Perempuan yang Meruwat Jagat
foto: http://www.baliwww.com
KESUCIAN menjadi dambaan hampir setiap orang, karena bisa menjadi kandil kemerlap di malam pekat, menuntun langkah di jalan setapak agar tidak tersesat. Kesucian bisa juga sesuatu yang terang benderang, sehingga seseorang terhindar dari suasana remang-remang, membebaskan hati dan galau dan bimbang, karena suci itu bersih, jernih, tenang, sejuk, tawakal.
Kesucian pun diburu, menjadi tujuan. Orang-orang berharap, dengan kesucian mereka bisa memperoleh kebenaran sejati, kebahagiaan, wibawa, penghargaan, atau menjadi panutan, dan pemimpin. Orang-orang suci sering menjadi idola, namanya harum, dipuja, menjadi dewa.
Spiritualisme kemudian diminati. Hutan lebat, pesisir yang sepi, gua-gua, lembah dan ngarai, punggung gunung, puncak bukit, sening dikunjungi. Pesanggrahan, pasraman, dibangun, tempat orang-orang menyelami ajaran-ajaran mencapai kebahagiaan tertinggi. Keheningan menjadi puncak segala tuju, karena merupakan gerbang menuju kesucian.
Cerita-cerita tentang ruwatan, untuk menjadikan din bersih dan suci, pun digemari. Kegemaran ini sudah berlangsung sejak lama, merupakan peradaban tua, tapi terus menerus menyelinap dalam kehidupan masa kini. Kisah-kisah itu bertutur tentang petualangan dan perjuangan untuk lahir kembali, kaya konflik, penuh pertimbangan mengambil keputusan, banyak ujian harus dilalui. Cerita ruwatan memberi petunjuk tentang proses mencari jati diri, sebuah usaha membawa jiwa raga ke titik nol, agar bisa mengawali segala sesuatu dengan bersih dan ning.
Dalam tradisi Hindu di Bali, seseorang yang memenuhi panggilan hidup sebagai pendeta, harus melalui ruwatan ini dalam proses ‘mati raga’. Dalam upacara dwi jati, ‘mati raga’ menjadi klimaks. Jika puncak ini terlewati, Ia akan dilahirkan kembali sebagai orang suci. Dosa, kesalahan, pun hilang, blank. Orang itu, si pendeta, menjadi bayi tanpa dosa. Ruwatan pun selalu dilalui dengan ‘mati raga’. Kisah-kisah proses mati, dan lahir kembali ini, sangat digemari oleh seniman-seniman Bali dan masyarakatnya. Kisah ruwatan ini pas dengan filosofi yang disuguhkan Bhagawadgita, tentang siklus akhir dari kehidupan adalah kematian, dan akhir kematian adalah kehidupan.
Pandangan hidup ini dilakoni dengan sangat indah, sehingga peristiwa kematian melahirkan karya seni besar. Ketika ngaben, hari-hari upacara jenazah dibakar, seni kriya, nyanyi, musik, pertunjukan, digelar. Akhir hidup dan akhir mati adalah inspirasi megah dalam berkesenian. Ruwatan pun menjadi rumah seni, tempat orang-orang berupaya melahirkan bermacam gagasan.
Cerita Sri Tanjung, dipentaskan dalam drama tari oleh seniman-seniman Arti Foundation di Taman Budaya Denpasar (27-28/2/2009), juga berkisah tentang kesucian, ruwatan, dan mati untuk mencapai pembersihan diri. Kisah dari kerajaan Hindu Blambangan di ujung timur Jawa, kini Banyuwangi, tidak hanya mirip, tapi sama persis dengan yang diyakini oleh penikmat seni di Bali, seperti yang bisa dijumpai dalam karya sastra Sudamala. Kisah ini laris di Bali, tetap digemani kendati diceritakan dan dipertunjukkan berulang-ulang, dengan adegan sama maupun berbeda. Cerita Sri Tanjung menjadi sakral, dan memendam spiritualisme. Penikmat kisah ini seperti dituntun ke alam ning, sehingga menggugah orang-orang untuk terus menerus memburu kesucian.
Kesucian diperoleh lewat proses sangat panjang, tapi bisa juga didapat tiba-tiba, tanpa diduga, tidak dikehendaki. Seperti Lubdaka yang menerima pengampunan dosa karena kebetulan begadang semalam suntuk di malam Siwaratri. Sri Tanjung ditakdirkan memperoleh kesucian itu, karena ia dibunuh, dan Durga meruwatnya, menghidupkannya kembali menjadi orang suci. Tapi, mengapa kisah ini memberi peluang wanita untuk tampil sebagai tokoh suci? Dan, memberi ilham betapa kesucian itu bukan monopoli laki-laki? Cerita Sri Tanjung tidak sebatas menampilkan perempuan sebagai sosok untuk dikasihani dan menguras air mata, tapi juga menampilkannya sebagai pahlawan, panutan, sehingga laki-laki yang suka memperlakukan bini mereka secara kasar dan semena-mena, bisa berkaca.
Kisah Sri Tanjung tepat menggambarkan dunia wanita Bali. Oleh orang luar, tradisi acap kali dituding penyebab kepiluan wanita Bali, dan kesempatan sah laki-laki untuk ‘menindas’. Tapi, kebanyakan wanita Bali mengungkapkan, tradisi justru memberi tempat terhormat, sehingga mereka bisa tampil sebagai wanita bertuah: perempuan yang beruntung, bahagia, ‘sakti’, dan ‘keramat’. Bagi wanita Bali, tradisi tak cuma berarti sebuah masa, bukan sebatas wilayah, tidak cuma tempat, tapi sebuah jiwa yang menjaga. Sebuah perlindungan, sesuatu yang membedakan, sehingga memberi keunikan dan rasa damai.
Tapi, tradisi acapkali membuat hidup jadi tidak mudah. Bagi wanita Bali, tradisi merupakan sebuah dilema. Ia memberi tempat untuk menunjukkan sosok dan jati diri, menyuguhkan tuah; tapi juga sebuah medan yang memaksa mereka untuk takluk. Keputusan-keputusan penting menyangkut kehidupan desa, mengesampingkan peran wanita. Skenario upacara adat, agama, lebih banyak direkayasa oleh laki-laki.
Wanita Bali mensyukuri skenario itu. Bagi mereka, rekayasa tradisi merupakan sebuah peluang menyabet peran khas: membuat dan menghaturkan sesaji, misalnya, mengurus yang serba suci. Orang Bali pun bahagia, berubah menjadi khusyuk jika menikmati kisah-kisah wanita yang sanggup meruwat jagat, menyucikan bumi. Bali adalah sebuah tempat unik kehidupan perempuan. Di sini orang bisa menyimak wanita tak cuma fisik, juga emosi. Tak hanya ketidakberdayaan, juga peran. Nusa Ning NusaBali.
Oleh : Gde Aryantha Suthama
http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1170&Itemid=79
