kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Budaya Bali’ Category

Sekaa Manyi

Posted by Adnyana under Budaya Bali

Sawah dan Subak

Masyarakat Bali yang terlahir saat ini, pasti tidak akan lagi mengenal istilah Subak yang cakupannya cukup luas bukan cuma masalah organisasi membagi air, tetapi juga menentukan saat tanam padi, cara-cara menggarap tanah, memelihara padi, cara memanen, sampai pada urusan ritual..

Organisasi membagi air dalam Subak memunculkan istilah Telabah, Telajakan, Temuku.

Cara menghitung besaran pembagian air pun sangat rinci. Menentukan saat tanam menimbulkan istilah seperti Kertha masa, Tangluk merana, kapan harus mulai menanam padi dan kapan batas akhir menanam. Ini penting karena menyangkut hama, selain berkaitan dengan musim. Kalau menanam tidak serentak, mengusir hama jadi sulit.

Cara menggarap sawah menimbulkan sekaa (kelompok) yang unik. Ada sekaa makal (menggemburkan tanah), sekaa melasah (meratakan tanah yang sudah gembur), sekaa munduk (membuat pematang).

Memelihara padi memunculkan sekaa yang unik pula, yakni sekaa ngabut bulih (mencabut benih), sekaa nandur (menanam), sekaa mabulung (membersihkan rumput di sela padi). Ketika para orang tuanya sibuk ngabut bulih, anak-anak mereka biasanya asyik mencari capung, blawuk, klipes dan serangga sawah lainnya.

Setelah panen muncul istilah sekaa manyi (memanen), sekaa makajang (mengangkut padi dari sawah).

SEKAA manyi dibeberapa pedesaan di Bali ternyata masih ada. Anak-anak yang terlahir di kota pasti tidak tahu bagaimana mengetam padi dengan ani-ani. Di Museum Subak Kediri, Tabanan, yang bernama ani-ani atau ketam ini, barangkali sudah berdebu atau bahkan hilang dari pajangan.

Budaya agraris ini bukan saja melahirkan sekaa yang begitu aneh untuk ukuran zaman modern, tetapi juga melahirkan kesenian spontan. Ibu-ibu yang tergabung dalam sekaa mabulung terampil memainkan alat pembersih yang mirip dengan alat pel di rumah gedongan, sementara dari mulutnya keluar tembang yang sangat liar. Disebut liar karena lirik tembangnya mengenai kehidupan sehari-hari, bahkan dibuat dengan spontanitas yang tinggi, tetapi tetap dalam alur pupuh yang sudah ada.

Ketika padi sedang panen, yang memanen biasanya kaum ibu, sementara kaum lelaki bertugas mengikatnya dengan hitungan yang seragam dari urutan paling kecil sampai terbesar, yakni Pejangan (segenggam tangan), Tatap (dua pejangan), Cekel (tiga tatap), Tenah (tiga cekel) dan seterusnya.

Kesibukan di tengah sawah ini tetap diwarnai tembang-tembang, kadang saling menyambung dari petak-petak sawah, disertai cekikikan tawa riang. Pesta panen padi itu masih pula diwarnai suara seruling dari batang padi yang digemari anak-anak, ada yang menimbulkan suara dengan tangga nada, ada yang sekedar bunyi layaknya terompet.

Orang Bali di masa lalu, ketika kehidupan agraris masih menjadi urat nadi keseharian, belajar menembang di tengah sawah atau di kebun kopi. Inilah arena latihan mereka, alam yang terbuka. Tidak ada yang memburu waktu mereka, karena padi yang dipanen akan tetap dijemur di tengah sawah sampai kering. Dari arena latihan alam ini, terseleksi siapa yang merasa punya kemampuan lebih lalu ikut sekaa seni yang lebih formal, misalnya membentuk Sekaa Arja. Tetapi, tujuannya bukan materi atau alih profesi. Mereka tak akan meninggalkan kehidupannya sebagai petani. Mereka hanya menyalurkan hobi yang sederhana, yang hakikatnya mengasah rasa estetika.

***

Budaya Agraris

BUDAYA agraris sekarang sudah menjadi masa lalu. Industrialisasi masuk ke Bali dan orang mulai dipompa untuk hidup dikejar-kejar oleh waktu. Semuanya serba terburu-buru dan alat-alat modern untuk memburu waktu, juga didapat dengan mudah. Untuk apa menanam padi Bali yang baru dipanen setelah lima atau enam bulan? Kelamaan, dan diperkenalkan padi usia pendek, hanya tiga bulan sudah panen. Tanah tak perlu terlalu digemburkan, beri saja banyak pupuk. Maka kebiasaan petani untuk bergotong royong membajak sawah mulai hilang. Pupuk ditebarkan ke sawah. Rumput-rumput liar juga berkurang, sekaa mabulung menjadi lenyap. Zat kimia pupuk ini melenyapkan pula binatang kecil mainan anak-anak di masa lalu, seperti klipes, belawuk, dan capung bahkan belut sawah.

Padi berusia pendek, dan pendek pula bentuknya. Kaum ibu tak perlu lagi memanennya dengan ani-ani. Para lelakilah yang menebas padi itu langsung dari batangnya dan langsung dirontokkan di tengah sawah. Karung-karung sudah disediakan untuk menampung gabah. Tak ada suara tembang, dan nada itu pastilah tak pas dengan ritme merontokkan padi yang memerlukan tenaga dan ketergesa-gesaan.

Tak ada hitungan cekel, tatap, tenah, semuanya diganti dengan hitungan industri, berapa karung atau berapa kilogram. Padi tak lagi masuk ke lumbung, Dewi Sri sudah mulai dilupakan. Sekaa makajang? Ah, apa pula itu, yang ada deru tukang ojek dengan motornya yang siap mengangkut karung-karung gabah ke perusahaan penyosohan. Semuanya serba cepat.

Minggu lalu saya berkunjung ke rumah mertua karena mendengar sawahnya akan panen. Sudah saya bayangkan, budaya industri akan bergerak ke tengah sawah itu, akan ada laki-perempuan merontokkan padi, lalu ada tumpukan karung dan sebagainya. Saya sebenarnya sedih, karena sepuluh tahun lalu, sekaa manyi masih ada di sini. Betapa terkejutnya saya ketika menyaksikan keluarga mertua saya tenang-tenang saja di rumahnya. Katanya panen, tidak ke sawah? “Untuk apa repot-repot. Sudah ada tengkulak yang membeli padinya. Bapak beri harga Rp 4 juta, ditawar Rp 3 juta, ya… sudahlah, Wayan tak sabaran ingin punya VCD,” kata mertua saya. Luar biasa. Ini bukan lagi budaya industri, ini sudah “budaya judi”, padi belum dipanen sudah dijual dengan sistem “tebak-tebakan”.

