kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Secarik Motivasi’ Category

Sahrdayam sammanasyam avidvesam krnomi vah anyo Anyam abhi haryata vatsam jatam ivaghnya (Atharvaveda III.301).

Artinya: Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat-sifat ketulusiklasan, mentalitas (kejiwaan)  yang sama dan perasaan berkawan tanpa kebencian (permusuhan). Seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, begitulah anda seharusnya mencintai teman-temanmu.

MANUSIA lahir ke dunia ini untuk menjalani cobaan, karena rencana alam kadang-kadang membebankan penderitaan pada mahluk hidup. Panas, dingin, kelaparan, kehausan, kesakitan. Semuanya ini merupakan keadaan yang tak dapat dielakkan dimana semua mahluk hidup akan tunduk. Setiap masalah baik jasmani dan spikis akan menyebabkan penderitaan, dan ini adalah merupakan suatu latihan moral. Menerima semua cobaan alam ini dengan ketenangan dan mengatasi semuanya melalui kerjasama yang baik dan saling mempercayai adalah perbuatan yang mulia. Setiap permasalahan hidup dihadapi dan diselesaikan dengan pikiran yang tenang dan sabar, membuat manusia  bertambah pintar dan bijaksana.

Bilamana masalah hidup terlalu berat dan sulit diatasi sendiri, seseorang hendaknya menghimpun kekuatan dengan orang lain sebagai manifestasi persatuan. Manifestasi persatuan dalam mengatasi setiap masalah hidup telah dibuktikan oleh sekawanan burung merpati dalam cerita Panca Tantra.

Ketika itu hari masih pagi, sekelompok burung merpati terbang mencari makanan disekitar sawah yang baru saja selesai di panen. Merpati putih berkata; aku lapar,  kapan kita menemukan makanan ?. Sabarlah, kata merpati tua, kita akan segera mendapatkan makanan. Merpati putih berteriak dengan gembira, bahwa ia dapat melihat banyak butir padi berceceran di rerumputan. Sekelompok burung merpati terbang menuju rerumputan. Merpati hitam berkata; cobalah sedikit hati-hati, tampaknya seperti ada perangkap. Mereka lalu turun hinggap di atas rerumputan dan mulai mematuki butir-butir padi itu. Mereka semua sibuk makan dan tidak menyadari seorang pemburu burung bersembunyi dibalik cabang sebatang pohon .

Melihat semua  burung merpati sudah ada di atas jaring lalu  dengan sigap pemburu burung menarik tali jaringnya sehingga semua merpati itu terperangkap. Merpati hitam berkata;  sejak semula aku tahu ada yang tak beres, merpati putihlah yang salah sehingga kita semua terperangkap seperti ini. Merpati putih  dengan  marah membela diri,  bukan salahku, aku hanya ingin kita semua dapat makan enak.

Merpati tua yang bijaksana berkata; sudahlah, semua diam, bukan saatnya bertengkar diantara kita sendiri, bila kita bertindak dalam persatuan kita mungkin dapat menyelamatkan diri dari sang pemburu. Tetapi bagaimana caranya ? teriak  para merpati sambil berjuang tanpa daya di bawah jaring, kita semua akan mati dan sang pemburu sedang menuju kearah jaringnya.

Merpati tua yang bijaksana memiliki gagasan, kita semua harus bersatu mengeluarkan tenaga sekuat-kuatnya untuk terbang sambil mengangkut jaring ini, aku yakin kita semua akan terbebas dari perangkap penderitaan ini. Semua burung merpati menyetujui gagasan merpati tua. Merpati tua yang bijaksana memberi komando; siap, ayo terbang, dan semua merpati bergerak bersama-sama mengepakkan sayap-sayapnya dan akhirnya berhasil terbang sambil mengangkut jaring.

Terbang bersama jaringnya, dengan terengah-engah si pemburu merasa sangat lelah dan berkata;  sial, burung-burung merpati telah mengecewakanku, hanya dengan persatuan mereka kini telah bebas dari perangkapku. Sekelompok Burung merpati itu terbang jauh meninggalkan si pemburu yang sedang menelan kekecewaan karena burung buruannya terlepas di depan mata. Merpati tua berkata; sekarang kalian saksikan bahwa  bersatu kita teguh dan berpisah kita akan jatuh.

