kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for March, 2009

Melihat pemandangan diatas tentunya mengingatkan kita semua akan pintu gerbang bersejarah “brandenburg” yang berlokasi di pusat ibukota negara jerman Berlin.  Kota Berlin yang dulu pernah luluh lantak akibat perang dunia ke dua di tahun 1945 dan kemudian di jaman perang dingin dibelah di pisahkan oleh tembok tinggi yang terkenal dengan sebutan “Tembok Berlin”, sekarang ini jauh terlihat cantik dan ramah yang tidak hanya berfungsi sebagai ibukota pemerintahan negara jerman dimana bundes kanselir Jerman Ibu Angela Merkel berkantor, tetapi juga terkenal karena merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Eropa yang selalu padat dan ramai di kunjungin wisatawan dunia tidak hanya di hari akhir pekan tetapi juga di hari-hari biasa.

di hari sabtu kliwon tgl 28 maret 2009, Umat Hindu dimanapun berada, tidak terkecuali Umat Hindu yang berdomisili di Jerman juga merayakan salah satu hari raya besar umat hindu “Hari Raya Kuningan”. Perayaan Kuningan di Jerman kali ini di pusatkan di kota Berlin persisnya di lokasi taman wisata dunia (Gärten der Welt, Erholungspark Marzahn). Perayaan Kuningan yang berlangsung di Berlin kemaren merupakan gabungan dari  beberapa rentetan hari raya suci umat hindu Galungan, Kuningan dan Nyepi.

Perayaan Kuningan kali ini terasa spesial karena ada utusan dari bimas Hindu Dharma jakarta yaitu bapak I Ketut Lancar, yang terbang langsung dari Jakarta, di samping untuk menyampaikan pesan dari Dirjen Hindu Dharma Jakarta,  melainkan juga untuk memimpin jalannya upacara serta membawa Tirta dari upacara Panca Wali Krama Besakih. jadi walaupun kita yang di Jerman berada jauh dari Bali, tapi juga bisa ikut merasakan sejuknya percikan tirta dari Pura Besakih.

Lebih lanjut, dalam dharma wacana yang di sampaikan oleh bapak I Ketut Lancar, beliau mengatakan permohonan dari Ibu Klian Banjar Nyama Braya Bali (NBB) Jerman Ibu gusti putu alit aryani-Willems, agar NBB Jerman bisa memiliki seperangkat gamelan bali di setujui oleh Dirjen Hindu. Perihal ini di setujui dengan pertimbangan organisasi NBB Nyama Braya Bali Jerman begitu aktif menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang mempertemukan umat sedharma di daratan Jerman pada khususnya serta di daratan Eropa pada umumnya.  Tidak itu saja, Dirjen Hindu nantinya juga akan menyumbangkan seperangkat peralatan persembahyangan seperti Bajra (Genta), sehingga kedepannya kelompok NBB di Jerman bisa memiliki pemimpin Agama yang selalu siap memimpin jalannya upacara seperti layaknya jalannya upacara di Bali atau di Indonesia. Harapan dari Dirjen Hindu terhadap Gamelan yang di sumbangkan ini agar bisa di gunakan semaksimal mungkin tidak hanya di gunakan untuk kepentingan upacara keagamaan semata, tapi juga bisa di gunakan untuk mempererat jalinan persaudaraan diantara sesama Nyama Braya Bali di Jerman, melalui pertemuan berkala di setiap latihan, dan juga berharap bisa di gunakan untuk terus mempromosikan kebudayaan Bali pada khususnya atau Indonesia pada umumnya sehingga kedepannya akan semakin banyak warga jerman yang berniat mengunjungi pulau Bali membantu pariwisata di Bali.

Di gambar berikut tampak Pura yang ada di lokasi Taman Wisata Dunia Berlin, tempat berlangsungnya perayaan Kuningan 28 maret 2009 kemaren. keberadaan Pura di Berlin ini juga mempersatukan warga nyama braya bali di berlin dan sekitarnya di setiap bulannya atau persisnya di setiap purname tilem untuk melakukan persembahyangan bersama.

Perayaan di Berlin ini di koordinatori oleh Ibu Suputri Sudjiwa bersama team dari nyama braya bali berlin. Persiapan yang cukup panjang dari Ibu Suputri Sudjiwa akhirnya berbuah manis dengan suksesnya kelangsungan jalannya perayaan Kuningan ini.  terbukti dengan cukup banyaknya nyama braya bali yang berdomisili di seluruh pelosok Jerman datang ke kota Berlin untuk melakukan persembahyangan bersama ini. Kerinduan akan kampung halaman di bali serta kerinduan merayakan bersama dengan keluarga besar di Bali terobati oleh suara kidung wargasari dari para ibu-ibu bali di saat melaksanakan persembahyangan bersama,  dan juga oleh suara gamelan beleganjur yang di pimpin oleh Bli Wayan Pica yang terus menggema menemani jalannya perayaan Kuningan ini, serasa kita semua berada di Bali di saat piodalan. diluar tenda tempat berlangsungnya upacara, juga terdapat pasar cinderamata dimana para ibu-ibu menjajakan souvenir khas bali dan tentunya masakan khas bali atau indonesia lainnya yang cukup memanjakan pengunjung untuk betah menunggu pertunjukan yang di peruntukkan bagi pengunjung umum. tidak ketinggalan juga masakan Bali yang di sediakan oleh panitia untuk nyama braya bali beserta para undangan  yang tidak kalah lezatnya dengan masakan khas bali yang ada di Bali, adalah seperti sambal bawang mentah, tum celeng, sayur urab, sate lilit, serta menu utama yang paling diminati tentunya Babi Guling, serta jajajan bali lainnya.

Di akhir acara, setelah selesai jalannya upacara keagamaan, setelah usai sambutan dari undangan Ibu Walikota Berlin, Ibu ketua departement kebudayaan Berlin, bapak ketua pengelola Taman Dunia Berlin, bapak utusan KBRI Berlin, serta bapak utusan dari Dirjen Hindu Jakarta, dan juga setelah selesai jamuan makan siang bagi Nyama Braya Bali dan para undangan , dan  tentunya setelah selesai acara foto-foto bersama bagi nyama braya bali di Jerman, kemudian tiba saatnya acara pertunjukkan tari-tarian bagi pengunjung umum. Seperti tampak di gambar berikut, dimana pengunjung umum begitu antusias dan berdesak-desakan mendekati podium agar bisa menonton lebih dekat jalannya tari-tarian seperti tarian panyembrama, tari blisbis, tari oleg tamulilingan, dll. dan yang paling memikat penonton adalah ketika tarian joged bumbung di pagelarkan, dimana penonton “bule” di ikut sertakan berpartisipasi untuk “ngibing” secara bergantian. perasaan haru dan gembira bercampur aduk menjadi satu ketika melihat para tamu undangan ikut serta menari “ngibing”, seolah-olah kita semua bersaudara.

Akhir cerita, saya mengucapkan terimakasih atas perjuangan dari Panitia yang di pimpin oleh Ibu Suputri Sudjiwa yang telah mempertemukan kami Nyama Braya Bali yang berdomisili di seluruh Jerman untuk bisa berkumpul bersama melakukan persembahyangan bersama di negeri orang ini. Perjalanan jauh dari Stuttgart menuju Berlin yang saya tempuh sekitar hampir selama 11 jam dengan kendaraan, terasa tidak berarti apa-apa bila di bandingkan dengan besarnya keinginan untuk mewujudkan berkumpul bersama, bertemu sesama nyama braya bali di jerman.  kelelahan selama perjalanan dan rasa kantuk karena kurang tidur selama perjalanan, sirna terobati oleh rasa senang dan bahagia dengan bersembahyang bersama di perayaan Kuningan kemaren. Terlebih yang membuat saya begitu senang di saat perayaan kuningan kemaren adalah kesempatan untuk ikut berpartisipasi megamel “nigtig” cengceng bersama nyama braya bali yang laki-laki lainnya.

harapan saya, semoga kita semua bisa di pertemukan kembali di acara / perayaan Kuningan berikutnya 6 bulan nanti, yang mungkin akan di laksanakan di kota Hamburg, bersembahyang bersama sekaligus melaspas Pura Jagadnata yang saat ini sedang di bangun. Semoga Ida Sang Hyang Widi selalu memberikan kita panjang umur dan kesehatan, sehingga kita semua bisa mewujudkan apa yang kita cita-cita kan. semoga.

salam waRning,

Nilai Kehidupan di Balik Pura Bukit Jati 

Di Pura Bukit Jati di Desa Samplangan, Gianyar terdapat banyak pelinggih. Ada pelinggih utama dan ada yang pelengkap. Secara umum di setiap tempat pemujaan Hindu di Bali selalu ada pelinggih untuk Dewa Pratistha dan ada pelinggih untuk Atma Pratistha. Pelinggih untuk Dewa Pratistha adalah pelinggih untuk memuja para Dewa manifestasi Tuhan. Pelinggih Atma Pratistha tempat pemujaan roh suci leluhur dengan fungsi Tuhan yang dipuja. Nilai-nilai kehidupan seperti apa yang tersirat di balik Pura Bukit Jati itu?

============================================================ 

Fungsi Tuhan yang menjadi jiwa Bhur Loka disebut Dewa Siwa. Yang menjiwai Bhuwah Loka disebut Sada Siwa. Disebut Parama Siwa adalah Tuhan yang menjadi jiwa Swah Loka. Demikian seterusnya Tuhan Yang Maha Esa itu dipuja dalam ribuan nama Dewa. Karena memang Tuhan itu Mahakuasa dan Maha Ada.

Di Pura Bukit Jati, Tuhan dipuja dalam berbagai fungsi dengan berbagai manifestasinya. Menurut nama-nama pelinggih yang ada di Pura Bukit Jati itu menandakan bahwa pemujaan Tuhan di Pura Bukit Jati bertujuan memotivasi berbagai aspek kehidupan. Dalam tradisi Hindu di Bali pemujaan Tuhan didayagunakan untuk memotivasi berbagai aspek kehidupan agar hidup itu diselenggarakan dengan memulainya dan memohon tuntunan Hyang Widhi. Tentunya hal ini amat tergantung pada kecerdasan umat menerjemahkan simbol-simbol sakral pemujaan itu ke dalam kehidupannya sehari-hari.

Misalnya adanya arca Jalandwara Makara adalah untuk memotivasi pemeliharaan kesucian dan kelancaran air dengan melindungi sumber-sumbernya dari pencemaran dari perilaku oknum yang ceroboh pada kedudukan air dalam kehidupan ini. Pelinggih Padma dan Meru sebagai pemujaan pada Tuhan sebagai Sada Siwa dan roh suci leluhur.

 Dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan bahwa Pelinggih Padmasana sebagai stana pemujaan Tuhan sebagai Sada Siwa yaitu Tuhan sebagai jiwa alam Bhuwah. Demikian pula adanya pelinggih Ida Batara Puncak, ada Gedong Lebah ada Pelinggih Ida Batara Segara. Hal ini mengingatkan kita pada sistem pemujaan Tuhan sebelum Mpu Kuturan menjadi Bhagawanta Kerajaan di Bali ada tiga tempat pemujaan yaitu: Pura Segara, Pura Penataran dan Pura Puncak.

Melihat adanya Pelinggih Ida Batara Segara, adanya Gedong Lebah amat identik dengan keberadaan Pura Penataran dan adanya Pelinggih Ida Batara Puncak. Tiga tempat pemujaan pada Tuhan ini memotivasi umat Hindu di Bali agar tidak melakukan perbuatan yang dapat merusak Tri Bhuwana. Lebih khusus lagi untuk di Bali dengan memuja Tuhan dengan simbol sakral di pelinggih Segara, pelinggih Gedong Lebah dan pelinggih Puncak berarti umat di Bali dimotivasi untuk memelihara kelestarian segara, dataran rendah dan daerah perbukitan serta pegunungan.

Dengan berfungsinya sumber-sumber alam tersebut secara terpadu kehidupan di Bali ini akan berlangsung dengan baik, benar dan wajar. Apalagi di bagian luar atau jaba sisi dari Pura Bukit Jati ini ada Pancoran. Hal ini sebagai kelanjutan dari konsep pemeliharaan air agar senantiasa terus mengalir tanpa tercemar yang disimbolkan dengan adanya arca Jalandwara.

Pancoran itu ada di jaba sisi. Berarti air yang mengalir itu hendaknya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luas, bukan untuk golongan masyarakat kelas atas saja. Demikian juga Pelinggih Pesamuan yang berada di bagian tengah di Utama Mandala di depan Pelinggih Gedong dan Meru. Dalam prosesi upacara terutama saat upacara piodalan di pura, fungsi Balai Pesamuan itu sebagai media simbolis Ida Batara tedun menerima persembahan upacara piodalan dari umat dan juga sebagai simbol Ida Batara Ngeluhur kembali ke stananya di Padma, Meru dan Gedong.

Pesamuan juga berarti pertemuan atau juga berarti bermusyawarah. Melalui Pelinggih Pesamuan ini umat hendaknya termotivasi untuk senantiasa bermusyawarah dalam memutuskan sesuatu terutama yang menyangkut orang banyak. Ini berarti lewat Pelinggih Pesamuan tersebut umat Hindu di Bali dimotivasi untuk hidup bersama secara demokratis.

Secara ritual memang disimbolkan bahwa semua Ida Batara mengadakan pesamuan di Pelinggih Pesamuan saat upacara piodalan dalam rangka menerima persembahan saat upacara dan melimpahkan sweca atas baktinya umat pada Ida Batara, terutama saat upacara piodalan tersebut. Itulah fungsi simbolis dari Pelinggih Pesamuan.

Di sebelah timur dari Pelinggih Pesamuan ada Pelinggih untuk Ida Batara di Gunung Agung. Gunung Agung sebagai simbol hulunya Bali atau dinyatakan dalam lontar bahwa Besakih Pinaka Huluning Bali Rajya. Meskipun Pura Bukit Jati ada di pusat Kerajaan Linggarsa Pura maka lewat pemujaan di Pelinggih Gunung Agung itu diingatkan agar umat di Bali tidak lupa pada hulu atau kepalanya Pulau Bali simbol Padma Bhuwana.

Pura Besakih adalah tergolong Pura Rwa Bhineda dan Pura Besakih sendiri sebagai Purusa dan Pura Batur sebagai Pura Pradana-nya. Purusa artinya jiwa atau hidup. Umumnya pura di Bali senantiasa memiliki Pelinggih Penyawangan ke Gunung Agung dan Gunung Batur. Ini melambangkan bahwa dalam hidup ini manusia haruslah berupaya menyeimbangkan pembangunan kehidupan jiwa dan raga atau Purusa dan Pradana.

Di Pura Bukit Jati terdapat juga Pelinggih Manjangan Saluwang, bahkan ada dua yaitu terletak di deretan timur di Utama Mandala sebelah selatan Gedong Lebah. Ada juga di deretan utara di barat Pelinggih Pesamuan. Pelinggih Manjangan Saluwang itu umumnya diyakini sebagai pemujaan pada Mpu Kuturan yaitu orang suci yang sebelumnya menjabat sejenis perdana menteri kerajaan pada abad ke-11 Masehi.

Hal ini menggambarkan bahwa di Pura Bukit Jati ada suatu motivasi untuk mendidik generasi penerus agar tidak melupakan jasa-jasa mulia leluhur di masa lampau. Lebih-lebih terhadap Mpu Kuturan yang amat besar jasanya pada proses penerapan ajaran Hindu di Bali pada zamannya. Apa yang beliau warisi sampai sekarang tidak lekang oleh dinamika zaman. Beliaulah yang dapat disebut hidup tanpa napas sebagaimana dinyatakan dalam kitab Sarasamuscaya. Kalau kita senantiasa berbuat melawan dharma dalam hidup ini disebut mayat bernapas. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2007/8/22/bd1.htm

Pura Bukit Jati di Samplangan Gianyar

Labhante brahmanirvana
rsayah
ksinakalmasah
chinnadvanidha
yatatmanah
sarvabhutahite
ratah.
(Bhagawad Gita V.25). 

Maksudnya:
Orang
suci itu dosanya telah dimusnahkan, kebimbangannya telah dihilangkan, pikirannya telah mencapai keadaan yang tetap dan yang senantiasa melakukan kebajikan untuk menyejahterakan isi alam (Bhuta Hita) akan mencapai Brahmanirvana atau alam Ketuhanan

UNTUK mencapai peningkatan kesucian rohani tidaklah hanya melakukan sembahyang di pura saja. Penyucian diri juga akan dicapai apabila sembahyang itu dilanjutkan dengan senantiasa melakukan upaya-upaya nyata menjaga kesejahteraan isi alam. Misalnya dengan menjaga kelestarian lima unsur alam yang disebut Panca Maha Bhuta dengan segala makhluk hidup yang tumbuh berkembang dari Panca Maha Bhuta tersebut.

Mereka yang senantiasa melakukan upaya-upaya menyejahterakan kehidupan makhluk hidup tersebut kitab suci Bhagawad Gita menjanjikan jalan untuk mencapai Brahma Nirwana atau disebut sorga dalam istilah yang lebih umum. Lebih-lebih mereka yang memiliki kewenangan untuk memimpin publik seperti penguasa kerajaan pada zaman dahulu.

Demikian pula halnya saat awal kekuasaan Dinasti Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan di Bali yang pada awalnya berpusat di Samplangan di timur kota Gianyar. Pusat Kerajaan Dinasti Ida Dalem Kresna Kepakisan itu bernama Linggarsa Pura. Katalinggarsa puraini berasal dari bahasa Sansekerta dari katalingga”, ”arsadanpura”. Lingga artinya stana atau di Bali disebutlinggih”. Arsa artinya kemauan atau hasrat mulia, pura artinya tempat. Dengan demikian katalinggih puraitu berarti tempat untuk menstanakan atau mengembangkan kemauan mulia.

Salah satu cara mengembangkan kemauan mulia sang raja adalah mengajak rakyat untuk memuja Tuhan sebagai langkah awal mengembangkan kehidupan yang mulia. Salah satu caranya dengan mendirikan tempat-tempat pemujaan Tuhan di tempat-tempat yang strategis. Tempat strategis itu adalah tempat untuk melestarikan alam dan memajukan kehidupan bersama dalam masyarakat berdasarkan Rta dan Dharma.

Demikianlah kebijaksanaan raja di Linggarsa Pura membangun pura dan meningkatkan kualitas dan kuantitas tempat-tempat pemujaan yang sudah ada. Seperti halnya di Bukit Jati di utara Desa Samplangan, Gianyar itu dikembangkan menjadi tempat pemujaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat itu.

Pura Bukit Jati sebuah pura kuna yang berada di Desa Samplangan di timur kota Gianyar. Pura Bukit Jati ini terletak di bukit yang tidak terlalu tinggi dan sangat indah.

Bukit Jati ini tersembul muncul di daratan Gianyar sepertinya diciptakan untuk menjaga kebersihan dan kesejukan udara kota Gianyar. Di Pura Bukit Jati ini memang sebelumnya sudah ada beberapa peninggalan zaman magalitikum. Hal ini dapat dijadikan bukti bahwa tempat ini saat pemerintahan sebelum Dinasti Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan sudah menjadi tempat yang bernuansa spiritual.

Dinasti Dalem berkuasa tahun 1343 Masehi menggantikan Raja Bali Kuna yang terakhir yaitu Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Dalam naskah lontar di Bali, Raja ini disebut Sri Tapolung. Sayang Samplangan sebagai pusat pemerintahan Ida Dalem tidak lama bertahan di Samplangan. Tahun 1380 Masehi pusat pemerintahan Dalem pindah ke Gelgel dengan nama Sweca Pura.

Meskipun demikian, Pura Bukit Jati sampai saat ini masih tetap dijadikan tempat pemujaan oleh umat Hindu. Di balik Pura Bukit Jati itu terdapat nilai-nilai kehidupan yang universal yang patut kita renungkan kembali untuk dijadikan landasan dalam menapaki kehidupan ke depan. Pura Bukit Jati adalah tempat pemujaan untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan alam lingkungan dan masyarakat. Di Pura Bukit Jati ini ada peninggalan arkeologi dalam bentuk makara yaitu arca kepala dengan fungsi tertentu. Misalnya ada arca Bhoma yang berfungsi untuk menggambarkan dewa pohon-pohonan. Katabhomadalam bahasa Sansekerta artinya pohon. Di Pura Bukit Jati ini ada arca Jalandwara Makara.

Jalandwara berasal dari katajalartinya air dandwaraartinya pintu. Jalandwara Makara itu simbol sakral untuk melancarkan jalannya air di bumi ini. Jalandwara Makara ini juga berarti tidak boleh mengotori air sehingga jalannya air ke tengah-tengah masyarakat itu dapat memberi kehidupan yang baik dan benar. Air dalam Canakya Nitisastra itu dinyatakan sebagai salah saturatna permata bumidi samping tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak atau Subha Sita. Latar belakang spiritual keberadaan tempat pemujaan Bukit Jati dalam sistem sekte Siwa Pasupata itu dilanjutkan dalam sistem pemujaan Siwa Sidhanta.

