
wayang berasal dari kata wayangan yaitu sumber inspirasi dalam menggambar wujud tokoh dan cerita sehingga bisa tergambar jelas dalam batin si penggambar karena sumber aslinya telah hilang. di awalnya, wayang adalah bagian dari kegiatan religi animisme menyembah ‘hyang’, itulah inti-nya dilakukan antara lain di saat-saat panenan atau taneman dalam bentuk upacara ruwatan, tingkeban, ataupun ‘merti desa’ agar panen berhasil atau pun agar desa terhindar dari segala mala (mara bahaya).
di tahun (898 - 910) Masehi wayang sudah menjadi wayang purwa namun tetap masih ditujukan untuk menyembah para sanghyang seperti yang tertulis dalam prasasti balitung:
sigaligi mawayang buat hyang, macarita bhima ya kumara
(terjemahan kasaran-nya kira-kira begini : menggelar wayang untuk para hyang menceritakan tentang bima sang kumara)
di jaman mataram hindu ini, ramayana dari india berhasil dituliskan dalam bahasa jawa kuna (kawi) pada masa raja darmawangsa, 996 - 1042 Masehi mahabharata yang berbahasa sansekerta delapan belas parwa dirakit menjadi sembilan parwa bahasa jawa kuna lalu arjuna wiwaha berhasil disusun oleh mpu kanwa di masa raja erlangga
sampai di jaman kerajaan kediri dan raja jayabaya mpu sedah mulai menyusun serat bharatayuda yang lalu diselesaikan oleh mpu panuluh tak puas dengan itu saja, mpu panuluh lalu menyusun serat hariwangsa dan kemudian serat gatutkacasraya menurut serat centhini, sang jayabaya lah yang memerintahkan menuliskan ke lontar (daun lontar, disusun seperti kerai, disatukan dengan tali) di jaman awal majapahit wayang digambar di kertas dan sudah dilengkapi dengan berbagai hiasan pakaian

masa-masa awal abad sepuluh bisa kita sebut sebagai globalisasi tahap satu ke tanah jawa kepercayaan animisme mulai digeser oleh pengaruh agama hindu yang membuat ‘naik’-nya pamor tokoh ‘dewa’ yang kini ‘ditempatkan’ berada di atas ‘hyang’
abad duabelas sampai abad limabelas adalah masa ’sekularisasi’ wayang tahap satu dengan mulai disusunnya berbagai mithos yang mengagungkan para raja sebagai keturunan langsung para dewa
abad limabelas adalah dimulainya globalisasi jawa tahap dua kini pengaruh budaya islam yang mulai meresap tanpa terasa dan pada awal abad keenambelas berdirilah kerajaan demak ( 1500 - 1550 M )
Seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa Timur, akhirnya para seniman kerajaan dan seniman masyarakat migrasi ke pulau Bali yang saat itu diBali kerajaannya berpusat di Swecapura Gelgel Klungkung. Daerah di sekitar lingkungan kerajaan Gelgel, seperti di desa Kamasan, merupakan desa perkampungan para seniman Bali saat itu. Oleh karena itu Klungkung di saat Bali masih di pimpin dari Gelgel Klungkung merupakan pusatnya kebudayaan dan seniman bali, dan desa Kamasan hingga kini masih melestarikan tradisi turun temurun dari leluhurnya melukis wayang. Namun seiring dengan runtuhnya kerajaan Gelgel Klungkung, dan kerajaan - kerajaan yang ada di Bali mulai berdiri sendiri, keberadaan para seniman Bali termasuk seniman Wayang mulai menyebar ke berbagai kabupaten yang ada di Bali.

Wayang Budi Pekerti
Kesenian wayang di Nusantara berawal dari seni sakral. Masyarakat Indonesia di masa lalu mementaskan wayang bukan untuk hiburan, tetapi untuk pelengkap upacara keagamaan. Dalam kalender Bali dan Jawa, ada wuku yang bernama wayang. Ini adalah rentetan hari selama seminggu untuk menyelenggarakan upacara dengan inti pementasan wayang. Puncaknya adalah hari Sabtu Kliwon yang disebut Tumpek Wayang.
Kesakralan seni wayang masih membekas, meskipun mulai berkurang jenis upacara yang dikaitkannya. Di Jawa Barat, pertunjukan wayang golek masih dipakai pada “panen laut”. Wayang golek dipentaskan semalam suntuk dan di pagi hari sesaji dibawa para nelayan ke tengah laut.
