kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for January, 2009

Pura Luhur Jati Luwih sebagai Sarinya Buana

Di pedalaman hutan Batukaru, pada ketinggian sekitar seribu meter, disembunyikan oleh rimbunnya pepohonan dan dinginnya udara pegunungan, berdiri sebuah pura yang sederhana, Pura Luhur Jati Luwih. Namun pura ini memiliki makna yang sangat istimewa bagi sebagian besar warga Tabanan. Bahkan, pura ini layak dinyatakan sebagai sarinya buana, karena terkait dengan kesuburan jagat serta tempat memohon kesejahteraan. Sejarah pendirian pura ini, sesuai dengan cerita rakyat yang diyakini kebenarannya sangat unik, apa itu?

======================================================

PURA Luhur Jati Luwih berlokasi di wilayah Desa Adat Sarin Buana, Desa Wanagiri, Selemadeg, Tabanan. Berada di tengah-tengah hutan lindung pada sisi sebelah tenggara punggung Gunung Batukaru dengan ketinggian sekitar seribu meter di atas permukaan laut, beriklim pegunungan yang dingin, dengan kelembaban udara yang cukup tinggi.

Pura ini diperkirakan telah berdiri pada abad ke-9 sampai 12 Masehi. Untuk mencapainya, para pamedek dapat melalui jalan raya jalur Denpasar-Gilimanuk, belok ke kanan jurusan Bajera Pupuan Sawah-Wanagiri hingga mencapai Desa Adat Sarin Buana. Dari Desa Sarin Buana kita harus memasuki hutan lindung lebih dari 3 km dengan kemiringan sekitar 45 derajat untuk mencapai pura ini.

Sangat sedikit sumber maupun catatan pengkajian yang mengungkap pendirian Pura Jati Luwih. Sumber yang dapat dikumpulkan melalui penuturan dari pemuka masyarakat, pemangku pura dan pelinggih-pelinggih yang ada, serta tata upacara yang berlaku di pura tersebut. Berdasarkan penuturan Jero Mangku Gede (I Wayan Menteg) yang diyakini kebenarannya secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar, pada zaman dahulu, masyarakat yang bermukim di lereng Gunung Batukaru, khususnya masyarakat di sekitar wilayah pura, mengalami kemarau panjang sehingga lahan pertanian kering tidak menghasilkan. Masyarakat pun mengalami kelaparan oleh peristiwa itu.

Dengan harapan untuk bertahan hidup, sebagian masyarakat masuk ke hutan untuk berburu maupun mendapatkan beberapa bahan makanan. Beberapa di antaranya kawehan (mengalami kehilangan pandangan normal dan mengalami penglihatan gaib) dan melihat sawah yang padinya menguning dan sebuah rumah indah. Oleh sang kakek yang menjadi pemilik rumah dan padi itu, warga tersebut diajak singgah ke rumah.

Di sana warga yang berburu itu diberi beberapa helai bulir bibit padi gaga (tegalan) dan berpesan agar padi tersebut ditanam dan dikembangkan di desanya. Setelah menerima bibit padi, tiba-tiba kakek tersebut menghilang seketika dan rumah yang bagus tersebut kini berubah menjadi bebaturan dalam kesadaran yang pulih dari pemburu tersebut.

Bibit padi tersebut ternyata berkembang dengan baik dan di tempat bebaturan itu didirikan pelinggih untuk mengupacarai setelah padi menguning atau menjelang panen. Pelinggih tersebut diberi nama Pucak Sari. Pura Pucak Sari adalah pura yang pertama didirikan untuk penunasan amerta. Tempat itu diberi tanda dengan pelawa yang ditancapkan. Sementara desa di mana bibit padi itu ditanam dikenal oleh masyarakat sebagai Desa Sarin Buana yang memiliki arti tempat sari-sarinya buana atau inti sari bumi yang memberi sumber kehidupan dan kemakmuran.

Dikatakan Jero Mangku Gede, sebelum zaman kerajaan di Tabanan, Pura Luhur Jati Luwih dikenal dengan Pura Luhur Sarin Buana, sama dengan nama desa adat sebagai pengempon pura tersebut. Mulai pada zaman kerajaan, nama Pura Sarin Buana diubah menjadi Pura Luhur Jati Luwih untuk tidak mengaburkan nama Pura Sarin Buana dengan nama Desa Adat Sarin Buana.

Pura Luhur Jati Luwih berarti pura yang berada di atas, di dataran tinggi, yang benar-benar utama, mulia atau baik (luwih). Menurut keyakinan masyarakat setempat, Pura Luhur Jati Luwih juga bermakna tempat suci yang benar-benar selalu memberikan kebaikan dan kesejatian dari hal yang dimohon pada tempat ini.

Dalam perjalanan sejarah, ternyata Pura Luhur Jati Luwih mengalami beberapa kali renovasi sehingga banyak bukti kepurbakalaan hilang. Seingat pemangku pura, pemugaran yang diketahuinya pertama dilakukan tahun 1971, disusul dengan pemugaran kedua tahun 1978 dan pemugaran ketiga tahun 1993. Berdasarkan cerita, bentuk asli pelinggih sebelum dipugar adalah berbentuk bebaturan yang berundak dengan batu menhir tertancap pada sisi-sisi samping ruang altar pemujaan.

Dari pengkajian yang dilakukan termasuk oleh Bappeda Tabanan disimpulkan, bangunan asli pelinggih Pura Luhur Jati Luwih merupakan bangunan zaman batu besar (megalitikum) dengan tradisi kebudayaan Hindu klasik. Di antara delapan buah pelinggih yang berjajar menghadap ke selatan hanya satu buah  yang masih berbentuk bebaturan hingga kini yaitu pelinggih paling timur untuk pemujaan Ida Batari Pemutering Danu (Ulun Danu).

Sementara bangunan pelinggih lainnya telah diganti dengan bangunan pelinggih gegedongan yaitu gedong kereb dua buah sebagai pelinggih pokok untuk penghayatan ke Pucak Kedaton dan Pelinggih Agung Ida Batara Luhur Jati Luwih. Sedangkan lima buah pelinggih lainnya berbentuk gedong sekapat makereb duk masing-masing beruangan satu.

Ada satu pelinggih penghayatan ke Majapahit berupa Padma Capak Alit, menggambarkan pura tersebut mengalami proses perkembangan dari satu periode ke periode lainnya, dari zaman kuno hingga adanya pengaruh Jawa, yang diperkirakan zaman Mpu Kuturan sebagai tokoh suci sekaligus arsitek penataan pura di Bali.

Uniknya seluruh pelinggih yang ada berupa bangunan pendek-pendek, berbeda dengan pura lainnya di Bali yang menjulang tinggi. Dari peninggalan sejarah dan konsep pemujaan di pura itu, diperkirakan Pura Jati Luwih dibangun zaman Apaniyaga yaitu peralihan zaman Bali Aga ke zaman pengaruh Jawa sekitar abad ke-9 sampai 12 Masehi. Peninggalan sejarah berupa prasasti yang terdapat di Desa Sarin Buana bertahun Caka 1103, zaman pemerintahan Raja Jaya Pangus.

Bukti penunjuk lain, juga terdapat peninggalan sejarah yang tersimpan di Pura Siwa Desa Adat Sarin Buana berupa batu berbentuk kepala babi dan beberapa buah gong serta peralatan upacara berupa bajra atau genta. Dari bukti tersebut, menunjukkan Pura Luhur Jati Luwih merupakan pura yang cukup tua dengan karakteristik pemujaan pada puncak gunung sebagai purusa dan ulun danu sebagai pradana. Masyarakat pendukung telah mengenal sistem pertanian dan menetap dalam lingkungan desa pakraman.

Sejak dulu, pura ini dibina atau diayomi langsung oleh Puri Agung Tabanan dan pangenceng dari pura ini adalah Jero Subamia Tabanan yang pada zaman kerajaan sebagai patihnya Raja Tabanan. (upi)

Tempat Memohon ”Jejaton”

PURA Jati Luwih memiliki fungsi ganda, di samping memohon keselamatan dan kerahayuan jagat, juga sebagai tempat untuk memohon keselamatan dan kemakmuran di bidang pertanian. Juga sebagai tempat ngerastiti dalam memohon keselamatan tanaman pangan dari gangguan hama dan memohon turun hujan.

Penyungsung Pura Luhur Jati Luwih di samping Desa Adat Sarin Buana, juga krama subak dengan luas wilayah yang cukup besar, terdiri atas lima subak pekandelan dan 35 pekaseh subak. Karakter khusus lainnya dari pura ini adalah sebagai tempat untuk memohon sartana (jejaton) beras apabila ada upacara besar. Jejaton ini di wilayah Tabanan disebut nguwub.

Pura ini masih berhubungan dengan Pura Pucak Kedaton Batukaru dan Pura Pucak Sari yang ada di Desa Adat Sarin Buana. Di samping itu juga Pura Siwa yang berlokasi di Desa Sarin Buana merupakan tempat penyawangan dan penyimpanan benda pusaka yang masih ada hubungannya dengan pura ini. Di utama mandala pura ini terdapat delapan buah pelinggih serta empat bangunan suci sebagai penyangga.

Pelinggih paling timur merupakan pelinggih kuno berupa bebaturan untuk pemujaan Hyang Pemuterin Danu. Pelinggih Gedong Alit Saka Pat Rong Tunggal sebagai penghayatan ke Gunung Agung, selanjutnya pelinggih sama penghayatan ke Pucak Sari.

Pelinggih utama berupa pemujaan kepada Ida Batara Luhur Jati Luwih berupa pelinggih Gedong Saka Pat Rong Tunggal, terdapat juga pelinggih penghayatan Ida Batara Lingsir Putus di Pucak Kedaton Batukaru, Ida Batara Ayu Padangluwah, Ida Batara Turun Gunung, pelinggih Padma Capah pemujaan Ida Batara Mas Pahit.  Juga masih ada beberapa pelinggih lainnya.

Hal yang menarik yang terdapat di jaba tengah berupa bekas bangunan lumbung padi bersaka empat tempat penyimpanan padi dari subak-subak penungsung dahulunya. Sekitar 400 meter dari pura ini terdapat pelinggih Taman Beji yang terletak di timur laut Pura Luhur Jati Luwih dengan pelinggih berupa bebaturan dengan air pancuran yang keluar dari bilahan batu padas.

Untuk saat ini, direncanakan akan dilakukan rehab terhadap pura yang masih tampak sederhana dengan pagar pembatas hidup, tanpa tembok penyengker ini. Penglingsir Jero Subamia IGG Putra Wirasana selaku penganceng mengaku harus memelihara titik-titik kesucian pura dan melakukan rehab tanpa harus menghilangkan peninggalan-peninggalan kuno yang ada. (upi)

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2008/4/16/bd1.htm

Memohon Jatuhnya Hujan

Varsikamscaturo nasanyatha.
Indro ”bhipravasati,
tathbahivarsetman rastra kamair
indravratam caran.
(Manawa Dharmasastra.IX.304).

Maksudnya:
Laksana Dewa Indra yang menurunkan hujan yang berlimpah selama empat bulan pada musim hujan, demikianlah raja menempati kedudukan bagaikan Indra menurunkan kemakmuran untuk kerajaan.

KEBERADAAN Pura Luhur Jati Luwih di Desa Pakraman Sarin Bhuwana, Desa Wana Giri, Kecamatan Selemadeg, Tabanan adalah salah satu Pura Jajar Kemiri atau Prasanak dari Pura Luhur Batukaru. Pura Luhur Jati Luwih ini bukan Pura Luhur Jati Luwih kawitan warga Bujangga Waisnawa yang berada di Kecamatan Penebel. Pura Batukaru adalah pura untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Mahadewa dalam fungsi beliau sebagai Sang Hyang Tumuwuh. Sang Hyang Tumuwuh itu Tuhan yang dipuja oleh umat Hindu di Bali untuk memotivasi dirinya untuk memahami bahwa tumbuh-tumbuhan itu adalah ciptaan Tuhan.

Tumbuhan itu bukan semata sebagai sarana untuk dimanfaatkan oleh umat manusia sebagai bahan makanan maupun digunakan sebagai sarana hidup di luar makanan. Tumbuh-tumbuhan itu juga sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan yang berhak hidup saling berkontribusi secara timbal balik pada sesama ciptaan Tuhan. Tanpa adanya tumbuh-tumbuhan dengan populasi yang memadai maka berbagai unsur alam dan makhluk hidup di bumi ini tidak bisa berfungsi dengan baik dan benar.

Tanpa adanya tumbuh-tumbuhan hutan yang kuat dan besar yang di Bali disebut tanem tuwuh, maka tanah hutan dan gunung tidak bisa menampung air yang jatuh dari langit. Demikian juga kalau hutan itu gundul tanpa tumbuh-tumbuhan maka hujan juga sulit untuk turun dari langit. Kalau sudah telanjur seperti itu maka bencana kekeringan pun akan berlanjut.

Konon gurun pasir di Etiopia diawali oleh pengundulan hutan yang ganas. Kalau sudah telanjur seperti itu maka akan tidak mungkin menghutankan kembali suatu gurun pasir yang sudah telanjur.

Demikian juga keberadaan Pura Luhur Jati Luwih di Desa Wana Giri Kecamatan Selemadeg ini diawali oleh kemarau panjang. Atas keprihatinan penduduk, maka Tuhan memberikan sinyal sebagai peringatan di mana ada penduduk yang sedang berburu diberikan penampakan gaib. Di Bali disebut kawehan. Dengan melihat sawah dengan padi menguning sampai ada orang gaib memberikan penduduk yang kawehan itu bibit padi gaga untuk ditanam di daerah sawah tadah hujan. Hal ini diceritakan dalam mitologi keberadaan Pura Luhur Jati Luwih tersebut.

Awal nama Pura Jati Luwih ini adalah Pura Sarin Bhuwana yang artinya sari-sarinya bumi. Salah satu sarinya bumi ini adalah padi. Padi itu akan ada tumbuh apabila ada hujan yang turun. Hujan yang turun itu akan berguna apabila tumbuh-tumbuhan yang diturunkan oleh Sang Hyang Tumuwuh di bumi ini tidak dirusak oleh manusia untuk memenuhi kepentingan sesaat. Sejak ada umat yang kawehan itu munculah kesadaran umat untuk mendirikan suatu pelinggih sederhana sebagai sarana pemujaan untuk memohon jatuhnya hujan.

Sejak itu hujan turun sangat teratur. Selanjutnya pura itu disebut Pura Luhur Jati Luwih. Puri Tabanan dengan keluarga menjadi terpanggil untuk menata pura tersebut bersama umat Hindu di sekitarnya, sehingga pura menjadi semakin lengkap seperti dewasa ini. Keberadaan pura tersebut menjadi semakin kuat untuk memotivasi umat untuk melakukan upaya-upaya sekala dan niskala agar hujan terus turun dan tumbuh-tumbuhan terutama padi dapat hidup subur. Dengan suburnya sebagai bahan makanan yang terpokok di Bali maka kesejahteraan masyarakat dapat terjamin.

Yang perlu direnungkan menyangkut keberadaan Pura Luhur Jati Luwih atau Pura Sarin Bhuwana ini adalah menyangkut hubungan Puri Tabanan dengan masyarakat sekitar dalam memelihara eksistensi pura tersebut sebagai Pelinggih Hyang Pemuteran Danu dan ada pelinggih untuk pemujaan Ratu Manik Galih. Hyang Pemuteran Danu itu adalah pemujaan untuk Dewi Danu sebagai manifestasi Dewa Wisnu dalam menjaga dinamika air agar selalu stabil memberikan kehidupan pada seluruh makhluk hidup penghuni bumi ini.

Air laut menguap menjadi mendung, mendung jatuh menjadi hujan. Hujan jatuh di gunung dengan hutannya yang lebat. Dari proses tersebut maka terbentuklah mata air seperti danau dan sungai-sungai mengalirkan air ke dataran yang lebih rendah. Dari proses mata air itulah dapat menimbulkan kesuburan tanaman sebagai unsur yang amat utama dalam menjaga kehidupan di bumi ini.

Kewajiban umat manusia adalah menjaga proses alam itu agar jangan terganggu. Untuk mengingatkan umat agar senantiasa menjaga proses air sebagai unsur alam itu maka Tuhan dipuja sebagai Hyang Pemuteran Danu. Ini adalah metode yang ditempuh oleh leluhur umat Hindu di Bali agar jangan mengganggu proses alam menurut hukum Rta.

Dewasa ini perlindungan proses air sebagai unsur alam yang utama itu perlu lebih ditanamkan kembali agar semakin tumbuh adanya kesadaran untuk menjaga air. Tentunya cara melindungi air dengan cara-cara ilmiah dan norma hukum tetap dilangsungkan. Pemujaan Tuhan sebagai Hyang Pemuteran Danu sebagai pemberi landasan moral dan mental sehingga berbagai godaan dalam penggunaan air dengan tujuan hanya mencari keuntungan sesaat dan sepihak dapat dicegah sedini mungkin.

Adanya Pelinggih sebagai pemujaan Ratu Manik Galih adalah sebagai suatu upaya spiritual untuk menumbuhkan kesadaran dalam memelihara tumbuhan seperti padi agar diproduksi dan didistribusikan secara baik dan adil. Jangan ada yang borong padi saat panen terus ditimbun dan saat paceklik dijual dengan harga berlipat ganda. Ini artinya keberadaan padi dijadikan media untuk merugikan orang banyak.

Padi diciptakan Tuhan adalah untuk memberi kehidupan yang sejahtera pada umat manusia. Menggunakan padi sebagai sarana untuk menguntungkan diri sendiri dengan cara-cara yang tidak jujur dan merugikan orang banyak tentunya dosa besar. Padi adalah salah satu hasil alam yang berfungsi amat strategis, karena ia sebagai bahan makanan yang paling pokok. Pemujaan Tuhan sebagai Ratu Manik Galih di Pura Luhur Jati Luwih adalah sebagai suatu motivasi spiritual agar padi sebagai bahan makanan pokok jangan dijadikan sarana berbuat merugikan masyarakat luas untuk keuntungan diri sendiri.

