kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Wisata Kuliner di Denpasar’ Category

Jilatan api terus menyulut panggangan hitam itu. Menggelitik sederet daging tuna merah di atasnya. Semakin panas, semakin tajam aroma daging itu meruap. Di batas itu, Nyoman Lother Arsana, sang juru masak, mencengkeram lembut daging dan mengaisnya ke piring. Berdampingan dengan sambal matah di pinggirnya. Nama hidangan itu ialah tuna wonten. Di depan restoran Le Seminyak, Pacific Place lantai lima, Arsana berdemonstrasi beberapa waktu lalu.

Menurut Arsana, ikan tuna itu adalah binatang berenang atau berjalan dengan dada. Filosofinya, dalam meracik makanan Bali, binatang berenang, dan berkaki dua, bumbunya mesti berasal dari tumbuhan yang berbuah di atas tanah. Misalnya, cabai, daun serai, jeruk kecil berikut daunnya, serta kelapa. “Kalau tumbuhan di bawah tanah itu seperti lengkuas dan kunyit,” juru masak dengan jam terbang 32 tahun ini menjelaskan kepada Tempo seusai demo beberapa waktu lalu.

Lulusan Akademi Perhotelan ini mengatakan daging tuna itu terasa enak apabila dibakar. “Biar enak, harus dimasak dengan kematangan api menengah,” ujarnya. Sebab, kalau terlalu matang, dagingnya akan keras. Tuna juga bisa dimakan mentah karena kandungan protein yang tinggi. Sayangnya, masyarakat Indonesia belum terbiasa makan mentah. Padahal, di Jepang dan Cina, sajian mentah itu sudah biasa.

Selain tuna wonten, Arsana menunjukkan cara pengolahan sate lilit ayam dan ayam pelalah. Bentuk sate merupakan simbolis senjata dewa Brahmana, yaitu gada. Semua dewa di Bali memiliki senjata. Kemudian, oleh penduduk Pulau Dewata, dipresentasikan ke dalam makanan, salah satunya sate lilit ayam ini. “Sate ini pasti dihidangkan di acara adat perkawinan dan di tempat suci,” kata pembuat buku The Food of Bali ini. Rasa pedas sate muncul dari perpaduan kencur dan jahe yang membikin badan pelahapnya menjadi hangat.

Ketiga jenis hidangan ini, bisa Anda santap dalam nuansa tulen Bali ala Le Seminyak.

Satu resto yang baru buka 11 bulan ini yang menjadi alternatif, di tengah kemunculan sejumlah resto dengan suguhan pulau Dewata. Pada Februari lalu, misalnya, bebek bengil yang sudah berkibar di Ubud, Bali, membuka cabang di Jalan Agus Salim, Jakarta Pusat. Hadir dengan suguhan dan atmosfer Bali, tapi dengan andalan olahan bebek. Sedangkan resto yang sudah lama berkibar seperti Ajengan di Panglima Polim pun masih bisa disinggahi. Selain itu, masih ada resto daerah Bali lain, misal Gilimanuk, yang menyebar dari barat, utara, hingga selatan Jakarta. Aroma Bali memang semakin merasuk ke lidah warga Jakarta.

Di Le Seminyak, ada beberapa area yang bisa dipilih. Anda bisa bercengkerama di bale bengong, gazebo bernuansa Bali yang dihiasi akar liang. Di sini juga ada beberapa tongkat raksasa yang mencakar langit langit, yang menambah eksotik tempat ini. Kayu itu, menurut penggagas sekaligus mitra Le Seminyak, Novi Kusuma, adalah kayu tua yang sudah tidak terpakai. “Merupakan daur ulang dari bekas rel kereta api,” kata dia kepada Tempo<melalui sambungan telepon kemarin. Selain itu, lantai, meja, bangku, dan temboknya didominasi warna tanah. Terasa semakin Bali dengan alunan musik tradisional pulau sejuta pura.

