kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for June, 2009

Panca Yadnya seperti di tulis dari website Babadbali adalah lima jenis karya suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Adapun Panca Yadnya atau Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari:

  1. Dewa Yadnya.
    Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lain- lain.

  2. Pitra Yadnya.
    lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang
    disebut Atma Wedana.
    Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti:

    1. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
    2. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
    3. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.
  3. Manusa Yadnya.
    Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia.
    Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah:

    1. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir.
    2. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari).
    3. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton).
    4. Upacara Potong Gigi (Metatah / Mesangih) untuk anak yang naik remaja
    5. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana.

    Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan- kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lain- lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama), memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya.

  4. Resi Yadnya.
    Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi, orang- orang suci, Resi, Pinandita, Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk:

    1. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa.
    2. Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
    3. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat- saat tertentu kepada Sulinggih.
    4. Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran para Sulinggih.
    5. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.
  5. Bhuta Yadnya.
    Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk- makhluk rendahan, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang), tumbuh- tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.
    Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.

Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur- unsur Panca Yadnya telah tercakup di dalamnya, sedangkan penonjolannya tergantung yadnya mana yang diutamakan.

Manusa Yadnya

Manusa yadnya dalam konteks ritual seperti di jelaskan diatas, bermacam-macam bentuknya, di antaranya magedong-gedongan, nyambutin, ngotonon, potong gigi, dan upacara perkawinan. Dalam konteks yang lebih luas manusa yadnya bisa dipahami sebagai bentuk yadnya kepada sesama.

Upacara Raja Sewala

Di dalam sastra-sastra Hindu disebutkan bahwa bagi orang tua (keluarga) berkewajiban pertama, Ametuaken, melahirkan anak. Ini bertujuan untuk mengisi dan memelihara dunia, melanjutkan garis keturunan, sehingga dunia ini penuh dengan tawa dan tangis. Kedua, Binojana/ membesarkan anaknya yaitu memberikan makanan yang cukup dan penuh gizi seimbang, Ketiga, Mengupadyaya/ mendidik, menyekolahkan, membekali dengan ilmu pengetahuan dan ilmu agama untuk menyosong masa depan, Keempat Matulung Urip/ melindungi atau menjaga kesehatan dan Kelima, Sinangaskara/ memberikan upacara/ mensucikan jiwanya.Mensucikan jiwa anak, adalah kewajiban bagi orang tua. Umat Hindu dari sejak memasuki gerbang rumah tangga sudah dimulai dengan upacara, yaitu bayi dalam kandungan baru berumur 5 - 7 bulan namanya upacara megedong-gedongan atau tujuh bulanan, setelah bayi lahir dibikinkan upacara nyambutin atau dapetan dan terakhir tugas orang tua adalah mengawinkan anaknya yang telah dewasa.

Ciri-ciri anak telah meningkat dewasa.

Siklus kehidupan makhluk didunia adalah lahir, hidup dan mati (kembali keasalnya). Manusia hidup di dunia mengalami beberapa phase yaitu, phase anak-anak, pada phase ini anak dianggap sebagai raja, semua permintaannya dipenuhi. Phase berikutnya adalah pada masa anak meningkat dewasa. Saat ini anak itu tidak lagi dianggap sebagai raja, tetapi sebagai teman. Orang tua memberikan nasehat kepada anak-anaknya dan anak itu bisa menolak nasehat orang tuanya bila kondisi dan lingkungannya tidak mendukung, artinya terjadi komunikasi timbal balik atau saling melengkapi. Dan yang terakhir adalah phase tua, di sini anak tadi menjadi panutan bagi penerusnya.

Sebagai tanda dari kedewasaan seseorang adalah suaranya mulai membesar /berubah/ngembakin (bahasa Bali) bagi laki-laki dan bagi perempuan pertama kalinya ia mengalami datang bulan. Sejak saat ini seseorang mulai merasakan getar-getar asmara, karena Dewa Asmara mulai menempati lubuk hatinya. Bila perasaan getar-getar asmara ini tidak dibentengi dengan baik akan keluar dari jalur yang sebenarnya.

Perasaan getar-getar asmara itu dibentengi melalui dua jalur yaitu, jalur niskala, membersihkan jiwa anak dengan mengadakan Upacara yang disebut Raja Sewala dan jalur sekala, dengan memberikan wejangan-wejangan yang bermanfaat bagi dirinya

Upacara Raja Sewala ini sesuai dengan apa yang diungkapkan didalam Agastya Parwa bahwa, disebutkan ada tiga perbuatan yang dapat menuju sorga, yaitu: Tapa (pengendalian), Yadnya (persembahan yang tulus iklas) dan Kirti (perbuatan amal kebajikan) Upacara Raja Sewala merupakan Yadnya (persembahan yang tulus iklas) yang membuat peluang bagi keluarganya untuk masuk sorga.

Nilai pendidikan

Upacara Raja Sewala/meningkat dewasa yang dilakukan oleh umat Hindu adalah merupakan salah satu jenis Upacara Manusa Yadnya yang bertujuan untuk memohon kehadapan Sanghyang Widhi Waça (Tuhan Yang Maha Esa) dalam menifestasinya sebagai Sang Hyang Semara Ratih, agar orang itu dibimbing, sehingga ia dapat mengendalikan dirinya dalam menghadapi Pancaroba. Pada masa panacaroba ini seseorang sangat rentan terhadap godaan-godaan khususnya godaan dari Sad Ripu yaitu: Kroda (sifat marah), Loba (rakus/tamak), Kama (nafsu/keinginan), Moha (kebingungan), Mada (kemabukan), dan Matsarya (rasa iri hati)

Pada Upacara ini juga terselip nilai pendidikan. Anak diberikan wejangan-wejangan yang menyatakan bahwa dirinya telah tumbuh dewasa, apapun yang akan diperbuatnya akan berakibat juga kepada orang tuanya. Jadi anak itu tidak bebas begitu saja menerjunkan diri dalam pergaulan dimasyarakat. Dia harus tahu mana yang pantas untuk dilakukan dan mana yang dilarang. Dalam hal ini anak-anak juga merasa mendapat perhatian dari orang tuanya sehingga menimbulkan rasa lebih hormat kepada orang tuanya.

Melalui Upacara Raja Sewala/Meningkat dewasa ini diharapkan seseorang dapat meningkatkan kesucian pribadinya sehingga mampu memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Upacara Yadnya Potong Gigi

Upacara Yadnya potong gigi, atau dalam komunitas Hindu-Bali disebut metatah, mepandes, atau mesangih. Secara fisik, dalam upacara ini, baik laki-laki maupun perempuan, enam gigi mereka diratakan dengan alat kikir, yaitu dua gigi taring dan empat gigi tengah.

Keenam gigi itu melambangkan Sad Ripu atau enam sifat buruk yang ada dalam diri setiap manusia, yakni nafsu (kama), rakus (loba), marah (kroda), mabuk (mada), bingung (moha), dan dengki (matsarya).

Adapun penjuelasan lebih rinci tentang makna hingga pelaksanaan Upacara Yadnya Potong Gigi di jelaskan lebih rinci dalam website Babadbali berikut:

Upacara potong gigi (mepandes / metatah)

.
Arti Upacara ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu yang ada pada diri si anak.
Sarana
1 Sajen sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang Widhi Wasa.
2 Sajen pabhyakalan prayascita, panglukatan, alat untuk memotong gigi beserta perlengkapannya seperti: cermin, alat pengasah gigi, kain untuk rurub serta sebuah cincin dan permata, tempat tidur yang sudah dihias.
3 Sajen peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa gading dan sebuah bokor.
4 Alat pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap. Belakangan dipakai tebu, supaya lebih enak rasanya.
5 Pengurip-urip yang terdiri dari kunir serta pecanangan lengkap dengan isinya.
Waktu Upacara ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa, namun sebaiknya sebelum anak itu kawin. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga.
Tempat Seluruh rangkaian upacara potong gigi dilaksanakan di rumah dan di pernerajan.
Pelaksana Upacara potong gigi dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita ‘dan dibantu oieh
seorang sangging (sebagai pelaksana langsung).
Tata cara
1 Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita.
2 Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian.
3 Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi, taring, gigi atas, gigi bawah, lidah, dada, pusar, paha barulah diperciki tirtha pesangihan.
4 Upacara dilanjutkan oieh sangging dengan menyucikan peralatannya.
5 Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah, bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip.
6 Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kernudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya.
Mantram-mantramnya
1. Mantram prayascita dan bhyakala. Artinya:
Om Hrim, Srim, Mam, Sam, Warn, Saçwa rogha satru winasa ya rah phat.
Om Hrim. Srim. Am. Tarn. Sam. Bam. Im, sarwa dandamala papa klesa, wenasaya rah, Um, phat.
Om Hrim, Srim, Am, Um, Mam, Sarwa,
papa petaka wenasaya rah, Um phat,
Om Siddhi guru srom, Sarwasat.
Om sarwa weghena winasaya, sarwa papa wenasaya, astu ya namah swaha.
Om Hyang Widhi Wasa, semoga semua musuh yang berupa penderitaan, kesengsaraan, bencana dan lain-lain menjadi sirna.
 
2. Mantram mohon persaksian. Artinya:
Om adityasya parantyoti rakta tejo nama stute, swera pang kajo mandhyaste Bhaskara ya namo namah, pranamya bhaskara dewam, sarwa klesa wia sanam, pranamya ditya siwartham bhukti mukti warapradam.
Om rang ring sah paramya Çiva dityaya namo namah swaha.
Om Hyang Widhi Wasa, semoga hamba mendapat perkenanMu, untuk melalui tahapan hidup ini dalam jalanMu dengan pertolongan hanya dariMu.
Om dimulyakanlah Engkau ya Tuhan.
 
3. Mantram alat pengasah. Artinya:
Om Sang perigi manik, aja sira geger lunga antinen kakang nira sang kanaka
teka pageh, tan katekaning lara wigena,
teka awet, awet, awet.
Om Hyang Widhi Wasa, semoga alat-alat ini dapat memberikan kekuatan.
 
4. Mantram pengurip-urip. Artinya:
Om urip-urip bayu, sabda idep teka urip, ang, ah. Om Sang Hyang Widhi Wasa, dalam wujud Brahma Maha Sakti, semoga tenaga, ucapan dan pikiran hamba memberikan kekuatan terhadap alat-alat ini.
 
