kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for February, 2009

Rosenmontag 23 Feb 2009

Posted by Adnyana under Jalan Sutra

Rosenmontag yang berasal dari kata “Roose” dan “Montag” artinya Hari “Senen Berjalan”, yang merupakan perayaan Karnival terbesar yang ada di Jerman yang di selenggarakan setiap tahun. biasanya hari ini di gunakan sebagai tanda berakhirnya musim Winter dan memasukinya musim Semi. Karnival ini berlangsung di negara tidak hanya di Jerman melainkan di negara-negara yang berbahasa Jerman seperti di Swiss dan Austria. di Jerman sendiri pameran ini di pusatkan di daerah Rhineland yang di lalui oleh sungai Rhein seperti Mainz, Dusseldorf, Köln, dan Aachen, yang dulunya merupakan daerah pendudukan Katolik Romawi. yang mana perayaan karnival ini di persembahkan kepada para buruh sebagai hari pesta rakyat.

perayaan Karnival seperti di Köln dan Dusseldorf benar-benar mencuri perhatian masyarakat tidak hanya dari kota tetangga tetapi juga mengundang perhatian masyarakat dari negara tetangga seperti belanda, belgia dan perancis untuk datang berduyun-duyun menonton karnival ini yang cukup membantu pemerintah kota setempat untuk mendapatkan turis musiman. yang unik dari karnival ini, tidak hanya peserta karnival yang berpakaian warna-warni tetapi juga para pengunjung atau penonton juga berpakaian seperti peserta karnival, jadi serasa sulit untuk membedakan yang mana peserta karnival sesungguhnya dan yang mana merupakan penonton. Perayaan Karnival ini selain memberikan pendapatan tambahan bagi kota penyelenggara dan masyarakatnya, juga memberikan keunikan tersendiri bagi kotanya.

Hari Rosenmontag ini tidaklah merupakan hari libur nasional, tapi anak-anak sekolahan di biarkan libur sedangkan lingkungan perkantoran tetap buka seperti biasa tapi boleh tidak masuk (alias fakultative). Meniru keberhasilan kota Köln, Dusseldorf, Mainz, Aachen dengan karnival Rosenmontagnya, kota-kota lainya di Jerman, juga tidak mau kalah untuk bisa mengundang wisatawan mengunjungi kotanya, seperti Frankfurt juga menyelenggarakan Parade Budaya di setiap bulan Juni yang juga belakangan ini sebagai “trademark” dari kota itu untuk mengumpulkan masyarakatnya untuk tumpah ruah ke jalan berbaur dengan para wisatawan. setali tiga uang dengan kota berlin, Stuttgart, Munchen, dll. Bahkan perayaan di kota Munchen sendiri sekarang di kenal hingga ke manca negara dengan “Oktoberfest”.

Festival dan Karnival di Kabupaten Klungkung

Menghubungkan cerita diatas dengan peristiwa di tanah air, di Bali kita mengenal istilah Pesta Kesenian Bali yang di selenggarakan setiap bulan juni-juli sebulan penuh yang juga merupakan trademark dari provinsi bali untuk mengundang wisatawan untuk datang berduyun-duyun ke bali. disamping tradisi Pesta Kesenian Bali, saat ini juga mulai bertumbuhan karnival-karnival lainnya didaerah kabupaten seperti di jermbrana, Buleleng, di Sanur yang dikenal dengan Sanur Village Festival, di Kuta yang di kenal dengan Kuta Festival, dan lain-lain. di setiap sehari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi masyarakat Hindu Bali secara serempak juga menyelenggarakan Festival yang di barengi dengan perlombaan seni Ogoh-Ogoh yang turut membantu menciptakan ciri khas dan keunikan dari Bali dan masyarakatnya itu sendiri. 

Sama halnya dengan festival Ogoh-Ogoh, di kabupaten Klungkung (kalau tidak salah) juga diadakan festival dan karnival di setiap perayaan 17 Agustusan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.  Namun sayang gaung promosinya kurang begitu terdengar hingga ke wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara yang datang berkunjung ke bali, ntah mungkin karena di saat yang sama di kota lainnya juga terdapat perayaan yang sama, tapi alangkah baiknya bila festival dan karnival ini di selenggarakan bersamaan dengan peringatan Hari Puputan Klungkung di setiap 28 April setiap tahunnya, sehingga disamping memiliki keunikan tersendiri juga pesan Puputan Klungkung bisa terus di sampaikan kepada masyarakat. 

Tradisi bersejarah dan unik yang dirayakan dan di kemas melalui karnival sepertinya patut untuk kita lestarikan, meniru perayaaan karnival-karnival klasik dari negeri Jerman, sehingga kita bisa terus berbagi cerita dan nilai sejarah kepada anak cucu kita dengan mengajaknya menonton karnival dan mengajaknya untuk menapak tilasi perjuangan-perjuangan para leluhur kita pada puputan Klungkung 28 april 1908 , sehingga membuat kita bisa berbangga menjadi warga klungkung. dan yang terpenting lagi adalah pemerintah daerah (pemda) Klungkung bahu membahu bersama dengan masyarakatnya  membantu menggerakkan roda perekonomian daerah kabupaten klungkung dengan menyelenggarakan pesta rakyat yang unik yang bisa mengundang wisatawan untuk datang berduyun-duyun berkunjung ke kabupaten Klungkung. semoga

Kembali ke Rosenmontag, semenjak 1949, Rosenmontag memiliki Moto (thema) yang berbeda-beda dari tahun ke tahun. Sementara di negeri maju berusaha untuk melestarikan tradisi budaya mereka yang di wariskan secara turun temurun, lain lagi di negeri kita malah sebaliknya, yaitu semakin banyaknya peraturan daerah yang baru di buat yang melarang (membatasi) pelestarian perayaan tradisi rakyat, sebagai contoh seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa kabupaten di Bali yang mengeluarkan larangan untuk tidak merayakan festival Ogoh-Ogoh sehari sebelum perayaan Nyepi dengan alasan keamanan dan ke kidhmatan perayaannya Nyepi.

  • 1949 – „Mer sin widder do un dunn wat mer künne!“
  • 1950 – „Kölle, wie et es un wor, zick 1900 Johr“
  • 1951 – „Kölle en Dur un Moll“
  • 1952 – „Kölsche Krätzger“
  • 1953 – „Kölsch Thiater“
  • 1954 – „Dat löstige Patentamp Kölle“
  • 1955 – „Lachende Sterne über Köln“
  • 1956 – „Spaß an der Freud“
  • 1957 – „Laßt Blumen sprechen“
  • 1958 – „Mer jöcken öm de Welt“
  • 1959 – „Schlagerparodie 1959“
  • 1960 – „Jedem Dierche sie Pläsierche!“
  • 1961 – „Meer Weetschaffswunderkinder“
  • 1962 – „Wat et nit all gitt“
  • 1963 – „Köln läßt grüßen kunterbunt Presse, Fernsehen und Funk“
  • 1964 – „Kölsch Panoptikum“
  • 1965 – „Olympiade der Freude“
  • 1966 – „Kaum zu glauben“
  • 1967 – „Dat Klockespill vum Rothuusturm“
  • 1968 – „Märchen und Wunder unserer Zeit“
  • 1969 – „Köln serviert internationale Speisen a la carte“
  • 1970 – „Rosen, Tulpen und Narzissen, das Leben könnte so schön sein“
  • 1971 – „Hexenküche der Werbesprüche“
  • 1972 – „Wir sind alle kleine Sünderlein“
  • 1973 – „Fastelovend wie hä es un wor, zick 150 Johr“
  • 1974 – „Zustände wie im alten Rom“
  • 1975 – „Seid umschlungen Millionen“
  • 1976 – „Sang und Klang mit Willi Ostermann“
  • 1977 – „Mer losse de Pöppcher danze“
  • 1978 – „Flohmarkt Colonia“
  • 1979 – „Kölsche in aller Welt“
  • 1980 – „Mer losse d’r Dom verzälle“
  • 1981 – „Circus Colonia“
  • 1982 – „Karneval der Schlagzeilen – Närrische Nachrichten“
  • 1983 – „Es war einmal… Kölner Karneval wie ein Märchen“
  • 1984 – „Hits us Kölle un us aller Welt“
  • 1985 – „Ene Besuch em Zoo – Met jroße un met kleine Diere“
  • 1986 – „Fastelovend der Rekorde“
  • 1987 – „Janz Kölle dräump – un jede Jeck dräump anders“
  • 1988 – „Kölle Alaaf – COLONIA FEIERT FESTE“
  • 1989 – „Wir machen Musik – Met vill Harmonie“
  • 1990 – „Hereinspaziert, hereinspaziert – Zur größten Schau der Welt“
  • 1991 – „Kinema Colonia“ (kein offizieller Rosenmontagszug in diesem Jahr wegen Golfkrieg)
  • 1992 – „Et kütt wie et kütt“
  • 1993 – „Sinfonie in Doll“
  • 1994 – „Hokuspokus – kölsche Zauberei“
  • 1995 – „Colonia ruft die Narren aller Länder“
  • 1996 – „Typisch Kölsch“
  • 1997 – „Nix bliev wie et es – aber wir werden das Kind schon schaukeln“
  • 1998 – „Fastelovend und Dom im Jubiläumsfieber“
  • 1999 – „999 Jahre – Das waren Zeiten“
  • 2000 – „Kölle loß jon, ins neue Jahrtausend”“
  • 2001 – „Köln kann sich mit allen Messen“
  • 2002 – „Janz Kölle es e Poppespill“
  • 2003 – „Klaaf und Tratsch – auf kölsche Art“
  • 2004 – „Laach doch ens, et weed widder wäde!“
  • 2005 – „Kölle un die Pänz us aller Welt“
  • 2006 – „E Fastelovendsfoßballspill“
  • 2007 – „Mir all sin Kölle!“
  • 2008 – „Jeschenke för Kölle – uns Kulturkamelle“
  • 2009 – „Unser Fastelovend - himmlisch jeck“

Salah satu Pura di kota Batam sebagai sarana tempat ibadah umat Hindu adalah Pura Agung Amerta Bhuana yang letaknya sangat strategis dan nyegara gunung. Pura ini mempunyai hamparan pemandangan alam yang indah. Di sekitarnya terhampar Danau Sei Ladi dan Selat Malaka.

Di Pura ini terdapat bangunan Padmasana yang megah setinggi kurang lebih 15 meter yang merupakan Padmasana terbesar dan tertinggi di Indonesia. Tempat Hyang widhi bersthana ini dibangun berornamen Hindu klasik yang digabungkan dengan konsep modern monumental akan memperkaya Pulau Batam sebagai salah satu gerbang pariwisata di Indonesia bagian barat laut sebagai miniatur kebhinekaan Indonesia.

Tinjauan Historis Pura Agung Amerta Bhuana adalah dimulai pada tahun 1999 yang merupakan tahun yang memberikan semangat baru bagi umat Hindu di Batam, karena surat dari Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Batam yang bernomor 013/PHDI/BTM/VI/99 tertanggal 09 Juni 1999 yang inti pokok dari surat itu adalah permohonan lokasi tanah untuk pura kepada Ketua Otorita Batam, bapak Ismeth Abdullah , mendapat tanggapan yang menggembirakan.

Sampai saat ini Parisada telah diberikan dokumen sebagai referensi sehubungan dengan keberadaan pura diantaranya :
· Surat Ijin Prinsip No : 247/IP/KA/VII/99, tertanggal 26 Juli 1999
· Hasil pengukuran Lokasi No : 383/AT.2/X/1999, tertanggal 18 Oktober 1999
· Kode Gambar PL No. : 99010773

Semenjak dikeluarkannya legal aspek oleh otorita Batam, maka Parisada Batam membentuk Panitia Pembangunan Pura yang diketuai oleh Bapak Ketut Widiana Sulatra dengan surat keputusan bernomor 015/PHDI/BTM/VII/1999, mulai bekerja secara bertahap untuk mewujudkan cita-cita membangun pura. Parisada Batam selalu berpikir kedepan serta mengantisipasi hal hal yang tak diinginkan dimasa masa yang akan datang baik secara skala maupun niskala, maka dari itu langkah yang telah dilakukan untuk senantiasa mendapatkan limpahan Wara Nugraha dari Hyang Widhi adalah sebagai berikut :

1. Meditasi Bersama.
Meditasi bersama dilakukan untuk menentukan letak titik Padmasana, yang telah dilaksanakan pada tanggal 8 Maret tahun Masehi 2000 dari jam 19.00 – 22.00 WIB. Yang dipimpin oleh Maha Pendeta Ida Pedanda Gde Oka Kemenuh dari Jakarta

2. Peletakan Batu Pertama
Peletakan Batu Pertama telah dilaksanakan pada tanggal 04 Juni tahun Masehi 2000. Upacara inipun dipimpin oleh Maha Pendeta Ida Pedanda Gde Oka Kemenuh yang dihadiri oleh umat Hindu di Batam dan sekitarnya.

3. Pemelaspasan Alit
Setelah beberapa bangunan utama selesai, dibangun agar bisa digunakan untuk melakukan persembahyangan, maka diadakan upacara pensucian yang telah dilakasanakan pada tanggal 03 Agustus 2003. Bangunan yang disucikan pada waktu itu meliputi sebuah Padmasana, Candi bentar, dan Balai Pawedan serta areal parkir dengan jalan melingkar. Upacara ini dihadiri oleh bapak Dirjen Bimas Hindu dan Budha Departemen Agama RI. Dan dipimpin oleh Maha pendeta Ida Pedanda Gde Oka Kemenuh.

4. Pelinggih Penglurah Ratu Gde Dalem Bumi
Pelinggih ini dibangun setelah sebulan upacara pemlaspasan alit dan telah dihaturkan upacara Pemakuh pada tanggal 10 Oktober 2003. Upacara dilaksanakan bertepatan dengan persembahyangan Purnama. Dan dipuput oleh Pinandita di Batam yaitu Pinandita Putu Satria Yasa & Pinandita I Wayan Catra Yasa.

5. Pelinggih Pengapit Lawang.
Pelinggih ini dibangun sebulan setelah pelinggih Panglurah dan telah dihaturkan upacara pemangkuhan pada tanggal 8 Nopember 2003

6. Papan Nama Pura Agung Amerta Bhuana
Papan Nama dibangun setelah sebulan pelinggih pengapit lawang, terletak dipinggir jalan di areal Parkir / Pratamaning Mandala. Upacara Pemangkuh, telah dilaksanakan pada tanggal 06 Maret 2004 bertepatan dengan persembahyangan Purnama Sasih Kesanga.

7. Peresmian Oleh Bapak Menteri Agama Republik Indonesia
Peresmian dilakukan hari Rabu tanggal 16 Juni 2004 dihadiri oleh umat Hindu di Batam, tokoh masyarakat, tokoh agama, Muspida, Pejabat di lingkungan Otorita Batam, pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Batam, Ketua Otorita Batam, Walikota Batam, Ka Kanwil Departemen agama Propinsi Tk. I Riau, Dirjen Bimas Hindu Budha Departemen agama RI dan Mentri Agama Republik Indonesia bapak Prof. Dr. H. Agil Said Husin Al Munawar, MA.

