kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for May, 2009

I Made Sukasta Mindhoff, demikianlah nama seorang pria asli Jerman yang saya jumpai di saat upacara pemlaspasan Pura Agung Santi Bhuwana di Brugelette Belgia .  Bli Made, begitu saya memanggilnya, datang ke Pura di Belgia bersama istri tercintanya, yaitu ni nyoman suyadni. Pasangan ini jauh-jauh datang dari Koeln - Jerman ke Belgia di hari senen 18 may 2009, khusus untuk menghadiri upacara pemlaspasan Pura Agung Santi Bhuwana sedari awal hingga proses upacara selesai. setiba di pura mereka langsung turut serta membantu menghiasi Pura dengan “pengangge” hingga Pura tampak cantik dan indah.

Penampilan Bli Made Sukasta dipura dengan Udeng (destar) putih, saput (selimut) putih dan kain mekancut menunjukkan kalau Bli Made Sukasta pastilah sudah terbiasa berpakaian adat bali. Pun demikian ketika di perhatikan bicaranya dalam bahasa Indonesianya yang lancar mengindikasikan kalau bli made sukasta sudah mengenal Indonesia maupun Bali sejak lama.  Ketika bersembahyang “manca muspa” pun bli made cukup lancar melafkan mantra-mantra sembahyang sehingga menunjukkan kalau bli made sukasta memang benar-benar seorang umat Hindu yang taat bersembahyang dan mengerti betul akan agama Hindu. Setiap orang yang ditemuinya di Pura Agung Santi Bhuwana Belgia di sapanya dengan panganjali “Om Swastyastu” dan di akhiri dengan kalimat penutup “matur suksme”. Sehingga membuat orang yang baru mengenalinya menjadi terkagum-kagum dan ingin menanyainya lebih jauh,  dimana bli made sukasta belajar semua ini seperti bahasa indonesia, memiliki nama bali, dan agama hindu.

Menurut penuturan Bli made Sukasta, kecintaannya yang sangat besar akan Hindu berawal dari kunjungannya ke bali untuk pertama kalinya di tahun 1987  ketika masih sebagai  mahasiswa dengan nama asli Ralph Mindhoff. Sekembalinya ke Jerman, Ralph langsung beli tiket untuk berkunjung ke bali lagi, adapun alasannya karena sangat merindukan Bali dan orang-orang yang pernah dikenalnya selama di bali.

Tahun 1988 Ralph memutuskan untuk menetap di Bali dan bekerja di salah satu Hotel yang ada di Bali. Saat itu Ralph sering pergi bersama karyawan hotel lainnya untuk bersembahyang ke Pura - Pura di Bali. Ketika temannya mengadakan upacara agama potong gigi, Ralph pun tertarik untuk ikut serta dalam upacara potong gigi tersebut, walaupun saat itu Ralph masih belum memeluk agama Hindu. Namun hati dan perasaan Ralph sudah merasa cocok dengan agama hindu dan adat istiadat di Bali.


Seiring berjalannya waktu, ketika Ralph masih bekerja di Hotel di Bali dan sebagai manager restorant, Ralph bertemu dengan ni nyoman suyadni yang bekerja sebagai salah satu karyawannya. Karena seringnya mereka bertemu di tempat bekerja membuat keduanya saling jatuh cinta hingga akhirnya mereka melanjutkan  ke jenjang pernikahan tanggal 18 Juli 1989 dengan upacara pernikahan adat bali.  Di saat itu pula Ralph langsung memeluk agama Hindu, dengan upacara sudi wadani dipimpin oleh ida Pedanda Bagus mantra, yang pada saat itu menjabat sebagai kepala Hindu Dharma Bali. Ralph pun akhirnya berganti nama menjadi I Made Sukasta Mindhoff.

Menurut penuturan Made Sukasta, dalam perjalanannya sebagai seorang pemeluk hindu yang baru, bimbingan rohani ayahnda dari istri tercinta Made Sukasta, sangatlah besar, di samping karena mertua dari Made Sukasta  adalah sebagai seorang Pemangku di Pura Puseh Adat Mengening Cemagi, juga karena beliau aktiv dan berdisiplin dalam menjalankan ajaran agama hindu. Setiap malam sepulang kerja  made Sukasta sering diajak berdiskusi oleh mertuanya untuk lebih mengenalkan tentang ajaran agama Hindu dengan tiga kerangka Hindunya yaitu Tatwa, Susila, dan Upakara, misalnya upacara adat di bali dan mantra-mantra sembahyang dalam hindu.

di tahun 1991, Karena berbagai pertimbangan dan alasan tertentu,  made Sukasta akhirnya memutuskan untuk kembali ke jerman bersama istrinya  membangun bantera hidup di Jerman.  hingga akhirnya pasangan ini di karuniai dua putri cantik yang bernama Sri Rahayu Sarah yang terlahir di tahun 1991 dan Kadek Ratna Sari Sabrina di tahun 1996. Walaupun kedua anaknya terlahir dan besar di jerman, tradisi dan upacara agama hindu selalu dilangsungkan terhadap kedua putrinya, mulai dari upacara “nutug gambuhin 42 hari”, upacara “telu bulanan” hingga upacara “potong gigi” yang akan di langsungkan 13 Juli 2009 ini di Bali.

Tradisi bali

Walaupun hidup di negeri Jerman yang serba modern, namun kecintaan yang mendalam akan bali dan agama Hindu membuat pasangan Made Sukasta Mindhoff dan Nyoman Suyadni Mindhoff di tahun 2001 mendirikan sanggar tari dan gamelan yang bernama “Bali Puspa” . menurut penuturan Ni Nyoman Suyadni Mindhoff, adapun alasan mendirikan sanggar Bali Puspa di Koeln Jerman adalah dengan maksud selain untuk mempromosikan kepada masyarakat eropa tentang budaya Bali juga untuk “meyadnya” melestarikan dan menyebar luaskan kebudayaan bali seperti seni tari dan gamelan dengan mengajarkannya kepada masyarakat yang ada di eropa, bahwa hari-hari yang kita lewati seyogyanya tidak hanya dengan selalu bekerja tapi juga di imbangi dengan berkesenian.  Niat yang luhur untuk “meyadnya” mendirikan Sanggar Tari dan Gamelan Bali Puspa di Koeln Jerman akhirnya berbuah manis , terbukti dengan banyaknya peminat orang jerman untuk bergabung dengan sanggar gamelan dan banyaknya minat para orang tua jerman untuk mengirimkan anaknya ke sanggar tari bali Puspa untuk latihan menari di bawah asuhan Nyoman Suyadni Mindhoff, seperti tampak di foto berikut:

di tahun 2004 ketika pasangan Made Sukasta Mindhoff dan Nyoman Suyadni membeli rumah di Koeln, suasana dan tradisi adat seperti di bali tetaplah di lestarikan di Koeln. Sebagaimana sering di jumpai di bali di saat menempati  rumah baru di awali dengan upacara pembersihan dan pemlaspasan, upacara inipun dilangsungkan oleh keluarga Mindhoff ini dengan mendatangkan pemangku yang juga mertuanya di tahun 2005, sekaligus mengadakan upacara pemlaspasan Pura yang di bangun di dalam rumahnya, seperti tampak di foto berikut.

Akhir kata, sebagai orang bali yang merantau di Jerman, saya bersyukur bertemu dan kenal dengan pasangan I Made Sukasta Mindhoff dan Ni Nyoman Suyadni Mindhoff, karena pasangan ini walaupun hidup jauh dari Bali tapi masih memegang teguh prinsip ajaran agama hindu beserta tradisi adat istiadat bali di jerman. Prinsip ajaran agama dan kebudayaan bali tidak hanya di tanamkan kepada keluarganya sendiri melainkan juga kepada masyarakat yang ada di eropa melalui sanggar tari dan gamelan Bali Puspa. saya panjatkan puji syukur kehadapan ida Sang Hyang Widi Wasa, semoga I Made Sukasta Mindhoff  beserta keluarga selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Kepada pembaca artikel ini yang tertarik berkenalan lebih lanjut dengan keluarga I Made Sukasta Mindhoff dan Nyoman Suyadni Mindhoff, bisa di hubungi di website berikut:

http://www.balipuspa.de

atau berkenalan langsung dengan beliau di saat berlangsungnya upacara yadnya potong gigi putri-putri  beliau di denpasar bali:

Waktu: Senen, 13 Juli 2009

Alamat: Banjar Mengening, Desa Cemagi, Munggu, Denpasar

Hari Senin Umanis Medangkungan yang jatuh pada tanggal 18 May 2009 merupakan hari bersejarah bagi umat Hindu Dharma yang berdomisili di Belgia pada khususnya atau umat Hindu yang berdomisili di Eropa pada umumnya, karena pada hari tersebut berlangsung upacara suci pemlaspasan Pura Agung Santi Bhuwana yang berlokasi Taman Wisata Burung Parc Paradisio di Brugelette Belgia.

Adapun makna dari nama Pura Agung Santi Bhuwana adalah sebuah tempat yang Agung dan mulia untuk memuja Tuhan (ida Sang Hyang Widi Wasa) yang menyebabkan alam semesta ini harmonis, damai dan sejahtera.

Pemlaspasan Pura ini merupakan bagian dari satu rangkaian acara Peresmian Taman Indonesia (The Kingdom of Ganesha ), yaitu sebuah Kompleks Taman Indonesia seluas 5 hektar di dalam area Taman Wisata Parc Paradisio yang berukuran 55 hektar.  Peresmian acara ini di hadiri oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Jero Wacik yang didampingi oleh Duta Besar RI untuk Belgia, Luxemburg dan Uni Eropa, Nadjib Riphat Kesoema,  Direktur Jenderal Pemasaran Pariwisata, Dr Sapta Nirwandar, Staf Ahli Khusus Menbudpar Harbunangin,  Menteri Urusan Ekonomi, Tenaga Kerja dan Warisan Budaya Wilayah negara bagian Walonia-Begia, Jean Claude Marcourt, serta CEO Parc Paradisio yang juga merupakan pemilik dari Taman Wisata Parc Paradisio Mr. Eric Domb.

Peresmian acara ini di hadiri lebih dari 800 undangan, serta lebih dari 100 umat Hindu yang datang tidak hanya dari Belgia melainkan dari negara tetangga juga seperti Belanda, Jerman, dan Perancis, memadati pelataran Taman Indonesia serta Pelataran Jaba Pura, selain di isi oleh sambutan dari para undangan juga digelar Tari-Tarian dari sanggar Tari dan Gamelan Saling Asah pimpinan Made Agus Wardana. Di salah satu persembahan tarian yang di peragakan oleh istri dari Made Agus Wardana, Pak Mentri Jero Wacik turut berpartisipasi menyumbangkan keahlian / hobby beliau megambel bersama anggota sekehe gong Saling Asah yang membuat decak kagum para pengunjung.

Selain berpartisipasi megambel pada saat acara hiburan, sebelumnya pada saat acara pembukaan Pak Jero Wacik selaku menteri Pariwisata juga memberikan sambutan yang intinya beliau mengatakan: “Taman Indonesia di Belgia ini, tidak hanya pintu dan jendela untuk mengenal Indonesia tapi juga sebuah penghargaan dan kehormatan bagi bangsa Indonesia di Eropa ini”, pun demikian dengan Dubes RI Brussels, Nadjib Riphat Kesoema dalam sambutannya mengatakan proyek Taman Indonesia yang digagas Mr. Eric Domb di Belgia tidak hanya mendekatkan masyarakat Eropa pada Indonesia, tapi juga merupakan pengakuan bahwa Indonesia memiliki keunikan yang menarik bagi dunia dan menjadi perhatian bangsa lain.

Lebaih lanjut Pak Dubes mengatakan, memasuki peringatan 60 tahun dibukanya hubungan diplomatik Indonesia-Belgia di tahun 2009, kerja sama KBRI Brussels dengan Eric Domb (Parc Paradisio) selama ini membuahkan hasil yang istimewa. Taman Indonesia benar-benar terwujud berkat kecintaan seorang Eric Domb terhadap Indonesia, ujar Dubes.

Parc Paradisio

Parc Paradisio, dibangun di tahun 1993 di tengah sisa bangunan kastil tua (chateau) , yang di awal pendiriaannya merupakan sebuah taman wisata burung, namun dalam perjalanannya berkembang tidak hanya menjadi taman wisata burung melainkan juga menjadi taman konservasi flora dan fauna, dengan koleksi sekitar 3500 species binatang dan sekitar 1.500-an species tanaman dan tumbuhan. Uniknya jenis tumbuhan yang ada di taman Parc paradisio tidak hanya jenis tanaman yang biasa di jumpai di negara bermusim dingin melainkan juga ada jenis tanaman tropis seperti pohon pisang  yang banyak di jumpai di Indonesia.