5. Mantram Mejaya-jaya. Artinya:
Om Dirgayur Astu ta astu,
Om subham astu tat astu,
Om Sukham bhawantu,
Om Pumam bhawantu,
Om sreyam bhawantu,
Om Sapta wrddhin astu tat astu astu swaha.
Om Hyang Widhi Wasa semoga kami dianugrahi kesejahteraan, kebahagiaan, dan panjang umur

http://www.babadbali.com/canangsari/banten/mepandes.htm

Wayang Bali dan Sejarahnya

Posted by Adnyana under Budaya Bali

wayang berasal dari kata wayangan yaitu sumber inspirasi dalam menggambar wujud tokoh dan cerita sehingga bisa tergambar jelas dalam batin si penggambar karena sumber aslinya telah hilang. di awalnya, wayang adalah bagian dari kegiatan religi animisme menyembah ‘hyang’, itulah inti-nya dilakukan antara lain di saat-saat panenan atau taneman dalam bentuk upacara ruwatan, tingkeban, ataupun ‘merti desa’ agar panen berhasil atau pun agar desa terhindar dari segala mala (mara bahaya).

di tahun (898 - 910) Masehi wayang sudah menjadi wayang purwa namun tetap masih ditujukan untuk menyembah para sanghyang seperti yang tertulis dalam prasasti balitung:

sigaligi mawayang buat hyang, macarita bhima ya kumara
(terjemahan kasaran-nya kira-kira begini :  menggelar wayang untuk para hyang menceritakan tentang bima sang kumara)

di jaman mataram hindu ini, ramayana dari india berhasil dituliskan dalam bahasa jawa kuna (kawi) pada masa raja darmawangsa, 996 - 1042 Masehi mahabharata yang berbahasa sansekerta delapan belas parwa dirakit menjadi sembilan parwa bahasa jawa kuna lalu arjuna wiwaha berhasil disusun oleh mpu kanwa di masa raja erlangga

sampai di jaman kerajaan kediri dan raja jayabaya mpu sedah mulai menyusun serat bharatayuda yang lalu diselesaikan oleh mpu panuluh tak puas dengan itu saja, mpu panuluh lalu menyusun serat hariwangsa  dan kemudian serat gatutkacasraya menurut serat centhini, sang jayabaya lah yang memerintahkan menuliskan ke lontar    (daun lontar, disusun seperti kerai, disatukan dengan tali) di jaman awal majapahit wayang digambar di kertas dan sudah dilengkapi dengan berbagai hiasan pakaian

masa-masa awal abad sepuluh bisa kita sebut sebagai globalisasi tahap satu ke tanah jawa kepercayaan animisme mulai digeser oleh pengaruh agama hindu yang membuat ‘naik’-nya pamor tokoh ‘dewa’ yang kini ‘ditempatkan’ berada di atas ‘hyang’

abad duabelas sampai abad limabelas adalah masa ’sekularisasi’ wayang tahap satu dengan mulai disusunnya berbagai mithos yang mengagungkan para raja sebagai keturunan langsung para dewa

abad limabelas adalah dimulainya globalisasi jawa tahap dua kini pengaruh budaya islam yang mulai meresap tanpa terasa dan pada awal abad keenambelas berdirilah kerajaan demak ( 1500 - 1550 M )

Seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa Timur, akhirnya para seniman kerajaan dan seniman masyarakat migrasi ke pulau Bali yang saat itu diBali kerajaannya berpusat di Swecapura Gelgel Klungkung. Daerah di sekitar lingkungan kerajaan Gelgel, seperti di desa Kamasan, merupakan desa perkampungan para seniman Bali saat itu. Oleh karena itu Klungkung di saat Bali masih di pimpin dari Gelgel Klungkung  merupakan pusatnya kebudayaan dan seniman bali, dan desa Kamasan hingga kini masih melestarikan tradisi turun temurun dari leluhurnya melukis wayang. Namun seiring dengan runtuhnya kerajaan Gelgel Klungkung, dan kerajaan - kerajaan yang ada di Bali mulai berdiri sendiri, keberadaan para seniman Bali termasuk seniman Wayang mulai menyebar ke berbagai kabupaten yang ada di Bali.

Wayang Budi Pekerti

Kesenian wayang di Nusantara berawal dari seni sakral. Masyarakat Indonesia di masa lalu mementaskan wayang bukan untuk hiburan, tetapi untuk pelengkap upacara keagamaan. Dalam kalender Bali dan Jawa, ada wuku yang bernama wayang. Ini adalah rentetan hari selama seminggu untuk menyelenggarakan upacara dengan inti pementasan wayang. Puncaknya adalah hari Sabtu Kliwon yang disebut Tumpek Wayang.

Kesakralan seni wayang masih membekas, meskipun mulai berkurang jenis upacara yang dikaitkannya. Di Jawa Barat, pertunjukan wayang golek masih dipakai pada “panen laut”. Wayang golek dipentaskan semalam suntuk dan di pagi hari sesaji dibawa para nelayan ke tengah laut.

Di Jawa, pentas wayang kulit dipakai untuk ruwatan bumi maupun ruwatan orang. Di Bali kesakralan wayang kulit juga berhubungan dengan ruwatan orang, khususnya pada orang-orang yang lahir di wuku Wayang. Ada lakon khusus yang dipentaskan pada upacara itu, biasa disebut wayang nyapuleger.

Di Bali, kesakralan wayang juga dipakai pada upacara Pitra Yadnya (ngaben) dengan lakon-lakon pencarian air suci. Begitu pula pada upacara Manusa Yadnya seperti otonan dan potong gigi, sering disertai pementasan wayang. Dalang kemudian membuat tirtha (air suci) untuk dipercikkan kepada orang yang otonan atau potong gigi.

Karena sejarah seni pertunjukan wayang adalah sakral, Ki Dalang berusaha mengupas makna dan filosofi dari kesakralan pertunjukan itu. Jika menyangkut Manusa Yadnya, yang banyak dikupas adalah masalah budi pekerti.

Jika pertunjukan untuk Pitra Yadnya, Ki Dalang mengupas inti dari yadnya itu. Kupasan bisa melebar ke mana-mana, tak hanya melulu penjelasan tentang ritual tetapi juga pencerahan agama. Ki Dalang berfungsi sebagai guru, tokoh agama, pendharma wacana, dan penonton memposisikan diri sebagai murid dan orang yang haus pelajaran agama.

Itu dulu. Ketika pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Panggung sederhana tanpa ada pengeras suara, penonton duduk di tanah beralas karung beras, tak ada yang berisik saat Ki Dalang menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Anak-anak boleh tidur, dan bangun ketika Bima dan Arjuna berperang melawan raksasa.

Sekarang, situasi sudah sangat berbeda. Hiburan begitu banyak berseliweran, ada televisi dan video yang canggih-canggih. Pedesaan juga gemerlap, listrik ada di mana-mana. Pertunjukan wayang kulit pun ingar-bingar dengan pengeras suara. Tetapi, kenapa justru tidak ada yang menonton wayang? Kenapa lakon Bima mencari tirtha amerta ke tengah laut dan ketemu Dewa Ruci tidak lagi memikat, dan kalah dibandingkan Salon Oneng di televisi? Jawabnya karena posisi Ki Dalang dan sang penonton sudah berbeda.

Ki Dalang tidak lagi sebagai guru dan ahli agama. Penonton pun tidak lagi memposisikan diri sebagai murid dan orang yang harus diberi “kuliah” agama. Banyak media untuk belajar agama, ada buku-buku yang cukup, ada kelompok pesantian, dan ada dharma wacana di televisi yang lebih menarik. Dengan posisi yang sudah berubah itu, apa masih perlu menonton wayang kulit?

Toh karakter wayang tak pernah berubah, Bima tetap saja seperti itu, tokoh yang tak pernah kalah. Arjuna masih saja menggunakan panah, yang selalu tepat sasaran. Diolah dengan cara apa pun, karakter wayang itu sudah ada pakemnya. Dalam bahasa iklan bisa disebutkan, apa pun lakonnya, siapa pun dalangnya, wayangnya tetap itu-itu saja.

Akhirnya, pertunjukan wayang kulit Bali, yang mengiringi upacara yadnya tidak lagi ditonton orang. Pentas wayang kulit setiap Purnama di depan Pura Jagatnatha Denpasar juga tak banyak ditonton orang. Pergelaran wayang kulit yang masih ditonton adalah pergelaran nonsakral, yang dipenuhi banyolan-banyolan. Dalang yang kondang adalah dalang yang punya banyak peluru banyolan. Karena tak mungkin membanyol semalam suntuk, pentas wayang pun paling lama empat jam, atau malah separonya.

Dalam fenomena wayang banyolan ini muncul Nardayana, mahasiswa Institut Seni Indonesia Denpasar. Dengan merek Cenk Blonk, ia kini mengibarkan wayang kulit banyolan dengan iringan tabuh gemerlapan, seperangkat gong kebyar (malah ditambah bunyi tektekan dari bambu) dilengkapi dengan gerong (pesinden di Jawa). Pentas wayang kulit pun kembali dilirik orang, khususnya pentas wayang Cenk Blonk.

Karena Nardayana orang “kuliahan”, ia memang tidak mengubah karakter wayang, tetapi ia menyelipkan banyolan ke dalam karakter tokoh-tokoh serius. Bima, Arjuna, Abimanyu, Gatotkaca (dalam lakon Diyah Ratna Takeshi) adalah tokoh yang bisa dijadikan sentilan tentang karakter manusia, dan kritik sosial tentang kepemimpinan, susila, martabat dan sebagainya. Dalam lakon Katundung Ngada pun, Nardayana banyak menggunakan para kesatria untuk melontarkan kritik, termasuk memberi “pendidikan budi pekerti”. Adakah dalang lain yang mengikuti jejak Nardayana? Sampai saat ini belum, dan itu memang tidak gampang.

Pada akhirnya Ki Dalang memang harus tetap dalam posisi “lebih tinggi” wawasannya. Kalau wawasan penonton sudah maju, wawasan Ki Dalang harus lebih maju lagi, dan mau tak mau Ki Dalang masa kini harus menguasai banyak media termasuk internet, untuk mencari bahan-bahan sebelum pentas.

Putu Setia

http://okanila.brinkster.net/raditya/BaliShowfull.asp?ID=164

I Wayan ”Cenk Blonk” Nardayana
Saya Ingin Wayang Jadi Hiburan Favorit

Jika mendengar nama dalang I Wayan Nardayana, kening Anda pasti berkerut, siapakah dia? Tetapi kalau mendengar nama Cenk Blonk, pastilah langsung ingatan Anda melayang pada pertunjukan wayang yang sangat digemari banyak kalangan. Wayang Cenk Blonk memang tengah naik daun, namun tahukah Anda bahwa perjalanan suksesnya tidak gampang? Dalang laris yang tengah mengambil kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar ini pernah bekerja sebagai tukang parkir di swalayan Tiara Dewata. Namun demikian ia tetap mengasah kemampuannya dalam mendalang. Ia mengakui bahwa lakon wayang yang dibawakan dulunya lebih banyak yang ngomong jorok, namun sekarang ia berusaha memasukkan banyak tuntunan pada masyarakat. Lantas, mengapa dalang yang berpentas sedikitnya 20 kali per bulan ini menolak didokumentasikan pementasannya? Tetapi, mengapa ia justru bangga banyak dalang yang menirunya? Berikut wawancara Bali Post dengan dalang Cenk Blonk.

