kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Tatwa Hindu’ Category

1. Sejarah Padmasana

Pemujaan Sanghyang Widhi Wasa sebagai Bhatara Siwa berkembang di Bali sejak abad ke-9. Simbol pemujaan yang digunakan adalah Lingga-Yoni. Keadaan ini berlanjut sampai abad ke-13 pada zaman Dinasti Warmadewa. Sejak abad ke-14 pada rezim Dalem Waturenggong (Dinasti Kresna Kepakisan), penggunaan Lingga-Yoni tidak lagi populer, karena pengaruh ajaran Tantri, Bhairawa, dan Dewa-Raja. Lingga-Yoni diganti dengan patung Dewa yang dipuja sehingga cara ini disebut Murti-Puja. Ketika Danghyang Niratha datang di Bali pada pertengahan abad ke-14 beliau melihat bahwa cara Murti-Puja diandaikan seperti bunga teratai (Padma) tanpa sari. Maksudnya niyasa pemujaan yang telah ada seperti Meru dan Gedong hanyalah untuk Dewa-Dewa sebagai manifestasi Sanghyang Widhi namun belum ada sebuah niyasa untuk memuja Sanghyang Widhi sebagai Yang Maha Esa, yakni Siwa. Inilah yang digambarkan sebagai padma tanpa sari. Danghyang Niratha setelah menjadi Bhagawanta (Pendeta Kerajaan) mengajarkan kepada rakyat Bali untuk membangun Padmasana sebagai niyasa Siwa, di samping tetap mengadakan niyasa dengan sistem Murti-Puja.

2. Pengertian Padmasana

Padma dalam Bahasa Bali artinya bunga teratai, dan Sana artinya duduk. Dewa Siwa digambarkan sebagai Dewa yang duduk di atas bunga teratai. Bunga teratai yang berhelai delapan tepat pula sebagai simbol delapan kemahakuasaan Sanghyang Widhi yang disebut Asta-Aiswarya. Asta-Aiswarya ini juga menguasai delapan penjuru mata angin. Keistimewaan bunga padma adalah: puncak atau mahkotanya bulat, daun bunganya delapan, tangkainya lurus, dan tumbuh hidup di tiga lapisan: lumpur, air, dan udara. Hal-hal ini memenuhi simbol unsur-unsur filsafat Ketuhanan atau Widhi Tattwa, yakni keyakinan, kejujuran, kesucian, keharuman, dan ketulusan.

3. Stana-Stana di Padmasana

Stana Sanghyang Siwa Raditya.

Dalam lontar Siwagama diuraikan bahwa Bhatara Siwa mempunyai murid-murid terdiri dari para dewa. Diantaranya ada murid yang paling pintar dan bisa meniru Siwa, murid ini adalah Bhatara Surya; oleh karena itu Bhatara Surya dianugrahi nama tambahan: Sanghyang Siwa Raditya dan berwenang sebagai wakil-Nya di dunia.

Stana Bhatara Guru.

Sebagai rasa hormat dan terima kasih Bhatara Surya atas anugerah yang diberikan, maka Siwa dipuja sebagai guru, dan selanjutnya Siwa dikenal juga sebagai Bhatara Guru.

Stana Bhatara Surya.

Bhatara Siwa acintiya. Bila manusia ingin mengetahui kemahakuasaan Bhatara Siwa, lihatlah matahari karena mataharilah sebagai salah satu contoh asta aiswarya-Nya, karena kehidupan di dunia bersumber dari kekuatan energi matahari.

Stana Sanghyang Tri Purusa.

Dalam Wrhaspati Tattwa, Sangyang  Widhi dinyatakan sebagai Tri Purusa yaitu: Parama-Siwa, Sadha-Siwa, dan Siwa. Parama-Siwa, adalah Sanghyang Widhi dalam keadaan niskala, tidak beraktivitas, tidak berawal, tidak berakhir, tenang, kekal abadi, dan memenuhi seluruh alam semesta. Sadha-Siwa, adalah Sanghyang Widhi yang beraktivitas sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur. Siwa, adalah Sanghyang Widhi yang utaprota sehingga nampak berwujud sebagai mahluk hidup.

4. Kelengkapan Niyasa Padmasana

a. Bedawangnala
Lontar Kaurawasrama menyebutkan, dasar gunung Mahameru adalah bedawangnala. Dalam bahasa Kawi, bedawangnala terdiri dari dua kata: beda artinya ruang, dan nala artinya api. Jadi bedawangnala artinya ruang yang berisi api atau magma. Lontar Agni Purana (Kurma Awatara) menyebutkan adanya perang yang sengit antara para Dewa dengan para Detya. Dalam perang itu Dewa-Dewa  dikalahkan. Para Dewa mohon agar Wisnu menyelamatkan. Bhatara Wisnu kemudian meminta kedua pihak yang berperang mengaduk lautan susu di mana gunung Mandara sebagai tangkai pengaduk dan Naga Basuki sebagai tali pengaduk. Para Dewa memegang ekor naga dan para Detya memegang kepala naga. Tetapi ketika perputaran dimulai gunung Mandara yang tidak mempunyai dasar tenggelam ke dalam lautan susu. Bhatara Wisnu yang menjelma sebagai seekor kura-kura raksasa kemudian muncul untuk menyelamatkan gunung Mandara. Oleh karena itu bedawang di Bali dilukiskan sebagai kura-kura yang moncongnya menyemburkan api.

b. Naga
Lontar Siwagama dan lontar Sri Purana Tattwa menyebutkan bahwa setelah bumi diciptakan  oleh Bhatara Siwa dan Bhatari Uma lengkap dengan segala isinya maka pada suatu ketika terjadilah bencana, di mana tumbuh-tumbuhan mati, air menyurut dan udara mengandung penyakit. Sanghyang Trimurti bermaksud menyelamatkan manusia. Brahma berwujud sebagai Naga Anantabhoga yang berwarna merah berada di dalam inti bumi; Wisnu berwujud sebagai  Naga Basuki yang berwarna hitam berada dalam laut, dan Iswara berwujud sebagai Naga Taksaka yang berwarna putih bersayap berada di udara.

c. Garuda Wisnu
Di lontar Adi Parwa diceritakan sebagai berikut: Sang Kadru dan Sang Winata adalah istri-istri dari Bhagawan Kasyapa, Sang Kadru berputra naga yang ribuan banyaknya dan Sang Winata berputra Sang Aruna dan Sang Garuda. Pada suatu ketika keduanya membicarakan Uchaisrawa (kuda putih) yang keluar dari pemuteran  gunung Mandaragiri. Sang Kadru mengatakan warna kuda itu hitam, sedangkan Sang Winata mengatakan kuda itu putih. Karena sama-sama teguh mempertahankan pendapat akhirnya mereka sepakat untuk bertaruh, bahwa siapa yang kalah akan mejadi budak dari yang menang. Para naga putra Sang Kadru tahu bahwa warna kuda itu putih. Untuk memenangkan ibunya para naga menyemprotkan bisa ke Uchaiswara sehingga berwarna hitam. Sang Winata kalah lalu  menjadi budak Sang Kadru. Anak Sang Winata, yakni Garuda, ingin membebaskan ibunya dari perbudakan. Garuda kemudian  bertanya kepada para naga, bagaimana cara membebaskan ibunya. Sang Naga memberi  tahu agar  ia mencari Tirta Amertha. Sang Garuda mencari tirta itu ke Sorga sampai berperang melawan para Dewa namun tidak berhasil. Bhatara Wisnu yang iba pada nasib Garuda bersedia memberikan Tirta Amertha, namun dengan syarat agar Garuda mau menjadi kendaraan Bhatara Wisnu. Garuda bersedia, dan bersama Wisnu terbang mencari Tirta Amertha.

d. Angsa
Angsa adalah simbul ketenangan dan warna putih bulunya adalah simbul kesucian, ketelitian memilih makanan walaupun mulutnya masuk ke lumpur yang busuk toh lumpur tidak termakan, jadi angsa merupakan simbul kebijaksanaan memilih yang baik, di samping itu pula simbul kewaspadaan sebab baik siang maupun malam seolah-olah angsa tidak penah tidur. Di lontar Indik Tetandingan disebutkan sayap angsa yang terkembang adalah simbul Ongkara: kedua sayapnya melukiskan ardha candra (bulan sabit), badannya yang bulat lukisan windhu, leher dan kepalanya yang mendongak ke atas adalah simbul nada.

e. Acintiya
Acintiya artinya tidak dapat dibayangkan. Namun niyasa Acintiya dilukiskan sebagai tubuh manusia telanjang dengan api di setiap sendinya serta kaki kanan yang terangkat, kepala tanpa bentuk wajah, dan sikap tangan dewa pratistha. Niyasa itu bermakna: tubuh manusia yang telanjang kiasan dari ciptaan Sanghyang Widhi yang utama; api di setiap sendi adalah simbol energi kehidupan; kaki kanan yang terangkat adalah simbol rotasi alam dan kehidupan yang aktif; kepala tanpa bentuk wajah adalah simbol dari keberadaan yang tidak dapat dibayangkan; sikap tangan dewa pratistha adalah simbol kecintaan Sanghyang Widhi pada hasil-hasil ciptaan-Nya.

5. Bentuk, Fungsi, dan Jenis Padmasana

Bentuk dan fungsi Padmasana ada 4, yaitu:

1. Padma Sari: mempunyai rong satu, tidak memakai Bedawangnala dengan palih telu. Stana Sanghyang Tripurusha.

2. Padmasana: mempunyai rong satu, memakai Bedawangnala, dengan palih lima. Stana Bhatara Surya

3. Padma Agung: mempunyai rong dua, memakai Bedawangnala, dengan palih lima. Stana Sanghyang Siwa Raditya

4. Padma Angelayang: mempunyai rong tiga, memakai Bedawangnala, dengan palih pitu. Stana Bhatara Guru

Jenis Padmasana berdasarkan lokasi menurut pengider-ider bhuana (penjuru mata angin) ada 9 jenis,  yaitu:

No Nama Letak di Menghadap ke
1 Padma Kencana timur (purwa) barat (pascima)
2 Padmasana selatan (daksina) utara (uttara)
3 Padmasari barat (pascima) timur (purwa)
4 Padma lingga utara (uttara) selatan (daksina)
5 Padma asta sedhana tenggara (agneya) barat laut (wayabya)
6 Padma noja barat daya (nairity) timur laut (airsaniya)
7 Padma karo barat laut (wayabya) tenggara (agneya)
8 Padma saji timur laut (airsanya) barat daya (nairity)
9 Padma kurung tengah-tengah Pura (madya) pintu keluar/ masuk (pemedal)

6. Tata Cara Membangun Padmasana

Upacara dan upakara:

Saat mulai membangun.

Caru pengeruak: yaitu caru ayam berumbun lengkap dengan runtutannya dan uripnya adalah 33, serta letaknya asanca-desa, yaitu
Di timur :  5 tanding
Di selatan :  9 tanding
Di barat : 7 tanding
Di utara : 4 tanding
Di tengah : 8 tanding.

Beralaskan sengkwi bersayap; segehan agung, kawisan, kulitnya dan lain-lain di tempatkan di tengah. Byakala , Durmangala, dan Prayascita masing-masing satu. Segehan agung lengkap dengan penyambleh.

Banten Pemakuhan: yang terdiri dari peras penyeneng, ajuman putih kuning dagingnya ayam betutu, me-ukem-ukem (di sembeleh dari punggung), daksina yang berisi uang 225, canang lengewangi-buratwangi, canang raka, nyahnyah gula kelapa dan tipat kelanan. Banten ini ditaruh di sebuah sanggar di hulu bangunan.

Banten untuk dasar bangbang: adalah tumpeng merah dua buah, dilengkapi dengan jajan, buah-buhan, lauk-pauk dengan dagingnya ayam biying yang dipanggang, sampian tangga. Banten ini dialasi kulit peras.

Canang Pendeman: adalah canang burat wangi, pengeraos, canang tubungan, dan pesucian, masing-masing satu tanding.

Alat penyugjug terdiri dari sebuah tangkai dapdap yang bercabang tiga, sebuah mangkuk kecil, cicin bermata mirah dan sebuah keris.

Sebuah bata merah bergambar bedawangnala di mana punggungnya bertulis aksara “Ang” .

Sebuah bata merah lain  bergambar padma bertulis dasa aksara: sa, ba, ta, a, i, na, ma, si, wa, ya.

Sebuah batu bulitan bertulis tri aksara: ang, ung, mang.

Sebuah klungah nyuh gading bertulis ong-kara.

Kelungah dikasturi airnya dibuang lalu ke dalamnya dimasukkan sebuah kwangen berkulit keraras, berisi uang kepeng 33 buah, bertulis ongkara-amertha. Semua banten di atas setelah diupacarai dan disembahyangi, dimasukkan ke dalam lobang dasar bangunan; selanjutnya batu-batu dan adonan semen dapat dicor di atas banten-banten itu.

Setelah bangunan selesai

Upacara Pemakuhan:
Sebagai ungkapan terima kasih kepada Bhagawan Wisma Karma (Dewa seni-bangunan) diwujudkan dengan mohon   tirta pemakuh. Peralatan tukang disertakan dalam upacara ini.

Banten Pemakuhan, peras, lis, soroan, daksina, canang lenga wangi, canang burat wangi dan ketipat kelanan. Caru ayam putih  asoroh eteh-eteh pemakuhan asoroh: bagia, orti, sapsap, ulap-ulap, paso anyar berisi air, daun lalang 11 katih, pengurip-urip darah ayam putih,  susur pekeramas, toya cendana, kumkuman, rantasan, seperadeg, semeti, pahat, uang, andel-andel berisi benang. Toya pemakuhan dari undagi  yang membuat sikut.

Urutan upacara:

Ngetok sunduk, mantra: Bhatara semara, angadegang Bhatara Ratih metemuang ageni mastu astu Ang Ah.

Ngetok lait, mantra: Ingsun anangun sawen anging I Dewa Gunung Agung magelung aningkahang anangun sawen, ana ring maca pada rambat rangkung panjang umur, jeng, jeng, jeng.

Pangurip getih ayam putih, mantra: Mangke sira patini sepisan ngurip kita satuwuk bebataran pinaka bungkah nda.
Sendi pinaka pancer nda
Adegan pinaka punyan nda
Abah-abah pinaka pangpang nda

Raab pinaka ron nda
Kelasa pinaka kembang nda
Daging nda, pinaka woh  nda, urip kita jati
Paripurna urip-urip

Penyapsap gidat sesaka, mantra: Pakulun manusan nira anggada kaken sapuha, menyapuha ganda keringetning wewangunan sidhi rastu.

Semeti, mantra: Om Upi Sangagawenku teka pada urip, teka pada urip, teka pada urip.

Baas Daksina, mantra: Om Siwa sampurna  yang namah.

Tatebus, mantra: Jaya Ang Ang Ang Ah

Upacara Melaspas:

Upacara Melaspas bertujuan mensucikan bangunan agar dapat menstanakan Ista Dewata, menyatukan   sekala dan niskala. Unsur-unsur  sekala adalah bangunan suci, dan unsur niskala adalah Sanghyang Widhi atau Ista Dewata.

