kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Tari Bali’ Category

Kisah Seni Mabuk

Posted by Adnyana under Tari Bali

foto: http://www.baliwww.com

Memang benar orang luar sering menyebut orang Bali itu kreatif. Jiwa seni orang Bali sudah dibawa sejak lahir, entah siapa yang mengasahnya di dalam kandungan. Akar pohon bisa menjadi patung yang mampu dijual puluhan juta rupiah. Orang mabuk pun bisa mengeluarkan jenis musik yang enak didengar. Di mana ada orang mabuk bisa menyanyi kecuali di Bali?

Itulah sejarah seni koor (jenis paduan suara) khas Bali yang disebut genjek. Empat atau lebih lelaki Bali bersepakat untuk mabuk. Mereka membeli tuak atau arak (mungkin bir terlalu mahal atau daya mabuknya kurang) lalu berkumpul minum bersama. Acara matuakan ini khas di Bali Timur (Karangasem, Bangli, Klungkung) dan sebagian Bali Utara (Buleleng) meskipun tidak begitu lazim di Kabupaten Jembrana, Tabanan dan Badung.

Dalam acara mabuk massal ini semua orang bisa ngoceh, ngomong apa adanya. Mungkin karena naluri orang Bali sudah begitu dekat dengan dunia seni, ngoceh itu kemudian berirama, sahut-bersautan, dan lama-kelamaan bisa diatur bunyinya. Seni genjek pun lahir, dan pada awalnya memang pendukung seni ini hanya bisa melampiaskan suara dengan sempurna ketika dia mabuk. Jika orang belum mabuk, dia belum berani ikut bernyanyi dengan keras, masih malu-malu, dan teman sebelahnya pasti menyodorkan minuman lebih banyak.

Ada orang kreatif lain, yang tentu saja tidak sedang mabuk, menciptakan syair-syair yang nadanya disesuaikan dengan seni mabuk tadi. Maka dalam perjalanannya seni genjek ini punya syair yang bisa bercerita, meski terbatas pada kehidupan rumah tangga. Namun, musiknya tetap musik mulut dengan pembagian tugas yang jelas: ada yang menyanyi, ada yang menirukan suara kendang, menirukan suara kempul, dan sebagainya. Semua nada dalam gamelan gong Bali dibunyikan dari mulut-mulut pemabuk ini.

Kreativitas pun terus berjalan. Masuk para wanita yang ikut menyanyi, supaya sahut-menyahut dalam lagu menjadi lebih hidup. Tiba-tiba masuk pula alat tabuh angklung bambu (gerantangan) yang biasa mengiringi tari joged. Maka seni genjek mengalami perjalanan yang demikian cepat, dari seni mabuk menjadi seni koor khas Bali dengan irama yang demikian enerjik. Apalagi unsur mabuknya kemudian berangsur dihilangkan, karena mereka kemudian sadar bahwa genjek tidak lagi seni untuk pemuas diri sendiri, seni genjek sudah bisa dijual untuk pemuas orang lain. Seni genjek akhirnya resmi menjadi seni tontonan yang tercatat dalam sejarah seni pertunjukan Bali.

Masuknya industri rekaman membuat kesenian ini menjadi terangkat. Seperti halnya musik rap di Amerika yang berawal dari pemabuk yang ngoceh, genjek segera menjadi sebuah industri yang mendatangkan duit bagi senimannya dan mendatangkan untung bagi produser rekaman. Karena seni ini berawal dari Bali Timur, maka genjek Karangasem mendominasi rekaman kaset. Syair pun berkembang. Tidak lagi hanya kehidupan rumah tangga: suami penjudi, suami selingkuh, dan sebagainya. Namun mulai merambah ke tema sosial, seperti basmi narkoba.

Iringan musik angklung dalam seni genjek kemudian menimbulkan inspirasi, bagaimana kalau paduan suara ini diselingi dengan tarian joged. Ide ini berkembang di Bali Utara dan kemudian merambah ke kabupaten lainnya. Dalam pakem seni genjek, sebuah syair akan diakhiri dengan suara serempak: tu ra rit tu jreng …sek…sek… atau irama sejenis itu, yang kemudian musik lalu diambil alih sepenuhnya oleh musik angklung. Nah, di situlah penari joged ditampilkan. Ini tabuh joged yang umum sehingga semua penari joged bisa mengapresiasi musik ini. Grup genjek dari mana pun dan penari joged asal mana pun bisa berkaloborasi. Memang, luar biasa perjalanan seni rakyat Bali.

Tetapi, apa setelah itu? Seni yang lahir dengan spontan tanpa suatu penghayatan yang dalam sama dengan mode, ia datang dengan tiba-tiba, mendadak digemari oleh banyak orang, lalu diubah dengan penambahan atau pengurangan, berkembang sesaat, namun umurnya tak bisa lama. Kuping merasa jenuh dengan irama yang nyaris seragam. Coba dengarkan kaset genjek terus-menerus, betapa pun populernya grup itu, lama-lama terasa bahwa iramanya seragam. Entah syairnya tentang putus cinta, penyesalan karena kalah berjudi, kampanye bahaya narkoba, irama tak pernah bergerak jauh dari pakem genjek.

Sebenarnya lagu pop Bali nyaris seperti itu pada awal pertumbuhannya, tetapi untung ada musisi Bali yang bergerak mencari alternatif dengan memunculkan irama rock, reggae dan sebagainya. Para pencipta irama genjek seperti kehabisan napas dan akhirnya seni suara ini dibawa ke seni tari dengan tambahan penari joged.

Pada saat seni genjek sekarang ini pudar, rupanya muncul pemikiran ulang, genjek dikembalikan ke asal-usulnya, yakni sebuah kesenian yang sebenarnya bernama Cakepung. Kalau betul genjek berinduk pada cakepung, maka genjek bisa disebut sempalan atau pemberontakan dari cakepung. Karena cakepung sebuah seni serius, seni bertutur dengan musik ringan (gerantangan atau geguntangan) yang diiringi tarian yang juga seadanya dari pelakunya. Tari ala kadarnya ini yang membedakan cakepung dengan mabebasan (atau pesantian). Cakepung sudah mulai dibangkitkan lagi pekan lalu di Karangasem saat Festival Seni Bali, NTB, NTT.

Nah, bisakah cakepung mengulang sukses genjek? Atau bisakah genjek dan cakepung sama-sama bangkit? Sebenarnya Pesta Kesenian Bali (PKB) harus merespons hal-hal seperti ini, dan memberi tempat buat mereka untuk tampil.

Oleh: Putu Setia

http://okanila.brinkster.net/raditya/datashowfullps.asp?ID=194

Kesenian dalam perspektif Hindu di Bali mempunyai kedudukan yang sangat mendasar, karena tidak dapat dipisahkan dari relegius masyarakat Hindu di Bali. Upacara di pura-pura (tempat suci) juga tidak lepas dari kesenian seperti seni suara, tari, karawitan, seni lukis, seni rupa, dan sastra. Candi-candi, pura-pura dan lain-lainya dibangun sedemikian rupa sebagai ungkapan rasa estetika, etika, dan sikap relegius dari para umat penganut Hindu di Bali. Pregina atau penari dalam semangat ngayah atau bekerja tanpa pamerih mempersembahkan kesenian tersebut sebagai wujud bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Di dalamnya ada rasa bhakti dan pengabdian sebagai wujud kerinduan ingin bertemu dengan sumber seni itu sendiri dan seniman ingin sekali menjadi satu dengan seni itu karena sesungguhnya tiap-tiap insan di dunia ini adalah percikan seni.

Dengan sifat religius masyarakat dan juga ajaran agama Hindu yang universal dan semua penganut dapat mengekspresikan keyakinan terhadap Hyang Maha Kuasa, maka banyaklah timbul berbagai kesenian yang dikaitkan dengan pemujaan. Banyak tumbuh suatu kesenian yang memang ditujukan untuk suatu pemujaan tertentu, atau juga sebagai pelengkap dari pemujaan tersebut. Selain itu pula berkembang suatu seni pertunjukkan yang sifatnya menghibur. Dari kebebasan berekspresi dalam rangka pemujaan maupun sebagai pendukung dari suatu ritual tertentu, maka di Bali ada digolongkan menjadi dua buah sifat pertunjukkan atau seni. Yakni seni wali yang disakralkan dan juga seni yang tidak sakral atau disebut profan yang hanya berfungsi sebagai tontonan atau hiburan belaka.

Tari sakral atau tari wali adalah tari yang dipentaskan dalam rangka suatu karya atau yadnya atau rangkaian ritual tertentu, dan tarian tersebut biasanya disucikan. Kesucian dari tarian tersebut dapat pada peralatan yang dipergunakan seperti tari pendet yakni pada canang sari, pasepan, dan tetabuhan yang dibawa. Pada tari Rejang misalnya pada gelungannya serta benang penuntun yang dililitkan pada tubuh penari (khusus rejang renteng). Topeng Sidakarya yakni pada bentuk tapel, kekereb, beras sekarura, dan lain-lainnya. Jadi semua itu tidak dapat digunakan sembarangan. Atau kesakralannya dapat juga pada si penari itu sendiri, misalnya seorang penari rejang atau penari sanghyang yang mengharuskan menggunakan penari yang masih muda dan belum pernah kawin atau belum haid. Atau dapat juga seorang penari dapat menarikan tarian sakral sebelumnya harus dilakukan pewintenan (upacara penyucian diri) terlebih dahulu.

Kalau dilihat dari sejarah tari wali ini hampir sebagian besar dikaitkan dengan mitologi agama yang berkembang pada suatu daerah tertentu. Mitologi ini mungkin dapat dibuat bersamaan atau mungkin juga sesudah tari wali itu diciptakan, ataupun sebaliknya. Walaupun tarian tersebut adalah ciptaan manusia, namun karena sudah merupakan suatu konsensus dari masyarakat yang mendukungnya maka tari wali ini akan mendapatkan suatu tempat yang khusus dalam hati masyarakat dalam kaitannya dengan keyakinan agamanya, terutama agama Hindu. Kemunculan tari-tari wali di Bali atau di Indonesia tidak berbeda dengan tari-tari ritual di India. Dimana menurut mitologinya tarian itu diciptakan oleh Dewa Brahma dan sebagai Dewanya adalah Dewa Siwa yang terkenal dengan tarian kosmisnya yakni Siwa Nata Raja.