MENGAPA Anda memakai nama Cenk Blonk?
Dalam pewayangan ada beberapa tokoh punakawan yang namanya Nang Klenceng, Nang Ceblong, Nang Ligir, Nang Semangat dan sebagainya. Tokoh-tokoh itu sudah dikenal masyarakat. Pada mulanya, nama wayang saya bukan Cenk Blonk, namun Gitaloka. Makanya setiap pementasan saya cantumkan di kelir nama “Wayang Gitaloka dari Belayu”. Setiap pentas saya menampilkan dua tokoh itu, Nang Kleceng dan Nang Ceblong selain Tualen, Merdah, Sangut dan Delem. Tetapi setiap pentas, tidak ada orang yang menyebut nama pertunjukan saya Wayang Gitaloka. Waktu pentas di Jempayah, Mengwitani, saat saya masih duduk di mobil dan ada penonton yang bertanya pada temannya, “Wayang apa yang pentas?” Temannya menjawab, “Wayang Cenk Blonk.” Saya kaget, lho saya kok dibilang Wayang Cenk Blonk? Padahal nama wayang saya Wayang Kulit Gitaloka. Mungkin bagi masyarakat nama itu lebih gampang. Maka akhirnya saya ubah nama Gitaloka menjadi Wayang Kulit Cenk Blonk, di kelir saya isi dengan gambar Cenk Blonk, lalu saya beri tulisan Cenk Blonk. Cenk saya ambil dari nama Nang Klenceng dan Blonk dari Nang Ceblong.

Anda banyak berimprovisasi dalam pewayangan yang tidak lazim di Bali, mengapa?
Suatu kesenian menurut saya tidak boleh kaku, diam, sementara zaman bergelinding terus. Jadi, suatu kesenian harus mengikuti zamannya. Saya melirik apa yang disenangi penonton saat ini. Kita tahu, fungsi wayang sebagai wali, tuntunan dan tontonan. Sebagai tontonan harus bisa menarik dan menghibur masyarakat. Bagaimana dalang bisa memberikan tuntunan pada masyarakat, sementara penontonnya enggak suka. Sekarang kebanyakan orang stres dengan pekerjaannya, jadi mereka menonton itu untuk mencari hiburan atau menghilangkan kepenatan sehingga banyak lelucon yang saya tampilkan.

Setelah saya kuliah di STSI Denpasar, saya diingatkan terus-menerus bahwa wayang itu sebagai tontonan dan tuntunan, sehingga saya berusaha mengembalikan ke fungsi semula yaitu tuntunan. Saya melucu tetap melucu namun leluconnya saya isi dengan muatan-muatan agama, politik, ekonomi dan sebagainya. Ini mungkin yang membuat kita semakin eksis.

Dari mana dan bagaimana proses mendapatkan ide pementasan?
Ide-ide itu muncul dari baca buku, koran, banyak bergaul dan banyak bertanya. Dari percakapan sehari-hari dengan tidak sengaja kita mendapatkan suatu poin atau ide. Saya tidak menutup diri bahwa saya pun meniru dalang-dalang yang lain. Misalnya dalang favorit saya IB Ngurah (alm) dari Buduk, dalang Jagra dari Bongkasa, ada beberapa dialognya yang saya tiru namun tidak jiplak begitu saja, saya kembangkan sesuai dengan kemampuan saya.

Apa resep yang bisa diterapkan agar wayang semakin menarik?
Saya kembalikan pada saya sendiri. Wayang beberapa tahun yang lalu hanya ditonton orang-orang dewasa atau orang tua. Lalu saya berpikir, bagaimana caranya agar wayang itu menarik untuk anak-anak remaja, makanya saya cari apa yang disenangi remaja tanpa lepas dari norma-norma. Melucu boleh, namun ada aturannya. Perlu diketahui, membuat lelucon lebih sulit daripada membuat filsafat. Membuat filsafat bisa kita dapatkan dari membaca buku, lalu kita tulis dan hafalkan. Tetapi membuat lelucon? Bisa saja kita tulis lalu kita bacakan, lantas apakah penonton mau tertawa? Makanya saya mengimbau kepada dalang-dalang agar terus mengasah diri, terjun ke masyarakat dan mencari tahu apa yang mereka sukai dan apa yang diingini. Kesenian bukan untuk diri sendiri sang seniman, namun hasil karyanya untuk orang lain.

Bagaimana suatu kesenian itu bisa dikatakan bagus kalau yang nonton tidak ada?
Mengapa Anda kuliah di STSI? Denpasar? Setelah laris seperti sekarang, bagi seniman, ini adalah tantangan. Kita tidak boleh berdiam diri atau berbangga diri sebab penonton punya rasa bosan. Untuk mengantisipasi ini, saya terus mengasah diri. Setelah kuliah di STSI Denpasar saya dapat rasakan bergaul dengan seniman-seniman, dengan dosen yang tahu tentang wayang. Akan semakin terbuka wawasan kita untuk memandang bagaimana wayang itu agar dapat kita kembangkan sejauh kemampuan kita. Sebelumnya saya tidak punya guru khusus mendalang. Selain itu, sebelum kita kembangkan harus tahu dasar-dasar tradisinya, barulah kita akan melangkah pada pengembangan.

Apa ilmu yang dapat Anda terapkan dari kuliah di STSI?
Seperti yang sering penonton lihat, artistik kelir itu saya dapatkan dari STSI. Pengaruhnya memang banyak dari Jawa, namun saya transfer dengan gaya Bali. Ada tambahan sinden. Sebelum kuliah, wacana leluconnya pasti agak norak atau porno, namun sekarang saya berusaha terus-menerus untuk menekan hal-hal seperti itu. Rasa tidak puas mendapatkan kuliah pasti ada. Itulah sebabnya saya sering bertanya pada dosen baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Bagaimana awalnya Anda mendalang?
Saya tamat SMA tidak punya pekerjaan. Ekonomi morat-marit. Saya tidak punya keterampilan sehingga melakoni pekerjaan apa saja, termasuk sebagai tukang parkir. Namun saya terus berpikir, apakah kehidupan saya akan terus begini? Saya masih mencari jati diri, itulah sebabnya saya kuliah di IHD (Institut Hindu Dharma, red), namun terbentur dengan biaya. Akhirnya terpaksa berhenti dan menikah. Pekerjaan dalang ini sudah saya tekuni. Namun demikian, saat itu pentasnya tidak tentu. Kalau ada orang yang meminta saya mendalang barulah pentas, enam bulan belum tentu. Saya lakoni sebagai tukang parkir sambil melirik peluang pekerjaan lain.

Saya rasakan payah sekali waktu itu, sebab dari Blayu ke Gemeh, Denpasar, saya pulang-perginya naik sepeda gayung. Tetapi waktu itu perasaan sakit atau kurang sehat tidak pernah saya rasakan. Mungkin karena sering olah raga. Enggak seperti sekarang sakit-sakitan. Setelah saya kawin, entah bagaimana, pekerjaan mendalang itu mulai laris. Awalnya saya pentas di Blahkiuh, lalu merembet ke Abiansemal dan seterusnya. Jadi cerita tentang pementasan wayang saya dari mulut ke mulut, akhirnya banyak sekali orang yang meminta saya pentas.

Sebelum laris mendalang, seperti apa perangkat wayang yang Anda miliki?
Saya tidak punya warisan wayang dari leluhur. Tetapi sejak kecil saya suka mengukir dan menggambar. Saya bikin wayang sendiri. Awalnya saya punya 20 buah wayang dan di-pelaspas di pura. Saya di-winten jro mangku, maka saya sah jadi dalang. Sambil jalan saya bikin lagi dan kalau punya uang saya beli wayang. Hingga sekarang saya masih membuat wayang sendiri. Saya punya satu gedog wayang untuk koleksi. Saya belum pernah terima pesanan wayang. Tetapi kalau dipesan untuk bikin wayang, saya enggak sanggup, enggak sempat.

Setelah laris, Anda justru membatasi pementasan, mengapa?
Pertama, untuk kesehatan. Sebab pekerjaan dalang banyak begadang. Kalori untuk begadang lebih banyak dikeluarkan. Di samping itu, untuk menjaga agar penonton tidak bosan. Semakin sering kita pentas, penonton akan semakin cepat bosan. Sebab kita akui, sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Bagaimana kita setiap malam bisa memuaskan penonton? Sementara penonton terus menginginkan hal-hal yang baru. Kita belum tentu mendapatkan hal-hal baru. Sekitar dua tahun yang lalu saya pernah tifus dan opname 10 hari, lalu saya mengaso satu bulan. Ada yang bilang kalau dalang Cenk Blonk sudah meninggal. Itu namanya gosip, namanya juga seniman atau selebritis kan biasa diisukan, ha, ha, ha…

Seberapa banyak Anda pentas dalam satu hari?
Kalau dulu saya pernah pentas satu malam dua kali. Misalnya pukul 20.00 sampai 22.30 wita, lalu sisanya ke tempat lain. Karena orang senang, maka jam berapa pun orang akan menunggu. Sekarang saya enggak mau seperti itu, semalam hanya pentas sekali saja. Sebab persiapan untuk pentas satu kali itu lama sekali. Selain itu, sekarang saya bekerja sama dengan sanggar. Personelnya berasal dari desa-desa yang jauh. Biasanya, personel kami 30 orang termasuk penabuh, gerong, dan pendamping-pendamping saya. Normalnya, kami mulai pentas pukul 21.00 wita, pukul 19.00 sudah sampai di tempat.

Apakah ada pesan-pesan yang diselipkan penanggap wayang Anda?
Itu tidak tentu. Kalau penanggapnya ingin memasukkan pesan dalam pertunjukan wayang, biasanya disampaikan jauh-jauh hari saat ia pesan untuk pementasan. Lebih banyak diserahkan pada kreasi kami. Biasanya saya pentas dalam rangka upacara, misalnya upacara manusa yadnya atau dewa yadnya.

Usia Anda masih muda, namun seakan sudah jadi dalang senior, bagaimana perasaan Anda?
Maaf, saya bukan merasa diri senior. Saya masih tetap belajar. Sejak umur delapan tahun saya sudah mulai belajar mendalang. Saya pakai wayang kertas atau wayang karton. Di desa kami ngumpul delapan orang lalu membuat satu grup gamelan wayang yang diiringi tingklik. Hampir setiap malam pentas. Kalau ada orang ngotonan, kami diminta pentas dengan alat sederhana, kelir seadanya dan wayangnya dari karton serta gedog-nya dari triplek. Saat kenaikan kelas, rapor saya semuanya merah. Lalu orangtua saya marah. Wayangnya dibakar. Orang tua saya petani dan beliau menginginkan saya jadi pegawai. Tetapi saya tidak berkeinginan seperti itu. Sebelum mendalang saya juga punya grup drama gong yang sering juga pentas.

