kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for September, 2008

Purname Kapat rahinan di Pura Desa kemoning

Itulah hari raya (rahinan) yang ketika saya kecil sangat saya tunggu-tunggu. kenapa demikian, karena di Pura Desa Adat Kemoning mengadakan piodalan panjang selama empat hari berturut-turut. yang artinya selama empat hari juga saya akan menikmati “lungsuran” berikut dengan ‘be siyap metunu’ atau ayam panggang. di samping itu juga di saat rainan purname kapat, para muda-mudi “Kertha Mandala Kemoning” juga melaksanakan bazar, dimana biasanya ada saja yang mengajak saya untuk ikut ‘ngebar’ menikmati gado-gado, nasi goreng, es campur, sate kambing, dan menu-menu lainnya yang sesungguhnya di saat saya kecil hanya bisa saya nikmati ketika rahinan purname kapat.  tidak ketinggalan di saat rahinan purname kapat juga terdapat pagelaran tari-tarian ataupun pagelaran wayang dewa rai sembung dari bangli, yang juga turut mewarnai hari-hari saya ketika kecil dulu.

menurut penanggalan di online kalendar bali berikut:

http://www.kalenderbali.org/index.php?bulan=10&tanggal=14&tahun=2008

purname kapat di tahun 2008 ini akan jatuh di “Anggara Kasih Tambir, Kajeng Kliwon” atau di hari Selasa tgl 14 Oktober 2008.  krama desa adat kemoning akan berbagi tugas untuk persiapan piodalan ini, melalui banjar-banjar adat yang tergabung dalam Desa Adat Kemoning seperti banjar Atu, banjar Moning, banjar Pegulingan, banjar Sari Melangsat, dan banjar Delod Titi.  seluruh waraga desat adat kemoning yang tersebar di pulau bali untuk ‘mekarya dan memupa jiwa’ memiliki ikatan batin untuk pulang melakukan persembahyangan.

Selain piodalan di Pura Desa Adat Kemoning, rainan Purname Kapat sesungguhnya juga di rayakan di pura-pura lainnya di pulau Bali, seperti Pura Agung Dalem Tarukan Pejeng-Tampak Siring, Pura Rambut Siwi, Pura Batu Bolong Canggu Kuta, Pura Srijong Tabanan, Pura Lempuyang Madya, Pura Puncak Mundi Nusa Penida, Pura Penataran Ped Nusa Penida, Pura Kayangan Jagat Kancing Gumi, Pura Bhatara Tiga Sakt Penataran Besakih, Pura Pulaki Buleleng, Pura Tirta Empul Tampak Siring, Pura Ulun Danu Batur di Songan Kintamani, dan tentunya pura-pura lainnya seperti pura paibon, pura kawitan maupun merajan.

Selain di Bali, umat Hindu di luar pulau Bali juga menggelar piodalan di rainan Purname Kapat ini, seperti Pura Dukuh Segening  Swantika Buawana, Pura Seputih Lampung Tengah, Pura Puseh Desa Mantawa Tili Sulawesi Tengah, Pura Penataran Agung Taman Mini Indonesia Indah Jakarta Timur, Pura Agung Surya Bhuana Jaya Pura Papua, Pura Puseh Werdi Agung Demoga Bolang Mangondow Sulawesi Utara, dan Pura Meru Cakra Lombok.

Kenapa banyak Umat Hindu yang merayakan rahinan piodalan di saat Purname Kapat ini,  menurut Ida Pedande Putra Kenitan dari Gria Jumpung Dawan Kelod Klungkung menyatakan Purname Kapat merupakan Klimaks dari Penyucian. Purnama Kapat juga dikenal dengan “rahinan nadi”.  Oleh karena itu, dengan dasar dewasa yang suci, banyak Pura yang melaksanakan piodalan pada hari tersebut.

sekali lagi selamat menyambut piodalan Purname Kapat di desa adat kemoning yang akan jatuh di hari selasa pada tanggal 14 oktober 2008 atau menurut wuku bali: “Anggara Kasih Tambir, Kajeng Kliwon” .

salam waRning,

Menurut penanggalan di Kalendar Bali Digital

http://www.kalenderbali.org/index.php?bulan=9&tanggal=9&tahun=2008

Anggara Kasih Medangsia adalah rainan suci yang dirayakan oleh sebagian waga kemoning yang merayakan piodalan di pura kawitan masing-masing salah satunya di Pura Batur Kemoning (yang di empon oleh keluarga besar Tude dan Putu Harry), Pura Dalem Sari (yang di empon oleh keluarga besar Mangku Jeti), dan Pura Dalem Sekar (yang di empon oleh keluarga besar Merangi).