Dimana Dewa Siwa memutar dunia ini dengan gerakan mudranya yang mempunyai kekuatan gaib. Setiap sikap tangan dengan gerakan tubuh memiliki makna tertentu dan kekuatan tertentu sehingga tarian ini tidak semata-mata keindahan rupa atau pakaian tetapi juga mempunyai kekuatan sekala dan niskala. Namun kalau di Bali maka gerakan tangan yang disebut dengan mudra tidak sembarang digunakan. Hanyalah para sulinggih saja yang menggunakan gerakan tangan yang disebut dengan mudra tersebut. Karena hal tersebut adalah suatu hal yang sangat sakral.

Dan di Bali untuk menambah kekuatan sekala dan niskala maka seringkali disertai dengan sesajen atau banten-banten pasupati untuk penari atau perlengkapan tari tertentu. Demikian pula untuk suatu pertunjukan tari wali tertentu, didahului dengan sesajian dan tetabuhan agar tidak mendapatkan gangguan dari bhuta kala Graha dan Bhuta Kapiragan. Dan tak jarang pula tarian yang akan dipersembahkan dalam suatu ritual tertentu, dilakukan suatu prosesi pasupati. Baik itu secara sederhana dengan menggunakan banten pasupati atau juga dilakukan secara lebih khusus, lebih besar atau lebih istimewa. Dimana prosesi pasupati ini adalah untuk memohon kehadapan Ida Betara agar membimbing penari sesuai dengan kehendak beliau.

Pasupati

Pasupati berarti raja gembala hewan. Yang dimaksudkan disini adalah agar si penari bagaikan hewan gembala yang diatur dan digembalakan sepenuhnya oleh pengembalanya yakni Ida Betara. Dengan demikian maka segala gerak gerik penari tidak sepenuhnya berasal dari dirinya sendiri, namun sebagian dari gerakan tersebut dijiwai oleh Ida Betara yang dimohonkan. Sehingga tarian tersebut akan memiliki suatu kekuatan magis atau kekuatan niskala.

Sebuah tari di Bali diciptakan oleh penciptanya berdasarkan atas insting atau naluri dalam berkesenian. Apakah dengan meniru gerakan manusia, meniru gerakan air, angin, pohon dan sebagianya sehingga terangkum dalam suatu gerakan yang memiliki suatu nilai seni.

Dan pada suatu masyarakat yang kebudayaannya tinggi serta menjunjung nilai-nilai religius agraris dan mistis, seperti di Bali, maka gerakan tari disertai dengan aksen-aksen tertentu yang mempunyai kekuatan gaib. Disertai dengan bebantenan dan juga mantra-mantra tertentu untuk mengundang kekuatan sekala dan niskala. Kadangkala tarian yang dibuat tersebut dibuatlah sebuah mitologi, untuk mendukung dan menunjang kesakralan dari tari tersebut. Sehingga tidak jarang tari yang baru dibuat, namun menceritakan mitologi yang terjadi jauh sebelum tari itu dibuat.

Tari sakral dipersembahkan kehadapan Ida Betara atau Hyang Kuasa dengan ritual tertentu pada hari tertentu untuk menyenangkan Hyang Kuasa sehingga berkenan memberi berkah berupa kesejahteraan jasmani dan rohani atau sekala dan niskala. Seperti misalnya barong yang ada di pura yang diberi persembahan puja wali dan disolahkan atau ditarikan pada saat odalan atau karya tertentu adalah suatu hal yang sakral. Kesakralan akan terkait dengan sebuah ritual tertentu. Dan apabila urusannya ritual, maka ujung-ujungnya adalah keyakinan.

Sakral atau tidaknya suatu tarian atau pertunjukkan seni dapat diukur dari beberapa kategori umum seperti : Tari sakral tidak pernah diupah atau disewa untuk suatu pertunjukan hiburan atau komersial. Berfungsi sebagai pelaksana atau pemuput karya. Membawa atau menggunakan suatu perlengkapan atau peralatan yang khas. Dan orang yang akan menari juga adalah orang pilihan. Baik itu secara skala melalui pilihan dan persetujuan dari masyarakat pendukung, atau melalui suatu metuwunan yakni dengan cara mohon petunjuk niskala baik itu dengan cara kerauhan dan sebagainya.

Contoh dari tari sakral adalah tari pendet, tari baris gede, tari rejang, tari sanghyang, tari topeng dalem sidakarya, tari ketekok jago, pertunjukkan wayang lemah dan wayang sapuh leger. Sedangkan tari profan atau bukan sakral bisa diupah atau disewa. Berfungsi sebagai hiburan atau pendukung dari suatu acara tertentu. Tidak mesti menggunakan peralatan atau perlengkapan tertentu yang bersifat sakral. Contohnya adalah tarian atau pertunjukan selain yang disebutkan di atas (Joged Bumbung, dll).

Seni tari Bali pada umumnya dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu tari wali atau tari seni pertunjukan sakral, tari bebali atau seni tari pertunjukan upacara dan juga untuk hiburan pengunjung, dan tari balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.

Pakar seni tari Bali, I Made Bandem Wijaya, pda awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tarian Bali tersebut, antara lain yang tergolong ke dalam

1. Tari wali seperti Berutuk, Sang Hyang, Dedari,Rejang, Baris Gede, Sang Hyang Jaran, Janger.

2. Tari bebali antara lain tari Topeng, Gambuh, Topeng Pajegan, Wayang Wong,

3. Tari balih-balihan misalnya tari Legong, Arja, Joged Bumbung, Drama Gong, Barong, Pendet, Kecak.

.

Tari Pendet.

Tari Pendet termasuk dalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari Bali, I Nyoman Kaler, pada tahun 1970-an
yang bercerita tentang turunnya Dewi-Dewi kahyangan ke bumi. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Pendet, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif.

Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan  yang banyak diperagakan di Pura, yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam marcapada, merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”, dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang, seperti Aloha di Hawaii. Kendati demikian bukan berarti tari Pendet jadi hilang kesakralannya. Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius  dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental.

Tari Pendet Sakral

Biasanya Tari Pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih dinamis dari tari Rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih). Para penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral lainnya, dengan memakai pakaian upacara, masing-masing penari membawa perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi, cawan, dan yang lainnya.

Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar,  Wayan Dibia, menegaskan bahwa menarikan tari Pendet sudah sejak lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.

http://www.balisweethome.com/balivilla/my_baliart.php?unique=7

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/09/18/01583199/perspektif.hindu.dalam.tari.bali.dan.tari.pendet

GEMPURAN “gelombang” modernisasi yang mahahebat, tampaknya memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap keterdesakan sejumlah kesenian tradisional di Bali. Namun, sejumlah kesenian tradisional (baca: kesenian langka-red) masih mampu mempertahankan eksistensinya. Salah satunya tari Telek yang sampai saat ini masih dipentaskan secara teratur oleh sejumlah banjar/desa adat di Bumi Serombotan, Klungkung, seperti Banjar Adat Pancoran Gelgel dan Desa Adat Jumpai. Jenis tari wali ini merupakan tetamian (warisan-red) leluhur yang pantang untuk tidak dipentaskan. Warga setempat meyakini pementasan Telek sebagai sarana untuk “meminang” keselamatan dunia, khususnya di wawengkon (wilayah-red) banjar/desa adat mereka. Jika nekat tidak mementaskan Telek, itu sama artinya dengan mengundang kehadiran merana (hama-penyakit pada tanaman dan ternak), sasab (penyakit pada manusia) serta marabahaya lainnya yang mengacaukan harmonisasi dunia.

Keyakinan itu begitu mengkristal di hati krama Banjar Adat Pancoran, Gelgel dan Desa Adat Jumpai. Mereka melestarikan jenis kesenian ini dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi sehingga tak sampai tergerus arus zaman. Begitu kuatnya mereka menjaga tetamian leluhur ini, sampai-sampai seluruh pakem pada pementasan Telek dipertahankan secara saklek. “Niki nak sampun ilu lan tetamian leluhur deriki. Sampun napetang. Tiang tan uning, ngawit pidan Telek deriki masolah (Kesenian Telek ini sudah ada sejak lama dan merupakan warisan leluhur. Generasi sekarang hanya mewarisi. Saya tidak tahu kapan Telek mulai dipentaskan-red),” ujar tetua Banjar Adat Pancoran Gelgel I Ketut Pageh (59).

Pantang tak Dipentaskan

Di Banjar Adat Gelgel, kata Pageh, Telek dipentaskan dua kali setahun yakni pada Buda Umanis Perangbakat (wali Ida Batara di Pura Dalem Guru, Pancoran) dan pada Buda Kliwon Paang (wali Ida Batara Gede). Kedua pementasan itu mengambil lokasi di jaba sisi Pura Dalem Guru. Setiap kali Telek dipentaskan, seluruh krama dipastikan menyaksikannya sekaligus memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dikatakannya, pementasan Telek di Banjar Adat Pancoran, Gelgel sempat terputus beberapa tahun sebelum Gunung Agung meletus hingga tragedi berdarah G-30-S/PKI pecah. Dua tragedi besar itu sempat meluluhlantakkan kedamaian masyarakat di seluruh Bali. Guna mengembalikan kedamaian yang tercabik-cabik itu, para tetua di Banjar Adat Pancoran sepakat menggelar serangkaian upacara tolak bala. Salah satunya, menghidupkan kembali kesenian Telek yang mereka yakini sebagai sarana memohon keselamatan dunia-akhirat. “Sejak saat itu, Telek kembali masolah (dipentaskan-red) hingga kini. Bahkan, pengempon Pura Dalem Guru sudah punya bhisama (kesepakatan-red) bahwa tari wali itu tetap harus masolah sampai kapan pun untuk menghindari kabrebehan (marabahaya-red),” kata Pageh yang dibenarkan pula oleh Klian Pura Dalem Guru I Nyoman Suana.