* I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2008/4/16/bd2.htm

Makna Bersatunya Panah Arjuna dengan Dewa Indra

Dalam cerita Arjuna Tapa diceritakan bahwa dalam menghadapi perang Brata Yudha, Arjuna ahli panah penengah Pandawa ini melakukan olah tapa untuk mendapatkan senjata panah. Salah satu tempat Arjuna bertapa adalah di Gunung Indrakila. Karena Arjuna dengan bertapa yang serius itulah akhirnya mendapatkan beberapa panah sakti sebagai salah satu sarana memenangkan perang dalam Brata Yudha. Karena keberhasilan dari Arjuna inilah nampaknya menjadi pendorong Raja Jayasakti mendirikan Pura Indrakila. Dengan kesaktian hasil dari olah tapa itulah yang akan membawa kemenangan sang raja dalam memimpin negara kerajaan.

======================================================

Menang dalam bahasa Sansekerta disebut Jaya. Karena saktilah raja mencapai kemenangannya. Katasaktisaat itu tentunya tidak seperti pengertian dewasa ini. Saat ini katasaktiberkonotasi negatif karena dikaitkan dengan ilmu hitam. Pengertiansaktimenurut keterangan Wrehaspati Tattwa 14 dalam keterangan yang berbahasa Jawa Kuno berkonotasi positif.

Dalam Wrehaspati tersebut dinyatakan: Sakti ngarania ikang sarwajnyana lawan sarwa karya. Artinya: Sakti namanya banyak ilmu dan banyak bekerja. Ilmu di sini berarti ilmu kerohanian dan ilmu keduniaan, atau Para Widya dan Apara Widya. Dua ilmu itu dilahirkan dari Weda oleh para Resi. Karena itulah Weda itu disebut Weda Mata artinya Ibu Weda. Mantra Weda itu adalah Sabda Tuhan.

Kesaktian yang seperti pengertian Wrehaspati Tattwa inilah yang dicari oleh Arjuna di Gunung Indrakila. Demikian juga oleh sang Raja Jaya Sakti di Pura Indrakila. Dalam cerita Arjuna Tapa itu diceritakan Arjuna bertapa sangat khusyuk. Karena khusyuknya Arjuna mendapatkan kesaktian berupa daya tahan tidak mudah tergoda oleh hawa nafsu. Arjuna pun digoda oleh para bidadari yang amat cantik-cantik. Tetapi Arjuna sama sekali tidak tergoda oleh kecantikan para Bidadari dari Kahyangan tersebut.

Selanjutnya Arjuna mendapatkan godaan yang lebih hebat lagi. Arjuna diserang oleh babi raksasa yang amat ganas. Untuk menumpas godaan babi raksasa itu Arjuna memerangi babi tersebut dengan mengarahkan panah saktinya. Di luar dugaan ada seorang pemburu muda juga mengarahkan panah-panahnya pada babi raksasa tersebut. Babi tersebut pun mati kena panah.

Anehnya panah Arjuna dan panah pemburu muda tersebut bersatu menancap di tubuh babi raksasa tersebut. Pemburu tersebut menyatakan bahwa panah yang menancap itu adalah miliknya dan menyatakan bahwa dialah yang membunuh babi tersebut. Sebaliknya Arjuna juga bersikukuh bahwa panah yang membunuh babi tersebut adalah miliknya. Arjuna dan pemburu tersebut pun perang tanding. Pada awalnya keduanya sama-sama kuat. Namun saat Arjuna akan mengakhiri pertempuran tersebut dengan membunuh pemburu muda itu, dalam sekejap saja pemburu itu berubah menjadi Dewa Indra.

Arjuna baru sadar bahwa yang menjadi pemburu itu adalah Dewa Indra untuk menguji ketangguhan Arjuna. Karena Dewa Indra nyata menampakkan diri, maka Arjuna pun menyembah Dewa Indra dengan takjimnya. Cerita Arjuna Tapa ini amatlah populer di Bali, karena sering dipentaskan dalam berbagai seni pentas. Ada lewat seni drama tari, ada lewat seni pewayangan ada lewat seni lukis ada juga lewat seni sastra, dll.

Sesungguhnya cerita Arjuna Tapa itu adalah pentas ajaran Tapa Brata lewat seni sastra kawya yang penuh dengan simbol yang mengandung nilai-nilai filosofi kehidupan di dunia ini. Bersatunya panah Arjuna dengan panah Dewa Indra adalah simbol suatu keberhasilan Tapa Brata untuk menyatukan pikiran dengan kehendak Dewata. Sedangkan babi raksasa itu adalah simbol Guna Tamas yang sering membawa manusia hidup loba dan angkara murka. Guna Tamas itu dapat ditundukkan oleh pikiran suci yang sudah menyatu dengan kehendak Dewata. Demikian juga godaan para bidadari itu tiada lain adalah simbol godaan hawa nafsu.

Menguasai semuanya itulah tujuan dari suatu Tapa Brata. Intinya Arjuna sebagai seorang kesatria baru akan dapat melakukan tugas-tugasnya apabila dia telah dapat mawas diri dan memiliki ketetapan hati, sehingga tidak mudah goyah dalam melindungi rakyat dari kehidupan yang sangsara. Karena tugas-tugas kenegaraan bukanlah hal yang mudah begitu saja dilakukan tanpa memiliki kekuatan moral dan mental serta ilmu pengetahuan yang memadai.

Hal inilah yang nampaknya disadari oleh Raja Jayasaksi sehingga mendirikan Pura Indrakila. Di samping untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Purusa, juga bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang berada di balik cerita Arjuna Tapa. Karena dengan datang untuk berbakti ke Pura Indrakila umat akan dapat menyerap terus nilai-nilai suci dari cerita Arjuna Tapa tersebut.

Dalam Manawa Dharmasastra 1.89 ada dinyatakan bahwa kewajiban kesatria adalah menciptakan rasa aman (Raksanam) dan sejahtera (Danam) untuk rakyat. Di samping itu mempelajari kitab suci Weda melangsungkan upacara yadnya dan terus-menerus berusaha menguasai dirinya dari ikatan-ikatan indria atau hawa nafsunya.

Dalam Manawa Dharmasastra tersebut upaya menguasai hawa nafsu itu dinyatakan wisayeswaprasaktatis yang artinya terus-menerus berusaha menguasai hawa nafsu yang disebut wisaya. Karena seorang kesatria setiap hari selalu berkecimpung dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Agar jangan hal-hal duniawi itu menjadi negatif, maka setiap hari juga seorang kesatria harus tidak pernah lupa melakukan kegiatan yang memiliki dimensi menguasai gejolak hawa nafsu.

Ibarat seorang kusir kereta setiap saat memegang tali kekang kuda untuk mengarahkan kudanya saat berjalan, sehingga kereta pun akan dapat dibawa sampai ke tujuan. Kalau lengah kuda hawa hawa nafsu itulah yang akan menggelincirkan diri sang kesatria ke arah yang tidak benar. Inilah yang mungkin diinginkan oleh sang Raja Jayasakti sehingga membangun Pura Indrakila.

Kalau fungsi Pura Indrakila tersebut kita perhatikan maka sampai kapan pun akan tetap fungsi pura itu relevan dengan kebutuhan zaman. Apalagi pada zaman post modern ini semakin dibutuhkan sesungguhnya upaya para pemimpin untuk menguasai dirinya agar tidak terjebak pada pengumbaran hawa nafsu yang akhirnya akan membahayakan rakyat. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/10/3/bd2.htm

Pura Indrakila
Tempat
Pertapaan Pemimpin

Iyam te rad yantasi yamano
dhruvo-asi
dharunah
kryai
tva ksemaya tva
rayyai
tva posaya tva.
(Yajurveda IX.22).

Maksudnya:
Wahai
para pemimpin menjadikan pengawas kehidupan di negaramu, engkau mawas dirilah, teguhkanlah hatimu, dan dukunglah kehidupan warga negaramu. Kami mendekat padamu demi kemajuan kehidupan pertanian demi kesejahteraan masyarakat dengan kemakmuran yang melimpah.

PURA Indrakila berada di Desa Dausa Kecamatan Kintamani kira-kira 40 km utara kota Bangli. Pura ini terletak di sebuah bukit kecil. Untuk mengungkap keberadaan sejarah pura ini memang belum ditemukan sumber-sumber tertulis yang cukup jelas. Dari suatu turunan prasasti ada yang sedikit menyinggung keberadaan Pura Indrakila ini.

Menurut Dr. R. Goris dalam bukunyaSejarah Bali Kunomenyimpulkan prasasti tersebut dikeluarkan pada zaman pemerintahan Raja Jayasakti di Bali dari tahun 1133-1150 Masehi. Pada zaman ituah diperkirakan Pura Indrakila tersebut dibangun. Dari cerita rakyat secara turun-temurun didapatkan penjelasan bahwa Pura Indrakila tersebut ada hubungannya dengan salah satu episode ceritera Mahabharata yang menyangkut pertapaan Arjunapenengah Pandawadi Gunung Indrakila.

Pura Indrakila ini dibuat atas kehendak raja sebagai tempat untuk bermeditasi atau bertapa. Karena kedudukan seorang raja amat strategis dengan tanggung jawab yang amat berat memimpin negara kerajaan, terutama menciptakan iklim hidup yang dapat memajukan kesuburan alam dan kemakmuran rakyatnya.

Seorang pemimpin tidak mungkin bisa berbuat banyak pada rakyatnya apabila dirinya sendiri tidak cukup kuat mengemban tugas dan tanggung jawab yang cukup berat. Karena itu, kutipan Mantra Yajurveda, Tuhan mensabdakan agar seorang pemimpin mawas diri dan meneguhkan hatinya terlebih dahulu. Pemimpin yang mawas diri dan memiliki hati yang teguhlah akan mendapatkan wara nugraha dari Tuhan untuk memajukan kehidupan rakyatnya lahir batin, seperti Arjuna melakukan tapa sebelum menghadapi Bratayudha.

Nampaknya hal inilah yang menjadi latar belakang pendirian Pura Indrakila di Desa Dausa, Kintamani tersebut. Raja ingin dalam menyelenggarakan pemerintahannya melakukan olah tapa agar memiliki kemampuan mawas diri dan ketetapan hati dalam menghadapi berbagai tugas dan tanggung jawab yang berat sebagai seorang pemimpin. Karena pemimpin akan berhadapan dengan berbagai gangguan, tantangan, godaan dan hambatan dalam tugas-tugasnya sehari-hari sebagai pemimpin, apa lagi sebagai raja yang memiliki kekuasaan yang besar dan luas.

Tanpa mawas diri dan punya keteguhan hati, bisa mudah tergoyahkan oleh berbagai godaan, hambatan dan tantangan dalam melakukan tugas dan kewajibannya sebagai pemimpin. Dengan melakukan olah tapa untuk meraih karunia Tuhan sebagai yang mahasuci dan mahakuasa, seorang pemimpin akan memiliki kekuatan untuk lebih mawas diri dan tidak mudah tergoda oleh berbagai ilusi dunia maya ini.

Nampaknya cerita Arjuna Tapa di Gunung Indrakila inilah yang memberikan inspirasi untuk mendirikan Pura Indrakila sebagai tempat sang raja bertapa. Pura Indrakila ini didirikan di atas sebuah bukit sebagai bentuk replika Gunung Indrakila tempat Arjuna di India. Pelinggih utama di Pura Indrakila itu adalah Padmasana dengan tiga ruang sebagai simbol pemujaan Sang Hyang Tiga Wisesa atau Sang Hyang Tri Purusa sebagai jiwa agung Tri Loka.

Pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Tiga Wisesa bertujuan untuk membangun kekuatan spiritual agar umat manusia yang hidup di Bhur Loka ini tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak keadaan di Bhuwah dan Swah Loka. Karena sudah saat itu ada wawasan bahwa kesalahan dalam menata hidup di Bhur Loka dapat merusak keadaan di Bhuwah dan Swah Loka.

Ternyata pada zaman modern ini, hal itu sudah dapat dibuktikan dengan nyata. Seperti menggunakan alat-alat hidup berbagai mesin yang mengeluarkan asap mengotori ruang angkasa. Angkasa yang penuh polusi sudah terbukti menimbulkan berbagai penyakit dan sangat mengganggu kehidupan tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia di bumi ini.

Di samping itu pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa itu sebagai wujud bahwa Tuhan itu ada di mana-mana sebagai jiwa agung dari Bhur Loka, Bhuwah Loka dan juga Swah Loka. Sebagai jiwa agung Bhur Loka disebut Batara Siwa, di Bhuwah Loka sebagai Batara Sada Siwa dan di Swah Loka sebagai Paramasiwa.

Pura ini pada mulanya sudah sangat rusak secara fisik dan sudah beberapa kali perbaikan dan perluasan serta mendapatkan penambahan beberapa pelinggih. Pertama-tama perbaikan itu dilakukan tahun 1961-1963 dengan dilanjutkan dengan kelengkapan upacara sebagaimana umumnya berlaku bagi pura yang mendapatkan perbaikan dan perluasan.

Menurut keterangan pemangku pura, Pura Indrakila adalah Pura Dang Kahyangan yang tergolong Kahyangan Jagat. Fungsi Pura Dang Kahyangan adalah sebagai pura tempat berguru yaitu belajar dan berlatih kerohanian pada guru spiritual untuk memperkuat jati diri dalam mengamalkan swadharma sesuai dengan Asrama dan Varna masing-masing. Upacara piodalan di Pura Indrakila ini setiap Purnama Sasih Kapat.

Pula Indrakila ini sudah beberapa kali mendapatkan perbaikan sehingga di pura ini terdapat banyak pelinggih pesimpangan dari berbagai Pura Kahyangan Jagat di Bali. Seperti ada Gedong Limas Catu dan Limas Mujung sebagai Pesimpangan Batara di Besakih dan Batur. Ada juga beberapa Meru Tumpang Tiga dan Pelinggih Gedong yang masih perlu diteliti fungsinya.

Meski demikian, pura ini tetap fungsinya sebagai Pura Dang Kahyangan sebagai pasraman raja dan para pemimpin untuk mengingatkan agar para pemimpin senantiasa melakukan olah tapa menguatkan jati dirinya agar dapat berfungsi dengan baik sebagai pemimpin memajukan kehidupan yang sejahtera lahir batin bagi rakyat yang dipimpin.

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/10/3/bd1.htm

Melebur ”Mala”, Sucikan Diri di Pura Selukat

Ketenangan dan kedamaian hati, pikiran serta jiwa adalah yang paling dicari oleh umat manusia di jagat raya ini. Bahkan kedua hal tersebut di atas, kini sampai dicari oleh orang hingga rela mengeluarkan biaya besar untuk melakukan perjalanan tirtayatra ke negeri seberang. Namun, semua itu kembali kepada rasa, yang tak terlepas dari keyakinan dari seorang untuk melebur segala mala dan menyucikan diri untuk memperoleh ketenangan dan kedamaian dalam hidup.

===========================================================

Seperti halnya dengan Pura Selukat. Ketenangan dan kedamaian mengalir bagi umat Hindu yang datang ke pura tersebut untuk melukat segala mala dan menyucikan diri. Air kehidupan begitu mengalir secara alami dari dalam bumi ke permukaan. Mereka datang dengan ketulusan hati ke Pura Selukat, mencari ketenangan hati dan pikiran serta kedamaian jiwa.

Mereka datang mencakupkan tangan serta melukat di Pura Selukat untuk menyucikan diri dari segala mala. Tidak hanya terbatas pada kelas sosial, mereka yang datang melukat di Pura Selukat juga atas petunjuk untuk bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya. Seorang rohaniwan maupun pendeta juga tak luput untuk melukat di pura petirtaan yang ada di alur Sungai Pakerisan.

Tidak hanya untuk masyarakat umum, orang-orang yang belajar ilmu kebatinan, bahkan para pejabat  daerah dan mantan pejabat negara kerap kali datang untuk melukat dan memohon anugerah kepada Ida Barata Selukat. ”Mereka yang datang ke Pura Selukat mempunyai tujuan masing-masing dengan cara sembahyang serta melukat,” ungkap Mangku Gede Masceti yang ngayah di Pura Selukat.

Meski bangunan pura tidak begitu luas, namun tak memperkecil makna dari kebesaran Ida Hyang Widhi Wasa dalam berbagai manifestasinya sebagai Tri Murti. Pura Selukat berada di areal persawahan Subak Tuas, Desa Keramas, Blahbatuh, Gianyar. Luasnya kira-kira sekitar 8 are terbagi dalam Tri Mandala, yakni jaba sisi, jaba tengah dan jeroan. Pada Utama Mandala (jeroan) terdapat bangunan Padmasana sebagai stana Hyang Widhi, Gedong Penyimpenan dan sepasang arca pendeta.

Di bagian jaba tengah (madya mandala) hanya terdapat sebuah Gedong yang di dalamnya terdapat pancuran yang merupakan saluran dari sumber mata air di Pura Selukat. Dalam Gedong Patirtaan tersebut adalah sumber air patirtaan terdiri atas tiga sumber, dari barat, utara dan timur. Sedangkan di bagian jaba sisi terdapat bangunan Pesandekan (peristirahatan) serta dua pancuran yang sumber airnya berasal dari dalam gedong untuk melukat warga yang datang ke Pura Selukat.

Kebiasaan warga setempat bahwa setiap ingin melukat di Pura Selukat tidak serta merta langsung begitu saja masuk ke jeroan. Meski telah dilengkapi dengan sesaji disertai dengan berbusana adat untuk sembahyang, perjalanan melukat diawali dengan terlebih dahulu membersihkan diri (mandi) di tepian Sungai Solas Sowan, yang berada di sebelah timur pura. Usai mandi baru dilakukan pangelukatan oleh pemangku dengan air yang berasal dari dalam gedong untuk selanjutnya dituntun masuk ke jeroan. Di tempat ini, dilakukan persembahyangan memohon untuk dihapuskan segala mala yang ada di dalam dirinya.