Di Jawa, pentas wayang kulit dipakai untuk ruwatan bumi maupun ruwatan orang. Di Bali kesakralan wayang kulit juga berhubungan dengan ruwatan orang, khususnya pada orang-orang yang lahir di wuku Wayang. Ada lakon khusus yang dipentaskan pada upacara itu, biasa disebut wayang nyapuleger.
Di Bali, kesakralan wayang juga dipakai pada upacara Pitra Yadnya (ngaben) dengan lakon-lakon pencarian air suci. Begitu pula pada upacara Manusa Yadnya seperti otonan dan potong gigi, sering disertai pementasan wayang. Dalang kemudian membuat tirtha (air suci) untuk dipercikkan kepada orang yang otonan atau potong gigi.
Karena sejarah seni pertunjukan wayang adalah sakral, Ki Dalang berusaha mengupas makna dan filosofi dari kesakralan pertunjukan itu. Jika menyangkut Manusa Yadnya, yang banyak dikupas adalah masalah budi pekerti.
Jika pertunjukan untuk Pitra Yadnya, Ki Dalang mengupas inti dari yadnya itu. Kupasan bisa melebar ke mana-mana, tak hanya melulu penjelasan tentang ritual tetapi juga pencerahan agama. Ki Dalang berfungsi sebagai guru, tokoh agama, pendharma wacana, dan penonton memposisikan diri sebagai murid dan orang yang haus pelajaran agama.
Itu dulu. Ketika pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Panggung sederhana tanpa ada pengeras suara, penonton duduk di tanah beralas karung beras, tak ada yang berisik saat Ki Dalang menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Anak-anak boleh tidur, dan bangun ketika Bima dan Arjuna berperang melawan raksasa.
Sekarang, situasi sudah sangat berbeda. Hiburan begitu banyak berseliweran, ada televisi dan video yang canggih-canggih. Pedesaan juga gemerlap, listrik ada di mana-mana. Pertunjukan wayang kulit pun ingar-bingar dengan pengeras suara. Tetapi, kenapa justru tidak ada yang menonton wayang? Kenapa lakon Bima mencari tirtha amerta ke tengah laut dan ketemu Dewa Ruci tidak lagi memikat, dan kalah dibandingkan Salon Oneng di televisi? Jawabnya karena posisi Ki Dalang dan sang penonton sudah berbeda.
Ki Dalang tidak lagi sebagai guru dan ahli agama. Penonton pun tidak lagi memposisikan diri sebagai murid dan orang yang harus diberi “kuliah” agama. Banyak media untuk belajar agama, ada buku-buku yang cukup, ada kelompok pesantian, dan ada dharma wacana di televisi yang lebih menarik. Dengan posisi yang sudah berubah itu, apa masih perlu menonton wayang kulit?
Toh karakter wayang tak pernah berubah, Bima tetap saja seperti itu, tokoh yang tak pernah kalah. Arjuna masih saja menggunakan panah, yang selalu tepat sasaran. Diolah dengan cara apa pun, karakter wayang itu sudah ada pakemnya. Dalam bahasa iklan bisa disebutkan, apa pun lakonnya, siapa pun dalangnya, wayangnya tetap itu-itu saja.
Akhirnya, pertunjukan wayang kulit Bali, yang mengiringi upacara yadnya tidak lagi ditonton orang. Pentas wayang kulit setiap Purnama di depan Pura Jagatnatha Denpasar juga tak banyak ditonton orang. Pergelaran wayang kulit yang masih ditonton adalah pergelaran nonsakral, yang dipenuhi banyolan-banyolan. Dalang yang kondang adalah dalang yang punya banyak peluru banyolan. Karena tak mungkin membanyol semalam suntuk, pentas wayang pun paling lama empat jam, atau malah separonya.
Dalam fenomena wayang banyolan ini muncul Nardayana, mahasiswa Institut Seni Indonesia Denpasar. Dengan merek Cenk Blonk, ia kini mengibarkan wayang kulit banyolan dengan iringan tabuh gemerlapan, seperangkat gong kebyar (malah ditambah bunyi tektekan dari bambu) dilengkapi dengan gerong (pesinden di Jawa). Pentas wayang kulit pun kembali dilirik orang, khususnya pentas wayang Cenk Blonk.