Buda Umanis Medangsia pun adalah rainan suci yang dirayakan oleh hampir seluruh warga Kemoning yang merayakan piodalan di Pura Dalem, yang photo Medal Utamanya dipake sebagai cover dari Kemoning.info ini

Selamat merayakan Piodalan semoga Ida Sang Hyang Widi Wasa senantiasa melindungi kita semua.

salam waRning,

Berkenalan dengan Tuhan

Posted by Ode under Who we are

banten otonan Nina

“Nina, hari ini adalah hari otonan buat kamu. Ibumu sudah menyiapkan banten otonan kecil, nanti malem biar bapak yang ngotonin ya!”
“What does otonan mean, Daddy?”
“It’s your Balinese birthday!”
“Hurraayyy..am I going to have another party then?”
“You are not! We’re going to pray together tonight”
Play? Ok!”
“Not play, pray!”
“What does pray mean?”
“We pray to God for blessing us peacefulness, health and happiness”
“Who is God?”
“….” 

Seingat saya — mungkin saya salah — , pertanyaan-petanyaan seperti ini tidak pernah saya lontarkan kepada bapak dan memek dulu ketika saya masih kecil. Mungkin juga waktu itu saya sudah sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan terdengar sangat bodoh kalau dipertanyakan. Semua teman saya tau apa itu otonan, semua teman juga tau kalo sembahyang itu adalah kepada Tuhan. So? Why bother asking?

Tapi hal ini menjadi cerita berbeda ketika yang bertanya itu adalah anak saya yang kini telah berumur empat tahun. Nina terlahir di Australia, bersekolah di Australia, berkembang dan bergaul di lingkungan dimana tidak satupun temannya pernah melontarkan istilah otonan. Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini kemudian menjadi hal yang tidak sederhana lagi bagi saya.

Sewaktu kecil, sudah menjadi kebiasaan setiap pagi saya harus mebanten ngejot. Setiap kali sebelum memulai dan mengakhiri pelajaran di kelas, guru menyuruh kita melakukan Tri Sandya, tiap purnama dan tilem maturan di pura Puseh dan tiap 210 hari sekali berhak untuk mendapat otonan! Otonan = makan ayam panggang dan sambel matah! Enak!
Tanpa harus dikasi tau tentang keberadaan Tuhan pun saya langsung bisa memaknai dan merasakan bahwa Tuhan selalu hadir setiap kali saya otonan, melalui ayam panggang dan sambel matah-Nya! Tuhan terasa enak! Saya telah berkenalan dengan Tuhan — sebatas kemampuan saya untuk mengenalNya–! dan selalu menunggu saat-saat dimana odalan dan otonan datang untuk bisa ‘merasakan’Nya.

Lalu, sudahkan di banten otonannya Nina diisi ayam panggang? Sudah (KFC!)! Enak? Enak! Apakah Nina juga akan mengenal Tuhan dari situ? ….Entahlah, hanya Nina yang tau…
Saya, dan juga istri, amat sangat berharap suatu hari nanti Nina akan mengenal Tuhan dan keagungan segala ciptaaNya melalui cara yang paling nyaman menurut dia. Saat ini, salah satu cara yang mampu saya sediakan adalah dengan mencontek apa yang dulu orang tua saya ajarkan kepada saya, otonan. Lain kali nanti, akan saya carikan contekan lain yang dapat dia pakai lebih lanjut untuk membantu ‘merasakan’ keberadaanNya.

Singkat cerita, selamat otonan buat Nina dan semua anak-anak masa depan,
Kami yakin banyak jalan untukmu tuk mengenal Tuhan lebih dekat. Sementara ini, mari kita lalui dan menikmati dulu jalan yang sudah disediakan oleh pendahulu-pendahulu kita melaui tradisi-tradisi sebagai orang Bali.
Kami  berharap Tuhan akan selalu bersemayam di hati Nina dan semua anak-anak masa depan untuk selalu menemani langkah hidup kalian sehingga menjadi manusia yang mengerti arti hidup dan menjalankan tugas terlahir sebagai manusia sebelum kembali kepadaNya suatu saat nanti.

