kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Stories’ Category

Riwayat Kasta di Bali

Posted by Adnyana under Stories

Om Swastyastu. Kasta, dalam Dictionary of American English disebut: Caste is a group resulting from the division of society based on class differences of wealth, rank, rights, profession, or job. Uraian lebih luas ditemukan pada Encyclopedia Americana Volume 5 halaman 775; asal katanya adalah “Casta” bahasa Portugis yang berarti kelas, ras keturunan, golongan.

Bangsa Portugis yang dikenal sebagai penjelajah lautan adalah pemerhati dan penemu pertama corak tatanan masyarakat di India yang berjenjang dan berkelompok; mereka menamakan tatanan itu sebagai casta. Tatanan itu kemudian berkembang di Eropa terutama di Inggris, Perancis, Rusia, Spanyol, dan Portugis. Sosialisasi casta di Eropa tumbuh subur karena didukung oleh bentuk pemerintahan monarki (kerajaan) dan kehidupan agraris.

Para elit ketika itu adalah the king (raja), the prince (kaum bangsawan), dan the land lord (tuan/ pemilik tanah pertanian); rakyat jelata kebanyakan buruh tani misalnya di Rusia disebut sebagai kaum proletar adalah kelompok mayoritas yang hina, hidup susah, dan senantiasa menjadi korban pemerasan kaum elit.

Lama kelamaan tatanan ini berubah karena tiga hal utama, yaitu:

  1. Revolusi Perancis dan Bholshevik (Rusia) yang menghapuskan monarki dan the land lord
  2. Industrialisasi yang mengurangi peran sektor agraris
  3. Pengembangan Agama Kristen yang menonjolkan segi kasih sayang diantara umat manusia

Walaupun demikian casta tidak hilang sama sekali; ia berubah wujud sebagai “Class System” yang didefinisikan sebagai: a differentiation among men according to such categories as wealth, position, and power.

Class System ini dianalisis secara ilmiah oleh berbagai tokoh masyarakat; yang terkemuka adalah Karl Marx dengan teorinya: The relations of production; inilah embrio pemahaman sosialis komunis yang ingin meniadakan perbedaan kelas masyarakat, di mana pemerintah menguasai sumber-sumber kehidupan dan mengupayakan perimbangan income yang wajar diantara rakyatnya.

Peredaran zaman menuju ke abad 20 membawa Class Theory yang klasik seperti pemikiran Karl Marx berubah menuju era baru seperti apa yang disebut sebagai Class Mobility, yaitu pengelompokan sosial karena kepentingan profesi. Kini kita biasa mendengar kelompok-kelompok: usahawan, birokrat, intelektual, militer, dan rohaniawan; mereka kemudian mengikat diri lebih khusus kedalam organisasi-organisasi seperti: IKADIN, IDI, ICMI, ICHI, MUI, PHDI, dll.

India yang disebut dalam berbagai sumber sebagai asal Kasta Stelsel, sebenarnya mempunyai sekitar 3000 kelompok sosial masyarakat, namun pada umumnya dapat dibedakan menjadi empat. Pengelompokan ini di India tidak hanya ditemukan pada masyarakat yang beragama Hindu saja, tetapi juga pada masyarakat yang beragama lain misalnya penganut Islam berkelompok pada: Sayid, Sheikh, Pathan, dan Momin; penganut Kristen berkelompok pada: Chaldean Syrians, Yacobite Syrians, Latin Catholics, dan Marthomite Syrians; penganut Budha berkelompok pada: Mahayana, Hinayana, dan Theravadi.

Istilah pertama yang digunakan di India bukan kasta tetapi “varnas” Bahasa Sanskerta yang artinya warna (colour); ditemukan dalam Rig Veda sekitar 3000 tahun sebelum Masehi yaitu Brahman (pendeta), Kshatriya (prajurit dan pemerintah), Vaishya (pedagang/ pengusaha), dan Sudra (pelayan).

Tiga kelompok pertama disebut “dwij” karena kelahirannya diupacarai dengan prosesi pensucian.

Dalam Bhagavadgita percakapan ke-IV sloka ke-13 ditulis:

chatur varnyam maya srishtam, guna karma vibhagasah, tasya kartaram api mam, viddhy akartaram avyayam

artinya: catur warna adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja, tetapi ketahuilah walaupun penciptanya, Aku tidak berbuat dan mengubah diri-Ku.

Warna adalah profesi atau bidang kerja yang dilaksanakan seseorang menurut bakat dan keahliannya; tidak ada perbedaan derajat diantaranya karena masing-masing menjalankan karma dengan saling melengkapi.

Mantram-mantram dari Yajurveda sloka ke-18, 48 antara lain berbunyi:

Rucam no dhehi brahmanesu, rucam rajasu nas krdhi, rucam visyesu sudresu, mayi dhehi ruca rucam

artinya: Ya Tuhan Yang Maha Esa bersedialah memberikan kemuliaan pada para Brahmana, para Ksatriya, para Vaisya, dan para Sudra. Semoga Engkau melimpahkan kecemerlangan yang tidak habis-habisnya kepada kami.

Yajurveda Sloka ke 30, 5 berbunyi:

Brahmane brahmanam, ksatraya, rajanyam, marudbhyo vaisyam, tapase sudram

artinya: Ya Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan Brahmana untuk pengetahuan, para Ksatriya untuk perlindungan, para Vaisya untuk perdagangan, dan para Sudra untuk pekerjaan jasmaniah.

Profesi yang empat jenis itu adalah bagian-bagian (berasal) dari Tuhan Yang Maha Esa yang suci, diibaratkan sebagai anatomi tubuh manusia dalam tatanan masyarakat, sebagaimana Yajurveda sloka 31, 11 menyatakan:

Brahmano asya mukham asid, bahu rajanyah krtah, uru tadasya yad vaisyah, padbhyam sudro ajayata

artinya: Brahmana adalah mulut-Nya Tuhan Yang Maha Esa, Ksatriya lengan-lengan-Nya, Vaisya paha-Nya, dan Sudra kaki-kaki-Nya.

Selanjutnya doa yang mengandung harapan agar masing-masing profesi/ warna melaksanakan swadharma yang baik terdapat pada Yajurveda sloka 33,81:

pravakavarnah sucayo vipascitah

artinya: para Brahmana seharusnya bersinar seperti api, bijak, dan terpelajar;

Yajurveda sloka 20,25:

yatra brahma ca ksatram ca, samyancau caratah saha, tam lokam punyam prajnesam, yatra devah sahagnina

artinya: di negara itu seharusnya diperlakukan warga negaranya sebaik mungkin, di sana para Brahmana dan para Kesatriya hidup di dalam keserasian dan orang-orang yang terpelajar melaksanakan persembahan (pengorbanan).

Kesimpulannya adalah Warna itu realistis dan idealnya semua profesional berbuat sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama dan kesejahteraan umat manusia.

Warna seseorang tidak selamanya tetap apalagi turun temurun; misalnya seorang petani (berwarna sudra) karena ketekunannya berhasil menyekolahkan anaknya kemudian hari menjadi bupati maka anaknya sudah menjadi warna Ksatriya; demikian sebaliknya seorang keturunan Brahmana yang tidak lagi berprofesi sebagai Wiku tidak dapat disebut sebagai warna Brahmana.

Perubahan status pada seseorang bahkan dapat terjadi setiap saat menurut bidang tugasnya, misalnya seorang pesuruh di suatu Kantor yang merangkap menjadi Pemangku di Pura/ Sanggah Pamerajan; ketika bertugas sebagai pesuruh dia berwarna Sudra, tetapi jika bertugas nganteb piodalan di Pura dia berwarna Brahmana.

Warna yang diabadikan bahkan diwariskan turun temurun terjadi di India, sebagai usaha kelompok elit mempertahankan status quo, yang sebenarnya sudah sangat menyimpang dari ajaran suci Weda.

Gejala mengabadikan warna inilah yang dilihat oleh orang-orang Portugis sehingga timbullah istilah “casta” seperti yang diuraikan di atas.

Penerapan kasta stelsel di India menimbulkan pengkotak-kotakan masyarakat sehingga mereka saling bertikai. Dalam kondisi seperti ini jiwa nasionalisme pudar sehingga India mudah dipecah belah dan akhirnya dijajah Inggris.

Perjuangan Mahatma Gandhi membangkitkan nasionalisme India dibayar sangat mahal yaitu dengan jiwanya sendiri ketika dia ditembak oleh seorang fanatikus kasta.

Agama Hindu kemudian menyebar ke Indonesia lengkap dengan tatanan masyarakat menurut “warna” masing-masing. Mula-mula di Jawa tatanan masyarakat masih murni menurut Weda yaitu tatanan menurut profesi atau “Warna”.

Ketika Majapahit hendak meluaskan kerajaan dengan cita-cita menyatukan Nusantara yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya Gajahmada, maka Majapahit menundukkan Kerajaan Bali Dwipa pada abad ke-13.

Para “penjajah Majapahit” membawa serta kaum elit yang memimpin kerajaan Samprangan. Kaum elit itu dinamakan Triwangsa, yaitu Brahmana, Kesatria, dan Wesya. Semua penduduk Bali-asli yang dijajah, dikelompokkan sebagai Wangsa Sudra.

Tujuan politik Gajahmada adalah agar kaum Bali-asli tidak bisa eksis, sehingga kelanggengan pemerintahan Samprangan dapat berlanjut terus.

Sejak masa itulah “Warna” di Bali berubah menjadi “Wangsa” atau “Kasta” karena hak-hak kebangsawanan diturunkan kepada generasi seterusnya.

Setelah kerajaan-kerajaan di Bali runtuh, kemudian Indonesia menjadi negara Republik, hak-hak kebangsawanan mereka dengan sendirinya hilang. Namun demikian titel-titel nama depannya masih digunakan, sekedar untuk mengenang kejayaan masa lalu dan mungkin dengan alasan lain yaitu menghormati leluhur.

Sekarang tinggal masyarakat saja yang menilai kedudukan seseorang.

Tinggi rendahnya status sosial seseorang di masyarakat ditentukan pada peranan pengabdiannya kepada kepentingan masyarakat, bukan pada embel-embel predikat nama itu.

Mereka yang bijaksana akan senantiasa menjauhkan perilaku feodalisme, karena feodalisme itu membodohi diri sendiri.

Om Santih Santih Santih Om.

http://bali.stitidharma.org/bali/riwayat-kasta-di-bali/#more-578

Pis Bolong adalah jenis mata uang yang sampai saat ini memiliki arti penting bagi kehidupan beragama di Bali khususnya Agama Hindu. Melihat kegunaannya Pis Bolong pasti ada pada setiap upacara yang diselenggarakan di Bali baik itu dari Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, maupun Bhuta Yadnya.

Pis Bolong yang berbentuk uang logam dengan lubang segi empat di tengah dibuat dari campuran logam seperti perunggu, tembaga, atau kuningan. Melihat dari huruf yang tertera pada Pis Bolong ini tentunya sudah dapat diketahui dari mana asal mula Pis Bolong ini. Pis Bolong ini diperkirakan datang dari negeri Cina pada jaman kejayaan Majapahit untuk dijadikan alat pembayaran.

Kegunaan Pis Bolong pada saat ini tidak untuk alat pembayaran lagi tapi berfungsi sebagai Pis Sandangan dalam Upacara-upacara besar atau Sesari pada Kewangen. Pis Sandangan yang dibungkus dengan tapis dan diikat dengan anyaman dari bambu atau penyalin (rotan) sehingga berbentuk mirip kendi air. Jumlah keping dalam Pis Sandangan ini adalah SEPA SATUS ( Seribu Tujuh Ratus). Lebih kecil dari Pis Sandangan ini ada yang disebut Pis Andel Andel yang diikat dengan benang Tridatu sebanyak dua ratus keping. Pis Andel Andel digunakan dalam upacara yang lebih kecil.

