I Made Suta Ambara dan Kuningan di Offenbach (Frankfurt)
.
I Made Suta Ambara dan Kuningan di Offenbach (Frankfurt)
.
Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach baru saja usai. Dan jalannya perayaan Kuningan di Offenbach terbilang sukses dan sangat meriah, bila di lihat dari banyaknya umat hindu beserta pasangan hidupnya yang hadir bersembahyang bersama, banyaknya pengunjung umum yang kebanyakan warga jerman yang menghadiri pertunjukkan tari-tarian bali, dekorasi interior gedung museum yang penuh pernak pernik Bali, Banten Kuningan yang tertata rapi, lengkap, dan tampak cantik, serta banyaknya reporter media jerman yang lalu lalang yang meliput yang ingin mendapatkan informasi tentang bali dan hari raya kuningan saat itu.
.
Keberhasilan perayaan Kuningan kali ini yang selain tentunya berkat kerja keras panitia perayaan kuningan dari tempek hessen (Frankfurt) yang di ketuai oleh Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani – Prior, juga berkat dukungan dari seorang pria asli jerman yang bernama Karl-Heinz Flügel (suami dari Ketut Suastiti Widhya Raksani – Flügel, seksi Banten perayaan kuningan). Ketika Ketut Suastiti selaku penanggung jawab Banten Kuningan di Offenbach sibuk mengikuti rapat koordinasi persiapan perayaan kuningan yang dipimpin oleh Ibu Made Wiyogani – Prior, Karl-Heinz Flügel dengan setia menunggui menjaga ketiga anaknya yang terbilang masih kecil-kecil dirumahnya yang terletak di tengah kota Frankfurt yaitu Putu Radithya Flügel, 11 tahun, Dwipa Williams Flügel, 9 tahun, Nyoman Yogi Diartha Flügel, 5 tahun.
.
Tidak hanya sebatas menjagai anak-anaknya, Karl-Heinz Flügel juga sangat ringan tangan membantu istrinya (Ketut Suastiti) ketika berlibur ke Bali berbelanja kebutuhan banten kuningan dan dekorasi gedung seperti kain prada, kain poleng, pajeng dan kain lontek. Dan sekembalinya dari Bali ke Jerman Karl-Heinz juga ikut membawa serta banyak bahan-bahan banten dari Bali dalam rangka mensukseskan jalannya perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach.
.
.
Di hari jumat tanggal 23 Oktober 2009, ketika semua warga bali yang berdomisili di Frankfurt dan sekitarnya sibuk mendekorasi gedung museum di Offenbach, Karl-Heinz Flügel pun ikut ber sibuk ria membantu mendekorasi gedung, sehingga interior gedung museum tampak cantik mirip sebuah art-shop di bali. Karl-Heinz juga dengan ikhlas meminjamkan semua lukisan bali yang ia miliki dirumahnya untuk di pajang di dinding museum.
.
Disaat perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 dimana terdapat ada banyak wartawan tulis yang membuntuti ketua panitia Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani – Prior untuk mendapatkan informasi seputar perayaan Kuningan ini, Karl-Heinz pun banyak turun tangan membantu menjawab setiap pertanyaan wartawan tentang apa arti dan makna dari perayaan kuningan ini , kenapa umat hindu atau warga bali yang ada di jerman merayakan kuningan ini di Jerman. Semuanya dijawab Karl-Heinz dengan sangat jelas dan detail sehingga wartawan Jerman yang mewawancarainya tampak sangat puas mendapatkan informasi dari seorang pria Jerman yang mengerti betul tentang kebudayaan Bali dan agama Hindu, sehingga memudahkan wartawan jerman tersebut untuk meng-editnya serta memuatnya di koran dimana mereka bekerja. Dan memang betul keesokan harinya berita perayaan kuningan yang diadakan di Offenbach 24 Oktober 2009 ini banyak beredar di koran-koran yang terbit di daerah Frankfurt, Offenbach, dan koran Hessen lainnya.
.
.
