Pura Luhur Jati Luwih sebagai Sarinya Buana
Pura Luhur Jati Luwih sebagai Sarinya Buana
Di pedalaman hutan Batukaru, pada ketinggian sekitar seribu meter, disembunyikan oleh rimbunnya pepohonan dan dinginnya udara pegunungan, berdiri sebuah pura yang sederhana, Pura Luhur Jati Luwih. Namun pura ini memiliki makna yang sangat istimewa bagi sebagian besar warga Tabanan. Bahkan, pura ini layak dinyatakan sebagai sarinya buana, karena terkait dengan kesuburan jagat serta tempat memohon kesejahteraan. Sejarah pendirian pura ini, sesuai dengan cerita rakyat yang diyakini kebenarannya sangat unik, apa itu?
======================================================
PURA Luhur Jati Luwih berlokasi di wilayah Desa Adat Sarin Buana, Desa Wanagiri, Selemadeg, Tabanan. Berada di tengah-tengah hutan lindung pada sisi sebelah tenggara punggung Gunung Batukaru dengan ketinggian sekitar seribu meter di atas permukaan laut, beriklim pegunungan yang dingin, dengan kelembaban udara yang cukup tinggi.
Pura ini diperkirakan telah berdiri pada abad ke-9 sampai 12 Masehi. Untuk mencapainya, para pamedek dapat melalui jalan raya jalur Denpasar-Gilimanuk, belok ke kanan jurusan Bajera Pupuan Sawah-Wanagiri hingga mencapai Desa Adat Sarin Buana. Dari Desa Sarin Buana kita harus memasuki hutan lindung lebih dari 3 km dengan kemiringan sekitar 45 derajat untuk mencapai pura ini.
Sangat sedikit sumber maupun catatan pengkajian yang mengungkap pendirian Pura Jati Luwih. Sumber yang dapat dikumpulkan melalui penuturan dari pemuka masyarakat, pemangku pura dan pelinggih-pelinggih yang ada, serta tata upacara yang berlaku di pura tersebut. Berdasarkan penuturan Jero Mangku Gede (I Wayan Menteg) yang diyakini kebenarannya secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar, pada zaman dahulu, masyarakat yang bermukim di lereng Gunung Batukaru, khususnya masyarakat di sekitar wilayah pura, mengalami kemarau panjang sehingga lahan pertanian kering tidak menghasilkan. Masyarakat pun mengalami kelaparan oleh peristiwa itu.
Dengan harapan untuk bertahan hidup, sebagian masyarakat masuk ke hutan untuk berburu maupun mendapatkan beberapa bahan makanan. Beberapa di antaranya kawehan (mengalami kehilangan pandangan normal dan mengalami penglihatan gaib) dan melihat sawah yang padinya menguning dan sebuah rumah indah. Oleh sang kakek yang menjadi pemilik rumah dan padi itu, warga tersebut diajak singgah ke rumah.
Di sana warga yang berburu itu diberi beberapa helai bulir bibit padi gaga (tegalan) dan berpesan agar padi tersebut ditanam dan dikembangkan di desanya. Setelah menerima bibit padi, tiba-tiba kakek tersebut menghilang seketika dan rumah yang bagus tersebut kini berubah menjadi bebaturan dalam kesadaran yang pulih dari pemburu tersebut.
Bibit padi tersebut ternyata berkembang dengan baik dan di tempat bebaturan itu didirikan pelinggih untuk mengupacarai setelah padi menguning atau menjelang panen. Pelinggih tersebut diberi nama Pucak Sari. Pura Pucak Sari adalah pura yang pertama didirikan untuk penunasan amerta. Tempat itu diberi tanda dengan pelawa yang ditancapkan. Sementara desa di mana bibit padi itu ditanam dikenal oleh masyarakat sebagai Desa Sarin Buana yang memiliki arti tempat sari-sarinya buana atau inti sari bumi yang memberi sumber kehidupan dan kemakmuran.
Dikatakan Jero Mangku Gede, sebelum zaman kerajaan di Tabanan, Pura Luhur Jati Luwih dikenal dengan Pura Luhur Sarin Buana, sama dengan nama desa adat sebagai pengempon pura tersebut. Mulai pada zaman kerajaan, nama Pura Sarin Buana diubah menjadi Pura Luhur Jati Luwih untuk tidak mengaburkan nama Pura Sarin Buana dengan nama Desa Adat Sarin Buana.
Pura Luhur Jati Luwih berarti pura yang berada di atas, di dataran tinggi, yang benar-benar utama, mulia atau baik (luwih). Menurut keyakinan masyarakat setempat, Pura Luhur Jati Luwih juga bermakna tempat suci yang benar-benar selalu memberikan kebaikan dan kesejatian dari hal yang dimohon pada tempat ini.
