kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘News from home’ Category

Panca Yadnya seperti di tulis dari website Babadbali berikut: http://www.babadbali.com/canangsari/pa-panca-yadnya.htm adalah lima jenis karya suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Adapun Panca Yadnya atau Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari:

  1. Dewa Yadnya.
    Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lain- lain.

  2. Pitra Yadnya.
    lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang
    disebut Atma Wedana.
    Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti:

    1. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
    2. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
    3. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.
  3. Manusa Yadnya.
    Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia.
    Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah:

    1. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir.
    2. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari).
    3. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton).
    4. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana.

    Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan- kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lain- lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama), memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya.

  4. Resi Yadnya.
    Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi, orang- orang suci, Resi, Pinandita, Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk:

    1. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa.
    2. Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
    3. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat- saat tertentu kepada Sulinggih.
    4. Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran para Sulinggih.
    5. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.
  5. Bhuta Yadnya.
    Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk- makhluk rendahan, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang), tumbuh- tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.
    Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.

Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur- unsur Panca Yadnya telah tercakup di dalamnya, sedangkan penonjolannya tergantung yadnya mana yang diutamakan.

Upacara Pitra Yadnya

Lebih lanjut mengenai upacara Pitra Yadnya (Ngaben) dapat diartikan pengorbanan yang dilandasi hati yang tulus ikhlas kepada leluhur, terutama orangtua. Pitra yadnya itu merupakan sebuah kegiatan keagamaan yang dilaksanakan untuk menyelanggarakan atau nyagaskara jenazah atau roh keluarga yang meninggal dengan menggunakan berbagai sesajen dan sarana upacara. Melakukan pitra yadnya merupakan sebuah kewajiban bagi keluarga yang masih hidup untuk anggota keluarganya yang sudah meninggal dunia.

Pitra yadnya (ngaben) ini juga diartikan proses pengembalian unsur-unsur Panca Mahabutha yang membentuk manusia ke asalnya. Seperti unsur pratiwi (tanah), apah (air), teja (cahaya), bayu (udara) dan akasa (ether). Semasih Panca Mahabutha berbetuk manusia, termasuk setelah meninggal (jenazah), manusia sebagai ”pemakai” kelima unsur itu dikatakan sebagai pihak yang berutang. Namun, setelah meninggal, manusia tidak mungkin punya inisiatif untuk mengembalikan utang itu, sehingga anggota keluarga yang masih hiduplah yang membantu mempercepat proses pengembaliannya.

Proses pengembalian utang itu sendiri ada tiga jalan yang bisa dilakukan, yakni nista, madya dan utama. Ketiga hal itu ada, diakibatkan adanya perbedaan status sosial (faktor ekonomis) masyarakat. Selain ada tiga jalan dalam proses pelaksanaan ngaben, juga dibedakan berdasarkan usia yang diaben. Tingkatan usia itu yakni, bayi belum kepus pungsed (tanggal tali pusarnya-red), belum berusia 105 hari, belum tumbuh gigi susu dan seterusnya. Masing-masing tingkatan usia punya ketentuan tersendiri yang tidak dapat ditukar satu sama lain.

Pitra Yadnya (ngaben) bukan semata bertujuan untuk membakar mayat atau sawa untuk menjadi abu. Tetapi, benar-benar untuk mengembalikan unsur-unsur yang membentuk manusia ke tempat asalnya. Mulai dari penggalian jenazah dari liang kubur bagi mereka yang telah dikubur. Kemudian pembakaran jenazah dan nganyut. Saat meninggal, kemudian dikubur merupakan bentuk pengembalian unsur pratiwi, pembakaran merupakan pengembalian tiga unsur sekaligus yakni teja, bayu, akasa dan kemudian nganyut merupakan pengembalian unsur apah.

