
Bebek Basah Kuyup yang Renyah
Pertengahan Mei lalu Ubud, Bali, kelihatan sepintas seperti tidak banyak berubah. Mobil masih berderet–deret parkir di tepi Jalan Monkey Forest, di depan deretan toko, galeri, dan penginapan. Turis–turis asing tampak berlalu lalang di trotoar meskipun jumlahnya tidak banyak.
Biasa saja, turis–turis masih saja ada yang datang. Ubud kan memang dari dulu tidak pernah seramai Kuta,” kata perempuan penjaga Gallery Tama di Jalan Monkey Forest.
Ketika mobil kami berbelok menuju jalan utama Ubud, pasar tradisional di pojok jalan juga terlihat ramai oleh turis. Meskipun begitu, Bom Bali II tetap meninggalkan dampak, bahkan untuk kawasan yang tenang dan sejuk seperti Ubud.
Hari sudah lewat tengah hari dan perut mulai berteriak minta diisi. Ditambah dengan udara sejuk, kami memutuskan segera mencari tempat makan. Tempat yang direkomendasikan pengemudi kami, yang orang Bali asli, adalah restoran Bebek Bengil.
Restoran di Jalan Hanoman, kawasan Padang Tegal, ini tidak asing bagi kami karena sekitar lima tahun lalu kami juga pernah berhenti makan siang di sini. Saya tidak menolak untuk mencobanya lagi, penasaran apa yang membuat setelah waktu berlalu restoran ini tetap populer.
Perbedaan yang segera saya rasakan adalah kami tidak perlu menunggu untuk mendapat tempat duduk. Meskipun tempat makan itu ramai, tetapi tidak seramai ketika pertama kali kami datang ke restoran tersebut.
Untuk kami, suasana itu justru menguntungkan karena kami dapat merasakan suasana damai dan tenang Ubud yang sejak awal abad lalu sudah menarik banyak seniman luar datang dan bermukim di sana.
Duduk di atas panggung kayu, yang disediakan bagi tamu yang ingin makan dengan duduk bersila atau berselonjor kaki di atas bantal–bantal kecil, suasana terasa asri di restoran yang dikelilingi pohon semak dan gemericik air kolam. Tiga penabuh gamelan mengiringi dengan musik bali yang lincah.
Bebek renyah
Sesuai dengan namanya, hidangan unggulan restoran ini adalah hidangan bebek goreng. Berbeda dengan bebek goreng di banyak tempat, bebek goreng yang disajikan separuh ekor dengan nasi putih, lengkap bersama sambal matah dan lawar di tempat terpisah itu, terasa renyah hingga ke tulang–tulang kecilnya yang bisa dikunyah.
Warna bebek gorengnya coklat–kekuningan dengan kulit yang kelihatan kering dan renyah. “Bebeknya berasal dari daerah sekitar sini. Sebelum direbus 3–4 jam, bebek ini direndam dalam bumbu–bumbu selama 12 jam. Setelah direbus, ditiriskan, dan siap digoreng,” kata Agung Raka Dalem (48), adik dari Agung Raka Sueni, pemilik restoran ini.
Tidak heran bila rasa gurih itu terasa hingga ke daging bebek bagian dalam. Menurut Raka Dalem, yang ikut membantu mengawasi operasi restoran ini sehari–hari, menu bebek bengil crispy duck ini merupakan menu unggulan yang selalu ada sejak restoran tersebut berdiri tahun 1990.
Resep bebek goreng tersebut sebetulnya berawal dari resep keluarga yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari–hari. Kemudian, untuk keperluan penyajian di restoran, resep itu mengalami perubahan dan perbaikan.
“Setiap tahun kami mengubah menu, tetapi 10 menu yang paling digemari tamu–tamu kami terus kami pertahankan,” tutur Raka Dalem, yang pernah bekerja di sejumlah restoran di Australia dan terbiasa dengan menu–menu Eropa.
Bersama koki utama restoran itu, Wayan Sandi, dia ikut mengolah menu–menu baru, mulai dari makanan pembuka, makanan utama, sajian penutup, hingga minuman.
Selain bebek goreng renyah, menu favorit lain antara lain nasi campur, king prawn and mashed potato, dan stuffed chicken breast. Menu–menu tersebut rata–rata memakai bahasa Inggris karena tamu tempat ini memang berasal dari berbagai bangsa.
Selalu berganti
Bila mempunyai kantong perut cukup besar, Anda dapat mencoba nasi campur. Disajikan di atas piring makan berukuran besar, nasi dan lauk pauknya diletakkan di atas helai daun pisang.
Nasi hangat bertabur bawang goreng ditemani sate ikan yang dililitkan di batang serai. Lauk lainnya adalah telur balado, daging semur, ayam bumbu kuning, udang tempura, dan perkedel jagung. Tidak ketinggalan urap kacang panjang, kacang goreng, dan kerupuk.
