kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for October, 2008

Melihat gambar-gambar diatas yang penuh dengan tampilan “sang waktu”, sekilas kita akan mengerti apa yang ingin di ungkapkan artikel berikut. penjelasan secara singkat dan gamblang, sesungguhnya saya memang ingin menyampaikan pesan bahwa terhitung mulai hari minggu tanggal 26-October-2008 sang waktu di belahan bumi kutub utara mengalami pergeseran kemunduran . yaitu jarum jam yang semula menunjukkan jam 7 pagi di geser menjadi jam 6 pagi, alias mundur 1 jam. Perbedaan waktu antara Jerman dengan Bali yang semula 6 jam, sekarang bergeser menjadi berbeda 7 jam. hal ini di sebabkan karena “sang surya” Matahari mulai tampak malu-malu terbit dari timur dan muncul sering terlambat dan terbenam di barat selalu lebih awal dari biasanya yang menyebabkan hari berganti gelap begitu cepat dan begitu lama sebagai pertanda bahwa “jaman telah mengalami perubahan ” yaitu musim dingin (winter) sudah tiba !

Rendahnya intensitas cahaya matahari dan tingginya kelembaban udara telah di antisipasi oleh mahluk ciptaan Tuhan lainnya, yaitu Tumbuh-tumbuhan yang mengalami kesulitan dalam ber-metaphorposis, telah mulai menggugurkan dedaunannya agar bisa mengikuti ritme irama perubahan Jaman ini. Pun demikian dengan komunitas masyarakat “biasa atau kebanyakan” sudah mulai ramai mengunjungi supermarket membeli beberapa kayubakar kecil yang bisa di bakar di tungku pembakaran di rumah untuk menghangatkan ruangan rumah. Sementara masyarakat modern masa kini mulai menyalakan pemanas ruangan listrik “heater” lebih lama didalam rumah dan bersiap-siap untuk menerima tagihan listrik yang membengkak di bulan berikutnya…

Kembali ke Sang Waktu, di jaman sekarang, dimana orang terbiasa sibuk beraktifitas berpacu dengan waktu, berangkat kerja lebih awal, bekerja lebih lama, seperti apa yang terjadi di negeri makmur Singapura, yaitu walaupun letak geografis negara tersebut berlokasi di daerah WIB (waktu indonesia bagian barat), namun mata jarum jam di Singapura tidaklah menunjukkan waktu yang sama dengan waktu di WIB, atau waktu di jakarta, melainkan mata jarum jam di Singapura menunjukkan waktu yang sama dengan waktu di indonesia bagian tengah (WIT) yaitu menunjukkan waktu yang sama dengan di Bali. adapun alasan pemerintah Singapura memajukan mata jarum jamnya lebih awal dari semestinya, dengan harapan agar masyarakatnya terbiasa untuk bekerja dengan giat dengan memulai kerja lebih awal dan tentunya bisa memiliki kesamaan waktu dengan jam kerja di negeri sakura Jepang, yang memang dijadikannya sebagai acuan oleh Singapura.

lain di Singapura lain di Eropa, Singapura memang cukup berhasil membangun negaranya dengan memajukan waktunya 1 jam lebih awal. Namun bukan berarti di Eropa menjadi kian terbelakang dengan memundurkan mata jarum jamnya. Para pendahulu di Eropa tentulah memiliki beberapa argument yang bisa di terima dengan logika hingga kenapa mereka mengambil keputusan untuk memundurkan mata jarum jamnya 1 jam kebelakang di saat musim winter (Nopember hingga February). salah satunya adalah demi keselamatan jiwa masyarakatnya. karena kalau di amati, telatnya matahari terbit dari timur tentulah membuat permukaan bumi di eropa masih terasa gelap. dan alangkah baiknya masyarakatnya berangkat kerja di saat matahari sudah mulai bersinar.

Apakah jam kerja masyarakat di Eropa berkurang dari biasanya diakibatkan karena pengunduran jam ini? tentu tidak…. masyarakatnya tetaplah bekerja seperti biasa 7 - 8 jam sehari di kantor, malah sekarang para karyawan bekerja lebih lama dari biasanya. apalagi krisis finansial yang semula hanya terjadi di lingkungan Wall Street di New York kemudian berkembang keseluruh bagian negeri USA, sekarang “bau dan aroma” krisisnya sudah mulai tercium ke Eropa, sehingga masyarakat Eropa khususnya kelas karyawan sudah mulai selalu mengawasi setiap detik perkembangan perekonomian di Eropa, dimana setiap headline Koran di berbagai negeri Eropa selalu menampilkan judul “Europe is under Allert !” yang cukup mempengaruhi perilaku masyarakat belakangan ini, yaitu mulai khawatir dalam “spending money” membelanjakan uangnya, cukup hati-hati dan lebih giat dalam menekuni pekerjaannya, agar bisa terus tetap bekerja di perusahannya.