Pelaksanaan:

Menghaturkan upakara pesaksian ke Surya, dan nunas tirtha pelukatan.
Nyapsap dengan daun dapdap, lalang, dan toya segara. Matatorek dengan warna merah, putih, hitam, memercikkan  tirtha pelukatan, memercikkan tirta pasupati, dan memukul bangunan tanda menguatkan pasak.
Sulinggih memuja banten pemelaspas.

Upacara Ngenteg Linggih.

Urutan upacara:

1. Memangguh

Kata memangguh berasal dari bahasa Bali: kepangguh atau kepanggih, yang artinya menemukan. Maksudnya adalah menemukan sebidang tanah secara niskala yang kemudian digunakan untuk bangunan Padmasana. Secara skala, bidang tanah diperoleh atau ditemukan dengan membeli, hibah, warisan, dll. Namun secara niskala bidang tanah itu dimohon kepada Sanghyang Widhi, sebagai pemilik dan penguasa semesta.

Banten upacara memangguh pada umumnya berdasar banten bebangkit dengan runtutannya.

2. Nyengker

Nyengker artinya memberi batas-batas bidang tanah di empat penjuru mata angin, yaitu: utara, selatan, barat dan timur. Batas ini sebagai lanjutan upacara memangguh, dengan pengertian skala dan niskala pula. Secara skala, sengker atau batas berbentuk pagar halaman, dan secara niskala, sengker adalah batas bidang tanah yang dimohonkan ke hadapan Sanghyang Widhi. Pelaksanaan upacara nyengker diwujudkan dengan membubuhkan tepung beras (putih) sekeliling pagar bidang tanah.

Bantennya: prayascita, pengulapan, pengambean.

3. Memirak

Memirak dalam bahasa Bali berasal dari kata pirak, yang artinya membeli. Memirak juga ditujukan secara niskala kepada Sanghyang Widhi, lebih dimaksudkan sebagai rasa terima kasih atas ijin dan karunia-Nya karena telah memberikan sebidang tanah. Selain itu dengan upacara memirak, kepada Sanghyang Widhi juga mepiuning (memberitahu) tentang perubahan status tanah, yang sebelumnya mungkin berupa sawah, tegalan, dll., dan kini sudah menjadi sebuah halaman Pura.

Banten upacara memirak, dasarnya suci ageng dengan runtutannya, dan seekor babi guling sebagai kelengkapannya. Sebagai stana Ida Bhatari Pertiwi, dibuat sebuah daksina lingga yang setelah upacara selesai akan dihaturkan ke Pura Subak. Setelah banten pemirak selesai dipuja oleh Sulinggih, maka bagian-bagian babi guling yakni irisan: kuping, moncong, keempat kaki, dan ekor, direcah menjadi 5, ditempatkan di 5 takir yang sudah berisi nasi jakan. Kelima takir itu diletakkan dan dihaturkan ke pertiwi masing-masing di batas bidang: utara, selatan, barat, dan timur.

4. Mecaru

Caru dalam bahasa Bali artinya korban, sedangkan car dalam bahasa Sanskrit artinya keseimbangan dan keharmonisan. Dengan demikian maka caru artinya binatang yang dijadikan korban untuk memohon keseimbangan dan keharmonisan. Yang dimaksud dengan keseimbangan dan keharmonisan adalah Trihitakarana, yaitu tiga hal yang menjadi dasar kehidupan yang baik: parhyangan, pawongan, dan palemahan. Parhyangan adalah hubungan yang seimbang dan harmonis antara manusia dengan Sanghyang Widhi. Pawongan adalah hubungan yang seimbang dan harmonis antara manusia dengan manusia. Palemahan adalah hubungan yang seimbang dan harmonis antara manusia dengan alam. Menurut ajaran agama Hindu-Bali, tanpa ketiga keseimbangan dan keharmonisan itu manusia tidak akan menemukan mokshartam jagaditha.  Dalam kaitan ini, Padmasana sebagai stana Sanghyang Widhi, bukanlah hanya niyasa pemujaan saja, tetapi juga untuk memohon keutuhan Trihitakarana menuju mokshartam jagaditha.

Banten caru yang umumnya digunakan pada upacara ngenteg linggih Padmasana minimal Rsigana berdasar Manca sanak.

5. Mendem akah-pedagingan

Mendem artinya menanam. Akah-pedagingan terdiri dari panca-datu, yaitu : emas, perak, tembaga, besi, dan permata. Kelima unsur (panca –datu) adalah simbol isi bumi, yakni logam dan batu mulia yang diciptakan Sanghyang Widhi pada awal terbentuknya bumi. Akah-pedagingan ditanam pada dasar, dan tengah Padmasana.

6. Memasang orti dan ulap-ulap

Orti adalah sejenis jejahitan berbahan daun rontal. Makna orti adalah pemberitahuan bahwa bangunan Padmasana sudah disucikan. Ulap-ulap adalah  rerajahan pada secarik kain putih yang bermakna mensakralkan bangunan pelinggih. Orti dipasang di puncak bangunan, dan ulap-ulap dipasang di bawah orti.

7. Mendem bagia-palakerti

Bagia artinya bahagia; palakerti artinya hasil dari karma (perbuatan).
Isi bagia palakerti adalah berbagai hasil bumi: buah-buahan dan umbi-umbian (pala gantung dan pala bungkah). Bagia-palakerti ditanam di tanah belakang Padmasana bertujuan untuk memohon pahala yang baik kepada Sanghyang Widhi, karena sang maduwe karya telah melaksanakan upacara ngenteg linggih.

8. Memendak Ida Bhatara

Kata Ida Bhatara artinya “Maha Kuasa yang menyayangi dan melindungi”. Menstanakan Ida Bhatara di Padmasana, seperti yang diuraikan terdahulu, berarti menstanakan Sanghyang Widhi di bangunan niyasa untuk dipuja. Niyasa (simbol) yang digunakan sebagai pralingga dapat berbagai bentuk, misalnya pretima, gopelan, dan ampilan. Yang umum digunakan adalah ampilan, terdiri dari kotak, daksina lingga, dan runtutannya. Setelah ampilan disucikan dan dipasupati, Ida Bhatara dimohonkan berstana di ampilan itu. Prosesnya dengan muspa ngider bhuwana mulai menghadap ke timur untuk memuja Ishwara, ke selatan untuk memuja Brahma, ke barat untuk memuja Mahadewa, ke utara untuk memuja Wisnu, dan ke timur sekali lagi untuk memuja Tripurusha.

9. Mekalahyas

Dengan berpedoman pada lontar Yadnya Prakerti, diyakini bahwa wateking bhuta-kala  atau roh-roh liar selalu ingin mendapatkan tirtha amertha dalam usahanya untuk meningkatkan kesucian. Oleh karena itu roh-roh liar ini selalu bersembunyi di tempat-tempat suci dengan harapan bila ada upacara maka mereka secara tidak disengaja akan memperoleh percikan tirtha amertha dari puja-mantra Pandita. Demikian pula dengan kotak ampilan yang dimohonkan sebagai stana Sanghyang Widhi, tidak luput dari gangguan para roh liar ini. Agar hal itu tidak terjadi maka para roh liar diberikan lelabaan agar tidak mengganggu jalannya upacara dan tidak bersembunyi di niyasa kotak ampilan Ida Bhatara. Lelabaan itu disebut banten kalahyas. Kalahyas terdiri dari dua kata: kala artinya roh liar; hyas artinya menyenangkan. Jadi kalahyas artinya banten untuk menyenangkan roh-roh liar.

10. Melasti

Melasti dalam bahasa Bali terdiri dari dua kata: mala artinya kekotoran atau noda; asti artinya dibuang. Jadi melasti yang asalnya mala-asti, artinya menghanyutkan kekotoran. Upacara melasti dilakukan di laut, karena kegiatan melasti meliputi dua tujuan, yaitu: menghilangkan kekotoran, dan memohon tirtha amertha kamandalu, yakni tirtha suci yang diyakini membawa kesucian, kebaikan, kemakmuran, dan kejayaan atau umur panjang. Yang dimaksud dengan tirtha amerta kamandalu, adalah air dari tujuh buah sungai suci di India, di mana Weda diwahyukan oleh Sanghyang Widhi melalui tujuh Maha Rsi (Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa). Sungai-sungai itu adalah: Gangga, Sindhu, Saraswati, Yamuna, Godhawari, Narmada, dan Sarayu. Oleh karena kita tidak mungkin pergi ke India setiap saat untuk melasti, maka dengan pengertian bahwa ketujuh sungai suci itu bermuara ke laut, dan laut di dunia menyatu, maka diyakini laut di selatan India sebagai muara sungai-sungai suci yang telah mengandung unsur-unsur kesucian, sama dengan laut di mana saja. Oleh karena itu jika melasti ke laut dianggap sama dengan mendapatkan air dari ketujuh sungai suci itu. Karena tujuan melasti seperti yang diuraikan di atas adalah untuk menghanyutkan kekotoran dan mendapatkan tirtha suci, maka kegiatan melasti sering disebut: anganyutaken lara-roga tur sarwaning mala, lan amet tirtha amertha kamandalu ring telenging samudra, artinya menghanyutkan kekotoran dan membuang segala keburukan, serta mendapatkan air suci di tengah lautan. Hanya bila ke laut saja dapat disebut melasti, sedangkan bila ke sumber mata air atau sungai, tidak disebut melasti, tetapi mesucian. Tujuan dan faedahnya tentu berbeda.

11. Ngenteg linggih: Karya Pemungkah dan Pedudusan

Ngenteg linggih artinya: mengokohkan kedudukan Ida Bhatara secara niskala di Padmasana; Karya Pemungkah artinya:  Memohon kesediaan Ida Bhatara berstana di Padmasana; Pedudusan, yang berasal dari kata: pedius-diusan, artinya pensucian.

Prosesi upacara :

Setelah niyasa Ida Bhatara datang dari melasti, maka kotak ampilan diletakkan di sanggar tawang. Di sini Ida Bhatara dihaturi banten catur dan dipuja-mantra oleh Pandita. Setelah itu niyasa Ida Bhatara diturunkan dari sanggar tawang, melalui titi-mahmah lalu diletakkan di Bale Peselang. Kemudian Ida Bhatara dihaturi sesajen kemudian di puja-mantra oleh Pandita. Para peserta upacara, bersembahyang memuja Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan penyelamat dunia. Selanjutnya barulah niyasa Ida Bhatara di letakkan di Bale Pahiasan, untuk dihaturi sesajen dan dipuja-mantra oleh Pandita.

Makna upacara :

Meletakkan niyasa Ida Bhatara di sanggar tawang dan dihaturi banten catur, bermakna niyasa itu mendapat wara-nugraha dari Sanghyang Widhi sebagai Ishwara, Brahma, Mahadewa, dan Wisnu.
Meletakkan niyasa Ida Bhatara di bale peselang, bermakna kehadiran Sanghyang Widhi di alam bwah-loka  untuk menganugrahkan kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan kepada manusia.
Meletakkan niyasa Ida Bhatara di Pahiasan, bermakna sebagai Sanghyang Widhi yang menerima haturan, persembahan, dan pujaan dari manusia yang telah mendapatkan sinar suci-Nya.

12. Pemuspaan

Pemuspaan adalah sembahyang bersama, diawali dengan puja trisandya dan dilanjutkan dengan kramaning sembah. Setelah itu tirtha wangsuh-pada dan bija dibagikan oleh Jero Mangku. Ida Pandita mengisi waktu luang itu dengan dharma-wacana.

13. Mesida-karya

Upacara mesida-karya biasanya dilaksanakan di hari penyineban Ida Bhatara. Didahului dengan menghaturkan banten banten sida-karya, lalu sembahyang bersama, maka niyasa Ida Bhatara berupa kotak ampilan disimpan di tempat yang baik dan aman, untuk digunakan lagi di hari piodalan Ida Bhatara. Upacara ini bermakna sebagai permohonan dan piuning kehadapan Sanghyang Widhi bahwa rangkaian upacara Ngenteg Linggih telah selesai, serta memohon ampun bila dalam penyelenggaraan upacara ada kekeliruan-kekeliruan.

Sampai disini selesailah semua prosesi sejak membangun Padmasana sampai mengupacarainya, sehingga dengan demikian Padmasana sudah dapat digunakan sebagai niyasa pemujaan  Sanghyang Widhi di setiap saat.

oleh: Bhagawan Dwidja

http://stitidharma.org/main/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=317

Sekilas tentang Trisandya

Posted by Adnyana under Tatwa Hindu

Sekilas tentang Trisandya

OM Svastyastu,
SEKILAS TENTANG TRISANDYA
Jeromangku_sudiada@yahoo.com

Setelah sekian lama Trisandya diperdebatkan dalam HD-Net ini, khususnya mengenai bait yang kedua yang telah dipengal penterjemahannya yaitu : Tuhan yang Tak terlahirkan, Tuhan tidak ternodai, Tuhan tidak terpikirkan dan akhirnya cendrung dipelesetkan : “TUHAN TIDAK ADA” bersama ini perkenankanlah Mangku mengulas sedikit tentang Trisandya, yang sangat kental dengan hidup dan kehidupan kita khususnya yang beragama Hindu, dimana pemujaan Tuhan dengan kata-kata umunya dilaksanakan dengan sembahyang tiap-tiap hari, atau lazimnya dilakukan dengan sembahyang tigakali sehari yang sering disebut dengan istilah “PUJA TRISANDYA” Three = Tiga (3) Sandya = Kala / waktu. Jadi pemujaan yang dilakukan tiga kali sehari dalam kurun waktu tertentu, dipagi hari, siang hari dan sore hari.

Tehknis Puja Trisandya serta Tecks aslinya Mangku akan jelaskan pada kesempatan lain. Mangku akan menjelaskan secara universal purpose dari Trisandya itu mengandung tiga tujuan utama yang terdiri dari :

Bait Pertama dan kedua adalah merupakan ”PENGAJUM” atau memulyakan Bait ke III dan ke IV adalah merupakan ”STATEMENT” pernyataan diri Bait ke V dan ke VI merupakan ”HOPEFULLY” , khususnya permohonan maaf.

Mari kita mulai dari susunan mantram yang ada dalam Puja Trisandya.

Puja trisandya terdiri dari enam kumpulan mantram, mantram pertama disebut Gayatri mantram. Ritmenya-pun disebut dengan Gayatri, sedangkan irama-irama lainya misalnya Anustup, tristup, Canustup, Pragatah, Jagati, sedangka di Bali yang sering di iramakan oleh sulinggih adalah dengan Reng, Ritme Sloka (anak anak sekolah ) dan Cruti perhatikan di Bali TV bait I & II. agak beda dengan bait ke III dan seterusnya

1. Mantram Pertama Didalam Rg Veda III.62.10. Kata Bhur, Bvah, Svaha, tidak ada pada mantram ini, tambahan Bhur Bvah svaha ini didapatkan pada Yayur Veda Putih 36.3.