Setamat SMA, saya belum juga serius mendalang. Lalu ada tukang topeng, I Gusti Ketut Putra yang mengajak saya untuk gabung dengan sekaa topengnya. Sampai sekarang pun saya masih punya topeng satu set. Kalau ada yang minta menari topeng Sidakarya, saya ladeni. Kalau di luar desa saya tidak mau, karena saya eksis di pedalangan.

Bagaimana pengalaman Anda nonton wayang waktu anak-anak?
Sejak kecil saya senang sekali melihat dalang memainkan wayang. Saya enggak senang melihat bayangannya dari depan, tetapi saya suka lihat dari belakang. Di samping itu, ketika dalang itu datang, ia sangat dihormati sekali. Melihat itu saya kagum, “Wah enak sekali jadi dalang, saya ingin seperti itu.” Waktu saya kecil kesenian wayang ini sangat favorit. Di desa saya ada wayang Pan Yusa yang sering ditanggap, setiap pementasannya saya menonton.

Anda ingin mengembangkan wayang seperti apa?
Saya ingin suatu saat wayang Bali menjadi hiburan yang favorit seperti konser-konser musik pop Bali sekarang. Makanya, saya terus melakukan pembenahan baik di bidang manajemen, dengan sanggar, dalam cerita, wacana, teknik-teknik mendalang terus saya asah. Saya berharap, dalang-dalang yang lain juga melakukan hal itu. Jadi terus mengasah diri agar wayang menjadi hiburan yang favorit. Saya memang belum berkolaborasi dengan penyanyi pop Bali, walaupun seperti di Jawa ada yang namanya wayang campur sari. Kita tetap pada inti wayang kulit, namun kita tetap menyelidiki, apa yang disenangi masyarakat, apa yang harus dibenahi dengan tidak menghilangkan akar-akar tradisi.

Menurut Anda, pakem wayang itu apa?

Misalnya pakem Sukawati, sebelum ada pakem itu apakah sebelumnya tidak ada pakem wayang sebelumnya? Bentuknya lain, masyarakat tidak puas, lalu dikembangkan lagi seperti yang kita temukan di Buduk. Seniman tidak puas, ia kembangkan lagi, ia ingin punya ciri tersendiri. Jadi kita keluar dari pakem yang mana? Saya juga punya pakem. Pakem di Buleleng beda dengan Gianyar, juga beda dengan Buduk. Saya buat pakem sendiri, syukur kalau ditiru orang lain. Sekarang saya lihat di kelir-kelir itu sudah banyak diisi tulisan. Gambar kayak Cenk Blonk sudah banyak sekali ditiru, lalu muncul dengan nama Co Blank, Ce Klin. Kita mendalang bukan menantang hal itu, yang penting mendalang, itu saja! Ritual yang dilakukan apa?

Dalam pedalangan ada kitab Dharma Pewayangan untuk aturan dalang. Dalang juga memiliki pantangan, misalnya jangan makan jejeron. Dari segi medis, jejeron itu panas, karena kita duduk. Kalau dari segi ilmu pewayangan, jejeron merupakan tempat-tempat wayang itu berada di dalam diri kita. Untuk protein saya mengkonsumsi kacang, tahu, dan tempe. Saya suka jalan-jalan supaya keluar keringat. Yang pasti pikiran jangan stres sebab penyakit berasal dari pikiran.

* Pewawancara:
Asti Musman

BIODATA


Nama : I Wayan Nardayana
empat/tanggal lahir : Tabanan, 5 Juli 1966
Nama istri : Sagung Putri Puspadhi
Nama anak :
Bintang Sruti
Damar Sari Dewi
Pendidikan :
MA Dwi Tunggal Tabanan
Unhi Denpasar
TSI Denpasar
Pekerjaan :
Dalang Cenk Blonk

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2003/6/29/pot1.html

Sejarah Tari Oleg Tamulilingan

Posted by Adnyana under Tari Bali

Tari Oleg dan Sekelumit Kisah I Mario

Salah satu tari yang menjadi ikon dan kemudian menjadi genre tari Bali pada kurun masa berikutnya adalah Oleg Tamulilingan. Karya tari yang amat kesohor hingga ke mancanegara ini diciptakan I Ketut Marya yang kemudian lebih akrab dipanggil I Mario. Bagaimana sesungguhnya perjalanan awal hingga terciptanya tari Oleg Tamulilingan ini?

——————————————-

ADALAH budayawan bernama John Coast (1916-1989), kelahiran Kent, Inggris, sangat terkesan dengan kebudayaan Bali. Sebelum berkiprah di Bali, ketika perang dunia kedua meletus, Coast masuk wajib militer dan sebagai perwira, sampai sempat bertugas di Singapura. Ketika Singapura keburu dikuasai Jepang, Coast yang berstatus tawanan lalu dikirim ke Thailand. Namun begitu, Coast memang berbakat seni. Ia ternyata melahirkan tulisan “Railroad of Death” pada 1946 yang kemudian mencapai best seller dalam waktu singkat. Hal itu mendorong semangatnya lagi untuk menulis buku “Return to the River Kwai” pada 1969. Di sela itu, Coast sempat berkolaborasi dengan seniman musik dan tari dari berbagai latar budaya, hingga menggelar pertunjukan konser pasca-perang.

Setelah merasa aman, pada 1950 Coast meninggalkan Bangkok menuju Jakarta karena terdorong untuk mengabdi kepada perjuangan Indonesia. Dalam waktu singkat, ia mendapat kepercayaan dari Bung Karno untuk memegang jabatan sebagai atase penerangan Indonesia. Selama di Indonesia, Coast menikah dengan Supianti, putri Bupati Pasuruan. Ketika menetap di Bali, ia tinggal di kawasan Kaliungu, Denpasar.

Cinta Coast pada seni budaya Bali mulai tumbuh saat tersentuh tradisi dan kehidupan masyarakat. Kesenian ternyata amat memikat hati dan obsesinya untuk mengorganisir sebuah misi kesenian ke Eropa. Selama petualangannya mengamati beberapa sekeha gong di Bali, Coast tertarik dengan penampilan sekaha gong Peliatan. Pada 1952, Coast menilai bahwa Gong Peliatan dengan permainan kendang AA Gde Mandera yang ekspresif cukup layak ditampilkan di panggung internasional. Dalam rencana lawatan ke Eropa itu, Coast ingin juga membawa sebuah tarian yang indah dan romantik, di samping beberapa tarian yang sudah sering dilihatnya.

Atas saran Mandera, Coast lalu menghubungi penari terkenal sekaligus guru tari I Ketut Marya yang kemudian akrab dipanggil I Mario. Mario yang kala itu sudah menciptakan tari Kebyar Duduk yang kemudian menjadi tari Terompong, bersedia bergabung dengan Gong Peliatan. Coast “merangsang” Mario untuk berkreasi lagi dengan memperlihatkan buku tari klasik ballet yang di dalamnya terdapat foto-foto duet “Sleeping Beauty” yaitu tentang kisah percintaan putri Aurora dengan kekasihnya Pangeran Charming. Maka terinspirasilah Mario menciptakan tari Oleg. Inilah yang diinginkan Coast.

Untuk membawakan tari Oleg — tarian baru itu, I Mario memilih I Gusti Ayu Raka Rasmi yang memiliki basic tari yang bagus. Dalam menata iringannya, Mario mengajak I Wayan Sukra, ahli tabuh asal Marga, Tabanan. Di samping itu, dilibatkan pula tiga pakar tabuh Gong Peliatan dalam menggarap gending Oleg itu yakni Gusti Kompyang, AA Gde Mandera, dan I Wayan Lebah.

Tari Oleg itu semula bernama Legong Prembon. Nampaknya Coast kurang berkenan dengan nama Legong Prembon karena kata itu sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. I Mario lantas menggantinya menjadi tari Oleg Tamulilingan Mengisap Sari dan atas kesepakatan bersama akhirnya disebut Oleg Tamulilingan atau “The Bumble Bee Dance”. Tarian ini menggambarkan dua ekor kumbang, jantan dan betina, sedang bersenang-senang di taman bunga sambil mengisap madu. Sebagai kumbang jantan pasangan Raka Rasmi, dipilihlah I Sampih yang jauh lebih tua, berasal dari Bongkasa, Badung.

Kata oleg dalam kamus bahasa Bali berarti “goyang”. Dalam tarian yang melambangkan kumbang betina itu, memang terdapat gerakan bergoyang lemah gemulai seolah-olah pohon tertiup angin. Gerakan lemah gemulai tari Oleg ini nampak pada bagian pengadeng — saat penari memegang oncer yang bergantian dengan kedua tangan ditekuk silang di depan dada, sambil bergoyang ke kanan dan ke kiri. Maka dinilai, pemeran yang cocok membawakannya adalah yang berperawakan langsing semampai sebagai pemberi kesan ngoleg.

Begitulah. Tarian ini lantas awalnya lebih dikenal di mancanegara daripada di Bali, karena begitu tercipta lalu dipakai ajang promosi Bali di luar. Sebelum berangkat ke Eropa, misi kesenian pemerintah RI itu terlebih dahulu pentas di Istana Merdeka untuk pamitan kepada Presiden Soekarno karena akan melawat sekitar 10 bulan mengunjungi Prancis, Jerman, Belgia, Italia, Inggris dan beberapa kota besar di Amerika Serikat. Mario tidak turut dalam rombongan itu. Namun beberapa tahun kemudian, bersama Gong Pangkung Tabanan, ia “menghipnotis” masyarakat Eropa, Kanada dan Amerika Serikat dengan berbagai improvisasi gerak tari indah dalam tari Kebyar Duduk dan tari Terompong pada acara “Coast to Coast Tour” pada 1957 dan 1962.

Mendobrak Kebekuan

Lalu, siapa I Ketut Marya atau I Mario? Ia lahir pada 1897, anak bungsu lima bersaudara dari keluarga petani miskin asal Banjarangkan, Klungkung. Ayahnya meninggal ketika Mario berumur enam tahun. Musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan penderitaan para petani, memaksa keluarga Mario mengungsi ke arah Barat hingga sampai di Desa Tunjuk, Tabanan. Ni Mentok, ibu Mario, bersama anak-anaknya kemudian “dipungut” oleh saudagar Cina, Tan Khang Sam.

Sifat Mario yang humoris dan pemberani ternyata menarik simpati majikannya. Suatu hari, Mario diajak ke Puri Kaleran, Tabanan, untuk urusan dagang. Penampilan Mario yang sopan menarik simpati raja sehingga Mario sekeluarga dijadikan abdi Puri. Dalam suasana Puri yang sering mementaskan tetabuhan dan tari-tarian, membuat Mario selalu duduk dekat gamelan dan kadang-kadang menari sendirian. Raja pun melihat bakat Mario sehingga ia dicarikan guru tari ke Mengwi. Maka, pada umur sembilan tahun, Mario telah menguasai beberapa tarian.

