kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Upacara Agama Hindu’ Category

pohon puleDalam perjalanan persiapan “Karya Agung Ngenteg Linggih, Mupuk Pedagingan lan Memungkah” di Pura Puseh dan Pura Bale Agung Desa Adat Kemoning yang rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2012, para Penglingsir dan Pemangku mendapatkan pawisik untuk membuat Tapakan Ida Bhatara berupa Barong. Pembuatan Tapakan Ida Bhatara ini telah disepakati dalam paruman agung Desa Adat Kemoning serta paruman alit klian desa dan klian banjar, Jero Mangku Kahyangan Tiga pada tanggal 18 Juli 2010.

Proses pembuatan Tapakan Ida Bhatara dimulai dengan Upacara Nunas Kayu Pule di Setra, pada tanggal 21 Juli 2010. Mulai pagi hari telah dilakukan pembersihan di area pohon pule dan memotong kayu bunut yang melilit pohon pule. Pada malam harinya, mulai sekitar jam 22.00 mulai dilakukan pemotongan (nunas) kayu pule yang diawali dengan ngaturang banten dan sesajen lainnya kehadapan Ida Bhatara. Proses nunas kayu ini adalah saat-saat yang dinantikan warga, semua mata warga tertuju pada gergaji mesin yang berada diatas ketinggian lebih dari 10 meter. Apalagi ketika saat setelah kayu terpotong, proses untuk menurunkan kayu adalah saat yang menegangkan, selain karena malam hari, juga karena kayu tidak boleh menyentuh tanah, sebab akan digunakan untuk Tapakan Ida Bhatara yang disakralkan. Kayu Pule yang akan dijadikan Tapakan Ida Bhatara sebanyak 8 potong kayu. Warga desa sudah dibagi-bagi menurut banjar untuk nyanggra (bertanggung jawab) terhadap masing-masing potongan kayu tersebut. Untuk menurukan potongan kayu yang ke 6,7 dan 8 (masih jadi satu) adalah yang tersulit karena harus dipotong di bawah sehingga untuk menurunkan kayu dengan mencapai panjang 3 meter dan berdiameter hampir 1 meter adalah hal yang sangat sulit walaupun telah dibantu dengan alat berat.

Syukur akhirnya sekitar jam 3 pagi pelaksaanaan nunas kayu dapat terselesaikan dengan baik dan dilanjutkan dengan membawa potongan kayu-kayu tersebut ke Pura Dalem.

Tanggal 28 Juli 2010, di Pura Dalem sekitar pukul 10 pagi mulai dilakukan pemotongan kayu sesuai ukuran yang akan dijadikan Barong, Rarung, Telek dan Jau. Pemotongan ini selesai sekitar jam 13.00. Sekitar pukul 15.00, kayu-kayu bakal Tapakan Ida Bhatara dibawa ke Bangli untuk dibentuk(diukir).

Perkiraan biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan Tapakan Ida Bhatara adalah sebagai berikut:

1. Tapakan Barong                 : Rp. 110.000.000,-
2. Rarung                              : Rp.     7.500.000,-
3. Telek 6 stel @ 5.500.000     : Rp.   33.000.000,-
4. Jauk                                  : Rp.     7.500.000,-
5. Upakara                            : Rp.   40.000.000,-
Total                                       : Rp. 198.000.000,-

Jika dilihat dari biaya yang dibutuhkan adalah sangatlah besar sehingga inilah saatnya warga desa adat kemoning (khususnya) dan warga Hindu Dharma (umumnya) untuk menunjukkan astiti bhakti kehadapan Ida Bhatara (Ida SangHyang Widhi Wasa) serta sumbangsih ke Desa Adat Kemoning yang tercinta. Pembuatan Tapakan Ida Bhatara ini suatu kejadian yang sangat langka dalam kehidupan bagi warga desa adat kemoning, serta ini akan menjadi sejarah bagi generasi warga desa adat kemoning yang akan datang.