Karena Nardayana orang “kuliahan”, ia memang tidak mengubah karakter wayang, tetapi ia menyelipkan banyolan ke dalam karakter tokoh-tokoh serius. Bima, Arjuna, Abimanyu, Gatotkaca (dalam lakon Diyah Ratna Takeshi) adalah tokoh yang bisa dijadikan sentilan tentang karakter manusia, dan kritik sosial tentang kepemimpinan, susila, martabat dan sebagainya. Dalam lakon Katundung Ngada pun, Nardayana banyak menggunakan para kesatria untuk melontarkan kritik, termasuk memberi “pendidikan budi pekerti”. Adakah dalang lain yang mengikuti jejak Nardayana? Sampai saat ini belum, dan itu memang tidak gampang.
Pada akhirnya Ki Dalang memang harus tetap dalam posisi “lebih tinggi” wawasannya. Kalau wawasan penonton sudah maju, wawasan Ki Dalang harus lebih maju lagi, dan mau tak mau Ki Dalang masa kini harus menguasai banyak media termasuk internet, untuk mencari bahan-bahan sebelum pentas.
Putu Setia
http://okanila.brinkster.net/raditya/BaliShowfull.asp?ID=164
I Wayan ”Cenk Blonk” Nardayana
Saya Ingin Wayang Jadi Hiburan Favorit

Jika mendengar nama dalang I Wayan Nardayana, kening Anda pasti berkerut, siapakah dia? Tetapi kalau mendengar nama Cenk Blonk, pastilah langsung ingatan Anda melayang pada pertunjukan wayang yang sangat digemari banyak kalangan. Wayang Cenk Blonk memang tengah naik daun, namun tahukah Anda bahwa perjalanan suksesnya tidak gampang? Dalang laris yang tengah mengambil kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar ini pernah bekerja sebagai tukang parkir di swalayan Tiara Dewata. Namun demikian ia tetap mengasah kemampuannya dalam mendalang. Ia mengakui bahwa lakon wayang yang dibawakan dulunya lebih banyak yang ngomong jorok, namun sekarang ia berusaha memasukkan banyak tuntunan pada masyarakat. Lantas, mengapa dalang yang berpentas sedikitnya 20 kali per bulan ini menolak didokumentasikan pementasannya? Tetapi, mengapa ia justru bangga banyak dalang yang menirunya? Berikut wawancara Bali Post dengan dalang Cenk Blonk.
MENGAPA Anda memakai nama Cenk Blonk?
Dalam pewayangan ada beberapa tokoh punakawan yang namanya Nang Klenceng, Nang Ceblong, Nang Ligir, Nang Semangat dan sebagainya. Tokoh-tokoh itu sudah dikenal masyarakat. Pada mulanya, nama wayang saya bukan Cenk Blonk, namun Gitaloka. Makanya setiap pementasan saya cantumkan di kelir nama “Wayang Gitaloka dari Belayu”. Setiap pentas saya menampilkan dua tokoh itu, Nang Kleceng dan Nang Ceblong selain Tualen, Merdah, Sangut dan Delem. Tetapi setiap pentas, tidak ada orang yang menyebut nama pertunjukan saya Wayang Gitaloka. Waktu pentas di Jempayah, Mengwitani, saat saya masih duduk di mobil dan ada penonton yang bertanya pada temannya, “Wayang apa yang pentas?” Temannya menjawab, “Wayang Cenk Blonk.” Saya kaget, lho saya kok dibilang Wayang Cenk Blonk? Padahal nama wayang saya Wayang Kulit Gitaloka. Mungkin bagi masyarakat nama itu lebih gampang. Maka akhirnya saya ubah nama Gitaloka menjadi Wayang Kulit Cenk Blonk, di kelir saya isi dengan gambar Cenk Blonk, lalu saya beri tulisan Cenk Blonk. Cenk saya ambil dari nama Nang Klenceng dan Blonk dari Nang Ceblong.
Anda banyak berimprovisasi dalam pewayangan yang tidak lazim di Bali, mengapa?