Akhir kata, pesan moral yang ingin saya sampaikan di artikel ini adalah, perlu kiranya bagi kita semua untuk selalu mencermati setiap perubahan ataupun jeli membaca tanda-tanda jaman, atau bila perlu “menari mengikuti ritme irama kendangnya sang waktu” serta be more creative agar kita bisa selalu exist. harapan penulis, semoga kita semua selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang Widi Wasa !

salam waRning,

Pura Hindu di Belgia

Posted by Adnyana under Pura di Eropa

Melihat foto-foto diatas, dengan suhu udara yang dingin dan berkabut seakan mengingatkan kita akan Pura Gelap di Besakih yang keseluruhan bangunan phisik Puranya terbuat dari Paras Batu. Namun kalau di amati lebih detail, Pura diatas tidaklah berlokasi di Bali atau di daerah Indonesia lainnya melainkan berlokasi di daratan Eropa yaitu di negeri Belgia !

Sungguh anugrah luar biasa dari Ida Sang Hyang Widi Wasa yang di berikan kepada kita semua khususnya umat hindu yang ada di Europa. Sebuah Pura yang di bangun di tengah lokasi wisata taman burung yang luasnya 55 hektar, di dirikan oleh orang belgia yang bernama ERIC DOMB. adapun alasan beliau mendirikan Pura tersebut dikarenakan kecintaannya yang sangat luar biasa akan bali. Proses pembuatan Pura tersebut memang dilakukan secara bertahap dimana tahun lalu 30 orang Bali secara khusus didatangkan dari Bali ke Belgia untuk membangun Pura tersebut. Mereka datang bulan agustus sampai januari, dan melanjutkan pekerjaannya dari april 2008 hingga agustus 2008! Bahan-bahan khusus seperti paras batu , kayu jati, raab duk, yang diperlukan untuk pembangunan Pura didatangkan langsung dari Bali sampai 300 Container ! sungguh luar biasa dan sangat mengharukan melihat perjuangan orang-orang yang terlibat “ngayah” dalam penegakan Sanatana Dharma di bumi Eropa. Upacara pemlaspasan “ngenteg linggih pura ini memang belum di laksanakan, saya yakin masyarakat Hindu Bali atau Hindu Nusantara yang berdomisili di Eropa, seperti Belanda, Jerman, Inggris, Perancis, akan berbondong-bondong “tangkil” untuk melakukan persembahyangan bersama, disamping tentunya untuk melepas kerinduan akan dentingan suara Genta Pandita dan melepas kangen bertemu nyama brya bali di seluruh negeri Eropa.

Selain di Belgia, sekolompok masyarakat Bali yang merantau di negeri Jerman yang tergabung dalam banjar “Nyama Braya Bali” juga akan mendirikan Pura Jagadnata di kota Hamburg, yang pembangunannya akan di mulai setelah musim Winter berakhir yaitu sekitar bulan February 2009. dimana proses upacara yang di kenal dengan istilah “nanem Pedagingan” yaitu peletakan seperangkat sarana upacara tanda akan mulai didirikannya bangunan Pura telah dilaksanakan ketika merayakan hari raya Kuningan di bulan September 2008 kemaren. Seperti juga di Belgia, pembangunan Pura di kota Hamburg juga di biayai oleh orang lokal Jerman, yang tidak ingin di kenali namanya. Karena ikatan batin serta kecintaannya akan Bali yang sangat mendalam setelah mengunjungi pulau Bali dengan agama Hindunya, beliau merasa terpanggil untuk mewujudkan Pura Jagadnata di negeri Jerman. ibu kelian banjar NBB (Nyama Braya Bali) di Jerman yaitu Ibu Agung Aryani, sesungguhnya sudah juga mendirikan Pura (mrajan) di pekarangan rumahnya di kota Hannover, yang upacara pemlaspasan Pura Padmasari nya dilaksanakan ketika hari raya Saraswati di awal tahun 2008 kemaren.

Ida Sang Hyang Widi Wasa memang ada dimana-mana dan kapan saja (Wyapi Wyapaka). Semoga dengan keberadaan Pura-Pura di berbagai kota di daratan Eropa ini bisa membangkitkan rasa percaya diri kita semua serta meningkatkan keyakinan kita akan Sanatana Dharma Hindu dimanapun berada. Keberadaan Pura di Eropa sungguh sangat membantu mengobati kerinduan masyarakat Bali yang merantau di Eropa akan tempat kelahiran, tanah leluhur serta sanak saudara nun jauh di Bali.

sebagai penutup dari artikel ini, sekiranya ada pembaca artikel ini yang memiliki kesempatan untuk mengunjungi Eropa pada umumnya atau negara Belgia pada khususnya, jangan lupa untuk “tangkil” mebakti di Pura yang berlokasi di Belgia ini. Persisnya berlokasi di daerah perbatasan antara Belgia dengan Perancis yaitu di Parc Paradisio, Domaine de Cambron 1, 7940 Brugelette, Belgium. suksme.

gambar-gambar diatas saya pinjam dari semeton kita yang berdomisili di Belgia: http://yurana.multiply.com/photos/album/15/Balinese_Hindu_Temple_in_Belgium

http://www.youtube.com/watch?v=-5RwF3pyaaw

salam waRning,

ABG…

Posted by Ode under Uncategorized

Cukup bangga rasanya akhir-akhir ini membaca berita tentang Asian Beach Games (ABG) yang dilaksanakan di Bali sebagai tuan rumah (pertama). Dan juga semakin bangga akan komitmen negara-negara Asia lainnya yang akan selalu menggunakan api dari Merapen untuk setiap event ABG selanjutnya (baca disini).