Parc Paradisio di samping giat berburu segala jenis tumbuh-tumbuhan dari berbagai dunia untuk di tanam di areanya, yang di komandoi oleh Direktur Botanical Mr. Bertrand Pettiaux, Parc Paradisio juga giat berburu segala jenis binatang dunia untuk di lestarikan di areanya, yang di pimpin oleh Direktur Zoological + Scientific  Dr. Steffen Petzwall . Oleh karenanya Parc Paradisio saat ini merupakan anggota asosiasi kebun binatang se-Eropa. Namun demikian, menurut penuturan pemilik Parc Paradisio Mr. Eric Domb, beliau lebih suka menyebut Parc Paradisio bukan sebagai sebuah kebun binatang (Zoo Parc), melainkan lebih tertarik menyebutnya dengan nama “Emotion Park“. Kata “Taman Emosi/Kejiwaan” lebih tepat menggambarkan perasaan yang ada di dalam hati para pengunjung ketika di ajak kembali ke alam mengunjungi dan mengelilingi Taman ini, karena perasaan seperti itulah yang di dapati oleh Mr. Eric Domb ketika pertama kali mengunjungi taman ini di tahun 1992 hingga akhirnya memutuskan untuk menghabiskan seluruh sisa hidupnya di taman ini yang akhirnya di beri nama Parc Paradisio.

Sejak tahun 2000 Parc Paradisio, tidak saja menjadi menjadi pusat rekreasi yang menawarkan keakraban alam, tumbuhan, binatang, dan manusia tapi juga taman budaya yang mengibarkan promosi permanen bagi pariwisata, dengan menampilkan miniatur dari kebudayaan yang unik dari berbagai negara di belahan dunia ini. dimulai dengan di bangunnya Taman Wisata China (Chinees Garden) yang pembangunannya selesai di tahun 2005, kemudian di tahun 2006 di susul dengan pembangunan Taman Wisata Indonesia (Indonesian Garden), yang mana di dalamnya  berdiri Pura Bali yang bernama Pura Agung Shanti Buwana, yang ukurannya sama sebesar ukuran pura besar di Bali. Uniknya disini Pura Agung Shanti Buwana di bangun di atas tanah sawah bertingkat, terasering (berundagi / pundukan) seperti persawahan yang ada di bali, seperti tampak di gambar berikut. disamping itu berdekatan dengan Pura terdapat candi besar yang mirip candi Prambanan dengan Roro Jongrang yang menjulang tinggi.

Di dalam kompleks Taman wisata Indonesia, disamping terdapat Pura Bali, juga terdapat Rumah Toraja, replika Candi Borobudur dan rumah tradisional besar ala Nusa Tenggara Timur berderet melingkari ujung taman. keseluruhan bangunan tradisional Indonesia sepertinya memindahkan sebagian miniatur ciri khas dan identitas Indonesia  dengan segala  keaneka ragaman adat istiadatnya dari sabang sampai merauke, di tampilkan mirip seperti Taman Mini Indonesia Indah yang ada di Jakarta.

Beragam arca dewa - dewi Hindu, patung-patung gajah serta lambang dewa Ganesha, hampir terdapat di setiap sudut taman indonesia ini.  Dewa Ganesha, yang dalam kebudayaan hindu adalah putra dewa Syiwa Parwati, yang selain melambangkan sebagai dewa ilmu pengetahuan juga sekaligus melambangkan dewa dari semua makhluk.  Menurut Direktur Zoological + Operational Parc Paradisio  Dr. Steffen Petzwall, didalam kehidupan nyata di dalam hutan, hewan Gajah yang walaupun ukurannya besar namun tidak membahayakan dan bahkan bersahabat. Pesan inilah yang ingin di sampaikan kepada para pengunjung yang mengunjungi komplek Taman Indonesia (Indonesian Garden) dengan menggunakan lambang Ganesha sebagai “icon” dari Indonesian garden ini, sehingga di sebutnya kompleks “The Kingdom of Ganesha”. untuk menyampaikan makna yang tersirat dari dewa Ganesha kepada para pengunjung, selain di tempatkannya banyak patung gajah dan ganesha, juga di buatkanlah kandang Gajah berikut tempat untuk demonstrasi di area Taman Indonesia ini. Dan saat ini sudah terdapat 2 gajah pejantan pinjaman dari kebun binatang Belanda, dan dalam waktu dekat di Parc Paradisio juga akan didatangkan 2 gajah betina asli dari Sumatera pemberian pemerintah Indonesia. Sehingga kedepannya keberadaan gajah di Parc Paradisio bisa di kembang biakkan, dan para pengunjung bisa lebih banyak memiliki kesempatan untuk beriteraksi langsung dengan leluasa dengan para gajah yang ada. Sehingga keberadaan patung gajah, patung dewa Ganesha, hewan Gajah, dan agama Hindu, tampak menjadi suatu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan dengan keberadaan Pura Agung Santi Bhuwana.

Sejarah Pendirian Pura Agung Santi Bhuwana di Parc Paradisio

Menurut penuturan, Dr. Steffen Petzwall Direktur Zoological + Scientific, yang juga merangkap Direktur operational Parc Paradisio, mengatakan idea pertama dari pendirian Pura Hindu ini adalah bermula dari kunjungan Mr. Eric Domb, CEO dan President  yang juga pemilik dari Parc Paradisio ke Bali 30 tahun yang lalu bersama orang tuanya. kemudian setelah memimpin Parc Paradisio, muncul keinginan untuk membuat Parc Paradisio tidak hanya menjadi sebuah Taman wisata Flora dan dan Fauna, yang menawarkan keakraban alam, tumbuhan, binatang, dan manusia tapi juga menawarkan informasi kebudayaan dunia yang memiliki karakter serta peradaban yang kuat yang ada di bumi ini serta bisa berkolaborasi dan mendukung promosi permanen bagi pariwisata.

Teringat akan kunjungan ke Bali yang pernah dilakukan Mr. Eric Domb bersama orang tuanya ke Bali, Mr. Eric Domb kemudian mengunjungi Bali lagi untuk “Brain Storming” dengan mengelilingi seluruh pelosok Bali untuk mencari idea lebih lanjut. Kolaborasi antara agama, adat istiadat, budaya dan masyarakat balinya yang mendukung pariwisata di Bali serta bisa diterima oleh masyarakat dunia (universal), membuat Mr. Eric Domb jatuh cinta akan Bali pada khususnya dan Indonesia  pada umumnya.

Sekembali Mr. Eric Domb dari Bali, beliau kemudian menceritakannya kepada Dr. Steffen Petzwall dan direktur Parc paradisio lainnya. Ibarat Pucuk di cinta ulam tiba, dimana Dr. Steffen Petzwall yang juga sering mengunjungi Bali, akhirnya seia sekata, dan gayung pun bersambut dengan melakukan kunjungan bersama ke Bali untuk merealisasikan idea membuat Indonesian Garden dengan bangunan utamanya Pura yang sama persis seperti di Bali.

Sepulang dari Bali, proyek inipun di mulai pembangunannya di tahun 2006. Pembangunan Kompleks Taman Indonesia yang di mulai dari pembangunan Pura ini, bukannya tanpa hambatan dari masyarakat Belgia ataupun pemerintah Belgia. Karena di lokasi Parc Paradisio terdapat kastil tua, yang di Belgia sendiri sungguh sangat di hormati keberadaannya. pemerintah maupun masyarakat pun khawatir dengan berdirinya bangunan baru akan mengurangi makna dari keberadaan Kastil tua yang menjadi kebanggaan masyarakat Belgia ini. Mr. Eric Domb dengan ketulus hatiannya serta kecintaannya yang mendalam akan Bali dan tentunya dengan pengetahuannya yang luas akan segala seluk beluk tentang Bali dan Hindu, kemudian bisa meyakinkan  Pemerintah Belgia beserta masyarakat Belgia sehingga pembangunan Pura Agung Santi Bhuwana ini bisa di wujudkan di taman Parc Paradisio.

Pun demikian ketika mendatangkan para pekerja langsung dari Bali, juga bukannya tanpa hambatan dari masyarakat Belgia ataupun departement tenaga kerja Belgia. Lagi-lagi Mr. Eric Domb, yang sepertinya memang sudah mendapatkan restu dari Ida Sang Hyang Widi Wasa, tidak hanya bisa meyakinkan masyarakat Belgia , tapi juga bisa membuktikan kepada mereka , bahwa keahlian para pemahat dan tukang ukir dari Bali dan Jawa tengah memang tidak tergantikan oleh masyarakat Belgia. Ketika tukang ukir dari Bali sedang bekerja memahat dan mengukir batu menjadi sebuah patung, masyarakat belgia memang di buatnya terkagum-kagum, mereka seolah-olah tidak percaya karena mereka terbiasa bekerja dengan mesin, sementara Tukang ukir dari Bali bisa merubah sebuah batu balok dengan pahat dan alat ukir lainnya yang berukuran kecil-kecil menjadi sebuah patung dengan nilai seni yang tinggi.

Proyek pembangunan Pura Agung Santi Bhuwana dimulai tahun 2006 dengan mendatangkan arsitek muda Bali, I Ketut Padang Subadra. Ketut Padang dibantu oleh para pemahat dan pengukir dari Bali yang berjumlah delapan orang. Selama dua tahun lebih bekerja siang dan malam dalam suasana berkabut dan bersalju.

Untuk menjaga keaslian dan aroma magis ke-Indonesiaan, batu-batu untuk membangun pura besar dan seluruh lapisan tempat berjalan berasal dari Indonesia. Sekitar 320 kontainer batu-batu candi diimpor dari lereng gunung Merapi, Jawa Tengah. bagi pengunjung yang mengunjungi kompleks Taman Indonesia ini, seperti terhipnotis dan merasakan seperti memang sedang berada di Indonesia di kompleks candi Prambanan dan candi Boroobudur di Jawa tengah, ataupun berada di kompleks Pura Besakih di Bali yang puranya juga terbuat dari Batu alam, walaupun sesungguhnya mereka sedang berada di Brugelette Belgia di Pura Agung Santi Bhuwana.

Pura Agung Santi Bhuwana

Adapun layout dari Pura Agung Santi Bhuwana, adalah sebagai berikut:

Seperti telah di ungkapkan diatas, adapun makna dari nama Pura Agung Santi Bhuwana adalah sebuah tempat yang Agung dan mulia untuk memuja Tuhan (ida Sang Hyang Widi Wasa) yang menyebabkan alam semesta ini harmonis, damai dan sejahtera. Sesuai dengan namanya , siapapun yang melakukan persembahyangan memuja kemuliaan Tuhan dari Pura ini diharapkan bisa mendapatkan kedamaian, sesuai dengan harapan dari Mr. Eric Domb yang ingin di tawarkan kepada pengunjung yang berkunjung mengelilingi suasana alam yang harmoni di Taman Wisata Parc Paradisio.

Mengamati luasnya Pura Agung Santi Bhuwana ini terbagi dalam tiga bagian yang dikenal dengan Tri Mandala.
1. Kanista Mandala: Area terluar dari Pura
2. Madya Mandala: Area Jaba Pura
3. Utama Mandala: Area Suci Pura yang berlokasi di dalam.

Pura ini tampak begitu megah bila di lihat dari bawah dimana tampak persawahan berundagi dan tangga yang di apit oleh dua naga besar, seperti tampak di foto berikut.

Candi Bentar :

Sebagaimana kita ketahui bersama, adapun fungsi dan makna yang tersirat dari struktur Candi Bentar yang saling berhadap-hadapan ini adalah melambangkan simbol dari “Bad Spirit” dan “Good Spirit” yang berarti siapapun yang ingin memasuki Pura ini harus menanggalkan / mengesampingkan sifat-sifat yang tidak baik dan hanya boleh membawa serta sifat-sifat yang baik dalam pikirannya.

Bale Kulkul:

Bale Kulkul adalah sebuah bangunan tempat Kulukul (kentongan) yang di pukul sebagai isyarat kepada pemuja bahwa upacara akan di mulai. Adanya bale Kulkul kembar di sisi kanan dan sisi kiri menggambarkan raksanan, yang artinya adanya rasa aman Sekala dan Niskala, sebagai awal wujud kesempurnaan Weda.

Bale Gong:

Bale Gong melambangkan sebagai bangunan untuk meletakkan Gamelan atau sebagai tempat untuk bermain musik gamelan di saat berlangsungnya upacara.