Ketika saya sempat mampir kerumah Ketut Suastiti untuk mendiskusikan seputar Banten dan Banten Kuningan, Karl-Heinz tampak serius mendengarkan diskusi kami, yang sekilas tampak kalau Karl-Heinz sepertinya juga mengerti tentang filosofi Banten yang di visualisasikan sebagai bahasa simbol yang di perlukan bila kita menyelengarakan sebuah acara. Seperti memaknai banten sebagai „Raganta Tuwi“ yang dapat dijabarkan berdasarkan pembagian dari tubuh manusia seperti Ulu atau Kepala (Utama Angga), Badan (Madhyama Angga), Kaki (Nistama Angga).
.
Yang jika dihubungkan dengan Tri Angga dan gedung museum tempat penyelenggaran perayaan kuningan di Offenbach ini maka banten yang memiliki fungsi sebagai ulu adalah banten yang berada di Sanggar Surya dimana banten diletakkan di altar panggung. Banten yang berfungsi sebagai badan adalah banten ayaban yang diletakkan didalam gedung. Sedangkan banten yang berfungsi sebagai kaki atau suku adalah Banten yang berada letaknya dijaba atau di luar gedung museum di offenbach.
.
Jadi bila di renungkan fungsi dari Banten sebagai bahasa simbol yang memang kaya akan konsep hidup yang bersifat universal ternyata memiliki hubungan yang sangat erat dengan Tri Hita Karana, yaitu sebuah falsafah dalam agama Hindu yang selalu menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan , manusia dengan manusia, serta manusia dengan lingkungan. Dan topik ataupun konsep ini ternyata dimengerti betul oleh Karl-Heinz Flügel, seorang pria yang terlahir dan besar di negeri maju seperti negara Jerman. Sehingga iapun berharap agar perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach bisa berjalan dengan lancar dan mendapat restu dari Tuhan, dari sesama umat manusia, dan dari lingkungan sekitarnya.
.
Karl-Heinz Flügel ketika muda
.
Bagaimana perjalanan hidup dari Karl-Heinz Flügel sehingga akhirnya bisa memiliki ketertarikan yang tinggi akan bali dan ajaran universal dari agama hindu dan bagaimana sejarah pertemuannya dengan Ketut Suastiti Widhya Raksani di Bali.
.
Ketika saya bertamu kerumahnya, Karl-Heinz Flügel yang lahir tanggal 7 Februari 1952 bercerita panjang lebar seputar kehidupannya di masa lalu dimulai dari masa mudanya yang memang memiliki hobby berpetualang ke luar negeri seperti layaknya orang jerman lainnya yang memang suka berlibur. Karl-Heinz muda banyak menghabiskan masa berliburnya di Indonesia dan Bali. Dan seluruh pelosok pedesaan di Bali hampir semua ia kenali dan pernah ia kunjungi. Karl-Heinz tertarik memang suka sekali berinteraksi dengan masyarakat pedesaan di Bali, mempelajari kehidupan masyarakat di desa di bali hingga kebudayaan dan adat istiadat yang ada di bali tidak luput dari jepretan kamera yang ia bawa kemana-mana ketika itu. Foto-foto jaman dulu ia tunjukkan sambil mengingat-ingat nama-nama orang bali yang pernah ia kenalnya di Bali. Ada yang sudah meninggal dan ada yang sekarang sudah tumbuh dewasa.
.
Ketertarikannya akan adat istiadat serta upakara di bali membuatnya ketika di bali sering menghadiri upacara dewa yadnya ataupun manusia yadnya yang di selenggarakan oleh teman-temannya di bali, sampai akhirnya ia berjumpa dengan seorang gadis bali yang bernama Ketut Suastiti Widhya Raksani di saat upacara metatah (mesangih) salah satu teman mereka ditahun 1987. Karl-Heinz Flügel ketika bertemu Ketut Suastiti yang ketika itu masih duduk di sekolah SMA Dwijendra Kapal bertegur sapa biasa saja seperti menyapa masyarakat bali lainnya.
