Membaca Tanda-Tanda Jaman
Melihat gambar-gambar diatas yang penuh dengan tampilan “sang waktu”, sekilas kita akan mengerti apa yang ingin di ungkapkan artikel berikut. penjelasan secara singkat dan gamblang, sesungguhnya saya memang ingin menyampaikan pesan bahwa terhitung mulai hari minggu tanggal 26-October-2008 sang waktu di belahan bumi kutub utara mengalami pergeseran kemunduran . yaitu jarum jam yang semula menunjukkan jam 7 pagi di geser menjadi jam 6 pagi, alias mundur 1 jam. Perbedaan waktu antara Jerman dengan Bali yang semula 6 jam, sekarang bergeser menjadi berbeda 7 jam. hal ini di sebabkan karena “sang surya” Matahari mulai tampak malu-malu terbit dari timur dan muncul sering terlambat dan terbenam di barat selalu lebih awal dari biasanya yang menyebabkan hari berganti gelap begitu cepat dan begitu lama sebagai pertanda bahwa “jaman telah mengalami perubahan ” yaitu musim dingin (winter) sudah tiba !
Rendahnya intensitas cahaya matahari dan tingginya kelembaban udara telah di antisipasi oleh mahluk ciptaan Tuhan lainnya, yaitu Tumbuh-tumbuhan yang mengalami kesulitan dalam ber-metaphorposis, telah mulai menggugurkan dedaunannya agar bisa mengikuti ritme irama perubahan Jaman ini. Pun demikian dengan komunitas masyarakat “biasa atau kebanyakan” sudah mulai ramai mengunjungi supermarket membeli beberapa kayubakar kecil yang bisa di bakar di tungku pembakaran di rumah untuk menghangatkan ruangan rumah. Sementara masyarakat modern masa kini mulai menyalakan pemanas ruangan listrik “heater” lebih lama didalam rumah dan bersiap-siap untuk menerima tagihan listrik yang membengkak di bulan berikutnya…
Kembali ke Sang Waktu, di jaman sekarang, dimana orang terbiasa sibuk beraktifitas berpacu dengan waktu, berangkat kerja lebih awal, bekerja lebih lama, seperti apa yang terjadi di negeri makmur Singapura, yaitu walaupun letak geografis negara tersebut berlokasi di daerah WIB (waktu indonesia bagian barat), namun mata jarum jam di Singapura tidaklah menunjukkan waktu yang sama dengan waktu di WIB, atau waktu di jakarta, melainkan mata jarum jam di Singapura menunjukkan waktu yang sama dengan waktu di indonesia bagian tengah (WIT) yaitu menunjukkan waktu yang sama dengan di Bali. adapun alasan pemerintah Singapura memajukan mata jarum jamnya lebih awal dari semestinya, dengan harapan agar masyarakatnya terbiasa untuk bekerja dengan giat dengan memulai kerja lebih awal dan tentunya bisa memiliki kesamaan waktu dengan jam kerja di negeri sakura Jepang, yang memang dijadikannya sebagai acuan oleh Singapura.
lain di Singapura lain di Eropa, Singapura memang cukup berhasil membangun negaranya dengan memajukan waktunya 1 jam lebih awal. Namun bukan berarti di Eropa menjadi kian terbelakang dengan memundurkan mata jarum jamnya. Para pendahulu di Eropa tentulah memiliki beberapa argument yang bisa di terima dengan logika hingga kenapa mereka mengambil keputusan untuk memundurkan mata jarum jamnya 1 jam kebelakang di saat musim winter (Nopember hingga February). salah satunya adalah demi keselamatan jiwa masyarakatnya. karena kalau di amati, telatnya matahari terbit dari timur tentulah membuat permukaan bumi di eropa masih terasa gelap. dan alangkah baiknya masyarakatnya berangkat kerja di saat matahari sudah mulai bersinar.
Apakah jam kerja masyarakat di Eropa berkurang dari biasanya diakibatkan karena pengunduran jam ini? tentu tidak…. masyarakatnya tetaplah bekerja seperti biasa 7 - 8 jam sehari di kantor, malah sekarang para karyawan bekerja lebih lama dari biasanya. apalagi krisis finansial yang semula hanya terjadi di lingkungan Wall Street di New York kemudian berkembang keseluruh bagian negeri USA, sekarang “bau dan aroma” krisisnya sudah mulai tercium ke Eropa, sehingga masyarakat Eropa khususnya kelas karyawan sudah mulai selalu mengawasi setiap detik perkembangan perekonomian di Eropa, dimana setiap headline Koran di berbagai negeri Eropa selalu menampilkan judul “Europe is under Allert !” yang cukup mempengaruhi perilaku masyarakat belakangan ini, yaitu mulai khawatir dalam “spending money” membelanjakan uangnya, cukup hati-hati dan lebih giat dalam menekuni pekerjaannya, agar bisa terus tetap bekerja di perusahannya.
Akhir kata, pesan moral yang ingin saya sampaikan di artikel ini adalah, perlu kiranya bagi kita semua untuk selalu mencermati setiap perubahan ataupun jeli membaca tanda-tanda jaman, atau bila perlu “menari mengikuti ritme irama kendangnya sang waktu” serta be more creative agar kita bisa selalu exist. harapan penulis, semoga kita semua selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang Widi Wasa !
salam waRning,
