Apa yang dapat kita pelajari dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari dari cerita burung merpati di atas?.

Dalam mengatasi setiap masalah, terlebih masalah negara dan bangsa saat ini yang sangat komplek, kecil kemungkinan dapat teratasi bilamana saling menyalahkan satu sama lain dan  saling memojokkan. Kondisi semacam ini sesungguhnya memperlihatkan kelemahan diri kita sendiri. Bersikap bijaksana seperti burung merpati tua; “bukan saatnya bertengkar diantara kita sendiri, bila kita bertindak dalam persatuan kita akan mudah  mengatasi masalah namun kalau kita bercerai berai kita akan menemui bencana.**

oleh: IB. Heri J

http://pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=23555

Hakim yang Bijaksana

Posted by Adnyana under Secarik Motivasi

Ada seorang kaya tinggal disebuah kota dengan istrinya. Rumah mereka besar. Harta mereka pun banyak. Mereka memiliki beberapa orang pembantu. Dibelakang rumah mereka, ada sebuah rumah yang dimiliki oleh keluarga miskin. Dirumah inilah simiskin dan istrinya tinggal.  Walaupun sikaya hidup senang dan berkemewahan namun badan mereka sangatlah kurus. Apabila mereka berjalan, mereka terlihat seperti pasangan tinggi kurus. Hal ini bertolak belakang dengan si miskin dan istrinya. Badan mereka gemuk. Walaupun miskin mereka senantiasa gembira. Sementara si Kaya selalu sibuk dalam mengurus harta kekayaannya yang banyak itu. Si kaya takut sekali kalau usaha dagangnya rugi.

Pada suatu hari si kaya dan si miskin berjumpa di jalan. Apa yang kamu makan hingga badanmu menjadi gemuk seperti ini, tanya si kaya kepada si miskin. Saya tidak makan apa-apa, kecuali disetiap saya dan istri mau makan, kami selalu menunggu tukang masak tuan memasak. Aroma masakan yang datang dari dapur rumah tuan meningkatkan selera makan kami. Inilah yang menjadikan kami gemuk dan sehat, Kata si miskin. Si kaya sangat marah mendengar jawaban si miskin. Baginya si miskin telah mendapatkan keuntungan dari aroma masakan yang di masak oleh tukang masaknya.  Lalu hal itu diadukannya kepada seorang Hakim.

Saya ingin mendapatkan ganti rugi tuan hakim, kata si kaya kepada sang Hakim. Si kaya dan istrinya juga hadir karena ingin mendapatkan ganti rugi dari makanan mereka. Si miskin dan istrinya mengakui bila sang hakim menyatakan dakwaan dan setuju akan tuntutan si kaya dan istrinya. Tiba saatnya, Sang Hakim pun menjatuhkan hukuman, dan dia meminta sejumlah uang emas dan sebuah mangkuk besi. Bersediakah kamu menerima ganti rugi itu. Tanya sang hakim kepada si kaya dan istrinya. Si kaya pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia setuju. Sang hakim mulai mengangkat uang emas itu dan menjatuhkannya kedalam mangkuk besi itu. Dentingan suara uang emas itu terdengar nyaring bunyinya. Dan si kaya pun menghitungnya satu persatu. Itukah uang ganti buat saya tuan hakim, tanya si kaya kepada sang hakim?. Sang Hakim menjawab, oleh karena si miskin hanya makan bau aroma makanan kamu, maka kamu pun hanya dapat mendengar dentingan bunyi uang itu, kata sang hakim. Setelah itu, Iapun menghentikan pembicaraannya.

Singkat cerita, si miskin terlepas dari jeratan tuntutan si kaya, dan si kaya dan istrinya pun merasa malu akibat ulahnya.

Renungan:

Dalam pepatah Jerman kita sering mendengar: ” Wie du in den Wald hineinrufst, so hallt es wieder“. yang artinya ” bagaimana dikau berteriak menyeru kedalam hutan, demikianlah gaung yang kembali kepadamu”. Segala perbuatan adalah Karma, dan apa yang kita terima adalah akibat dari Karma kita, itulah yang kita kenal dengan Karma Pala.