Dana punia dapat disalurkan langsung ke panitia, atau melalui LPD Desa Pakraman Kemoning, atau pun lewat transfer ke:

Rekening BCA a.n : I Ketut Sudasma SPD   No Rek : 3950164653

Untuk yang transfer melalui rekening bank, mohon setelahnya dikonfirmasi lewat mailinglist kemoning atau konfirmasi ke panitia (I Ketut Sudasma sebagai ketua penggalian dana/08123966590).

Diharapkan dana untuk pembuatan Tapakan Ida Bhatara sudah terkumpul sebelum akhir bulan Nopember 2010 karena pada tanggal 3 Desember 2010 rencananya akan diadakan upacara Masupati Tapakan Ida Bhatara.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

- I Wayan Mustika              HP : 081337717370

- I Ketut Sudasma, S.Pd      HP : 08123966590

- I Dewa Nyoman Oka         HP : 08124624134

DALAM tradisi beragama Hindu di Bali nilai-nilai suci Veda yang universal diekspresikan dalam wujud lokal. Leluhur orang Hindu di Bali sudah mengamalkan berpikir universal dan berlaku lokal. Meskipun rumusan kata-kata tersebut tidak dikenalnya, tetapi sudah dilakukan dalam kehidupan beragama Hindu. Salah satu simbol yang berbentuk sangat lokal Bali itu adalah banten penyeneng.

Penyeneng ini bagian dari banten tataban alit yaitu:

- peras

- penyeneng

- tulung

- sesayut.

Banten ini umumnya menyertai upacara Manusa Yadnya. Banten tataban itu saat upacara Manusa Yadnya dilangsungkan di-ayab-kan ke arah mereka yang sedang diupacarai. Saat ngayab banten penyeneng ini pimpinan upacara mengucapkan doa yang disebut pujastawa sebagai berikut:

Om kaki penyeneng nini penyeneng kajenenganing dening Brahma Wisnu Iswara.

Maksud dari pujastawa ini, semoga unsur purusha (kaki) dan unsur predana (nini) mendapatkan kehidupan dari Dewa Brahma, Wisnu dan Iswara. Dari pujastawa pengantar banten penyeneng ini dapat kita amati adanya konsep hidup yang seimbang terkemas dalam simbol banten itu.

Kaki penyeneng dan nini penyeneng ini artinya menyelenggarakan hidup di dunia ini hendaknya dilakukan dengan seimbang. Yang diseimbangkan adalah pembangunan fisik material dan mental spiritual. Kedua pembangunan diri itu tidak boleh dianaktirikan. Dalam berbagai sastra suci Hindu dinyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang bisa dianaktirikan dalam membangun hidup yang seimbang itu. Yang ada adalah perbedaan prioritas sesuai dengan pertumbuhan diri manusia itu sendiri. Kata nyeneng dalam banten penyeneng itu berasal dari bahasa Bali yang artinya hidup. Hidup haruslah diupayakan agar seimbang antara kaki (purusa) sebagai simbol jiwa dan nini (predana) simbol badan fisik. Kalau pembangunan jiwa dan raga ini sudah dilakukan seimbang dan sinergis maka akan terbentuk manusia yang berkualitas secara lahir dan batin.

Selanjutnya pujastawa banten penyeneng itu menyatakan Kejenenganing dening Brahma, Wisnu dan Iswara. Ini artinya setelah purusa (kaki) dan predana (nini) bersatu dan bersinergi lalu untuk apa hidup ini. Dalam pujastawa itu terkandung makna bahwa hidup yang berkualitas secara mental dan fisik itu untuk melakukan kreativitas Utpati, Sthiti dan Pralina. Karena Dewa Brahma adalah Tuhan sebagai pencipta (utpati), Wisnu adalah Tuhan sebagai pemelihara dan pelindung (sthiti) dan Iswara adalah Tuhan untuk mengakhiri suatu ciptaan (pemralina). Dalam hidup manusia di dunia ini tidak berarti apa-apa kalau tidak melakukan tiga hal tersebut. Agar hidup ini berarti selama di dunia ini manusia haruslah menciptakan sesuatu yang patut diciptakan. Demikian juga hidup ini haruslah didayagunakan memelihara dan melindungi apa-apa yang telah tercipta dengan baik dan benar.