Sementara di Desa Adat Jumpai, Telek dipentaskan setiap rahinan Kajeng Kliwon (lima belas hari sekali-red) serta piodalan di Pura Penataran Dalem Cangkring, Pura Taman Sari dan Pura Dalem Katulampa. Ini berarti, paling tidak tari wali ini dipentaskan sekitar 27 kali setiap tahunnya. Itu pun belum termasuk ada warga yang ngaturang sesangi (bayar kaul-red) menanggap kesenian ini. “Warga di luar Desa Adat Jumpai juga sering ngaturang sesangi nyolahang Telek Jumpai ini. Setiap masolah di luar desa, seluruh krama ikut mengiringi sasuhunan ke mana pun beliau masolah,” kata penglisir Desa Adat Jumpai I Wayan Tabig.

Sama dengan di Banjar Adat Pancoran Gelgel, krama Desa Adat Jumpai juga meyakini pementasan Telek ini sebagai sarana untuk memohon keselamatan segala makhluk bernyawa di dunia ini dari marabahaya. Ditegaskannya, pihaknya pantang tidak mementaskan tarian ini pada hari-hari yang telah ditentukan. Kecuali, jika di desa itu dalam waktu bersamaan sedang mengalami kecuntakan karena ada krama yang meninggal dunia. “Krama tidak berani tidak mementaskan tarian ini. Jika itu dilanggar, kami yakin akan terjadi suatu bencana yang membuat ketenteraman kami terusik. Misalnya, berjangkit wabah penyakit dan sebagainya,” katanya seraya menambahkan, pementasan Telek di Jumpai tidak pernah terputus, terus berlangsung dari generasi ke generasi.

Bertopeng Putih

Menurut Pageh dan Tabig, tarian Telek ini dibawakan oleh empat penari pria yang masih berusia anak-anak sampai memasuki masa truna bunga (akil balik-red). Keempat penari itu memakai topeng berwarna putih dengan karakter wajah yang lembut dan tampan serta diiringi gong kebyar tabuh bebarongan. Baik di Banjar Adat Pancoran maupun Desa Adat Jumpai, tarian ini tidak berdiri sendiri. Tetapi senantiasa dirangkaikan dengan tari Jauk, topeng Penamprat, Batara Gede (barong), Rarung dan Batara Lingsir (rangda). Seluruh unsur tarian itu berpadu membangun satu-kesatuan cerita yang utuh dengan durasi sekitar dua jam. Akhir pertunjukan diwarnai dengan atraksi narat/ngunying yaitu menusukkan keris ke dada penarat bersangkutan maupun ke dada Batara Lingsir.

Pageh maupun Tabig menuturkan, saat atraksi narat itu berlangsung, baik penarat dan pemunut rangda dalam kondisi kerawuhan (trance-red). “Jadi, Telek itu bukan merupakan tarian lepas. Seluruh pertunjukan itulah yang difungsikan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan,” ujar kedua tokoh sepuh itu.

Apakah tari Telek tidak boleh ditarikan oleh orang dewasa? Menurut Pageh, tidak ada ketentuan yang mengatur secara tegas batasan usia penari itu. Namun, Telek di Banjar Pancoran senantiasa dibawakan penari anak-anak sejak turun-menurun. Pasalnya, topeng dan gelungan (hiasan kepala-red) Telek itu memang dirancang seukuran wajah dan kepala anak-anak, sehingga orang dewasa tidak pas memakainya.

Bahan baku topeng Telek menggunakan kayu pule yang juga lazim digunakan sebagai bahan baku tapakan (topeng-red) barong dan rangda. “Topeng Telek ini merupakan tetamian leluhur dan tidak ada krama yang tahu pasti kapan topeng itu dibuat. Kami tidak berani menggantikannya, misalnya dengan membuat topeng yang berukuran lebih besar sehingga bisa digunakan orang dewasa. Jika warna topeng itu sudah buram, kami hanya sebatas ngodakin (pengecatan ulang-red). Bukan topengnya yang diganti. Hal yang sama juga berlaku untuk tapakan barong dan rangda,” katanya sambil menambahkan, sebelum tari Telek dipentaskan, seluruh penari wajib mengikuti persembahyangan di pura agar pementasan yang dilakoninya direstui Tuhan.

Tanpa Pelatih Khusus

Klian Pura Dalem Guru Banjar Adat Pancoran I Nyoman Suana mengatakan pihaknya sadar betul bahwa kesenian telek beserta tarian lain yang menyertainya tidak boleh punah dari wilayahnya. Pasalnya, tarian ini sudah diyakini oleh seluruh krama sebagai sarana memohon keselamatan. Kesadaran itu akhirnya mewajibkan mereka secara terus-menerus mencetak penari-penari Telek. Uniknya, proses alih generasi ini tanpa melibatkan pelatih khusus. Artinya, penari Telek sebelumnya punya kewajiban moral untuk mewariskan keterampilannya kepada generasi berikutnya. Sambung-menyambung. “Tidak ada pelatih khusus. Penari yang sudah berhenti ngayah karena memasuki usia dewasa, langsung bertindak sebagai pelatih,” katanya.

Dalam satu generasi, katanya, ada delapan anak yang dipilih untuk mendalami tari Telek. Kendati penari yang terpakai hanya empat orang. Empat penari bertindak sebagai penari inti, sementara empat penari lainnya sebagai penari pengganti jika salah satu di antara penari inti berhalangan tampil karena sakit dan sebagainya. “Proses regenerasinya sangat sederhana. Pailetan, gerak tari maupun teknik pementasan yang tersaji dalam Telek yang ada saat ini semuanya tidak mengalami perubahan. Kami tidak mau melakukan modifikasi apa pun dan tetap mengacu pada apa yang diciptakan leluhur-leluhur kami. Dan, itu wajib kami lestarikan,” katanya sambil menambahkan, dirinya optimis Telek tetap lestari di Banjar Adat Pancoran karena keyakinan bahwa tarian ini akan menghadirkan keselamatan dan kedamaian bagi warga tetap tertanam kuat.

* w.sumatika

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2004/1/31/bd1hl.htm

MENCUATNYA aksi pornografi dalam pementasan joged bumbung juga menjadi keprihatinan pencinta seni budaya Bali ini. Guna mengembalikan citra positif kesenian ini, dia pun menggagas “Pagelaran Seni-Budaya Joged” di Museum Rudana, Ubud, Sabtu (26/4) lalu. Acara yang tergolong langka itu dibuka Menbudpar Ir. Jero Wacik.

“Saya ingin menggaungkan seni tari pergaulan joged ini ke pentas PKB, ajang nasional bahkan tingkat dunia. Hal itu semata-mata untuk mengangkat nilai-nilai luhur joged sebagai tarian pergaulan yang punya etika dan estetika yang tinggi. Bukan porno. Dengan joged tersebut, berbagai hal bisa disinergikan seperti seni lukis, tabuh hingga makanan khas Bali,” kata Putu Supadma Rudana, MBA.

Pada event itu, pihaknya memboyong para mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk menarikan joged bumbung. Saat itu, tergambar jelas bahwa kesenian ini punya gerakan yang sopan dan bernilai seni tinggi. Ini juga membuktikan bahwa joged bukanlah tarian porno seperti yang pernah melekat di hati masyarakat Bali belum lama ini.

“Tari joged bumbung memang mengandung nilai-nilai etika dan estetika. Sebagai tarian, joged bumbung dikenal mempunyai gerakan-gerakan indah sedemikian rupa sehingga bisa memberikan hiburan sekaligus sebagai tari pergaulan. Sampai sekarang tarian ini masih digemari masyarakat secara luas. Tapi perlu dicatat bahwa estetika tarian joged mengandung etika yang harus ditegakkan,” tegasnya.

Supadma menambahkan, pada tarian joged juga dikenal dengan adanya ibing-ibingan di mana penari joged akan mengundang salah seorang penonton yang disebut dengan pengibing. Dia ikut diundang menari secara artistik di panggung. Dalam inilah akan tersirat estetika dan etika yang merupakan salah satu kekuatan tarian ini.

“Mesti dicatat pula, tarian joged bumbung banyak memberikan inspirasi bagi seniman untuk menciptakan kreasi baru. Sebut saja pelukis, terinspirasi melahirkan karya-karya dari lemah-gemulainya gerak para penari joged bumbung,” katanya lagi.

Mati Suri

Tetapi kita selayaknya mengelus dada, karena sekaa joged bumbung yang ada di desa-desa belakangan ini mati suri. Jumlahnya bahkan bisa dihitung dengan jari. Berapa tahun belakangan ini, kata Supadma, joged bumbung mulai ditinggalkan oleh para penggemarnya, mungkin karena kesan porno masih melekat sehingga dikhawatirkan merusak moral bangsa terutama generasi muda.

“Bisa jadi, masyarakat jenuh menyaksikan joged bumbung karena kurang kreasi atau penarinya kurang jago menari. Hal ini diperparah lagi dengan munculnya gerakan-gerakan porno yang membuat para pencinta seni tidak lagi tertarik menonton kesenian ini,” ujarnya.

Untuk kembali menggairahkan pertunjukan kesenian ini, kata dia, joged bumbung perlu lebih banyak ditampilkan dalam acara-acara tertentu yang menyangkut hiburan untuk masyarakat luas. Pementasan di desa, di kota maupun di hotel/restoran jangan diabaikan. Dengan pementasan yang rutin, joged akan semakin menarik dan tetap dikagumi masyarakat. “Tetapi, ingat jagi ada lagi unsur-unsur pornografi di sana. Joged bumbung harus mampu mensterilkan diri dari gerakan-gerakan yang tidak senonoh dan tidak beretika,” tegasnya lagi.

