kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for August, 2008

Belajar dari Masa Depan

Posted by Adnyana under Secarik Motivasi

 

saya menulis ini hanya ingin berbagi cerita, tentang topik dari salah satu teman yang berbicara di club public speaking ‚Toastmaster’ dengan topic “learn from the future”. it sounds weird isn’t it? biasanya orang belajar dari masa lalunya atau belajar dari pengalaman hidup orang lain. tapi dari pidato teman saya itu dia mengutarakan bagaimana caranya belajar dari masa yang akan datang, masa yang sesungguhnya belum terjadi.
  
Dia mengibaratkan mengarungi hidup kedepan ibarat mengendarai sebuah traktor yang bergerak mundur ke belakang. Masa lalu itu di ibaratkan sebagai sesuatu yang bisa dilihat di depan matanya, sedangkan masa depan adalah sesuatu yang tidak bisa di lihatnya karena berada di belakangnya. sopir traktornya dengan sangat hati-hati dan cermat bergerak mundur berdasarkan analisa dari kedua kaca spion di kiri dan kanannya serta dari kaca spion di tengah atasnya.
 
Kemudian dia menganalogikan ceritanya dengan kehidupan yang kita jalani. dimana konon ada beberapa orang yang terkadang merasa “get expert by experience” bertindak dengan kepercayaan dirinya yang terlalu tinggi, melupakan hal-hal yang sangat principil dalam memulai kegiatannya yaitu beranalisa dan menggunakan prinsip kehati-hatian yang akhirnya berujung kepada kegagalan.
 

 

Dari pidato yang berdurasi 7 menit itu, sesungguhnya topik pidatonya itu terkesan sederhana, tapi memiliki makna yang dalam. ini bisa saya tangkap di akhir pidatonya, dimana ada pesan moral yang disampaikannya yaitu ‘make no mistake’. cerita itu banyak membuat audience merenung dan mengingat-ingat kembali kehidupan masa lalunya, termasuk saya sendiri.whether I am doing the right thing preparing myself to look forward for the future?
 
Salam waRning,

“Kekuatan Kejujuran”

Posted by kadek sumadi under Secarik Motivasi

Sahabat waRning, salam hangat…..

Sambil mengisi waktu luang di hari Raya Kuningan, perkenankan saya menuliskan pengalaman saya kembali.. Topik yang saya angkat kali ini adalah ”Kekuatan Kejujuran”

Pernah pada suatu ketika saya punya pengalaman menarik saat memeriksa hasil ujian tengah semester (UTS) mahasiswa saya. Satu persatu saya teliti hasil ujian mahasiswa saya.. ”Waduh mahasiswa ini ngak pernah ikut kuliah barangkali, kok jawabannya ngawur sekali..” pikir saya dalam hati saat memeriksa pekerjaan salah satu mahasiswa. ”Nah yang ini hebat betul, jawabannya bagus sekali..” kata saya dalam hati saat memeriksa pekerjaan lainnya.

Singkat cerita sebagian pekerjaan sudah saya periksa, sampai pada suatu ketika saya agak sedikit bingung dan ragu… ”Loh hasil ujian ini kan sudah saya periksa tadi, kok bisa disini lagi.., jangan-jangan saya sudah ngantuk sampai-sampai ngak sadar memeriksa lagi hasil ujian yang sudah diperiksa sebelumnya” pikir saya dalam hati. ”Tapi kok namanya belum ada nilai hasil ujiannya, seharusnya kalau sudah diperiksa ada nilainya” pikir saya lagi. Saya berusaha mencari hasil ujian mahasiswa sebelumnya (: yang tadinya saya pikir saya periksa kembali). Setelah beberapa saat, akhirnya saya temukan pekerjaan tersebut, dan… Betapa saya dibuat kaget (bercampur dengan sedikit kesal dan marah), pekerjaannya memang sama persis, cuma bedanya yang satu ada beberapa coretan dan yang lainnya bersih tanpa coretan. ”Ini benar-benar menjiplak, betapa bodohnya orang ini, menjiplak saja kok sama persis, dirubah kek sedikit saja biar dosennya terkecoh!!!” pikir saya dalam hati…

Sekedar info mata kuliah yang saya asuh adalah hukum pajak, dimana didalamnya banyak uraian, argumentasi, penafsiran dan filosopi hukum perpajakan. Jadi kebayangkan…., mana mungkin ada pekerjaan yang sama apalagi persis sama.

Saya lanjutkan kembali cerita saya…

selanjutnya saya berusaha meneliti yang mana sesungguhnya yang mencontek. Setelah sekian lama belum juga saya menemukan jawabannya, karena khawatir salah memberikan sanksi, akhirnya saya putuskan untuk menunda memberikan nilai keduanya. ”akan saya umumkan di kelas untuk mencari tahu yang mana sebenarnya yang mencontek, sehingga hukuman buat yang mencontek jelas tidak lulus” pikir saya dalam hati.

