kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Jalan Sutra’ Category

Gegenbach sebuah desa wisata

Posted by Adnyana under Jalan Sutra

Gegenbach, begitulah nama sebuah kota kecil (hampir sebesar desa adat kemoning) yang terletak di lereng pegunungan dan dipinggiran sungai yang masih merupakan bagian dari kawasan hutan lindung di negara jerman yang tidak asing di telinga kita yaitu bernama “hutan hitam”, atau terkenal dengan nama bahasa inggrisnya yaitu “Black Forrest” atau dalam bahasa Jermannya “Schwarzwald”. sebuah kota kecil yang cukup cantik dengan bentuk arsitektur bangunannya yang mirip bekas kerajaan jaman dulu.  kota kecil yang berpenduduk sekitar 11.000 inhabitan ini persisnya  berlokasi di perbatasan antara negara jerman dan negara perancis, dengan kota terdekat dari perancis adalah Strasbourg. Kota Gegenbach saat ini merupakan daerah tujuan wisata yang cukup ramai di kunjungi wisatawan dari kota sekitarnya.

Daerah ini saya kenali ketika saya  melakukan kunjungan dinas kerja selama tiga hari ke customer yang terletak di kota ini. sepulang dari kerja saya sempatkan untuk berjalan-jalan mengelilingi kota ini, dan saya cukup kagum di buatnnya, karena kebersihannya dan juga keunikannya, yaitu sebuah kota kecil namun ramai pengunjungnya. Adapun yang membuat unik dari pusat kota ini adalah di hampir setiap rumah penduduknya tampak begitu bersih dan cantik. seperti seolah-olah ada kesepakatan diantara pemerintah setempat dengan warganya yang berdomisili di kota kecil itu untuk bersama-sama membuat pengunjung (turis) merasa nyaman di saat mereka berada di kota Gegenbach. semua fasilitas pendukung pariwisata hampir terdapat di kota kecil itu, seperti hotel, restaurant, museum yang merupakan bekas istana kerajaan jaman dulu, dll.  kota ini kalau di bandingkan dengan daerah di sekitar klungkung, mungkin mirip dengan desa kamasan klungkung, dimana masyarakat di kamasan hampir semua memiliki keahlian menggambar lukisan wayang klasik dan rumah penduduk di desa adat kamasan juga hampir semuanya tampak unik dengan ciri khas arsitektur bali di dukung dengan art-shop di sepanjang pinggir jalan. namun sayang yang membedakan antara desa adat kamasan klungkung dengan kota kecil Gegenbach adalah fasilitas pendukung pariwisata yang tidak tersedia di des kamasan, tentunya membuat pengunjung yang mengunjungi kamasan seolah-olah hanya untuk berbelanja lukisan wayang. setelah berbelanja di artshop selesai mereka harus balik ke denpasar (kuta, nusa dua, sanur) atau ke ubud untuk bermalam.

desa di daerah di bali yang mungkin paling mendekati memiliki kemiripan dengan kota gegenbach adalah desa ubud, dengan kawasannya persawahannnya yang unik dan masyarakat di desa ubudpun sepertinya sudah sepakat menjadikan desanya sebagai desa wisata, dimana wisatawan ataupun turis mancanegara bisa menyewa rumah penduduk untuk bermalam. fasilitas penunjang pariwisata lainnya sepertiya ada juga di ubud, seperti supermarket, galery atau artshop, dll. Kesadaran masyarakat di ubud untu menjaga kebersihan lingkungannya pun patut di tiru, sehingga wisatawan bisa merasa betah ketika berada di sekitar ubud.

mungkinkah daerah di sekitar kabupaten klungkung di optimalkan dijadikan desa wisata. jawabannya mungkin bisa, apalagi masyarakat klungkung di jaman kerajaan Bali jaman dulu merupakan daerah permukiman seniman kerajaan. selain desa kamasan ada desa budaga, desa tihingan, desa sampalan, desa sidemen, juga layak untukdi kembangkan di jadikan desa wisata. kedepannya yang di perlukan sepertinya adalah sebuah komitmen diantara masyarakatnya sertadukungan dari pemerintah kabupaten klungkung untuk terus mempromosikannya. dan bila perlu mensupport masyarakat bila ingin memperbaiki rumahnya agar tampak unik dan cantik, seperti apa yang terlihat di kota kecil gegenbach, yang hampir semua rumah disana tampak baru tapi dengan tampilan arsitektur lama.

Lebih lanjut latar belakang sejarah kota gegenbah juga sepertinya memiliki kemiripan dengan sejarah kabupaten klungkung, yaitu sama-sama merupakan bekas kerajaan. walaupun sesungguhnya kerajaannya tidak sebesar kerjaan Bali yang berpusat di Swecapura ataupun di Semarapura, namun hingga kini pusat kerajaannya tetap tertata apik dan rapi, seperti di tunjukkan oleh “saksi bisu” bangunan tuanya serta sejarah yang tertulis d museumnya, dan list dari nama raja-raja yang pernah memimpin di kota gegenbach tertulis seperti di bawah.

Semoga masyarakat di klungkung bisa menyadari sejarah besar yang di milikinya di jaman dulu, dan bisa menjadikannya sebagai titik awal untuk melihat kedepan dengan penuh keyakinan dan percaya diri untuk menjadi lebih baik lagi di kemudian hari, tentunya dengan terus belajar lebih rajin, bekerja lebih giat. setiap individunya yang merantau jauh ke luar tidak lupa akan kampung halamannya dan tetap mencoba berkontribusi untuk kemajuan daerahnya sesuai dengan kemampuannya masing-masing dan tetap menjaga  komitment untuk memajukan daerahnya bersama-sama… semoga

Liste der Äbte von Gengenbach

  • Rustenus (8. Jh.)
  • Burkhard, Leutfried, Cosman, Anselm, Gauthier, Volmar, Otho, Benno, Rado, Ammilo (?)
  • Alfram (-ca. 820)
  • Germunt (ca. 826)
  • Lando (ca. 840)
  • Dietrich I., Dietrich II., Gottfried I., Walther I., Walther II. u.a. (?)
  • Reginald (vor 1016-1028)
  • Rusten (1028-1034)
  • Berthold I. (-1052)
  • Bruning (-1065)
  • Poppo (-1071
  • Acelinus (-1074)
  • Ruotpert (-1075)
  • Willo (-1085)
  • Hugo I. (1089, 1096)
  • Friedrich I. (vor 1109-1120)
  • Gottfried II. (vor 1140-1162)
  • Anselm (-1147?)
  • N.N. (-1173)
  • Friedrich II. (-1182)
  • Landofrid (-1196)
  • Salomon (-1208)
  • Gerbold (1210)
  • Eggenhard (-1218)
  • Gottfried III. (1218-1237
  • Walther III. (1237-1248)
  • Dietrich III. (1248-1263?)
  • Hugo II. (1263?-1270?)
  • Gottfried IV. (1270?-1276)
  • Berthold II. (1276-1297)
  • Gottfried V. (1296)
  • Berthold III. (1297-1300)
  • Dietrich IV. (1300-1323)
  • Albero (1323-1324)
  • Walther IV. (1324-1345)
  • Berthold IV. (1345-1354)
  • Lambert von Brunn (1354-1374)
  • Stephan von Wilsberg (1374-1398)
  • Konrad von Blumberg (1398-1415)
  • Berthold V. Mangolt-Venser (1416-1424)
  • Egenolf von Wartenberg (1424-1453)
  • Volzo von Neuneck (1454-1461)
  • Sigismund von Neuhausen (1461-1475)
  • Jakob von Bern (1475-1493)
  • Beatus II. von Schauenburg (1493-1500)
  • Konrad von Mülnheim (1500-1507)
  • Philipp von Eselsberg (1507-1531)
  • Melchior Horneck von Hornberg (1531-1540)
  • Friedrich von Keppenbach (1540-1555)
  • Gisbert Agricola (1556-1586)
  • Johann Ludiwig Sorg (1586-1605)
  • Georg Breuning (1605-1617)
  • [Johann Caspar Liesch (1617)]
  • Johann Demler (1617-1626)
  • Jakob Petri (1626-1636)
  • Erhard Marx (1636-1638)
  • Columban Meyer (1638-1660)
  • Roman Suttler (1660-1680)
  • Placidus Thalmann (1680-1696)
  • Augustinus Müller (1696-1726)
  • Paulus Seeger (1726-1743)
  • Benedikt Rischer (1743-1763)
  • Jakob Trautwein (1763-1792)
  • Bernhard Maria Schwörer (1792-1803/07)