Source : http://www.hindubatam.com , http://purahindu.wordpress.com/2008/12/23/pura-agung-amerta-bhuana-batam-indonesia/

KEHIDUPAN BERAGAMA KRAMA HINDU BALI DI KOTA BATAM

Tercatat sekitar 300 kepala keluarga (KK) atau sekitar 700-an krama Hindu Bali yang mukim di seluruh penjuru Batam. Mereka ‘terangkum’ dalam tiga tempek, tidak mengelompok membentuk sebuah banjar. Tiga tempek itu adalah Tempek Batu Aji, Tempek Nagoya, dan Tempek Pulau Bulan.

Menurut Pamangku Pura Agung Amerta Bhuana Putu Satriya Yasa, warga Hindu mulai datang ke Batam sejak sekitar 15-20 tahun lalu. Rata-rata mereka bekerja di sektor formal terutama di perhotelan. Satriya Yasa sendiri bekerja di Holiday Inn.
“Kami di sini sangat diperhatikan pemerintah. Contohnya, pembangunan padmasana ini dilakukan oleh Otorita Batam dengan nilai bantuan sekitar Rp. 800 juta,” ujar pria asal Singaraja, Buleleng ini.

Pembangunan Pura Agung Amerta Bhuana yang .berlokasi di Kelurahan Bintan memang belum tuntas, semisal bangunan panyengker belum ada. Saat ini ada beberapa bangunan yang .tengah dikerjakan. Untuk menuntaskan pembangunan pura itu, diperlukan dana Rp. 4 miliar. Hingga kini, dana baru terkumpul Rp. 2,5 miliar.

“Bangunan inti berupa sebuah padmasana dan sudah berhasil dirampungkan tahun 2002 lalu atas bantuan Otorita Batam senilai Rp. 800 juta,” kata Satriya Yasa.
Bahan-bahan bangunan, terutama batu berukir khusus didatangkan dari Bali. “Seluruh bangunan suci kelengkapan tempat suci umat Hindu satu-satunya di Batam diharapkan rampung tahun depan. Saat itu sekaligus akan digelar kegiatan ritual berskala besar,” imbuh Satriya Yasa.

Ditambahkannya, umat Hindu yang bermukim di Pulau Batam sangat mengharapkan bantuan dan peran serta umat sedharma di tanah air, khususnya Bali untuk bisa merampungkan tempat persembahyangan tersebut. Untuk prpses pembangunan, karena tidak ada tukang khusus, seluruh umat Hindu dilibatkan baik yang ahli bangunan maupun tidak.

Seperti Wayan Budi yang berada di lingkungan pura, ketika rombongan-rombongan dan Bali bersembahyang di Pura Agung Amerta Bhuana. Pria asli Lebih, Gianyar yang ke Batam pada tahun 1993 ini dan datang sehari-hari bekerja di divisi house keeping Hotel Panorama.
Meski Pak Budi tidak memiliki keahlian sebagai tukang batu, tetapi dalam pembangunan pura, Budi bertindak sebagai mandor dan tukang ukir. “Mungkin keahlian sebagai tukang ukir ini sudah turunan, karena keluarga saya (di Gianyar) mahir mengukir,” kata bapak dua orang anak ini.

Walau perhatian pemerintah daerah setempat terhadap kehidupan bermasyarakat dan beragama, khususnya kepada krama Hindu sudah bagus, masalah justru datang dan lingkungan krama Hindu sendiri. Kesulitan yang dihadapi di intern krama Hindu adalah susahnya nara sumber untuk siraman rohani. Siraman rohani selama ini dilakukan saat upacara, seperti tilem, purnama, atau ketika digelar doa bersama. Pada saat seperti
itu, warga Hindu melibatkan FHDI setempat. Namun jika upacara yang digelar berskala besar, pedanda khusus didatangkan dari Bali.

“Kalau ada keperluan agama yang melibatkan seluruh umat, kami berkoordinasi melalui telepon atau pesan singkat (SMS),” kata Satriya Yasa. Masalah kependudukan juga menjadi suatu hal pelik di Batam. Pemda Batam sangat gencar melakukan penertiban kependudukan diberbagai tempat. Untuk mengatasi kekumuhan, pemerintah menyediakan rumah susun bagi warganya dengan cara menyewa dan memperketat pendirian bangunan penduduk karena lakonnya tidak bertambah Untuk mendata penduduk, Pemda Batam sejak bulan Pebruari 2007 memberlakukan sistem Administrasi Kependudukan (SIAK). Sistem ini melayani pembuatan Kartu Identitas, KTP dll. Hal ini karena Batam sehagai pulau industri yang menyerap ribuan tenaga kerja. (r).WHD. No. 490 Oktober 2007

http://www.parisada.org/index.php?Itemid=26&id=813&option=com_content&task=view

Pura Besakih sebagaiHuluning Bali Rajya

Dalam Lontar Padma Bhuwana, Pura Besakih dinyatakan sebagai huluning Bali Rajya. Artinya, Pura Besakih sebagai hulunya daerah Bali. Dengan kata lain, Pura Besakih adalah sebagai kepalanya atau menjadi jiwanya Pulau Bali. Hal ini sesuai dengan letak Pura Besakih di sebelah timur laut Pulau Bali. Timur laut adalah arah gunung dan arah terbitnya matahari dengan sinarnya sebagai salah satu kekuatan alam ciptaan Tuhan yang menjadi sumber kehidupan di bumi ini.

==========================================================

Adanya Pura Besakih di lereng Gunung Agung sebagai simbol sakral untuk mengingatkan masyarakat Bali agar selalu menjaga kesuburan alam Bali, karena hanya dengan selalu terjaganya kesuburan alam Balilah kemakmuran dan kebahagiaan masyarakat Bali dapat diwujudkan. Matahari dan gunung sebagai salah satu hulunya kehidupan.

Di Pura Besakih sendiri terdapat berbagai simbol yang melukiskan tentang kehidupan sesuai dengan apa yang diajarkan dalam agama Hindu. Di sini juga terdapat konsepsi tentang hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam lingkungannya yang dikenal dengan nama Tri Hita Karana. Dari filosofi Tri Hita Karana inilah diwujudkan konsep-konsep hidup yang lebih detail, baik menyangkut bhakti manusia pada Tuhan, punia atau pengabdian manusia dengan sesamanya dan kasih sayang manusia pada alam lingkungan. Ketiga hubungan itu sangat detail dilukiskan di Pura Besakih dan diimplementasikan dalam kehidupan umat Hindu di seluruh Bali.

Bhakti umat manusia pada Tuhan untuk membangun kekuatan spiritual umat manusia. Dengan kekuatan spiritual itu manusia dapat memiliki moral yang luhur dan mental yang tangguh dalam menghadapi berbagai bentuk tantangan, hambatan dan godaan hidup.

Tiga perilaku berdasarkan ajaran Tri Hita Karana itu disebut Tri Para Artha yang artinya tiga tujuan mulia yaitu asih, punia dan bhakti. Asih itu menyayangi alam. Punia artinya mengabdi dengan tulis ikhlas kepada sesama umat manusia. Bhakti artinya menguatkan sraddha dan bhakti kepada Tuhan.

Misalnya Pura Besakih sebagai hulunya Pura Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali. Pura Penataran Agung Besakih sebagai hulunya Pura Desa di desa pakraman. Pura Basukian di Besakih sebagai hulunya Pura Puseh, Pura Dalem Puri di Besakih hulunya Pura Dalem di desa pakraman.

Di Besakih ada Pura Ulun Kulkul sebagai hulunya kulkul di desa pakraman dan banjar di seluruh Bali. Di Besakih ada Pura Banua sebagai pemujaan Dewi Sri manifestasi Tuhan sebagai dewanya padi. Pura ini sebagai hulunya jineng bangunan sucinya berbentuk Gedong Limas Catu yang atapnya lancip ke atas. Pura ini sebagai hulunya Limas Catu yang umumnya ada di setiap Merajan Gede atau Merajan Gedong Pertiwi di setiap pemujaan keluarga di Bali. Di setiap Merajan Gede di Bali umumnya di sebelah kanan Pelinggih Gedong Pertiwi ada Pelinggih Limas Catu dan Limas Mujung lambang Pelinggih Pesimpangan ke Gunung Agung dan Gunung Batur.

Di Besakih ada Pura Bangun Sakti pemujaan Ananta Bhoga atau Sapta Patala di berbagai pura di seluruh Bali ada juga Pelinggih Sapta Patala sebagai pemujaan Tuhan sebagai dewanya lapisan zat padat bumi. Pura Jenggala di Besakih sebagai hulunya Pura Prajapati di setiap areal setra di desa pakraman di Bali. Pura Rambut Sedana di Pura Besakih sebagai hulu dari Pelinggih Rambut Sedana atau sering juga disebut Sri Sedana umumnya yang ada di setiap merajan keluarga di Bali. Demikianlah di Besakih ada banyak pura sebagai hulunya pura yang ada di berbagai pelosok daerah Bali.

Pura Besakih memiliki banyak fungsi. Pura Besakih juga sebagai Pura Rwa Bhineda artinya memuja Tuhan sebagai purusa dan pradana. Pura Besakih adalah Pura Purusa, sedangkan Pura Hulun Danu Batur sebagai pradana-nya. Pemujaan Tuhan sebagai pencipta purusa dan pradana untuk menumbuhkan kesadaran umat agar selalu berusaha membangun hidup yang seimbang lahir batin. Pura Besakih juga yang didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka itu melahirkan Pura Sad Kahyangan di Bali. Tujuan pendirian pemujaan Tuhan di Pura Sad Kahyangan untuk menuntun umat menjaga kelestarian Sad Kerti (Atma, Samudra, Wana, Samudra, Jagat dan Jana Kerthi).

Ada sedikitnya sembilan lontar yang menyatakan keberadaan Sad Kahyangan di Bali itu berbeda-beda. Namun dalam seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu menetapkan bahwa Sad Kahyangan yang dijadikan pegangan di Bali adalah menurut Lontar Kusuma Dewa. Alasannya, karena Sad Kahyangan itu dibangun saat Bali masih satu kerajaan. Setelah Bali menjadi sembilan kerajaan, masing-masing kerajaan memiliki Sad Kahyangan menurut pandangan masing-masing kerajaan. Hal itu tidaklah keliru karena itu merupakan kedaulatan masing-masing kerajaan.

Pura Besakih juga berfungsi sebagai Pura Padma Bhuwana. Mantra Veda juga menyatakan: Isavasyam idam jagat. Tuhan berstana di seluruh alam semesta. Jadi, menurut keyakinan agama Hindu Tuhan itu Mahaesa dan ada di mana-mana. Bagaimana memahami kemahaesaan Tuhan itu yang berada di mana-mana tentunya tidak mudah bagi umat yang awam. Untuk melukiskan Tuhan itu Esa dan ada di mana-mana, secara simbolis sakral maka umat Hindu di Bali mendirikan Pura Kahyangan Jagat di sembilan penjuru Bali yang disebut Pura Padma Bhuwana.

Pura Besakih juga sebagai lambang alam bawah dan alam atas. Pura Besakih sebagai simbol alam semesta divisualkan dalam berbagai dimensi. Alam bawah di Pura Besakih disebut Soring Ambal-ambal. Sedangkan alam atas disebut Luhuring Ambal-ambal. Seluruh kompleks Pura Besakih ada yang digolongkan pura di Soring Ambal-ambal dan ada pura yang tergolong di Luhuring Ambal-ambal.

Pura yang tergolong di Soring Ambal-ambal antara lain Pura Pesimpangan, Pura Manik Mas, Pura Bangun Sakti, Pura Merajan Selonding, Pura Goa Raja dengan Pura Rambut Sedana, Pura Besukian, Pura Dalem Puri, Pura Jenggala, Pura Banua dan Pura Merajan Kanginan.

Pura yang tergolong Luhuring Ambal-ambal adalah Pura Penataran Agung Besakih, Pura Batu Madeg, Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Pura Ulun Kulkul, Pura Peninjoan, Pura Tirtha, Pura Pengubengan dan Pura Pasar Agung di Desa Sebudi. Kompleks Pura Besakih ini sering disebut kompleks-kompleks Pura Besakih. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/3/26/bd2.htm

Fungsi Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih

Siwa Tattwa ngaranya sukha tanpa wali duhkha.
Sadasiwa
Tattwa ngaranya tanpa wwit tanpa tungtung ikang sukha. Paramasiwa Tattwa ngaranya niskala tan wenang winastwan ikang sukha.
(Dikutip Dari Wrehaspati Tattwa.50)

Maksudnya:

Hakikat memuja Tuhan Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang tidak berbalik pada kedukaan. Memuja Tuhan sebagai Sadasiwa akan mencapai kebahagiaan yang tidak ada awal dan tidak akhirnya. Memuja Tuhan sebagai Paramasiwa mencapai kebahagiaan niskala yang tidak dapat dilukiskan kebahagiaan itu.

PELINGGIH Padma Tiga di Pura Besakih sebagai sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Parama Siwa.

Pelinggih Padma Tiga sebagai media pemujaan Sang Hyang Tri Purusa yaitu Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Besakih dan juga dalam beberapa sumber lainnya seperti dalam Pustaka Pura Besakih yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali tahun 1988. Busana hitam di samping busana warna putih dan merah dari Padma Tiga bukan simbol dari Wisnu, tetapi simbol dari Parama Siwa.

Dalam Mantra Rgveda ada dinyatakan bahwa keberadan Tuhan Yang Maha Esa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian saja. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap karena tidak dijangkau oleh sinar matahari. Tuhan juga maha-ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Parama Siwa dalam pustaka Wrehaspati Tattwa itu.

Busana hitam Padma Tiga yang berada di kanan atau yang mengarah ke Pura Batu Madeg itu bukan lambang pemujaan Wisnu. Tetapi pemujaan untuk Parama Siwa yang berada di luar alam semesta. Parama Siwa adalah Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman artinya tanpa sifat atau manusia tidak mungkin melukiskan sifat-sifat Tuhan Yang Mahakuasa itu. Sedangkan Padma Tiga yang di tengah busananya putih kuning sebagai simbol dalam Tuhan keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera.

Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan. Sedangkan busana warna merah pada Padma Tiga yang di kiri atau yang mengarah pada Pura Kiduling Kreteg bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Warna merah dalam Pelinggih Padma Tiga yang di bagian kiri memang arahnya ke Pura Kiduling Kreteg. Padma Tiga yang berwarna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Stithi dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Siwa bermanifestasi menjadi Tri Murti.

Untuk di kompleks Pura Besakih sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg. Sebagai Batara Wisnu di Pura Batu Madeg dan sebagai Batara Iswara di Pura Gelap. Di tingkat Pura Padma Bhuwana sebagai Batara Wisnu dipuja di Pura Batur simbol Tuhan Mahakuasa di arah utara. Dipuja sebagai Bhatara Iswara di Pura Lempuhyang Luhur di arah timur dan sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Andakasa simbol Tuhan Mahakuasa di arah selatan.