Kata ‘’selukat”, menurut salah satu tokoh Puri Keramas yang juga sebagai penulis I Gusti Agung Wiyat S. Ardhi, berasal dari kata ”Sulukat” — ”Su” berarti baik dan ”lukat” berarti penyucian — tempat menyucikan diri guna memperoleh kebaikan, kerahayuan. Pura Selukat ini diyakini mampu membersihkan diri seseorang secara niskala, sanggup menghilangkan segala penyakit. Mereka yang datang ke Pura Selukat adalah mereka yang sedang dirajam penyakit seperti bebai, pikiran yang kalut/kacau, dan sebagainya.

Mangku Gede Masceti menambahkan, keberadaan Pura Selukat sebagai tempat untuk melukat segala mala, khususnya penyakit tercantum dalam Usada Bebai. Mereka yang terkena penyakit ini menggunakan tirtha selukat beserta tirtha sudamala yang disertai dengan tirtha pendukung lainnya yang jumlahnya sebanyak 11 tirtha.

Warga yang datang untuk melukat di Pura Selukat dalam hal ini tidak ada sesaji khusus. Hanya, jika tujuannya sebatas menyucikan diri, memohon keselamatan, cukup membawa banten pejati. Namun, jika pernah sakit atau sedang dalam proses penyembuhan, selain membawa pejati juga ditambah sesaji yang disebut tebasan pelukatan.

Di samping untuk membersihkan diri dari segala mala, Pura Selukat juga menyimpan kekuatan lain. Pura Selukat yang kini banyak didatangi oleh warga dari luar Gianyar ini, juga mampu memberikan anugerah taksu pada keahlian seseorang. Kebanyakan taksu mengalir dari Pura Selukat merupakan taksu seniman. Namun hal tersebut tidak terlepas dari sebagaimana yang diinginkan oleh warga yang datang ke Pura Selukat.

Dalam cermatan Agung Wiyat S., keberadan Pura Selukat dalam hal ini seakan menjadi tempat persembahyangan wajib bagi para seniman yang tumbuh di daerah setempat. Keterikatan para penggiat seni dengan pura yang berlokasi di tepian Sungai Solas Sowan ini bukan semata-mata dikarenakan lokasi pura yang berada dalam satu desa. Para seniman yang ada sangat percaya Ida Batara yang berstana di Pura Selukat mampu memberikan anugerah taksu sehingga kesenian yang digeluti menjadi hidup, bertenaga dan berkarisma. Sehingga dari desa ini menetas puluhan penggelut seni teater Bali (Arja), seperti I Monjong yang namanya tentu kini masih dikenang penggemar Arja di Bali.

Ada juga yang tujuan lainnya. Mereka yang sebelum membangun kelompok kesenian, biasanya warga tangkil ke Pura Selukat, seakan meminta petunjuk. Setelah terbentuk, mereka kembali lagi ke pura untuk menyatakan permakluman serta kesungguhan hati. Setelah mendapatkan penganugerahan, para seniman ini biasanya juga ngadegang, melakukan pemujaan khusus ke hadapan Ida Batara Selukat di rumahnya masing-masing. Dari sana nantinya mereka akan memohon izin kepada Beliau sebelum akhirnya berangkat pentas.

Selain seniman di Keramas, banyak pula seniman di luar desa bahkan Gianyar yang datang untuk memohon taksu di Pura Selukat. Termasuk para pejabat daerah. Seperti halnya beberapa waktu lalu, salah satu kandidat calon bupati maupun gubernur mendatangi Pura Selukat memohon penyucian diri dan anugerah.

Keberadaan Pura Selukat dalam angka tahun sama sekali tidak diketahui. Dari berbagai sumber menyebutkan, adanya nama Pura Selukat ini selain terdapat dalam Usada Bebai, juga terdapat dalam Kesuma Dewa dan Pura Keramas. Dalam Kesuma Dewa di mana disebutkan dalam kaitannya Ida Batara Sakti Gunung Lebah Gunung Agung dalam hal mamijilkan tirtha terebesan danau disebutkan Tirtha Telaga Waja, Tirtha Selukat dan tirtha yang ada di tengah segara. ”Di sana hanya disinggung kalimat selukat sedikit,” katanya.

Namun dalam Purana Keramas disebutkan bahwa Pura Selukat dikenal dengan sebagai sumber air kehidupan. Pura ini diperkirakan ditemukan hampir bersamaan dengan Pura Masceti, oleh I Gusti Agung Maruti. Saat meninggalkan Cau Rangkan (Jimbaran), menuju arah timur laut yang diiringi 1.100 pasukan tiba di suatu tempat dan menemukan bebaturan, berlokasi di dalam hutan, dekat dengan pantai yang kini dinamakan Pura Masceti.

Setelah mengaturkan bakti kepada Ida Batara yang berstana di tempat suci tesebut, beliau yang mendapatkan petunjuk kemudian melanjutkan perjalanan menelusuri hutan yang lebat ke arah barat laut. Dalam perjalanan, kawasan perbukitan di pinggir Sungai Pakerisan ditemukan sumber air. Air ini kemudian dipergunakan sebagai sarana membersihkan diri beserta dengan iringan pasukannya.

Usai masucian, beliau beserta dengan iringan pasukannya menyusuri tepian Sungai Pakerisan. Ternyata terdapat 10 sumber mata air lainnya ditemukan sebelum akhirnya I Gusti Agung Maruti sampai di sebuah desa yang kini disebut Desa Keramas.

Sejak ditemukannya sumber mata air tersebut, kini warga di desa tersebut banyak memanfaatkan sumber air Selukat untuk keperluan penyucian diri, mengheningkan pikiran. Lambat laun, keberadaan Pura Pancoran Selukat — sebut orang di sana — kini banyak didatangi oleh orang-orang dari Tabanan, Denpasar, Bangli dan sejumlah daerah lainnya yang ada di Bali. Ketenaran pura semakin bertambah ketika dibuka Jalan IB Mantra. Mereka yang ingin tangkil dari luar daerah lebih gampang mencari air kehidupan untuk ketenangan dan kedamaian hati, pikiran serta jiwa, dan anugerah taksu dalam kehidupan. (dar)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/9/bd2.htm 

Pura Selukat Simbol Penyucian

Jnyanam tapogniraharaumrin
manovaryupajanam
vayuh
kamarkakalau
ca sudheh
krtrini
dehinam
Manawa Dharmasastra, V.105).

Maksudnya:
Yang merupakan sarana penyucian bagi makhluk hidup adalah ilmu pengetahuan, kesucian api, makanan suci, pertiwi, pengendalian pikiran, air bhasma, angin, upacara suci, matahari dan sang waktu.

PENGERTIAN penyucian dalam hal ini adalah suci secara jasmani dan rohani. Suci secara rohani adalah proses untuk menghilangkan pengaruh klesa dalam diri manusia. Klesa artinya kotor. Klesa itu ada lima yaitu Awidya artinya kegelapan jiwa karena merasa pintar, kaya, muda, kuat, bangsawan, cantik atau ganteng. Asmita mementingkan diri sendiri, Raga mementingkan pengumbaran hawa nafsu, Dwesa adalah benci dan dendam, Abhiniwesa adalah rasa takut. Kalau lima klesa itu mendominasi hidup seseorang, maka hidup tersebutlah yang disebut hidup yang kotor.

Untuk membersihkan diri dari kekotoran karena kekuasaan lima klesa itu tidaklah mudah. Amat dibutuhkan suatu keyakinan bahwa melawan klesa itu adalah suatu perilaku yang direstui Tuhan. Untuk menguatkan mental dan moral membersihkan diri itu umat seyogianya memohon tuntunan Tuhan. Hal inilah nampaknya yang menjadi dasar pemikiran leluhur umat Hindu di Desa Keramas, Blahbatuh, Gianyar mendirikan Pura Selukat di tengah sawah di Subak Tuas.

Pura ini adalah untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai pemberi anugerah pangelukatan dengan simbol Tirtha Pangelukatan. Karena dalam berbagai susastra Hindu penyucian tersebut dapat menggunakan berbagai sarana. Seperti pertiwi, agni, surya, upacara suci, dsb. Tetapi dalam Bhuwana Kosa penyucian yang paling utama dengan Jnyana atau ilmu pengetahuan suci. Kalau Jnyana ini diterapkan dengan tepat untuk menguatkan cinta kasih kepada Tuhan (Dewa Abhimana), kepada kebenaran dan kewajiban suci (Dharma Abhimana) dan cinta pada tanah kelahiran dalam wujud pengabdian pada tanah air (Desa Abhimana).

Di Pura Selukat ada dua Arca Pandita. Arca ini nampaknya untuk mengingat akan fungsi pandita untuk menuntun umat dalam mendalami ajaran yang terdapat dalam pustaka suci. Sebagai penuntun umat dalam mendalami isi pustaka suci pandita disebut acarya. Sedangkan pandita yang ngaloka pala sraya menuntun dalam bidang upacara yadnya disebut Srotria. Dua fungsi pandita inilah yang nampaknya disimbolkan oleh Arca Pandita di Pura Selukat tersebut.

Dua fungsi pandita dalam menuntun masyarakat inilah yang terkait dengan kehidupan sosial religius. Kalau pandita tersebut sudah mencapai tingkat sanyasin, menurut ketentuan Agastia Parwa tidak dibenarkan lagi untuk berkecimpung dalam kehidupan masyarakat. Sanyasin artinya melepaskan diri dari kehidupan duniawi sama sekali. Yang menjadi perhatian hanyalah patilaring Atma tanupa guruken. Artinya hanya belajar terus untuk melepaskan Atma dari badan sarira-nya.

Pura Selukat adalah pura untuk menuntun masyarakat luas. Hal ini sebagai dasar mengapa hanya ada dua Arca Pandita di Pura Selukat tersebut. Di samping itu tuntunan pandita sebagai Adi Guru Loka adalah menuntun umat untuk mendapatkan tuntunan hidup duniawi dan rohani atau dalam kehidupan sekala dan niskala.

Fungsi utama Pura Selukat adalah sebagai media untuk memohon tirtha pangelukatan pada Tuhan untuk menyucikan kehidupannya di bumi ini. Tuhan sebagai dewanya tirtha pangelukatan adalah Ganesa. Fungsi Ganesa adalah sebagai Wighnaghna Dewa atau Wighneswara dan Winayaka Dewa. Tuhan dipuja sebagai Wighnaghna Dewa adalah untuk mendapatkan keyakinan dalam melawan halangan hidup yang berasal dari luar diri manusia.

Dengan memuja Batara Gana diyakini kehidupan di bumi ini akan terlindungi dari berbagai serangan dari luar diri manusia. Sedangkan tirtha pebersihan untuk melawan gangguan hidup yang berasal dari dalam diri. Tirtha pebersihan simbol kekuatan Dewa Siwa. Dalam mitologi Hindu Dewa Siwa adalah ayah dari Dewa Ganesha. Ini menggambarkan bahwa musuh yang berada dalam diri manusia itu jauh lebih kuat daripada musuh yang berada dari luar diri.

Dalam kekawin Nitisastra dinyatakan: Norana satru mengelwihaning hana geleng ri hati. Artinya, tidak ada musuh yang melebihi musuh yang ada dalam diri. Inilah logikanya mengapa dewa dari tirtha pangelukatan adalah Batara Gana. Hal itu sebagai tuntunan untuk memotivasi umat agar jangan menganggap remeh musuh yang berada dalam diri. Karena musuh dalam diri diyakini jauh lebih kuat daripada musuh dari luar diri karena itu Tuhan yang dipuja dalam menciptakan tirtha pebersihan adalah Batara Siwa.

Sementara tirtha pangelukatan adalah Batara Gana. Batara Gana di samping sebagai Wigheswara juga sebagai Dewa Winayaka. Dewa Winayaka itu adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagaiDewa Kebijaksanaan”. Winayaka artinya bijaksana. Bijaksana itu suatu langkah yang dilakukan oleh indria yang sehat dikendalikan oleh kecerdasan pikiran dengan kendali kesadaran budhi. Dalam keadaan seperti itulah kesucian Atman dapat diwujudkan.

Tujuan manusia lahir ke dunia ini adalah menjadikan badan atau sarira ini sebagai alat untuk mencapai empat tujuan hidup. Hal ini dinyatakan dalam Brahma Purana 45.228. Dharma, Artha, Kama, Mokshanam sarira sadhanam. Artinya badan (sarira) ini hendaknya dijadikan alat untuk mendapatkan Dharma, Artha, Kama dan Moksha. Untuk mendapatkan kondisi yang dapat mendorong manusia bijaksana diperlukan upaya penyucian diri.

Penyucian diri itu meliputi membangun kesehatan fisik yang menyentuh kesepuluh alat indria. Selanjutnya membangun kecerdasan pikiran dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam sloka Manawa Dharmasastra yang dikutip di atas adalah makanan suci sebagai salah satu sarana penyucian diri untuk membangun kesehatan alat-alat indria. Sedangkan ilmu pengetahuan yang disebut Jnyana itu sebagai sarana untuk penyucian diri yang pertama.

Bhuwana Kosa menyatakan olmu pengetahuan itu sarana penyucian yang paling utama. Jadinya tirtha pangelukatan dari Pura Selukat itu memiliki makna yang multidimensi dalam membangun hidup yang suci sebagai dasar membangun masyarakat suci. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/9/bd1.htm

Di Balik Sejarah Pura Gumang——–
Yang Dikehendaki Jadi Pemimpin Bukan Rekayasa

Saat I Dewa Gede datang dari Jawa ke Bali tidak banyak penduduk Bali hirau dengan keberadaan I Dewa Gede. Pada mulanya I Dewa Gede ke Bali bukanlah ingin menjadi tokoh. I Dewa Gede ke Bali bertujuan untuk mencari kehidupan yang tenang dan damai. Ternyata di Bukit Juru itulah I Dewa Gede mendapatkan ketenangan hidup sebagai seorang petani biasa. Lebihnya dengan seorang petani biasa hanya melakukan upaya sekala dan niskala secara seimbang dalam hidupnya sebagai seorang petani yang mohon hidup dari usahanya sebagai petani.

============================================================

Sebagai petani I Dewa Gede tidak semata-mata menanam tumbuh-tumbuhan pangan saja. I Dewa Gede juga mengusahakan menanam pohon-pohonan yang di Bali disebut tanem tuwuh. Fungsi tanem tuwuh itu adalah untuk menguatkan tanah sebagai penyimpan air hujan yang turun sesuai dengan musimnya. Dengan usahanya itu muncullah berbagai mata air bahkan sampai muncul sungai yang dapat mengalirkan air sepanjang tahun ke daerah pertanian penduduk.

Usaha I Dewa Gede di samping mengembangkan tanaman pangan dan tanem tuwuh itu disertai dengan melakukan Yoga Semadi setiap hari dan lebih khusus lagi pada hari-hari subha diwasa. Apa yang dilakukan oleh I Dewa Gede itu sangat yakin tidak ada maksud untuk mencari nama dan agar beliau ditokohkan oleh masyarakat. Apa yang beliau lakukan itu sangat yakin tanpa pamerih.

I Dewa Gede melakukan hal itu karena merasakan bersama masyarakat petani betapa beratnya sebagai petani tanpa ada air yang memadai. Panasnya hidup sebagai petani dengan air yang tidak memadai I Dewa Gede bersama dengan masyarakat yang senasib bekerja dan berdoa mengolah alam dengan penuh kasih sayang dan bakti pada Tuhan.

Usahanya bersama masyarakat petani ini ternyata berhasil. Dari keberhasilannya inilah I Dewa Gede dari Jawa ini mendapatkan simpati masyarakat. Beliau pun dijadikan tokoh oleh masyarakat dengan usahanya sukses melestarikan alam. Di alam yang lestari itulah masyarakat dapat membangun kehidupan yang sejahtera.

Inilah hakikat Indra Brata sebagaimana dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra IX.304 dan juga dinyatakan juga dalam kekawin Ramayana sebagai salah satu unsur Asta Brata. Pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang dikehendaki oleh rakyat. Bagaikan air samudera yang menguap karena panasnya matahari. Setelah di angkasa menjadi mendung, terus turun menjadi hujan membuat suburnya tanah dan menjadi sumber kehidupan makhluk hidup di bumi ini.

Demikianlah hakikat Indra Brata yang mestinya dijadikan pegangan dalam kepemimpinan Hindu seperti di Bali ini. Memang seorang pemimpin yang baik bukan yang menghendaki menjadi pemimpin tetapi yang dikehendaki oleh masyarakat luas. Orang yang dikehendaki oleh masyarakat luas.

Orang yang dikehendaki menjadi pemimpin itu bukan dengan merekayasa kehendak rakyat dengan mendadak menaruh belas kasihan pada rakyat serta menghambur-hamburkan uang membantu rakyat. Setelah menjadi pemimpin bergelimangan fasilitas hidup dengan menggunakan uang rakyat.

Dari usaha sekala-niskala I Dewa Gede inilah turunnya karunia Tuhan berupa suburnya daerah Bugbug dan sekitarnya di Karangasem. Inilah yang melatarbelakangi adanya Pura Gumang di Bukit Juru Karangasem. Piodalan di Pura Gumang ini setiap Purnama Sasih Kapat. Penyungsung pura ini ada lima desa yaitu Desa Bubug, Desa Jasi, Desa Bebandem, Desa Datahdan Desa Ngis.

Masyarakat Bugbug yang tinggal di daerah Buleleng pun merasa bertanggung jawab ikut serta ngempon Pura Gumang ini, karena Desa Bugbug sebagai pengempon ngarep dari Pura Gumang. Desa Bugbug tempat Pura Gumang berada terdiri atas tujuh banjar dengan ratusan kepala keluarga. Tidak semua kepala keluarga mendapatkan sawah garapan. Tetapi bagi yang mendapat sawah dengan dialiri air dari sumber mata air dan sungai di Bugbug itu wajib ngayah ke Pura Gumang atau memiliki kewajiban yang lebih dari kepala keluarga yang lainnya.

Sawah-sawah itu memang hak milik pribadi yang dapat dijual kepada pihak lain. Tetapi siapa pun yang memiliki sawah tersebut selanjutnya wajib ngayah yang lebih ke Pura Gumang. Hal ini mungkin menyangkut Pura Gumang yang diyakini sebagai sumber kesuburan dari sawah-sawah yang ada di sekitar daerah Bugbug.