Cerita Katak di Rebus

Posted by Adnyana under Secarik Motivasi

The boiling frog story is a widespread anecdot describing a frog slowly being boiled alive. The premise is that if a frog is placed in boiling water, it will jump out, but if it is placed in cold water that is slowly heated, it will not perceive the danger and will be cooked to death. The story is often used as a metaphor for the inability of people to react to important changes that occur gradually.

Begitulah kutipan secarik motivasi yang cukup terkenal di jerman, yang awalnya di populerkan oleh seorang physicologist Jerman yang bernama Friedrich Goltz, yang artinya kurang lebih: Ketika anda diposisikan dalam tempayan yang sejuk anda merasa nyaman… begitu mulai dipanasi secara perlahan-lahan anda pun merasa tambah enak….hitung hitung mandi dengan air hangat…. ketika airnya sudah bukan hangat lagi dan bahkan malah panas….? andapun tidak mau mengobah pola hidup… akhirnya…….jadi lah anda ibarat katak yang mati konyol dalam rebusan air mendidih.

Cerita katak rebus diatas sesungguhnya dialamatkan kepada mereka yang selalu merasa nyaman dengan keadaan yang mereka miliki agar selalu mengamati setiap perubahan jaman yang terus berganti yang ada disekelilingnya. Ke engganan untuk keluar dari “comfort zone” dibarengi dengan ketidak tertarikan untuk mencoba sesuatu yang baru ataupun belajar sesuatu yang baru secara proactive biasanya akan berakhir seperti cerita katak diatas.

Bila Anda juga merasa sebagai “katak rebus”, sudah saatnya keluar dari panci yang merebus Anda. Ini akan membuat hidup Anda jauh lebih baik.

Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta, si gadis tampil luar biasa cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si gadis. Si pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikan dia, tapi pada saat pesta selesai dia memberanikan diri mengajak si gadis untuk sekedar mencari minuman hangat. Si gadis agak terkejut, tapi karena kesopanan si pria itu, si gadis mengiyakan ajakannya.

Dan mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop, tapi si pria sangat gugup untuk berkata apa-apa dan si gadis mulai merasa tidak nyaman dan berkata, “Kita pulang aja yuk…?”.

Namun tiba-tiba si pria meminta sesuatu pada sang pramusaji, “Bisa minta garam buat kopi saya?” Semua orang yang mendengar memandang dengan ke arah si pria, aneh sekali! Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya.

Si gadis dengan penasaran bertanya, “Kenapa kamu bisa punya hobi seperti ini?”

Si pria menjawab, “Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai dekat laut, saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan rasanya laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini. Dan setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya, ingat kampung halaman, saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen orang tua saya yang masih tinggal di sana.”

Begitu berkata kalimat terakhir, mata si pria mulai berkaca-kaca, dan si gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya itu. Si gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, perduli akan rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya. Kemudian si gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana , masa kecilnya, dan keluarganya.  Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat juga akhirnya menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua.

Mereka akhirnya berpacaran. Si gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya, dia sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat perduli … betul-betul seseorang yang sangat baik tapi si gadis hampir saja kehilangan seorang lelaki seperti itu! Untung ada kopi asin!

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah, sang putri menikah dengan sang pangeran dan mereka hidup bahagia selamanya, dan setiap saat sang putri membuat kopi untuk sang pangeran, ia membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu bahwa itulah yang disukai oleh pangerannya.

Setelah 40 tahun, si pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat yang berkata, “Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur hidupku adalah dusta belaka. Hanya sebuah kebohongan yang aku katakan padamu … tentang kopi asin.”

Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama? Saya sangat gugup waktu itu, sebenarnya saya ingin minta gula tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi saya untuk merubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman, jadi saya maju terus. Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita! Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini, tapi saya terlalu takut melakukannya, karena saya telah berjanji untuk tidak membohongimu untuk suatu apa pun.