Walau tak semarak di desa-desa, kata Supadma, pementasan joged bumbung sesungguhnya tetap berlangsung di pusat-pusat wisata seperti Kuta, Ubud, Sanur dan Nusa Dua, terutama untuk konsumsi turis. Pementasan itu terbilang cukup laris dan digemari wisatawan, karena tarian ini bisa melibatkan turis untuk ikut ngibing, berjoged dan saling bercanda dengan seniman. Inilah kelebihan joged sebagai tari pergaulan yang tak mengenal batas usia maupun kewarganegaraan.

“Tak hanya itu, para seniman, khususnya pelukis seperti halnya yang dilakukan IB Indra (IBI) yang berpameran di Museum Rudana, Ubud ini. Dia juga banyak mengangkat tema joged, sehingga karyanya yang mempunyai ciri khas dan ekspresif. Saya berharap, joged bumbung bisa terus berkembang dan makin kreatif sehingga tak lekang ditelan zaman. Yang terpenting lagi, jangan pernah lagi menyisipkan unsur-unusur pornografi di dalamnya yang justru bisa jadi batu sandungan bagi kesenian ini untuk melanglang buana di jagat seni pertunjukan dunia,” ujarnya. (ian)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/10/bd3.htm

Joged Bumbung: Joged Pergaulan

KESENIAN joged di Bali terpuruk sebagai tari pergaulan. Itu disebabkan jatuh nistanya tari ini akibat adanya joged porno yang VCD-nya tersebar di mana-mana, termasuk dengan amat mudah dibeli di kaki lima pada penjaja cakram bajakan. Sudah tidak jelas lagi dari grup (sekaa) mana joged itu, bahkan besar kemungkinan adegan itu juga direkayasa di komputer sehingga lebihmerangsang”. Namun satu hal yang jelas, biangnya memang ada penari joged yang melakukan adegan tak senonoh itu, seperti melucuti kain pengibing (penari pria) dan memperkenalkan goyang pinggul yang vulgar.

Apalagi, dalam perkembangan terakhir ini, tari jogged sudah ditarikan dengan asal-asalan, bahkan dengan iringan gamelan yang juga asal bunyi. Dulu, ketika tari joged belum mendapatkan ”virus global”, kesenian ini punya pakem yang jelas. Bagaimana dia menari membuka layar (langse), bagaimana memegang kipas, bagaimana simbol-simbol dari gerakan kipas itu, bagaimana mencari pengibing (teman menari yang biasanya pria), termasuk iringan gamelannya. Iringan gamelan ini juga membedakan nama-namagenerikdari joged. Ada yang disebut Joged Gebyog, Joged Adar, Joged Gandrung, dan yang termasuk sakral adalah Joged Pingitan.

Sekarang penari joged seperti kehilangan pakem. Begitu pula perangkat musik sebagai iringan gamelan. Bisa memakai angklung bambu (gerantangan), bisa memakai angklung logam (angklung kebyar), memakai geguntangan, gong kebyar, bahkan hanyamusik mulutyaitu genjek. Penari pun tak mempedulikanpakem pepeson”, iramanya bisa seperti Gandrung Banyuwangi, atau gaya Jaipongan Sunda, bahkan tak jelas lagi bentuknya, mirip improvisasi penyanyi dangdut dengangoyang ngeborataugoyang gergaji”. Joged porno yang dijual dalam VCD bajakan, termasuk goyang-goyang aneka warna ini.

Irama joged pun dimasukkan ke dalam pentas tari Arja, hanya sebagai lelucon yang konyol. Ini sering dilakukan oleh grup Arja Muani yang dimainkan oleh tokoh Desak Rai dan Liku. Semua ini tanpa disadari telah menjatuhkan kesenian joged sebagai tari pergaulan khas Bali yang dulu sangat dikagumi masyarakat. Dulu, tari joged digolongkantari pergaulan tradisionalbersama dengan Jaipongan (Sunda) dan Tayub (Jawa Tengah), sebagai pendampingtari pergaulan modern” seperti dansa dan sejenisnya.

Kini hanya Jaipongan yang masih tetap eksis, meskipun Jaipongan gaya Karawang juga jatuh pamornya karena lari ke arah porno. Begitu pula Tayub, pamornya jatuh bukan karena penarinya erotis, namun adaperselingkuhanantara penari dan pengibing usai pertunjukan. Jadi penari Tayub banyak yang hanya memanfaatkan kesempatan itu untuk tujuan lain, sementara penguasaan tarinya tidak memadai.

Entahlah dengan penari joged. Apakah penari joged yang menjurus ke porno ini berlanjut ke kawasanperselingkuhandengan pengibing, tak ada cerita gosip soal itu. Yang jelas, format joged sebagai tari pergaulan secara terhormat mulai kehilangan peran.

Karena itu menarik ketika ada seorang pengusaha muda yang ingin mengembalikan joged menjadi tari pergaulan yang terhormat, bahkan mencoba membawa kesenian ini ke dunia global. Joged dibawa ke pentas dunia, begitulah ambisinya. Pengusaha muda itu adalah Putu Supadma Rudana, putra dari pemilik museum yang terkenal di Gianyar, Nyoman Rudana. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik bahkan berniat menjadikan tari joged sebagai maskot Visit Indonesia Year 2008.

Upaya mengangkat tari joged ke pentas dunia, tentu saja tak sulit amat. Ritme dan estetika tari ini masih punya jejak yang jelas, dan itu pastilah persoalan yang sangat mudah bagi alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Bahkan untuk menyesuaikan dengan tari pergaulan yang mudah ditangkap di dunia luar, pakem tari joged bisa dimodifikasi sedemikian rupa. Begitu pula iringan musiknya, bisa saja dipertahankan dalam bentuk musik akustik (angklung bambu) atau ada kolaborasi dengan musik modern.

Mungkin yang perlu didiskusikan adalah busana penari. Busana tari joged mengalami perubahan dari zaman ke zaman. Dari berbagai foto dokumentasi yang ada di Bali, joged di era 1950-an, busana penarinya sangat sederhana. Penari memakai kain kemben dan kebaya biasa, di atas rambutnya hanya ada sekuntum bunga. Di tahun 1970-an, mulai ada gelung di atas rambut penari. Setelah itu muncul busana penari joged yang mengambil busana penari Legong. Tanpa lagi memakai kebaya, di leher penari ada badong dan di tangan penari ada gelangkana. Busana seperti ini berkembang terus, sehingga makin rancu yang mana penari Legong, yang mana penari joged, bahkan dalam upacara seperti potong gigi, misalnya, yang mana pula remaja yang akan potong gigi. Semua busananya hampir sama.

Penari joged ke pentas dunia, perlu mempertimbangkan busana ini. Karena ini sifatnya tari pergaulan dan tentu saja ada pengibing nantinya, busana sebaiknya tidakgemerlapdengan pernak-pernik tari Legong. Busana seperti ini sama sekali tidak sinkron denganpakaian modern”, seperti jas.

Masalahnya adalah, kalau hanya memakai kain kemben dan kebaya biasa saja, lalu di mana kekhasan Bali yang muncul? Bukankah busana seperti itu juga ada di Jawa, Sunda dan lainnya? Lagi-lagi kita harus kreatif membuat jenis kebaya, siapa tahu di kalangan perancang mode, ditemukan adanyakebaya khas Bali”. Lagi pula hiasan di rambut tentu bisa dibuat dengan khas Bali, termasuk memilih bunga. Bukankah pula Bali terkenal dengan berbagai jenis pusungan (sanggul), baik dengan rambut asli maupun paslu? Jadi, joged go international ini betul-betul mencerminkan budaya adiluhung Bali. * Putu Setia

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/10/bd1.htm

Menelusuri Jejak Perjalanan Tari Pendet Milik Bali yang Diklaim Malaysia

Karya Anonim Harumkan Indonseia di Asean Games

Bali memang gudangnya tarian. Walaupun banyak punya jenis kreasi hasil kreatif tarian, masyarakat Bali tak lupa dengan karyanya. Makanya ketika Malaysia mengklaim tari Pendet adalah milik negeri yang menyiksa Manohara Odelia Pinot itu, seniman pulau ini berteriak.

I KETUT ARI TEJA,Denpasar

———————————————

SIANG itu sangat adem di Art Center. Namun suasana marah, mangkel dan pedih dialami sejumlah seniman. Karya seni leluhur Bali dengan pongahnya diklaim oleh Malaysia.

Raut wajah sejumlah dedengkot seni Bali seperti Prof Wayan Dibia kelihatan menegang. Begitu juga dengan yang lain. Kasus ini mengingatkan dirinya dengan masalah yang pernah muncul sebelumnya. Mulai mengambil Pulau Sipadan dan Likitan. Mengakui kesenian Reog, penyiksa TKW (tenaga kerja wanita) hingga pangeran kerajaan dituduh menyiksa anak bangsa Manohara.

Menganggap seriusnya masalah ini. Prof Dr Wayan Dibia MA sampai mengundang khusus seniman yang menjadi saksi mata perjalanan tari Pendet di Bali yakni Ni Ketut Arini. Kemudian Dibia dengan gangsa nunggal (satu alat musik Gangsa), memainkan tabuh tari Pendet. Setelah itu Ni Ketut Arini mengajak dua bocah bernama Gung Ari dan Gung Cahya menari di atas rumput, di pinggir kolam Art Center.

Kepiawain Dibia memainkan gambelan, ditambah lagi penari yang sangat menjiwai dengan dalam, membuktikan jika tarian Pendet sudah mengakar di Bali, bukan baru beberapa minggu ada di Bali. Dengan kata lain sudah mendarah daging di hati masyarakat Bali.