Setiap upacara piodalan pada Purnamaning Sasih Kapat umumnya ada upacara Nyejer selama dua hari. Umumnya Pura-pura yang lainnya nyejer tiga hari sampai sebelas hari. Nyejer tiga hari ini mengandung makna pendakian spiritual dari Bhur Loka menuju Bhuwah Loka dan yang tertinggi mencapai Swah Loka. Tetapi khusus Pura Gumang upacara nyejer-nya cukup dua hari. Dua hari nyejer ini nampaknya sebagai simbol pemujaan bertemunya Purusa Pradana atau bertemunya Lingga dan Yoni.

Pemujaan Purusa dan Pradana atau Lingga Yoni ini sebagai pemujaan untuk memohon kesuburan pertanian. Karena itu nyejer dua hari itu sebagai pesan spiritual untuk terus konsisten melakukan upaya yang seimbang menjaga kesuburan daerah pertanian. Katanyejerdalam bahasa Bali artinya terus teguh dan tegak atau konsisten.

Dalam hidup ini memang akan ada saja pasang-surutnya atau suka dukanya. Ada saja kemungkinan hambatan, gangguan dan tantangan. Kalau semuanya itu dihadapi dengan sikap yang nyejer atau teguh dengan konsisten berpegang pada kebenaran dalam melakukan swadharma maka semuanya itu akan menjadi kekuatan tersendiri. Jadinya nyejer itu sebagai pesan spiritual dalam wujud ritual agar umat konsisten pada prinsip-prinsip hidup berdasarkan dharma dalam menghadapi dinamika kehidupan apalagi sebagai petani amat tergantung pada keadaan alam.

Bhagawad Gita II. 15 menyatakan samaduhkhasukham dhiram. Artinya seimbang dan teguhlah menghadapi dinamika suka dan suka. Dalam Subha Sita ada dinyatakan Sukhamdukham Jayate. Artinya, menanglah melawan suka dan duka. Ini artinya kebahagiaan itu adalah berada di atas suka dan duka. Kalau suka sedang menghampiri hidup kita, maka kita pun tidak lupa diri sampai menjadi orang yang sombong egois. Sebaliknya kalau duka yang datang tidak mudah frustrasi dan putus asa menghadapi hidup ini. Jadinya nyejer itu mengingatkan umat untuk bersikap konsisten menghadapi dinamika hidup. * wiana

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2007/9/12/bd1.htm

Pura Gumang di Bukit Juru Karangasem

Varsikamscaturo nasanyatha
Indro’bhipravarsati
, tathabhi-
Varsetsmam
rastra, kamair
Indra
vratam caran.
(Manawa Dhramasastra, IX, 304)

Maksudnya:
Laksana
Dewa Indra menurunkan hujan yang berlimpah selama empat bulan setiap tahun, demikianlah raja menempati kedudukan bagaikan Dewa Indra dengan menghujankan kemakmuran bagi rakyatnya.

KEBERADAAN Pura Gumang di Bukit Juru, Desa Bugbug, Karangasem ada hubungannya dengan adanya mata air yang mengaliri sawah ladang di sekitar Desa Bugbug. Keterangan tertulis yang bernilai sejarah tentang Pura Gumang di Bukit Juru ini memang sampai saat ini masih belum ditemukan. Keterangan tentang pura tersebut hanya didapat dari keterangan orang tua seperti pemangku yang menjadi jan bangul di Pura Gumang dan juga dari tokoh-tokoh masyarakat yang menaruh perhatian tentang agama dan adat Hindu. Cerita itu didapatkan secara turun-temurun.

Menurut cerita rakyat yang dicatat oleh Tim Penelitian Sejarah Pura IHD (kini Unhi) diceritakan sbb: Dahulu kala ada seorang dari Jawa bernama I Dewa Gede datang ke Bali. Saat I Dewa Gede datang ke Bali, masyarakat Bali tidak begitu hirau. Setelah beberapa lama I Dewa Gede berputar-putar di Bali akhirnya menemukan tempat yang sangat menenangkan hatinya. Tempat itu adalah Bukit Juru yang juga bernama Bukit Gumang.

Di tempat itu I Dewa Gede melakukan olah tapa sambil bertani bersama-sama masyarakat setempat. Di daerah Bukit Juru tersebut pertanian mengandalkan air tadah hujan. Upaya menghijaukan Bukit Juru tidak pernah berhenti dilakukan oleh I Dewa Gede. Di samping itu I Dewa Gede dalam melakukan oleh tapa itu senantiasa memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar muncul mata air dan sungai untuk kesuburan pertanian masyarakat di sekitarnya.

Upaya melakukan penghijauan dengan air tadah hujan dan melakukan tapa brata itu akhirnya suatu saat muncullah mata air di Pura Gumang di Bukit Juru sekarang ini. Keberhasilan usaha I Dewa Gede bersama masyarakat petani secara sekala dan niskala ini menyebabkan I Dewa Gede dicintai oleh rakyat. Hal itu berhasil karena waranugraha Hyang Widhi Wasa. Karena adanya waranugraha itulah akhirnya Pura Gumang didirikan di mata air tersebut.

KataGumangkonon berasal daripaiguman” yang artinya musyawarah. Karena setelah I Dewa Gede berhasil menghijaukan Bukit Juru itu dengan upaya sekala dan niskala akhirnya rakyat mengadakan rapat atau dalam bahasa Bali igum untuk mengadakan upacara di Pura Gumang dan memberikan hadiah sapi kepada I Dewa Gede. Saat itu I Dewa Gede diberikan tambahan nama menjadi I Dewa Gede Gumang. Konon sapi-sapi persembahan rakyat itu baru habis setelah pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Sapi-sapi itu habis ditembaki oleh orang-orang Belanda dan Jepang yang suka berburu di Bukit Juru itu.

Ada juga versi lain tentang keberadaan Pura Gumang Bukit Juru ini. Menurut Jero Mangku Nengah Silur, zaman dahulu kala para dewa turun dari Gunung Mahameru di India ke Jawa dan Bali. Di Bali para dewa ke Pulaki, Silayukti, Candidasa. Di Candidasa ini para dewa menemukan air. Air itu atas kehendak para dewa terus menjadi telaga dengan tamannya.

Para dewa ingin bermeditasi dengan dapat melihat Gunung Agung dengan Pura Besakih-nya secara lurus. Ternyata dari Candidasa para dewa tidak dapat melihat Gunung Agung dengan jelas dan lurus. Terus pindah ke Gunung Gundul, ke Bukit Pejenengan.

Ternyata sama juga Gunung Agung tidak bisa dilihat secara baik. Dari dua tempat itu akhirnya berpindah ke Bukit Juru yang berbahadan tiga. Dari Bukit Juru inilah para dewa baru melihat Gunung Agung dengan lurus. Di Bukit Juru inilah para dewa melakukan musyawarah atau dalam bahasa Bali mapaiguman melakukan yoga dan tapa serta mendirikan pura memuja Hyang Widhi di Pura Besakih.

Lewat paiguman itulah Bukit Juru disebut Bukit Gumang. Yang mapaiguman itu adalah para dewa untuk melimpahkan karunianya pada umat yang berusaha memajukan hidupnya, seperti mengembangkan tradisi kehidupan yang agraris. Di Tampaksiring juga ada Pura Gumang yang dilatarbelakangi oleh pertemuan Dewa Indra dengan para dewa untuk menata kehidupan di Bali setelah dapat mengalahkan Maya Denawa.

Dalam mitologi Maya Denawa dinyatakan, di tempat Dewa Indra mapaiguman inilah dibangun Pura Catur Paiguman selanjutnya disebut Pura Gunung di Tampakdiring.

Di Pura Gumang di Bukit Juru Karangasem terdapat beberapa pelinggih utama dan pelengkap. Ada Pelinggih Gedong sebagai stana Ida Batara Gede Gumang yang juga disebut Ida Batara Gede Manik Mas Kecatur. Di kiri-kanan Palinggih Gedong itu agak mundur sedikit terdapat tiga Pelinggih Taksu yang mengapit Pelinggih Gedong. Dua di kiri Gedong dan satu di kanannya. Tiga Pelinggih Taksu tersebut sebagai Pelinggih Taksu Ida Batara Gede Gumang.

Ada Pelinggih Meru Tumpang Tiga sebagai stana Ida Batara Uma saktinya Dewa Siwa. Mengapa Gedong Pelinggih Ida Batara Gede Gumang disebut Ida Batara Gede Manik Mas Kecatur. Hal ini mungkin sebagai bukti bahwa I Dewa Gede itu pemuja Batara Siwa dengan saktinya Sang Catur Dewi.

Dewa Siwa memiliki empat Sakti yaitu Dewi Uma, Dewi Parwati, Dewi Gangga dan Dewi Gauri. Empat Sakti Siwa inilah yang disebut Sang Catur. Dalam kaitannya memuja Tuhan untuk memohon turunnya mata air dan sungai yang mengalir di daerah Bugbug, Jasi, Bebandem, Datah dan Ngis, ada kaitannya dengan cerita turunnya Sungai Gangga dari Sorgaloka dalam cerita Purana di India.

Pendirian pelinggih untuk I Dewa Gede ini tentunya dibuat setelah I Dewa Gede Gumang sudah berbadan niskala dalam statusnya yang sudah menjadi Dewa Pitara. Umumnya roh suci atau Dewan Pitara seorang tokoh dibuatkan pelinggih bukan oleh diri tokoh tersebut, dapat dipastikan dibuat oleh keturunannya atau masyarakat generasi setelah tokoh tersebut sudah berbadan niskala sebagai Dewa Pitara atau Siddha Dewata. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2007/9/12/bd2.htm

Ilmu dan Seni untuk Persembahan

Adanya Gedong Saraswati dan Pelinggih Ida Ratu Bagus Slonding di Pura Merajan Slonding sebagai simbol yang penuh arti. Pura Merajan Slonding sebagai sentral Pura Soring Ambal-ambal melambangkan konsep sentral dalam penataan dunia bawah atau dunia sekala. Untuk menata dunia ini hendaknya dengan ilmu dan seni. Artinya dunia nyata ini harus ditata dengan ilmu pengetahuan dengan menggunakan daya nalar yang cerdas dan fokus. Namun penggunaan daya nalar yang cerdas dan fokus itu sebagai wujud persembahan pada Tuhan. Artinya betapapun hebatnya daya nalar dan kecerdasan manusia tetap berada di bawah kekuasaan Tuhan.

==========================================================

Kuatnya daya nalar dan kecerdasan yang dimiliki manusia itu atas karunia Tuhan. Harus diyakini bahwa Tuhan menurunkan manusia cerdas untuk menata ciptaannya untuk menegakkan Rta dan Dharma. Ini artinya seorang ilmuwan yang cerdas dengan daya nalar yang hebat seyogianya menggunakan kelebihannya itu untuk menjaga amanat Tuhan memelihara kesejahteraan alam dan kesejahteraan sesama manusia di bumi ini secara adil dengan dasar-dasar nilai-nilai kemanusiaan.

Ini artinya ilmu yang membuat orang menjadi pandai, cerdas dan punya daya nalar itu sebagai sarana untuk menyukseskan swadharma yang diamanatkan oleh Tuhan. Salah satu amanat Tuhan adalah menggunakan ilmu pengetahuan atau Widya yang diturunkan itu untuk mengelola ciptaan-Nya.

Penguasaan ilmu pengetahuan itu menurut Kekawin Nitisastra IV.19 bisa menimbulkan kemabukan. Hal inilah yang wajib dihindari oleh manusia yang serius berkecimpung di bidang ilmu pengetahuan. Kalau ada orang yang tidak mabuk oleh ilmu pengetahuan dan lain-lainnya itu yang dikuasainya, orang yang demikian itulah yang disebut manusia utama atau disebut sang Mahardika.

Mahatma Gandhi juga menyatakan bahwailmu tanpa kemanusiaan dapat menimbulkan dosa sosial”. Didirikannya Pelinggih Gedong Saraswati di Pura Merajan Slonding untuk mengingatkan raja dan rakyat agar jangan sampai menyalahgunakan ilmu pengetahuan untuk merusak nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai alam ciptaan Tuhan tersebut. Karena itu dalam upaya untuk mencari dan mendalami ilmu pengetahuan hendaknya dengan memuja Tuhan melalui Dewi Saraswati.

Dengan demikian diharapkan pengembangan ilmu pengetahuan tidak melanggar nilai-nilai spiritual intisari agama. Demikian juga ilmu tersebut seyogianya dikembangkan secara seimbang antara ilmu eksata dan ilmu sosial. Ilmu eksata untuk menata dan memanfaatkan sumber daya alam secara wajar. Artinya ada keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatannya. Tidak semata-mata alam diolah untuk dieksploitasi demi mendapatkan keuntungan sesaat sampai melebihi daya dukung alam tersebut.

Pengembangan ilmu sosial untuk dapat mengelola kehidupan bersama yang setara, bersaudara dan merdeka dalam mengembangkan jati diri sebagai manusia ciptaan Tuhan. Ilmu sosial bukan untuk mengelola masyarakat agar dengan mudah masyarakat diarahkan sesuai dengan kehendak dan ambisi dari segelintir orang yang berkuasa. Ilmu sosial dikembangkan untuk memberdayakan masyarakat agar mandiri dalam membangun kebersamaannya secara demokratis.

Pemujaan Dewi Saraswati bukan sekadar memuja Tuhan sebagai dewinya ilmu pengetahuan. Pemujaan Tuhan sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan justru untuk membatasi penerapan ilmu pengetahuan tersebut agar jangan sampai merusak nilai-nilai kemanusiaan. Karena hakikat manusia adalah Atman. Sedangkan Atman menurut ajaran Upanishad adalah percikan Brahman sendiri. Atau Brahman Atman aikyam.

Hakikat ilmu pengetahuan yang sejati adalah pengetahuan tentang Atman dan Brahman atau Atman Vidya dan Brahma Vidya. Kalau semua ilmu bertumpu dari Atma Vidya dan Brahma Vidya maka penyalahgunaan ilmu pengetahuan tersebut akan menjadi semakin dapat diminimalisasi.

Swami Satya Narayana menyatakan bahwa lembaga pendidikan dewasa ini lebih banyak mengajarkan peserta didik cara mencari nafkah. Seyogianya pendidikan mengajarkan peserta didik cara mengelola hidup yang benar, tentunya termasuk di dalamnya cara mencari nafkah secara benar dan wajar. Dengan memuja Tuhan sebagai Dewi Saraswati akan dapat dicegah ilmu hanya untuk ilmu. Kalau ilmu untuk ilmu dapat merusak nilai-nilai kemanusiaan dan alam.

Di Pura Merajan Slonding Tuhan dipuja sebagai Ida Ratu Bagus Slonding. Ida Ratu Bagus Slonding ini tidak lain adalah sebutan Tuhan sebagai Dewa Kesenian. Seni juga bukan untuk seni. Gamelan Slonding adalah gamelan sakral yang dipentaskan untuk mengantarkan pemujaan pada dewa-dewa manifestasi Tuhan. Dalam konsep Satyam, Siwam, Sundaram yang artinya kebenaran, kesucian dan keindahan terkandung makna bahwa keindahan suatu seni itu harus untuk menegakkan kebenaran dan kesucian. Kalau seni hanya untuk keindahan dapat saja keindahan tersebut melanggar kebenaran, kesucian dan etika moral. Karena dapat saja keindahan itu hanya untuk menyenangkan gejolak hawa nafsu.

Dengan pemujaan Tuhan sebagai Ida Ratu Bagus Slonding berarti pemujaan itu telah memberikan rambu-rambu untuk membatasi seni agar tidak melanggar kebenaran (Satyam) dan kesucian (Siwam). Dengan pandangan ini, di dunia ini pada hakikatnya tidak ada yang benar-benar bebas nilai. Hanya Tuhan-lah yang tidak terbatas. Tentunya tidak semua pihak sependapat dengan pandangan ini. Ada juga yang menyatakan bahwa seni itu bebas nilai. Asalkan untuk seni ukurannya keindahan. Kalau sudah indah dan menyenangkan seni itu sah-sah saja untuk ditampilkan. Pandangan ini dalam era demokrasi boleh-boleh saja. Tetapi menurut ukuran moral Hindu keindahan itu tidak boleh bertentangan dengan Satyam dan Siwam. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/6/6/bd2.htm

Pura Merajan Slonding

Daivadyantam tadiheta.
Pitrayantamna
tad bhavet.
Pitradyantam
tvihamanah.
Ksipram
nasyati sanvayah.
(Manawa Dharmasastra, III.205).

Maksudnya:
Melakukan
pemujaan leluhur (upacara Sradha) hendaknya dilakukan mendahului pemujaan Dewa manifestasi Tuhan. Hendaknya pemujaan leluhur itu jangan berakhir dengan pemujaan leluhur saja. Kalau pemujaan leluhur berhenti pada pemujaan leluhur tidak dilanjutkan dengan pemujaan Dewa, keluarga itu akan cepat hancur bersama keturunannya.

PURA Merajan Slonding tergolong salah satu dari kompleks Pura Besakih yang memiliki kedudukan yang cukup penting. Pura ini terletak di sebelah utara Pura Ulun Kulkul atau masyarakat menyebutnya di sebelah barat Pura Ulun Kulkul. Pura ini tergolong Pura Soring Ambal-ambal. Pura Merajan Slonding adalah bagian dari Merajannya Raja Kesari Warma Dewa.

Meskipun seorang raja yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas di dalam rumah tempat tinggalnya yang disebut istana atau puri selalu ada juga tempat pemujaan leluhur sang raja sebagai hulu dari pekarangan purinya. Seorang raja sebagai kesatria memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang amat berat.

Dalam Manawa Dharmasastra I.89 dinyatakan kewajiban raja sebagai kesatria adalah mengupayakan rasa aman (Raksanam) dan kesejahteraan (Danam) untuk rakyatnya. Karena itu sebagai kesatria diwajiban untuk setiap hari mengupayakan melakukan pemujaan kepada leluhur dan kepada Tuhan, mempelajari Weda, melakukan upacara yadnya dan mengusahakan pengekangan hawa nafsu (wisayeswaprasaktatih).