Penampilan Mario mulai diperhitungkan oleh penari senior. Guru tarinya meramalkan bahwa kelak Mario akan menjadi penari besar karena gerakan tubuhnya lentur, ekspresi wajah penuh kejiwaan seirama dengan iringan gamelan. Sekeha Gong Pangkung yang sering tampil di Puri Kaleran memiliki peran sangat penting bagi sosok Mario. Tahun 1922, Mario telah mempelajari tabuh kakebyaran yang “lahir” di Buleleng pada 1915. Mario pun dilatih oleh Wayan Sembah dan Wayan Gejir.

Salah satu tari ciptaan Mario adalah Kebyar Duduk. Ceritanya, suatu hari pada 1929, Mario menonton latihan gong kebyar di sebuah desa dekat Busungbiu, Buleleng. Salah seorang pemain kendang sempat melihat Mario menari Gandrung dan memintanya menari diiringi gending kebyar yang sedang dimainkan. Mario secara spontan menari sesuai irama gamelan. Sebagai penari Gandrung, Mario ingin mencari pasangan menari, namun tak berhasil karena berada di tengah kalangan yang dikitari gamelan dan penabuh. Dasar seniman kreatif, akhirnya Mario menjawat pemain kendang. Sambil bermain, pemain kendang pun ternyata merespons tarian Mario. Maka, secara spontan lahirlah tarian Kebyar Duduk.

Pada kesempatan lain, Mario yang suka bercanda merampas panggul pemain terompong dan secara improvisasi memainkan panggul itu mengikuti gending yang sedang dimainkan. Dari situ, maka terciptalah tari Kebyar Terompong. Tari ini selanjutnya disempurnakan saat Mario menjadi penari tetap Gong Belaluan untuk menghibur wisatawan di Bali Hotel, Denpasar. Sejak itu, nama Mario menjulang tinggi karena ia berani mendobrak kebekuan keberadaan seni tari Bali dengan penampilan baru. Boleh jadi, fenomena itu sebagai ikon yang paling fantastis bagi pembaruan gong kebyar di Bali Selatan.

I Mario memang telah pergi untuk selama-lamanya pada 1978. Namun namanya telah melegenda. Ia telah mendapat dua anugerah seni secara bersamaan pada 17 Agustus 1961, berupa Dharma Kusuma dan Wijaya Kusuma. Pemda Tabanan pada 1980 telah memberikan penghargaan Dharma Kusuma Madya. Untuk mengenang Mario dengan karya seninya, namanya telah terpateri sebagai Gedung Mario, sebuah bangunan serbaguna di jantung Kota Tabanan. Pun tari Oleg Tamulilingan sebagai simbol percintaan, dijadikan patung monumen penghias halaman gedung itu.

* aaa kusuma arini,
dosen ISI Denpasar

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2006/5/14/sip3.html

Tari Oleg Tamulilingan, Keabadian Mario

Tari Oleg Tamulilingan karya I Ketut Maria (dipanggil Mario), seniman asal Tabanan pada 1951 — yang memperlihatkan kelincahan olah tubuh dan serasi dengan iringan gamelan — itu hingga kini merupakan salah satu tari Bali yang abadi dan digemari para penari. Banyak remaja Bali yang berangan-angan untuk menguasai tari yang menggambarkan romantika lelaki dan perempuan dengan sempurna itu.

TARI Oleg Tamulilingan adalah tarian yang setiap geraknya mengandung karakter keindahan Bali. Penciptanya yang lebih dikenal dengan panggilan Mario, mendapat kehormatan dengan mengabadikan namanya sebagai nama gedung pertemuan Pemkab Tabanan, 21 km barat Denpasar.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tabanan telah menggelar Lomba Tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Terompong yang terbuka untuk peminat di seluruh Bali, guna mengenang dan mendiang Mario. Bupati Tabanan, Nyoman Adi Wiryatama menyambut baik penyelenggaraan lomba ini. Ratusan remaja dari delapan kabupaten/kota di Bali sempat mendaftarkan diri sebagai peserta, namun panitia hanya menyediakan tempat bagi 40 pasang penari Oleg dan 16 penari Kebyar Terompong. Jumlah peserta kali ini lebih banyak jika dibandingkan dengan lomba serupa tahun lalu hanya diikuti 20 peserta.

Kompetisi tari Bali yang berlangsung 25-27 Maret lalu di Gedung Mario Tabanan ini juga menjadi hiburan segar bagi masyarakat, selain tujuan utamanya sebagai ajang peningkatan kreativitas seni di daerah “lumbung beras” Bali itu. Generasi muda terlihat antusias mengikuti lomba tari Oleg yang menjadi wadah untuk membuktikan kemampuan dan penguasaan tari serta memperebutkan hadiah total senilai Rp 37 juta. “Tari Oleg itu lembut namun punya tingkat kesulitan tinggi, mendorong saya ingin menjadi penari Oleg terbaik di Bali,” tutur Wiwik (18), peserta dari Karangasem. Niat luhur dari Disbudpar dalam mempertahankan gaya tari rancangan Mario patut dihargai, ungkap I Gusti Agung Ngurah Supartha, salah seorang tim juri dalam lomba tersebut. Mantan Kepala Taman Budaya Denpasar itu melihat dalam perkembangan Tari Oleg dan Kebyar Terompong belakangan ini muncul semacam rasa waswas bahwa “Oleg asli ciptaan Mario” bisa punah “ditelan gelombang” tari baru yang tak tentu arah dan akar budayanya.

Perkembangan Tari Oleg dan Kebyar Terompong dalam beberapa periode belakangan memang mengalami perubahan gerak, jika diamati dengan cermat, perubahan itu bisa berakibat buruk. Pengenalan gaya Mario menurut Agung Suparta lebih memicu kreativitas generasi muda terhadap bentuk-bentuk “pemberontakan” Mario pada masanya. “Dalam tari Oleg Tamulilingan, bisa dilihat simbol-simbol pemberontakan gerak yang dilakukan Mario dalam seni tari Bali,” tutur seorang pengamat seni muda Tabanan, Putu Arista Dewi.

Gaya asli Mario memang seharusnya dikenali secara cermat. Banyak puncak-puncak pencapaian gerak dari Mario yang sulit ditandingi seniman masa kini. Misalnya dari segi properti, kipas, panggul terompong dan kancut dalam tarian ciptaan Mario bukan hanya berfungsi sebagai alat semata, namun menyatu dan saling mendukung dalam gerak tubuh penari. “Oleh sebab itu gaya Mario perlu dilestarikan, sebelum punah dan sulit melacak asal-usulnya,” ujar Ayu Trisna Dewi Prihatini, pengelola sekaligus Pemilik Sanggar Tari Ayu di Tabanan.

Memang Unik

Dosen Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, I Made Arnawa, S.S.Kar menambahkan, lomba tari Oleg secara berkesinambungan akan mampu membuktikan sejauhmana ciptaan Mario ini telah direvisi dan diaplikasikan oleh koreografer penerus.

Kisah terciptanya tari Oleg Tamulilingan memang unik dan berbelit. Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Dr. I Made Bandem yang sempat menghadiri acara pembukaan lomba tersebut menceritakan, pada tahun 1950 seorang impresario Inggris, Jhon Coast bersama istrinya menetap di Kaliungu Denpasar selama dua tahun. Ia berhasrat membawa sebuah misi kesenian besar ke Eropa dan AS dan niatnya itu mendapat restu menghadap Presiden Soekarno. John Coast, mantan staf pada Kedutaan Besar Inggris di Jakarta menyiapkan misi kesenian di Pulau Bali dan membuat Coast bertemu dengan penari terkenal I Mario dan muridnya I Sampih dari Peliatan Ubud. Coast bersahabat baik dengan pemain kendang dan Ketua Sekaa Gong Peliatan Anak Agung Gde Mandera yang mempertemukannya dengan I Mario. Pada awalnya I Mario menolak bergabung kembali ke Sekaa Gong Peliatan karena merasa tua dan sakit-sakitan. Saat itu umur Mario diperkirakan lebih dari 50 tahun. Namun, atas desakan dan pendekatan dari I Sampih, penggemar tajen atau sabung ayam itu akhirnya mau kembali ke Peliatan.

Pada April 1951, ketika John Coast memiliki kepastian untuk membawa misi kesenian ke Eropa dan AS, ia meminta I Mario bersama Anak Agung Gde Mandera menciptakan tari baru untuk melengkapi repertoar Gong Peliatan yang saat itu hanya memiliki Tari Janger dan Legong Keraton. Coast menawarkan I Mario menciptakan tari baru dengan menggunakan penari Legong Keraton, Ni Gusti Ayu Raka Rasmin, dan penari Kebyar Duduk, I Sampih.

Maestro yang lahir di Belaluan Denpasar pada 1899 ini menyanggupinya, namun perlu waktu cukup lama untuk merenung dan belum juga menemukan gagasan untuk menciptakan tari baru. John Coast merangsang I Mario dengan memperlihatkan buku-buku tari balet klasik yang dilengkapi foto-foto tari pementasan balet “Sleeping Beauty”. Imajinasi Mario pun bangkit. Foto-foto itu memberinya inspirasi untuk menciptakan tari Oleg Tamulilingan dan ia langsung mengajar I Sampih tabuh lagu-lagu sederhana agar bisa memulai latihan bersama Ni Gusti Ayu Raka Rasmin.

Sesudah batang-tubuh tari terwujud secara kasar, Sekaa Gong Peliatan mendapat giliran untuk mempelajari lagu kebyar untuk mengiringi tari peran laki-laki itu. “Semula I Mario menyebut ciptaannya itu dengan nama Tumulilingan Mangisep Sari,” tutur Made Bandem. (ant)

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2002/4/7/g2.html

Estetika Bergeser dalam Tari Oleg Tamulilingan

Festival Internasional Oleg Tamulilingan dan Kebyar Terompong baru saja digelar di Tabanan. Festival ini berlangsung semarak. Di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2006 , tari Oleg Tamulilinan ini juga dilombakan. Terakhir pada Pesta Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar, tari ciptaan I Ketut Marya atau I Mario pada 1950-an ini juga menjadi salah satu materi lomba. Ada apa sesungguhnya dengan tari Oleg Tamulilingan? Benarkah dalam perjalanannya tari ini sudah mengalami pergeseran estetika?

———-

TARI Oleg Tamulilingan merupakan karya cipta seniman besar I Ketut Marya alias I Mario yang paling populer di antara sejumlah ciptaannya. Tarian ini digarap tahun 1952 atas permintaan John Coast, budayawan asal Inggris yang sangat terkesan dengan kesenian Bali, untuk dipromosikan ke Eropa dan Amerika Serikat.

Adalah I Gusti Ayu Raka Rasmi asal Peliatan, Ubud merupakan penari pertama yang menarikan tarian itu. Dia anggota paling belia dalam misi kesenian yang meraih sukses besar tahun 1953, didukung Sekaa Gong Peliatan pimpinan A.A. Gede Mandera. Belakangan, tari yang dikemas dalam gerak yang indah dan romantis ini acap kali dipentaskan untuk resepsi perkawinan.

