kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Wisata Kuliner di Gianyar’ Category

Satu lagi pilihan wisata kuliner hadir di By Pass Prof. DR. Ida Bagus Mantra, tepatnya di kilomater daerah pantai Saba, Gianyar. Rumah makan yang di rancang dengan konsep sederhana, terbuka, bersih dan nyaman untuk keluarga dan nyaman pula untuk menjamu makan para relasi bisnis dengan menawarkan sajian menu utama nasi ayam khas Bali.

Untuk melengkapi kebutuhan konsumen juga diberikan pilihan menu lain baik makanan dan minuman yang tidak kalah istimewa yang pasti dapat membuat para pelanggan dijamin merasa puas dan kangen untuk kembali mampir singgah ke warung “Men Tion”.

Menurut pemilik warung “Men Tion” yaitu Bapak I Made Muditha yang akrab dikenal dengan sebutan MOER’S yang juga memiliki asal muasal / leluhur dari desa kemoning, klungkung ini, menurut beliau bisnis ini dirintis sejak memutuskan pensiun dari pekerjaan awal di kapal pesiar, pengalaman bekerja puluhan tahun di kapal pesiar dijadikan modal untuk lebih mengenal dan memuaskan kebutuhan para pelanggan di warung “Men Tion”.

Sebagaimana menu utama nasi ayam yang ditawarkan warung “Men Tion” tentu memiliki rasa yang khas yang membedakan dengan menu nasi ayam rumah makan lain. Dari segi penyajian mengutamakan  kebersihan dan kerapian layaknya menu makanan yang disajikan di hotel berbintang atau restourant mewah namun dari segi harga sangat bersaing dan terjangkau dikarenakan lebel “warung” yang melekat dalam rumah makan ini. Menu ayam dengan pengolahan ala bumbu dan masakan bali dengan berbagaimacam bentuk seperti ayam betutu, sate ayam, ayam kering, telur bumbu bali, jukut undis dan lain-lain tentu membuat pelanggan dipastikan tidak bosan dan merasa tertanggang untuk mencoba kembali mampir di warung “Men Tion”.

Lokasi warung yang berada di pinggir jalan By Pass Prof. DR. Ida Bagus Mantra - Saba- Gianyar merupakan lokasi yang strategis dan mudah dijangkau bagi para pelanggan yang kebetulan melewati rute Denpasar-Gianyar-Klungkung-Karangasem. Dan Menurut pemiliknya Moer’s untuk memenuhi kebetuhan pelanggan warung “Men Tion” didaerah dalung, denpasar dan disekitarnya maka telah dibuka cabang warung “Men Tion” di Jalan Tibung Sari No. 15 Kwanji, Dalung Denpasar, Telp. (0361) 8854051. Sementara untuk warung “Men Tion” di Saba dengan no. telp. (0361) 8084050 / 8084060, E-mail : warungmention@yahoo.com.

Ayam taliwang identik dengan Lombok, tetapi migrasi lintas pulau membuat menu taliwang hadir sampai di Jakarta. Apalagi di Bali, pulau yang hanya sepelemparan batu dari Lombok.

Di Denpasar ada beberapa rumah makan menawarkan ayam taliwang, tetapi sebaiknya kalau ada waktu Anda juga mampir ke Pondok Taliwang di Jalan Prof Dr Ida Bagus Mantra Km 14, Lebih, Gianyar.

Bila Anda berada di kawasan Sanur, tempat makan itu hanya berjarak setengah jam naik mobil, berada di sebelah kanan jalan lingkar luar menuju Bali timur.

Di tempat makan bergaya lesehan di pondok-pondok bambu dengan dikelilingi taman itu, tamu bisa melihat pantai Lebih bila memesan tempat di satu-satunya bangunan bambu berlantai dua di sana.

Sesuai dengan namanya, tempat makan yang dikelola pasangan suami-istri I Gusti Nyoman Wirawan (37) dan Ni Luh Erta Santiani (35) ini menyajikan menu ayam taliwang dan tentu saja dengan pelengkapnya, yaitu sambal beberuk yang terbuat dari terung dan plecing kangkung.

Namun, bukan ayam jantan usia 40 hari utuh yang dagingnya terasa lembut di mulut itu yang membuat Pondok Taliwang berbeda. Selain rasa bumbunya yang mantap, yang lebih menarik adalah tempat ini menyajikan juga gurami, kepiting, cumi, udang, dan kerapu yang diberi bumbu taliwang.

Penasaran dengan penjelasan Wirawan yang punya usaha kontraktor, tetapi rajin membantu istrinya di rumah makan mereka, saya mencoba memesan ayam dan kepiting taliwang, lengkap dengan plecing kangkung dan sambal beberuk.