.
Menurut penuturan Ketut Suastiti tentang Karl-Heinz Flügel yang saat itu berpakaian adat bali, sangat sibuk mendokumentasikan dengan kameranya setiap prosesi jalannya upacara manusia yadnya saat itu. Ketut Suastiti pun sangat kagum dengan „toris bule“ yang memiliki ketertarikan dengan adat istiadat bali.
.
Dan sejak upacara manusia yadnya itulah Ketut Suastiti dan Karl-Heinz Flügel menjadi kenal satu sama lain. Namun perkenalan disaat itu baru hanya sebatas teman biasa dan tidak pernah ada kontak lebih lanjut hingga akhirnya mereka berjumpa lagi di tahun 1993. Walaupun sesungguhnya Karl-Heinz Flügel datang kebali setiap tahun bahkan pernah datang kebali 2x setahun. Pertemuan berikutnya pun terjadi secara kebetulan di tahun 1993 dirumah suami sepupunya ketut suastiti. Dari pertemuan itu ketut suastiti diminta Karl-Heinz Flügel untuk mengantarkan ke Pura Besakih. Hingga akhirnya Ketut Suastiti mengundang Karl-Heinz Flügel untuk mampir kerumahnya bertamu. Dan salah satu pertanyaan yang masih di ingat ketut suastiti kepada Karl-Heinz Flügel saat itu adalah kenapa Karl-Heinz tertarik ke pura dan kenapa tertarik dengan agama Hindu.
.
.
Menjadi I Made Suta Ambara
.
Seiring berjalannya waktu, Ketut Suastiti dan Karl-Heinz Flügel akhirnya menjadi sepasang kekasih yang saling jatuh cinta hingga akhirnya mereka melangsungkan pernikahan pada tanggal 11 Juni 1997 di Bali. Namun seminggu sebelum mereka melangsungkan pawiwahan yaitu tanggal 4 Juni 1997, Karl-Heinz Flügel menjalani upacara Sudiwadani (upacara memeluk Hindu) dan berganti nama menjadi „Made Suta Ambara“.
.
Sesungguhnya proses upacara sebelum pernikahan yang dijalani Made Suta Ambara tidaklah hanya sebatas me-sudiwadani, melainkan juga upacara manusia yadnya lainnya layaknya bayi yang terlahir dari keluarga hindu, seperti upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir, diikuti dengan upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari), selanjutnya upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton), hingga upacara Potong Gigi (Metatah / Mesangih) sebagai simbol Made Suta Ambara naik remaja. Dan diakhiri dengan upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana berpasangan dengan Ketut Suastiti Widhya Raksani yang dilangsungkan pada tanggal 11 Juni 1997.
.
Dari pernikahan dengan ketut suastiti lahirlah satu persatu buah cintanya, yang pertama bernama Putu Raditya Flügel yang lahir 5 April 1998 di Bali, Dwipa Williams Flügel yang lahir 23 Mei 2000 di Frankfurt, dan yang terakhir Nyoman Yogi Diartha Flügel yang lahir 23 Maret 2004 di Frankfurt. Walaupun kedua anak terakhir mereka ( Dwipa Williams dan Nyoman Yogi) terlahir di Jerman, namun plasenta (ari-ari) dari Dwipa Williams dan Nyoman Yogi dibawanya pulang ke bali dan ditanam di rumahnya di desa Kapal Pemebetan Denpasar, dan anak-anak merekapun menjalani proses upacara yang sama seperti seorang umat hindu lainnya sedari kecil hingga sekarang. Itu semua dilakukannya dengan maksud agar generasi keluarga Made Suta Ambara selalu ingat akan tanah leluhurnya di Bali dan darah yang megalir tetaplah Hindu walaupun diluarnya berkulit Jerman , demikian penjelasan Made Suta Ambara.
.
.