Seni, sebagai suatu bentuk ekspresi seniman memiliki sifat-sifat kreatif, emosional, individual, abadi, dan universal. Sesuai dengan salah satu sifat seni yakni kreatif, maka seni sebagai kegiatan manusia selalu melahirkan kreasi-kreasi baru, mengikuti nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Demikian pula halnya dengan tari Oleg Tamulilingan, iringan dan geraknya mengalami perkembangan. Pada tarian ini telah terjadi pergeseran estetika, namun tetap mencirikan tarian yang indah dan menarik.

Pergeseran estetika itu bisa berupa pembaruan maupun perbaikan dari apa yang telah ada sebelumnya. Yang paling awal mengalami perkembangan adalah iringan gending papeson dari tokoh muanin Oleg tersebut. Perkembangan ini dilakukan oleh Sekaa Gong Belaluan, Denpasar, di bawah komposer terkenal I Wayan Berata, sebelum tahun 1960. Selanjutnya terjadi pula perkembangan pada perbendaharaan gerak tarinya.

Bagaimana sesungguhnya perkembangan itu terjadi? I Gusti Ayu Raka Astuti asal Kedaton, Denpasar, yang mantan pengajar tari Oleg Tamulilingan di Kokar (kini SMK 3 Sukawati) Bali, bertutur soal itu. Katanya, ketika ia menarikan Oleg yang telah direvisi di hadapan I Mario — sang pencipta Oleg, ternyata Mario sendiri tidak bereaksi alias mendiamkannya saja. Sebelumnya, Raka Astuti diajar tari Oleg yang “asli” gaya Mario oleh guru tari asal Lebah, Denpasar, I Wayan Rindi.

Di situ Raka Astuti melakukan perubahan pada bagian papeson. Saat akan bergerak di samping, dirasakan agem nampak lukus — kurang enak. Bila bergerak ke samping kiri, tangan kanan digerakkan di depan dada menuju ke arah samping kiri. Menurut Raka Astuti, gerakan itu akan menutupi muka dan mengakibatkan olah tubuh tidak kelihatan.

Menghindari hal itu, maka ia membuat olah gerak baru, bila akan ke samping kiri maka tangan kiri yang digerakkan lebih dahulu ke kiri dan olah tubuh akan nampak dengan gerakan badan nyeleyog ke kiri. Masih dalam papeson, sebelum menghadap ke samping kanan ataupun kiri, ada tambahan gerakan angsel kado. Demikian pula pada perbendaharaan gerak lainnya terdapat pembaruan-pembaruan lain. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1961. Inilah yang kemudian mengantarkan Raka Astuti sebagai salah seorang penari Oleg Tamulilingan yang memiliki gaya tersendiri.

Dalam koreografinya, sebelum penari “kumbang jantan” atau muanin Oleg memasuki arena, Oleg Tamulilingan sebagai simbol “kumbang betina” menari sendirian. Jadi ini merupakan tari solo. Hal ini memberi ruang lahirnya berbagai style Oleg sesuai dengan kemampuan dan ciri pribadi masing-masing penarinya.

***

DULU, daerah Badung merupakan barometer seluruh aktivitas masyarakat, termasuk seni tarinya. Maka muncul pula nama penari Oleg terkenal yang juga mendapat sentuhan tangan I Mario yakni A.A. Mas Eran (alm.) dari Sibanggede, Badung. Dia memiliki kekhasan dalam aksen-aksen gerak tari Oleg, mungkin karena pada masa kanak-kanaknya ia pernah menggeluti tari Galuh Arja.

Pada 1965, Raka Astuti diangkat menjadi guru tari Oleg di Kokar Bali. Sebelumnya, karena kepiawaiannya menarikan Oleg, dia pernah menjadi pegawai Ajen (Uril) Kodam Udayana, khusus di bidang kesenian. Ditekankan Raka Astuti, untuk menjadi penari Oleg, orang harus ayu, alep, dan manis. Di samping itu, yang menjadi kunci dasar agem Oleg adalah pada bagian pinggang tulang belakang ditekan ke depan, serta kedua siku diangkat ke atas. Sebagai penari Oleg dia pernah melawat ke Filipina, Jepang, Italia dan “New Yok World Fair 1964″ bersama Gong Sad Merta Denpasar.

Perkembangan selanjutnya, tari Oleg style Kokar yang diajarkan Raka Astuti menjadi populer di masyarakat. Lahirlah kemudian para penari Oleg generasi baru yang berasal dari seluruh Bali. Namun, patut diakui bahwa sumber gaya “asli” Oleg masih tetap kokoh tersimpan dalam sosok Raka Rasmi ketika tampil bersama Gong Peliatan.

Akhir-akhir ini sulit menemukan penari Oleg yang betul-betul membawakan perannya dengan mantap karena kebanyakan para penari masa kini menguasai lebih dari satu tarian. Mereka sering menjadi kurang fokus. Dalam ajang Festival Gong Kebyar, baik untuk Pesta Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar maupun PKB, tarian Oleg Tamulilingan sudah sering dipentaslombakan. Malah, khusus untuk PKB 2006 mendatang, tari Oleg Tamulilingan akan digelar spesial.

Tari Oleg Tamulilingan adalah salah satu karya masterpiece seniman Bali. Betapa tinggi sesungguhnya jasa para seniman dalam berkreasi serta mengembangkan karya-karya seni yang mengharumkan nama Bali. Mereka pantas dicatat dan dihargai serta layak diberikan penghargaan seni oleh masyarakat maupun pemerintah.

* aaa kusuma arini,
dosen ISI Denpasar

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/6/11/b7.html

Desa Pekraman Budaga, begitulah nama sebuah desa yang terletak satu kilometer di sebelah barat Kota Semarapura, Klungkung. Sebuah desa dengan luas sekitar 35 hektar, dan berpenduduk sekitar 198 kepala keluarga (KK) atau 733 jiwa. Laki-laki 367 jiwa dan perempuan 366 jiwa. Sejak awal keberadaannya, ketika Budaga masih terbagi dalam dua banjar (Banjar Budaga Klod dan Budaga Kaler), warga pakraman ini sebenarnya menekuni sektor pertanian sebagai mata pencarian utama.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, dunia pertanian itu sekarang sudah ditinggalkan warganya. Adapun alasan utama terputusnya regenerasi penekun sektor pertanian, selain karena luas lahan pertanian di wewengkon desa adat Budaga yang sudah semakin berkurang seperti untuk kepentingan pemukiman, areal untuk kepentingan desa adat seperti tempat beribadah (pura), kuburan dan tempat berusaha lainnya bagi warga sekitar, juga karena orientasi masyarakat generasi sekarang dari Desa Adat Budaga sudah pula berubah dalam mensikapi perkembangan jaman ini.

Lantas bagaimana warga meningkatkan perekonomiannya?

Dunia pertanian memang benar-benar tak bisa diandalkan lagi di desa pakraman yang berada di ketinggian 117 meter di atas permukaan laut itu. Selain karena jumlah penekunnya yang hanya tersisa tiga KK, juga karena tidak banyak hasil produksi pertanian yang bisa diandalkan dari situ. Generasi muda yang orangtuanya dulu menekuni sektor pertanian, saat ini sudah tak ada lagi. Mereka lebih memilih menekuni dunia baru yang bisa dikerjakan di rumah. Kalaupun bekerja di tempat orang, itu pun masih berada di lingkungan Pakraman Budaga.

Satu bidang pekerjaan yang beberapa tahun belakangan ini sangat menyita perhatian warga Desa Pakraman Budaga setelah beralih dari pertanian adalah kerajinan kuningan. Berbagai jenis hasil produksi bisa diciptakan dari bahan kuningan tersebut. Ada gongseng, gerondong, beraneka cetakan kue dan pemengku (bokor).

Khusus pemengku, sangat cepat peredarannya karena pemasarannya dirangkaikan dengan keberadaan bokor hasil produksi desa wisata Kamasan. Penjualannya bukan hanya di Bali, tetapi hingga ke luar Bali bahkan luar negeri. Namun, seiring memudarnya pesanan pemengku, surut juga pesanan pembuatan pemengku di Budaga. Jenis kerajinan pun ikut beralih meskipun masih menggunakan bahan yang sama, kuningan. Jenis kerajinan terbaru itu adalah genta (bajra).

Bisa dikatakan, Desa Pakraman Budaga merupakan desa segudang kerajinan genta. Genta dan berbagai jenis peralatan pemujaan ida pedanda ikutannya, seperti nawasanga dan siwakrana, saat ini sangat diminati. Selain dipesan para pemangku seluruh Indonesia, juga dipesan oleh konsumen luar negeri untuk kepentingan aksesoris dan suvenir.

Disamping hasil kerajinannya berupa barang-barng untuk kebutuhan upacara keagamaan, Juga terdapat kerajinan lainnya untuk suvenir berupa Bola mimpi yang merupakan hasil karya dari I Nengah Patra salah satu pengerajin di Desa Budaga.

Di samping itu juga, ada kelompok perajin kuningan yang lain yakni Kelompok Perajin Kembang Kuning. Untuk satu orang anggota kelompok, hasil produksi mencapai 10 genta setiap bulan. Kalau dirupiahkan, hasilnya mencapai Rp 6 juta dengan biaya bahan baku antara Rp 3 juta hingga Rp 4 juta. Namun, hasil produksi itu sangat dipengaruhi keberadaan dan kedatangan wisatawan. Termasuk pesanan.

Kalau kondisi pariwisata lesu, secara otomatis berimbas pada penurunan hasil produksi,” ungkap seorang pengurus kelompok, Wayan Sudiarta.

sumber:

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/11/6/d1.htm

http://www.klungkungkab.go.id/main.php?go=budaga

Klungkung adalah satu dari sepuluh kabupaten yang ada di Provinsi Bali dan merupakan kabupaten terkecil yang ada di Bali. Di kabupaten ini banyak terdapat obyek wisata, baik wisata: alam, sejarah, maupun budaya. Salah satu di antara sekian banyak objek wisata yang terdapat di Kabupaten Klungkung adalah Desa Tihingan yang berada di Kecamatan Banjarakan, Kabupaten Klungkung. Dari Kota Semarapura jaraknya sekitar 3 km ke arah barat. Persisnya Desa Tihingan bisa di capai dari pertigaan Banda (depan Museum Gunarsa) ke arah barat.

Penduduknya sebagian besar (90%) perajin gong, baik perajin secara utuh (mampu memproduksi gong mulai dari pengolahan bahan hingga finishing gong secara lengkap) maupun perajin yang hanya mampu memproduski bagian-bagian dari gong, seperti: ceng-ceng, kempuk, dan panggul.

Masyarakat desa Tihingan Klungkung ini sangat terkenal di Bali karena keahliannya membuat istrumen (gamelan) Gong.  Karena keahlian penduduknya dalam pembuatan gong inilah yang kemudian membuat nama desanya menjadi terkenal dan karenanya dijadikan sebagai salah satu daerah kunjungan wisata di Kabupaten Klungkung.