Singkat cerita perkuliahan pertama (setelah UTS) untuk mata kuliah yang saya asuh dimulai…

”Dikelas ini ada dua pekerjaan yang sama persis, saya tidak perlu sebutkan namanya, bagi kalian yang merasa mencontek seluruh pekerjaan temannya, silahkan angkat tangan sekarang, mungkin sanksinya buat anda bisa saya kurangi” kata saya dengan nada sedikit emosi. Setelah menunggu beberapa lama belum juga ada reaksi, kembali saya mengulangi peringatan sebelumnya, ”Kalau anda tidak mengaku, terpaksa kedua hasil ujian tersebut saya berikan nilai nol, sehingga praktis anda tidak akan lulus, walaupun nilai UASnya 100” kata saya lagi dengan emosi yang sedikit meningkat. ”Atau kalau anda merasa malu, anda boleh menemui saya di ruangan dosen” kata saya meneruskan.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tidak ada juga mahasiswa yang mengaku mencontek..

Suatu ketika, tanpa disengaja saya sempat membaca kembali kisah-kisah yang diceritakan oleh Bapak Andre Wongso di sebuah toko buku. Ada satu kisah yang sangat menarik hati saya, yaitu kisah ”Tentang Kejujuran”. Setelah membaca kisah itu, saya pikir tidak ada salahnya kalau saya cobakan menyampaikan kisah ini kepada mahasiswa saya, barangkali dapat menyadarkan mereka akan ke tidak jujurannya.

Singkat cerita, pada pertemuan terakhir menjelang UAS, saya mulai menceritakan kisah tentang “Kekuatan Kejujuran” tersebut kepada mahasiswa saya. Semoga para sahabat waRning tidak keberatan kalau saya menceritakan kembali kisah tentang ”Kekuatan Kejujuran” (:yang saya ceritakan kepada mahasiswa saya) kepada para sahabat waRning..


Begini ceritanya:

Dikisahkan di suatu Kerajaan, Sang Raja tidak mempunyai keturunan. Setelah berunding dengan para penasihatnya, Sang Raja memutuskan untuk mengadakan sayembara untuk mencari penerus Sang Raja.

Dimulailah pengumuman besar-besaran tentang dibukanya pendaftaran bagi siapa saja yang berminat untuk menjadi penerus Sang Raja. ”Wahai Rakyatku, siapapun kalian laki atau perempuan, asalkan berhasil mengikuti semua ujian dari ku, maka satu diantara kalian akan aku angkat menjadi penerusku” kata sang raja kepada rakyat yang hadir di alun-alun kerajaan. ”Silahkan mendaftar untuk ikut semua proses ujian” kata sang raja meneruskan pengumumannya.

Berbondong-bondonglah rakyat mendaftarkan diri untuk ikut ujian kerajaan. Tidak kurang dari 2 ribu orang yang mendaftar.

Singkat cerita, ujian pertama sampai ujian terakhir sudah dilakukan, pada akhirnya tersisa 8 orang pemuda yang tentunya semua sangat cerdas.

”Wahai para pemuda cerdas, kalian sudah berhasil melewati semua ujian dari kerajaan, kini tibalah saatnya ujian yang terakhir” kata sang raja. ”Ini aku bagikan masing-masing 5 benih tanaman, rawatlah benih ini, kembalilah 7 hari lagi, siapapun yang berhasil merawat dan menghasilkan tanaman dengan kualitas yang terbaik tentunya dia yang akan menjadi penerusku” kata sang raja meneruskan. Mendengar ucapan sang raja, para pemuda tersebut bergegas mengambil benih-benih yang dibagikan dan membawanya pulang.

Hari demi hari berlau, tibalah saat pada hari yang ditentukan. Para pemuda kembali menghadap sang raja dengan hasil tanaman yang berbeda-beda. Pemuda pertama sampai pemuda ketujuh, menghadap sang raja dengan kepala tegak, wajah berbinar-binar dan hati berbunga-bunga, mereka semua yakin akan menjadi penerus sang raja, karena benih yang dibagikan sang raja, semua menjadi tanaman yang tumbuh sangat sehat.

”Paduka benih-benih yang paduka berikan sudah saya rawat dengan amat sangat baik, kini benih tersebut sudah tumbuh menjadi tanaman yang subur dan sehat” kata seorang pemuda. Demikian seterusnya sampai pemuda ketujuh.. tentunya mereka semua sangat berharap dipilih oleh sang raja untuk menjadi penerusnya.

Tiba giliran pemuda kedelapan, dengan langkah lunglai pemuda itu menghadap sang raja, sambil menitikkan air mata dia berkata: ”Paduka, hamba sudah berusaha menyirami dan merawat benih yang paduka berikan, hari demi hari hamba terus menyirami dan merawatnya, hambapun telah memberikan pupuk yang terbaik, namun benih-benih yang paduka berikan semuanya tidak pernah tumbuh. Hamba mohon ampun, memang hamba tidak pantas untuk menjadi penerus paduka”. Mendengar pengakuan yang tulus dari pemuda ke delapan tadi, tiba-tiba sang raja tertawa…

”Ha.ha.ha.. akhirnya aku menemukan juga penerusku” kata sang raja. Tentunya hal ini membuat seluruh yang hadir menjadi sangat kaget, ”ada apa gerangan” seru beberapa diantara mereka.. sementara yang lainnya bengong penasaran. ”Ketahuilah wahai para penasihat, peserta ujian dan hadirin sekalian, bahwa sebelum aku bagikan, benih-benih itu sudah aku rebus dulu, sehingga benih tersebut mati dan tidaklah mungkin tumbuh walaupun dipelihara dengan cara apapun” kata sang raja kembali.