Menu santapan utama stuffed chicken breast terdiri dari dada ayam yang diisi dengan paduan jamur shiitake, bayam, dan taoge. Pelengkapnya adalah sayuran kol, taoge, dan wortel, saus bersantan kental, serta nasi goreng.
Yang harus dicoba adalah sambal matah yang dibuat dari irisan bawang merah, bawang putih, serai dan cabai rawit, minyak makan, air jeruk limau, serta sedikit terasi.
Sambal matah di Bebek Bengil sudah disesuaikan dengan lidah tamu–tamunya yang berasal dari berbagai bangsa sehingga tidak sepedas sambal matah yang pernah dibuat seorang teman Bali saya.
Sebenarnya saya ingin menjajal minuman yang direkomendasikan pelayan restoran ini, yaitu giant chill. Ini adalah jus stroberi atau jambu biji yang dicampur dengan air soda. Sayang, kami tidak bisa mencicipi sebab kebetulan tidak tersedia stroberi saat itu.
Menurut Raka Dalem, Bebek Bengil selalu memperbarui menunya tiap tahun sebagai bagian dari strategi agar Bebek Bengil selalu menjadi tempat favorit di Ubud. Tiap kali dievaluasi menu mana yang paling digemari dan 10 menu yang paling digemari akan dipertahankan. (Kompas/Ninuk Pambudy)
http://www2.kompas.com/ver1/Makan-Plesiran/0606/15/113254.htm

Apa yang timbul di otak anda ketika melihat foto ini?
Apa yang diinget?
Bisa keluar air liur?
Kalau anda suka ke Bali,khususnya Ubud,anda pasti tau..
Ya..itulah Bebek Bengil Ubud ! Sudah ada dua outlet di Ubud, di Jakarta juga sudah di franchise di Dharmawangsa Square.
Tapi foto ini saya ambil, ketika saya dinner bersama anak2 saya di outletnya sendiri yang baru dibuka di Menteng, Jakarta.
Tepatnya di jalan Haji Agus Salim 132. Menurut informasi, pemiliknya Ibu Anak Agung Raka Sueni langsung kongsi dg beberapa orang Jakarta, termasuk Jusuf Arbianto untuk outletnya yang satu ini.
Buat saya yang sangat “personally attached” ke Ubud, kehadiran outlet yang dekat tempat tinggal saya di Apartment Puri Imperium sangat luar biasa… Begitu dihidangkan tadi malam, saya langsung minta extra Sambal Mata ! Saya juga pesan Nasi Bali untuk menemani Bebek Bengil Original Sejak 1990, menu utamanya..
Rasanya sama persis!
Mak Nyus pokoknya..hehehe…
Bedanya dengan di Ubud, disitu kita bisa makan sambil lesehan dan memandang sawah… Di Menteng, kita cuma bisa makan secara outdoor dining dikelilingi kolam dan bebek buatan…
Saya sengaja menulis ini karena di New Wave Marketing,saya mengatakan ada tiga macam Connector. Mobile, Experiential dan Social Connectors. Artinya, di era Web 2.0 ini, anda sebagai Marketers harus ter “connect” dengan Customers, Competitors bahkan Change Agents di Landscape business anda secara online dan offline…
Kenapa?
Ya karena semua elemen itu selalu “moving”. Karena itu anda harus mempunyai cara untuk selalu “connected” dengan mereka to be updated. Mereka juga punya experiences yang membekas. Saya sebagai orang yang sangat fanatik dengan Ubud punya kesan mendalam dengan Bebek Bengil disana. Karena itu, dengan adanya outlets mereka di Jakarta, saya lantas jadi ter “connect” kembali ke Ubud..
Jadi bayangkan aja, kalau KFC, McD dan Starbuck punya outlet ribuan diseluruh dunia dan selalu standard experiential servicesnya, maka customers mereka pasti akan terus ter “connect”.
Terakhir, karena mereka juga punya komunitas, maka kita harus mengusahakan diri selalu ter “connect” dengan komunitas yang relevan..
Itulah yang disebut Social Connector..
Balik ke Bebek Bengil Outlet di Menteng yang bagi saya adalah Experiential Connector, maka saya langsung jadi teringat kembali akan Ubud. Apalagi, diluar gedungnya, ada tulisan UBUD besar. Otomatis saya jadi pengen balik lagi ke Ubud, walaupun sudah puluhan kali kesana.
Experiential Connectors ini supaya sempurna harus berbentuk Offline dan Online… Artinya,bagaimana Offline Experience itu bisa ada di Website2 yang relevan… Lebih bagus lagi kalau orang bisa berinteraksi sehingga benar2 bisa feel the experience. Walaupun cuma virtual.
Nah,sinergi offline dan online seperti itulah yang akan membuat anda jadi terus diingat di era New Wave ini. Ingat, the World is still Round, but the Market is already Flat ! Artinya, kompetitor anda sudah tidak terbatas jumlahnya… Siapa yang pintar memanfaatkan Connector akan menang !
http://hermawankartajaya.kompasiana.com/2009/05/03/bebek-bengil-original-since-1990the-experiential-connector/