Mungkin keahlian membuat gong ini telah diwariskan oleh leluhur mereka yangtelah berabad-abad lamanya terkenal sebagai Pande Gong dari Desa Tihingan. Hal tersebut dapat kita buktikan dengan katutnya nama para pande Tihingan pada barungan-barungan gamelan yang ada di desa-desa. Gamelan Bali yang mempunyai ciri khusus dan enak dinikmati telah menyebar keseluruh tanah air, bahkan ke seluruh dunia. Sering dijumpai ada wisatawan asing yang berkunjung ke desa Tihingan hanya karena tertarik dan kemudian memesan seperangkat Gong untuk dibawa ke negerinya.

Selain gong, mereka juga membuat semara pegulingan, gender wayang, kelentang/angklung dan lain-lainnya yang bahannya terbuat dari logam kerawang. Para perajin tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok tukang dan kelompok ahli. Kelompok tukang adalah orang-orang yang membuat gong yang berbahan logam kerawang. Sedangkan, kelompok ahli adalah orang-orang yang menyelaraskan suara gong tersebut.

Asal-usul nama Desa Tihingan dan Penduduknya

Konon, para perajin Desa Tihingan adalah keturunan dari orang-orang kuat (kebal) yang diutus oleh Raja Klungkung untuk menjaga suatu tempat yang masih berupa alas tiying (hutan bambu) dengan batas Tukad Yeh Bubuh. Namun, pada saat terjadi peperangan antara Kerajaan Klungkung dan Gianyar, Raja Klungkung langsung mengutus orang-orang sakti (kebal senjata) itu untuk menjadi benteng pertahanan. Setelah berhasil mengamankan wilayah, orang-orang sakti itu memilih menetap dan tidak kembali ke daerahnya masing-masing. Sejak itulah, mereka menetap di alas tiying yang kini bernama Desa Pakraman Tihingan. Dan, untuk kelangsungan hidupnya, mereka membuat membuat gong. Keturunan dari orang-orang itulah yang saat ini menjadi pengrajin gong di Tihingan.

Tenaga Kerja

Seiring dengan semakin banyaknya pesanan –diantaranya dari sekaa-sekaa gong yang ada di Bali, sekolah-sekolah/kampus, instansi pemerintahan dan swasta se-Indonesia serta dari luar negeri seperti Jerman, Perancis, Belanda, Amerika dan India– maka tenaga kerja pembuat gong pun harus didatangkan dari berbagai desa di sekitar Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Buleleng.

Bahan Baku

Selain sektor tenaga kerja yang terbatas, masih ada faktor lain yang menjadi kendala yaitu bahan baku yang berupa kerawang. Kerawang biasanya didatangkan dari Solo, dan terkadang dapat juga diracik sendiri dari campuran berbagai macam unsur seperti timah dan tembaga. Harga bahan baku ini menjadi kendala karena setiap ada kenaikan harga barang di pasar, harga bahan baku pun ikut naik. sebagai contoh: harga 1 kilogramnya Rp80.000,00. Sementara, konsumen selalu menginginkan gong yang berkualitas bagus dengan harga murah. Hal inilah yang membuat sektor industri kerajinan gong dan perangkat gamelan lainnya di Desa Tihingan sampai saat ini tidak dapat menjadi andalan dari Kabupaten Klungkung.

Sumber:
http://www.klungkungkab.go.id

http://uun-halimah.blogspot.com/2008/06/tihingan-desa-perajin-gamelan-bali.html

Perayaan Galungan/Kuningan dan Nyepi Çaka 1931

Tedung menjulang, umbul-umbul melambai, sesajen dan gebogan berbaris rapi di atas meja berlapis kain prade. Di halaman rumput berlarian anak-anak sambil tertawa lepas, berkejaran menikmati hangatnya matahari padi menjelang siang. Lamat-lamat gamelan Bali mengalun, menjadi latar orang-orang yang bercakap-cakap akrab.

Para lelaki mengenakan safari atau kemeja dengan kain dan udeng, sementara kaum perempuan memakai kebaya layaknya busana ke pura. Wajah-wajah mereka sumringah, berkumpul membentuk kelompok-kelompok kecil antuasis berbagi cerita.

Ini bukanlah suasana di halaman Pura di Bali tetapi di Old Darlington School, University of Sydney, Australia. Hari itu, di pusat kota Sydney, Balinese Community of New South Wales (NSW) memperingati Hari Raya Galungan dan Kuningan Serta Nyepi Çaka 1931.

Sejak jam 10 pagi, nampak panitia bersemangat menyiapkan sarana persembahyangan hingga hiburan. Peringatan ini bukanlah sesuatu yang baru, namun memang yang pertama setelah beberapa tahun tidak diadakan. Dengan semangat yang tinggi, meskipun fasilitas yang terbatas, perayaan Galungan dan Kuningan serta Nyepi kali ini diharapkan berjalan sebaik mungkin.

Keluarga Bali berdatangan dari berbagai kawasaan di NSW termasuk Gosford dan Wollongong dengan sesajen, dan juga hidangan untuk dinikmati bersama. Masyarakat Bali di NSW berlatar belakang beragam dari segi pendidikan, pekerjaan maupun daerah asal. Sementara ada yang sudah berada di Australia selama 30 tahun lebih, ada juga yang datang hanya untuk satu atau dua tahun dalam rangka sekolah. Dalam acara perayaan hari raya seperti ini, semua bergabung, semua menyatu, tidak terlihat lagi perbedaan itu. Yang lebih menarik adalah banyaknya anak-anak dan remaja keturunan Bali yang lahir dan tumbuh di Australia. Mereka adalah generasi dengan identitas unik: berdarah Bali namun terekspos secara total oleh kultur Australia.

Sekitar jam 11.30, Bapak Konsulat Jendral Republik Indonesia, Sydney hadir di tengah-tengah masyarakat. Bapak Konjen, Sudaryomo Hartosudarmo, menyapa dan berbaur dengan siapa saja di dekat beliau. Acara hari ini memang dirancang informal sehingga panitia tidak menyediakan panggung dan tempat khusus untuk undangan. Semua orang berbaur jadi satu menikmati suasana. Tabuh Gilak mengiringi interaksi yang hangat itu.

Persembahyangan dimulai hampir jam 12.00, dipimpin oleh Jero Mangku Cakra. Terdengar Mantra Tri Sandya menggema diikuti panca sembah lalu nunas tirta (air suci). Sekitar 100 orang duduk di rumput dengan khusuk bersembahyang memuja Tuhan Yang Esa seraya mendoakan kesejahteraan alam dan segenap mahkluk. Saat nunas tirta, mengalunlah Kidung Wargasari mengantarkan Jero Mangku yang menunaikan kewajibannya.

Tari Puspawresti membuka acara hiburan yang dibawakan oleh empat penari yang elok, disambut sangat antusias oleh masyarakat Bali dan undangan. Selepas itu, Klian (Ketua) Balinese Community of NSW memberikan sambutan singkat. I Ketut Gede Srijaya, pria kelahiran Desa Adat Kemoning Klungkung yang lebih akrab dipanggil Ode, menyampaikan rasa bangganya menyaksikan semangat masyarakat Bali menyukseskan perayaan ini.

Ode menyampaikan bahwa persiapan perayaan ini penuh dinamika namun komitmen panitia dan dukungan masyarakat Bali ternyata mampu menghasilkan sesuatu yang baik. Kepada Konjen berserta Ibu dan staff yang berkenan hadir, Ode menyampaikan apresiasi yang tinggi. Kepada masyarakat Bali di NSW, Ode mengharapkan kekompakan dan semangat yang sama tetap dijaga.

Sambutan singkat dari Bapak Sudaryomo diawali dengan apresiasi kepada masyarakat Bali. Beliau menyampaikan kekagumannya atas keteguhan masyarakat Bali dalam memegang nilai agama dan budaya meskipun berada jauh di rantau. Bapak Konjen juga memberi apresiasi atas pertunjukan seni dan berharap dapat memfasilitasi pertunjukan serupa untuk acara lain yang, misalnya di Wisma Indonesia. Hal ini membut para penabuh dan penari girang bersemangat. Tepuk tanganpun bergemuruh. Khusus tentang Nyepi, Bapak Sudaryomo menyampaikan kekaguman beliau akan kearifan lokal Hindu Indonesia yang telah memiliki kesadaran akan lingkungan dengan memberi kesempatan istirahat kepada alam selama 24 jam. Kalau dunia baru saja disibukkan dengan kampanye Earth Hour, masyarakat Hindu di Indonesia telah melakukannya selama hampir dua milenium.

Sambutan Konjen mengakhiri acara formal yang kemudian disambung dengan hiburan. Matahari yang terik tidak membuat masyarakat beranjak. Para penabuh juga tetap bersemangat meskipun keringat mereka bercucuran. Satu per satu tari dipentaskan mulai dari Topeng Keras, Oleg Tamulilingan, Margapati, Cendrawasih, Manuk Rawa dan Legong. Saat hiburan disajikan, semakin banyak penonton yang hadir. Masyarakat lokal dan internasional pun berdatangan. Tak kurang dari 200 orang memadati halaman. Sambil menyaksikan tarian masyarakat dan penonton internasional berbaur, semua menikmati hidangan khas Bali yang disajikan.

Saat hari beranjak sore, tari Jauk disajikan sebagai penutup. Selanjutnya penabuh melantunkan irama penutup yang dilanjutkan dengan penutupan formal dari MC. Tak lupa MC, atas nama masyarakat Bali di NSW, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak. Begitu ditutup, masing-masing orang menjalankan tugas masing-masing gotong royong membersihkan tempat. Dalam waktu dua jam halaman museum Old Darlington School sudah terlihat seperti sedia kala. Semua orang tersenyum, semua merasakan kebersamaan dan pulang dengan perasaan gembira.

Informasi lebih lengkap tentang Balinese Community of NSW bisa dilihat di http://www.balebanjar.info .

http://www.indomedia.com.au/innerpage.php?page=Liputan&ArticleID=503

http://www.indomedia.com.au/innerpage.php?page=GalleryDetail&ArticleID=57

Ayam taliwang identik dengan Lombok, tetapi migrasi lintas pulau membuat menu taliwang hadir sampai di Jakarta. Apalagi di Bali, pulau yang hanya sepelemparan batu dari Lombok.

Di Denpasar ada beberapa rumah makan menawarkan ayam taliwang, tetapi sebaiknya kalau ada waktu Anda juga mampir ke Pondok Taliwang di Jalan Prof Dr Ida Bagus Mantra Km 14, Lebih, Gianyar.

Bila Anda berada di kawasan Sanur, tempat makan itu hanya berjarak setengah jam naik mobil, berada di sebelah kanan jalan lingkar luar menuju Bali timur.