”Pemuda ini adalah pemuda yang amat jujur, tidak berambisi dan tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, sangat berbeda dengan tujuh pemuda lainnya, Pemuda inilah yang kelak akan menjadi penerusku” kata sang raja.

”Wahai engkau tujuh pemuda pembohong, engkau layak dihukum berat, karena dengan kecerdasanmu, kamu telah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Orang-orang pintar seperti kalian yang sesungguhnya akan menghancurkan negeri ini. Oleh karenanya saya perintahkan agar kalian di hukum berat” kata sang raja mengakhiri ucapannya.

Demikianlah kisah ”Tentang Kejujuran” itu saya akhiri, dan saya pun meninggalkan kelas sambil mengatakan ”sampai ketemu pada UAS”.

Saat saya duduk-duduk di ruangan dosen sebelum pulang, tiba-tiba datang seorang mahasiswa menghadap. ”Ada apa dik” tanya saya kepada mahasiswa tersebut. ”Saya minta maaf pak, sayalah yang mencontek pekerjaan teman saya yang pernah bapak bahas sebelumnya” katanya sambil menangis. Sebelum saya sempat bicara, dia meneruskan ucapannya: ”Saya siap dihukum karena kecurangan dan ketidak jujuran saya, semester depan akan saya tempuh mata kuliah bapak lagi”. Sejenak saya terdiam.. ”Apa yang mendorong adik mengakuinya saat ini?” tanya saya kepadanya. ”Cerita bapak telah menyadarkan saya, betapa besarnya arti sebuah kejujuran. Mohon teman saya jangan ikut menerima sanksi karena kejahatan saya, sekali lagi saya mohon maaf” katanya mengakhiri.

Tanpa saya sadari kisah yang saya sampaikan telah memperbaiki watak mahasiswa saya… ”Syukurlah…”

Sahabat waRning, saya akhiri cerita saya, semoga ada manfaatnya…

oleh: kadek sumadi

 

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/2/2/b7.htm

 

Renungan Kuningan  —Mencapai ”Santha Jagadhita”

Hari ini, Sabtu Kliwon (2/2), umat Hindu kembali merayakan rerahinan Kuningan, setelah merayakan Galungan sepuluh hari lalu. Hari-hari raya keagamaan tersebut penting dimaknai hakikatnya, tak hanya dirayakan secara rutinitas. Sebab, banyak makna penting tersirat di dalamnya yang perlu ”dibumikan” dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana dengan Kuningan? Apa yang mesti dimaknai dari perayaan Kuningan yang sarat dengan simbol-simbol atau niyasa upakara seperti tamiang, endongan dan sebagainya?

————————–

UMAT Hindu hendaknya jangan berhenti pada terselenggaranya perayaan hari keagamaan, tetapi memaknainya. Sebab, ada banyak makna yang terkandung dalam perayaan keagamaan tersebut.

Dosen IHDN Denpasar yang mantan Dirjen Bimas Hindu Depag RI Dr. Wayan Suarjaya, M.Si. mengatakan, para leluhur membuat banyak rerahinan agar umat selalu ingat kepada Sang Pencipta — Ida Sang Hyang Widi Wasa dan mensyukuri karunia-Nya. Melalui perayaan hari raya keagamaan, umat dituntut selalu ingat menyamabraya — meningkatkan persatuan dan solidaritas sosial. Selebihnya, melalui rerahinan umat diharapkan selalu ingat kepada lingkungan.

”Guna mendapatkan sarana upakara, umat mesti menjaga kelestarian lingkungan (kebersihan lingkungan). Selain buah, bunga dan daun (sarana upakara), umat menggunakan tirta (air suci) dalam penyelenggaraan yadnya. Karena itu dalam konteks ini, ada pesan penting yang mesti diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, yakni umat mesti menjaga alam — jangan mencemari air,” ujarnya.

Tetapi kenyataannya, banyak sungai yang sudah tercemar. Di sinilah pentingnya kesadaran untuk memelihara alam. Jadi dalam konteks kekinian, pesan yang bisa kita petik dari perayaan hari keagamaan adalah umat mesti selalu ingat Tuhan, menjaga persatuan, peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan selalu menjaga alam lingkungan. Semua itu sesungguhnya implementasi dari konsep Tri Hita Karana.

Lambang Perlindungan

Dalam perayaan Kuningan, simbol-simbol upakara menjadi ciri khasnya seperti tamiang dan endongan. Apa maknanya?

