kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for April, 2009

Membaca artikel dari jawapos berikut tentang olahraga para layang dengan parasut yang dimaksimalkan sebagai bagian dari program pariwisata untuk membantu menggerakan roda perekonomian daerah di provinsi sumatera barat, mengingatkan saya akan olahraga sejenis yang dahulu juga sempat populer di kabupaten klungkung. dimana olahraga terbang “Gantole” yang biasanya berlangsung dari puncak bukit di perbatasan antara desa pesinggahan klungkung dengan daerah wates (karangasem) sempat menjadikan kabupaten klungkung cukup populer di kunjungi oleh wisatawan yang menekuni olahraga ini.

Saat ini pemerintah daerah kabupaten klungkung sebenarnya sedang mencoba untuk bangkit mengejar ke tertinggalannya di sektor pariwisata  dari kabupaten-kabupaten lain di provinsi bali ini,  dengan mencoba menata potensi-potensi daerah yang di milikinya, agar tidak hanya menggantungkan pendapatan dari sektor pariwisata hanya dari kunjungan wisatawan ke Taman Gili Kertagosa yang berlokasi di pusat kota Klungkung.

Salah satu program yang sudah muncul adalah “mengawinkan” bukit dan laut, atau dalam bahasa balinya di kenal dengan istilah konsep “Nyegara Gunung”.  Program Pariwisata “Nyegara” ini sesungguhnya tidaklah terlalu asing bagi telinga kita dimana Kabupaten Klungkung sudah cukup di kenal dengan keindahan kedalaman Lautnya, terutama laut-laut yang terletak di sekitar kepulauan Nusa Penida. Sementara program pariwisata “Gunung” ini memang belum banyak di kenal walaupun sesungguhnya  keindahan panorama alam pedesaan yang terletak di daerah perbukitan salah satunya di desa pesinggahan yang berbatasan dengan kabupaten karangasem pemandangannya sangatlah cantik, karena persis di depan mata bila diarahkan ke selatan akan tampak birunya laut serta kepulauan Nusa Penida yang sangat indah.

Untuk merealisasikan program “Nyegara Gunung” ini , mungkin perlu kiranya bagi pemerintah daerah Klungkung untuk “mengawinkan” antara potensi “Segara” dengan potensi “Gunung” yang di miliki kabupaten Klungkung yaitu salah satunya dengan mencoba mengaktifkan kembali olahraga terbang paralayang di puncak bukit desa pesinggahan atau di maksimalkan kembali di kemas sebagai perpaduan kegiatan olahraga dan berwisata. Sehingga nantinya kegiatan olahraga wisata ini bisa turut membantu menciptakan diversifikasi jenis lapangan pekerjaan bagi masyarakat klungkung di pedesaan, sehingga tidak harus mencari pekerjaan keluar klungkung. semoga.

Bukit Langkisau Painan, Objek Wisata Andalan Pesisir Selatan, Sumatera Barat
Padukan Wisata Alam, Bahari, dan Olahraga Dirgantara

Kalau ada objek wisata yang menggabungkan tiga aktivitas sekaligus, bisa jadi Bukit Langkisau di Painan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) salah satunya. Bukit yang terletak di pesisir pantai barat Sumatera Barat tersebut menyuguhkan wisata bahari, wisata alam, dan olahraga dirgantara.

Meski di pantai, bukit tersebut cukup tinggi, mencapai 214 meter dari permukaan laut. Tantangan yang cukup menarik bagi penyuka wisata alam. Lokasinya tepat di jantung Kota Painan, ibu kota Kabupaten Pessel.

Dari puncak bukit tersebut bisa dinikmati pemandangan Kota Paonan, hamparan pasir putih Pantai Carocok, Pantai Salido, dan pulau-pulau kecil di Samudera India. Saat yang tepat mengunjungi puncak bukit adalah sore menjelang matahari terbenam. Pantulan sinar keemasan di permukaan laut menyajikan pemandangan spektakuler.

Yang gemar berolahraga dirgantara bisa leluasa menikmati paralayang. Ada puluhan pemandu paralayang yang siap mendampingi para wisatawan yang ingin menikmati pemandangan dari udara seraya terbang dengan parasut tersebut.

Parjock, 30, salah satu pemandu paralayang di Painan mengatakan, kegiatan tersebut meningkat saat liburan. ”Banyak yang suka karena tantangannya,” jelasnya.

Setelah terbang layaknya burung dari puncak bukit, wisatawan bisa memilih lokasi pendaratan yang dikehendaki. Mau mendarat di Kota Painan atau di hamparan pasir putih Pantai Salido.

Mencapai lokasi wisata itu pun tidak terlalu sulit. Dari ibu kota Sumatera Barat, Padang, cukup naik bus dengan ongkos Rp 15.000 sekali jalan, sudah sampai di Painan.

Yang ingin berlama-lama dan menginap, tersedia fasilitas penginapan dengan harga terjangkau. Berkisar antara Rp 50.000-150.000. ”Bergantung fasilitasnya,” ungkap seorang pemandu wisata di sana.

Pemkab Pessel memandang objek wisata Bukit Langkisau itu cukup potensial untuk dikembangkan. Tidak berlebihan jika pengembangannya masuk dalam skala prioritas pemkab.

Salah satu perwujudannya adalah pembangunan gazebo dan hotel dan di lokasi. ”Kami juga mereklamasi (menimbun bibir pantai) Pantai Carocok Painan yang berada persis di kaki Bukit Langkisau,” kata Bupati Pessel Nasrul Abit.

Selain mengurangi dampak abrasi, reklamasi direncanakan sebagai pusat lokasi wisata bahari.

Berkat Xanana, Pura Girinatha di Dili (Timor-Timur) Tetap Bertahan

Keberadaan Pura di kota Dili Timor Leste hingga kini tetap dipertahankan. Hal ini tak terlepas dari keinginan Xanana Gusmao, sewaktu masih menjabat sebagai presiden.

Hal itu ditegaskan Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat acara open house di wantilan DPRD Bali, Sabtu (25/4). Padahal, kata Pastika yang pernah bertugas di Timtim, pernah mengutarakan akan memprelina (meniadakan) Pura terbesar di Dili itu, menyusul hengkangnya warga Bali (Hindu) dari Timtim pasca jajak pendapat.

“Saya sudah pernah sampaikan keinginan ke Xanana untuk memprelina Pura di Dili itu. Tapi Xanana bilang jangan, biarkan tetap dipertahankan,” ujar Pastika, menirukan ucapan Xanana yang waktu itu menjabat sebagai Presiden Timor Leste.

Akhirnya hingga kini, Pura di sana sampai kini masih utuh. Beruntung di negeri itu ada umat Hindu walau jumlahnya segelintir saja.

“Saya juga ingin suatu saat datang sembahyang ke Pura itu,” ujar Pastika yang mengaku menyimpan banyak kenangan dengan Pura itu selama bertugas di bumi mantan propinsi ke-27 Indonesia itu. (sss)

http://beritabali.com/index.php?reg=&kat=&s=news&id=200904250006

Pura Girinatha; Satu-satunya Pura di Dili, Timor Leste Peninggalan Indonesia

oleh: I PUTU SUYATRA, Dili

Pura Girinatha, adalah satu-satunya pura peninggalan jaman Indonesia di Dili, Timor Leste. Pura ini dibangun pada jaman Gubernur Mario Vegas Carrascalao, 1987 lalu. Meski kondisinya memprihatinkan, tapi pura ini masih tetap digunakan oleh sedikit umat Hindu di Dili.

PURA yang biasa digunakan umat Hindu di Dili pada jaman Indonesia dulu, terletak di daerah Taibesi. Seperti layaknya pura-pura lain di Indonesia di luar Bali, pura ini terletak di perbukitan. Tapi, bukit yang ada di sini tidak terlalu tinggi. Sehingga tidak begitu sulit untuk sampai di jaba (bagian terluar) pura. Bahkan, bisa ditempuh dengan mobil.

Jalan aspal yang menuju pura yang diresmikan Gubernur Timtim, Mario Vegas Carrascalao, 27 Juni 1987 ini juga masih bagus. Cuma, karena kemungkinan jarang dilalui kendaraan roda dua, sebagian bibir jalan mulai dijalari rumput liar.

Jalan ini berujung pada daerah beraspal yang disebut jaba pura. Ukurannya sekitar 25×40 meter. Kemudian di seberang atau sebelah selatan jaba pura, terdapat bangunan berukuran 4×5 meter yang atapnya mulai rontok. Tampak bangunan yang memang pondasinya sengaja ditinggikan itu hingga sekitar dua meter dari areal parkir teresebut tidak terurus. “Dulu tempat itu biasa dipakai untuk taruh sajen,” kata Cezar Marcel, warga setempat yang tinggal tepat di depan Pura Girinatha.

Sementara di sebelah timur jaba pura, berdiri dua rumah sederhana berukuran sekitar 6×5 meter dan 4×5 meter. Temboknya terbuat dari batako tanpa plesteran. Rumah itu sudah ada sebelum pura ini dibangun dan ditempati keluarga Cezar Marcel dan Joao da Silva.

Siang itu, kebetulan keluarga kedua pemilik rumah itu cukup lengkap. Tiga anak-anak berusia di bawah 10 tahun bermain di teras rumah sebelah selatan. Setelah bertegur sapa dengan pemilik rumah, koran ini kemudian masuk ke dalam pura. Tidak ada penghalang untuk masuk ke dalam areal pura. Kebetulan pintu besi yang ada di sebelah kiri gerbang utama itu tidak terkunci. Gerbang utama (kori) pura itu sendiri sudah mulai rontok pada bagian atasnya. Di sela-sela rumput liar dan runtuhan kori itu, terdapat beberapa butiran tai kambing. Sepertinya empat kambing yang koran ini temui di jaba pura itu baru saja keluar dari dalam. Tampak tainya masih basah.

Sedangkan penyengker (sebutan untuk tembok pura, Red) yang membatasi jaba dengan jaba tengah (bagian tengah. Areal ini sudah memasuki kawasan suci, Red) bagian timur tampak beberapa potong pakaian dijemur. Tampaknya milik keuarga Joao da Silva dan Cezar Marcel.

Sementara bale gong (bangunan untuk menyimpan gamelan, Red) yang ada di jaba tengah tampak sudah hancur. Atapnya sudah lenyap. Yang tersisa hanya kuda-kuda yang terbuat dari baja. Sedangkan lantai keramik warna putihnya masih utuh meski mulai dijalari rumput liar. Sedangkan di kiri kanan bangunannya tampak berserakan runtuhan kori yang jaraknya memang hanya sekitar dua meter dengan bale gong tersebut. “Ini dulu dipakai untuk main musik (gamelan, Red),” kata Cezar sambil menggerakkan tangan kanannya seolah sedang memukul gamelan.

Sementara di ujung utara, tampak dua pelinggih (candi) berdiri kokoh. Pelinggih paling besar yang posisinya paling timur, dibalut dengan kain kuning. Kainnya tampaknya belum lama dibalutkan. Sedangkan pelinggih yang lebih kecil juga dibalut kain kuning tapi sudah lusuh.

Di pelataran pelinggih ini masih terdapat bekas canang (sajen) yang terbuat dari janur kuning. Dilihat dari kondisi canang itu, sepertinya baru berumur satu atau dua minggu. Potongan dupa dupa juga ada di situ. Dupa itu menandakan bahwa pura ini memang masih digunakan untuk sembahyang. Apalagi dupa utuh di dalam plastik itu juga masih tampak baru.

“Memang ada saja yang masih datang ke sini. Tapi tidak seperti dulu. Paling orang datang dua atau tiga orang yang datang. Kadang ada juga yang sendirian. Mungkin banyak yang tidak tahu kalau ada tempat sembahyang di sini. Yang datang paling sering hari Sabtu dan Minggu. Tapi tidak pernah malam seperti dulu,” terang Joao da Silva.

Menurutnya dulu, ketika masih menjadi salah satu provinsi Indonesia, umat Hindu di Dili cukup banyak. Jika ada upacara, antrian untuk ke pura ini bisa satu kilometer. Dulu orang bersembahyang juga banyak yang malam-malam.

Sementara di bagian pojok sebelah barat pura itu, ada lagi satu candi kecil. Tingginya tidak lebih dari 1,5 meter. Bangunan ini persis seperti tempat sembahyang umat Hindu India. Pada bangunan itu terdapat satu lubang. Di dalamnya terdapat patung dewa dan gambar Krishna yang dibingkai. Sedangkan di bibir lubang itu berdiri tujuh lilin yang tinggal sepertiga. Ada juga tempat dupa yang sudah penuh dengan potongan-potongan dupa.

“Di sini kan banyak juga orang India. Makanya bangunan ini sudah ada dari dulu. Sejak jajak pendapat, tidak ada bangunan tambahan di sini,” ungkap Joao da Silva.

Sampai sekarang, kata dia, juga masih ada orang India di Dili. Orang India yang belakangan paling sering sembahyang di pura ini adalah Special Representatif Secretaries General (SRSG) PBB, di Timor Leste, Atul Khare. Setiap Minggu pagi, dia dan istrinya selalu bersembahyang di pura ini. “Sebelum sembahyang, pengawalnya datang lebih dulu. Mereka biasanya mengecek semua sudut pura,” sambung Cezar. “Kalau yang dulu (SRSG sebelumnya, Kamaler Sarena, Red) hanya kadang-kadang datang,” tambahnya.  

Menurutnya, selain orang sembahyang, ada juga yang datang ke sini hanya untuk melihat-lihat. “Kalau ada muka asing yang datang, sering kami peringatkan untuk tidak berbuat macam-macam di dalam. Kami beritahu ini tempat suci, sama seperti gereja,” ungkap Joao.

http://yesie.multiply.com/journal/item/13/Pura_di_Timor_Leste

Memaknai Puputan Klungkung…….
Menyadari Pentingnya Manusia Bali Bergandengan Tangan

Tanggal 28 April ini, masyarakat Bali memperingati Puputan Klungkung. Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan sejarah perjuangan rakyat Bali dalam menegakkan harga diri manusia Bali dan kedaulatan tanah Bali. Ketika sebuah peristiwa bersejarah diperingati, sejatinya mereka yang terlibat dalam “resepsi” peringatan itu telah melakukan usaha pemberian makna atas peristiwa itu. Sejarah sendiri juga sebuah usaha pemberian makna. Karena peristiwa itu dipandang cukup penting sehingga wajib diberikan perhatian istimewa. Hal ini juga berlaku pada peristiwa perang antara Kerajaan Klungkung dan Belanda yang ditutup dengan klimaks nan tragis yakni kematian raja, kerabat dan sebagian rakyatnya yang lebih dikenal dengan sebutan Puputan Klungkung. Pemberian makna terhadap Puputan Klungkung telah terjadi sepanjang usia peristiwa tersebut. Jika kini masyarakat Bali menandai peristiwa itu dengan peringatan seabad, itu berarti seabad pula masyarakat Bali mencoba memaknai peristiwa tersebut.

============================================================ 

Dalam sarasehan “Refleksi Seabad Puputan Klungkung dan Kebangkitan Nasional” di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, pengasuh rubrik “Tamiang Bali” DenPost Minggu Made Sujaya, S.S. menemukan ada dua pandangan umum terkait pemaknaan peristiwa Puputan Klungkung itu.

Pandangan pertama yang lebih bersifat konservatif dan mapan yang memaknai Puputan Klungkung sebagai bentuk heorisme dan patriotisme Raja Klungkung Ida I Dewa Agung Klungkung bersama kerabat dan rakyat Klungkung dalam membela kedaulatan dan kehormatan kerajaan dari nafsu kuasa Belanda. Sikap heroisme  dan patriotisme itu dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu dan budaya Bali. Sikap patriotisme raja, kerabat dan rakyat Klungkung itu memang terbingkai dalam kesadaran yang sangat lokal, membela kerajaan, belum dilandasai kesadaran dan rasa nasionalisme sebagai bangsa. Akan tetapi, Puputan Klungkung ditempatkan sebagai mozaik sejarah perjuangan bangsa dalam menentang penetrasi kekuasaan kolonial Belanda.

Pandangan kedua yang memaknai Puputan Klungkung sebagai sebuah kesia-siaan, bentuk keputusasaan, bahkan ada yang menganggapnya kekonyolan sejarah. Pandangan ini mempertanyakan keputusan raja untuk ber-puputan sebagai sebuah ketidakcerdasan strategi. Penganut pandangan ini berpendapat raja semestinya mengambil jalan diplomasi atau jalan damai sehingga kerajaan dan rakyat bisa diselamatkan.

“Pandangan kedua yang umumnya tidak ditemukan dalam literatur-literatur tentang Puputan Klungkung ini memang terasa apriori. Lebih dari itu, pandangan semacam ini melihat sejarah dari ukuran-ukuran masa kini yang tentu saja tidak sama konteks zamannya. Nilai dalam suatu zaman, kerap kali berbeda bahkan kontradiktif pada zaman lainnya sebagai akibat dari penetrasi nilai-nilai baru. Karena itu pula, makna Puputan Klungkung pada pandangan kedua ini sudah sering dibantah,” tegas penulis buku “Sepotong Nurani Kuta” dan “Perkawinan Terlarang” ini.   

Keragaman Makna

Menurut Sujaya, keragaman makna atas Puputan Klungkung adalah sebuah keniscayaan. Artinya, pandangan-pandangan yang berbeda bahkan kontradiktif dengan pandangan yang sudah mapan merupakan suatu hal yang tidak terhindari. Ditegaskan, sebuah peristiwa sejarah tidak berbeda jauh dengan sebuah teks dalam pemahaman teori sastra yang bisa melahirkan keragaman makna. Bahkan, tanggapan pembaca atau pun masyarakat terhadap suatu peristiwa sejarah kerap kali berubah-ubah atau mengalami pergeseran dalam setiap zaman. “Perkembangan pemaknaan yang saya alami dalam meresepsi peristiwa Puputan Klungkung sejak duduk di bangku SMP hingga sekarang merupakan sebuah contoh sederhana. Pergeseran makna atas peristiwa Gerakan 30 September 1965 bisa disebut sebagai contoh yang lain,” katanya mencontohkan.

Kendati begitu, Sujaya mengingatkan agar keragaman makna atas sejarah tetap diposisikan dalam kerangka memberikan kebermanfaatan dalam menjalani hari ini dan hari esok. Artinya, gemilang atau pun kelam sejarah itu, tetaplah harus fungsional untuk tujuan membangun suatu kehidupan yang lebih baik. Dengan begitu sejarah memiliki arti bagi kehidupan. “Bagi saya, pemaknaan terhadap peristiwa Puputan Klungkung tidak bisa dengan menempatkan peristiwa ini secara otonom. Bagaimana pun, Puputan Klungkung tidaklah peristiwa yang berdiri sendiri. Puputan Klungkung adalah bagian dari sebuah proses penetrasi kolonialisme Belanda di Bali, bahkan di Nusantara. Karena itu, Puputan Klungkung mestilah diletakkan dalam konteks bagaimana Bali merespons penetrasi kolonial yang menurut sejumlah penelitian disebutkan dimulai pada awal abad ke-19,” katanya lagi.

Sujaya menambahkan, Puputan Klungkung merupakan babak akhir dari perlawanan Bali dalam kerangka ideologi tradisional (negara kerajaan-red) menghadapi Belanda. Dalam babak-babak sebelumnya, perlawanan Bali sudah tersaji dalam aneka pilihan warna. Ada yang memilih jalan kompromi atau bekerja sama. Ada yang memilih jalan mengangkat senjata meskipun harus berakhir dengan kematian. Ada pula yang memadukan antara kedua pilihan jalan tersebut. “Klungkung menggunakan berbagai pilihan jalan itu saat berhadapan dengan kolonialisme Belanda. Diawali dengan jalan kerja sama, lalu mengangkat senjata (Perang Kusamba), disusul kompromi dan diplomasi (jalinan kontrak politik dengan Belanda) serta diakhiri dengan jalan mengangkat senjata yang berujung pada puputan,” papar aktivis Sanggar Binduana, Klungkung ini panjang lebar.

Lebih lanjut, alumnus Fakultas Sastra Unud ini memaparkan kilas balik nukilan sejarah Bali di awal abad ke-19. Bermula dari terjadinya perpindahan kekuasaan dari Belanda kepada Inggris di Pulau Jawa. Raja Buleleng Gusti Gde Ngurah Karangasem menguasai Jembrana untuk tujuan menduduki Banyuwangi di Pulau Jawa. Tindakan ini membuat geram pemerintah Inggris di Batavia sehingga dikirimlah satu eskader angkatan laut Inggris ke Buleleng pada tahun 1814. Tujuannya, untuk memberi pelajaran kepada Raja Buleleng. Usaha pemerintah Inggris ini mendapat perlawanan hebat. Tidak saja dari Raja Buleleng, tetapi juga dari semua raja di Bali. Raja-raja lainnya di Bali mengirimkan bantuan pasukannya ke Buleleng untuk membantu kerajaan di bagian utara Bali itu. “Raja-raja Bali itu bertekad untuk berjuang bersama menentang agresi militer dari luar. Sikap ini merupakan pertama kalinya terjadi pada raja-raja Bali pada masa itu,” katanya.

