kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Kerajinan Bali’ Category

Desa Pekraman Budaga, begitulah nama sebuah desa yang terletak satu kilometer di sebelah barat Kota Semarapura, Klungkung. Sebuah desa dengan luas sekitar 35 hektar, dan berpenduduk sekitar 198 kepala keluarga (KK) atau 733 jiwa. Laki-laki 367 jiwa dan perempuan 366 jiwa. Sejak awal keberadaannya, ketika Budaga masih terbagi dalam dua banjar (Banjar Budaga Klod dan Budaga Kaler), warga pakraman ini sebenarnya menekuni sektor pertanian sebagai mata pencarian utama.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, dunia pertanian itu sekarang sudah ditinggalkan warganya. Adapun alasan utama terputusnya regenerasi penekun sektor pertanian, selain karena luas lahan pertanian di wewengkon desa adat Budaga yang sudah semakin berkurang seperti untuk kepentingan pemukiman, areal untuk kepentingan desa adat seperti tempat beribadah (pura), kuburan dan tempat berusaha lainnya bagi warga sekitar, juga karena orientasi masyarakat generasi sekarang dari Desa Adat Budaga sudah pula berubah dalam mensikapi perkembangan jaman ini.

Lantas bagaimana warga meningkatkan perekonomiannya?

Dunia pertanian memang benar-benar tak bisa diandalkan lagi di desa pakraman yang berada di ketinggian 117 meter di atas permukaan laut itu. Selain karena jumlah penekunnya yang hanya tersisa tiga KK, juga karena tidak banyak hasil produksi pertanian yang bisa diandalkan dari situ. Generasi muda yang orangtuanya dulu menekuni sektor pertanian, saat ini sudah tak ada lagi. Mereka lebih memilih menekuni dunia baru yang bisa dikerjakan di rumah. Kalaupun bekerja di tempat orang, itu pun masih berada di lingkungan Pakraman Budaga.

Satu bidang pekerjaan yang beberapa tahun belakangan ini sangat menyita perhatian warga Desa Pakraman Budaga setelah beralih dari pertanian adalah kerajinan kuningan. Berbagai jenis hasil produksi bisa diciptakan dari bahan kuningan tersebut. Ada gongseng, gerondong, beraneka cetakan kue dan pemengku (bokor).

Khusus pemengku, sangat cepat peredarannya karena pemasarannya dirangkaikan dengan keberadaan bokor hasil produksi desa wisata Kamasan. Penjualannya bukan hanya di Bali, tetapi hingga ke luar Bali bahkan luar negeri. Namun, seiring memudarnya pesanan pemengku, surut juga pesanan pembuatan pemengku di Budaga. Jenis kerajinan pun ikut beralih meskipun masih menggunakan bahan yang sama, kuningan. Jenis kerajinan terbaru itu adalah genta (bajra).

Bisa dikatakan, Desa Pakraman Budaga merupakan desa segudang kerajinan genta. Genta dan berbagai jenis peralatan pemujaan ida pedanda ikutannya, seperti nawasanga dan siwakrana, saat ini sangat diminati. Selain dipesan para pemangku seluruh Indonesia, juga dipesan oleh konsumen luar negeri untuk kepentingan aksesoris dan suvenir.

Disamping hasil kerajinannya berupa barang-barng untuk kebutuhan upacara keagamaan, Juga terdapat kerajinan lainnya untuk suvenir berupa Bola mimpi yang merupakan hasil karya dari I Nengah Patra salah satu pengerajin di Desa Budaga.

Di samping itu juga, ada kelompok perajin kuningan yang lain yakni Kelompok Perajin Kembang Kuning. Untuk satu orang anggota kelompok, hasil produksi mencapai 10 genta setiap bulan. Kalau dirupiahkan, hasilnya mencapai Rp 6 juta dengan biaya bahan baku antara Rp 3 juta hingga Rp 4 juta. Namun, hasil produksi itu sangat dipengaruhi keberadaan dan kedatangan wisatawan. Termasuk pesanan.