Kori Agung:

Kori Agung adalah sebagai pintu gerbang yang menjembatani antara dunia micrcosmos (world) dengan dunia macrocosmos (Heaven). Satu hal yang harus di pastikan  bahwa setiap orang yang memasuki pintu gerbang ini haruslah dalam keadaan bersih jasmani dan rohani. Kori Agung ini memiliki 3 pintu utama, dimana yang di tengah-tengah berfungsi sebagai pintu gerbang untuk memasuki area Pura, sementara 2 pintu di sisi kanan dan kiri berfungsi sebagai pintu gerbang untuk keluar.

Piyasan:

Bale Piyasan adalah sebagai tempat untuk mempersiapkan Upacara dan juga untuk membersihkan sarana upacara ataupun simbol Dewa-Dewi menjadi suci upacara keagamaan di mulai.

Pengaruman:

Bale Pengaruman melambangkan sebagai tempat meletakkan sesaji disaat ada upacara keagamaan atau tempat berstana nya manifestasi dari  Ida Sang Hyang Widi Wasa ketika berlangsung upacarta keagamaan.

Meru tingkat Lima:


Meru tingkat 5 ini melambangkan Panca Dewata yang diambil dari lima arah.

1. di Utara adalah Dewa Wisnu,

2. Selatan adalah Dewa Brahma,

3. Timur adalah Dewa Iswara,

4. Barat adalah Dewa Mahadewa,

5. di tengah-tengah adalah Dewa Siwa.

Dugul:

Balai Dugul ini melambangkan Ratu Ngurah Agung sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi Wasa dan selalu di posisikan di ujung dari komposisi lambang yang ada di Pura.

Gedong:

Balai Gedong adalah bangunan untuk menyimpan simbol dewa-dewi atau  Dewi Sri Pratima setelah rangkaian upacara keagamaan berakhir.

Padmasana:


Padmasana terdiri dari dua kata, yaitu “Padma” yang artinya bunga teratai, atau bathin atau pusat. “Sana” artinya sikap duduk, atau tuntunan , atau nasehat, atau perintah. Padmasana mengandung makna Simbol yang menggambarkan kedudukan Hyang Widi sebagai bunga teratai. jadi Padmasana melambangkan sebagai Tuntunan batin atau pusat konsentrasi.

Padmasana di representasikan dengan tiga tingkatan keatas.

1. Dibagian bawah terdapat Naga Antaboga yang melambangkan sumber penghidupan yang tiada batas.

2. di bagian tengah adalah simbol dari lapisan air yang dalam hal ini di visualisasikan dengan Naga Basuki yang berarti aman dan air ini aman untuk kehidupan.

3. di bagian atas adalah atmosfir dari tingkatan udara yang di visualisasikan dengan Naga Tatsaka, yang berarti langit.

Didalam kehidupan di dunia ini, ketiga tingkatan tadi di representasikan oleh tumbuhan , binatang dan manusia yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Jalannya Upacara Pemlaspasan Pura Agung Santi Bhuwana

Disaat berlangsungnya jalannya upacara peresmian ini,  Mr. Eric Domb tampak begitu gagah dan ganteng dengan penampilannya berpakaian adat Bali berbaju putih lengan panjang, destar (udeng) putih, kain ndek biru, dan saput (selimut) putih. begitu juga dengan bapak duta besar tampak gagah berpakaian adat bali. yang menambah suasana di Pura Agung Santi Bhuwana benar-benar seperti piodalan atau karya agung atau pemlaspasan Pura di Bali.

Sementara pihak Parc Paradisio yang dipimpin langsung oleh Mr. Eric Domb bertanggung jawab terhadap kelangsungan acara peresmian taman Indonesia “The Kingdom of Ganesha” secara keseluruhan,  pihak KBRI kedutaan Indonesia di Belgia bertanggung jawab menjembatani pihak parc paradisio dengan komunitas Bali atau Indonesia di belgia, pihak kementrian Pariwisata dan Budaya menanggung jawabi jalinan  kerjasama diantara negara belgia dengan indonesia, komunitas masyarakat hindu di belgia menanggung jawabi dekorasi pura dan area lain di taman indonesia di parc paradisio serta bertanggung jawab mengisi acara hiburan dengan gamelan dan tari-tarian bali, dan pihak utusan langsung dari Bali menanggung jawabi ritual keagamaan proses penyucian / pemlaspasan Pura Agung Santi Bhuwana ini.

Ida Pandita pemuput upacara yang datang dari Bali yaitu IP Putra Telabah (d/h. Prof. Dr dr IB Narendra) dan IP Panji Sogata (d/h IBG Sogata) . Sementara Ibu Jero, ibu Dewi Maha Indah Pertiwi, Ibu Luh Suryati, menanggung jawabi perihal bebantenan yang di perlukan selama proses upacara berlangsung.

Adapun susunan jalannnya upacara di Pura Agung Santi Bhuwana adalah sebagai berikut:

1. Upacara Mecaru

2. Upacara Prayascita / Pemlaspasan

3. Upacara Mendem Pedagingan

4. Upacara Ngenteg Linggih.

Adapun makna dari upacara diatas,

1. Mecaru: adalah untuk mengembalikan keharmonisan antara alam dengan element dasar kehidupan. Element dasar itu termasuk Ether (kosong), Angin, Cahaya, Air, abu. Didalam tubuh manusia kesemua element dasar tersebut di represntasikan oleh Atman (Jiwa), nafas, energy/kekuatan, darah, daging, lemak, tulang.

Kenapa kita melaksanakan Pecaruan:

Ketika kita membuat suatu bangunan di suatu tempat, tempat itu tentu akan mengalami ketidak seimbangan (disharmony). Setiap intervensi atau memasuki suatu lingkungan akan pasti membuat ketidak seimbangan antara mahluk hidup dengan lingkungan alam. Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, ketidak seimbangan ini harus segera di normalisasikan, yang oleh umat hindu di percayai dengan melaksanakan Pecaruan. Jenis Pecaruan, baik itu besar maupun kecil pada prinsipnya memiliki makna yang sama yaitu mengembalikan kesimbangan dan keharmonisan. Kata Caru di ambil dari bahasa Sansekerta
yang berarti “Indah” sehingga kata Mecaru berarti mengembalikan keindahan alam atau lingkungan, inti dari alam , ruang phisik dari kehidupan (yang berhunungan dengan bangunan Pura Hindu)

2. Prayascita adalah untuk menjernihkan pikiran, sementara Mlaspas adalah untuk melepaskan ingatan /kenangan yang tidak baik yang terdapat pada jiwaraga ataupun pikiran dan perasaan manusia.

Dalam tradisi Bali, Pikiran di artikan sebagai aspek yang menentukan persepsi. Oleh karena itu, pikiran kita seharusnya selalu dapat di kontrol, di bersihkan, di meditasikan sehingga pikiran kita dapat di fokuskan untuk menghargai kegiatan, memuji, melepaskan kehidupan dari segala ciptaan di dunia ini. Dengan demikian orang akan menyadari arti atau tujuan dari hidup yang sesungguhnya, dari mana mereka berasal, kenapa mereka ada di dunia ini, siapa yang akan dapat membuat kelangsungan hidup ini, dan di mana
kehidupan ini akan berakhir.

3. Mendem Pedagingan adalah untuk menambahkan 5 element dari bahan yang terbuat dari logam yang terdapat di bumi ini, seperti:

1. emas berwarna kuning yang melambangkan kebesaran dan kemasyuran,
2. Perak yang berwarna Putih yang melambangkan kemurnian,
3. Perunggu yang berwarna merah melambangkan spirit dan keutamaan dalam kehidupan,
4. Baja berwarna hitam melambangkan air,
5. jenis berlian yang terbuat dari campuran keempat jenis logam tadi.

Kelima inti dari metal tadi berfungsi sebagai dasar dari energi listrik yang menghubungkan bangunan-bangunan suci yang ada di Pura dengan energy dari bumi. Dimasukkannya kelima element tersebut di percaya bahwa bangunan suci sudah di hubungkan oleh energy cosmic, sehingga bangunan itu akan memancarkan taksu „kekuatan dari dalam“ seperti menarik kekuatan dan meningkatkan daya yang menakjubkan.

4. Ngenteg Linggih di lakukan setelah proses Mecaru, Prayascita/Mlaspas, dan Mendem Pedanginan sudah selesai dilakukan dengan maksud bahwa ada sutu kesepakatan sebagai suatu komitment baru pada Pura yang baru di bangun ini.

Bila proses sebelumnya belum dilaksanakan, sesuai dengan keyakinan tradisi Hindu di Bali, bangunan Pura tersebut hanyalah sebuah bangunan biasa seperti rumah atau bangunan gedung lainnya yang terbuat dari bahan bangunan. Kesemua ini hanyalah benda yang tidak berarti (dead objects). Dengan proses upacara yang di sebutkan diatas membuat bangunan ini menjadi sebuah bangunan yang hidup (alive building), yang berarti bahwa bangunan /Pura yang sudah di upacarai ini terhubung dengan energy cosmic yang hidup.

Keseluruhan proses upacara diatas (Mecaru, Prayascita / Mlaspas, Mendem Pedagingan, Ngenteg Linggih) pada dasarnya sebagai sebuah usaha membuat bangunan menjadi “hidup” atau “memberikan kekuatan hidup” kepada bangunan atau daerah, seperti di yakini oleh para leluhur di Bali yang mengartikan bahwa keseimbangan antara mahluk hidup, alam, dan Tuhan adalah yang utama. Mereka harus di upayakan oleh mahluk hidup (manusia) , baik sebagai seorang individu ataupun sebagai mahluk sosial selama hidupnya di dunia ini, dan bukan di kehidupan nanti setelah meninggal, dan juga bukan di saat ada di Sorga atau di Neraka.

Setelah upacara diatas selesai dilaksanakan oleh pihak komunitas umat hindu di area Pura, jalannya acara akhirnya di lanjutkan oleh pihak Parc Paradisio yang di pimpin Mr. Eric Domb beramah tamah dengan para undangan, mengelilingi area Parc Paradisio, area Taman Indonesia, dan kemudian menonton acara tari-tarian yang diperagakan oleh sanggar tari dan gamelan “Saling Asah” pimpinan Made Agus Wardana. Yang menarik dari sanggar tari dan gamelan Saling Asah ini adalah para pemain gamelannya, mulai dari tukang ugal hingga tukang cengceng adalah hampir semuanya adalah warga eropa alias “orang bule”, seperti tampak di gambar berikut. rasa kagum dan hormat pun diberikan oleh hampir semua pengunjung, baik itu para undangan resmi maupun komunitas indonesia yang menghadiri jalannya tari-tarian, ataupun oleh umat hindu yang merantau di eropa.

Suguhan Tarian dan Gamelan dari Sanggar Saling Asah Belgia

Suguhan Gamelan oleh Sekege Gong Saling Asah Belgia yang di motori oleh I Made Agus Wardana serta tari-tarian yang di peragakan oleh para penari membuat para pengunjung tidak ingin beranjak dari pelataran jaba pura, walaupun tari-tarian sudah usai. tepuk tangan bergemuruh dengan cukup panjang sebagai bukti mereka sangat puas dengan apa yang mereka tonton.

Jadwal Piodalan dan Sembahyang rutin di Pura Agung Santi Bhuwana

Setelah berakhirnya rangkaian upacara diatas, kini adalah giliran umat hindu yang berdomisili di belgia pada khususnya atau umat hindu yang berdomisili di eropa untuk terus melestarikan keberadaan Pura ini melalui persembahyangan rutin sehingga taksu dari Pura Agung Santi Bhuwana ini terus bersinar. Walaupun sesungguhnya Pura ini adalah milik dari Mr. Eric Domb, namun di akhir proses upacara diatas Mr. Eric Domb sempat berbincang-bincang dengan Ida Pandita dan mengatakan “This (Temple) is for you” (Pura ini adalah untuk anda umat hindu di belgia / eropa).  adalah kewajiban umat hindu di Belgia / di Eropa untuk melaksanakan ritual lupacara piodalan setiap 6 bulan sekali, atau melakukan persembahyangan Purname Tilem di setiap bulannya.