Peninggalan megalitik dalam kebudayaan Hindu di Bali umumnya dipakai saat Hindu Sekte Siwa Pasupata yang berkembang di Bali, terutama yang menyangkut penggunaan arca sebagai murthi puja atau arca perwujudan. Saat Hindu Sekte Sidhanta yang berkembang simbol pemujaan digunakan sistem pelinggih dengan ista dewata tertentu. Di Pura Bukit Jati sekarang nilai-nilai universal sebagai tujuan pemujaan pada Tuhan itu tetap dilanjutkan dalam wujud yang berbeda.

Keberadaan berbagai pelinggih yang ada di Pura Bukit Jati tersebut sangat nampak melanjutkan nilai-nilai universalitas tersebut dengan simbol-simbol yang lebih lengkap sesuai dengan kebutuhan sistem pemujaan dalam Siwa Sidhanta.

Demikianlah memang proses pemeliharaan tradisi Hindu. Aspek Sanatana Dharma tetap tidak boleh berubah tetapi ada konsep Nutana yaitu ada proses peremajaan wujud sesuai dengan perkembangan zaman. Tetapi nilai yang diaplikasikan tetap yang kekal abadi dan universal sepanjang zaman. Di Pura Bukit Jati tersebut terdapat 26 bangunan suci.

Ada bangunan utama dan ada yang pelengkap. Bangunan sakral yang utama itu adalah Padmasana, Meru, Gedong Lebah, Pelinggih Manjangan Saluwang, Pelinggih Segara, Pelinggih Ratu Puncak, Pelinggih Ngerurah dan Pancoran. Semua bangunan sakral yang utama itu melanjutkan nilai spiritual sebelumnya untuk mengimplementasikan nilai-nilai kehidupan di Pura Bukit Jati itu. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2007/8/22/bd2.htm

Pelinggih Tiga Pandita di Pura Besakih

Sang Hyang Brahma Aji maputra tetiga, panua Sang Siwa, pamadya Sang Bodha, pamitut Sang Bujangga, Sang Siwa kapica Agninglayang amrestista akasa, Sang Bodha kapica Agnisara amrestista pawana, Sang Bujangga kapica Agni Sinararasa Mratista sarwaprani, iti ngaran Sang Tri Bhuwana Katon.

(Dipetik dari Lontar Ekapratama)  

Maksudnya:

Hyang Brahma berputra tiga yaitu tertua Sang Siwa, yang kedua Sang Bodha dan yang terkecil Sang Bujangga. Sang Siwa diberi senjata Agni Ngelayang untuk menyucikan akasa, Sang Bodha diberi senjata Agnisara untuk menyucikan atmosfir dan Sang Bujangga diberi senjata Agni Sinararasa untuk menyucikan sarwaprani. Beliau ini disebut Sang Tri Bhuwana Katon.

Di jajaran belakang Padma Tiga dan di depan Balai Pesamuan terdapat tiga pelinggih berjejer. Pelinggih itu umum menyatakan berbentuk gedong, tetapi menurut pendapat penulis itu adalah Pelinggih Meru Tumpang Siki. Pelinggih yang di tengah sebagai pemujaan Mpu Beradah, di kirinya Pelinggih Sang Hyang Siem dan yang di kanan untuk Danghyang Markandia. Tiga pandita ini berbeda paksa, sampradaya atau sektanya.

Mpu Beradah sebagai Pandita Siwa, Sang Hyang Siem adalah dari Budha dan Resi Markandia adalah Bujangga Waisnawa. Tiga pandita atau resi ini nampaknya sebagai perwujudan konsep Sang Tri Bhuwana Katon yang dinyatakan dalam Lontar Eka Pratama. Maksud Sang Tri Bhuwana Katon ini adalah beliau yang suci yang nampak di bumi ini untuk memimpin umat manusia.

Kemungkinan besar konsep Sang Tri Bhuwana Katon ini yang disebut Tri Sadhaka. Katasadhakaartinya orang yang mampu melakukan sadhana yaitu merealisasikan atau mewujudkan kesucian dharma pada dirinya. Kata sadhaka berasal dari kata sadhana yang artinya kegiatan merealisasikan dharma dalam diri. Kalau sudah berhasil barulah disebut sadhaka.

Kalau kita perhatikan makna yang terkandung dalam Lontar Ekapratama tersebut bahwa keberadaan tiga pandita Siwa, Budha dan Bujangga Waisnawa itu sebagai ciptaan Tuhan untuk memimpin umat manusia memelihara kelestarian tiga lapisan bhuwana ini yaitu Bhur, Bhuwah dan Swah Loka.

Pada zaman modern sekarang ini tiga lapisan alam itu setiap hari dijejali oleh perbuatan manusia yang dapat mengotori tiga lapisan alam tersebut. Di Bali khususnya dan di Indonesia umumnya setiap Sasih Kesanga ada upacara Melasti dan upacara Tawur Kesanga di selenggarakan oleh umat Hindu. Upacara tersebut untuk mengingatkan umat agar dalam hidupnya ini senantiasa menegakkan upaya memuja Tuhan untuk menegakan Rta dan Dharma.

Kalau keberadaan alam selalu sesuai dengan Rta maka alam itu akan menjadi sumber penghidupan umat manusia sepanjang zaman. Demikian pula kalau dharma selalu tegak sebagai dasar kehidupan bersama dalam masyarakat maka manusia pun akan selalu dapat mewujudkan kebersamaan yang baik sebagai lingkungan sosial yang dinamis, harmonis dan sinergis. Pemujaan Tuhan untuk tegaknya Rta dan dharma inilah sesungguhnya aplikasi Tri Hita Karana.

Pemujaan Tuhan untuk tegaknya Rta menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alamnya. Sedangkan pemujaan Tuhan untuk tegaknya dharma akan menciptakan hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia. Artinya pemujaan Tuhan yang menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan itu untuk Rta dan dharma.

Saat diselenggarakannya Tawur Kesanga untuk ditingkat propinsi ada tiga pandita yang mapuja. Tiga pandita inilah yang disebut oleh masyarakat umum Tri Sadaka. Pandita Siwa memuja untuk memohon kepada Tuhan agar umat dituntun untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat mengotori akasa. Pandita Budha memuja untuk memohon kepada Tuhan demi kebersihan lapisan atmosfir. Sedangkan Pandita Bujangga memuja Tuhan untuk kesejahteraan sarwaprani.

Tiga lapisan alam ini sesungguhnya tidak terpisah-pisah adanya satu sama lain saling tergantung. Kalau salah atau lapisan yang rusak akan dapat merusak lapisan yang lain. Nampaknya pembuatan pelinggih untuk pemujaan tiga pandita ini didasarkan oleh Lontar Eka Pratama yang dikutip di atas.

Dari penempatan tiga pelinggih untuk tiga resi atau pandita itu dapat diambil sebagai suatu teladan bagi umat Hindu terutama yang ada di Bali bahwa tiga resi itu sebagai penuntun umat dalam mengembangkan pembinaan kehidupan alam dan manusia secara seimbang. Tiga pandita resi itu adalah sebagai Adi Guru Loka artinya sebagai guru yang utama dari masyarakat.

Pemujaan pada tiga sadhaka inilah sebagai suatu peringatan pada umat untuk berguru dalam menjaga kelestarian ibu pertiwi dengan enam hal. Enam hal yang harus dilakukan untuk menjaga tegaknya kelestarian ibu pertiwi dinyatakan dalam Atharvaveda XII.1.1.Ena hal itu adalahSatya. Rta, Tapa, Diksa, Brahma dan Yadnya. Umat pada umumnya dalam melakukan upaya melakukan enam hal menjaga ibu pertiwi atau Sad Pertiwi Daryante. Hendaknya senantiasa memohon tuntunan tiga macam pandita tersebut. Memohon tuntutan untuk menjaga kelestarian akasa, kebersihan udara dari polusi (amratistha pawana) dan menjaga kelestarian sarwaprani.

Satya adalah adalah sikap hidup yang konsisten dan konsekuen bertindak berdasarkan kebenaran dan kejujuran (Satya). Rta adalah perilaku yang menjaga kesejahteraan alam, Tapa adalah perilaku membina ketahanan diri untuk melawan binakinya hawa nafsu. Diksa adalah suatu upaya untuk terus berupaya mencapai kehidupan suci sampai mencapai status Dwijati.

Artinya tidak hanya lahir dari rahim ibu saja, tetapi bisa lahir dari rahimnya Weda melalui tuntunan pandita atau resi. Brahma artinya selalu berdoa dan belajar dengan tekun. Doa dengan mengucapkan mantra-mantra Veda tersebut dapat menguatkan eksistensi Dewi Sampad atau kecenderungan kedewaan.

Yadnya adalah sikap hidup yang senantiasa tulus dan ikhlas untuk rela berkorban demi tujuan yang lebih mulia. Enam hal itulah yang wajib dilakukan oleh umat atas tuntunan tiga pandita resi untuk menjaga agar Sad Pertiwi Daryante itu terlaksana dengan baik. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2007/2/21/bd2.htm

”Tri Sadhaka”, Konsep Spiritual Bukan Wangsa

Adanya pelinggih tiga Pandita Resi di Pura Penataran Agung Besakih seyogianya menjadi bahan renungan kita dalam menegakkan ibu pertiwi di Bali khususnya dan di dunia regional dan global umumnya. Mpu Beradah, Sang Hyang Siem dan Resi Markandia memiliki jasa besar dalam memberikan tuntunan kepada rakyat di Bali dalam membangun ibu pertiwi Bali sebagai wadah kehidupan umat manusia. Resi Markandia dalam Lontar Bhuwana Tattwa dan sumber-sumber lainnya memiliki andil yang cukup besar pada kemajuan Bali.

========================================================== 

Adanya Pura Besakih pada awalnya dalam rintisan Resi Markandia. Demikian juga adanya pertanian sistem subak dan desa dengan corak agrarisnya atas rintisan Resi Markandia. Demikian pula pendirian beberapa pura dengan nilai spiritual yang diaktualkan ke dalam sistem ritual dan sosial.

Beliau telah berjasa besar dalam menanamkan konsep Triji Ratna Permata sebagaimana diajarkan dalam Canakya Niti. Meskipun secara kognitif ajaran tersebut mungkin belum dikenal saat itu.