Seperti apa sebenarnya Pendet? Dibia membedah dengan sangat terinci. Tari Pendet adalah kesenian tradisional yang telah menjadi bagian dari tradisi budaya Hindu-Bali sejak ratusan tahun lalu. Bahkan keberadaannya hingga saat ini tidak jelas siapa penciptanya. ”Tari Pendet ada sejak ratusan tahun lalu, dan penciptanya tidak jelas sehingga tari Pendet menjadi anonim. Tanpa ada yang tahu siapa penciptanya,” kata mantan Rektor ISI Denpasar ini, berkisah.

Awalnya adalah tarian religius atau tari wali. Ditarikan setiap piodalan di pura-pura di Bali. Yang menarikan wanita dengan pakain ala kadarnya. Sebagai tari penyambutan turunnya Dewata saat piodalan.

Sama halnya dengan Tari Rejang dan Gabor. Bahkan roh Pendet, di beberapa daerah di Bali berkembang menjadi Baris Pendet, tarian-tarian kelompok yang dibawakan laki-laki. Menari sambil memaikan senjata, juga masih menjadi tari wali (sakral).

Namun dalam perjalanannya, tari Pendet mulai digali oleh seniman Bali. Sejak awal tahun 1950-an para koreografer di Bali mengambil roh Tari Pendet Wali. Untuk menjadi tarian Bali-balihan, khusus untuk menjadi tarian penyambutan seperti Tari Panyembrahma. “Bahkan tergolong tari penyambutan tertua di antara tari penyambutan,” imbuh pria yang getol membongkar aib ISI Denpasar di bawah komando Prof Rai itu.

Sejarah mencatat di balik suksesnya menjadikan tari Pendet menjadi tari penyambutan adalah seniman kelahiran Desa Sumertha, Banjar Lebah; Ni Ketut Reneng dan I Wayan Rindi. Pertama ditarikan oleh empat orang perempuan. “Pertama ditarikan tahun 1950-an adalah di Bali Hotel (Inna Bali Hotel) Jalan Veteran untuk menyambut tetamu (turis),” ungkap Dibia.

Siapa penari pertama yang terdiri atas empat orang itu? Koran ini berhasil menemui langsung dalam pernyataan sikap para seniman di Art Center. Salah satu dari empat itu adalah Ni Ketut Arini. perempuan yang saat ini sudah berumur 57 tahun ini mengatakan jika empat orang yang menarikan saat Tari Pendet jadi tari penyambutan adalah Ni Luh Roni, I Gusti Putu Sita, Wayan Merti, dan dirinya sendiri.

Perempuan yang dari umur tujuh tahun sudah bisa menari ini melanjutkan, cerita awalnya dari Ni Ketut Reneng dan I Wayan Rindi. Keduanya tercatat sebagai guru tari di Banjar Lebah, Denpasar. Saat duduk-duduk di banjar tercetus keinginan membuat tari penyambutan. “Kenken carane apang ngelah igelan penyanggra tamiu (Bagaimana caraya agar punya tarian penyambut tamu),” begitu Arini mengingat percakapan dengan dua tokoh yang ikut mengkreasi Tari Pendet tersebut.

Akhirnya disepakati Pendet Wali diambil rohnya untuk dijadikan tari penyambutan. Bahkan gerak inti dari tari Pendet, Arini masih ingat. Mulai nyembah atau menyampaikan salam selamat datang kepada penonton, ngagem baik dalam posisi agem kanan (agem ngawan) atau agem kiri (agem ngebot), dan ngegol yaitu berjalan perlahan sambil menggoyangkan pinggul. Bagian pangadeng diakhiri dengan gerakan ngelung yaitu merebahkan tubuh ke samping kiri dan kanan.

Pakaad adalah bagian ketiga sekaligus penutup dari tarian ini.

Yang cukup membanggakan bagi Tari Pendet, masih indah di kenangan Arini. Pada tahun 1962, I Wayan Beratha yang juga koreografer andal Bali dan kawan-kawan menciptakan tari Pendet masa, dengan jumlah penari tidak kurang dari 800 orang.

Penari Bali akhirnya diboyong ke Jakarta yang kebetulan saja Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games. Tari Pendet Bali ditampilkan secara masal untuk membuka ajang olahraga bergengsi tingkat Asia itu. “Saat itu tarian asal Bali, yaitu Tari Pendet yang diakui oleh Malaysia sekarang mengharumkan nama Indonesia dalam pembukaan Asian Games,” kenang Arini, perempuan yang salah satunya ikut dalam pembukaan Asian games tahun 1962 tersebut.

Bahkan menurut Dibia, sejarah juga mencatat yang meminta Tari Pendet menjadi tarian pembuka adalah Presiden Pertama Soekarno. “Catatan sejarah yang mungkin dilihat Malaysia saat itu, kan juga ikut Asean Games. Dan catatan sejarah itu membuktikan jika Tari Pendet milik Bali,” tuntas dia. (*)

http://jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=109835

Denpasar — Seniman Bali memprotes klaim Malaysia atas tari Pendet sebagai tarian tradisional mereka. Tari asal Pulau Dewata itu muncul dalam iklan Visit to Malaysia, yang ditayangkan di sejumlah jaringan televisi berbayar.

Seniman tari Wayan Dibia mengaku terkejut atas penayangan itu. “Pendet adalah tari yang sudah ratusan tahun dimainkan warga Bali,” kata bekas Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar tersebut.

Awalnya Pendet adalah tarian sakral yang dipertontonkan dalam upacara ritual keagamaan, yaitu untuk menyambut turunnya para dewa dari kahyangan. Namun, pada 1950, tarian ini dimodifikasi menjadi tari penyambutan tamu dan disebut tari Pendet Puja Astuti. Oleh penciptanya, Ni Ketut Reneng dan I Wayan Rindi, Pendet awalnya dibawakan empat penari dan dipertontonkan untuk para turis di Bali Hotel di Denpasar.

Pada 1961, I Wayan Beratha kembali mengolah tari Pendet dengan lima penari, yang bertahan hingga saat ini. “Tahun 1962 kembali dimodifikasi sebagai tarian massal dengan 800 penari untuk pembukaan Asian Game di Jakarta,” kata Wayan.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Bali, Ida Ayu Mas, mengaku siap memfasilitasi protes para seniman. Dia juga mendesak agar ini menjadi protes resmi lembaga negara di Indonesia.

Pemerintah diminta melindungi karya-karya budaya Nusantara, antara lain dengan mengurus hak cipta komunitas budaya di Indonesia. Karya-karya itu harus dianggap sebagai kekayaan bangsa, yang tidak bisa secara sembarangan diklaim oleh bangsa lain.

Ida menegaskan, sikap Malaysia ini tidak bisa dibiarkan. “Apalagi sudah ada beberapa kejadian sebelumnya,” katanya kemarin.

Ini bukan pertama kalinya Malaysia mengklaim budaya Indonesia menjadi milik mereka. Sebelumnya, negara itu mengakui sejumlah kesenian asal Indonesia sebagai warisan leluhurnya, di antaranya lagu Rasa Sayange dari Maluku, Es Lilin dari Sunda, dan reog Ponorogo.

Alat musik angklung, batik, dan wayang kulit juga “dicuri”. Tak hanya itu, beberapa waktu lalu, bunga Rafflesia arnoldi diakui sebagai bunga asli Malaysia. Kecantikan bunga ini diklaim sebagai salah satu warisan alam Malaysia.

Bunga ini awalnya ditemukan di Bengkulu oleh Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles pada abad ke-19. Ternyata, selain di Bengkulu, bunga ini tumbuh subur di negeri lain, termasuk di hutan-hutan Malaysia. ROFIQI HASAN | DEWI RINA

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/08/23/headline/krn.20090823.174637.id.html

Seniman Bali Protest: Tari Pendet Dipakai Promosi Malaysia

Setelah Reog Ponorogo diklaim milik Malaysia, kini tari Pendet warisan budaya Bali terkesan ikut diklaim Malaysia. Akibatnya, puluhan seniman Bali memprotes tindakan Malaysia yang terkesan mengklaim tari Pendet Bali yang digunakan untuk iklan oleh negeri jiran itu.

Protes dipimpin guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof. Wayan Dibia, M.A. Protes ini disampaikan kepada Ida Ayu Agung Mas, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI) di Taman Budaya Denpasar, Sabtu (22/8) kemarin.

Tari Pendet yang dibawakan wanita berbusana adapt Bali ditayangkan berkali-kali dalam iklan Visit Malaysia Year, padahal sesungguhnya jenis tarian tersebut merupakan warisan budaya Bali secara turun-temurun. Berdasarkan pengamatan Dibia, penari Pendet dalam iklan tersebut merupakan alumnus ISI Denpasar yang bernama Lusia dan Wiwik. ‘’Pengambilan gambar tersebut dilakukan sekitar dua tahun lalu,’’ kata Prof. Dibia. Kepada pemerintah ia menyerukan protesnya agar dapat mempertahankan produk kesenian yang ada untuk kembali didata dan didaftarkan sehingga tidak mudah diklaim oleh Negara lain.

“Tari Pendet merupakan bagian dari warisan budaya kita, yang mana dalam tarian tersebut menampilkan nilainilai seni dan simbol-simbol budaya yang hanya dimiliki oleh tradisi budaya Hindu di Bali,” katanya. Sementara Ida Ayu Agung Mas mendukung bentuk protes ini dan secepatnya akan menyampaikan kepada pemerintah Malaysia. Dibia mengatakan bahwa pemerintah punya peran penting untuk mendata dan mendaftarkan kembali budaya- budaya yang terpencar, sehingga nantinya tidak mudah iklaim negara lain. Hal tersebut harus ditindaklanjuti dengan serius mengingat Malaysia telah beberapa kali melakukan klaim terhadap budaya Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan demonstrasi pementasan tari Pendet oleh penari Ibu Arini dan dua orang cucunya yakni Gung Cahya dan Gung Ari. (kmb23/ant)

http://balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=15&id=18405

Sejarah Tari Oleg Tamulilingan

Posted by Adnyana under Tari Bali

Tari Oleg dan Sekelumit Kisah I Mario

Salah satu tari yang menjadi ikon dan kemudian menjadi genre tari Bali pada kurun masa berikutnya adalah Oleg Tamulilingan. Karya tari yang amat kesohor hingga ke mancanegara ini diciptakan I Ketut Marya yang kemudian lebih akrab dipanggil I Mario. Bagaimana sesungguhnya perjalanan awal hingga terciptanya tari Oleg Tamulilingan ini?