Suatu kesenian menurut saya tidak boleh kaku, diam, sementara zaman bergelinding terus. Jadi, suatu kesenian harus mengikuti zamannya. Saya melirik apa yang disenangi penonton saat ini. Kita tahu, fungsi wayang sebagai wali, tuntunan dan tontonan. Sebagai tontonan harus bisa menarik dan menghibur masyarakat. Bagaimana dalang bisa memberikan tuntunan pada masyarakat, sementara penontonnya enggak suka. Sekarang kebanyakan orang stres dengan pekerjaannya, jadi mereka menonton itu untuk mencari hiburan atau menghilangkan kepenatan sehingga banyak lelucon yang saya tampilkan.
Setelah saya kuliah di STSI Denpasar, saya diingatkan terus-menerus bahwa wayang itu sebagai tontonan dan tuntunan, sehingga saya berusaha mengembalikan ke fungsi semula yaitu tuntunan. Saya melucu tetap melucu namun leluconnya saya isi dengan muatan-muatan agama, politik, ekonomi dan sebagainya. Ini mungkin yang membuat kita semakin eksis.
Dari mana dan bagaimana proses mendapatkan ide pementasan?
Ide-ide itu muncul dari baca buku, koran, banyak bergaul dan banyak bertanya. Dari percakapan sehari-hari dengan tidak sengaja kita mendapatkan suatu poin atau ide. Saya tidak menutup diri bahwa saya pun meniru dalang-dalang yang lain. Misalnya dalang favorit saya IB Ngurah (alm) dari Buduk, dalang Jagra dari Bongkasa, ada beberapa dialognya yang saya tiru namun tidak jiplak begitu saja, saya kembangkan sesuai dengan kemampuan saya.
Apa resep yang bisa diterapkan agar wayang semakin menarik?
Saya kembalikan pada saya sendiri. Wayang beberapa tahun yang lalu hanya ditonton orang-orang dewasa atau orang tua. Lalu saya berpikir, bagaimana caranya agar wayang itu menarik untuk anak-anak remaja, makanya saya cari apa yang disenangi remaja tanpa lepas dari norma-norma. Melucu boleh, namun ada aturannya. Perlu diketahui, membuat lelucon lebih sulit daripada membuat filsafat. Membuat filsafat bisa kita dapatkan dari membaca buku, lalu kita tulis dan hafalkan. Tetapi membuat lelucon? Bisa saja kita tulis lalu kita bacakan, lantas apakah penonton mau tertawa? Makanya saya mengimbau kepada dalang-dalang agar terus mengasah diri, terjun ke masyarakat dan mencari tahu apa yang mereka sukai dan apa yang diingini. Kesenian bukan untuk diri sendiri sang seniman, namun hasil karyanya untuk orang lain.
Bagaimana suatu kesenian itu bisa dikatakan bagus kalau yang nonton tidak ada?
Mengapa Anda kuliah di STSI? Denpasar? Setelah laris seperti sekarang, bagi seniman, ini adalah tantangan. Kita tidak boleh berdiam diri atau berbangga diri sebab penonton punya rasa bosan. Untuk mengantisipasi ini, saya terus mengasah diri. Setelah kuliah di STSI Denpasar saya dapat rasakan bergaul dengan seniman-seniman, dengan dosen yang tahu tentang wayang. Akan semakin terbuka wawasan kita untuk memandang bagaimana wayang itu agar dapat kita kembangkan sejauh kemampuan kita. Sebelumnya saya tidak punya guru khusus mendalang. Selain itu, sebelum kita kembangkan harus tahu dasar-dasar tradisinya, barulah kita akan melangkah pada pengembangan.
Apa ilmu yang dapat Anda terapkan dari kuliah di STSI?
Seperti yang sering penonton lihat, artistik kelir itu saya dapatkan dari STSI. Pengaruhnya memang banyak dari Jawa, namun saya transfer dengan gaya Bali. Ada tambahan sinden. Sebelum kuliah, wacana leluconnya pasti agak norak atau porno, namun sekarang saya berusaha terus-menerus untuk menekan hal-hal seperti itu. Rasa tidak puas mendapatkan kuliah pasti ada. Itulah sebabnya saya sering bertanya pada dosen baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Bagaimana awalnya Anda mendalang?