Pitra Yadnya Ida Jero Mangku Dalem Kemoning

Menghubungkan Upacara Pitra Yadnya dengan Desa Adat Kemoning adalah pada hari Minggu 3 May,  http://kalenderbali.org/index.php?tanggal=3&bulan=5&tahun=2009&ok=OK (Redite Umanis wuku Merakih) adalah duase ayu untuk melangsungkan Upacara Pitra Yadnya dan pada hari ini juga dilaksanakan upacara pengabenan Ida Jero Pemangku Dalem Kemoning Klungkung, yang mana Upacara Pengabenan ini di selenggarakan serta di tanggung jawabin oleh Desa Adat Kemoning atas nama organisasi adat di Kemoning serta oleh seluruh umat pengempon Pura Dalem Kemoning.

lebih lanjut tentang Ida Jero Mangku Dalem Kemoning, selama hidup beliau mengabdikan hampir seluruh sisa hidupnya melayani umat pengempon Pura Dalem Kemoning yang tidak hanya berasal dari Desa Adat Kemoning melainkan juga dari Desa Adat Budaga, Galiran, Ayung, dll. Oleh sebab itu upacara pitra yadnya dari Ida Jero Mangku Dalem Kemoning terasa berbeda karena yang merasa kehilangan beliau tidak hanya dari keturunan langsung beliau tetapi juga seluruh umat pengempon Pura Dalem Kemoning dari berbagai desa.

pemandangan berikut menggambarkan suasana pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya yang berlangsung mulai dari depan rumah Ida Jero Mangku hingga menuju Setra Desa Adat Kemoning, yang di liput oleh Nyoman Candra bersama bli Nyoman Budhiarta yang juga pulang kampung ke Desa Adat kemoning:

Akhir cerita, kita semua mendoakan semoga arwah dari Ida Jero Mangku Dalem Kemoning diterima di sisi Ida Sang Hyang Widi Wasa. dan keluarga yang di tinggalkan bisa di berikan ketabahan dalam menjalankan hidup ini.

salam waRning,

Berita Duka

Posted by Adnyana under News from home

Menyampaikan berita duka dari  Kemoning, bahwa menik Sari (istrinya Penik Medaan, ibunya Komang Locong) telah meninggal karena sakit Jantung. dan akan di makamkan di hari Selasa 26.08.08 waktu kemoning.

Semoga Arwah beliau di terima di sisi Ida Sang Hyang Widi Wasa. dan semoga Keluarga yang di tinggalkan di berikan ketabahan dalam menjalankan hidup ini.

Turut berduka cita dan salam Warning,

 

Krama desa adat Kemoning berkumpul dan bergotong royong dalam upacara pengabenan Cu Tiplek. Salah satu anggota kelurga dari Cu Suardi. Cu Tiplek meninggal dalam usia kurang lebih 90 tahunan pada hari Rabu 13 Agustus 2008 dalam kondisi sakit karena usianya.. Cu Tiplek yang sampai akhir hayatnya tetap membujang ini, oleh keluarga besarnya telah diupacarai Pitra Yadnya Pengabenan pada hari Senin tanggal 18 Agustus 2008.

Berikut lampiran gambar-gambar dilokasi upacara Pengabenan :

Seluruh crew kemoning info, mengucapkan Turut Berduka Cita Kepada keluarga besar Cu Tiplek, semoga amal dan bakti Cu Tiplek diterima di sisi Ida Hyang Parama Kawi. Selamat jalan Cu Tiplek.

Berita Ngaben

Posted by Adnyana under News from home

Menyampaikan berita Upacara Pengabenannya dari desa adat Kemoning (Almarhum) Cucu Tiplek (semoga spelling namanya betul), keluarganya Cucu Suardi.

Semoga arwah beliau di terima di sisi Ida Sang Hyang Widi Wasa.

 

Terdengar kabar bahwa putra Pak Mujana/Bu Landri yg paling kelih, Wayan Satya Jaya (?? maaf kalo salah spelling:), telah melangsungkan pawiwahan baru-baru ini (lupa nanya tanggal detailnya).
Menariknya, sang istri adalah juga dari Kemoning (cucunya (alm) We Sempok?? — correct me if i am wong again).
Entahlah mereka ketemu dimana…mengembara jauh-jauh ke Jakarta, ketemunya orang Kemoning juga! Congratulation!!
Tuhan bisa aja deh kalo urusan jodoh…!!:)

-oDE-
ps: tolong yg sering pulang, berita ini dikonfirmasi ke-akuratannya, dan tolong cepat koreksi kalau ada yang kurang tepat. Maklum, ‘the news from home’ is written ‘miles away from home’

Berita Ngaben

Posted by Adnyana under News from home

Turut mendoakan agar upacara pengabenan salah satu keluarga besar kita di kemoning yaitu (almarhum) I Kadek Nagi Adiaksa yang sering di kenal dengan sebutan “Kadek Adeg” dapat berjalan dengan lancar di Karangasem. Semoga arwahnya dapat di terima di sisi Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Selamat Jalan Kadek Adeg!