Sementara untuk di tingkat desa pakraman, Batara Tri Murti itu dipuja di Kahyangan Tiga. Mengapa ajaran agama Hindu demikian serius mengajarkan umatnya untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa itu dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti. Salah satu ciri hidup manusia melakukan dinamika hidup. Memuja Tuhan sebagai Tri Murti untuk menuntun umat manusia agar dalam hidupnya ini selalu berdinamika yang mampu memberikan kontribusi pada kemajuan hidup menuju hidup yang semakin baik, benar dan tepat.

Pemujaan pada Dewa Tri Murti itu agar dinamika hidup manusia itu berada di koridor Utpati, Stithi dan Pralina. Maksudnya menciptakan sesuatu yang patut diciptakan disebut Utpati, memelihara serta melindungi sesuatu yang sepatutnya dipelihara dan dilindungi disebut Stithi, serta meniadakan sesuatu yang sudah usang yang memang sudah sepatutnya dihilangkan yang disebut Pralina.

Demikianlah keberadaan Pelinggih Padma Tiga yang berada di Mandala kedua dari Pura Penataran Agung Besakih. Di Mandala kedua ini sebagai simbol bertemunya antara bhakti dan sweca. Bhakti adalah upaya umat manusia atau para bhakta untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sedangkan sweca dalam bahasa Bali maksudnya suatu anugerah Tuhan kepada para bhakta-nya. Sweca itu akan diterima oleh manusia atau para bhakta sesuai dengan tingkatan bhakti-nya pada Tuhan.

Bentuk bhakti pada Tuhan di samping secara langsung juga seyogianya dilakukan dalam wujud asih dan punia. Asih adalah bentuk bhakti pada Tuhan dengan menjaga kelestarian alam lingkungan dengan penuh kasih sayang, karena alam semesta ini adalah badan nyata dari Tuhan. Sedangkan punia adalah bentuk bhakti pada Tuhan dalam wujud pengabdian pada sesama umat manusia sesuai dengan swadharma kita masing-masing.

Tuhan telah menciptakan Rta sebagai pedoman atau norma untuk memelihara dan melindungi alam ini dengan konsep asih. Tuhan juga menciptakan dharma sebagai pedoman untuk melakukan pengabdian pada sesama manusia. Dengan konsep asih, punia dan bhakti itulah umat manusia meraih sweca-nya Tuhan yang dilambangkan di Pura Besakih di Mandala kedua ini.

Di Mandala kektiga ini tepatnya di sebelah kanan Padma Tiga itu ada bangunan suci yang disebut Bale Kembang Sirang. Di Bale Kembang Sirang inilah upacara padanaan dilangsungkan saat ada upacara besar di Besakih seperti saat ada upacara Bhatara Turun Kabeh, upacara Ngusaba Kapat maupun upacara Manca Walikrama, apalagi upacara Eka Dasa Ludra.

Upacara padanaan yang dipusatkan di Bale Kembang Sirang inilah sebagai simbol bahwa antara bhakti umat dan sweca-nya Hyang Widhi bertemu. Di Pura Penataran Agung Besakih sebagai simbol Sapta Loka tergolong Pura Luhuring Ambal-ambal. Ini dilukiskan bagaimana umat seyogianya melakukan bhakti kepada Tuhan dan bagaimana Tuhan menurunkan sweca kepada umat yang dapat melakukan bhakti dengan baik dan benar. Semuanya dilukiskan dengan sangat menarik di Pura Penataran Agung Besakih dan amat sesuai dengan konsep Weda kitab suci agama Hindu. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/3/26/bd1.htm

Bersumber dari Ajaran Suci Weda dan Sastra

BERDIRINYA Pura Besakih tak lepas dari peran tokoh dan para sulinggih. Adanya pelinggih berbagai tokoh di mandala ketiga Pura Penataran Agung Besakih itu membuktikan leluhur pendiri Pura Besakih adalah orang-orang suci yang amat paham intisari ajaran suci Weda. Orang suci itu bukan sekadar orang yang diupacarai sebagai dwijati dan berpakaian dengan atribut dwijati. Hal itu baru tampak luarnya saja. Upacara dan busana itu memang penting untuk membedakan dengan orang yang bukan dwijati. Tetapi yang juga amat penting adalah mampu berbuat yang berguna untuk menyatukan masyarakat berdasarkan pengetahuan suci yang sudah dimiliki.

Seyogianya setelah memiliki pengetahuan dan kemampuan suci barulah upacara dan busana suci itu diberikan. Karena pengetahuan suci dan kemampuan suci yang diaplikasikan itulah yang dapat meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai tokoh, apalagi disebut orang suci. Akan sangat berbahaya kalau orang yang belum menguasai pengetahuan suci dan mengaplikasikan kesuciannya itu dalam kehidupan diupacarai dan diberi busana suci.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarah pendirian Pura Besakih dengan seluruh kompleksnya benar-benar orang suci. Karena di balik Pura Besakih dengan arsitektur yang amat indah, agung dan sakral itu terdapat konsep-konsep penataan kehidupan yang bersumber dari ajaran suci Weda dan sastra-sastranya. Dalam hal menyatukan umat, Pura Besakih mencerminkan adanya konsep kesetaraan, persaudaraan, dan kemerdekaan.

Di Pura Besakih banyak sekali simbol yang menempatkan sesama manusia setara. Mereka dibedakan berdasarkan profesi dan kualitas tingkah lakunya. Kalau orang itu jahat meskipun keturunan orang suci, dia adalah orang cacat. Tetapi menurut Manawa Dharmasastra, orang yang jahat itu kalau dihukum dengan benar dan adil oleh penguasa yang berwenang, maka penguasa itu akan mendapatkan sorga. Sedangkan orang yang dihukum itu setelah menjalankan hukuman dengan tepat dia seperti bayi baru lahir. Dia pun bisa memperbaiki dirinya untuk kembali pada jalan dharma. Bukan harus dikeluarkan dari masyarakat dan sampai keturunannya dikelompokkan tidak setara dengan orang lain. Tinggi-rendahnya seseorang itu bukan berdasarkan keturunannya, tetapi berdasarkan kualitas perilakunya.

Dalam Subha Sita ada dinyatakan vasudeva kutumbakam semua umat manusia bersaudara. Menurut ajaran Upanisad Brahman Atman Aikyam, Tuhan dan Atman yang bersemayam dalam diri setiap orang itu adalah sama. Dalam konteks ini semua atman manusia berasal dari Brahman. Hakikat manusia di samping sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial.

Manusia itu baru bisa mengekspresikan kemanusiaannya apabila berada di tengah-tengah manusia lainnya. Sebagai makhluk sosial manusia itu disebut sama beda. Maksudnya manusia memiliki berbagai persamaan dan juga sekaligus perbedaan. Kedua-duanya juga ke hukum Rwa Bhineda. Ada perbedaan yang positif saling melengkapi. Dengan perbedaan itu membawa masyarakat bersinergi membangun kekuatan bersama menyelesaikan berbagai permasalahan hidup.

Di Pura Besakih perbedaan dan persamaan itu divisualisasikan secara positif dalam bentuk simbol sakral dalam wujud tempat pemujaan. Visualisasi simbolis sakral itu sebagai media mendidik umat Hindu agar benar-benar arif bijaksana mengelola persamaan dan perbedaan yang merupakan kenyataan hidup di bumi ini.

Sumber membangun sikap arif dan bijaksana itu adalah ilmu pengetahuan suci. Karena itu di mandala ketiga Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Saraswati di Meru Tumpang Pitu. Di mandala ketiga ini berbagai perbedaan golongan baik yang bernuansa dan maupun progresi divisualisasikan. Ini artinya bermacam-macam bentuk perbedaan di bumi ini diciptakan oleh Tuhan.

Demikian juga Tuhan menciptakan ilmu sebagai sumber yang seyogianya dijadikan pegangan oleh umat manusia dalam mengelola perbedaan tersebut. Ini artinya tujuan Tuhan menciptakan berbagai perbedaan itu adalah positif. Perbedaan ciptaan Tuhan itu bukan untuk membuat bumi ini kisruh penuh hiruk-pikuk dengan berbagai perselisihan yang semakin sulit diatasi.

Perbedaan itu diciptakan oleh Tuhan agar semua ciptaannya bisa hidup saling memelihara. Dalam Bhagawad Gita.III.16 menyatakan bahwa barang siapa yang tidak ikut memutar Cakra Yadnya yang bersifat timbal balik ini, ia sesungguhnya telah berbuat jahat. Ia yang hidup hanya memenuhi nafsu indrianya saja, ia hidup dalam kesia-siaan saja.

Bagaimana hidup saling beryadnya antara manusia dengan alam, antara manusia dengan sesama manusia telah dilukiskan dengan sangat cermat di Pura Besakih pada umumnya dan di mandala keempat Pura Penataran Agung pada khususnya. Saling beryadnya itu dilakukan sebagai wujud pemujaan pada Tuhan. Ini artinya pemujaan pada Tuhan belumlah cukup kalau tidak diwujudkan dengan beryadnya pada alam dan sesama manusia.

Kalau kita perhatikan wujud pemujaan Tuhan dewasa ini belumlah seperti apa yang dimaksudkan oleh ajaran yang melatarbelakangi pendirian Pura Besakih itu. Ada juga orang berdalih dan dengan alasan memuja Tuhan merusak proses kehidupan berbagai tumbuh-tumbuhan dan hewan. Demikian juga pemujaan pada Tuhan justru menimbulkan kerusakan lingkungan alam dan merusak kebersamaan yang setara, bersaudara dan menghambat kemerdekaan sesama dalam mengembangkan hidupnya.

Kalau pemujaan pada Tuhan itu didasarkan pada pemahaman yang benar pada ajaran Cakra Yadnya itu, maka tidak ada perilaku yang merusak alam seperti membuang sampah yang terkait dengan upacara sembarangan. Demikian juga membeda-bedakan harkat dan martabat sesama dalam kehidupan beragama. Semakin dalam motivasi pemujaan pada Tuhan itu maka alam akan semakin lestari dan kebersamaan sosial itu akan semakin erat dan dalam kerja sama yang semakin berkualitas. (sut/berbagai sumber)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/3/26/bd3.htm

”Aci Pengenteg Jagat” di Pura Gelap

Di Pura Besakih ada banyak upacara yadnya yang diselenggarakan di setiap kompleks Pura Besakih. Salah satu upacara yadnya itu ada disebut Aci Nyatur yang diselenggarakan di empat Pura Catur Dala. Salah satu upacara Aci Nyatur itu ada disebut Aci Pangenteg Jagat. Aci ini diselenggarakan di Pura Gelap setiap Purnama Sasih Karo sekitar bulan Agustus. Seperti apakah bentuk dan makna upacara itu?

===========================================================

Istilah aci pengenteg jagat ini berasal dari bahasa Bali. Kata ”aci” bersinonim dengan upacara keagamaan Hindu khas Bali. Kata ”pengenteg” berasal dari kata ”enteg” yang artinya juga ”ajeg” atau stabil. Dari kata ”enteg” ini dalam bentuk aktif menjadi ”pengenteg” yang artinya menstabilkan. Sedangkan kata ”jagat” adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan isi bumi ini. Ciptaan Tuhan yang paling sentral adalah manusia. Dalam pengertian ini manusialah sebagai salah satu unsur jagat yang paling menentukan stabil atau tidaknya keadaan jagat ini.

Dari arti Aci Pangenteg Jagat ini terkandung suatu usaha umat manusia sebagai makhluk hidup yang beragama untuk mengusahakan agar jagat ini senantiasa stabil. Menyelenggarakan aci atau upacara yadnya salah satu bentuk usaha untuk membuat jagat ini stabil. Kata ”upacara” dalam bahasa Sansekerta artinya ”mendekat”. Dengan upacara yadnya umat Hindu mendekatkan dirinya pada Tuhan.

Mendekatkan diri pada Tuhan itu diawali dengan mendekatkan diri pada alam lingkungan dengan asih dan kepada sesama manusia dengan punia. Karena ini bentuk aci bagi umat Hindu di Bali berupa banten. Banten menurut Lontar Yadnya Prakerti melambangkan kemahakuasaan Tuhan, lambang diri manusia dan lambang alam.

Untuk mencapai kehidupan jagat yang stabil harus ada rasa dekat manusia dengan Tuhan berdasarkan yadnya kepada sesama manusia berdasarkan punia dan kepada alam lingkungan berdasarkan asih. Agar jagat ini stabil Tuhan telah menciptakan Rta dan Dharma. Rta adalah hukum ciptaan Tuhan untuk menata dinamika alam. Sedangkan Dharma untuk menata dinamika kehidupan umat manusia.

Kalau alam berdinamika menurut Rta maka dari dinamika alam itu akan mendatangkan berbagai manfaat bagi kehidupan manusia. Dengan demikian alam dapat melakukan swadharmanya kepada makhluk lainnya ciptaan Tuhan. Tetapi kalau manusia tidak menaati dharmanya menjaga stabilitas Rta dalam prilakunya maka manusia pun tidak akan mendapatkan manfaat dari alam itu sendiri.

Stabilitas jagat akan terwujud apabila Rta dan Dharma benar-benar menjadi landasan dinamika alam dan dinamika umat manusia di bumi ini. Agar Rta dan Dharma benar-benar kuat sebagai dasar dinamika alam dan dinamika prilaku umat manusia maka manusialah sebagai unsur sentral dan unsur yang paling berkepentingan banyak berbuat.

Nampaknya hal inilah yang menjadi paradigma leluhur umat Hindu di Bali pada masa lampau, sehingga ada upacara yadnya yang disebut Aci Pangenteg Jagat di Pura Gelap Besakih. Penyelenggaraan upacara ini setiap tahunnya sebagai suatu prosesi untuk terus-menerus mengingatkan pada umat Hindu di Bali agar senantiasa menjaga tetap stabilnya jagat Bali ini pada khususnya dan bumi ini pada umumnya.

Penyelenggara Aci Pengenteg Jagat ini tentunya sebagai pendekatan spiritual lewat media ritual keagamaan pada tahap awal. Aci ini untuk mengingatkan akan idealisme dan konsep usaha membangun stabilnya jagat. Karena itu Aci Pengenteg Jagat di Pura Gelap setiap Sasih Karo itu hendaknya diposisikan sebagai tonggak untuk mengingatkan umat Hindu terutama di Bali agar senantiasa menjaga stabilitas alam, stabilitas kehidupan sosial dengan diawali dari menjaga stabilitas diri sendiri.

Dalam Lontar Purana Bali dinyatakan adanya enam hal yang wajib dijaga stabilitas dinamikanya sehingga dapat berfungsi dengan sebaik-baik, agar jagat Bali menjadi enteng, ajeg atau stabil. Enam hal itu disebut Sad Kertih. Atma Kertih menjaga stabilitas eksistensi Atman sebagai bagian dari Brahman dalam diri setiap manusia. Samudra, Wana dan Danu Kerti.