Jika sekarang sekaa manyi masih ada, kekuatan apa yang membuat mereka bertahan dari rongrongan budaya industri? Mudah-mudahan ini panggilan Dewi Sri dan adanya kesadaran untuk berhenti sejenak dari penjajahan waktu.

* Putu Setia

http://www.balipost.com/BaliPostcetak/2004/2/7/bd3.htm

Cecimpedan Bali

Posted by Adnyana under Budaya Bali

foto: http://www.baliwww.com

TEMPO dulu, waktu luang anak-anak dan muda-mudi kadang-kadang diisi dengan macecimpedan yakni bermain teka-teki. Cecimpedan menjadi sebuah mode pergaulan. Melalui macecimpedan mereka dapat memperluas pergaulan, merasa terhibur dan juga menjadi ukuran kepandaian dan gengsi seseorang. Seorang remaja yang tidak siap berteka-teki akan bengong saja. Oleh karena itu, seorang anak atau remaja berusaha membekali dirinya dengan beberapa buah cecimpedan.

Cecimpedan asal katanya cimped artinya bade atau tebak. Di-dwipurwa-kan menjadi cecimped dan mendapat akhiran an menjadi cecimpedan. Pada awalnya, cecimpedan itu dinyatakan dengan kalimat-kalimat prosa dalam bentuk pertanyaan yang tradisional dan jawaban yang tradisional pula. Jadi pertanyaan maupun jawaban itu tidak boleh menyimpang dari kebiasaan yang sudah berlaku. Akhir-akhir ini teka-teki tradisional itu banyak yang digunakan ke dalam bentuk lagu. Usaha tersebut sah-sah saja, bahkan menambah kentalnya pergaulan di antara anak-anak dan remaja.

Cara Memainkan

Adu teka-teki itu dilakukan oleh dua orang atau dua kelompok yang “berseteru”. Salah satu kelompok memulai mengajukan pertanyaan. Misalnya kelompok A: “Apa cekuk kajengitin?” (Benda apa yang dicekik lalu diberi senyum dengan memperlihatkan gigi?) Kelompok B mendapat kesempatan beberapa saat menyusun jawabannya. Kalau ia menjawab dengan caratan (kendi) berarti jawabannya benar. Apabila kelompok B tidak bisa menjawab atau jawabannya salah, maka ia wajib nebusin yaitu membalas dengan teka-teki pula. Seandainya cecimpedan nebusin itu tidak terjawab oleh kelompok A, berarti kedua kelompok itu sapih — tidak menang kalah. Akan tetapi apabila cecimpedan nebusin itu terjawab oleh kelompok A, maka skor 1-0 untuk kelompok A.

Selanjutnya giliran kelompok B yang mengeluarkan cecimpedan. Kelompok A bertugas made (menebak) atau kalau gagal, nebusin. Demikian seterusnya sehingga permainan berakhir dengan sapih atau salah satu kelompok menang. Belakangan ini muncul cecimpedan yang dinyanyikan. Isinya bukan saja teka-teki yang tradisional, tetapi juga teka-teki baru yang mungkin berasal dari luar Bali. Menggubah cecimpedan menjadi nyanyian dimaksudkan agar suasana bermain itu tidak menjemukan, dapat menggugah rasa keindahan dan tentu saja mendorong kreativitas. Memang dalam pergaulan anak-anak dan remaja di Bali selalu saja muncul kreativitas seni.

Cobalah jawab beberapa contoh cecimpedan yang dilagukan berikut ini;

(1). Raka Rai ya makulkul matumbak
Kulkul malu tumbake jang si duri
Mangkin bade cecimpedan puniki

(2). Raka Rai ya melingeb nungkayak
Melingeb misi nungkayak puyung gati
Mangkin bade cecimpedan puniki

(3). Raka Rai ya meroang mamusuh
Cerik roang di kelihne mamusuh
Mangkin bade cecimpedan puniki

* Made Taro

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2002/9/1/k3.html

Wayang Bali dan Sejarahnya

Posted by Adnyana under Budaya Bali

wayang berasal dari kata wayangan yaitu sumber inspirasi dalam menggambar wujud tokoh dan cerita sehingga bisa tergambar jelas dalam batin si penggambar karena sumber aslinya telah hilang. di awalnya, wayang adalah bagian dari kegiatan religi animisme menyembah ‘hyang’, itulah inti-nya dilakukan antara lain di saat-saat panenan atau taneman dalam bentuk upacara ruwatan, tingkeban, ataupun ‘merti desa’ agar panen berhasil atau pun agar desa terhindar dari segala mala (mara bahaya).

di tahun (898 - 910) Masehi wayang sudah menjadi wayang purwa namun tetap masih ditujukan untuk menyembah para sanghyang seperti yang tertulis dalam prasasti balitung:

sigaligi mawayang buat hyang, macarita bhima ya kumara
(terjemahan kasaran-nya kira-kira begini :  menggelar wayang untuk para hyang menceritakan tentang bima sang kumara)

di jaman mataram hindu ini, ramayana dari india berhasil dituliskan dalam bahasa jawa kuna (kawi) pada masa raja darmawangsa, 996 - 1042 Masehi mahabharata yang berbahasa sansekerta delapan belas parwa dirakit menjadi sembilan parwa bahasa jawa kuna lalu arjuna wiwaha berhasil disusun oleh mpu kanwa di masa raja erlangga

sampai di jaman kerajaan kediri dan raja jayabaya mpu sedah mulai menyusun serat bharatayuda yang lalu diselesaikan oleh mpu panuluh tak puas dengan itu saja, mpu panuluh lalu menyusun serat hariwangsa  dan kemudian serat gatutkacasraya menurut serat centhini, sang jayabaya lah yang memerintahkan menuliskan ke lontar    (daun lontar, disusun seperti kerai, disatukan dengan tali) di jaman awal majapahit wayang digambar di kertas dan sudah dilengkapi dengan berbagai hiasan pakaian

masa-masa awal abad sepuluh bisa kita sebut sebagai globalisasi tahap satu ke tanah jawa kepercayaan animisme mulai digeser oleh pengaruh agama hindu yang membuat ‘naik’-nya pamor tokoh ‘dewa’ yang kini ‘ditempatkan’ berada di atas ‘hyang’

abad duabelas sampai abad limabelas adalah masa ’sekularisasi’ wayang tahap satu dengan mulai disusunnya berbagai mithos yang mengagungkan para raja sebagai keturunan langsung para dewa

abad limabelas adalah dimulainya globalisasi jawa tahap dua kini pengaruh budaya islam yang mulai meresap tanpa terasa dan pada awal abad keenambelas berdirilah kerajaan demak ( 1500 - 1550 M )

Seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa Timur, akhirnya para seniman kerajaan dan seniman masyarakat migrasi ke pulau Bali yang saat itu diBali kerajaannya berpusat di Swecapura Gelgel Klungkung. Daerah di sekitar lingkungan kerajaan Gelgel, seperti di desa Kamasan, merupakan desa perkampungan para seniman Bali saat itu. Oleh karena itu Klungkung di saat Bali masih di pimpin dari Gelgel Klungkung  merupakan pusatnya kebudayaan dan seniman bali, dan desa Kamasan hingga kini masih melestarikan tradisi turun temurun dari leluhurnya melukis wayang. Namun seiring dengan runtuhnya kerajaan Gelgel Klungkung, dan kerajaan - kerajaan yang ada di Bali mulai berdiri sendiri, keberadaan para seniman Bali termasuk seniman Wayang mulai menyebar ke berbagai kabupaten yang ada di Bali.

Wayang Budi Pekerti

Kesenian wayang di Nusantara berawal dari seni sakral. Masyarakat Indonesia di masa lalu mementaskan wayang bukan untuk hiburan, tetapi untuk pelengkap upacara keagamaan. Dalam kalender Bali dan Jawa, ada wuku yang bernama wayang. Ini adalah rentetan hari selama seminggu untuk menyelenggarakan upacara dengan inti pementasan wayang. Puncaknya adalah hari Sabtu Kliwon yang disebut Tumpek Wayang.

Kesakralan seni wayang masih membekas, meskipun mulai berkurang jenis upacara yang dikaitkannya. Di Jawa Barat, pertunjukan wayang golek masih dipakai pada “panen laut”. Wayang golek dipentaskan semalam suntuk dan di pagi hari sesaji dibawa para nelayan ke tengah laut.

Di Jawa, pentas wayang kulit dipakai untuk ruwatan bumi maupun ruwatan orang. Di Bali kesakralan wayang kulit juga berhubungan dengan ruwatan orang, khususnya pada orang-orang yang lahir di wuku Wayang. Ada lakon khusus yang dipentaskan pada upacara itu, biasa disebut wayang nyapuleger.

Di Bali, kesakralan wayang juga dipakai pada upacara Pitra Yadnya (ngaben) dengan lakon-lakon pencarian air suci. Begitu pula pada upacara Manusa Yadnya seperti otonan dan potong gigi, sering disertai pementasan wayang. Dalang kemudian membuat tirtha (air suci) untuk dipercikkan kepada orang yang otonan atau potong gigi.

Karena sejarah seni pertunjukan wayang adalah sakral, Ki Dalang berusaha mengupas makna dan filosofi dari kesakralan pertunjukan itu. Jika menyangkut Manusa Yadnya, yang banyak dikupas adalah masalah budi pekerti.

Jika pertunjukan untuk Pitra Yadnya, Ki Dalang mengupas inti dari yadnya itu. Kupasan bisa melebar ke mana-mana, tak hanya melulu penjelasan tentang ritual tetapi juga pencerahan agama. Ki Dalang berfungsi sebagai guru, tokoh agama, pendharma wacana, dan penonton memposisikan diri sebagai murid dan orang yang haus pelajaran agama.

Itu dulu. Ketika pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Panggung sederhana tanpa ada pengeras suara, penonton duduk di tanah beralas karung beras, tak ada yang berisik saat Ki Dalang menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Anak-anak boleh tidur, dan bangun ketika Bima dan Arjuna berperang melawan raksasa.

Sekarang, situasi sudah sangat berbeda. Hiburan begitu banyak berseliweran, ada televisi dan video yang canggih-canggih. Pedesaan juga gemerlap, listrik ada di mana-mana. Pertunjukan wayang kulit pun ingar-bingar dengan pengeras suara. Tetapi, kenapa justru tidak ada yang menonton wayang? Kenapa lakon Bima mencari tirtha amerta ke tengah laut dan ketemu Dewa Ruci tidak lagi memikat, dan kalah dibandingkan Salon Oneng di televisi? Jawabnya karena posisi Ki Dalang dan sang penonton sudah berbeda.

Ki Dalang tidak lagi sebagai guru dan ahli agama. Penonton pun tidak lagi memposisikan diri sebagai murid dan orang yang harus diberi “kuliah” agama. Banyak media untuk belajar agama, ada buku-buku yang cukup, ada kelompok pesantian, dan ada dharma wacana di televisi yang lebih menarik. Dengan posisi yang sudah berubah itu, apa masih perlu menonton wayang kulit?

Toh karakter wayang tak pernah berubah, Bima tetap saja seperti itu, tokoh yang tak pernah kalah. Arjuna masih saja menggunakan panah, yang selalu tepat sasaran. Diolah dengan cara apa pun, karakter wayang itu sudah ada pakemnya. Dalam bahasa iklan bisa disebutkan, apa pun lakonnya, siapa pun dalangnya, wayangnya tetap itu-itu saja.

Akhirnya, pertunjukan wayang kulit Bali, yang mengiringi upacara yadnya tidak lagi ditonton orang. Pentas wayang kulit setiap Purnama di depan Pura Jagatnatha Denpasar juga tak banyak ditonton orang. Pergelaran wayang kulit yang masih ditonton adalah pergelaran nonsakral, yang dipenuhi banyolan-banyolan. Dalang yang kondang adalah dalang yang punya banyak peluru banyolan. Karena tak mungkin membanyol semalam suntuk, pentas wayang pun paling lama empat jam, atau malah separonya.

Dalam fenomena wayang banyolan ini muncul Nardayana, mahasiswa Institut Seni Indonesia Denpasar. Dengan merek Cenk Blonk, ia kini mengibarkan wayang kulit banyolan dengan iringan tabuh gemerlapan, seperangkat gong kebyar (malah ditambah bunyi tektekan dari bambu) dilengkapi dengan gerong (pesinden di Jawa). Pentas wayang kulit pun kembali dilirik orang, khususnya pentas wayang Cenk Blonk.