——————————————-

ADALAH budayawan bernama John Coast (1916-1989), kelahiran Kent, Inggris, sangat terkesan dengan kebudayaan Bali. Sebelum berkiprah di Bali, ketika perang dunia kedua meletus, Coast masuk wajib militer dan sebagai perwira, sampai sempat bertugas di Singapura. Ketika Singapura keburu dikuasai Jepang, Coast yang berstatus tawanan lalu dikirim ke Thailand. Namun begitu, Coast memang berbakat seni. Ia ternyata melahirkan tulisan “Railroad of Death” pada 1946 yang kemudian mencapai best seller dalam waktu singkat. Hal itu mendorong semangatnya lagi untuk menulis buku “Return to the River Kwai” pada 1969. Di sela itu, Coast sempat berkolaborasi dengan seniman musik dan tari dari berbagai latar budaya, hingga menggelar pertunjukan konser pasca-perang.

Setelah merasa aman, pada 1950 Coast meninggalkan Bangkok menuju Jakarta karena terdorong untuk mengabdi kepada perjuangan Indonesia. Dalam waktu singkat, ia mendapat kepercayaan dari Bung Karno untuk memegang jabatan sebagai atase penerangan Indonesia. Selama di Indonesia, Coast menikah dengan Supianti, putri Bupati Pasuruan. Ketika menetap di Bali, ia tinggal di kawasan Kaliungu, Denpasar.

Cinta Coast pada seni budaya Bali mulai tumbuh saat tersentuh tradisi dan kehidupan masyarakat. Kesenian ternyata amat memikat hati dan obsesinya untuk mengorganisir sebuah misi kesenian ke Eropa. Selama petualangannya mengamati beberapa sekeha gong di Bali, Coast tertarik dengan penampilan sekaha gong Peliatan. Pada 1952, Coast menilai bahwa Gong Peliatan dengan permainan kendang AA Gde Mandera yang ekspresif cukup layak ditampilkan di panggung internasional. Dalam rencana lawatan ke Eropa itu, Coast ingin juga membawa sebuah tarian yang indah dan romantik, di samping beberapa tarian yang sudah sering dilihatnya.

Atas saran Mandera, Coast lalu menghubungi penari terkenal sekaligus guru tari I Ketut Marya yang kemudian akrab dipanggil I Mario. Mario yang kala itu sudah menciptakan tari Kebyar Duduk yang kemudian menjadi tari Terompong, bersedia bergabung dengan Gong Peliatan. Coast “merangsang” Mario untuk berkreasi lagi dengan memperlihatkan buku tari klasik ballet yang di dalamnya terdapat foto-foto duet “Sleeping Beauty” yaitu tentang kisah percintaan putri Aurora dengan kekasihnya Pangeran Charming. Maka terinspirasilah Mario menciptakan tari Oleg. Inilah yang diinginkan Coast.

Untuk membawakan tari Oleg — tarian baru itu, I Mario memilih I Gusti Ayu Raka Rasmi yang memiliki basic tari yang bagus. Dalam menata iringannya, Mario mengajak I Wayan Sukra, ahli tabuh asal Marga, Tabanan. Di samping itu, dilibatkan pula tiga pakar tabuh Gong Peliatan dalam menggarap gending Oleg itu yakni Gusti Kompyang, AA Gde Mandera, dan I Wayan Lebah.

Tari Oleg itu semula bernama Legong Prembon. Nampaknya Coast kurang berkenan dengan nama Legong Prembon karena kata itu sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. I Mario lantas menggantinya menjadi tari Oleg Tamulilingan Mengisap Sari dan atas kesepakatan bersama akhirnya disebut Oleg Tamulilingan atau “The Bumble Bee Dance”. Tarian ini menggambarkan dua ekor kumbang, jantan dan betina, sedang bersenang-senang di taman bunga sambil mengisap madu. Sebagai kumbang jantan pasangan Raka Rasmi, dipilihlah I Sampih yang jauh lebih tua, berasal dari Bongkasa, Badung.

Kata oleg dalam kamus bahasa Bali berarti “goyang”. Dalam tarian yang melambangkan kumbang betina itu, memang terdapat gerakan bergoyang lemah gemulai seolah-olah pohon tertiup angin. Gerakan lemah gemulai tari Oleg ini nampak pada bagian pengadeng — saat penari memegang oncer yang bergantian dengan kedua tangan ditekuk silang di depan dada, sambil bergoyang ke kanan dan ke kiri. Maka dinilai, pemeran yang cocok membawakannya adalah yang berperawakan langsing semampai sebagai pemberi kesan ngoleg.

Begitulah. Tarian ini lantas awalnya lebih dikenal di mancanegara daripada di Bali, karena begitu tercipta lalu dipakai ajang promosi Bali di luar. Sebelum berangkat ke Eropa, misi kesenian pemerintah RI itu terlebih dahulu pentas di Istana Merdeka untuk pamitan kepada Presiden Soekarno karena akan melawat sekitar 10 bulan mengunjungi Prancis, Jerman, Belgia, Italia, Inggris dan beberapa kota besar di Amerika Serikat. Mario tidak turut dalam rombongan itu. Namun beberapa tahun kemudian, bersama Gong Pangkung Tabanan, ia “menghipnotis” masyarakat Eropa, Kanada dan Amerika Serikat dengan berbagai improvisasi gerak tari indah dalam tari Kebyar Duduk dan tari Terompong pada acara “Coast to Coast Tour” pada 1957 dan 1962.

Mendobrak Kebekuan

Lalu, siapa I Ketut Marya atau I Mario? Ia lahir pada 1897, anak bungsu lima bersaudara dari keluarga petani miskin asal Banjarangkan, Klungkung. Ayahnya meninggal ketika Mario berumur enam tahun. Musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan penderitaan para petani, memaksa keluarga Mario mengungsi ke arah Barat hingga sampai di Desa Tunjuk, Tabanan. Ni Mentok, ibu Mario, bersama anak-anaknya kemudian “dipungut” oleh saudagar Cina, Tan Khang Sam.

Sifat Mario yang humoris dan pemberani ternyata menarik simpati majikannya. Suatu hari, Mario diajak ke Puri Kaleran, Tabanan, untuk urusan dagang. Penampilan Mario yang sopan menarik simpati raja sehingga Mario sekeluarga dijadikan abdi Puri. Dalam suasana Puri yang sering mementaskan tetabuhan dan tari-tarian, membuat Mario selalu duduk dekat gamelan dan kadang-kadang menari sendirian. Raja pun melihat bakat Mario sehingga ia dicarikan guru tari ke Mengwi. Maka, pada umur sembilan tahun, Mario telah menguasai beberapa tarian.

Penampilan Mario mulai diperhitungkan oleh penari senior. Guru tarinya meramalkan bahwa kelak Mario akan menjadi penari besar karena gerakan tubuhnya lentur, ekspresi wajah penuh kejiwaan seirama dengan iringan gamelan. Sekeha Gong Pangkung yang sering tampil di Puri Kaleran memiliki peran sangat penting bagi sosok Mario. Tahun 1922, Mario telah mempelajari tabuh kakebyaran yang “lahir” di Buleleng pada 1915. Mario pun dilatih oleh Wayan Sembah dan Wayan Gejir.

Salah satu tari ciptaan Mario adalah Kebyar Duduk. Ceritanya, suatu hari pada 1929, Mario menonton latihan gong kebyar di sebuah desa dekat Busungbiu, Buleleng. Salah seorang pemain kendang sempat melihat Mario menari Gandrung dan memintanya menari diiringi gending kebyar yang sedang dimainkan. Mario secara spontan menari sesuai irama gamelan. Sebagai penari Gandrung, Mario ingin mencari pasangan menari, namun tak berhasil karena berada di tengah kalangan yang dikitari gamelan dan penabuh. Dasar seniman kreatif, akhirnya Mario menjawat pemain kendang. Sambil bermain, pemain kendang pun ternyata merespons tarian Mario. Maka, secara spontan lahirlah tarian Kebyar Duduk.

Pada kesempatan lain, Mario yang suka bercanda merampas panggul pemain terompong dan secara improvisasi memainkan panggul itu mengikuti gending yang sedang dimainkan. Dari situ, maka terciptalah tari Kebyar Terompong. Tari ini selanjutnya disempurnakan saat Mario menjadi penari tetap Gong Belaluan untuk menghibur wisatawan di Bali Hotel, Denpasar. Sejak itu, nama Mario menjulang tinggi karena ia berani mendobrak kebekuan keberadaan seni tari Bali dengan penampilan baru. Boleh jadi, fenomena itu sebagai ikon yang paling fantastis bagi pembaruan gong kebyar di Bali Selatan.

I Mario memang telah pergi untuk selama-lamanya pada 1978. Namun namanya telah melegenda. Ia telah mendapat dua anugerah seni secara bersamaan pada 17 Agustus 1961, berupa Dharma Kusuma dan Wijaya Kusuma. Pemda Tabanan pada 1980 telah memberikan penghargaan Dharma Kusuma Madya. Untuk mengenang Mario dengan karya seninya, namanya telah terpateri sebagai Gedung Mario, sebuah bangunan serbaguna di jantung Kota Tabanan. Pun tari Oleg Tamulilingan sebagai simbol percintaan, dijadikan patung monumen penghias halaman gedung itu.

