kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for the ‘Who we are’ Category

Harapan dari Eropa

Posted by Adnyana under Who we are

Di penghujung tahun 2008 ini, saya sungguh merasa bahagia  karena mendapatkan kunjungan dari saudara sendiri sesama “pengempon” banjar maya http://kemoning.info ini, yang datang jauh-jauh ke benua eropa ke negeri Jerman untuk melaksanakan tugas kantor menghadiri technical-training. dan yang lebih mengejutkan lagi adalah trainingnya di laksanakan di kota di mana saya berdomisili. sungguh anugrah dari Ida Sang Hyang Widi Wasa kami bisa di pertemukan di negeri orang.  kesempatan ini tidaklah saya sia-siakan untuk meng-entertain kunjungan “turis dari bali” ini, dengan mengunjungi tempat-tempat yang memang menjadi tujuan pavorit anak muda. salah satunya mengunjungi stadion sepak bola Bayer Munchen yang baru, yaitu Allianz Arena, Museum mobil BMW di Munchen dan Museum Mercedez Bens di Stuttgart.

Ketika mengunjungi Stadion Bayer Munchen, kami di buat terkagum-kagum dengan desain arsitektur dari Stadion sepak bola ini. Produk-produk Jerman “made in Germany” biasanya di kenal dengan desain yang sederhana dan tidak memperdulikan seni tetapi memiliki fungsi serta ketahanan yang sangat bagus, sekarang berbalik 180 derajat. negeri Jerman sudah mulai berbenah dan sangat peduli dengan feedback dari customer untuk perbaikannya di kemudian hari. dengan bantuan software-software grafis terkini  (CAD-CAM) membuat hitungan-hitungan matematis yang sangat sulit bisa dengan begitu mudah di terjemahkan menjadi tampilan yang enak di lihat mata. ilmu eksata dan ilmu sosial pun sekarang sudah tidak memiliki jurang pemisah lagi. sebagai contoh terbaru dari perpaduan teknologi dan Seni ini adalah wujud stadion sepak bola Allianz Arena ini, stadion yang digunakan sebagai stadion pembukaan kejuaraan sepak bola dunia Worldcup 2006 lalu, selain memiliki fungsi serta ketahanan yang bagus, juga memiliki desain yang sangat futuristik.  dan sekarang malahan tidak hanya menjadi salah satu trademark dari kota munchen tapi juga menjadi “benchmark” atau acuan dari stadion-stadion sepak bola manca negara bila ingin membangun stadion sepak bola yang baru.

hanya ada satu harapan yang keluar dari lubuk hati ini, yaitu, semoga negeri kita di Indonesia atau di provinsi Bali atau mungkin di kabupaten Klungkung memiliki stadion minimal serupa atau mungkin memiliki fitur-fitur yang melebihi dari apa yang ada di stadion Bayer Munchen Aliianz Arena ini di masa mendatang, semoga.

Lebih lanjut, perjalanan kami lanjutkan mengunjungi Museum mobil BMW (Bayerische Motoren Werke) yang berpusat di kota Munchen bersebelahan dengan Stadion Bayer Munchen yang lama “Olympia Stadium”.  sama seperti halnya museum-museum lainnya, di museum BMW ini di jelaskan sejarah panjang perjalanan perusahan mobil yang berasal dari provinsi Bayern ini, di mulai dari disain mobilnya yang pertama kali di luncurkan hingga disain mobil yang belum di luncurkan di pasaran. Tidak ketinggalan animasi mobil yang di bentuk dari sekumpulan bola-bola logam kecil yang bisa membentuk apa saja seiring irama lantunan musik yang sangat menyentuh jiwa, serta membuat pikiran pengunjung hanyut melayang terkagum-kagum.

Lain di kota Munchen lain di kota Stuttgart, seperti tidak mau kalah dengan Museum BMW, Museum Mercedez Bens di kota Stuttgart pun, juga tidak kalah historik dan futuristik. di museum Merecedez ini juga di tampilkan hasil karya kendaraan bermotor sejak dari yang paling sederhana hingga yang paling mutakhir. perusahan mobil dari stuttgart ini, yang semula sesungguhnya terdiri dari 2 perusahan independen yang berbeda yang akhirnya merger menjadi satu perusahan , yaitu perusahan dari Gotlieb Daimler serta  perusahan dari Karl Benz, merger menjadi satu nama perusahan Daimler-Benz. berkunjung ke museum ini, sungguh mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga, dimana sebuah hasil karya yang besar dimulai dari perjuangan dan kerja keras , disiplin dan kesabaran serta visi jauh kedepan agar perusahan bisa terus berinovasi.