Lebih jauh, restoran ini dibagi menjadi lima area. Lounge, bale bengong, fountain area, window area, dan private room<. Menurut Novi, private room bisa digunakan sebagai rapat orang maupun acara keluarga. “Market dari restoran ini saban harinya adalah orang kantoran, dan keluarga pada akhir pekan,” ujar perempuan berkulit putih ini. Jangan lupa, semua area itu memiliki fasilitas wi-fi.

HERU TRIYONO

 

Le Seminyak

Jam Buka:
Senin-Minggu, pukul 10.00-22.00 WIB

Makanan spesial:
Nasi campur Bali, udang kelapa gurih, tuna wonten, sambal matah, sate lilit, bebek goreng, bebek betutu, ayam betutu, gurame sambal mangga muda, udang galah bakar madu, kakap merah bakar Jimbaran, kepiting soka kremes, plecing kangkung, tumis pucuk waluh.

Minuman spesial:
Ginger fizz, summer berry cooler, paradise island cooler, tamarind cooler.

Hidangan penutup:
Bubuh injin, pisang bakar santan, es campur.

http://www.tempointeraktif.com/hg/kuliner/2009/05/15/brk,20090515-176413,id.html

Satu lagi “warung” ala Bali yang menyajikan makanan khas dari Pulau Dewata, jagoan dari Warung Jerman ini adalah Ayam Bakar Plecing serta NAsi atau Tipat Campurnya. Lokasinya sangat strategis, di salah satu sisi bundaran renon yang mengarah ke Jl. Hayam Wuruk, arah Kantor Konjen Amerika Serikat situ, sangat dekat dari Denpasar dan Sanur, dan tidak terlalu jauh juga dari Kuta serta Seminyak.

Tempatnya sendiri tidak begitu luas, hanya ada sekitar 12 meja dengan masing2 4 kursi, tapi karena terbuka jadi cukup nyaman untuk makan. Karena rame2, kita pesan Ayam Bakar Plecing, Gurame Bakar, Nasi Campur, Tipat Kuah Campur untuk makannya dan minumnya Es Jerman dan Es Daluman. Sebuah etalase besar sarat dengan aneka lauk-pauk khas Bali, ada puluhan tusuk sate lilit dan sate tusuk ayam, tumpukan tipat, dan beberapa piring penuh berisi jukut kalas (urab kacang panjang), tum ayam, ayam goreng, sambal matah, lawar nyuh (sayur kelapa) dan lain2. Tampak di salah satu sudut

warung yang punya tagline “Kata Orang Enak dan Murah ini” foto2 dari para peliput kuliner, tentu termasuk Pak Bondan, Kep Suk Jalansutra.

Saya mencoba Tipat Kuah Campur dengan komposisi Ketupat potong diagonal, jukut kalas toge, lawar nyuh satu tusuk sate lilit ayam, ayam goreng, suwiran ayam pelecing, ayam masak santan, telur pindang siram sere tabia (sambel trasi) dan kondimen kacang goreng serta sambal matah plus didampingi semangkuk kecil sup bening berisi bola2 ayam dan kacang merah.

Semua lauk pauk di Tipat saya punya kualitas diatas rata2, dengan catatan spesial untuk ayam masak santan, sate lilit ayam, tum ayam dan ayam pelecingnya dengan bumbu base besiap yang meresap banget, sambel matahnya juga nikmat walau tak segarang punyanya Warung Khrisna, tapi masih sangat Bali banget, lawar nyuh yang juga cukup unik memberikan sensai tropikal yang sangat nyaman, minyak alami dari lawar nyuhnya mengalir di piring dengan warna kuning terang yang menggoda. Rasa spicy di Tipat Ayamnya pas disbanding dengan kuah bening berisi bola2 ayam dan kacang merah yang segar, walau bening ada secercah (alah secercah) gradasi kekuningan hasil dari campuran bumbu base genep khas Bali, yang menyapu ringan kuah sup dan memberi sedikit body berempah.

