Putihnya Salju yang menghangatkan
di bulan nopember dan desember, sebagian orang mengenalnya sebagai memang musim-musim kelabu … salah satu contohnya masyarakat di tanah air mulai khawatir akan musim hujan yang berkepanjangan yang biasanya selalu menimbulkan kebanjiran. kelompok penyanyi Gun & Roses pun demikian mengabadikan bulan penghujung tahun ini dengan judul lagunya “november rain” dan penyanyi tanah air dian pisesha pun mengenang bulan-bulan ini dengan lagu cintanya yang berjudul “hujan di bulan desember”. sementara masyarakat di belahan bumi kutub utara menyambut bulan ini dengan turunnya hujan salju. beberapa orang memang khawatir akan hujan salju ini, seperti orang yang sering lalu lalang di jalan raya, karena jalanan yang mulai licin hingga banyak terjadi kecelakaan, tetapi ada juga yang menyambut hujan salju ini dengan gembira, khususnya para anak-anak yang dengan begitu gembiranya bermain di bawah rintik-rintik hujan salju.
bagi pecinta warna putih, seperti saya, musim ini adalah musim yang saya tunggu-tunggu. Mungkin kata-kata romantis seperti “Hatiku putih bersih seperti salju” atau “Cintaku bersemi bersama salju” sering kita dengar. disamping tentunya karena semuanya tampak putih bersih, juga karena sesungguhnya bila salju sudah turun, suhu dingin mulai berkurang. pernahkah kita mendengarkan “Salju itu menghangatkan“? kalimat tadi sebenarnya bukanlah isapan jempol belaka, melainkan benar adanya. artikel yang saya kutip dari google menarik kita baca bersama mengenai salju: **bagaimana salju tercipta**, **kenapa warnanya putih**, dan **bagaimana pengaruh salju pada lingkungan**.
Bagaimana salju tercipta
Salju berasal dari uap air yang berkumpul di atmosfir. Kumpulan uap air mendingin sampai pada titik kondensasi, dan kemudian menggumpal membentuk awan. Awalnya, gumpalan-gumpalan uap air mengapung di udara karena massanya jauh lebih ringan daripada udara di bawahnya - jadi seperti udara di bawahnya menahan mereka di atas sana, persis seperti kayu yang tidak tenggelam di atas air.
Namun, setelah gumpalan uap air terus bertambah dan massanya semakin berat, udara di bawahnya tidak sanggup lagi menahannya dan gumpalan-gumpalan itupun jatuh. Jika temperatur udara di bawahnya cukup dingin, gumpalan tadi jatuh berupa kristal-kristal es (salju). Pada banyak kasus di dunia ini, proses turunnya hujan selalu dimulai dengan salju beberapa saat dia jatuh dari awan tapi kemudian mencair saat melintasi udara yang panas.
Nah, ada yang menarik saat gumpalan uap air jatuh dari awan. Air murni tidak langsung membeku pada temperatur 0 derajat Celcius. Untuk membuatnya beku, maka kita harus menurunkan temperatur di bawah 0 derajat Celcius. Ini mirip saat kita memanaskan air, air tidak langsung menguap pada suhu 100 derajat Celcius melainkan mendidih dulu. Zat memang butuh proses lagi saat dia berubah bentuk dari satu wujud ke wujud yang lain.
Ada sebuah percobaan menarik yang bisa dilakukan di dapur memanfaatkan fakta ini. Kalau anda bisa mendapatkan air murni, maka letakkanlah air murni tersebut dalam gelas atau mangkuk yang benar-benar bersih (tidak berdebu, berminyak, atau kotoran-kotran lainnya) dan tutup rapat-rapat. Masukkan ke dalam kulkas sampai temperaturnya 0 derajat Celcius.
Nah, sekarang sihir dimulai: Keluarkan air murni tersebut dengan hati-hati, buka tutupnya, dan masukkan ke dalam air murni tersebut sebongkah kecil batu es…. Anda akan menyaksikan fenomena yang menarik. Air murni di sekitar batu es kecil tersebut mulai membentuk kristal es, mengembang dan terus mengembang sampai semua air murni dalam mangkuk itu menjadi es!