Gayatri Mantram adalah satu satunya mantram yang sering dilontarkan oleh Ide sang sulinggih, sedangkan yang lainnya adalah merupakan puja stava berupa sloka. Gayatri mantram sering disebutkan sebagai ibu dari semua mantram, atau yang paling mulya, dibawah ini Mangku cuplikan statementnya yang berbunyi sebagai berikut:

”One reason why the Gayatri is considered to be the most representative prayer in the Vedas is that cavable of possessing “dhi” higher intelligence which brings him knowledge, material and transcendental. What the eye is to the body “dhi” or intelligence is to the mind

Wijaksara Om adalah hurup atau prenawa suci dalam agama Hindu, dengan Om seorang brahmana mulai mengucapkan “SEMOGA SAYA SAMPAI PADA BRAHMAN” Savitar Tuhan yang maha mulia, kemuliaan sumber dari cahaya cemerlang marilah kita memusatkan pikiran kepada sumber cahaya, semoga ia memberi semangat.

2. Sloka yang kedua.
Dalam sloka ini pemuja memuja tuhan seluruh sekalian alam, Tuhan suci tidak ternoda, Ia hanya tunggal tidak ada yang kedua. Sloka ini adalah satu dari suatu rangkaian sloka yg panjang disebut dengan Catur Veda Sirah. Ini adalah salinan dari veda Narayanad upanisad, sebuah upanisad kecil. Supaya tidak penasaran Arti dari Bait ke II secara letterlijeknya adalah sebagai berikut.

Tuhan hanya ini, semua yang telah ada, dan yang akan ada, bebas dari noda, Bebas dari kotoran, bebas dari perubahan, tak dapat digambarkan yang maha suci Tuhan satu satunya tidak ada yang kedua.

3. Sloka yang ke III
Oleh Pemuja Tuhan yang tunggal, disebut dengan banyak nama, Iya disebut Siva, Mahadewa, Iswara, Prameswara, Brahman, Wisnu dan Rudra dan….. masih banyak lagi sebutan yang lainya.

4. Sloka yan ke IV. (statement )
Pemuja mengatakan pengakuan dirinya serba kurang, serba hina, serba lemah, Hina lahir dan bathin

5. Sloka yang ke V. ( Permohonan ampun )

Dalam sloka ini atas dosa, dosa, kekurangan dsbnya, pemohon memohonkan agar dilindungi dan dibersihkan atas segala noda.

6. Sloka yang ke VI ( Permohonan ampun dari dosa)

Dosa yang keluar dari karya yang dilakukan, dari perkataan yang dilontarkan dan dari pemikiran memohon kepada Tuhan untuk diampuni.

Yah itulah yang Mangku bisa jelaskan dari Puja Trisandya semoga berkenan

Namaste.
MANGKU SUDIADA

Source :   HDNEt

http://okanila.brinkster.net/mediaFull.asp?ID=1411

Mantram Trisandhya

1 Om bhur bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayat
Om adalah bhur bhuvah svah
Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Sanghyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita
2 Om Narayana evedwam sarvam
yad bhutam yac ca bhavyam
niskalanko niranjano
nirvikalpo nirakhyatah
suddho deva eko
narayana na dvitiyo
asti kascit.
Om Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua
3 Om tvam siwah tvam mahadevah
Iswarah paramesvarah
brahma visnusca rudrasca
purusah parikirtitah
Om Engkau dipanggil Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, Rudra, dan Purusa
4 Om papo’ham papakarmaham
papatma papasambhavah
trahi mam pundarikaksa
sabahyabhyantarah sucih
Om hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sanghyang Widhi, sucikanlan jiwa dan raga hamba
5 Om ksamasva mam mahadeva
sarvaprani hitankara
mam moca sarva papebhyah
palayasva sada siva
Om ampunilah hamba Sanghyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah oh Sang Hyang Widhi
6 Om ksantavyah kayiko dosah
ksantavyo. vaciko mama
ksantavyo manaso dosah
tat pramadat ksamasva mam
Om ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.
Om Santih, Santih, Santih Om. Om. damai. damai, damai, Om.

http://www.babadbali.com/canangsari/trisandhya-utuh.htm

Çubha dan Açubha Karma

Posted by Adnyana under Tatwa Hindu

Pada dasarnya sesuai dengan siklus rwabhineda, perbuatan itu terjadi dari dua sisi yang berbeda, yaitu perbuatan baik dan perbuatan yang tidak baik. Perbuatan baik ini disebut dengan Cubha Karma, sedangkan perbuatan yang tidak baik disebut dengan Acubha Karma. Siklus cubha dan acubhakarma ini selalu saling berhubungan satu sama lain dan tidak dipisahkan.

Demikianlah perilaku manusia selama hidupnya berada pada dua jalur yang berbeda itu, sehingga dengan kesadarannya dia harus dapat menggunakan kemampuan yang ada di dalam dirinya, yaitu kemampuan berfikir, kemampuan berkata dan kemampuan berbuat. Walaupun kemampuan yang dimiliki oleh manusia tunduk pada hukum rwabhineda, yakni cubha dan acubhakarma (baik dan buruk, benar dan salah, dan lain sebagainya), namun kemampuan itu sendiri hendaknya diarahkan pada çubhakarma (perbuatan baik). Karena bila cubhakarma yang menjadi gerak pikiran, perkataan dan perbuatan, maka kemampuan yang ada pada diri manusia akan menjelma menjadi prilaku yang baik dan benar. Sebaliknya, apabila acubhakarma yang menjadi sasaran gerak pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, maka kemampuan itu akan berubah menjadi perilaku yang salah (buruk).

Berdasarkan hal itu, maka salah satu aspek kehidupan manusia sebagai pancaran dari kemampuan atau daya pikirnya adalah membeda-bedakan dan memilih yang baik dan benar bukan yang buruk atau salah.

Manusah sarvabhutesu
vartate vai cubhacubhe,
achubhesu samavistam
cubhesveva vakaravet.

(Sarasamuccaya 2)

Dari Demikian banyaknya mahluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat melakukan perbuatan baik buruk itu; adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik juga manfaatnya jadi manusia.

Untuk memberikan batasan tentang manakah yang disebut tingkah laku baik atau buruk, benar atau salah, tidaklah mudah untuk menentukan secara tegas mengenai klasifikasi dari pada baik dan buruk itu adalah sangat sulit. Sebab baik dan buruk seseorang belum tentu baik atau bauruk bagi orng lain. Hal ini tergantung tingkat kemampuan dan kepercayaan serta pandangan hidup seseorang itu sendiri. Akan tetapi menurut agama Hindu disebutkan secara umum bahwa perbuatan yang baik yang disebut Cubhakarma itu adalah segala bentuk tingkah laku yang dibenarkan oleh ajaran agama yang dapat menuntun manusia itu ke dalam hidup yang sempurna, bahagia lahir bathin dan menuju kepada persatuan Atman dengan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Sedangkan perbuatan yang buruk (acubhakarma) adalah segala bentuk tingkah laku yang menyimpang dan bertentangan dengan hal-hal tersebut di atas.

Untuk lebih jelasnya, manakah bentuk-bentuk perbuatan baik (cubhakarma) dan bentuk-bentuk perbuatan yang tidak baik (Acubhakarma) menurut ajaran agama Hindu sebagaimana disjelaskan berikut ini:

Çubhakarma (Perbuatan Baik)

1. Tri Kaya Parisudha

Tri kaya Parisudha artinya tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan, yaitu berfikir yang bersih dan suci (manacika), berkata yang benar (Wacika) dan berbuat yang jujur (Kayika). Jadi dari pikiran yang bersih akan timbul perkataan yang baik dan perbuatan yang jujur. Dari Tri Kaya Parisudha ini timbul adanya sepuluh pengendalian diri yaitu 3 macam berdasarkan pikiran, 4 macam berdasarkan perkataan dan 3 macam lagi berdasarkan perbuatan. Tiga macam yang berdasarkan pikiran adalah tidak menginginkan sesuatu yang tidak halal, tidak berpikiran buruk terhadap mahkluk lain dan tidak mengingkari adanya hukum karmaphala. Sedangkan empat macam yang berdasarkan atas perkataan adalah tidak suka mencaci maki, tidak berkata kasar kepada makhluk lain, tidak memfitnah dan tidak ingkar pada janji atau ucapan. Selanjutnya tiga macam pengendalian yang berdasarkan atas perbuatan adalah tidak menyiksa atau membunuh makhluk lain, tidak melakukan kecurangan terhadap harta benda dan tidak berjina.

2. Catur Paramita

Catur Paramita adalah empat bentuk budi luhur, yaitu Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa. Maitri artinya lemah lembut, yang merupakan bagian budi luhur yang berusaha untuk kebahagiaan segala makhluk. Karuna adalah belas kasian atau kasih sayang, yang merupakan bagian dari budi luhur, yang menghendaki terhapusnya pendertiaan segala makhluk. Mudita artinya sifat dan sikap menyenangkan orang lain. Upeksa artinya sifat dan sikap suka menghargai orang lain. Catur Paramita ini adalah tuntunan susila yang membawa masunisa kearah kemuliaan.

3. Panca Yama Bratha

Panca Yama Bratha adalah lima macam pengendalian diri dalam hubungannya dengan perbuatan untuk mencapai kesempurnaan rohani dan kesucian bathin. Panca Yama Bratha ini terdiri dari lima bagian yaitu Ahimsa artinya tidak menyiksa dan membunuh makhluk lain dengan sewenang-wenang, Brahmacari artinya tidak melakukan hubungan kelamin selama menuntut ilmu, dan berarti juga pengendalian terhadap nafsu seks, Satya artinya benar, setia, jujur yang menyebabkan senangnya orang lain. Awyawahara atau Awyawaharita artinya melakukan usaha yang selalu bersumber kedamaian dan ketulusan, dan Asteya atau Astenya artinya tidak mencuri atau menggelapkan harta benda milik orang lain.

4. Panca Nyama Bratha

Panca Nyama Bratha adalah lima macam pengendalian diri dalam tingkat mental untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian bathin, adapun bagian-bagian dari Panca Nyama Bratha ini adalah Akrodha artinya tidak marah, Guru Susrusa artinya hormat, taat dan tekun melaksanakan ajaran dan nasehat-nasehat guru, Aharalaghawa artinya pengaturan makan dan minum, dan Apramada artinya taat tanpa ketakaburan melakukan kewajiban dan mengamalkan ajaran-ajaran suci.

5. Sad Paramita

Sad Paramita adalah enam jalan keutamaan untuk menuju keluhuran. Sad Paramita ini meliputi: Dana Paramita artinya memberi dana atau sedekah baik berupa materiil maupun spirituil; Sila Paramita artinya berfikir, berkata, berbuat yang baik, suci dan luhur; Ksanti Paramita artinya pikiran tenang, tahan terhadap penghinaan dan segala penyebab penyakit, terhadap orang dengki atau perbuatan tak benar dan kata-kata yang tidak baik; Wirya Paramita artinya pikiran, kata-kata dan perbuatan yang teguh, tetap dan tidak berobah, tidak mengeluh terhadap apa yang dihadapi. Jadi yang termasuk Wirya Paramita ini adalah keteguhan pikiran (hati), kata-kata dan perbuatan untuk membela dan melaksanakan kebenaran; Dhyana Paramita artinya niat mempersatukan pikiran untuk menelaah dan mencari jawaban atas kebenaran. Juga berarti pemusatan pikiran terutama kepada Hyang Widhi dan cita-cita luhur untuk keselamatan; Pradnya Paramita artinyaa kebijaksanaan dalam menimbang-nimbang suatu kebenaran.

6. Catur Aiswarya

Catur Aiswarya adalah suatu kerohanian yang memberikan kebahagiaan hidup lahir dan batin terhadap makhluk. Catur Aiswarya terdiri dari Dharma, Jnana, Wairagya dan Aiswawarya. Dharma adalah segala perbuatan yang selalu didasari atas kebenaran; Jnana artinya pengetahuan atau kebijaksanaan lahir batin yang berguna demi kehidupan seluruh umat manusia. Wairagya artinya tidak ingin terhadap kemegahan duniawi, misalnya tidak berharap-harap menjadi pemimpin, jadi hartawan, gila hormat dan sebagainya; Aiswarya artinya kebahagiaan dan kesejahteraan yang didapatkan dengan cara (jalan) yang baik atau halal sesuai dengan hukum atau ketentuan agama serta hukum yang berlaku di dalam masyarakat dan negara.

7. Asta Siddhi

Asta Siddhi adalah delapan ajaran kerohanian yang memberi tuntunan kepada manusia untuk mencapai taraf hidup yang sempurna dan bahagia lahir batin. Asta Siddhi meliputi: Dana artinya senang melakukan amal dan derma; Adnyana artinya rajin memperdalam ajaran kerohanian (ketuhanan); Sabda artinya dapat mendengar wahyu karena intuisinya yang telah mekar; Tarka artinya dapat merasakan kebahagiaan dan ketntraman dalam semadhi; Adyatmika Dukha artinya dapat mengatasi segala macam gangguan pikiran yang tidak baik; Adidewika Dukha artinya dapat mengatasi segala macam penyakit (kesusahan yang berasal dari hal-hal yang gaib), seperti kesurupan, ayan, gila, dan sebagainya. Adi Boktika artinya dapat mengatasi kesusahan yang berasal dari roh-roh halus, racun dan orang-orang sakti; dan Saurdha adalah kemampuan yang setingkat dengan yogiswara yang telah mencapai kelepasan.

8 Nawa Sanga

Nawa Sanga terdiri dari: Sadhuniragraha artinya setia terhadap keluarga dan rumah tangga; Andrayuga artinya mahir dalam ilmu dan dharma; Guna bhiksama artinya jujur terhadap harta majikan; Widagahaprasana artinya mempunyai batin yang tenang dan sabar; Wirotasadarana artinya berani bertindak berdasarkan hukum; Kratarajhita artinya mahir dalam ilmu pemerintahan; Tiagaprassana artinya tidak pernah menolak perintah; Curalaksana artinya bertindak cepat, tepat dan tangkas; dan Curapratyayana artinya perwira dalam perang.

9. Dasa Yama Bratha

Dasa Yama Bratha adalah sepuluh macam pengendalian diri, yaitu Anresangsya atau Arimbhawa artinya tidak mementingkan diri sendiri; Ksama artinya suka mengampuni dan dan tahan uji dalam kehidupan; Satya artinya setia kepada ucapan sehingga menyenangkan setiap orang; Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti makhluk lain; Dama artinya menasehati diri sendiri; Arjawa artinya jujur dan mempertahankan kebenaran; Priti artinya cinta kasih sayang terhadap sesama mahluk; Prasada artinya berfikir dan berhati suci dan tanpa pamerih; Madurya artinya ramah tamah, lemah lembut dan sopan santun; dan Mardhawa artinya rendah hati; tidak sombong dan berfikir halus.

10. Dasa Nyama Bratha

Dasa Nyama Bratha terdiri dari: Dhana artinya suka berderma, beramal saleh tanpa pamerih; Ijya artinya pemujaan dan sujud kehadapan Hyang Widhi dan leluhur; Tapa artinya melatih diri untuk daya tahan dari emosi yang buruk agar dapat mencapai ketenangan batin; Dhyana artinya tekun memusatkan pikiran terhadap Hyang Widhi; Upasthanigraha artinya mengendalikan hawa nafsu birahi (seksual); Swadhyaya artinya tekun mempelajari ajaran-ajaran suci khususnya, juga pengetahuan umum; Bratha artinya taat akan sumpah atau janji; Upawasa artinya berpuasa atau berpantang trhadap sesuatu makanan atau minuman yang dilarang oleh agama; Mona artinya membatasi perkataan; dan Sanana artinya tekun melakukan penyician diri pada tiap-tiap hari dengan cara mandi dan sembahyang.