Dalam perjalanan sejarah, ternyata Pura Luhur Jati Luwih mengalami beberapa kali renovasi sehingga banyak bukti kepurbakalaan hilang. Seingat pemangku pura, pemugaran yang diketahuinya pertama dilakukan tahun 1971, disusul dengan pemugaran kedua tahun 1978 dan pemugaran ketiga tahun 1993. Berdasarkan cerita, bentuk asli pelinggih sebelum dipugar adalah berbentuk bebaturan yang berundak dengan batu menhir tertancap pada sisi-sisi samping ruang altar pemujaan.
Dari pengkajian yang dilakukan termasuk oleh Bappeda Tabanan disimpulkan, bangunan asli pelinggih Pura Luhur Jati Luwih merupakan bangunan zaman batu besar (megalitikum) dengan tradisi kebudayaan Hindu klasik. Di antara delapan buah pelinggih yang berjajar menghadap ke selatan hanya satu buah yang masih berbentuk bebaturan hingga kini yaitu pelinggih paling timur untuk pemujaan Ida Batari Pemutering Danu (Ulun Danu).
Sementara bangunan pelinggih lainnya telah diganti dengan bangunan pelinggih gegedongan yaitu gedong kereb dua buah sebagai pelinggih pokok untuk penghayatan ke Pucak Kedaton dan Pelinggih Agung Ida Batara Luhur Jati Luwih. Sedangkan lima buah pelinggih lainnya berbentuk gedong sekapat makereb duk masing-masing beruangan satu.
Ada satu pelinggih penghayatan ke Majapahit berupa Padma Capak Alit, menggambarkan pura tersebut mengalami proses perkembangan dari satu periode ke periode lainnya, dari zaman kuno hingga adanya pengaruh Jawa, yang diperkirakan zaman Mpu Kuturan sebagai tokoh suci sekaligus arsitek penataan pura di Bali.
Uniknya seluruh pelinggih yang ada berupa bangunan pendek-pendek, berbeda dengan pura lainnya di Bali yang menjulang tinggi. Dari peninggalan sejarah dan konsep pemujaan di pura itu, diperkirakan Pura Jati Luwih dibangun zaman Apaniyaga yaitu peralihan zaman Bali Aga ke zaman pengaruh Jawa sekitar abad ke-9 sampai 12 Masehi. Peninggalan sejarah berupa prasasti yang terdapat di Desa Sarin Buana bertahun Caka 1103, zaman pemerintahan Raja Jaya Pangus.
Bukti penunjuk lain, juga terdapat peninggalan sejarah yang tersimpan di Pura Siwa Desa Adat Sarin Buana berupa batu berbentuk kepala babi dan beberapa buah gong serta peralatan upacara berupa bajra atau genta. Dari bukti tersebut, menunjukkan Pura Luhur Jati Luwih merupakan pura yang cukup tua dengan karakteristik pemujaan pada puncak gunung sebagai purusa dan ulun danu sebagai pradana. Masyarakat pendukung telah mengenal sistem pertanian dan menetap dalam lingkungan desa pakraman.
Sejak dulu, pura ini dibina atau diayomi langsung oleh Puri Agung Tabanan dan pangenceng dari pura ini adalah Jero Subamia Tabanan yang pada zaman kerajaan sebagai patihnya Raja Tabanan. (upi)
Tempat Memohon ”Jejaton”
PURA Jati Luwih memiliki fungsi ganda, di samping memohon keselamatan dan kerahayuan jagat, juga sebagai tempat untuk memohon keselamatan dan kemakmuran di bidang pertanian. Juga sebagai tempat ngerastiti dalam memohon keselamatan tanaman pangan dari gangguan hama dan memohon turun hujan.
Penyungsung Pura Luhur Jati Luwih di samping Desa Adat Sarin Buana, juga krama subak dengan luas wilayah yang cukup besar, terdiri atas lima subak pekandelan dan 35 pekaseh subak. Karakter khusus lainnya dari pura ini adalah sebagai tempat untuk memohon sartana (jejaton) beras apabila ada upacara besar. Jejaton ini di wilayah Tabanan disebut nguwub.
Pura ini masih berhubungan dengan Pura Pucak Kedaton Batukaru dan Pura Pucak Sari yang ada di Desa Adat Sarin Buana. Di samping itu juga Pura Siwa yang berlokasi di Desa Sarin Buana merupakan tempat penyawangan dan penyimpanan benda pusaka yang masih ada hubungannya dengan pura ini. Di utama mandala pura ini terdapat delapan buah pelinggih serta empat bangunan suci sebagai penyangga.