Saya tamat SMA tidak punya pekerjaan. Ekonomi morat-marit. Saya tidak punya keterampilan sehingga melakoni pekerjaan apa saja, termasuk sebagai tukang parkir. Namun saya terus berpikir, apakah kehidupan saya akan terus begini? Saya masih mencari jati diri, itulah sebabnya saya kuliah di IHD (Institut Hindu Dharma, red), namun terbentur dengan biaya. Akhirnya terpaksa berhenti dan menikah. Pekerjaan dalang ini sudah saya tekuni. Namun demikian, saat itu pentasnya tidak tentu. Kalau ada orang yang meminta saya mendalang barulah pentas, enam bulan belum tentu. Saya lakoni sebagai tukang parkir sambil melirik peluang pekerjaan lain.
Saya rasakan payah sekali waktu itu, sebab dari Blayu ke Gemeh, Denpasar, saya pulang-perginya naik sepeda gayung. Tetapi waktu itu perasaan sakit atau kurang sehat tidak pernah saya rasakan. Mungkin karena sering olah raga. Enggak seperti sekarang sakit-sakitan. Setelah saya kawin, entah bagaimana, pekerjaan mendalang itu mulai laris. Awalnya saya pentas di Blahkiuh, lalu merembet ke Abiansemal dan seterusnya. Jadi cerita tentang pementasan wayang saya dari mulut ke mulut, akhirnya banyak sekali orang yang meminta saya pentas.
Sebelum laris mendalang, seperti apa perangkat wayang yang Anda miliki?
Saya tidak punya warisan wayang dari leluhur. Tetapi sejak kecil saya suka mengukir dan menggambar. Saya bikin wayang sendiri. Awalnya saya punya 20 buah wayang dan di-pelaspas di pura. Saya di-winten jro mangku, maka saya sah jadi dalang. Sambil jalan saya bikin lagi dan kalau punya uang saya beli wayang. Hingga sekarang saya masih membuat wayang sendiri. Saya punya satu gedog wayang untuk koleksi. Saya belum pernah terima pesanan wayang. Tetapi kalau dipesan untuk bikin wayang, saya enggak sanggup, enggak sempat.
Setelah laris, Anda justru membatasi pementasan, mengapa?
Pertama, untuk kesehatan. Sebab pekerjaan dalang banyak begadang. Kalori untuk begadang lebih banyak dikeluarkan. Di samping itu, untuk menjaga agar penonton tidak bosan. Semakin sering kita pentas, penonton akan semakin cepat bosan. Sebab kita akui, sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Bagaimana kita setiap malam bisa memuaskan penonton? Sementara penonton terus menginginkan hal-hal yang baru. Kita belum tentu mendapatkan hal-hal baru. Sekitar dua tahun yang lalu saya pernah tifus dan opname 10 hari, lalu saya mengaso satu bulan. Ada yang bilang kalau dalang Cenk Blonk sudah meninggal. Itu namanya gosip, namanya juga seniman atau selebritis kan biasa diisukan, ha, ha, ha…
Seberapa banyak Anda pentas dalam satu hari?
Kalau dulu saya pernah pentas satu malam dua kali. Misalnya pukul 20.00 sampai 22.30 wita, lalu sisanya ke tempat lain. Karena orang senang, maka jam berapa pun orang akan menunggu. Sekarang saya enggak mau seperti itu, semalam hanya pentas sekali saja. Sebab persiapan untuk pentas satu kali itu lama sekali. Selain itu, sekarang saya bekerja sama dengan sanggar. Personelnya berasal dari desa-desa yang jauh. Biasanya, personel kami 30 orang termasuk penabuh, gerong, dan pendamping-pendamping saya. Normalnya, kami mulai pentas pukul 21.00 wita, pukul 19.00 sudah sampai di tempat.
Apakah ada pesan-pesan yang diselipkan penanggap wayang Anda?
Itu tidak tentu. Kalau penanggapnya ingin memasukkan pesan dalam pertunjukan wayang, biasanya disampaikan jauh-jauh hari saat ia pesan untuk pementasan. Lebih banyak diserahkan pada kreasi kami. Biasanya saya pentas dalam rangka upacara, misalnya upacara manusa yadnya atau dewa yadnya.
Usia Anda masih muda, namun seakan sudah jadi dalang senior, bagaimana perasaan Anda?