Ternyata Wirawan tidak berlebihan ketika mengatakan meskipun memakai bumbu yang sama, rasa yang dihasilkan akan berbeda bila bahan makanan yang dipakai berbeda.

Serba segar

Udara siang pada Selasa (4/11) tidak terlalu panas karena hujan baru saja turun. Siang itu hanya ada satu tamu lain yang memilih tempat di pondok atas.

Setelah menunggu kira-kira setengah jam, akhirnya ayam dan kepiting taliwang tersaji di meja. Rasanya nyaman di lidah ketika mencoba sesebit daging ayam panggang berbumbu karena tidak terlalu pedas, rasa asinnya pas, dan rasa daging ayam tetap muncul, tidak kalah dari bumbu yang kuat oleh rasa terasi. Memang, salah satu ciri bumbu taliwang adalah terasi yang memberi rasa dan aroma khas.

Ketika tiba giliran mencoba kepiting, rasanya berbeda dari rasa ayam taliwang, bahkan rasa bumbu yang melekat pada cangkang kepiting pun berbeda.

Tampaknya proses pembakaran memegang peranan. Cairan yang keluar dari daging ayam menghasilkan rasa dan aroma yang khas, berbeda dari rasa dan aroma yang dihasilan oleh cairan daging kepiting yang bercampur dengan bumbu ketika dipanggang.

Yang tak kalah nikmat adalah plecing kangkung. Sambal terasi bercampur tomatnya terasa segar dan tidak terlalu pedas. Kangkungnya juga sama lembutnya dengan plecing kangkung di Mataram, Lombok.

”Kangkungnya didatangkan dari Lombok. Kami membelinya dari pasar di Badung. Begitu juga terasinya,” jelas Wirawan.

Karena terasi merupakan bumbu penting, ada baiknya Anda bersiap-siap tangan akan berbau terasi hingga berjam-jam setelah acara makan selesai. Untuk menghindari bau terasi di tangan bisa menggunakan sendok dan garpu saat makan, tetapi kurang sedap rasanya. Karena itu, pastikan ketika mencuci tangan Anda benar-benar menggosok jari tangan dengan potongan jeruk nipis yang tersedia di tempat cuci tangan.

Halal

Wirawan memiliki pelanggan tetap dari Denpasar yang mengunjungi pondok makan ini pada hari Sabtu atau Minggu. ”Separuh pelanggan dari Denpasar, sisanya turis dari Jakarta dan turis asing,” jelas Erta.

Menu favorit para tamu adalah ayam dan gurami taliwang bakar. ”Kami menyediakan menu kepiting dan cumi taliwang atas saran para tamu,” tambah Wirawan.

Karena banyak turis dari Jakarta dan juga atas permintaan mereka, Wirawan juga memastikan ayam yang mereka sajikan dipotong dengan cara halal. ”Kami punya tukang potong khusus, dia Muslim,” jelas Wirawan.

Restoran yang buka dari pukul 08.00 sampai 22.00 itu menawarkan harga relatif tidak mahal. Satu ekor ayam bakar taliwang harganya Rp 18.500, bisa disantap berdua. Satu porsi kepiting bakar berisi dua ekor ditawarkan Rp 35.000, gurami taliwang mulai dari Rp 25.000 tergantung berat ikan, plecing kangkung Rp 4.000, nasi Rp 3.500, dan sambal beberuk Rp 3.000.

”Beberapa tamu bilang harga saya terlalu murah, tetapi saya tidak mau menaikkan harga. Yang penting pelanggan puas,” tambah Wirawan, yang pernah dipesan membuat 100 porsi ayam taliwang untuk dikirim ke rumah seorang calon presiden di Jakarta.

http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/16/07151652/Ayam.Taliwang.Gianyar

Bebek Basah Kuyup yang Renyah

Pertengahan Mei lalu Ubud, Bali, kelihatan sepintas seperti tidak banyak berubah. Mobil masih berderet–deret parkir di tepi Jalan Monkey Forest, di depan deretan toko, galeri, dan penginapan. Turis–turis asing tampak berlalu lalang di trotoar meskipun jumlahnya tidak banyak.

Biasa saja, turis–turis masih saja ada yang datang. Ubud kan memang dari dulu tidak pernah seramai Kuta,” kata perempuan penjaga Gallery Tama di Jalan Monkey Forest.

Ketika mobil kami berbelok menuju jalan utama Ubud, pasar tradisional di pojok jalan juga terlihat ramai oleh turis. Meskipun begitu, Bom Bali II tetap meninggalkan dampak, bahkan untuk kawasan yang tenang dan sejuk seperti Ubud.