* aaa kusuma arini,
dosen ISI Denpasar

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2006/5/14/sip3.html

Tari Oleg Tamulilingan, Keabadian Mario

Tari Oleg Tamulilingan karya I Ketut Maria (dipanggil Mario), seniman asal Tabanan pada 1951 — yang memperlihatkan kelincahan olah tubuh dan serasi dengan iringan gamelan — itu hingga kini merupakan salah satu tari Bali yang abadi dan digemari para penari. Banyak remaja Bali yang berangan-angan untuk menguasai tari yang menggambarkan romantika lelaki dan perempuan dengan sempurna itu.

TARI Oleg Tamulilingan adalah tarian yang setiap geraknya mengandung karakter keindahan Bali. Penciptanya yang lebih dikenal dengan panggilan Mario, mendapat kehormatan dengan mengabadikan namanya sebagai nama gedung pertemuan Pemkab Tabanan, 21 km barat Denpasar.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tabanan telah menggelar Lomba Tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Terompong yang terbuka untuk peminat di seluruh Bali, guna mengenang dan mendiang Mario. Bupati Tabanan, Nyoman Adi Wiryatama menyambut baik penyelenggaraan lomba ini. Ratusan remaja dari delapan kabupaten/kota di Bali sempat mendaftarkan diri sebagai peserta, namun panitia hanya menyediakan tempat bagi 40 pasang penari Oleg dan 16 penari Kebyar Terompong. Jumlah peserta kali ini lebih banyak jika dibandingkan dengan lomba serupa tahun lalu hanya diikuti 20 peserta.

Kompetisi tari Bali yang berlangsung 25-27 Maret lalu di Gedung Mario Tabanan ini juga menjadi hiburan segar bagi masyarakat, selain tujuan utamanya sebagai ajang peningkatan kreativitas seni di daerah “lumbung beras” Bali itu. Generasi muda terlihat antusias mengikuti lomba tari Oleg yang menjadi wadah untuk membuktikan kemampuan dan penguasaan tari serta memperebutkan hadiah total senilai Rp 37 juta. “Tari Oleg itu lembut namun punya tingkat kesulitan tinggi, mendorong saya ingin menjadi penari Oleg terbaik di Bali,” tutur Wiwik (18), peserta dari Karangasem. Niat luhur dari Disbudpar dalam mempertahankan gaya tari rancangan Mario patut dihargai, ungkap I Gusti Agung Ngurah Supartha, salah seorang tim juri dalam lomba tersebut. Mantan Kepala Taman Budaya Denpasar itu melihat dalam perkembangan Tari Oleg dan Kebyar Terompong belakangan ini muncul semacam rasa waswas bahwa “Oleg asli ciptaan Mario” bisa punah “ditelan gelombang” tari baru yang tak tentu arah dan akar budayanya.

Perkembangan Tari Oleg dan Kebyar Terompong dalam beberapa periode belakangan memang mengalami perubahan gerak, jika diamati dengan cermat, perubahan itu bisa berakibat buruk. Pengenalan gaya Mario menurut Agung Suparta lebih memicu kreativitas generasi muda terhadap bentuk-bentuk “pemberontakan” Mario pada masanya. “Dalam tari Oleg Tamulilingan, bisa dilihat simbol-simbol pemberontakan gerak yang dilakukan Mario dalam seni tari Bali,” tutur seorang pengamat seni muda Tabanan, Putu Arista Dewi.

Gaya asli Mario memang seharusnya dikenali secara cermat. Banyak puncak-puncak pencapaian gerak dari Mario yang sulit ditandingi seniman masa kini. Misalnya dari segi properti, kipas, panggul terompong dan kancut dalam tarian ciptaan Mario bukan hanya berfungsi sebagai alat semata, namun menyatu dan saling mendukung dalam gerak tubuh penari. “Oleh sebab itu gaya Mario perlu dilestarikan, sebelum punah dan sulit melacak asal-usulnya,” ujar Ayu Trisna Dewi Prihatini, pengelola sekaligus Pemilik Sanggar Tari Ayu di Tabanan.

Memang Unik

Dosen Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, I Made Arnawa, S.S.Kar menambahkan, lomba tari Oleg secara berkesinambungan akan mampu membuktikan sejauhmana ciptaan Mario ini telah direvisi dan diaplikasikan oleh koreografer penerus.

Kisah terciptanya tari Oleg Tamulilingan memang unik dan berbelit. Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Dr. I Made Bandem yang sempat menghadiri acara pembukaan lomba tersebut menceritakan, pada tahun 1950 seorang impresario Inggris, Jhon Coast bersama istrinya menetap di Kaliungu Denpasar selama dua tahun. Ia berhasrat membawa sebuah misi kesenian besar ke Eropa dan AS dan niatnya itu mendapat restu menghadap Presiden Soekarno. John Coast, mantan staf pada Kedutaan Besar Inggris di Jakarta menyiapkan misi kesenian di Pulau Bali dan membuat Coast bertemu dengan penari terkenal I Mario dan muridnya I Sampih dari Peliatan Ubud. Coast bersahabat baik dengan pemain kendang dan Ketua Sekaa Gong Peliatan Anak Agung Gde Mandera yang mempertemukannya dengan I Mario. Pada awalnya I Mario menolak bergabung kembali ke Sekaa Gong Peliatan karena merasa tua dan sakit-sakitan. Saat itu umur Mario diperkirakan lebih dari 50 tahun. Namun, atas desakan dan pendekatan dari I Sampih, penggemar tajen atau sabung ayam itu akhirnya mau kembali ke Peliatan.

Pada April 1951, ketika John Coast memiliki kepastian untuk membawa misi kesenian ke Eropa dan AS, ia meminta I Mario bersama Anak Agung Gde Mandera menciptakan tari baru untuk melengkapi repertoar Gong Peliatan yang saat itu hanya memiliki Tari Janger dan Legong Keraton. Coast menawarkan I Mario menciptakan tari baru dengan menggunakan penari Legong Keraton, Ni Gusti Ayu Raka Rasmin, dan penari Kebyar Duduk, I Sampih.

Maestro yang lahir di Belaluan Denpasar pada 1899 ini menyanggupinya, namun perlu waktu cukup lama untuk merenung dan belum juga menemukan gagasan untuk menciptakan tari baru. John Coast merangsang I Mario dengan memperlihatkan buku-buku tari balet klasik yang dilengkapi foto-foto tari pementasan balet “Sleeping Beauty”. Imajinasi Mario pun bangkit. Foto-foto itu memberinya inspirasi untuk menciptakan tari Oleg Tamulilingan dan ia langsung mengajar I Sampih tabuh lagu-lagu sederhana agar bisa memulai latihan bersama Ni Gusti Ayu Raka Rasmin.

Sesudah batang-tubuh tari terwujud secara kasar, Sekaa Gong Peliatan mendapat giliran untuk mempelajari lagu kebyar untuk mengiringi tari peran laki-laki itu. “Semula I Mario menyebut ciptaannya itu dengan nama Tumulilingan Mangisep Sari,” tutur Made Bandem. (ant)

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2002/4/7/g2.html

Estetika Bergeser dalam Tari Oleg Tamulilingan

Festival Internasional Oleg Tamulilingan dan Kebyar Terompong baru saja digelar di Tabanan. Festival ini berlangsung semarak. Di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2006 , tari Oleg Tamulilinan ini juga dilombakan. Terakhir pada Pesta Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar, tari ciptaan I Ketut Marya atau I Mario pada 1950-an ini juga menjadi salah satu materi lomba. Ada apa sesungguhnya dengan tari Oleg Tamulilingan? Benarkah dalam perjalanannya tari ini sudah mengalami pergeseran estetika?

———-

TARI Oleg Tamulilingan merupakan karya cipta seniman besar I Ketut Marya alias I Mario yang paling populer di antara sejumlah ciptaannya. Tarian ini digarap tahun 1952 atas permintaan John Coast, budayawan asal Inggris yang sangat terkesan dengan kesenian Bali, untuk dipromosikan ke Eropa dan Amerika Serikat.

Adalah I Gusti Ayu Raka Rasmi asal Peliatan, Ubud merupakan penari pertama yang menarikan tarian itu. Dia anggota paling belia dalam misi kesenian yang meraih sukses besar tahun 1953, didukung Sekaa Gong Peliatan pimpinan A.A. Gede Mandera. Belakangan, tari yang dikemas dalam gerak yang indah dan romantis ini acap kali dipentaskan untuk resepsi perkawinan.

Seni, sebagai suatu bentuk ekspresi seniman memiliki sifat-sifat kreatif, emosional, individual, abadi, dan universal. Sesuai dengan salah satu sifat seni yakni kreatif, maka seni sebagai kegiatan manusia selalu melahirkan kreasi-kreasi baru, mengikuti nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Demikian pula halnya dengan tari Oleg Tamulilingan, iringan dan geraknya mengalami perkembangan. Pada tarian ini telah terjadi pergeseran estetika, namun tetap mencirikan tarian yang indah dan menarik.

Pergeseran estetika itu bisa berupa pembaruan maupun perbaikan dari apa yang telah ada sebelumnya. Yang paling awal mengalami perkembangan adalah iringan gending papeson dari tokoh muanin Oleg tersebut. Perkembangan ini dilakukan oleh Sekaa Gong Belaluan, Denpasar, di bawah komposer terkenal I Wayan Berata, sebelum tahun 1960. Selanjutnya terjadi pula perkembangan pada perbendaharaan gerak tarinya.

Bagaimana sesungguhnya perkembangan itu terjadi? I Gusti Ayu Raka Astuti asal Kedaton, Denpasar, yang mantan pengajar tari Oleg Tamulilingan di Kokar (kini SMK 3 Sukawati) Bali, bertutur soal itu. Katanya, ketika ia menarikan Oleg yang telah direvisi di hadapan I Mario — sang pencipta Oleg, ternyata Mario sendiri tidak bereaksi alias mendiamkannya saja. Sebelumnya, Raka Astuti diajar tari Oleg yang “asli” gaya Mario oleh guru tari asal Lebah, Denpasar, I Wayan Rindi.