Semoga perjalanan singkat dua bersaudara dari desa kemoning ini di kota Munchen dan di kota Stuttgart, yang saya bagi serta saya tuangkan dalam bentuk artikel singkat ini bisa menambah motivasi kita semua untuk bisa belajar dari orang-orang ataupun negeri yang sudah maju, belajar dan bekerja tidak kenal lelah serta bisa memiliki visi yang jauh kedepan, untuk kemudian kita terapkan di lingkungan keluarga kecil kita di rumah atau di lingkungan komunitas desa kita di Kemoning klungkung.

akhir kata, selamat menyambut serta merayakan tahun baru 2009, semoga Ida Sang Hyang Widi Wasa selalu memberikan petunjuk dan melindungi kita semua.

salam waRning,

Berkenalan dengan Tuhan

Posted by Ode under Who we are

banten otonan Nina

“Nina, hari ini adalah hari otonan buat kamu. Ibumu sudah menyiapkan banten otonan kecil, nanti malem biar bapak yang ngotonin ya!”
“What does otonan mean, Daddy?”
“It’s your Balinese birthday!”
“Hurraayyy..am I going to have another party then?”
“You are not! We’re going to pray together tonight”
Play? Ok!”
“Not play, pray!”
“What does pray mean?”
“We pray to God for blessing us peacefulness, health and happiness”
“Who is God?”
“….” 

Seingat saya — mungkin saya salah — , pertanyaan-petanyaan seperti ini tidak pernah saya lontarkan kepada bapak dan memek dulu ketika saya masih kecil. Mungkin juga waktu itu saya sudah sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan terdengar sangat bodoh kalau dipertanyakan. Semua teman saya tau apa itu otonan, semua teman juga tau kalo sembahyang itu adalah kepada Tuhan. So? Why bother asking?

Tapi hal ini menjadi cerita berbeda ketika yang bertanya itu adalah anak saya yang kini telah berumur empat tahun. Nina terlahir di Australia, bersekolah di Australia, berkembang dan bergaul di lingkungan dimana tidak satupun temannya pernah melontarkan istilah otonan. Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini kemudian menjadi hal yang tidak sederhana lagi bagi saya.

Sewaktu kecil, sudah menjadi kebiasaan setiap pagi saya harus mebanten ngejot. Setiap kali sebelum memulai dan mengakhiri pelajaran di kelas, guru menyuruh kita melakukan Tri Sandya, tiap purnama dan tilem maturan di pura Puseh dan tiap 210 hari sekali berhak untuk mendapat otonan! Otonan = makan ayam panggang dan sambel matah! Enak!
Tanpa harus dikasi tau tentang keberadaan Tuhan pun saya langsung bisa memaknai dan merasakan bahwa Tuhan selalu hadir setiap kali saya otonan, melalui ayam panggang dan sambel matah-Nya! Tuhan terasa enak! Saya telah berkenalan dengan Tuhan — sebatas kemampuan saya untuk mengenalNya–! dan selalu menunggu saat-saat dimana odalan dan otonan datang untuk bisa ‘merasakan’Nya.

Lalu, sudahkan di banten otonannya Nina diisi ayam panggang? Sudah (KFC!)! Enak? Enak! Apakah Nina juga akan mengenal Tuhan dari situ? ….Entahlah, hanya Nina yang tau…
Saya, dan juga istri, amat sangat berharap suatu hari nanti Nina akan mengenal Tuhan dan keagungan segala ciptaaNya melalui cara yang paling nyaman menurut dia. Saat ini, salah satu cara yang mampu saya sediakan adalah dengan mencontek apa yang dulu orang tua saya ajarkan kepada saya, otonan. Lain kali nanti, akan saya carikan contekan lain yang dapat dia pakai lebih lanjut untuk membantu ‘merasakan’ keberadaanNya.

Singkat cerita, selamat otonan buat Nina dan semua anak-anak masa depan,
Kami yakin banyak jalan untukmu tuk mengenal Tuhan lebih dekat. Sementara ini, mari kita lalui dan menikmati dulu jalan yang sudah disediakan oleh pendahulu-pendahulu kita melaui tradisi-tradisi sebagai orang Bali.
Kami  berharap Tuhan akan selalu bersemayam di hati Nina dan semua anak-anak masa depan untuk selalu menemani langkah hidup kalian sehingga menjadi manusia yang mengerti arti hidup dan menjalankan tugas terlahir sebagai manusia sebelum kembali kepadaNya suatu saat nanti.

-Harapan dari Sydney

Saya dan keluarga :)

Posted by ceklode under Who we are

Tidak kenal maka tidak sayang, begitulah kata pepatah! Dan saya tidak ingin tidak disayang, untuk itu saya mau memperkenalkan diri :)
Bapak/Memek memberi saya nama lengkap I KETUT GEDE SRIJAYA (aka: Ode), terlahir jaman tahun 70-an (agak-agak mepet ke bawah:) dan hidup di Kemoning hingga kelas II SMP sebelum melanjutkan perjalanan ke Denpasar, Bandung, Jakarta, Singapore, dan kini menetap di Sydney Australia sebelum nanti entah kemana kaki ini akan melangkah.
Maka dari itu, kalau ada teman-teman yang saat ini pengen berkunjung ke Sydney, make it now! mumpung saya masih disini. Just drop me a line and we will take you around the beautiful Sydney.

Read the rest of this entry »