Sudah terbukti dimana-mana bahwa event-event olah raga selalu menarik untuk dicermati; bukan hanya lantaran sebagai hobby tapi juga terbukti mampu memutar roda ekomoni dan ajang untuk pengembangan dan pembuktian diri bagi insan-insan olah raga.

Diharapakan selanjutnya perhatian berbagai pihak, pemerintah maupun swasta, terhadap atlit-atlit yang potensial dan berprestasi semakin tinggi sehingga olah raga akan menadi salah satu jalur berkarya dan berkarir disamping jalur-jalur formal lainnya.

So, adik-adik di kemoning…bagi yang merasa punya potensi dalam olah raga, teruslah diasah! Dengan menjunjung asal profesionalisme yang tinggi saya yakin apapun yang ditekuni akan memberikan kepuasan yang sangat spesifik!!
Hayoo beramai-ramai berolah raga!

-oDE-

pemandangan diatas merupakan sebuah kota kabupaten kecil yang bernama Echternach yang terletak di negara Luxembourg persis berbatasan dengan negara Jerman. sekilas kabupaten ini menunjukkan kemiripan dengan kabupaten Klungkung, yaitu penduduknya tidak lebih dari 150.000 jiwa dan kota kabupatennya kurang lebih sama dengan ukuran kota klungkung, dimana banyak orang yang memplesetkan  kota “klungkung” dengan sebutan “kota yang a klingkungan” yang artinya kurang lebih sebuah kota kecil yang bisa dikenali atau di kelilingi dengan sekali putaran.

Persamaan kota Echternach lainnya yang bisa saya bagi di sini adalah di tengah kota Echternach juga terdapat sebuah bangunan bersejarah yaitu sebuah istana kerajaan jaman dulu yang masih terawat dengan baik hingga sekarang dan merupakan saksi bisu yang bisa menceritakan banyak kebesaran daerah tersebut di jaman dulu.

dimana hal yang sama persis juga terdapat di pusat kota kabupaten Klungkung dengan bangunan sejarahnya yaitu Taman Gili Kertagosa, yang juga banyak bercerita tentang sejarah kebesaran kerajaan Klungkung di jaman dulu mulai dari kerajaan Gelgel yang berpusat di Swecapura hingga ibukota kerajaannya di pindahkan ke kota Semarapura sekarang ini.

Kabupaten Echternach ini juga menggantungkan pendapatan asli daerahnnya sama seperti kabupaten klungkung, yaitu dari Pariwisata. tapi ada satu hal yang membuat saya sedikit heran, entah apa yang membedakannya dengan kabupaten klungkung, kota Echternach ini di setiap akhir pekan, yaitu di hari Sabtu dan Minggu selalu saja padat di kunjungi oleh wisatawan baik itu wisatawan lokal ataupun wisatawan dari kota sebelah atau wisatawan dari negeri tetangga.

seperti kota-kota lainnya di Eropa, di setiap pusat kota Eropa baik kota besar ataupun kota kecil selalu di sediakan jalan setapak yang lebar mirip dengan trotoar paving yang sering kita jumpai di sepanjang kabupaten klungkung. pun demikian dengan kota Echternach terdapat jalan setapak atau dikenal dengan sebutan “fussgaenger” atau dalam bahasa inggrisnya walkway atau pedestrian-way dengan batu batanya mirip di perempatan kota klungkung di sekeliling Patung Kanda Pat.

sementara di kabupaten klungkung jalan batu bata hanya terdapat sebatas di perempatan Patung Kanda Pat saja, sedangkan di Ecternach jalan batu batanya hampir terdapat di seluruh pusat kota Echternach, yang membuat para pejalan kaki bisa dengan leluasa berjalan-jalan tanpa di ganggu oleh lalu-lintas kendaraan. di sepanjang jalan batu bata ini pun banyak bertebaran caffee pinggir jalan khas eropa dengan beberapa bangku dan meja kecilnya yang siap melayani setiap orang yang lewat untuk beristirahat melepas dahaga ataupun berhenti sejenak untuk ngobrol dengan kawan sambil di temani secangkir dua cangkir coffee.

Secara  umum memang tidak terdapat perbedaan yang mencolok diantara kabupaten Echternach dengan kabupaten klungkung dengan object pariwisatanya Taman Gili Kerta gosa serta Museum Semara Jaya nya. pun demikian dengan kebersihan  kedua kota ini yang saya lihat juga sama-sama bersih dan terawat indah.