11. Dasa Dharma

Yang disebut Dasa Dharma menurut Wreti Sasana, yaitu Sauca artinya murni rohani dan jasmani; Indriyanigraha artinya mengekang indriya atau nafsu; Hrih artinya tahu dengan rasa malu; Widya artinya bersifat bijaksana; Satya artinya jujur dan setia terhadap kebenaran; Akrodha artinya sabar atau mengekang kemarahan; Drti artinya murni dalam bathin; Ksama artinya suka mengampuni; Dama artinya kuat mengendalikan pikiran; dan Asteya artinya tidak melakukan kecurangan.

12. Dasa Paramartha

Dasa Paramartha ialah sepuluh macam ajaran kerohanian yang dapat dipakai penuntun dalam tingkah laku yang baik serta untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi (Moksa). Dasa Paramartha ini terdiri dari: Tapa artinya pengendalian diri lahir dan bathin; Bratha artinya mengekang hawa nafsu; Samadhi artinya konsentrasi pikiran kepada Tuhan; Santa artinya selalu senang dan jujur; Sanmata artinya tetap bercita-cita dan bertujuan terhadap kebaikan; Karuna artinya kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup; Karuni artinya belas kasihan terhadap tumbuh-tumbuhan, barang dan sebagainya; Upeksa artinya dapat membedakan benar dan salah, baik dan buruk; Mudhita artinya selalu berusaha untuk dapat menyenangkan hati oranglain; dan Maitri artinya suka mencari persahabatan atas dasar saling hormat menghormati.

Açubhakarma (Perbuatan Tidak Baik)

Acubhakarma adlah segala tingkah laku yang tidak baik yang selalu menyimpang dengan Cubhakarma (perbuatan baik). Acubhakarma (perbuatan tidak baik) ini, merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu segala bentuk perbuatan yang selalu bertentangan dengan susila atau dharma dan selalu cenderung mengarah kepada kejahatan. Semua jenis perbuatan yang tergolong acubhakarma ini merupakan larangan-larangan yang harus dihindari di dalam hidup ini. Karena semua bentuk perbuatan acubhakarma ini menyebabkan manusia berdosa dan hidup menderita. menurut agama Hindu, bentuk-bentuk acubhakarma yang harus dihindari di dalam hidup ini adalah:

1. Tri Mala

Tri Mala adalah tiga bentuk prilaku manusia yang sangat kotor, yaitu Kasmala ialah perbuatan yang hina dan kotor, Mada yaitu perkataan, pembicaraan yang dusta dan kotor, dan Moha adalah pikiran, perasaan yang curang dan angkuh.

2. Catur Pataka

Catur Pataka adalah empat tingkatan dosa sesuai dengan jenis karma yang menjadi sumbernya yang dilakukan oleh manusia yaitu Pataka yang terdiri dari Brunaha (menggugurkan bayi dalam kandungan); Purusaghna (Menyakiti orang), Kaniya Cora (mencuri perempuan pingitan), Agrayajaka (bersuami isteri melewati kakak), dan Ajnatasamwatsarika (bercocok tanam tanpa masanya); Upa Pataka terdiri dariGowadha (membunuh sapi), Juwatiwadha (membunuh gadis), Balawadha (membunuh anak), Agaradaha (membakar rumah/merampok); Maha Pataka terdiri dari Brahmanawadha (membunuh orang suci/pendeta), Surapana (meminum alkohol/mabuk), Swarnastya (mencuri emas), Kanyawighna (memperkosa gadis), dan Guruwadha (membunuh guru); Ati Pataka terdiri dari Swaputribhajana (memperkosa saudara perempuan); Matrabhajana (memperkosa ibu), dan Lingagrahana (merusak tempat suci).

3. Panca Bahya Tusti

Adalah lima kemegahan (kepuasan) yang bersifat duniawi dan lahiriah semata-mata, yaitu Aryana artinya senang mengumpulkan harta kekayaan tanpa menghitung baik buruk dan dosa yang ditempuhnya; Raksasa artinya melindungi harta dengan jalan segala macam upaya; Ksaya artinya takut akan berkurangnya harta benda dan kesenangannya sehingga sifatnya seing menjadi kikir; Sangga artinya doyan mencari kekasih dan melakukan hubungan seksuil; dan Hingsa artinya doyan membunuh dan menyakiti hati makhluk lain.

4. Panca Wiparyaya

Adalah lima macam kesalahan yang sering dilakukan manusia tanpa disadari, sehingga akibatnya menimbulkan kesengsaraan, yaitu: Tamah artinya selalu mengharap-harapkan mendapatkan kenikmatan lahiriah; Moha artinya selalu mengharap-harapkan agar dapat kekuasaan dan kesaktian bathiniah; Maha Moha artinya selalu mengharap-harapkan agar dapat menguasai kenikmatan seperti yang tersebut dalam tamah dan moha; Tamisra artinya selelu berharap ingin mendapatkan kesenangan akhirat; dan Anda Tamisra artinya sangat berduka dengan sesuatu yang telah hilang.

5. Sad Ripu

Sad Ripu adalah enam jenis musuh yang timbul dari sifat-sifat manusia itu sendiri, yaitu Kama artinya sifat penuh nafsu indriya; Lobha artinya sifat loba dan serakah; Krodha artinya sifat kejam dan pemarah; Mada adalah sifat mabuk dan kegila-gilaan; Moha adalah sifat bingung dan angkuh; dan Matsarya adalah sifat dengki dan irihati.

6. Sad Atatayi

Adalah enam macam pembunuhan kejam, yaitu Agnida artinya membakar milik orang lain; Wisada artinya meracun orang lain; Atharwa artinya melakukan ilmu hitam; Sastraghna artinya mengamuk (merampok); Dratikrama artinya memperkosa kehormatan orang lain; Rajapisuna adalah suka memfitnah.

7. Sapta Timira

Sapta Timira adalah tujuh macam kegelapan pikiran yaitu: Surupa artinya gelap atau mabuk karena ketampanan; Dhana artinya gelap atau mabuk karena kekayaan; Guna artinya gelap atau mabuk karena kepandaian; Kulina artinya gelap atau mabuk karena keturunan; Yowana artinya gelap atau mabuk karena keremajaan; Kasuran artinya gelap atau mabuk karena kemenangan; dan Sura artinya mabuk karena minuman keras.

8. Dasa Mala

Artinya adalah sepuluh macam sifat yang kotor. Sifat-sifat ini terdiri dari Tandri adalah orang sakit-sakitan; Kleda adalah orang yang berputus asa; Leja adalah orang yang tamak dan lekat cinta; Kuhaka adalah orang yang pemarah, congkak dan sombong; Metraya adalah orang yang pandai berolok-olok supaya dapat mempengaruhi teman (seseorang); Megata adalah orang yang bersifat lain di mulut dan lain di hati; Ragastri adalah orang yang bermata keranjang; Kutila adalah orang penipu dan plintat-plintut; Bhaksa Bhuwana adalah orang yang suka menyiksa dan menyakiti sesama makhluk; dan Kimburu adalah orang pendengki dan iri hati.

http://www.narayanasmrti.org/forum/viewtopic.php?t=52

Doa adalah salah satu cara yang paling mudah, tepat dan alamiah dalam menghubungkan diri dengan Tuhan. Doa adalah cetusan hati yang lugu dari kerendahan hati seseorang.

Dalam agama Hindu “Gayatri Mantram” adalah doa yang paling mendalam dan mantap, karena itu dianjurkan untuk diucapkan setiap melakukan Tri Sandhya yaitu sembahyang tiga waktu yaitu pagi, siang dan sore. Doa yang umum dan bersifat spiritual tidak mengandung permohonan-permohon an yang bersifat pemuasan kebutuhan indrawi maupun duniawi.

Di dalam Mantram Gayatri itu terkandung tiga unsur pokok yaitu:

Pertama: “pengakuan akan kelemahan diri dan ketidak mampuan dalam menghadapi sesuatu hal yang memuncak dengan penyerahan diri”.

Kedua yaitu mengandung unsur “pengharapan dan permohonan”

Ketiga adalah mengandung unsur “puji dan syukur”.

Mengapa manusia harus mengakui kelemahanya ? bagaimanapun pandainya para dokter, selalu saja timbul penyakit yang belum bisa disembuhkan. Betapapun banyaknya penemuan-penemuan baru namun masih terlalu banyak rahasia alam yang belum diungkapkan. Apa yang disebut ciptaan manusia tidak lebih hanyalah suatu kepandaian ataupun keterampilan untuk mengubah dari bentuk lama ke bentuk yang baru dengan kata lain dari unsur benda yang sudah ada. Manusia tidak bisa mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Segala bencana baik itu angin ribut, gempa bumi, sunami dan sebagainya yang membuat manusia menjadi tidak berdaya dan akhirnya menyerah dan mengakui bahwa ada supernatural power yang jauh lebih hebat dari dirinya. Tuhan menghendaki agar kita berevolusi dan maju, rahasia demi rahasia, beliau buka satu persatu namun pada saat tertentu beliau tunjukkan kemujizatan dan kehebatan yang diluar kemampuan pikiran manusia, dengan tujuan agar manusia jangan sombong dan takabur.

Bencana dan penderitaan adalah pelajaran yang diberikan oleh Tuhan agar manusia mengurangi egonya. Dan akhirnya mengakui bahwa ada kekuatan yang lebih hebat dari apa yang mereka miliki. Doa yang mengandung unsur pengakuan dan penyerahan diri adalah alat yang paling ampuh untuk meredakan kobaran kesombongan. Tuhan sengaja menurunkan bencana dan penderitaan yang sulit diatasi untuk melumpuhkan keangkuhan manusia. Apabila mereka sudah tidak berdaya maka mulailah mereka ingat kepada Tuhan dan berdoa sebagai pengemis yang kelaparan. Mereka yang taat beragama, doa itu tidak saja diucapkan pada waktu mereka mendapatkan bencana atau penderitaan, tetapi ia mengucapkan doa setiap hari bahkan setiap saat kapan pun dan dimanapun.

Bagi mereka yang sadar akan hakekat hidup, malahan menganggap penderitaan hidup itu sebagai tantangan yang menguntungkan. Seperti dalam cerita Mahabaratha, Dewi Kunti senantiasa berdoa kepada Tuhan agar ia selalu diberikan penderitaan, karena dengan penderitaan yang ia alami maka ia akan selalu teringat kepada Tuhan. Doa menjadikan orang rendah hati, kita tidak boleh menjadi mangsa keangkuhan dan keserakahan. Dihadapan Tuhan kita harus merasakan diri seperti debu yang tidak ada artinya. Kebanyakan orang baru ingat kepada Tuhan setelah mereka mendapat bencana atau penderitaan, tetapi disaat menghadapi makanan yang lesat dan hiburan yang nikmat, Tuhan selalu dilupakan. Unsur pengakuan dan penyerahan diri dalam doa ini sangat penting, untuk berjalannya kuasa Tuhan. Karena orang yang egonya tinggi adalah seperti besi yang kaku, sangat sulit untuk diatur dan dibengkokkan. Dengan penyerahan diri maka jiwa pun menjadi lembut, lemas, mudah untuk diarahkan kejalan yang benar.

Unsur yang kedua dalam doa adalah berwujud permohonan. Ada permohonan yang bersifat indrawi dan duniawi yang disebut permohonan pada tingkat yang rrendah, sedangkan permohonan yang bersifat lebih dewasa yaitu memohon bimbingan, kebijaksanaan, penerangan, ketenangan dan sebagainya, permohonan ini adalah permohonan yang baik. Apakah dengan berdoa seseorang akan terbebas dari penderitaan dan bisa memperoleh segala yang diinginkannya tanpa berusaha ? apakah semua doa dikabulkan ?

Tuhan maha kasih dan maha pemberi. Beliau tau apa, bagaimana dan kapan patut diberikan. Meskipun seseorang berdoa mohon kaya belum tentu kekayaan yang Beliau berikan. Beliau bukan sinterklas yang membagikan hadiah-hadiah pada anak-anak. Orang tidak bisa tidur-tiduran agar makanan datang sendiri hanya dengan berdoa. Semua permohonan hendaknya diikuti dengan usaha yang sungguh-sungguh, seperti pengembala dengan kambing-kambingnya. Kambing yang tunduk dan patuh, selalu setia mengikuti kemanapun diarahkan oleh pengembalanya, akan mudah dituntun ke padang rumput yang luas dan air berlimpah. Setelah sampai disana silahkanlah kambing-kambing itu dengan tekun memakan rumput-rumput itu, karena rumput tidak akan masuk ke mulut kambing jika kambing tidur-tiduran. Bagi kambing yang nakal mau lepas dari jalan yang diarahkan oleh pengembala maka kambing tersebut akan dikejar dan dipukuli untuk menggiringnya kembali kejalan yang benar. Pukulan cemeti itu bukan berarti suatu siksaan, melainkan sebagai pelajaran dan peringatan untuk kembali.

Kasih Tuhan tidak selalu nampak manis, jika seorang anak yang sedang sakit minta gula-gula pada ibunya, maka si-ibu akan memberikannya tablet yang rasanya pahit. Seorang ibu tahu apa yang patut diberikan walaupun bertentangan dengan permintaan si anak. Karena dalam hal ini si anak hanya memikirkan kesenangan, sementara si ibu memikirkan keselamatan anaknya kedepan. Gunung meletus, banjir yang mengamuk adalah kemauan Tuhan, yang lahir dari kasih sayang dan tanggung jawab. Bagi orang yang beriman semua bencana ini adalah pelajaran agar kita bisa mawas diri. Perwujudan kasih sayang Tuhan sangat sulit dimengerti. Jika tidak ada banjir mungkin kita akan merasa enggan untuk memelihara lingkungan dan melindungi hutan dari penebangan liar. Tuhan melihat segalanya secara makro, sementara kita melihat secara mikro, hal inilah yang melahirkan tanggapan bahwa Tuhan sebagai penghukum yang perlu ditakuti. Tuhan telah menurunkan kitab suci yang berisi tuntunan ajaran bahkan ancaman neraka kepada umat manusia, tetapi masih saja orang tidak menghiraukannya. Karenanya Tuhan memberikan pelajaran dengan bencana ataupun yang lainnya.

Unsur ketiga dari doa adalah puji dan syukur. Pujian ini bukanlah Tuhan suka dipuji, apalah artinya pujian dari segelintir orang bagi penguasa dan pencipta alam semesta. Hakekat pujian ini bukanlah untuk Tuhan, melainkan untuk yang memuji sendiri. Dengan pujian ini maka Aku dan Ego akan terkikis sedikit demi sedikit, sehingga kita bisa menjadi rendah hati, pikiran menjadi lebih lembut dan penurut.demikian pula rasa syukur, bukan hanya perlu diucapkan, tetapi yang paling penting adalah harus dihayati dan disadari. Doa tidak dapat menghapuskan dosa, doa hanya dapat meringankan dosa itu sehingga menjadi kurang terasa. Kelirulah jika orang beranggapan bahwa sesudah berdoa maka dosanya diampuni dan dihapus, lalu besoknya dia bisa berbuat dosa kembali. Tuhan mendengarkan doa orang yang bersungguh-sungguh, Beliau datang dan memberikan kepercayaan kepadanya. Kepercayaan adalah faktor mutlak untuk membangkitkan keberanian, dan dengan keberanian orang tidak akan merasa ragu untuk berbuat. Dengan memiliki kepercayaan berarti setengah dari pekerjaan sudah dirampungkan.