Karena demikian beratnya tugas-tugas seorang raja akan Merajan tersendiri bagi seorang raja tentunya amat dibutuhkan untuk melakukan kotemplasi spiritual untuk menguatkan diri bagi seorang raja. Di areal Pura Merajan Slonding inilah tempat Merajan Raja Kesari Warma Dewa.

Mengapa pura ini disebut Merajan Slonding. Karena di pura ini sebagai tempat menyimpan suatu alat musik tradisional yang disebut Slonding. Slonding ini adalah sejenis gamelan Bali yang digunakan saat ada upacara keagamaan yang penting di pura ini.

Gamelan Slonding ini disimpan di sebuah Pelinggih Gedong Penyimpenan bertiang enam beratap ijuk. Di Gedong inilah disimpan Gamelan Slonding, lontar, semua pratima dari semua pura yang tergolong Soring Ambal-ambal. Di Gedong ini juga disimpan prasasti Bradah. Sedangkan berbagai busana sakral dengan perlengkapan pura di Soring Ambal-ambal disimpan di Bale Pengangge.

Di samping itu ada juga Pelinggih Gedong Saraswati bertiang empat beratap ijuk. Di Pura Merajan Slonding ini disebutkan sebagai Linggih Ida Ratu Bagus Slonding. Ada juga Balai Piyasan sebagai tempat mengaturkan sesajen kalau ada upacara besar.

Yang cukup menarik perhatian kita adalah mengapa pratima dan berbagai perlengkapan sakral dari Pura Soring Ambal-ambal disimpan di Pura Merajan Slonding. Dari segi praktisnya sepertinya agak janggal. Karena cukup merepotkan. Mengapa tidak cukup disimpan di masing-masing pelinggih dari Pura Soring Ambal-ambal tersebut. Pura Soring Ambal-ambal ini adalah pura sebagai tempat memuja Tuhan yang memberikan jiwa alam bawah.

Disatukannya pratima dan berbagai sarana sakral tersebut sebagai suatu simbol bahwa di alam bawah tersebut meskipun Tuhan diberikan berbagai sebutan yang berbeda-beda namun sumbernya satu yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Berstana Ida Batara Ratu Mas Malilit di Pura Manik Mas, Ida Batara Ananta Bhoga di Pura Bangun Sakti, Ida Batara Basukian di Pura Basukian, Ida Batara Naga Raja atau Naga Tiga di Pura Goa Raja, dstnya.

Sebutan Tuhan sebagai jiwa alam itu hanya untuk mudah membeda-bedakan fungsi dari sumber alam yang dijiwai oleh Tuhan Yang Maha Esa tersebut. Karena semua sumber alam tersebut tidak mungkin dapat berfungsi sebagaimana mestinya tanpa ada kekuatan Tuhan yang memberikan makna.

Ditempatkannya dalam satu tempat semua pratima dan simbol-simbol sakral tersebut di Pura Merajan Slonding nampaknya bukan semata untuk lebih mudah mengamankannya. Tetapi ada makna lain untuk memberikan motivasi pada sang raja agar dalam membangun kemakmuran rakyatnya dengan memberikan perhatian pada unsur-unsur alam yang disimbolkan oleh semua pura di Soring Ambal-ambal.

Setiap ada upacara di masing-masing Pura Soring Ambal-ambal pratima dan simbol-simbol sakral itu pasti diambil melalui prosesi ritual tertentu. Dari Pura Merajan Slonding. Hal ini akan mengingatkan raja dan rakyat apa makna dari masing-masing pemujaan di setiap pura di Soring Ambal-ambal tersebut.

Demikian juga saat mengembalikan tersebut sebagai suatu proses untuk mengingatkan raja dan rakyat secara berulang-ulang apa makna dari pemujaan tersebut. Dengan cara berulang-ulang itu seyogianya pemaknaan pemujaan itu lebih dapat diwujudkan dengan lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari, baik oleh sang raja maupun dari rakyat sendiri.

Demikian juga adanya Gedong Saraswati sebagai suatu sarana untuk mengingatkan raja dan rakyatnya agar dalam mengelola kehidupan bersama dalam wadah negara kerajaan senantiasa menggunakan ilmu pengetahuan suci yang berasal dari ciptaan Tuhan. Weda tersebut juga ibu atau Weda Mata. Karena dari Weda-lah lahirnya dua macam ilmu yaitu Para Widya dan Apara Widya.

Para Widya adalah ilmu pengetahuan rohani dan Apara Widya adalah ilmu pengetahuan duniawi. Dua ilmu atau kalau diterapkan secara seimbang dan terpadu akan dapat membangun kehidupan yang seimbang antara kehidupan rohani dan kehidupan duniawi. Seimbangnya kehidupan rohani dan duniawi itulah yang akan membawa masyarakat bahagia lahir batin.

* I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/6/6/bd1.htm

Pentingnya Berbakti pada Pandita

Di Pura Merajan Kanginan tempat pemujaan Ida Manik Angkeran dan keluarga di kompleks Pura Besakih ada Pelinggih Gedong. Pelinggih tersebut sebagai media pemujaan Mpu Beradah. Mengapa ada Pelinggih Mpu Beradah di Merajan tersebut? Hal ini sebagai wujud bakti Ida Manik Angkeran kepada Mpu Beradah sebagai salah satu orang suci yang berjasa meletakkan dasar sistem hidup kerohanian Hindu di Bali, termasuk di Pura Besakih.

=========================================================

Ida Manik Angkeran, putra Mpu Siddhi Mantra, baik langsung maupun tidak langsung merasakan jasa-jasa para orang-orang. Dengan semakin eksisnya Pura Besakih sebagai hulunya Pulau Bali maka kehidupan keagamaan Hindu di Bali semakin terarah untuk menguatkan alam Bali dan manusia Bali menjadi dua unsur ciptaan Tuhan untuk saling memperkuat dengan manusia Bali sebagai unsur sentralnya.

Sayang konsep-konsep keagamaan Hindu yang terbungkus dalam kemasan kebudayaan Hindu di Bali masih banyak yang belum dipahami oleh umatnya sendiri secara benar sesuai dengan teksnya yang terdapat dalam berbagai pustaka lontar. Karena itu ke depan dalam rangka membangun Bali yang jagathita amat diperlukan untuk memahami isi teks pustaka lontar itu secara benar, utuh dan terpadu.

Dengan demikian berbagai kesalahpahaman tentang berbagai budaya Hindu di Bali akan dapat diatasi tahap demi tahap. Dengan demikian, Bali yang ajeg atau Bali yang jagadhita akan semakin terwujud.

Ida Manik Angkeran sebagai salah satu penyelenggara berbagai kegiatan keagamaan Hindu di Pura Besakih tentunya memiliki kepekaan spiritual untuk menghargai dan berbakti pada orang-orang suci yang pernah berjasa di bidang kerohanian Hindu di Bali. Ida Manik Angkeran memang pernah tergoda terjun ke dunia judian sampai memotong ujung ekor Naga Basuki yang bertatah emas.

Akibat kesalahan beliau itu Ida Manik Angkeran pernah dihukum oleh Naga Basuki. Ida Manik Angkeran dibakar dengan lidah api Naga Basuki hingga menjadi abu. Berkat permohonan ampun Mpu Siddhi Mantra, ayah Ida Manik Angkeran, kepada Naga Basuki akhirnya Ida Manik Angkeran dihidupkan kembali oleh Naga Basuki. Mitologi ini mungkin simbol saja untuk menggambarkan bahwa Ida Manik Angkeran telah mendapatkan penyucian dari Naga Basuki. Naga Basuki itu adalah sebutan Tuhan sebagai Dewanya air yang memberikan keselamatan semua makhluk hidup. Katabasukiartinya rahayu atau selamat.

Air sebagai sarana penyucian disebut Tirtha. Karena itu di Pura Merajan Kanginan ada pelinggih yang disebut Balai Tegeh untuk stana Batara Tirtha. Tirtha inilah yang mungkin sebagai simbol yang telah menyucikan Ida Manik Angkeran dari kebiasaan buruknya main judi. Setelah kebiasaan buruknya itu dapat dihilangkan maka Ida Manik Angkeran menjadi orang yang sangat sungguh-sungguh mengabdi pada umat yang datang ke Besakih mohon peningkatan rohani.

Adanya gedong sebagai Pelinggih Mpu Beradah itu untuk mengingatkan kita bahwa bentuk Resi Yadnya itu secara garis besarnya ada dua yaitu dengan memuja beliau sebagai pandita dengan sosok pribadi yang suci. Dengan pemujaan itu umat akan mendapatkan vibrasi suci dari seorang pandita apa lagi yang benar-benar Sista atau ahli Weda. Bentuk yang kedua dari Resi Yadnya itu adalah dengan wruh ring kalingganing dadi wwang.

Demikian dinyatakan dalam kitab Agastia Parwa. Makna dari teks Agastia Parwa ini adalah dengan setiap hari teratur mendalami kitab suci dengan kitab-kitab sastranya. Kalau setiap hari kita luangkan waktu beberapa saat saja untuk membaca serta merenungkan teks-teks kitab suci atau kitab-kitab sastranya pasti tahap demi tahap kita akan paham akan hakikat hidup sebagai manusia di dunia ini.

Tujuan dari para resi atau pandita menjabarkan mantra-mantra Weda Sruti sabda Tuhan itu menjadi kitab-kitab sastra agar umat pada umumnya dapat lebih mudah memahami isi kitab suci tersebut. Kalau kita dalami ajaran-ajaran kitab sastra Weda yang disusun oleh para resi, itulah sesungguhnya bentuk bakti kita yang lebih utama pada resi. Apalagi setelah secara teratur kita dalami ajaran kitab-kitab sastra itu kita semakin paham akan hakikat hidup ini, itu berarti kita telah wujudkan tujuan para resi menyusun kitab-kitab sastra yang dijabarkan dari mantra-mantra Weda sabda Tuhan tersebut.

Dalam Sarasamuscaya 40 dinyatakan bahwa ada tiga wujud Dharma yaitu segala apa yang diajarkan dalam kitab Sruti sabha Tuhan itu adalah Dharma. Semua yang diajarkan dalam kiab-kitab Smrti juga disebut Dharma. Demikian juga kebiasaan yang dilakukan oleh Sang Sista atau Pandita ahli dalam menjalankan swadharmanya sebagai Pandita yang Sista juga disebut Dharma.

Tradisi Pandita Sista itu ada empat yaitu Sang Satyawadi, artinya orang yang selalu berbicara tentang kebenaran (Satya). Sang Apta adalah orang selalu dapat dipercaya karena tidak pernah bohong, tidak pernah jahat, tidak pernah kasar dan juga tidak pernah memfitnah orang lain. Sang Patirthan, artinya orang yang telah dijadikan tempat memohon penyucian diri oleh umat.

Selanjutnya adalah Sang Panadahan Upadesa, artinya orang yang senantiasa mengembangkan pendidikan kerohanian. Istilah Upadesa menurut Dr. Rajendra Misra artinya pendidikan kerohanian. Demikianlah seyogianya tradisi orang suci atau Sistacara itu. Kalau empat perilaku suci itu sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari orang yang disebut Sang Pandita, maka beliaulah yang dapat disebut Sang Sista dan itu juga dapat disebut perwujudan Dharma.

Ini artinya Dharma itu dapat dilihat dalam tiga wujud yaitu dalam kitab Sruti sabda Tuhan, dalam kitab Smrti hasil renungan para resi dalam menjabarkan ajaran dalam kitab Sruti. Dan yang ketiga adalah Sistacara atau tradisi orang-orang suci dalam empat kebiasaan suci tersebut.

Nampaknya para resi zaman dahulu di Bali seperti kebiasaan beliau Sang Panca Tirtha telah memberikan suri tauladan yang baik dalam melakukan swadharmanya sebagai orang-orang suci. Meskipun beliau berbeda-beda paksa atau sekte atau sampradaya-nya beliau tetap dapat bersatu membangun Bali yang berbudaya dengan sistem religi Weda atau Hindu.

Meskipun ada di antaranya yang agak dekat dengan kekuasaan, tetapi tidak menggunakan kedekatannya dengan kekuasaan itu sebagai media untuk menekan yang lain. Justru letak harga dirinya kalau dapat menghargai pihak lain yang berbeda dengan dirinya. Kita tidak punya harga diri kalau tidak bisa menghargai orang lain. Manusia memang tercipta berbeda dan sama. Ada aspek yang berbeda tetapi ada aspek yang sama. Marilah kita bina hidup bersama di bumi ini dengan paradigma sama dan beda tersebut. * wiana

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2007/5/16/bd2.htm

Pura Merajan Kanginan

Resi yadnya ngarania kapujan ring sang pandita,
muang
sang wruh ring kalingganing dari wwang
(Dikutip dari Agastia Parwa).

Maksudnya:

Resi yadnya namanya berbakti pada beliau Sang Pandita dan mereka yang paham akan hakikat hidup sebagai manusia.

HAKIKAT mengabdi pada kehidupan di dunia ini membutuhkan bimbingan guru yang sudah mencapai tingkatan hidup Pandita Acarya. Berguru pada Pandita Acarya itu bukan semata-mata untuk mendalami sastra kerohanian semata. Demikian juga tujuan belajar bukan semata-mata mencari keterampilan untuk mencari nafkah.

Tujuan berguru adalah agar memiliki kemampuan untuk menjalani hidup yang baik dan benar sesuai dengan norma yang ditetapkan dalam kitab suci. Termasuk di dalamnya berbakti pada guru yang berjasa memberikan kita ilmu dengan sejujur-jujurnya dan juga memberi penerangan jiwa sesuai dengan pertumbuhan diri kita masing-masing.

Demikian jugalah Ida Manik Angkeran, putra Mpu Siddhi Mantra dari Jawa Timur, memiliki tempat pemujaan keluarga di kompleks Pura Besakih yang disebut Merajan Kanginan. Ida Manik Angkeran adalah seorang pengabdi yang tulus untuk ikut serta dalam mengeksistensikan dinamika Pura Besakih sebagai tempat pemujaan umat Hindu di seluruh Bali.

Sebagai pengabdi yang tulus, Ida Manik Angkeran tentunya mendapat bimbingan dari para rohaniwan yang sudah sekaliber Pandita Acarya. Karena itulah di Merajan tempat pemujaan keluarga beliau dibangun juga Pelinggih Gedong yang khusus untuk memuja Mpu Beradah, salah satu guru spiritual Ida Manik Angkeran yang telah mencapai status Pandita Acarya. Merajan ini kemungkinan tidak diberikan sebutan khusus. Umatlah yang kemudian menyebutnya Merajan Kanginan.

Umumnya umat melihat Merajan Ida Manik Angkeran ini terletak di sebelah timur Pura Banua tempat memuja Batara Sri dan juga pusat Jineng atau lumbung umat Hindu di Bali. Sesungguhnya letak Merajan Kanginan ini adalah agak di selatan Pura Banua kalau dilihat dengan alat kompas.

Di Merajan Kanginan ini ada sepuluh pelinggih utama dan pelinggih pelengkap. Lima pelinggih terletak di areal dalam atau jeroan pura dan lima lagi terletak di areal tengah atau jaba tengah. Pelinggih di jeroan pura itu ada Pelinggih Balai Pengaruman dan yang di sebelahnya ada pelinggih yang disebut Gedong Busana di sudut uranus atau keluwan pura.

Di Pelinggih ini ditempatkan berbagai perlengkapan sakral dari semua Pelinggih Pura Merajan Kanginan seperti busana dan perlengkapan lainnya. Di sebelah kiri dari Gedong Busana ini terletak pelinggih yang disebut Balai Tegeh. Pelinggih Balai Tegeh ini bertiang empat dan beratap ijuk.

Fungsi utama Pelinggih Balai Tegeh ini adalah sebagai Pelinggih Batara Tirtha. Umat Hindu di Bali pada zaman dahulu kalau yang daerahnya diserang hama semut umumnya mohon kekuatan spiritual dengan mohon Tirtha di Pura Merajan Kanginan ini sebagai sarana sakral untuk menghilangkan hama semut tersebut.

Di areal dalam atau jeroan pura terdapat Pelinggih Gedong Simpen yaitu pelinggih dengan tiang empat beratap ijuk sebagai Pelinggih untuk Mpu Beradah. Mpu Beradah inilah sebagai salah satu Pandita Acarya dari yang memiliki jasa besar bersama-sama pandita yang lainnya dalam menanamkan kehidupan beragama Hindu di Bali. Di areal jeroan juga terdapat pelinggih yang disebut Balai Pengaruman sebagai tempat menata berbagai keperluan upacara yang bertujuan untuk menjaga kesucian Pura Merajan Kanginan tersebut.

Di jaba tengah Pura Merajan Kanginan ini terdapat Pelinggih Pelengkap yaitu ada Balai Paebatan, dapur, Bebaturan, Balai Gong dan Balai Kulkul. Meskipun semuanya itu sebagai bangunan pelengkap, tetapi semuanya memiliki nilai yang tinggi sebagai media untuk mengembangan kehidupan yang berkualitas.

Misalnya ada balai paebatan dan agar dalam menyiapkan berbagai sarana yang berupa makanan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Salah satu syarat yadnya yang disebut Satvika Yadnya menurut Bhagawad Gita XVII.13 adalah adanya suguhan makanan yang disebut srsta annam, artinya makanan yang Satvika.

Dalam tradisi Hindu di India adanya suguhan makanan dalam setiap ada upacara yadnya disebut anna seva. Karena dalam Manawa Dharmasastra ada dinyatakan bahwa betapa pun besar dan mahalnya suatu upacara yadnya kalau ada orang yang kelaparan di sekitar upacara yadnya tersebut maka yadnya tersebut tidak akan berhasil meraih karunia Tuhan. Hal inilah yang menyebabkan umat Hindu setiap melangsungkan upacara yadnya selalu disertai dengan jamuan makanan kepada para atithi yadnya atau tamu yang hadir diundang dalam upacara yadnya tersebut.