Tamiang, kata Ketua Parisada Bali Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. berasal dari kata tameng yang berarti alat penangkis senjata. Sebagai alat penangkis, tamiang memiliki lambang perlindungan. Di samping itu, tamiang juga sebagai lambang Dewata Nawa Sanga, karena menunjuk sembilan arah mata angin. Tamiang juga melambangkan perputaran roda alam — cakraning panggilingan. Lambang itu mengingatkan manusia pada hukum alam. Jika masyarakat tak mampu menyesuaikan diri dengan alam, atau tak taat dengan hukum alam, risikonya akan tergilas oleh roda alam. Melalui pelaksanaan Kuningan, tegas Sudiana yang dosen IHDN Denpasar itu, umat diharapkan mampu menata kembali kehidupan yang harmonis (hita) sesuai dengan tujuan agama Hindu.

Selain tamiang, dalam perayaan Kuningan juga terdapat endongan yang bermakna perbekalan. Bekal yang paling utama dalam mengarungi kehidupan adalah ilmu pengetahuan dan bhakti (jnana). Sementara senjata yang paling ampuh adalah ketenangan pikiran. Ketenangan pikiran ini yang tak dapat dikalahkan oleh senjata apa pun.

Ikang manah pinaka witing indra, yang artinya pikiran itu sumber dari indria. Itu berarti senjata pikiranlah yang paling ampuh dan utama dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Saat Kuningan, Batara-Batari diyakini turun dari kahyangan, dan kemudian kembali lagi ke alamnya. Karena itu umat Hindu berusaha menghaturkan upacara sepagi-paginya, pada hari raya Kuningan.

Tetapi yang penting dari semua itu, kata Asdir I Program Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Drs. Wayan Budi Utama, M.Si., umat Hindu mesti lebih menguatkan bekal (endongan) hidup yakni ilmu pengetahuan. Umat Hindu mesti unggul dari segi kualitas, sehingga memiliki posisi tawar dan menang menghadapi persaingan global.

Untuk meningkatkan kualitas, pendidikan adalah bekal dan senjatanya. Karena itu yadnya dalam bidang pendidikan mesti digalakkan di kalangan umat. Bila memungkinkan, sumbangan dana pemerintah ke desa pakraman beberapa persennya dialokasikan untuk investasi di bidang pendidikan atau beasiswa. Dengan demikian, krama yang kurang mampu dari segi ekonomi memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas SDM-nya. Hal ini dinilai penting bagi Bali ke depan. ”Jika SDM Bali betul-betul berkualitas akan memiliki posisi tawar dalam kancah yang lebih luas. Jadi, simbol-simbol yang terdapat dalam Kuningan mesti dimaknai lebih luas lagi.

Lewat perayaan Kuningan, diharapkan krama Bali lebih terpacu lagi untuk mencetak kaum intelektual sebanyak-banyaknya,  sehingga mampu membawa Bali lebih baik lagi dalam berbagai aspek, ya… alamnya, budayanya, pendidikannya, ekonominya dan sebagainya,” katanya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan IHDN Denpasar Dr. Ketut Subagiasta mengatakan hal yang sama. Melalui perayaan Galungan-Kuningan umat diisyaratkan agar tak henti-hentinya berjuang melawan adharma guna mencapai kejayaan. Dalam konteks kekinian, umat mesti terus berjuang untuk mengentaskan kemiskinan, mengentaskan buta aksara, selain berjuang mengendalikan diri dan selalu menyucikan pikiran biar hening. Semua itu dalam rangka untuk mencapai santha jagadhita atau kerahayuan atau keharmonisan yang langgeng. Semoga!

“SEIKAT KEMBANG UNTUK IBU”

Posted by kadek sumadi under Secarik Motivasi

Hello para Semeton & Sahabat waRning…

Kalau ada sahabat waRning yang sempat membaca cerita pendek saya, mungkin akan berpikir, apa gerangan inti ceritanya … mungkin ada sahabat yang dapat menangkap ada setitik kegelisahan dalam hati saya, yang rindu akan kebahagiaan..

Sebelum saya meneruskannya dalam tulisan yang bersambung dengan topik-topik Kebahagiaan dan Cinta…. perkenankan saya menyampaikan kembali kisah yang disampaikan oleh Bapak Andre Wongso:

Diceritakan pada suatu pagi, seorang bapak terbangun dengan tergesa-gesa dan marah-marah seraya berkata:

“bu!!! kenapa bapak tidak dibangunkan.., hari ini bapak banyak pekerjaandi kantor”. Dengan tergesa-gesa sampai tidak sempat sarapan, si bapak langsung pergi meninggalkan sang istri yang sedang menyiapkan sarapan untuknya..

Diperjalanan menuju kantornya, si bapak tadi menyempatkan membeli sarapan untuk dibungkus hendak dibawanya ke kantor. Saat menunggu dibungkuskan sarapan itu, tanpa dia sadari, dia telah memperhatikan seorang gadis kecil yang sedang memilih-milih kembang (pada flowers shop disebelah tempat penjual makanan). Tanpa dia sadari dia telah mendengarkan percakapan diantara mereka..