Komunitas umat Hindu di Belgia saat ini sedang merembugkan perihal jadwal upacara rutin bulanan ataupun jadwal upacara di setiap 6 bulanan. yang pasti di setiap Purnama / Tilem akan selalu ada umat yang tangkil melakukan persembahyangan bersama di Pura Agung Santi Bhuwana ini. sementara Upacara piodalan di setiap 6 bulanan sedang di diskusikan apakah akan mengambil hari raya suci Kuningan atau hari raya Saraswati yang jatuh di setiap hari sabtu. perayaan di setiap Kuningan, biasanya umat hindu di Jerman (Nyama Braya Bali Jerman)  melaksanakan persembahyangan bersama di Jerman dan nantinya akan di pilih untuk melaksanakan upacara piodalan di Pura Jagadnata di Hamburg yang saat ini sedang di bangun. oleh karena terdapat keinginan besar agar jadwal upacara tidak jatuh di hari yang sama, sehingga umat hindu di jerman yang jumlahnya cukup banyak bisa juga tangkil di upacara piodalan Pura di Belgia ini, ada kemungkinan upacara piodalan di Pura di Belgia ini akan di laksanakan di hari raya Saraswati yang juga jatuh di hari sabtu.

Ida Pandita Putra Telabah (d/h. Prof. Dr dr IB Narendra) juga sempat mengusulkan seandainya, komunitas umat hindu di belgia ini ingin merayakan piodalannya di hari sabtu, selain hari raya kuningan dan saraswati, terdapat juga hari raya suci lainnya yang jatuh di hari sabtu, yaitu hari raya Tumpek Wariga dan hari raya tumpek Uye (Tumpek Ngatag), tapi dengan catatan, bila piodalan di laksanakan di hari raya Tumpek Uye di sarankan sarana upacara tidak ada yang memakai korban hewani, karena di hari raya tumpek uye adalah hari raya penyucian hewani. bila piodalan di laksanakan di hari raya tumpek wariga, di sarankan sarana upacara tidak ada yang sampai mengorbankan tumbuh-tumbuhan, karena hari raya tumpek wariga adalah hari raya suci untuk menghormati tumbuh-tumbuhan.

Jadwal buka Taman Wisata Parc Paradisio

berhubung Pura Agung Santi Bhuwana terletak di dalam area taman wisata Parc Paradisio, adalah perlu kiranya untuk mengetahui jadwal buka dari Taman Wisata Parc Paradisio ini dan cara untuk mencapai daerah ini bila ingin berkunjung dengan menggunakan kendaraan roda empat atau kereta api.  Karena lokasi Brugelette ini terletak di pinggiran kota , adalah sangat di sarankan untuk menyewa mobil di bandara Brussel atau di satsiun kereta api di Brussel, sehingga bisa dengan nyaman mencapai Pura ini.

Sesungguhnya lokasi Brugelette adalah diantara kota Brussel dengan perbatasan Perancis. bisa di jangkau dengan kendaraan mobil 45 menit dari kota Brussel, atau 15 menit dari kota Mons dan 30 menit dari Lille.

Taman Parc Paradisio buka 7 hari seminggu hingga awal November , mulai dari jam 10am - 6pm. di bulan July dan Agustus jadwal buka taman ini adalah mulai jam 10am - 7pm.

Awal bulan November hingg awal bulan April tiap tahun, Taman Wisata Parc Paradisio adalah tutup (tidak menerima kunjungan umum), dengan alasan adalah musim dingin, namun demikian bagi umat hindu yang ingin melaksanakan persembahyangan di Pura Agung Santi Bhuwana, pintu gerbang tetap di buka dan persembahyangan tetap bisa di laksanakan , tentunya dengan menghubungi karyawan yang bertugas (on duty) di Parc Paradisio saat itu.

Di pintu gerbang tertulis, harga ticket masuk untuk taman ini adalah 18.50 Euro untuk pengunjung umum berumur 12 tahun hingga 59 tahun. dan 16,5o euro untuk pengunjung senio (lansia), anak-anak di bawah umur 3 tahun tanpa dikenai biaya masuk, dan anak-anak berumur 3 tahun hingga 11tahun di kenai 13,50 euro.

Setelah membaca harga ticket masuk untuk taman wisata Parc Paradisio bagi pengunjung umum, kita umat hindu tidak perlu merasa khawatir, karena menurut penuturan Direktur Operational Parc Paradisio Dr. Steffen Petzwall , bagi pengunjung yang memang ingin melaksanakan upacara / persembahyangan di Pura Agung Santi Bhuwana dan berpakaian seperti layaknya mau sembahyang upacara, akan di berikan kebebasan untuk memasuki areal taman wisata Parc Paradisio. Adalah sangat penting untuk tampil seperti berpakaian sembahyang, minimal dengan menggunakan selendang, sehingga petugas di pintu gerbang bisa mengenali dan bisa membedakan dengan pengunjung umum yang memang ingin mengunjungi Taman Wisata Parc Paradisio ini.

Himbauan dan Harapan

Menyaksikan secara langsung lancarnya jalannya proses upacara Pemlaspasan Pura Agung Santi Bhuwana di Brugelette Belgia ini, melihat ketulusan hati dari Mr. Eric Domb yang sudah membuatkan Pura Hindu di daratan Eropa ini, besar harapan saya kepada umat sedharma dimanapun berada, bila ada kesempatan untuk mengunjungi Eropa atau Belgia, mari luangkan waktu untuk bisa “tangkil” sembahyang ke Pura ini. Ida Sang Hyang Widi Wasa telah memberikan jalan terang serta petunjuk melalui seorang Mr. Eric Domb yang sangat cinta akan Bali dengan membuatkan Pura untuk umat hindu di negeri Belgia, sehingga kita bisa merasakan Tuhan ada di mana-mana (Wyapi Wyapaka). walaupun jauh dari Bali, Namun suasana Bali bisa di temukan di area Taman Wisata Parc Paradisio.

Alamat:

Parc Paradisio, Domaine de Cambron 1, 7940 Brugelette, Belgium

Sumber dari artikel diatas: Liputan langsung dari Pura Agung Santi Bhuwana, wawancara langsung dengan Direktur Operational + Zoological Parc Paradisio Dr. Steffen Petzwall, wawancara langsung dengan Direktur Botanical Garden Parc paradisio Mr. Bertrand Pettiaux, Laporan TVRI Bali, Ibu Dwie Mahenny, koran berita Antara.

salam waRning,

DESKRIPSI

Serombotan adalah salah satu jenis lauk pauk khas daerah Klungkung, yang dibuat dari campuran beberapa jenis sayuran, kacang-kacangan dan bumbu. Serombotan dibuat untukhidangan, dimakan sebagai teman nasi dan dijual. Daerah pemasaran serombotan tidak terbatas hanya di Klungkung, namun telah menyebar sampai ke daerah-daerah lainnya di daerah Bali. Bahkan sudah dijual di swalayan di kota Denpasar.

KOMPOSISI

Sayur-sayuran yang biasa digunakan sebagai bahan serombotan adalah kangkung, bayam, buncis, tauge, kacang panjang, kecipir, pare dan terung. Kacang-kacangan yang digunakan antara lain kacang tanah, kacang gude, kacang merah, dan kacang hijau (“kencai”), sedangkan bumbu (sambal) terdiri dari dua jenis yaitu sambal kelapa dan sambal “koples”.

Bahan

Jenis-jenis sayuran yang dipakai sebagai bahan serombotan adalah:

Kangkung 2 ikat, Bayam 2 ikat, Buncis 100 g, Tauge 150 g, Kacang panjang 2 ikat, Kecipir 2 ikat, Pare 100 g, Terung 100 g,

Jenis kacang-kacangan yang digunakan antara lain:

Kacang tanah 50 g, Kacang gude 50 g, Kacang buncis 50 g, Kacang hijau (“kencai’) 50 g,

Bumbu (sambal):

a. Sambal Kelapa:

Kelapa 0,5 butir, Bawang putih 4 siung, Cabai besar 2 buah, Cabai kecil 2 buah, Terasi secukupnya, Kencur secukupnya, Lengkuas 3 iris, MSG 10 g

b. Sambal Koples

Cabai 10 buah, Terasi secukunya, Garam secukupnya, Kacang tanah 50 g, Jeruk limau 1 buah, Minyak kelapa secukupnya,

Cara Pembuatan Serombotan

Pengolahan sayur-sayuran

Selain terung, sayuran disortir kemudian direbus dalam air mendidih sampai matang. Setelah matang terus ditiriskan sambil disiram dengan air dingin. Setiap jenis sayuran direbus sendirisendiri karena memerlukan lama waktu perebusan yang berbeda-beda sampai matang. Sayuran yang telah dingin (kecuali tauge) dipotong-potong lalu dicampur dengan bumbu.

Pengolahan Kacang-kacangan

Kacang tanah digoreng sampai matang, sedangkan kacang gude dan buncis direbus sampai matang. Kacang hijau dikecambahkan pendek (“kencai”)

Pembuatan Bumbu

Menurut Suter dkk., (1991) pembuatan bumbu (sambal) serombotan adalah sbb.:

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat proses pembuatan Serombotan pada Gambar berikut:

Bila serombotan mau dihidangkan maka setiap jenis sayuran yang sudah dipotong-potong diambil dengan jumlah yang hampir sama, selanjutnya diberi sambal kelapa dan sambal koples secukupnya, terus dicampur dan diaduk (Anon., 2003).

Biasanya serombotan yang dijual di warung-warung, untuk sayuran ditempatkan dalam nampan yang diletakkan di atas meja dan ditutup dengan daun pisang atau plastik seadanya, namun ada juga yang membiarkan terbuka. Sedangkan sambal koples dan sambal kelapa disiapkan dalam mangkuk yang tertutup. Jika ada yang ingin membeli, penjual mengambil sayuran dengan tangan dan sambal dengan menggunakan sendok. Serombotan biasanya disajikan di atas sebuah piring, namun bila pembeli ingin membawa pulang, serombotan biasanya dibungkus dengan daun pisang, kertas minyak atau plastik

Kandungan zat gizi

Menurut Suter dkk. ( ? ), kandungan zat gizi serombotan untuk setiap 100 g adalah:

Energi 87,10 kkal, Karbohidrat 8,20 g, Protein 3,90 g, Lemak, 4,30 g

http://traditionalcuisine.unud.ac.id/ind/wp-content/uploads/2009/02/serombotan.pdf

 

Makanan berupa sate tidak selalu daging yang disayat atau dipotong-potong lalu ditusuk sebelum dibakar. Begitu pula untuk sate lilit yang merupakan santapan khas Kabupaten Karangasem, Bali.

Bahan dasar sate ini adalah ikan laut berukuran besar, seperti tuna. Daging ikan ini dilembutkan dan diberi bumbu, santan, serta parutan kelapa. Ketika bumbu sudah menyatu dengan ikan, sate mulai bisa dibentuk dengan mengepal daging ikan memanjang di tusuk sate. Sate lilit dibakar dan siap dinikmati bersama sepiring tupat, semangkuk sup ikan, dan plecing kangkung.

Rasanya sedikit pedas dan aroma khasnya ketika dibakar dijamin bikin ngiler. Apalagi bagi penikmat makanan dan penggemar pedas. Membakarnya pun pakai arang batok kelapa, bukan arang kayu. Katanya, rasanya lebih nyus pakai batok kelapa.

Sementara pasangan makanannya adalah tipat, sebutan nasi ketupat di Pulau Dewata. Sedangkan plecing kangkung adalah rebusan kangkung yang diberi ulekan sambal cabai tomat mentah dan taburan kacang tanah goreng. Sedangkan sup ikan berkuah bening dengan kaldu ikan.

Kekhasan ulenan sate lilit adalah ulekan bumbu-bumbu yang terdiri dari kunyit, kencur, pala, gula aren, sereh, dan minyak kelapa. Selesai diuleni, paling baik daging ikan didiamkan sampai bumbu benar-benar menyatu dengan daging ikan yang sudah ditumbuk halus.

Pedagang sate lilit mudah dijumpai di trotoar atau pinggiran jalan di Kota Denpasar. Tempat berjualannya pun tergolong sederhana karena para penjual hanya membawanya dengan cara menyunggi saja. Tetapi, ada pula yang setelah lebih dari 10 tahun berjualan, si penjual berkembang menjadi restoran atau berlokasi permanen di tempat makan yang cukup beberapa meja dan kursi.

Salah satu penjual sate lilit ala Karangasem adalah suami-istri Made Merta (37) dan Made Karyani (29). Keduanya sudah lebih dari 10 tahun merintis usaha dengan melanjutkan jualan sang ayah di pinggir Jalan Hayam Wuruk, di depan gang Jalan Drupadi, Denpasar. Hampir setiap hari ribuan tusuk satenya ludes dibeli pelanggan. Mereka memberi harga Rp 1.000 untuk tiga tusuk sate.

Sate dikepal ditusuk dan dibakar langsung di tempat penjualan tersebut. Seember sedang adonan sate lilit menjadi ratusan tusuk. Tusuk satenya bukan seperti tusuk sate ayam biasa, tetapi terbuat dari bambu dengan ukuran sekitar 5 sentimeter dan panjang sekitar 15 sentimeter.