Tiga Ratna Permata itu adalah air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. Tiga hal inilah yang amat dihargai dalam kehidupan sistem subak dan desa agraris rintisan Resi Markandia dari Waisnawa Paksa itu. Pertanian dengan sistem subak dan desa pakraman dengan corak desa agraris itu telah mendidik umat untuk demikian menghargai air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak tersebut. Hal ini terjadi karena pengabdian Resi Markandia-lah pada awalnya yang merintis.

Demikian juga kehadiran penganut Buddha Mahayana di Bali juga banyak meletakkan berbagai jasa, sampai kalau ada upacara besar harus juga dipimpin oleh Pandita Budha. Sesungguhnya ajaran Sidharta Gautama pada abad ke-4 sebelum Masehi di India bukan dimaksudkan untuk mendirikan suatu agama. Sidharta Gautama setelah mencapai kesadaran spiritual atau kesadaran budhi disebut Buddha.  

Kesadaran budhi yang beliau capai itulah diwartakan untuk memperbaiki keadaan saat itu. Keadaan saat itu dirusak oleh kesalahpahaman dalam mengamalkan ajaran Weda. Saat itu ada dua golongan penganut Weda yaitu Carwakas dan Titiyas. Untuk melepaskan diri dari ikatan nafsu menurut Carwakas dengan cara memenuhi setiap gejolak nafsu. Sedangkan menurut golongan Titiyas untuk melepaskan diri dari penguasaan nafsu, maka alat-alat nafsu itu harus disakiti sampai musnah. Pengumbaran hawa nafsu oleh golongan Carwakas dan penyiksaan alat-alat indria oleh golongan Titiyas menimbulkan rusaknya keadaan masyarakat penganut Weda saat itu.

Keadaan inilah yang diluruskan oleh Sidharta Gautama saat itu dengan tiga ajarannya yaitu Sila, Prajnya dan Semadi. Maksudnya berbuat baik dan benar (Sila) dengan dasar ilmu pengetahuan (Prajnya) serta konsentrasi pada kerja (Semadi). Tiga hal itulah awalnya yang diwartakan oleh Sidharta Gautama. Ajaran yang universal itu juga dianut oleh orang Bali sejak zaman dahulu. Ajaran ini banyak berjasa membuat orang menjadi tenang dan damai menapaki kehidupan di bumi ini. Demikian besar juga jasa-jasa agama dari Buddha Paksa di Bali.

 Karena itu ada Pelinggih Sang Hyang Siem di Penataran Agung Besakih. Di tengah-tengah di antara Pelinggih Resi Markandia dan Sang Hyang Siem ada Pelinggih Mpu Beradah yang beragama Hindu dari Siwa Paksa. Mpu Beradah salah satu dari Panca Tirtha sudah amat dikenal oleh kalangan umat Hindu di Bali. Beliau adalah saudara dari Mpu Kuturan yang juga sebagai mpu yang amat besar jasa-jasanya dalam memajukan kehidupan sosial budaya dengan landasan spiritual keagamaan di Bali.

 Mpu Beradah distanakan di Pelinggih Gedong atau Meru Tumpang Siki di Pura Penataran Agung Besakih. Tiga pandita tersebut berasal dari sekta atau paksa keagamaan Hindu yang berbeda-beda. Meskipun paksa keagamaannya berbeda-beda tetapi semuanya memiliki jasa yang cukup besar bagi Bali dalam artian keseluruhannya.

 Tiga pandita tersebut distanakan di tiga pelinggih berjejer sejajar tidak ada yang tinggi rendah. Apa artinya warisan budaya spiritual leluhur orang Bali di Besakih itu. Tiga pandita tersebut bukan dimunculkan berdasarkan konsep kewangsaan. Pendirian tiga pelinggih untuk tiga pandita resi tersebut didasarkan pada kualitas spiritual.

 Beliau berbeda-besa sekte atau paksa keagamaannya tetapi karena bijak dalam mengelola perbedaan maka perbedaan itu memberikan kontribusi yang amat bermakna bagi kemajuan Bali. Tentunya hal itu akan menjadi warisan yang bisu tanpa arti kalau peninggalan tersebut tidak diterjemahkan dalam konteks kekinian yang semakin pluralistis.

 Dari perbedaan itu hendaknya kita ambil dari hasil akhirnya. Apa hasil akhir dari setiap unsur yang berbeda itu, apa ada memberikan kontribusi pada kehidupan yang sehat, kemajuan pendidikan dan kepedulian umat pada sesamanya. Kalau dari unsur yang berbeda-beda itu keluarannya sama yaitu dapat memberikan kontribusi pada kemajuan hidup bersama di bumi ini.

 Mereka bisa menikmati kehidupan yang semakin sehat lahir batin, semakin berilmu pengetahuan dan semakin peduli dengan penderitaan sesama. Kalau hal itu dihasilkan tentunya sangat kontraproduktif mempersoalkan perbedaan. Apalagi Sri Swami Siwananda dalam buku ”All About Hinduism” menyatakan bahwa agama Hindu menyajikan hidangan spiritual kepada setiap orang sesuai dengan pertumbuhan rohani mereka masing-masing.

 Karena itu tidak ada pertentangan dalam perbedaan Hindu yang indah ini. Apalagi di Indonesia UUD 1945 menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk beragama serta beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu. Kitab suci Weda dan sejarah tradisi Hindu di Bali juga amat menjamin adanya perbedaan metode untuk mencapai tujuan hidup yang sama menurut agama Hindu.

 Peru direnungkan kembali dengan bijak eksistensi Sadhaka di Bali tidak lagi bernuansa kewangsaan tetapi berorientasi pada kualitas spiritual. Karena yang diwariskan oleh sastra-sastra suci Hindu tidak ada nuansa kewangsaannya dalam filosofinya. Ke depan dinamika sosial itu akan semakin tegas, jelas dan keras melakukan tuntutan kesetaraan, persaudaraan dan kemerdekaan dalam kehidupan bersama dalam kehidupan beragama Hindu ini.

Pendirian tiga pelinggih untuk tiga resi di belakang Padma Tiga di Pura Penataran Agung Besakih itu patut kita jadikan acuan dalam membina perbedaan. Apalagi menyangkut keyakinan beragama sebagai hak yang paling asasi di muka bumi ini. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2007/2/21/bd1.htm

 

Turut berbahagia dan mengucapkan selamat kepada semua warga dari desa kemoning atas kelahiran putra-putrinya. semoga menjadi anak yang suputra dan suputri serta berbakti kepada orang tuanya.

disamping berita kelahiran, belakangan ini banyak juga terdapat berita kematian para pinih sepuh dari desa adat kemoning.  tyang turut berduka cita dan berbela sungkawa, semoga arwah beliau-beliau di terima di sisi Ida Sang Hyang Widi Wasa. 

Kelahiran dan Kematian memang sulit di pisahkan yang didalam hukum Hindu dikenal rwa-bhineda, dua hal bertentangan yang menjadi satu keniscayaan. Ada terang dan ada kegelapan, ada suka dan ada nestapa, ada pria juga ada wanita, ada kebaikan dan ada pula kejahatan.  di dalam ajaran agama Hindu kita juga  mengenal konsep “Tri Murti” tiga dewa utama.  Dewa Brahma sang Pencipta (Utpathi), Dewa  Wisnu sang pemelihara (Sthiti) lalu Dewa Siwa sang pelebur (Pralina). Dan setiap benda yang ada di jagad raya ini, terpengaruh oleh siklus “penciptaan”, “menjadi” dan akhirnya “rusak, lenyap sirna”. Pola ini ada dan terus berulang.  Setiap mahluk, seberapapun berkuasanya dia, pasti ada saatnya “lahir”, ada saatnya ”menjadi” dan pada saatnya, pasti akan “sirna”.

 Bayi-Bayi yang “terlahir” dari rahim ibu-ibu muda generasi saat ini warga desa adat kemoning, semoga bisa menjadi penerus tradisi kelangsungan hidup bermasyarakat di desa adat kemoning di kemudian hari, sementara para generasi muda saat ini yang merupakan generasi “pemelihara” tradisi budaya serta adat istiadat di desa kemoning, semoga bisa berkarya dan berkontribusi demi perbaikan desa kemoning, dan para pinih sepuh desa adat kemoning yang sudah “meninggalkan” dunia ini semoga bisa tenang di dunianya yang baru.

salam waRning, 

Pura Luhur Uluwatu
Tempat Pemujaan Dewa Rudra

Pura Luhur Uluwatu merupakan salah satu dari enam buah pura yang berstatus Sad Kahyangan Jagat. Pura ini berdiri megah di ujung barat daya Pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut.

Pura ini berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung — dari Denpasar ke selatan sekitar 31 km.

Pura Uluwatu terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.

Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan. Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalan-nya. Piodalan di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan dan Pura Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia setiap 210 hari. Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu adalah Dewa Rudra.

Bagaimana sejarah berdirinya pura ini?

Untuk bisa sampai pada jabaan pura, kita mesti menaiki anak tangga. Pada jabaan pura terdapat bangunan sedahan pengapit, bale kulkul, bale murda dan bale sakenem. Dari jabaan menuju jaba tengah kita melewati candi bentar berbentuk sayap burung yang melengkung. Untuk mencapai jeroan pura, kita melewati candi kurung yang memakai dwarapala yang berbentuk arca Ganesha. Pada utama mandala pura terdapat prasada dan palinggih berupa Meru Tumpang Tiga, palinggih tajuk, piasan catur pandaka. Pada bagian kiri dari jabaan Pura Luhur Uluwatu terdapat Pura Dalem Jurit (Bejurit) terdapat antara lain prasada, tempat moksanya Danghyang Dwijendra berdampingan dengan monumen berupa dua buah perahu yang dipakai berlayar sewaktu datang ke Pulau Bali.

Bangunan lain di Pura Dalem Jurit adalah gedong tumpang dua, paibon, sedahan pengapit dan bale asta rsi. Di sekitar lokasi Pura Luhur Uluwatu juga dihuni kera

Sejarah Luhur Uluwatu

Dalam beberapa sumber disebutkan, sekitar tahun 1489 Masehi datanglah ke Pulau Bali seorang purohita, sastrawan dan rohaniwan bernama Danghyang Dwijendra. Danghyang Dwijendra adalah seorang pendeta Hindu, kelahiran Kediri, Jawa Timur.