-Harapan dari Sydney

Kemoning, Cemas di Ambang Terputusnya Generasi Pertanian

KECEMASAN akan terputusnya generasi pertanian saat ini tengah terjadi di Desa Pakraman Kemoning, Klungkung. Warga mengklaim, di desa pakraman yang terdiri dari lima banjar adat itu, kini makin dekat dengan ”ajal” sektor pertanian. Hal ini sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang bisa dikatakan kurang memperhitungkan dampak negatif di masa depan, dengan meng-LC-kan kawasan pertanian yang terbilang cukup produktif di wilayah itu. Sekitar 91,50 hektar lahan pertanian dimasukkan dalam program LC oleh pemerintah Kabupaten Klungkung yang dilakukan dalam dua kali tahapan sejak tahun 1990-an. Sejak program LC masuk ke Subak Uma Lemek (Subak yang ada di Desa Pakraman Kemoning-red), keberadaan kelompok subak pun ”divonis” sudah dibubarkan dengan sendirinya.

Lima banjar yang bergabung menjadi satu dalam Desa Adat Kemoning merasakan kecemasan akan terputusnya sektor pertanian itu adalah Banjar Sari, Pegulingan, Kemoning, Atu dan Banjar Dlod Titi. Didiami 278 Kepala Keluarga (KK) yang bersifat marep (menetap) dan sekitar 200 KK yang berdiam di luar daerah kemoning, bahkan di luar Bali. Dari sekian KK tersebut, yang masih tercatat sebagai petani, ada sekitar 30 persen. Profesi terbesar yang ditekuni warga Desa Pakraman Kemoning saat ini adalah berdagang, sekitar 40 persen. Sekitar 15 persen sebagai PNS, 10 persen buruh dan 5 persen wiraswasta. Lahan-lahan pertanian sebagian sudah terbangun. Aliran air pun menjadi terputus akibat terhalang bangunan. Hal itulah yang menyebabkan lembaga subak yang ada sejak zaman leluhur tiba-tiba vakum dan divonis bubar. Namun tidak diketahui secara pasti, siapa yang membubarkan. ”Saya sempat menanyakan langsung ke klian subak, terkait bagaimana perkembangan subak di Desa Pakraman Kemoning. Tak terduga, klian subak saya mengaku tidak tahu lagi perkembangan subak karena sudah dibubarkan. Tetapi ketika saya tanya siapa yang berani membubarkan, klian subak saya tidak bisa menjawabnya. Katanya, ya… kondisinya memang begitu (bubar-red),” ungkap Bendesa Adat Kemoning, Wayan Mustika.

Selaku bendesa adat, Mustika kini punya tanggungjawab moral untuk mengembalikan roh pertanian di wilayahnya. Jangan sampai sektor yang mampu menghasilkan kebutuhan pokok manusia itu benar-benar hilang. Diakui, sektor ini memang tidak begitu menjanjikan bagi perkembangan perekonomian warga. Tetapi, menjadi keharusan bagi desa pakraman untuk tetap mempertahankannya. Apalagi, sejak awal, di desa pakraman sudah terdapat Pura Subak yang harus diemong dan disungsung. ”Siapa yang berani mem-pralina Pura Subak? Kalau di Desa Pakraman Kemoning namanya Pura Masceti,” tanyanya. Apalagi, Pura Masceti diyakini punya kekuatan luar biasa untuk mengatasi berbagai permasalahan air. Khususnya ketika terjadi serangan hama terhadap tanaman petani. Ketika hal itu terjadi, warga mengarak sesuhunan ida betara berupa rangda yang ada di Pura Masceti, keliling areal pertanian melalui jalan subak. ”Setelah itu, berbagai hama (walang sangit, tikus dan lainnya), dipastikan tidak ada lagi,” katanya.

Menurut laki-laki yang sejak muda aktif di berbagai organisasi itu, untuk meningkatkan produktifitas di bidang pertanian, ada terobosan atau keterampilan baru yang harus digeliatkan warga. Terutama dalam hal penggunaan sistem/pola pertanian. Dia kemudian mengaku heran dengan kebijakan pemerintah, yang ”tega” mengalihfungsikan lahan-lahan pertanian yang terbilang produktif untuk kepentingan pembangunan.