Rosenmontag 23 Feb 2009

Posted by Adnyana under Jalan Sutra

Rosenmontag yang berasal dari kata “Roose” dan “Montag” artinya Hari “Senen Berjalan”, yang merupakan perayaan Karnival terbesar yang ada di Jerman yang di selenggarakan setiap tahun. biasanya hari ini di gunakan sebagai tanda berakhirnya musim Winter dan memasukinya musim Semi. Karnival ini berlangsung di negara tidak hanya di Jerman melainkan di negara-negara yang berbahasa Jerman seperti di Swiss dan Austria. di Jerman sendiri pameran ini di pusatkan di daerah Rhineland yang di lalui oleh sungai Rhein seperti Mainz, Dusseldorf, Köln, dan Aachen, yang dulunya merupakan daerah pendudukan Katolik Romawi. yang mana perayaan karnival ini di persembahkan kepada para buruh sebagai hari pesta rakyat.

perayaan Karnival seperti di Köln dan Dusseldorf benar-benar mencuri perhatian masyarakat tidak hanya dari kota tetangga tetapi juga mengundang perhatian masyarakat dari negara tetangga seperti belanda, belgia dan perancis untuk datang berduyun-duyun menonton karnival ini yang cukup membantu pemerintah kota setempat untuk mendapatkan turis musiman. yang unik dari karnival ini, tidak hanya peserta karnival yang berpakaian warna-warni tetapi juga para pengunjung atau penonton juga berpakaian seperti peserta karnival, jadi serasa sulit untuk membedakan yang mana peserta karnival sesungguhnya dan yang mana merupakan penonton. Perayaan Karnival ini selain memberikan pendapatan tambahan bagi kota penyelenggara dan masyarakatnya, juga memberikan keunikan tersendiri bagi kotanya.

Hari Rosenmontag ini tidaklah merupakan hari libur nasional, tapi anak-anak sekolahan di biarkan libur sedangkan lingkungan perkantoran tetap buka seperti biasa tapi boleh tidak masuk (alias fakultative). Meniru keberhasilan kota Köln, Dusseldorf, Mainz, Aachen dengan karnival Rosenmontagnya, kota-kota lainya di Jerman, juga tidak mau kalah untuk bisa mengundang wisatawan mengunjungi kotanya, seperti Frankfurt juga menyelenggarakan Parade Budaya di setiap bulan Juni yang juga belakangan ini sebagai “trademark” dari kota itu untuk mengumpulkan masyarakatnya untuk tumpah ruah ke jalan berbaur dengan para wisatawan. setali tiga uang dengan kota berlin, Stuttgart, Munchen, dll. Bahkan perayaan di kota Munchen sendiri sekarang di kenal hingga ke manca negara dengan “Oktoberfest”.

Festival dan Karnival di Kabupaten Klungkung

Menghubungkan cerita diatas dengan peristiwa di tanah air, di Bali kita mengenal istilah Pesta Kesenian Bali yang di selenggarakan setiap bulan juni-juli sebulan penuh yang juga merupakan trademark dari provinsi bali untuk mengundang wisatawan untuk datang berduyun-duyun ke bali. disamping tradisi Pesta Kesenian Bali, saat ini juga mulai bertumbuhan karnival-karnival lainnya didaerah kabupaten seperti di jermbrana, Buleleng, di Sanur yang dikenal dengan Sanur Village Festival, di Kuta yang di kenal dengan Kuta Festival, dan lain-lain. di setiap sehari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi masyarakat Hindu Bali secara serempak juga menyelenggarakan Festival yang di barengi dengan perlombaan seni Ogoh-Ogoh yang turut membantu menciptakan ciri khas dan keunikan dari Bali dan masyarakatnya itu sendiri. 

Sama halnya dengan festival Ogoh-Ogoh, di kabupaten Klungkung (kalau tidak salah) juga diadakan festival dan karnival di setiap perayaan 17 Agustusan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.  Namun sayang gaung promosinya kurang begitu terdengar hingga ke wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara yang datang berkunjung ke bali, ntah mungkin karena di saat yang sama di kota lainnya juga terdapat perayaan yang sama, tapi alangkah baiknya bila festival dan karnival ini di selenggarakan bersamaan dengan peringatan Hari Puputan Klungkung di setiap 28 April setiap tahunnya, sehingga disamping memiliki keunikan tersendiri juga pesan Puputan Klungkung bisa terus di sampaikan kepada masyarakat. 

Tradisi bersejarah dan unik yang dirayakan dan di kemas melalui karnival sepertinya patut untuk kita lestarikan, meniru perayaaan karnival-karnival klasik dari negeri Jerman, sehingga kita bisa terus berbagi cerita dan nilai sejarah kepada anak cucu kita dengan mengajaknya menonton karnival dan mengajaknya untuk menapak tilasi perjuangan-perjuangan para leluhur kita pada puputan Klungkung 28 april 1908 , sehingga membuat kita bisa berbangga menjadi warga klungkung. dan yang terpenting lagi adalah pemerintah daerah (pemda) Klungkung bahu membahu bersama dengan masyarakatnya  membantu menggerakkan roda perekonomian daerah kabupaten klungkung dengan menyelenggarakan pesta rakyat yang unik yang bisa mengundang wisatawan untuk datang berduyun-duyun berkunjung ke kabupaten Klungkung. semoga

Kembali ke Rosenmontag, semenjak 1949, Rosenmontag memiliki Moto (thema) yang berbeda-beda dari tahun ke tahun. Sementara di negeri maju berusaha untuk melestarikan tradisi budaya mereka yang di wariskan secara turun temurun, lain lagi di negeri kita malah sebaliknya, yaitu semakin banyaknya peraturan daerah yang baru di buat yang melarang (membatasi) pelestarian perayaan tradisi rakyat, sebagai contoh seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa kabupaten di Bali yang mengeluarkan larangan untuk tidak merayakan festival Ogoh-Ogoh sehari sebelum perayaan Nyepi dengan alasan keamanan dan ke kidhmatan perayaannya Nyepi.