Selanjutnya hidup ini juga harus menghilangkan atau mengakhiri sesuatu yang sudah usang dan tidak berguna malahan akan merusak kalau tidak di-pralina. Untuk mencipta, memelihara dan meniadakan itu bukanlah pekerjaan yang semudah teorinya. Ia harus dilakukan dengan suatu ilmu pengetahuan yang benar, dengan mental yang kuat dan konsisten. Kalau proses utpati, sthiti dan pralina tidak berjalan sesuai dengan hukumnya maka hidup ini menjadi tidak seimbang. Dalam fisik manusia saja setiap saat terjadi proses utpati, sthiti dan pralina. Ada sel yang tercipta karena manusia itu makan dan minum. Ada unsur yang sthiti artinya terpeliharanya sel dan bagian-bagian tubuh yang lainnya dengan baik, sehingga manusia punya tenaga, baik mental maupun fisik. Setiap saat ada juga sel-sel yang tidak berguna. Hal inilah yang menjadi kotoran dalam diri manusia. Untuk melakukan kehidupan dengan tiga dimensi itu (utpati, sthiti dan pralina) sangat dibutuhkan adanya kekuatan mental dan fisik yang selalu terjaga dengan baik.

Salah satu yang paling dibutuhkan adalah ketetapan hati untuk menjadikan aspek spiritual sebagai unsur pegangan dalam hidup ini. Untuk itulah umat Hindu di Bali memiliki tempat pemujaan yang disebut Pura Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman. Salah satu tujuan memuja Tuhan dalam aspeknya sebagai Tri Murti adalah untuk menguatkan kemampuan manusia dalam melakukan upaya utpati, sthiti dan pralina dalam hidup ini. Kalau tiga hal itu dapat dikerjakan dengan baik dalam hidup ini, itulah hidup yang sukses. Adanya banyak masalah yang dihadapi oleh umat manusia dewasa ini membutuhkan SDM yang kreatif mencari solusi dari berbagai persoalan yang sedang dihadapi.

Demikian juga sangat dibutuhkan SDM pelaksana atau sebagai aktor yang bijaksana untuk memelihara dan melindungi kehidupan ini dengan sebaik mungkin. Berbagai aspek dalam hidup ini ada yang sudah demikian usang dan sudah sangat membosankan. Sehingga, perlu adanya upaya yang tepat untuk menghilangkan sesuatu yang sudah sepatutnya dihilangkan.

Berbagai tradisi yang sudah jelas-jelas menghambat dan bertentangan dengan ajaran agama dan hukum masih kuat dipertahankan oleh sebagian masyarakat karena ada yang diuntungkan secara sosial dan material. Untuk mempralina tradisi itu dibutuhkan juga SDM yang memiliki kemampuan yang kuat. Untuk melakukan tiga hal itulah dibutuhkan kekuatan moral dan mental dengan memuja Tuhan sebagai Tri Murti.

Source :   Balipost

http://okanila.brinkster.net/mediaFull.asp?ID=708

.
Bali memang unik dan menarik bagi semua orang, tidak hanya Bangsa sendiri tetapi juga Bangsa-bangsa di seluruh dunia membicarakan tentang “Bali”. Salah satu keunikan yang sudah menjadi tradisi umat Hindu Bali dimanapun berada tidak pernah melupakan prihal; Otonan atau Ngotonin, yang merupakan peringatan hari kelahiran berdasarkan satu tahun wuku, yakni; 6 (enam) bulan kali 35 hari = 210 hari. Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari).

Berbeda dengan peringatan hari Ulang Tahun yang hanya menggunakan perhitungan tanggal dan bulan saja, dengan mengabaikan hari maupun wuku pada tanggal tersebut. Misalnya seseorang yang lahir tanggal 10 Januari, maka hari ulang tahunnya akan diperingati tiap-tiap tanggal 10 Januari pada tahun berikutnya (12 bulan kalender).