“Pak!! Seikat kembang ini harganya berapa yah..” gadis kecil itu bertanya kepada penjual kembang;

”Yang ini harganya 20 rb rupiah Nak…” kata penjual kembang menjawab;

”Kalau yang ini berapa Pak?” tanya gadis kecil itu lagi menanyakan kembang lain yang lebih kecil;

”Kalau yang itu 10 rb rupiah Nak..” jawab penjual kembang itu lagi;

’Kalau begitu saya tidak jadi beli ya pak, saya tidak punya uang sebanyak itu..” kata gadis kecil itu lagi;

Saking penasarannya hati bapak yang sedang membungkus makanan tadi, kemudian dia menghampiri si gadis kecil itu, lalu dia bertanya: ”Nak untuk siapakah kembang yang mau engkau beli itu?”

”Untuk ibu saya pak.. hari ini dia berulang tahun..” kata gadis kecil itu;

”Oh begitu.. yah..” si bapak menjawab lagi, seketika si bapak baru teringat kalau hari ini adalah hari ulang tahun istrinya;

”Betapa berbahagianya istriku, kalau aku juga membelikan kembang ini untuk istriku” katanya dalam hati;

”Nak!! karena kamu telah mengingatkan saya akan ulang tahun istri saya, ini bapak hadiahkan seikat kembang ini untuk dikasihkan kepada Ibumu sebagai ucapak terima kasih bapak” katanya seraya menyerahkan seikat kembang yang sedari tadi titunggui oleh gadis kecil itu;

”Terima kasih banyak pak, atas kebaikan bapak” kata gadis kecil itu seraya mohon pamit untuk pulang;

Selanjutnya:

”Pak tolong kirimkan kembang ini untuk istri saya, ini kartu ucapan sekaligus alamatnya” kata si bapak sambil membayarnya;

Dalam perjalanan menuju kantor ternyata si gadis kecil juga berjalan searah dengan si bapak. Melihat gadis kecil itu, si bapak berhenti dan menawarkan tumpangan kepada gadis kecil itu.

”Nak bapak kebetulan mau ke kantor di jalan yang searah, kalau mau biar bapak antarkan sekalian” si bapak menyapa si gadis kecil;

”Baiklah Pak, saya ikut menumpang” si gadis kecil berkata sambil naik ke mobil;

Di perjalanan yang agak sepi, si gadis kecil tiba-tiba minta berhenti dan turun. Dia berkata: ”Saya turun disini saja pak, biar saya jalan sedikit lewat samping”;

”Baiklah nak, hati-hati di jalan” katanya si bapak itu sambil terbengong saking penasaran, melihat gadis kecil itu turun di tempat yang sepi;

Saking penasarannya, diam-diam si bapak membuntuti si gadis kecil itu tanpa diketahui oleh gadis kecil itu..

Betapa kagetnya si bapak melihat si gadis kecil itu berhenti di sebuah gundukan kuburan yang masih baru… lagi-lagi karena penasaran, si bapak mendekati gadis kecil itu dan bertanya:

”Nak ini kuburan siapa? Kenapa engkau menaruh kembangnya disini?”

”Ini kuburan Ibu Saya, seandainya tiga hari yang lalu ibu saya tidak kecelakaan dan meninggal tentunya kami akan merayakan hari ulang tahunnya hari ini” katanya sambil menangis;

”Terima kasih Tuhan…, istri saya masih hidup hari ini, sehingga saya akan dapat memberikan ucapan selamat kepadanya hari ini” si bapak bergumam dalam hati;

Lagi-lagi si bapak telah mendapatkan pelajaran yang amat berharga hari ini.. Secepatnya dia berpamitan kepada gadis kecil itu dan langsung kembali ke toko kembang tadi.

”Pak biar kembangnya saya bawa sendiri kepada istri saya” katanya sambil mengambil kembang itu dan langsung pulang ke rumah.. ”;

Sahabat waRning, apa yang dapat disimak dari cerita tersebut:

Penyesalan sering datang terlambat… Berikanlah cinta kasih kita sebelum semua terlambat.. terutama kepada keluarga kita..

…………………………

salam waRning..

kadek sumadi

“SING ADE BENEH: SIBUK PELIH SANTAI APALAGI….”

Kemoningkers… mohon maaf bukan karena kesibukan, saya tidak pernah ikut menyumbangkan tulisan, namun sesungguhnya karena kemalasan yang sangat sulit saya atasi juga rasa malu dan khawatir tulisan saya mungkin jelek…

Hari ini sesungguhnya saya amat bersyukur bisa berbagi pengalaman dengan kemoningkers, mohon diberikan koreksi, masukan dan saran atas tulisan ini.


Kenapa mesti bersyukur, ada ceritanya lho..

Hari ini saya kebetulan ada trip dari Bali tujuan Jakarta, satu jam sebelum boarding saya sudah check in, dalam boarding pass tertulis jam boarding 9.10 wita. Sambil menunggu saya duduk-duduk ngopi sambil baca koran di lounge bandara (—sesaat saya berpikir; seperti pengusaha saja saya ini).