Selain itu Pis Bolong juga digunakan saat Ngajum Sekah pada upacara Ngaben yang ditempatkan di atas kain putih yang telah digambari menyerupai anatomi tubuh manusia dan ditempel menggunakan jarum.

Selain sebagai alat transaksi pembayaran dan upacara, menurut penuturan para tetua di Bali bahwa Pis Bolong yang memiliki keunikan dan ciri tertentu selalu menjadi incaran. Pada saat itu dikalangan remaja ada yang gemar untuk mendapatkan PIS REJUNA yaitu uang bolong yang bergambar Tokoh Pewayangan yang paling cakap dalam memanah yaitu Sang ARJUNA. Pis Bolong bergambar Arjuna ini dipercaya bisa digunakan untuk memikat gadis yang menjadi incaran sang pemuda. Dengan simbol sang Arjuna ini diyakini akan dapat memanah Jantung Asmara sang gadis untuk dipersunting dijadikan istri. Sedemikian sulit dan kuatnya kepercayaan akan khasiat dari Pis Rejuna ini tidak sedikit di antara pemuda-pemuda yang kuat keinginannya untuk segera mempersunting gadis idaman ini berburu di malam hari ke tempat tempat yang angker untuk mendapatkan Pis Arjuna ini. Disamping Pis Arjuna ada juga yang disebut Pis Jaran yang dipercaya memiliki khasiat memberi kekuatan menyamai Kuda. Pis ini biasanya dipercaya digunakan di dalam pertandingan lari, sepak bola dan olah raga lain yang memerlukan stamina kuat untuk bertanding. Ada juga yang disebut Pis Tualen, Pis Sangut yang kegunaannya sesuai dengan karakter tokoh-tokoh yang ada dalam pewayangan itu.

Nilai Historis Pis Bolong dan Fungsi Magisnya :

Pis bolong mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1293 M semasa kejayaan Majapahit. Berasal dari perdagangan antara Majapahit dengan Cina. Ketika itu Majapahit belum mempunyai uang kartal. Maka digunakan uang kepeng sebagai alat tukar dalam perdagangan. Perdagangan di masa itu dikuasai oleh saudagar-saudagar Cina.

Pis bolong ada beberapa jenis :
- buatan Cina, dari zaman dinasti Tang, Sung dan Chin (756 M)
- buatan Jepang, dari zaman dinasti Tokugawa (1741 M)
- buatan Vietnam, tidak jelas ketika dinasti apa
- buatan Jawa dari zaman Walisongo (Islam, 1400 M) dengan huruf arab
- buatan para dukun di Bali sekitar abad ke 13

Pis bolong mula-mula digunakan sebagai uang kartal, berlaku di Bali sampai tahun 1950. Selain itu di Bali digunakan pula sebagai sarana upakara, karena dianggap pis bolong mempunyai kekuatan magis.

Kemudian setelah tidak berfungsi sebagai uang kartal, pis bolong tetap digunakan sebagai upakara hingga saat ini.

Pis bolong sebagai jimat dibuat oleh para balian/dukun di Bali disertai pemasupati. Contohnya :

- pis jaran
- pis dedari
- pis rejuna
- pis hanoman
- pis kresna

- pis tualen
- pis jring
- pis gobogan
- dll

Ada juga pis bolong yang dipandang sangat sakral karena datangnya secara gaib, misalnya melalui wong samar, paica Ida Bhatara, dll.

Di zaman sekarang, pis bolong sudah hampir punah. Maka dibuat tiruannya. PHDI Pusat sudah mengeluarkan keputusan paruman Sulinggih, bahwa pis bolong sekarang sudah bisa diganti dengan uang logam yang berlaku sah di Indonesia saat ini. Keputusan ini tertuang dalam Kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu.

http://www.babadbali.com/canangsari/pis_bolong.htm

http://stitidharma.org/main/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=199

Filosofi Saput Poleng

Posted by Adnyana under Stories

Filosofi Saput Poleng

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beraneka ragam budaya dan tradisi masyarakat. Negara kita merupakan bangsa majemuk dengan penduduk sekitar 210 juta jiwa. Kebhinekaan memang merupakan kekayaan dan sumber kekuatan bangsa, namun harus kita akui bahwa kebhinekaan juga mengandung kerawanan jika kita tidak pandai menjaganya. Sepanjang perjalanan sejarah bangsa Indonesia semenjak berabad-abad yang lalu, bangsa kita pernah menjadi kelinci percobaan penjajah yang dengan mudahnya di adu domba. Dengan beragamnya dimensi sosial yang ada dan tumbuh berkembang di masyarakat menyebabkan semakin lebarnya jurang pemisah di antara segenap insan sosial. Akankah hal ini terulang kembali? Tentunya tidak bukan! Sebagai mahluk sosial, manusia tidak bisa melepaskan komunikasi dan hubungan pergaulan terhadap sesama. Pada tatanan ini akan terjadi proses pembaruan yang tidak mungkin dihindari. Dipertegas lagi bahwa Hyang Widhi yang Maha Pencipta tidak pernah menciptakan sesuatu yang sama. Mahluk ciptaan-Nya berupa manusia diwarnai dengan kemajemukan. Terlihat dari warna kulit, ras, suku, golongan, bangsa, bahasa, dan agama. Seseorang yang beragama Hindu, misalnya pasti akan bergaul dengan pemeluk agama yang lain. Proses ini merupakan hal yang wajar dan alami. Interaksi plurastik terjadi dan dapat dipastikan semua agama mengakuinya.

Dewasa ini kehidupan manusia dihadapkan pada permasalahan menyangkut hak asasi manusia, etnis, dan agama.. Kondisi ini menyebabkan panilaian terhadap manusia cenderung manganggap sesama manusia berbeda hanya karena perbedaan itu semua. Dalam hal ini kearifan umat Hindu menyodorkan solusi mencari jalan keluar memecahkan masalah tersebut.

Agar hipokrit (munafik sosial) kehidupan beragama tidak berlanjut, dituntut kesadaran semua pihak untuk dapat saling bertoleransi satu sama lain. Pendidikan merupakan faktor penting untuk menumbuhkan kesadaran itu. Mendidik dengan mengandalkan kata-kata saja tentu kurang menarik, karena itu diperlukan media pendidikan untuk menyampaikan pesan-pesan. Pesan dapat berupa nilai, yaitu suatu acuan yang digunakan untuk berpikir dan bertindak. Salah satu penerapannya ialah dengan memanfaatkan kearifan local dari falsafah Hindu yang ada di Bali, yaitu saput poleng sebagai medianya. Saput poleng adalah selembar kain bercorak kotak-kotak dengan warna putih dan hitam seperti papan catur.

Menurut tradisi ada tiga jenis saput poleng, antara lain meliputi:

1. saput poleng saput Rwa Bhineda

2. saput poleng Sudhamala

3. saput poleng Tridatu

Saput poleng Rwa Bhineda berwarna putih dan hitam. Warna gelap (hitam) dan terang (putih) merupakan suatu cerminan dari dharma dan adharma.

Saput poleng Sudhamala berwarna putih, hitam, dan abu. Abu sebagai peralihan dari warna hitam dan putih yang mengantarai keduanya. Artinya menyelaraskan simfoni dharma dan adharma.

Saput poleng Tridatu berwarna putih, hitam, dan merah. Merah merupakan simbol rajas keenergikan, hitam adalah tamas (kemalasan) dan putih simbol satwam (kebijaksanaan, kebaikan).

Saput poleng sebagai simbol masyarakat Hindu di Bali digunakan oleh para pecalang (perangkat keamanan), patung penjaga pintu gerbang, dililitkan pada kul-kul atau kentongan, dikenakan oleh balian atau pengobat tradisional, dihiaskan pada tokoh-tokoh ithiasa (Merdah, Tualen, Hanoman, dan Bima), dikenakan oleh dalang wayang kulit ketika melaksanakan pangruwatan atau penyucian, dililitkan pada tempat suci yang diyakini berfungsi sebagai penjaga. Pada intinya saput poleng digunakan sebagai simbol penjagaan.

Implementasi falsafah ini dapat memberikan kita sebuah cerminan yang terimplikasi terhadap kehidupan beragama.

Warna putih yang secara umum merupakan suatu simbolik dari satwam yang secara umum merupakan suatu simbolik dari kekuatan dharma yang sudah sepatutnya memberikan cerminan kepada kita bahwa dalam hidup beragama kita harus memegang teguh prinsif dharma yang senantiasa memberikan kedamaian. Hal ini tercermin dari sikap toleransi untuk menghindari kemunafikan sosial (hipokrit sosial) yang ujung-ujungnya mengakibatkan perpecahan diantara kita semua.

Dalam Rg. Veda X.191. 3-4 menyatakan bahwa pada hakekatnya semua manusia adalah bersaudara. Vasudaiva Kutumbakam, semua mahluk adalah bersaudara. Persaudaraan umat manusia ini disebabkan oleh satu asal dan kembalinya bagi setiap mahluk dan alam semesta, sama-sama menikmati kehidupan di karibaan bumi pertiwi tercinta, oleh karena itu Tuhan Yang Mahaesa, Sang Hyang Widhi mengamanatkan kepada kita untuk hidup dalam suasana damai penuh kebahagiaan dalam persaudaraan yang sejati.

Warna hitam merupakan simbolik dari tamas (kemalasan) yang merupakan kekuatan adharma yang senantiasa ada jika dharma ada dan ini merupakan suatu hukum ilahi yang senantiasa berjalan terus. Kekuatan adharma tidak sepatutnya disalah-kaprahkan, namun seharusnya kita mengontol diri kita agar tidak membuat suatu tindakan yang dapat memprovokasi orang lain.

Disamping itu pula, warna abu pada saput poleng memberikan suatu implemtnasi terhadap suatu penyelarasan antara kekuatan dharma dan adharma. Jadi sikap seperti ini merupakan suatu cerminan sikap toleransi kehidupan beragama yang memberikan keselarasan dari sisi baik dan buruk.

Warna merah merupakan simbol keenergikan (rajas) yang semestinya kita cerminkan terhadap semangat untuk membina kerukunan umat beragama. Bukannya semangat yang kita miliki dipergunakan untuk mengompori semua perbedaan yang akhirnya akan membakar dan membawa kita ke abu keharmonisan. Setiap permasalahan yang muncul bila semakin dikompor-kompori, maka akan semakin parah. Untuk itulah, keenergikan tersebut jangan sampai disalahgunakan dalam suatu hal yang tidak baik.

Seperti yang termuat Atharvaveda, XII.1. 45 dinyatakan : “Beberapa pengucapan bahasa yang berbeda-beda dan pemeluk agama yang berbeda-beda pula dan sesuai dengan keinginan. Mereka tinggal bersama di bumi pertiwi yang penuh keseimbangan tanpa banyak bergerak, seperti sapi yang selalu memberikan susunya kepada manusia. Demikian juga ibu pertiwi selalu memberi kebahagiaan melimpah pada semua umat manusia”.

Terungkap juga dalam Weda Sruti : “Seseorang yang menganggap seluruh umat manusia memiliki atma yang sama dan dapat malihat semua manusia sebagai saudaranya, orang tersebut tidak terikat dalam ikatan dan bebas dari kesedihan” (Yayurweda, 40.7).

Kedua mantra tersebut dengan sangat gamblang menyatakan bahwa manusia hidup di lingkungan majemuk dapat tinggal dalam keharmonisan. Juga, memberikan kearifan pada umat dalam menyikapi persepsi manusia berbeda karena warna kulit, ras, etnis, dan agama adalah sebuah keluarga besar. Artinya tidak hanya satu agama yang diagungkan, dijayakan, tetapi semua agama dipandang sebagai kebenaran. Semua berhak hidup di bumi pertiwi ini. Kemajemukan tersebut seperti pelangi berwarna-warni ciptaan Tuhan.