Ayam Pelecing Bakar yang disajikan ingkung utuh, dikucuri dulu dengan jeruk limonya supaya tambah wangi, kemudian ayam kampung ini kami bagi berlima, ayam kampung tentu memberikan janji rasa gurih yang alami. Bumbu ulek pelecingnya sangat meresap di ayam bakar ini, pedas-gurih-fragrant dan tasty banget, sedikit gosong disana-sini menjadikan ayam bakar ini makin wangi. Teman yang pas tentu Pelecing kangkung bertabur kacang goreng yang krenyes2 nan pedas, kelemahan si pelecing kangkung adalah aroma terasi yang selalu tertinggal di tangan barang 3-4 jam hehe.

Nasi Ayam Campurnya berkomposisi sama dengan Tipat Siap, tapi lauk dan nasinya dipisah, plus sup bola ayam kacang merahnya. Gurame Bakar dibaluri bumbu lalah (pedas) yang cukup nyaman, disajikan dengan sambal matah dan sere tabia (sambel terasi), cukup enak walau memang bukan spesialisasinya warung ini.

Makan siang kami ditutup dengan aneka Es andalan warung ini, Es Daluman adalah Es Cincau Hijau khas bali yang memakai santan dan sirup gula merah, selalu ada rasa smoky yang khas di Es Daluman ini, legit dan segar. Es Jerman adalah Es Campur andalan warung ini, isinya sangat kumplit, nggak mau kalah sama Tipat atau Nasi Ayamnya. Ada potongan cincau hitam, kacang ijo, tape ketan putih (tanpa pewarna), cendol, potogan jeli , kelapa muda dan lain2, segar banget dengan kuah sirup merah dan susu kental manis, Es2nya pas memadamkan rasa lalah dari makanan utamanya.

http://ariep.multiply.com/photos/album/351

Bisnis rumah makan kini kian menjamur. Meski dengan modal kecil, bisnis yang satu ini masih bisa dijalankan. Hal itulah salah satu yang melatarbelakangi I Gede Erwin mulai merintis usaha warung Be Pasih yang berlokasi di jalan Pemuda, Renon, Denpasar. Masakan ikan laut menjadi ciri khas warung makan yang berdiri sejak tahun 1999 ini. Bagaimana awal berdirinya warung Be Pasih hingga dikenal masyarakat?

Pola hidup sehat dapat dicapai salah satunya denga mengatur pola makan.. Sebagai salah satu alternatif, ikan laut merupakan menu makanan sehat berprotein tinggi. Inilah, alasan kenapa warung Be Pasih bercirikan aneka masakan ikan laut. “Saya sering mendapatkan informasi berbagai penyakit muncul karena makanan yang tak sehat. Untuk itu menu khas warung kami sengaja kami tawarkan spesial ikan laut. Selain sehat, berbagai kalangan dapat menyantapnya”ujar Made Erwin.

Bisnis tersebut mulai dilakoni Erwin setelah ia kena PHK dari perusahan alat konstruksi di Surabaya. Lulusan S1 Teknik Mesin, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya tahun 1994 ini berniat membuka bengkel cuci mobil. Karena modal yang dikeluarkan besar, ia pun mengurungkan niatnya.

Pada saat ia dalam kondisi menganggur, salah satu temannya mengajak kerjasama membuka usaha rumah makan. Selain modal kecil, penanganannya pun tak begitu rumit. Masakan ikan laut sengaja ia jadikan menu khas warung itu.

Ada hal lain kenapa ia tertarik menekuni bisnis warung makan. Menurut Erwin, awalnya ia heran melihat warung Pesinggahan di Klungkung selalu dikunjungi orang dari berbagai daaerah. “Masyarakat Denpasar pun rela makan di tempat itu meski jauh,”ujarnya. Rasa penasaran selalu menghantui Erwin, ia pun mencoba mendatangi rumah makan tersebut untuk menawarkan kerjasama. “Akhirnya warung Be Pasih dan Pesinggahan menjalin kerjasama hingga kini. Untuk resep, kami ambil dari warung itu. Bahkan kami juga pernah dilatih membuat resep masakan ikan laut,”ujarnya.