Tiga alam ini tidak boleh diabaikan dalam menjaga stabilitas eksistensinya. Karena dalam Samudra, Wana dan Danu terdapat dua dari tiga Ratna Permata Bumi yaitu air dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan. Canakya Nitisastra menyatakan orang bijaksana tidak akan menganggap emas, perak, berlian dan batu mulia itu sebagai Ratna Permata Bumi. Orang bijak akan menganggap hanya adanya tiga Ratna Permata Bumi yaitu air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. Dua dari tiga Ratna Permata Bumi itu ada dalam tiga sumber alam tersebut.

Karena itu, tiga sumber alam tersebut harus benar-benar dijaga stabilitas dinamika eksistensinya. Kalau tiga Ratna Permata Bumi itu tidak berfungsi dengan baik di Bali maka keadaan jagat Bali akan tidak enteg atau ajeg. Samudra, Wana dan Danu Kerti itu sebagai upaya untuk Ngentegang unsur alam dari jagat Bali. Sedangkan Jagat Kerti, Jana Kerti untuk Ngentegang unsur masyarakat dan manusia dari jagat Bali.

Ngentegang unsur alam dan manusia Bali dari sudut pandang spiritual Hindu. Inilah Atma Kerti. Dengan kata lain tegaknya kesucian Atman dalam diri manusia itu diwujudkan dengan menjaga stabilitas dinamika Samudra, Wana, Danu, Jagat dan Jana Kerthi tersebut. Kesucian Atman itulah yang memberikan sinar suci pada pelestarian keenam unsur Sad Kerti tersebut.

Atman sebagai jiwa Bhuwana Alit selalu memancarkan kesucian. Tetapi pancaran kesucian itu tidak selalu dapat menunjukkan perilaku mulia kalau pancaran kesucian Atman itu ditutupi oleh keruhnya pikiran karena dikuasai oleh hawa nafsu yang berasal dari indria. Karena itu kesempurnaan indria hendaknya selalu berada di bawah kendali kesempurnaan pikiran. Pikiran yang kuat berada di bawah kendali kesadaran budi.

Kondisi diri yang demikian itulah akan menjadi media yang mampu mewujudkan kesucian Atman dalam perilaku sehari-hari. Kondisi Bhuwana Alit yang demikian itulah akan mampu menjaga ”entegnya” Rta dan Dharma sebagai dasar mengendalikan dinamika alam dan manusia. Kalau dinamika alam mengikuti Rta dan dinamika manusia mengikuti Dharma maka jagat pun akan menjadi enteg atau stabil.

Demikianlah upacara Aci Pengenteg Jagat di Pura Gelap sebagai suatu momentum untuk mengingatkan umat Hindu di Bali agar selalu menjaga stabilnya Rta dan Dharma agar kehidupan di bumi ini terselenggara dengan sebaik-baiknya. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/12/6/bd1.htm

WEDAWAKYA
Memuja Batara Iswara

Aham rudrebhir vasubhih caramy
aham adityair uta visvadevaih,
aham mitravarunobha bibharmy
aham indragni aham asvinobha.
(Rgveda.X.125.1).

Maksudnya:
Aku gerakkan kekuatan alam menjadi tenaga dan kekayaan. Aku bercahaya menjadi kekuatan yang cemerlang. Aku menyangga sumber kekuatan alam dalam wujud air dan cahaya. Aku adalah pusat energi, cahaya sebagai kehidupan yang datang dari matahari, udara, api dan segala kekuatan alam yang berguna.

PURA Besakih sebagai tempat pemujaan Tuhan adalah simbol Bhuwana Agung. Hal ini sangat sesuai dengan Mantra Yajurveda XXXX.1 yang menyatakan bahwa alam semesta inilah stana Tuhan yang sesungguhnya. Sebagai lambang alam semesta Pura Besakih dibagi menjadi dua bagian yaitu Soring Ambal-ambal dan Luhuring Ambal-ambal. Soring Ambal-ambal itu lambang alam bawah yang disebut Sapta Patala. Sedangkan Luhuring Ambal-ambal lambang alam atas yang disebut Sapta Loka.

Seluruh kompleks Pura Besakih itu terdiri atas 20 kompleks pura. Ada empat pura yang disebut Pura Catur Dala atau Catur Loka Pala yaitu Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Pura Ulun Kulkul dan Pura Batu Madeg. Di tengah-tengah Pura Penataran Agung Besakih terdiri atas tujuh Mandala atau tujuh lapisan alam atas atau Sapta Loka.

Pura Gelap sebagai salah satu Pura Catur Lawa adalah sebagai Pura Pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Batara Iswara pelindung arah timur alam semesta atau Bhuwana Agung. Nama-nama pura di kompleks Pura Besakih itu memang sangat khas lokal Bali. Tetapi di balik ciri khas lokal itu terbungkus konsep yang sangat universal. Memang pemuka-pemuka Hindu di masa lampau sudah menggunakan konsep ”berpikir universal berlaku lokal”. Meskipun tidak dengan istilah seperti itu.

Istilah ”gelap” dalam nama Pura Gelap ini bukan berasal dari bahasa Indonesia. Kata ”gelap” dalam nama Pura Gelap ini berasal dari bahasa Bali kuno yang artinya petir atau kilat dengan sinarnya yang putih menyilaukan itu. Pura Gelap sebagai media pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara yaitu dewanya sinar. Bumi ini bisa menjadi wahana kehidupan karena adanya sinar matahari. Sinar matahari inilah sebagai pemimpin sumber-sumber alam lainnya sehingga berfungsi memberikan kehidupan pada isi alam ini.

Tumbuh-tumbuhan meskipun disiram dengan air yang memadai tidak akan bisa hidup tanpa kena sinar matahari. Karena itu dalam kutipan Mantra Rgveda di atas dinyatakan Tuhan dalam wujud cahaya matahari itulah sebagai sumber kekuatan alam. Rohani orang-orang suci pun akan semakin kuat dengan meditasi pada cahaya alam tersebut. Karena itu pada zaman dulu, konon, Pura Gelap ini tempat meditasi para pandita maupun orang yang menyiapkan diri menjadi pandita.

Pura ini juga dinyatakan sebagai penegak dan pemelihara kesucian ”kependitaan”. Pura Gelap lambang dari pusat sinar Bhuwana Agung. Dengan sinar alam semesta ciptaan Tuhan ini semua kekuatan unsur alam ini menjadi berfungsi sebagai sumber kehidupan semua makhluk hidup penghuni alam ini. Karena itu Pura Gelap ini menjadi pusat meditasi umat manusia yang berkehendak membangkitkan sinar suci yang bersemayam dalam dirinya atau di Bhuwana Alit.

Kalau sinar Bhuwana Agung dapat terpadu dengan sinar di Bhuwana Alit atas usaha umat manusia maka keharmonisan hubungan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit pun terjadi. Hal ini sebagai salah satu penyebab terwujudnya kehidupan yang bahagia atau hita karana. Pura Gelap tidak semata-mata sebagai tempat meditasinya para pandita, tetapi juga sebagai tempat meditasi semua umat terutama mereka yang ingin mengembangkan kepemimpinannya secara baik dan benar.

Areal Pura Gelap ini mula-mulanya tidak begitu besar. Setelah direhabilitasi pura ini diperluas bahkan sekarang menggunakan Kori Agung. Sebelumnya hanya menggunakan Candi Bentar sebagai pintu masuknya. Karena pura ini merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Pura Penataran Agung. Sebelumnya hanya Pura Penataran Agung yang menggunakan Kori Agung atau juga disebut Candi Kurung.

Pelinggih utama di Pura Gelap Besakih ini adalah Meru Tumpang Tiga sebagai media untuk memuja Batara Iswara sebagai manifestasi Tuhan pelindung arah timur dari alam semesta ini. Batara Iswara juga sebagai Dewa kecemerlangan dan kecerahan dari Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. Atap Meru yang bertingkat-tingkat itu lambang engelukunan Dasaksara dan lambang urip bhuwana.

Pengelukunan Dasaksara adalah Aksara ”Om” yang bisa dikembangkan menjadi tiga aksara, lima, tujuh sampai sebelas aksara. Maknanya secara filosofis sama. Meru Tumpang Tiga makna filosofisnya sama dengan Meru Tumpang Lima sampai Sebelas.

Menurut Kekawin Dharma Sunia, Meru itu adalah lambang alam atau Bhuwana stana Tuhan yang sesungguhnya. Meru Tumpang Tiga di Pura Gelap lambang Tri Bhuwana yaitu Bhur, Bhuwah dan Swah Loka. Artinya Tuhan sebagai Batara Iswara menyinari kehidupan di Tri Bhuwana tersebut. Di dalam Meru Tumpang Tiga ini terdapat batu simbol Lingga stana Batara Siwa. Di samping itu, di Pura Gelap ada Pelinggih Sanggara Agung yang menyerupai Padmasana untuk menstanakan tirtha yang diambil dari Pura Tirtha saat ada upacara penting di Pura Penataran Agung Besakih.

Di Pura Gelap terdapat juga Pelinggih Dasar Sapta Patala. Pelinggih ini sebagai media memuja Tuhan sebagai jiwa alam bawah yang terdiri atas tujuh lapisan yang disebut Sapta Patala. Unsur-unsur Sapta Patala ini setelah mendapatkan sinar alam semesta barulah akan berfungsi sebagaimana mestinya. Kerja sama alam inilah yang menghasilkan unsur-unsur alam yang menyebabkan berlangsungnya kehidupan di bumi ini.

Oleh karena itu, manusia hendaknya tidak merusak kerja sama unsur alam ini. Karena kerja sama unsur alam ini berlangsung berkat adanya Rta yaitu hukum alam ciptaan Tuhan. Merusak proses alam sesuai dengan Rta berarti dosa karena tergolong perilaku melawan takdir Tuhan. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/12/6/bd2.htm

Pura Giri Selaka, Alas Purwo, Banyuwangi

Ingin Jadi Sumbu Kebangkitan Majapahit

Ketika Kerajaan Majapahit runtuh abad ke-14, para manggala kerajaan berucap, ”Boleh saja kerajaan mereka dihancurkan, tetapi tunggu lima ratus tahun lagi anak cucu mereka akan bangkit dan menagih kembali bekas wilayah Majapahit.” Itulah yang diyakini sebagian besar umat Hindu Banyuwangi, sehingga kini ada kebanggaan bagi mereka untuk kembali ke agama Hindu. Semangat itulah yang menyertai pelaksanaan piodalan di Pura Giri Selaka, Alas Purwo, pada hari Pagerwesi, Rabu (11/9) lalu. Bagaimana kondisi umat Hindu di sekitar Ala Purwo saat ini? Masalah apa yang dihadapi umat Hindu di sana untuk kembali kepada jati diri sebagai Hindu?

Mendengar nama Alas Purwo, imajinasi orang pasti akan tertuju pada sebuah kawasan hutan lebat. Hal itu memang benar, Alas Purwo adalah sebuah kawasan hutan Taman Nasional di bawah lingkup Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Lantas apa hubungannya antara Pura Giri Selaka dan Alas Purwo itu?

Itulah fenomena yang tampaknya mengiringi keberadaan hampir semua pura bersejarah, tidak saja di Bali namun juga di Jawa. Untuk menuju Pura Alas Purwo yang disungsung umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, para pemedek mesti memasuki kawasan hutan Taman Nasional Alas Purwo. Dari pintu depan kawasan hutan Taman Nasional, diperlukan waktu satu jam menuju Pura Giri Selaka dengan kondisi jalan yang belum beraspal.

Di kanan-kiri kita hanya berjejer hutan jati, dan jumlah masyarakat yang lewat pun bisa dihitung dengan jari. Bagi pemedek yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, masyarakat sekitar menyiapkan sebuah angkutan tradisional yang lazim disebut grandong. Angkutan ini mirip sebuah mobil truk, akan tetapi mesinnya menggunakan mesin genset. Harga sewanya menuju Pura Giri Selaka sekitar Rp 2.500 per sekali angkut.

Untuk menemukan Pura Giri Selaka, memang harus siap banyak bertanya kepada masyarakat di sepanjang perjalanan. Jika tidak, jangan harap perjalanan bisa lancar, apalagi baru sekali-dua kali ke tempat tujuan. Pasalnya, banyak cabang jalan yang tanpa pelang nama Alas Purwo, sehingga perjalanan dari Bali menuju Alas Purwo bisa kita tempuh 9-10 jam dengan kondisi seperti itu.

Pura Giri Selaka berada di tengah hutan dan sekitar tiga kilometernya adalah kawasan wisata pantai Plengkung, bibir Alas Purwo itu sendiri. Di kawasan ini, memang tidak ada satu pun rumah penduduk. Kalau mau bermalam, pihak pengelola Taman Wisata menyediakan sejumlah penginapan sederhana, jaraknya sekitar satu kilometer dari Pura Giri Selaka. Meski tersedia sejumlah penginapan, tampaknya para pemedek yang ingin tangkil ke Pura Giri Selaka lebih memilih makemit di areal pura. Apalagi, areal pura saat ini telah mencapai luas dua hektar hasil pemberian Menteri Kehutanan sebagai penanggung jawab Taman Nasional bersangkutan.

Menurut sesepuh umat Hindu Tegaldlimo, Pemangku Ali Wahono, sebetulnya Pura Giri Selaka ditemukan secara tidak sengaja oleh umat di sekitarnya pada tahun 1967. Saat itu, masyarakat Kecamatan Tegaldlimo melakukan perabasan terhadap sejumlah kawasan hutan Alas Purwo untuk bercocok tanam. Daerah di sekitar pura pun tampak cukup makmur dengan hasil palawijanya. Suatu ketika, di tempat berdirinya Pura Alas Purwo yang oleh masyarakat disebut Situs Alas Purwo, ada sebuah gundukan tanah.

Masyarakat ingin meratakan dan menjadikan lahan cocok tanam. Tanpa diduga, ada bungkahan-bungkahan bata besar yang masih tertumpuk. Persis seperti gapura kecil. Lantas masyarakat sekitarnya membawa bungkahan bata-bata itu ke rumahnya. Ada yang menjadikan bahan membuat tungku dapur, ada juga untuk membuat alas rumah. Rupanya, keluguan masyarakat itu telah menyebabkan munculnya musibah bagi warga yang mengambil bata-bata tersebut.

Selang beberapa saat setelah mengambil bata itu, semuanya jatuh sakit. Pada saat itulah, ada sabda agar bongkahan batu bata tersebut dikembalikan ke tempatnya semula. Bongkahan-bongkahan itu adalah tempat petapakan maharesi suci Hindu zaman dulu. Meski belum ada catatan resmi dalam prasasti, masyarakat mempercayai yang malinggih di situs Pura Alas Purwo adalah Empu Bharadah. Tetapi, ada juga yang menyebut Rsi Markandiya sebelum mereka menuju Bali. Selanjutnya, masyarakat setempat sangat yakin dengan kekuatan dan kesucian situs Alas Purwo tersebut. Sampai ada keinginan seorang warga untuk memagari situs itu agar aman dari jangkauan orang jahil. Akan tetapi, belum sampai tuntas mewujudkan keinginannya, warga tersebut keburu meninggal. Dari kejadian itu didapatkan sabda, kalau situs Alas Purwo itu wajib dipuja semua umat manusia di muka bumi ini tanpa dibatasi sekat-sekat golongan.