Sangat indah dan menyejukkan sehingga mampu menumbuhkan kedamaian hati umat manusia. Kemajemukan tidak untuk dipertetangkan karena kemajemukan adalah keharmonisan dan keindahan, bukan kekacuan atau kesemrawutan. Spritualitas kearifan ini dalam diri manusia adalah sama. Di samping itu semua umat manusia berkeinginan hidup berdampingan secara damai di muka bumi pertiwi yang kita cinta ini. Jika spritualitas ini dapat dijalankan sebagai landasan berpikir dan pola tindakan, maka manusia akan melupakan perbedaan yang ada dan sekaligus tidak mempertentangkan perbedaan tersebut. Hal ini sangat relevan dan arif dalam kehidupan bangsa Indonesia yang sangat kental warna kemajemukan yang diwarnai oleh beragamnya kehidupan masyarakat.

Nilai-nilai filosofis yang demikian tinggi dalam saput poleng dapat dijadikan cermin dalam mempertahankan kerukunan kehidupan beragama. Hal tersebut perlu diterapkan agar kita semua terhindar dari hipokrit sosial yang dapat memecah belah kita semua. Keinginan (rajas) yang tak terbatas agar diimbangi sifat mengerem (tamas) serta dikontrol dengan kebijaksanaan (satwam). Keseimbangan rajas dan tamas yang didominasi satwam secara perlahan akan meningkatkan harkat kemanusiaan (Manawa) dan sifat keraksasaan (danawa) menuju sifat kedewataan (madawa). Dan semoga kita semua diberikan kedamaian…

Oleh : I Gede Mahendra Wijaya
Mahasiswa Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB

Source :   www.bddn.org

http://okanila.brinkster.net/mediaFull.asp?ID=1441

Sumber Foto: http://blog.baliwww.com

Apakah Bali akan tetap Hindu?

Posted by Adnyana under Stories

Apakah Bali akan tetap Hindu?

Mengapa Bali tetap Hindu?

Setelah keruntuhan Majapahit pada abad 15, hampir seluruh Nusantara menjadi Islam, kecuali beberapa wilayah di Indonesia Timur yang Kristen. Bali, menurut mendiang Clifford Geertz, sebuah pulau Hindu yang munggil, menyembul di tengah samudera Islam. Mengapa Bali tetap Hindu? Apa yang menghalangi kerajaan-kerajaan Islam di Jawa masuk ke Bali? Satu sebab yang luas dipercaya adalah bahwa para tokoh Hindu, seperti Danghyang Nirartha telah membangun benteng niskala di seluruh pesisir Bali yang tidak bisa ditembus oleh para penyerbu dari luar. Mungkin saja hal ini benar dari sudut niskala. Tetapi Robert Pringle dalam bukunya “A Short History of Bali, Indonesia’s Hindu Realm” memberikan analisis dari aspek sekala yang masuk akal.

Di bawah subjudul “Why Bali Remained Hindu” Pringle menulis sebagai berikut : Kenapa, setelah keruntuhan Mahapahit, Bali tetap jauh tinggi (aloof) dari kecendrungan kepulauan Nusantara dan gagal memeluk Islam? Geografi tentu saja bukan jawaban yang cukup; seperti dicatat sebelumnya, Selat Bali yang sempit dan dangkal, yang memisahkan pulau ini dari Jawa, tidak pernah merupakan hambatan serius bagi perobahan. Tentu saja ada hambatan-hambatan kultural bagi penetrasi Islam – kegemaran akan daging babi adalah hal yang sering dikutip – tetapi hambatan yang sama ada di Jawa, di mana konversi kepada Islam sungguh-sungguh, sekalipun sering hanya secara nominal, bersifat universal.

Orang-orang Bali tidak pernah secara sungguh-sungguh anti Islam. Komunitas Islam terus ada (di Bali) paska Majapahit. Puri-puri dan para penguasa Bali tetap menerima kehadiran orang Muslim sebagai pedagang dan menyewa mereka sebagai tentara.

Waktu memberikan orang-orang Bali Hindu ruang nafas politik. Tidak ada kerajaan Islam yang kuat di Jawa sampai kemunculan Mataram, yang mulai pada akhir abad 16, hampir seratus tahun setelah keruntuhan Majapahit. Sementara Mataram mampu mengusir orang-orang Bali dari Belambangan secara temporer, Gelgel dan kerajaan penerusnya tetap kuat yang membuat invasi ke Bali menjadi sulit, dengan atau tanpa dukungan Belanda. (Tambahan dari saya : Bahkan Bali, diwakili oleh Buleleng atau Mengwi mampu menguasai sebagian Jawa Timur. Karangasem menguasai Lombok. Ketika Dalem Samprangan berkuasa, kekuasaannya meliputi Sumbawa. Bali pernah mempersiapkan diri untuk menyerang Mataram).

Bagaimanapun juga, Mataram pertama-tama sibuk dengan saingan-saingannya di Jawa, dan kemudian dengan Belanda, tampaknya tidak tergoda oleh pertimbangan untuk melakukan pengislaman dengan api dan pedang di antara berbagai kantong orang-orang tidak percaya sepanjang pesisir sebelah timur Jawa.

Belakangan, ekspansi Belanda melemparkan Mataram pada posisi defensif. Ketika kekuatan Belanda semakin berkembang, yang akhirnya membuat mereka mampu menguasai saingan-saingan Indonesianya, keuntungan politik yang mungkin didapat oleh para penguasa Bali melalui konversi ke Islam semakin berkurang dan akhirnya lenyap sama sekali. (hal 70).

Kutipan di atas berasal dari tulisan saya di Media Hindu no 39 dengan judul “Mengapa Bali Tetap Hindu.” Sekarang judulnya saya robah agar bernada pesimis. Sebab jika nadanya optimis, akan diabaikan atau dicemoh. Tetapi jika nadanya pesimis mudah-mudahan ada yang marah atau tersinggung, lalu bangun dari kantuknya. Bagi yang apatis tetap akan apatis, apakah nadanya optimis atau pesimis.

Sekala dan Niskala.

Penjelasan singkat di atas menyatakan bahwa ketahanan Hindu di Bali disebab oleh unsur niskala dan sekala. Mana yang lebih dominan? Menurut saya adalah unsur sekalanya. Kenapa?

Kita jawab dulu apa yang dimaksud dengan sekala dan niskala, dalam pengertian umum saja. Sekala adalah segala hal yang dapat kita lihat, kita raba, hal-hal dari dunia materi ini. Niskala, adalah hal-hal yang tidak dapat dilihat atau diraba, tetapi kita yakini keberadaannya. Atau hal-hal yang bersifat kerohanian seperti kepercayaan akan adanya Tuhan, para Dewa/Betara, sorga, neraka, moksha dll.

Ketika Hindu berjaya pada jaman Majapahit, unsur niskalanya pasti ada. Tetapi karena unsur sekala diabaikan, maka Hindu runtuh dengan mudah. Majapahit runtuh bukan oleh serbuan tentara asing, tetapi oleh keyakinan asing yang diterima tanpa reserve oleh penguasa dan juga kawula yang beritikad baik dan sangat toleran tetapi tidak waspada.

Menyerahkan pemeliharaan agama Hindu hanya kepada yang niskala saja, sudah terbukti gagal. Dua buah bangunan yang sama besar, luas dan tingginya, dibuat dari bahan yang sama di tempat yang berdampingan. Satu bangunan untuk tempat ibadah. Bangunan lain untuk kasino, pusat kenikmatan, termasuk yang bersifat seksual. Bangunan pertama tidak diberi penangkal petir, karena yakin Tuhan memelihara “rumahnya”. Bangunan kedua, karena sadar tempat ini sangat berbau duniawi diberi penangkal petir. Ketika petir terjadi di wilayah itu, kemungkinan yang akan rusak terbakar adalah “rumah” Tuhan itu. Sedangkan bangunan kasino akan selamat. Hukum alam tidak akan membedakan bangunan suci atau bangunan duniawi, termasuk yang digolongkan maksiat sekalipun.

Di dalam perang antara Kaurawa dengan Pandawa di Kuruksetra, hal itu juga tercermin dengan jelas. Krishna yang merupakan lambang niskala, hanya berfungsi sebagai penasehat. Arjuna, yang merupakan simbol niskala, harus melakukan peperangan untuk menjaga kebenaran. Kenapa demikian? Manusia memiliki otonominya sendirinya; memiliki kebebasan untuk memilih dharma atau adharma. Manusia harus aktif menjaga kebenaran dan kedamaian. Dengan kata lain, yang niskala menghormati kebebasan yang sekala.

Kembali ke inti pembicaraan, Bali tetap Hindu, karena secara militer waktu itu sangat kuat. Sebelum abad 19 pulau Bali dihindari oleh pelaut asing, karena penduduknya dianggap sangat “savage” Opini ini berobah setelah maskapai pelayaran Belanda, untuk kepentingan pariwisata, membentuk opini Bali sebagai pulau sorga yang damai dan eksotik.

The Battle of Mind.

Sekarang tentu saja kita tidak perlu menjaga Hindu di Bali secara militer. Sebab “pertempurannya” sekarang tidak memakai pedang, tombak atau keris. Tetapi memakai senjata yagn jauh lebih ekfektif yaitu intelek - “The Battle of Mind” Medannya, dari ruang publik sampai ruang privat. Kotbah-kotbah umum, apakah itu namanya tablig, atau kotbah penyembuhan. Buku-buku pelajaran, pengajaran dan kuliah-kuliah agama di ruang kelas. Tulisan di media massa. Berita, sineteron, kotbah di media elektronik. Yang terakhir ini yang paling hebat. Ia menembus masuk ke ruang-ruang pribadi setiap orang, termasuk kamar-kamar tidur orang-orang Hindu, yang yang berpendidikan tinggi ataupuan yang buta huruf.

Di sinilah kelemahan kita. Orang Hindu hampir tidak ada yang memiliki media massa nasional, cetak maupun elektronik. Media massa ini, khususnya tv, ada beberapa yang memberikan kesempatan bagi siar Hindu. Namun kita belum bisa memanfaatkannya dengan baik. Tv di Bali, yang memberikan slot cukup besar kepada siar Hindu, mutu siarannya masih lemah. Beberapa waktu lalu di sini ada posting yang menyatakan geli mendengar siaran Hindu di tv lokal itu. Bila dibandingkan dengan kotbah pendeta atau ulama dari agama lain yang membangkitkan semangat dan motivasi, dharma wacana orang Hindu masih jauh.

Di dalam “the Battle of Sword” orang bisa terluka atau mati. Di dalam “the Battle of Mind” pasti tidak akan ada yang luka apalagi mati. Tetapi justru ada kesan orang-orang Bali enggan atau mungkin takut terlibat di dalam “the Battle of Mind.” Dulu, seorang pejabat tinggi Ditjen Bimas Hindu dan Buddha, wanti-wanti berpesan agar Media Hindu tidak memuat berita tentang orang-orang agama lain yang kembali (rekonversi) ke Hindu. Padahal berita itu ada sumbernya yang jelas, dan itu terjadi di India. Di tv Indonesia ada berbagai tayangan tentang orang-orang yang baru beralih agama, apakah ke Islam atau Kristen. Mengapa dia takut? Saya tidak tahu karena ia tidak bicara langsung kepada saya. Dia memang bukan representasi seluruh masyarakat Hindu di Indonesia. Tetapi dia juga bukan satu pengecualian.