  • 1949 – „Mer sin widder do un dunn wat mer künne!“
  • 1950 – „Kölle, wie et es un wor, zick 1900 Johr“
  • 1951 – „Kölle en Dur un Moll“
  • 1952 – „Kölsche Krätzger“
  • 1953 – „Kölsch Thiater“
  • 1954 – „Dat löstige Patentamp Kölle“
  • 1955 – „Lachende Sterne über Köln“
  • 1956 – „Spaß an der Freud“
  • 1957 – „Laßt Blumen sprechen“
  • 1958 – „Mer jöcken öm de Welt“
  • 1959 – „Schlagerparodie 1959“
  • 1960 – „Jedem Dierche sie Pläsierche!“
  • 1961 – „Meer Weetschaffswunderkinder“
  • 1962 – „Wat et nit all gitt“
  • 1963 – „Köln läßt grüßen kunterbunt Presse, Fernsehen und Funk“
  • 1964 – „Kölsch Panoptikum“
  • 1965 – „Olympiade der Freude“
  • 1966 – „Kaum zu glauben“
  • 1967 – „Dat Klockespill vum Rothuusturm“
  • 1968 – „Märchen und Wunder unserer Zeit“
  • 1969 – „Köln serviert internationale Speisen a la carte“
  • 1970 – „Rosen, Tulpen und Narzissen, das Leben könnte so schön sein“
  • 1971 – „Hexenküche der Werbesprüche“
  • 1972 – „Wir sind alle kleine Sünderlein“
  • 1973 – „Fastelovend wie hä es un wor, zick 150 Johr“
  • 1974 – „Zustände wie im alten Rom“
  • 1975 – „Seid umschlungen Millionen“
  • 1976 – „Sang und Klang mit Willi Ostermann“
  • 1977 – „Mer losse de Pöppcher danze“
  • 1978 – „Flohmarkt Colonia“
  • 1979 – „Kölsche in aller Welt“
  • 1980 – „Mer losse d’r Dom verzälle“
  • 1981 – „Circus Colonia“
  • 1982 – „Karneval der Schlagzeilen – Närrische Nachrichten“
  • 1983 – „Es war einmal… Kölner Karneval wie ein Märchen“
  • 1984 – „Hits us Kölle un us aller Welt“
  • 1985 – „Ene Besuch em Zoo – Met jroße un met kleine Diere“
  • 1986 – „Fastelovend der Rekorde“
  • 1987 – „Janz Kölle dräump – un jede Jeck dräump anders“
  • 1988 – „Kölle Alaaf – COLONIA FEIERT FESTE“
  • 1989 – „Wir machen Musik – Met vill Harmonie“
  • 1990 – „Hereinspaziert, hereinspaziert – Zur größten Schau der Welt“
  • 1991 – „Kinema Colonia“ (kein offizieller Rosenmontagszug in diesem Jahr wegen Golfkrieg)
  • 1992 – „Et kütt wie et kütt“
  • 1993 – „Sinfonie in Doll“
  • 1994 – „Hokuspokus – kölsche Zauberei“
  • 1995 – „Colonia ruft die Narren aller Länder“
  • 1996 – „Typisch Kölsch“
  • 1997 – „Nix bliev wie et es – aber wir werden das Kind schon schaukeln“
  • 1998 – „Fastelovend und Dom im Jubiläumsfieber“
  • 1999 – „999 Jahre – Das waren Zeiten“
  • 2000 – „Kölle loß jon, ins neue Jahrtausend”“
  • 2001 – „Köln kann sich mit allen Messen“
  • 2002 – „Janz Kölle es e Poppespill“
  • 2003 – „Klaaf und Tratsch – auf kölsche Art“
  • 2004 – „Laach doch ens, et weed widder wäde!“
  • 2005 – „Kölle un die Pänz us aller Welt“
  • 2006 – „E Fastelovendsfoßballspill“
  • 2007 – „Mir all sin Kölle!“
  • 2008 – „Jeschenke för Kölle – uns Kulturkamelle“
  • 2009 – „Unser Fastelovend - himmlisch jeck“

Malam pergantian tahun baru, yang mana di Jerman di kenal dengan istilah Silvester, di rayakan di berbagai kota dengan pesta kembang api (Fireworks). seperti biasa anak-anak remaja pada berhamburan keluar ke pusat-pusat keramaian di kota dengan masing-masing berbekal kembang api yang akan mereka luncurkan disaat mendekati detik-detik pergantian tahun baru, walaupun sesungguhnya suhu di luar rumah mendekati minus 5, suhu dingin ini tidaklah menghalangi mereka untuk tetap berhamburan keluar rumah.

Berbeda dengan anak remaja, sebagaian orang yang termasuk kategori dewasa ataupun senior merayakan pergantian tahun baru ini dengan berdoa bersama seluruh anggota keluarga di rumah, dengan berharap di tahun baru bisa memiliki semangat kerja yang baru dan kebahagiaan serta ke damaian yang baru pada anggota keluarganya.

Penjualan kembang api, mercon, dan sejenisnya di negara jerman adalah di larang oleh pemerintah, namun demikian untuk peringatan pergantian tahun, selama tiga hari menjelang pergantian tahun ini di toko-toko bisa dengan mudah di dapati kembang api. sekali lagi jangan berharap bisa membelinya di hari-hari biasa dan mencoba menyalakannya tanpa ijin dari aparat keamanan, karena hal ini bisa berujung menjadi pemukim penjara.

Bila tidak ada peristiwa dunia yang mengakibatkan korban jiwa manusia, biasanya perayaan pergantian tahun ini selalu di laksanakan dengan cukup meriah. Namun pernah sekali saya merasakan perayaan pergantian tahun baru di jerman di rayakan dengan sangat sederhana, yaitu ketika terjadi peristiwa Tsunami di akhir tahun 2004 di Aceh, yang memakan korban jiwa cukup banyak. Dengan alasan kemanusiaan dan turut bersimpati kepada mereka yang berduka, pemerintah jerman memberikan pengumuman untuk merayakan pergantian tahun saat itu tidak terlalu jor-joran.

Malam Tahun Baru 2009

Bagaimana dengan di Bali dengan masyarakat tradisionalnya, saya membaca artikel di beritabali.com (http://www.beritabali.com/index.php?reg=&kat=&s=news&id=200812310002 ) , di tahun 2009 masyarakat bali  menyambut pergantian tahun baru dengan menggelar Tarian Masal. di samping itu juga Pemerintah Kota melaksanakan berbagai kegiatan dari pelaksanaan festifal makanan hingga kegiatan kesenian. Untuk kegiatan kesenian kurang lebih ribuan penari dari 50 sanggar tari se-Kota Denpasar menunjukkan kebolehannya dengan melaksanakan tari masal di Lapangan Puputan Badung (31/12). Dalam tarian masal tampak penari-penari cilik yang turut menari sehingga sering mengundang gelak tawa bagi yang melihatnya.

Semoga kegiatan-kegiatan positive yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat bali semakin sering di laksanakan di Bali, untuk terus menanamkan tentang pentingnya melestarikan kesenian serta budaya bali, walaupun waktu terus berjalan dan tahun terus berganti.

Malam Tahun Baru 2010

Di malam pergantian tahun 2009 / 2010 ini yaitu 31 Desember 2009 yang kebetulan bertepatan dengan hari Purnama Kepitu, umat hindu dimanapun berada kemungkinan akan merayakan pergantian tahun baru ini dengan melaksanakan persembahyangan bersama di Pura atau melakukan doa bersama seluruh anggota keluarganya.

akhir kata, sekali lagi saya mengucapkan selamat Tahun Baru 2010, semoga Ida Sang Hyang Widi Wasa selalu beserta kita di tahun yang baru ini.


Bagi yang pernah menjalani masa kanak-kanak di jaman dulu, pemandangan diatas semestinya tidaklah merupakan hal yang asing lagi bagi kita semua. walaupun kita tidak berdomisili di kota besar, biasanya hiburan roda putar,  sesekali akan menghampiri kota kita di saat kita merayakan hari kemerdekaan 17 agustusan yaitu adanya pagelaran sirkus keliling, yang salah satunya terdapat hiburan roda putar besar seperti diatas. namun bagi yang berdomisili di kota besar seperti jakarta, hiburan roda putar seperti diatas, akan dengan mudah di dapati di taman hiburan Ade Irma Nasution (Senayan) atau di taman hiburan Dufan (Dunia Fantasi Ancol), dan rodanya pun terpasang permanent serta memiliki ukuran roda yang lebih besar jadi masih bisa melihat sebagian pemandangan kota jakarta.

Dibeberapa kota Jerman, juga menikmati hiburan roda putar (Great Wheel)  seperti diatas di saat hari-hari perayaan penting kota tertentu, atau mendekati hari libur sekolah anak-anak, atau mendekati pergantian tahun, hiburan ini berpindah-pindah layaknya pagelaran sirkus di indonesia, sesuai dengan kebutuhan masyarakat di kota tertentu. Namun baru-baru ini di bangun sebuah Great Wheel permanent di kota Berlin yang merupakan Great Wheel terbesar/tertinggi kedua di dunia. bagi masyarakat yang berlibur ke kota berlin bisa menikmati pemandangan kota berlin yang historik serta artistik dengan cara membeli tiket masuk Great Wheel ini.

Bagi yang tidak memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Berlin, sesungguhnya Great Wheel besar dan tinggi juga terdapat di negara serba ada di Asia bagian tenggara yang cukup dekat bagi Indonesia atau Bali, yaitu di negara Singapura. Great Wheel yang terdapat di Singapura yang dikenal dengan nama “Singapore Flyer” dengan ketinggian 165 meter, saat ini merupakan Great Wheel yang terbesar/tertinggi ke tiga di dunia setelah Beijing Great Wheel dengan ketinggian 208 meter, dan Great Berlin Wheel dengan ketinggian 185 meter.  Dengan membeli tiket masuk Singapore Flyer, pengunjung di manjakan dengan pemandangan bisa melihat kota singapura yang bersih dan indah, tapi juga bisa melihat sebagian kota batam (indonesia) dan sebagian kota johor (malaysia).