Sikap bersatu raja-raja Bali, kata dia, terbukti ampuh. Pemimpin pasukan Inggris Jenderal Nightingale diperintahkan Batavia untuk memundurkan pasukannya. Pemerintah Inggris tidak bersedia berperang dengan raja-raja Bali yang mempunyai tekad bersatu melawan musuh. Namun, tiga puluh tahun kemudian, semangat bersatu Bali itu mengalami kemerosotan. Ketika Belanda hendak menyerang Kerajaan Buleleng dan Karangasem gara-gara masalah perampasan kapal milik Belanda, raja-raja Bali enggan membantu kedua kerajaan itu. Bahkan, dorongan Raja Klungkung sebagai sasuhunan raja-raja Bali dan Lombok agar raja-raja lainnya membantu Buleleng dan Karangasem tidak mendapat respons yang memadai. Ketidakkompakan raja-raja Bali itu kemudian terbukti makin memudahkan Belanda mencengkeramkan kuku-kuku kekuasaannya di Bali. “Buleleng kemudian jatuh ke tangan Belanda yang menjadi pintu pembuka bagi Belanda untuk menguasai Bali secara keseluruhan. Setelah menguasai Buleleng, Belanda dengan mudah menaklukkan Karangasem, disusul Gianyar yang menyerahkan kedaulatannya, lalu Badung yang dihabisi dalam perang puputan dan terakhir kekalahan Klungkung dalam apa yang kemudian disebut Puputan Klungkung melengkapi kekuasaan Belanda,” katanya. * w. sumatika

 http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/26/bd2.htm

Betapa Pentingnya Menjaga Persatuan dan Kesatuan 

APA yang bisa ditarik dari rangkaian peristiwa sejarah itu? Menurut Sujaya, hal itu menegaskan bahwa Puputan Klungkung adalah buah dari kondisi sosial politik Bali sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang carut-marut dan diwarnai ego masing-masing kerajaan. Kohesivitas dan solidaritas antarkerajaan sangat jauh merosot. Bahkan, yang lebih parah lagi, sejumlah kerajaan terlibat pertikaian yang didasari oleh keinginan yang satu menguasai yang lain. Bukan hanya itu, kerajaan-kerajaan itu tidak segan-segan membantu atau pun meminta bantuan Belanda untuk menaklukkan kerajaan lainnya. Jika saja raja-raja Bali menyadari tentang betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan, saling bantu satu sama lain, memandang ancaman terhadap satu kerajaan sebagai ancaman bagi semua, tentu Puputan Klungkung tidak akan terjadi. Begitu juga Puputan Badung atau pun Gianyar yang memilih jalan tidak populer menyerahkan kedaulatan atas kerajaannya di bawah pengawasan Belanda. “Sampai di sini, makna Puputan Klungkung yang bisa diangkat adalah betapa pentingnya Bali saling bergandengan tangan dan menghindarkan konflik atau pertikaian antarsesama Bali,” tegasnya.

Dalam konteks kekinian, katanya, makna itu bisa diterjemahkan kebijakan antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya semestinya tidak mengesampingkan kenyataan betapa Bali sesungguhnya dalam satu-kesatuan etnik, satu-kesatuan budaya dan satu-kesatuan pulau yang semestinya saling menjaga dan saling memperkokoh. Ego kabupaten/kota, tegasnya, tidak saja menjadi tidak produktif tetapi juga memberi celah bagi penetrasi kepentingan luar yang bertujuan merusak atau setidaknya menguasai Bali. “Perang fisik memang telah berakhir. Tetapi, perang dalam kerangka ideologi atau pun kepentingan tetap terjadi sepanjang masa, termasuk di Bali,” katanya mengingatkan.

Sujaya menambahkan, pemaknaan Puputan Klungkung seperti itu terasa menemukan relevansinya jika dikaitkan dengan momentum peringatan Seabad Kebangkitan Nasional atau pun Setengah Abad Pemerintah Propinsi Bali. Di tingkat nasional kita pun mengalami krisis makna persatuan dan kesatuan sebagai sebuah bangsa. Karenanya, Kebangkitan Nasional yang menjadi momentum tumbuhnya kesadaran untuk bersatu sebagai sebuah bangsa penting dibangunkan dan disegarkan kembali. Pun Bali sebagai sebuah pemerintahan administratif di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia masih berhadapan dengan persoalan ego masing-masing kabupaten sebagai imbas dari otonomi daerah. “Karenanya, momentum peringatan peristiwa Puputan Klungkung yang terjadi seabad lalu yang sesungguhnya pula menandai berakhirnya kedaulatan kerajaan-kerajaan di Bali dan dimulainya masa sebagai jajahan Belanda mesti bisa membangkitkan kesadaran tentang pentingnya menjaga Bali sebagai sebuah kesatuan yang utuh,” tegasnya. 

Transformasi Sejarah

Pentingnya memaknai peristiwa-peristiwa sejarah seperti Puputan Klungkung juga dilontarkan Kepala Dinas Kebudayaan Bali Drs. I Nyoman Nikanaya, M.M. Ditegaskan, sejarah tidaklah sekadar peristiwa-peristiwa yang terjadi yang terjadi di masa lalu tapi juga merupakan bagian dari masa kini. Sebab, dari sejarah kita bisa memetik banyak pelajaran berharga guna menapak kehidupan di masa kekinian dengan lebih baik. “Mengungkap segi-segi ideologi dari Puputan Klungkung dapat dianggap sebagai modal pembangunan di bidang mental spiritual dan kebudayaan. Semangat perjuangan yang dikobarkan para generasi pendahulu diharapkan dapat memberi inspirasi generasi sekarang dalam menghadapi tugas membangun daerah, bangsa dan negara Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan Sujaya, Nikanaya juga memandang perlu digelorakannya upaya transformasi sejarah puputan di Bali melalui bangku sekolah. Dengan begitu, generasi muda Bali sejak usia dini bisa mengenal peristiwa-peristiwa sejarah yang pernah terjadi di tanah kelahirannya secara detail. Setelah mengenal peristiwa sejarah itu, mereka selanjutnya diharapkan bisa memaknainya dalam konteks bangunan sejarah perjuangan bangsa. “Saya berharap, proses transformasi sejarah itu makin diintensifkan di bangku-bangku sekolah. Mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Jika upaya itu tidak secepatnya dilaksanakan, suatu saat nanti generasi muda Bali boleh jadi tidak akan kenal lagi dengan Puputan Klungkung, Puputan Badung, Puputan Margarana dan seterusnya. Padahal, banyak sekali nilai positif yang bisa digali dan diteladani dari rangkaian peristiwa bersejarah tersebut,” ujarnya.

Nikanaya tidak tidak menampik, pelajaran sejarah yang digelar di bangku sekolah selama ini memang belum terlalu dalam menjamah peristiwa-peristiwa sejarah lokal Bali. Bila pun ada buku teks pelajaran yang menyinggungnya, sejarah-sejarah lokal Bali itu hanya disajikan secara sepintas. Karena disajikan secara sepintas, generasi muda Bali pun praktis mengenal sejarah lokal Bali itu secara sepintas pula alias tidak utuh. Dia mencontohkan, hingga satu abad berlalunya peristiwa Puputan Klungkung, banyak pelajar dan mahasiswa yang tidak mengenal peristiwa heroik tersebut. ”Hal serupa juga terjadi untuk peristiwa sejarah penting lainnya yang terjadi di Bali. Harus diakui, generasi muda Bali lebih mengenal kiprah perjuangan Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Teuku Umar dan pahlawan lainnya dibandingkan pahlawan-pahlawan besar yang lahir di tanah Bali. “Peringatan satu abad Puputan Klungkung harus kita jadikan momentum berharga untuk menata kembali pola pembelajaran sejarah itu. Generasi muda Bali tidak boleh diasingkan dari sejarah lokalnya. Mereka wajib tahu, banyak sekali pahlawan besar yang lahir di tanah Bali dan terbukti memberikan kontribusi yang signifikan bagi tegaknya harga diri dan kedaulatan bangsa dan negara ini,” tegasnya.

Nikanaya menegaskan, banyak celah yang bisa dimasuki untuk memperkenalkan tokoh-tokoh besar Bali itu kepada generasi muda Bali melalui bangku sekolah. Dalam konsteks penerapan kurikulum yang memberikan keleluasaan masuknya muatan lokal, pengenalan tokoh-tokoh pelaku sejarah lokal itu bisa disisipkan dalam mata pelajaran muatan lokal seperti bahasa Bali dan pendidikan budi pekerti. “Mata pelajaran itu bisa dimanfaatkan sebagai media yang efektif untuk kepentingan itu. Termasuk, mentransformasikan nilai-nilai positif yang terkandung di balik peristiwa sejarah tersebut. Kita bisa memulainya dari sekarang juga. Tidak ada istilah terlambat untuk memulai,” tegasnya sambil menambahkan, perhatian kepada aspek sejarah lokal bukanlah sebagai bentuk euforia otonomi atau pun kebangkitan kesadaran tentang lokalitas. Namun, lebih sebagai usaha mendekatkan generasi muda dengan sejarah lokalnya sendiri sehingga mereka bisa lebih mudah memaknai arti perjuangan bangsanya di masa lalu. * w. sumatika

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/26/bd2.htm

Bondres
Puputan Klungkung

COBALAH kita bertanya kepada anak-anak remaja yang usai mengikuti ujian nasional untuk tingkat sekolah menengah atas: siapa pahlawan dari Klungkung? Mereka tidak tahu. Kalau pertanyaan diteruskan, apa mereka pernah mendengar istilah Puputan Klungkung? Mereka pun ragu dan sempat berpikir lama. ”Puputan Klungkung apa Puputan Badung? Kalau Badung pernah dengar,” kata salah seorang pelajar ini.

Pertanyaan itu yang saya lontarkan Kamis sore yang lalu kepada beberapa pelajar yang usai mengikuti ujian nasional. Padahal pada hari itu, pagi harinya, ada seminar yang membicarakan Puputan Klungkung di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Denpasar. Bahkan seminar ini memperingati Seabad Puputan Klungkung dan Kebangkitan Nasional. Artinya, sudah 100 tahun Puputan Klungkung berlalu, tetapi banyak anak-anak muda yang tak mengetahui sejarah lokal daerahnya sendiri.

Saya pun seringkali mendengar Puputan Klungkung, Puputan Jagaraga dan lain-lainnya, namun yang melekat dalam ingatan saya hanya Puputan Badung yang terjadi jauh sebelumnya, dan Puputan Margarana yang terjadi sesudahnya. Ini disebabkan kedua puputan itu (Badung dan Margarana) sudah memiliki banyak bahan publikasi, baik berupa buku yang bisa disebut modern (hasil penelitian dan dokumentasi otentik),maupun buku yang bercorak tradisional lewat karya sastra geguritan. Untuk Puputan Klungkung, seberapa banyak ada publikasinya? Saya tidak tahu.

Publikasi ini tentu saja penting, karena dari sinilah tingkat kepopuleran sebuah peristiwa akan terwujud. Belajar sejarah adalah belajar sesuatu hal yang populer, tokoh-tokohnya serasa dekat di hati. Anak-anak Bali tahu persis bagaimana kepahlawanan Pangeran Diponegoro, selain bukunya banyak, nama Diponegoro menjadi nama jalan besar di Denpasar. Pahlawan dari Sumatera seperti Teuku Umar, Imam Bonjol diabadikan sebagai nama jalan protokol di Denpasar. Mana ada pahlawan dari Bali yang namanya diabadikan di jalan protokol?

Kalau kita misalnya bertanya kepada para pelajar di Bali, siapa pahlawan wanita di Indonesia, mereka dengan fasih menjawab; Tjut Nyak Dien, Dewi Sartika, Raden Ajeng Kartini. Coba ditanya, apakah mereka tahu Sagung Wah, pahlawan wanita yang gigih di Tabanan? Pasti tidak. Siapa dia? Kapan berperang, mempertahankan apa, di mana berperang dan di mana gugurnya? Tak banyak publikasi yang lahir dari kepahlawanan ini. Bahkan nama-nama pahlawan Bali yang diabadikan pada jalan arternatif (bukan jalan protokol) tak banyak pula diketahui seberapa besar perjuangannya.

Kalau sejarah ini tak begitu melekat di hati banyak orang Bali, kita juga tak tahu apa sumbangan perjuangan mereka untuk bangsa ini. Artinya, apakah ada korelasi antara Puputan Klungkung dengan Kabangkitan Nasional yang terjadi dalam kurun waktu sama. Atau sejauh mana Puputan Klungkung menjadi jiwa dari perang kemerdekaan, apakah perang habis-habisan di Klungkung itu menjadi spirit perjuangan juga bagi prajurit I Gusti Ngurah Rai dalam pertempuran di Marga? Akan halnya andil Puputan Margarana dengan perjuangan bangsa ini tentu saja sangat besar, karena perjuangan I Gusti Ngurah Rai berkaitan erat dengan mempertahankan kemerdekaan. Patriotisme Ngurah Rai itu sudah jelas digambarkan dalam berbagai publikasi dan ini sudah melekat di hati banyak orang Bali.

Masalahnya sekarang adalah jika semangat dan jiwa puputanbaik Puputan Klungkung maupun puputan sebelumnyamau diwariskan kepada masyarakat Bali terutama generasi mudanya, langkah terbaik yang dilakukan adalah penulisan sejarah perjuangan itu secara populer. Penekanan kata populer ini penting, karena kebanyakan sejarah ditulis dengan tidak populer yang pada akhirnya kurang diminati untuk dibaca. Jika penulisan sejarah hanya berkutat pada tahun, nama pelaku, tempat peristiwa, saksi-saksi dan sebagainya, tak ada gereget untuk membacanya. Gaya penulisan disertasi atau karya ilmiah yang baku pada kalangan akademis, membuat orang tak berminat membaca buku sejarah. Ini pernah dilakukan pada saat menggali sejarah Puputan Badung. Ketika hasilnya berupabuku statistiktak banyak orang tertarik, tetapi ketika disampaikan dengan gaya bertutur, kisah perlawanan ini jadi populer. Bahkan berkali-kali kisah Puputan Badung itu ditampilkan dalam bentuk kesenian, baik kesenian drama gong maupun sendratari. Maklum, beberapa tahun lalu, perayaan Pupuan Badung dilakukan dengan sangatmeriahdengan puncak acaranya lomba jalan beregu Candi Margarana - Alun-alun Puputan Badung, selain diisi seminar, diskusi budaya dan pameran.

Saat ini muatan lokal di sekolah-sekolah bisa dijadikan jalan untuk memperkenalkan sejarah Bali modern. Yang dimaksudkan sejarah Bali modern adalah sejarah perjuangan membebaskan rakyat Bali dari belenggu penjajahan, baik pada saat menjelang kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan. Sejarah Bali modern bisa dikaitkan pula dengan sejarah perjuangan bangsa ini. Adapun sejarah Bali kuno bisa disebutkan perjalanan tokoh-tokoh suci yang membangun peradaban di Bali, baik yang menata masalah adat, kemasyarakatan maupun agamanya. Semisal kisah kedatangan Mpu Kuturan, kedatangan Danghyang Nirartha dan sebagainya. Justru kisah Bali kuno ini yang banyak melekat di hati orang Bali. Kenapa? Karena publikasinya banyak tersebar, dan peninggalan tokoh-tokoh sejarah itu masih terawat dengan baik berupa pura yang sampai saat ini dikunjungi banyak umat. Kalau Puputan Badung, Puputan Klungkung, Puputan Jagaraga, kenangan apa yang masih tersisa? Bisa saja pemerintah membuatkan patung atau monumen, tetapi akan menjadibenda matikalau monumen itu tak terurus dan tak memberi penjelasan apa-apa tentang masa lalu. * Putu Setia

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/26/bd1.htm

Catatan Menuju Seabad Puputan Klungkung —
Merajut Kusamba-Smarapura

KUSAMBA, sebuah desa yang relatif besar di timur Smarapura hingga abad ke-18 lebih dikenal sebagai sebuah pelabuhan penting Kerajaan Klungkung. Desa yang penuh ilalang (kusa = ilalang) itu baru tampil ke panggung sejarah perpolitikan Bali manakala Raja I Dewa Agung Putra membangun sebuah istana di desa yang terletak di pesisir pantai itu. Bahkan, I Dewa Agung Putra menjalankan pemerintahan dari istana yang kemudian diberi nama Kusanegara itu. Sampai di situ, praktis Kusamba menjadi pusat pemerintahan kedua Kerajaan Klungkung. Pemindahan pusat pemerintahan ini tak pelak turut mendorong kemajuan Kusamba sebagai pelabuhan yang kala itu setara dengan pelabuhan kerajaan lainnya di Bali seperti Kuta.

Nama Kusamba makin melambung manakala ketegangan politik makin menghebat antara I Dewa Agung Istri Kanya selaku penguasa Klungkung dengan Belanda di pertengahan abad ke-19. Sampai akhirnya pecah peristiwa perang penting dalam sejarah heroisme Bali, Perang Kusamba yang menuai kemenangan telak dengan berhasil membunuh jenderal Belanda sarat prestasi, Jenderal AV Michiels.

Drama heroik itu bermula dari terdamparnya dua skoner (perahu) milik G.P. King, seorang agen Belanda yang berkedudukan di Ampenan, Lombok di pelabuhan Batulahak, di sekitar daerah Pesinggahan. Kapal ini kemudian dirampas oleh penduduk Pesinggahan dan Dawan. Raja Klungkung sendiri menganggap kehadiran kapal yang awaknya sebagian besar orang-orang Sasak itu sebagai pengacau sehingga langsung memrintahkan untuk membunuhnya.

Oleh Mads Lange, seorang pengusaha asal Denmark yang tinggal di Kuta yang juga menjadi agen Belanda dilaporkan kepada wakil Belanda di Besuki. Residen Belanda di Besuki memprotes keras tindakan Klungkung dan menganggapnya sebagai pelanggaran atas perjanjian 24 Mei 1843 tentang penghapusan hukum Tawan Karang. Kegeraman Belanda bertambah dengan sikap Klungkung membantu Buleleng dalam Perang Jagaraga, April 1849. Karenanya, timbullah keinginan Belanda untuk menyerang Klungkung.

Ekspedisi Belanda yang baru saja usai menghadapi Buleleng dalam Perang Jagaraga, langsung dikerahkan ke Padang Cove (sekarang Padang Bai) untuk menyerang Klungkung. Diputuskan, 24 Mei 1849 sebagai hari penyerangan.

Klungkung sendiri sudah mengetahui akan adanya serangan dari Belanda itu. Karenanya, pertahanan di Pura Goa Lawah diperkuat. Dipimpin Ida I Dewa Agung Istri Kanya, Anak Agung Ketut Agung dan Anak Agung Made Sangging, Klungkung memutuskan mempertahankan Klungkung di Goa Lawah dan Puri Kusanegara di Kusamba.

Perang menegangkan pun pecah di Pura Goa Lawah. Namun, karena jumlah pasukan dan persenjatan yang tidak berimbang, laskar Klungkung pun bisa dipukul mundur ke Kusamba. Di desa pelabuhan ini pun, laskar Klungkung tak berkutik. Sore hari itu juga, Kusamba jatuh ke tangan Belanda. Laskar Klungkung mundur ke arah barat dengan membakar desa-desa yang berbatasan dengan Kusamba untuk mencegah serbuan tentara Belanda ke Puri Klungkung.

Jatuhnya Kusamba membuat geram Dewa Agung Istri Kanya. Malam itu juga disusun strategi untuk merebut kembali Kusamba yang melahirkan keputusan untuk menyerang Kusamba 25 Mei 1849 dini hari. Kebetulan, malam itu, tentara Belanda membangun perkemahan di Puri Kusamba karena merasa kelelahan.

Hal ini dimanfaatkan betul oleh Dewa Agung Istri Kanya. Beberapa jam berikutnya sekitar pukul 03.00, dipimpin Anak Agung Ketut Agung, sikep dan pemating Klungkung menyergap tentara Belanda di Kusamba. Kontan saja tentara Belanda yang sedang beristirahat itu kalang kabut. Dalam situasi yang gelap dan ketidakpahaman terhadap keadaan di Puri Kusamba, mereka pun kelabakan.

Dalam keadaaan kacau balau itu, Jenderal Michels berdiri di depan puri. Untuk mengetahui keadaan tentara Belanda menembakkan peluru cahaya ke udara. Keadaan pun menjadi terang benderang. Justru keadaan ini dimanfaatkan laskar pemating Klungkung mendekati Jenderal Michels. Saat itulah, sebuah meriam Canon ”yang dalam mitos Klungkung dianggap sebagai senjata pusaka dengan nama I Selisik, konon bisa mencari sasarannya sendiri” ditembakkan dan langsung mengenai kaki kanan Michels. Sang jenderal pun terjungkal.

Kondisi ini memaksa tentara Belanda mundur ke Padang Bai. Jenderal Michels sendiri yang sempat hendak diamputasi kakinya akhirnya meninggal sekitar pukul 23.00. Dua hari berikutnya, jasadnya dikirim ke Batavia. Selain Michels, Kapten H Everste dan tujuh orang tentara Belanda juga dilaporkan tewas termasuk 28 orang luka-luka.

Klungkung sendiri kehilangan sekitar 800 laskar Klungkung termasuk 1000 orang luka-luka. Namun, Perang Kusamba tak pelak menjadi kemenangan gemilang karena berhasil membunuh seorang jenderal Belanda. Sangat jarang terjadi Belanda kehilangan panglima perangnya apalagi Michels tercatat sudah memenangkan perang di tujuh daerah.

Meski akhirnya pada 10 Juni 1849, Kusamba jatuh kembali ke tangan Belanda dalam serangan kedua yang dipimpin Lektol Van Swieten, Perang Kusamba merupakan prestasi yang tak layak diabaikan. Tak hanya kematian Jenderal Michels, Perang Kusamba juga menunjukkan kematangan strategi serta sikap hidup yang jelas pejuang Klungkung. Di Kusamba, pekik perjuangan dan tumpahan darah itu tidak menjadi sia-sia. Belanda sendiri mengakui keunggulan Klungkung ini.