Karyani dan Merta melengkapi sate lilitnya dengan jukut ares (sayur inti batang pisang), jukut nangka (sayur nangka muda), serta tak ketinggalan plecing kangkung.

Sebenarnya, makanan ikan khas Karangasem bukan hanya sate lilit. Ada pula sate tusuk. Bedanya, ikan pada sate tusuk hanya dipotong-potong tanpa dihaluskan dan bumbunya tidak dicampur santan serta parutan kelapa. Soal rasa, tidak kalah dengan sate lilit.

Pasangan suami-istri ini mengingatkan untuk berhati-hati ketika menyantap atau membeli sate lilit. “Bukan untuk menjatuhkan karena banyak juga yang enak selain kami ini. Hanya saja, sebagian mereka menggunakan pewarna, bukannya kunyit. Ini agar kelihatan segar, padahal bisa jadi itu sudah disimpan beberapa hari. Makanya lebih selektif,” ungkapnya.

Tempat jualan sate lilit Karangasem lain di Denpasar yang juga diserbu penikmatnya ada di Jalan Tukad Pakerisan, Panjer, dekat pertigaan Waturenggong dan Tukad Pakerisan. Usaha Nengah Rambeg itu cukup maju sehingga sudah sekitar 10 tahun lalu dia meninggalkan rombong kaki limanya dan menukarnya dengan warung.

Warung milik Nengah buka dari pukul 08.00 Wita sampai sore sekitar pukul 15.00 Wita. “Kalau lagi ramai, pukul satu siang atau dua siang kami sudah kehabisan dan tutup,” kata Nengah.

Menurut Nengah, sehari dia mampu mengadon lebih dari 50 kilogram. Pegawainya pun mereka datangkan dari Karangasem, lebih dari 80 kilometer ke arah timur Kota Denpasar. “Jadi, jangan sungkan titip teman atau saudara ketika ke Bali, titip dibawakan sate lilit atau sate tusuk ala Karangasem, ya?”

Pembuatannya memang tidak memakan waktu lama. Hanya saja, karena pengadonannya dalam jumlah partai besar, maka pembuatannya pun bisa dari jam dua pagi.

“Apalagi kalau dapat pesanan dari luar kota atau hotel dalam ribuan tusuk. Wah, bisa pakai bergiliran pegawai untuk membuatnya,” ungkap Nengah Rambeg serius.

Dengan berjualan ribuan tusuk sate lilit ikan dan juga sate tusuknya, baik Wayan Merta maupun Nengah Rambeg sanggup menghidupi keluarga besarnya. Mereka pun mengakui mulai mapan kehidupannya dengan penghasilan kotor sehari lebih dari Rp 3 juta.

Kedua penjual spesialis sate lilit di Denpasar ini bersyukur memiliki keahlian turun-temurun berdagang sate. Bahkan, keduanya mengaku kewalahan dengan pesanan, baik dari hotel-hotel berbintang di Pulau Dewata maupun pesanan dari langganan luar kotanya yang dari luar pulau.

Keduanya merantau dari Karangasem ke Denpasar karena kabupaten yang 90 persen berupa lahan kering itu masuk daftar kabupaten miskin nasional.

_________________
KILAS SANTAP

Dibawa ke Luar Kota

Biasanya, terutama kaum ibu, khawatir masakan atau makanan yang menggunakan kelapa dapat cepat basi atau masem kata orang Bali. Tetapi, tak perlu khawatir dengan masakan khas Karangasem ini. Sate lilit buatan pasangan Made dijamin tahan lama dan bisa dibawa ke luar kota.

Mungkin juga karena aroma yang kuat terkadang memang membuat orang ragu menjadikan tentengan ke luar kota. Takut berlendir.

“Tidak perlu khawatir karena bumbunya alami. Justru di situ kekuatan sate kami. Sate akan kami bungkus dengan rapi menggunakan dus. Bisa titip di tempat pendingin kalau dibawa dengan pesawat terbang,” kata Made Karyani. Sesampai di rumah, sate kembali dipanasi dengan dibakar.

Cara lain, sate dapat dibawa mentah atau sudah ditusuk, hanya belum dibakar. Kalau membawa mentah, segera masukkan ke lemari pendingin. Cara ini bisa membuat sate awet sekitar tiga hari. Yang pasti, sate itu dibawa tanpa plecing kangkung dan tipat. Keduanya jelas tidak akan tahan lama.

http://www.kompas.com/read/xml/2008/01/10/15552926

Jilatan api terus menyulut panggangan hitam itu. Menggelitik sederet daging tuna merah di atasnya. Semakin panas, semakin tajam aroma daging itu meruap. Di batas itu, Nyoman Lother Arsana, sang juru masak, mencengkeram lembut daging dan mengaisnya ke piring. Berdampingan dengan sambal matah di pinggirnya. Nama hidangan itu ialah tuna wonten. Di depan restoran Le Seminyak, Pacific Place lantai lima, Arsana berdemonstrasi beberapa waktu lalu.

Menurut Arsana, ikan tuna itu adalah binatang berenang atau berjalan dengan dada. Filosofinya, dalam meracik makanan Bali, binatang berenang, dan berkaki dua, bumbunya mesti berasal dari tumbuhan yang berbuah di atas tanah. Misalnya, cabai, daun serai, jeruk kecil berikut daunnya, serta kelapa. “Kalau tumbuhan di bawah tanah itu seperti lengkuas dan kunyit,” juru masak dengan jam terbang 32 tahun ini menjelaskan kepada Tempo seusai demo beberapa waktu lalu.

Lulusan Akademi Perhotelan ini mengatakan daging tuna itu terasa enak apabila dibakar. “Biar enak, harus dimasak dengan kematangan api menengah,” ujarnya. Sebab, kalau terlalu matang, dagingnya akan keras. Tuna juga bisa dimakan mentah karena kandungan protein yang tinggi. Sayangnya, masyarakat Indonesia belum terbiasa makan mentah. Padahal, di Jepang dan Cina, sajian mentah itu sudah biasa.

Selain tuna wonten, Arsana menunjukkan cara pengolahan sate lilit ayam dan ayam pelalah. Bentuk sate merupakan simbolis senjata dewa Brahmana, yaitu gada. Semua dewa di Bali memiliki senjata. Kemudian, oleh penduduk Pulau Dewata, dipresentasikan ke dalam makanan, salah satunya sate lilit ayam ini. “Sate ini pasti dihidangkan di acara adat perkawinan dan di tempat suci,” kata pembuat buku The Food of Bali ini. Rasa pedas sate muncul dari perpaduan kencur dan jahe yang membikin badan pelahapnya menjadi hangat.

Ketiga jenis hidangan ini, bisa Anda santap dalam nuansa tulen Bali ala Le Seminyak.

Satu resto yang baru buka 11 bulan ini yang menjadi alternatif, di tengah kemunculan sejumlah resto dengan suguhan pulau Dewata. Pada Februari lalu, misalnya, bebek bengil yang sudah berkibar di Ubud, Bali, membuka cabang di Jalan Agus Salim, Jakarta Pusat. Hadir dengan suguhan dan atmosfer Bali, tapi dengan andalan olahan bebek. Sedangkan resto yang sudah lama berkibar seperti Ajengan di Panglima Polim pun masih bisa disinggahi. Selain itu, masih ada resto daerah Bali lain, misal Gilimanuk, yang menyebar dari barat, utara, hingga selatan Jakarta. Aroma Bali memang semakin merasuk ke lidah warga Jakarta.

Di Le Seminyak, ada beberapa area yang bisa dipilih. Anda bisa bercengkerama di bale bengong, gazebo bernuansa Bali yang dihiasi akar liang. Di sini juga ada beberapa tongkat raksasa yang mencakar langit langit, yang menambah eksotik tempat ini. Kayu itu, menurut penggagas sekaligus mitra Le Seminyak, Novi Kusuma, adalah kayu tua yang sudah tidak terpakai. “Merupakan daur ulang dari bekas rel kereta api,” kata dia kepada Tempo<melalui sambungan telepon kemarin. Selain itu, lantai, meja, bangku, dan temboknya didominasi warna tanah. Terasa semakin Bali dengan alunan musik tradisional pulau sejuta pura.

Lebih jauh, restoran ini dibagi menjadi lima area. Lounge, bale bengong, fountain area, window area, dan private room<. Menurut Novi, private room bisa digunakan sebagai rapat orang maupun acara keluarga. “Market dari restoran ini saban harinya adalah orang kantoran, dan keluarga pada akhir pekan,” ujar perempuan berkulit putih ini. Jangan lupa, semua area itu memiliki fasilitas wi-fi.

HERU TRIYONO

 

Le Seminyak

Jam Buka:
Senin-Minggu, pukul 10.00-22.00 WIB

Makanan spesial:
Nasi campur Bali, udang kelapa gurih, tuna wonten, sambal matah, sate lilit, bebek goreng, bebek betutu, ayam betutu, gurame sambal mangga muda, udang galah bakar madu, kakap merah bakar Jimbaran, kepiting soka kremes, plecing kangkung, tumis pucuk waluh.

Minuman spesial:
Ginger fizz, summer berry cooler, paradise island cooler, tamarind cooler.

Hidangan penutup:
Bubuh injin, pisang bakar santan, es campur.

http://www.tempointeraktif.com/hg/kuliner/2009/05/15/brk,20090515-176413,id.html

Satu lagi “warung” ala Bali yang menyajikan makanan khas dari Pulau Dewata, jagoan dari Warung Jerman ini adalah Ayam Bakar Plecing serta NAsi atau Tipat Campurnya. Lokasinya sangat strategis, di salah satu sisi bundaran renon yang mengarah ke Jl. Hayam Wuruk, arah Kantor Konjen Amerika Serikat situ, sangat dekat dari Denpasar dan Sanur, dan tidak terlalu jauh juga dari Kuta serta Seminyak.

Tempatnya sendiri tidak begitu luas, hanya ada sekitar 12 meja dengan masing2 4 kursi, tapi karena terbuka jadi cukup nyaman untuk makan. Karena rame2, kita pesan Ayam Bakar Plecing, Gurame Bakar, Nasi Campur, Tipat Kuah Campur untuk makannya dan minumnya Es Jerman dan Es Daluman. Sebuah etalase besar sarat dengan aneka lauk-pauk khas Bali, ada puluhan tusuk sate lilit dan sate tusuk ayam, tumpukan tipat, dan beberapa piring penuh berisi jukut kalas (urab kacang panjang), tum ayam, ayam goreng, sambal matah, lawar nyuh (sayur kelapa) dan lain2. Tampak di salah satu sudut

warung yang punya tagline “Kata Orang Enak dan Murah ini” foto2 dari para peliput kuliner, tentu termasuk Pak Bondan, Kep Suk Jalansutra.

Saya mencoba Tipat Kuah Campur dengan komposisi Ketupat potong diagonal, jukut kalas toge, lawar nyuh satu tusuk sate lilit ayam, ayam goreng, suwiran ayam pelecing, ayam masak santan, telur pindang siram sere tabia (sambel trasi) dan kondimen kacang goreng serta sambal matah plus didampingi semangkuk kecil sup bening berisi bola2 ayam dan kacang merah.

Semua lauk pauk di Tipat saya punya kualitas diatas rata2, dengan catatan spesial untuk ayam masak santan, sate lilit ayam, tum ayam dan ayam pelecingnya dengan bumbu base besiap yang meresap banget, sambel matahnya juga nikmat walau tak segarang punyanya Warung Khrisna, tapi masih sangat Bali banget, lawar nyuh yang juga cukup unik memberikan sensai tropikal yang sangat nyaman, minyak alami dari lawar nyuhnya mengalir di piring dengan warna kuning terang yang menggoda. Rasa spicy di Tipat Ayamnya pas disbanding dengan kuah bening berisi bola2 ayam dan kacang merah yang segar, walau bening ada secercah (alah secercah) gradasi kekuningan hasil dari campuran bumbu base genep khas Bali, yang menyapu ringan kuah sup dan memberi sedikit body berempah.

Ayam Pelecing Bakar yang disajikan ingkung utuh, dikucuri dulu dengan jeruk limonya supaya tambah wangi, kemudian ayam kampung ini kami bagi berlima, ayam kampung tentu memberikan janji rasa gurih yang alami. Bumbu ulek pelecingnya sangat meresap di ayam bakar ini, pedas-gurih-fragrant dan tasty banget, sedikit gosong disana-sini menjadikan ayam bakar ini makin wangi. Teman yang pas tentu Pelecing kangkung bertabur kacang goreng yang krenyes2 nan pedas, kelemahan si pelecing kangkung adalah aroma terasi yang selalu tertinggal di tangan barang 3-4 jam hehe.