Seiring dengan perkembangan jaman, setiap negara yang ingin membuat sesuatu yang baru memang berlomba-lomba membuat proyek mercusuar, selalu ingin membuat sesuatu yang terbesar ataupun tertinggi di dunia, sehingga bisa mencuri perhatian masyarakat dunia. Namun kalau di pelajari sejarah asal muasal keberadaan Great Wheel ini, baik di eropa ataupun di asia (di jepang), Great Wheel ini menurut tabel di bawah, pertama kali di buat di jepang dengan ketinggian 61, 4 meter yang di beri nama Shining Flower, kemudian di susul di kota Viena Austria dengan ketinggian 64,8 meter yang di buat di tahun 1897 yang di beri nama Riesenrad Viena. setelah itu di hampir setiap negara besar membuatnya yang tentunya dengan ketinggian yang melebihi Great Wheel yang sudah ada, hingga sekarang (untuk sementara) sudah mencapai ketinggian 208 meter dari permukaan laut.

Keberadaan Great Wheel ini, yang memang karena ukurannya sangat besar menjadikannya sebagai trademark dari kota dimana Great Wheel tersebut berada. keberadaan Great Wheel ini juga bisa menjadi object wisata baru bagi pengunjung (turis) luar kota atau turis manca negara, sehingga keberadaannya bisa membuat para turis untuk tinggal lebih lama, yang akhirnya tidak hanya membuat mesin Great Wheel itu tetap berputar tapi juga bisa membuat roda perekonomian kota setempat lebih bergairah.

Mungkinkah Great Wheel ini di miliki oleh provinsi bali sebagai salah satu daya tarik wisatawan, baik wisatawan nusantara ataupun wisatawan mancanegara agar mau berdiam lebih lama di bali?

Keberadaan hiburan Great Wheel ini mungkin bisa mendukung dan saling melengkapi tempat-tempat hiburan yang sudah ada selama ini, seperti Bugy Jumping di Legian, atau Waterboom di Kuta, atau hiburan tradisional bali lainnya. Bukan bermaksud ikut latah negeri lain dengan membangun Great Wheel ini, melainkan bisa di jadikan sebagai suatu kebanggan juga sama halnya membuat Monumen Garuda Wisnu Kencana yang sedang di bangun di daerah bukit Jimbaran.

Sudah tentu, pemerintah provinsi tidak harus membangunnya dengan menggunakan APBD, melainkan menggundang investor dunia untuk menginvestasikan uangnya membangun Great Wheel yang baru di pulau wisata di Bali ini, meniru apa yang di lakukan pemerintah singapura, dimana kepemilikan dari Great Wheel Singapore Flyer ini dimiliki oleh investor dari Jerman.

Semoga para pejabat pemerintah daerah provinsi bali di dukung oleh wakil rakyat di bali bisa lebih proaktif dalam mempromosikan potensi yang dimiliki pulau Bali dan lebih proaktif dalam menggaet investor dunia untuk berlomba-lomba menanamkan uangnya untuk berinvestasi di bali, yang semuanya adalah bertujuan untukmembantu terciptanya lapangan kerja baru bagi penduduk bali dan terciptanya kesejahteraan masyarakat bali pada umumnya. Semoga.

salam waRning,

Name  ? Height (m)  ? Year of completion  ? Country  ? Location  ? Remarks  ?
Beijing Great Wheel 208 2009 China Beijing Under construction
Great Berlin Wheel 185 2009 Germany Berlin Under construction
Singapore Flyer 165 2008 Singapore Singapore Currently the world’s largest wheel
Star of Nanchang 160 2006 China Nanchang
London Eye 135 1999 UK London
The Southern Star 120 2008 Australia Melbourne
Changsha Ferris Wheel[citation needed] 120 2004 China Changsha
Zhengzhou Ferris Wheel[citation needed] 120 2003 China Zhengzhou
Sky Dream Fukuoka 120 2002 Japan Fukuoka
Diamonds and Flowers (daiya & hana) Ferris Wheel[citation needed] 117 2001 Japan Kasai Rinkai Park, Edogawa, Tokyo
Sky Wheel[citation needed] 115 1999 Japan Palette Town, Odaiba, Tokyo
Star of Tai Lake[citation needed] 115 2008 China Wuxi, Jiangsu
Cosmo Clock 21 [15] 112.5 1999 Japan Cosmoworld, Yokohama
Tempozan Harbor Village Ferris wheel 112.5 1997 Japan Osaka
Harbin Ferris Wheel[citation needed] 110 2003 China Harbin
Jinjiang Park Ferris Wheel[citation needed] 108 2002 China Shanghai
HEP Five 106 1998 Japan Osaka
Ferris Wheel of Paris 100 1900 France Paris Built in 1900 for world exhibition; demolished in 1937
Space Eye[citation needed] 100 ? Japan Kita-Kyushu
The Great Wheel[16] 94 1895 UK Earls Court, London Demolished 1907
Aurora [17] 90 ? Japan Nagashima Spa Land, Mie
Eurowheel[citation needed] 90 1999 Italy Mirabilandia amusement park, Savio Europe’s second tallest Ferris wheel
Janfusun FancyWorld[citation needed] 88 ? Taiwan Yunlin
Mashhad Fun Fair[citation needed] 80 2001? Iran Mashhad Biggest wheel in Iran
The Ferris Wheel[citation needed] 80 1893 USA Chicago First-ever Ferris wheel; built for World’s Columbian Exposition (World’s Fair); demolished
Moscow-850[citation needed] 75 1995 Russia Moscow Built for 850 jubilee of Moscow foundation celebrated in 1997
Polaris Tower[citation needed] 72 1993 South Korea Daejon
Miramar Entertainment Park 70 2002 Taiwan Taipei Including the building it stands on it is 100 m tall
Texas Star 65 1985 USA Dallas/Fair Park Largest Ferris wheel in North America
Riesenrad Vienna 64.8 1897 Austria Vienna
Shining Flower [18] 61.4 ? Japan Yomiuriland, Inagi

Public Transportation System

Posted by Adnyana under Jalan Sutra

Kebutuhan akan sarana public transportation sepertinya sangat penting bagi masyarakat kebanyakan yang tidak memiliki kendaraan pribadi. disamping tentunya keberadaannya di rasa sangat effektif untuk menghindari kemacetan di jalan raya. Didunia ini alat transportasi umum memang ada berbagai ragam jenisnya, salah satunya , seperti transportasi jalan raya dengan bus, kereta darat, atau kereta bawah tanah (subway), dan bahkan kereta udara (sky train).

Bagi beberapa daerah yang landscape / bentuk daerahnya rata dan tidak bergunung-gunung, pembuatan sistem transportasi jalan darat seperti bus atau kereta darat mungkin tidaklah masalah. namun bagi yang kontur daerahnya berbukit-bukit, pembuatan sistem transportasi darat, mungkin sedikit rumit untuk di aplikasikan. salah satunya terjadi di kota Wuppertal Jerman, yang daerahnya berada di pinggir perbukitan. Oleh karenanya sistem public transportasi yang memungkinkan adalah menerapkan kereta layang. Kereta layang yang diterapkannyapun cukup unik, tidak seperti kereta normal lainnya yang duduk di atas relnya, melainkan keretanya menggantung di bawah relnya. dan rutenya persis berada diatas sungai mengikuti alur sungai yang melintasi kota tersebut .

Sky train yang terdapat di Wuppertal, termasuk salah satu kerta gantung tipe monorail  dan yang tertua di negeri jerman , dimana kereta tersebut di rancang bangun sebelum tahun 1900, dan mulai di operasikan sejak 1901 hingga sekarang. Keberadaan sky train ini cukup membantu mobilitas masyarakat Wuppertal dan mengurangi kemacetan lalu lintas di kota tersebut. selain itu keberadaan Sky train itu memberikan keunikan tersendiri bagi kota Wuppertal dan menjadi trademark kota itu, hingga menjadi daya tarik wisatawan luar kota atau luar negara untuk datang ke kota Wuppertal hanya untuk mencoba Kereta gantung di kota Wuppertal ini, yang sering dikenal dengan nama aslinya : Wuppertaler Schwebebahn.