Namun, kemenangan cemerlang di Kusamba 158 tahun silam itu kini tidaklah menjelma sebagai momentum peringatan yang dikenang generasi sekarang. Secara resmi Klungkung memilih peristiwa perang penghabisan di Puri Smarapura yang dikenal dengan Puputan Klungkung, 28 April 1908 sebagai tonggak peringatan perjuangan daerah menentang kolonialisme Belanda.

Memang, Puputan Klungkung yang diakhiri dengan gugurnya Raja Klungkung, Ida I Dewa Agung Jambe bersama para kerabat, keluarga serta pengiring menunjukkan bagaimana semangat perjuangan rakyat Klungkung yang menempatkan kehormatan dan harga diri di atas segalanya. Ketika kata-kata tak lagi bertenaga dan pihak yang diajak bicara tak lagi punya matahati, jalan perang merupakan pilihan paling terhormat. Bukan kemenangan fisik yang dicari, tapi kemenangan kehormatan, harga diri dan spirit. Sampai di sana, kematian menjadi jalan kehidupan (mati tan tumut pejah).

Namun, Perang Kusamba yang mengukuhkan kemenangan secara fisik serta menunjukkan kecerdasan, kecemerlangan, kecerdikan pun kematangan menyusun strategi putra-putri terbaik Klungkung juga suatu hal yang layak untuk dikenang. Pada peristiwa itulah Klungkung dan Bali secara umum dipandang sebagai lawan yang tangguh oleh Belanda. Pada peristiwa itu pula, secara diam-diam, harga diri orang Bali dikukuhkan setelah dua tahun sebelumnya juga tergurat dalam peristiwa Perang Jagaraga di bawah pimpinan Patih I Gusti Ketut Jelantik.

Jika selama ini Klungkung dan juga daerah-daerah lain di Bali terbiasa mengenang kekalahan, tidak salah kini memulai juga untuk mengenang kemenangan. Kita perlu berbangga pada prestasi gemilang pendahulu kita. Ketika kita bisa mengenang kekalahan, kenapa tidak punya keberanian untuk juga memperingati kemenangan. Dengan begitu, kebanggaan sebagai bangsa di kalangan generasi penerus bisa ditumbuhkan. Bukankah tradisi Hindu dengan begitu bersahaja mengajarkan untuk memperingati kemenangan dharma atas adharma seperti dalam hari raya Galungan?

Kini, menuju Seabad Peringatan Puputan Klungkung, patutlah dipertimbangkan merajut benang sejarah antara Kusamba dan Smarapura. Kusambalah awal kebangkitan semangat perjuangan rakyat Klungkung menentang kolonialisme Belanda dan Smarapura dengan Puputan Klungkung menegaskan semangat itu pada puncak terindahnya. 

 * I Made Sujaya

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2007/4/29/apresiasi.html

Pura Penataran Beratan

Posted by Adnyana under Pura di Tabanan

Pura Penataran Beratan–
Keindahan Alam dan Manisnya Madu Spiritual

Pura Dangkahyangan Penataran Beratan atau disingkat Pura Penataran Beratan adalah sebuah tempat suci yang terletak di tepi Danau Beratan, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Keindahan alam yang terdiri atas air danau yang tenang dan sejuk serta hijau pepohonan di sekitarnya menjadi ciri khas dari pura ini. 

Dari Kota Denpasar, untuk mencapai pura ini harus menempuh jarak sekitar 51 km.  Udara pegunungan yang dingin akan menyapa setiap pengunjung yang memasuki kawasan Candikuning.  Pura yang terletak pada ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut ini memang terkenal memiliki suhu yang sangat nyaman yakni berada pada kisaran 18-22 derajat Celsius.  Sangat berbeda dengan suhu udara di tempat lainnya yang rata-rata lebih tinggi.  Selain itu kabut tipis yang menyelimuti daerah pegunungan ini menjadi pesona tersendiri. Daerah Bedugul, Baturiti memang terkenal dengan pesona alamnya, terutama berasal dari pemandangan Danau Beratan.  Daerah ini sangat subur dan sentra penanaman sayur dan tanaman hias.

Jika pemedek memasuki areal pura ini, pesona indahnya alam dan getaran spiritual sangat terasa.  Di samping karena hawanya yang sangat sejuk, air Danau Beratan yang tenang dan sejuk seolah mengingatkan manusia pada keagungan spiritual. Bagi para pemedek Pura Penataran Beratan menjadi salah satu tujuan tirtayatra yang sangat bermakna.  Sedangkan bagi para pelancong, areal pura yang tergabung dalam objek wisata Danau Beratan ini mampu memberikan rasa terang, senang dan damai dengan pelukan pesona keindahan alamnya.

Di pura yang diperkirakan dibangun pada zaman kerajaan di Bali ini, ada sesuatu keindahan yang sukar untuk diterjemahkan ke dalam kata-kata.  Banyak pengunjung yang menyatakan sebagai suatu keindahan yang menyentuh rasa terdalam, semacam nektar (madu) spiritual.  Sejauh mata memandang, hijau pegunungan dan jernihnya air laut akan menggugah perasaan terdalam manusia, yang mengingatkan pada keagungan ciptaan Tuhan yang harus dirawat dan dijaga oleh manusia.  Bisa menikmati alam yang indah ini merupakan satu kesempatan yang indah yang mungkin akan terus terbayang sepanjang perjalanan hidup.

Pura pertama yang ditemui ketika memasuki areal ini adalah  Pelinggih Pande.  Di sini dapat ditemui peninggalan prasejarah yang berupa sarkopagus, alat-alat rumah tangga dan benda-benda peninggalan kuno lainnya.  Benda-benda ini dibuatkan pelinggih sederhana  di areal pura yang sempit itu. Pura ini bersebelahan dengan pohon beringin besar yang telah berusia lebih dari seratus tahun. Setiap hari tertentu, para pasemetonan Pande sering melakukan pemujaan di tempat ini. Selain itu persis di depan Pura Penataran terdapat Pura Dalem Purwa.

Pura Penataran Beratan merupakan pura utama yang terdiri atas beberapa pelinggih dan meru. Areal utama mandala dari pura ini juga merupakan daerah yang terluas dari beberapa pura yang ada.  Selain pintu utama, pemedek dapat memasuki pura melalui dua pintu bagian depan dan satu pintu yang tembus persis di tepi danau.  Aturan di pura ini sangat ketat, di utama mandala hanya dapat dimasuki oleh mereka yang melakukan persembahyangan saja dan berpakaian adat. Suasana di dalam pura terasa sangat berbeda dengan di luar.  Di situ lebih tenang dan lebih khidmat, tanpa ada wisatawan yang lalu-lalang, apalagi ditambah dengan bau dupa yang semerbak. Umat yang masuk ke dalam pura ini benar-benar bermaksud untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sayang sekali, kondisi pura ini memprihatinkan karena banyak bangunan yang mulai lapuk serta keropos.

Sementara itu, selain Pura Penataran, pura yang terletak pada danau yakni pura dengan meru tumpang 11 dan meru tumpang 3 menjadi sorotan lensa para pengunjung.  Pura dengan meru tumpang 11 merupakan penghayatan terhadap Batara Pucak Mangu dan tumpang 3 merupakan pemujaan Dewi Danu.  Dua pura yang terletak di danau terutama saat air danau penuh menjadi pemandangan tersendiri.  Pura Dewi Danu merupakan penghayatan akan kesejahteraan bumi, di mana air merupakan sumber kemakmuran dan kesejahteraan jagat.  Dengan melakukan pemujaan terhadap Dewi Danu, diharapkan kesejahteraan masyarakat Bali semakin meningkat dan kesadaran manusia untuk memelihara sumber-sumber alam semakin meningkat.  Sebab, mata air merupakan sumber kehidupan bagi manusia.

Keunikan lain dari areal pura ini adalah adanya sejenis pagoda yang terdapat arca Buddha.  Banyak pengunjung yang mengira bahwa tempat ini khusus dibangun untuk memuja Sang Buddha, tetapi konon bangunan ini justru dibangun oleh umat Hindu.  Akan tetapi hingga kini masyarakat Hindu jarang melakukan pemujaan di tempat ini, hanya ada beberapa umat Buddha yang melakukan sembah bakti.

Hampir setiap hari banyak pemedek dari berbagai daerah berdatangan untuk tujuan tertentu di antaranya upacara yang berhubungan dengan pitra yadnya maupun dewa yadnya.  Selain itu, pura ini diyakini sebagai tempat untuk memohon kemakmuran dan rezeki. 

10 Pengider

Terdapat 10 pura pengider pada Pura Penataran Beratan.  Masing-masing dewa yang distanakan pada pura pengider ini berbeda. Kesepuluh pura pengider itu adalah  Pura Pucak Mangu, Pura Manik Umawang (Ulun Danu), Pura Rejeng Besi, Pura Pucak Resi Sangkur, Pura Pucak Candi Mas, Pura Teratai Bang, terletak di lokasi Kebun Raya. Pura Batu Meringgit terletak di lokasi Kebun Raya, Pura Pucak Pungangan, Pura Pucak Sari, dan Pura Kayu Sugih.

Pada saat piodalan yang jatuh pada Anggarkasih Julungwangi ini, kesepuluh Batara yang berstana di masing-masing pura pengider distanakan dan dipuja selama piodalan berlangsung.  Namun, dalam keseharian Tri Murti yakni Brahma, Wisnu dan Siwa merupakan fokus pemujaan di pura ini.

Menurut beberapa sumber pemujaan Tri Murti di pura ini merupakan suatu bentuk pencarian spiritual yang seimbang dan selaras atau sesuai dengan masyarakat Bali. Pura ini di-empon oleh empat satakan, yang merupakan pengempon secara turun-temurun.  Satakan Candikuning sebagai pekandel dari pura ini yang terdiri atas lima desa pakraman, Satakan Bangah, Satakan Baturiti dan Satakan Antapan. Keempat satakan ini bekerja bahu-membahu dalam pelaksanaan piodalan maupun perawatan dari pura ini.  Sementara Puri Marga merupakan penganceng, sedangkan Puri Mengwi, Belayu dan Perean sebagai pengabeh.

Ketua Badan Pengelola Objek Wisata Penataran Beratan IGN Budana Arta menyatakan sejak 30 tahun terakhir Pura Penataran ini tidak pernah direhab, sehingga kondisinya banyak yang sudah lapuk. Menurutnya, sebagai suatu tempat pemujaan, kelayakan pura ini patut dipertimbangkan. Sedangkan sebagai tempat wisata keunikan berupa kekunoan sering dianggap alami merupakan satu daya tarik tersendiri. Akan tetapi sebagai tempat pemujaan dianggap sangat layak untuk dilakukan rehab.

Artha menyatakan sejak Maret lalu telah dilakukan rehab tahap I yang terdiri atas tujuh pelinggih yang sudah keropos. Dana yang dibutuhkan untuk hal ini sebesar Rp 600 juta.   Sedangkan untuk tahap II nanti, pihaknya merencanakan akan melakukan rehab pagar, candi dan bangunan lainnya yang diperkirakan menelan dana sebesar Rp 2 milyar.

Kesepuluh pura pengider ini sangat terkenal di kalangan masyarakat Baturiti, bahkan Pura Pucak Sangkur sering dikaitkan dengan tempat memohon bagi para pejabat di lingkungan Propinsi Bali.  Pada saat bulan purnama banyak pemedek yang tangkil baik dengan tujuan peningkatan spiritual maupun keinginan duniawi.  Alamnya yang teduh dan tenang di pura ini sering dijadikan sebagai tempat meditasi banyak penekun spiritual.

Suatu kekeliruan yang telah meluas terjadi bahwa Pura Penataran ini sering disebut Pura Ulun Danu.  Menurut Artha, setelah dilakukan rembuk antartokoh-tokoh ternyata yang benar merupakan Pura Penataran.  Sedangkan yang dinyatakan sebagai Pura Ulun Danu adalah Pura Manik Umawang yang letaknya memang di daerah hulu dari danau.  Nama Ulun Danu terus melekat dengan belum digantinya pelang nama objek wisata Ulun Danu di pintu masuk areal ini.  untuk hal tersebut, Artha mengaku akan segera mengganti papan nama tersebut dengan nama pura yang sebenarnya. Selain itu, sejarah pembangunan pura yang belum tercatat akan diupayakan untuk dikumpulkan sumber-sumbernya yang selanjutnya akan dibukukan. 

Selain melakukan rehab terhadap pura yang ada di areal objek wisata Beratan, menurut Artha, tugas berat lainnya yang harus dilakukannya bersama seluruh komponen masyarakat Bali adalah menjaga kelestarian tempat tersebut.  Seluruh masyarakat Bali hendaknya menjaga sumber alam ini dengan bijak.  Sebab, jika terjadi penyusutan volume air yang diakibatkan oleh perilaku manusia, kesuburan dan keindahan alam Bali akan terancam.  Sebab, danau merupakan sumber kesuburan jagat. * surpi

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/4/12/bd1.htm

Gusti Agung Putu dan Ulun Danu Beratan

Trini chandamsi kavayo viyetire,
purupam
darsatam visvacaksanam
apo
vata osadhyastani
ekasmin
bhuvana arpitani. (Atharvaveda XVII.I.17). 

Maksudnya: Orang bijak mendapatkan tiga benda yang menutup seluruh alam semesta. Benda itu memiliki bentuk dan aspek yang berbeda yaitu air, udara dan tanam-tanaman. Semua benda itu disediakan untuk setiap dunia. 

AIR, udara dan tumbuh-tumbuhan adalah sebagian dari unsur alam yang membentuk bumi ini. Dengan kehadiran tiga wujud alam itu disertai dengan matahari yang selalu bersinar maka terbangunlah sumber kehidupan bagi hewan dan umat manusia penghuni bumi ini.

Eksistensi sumber alam itu terjadi atas anugerah Tuhan Yang Mahakuasa. Karena itu Tuhan dipuja sebagai pencipta, pelindung dan pemralina dari semua unsur alam beserta dengan segala isinya.

Tuhan dipuja sebagai Batara Sangkara sebagai pencipta, pelindung dan pemralina tumbuh-tumbuhan. Pura Puncak Mangu di Kecamatan Petang sebagai media pemujaan Tuhan sebagai Batara Sengkara. Pura Puncak Mangu berada di hutan di puncak Gunung Mangu. Saat Gusti Agung Putu berhasil mendirikan Kerajaan Mengwi maka didirikanlah Pura Ulun Danu Beratan. Salah satu fungsi Pura Ulun Danu Beratan adalah sebagai Pesimpangan dari Batara yang dipuja di Pura Puncak Mangu.

Sejarah keberadaan Pura Ulun Danu Beratan di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan diuraikan dalam Lontar Babad Mengwi. Diceritakan, I Gusti Agung Putu dalam suatu pertandingan yang bersifat kesatria dikalahkan oleh I Gusti Ngurah Batu Tumpeng atau Ki Ngurah Kekeran. Sebagai orang yang kalah, I Gusti Agung Putu menjadi tawanan dan diserahkan kepada I Gusti Ngurah Tabanan. Oleh I Ngurah Tabanan, I Gusti Agung Putu diserahkan kepada seorang Patih dari Marga yang bernama I Gusti Bebalang. Tidak begitu lama di Marga, I Gusti Agung Putu berniat meningkatkan kesaktian dan kesuciannya. Niat ini muncul atas renungan mendalam karena kalah dalam perang tanding melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Untuk meningkatkan kemampuan diri, ia melakukan tapa brata di puncak Gunung Mangu. Dalam tapa brata itu  Gusti Agung Putu mendapat berbagai pencerahan dan kesaktian sebagai seorang kesatria.

Setelah I Gusti Agung merasa cukup mapan, beliau turun gunung dan mendirikan istana di Belayu atau di Bala Ayu. Di sini I Gusti Agung Putu banyak memiliki pengikut. Pertandingan secara kesatria lagi diulang melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Pertarungan akhirnya dimenangkan oleh I Gusti Agung Putu. Setelah kemenangan itu istananya di Belayu dipindahkan ke Bekak dengan nama Puri Kaleran. Di sini I Gusti Agung Putu mendirikan tempat pemujaan dengan nama Taman Ganter dan istananya bernama Kawiapura. Setelah mengalahkan musuh-musuhnya termasuk membantu Raja Tabanan mengalahkan musuhnya, selanjutnya ia mendirikan tempat pemujaan di tepi Danau Beratan untuk memuja Batara di Pura Puncak Mangu. Hal ini terjadi menurut Babad Mengwi tahun Saka 1556.

Pura Ulun Danu Beratan tahap demi tahap diperluas dan disempurnakan bersama dengan rakyatnya, sehingga menjadi Pura Kahyangan Jagat. Pura Ulun Danu terdiri atas empat kompleks pura. Kompleks pelinggih Lingga Petak, kompleks Pura Pesimpangan Puncak Mangu, kompleks Pura Pesimpangan Terate Bang dan kompleks Pura Dalem Purwa.

Kompleks yang paling timur adalah pelinggih Meru Tumpang Tiga stana Lingga Petak. Pura ini dikelilingi oleh tembok penyengker dengan empat pintu berupa candi bentar yang menghadap keempat penjuru. Demikian juga pintu merunya juga ada empat pintu yang juga mengarah ke empat penjuru. Tahun 1968 konon pura ini pernah dipugar. Ternyata di dasarnya terdapat tiga buah batu besar. Yang paling besar adalah batu dengan warna putih bulat panjang diapit oleh batu yang lebih kecil dengan warna merah dan hitam terletak berjejer. Di bawah batu putih itu keluar mata air. Karena itulah pelinggih Meru ini disebut linggih Lingga Petak. Meru Lingga Petak inilah sebagai pemujaan Batara Ulun Danu Beratan.

Menurut Drs. I Gst. Agung Gede Putra (alm) — yang pernah menjabat Kakanwil Depag Propinsi Bali dan juga pernah menjabat Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI — Meru Tumpang Tiga ini mungkin sebagai bentuk pemujaan Siwa Lingga yang pada zaman megalitikum dipakai wujud Lingga Yoni. Pemujaan Tuhan dengan sarana Lingga Yoni untuk memohon kesuburan pertanian. Gunung Mangu sebagai Lingganya dan Danau Beratan sebagai Yoninya. Melalui pertemuan dua unsur alam itulah Tuhan menciptakan kesuburan.

Kompleks yang kedua terletak di sebelah barat Pura Lingga Petak adalah Pura Pesimpangan Puncak Mangu. Dalam Lontar Usana Bali, Puncak Mangu dinyatakan sebagai pemujaan Hyang Danawa. Dalam hal ini Pura Lingga Petak sebagai Purusanya dan Pesimpangan Puncak Mangu sebagai Pradananya. Pertemuan dua unsur inilah memunculkan kesuburan. Dari kesuburan itu munculah tumbuh-tumbuhan dengan Dewanya Sang Hyang Sangkara.

Kompleks yang ketiga merupakan kompleks yang arealnya paling luas adalah kompleks Pesimpangan Pura Terate Bang. Di Pura ini ada pelinggih utama adalah Meru Tumpang Pitu sebagai pemujaan Batara Brahma. Ada pelinggih Kamulan sebagai pemujaan roh suci (Dewa Pitara) dari leluhur raja. Di samping itu ada banyak pelinggih pesimpangan. Ada pelinggih Padmasari Rong Tiga sebagai pemujaan Sang Hyang Tri Purusa. Pelinggih Gedong Manjangan Saluwang sebagai stana Mpu Kuturan. Ada Gedong untuk Ratu Pasek. pda Pelinggih Limas Catu untuk Batara Rambut Sadana. Ada Gedong Limas Mujung untuk Batara Penyarikan. Ada juga palinggih Paruman Alit sebagai stana Batara Kabeh dan banyak lagi ada pelinggih pesimpangan.

Kompleks keempat di bagian pojok tenggara dari kompleks Terate Bang adalah Pesimpangan Dalem Purwa. Palinggih yang paling utama di Pura Pesimpangan Dalem Pura ini adalah sebuah Gedong Pelinggih Batari Uma Bhagawati sebagai Saktinya Batara Siwa pemberi kebahagiaan.

Meskipun pura ini sebagai Pura Ulun Danu yaitu hulunya kehidupan pengairan di pura ini juga dipuja Batara Tri Purusa dan Batara Tri Murti. Tuhan jiwa alam semesta dan Tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan pemralina.

* I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/4/12/bd2.htm

Melindungi ”Tri Chanda” di Pura Luhur Batukaru

Pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Tumuwuh di Pura Luhur Batukaru sebagai suatu pemujaan untuk memotivasi umat manusia agar secara nyata melakukan langkah melindungi Tri Chanda sebagaimana dinyatakan dalam Mantra Atharvaveda XVIII.17. Yang dimaksud Tri Chanda itu adalah air, tumbuh-tumbuhan dan udara. Kalau keberadaan tiga benda yang menutupi bumi ini tidak terganggu oleh ulah manusia yang mau hidup berlebihan maka Tri Chanda itulah yang berfungsi untuk menjadi sumber yang menumbuhkan kehidupan ini. Apa fungsi Tri Chanda di Pura Luhur Batukaru itu?

====================

Tri Chanda itulah yang menyebabkan keberadaan Pura Luhur Batukaru sangat alami sesuai dengan tattwa yang melatarbelakangi keberadaan Pura Luhur Batukaru tersebut. Demikian juga Pura Presanak atau Jajar Kemiri dari Pura Luhur Batukaru ini melambangkan nilai-nilai spiritual yang memotivasi umat agar senantiasa menjaga kelestarian eksistensi Tri Chanda tersebut. Penampilan fisik Pura Luhur Batukaru tersebut amat artistik mengikuti rona alam di lingkungan pura.