Pelinggih paling timur merupakan pelinggih kuno berupa bebaturan untuk pemujaan Hyang Pemuterin Danu. Pelinggih Gedong Alit Saka Pat Rong Tunggal sebagai penghayatan ke Gunung Agung, selanjutnya pelinggih sama penghayatan ke Pucak Sari.
Pelinggih utama berupa pemujaan kepada Ida Batara Luhur Jati Luwih berupa pelinggih Gedong Saka Pat Rong Tunggal, terdapat juga pelinggih penghayatan Ida Batara Lingsir Putus di Pucak Kedaton Batukaru, Ida Batara Ayu Padangluwah, Ida Batara Turun Gunung, pelinggih Padma Capah pemujaan Ida Batara Mas Pahit. Juga masih ada beberapa pelinggih lainnya.
Hal yang menarik yang terdapat di jaba tengah berupa bekas bangunan lumbung padi bersaka empat tempat penyimpanan padi dari subak-subak penungsung dahulunya. Sekitar 400 meter dari pura ini terdapat pelinggih Taman Beji yang terletak di timur laut Pura Luhur Jati Luwih dengan pelinggih berupa bebaturan dengan air pancuran yang keluar dari bilahan batu padas.
Untuk saat ini, direncanakan akan dilakukan rehab terhadap pura yang masih tampak sederhana dengan pagar pembatas hidup, tanpa tembok penyengker ini. Penglingsir Jero Subamia IGG Putra Wirasana selaku penganceng mengaku harus memelihara titik-titik kesucian pura dan melakukan rehab tanpa harus menghilangkan peninggalan-peninggalan kuno yang ada. (upi)
http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2008/4/16/bd1.htm
Memohon Jatuhnya Hujan
Varsikamscaturo nasanyatha.
Indro ”bhipravasati,
tathbahivarsetman rastra kamair
indravratam caran.
(Manawa Dharmasastra.IX.304).
Maksudnya:
Laksana Dewa Indra yang menurunkan hujan yang berlimpah selama empat bulan pada musim hujan, demikianlah raja menempati kedudukan bagaikan Indra menurunkan kemakmuran untuk kerajaan.
KEBERADAAN Pura Luhur Jati Luwih di Desa Pakraman Sarin Bhuwana, Desa Wana Giri, Kecamatan Selemadeg, Tabanan adalah salah satu Pura Jajar Kemiri atau Prasanak dari Pura Luhur Batukaru. Pura Luhur Jati Luwih ini bukan Pura Luhur Jati Luwih kawitan warga Bujangga Waisnawa yang berada di Kecamatan Penebel. Pura Batukaru adalah pura untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Mahadewa dalam fungsi beliau sebagai Sang Hyang Tumuwuh. Sang Hyang Tumuwuh itu Tuhan yang dipuja oleh umat Hindu di Bali untuk memotivasi dirinya untuk memahami bahwa tumbuh-tumbuhan itu adalah ciptaan Tuhan.
Tumbuhan itu bukan semata sebagai sarana untuk dimanfaatkan oleh umat manusia sebagai bahan makanan maupun digunakan sebagai sarana hidup di luar makanan. Tumbuh-tumbuhan itu juga sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan yang berhak hidup saling berkontribusi secara timbal balik pada sesama ciptaan Tuhan. Tanpa adanya tumbuh-tumbuhan dengan populasi yang memadai maka berbagai unsur alam dan makhluk hidup di bumi ini tidak bisa berfungsi dengan baik dan benar.
Tanpa adanya tumbuh-tumbuhan hutan yang kuat dan besar yang di Bali disebut tanem tuwuh, maka tanah hutan dan gunung tidak bisa menampung air yang jatuh dari langit. Demikian juga kalau hutan itu gundul tanpa tumbuh-tumbuhan maka hujan juga sulit untuk turun dari langit. Kalau sudah telanjur seperti itu maka bencana kekeringan pun akan berlanjut.
Konon gurun pasir di Etiopia diawali oleh pengundulan hutan yang ganas. Kalau sudah telanjur seperti itu maka akan tidak mungkin menghutankan kembali suatu gurun pasir yang sudah telanjur.
Demikian juga keberadaan Pura Luhur Jati Luwih di Desa Wana Giri Kecamatan Selemadeg ini diawali oleh kemarau panjang. Atas keprihatinan penduduk, maka Tuhan memberikan sinyal sebagai peringatan di mana ada penduduk yang sedang berburu diberikan penampakan gaib. Di Bali disebut kawehan. Dengan melihat sawah dengan padi menguning sampai ada orang gaib memberikan penduduk yang kawehan itu bibit padi gaga untuk ditanam di daerah sawah tadah hujan. Hal ini diceritakan dalam mitologi keberadaan Pura Luhur Jati Luwih tersebut.