Otonan diperingati sebagai hari kelahiran dengan melaksanakan upakara yadnya yang kecil biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan dan bila upakaranya lebih besar dipuput aleh pemangku (Pinandita). Sarana pokok sebagai upakara dalam otonan ini ada1ah;

- biyukawonan

- tebasan lima

- tumpeng lima

- gebogan

- sesayut.

Menurut tradisi umat Hindu di Bali, dalam mengantarkan doa-doa otonan sering mempergunakan doa yang diucapkan yang disebut sehe (see) yakni doa dalam bahasa Bali yang diucapkan oleh penganteb upacara otonan yang memiliki pengaruh psikologis terhadap yang melaksanakan otonan, karena bersamaan dengan doa juga dilakukan pemberian simbol­-simbol sebagai telah menerima anugerah dari kekuatan doa tersebut.

Sebagai contoh :
Melingkarkan gelang benang dipergelangan tangan si empunya Otonan, dengan pengantar doa : “Ne cening magelang benang, apang ma uwat kawat ma balung besi” (Ini kamu memakai gelang benang, supaya ber otot kawat dan bertulang besi).

Ada dua makna yang dapat dipetik dari simbolis memakai gelang benang tersebut adalah pertama dilihat dari sifat bendanya dan kedua dari makna ucapannya. Dari sifat bendanya benang dapat dilihat sebagai berikut :

1. Benang memiliki konotasi beneng dalam bahasa Bali berarti lurus, karena benang sering dipergunakan sebagai sepat membuat lurus sesuatu yang diukur. Agar hati selalu di jalan yang lurus/benar.

2. Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat.

Sedangkan dari ucapannya doa tersebut memiliki makna pengharapan agar menjadi kuat seperti memiliki kekuatannya baja atau besi. Disamping kuat dalam arti fisik seperti kuat tulang atau ototnya tetapi juga kuat tekadnya, kuat keyakinannya terhadap Tuhan dan kebenaran, kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup sebab hidup ini bagaikan usaha menyeberangi samudra yang luas. Bermacam rintangan ada di dalamnya, tak terkecuali cobaan hebat yang sering dapat membuat orang putus asa karena kurang kuat hatinya.

Dalam rangkaian upacara otonan berikutnya sebelum natab, didahului dengan memegang dulang tempat sesayut dan memutar sesayut tersebut tiga kali ke arah pra sawia (searah jarum jam) dengan doa dalam bahasa Bali sebagai berikut: “Ne cening ngilehang sampan, ngilehang perahu, batu mokocok, tungked bungbungan, teked dipasisi napetang perahu “bencah” (Ini kamu memutar sampan, memutar perahu, batu makocok, tongkat bungbung, sampai di pantai menemui kapal terdampar).

Dari doa tersebut dapat dilihat makna:

1. “Ngilehang sampan ngilehang perahu” bahwa hidup ini bagaikan diatas perahu yang setiap hari harus kesana-kemari mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup ini. Badan kasar ini adalah bagaikan perahu yang selalu diarahkan sesuai dengan keinginan sang diri yang menghidupi kita.

2. “Batu makocok” adalah sebuah alat judi. Kita teringat dengan kisah Pandawa dan Korawa yang bermain dadu, yang dimenangkan oleh Korawa akibat kelicikan Sakuni. Jadi hidup ini bagaikan sebuah perjudian dan dengan tekad dan keyakinan yang kuat harus dimenangkan.

3. “Tungked bungbungan” (tongkat berlobang) adalah bambu yang dipakai kantihan yakni sebagai penyangga keseimbangan samping perahu agar tidak mudah tenggelam karena bambu bila masih utuh memang selalu terapung. “Perahu hidup ini” jangan mudah tenggelam oleh keadaan, kita harus selalu dapat mengatasinya sehingga dapat berumur panjang sampai memper­gunakan tongkat (usia tua).