Karena Nardayana orang “kuliahan”, ia memang tidak mengubah karakter wayang, tetapi ia menyelipkan banyolan ke dalam karakter tokoh-tokoh serius. Bima, Arjuna, Abimanyu, Gatotkaca (dalam lakon Diyah Ratna Takeshi) adalah tokoh yang bisa dijadikan sentilan tentang karakter manusia, dan kritik sosial tentang kepemimpinan, susila, martabat dan sebagainya. Dalam lakon Katundung Ngada pun, Nardayana banyak menggunakan para kesatria untuk melontarkan kritik, termasuk memberi “pendidikan budi pekerti”. Adakah dalang lain yang mengikuti jejak Nardayana? Sampai saat ini belum, dan itu memang tidak gampang.

Pada akhirnya Ki Dalang memang harus tetap dalam posisi “lebih tinggi” wawasannya. Kalau wawasan penonton sudah maju, wawasan Ki Dalang harus lebih maju lagi, dan mau tak mau Ki Dalang masa kini harus menguasai banyak media termasuk internet, untuk mencari bahan-bahan sebelum pentas.

Putu Setia

http://okanila.brinkster.net/raditya/BaliShowfull.asp?ID=164

I Wayan ”Cenk Blonk” Nardayana
Saya Ingin Wayang Jadi Hiburan Favorit

Jika mendengar nama dalang I Wayan Nardayana, kening Anda pasti berkerut, siapakah dia? Tetapi kalau mendengar nama Cenk Blonk, pastilah langsung ingatan Anda melayang pada pertunjukan wayang yang sangat digemari banyak kalangan. Wayang Cenk Blonk memang tengah naik daun, namun tahukah Anda bahwa perjalanan suksesnya tidak gampang? Dalang laris yang tengah mengambil kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar ini pernah bekerja sebagai tukang parkir di swalayan Tiara Dewata. Namun demikian ia tetap mengasah kemampuannya dalam mendalang. Ia mengakui bahwa lakon wayang yang dibawakan dulunya lebih banyak yang ngomong jorok, namun sekarang ia berusaha memasukkan banyak tuntunan pada masyarakat. Lantas, mengapa dalang yang berpentas sedikitnya 20 kali per bulan ini menolak didokumentasikan pementasannya? Tetapi, mengapa ia justru bangga banyak dalang yang menirunya? Berikut wawancara Bali Post dengan dalang Cenk Blonk.

MENGAPA Anda memakai nama Cenk Blonk?
Dalam pewayangan ada beberapa tokoh punakawan yang namanya Nang Klenceng, Nang Ceblong, Nang Ligir, Nang Semangat dan sebagainya. Tokoh-tokoh itu sudah dikenal masyarakat. Pada mulanya, nama wayang saya bukan Cenk Blonk, namun Gitaloka. Makanya setiap pementasan saya cantumkan di kelir nama “Wayang Gitaloka dari Belayu”. Setiap pentas saya menampilkan dua tokoh itu, Nang Kleceng dan Nang Ceblong selain Tualen, Merdah, Sangut dan Delem. Tetapi setiap pentas, tidak ada orang yang menyebut nama pertunjukan saya Wayang Gitaloka. Waktu pentas di Jempayah, Mengwitani, saat saya masih duduk di mobil dan ada penonton yang bertanya pada temannya, “Wayang apa yang pentas?” Temannya menjawab, “Wayang Cenk Blonk.” Saya kaget, lho saya kok dibilang Wayang Cenk Blonk? Padahal nama wayang saya Wayang Kulit Gitaloka. Mungkin bagi masyarakat nama itu lebih gampang. Maka akhirnya saya ubah nama Gitaloka menjadi Wayang Kulit Cenk Blonk, di kelir saya isi dengan gambar Cenk Blonk, lalu saya beri tulisan Cenk Blonk. Cenk saya ambil dari nama Nang Klenceng dan Blonk dari Nang Ceblong.

Anda banyak berimprovisasi dalam pewayangan yang tidak lazim di Bali, mengapa?
Suatu kesenian menurut saya tidak boleh kaku, diam, sementara zaman bergelinding terus. Jadi, suatu kesenian harus mengikuti zamannya. Saya melirik apa yang disenangi penonton saat ini. Kita tahu, fungsi wayang sebagai wali, tuntunan dan tontonan. Sebagai tontonan harus bisa menarik dan menghibur masyarakat. Bagaimana dalang bisa memberikan tuntunan pada masyarakat, sementara penontonnya enggak suka. Sekarang kebanyakan orang stres dengan pekerjaannya, jadi mereka menonton itu untuk mencari hiburan atau menghilangkan kepenatan sehingga banyak lelucon yang saya tampilkan.

Setelah saya kuliah di STSI Denpasar, saya diingatkan terus-menerus bahwa wayang itu sebagai tontonan dan tuntunan, sehingga saya berusaha mengembalikan ke fungsi semula yaitu tuntunan. Saya melucu tetap melucu namun leluconnya saya isi dengan muatan-muatan agama, politik, ekonomi dan sebagainya. Ini mungkin yang membuat kita semakin eksis.

Dari mana dan bagaimana proses mendapatkan ide pementasan?
Ide-ide itu muncul dari baca buku, koran, banyak bergaul dan banyak bertanya. Dari percakapan sehari-hari dengan tidak sengaja kita mendapatkan suatu poin atau ide. Saya tidak menutup diri bahwa saya pun meniru dalang-dalang yang lain. Misalnya dalang favorit saya IB Ngurah (alm) dari Buduk, dalang Jagra dari Bongkasa, ada beberapa dialognya yang saya tiru namun tidak jiplak begitu saja, saya kembangkan sesuai dengan kemampuan saya.

Apa resep yang bisa diterapkan agar wayang semakin menarik?
Saya kembalikan pada saya sendiri. Wayang beberapa tahun yang lalu hanya ditonton orang-orang dewasa atau orang tua. Lalu saya berpikir, bagaimana caranya agar wayang itu menarik untuk anak-anak remaja, makanya saya cari apa yang disenangi remaja tanpa lepas dari norma-norma. Melucu boleh, namun ada aturannya. Perlu diketahui, membuat lelucon lebih sulit daripada membuat filsafat. Membuat filsafat bisa kita dapatkan dari membaca buku, lalu kita tulis dan hafalkan. Tetapi membuat lelucon? Bisa saja kita tulis lalu kita bacakan, lantas apakah penonton mau tertawa? Makanya saya mengimbau kepada dalang-dalang agar terus mengasah diri, terjun ke masyarakat dan mencari tahu apa yang mereka sukai dan apa yang diingini. Kesenian bukan untuk diri sendiri sang seniman, namun hasil karyanya untuk orang lain.