Di Pura Luhur Batukaru ini di samping ada bangunan utama, di sebelah timurnya terdapat sumber mata air terdiri atas dua kompleks. Ada kompleks yang berlokasi di jeroan (dalam) pura pokok yang dipergunakan khusus untuk memohon Tirtha (air suci) untuk kepentingan upacara. Kompleks yang kedua adalah untuk kepentingan mandi dan cuci muka sebagai pembersihan diri dalam rangka persiapan untuk bersembahyang.

Upacara piodalan di pura ini jatuh setiap 210 hari sekali yaitu pada setiap Kamis Wuku Dungulan sehari setelah hari raya Galungan. Suatu yang unik di Pura Luhur Batukaru adalah mengenai upacara piodalan dan upacara besar lainnya tidak pernah dipimpin oleh pandita. Upacara cukup dipimpin oleh pemangku yang disebut Jero Kubayan. Di pura ini Dr. R. Goris, seorang ahli ilmu arkeologi, pernah mengadakan penelitian pada tahun 1928.

Di pura ini, Goris banyak menjumpai patung-patung yang tipenya serupa dengan patung yang terdapat di Goa Gajah yaitu patung yang keluar pancuran air dari pusarnya. Bedanya patung di Goa Gajah berdiri, sedangkan yang di Pura Batukaru duduk bersila. Menurut Goris, patung yang terdapat di Batukaru sezaman dengan patung di Goa Gajah.

Pura Luhur Batukaru denahnya dibagi menjadi tiga mandala. Bangunan yang paling utama di denah yang paling utama atau Utama Mandala berupa candi yang bentuknya sangat mirip dengan bentuk candi di Jawa Timur. Bentuknya ramping atapnya terdiri atas perpaduan tingkatan (punden berundak-undak). Candi utama ini diapit oleh Candi Perwara, serta di ujung kiri dan kanannya diapit oleh Padmasana. Jadi pada leretan bangunan utama terdapat lima bangunan atau pelinggih. Di candi utama inilah dipuja Dewa Mahadewa. Masyarakat menyebutnya Ratu Hyang Tumuwuh.

Mengapa Dewa Mahadewa diberi gelar Ratu Hyang Tumuwuh. Karena untuk menjaga keterpaduan air, udara dan tumbuh-tumbuhan di bumi ini. Agar semua alam tersebut terpadu adanya, sebagai langkah awal umat mohon tuntunan Tuhan sebagai Sang Hyang Tumuwuh. Karena Tuhanlah sebagai mahapencipta semua unsur alam tersebut. Sebutan Tuhan sebagai Sang Hyang Tumuwuh memang sebutan yang amat lokal Bali. Tetapi dibaliknya terdapat nilai-nilai universal tentang etika perlakuan sumber-sumber alam ciptaan Tuhan tersebut. Kalau udara kotor, sumber-sumber air tak terlindungi maka tumbuh-tumbuhan pun akan merana. Kalau tumbuh-tumbuhan merana hidup manusia pun akan menderita kekurangan bahan makanan dan obat-obatan.

Pelinggih utama di Pura Luhur Batukaru berbentuk Candi bukan Meru. Ini jelas pengaruh arsitektur Jawa Timur dan India. Candi tersebut merupakan tempat pemujaan Dewa Mahadewa. Candi diapit oleh Candi Perwara. Di sudut timur laut dan barat laut terdapat Pelinggih Padma Ratu Bagus Panji dan Ratu Puseh Kubayan.

Di pojok barat daya ada dua bangunan Gedong paling selatan berjejer. Dua Gedong itu sebagai Pedharman Raja Badung dan Raja Tabanan. Kedua Raja ini adalah satu klan. Di areal Utama Mandala terdapat tidak kurang dari 24 bangunan penting dan pelengkap. Di areal kedua yang disebut Madya Mandala ada sebuah Pelinggih Gedong stana Ratu Pasek sebagai tempat memohon suksesnya upacara yadnya.

Di pojok barat laut ada Gedong Simpen untuk tempat menyimpan Pratima. Di selatan Gedong Simpen tersebut terdapat bangunan Balai Agung dengan dua belas tiang. Balai Agung ini tempat berkumpulnya semua simbol sakral terutama saat Melasti. Pura Batukaru ini di samping sebagai Pura Sad Kahyangan juga berkedudukan sebagai Pura Catur Loka Pala sebagaimana disebutkan dalam Lontar Purana Bali. Di timur Pura Lempuhyang Luhur, di selatan Pura Andakasa, di bBarat Pura Luhur Batukaru dan utara Pura Pucak Mangu.

Pura Luhur Batukaru juga sebagai Pura Padma Bhuwana yaitu sembilan pura yang mengelilingi Pulau Bali. Pura Padma Bhuwana sebagai lambang pemujaan Tuhan yang ada di mana-mana di sembilan penjuru alam semesta. Tidak ada bagian alam semesta ini tanpa kehadiran Tuhan. Keberadaan Tuhan seperti itulah yang diekspresikan di sembilan pura di Pulau Bali.

Kalau penerapan konsep ketuhanan agama Hindu di Bali ini benar-benar dihayati, maka umat Hindu tidak akan berhenti pada sembahyang dengan upacara yadnya saja dalam mengamalkan ajaran. Itu baru langkah mengarah pada aspek niskala untuk membangun daya spiritual umat. Yang niskala itu seharusnya di-sekala-kan dalam perilaku hidup sehari-hari untuk secara aktif menjaga eksistensi Tri Chanda tersebut sesuai dengan sifat alaminya.

Dalam Chanakya Niti XIV, 18 dinyatakan bahwa untuk mendapatkan hidup sejahtera lindungilah lima hal yaitu: Dharma (kesucian agama) Dhana (aset publik), Dhanyam (bahan makanan), Guru Wacana (kata-kata bijak guru suci), dan Ausada (sistem kesehatan). Kelima unsur tersebut akan terjaga dengan diawali untuk melindungi Tri Chanda bumi ini. Di Bali banyak sekali warisan para resi guru suci berupa kata-kata bijak sebagai pegangan untuk menjaga Tri Chanda dan lima hal untuk membangun hidup sejahtra. * wiana

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/12/12/bd1.htm

Sanghyang Tumuwuh di Pura Batukaru

Avir Vai nama devata,
rtena-aste parivrta,
tasya rupena-ime vrksah,
harita haritasrajah.
(Atharvaveda X. 8.31).

Maksudnya:
Warna hijau pada daun tumbuh-tumbuhan karena mengandung klorofil di dalamnya. Zat klorofil itu menyelamatkan hidup. Hal itu ditetapkan oleh Rta yang ada dalam tumbuh-tumbuhan. Karena zat itu tumbuh-tumbuhan menjadi amat berguna sebagai bahan makanan dan obat-obatan.

PURA Luhur Batukaru adalah pura sebagai tempat memuja Tuhan sebagai Dewa Mega Dewa. Karena fungsinya untuk memuja Tuhan sebagai Dewa yanag menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan memfungsikan air secara benar, maka di Pura Luhur Batukaru ini disebut sebagai pemujaan Tuhan sebagai Ratu Hyang Tumuwuh arti sebutan Tuhan itu adalah Tuhan sebagai yang menumbuhkan.

Ini artinya Tuhan sebagai sumber yang menemukan air dengan tanah sehingga muncullah kekuatan untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan itu akan tumbuh subur dengan daunnya yang hijau mengandung klorofit sebagai zat yang menyelamatkan hidup. Pemujaan Tuhan di Pura Luhur Batukaru hendaknya dijadikan media untuk membangun daya spiritual membangun semangat hidup untuk secara sungguh-sungguh menjaga kesuburan tanah dan sumber-sumber air.

Dengan tanah yang terjaga kesuburannya dan sumber-sumber air terlindungi, maka tumbuh-tumbuhan akan subur. Tumbuh-tumbuhan yang subur akan berlanjut terus apabila udara tidak tercemar oleh emisi CO2. Udara yang tercemar akan dapat menimbulkan acid rain atau hujan asam yang merusak pucuk tumbuhan-tumbuhan. Jadi pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Tumuwuh memiliki makna yang dalam bagi kehidupan umat manusia di bumi ini. Adanya konferensi tentang merubahan cuaca yang diikuti oleh 187 negara di Nusa Dua patut dijadikan momentum untuk mengingatkan diri kita tentang nilai yang terkandung di balik Pemujaan Sang Hyang Tumuwuh di Pura Luhur Batukaru.

Pura Luhur Batukaru terletak di Desa Wongaya Gede Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan. Lokasi pura ini terletak di bagian barat Pulau Bali di lereng selatan Gunung Batukaru. Kemungkinan besar nama pura ini diambil dari nama Gunung Batukaru ini. Bagi mereka yang ingin sembahyang ke Pura Luhur Batukaru sangat diharapkan terlebih dahulu sembahyang di Pura Jero Taksu. Pura Jero Taksu ini memang letaknya agak jauh dari Pura Luhur Batukaru.

Tujuan persembahyangan di Pura Jero Taksu itu adalah sebagai permakluman agar sembahyang di Pura Luhur Batukaru mendapat sukses. Pura Taksu ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan Pura Luhur Batukaru. Setelah itu barulah menuju pancuran yang letaknya di bagian tenggara dari pura utama namun tetap berada dalam areal Pura Luhur Batukaru.

Air pancuran ini adalah untuk menyucikan diri dengan jalan berkumur, cuci muka dan cuci kaki di pancuran tersebut terus dilanjutkan sembahyang di Pelinggih Pura Pancuran tersebut sebagai tanda penyucian sakala dan niskala atau lahir batin sebagai syarat utama agar pemujaan dapat dilakukan dengan kesucian jasmani dan rohani.

Pura Luhur Batukaru ini juga termasuk Pura Sad Kahyangan yang disebut dalam Lontar Kusuma Dewa. Pura Luhur Batukaru sudah ada pada abad ke-11 Masehi. Sezaman dengan Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Guwa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, dan Pura Pusering Jagat. Sebagai penggagas berdirinya Sad Kahyangan adalah Mpu Kuturan.

Banyak pandangan para ahli bahwa Mpu Kuturan mendirikan jagat untuk memotivasi umat menjaga keseimbangan eksistensi Sad Kerti yaitu Atma Kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti, Jagat Kerti dan Jana Kerti.

Pura Luhur Batukaru kemungkinan sebelumnya sudah dijadikan tempat pemujaan dan tempat bertapa sebagai media Atma Kerti oleh tokoh-tokoh spiritual di daerah Tabanan dan Bali pada umumnya. Pandangan tersebut didasarkan pada adanya penemuan sumber-sumber air dan dengan berbagai jenis arca Pancuran. Dari adanya sumber-sumber mata air ini dapat disimpulkan bahwa daerah ini pernah dijadikan tempat untuk bertapa bagi para Wanaprastin untuk menguatkan hidupnya menjaga Sad Kerti tersebut.

Setelah pendirian Pura Luhur Batukaru pada abad ke-11 tersebut kita tidak mendapat keterangan dengan jelas bagaimana keberadaan pura tersebut. Baru pada tahun 1605 Masehi ada keterangan dari kitab Babad Buleleng. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa Pura Luhur Batukaru pada tahun tersebut di atas dirusak oleh Raja Buleleng yang bernama Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.

Dalam kitab babad tersebut diceritakan bahwa Kerajaan Buleleng sudah sangat aman tidak ada lagi musuh yang berani menyerangnya. Sang Raja ingin memperluas kerajaan lalu mengadakan perluasan ke Tabanan. Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dalam perjalanan bertemu dengan daerah Batukaru yang merupakan daerah Kerajaan Tabanan. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti bersama prajuritnya lalu merusak Pura Luhur Batukaru. Pura tersebut diobrak-abriknya.

Di luar perhitungan Ki Panji Sakti tiba-tiba datang tawon banyak sekali galak menyengat entah dari mana asalnya. Ki Panji Sakti beserta prajuritnya diserang habis-habisan oleh tawon yang galak dan berbisa itu. Ki Panji Sakti lari terbirit-birit dan mundur teratur dan membatalkan niatnya untuk menyerang kerajaan Tabanan. Karena pura tersebut dirusak oleh Ki Panji Sakti maka bangunan pelinggih rusak total. Tinggal onggokan berupa puing-puing saja.

Baru pada tahun 1959 Pura Luhur Batukaru mendapat perbaikan sehingga bentuknya seperti sekarang ini. Pada tahun 1977 secara bertahap barulah ada perhatian dari pemerintah daerah berupa bantuan. Sampai sekarang Pura Luhur Batukaru sudah semakin baik keadaannya.

·         I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/12/12/bd2.htm

Menata Sektor Kepariwisataan Klungkung——-
Perkaya Objek dengan Konsep ”Nyegara Gunung”

 DUNIA kepariwisataan Bali pascatragedi bom Kuta memang tengah sekarat. Dalam sekejap mata, petaka yang menikam “jantung” pariwisata Bali dan merenggut ratusan korban jiwa itu telah menyulap kedamaian gumi Bali laksana hantu yang sangat menyeramkan. Wisatawan mancanegara (wisman) kontan menghilang. Objek-objek wisata di seluruh penjuru Bali pun “menggigil” kedinginan menanti kehadiran turis. Gampang ditebak, gemerincing dolar pun tak lagi riuh seiring runtuhnya predikat Bali sebagai the Last Paradise (Sorga Terakhir-red) yang selama ini meninabobokan krama di Pulau Seribu Pura ini. Kini, diperlukan semangat dan kerja keras untuk mengembalikan sorga yang hilang itu, sehingga pariwisata Bali tidak selamanya terkubur dalam “tidur panjang”. Memang, bukan perkara yang mudah!

Kesadaran untuk segera bangkit, tampaknya dipahami betul oleh para decission maker sektor kepariwisataan di Bumi Serombotan, Klungkung. Di musim “paceklik” wisman ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Klungkung yang didaulat bertanggung jawab penuh terhadap upaya pengembangan kepariwisataan, justru mengumpulkan semangat untuk menata potensi-potensi wisata yang dimiliknya. Selanjutnya, potensi-potensi itu akan “disulap” menjadi objek dan daya tarik wisata (ODTW) baru untuk mendukung keberadaan Kertha Gosa dengan Taman Gili-nya, kawasan wisata Pura Goa Lawah serta Desa Wisata Kamasan yang namanya sudah lebih dulu berkibar.

“Saya optimis, kondisi kepariwisataan Bali akan segera pulih. Tragedi bom itu kami jadikan momentum berharga untuk mengkaji kembali strategi pembangunan sektor kepariwisataan Klungkung yang sudah dilaksanakan,” ujar Kadisbudpar Klungkung Drs. Ida Bagus Sudarsana kepada Bali Post, Rabu (9/7) kemarin.

Pria berkumis tebal ini menyimpan optimisme, bahwa pariwisata Bali kembali booming alias “diserbu” wisatawan mancanegara. Hal ini bisa dibuktikan dari peningkatan grafik angka kunjungan wisman di objek-objek wisata di Klungkung, kendati lonjakannya bergerak sangat perlahan. Kondisi menggembirakan ini, kata mantan Kabag Humas Klungkung itu, ditindaklanjutinya dengan melakukan pendataan dan penataan terhadap potensi-potensi wisata yang selama ini belum tergarap dan layak “dijual” kepada wisatawan. Muara dari diversifikasi itu, jelas agar objek-objek wisata di Klungkung lebih variatif sehingga bisa memperpanjang masa tinggal (lenght stay) wisatawan di Klungkung. “Saat ini, kami sedang mempersiapkan belasan objek wisata baru untuk disinergikan dengan objek-objek wisata lainnya yang sudah lebih dahulu eksis,” katanya.

“Kawinkan” Bukit dan Laut

Lantas, objek-objek wisata gres apa saja yang sedang digarap Disbudpar Klungkung untuk memberi “roh” paket wisata berlabel city tour itu? Menurut Kasubdin Bina Objek Disbudpar Klungkung I Nengah Becik, S.H., paling tidak ada sembilan “situs” baru yang layak dinominasikan sebagai objek wisata andalan Bumi Serombotan di masa depan untuk melengkapi 17 objek wisata yang sudah lebih dulu ditetapkan. Barisan “pendatang baru” itu meliputi kawasan Pura Puncak Sari, Pura Puncak Jati, Bukit Buluh, Bukit Buung, Bukit Tengah, Gunung Kawi, pantai Tegal Besar, objek peninggalan budaya Kori Batu dan sentra kerajinan di Desa Satra.

Mayoritas dari objek-objek itu menebarkan keindahan panorama alam pedesaan yang asri dan masih “perawan” atau belum terjamah polusi. Keunggulan lainnya, lokasinya juga bisa terjangkau dalam waktu relatif singkat dari pusat kota serta telah dilengkapi jalan akses untuk kepentingan pariwisata. “Produk yang kami tawarkan kepada wisatawan dari objek-objek itu, ya… memang panorama alam yang eksotis dan eksklusif. Selain itu, objek-objek wisata itu akan tampil lebih sempurna dengan gerak aktivitas keseharian masyarakat pedesaan yang unik serta disarati nuansa religius yang kental. Kalau wisatawan menginginkan suguhan wisata yang lain daripada yang lain, objek-objek itu bisa dijadikan alternatif yang tepat,” katanya seolah berpromosi.

Tawaran yang dilontarkan mantan Kabag Humas Klungkung ini, jelas tidak mengada-ada. Kawasan Pura Puncak Sari, Desa Nyalian di Kecamatan Banjarangkan yang berdiri megah di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut itu, misalnya, memang menebarkan aura keindahan yang tiada tara. Apabila kita berdiri di areal pura ini, lalu menebarkan pandangan ke arah timur, maka mata kita akan “dimanjakan” oleh bentang sawah menghijau dengan terasering-nya yang bertingkat-tingkat. Menghadap ke selatan, Pulau Nusa Penida akan tertampang jelas. Menyeruak indah di antara kebiruan air laut yang menjanjikan perasaan damai. Melepas pandang ke arah barat, maka mata kita akan tertuju pada Pura Maloko yang berdiri megah di puncak bukit. Pura itu “dipagari” petak-petak sawah dan tanaman hortikultura yang menghampar hijau. Nuansa pertanian yang menyejukkan dengan terasering yang indah juga bisa ditemukan di Bukit Buung yang berjarak sekitar 500 meter dari Pura Puncak Sari.

Sebagai “pemanis” panorama, di sini juga terdapat sebuah goa yang dikeramatkan oleh warga setempat. Daya pesona serupa juga bisa dinikmati di kawasan Gunung Kawi, Desa Aan dan Pura Puncak Jati, Desa Selisihan, Banjarangkan. Sedangkan Bukit Buluh (Desa Gunaksa) dan Bukit Tengah (Desa Pesinggahan) akan menawarkan keindahan alam Pulau Nusa Penida di kejauhan dengan bentang laut birunya yang mahaluas. “Meskipun belum ditetapkan sebagai objek wisata, sebenarnya tempat-tempat itu sudah sering dikunjungi wisatawan. Karena karakteristik alamnya yang berbukit-bukit, di sini sangat ideal dikembangkan atraksi wisata hikking (jalan kaki-red),” ujarnya.

Sementara itu, mereka yang menyukai atraksi tarian ombak saling berlomba mencumbu tepian pantai, semestinya tidak melewatkan kunjungannya ke pantai Tegal Besar. Apalagi di tepian pantai berpasir hitam ini sudah berdiri sebuah bungalo yang dilengkapi dengan bar kecil untuk mengobati kepenatan dan dahaga para wisatawan. Objek wisata ini juga didukung oleh keberadaan Pura Segara yang lokasinya sekitar 400 meter di utara pantai. “Untuk Klungkung daratan, objek-objek wisata yang kami jual memang keindahan panorama bukit dan laut. Mungkin, sebagai bentuk implementasi konsep nyegara gunung-lah,” ujar Becik yang menemani Bali Post mengunjungi objek-objek wisata tersebut. (ian)

Klungkung juga Tawarkan ”City Tour”

Kota Klungkung yang tidak terlalu luas sering diplesetkan dengan aklingkungan (hanya sekeliling-red). Sebab, untuk mutar-mutar mengelilingi berbagai objek wisata di kota ini tidaklah perlu waktu lama karena jaraknya memang berdekatan. Untuk itu, tidak berlebihan jika Klungkung juga menawarkan paket City Tour kepada wisatawan yang datang.

Khusus untuk Klungkung daratan, kata Sudarsana, pihak Disbudpar sudah merancang paket wisata khusus berlabel City Tour dalam memuaskan selera wisatawan. Paket ini akan mensinergikan Kertha Gosa dengan objek-objek wisata lainnya yang ada di Klungkung daratan. Termasuk, objek-objek wisata baru berbasis agrowisata yang kini masih dalam tahap penataan. Misalnya, Bukit Abah dan ladang garam tradisional Pesinggahan-Kusamba. Di masa mendatang, aktivitas kepariwisataan Klungkung daratan akan dipusatkan di Kertha Gosa yang terkenal dengan lukisan wayang klasik Kamasan-nya itu.

Berdekatan dengan kompleks bangunan berarsitektur khas Bali ini, juga terdapat Museum Semarajaya, Museum Lukisan Ambron dan Monumen Puputan Klungkung. Setelah puas menikmati suguhan atraksi wisata di sana, wisatawan selanjutnya “digiring” ke objek-objek wisata lainnya yang tersebar merata di segala penjuru Klungkung daratan. “Nantinya, seluruh objek wisata itu diupayakan dijual dalam satu paket. Paling tidak, diperlukan waktu satu hingga dua hari penuh agar wisatawan bisa menikmati objek-objek wisata secara tuntas. Jika konsep city tour ini jalan, saya optimis lenght stay wisatawan akan bertambah panjang. Tidak seperti saat ini, Klungkung baru mampu memposisikan diri sebatas sebagai stop over atau daerah transit semata,” katanya sambil menambahkan, kondisi ini memaksa masyarakat dan Pemkab Klungkung tidak mampu menangguk “berkah” pariwisata secara optimal.