Keberhasilan sistem transportasi kereta gantung ini semakin lama semakin diminati oleh pemerintah kota lainnya, dimana selain bisa menghemat lahan, juga masih bisa memfungsikan tanah dibawah lintasan kereta ini untuk kepentingan lainnya, seperti area parkir kendaraan. hal ini sudah di terapkan di bandara udara Dusseldorf, di kampus universitas Dortmund, di kota Hamburg. Tentunya Kereta gantung yang baru ini jauh lebih modern, dan tidak perlu lagi di lengkapi dengan kendali manusia di setiap gerbongnya, alias auto control, yang cukup di kendalikan dan di monitor dari layar computer.  Model Kereta gantung yang baru tampak di gambar berikut:

Jakarta

Selain Sky Train yang menggantung di relnya, seperti di jelaskan diatas, ada jenis kereta yang duduk di atas relnya. hal ini juga terdapat di beberapa kota lainnya di jerman. di samping itu, bagi yang pernah singgah di bandara Changgi Singapura  ataupun di kota Bangkok, pastilah pernah juga merasakan sky train tipe mono rail yang melaju diatas relnya.  Sesungguhnya pemerintah DKI Jakarta juga berminat untuk merealisasikan sistem transportasi Monorail di dalam kota Jakarta, untuk memberikan alternatif sistem transportasi bagi masyarakat / professional yang bekerja di Jakarta. Nampaknya sistem yang ingin diterapkan oleh pemerintah DKI lebih condong meniru skytrain yang gerbongnya melaju diatas relnya, hal ini mungkin dikarenakan  investor dari konsorsium pembuat Monorail ini adalah gabungan dari pengusaha Korea Selatan dan  Jepang, yang ingin mengaplikasikan apa yang ada di negaranya tersebut.

Bali

Bagaimana dengan di Bali, mungkinkah mewujudkan sistem transportasi umum kereta gantung ini? Sepertinya untuk mewujudkan Kereta gantung seperti ini di Bali, sungguhlah sangat sulit untuk mendapatkan lampu hijau dari para pinih sepuh adat dan budaya bali, salah satunya karena alasan agama Hindu, yang mana masyarakatnya bila melaksanakan upacara keagamaan Hindu menyungsung Ida Batara tidak boleh melintas di bawah jembatan. Hal ini di khawatirkan bisa mengurangi ke sakralan prosesi dari upacara keagamaan itu sendiri. Apapun alasannya, kita patut untuk menghormatinya, demi keselamatan kita semua.

Walaupun keinginan untuk memiliki public transportasi kereta gantung masih cukup sulit untuk di realisasikan di bali, tapi saya pikir tetap menarik untuk berbagi cerita dan berbagi pengalaman seperti ini untuk kita ketahui bersama, dengan harapan suatu saat nanti, minimal kita bisa mencobanya atau memilikinya di negara kita sendiri.

salam waRning,

Melihat pemandangan gambar diatas, ada sesuatu yang sedikit berbeda yang saya rasakan di akhir tahun ini bila di bandingkan dengan akhir tahun lalu. tahun 2008 ini saya merasakan hujan salju lebih sering turun menghampiri bumi ini (khususnya di belahan bumi kutub utara), sementara tahun lalu suhu cuaca terasa agak sedikit lebih panas. entah ada atau tidak hubungannya dengan konferensi Global Warming yang di motori oleh badan organisasi dunia PBB yang mendesak negara-negara maju untuk mengurangi emisi gas industrinya dan juga memaksa negara-negara berkembang untuk mengurangi penebangan hutan-hutan trofisnya, akhirnya berbuah manis di akhir tahun ini dimana bumi ini terasa lebih sejuk dibandingkan sebelum adanya konferensi Global Warming yang di selenggarakan di bali di awal tahun 2008 kemaren.

Walaupun demikian, menurut Dinas Meteorologi inggris yang mengeluarkan laporan iklim 2008 ini, mengatakan secara umum tahun 2008 ini masih merupakan salah satu tahun terpanas sejak pencatatan cuaca dilakukan.

14,3 derajat Celcius. Itulah suhu udara rata-rata di bumi sepanjang tahun 2008. Menurut analisa para ahli iklim Inggris, tahun ini menduduki peringkat ke sepuluh tahun terpanas sejak 1850. Yang lebih penting lagi, sepuluh tahun terpanas dalam catatan sejarah itu semuanya ada pada jangka waktu 1997 sampai sekarang. Jadi jelas, saat ini memang sedang berlangsung proses pemanasan bumi.

Tahun terpanas di bumi tercatat tahun 1998 dengan suhu rata-rata 14,5 derajat Celcius. Pergerakan suhu bumi dari tahun ke tahun dalam skala kecil dipengaruhi oleh fenomena cuaca yang bertukar antara gelombang panas dan gelombang dingin. Dalam istilah populer fenomena ini dikenal dengan sebutan gelombang El Nino untuk hawa panas, dan gelombang La Nina untuk hawa dingin.

Penghujung tahun 2008 ada fenomena hawa dingin La Nina. Jadi gejala pemanasan bumi sebenarnya masih teredam oleh fenomena itu. Bahkan 2008 adalah tahun terdingin selama 10 tahun terakhir. Tapi para ahli yakin, fase dingin ini akan segera berakhir. Seperti diungkapkan Peter Stott dari pusat penelitian iklim Hadley di Inggris: “Kemungkinan besar, satu sampai tiga tahun depan bumi makin hangat. Karena tidak ada lagi fenomena La Nina. Jadi suhu rata-rata bisa naik 0,2 persen setiap dekade.”

Memang ada juga peneliti yang skeptis terhadap teori pemanasan bumi. Sebab menurut mereka, tahun 1998 tercatat sebagai tahun terpanas. Setelah itu ternyata suhu udara turun lagi. Dan suhu rata-rata bumi sekarang 0,2 derajat Celcius di bawah suhu tahun 1998. Jadi suhu bumi malah mendingin. Peneliti iklim Phil Jones menerangkan, perkembangan suhu bumi harus dilihat dalam kecenderungan jangka panjangnya.

“Memang tidak selalu suhu udara bumi lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Yang lebih penting adalah mengamati kecenderungan jangka panjang. Membandingkan dekade sekarang dengan dekade-dekade sebelumnya. Tahun 2000 sampai 2008, suhu rata-rata 0,2 derajat celcius lebih tinggi dari periode tahun 90-an. Dari situ saja terlihat, ada pemanasan global yang disebabkan oleh gas rumah kaca di atmosfir.“

Jadi 2008 memang bukan tahun terpanas menurut catatan para ahli. Tapi catatan cuaca menunjukkan dengan jelas adanya kecenderungan pemanasan global.

Bila permasalahan dunia ini kita hubungkan dengan kehidupan pribadi kita , dengan menanyakan kepada diri kita sendiri sebagai seorang individu, apa kira-kira kontribusi yang bisa kita berikan kepada bumi ini agar kecenderungan pemanasan global bisa terus di kurangi secara konsisten di kemudian hari, jawabannya mungkin bisa di mulai dari yang paling kecil dan paling sederhana. yaitu usahakan kurangi bepergian dengan menggunakan kendaraan bermotor, bila di rasa tidak terlalu mendesak sekali atau tidak penting sekali, sebaiknya memang lebih baik berdiam diri di rumah dan jangan menggunakan kendaraan bermotor, pun demikian dengan pemakaian lampu di rumah, kalau dirasa sudah terang sebaiknya lampu rumahnya di matikan, dan lain sebagainya.

salam waRning,

di bulan nopember dan desember, sebagian orang mengenalnya sebagai memang musim-musim kelabu … salah satu contohnya masyarakat di tanah air mulai khawatir akan musim hujan yang berkepanjangan yang biasanya selalu menimbulkan kebanjiran. kelompok penyanyi Gun & Roses pun demikian mengabadikan bulan penghujung  tahun ini dengan judul lagunya “november rain” dan penyanyi tanah air dian pisesha pun mengenang bulan-bulan ini dengan lagu cintanya yang berjudul “hujan di bulan desember”.  sementara masyarakat di belahan bumi kutub utara menyambut bulan ini dengan turunnya hujan salju. beberapa orang memang khawatir akan hujan salju ini, seperti orang yang sering lalu lalang di jalan raya, karena jalanan yang mulai licin hingga banyak terjadi kecelakaan, tetapi ada juga yang menyambut hujan salju ini dengan gembira, khususnya para anak-anak yang dengan begitu gembiranya bermain di bawah rintik-rintik hujan salju.

bagi pecinta warna putih, seperti saya, musim ini adalah musim yang saya tunggu-tunggu. Mungkin kata-kata romantis seperti “Hatiku putih bersih seperti salju” atau “Cintaku bersemi bersama salju” sering kita dengar. disamping tentunya karena semuanya tampak putih bersih, juga karena sesungguhnya bila salju sudah turun, suhu dingin mulai berkurang. pernahkah kita mendengarkan “Salju itu menghangatkan“? kalimat tadi sebenarnya bukanlah isapan jempol belaka, melainkan benar adanya.  artikel yang saya kutip dari google menarik kita baca bersama  mengenai salju: **bagaimana salju tercipta**, **kenapa warnanya putih**, dan **bagaimana pengaruh salju pada lingkungan**.

