kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Ajeg Hindu’ Category

Meru, Makna dan Fungsinya

Posted by Adnyana under Ajeg Hindu

Meru merupakan salah satu bangunan suci umat Hindu di Bali, yang sangat agung, megah dan monumental, sarat dengan kandungan makna simbolis dan kekuatan religius. Meru dijumpai pada pura-pura besar di Bali dengan ciri khasnya adalah atapnya yang bertumpang tinggi.

Meru tidak hanya dijumpai di pura-pura di Bali, tapi juga pada upacara-upacara ngaben (kremasi) di Bali sebagai wadah sawa atau watang (mayat) pada upacara pitra yadnya. Apa sesungguhnya makna dan fungsi, serta bagaimana tata letak, bentuk, sampai ornamen meru?

MERU dibangun berdasarkan pada keakuratan proporsi, logika teknik konstruksi dan keindahan ragam hias, yang berpegang teguh kepada kearifan lokal arsitektur tradisional Bali seperti Hasta Kosala Kosali, Hasta Bumi, Lontar Andha Buana, Lontar Jananthaka, dll. Konstruksi meru merupakan konstruksi tahan gempa yang telah teruji keandalannya. Gempa yang sangat dahsyat dengan kekuatan yang sangat besar yang pernah terjadi di Bali (seperti di Seririt, Buleleng), dimana bangunan konstruksi modern banyak yang roboh, namun bangunan-bangunan suci di Bali — khususnya meru — masih berdiri dengan kokoh, kuat, stabil, dan tegak.

Makna dan Fungsi Meru

Meru, didasarkan kepada kutipan yang tercantum pada lontar-lontar warisan leluhur seperti Lontar Andha Bhunana, mengandung makna simbolis atau filsafat sbb.;

Matang nyan meru mateges, me, ngaran meme, ngaran ibu, ngaran pradana tattwa; muah ru, ngaran guru, ngaran bapa, ngaran purusa tattwa, panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak. Meru ngaran pratiwimbha andha bhuana tumpangnya pawakan patalaning bhuana agung alit.

Artinya, “Oleh karena itu meru berasal dari kata me, berarti meme = ibu = pradana tattwa, sedangkan ru berarti guru = bapak = purusa tattwa, sehingga meru berartibatur kelawasan petak (cikal bakal leluhur). Meru berarti lambang atau simbol alam semesta, tingkatan atapnya merupakan simbol tingkatan lapisan alam yaitu bhuana agung dan bhuana alit”.

Jadi, berdasarkan keterangan dalam Lontar Andha Bhuana tersebut, meru memiliki dua makna simbolis yaitu meru sebagai simbolisasi dari cikal bakal leluhur dan simbolisasi atau perlambang dari alam semesta. Lebih lanjut diuraikan, meru punya dua makna sbb.;

1. Meru sebagai perlambang atau perwujudan dari Gunung Mahameru – gunung adalah perlambang alam semesta sebagai stana para Dewata, Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) atau Papulaning Sarwa Dewata. Meru mempunyai makna simbolis dari gunung juga diuraikan dalam Lontar Tantu Pagelaran, Kekimpoi Dharma Sunia dan Usana Bali.

Dalam hal ini, meru sebagai Dewa Pratista — berfungsi sebagai tempat pemujaan atau pelinggih para Dewa. Meru sebagai Dewa Pratista terdapat dalam kompleks pura seperti Pura Sad Kahyangan, Kahyangan Jagat dan Kahyangan Tiga.

2. Meru melambangkan “Ibu” dan “Bapak” sebagaimana diuraikan dalam Lontar Andha Bhuana. Ibu mengandung pengertian Ibu Pertiwi yaitu unsur pradhana tattwa dan Bapak mengandung makna “Aji Akasa” yaitu unsur purusa tattwa. Manunggalnya pradhana dan purusa itulah merupakan kekuatan yang maha besar yang menjadi sumber segala yang ada di bumi. Inilah yang merupakan landasan bahwa meru berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur di kompleks pura-pura Pedarman Besakih. Di sini, meru sebagai Atma Pratista yaitu berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur atau sebagai stana Dewa Pitara.

Berdasarkan uraian itu, kesimpulannya, meru bermakna sebagai perlambang Gunung Mahameru, perlambang Tuhan Yang Maha Esa (alam semesta) dan “Ibu Bapak” (purusa pradhana), berfungsi sebagai tempat pemujaan atau stana para dewa-dewi, betara batari, dan roh suci leluhur. Hal ini lebih tegas juga diuraikan dalam Lontar Purana Dewa, Kesuma Dewa, Widhi Sastra, Wariga Catur Winasa Sari dan Jaya Purana.

Filosofi Atap

Keindahan dan keagungan meru ditonjolkan oleh bentuk atapnya yang bertingkat-tingkat yang disebut atap tumpang. Ini dapat dibedakan atas meru tumpang satu, dua, tiga, lima, tujuh, sembilan, dan sebelas.

Meru sebagai perlambang atau simbolis alam semesta, tingkatan atapnya merupakan simbolis tingkatan lapisan alam yaitu bhuana agung (alam besar atau makrokosmos) dan bhuana alit (alam kecil atau mikrokosmos) dari bawah ke atas sebanyak sebelas tingkatan.

Tingkatan tersebut yaitu

1 = Sekala,

2 = Niskala,

3 = Cunya,

4 = Taya,

5 = Nirbana,

6 = Moksa,

7 = Suksmataya,

8 = Turnyanta,

9 = Ghoryanta,

10 = Acintyataya,

11 = Cayen.

Ada juga meru beratap 21, namun biasanya ini dapat dilihat pada wadah atau bade pada saat ada upacara ngaben di Bali. Meru “khusus” ini memiliki pengertian Dasa Dewata sebagai dasar pokok, kemudian ditambah 11 tangga atma sebagai kelanjutannya.

Tingkatan-tingkatan atap meru adalah simbolisasi penyatuan dasa aksara (huruf suci) sebagai urip (jiwa) dari meru atau alam semesta. Sepuluh huruf suci ini merupakan urip bhuana yang letaknya di 10 penjuru alam semesta termasuk di tengah.

Ke-10 huruf itu adalah huruf suci

sa (letaknya di timur, dewanya Iswara dan warnanya putih),

ba (selatan, Brahma, merah),

ta (barat, Mahadewa, kuning)

a (utara, Wisnu, hitam),

i (tengah, Ciwa, campuran atau panca warna),

na (tenggara, Mahesora, merah muda atau dadu),

ma (barat daya, Rudra, jingga),

si (barat laut, Sangkara, hijau),

wa (timur laut, Sambu, biru)

ya (tengah atas, Ciwa, panca warna).