Pejabat tinggi ini juga meminta kepada Sekolah Tinggi Agama Hindu di Jakarta atau Lampung untuk tidak memberi kuliah perbandingan agama. Bila kita tidak tahu agama-agama lain, bagaimana kita dapat melakukan dialog kritis dengan mereka? Melakukan dialog kritis tidak berarti membenci suatu suatu agama atau pemeluk agama tersebut. Bahkan dialog intelek tidak bisa dilakukan berdasarkan kebencian. Sebab kebencian akan menggelapkan rasio dan dengan demikian melemahkan argumennya.

Oleh karena itu jangan buru-buru melompat pada kesimpulan bahwa memberikan pandangan kritis atau sekedar mengungkap fakta sejarah adalah penghujatan atau upaya menjelek-jelekkan. Agama, seperti ideology, memerlukan kritik untuk memperbaiki dirinya. Sama seperti kita, kita telah mengambil kritik dari luar maupun dari dalam untuk memperbaiki perilaku dan pemahaman keagamaan kita. Jadi setiap pemeluk agama harus bersikap dewasa di dalam hal ini. Kita telah menunjukkan kedewasaan, ketika dikatakan kafir dan penyembah berhala kita tidak berang dan menggangkat pedang.

Tetapi kita perlu mengangkat pedang yang lain, yaitu pedang intelek, untuk memberi penjelasan, bahwa kita bukan menyembah berhala, tetapi menyembah Tuhan, Tuhan yang jauh lebih baik dari tuhan mereka, Tuhan yang adil. Tuhan bagi seluruh mahluk, bukan tuhan yang berpihak pada sekelompok orang, yang menganjurkan kebencian dan kekerasan kepada kelompok yang lain. Dan dengan cara yang lebih indah dan lebih pula.

Dr David Frawley, direktur satu Yoga Center di AS, mengharapkan lahirnya para ksatriya intelektual untuk menjaga eksistensi Hindu.

Analogi Sumur dan Rakit.

Seorang penganjur bahwa semua agama adalah sama, pernah menulis di Media Hindu, justru karena semua agama sama maka orang tidak perlu pindah-pindah agama. Secara logika pernyataan ini tepat. Kalau semua agama sama buat apa pindah agama? Tetapi ia memberikan argumen yang menarik. Ibarat orang menggali sumur; baru menggali lima meter tidak menemukan air, lalu pindah ke tempat lain, di tempat baru ini ia menggali lima meter, tidak juga bertemu air. Bila terus demikian, maka penggali sumur itu akan sia-sia saja. Oleh karena itu setiap orang seharusnya terus menggali sedalam mungkin, sampai ia menemukan air yang dicarinya.

Di dalam praktek tidaklah demikian. Kalau setelah menggali sedalam 10 meter, lalu yang ditemukan batu karang, untuk apa diteruskan? Atau bertemu air, tetapi baunya busuk, tentu orang akan pindah mencari lokasi lain untuk digali.

Tetapi secara analogi ini juga tidak tepat. .Seorang teman saya, orang Protestan, dengan gelar master dobel, satu dari AS, satu dari Australia, berkata kepada saya. “Bapak akan puas, bila dapat menundukkan diri sendiri. Karena agama bapak meminta bapak melihat ke dalam. Kalau saya lain lagi. Saya baru akan puas, ketika saya dapat menundukkan bapak agar ikut agama saya.”

Dia adalah orang awam sama seperti saya. Tetapi pendapatnya itu ada dasarnya dalam Injil, yaitu perintah bagi setiap orang Kristen untuk pergi ke segala penjuru bumi, dan menjadikan bangsa-bangsa murid Yesus. Islam jug demikian. Nabi mereka, sampai akhir hayatnya meminta para pengikutnya untuk terus berjihad menjadikan Islam satu-satunya agama bagi dunia.

Bila semua agama memerintahkan pengikutnya untuk “menggali sumur” atau melihat ke dalam sampai berjumpa dengan “dirinya sendiri” dunia ini pasti akan aman dan damai. Tetapi nyatanya tidak demikian.

Ketika si Hindu sibuk menggali sumur semakin dalam, si Kristen dan si Islam sibuk berebut wilayah sekitar sumur. Ketika si Hindu kembali dari kedalaman bumi membawa air murni sambil meproklamirkan “semua air sama saja” ia menemukan air itu hanya berguna bagi dirinya sendiri, karena wilayahnya sudah dimiliki si Kristen atau / bersama si Islam. Si Kristen dan si Islam tidak membutuhkan air yang diambil dari inti bumi. Bagi mereka air sungai atau pancuran sudah cukup.

Apakah si Hindu harus memasang pagar atau menyewa centeng untuk menjaga wilayahnya? Ini bertentangan dengan prinsip yang diyakininya. Bila ia melakukan itu, artinya ia melaksanakan apa yang ditolaknya, bahwa agama mengkotak-kotakkan dan bahwa agama tidak perlu dibela. Jadi ia dapat lepas dari dilemma ini, hanya bila ia melepaskan identitas Hindunya.

Analogi rakit, agama hanya sekedar rakit, agak berbeda tetapi menghadapi dilemma yang sama. Analogi ini ada benarnya. Tetapi siapapun yang membuat analogi ini hanya melihatnya dari agama Hindu saja. Bagi Hindu dan juga Buddha, benar, agama hanyalah sarana untuk menyeberangkan manusia dari wilayah kehidupan sampai di batas wilayah kematian (atau kehidupan yang lain). Di dunia kehidupan yang lain itu agama memang tidak disebut-sebut lagi.

Tetapi bagi keyakinan Kristen atau Islam tidak demikian. Agama tidak berhenti sampai di tepi kehidupan dunia lain itu, yang mereka sebut dunia akhirat. Agama terus masuk sampai ke inti kehidupan akhirat. Bagi keyakinan orang Kristen, keyakinan mereka akan kebenaran Yesus sebagai Tuhan, atau Putra Allah, yang menyelamatkan mereka. Bagi orang Islam keyakinan mereka kepada Islam dan Muhammad sebagai Nabi akan menyelamakan atau menjamin sorga bagi mereka. Menurut Islam, ketika ia mati dan sampai di pintu alam kubur, dua orang malaikat akan menanyai apa agama dan siapa nabinya. Bila agamanya bukan Islam dan nabinya bukan Muhammad maka jiwa orang itu akan mendapat siksaan kejam. Dan di dalam persidangan pada hari Pengadilan Akhir, Muhammad akan memberi rekomendasi siapa yang masuk sorga atau neraka secara abadi. Allah akan memerima rekomendasi itu.

Di dalam kedua agama ini keyakinan, bukan perbuatan yang menentukan status seseorang di dunia akhirat. Apakah keyakinan semacam ini absurd atau tidak, itulah keyakinan yang dipercayai oleh mereka.

Jadi di sini analogi rakit menghadapi kesulitannya sendiri. Dan ia hanya melepaskan diri dari kesulitan ini, dengan melepaskan indentitas Hindunya. Tapi apa perdulinya dengan Hindu? Toh hanya rakit. Yang penting ia bebas. Sebuah solusi, yang sayangnya, bersifat mementingkan diri sendiri. Ego.

Kesamenis : Sekutu missonaris

Pendirian atau pernyataan, seperti “semua agama adalah sama”, “agama hanya sekedar rakit”, “Sang Hyang Widdhi, Sang Hang Yesus, Allah SWT sama saja” oleh Dr Frank Gaetano Morales (Semua Agama Tidak Sama) disebut sebagai Radical Universalism, atau saya terjemahkan sebagai kesamensime. Sikap ini biasanya dianut oleh orang-orang Hindu. Pada saat lembaga dakwah atau missi agama-agama lain, khususnya Kristen dan Islam begitu gencar menyebarkan agamanya, sikap ini hanya melemahkan posisi Hindu di dalam “the Battle of Mind.” Lebih-lebih jika yang mengatakan itu tidak pernah mempelajari agama-agama lain. Ini adalah sikap arogan dari orang yang tidak tahu. Dan sikap semacam ini akan sangat menguntungkan para missionaries, Kristen ataupaun Islam, di dalam upaya mengkonversi orang-orang Hindu di Bali.

Sejalan dengan mereak adalah kelompok yang ingin memisahkan budaya “Bali dengan agama Hindu” untuk membenarkan penggunaan idiom-idiom, dan praktek-praktek Hindu Bali oleh agama-agama lain. “Karena itu adalah budaya Bali, bukan agama Hindu,” katanya. Ini adalah sikap permisif yang bersumber pada kemalasan berpikir atau bahkan impotensi intelektual, yang makin memperlemah pertahanan Hindu.

Mempercepat “Perobahan” Bali.

Ada kelompok sampradaya yang berupaya untuk membuang ritual Hindu (ala) Bali dan menggantinya dengan hanya agnihotra, homayajna, atau ritual khas sampradayanya. Tetapi ada juga kelompok sampradaya, yang di samping melakukan ritual sesuai aturan sampradayanya juga menerima ritual Hindu ala Bali. Saya mendapat informasi kelompok sampradaya Hare Krishna, di Bali terbagi dalam dua kelompok. Yang menolak upakara ala Hindu-Bali yang tergabung dalam SAKKHI, dan yang menerima, yaitu yang tergabung dalam ISKCON. Pengikut Sai Baba dalam Anggaran Dasarnya terakhir menyatakan diri bukan sampradaya, tetapi hanya kelompok untuk studi Weda. Jika info ini tidak benar silahkan dikoreksi.

Dua orang sulinggih yang menjadi tokoh PHDI Besakih dan pimpinan tertinggi Parisada, mengenai ritual kelompok sampradaya yang dilakukan di lapangan Renon pada awal tahun 2006, mengatakan “Itu agama baru. Mereka seharusnya melakukan itu di dalam tempat ibadah mereka sendiri. Bukan di tempat umum!” Pernyataan kedua sulinggih ini saya dengar langsung di suatu griya di Denpasar. Kalau sulinggih dari “kelompok Besakih” saja sudah berpendapat demikian, apalagi sulinggih dari kelompok lain.

Dengan dukungan strategi dakwah yang terencana dan berpengalaman, dana untuk perbedayaan ekonomi dan pendidikan, media massa untuk pembentukan opini, dan birokrasi (dalam kasus Islam) yang memberi kemudahan fasilitas ataupun kesempatan, para missonaris, baik Kristen maupun Islam, akan memperoleh manfaat besar dari ketiga kelompok di atas. Ketiga kelompok di atas, kaum kesamenis, “separatis” yang membedakan antara budaya Bali dengan agama Hindu, dan sampradaya yang membuang ritual ala Hindu Bali, bergabung jadi satu, akan merupakan akselarator perobahan Bali dari Hindu, apakah menjadi Bali Kristen atau Bali Islam. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh ketiga kelompok ini adalah semacam bunuh diri massal.

Pendapat saya belum tentu benar. Tapi tolong tunjukkan kepada saya, dari segi apa ketiga pendapat atau kelompok di atas memperkuat Hindu di Bali?

Om santi, santi, santi Om

Ngakan Putu Putra.

Source : HDNet

Surga dan Neraka versi Hindu

Posted by Adnyana under Stories

mengutip artikel gede prama tentang konsep Surga dan Neraka dalam ulasannya di pintu ke empat, yang lebih dilandasi oleh konsep hukum karmapala versi hindu, yaitu pada karma itulah sebetulnya ada Surga dan Neraka. Ketika perbuatan baik segera kita lakukan, dalam kehidupan selanjutnya tentu kita akan memetik buahnya. Jadi Surga tidak dipersonifikasikan sebagai sebuah tempat yang indah di alam lain kelak, tapi di dunia ini juga bisa kita buat Surga dan Neraka.

menurut Gede Prama, Pintu keempat adalah surga bukanlah sebuah tempat, melainkan adalah rangkaian sikap. “Bila Anda melihat hidup penuh dengan kesusahan dan godaan, maka neraka tidak ketemu setelah mati. Neraka sudah ketemu sekarang,” ujar Gede Prama.