Kemudian ada upaya dari pihak Dinas Purbakala untuk menjadikan situs Alas Purwo sebagai benda peninggalan sejarah. Di sisi lain, umat Hindu yang mayoritas bertempat tinggal di sekitar Mariyan — nama kawasan yang telah dibabat hutannya itu — tetap meyakini kalau situs itu adalah milik nenek moyang Hindu zaman dulu. Untuk menghindari adanya kejadian yang tak diinginkan, umat Hindu akhirnya membuatkan sebuah pura, sekitar 65 meter dari situs Alas Purwo saat ini. Sementara situs itu sendiri dibiarkan seperti semula, namun tetap menjadi tempat pemujaan bagi semua umat manusia, tak terbatas hanya umat Hindu.

Bicara soal kesucian dan keajaiban situs Alas Purwo ini, memang berderet peristiwa menjadi pengalaman masyarakat penyungsung-nya. Itulah sebabnya, sejumlah pejabat maupun mantan pejabat terkenal pernah melakukan pemujaan di situs Alas Purwo ini. Tujuannya pun bermacam-macam. ”Hampir semua yang di-tunas, kesuecan Ida Batara yang malinggih di sini. Hanya, semua kembali kepada swakarma-nya,” ujar Mangku Adi, salah seorang pemangku setempat. Seiring dengan perjalanan waktu, pada tahun 1972 ada kebijakan Departemen Kehutanan dan Perkebunan untuk menagih kembali lahan hasil rabasan penduduk di kawasan Mariyan tersebut. Secara bertahap lahan dikembalikan menjadi hutan jati seperti sekarang ini, dan semua penduduk yang melakukan perabasan hutan itu kembali ke kampung masing-masing. Proses pengembaliannya ini selesai pada tahun 1975. Setelah itulah, situs Alas Purwo tinggal pada kesendiriannya, jauh dari rumah penduduk.

Meski demikian, Departemen Kehutanan memberikan kebebasan kepada mayarakat yang ingin melakukan persembahyangan atau pun meditasi di situs tersebut. Apalagi, umat Hindu yang kini telah kembali ”pulang” ke kawitan-nya setelah peristiwa G-30-S/PKI tahun 1965 lalu. Mereka beranggapan sekaranglah kebangkitan Hindu itu akan terbukti, setelah 500 tahun runtuhnya Majapahit pada abad ke-14. Dan, itu salah satunya dimulai dari kerinduan umat Hindu Banyuwangi untuk menelesuri jejak nenek moyangnya. Diharapkan, dari situs Alas Purwo inilah bisa jadi sumbu penghubung Hindu tanah Jawa kelak. * Agus Astapa

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/9/25/bd1.htm

Berbuat Baik untuk Leluhur dan Keturunan

Dasa puuvaanparaan vamsyan
Aatmanam caikavim sakam
Braahmiputrah sukrita krnmoca
Yedenasah pitr rna
(Manawa Dharmasastra III.37).

Maksudnya:
Seorang anak yang lahir dari Brahma Vivaha, jika ia melakukan perbuatan baik akan dapat membebaskan dosa-dosa sepuluh tingkat leluhurnya dan sepuluh tingkat keturunannya dan ia sendiri yang kedua puluh satu.

SLOKA Manawa Dharmasastra ini memiliki makna yang sangat luas. Untuk menyelamatkan leluhur dan keturunan harus dimulai dari melakukan perkawinan dengan cara yang terhormat. Perkawinan Brahma Vivaha adalah jenis perkawinan yang paling terhormat. Di samping dilakukan dengan landasan cinta sama cinta yang juga sangat penting dilakukan dengan pertimbangan kerohanian yang dalam.

Kalau dari perkawinan ini melahirkan putra dan putra itu berperilaku dan berbuat baik maka perbuatan baik itu akan dapat membebaskan dosa-dosa leluhur dan keturunannya, di samping diri sang putra sendiri. Perbuatan baik yang bagaimana dapat menyelamatkan membebaskan leluhur dan keturunan tersebut. Dalam Narada Purana disebutkan nasihat Dewa Yama kepada Raja Bagirata yang ingin membebaskan dosa-dosa leluhurnya yang pernah menghina dan menyiksa Resi Kapila yang sedang bertapa.

Salah satu nasihat Dewa Yama kepada Raja Bagirata adalah dengan jalan melanjutkan cita-cita suci dari leluhur. Cita-cita suci leluhur itu tidak semata-mata melakukan meditasi atau Dewasraya. Tetapi, dengan melakukan perbuatannya nyata seperti menjaga tetap lestarinya Sarwaprani (tumbuh-tumbuhan dan hewan). Menolong mereka yang sedang susah dan menderita. Membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang memiliki keahlian dan keterampilan. Membangun pasar, tempat peristirahatan, menghormati mereka yang berjasa, dan menegakkan keadilan, serta memelihara tempat pemujaan, dst.

Dengan perbuatan baik itulah leluhur akan bebas dari dosa dan kemudian keturunan mendapatkan keselamatan. Untuk memelihara dan melestarikan tumbuh-tumbuhan dan hewan leluhur umat Hindu di zaman lampau meninggalkan warisan konsep kawasan suci. Kawasan suci itu disebut Alas Angker, Alas Rasmini atau Alas Arum. Salah satu cara melestarikan kawasan suci tersebut dengan membangun tempat pemujaan sederhana dengan areal yang tidak luas. Tempat pemujaan di hutan itu tidak perlu didatangi oleh banyak umat. Umat yang datang ke tempat pemujaan di hutan itu hanyalah orang-orang yang terpilih yang memang benar-benar bertujuan untuk melakukan pemujaan yang tulus. Bukan untuk rekreasi atau untuk mereka yang berkaul yang memohon atau melestarikan jabatan, mohon memenangkan tender proyek dan tujuan-tujuan duniawi lainnya. Karena itu, banyak leluhur kita di masa lampau meninggalkan hutan-hutan yang disebut alas angker. Di Bali banyak hutan yang distatuskan sebagai Alas Angker.

Tetapi, sekarang sudah banyak yang dirusak ditebangi pohon-pohon yang berfungsi sebagai waduk menahan air. Di Pulau Jawa pun masih banyak ada peninggalan Alas Angker seperti misalnya Alas Purwa di Jawa Timur. Alas Purwa ini juga merupakan peninggalan leluhur di masa lampau sebagai Alas Angker.

Arti hutan yang distatuskan sebagai Alas Angker oleh leluhur di masa lampau bertujuan menjaga hutan dengan menstatuskan hutan itu sebagai hutan yang keramat. Hutan yang disebut Alas Angker itu karena tempatnya dikeramatkan. Di sana tentu banyak vibrasi kesucian yang tersembunyi di balik lebatnya pepohonan di hutan tersebut. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki kepekaan rohani akan sangat tertarik untuk datang ke tempat-tempat yang seperti itu. Kita tentunya sangat mengharap siapa pun boleh datang ke hutan yang angker seperti itu, cuma yang perlu dijaga adalah niat suci dan tulus ikhlas. Janganlah datang dengan tujuan untuk rekreasi duniawi atau memanjatkan permohonan yang Rajasika dan Tamasika.

Kalau Alas Angker tidak lagi memancarkan keangkerannya maka orang-orang yang berniat jahat seperti pencuri kayu hutan akan tidak merasa takut datang ke hutan yang sudah merosot keangkerannya. Di sinilah kita tidak melanjutkan konsep Alas Angker yang ditinggalkan oleh leluhur kita. Kalau ini sampai terjadi tinggal kita menunggu balasannya. Balasan itu akan menyengsarakan rakyat seperti hutan gundul, banyak pohon yang tumbang, sumber air menghilang, udara terpolusi, cuaca menjadi makin panas.

Dari alam yang rusak itu manusia tinggal memetik buah penderitaan darinya. Dengan merusak alam seperti itu, leluhur dan keturunan pun tidak akan terbebaskan dari dosa-dosanya. Kita bersyukur kepada umat di Jawa Timur yang makin sadar untuk menjaga keangkeran hutannya seperti umat Hindu di Alas Purwa. Semoga hutan-hutan berserta isinya dijaga dengan cara niskala diikuti dengan cara-cara yang sekala yaitu dengan langkah nyata melestarikan hutan tersebut.

* Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/9/25/bd3.htm

Umat Hindu di Sekitar Alas Purwo
Jati Diri sebagai Penganut Hindu Mulai Bangkit

PIODALAN di Pura Giri Selaka, Alas Purwo, Banyuwangi, yang jatuh tiap hari Pagerwesi, selalu menyisakan keunikan tersendiri. Seperti tampak pada piodalan Rabu (11/8) lalu, perpaduan unsur Hindu Bali dengan Hindu Jawa menjadi sarana pemersatu ke tujuan yang sama, yakni pemujaan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Umat Hindu Banyuwangi seolah mendapatkan tuntutan spiritual untuk menemukan kembali nenek moyangnya. Umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo, yang mewilayahi Pura Giri Selaka, Alas Purwo, Banyuwangi saat ini jumlahnya sekitar 1.500 KK. Mereka tersebar di sembilan desa. Sebagian besar mata pencaharian mereka sebagai petani.

Menurut Ketua Parisada Kecamatan Tegaldlimo Yuwono, jika menengok sejarah nenek moyang mereka di bumi Jawa, semuanya bermula dari ajaran Hindu. Hanya, situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan mereka muncul. Mereka tidak berani terang-terangan menunjukkan jati diri sebagai umat Hindu. Mereka umumnya mengaku diri sebagai penganut kepercayaan atau kebatinan.

Baru sejak tahun 1967, mereka mencoba menemukan identitas diri sebagai umat Hindu. Itu pun sebagian besar mereka yang memang imannya kuat. Lain halnya yang tidak kuat, apalagi mayoritas umat Hindu tinggal jauh di pedalaman dan berada di golongan miskin. Mereka menutup diri yang pada akhirnya tak percaya diri.

Meski mereka lama hidup terasing, niat untuk kembali mencari jati dirinya yang sebenarnya sangat tinggi. Dengan perjuangan yang tidak kenal lelah, umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo akhirnya berhasil mewujudkan sebuah Pura Giri Selaka, Alas Purwo, sebagai salah satu simbol Hindu yang kini mereka banggakan. Pura yang menelan lahan dua hektar itu, memang awalnya adalah sebuah situs yang masuk catatan Dinas Kepurbakalaan.

Berbekal dengan keyakinan umat Hindu itulah, sejak 1996, Pura Giri Selaka, Alas Purwo mulai dirintis pembangunannya. Jumlah dana yang dianggarkan membangun pura itu mencapai Rp 12 milyar dan dibagi menjadi tiga tahap. Untuk tahap I, pembangunan telah mencapai pada upacara pemelaspasan kori agung, padmasana dan sejumlah pelinggih. Untuk tahap berikutnya, ditargetkan dalam lima tahun ke depan.

Kurangnya dana bagi umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo bukanlah menjadi faktor penghambat pembangunan Pura Giri Selaka, Alas Purwo. Sejumlah donatur berdatangan, utamanya umat Hindu dari Bali. Tak terkecuali juga Gubernur Bali Dewa Made Beratha. ”Kami hanya ingin mendorong umat Hindu sekitar Alas Purwo, merekalah yang kelak menjadi penyokong utama keberadaan Hindu di Banyuwangi,” ujar Gubernur Bali Dewa Made Beratha yang turut hadir saat piodalan Pagerwesi belum lama ini.

Ketua panitia piodalan Pura Giri Selaka, Alas Purwo, Suparno mengatakan, dipilihnya Pagerwesi sebagai hari piodalan merupakan hasil kesepakatan umat Hindu Banyuwangi. Kebetulan pula, mendem pedagingan Pura Giri Selaka, Alas Purwo pertama kali dilaksanakan bertepatan dengan hari Pagerwesi.

Untuk tiap kali proses piodalan, umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo selalu diusahakan menjadi ujung tombak karya. Dalam proses pembangunan, peran umat Hindu dari Bali juga dilibatkan secara tidak langsung. Seperti dituturkan pemangku Pura Giri Selaka Mangku Adi, hampir semua rangkaian piodalan dituntun sesepuh Hindu dari Bali. Mereka selalu menyebut sesepuh Hindu, sebagai penghargaan atas kedalaman terhadap ajaran-ajaran Hindu yang dulu mereka sempat abaikan. Sebutlah untuk piodalan pada Pagerwesi yang lalu, karya di-puput oleh Ida Pedanda Gde Putra Bajing dan Ida Pedanda Putra Tembau. Sementara untuk proses lainnya, telah dipercayakan kepada para pengemong dan tokoh Hindu setempat.

Seperti halnya di sejumlah pura lainnya di luar Bali, untuk di Pura Giri Selaka, Alas Purwo, semangat kegotongroyongan dan ngayah umat sangat tinggi. Walaupun mereka tinggal jauh dari Pura Giri Selaka, tetapi untuk rangkaian piodalan telah memanggil semangat ngayah. Mereka beramai-ramai datang ke pura. Seperti dikatakan Suparno, dua hari sebelum piodalan, mereka telah makemit di Pura Giri Selaka. Tidak saja, para orang tua, tetapi juga sejumlah anak muda dan anak-anak Hindu pun memiliki semangat ngayah yang tinggi.

Pembina Yayasan Widya Puspita Soekardi yang khusus membina anak-anak sekolah, mengaku ada kebanggaan yang didapatkan anak-anak mereka ketika ngayah menari di pura atau dalam tiap kali acara keagamaan. Itulah sebabnya, yayasan yang berdiri sejak dua tahun lalu itu, tidak pernah bersedia tampil di luar acara piodalan atau keagamaan. Dengan demikian, anak-anak Hindu Banyuwangi sejak kecil telah tertanam sifat mayadnya, sebagai filosofi mendasar dari ajaran Hindu.

Ia mengatakan, kalau sudah diajak ngayah, mereka pasti senang, walaupun hanya tidur di bawah tenda selama dua atau tiga hari sebelum piodalan. Soekardi menambahkan, untuk di Pura Giri Selaka, memang pihaknya membawa tenda khusus untuk makemit penarinya. Selain melibatkan sejumlah tarian daerah Banyuwangi sebagai sarana ngayah dalam piodalan kali ini, para generasi muda Hindu Kecamatan Tegaldlimo, lokasi Pura Giri Selaka, juga menyediakan waktunya untuk membuat canang sari bagi para pemedek. Hal itu dilakukan sejak hampir seminggu sebelum piodalan dilaksanakan. Dengan demikian, pemedek yang ingin tangkil, jangan kaget bila panitia piodalan telah menyiapkan segala sarana persembahyangan.