Penunggalan 10 huruf itu menjadi satu lambang aksara suci bagi umat Hindu yaitu Omkara (huruf suci Sanghyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa). Sedangkan pengejawatahan ke-10 huruf suci dan huruf suci Omkara dalam meru diuraikan sbb.:

* Meru beratap 11

adalah lambang dari 11 huruf suci — 10 huruf suci + huruf suci Omkara sebagai lambang Eka Dasa Dewata.

* Meru beratap 9

adalah lambang 8 huruf di seluruh penjuru (sa, ba, ta, a, na, ma, si, wa) + satu huruf Omkara di tengah, 9 huruf itu lambang Dewata Nawa Sanga.

* Meru beratap 7

adalah lambang 4 huruf (sa, ba, ta, a) + 3 huruf di tengah (i, Omkara, ya). Ini lambang Sapta Dewata/Rsi.

* Meru beratap 5

adalah simbolis dari 5 huruf (sa, ba, ta, a) + satu huruf Omkara di tengah. Ini lambang Panca Dewata.

* Meru beratap 3

adalah simbolis dari 3 huruf di tengah (i, Omkara, ya), merupakan lambang Tri Purusa yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa.

* Meru beratap 2

adalah simbolis dari dua huruf di tengah (i, ya) adalah lambang dari Purusa dan Pradhana (Ibu-Bapak).

* Meru beratap 1

adalah simbolis dari penunggalan ke-10 huruf suci itu yaitu “Om” atau Omkara sebagai perlambang Sang Hyang Tunggal (Sanghyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa).

Bentuk dan Ornamen Meru

Meru secara tata letak berada pada tempat pemujaan di halaman utama (jeroan) dari suatu pura. Dari segi orientasi, meru umumnya menghadap ke barat sebagai tempat pemujaan utama berderet pada sisi timur dari utara ke selatan (kaja-kelod) dengan bangunan-bangunan padma, gedong, dan pemujaan suci lainnya sehingga arah pemujaan menghadap ke timur ke arah matahari terbit. Namun di beberapa pura di Bali, terkait dengan kondisi alam dan filosofis khusus dari pura bersangkutan, ada meru yang menghadap ke selatan seperti Pura Kehen, Bangli, dan menghadap timur laut seperti Pura Uluwatu, Badung, sehingga arah pemujaannya menghadap ke ke utara (Pura Kehen) dan dan barat daya (Pura Uluwatu).

Dari segi bentuk, meru seperti bangunan suci lainnya dibedakan atas bagian kepala (atap), badan (ruang pemujaan atau tempat meletakkan pratima), dan kaki (bebaturan) atau yang dikenal dengan konsep Tri Angga. Walaupun meru dapat dibagi atas tiga bagian (kaki, badan, dan kepala), namun secara proporsi dan penyelesaiannya sangat berbeda. Dalam penyelesaian proporsi bebaturan, tampak badan (ruang pemujaan), penyelesaian tumpang atap meru dan penggunaan ornamen serta bahannya pun sangat bervariasi sesuai dengan kondisi masing-masing daerah di Bali.

Ini berdasarkan pengamatan pada meru yang ada di kompleks Pura Besakih, Pura Batur, Pura Taman Ayun, Pura Kehen, Pura Danau Beratan, dll. Sedangkan dari segi dimensi, denah meru berbentuk segiempat dengan ukuran dasar bervariasi, 5m x 5m, 3m x 3m, sampai 7m x 7m dan tingginya pun bervariasi sampai mencapai 10m, bahkan lebih tergantung jumlah tumpang atapnya.

Bagian badan ditutup dengan menggunakan bahan kayu atau pasangan batu bata, batu kali, paras atau batu karang (sesuai kondisi lokasi) dan di dalamnya terdapat pepaga (altar) atau bale-bale yang berfungsi sebagai tempat menaruh pratima berupa lingga, arca, patung dewa-dewi sebagai simbol sinar manifestasi kekuatan Hyang Widi Wasa dan sesajen pada saat upacara berlangsung serta dilengkapi dengan pintu masuk untuk manusia yang melakukan persembahyangan di dalam ruangan atau badan meru. Karakter pada ruang pemujaan ini memiliki sifat vertikalisme yang tinggi, sehingga seakan-akan orang ditarik ke atas. Hal ini disebabkan oleh pengaruh bentuk ruang di dalamnya yang menerus dari bawah ke atas, sehingga terjadi tarikan udara ke atas yang dihembuskan menerebos melalui celah-celah antar tumpang atap meru.

Dari segi bentuk bebaturan (kaki), meru dibedakan atas meru dengan bebaturan tinggi dan pendek. Dari segi stabilitas massa, maka bentuk meru dengan batur pendek akan lebih stabil dibandingkan batur tinggi.

Kestabilan ini erat kaitannya dengan titik berat massa bangunan. Umumnya, meru dengan batur pendek banyak dijumpai pada pura-pura di pegunungan. Di samping lebih stabil, juga karena hiasan ornamen atau ragam hias pada bebaturan-nya akan lebih sedikit atau lebih ekonomis. Namun secara umum, bentuk dan dimensi dari meru didasarkan kepada aturan Hasta Kosala Kosali sehingga menghasilkan keharmonisan antara ketepatan proporsi, kekuatan konstruksi dan keindahan ragam hias.

Ornamen pada meru hampir serupa dengan bangunan suci pura lainnya yang sarat dengan kekarangan dan pepatraan yang menunjukkan keharmonisan manusia dengan alamnya yaitu melambangkan flora dan fauna. Pada ujung atap limas meru yang digolongkan ke bagian kepala, umumnya ditemukan ornamen yang disebut murdha seperti murdha bantala pada meru di Pura Besakih. Pada bagian badan meru, terutama pada bagian atas pintu gedong, biasanya terdapat ornamen karang sae. Daun pintunya biasanya memakai ukiran bermotif patra olanda. Selanjutnya pada sendi atau tatakan saka (kolom) memakai patung singa seperti yang terdapat di meru Pura Besakih, atau ada juga yang memakai sendi biasa seperti yang terdapat pada meru di Pura Batur.

Ornamen yang terdapat pada bagian bebaturan berupa pepalihan, karang asti atau karang gajah pada setiap sudut, karang tapel pada bagian tengah di keempat sisi pada bagian paling dasar di atas tepas hujan. Kemudian pada bagian atasnya terdapat karang goak di keempat sudut dan karang bunga dan simbar gantung pada bagian tengah.