Tiba waktu boarding belum juga ada panggilan…, 20 menit berlalu…, 30 menit berlalu…, baru kemudian: Ting-Tong ada announcement, alih-alih mau naik pesawat, eh ternyata pesawat delay dua jam. Sejenak saya kaget (—seharusnya saya ngak boleh kaget, karena hal ini di Indonesia bukan hal yang aneh, mungkin beda dengan di Tempat Ketut Adnyana maupun ditempat Ode) gimana dengan jadwal meeting siang ini?, dalam hati saya marah dan amat sangat kesal, yahhh mau gimana lagi.. ngak bisa ke jakarta terbang sendiri tohh..

Masih di ruang lounge bandara, saya putuskan untuk makan sajalah. Sambil mengambil makanan, saya perhatikan disebelah saya nampaknya ada beberapa orang pejabat penting daerah Bali (dari pakaian dan logo PINnya sepertinya mereka anggota DPRD Bali). Mendengar dari umpatan-umpatannya (yang agak aneh diselingi dengan ketawa lebar) saya rasa dia satu pesawat dengan saya. Karena penasaran sambil menunggu waktu keberangkatan saya putuskan untuk duduk di kursi dekat mereka, saya iseng ingin menguping apa yang biasanya para pejabat obrolkan, barangkali nanti kalau jadi pejabat atau saudara kita ada yang jadi pejabat akan saya kasih bocorannya..

Susungguhnya banyak yang saya dengar, namun tidak terlalu jelas, dan kebanyakan bukan hal yang menarik hati saya… sampai suatu ketika saya mendengar salah seorang dari mereka (yang kelihatannya paling gemuk dan agak low profile) berkata: ”mudah-mudahan apang buung pesawat ne berangkat, pang sepalan onyangan penerbanganne di batalkan, mare luung”… sejenak saya kaget, belum sempat saya berpikir, dalam sekejap teman-teman mereka malah mentertawakannya, dan menimpali: ”Ha..ha.. Ngude keto De..”. Orang pertama tagi (saya pikir namanya Gede atau Ode), kemudian berkata: ”Saye Nu demenan care ipidan, jeg santai dogen.. asane sing taen stres buke kene.. ngujang jani pipis ngelah, kowale jeg pusing dogen otake”…, (:sambil membaca News Week saya terus menguping).. Temannya yang terlihat agak perlente menimpali… ”No Gain No Risk De”… saya agak bingung apa hubungannya? Mungkin yang dia maksud: kalau mau hasil besar harus stress.. Belum selesai mereka mengobrol, tiba-tiba salah satu diantara mereka mengajak yang lain pindah ke ruangan merokok.. yahh jadi bubar dahh hiburannya..

Untuk beberapa saat saya bingung mesti ngapain selanjutnya, tidak banyak yang menarik untuk dibaca, sambil membolak-balik bacaan… lagi-lagi kuping saya mendengar obrolan Ibu-ibu paruh baya (: kelihatannya mereka rombongan juga, namun yang ini kelihatan intelek sekali, kebetulan mereka duduk di depan saya yang hampir bersebelahan juga dengan rombongan yang saya ceritakan pertama). Dari obrolan mereka saya dapat menangkap mereka tadi juga menguping… Tidak tahu apa yang mereka berhasil dengar dari rombongan DPRD tadi, tapi ada satu percakapan yang amat menarik hati saya, Ibu yang agak seksi bilang: ”Begitu yah.. orang menghabiskan seumur hidup hanya untuk 5 tahun jabatan”.. Ibu yang lainnya menimpali: ”Yah karena 5 tahun itu akan menjadi seumur hidup buat mereka”.. gila Ibu ini filosopinya tinggi sekali, otak saya ngak sampai kesitu nich…. mudah-mudahan Kemoningkers mengerti apa maksud Ibu-ibu itu, karena sebelum mereka melanjutkan obrolannya, announcement memanggil mereka, rupanya pesawatnya berbeda dengan saya.

Karena sudah tidak ada yang di kuping lagi dan bacaan sudah habis, akhirnya saya buka laptop, kebetulan di lounge ada broadband yang bisa di connect, sambil merenungkan obrolan anggota dewan pertama dan obrolan ibu-ibu tadi, saya pikir ada baiknya untuk menuliskan pengalaman tadi untuk dibagikan ke para rekan-rekan para Kemoningkers dan melanjutkannya dengan sedikit pengalaman pribadi saya sebelumnya.

Kalau menulis skripsi, itu tadi pendahuluannya, memang agak panjang…, nah tulisan berikut ini penutupnya… jadi bingungkan isinya yang mana?

Mendengar obrolan rombongan pertama (anggota Dewan) terus terang saya menghubungkannya dengan diri saya sendiri, saya rasa apa yang bapak Gede katakan sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan apa yang selama ini saya rasakan…

Sering sekali saya bolak-balik Bali-Jakarta-Surabaya…, sesering itu pula saya selalu berpikir, betapa sibuknya saya, kadang ngak ngerti untuk apa? Sering pula saya ngak menyadari apa sebenarnya yang saya cari? Entahlah.. mungkin uang, mungkin kesibukan, mungkin pekerjaan itu sendiri… pokoknya sibuk aja, pantat rasanya tidak pernah duduk…

Suatu saat… mungkin saking banyaknya pekerjaan, mungkin juga karena banyak pekerjaan yang belum selesai, mungkin juga karena banyaknya pekerjaan yang salah atau bahkan gagal, mungkin juga karena banyaknya complain yang tidak sanggup saya atasi…. Akhirnya sakit maag saya kambuh (: setelah sekian lama tidak pernah kambuh).