Danghyang Dwijendra pada waktu walaka bernama Danghyang Nirartha. Beliau menikahi seorang putri di Daha, Jawa Timur. Di tempat itu pula beliau berguru dan di-diksa oleh mertuanya. Danghyang Nirartha dianugerahi bhiseka kawikon dengan nama Danghyang Dwijendra.

Setelah di-diksa, Danghyang Dwijendra diberi tugas melaksanakan dharmayatra sebagai salah satu syarat kawikon. Dharmayatra ini harus dilaksanakan di Pulau Bali, dengan tambahan tugas yang sangat berat dari mertuanya yaitu menata kehidupan adat dan agama khususnya di Pulau Bali. Bila dianggap perlu dharmayatra itu dapat diteruskan ke Pulau Sasak dan Sumbawa.

Danghyang Dwijendra datang ke Pulau Bali, pertama kali menginjakkan kakinya di pinggiran pantai barat daya daerah Jembrana untuk sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan dharmayatra. Di tempat inilah Danghyang Dwijendra meninggalkan pemutik (ada juga menyebut pengutik) dengan tangkai (pati) kayu ancak. Pati kayu ancak itu ternyata hidup dan tumbuh subur menjadi pohon ancak. Sampai sekarang daun kayu ancak dipergunakan sebagai kelengkapan banten di Bali. Sebagai peringatan dan penghormatan terhadap beliau, dibangunlah sebuah pura yang diberi nama Purancak.

Setelah mengadakan dharmayatra ke Pulau Sasak dan Sumbawa, Danghyang Dwijendra menuju barat daya ujung selatan Pulau Bali, yaitu pada daerah gersang, penuh batu yang disebut daerah bebukitan.

Setelah beberapa saat tinggal di sana, beliau merasa mendapat panggilan dari Hyang Pencipta untuk segera kembali amoring acintia parama moksha. Di tempat inilah Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh teringat (icang eling) dengan samaya (janji) dirinya untuk kembali ke asal-Nya. Itulah sebabnya tempat kejadian ini disebut Cangeling dan lambat laun menjadi Cengiling sampai sekarang.

Oleh karena itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh ngulati (mencari) tempat yang dianggap aman dan tepat untuk melakukan parama moksha. Oleh karena dianggap tidak memenuhi syarat, beliau berpindah lagi ke lokasi lain. Di tempat ini, kemudian dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Kulat. Nama itu berasal dari kata ngulati. Pura itu berlokasi di Desa Pecatu.

Sambil berjalan untuk mendapatkan lokasi baru yang dianggap memenuhi syarat untuk parama moksha, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh sangat sedih dan menangis dalam batinnya. Mengapa? Oleh karena beliau merasa belum rela untuk meninggalkan dunia sekala ini karena swadharmanya belum dirasakan tuntas, yaitu menata kehidupan agama Hindu di daerah Sasak dan Sumbawa. Di tempat beliau mengangis ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Ngis (asal dari kata tangis). Pura Ngis ini berlokasi di Banjar Tengah Desa Adat Pecatu.

Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh belum juga menemukan tempat yang dianggap tepat untuk parama moksha. Beliau kemudian tiba di sebuah tempat yang penuh batu-batu besar. Beliau merasa hanya sendirian. Di tempat ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Batu Diyi. Juga di tempat ini Danghyang Dwijendra merasa kurang aman untuk parama moksha. Dengan perjalanan yang cukup melelahkan menahan lapar dan dahaga, akhirnya beliau tiba di daerah bebukitan yang selalu mendapat sinar matahari terik. Untuk memayungi diri, beliau mengambil sebidang daun kumbang dan berusaha mendapatkan sumber air minum. Setelah berkeliling tidak menemukan sumber air minum, akhirnya Danghyang Dwijendra menancapkan tongkatnya. Maka keluarlah air amertha. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang disebut Pura Payung dengan sumber mata air yang dipergunakan sarana tirtha sampai sekarang.

Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh kemudian beranjak lagi ke lokasi lain, untuk menghibur diri sebelum melaksanakan detik-detik kembali ke asal. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura bernama Pura Selonding yang berlokasi di Banjar Kangin Desa Adat Pecatu. Setelah puas menghibur diri, Danghyang Dwijendra merasa lelah. Maka beliau mencari tempat untuk istirahat. Saking lelahnya sampai-sampai beliau sirep (ketiduran). Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Parerepan (parerepan artinya pasirepan, tempat penginapan) yang berlokasi di Desa Pecatu.

Mendekati detik-detik akhir untuk parama moksha, Danghyang Dwijendra menyucikan diri dan mulat sarira terlebih dahulu. Di tempat ini sampai sekarang berdirilah sebuah pura yang disebut Pura Pangleburan yang berlokasi di Banjar Kauh Desa Adat Pecatu. Setelah menyucikan diri, beliau melanjutkan perjalanannya menuju lokasi ujung barat daya Pulau Bali. Tempat ini terdiri atas batu-batu tebing. Apabila diperhatikan dari bawah permukaan laut, kelihatan saling bertindih, berbentuk kepala bertengger di atas batu-batu tebing itu, dengan ketinggian antara 50-100 meter dari permukaan laut. Dengan demikian disebut Uluwatu. Ulu  artinya kepala dan watu berarti batu.

Sebelum Danghyang Dwijendra parama moksha, beliau memanggil juragan perahu yang pernah membawanya dari Sumbawa ke Pulau Bali. Juragan perahu itu bernama Ki Pacek Nambangan Perahu.  Sang Pandita minta tolong agar juragan perahu membawa pakaian dan tongkatnya kepada istri beliau yang keempat di Pasraman Griya Sakti Mas di Banjar Pule, Desa Mas, Ubud, Gianyar. Pakaian itu berupa jubah sutra berwarna hijau muda serta tongkat kayu. Setelah Ki Pacek Nambangan Perahu berangkat menuju Pasraman Danghyang Dwijendra di Mas, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh segera menuju sebuah batu besar di sebelah timur onggokan batu-batu bekas candi peninggalan Kerajaan Sri Wira Dalem Kesari. Di atas batu itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh beryoga mengranasika, laksana keris lepas saking urangka, hilang tanpa bekas, amoring acintia parama moksha.

Demikianlah, sejak Danghyang Dwijendra yang disebut juga Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh parama moksha atau disebut Ngaluhur Uluwatu, pura ini disebut Luhur Uluwatu.

(lun/beberapa sumber)

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2006/3/1/bd1.htm

Kekuatan Tri Murti Menyatu di Uluwatu

Tryambakam yajamahe
Sugandhim pusthivardhanam.

Urvarukam iva vandhanat
Mrtyor muksiya mamrtat.
(Rgveda VII.59.12).

Maksudnya: Ya Tuhan sebagai Rudra yang menyebarkan keharuman dan memperbanyak sumber-sumber makanan. Semoga beliau melepaskan kami seperti mentimun dari batangnya, dari kematian tetapi bukan dari keabadian.

MANTRAM ini disebut juga Mantra Mahamertyunjaya sebagai mantra memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra. Pura Luhur Uluwatu adalah tempat suci untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra. Dewa Rudra adalah perwujudan kemahakuasaan yang manunggal dari Dewa Tri Murti. Memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra untuk mendapatkan kekuatan agar manusia memiliki kemampuan hidup untuk mencipta, memelihara dan mempralina sesuatu yang sepatutnya diciptakan, dipelihara dan dipralina.

Pura Luhur Uluwatu berada di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung. Menurut Lontar Kusuma Dewa, pura ini didirikan atas anjuran Mpu Kuturan sekitar abad ke-11. Lontar Kusuma Dewa tersebut dibuat tahun 1005 Masehi atau tahun Saka 927. Hal ini didasarkan pada adanya pintu masuk di Pura Luhur Uluwatu menggunakan candi Paduraksa yang bersayap. Candi tersebut sama dengan candi masuk di Pura Sakenan di Pulau Serangan. Di Candi Pura Sakenan tersebut terdapat candra sangkala dalam bentuk resi apit lawang yaitu dua orang pandita berada di sebelah-menyebelah pintu masuk. Hal ini menunjukkan angka tahun yaitu 927 Saka. Ternyata tahun yang disebutkan dalam Lontar Kusuma Dewa sangat tepat.

Dalam Lontar Padma Bhuwana disebutkan juga tentang pendirian Pura Luhur Uluwatu sebagai Pura Padma Bhuwana oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11. Candi bersayap seperti di Pura Luhur Uluwatu terdapat juga di Lamongan Jatim.

Pura Luhur Uluwatu berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa Rudra atau Batara Agni Maha Jaya dan terletak di barat daya Pulau Bali. Pura ini didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka dan Padma Bhuwana. Sebagai pura yang didirikan dengan konsep Sad Winayaka, Pura Luhur Uluwatu sebagai salah satu dari Pura Sad Kahyangan. Sedangkan sebagai pura yang didirikan berdasarkan Konsepsi Padma Bhuwana, Pura Luhur Uluwatu didirikan sebagai aspek Tuhan yang menguasai arah barat daya dari Padma Bhuwana tersebut. Pemujaan Dewa Siwa Rudra adalah pemujaan Tuhan dalam memberi energi kepada ciptaan-Nya.

Ida Pedanda Punyatmaja Pidada pernah beberapa kali menjabat Ketua Parisada Hindu Dharma Pusat mengatakan bahwa di Pura Luhur Uluwatu memancar energi spiritual tiga dewa. Tiga dewa tersebut adalah Dewa Wisnu di Pura Batur Kintamani, Bangli. Dewa Siwa di Pura Besakih dan Dewa Brahma di Pura Andakasa, Karangasem. Letak pura Luhur Uluwatu memang juga berhadapan dengan ketiga pura tersebut. Kekuatan suci ketiga Dewa Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa) menyatu di Pura Luhur Uluwatu. Untuk menumbuhkan daya cipta yang kreatif pujalah Tuhan dalam menifestasinya sebagai Dewa Brahma. Untuk memiliki ketetapan hati memelihara sesuatu yang patut dipelihara pujalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. Untuk mendapatkan kekuatan untuk menghilangkan sesuatu yang patut dihilangkan pujalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa. Energi spiritual ketiga manifestasi Tuhan itu menyatu dalam Dewa Siwa Rudra yang dipuja di Pura Luhur Uluwatu.

Keberadaan Pura Luhur Uluwatu ini sejak abad XVI Masehi terkait dengan tirthayatra (perjalanan suci) dari seorang pandita Hindu dari Jawa Timur bernama Dang Hyang Dwijendra. Danghyang Dwijendra juga bernama Danghyang Nirartha, putra dari Mpu Penawasikan. Mpu Penawasikan putra dari Mpu Bahula. Mpu Bahula putra Mpu Beradah. Mpu Beradah adik dari Mpu Kuturan yang mendirikan Sad Kahyangan di Bali pada abad ke-11 Masehi, termasuk Pura Luhur Uluwatu.