Ornamen berupa patung naga dan bedawang nala (kura-kura) biasanya dapat dilihat pada bagian dasar kaki dan tangga meru. Naga dan kura-kura sebagai perlambang kemakmuran. Juga dilengkapi patung-patung lain sesuai dengan kondisi masing-masing pura seperti arca dewa, arca manusia, dan lain-lain.

http://blackinjpn.multiply.com/journal/item/57/Meru

foto: http://www.baliwww.com

Sabtu Kliwon 19 September 2009, umat Hindu kembali memperingati Tumpek Wariga. Tumpek yang memiliki nama cukup banyak — Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh dan Tumpek Pengatag — itu sangat erat kaitannya dengan dunia pertanian. Secara ritual, pada hari itu umat melaksanakan upacara persembahyangan ke hadapan Batara Sangkara — manifestasi Tuhan dalam menciptakan kesuburan tumbuh-tumbuhan. Sesungguhnya, perayaan Tumpek Bubuh salah satu komponen penting dalam mengajegkan konsep Tri Hita Karana. Tri Hita Karana, sebuah falsafah dalam agama Hindu yang selalu menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, serta manusia dengan Tuhan.

Merayakan Tumpek Wariga di hari Sabtu 19 September 2009 merupakan salah satu unsur penting dalam konsep Tri Hita Karana khususnya hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungannya — dalam kaitan ini hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan. ”Ajaran yang terkandung dalam Tumpek Bubuh ini sangat luhur. Umat bukan hanya mesti menghargai ciptaan Tuhan, tetapi sekaligus melestarikan tumbuh-tumbuhan yang telah mensejahterakan kehidupannya”.

Sementara konsep Tri Hita Karana dalam hubungan harmonis antara manusia dengan manusia, dicoba diterapkan oleh keluarga Made Sukasta Mindhoff dan Nyoman Suyadni Mindhoff pada hari Sabtu 19 September kemaren yang bertepatan dengan perayaan rainan Tumpek Bubuh, dengan mengundang beberapa Nyama Braya Bali Jerman untuk berkumpul bersama latihan menari dalam rangka persiapan Hari Raya Kuningan 24 Oktober 2009. Pada kesempatan itu juga hadir Made Agus Wardana dan Wayan Sudiartawan dari Belgia. Adapun kedatangan Made Wardana dan Wayan Sudi adalah untuk memberikan pelatihan megambel dan menari yang sekiranya akan di pertunjukkan di perayaan Kuningan nanti.

Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach nanti, tentunya selain diisi dengan acara persembahyangan bersama umat Hindu, juga akan di pergelarkan beberapa seni tari. Hal-hal yang berhubungan dengan pertunjukan kesenian di tanggung jawabi oleh Ketut Sri Artini bekerja sama dengan Sanggar Tari Bali Puspa Köln yang dipimpin oleh Made Sukasta dan Nyoman Suyadni akan menampilkan tari-tarian yang kesemuanya akan di iringi langsung dengan Gamelan Bali.

http://www.Balipuspa.de

Tari-Tarian yang akan ditampilkan nanti:

1. Tari Rejang Dewa

Dalam Lontar “Usana Bali” disebutkan bahwa Tari Rejang adalah simbol widyadari atau bidadari yang turun ke dunia menuntun Ida Bhatara pada waktu melelasti. Khusus pada tari Rejang Renteng, ada tanda yang khusus yaitu “manuntun benang” — prosesinya adalah “jempana linggih Ida Bhatara” dituntun dengan benang yang panjang, diikatkan di pinggang setiap penari rejang.

Jenis-jenis tari Rejang antara lain Rejang Renteng, Rejang Lilit, Rejang Bengkol, Rejang Oyod Padi, Rejang Ngregong, Rejang Alus, Rejang Nyangnyingan, Rejang Luk Penyalin, dan Rejang Glibag Ganjil.

Pada perayaan Kuningan nanti, Tari Rejang dengan gelung-nya dan benang penuntun yang dililitkan pada tubuh si penari akan di pentaskan oleh sekelompok penari dari Bali Puspa diatas panggung dan akan di ikuti oleh seluruh wanita yang hadir dalam persembahyangan Kuningan nanti.

2. Tari Pendet

Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-dewi ke alam marcapada sebagai pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tarian ini ditampilkan dengan membawa upakara atau alat-alat pesucian, pengeresikan, canangsari, pasepan sebagai tanda persembahan yang suci dan iklas. seiring berkembangnya jaman, Tari yang diciptakan oleh seniman I Nyoman Kaler ini diawal 1970an,  oleh para seniman Bali diubah menjadi “ucapan selamat datang”, meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Taburan bunga disebarkan di hadapan para tamu sebagai ungkapan selamat datang.

Pada perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 Tari Pendet ini akan di pentaskan oleh sekelompok penari dari Sanggar Bali Puspa. dan tidak menutup kemungkinan bila ada semeton Nyama Braya Bali lainnya yang ingin ngayah untuk ngaturan tarian dan juga memiliki pakaian tari pendet, partisipasinya akan diterima dengan senang hati untuk ikut bergabung menarikan pendet ini.

3. Tari Sekarjagat

Tari Sekar Jagat, sangat lasim digunakan dalam pembukaan suatu acara, tarian ini diciptakan oleh Bapak Swasthi Widjaya Bandem (sekaligus penata busana) dan gambelan (music traditional bali ) diciptakan oleh Bapak I Nyoman Windha pada tahun 1993 dalam rangka Pembukaan Pameran Wastra Bali di Jakarta. Tarian Penyambutan ini menggambarkan kegembiraan para penari dalam menyamut para tamu yang hadir serta menceritakan tentang kecantikan dan keluwesan para gadis sebagai ungkapan bunga bumi (keindahan). Pada perayaan Kuningan 24 Oktober 2009, tarian ini akan di pentaskan oleh Nyama Braya Bali yang telah berlatih menari di sanggar tari Bali Puspa.

4. Tari Margapati

Tari buah karya Bapak Nyoman Kaler ini di ciptakan di tahun 1942. Kata Marga berasal dari “Mrega” yang berarti binatang. Sedangkan “Pati” berarti raja. Gerak-gerik raja hutan yang sedang mengintai dan siap membinasakan mangsanya telah memberikan inspirasi pada penciptanya untuk menciptakan tarian ini. Jadi tari margapati menggambarkan gerak-gerik seekor Singa atau raja hutan yang sedang berkelana di tengah hutan duntuk memburu mangsanya. Pada perayaan Kuningan nanti tari ini akan di pentaskan oleh Wayan Yuadiani (istrinda Made Agus Wardana dari Belgia).