Hari sudah lewat tengah hari dan perut mulai berteriak minta diisi. Ditambah dengan udara sejuk, kami memutuskan segera mencari tempat makan. Tempat yang direkomendasikan pengemudi kami, yang orang Bali asli, adalah restoran Bebek Bengil.

Restoran di Jalan Hanoman, kawasan Padang Tegal, ini tidak asing bagi kami karena sekitar lima tahun lalu kami juga pernah berhenti makan siang di sini. Saya tidak menolak untuk mencobanya lagi, penasaran apa yang membuat setelah waktu berlalu restoran ini tetap populer.

Perbedaan yang segera saya rasakan adalah kami tidak perlu menunggu untuk mendapat tempat duduk. Meskipun tempat makan itu ramai, tetapi tidak seramai ketika pertama kali kami datang ke restoran tersebut.

Untuk kami, suasana itu justru menguntungkan karena kami dapat merasakan suasana damai dan tenang Ubud yang sejak awal abad lalu sudah menarik banyak seniman luar datang dan bermukim di sana.

Duduk di atas panggung kayu, yang disediakan bagi tamu yang ingin makan dengan duduk bersila atau berselonjor kaki di atas bantal–bantal kecil, suasana terasa asri di restoran yang dikelilingi pohon semak dan gemericik air kolam. Tiga penabuh gamelan mengiringi dengan musik bali yang lincah.

Bebek renyah

Sesuai dengan namanya, hidangan unggulan restoran ini adalah hidangan bebek goreng. Berbeda dengan bebek goreng di banyak tempat, bebek goreng yang disajikan separuh ekor dengan nasi putih, lengkap bersama sambal matah dan lawar di tempat terpisah itu, terasa renyah hingga ke tulang–tulang kecilnya yang bisa dikunyah.

Warna bebek gorengnya coklat–kekuningan dengan kulit yang kelihatan kering dan renyah. “Bebeknya berasal dari daerah sekitar sini. Sebelum direbus 3–4 jam, bebek ini direndam dalam bumbu–bumbu selama 12 jam. Setelah direbus, ditiriskan, dan siap digoreng,” kata Agung Raka Dalem (48), adik dari Agung Raka Sueni, pemilik restoran ini.

Tidak heran bila rasa gurih itu terasa hingga ke daging bebek bagian dalam. Menurut Raka Dalem, yang ikut membantu mengawasi operasi restoran ini sehari–hari, menu bebek bengil crispy duck ini merupakan menu unggulan yang selalu ada sejak restoran tersebut berdiri tahun 1990.

Resep bebek goreng tersebut sebetulnya berawal dari resep keluarga yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari–hari. Kemudian, untuk keperluan penyajian di restoran, resep itu mengalami perubahan dan perbaikan.

“Setiap tahun kami mengubah menu, tetapi 10 menu yang paling digemari tamu–tamu kami terus kami pertahankan,” tutur Raka Dalem, yang pernah bekerja di sejumlah restoran di Australia dan terbiasa dengan menu–menu Eropa.

Bersama koki utama restoran itu, Wayan Sandi, dia ikut mengolah menu–menu baru, mulai dari makanan pembuka, makanan utama, sajian penutup, hingga minuman.

Selain bebek goreng renyah, menu favorit lain antara lain nasi campur, king prawn and mashed potato, dan stuffed chicken breast. Menu–menu tersebut rata–rata memakai bahasa Inggris karena tamu tempat ini memang berasal dari berbagai bangsa.

Selalu berganti

Bila mempunyai kantong perut cukup besar, Anda dapat mencoba nasi campur. Disajikan di atas piring makan berukuran besar, nasi dan lauk pauknya diletakkan di atas helai daun pisang.

Nasi hangat bertabur bawang goreng ditemani sate ikan yang dililitkan di batang serai. Lauk lainnya adalah telur balado, daging semur, ayam bumbu kuning, udang tempura, dan perkedel jagung. Tidak ketinggalan urap kacang panjang, kacang goreng, dan kerupuk.

Menu santapan utama stuffed chicken breast terdiri dari dada ayam yang diisi dengan paduan jamur shiitake, bayam, dan taoge. Pelengkapnya adalah sayuran kol, taoge, dan wortel, saus bersantan kental, serta nasi goreng.

Yang harus dicoba adalah sambal matah yang dibuat dari irisan bawang merah, bawang putih, serai dan cabai rawit, minyak makan, air jeruk limau, serta sedikit terasi.