Untuk mewujudkan harapannya, Mustika mengaku akan berkoordinasi meminta pertanggungjawaban pemerintah. Paling tidak, pemerintah membangun kembali saluran irigasi menuju lahan pertanian yang sampai saat ini masih tersisa. Karena bagaimanapun, kata bendesa adat asal Banjar Pegulingan itu, keberadaan pengairan sangat diperlukan. Bukan semata untuk mengairi persawahan, tetapi untuk memenuhi kebutuhan penghidupan masyarakat. Selain itu, Mustika juga mendesak Pemkab Klungkung secepatnya menuntaskan persoalan LC Subak Uma Lemek yang saat ini sedang menggelayuti masyarakat Desa Pakraman Kemoning. Kalau tidak dituntaskan secepatnya, dia khawatir kasus itu akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak. ”Sekarang warga kami masih dalam tahap bersabar. Tetapi kesabaran mereka sudah di ambang puncak. Sedikit lagi penyelesaian kasus LC di perpanjang, saya khawatir tindakan anarkis sulit dibendung,” katanya seraya menjelaskan, kasus LC yang tengah menyelimuti warga itu terkait transparansi penggunaan lahan warga sebesar 20 persen untuk partisipasi pembuatan jalan subak. Setelah 20 persen penggunaan itu, warga meyakini masih ada sisa yang dapat dimohonkan untuk kepentingan laba pura. Bahkan, warga sudah berani melakukan pematokan terhadap lahan yang diperkirakan tanah sisa penyertaan/partisipasi tersebut. ”Ke depan, bukan tidak mungkin, pematokan berubah menjadi klaim warga,” tambahnya.

Dikatakan, sejak awal aliran air menuju lahan perasawahan di Subak Uma Lemek sangat lancar. Terutama ketika dua sumber air masih mengairi lahan yang luasnya mencapai 91,50 hektar itu. Yakni sumber air Tukad Unda dan Tukad Jinah. Sehingga, sejak awal petani tidak mengalami kesulitan untuk bercocok tanam dengan satu jenis komuditi dalam setiap periode. Namun, semua itu tinggal kenangan. Karena saluran air dari Tukad Unda menuju persawahan, semuanya sudah tertutup bangunan. Saluran air menuju lahan pertanian itu semakin menyusut karena berasal dari satu sumber (Tukad Jinah). Akibatnya, sektor pertanian makin tidak menjanjikan untuk kesejahteraan masyarakat. Apalagi untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Kondisi itu, kemudian memaksa warga beralih profesi yang lebih menjanjikan untuk mampu membekali pendidikan anak-anak merak. ”Terus terang, warga kami sangat mengedepankan pendidikan anak-anak,” ujar bendesa adat yang menjabat sejak 1 September 2006 itu.

* baliputra

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2006/12/30/des3hl.htm

Never Eat Alone.

Begitulah judul bukunya. Buku ini berisi saran-saran sang penulis Keith Ferrazzi dan juga trik-trik untuk melakukan “networking” sesuatu yang sering di ungkapkan dalam konteks mencari pekerjaan. Judul buku “Never Eat Alone” adalah salah satu saran dari Keith yang membuat saya feel guilty because I eat alone most of the time.

Ternyata menurut Keith, having a meal together is one of the most effective means in building strong relationships. Sesuatu yang bukan merupakan ‘rocket science’ tapi toh saya tidak sadari sebelumnya. Keith lulusan MBA dari Harvard Business School , tapi menurut dia, bukan orang yang hardcore financial type who pursues their career on Wall Street in Manhattan .

Dia berasal dari keluarga immigrant di mana ayahnya adalah kelas pekerja blue-collar. Dia berterima kasih sekali kepada ayahnya karena telah berusaha keras mengubah nasib anak-anaknya dengan memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah yang berkualitas tinggi. Ini mengingatkan saya akan suatu anjuran yang mengatakan bahwa “if you want to be successful you have to hang out with successful people too”.

Saya kutip di sini cerita yang Keith tulis dan menurut saya sangat menarik untuk disimak. In 1968, when William Jefferson Clinton was a Rhodes Scholar at Oxford University , he met a graduate student named Jeffrey Stamps at a party. Clinton promptly pulled out a black address book. “What are you doing here at Oxford , Jeff ?” he asked. “I’m at Pembroke on aFullbright,” Jeff replied. Clinton penned “Pembroke” into his book, and then asked about Stamps’s undergraduate school and his major.

“Bill, why are you writing this down?” asked Stamps. “I’m going intopolitics and plan to run for governor of Arkansas , and I’m keeping track of everyone I meet,” said Clinton .

That story, recounted Stamps, epitomizes Bill Clinton’s forthright approach to reaching out and including others in his mission. He knew, even then, that he wanted to run for office, and his sense of purpose emboldened his efforts with both passion and sincerity. Infact, as an undergraduate at Georgetown, the forty-second president made it a nightly habit to record, on index cards, the names and vital information of every person whom he’d met that day.

Dari perjalanan hidup Bill Clinton diatas, ada dua hal yang bisa kita pelajari:

pertama, the more specific you are about where you want to go in life, the easier it becomes to develop a networking strategy to get there.

kedua, be sensitive to making a real connection in your interactions with others.

Clinton illustrates how charming and popular you can become, and remain, when you treat everyone you meet with sincerity.

salam waRning