5. Tari Janger dan Genjek Bali

Tari yang bercerita tentang kelompok muda-mudi yang lagi dimabuk asmara. Bila dilihat dari kelompok yang bercirikan gender, ada kelompok pria dan ada kelompok wanita. Mereka bertembang bersautan tentang kisah-kisah asmara, dari cara berkenalan, menanyakan identitas, dan menjurus ke rayuan. Semuanya dilakukan dengan riang gembira.  Pada perayaan Kuningan nanti, tarian ini akan di pentaskan oleh Nyama Braya Bali yang telah mengikuti latihan di sangar tari Bali Puspa. Namun sayang untuk sementara penarinya masih di dominasi oleh sekelompok wanita, dan masih memiliki kekurangan dalam hal jumlah penari prianya. Sehingga dalam pementasan disaat perayaan Kuningan nanti, bila ada para pria yang bersedia ikut serta ngayah menjadi penari prianya, partisipasinya akan diterima dengan senang hati. Sesungguhnya tariannya Janger dan Genjek Bali cukup sederhana, lirik lagunya pun cukup mudah untuk di lafalkan dan di hapalkan, bahkan mudah di ingat karena bahasanya yang sarat lelucon (komedi)

6. Tari Joged Bumbung

Tari joged bumbung adalah tarian warisan leluhur sejak dulu. Tari joged ini diiringi dengan gamelan tingklik bambu berlaras Slendro yang disebut Grantang atau Gamelan Gegrantangan. Tarian ini muncul pada tahun 1946 di Bali Utara dan kini Joged Bumbung dapat dijumpai hampir di semua desa dan merupakan jenis tari joged yang paling populer di Bali. Tari ini adalah tari pergaulan untuk menambah keakraban, para penonton yang sedang menyaksikan tarian ini bisa turut serta menari diatas panggung. Sehingga membuat suasana semakin semarak. Pada perayaan Kuningan nanti Tari ini akan di iringi langsung dengan gamelan dan akan di pentaskan oleh penari dari sanggar tari Bali Puspa. Namun demikian, bila ada Nyama Braya Bali yang berkeinginan untuk ikut ngayah untuk turut serta menyumbangkan tarian ini, akan selalu di terima. sehingga dengan semakin banyak penari yang menari bergantian , hal ini tentu akan menambah semarak suasana menghibur pengunjung umum.

Demikianlah laporan jalannya persiapan kesenian yang akan di suguhkan dalam perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach, yang saya rangkum dari pertemuan informal di rumahnya Nyoman Suyadni Mindhoff, yang persiapannya hampir mendekati kesempurnaan. Namun menurut penuturan Nyoman Suyadni Mindhoff dan Made Sukasta Mindhoff, masih diperlukan sekali pertemuan lagi untuk melakukan gladi resik latihan menari dan megambel yang akan di adakan di Köln sebelum datangnya Hari Raya Kuningan ini.  Bagi yang tertarik untuk ikut serta latihan bersma, untuk bersiap-siap mengosongkan jadwal kegiatannya di hari sabtu atau minggu sebelum datangnya hari raya Kuningan 24 oktober 2009. Melihat keseriusan dari pihak Bali Puspa yang akan ngaturang ngayah menyumbangkan tari-tarian yang didukung dengan iringan musik gamelan, Ketut Sri Artini yang menanggung jawabi seksi kesenian di saat perayaan kuningan ini merasa sangat bersyukur.

Disamping perihal kesenian diatas, Ketut Suastiti Fluegel, yang menanggung jawabi perihal Bebantenan untuk perayaan Kuningan, yang juga hadir diKöln, juga menyatakan kegembiraannya dan hingga saat ini seksi Banten sudah siap untuk menyambut datangnya hari raya Kuningan 24 Oktober 2009. Sependapat dengan Ketut Suastiti, Putu Ari Burth yang menanggung jawabi seksi konsumsi di saat perayaan Kuningan nanti, juga menyatakan hal yang sama. “menu utama” dari konsumsi sudah dipersiapkan dengan matang, namun demikian pihak konsumsi tetap membuka pintu lebar-lebar kepada Nyama Braya Bali yang berkeinginan untuk maturan (dana punia) makanan agar tidak sungkan-sungkan untuk menghubunginya baik lewat email ataupun lewat telepon, karena Putu masih memiliki list yang sekiranya perlu untuk dilengkapi, seperti makanan penunjang lainnya.

Membaca berita tentang perjuangan para srikandi Bali diatas dalam mensukseskan jalannya perayaan kuningan di Offenbach 24 Oktober 2009 nanti, kita semua patut bersyukur kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Ketut Sri Artini - Grosse yang bertanggung jawab tentang kesenian bekerja sama dengan Nyoman Suyadni Mindhoff dengan sanggar tari nya Bali Puspa, Ketut Suastiti - Fluegel yang menanggung jawabi perihal Bebantenan, Putu Ari Burth yang menanggung jawabi hal-hal yang berhubungan dengan Konsumsi, sepakat untuk melaporkan kemajuan kerjanya kepada ketua panitia perayaan kuningan 24 oktober 2009,  yaitu Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani - Prior disaat rapat panitia persiapan kuningan Hessen yang sekiranya akan di jadwalkan di awal Oktober ini.

Mengingat kembali Tri Hita Karana, yaitu sebuah falsafah dalam agama Hindu yang selalu menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, serta manusia dengan Tuhan.

dimana konsep hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan sudah kita bersama terapkan melalui perayaan Tumpek Wariga , sementara hubungan harmonis antara manusia dengan manusia sudah pula kita terapkan dalam hal bekerjasama untuk mensukseskan perayaan Kuningan nanti. dan yang terakhir hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Ida Sang Hyang Widi Wasa) , saya yakin bisa kita wujudkan bersama di saat perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 nanti di Offenbach.

Lebih lanjut pada saat perayaan kuningan nanti juga akan terdapat utusan sesepuh umat hindu dari Belgia yang akan turut serta memberikan “Dharma Wacana”  disaat kita selesai melakukan persembahyangan bersama, dimana topik yang ingin disampaikan adalah tentang penjelasan Pura Agung Santi Bhuwana yang ada di Brugelete Belgia. Penjelasan detail tentang keberadaan Pura Hindu tersebut serta jadwal persembahyangan rutin yang diadakan di Pura tersebut akan menjadi informasi yang sangat bermanfaat bagi umat hindu di Jerman yang sekiranya belum sempat hadir di saat pemlaspasan Pura tersebut yang berlangsung Senin 18 May 2009 dan kedepannya ingin melakukan Tirta Yatra tangkil muspa bersama-sama umat hindu (Nyama Braya Bali jerman) ke Pura di Belgia.