Bagaimana salju tercipta

Salju berasal dari uap air yang berkumpul di atmosfir. Kumpulan uap air mendingin sampai pada titik kondensasi, dan kemudian menggumpal membentuk awan. Awalnya, gumpalan-gumpalan uap air mengapung di udara karena massanya jauh lebih ringan daripada udara di bawahnya - jadi seperti udara di bawahnya menahan mereka di atas sana, persis seperti kayu yang tidak tenggelam di atas air.

Namun, setelah gumpalan uap air terus bertambah dan massanya semakin berat, udara di bawahnya tidak sanggup lagi menahannya dan gumpalan-gumpalan itupun jatuh. Jika temperatur udara di bawahnya cukup dingin, gumpalan tadi jatuh berupa kristal-kristal es (salju). Pada banyak kasus di dunia ini, proses turunnya hujan selalu dimulai dengan salju beberapa saat dia jatuh dari awan tapi kemudian mencair saat melintasi udara yang panas.

Nah, ada yang menarik saat gumpalan uap air jatuh dari awan. Air murni tidak langsung membeku pada temperatur 0 derajat Celcius. Untuk membuatnya beku, maka kita harus menurunkan temperatur di bawah 0 derajat Celcius. Ini mirip saat kita memanaskan air, air tidak langsung menguap pada suhu 100 derajat Celcius melainkan mendidih dulu. Zat memang butuh proses lagi saat dia berubah bentuk dari satu wujud ke wujud yang lain.

Ada sebuah percobaan menarik yang bisa dilakukan di dapur memanfaatkan fakta ini. Kalau anda bisa mendapatkan air murni, maka letakkanlah air murni tersebut dalam gelas atau mangkuk yang benar-benar bersih (tidak berdebu, berminyak, atau kotoran-kotran lainnya) dan tutup rapat-rapat. Masukkan ke dalam kulkas sampai temperaturnya 0 derajat Celcius.

Nah, sekarang sihir dimulai: Keluarkan air murni tersebut dengan hati-hati, buka tutupnya, dan masukkan ke dalam air murni tersebut sebongkah kecil batu es…. Anda akan menyaksikan fenomena yang menarik. Air murni di sekitar batu es kecil tersebut mulai membentuk kristal es, mengembang dan terus mengembang sampai semua air murni dalam mangkuk itu menjadi es!

Air memiliki sifat susah untuk memulai pembentukkan kristal es. Biasanya, dalam percobaan kimia ada zat-zat khusus yang ditambahkan untuk mempercepat pembekuan es. Dalam proses terciptanya salju juga demikian. Di udara di atas sana, ada sejenis “debu alam” (bukan berasal dari polusi) yang berfungsi sebagai batu es dalam percobaan air murni kita tadi. Debu ini disebut nucleator. Gumpalan-gumpalan uap air yang jatuh dari awan bercampur dengan nucleator, membuat uap air cepat membentuk kristal-kristal es (SALJU!).

Selain berfungsi sebagai pemercepat pembekuan, nucleator juga menjadi perekat antar uap air. Sesaat sebelum salju jatuh ke bawah, semakin banyak partikel air yang terkondensasi dan membeku membentuk kristal es karena nucleator ini. Kumpulan kristal-krisal es ini membentuk lapisan salju.  Kristal salju memiliki bentuk unik. Tidak ada kristal salju yang memiliki bentuk yang sama di dunia, ini persis seperti sidik jari kita. Bayangkan, tidak terhitung banyaknya kristal salju yang sudah turun di muka Bumi ini dan tidak satupun yang memiliki bentuk kristal yang sama…

Bagaimana salju bewarna putih

cahaya bergerak lebih lambat di dalam media yang lebih padat daripada media yang lebih ringan. Saat cahaya dari udara masuk ke dalam air, maka akan terjadi pembelokkan. Ini disebut peristiwa pembiasan. Contoh yang sering dipakai untuk percobaan ini adalah pensil yang terlihat patah saat separuh badannya dimasukkan ke dalam air. Bagaimana ini terjadi? Jawabannya adalah karena pengaruh muatan listrik yang dimiliki benda. Muatan listriklah yang membuat sebuah gelombang cahaya melambat (dibelokkan) dan dipantulkan kembali. Aturan umumnya (tapi tentu tidak selalu benar) adalah semakin padat sebuah benda, semakin besar konsentrasi kandungan muatan listriknya.

Dari sini kita bisa memahami bahwa konsentrasi listrik dalam kristal es lebih tinggi daripada air atau udara. Cahaya yang datang mengenai kristal es akan dibelokkan, beberapa malah dipantulkan. Karena bentuk salju seperti bola-bola kecil, maka cahaya dipantulkan ke segala arah. Hasilnya adalah warna putih.

Fenomena yang sama juga bisa kita dapati saat melihat pasir putih, bongkahan garam, bongkahan gula, kabut, awan, cat putih, dan lain-lainnya. Setiap benda itu mengandung bagian kecil yang memantulkan cahaya ke segala arah. Karena mereka memantulkan semua warna ke semua arah dalam jumlah yang sama, maka muncullah warna putih. begitu juga dengan butiran salju,  ”Karena butiran salju memantulkan semua warna ke semua arah dalam jumlah yang sama, maka muncullah warna putih.”

Salju yang menghangatkan

Panas/dingin yang dirasakan tubuh kita bukanlah berasal dari temperatur mutlak, melainkan apa yang disebut temperatur efektif . Ada tiga faktor yang mempengaruhi temperatur efektif, temperatur yang dirasakan badan kita: temperatur mutlak, yaitu temperatur yang diukur langsung oleh termometer ke benda besangkutan; kelembaban udara, dan kecepatan aliran angin. Contoh temperatur efektif ini adalah tepi pantai. Di tepi pantai, temperatur mutlak sekitar 40 derajat Celcius. Tapi, kita masih merasa nyaman dan tidak merasa terlalu panas - terutama kalau sedang santai di bawah payung/tenda. Kenapa? Karena angin di pantai bertiup kencang, sehingga temperatur efektif mungkin sekitar 20-25 derajat Celcius. Selain faktor kecepatan angin, kelembaban udara juga mempengaruhi temperatur efektif. Kalau udara kering (kelembaban rendah = udara kering) maka temperatur efektif akan turun. Bila temperatur mutlak di bawah 5 derajat Celcius, angin kencang, dan udara kering! Nah, pada saat-saat seperti ini, turunnya salju membuat kelembaban udara secara global naik (artinya udara menjadi basah). Dengan demikian, temperatur efektif naik, dan kita merasa hangat.

di kutip dari link berikut:
http://febdian.net/drupal/bagaimana_salju_tercipta

pemandangan diatas merupakan sebuah kota kabupaten kecil yang bernama Echternach yang terletak di negara Luxembourg persis berbatasan dengan negara Jerman. sekilas kabupaten ini menunjukkan kemiripan dengan kabupaten Klungkung, yaitu penduduknya tidak lebih dari 150.000 jiwa dan kota kabupatennya kurang lebih sama dengan ukuran kota klungkung, dimana banyak orang yang memplesetkan  kota “klungkung” dengan sebutan “kota yang a klingkungan” yang artinya kurang lebih sebuah kota kecil yang bisa dikenali atau di kelilingi dengan sekali putaran.