4. “Teked dipasisi napetang perahu bencah” (sampai di pantai menemui perahu / kapal terdampar). Terinspirasi dari sistem hukum tawan karang yang ada pada jaman dahulu di Bali, yakni setiap ada kapal atau perahu yang terdampar di pantai di Bali, rakyat Bali dapat dengan bebas menahan dan merampas barang yang ada .pada kapal yang terdampar tersebut. Maksudnya supaya mendapatkan rejeki nomplok, atau dengan usaha yang mudah bisa mendapatkan rejeki yang banyak.

Demikian luhurnya makna doa yang diucapkan dalam sebuah upacara otonan bagi masyarakat Hindu Bali yang dikemas dengan simbolis yang dapat dimaknai secara fisik maupun psikologis, dengan harapan agar putra­-putri yang menjadi tumpuan harapan keluarga mendapatkan kekuatan dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan.

oleh : I Wayan Ritiaksa, M.Ag (Denpasar).

Warta Hindu Dharma No. 488 Agustus 2007.

Source :   WHD, http://okanila.brinkster.net/mediaFull.asp?ID=1404

Panca Yadnya seperti di tulis dari website Babadbali adalah lima jenis karya suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Adapun Panca Yadnya atau Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari:

  1. Dewa Yadnya.
    Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lain- lain.

  2. Pitra Yadnya.
    lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang
    disebut Atma Wedana.
    Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti:

    1. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
    2. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
    3. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.
  3. Manusa Yadnya.
    Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia.
    Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah:

    1. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir.
    2. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari).
    3. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton).
    4. Upacara Potong Gigi (Metatah / Mesangih) untuk anak yang naik remaja
    5. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana.

    Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan- kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lain- lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama), memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya.

  4. Resi Yadnya.
    Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi, orang- orang suci, Resi, Pinandita, Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk:

    1. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa.
    2. Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
    3. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat- saat tertentu kepada Sulinggih.
    4. Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran para Sulinggih.
    5. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.
  5. Bhuta Yadnya.
    Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk- makhluk rendahan, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang), tumbuh- tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.
    Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.

Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur- unsur Panca Yadnya telah tercakup di dalamnya, sedangkan penonjolannya tergantung yadnya mana yang diutamakan.

Manusa Yadnya

Manusa yadnya dalam konteks ritual seperti di jelaskan diatas, bermacam-macam bentuknya, di antaranya magedong-gedongan, nyambutin, ngotonon, potong gigi, dan upacara perkawinan. Dalam konteks yang lebih luas manusa yadnya bisa dipahami sebagai bentuk yadnya kepada sesama.

Upacara Raja Sewala

Di dalam sastra-sastra Hindu disebutkan bahwa bagi orang tua (keluarga) berkewajiban pertama, Ametuaken, melahirkan anak. Ini bertujuan untuk mengisi dan memelihara dunia, melanjutkan garis keturunan, sehingga dunia ini penuh dengan tawa dan tangis. Kedua, Binojana/ membesarkan anaknya yaitu memberikan makanan yang cukup dan penuh gizi seimbang, Ketiga, Mengupadyaya/ mendidik, menyekolahkan, membekali dengan ilmu pengetahuan dan ilmu agama untuk menyosong masa depan, Keempat Matulung Urip/ melindungi atau menjaga kesehatan dan Kelima, Sinangaskara/ memberikan upacara/ mensucikan jiwanya.Mensucikan jiwa anak, adalah kewajiban bagi orang tua. Umat Hindu dari sejak memasuki gerbang rumah tangga sudah dimulai dengan upacara, yaitu bayi dalam kandungan baru berumur 5 - 7 bulan namanya upacara megedong-gedongan atau tujuh bulanan, setelah bayi lahir dibikinkan upacara nyambutin atau dapetan dan terakhir tugas orang tua adalah mengawinkan anaknya yang telah dewasa.

Ciri-ciri anak telah meningkat dewasa.