Lebih lanjut disaat sekarang anak-anak mereka sudah tumbuh besar, Made Suta Ambara bersama istrinya Ketut Suastiti Widhya Raksani terus menanamkan ajaran-ajaran agama hindu kepada anak-anaknya dirumahnya di Frankfurt walaupun anak-anak mereka mendapatkan pendidikan formal di sekolah dengan budaya barat. Setiap dua tahun sekali anak-anak mereka diajaknya berlibur ke bali mengunjungi sanak saudaranya serta mengunjungi kakek dan neneknya. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak mereka bisa terus memiliki ikatan kekeluargaan dengan keluarga besar mereka dibali.
.
Bahkan disaat bapak dan ibu dari Ketut Suastiti Widhya Raksani yaitu Bapak I Ketut Canderi B.A dan Ibu Ni Made Murni yang juga merupakan kakek dan nenek dari ketiga anak-anaknya melakukan upacara Dwijati yaitu menjadi seorang Brahmana dan bergelar Ida Pandhita Mpu Jayareka Tanaya serta Ida Istri Pandhita Mpu Jaya Reka Tanaya, ketiga anak-anak mereka ikut menyaksikan proses upacara Catur Asrama yang terakhir ( Brahmacari Ashrama, Grhasta Ashrama, Wanaprasta Ashrama, Bhiksuka Ashrama). Sehingga ajaran Hindu benar-benar tertanam hingga kesanubari anak-anaknya yang walaupun hidup dan sekolah di jerman tapi jauh di lubuk hati ketiga anak-anaknya tertanam ajaran kuat Hindu Dharma.
.
.
Itulah sebabnya ketika perayaan kuningan 24 Oktober 2009 di selenggarakan di kota Offenbach yang tidak jauh dari kota Frankfurt dimana keluarga Made Suta Ambara berdomisili, dan kebetulan istri tercinta beliau yaitu Ketut Suastiti Widhya Raksani dalam kepanitiaan perayaan Kuningan kemaren menanggung jawabi Banten, Made Suta Ambara begitu antusias mengijinkan istrinya untuk terlibat aktif di kepengurusan panitia perayaan kuningan ini, membantu istrinya membeli keperluan Banten di Bali hingga membawanya ke Jerman, membantu mendekorasi gedung museum hingga tampak cantik, serta membantu menjembatani warga bali dengan pihak pemilik gedung museum dan juga dengan pihak wartawan tulis jerman yang ingin mendapatkan penjelasan tentang hari raya suci Kuningan.
.
Disadari atau tidak, ketika perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di gedung museum Offenbach, dimana Made Suta Ambara sangat sibuk mendokumentasikan jalannya perayaan kuningan, dan ketut Suastiti juga sibuk menjadi panitia perayaan kuningan yang menanggung jawabi perihal Banten Kuningan dan bahkan ikut serta menari Janger dan Genjek, tapi ketiga anak-anak mereka yang memang dikenal dekat dengan kedua orang tuanya dan memang cukup rewel dirumahnya namun di saat perayaan kuningan mereka tiba-tiba menjadi anak-anak yang baik dan tidak banyak permintaan kepada orang tua mereka. Anak-anak mereka seperti mengerti betul apa tugas orang tuanya yang disaat perayaan kuningan tidak bisa di ganggu sehingga anak-anak mereka mencari teman sendiri yang seumuran yang baru mereka kenal saat itu dan bermain seadanya didalam gedung museum, demikian kata Made Suta Ambara yang juga di iyakan oleh istri tercintanya Ketut Suastiti Widhya Raksani – Flügel.
.
.
Saya sungguh sangat beruntung bisa berkenalan dengan keluarga Made Suta Ambara yang sangat ramah ini. Semoga dikemudian hari akan semakin banyak lagi muncul Made Suta Ambara yang lainnya di negeri Jerman ini ataupun di benua Eropa, yang secara sadar muncul dari lubuk hati sanubarinya memiliki ketertarikan mempelajari prinsip-prinsip ajaran suci Hindu Dharma yang memang bersifat universal. Dan harapan saya semoga keluarga Made Suta Ambara selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang Widi Wasa.