Bagaimana suatu kesenian itu bisa dikatakan bagus kalau yang nonton tidak ada?
Mengapa Anda kuliah di STSI? Denpasar? Setelah laris seperti sekarang, bagi seniman, ini adalah tantangan. Kita tidak boleh berdiam diri atau berbangga diri sebab penonton punya rasa bosan. Untuk mengantisipasi ini, saya terus mengasah diri. Setelah kuliah di STSI Denpasar saya dapat rasakan bergaul dengan seniman-seniman, dengan dosen yang tahu tentang wayang. Akan semakin terbuka wawasan kita untuk memandang bagaimana wayang itu agar dapat kita kembangkan sejauh kemampuan kita. Sebelumnya saya tidak punya guru khusus mendalang. Selain itu, sebelum kita kembangkan harus tahu dasar-dasar tradisinya, barulah kita akan melangkah pada pengembangan.

Apa ilmu yang dapat Anda terapkan dari kuliah di STSI?
Seperti yang sering penonton lihat, artistik kelir itu saya dapatkan dari STSI. Pengaruhnya memang banyak dari Jawa, namun saya transfer dengan gaya Bali. Ada tambahan sinden. Sebelum kuliah, wacana leluconnya pasti agak norak atau porno, namun sekarang saya berusaha terus-menerus untuk menekan hal-hal seperti itu. Rasa tidak puas mendapatkan kuliah pasti ada. Itulah sebabnya saya sering bertanya pada dosen baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Bagaimana awalnya Anda mendalang?
Saya tamat SMA tidak punya pekerjaan. Ekonomi morat-marit. Saya tidak punya keterampilan sehingga melakoni pekerjaan apa saja, termasuk sebagai tukang parkir. Namun saya terus berpikir, apakah kehidupan saya akan terus begini? Saya masih mencari jati diri, itulah sebabnya saya kuliah di IHD (Institut Hindu Dharma, red), namun terbentur dengan biaya. Akhirnya terpaksa berhenti dan menikah. Pekerjaan dalang ini sudah saya tekuni. Namun demikian, saat itu pentasnya tidak tentu. Kalau ada orang yang meminta saya mendalang barulah pentas, enam bulan belum tentu. Saya lakoni sebagai tukang parkir sambil melirik peluang pekerjaan lain.

Saya rasakan payah sekali waktu itu, sebab dari Blayu ke Gemeh, Denpasar, saya pulang-perginya naik sepeda gayung. Tetapi waktu itu perasaan sakit atau kurang sehat tidak pernah saya rasakan. Mungkin karena sering olah raga. Enggak seperti sekarang sakit-sakitan. Setelah saya kawin, entah bagaimana, pekerjaan mendalang itu mulai laris. Awalnya saya pentas di Blahkiuh, lalu merembet ke Abiansemal dan seterusnya. Jadi cerita tentang pementasan wayang saya dari mulut ke mulut, akhirnya banyak sekali orang yang meminta saya pentas.

Sebelum laris mendalang, seperti apa perangkat wayang yang Anda miliki?
Saya tidak punya warisan wayang dari leluhur. Tetapi sejak kecil saya suka mengukir dan menggambar. Saya bikin wayang sendiri. Awalnya saya punya 20 buah wayang dan di-pelaspas di pura. Saya di-winten jro mangku, maka saya sah jadi dalang. Sambil jalan saya bikin lagi dan kalau punya uang saya beli wayang. Hingga sekarang saya masih membuat wayang sendiri. Saya punya satu gedog wayang untuk koleksi. Saya belum pernah terima pesanan wayang. Tetapi kalau dipesan untuk bikin wayang, saya enggak sanggup, enggak sempat.

Setelah laris, Anda justru membatasi pementasan, mengapa?
Pertama, untuk kesehatan. Sebab pekerjaan dalang banyak begadang. Kalori untuk begadang lebih banyak dikeluarkan. Di samping itu, untuk menjaga agar penonton tidak bosan. Semakin sering kita pentas, penonton akan semakin cepat bosan. Sebab kita akui, sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Bagaimana kita setiap malam bisa memuaskan penonton? Sementara penonton terus menginginkan hal-hal yang baru. Kita belum tentu mendapatkan hal-hal baru. Sekitar dua tahun yang lalu saya pernah tifus dan opname 10 hari, lalu saya mengaso satu bulan. Ada yang bilang kalau dalang Cenk Blonk sudah meninggal. Itu namanya gosip, namanya juga seniman atau selebritis kan biasa diisukan, ha, ha, ha…

Seberapa banyak Anda pentas dalam satu hari?
Kalau dulu saya pernah pentas satu malam dua kali. Misalnya pukul 20.00 sampai 22.30 wita, lalu sisanya ke tempat lain. Karena orang senang, maka jam berapa pun orang akan menunggu. Sekarang saya enggak mau seperti itu, semalam hanya pentas sekali saja. Sebab persiapan untuk pentas satu kali itu lama sekali. Selain itu, sekarang saya bekerja sama dengan sanggar. Personelnya berasal dari desa-desa yang jauh. Biasanya, personel kami 30 orang termasuk penabuh, gerong, dan pendamping-pendamping saya. Normalnya, kami mulai pentas pukul 21.00 wita, pukul 19.00 sudah sampai di tempat.

Apakah ada pesan-pesan yang diselipkan penanggap wayang Anda?
Itu tidak tentu. Kalau penanggapnya ingin memasukkan pesan dalam pertunjukan wayang, biasanya disampaikan jauh-jauh hari saat ia pesan untuk pementasan. Lebih banyak diserahkan pada kreasi kami. Biasanya saya pentas dalam rangka upacara, misalnya upacara manusa yadnya atau dewa yadnya.

Usia Anda masih muda, namun seakan sudah jadi dalang senior, bagaimana perasaan Anda?
Maaf, saya bukan merasa diri senior. Saya masih tetap belajar. Sejak umur delapan tahun saya sudah mulai belajar mendalang. Saya pakai wayang kertas atau wayang karton. Di desa kami ngumpul delapan orang lalu membuat satu grup gamelan wayang yang diiringi tingklik. Hampir setiap malam pentas. Kalau ada orang ngotonan, kami diminta pentas dengan alat sederhana, kelir seadanya dan wayangnya dari karton serta gedog-nya dari triplek. Saat kenaikan kelas, rapor saya semuanya merah. Lalu orangtua saya marah. Wayangnya dibakar. Orang tua saya petani dan beliau menginginkan saya jadi pegawai. Tetapi saya tidak berkeinginan seperti itu. Sebelum mendalang saya juga punya grup drama gong yang sering juga pentas.