Oleh karena itu, untuk melengkapi informasi tentang Pura Agung Santi Bhuwana di Belgia ini, Ketut Adnyana, telah pula mendatangkan majalah Media Hindu edisi 65 , yang mengupas tentang keberadaan Pura di Belgia ini, mulai dari sejarah berdirinya taman wisata Parc Paradisio (lokasi Pura Hindu tersebut), sejarah berdirinya Pura Hindu tersebut, Mr. Eric Domb (pemilik Parc Paradisio yang mendirikan Pura Hindu tersebut), serta jalannya upacara pemlaspasan (Mecaru, Pemlaspasan / prayascita, Mendem pedagingan,  Ngenteg linggih). Majalah Media Hindu edisi 65 sebanyak 100 majalah didatangkan dari Jakarta, harapannya  umat hindu di Jerman atau Nyama Braya Bali bisa membacanya seusai melakukan persembahyangan dan bisa bertanya secara langsung kepada utusan umat hindu dari Belgia.

Kedepannya, bila umat hindu di jerman (Nyama Braya Bali di Jerman) ada yang berkeinginan untuk berlangganan majalah Umat Hindu ini, sehingga walaupun kita berada jauh merantau di negeri Eropa tapi masih bisa mengikuti berita kegiatan umat hindu yang ada di tanah air atau di Bali atau dimanapun berada di dunia ini, Ketut Adnyana akan berusaha mengkoordinir di saat perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 nanti, sehingga majalah keumatan ini bisa di sirkulasikan di Eropa.

Akhir kata, besar harapan panitia agar perayaan Kuningan 24 Oktober 2009, bisa berjalan dengan lancar. Keinginan untuk berbagi berita bahagia ini kepada umat sedharma di Bali ataupun di Indonesia sedang dicoba untuk di wujudkan dengan mengundang wakil Dirjen Hindu di Jakarta serta Stasiun Televisi di Bali (Bali TV dan TVRI Bali).

Semoga Ida Sang Hyang Widi Wasa selalu melindungi kita semua. dan Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

Hari Rabu tanggal 8 Juli 2009, adalah merupakan hari yang cukup bersejarah bagi semua warga Indonesia, karena pada hari itu merupakan hari pemilihan president Indonesia (pilpres) secara langsung dari rakyat indonesia untuk memilih president Indonesia periode 2009 - 2014. Pelaksanaan pemilihan president yang berlangsung di tanah air secara LUBER (Langsung, Bebas, dan Rahasia)  juga berlangsung di kantor Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Frankfurt. Semua warga Indonesia yang berdomisili di Jerman yang memiliki hak untuk memilih menyalurkan hak pilihnya dengan datang ke KJRI Frankfurt di hari rabu tanggal 8 Juli 2009.

Di hari yang sama setelah Pemilihan President Indonesia, sekelompok warga Bali yang berasal dari Frankfurt dan sekitarnya, berkumpul di area belakang KJRI beramah tamah sembari menikmati hidangan masakan Indonesia yang di jual oleh para Ibu-ibu dharma wanita Indonesia. Sejenak setelah makan siang di KJRI,  beberapa warga bali akhirnya melanjutkan perjalanannya ke Betina strasse untuk melakukan rapat persiapan perayaan Kuningan yang akan jatuh pada hari Sabtu Kliwon tanggal 24 Oktober 2009.

Perayaan Kuningan di Jerman

Sekilas mengenai perayaan Kuningan di Jerman, sesungguhnya perayaan Kuningan ini adalah merupakan rangkaian dari perayaan Galungan dan Kuningan yang berlangsung setiap 6 bulan sekali dan di rayakan secara bergilir di kota-kota yang berbeda. Menyesuaikannya dengan Desa Kala Patra, dimana umat Hindu yang berdomisili di Jerman yang tempat tinggalnya berjauhan satu dengan yang lainnya, dan juga karena keterbatasan waktu yang di milikinya, perayaan Galungan dan Kuningan di pusatkan menjadi satu pada saat hari raya Kuningan yang juga bertepatan dengan hari sabtu. Perayaan Kuningan sebelumnya berlangsung di Jerman seperti di kota Berlin, Hamburg, Hannover, Kasel, dll. Dan untuk perayaan Kuningan yang akan datang tanggal 24 Oktober 2009 akan di selenggarakan di gedung Ledermuseum Offenbach (atau dalam bahasa inggrisnya di kenal dengan nama German Leather Museum) yang beralamat:

DLM Leather Museum Offenbach
Frankfurter Strasse 86
D-63067 Offenbach

http://www.ledermuseum.de/DLM/frames_e/hfr_05_e.html

Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 ini akan di selenggarakan oleh Tempek Hessen (Frankfurt dan sekitarnya) yang di pimpin oleh Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani Prior. Untuk mensukseskan acara perayaan Kuningan nanti, dan ketika masyarakat indonesia berkumpul di KJRI Frankfurt untuk menyalurkan hak pilihnya di hari Pemilihan President Indonesia, Ibu Made Wiyogani berinisiatif mengajak Warga Bali (umat hindu) untuk melaksanakan rapat koordinasi di sebuah tempat yang tidak jauh dari Gedung KJRI.

Rapat yang di pimpin oleh Ibu Made WIyogani, serta di hadiri oleh Ida Bagus Ngurah (Frankfurt), Ketut Sri Artini Grosse (Giessen), Burkhardt Grosse (Giessen),  Ketut Suastiti Fluegel (Frankfurt), Yasmin Asih Scheiber (Stuttgart), Komang Mawan (Rheinland-Pfals), Subie Kim (Darmstadt), Nyoman Rianasari Dewi (Stuttgart) dan Ketut Adnyana (Stuttgart), berlangsung dalam suasana kekeluargaan namun tetap serius.

Rapat di awali dengan Panganjali Umat yang di pimpin oleh Ida Bagus Ngurah (Frankfurt), kemudian di lanjutkan oleh Ibu Made Wiyogani yang menjabarkan point-point penting persiapan Perayaan Kuningan serta kebutuhan untuk membentuk seksi-seksi yang menanggung jawabi tugas-tugas yang sekiranya di perlukan dalam Perayaan nanti . Seperti Seksi Pendanaan, Seksi Banten, Seksi Konsumsi, Seksi Kesenian, Seksi Komunikasi yang menanggung jawabi perihal surat menyurat, undangan, penyusunan acara, Seksi Keamanan, serta Seksi Dokumentasi.