Dengan kata lain, gemerincing dolar justru mengalir lebih deras ke kabupaten/kota lainnya di Bali karena wisatawan cenderung menghambur-hamburkan dolarnya di sana. Sedangkan masyarakat Klungkung hanya pasrah jadi penonton di tengah-tengah kemeriahan “pesta” pariwisata yang berlangsung di depan matanya. Menurut Sudarsana, Klungkung daratan sesungguhnya punya objek wisata yang sangat beragam. Namun, baru segelintir saja yang terbukti mampu memberikan kontribusi nyata dalam mengisi “pundi-pundi” pandapatan asli daerah (PAD).

Masalahnya, dari sejumlah objek yang sudah ditetapkan sebagai objek wisata (berdasarkan SK Bupati Klungkung-red), baru tujuh obyek wisata saja yang dikenakan retribusi. Barisan objek wisata berestribusi itu meliputi Kertha Gosa-Taman Gili, Museum Semarajaya, Monumen Puputan Klungkung, kawasan Pura Goa Lawah, kawasan wisata Nusa Penida serta kawasan Tukad Melangit dan Tukad Unda dengan atraksi wisata tirtanya. Sementara sisanya — seperti pantai Lepang, pantai Timbrah, Pura Watu Klotok, pantai Kusamba, Goa Peninggalan Jepang dan Desa Wisata Kamasan — bisa “dilahap” keindahannya oleh wisatawan secara cuma-cuma alias tanpa dipungut retribusi apa pun.

“Realitasnya memang seperti itu. Klungkung memang kaya potensi wisata, namun baru segelintir saja yang bisa menghasilkan dolar. Kami berharap, konsep city tour yang kami rancang itu mampu memecahkan kebuntuan pendapatan itu,” katanya penuh harap. (ian)

Satria Andalkan Pelepah Pisang

Kreativitas masyarakat Bali sudah diakui sangat tinggi. Inovasi-ionovasi yang ditampilkan, sering membuat decak tidak percaya terutama wisatawan asing. Termasuk, mengolah bahan yang dianggap tidak ada manfaatnya menjadi suatu produk kerajinan bernilai tinggi. Contohnya, apa yang dilakukan sebagian besar masyarakat di Desa Satra, Klungkung. Wisatawan yang ingin mendapatkan aneka suvenir berbahan baku pelepah pisang, disarankan melongok ke Desa Satra, Klungkung. Sebenarnya, desa ini sudah lama disinggahi wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk membeli beraneka jenis produk kerajinan unik dari pelepah pisang. Di sini juga berdiri megah Pura Pauman yang menyimpan nilai historis tersendiri. Daya tariknya, di depan pintu gerbang pura terdapat patung manusia bertopi yang mirip dengan patung Portugis yang terpampang di depan Pemedal Agung Klungkung. Uniknya lagi, saat piodalan di pura ini, warga sangat diharamkan mempersembahkan daging babi. Entah bagaimana historisnya, kenapa hal itu dilarang. (ian)

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2003/7/10/par5hl.htm 

Situs Religius, Mutiara Terpendam di Klungkung

DALAM hal akselerasi atau percepatan perkembangan sektor kepariwisataan, boleh jadi Kabupaten Klungkung dikategorikan tertinggal jauh dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Bali. Bumi Serombotan ini tidak punya objek wisata yang “secemerlang” pantai Kuta, pantai Sanur, Tanah Lot, Lovina, Candidasa maupun kawasan eksotik Nusa Dua. Dunia pariwisata Klungkung relatif sepi dari ingar-bingar kehadiran wisatawan mancanegara maupun domestik. Masih untung, kabupaten dengan luas wilayah tersempit di Bali ini memiliki Kertha Gosa dan Taman Gili yang mampu memikat wisatawan lewat kemegahan arsitektur dan lukisan wayang stil Kamasan yang memenuhi langit-langit bangunannya. Di luar itu, tidak ada lagi objek wisata yang memikat. Sementara kawasan pantai berpasir putih di Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan bak mutiara terpendam yang dipisahkan oleh Selat Badung berarus garang. Belum bisa digosok secara optimal akibat ketiadaan fasilitas penunjang seperti dermaga yang representatif, air bersih yang mencukupi, hotel-hotel maupun fasilitas penunjang kepariwisataan lainnya. Kondisi ini memaksa sektor kepariwisataan Klungkung tetap “merangkak” dalam mengejar ketertinggalannya dari “saudara-saudara kandungnya” di Bali.

Namun, di balik segala keminusan itu, Klungkung memiliki sejumlah “mutiara terpendam” lain yang potensial diasah menjadi objek wisata alternatif sekaligus untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat. Mutiara terpendam itu adalah Pura-pura besar yang berdiri megah di wilayah Klungkung daratan maupun pulau tandus Nusa Penida. Sejumlah pura yang bisa dimasukkan ke dalam “barisan” itu adalah Pura Kentel Gumi (Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan), Pura Penataran Agung (Kelurahan Semarapura Kangin, Klungkung), Pura Dasar (Desa Gelgel, Klungkung), Pura Watu Klotok (Desa Tojan, Klungkung) dan Pura Goa Lawah (Desa Pesinggahan, Dawan), Pura Dalem Ped (Desa Ped, Nusa Penida), Pura Bukit Mundi (Desa Klumpu, Nusa Penida), Pura Batu Medau (Desa Suana, Nusa Penida) dan Pura Goa Giri Putri (Desa Suana, Nusa Penida).

“Pura-pura itu setiap piodalan diluberi oleh umat Hindu dari seluruh Bali untuk tujuan pedek tangkil. Dari segi arsitektur, pura-pura itu juga menyiratkan kemegahan dan keunikan tersendiri,” kata Kasubdin Bina Objek Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Klungkung I Wayan Yudara, B.A.

Kendati memiliki banyak mutiara terpendam, tambah Yudara, ternyata baru dua lingkungan pura (bukan pura-red) yang dimasukkan sebagai objek dan daya tarik wisata (ODTW) yakni lingkungan Pura Goa Lawah dan Pura Watu Klotok oleh Pemkab Klungkung. Dari dua pura Kahyangan Jagat tersebut, hanya Pura Goa Lawah yang sudah dikelola secara profesional atau “dijajakan” kepada wisatawan mancanegara dan domestik. Sementara Pura Watu Klotok belum ada pengelolaan khusus, mengingat kawasan suci belum banyak “dilirik” wisatawan. Untuk bisa menikmati kemegahan Pura Goa Lawah yang terkenal dengan koloni kelelawarnya dari dekat, setiap wisatawan wajib membayar retribusi atau bea masuk. Nilai retribusi itu adalah Rp 2.000 untuk dewasa dan Rp 1.000 untuk anak-anak. Khusus untuk umat Hindu yang berpakaian sembahyang dengan tujuan tangkil (bersembahyang), dibebaskan dari kewajiban membayar retribusi. “Semua pendapatan dari retribusi itu masuk ke kas daerah. Pemkab Klungkung punya sebuah tim khusus untuk memungut retribusi atau pun mengelola objek wisata pura tersebut,” kata Yudara menambahkan, pengelolaannya tetap melibatkan desa adat dan desa dinas setempat.

Meskipun leading sector pengelolaannya adalah Disbudpar Klungkung, pihak-pihak yang ditugaskan untuk memungut retribusi, memantau aktivitas wisatawan serta pengamanan wilayah dipercayakan kepada sejumlah krama setempat. “Untuk mempertahankan kesucian pura, tidak sembarang tamu bisa masuk ke lingkungan pura. Wisatawan yang sedang menstruasi, misalnya, jelas dilarang keras. Di pintu masuk, kita telah pasang papan-papan peringatan. Mereka juga diwajibkan mengenakan kain dan amed (selendang) yang sudah dipersiapkan petugas,” katanya seraya menegaskan, dengan adanya kewajiban membayar retribusi itu bukan berarti wisatawan bisa berbuat seenaknya. Rambu-rambu yang ada wajib untuk ditaati.

Retribusi yang ditangguk dari objek wisata Pura Goa Lawah tidak sepenuhnya masuk ke kas daerah. Sebagian di antaranya masuk ke kas Bendesa Adat Pesinggahan sebesar 8%, Desa Dinas Pesinggahan (2%) dan 5% didistribusikan kepada petugas sebagai upah pungut. “Kontribusi untuk desa adat maupun desa dinas tetap ada, sebab itu hak mereka. Biasanya, kontribusi dari retribusi itu dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan pura dan perbaikan-perbaikan fisik pura yang sifatnya ringan. Pemanfaatan kontribusi sepenuhnya wewenang bendesa adat dan krama-nya untuk mengaturnya. Yang jelas, kami juga melakukan pembinaan-pembinaan intensif untuk menumbuhkan sadar wisata bagi petugas maupun warga lainnya yang beraktivitas di lingkungan Pura Goa Lawah. Di sana juga ada kios-kios yang menjual suvenir dan makanan ringan sehingga para pedagang juga wajib dibina agar tidak merusak citra kepariwisataan kita,” katanya. Dia menambahkan, kunjungan wisatawan ke Pura Goa Lawah termasuk tinggi. Pada 2001 lalu, angka kunjungan wisatawan mencapai 30.913 orang. Sayang, angka itu anjlok menjadi 19.796 orang pada 2002 lalu. Penurunan angka kunjungan wisatawan secara drastis tentu berkaitan erat dengan Tragedi Kuta 12 Oktober 2002.

Nusa Penida

Menurut Yudara, potensi pengembangan wisata religius juga terbuka lebar di Nusa Penida. Pulau tandus ini memang memiliki sejumlah pura megah yang bisa “dijual” kepada wisatawan. Pendapat Yudara itu dibenarkan pengelola Bungalo Nusa Garden, Nusa Penida Dewa Koming Widartha. Ditegaskan, para pelaku pariwisata di Nusa Penida belum ada yang melirik potensi wisata religius ini. Padahal, ada sejumlah pura atau bangunan suci yang sangat layak dikembangkan untuk kepentingan tersebut seperti: Pura Luhur Dalem Ped, Pura Bukit Mundi, Pura Batu Medaung dan Pura Goa Giri Putri. Pura-pura ini tidak hanya cocok untuk umat yang mendambakan kedamaian rohani, bentuk arsitektur bangunannya yang unik dengan ragam ukiran yang khas juga diyakini mampu “membius” para wisatawan. “Tujuan utama mereka datang ke sini memang untuk ngaturang sembah (sembahyang-red). Tetapi, di sela-sela kegiatan tirtayatra itu kan bisa diselingi dengan melihat-lihat keindahan alam Nusa Penida yang lain. Dengan begitu, masa tinggal wisatawan itu di Nusa Penida bertambah panjang,” ujarnya.

Widartha menambahkan, dua pura yang sangat layak difavoritkan untuk kepentingan ini adalah Pura Luhur Dalem Ped dan Pura Goa Giri Putri. Pura Luhur Dalem Ped yang merupakan pura kahyangan jagat, misalnya, memiliki beberapa pelinggih pemujaan yang mencuatkan nuansa spiritualitas yang kental. Di bagian utara kompleks pura ini juga berdiri megah Pura Segara dengan arsitektur khas menyerupai ulam agung (ikan besar). Di bagian lain juga ada taman yakni aelinggih yang dikelilingi kolam, palinggih Ida Batara Ratu Gede Mas Mecaling yang diyakini oleh krama Hindu sebagai penguasa jagat dan sejumlah palinggih lainnya. Seluruh bangunan itu memiliki arsitektur yang khas dengan ornamen atau ukiran batu padas putih khas Nusa Penida. “Paling tidak, dua kali dalam setahun krama Hindu di Bali pedek tangkil ke Pura Luhur ini untuk memohon keselamatan. Jumlah pemedek tidak hanya ratusan, tetapi mencapai ribuan,” katanya.

Sementara di Pura Goa Giri Putri, para wisatawan akan disuguhi keajaiban alam yang memukau. Kompleks pura dengan arsitektur sederhana ini “tersembunyi” di dalam perut bumi (goa) yang sangat luas. Di dalam goa terdapat banyak stalaktit dan stalakmit yang indah. Di sana juga terdapat mata air sebagai sumber tirta yang dikeramatkan karena diyakini mendatangkan kesejahteraan dan keselamatan bagi pemedek. Hanya, pada waktu masuk ke dalam goa agak sulit. Para pemedek harus merangkak sekitar tiga meter melalui celah bebatuan yang sempit, sebelum akhirnya mencapai bagian goa yang cukup luas menyerupai terowongan bawah tanah. Di bagian inilah didirikan sejumlah palinggih untuk menggelar persembahnyangan. Di dinding goa bagian atas, juga terdapat cerukan (goa kecil-red) dengan bebarapa palinggih pemujaan. Namun, untuk sampai ke sana para pemedek harus menaiki sebuah tangga yang terbuat dari kayu. Pada areal ini juga terdapat sebuah ruangan berdiameter sekitar satu meter yang beralaskan pasir hitam. Konon, tempat ini sering dijadikan sebagai tempat meditasi dan ngalap (memohon) berkah. “Siapa pun yang masuk ke dalam goa ini, pasti akan terperangkap dalam suasana khusyuk. Tempat di sini sangat cocok untuk menenangkan pikiran,” kata Widartha. (ian)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/1/18/bd1.htm

Pura-pura di Bali yang Memikat Wisatawan

Daya Pikat Wisata Pura dan Program Otonomi

SALAH satu kekhawatiran yang sempat terlontar ke permukaan mengenai pelaksanaan otonomi daerah di Bali adalah pemkab-pemkab akan mengeruk PAD melalui segala potensi yang ada di wilayahnya. Termasuk situs-situs berupa tampat-tempat suci atau pura di wilayahnya. Dilemanya, Pura-pura tersebut banyak menghadirkan nilai-nilai yang memang memikat bagi wisatawan. Sebut misalnya, nilai arsitektur, arkeologis, kesejarahan, mitologis, atau beraneka ritualnya. Karena itulah situs-situs berupa pura di Bali, selain menjadi tempat persembahyangan umat Hindu, juga didatangi wisatawan. Lalu bagaimana pemkab menghadapi dilema antara menjaga nilai kesucian pura dan program menggenjot potensi PAD di era otonomi? Laporan utama Kultur kali ini dari Biro-biro Bali Post di Bali: Adnyana Ole, Budana, Asmara Putra, Pujawan, Sumatika, Subagiadnya.

————————————————————

Buleleng memiliki sejumlah situs pura di sekitar Danau Tamblingan, Kecamatan Banjar. Selain Pura Tamblingan yang diempon masyarakat Buleleng dan masyarakat Tabanan, di lereng bukit yang mengitari danau terdapat beberapa pura kecil yang menyimpan sejarah peradaban sejak zaman pemerintahan Raja Ugrasena pada abad ke-11. Melihat lingkungannya yang alami, hutan hijau dan air yang jernih, Pemkab Buleleng mulai melirik kawasan pura ini sebagai kawasan wisata spiritual dan sejarah.

Untuk persiapan menjadikan Tamblingan sebagai kawasan wisata suci dalam hening, Pemkab Buleleng telah menyiapkan berbagai perangkat keras maupun lunak. Wakil Bupati Buleleng Gede Wardana mengatakan, awal tahun ini pihaknya menyiapkan beberapa ekor kuda di tapal batas Danau Tamblingan. Pengelolaan kuda-kuda itu bakal diserahkan kepada masyarakat adat di sekitar danau sebagai langkah awal perkenalan objek wisata alam ini. Nantinya, selain kuda, alat transportasi apa pun tak boleh memasuki kawasan danau. Menurutnya, prospek penataan Danau Tamblingan menjadi objek wisata spiritual sekaligus wisata berkuda sangat cerah.

Selain kegiatan wisata secara umum, Danau Tamblingan juga akan difokuskan menjadi pusat kegiatan-kegiatan spiritual seperti tapa brata, yoga semadi. Penetapan Danau Tamblingan sebagai pusat kegiatan spiritual diharapkan mampu menanamkan konsep berpikir Tri Hita Karana di kalangan masyarakat Buleleng. ”Selain menyimpan nilai-nilai sakral, sesuai keyakinan masyarakat Bali, Danau Tamblingan juga disebut Sunan Jagat Bali sebagai salah satu peninggalan leluhur,” kata Wardana.

Harus Menaati Aturan

Di kabupaten Karangasem, baru Pura Besakih yang dikenal dan kerap dikunjungi wisatawan karena daya tariknya, dari lima pura besar (Kahyangan Jagat, Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan) yang ada di wilayah ujung timur Pulau Bali itu, seperti Pura Silayukti, Andakasa, Lempuyang, Pasar Agung dan Besakih sendiri.

Koordinasi antara Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, Dinas Pariwisata dengan Kantor Kesos, serta Parsenibud Pemkab Karangasem tetap berjalan. Saat banyak muncul keluhan soal oknum pramuwisata liar beroperasi di Besakih yang dikhawatirkan merusak citra Pura Besakih yang suci, digelar diklat pramuwisata dengan peserta pramuwisata lokal Besakih.

Tampaknya, tak cuma pemerintah, kalangan tokoh masyarakat pun sepakat tak begitu saja melakukan promosi guna menjadikan pura sebagai objek atau daya tarik pariwisata untuk tujuan komersial. Klian Desa Adat Bugbug Karangasem IW Mas Suyasa, S.H. secara tegas mengatakan, kalau pihaknya tak mengumbar tempat suci (pura) sebagai objek atau pun daya tarik untuk industri pariwisata.

Sebenarnya, kata Mas Suyasa, beberapa waktu lalu di Bugbug, di wilayahnya, ada pura yang potensial memiliki daya tarik wisata. Misalnya, Pura Gumang di Bukit Gumang, terletak di kawasan hutan wisata Desa Adat Bugbug. Di sana ada sekitar 300 kera jinak yang kerap turun ke pinggir jalan ”menyapa” pengunjung. ”Kami tak bakal mengumbar promosi tempat suci untuk tujuan komersial, dengan iming-iming PAD. Kalau semua tempat suci kita ‘jual’ nantinya kita bakal menerima akibatnya,” paparnya.

”Kalaupun ada pura atau tempat suci menjadi daya tarik wisata dan didatangi pengunjung, jangan sampai diberikan leluasa menjamah kawasan suci,” tegasnya.

Jembrana belum Maksimal

Keberadaan objek wisata dengan menampilkan keindahan alam, situs purbakala atau lingkungan sekitar pura secara umum di Jembrana belum tergarap secara maksimal. Dari 12 objek wisata itu, kebanyakan menampilkan keindahan alam berupa pantai. Sementara penetapan pura sebagai objek wisata memang tidak ada. “Pura yang secara langsung menjadi objek wisata di Jembrana memang tidak ada. Namun, kalau keindahan di sekeliling pura, seperti di kawasan Rambut Siwi, bisa dijadikan objek wisata,” ujar Kepala Kantor Pariwisata Jembrana Drs. I Wayan Yastawa.

Dikatakan, situs berupa pura yang menjadi objek wisata secara langsung tidak ada. Karena dari penetapan objek wisata, sebagian besar merupakan kawasan pantai, serta keindahan alam lainnya. Hanya terdapat satu objek wisata situs purbakala, yakni museun manusia purba di Gilimanuk. Karena berupa museum, pengelolanya jelas dari instansi terkait. Kontribusi dari penetapan kawasan wisata kepada desa adat/pakraman sampai saat ini belum dikelola secara baik. Masalahnya, pendapatan dari sektor pariwisata masih sangat minim. Hal ini mengakibatkan kontribusi ke desa adat belum bisa dilakukan. Masalah lainnya, seperti yang terjadi di kawasan wisata Rambut Siwi, pengempon pura menyerahkan pengelolaan pura kepada panitia, sehingga Dinas Pariwisata dalam melakukan koordinasi terkait hal-hal tertentu akan dilakukan bersama panitia.

Untuk di Rambut Siwi, retribusi masuk ke kawasan wisata ini hanya Rp 500/orang. Selama tahun 2001, jumlah retribusi dari kunjungan wisatawan hanya sebanyak 215.000. Selama ini, kata dia, memang pernah ada niat untuk melibatkan unsur desa adat dalam mengelola suatu objek wisata. Namun karena belum adanya pendapatan yang memuaskan dari sektor ini, peran desa adat sampai kini belum terlihat semarak. Sangat berbeda dengan daerah lain di Bali yang sektor paiwisatanya sangat menjanjikan.

Bangli, Sembilan Pura

Di Bangli sedikitnya ada sembilan pura yang akan dan sudah menjadi daya tarik wisatawan. Masing-masing memiliki keunikan dan sejarah tersendiri, Pura Kehen, Ulun Danu Batur di Desa Batur, Ulun Danu di Desa Songan, Puncak Penulisan, Dalem Balingkang, Bukit Jati, Pura Jati, Pancering Jagat di Trunyan dan Pura Nataran Agung Bangli. ”Kesembilan pura tersebut kini sudah mulai ditata,” ujar Bupati Bangli I Nengah Arnawa, S.Sos.

Dalam pengelolaannya, pemkab bekerja sama dengan desa adat melalui koordinasi rutin dan terpadu. Sementara untuk pendanaan, Pemkab Bangli sudah mengucurkan bagi paguyuban pemangku se-Bangli yang tiap tahun terus dianggarkan.