Istilah mpu adalah gelar pandita dalam bahasa Jawa Kuna. Mpu artinya mengemban. Mungkin istilah mpu merupakan terjemahan kata Swami dalam bahasa Sansekerta. Swami dalam bahasa Sansekerta artinya orang yang telah menguasai atau mengemban kesucian. Dalam naskah kuna Lontar Dwijendra Tattwa disebutkan bahwa Danghyang Dwijendra mengadakan perjalanan suci dari Kerajan Daha di Jawa Timur terus menuju Pasuruan. Dari Pasuruan beliau mengadakan perjalanan ke Blambangan dan akhirnya terus menuju Pulau Bali. Dalam naskah Dwijendra Tattwa itu diceritakan beliau berkeliling di Bali. Sampai di Kerajaan Klungkung dengan Rajanya Dalem Waturenggong. Di kerajaan ini Danghyang Dwijendra dipercaya menjadi Purahita yaitu Pandita Istana mendampingi Dalem Watu Renggong menata kehidupan rakyat Bali. Terakhir setelah beliau menjelang kembali ke alam asal, Beliau datang ke Pura Sakenan. Dari Sakenan menuju Desa Kerobokan. Di sana beliau meninggalkan sebuah peti tempat sirih yang kemudian dikeramatkan di suatu pura. Pura tersebut sejak itu bernama Pura Peti Tenget artinya pura peti keramat. Dari Pura Peti Tenget itulah Beliau menuju Pura Luhur Uluwatu. Di Pura Luhur Uluwatu itulah beliau kembali ke asal, Sang Pencipta.

Pada waktu Danghyang Dwijendra datang ke Pura Luhur Uluwatu, Beliau menjumpai pura dengan cara pemujaan yang masih sederhana sebagaimana sistem pemujaan pada zaman Mpu Kuturan. Di pura tersebut terdapat tiga patung yaitu patung Brahma, patung Ratu Bagus Dalem Jurit dan patung Wisnu. Ratu Bagus Dalem Jurit itulah sesungguhnya Dewa Siwa Rudra.

Pemujaan energi Tri Murti dengan sarana patung ini merupakan peninggalan sistem pemujaan pada zaman Mpu Kuturan. Setelah Danghyang Dwijendra datang, sistem pemujaan pada Tuhan dengan sarana patung pelan-pelan diganti dengan sistem palinggih itu umumnya tidak memperlihatkan wujud patung tertentu. Hal ini nampaknya disesuaikan dengan perkembangan zaman. Agar ada penyesuaian dengan keadaan zaman maka sistem pemujaan dengan sarana patung atau Murti Puja lalu diganti dengan wujud palinggih. Setelah itu didirikan meru tingkat tiga di Pura Luhur Uluwatu sebagai pemujaan Dewa Siwa Rudra di mana aspek Brahma dan Wisnu juga terkait menjadi energi magis religius dalam pemujaan Siwa Rudra di meru tingkat tiga.

Meskipun kedatangan Danghyang Dwijendra memperluas tempat pemujaan di Pura Luhur Uluwatu bukan berarti apa yang telah ada harus ditinggalkan begitu saja. Di Pura Dalem Jurit inilah terdapat patung Brahma Wisnu dan Ratu Dalem Jurit yang merupakan tempat pemujaan Siwa Rudra ketika Mpu Kuturan mendirikan pura tersebut abad ke-11 Masehi. Dari Dalem Jurit kita terus masuk melalui candi bentar. Di jaba tengah ini kita menoleh ke kiri lagi ada sebuah bak air yang selalu berisi air meskipun musim kering sekalipun. Hal ini dianggap suatu keajaiban dari Pura Luhur Uluwatu. Sebab, wilayah Desa Pecatu adalah daerah perbukitan batu karang berkapur yang mengandalkan air hujan. Bak air itu dikeramatkan karena keajaibannya itu. Keperluan air untuk bahan tirtha cukup diambil dari bak air tersebut.

Dari jaba tengah ini kita terus masuk melalui candi kurung Paduraksa bersayap. Candi ini ada yang menduga dibuat pada abad ke-11 Masehi karena dihubungkan dengan candi kurung bersayap di Pura Sakenan. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa candi kurung bersayap seperti ini ada di Jawa Timur. Pada peninggalan purbakala di Sendang Duwur terdapat Candra Sengkala yaitu tanda tahun saka dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno sbb: Gunaning salira tirtha bayu, artinya menunjukkan angka tahun Saka 1483 atau tahun 1561 Masehi, karena candi kurung Paduraksa bersayap di Sendang Duwur sama dengan candi kurung Paduraksa di Pura Luhur Uluwatu. Dengan demikian nampaknya lebih tepat kalau dikatakan bahwa Candi Kurung Paduraksa di Pura Luhur Uluwatu dibuat pada abad XVI.

Setelah kita masuk di jeroan kita menjumpai bangunan yang paling pokok yaitu Meru Tingkat Tiga, tempat Pemujaan Dewa Siwa Rudra. Upacara piodalan di pura ini berlangsung setiap 210 hari, pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia.

Pura Luhur Uluwatu memiliki wilayah suci dalam radius kurang lebih lima kilometer. Wilayah ini disebut wilayah kekeran artinya wilayah yang suci tidak boleh ada bangunan apa pun. Dulu hanya hutan lindung dengan berbagai jenis binatangnya. Binatang yang masih tahan sampai sekarang hanyalah kera dan ini pun jumlahnya semakin sedikit. Konon dulu ada kijang, menjangan, kura-kura dan berbagai jenis burung. Di Bali memang Pura Kahyangan yang berstatus Kahyangan Jagat memiliki radius kesucian lima kilometer. Jarak antara Desa Pecatu dengan Pura Luhur Uluwatu memang lima kilometer.

Ada sejumlah pura yang menunjang kesucian Pura Luhur Uluwatu yaitu Pura Pererepan di Desa Adat Pecatu, Pura Dalem Kulat di Banjar Tengah, Desa Adat Pecatu, Pura Karang Boma di Banjar Tengah di atas sebuah bukit. Pura Dalem Selonding di Banjar Kanginan, Pura Dalem Pangeleburan di Banjar Kauh di tepi pantai Desa Adat Pecatu. Pura Goa Batu Metandal di pantai selatan termasuk wilayah Banjar Tengah Desa Adat Pecatu dan Pura Goa Tengah yang terletak di Banjar Tengah.

* Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2006/3/1/bd2.htm

Makna Kahyangan Tiga di Desa Pakraman

Brahma srsti lokam, wisnawe palaka stitam,
Rudre twe sangharas caiwam, Tri Murtti nama ewaca.
Lwir Bhatara Siwa magawe jagat, Brahma rupa siran panresti jagat. Wisnu rupa siran pangraksa jagat, Rudra rupa sira mralayaken rat. Nahan tawak nira tiga bheda nama.
(Buana Kosa, III. 76)

Maksudnya:

Ketika Batara Siwa mengadakan dunia, berwujud Batara Brahma saat menciptakan dunia, berwujud Batara Wisnu saat memelihara dan melindungi dunia, berwujud Batara Rudra saat melebur dunia. Demikianlah tiga wujud Beliau dengan nama yang berbeda.

YANG mengajarkan pendirian Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman adalah Mpu Kuturan kira-kira pada abad ke-11. Pada abad tersebut yang menjadi raja di Bali adalah Raja Udayana yang didampingi oleh permaisurinya dari Jawa bernama Mahendradatta dengan gelar Gunapriya Dharma Patni.

Gagasan Mpu Kuturan mendirikan Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman itu diperkirakan muncul saat ada pesamuan besar di Pura Samuan Tiga sekarang yang terletak di Desa Bedulu Kabupaten Gianyar. Ada berbagai pendapat tentang pesamuan agung tersebut. Ada yang menyatakan bahwa pesamuan di Samuan Tiga itu untuk menyatukan sekte-sekte Hindu yang pecah belah pada saat itu. Tetapi banyak guru besar arkeologi yang menyatakan tidak menjumpai bukti-bukti yang mengandung nilai sejarah yang menyatakan bahwa zaman tersebut sekte-sekte Hindu yang ada pecah belah.

Raja Udayana dan permaisurinya saja saat itu beda sekte keagamaannya. Raja Udayana menganut Buddha Mahayana, sedangkan permaisurinya menganut sekte Siwa Pasupata. Pesamuan tersebut nampaknya untuk menetapkan kebijaksanaan dalam meningkatkan daya spiritual masyarakat Bali untuk membangun kehidupan yang sejahtera lahir batin. Karena pendirian Kahyang Tiga di setiap desa pakraman itu untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Tri Murti sebagaimana dinyatakan dalam Pustaka Bhuana Kosa III. 76.

Tuhanlah yang menciptakan (utpati), melindungi (sthiti) dan mempralayakan (pralaya atau pralina) semua ciptaan-Nya. Kemahakuasaan Tuhan untuk melakukan Utpati, Sthiti dan Pralina ini disebut Tri Kona. Dengan pemujaan Tuhan Siwa sebagai Tri Murti mengandung dua konsep pembinaan kehidupan spiritual, yaitu konsep Tri Kona dan Tri Guna.

Dalam Bhagawata Purana dinyatakan ada tiga kelompok Maha Purana. Ada Satvika Purana dengan Ista Dewatanya Dewa Wisnu. Ada Rajasika Purana dengan Dewa Brahma sebagai Ista Dewatanya dan ada Tamasika Purana dengan Dewa Siwa sebagai Ista Dewatanya. Dengan demikian Tri Murti menurut Bhagawata Purana adalah Brahma, Wisnu dan Siwa sebagai Guna Awatara. Artinya Tuhan-lah yang menjadi sumber pengendali tertinggi tiga dasar sifat manusia yang disebut Tri Guna itu.

Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti di setiap desa pakraman di Bali sebagai media sakral untuk menerapkan konsep untuk menguatkan kehidupan spiritual. Penguatan kehidupan spiritual melalui penguatan sistem pemujaan pada Tuhan, agar umat hidupnya terarah dalam mengarungi dinamika kehidupan di dunia ini. Untuk mewujudkan empat tujuan hidup mencapai Dharma, Artha, Kama dan Moksha minimal ada dua konsep hidup yang harus dijadikan pegangan untuk mengarahkan dinamika hidup di tingkat desa pakraman.