Sedangkan Anda akan bertemu surga, jika hasil dari rangkaian sikap Anda benar. Sikap ini dimulai dari berhenti mengkhawatirkan segala sesuatunya, dan coba  yakinkan diri bahwa everything will be  allright. Setiap kali kita melalukan ritual peribadatan, tetapi setiap kali pula kita merasa takut. Padahal ketakutan adalah sebentuk ketidakyakinan terhadap  kebenaran. “Kalau Anda melalukan ritual peribadatan tapi masih takut, mending  jangan melalukan ritual peribadatan, karena toh Anda tidak yakin terhadap kebenaran,” kata Gede Prama. “Segala sesuatunya menjadi baik-baik saja jika Anda mencintai yang kecil,” sambung Gede Prama.

============ ========= ========= ========= ====

Stop Comparing, Start Flowing !

Gede Prama memulai talkshow dengan bercerita tentang tokoh asal Timur Tengah, Nasruddin. Suatu hari, Nasruddin mencari sesuatu di halaman rumahnya  yang penuh dengan pasir. Ternyata dia mencari jarum. Tetangganya yang merasa kasihan, ikut membantunya mencari jarum tersebut. Tetapi selama sejam mereka mencari, jarum itu tak ketemu juga.

Tetangganya bertanya, “Jarumnya jatuh dimana?”
“Jarumnya jatuh di dalam,” jawab Nasruddin.

“Kalau jarum bisa jatuh di dalam, kenapa mencarinya di luar?”  tanya tetangganya. Dengan ekspresi tanpa dosa, Nasruddin menjawab,  ”Karena di dalam gelap, di luar terang.”

Begitulah, kata Gede Prama, perjalanan kita mencari kebahagiaan dan keindahan. Sering kali kita mencarinya di luar dan tidak mendapat apa-apa. Sedangkan  daerah tergelap dalam mencari kebahagiaan dan keindahan, sebenarnya adalah  daerah-daerah di dalam diri. Justru letak ’sumur’ kebahagiaan yang tak pernah kering, berada di dalam. Tak perlu juga mencarinya jauh-jauh, karena ’sumur’ itu berada di dalam semua orang.

Sayangnya karena faktor peradaban, keserakahan dan faktor lainnya, banyak orang mencari sumur itu di luar. Ada orang yang mencari bentuk kebahagiaannya dalam kehalusan kulit, jabatan, baju mahal, mobil bagus atau  rumah indah.  Tetapi kenyataannya, setiap pencarian di luar tersebut akan berujung pada  bukan apa-apa. Karena semua itu, tidak akan berlangsung lama. Kulit, misalnya, akan keriput karena termakan usia, mobil mewah akan berganti dengan model terbaru, jabatan juga akan hilang karena pensiun.

“Setiap perjalanan mencari kebahagiaan dan keindahan di luar, akan selalu  berujung pada bukan apa-apa, leads you nowhere. Setiap kekecewaan hidup yang jauh dari keindahan dan kebahagiaan, berangkat dari mencarinya di luar,” tegas Gede Prama. Untuk mencapai tingkatan kehidupan yang penuh keindahan dan kebahagiaan, seseorang harus melalui 5(lima) buah ‘pintu’ yang menuju ke tempat tersebut.

Pintu pertama adalah stop comparing, start flowing.

“Stop membandingkan  dengan yang lain. Seorang ayah atau ibu belajar untuk tidak membandingkan anak dengan yang lain. Karena setiap pembandingan akan membuat anak-anak mencari kebahagiaan di luar,” ujar Gede Prama. Setiap penderitaan hidup manusia, setiap bentuk ketidakindahan, menurut Gede Prama, dimulai dari membandingkan. Gede Prama mencontohkan orang kaya berkulit hitam yang tidak dapat menerima kenyataan bahwa dia berkulit hitam. Orang itu sering kali membandingkan dirinya dengan orang kulit putih.

“Uangnya banyak, mampu mengongkosi hobinya untuk operasi plastik. sehingga  orang yang hidup dari satu perbandingan ke perbandingan lain, maka hidupnya kurang lebih sama dengan seorang orang kaya itu. Leads you nowhere,” kata  Gede Prama dengan logatnya yang khas. Karena itu, Gede Prama mengajak peserta ke sebuah titik, mengalir (flowing) menuju ke kehidupan yang paling indah di dunia, yaitu menjadi diri sendiri.  Apa yang disebut flowing ini sesungguhnya sederhana saja.

Kita akan menemukan yang terbaik dari diri kita, ketika kita mulai belajar menerimanya. Sehingga kepercayaan diri juga dapat muncul.Kepercayaan diri ini berkaitan dengan keyakinan-keyakinan yang kita bangun dari dalam. “Tidak ada kehidupan yang paling indah dengan menjadi diri sendiri. Itulah keindahan yang sebenar-benarnya! ” kata Gede Prama.

Pintu kedua menuju keindahan dan kebahagiaan adalah memberi.

Sebab utama kita berada di bumi ini, kata Gede Prama, adalah untuk memberi. “Kalau masih ragu dengan kegiatan memberi, artinya kita harus memberi lebih banyak,” ujar Gede Prama. “Saya melihat ada 3 tangga emas kehidupan; I intend good, I do good and I am good. Saya berniat baik, saya melakukan hal yang baik, kemudian saya menjadi orang baik. Yang baik-baik itu bisa kita lakukan, bila kita konsentrasi pada hal memberi,” lanjut Gede Prama lagi. Memberi tidak harus selalu dalam bentuk materi. Pemberian dapat berbentuk senyum, pelukan, perhatian. Dan setiap manusia yang sudah rajin memberi, dia akan memasuki wilayah beauty and happiness.

“Saya sering bertemu dengan orang-orang kaya. Ada yang suka memberi, ada yang pelit. Saya melihat orang yang tidak suka memberi muka orang itu keringnya minta ampun. Orang yang mukanya kering ini bertanya pada saya, apa rahasia kehidupan yang paling penting yang bisa saya bagi ke saya. Saya bilang sleep well, eat well,” ungkap Gede Prama sambil tersenyum. Artinya memang, untuk ongkos untuk menjadi bahagia tidak mahal. Hanya saja orang sering kali memperumit hal yang sudah rumit. Kalau kita sederhanakan, sleep well, eat well akan jadi mudah jika diikuti dengan kegiatan memberi.

Pintu ketiga untuk menuju keindahan dan kebahagiaan adalah berawal dari semakin gelap hidup Anda, semakin terang cahaya Anda di dalam.

Perhatikanlah bintang di malam hari tampak bercahaya, jika langitnya gelap. Sedangkan, lilin di sebuah ruangan akan bercahaya bagus, jika ruangannya gelap. Artinya, semakin Anda berhadapan dengan masalah dan cobaan dalam  hidup, semakin bercahaya Anda dari dalam.

“Jika Anda punya suami yang keras dan marah-marah, jangan lupa bersyukurlah. Karena suami yang keras dan marah-marah, membuat sinar dari dalam diri Anda  bercahaya. Anda punya istri cerewetnya minta ampun. Bersyukurlah, karena orang cerewet  adalah guru kehidupan terbaik. Paling tidak dari orang cerewet kita belajar tentang kesabaran. Jika Anda punya atasan diktatornya minta ampun. Bersyukurlah, karena Anda dapat belajar tentang kebijaksanaan, ” ujar Gede Prama membesarkan hati.

Orang yang pada akhirnya menemukan keindahan dan kebahagiaan, menurut Gede Prama, biasanya telah lulus dari universitas kesulitan. Semakin banyak kesulitan hidup yang kita hadapi, semakin diri kita bercahaya dari dalam. Mengutip perkataan Jamaluddin Rumi, semuanya dikirim sebagai pembimbing kehidupan dari sebuah tempat yang tidak terbayangkan. “Tidak hanya orang cantik saja yang berguna, orang jelek juga berguna. Gunanya adalah karena orang jelek, orang cantik terlihat jadi tambah cantik,” kata Gede Prama disambut tawa peserta. “Jadi semuanya ada gunanya, untuk menghidupkan cahaya-cahaya beauty and happiness,” tegasnya.

Pintu keempat adalah surga bukanlah sebuah tempat, melainkan adalah rangkaian sikap.

“Bila Anda melihat hidup penuh dengan kesusahan dan godaan, maka neraka tidak ketemu setelah mati. Neraka sudah ketemu sekarang,” ujar Gede Prama. Sedangkan Anda akan bertemu surga, jika hasil dari rangkaian sikap Anda benar. Sikap ini dimulai dari berhenti mengkhawatirkan segala sesuatunya, dan coba  yakinkan diri bahwa everything will be  allright. Setiap kali kita melalukan ritual peribadatan, tetapi setiap kali pula kita merasa takut. Padahal ketakutan adalah sebentuk ketidakyakinan terhadap  kebenaran.

“Kalau Anda melalukan ritual peribadatan tapi masih takut, mending  jangan melalukan ritual peribadatan, karena toh Anda tidak yakin terhadap kebenaran,” kata Gede Prama. “Segala sesuatunya menjadi baik-baik saja jika Anda mencintai yang kecil,” sambung Gede Prama.

Pintu kelima menuju keindahan dan kebahagiaan yakni tahu diri kita dan kita tahu kehidupan.

Manusia-manusia yang tidak tahu diri adalah manusia yang tidak pernah ketemu keindahan dan kebahagiaan dalam hidupnya. “Sumur kehidupan yang tidak pernah kering berada di dalam. Sumur ini hanya kita temukan dan kita timba airnya kalau kita bisa mengetahui diri kita sendiri,” kata Gede Prama.

Seandainya diri sendiri telah ditemukan, maka artinya kita kemudian mengetahui kehidupan.

Gde Prama

Pesona Bunga Kamboja

Posted by Adnyana under Stories

membaca primbon berikut cukup menarik untuk menambah pengetahuan baru tentang pohon apa saja yg bisa di tanam di pekarangan rumah…. (artikel ini hanya dialamatkan kepada mereka yang percaya saja…)

menurut primbon berikut, bunga kamboja berkelopak ganjil memiliki makna: sebagai pemanggil rezeki…,

lain di pulau jawa lain di pulau bali…, sementara di pulau Jawa pohon kamboja menjadi “perimbun pemakaman / kuburan”.

Di pulau bali lain lagi ceritanya , Bunga kamboja (jepun) banyak ditemui di pura (tempat ibadah) karena dianggap bisa membawa pencerahan, untuk sarana dalam persembahyangan umat Hindu seperti canang ataupun kwangen, selain memiliki kegunaan sebagai penghias rangkaian bunga tamiyang untuk upacara atau piodalan. berdasarkan filosofi Hindu, pohon jepun di Bali berbunga pada sasih kartika atau sasih kapat yang menurut umat Hindu dianggap sebagai sasih atau bulan baik dan juga bunga tersebut bisa dikatakan sebagai “sari alam”. Jadi, apabila digabungkan, bunga jepun dapat diartikan sebagai “sari alam yang membawa pencerahan dan sari-sari kebaikan” — pencerahan bagi umat manusia maupun bagi roh-roh yang ada di alam ini. Bunga jepun dan Bali seolah tak terpisahkan. Image gadis dan pemuda Bali dapat terlihat ketika bunga jepun tersematkan pada mahkota rambut dan terselip pada daun telinga.

dalam dunia kedokteran, Kembang Kuburan alias bunga kamboja (Plumeria alba) ternyata menyimpan banyak manfaat ‘mengampuni’ orang-orang berpenyakit kotor. “Di balik kemistikan kamboja atau orang Jawa biasa menyebut semboja, ia menyembunyikan berbagai kebaikan buat manusia. Lewat akar, sirap kulit, getah, kuntum bunga dan daun yang eggan bergerombol, semboja diam-diam amat bermanfaat. Akarnya bisa ‘mengampuni’ orang-orang berpenyakit kotor,” , dengan meminum rebusan akar semboja, laki-laki penderita kencing nanah (gonorrhe) akibat suka ‘jajan’ pun disembuhkan. “Bisa jadi akar-akar semboja melalui remah-remah jenazah yang telah berubah menjadi unsur hara, memohon ampunan bagi sang pendosa tersebut. Memperingati para laki-laki agar insyaf kembali ke jalan benar.

