakan rumah susun bagi warganya dengan cara menyewa dan memperketat pendirian bangunan penduduk karena lakonnya tidak bertambah Untuk mendata penduduk, Pemda Batam sejak bulan Pebruari 2007 memberlakukan sistem Administrasi Kependudukan (SIAK). Sistem ini melayani pembuatan Kartu Identitas, KTP dll. Hal ini karena Batam sehagai pulau industri yang menyerap ribuan tenaga kerja. (r).WHD. No. 490 Oktober 2007
http://www.parisada.org/index.php?Itemid=26&id=813&option=com_content&task=view