Sambal matah di Bebek Bengil sudah disesuaikan dengan lidah tamu–tamunya yang berasal dari berbagai bangsa sehingga tidak sepedas sambal matah yang pernah dibuat seorang teman Bali saya.

Sebenarnya saya ingin menjajal minuman yang direkomendasikan pelayan restoran ini, yaitu giant chill. Ini adalah jus stroberi atau jambu biji yang dicampur dengan air soda. Sayang, kami tidak bisa mencicipi sebab kebetulan tidak tersedia stroberi saat itu.

Menurut Raka Dalem, Bebek Bengil selalu memperbarui menunya tiap tahun sebagai bagian dari strategi agar Bebek Bengil selalu menjadi tempat favorit di Ubud. Tiap kali dievaluasi menu mana yang paling digemari dan 10 menu yang paling digemari akan dipertahankan. (Kompas/Ninuk Pambudy)

http://www2.kompas.com/ver1/Makan-Plesiran/0606/15/113254.htm

Apa yang timbul di otak anda ketika melihat foto ini?

Apa yang diinget?

Bisa keluar air liur?

Kalau anda suka ke Bali,khususnya Ubud,anda pasti tau..

Ya..itulah Bebek Bengil Ubud ! Sudah ada dua outlet di Ubud, di Jakarta juga sudah di franchise di Dharmawangsa Square.

Tapi foto ini saya ambil, ketika saya dinner bersama anak2 saya di outletnya sendiri yang baru dibuka di Menteng, Jakarta.

Tepatnya di jalan Haji Agus Salim 132. Menurut informasi, pemiliknya Ibu Anak Agung Raka Sueni langsung kongsi dg beberapa orang Jakarta, termasuk Jusuf Arbianto untuk outletnya yang satu ini.

Buat saya yang sangat “personally attached” ke Ubud, kehadiran outlet yang dekat tempat tinggal saya di Apartment Puri Imperium sangat luar biasa… Begitu dihidangkan tadi malam, saya langsung minta extra Sambal Mata ! Saya juga pesan Nasi Bali untuk menemani Bebek Bengil Original Sejak 1990, menu utamanya..

Rasanya sama persis!

Mak Nyus pokoknya..hehehe…

Bedanya dengan di Ubud, disitu kita bisa makan sambil lesehan dan memandang sawah… Di Menteng, kita cuma bisa makan secara outdoor dining dikelilingi kolam dan bebek buatan…

Saya sengaja menulis ini karena di New Wave Marketing,saya mengatakan ada tiga macam Connector. Mobile, Experiential dan Social Connectors. Artinya, di era Web 2.0 ini, anda sebagai Marketers harus ter “connect” dengan Customers, Competitors bahkan Change Agents di Landscape business anda secara online dan offline…

Kenapa?

Ya karena semua elemen itu selalu “moving”. Karena itu anda harus mempunyai cara untuk selalu “connected” dengan mereka to be updated. Mereka juga punya experiences yang membekas. Saya sebagai orang yang sangat fanatik dengan Ubud punya kesan mendalam dengan Bebek Bengil disana. Karena itu, dengan adanya outlets mereka di Jakarta, saya lantas jadi ter “connect” kembali ke Ubud..

Jadi bayangkan aja, kalau KFC, McD dan Starbuck punya outlet ribuan diseluruh dunia dan selalu standard experiential servicesnya, maka customers mereka pasti akan terus ter “connect”.

Terakhir, karena mereka juga punya komunitas, maka kita harus mengusahakan diri selalu ter “connect” dengan komunitas yang relevan..

Itulah yang disebut Social Connector..

Balik ke Bebek Bengil Outlet di Menteng yang bagi saya adalah Experiential Connector, maka saya langsung jadi teringat kembali akan Ubud. Apalagi, diluar gedungnya, ada tulisan UBUD besar. Otomatis saya jadi pengen balik lagi ke Ubud, walaupun sudah puluhan kali kesana.

Experiential Connectors ini supaya sempurna harus berbentuk Offline dan Online… Artinya,bagaimana Offline Experience itu bisa ada di Website2 yang relevan… Lebih bagus lagi kalau orang bisa berinteraksi sehingga benar2 bisa feel the experience. Walaupun cuma virtual.

Nah,sinergi offline dan online seperti itulah yang akan membuat anda jadi terus diingat di era New Wave ini. Ingat, the World is still Round, but the Market is already Flat ! Artinya, kompetitor anda sudah tidak terbatas jumlahnya… Siapa yang pintar memanfaatkan Connector akan menang !

http://hermawankartajaya.kompasiana.com/2009/05/03/bebek-bengil-original-since-1990the-experiential-connector/