Adanya dapur dan balai paebatan di pura tersebut untuk menyiapkan berbagai keperluan upacara yadnya baik sebagai sarana kelengkapan upacara maupun untuk menjamu para tamu upacara. Tujuan adanya dapur dan balai paebatan itu untuk menyiapkan agar makanan tersebut makanan suci atau Satvika Ahara.

 Melalui simbol dapur suci dan balai paebatan itu diharapkan umat agar dalam mencari makanan dan juga menyiapkan makanan menggunakan cara-cara yang dibenarkan oleh dharma dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya saat ada upacara saja umat menyiapkan makanan dengan cara-cara yang suci, tetapi justru upacara itu sebagai proses memotivasi umat agar dalam kehidupannya sehari-hari justru selalu mencari dan juga memilih dan menyiapkan makanan dengan cara-cara yang suci.

 Demikian juga adanya Balai Kulkul dan Balai Gong di pura tersebut memiliki makna yang dalam juga. Balai Kulkul itu sebagai simbol untuk mengupayakan terpeliharanya keamanan atau santiraksa. Salah satu tujuan berbakti pada Tuhan adalah untuk mengembangkan upaya bersama untuk bisa menciptakan rasa aman dan damai dalam kehidupan bersama itu.

 Dalam Manawa Dharmasastra pun pada Ksatria diwajibkan oleh Hyang Widhi agar berusaha untuk memberikan rasa aman (Raksanam) dan sejahtera (Dhanam) kepada masyarakat (Praja). Rasa aman dan sejahtera dalam masyarakat merupakan kebutuhan hidup yang paling utama dalam kehidupan di dunia ini.

 Demikian juga adanya Balai Gong di Jaba Tengah Pura Merajan Kanginan ini sebagai simbol adanya keindahan dari seni dalam mewujudkan ajaran agama. Umat Hindu mengenai ajaran Satyam, Siwam dan Sundaram. Maksudnya agar umat menggunakan kesenian yang indah itu (Sundaram) untuk mewujudkan kebenaran (Satyam) dan kesucian (Siwam). Keindahan seni akan mubazir kalau bukan untuk Satyam dan Siwam.

 · I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2007/5/16/bd1.htm

Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan
Tempat Mohon ”Mertha”

Keberadaan Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan pada awalnya merupakan Pura Hulun Swi atau Pura Bedugul panyungsungan krama subak. Tetapi, kini pura yang berada di perbukitan Dusun Dangin Pangkung Jangu, Poh Santen, Mendoyo ini menjadi pura penyungsungan umat Hindu yang ada di Jembrana dan Bali. Bagaimana asal-usul pura tersebut?

===========================================================

Menurut I Wayan Sentra, salah seorang penglingsir Desa Poh Santen, ditemukannya Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan berawal dari keadaan Subak Pecelengan Pedukuhan dan Babakan Poh Santen. Ketika itu, subak lanus tidak pernah menghasilkan (mertha). Selain itu sawah juga diganggu babi berkepala kuning.

Klian Subak I Gusti Made Rebah bersama krama lalu mohon petunjuk di Pura Hulun Swi Pura Bedugul Pecelengan Pedukuhan. Di sana mereka mendapat pawisik, kalau ingin mendapat mertha, pergilah ke utara ke hutan Pasatan. Di sana ada batu besar yang diapit pohon plawa dan andong. Di tempat itulah krama diminta melakukan pemujaan dan permohonan sesuai dengan keinginan.

Krama subak pun berjalan ke tengah hutan dan menemukan tempat yang dimaksud dalam pawisik. Tempat tersebut pertama kali ditemukan Kumpi Sabda. Setelah beristirahat sejenak, mereka pun bersembahyang. Saat bersembahyang, muncul sinar dari batu besar yang membuat kaget krama subak. Usai sembahyang, mereka nunas tirta dan pulang kembali ke rumah.

Sejak saat itu, wilayah Pesubakan Pecelengan Pedukuhan dan Babakan Poh Santen mulai menampakkan hasil.

Sebagai wujud syukur dan rasa bakti, krama subak pun rutin melakukan persembahyangan di tempat tersebut. Pembangunan pertama dilakukan di batu besar yang memancarkan sinar. Sebagai pemangku pertama ditunjuklah Kumpi Sabda pada tahun 1755. Untuk seterusnya, keturunan Kumpi Sabda-lah yang menjadi pemangku yakni Pan Toyo, Pan Sider dan kini I Wayan Geder.

Sentra menambahkan, sekitar tahun 1939, hutan Pasatan masih merupakan hutan rimba. Belum ada jalan menuju pura. Seiring perkembangan zaman, hutan pun mulai dibuka. ”Pada tahun 1953 hutan mulai dibuka. Kepada yang membuka hutan, kami minta wilayah pura seluas timur barat 20 depa dan utara selatan 50 depa jangan diganggu. Setelah itu, pada tahun 1971 dilakukan rehab pura secara swadaya,” tandas penglingsir yang menjadi klian subak ketiga di Subak Pedukuhan Pecelengan ini.

Selanjutnya pura ini dijadikan Pura Pesimpangan Hulun Danu untuk memuliakan dan memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudan Dewi Sri yang memberi kesejahteraan bagi masyarakat. Berikutnya, pura ini disebut Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan ini.

Pujawali di Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan jatuh pada Anggara Kliwon (Anggarkasih) Julungwangi. Setiap tahun sekali, krama subak mengaturkan sarin tahun dan setiap tiga tahun sekali menyelenggarakan ngusabha.

Sebagai pendukung untuk melaksanakan pujawali, Raja Jembrana ke-7 Anak Agung Bagus Negara memberikan satu petak tegal seluas 1985 ha sebagai pelaba pura. Berikutnya, bukan hanya krama subak yang sembahyang di Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan, warga dari Mendoyo Dangin Tukad, Pergung dan Yeh Kuning pun datang mengaturkan bakti. Saat ini Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan memiliki beberapa pelinggih di antaranya pelinggih  Dewa Ayu Mesari Merthan Jagat, Tedung Jagat, Hulun Danu Idewa, Taksu, Padma, Meru dan Pepelik Ratu Nyoman.

Bendesa Pakraman Poh Santen I Gusti Agung Komang Suryadiasa menambahkan, pengempon Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan adalah Subak Ketengking, Semanggon serta Pedukuhan/Pecelengan, sedangkan pekandelnya krama Desa Pakraman Poh Santen.

Pengempon dan pekandel saat ini tengah merencanakan pembangunan Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan. Wakil Bendesa Pakraman Poh Santen I Made Sarka ditunjuk sebagai ketua umum panitia pembangunan. Dia didampingi beberapa pengurus dan anggota

Sejarah Pasatan

Terkait sejarah Pasatan, ada pawisik yang diterima I Wayan Kendra, sadeg atau pembantu pemangku. Dia mendapatkan pawisik itu tidak berurutan namun setelah dirangkai menjadi suatu yang berkaitan.

Rangkaian tersebut berawal dari Batari Hyang Dewi Dhanuh berkeliling Bali. Dalam perjalanan di Bali bagian Barat ditemukan perbukitan yang kering (kasat) karena tak ada air. Beliau pun berlaku sebagai pertapa bergelar Hyang Bahu Daha atau Hyang Bahu Dari. Dari yoganya itu, muncul air dari gunung. Air yang mengalir ke utara menjadi sumber air panas, sedangkan yang ke selatan berupa air dingin yang mengairi sawah.

”Beliau juga mayoga mohon putra. Dari yoganya itu muncul dua putra dari bahu. Salah satunya bernama Hyang Dukuh Sakti Pacekan. Anaknya ini kemudian berjalan ke bukit. Di sebuah batu besar. Hyang Dukuh Sakti Pacekan menancapkan batang plawa dan andong yang diberikan oleh ibunya. Saat itu juga ada sabda, kapan batu yang diapit plawa dan andong ini ditemukan, maka lokasinya akan menjadi khayangan jagat,” tutur sadeg yang biasa disapa Mangku Partini ini.

Kisah mengenai babi berkepala kuning ternyata diyakini oleh krama subak. Babi tersebut merupakan ancangan Hyang Dukuh Sakti Pacekan. Karena itulah, menurut Mangku Partini, saat pujawali di Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan, tidak diperkenankan mengaturkan daging babi. Babi itu ancangan Hyang Dukuh Sakti Pacekan.

Dia juga menceritakan pawisik mengenai keberadaan Danghyang Nirarta dalam kaitan dengan Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan. Suatu ketika, Danghyang Nirarta kehilangan putrinya. Dalam pencarian tersebut, Danghyang Nirarta bertemu dengan orang tua berpakaian putih yang memberinya petunjuk untuk berjalan di utara bukit. Orang tua itu adalah penguasa yang bergelar Hyang Dukuh Sakti Pacekan.

Singkat cerita, Danghyang Nirarta pun menemukan putrinya Ida Ayu Swabhawa duduk sambil menangis di batu besar yang diapit pohon plawa dan andong. Kepada ayahnya, Ida Ayu Swabhawa mohon ampun dan mohon diberi kasujatmika (ilmu rahasia kepanditaan) untuk menebus doa. Keinginan ini pun dipenuhi Danghyang Nirarta. Sesudah diberikan ilmu itu, Ida Ayu Swabhawa menggaib. Di tempat itu pula Danghyang Nirarta menanam batu mustika yang memancarkan lima warna sesuai arah mata angin.

Danghyang Nirarta juga bersabda, ”Karena ananda tidak mau kembali, terus menangis di atas batu sampai batu tersebut basah, air mata ananda sebagai Merthan Jagat, Tedung Jagat, Hulun Danu Idewa dan kapan batu yang diapit oleh pohon plawa dan andong itu diketemukan, tempat ini supaya dijadikan panyungsungan jagat.”

Mangku Partini menambahkan, plawa yang berasal dari kata ”pal” berarti kawitan, sedangkan andong berasal dari kata ”anda” dan ”ong” yang merupakan sastra suci.

Sementara itu, lontar Puri Agung Negara juga mencantumkan keberadaan Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan. Pada saat Anak Agung Ngurah Jembrana memerintah, beliau memiliki dua putra yakni Anak Agung Gde Agung dan Anak Agung Made Ngurah.

Setelah dua tahun pernikahan, Anak Agung Made Ngurah tidak juga dikaruniai putra. Anak Agung Ngurah Jembrana lalu menyelenggarakan pemujaan di Pura Taman Sari, Batu Agung, Negara. Dalam pawisik yang diterima, Anak Agung Made Ngurah diminta pergi ke hutan Pasatan dan mencari sebuah pelinggih yang sudah rusak. Bila menemukan pelinggih tersebut, bersemedilah mohon kepada Sang Hyang Widhi agar dianugerahi putra.

Pawisik ini kemudian disampaikan kepada Anak Agung Made Ngurah yang selanjutnya berangkat bersama rakyatnya pada tahun 1745. Setelah menempuh perjalanan sambil berburu, mereka masuk hutan yang penuh pacet. Meski demikian, perjalanan tetap dilakukan sampai Anak Agung Made Ngurah menemukan pelinggih yang dimaksud. Dia pun bersemedi dan memperoleh firasat, keinginannya mendapatkan putra akan terwujud. Putra yang lahir itu diberi nama Anak Agung Putu Pasatan. (wah)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/8/23/bd1.htm

Memfungsikan Sumber Daya Alam

Trini chandamsi kavayo viyatire.
Puru upam darsatam visvacaksanam
Apo vata osadhayastani
Ekasmin bhuvana arpitani.
(Atharvaveda XVIII.I.17)

Maksudnya :
Orang bijaksana menganggap tiga benda yang utama menutupi alam semesta terutama bumi ini. Bentuknya berbeda-beda tetapi saling melengkapi. Tiga hal itu adalah air, udara dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan. Tiga benda ini tersedia di setiap dunia.

DALAM Chanakya Nitisastra ada istilah Triji Ratna Permata yang artinya ada tiga ratna permata bumi yaitu air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. Orang bodoh akan menganggap emas perak atau batu-batuan di bumi itu sebagai ratna permata. Dalam kutipan Atharvaveda di atas ada Trini Chanda yang bermakna ada tiga yang indah bersinar di bumi ini yaitu air, udara dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan serta obat-obatan sebagai tiga yang membuat bumi ini indah dan bersinar sejuk.

Memang kalau air, udara dan tumbuh-tumbuhan itu rusak keberadaannya di bumi ini semua makhluk hidup terutama umat manusia akan hidup penuh derita, hati manusia pun tidak cerah bersinar dalam menghadapi hidup. Dalam ajaran Hindu banyak cara untuk menanamkan agar manusia yakin dan paham bahwa tiga sumber alam itu sangatlah penting untuk dihormati, dipelihara dan dilindungi dari pencemaran. Karena hidup ini akan tidak indah kalau tiga sumber alam itu tidak berfungsi dengan baik karena ulah manusia.

Salah satu cara orang-orang suci yang memiliki kemampuan spiritual akan memperoleh imajinasi karena mampu berkomunikasi dengan alam niskala dengan sangat meyakinkan. Orang-orang suci zaman dahulu di Bali dengan kemampuan imajinasi yang menembus aspek sekala dan niskala menyusun suatu cerita-cerita yang bernuansa mistik religius.

Misalnya dalam Lontar Prekempa Pura Hulun Danu Batur ada diceritakan tentang berdirinya Pura Luhur Pasatan di Banjar Dangin Pangkung Jangu Desa Pohsanten Kecamatan Mendoyo, Jembrana. Cuplikan singkat cerita dalam lontar tersebut dimuat dalam diktat tentang berdirinya Pura Luhur Pasatan yang disusun oleh Panitia Pembangunan Pura Dang Kahyangan Luhur Pasatan.

Dalam diktat tersebut terdapat cukilan singkat Lontar Prekempa Pura Hulun Danu Batur tentang kisah Pura Pasatan tersebut. Diceritakan tatkala kehidupan sosial ekonomi dan budaya rakyat Bali belum stabil Batari Hyang Dewi Dhanuh yang berstana di Pura Hulun Danu Batur itu berkeliling di seluruh Bali. Saat beliau berada di bagian barat Pulau Bali di suatu perbukitan dalam keadaan sangat kering. Keadaan kering tiadanya air itu dalam bahasa Bali disebut kasatan. Hal itu menyebabkan Batari Hyang Dewi Dhanuh sangat kasihan pada rakyat Bali. Karena tanpa air hidup ini akan menjadi tak bersinar. Batari Hyang Dewi Dhanuh pun melakukan tapa brata dengan bergelar Hyang Bahu Daha atau Hyang Bahu Dhari. Kata bahu dalam bahasa Sansekerta artinya banyak dan daha artinya terbakar. Maksudnya Hyang Dewi Dhanuh itu melakukan olah tapa brata untuk mengeksistensikan kesucian (Hyang) beliau untuk mengatasi kekeringan areal yang keadaannya bagaikan terbakar.

Dari kekuatan tapa brata  Dewi Dhanuh itu muncul gempa yang dahsyat. Saat itulah Dewi Dhanuh sebagai Hyang Bahu Daha memohon kepada Yang Mahakuasa agar berkenan menciptakan sumber air. Atas olah tapa brata Hyang Bahu Daha itulah Hyang Mahakuasa menciptakan sumber air. Air yang mengalir ke sebelan utara perbukitan yang mulanya kering itu menjadi sumber air panas. Sedangkan yang ke selatan menjadi sumber air dingin. Sumber air yang ke selatan inilah menjadi sumber air untuk mengairi sawah dan ladang.

Dalam kisah Tirthayatra Danghyang Dwijendra salah satu episodenya mengisahkan Danghyang Dwijendra sedang berusaha mencari istri dan putra-putrinya di Bali Barat beliau ketemu sebuah perbukitan yang bernama Penguwungan. Di bukit inilah beliau beristirahat. Saat istirahat itu beliau berusaha melakukan konsentrasi rohani untuk segera dapat menemukan istri dan putra-putrinya.

Tiba-tiba muncul orang tua berpakaian serba putih. Atas pertanyaan Danhyang Dwijendra beliau menyatakan pada zaman dahulu beliau itu adalah penguasa di daerah tersebut dengan gelar ”Ki Dukuh Sakti Pacekan”. Danghyang Dwijendra mendapat petunjuk dari Ki Dukuh Sakti Pacekan agar Danghyang Dwijendra mencari putra dan putrinya di utara bukit Penguwungan. Setelah memberi petunjuk Ki Dukuh Sakti Pacekan gaib.

Petunjuk itu pun diikuti oleh Danghyang Dwijendra dan memang ketemu sebuah perbukitan kering. Di perbukitan yang kasatan atau kering itu ada dua pohon tumbuh tertancap yaitu pohon plawa dan pohon andong yang dahulu ditancapkan oleh Ki Dukuh Sakti Pacekan. Di tempat itulah putra dan putrinya diketemukan. Di perbukitan itu putri Danghyang Dwijendra menangis sampai air mata beliau membasahi batu tersebut. Atas kesidian Danghyang Dwijendra air mata putrinya itu menjadi Merthan Jagat.

Di areal batu itu Danghyang Dwijendra menanam ”Batu Mustika” yang memancarkan lima warna kelima arah penjuru angin. Di tempat inilah kemudian dibangun Pura Luhur Pasatan. Mungkin karena ada sumber air perbukitan yang mulanya kering itu menjadi subur maka memancarlah areal yang rindang karena pepohonan, dari daerah yang subur itulah memancarkan sumber kehidupan yang manjanjikan.