Persamaan kota Echternach lainnya yang bisa saya bagi di sini adalah di tengah kota Echternach juga terdapat sebuah bangunan bersejarah yaitu sebuah istana kerajaan jaman dulu yang masih terawat dengan baik hingga sekarang dan merupakan saksi bisu yang bisa menceritakan banyak kebesaran daerah tersebut di jaman dulu.

dimana hal yang sama persis juga terdapat di pusat kota kabupaten Klungkung dengan bangunan sejarahnya yaitu Taman Gili Kertagosa, yang juga banyak bercerita tentang sejarah kebesaran kerajaan Klungkung di jaman dulu mulai dari kerajaan Gelgel yang berpusat di Swecapura hingga ibukota kerajaannya di pindahkan ke kota Semarapura sekarang ini.

Kabupaten Echternach ini juga menggantungkan pendapatan asli daerahnnya sama seperti kabupaten klungkung, yaitu dari Pariwisata. tapi ada satu hal yang membuat saya sedikit heran, entah apa yang membedakannya dengan kabupaten klungkung, kota Echternach ini di setiap akhir pekan, yaitu di hari Sabtu dan Minggu selalu saja padat di kunjungi oleh wisatawan baik itu wisatawan lokal ataupun wisatawan dari kota sebelah atau wisatawan dari negeri tetangga.

seperti kota-kota lainnya di Eropa, di setiap pusat kota Eropa baik kota besar ataupun kota kecil selalu di sediakan jalan setapak yang lebar mirip dengan trotoar paving yang sering kita jumpai di sepanjang kabupaten klungkung. pun demikian dengan kota Echternach terdapat jalan setapak atau dikenal dengan sebutan “fussgaenger” atau dalam bahasa inggrisnya walkway atau pedestrian-way dengan batu batanya mirip di perempatan kota klungkung di sekeliling Patung Kanda Pat.

sementara di kabupaten klungkung jalan batu bata hanya terdapat sebatas di perempatan Patung Kanda Pat saja, sedangkan di Ecternach jalan batu batanya hampir terdapat di seluruh pusat kota Echternach, yang membuat para pejalan kaki bisa dengan leluasa berjalan-jalan tanpa di ganggu oleh lalu-lintas kendaraan. di sepanjang jalan batu bata ini pun banyak bertebaran caffee pinggir jalan khas eropa dengan beberapa bangku dan meja kecilnya yang siap melayani setiap orang yang lewat untuk beristirahat melepas dahaga ataupun berhenti sejenak untuk ngobrol dengan kawan sambil di temani secangkir dua cangkir coffee.

Secara  umum memang tidak terdapat perbedaan yang mencolok diantara kabupaten Echternach dengan kabupaten klungkung dengan object pariwisatanya Taman Gili Kerta gosa serta Museum Semara Jaya nya. pun demikian dengan kebersihan  kedua kota ini yang saya lihat juga sama-sama bersih dan terawat indah.

Yang menjadi pertanyaannya, Apa yang membedakan pusat kota Echternach selalu padat di kunjungi oleh Turis atau wisatawan bila di bandingkan di pusat kota klungkung. Padahal pusat kota Klungkung atau lebih di kenal dengan nama Semarapura sesungguhnya memiliki nilai historis yang tinggi, bila di tinjau sejak   jaman kerajaan Bali jaman dulu.

Meminjam istilah dalam bahasa marketing, kabupaten klungkung perlu mendefinisikan dirinya sendiri lebih specifik lagi “be deterministik” apakah ingin menjadi kota dagang atau kota pariwisata budaya, seperti yang pernah di cetuskan kembali oleh maestro lukis nasional kelahiran Desa Banda Klungkung yaitu Pak Nyoman Gunarsa, yang ingin menjadikan kabupaten klungkung sebagai pusat pariwisata Budaya Bali sehingga masyarakat klungkung khususnya atau masyarakat bali pada umumnya bisa bercermin dari sejarah kebesarannya di masa lalu dimana kerajaan Bali dulunya berpusat di kabupaten Klungkung. ., jadi tidak hanya mengenal kota klungkung sebagai sebutan kota serombotan

pesan moral yang ingin saya sampaikan di artikel ini  bukanlah untuk mengajak kita semua terlena melamuni sejarah kebesaran di masa lalu melainkan mengajak kita semua untuk mencoba menggabungkan seluruh potensi yang ada demi kesempurnaan seperti  kebesaran sejarah masa lalu  di kemas menjadi suatu paket pariwisata yang spesifik dan unik untuk di jual kepada wisatawan.  Kebesaran sejarah masa lalu tentunya bisa di jadikan sebagai “reference point”  agar kita tahu kemana melangkahkan kaki ini kedepan untuk bisa menjadi lebih baik lagi dan tentunya demi mewujudkan sebuah kebanggan “pride” yaitu bangga sebagai warga klungkung !

salam waRning,

Kembali ke Alam

Posted by Adnyana under Jalan Sutra

Pemandangan diatas dengan rumputnya yang hijau serta di dukung dengan rindangnya pepohonan, sekilas tampak seperti pemadangan di daerah Kebun Raya Bedugul Bali, yang terletak di daerah pegunungan dengan udaranya yang sejuk dan dingin. Namun sesungguhnya tidaklah demikian, pemandangan diatas bukanlah Taman yang berlokasi di daerah pegunungan, melainkan berlokasi di pusat kota dimana saya berdomisili saat ini, yaitu di Stuttgart.

Bila cuaca bagus dengan sinar mataharinya yang hangat, Taman inilah yang paling pavorit di kunjungi masyarakat Stuttgart, bukan di Hauptbahnhof dan bukan juga di Stadtmitte di Füssgänger Königstrasse. Taman ini sangat nyaman di jadikan tempat untuk janjian ketemu teman untuk ngobrol di bawah rindangnya pohon, atau berinisiatif datang sendiri hanya untuk mencari ketenangan sambil membaca di bawah hangatnya sinar matahari, atau datang untuk mencari inspirasi ..

kembali ke alam, sepertinya sudah menjadi fenomena dan banyak di jadikan sebagai solusi dari permasalahan belakangan ini oleh kelompok negeri maju yang tergabung dalam G8 dalam mengatasi permasalahan Global Warming, pun oleh kelompok Green Peace dalam memperjuangkan penyelamatan dunia ini juga mewanti-wanti untuk kembali ke alam.

Agar tidak pernah lupa akan Alam yang banyak membantu dan mensejahterakan umat manusia, para leluhur kita di Bali sesungguhnya juga selalu mengingatkan kita untuk terus menghormatinya melalui perayaan rahinan Tumpek Wariga (atau sebagian masyarakat bali menyebut dengan nama lain seperti: Tumpek Pengatag, Tumpek Uduh, atau Tumpek Bubuh) . Kalau di lihat dari sudut pandang religi , Tumpek Wariga dimaksudkan untuk memuja Dewa Sangkara, yang merupakan manifestasi Tuhan sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan……

Kalau di pelajari lebih dalam tentang makna filosofi dari perayaan Tumpek Wariga yang di wariskan oleh para leluhur kita di Bali yang jatuh di setiap hari Sabtu Kliwon wuku Wariga, sesungguhnya mengajarkan  konsep yang sangat luhur dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungannya — dalam kaitan ini hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan. Umat bukan hanya mesti menghargai ciptaan Tuhan, tetapi sekaligus melestarikan tumbuh-tumbuhan yang telah mensejahterakan kehidupannya. Jadi perayaan Tumpek Wariga (Tumpek Pengatag, atau Tumpek Bubuh) adalah salah satu komponen penting dalam mengajegkan konsep Tri Hita Karana.

Sesungguhnya pula, aplikasi nilai-nilai yang terkandung dalam Tumpek Wariga bukan hanya untuk kepentingan umat Hindu, tetapi juga umat lain. Tanpa tumbuh-tumbuhan, umat manusia tidak akan bisa hidup. ”Jadi nilai yang terkandung dalam Tumpek Bubuh sangat universal.

Sebagai contoh: ahli gizi kesehatan lebih tertarik mempromosikan gaya hidup sehat dengan banyak mengkonsumsi produk alami yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan. Para dokter menyarankan pasiennya untuk tidak banyak minum obat pil melainkan sebaliknya menawarkan obat alami yaitu banyak-banyak minum air putih.