Sekarang saya sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakan padamu yang sejujurnya, saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejak bertemu denganmu, dan saya tidak pernah sekalipun menyesal untuk segala sesuatu yang saya lakukan untukmu. Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku, meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi.

Air mata si gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah. Kemudian hari bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam? Si gadis pasti menjawab, “Rasanya manis.”

Kadang anda merasa anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat anda tentang seseorang itu bukan seperti yang anda gambarkan. Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci karena terkadang garam terasa lebih manis daripada gula.

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya  sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa
kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku. (Bayu Gautama, Untuk Semua Ibu Di Seluruh Dunia)

Cerita Penjual Topi

Posted by Adnyana under Secarik Motivasi

Suatu ketika ada seorang penjual topi yang berjalan melintasi hutan. Cuaca saat itu sangat panas. Ia lalu memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon besar. Sebelum merebahkan diri, ia meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya. Beberapa jam ia terlelap dan terbangun oleh suara-suara ribut. Hal pertama yang disadarinya adalah bahwa semua topi dagangannya telah hilang. Kemudian ia mendengar suara monyet-monyet di atas pohon. Ia mendongak ke atas. Betapa terkejutnya ia melihat pohon itu penuh dengan monyet. Dan, semua monyet itu mengenakan topi-topinya.

Penjual topi itu terduduk dan berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendapatkan kembali topi-topi dagangannya yang sekarang sedang dibuat main-main oleh monyet-monyet itu. Ia berpikir dan berpikir, dan mulai menggaruk-garukkan kepalanya. Lalu ia melihat monyet-monyet itu ternyata menirukan tingkah lakunya. Kemudian, ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya. Dan monyet-monyet itu pun melakukan hal yang sama. Aha..! Ia pun mendapat ide..! Lalu ia membuang topinya ke tanah, dan monyet-monyet itu juga membuang topi-topi di tangan mereka ke tanah. Segera saja si penjual itu mengumpulkan dan mendapatkan kembali semua topi-topinya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.

Lima puluh tahun kemudian, cucu dari si penjual topi itu juga menjadi seorang penjual topi juga dan telah mendengar cerita tentang monyet-monyet itu dari kakeknya.

Suatu hari, persis seperti kakeknya, ia melintasi hutan yang sama. Udara sangat panas. Ia beristirahat di bawah pohon yang sama dan meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya. Sekali lagi, ketika terbangun ia menyadari kalau monyet-monyet telah mengambil semua topi-topinya. Ia pun teringat akan cerita kakeknya. Ia mulai menggaruk-garuk kepala, dan monyet-monyet itu menirukannya. Ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya, monyet-monyet itu masih menirukannya. Nah, sekarang ia merasa yakin akan ide kakeknya. Kemudian ia melempar topinya ke tanah. Tapi kali ini ia yang terkejut, karena monyet-monyet itu tidak menirukannya dan tetap memegangi topi itu erat-erat.

Kemudian, seekor monyet turun dari pohon, mengambil topi yang di lemparkan oleh cucu pedagang topi itu, lalu menepuk bahunya sambil berkata, “Memangnya cuma kamu saja yang punya kakek…?”

Renungan:

Jangan hanya karena anda mampu mengambil pelajaran dari suatu pengalaman buruk, lalu anda menganggap orang lain tidak mengambil pelajaran yang sama juga. Jangan hanya karena anda merasa lebih tahu, lalu anda menganggap orang lain bodoh. Jangan-jangan andalah yang lebih bodoh daripada orang lain  :)

oleh: Putu Setia

Sukses Karena Melayani

Posted by Adnyana under Secarik Motivasi

Sukses Karena Melayani

Di sebuah malam berguntur, tampak sepasang orang tua yang sudah lanjut usia dan kedinginan memasuki sebuah hotel kecil di kota Philadelphia. Keduanya berharap bisa menemukan sebuah kamar untuk menginap. “Maaf bapak dan ibu, kamar di hotel kami penuh, sama dengan hotel-hotel lainnya karena di kota ini sedang ada tiga konferensi besar,” jawab sang penerima tamu.