Yang menjadi pertanyaannya, Apa yang membedakan pusat kota Echternach selalu padat di kunjungi oleh Turis atau wisatawan bila di bandingkan di pusat kota klungkung. Padahal pusat kota Klungkung atau lebih di kenal dengan nama Semarapura sesungguhnya memiliki nilai historis yang tinggi, bila di tinjau sejak   jaman kerajaan Bali jaman dulu.

Meminjam istilah dalam bahasa marketing, kabupaten klungkung perlu mendefinisikan dirinya sendiri lebih specifik lagi “be deterministik” apakah ingin menjadi kota dagang atau kota pariwisata budaya, seperti yang pernah di cetuskan kembali oleh maestro lukis nasional kelahiran Desa Banda Klungkung yaitu Pak Nyoman Gunarsa, yang ingin menjadikan kabupaten klungkung sebagai pusat pariwisata Budaya Bali sehingga masyarakat klungkung khususnya atau masyarakat bali pada umumnya bisa bercermin dari sejarah kebesarannya di masa lalu dimana kerajaan Bali dulunya berpusat di kabupaten Klungkung. ., jadi tidak hanya mengenal kota klungkung sebagai sebutan kota serombotan

pesan moral yang ingin saya sampaikan di artikel ini  bukanlah untuk mengajak kita semua terlena melamuni sejarah kebesaran di masa lalu melainkan mengajak kita semua untuk mencoba menggabungkan seluruh potensi yang ada demi kesempurnaan seperti  kebesaran sejarah masa lalu  di kemas menjadi suatu paket pariwisata yang spesifik dan unik untuk di jual kepada wisatawan.  Kebesaran sejarah masa lalu tentunya bisa di jadikan sebagai “reference point”  agar kita tahu kemana melangkahkan kaki ini kedepan untuk bisa menjadi lebih baik lagi dan tentunya demi mewujudkan sebuah kebanggan “pride” yaitu bangga sebagai warga klungkung !

salam waRning,

Berita Duka

Posted by harry under Breaking News

Telah meninggal dunia Ni Nengah Mibik, dalam usia lanjut, ibunda dari Made Alit, warga Br. Kemoning pada hari Minggu, 19 Oktober 2008, pukul 9.00 Wita. Upacara penguburan akan dilaksanakan pada hari Senin, 20 Oktober 2008 sore.

Kembali ke Alam

Posted by Adnyana under Jalan Sutra

Pemandangan diatas dengan rumputnya yang hijau serta di dukung dengan rindangnya pepohonan, sekilas tampak seperti pemadangan di daerah Kebun Raya Bedugul Bali, yang terletak di daerah pegunungan dengan udaranya yang sejuk dan dingin. Namun sesungguhnya tidaklah demikian, pemandangan diatas bukanlah Taman yang berlokasi di daerah pegunungan, melainkan berlokasi di pusat kota dimana saya berdomisili saat ini, yaitu di Stuttgart.

Bila cuaca bagus dengan sinar mataharinya yang hangat, Taman inilah yang paling pavorit di kunjungi masyarakat Stuttgart, bukan di Hauptbahnhof dan bukan juga di Stadtmitte di Füssgänger Königstrasse. Taman ini sangat nyaman di jadikan tempat untuk janjian ketemu teman untuk ngobrol di bawah rindangnya pohon, atau berinisiatif datang sendiri hanya untuk mencari ketenangan sambil membaca di bawah hangatnya sinar matahari, atau datang untuk mencari inspirasi ..

kembali ke alam, sepertinya sudah menjadi fenomena dan banyak di jadikan sebagai solusi dari permasalahan belakangan ini oleh kelompok negeri maju yang tergabung dalam G8 dalam mengatasi permasalahan Global Warming, pun oleh kelompok Green Peace dalam memperjuangkan penyelamatan dunia ini juga mewanti-wanti untuk kembali ke alam.

Agar tidak pernah lupa akan Alam yang banyak membantu dan mensejahterakan umat manusia, para leluhur kita di Bali sesungguhnya juga selalu mengingatkan kita untuk terus menghormatinya melalui perayaan rahinan Tumpek Wariga (atau sebagian masyarakat bali menyebut dengan nama lain seperti: Tumpek Pengatag, Tumpek Uduh, atau Tumpek Bubuh) . Kalau di lihat dari sudut pandang religi , Tumpek Wariga dimaksudkan untuk memuja Dewa Sangkara, yang merupakan manifestasi Tuhan sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan……

Kalau di pelajari lebih dalam tentang makna filosofi dari perayaan Tumpek Wariga yang di wariskan oleh para leluhur kita di Bali yang jatuh di setiap hari Sabtu Kliwon wuku Wariga, sesungguhnya mengajarkan  konsep yang sangat luhur dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungannya — dalam kaitan ini hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan. Umat bukan hanya mesti menghargai ciptaan Tuhan, tetapi sekaligus melestarikan tumbuh-tumbuhan yang telah mensejahterakan kehidupannya. Jadi perayaan Tumpek Wariga (Tumpek Pengatag, atau Tumpek Bubuh) adalah salah satu komponen penting dalam mengajegkan konsep Tri Hita Karana.