”Kami bangga akan filosofi Hindu yang mengajarkan semangat mayadnya. Mudah-mudahan kawan-kawan kami yang lain, bisa kembali seperti kami,” ujar Suyono, seorang pemuda setempat. Yang dia maksud kawan lain, tentunya mereka yang selama ini berpaling ke keyakinan lain, meski mengakui nenek moyangnya adalah penganut Hindu. Keyakinan itu didapatkan setelah melihat berbagai tradisi yang dilaksanakan selama ini oleh masyarakat setempat, dengan menyerupai ajaran Hindu. ”Kami perlu pembinaan intensif lagi soal ajaran Hindu dan bersyukur kawan-kawan dari Bali bersedia menuntut kami di Jawa,” katanya. * Agus Astapa

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/9/25/bd2.htm

Memaknai Tumpek Bubuh —-
Bersyukur dan Menghargai Ciptaan Tuhan

Sabtu Kliwon 21 Feb 2009, umat Hindu kembali memperingati Tumpek Wariga. Tumpek yang memiliki nama cukup banyak — Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh dan Tumpek Pengatag — itu sangat erat kaitannya dengan dunia pertanian. Secara ritual, pada hari itu umat melaksanakan upacara persembahyangan ke hadapan Batara Sangkara — manifestasi Tuhan dalam menciptakan kesuburan tumbuh-tumbuhan. Dalam konteks kekinian, perayaan hari keagamaan seperti itu tentu tidak hanya berhenti pada kegitan ritual semata. Lebih dari itu, umat dituntut untuk mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Tumpek Bubuh dalam kehidupan sehari-hari.

 ==================================================

Sesungguhnya, perayaan Tumpek Bubuh salah satu komponen penting dalam mengajegkan konsep Tri Hita Karana. Salah satu unsur penting dalam konsep itu adalah hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungannya — dalam kaitan ini hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan. ”Ajaran yang terkandung dalam Tumpek Bubuh ini sangat luhur. Umat bukan hanya mesti menghargai ciptaan Tuhan, tetapi sekaligus melestarikan tumbuh-tumbuhan yang telah mensejahterakan kehidupannya,” kata tokoh agama Prof. Dr. I Wayan Jendra, S.U.

Alasannya, jika lingkungan khususnya tumbuh-tumbuhan secara kuantitas dan kualitas tidak sesuai dengan kebutuhan maka manusia akan menjadi sangat menderita. Karena itu, sangat wajar umat memberikan dukungan sepenuhnya kepada petani.

Tumbuh-tumbuhan, kata Jendra, telah memberikan banyak manfaat bagi umat manusia. Tumbuh-tumbuhan memberikan prana berupa oksigen, keteduhan, perlindungan dan sumber makanan bagi manusia. Bahkan, dalam Canakya Nitisastra dan sumber-sumber lainnya disebutkan, sesungguhnya hidup manusia dengan lingkungan saling mengisi atau saling melengkapi yang dikenal dengan istilah simbiosis mutualisme.

Jika lingkungan mengalami disharmoni, tentu akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Misalnya, jika hutan yang tersedia mengalami kegundulan akibat adanya penebangan liar, maka uap air sebagai cikal bakal hujan tidak akan bisa menghendap. Demikian juga bila terjadi hujan lebat, akan terjadi banjir besar karena tidak ada pohon yang menahan air.

Dikatakan, ditinjau dari nuansa religius spiritual, tumbuh-tumbuhan adalah evolusi lebih awal dari kehidupan manusia. Hal itu diakui oleh Darwin dan Maharsi Patanjali. Ditinjau dari kebutuhan manusia akan makanan, tumbuh-tumbuhan telah memberi penghidupan.

Karena itu, Tumpek Wariga ini mesti dijadikan tonggak untuk memelihara kelestarian lingkungan, khususnya tumbuh-tumbuhan. Apalagi, di Bali saat ini hutan-hutan mulai gundul, bahkah kini telah ditebang untuk pemukiman. Ini tentu akan sangat mengganggu ekosistem yang ada.

Pada Tumpek Bubuh itu manusia memberi penghargaan dan kasih sayang terhadap tumbuh-tumbuhan agar berbuah banyak, berbunga lebat dan berumbi untuk kepentingan yadnya –persembahan kepada Tuhan pada hari raya Galungan, 25 hari setelah Tumpek Bubuh.

Dikatakan, banyak yang beranggapan bahwa Tumpek Bubuh hanya ”milik” para petani di pedesaan, sehingga para pegawai tidak perlu merayakannya. Anggapan semacam ini sangat keliru karena pengertian Tumpek Bubuh tidak sesempit itu. Umat manusia, termasuk para pegawai, mesti sadar bahwa mereka juga hidup karena tumbuh-tumbuhan — kendati untuk membeli buah, sayur dan beras, mereka cukup menyediakan uang dari hasil kerjanya. ”Pernahkah kita mendoakan agar petani bisa hidup berbahagia,” tanya Jendra.

Sesungguhnya pula, kata Guru Besar Fakultas Sastra Unud ini, aplikasi nilai-nilai yang terkandung dalam Tumpek Bubuh bukan hanya untuk kepentingan umat Hindu, tetapi juga umat lain. Tanpa tumbuh-tumbuhan, umat manusia tidak akan bisa hidup. ”Jadi nilai yang terkandung dalam Tumpek Bubuh sangat universal. Karena itu, melalui perayaan Tumpek Bubuh, umat manusia mengucap syukur kepada Tuhan karena telah diberi kehidupan,” ujarnya.

Ketika nilai-nilai Tumpek Bubuh dihubungkan dengan wacana kembali ke dunia pertanian — pascaledakan bom Kuta — sesungguhnya sesuatu yang memang harus mengacu ke sana. Lagi pula, kata Jendra, pariwisata dan pertanian sangat erat hubungannya. Pariwisata sangat ditunjang oleh pertanian. Hasil pertanian sangat menunjang sektor pariwisata. Oleh karena itu, pertanian memang harus tetap dibinakembangkan secara intensif dengan menggunakan teknologi modern. Dengan demikian, dunia pertanian betul-betul memberikan kesejahteraan bagi umat manusia, khususnya para petani.

Metode

Sementara itu, Kakanwil Agama Propinsi Bali Drs. I Gusti Made Ngurah mengatakan, peringatan Tumpek Bubuh merupakan semacam metode untuk mengucap syukur kepada Tuhan karena telah diciptakan tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan telah memberikan kehidupan bagi umat manusia. Karena itu, umat wajib mengaturkan rasa angayubagia kepada Tuhan, melalui ritual Tumpek Bubuh.

Melalui peringatan itu, umat diingatkan dan disadarkan kembali bahwa dunia pertanian memang penting. ”Jadi, peringatan Tumpek Bubuh bisa dikatakan semacam metode untuk menyadari manusia akan pentingnya tumbuh-tumbuhan,” katanya.

Melalui perayaan itu umat mengaturkan rasa bakti kepada Tuhan karena telah diciptakan beragam tumbuh-timbuhan yang telah banyak membantu kehidupan manusia.

Dalam konteks wacana mesti kembali ke pertanian, kata mantan Direktur APGAH — sekarang STAH itu — seolah-olah umat sudah melupakan kawitan, ajaran asal yang adilihung. Padahal, dunia pertanian mesti tetap terpelihara. Dunia yang telah memberi kehidupan ini hendaknya tetap dibina dan dilestarikan. Kita hidup dan berkembang seperti sekarang karena tumbuh-tumbuhan. (lun)

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2003/5/21/bd1.htm

Renungan Tumpek Uduh

Lestarikan Alam Tak Ubahnya Rawat Diri Sendiri

Setiap rerahinan gumi di Bali sesungguhnya mengandung ajaran atau pesan yang amat mulia. Termasuk, rerahinan Tumpek Uduh atau Tumpek Pengatag atau dikenal juga dengan sebutan Tumpek Wariga, Sabtu (21/2) hari ini. Rerahinan yang jatuh setiap enam bulan itu mengandung pesan pelestarian alam. Karena itu, alam perlu dirawat agar lestari. Mengawal atau melestarikan alam (makrokosmos) tak ubahnya merawat diri sendiri (mikrokosmos).

DOSEN IHDN Denpasar Drs. Made Girinata, M.Ag. dan Drs. Made Surada, M.A. Jumat (20/2) kemarin mengatakan, pada rerahinan Tumpek Uduh ini umat memuja Dewa Sangkara, manifestasi Tuhan penguasa tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi itu sangat berguna bagi kehidupan manusia. Karena itu, umat mesti bersyukur kepada Sang Pencipta, melalui ritual Tumpek Uduh atau Tumpek Wariga. Dalam konteks itu yang dipuja bukanlah tumbuh-tumbuhan, tetapi umat mengaturkan bakti kepada Tuhan yang telah memberi kekuatan atau kesuburan hidup berbagai tumbuhan. Pada Tumpek Uduh, umat umumnya mengaturkan sesajen pada pohon-pohon produktif, seperti kelapa, pisang dan pohon buah-buahan lainnya - -mengucap puji syukur ke hadapan Tuhan. Pohon-pohon itu diupacarai mewakili tumbuh-tumbuhan yang lain, karena paling sering dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari atau paling ‘dekat’ dengan kehidupan umat manusia.

Girinata yang Dekan Fakultas Dharma Acarya IHDN ini menambahkan, tumbuh-tumbuhan atau pepohonan yang ada di alam semesta ini sangat membantu umat manusia. Bisa dibayangkan, jika umat hidup tanpa tumbuh-tumbuhan. Karena itu, ada etika dalam pemanfaatannya. Misalnya, ketika umat Hindu di Bali menebang pohon, ada etika yang mesti dijalankan. Sebelum pohon ditebang, umumnya umat memohon izin dulu kepada Tuhan. Setelah pohon ditumbangkan, bekas potongan itu ditancapkan ranting atau pucuk pohon. Ini sesungguhnya mengandung makna simbolik bahwa umat diingatkan melakukan penanaman kembali. Satu pohon ditebang, paling tidak di bekas tebangan itu ditanami satu pohon baru.

Hal senada dikatakan Made Surada yang Dekan Fakultas Dharma Duta IHDN. Melalui ritual Tumpek Wariga, umat Hindu sesungguhnya diingatkan agar tetap melestarikan alam. Di Bali, pesan pelestarian alam itu dikemas dengan teologi dan budaya lokal yakni Tumpek Wariga atau Tumpek Uduh. Sebab, jika alam rusak, dampaknya akan buruk bagi kehidupan manusia.

Dalam Weda disebutkan, tumbuh-tumbuhan dan air adalah pelindung manusia. Bahkan, dalam Reg Weda disebutkan, tumbuh-tumbuhan memiliki jiwa yang sama dengan manusia. Karena itu kita mesti menjalankan ajaran tatwam asi dalam memperlakukan alam. Jika alam rusak atau sakit, kita wajib mengobatinya atau merawatnya. Merusak alam berarti juga menyakiti diri sendiri. Karena itu peliharalah alam agar terjadi keharmonisan. Tumbuh-tumbuhan juga penghasil O2 yang amat diperlukan oleh manusia. ‘Dalam konteks mengantisipasi terjadinya pemanasan global (global warming), tampaknya spirit Tumpek Uduh penting dimaknai,’ kata Girinata dan Surada.

Sementara itu, dosen Unud yang Ketua Umum Pasemetonan Pangeran Mas Dalem Blambangan Provinsi Bali Ir. Ida I Dewa Oka Widyarshana, M.Si. sempat mengatakan, benteng kokoh spiritual yang senantiasa melandasi perikehidupan kita adalah tatwam asi. Spirit tatwam asi itulah yang mesti diejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam memperlakukan alam semesta (bhuwana agung) ciptaan Hyang Widhi Wasa. Menjaga dan mengawal bhuwana agung tak ubahnya merawat dan memelihara diri sendiri (bhuwana alit). Hal itu dikatakan Widyarshana saat Mahasabha I Pasemetonan Pangeran Mas Dalem Blambangan Provinsi Bali di Wantilan Pura Dalem Jawi, Puri Agung Bunutin, Bangli, Minggu lalu. (08)

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=11420

Peninggalan Arsitektur nan Adiluhung dari Klungkung

Ketika baru memasuki pusat Kota Semarapura, orang tentu bakal dapat menyaksikan beberapa elemen kota yang cukup unik dan menarik, seperti adanya patung ”Kanda Pat” di simpang empat, jajaran pertokoan, Monumen Puputan Klungkung dan beberapa peninggalan seperti Bale Kertha Ghosa, Bale Kambang, Pamedal Agung, hingga Museum Semarapura. Kompleks ini terletak di seputar perempatan Jalan Untung Surapati - Jalan Puputan. Mengenang Hari Puputan Klungkung dan HUT Kota Semarapura, 28 April 2005 lalu, apa saja yang bisa disimak dari tampilan beberapa peninggalan arsitekturnya?

———————–

SEPERTINYA, pusat Kota Semarapura dan sekitarnya, diperkaya pula oleh adanya sisa peninggalan arsitektur bersejarah.  Dari gambar ilustrasi yang diperoleh dari beberapa sumber — Ir. I Nengah Lanus (ilustrasi site plan), Adrian Vicker (Kerta Ghosa) dan Ida Bagus Sidemen (”Puputan Klungkung 1908″) — terlihat gambar Puri Klungkung yang luas dan padat massa bangunan, sebelum dihancurkan oleh musuh kerajaan, silam. Di sebelah timur laut dan barat laut perempatan, dulu merupakan alun-alun. Ketika itu, di tenggaranya ada wantilan, pasar, Puri Delod Pasar. Dan, di barat dayanya ada Puri Klungkung, lokasi tempat berdiri Kertha Ghosa, bale kambang, pamedal agung dan museum sekarang. Kondisi semua yang tergambarkan itu masih utuh sebelum terjadi Puputan Klungkung.

Konon dulu, salah satu peninggalan historis seperti Kertha Ghosa, merupakan tempat rapat, berembug atau ruang musyawarah Raja Klungkung bersama para patih dan pemuka kerajaan. Itu berlangsung tatkala kerajaan Klungkung belum jatuh, atau saat bangunan puri belum “dibumihanguskan” Belanda. Sementara bale kambang atau Taman Gili merupakan sebagai balai sidang dan pengadilan, atau tempat memutuskan hasil rapat. Pun ada bagian puri yang tak turut hancur, seperti pamedal agung, masih kokoh berdiri dengan keaslian bentuk, ornamen dan ragam hiasnya.

Ada keunikan lain, di antara dore dan penukub gelung kori atau pamedal agung-nya menempel beberapa patung manusia (orang Belanda?), bahkan ada duduk patung hewan di bawahnya. Apa kira-kira makna keberadaan patung-patung itu? Adakah itu sebagai simbol bahwa puri telah diduduki dan dikuasai manakala puputan berakhir? Mungkinkah patung-patung yang “bertengger” di atas itu dibuat dan dipasang orang Belanda usai puputan — sebagai kenangan dan kemenangan kolonial di masa silam?

Konon di depan pamedal agung itulah Raja Klungkung, Ida Dewa Agung Putera — juga dikenal dengan nama Ida Dewa Agung Jambe — gugur setelah kena tembakan meriam Belanda, dari jarak sekitar 200 meter. Tragedi berdarah Puputan Klungkung itu terjadi pada 28 April 1908 (Ide Anak Agung Gde Agung, “Bali pada Abad XIX”, 1989). Para pembesar kerajaan yang setia kepada raja, keluarga raja, perempuan dan anak-anak tewas diberondong senapan pasukan altileri dan infanteri  Belanda ketika itu.