Kalau kondisi pariwisata lesu, secara otomatis berimbas pada penurunan hasil produksi,” ungkap seorang pengurus kelompok, Wayan Sudiarta.

sumber:

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/11/6/d1.htm

http://www.klungkungkab.go.id/main.php?go=budaga

Klungkung adalah satu dari sepuluh kabupaten yang ada di Provinsi Bali dan merupakan kabupaten terkecil yang ada di Bali. Di kabupaten ini banyak terdapat obyek wisata, baik wisata: alam, sejarah, maupun budaya. Salah satu di antara sekian banyak objek wisata yang terdapat di Kabupaten Klungkung adalah Desa Tihingan yang berada di Kecamatan Banjarakan, Kabupaten Klungkung. Dari Kota Semarapura jaraknya sekitar 3 km ke arah barat. Persisnya Desa Tihingan bisa di capai dari pertigaan Banda (depan Museum Gunarsa) ke arah barat.

Penduduknya sebagian besar (90%) perajin gong, baik perajin secara utuh (mampu memproduksi gong mulai dari pengolahan bahan hingga finishing gong secara lengkap) maupun perajin yang hanya mampu memproduski bagian-bagian dari gong, seperti: ceng-ceng, kempuk, dan panggul.

Masyarakat desa Tihingan Klungkung ini sangat terkenal di Bali karena keahliannya membuat istrumen (gamelan) Gong.  Karena keahlian penduduknya dalam pembuatan gong inilah yang kemudian membuat nama desanya menjadi terkenal dan karenanya dijadikan sebagai salah satu daerah kunjungan wisata di Kabupaten Klungkung.

Mungkin keahlian membuat gong ini telah diwariskan oleh leluhur mereka yangtelah berabad-abad lamanya terkenal sebagai Pande Gong dari Desa Tihingan. Hal tersebut dapat kita buktikan dengan katutnya nama para pande Tihingan pada barungan-barungan gamelan yang ada di desa-desa. Gamelan Bali yang mempunyai ciri khusus dan enak dinikmati telah menyebar keseluruh tanah air, bahkan ke seluruh dunia. Sering dijumpai ada wisatawan asing yang berkunjung ke desa Tihingan hanya karena tertarik dan kemudian memesan seperangkat Gong untuk dibawa ke negerinya.

Selain gong, mereka juga membuat semara pegulingan, gender wayang, kelentang/angklung dan lain-lainnya yang bahannya terbuat dari logam kerawang. Para perajin tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok tukang dan kelompok ahli. Kelompok tukang adalah orang-orang yang membuat gong yang berbahan logam kerawang. Sedangkan, kelompok ahli adalah orang-orang yang menyelaraskan suara gong tersebut.

Asal-usul nama Desa Tihingan dan Penduduknya

Konon, para perajin Desa Tihingan adalah keturunan dari orang-orang kuat (kebal) yang diutus oleh Raja Klungkung untuk menjaga suatu tempat yang masih berupa alas tiying (hutan bambu) dengan batas Tukad Yeh Bubuh. Namun, pada saat terjadi peperangan antara Kerajaan Klungkung dan Gianyar, Raja Klungkung langsung mengutus orang-orang sakti (kebal senjata) itu untuk menjadi benteng pertahanan. Setelah berhasil mengamankan wilayah, orang-orang sakti itu memilih menetap dan tidak kembali ke daerahnya masing-masing. Sejak itulah, mereka menetap di alas tiying yang kini bernama Desa Pakraman Tihingan. Dan, untuk kelangsungan hidupnya, mereka membuat membuat gong. Keturunan dari orang-orang itulah yang saat ini menjadi pengrajin gong di Tihingan.

Tenaga Kerja

Seiring dengan semakin banyaknya pesanan –diantaranya dari sekaa-sekaa gong yang ada di Bali, sekolah-sekolah/kampus, instansi pemerintahan dan swasta se-Indonesia serta dari luar negeri seperti Jerman, Perancis, Belanda, Amerika dan India– maka tenaga kerja pembuat gong pun harus didatangkan dari berbagai desa di sekitar Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Buleleng.

Bahan Baku

Selain sektor tenaga kerja yang terbatas, masih ada faktor lain yang menjadi kendala yaitu bahan baku yang berupa kerawang. Kerawang biasanya didatangkan dari Solo, dan terkadang dapat juga diracik sendiri dari campuran berbagai macam unsur seperti timah dan tembaga. Harga bahan baku ini menjadi kendala karena setiap ada kenaikan harga barang di pasar, harga bahan baku pun ikut naik. sebagai contoh: harga 1 kilogramnya Rp80.000,00. Sementara, konsumen selalu menginginkan gong yang berkualitas bagus dengan harga murah. Hal inilah yang membuat sektor industri kerajinan gong dan perangkat gamelan lainnya di Desa Tihingan sampai saat ini tidak dapat menjadi andalan dari Kabupaten Klungkung.