====================================

http://www.primbon.com/tanaman.htm

Disarankan menanam pohon sedap malam
makna yang didapat, pemilik rumah yang menanam pohon itu dipekarangan rumah, akan mendapatkan rasa tentram dan damai dalam kehidupan keluarga.

Disarankan menanam pohon pinang merah
makna yang didapat, akan dapat mengundang rezeki. Dapat pula menjadi penangkal niat jahat dari orang yang hobby meneluh, guna-guna, santet dan sebagainya.

Disarankan menanam pohon bunga matahari
makna yang didapat, kebahagiaan dan kedamaian serta keharmonisan dalam rumah tangga pemiliknya.

Disarankan untuk menanam sawo kecik
makna yang didapat, sang pemilik rumah akan selalu dihormati masyarakat

Disarankan untuk menanam pohon kenanga
makna yang didapat, sebagai penangkal ilmu hitam, guna-guna, santet, teluh, dan sejenisnya.

Disarankan menanam pohon kelor
makna yang didapat, sebagai penangkal ilmu hitam, guna-guna, santet, teluh, dan sejenisnya.

Disarankan untuk menanam pohon kuping gajah
makna yang didapat, akan membawa rezeki lebih lagi jika pohon tumbuh subur

Disarankan untuk menanam pohon bunga wijayakusuma
makna yang didapat, akan sebagai pengundang rezeki kepada pemilik rumah, terutama jika sedang mekar

Disarankan untuk menanam pohon bunga mawar
makna yang didapat, sebagai pengundang rezeki bagi pemilik rumah

Disarankan menanam pohon talas besar diempat sudut pekarangan rumah
makna yang didapat, sebagai penangkal pencuri masuk ke dalam rumah

Jikalau anda seorang usahawan janganlah anda menanam anggur dihalaman rumah
makna yang didapat, semua usaha akan bangkrut

Jikalau anda memiliki bunga kamboja berkelopak ganjil
makna yang didapat, sebagai pemanggil rezeki

Jikalau anda memiliki bambu buta atau bambu tidak berongga
makna yang didapat, sebagai penangkal ilmu hitam

Jikalau anda ingin menghadap penguasa kantungilah daun sirih
makna yang didapat, sebagai sarat agar omongan anda selalu didengar

Jikalau anda ingin menghadapi ujian simpanlah sebagai injakan sepatu daun sirih
makna yang didapat, dapat memberikan ketenangan

Jikalau anda ingin mengunjungi rumah pacar untuk pertama kali kantungkanlah kedalam kemeja daun sirih
makna yang didapat, akan menimbulkan ketenangan dan membangkitkan kesan simpati pada sang kekasih dan calon mertua

Janganlah menanam pohon beringin di halaman rumah
makna yang didapat, karena akan menjadi tempat tinggal roh-roh jahat

Janganlah anda menanam pohon maja di halaman rumah
makna yang didapat, usaha bisnis akan bangkrut

Anjuran menanam pohon jahe di halaman rumah
makna yang didapat, sebagai penangkal roh halus yang jahat

Janganlah menanam padi di halaman rumah
makna yang didapat, anda akan menderita kemiskinan seumur hidup

Janganlah menunjukkan tangan jari anda kearah bunga pada pohon-pohon yang akan berbuah
makna yang didapat, bunga-bunga pada pohon tersebut akan berguguran dan tak akan berbuah.

Janganlah menanam pohon pepaya dihalam rumah
makna yang didapat, pemilik rumah akan menderita kesialan, karena hasil usahanya akan merosot tajam dari hari-kehari.

Janganlah menanam pohon anggur disekitar rumah
makna yang didapat, pemiliknya akan kehilangan mata pencaharian

Janganlah menanam pohon belimbing wuluh
makna yang didapat, sang pemilik rumah akan selalu diganggu roh halus yang jahat

Janganlah menanam jagung di halaman rumah
makna yang didapat, sang pemilik akan selalu sakit-sakitan dan akan selalu bertengkar dengan tetangga atau keluarga.

Janganlah menanam pohon kemboja dihalaman rumah
makna yang didapat, akan selalu menimbulakn kesan seram seperti suasana kuburan, dan konon dapat mengundang roh jahat yang aka selalu mengganggu.

Janganlah menebang pohon bambu pada hari pasaran (saat) wage
makna yang didapat, bambu yang akan digunakan akan cepat patah atau rapuh

Janganlah menanam pohon bawang
makna yang didapat, bila menanam di pekarangn rumah akan memberi pengaruh yang menyedihkan yaitu, pemilik akan selalu ditimpa kesialan.

Janganlah menanam pohon cabe
makna yang didapat, bila menanamnya dipekarangan rumah sang pemilik rumah akan selalu bertengkar dan berselisih diantara sesama anggota keluarga dalam rumah tangga.

Cerita Kecil Pemilu 2009

Posted by Ode under Stories

Seminggu menjelang tanggal 8 Juli…
Mommy: “Daddy, koq kita belum terima surat buat pemilu? Gimana nih? Kita nyontreng gak ni?. Jangan-jangan suratnya jatoh ke alamat kita yg lama di Chatswood loh?”
Daddy: “Gak tau! Tapi daddy udah kasi koq alamat kita yang baru ke panitia pemilunya. Tunggu aja deh, kali last minute sebelum D-day suratnya dateng”
Mommy: “Ya udah…”.

Sehari sebelum 8 Juli…
Mommy: “Daddy, kita masih belum terima surat pemilu. Besok mau nyontreng apa gak?”
Daddy: “Oya iya ya…tapi katanya boleh koq cuma bawa passport aja. Lagian daddy liat di website-nya konsulat, nama kita udah terdaftar koq!”
Mommy: “O gitu? Besok mau jam berapa kesana?”
Daddy: “Pulang kantor aja yah, kita langsung kesana”
Mommy: “Emangnya TPS-nya buka ampe jam berapa?”
Daddy: “Katanya sih ampe jam 7 malem. Jangan lupa bawain passport loh ya!”
Mommy: “Okkkeeeh, daddy”

Tanggal 8 Juli, jam 18:00….di dalam mobil, perjalanan menuju TPS
Mommy: “Dad, kita belum nentuin juga nih mau pilih sapa? Jadi tetep ama SBY gak?”
Daddy: “Wah, bingung juga, banyak juga komentar gak sedap thd SBY, misalnya ttg ricuhnya DPT. Mestinya kalo emang niat, SBY kan bisa aja langsung turun tangan  mberesin masalah krusial ini. Koq malah sibuk nyari alasan pembenaran.
Satu lagi, bapak gak sreg nih ama koalisi PD ama PKS. Selama ini PKS terlalu  keras bau agamanya. Bukannya gak suka agamanya, peace man, tapi daddy berpendapat tidak tepat kalau agama dibawa-bawa ke arena politik dan demokrasi. Politik dan demokrasi memerlukan kebebasan berpikir, berpendapat. Agama terlalu banyak sisi sensitifnya, jadinya membuat banyak hal tidak objektif!”
Mommy: “Wah, masak sih? Padahal mommy udah merasa sreg nih ama SBY. Kan udah keliatan tuh pak hasil kerjanya menunjukkan hasil. Kepemimpinannya secara pribadi terdengar lebih bersih. Lagian seberapa sih pengaruh koalisi partai dengan kebijaksanaan yang nantinya akan dibuat?
 Mommy kalo ama Mega udah off nih, dulu udah dikasi sekali kesempatan buat mimpin tapi performance-ny agak bagus, no second chance, mate! sorry”
Daddy: “Iya, Daddy ama Mega juga udah off lah! Denger-denger JK lagi naek daun. Katanya taktis dalam menyelesaikan masalah, tapi ya gak tau juga…namanya juga kampanye”
Mommy: “Ya gini deh kalo mau milih presiden dari jauh…gak ngikutin kampanyenya”
Daddy: “Kan udah liat di Youtube siarannya?”
Mommy: “Iya, tapi kan gak penuh! Tetep aja bingung”
Daddy: “Jadi mau pilih siapa nih kita?”
Mommy: “Tetep pilih SBY kali!”
Daddy: “Daddy gak tau nih….bingung juga”
Mommy: “Gimana sih? Ini udah mau nyampe ke TPS masih bingung!? Ayo buruan nyetirnya dikit pak, udah mau jam nih! Ntar keburu tutup TPS-nya”
Daddy: “Yah lucu aja ya kalo udah capek bahas-bahas capres taunya ampe sana TPS-nya tutup hahaha..”
Mommy: “Iya, hayo kebut dikit, di Moubray Rd biasanya macet soalnya”
Daddy: “Okeee mommy”

@18:40 8 Juli, Di TPS….
Daddy: “Pak, saya mau daftar milih. Cuma saya gak dapet suratnya nih, masih boleh kan ya?”
Petugas: “O gak apa-apa pak asal bawa passport. Sini saya daftarin dulu passportnya”
Daddy: “Mommy, tolong bawa sini passportnya…”
Mommy: “YAAA AMMPUUNN, DADDYY!!……Passport ketinggalan diatas meja makan lupa dibawa!!!”

Sampai jumpa di pemilu 2014!

(Cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kejadian atau nama yang sama dalam cerita ini,
percayalah itu hanya sebuah kebetulan belaka…sumpeee dee itu cuma kebetulan aje!)

-oDE Srijaya-

Nama-Nama Indah

Posted by Adnyana under Stories

Fenomena pemberian nama-nama Indah kepada seorang anak, sepertinya tidak hanya terjadi di bali. Di bali jaman dulu,  nama-nama para leluhur kita biasanya hanya terdiri dari dua suku kata. selanjutnya bila bersaudara banyak nama saudaranya pun cukup di bedakan di suku kata terakhirnya dengan huruf hidup lainnya, seperti a, i, u, e, o . Namun sekarang nama-nama sederhana tersebut mungkin sudah cukup sulit di jumpai, karena kebanyakan para orang tua generasi baru lebih tertarik mengutif nama-nama dari kitab suci, atau bahasa sansekerta. dan nama anaknyapun tidak lagi terdiri dari dua suku kata, melainkan terdiri dari beberapa kata, dan itupun belum termasuk nama ciri khas bali wayan, made, komang, ketut ataupun nama dari warna keturunan tertentu.

Pemberian nama-nama indah sesungguhnya tidak berhenti pada pemberian nama seorang manusia saja. bagi yang suka memelihara binatang kesukaanpun juga terjadi trend pemberian nama-nama indah yang enak di dengar telinga.  Demikian juga dengan pemberian nama-nama peristiwa alam yang pernah terjadi di dunia ini. Walaupun peristiwa alam tersebut sungguh tidak bersahabat dan bahkan banyak mematikan umat manusia, seperti badai angin topan, untuk mengenangnya, mereka tetap di berikan nama-nama yang indah. mungkin masih jelas dalam ingatan kita badai topan yang terjadi di Amerika Serikat tahun lalu bernama Kathrina, sebuah nama yang sangat indah untuk di dengar telinga.

Badai Topan dalam bahasa ingris di sebut Hurricane, yang berasal dari nama Dewa Huracan, yaitu Dewa Angin besar yang di hormati oleh bangsa Maya dari Amerika Tengah.

Kenapa Badai di beri nama, bahkan nama yang indah?