Siklus kehidupan makhluk didunia adalah lahir, hidup dan mati (kembali keasalnya). Manusia hidup di dunia mengalami beberapa phase yaitu, phase anak-anak, pada phase ini anak dianggap sebagai raja, semua permintaannya dipenuhi. Phase berikutnya adalah pada masa anak meningkat dewasa. Saat ini anak itu tidak lagi dianggap sebagai raja, tetapi sebagai teman. Orang tua memberikan nasehat kepada anak-anaknya dan anak itu bisa menolak nasehat orang tuanya bila kondisi dan lingkungannya tidak mendukung, artinya terjadi komunikasi timbal balik atau saling melengkapi. Dan yang terakhir adalah phase tua, di sini anak tadi menjadi panutan bagi penerusnya.

Sebagai tanda dari kedewasaan seseorang adalah suaranya mulai membesar /berubah/ngembakin (bahasa Bali) bagi laki-laki dan bagi perempuan pertama kalinya ia mengalami datang bulan. Sejak saat ini seseorang mulai merasakan getar-getar asmara, karena Dewa Asmara mulai menempati lubuk hatinya. Bila perasaan getar-getar asmara ini tidak dibentengi dengan baik akan keluar dari jalur yang sebenarnya.

Perasaan getar-getar asmara itu dibentengi melalui dua jalur yaitu, jalur niskala, membersihkan jiwa anak dengan mengadakan Upacara yang disebut Raja Sewala dan jalur sekala, dengan memberikan wejangan-wejangan yang bermanfaat bagi dirinya

Upacara Raja Sewala ini sesuai dengan apa yang diungkapkan didalam Agastya Parwa bahwa, disebutkan ada tiga perbuatan yang dapat menuju sorga, yaitu: Tapa (pengendalian), Yadnya (persembahan yang tulus iklas) dan Kirti (perbuatan amal kebajikan) Upacara Raja Sewala merupakan Yadnya (persembahan yang tulus iklas) yang membuat peluang bagi keluarganya untuk masuk sorga.

Nilai pendidikan

Upacara Raja Sewala/meningkat dewasa yang dilakukan oleh umat Hindu adalah merupakan salah satu jenis Upacara Manusa Yadnya yang bertujuan untuk memohon kehadapan Sanghyang Widhi Waça (Tuhan Yang Maha Esa) dalam menifestasinya sebagai Sang Hyang Semara Ratih, agar orang itu dibimbing, sehingga ia dapat mengendalikan dirinya dalam menghadapi Pancaroba. Pada masa panacaroba ini seseorang sangat rentan terhadap godaan-godaan khususnya godaan dari Sad Ripu yaitu: Kroda (sifat marah), Loba (rakus/tamak), Kama (nafsu/keinginan), Moha (kebingungan), Mada (kemabukan), dan Matsarya (rasa iri hati)

Pada Upacara ini juga terselip nilai pendidikan. Anak diberikan wejangan-wejangan yang menyatakan bahwa dirinya telah tumbuh dewasa, apapun yang akan diperbuatnya akan berakibat juga kepada orang tuanya. Jadi anak itu tidak bebas begitu saja menerjunkan diri dalam pergaulan dimasyarakat. Dia harus tahu mana yang pantas untuk dilakukan dan mana yang dilarang. Dalam hal ini anak-anak juga merasa mendapat perhatian dari orang tuanya sehingga menimbulkan rasa lebih hormat kepada orang tuanya.

Melalui Upacara Raja Sewala/Meningkat dewasa ini diharapkan seseorang dapat meningkatkan kesucian pribadinya sehingga mampu memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Upacara Yadnya Potong Gigi

Upacara Yadnya potong gigi, atau dalam komunitas Hindu-Bali disebut metatah, mepandes, atau mesangih. Secara fisik, dalam upacara ini, baik laki-laki maupun perempuan, enam gigi mereka diratakan dengan alat kikir, yaitu dua gigi taring dan empat gigi tengah.

Keenam gigi itu melambangkan Sad Ripu atau enam sifat buruk yang ada dalam diri setiap manusia, yakni nafsu (kama), rakus (loba), marah (kroda), mabuk (mada), bingung (moha), dan dengki (matsarya).

