kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Warta Bali’ Category

“SUWUN bu, suwun pak!” Itulah celoteh para tukang suwun di pasar. Hanya bermodal sebuah keranjang, para wanita berbagai umur itu mendatangi para saudagar, pedagang, ataupun pembeli untuk menawarkanjasa angkutan”-nya. Tak kenal lelah, mereka terus berjalan di antara kerumunan orang dan di sela-sela deretan pedagang hanya untuk mendapatkan pelanggan. Dapat atau tidak rezeki, mereka selalu ceria dan ramah.

Bila suasana jual beli sedang sepi, para wanita itu duduk santai di tangga pasar atau bercengkerama di pagar beton pembatas tanaman. Ada juga yang duduk-duduk di bawah pohon yang gersang. Ketika terlihat ada panggilan pemesan dengan bahasa isyarat lambaian tangan, salah satu di antara mereka bangun menanggapi. Sementara yang lain, melanjutkan cengkerama di antara mereka. Toleransi dan sikap saling menghargai tampak di antara mereka.

Selama pasar tradisional itu dibuka, para wanita yang tergolong pekerja kasar itu tidak pernah melewatkan kesempatan. Dari pagi hingga sore, dari sore hingga malam, dan dari malam hingga pagi lagi, suasana pasar selalu saja diwarnai dengan kegigihan tukang suwun itu. Rapi, tertib dan damai. Meski tak ada organisasi yang mengkoordinir, secara tidak sengaja mereka mengatur dirinya masing-masing sehingga setiap waktu para saudagar tak pernah kesulitan mendapatkan tukang suwun.

Pasar Badung, Denpasar, adalah salah satu ladang pencarian nafkah para tukang suwundari yang berusia anak-anak hingga dewasa. Untuk menjadi tukang suwun, mereka tidak memerlukan pendidikan yang serius. Cukup dengan memiliki kekuatan kepala dan leher, mereka sudah bisa mengadu nasib di pasar yang ramai itu.

Berdasarkan pengakuan di antara mereka, jadi tukang suwun memang bukan cita-cita mereka sejak kecil. Profesi ini dilakoni semata-mata untuk menyelamatkan kehidupan keluarganya. Di tengah krisis ekonomi berkepanjangan, mereka sepertinya siap melakukan pekerjaan seberat apa pun. Tukang suwun ini bisa jadi sebagai cerminan bahwa wanita Bali itu kuat, gigih dan tak pernah mengenal lelah.

Sebut saja I Luh, wanita tukang suwun asal Angantelu, Karangasem. Oleh karena tidak memiliki pekerjaan tetap, ia akhirnya menjadi tukang suwun. Mangkin zaman sukeh. Sukeh ngalih gae lan sukeh ngalih pipis (sekarang zaman susah. Sulit cari kerja dan sulit cari uang - red),” ujar I Luh, ibu dua putra ini. Diakuinya, dari hasil jadi tukang suwun, ia harus mampu menanggung kebutuhan kedua anaknya, pun membantu suami yang sopir angkot.

Soal penghasilan dalam sehari, I Luh tidak bisa pasang target. Sekali nyuun ia hanya bisa mendapat upah berkisar Rp 2.000 sampai Rp 5.000. Itu tergantung dari orangnya. Kalau orangnya pelit, saya bisa diberikan dua ribu saja. Kalau orangnya lagi baik, bisa dapat lima ribu bahkan sepuluh ribu,” jelasnya.

Narti, temanseperjuangan” I Luh, juga mengaku sudah menjadi tukang suwun sejak empat tahun lalu. Dalam sehari, ibu satu anak ini bisa mendapatkan Rp 10.000. Akan berbeda jika musim ramai, ia bisa mendapatkan Rp 30.000 sampai Rp 40.000. Hasilnya, tergantung nasib. Bahkan pernah tidak dapat penghasilan sama sekali,” terang Narti.

Lain lagi cerita Ni Wayan Suratni, tukang suwun yang masih berstatus siswi. Diakuinya, dari bekerja sebagai tukang suwun ini, ia mampu membiayai sekolahnya sendiri hingga ke kelas II SMP Paket B sekarang. Pekerjaan tukang suwun sudah dilakoninya sejak kelas II SD bersama ibunya. Datang dari sekolah, anak asal Bangli ini sudah membawa keranjang dan selempotberfungsi sebagai sanan yang dikalungkan di lehernya. Sementara ayahnya bertugas mengurus kedua adiknya di rumah.

Wayan Murni, beda lagi. Bocah asal Munti, Karangasem ini mulanya sebagai gepeng yang meminta-minta di seputaran Pasar Badung. Setelah beberapa kali kena razia, kini ia ikut-ikutan sebagai tukang suwun. Ternyata pekerjaan barunya itu mampu membuatnya bahagia dan tak perlu merasa waswas lagi. Sekarang saya sudah punya pekerjaan tetap,” katanya malu-malu seraya mengatakan hasilnya cukup untuk biaya hidup.

Walau bekerja di seputaran debu nan kumuh, para wanita itu selalu tampil rapi dan bersih. Bahkan di antara mereka ada yang mengenakan celana jeans dan baju yang necis, sehingga sukar membedakan mana saudagar dan tukang suwun. I Luh misalnya, selalu berpenampilan rapi meski nantinya bekerja penuh dengan peluh dan debu. Penampilan harus dijaga agar tidak kumal dan kotor. Kalau sudah bersih, orang tidak akan merasa jijik barangnya diangkut,” ucapnya.

Untuk bisa tetap tampil prima, para wanita itu mengaku tidak mengonsumsi makanan yang spesial. Yang penting ada nasi dan sayur, mereka sudah bersyukur. Kalau membeli makanan yang mewah, mana duitnya?” seloroh I Luh. Benar juga ya? Namun yang jelas, langkah para tukang suwun mesti tetap berayun, bukan? (ana)

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2007/11/4/sr1.html