Seperti biasa Memek menasihati saya untuk istirahat dan menganjurkan saya minum jamu kunyit.. Saran ini seringkali saya anggap angin lalu, saya lebih memilih pergi ke dokter. Namun apa yang Memek bilang ternyata ada benarnya begitu habis obat, maag saya kambuh lagi… begitu seterusnya, tapi kesibukannya pun bukannya menjadi berkurang…

Sampai suatu saat Memek membawakan saya jamu Kunyit (jamu gendong) yang dibelinya dari pasar sanglah.. dengan terpaksa saya minum juga… setelah sekitar satu jam setelah itu, kok rasanya lambung saya lebih enak, nyaman sekali. Saya tidak tahu apakah ini karena jamu kunyitnya saja ataukah memang karena jamu kunyit yang dijual di pasar sanglah.. Sudahlah, akhirnya saya tanya memek dan saya putuskan datang sendiri ke dagang jamu tersebut keesokan harinya.

Singkat cerita, di pasar Sanglah saya ketemu penjual jamu itu (seorang ibu paruh baya), disana saya melihat ada tukang ojek yang minum jamu (sambil ketawa-ketawa dengan rekan-rekan mereka), ada juga pedagang kelontong (yang juga minum jamu sambil ketawa-ketawa)… saya jadi berpikir karena jamunya orang-orang ini ketawa atau karena orang-orang ini tidak punya masalah.. berapa banyak dia punya uang yahh…? Masak sih orang ini punya lebih banyak uang dari saya…? Kok rasanya hidupnya lebih nyaman dari saya..? Kok sepertinya mereka lebih bahagia dari saya.. betulkan mereka lebih bahagia dari saya…? Apa bedanya dengan sejahtera…? banyak lagi pertanyaan yang muncul di hati saya… Intinya saya cemburu pada kebahagiaan mereka..

Saking melamunnya saya tadi (:didepan pedagang jamu), saya kaget ketika ibu penjual jamu sudah menyodorkan jamu kepada saya. Saya tanya ibu itu: ”kok warnanya putih bu?”, kemudian dia menjawab: ”saya tadi tawari bapak jamu beras kencur bapak mengisayakan”… Waduh… rupanya tadi saya cukup lama melamun.. ”Maaf bu tolong kasih saya jamu Kunyit, yang ini biar tetap saya bayar” kata saya pada ibu penjual jamu. Setelah minum jamu saya masih penasaran meneruskan duduk di kursi kecil milik pedagang jamu itu.. Sejurus kemudian saya putuskan untuk ikut mengobrol dengan mereka (para pembeli jamu tadi), saya penasaran pingin tahu apa sih bedanya saya dengan mereka..

”Saking napi pak?” Saya memulai percakapan… Orang yang saya tanya menjawab: ”Tiang saking Karang Asem Pak”. Saya lanjutkan bertanya: ”Ring dije mekarye?”, dia menjawab: ”Tiang ngojek”, sebelum saya melanjutkan orang itu ngomong lagi: ”hidup mangkin mekonyang mael, hidup mangkin ten care pidan, serba keweh”.. saya terus perhatikan dia, lagi dia berkata: ”bapake mare enak, pakaian necis terus, pasti hidup bapak enak dan tenang sekali, ten kuangan napi, ten care tiang”… Belum lagi saya bicara orang itu bicara lagi: ”panak tiang mangkin nagih pipis anggon mayah SPP, baas mael, pokokne pusing pak”.. Waduh betapa kagetnya saya, rupanya orang-orang ini, kelihatannya saja tidak punya masalah, eh ternyata sama, Cuma model masalahnya yang berbeda.. Mengingat keluhan mereka saya putuskan untuk tidak meneruskan percakapan itu, dan saya mengakhiri percakapan dengan mengatakan: ”Pateh manten pak… tiang mangkin numbas jamu karena sakit maag tiang kambuh, nike karena tiang stress pak”.. dia menimpali: ” ngudiang bapak stress, pipis ngelah, mobil ngelah?”.. saya kembali menyanggah: ”dumun waktu tiang ten ngelah pipis, rasanya pipis adalah segala-galanya, tapi ternyata ten seperti nike pak, mungkin mangkin pipis tiang ngelah abedik, tapi kesibukan tianglah yang menimbulkan akeh masalah baru.. tiang tidak malah jarang ketawa seriang bapak dan teman-teman bapak, walaupun tukang ojek.. orang itu malah ketawa lebar.. haa..haa.. akeh pak nak ngenikaang kenten sareng tiang…

Beh.. Mekejang Pelih, Sibuk Pelih Santai Apalagi….