Dari segi keamanan, karena sangat erat kaitannya dengan adat pura yang dijadikan salah satu objek wisata unggulan di Bangli mendapat penjagaan yang cukup ketat oleh pecalang, hansip dengan sistem pakemitan. Di samping itu, pemeliharaan sehari-hari pura yang dijadikan objek pariwisata ditangani oleh beberapa orang tenaga kebersihan. ”Mereka ditempatkan di masing-masing pura tersebut,” ujarnya.

Karena menyangkut pariwisata, kontribusi desa adat terhadap pemkab sekitar 20-40%. Dana tersebut berasal dari retribusi, sesari canang dan wisatawan yang menyumbang.

Retribusi ke Desa Pakraman

Khusus untuk Gianyar, sejumlah situs purbakala berupa pura dari dulu sudah dijadikan objek pariwisata. Seperti kawasan Goa Gajah, Gunung Kawi dan beberapa tempat lainnya, sangat diandalkan Pemkab Gianyar untuk dijadikan primadona tujuan wisata. Tiap tahunnya tidak sedikit pemasukan yang diberikan situs purbakala itu untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah.

Seperti kawasan wisata Goa Gajah pengelolaannya menerapkan sistem mutualisme. Berbagai pihak yang berkepentingan di dalamnya dipastikan kecipratan pembagian retribusi. Mulai tahun ini, Pemkab Gianyar telah mengalokasikan pembagian retribusi secara adil. Pemangku mendapat bagian 25 persen, desa pakraman 12,5 persen, Kantor Purbakala 2,5 persen dan sisanya pemerintah.

Kadis Pariwisata Gianyar Wayan Arthana, S.H. mengakui, sejumlah situs purbakala tetap diandalkan untuk menarik para wisatawan. Namun yang pasti, dalam pengelolaan termasuk rehabilitasi situs-situs itu, pemerintah tidak pernah lepas tangan. Pemerintah akan melakukan perbaikan hal-hal yang dipandang perlu, dengan tetap mengedepankan desa pakraman setempat.

Menurutnya, pembagian retribusi tersebut sudah sangat adil. Pembagian 25 persen yang diberikan kepada pemangku, dimaksudkan untuk biaya pujawali tempat itu dan keperluan lainnya. Begitu pula halnya pembagian kepada desa pakraman, dimaksudkan bahwa desa pakraman itu juga diharuskan ikut melestarikan situs purbakala tersebut. Pengelolaan terhadap sejumlah situs itu, melibatkan semua instansi terkait. Mulai Dinas Pariwisata, Bagian Purbakala dan Kadis Kebudayaan, juga bersama-sama memikirkannya. Termasuk desa pakraman yang mewilayahi situs itu, juga ikut bersama-sama melestarikannya.

————————————-

Pura-pura yang Memikat Wisatawan

Buleleng      : - Pura Tamblingan
Karangasem : - Pura Besakih
- Pura Silayukti
- Andakasa
- Lempuyang
- Pasar Agung
Jembrana    : - Rambut Siwi
Bangli          : - Pura Kehen
- Pura Ulun Danu Batur (Batur)
- Pura Ulun Danu (Songan)
- Pura Puncak Penulisan
- Pura Dalem Balingkang
- Pura Bukit Jati
- Pura Jati
- Pura Pancering Jagat
- Pura Nataran Agung
Klungkung    : - Pura Kentel Gumi
- Pura Penataran Agung
- Pura Dasar
- Pura Watu Klotok
- Pura Goa Lawah
- Pura Dalem Ped
- Pura Bukit Mundi
- Pura Batu Medau
- Pura Goa Giri Putri
Gianyar       : - Pura Goa Gajah
- Pura Gunung Kawi

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/1/18/bd4.htm

Panca Bali Krama
Menegakkan Nilai Kesucian, Bangun Keharmonisan Jagat

Pada Rabu Pahing Wuku Kuningan, 25 Maret 2009 mendatang –tepat pada Tilem Caitra/Kasanga — umat Hindu kembali menyelenggarakan upacara Tawur Panca Bali Krama di Pura Besakih. Karya ini digelar setiap 10 tahun sekali, yaitu pada Tilem Caitra/Kasanga ketika tahun Saka berakhir dengan 0 atau rah windhu. Apa makna upacara ini?

KETUA Sabha Walaka PHDI Pusat Ketut Wiana mengatakan, dalam Lontar Raja Purana, tawur agung yang diselenggarakan setiap 10 tahun itu disebut Panca Bali Krama, sedangkan dalam lontar yang lain disebut Panca Wali Krama. Inti dari tawur tersebut adalah caru. Caru dalam kitab Samhita Swara berarti ‘cantik’ yakni mengharmoniskan kembali. Dalam konteks ini, alam mesti diharmoniskan (butha hita), termasuk sesama individu umat (jana hita) menuju keharmonisan bersama (jagat hita). ‘Tawur agung Panca Bali Krama ini pada esensinya dalah upaya menuju hal-hal yang harmonis. Misalnya alam yang rusak mesti diperbaiki atau dilestarikan, hubungan sesama lebih diharmoniskan dan sebagainya. Jadi, tawur agung ini merupakan momen untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai sistem kehidupan menuju yang harmonis. Atau mengingatkan umat kepada upaya penegakan aspek kehidupan,’ ujar Wiana yang dosen IHDN Denpasar ini.

Dalam hal ini pula, lanjut Wiana, umat perlu menerapkan konsep Tri Kona — Utpeti, Stiti, Pralina — yang lebih tajam. Artinya, perlu menciptakan (utpeti) sesuatu yang diperlukan, memelihara (stiti) hal-hal yang sesuai dengan keperluan zaman dan meninggalkan (pralina) sesuatu atau tradisi yang tidak cocok lagi dengan semangat zaman dalam rangka menegakkan Weda. ‘Weda itu sanatana dharma, kandungannya kekal abadi. Tetapi penerapannya notana, selalu diremajakan sesuai dengan perkembangan zaman,’ katanya.

Saat Terpilih

Sementara itu, Bali TV dalam program acara ‘Pablibagan’ yang ditayangkan Senin (23/2) kemarin juga mengangkat topik ‘Karya Agung Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih 2009′. Acara yang dipandu IB Putu Ardika itu menampilkan IBG Agastia, I Gede Marayana, Drs. I Putu Suwena, S.H. dan Drs. IGM Ngurah, M.Si. sebagai narasumber.

Pada kesempatan itu, sastrawan yang juga tokoh agama IBG Agastia mengatakan sistem upacara umat Hindu di Bali terutama upacara-upacara besar seperti Panca Bali Krama, Eka Dasa Rudra dan yang lainnya diselenggarakan pada saat terpilih dan juga tempat yang terpilih. Ketika matahari dan bulan tepat di atas khatulistiwa — garis yang membelah bumi — itulah waktu yang dipilih untuk melaksanakan Karya Agung Panca Bali Krama (dilaksanakan 10 tahun sekali) maupun Eka Dasa Rudra (100 tahun sekali). Karya agung ini dimaksudkan untuk mengharmoniskan segala unsur yang membangun jagat raya yang disebut Panca Mahabhuta dan Panca Tanmatra. Sehari setelah upacara besar itu umat Hindu memasuki tahun baru Saka.

Upacara agung seperti Panca Bali Krama dan Eka Dasa Rudra, katanya, pada hakikatnya dimaksudkan untuk menegakkan nilai-nilai kesucian, lalu membangun keharmonisan jagat yang disebut jagat hita, bhuta hita, sarwa prani hita. Semua hal itu diharapkan memberikan kerahayuan kepada manusia yang menempati bumi ini. Semoga isi jagat raya (sarwa prani) memberikan prana atau energi kerahayuan pada manusia dan seisi alam. ‘Jadi, ada landasasn filosofi atau tatwa yang mendasari upacara ini. Landasannya menyangkut konsep Panca Mahabhuta, Panca Tanmatra, Panca Brahma, Panca Giri dan Panca Indria,’ katanya.

Astronom I Gede Marayana menambahkan, upacara Panca Bali Krama merupakan upacara Bhuta Yadnya, salah satu dari Panca Mahayadnya — Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Resi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya. Tujuannya adalah untuk mencapai bhuta hita atau jagat hita — keharmonisan kehidupan makhluk dan jagat raya ini (sarwa prani hita). Suatu keistimewaan dalam palaksanaan Panca Bali Krama saat ini yakni waktunya terangkai dengan hari raya Galungan dan Kuningan, bertemu dalam sasih Kasanga.

Karena itu, lanjut Marayana, generasi umat Hindu Bali-Nusantara patut bersyukur dapat ikut serta melaksanakan upacara Tawur Agung Panca Bali Krama, karya yang sedemikian ‘langka’ karena pelaksanaannya secara periodik dalam kurun waktu tertentu — sepuluh tahun sekali. Sepatutnyalah yasa-kerti yang dilakoni umat benar-benar nekeng-tuwas, menyatukan idep, sabda dan bayu, dalam menyukseskan karya tersebut.

Sementara itu, Suwena mengatakan Karya Agung Panca Bali Krama jatuh pada 25 Maret 2009 yang dilanjutkan dengan prosesi Batara Turun Kabeh pada 9 April. Pada kesempatan itu, Suwena juga mengingatkan masyarakat bahwa setelah tanggal 20 Februari tidak diperkenankan melakukan upacara pengabenan, termasuk makinsan ring gni. Apabila setelah itu ada umat yang meninggal, jenazahnya dikubur secepatnya. Itu pun dilakukan malam hari atau setelah matahari terbenam. Apabila hal itu menimpa sulinggih seperti Ida Pedanda, Sri Empu termasuk pemangku, agar dilakukan dengan nyekah di rumah sesuai dresta masing-masing. ‘Dari 20 Februari hingga 27 April 2007 tidak boleh ada upacara pengabenan atau pembakaran mayat,’ katanya. (lun/ian)

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1120&Itemid=26

Purwaka

Pada hari rabu, 25 Maret 2009 (Budha Pahing Kuningan) umat Hindu di Indonesia kembali menyelenggarakan Karya Agung Panca Bali (Wali) Krama sebagai salah satu rangkaian siklus upacara Bhuta Yadnya dalam agama Hindu yang berhubungan dengan Ekadasa Rudra. Apabila Ekadasa Rudra diselenggarakan bertepatan dengan Tilem Caitra saat tahun Saka berakhir dengan 00 atau rah windu tenggek windu atau windu turas (setiap seratus tahun sekali), maka Panca Bali Krama diselenggarakan bertepatan dengan Tilem Caitra saat tahun Saka berakhir dengan 0 atau rah windu (setiap sepuluh tahun sekali) seperti tersurat di dalam lontar Indik Ngekadasa Rudra. Landasan yang digunakan sebagai dasar terselenggaranya Karya Agung Panca Bali Krama tersurat di dalam kitab suci Veda, Samhita, Brahmana, Aranyaka, Upanisad, dan kitab-kitab Purana.

Sebagai salah satu rangkaian siklus Panca Maha Yajnya,Bhuta Yadnya tidak terpisahkan dengan rangkaian Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Resi Yadnya dan Manusa Yajnya karena merupakan satu kesatuan yang utuh.

Kata yajnya memiliki makna yang dalam karena dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Tidak hanya dalam bentuk pelaksanaan upacara, namun dapat berbentuk berbagai aktivitas kerja. Dalam kitab suci Veda, uraian tentang yajnya dan karma (kerja) diuraikan dalam satu kesatuan. Kitab Bhagawad Gita misalnya, tidak hanya menguraikan tentang ethos kerja tetapi juga hakikat kerja. Yajnya dan karma adalah jalan pembebasan, jalan pembebasan diri dari belenggu materialisme.

Karya Agung Ekadasa Rudra telah diselenggarakan di Bali pada Tilem Caitra Saka 1900 (Maret 1979) sebagai rangkaian siklus Bhuta Yadnya, dilanjutkan dengan Karya Agung Panca Bali Krama setiap sepuluh tahun sekali. Terakhir, Panca Bali Krama diselenggarakan bertepatan dengan Tilem Caitra (Tilem Kasanga) Saka 1920, tanggal 17 Maret 19999 yang dipusatkan di Bancingah Agung Pura Panataran Agung Besakih, di kaki Gunung Agung.

Selain diselenggarakan dalam kurun waktu tertentu, Panca Bali Krama juga diadakan pada saat-saat tertentu sesuai keperluan. Menurut teks lontar Bali, tercatat ada beberapa jenis Panca Bali Krama sebagai berikut:

a. Panca Bali Krama yang diadakan pada saat tahun Saka berakhir dengan 0 (rah windu) atau menjelang pasalin rah tunggal, misalnya tahun Saka 1910, 1920, dan seterusnya.

b. Panca Bali Krama Panregteg diadakan tidak terikat dengan rah windu, tetapi dilaksanakan karena Panca Bali Krama sudah lama tidak diadakan.

c. Panca Bali Krama yang diadakan di Pura Panataran Agung Besakih karena terjadi bencana alam yang bertubi-tubi, seperti desa-desa hilang tersapu banjir, desa-desa ditelan bumi karena gempa dahsyat, gunung meletus disertai hujan abu yang menyebabkan bumi gelap gulita, hama merajalela, umur manusia pendek, orang jahat dikira baik, sebaliknya orang baik dikira jahat, dan lain-lain.

d. Panca Bali Krama yang diadakan di tempat-tempat tertentu di luar Pura Panataran Agung Besakih, misalnya di pusat kerajaan (sekarang kabupaten/kota atau propinsi) untuk menyucikan wilayah tertentu. Di masa lalu, pernah diadakan di Denpasar dan Mengwi.

e. Panca Bali Krama Ring Danu, ialah Panca Bali Krama yang diadakan di danau (biasanya dipilih danau yang terbesar) serangkaian dengan upacara Candi Narmada di samudra (laut). Upacara itu seharusnya dilaksanakan sebelum diadakan Karya Agung Ekadasa Rudra. .

Panca Bali Krama: Bhuta Yajna dan Dewa Yajna

Yadnya, yang telah dan akan dilakukan oleh umat Hindu merupakan kewajiban yang patut dilaksanakan. Keseluruhan rangkaian yadnya diklasifikasikan dalam Panca Maha Yajna yang terdiri atas Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Resi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya, seperti disuratkan dalam kitab suci Veda dan secara eksplisit ditegaskan dalam Kitab Satapata Brahmana maupun Manawa Dharmasastra (III, , 68, 69, 70, 71 dan 72) (lihat Die Religionen Indies I, Veda und ulterer Hinduismus, Kohlhamer, 1960). Dengan demikian, pelaksanaan yajna sesungguhnya berlandaskan ajaran kitab suci Veda.

Bhuta Yadnya merupakan persembahan kepada bhuta yang merupakan unsur-unsur yang membangun alam semesta (bhuwana alit maupun bhuwana agung atau segala bentuk material di alam raya ini), disebut panca maha bhuta, terdiri atas prethiwi (unsur tanah), apah (unsur air), teja (unsur sinar), vayu (unsur angin) dan akasa (ether), yang dibentuk oleh lima unsur lebih halus, disebut panca tan matra yang tediri atas gandha (unsur bau), rasa (rasa), sparsa (sinar), rupa (rupa) dan sabda (suara).

Semua unsur tersebut berstruktur dan bersistem dalam harmoni. Namun dalam perjalanan waktu, karena tindakan dan perbuatan manusia, kadangkala mengalami disharmoni. Oleh karena itu dalam kurun waktu tertentu diadakan upacara untuk mengharmoniskannya dengan upacara Bhuta Yajna dan upakara bali, berupa caru atau tawur. Harapan yang ingin dicapai ialah Bhuta Hita atau Jagat Hita maupun Sarwa Prani Hita, keharmonisan yang akan memberikan kerahayuan hidup bagi manusia dan mahluk lainnya.

Bhuta Yajna diadakan di tempat dan pada waktu terpilih (pangaladesa, subhadiwasa), yaitu pada Tilem Caitra (Tilem Kasanga), ketika matahari berada di atas khatulistiwa dan ketika bumi, bulan dan matahari dalam posisi tegak lurus. Posisi Bhuwana Agung pada saat ini (terlebih pada saat sandhya-kala) dipandang sebagai posisi yang tepat untuk mengadakan Bhuta Yajna. Penyelenggaraannya dilakukan di sebuah tempat yang secara simbolis dianggap sebagai madhyanikang bhuwana (tengahnya dunia), di sebuah natar (lebhuh, pempatan) di mana prethiwi (bumi, tanah) dan akasa (langit) bersemuka.

Setelah upacara Bhuta Yajna dilaksanakanlah upacara Dewa Yajna sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Ketika bulan sempurna di langit (purnama) diselenggarakanlah Dewa Yajna. Purnama kadasa (juga Purnama Kartika) adalah purnama yang dianggap paling “sempurna”, karena saat itu bulan purnama berada paling dekat dengan garis khatulistiwa. Inilah yang dipandang sebagai “subhadiwasa” untuk melaksanakan Dewa Yajna.

Oleh karena itu, upacara Ngusaba Kadasa yang disebut juga Bhatara Turun Kabeh.
Menurut pandangan Agama Hindu, manusia hidup “di antara” Bhuta dan Dewa, maka dengan melaksanakan Bhuta Yajna dan Dewa Yajna diharapkan manusia menyadari dirinya yang pada hakikatnya adalah “Cahaya Tuhan” yang berasal dari dan akan kembali kepada “Sang Maha Cahaya”. Bukan sebaliknya ‘jatuh” ke dalam kegelapan (bhuta).

Tetapi bhuta perlu dijaga keharmonisannya (somya) dengan berbagai upaya sebagaimana diajarkan dalam ajaran Agama Hindu. Bhuta Yajna juga diselenggarakan karena manusia menjadikan bhuta (juga tan matra) sebagai obyek indrianya. Obyek indria diupayakan dalam keadaan bhuta hita sehinga dengan demikian kerahayuan hidup akan dapat dicapai. Setelah bhuta menjadi somya, maka Hyang Bhutapati yang juga adalah Hyang Pasupati atau Hyang Jagatpati distanakan lalu dipuja. Dengan demikian, Panca Bali Krama di samping sebagai Bhuta Yajna, pada dasarnya juga adalah Dewa Yajna, pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Panca Bali Krama dan Panca Brahma

Kitab Wrehaspati Tattwa menyuratkan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa disebut sebagai Sadasiwa dengan singgasana Padmasana (singgasana teratai) yang memancar ke arah empat penjuru alam semesta. Secara antrophomorfis diwujudkan dalam empat Kemahakuasaan yang maha gaib sebagai empat Dewa yang menjadi Penguasa empat penjuru alam semesta. Saktinya (Kemahakuasaannya) terdiri atas Wibhu Sakti (Maha Ada), Prabhu Sakti (Maha Kuasa), Jnana Sakti (Maha Tahu) dan Kriya Sakti (Maha Pencipta), disebut Cadu Sakti atau Catur Sakti, yakni Empat Kemahakuasaan Hyang Siwa. Hyang Sadasiwa yang berstana di tengah bunga padma adalah mantratma, mantra sebagai wujudNya. Isana sebagai kepala, Tatpurusa sebagai muka, Aghora sebagai hati, Bhamadewa sebagai badan halus, Sadyojata sebagai wujudNya, Aum. Hyang Sadasiwa (Tuhan Yang Maha Kuasa) wujudnya bening seperti kristal. Kelima wujud itu disebut Panca Brahma atau Panca Dewata, masing-masing denagn bija aksaraNya (aksara suci): SANG, BANG, TANG, ANG, ING. Dalma konsepsi padma bhuwana atau padma mandala masing-masing sebagai:

a. Penguasa penjuru Timur alam semesta (Purwa) adalah Sadyojata denga gelar lain Iswara;
b. Penguasa penjuru Selatan (Daksina) adalah Bhamadewa dengan gelar lain Brahma;
c. PEnguasa penjuru Barat (Pascima) adalah Tatpurusa dengan gelar lain Mahadewa;
d. Penguasa penjuru Utara (Uttara) adalah Aghora dengan gelar lain Wisnu;
e. Penguasa di pusat (Madhya) adalah Siwa sendiri disebut juga ISana, Penguasa Yang Maha Agung.

Panca Brahma (lihat Vasudeva S. Agravala (1984)) adalah penguasa dari Panca Maha Bhuta dan Panca Tanmatra. Sadyojata penguasa Pratiwi (tanah) dan gandha (bau), Bhamadewa penguasa apah (air) dan rasa (rasa), Aghora penguasa teja (api) dan sparsa (cahaya, warna), Tatpurusa penguasa bayu (angin) dan rupa (rupa), Isana adalah penguasa akasa (ether) dan sabda (suara). Panca Brahmajuga menjadi pengendali Panca Jnanendriya atau Panca Bhudindriya. Sebagaimana halnya akasa, Isana juga pengendali srotendriya (indria pendengar), Tatpurusa pengendali twakindriya (indria rasa sentuhan), Aghora (pengendali cakswindriya (indria penglihatan), Bhamadewa pengendali jihwendriya (indria rasa lidah), Sadyojata adalah pengenali ghranendriya (indria penciuman). Seperti diketahui, Panca Tanmatra adalah obyek Panca Jnanendriya, dan Panca Tanmatra adalah unsur dasar yang membangun Panca Maha Bhuta.

Dengan demikian, tampaklah hubungan yang erat antara Panca Brahma dengan Panca Maha Bhuta, Panca Tan Matra, dan Panca Jnanendriya sehingga jelas pulalah makna Karya Agung Panca Bali Krama yang diselenggarakan oleh umat Hindu merupakan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan KekuasaanNya yang membentang ke empat penjuru alam semesta (Bhuta Iswara, Bhutapati) untuk memohon kerahayuan jagat (bhuta hita, jagathita). Bersamaan dengan itu, umat Hindu mengukuhkan kesadarannya tentang hakikat keberadaannya di alam semesta ini, hakikat dirinya yang suci, hakikat tujuan hidupnya untuk manunggal,kembali pada asalnya, Tuhan Yang Maha Suci.