Awal nama Pura Jati Luwih ini adalah Pura Sarin Bhuwana yang artinya sari-sarinya bumi. Salah satu sarinya bumi ini adalah padi. Padi itu akan ada tumbuh apabila ada hujan yang turun. Hujan yang turun itu akan berguna apabila tumbuh-tumbuhan yang diturunkan oleh Sang Hyang Tumuwuh di bumi ini tidak dirusak oleh manusia untuk memenuhi kepentingan sesaat. Sejak ada umat yang kawehan itu munculah kesadaran umat untuk mendirikan suatu pelinggih sederhana sebagai sarana pemujaan untuk memohon jatuhnya hujan.
Sejak itu hujan turun sangat teratur. Selanjutnya pura itu disebut Pura Luhur Jati Luwih. Puri Tabanan dengan keluarga menjadi terpanggil untuk menata pura tersebut bersama umat Hindu di sekitarnya, sehingga pura menjadi semakin lengkap seperti dewasa ini. Keberadaan pura tersebut menjadi semakin kuat untuk memotivasi umat untuk melakukan upaya-upaya sekala dan niskala agar hujan terus turun dan tumbuh-tumbuhan terutama padi dapat hidup subur. Dengan suburnya sebagai bahan makanan yang terpokok di Bali maka kesejahteraan masyarakat dapat terjamin.
Yang perlu direnungkan menyangkut keberadaan Pura Luhur Jati Luwih atau Pura Sarin Bhuwana ini adalah menyangkut hubungan Puri Tabanan dengan masyarakat sekitar dalam memelihara eksistensi pura tersebut sebagai Pelinggih Hyang Pemuteran Danu dan ada pelinggih untuk pemujaan Ratu Manik Galih. Hyang Pemuteran Danu itu adalah pemujaan untuk Dewi Danu sebagai manifestasi Dewa Wisnu dalam menjaga dinamika air agar selalu stabil memberikan kehidupan pada seluruh makhluk hidup penghuni bumi ini.
Air laut menguap menjadi mendung, mendung jatuh menjadi hujan. Hujan jatuh di gunung dengan hutannya yang lebat. Dari proses tersebut maka terbentuklah mata air seperti danau dan sungai-sungai mengalirkan air ke dataran yang lebih rendah. Dari proses mata air itulah dapat menimbulkan kesuburan tanaman sebagai unsur yang amat utama dalam menjaga kehidupan di bumi ini.
Kewajiban umat manusia adalah menjaga proses alam itu agar jangan terganggu. Untuk mengingatkan umat agar senantiasa menjaga proses air sebagai unsur alam itu maka Tuhan dipuja sebagai Hyang Pemuteran Danu. Ini adalah metode yang ditempuh oleh leluhur umat Hindu di Bali agar jangan mengganggu proses alam menurut hukum Rta.
Dewasa ini perlindungan proses air sebagai unsur alam yang utama itu perlu lebih ditanamkan kembali agar semakin tumbuh adanya kesadaran untuk menjaga air. Tentunya cara melindungi air dengan cara-cara ilmiah dan norma hukum tetap dilangsungkan. Pemujaan Tuhan sebagai Hyang Pemuteran Danu sebagai pemberi landasan moral dan mental sehingga berbagai godaan dalam penggunaan air dengan tujuan hanya mencari keuntungan sesaat dan sepihak dapat dicegah sedini mungkin.
Adanya Pelinggih sebagai pemujaan Ratu Manik Galih adalah sebagai suatu upaya spiritual untuk menumbuhkan kesadaran dalam memelihara tumbuhan seperti padi agar diproduksi dan didistribusikan secara baik dan adil. Jangan ada yang borong padi saat panen terus ditimbun dan saat paceklik dijual dengan harga berlipat ganda. Ini artinya keberadaan padi dijadikan media untuk merugikan orang banyak.
Padi diciptakan Tuhan adalah untuk memberi kehidupan yang sejahtera pada umat manusia. Menggunakan padi sebagai sarana untuk menguntungkan diri sendiri dengan cara-cara yang tidak jujur dan merugikan orang banyak tentunya dosa besar. Padi adalah salah satu hasil alam yang berfungsi amat strategis, karena ia sebagai bahan makanan yang paling pokok. Pemujaan Tuhan sebagai Ratu Manik Galih di Pura Luhur Jati Luwih adalah sebagai suatu motivasi spiritual agar padi sebagai bahan makanan pokok jangan dijadikan sarana berbuat merugikan masyarakat luas untuk keuntungan diri sendiri.
* I Ketut Gobyah