Nasi Ayam Campurnya berkomposisi sama dengan Tipat Siap, tapi lauk dan nasinya dipisah, plus sup bola ayam kacang merahnya. Gurame Bakar dibaluri bumbu lalah (pedas) yang cukup nyaman, disajikan dengan sambal matah dan sere tabia (sambel terasi), cukup enak walau memang bukan spesialisasinya warung ini.

Makan siang kami ditutup dengan aneka Es andalan warung ini, Es Daluman adalah Es Cincau Hijau khas bali yang memakai santan dan sirup gula merah, selalu ada rasa smoky yang khas di Es Daluman ini, legit dan segar. Es Jerman adalah Es Campur andalan warung ini, isinya sangat kumplit, nggak mau kalah sama Tipat atau Nasi Ayamnya. Ada potongan cincau hitam, kacang ijo, tape ketan putih (tanpa pewarna), cendol, potogan jeli , kelapa muda dan lain2, segar banget dengan kuah sirup merah dan susu kental manis, Es2nya pas memadamkan rasa lalah dari makanan utamanya.

http://ariep.multiply.com/photos/album/351

Di Pasar-pasar tradisional di Bali, tidak sedikit kekhasan dalam cita rasa masakan yang cenderung menyajikan kelezatan cita rasa yang ditampilkan oleh bahan pokok makanan itu sendiri maupun bumbu yang dipergunakan untuk meracik makanan, Salah satunya adalah ayam betutu. Olahan ayam betutu memang cukup digemari warga bali pada umumnya. Di pasar-pasar tradisional, pasti terdapat pedagang yang menawarkan masakan berbahan dasar ayam bercita rasa khas ini. Di Pasar-pasar tradisional di Bali, tidak sedikit kekhasan dalam cita rasa masakan yang cenderung menyajikan kelezatan cita rasa yang ditampilkan oleh bahan pokok makanan itu sendiri maupun bumbu yang dipergunakan untuk meracik makanan, Salah satunya adalah ayam betutu. Olahan ayam betutu memang cukup digemari warga bali pada umumnya. Di pasar-pasar tradisional, pasti terdapat pedagang yang menawarkan masakan berbahan dasar ayam bercita rasa khas ini.

Betutu Men Tempeh, sepertinya nama masakan tersebut tidak asing di telinga kita utamanya warga bali yang kerap mendengar ketenarannya dari mulut ke mulut. bukan sesuatu yang mustahil bila ada yang telah mendatangi warung di ujung barat pulau bali ini dan kembali dengan sepenggal kesan puas akan masakan yang cenderung berciri khas rasa pedas ini.

Adalah si empunya pembuat masakan ayam betutu yakni Men Tempeh atau yang memiliki nama asli Men Jenek dikenal sebagai pemilik usaha dan warung makan betutu yang berlokasi di terminal lama pelabuhan gilimanuk. namun apa hendak dikata Tuhan berkehendak lain. umur yang diberikan oleh sang maha pencipta kepada dirinya tidak sepanjang waktu dan kesempatan yang harus ia jalani hingga tidak bisa berjalan beriringan dengan kemashyuran nama betutu buatannya. karena sakit yang dideritanya men tempeh, sosok perempuan bali perantauan yang ulet bekerja meninggalkan dunia ini dan para penggemar setianya untuk selama-lamanya. sejak tahun 2004 usaha betutunya dilanjutkan oleh sang suami yakni made suratna yang kerap juga dipanggil pan tempeh.

Men tempeh merintis usaha ayam betutu ini sejak tahun 1978, dimana ia yang kelahiran abianbase gianyar setelah menikah dengan sang suami yang asal desa tanggaan bangli merantau ke denpasar bekerja sebagai buruh bangunan. ternyata nasib yang mengantarkan mereka hingga sampai ke gilimanuk. rupanya nasib berkehendak lain mereka pun coba-coba membuka usaha berjualan nasi dengan membuka warung kecil di seputaran pelabuhan gilimanuk. sang suami pun sempat juga menjajakan nasi bungkus dari kapal laut satu ke kapal laut lainnya. dulu jumlah ayam betutu yang dijual masih dalam jumlah sedikit, namun kini, permintaan serta minat warga bali terhadap ayam betutu, lumayan memberi angin segar bagi usaha ini. Desak Nyoman Kerti, penerus usaha ini mengaku tidak pernah sepi dari pesanan ayam betutu.

Proses pengolahan ayam betutu, sudah dimulai sejak pukul tiga pagi. Asap mengepul dan dapur ini disibukkan oleh aktifitas pembuatan ayam betutu. Puluhan ayam kampung yang masih hidup didatangkan dari jawa. selanjutnya ayam tersebut disembelih dan dipotong paruh dan kakinya. hal ini dilakukan untuk mengesankan ayam kampung ini bersih saat disantap.

Made Suratna alias Pan Tempeh, tidak bekerja sendiri, ada kurang lebih delapan orang yang merupakan anggota keluarganya ikut terlibat dalam proses pembuatan ayam betutu.
Mereka  memotong dan membersihkan ayam-ayam yang akan diolah menjadi ayam betutu, dan pembuatan bumbu, yang menjadi kunci cita rasa yang akan dihasilkan.

Setiap harinya, made suratna rata-rata memotong 20 hingga 30 ekor ayam kampung. Namun terkadang jumlah ayam betutu yang dibuat mengalami peningkatan seiring jumlah pesanan yang banyak. Bilamana sedang sepi dirinya hanya menyiapkan 15 hingga 20 ekor ayam yang akan dijadikan betutu.

made Suratna mengaku memiliki bumbu khusus yang membuat rasa ayam betutu yang dibuatnya terasa enak dan niKmat. Inilah yang menjadi keunggulan, sehingga ayam betutunya menjadi pilihan untuk dinikmati pembeli.

Selain kelesatan cita rasa khas ayam betutu, juga memanjakan pembeli dengan makanan lain sebagai pendamping betutu yakni sayur plecing yakni kangkung atupun gonad serta gorengan hati dan jeroan ayam. Makanan dengan cita rasa khas lidah orang bali ini, cukup merangsang keinginan konsumen mencicipi .

Made Suratna mengaku bersyukur karena usaha yang dirintis sang istri ketika masih hidup kini bisa menjadi tumpuan hidup bagi keluarganya yang lain. baginya Tuhan Maha Besar, beliau telah memberikan sumber kehidupan yang cukup bagi keluarganya. serta memberikan kesempatan kepada keluarganya yang lain, untuk mengecap rejeki dari masakan ayam betutu ini.

Cita rasa khas ayam betutu olahan Made Suratna warisan resep men tempeh ini sudah sangat dikenal warga tidak hanya di bali. namun di luar bali hingga ke Jakarta pun masakan ayam dengan rasa khas pedas ini banyak diminati. semua tidak lepas dari rasa yang selalu dijaga dan dipertahankan sehingga konsumen merasa puas. Pembeli pun menularkan dari mulut ke mulut sehingga ada saja yang memesan ayam betutu olahan mereka untuk keperluan upacara , pernikahan, serta aktifitas lainnya. namun satu hal yang perlu selalu diingat bahwa saat ini banyak yang mengatasnamakan bahkan mencatut nama warung makan betutu men tempeh padahal belum tentu ada kaitan dengan men tempeh. hanya pembeli yang memiliki kepekaan selera makan yang tinggi yang bisa membedakan mana betutu men tempeh yang asli dan yang mana hanya ikut-ikutan mengenyam ketenaran nama betutu men tempeh…

http://balitv.tv/btv2/program/celah-kehidupan-mainmenu-40/683-men-tempehbetutumu-dulu-hingga-kini

Belum lama ini saya dapat kiriman dari William Wongso. Ayam betutu khas Bali yang dibungkus dalam pelepah pinang. Menurut William, ayam betutu itu adalah masakan Lambon, orang Ubud yang sekarang bekerja di usaha jasaboga miliknya.

Tidak heran bila penampilannya persis sama dengan ayam betutu kiriman JS-er Grace Khoesuma beberapa bulan yang lalu. Grace melakukan trafficking ayam betutu langsung dari Ubud, karena terpesona melihat cara tradisional pengolahan ayam betutu. Ayam betutu adalah hidangan khas Gianyar yang menjadi kebanggaan orang Bali.

Kedua ayam betutu yang sata sebut tadi sama empuknya. Dari segi aroma, ayam betutu bawaan Grace lebih harum. Bau bara dari sekam padi masih dapat terlacak dengan jelas, memberi nuansa tradisional yang lekat. Tetapi, dari segi citarasa, ayam betutu karya Lambon sederajat lebih unggul. Bumbu-bumbunya lebih balanced dan menyatu lembut dengan ayam. Menurut William, itu adalah hasil dari cara masak tradisional yang diterapkan di dapur modern (baca: memakai oven!) yang lebih higienis.

Betutu adalah cara masak untuk ayam dan bebek yang sangat khas Bali. Dari penampakannya, ayam betutu sangat mirip dengan ingkung ayam yang dipakai dalam upacara tradisi Jawa. Sama-sama utuh dan tersalut bumbunya yang tebal. Bedanya, ingkung ayam memakai santan yang membuatnya terasa gurih, sedangkan ayam betutu tanpa santan dan mencuatkan rasa pedas. Ayam betutu juga dipakai dalam upacara-upacara adat Bali.

Seperti juga garang asem khas Bali yang berbumbu komplet, ayam betutu Bali juga sangat kaya bumbu. Bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit, kemiri, lengkuas, jahe, kunyit, kencur, daun jeruk purut, ketumbar, pala, merica, terasi ditumis dan dihaluskan. Bumbu halus ini kemudian dicampur dengan daun singkong rebus yang dihaluskan, dan dimasukkan ke dalam rongga perut ayam. Sisa bumbu dibalurkan ke seluruh permukaan tubuh ayam. Kemudian dibungkus dengan daun pisang, dan dibungkus lagi dengan upih atau pelepah pinang.

“Paket” ini kemudian ditimbung atau ditambus, yaitu dibungkus dengan bara api dari sekam dan batang padi selama 6-8 jam. Ada juga yang dibakar di dalam galian tanah yang kemudian ditimbun dengan bara sekam padi yang terus-menerus diganti agar tetap membara. Cara yang terakhir ini mirip dengan cara membuat babi kombi di Manado, atau cara membakar babi di Papua maupun di Hawaii.

Gara-gara cerita Grace, saya juga sempat dua kali berkunjung ke tempat Mangku Gunung Lebah di Penestanan, Ubud, tidak jauh dari museum Antonio Blanco, untuk melihat cara membuat ayam betutu secara tradisional. Pak Mangku hanya membuat ayam betutu atau bebek betutu berdasarkan pesanan. Bila tidak ada pesanan, rumahnya yang luas tampak lengang belaka. Ada bisik-bisik yang mengatakan bahwa Pak Mangku adalah pemasok ayam/bebek betutu ke beberapa restoran terkemuka di Ubud dan sekitarnya. (Sekarang Anda tahu, mengapa di beberapa restoran langganan Anda selalu tercatat bahwa ayam/bebek betutu harus dipesan sehari sebelumnya. Kebanyakan mereka memang tidak membuat ayam/bebek betutu sendiri).

Pak Mangku masih membuat ayam/bebek betutu dengan cara yang tradisional. Ayam yang sudah dibumbui dibungkus dengan pelepah pinang, kemudian dipanggang dalam bara sekam dan batang padi sepanjang malam. Cara masak slow cooking inilah yang membuat dagingnya sangat lembut dan langsung copot dari tulangnya bila dimakan. Pak Mangku menjual ayam betutu dengan harga Rp 50.000 per ekor.

Kalau Anda pernah singgah ke Pasar Ubud, di tepi Barat pasar itu, di lantai dua, Anda mungkin pernah melihat sebuah warung sederhana yang selalu ramai diantre pelanggannya. Orang-orang di pasar itu menyebutnya Ayam Betutu Ibu Sanur. Padahal, perempuan yang berasal dari Sanur itu nama sebenarnya adalah Ibu Candra. Dagangannya sangat laris. Menurut pengakuannya, ia membuat sekitar 70 ekor ayam betutu setiap hari. Ia mengaku tidak lagi memakai daun pisang maupun pelepah pinang untuk membungkus ayam betutunya, melainkan memakai aluminum foil. “Supaya lebih cepat panas dan lebih bersih,” katanya. Tetapi, tetap dipanggang dalam bara sekam padi.