Upacara Pujawali di Pura Luhur Pasatan pada Anggar Kasih Julung Wangi. Di Pura Luhur Pasatan terdapat pelinggih Padma Sari, Meru Tumpang Telu sebagai palinggih utama untuk memuja Ida Batara saat meraga Purusa atau Adyatmika Suksma. Di samping pelinggih Meru Tumpang Tiga di areal jeroan pura terdapat pelinggih Sri Sadana, Ulun Danu, Taksu dan pelinggih pelengkap lainnya. Tiga pelinggih inilah sebagai perwujudan Ida Batara secara Wahya atau nyata dalam menuntun umatnya yang bakti mendapatkan kehidupan yang sejahtera lahir batin. Karena itu sistem pemujaan Hindu selalu dengan konsep Wahya dan Adyatmika. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/8/23/bd2.htm

Pura Puncak Penulisan

Posted by Adnyana under Pura di Bangli

Hawa dingin menulang merajam tubuh siang itu, di kawasan Kintamani. Kabut tipis mulai turun, menyaputi pepohonan. Seorang pengendara sepeda motor menuju arah Tejakula, Buleleng Timur, berhenti di sebelah kanan jalan menuju Desa Sukawana-Singaraja-Kintamani. Wanita yang dibonceng turun, diam sejenak sebelum akhirnya menuju tempat suci di sebelah kanan jalan. Itulah Pura Puncak Panulisan. “Kami terbiasa bila pulang ke Buleleng lewat Kintamani, berhenti sejenak di sini,” tutur Luh Putu Agustini, ibu dua putri dari Desa Pacung, Tejakula, itu.

Pura Pucak Panulisan di Desa Sukawana, Kintamani, Bangli, memang kerap disinggahi orang-orang. Tak sebatas orang Bali, juga tetamu asing yang berkunjung ke Bali.
Tempat suci berjarak kira-kira 70 km dari Denpasar ini memiliki banyak sebutan. Ada menamakan Pura Panarajon, ada pula menamai Pura Tegeh Koripan. Karena letaknya di Bukit Panulisan, orang-orang pun kebanyakan menyebut Pura Pucak Panulisan.

Secara garis besar kompleks pura ini menghadap ke selatan, kecuali pura utama yang mengarah ke barat. Pada halaman utama (jeroan) tersimpan tinggalan-tinggalan dari masa prasejarah hingga Bali Kuno.

Berpijak dari struktur bangunan, pura ini menganut perpaduan dua konsep. Pertama dari masa megalitik yang tercermin lewat konsep Gunung Suci dan terealisasikan dari wujud bangunan teras piramida, bertingkat-tingkat. Konsep kedua tergambar dalam Sapta Loka, tampak dari struktur tingkatan pura, terdiri dari tujuh tingkatan teras utama yang dihubungkan anak-anak tangga. Pada tingkat ketiga yaitu pada tingkat Swah Loka, terdapat dua palinggih kecil, Pura Dana dan Pura Taman Dana. Pada tingkat keempat, di bagian Maya Loka, di sebelah timur jalan, ditempatkan Pura Ratu Penyarikan, dan di sebelah barat terdapat pemujaan keluarga Dadya Bujangga.

Tingkatan keenam, Tapa Loka, berdiri Pura Ratu Daha Tua. Adapun tingkatan ketujuh (Sunya Loka) merupakan pucak Pura Tegeh Koripan. Di sini ada palinggih pangaruman, piyasan, serta gedong sebagai tempat menyimpan benda-benda purbakala.

Belum jelas, kapan sejatinya pura ini mulai dibangun. Tim Universitas Udayana yang meneliti pura ini tahun 1992 tak mendapatkan kebenderangan sejarah awal pendirian pura. Benda-benda purbakala yang tersimpan di sana tak satu pun menjelaskan perihal sejarah awal pendirian pura ini, termasuk nama Panarajon ataupun Koripan. Para peneliti hanya menyimpulkan kesamaan kata pucak, tegeh, dan panarajon yang disebut berasal dari kata tuju, berarti tinggi.

Prasasti Sukawana A-1 berangka tahun 804 Saka (882 M) yang telah dibaca arkeolog R Goris pun dinilai tak memberikan kepastian perihal Pura Pucak Panulisan ini. Prasasti ini memang menyebutkan bahwa di Bukit Cintamani (Kintamani) ada bangunan suci bernama Ulan kurang mendapat perhatian dan sering dijadikan tempat persinggahan, peristirahatan anak atar (para pengalu). Bangunan tersebut mendapat perhatian khusus penguasa Bali kala itu, lalu ditugaskanlah Senapati Danda yang dijabat Kumpi Marodaya dibantu beberapa bhiksu, yakni Siwakangcita, Siwanirmmala, dan Siwaprajna membangun kembali tempat suci ini.

Dalam buku Keadaan Pura-pura di Bali, Goris juga menyinggung kehadiran Pura Pucak Panulisan. Ilmuwan Belanda yang meninggal di Bali ini menyebutkan pusat kerajaan pada zaman Bali Kuna terletak di Bedulu, Pejeng. Sebagai Pura Panataran sekaligus pemujaan awal terjadinya kehidupan di Bali, Goris menunjuk Pura Penataran Sasih di Intaran, Pejeng, Gianyar. Pura tempat memuja roh suci leluhur adalah Pura Pucak Panulisan, di Kintamani, Bangli, sedangkan sebagai pura laut kemungkinan berlokasi di Desa Pejeng berupa Pura Puser Tasik.

Menilik lokasi pura di atas bukit dengan sistematika teras piramida ditambah dengan tinggalan-tinggalan megalitik, dapat diduga kuat dari dulu pura ini menjadi tempat pemujaan bagi warga desa-desa Bali Aga di Kintamani, selain sebagai tempat pemujaan roh leluhur, terutama raja-raja Bali Kuna. Ini dibuktikan dengan arca-arca perwujudan, seperti Arca Bhatari Mandul yang merupakan perwujudan Raja Anak Wungsu. “Ada beragam cerita terkait keberadaan Pura Pucak Panulisan. Tapi saya sendiri belum mendapatkan kepastian mana yang benar,” urai Jero Kubayan Kiwa, Kubayan di Pura Pucak Panulisan.

Pernah ada yang menghubungkan keberadaan pura ini dengan Pura Batukaru di Tabanan. Konon, Ida Batara di Pucak Panulisan dengan Pura Batukaru bersaudara. Semula dibangun sad kahyangan di Pucak Sukawana ini, setelah rajeg di Panulisan baru membangun di Pucak Batukaru. Di kedua pura ini wewenang spiritual paling tinggi memang dipegang “pejabat” yang dinamakan Jero Kubayan. Termasuk saat berlangsung upacara besar, tak mempergunakan pandita atau sulinggih layaknya di beberapa pura sad kahyangan di Bali.

Khusus di Pura Pucak Panulisan ada dua Kubayan, yakni Kubayan Kiwa dan Kubayan Mucuk. Keduanya bertugas mengantarkan bakti krama yang menghaturkan sembah. Jero Kubayan ini memiliki senjata berwujud golok dipergunakan sebagai alat saat ngendag, mulai memotong lis waktu digelar upacara. Saat menghaturkan bakti mempergunakan mantra, dinamakan puja sana.

Dalam struktur kemasyarakatan Sukawana, yang disebut ulu apad, kubayan adalah jabatan tertinggi. Di bawahnya ada krama panglanan, naka, nyingguk, dan kabau. Jabatan kubayan dipilih masyarakat dan hanya diganti bila yang bersangkutan sudah punya kumpi (cicit). Bila tak berketurunan, seperi Kubayan Kiwa kini, jabatan kubayan akan dipegang sampai meninggal. Mereka tak punya luputan (dispensasi) khusus, terkecuali saat pamadegan, pelantikan secara niskala, sepenuhnya jadi tanggung jawab warga Desa Sukawana.

Arca Ida Batara di Pucak Panulisan kini tersimpan di Pura Bale Agung Sukawana, pada Meru Tumpang Lima. Langkah ini diambil tak lepas dari upaya krama Sukawana mencegah terjadinya pencurian, mengingat lokasi pura dengan tempat tinggal warga amat berjauhan. “Setelah warga kami mohonkan secara niskala ke hadapan Ida Batara, diizinkan disimpan di Desa Sukawana,” tambah Jero Kubayan Istri Kiwa.

Arca ini akan diusung ke Pura Pucak saban sepuluh tahun sekali, saat digelar upacara pacaruan agung bersaranakan empat kerbau dan seekor kijang. Ida Batara distanakan di pangaruman. Adapun tiap tahun, bertepatan dengan Purnama Kapat, hanya digelar upacara bertingkat alit, sederhana, dengan binatang kurban seekor kijang dan kerbau.

Yang bertanggung jawab terhadap segala kegiatan upacara adalah warga gebug domas. Terbagi atas 200 kepala keluarga (KK) dari Sukawana, Kintamani 200, Selulung 200, dan Desa Bantang 200. Masing-masing anggota gebug domas membawahi beberapa desa yang bila dikumpulkan seluruhnya mencapai 30 desa. Sebagai pamucuk, penanggung jawab inti, tetap krama Desa Sukawana. Manakala ada kekurangan sarana upacara merekalah yang melengkapi.

Dulu, bila upacara hanya bersaranakan kijang, penanggung jawab cukup dari warga Sukawana. Desa lain hanya mabakti. Bila upacara besar sepuluh tahun sekali barulah warga gebug domas turun semua.

Sejak tahun 1950-an ada pergeseran. Mungkin karena rasa bakti warga yang semakin tebal ditambah keinginan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan piodalan bertambah tinggi, maka tiap kali ada piodalan di Pura Pucak krama gebung domas ikut terlibat langsung. Mereka mengeluarkan urunan dana dan rerampe-reramon disesuaikan dengan kekayaan di desa masing-masing. Desa Selulung, misalkan, banyak punya bambu, maka masyarakatnya menghaturkan bambu.

Dulu, sebut Jero Kubayan Kiwa, piodalan yang digelar tiap tahun hanya menghaturkan seekor kijang. Sejak tahun 1950-an selain kijang juga dikurbankan seekor kerbau. “Itu boleh saja asalkan dengan keyakinan penuh dan sesuai kemampuan. Jangan sampai upacara dengan kurban besar justru keyakinan pada kebesaran Hyang Widhi melorot. Percuma jadinya,” Jero Kubayan mengingatkan.

Saat upacara ngebo papat juga dilaksanakan upacara pakelem bebek putih dan ayam putih di Pura Pucak Panulisan. Bebek dilengkapi kalung uang kepeng 22 keping, sedangkan ayam 11 keping. Leher bebek juga dikalungi surat yang menyatakan Desa Sukawana melaksanakan wali Ida Batara nyatur muka. Pakelem dilaksanakan di depan palinggih, pada tempat khusus berupa lesung.

“Ada kalanya lubang lesung kelihatan, ada kalanya tidak. Meskipun kecil, tapi bisa menampung semua sarana upacara yang akan dijadikan pakelem. Ini sulit dicerna akal sehat, memang,” tutur Kubayan Kiwa. I Wayan Sucipta

===

Lingga Purba, Siwa, Ganesa

Pura Pucak Panulisan tak hanya berfungsi sebagai tempat memuja keagungan Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Siwa Natha. Dari lokasi berketinggian 1.745 m dari permukaan laut ini orang bisa mengetahui jejak sejarah Bali tempo dulu.

Di tempat ini tersimpan ratusan peninggalan purbakala, artefak arkeologis.yang mampu memberikan gambaran apa dan bagaimana Bali dalam beberapa periode. Mulai dari zaman prasejarah hingga era pengaruh Hindu. Ini peninggalan para moyang yang memikat minat para peneliti, sejarawan, arkeolog dalam dan luar negeri. Mereka mencoba mengungkap berbagai ‘misteri’ di balik arti benda-benda bersejarah tersebut.

Beberapa peninggalan yang hingga kini tersimpan rapi di Puncak Panulisan, di antaranya batu peninggalan masa megalitik, satu batu berhiaskan bulan dan matahari, sebuah perwujudan Batara Brahma, tiga arca berpasangan, dua lingga perwujudan berpasangan, satu arca Ganesa, beberapa miniatur candi sebagai simbolis gunung tempat berstana para dewa atau roh suci.

Tersimpan pula ratusan lingga tak berpasangan dengan bentuk berbeda-beda. Ada utuh, tak jarang tinggal beberapa bagian tubuh saja. Secara keseluruhan lingga-lingga itu merupakan simbol Siwa. Tinggalan kuno ini saban malam dijaga warga dari Sukawana yang makemit bergilir di pura.

Berbagai kesimpulan mencuat dari para ilmuwan dalam maupun luar negeri perihal tinggalan purbakala di Pucak Panulisan. Dr WF Sturterheim dalam buku Oudheden Van Bali I-II tahun 1929-1930 menyebutkan, peninggalan purbakala yang tersimpan di Pucak Panulisan berasal dari era jayanya kerajaan Bali Kuno. Ini dihubungkan dengan ditemukan beberapa prasasti yang berhubungan dengan kehidupan Bali masa itu. Sebut, misalkan, prasasti berangka tahun 999 saka (1077 M) dan tahun 1352 Saka (1436 M).

Kebenaran tersebut diperkuat lagi dengan ditemukannya arca laki perempuan yang di belakangnya terdapat prasasti sebagai pratista Raja Udayana Warmadewa dengan Gunapriyadarmapatni. Raja ini menduduki tahta kerajaan di Bali sekitar tahun 911-933 Saka. Sedangkan arca wanita dengan sikap berdiri di belakangnya menyebut nama Batari Mandul, diperkirakan sebagai pratista permaisuri Raja Anak Wungsu yang tak berputra.

Tim Peneliti Fakultas Sastra Unud tahun 1922 menemukan, arca berpasangan (laki-perempuan) bermahkota karanda makuta dan memakai anting-anting berbentuk pilinan rambut, bertinggi 92 cm. Di bagian bawah ada prasasti bertuliskan angka tahun 933 Saka (1026 M), yang dipahat Mpu Bga pada hari pasar wijaya manggala. Berdasarkan angka tahun yang tertuang pada prasasti serta dikaitkan dengan persamaan unsur badaniahnya, maka peninggalan ini termasuk dalam periode Bali Kuno (abad ke-11).
Kemudian ada arca wanita berdiri dengan tinggi 154 cm yang terbuat dari batu padas. Pada bagian belakang sandaran ada terpahat prasasti menggunakan huruf Kadiri Kuadarat. Prasasti tersebut menyebut Batarai Mandul dan angka tahun 999 Saka (1077 M). Langgam serta angka tahun prasasti ini masuk periode Bali Kuno (abad ke-11).

Ada pula arca laki-laki berdiri dengan sikap tangan kanan dijulurkan ke bawah sejajar badan dan tangan kiri ditekuk ke depan. Arca ini oleh peneliti Unud diperkirakan terbuat pada masa Bali Madya (abad ke-13).
Selain arca Batari Mandul, di sini juga terdapat arca perwujudan Dewa Brahma, dengan atribut empat muka, atau caturmuka. Dewa yang kerap dihubungkan dengan caturmuka memang Dewa Brahma. Arca ini juga membawa kuncup bunga yang merupakan benda pelepasan. Ciri badaniah serta karakter agak kekaku-kakuan ini diperkirkan terbuat era Bali Madya (abad ke-13).

Di Pucak Panulisan juga tersimpan arca Dewa Ganesa dengan ciri berkepala gajah, berbadan manusia dengan perut buncit, bertangan empat, dan memiliki satu taring. Di belakang kepala Ganesa terpahat hiasan dedaunan. Dari ciri badaniah yang dimiliki, diperkirakan arca Ganesa ini tergolong ke dalam periode Bali Madya (abad ke-13).

I Gusti Ngurah Agung Wiratemaja, dalam karya tulis Pura Tegeh Koripan, Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Bangli (Kajian Kosepsi) menyebutkan, ada satu ciri kental yang menunjukkan tokoh yang digambarkan ini merupakan keluarga Dewa Siwa. Terbukti dengan adanya mata ketiga di antara kening, selain adanya beberapa lingga tunggal maupun lingga berpasangan sebagai simbol Dewa Siwa yang tersimpan di Pura Puncak Panulisan. WS

http://okanila.brinkster.net/mediaFull.asp?ID=775

http://www.parisada.org/index.php?Itemid=74&id=611&option=com_content&task=view

 

Pura Tanah Lot

Posted by Adnyana under Pura di Tabanan

Pura Tanah Lot ini terletak di Pantai Selatan Pulau Bali yaitu di wilayah kecamatan Kediri, Kabupaten Daerah Tingkat II Tabanan, yang pembangunannya erat kaitannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha di Pulau Bali. Di sini Danghyang Nirartha pernah menginap satu malam dalam perjalanannya menuju daerah Badung dan kemudian ditempat inilah oleh orang-orang yang pernah menghadap kepadaDanghyang Nirartha dibangun bangunan suci (Pura atau Kahyangan) sebagai tempat memuliakan dan memuja Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa ) untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan.

Pura atau Kahyangan ini diberi nama “Pura Pekendungan” yang sekarang lebih dikenal dengan “ Pura Tanah Lot” sebagai salah satu penyungsungan jagat,. Sekarang Pura atau Kahyangan ini sangat terkenal diseluruh Nusantara, malahan tidak mustahil diseluruh dunia, karena merupakan salah satu obyek wisata di pulau Bali yang sering memperoleh kunjungan. . Mereka yang berkunjung ke Pura atau Kahyanagn ini bukan saja wisatawan domestik, akan tetapi tidak jang juga wisatawan dari Luar Negeri.

Bagaimana ikwal perjalanan Danghyang Nirartha tatkala berkeliling di Pulau Bali dan sampai ditempat ini, dapat dijumpai didalam Dwijendra Tatwa yang menguraikan dan dapat disarikan sebagai berikut : Pada suatu waktu Danghyang Niratha datang kembali ke Pura Rambut Siwi di dalam perjalanan beliau kelilling pulau Bali, dimana dahulu tatkala beliau baru tiba di Bali dari Brambangan (Blambangan) pada sekitar tahun icaka 1411 atau tahun 1489 M beliau pernah singgah di tempat ini. Setelah berada di Pura Rambut Siwi untuk beberapa lama, kemudian beliau melanjutkan perjalanannya menunju arah Purwa (Timur) dan sebelum berangkat paginya Danghyang Niratha melakukan sembahyang “Surya Cewana” bersama orang-orang yang ada disana. Sesudah menyiratkan (memercikkan )tirtha terhadap orang orang yang ikut melakukan persembahyangan , lalu Danghyang Nirartha kelaur daridalam Pura Rambut Siwi berjalan menuju arah ke Timur. Perjalanan beliau ini menyusuri pantai Selatan pulau Bali dengan diiring oleh beberapa orang yang teraut cinta bhaktinya kepada Danghyang Nirartha.