Panca Bali Krama, Panca Giri dan Pura Panataran Agung Besakih

Lontar Tantu Pangelaran menyiratkan bahwa gunung (giri, meru, parwata) memberikan kerahayuan (amreta) kepada manusia yang hidup di kaki dan datarannya. Selain itu, gunung merupakan pusat orientasi kesucian bagi umat Hindu, gunung-gunung dipandang sebagai satu kesatuan sehinga muncul konsepsi panca giri. Kitab-kitab yang mengajarkan ajaran yoga, pertama-tama menguraikan tentang Gunung Mahameru sebagai tempat Sthana Hyang Siwa yang digambarkan sebagai pusat padma dunia raya.

Bagi seorang sadhaka, gunung itu terletak di sahasrara padma, di kepala manusia, tempat Hyang Siwa menurunkan ajaran-ajaranNya yang kemudian dicatat dalam berbagai Yamala, Damara, Siwasutra dan Kitab Tantra dalam bentuk tanya jawab (dialogis catekismus) antara Hyang Siwa dengan SaktiNya Dewi Parwati. Gunung dalam alam sakala maupun niskala sangat penting bagi umat Hindu, dipandang sebagai linga acala, linga yang tidak bergerak.

Karena gunung yang tertinggi (Mahameru, Gunung Agung) dinyatakan berada di pusat padma dunia, maka gunung-gunung yang lain menempati posisi dik widik. Dunia atau wilayah yang lebih kecil digambarkan sebagai bunga padma, disebut padma bhuwana atau padma mandala sehingga dalam konteks Bali, Gunung Agung menempati posisi di tengah padma mandala, Gunung Lempuyang di Timur, Gunung Andakasa di Selatan, Gunung Batukaru di Barat dan Gunung Batur di Utara.

Di tempat tersebut didirikan pura atau tempat suci utama, menempati posisi dik, sementara yang menempati posisi widik adalah Pura Gua Lawah di Tenggara, Pura Luhur Uluwatu di Barat Daya, Pura Pucak Mangu di Barat Laut. Pura Agung Besakih juga menempati posisi Timur Laut (Airsanya). Pura yang biasa disebut Sad Kahyangan tersebut merupakan kesatuan, bagaikan sebuah bunga padma dengan delapan helainya (dala) yang menunjuk delapan penjuru, dengan sarinya berada di tengah.

Pada sari bunga padma yang suci itu didirikan Padma Agung (Padma Tiga) yang merupakan Panataran Agung Besakih masih memiliki dala pada posisi dik, masing-masing Pura Gelap (Timur, Sadyojata, atau Iswara). Pura Kiduling Kreteg (Selatan, Bhamadewa atau Brahma), Pura Ulun Kulkul (Barat, Tatpurusa atau Mahadewa), Pura Batu Madeg (Utara, Aghora atau Wisnu) yang disebut Pura Catur Lokaphala atau Catur Dala. Secara holistik, maka Padma Tiga Pura Panataran Agung Besakih, pertama-tama disangga oleh pura catur dala, selanjutnya ditopang lagi oleh pura Sad Kahyangan (pura utama) yang terletak di delapan penjuru Pulau Bali atau asta dala. Pura Kahyangan Jagat yang didirikan di seluruh Nusantara dapat berfungsi sebagai sahasra dala, seribu kelopak bunga padma.

Apabila pelaksanaan upacara besar di Pura Agung Besakih diperhatikan, khususnya upacara Bhatara Turun Kabeh dalam rangka Panca Bali Krama merefleksikan telah diterapkannya konsepsi padma kuncup. Dalam rangkaian upacara Tabuh Gentuh (setiap tahun), Dewata yang disthanakan pada masing-masing pura catur dala, disatukan di tengah (Pura Panataran Agung). Dewata yang disthanakan di pura catur dala yang lebih jauh (Pura Lempuyang Luhur, Pura Andakasa, Pura Batukaru, Pura Batur) disatukan di Pura Panataran Agung Besakih, dan akhirnya pada upacara Bhatara Turun Kabeh dalam rangkaian Karya Agung Baligya Marebhu Bhumi (seribu tahun sekali), Dewata yang disthanakan di pura sahasra dala secara simbolis juga disatukan di Pura Panataran Agung Besakih. Begitu pentingnya posisi Pura Agung Besaki (dari kata “basuki” berarti rahayu), pura yang senantiasa dijaga keagungan, keindahan dan kesuciannya, sehingga pada dasarnya merupakan perwujudan ajaran Satyam Siwam Sundaram
Panca Bali Krama, Tahun Saka dan Nyepi

Perhitungan penetapan tahun Saka tidak hanya melihat posisi matahari (surya pramana) tetapi juga posisi bulan (candra pramana) sehingga disebut surya candra pramana. Sistem penetapan Tahun Baru Saka menunjukkan bahwa umat Hindu sangat memperhatikan benda-benda “bersinar” di langit sebagai refleksi senantiasa mengembangkan wawasan kesemestaan, kesejagatan (Brahmanda). Benda-benda “bersinar” di langit, secara langsung dirasakan pengaruhnya pada kehidupan manusia di bumi, khususnya kaitannya dengan perubahan musim. Namun, secara spiritual menunjukkan bahwa agama Hindu berorientasi pada “sinar” (divine) sehingga muncullah kata Dewa (dari div berarti bersinar). Umat Hindu menyadari hakikat dirinya adalah “Cahaya Suci Tuhan Yang Maha Kuasa”, selanjutnya ingin membangun dirinya menjadi divine man, lebih lanjut membangun divine society, manusia dan masyarakat yang memancarkan Sinar Suci Tuhan Yang Maha Kuasa. Secara etis, manusia Hindu ingin melenyapkan sifat-sifat kegelapan atau keraksasaan dalam dirinya (asuri sampat) dan memupuk terus sifat-sifat kedewataan (daivi sampat). Inilah landasan yang sangat esensial bagi pembangunan jati diri manusia dan peradaban Hindu.

Surya sebagai benda bersinar di langit yang diam dan tidak berubah merupakan pusat orientasi umat Hindu, bukan pada sesuatu yang berubah. Tuhan Yang Maha Kuasa adalah Abadi. Oleh karena itu, Beliau disebut Sangkan Paraning Dumadi (dari mana dan hendak kemana manusia pergi). Oleh karena itu pula, Surya dijadikan simbol sesuatu yang Abadi, Maha Cahaya, lalu dijadikan sthana Tuhan Yang Maha Kuasa, Hyang Siwa Aditya.

Pada saat Surya tegak di atas khatulistiwa, disebut Wiswayana (apabila Surya berada di sebelah selatan khatulistiwa disebut Daksinayana, bila di utara khatulistiwa disebut Uttarayana) dipandang sebagai saat yang tepat untuk melaksanakan upacara penyucian bhuwana dan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Setelah itu, umat Hindu memasuki tahun baru dengan melaksanakan “brata penyepian”. Artinya, dalam mengawali langkahnya memasuki kehidupan yang baru, umat Hindu melaksanakan ajaran agamanya yang terpenting, yaitu tapa, brata, yoga dan samadhi, yang pada intinya berisi pengendalian diri dan pemusatan pikiran kepada Sang Pencipta.

Pada Hari Nyepi, umat hindu berharap dapat memasuki alam sunya, alam yang sempurna, heneng (tenang) dan hening (jernih). Dang Hyang Kamalanatha (Dang Hyang Dwijendra) dalam karyanya Dharma Sunya dan Dharma Putus menekankan bahwa sunya tersebut adalah kesadaran ketika telah bersatu dengan Paramasiwa yang dipuja sebagai Sang Hyang Sakala Atma (jiwa dari segala yang hidup), dan digambarkan sebagai “Sang Saksat pinakesti ning manah aho” (Beliau yang tak ubahnya sebagai isi pikiran suci), serta “Sang mawak ring tuturku” (Beliau yang mewujud dalam kesadaranku). Demikianlah alam sunya adalah tujuan tertinggi yang diyakini dapat dicapai dengan latihan yang dilakukan terus menerus. Itulah sebabnya Agama Hindu memberi kedudukan terpenting pada ajaran tapa, brata, yoga dan samadhi, antara lain dengan jalan melakukannya secara bersama-sama pada hari Nyepi.

Om Nama Siwaya,
Om Shanti, Shanti, Shanti
Om

Sumber :
Lontar Ngekadasa Rudra; Lontar Widhi Widhanan Ing Tawur Ekadasa Rudra; Raja Purana Besakih, Lontar Ekadasa Rudra; Lontar Indik Karya Ekadasa Rudra; Lontar Bhama Krthih; Lontar Candi Narmada (Koleksi Griha Taman Intaran Sanur, Griha Pidada Karangasem; Griha Wanasari; Griha Lod Rurung Riang Gede; Griha Aan Klungkung; dan Yayasan Dharma Sastra), dan buku “Panca Bali Krama” (Penjelasan Singkat) oleh Ida Bagus Gede Agastia, diterbitkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat Tahun 1998
Dikutif ; KARTA WIDNYANA Darti Sumber Pusata Hindu

SEKILAS TENTANG
TAUR PANCA WALI KRAMA
DI PURA AGUNG BESAKIH
(Disampaikan pada Pembekalan Pinandita DKI, tgl. 21-2-2009 di Jakarta)

1. PENDAHULUAN
Pura Agung Besakih sebagai pura terbesar di Bali dan di Indonesia, merupakan pusat pemujaan umat Hindu . Sebagai pura besar pura Agung Besakih memiliki tatanan upacara-upacaranya yang tersendiri, berbeda dengan pura lain pada umumnya. Sangat banyak jenis upacara yang dilaksanakan di Pura Agung Besakih dari -yang tingkatannya kecil yang bersifat rutin setiap enam bulan atau setahun, sampai yang sangat besar yang dilaksanakan dalam periode 10, 100 bahkan 1000 tahun sekali..
Sejak tahun 1963, hingga saat ini banyak upacara-upacara besar yang telah terlaksana diantaranya :

a. Sukra Pon Julungwangi, 9 Maret 1963 : Upacara Taur Eka Dasa Rudra (Panregteg), yaitu upacara yang bersifat menyusul / melengkapi karena pada waktu yang semetinya telah terlaksana karena satu dan lain hal tidak dapat dilaksanakan.

b. Soma Kliwon Krulut, 10 April 1978 : Upacara Taur Panca Wali Krama menjelang upacara Taur Eka Dasa Rudra. Tahun 1979.

c. Buda Paing Wariga, 28 Maret 1979 : Upacara Taur Eka Dasa Rudra

d. Buda Kaliwon Paang, 8 Maret 1989 : Upacara Taur Panca Wali Krama

e. Buda Wage Krulut, 21 Maret 1993 : Upacara Candi Narmada dan Upacara Taur Panca Wali Krama di Danu Nyegjegang Sanghyang Samudra dan Bhatari Danu.

f. Anggara Umanis Krulut, 23 Maret 1993 : Upacara Taur Tri Bhuwana

g. Buda Wage Menail, 20 Maret 1996 : Upacara Taur Eka Bhuwana .

h. Buda Umanis Prangbakat, 27 Maret 96 : Upacara mendem pedagingan dan mlaspas semua palinggih. Upacara ini dilaksanakan sehubungan telah selesainya satu siklus 100 tahunan yang ditandai dengan dilaksana-kannya upacara Taur Eka Bhuwana, sebagai awal kegiatan untuk siklus berikutnya.

i. Buda Umanis Dukut, 17 Maret 1999 : Upacara Taur Panca Wali Krama
j. Buda Paing Kuningan, 25 Maret 2009 : Upacara Taur Panca Wali Krama.

2. SUMBER SASTRA DAN TEMPAT PELAKSANAAN TAWUR PANCA WALI KRAMA DI BESAKIH.

1) Sumber sastranya.
Cukup banyak lontar-lontar yang mengungkapkan Taur Panca Wali Krama. Kebanyakan mengungkapkan periode pelaksanaan Taur Panca Wali Krama yang dikaitkan dengan upacara Eka Dasa Rudra hingga Eka Bhuwana sebagai satu siklus upacara seratus tahunan. Diantara sumber-sumber tersebut antara lain :.

a. Lontar Widhi Sastraning Taur Eka Dasa Rudra, dari Wanasari Tabanan, menyebutkan :”Huwusning Eka Dasa Rudra patawurakena Bhuta Panca Wali Krama, gaweya sanggar 5, tekaning panggungan panca desa. Wusning mangkana patawurakena Tri Bhuwana, ngaran, patawurakena Gurunya. Sanggar Tawang sanunggal panggungan sawiji. Mangkana yogyaniya gelarakena de sang rumakseng praja mandala, lawan para wiku Aji, sang sampun kreta yaseng yadnya sinanggah Weda Paraga.

b. Lontar Ngeka Dasa Rudra, Geriya Taman Intaran Sanur, menyebutkan : Ngadasa tahun amanca wali Krama ring Basukih; puput panca Wali Krama ping 10 mewasta windu turas, nga. Ring kaping solasniya wawu ngeka dasa rudra rah windu, tenggek windu. .

c. Widhi Sastra Niti Pedanda Sakti Wahu rawuh, antara lain menguraikan bahwa bilamana terjadi “prawesaning jagat rusak” seperti bencana alam, banyak terjadi wabah penyakit patut dilaksanakan upacara Taur Panca Wali Karma di Besakih, dan di batas-batas desa dilaksanakan upacara yang lebih kecil.

d. Lontar Eka Dasa Rudra, Geriya Lod Rurung Riyang Gede, menyebutkan Wusni Eka dasa Rudra, patawurakna Bhuta Panca Wali Krama, lwire amanca desa, pur, da, pas, u, ma. Telasning mangkana Tri Bhuwana, angadegaken sanggar tawang tiga saha panggungan siji sowang, u, ma, da. Wus mangkana patawurakna Gurudya.

e. Lontar Bhama Kretih, menguraikan :”Wusning Eka Dasa Rudra patawurakna bhuta Panca Wali Krama, lwire amanca desa, marep pur, da, pas, u, ma,. I Tlas mangkana muwah patawurakena Tri Bhuwana angadegaken sanggar tawang 3, saha panggungan siji sowang, u, ma, da,. Wus mangkana malih patawurakena Guruniya sanggar tawang 1.

f. Lontar Tingkahing Karya Panca Wali Krama, Geriya Telaga Sanur: menyebutkan : Nihan tingkahing karya Panca Wali Krama keangge ring Negara krama, ring pempatan agung, durung keangge ring parhyangan dewa pacang mahayu jagate ring Bali nganut I sojar ira Sri Jaya Kasunu. Sumber ini menyebutkan Panca Wali Krama untuk tingkat negara karma (desa-desa), tidak digunakan di pura-pura besar seperti Besakih.

g. Purana Pura Agung Besakih, tidak menyinggung periode pelaksanaannya, hanya menguraikan tentang rincian upakaranya yang sedikit berbeda dalam hal binatang korban yang dipergunakan bila dibandingkan dengan sumber-sumber lainnya.

2) Tempat pelaksanaannya.

Tempat pelaksanaan upacara Taur Panca Wali Krama adalah di Bencingah Pura Agung Besakih. Tempat ini diyakini merupakan sentral, oleh karena sesuai dengan struktur pura Agung Besakih, dari tempat ini ke arah bawah disebut soring ambal-ambal” yang melambangkan alam bawah (adhah) yang terdiri atas sapta patala. Sedangkan kearah atas dari bencingah agung disebut luhuring ambal-ambal yang melambangkan alam atas (urdhah) yang terdiri atas saptra loka Disamping Pura Agung Besakih secara umum diyakini sebagai central (madyaning mandala) .

3. BEBERAPA JENIS TAUR PANCA WALI KRAMA

Jenis-jenis upacara Taur Panca Wali Krama:

a. Upacara yang bersifat rutin yaitu ketika tahun saka bilangan satuannya menemui angka nol ( Tenggek windu). Ngadasa tahun amanca wali Krama ring Basukih; puput Panca Wali Krama ping 10 mewasta windu turas, nga. Ring kaping solasniya wawu ngeka dasa rudra rah windu, tenggek windu. (Lontar Ngeka Dasa Rudra, Geriya Taman Intaran Sanur).

b. Panca Wali Krama sebagai penutup Eka Dasa Rudra. (Wusni Eka Dasa Rudra, patawurakna Bhuta Panca Wali Krama, lwire amanca desa, pur, da, pa, u, ma. Telasning mangkana Tri Bhuwana, angadegaken sanggartawang tiga saha panggungan siji sowing, u, ma, da. Wus mangkana patawurakna Gurudya. (Eka Dasa Rudra, Geriya Lod Rurung Riyang Gede, Hal. 9b).

c. Sesuai dengan Lontar Ngeka Dasa Rudra, Geriya Taman Intaran, Sanur, bahwa terkait dengan rangkaian Eka Dasa Rudra, ada Panca Wali Krama di Danu Nyegjegang Bhatari Danu. Diuraikan sebagai berikut : ….. mwah Danu Panca Wali Krama nyegjegang Bhatari Danu nlasang kebo 4, tekaning pangelem.

d. Panca Wali Krama ketika jagat rusak, wenang gelaran Tawur Panca walikrama, sebagaimana disebut dalam lontar Widhi Sastra Niti Pedanda Sakti Wahurawuh:
e. Panca Wali Krama di Negara krama, sebagaimana diuraikan dalam lontar Tingkahing Karya Panca Wali Krama, Geriya Telaga Sanur:

4. RANGKAIAN UPACARA PANCA WALI KRAMA

Sebagaimana biasa diawali dengan ngatur piuning bahwa akan dilaksanakan Taur Panca Wali Krama pada waktunya, dilanjutkan dengan Nuwasen Karya yang disertai dengan nunas tirta pengandeg untuk disiratkan di setra. Dilanjutkan dengan rangkaian-rangkaian persiapan lainnya seperti memineh empehan, membuat madu parka, nanding catur, nanding bagia pulakerti, nyukat genah, nunas tirtha penyaksi karya, dll. Rangkaian lainnya adalah melaksanakan upacara melasti, yang perjalanannya mengikuti rute tertentu sesuai dengan tradisi. Sehari sebelum puncak upacara dilaksanakan upacara Mepepada, dan sore harinya upacara menben. Pada puncak Taur Panca Wali Krama, juga disertai dengan Upacara Padanan, Upacara di Ayun Widhi, pemujaannya dilaksanakan dari Bale Gajah, dan Upacara Tedun ke Paselang bertempat di Bale Paselang Penataran Agung. Tiga hari setelah puncak Taur Panca Wali Krama ditutup dengan upacara Pangremekan. Setelah itu menyusul rangkaian upacara Bhatara Turun Kabeh seperti biasa. Rangkaian terakhir adalah Upacara Penyineban yang disertai dengan melaksanakan tirta panglebar dan akhirnya ditutup dengan upacara Mejauman.

5. UPAKARA TAUR PANCA WALI KRAMA

Sesuai dengan lontar Ngeka Dasa Rudra, Geriya Taman Sanur, bahwa Taur Panca Wali Krama di Besakih yang dilaksanakan dalam siklus sepuluh tahunan sekali merupakan satu kesatuan dengan Candi Narmada, Panca Wali Krama di Danu (Nyegjegang Bhatari Danu), Eka Dasa Rudra, Tri Bhuwana dan Eka Bhuwana yang dilaksanakan dalam siklus seratus tahunan sekali.

Dalam satu paket upakara Eka Dasa Rudra dengan rangkaiannya menghabiskan kerbau sebanyak 45 ekor yaitu: rangkaian upacara yang pertama adalah Candi Narmada menghabiskan 5 ekor kerbau, diikuti dengan Panca Wali Krama di Danu, menghabiskan 4 ekor kerbau, dilanjutkan dengan Eka Dasa Rudra menghabiskan 26 ekor kerbau, diikuti lagi dengan Panca Wali Krama, menghabiskan 4 ekor kerbau, setelah itu Tri Bhuwana menghabiskan 4 ekor kerbau dan sebagai rangkaian terakhir Eka Bhuwana menghabiskan 2 ekor kerbau. Tampaknya standar yang dipergunakan dalam upakaranya ditentukan berdasarkan jumlah kerbau yang dipergunakan, tentunya yang lain akan menyesuaikan, seperti banyaknya bebangkit, catur, suci, padudusan agung, dan sebagainya.
Uraian tentang upakara Taur Panca Wali Krama disini tidak dimaksudkan secara teknis dan mendetail, melainkan akan dikemukakan beberapa kelompok upakara yang dipandang menonjol untuk pengkajian lebih lanjut tentang makna filosofisnya. Beberapa kelompok upakara tersebut adalah :

a. Upakara di sanggar Tawang, Akasa dan Pertiwi.
1) Upakara di Sanggar Tawang : Banten yang utama adalah catur, suci, dewa-dewi, dilengkapi pula dengan siwa bahu, pucuk bahu, gana pikulan, panca saraswati, wedya, serta kelengkapan lainnya. Sanggar tawangnya sendiri seperti biasa dihias dengan dahuduh dan peji.

2) Upakara di Sanggar Luhuring Akasa. Memakai Bebangkit putih dengan ulamnya itik putih.