Air memiliki sifat susah untuk memulai pembentukkan kristal es. Biasanya, dalam percobaan kimia ada zat-zat khusus yang ditambahkan untuk mempercepat pembekuan es. Dalam proses terciptanya salju juga demikian. Di udara di atas sana, ada sejenis “debu alam” (bukan berasal dari polusi) yang berfungsi sebagai batu es dalam percobaan air murni kita tadi. Debu ini disebut nucleator. Gumpalan-gumpalan uap air yang jatuh dari awan bercampur dengan nucleator, membuat uap air cepat membentuk kristal-kristal es (SALJU!).
Selain berfungsi sebagai pemercepat pembekuan, nucleator juga menjadi perekat antar uap air. Sesaat sebelum salju jatuh ke bawah, semakin banyak partikel air yang terkondensasi dan membeku membentuk kristal es karena nucleator ini. Kumpulan kristal-krisal es ini membentuk lapisan salju. Kristal salju memiliki bentuk unik. Tidak ada kristal salju yang memiliki bentuk yang sama di dunia, ini persis seperti sidik jari kita. Bayangkan, tidak terhitung banyaknya kristal salju yang sudah turun di muka Bumi ini dan tidak satupun yang memiliki bentuk kristal yang sama…
Bagaimana salju bewarna putih
cahaya bergerak lebih lambat di dalam media yang lebih padat daripada media yang lebih ringan. Saat cahaya dari udara masuk ke dalam air, maka akan terjadi pembelokkan. Ini disebut peristiwa pembiasan. Contoh yang sering dipakai untuk percobaan ini adalah pensil yang terlihat patah saat separuh badannya dimasukkan ke dalam air. Bagaimana ini terjadi? Jawabannya adalah karena pengaruh muatan listrik yang dimiliki benda. Muatan listriklah yang membuat sebuah gelombang cahaya melambat (dibelokkan) dan dipantulkan kembali. Aturan umumnya (tapi tentu tidak selalu benar) adalah semakin padat sebuah benda, semakin besar konsentrasi kandungan muatan listriknya.
Dari sini kita bisa memahami bahwa konsentrasi listrik dalam kristal es lebih tinggi daripada air atau udara. Cahaya yang datang mengenai kristal es akan dibelokkan, beberapa malah dipantulkan. Karena bentuk salju seperti bola-bola kecil, maka cahaya dipantulkan ke segala arah. Hasilnya adalah warna putih.
Fenomena yang sama juga bisa kita dapati saat melihat pasir putih, bongkahan garam, bongkahan gula, kabut, awan, cat putih, dan lain-lainnya. Setiap benda itu mengandung bagian kecil yang memantulkan cahaya ke segala arah. Karena mereka memantulkan semua warna ke semua arah dalam jumlah yang sama, maka muncullah warna putih. begitu juga dengan butiran salju, ”Karena butiran salju memantulkan semua warna ke semua arah dalam jumlah yang sama, maka muncullah warna putih.”
Salju yang menghangatkan
Panas/dingin yang dirasakan tubuh kita bukanlah berasal dari temperatur mutlak, melainkan apa yang disebut temperatur efektif . Ada tiga faktor yang mempengaruhi temperatur efektif, temperatur yang dirasakan badan kita: temperatur mutlak, yaitu temperatur yang diukur langsung oleh termometer ke benda besangkutan; kelembaban udara, dan kecepatan aliran angin. Contoh temperatur efektif ini adalah tepi pantai. Di tepi pantai, temperatur mutlak sekitar 40 derajat Celcius. Tapi, kita masih merasa nyaman dan tidak merasa terlalu panas - terutama kalau sedang santai di bawah payung/tenda. Kenapa? Karena angin di pantai bertiup kencang, sehingga temperatur efektif mungkin sekitar 20-25 derajat Celcius. Selain faktor kecepatan angin, kelembaban udara juga mempengaruhi temperatur efektif. Kalau udara kering (kelembaban rendah = udara kering) maka temperatur efektif akan turun. Bila temperatur mutlak di bawah 5 derajat Celcius, angin kencang, dan udara kering! Nah, pada saat-saat seperti ini, turunnya salju membuat kelembaban udara secara global naik (artinya udara menjadi basah). Dengan demikian, temperatur efektif naik, dan kita merasa hangat.
di kutip dari link berikut:
http://febdian.net/drupal/bagaimana_salju_tercipta
