Dalam perjalannya ini Danghyang Nirartha dapat menyaksikan bagaimana deburan ombak laut menerpa pantai menambah keindahan alam yang sangat mengasyikkan. Terbayang oleh beliau bagaimana kebesaran Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa ) yang telah menciptakan alam semesta dengan segala isinya yang dapat membrikan kehidupan bagi manusia. Dalam hati beliau Dangyang Nirartha membisikkan bahwa menjadi bahwa menjadi kewajiban setiap makluk di dunia ini terutama manusia untuk menyampaikan parama sukmaning idep terhadap sanghyang Wudhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ) karena beliau telah berkenan menciptakan segalanya itu. Karena asyik memperhatikan dan memandang keindahan alam dengan segala isinya, sampai –sampai Dangyang Nirartha tidak merasakan kelelahan didalam perjalanan beliau ini.

Sebagaimana biasanya di dalam perjalanan Danghyang Nirartha senantiasa membawa lontar dan pengrupak (pisau raut untuk menulis pada daun lontar ) sehingga apa-apa yang diangap penting baik yang dilihat maupun yang dirasakan kemudian disusun dalam bentuk kekawin atau gubahan lainnya. Demikian pula mengenai perjalanannya dari Pura Rambut Siwi ini, sehingga karena asyiknya beliau memperhatikan serta memandang dan memikirkan segala sesuatu yang dipandang penting dan akan digubah, tahu-tahu Danghyang Niratha sudah sampai pada suatu tempat di pantai Selatan dipantai Selatan pulau Bali. Di pantai ini terdapat sebuah pulau kecil yang terdiri dari tanah parangan ( tanah keras) dan disinilah Danghyang Nirartha berhennti dan beristirahat.

Tidak antara lama Dangyang Nirartha beristirahat disana,maka berdatanganlah kesana para nelayan untuk menghadap kepada Danghyang Nirartha sambil membawa berbagai persembahan untuk diaturkan kepada beliau. Kemudian setelah sore hari, paranelayan tersebut memohon kepada Danghyang Nirartha agar beliau berkenan bermalam dipondok mereka masing- masing, namun permohonannya ini semua ditolak oleh Danghyang Nirartha, karena beliau lebih senang bermalam di pulau kecil itu. Disamping hawanya segar, juga pemandangannya sangat indah dan dari sana belaiu dapat melepaskan pandangan secara bebas kesemua arah.

Pada malam harinya sebelum Danghyang Nirartha beristirahat, beliau memberikan ajaran-ajaran seperti agama,susila da ajaran kebajikan lainnya kepada orang-orang yang datang menghadap ke sana.. Tatkala itu Danghyang Nirartha menasehatkan kepada orang-orang itu untuk membangun Parhyangan ( Pura atau Kahyangan ) disana karena menurut getaran bhatin beliau yang suci serta petunjuk gaib bahwa tempat itu baik untuk tempat memuja Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang maha Esa ) . dari tempat ini kemudian rakyat dapat memuja kebesaran sanghyang Widhi Wasa ( Tuhan YangMaha Esa ) untuk memohon wara nugrahaNya keselamatan dan kesejahteraan dunia.

Demikian antara lain nasehat Danghyang Nirartha kepada orang-orang yang mengahadap pada malam hari itu, yang akhirnya sesudah Danghyang Nirartha meninggalkan tenpat itu, kemudian oleh orang-orang tersebut dibangunlah sebiuah bangunan suci ( Pura atau Kahyangan ) yang diberi nama “Pura Pakendungan “ yang kini lebih dikenal dengan sebutan “Pura Tanah Lot “.

Source :   Pemda Bali

http://okanila.brinkster.net/mediaFull.asp?ID=796

Meningkatkan Kewaspadaan di Pura Bakungan

Latar belakang keberadaan Pura Bakungan di Desa Gilimanuk Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana patut dijadikan renungan untuk menatap masa depan yang lebih waspada dalam hidup ini. Akibat kecurigaan I Gusti Ngurah Pecangakan atas undangan adiknya, dia berpesan yang salah kepada patihnya. Seandainya I Gusti Ngurah Pecangakan tidak mudah curiga pada undangan adiknya, atau menyelidikan terlebih dahulu apa maksudnya I Gusti Ngurah Bakungan mengundang, mungkin peristiwa yang menyedihkan itu tidak akan terjadi. Mengapa sejarah Pura Bakungan ini perlu diungkap lagi? Pelajaran apa yang kita dapat di balik Pura Bakungan itu?

====================================================

Dalam kehidupan bermasyarakat banyak terjadi permusuhan atau kesalahpahaman karena kekurangwaspadaan menerima informasi. Jangankan informasi itu bersifat lisan, yang tertulis pun perlu dianalisis dan direnungkan terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan. Ketidakwaspadaan I Gusti Ngurah Pecangakan disertai juga ketidakhati-hatian I Gusti Ngurah Pancoran sebagai Manca Agung menerima pesan dan melihat kenyataan.

Pesan I Gusti Ngurah Pecangakan dan kenyataannya ada kuda berdarah-darah tidak dianalisis dengan logika dan diadakan pengecekan pada pesan yang kenyataan tersebut. Menetapkan suatu keputusan dan memberikan pesan kepada kerabat kerajaan I Gusti Ngurah Pecangakan tidak melalui proses analisis yang memadai. Hanya berdasarkan kecurigaan. Padahal keputusan tersebut amat strategis karena menentukan nasib sebuah kerajaan.

Demikian juga I Gusti Ngurah Pancoran sebagai Manca Agung saat memutuskan bahwa kuda yang berdarah-darah itu sudah pasti darah kakaknya, tidak melalui proses analisis. Padahal keputusan itu sebelum ditetapkan seyogianya melalui analisis. Sejauh mana keadaan kuda yang belepotan darah. Apa tidak sebaiknya dijajaji dahulu keberadaan I Gusti Ngurah Pecangakan apa memang sudah mati dalam pertempuran atau tidak. Hal inilah yang tidak dilakukan. Semuanya lalai tidak waspada, akibatnya dua bersaudara menjadi bermusuhan dan dua kerajaan hancur berantakan.

Kelalaian inilah yang patut direnungkan sebagai latar belakang keberadaan Pura Bakungan. Meskipun hal ini sebagai pengalaman buruk, namun dari pengalaman itu dapat dipetik hikmahnya agar jangan terulang pada diri kita maupun generasi seterusnya.

Untuk mengambil suatu keputusan dalam hidup ini memang ada hal-hal yang wajib kita lakukan sebelumnya. Lebih-lebih di Bali yang keberadaan daerahnya sempit, namun banyak hal yang memuat orang tertarik pada Bali. Ibarat wanita cantik banyak pemuda yang menaruh hati padanya. Dalam menetapkan suatu kebijakan, apalagi yang menyangkut nasib Bali ke depan wajib kita analisis dengan sebaik-baiknya. Kalau salah cara menetapkan suatu kebijakan umat manusia bisa kehilangan Bali yang sebenarnya.

Untuk mengambil suatu keputusan Resi Patanjali menyatakan ada lima tahapan yang wajib dilakukan yakni Tarka artinya segala sesuatunya wajib diperdebatkan terlebih dahulu. Di Bali ada istilah ruang musuhin. Maksudnya segala sesuatu sebelum diambil keputusan wajib dilihat apa baiknya dan apa juga buruknya. Menyangkut ajaran Tarka ini hendaknya tidak disamakan dengan bertengkar. Nirwitarka maksudnya adalah setelah diperdebatkan, maka hasil perdebatan itu direnungkan kembali.

Sawicara artinya hasil renungan tersebut lebih lanjut dianalisis dengan secermat mungkin. Selanjutnya Nirwicara artinya hasil analisis itu kembali direnungkan juga secara mendalam. Tahap akhir barulah Samanta, artinya diambil keputusan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Lima tahapan itulah yang semestinya dilakukan dalam mengambil suatu keputusan, lebih-lebih menyangkut hal-hal yang mengandung risiko besar, apalagi menyangkut kepentingan orang banyak.

Dalam Lontar Siwa Budhagama Tattwa ada juga ajaran untuk mengambil suatu keputusan dengan melakukan lima tahapan yaitu Maya, Upeksa, Indrajala, Wikrama dan Lokika. Maya artinya segala sesuatu data yang masih kabur hendaknya dibuat jelas. Atau tahapan pengumpulan data. Upeksa artinya data yang sudah jelas itu dianalisis dengan cermat. Indrajala artinya hendaknya dari data yang telah teranalisis itu diambil beberapa kesimpulan untuk dianalisis kembali berbagai segi positif dan negatifnya. Wikrama artinya bertindak.

Salah satu dari beberapa kesimpulan dalam proses Indrajala itu harus ditetapkan untuk dilaksanakan. Selanjutnya dilaksanakan dan diyakini paling sedikit segi negatifnya berdasarkan hasil analisis tersebut. Lokika artinya dalam bertindak melaksanakan keputusan yang ditetapkan itu hendaknya selalu berdasarkan pertimbangan logika atau akal sehat.

Demikian beberapa konsep pemikiran dalam Susastra Hindu yang wajib kita renungkan dalam setiap mengambil keputusan, apalagi menyangkut hal-hal yang mengandung risiko besar dan dampak sosialnya yang luas.

Keberadaan Pura Bakungan dapat dijadikan media untuk membangun kewaspadaan diri dan sosial dalam menata berbagai aspek kehidupan. Di samping itu dua bersaudara yaitu I Gusti Ngurah Pecangakan dan adiknya I Gusti Ngurah Bakungan setelah perang tanding sama-sama menyadari kelalaiannya sebagai pemimpin. Kesadaran akan kelalaiannya itu menyebabkan dua kerajaan menjadi bermusuhan dan menyebabkan penderitaan rakyat.

Kesadaran itu menyebabkan dua bersaudara itu mohon agar Dewata mem-pralina dirinya. Hal itu sebagai rasa tanggung jawab atas kesalahannya. Hal itu sebagai sifat kesatria, seperti kebiasaan pemimpin di Jepang mundur diri kalau merasa gagal. Ini maksudnya untuk memberi kesempatan kepada orang lain demi kepentingan orang banyak.

Sifat kesatria seperti itu perlu direnungkan agar jangan pemimpin yang jelas sudah gagal tetap memaksakan diri bercokol menjadi pemimpin hanya untuk mendapatkan fasilitas hidup enak. Permohonan dua bersaudara I Gusti Ngurah Pecangakan dan I Gusti Ngurah Bakungan itu bukanlah suatu kekonyolan, tetapi suatu penyerahan diri kepada Hyang Widhi atas kelalaiannya untuk mendapatkan perbaikan.

Ke depan sifat kesatria seperti itu tentunya tidak mesti diwujudkan dengan cara bunuh diri. Akan lebih indah dengan mundur diri kalau memang sudah nyata-nyata gagal sebagai pemimpin. * wiana

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2007/9/5/bd2.htm

Pura Bakungan di Gilimanuk

Agnir jagara tam rcah kamayante
agnir
jagara tamu samani yanti
agnir
jagara tam ayam soma aha.
Tava
asmi sakhye nyokah.
(Rgveda V.44.15).

Maksudnya:
Hyang
Agni selalu menuntun kewaspadaan dengan mengkidungkan Rgveda dengan penuh kasih. Hyang Agni menuntun dengan mengkidungkan Samaveda sebagai Pandita, Agni selalu menuntun kewaspadaan. Sang Hyang Soma mengaku bersalah dan mohon maaf karena lalai dalam menemani Sang Hyang Agni.

WASPADA pada setiap langkah dalam menjalani kehidupan ini wajib dikembangkan agar kita bisa terhindar dari berbagai derita mungkin menimpa diri kita dalam hidup ini. Tanpa kewaspadaan manusia akan sering mengalami berbagai derita yang tidak perlu karena kurang waspada dalam melangkah dalam hidup ini.

Pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Agni memiliki makna yang luas. Salah satu adalah Agni sebagai simbol pemberi penerangan jiwa. Bahkan, dalam Bhagawad Gita IV.19 dinyatakan sebagai Jnyana Agni. Artinya ilmu pengetahuan suci itu bagaikan sinar Sang Hyang Agni yang dapat memberi penerangan jiwa sehingga setiap langkah yang ditapak dalam hidup ini selalu tepat dan benar.

Mereka yang hidupnya senantiasa disinari oleh Jnyana Agni atau sinar ilmu pengetahuan dapat disebut Pandita. Karena dengan Jnyana Agni tersebut seseorang dapat melakukan Niskama Karma atau berbuat baik dengan tulus ikhlas tanpa pamerih. Orang yang hidupnya disinari oleh ilmu pengetahuan suci akan selalu waspada dalam setiap melangkah dalam hidupnya. Meskipun demikian Nitisastra mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan dapat membuat orang mabuk dan kehilangan diri karena salah caranya memahami ilmu pengetahuan itu.

Keberadaan Pura Bakungan di Desa Gilimanuk Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana sebagai pura untuk mengingatkan kita agar jangan sampai kehilangan kewaspadaan dalam melakukan berbagai kebijakan dalam hidup ini. Di wilayah Pura Bakungan sekarang tersebut pada zaman dahulu adalah tempat berdirinya Kerajaan Bakungan. Kerajaan yang berpusat di Desa Gilimanuk itu lenyap karena hal yang amat sepele. Hanya karena ketidakwaspadaanlah kerajaan tersebut menjadi hilang.

Pada awal abad XIV Masehi Bali berada di bawah kekuasaan Majapahit. Saat itu Sri Aji Dalem Krsna Kepakisan sebagai raja pertama dengan pusat kerajaan di Samprangan Gianyar. Untuk menjaga ketertiban kerajaan, Gajah Mada menugaskan seorang Arya dari Pejarakan bertugas di Jembrana bernama Arya Malel Cengkong yang menganut Hindu Wisnu Murti.

Setelah Arya Malel Cengkong, usur beliau digantikan oleh keturunannya yaitu I Gusti Ngurah Gede Pecangakan dengan mendirikan istana di daerah yang banyak burung bangau karena itu disebut Pecangakan. I Gusti Ngurah Gede Pecangakan ini dianugerahi kuda putih oleh Ida Dalem.

Putranya yang kedua bernama I Gusti Ngurah Bakungan mendirikan istana di daerah Bakungan di sekitar daerah Cekik Gilimanuk. Daerah Bakungan ini terletak di tepi sungai yang banyak tumbuh bunga bakung. Putranya yang ketiga I Gusti Ngurah Pancoran menjabat sebagai Manca Agung di Puri Pecangakan.

Demikian cerita rakyat yang dikutip oleh Ni Ketut Sriasih dalam tulisannya tentang Fungsi Pura Bakungan (2001). Pemerintahan kedua kakak beradik ini berhasil membuat daerah Jembrana sejahtera. I Gusti Ngurah Bakungan sesungguhnya juga ingin memiliki kuda putih yang bernama Jaran Rana anugerah Ida Dalem.

Setelah beberapa lama I Gusti Ngurah Bakungan mengadakan upacara Dewa Yadnya dan mengundang kakaknya, I Gusti Ngurah Pecangakan. Undangan ini dilakukan di samping karena tradisi berupacara yadnya memang semestinya demikian juga didorong oleh rasa rindu seorang adik pada kakaknya. Namun I Gusti Ngurah Pecangakan agak curiga karena adiknya pernah didengar menginginkan kuda putih Jaran Rana pemberian Ida Dalem. Atas kecurigaan itu, I Gusti Ngurah Pecangakan sebelum menghadiri undangan adiknya berpesan kepada Manca Agung yang juga adiknya.

Isi pesannya kalau kuda putihnya itu pulang ke Pecangakan dalam keadaan berdarah-darah itu berarti I Gusti Ngurah Pecangakan tewas dalam pertempuran. Kalau begitu keadaannya agar semua penghuni puri masatia bela pati.

Semua kekayaan puri agar ditanam di dalam tanah. Selanjutnya I Gusti Ngurah Pecangakan pun berangkat menuju Bakungan. Di Bakungan, I Gusti Ngurah Pecangakan disambut meriah oleh adiknya karena undangan tersebut didasarkan oleh rasa rindu dan tulus ikhlas sebagai seorang adik pada kakaknya, sama sekali tidak ada tujuan yang tidak baik. Di Puri Bakungan diadakanlah penyemblihan berbagai hewan korban untuk upacara yadnya.

Kuda putih yang dibawa oleh I Gusti Ngurah Pecangakan ketakutan melihat adanya hewan-hewan yang disemblih itu. Kuda tersebut takut dirinya ikut disemblih. Kuda itu pun beringas terus lepas dari kandangnya berlari ke sana ke mari. Saat berlari itulah kuda putih menabrak daging hewan yang disemblih dan masih penuh darah itu. Karena menabrak daging yang masih penuh darah itu kuda putih basah kuyup oleh darah dari daging hewan. Kuda itu lari terus pulang ke Pecangakan dalam keadaan dibasahi darah. Wanita penghuni Puri Pecangakan sebagian besar masatia bela pati.

Manca Agung mengubur kekayaan puri dan dengan tentara Pecangakan menyerang Bakungan. Karena itu timbul kesalahpahaman antara I Gusti Ngurah Pecangakan dengan adiknya. Terjadilah perang tanding yang tidak ada akhirnya. Karena sama-sama kuat, akhirnya kakak beradik ini mohon kepada dewata agar mereka berdua di-pralina. Kedua kakak beradik itu lenyap di dua pulau kembar di daerah Jembrana.

Untuk mengenang kakak beradik itulah keturunannya mendirikan Pura Bakungan untuk menstanakan roh suci (Dewa Pitara) Raja Bakungan dengan pelinggih di sudut timur laut jeroan Pura Bakungan. Sedangkan di barat lautnya ada pelinggih stana Patih Agung. Di jaba tengah di sudut barat laut terdapat Pelinggih Dewa Mas Pengadangan. Karena itu banyak umat yang mohon keselamatan perjalanan di Pura Bakungan ini dengan mohon tirtha di Pelinggih Dewa Mas Pengadangan dan juga mohon agar usaha dapat berhasil. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2007/9/5/bd1.htm