Badai di beri nama untuk mempermudah para pengamat cuaca berkomunikasi dengan masyarakat. Coba bayangkan seandainya terjadi dua badai bersamaan di tempat yang berbeda. Atau kalau kita sedang membicarakan badai-badai dasyat yang pernah terjadi. Dengan memberi nama, kita akan lebih mudah membahasnya.

Zaman perang dunia II, para meteorology memberi nama badai dengan nama perempuan. konon nama itu di ambil dari nama istri mereka. Barulah pada tahun 1979, National Weather Services (NWS) di Amerika Serikat memberi nama dengan menggabungkan nama laki-laki dan perempuan.

Saat ini nama-nama itu di perbaharui lagi oleh World Meteorological Organization (WMO). Mereka menggunakan nama yang singkat dan berbeda sehingga mudah di ingat. Huruf depan nama-nama itupun berurutan, sebagai contoh: Arlene, Bret, Cindy.  Nama itu akan berulang setiap enam tahun sekali.

Kalau badai di Samudera Atlantik di beri nama, ternyata badai di tempat lain juga di beri nama yang berbeda. Di daerah Samudera Pacific masing-masing negara menyumbangkan nama. misalnya, Cina menyumbangkan nama Longwang, Malaysia memberi nama Jelawat. Di Australia, namanya lain lagi. Ada juga beberapa negara yang memberikan nama sendiri untuk badai yang menerpa negaranya, seperti di Filipina, Jepang, dan Papua Nugini. Indonesia juga punya nama sendiri. mungkin masih ada yang ingat dengan nama Angin Bohorok atau Angin Gending, dll..

Ada lagi yang unik, nama-nama itu akan berhenti di gunakan. Nama-nama yang indah itu tidak akan di pakai lagi kalau badai yang terjadi menjadi bencana yang dahsyat dan memakan banyak korban.  Penghentian nama-nama itu tentu saja tidak asal-asalan. WMO akan mengadakan rapat khusus untuk menentukan apakah sebuah nama badai akan di pensionkan. Kalau sudah tidak dipakai lagi, nama itu akan di gantikan oleh nama yang lain.

Selama ini, cukup banyak nama badai yang sudah tidak dipakai lagi. misalnya, ditahun 2004 yang lalu, nama Gaston telah menggantikan George dan juga nama Matthew telah menggantikan Mitch. sedangkan di tahun 2006 nama Kirk telah menggantikan Keith. Kabarnya nama Kathrina (badai yang terjadi di Amerika Serikat tahun yang lalu) juga akan di pensiunkan, karena badai tersebut telah memakan banyak korban.

Ingin melihat deretan nama-nama indah sang badai di tahun yang akan datang, bisa di klik di alamat berikut: http://www.nhc.noaa.gov/aboutnames.shtml

2008 2009 2010 2011 2012 2013
Arthur
Bertha
Cristobal
Dolly
Edouard
Fay
Gustav
Hanna
Ike
Josephine
Kyle
Laura
Marco
Nana
Omar
Paloma
Rene
Sally
Teddy
Vicky
Wilfred
Ana
Bill
Claudette
Danny
Erika
Fred
Grace
Henri
Ida
Joaquin
Kate
Larry
Mindy
Nicholas
Odette
Peter
Rose
Sam
Teresa
Victor
Wanda
Alex
Bonnie
Colin
Danielle
Earl
Fiona
Gaston
Hermine
Igor
Julia
Karl
Lisa
Matthew
Nicole
Otto
Paula
Richard
Shary
Tomas
Virginie
Walter
Arlene
Bret
Cindy
Don
Emily
Franklin
Gert
Harvey
Irene
Jose
Katia
Lee
Maria
Nate
Ophelia
Philippe
Rina
Sean
Tammy
Vince
Whitney
Alberto
Beryl
Chris
Debby
Ernesto
Florence
Gordon
Helene
Isaac
Joyce
Kirk
Leslie
Michael
Nadine
Oscar
Patty
Rafael
Sandy
Tony
Valerie
William
Andrea
Barry
Chantal
Dorian
Erin
Fernand
Gabrielle
Humberto
Ingrid
Jerry
Karen
Lorenzo
Melissa
Nestor
Olga
Pablo
Rebekah
Sebastien
Tanya
Van
Wendy

Koran seperti diatas yang berhalaman kurang lebih 12 hingga 16 halaman berukuran kecil seperti majalah, pertama kali saya jumpai ketika bekerja di Singapore.  dimana Koran tersebut di bagikan secara cuma-cuma alias gratis di setiap pintu gerbang stasiun kereta bawah tanah.  masyarakat boleh mengambilnya sesuka hati, walaupun demikian, di sarankan cukup mengambil satu dan setelah selesai membacanya di tempatkan kembali di tempat dimana orang lain bisa mengambilnya serta membacanya lagi.

Response masyarakat akan koran ini cukup fantastis, masyarakat yang dalam perjalanannya menuju ke kantor bisa menikmati perjalanannya didalam kereta bawah tanah atau di dalam bus sambil membaca berita actual yang terjadi di sekitar singapore. Koran itu bernama Streats. kesuksesan koran Streats kemudian di ikuti oleh terbitnya koran berukuran kecil lainnya yang bernama Today. koran inipun mendapatkan response yang sangat memukau juga, mungkin karena kedua-duanya di bagikan secara cuma-cuma…

pertanyaannya, dari mana mereka bisa memenuhi biaya operasional penerbitan koran tersebut? orang yang mengerti ilmu ekonomi, mungkin mengerti akan seluk beluk peluang dan bagaimana caranya meng-investasikan uangnya. sepertinya di bulan pertama dan kedua biaya operasionalnya mungkin di biayai dengan modal sendiri, hingga akhirnya koran tersebut di kenali oleh masyarakat. kemudian para pengusaha kecil, menengah, dan besar mulai dari pemilik toko kecil, pencari kerja, pencari karyawan, dan pencari peluang lainnya, berlomba-lomba memasang iklan di koran gratis tersebut yang memang sesungguhnya sudah di sediakan di beberapa halaman kolom terakhir. karena semakin banyaknya jumlah pembaca koran gratis ini, semakin banyak pula para pemasang iklan di koran gratis ini, yang membuat semua biaya operasional penerbitan koran ini tertutupi dari sewa pasang iklan tersebut, malah menghasilkan profit, melebihi koran nasional Singapura yang sangat terkenal yaitu “The Straits Times”.

Apakah Koran Nasional The Straits Times merasa tersaingi oleh keberadaan kedua koran gratis di singapura tersebut? tentu tidak, karena mereka memiliki segment pasar sendiri-sendiri. koran The Straits Times terkenal dengan ulasannya yang sangat detail apalagi yang berhubungan dengan ulasan ekonomi seperti bursa efek, financial investment, property market, dan teknology lainnya, sementara konten dari kedua koran gratis tersebut hanyalah meliput seputar berita sehari-hari di lingkungan masyarakat, dan sesekali meliput tokoh publik, politisi, yang sekiranya perlu di ketahui oleh masyarakat.

cerita diatas adalah cerita lama ketika saya berdomisili di Singapura. lain di asia lain di eropa, tapi ada satu hal yang sama yang saya jumpai di jerman, yaitu tentang koran yang di bagikan gratis alias cuma-cuma,  di hampir setiap daerah yang pernah saya diami. koran-koran kecil berukuran majalah tersebut tidaklah membahas peristiwa  seluruh jerman, melainkan hanya menyampaiakan berita di seputar daerah kecil saja, seperti ruang lingkup kecamatan atau tingkat kabupaten saja dengan tokoh politiknya yaitu pak camat atau pak bupati.  Theory ekonomi sepertinya dimana-mana berlaku baik di asia maupun di eropa, dengan tingginya antusias masyarakat membaca berita dari koran gratis, semakin tinggi pula antusias para usahawan untuk memasang iklan di koran gratis tersebut agar bisa memasarkan produknya dengan cepat. melalui sewa pasang iklan itulah koran-koran gratis ini di biayai produksinya, yang saya lihat terjalin kerjasama yang sama-sama menguntungkan, yang dalam istilah biology kita mengenal istilah “Symbiosis Mutualisme”.

Topik yang ingin saya kedepankan di artikel ini adalah, seandainya masyarakat kita, baik dari Desa Adat kemoning atau masyarakat di sekitar Kabupaten Klungkung, jeli melihat peluang dan bisa meniru keberhasilan “koran-koran gratis” tersbut untuk di terapkan di seputar daerah kita yaitu kabupaten klungkung, tentulah akan bisa meningkatkan laju perputaran roda perkonomian daerah yaitu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kreatifitas masyarakat, serta memaksa masyarakat untuk rajin membaca . selain itu , Masyarakat klungkung yang memiliki hobby fotography akan memiliki media untuk menyalurkan bakatnya serta bisa mendapatkan imbalan dari berita-berita fotonya. begitu juga dengan masyarakat yang memiliki hobby menulis “wartawan wanna be” bisa menyalurkan bakatnya menulis di koran gratis tersebut. bli wayan badra yang memiliki usaha percetakan di depan SMP PGRI klungkung bisa bergairah kembali karena usahanya akan terus mendapatkan pesanan untuk mencetak koran. pak bupati yang baru menjabat sekali dan ingin untuk menjabat di periode berikutnya, juga bisa terus berpromosi visi dan misinya di koran lokal gratis tersebut (tentunya harus membayar jika ingin di tampilkan beritanya). setali tiga uang dengan para politisi wakil rakyat yang ingin terpilih kembali di pemilu berikutnya bisa terus memaparkan program-program kunjungan  kedaerahnya di koran tersebut (sama seperti pak bupati harus membayar untuk “beriklan” di koran). apakah semua yang termuat beritanya harus membayarnya, tentu tidak. bila berita tersebut dirasa netral dan mendidik masyarakat dan termasuk berita actual, artikel terbut tentulah merupakan bagian dari liputan berita koran tersebut.

menghubungkannya dengan komunitas kita, yaitu masyarakat muda yang melek teknology, saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya hanya di depan komputer saja untuk menuliskan riwayat perjalanan hidupnya di media webblog, friendster, facebook, multiply, linkedin, atau koran online lainnya, padahal komunitas “online” ini bila di bandingkan dengan seluruh jumlah masyarakat di Indonesia atau di kabupaten klungkung sungguhlah sangat kecil, karena tidak semua masyarakat memiliki kesempatan membuka internet di rumah ataupun di kantor. andaikan komunitas online ini  bisa melebarkan  kreatifitasnya ke media konvensional “paper based” koran cetak, pastilah kegiatan yang semula hanya berawal dari hobby akan bisa menghasilkan pendapatan serta bisa mengkaryakan orang lain.

apakah semudah itu membuat koran cetak, tentu tidak… .membuat koran seperti ini memang tidaklah bisa di kerjakan sendiri, melainkan di perlukan kerjasama secara team, karena harus ada yang bertugas sebagai wartawan, editor, fotografer, sales / penjualan, pendistribusi koran ke rumah-rumah di desa-desa klungkung, dll, dan tentunya di perlukan kesabaran dalam menjalankan usaha apapun.    hati kecil saya mengatakan, menarik untuk di coba…..

akhir cerita, seandainya koran gratis ini bisa di wujudkan di daerah klungkung, walaupun hanya terbit tiap sebulan sekali, sesungguhnya sudah cukup bagus untuk mengawalinya. selanjutnya bisa dilihat perkembangannya dari response masyarakat klungkung, kalau seandainya mereka sangat antusias membaca berita gratis, lebih lanjut bisa di tingkatkan menjadi koran gratis mingguan seperti di setiap kecamatan di jerman yang terbit di setiap akhir pekan. kalau response para pemasang iklan di koran gratis ini juga positive,  ibarat gayung bersambut, produksi koran gratis inipun bisa di tingkatkan  menjadi koran gratis harian meniru  koran gratis setiap hari di singapura.

kata kunci dari artikel ini adalah: pekerjaan yang bermula dari hobby ini disamping bisa menciptakan peluang kerja, juga bisa membuat masyarakat kita menjadi lebih kreatif lagi dalam menggali setiap potensi daerah ataupun mengenali setiap berita daerah di seluruh pelosok kabupaten klungkung, dan yang terpenting adalah memacu masyarakat di kabupaten klungkung untuk “rajin membaca” setiap hari seperti harapan dari judul artikel ini:   Memberitakan masyarakat dan Memasyarakatkan berita.

salam waRning, 

“SING ADE BENEH: SIBUK PELIH SANTAI APALAGI….”