Selain konsumen yang makan di tempat, banyak juga yang membeli ayam betutu utuh untuk dibawa pulang. Seekor ayam betutu harganya Rp 45.000. Ssst, itu harga untuk “tamu”, lho. Untuk orang lokal – setidaknya untuk orang seperti saya yang suka bergaya lokal – harganya cukup Rp 35.000 seekor. He he he, ‘mayan!

Dalam upacara-upacara adat Bali, ayam betutu memang sering dimasak dalam jumlah besar, untuk disantap bersama-sama. Saya sengaja menambahkan keterangan ini karena belum lama ini ada pertanyaan di milis Jalansutra: kenapa sulit sekali mencari catering service khas Bali di Bali? Soalnya, setiap banjar (desa) mempunyai lembaga adat sendiri untuk menangani kebutuhan makan-makan pada saat perhelatan atau upacara. Akibatnya: tidak perlu ada catering service.

Setiap desa di Bali mempunyai belawa (jurumasak) andalan yang dikerahkan untuk memasak pada setiap kegiatan desa. Mereka diketuai oleh seorang prajuru yang tugasnya menjadi “tukang” menghitung dan kalkulasi kebutuhan. Kalau diperkirakan akan ada seratus orang yang makan, maka diperlukan sekian ekor ayam, sekian kilo ikan, dan lain-lain. Dalam bahasa modern, prajuru adalah executive chef. Lembaga adat inilah yang telah berperan secara con amore (demi cinta) menjadi catering service di desa-desa Bali. Uniknya, hampir semua belawa dan prajuru di Bali adalah kaum pria.

Tidak akan lengkap tulisan tentang ayam betutu tanpa menyebut ayam betutu “Men Tempeh” di Gilimanuk yang legendaris. Hampir semua orang yang datang ke Bali melalui lintas selat Ketapang-Gilimanuk pasti akan singgah ke “Men Tempeh” yang buka warung di dekat terminal bus lama.

Tetapi, “Men Tempeh” membuat ayam betutunya dengan cara yang sangat berbeda. Pertama, ia tidak memakai bara sekam padi, melainkan memanggangnya dalam oven. Karena itu daging ayam betutu “Men Tempeh” masih tampak putih mulus, tidak kecoklatan seperti lazimnya ayam betutu tradisional Bali. Kedua, ia memakai bumbu yang lebih sedikit, tetapi dengan cabe rawit yang amat sangat banyak. Hasilnya adalah ayam betutu yang super-puedessss!

Kemasyhuran ayam betutu “Men Tempeh” kini telah mengakibatkan hadirnya warung “Men Tempeh” palsu yang bermunculan di sekitar terminal bus Gilimanuk. Kalau mau yang asli, Anda harus mencarinya di terminal bus lama, dan letaknya di atas. Dapat dicapai dengan mendaki beberapa anak tangga. Sayang, kan, kalau Anda sudah jauh-jauh pergi ke Gilimanuk, lalu ternyata menemukan yang palsu? Ada lagi mantan anak buah “Men Tempeh” yang mengibarkan bendera sendiri dengan merek warung “Bu Linda”. Setidaknya dia lebih sportif!

http://www2.kompas.com/jalansutra/news/0608/01/122541.htm

Bebek Basah Kuyup yang Renyah

Pertengahan Mei lalu Ubud, Bali, kelihatan sepintas seperti tidak banyak berubah. Mobil masih berderet–deret parkir di tepi Jalan Monkey Forest, di depan deretan toko, galeri, dan penginapan. Turis–turis asing tampak berlalu lalang di trotoar meskipun jumlahnya tidak banyak.

Biasa saja, turis–turis masih saja ada yang datang. Ubud kan memang dari dulu tidak pernah seramai Kuta,” kata perempuan penjaga Gallery Tama di Jalan Monkey Forest.

Ketika mobil kami berbelok menuju jalan utama Ubud, pasar tradisional di pojok jalan juga terlihat ramai oleh turis. Meskipun begitu, Bom Bali II tetap meninggalkan dampak, bahkan untuk kawasan yang tenang dan sejuk seperti Ubud.

Hari sudah lewat tengah hari dan perut mulai berteriak minta diisi. Ditambah dengan udara sejuk, kami memutuskan segera mencari tempat makan. Tempat yang direkomendasikan pengemudi kami, yang orang Bali asli, adalah restoran Bebek Bengil.

Restoran di Jalan Hanoman, kawasan Padang Tegal, ini tidak asing bagi kami karena sekitar lima tahun lalu kami juga pernah berhenti makan siang di sini. Saya tidak menolak untuk mencobanya lagi, penasaran apa yang membuat setelah waktu berlalu restoran ini tetap populer.

Perbedaan yang segera saya rasakan adalah kami tidak perlu menunggu untuk mendapat tempat duduk. Meskipun tempat makan itu ramai, tetapi tidak seramai ketika pertama kali kami datang ke restoran tersebut.

Untuk kami, suasana itu justru menguntungkan karena kami dapat merasakan suasana damai dan tenang Ubud yang sejak awal abad lalu sudah menarik banyak seniman luar datang dan bermukim di sana.

Duduk di atas panggung kayu, yang disediakan bagi tamu yang ingin makan dengan duduk bersila atau berselonjor kaki di atas bantal–bantal kecil, suasana terasa asri di restoran yang dikelilingi pohon semak dan gemericik air kolam. Tiga penabuh gamelan mengiringi dengan musik bali yang lincah.

Bebek renyah

Sesuai dengan namanya, hidangan unggulan restoran ini adalah hidangan bebek goreng. Berbeda dengan bebek goreng di banyak tempat, bebek goreng yang disajikan separuh ekor dengan nasi putih, lengkap bersama sambal matah dan lawar di tempat terpisah itu, terasa renyah hingga ke tulang–tulang kecilnya yang bisa dikunyah.

Warna bebek gorengnya coklat–kekuningan dengan kulit yang kelihatan kering dan renyah. “Bebeknya berasal dari daerah sekitar sini. Sebelum direbus 3–4 jam, bebek ini direndam dalam bumbu–bumbu selama 12 jam. Setelah direbus, ditiriskan, dan siap digoreng,” kata Agung Raka Dalem (48), adik dari Agung Raka Sueni, pemilik restoran ini.

Tidak heran bila rasa gurih itu terasa hingga ke daging bebek bagian dalam. Menurut Raka Dalem, yang ikut membantu mengawasi operasi restoran ini sehari–hari, menu bebek bengil crispy duck ini merupakan menu unggulan yang selalu ada sejak restoran tersebut berdiri tahun 1990.

Resep bebek goreng tersebut sebetulnya berawal dari resep keluarga yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari–hari. Kemudian, untuk keperluan penyajian di restoran, resep itu mengalami perubahan dan perbaikan.

“Setiap tahun kami mengubah menu, tetapi 10 menu yang paling digemari tamu–tamu kami terus kami pertahankan,” tutur Raka Dalem, yang pernah bekerja di sejumlah restoran di Australia dan terbiasa dengan menu–menu Eropa.

Bersama koki utama restoran itu, Wayan Sandi, dia ikut mengolah menu–menu baru, mulai dari makanan pembuka, makanan utama, sajian penutup, hingga minuman.

Selain bebek goreng renyah, menu favorit lain antara lain nasi campur, king prawn and mashed potato, dan stuffed chicken breast. Menu–menu tersebut rata–rata memakai bahasa Inggris karena tamu tempat ini memang berasal dari berbagai bangsa.

Selalu berganti

Bila mempunyai kantong perut cukup besar, Anda dapat mencoba nasi campur. Disajikan di atas piring makan berukuran besar, nasi dan lauk pauknya diletakkan di atas helai daun pisang.

Nasi hangat bertabur bawang goreng ditemani sate ikan yang dililitkan di batang serai. Lauk lainnya adalah telur balado, daging semur, ayam bumbu kuning, udang tempura, dan perkedel jagung. Tidak ketinggalan urap kacang panjang, kacang goreng, dan kerupuk.

Menu santapan utama stuffed chicken breast terdiri dari dada ayam yang diisi dengan paduan jamur shiitake, bayam, dan taoge. Pelengkapnya adalah sayuran kol, taoge, dan wortel, saus bersantan kental, serta nasi goreng.

Yang harus dicoba adalah sambal matah yang dibuat dari irisan bawang merah, bawang putih, serai dan cabai rawit, minyak makan, air jeruk limau, serta sedikit terasi.

Sambal matah di Bebek Bengil sudah disesuaikan dengan lidah tamu–tamunya yang berasal dari berbagai bangsa sehingga tidak sepedas sambal matah yang pernah dibuat seorang teman Bali saya.

Sebenarnya saya ingin menjajal minuman yang direkomendasikan pelayan restoran ini, yaitu giant chill. Ini adalah jus stroberi atau jambu biji yang dicampur dengan air soda. Sayang, kami tidak bisa mencicipi sebab kebetulan tidak tersedia stroberi saat itu.

Menurut Raka Dalem, Bebek Bengil selalu memperbarui menunya tiap tahun sebagai bagian dari strategi agar Bebek Bengil selalu menjadi tempat favorit di Ubud. Tiap kali dievaluasi menu mana yang paling digemari dan 10 menu yang paling digemari akan dipertahankan. (Kompas/Ninuk Pambudy)

http://www2.kompas.com/ver1/Makan-Plesiran/0606/15/113254.htm

Apa yang timbul di otak anda ketika melihat foto ini?

Apa yang diinget?

Bisa keluar air liur?

Kalau anda suka ke Bali,khususnya Ubud,anda pasti tau..

Ya..itulah Bebek Bengil Ubud ! Sudah ada dua outlet di Ubud, di Jakarta juga sudah di franchise di Dharmawangsa Square.

Tapi foto ini saya ambil, ketika saya dinner bersama anak2 saya di outletnya sendiri yang baru dibuka di Menteng, Jakarta.

Tepatnya di jalan Haji Agus Salim 132. Menurut informasi, pemiliknya Ibu Anak Agung Raka Sueni langsung kongsi dg beberapa orang Jakarta, termasuk Jusuf Arbianto untuk outletnya yang satu ini.

Buat saya yang sangat “personally attached” ke Ubud, kehadiran outlet yang dekat tempat tinggal saya di Apartment Puri Imperium sangat luar biasa… Begitu dihidangkan tadi malam, saya langsung minta extra Sambal Mata ! Saya juga pesan Nasi Bali untuk menemani Bebek Bengil Original Sejak 1990, menu utamanya..

Rasanya sama persis!

Mak Nyus pokoknya..hehehe…

Bedanya dengan di Ubud, disitu kita bisa makan sambil lesehan dan memandang sawah… Di Menteng, kita cuma bisa makan secara outdoor dining dikelilingi kolam dan bebek buatan…

Saya sengaja menulis ini karena di New Wave Marketing,saya mengatakan ada tiga macam Connector. Mobile, Experiential dan Social Connectors. Artinya, di era Web 2.0 ini, anda sebagai Marketers harus ter “connect” dengan Customers, Competitors bahkan Change Agents di Landscape business anda secara online dan offline…

Kenapa?

Ya karena semua elemen itu selalu “moving”. Karena itu anda harus mempunyai cara untuk selalu “connected” dengan mereka to be updated. Mereka juga punya experiences yang membekas. Saya sebagai orang yang sangat fanatik dengan Ubud punya kesan mendalam dengan Bebek Bengil disana. Karena itu, dengan adanya outlets mereka di Jakarta, saya lantas jadi ter “connect” kembali ke Ubud..

Jadi bayangkan aja, kalau KFC, McD dan Starbuck punya outlet ribuan diseluruh dunia dan selalu standard experiential servicesnya, maka customers mereka pasti akan terus ter “connect”.

Terakhir, karena mereka juga punya komunitas, maka kita harus mengusahakan diri selalu ter “connect” dengan komunitas yang relevan..

Itulah yang disebut Social Connector..

Balik ke Bebek Bengil Outlet di Menteng yang bagi saya adalah Experiential Connector, maka saya langsung jadi teringat kembali akan Ubud. Apalagi, diluar gedungnya, ada tulisan UBUD besar. Otomatis saya jadi pengen balik lagi ke Ubud, walaupun sudah puluhan kali kesana.

Experiential Connectors ini supaya sempurna harus berbentuk Offline dan Online… Artinya,bagaimana Offline Experience itu bisa ada di Website2 yang relevan… Lebih bagus lagi kalau orang bisa berinteraksi sehingga benar2 bisa feel the experience. Walaupun cuma virtual.