3) Upakara untuk Ibu Pertiwi. Bebangkit ireng (merah ?),dengan ulam babi.
Ketiga kelompok upakara ini tampaknya juga memiliki makna untuk pelestarian ketiga alam tersebut. Untuk mencapat kesejahtraan hidup di dunia ini patut di dukung dengan kelestarian dan keharmonisan alam bawah dan alam atas, yang dikiaskan sebagai bapa akasa dan ibu pertiwi .

b. Upakara di panggungan,
Upakara di panggungan yang terletak pada empat penjuru mata angin (nyatur desa) berupa bebangkit agung masing-masing 1 pasang yaitu memakai ulam itik dan satu lagi memakai ulama bawi, dengan warna sesuai dengan kiblatnya. Kelengkapan lainnya tentu saja tidak dapat dilepaskan adanya gayah utuh, karena tingkat bebangkitnya yang diperguanakan adalah bebangkit agung.

Sedangkan panggungan yang di tengah memakai bebangkit agung 5 buah (manca warna).
Pada masing-masing panggungan juga dilengkapi dengan penjor, di dalam lontar disebutkan : penjorniya petung kinerik denabersih plawaniya andong, paku saji, sinwi wangun pramangke, masurat sanjata paideran.

c. Upakara tawur dengan kelengkapannya.

1) Upakara tawur Panca Wali Krama yang biasa diperguanakan di Bencingan Pura Agung Besakih adalah dalam tingkatan yang utama yaitu dengan “lawa tiga”, (tiga lapisan), bawah (adhah), tengah (madya) dan atas (urdhah). Ketiga lapisan taur tersebut ditandai dengan memakai masing-masing tiga jenis binatang korban pada kelima penjuru: mulai dari timur, selatan, barat, utara dan tengah masing sebagai berikut: lawa paling bawah (adhah) memakai ayam putih, merah, kuning (putih siyungan), hitam dan brumbun. Pada lawa yang ditengah (madya) bertutur-turut menggunakan : angsa, asu bang bungkem, banyak, bawi butuan serta itik belang kalung. Pada lawa yang paling atas (urdhah) terdiri dari: sapi (lembu), kidang, menjangan, kebo serta kambing belang.

Tiga lapisan upakara taur ini mungkin juga ada kaitannya dengan pelestarian tiga lapisan alam semesta yaitu alam bawah, tengah dan atas.

2) Upakara Tri Samaya di sanggar suku tiga

Upakara yang dikenal dengan “tri semaya” ditempatkan pada tempat khusus berupa sanggar suku tiga mengingatkan kita pada ceritra Dewa Wisnu ketika mengalahkan raksasa Bali dengan melangkahkan kakinya (sukunya) pada tiga dunia ini. Apakah ada korelasi makna upakara ini dengan pelestarian tiga alam bhur, bhwah dan swah menarik untuk kita kaji bersama. Inti upakaranya adalah bebangkit.

3) Upakara Panunggun Tawur,
Diantaranya memakai daksina sarwa 7, beras 7 catu, bebangkit, serta kelengkapan upakara lainnya

4) Upakara lantaran bhatara
Upakara ini diletakkan di sor sanggar tawang yang ada di tengah, yang utama memakai kebo yosbrana dengan kelengkapan upakaranya, seperti cau-cau, kekuduk, pering, bebangkit, dan lain-lain, disertai pula dengan upakara Yama Raja, yang memakai sarana tepung sebagai alas untuk menuliskan aksara-aksara suci simbul Yama Raja. Alat penulisnya menggunakan duri pohon bila.

d. Upakara di tempat pemujaan.
Upakara yang utama disini adalah upakara-upakara yang bersifat menyucikan yang utama adalah padyus-dyusan (padudusan agung) dengan tirtha nawa ratna, dan berbagai jenis tirtha penyucian lainnya .

e. Upakara Padanan.
Khusus untuk padanan merupakan satu kesatuan tersendiri karena lengkap dengan Sangar Tawangnya, disertai dengan upakara di Bale Padanan, serta upakara caru dalam tingkat “wrhaspati kalpa” (Memakai sarana ayam lima warna dan asu bangbungkem, diletakkan di arah barat daya (Kelod kauh).

f. Upakara Ayun Widhi,
Upacara di Ayun Widhi juga meliputi tiga unsur, yaitu upakara di luhur yang ditempatkan di Sanggar Tawang lengkap dengan Sanggar Akasa dan Pertiwinya. Upakara di madia, yaitu upakara-upakara di bale panggungan, yang terdiri dari bebangkit agung beserta gayah utuhnya. Dan upakara di sor adalah caru di sor sanggar tawang yang merupakan dasar dari lantaran Ida Bhatara.

g. Upacara tedun ke Paselang.
Paselang juga merupakan satu kesatuan upakara yang terdiri dari upakara di Sanggar Tutuwan, upakara lantaran di sor dan upakara di Bale Paselang. Upakara di Bale paselang yang menonjol adalah pemujaan kehadapan Sanghyang Semara Ratih, yang disertai pula dengan upacara “Majijiwan”

Makna upakara secara umum diuraikan dalam lontar Tingkahing Karya Panca Wali Krama Geriya Telaga Sanur sebagai berikut
Apan pabanten pinaka sarira bhatara, Ikang Sanggar Tawang pinaka Siwalingga Bhatara, bantene ring panggungan agung pinaka Bahuangga Bhatara, Ikang paselang pinaka Jagana bhaga-purus Bhatara Ikang caru sor pinaka Suku delamakan Bhatara,.
Semua binatang korban yang dipergunakan dalam kelompok-kelompok upakara tersebut ditekankan yang masih muda, tidak cacat, dan khusus untuk binatang yang berkaki empat agar belum “metelusuk” dan umurnya telah lewat 6 bulan

Dalam rangkaian taur Panca Wali Krama dan Bhatara Turun Kabeh tahun ini semua pura Pedharman diharapkan agar ikut ngiringang Ida Bhatara melasti ke segara Klotok, dan nyejer sebisanya, sebagai wujud ikut “ngertiyang karya agung ini”.Selanjutnya untuk upakara dalam hubungan dengan Bhatara Turun Kabeh, pada dasarnya berlaku seperti biasa karena telah rutin dilaksanakan setiap tahun sekali. Tidak ada kekhusan walaupun diawali dengan taur Panca Wali Krama.

6. PENUTUP

Demikianlah sekilas tentang taur Panca Wali Krama yang akan dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2009 di bencingah Pura Agung Besakih. Semoga dengan dukungan seluruh umat untuk ikut melaksanakan yasa kirti dengan setulus-tulusnya Karya Agung Panca Wali karma dan Bhatara Turun Kabeh yang kebetulan bertepatan dengan pelaksanaan pemilu Legeslatif 9 April 2009 akan dapat berjalan dengan baik dan lanjur.

Jakarta, 21 Febroari, 2009

Tjokorda Raka Krisnu

http://beritakarangasem.blogspot.com/2009/03/makna-panca-wali-krama.html

 

Barong Landung dan Sejarahnya

Posted by Adnyana under Budaya Bali

Barong Landung

APAKAH pada hari raya Galungan yang lalu ada Barong Landung yang ngelawang di daerah Anda? Atau ada rencana Barong Landung itu akan ngelawang di hari Kuningan nanti? Barangkali sebagian besar masyarakat Bali tidak menemukan ada Barong Landung yang berkeliling di desa-desa. Bahkan, banyak anak muda di Bali saat ini yang tidak tahu keberadaan Barong Landung. Memang Barong Landung termasuk kesenian langka, lagi pula sakral.

Dulu, Barong Landung ngelawang (berkeliling) ke desa-desa. Desa yang tidak mempunyai Barong Landung jadi tahu wujud barong itu. Tujuan ngelawang adalah mengusir wabah penyakit. Kini, zaman sudah berubah. Penyakit tidak lagi datang dari manusia sakti(kurang kerjaan membikin orang lain sakit), penyakit datang dari hewan, misalnya, nyamuk demam berdarah. Pun yang ngelawang sekarang ini adalah mobil Puskesmas Keliling.

Barong Landung sesuai dengan namanya adalah barong yang jangkung (landung dalam bahasa Bali). Untuk lebih mudahnya diingat, Barong Landung mirip ondel-ondel di Jakarta. Penari hanya seorang diri, mengusung barong jangkung itu dan ia melihat ke luar dari perut barong yang diberi lubang. Wajah barong tidak seperti Barong Ket yang lebih menyerupai hewan. Wajah Barong Landung mirip manusia. Ada sepasang lelaki dan perempuan. Barong Landung laki-laki biasa disebut Jero Gede, berwajah hitam. Sedangkan Barong Landung perempuan yang biasa disebut Jero Luh, berwajah putih. Warna-warna ini adalah simbol. Begitu pula perwajahan itu adalah simbol.

Simbol apa? Tergantung legenda apa yang melekat pada Barong Landung tersebut. Nah, di sinilah uniknya Barong Landung, tidak punya keseragaman legenda, sehingga agak sulit untuk mengusut kapan sebenarnya kesenian sakral itu lahir dan untuk simbol apa dilahirkan.

Barong Landung di Kabupaten Klungkung umumnya mengambil simbol Ratu Gede Mecaling yang berstana di Nusa Penida. Alkisah, tersebutlah di suatu masa, wabah penyakit melanda desa-desa di Bali. Ini tak lain dari ulah anak buah Ratu Gede Mecaling yang tanpa restu dari Sang Raja Nusa ini. Para pendeta di Bali berkumpul, bagaimana mengusir wabah. Lalu dibuatlah patung yang tinggi besar, berwajah hitam dan bertaring, simbol dari Jero Gede Mecaling atau Ratu Mecaling. Patung ini kemudian diarak ke berbagai desa (ngelawang), sehingga makhluk halus anak-buah Ratu Gede Mecaling itu ketakutan karena mengira rajanya yang datang. Maka sirnalah penyakit itu dan masyarakat menjadi tenteram. Untuk penghormatan kepada patung tiruan Jero Gede Mecaling itu dibuat kemudian pasangannya, berwajah putih, lalu disebut Jero Luh. Nah, kedua Barong Landung ini selalu diarak berkeliling desa jika ada wabah penyakit.

Barong Landung di Bangli lain lagi legendanya. Kisahnya diambil dari hikayat Sri Jaya Pangus, raja Bali dari dinasti Warmadewa. Kerajaannya berpusat di Panarojan, sebelah utara Kintamani. Sri Jaya Pangus melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni mengawini putri Cina yang bernama Kang Cing Wei. Raja Jaya Pangus tetap ngotot kawin meski tak direstui pendeta kerajaan, Mpu Siwa Gama. Akibatnya, sang pendeta marah, lalu menciptakan hujan terus menerus, hingga seluruh kerajaan tenggelam.

Jaya Pangus tetap melawan. Kerajaan dipindahkan ke tempat lain. Nama itu disebut Balingkang (dari kata Bali ditambah Kang, nama depan istrinya), dan rakyat menyebut rajanya dengan Dalem Balingkang. Sayangnya, pasangan ini tidak mempunyai keturunan. Dalem Balingkang kemudian memohon kepada dewa-dewa yang bersemayam di Gunung Batur agar dikaruniai anak. Tapi bukan anak yang didapat, Dalem Balingkang justru terpicut dengan kemolekan seorang putri yang dijuluki Dewi Danu. Dalem pun terpikat, lalu kawin diam-diam tanpa sepengetahuan Putri Kang.

Sementara itu, Kang Cing Wei tentu saja gelisah ditinggal suaminya berlama-lama. Ia pun menyusul ke Gunung Batur. Di tengah hutan belantara yang hebat, Putri Kang terkejut menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu. Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit.

Dengan kekuatan gaibnya, Dewi Danu mengalahkan Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei hingga hilang ditelan bumi. Meskipun hilang tanpa bekas, rakyat tetap mencintai Dalem Balingkang dan Putri Kang, lalu dibuatkan patung sebagai simbol keduanya. Kedua patung inilah yang kemudian berkembang menjadi Barong Landung. Karena itu kalau kita perhatikan wajah Jero Luh beserta asesoris busananya, masuk budaya Cina di sini.

Bagaimana dengan Barong Landung yang ada di kabupaten lainnya? Mungkin legendanya berbeda. Di Desa Pakraman Sesetan, tepatnya di Banjar Lantang Bejuh, ada barong Landung yang amat disakralkan. Tak sembarang waktu bisa dipentaskan. Karena itu sulit untuk mengetahui bagaimana asal-usul Barong Landung ini.

Tentu mustahil untuk menjadikan Barong Landung keluar dari pakem kesakralannya. Kalaupun ada kemauan seperti itu, misalnya, meniru Barong Ket yang bisa dikomersialkan sebagai hiburan pop, gerakannya sangat terbatas. Memang, katanya ada Barong Landung yang tidak hanya sepasang, tetapi lebih dari dua, dan bisa mementaskan lakon seperti arja. Apakah generasi muda Bali tertarik dengan Arja Barong Landung? Jauh rasanya, arja yang bergerak bebas saja sudah ditinggalkan penonton, apalagi arja yang bertopeng barong.

* Putu Setia

http://okanila.brinkster.net/raditya/BaliShowfull.asp?ID=189

Barong Landung bukan sekadar Sejarah

PENGGALAN gending bebarongan tersebut biasa dinyanyikan oleh dua pemundut Barong Landung saat ngelawang berkeliling desa. Umat menurunkan sasuhunan — berupa Barong Landung tersebut — dari pura untuk menari di sepanjang jalan desa dengan harapan tarian itu akan menimbulkan energi gaib, semacam tenaga baru, seperti yang dilakukan Dewa Siwa dengan tarian dandawa-nya untuk mengembalikan roh kehidupan yang diambil oleh para bebutan.

Barong Landung adalah pralingga, sekaligus perisai bagi desa-desa yang terancam kegeringan. Bahkan di banyak tempat, Barong Landung dipuja sebagai simbol sejarah yang sangat kelam di masa lalu. Kisah yang bersumber ketika Sri Jaya Pangus, raja Bali dari dinasti Warmadewa, kerajaannya berpusat di Panarojan — tiga kilometer di sebelah utara Kintamani. Sri Jaya Pangus dituduh telah melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni telah dengan berani mengawini putri Cina yang elok bernama Kang Cing Wei. Meski tidak mendapatkan berkat dari pendeta kerajaan, Mpu Siwa Gama, sang raja tetap ngotot tidak mau mundur. Akibatnya, sang pendeta marah, lalu menciptakan hujan terus menerus, hingga seluruh kerajaan tenggelam.

Dengan berat hati sang raja memindahkan kerajaannya ke tempat lain, kini dikenal dengan nama Balingkang (Bali + Kang), dan raja kemudian dijuluki oleh rakyatnya sebagai Dalem Balingkang. Sayang, karena lama mereka tidak mempunyai keturunan, raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di sana agar dianugerahi anak. Namun celakanya, dalam perjalanannya ia bertemu dengan Dewi Danu yang jelita. Ia pun terpikat, kawin, dan melahirkan seorang anak lelaki yang sangat kesohor hingga kini, Maya Danawa.

Sementara itu, Kang Cing Wei yang lama menunggu suaminya pulang, mulai gelisah, Ia bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun di sana, di tengah hutan belantara yang menawan, iapun terkejut manakala menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu. Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit.

Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja telah membohongi dirinya dengan mengaku sebelumnya sebagai perjaka. Dengan kekuatan gaibnya, Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dilenyapkan dari muka bumi ini. Oleh rakyat yang mencintainya, kedua suami istri — Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei — itu lalu dibuatkan patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung inilah kemudian berkembang menjadi Barong Landung.

Perkawinan Budaya

Tapi Barong Landung ternyata lebih dari sekadar kisah sejarah. Ia bukan saja perkawinan lahiriah, tetapi juga budaya. Pernik-pernik budaya Cina seperti pis bolong, patra cina, barong sae, telah lama dikawinkan dengan budaya Bali, bahkan dalam bidang filsafat telah pula melahirkan paham Siwa Budha yang terus memperkaya tradisi agama Hindu sampai sekarang di Bali.

Juga, Barong Landung bukanlah sekadar penghias pura, ia adalah duwe dengan segala perwujudannya yang sangat keramat. Ia dibuat pada dewasa ayu kilang-kilung, dari kayu bertuah seperti pule, jaran, waruh teluh, kepah, kapas, dan “dihidupkan” dengan ritual prayascita serta di-plaspas untuk menghapuskan papa klesa secara sekala niskala. Di sini, ia pun diberi pedagingan berupa perak, emas, dan tembaga, juga pudi mirah (sejenis permata) yang dipasangkan di ubun-ubun lengkap dengan rerajahan-nya — ang, ung, dan mang.

Setelah seluruh bagian tubuhnya disatukan dalam upakara masupati yang dipermaklumkan oleh sulinggih, pemangku, maupun sangging ke hadapan Dewa Surya, Siwa, dan Sapu Jagat, Barong Landung lalu dibawa ke tengah kuburan. Di situ, di tengah kegelapan malam kajeng kliwon, pemundut harus duduk di atas tiga tengkorak manusia sambil meneguhkan hatinya untuk menerima ritual yang paling mengguncangkan, yaitu masuci dan ngerehin.

Biasanya, jika Barong Landung ini sudah kalinggihin, akan ada pertanda jatuhnya kilatan cahaya gaib ke tubuh pemundut hingga ia kesurupan, dan Barong Landung pun menjadi terguncang-guncang tanpa kendali. Jika hal ini terjadi, maka Barong Landung telah dianggap “hidup” dan pantas diberi gelar Jro Gde untuk barong laki-lakinya dan Jro Luh untuk wanitanya.

Jro Gde memiliki tubuh hitam, rambut lurus lebat, mata sipit, gigi jongos, dan memakai keris. Sedangkan Jro Luh bertubuh ramping, putih seperti layaknya wanita Cina, dan memakai kebaya Cina. Kedua tangan kiri barong ini ditekuk ke pinggang, yang oleh pengamat kebatinan diyakini sebagai sikap pengendalian diri, mengingat kiri sama artinya dengan pengiwa. Lawan pengiwa adalah penengen — tangan kanan, yang sengaja dibuat lurus sebagaimana jalan kebenaran.

Sejarah Munculnya

Namun, kapan sesungguhnya Barong Landung tersebut muncul? Ini yang masih banyak dipertanyakan. Pada pemerintahan Dalem Waturenggong, abad ke-16, seni dan budaya Bali telah mencapai puncaknya. Kala itu telah diciptakannya relief Boma, yang kemudian menjadi tapel Barong Ket. Di samping itu pula terdapat tulisan Banaspati dan Calonarang, keduanya menunjuk pada pengertian Barong. Mungkinkah Barong Landung juga diciptakan pada masa ini?

Yang pasti, kemampuan manusia Bali dalam membuat simbol-simbol sudah ada sejak zaman dulu, seperti simbol bade, meru, pratima, rerajahan, warna-warna sakral, banten, sikap tubuh dalam gambar wayang, dan sebagainya. Dalam proses berkarya, biasanya untuk mengagumkan sesuatu, mereka — terutama para undagi, kreator, atau senimannya — sering mewujudkan pujaannya itu jauh lebih besar dari dirinya. Ini semata-mata untuk menunjukkan betapa besar kekuasaan Tuhan, dan betapa kecil dirinya. Dalam Barong Landung ini misalnya, undagi sengaja membuat wujud yang sangat menyeramkan dengan harapan dapat mengimbangi kedahsyatan roh-roh jahat yang sering mengganggu kehidupan di desa-desa.

Menurut Pan Putu Budhiartini dalam bukunya “Rangda dan Barong, Unsur Dualistik, Mengungkap Asal-asal Umat Manusia”, Barong berasal dari Tatwa Kanda Pat Bhuta, tepatnya ada adalah duwe dari Sang Catur Sanak yang mengambil wujud rwa bineda — dua sifat yang berbeda dari laki-perempuan, siang-malam, panas-dingin, dan sebagainya. Yang cair misalnya, kalau dipanaskan oleh api akan menguap ke langit (I Bapa), sedangkan api akan mengendap ke bumi (I Meme). Langit sendiri akan menurunkan hujan untuk menyuburkan bumi dan melahirkan kehidupan.

Jadi, dengan begitu, kemungkinan Barong Landung adalah perwujudan I Bapa dan I Meme. I Bapa sebagai langit diwujudkan dengan warna hitam (Jro Gde), simbol dari Dewa Wisnu yang memelihara dunia, sekaligus Dewa Air yang menghanyutkan segala noda dunia, dan menjadi tirta penglukatan bagi umat manusia. Sedangkan I Meme atau Ibu Bumi (Jro Luh) berwarna putih sebagai Iswara yang sering juga disebut Siwa, maha pelebur segala noda sekaligus sebagai tempat penciptaan. Jadi, Jro Luh adalah Ibu Bumi yang mengandung, memelihara, dan akan mengembalikan lagi isi dunia ke dalam perutNya ketika waktunya telah tiba.

Barong Landung, jika disimpulkan, adalah perwujudan dari sang Maha Pencipta itu sendiri, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang oleh undagi di masa lalu tentu diwujudkan sesuai dengan keadaan zamannya ketika itu, yakni ketika sedang hangat-hangatnya perkawinan antarbudaya Cina dan Bali, termasuk di dalamnya “perkawinan celaka” sang raja dengan putri Cina itu.

Namun, apapun latar belakangnya, Barong Landung adalah mahakarya yang pernah diciptakan oleh para leluhur di Bali. Ia adalah lambang penciptaan (lingga dan yoni) yang oleh ilmuwan Thomas Alfa Edison disebut sebagai unsur positif dan negatif. Diyakini, jika kedua unsur ini bertemu, maka akan menimbulkan energi listrik. Hebatnya, konsep lingga-yoni tercipta jauh sebelum Thomas Alfa Edison lahir.

* pande ketut wena

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2005/3/20/sis1.html