Doa tidak dapat mengubah arus pengampunan, ia tetap seperti apa adanya. Tetapi doa dapat menjadikan kita sealiran dengan arus Beliau. Dengan berdoa orang maju mendekati Tuhan. Jika seorang umat maju selangkah maka Tuhan akan mendekati sepuluh langkah. Dengan doa orang akan mendapatkan rasa aman dan tabah, tenang dan terlindung dari bahaya dan penderitaan. Itulah karunia Tuhan yang menjadi dasar dari segala keberhasilan, karenanya patutlah kita bersyukur. Orang yang bisa bersyukur adalah orang yang sudah dapat menundukkan egonya, orang yang rendah hati dan penuh iman. Berdoalah sedemikian rupa sehingga hati rasa terharu setiap rambut menjadi merinding, air mata tidak tertahan, rasa rindu dan haru yang menggejolak di dalam doa. Saat itulah kita merasakan kerendahan hati yang sebenarnya.* *

Oleh. I Made Murdiasa, S.Ag

http://www.pontiana kpost.com/ berita/index. asp?Berita= Hindu&id=119024

Ada dua alasan untuk kembali mengedepankan masalah Tri Sandya. Pertama, masih banyak umat Hindu yang belum memahami arti dan manfaat ber-Tri Sandya. Kedua, ketetapan Maha Sabha VI tahun 1991 menugaskan kepada pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat untuk menyebarluaskan teks Tri Sandya yang telah disempurnakan itu. Tri Sandya berasal dari kata Tri dan Sandya, Tri berarti tiga. Sandya berasal dari urat kata sam dan dhi. Sam berarti berkumpul, baik, sempurna, dan dhi berarti pikiran. Jadi Sandya berarti memusatkan pikiran kepada Tuhan. Sandya dapat pula diartikan berkonsentrasi secara sungguh­-sungguh dan sempurna kepada Tuhan.

Untuk memusatkan pikiran kepada Tuhan tugas kita adalah mengendalikan kewajiban. Dan, agar proses pengendalian ini berhasil, kita harus mengatasi hambatan yang ditimbulkan oleh Tri Guna (sattwa, rajas, tamas). Kita harus sekuat mungkin bertahan dari tarikan dan desakan alami Tri Guna dengan jalan berserah kepada-Nya. Inilah kewajiban kita yang pertama dalam perjuangan mendekatkan diri dengan Tuhan.

Harus diyakini bahwa Tuhan adalah Mahasempuma. Maka unntuk mencapaiNya kita harus mendasari diri dengan kepercayaan yang sempurna pula. Bila tidak, maka kekuatan yang mengikat kita dengan Tuhan tidak dapat berkembang. Kita harus memiliki bhakti (cinta kasih) kepada Tuhan secara sungguh-sungguh agar kita dianugrahi asih-Nya. Keragu-raguan, hanyalah akan merusak azas hubungan asih dan bhakti serta menjauhkan kita dari Tuhan.

Mendekat atau duduk dekat dengan Tuhan disebut upasana atau upasthana. Tetapi jangan keliru, sebab duduk dekat atau berdekatan saja tidak cukup. Katak duduk dekat dengan bunga teratai tetapi tak bisa menikmati manisnya madu bunga teratai. Hanya merasa dekat saja tak ada gunanya, apabila tidak ada bhakti menyertainya. Sama halnya saat bersembahyang, boleh saja kita duduk dekat sekali dengan Padmasana. Akan tetapi apabila tak ada rasa bhakti yang mendalam, kedekatan phisik itu tidak berarti apa­-apa bagi kemajuan hidup rohani kita. Jadi bersamaan dengan dekatnya phisik harus disertai dengan dekatnya bathin kita kepada Tuhan,

Untuk lebih mengerti makna dekat dan bhakti pada Tuhan menarik untuk disimak contoh pembanding dalam kehidupan sehari-hari berikut.

Kalau kita bergerak ke arah matahari, maka bayangan akan berada di belakang dan mengikuti kita. Tetapi kalau kita bergerak sebaliknya maka bayangan akan jatuh di depan kita. Begitulah halnya apabila kita menghadap Tuhan, segala kegelapan alam akan ada di belakang mengikuti kita. Tetapi kalau kita membelakangi Tuhan maka kegelapan, kebodohan, yang menuntun jalan hidup kita.

Hal penting yang dapat kita simpulkan dari dari contoh-contoh di atas adalah bahwa dalam setiap keadaan suatu sifat bisa bergeser dan digantikan oleh sifat yang lain. Begitulah kalau kita dekat dan bhakti kepada Tuhan, sifat buruk yang ada pada diri kita akan hapus dan berganti dengan sifat-sifat ketuhanan.

Dalam Bhagavadgita (BG), II.45 Krishna mengajarkan kepada Arjuna agar membebaskan diri dari Tri Guna, juga dari dualisme dengan memusatkan pikiran kepada kesucian dan melepaskan diri dari ikatan duniawi sehingga bisa bersatu dengan Atman.

Disitu dengan tegas tersirat bahwa kita harus membebaskan diri dari pengarnh sattwa, rajas, tamas dan pengaruh sifat ganda yaitu susah dan senang, puji dan maki dengan cara memusatkan pikiran kepada kesucian (Tuhan).

Saat-saat Untuk Mendekat dan Berbhakti

Sudah merupakan hukum alam bahwa, pagi hari adalah periode sifat sattwik, tengah hari adalah sifat rajasik, dan sore hari atau senja merupakan periode tamasik.

Waktu fajar menyingsing (abang wetan) pikiran dibangunkan dari kegelapan tidur, pikiran dibebaskan dari keresahan dan kemurungan sehingga pikiran menjadi tenang dan jernih. ltulah sebabnya kita diperintahkan agar melakukan Pratah Sandya atau doa Sandya yang dilakukan pada dini hari. Sementara hari bertambah siang kita dirasuki oleh raja guna yakni sifat aktif, ambisi, lincah penuh usaha, dan kita memasuki lapangan kegiatan atau kerja keras. Sebelum makan siang kita diberi petunjuk agar bersembahyang lagi kepada Tuhan dan mempersembahkan pekerjaan beserta hasilnya yang kita peroleh dari pekerjaan itu. Setelah itu baru boleh makan dengan bersyukur atas karunia-Nya. Inilah yang dimaksudkan dengan madhyannikam atau pemujaan pada tengah hari. Dengan melakukan madyannikam ini raja guna dapat dikendalikan.

Sifat ketiga yang menguasai manusia adalah tamas. Ketika matahari terbenam kita bergegas pulang makan, kemudian mengantuk dan tidur. Makan dan tidur adalah kebiasaan para pemalas dan penganggur. Ketika tamas yaitu, sifat terburuk di antara ketiga sifat itu hendak menguasai kita, maka cara terbaik untuk menghindari lilitannya adalah dengan cara bersembahyang, berkumpul dengan sesama bhakta dengan mengagungkan Tuhan, dan membaca buku yang mengagungkan kebesaran-Nya. Ini merupakan sembahyang pada petang hari yang disebut Sandya Vandanam yang juga sudah ditentukan.

Karena itu pikiran dan perasaan yang bangkit dari kekosongan pada waktu tidur harus dilatih dan dibina dengan semestinya. Kita harus berusaha belajar merasakan bahwa kebahagiaan setelah bersembahyang dan rasa suka cita yang diperoleh ketika kita mengalahkan pandangan dan pikiran dari dunia luar. Hal ini jauh lebih agung dan lebih lestari jika dibandingkan dengan kenikmatan yang diperoleh dengan jalan tidur seperti yang biasa dilakukan.

Para Rsi mengatakan bahwa orang yang sepanjang hidupnya menjalankan Sandya tiga kali sehari dengan tekun ia akan menjadi manusia utama. la selalu berjaya. Ia akan mencapai kebebasan semasih hidup. Ia akan mencapai Jivan Mukti.

“Dia yang mengabdi kepada-Ku sujud dengan kebaktian yoga, ia naik ke atas melampaui guna, ia wajar bersatu dengan Brah·man”. Begitu sabda Krishna kepada Arjuna dalam BG. XlV. 26.

Pengaruh Tri Guna Terhadap Jiwa

Tri Guna yang lahir dari prakerti selalu membelenggu atma.

Sifat sattwa yang mulia memberikan cahaya, serta kesehatan membelenggu atma dengan ikatan kebahagiaan dan ilmu pengetahuan (BG. XIV 6).

Sifat rajas yang bernafsu, menjadi sumber kehausan dan keinginan akan hidup membelenggu atma dengan ikatan kerja (BG.XIV 7).

Sifat tamas yang terlahir dari ketidaktahuan membelenggu penghuni badan (atma) dengan ketololan, kemalasan dan kepalsuan (BG. XIV 8).

Sifat sattwa mengikat seseorang dengan kebahagiaan, rajas dengan kegiatan (kerja bernafsu) dan tamas mengikuti budi pekerti yang mengikatnya dengan kebingungan (BG. XIV 9).

Ketiga sifat ini ada pada tiap manusia hanya saja tingkatannya berbeda satu dengan yang lain. Setiap orang tidak dapat melepas­kan diri dari Tri Guna tersebut, biasanya salah satu dari sifat itu menonjol melebihi yang lain. Bagaimana kalau sattwa berkuasa? Bagaimana kalau manusia dikuasai oleh rajas? Dan bagaimana pula kalau sifat tamas menguasai manusia?

Jawabannya, apabila sattwa berkuasa cahaya ilmu pengetahuan menembusi semua pintu gerbang badan (BG. XlV. 11).

Apabila rajas berkuasa maka orang menjadi serakah, giat dalam usaha, gelisah, hawa nafsu merajalela (BG.XIV. 12).

Apabila tamas menguasai manusia maka kegelapan, kelesuan, ketololan, dan kekacauan pikiran timbul (BG. XIV 13).

Dari ketiganya, sifat sattwa-lah yang terbaik. Tetapi lebih tinggi dari sifat baik itu adalah jika kita dapat melampaui Tri Guna menjadi Guna Tita (orang sadhu).

Nah, melakukan Tri Sandya tidak lain maksudnya adalah untuk memperkecil pengaruh Tri Guna itu kepada jiwa kita. Yang perlu diperhatikan adalah agar Sandya itu jangan dianggap sebagai upacara rutin.

Sandya harus dilakukan dengan memahami artinya dan memusatkan pikiran pada maknanya yang terpendam. Apalagi dalam mantram Tri Sandya itu terkandung ibu dari segala mantra, yaitu Gayatri.

Menurut Abinach Chandra Bose dalam bukunya Panggilan Weda, “Suatu sebab mengapa Gayatri dipandang doa yang mewakili semuanya di dalam Weda ialah karena Gayatri adalah doa untuk daya kekuatan yang dapat dimiliki orang ialah “dhi” yaitu kecerdasan yang tinggi yang memberikan padanya pengetahuan, materi dan kemampuan mengatasi hal-hal keduniawian. Sebagai halnya mata bagi badan, demikian “dhi” atau kecerdasan untuk pikiran”.

Manu menekankan hal ini secara khusus. la mengata-kan Gayatri merupakan nafas kehidupan para Brahmin. Ini adalah kebenaran.

Apakah yang lebih berguna untuk kemajuan spiritual kita selain bersembahyang atau bermeditasi kepada Tuhan yang menerangi dan memelihara akal budi manusia? Adalah yang lebih bermanfaat dari doa yang memohon agar pikiran kita diselamatkan dari kecendrungan dosa?

Bagi manusia tidak ada perisai yang lebih ampuh daripada mengembangkan sifat-sifat yang baik. Gayatri menganugrahkan kekuatan batin untuk membantu mengembangkan tenaga tersebut, maka doa ini harus dilakukan dengan cermat pada saat yang tepat. Untuk pertumbuhan tubuh, makanan yang murni dan sattwik sangat diperlukan. Demikian pula kecemerlangan matahari harus didapatkan dan diserap untuk memperkuat cahaya batin manusia dalam bentuk imajinasi yang kreatif. Bila kekuatanj jiwa bertambah. daya pengertian dan pertimbanganpun menjadi lebih aktif terarah pada jalur-jalur yang bermanfaat. Bila kekuatan berkurang maka daya pengertian dan pertimbangan melemah dan membuat kita kecewa. Jadi apabila tenaga matahari diserap pada waktu yang tepat, ia akan seperti benih yang ditanam pada musim yang tepat dan hasil panennya pun terjamin. Teknik proses ini telah ditetapkan oleh para Rsi zaman dahulu demi kebaikan semua peminat spiritual. Kalau kita mau mempelajari dan mempraktekkan pesan para Rsi tentu kita akzr kebenaran jalan yang ditempuh para Rsi melalui pengalaman kita sendiri. Karena itu marilah kita mengaktifkan untuk ber-Tri Sandya agar kita dapat menyeberangi kehidupan dengan selamat.***

Oleh : Ida Bagus Pudja
ADITYA Nomor 9, November - Desember 1994.

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=376&Itemid=79

Puja Trisandya Terjemahannya
OM, OM
OM BHUR BHUWAH SWAH,
TAT SAWITUR WARENYAM,
BHARGO DEWASYA DHIMAHI,
DHIYO YO NAH PRACHODAYAT,
Ya Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini,
Yang maha suci dan sumber segala kehidupan,
sumber segala cahaya,
semoga limpahkan pada budi nurani kami penerangan sinar cahayaMu yang maha suci.
OM NARAYANAD EWEDAM SARWAM,
YAD BHUTAM YASCA BHAWYAM,
NISKALO NIRlANO NIRWIKALPO,
NlRAKSATAH SUDDHO DEWO EKO,
NARAYANA NADWITYO ASTI KASCIT.
Ya Hyang Widhi, darimulah segala yang sudah ada dan yang akan ada di alam ini berasal dan kembali nantinya.
Engkau adaIah gaib, tiada berwujud, di atas segala kebingungan, tak termusnahkan.
Engkau adalah maha cemerlang, maha suci, maha esa dan tiada duanya.
OM TWAM SIWAH TWAM MAHADEWAH,
ISWARAH PARAMESWARA,
BRAHMA WISNUSCA RUDRASCA,
PURUSAH PARIKIRTITAH,
Engkau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma dan Wisnu dan juga Rudra.
Engkau adalah asal mula dari segala yang ada.
OM PAPO’HAM PAPAKARMAHAM ,
PAPATMA PAPASAMBHAWAH,
TRAHI MAM PUNDARIKAKSAH,
SABAHYABHYANTARA SUCIH.
Oh Hyang Widhi Wasa, hamba ini papa,
jiwa hamba papa dan kelahiran hambapun papa,
perbuatan hamba papa,
Ya Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari segala kenistaan ini, dapatlah disucikan lahir dan batin hamba.
OM KSAMA SWAMAM MAHADEWA,
SARWAPRANI HITANGKARAH,
MAM MOCCA SARWAPAPEBHYAH,
PALAYASWA SADASIWA.
Ampunilah hamba. oh Hyang Widhi, penyelamat segala makhluk.
Lepaskanlah , kiranya hamba dari segala kepapaan ini dan tuntunlah hamba, selamatkan dan lindungilah hamba oh Hyang Widhi Wasa.
OM KSANTAWYA KAYIKA DOSAH.
KSANTAWYO WACIKA MAMA,
KSANTAWYA MANASA DOSAH,
TAT PRAMADAT KSAMASWA MAM.
Oh Hyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa hamba, ampunilah dosa dari ucapan hamba dan
ampunilah pula dosa dari pikiran hamba.
Ampunilah hamba atas segaIa kelalaian hamba itu.
OM SANTI, SANTI, SANTI OM Semoga damai dihati, damai didunia, damai selalu.

http://www.babadbali.com/canangsari/aneka_mantra.htm

Dana Punia

Posted by Adnyana under Tatwa Hindu

DALAM kitab suci Slokantara dinyatakan bahwa diwaktu bulan Purnama dan bulan Mati para dermawan memberi sedekah balasanya akan diterima satu lawan sepuluh. Jika diwaktu gerhana bulan dan gerhana matahari para dermawan memberi dana maka akan dibalas seratus kali oleh Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Kuasa. Meskipun pemberian tersebut sedikit asalkan dapat mengurangi kehausan akan barang tersebut, besar faedahnya. Meskipun banyak dan dapat menghilangkan kehausan akan barang tersebut, akan tetapi jika diperoleh dengan jalan yang tidak benar, maka tidak ada gunanya pemberian itu. Jadi bukanlah jumlah yang banyak / sedikit pemberian itu yang menghasilkan banyak sedikitnya pahala, tetapi tujuan utama pemberian ituyang penting serta diperoleh atas dasar dharma.