Setamat SMA, saya belum juga serius mendalang. Lalu ada tukang topeng, I Gusti Ketut Putra yang mengajak saya untuk gabung dengan sekaa topengnya. Sampai sekarang pun saya masih punya topeng satu set. Kalau ada yang minta menari topeng Sidakarya, saya ladeni. Kalau di luar desa saya tidak mau, karena saya eksis di pedalangan.

Bagaimana pengalaman Anda nonton wayang waktu anak-anak?
Sejak kecil saya senang sekali melihat dalang memainkan wayang. Saya enggak senang melihat bayangannya dari depan, tetapi saya suka lihat dari belakang. Di samping itu, ketika dalang itu datang, ia sangat dihormati sekali. Melihat itu saya kagum, “Wah enak sekali jadi dalang, saya ingin seperti itu.” Waktu saya kecil kesenian wayang ini sangat favorit. Di desa saya ada wayang Pan Yusa yang sering ditanggap, setiap pementasannya saya menonton.

Anda ingin mengembangkan wayang seperti apa?
Saya ingin suatu saat wayang Bali menjadi hiburan yang favorit seperti konser-konser musik pop Bali sekarang. Makanya, saya terus melakukan pembenahan baik di bidang manajemen, dengan sanggar, dalam cerita, wacana, teknik-teknik mendalang terus saya asah. Saya berharap, dalang-dalang yang lain juga melakukan hal itu. Jadi terus mengasah diri agar wayang menjadi hiburan yang favorit. Saya memang belum berkolaborasi dengan penyanyi pop Bali, walaupun seperti di Jawa ada yang namanya wayang campur sari. Kita tetap pada inti wayang kulit, namun kita tetap menyelidiki, apa yang disenangi masyarakat, apa yang harus dibenahi dengan tidak menghilangkan akar-akar tradisi.

Menurut Anda, pakem wayang itu apa?

Misalnya pakem Sukawati, sebelum ada pakem itu apakah sebelumnya tidak ada pakem wayang sebelumnya? Bentuknya lain, masyarakat tidak puas, lalu dikembangkan lagi seperti yang kita temukan di Buduk. Seniman tidak puas, ia kembangkan lagi, ia ingin punya ciri tersendiri. Jadi kita keluar dari pakem yang mana? Saya juga punya pakem. Pakem di Buleleng beda dengan Gianyar, juga beda dengan Buduk. Saya buat pakem sendiri, syukur kalau ditiru orang lain. Sekarang saya lihat di kelir-kelir itu sudah banyak diisi tulisan. Gambar kayak Cenk Blonk sudah banyak sekali ditiru, lalu muncul dengan nama Co Blank, Ce Klin. Kita mendalang bukan menantang hal itu, yang penting mendalang, itu saja! Ritual yang dilakukan apa?

Dalam pedalangan ada kitab Dharma Pewayangan untuk aturan dalang. Dalang juga memiliki pantangan, misalnya jangan makan jejeron. Dari segi medis, jejeron itu panas, karena kita duduk. Kalau dari segi ilmu pewayangan, jejeron merupakan tempat-tempat wayang itu berada di dalam diri kita. Untuk protein saya mengkonsumsi kacang, tahu, dan tempe. Saya suka jalan-jalan supaya keluar keringat. Yang pasti pikiran jangan stres sebab penyakit berasal dari pikiran.

* Pewawancara:
Asti Musman

BIODATA


Nama : I Wayan Nardayana
empat/tanggal lahir : Tabanan, 5 Juli 1966
Nama istri : Sagung Putri Puspadhi
Nama anak :
Bintang Sruti
Damar Sari Dewi
Pendidikan :
MA Dwi Tunggal Tabanan
Unhi Denpasar
TSI Denpasar
Pekerjaan :
Dalang Cenk Blonk

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2003/6/29/pot1.html

Barong Landung dan Sejarahnya

Posted by Adnyana under Budaya Bali

Barong Landung

APAKAH pada hari raya Galungan yang lalu ada Barong Landung yang ngelawang di daerah Anda? Atau ada rencana Barong Landung itu akan ngelawang di hari Kuningan nanti? Barangkali sebagian besar masyarakat Bali tidak menemukan ada Barong Landung yang berkeliling di desa-desa. Bahkan, banyak anak muda di Bali saat ini yang tidak tahu keberadaan Barong Landung. Memang Barong Landung termasuk kesenian langka, lagi pula sakral.

Dulu, Barong Landung ngelawang (berkeliling) ke desa-desa. Desa yang tidak mempunyai Barong Landung jadi tahu wujud barong itu. Tujuan ngelawang adalah mengusir wabah penyakit. Kini, zaman sudah berubah. Penyakit tidak lagi datang dari manusia sakti(kurang kerjaan membikin orang lain sakit), penyakit datang dari hewan, misalnya, nyamuk demam berdarah. Pun yang ngelawang sekarang ini adalah mobil Puskesmas Keliling.

Barong Landung sesuai dengan namanya adalah barong yang jangkung (landung dalam bahasa Bali). Untuk lebih mudahnya diingat, Barong Landung mirip ondel-ondel di Jakarta. Penari hanya seorang diri, mengusung barong jangkung itu dan ia melihat ke luar dari perut barong yang diberi lubang. Wajah barong tidak seperti Barong Ket yang lebih menyerupai hewan. Wajah Barong Landung mirip manusia. Ada sepasang lelaki dan perempuan. Barong Landung laki-laki biasa disebut Jero Gede, berwajah hitam. Sedangkan Barong Landung perempuan yang biasa disebut Jero Luh, berwajah putih. Warna-warna ini adalah simbol. Begitu pula perwajahan itu adalah simbol.

Simbol apa? Tergantung legenda apa yang melekat pada Barong Landung tersebut. Nah, di sinilah uniknya Barong Landung, tidak punya keseragaman legenda, sehingga agak sulit untuk mengusut kapan sebenarnya kesenian sakral itu lahir dan untuk simbol apa dilahirkan.