Maaf, saya bukan merasa diri senior. Saya masih tetap belajar. Sejak umur delapan tahun saya sudah mulai belajar mendalang. Saya pakai wayang kertas atau wayang karton. Di desa kami ngumpul delapan orang lalu membuat satu grup gamelan wayang yang diiringi tingklik. Hampir setiap malam pentas. Kalau ada orang ngotonan, kami diminta pentas dengan alat sederhana, kelir seadanya dan wayangnya dari karton serta gedog-nya dari triplek. Saat kenaikan kelas, rapor saya semuanya merah. Lalu orangtua saya marah. Wayangnya dibakar. Orang tua saya petani dan beliau menginginkan saya jadi pegawai. Tetapi saya tidak berkeinginan seperti itu. Sebelum mendalang saya juga punya grup drama gong yang sering juga pentas.
Setamat SMA, saya belum juga serius mendalang. Lalu ada tukang topeng, I Gusti Ketut Putra yang mengajak saya untuk gabung dengan sekaa topengnya. Sampai sekarang pun saya masih punya topeng satu set. Kalau ada yang minta menari topeng Sidakarya, saya ladeni. Kalau di luar desa saya tidak mau, karena saya eksis di pedalangan.
Bagaimana pengalaman Anda nonton wayang waktu anak-anak?
Sejak kecil saya senang sekali melihat dalang memainkan wayang. Saya enggak senang melihat bayangannya dari depan, tetapi saya suka lihat dari belakang. Di samping itu, ketika dalang itu datang, ia sangat dihormati sekali. Melihat itu saya kagum, “Wah enak sekali jadi dalang, saya ingin seperti itu.” Waktu saya kecil kesenian wayang ini sangat favorit. Di desa saya ada wayang Pan Yusa yang sering ditanggap, setiap pementasannya saya menonton.
Anda ingin mengembangkan wayang seperti apa?
Saya ingin suatu saat wayang Bali menjadi hiburan yang favorit seperti konser-konser musik pop Bali sekarang. Makanya, saya terus melakukan pembenahan baik di bidang manajemen, dengan sanggar, dalam cerita, wacana, teknik-teknik mendalang terus saya asah. Saya berharap, dalang-dalang yang lain juga melakukan hal itu. Jadi terus mengasah diri agar wayang menjadi hiburan yang favorit. Saya memang belum berkolaborasi dengan penyanyi pop Bali, walaupun seperti di Jawa ada yang namanya wayang campur sari. Kita tetap pada inti wayang kulit, namun kita tetap menyelidiki, apa yang disenangi masyarakat, apa yang harus dibenahi dengan tidak menghilangkan akar-akar tradisi.
Menurut Anda, pakem wayang itu apa?
Misalnya pakem Sukawati, sebelum ada pakem itu apakah sebelumnya tidak ada pakem wayang sebelumnya? Bentuknya lain, masyarakat tidak puas, lalu dikembangkan lagi seperti yang kita temukan di Buduk. Seniman tidak puas, ia kembangkan lagi, ia ingin punya ciri tersendiri. Jadi kita keluar dari pakem yang mana? Saya juga punya pakem. Pakem di Buleleng beda dengan Gianyar, juga beda dengan Buduk. Saya buat pakem sendiri, syukur kalau ditiru orang lain. Sekarang saya lihat di kelir-kelir itu sudah banyak diisi tulisan. Gambar kayak Cenk Blonk sudah banyak sekali ditiru, lalu muncul dengan nama Co Blank, Ce Klin. Kita mendalang bukan menantang hal itu, yang penting mendalang, itu saja! Ritual yang dilakukan apa?
Dalam pedalangan ada kitab Dharma Pewayangan untuk aturan dalang. Dalang juga memiliki pantangan, misalnya jangan makan jejeron. Dari segi medis, jejeron itu panas, karena kita duduk. Kalau dari segi ilmu pewayangan, jejeron merupakan tempat-tempat wayang itu berada di dalam diri kita. Untuk protein saya mengkonsumsi kacang, tahu, dan tempe. Saya suka jalan-jalan supaya keluar keringat. Yang pasti pikiran jangan stres sebab penyakit berasal dari pikiran.
* Pewawancara:
Asti Musman
BIODATA

Nama : I Wayan Nardayana
empat/tanggal lahir : Tabanan, 5 Juli 1966
Nama istri : Sagung Putri Puspadhi
Nama anak :
Bintang Sruti
Damar Sari Dewi
Pendidikan :
MA Dwi Tunggal Tabanan
Unhi Denpasar
TSI Denpasar
Pekerjaan :
Dalang Cenk Blonk
http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2003/6/29/pot1.html