Awalnya ia hanya mempekerjakan lima orang karyawan. Warung Be Pasih pun masih terlihat kecil dan hanya menghadirkan dua menu paket ikan Pesinggahan dan ikan bakar. Erwin mengaku, lokasi warung Be Pasih yang sedikit terpencil, tak sengaja ia pilih. ”Kebetulan dapat beli tanah di daerah itu. Namun kami tetap optimis karena melihat warung Pesinggahan yang berada di pedalaman saja mampu berkembang, kenapa kami tidak,” ucapnya.

Meski kurang strategis, tapi suasana itulah yang kini menjadikan pelanggannya makin bertambah. ”Banyak pelanggan saya suka dengan lokasi warung Be Pasih, katanya jauh dari kebisingan kota,” tambah Erwin. Meski sebenarnya warung tersebut berada di pusat kota, suasana tempat yang nyaman tetap menjadi prioritas utama.

Kini warung Be Pasih menyediakan empat jenis menu masakan khas ikan laut, yakni paket pesinggahan, ikan bakar, goreng dan steak. Erwin sengaja membuat menu makanannya tanpak lebih modern dengan menyediakan steak ikan laut. ”Meski masakan kami mengalami perubahan jenis menu, namun kami tak pernah meninggalkan ciri khas Warung Be Pasih, ikan laut khas pesinggahan,” ungkap suami dari Dewi ini.

Sebagai sarana promosi, Erwin mengaku lebih mengutamakan promosi lewat mulut ke mulut, sehingga mampu memotivasi dirinya dalam memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan. ”Jika pelayanannya sudah baik, tentunya akan membuat pelanggan puas dan secara langsung akan menyampaikan ke rekan-rekan mereka,” ujarnya.

Meski di tahun 2005 warung Be Pasih pernah didera musibah kebakaran, keberadaannya tetap eksis dan bisa lebih berkembang. Hal itu pun yang menjadikan Erwin lebih bersemangat memajukan warung Be Pasih.

Kini rumah makan Warung Be Pasih telah menjadi tempat langganan sejumlah perkantoran serta sekolah-sekolah, baik dalam rangka acara resmi atau tidak, seperti kegiatan gathering perusahaan, ulang tahun atau bazzar.

http://www.cybertokoh.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=2058

Lain warung Be Pasih di Denpasar, lain pula Restorant makanan dengan menu yang sama yang ada di desa pesinggahan Klungkung, namanya Warung Mertha sari di Pesinggahan Klungkung. Terletak di Kabupaten Klungkung sebelum Goa Lawah. Perjalanan yang ditempuh memakan waktu 45 menit dari Kota Denpasar. Daerahnya cukup terpencil, kalo kita dari arah by pass Gianyar di ujung traffic light kita ke kanan menuju arah Goa Lawah, nah sebelum sampai Goa Lawah anda perhatikan ada pertigaan, di pesisir pantai Kusamba anda belok kekiri, tidak sampai 100 m anda akan menjumpai Warung Mertha Sari.

Menu yang tersedia ada nasi putih, kacang, sambal matah, plecing kangkung, sate lilit ikan , pepes ikan dan soup ikan. Cuma di sini kuah sup ikannya agak asin. Belakangan saya amati beberapa orang Bali yang makan di situ ternyata di siram di atas nasi putih. harga per menu hanya Rp.9.000.

Suasananya memang cukup panas, karena berada di daerah pantai, warungnya pun sederhana, ada beberapa bale dari bambu, dialasi dengan tikar dari pandan, tapi jangan salah orang-orang yang makan disana kebanyakan dari luar Bali, hmm ada juga artis indonesia makan disana, kebetulan saya makan disana menjumpai Dewa Budjana dan teman-teman dari Gigi Band.

http://manbull.blogspot.com/2008/01/sate-lilit-ikan-pesinggahan-klungkung.html