Murah hati, suka menolong, dermawan, disabdakan oleh Hyang Widhi untuk dijadikan pedoman / panutan oleh umat manusia. Orang yang dermawan memperoleh kemuliaan. Bermacam-macam benda atau pengetahuan dapat didermakan, mulai dari yang paling murah misalnya memberikan minum air putih bagi yang kehausan, memberikan makanan kepada yang kelaparan, memberikan pendidikan kepada mereka yang memerlukan pengetahuan, adalah langka-langkah nyata untuk melatih diri mempratekan kedermawanan. Kemurahan hati adalah wujud dari dharma, yakni berupa pemberian / dana.

Svami Vivekananda menyatakan ada tiga (3) hal yang patut didermakan yaitu:

1). Dharmadana ( memberikan budi pekerti yang luhur untuk merealisasikan ajaran agama ).

2). Vidyadana ( memberikan pengetahuan )

3). Arthadana ( memberikan materi yang dibutuhkan walaupu sedikit asalkan didasari hati yang tulus iklas dan diperoleh atas dasar dharma ).

Dari ketiga macam dana punya yang menduduki kedudukan paling penting / paling tinggi adalah Dharmadana yang menengah Vidyadana terakhir Arthadana.

Dalam kitab suci Atarwaweda II. 24.5. dinyatakan sebagai berikut :

sata hasta sama hara, saha srahasta sam kira,

artinya ;wahai umat manusia , peroleh kekayaan dengan seratus tangan dan didermakanlah itu dalam kemurahan hati dengan seribu tanganmu .

Adapun yang harus diberi dana punya ialah orang yang berkelakuan baik, orang miskin, para lanjut usia yang sudah tidak mampu lagi mencari makan, orang yang betul-betul memerlukan bantuan. Pemberian dana punya jangan karena terpaksa , apalagi diikuti dengan rasa marah dengan mengucapkan kata-kata kasar , ibarat setumpuk ilalang kering yang menggunung, dijatuhi api sebesar kunang-kunang, api tersebut akan membakar angus tumpukan ilalang yang menggunung itu kemudian menjadi abu. Maka pemberian tersebut merupakan sedekah yang hina dan amat rendah pulalah pahalanya. Juga pemberian dana punya kepada orang kaya maka akan sia-sia ibarat menabur garam ke tengah samudra.

Adanya dana punya disini didasari oleh kemurahan hati, rasa sosial yang tinggi dalam ajaran agama Hindu disebut dengan” TAT TWAM ASI” yang artinya aku adalah kamu, kamu adalah aku, kita semua adalah sama. Janganlah fanatik terhadap orang lain, dunia ini bukan untuk kita sendiri.

Orang cepat marah kalau keinginannya tidak dituruti. Orang mudah iri kalau orang lain ada yang melebihi dirinya. Kalau kita cermati, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi irihati terhadap orang lain yang memiliki kelebihan dari diri kita, seperti kelebihan karena kekayaannya, ketampanan/kecantik annya, kebangsawanannya, keberuntungannya, kebahagiaannya dan kemasyuran namanya, karena kita sudah ditakdirkan dengan jatah kita masing-masing, karena itu janganlah mencoba untuk mengambil jatah orang lain lagi. Dan lebih berbahaya lagi apabila sifat-sifat irihati berkembang dalam jiwa seseorang pemimpin atau negarawan. Niscaya kebijaksanaan yang diputuskan akan ternoda oleh ketidak adilan yang berujung pada tindak kekerasan, kekejaman, penistaan dan akhirnya pembunuhan. Seperti itu pula apabila kaum agamawan dilekati hatinya oleh penyakit irihati, niscaya ajaran-ajaran agama yang suci akan ternoda karena “dibelokkan” oleh keinginan yang dipengaruhi hantu irihati. Tat Twam Asi disini adalah kesosialan yang tanpa batas. Disamping itu juga merupakan jiwa kesosialan Filsafat Hidup, dasar pedoman dari ajaran Tata Susila Hindu.

Oleh : I Made Murdiasa, S.Ag

http://www.pontiana kpost.com/ berita/index. asp?Berita= Hindu&id=120966

Pendahuluan.

Ajaran dana punia dijumpai dalam berbagai pustaka suci terutama bagian Smertinya, bahkan dalam Upanishad (Chandogya Upanishad) telah tercantum, pengamalan ajaran tersebut, secara traditional telah dilaksanakan oleh umatnya melalui kegiatan ritual keagamaan, praktek, dana punia selalu dikaitkan

Tujuan Pembangunan Nasional Indonesia adalah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur, yang sejahtera lahir batin, yang searah dengan: tujuan agama Hindu yaitu Jagathita dan moksa. Bahwa sebagai akibat dari derasnya pembangunan nasional didasarkan tumbuhnya kemampuan umat yang lebih tinggi dan di lain pihak timbullah berbagai masalah yang perlu mendapat perhatian kita melalui dana punia itu.

Memotivasi umat Hindu untuk berdana punia terutama bagi yang mampu, kemudian secara berkoordinasi diarahkan untuk membantu mereka yang tidak mampu, adalah suatu hal yang sangat mulia untuk mewujudkan kesejahteraan sosial itu. Pengamalan ajaran dana punia yang secara tradisional dilaksanakan lewat ritual keagamaan dari kelembagaan adat, perlu diangkat ke permukaan, kemudian diarahkan kepada sasaran yang lebih luas.

Pokok Permasalahan.

  1. Bahwa sesungguhnya umat telah melaksanakan kegiatan dana punia akan tetapi masih bersifat tradisional dan lokal, seperti upacara mepedanan, sarin canang, sarin tahun dan lain- lainnya.
  2. Pengertian umat masih terbatas kepada hal- hal yang ada kaitannya dengan kegiatan keagamaan saja, pada hal masalah- masalah kemanusiaan juga merupakan tanggung jawab umat beragama.
  3. Dengan adanya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, sehingga terjadi pergaulan dan bermacam- macam umat maka terjadilah pergeseran nilai sosial sehingga perlu adanya metode yang canggih dalam menghadapi situasi perkembangan sosial.
  4. Sampai saat ini umat Hindu belum memiliki satu sistem/ badan yang bersifat nasional dalam penggalian dan pengelolaan dana sesuai dengan kebutuhan pembinaan umat.

Hasil- Hasil Pembahasan.

  1. Pengertian dana punia.
    Dana punia terdiri dan dua kata, yaitu dana yang artinya pemberian, punia, berarti selamat, baik, bahagia, indah dan suci. Jadi dana punia adalah pemberian yang baik dan suci.
    1. Landasan Filosofis : Tat Twam Asi.
    2. Landasan sastra:
      1. Weda Smrti (lontar).
      2. Manawa dharma sastra Bab IV, sloka 33, 226.
      3. Sarasamuçcaya sloka Nomor 175, 176, 192, 198, 217,
        178, 207, 210, 211, 182, 183, 184, 222, 181, 202,
        205, 206, 216, 187, 188, 191, 193,194, 212, 213,
        223,261,262,263.
      4. Sanghyang Kamahayanika, sloka 56, 57, 58.
      5. Slokantara, sloka nomor 2, 4, 5.
      6. Ramayana, sargah l, bait 5, sargah II bait 53, 54.
      7. Niti sastra, sargah III bait 8, sargah XIII bait II.
      8. Lontar Yadnya Prakerti.
    3. Jenis Dana Punia.
      Perincian dana punia yang dapat mendatangkan phala yang besar adalah:

      1. Desa; yaitu tanah.
      2. Agama; yaitu ajaran sastra, agama, dan ilmu pengetahuan.
      3. Drewya : benda- benda duniawi/material.

      Dalam Sanghyang Kamahayanika dijelaskan bentuk dana
      punia yaitu:
      a. Dana : harta benda.
      b. Atidana: Pemikiran/Ide yang baik & luhur.
      c. Mahatidana : jiwa raga.

    4. Siapa saja berkewajiban melaksanakan dana punia
      Sesuai dengan sastra agama yang berkewajiban melaksanakan dana punia adalah:

      1. Para penguasa negara/pemerintah.
      2. Para pemuka agama, pemuka- masyarakat.
      3. Penyelenggaraan yadnya (sang yajamana).
      4. Saudagar, banija, usahawan.
      5. Orang-orang yang mampu (ekomoni).
      6. Orang-orang cerdas dan cendikiawan
      7. Sewaktu- waktu diwajibkan bagi setiap umat
      8. Pegawai/Pekerja yang berpenghasilan tetap.
      9. Pegawai/Pekerja yang berpenghasilan tinggi.
    5. Yang berhak menerima dana punia:
      1. Para guru rohani/nabe.
      2. Dangacarya (sulinggih/pemangku).
      3. Orang-orang miskin yang terlantar.
      4. Orang-orang cacat.
      5. Orang-orang yang terkena musibah.
      6. Tempat suci/parahyangan.
      7. Lembaga- lembaga sosial.
      8. Rumah sakit.
      9. Pasraman/pendidikan Agama.
    6. Pelaksanaan dana punia:
      Saat yang baik melaksanakan dana punia adalah

      1. Uttarayana (Purnama Kadasa) Umat Hindu (diwajibkan melaksanakan dana punia secara serentak.
      2. Sewaktu- waktu tepatnya pada waktu Purnama dan Tilem baik Uttarayana, swakala, daksinayana (matahari menuju utara, di katulistiwa, dan menuju selatan).
      3. Saat gerhana matahari dan gerhana bulan.
      4. Dalam keadaan pancabaya.
    7. Dasarnya dana punia.
      Dalam Sarasamuçcaya sloka- ,261, 262, 263, demikian pula dalam Ramayana sargah II bait 53, 34 disebutkan bahwa harta yang didapat (hasil guna kaya) hendaknya dibagi tiga yaitu untuk kepentingan:

      1. Dharma 30%
      2. Kama 30 %
      3. Dana harta (modal usaha) 40%.

      Dalam kegiatan dana punia kepada setiap umat agar menyisihkan hartanya setengah kilogram beras yang merupakan bagian dari kegiatan dharma.

    8. Lamanya pelaksanaan dana punia:
      1. Selama dalam status grehasta untuk setiap umat wajib melakukan dana punia.
      2. Dalam rangka pembinaan untuk menumbuhkan kesadaran berdana punia di kalangan anak- anak maka perlu kegiatan dana punia dilakukan sedini mungkin.
    9. Pengelolaan dana punia.
      Untuk mencapai hasil guna yang sebesar- besarnya dipandang perlu untuk membentuk suatu badan khusus yang merencanakan dan mengelola kegiatan dana punia.

Kesimpulan.

Dari pokok hasil bahasan di atas dapat disimpulkan hal- hal sebagai berikut.

  1. Dana punia merupakan kewajiban bagi umat Hindu yang harus dilaksanakan.
  2. Bahwa ajaran dana punia mempunyai landasan Filosofis dan landasan sastra agama.
  3. Jenis dana punia dapat berwujud, ilmu agama, ilmu pengetahuan, jiwa raga, maupun harta benda.
  4. Pelaksanaan dana punia hendaknya dilakukan sedini mungkin.

http://yayasandharmasastra.wordpress.com/2008/02/01/sekilas-tentang-pengertian-dana-punia/

Tiga Kerangka Agama Hindu

Posted by Adnyana under Tatwa Hindu

 

Mengutip artikel berikut, Agama Hindu memiliki tri kerangka yaitu:

1. Tatwa

2. Susila 

3. Upacara.

Ketiga kerangka Agama Hindu diatas harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari oleh umat Hindu, karena menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Jika dalam kehidupan sehari-hari hanya menonjolkan hanya salah satu diantara ketiga diatas akan dapat memunculkan sifat-sifat negatif.

1. Tatwa (filsafat) tanpa  susila =muncul  sifat munafik, sombong, dan angkuh.

2. Susila tanpa upacara (dalam arti luas) = muncul  rasa fanatik.

3. Upacara tanpa didasari tatwa dan susila= muncul sifat dogmatis.

Tiga kerangka Agama Hindu diatas mirip dengan Tiga sifat manusia indonesia yang di anugerahkan TUHAN YME yaitu :

1. Jujur
2. Cerdas
3. Ingin jadi pejabat (legislatif, eksekutif, yudikatif, sipil,militer) disingkat pejabat

Namun sayangnya TUHAN YME hanya mengizinkan setiap Manusia Indonesia memiliki 2 saja dari 3 anugerah tersebut sehingga Manusia Indonesia terdiri dari 3 golongan :

1. Pejabat dan Jujur maka dapat dipastikan dia tidak cerdas
2. Pejabat dan Cerdas maka dapat dipastikan dia tidak jujur
3. Jujur dan Cerdas maka dapat dipastikan dia bukan pejabat

============ ========= ========= ======

http://www.balipost .co.id/BaliPostc etak/2006/ 9/3/b8.html

Agama Hindu mesti Dihayati Utuh

Agama Hindu mesti dihayati secara utuh. Artinya, agama tidak hanya dihayati, direnungkan, dan dicamkan. Tetapi mesti diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Agama bukan hanya diomongkan melainkan dilaksanakan dengan penuh keyakinan yang bermuara pada logika dan rasa batin (atmanastuti) . 

Hal itu dikatakan Dekan Fakultas Dharma Duta IHD Negeri Denpasar Drs. I Made Surada, M.A. saat acara yudisium Fakultas Dharma Duta IHDN, Surada didampingi Ketua Panitia I Made Suastika Ekasana, S.H., S.Ag., M.Ag. mengatakan ada dua hal yang terpadu dalam agama yaitu rasa dan rasio. Dalam perpaduan ini rasa mendominasi rasio, karena agama berpangkal pada keyakinan.