Sumber:
http://www.klungkungkab.go.id

http://uun-halimah.blogspot.com/2008/06/tihingan-desa-perajin-gamelan-bali.html

Lukisan Wayang Kamasan

Posted by Adnyana under Kerajinan Bali

ASAL-USUL lukisan wayang tradisional gaya Kamasan, menurut I Made Kanta (1977), merupakan kelanjutan dari tradisi melukis wong-wongan (manusia dengan alam sekitar) pada zaman pra-sejarah hingga masuknya agama Hindu di Bali dan keahlian tersebut mendapatkan kesempatan berkembang dengan baik. Cerita yang dilukis gaya Kamasan banyak yang mengandung unsur seni dan makna filosofis yang diambil dari Ramayana dan Mahabharata, termasuk juga bentuk pawukon dan palelidon. Salah satu contoh warisan lukisan Kamasan telah menghiasi langit-langit di Taman Gili dan Kerthagosa, Semarapura, Klungkung.

Menyelamatkan Lukisan Kamasan dari “Kematian” Permanen

MENYEBUT nama Desa Kamasan, Klungkung, maka ingatan kita akan tertancap pada sebentang kanvas berhiaskan tokoh-tokoh pewayangan. Kamasan memang sudah sangat identik dengan lukisan wayang klasik itu. Dari generasi ke generasi, krama Kamasan begitu suntuk menekuni kesenian warisan leluhurnya. Gemuruh perkembangan seni rupa dunia yang menawarkan beragam aliran, tak kuasa membuat mereka berpaling. Bahkan, tidak sedikit krama Kamasan menggantungkan sumber penghidupannya dari aktivitas berkesenian (melukis wayang Kamasan-red) itu.

===========================================================

Dulu, ketika booming pariwisata masih menerpa Bali, lukisan wayang Kamasan memang menjadi benda seni buruan kaum pelancong. Apalagi, kreativitas seniman lukis Kamasan tidak hanya terpaku pada bentangan kanvas semata. Wujud tokoh-tokoh pewayangan nan khas itu juga diguratkan di atas lembaran dompet, cangkang telur hingga helm pengaman. Benda-benda itu pun menjelma menjadi suvenir bercitarasa seni tinggi. Sayang, seni lukis Bali klasik itu kini tak lagi “menggairahkan” untuk “digumuli” sebagai sumber penghidupan.

Tragedi Bom Bali I dan Bom Bali II yang datang susul-menyusul membuat angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali anjlok drastis. Dan, seniman Kamasan pun “menggigil kedinginan” menanti kehadiran para turis untuk membeli lukisan wayang. Gemerincing dolar tak lagi terdengar riuh di desa yang pada masa kerajaan silam dikenal sebagai kampungnya para seniman itu.

Ada seniman yang mencoba tetap bertahan menggumuli tradisi leluhurnya, namun tidak sedikit pula seniman yang terpaksa alih profesi. Menjadi tukang bangunan, tukang prada, petani dan beragam profesi lainnya yang dinilai lebih menjanjikan. Mendung tebal tengah menggantung di langit Kamasan. Jika kondisi ini terus berlanjut, tidak tertutup kemungkinan seni lukis klasik Bali nan adiluhung itu tinggal kenangan manis semata. Sebelum “kematian” permanen itu tiba, pemerintah wajib melakukan langkah-langkah penyelamatan. Upaya penyelamatan yang tidak hanya sebatas menyimpan lukisan-lukisan wayang Kamasan itu di museum. Namun, yang terpenting lagi adalah bagaimana menjaga aktivitas melukis wayang Kamasan itu terus berdenyut.

Pola Konvensional

Pembantu Rektor (PR) I Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Drs. I Ketut Murdana, M.Sn. tidak menampik bahwa alih profesi besar-besaran kini tengah melanda komunitas pelukis wayang Kamasan. Fenomena ini makin menjadi-jadi ketika tragedi bom mengguncang Bali untuk kedua kalinya pada 2005 lalu yang serta merta membuat kunjungan wisatawan mancanegara ke Kamasan turun drastis. Padahal, pangsa pasar lukisan produk Kamasan ini sepenuhnya tergantung dari kunjungan wisatawan mancanegara itu.