Di barat pamedal agung ada museum. Sepertinya bangunan ini telah mengalami rehabilitasi usai puputan. Style bangunan museum ini, sebagian mendapat pengaruh dari gaya Belanda. Pilar tinggi besar, atap canopy bentuk pelana. Selasar bangunan ditopang pula oleh pilar-pilarnya. Bagian luar bataran — di depan bawah pilar — terdapat relief tapel barong dan kekarangan di kiri-kanan bawahnya. Bataran itu sendiri cukup tinggi, sekitar 1,5 meter dari muka tanah. Bentuk pae masing-masing pilar berlapis-lapis, bagian bawah pilar masih ada pepalihan gelang lutung, baong capung, sesari, dan lain-lain.

Citra Kota

Warisan arsitektur peninggalan Puri Klungkung, di bawah pemerintahan raja Ida Dewa Agung Jambe tempo dulu itu, merupakan bagian dari “mutiara” arsitektur puri yang diluluhlantakkan kolonial penjajah dan antek-anteknya, pada 1908. Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, didirikan pula Monumen Puputan Klungkung, rancangan arsitek Ir. Ida Ayu Armely (pemenang sayembara monumen, 1982), yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada 28 April 1986 oleh Bupati Kepala Daerah Tk. II Klungkung, dr. Tjokorde Gde Agung.

Wujud monumennya mengacu pada konsep filosofi “lingga-yoni” (purusa-pradana).

Monumen itu memiliki ketinggian 28 meter dari permukaan tanah, 4 pintu dan 8 anak tangga. Bilangan tersebut memaknai monumen dalam hubungannya dengan peristiwa Puputan Klungkung, yang terjadi pada 28 bulan 4 (April) tahun 1908. Di dalam atau interiornya dipajang patung Raja Klungkung, Ida Dewa Agung Jambe bersama pengikut setianya, dilengkapi atau dikelilingi beberapa diorama kisah perjuangan rakyat Bali.

Bersamaan dengan peresmian Monumen Puputan Klungkung ini, Kota Klungkung pun diubah dan diresmikan namanya menjadi Kota Semarapura pada 28 April 1992 oleh Menteri Dalam Negeri, Rudini, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.18 tahun 1992. Selanjutnya, setiap 28 April ditetapkan sebagai Hari Puputan Klungkung dan HUT Kota Semarapura.

Di titik perempatan Jl. Untung Surapati - Jl. Puputan, ada Patung “Kanda Pat”, karya arsitek Ida Bagus Tugur. Empat patung yang mengambil filosofi “Catur Sanak” bersama-sama memperoleh makna dari mitologi tentang air suci yang berasal dari “Sindu Rahasia Muka”. Patung ini berlatar kisah tentang keempat “saudara” manusia saat lahir yakni ari-ari (Sang Anta), tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala) dan air nyom (Sang Dengen), usai mendapat anugerah, berganti nama menjadi Sang Anggapati (Bhagawan Penyarikan) berkedudukan di timur, Sang Prajapati (Bhagawan Mrcukunda) di selatan, Sang Banaspati (Bhagawan Sindu Pati) di barat dan Sang Banaspatiraja (Bhagawan Tatul) di utara.

Adanya arsitektur bernilai sejarah, monumen puputan, sampai patung religius-historis di pusat kota Semarapura merupakan sebagai salah satu aspek yang berperan mengaktualisasikan citra kota itu sendiri. Sebagaimana diungkap Ir. Eko Budihardjo, M.Sc. (dalam “Arsitektur dan Kota di Indonesia”, 1983), ada beberapa tolok ukur yang sepantasnya digunakan dalam penggalian, pelestarian dan pengembangan identitas kota yakni (1) nilai kesejarahan, dalam arti sejarah perjuangan nasional maupun sejarah perkembangan kota, (2) nilai arsitektur lokal/tradisional, (3) nilai arkeologis (candi-candi, benteng, gua), (4) nilai religiositas, (5) nilai kekhasan dan keunikan setempat, baik dalam kegiatan sosial ekonomi maupun sosial budaya, (6) nilai keselarasan antara lingkungan buatan dengan potensi alam yang dimilikinya.

Kota Semarapura punya peninggalan arsitektur yang memiliki beberapa nilai dari tolok ukur seperti itu lantaran punya nilai historis, arkeologis, religiositas, arsitektur lokal, nilai kekhasan, keunikan dan keselarasan. Kiranya, perihal yang bisa diungkap itu merupakan sebagai “roh” yang menjiwai eksistensi arsitekturnya.

Sendi Lempeh

Memasuki kompleks bekas puri, sekarang bisa ditemukan tiga buah candi bentar pada tembok pembatas (panyengker) luarnya. Sebuah terdapat di panyengker timur (pintu masuk pengunjung/wisatawan) dan dua lagi di utara. Satu candi bentar ada dalam halaman, sebagai gerbang masuk menuju bale kambang atau Taman Gili, dihubungkan oleh jalan setapak ber-panyengker. Di atas panyengker itu berdiri patung-patung berbagai jenis dan ukuran, di antaranya patung Semar, Petruk, patung Dewa-Dewi dan lain-lain.

Bangunan Taman Gili memiliki dua lapis bataran, dicapai melalui sekitar 10 anak tangga hingga lantai teratas.

Pada dasarnya, bangunan Gili ini memiliki tiga lapis ketinggian. Lantai pertama, dikitari kolam, keliling tepinya memiliki 27 jenis patung. Sementara tepi terluar kolam itu sendiri memiliki 35 jenis patung (12 di sebelah barat, 12 di timur dan 11 di selatan).

Bangunan beratap dimulai dari lantai (bataran) kedua dengan 14 tiang atau saka. Separo bagian ke atas dari tiang-tiangnya berukir dan memiliki canggah wang. Sendi yang ada pada setiap saka berbentuk lempeh (ceper) bujur sangkar, khas dan unik berukir, berukuran sekitar 50 x 50 cm berketinggian 25 cm. Berlantai terakota berpola pasangan bata mendatar. Lantai ini berfungsi sebagai selasar keliling dari bentuk denah segi empat panjang — memanjang arah utara-selatan).

Menginjak lantai tertinggi, ditemukan pula 14 saka, namun di sini sepenuh tiang-tiangnya berukir. Tepi lantai dikelilingi dengan railing kayu motif jaro, berketinggian sekitar 40 cm dari muka lantainya. Sendi-sendi di bawah tiang berukuran jauh lebih kecil ketimbang sendi-sendi lantai sebelumnya. Namun bahan lantainya serupa dengan material lantai selasar. Konstruksi pertemuan bagian atas tiang dengan balok aslinya tak memiliki canggah wang, kini — untuk membantu kekuatan konstruksi — dipasang besi plat kecil (lebar 3 cm) menyangga sineb dan lambang-nya.

Pada bagian kedua balok yang membentang di bawah atap (ekspose) masing-masing duduk patung singa bersayap, dengan corak dan warna sedikit berbeda. Lebih unik lagi, bidang langit-langit bangunan bale kambang ini sepenuhnya bergambar gaya Kamasan-Klungkung dengan narasi (cerita) Ramayana dan Mahabharata. Warna putih gading kekuning-kuningan. Atap sepenuhnya ditutupi ijuk.

Kertha Ghosa

Bagaimana dengan bangunan Kertha Ghosa itu sendiri? Denah lantai bangunan ini bersegi empat bujur sangkar. Bataran (lantai) pertama relatif tinggi, nyaris mencapai 2,5 meter dari muka tanah. Untuk memasuki bangunan ini mesti melalui anak tangga yang letaknya menyatu di sebelah barat bangunan dengan railing bentuk naga. Lantai (bataran) pertama memiliki 10 tiang (saka) berukir. Setiap tiang ditumpu sendi bermotif patung binatang, di antaranya ada patung gajah, domba, babi, kucing, sapi, sampai macan. Tepi bataran dikelilingi railing kayu berketinggian sekitar 60 cm dari muka lantai. Lantai di atasnya (naik dua undag) terdapat pula 10 saka berukir.

Di ruangan ini masih dipajang satu set furniture (enam kursi berukir dan sebuah meja) sebagai tempat rapat atau bermusyawarah di zaman kerajaan dulu.  Langit-langit sepenuhnya dilapisi lukisan khas gaya Kamasan. Bagian konstruksi kap yang tampak di atas hanya kayu pamucu dan usuk pengapit. Bataran bangunan ini sengaja dibuat tinggi, mungkin lantaran Sang Raja dan para patih serta pengikutnya ingin bisa secara langsung mengamati aktivitas masyarakat yang ada di luar, maupun pemandangan di halaman dalam. Dari sini pula Taman Gili dapat dilihat dan dinikmati dengan jelas.

Bagian dari elemen kota yang dimiliki itu memberi identitas pada kota itu sendiri. Maka, jati diri yang dipunyai kota merupakan sebagai salah satu komponen yang memberi citra. Kendati hanya beberapa massa bangunan bekas puri yang tersisa. Bila disimak ke belakang, terbilang banyak gugus massa bangunan lainnya telah dirobohkan Belanda kala itu. Sebut saja kelompok bangunan puri berarsitektur Bali seperti kanya bawa, saren gede, saren kangin, bale mas, petandakan, rangki, siangan, raja dani, puri gunung, semarabawa, ruang tidur istri raja, ruang tidur putri raja, pewaregan, hingga pamengkang.

Namun, semua itu telah lenyap, kini tinggal kenangan.

Apa yang bisa disaksikan sekarang, patutlah untuk tetap dijaga dan dilestarikan. Pemeliharaan serta perawatan bangunan, baik terhadap peninggalan bersejarah yang ada maupun yang menyusul telah dibangun, seperti Monumen Puputan Klungkung, patung “Kanda Pat” dan patung-patung lainnya, serta gedung perkantoran baru bernuansa Bali, turut memberi kontribusi perkuat identitas dan citra Kota Semarapura.

* i nyoman gde suardana

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2005/5/1/ars1.html

Jumat, 27 Juni 2008:

Semarapura sebagai Ikon Pariwisata Budaya
Suatu Terobosan Mengajegkan Bali

Oleh Nyoman Gunarsa

ORANG Bali mungkin banyak yang tak tahu kalau nama besar Semarapura merupakan ibukota Kerajaan Bali. Tapi ada orang yang sinis menganggap Klungkung cuma “Kota Serombotan”. Sedihnya lagi, hingga sekarang Klungkung dengan ibu kotanya Semarapura malah tak pernah berbenah. Turis hanya numpang lewat ke Klungkung dari Denpasar, Ubud, Gianyar, menuju Karangasem. Apanya yang kurang?

——-

Betul-betul memprihatinkan kasus ini dan merupakan tantangan bagaimana caranya agar Semarapura mampu bangkit dan punya arti dalam kehidupan. Bukankah secara historis, seni budaya Bali lahir dan pusatnya di Semarapura?

Pada abad XV pernah ada masa keemasan di Swecapura Gelgel sewaktu pemerintahan Dalem Watorenggong, lalu pindah ke Semarapura, Klungkung yang sekarang. Boleh dibilang semua seni budaya Bali yang kini berkembang di berbagai kabupaten di Bali, dulu berpusat di Swecapura dan Semarapura. Baik itu seni karawitan, tari, lukisan, patung, wayang, sastra, arsitektur, termasuk tata upacara keagamaan.

Di lain pihak, semua warga Bali merasa ada hubungan emosional dengan Semarapura dan Swecapura karena merupakan pusat kawitan leluhur. Untuk itulah pemerintah mesti mencari suatu terobosan untuk mengajegkan Bali. Semua pretisentana keluarga masyarakat Bali sadar bahwa suatu bangsa, penting memiliki bukti sejarah pusat pemerintahan masa lalu sebagai monumen tempat berkaca atau mulat sarira siapa sebenarnya diri kita.

Tulisan ini sekaligus mengajak seluruh masyarakat Bali supaya kembali merenovasi Puri Semarapura yang telah hancur untuk dijadikan ikon pariwisata budaya di Bali. Yakinlah, para pejabat teras Bali mendatang, baik gubernur, DPR, para camat, bupati, sampai ke akar rumput pada umumnya, pasti mampu membenahi kembali puri yang agung itu sebagai monumen ikon pariwisata budaya Bali.

Kita memiliki tanggung jawab dan jengah karena sudah dibebaskan dari dunia penjajahan yang membelenggu Nusantara selama 3,5 abad, untuk merenovasi Puri Semarapura yang pernah dijadikan medan peperangan. Hina dan malu rasanya bila orang tak peduli dengan apa yang telah dirintis oleh para pejuang kita. Puri hancur berantakan, tetapi kita cuma ongkang-ongkang menikmati kemerdekaan sambil berdemokrasi macongkrah.

Marilah jadikan Semarapura sebagai api perjuangan dan aura energi sebagai motivator jalan keluar agar situs bangunan bersejarah itu bisa berdiri kembali sebagai monumen bangsa. Kita beruntung karena bagian-bagian Puri Semarapura masih tegak berdiri seperti Medal Agung, Kerta Gosa dan Taman Gili. Ini bisa dijadikan rujukan narasumber.

Aturan Kepurbakalaan

Dalam merenovasi peninggalan-peninggalan sejarah maupun tempat suci, supaya jajaran Pemda Bali mengikuti aturan-aturan kepurbakalaan, terutama bangunan yang berusia 100 tahun atau lebih. Hal itu untuk menjaga kelestarian seni budaya Bali yang adiluhung dan melegenda di dunia.

Kalau tak mengikuti aturan-aturan kepurbakalaan, maka kita akan kehilangan fakta sejarah dan tak menghargai ciptaan nenek moyang. Akibatnya, Bali akan selalu baru dan tidak ada yang antik lagi. Kita betul-betul sedih dan merasa kehilangan kalau pelaku pemugaran bangunan kuno itu tak mau mendengarkan saran-saran para sesepuh atau ahli antropolgi maupun pengamat seni. Bangunan tiba-tiba dibolduser tanpa dibuatkan dokumentasi pemetaan bangunan lama.

Di sisi lain, orang cenderung mengikuti mode-mode yang sedang ngetrend dan tidak memperhatikan kekhasan suatu daerah, misalnya memakai batu lahar hitam. Di situ, capaian teknis seni ukirnya sangat rendah dibandingkan dengan kemampuan seniman Bali mengukir berbahan padas (paras) yang betul-betul maksimal.

Kualitas tempat-tempat suci yang dipugar sekarang, di mata para pengamat, dikatakan estetis seni ukirnya menurun, tapi tampak glamor karena penataan ruang tambahan tempat pesandekan dan areal parkir luas ditambah fasilitas-fasilitas lainnya seperti rest room. Pemugaran besar-besaran itu juga tak dilengkapi dengan penanaman pohon langka di Bali yang termasuk dalam “Taru Pariyogan” seperti pohon tigaron, kesturi, nagasari, cempaka, jepun, dan sandat. Padahal, semua itu sangat memberikan aroma spiritual. Sekarang kesannya kering.