Sesungguhnya pula, aplikasi nilai-nilai yang terkandung dalam Tumpek Wariga bukan hanya untuk kepentingan umat Hindu, tetapi juga umat lain. Tanpa tumbuh-tumbuhan, umat manusia tidak akan bisa hidup. ”Jadi nilai yang terkandung dalam Tumpek Bubuh sangat universal.

Sebagai contoh: ahli gizi kesehatan lebih tertarik mempromosikan gaya hidup sehat dengan banyak mengkonsumsi produk alami yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan. Para dokter menyarankan pasiennya untuk tidak banyak minum obat pil melainkan sebaliknya menawarkan obat alami yaitu banyak-banyak minum air putih.

Dalam Weda disebutkan, tumbuh-tumbuhan dan air adalah pelindung manusia. Bahkan, dalam Reg Weda disebutkan, tumbuh-tumbuhan memiliki jiwa yang sama dengan manusia. Karena itu kita mesti menjalankan ajaran tatwam asi dalam memperlakukan alam. Jika alam rusak atau sakit, kita wajib mengobatinya atau merawatnya. Merusak alam berarti juga menyakiti diri sendiri. Karena itu peliharalah alam agar terjadi keharmonisan. Tumbuh-tumbuhan juga penghasil O2 yang amat diperlukan oleh manusia.

Ketika manusia menemukan kebuntuan dalam pikirannya , mereka mulai berteman dengan alam. Iwan Fals seorang penyanyi dan penulis lagu sengaja meninggalkan Jakarta dan menyendiri ke daerah puncak bogor dengan alasan hanya bisa membuat lagu ketika ia di temani pepohonan. begitu juga dengan Gede Prama, seorang pembicara publik yang sukses di ibukota, akhirnya meninggalkan Jakarta dan pulang ke kampungnya ke desa tajun Singaraja yang sunyi, selain untuk mengikuti kata hatinya juga untuk mencari ketenangan serta mencari pencerahan. hingga akhirnya tercipta karya-karya berikut yang banyak menghipnotis pendengar seminarnya : Kealamian ditemukan dalam diam, Kesederhanaan yang paling mencerahkan, Hati Penuh dengan Inspirasi, Kosong itu isi, Biarkan Kedamaian bicara, Kota keheningan dan Kedamaian, Sepi sunyi yang menerangi, Mendengarkan Bambu Bicara.

Kembali ke foto-foto diatas, ketika menginjakkan kaki serta berjalan-jalan keliling di taman kota diatas, mengingatkan saya akan kampung halaman di Bali ataupun di Klungkung, yang mungkin tidak kalah hijaunya dengan taman-taman yang ada di negeri jerman, cuman sayangnya Taman seperti ini sulit di temukan di tengah kota atau boleh di katakan tidak ada, melainkan hanya bisa di dapatkan jauh di daerah pegunungan atau di daerah pinggiran pedesaan, seperti tampak di foto berikut.

semoga di kemudian hari para pemimpin daerah kita bisa menyadari akan betapa pentingnya memiliki Taman kota selain sebagai pusat paru-paru kota juga sebagai tempat untuk mencari inspirasi bagi masyarakatnya dengan berhubungan kembali ke alam.

salam waRning,

Peduli Lingkungan

Posted by Adnyana under Jalan Sutra

Thema untuk melindungi bumi ini dari segala jenis kerusakan dan polusi dimana-mana mulai banyak di galakkan. baik lewat pemerintah ataupun LSM Lembaga Swadaya Masyarakat. Bahkan Swasta pun ikut serta berpartisipasi aktif merawat bumi ini, sepert menciptakan Jenis kendaraan yang berbahan bakar ramah lingkungan, salah satunya kendaraan hybrid yang di pelopori oleh pabrik mobil Toyota. Pun demikian dengan pembangkit listrik, sudah juga banyak yang mengurangi ketergantungannya akan bahan bakar yang biasanya mencemari udara.

Di Bali kita mengenal istilah hari Raya Nyepi, dimana kita di sarankan untuk mengurangi segala aktifitas, dan membiarkan alam untuk beristirahat sejenak. Begitu juga di agama Hindu yang meyakini bahwa setiap ciptaan Tuhan adalah memiliki atman (jiwa), oleh karenanya kita semua di sarankan untuk bisa hidup saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai. Sementara di Negeri barat, mencoba menghargai alamnya dengan tidak mengotorinya dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Pemandangan seperti diatas adalah lumrah didapati di setiap depan rumah masyarakat di Jerman. biasanya terdapat minimal tiga box tempat sampah untuh berbagai jenis kategori sampah. sebagai contoh box dengan tutup berwarna biru adalah khusus untuk jenis sampah bertipe kertas. box dengan tutup warna coklat adalah untuk jenis sampah kategori Bio atau organic seperti kulit pisang, dan berbagai jenis buah-buahan atau sayuran. box dengan tutup warna hitam adalah untuk jenis selain kertas dan bio diatas, biasanya boleh di buang kedalam kantong hitam ini, terkadang sampah jenis plastikpun seperti bungkus indomie atau botol minuman aqua boleh juga di buang kedalam box hitam ini, Tapi ada beberapa keluarga yang mengelompokkan sampah plastik ini kedalam box dengan tutup berwarna kuning.