“Saat ini, pelukis Kamasan memang tengah terpuruk. Keterpurukan ini bukan lantaran seni lukis klasik Bali itu jatuh dari segi kualitas. Tetapi, murni lantaran mereka tidak kuasa melepaskan diri dari kondisi industri pariwisata Bali yang tak kunjung pulih,” ujarnya.

Dalam memasarkan karya seninya, katanya, mayoritas pelukis Kamasan mengandalkan pola pemasaran konvensional. Mereka hanya diam di rumah menunggu penikmat seni datang untuk membeli lukisan. Jarang sekali ada pelukis Kamasan yang proaktif menggelar pameran guna mempromosikan karya-karyanya. Apalagi, sampai membuka website khusus untuk kepentingan tersebut. Padahal, untuk bisa bersaing di ranah seni rupa yang makin kompetitif, pola pemasaran konvesional itu tidak lagi bisa terlalu diandalkan.

“Memang, sangat jarang ada pelukis wayang Kamasan yang aktif menggelar pameran. Kendalanya, mungkin karena mereka tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai pameran itu seperti menyewa gedung maupun persiapan lainnya,” katanya dan menambahkan, di sinilah peran pemerintah untuk memfasilitasi para seniman itu agar bisa berpameran secara rutin. Termasuk, membantu dari segi pendanaan.

Pelukis akademis ini juga membantah tegas jika keseragaman corak pada lukisan wayang Kamasan diklaim sebagai biang keladi terpuruknya seni lukis klasik Bali itu. Meskipun berada pada corak yang sama, kata dia, masing-masing pelukis menempatkan proses kreatifnya secara personal yang dituangkan lewat bentuk wayang, ornamentasi, komposisi, pewarnaan, ketajaman dan kekuatan garis yang kesemuanya nampak memberikan pencitraan artistik pembobotan seni lukis itu sendiri.

Artinya, di dalam keseragaman corak itu tetap ada perbedaan. Lukisan wayang Kamasan karya I Nyoman Mandra, misalnya, pasti punya kekhasan tersendiri yang bisa dibedakan dengan para pelukis wayang Kamasan lainnya. “Jadi, masing-masing pelukis tetap memiliki kekhasannya sendiri-sendiri,” katanya lagi.

Pameran Internasional

Menurut Murdana, lukisan wayang Kamasan sejatinya sudah mampu menggebrak jagat seni dunia sejak puluhan tahun silam. Pada 1937 lalu, salah satu karya Ida Bagus Gelgel yang berjudul “Kematian Abimanyu” sempat dikirim untuk mengikuti pameran internasional di Paris. Kala itu, Kementerian Perdagangan dan Industri Prancis menganugerahkan medali perak untuk karya seni lukis klasik itu. Sebuah prestasi yang amat mengagumkan. Namun, sebelum penghargaan itu diterima, seniman besar itu telah dipanggil Yang Mahakuasa. “Sekarang, lukisan itu tersimpan di Museum Tropis Amsterdam,” katanya.

Sesuai catatan sejarah, katanya, pada pameran internasional itu juga dipamerkan karya Pablo Picasso yang berjudul “Guernika”. Karya lukis yang menggambarkan kebiadaban pesawat-pesawat tempur Jerman atas perintah diktator Spanyol membombartir Guernika pada tanggal 24 April 1937 itu disebut-sebut sebagai lukisan terbaik abad ke-20. Dari catatan sejarah itu, dapat diketahui bahwa pelukis Bali sejatinya sudah berkompetisi dan mampu berdiri sejajar dengan pelukis-pelukis besar dunia sejak puluhan tahun silam.

“Sejumlah pelukis lainnya dari Kamasan yang ikut mengharumkan nama bangsa seperti Mangku Mura, I Nyoman Mandra, Suciarmi dan sebagainya. Saat ini pun sebenarnya bermunculan sejumlah pelukis muda yang cukup andal seperti terlihat pada pameran PKB ke-28 tahun 2006 lalu. Barisan pelukis muda itu di antaranya Pande Sumantra, I Wayan Puspa, Ni Wayan Sri Wedari, Ni Made Sri Rahayu dan banyak lagi pelukis muda bertalenta besar lainnya. Namun, apakah mereka akan tetap konsisten menekuni seni warisan leluhur itu untuk selanjutnya mewariskannya kepada generasi berikutnya, tentu saja waktu yang akan menjawabnya,” katanya lagi.