Dalam Weda disebutkan, tumbuh-tumbuhan dan air adalah pelindung manusia. Bahkan, dalam Reg Weda disebutkan, tumbuh-tumbuhan memiliki jiwa yang sama dengan manusia. Karena itu kita mesti menjalankan ajaran tatwam asi dalam memperlakukan alam. Jika alam rusak atau sakit, kita wajib mengobatinya atau merawatnya. Merusak alam berarti juga menyakiti diri sendiri. Karena itu peliharalah alam agar terjadi keharmonisan. Tumbuh-tumbuhan juga penghasil O2 yang amat diperlukan oleh manusia.

Ketika manusia menemukan kebuntuan dalam pikirannya , mereka mulai berteman dengan alam. Iwan Fals seorang penyanyi dan penulis lagu sengaja meninggalkan Jakarta dan menyendiri ke daerah puncak bogor dengan alasan hanya bisa membuat lagu ketika ia di temani pepohonan. begitu juga dengan Gede Prama, seorang pembicara publik yang sukses di ibukota, akhirnya meninggalkan Jakarta dan pulang ke kampungnya ke desa tajun Singaraja yang sunyi, selain untuk mengikuti kata hatinya juga untuk mencari ketenangan serta mencari pencerahan. hingga akhirnya tercipta karya-karya berikut yang banyak menghipnotis pendengar seminarnya : Kealamian ditemukan dalam diam, Kesederhanaan yang paling mencerahkan, Hati Penuh dengan Inspirasi, Kosong itu isi, Biarkan Kedamaian bicara, Kota keheningan dan Kedamaian, Sepi sunyi yang menerangi, Mendengarkan Bambu Bicara.

Kembali ke foto-foto diatas, ketika menginjakkan kaki serta berjalan-jalan keliling di taman kota diatas, mengingatkan saya akan kampung halaman di Bali ataupun di Klungkung, yang mungkin tidak kalah hijaunya dengan taman-taman yang ada di negeri jerman, cuman sayangnya Taman seperti ini sulit di temukan di tengah kota atau boleh di katakan tidak ada, melainkan hanya bisa di dapatkan jauh di daerah pegunungan atau di daerah pinggiran pedesaan, seperti tampak di foto berikut.

semoga di kemudian hari para pemimpin daerah kita bisa menyadari akan betapa pentingnya memiliki Taman kota selain sebagai pusat paru-paru kota juga sebagai tempat untuk mencari inspirasi bagi masyarakatnya dengan berhubungan kembali ke alam.

salam waRning,

Peduli Lingkungan

Posted by Adnyana under Jalan Sutra

Thema untuk melindungi bumi ini dari segala jenis kerusakan dan polusi dimana-mana mulai banyak di galakkan. baik lewat pemerintah ataupun LSM Lembaga Swadaya Masyarakat. Bahkan Swasta pun ikut serta berpartisipasi aktif merawat bumi ini, sepert menciptakan Jenis kendaraan yang berbahan bakar ramah lingkungan, salah satunya kendaraan hybrid yang di pelopori oleh pabrik mobil Toyota. Pun demikian dengan pembangkit listrik, sudah juga banyak yang mengurangi ketergantungannya akan bahan bakar yang biasanya mencemari udara.

Di Bali kita mengenal istilah hari Raya Nyepi, dimana kita di sarankan untuk mengurangi segala aktifitas, dan membiarkan alam untuk beristirahat sejenak. Begitu juga di agama Hindu yang meyakini bahwa setiap ciptaan Tuhan adalah memiliki atman (jiwa), oleh karenanya kita semua di sarankan untuk bisa hidup saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai. Sementara di Negeri barat, mencoba menghargai alamnya dengan tidak mengotorinya dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Pemandangan seperti diatas adalah lumrah didapati di setiap depan rumah masyarakat di Jerman. biasanya terdapat minimal tiga box tempat sampah untuh berbagai jenis kategori sampah. sebagai contoh box dengan tutup berwarna biru adalah khusus untuk jenis sampah bertipe kertas. box dengan tutup warna coklat adalah untuk jenis sampah kategori Bio atau organic seperti kulit pisang, dan berbagai jenis buah-buahan atau sayuran. box dengan tutup warna hitam adalah untuk jenis selain kertas dan bio diatas, biasanya boleh di buang kedalam kantong hitam ini, terkadang sampah jenis plastikpun seperti bungkus indomie atau botol minuman aqua boleh juga di buang kedalam box hitam ini, Tapi ada beberapa keluarga yang mengelompokkan sampah plastik ini kedalam box dengan tutup berwarna kuning.

Begitu juga dengan kelompok sampah yang terbuat dari bahan gelas. Mereka pun di buangnya berdasarkan warna yang mereka miliki, dan di buangnya kedalam tempat pembuangan yang khusus di sediakan. Sehingga Tanah yang sedari awal memang tidak bisa menerima kehadiran pecahan gelas, keinginannya bisa terpenuhi. dan manusiapun bisa mengolahnya kembali menjadi hal-hal yang lebih bermanfaat dengan mendaur ulangnya.

Hal-hal yang berhubungan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, sepertinya kita memang harus banyak belajar dari negeri barat, khususnya kedisiplinannya. apalagi kalau sudah di buatkan hukum dan undang-undangnya, masyarakat barat sepertinya tunduk sekali kepada hukumnya.

dalam tata letak bangunan rumah di bali yang terkenal dengan istilah “Asta Kosala-Kosali“, sesungguhnya juga mengenal simtem tempat membuang sampah. hal ini terbukti dengan adanya istilah: sanggah, bale dangin, bale daje (meten), bale dauh, bale delod, gelebeg (tempat lumbung padi) dan “tebe” yang biasanya berlokasi di belakang untuk ‘ngubuh kucit (anak babi)’ atau menanam tanaman kecil serta sebagai tempat membuang sampah. biasanya “tebe” ini adalah tempat membuang segala jenis sampah. walaupun tidak sedetail orang bule sekarang, tapi sepertinya para penglingsir kita di jaman dulu sudah memikirkannya.

seiring dengan berjalannya waktu serta mahalnya harga tanah khususnya di daerah perkotaan, alokasi tanah yang di fungsikan sebagai tebe saat ini sudah mulai di kurangi, kalau tidak ingin mengatakan sudah mulai di lupakan. hal ini sudah di ganti cukup dengan menyediakan tempat sampah (umum), dimana semua jenis sampah di buang kedalam tempat yang sama.

Topik menarik yang ingin saya kedepankan di artikel ini adalah, kenapa orang barat begitu telitinya dalam memilah jenis sampah sementara di dalam kultur masyarakat kita masih memandang hal ini belum perlu dilakukan?  saya coba pelajari dari google, memang selain untuk menghindari sampah non-organic yang tidak bisa di daur ulang dijadikan kompos, yang nantinya bisa mengotori bumi ini, juga untuk membantu pemerintah daerah, karena merekalah yang bertanggung jawab dalam mengoleksi dan mendistribusikan (membuangnya).

di beberapa negeri maju, pusat pembangkit listrik tidak hanya bersumber dari PLTA (pembangkit listrik tenaga air), PLTU (Uap), PLTG (Gas), PLTPB (Panas Bumi), PLTB (Bayu / kincir angin), tetapi juga ada PLTS yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Sampah.

dimana sampah yang di kumpulkan dari masayarakat kemudian di bakar dan selanjutnya uap hasil pembakarannya di olah menjadi listrik. Untuk kepentingan inilah jenis-jenis sampah perlu di pilah-pilah dan di bedakan. istilahnya ada sampah jenis basah seperti jenis sampah bio tadi, dan sampah jenis kering.

Sampah basah selain akan mengalami kesulitan dalam proses pembakarannya, keberadaannya akan dirasa lebih bermanfaat bila di olah menjadi kompos dan di buang kembali ke TPA. sementara jenis sampah lainnya, selain cepat dalam pembakarannya, juga keberadaannya seperti plastik, tidak bisa di gabungkan dengan tanah lagi.

Akhir kata, pesan moral yang ingin saya sampaikan di artikel ini adalah, walaupun di daerah kita memang belum memiliki PLTS (pembangkit listri tenaga sampah), kiranya menarik untuk selalu memilah-milah sampah yang akan kita buang ke Tempat Pembuangan Sampah, selain membantu pemerintah juga turut  membantu melestarikan kebersihan lingkungan kita, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang untuk Peduli Lingkungan.

salam waRning,