Kemoningkers… mohon maaf bukan karena kesibukan, saya tidak pernah ikut menyumbangkan tulisan, namun sesungguhnya karena kemalasan yang sangat sulit saya atasi juga rasa malu dan khawatir tulisan saya mungkin jelek…

Hari ini sesungguhnya saya amat bersyukur bisa berbagi pengalaman dengan kemoningkers, mohon diberikan koreksi, masukan dan saran atas tulisan ini.


Kenapa mesti bersyukur, ada ceritanya lho..

Hari ini saya kebetulan ada trip dari Bali tujuan Jakarta, satu jam sebelum boarding saya sudah check in, dalam boarding pass tertulis jam boarding 9.10 wita. Sambil menunggu saya duduk-duduk ngopi sambil baca koran di lounge bandara (—sesaat saya berpikir; seperti pengusaha saja saya ini).

Tiba waktu boarding belum juga ada panggilan…, 20 menit berlalu…, 30 menit berlalu…, baru kemudian: Ting-Tong ada announcement, alih-alih mau naik pesawat, eh ternyata pesawat delay dua jam. Sejenak saya kaget (—seharusnya saya ngak boleh kaget, karena hal ini di Indonesia bukan hal yang aneh, mungkin beda dengan di Tempat Ketut Adnyana maupun ditempat Ode) gimana dengan jadwal meeting siang ini?, dalam hati saya marah dan amat sangat kesal, yahhh mau gimana lagi.. ngak bisa ke jakarta terbang sendiri tohh..

Masih di ruang lounge bandara, saya putuskan untuk makan sajalah. Sambil mengambil makanan, saya perhatikan disebelah saya nampaknya ada beberapa orang pejabat penting daerah Bali (dari pakaian dan logo PINnya sepertinya mereka anggota DPRD Bali). Mendengar dari umpatan-umpatannya (yang agak aneh diselingi dengan ketawa lebar) saya rasa dia satu pesawat dengan saya. Karena penasaran sambil menunggu waktu keberangkatan saya putuskan untuk duduk di kursi dekat mereka, saya iseng ingin menguping apa yang biasanya para pejabat obrolkan, barangkali nanti kalau jadi pejabat atau saudara kita ada yang jadi pejabat akan saya kasih bocorannya..

Susungguhnya banyak yang saya dengar, namun tidak terlalu jelas, dan kebanyakan bukan hal yang menarik hati saya… sampai suatu ketika saya mendengar salah seorang dari mereka (yang kelihatannya paling gemuk dan agak low profile) berkata: ”mudah-mudahan apang buung pesawat ne berangkat, pang sepalan onyangan penerbanganne di batalkan, mare luung”… sejenak saya kaget, belum sempat saya berpikir, dalam sekejap teman-teman mereka malah mentertawakannya, dan menimpali: ”Ha..ha.. Ngude keto De..”. Orang pertama tagi (saya pikir namanya Gede atau Ode), kemudian berkata: ”Saye Nu demenan care ipidan, jeg santai dogen.. asane sing taen stres buke kene.. ngujang jani pipis ngelah, kowale jeg pusing dogen otake”…, (:sambil membaca News Week saya terus menguping).. Temannya yang terlihat agak perlente menimpali… ”No Gain No Risk De”… saya agak bingung apa hubungannya? Mungkin yang dia maksud: kalau mau hasil besar harus stress.. Belum selesai mereka mengobrol, tiba-tiba salah satu diantara mereka mengajak yang lain pindah ke ruangan merokok.. yahh jadi bubar dahh hiburannya..

Untuk beberapa saat saya bingung mesti ngapain selanjutnya, tidak banyak yang menarik untuk dibaca, sambil membolak-balik bacaan… lagi-lagi kuping saya mendengar obrolan Ibu-ibu paruh baya (: kelihatannya mereka rombongan juga, namun yang ini kelihatan intelek sekali, kebetulan mereka duduk di depan saya yang hampir bersebelahan juga dengan rombongan yang saya ceritakan pertama). Dari obrolan mereka saya dapat menangkap mereka tadi juga menguping… Tidak tahu apa yang mereka berhasil dengar dari rombongan DPRD tadi, tapi ada satu percakapan yang amat menarik hati saya, Ibu yang agak seksi bilang: ”Begitu yah.. orang menghabiskan seumur hidup hanya untuk 5 tahun jabatan”.. Ibu yang lainnya menimpali: ”Yah karena 5 tahun itu akan menjadi seumur hidup buat mereka”.. gila Ibu ini filosopinya tinggi sekali, otak saya ngak sampai kesitu nich…. mudah-mudahan Kemoningkers mengerti apa maksud Ibu-ibu itu, karena sebelum mereka melanjutkan obrolannya, announcement memanggil mereka, rupanya pesawatnya berbeda dengan saya.

Karena sudah tidak ada yang di kuping lagi dan bacaan sudah habis, akhirnya saya buka laptop, kebetulan di lounge ada broadband yang bisa di connect, sambil merenungkan obrolan anggota dewan pertama dan obrolan ibu-ibu tadi, saya pikir ada baiknya untuk menuliskan pengalaman tadi untuk dibagikan ke para rekan-rekan para Kemoningkers dan melanjutkannya dengan sedikit pengalaman pribadi saya sebelumnya.

Kalau menulis skripsi, itu tadi pendahuluannya, memang agak panjang…, nah tulisan berikut ini penutupnya… jadi bingungkan isinya yang mana?

Mendengar obrolan rombongan pertama (anggota Dewan) terus terang saya menghubungkannya dengan diri saya sendiri, saya rasa apa yang bapak Gede katakan sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan apa yang selama ini saya rasakan…

Sering sekali saya bolak-balik Bali-Jakarta-Surabaya…, sesering itu pula saya selalu berpikir, betapa sibuknya saya, kadang ngak ngerti untuk apa? Sering pula saya ngak menyadari apa sebenarnya yang saya cari? Entahlah.. mungkin uang, mungkin kesibukan, mungkin pekerjaan itu sendiri… pokoknya sibuk aja, pantat rasanya tidak pernah duduk…

Suatu saat… mungkin saking banyaknya pekerjaan, mungkin juga karena banyak pekerjaan yang belum selesai, mungkin juga karena banyaknya pekerjaan yang salah atau bahkan gagal, mungkin juga karena banyaknya complain yang tidak sanggup saya atasi…. Akhirnya sakit maag saya kambuh (: setelah sekian lama tidak pernah kambuh).

Seperti biasa Memek menasihati saya untuk istirahat dan menganjurkan saya minum jamu kunyit.. Saran ini seringkali saya anggap angin lalu, saya lebih memilih pergi ke dokter. Namun apa yang Memek bilang ternyata ada benarnya begitu habis obat, maag saya kambuh lagi… begitu seterusnya, tapi kesibukannya pun bukannya menjadi berkurang…

Sampai suatu saat Memek membawakan saya jamu Kunyit (jamu gendong) yang dibelinya dari pasar sanglah.. dengan terpaksa saya minum juga… setelah sekitar satu jam setelah itu, kok rasanya lambung saya lebih enak, nyaman sekali. Saya tidak tahu apakah ini karena jamu kunyitnya saja ataukah memang karena jamu kunyit yang dijual di pasar sanglah.. Sudahlah, akhirnya saya tanya memek dan saya putuskan datang sendiri ke dagang jamu tersebut keesokan harinya.

Singkat cerita, di pasar Sanglah saya ketemu penjual jamu itu (seorang ibu paruh baya), disana saya melihat ada tukang ojek yang minum jamu (sambil ketawa-ketawa dengan rekan-rekan mereka), ada juga pedagang kelontong (yang juga minum jamu sambil ketawa-ketawa)… saya jadi berpikir karena jamunya orang-orang ini ketawa atau karena orang-orang ini tidak punya masalah.. berapa banyak dia punya uang yahh…? Masak sih orang ini punya lebih banyak uang dari saya…? Kok rasanya hidupnya lebih nyaman dari saya..? Kok sepertinya mereka lebih bahagia dari saya.. betulkan mereka lebih bahagia dari saya…? Apa bedanya dengan sejahtera…? banyak lagi pertanyaan yang muncul di hati saya… Intinya saya cemburu pada kebahagiaan mereka..

Saking melamunnya saya tadi (:didepan pedagang jamu), saya kaget ketika ibu penjual jamu sudah menyodorkan jamu kepada saya. Saya tanya ibu itu: ”kok warnanya putih bu?”, kemudian dia menjawab: ”saya tadi tawari bapak jamu beras kencur bapak mengisayakan”… Waduh… rupanya tadi saya cukup lama melamun.. ”Maaf bu tolong kasih saya jamu Kunyit, yang ini biar tetap saya bayar” kata saya pada ibu penjual jamu. Setelah minum jamu saya masih penasaran meneruskan duduk di kursi kecil milik pedagang jamu itu.. Sejurus kemudian saya putuskan untuk ikut mengobrol dengan mereka (para pembeli jamu tadi), saya penasaran pingin tahu apa sih bedanya saya dengan mereka..

”Saking napi pak?” Saya memulai percakapan… Orang yang saya tanya menjawab: ”Tiang saking Karang Asem Pak”. Saya lanjutkan bertanya: ”Ring dije mekarye?”, dia menjawab: ”Tiang ngojek”, sebelum saya melanjutkan orang itu ngomong lagi: ”hidup mangkin mekonyang mael, hidup mangkin ten care pidan, serba keweh”.. saya terus perhatikan dia, lagi dia berkata: ”bapake mare enak, pakaian necis terus, pasti hidup bapak enak dan tenang sekali, ten kuangan napi, ten care tiang”… Belum lagi saya bicara orang itu bicara lagi: ”panak tiang mangkin nagih pipis anggon mayah SPP, baas mael, pokokne pusing pak”.. Waduh betapa kagetnya saya, rupanya orang-orang ini, kelihatannya saja tidak punya masalah, eh ternyata sama, Cuma model masalahnya yang berbeda.. Mengingat keluhan mereka saya putuskan untuk tidak meneruskan percakapan itu, dan saya mengakhiri percakapan dengan mengatakan: ”Pateh manten pak… tiang mangkin numbas jamu karena sakit maag tiang kambuh, nike karena tiang stress pak”.. dia menimpali: ” ngudiang bapak stress, pipis ngelah, mobil ngelah?”.. saya kembali menyanggah: ”dumun waktu tiang ten ngelah pipis, rasanya pipis adalah segala-galanya, tapi ternyata ten seperti nike pak, mungkin mangkin pipis tiang ngelah abedik, tapi kesibukan tianglah yang menimbulkan akeh masalah baru.. tiang tidak malah jarang ketawa seriang bapak dan teman-teman bapak, walaupun tukang ojek.. orang itu malah ketawa lebar.. haa..haa.. akeh pak nak ngenikaang kenten sareng tiang…

Beh.. Mekejang Pelih, Sibuk Pelih Santai Apalagi….

Ting..Tong… annnouncement bandara berbunyi: ”pesawat Garuda GA 401 tujuan Jakarta segera diberangkatkan, para penumpang harap masuk ke pesawat melalui pintu 17”…

Sekian dulu cerita tiang, nanti kita sambung lagi…

Oleh : kadek sumadi