Setelah diam sejenak, sang penerima tamu ini kembali berujar, “Tapi saya tidak akan membiarkan bapak dan ibu kedinginan di luar pada pukul 1 pagi ini. Maukah bapak dan ibu tidur di kamar saya? Ya, sebuah kamar kecil yang dikhususkan bagi karyawan. Memang tidak seperti kamar hotel namun bapak dan ibu dapat beristirahat dengan tenang di dalamnya.” Semula pasangan itu agak enggan untuk menerima tawaran ini, namun kembali sang penerima tamu ini berkata, “Jangan khawatirkan di mana saya akan tidur. Saya masih muda dan bisa tidur di mana saja.”

Keesokan harinya saat pasangan ini akan pergi, sang pria berujar kepada penerima tamu yang baik hati itu, “Anda seharusnya menjadi bos hotel terhebat di Amerika. Mungkin suatu hari nanti saya akan membangun sebuah hotel untuk Anda.” Sang penerima tamu ini hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Dua tahun kemudian, penerima tamu ini menerima sepucuk surat berikut sebuah tiket untuk berangkat ke kota New York. Pengirim surat tersebut adalah pria tua tersebut. Penerima tamu ini pun berangkat. Ia dijemput oleh sepasang orang tua yang pernah ditolongnya itu. Mereka kemudian menuju ke sebuah perempatan jalan besar. “Itu,” kata si pria tua sambil menunjuk ke sebuah gedung besar, “adalah sebuah hotel yang saya bangun khusus untuk Anda kelola.”

“Anda pasti bergurau,” kata sang penerima tamu. “Saya jamin, saya tidak sedang bergurau,” kata si pria tua ini sambil tersenyum. Nama pria tua itu adalah William Waldorf Astor dan gedung besar itu adalah Waldorf – Astoria hotel yang pertama. Dan penerima tamu yang baik hati itu adalah George C. Boldt, manager pertama hotel itu.

Cerita di atas kerap membuat saya “merinding”. Betapa tidak, sebuah perubahan besar terjadi hanya karena hati yang mau melayani. Benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Martin Luther King, Jr, “Semua orang bisa menjadi orang hebat karena semua orang bisa melayani. Anda tidak memerlukan ijazah perguruan tinggi untuk dapat melayani. Anda tidak perlu menimbang-nimbang dan memutuskan untuk melayani. Yang Anda butuhkan hanya hati yang penuh belas kasihan. Jiwa yang digerakkan oleh kasih.” Tapi, benarkah kalau sikap yang mau melayani dapat membawa kita pada kesuksesan hidup?

Suatu hari, saat berada di sebuah bank saya membaca sebuah tulisan di meja petugas customer service:

Rule #1: If we don’t take care of our customers, someone else will.

Tulisan tersebut seakan menjadi pengingat baginya betapa pentingnya melayani nasabah. Tanyakan kepada banyak perusahaan besar, apa kunci prestasi mereka sehingga perusahaan mereka bisa bertahan di tengah maraknya persaingan bahkan terus bertumbuh. Saya sendiri berani memastikan bahwa salah satu kunci terpenting adalah kesediaan untuk melayani pelanggan. Tidak heran jika tema “kepuasan pelanggan” menjadi begitu penting dalam beberapa tahun terakhir ini. Perusahaan yang senantiasa mau mendengarkan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan konsumen niscaya akan lebih mudah dalam meraih dan mempertahankan kesuksesannya.

Sebenarnya paradigma melayani bukanlah sesuatu yang baru. Lebih dari 2.000 tahun silam, seorang guru spiritual telah mengajarkan bahkan mempraktekkan hal yang sama. Dengan jelas Ia mengatakan bahwa siapa pun yang ingin menjadi terbesar harus mau menjadi pelayan. “Kamu tahu, bahwa pemerintah- emerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani,” katanya kepada para muridnya.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana agar kita juga bisa memiliki hati yang mau melayani?

Pertama, pandanglah pekerjaan kita sebagai kesempatan untuk memuliakan nama Sang Pemberi Hidup.

Kedua, pandanglah kehidupan ini sebagai kesempatan untuk membantu orang lain menjadi lebih baik.