Upakara / Banten Kuningan

Sarana upakara yang menjadi ciri khas dalam perayaan Kuningan adalah adanya “Tamiang” yang berasal dari kata “Tameng” yang berfungsi sebagai alat penangkis senjata atau memiliki makna perlindungan diri atau penolak Bala.  Disamping itu juga Tamiang, juga melambangkan “Dewata Nawa Sanga”, karena menunjuk sembilan arah mata angin. Tamiang juga melambangkan perputaran roda alam (cakraning panggilingan). Dimana lambang itu mengingatkan kita sebagai manusia akan hukum alam, resikonya akan tergilas oleh roda alam. Sampian Gantung itu di tempatkan di samping pintu dan di setiap sudut bangunan pelinggih atau sudut rumah.

Sarana-sarana Upakara yang tersirat pada perayaan Kuningan ini beserta sarana upakara lainnya untuk mensukseskan perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach nanti, telah di sanggupi serta akan di tanggung jawabi oleh Ibu Ketut Suastiti Fluegel. Ibu Ketut Suastiti yang di bulan Juli hingga Agustus ini akan berlibur di Bali berserta keluarganya, akan mencoba mempersiapkan seluruh sarana Upakara Kuningan dan membawanya serta dari Bali, sehingga Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 bisa berjalan dengan lancar.

Kesenian

Disamping perayaan kuningan ini di harapkan bisa berjalan dengan hening di mana umat Hindu yang berdomisili di Jerman dan sekitarnya yang ketika bersembahyang bersama di Hari raya Kuningan di Offenbach ini bisa mencapai kedamaian “Santha Jagadhita”, disaat setelah melakukan persembahyangan bersama umat Hindu yang hadir beserta para undangan juga di harapkan bisa mendapatkan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan Kebudayaan Bali serta kesenian Bali yang di suguhkan lewat tari-tarian yang akan di tanggung jawabi oleh Ibu Nyoman Suyadni Mindhoff dan Bapak Made Sukasta Mindhoff bersama sanggar tari dan gamelan “Bali Puspa“  http://www.balipuspa.de

Adapun jenis-jenis tari-tarian yang akan di persembahkan oleh Sanggar Tari dan Gamelan Bali Puspa, yang tentunya di dukung dengan iringan musik gamelan adalah sebagai berikut: Tari Rejang Dewa, Tari Pendet, Tari Sekar Jagat, Tari Margapati, Tari Telet, serta iringan musik Beleganjur.  untuk menambah keceriaan selama perayaan Kuningan nanti, Panitia perayaan Kuningan, juga akan menerima dengan senang hati sumbangan tari-tarian dari anggota Nyama Braya Bali lainnya . dan Tarian yang terakhir yang tentunya bisa ikut melibatkan partisipasi para pengunjung, tidak saja umat hindu, melainkan juga para pengunjung umum untuk ikut menari bersama, Tarian Joged Bumbung juga akan di tampilkan sebagai penutup acara perayaan Kuningan nanti.

Komunikasi

Dengan maksud untuk berbagi kebahagiaan yang kita miliki di saat kita umat hindu merayakan hari raya suci, panitian perayaan kuningan kali ini juga akan mengundang lembaga ataupun organisasi lainnya. Seperti Konsulat Jendral Republik Indonesia yang berkedudukan di Frankfurt, Direktur Leder Museum Deutschland, serta organisasi keagamaan beserta organisasi sosial lainnya yang ada di bawah naungan KJRI Frankfurt ataupun yang ada di kota Frankfurt, serta Direktur Jendral Agama Hindu yang berkedudukan di Jakarta, bila memungkinkan, akan turut pula di undang menghadiri perayaan Kuningan umat hindu di Jerman dan sekitarnya pada tanggal 24 Oktober 2009 ini .

Panitia perayaan Kuningan juga dengan senang hati mempersilahkan anggota Nyama Braya Bali lainnya bila ingin mengundang teman baiknya, atau relasi kerjanya, atau tetangga yang dikenalnya dengan baik untuk turut serta menghadiri Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 nanti. khusus untuk undangan pribadi ini, panitia mengharapkan kepada setiap umat hindu atau anggota Nyama Braya Bali (NBB) untuk melaporkannya atau mendaftarkannya terlebih dahulu kepada penitia, sehingga surat undangan yang di persiapkan oleh panitia bisa di kirimkan kepada anggota NBB.

Untuk perihal surat menyurat, undangan resmi, serta susunan acara selama berlangsungnya perayaan kuningan ini akan di tanggung jawabi oleh ketua panitia Ibu Made Wiyogani yang di bantu oleh sekertaris Nyama Braya Bali yaitu Ibu Yasmin Asih Scheiber beserta Ibu Ketut Sri Artini Grosse.

Konsumsi

Disamping pembahasan point-point penting diatas, pembahasan tentang point yang tidak kalah pentingnya yang mungkin sekiranya akan menentukan kenyamanan jalannya perayaan kuningan nanti adalah suguhan makanan chiri khas Bali, yang tidak hanya untuk mengobati rasa rindu dari umat hindu yang merantau di Eropa akan masakan Bali yang biasanya di dapati di kampung halaman di Bali, tapi juga untuk turut serta mempromosikan serta mengenalkan jenis-jenis masakan khas bali ataupun jajanan khas Bali kepada para pengunjung umum, baik itu masyarakat indonesia lainnya ataupun masyarakat Jerman serta masyarakat Eropa lainnya.

Untuk menjamin keberhasilan perayaan Kuningan nanti dari menu hidangan Bali yang akan di tawarkan Panitia, Ibu Made Wiyogani Prior selaku Ketua Panitia Perayaan Kuningan, mempercayakan tanggung jawab Konsumsi ini kepada Ibu Putu Ari Burth.

Peresmian Kepengurusan Nyama Braya Bali Jerman 2009 - 2011

Untuk lebih memperkenalkan kepada masyarakat Indonesia yang ada di Jerman ataupun di Eropa, memperkenalkan kepada lembaga Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt selaku wakil pemerintah Indonesia di Jerman,  serta memperkenalkan kepada Masyarakat Jerman dan Eropa lainnya, pada perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 nanti juga akan dilangsungkan peresmian Kepengurusan Nyama Braya Bali Jerman 2009 - 2011, yang kepengurusan ini di ketuai oleh Ibu Suputri Sudjiwa.