Begitu juga dengan kelompok sampah yang terbuat dari bahan gelas. Mereka pun di buangnya berdasarkan warna yang mereka miliki, dan di buangnya kedalam tempat pembuangan yang khusus di sediakan. Sehingga Tanah yang sedari awal memang tidak bisa menerima kehadiran pecahan gelas, keinginannya bisa terpenuhi. dan manusiapun bisa mengolahnya kembali menjadi hal-hal yang lebih bermanfaat dengan mendaur ulangnya.

Hal-hal yang berhubungan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, sepertinya kita memang harus banyak belajar dari negeri barat, khususnya kedisiplinannya. apalagi kalau sudah di buatkan hukum dan undang-undangnya, masyarakat barat sepertinya tunduk sekali kepada hukumnya.

dalam tata letak bangunan rumah di bali yang terkenal dengan istilah “Asta Kosala-Kosali“, sesungguhnya juga mengenal simtem tempat membuang sampah. hal ini terbukti dengan adanya istilah: sanggah, bale dangin, bale daje (meten), bale dauh, bale delod, gelebeg (tempat lumbung padi) dan “tebe” yang biasanya berlokasi di belakang untuk ‘ngubuh kucit (anak babi)’ atau menanam tanaman kecil serta sebagai tempat membuang sampah. biasanya “tebe” ini adalah tempat membuang segala jenis sampah. walaupun tidak sedetail orang bule sekarang, tapi sepertinya para penglingsir kita di jaman dulu sudah memikirkannya.

seiring dengan berjalannya waktu serta mahalnya harga tanah khususnya di daerah perkotaan, alokasi tanah yang di fungsikan sebagai tebe saat ini sudah mulai di kurangi, kalau tidak ingin mengatakan sudah mulai di lupakan. hal ini sudah di ganti cukup dengan menyediakan tempat sampah (umum), dimana semua jenis sampah di buang kedalam tempat yang sama.

Topik menarik yang ingin saya kedepankan di artikel ini adalah, kenapa orang barat begitu telitinya dalam memilah jenis sampah sementara di dalam kultur masyarakat kita masih memandang hal ini belum perlu dilakukan?  saya coba pelajari dari google, memang selain untuk menghindari sampah non-organic yang tidak bisa di daur ulang dijadikan kompos, yang nantinya bisa mengotori bumi ini, juga untuk membantu pemerintah daerah, karena merekalah yang bertanggung jawab dalam mengoleksi dan mendistribusikan (membuangnya).

di beberapa negeri maju, pusat pembangkit listrik tidak hanya bersumber dari PLTA (pembangkit listrik tenaga air), PLTU (Uap), PLTG (Gas), PLTPB (Panas Bumi), PLTB (Bayu / kincir angin), tetapi juga ada PLTS yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Sampah.

dimana sampah yang di kumpulkan dari masayarakat kemudian di bakar dan selanjutnya uap hasil pembakarannya di olah menjadi listrik. Untuk kepentingan inilah jenis-jenis sampah perlu di pilah-pilah dan di bedakan. istilahnya ada sampah jenis basah seperti jenis sampah bio tadi, dan sampah jenis kering.

Sampah basah selain akan mengalami kesulitan dalam proses pembakarannya, keberadaannya akan dirasa lebih bermanfaat bila di olah menjadi kompos dan di buang kembali ke TPA. sementara jenis sampah lainnya, selain cepat dalam pembakarannya, juga keberadaannya seperti plastik, tidak bisa di gabungkan dengan tanah lagi.

Akhir kata, pesan moral yang ingin saya sampaikan di artikel ini adalah, walaupun di daerah kita memang belum memiliki PLTS (pembangkit listri tenaga sampah), kiranya menarik untuk selalu memilah-milah sampah yang akan kita buang ke Tempat Pembuangan Sampah, selain membantu pemerintah juga turut  membantu melestarikan kebersihan lingkungan kita, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang untuk Peduli Lingkungan.

salam waRning,

Koran seperti diatas yang berhalaman kurang lebih 12 hingga 16 halaman berukuran kecil seperti majalah, pertama kali saya jumpai ketika bekerja di Singapore.  dimana Koran tersebut di bagikan secara cuma-cuma alias gratis di setiap pintu gerbang stasiun kereta bawah tanah.  masyarakat boleh mengambilnya sesuka hati, walaupun demikian, di sarankan cukup mengambil satu dan setelah selesai membacanya di tempatkan kembali di tempat dimana orang lain bisa mengambilnya serta membacanya lagi.