Ting..Tong… annnouncement bandara berbunyi: ”pesawat Garuda GA 401 tujuan Jakarta segera diberangkatkan, para penumpang harap masuk ke pesawat melalui pintu 17”…

Sekian dulu cerita tiang, nanti kita sambung lagi…

Oleh : kadek sumadi

Berita Duka

Posted by Adnyana under News from home

Menyampaikan berita duka dari  Kemoning, bahwa menik Sari (istrinya Penik Medaan, ibunya Komang Locong) telah meninggal karena sakit Jantung. dan akan di makamkan di hari Selasa 26.08.08 waktu kemoning.

Semoga Arwah beliau di terima di sisi Ida Sang Hyang Widi Wasa. dan semoga Keluarga yang di tinggalkan di berikan ketabahan dalam menjalankan hidup ini.

Turut berduka cita dan salam Warning,

 

http://www.denpost.net/2006/08/08/klungkung.htm

Proyek Seruni Dituding Buang-buang Dana
* DPRD Klungkung Gerah

Semarapura, DenPost
Rebut-ribut soal proyek peningkatan jalan dan jembatan Seruni tembus ke Desa Sangakanbuana ternyata mengundang perhatian serius dan mebuat gerah anggota DPRD Klungkung. Senin (7/8) kemarin, pimpinan DPRD bersama beberapa anggota dewan turun mengecek kelokasi proyek tersebut.

Dari hasil cek ke lapangan itu, proyek Seruni dituding hanya buang- buang uang.
Apalagi berdasarkan laporan Kelian Gde Pura Dalem Kemoning, Ketut Puja, kepada anggota dewan yang turun, pemerintah tidak pernah memberikan sosialisasi rencana proyek jalan tembus ke setra Adat Kemoning. Padahal, hasil keputusan adat, proyek jalan Seruni sudah ditolak sejak tahun 2005, karena akan mengenai setra Sanghyang dan Pura Rajapati.

Atas informasi itu, Wakil ketua DPRD, Dewa Nida, mengaku tidak pernah dengar adanya surat penolakan Jalan Seruni yang sudah dilayangkan tahun 2005 mengenai pemanfaatan tanah kuburan. Mestinya, kata dia, pemkab sudah tahu proyek itu ditolak segera menindaklanjutinya, bukan malah sebaliknya proyek itu terus dijalankan. ‘’Namanya proyek buang-buang duit, karena jelas-jelas warga sudah harga mati tidak setuju, ‘’ ujar Dewa Nida. (wia)

Kemoning.info mengucapkan selamat hari raya Galungan dan Kuningan kepada seluruh umat manusia di dunia semoga kedamaian menjadi cita-cita bersama dan melangkah ke depan untuk mencapainya.

–www.kemoning.info—

Semua warning pasti mengenal Warung Mbok Lilir. Ya… mbok Lilir penjual tipat cantok, rujak, es daluman dan jajanan lainnya yang sampai saat ini tetap eksis berjualan di depan wantilan Desa Adat Kemoning. Seperti halnya kunjungan saya terakhir di warung Mbok Lilir pada hari Minggu 17 Agustus 2008, seperti biasanya mbok Lilir menyapa setiap konsumennya dengan ramah dan riang sambil menyampaikan keluhannya tentang harga -harga barang dagangan yang sudah mulai meningkat dan sangat sulit menjual barang dagangan diwarungnya yang kecil dengan mengikuti harga pasar yang sudah pasti akan ditinggalkan para konsumen di kemoning.

Dari pembicaraan ringan saya dengan Mbok Lilir, tersirat raut wajah wanita yang sudah terlihat letih dalam perjuangannya survive dari laju perkembangan jaman. Wanita tangguh yang dengan setia menjalani profesi berjualan tipat cantok bagi semeton warning ini memilih hidup membujang yang sampai saat ini dan mengaku sudah berusia kurang lebih 45 tahun. Mbok Lilir sudah hampir 20 tahun membuka usaha warung tipat di depan wantilan desa adat kemoning. Lokasi warungnya sudah lima kali berpindah-pindah disekitar wantilan desa adat kemoning.

Sukses selalu buat Mbok Lilir dengan warung tipat cantoknya! Semua warning pasti kangen untuk mampir sekedar menikmati tipat cantok dan mendengar guyonan ringan dari Mbok Lilir.

Salam Warning!

Krama desa adat Kemoning berkumpul dan bergotong royong dalam upacara pengabenan Cu Tiplek. Salah satu anggota kelurga dari Cu Suardi. Cu Tiplek meninggal dalam usia kurang lebih 90 tahunan pada hari Rabu 13 Agustus 2008 dalam kondisi sakit karena usianya.. Cu Tiplek yang sampai akhir hayatnya tetap membujang ini, oleh keluarga besarnya telah diupacarai Pitra Yadnya Pengabenan pada hari Senin tanggal 18 Agustus 2008.

Berikut lampiran gambar-gambar dilokasi upacara Pengabenan :

Seluruh crew kemoning info, mengucapkan Turut Berduka Cita Kepada keluarga besar Cu Tiplek, semoga amal dan bakti Cu Tiplek diterima di sisi Ida Hyang Parama Kawi. Selamat jalan Cu Tiplek.