Peresmian serta perkenalan Pengurus lengkap Nyama Braya Bali (NBB) Jerman 2009 - 2011 ini akan di langsungkan di saat setelah selesainya acara keagamaan (persembahyangan bersama) atau tepatnya di saat acara ramah tamah yang di isi sambutan dari Ketua Panitia Perayaan Kuningan, sambutan dari Konsulat Jendral Republik Indonesia, serta sambutan dari Direktur Leder Museum Jerman selaku pemilik gedung tempat penyelenggaraan Perayaan Kuningan ini.

Akhir kata, tidak terasa waktu sudah berjalan menunjukkan jam 16.00, dan topik-topik penting yang berhubungan dengan perayaan Kuningan sudah pula semua terbahas, rapat akhirnya di tutup dengan jamuan makan yang telah di persiapkan oleh Ibu Made Wiyogani Prior dan Ibu Ketut Suastiti Fluegel. serta di ikuti oleh acara foto bersama.

Ibu Made Wiyogani Prior, selaku ketua panitia Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009, sambil memanjatkan doa kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa,  berujar beliau merasa sangat terharu dan bahagia akan semangat “ngayah” dari anggota Nyama Braya Bali di Jerman, yang bahu membahu mewujudkan pertemuan Umat Hindu yang merantau di Jerman dan di Eropa melalui acara persembahyangan bersama pada saat hari raya kuningan nanti.

Dengan menjunjung tinggi semangat kebersamaan “menyama braya” sebagai warga bali yang merantau di Jerman yang jauh dari kampung halaman di Bali,  ketulus ikhlasan berdoa kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa, serta meyakini Tuhan itu ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka), kedamaian serta kesejahteraan lahir batin “Jagadhita” akan tercapai pada setiap insan manusia.

Semoga Ida Sang Hyang Widi Wasa selalu melindungi kita semua.


MENURUT konsep Hindu, proses belajar itu sepanjang hidup. Dari masa brahmacari, grhasta, vanaprastha sampai sanyasin asrama.

Menurut konsep kitab Agastia Parwa, dasar membangun pendidikan sepanjang masa ada dua yaitu menjadikan belajar sebagai tradisi atau kebiasaan hidup sehari-hari dan paham akan penggunaan aksara. Ilmu yang harus dicari itu adalah tentang dunia nyata atau sekala (Apara Vidya) dan ilmu tentang keberadaan dan kemahakuasaan Tuhan (Para Vidya). Mencari ilmu itu untuk bekal hidup agar bisa menata hidup sepanjang masa. Menimba ilmu bukan sekadar mengajarkan peserta didik mencari nafkah semata. Sebab, kebijakan struktural yang lebih menekankan pada pembangunan kesejahteraan material maka pendidikan pun ikut mengarah pada hal-hal lebih banyak pada yang materialistis.

Dalam konteks kekinian, masa brahmacari asrhama itu diimplementasikan ke dalam aktivitas pendidikan formal dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Namun, pendidikan formal itu saja belum cukup lantaran “kemasannya” cenderung dititikberatkan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sementara pendidikan yang ditujukan untuk pembangunan mental dan spiritual — kendati tetap diberikan porsi — dinilai belum memadai. “Kalau kita ingin mencetak insan Hindu yang berkualitas dalam arti yang sesungguhnya, segi penguasaan iptek dan spiritualitas itu harus diseimbangkan. Sebab, manusia pintar tanpa memiliki mental dan spiritualitas yang baik juga akan sia-sia dan tidak mampu membawa Bali ke kondisi yang lebih baik,”

Meningkatkan Ilmu Pengetahuan (Srada) Hindu melalui Pesraman

WACANA peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Hindu saat ini sedang menjadi perbincangan hangat. Sejumlah konsep pun ditawarkan. Khususnya dari mereka yang peduli serta mau berjuang aktif untuk kejayaan SDM Hindu di masa datang. Lantas, dari mana ayunan langkah harus dimulai untuk mewujudkan kepentingan itu?

komitmen peningkatan kualitas SDM Hindu harus dimulai sejak manusia Bali (Hindu-red) itu menginjak usia sekolah dasar. Ada baiknya seluruh SD di Bali yang mayoritas siswanya beragama Hindu mengembangkan konsep pesraman yang memberikan pendidikan agama Hindu dan budaya Bali secara lebih intensif.

Agar program itu tidak “bentrok” dengan pelaksanaan pendidikan formal, akan jauh lebih baik jika pesraman itu digelar hari Minggu atau pada hari-hari libur lainnya. Misalnya, pada liburan kenaikan kelas. “Sejumlah sekolah sudah melaksanakan program pesraman ini secara kontinu. Namun, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Pihak desa adat di sekitar lokasi sekolah itu harus memberikan dukungan nyata, agar program itu bisa jalan. Bentuk dukungan itu tidak hanya diwujudkan dalam bentuk materi atau dukungan dana semata. Namun, yang lebih penting adalah ikut menciptakan atmosfir yang kondusif bagi terlaksananya program itu.

“Dukungan yang paling sederhana, orangtua siswa rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membiayai anak-anaknya mengikuti program pesraman itu. Satu yang harus diingat, pengelola pesraman jangan sampai menggelincirkan program itu sebagai ajang profit oriented atau mengeruk keuntungan materi. Konsepnya, harus murni untuk yadnya.

Pesraman Tingkat Anak-Anak

Urgensi pesraman itu, harus difokuskan sebagai media pencerahan di bidang agama Hindu maupun pengenalan budaya Bali secara luas. Mengingat peserta didiknya adalah kelompok usia anak-anak, maka penyampaian materi-materi pelajaran harus “dikemas” dengan bahasa anak-anak sehingga mudah dipahami. “Tidak usah mereka dipaksa-paksa menghapal mantra-mantra yang njelimet. Untuk usia anak-anak seperti itu, cukuplah mereka hapal mantra Puja Trisandya dulu atau mantra-mantra sederhana lainnya. Namun, intisari dari mantra itu harus dijelaskan secara benar. Mereka juga perlu diberikan pemahaman tentang intisari dari kitab-kitab suci Hindu, sehingga bisa mereka jadikan pegangan dalam berpikir, berkata serta berbuat yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pesraman itu, peserta didik juga perlu dibekali dengan keterampilan-keterampilan yang berkaitan langsung dengan persiapan-persiapan upacara keagamaan. Misalnya, keterampilan membuat canang sari, ngulat tipat dan klakat serta kelengkapan upacara sederhana lainnya. Di bidang seni, mereka juga bisa diajari masanti, makidung, magambel serta menari. “Satu hal yang tidak boleh dilupakan, usia anak-anak itu merupakan masa bermain. Supaya mereka tidak jenuh selama mengikuti program pesraman, materi-materi pelajaran utama bisa diselingi dengan pengenalan permainan-permainan tradisional seperti magala-gala, meong-meongan dan sebagainya. Jadi, pengenalan permainan tradisional itu memiliki fungsi ganda. Di samping mengusir kejenuhan, juga untuk melestarikan permainan-permainan tradisional yang saat ini nyaris ditinggalkan karena perannya sudah digantikan oleh aneka permainan supramodern.