Response masyarakat akan koran ini cukup fantastis, masyarakat yang dalam perjalanannya menuju ke kantor bisa menikmati perjalanannya didalam kereta bawah tanah atau di dalam bus sambil membaca berita actual yang terjadi di sekitar singapore. Koran itu bernama Streats. kesuksesan koran Streats kemudian di ikuti oleh terbitnya koran berukuran kecil lainnya yang bernama Today. koran inipun mendapatkan response yang sangat memukau juga, mungkin karena kedua-duanya di bagikan secara cuma-cuma…

pertanyaannya, dari mana mereka bisa memenuhi biaya operasional penerbitan koran tersebut? orang yang mengerti ilmu ekonomi, mungkin mengerti akan seluk beluk peluang dan bagaimana caranya meng-investasikan uangnya. sepertinya di bulan pertama dan kedua biaya operasionalnya mungkin di biayai dengan modal sendiri, hingga akhirnya koran tersebut di kenali oleh masyarakat. kemudian para pengusaha kecil, menengah, dan besar mulai dari pemilik toko kecil, pencari kerja, pencari karyawan, dan pencari peluang lainnya, berlomba-lomba memasang iklan di koran gratis tersebut yang memang sesungguhnya sudah di sediakan di beberapa halaman kolom terakhir. karena semakin banyaknya jumlah pembaca koran gratis ini, semakin banyak pula para pemasang iklan di koran gratis ini, yang membuat semua biaya operasional penerbitan koran ini tertutupi dari sewa pasang iklan tersebut, malah menghasilkan profit, melebihi koran nasional Singapura yang sangat terkenal yaitu “The Straits Times”.

Apakah Koran Nasional The Straits Times merasa tersaingi oleh keberadaan kedua koran gratis di singapura tersebut? tentu tidak, karena mereka memiliki segment pasar sendiri-sendiri. koran The Straits Times terkenal dengan ulasannya yang sangat detail apalagi yang berhubungan dengan ulasan ekonomi seperti bursa efek, financial investment, property market, dan teknology lainnya, sementara konten dari kedua koran gratis tersebut hanyalah meliput seputar berita sehari-hari di lingkungan masyarakat, dan sesekali meliput tokoh publik, politisi, yang sekiranya perlu di ketahui oleh masyarakat.

cerita diatas adalah cerita lama ketika saya berdomisili di Singapura. lain di asia lain di eropa, tapi ada satu hal yang sama yang saya jumpai di jerman, yaitu tentang koran yang di bagikan gratis alias cuma-cuma,  di hampir setiap daerah yang pernah saya diami. koran-koran kecil berukuran majalah tersebut tidaklah membahas peristiwa  seluruh jerman, melainkan hanya menyampaiakan berita di seputar daerah kecil saja, seperti ruang lingkup kecamatan atau tingkat kabupaten saja dengan tokoh politiknya yaitu pak camat atau pak bupati.  Theory ekonomi sepertinya dimana-mana berlaku baik di asia maupun di eropa, dengan tingginya antusias masyarakat membaca berita dari koran gratis, semakin tinggi pula antusias para usahawan untuk memasang iklan di koran gratis tersebut agar bisa memasarkan produknya dengan cepat. melalui sewa pasang iklan itulah koran-koran gratis ini di biayai produksinya, yang saya lihat terjalin kerjasama yang sama-sama menguntungkan, yang dalam istilah biology kita mengenal istilah “Symbiosis Mutualisme”.

Topik yang ingin saya kedepankan di artikel ini adalah, seandainya masyarakat kita, baik dari Desa Adat kemoning atau masyarakat di sekitar Kabupaten Klungkung, jeli melihat peluang dan bisa meniru keberhasilan “koran-koran gratis” tersbut untuk di terapkan di seputar daerah kita yaitu kabupaten klungkung, tentulah akan bisa meningkatkan laju perputaran roda perkonomian daerah yaitu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kreatifitas masyarakat, serta memaksa masyarakat untuk rajin membaca . selain itu , Masyarakat klungkung yang memiliki hobby fotography akan memiliki media untuk menyalurkan bakatnya serta bisa mendapatkan imbalan dari berita-berita fotonya. begitu juga dengan masyarakat yang memiliki hobby menulis “wartawan wanna be” bisa menyalurkan bakatnya menulis di koran gratis tersebut. bli wayan badra yang memiliki usaha percetakan di depan SMP PGRI klungkung bisa bergairah kembali karena usahanya akan terus mendapatkan pesanan untuk mencetak koran. pak bupati yang baru menjabat sekali dan ingin untuk menjabat di periode berikutnya, juga bisa terus berpromosi visi dan misinya di koran lokal gratis tersebut (tentunya harus membayar jika ingin di tampilkan beritanya). setali tiga uang dengan para politisi wakil rakyat yang ingin terpilih kembali di pemilu berikutnya bisa terus memaparkan program-program kunjungan  kedaerahnya di koran tersebut (sama seperti pak bupati harus membayar untuk “beriklan” di koran). apakah semua yang termuat beritanya harus membayarnya, tentu tidak. bila berita tersebut dirasa netral dan mendidik masyarakat dan termasuk berita actual, artikel terbut tentulah merupakan bagian dari liputan berita koran tersebut.