Adapun penjuelasan lebih rinci tentang makna hingga pelaksanaan Upacara Yadnya Potong Gigi di jelaskan lebih rinci dalam website Babadbali berikut:

Upacara potong gigi (mepandes / metatah)

.
Arti Upacara ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu yang ada pada diri si anak.
Sarana
1 Sajen sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang Widhi Wasa.
2 Sajen pabhyakalan prayascita, panglukatan, alat untuk memotong gigi beserta perlengkapannya seperti: cermin, alat pengasah gigi, kain untuk rurub serta sebuah cincin dan permata, tempat tidur yang sudah dihias.
3 Sajen peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa gading dan sebuah bokor.
4 Alat pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap. Belakangan dipakai tebu, supaya lebih enak rasanya.
5 Pengurip-urip yang terdiri dari kunir serta pecanangan lengkap dengan isinya.
Waktu Upacara ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa, namun sebaiknya sebelum anak itu kawin. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga.
Tempat Seluruh rangkaian upacara potong gigi dilaksanakan di rumah dan di pernerajan.
Pelaksana Upacara potong gigi dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita ‘dan dibantu oieh
seorang sangging (sebagai pelaksana langsung).
Tata cara
1 Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita.
2 Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian.
3 Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi, taring, gigi atas, gigi bawah, lidah, dada, pusar, paha barulah diperciki tirtha pesangihan.
4 Upacara dilanjutkan oieh sangging dengan menyucikan peralatannya.
5 Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah, bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip.
6 Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kernudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya.
Mantram-mantramnya
1. Mantram prayascita dan bhyakala. Artinya:
Om Hrim, Srim, Mam, Sam, Warn, Saçwa rogha satru winasa ya rah phat.
Om Hrim. Srim. Am. Tarn. Sam. Bam. Im, sarwa dandamala papa klesa, wenasaya rah, Um, phat.
Om Hrim, Srim, Am, Um, Mam, Sarwa,
papa petaka wenasaya rah, Um phat,
Om Siddhi guru srom, Sarwasat.
Om sarwa weghena winasaya, sarwa papa wenasaya, astu ya namah swaha.
Om Hyang Widhi Wasa, semoga semua musuh yang berupa penderitaan, kesengsaraan, bencana dan lain-lain menjadi sirna.
 
2. Mantram mohon persaksian. Artinya:
Om adityasya parantyoti rakta tejo nama stute, swera pang kajo mandhyaste Bhaskara ya namo namah, pranamya bhaskara dewam, sarwa klesa wia sanam, pranamya ditya siwartham bhukti mukti warapradam.
Om rang ring sah paramya Çiva dityaya namo namah swaha.
Om Hyang Widhi Wasa, semoga hamba mendapat perkenanMu, untuk melalui tahapan hidup ini dalam jalanMu dengan pertolongan hanya dariMu.
Om dimulyakanlah Engkau ya Tuhan.
 
3. Mantram alat pengasah. Artinya:
Om Sang perigi manik, aja sira geger lunga antinen kakang nira sang kanaka
teka pageh, tan katekaning lara wigena,
teka awet, awet, awet.
Om Hyang Widhi Wasa, semoga alat-alat ini dapat memberikan kekuatan.
 
4. Mantram pengurip-urip. Artinya:
Om urip-urip bayu, sabda idep teka urip, ang, ah. Om Sang Hyang Widhi Wasa, dalam wujud Brahma Maha Sakti, semoga tenaga, ucapan dan pikiran hamba memberikan kekuatan terhadap alat-alat ini.
 
5. Mantram Mejaya-jaya. Artinya:
Om Dirgayur Astu ta astu,
Om subham astu tat astu,
Om Sukham bhawantu,
Om Pumam bhawantu,
Om sreyam bhawantu,
Om Sapta wrddhin astu tat astu astu swaha.
Om Hyang Widhi Wasa semoga kami dianugrahi kesejahteraan, kebahagiaan, dan panjang umur

http://www.babadbali.com/canangsari/banten/mepandes.htm