Di situ Raka Astuti melakukan perubahan pada bagian papeson. Saat akan bergerak di samping, dirasakan agem nampak lukus — kurang enak. Bila bergerak ke samping kiri, tangan kanan digerakkan di depan dada menuju ke arah samping kiri. Menurut Raka Astuti, gerakan itu akan menutupi muka dan mengakibatkan olah tubuh tidak kelihatan.

Menghindari hal itu, maka ia membuat olah gerak baru, bila akan ke samping kiri maka tangan kiri yang digerakkan lebih dahulu ke kiri dan olah tubuh akan nampak dengan gerakan badan nyeleyog ke kiri. Masih dalam papeson, sebelum menghadap ke samping kanan ataupun kiri, ada tambahan gerakan angsel kado. Demikian pula pada perbendaharaan gerak lainnya terdapat pembaruan-pembaruan lain. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1961. Inilah yang kemudian mengantarkan Raka Astuti sebagai salah seorang penari Oleg Tamulilingan yang memiliki gaya tersendiri.

Dalam koreografinya, sebelum penari “kumbang jantan” atau muanin Oleg memasuki arena, Oleg Tamulilingan sebagai simbol “kumbang betina” menari sendirian. Jadi ini merupakan tari solo. Hal ini memberi ruang lahirnya berbagai style Oleg sesuai dengan kemampuan dan ciri pribadi masing-masing penarinya.

***

DULU, daerah Badung merupakan barometer seluruh aktivitas masyarakat, termasuk seni tarinya. Maka muncul pula nama penari Oleg terkenal yang juga mendapat sentuhan tangan I Mario yakni A.A. Mas Eran (alm.) dari Sibanggede, Badung. Dia memiliki kekhasan dalam aksen-aksen gerak tari Oleg, mungkin karena pada masa kanak-kanaknya ia pernah menggeluti tari Galuh Arja.

Pada 1965, Raka Astuti diangkat menjadi guru tari Oleg di Kokar Bali. Sebelumnya, karena kepiawaiannya menarikan Oleg, dia pernah menjadi pegawai Ajen (Uril) Kodam Udayana, khusus di bidang kesenian. Ditekankan Raka Astuti, untuk menjadi penari Oleg, orang harus ayu, alep, dan manis. Di samping itu, yang menjadi kunci dasar agem Oleg adalah pada bagian pinggang tulang belakang ditekan ke depan, serta kedua siku diangkat ke atas. Sebagai penari Oleg dia pernah melawat ke Filipina, Jepang, Italia dan “New Yok World Fair 1964″ bersama Gong Sad Merta Denpasar.

Perkembangan selanjutnya, tari Oleg style Kokar yang diajarkan Raka Astuti menjadi populer di masyarakat. Lahirlah kemudian para penari Oleg generasi baru yang berasal dari seluruh Bali. Namun, patut diakui bahwa sumber gaya “asli” Oleg masih tetap kokoh tersimpan dalam sosok Raka Rasmi ketika tampil bersama Gong Peliatan.

Akhir-akhir ini sulit menemukan penari Oleg yang betul-betul membawakan perannya dengan mantap karena kebanyakan para penari masa kini menguasai lebih dari satu tarian. Mereka sering menjadi kurang fokus. Dalam ajang Festival Gong Kebyar, baik untuk Pesta Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar maupun PKB, tarian Oleg Tamulilingan sudah sering dipentaslombakan. Malah, khusus untuk PKB 2006 mendatang, tari Oleg Tamulilingan akan digelar spesial.

Tari Oleg Tamulilingan adalah salah satu karya masterpiece seniman Bali. Betapa tinggi sesungguhnya jasa para seniman dalam berkreasi serta mengembangkan karya-karya seni yang mengharumkan nama Bali. Mereka pantas dicatat dan dihargai serta layak diberikan penghargaan seni oleh masyarakat maupun pemerintah.

* aaa kusuma arini,
dosen ISI Denpasar

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/6/11/b7.html

Sejarah Janger

Posted by Adnyana under Tari Bali

Kapankah tari Janger diciptakan? Siapakah penciptanya? Pertanyaan ini bisa diteruskan untuk seni tari lainnya, dan kita tak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik ketika membuka pementasan Cak Kolosal di Tanah Lot, 29 September lalu, juga mempertanyakan siapakah pencipta tari Cak, dan kapan diciptakan? Kalau tahu siapa orangnya, Jero Wacik ingin memberikan penghargaan karena atas jasa dialah bisa disuguhkan Cak Kolosal yang membawa misi perdamaian ini.

Janger barangkali lebih muda dibandingkan Cak. Tetapi, saya tak tahu persis, belum pernah menemukan buku tentang sejarah Janger. Kalau drama tari Gambuh, sudah terbit buku dengan editor Maria Cristina Formaggia. Ini buku tentang Gambuh yang paling lengkap. Gambuh diperkirakan sudah ada pada abad XIV dan terus mengalami evolusi sampai abad XVII. Bentuk tarinya kemudian mengalamibalinisasidi abad XIX sampai abad XX. Lalu, ini yang menyedihkan, Gambuh nyaris mati di abad XXI ini.

Bagaimana dengan Janger? Janger Kedaton berusia 100 tahun. Itu berarti Janger sudah berusia seabad lebih, dan kita tidak tahu apakah usia sejatinya dua abad atau tiga abad. Belum ada penelitian ke arah itu, termasuk bagaimana evolusi Janger dari abad ke abad. Bahwa di Banjar Kedaton telah ada Janger sejak tahun 1906 dan terus dipelihara dari waktu ke waktu tentu merupakan prestasi tersendiri. Lestarinya kesenian di sebuah desa di Bali umumnya dikaitkan dengan hal-hal mistis. Janger Kedaton pun demikian. Masyarakat boleh beralih profesi, tetapi kesenian tetap dipertahankan karena dipayungi oleh hal-hal mistis dan sakral. Perjalanan Janger ini menjadi sisi menarik yang layak didokumentasikan.

Seni tari Janger mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Ini disebabkan pola dasar tari Janger adalah adanya dua kelompok yang bertembang saling bersautan. Di daerah-daerah lain Nusantara, jenis kesenian yang bertembang bersautan juga ada, baik berupa kidung tradisional maupun berpantun. Dan, kesenian seperti itu mengalami perubahan yang sama dengan Janger, yakni masuknya unsur-unsur aktual tentang situasi dan kondisi masyarakat pada zamannya.

Janger yang ”tradisional”, meski belum ada penelitian tentang itu, agaknya bercerita tentang kelompok muda-mudi yang lagi dimabuk asmara. Ini dilihat dari kelompok yang bercirikan gender, ada kelompok pria dan ada kelompok wanita. Mereka bertembang bersautan tentang kisah-kisah asmara, dari cara berkenalan, menanyakan identitas, dan menjurus ke rayuan. Semuanya dilakukan dengan riang gembira. Mungkin keriangan itu ciri khas Janger yang tidak mengalami perubahan.

Pada dasawarsa 1960-an, terutama menjelang tahun 1965, Janger di Bali diracuni masalah politik yang mencerminkan adanya pertentangan di tengah-tengah masyarakat. Ada Janger PKI dan ada Janger PNI dan mereka saling sindir. Pakaian penari pun, terutama kelompok pria, mengalami perubahan sesuai dengan situasi saat itu. Janger kelompok pria memakai celana dan sering di tangannya ada pedang. Jadi, gerak tarinya adalah kombinasi dari gerakan silat. Mereka berteriak dengan cara koor: ”Marhaen menang, Pancasila jaya”, itu bagi Janger PNI. Sedangkan janger PKI bernyanyi koor: ”Sama rata, sama rasa, sosialisme ala Indonesia.” Banyak lagi jargon-jargon khas zaman itu, yang saat ini menjadi sesuatu yang menggelikan untuk dikenang.

Janger politikitu tidak lagi bercerita tentang kisah asmara, tetapikisah keluarga”, melalui tembang-tembangnya. Misalnya, Janger kelompok pria bertembang tentang kepergiannya memperjuangkan nasib rakyat, kalau dia meninggal, jangan cari suami yang berlainan partai. Kelompok Janger wanita menjawab dengan tegas, bahwa ia akan melanjutkan perjuangan.

Tetapi tidak semua sekaa Janger terlibat dalampolitik praktis”. Ada yang netral, namun cara berpakaian dan isi tembang mengikuti perkembangan saat itu. Misalnya, Janger kelompok pria bernyanyi tentang kepergiannya menjadi sukarelawan. Koor yang dikumandangkan selalu diakhiri dengan jargon: ”Ganyang Malaysia”. Janger kelompok wanita bertembang tentang cinta kasih sambil menyiapkan bekal untukmengganyang Malaysia”.

Setelah meletusnya G-30-S/PKI, lama kesenian Janger menghilang. Masyarakat Bali trauma dengan Janger, seolah-olah kesenian itu adalah simbol darisisi gelapBali, betapa mudahnya orang Bali diadu-domba dan saling membunuh sesamanya. Janger baru muncul kembali di masa Orde Baru. Dan lagi-lagi Janger menjadi corong politik, kali inipolitik pembangunan”. Maka ada Janger tentang Keluarga Berencana. Meski kisah-kisah asmara masih ada, tetapi itu hanya sebagai pembuka sebelum masuk ke kisah intinya yaitu propaganda pemerintah tentang keberhasilannya. Orang tentu masih ingat, Gubernur Bali Ida Bagus Oka hampir setiap HUT Pemda Bali mengajak stafnya menari Janger.

Sejarah Janger semestinya diteliti lebih jauh. Kalaupun tak bisa menyeluruh, dimulai dari sejarah Janger lokal. Bagaimana perjalanan Janger Kedaton yang berusia 100 tahun itu, bagaimana perjalanan Janger Peliatan yang termasyur itu. Lagu bagaimana dengan kisah-kisahjanger politik” yang banyak muncul di Jembrana dan Tabanan di masa lalu. Apa kita harus menunggu penulis asing, seperti halnya tentang Gambuh, untuk membukukan riwayat Janger?

* Putu Setia

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/10/7/bd1.htm