Karena itu, dalam agama yang dipentingkan adalah kesucian batin. Agama Hindu memiliki tri kerangka yaitu tatwa, susila dan upacara. Ini pun mesti diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, karena menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Jika hanya menonjolkan tatwa (filsafat) tanpa diwujudkan dengan susila akan dapat memunculkan sifat-sifat munafik, sombong, dan angkuh. Jika hanya menonjolkan susila tanpa upacara (dalam arti luas), dapat menimbulkan rasa fanatik. Apabila menonjolkan upacara saja tanpa didasari tatwa dan susila, akan bisa bersifat dogmatis. (08)

artikel yg menarik tentang “Kamasutra”, dimana kita memperoleh cara untuk meniti jalan ke dalam diri, untuk menemukan jati diri (Samadhi).

Orang Jawa zaman dahulu menyebutnya sembah rasa. Para Sufi menyebutnya muraqibah yang diperoleh dengan ber-tafakkur. Dalam bahasa modern, meditasi.

Meditasi bukan dalam pengertian “duduk diam” atau “mendiam-diamkan diri selama beberapa lama”, “menyepi”, dan sebagainya. Namun, “menjadi diam” - setelah hewan di dalam diri kita berhasil dijinakkan. Meditasi juga bukan doa. Ketika kita bendoa, kita berbicara dengan Tuhan. Dalam meditasi, kita berhenti berbicara. Kita mendengarkan suara-Nya.

Untuk menuju ke sana , urusi dulu sesuatu yang paling dasar di dalam diri kita, yaitu seks. Pengolahan enengi seks untuk menggapai ketinggian spiritual, itulah intisari Kamasutra. ***

=================================================

Neo Kamasutra, Kebajikan Kuno Bagi Manusia Modern

Oleh: Anand Krishna, Humanis, di Jakarta

“Urusi dulu sesuatu yang paling dasar di dalam dirimu, yaitu seks,” pesan Vatsyayana, penyusun buku Kamasutra. Pengolahan energi seks untuk menggapai ketinggian spriritual, itulah intisari Kamasutra.

Mulla Nasruddin, berkelakar, “Sadarkah kita akan pentingnya peran ranjang dalam hidup manusia? Kita lahir di atas ranjang, dan mati pun di atasnya. Jika mati karena kecelakaan di tengah jalan raya, jasad kita pun di-”ranjang”-kan. Antara titik kelahiran dan kematian, masa yang disebut hidup atau kehidupan pun lebih dari sepertiganya, kita lewati di atas ranjang.”

Saya baru sadar. Betul juga, ranjang sungguh sangat penting.

Perhatian yang kita berikan selama ini sungguh tidak proporsional. Kitab-kitab dan karya sastra pun banyak membicarakan kehidupan di luar ranjang. Jarang yang membicarakan kehidupan  di atas ranjang.

Kamasutra bukan hanya bicara tentang kehidupan di atas ranjang. Namun, juga bicara tentang persiapan menuju ranjang  dan kehidupan setelah turun dari ranjang. Kamasutra, oleh sebab itu, menyentuh keseluruhan hidup manusia.

Tak heran bila leluhur kita yang hidup dalam wilayah peradaban Sindhu, Hindu, Indies, Indo, Hindia, India, atau apa pun sebutannya, menerima kama (nafsu) sebagai an integral part of life, bagian tak terpisahkan dan hidup manusia. Lalu, disusunlah sutra (pedoman) yang berkaitan dengannya sebagai sesuatu yang suci. Bagi kita yang tinggal dalam wilayah peradaban itu, Kamasutra adalah “kitab suci”.

Dalam pengertiannya secara generik, Kamasutra bukanlah milik sebuah negara yang kita sebut India. Namun, milik keseluruhan wilayah peradaban, yang oleh para pedagang dari Timur Tengah zaman dahulu disebut Hindustan. Wilayah luas yang mencakup Gandhaar (sekarang Qandahar dan merupakan bagian dari Afghanistan) hingga perbatasan Astraalaya (sekarang Australia) betul-betul merupakan wilayah peradaban, dan bukan sebuah negara atau imperium. Negara-negara yang ada di wilayah peradaban ini bebas, merdeka, termasuk Kepulauan Nusantara.

Maka, tidak heran pula bila di Jawa dan Bali masih bisa ditemukan lontar-lontar kuno yang bicara tentang kama. Secara kolektif lontar-lontar itu pun dapat disebut kamasutra. Sayangnya, tidak komplet. Banyak bagian yang sudah hilang. Sementara itu, karya dunia yang kita sebut Kamasutra masih relatif lengkap dan ditemukan lontarnya di Bhaarat (kini India).

Vatsyayana, yang sering kita temukan namanya tertera di atas kulit buku Kamasutra dan memberi kesan seolah ia penulisnya, sesungguhnya tidak pernah mengklaim sebagai penulis. Ia hanya mengaku dirinya sebagai editor, penyusun.

Kita tidak banyak tahu tentang Vatsyayana, siapa dia, tinggal di mana. Secara samar-samar kita hanya tahu, barangkali dia hidup pada 1.700 - 1.800 tahun lalu.

Secara implisit, sang penyusun pun mengaku bahwa karyanya lahir dari kegelisahan diri. Kegelisahan melihat keadaan muda-mudi Bhaarat zaman itu. Dengan jumlah penduduknya sekitar 10 - 15 juta dan tanah yang lumayan subur, keadaan Bhaarat waktu itu mirip dengan Swiss atau negeri-negeri Skandinavia masa kini.

Untuk memahami latar belakang penyusunan Kamasutra oleh Vatsyayana, kita boleh menoleh sebentar ke Swiss atau salah satu negara di Skandinavia. Inilah negara paling makmur di dunia, jauh lebih sejahtera dari Amerika Serikat. Namun, tingkat kematiannya akibat bunuh diri pun jauh berada di atas Amerika Serikat, dan tertinggi di Eropa. Kenapa? Ketika seorang gadis asal Swiss diwawancarai oleh CNN, ia mengaku, “Kehidupan sebagaimana kita jalani saat ini sudah kehilangan makna.

Untuk apa hidup?” Tidak ada tantangan. Segalanya sudah tersedia, baik oleh orangtua maupun negara. Mau apa lagi?

Saat itu, di zaman Vatsyayana, muda-mudi Bhaarat pun menghadapi dilema serupa. Maka mereka melarikan diri dari masyarakat. Mereka menjadi petapa, menjadi biku.

Keseimbangan sosial pun kacau. Jumlah penduduk yang berusia lanjut dan sudah tidak produktif melebihi jumlah mereka yang masih muda dan produktif. Keadaan serupa saat ini dihadapi oleh tetangga kita, Singapura.

Di tengah keadaan seperti itu, Vatsyayana mengingatkan zamannya bahwa “Manusia Dapat Memberi Makna pada Hidupnya”. Tidak perlu mencari makna kemana-mana, karena makna ada di mana-mana. Maka lahirlah sebuah falsafah, bukan filsafat yang kering, cara hidup yang penuh lembap. Falsafah kamasutra!

HIDUP PENUH MAKNA

Namun, kita harus menemukannya! Persis seperti mentega atau krim di dalam susu - sudah ada namun tidak terlihat. Susu harus diproses untuk mendapatkan krim atau mentega di dalamnya, dan proses inilah kehidupan.

Susu di dalam cawan Anda berasal dari seekor sapi. Susu di dalam cawan saya pun berasal dari seekor sapi. Lain sumber Anda (sapi Anda), lain pula sumber saya (sapi saya). Namun, susu yang kita miliki sama, sama-sama bergizi dan memiliki khasiat yang sama pula. Untuk memperoleh mentega, kita pun harus sama-sama mengolahnya. Walau cara kita bisa beda, hasilnya akan sama lagi.

Berdasarkan perumpamaan itu, Vatsyayana mengajak kita untuk mengenali diri, untuk menemukan jati diri atau pusat di dalam diri - the centerpoint. Banyak cara untuk menemukan jati diri. Namun, ada empat upaya utama. Setiap upaya mewakili satu sudut, satu sisi kehidupan, yang barangkali berseberangan tetapi dapat dipertemukan.

Pertama adalah kama (keinginan) - keinginan kuat, tunggal, untuk menemukan jati diri. Sementara ini keinginan kita masih bercabang. Terdorong oleh hawa nafsu, kita dapat menginginkan apa saja. Perlahan, tanpa memaksa, kita harus mengarahkan keinginan itu kepada diri sendiri. Dari sekian banyak keinginan, kita menjadikannya satu keinginan; keinginan untuk menemukan jati diri.

Kedua adalah artha, biasa diterjemahkan sebagai harta. Sesungguhnya, artha juga berarti “makna” atau “arti”. Temukan makna hidup! Adakah uang atau harta itu yang memberi makna pada hidup kita? Bila ya, berhati-hatilah. Sebab, apa yang kita miliki saat ini tak mungkin kita miliki selamanya. Jangankan uang, anggota keluarga pun pada suatu ketika akan meninggalkan kita, atau sebaliknya. Bila terlalu percaya pada “kepemilikan” kita, maka hidup bisa menjadi sangat tidak berarti ketika apa yang saat ini masih kita miliki, tidak lagi menjadi milik kita.

Berusahalah untuk menemukan makna lain bagi hidup kita. Barangkali itu “kebahagiaan” yang kita peroleh saat kita berbagi kebahagiaan. Tidak berarti kita tidak boleh mencari uang. Silakan mencari uang, menabung, menjadi kaya-raya, tetapi janganlah mempercayai harta kekayaan kita. Kita pasti kecewa karena apa yang kita miliki hari ini, belum tentu masih kita miliki esok pagi.

Ketiga adalah dharma, kebajikan. Dalam bahasa sufi disebut syariat - pedoman perilaku. Pedoman perilaku berdasarkan kesadaran, itulah dharma. Jangan berbuat baik hanya karena kita dijanjikan sebuah kapling di surga. Itu bukan kebajikan, tapi perdagangan belaka - jual-beli. Berbuatlah baik karena kebaikan itu baik. Berbuatlah baik karena diri kita baik. Berbuatlah baik karena kita sadar. Orang yang berada pada jalur dharma tidak perlu dipaksa, diiming-imingi, juga tidak perlu diintimidasi, diteror, atau dipaksa untuk berbuat baik. Ia akan selalu berusaha untuk berbuat baik karena sadar!

Keempat adalah moksha, kebebasan mutlak. Kebebasan mutlak berarti “kebebasan dari” sekaligus “kebebasan untuk”. Kita bebas dari penjajahan, dan mestinya kita juga bebas untuk berpendapat. Namun, ada rambu-rambu yang perlu ditaati, diperhatikan, dan tidak dilanggar. Kenapa ada rambu-rambu? Sebab, kita belum cukup sadar menggunakan “kebebasan untuk” dengan penuh tanggung jawab. Barangkali memang karena itu, atau barangkali ada pihak-pihak yang merasa akan dirugikan, bila kita meraih “kebebasan untuk”.

Lewat Kamasutra, Vatsyayana, sang Begawan, hendak membebaskan kita dari perbudakan, dan belenggu yang menjerat. Tuhan bukanlah yang menciptakan belenggu-belenggu itu, tapi masyarakatlah penciptanya. Nilai-nilai yang mendasari suatu masyarakat semuanya dapat berubah. Tidak ada yang baku.

Vatsyayana mengajak kita untuk sepenuhnya menerima perubahan dan ikut berubah. Dalam bahasa modern, inilah yang disebut Adequency Quotient - kemampuan untuk bertindak sesuai dengan tuntutan zaman, waktu, keadaan, budaya lokal, dan sebagainya. Vatsyayana tidak percaya pada Intellectual Quotient, Emotional Quotient, Spiritual Quotient atau gabungan kedua atau ketiganya. Ia menerima semuanya dan tidak berhenti pada ketiganya itu saja. Ia pun menerima segala aspek kehidupan manusia, termasuk seks - dan lahirlah Kamasutra sebagaimana dipahami oleh Vatsyayana.

Kama, artha, dharma; dan moksha harus bertemu, dan titik temu keempat upaya itulah tujuan hidup, itulah jati diri kita! Titik temu itu adalah antara pasangan yang berseberangan. Janganlah mempertemukan kama dengan artha, karena kedua titik itu masih segaris. Pertemuan antara kama dan artha itulah yang selama ini terjadi - kita hanya berkeinginan untuk mengumpulkan uang, mencari keuntungan, dan menambah kepemilikan, entah itu berupa benda-benda yang bergerak atau tak bergerak.

Kama harus bertemu dengan moksha, itulah titik di seberangnya. Berkeinginanlah untuk meraih kebebasan mutlak.

Kemudian artha harus bertemu dengan dharma - carilah harta sehingga Anda dapat berbuat baik, dapat berbagi dengan mereka yang berkurangan. Berikan makna kepada hidup Anda dengan berbagi kebahagiaan, keceriaan, kedamaian, dan kasih.

Namun, selama ini kita menggabungkan dharma dengan moksha. Berbuat baik, beramal saleh, untuk meraih kebebasan. Kemudian kebebasan pun kita terjemahkan sebagal keselamatan bagi diri, jiwa, atau sebuah kapling di surga. Bebas dari api neraka, itulah definisi kita tentang kebebasan. Bebas dari penderitaan, entah fisik, mental, emosional atau apa yang kita anggap rohani. Itu saja.

Padahal, roh atau batin melampaui suka dan duka. Roh atau batin adalah napas-Nya yang ditiupkan-Nya ke dalam “apa yang kita sebut diri kita”. Penderitaan fisik, mental, maupun emosional semata-mata karena kita tidak mau menerima perubahan. Setelah digunakan selama puluhan tahun, kendaraan bernama badan sudah pasti mengalami kerusakan. ltu wajar dan normal. Terimalah kewajaran itu.

NAFSU HANYA MENUNTUT

Setelah menemukan jati diri, kita baru bisa menyelaraskan diri dengan lingkungan sekitar kita, dengan masyarakat, dengan dunia. Bila belum menemukan “diri”, apa pula yang hendak kita selaraskan dengan pihak-pihak di luar diri?

Kamasutra menerima seks sebagai anak tangga pentama untuk menemukan jati diri. Seks sebagai bagian dari kama, hasrat, nafsu, keinginan, bukanlah urusan di atas ranjang belaka. Energi seks pula yang kita gunakan dalam keseharian untuk keperluan apa saja. Sebab itu, energi ini perlu diolah, diperlembut, disesuaikan dengan profesi, tugas serta kewajiban kita dalam hidup sehari-hari.

Bila tidak, kita akan bernafsu untuk memperoleh jabatan dan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Kita akan bernafsu untuk menjadi nomor satu dengan cara apapun, termasuk mencelakakan pesaing kita. Ini yang terjadi selama ini, sebab kita lupa mengolah energi yang ada di dalam diri. Kita lupa memperlembut energi itu.