Dua konsep itu adalah Tri Kona dan Tri Guna. Dua konsep spiritual tersebut akan membina kehidupan di desa pakraman untuk menuntun umat mewujudkan empat tujuan hidup tersebut sesuai dengan tahapan hidup yang disebut Catur Asrama. Tri Kona sebagai kemahakuasaan Tuhan dijadikan sumber tuntunan tertinggi  dalam melakukan tiga dinamika hidup tersebut. Artinya manusia hendaknya menjadikan konsep Tri Kona itu sebagai guide line dalam berperilaku mencipta (utpati), memelihara (sthiti) dan meniadakan (pralina) untuk menegakkan kehidupan yang benar, suci dan harmonis (Satyam, Siwam dan Sundharam).

Ciri hidup yang baik dan benar itu adalah melakukan kreativitas untuk menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan. Hal inilah yang disebut Utpati atau Sthiti. Selanjutnya kreatif untuk memelihara sesuatu yang sepatutnya dipelihara atau Utpati. Dalam kehidupan ini ada hal-hal yang memang seyogianya ditiadakan agar dinamika hidup ini dengan laju menuju kehidupan yang Jana Hita dan Jagat Hita.

Jana Hita artinya kebahagiaan secara individu dan Jagat Hita adalah kebahagiaan secara bersama-sama. Inilah yang seyogianya yang dikembangkan oleh umat di desa pakraman. Melaksanakan ajaran Tri Kona tersebut tidaklah semudah teorinya. Karena itu dalam melakukan upaya penciptaan agar upaya tersebut benar-benar berguna dalam kehidupan ini membutuhkan tuntunan spiritual dengan memuja Batara Brahmana di Pura Desa sebagai unsur Kahyangan Tiga di desa pakraman.

Demikian juga untuk memelihara dan melindungi sesuatu yang baik dan benar yang sepatutnya dilindungi tidaklah mudah. Melakukan upaya Sthiti ini juga dibutuhkan daya spiritual dengan memuja Tuhan sebagai Batara Wisnu. Dalam hidup juga banyak adanya sesuatu yang menghalangi proses hidup menuju dharma. Untuk meniadakan sesuatu yang sepatutnya ditiadakan juga membutuhkan daya spiritual yang kuat. Untuk menguatkan daya spiritual untuk melakukan Pralina itulah Tuhan dipuja sebagai Rudra atau Batara Siwa.

Dinamika hidup dengan landansan Tri Kona inilah yang dapat menciptakan suasana hidup yang dinamis, harmonis dan produktif dalam arti spiritual dan material secara berkesinambungan. Dari konsep Tri Kona ini sesungguhnya dapat dikembangkan menjadi berbagai kebijakan di desa pakraman. Betapapun maju suatu zaman yakinlah dapat dikendalikan dengan konsep Tri Kona.

Dengan konsep Tri Kona ini desa pakraman tidak akan pernah kehidupan jati dirinya sebagai lembaga umat Hindu khas Bali. Kemajuan zaman justru akan menguatkan jati diri kehidupan di desa pakraman. Karena itulah janganlah sembarangan mempertahankan adat-istiadat. Adat-istiadat itu buatan manusia sebagai sarana menjalankan ajaran agama. Ibarat kendaraan yang memiliki batas waktu. Ada saatnya sarana itu sedang baik karena baru, ada masa tuanya dan ada masanya berakhir.

Ciptakan adat-istiadat yang dibutuhkan zaman, ada adat-istiadat yang masih baik dan benar agar terus dipelihara dan dipertahankan. Sedangkan adat-istiadat yang sudah usang ketinggalan zaman hendaknya ditinggalkan secara suka rela. Kalau adat-istiadat yang sudah usang karena bertentangan dengan kebenaran dan kemanusiaan agar ditinggalkan dengan cara-cara yang baik dan benar juga.

Pemujaan Tuhan di Pura Kahyangan Tiga di desa pakraman juga untuk membina tiga dasar sifat manusia yang disebut Tri Guna. Kalau komposisi Tri Guna tidak ideal maka dari Tri Guna itulah akan muncul sifat-sifat yang tidak sesuai dengan dharma.

Dalam Wrehaspati Tattwa 21 dinyatakan bahwa kalau Guna Satwan dan Guna Rajah itu seimbang kekuatannya menguasai pikiran manusia maka Guna Satwam akan mendorong manusia berniat baik dan benar, sedangkan Guna Rajah mendorong manusia untuk melakukan niat baik itu dalam wujud perbuatan baik.

Kekuatan Guna Satwam dan Guna Rajah yang seimbang itu akan mengantarkan Atman masuk sorga. Kalau ketiga guna itu seimbang menguasai pikiran amaka Atman akan semakin jauh dengan sorga. Demikian dijelaskan dalam Wreshaspati Tattwa 22. Pemujaan Tri Murti di Kahyangan Tiga itu sebagai media dalam mengamalkan ajaran agama Hindu secara benar dan tepat. Ritual yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai spiritual agar ajaran agama Hindu tersebut teraplikasi secara baik, benar dan tepat. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/1/16/bd2.htm

Kahyangan Tiga dan Kehidupan Modern

Keberadaan Kahyangan Tiga dan desa pakraman di Bali dilatarbelakangi oleh nilai-nilai spiritual Hindu yang universal. Dalam Pustaka Mpu Kuturan ada dinyatakan: Desa pakraman winangun dening sang catur varna manut linging Sang Hyang Aji. Artinya desa pakraman dibangun oleh sang Catur Varna menurut petunjuk pustaka suci. Ini artinya desa pakraman tersebut sebagai wadah umat Hindu untuk membina profesi sesuai dengan ajaran kitab suci. Apa saja yang perlu dipersiapkan desa pakraman dalam menghadapi tantangan global?

=======================================================

Kehidupan modern dewasa ini semakin membutuhkan SDM yang profesional sesuai dengan bidangnya masing-masing. Pada zaman modern sekarang ini kehidupan seseorang tidak mungkin akan aman, damai dan sejahtera kalau tidak memiliki suatu profesi tertentu yang mampu memberikan penghasilan yang dapat diandalkan menunjang kehidupan sehari-hari.

Mengeksistensikan suatu profesi pada zaman modern sekarang ini semakin tidak mudah. Desa pakraman sesuai dengan bunyi Pustaka Mpu Kuturan itu seyogianya mengembangkan pembinaan SDM di tingkat desa pakraman melalui pendidikan nonformal dengan bersinergi dengan lembaga pendidikan formal. Dewasa ini di setiap desa pakraman sesungguhnya sudah banyak SDM yang memiliki suatu profesi tertentu. Mereka-mereka ini juga dapat didayagunakan oleh desa pakraman untuk membangkitkan potensi yang masih terpendam di setiap banjar.

Persaingan zaman modern ini membutuhkan daya tahan moral dan mental yang semakin luhur dan tangguh dalam menghadapi dinamika zaman. Keberadaan Pura Kahyangan Tiga sebagai sarana sakral dewasa ini semakin dibutuhkan untuk menguatkan daya spiritualitas umat sebagai dasar penguatan moral dan mental menghadapi persaingan hidup zaman modern.

Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti untuk menguatkan dan meningkatkan daya kreativitas umat untuk menciptakan, memelihara dan meniadakan sesuatu yang perlu diciptakan, dipelihara dan ditiadakan. Pada masyarakat yang masih agraris sederhana dahulu umat mungkin tidak seperti sekarang kuantitasnya memuja Tuhan di Pura Kahyangan Tiga.

Tantangan hidup pada masyarakat agraris dahulu tingkatannya tidak seberat sekarang. Karena itu memuja Tuhan di Pura Kahyangan Tiga tidak saja dilihat dari kuantitasnya tetapi perlu ditingkatkan kualitasnya. Fasilitas di setiap Pura Kahyangan Tiga perlu ditingkatkan agar mampu menampung berbagai pelaksanaan program dalam memajukan anggota krama menjadi SDM yang berkualitas.

Ajaran Tri Guna sebagai salah satu konsep membangun moral dan mental SDM. Keberadaan Pura Kahyangan Tiga di Bali umumnya sudah mengandung arti untuk mengembangkan unsur-unsur Tri Guna dalam membangun sifat dan bakat umat. Pada umumnya Pura Desa dan Pura Puseh dibangun dalam suatu areal atau mandala yang sama. Sedangkan Pura Dalem dibangun dalam suatu areal atau mandala tersendiri. Umumnya dekat dengan kuburan.

Pelinggih Pura Desa dalam wujud Gedong, sedangkan Pura Puseh dalam wujud Meru Tumpang Lima dibangun berjejer di bagian timur areal pura. Umumnya Pelinggih Puseh berupa Meru Tumpang Pitu dibangun di kanan Pelinggih Pura Desa. Batara Wisnu dalam Purana sebagai aspek Tuhan untuk membina Guna Sattwam, sedangkan Batara Brahma sebagai pengendali Guna Rajah.

Dalam Wrehaspati Tattwa 21 dinyatakan bahwa Guna Sattwam dan Guna Rajah hendaknya seimbang menguasai Citta atau alam pikiran. Guna Sattwam menguatkan manusia untuk mengembangkan niat dan tekad mulia untuk berbuat baik berdasarkan dharma. Sedangkan Guna Rajah yang kuat seimbang dengan Guna Sattwam akan membangun kemampuan untuk mewujudkan niat dalam perbuatan nyata.

Dalam sastra Hindu banyak sekali ajaran untuk membangun keseimbangan Guna Sattwam dan Guba Rajah. Pengamalan ajaran Hindu tersebutlah yang semestinya diprogramkan oleh desa pakraman dalam membina umat menjadi SDM yang baik. Dalam Wrehaspati Tattwa 14 ada dinyatakan tentang arti Sakti.

Penjelasan dalam bahasa Jawa Kuno dinyatakan dalam Wrehaspati Tattwa tersebut sbb: Sakti ngarania ikang sarwa jnyana lawan sarwa karya. Artinya: Sakti adalah mereka yang memiliki banyak ilmu (jnyana) dan banyak berbuat nyata mewujudkan ilmu tersebut. Untuk memiliki banyak ilmu haruslah mengembangkan Guna Sattwam. Mereka yang Guna Sattwam-nya kuat akan terdorong untuk terus meningkatkan kemauan belajarnya. Sedangkan mereka yang memiliki Guna Rajah-nya yang kuat akan selalu memiliki semangat kuat untuk terus bekerja mewujudkan ilmu yang didapatkan dalam perbuatan nyata.