Nah,sinergi offline dan online seperti itulah yang akan membuat anda jadi terus diingat di era New Wave ini. Ingat, the World is still Round, but the Market is already Flat ! Artinya, kompetitor anda sudah tidak terbatas jumlahnya… Siapa yang pintar memanfaatkan Connector akan menang !

http://hermawankartajaya.kompasiana.com/2009/05/03/bebek-bengil-original-since-1990the-experiential-connector/

Lawar merupakan makanan khas yang sudah tidak asing lagi bagi warga Bali. Makanan khas ini menjadi menu utama pada setiap sarana upakara (upacara) keagamaan. Jadi, tidak hanya untuk santapan teman nasi saja.

Lawar pun bermacam-macam. Ada lawar ayam, lawar babi, lawar kuwir, hingga lawar penyu. Sebelum dilarang dikonsumsi, lawar upakara di Bali memakai penyu. Sekarang, warga memakai daging kuwir atau daging babi. Katanya, lebih enak lawar kuwir atau lawar babi ketimbang lawar daging ayam. Bumbunya lebih merasuk. Tetapi, tidak semua orang senang atau bisa mengonsumsi babi.

Lawar kuwir populer di Kabupaten Klungkung. Salah satu warung yang memopulerkan lawar kuwir Klungkung menjadi santapan di luar menu upakara, yaitu untuk disantap kapan saja, adalah warung Pan Sinar. Warung di Jalan Kembang Matahari Nomor 3B, Banjar Ketapian Kaja, Denpasar, itu milik Ketut Gina (61), warga asli kelahiran Banjar Lepang, Desa Takmung, Klungkung.

Kuwir adalah sebutan di Pulau Dewata untuk bebek atau mentok. Jika harga mentok di Jawa murah, sekitar Rp 15.000 per ekor, di Pulau Seribu Pura ini bisa mencapai Rp 35.000 per ekor. Karena belum lama ini Indonesia terserang virus flu burung, Gubernur Bali pun melarang memasok unggas hidup, kecuali yang masih berumur satu hari atau telurnya saja.

“Tiyang (saya) sempat kesulitan mendapatkan kuwir. Tetapi, tiyang tidak khawatir sepi pelanggan gara-gara flu burung karena kuwir sudah tiyang masak dengan matang dan bersih,” ujar Ketut Gina. Meramu lawar tidak mudah dan tidak sembarang orang pandai meraciknya menjadi makanan yang nikmat. Di Bali, orang yang pandai meramu lawar disebut mencegera. Mereka khusus peramu atau koki lawar pada saat perhelatan upacara keagamaan.

Ketut Gina sendiri diakui para pelanggannya pandai meramu lawar kuwir dengan rasa pas dan rasanya bisa sama setiap harinya. Warungnya yang disewanya sekitar tahun 1996 itu memang sederhana. Awalnya ia berjualan di pasar dengan menggelar tenda kecil dari pagi hingga siang. Sekarang, ia mampu melayani pelanggan dari pukul 07.00 Wita sampai 20.00 Wita. Katanya, ia sering kasihan dengan pelanggan yang kecele karena sebelumnya pukul 17.00 Wita warungnya sudah tutup.

Harga Rp 10.000 per porsi sudah dipertahankan Ketut Gina sekitar tiga tahun terakhir. Ia tidak tega menaikkan harga lagi. “Kasihan, apa-apa sudah mahal. Tiyang bertahan saja, asal masih untung sudah bersyukur,” ujarnya.

Keuntungan yang dia raup menurun jauh dibandingkan sebelum krisis ekonomi 1998. “Dulu, tiyang membutuhkan 80 ekor kuwir setiap hari. Sampai-sampai tiyang punya ternak ratusan ekor yang dipasok dari Jawa. Sekarang, hanya habis sekitar 20 ekor saja dan tidak lagi pasok dari Jawa,” ceritanya dengan nada sedih.

Bangga
Ketut Gina merasa bangga dengan keahliannya mampu ngelawar (meramu lawar) yang jarang dimiliki warga Bali. Anaknya yang mengikuti jejak sang bapak pun terpaksa gulung tikar. Warung yang dibuka di Tuban dan Jalan By Pass Ida Bagus Mantra tak bertahan dan terpaksa modal Rp 200 juta pun melayang. Bagaimana tidak, pelanggan sudah tersugesti dengan lawar kuwir racikan tangan Ketut Gina.

Bagi penikmat lawar, rasa lawar Pan Sinar memang belum ada tandingannya dibandingkan dengan masakan warung lawar lain. “Duh, rasanya selangit. Pas banget. Belum ada tandingannya. Seken ne (beneran nih),” kata salah satu pelanggan tetap Pan Sinar. Lawar kuwir terdiri dari rajangan nangka muda, irisan kuwir yang sudah direbus selain bagian dada, parutan kelapa bakar, serta bumbu lengkap ala Bali yang disebut bumbu genep, seperti kencur, kunyit, laos, bawang merah, bawang putih, serta tak lupa irisan cabai. Semua itu diuleni dengan tangan.

Takaran memang memengaruhi rasa. Meleset perbandingannya antara bumbu dan racikan bahan lainnya, lawar menjadi hambar atau tidak mantap. Katanya, bagi yang kurang pandai meracik lawar secara enak bakal menyiasati rasa dengan irisan cabai yang banyak. Tetapi, siasat ini tidak berlaku untuk Ketut Gina. Makanya, seorang mencegera biasanya mendapat kemampuan meramu secara turun-temurun. Namun, kalau tidak hobi dan menikmati sebagai mencegera juga bisa dipastikan gagal menyajikan lawar yang enak.

Nangka mudanya pun pilihan, yakni nangka cendana muda. Alasannya, menurut Ketut Gina, serat-seratnya lebih banyak dan kenyal dibandingkan nangka muda lainnya. Jika ke Bali, coba dan bandingkan rasanya,. Hmmm… dijamin tidak menyesal mencoba lawar kuwir ini. Dan tak perlu khawatir, lawar ini dijamin tidak dicampur dengan daging hewan lain.

Menyantap lawar kuwir ini enaknya langsung di warung Pan Sinar. Sepiring nasi panas menambah nafsu makan. Lawar kuwir sendiri pun rasanya sedikit pedas. Tetapi, namanya kapok-kapok sambal, meski pedas bisa jadi justru bikin ingin tambah. Di tempat Pan Sinar sepiring lawar kuwir disajikan bersama sate lilit kuwir (dari bagian dada). Tak lupa, semangkuk jukut ares kuwir atau bisa memilih dengan kuah komoh (kuah kaldu rebusan daging kuwir).

Yang tak kalah ketinggalan adalah sambal matah (irisan cabai, bawang merah goreng, dengan minyak kelapa) dan lawar daun belimbing dan racikannya pun tidak sembarangan pilih daun. Yang pasti, semua bahan adalah pilihan.

Kompas, Ayu Sulistyowati
© Kompas Cyber Media

Bisnis rumah makan kini kian menjamur. Meski dengan modal kecil, bisnis yang satu ini masih bisa dijalankan. Hal itulah salah satu yang melatarbelakangi I Gede Erwin mulai merintis usaha warung Be Pasih yang berlokasi di jalan Pemuda, Renon, Denpasar. Masakan ikan laut menjadi ciri khas warung makan yang berdiri sejak tahun 1999 ini. Bagaimana awal berdirinya warung Be Pasih hingga dikenal masyarakat?

Pola hidup sehat dapat dicapai salah satunya denga mengatur pola makan.. Sebagai salah satu alternatif, ikan laut merupakan menu makanan sehat berprotein tinggi. Inilah, alasan kenapa warung Be Pasih bercirikan aneka masakan ikan laut. “Saya sering mendapatkan informasi berbagai penyakit muncul karena makanan yang tak sehat. Untuk itu menu khas warung kami sengaja kami tawarkan spesial ikan laut. Selain sehat, berbagai kalangan dapat menyantapnya”ujar Made Erwin.

Bisnis tersebut mulai dilakoni Erwin setelah ia kena PHK dari perusahan alat konstruksi di Surabaya. Lulusan S1 Teknik Mesin, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya tahun 1994 ini berniat membuka bengkel cuci mobil. Karena modal yang dikeluarkan besar, ia pun mengurungkan niatnya.

Pada saat ia dalam kondisi menganggur, salah satu temannya mengajak kerjasama membuka usaha rumah makan. Selain modal kecil, penanganannya pun tak begitu rumit. Masakan ikan laut sengaja ia jadikan menu khas warung itu.

Ada hal lain kenapa ia tertarik menekuni bisnis warung makan. Menurut Erwin, awalnya ia heran melihat warung Pesinggahan di Klungkung selalu dikunjungi orang dari berbagai daaerah. “Masyarakat Denpasar pun rela makan di tempat itu meski jauh,”ujarnya. Rasa penasaran selalu menghantui Erwin, ia pun mencoba mendatangi rumah makan tersebut untuk menawarkan kerjasama. “Akhirnya warung Be Pasih dan Pesinggahan menjalin kerjasama hingga kini. Untuk resep, kami ambil dari warung itu. Bahkan kami juga pernah dilatih membuat resep masakan ikan laut,”ujarnya.

Awalnya ia hanya mempekerjakan lima orang karyawan. Warung Be Pasih pun masih terlihat kecil dan hanya menghadirkan dua menu paket ikan Pesinggahan dan ikan bakar. Erwin mengaku, lokasi warung Be Pasih yang sedikit terpencil, tak sengaja ia pilih. ”Kebetulan dapat beli tanah di daerah itu. Namun kami tetap optimis karena melihat warung Pesinggahan yang berada di pedalaman saja mampu berkembang, kenapa kami tidak,” ucapnya.

Meski kurang strategis, tapi suasana itulah yang kini menjadikan pelanggannya makin bertambah. ”Banyak pelanggan saya suka dengan lokasi warung Be Pasih, katanya jauh dari kebisingan kota,” tambah Erwin. Meski sebenarnya warung tersebut berada di pusat kota, suasana tempat yang nyaman tetap menjadi prioritas utama.

Kini warung Be Pasih menyediakan empat jenis menu masakan khas ikan laut, yakni paket pesinggahan, ikan bakar, goreng dan steak. Erwin sengaja membuat menu makanannya tanpak lebih modern dengan menyediakan steak ikan laut. ”Meski masakan kami mengalami perubahan jenis menu, namun kami tak pernah meninggalkan ciri khas Warung Be Pasih, ikan laut khas pesinggahan,” ungkap suami dari Dewi ini.

Sebagai sarana promosi, Erwin mengaku lebih mengutamakan promosi lewat mulut ke mulut, sehingga mampu memotivasi dirinya dalam memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan. ”Jika pelayanannya sudah baik, tentunya akan membuat pelanggan puas dan secara langsung akan menyampaikan ke rekan-rekan mereka,” ujarnya.

Meski di tahun 2005 warung Be Pasih pernah didera musibah kebakaran, keberadaannya tetap eksis dan bisa lebih berkembang. Hal itu pun yang menjadikan Erwin lebih bersemangat memajukan warung Be Pasih.

Kini rumah makan Warung Be Pasih telah menjadi tempat langganan sejumlah perkantoran serta sekolah-sekolah, baik dalam rangka acara resmi atau tidak, seperti kegiatan gathering perusahaan, ulang tahun atau bazzar.

http://www.cybertokoh.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=2058

Lain warung Be Pasih di Denpasar, lain pula Restorant makanan dengan menu yang sama yang ada di desa pesinggahan Klungkung, namanya Warung Mertha sari di Pesinggahan Klungkung. Terletak di Kabupaten Klungkung sebelum Goa Lawah. Perjalanan yang ditempuh memakan waktu 45 menit dari Kota Denpasar. Daerahnya cukup terpencil, kalo kita dari arah by pass Gianyar di ujung traffic light kita ke kanan menuju arah Goa Lawah, nah sebelum sampai Goa Lawah anda perhatikan ada pertigaan, di pesisir pantai Kusamba anda belok kekiri, tidak sampai 100 m anda akan menjumpai Warung Mertha Sari.

Menu yang tersedia ada nasi putih, kacang, sambal matah, plecing kangkung, sate lilit ikan , pepes ikan dan soup ikan. Cuma di sini kuah sup ikannya agak asin. Belakangan saya amati beberapa orang Bali yang makan di situ ternyata di siram di atas nasi putih. harga per menu hanya Rp.9.000.

Suasananya memang cukup panas, karena berada di daerah pantai, warungnya pun sederhana, ada beberapa bale dari bambu, dialasi dengan tikar dari pandan, tapi jangan salah orang-orang yang makan disana kebanyakan dari luar Bali, hmm ada juga artis indonesia makan disana, kebetulan saya makan disana menjumpai Dewa Budjana dan teman-teman dari Gigi Band.

http://manbull.blogspot.com/2008/01/sate-lilit-ikan-pesinggahan-klungkung.html