Tak Bisa Dibeli

Bali dikenal karena seni budayanya, tapi kita tak menghargai seni budaya yang telah memberikan kita kehidupan tumpah ruah bergelimang materi dunia pariwisata. Buktinya, sekarang hanya meminjam keris dan tombak bekas pusaka Puri Semarapura untuk merayakan 100 tahun Puputan Klungkung saja, kita harus merogoh kocek Rp 3,5 milyar sebagai konpensasi. Apa artinya ini?

Itulah perlunya melestarikan nilai-nilai luhur bangsa. Karya seni ciptaan leluhur kita, apalagi mengandung sejarah heroik dan punya umur 100 tahun, nilainya tak bisa dibeli seberapa pun. Apa bedanya dengan bangunan-bangunan suci yang dibolduser itu?

Semarapura punya reputasi yang luar biasa dalam konstelasi perjuangan nasional dalam perjuangan kemerdekaan. Reputasi yang tak main-main yakni dengan mengorbankan jiwa raga mati di medan perang dengan puputan merupakan suatu perjuangan yang luar biasa. Perjuangan itu sudah cukup menyadarkan kita untuk merenovasi kembali Keraton Semarapura yang berantakan itu, dan menjadikan momentum perayaan 100 tahun Puputan Klungkung sebagai kebangkitan untuk berdiri kembali.

Yakinlah kalau kita benar-benar manusia berbudaya, tempat yang bersejarah itu bisa dibangun dan ditata kembali sebagai monumen kehormatan bagi para pejuang yang gugur memperjuangkan harga diri bangsa demi kemerdekaan yang kita rasakan sekarang. (*)

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2008/5/11/bud4.html

14. August, 2008,

membaca artikel di bawah mengingatkan akan masa lalu ketika kecil, dimana di setiap perayaan hari raya Galungan atau Kuningan bahkan di hari raya Nyepi (ketika Nyepi dulu masih belum di larang untuk keluar rumah), terdapat tarian keliling desa-desa yang di kenal dengan nama Barong Nong-Nong Kling yang di pentaskan sesuai dengan upah yang dibayarkan.

bahkan ada yang lebih menarik lagi yaitu tarian “Barong Bangkung” dimana warga desa yang mengupah juga bisa ikut berpartisipasi untuk ‘menari’ (dikejar oleh barongnya).

entahlah apakah tarian rakyat ini masih ada hingga saat ini….

Pengantar Kesenian nong nong kling yang banyak terdapat di Kabupaten Klungkung biasa juga disebut dengan nama barong nongkling. Meskipun di dalam pertunjukan itu tidak terdapat “barong”, namun pertunjukan nong nong kling dikelompokkan dalam kesenian barong, seperti halnya barong ket, barong bangkal, barong landung dan banyak barong lainnya. Dengan demikian kesenian nong nong kling termasuk kelompok kesenian barong.

Bali dikenal sebagai gudang kesenian dengan berpuluh bahkan ratusan jenis kesenian rakyat. Salah satu dari sekian banyak kesenian rakyat tersebut adalah nong nong kling. Nong nong kling adalah seni pertunjukan yang menggunakan media ungkap tari, musik dan drama. Nama nong nong kling diambil dari suara iringannya yang apabila digerakkan akan menimbulkan efek bunyi “nong, nong, kling”.

Drama tari nong nong kling hampir mirip dengan wayang wong Bali. Hal ini terlihat dari perlengkapan nong nong kling yang menggunakan tapel (topeng) Sita dan tapel Subali, seperti pada pertunjukan wayang wong Bali. Perbedaan antara nong nong kling dan wayang wong Bali, terletak terutama pada cerita yang dimainkan, meskipun keduanya bertolak dari cerita Ramayana. Jika wayang wong Bali dapat memainkan episode manapun dalam cerita Ramayana, maka nong nong kling hanya memainkan eposide “Kerebut Kumbakarna” (Kumbakarna yang diperangi beramai-ramai oleh para wanara/kera).

Peralatan Pertunjukkan dan Gerak Tari Nong Nong Kling nong nong kling biasanya diadakan di alam terbuka, tanpa panggung, dan penontonnya duduk melingkar. Tidak ada batas antara penonton dan pemain yang menyebabkan pertunjukan kesenian rakyat tersebut terasa lebih akrab dan spontan, seolah-olah para penonton pun ikut bermain di dalamnya. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan nong nong kling ialah bahasa Kawi dan bahasa Bali. Untuk para tokoh seperti Kumbakarna dan Wanara mempergunakan bahasa kawi yang diterjemahkan oleh punakawan Delem dan Sangut yang menggunakan bahasa Bali. Seperti punakawan dalam kesenian wayang kulit di Jawa dan wayang golek di Jawa Barat, Delem dan Sangut merupakan tokoh yang sering melawak dan bernyanyi, sehingga pertunjukan kesenian rakyat tersebut banyak digemari oleh masyarakat. Gerakan tari dalam nong nong kling pada prinsipnya sama seperti gerak tari Bali lainnya, yaitu: (1) agem, yaitu gerak tari yang menggambarkan posisi berdiri yang disesuaikan dengan karakter (perwatakan) tokoh yang dimainkan; (2) nyingsing, yaitu gerakan kedua tangan yang berada di pinggang dan kedua telapak menghadap ke belakang. Gerak ini dilakukan sambil berjalan. Gerak nyingsing pada tarian biasa dinamakan nyingsing kampuh (saput) sedangkan pada nong nong kling dinamakan nyingsing bulu; (3) tanjek, yaitu gerakan salah satu kaki menghentak ke depan sebagai tanda untuk mengganti irama pada saat berjalan; (4) ngaceb, yaitu gerakan berjalan tetapi tapak kaki tidak serong; (5) ngesong, yaitu gerakan “nyalin ulat” berkali-kali diikuti gerak kaki mundur. Gerakan “nyalin ulat” ialah gerakan bahu melingkar untuk mengganti “agem” (dari kiri ke kanan); (6) nangseh, yaitu suatu gerakan memutar kepala setengah lingkaran disertai dengan gerak tangan dan kata-kata yang diperkeras sebagai tanda gamelan harus merubah iramanya; (7) dadengklengan, yaitu salah satu kaki diangkat sehingga pangkal paha dan lutut membentuk sudut sembilan puluh derajat; dan (8) tetanganan, ialah sikap jari tangan (jari tengah dan jari manis ditekuk dengan ibu jari, telunjuk dan kelingking lurus) yang berfungsi untuk menggaris bawahi ucapan. (pepeng)

Peralatan musik yang digunakan untuk mengiring drama tari nong nong kling dinamakan batel, yang terdiri atas: (1) dua buah kendang kecil (kendang keruntungan) ; (2) satu set ceng-ceng kecil; (3) satu buah kenong; (4) satu buah kelenang; (5) satu buah kempul; dan (6) satu buah seruling bernada slendro. Sedangkan, busana yang dikenakan oleh para pemainnya yang berperan sebagai wanara (kera), memakai bulu dari praksok (semacam serat).
Pertunjukan

Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

http://uun-halimah. blogspot. com/2008/ 05/nong-nong- kling-teater- rakyat-bali. html

Barong Nong-Nong Kling
Pementasan Bersuasana Khusyuk

Denpasar - Pementasan Barong Nong-Nong Kling dari Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, duta Kabupaten Klungkung dalam arena Pesta Keseniaan Bali (PKB) ke-28 diwarnai suasana khusyuk. ”Suasana tersebut terasa ketika barong tersebut mulai dipentaskan, sebab barong tersebut menurut kepercayaan yang sangat disakralkan oleh ‘penyungsung’ (warganya). Penari pun sebelum mementaskan harus sembahyang dan diperciki air suci,” kata koordinator acara tersebut, I Wayan Polos, di Denpasar, Minggu (25/6).

Barong Nong-Nong Kling umurnya sudah ratusan tahun yang merupakan barong disakralkan di Pura Suwela, Banjar Suwela Giri dan hanya hari-hari tertentu bisa dipentaskan. ”Biasanya dilakukan kalau ada odalan di pura dan hari raya suci Galungan yang jatuh setiap 210 hari tahun Isaka. Pada hari raya Galungan, pementasan barong tersebut diusung oleh warga setempat dengan cara ngelawang desa (pementasan keliling desa),” ungkapnya.

Pementasan kali ini didukung sekitar 40 orang termasuk juga sekaa penabuh gambelan, dengan judul cerita ”Kumba Karna Karebut”. Diceritakan, setelah kembalinya Pangeran Hanoman dari kerajaan Alengka sebagai duta atau utusan Maharaja Sri Rama untuk menemui Dewi Sita, langsung menghadap Sri Rama, yang menyampaikan pesan dari Dewi Sita agar suaminya menyelamatkan dirinya dari cengkraman Rahwana.

Setelah mendengar itu, Sri Rama langsung memerintahkan Hanoman dan Sugriwa untuk memimpin pasukan kera dengan membuat jalan untuk menyeberangi lautan menuju Alengka. Singkat cerita Kumba Karna ”kerebut” (diserbu pasukan kera) dan Hanoman memanah dengan senjata saktinya yaitu senjata konta, yakni berupa gunung besar sehingga Kumba Karna tidak bisa berkutik dan akhirnya tewas tertimbun. Dengan tewasnya Kumba Karna, Dewi Sita terselamatkan dari cengkeraman Kumba Karna

http://www.sinarhar apan.co.id/ berita/0606/ 27/ipt02. html

Nglawang adalah suatu tradisi yang sudah ada dari jaman dahulu yang menjadi warisan budaya masa kini. Pelaksanaan nglawang tampaknya makin lama semakin jarang ditemui, terutama di daerah perkotaan. Namun di daerah pedesaan masih ada yang melaksanakannya walaupun tidak seperti masa lalu. Pertambahan penduduk pendatang terutama yang berbeda suku dan etnis dengan membawa budaya masing-masing memberikan pengaruh terhadap kemunduran tradisi ini.

Tradisi nglawang adalah tradisi yang mengandung ajaran etika, sosial serta banyak mengandung nilai-nilai magis. Kata Nglawang berasal dari kata lawang yang berarti pintu. Dalam kamus bahasa bali kawi, kata nglawang berarti berkeliling dari pintu ke pintu, rumah ke rumah atau dari desa ke desa yang bertujuan untuk mempertunjukan/ mengusung tapakan barong seperti barong ket, barong bangkung, barong gajah, barong landung dan lainnya yang disacralkan. Namun nglawang mempunyai arti yang lebih luas dari itu yaitu sebagai penolak bala (mara bahaya) karena yang diusung biasanya manifestasi Siwa. Dari tradisi ini kemudian berkembang suatu tradisi nglawang yang tujuannya hanya sebagai pengembangan rasa seni dan mendapatkan imbalan sekedarnya dengan mengusung barong atau nong-nong kling yang tidak disacralkan. Budaya ini bisa disamakan dengan mengamen.

Lokasi nglawang mengambil tempat di jalanan desa maupun perkotaan yang merupakan daerah pengempon/penyungsu ng tapakan (sungsungan) tersebut. Bisa juga desa lain karena mendapat permohonan dari warga desa yang berkepentingan. Sumber-sumber dalam pustaka lontar yang membahas mengenai tradisi nglawang secara spesifik sampai sejauh ini belum ditemukan, namun ada kata yang mempunyai makna sama dengan nglawang yakni kata “menmen” dalam lontar Siwa Gama, yang berarti pemain yang berasal dari kata “men” yang berarti menghibur. Kata ini berkembang menjadi kata “amen” yang berarti mengasikan/bergembi ra. Mungkin kata ini kemudian berkembang menjadi “pengamen” dalam bahasa Indonesia.

http://balebanjar. com/index. php/content/ view/252/ 42/

seperti tertulis di website kabupeten Klungkung berikut:

http://www.klungkungkab.go.id/main.php?go=goajepang

Goa Jepang yang terdiri dari 16 lubang, dibuat pada dinding tebing, dipinggir jalan jurusan Denpasar-Semarapura, di atas sungai/Tukad Bubuh. Goa/lubang yang terletak pada ujung Utara dan Selatan merupakan goa yang berdiri sendiri. Sedangkan yang 14 buah lagi, di dalamnya berhubungan satu dengan lainnya, yang dihubungkan oleh sebuah gang/lorong. Yang menarik dari goa Jepang ini adalah bahwa letaknya sangat strategis merupakan goa kenangan dari jaman penjajahan Jepang, dan didepannya dapat disaksikan pemandangan menarik dengan gemerciknya aliran sungai Bubuh.

Lokasi
Goa Jepang dapat dijangkau dengan mudah karena letaknya dipinggir jalan pada jurusan Denpasar-Semarapura, tepatnya di Banjar Koripan, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan.

Kunjungan
Karena letaknya sangat strategis yaitu dipinggir jalan yang lalulintasnya ramai, maka goa ini sering mendapat kunjungan wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Deskripsi
Goa yang terdiri atas 16 buah lubang dengan kedalaman 4 meter, dua diantaranya tidak berhubungan satu dengan yang lainnya, yaitu satu buah terletak di ujung selatan dan satu lagi diujung sebelah utara, sedangkan yang lainnya berhubung-hubungan dan dihubungkan oleh sebuah gang memanjang arah Utara Selatan. Goa ini dibangun oleh balatentara Jepang daslam usahanya memperrtahankan diri dari serangan tentara sekutu pada masa pendudukan Jepang yaitu tepatnya pada tahun 1941. Goa semacam ini, tetapi hanya terdiri atas sebuah lubang yang besar juga terdapat di Desa Suana Kecamatan Nusa Penida yangdimaksudkan untuk tempat pengintaian lalu lintas laut di Selat lombok..

Membaca artikel diatas, jelas tersirat kalau Goa Jepang yang terletak di kecamatan Banjarangkan kabupaten Klungkung itu, merupakan saksi bisu peninggalan bersejarah yang keberadaannya di jaman dulu pernah memiliki arti sangat penting dan keberadaannya di saat ini perlu untuk di hormati serta di lestarikan, sehingga anak cucu generasi kita nanti tetap bisa menikmatinya.

Namun sayang di saat suhu politik yang kian memanas menjelang pesta demokrasi pemilihan umum di tahun 2009, dimana banyak para putra daerah kabupaten klungkung yang berlomba untuk merebut simpati rakyat agar bisa di pilih di Pemilu nanti, ternyata memiliki cara pandang yang berbeda akan keberadaan kompleks bersejarah Goa Jepang di kabupaten Klungkung ini. para calon legislatif berlomba-lomba memajang papan reklame “baliho” berukuran besar berjejer menutupi keberadaan goa-goa jepang itu, seperti tampak di gambar berikut:

Harapan kita semua sebagai generasi penerus, Semoga kita semua bisa menjaga serta melestarikan semua peninggalan bersejarah yang kita miliki agar memiliki makna yang lebih berarti…, meniru kata pepatah: “if we can not make it better, do not make it worst

salam waRning,