* w. sumatika

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2006/12/16/bd2.htm

Pelukis Kamasan

YANG dimaksudkan lukisan gaya Kamasan oleh masyarakat umum adalah lukisan wayang dengan penampilan sepotong cerita. Namun, jauh sebelumnya gaya Kamasan adalah simbol yang melukiskan berbagai dewa dalam mitologi Hindu yang menceritakan tentang hari baik, pengaruh peredaran bulan terhadap kelahiran seseorang, dan sebagainya. Dewa-dewa dalam mitologi Hindu itu dilukis bergaya wayang. Gaya ini kemudian disebut sebagai lukisan klasik Kamasan. Orang dengan mudah bisa membedakan yang mana gaya Kamasan, yang mana tidak, hanya dengan melihat adegan dalam kanvas itu.

Belakangan gaya Kamasan ini sudah mulai ditiru seiring dengan permintaan pasar. Sementara itu bahan-bahan yang dipakai melukis juga sudah modern seperti cat. Dulu dipakai warna alam, misalnya dari atal, kencu, ancur dan sebagainya. Produk lukisan itu pun tidak lagi terbatas untuk keperluan ritual seperti langse atau pangider-ider. Lukisan Kamasan sudah menjadi barang pajangan seperti halnya lukisan-lukisan yang lain.

Kini muncul pula kreativitas baru yang tidak terkungkung pada kanvas, misalnya, dengan menggunakan media kayu atau bambu. Penggunaan media ini sebenarnya sudah dilakukan di banyak tempat. Ukiran dari kayu banyak menghiasi rumah-rumah, apakah itu berdiri sendiri sebagaisebuah lukisanatau untuk hal-hal yang fungsional seperti daun pintu, jendela dan lubang angin. Namun yang muncul dari Kamasan bukan sekadar ukiran, tetapi sebuah corak (style). Atau lebih khusus lagi, style khas Kamasan yang sudah populer itu, berupa adegan dari tokoh-tokoh wayang yang membentuk sepotong cerita. Dengan kata lain, lukisan wayang Kamasan yang boleh dikatakan klasik itu, kini berpindah ke media kayu dan bambu. Bahkan, kulit telor pun mulai pula dilukis gaya Kamasan.

Masalahnya, apakah generasi muda pelukis Kamasan masih tetap menangkap roh yang ada pada para pendahulunya?  Antara lain filosofi cerita yang mau ditampilkan, dan juga keragaman flora yang menjadi latar belakang darigambarwayang itu. Ini yang luntur. Pertama karena pengaruh dari pesanan itu, yang tentu tak bisa ditampik karena urusan bisnis. Masalah kedua, yang bekerja sebagai pelukis juga banyak, satu orang menampik pesanan, dua orang mau meladeni. Artinya sudah mulai ke arah komersialisasi tanpa lagi mementingkan mutu.

Masalah ketiga, ini yang gawat, adanya pemalsuan gaya Kamasan, atau lebih tepat disebut muncul lukisan gaya Kamasan yang bukan dikerjakan seniman Kamasan. Di Pasar Seni Sukawati, banyak pedagang yang menjajakan lukisan klasik dan tradisional Kamasan. Kalau pembelinya sangat awam dan bertanya dari mana karya itu berasal, pedagang langsung menyebutkan: Kamasan. Pembeli tak begitu hirau, dan juga tak tahu benar tidaknya. Namanya saja untuk cenderamata atau oleh-oleh, tak masalah di mana lukisan dikerjakan. Yang penting adalah kesan bahwa yang dibeli adalah lukisan Kamasan, tak peduli itu dilukis di Kamasan atau desa lainnya.

Bisa saja lukisan itu betul-betul buatan para pelukis Desa Kamasan. Tetapi besar sekali kemungkinannya tidak. Yang membuat keadaan lebih rancu lagi, yang disebutkan klasik bagi pedagang asongan itu adalah sebuah gaya yang memang dulunya mengangkat nama Kamasan. Misalnya, lukisan wayang yang di latarbelakangnya penuh dengan ornamen flora. Atau simbol-simbol dan wujud Dewa dalam mitologi Hindu (disebut palalintangan) yang menceritakan tentang baik buruknya hari (ala ayuning dewasa). Juga mengenai pengaruh peredaran bulan terhadap kelahiran seseorang. Ketika gaya ini ditiru di banyak desa, dan lukisanklasik Kamasanini diproduksi secara massal di mana-mana, lalu dijual pula di mana-mana dengan harga yang murahkarena mutunya juga asal-asalanmaka Kamasan sebagai sentra pelukis sudah tercemar. Orang tak lagi datang ke Kamasan dan seniman di sini tentu saja bisa frustrasi dan beralih profesi karena produknya tersaingi.