Urusan senggama yang dibahas panjang lebar oleh Vatsyayana semata-mata untuk memperhalus energi kita. Ia tidak memberi pedoman, “Janganlah kau melakukan hal ini, janganlah kau bertindak seperti itu.” Ia memberi teknik-teknik, di antaranya yang dapat kita lakukan bersama pasangan kita di atas ranjang, supaya kehewanian di dalam diri kita mendapatkan penyaluran. Sehingga energi di dalam diri dapat ditingkatkan. Nafsu dapat diolah menjadi cinta, dan cinta menjadi kasih.

Nafsu hanya menuntut. Cinta tidak sekadar menuntut, ia juga memberi. Tetapi yang diberikannya setimpal dengan apa yang diterimanya. Kasih itu memberi, memberi, dan memberi. Ia tidak menuntut, tidak peduli dibalas atau tidak.

Itulah falsafah hidup di balik Kamasutra.

Itulah tujuan Vatsyayana ketika menyusun kembali teks teks kuno dan memilih apa saja yang masih relevan di zamannya, kemudian disebutnya Kamasutra. Sebab itu, Vatsyayana juga tidak berpretensi bahwa apa yang ditulisnya itu berlaku sepanjang masa. Bahkan untuk masanya sendiri.

Di akhir tulisannya, ia pun mengingatkan para pembaca, “Yang penting adalah praktik, bagaimana kau melakoni semua ini. Setelah dipelajari, buku ini pun harus kau buang. … Terjemahkan apa yang telah kau pelajari dalam hidup sehari-hari .“

Barangkali, dialah penulis “kitab suci” yang tidak memiliki beban ego. Ia berasal dari wilayah peradaban Sindhu, Hindu, Indies, India, Indo, Hindia - wilayah kita semua. Sayang sekali, hanya sebagian kecil di antara kita yang masih memiliki rasa bangga terhadap budaya asal kita. Budaya yang melahirkan Vatsyayana, Mpu Tantular, Sukarno, dan Romo Mangun. Budaya yang melahirkan para pemikir dan negarawan seperti Ki Hajar Dewantara, Syahrir, M. Hatta, Moh. Natsir, dan Kasimo. Budaya yang sudah ada sebelum lahirnya agama-agama.

Dari budaya asal itu pula yang masih dipahami di zaman La Galigo, Bundo Kanduang, Ronggowarsito, dan Mangkunagoro - kita memperoleh cara untuk meniti jalan ke dalam diri, untuk menemukan jati diri. Vatsyayana menyebutnya samadhi - keseimbangan yang diperoleh lewat dhyana, hidup berkesadaran.

Orang Jawa zaman dahulu menyebutnya sembah rasa. Para Sufi menyebutnya muraqibah yang diperoleh dengan ber-tafakkur. Dalam bahasa modern, meditasi. Meditasi bukan dalam pengertian “duduk diam” atau “mendiam-diamkan diri selama beberapa lama”, “menyepi”, dan sebagainya. Namun, “menjadi diam” - setelah hewan di dalam diri kita berhasil dijinakkan. Meditasi juga bukan doa. Ketika kita bendoa, kita berbicara dengan Tuhan, Allah, atau apa pun sebutan Anda bagi Kekuatan Tunggal Yang Satu Itu. Dalam meditasi, kita berhenti berbicara. Kita mendengarkan suara-Nya.

Untuk menuju ke sana Vatsyayana berkata, urusi dulu sesuatu yang paling dasar di dalam dirimu, yaitu seks. Pengolahan enengi seks untuk menggapai ketinggian spiritual, itulah intisari Kamasutra. ***

Menurut penuturan Ratu Bhagawan Dwidja di milis HD-Net (Hindu-Dharma@itb.ac.id ) :

Om Swastyastu,

Kesucian dalam berhubungan sex, banyak diatur dalam Manawa Dharmasastra, dll. :

1. Hubungan sex dalam Hindu tidak semata-mata “for fun” tetapi yang lebih utama adalah untuk mendapat keturunan yang disebut sebagai “dharma sampati” Dengan demikian sex di luar nikah, menurut Hindu adalah dosa, termasuk “paradara” dalam trikaya parisuda (kayika).

2. Hubungan sex antara Suami /Istri agar dilakukan secara sakral :

a. Membersihkan badan/mandi terlebih dahulu

b. Sembahyang mohon restu Dewa-Dewi Smara Ratih

c. Hubungan sex jangan dilakukan :
- ketika sedang marah, mabuk, tidak sadar, sedih, takut, terlalu senang.
- ketika wanita sedang haid
- waktu yang tidak tepat : siang kangin (fajar), bajeg surya (tengah hari), sandyakala (menjelang matahari terbenam), purnama, tilem, rerainan (hari raya), odalan, sedang melaksanakan upacara panca yadnya.
- jangan meniru “gaya binatang”, yang disebut “alangkahi akasa” (melangkahi angkasa)
- dalam berhubungan sex selalu berbentuk “lingga-yoni”

d. Kalau senang hubungan sex diiringi musik, pilih yang slow/tenang, jangan lagu dangdut atau yang ribut/underground atau house- music, apalagi gaya tripping. Makanya di Bali dahulu ada gambelan “semare
pegulingan” (artinya : asmara di tempat tidur) adalah jenis gambelan khas yang di tabuh di Puri-Puri disaat Raja sedang berintim ria dengan Permaisuri. Lama-lama menjadi ’semar pegulingan’ jangan salah arti, ada yang mengartikan ‘tualen gelalang-geliling’

3. Bila hubungan sex dilaksanakan dengan patut sesuai swadharma kama sutra, maka anak yang lahir mudah-mudahan berbudi pekerti yang baik, menuruti nasihat ortu, rajin sembahyang, pintar, sehat, pandai bergaul dan hidupnya sukses. Tetapi bila hubungan sex menyimpang, maka anak yang lahir disebut anak “dia-diu” yakni : bandel, menyakiti hati ortu, bodoh, jahat, banyak musuh, sulit hidupnya, sakit-sakitan.

Demikian sekedar resep bagi kaum muda.

Om Santih, santih, santih
Bhagawan Dwija

=====================================================

Apa sih Asmaragama itu?

Teori yang diambil dari kata ASMARA dan SENGGAMA, bukan saja hanya sekedar memaparkan tehnik bercinta,  tapi juga menyediakan track untuk pemahaman seks yang benar, mulai dari merawat rasa sampai mendapatkan kepuasan…

Ada 5 tahapan dalam asmaragama

Asmaranala
Cinta itu diyakini sebagai awal yang baik untuk memulai sebuah hubungan seks.
Dimana getaran yang muncul saat bertatapan jadi mutlak dimiliki, yang katanya ciuman pertama bukan dilakukan oleh bibir, melainkan mata…

Asmaratura
Yang dimaksud adalah respek, tanpa respek tak akan terjalin hub seks yang sehat & dalam, respek akan menutup segala kekurangan yg ada dalam diri pasangan kita..
walau badan pasangan kita kurus kering ato hitah legam, dengan respek maka dia akan tetap indah di mata kita…

Asmaraturida

Senda gurau yang mesra dianggap bisa jadi rangsangan pada pendengaran kita,
ya ga perlu ngelawak kaya jojon sih, cukup tentang hal2 lucu yang terjadi dikeseharian aja… Tujuannya …supaya rileks….

Asmaradana
Boleh dong belajar jadi penyair…ucapkan kata2 yang manis dan lembut ke telinga pasangan, ini sama aja dengan membelai hatinya…kalau selama ini cowo dikenal pinter ngrayu, sesekali kenapa gak cewe yg jadi perayu ulung….toh cowo juga seneng dirayu….

Asmaratantra
ciman memang bisa jadi pematik gairah yang sangat dahsyat, makanya jangan lewatkan foreplay tanpa yang satu ini… taburkan ciuman di berbagai tempat ditubuhnya… coba deh cium bagian2 yang biasanya luput dari bibir….. hmmm pasti seru…!!!

Akhirnya…

Asamaragama
Puncak cinta kasih yang ditandai dengan aktivitas bercinta…
sebuah hubungan yang sangat dalam yang mampu menyatukan dua raga dalam satu jiwa…..

Asmaragama adalah filosofi hidup yang seyogyanya dimiliki setiap pasangan…
Kalo kamasutra lebih menitik beratkan pada berbagai posisi dalam bercinta, asmaragama lebih menitik beratkan pada soul dan perasaan yang harus dimiliki dalam bercinta…. yang tujuannya untuk membuat saat bercinta jadi momen yang penuh makna dan penghormatan, dimana kualitas sebuah hubungan dianggap jauh lebuh penting daripada kuantitasnya…

Asmaragama adalah suatu cara untuk menghayati kasih sayang, mempertinggi kualitas dan memperpanjang waktu bercinta…hmmm….

“Mitologi Alang-Alang Sebagai Rumput Suci”

Alang-alang sebagai rumput dianggap suci yang banyak dipergunakan dalam pelaksanaan upacara yaitu sebagai sarana atau alat misalkan saja dalam upacara pawintenan, alang-alang dipergunakan untuk membuat karawista/sirawista, pada setiap proses persembahyangan alang-alang juga digunakan untuk ngetisang/menyipratkan tirtha yang disebut dengan sesirat. Hal ini terkait dengan cerita Sang Garuda dalam Adi Parwa yaitu dikisahkan Bhagawan Kasyapa mempunyai dua orang istri yaitu Sang Kadru dan Sang Winata. Bhagawan Kasyapa menawarkan kepada kedua istrinya, berapa jumlah anak yang diinginkannya. Sang Kadru meminta 100 anak sedangkan Sang Winata minta 2 anak. Bhagawan Kasyapa kemudian memberikan 100 telur kepada Sang Kadru dan 2 telur pada Sang Winata, setelah telur Sang Kadru menetas lahirlah 100 ekor ular. Melihat Sang Kadru sudah melahirkan anak-anaknya, Sang Winata ingin secepatnya pula punya anak maka dengan tidak sabar dipecahlah sebutir dari telurnya, maka lahirlah Sang Aruna yaitu seekor burung yang belum sempurna bentuk tubuhnya karena belum punya kaki. Suatu ketika Sang Kadru bertemu dengan Sang Winata, dan mereka membicarakan tentang rupa bulu kuda Ucchaisrawa yang keluar pada saat pengadukan lautan air susu oleh para dewa dan raksasa untuk memperoleh Tirtha Amerta. Sang Kadru menebak warna hitam dan Sang Winata menebak warna putih. Mereka masing-masing kukuh mempertahankan pendiriannya, dan akhirnya mereka bertaruh. “siapapun yang kalah akan menjadi budak dari yang menang” setelah itu Sang Kadru lalu pulang dengan mengabarkan hal ikhwal taruhan itu kepada anak-anaknya.

“Wah Ibu pasti kalah, karena warna kuda itu betul-betul putih mulus” kata ular-ular itu. “kalau demikian anakku berbuatlah sesuatu agar Ibu tidak kalah sehingga menjadi budak Sang Winata. Besok Ibu akan datang bersama Sang Winata ketempat kuda itu untuk menyaksikan kebenaran kuda itu”. Maka ular-ular itu pun memenuhi permintaan Ibunya, lalu semuanya menuju ketempat kuda itu berada. Mereka semua lalu menyemburkan bisa (wisa)-nya ketubuh si kuda, sehingga warna bulu kuda berubah dari putih menjadi hitam semua karena pengaruh dari bisa ular itu. Esok harinya ketika Sang Winata dan Sang Kadru datang, mereka menyaksikan warna kuda Ucchaisrawa itu betul-betul hitam, maka kalahlah Sang Winata. Sejak saat itu Sang Winata menjadi budak Sang Kadru, menjaga dan mengantarkan ular-ular itu mencari makanan setiap hari dari pagi dan sore hari baru pulang.

Sementara itu Sang Garuda pun lahir dengan tubuh yang sempurna. Setelah beberapa lama kemudian Sang Garuda merasa heran melihat Ibunya pergi pagi pulang sore, hingga timbul keinginan tahuan Sang Garuda dan akhirnya ia menanyakan kepada Ibunya.

” Ibu mengapa Ibu pergi pagi pulang sore, apa pekerjaan Ibu ?” Tanya Sang Garuda.

“Ibu jadi budak para naga, saban hari kerja Ibu adalah mengembalakan ular-ular yang nakal, pergi kesana kemari sekehendaknya” jawab Sang Winata.

“mengapa Ibu menjadi budaknya ?” Tanya Sang Garuda.

“karena Ibu kalah taruhan dengan Sang Kadru mengenai warna kuda Ucchaisrawa” kata Sang Winata. “kalau demikian biarlah saya saja menggantikan Ibu mengembalakan ular”, demikian permintaan Sang Garuda yang kemudian diluluskan oleh Ibunya.

Lamalah sudah Sang Garuda menjadi budak dari para naga, akhirnya ia menjadi bosan. Ia pun lalu menanyakan kepada naga apakah ada cara sebagai pengganti atau penebusannya, agar dia bisa bebas dari perbudakan. Setelah lama berpikir para naga pun sepakat akan membebaskan Sang Garuda dari perbudakan kalau bisa mencarikan Tirtha Amerta untuk mereka. Konon barang siapa yang dapat minum Amerta itu akan bisa bebas dari kematian. Dengan demikian para naga beranggapan tidak perlu lagi ada penjaga seperti Sang Garuda, karena tidak ada yang menyebabkan mereka bisa mati kalau sudah minum Tirtha Amerta.

Sang Garuda pergi ke Surga untuk mencari Tirtha Amerta, sehingga ia berhadapan dengan para Dewa yang menjaga Tirtha Amerta itu. Dewata Nawa Sanga dikalahkan semua dan para Dewa pun mohon bantuan kepada Bhatara Wisnu. Perang antara Dewa Wisnu dengan Sang Garuda terjadi cukup lama,

akhirnya Bhatara Wisnu menanyakan mengapa Sang Garuda sampai melakukan hal  itu dan untuk apa dia mencari Amerta. Setelah Sang Garuda menjelaskan tujuannya mencari Amerta adalah untuk membebaskan dirinya dan Ibunya dari perbudakan para naga maka Bhatara Wisnu berkenan memberikan Tirtha
Amerta itu, dengan syarat Sang Garuda bersedia menjadi kendaraan Dewa Wisnu.

Sang Garuda menyetujui dan Tiretha Amerta pun diserahkan oleh Dewa Wisnu dengan  syarat “barang siapa yang akan meminumnya hendaknya bersuci-suci terlebih  dahulu, kalau tidak demikian maka Tirtha Amerta tidak akan Sidhi atau  bermanfaat”.

Sang Garuda segera menyerahkan Tirtha Amerta itu kepada para naga dengan  segala persyaratannya. Para naga setelah menerimanya, mereka berlomba dan  saling mendahului pergi mandi dan menyucikan diri, karena takut tidak kebagian sehingga Tirtha itu ditinggalkan begitu saja ditengah rumput alang-alang. Mengetahui hal itu maka Bhatara Wisnu pun mengambil kembali Tirha itu dengan segera sehingga Tirtha Amerta terciprat di daun alang-alang tersebut, dan membawanya ke Surga. Dengan kecewa akhirnya para naga menjilati alang-alang itu, karena daunnya yang tajam sehingga menyebabkan lidah para naga itu terbelah.

Dari cerita ini pulalah bermula sehingga daun alang-alang dianggap suci, karena terkena percikan Tirtha Amerta (air keabadian). **

Oleh: I Made Murdiasa, S.Ag

http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Hindu&id=88605