Pada saat bersamaan juga di langsungkan upacara pengabenan dengan ibunya Pak De Jojing (pak de redane) yang di gabung dengan upacaranya Kadek Adeg. semoga arwahnya Nini niki dapat di terima di sisi Ida Sang Hyang Widi Wasa.

salam warning,

 

Berita Pernikahan

Posted by Adnyana under News from home

Telah menikah anaknya (almarhum) Ngakan Putu Loji yang rumahnya berlokasi di Ume Bajing (di belakang sekolah dasar SD). Ngakan Ketut ini merupakan anak laki satu-satunya dari Ngakan Putu Loji, sementara tiga anaknya yang lain adalah semua wanita.

selamat melangsungkan hidup baru, semoga langgeng selalu dan dalam tuntunan Ida Sang Hyang Widi Wasa.

salam warning,

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/11/23/b21.htm

PengabenanPasek Suartha

Semarapura (Bali Post) -
Prosesi
pengabenan Inspektur Intelijen Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan Kejaksaan Agung (Kejakgung), Wayan Pasek Suartha berlangsung khidmat sejak pagi hingga siang hari di Pekuburan Desa Pakraman Kemoning, Klungkung, Kamis (22/11) kemarin. Usai pembakaran jenazah, sore harinya dilanjutkan prosesi nganyut dengan berjalan kaki menuju Tukad Unda, Klungkung. Selanjutnya, juga akan digelar upacara ngerorasin (12 hari) dan 40 hari.

Pasek Suartha, meninggal dunia di usia ke-59 akibat penyakit stroke yang dideritanya. Mantan Kajati Bali yang juga sempat menjadi jaksa yang menyeret Amrozi dalam kasus Bom Bali itu, meninggal dunia setelah mendapat perawatan di Rumah Sakit Pertamina Jakarta setelah beberapa hari sebelumnya sempat terjatuh di kamar mandi dan terbentur di bagian kepala.

Kepergian bapak empat anak itu bukan hanya membuat keluarga besar Kejakgung berduka. Pejabat di lingkungan Pemkab Klungkung juga turut berkabung. Mengingat, salah seorang adik almarhum, Wayan Muliartha menjabat sebagai Kadis KLH Pemkab Klungkung. Para pejabat di Klungkung beramai-ramai menyampaikan turut berbelasungkawa dengan mendatangi rumah duka di Banjar Kemoning, Klungkung, Selasa (20/11) lalu.

Penuturan Muliartha, firasat dirinya akan kehilangan kakaknya itu sudah dirasakan sejak beberapa minggu sebelumnya. Almarhum yang biasanya bersikap agak saklek terhadap orang-orang yang ada di rumahnya, tiba-tiba ramah. Bahkan terhadap pembantu sekali pun. Tiap subuh, jaksa yang sempat berperan penting dalam proses sidang pelaku bom Bali I itu membangunkan pembantunya untuk diajak jogging. Itu tak biasa dilakukan. Belum lagi selama jogging, almarhum juga banyak bercerita dan memberi petuah kepada pembantunya,” tutur Muliartha.

Sikap berbeda juga diperlihatkan almarhum di rumahnya di Bali. Almarhum meminta keluarga membangun angkul-angkul stil Bali yang nantinya khusus dilewati ketika meninggal. Mungkin itu petunjuk. Tetapi keluarga tak menyadarinya saat itu,” tambahnya. (kmb20)

Tadi malem saya dapet SMS dari Bapak di Kemoning mengabarkan kalau ibunya Bli Suka (Br Delod Titi) meninggal dunia. Upacara ngaben akan dilaksanakan tanggal 11 Agustus 2008.
Semoga upacara berjalan lancar.
Mohon kalau ada yang mau memberi informasi tambahan silakan isi di komentar.

-oDE-