Barong Landung di Kabupaten Klungkung umumnya mengambil simbol Ratu Gede Mecaling yang berstana di Nusa Penida. Alkisah, tersebutlah di suatu masa, wabah penyakit melanda desa-desa di Bali. Ini tak lain dari ulah anak buah Ratu Gede Mecaling yang tanpa restu dari Sang Raja Nusa ini. Para pendeta di Bali berkumpul, bagaimana mengusir wabah. Lalu dibuatlah patung yang tinggi besar, berwajah hitam dan bertaring, simbol dari Jero Gede Mecaling atau Ratu Mecaling. Patung ini kemudian diarak ke berbagai desa (ngelawang), sehingga makhluk halus anak-buah Ratu Gede Mecaling itu ketakutan karena mengira rajanya yang datang. Maka sirnalah penyakit itu dan masyarakat menjadi tenteram. Untuk penghormatan kepada patung tiruan Jero Gede Mecaling itu dibuat kemudian pasangannya, berwajah putih, lalu disebut Jero Luh. Nah, kedua Barong Landung ini selalu diarak berkeliling desa jika ada wabah penyakit.

Barong Landung di Bangli lain lagi legendanya. Kisahnya diambil dari hikayat Sri Jaya Pangus, raja Bali dari dinasti Warmadewa. Kerajaannya berpusat di Panarojan, sebelah utara Kintamani. Sri Jaya Pangus melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni mengawini putri Cina yang bernama Kang Cing Wei. Raja Jaya Pangus tetap ngotot kawin meski tak direstui pendeta kerajaan, Mpu Siwa Gama. Akibatnya, sang pendeta marah, lalu menciptakan hujan terus menerus, hingga seluruh kerajaan tenggelam.

Jaya Pangus tetap melawan. Kerajaan dipindahkan ke tempat lain. Nama itu disebut Balingkang (dari kata Bali ditambah Kang, nama depan istrinya), dan rakyat menyebut rajanya dengan Dalem Balingkang. Sayangnya, pasangan ini tidak mempunyai keturunan. Dalem Balingkang kemudian memohon kepada dewa-dewa yang bersemayam di Gunung Batur agar dikaruniai anak. Tapi bukan anak yang didapat, Dalem Balingkang justru terpicut dengan kemolekan seorang putri yang dijuluki Dewi Danu. Dalem pun terpikat, lalu kawin diam-diam tanpa sepengetahuan Putri Kang.

Sementara itu, Kang Cing Wei tentu saja gelisah ditinggal suaminya berlama-lama. Ia pun menyusul ke Gunung Batur. Di tengah hutan belantara yang hebat, Putri Kang terkejut menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu. Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit.

Dengan kekuatan gaibnya, Dewi Danu mengalahkan Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei hingga hilang ditelan bumi. Meskipun hilang tanpa bekas, rakyat tetap mencintai Dalem Balingkang dan Putri Kang, lalu dibuatkan patung sebagai simbol keduanya. Kedua patung inilah yang kemudian berkembang menjadi Barong Landung. Karena itu kalau kita perhatikan wajah Jero Luh beserta asesoris busananya, masuk budaya Cina di sini.

Bagaimana dengan Barong Landung yang ada di kabupaten lainnya? Mungkin legendanya berbeda. Di Desa Pakraman Sesetan, tepatnya di Banjar Lantang Bejuh, ada barong Landung yang amat disakralkan. Tak sembarang waktu bisa dipentaskan. Karena itu sulit untuk mengetahui bagaimana asal-usul Barong Landung ini.

Tentu mustahil untuk menjadikan Barong Landung keluar dari pakem kesakralannya. Kalaupun ada kemauan seperti itu, misalnya, meniru Barong Ket yang bisa dikomersialkan sebagai hiburan pop, gerakannya sangat terbatas. Memang, katanya ada Barong Landung yang tidak hanya sepasang, tetapi lebih dari dua, dan bisa mementaskan lakon seperti arja. Apakah generasi muda Bali tertarik dengan Arja Barong Landung? Jauh rasanya, arja yang bergerak bebas saja sudah ditinggalkan penonton, apalagi arja yang bertopeng barong.

* Putu Setia

http://okanila.brinkster.net/raditya/BaliShowfull.asp?ID=189

Barong Landung bukan sekadar Sejarah

PENGGALAN gending bebarongan tersebut biasa dinyanyikan oleh dua pemundut Barong Landung saat ngelawang berkeliling desa. Umat menurunkan sasuhunan — berupa Barong Landung tersebut — dari pura untuk menari di sepanjang jalan desa dengan harapan tarian itu akan menimbulkan energi gaib, semacam tenaga baru, seperti yang dilakukan Dewa Siwa dengan tarian dandawa-nya untuk mengembalikan roh kehidupan yang diambil oleh para bebutan.

Barong Landung adalah pralingga, sekaligus perisai bagi desa-desa yang terancam kegeringan. Bahkan di banyak tempat, Barong Landung dipuja sebagai simbol sejarah yang sangat kelam di masa lalu. Kisah yang bersumber ketika Sri Jaya Pangus, raja Bali dari dinasti Warmadewa, kerajaannya berpusat di Panarojan — tiga kilometer di sebelah utara Kintamani. Sri Jaya Pangus dituduh telah melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni telah dengan berani mengawini putri Cina yang elok bernama Kang Cing Wei. Meski tidak mendapatkan berkat dari pendeta kerajaan, Mpu Siwa Gama, sang raja tetap ngotot tidak mau mundur. Akibatnya, sang pendeta marah, lalu menciptakan hujan terus menerus, hingga seluruh kerajaan tenggelam.

Dengan berat hati sang raja memindahkan kerajaannya ke tempat lain, kini dikenal dengan nama Balingkang (Bali + Kang), dan raja kemudian dijuluki oleh rakyatnya sebagai Dalem Balingkang. Sayang, karena lama mereka tidak mempunyai keturunan, raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di sana agar dianugerahi anak. Namun celakanya, dalam perjalanannya ia bertemu dengan Dewi Danu yang jelita. Ia pun terpikat, kawin, dan melahirkan seorang anak lelaki yang sangat kesohor hingga kini, Maya Danawa.

Sementara itu, Kang Cing Wei yang lama menunggu suaminya pulang, mulai gelisah, Ia bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun di sana, di tengah hutan belantara yang menawan, iapun terkejut manakala menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu. Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit.

Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja telah membohongi dirinya dengan mengaku sebelumnya sebagai perjaka. Dengan kekuatan gaibnya, Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dilenyapkan dari muka bumi ini. Oleh rakyat yang mencintainya, kedua suami istri — Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei — itu lalu dibuatkan patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung inilah kemudian berkembang menjadi Barong Landung.