Celakanya, begitu mutu lukisan itu merosot jauh, maka orang pun dengan mudah juga mengatakan, lukisan klasik Kamasan tidak sebagus yang lalu. Atau tudingan lain, seniman di Kamasan tidak lagi kreatif dan hanya menghasilkan karya-karya yang monoton.

Padahal, perubahan juga terjadi di Kamasan. Di masa lalu, lukisan Kamasan adalah gambar-gambar orang atau tokoh-tokoh dalam ceritra apa saja, yang lepas. Sekarang gaya itu masih terlihat pada kain prada yang disablon warna emas. Belakangan, ”gaya Kamasansudah mulai menampilkan lukisan wayang yang bercerita, dan ini membutuhkan goresan tertentu untuk menampilkan karakter tokoh.

Belum lagi bidang lukisan, awalnya bidang dibatasi oleh kegunaan, misalnya, melukis untuk ukuran langse (tirai balai atau pertunjukan), melukis untuk pangider-ider dan sejenisnya. Kini, bidang itu sudah mengacu kepada hal-hal modern, yakni lukisan untuk pajangan di dinding hotel, plafon rumah, bahkan plafon gedung Ksirarnawa Taman Budaya. Kalau kegunaan sudah melebar dan peralatan melukis bertambah banyak, siapa pun bisa mengerjakannya, tidak harus diproduksi di Kamasan. Artinya, nama Kamasan tinggal sebagai sebutangayaatau ‘’style”, sementara pelukisnya bukan dari Kamasan. Ya, entah siapa yang salah dalam hal ini, yang jelas seniman Kamasan jadi mendapat saingan.

* Putu Setia

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2006/12/16/bd1.htm

Jangan Lupakan Sangging Modara

BERBICARA eksistensi lukisan wayang Kamasan, kata Murdana, kita tidak bisa melupakan sosok Sangging Modara. Sejak abad ke-17 (sekitar tahun 1686), seniman besar ini telah menancapkan ketinggian tonggak kreatif yang dilindungi Raja Klungkung pada saat itu. Tonggak kreatif dengan standardisasi unsur-unsur estetik, tahapan-tahapan proses dan keseriusan menggarap makna filosofi Hindu  itu membentuk kehalusan budi. Cakupan unsur-unsur tadi membentuk kualitas estetis, menjadi pola anutan yang dapat berkembang hingga kini.

Ketinggian dan kesuburan kreatif yang penuh makna itu, katanya, merupakan proses kerja tri-tunggal atara Brahmana sebagai pengkaji nilai dan makna, Raja sebagai pengayom dan penyalur energi serta seniman sebagai kreator pengembang. Ketiganya menyatu melalui dharma masing-masing. Vibrasi dari tiga dharma melalui kesucian, kekuatan dan kejujuran mampu menghasilkan fondasi budaya yang adiluhung. Tema-tema yang syarat makna filosofis tetap menjadi pedoman pencapaian kualitas kreatif estetiknya.

Teladan ini sudah semestinya dijadikan pegangan bagi kita semua, terutama para kreator, pemerintah sebagai penentu kebijakan, kritikus, impresario, para cendekiawan dan lain-lainnya agar semua potensi yang ada dapat diberdayakan,” paparnya panjang lebar.

Murdana mengaku sengaja menyodorkan fakta sejarah itu untuk mengetuk ruang kesadaran semua pihak agar tergerak untuk melestarikan potensi seni budayanya yang mulai terpuruk itu. Dengan menerapkan proses kerja tri-tunggal itu, dia berharap potensi-potensi yang mulai terpuruk itu bisa dibangkitkan kembali.

Dituangkan dalam Perda

Dihubungi terpisah, Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S, M.A. juga sepakat perlunya sinergi dalam melestarikan seni-budaya adiluhung warisan leluhur. Dalam konteks pelestarian lukisan wayang Kamasan dan lukisan tradisi Bali lainnya, kurikulum ISI Denpasar sebenarnya sudah memfasilitasi hal itu. Caranya, dengan memasukkan mata kuliahMelukis Tradisisebagai mata kuliah yang wajib diikuti mahasiswa jurusan Seni Rupa.