menghubungkannya dengan komunitas kita, yaitu masyarakat muda yang melek teknology, saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya hanya di depan komputer saja untuk menuliskan riwayat perjalanan hidupnya di media webblog, friendster, facebook, multiply, linkedin, atau koran online lainnya, padahal komunitas “online” ini bila di bandingkan dengan seluruh jumlah masyarakat di Indonesia atau di kabupaten klungkung sungguhlah sangat kecil, karena tidak semua masyarakat memiliki kesempatan membuka internet di rumah ataupun di kantor. andaikan komunitas online ini  bisa melebarkan  kreatifitasnya ke media konvensional “paper based” koran cetak, pastilah kegiatan yang semula hanya berawal dari hobby akan bisa menghasilkan pendapatan serta bisa mengkaryakan orang lain.

apakah semudah itu membuat koran cetak, tentu tidak… .membuat koran seperti ini memang tidaklah bisa di kerjakan sendiri, melainkan di perlukan kerjasama secara team, karena harus ada yang bertugas sebagai wartawan, editor, fotografer, sales / penjualan, pendistribusi koran ke rumah-rumah di desa-desa klungkung, dll, dan tentunya di perlukan kesabaran dalam menjalankan usaha apapun.    hati kecil saya mengatakan, menarik untuk di coba…..

akhir cerita, seandainya koran gratis ini bisa di wujudkan di daerah klungkung, walaupun hanya terbit tiap sebulan sekali, sesungguhnya sudah cukup bagus untuk mengawalinya. selanjutnya bisa dilihat perkembangannya dari response masyarakat klungkung, kalau seandainya mereka sangat antusias membaca berita gratis, lebih lanjut bisa di tingkatkan menjadi koran gratis mingguan seperti di setiap kecamatan di jerman yang terbit di setiap akhir pekan. kalau response para pemasang iklan di koran gratis ini juga positive,  ibarat gayung bersambut, produksi koran gratis inipun bisa di tingkatkan  menjadi koran gratis harian meniru  koran gratis setiap hari di singapura.

kata kunci dari artikel ini adalah: pekerjaan yang bermula dari hobby ini disamping bisa menciptakan peluang kerja, juga bisa membuat masyarakat kita menjadi lebih kreatif lagi dalam menggali setiap potensi daerah ataupun mengenali setiap berita daerah di seluruh pelosok kabupaten klungkung, dan yang terpenting adalah memacu masyarakat di kabupaten klungkung untuk “rajin membaca” setiap hari seperti harapan dari judul artikel ini:   Memberitakan masyarakat dan Memasyarakatkan berita.

salam waRning, 

Purnama Kapat?

Posted by Ode under Uncategorized

Barusan saya liat kalender, ternyata kemaren tgl 14/10/2008 itu purnama, brarti purnama kapat? Odalan di pura puseh kan ya? Ada yang bisa meliput dan post beberapa foto?

Nunas ampura saya lama tidak posting karena beberapa kesibukan kantor dan probadi. Terima kasih kepada Ketut Adnyana dan Harry yg tetap konsisten dengan postingannya yg segar!

-oDE-

Hujan = Banjir

Posted by harry under Breaking News

Hujan deras melanda hampir seluruh kawasan di Bali pada hari selasa 7 Oktober 2008. Hujan yang turun hampir satu hari penuh itu telah membawa bencana banjir di seputar Kota Denpasar. Bahkan media massa merekam kejadian tiga mobil dan penumpangnya terseret arus sungai yang memaksa mobil-mobil tersebut masuk ke dalam aliran sungai yang deras di jalan Siulan Denpasar, syukurnya tidak membawa korban jiwa dari kejadian tersebut. Di Gianyar ada rumah seorang warganya amblas terbawa aliran sungai yang deras.

Sementara dari desa Kemoning, saya mendengar kabar yang memperihatinkan juga yang disebabkan oleh hujan deras pada waktu itu. Rumah salah seorang warga Kemoning yang bernama Bapak Sania (mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan nama), tergenang air mencapai ketinggian kurang lebih 1 meter. Rumah Pak Sania yang terletak didataran rendah ditambah merupakan daerah pertemuan aliran sungai membuat keadaan menjadi tidak terkendali. Akibat musibah tersebut tentu saja keluarga korban mengalami kerugian yang besar.

Semoga becana banjir tidak datang lagi walapun sekarang adalah musim hujan. Banjir bisa dicegah asalkan kita bergotong royong membersihkan lingkungan drainase kita dari sampah yang menyumbat. Dan semua warga Kemoning sadar dan disiplin untuk tidak membuang sampah di selokan atau di sungai.

Salam WarNing!

Putu Harry.