Dua hal itulah yang dapat diprogramkan sebagai kelanjutan dari pemujaan Tuhan di Pura Desa dan Pura Puseh. Demikian juga keberadaan Pura Dalem untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Siwa Rudra. Pemujaan Tuhan di Pura Dalem diarahkan untuk menguatkan kemampuan untuk mengendalikan sifat-sifat tamah agar tidak eksis membuat manusia malas, bebal tetapi rakus. Sifat rajah dapat dibina membuat manusia malas untuk berbuat yang adharma. Dengan malas berbuat adharma sifat tamas menjadi positif.

Dalam wujud yang lebih nyata pembinaan Guna Tamas akan mendorong umat untuk melakukan langkah-langkah nyata menghilangkan berbagai AGHT dalam kehidupan ini. AGHT itu adalah ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan hidup. Melawan aspek yang negatif dalam kehidupan ini melalui pemahaman yang benar dari Guna Tamah.

Swadharma desa pakraman yang dijiwai oleh keberadaan Kahyangan Tiga ini adalah mengembangkan ajaran Tri Kona dan Tri Guna dalam membangun umat yang jagat hita. Banyak acuan yang dapat diambil dalam berbagai sastra Hindu untuk diprogramkan dengan sebaik-baiknya di desa pakraman. Kalau hal ini benar-benar dibuatkan program yang matang maka desa pakraman dengan Kahyangan Tiga sebagai hulunya akan eksis dalam membangun Bali yang ajeg.

Dengan demikian pemujaan pada Tuhan di Kahyangan Tiga akan bermakna untuk membangun alam yang lestari (bhuta hita) dan manusia Bali yang jagat hita. Membangun alam yang lestari dengan konsep Rta. Sedangkan membangun jagat hita dengan konsep dharma. Ini artinya memuja Tuhan bukan berhenti pada memuja saja. Pemujaan Tuhan harus dapat berdaya guna menguatkan manusia untuk menjaga alam dan menjaga hidup bersama yang saling mengabdi. Itulah tujuan pendirian Kahyangan Tiga di desa pakraman. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/1/16/bd1.htm

Gegenbach sebuah desa wisata

Posted by Adnyana under Jalan Sutra

Gegenbach, begitulah nama sebuah kota kecil (hampir sebesar desa adat kemoning) yang terletak di lereng pegunungan dan dipinggiran sungai yang masih merupakan bagian dari kawasan hutan lindung di negara jerman yang tidak asing di telinga kita yaitu bernama “hutan hitam”, atau terkenal dengan nama bahasa inggrisnya yaitu “Black Forrest” atau dalam bahasa Jermannya “Schwarzwald”. sebuah kota kecil yang cukup cantik dengan bentuk arsitektur bangunannya yang mirip bekas kerajaan jaman dulu.  kota kecil yang berpenduduk sekitar 11.000 inhabitan ini persisnya  berlokasi di perbatasan antara negara jerman dan negara perancis, dengan kota terdekat dari perancis adalah Strasbourg. Kota Gegenbach saat ini merupakan daerah tujuan wisata yang cukup ramai di kunjungi wisatawan dari kota sekitarnya.

Daerah ini saya kenali ketika saya  melakukan kunjungan dinas kerja selama tiga hari ke customer yang terletak di kota ini. sepulang dari kerja saya sempatkan untuk berjalan-jalan mengelilingi kota ini, dan saya cukup kagum di buatnnya, karena kebersihannya dan juga keunikannya, yaitu sebuah kota kecil namun ramai pengunjungnya. Adapun yang membuat unik dari pusat kota ini adalah di hampir setiap rumah penduduknya tampak begitu bersih dan cantik. seperti seolah-olah ada kesepakatan diantara pemerintah setempat dengan warganya yang berdomisili di kota kecil itu untuk bersama-sama membuat pengunjung (turis) merasa nyaman di saat mereka berada di kota Gegenbach. semua fasilitas pendukung pariwisata hampir terdapat di kota kecil itu, seperti hotel, restaurant, museum yang merupakan bekas istana kerajaan jaman dulu, dll.  kota ini kalau di bandingkan dengan daerah di sekitar klungkung, mungkin mirip dengan desa kamasan klungkung, dimana masyarakat di kamasan hampir semua memiliki keahlian menggambar lukisan wayang klasik dan rumah penduduk di desa adat kamasan juga hampir semuanya tampak unik dengan ciri khas arsitektur bali di dukung dengan art-shop di sepanjang pinggir jalan. namun sayang yang membedakan antara desa adat kamasan klungkung dengan kota kecil Gegenbach adalah fasilitas pendukung pariwisata yang tidak tersedia di des kamasan, tentunya membuat pengunjung yang mengunjungi kamasan seolah-olah hanya untuk berbelanja lukisan wayang. setelah berbelanja di artshop selesai mereka harus balik ke denpasar (kuta, nusa dua, sanur) atau ke ubud untuk bermalam.

desa di daerah di bali yang mungkin paling mendekati memiliki kemiripan dengan kota gegenbach adalah desa ubud, dengan kawasannya persawahannnya yang unik dan masyarakat di desa ubudpun sepertinya sudah sepakat menjadikan desanya sebagai desa wisata, dimana wisatawan ataupun turis mancanegara bisa menyewa rumah penduduk untuk bermalam. fasilitas penunjang pariwisata lainnya sepertiya ada juga di ubud, seperti supermarket, galery atau artshop, dll. Kesadaran masyarakat di ubud untu menjaga kebersihan lingkungannya pun patut di tiru, sehingga wisatawan bisa merasa betah ketika berada di sekitar ubud.

mungkinkah daerah di sekitar kabupaten klungkung di optimalkan dijadikan desa wisata. jawabannya mungkin bisa, apalagi masyarakat klungkung di jaman kerajaan Bali jaman dulu merupakan daerah permukiman seniman kerajaan. selain desa kamasan ada desa budaga, desa tihingan, desa sampalan, desa sidemen, juga layak untukdi kembangkan di jadikan desa wisata. kedepannya yang di perlukan sepertinya adalah sebuah komitmen diantara masyarakatnya sertadukungan dari pemerintah kabupaten klungkung untuk terus mempromosikannya. dan bila perlu mensupport masyarakat bila ingin memperbaiki rumahnya agar tampak unik dan cantik, seperti apa yang terlihat di kota kecil gegenbach, yang hampir semua rumah disana tampak baru tapi dengan tampilan arsitektur lama.

Lebih lanjut latar belakang sejarah kota gegenbah juga sepertinya memiliki kemiripan dengan sejarah kabupaten klungkung, yaitu sama-sama merupakan bekas kerajaan. walaupun sesungguhnya kerajaannya tidak sebesar kerjaan Bali yang berpusat di Swecapura ataupun di Semarapura, namun hingga kini pusat kerajaannya tetap tertata apik dan rapi, seperti di tunjukkan oleh “saksi bisu” bangunan tuanya serta sejarah yang tertulis d museumnya, dan list dari nama raja-raja yang pernah memimpin di kota gegenbach tertulis seperti di bawah.

Semoga masyarakat di klungkung bisa menyadari sejarah besar yang di milikinya di jaman dulu, dan bisa menjadikannya sebagai titik awal untuk melihat kedepan dengan penuh keyakinan dan percaya diri untuk menjadi lebih baik lagi di kemudian hari, tentunya dengan terus belajar lebih rajin, bekerja lebih giat. setiap individunya yang merantau jauh ke luar tidak lupa akan kampung halamannya dan tetap mencoba berkontribusi untuk kemajuan daerahnya sesuai dengan kemampuannya masing-masing dan tetap menjaga  komitment untuk memajukan daerahnya bersama-sama… semoga

Liste der Äbte von Gengenbach

  • Rustenus (8. Jh.)
  • Burkhard, Leutfried, Cosman, Anselm, Gauthier, Volmar, Otho, Benno, Rado, Ammilo (?)
  • Alfram (-ca. 820)
  • Germunt (ca. 826)
  • Lando (ca. 840)
  • Dietrich I., Dietrich II., Gottfried I., Walther I., Walther II. u.a. (?)
  • Reginald (vor 1016-1028)
  • Rusten (1028-1034)
  • Berthold I. (-1052)
  • Bruning (-1065)
  • Poppo (-1071
  • Acelinus (-1074)
  • Ruotpert (-1075)
  • Willo (-1085)
  • Hugo I. (1089, 1096)
  • Friedrich I. (vor 1109-1120)
  • Gottfried II. (vor 1140-1162)
  • Anselm (-1147?)
  • N.N. (-1173)
  • Friedrich II. (-1182)
  • Landofrid (-1196)
  • Salomon (-1208)
  • Gerbold (1210)
  • Eggenhard (-1218)
  • Gottfried III. (1218-1237
  • Walther III. (1237-1248)
  • Dietrich III. (1248-1263?)
  • Hugo II. (1263?-1270?)
  • Gottfried IV. (1270?-1276)
  • Berthold II. (1276-1297)
  • Gottfried V. (1296)
  • Berthold III. (1297-1300)
  • Dietrich IV. (1300-1323)
  • Albero (1323-1324)
  • Walther IV. (1324-1345)
  • Berthold IV. (1345-1354)
  • Lambert von Brunn (1354-1374)
  • Stephan von Wilsberg (1374-1398)
  • Konrad von Blumberg (1398-1415)
  • Berthold V. Mangolt-Venser (1416-1424)
  • Egenolf von Wartenberg (1424-1453)
  • Volzo von Neuneck (1454-1461)
  • Sigismund von Neuhausen (1461-1475)
  • Jakob von Bern (1475-1493)
  • Beatus II. von Schauenburg (1493-1500)
  • Konrad von Mülnheim (1500-1507)
  • Philipp von Eselsberg (1507-1531)
  • Melchior Horneck von Hornberg (1531-1540)
  • Friedrich von Keppenbach (1540-1555)
  • Gisbert Agricola (1556-1586)
  • Johann Ludiwig Sorg (1586-1605)
  • Georg Breuning (1605-1617)
  • [Johann Caspar Liesch (1617)]
  • Johann Demler (1617-1626)
  • Jakob Petri (1626-1636)
  • Erhard Marx (1636-1638)
  • Columban Meyer (1638-1660)
  • Roman Suttler (1660-1680)
  • Placidus Thalmann (1680-1696)
  • Augustinus Müller (1696-1726)
  • Paulus Seeger (1726-1743)
  • Benedikt Rischer (1743-1763)
  • Jakob Trautwein (1763-1792)
  • Bernhard Maria Schwörer (1792-1803/07)