Dengan demikian, hidup Anda akan jauh lebih bermakna. Motivator kelas dunia, Zig Ziglar pernah berkata, “Anda bisa memperoleh apa pun dalam kehidupan ini sepanjang Anda juga mau menolong orang lain memperoleh apa yang mereka inginkan.”

Ketiga, sadarilah bahwa apa yang kita tabur akan kita tuai. Jika kita selalu melakukan yang terbaik, kita pasti akan menerima upahnya. Begitu pun sebaliknya! Sayangnya, para karyawan sering tidak menyadari kalau para pelangganlah yang menggaji mereka, bukan sang pemilik atau pemimpin perusahaan. Itulah sebabnya mereka kerap mengabaikan suara dan keluhan pelanggan. Padahal jika pelanggan diperlakukan dengan baik, semua akan menuai keuntungannya. Selamat melayani!

 

Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku …

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, “Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota.

Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan  turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.”

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah.

Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, “Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan.kita mesti lihat apa yang akan terjadi…”

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya…

Dia tidak melihat sehelai pita kuning…

Tidak ada sehelai pita kuning….

Tidak ada sehelai……

Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning….bergantungan di pohon beringin itu…Ooh…seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning…!!!!!!!!!!!!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, “Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree”, dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973. Sebuah lagu yang manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita bisa melakukan apa yang ditorehkan lagu tersebut,…

 If  God always forgive you,.. will you forgive the others ? .. think wisely .. !!!.

Pencuri Impian

Posted by Adnyana under Secarik Motivasi

Pencuri Impian

Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan rekan-2nya, sehingga dia seringkali menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepuk tangan kepadanya.

Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat, dan dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi muridnya.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari. Si gadis muda bertanya “Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari ? Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian  saya”. “Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit”, jawab sang pakar.

Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis langsung berlari keluar. Pulang kerumah, dia langsung menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan lagi menari.

Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal.  Dan untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan.

Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Nampak sang pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih. Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran tari tersebut. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar. Sang pakar masih mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab.

Si ibu bertanya “, Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah katapun ?”.

“Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-2 berhenti dari dunia tari”, jawab sang pakar.

Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. “Ini tidak adil”, seru si ibu muda. “Sikap anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko !”.

Si pakar menjawab lagi dengan tenang “Tidak .. tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. Anda tidak harus minum anggur satu barel untuk membuktikan anggur itu enak. Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu hal yang perlu anda camkan, bahwa anda mestinya fokus pada impian anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya.

Lalu pujian ? Kamu mengharapkan pujian ? Ah, waktu itu kamu sedang bertumbuh. Pujian itu seperti pedang bermata dua. Ada kalanya memotivasimu, bisa pula melemahkanmu. Dan faktanya saya melihat bahwa sebagian besar pujian yang diberikan pada saat seseorang sedang bertumbuh, hanya akan membuat dirinya puas dan pertumbuhannya berhenti. Saya justru lebih suka mengacuhkanmu, agar hal itu bisa melecutmu bertumbuh lebih cepat lagi. Lagipula, pujian itu sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. Tidak pantas anda meminta pujian dari orang lain”.

“Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini anda sudah menjadi penari kelas dunia. Mungkin anda sakit hati pada waktu itu, tapi sakit hati anda akan cepat hilang begitu anda berlatih kembali. Tapi sakit hati karena penyesalan anda hari ini tidak akan pernah bisa hilang selama-lamanya …”.

Memetik Buah Kesabaran

Posted by Adnyana under Secarik Motivasi

Bukan BERAT beban  yang membuat kita stress, tetapi LAMAnya kita memikul beban  tersebut.
-Stephen Covey-

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen  Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: “Menurut  anda, kira-kira seberapa beratnya segelas air ini?”

Para siswa  menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. “Ini bukanlah masalah berat  absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya.” kata  Covey.

“Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah.  Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika  saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus  memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin  lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”

“Jika kita  membawa be ban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu  membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya.” lanjut Covey. “Apa  yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak  sebelum mengangkatnya lagi”. Kita harus meninggalkan beban kita  secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya  lagi.

Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan  beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok.  Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika  bisa.  Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.

Hidup ini  singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya …!
Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau   disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.