Pesraman Tingkat Remaja

Lantas, bagaimana konsep pesraman untuk manusia Hindu yang berusia pra-remaja/remaja atau bagi mereka yang sudah mengenyam pendidikan SLTP dan SMU? materi pelajaran tetap harus dititikberatkan pada bidang agama dan pengenalan budaya Bali. Namun, materinya jelas harus diperluas. Dia mencontohkan, kalau di pesraman anak-anak mereka hanya diajari ngulat tipat dan klakat, maka di pesraman lanjutan itu mereka sudah diajari membuat aci-aci upacara yang lebih kompleks seperti membuat aneka macam caru serta bebantenan yang lebih rumit. “Jelas harus ada perkembangan dari materi-materi yang diajarkan di pesraman untuk anak-anak SD. Jadi, tidak stagnan,” .

Manusia Bali tidak boleh gagap teknologi. Di samping mendapat pelajaran agama, mereka yang belajar di pesraman lanjutan juga perlu mendapat keterampilan lain yang bersentuhan dengan teknologi modern seperti komputer dan pengetahuan lainnya. Bekal ini, bertujuan untuk mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja. Dengan begitu, mereka tidak akan jadi pecundang dalam persaingan di tingkat global. “Karena dasar agama mereka sudah kuat, mereka tidak akan memanfaatkan kemajuan teknologi itu untuk kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Pesraman di Luar Negeri

Program peningkatan sumber daya manusia Hindu yang mulai gencar di langsungkan di Bali atau di tanah air dengan menerapkan sekolah minggu, mungkin tidaklah mudah di laksanakan di Luar Negeri. Adapun alasannya adalah selain karena jarak dari setiap keluarga orang Bali di rantau cukup jauh, juga karena kesempatan serta waktu yang dimiliki dari setiap keluarga untuk bertemu dengan sesama orang bali tidaklah banyak.

Kesempatan untuk berjumpa diantara keluarga hindu, seperti di Jerman, biasanya terjadi di saat acara kesenian tertentu atau di acara perayaan hari raya keagamaan seperti perayaan Kuningan. Ketika perayaan kuningan di Berlin yang berlangsung di bulan maret kemaren, dimana para ibu-ibu bali ataupun bapak-bapak bali, terlihat begitu riangnya bertemu handai tolan sesama dari bali atau dari satu kabupaten. ada yang mendiskusikan tentang lezatnya hidangan masakan bali ataupun harumnya kopi bali yang di hidangkan panitia, juga ada yang ngerumpi mojok kangen-kangenan serta tertawa ria dengan lelucon chiri khas  bahasa bali. Melihat pemandangan seperti itu sungguh senang rasanya akan hasil kerja panitia yang telah berhasil mempersatukan umat sedharma di rantau di luar negeri.

Disamping keceriaan yang terlihat diatas,  juga tampak beberapa orang yang duduk menyendiri.  seperti beberapa pasangan hidup dari para ibu-ibu bali atau bapak-bapak bali. Sekilas terlihat, mereka yang memang asli Jerman sebenarnya ingin berbaur dengan krama bali lainnya, dan bahasa Indonesiapun sebenarnya sudah pula mereka pelajari di rumahnya, namun karena kendala bahasa bali yang dipakai dalam percakapan saat itu serta bahasa sansekerta yang banyak di lafalkan dalam setiap mantram , yang membuat mereka tidak bisa menyatu. Oleh karena itu, untuk mengurangi “Gap” perbedaan kesenjangan keceriaan antara Nyama Braya Bali dengan penduduk asli jerman yang menikah dengan orang Bali, mungkin di Perayaan Kuningan selanjutnya ada baiknya untuk dibuatkan “Pesraman” (kursus singkat).

Model Pesraman yang mirip kursus singkat yang di selenggarakan di sela-sela acara Kuningan, dimana mereka di bagi kedalam 2 kelompok yaitu anak-anak dan dewasa, dengan materi berbahasa jerman atau bahasa Inggris yang menjelaskan kepada mereka  tentang makna  dari hari raya Kuningan itu, makna canang sari, atau makna dari tari-tarian bali yang di pentaskan, makna dari kidung wargasari, dll. sehingga di akhir acara perayaan Kuningan, tidak saja para ibu-ibu bali ataupun bapk-bapak bali yang berbahagia karena bisa melaksanakan persembahyangan bersama manca puspa serta bahagia bertemu kangen dengan Nyama Braya Bali, tapi juga para pasangan hidupnyapun bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dan informasi tentang Kebudayaan Bali dan Ajaran-ajaran Agama Hindu.

I Made Agus Wardana, seorang seniman Bali yang saat ini berdomisili di Belgia dan Staff dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belgia, sudah memberikan contoh kepada kita semua tentang pengenalan kebudayaan Bali kepada masyarakat Belgia, melalui program “interaktif Gamelan and Dance” , yang patut kita tiru dalam setiap perayaan Kuningan yang di selenggarakan di Jerman. Nyama Braya Bali di Jerman dalam setiap merayakan upacara keagamaan tidak hanya terbatas melakukan Manca Puspa dengan mantram Bali, tapi Pandita yang memimpin jalannya upacara juga bisa menjelaskan kepada warga Jerman (khususnya yang memiliki pasangan hidup orang hindu), tentang makna dari Trisandya itu, Canang Sari, dll. Pun demikian setelah pementasan kesenian tari-tarian Bali ada penjelasan tentang maksud serta makna dari Tarian tersebut dalam konteks perayaan upacara keagamaan yang sedang berlangsung:

http://www.youtube.com/watch?v=LU539419JYs&feature=related

Semoga Srada Kehinduan dan kebudayaan bali kita semua walaupun jauh dari kampung tanah kelahiran kita, namun dengan konsep “Pesaraman” berbagi Ilmu Pengetahuan Keagamaan Hindu serta Kebudayaan Bali, di setiap waktu dan kesempatan yang kita miliki, menirukan apa yang dilakukan oleh Made Agus Wardana di Belgia, kita bisa ikut serta membantu mengajegkan Bali dan mengajegkan Hindu .

Akhir kata, semoga pikiran yang baik datang dari segala arah.