Seni lukis Wayang Kamasan ini telah dijadikan satu mata kuliah yang dipelajari secara serius oleh mahasiswa. Kami juga berupaya memperbanyak mata kuliah-mata kuliah muatan lokal yang sejalan dengan upaya-upaya pelestarian seni budaya Bali tersebut,” katanya sambil menambahkan, seni lukis klasik Bali ini akan tetap diajarkan dan sangat menentukan profil kesarjanaan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar.

Dikatakan, proses pembelajaran yang menekankan akademik profesional akan menuntut mahasiswa mampu melukis wayang dan mengkaji nilai-nilai estetik, filosofis serta unsur-unsur penunjang lainnya. Aktivitas ini secara tidak langsung akan menciptakan kondisi keberlangsungan kehidupan seni lukis itu sendiri,” tegasnya.

Lantas, peran apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk menyelamatkan warisan adiluhung leluhur manusia Bali itu dari kematian permanen? Menurut Rai dan Murdana, pemerintah daerah secepatnya harus menentukan langkah-langkah kebijakan sehingga dapat menjaga kelangsungan hidup seni-seni tradisi itu. Misalnya, meniru langkah yang ditempuh oleh DPRD Bali yang menghias gedungnya dengan lukisan wayang Kamasan.

Di masa datang, pihaknya mendambakan seluruh langit-langit gedung dan dinding perkantoran milik pemerintah dihiasi lukisan klasik Bali seperti yang ada pada bangunan Kerthagosa di Klungkung. Selain lukisan stil Kamasan, lukisan stil Batuan, Pengosekan, Ubud dan sebagainya juga bisa diimplementasikan untuk kepentingan itu.

“Agar hal itu memiliki kekuatan hukum yang mengikat, kewajiban menghiasi interior kantor pemerintahan dengan lukisan klasik Bali itu sebaiknya dituangkan ke dalam peraturan daerah. Atau bisa juga sebagai penunjang perda tentang bangunan stil Bali. Dengan begitu, para pelukis akan lebih berdaya dalam meningkatkan status sosial ekonominya.

Semoga hal ini dapat dipertimbangkan oleh para penentu kebijakan dan dapat menjadi kenyataan ,” kata Murdana yang didukung pula oleh Rai. * w. sumatika

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2006/12/16/bd3.htm

Salah satu sudut rumah di Jalan Menuh Gang III No.9 (Sebelah Utara Pura Puseh) Desa Keoning, Semarapura Klod, Klungkung terdapat aktifitas seseorang yang dengan teliti dan kreatif mengolah adonan panas kuningan dalam cetakan tanah lihat, dan mengukir potongan cetakan kuningan menjadi sebuah benda yang biasa digunakan para pemangku, para pedanda/ para pandita untuk memimpin upacara umat hindu melakukan persembahyangan. Ya benda itu adalah genta atau bajra, yang bersuara nyaring berdenting menusuk kalbu. Pande Genta / Bajra ini biasa dipanggil “De Alit” pemilik nama lengkap I Made Alit Sudibia ini adalah warga kemoning (warning) yang mendedikasikan hidupnya dengan memilih profesi warisan leluhur. Bapak dua putra ini selain membuat genta/bajra juga ahli membuat senjata nawa sanga untuk di pura-pura, ciwa krana dan lain-lain. Pak De Alit saat ini masih melakukan usahanya di bengkel kecil rumahnya di kemoning. Menurut Pak De Alit, setiap bulan hanya mampu membuat kira-kira 20 buah genta dan penyelesaian genta pun tidak bisa ditarget penyelesaiannya karena Pak De Alit hanya bekerja sendiri tanpa dibantu karyawan karena alasan permodalan dan kesibukanya medesa adat dan memimpin sekaa gong lanang desa adat kemoning. Menurut Pak De Alit, di kemoning hanya terdapat 5 orang pengerajin genta.

Sebagian besar genta hasil buatan Pak De Alit dibuat berdasarkan pesanan khusus dari para pemangku dari seluruh Bali, sementara promosi hanya dari mulut ke mulut dan sebagian besar konsumennya merasa puas dengan hasil karyanya karena Pak De Alit memberikan jaminan garansi perbaikan (nyetel ulang) apabila suara gentanya tidak bagus.

Buat Semeton Hindu diseluruh Indonesia yang memerlukan genta/bajra ataupun ornamen kuningan lainnya untuk keperluan di pura bisa menghubungi Pak De Alit di nomor HP : 08164726050. (*)