Perkawinan Budaya

Tapi Barong Landung ternyata lebih dari sekadar kisah sejarah. Ia bukan saja perkawinan lahiriah, tetapi juga budaya. Pernik-pernik budaya Cina seperti pis bolong, patra cina, barong sae, telah lama dikawinkan dengan budaya Bali, bahkan dalam bidang filsafat telah pula melahirkan paham Siwa Budha yang terus memperkaya tradisi agama Hindu sampai sekarang di Bali.

Juga, Barong Landung bukanlah sekadar penghias pura, ia adalah duwe dengan segala perwujudannya yang sangat keramat. Ia dibuat pada dewasa ayu kilang-kilung, dari kayu bertuah seperti pule, jaran, waruh teluh, kepah, kapas, dan “dihidupkan” dengan ritual prayascita serta di-plaspas untuk menghapuskan papa klesa secara sekala niskala. Di sini, ia pun diberi pedagingan berupa perak, emas, dan tembaga, juga pudi mirah (sejenis permata) yang dipasangkan di ubun-ubun lengkap dengan rerajahan-nya — ang, ung, dan mang.

Setelah seluruh bagian tubuhnya disatukan dalam upakara masupati yang dipermaklumkan oleh sulinggih, pemangku, maupun sangging ke hadapan Dewa Surya, Siwa, dan Sapu Jagat, Barong Landung lalu dibawa ke tengah kuburan. Di situ, di tengah kegelapan malam kajeng kliwon, pemundut harus duduk di atas tiga tengkorak manusia sambil meneguhkan hatinya untuk menerima ritual yang paling mengguncangkan, yaitu masuci dan ngerehin.

Biasanya, jika Barong Landung ini sudah kalinggihin, akan ada pertanda jatuhnya kilatan cahaya gaib ke tubuh pemundut hingga ia kesurupan, dan Barong Landung pun menjadi terguncang-guncang tanpa kendali. Jika hal ini terjadi, maka Barong Landung telah dianggap “hidup” dan pantas diberi gelar Jro Gde untuk barong laki-lakinya dan Jro Luh untuk wanitanya.

Jro Gde memiliki tubuh hitam, rambut lurus lebat, mata sipit, gigi jongos, dan memakai keris. Sedangkan Jro Luh bertubuh ramping, putih seperti layaknya wanita Cina, dan memakai kebaya Cina. Kedua tangan kiri barong ini ditekuk ke pinggang, yang oleh pengamat kebatinan diyakini sebagai sikap pengendalian diri, mengingat kiri sama artinya dengan pengiwa. Lawan pengiwa adalah penengen — tangan kanan, yang sengaja dibuat lurus sebagaimana jalan kebenaran.

Sejarah Munculnya

Namun, kapan sesungguhnya Barong Landung tersebut muncul? Ini yang masih banyak dipertanyakan. Pada pemerintahan Dalem Waturenggong, abad ke-16, seni dan budaya Bali telah mencapai puncaknya. Kala itu telah diciptakannya relief Boma, yang kemudian menjadi tapel Barong Ket. Di samping itu pula terdapat tulisan Banaspati dan Calonarang, keduanya menunjuk pada pengertian Barong. Mungkinkah Barong Landung juga diciptakan pada masa ini?

Yang pasti, kemampuan manusia Bali dalam membuat simbol-simbol sudah ada sejak zaman dulu, seperti simbol bade, meru, pratima, rerajahan, warna-warna sakral, banten, sikap tubuh dalam gambar wayang, dan sebagainya. Dalam proses berkarya, biasanya untuk mengagumkan sesuatu, mereka — terutama para undagi, kreator, atau senimannya — sering mewujudkan pujaannya itu jauh lebih besar dari dirinya. Ini semata-mata untuk menunjukkan betapa besar kekuasaan Tuhan, dan betapa kecil dirinya. Dalam Barong Landung ini misalnya, undagi sengaja membuat wujud yang sangat menyeramkan dengan harapan dapat mengimbangi kedahsyatan roh-roh jahat yang sering mengganggu kehidupan di desa-desa.

Menurut Pan Putu Budhiartini dalam bukunya “Rangda dan Barong, Unsur Dualistik, Mengungkap Asal-asal Umat Manusia”, Barong berasal dari Tatwa Kanda Pat Bhuta, tepatnya ada adalah duwe dari Sang Catur Sanak yang mengambil wujud rwa bineda — dua sifat yang berbeda dari laki-perempuan, siang-malam, panas-dingin, dan sebagainya. Yang cair misalnya, kalau dipanaskan oleh api akan menguap ke langit (I Bapa), sedangkan api akan mengendap ke bumi (I Meme). Langit sendiri akan menurunkan hujan untuk menyuburkan bumi dan melahirkan kehidupan.

Jadi, dengan begitu, kemungkinan Barong Landung adalah perwujudan I Bapa dan I Meme. I Bapa sebagai langit diwujudkan dengan warna hitam (Jro Gde), simbol dari Dewa Wisnu yang memelihara dunia, sekaligus Dewa Air yang menghanyutkan segala noda dunia, dan menjadi tirta penglukatan bagi umat manusia. Sedangkan I Meme atau Ibu Bumi (Jro Luh) berwarna putih sebagai Iswara yang sering juga disebut Siwa, maha pelebur segala noda sekaligus sebagai tempat penciptaan. Jadi, Jro Luh adalah Ibu Bumi yang mengandung, memelihara, dan akan mengembalikan lagi isi dunia ke dalam perutNya ketika waktunya telah tiba.

Barong Landung, jika disimpulkan, adalah perwujudan dari sang Maha Pencipta itu sendiri, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang oleh undagi di masa lalu tentu diwujudkan sesuai dengan keadaan zamannya ketika itu, yakni ketika sedang hangat-hangatnya perkawinan antarbudaya Cina dan Bali, termasuk di dalamnya “perkawinan celaka” sang raja dengan putri Cina itu.

Namun, apapun latar belakangnya, Barong Landung adalah mahakarya yang pernah diciptakan oleh para leluhur di Bali. Ia adalah lambang penciptaan (lingga dan yoni) yang oleh ilmuwan Thomas Alfa Edison disebut sebagai unsur positif dan negatif. Diyakini, jika kedua unsur ini bertemu, maka akan menimbulkan energi listrik. Hebatnya, konsep lingga-yoni tercipta jauh sebelum Thomas Alfa Edison lahir.

* pande ketut wena

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2005/3/20/sis1.html