Di tempat makan bergaya lesehan di pondok-pondok bambu dengan dikelilingi taman itu, tamu bisa melihat pantai Lebih bila memesan tempat di satu-satunya bangunan bambu berlantai dua di sana.

Sesuai dengan namanya, tempat makan yang dikelola pasangan suami-istri I Gusti Nyoman Wirawan (37) dan Ni Luh Erta Santiani (35) ini menyajikan menu ayam taliwang dan tentu saja dengan pelengkapnya, yaitu sambal beberuk yang terbuat dari terung dan plecing kangkung.

Namun, bukan ayam jantan usia 40 hari utuh yang dagingnya terasa lembut di mulut itu yang membuat Pondok Taliwang berbeda. Selain rasa bumbunya yang mantap, yang lebih menarik adalah tempat ini menyajikan juga gurami, kepiting, cumi, udang, dan kerapu yang diberi bumbu taliwang.

Penasaran dengan penjelasan Wirawan yang punya usaha kontraktor, tetapi rajin membantu istrinya di rumah makan mereka, saya mencoba memesan ayam dan kepiting taliwang, lengkap dengan plecing kangkung dan sambal beberuk.

Ternyata Wirawan tidak berlebihan ketika mengatakan meskipun memakai bumbu yang sama, rasa yang dihasilkan akan berbeda bila bahan makanan yang dipakai berbeda.

Serba segar

Udara siang pada Selasa (4/11) tidak terlalu panas karena hujan baru saja turun. Siang itu hanya ada satu tamu lain yang memilih tempat di pondok atas.

Setelah menunggu kira-kira setengah jam, akhirnya ayam dan kepiting taliwang tersaji di meja. Rasanya nyaman di lidah ketika mencoba sesebit daging ayam panggang berbumbu karena tidak terlalu pedas, rasa asinnya pas, dan rasa daging ayam tetap muncul, tidak kalah dari bumbu yang kuat oleh rasa terasi. Memang, salah satu ciri bumbu taliwang adalah terasi yang memberi rasa dan aroma khas.

Ketika tiba giliran mencoba kepiting, rasanya berbeda dari rasa ayam taliwang, bahkan rasa bumbu yang melekat pada cangkang kepiting pun berbeda.

Tampaknya proses pembakaran memegang peranan. Cairan yang keluar dari daging ayam menghasilkan rasa dan aroma yang khas, berbeda dari rasa dan aroma yang dihasilan oleh cairan daging kepiting yang bercampur dengan bumbu ketika dipanggang.

Yang tak kalah nikmat adalah plecing kangkung. Sambal terasi bercampur tomatnya terasa segar dan tidak terlalu pedas. Kangkungnya juga sama lembutnya dengan plecing kangkung di Mataram, Lombok.

”Kangkungnya didatangkan dari Lombok. Kami membelinya dari pasar di Badung. Begitu juga terasinya,” jelas Wirawan.

Karena terasi merupakan bumbu penting, ada baiknya Anda bersiap-siap tangan akan berbau terasi hingga berjam-jam setelah acara makan selesai. Untuk menghindari bau terasi di tangan bisa menggunakan sendok dan garpu saat makan, tetapi kurang sedap rasanya. Karena itu, pastikan ketika mencuci tangan Anda benar-benar menggosok jari tangan dengan potongan jeruk nipis yang tersedia di tempat cuci tangan.

Halal

Wirawan memiliki pelanggan tetap dari Denpasar yang mengunjungi pondok makan ini pada hari Sabtu atau Minggu. ”Separuh pelanggan dari Denpasar, sisanya turis dari Jakarta dan turis asing,” jelas Erta.

Menu favorit para tamu adalah ayam dan gurami taliwang bakar. ”Kami menyediakan menu kepiting dan cumi taliwang atas saran para tamu,” tambah Wirawan.

Karena banyak turis dari Jakarta dan juga atas permintaan mereka, Wirawan juga memastikan ayam yang mereka sajikan dipotong dengan cara halal. ”Kami punya tukang potong khusus, dia Muslim,” jelas Wirawan.

Restoran yang buka dari pukul 08.00 sampai 22.00 itu menawarkan harga relatif tidak mahal. Satu ekor ayam bakar taliwang harganya Rp 18.500, bisa disantap berdua. Satu porsi kepiting bakar berisi dua ekor ditawarkan Rp 35.000, gurami taliwang mulai dari Rp 25.000 tergantung berat ikan, plecing kangkung Rp 4.000, nasi Rp 3.500, dan sambal beberuk Rp 3.000.

”Beberapa tamu bilang harga saya terlalu murah, tetapi saya tidak mau menaikkan harga. Yang penting pelanggan puas,” tambah Wirawan, yang pernah dipesan membuat 100 porsi ayam taliwang untuk dikirim ke rumah seorang calon presiden di Jakarta.

http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/16/07151652/Ayam.Taliwang.Gianyar

Jimbaran Resto di Teluk Jakarta

Keindahan alam Bali telah mendunia. Kini, suasana Pulau Dewata bisa ditemukan dalam belantara beton ibukota. Di Jimbaran Resto Ancol, Anda bisa berwisata kuliner sambil menikmati suasana senja dan budaya bernuansa Bali. ’

Nama Jimbaran memang to sembarang pungut. Resto ini merupakan reinkarnasi sebuah restoran yang berada di Pantai Jimbaran Bali bernama Ketapang. Pasca ledakan born Bali 11, restoran Ketapang di Jimbaran sempat oleng. Omzet yang semula jutaan rupiah per hari tinggal kenangan, menjadi tinggal ratusan ribu per hari.

Pihak pengelola Ancol pun menawarkan kru resto Ketapang untuk pindah ke tempat mereka dan membangun resto baru di tepi pantai. Lantaran suasana Pantai Karnaval di sisi timur Ancol mirip seperti Jimbaran Bali, sang pemilik Ketapang Nyoman Suarjana tak berpikir lama.

Restoran Jimbaran pun nongol di Ancol mulai Desember 2005. Nyoman pun membabat pantai yang masih penuh alangalang sehingga kini tampil lebih cantik. Pantai berpasir, pohon pohon palem, deru ombak lamat-lamat berbaur suara gamelan, dan senja. Tapi tentu tetap berbeda dibanding Jimbaran asli, air lautnya tak seindah di Bali yang berwarna kebiruan.

Selain itu, ombak di Jimbaran lebih besar sedangkan di Ancol kecil. Restoran ini berdiri di atas lahan seluas satu hektare. Gedungnya mampu menampung 400 orang. Gedung restoran ini sebenarnya relatif mungil. Maklum, sebagian besar pengunjung lebih suka duduk dan menikmati makanan di areal luar alias di tepi pantai di antara pohon-pohon kelapa yang melambai.

Makanan di sini pun tak kalah dengan di tanah asalnya. Di sini ada beragam masakan laut yalaii ikan bakar dengan berbagai bumbu ala bali. Setiap menu ikan itu akan disajikan dengan tiga macam sambal yang menggiurkan. Ada sambal mentah, sambal terasi, dan sambal kecap manis yang segar.

“Ramuan makanan di Jimbaran Resto disesuaikan dengan resep aslinya di Bali,” kata Manajer Pemasaran dan Promosi Jimbaran Resto Johnny Soetrisno.

Semua ramuan makanan sangat bernuansa Bali, yang terdiri dari bumbu genap alias tujuh rupa. Sambal mentahnya juga istimewa lantaran bercampur bongkot. Rasa bongkot yang mirip sereh membuat sambal mentah berasa lebih gurih. Selain itu, ada juga beragam makanan nasional dan besar pengunjung lebih suka duduk dan menikmati makanan di areal luar alias di tepi pantai di antara pohon-pohon kelapa yang melambai.

Makanan di sini pun tak kalah dengan di tanah asalnya. Di sini ada beragam masakan laut yakni ikan bakar dengan berbagai bumbu ala bali. Setiap menu ikan itu akan disajikan dengan tiga macam sambal yang menggiurkan. Ada sambal mentah, sambal terasi, dan sambal kecap manis yang segar.

Semua ramuan makanan sangat bernuansa Bali, yang terdiri dari bumbu genap alias tujuh rupa. Sambal mentahnya juga istimewa lantaran bercampur bongkot. Rasa bongkot yang mirip sereh membuat sambal mentah berasa lebih gurih. Selain itu, ada juga beragam makanan nasional dan internasional seperti sop kepiting, nasi goreng dan lainnya. Ada juga kudapan lezat dari lumpia sampai pisang rebus dengan kelapa parut.

Soal harga, sebanding dengan kenyamanan dan keindahan suasana. Harga gurame bakar ala Bali Rp 9.000 per ons, kakap putih ala Bali Rp 7.000 per ons. Sedangkan harga ayam betutu Rp 35.000 sementara plecing kangkung Rp 16.000.

Selepas makan, beragam minuman ala Bali juga hadir di sini. Ada beragam es kelapa yang dicampur beragam sirup buah lainnya seperti es kelapa muda purnama bali Rp 20.000 dan es joged bali?p 27.000.

Bagi pengunjung yang beragama Islam, tak perlu khawatir. “Makanan di Jimbaran Resto halal,” tutur Johnny.

Makan di resto Jimbaran sambil melongok senja di bibir Pantai Karnaval, Ancol memang menenteramkan hati. Kalau tak sempat ke Bali, melancong ke sini bisa menjadi pilihan yang mengasyikkan.

http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/28/14171533/Menu.Berbumbu.Genap.di.Teluk.Jakarta

Pendirian Padmasana di India

 Bangli (Bali Post) -
Rencana pembangunan sebuah pura di India yang pertama kali digulirkan Gubernur Bali melalui Bupati Bangli I Nengah Arnawa, S.Sos., M.M. beberapa bulan lalu direalisasikan. Buktinya seluruh bahan baku pembangunan pura itu telah dikirim ke India. Tinggal 15 tenaga kerja asal Bali yang direncanakan akan diberangkatkan Januari mendatang.

Bupati Bangli I Nengah Arnawa yang juga pimpinan proyek pembangunan pura di India Rabu (27/10) kemarin mengatakan rencana pembangunan sebuah tempat peribadatan umat Hindu di India bercirikan budaya Bali memang sudah lama diwacanakan.

Namun, kini hal itu tidak sekadar wacana karena sejumlah bahan baku telah diberangkatkan ke India. Arnawa menegaskan bangunan suci bercirikan budaya dan arsitektur Bali yang akan dibuat di India itu adalah sebuah padmasana. Bukan pura seperti yang ada di Bali. Padmasana itu akan didirikan di atas lahan seluas 1 hektar yang disediakan pemerintah India. Soal siapa yang akan menjadi penyungsung tempat suci itu, Arnawa mengatakan tempat itu akan disucikan oleh masyarakat Bali beragama Hindu yang ada di India.

”Pembangunan ini merupakan wujud penyebaran budaya Bali dengan maksud menduniakan Hindu. Sumber dana pembangunan diperoleh dari urunan para donator. Dananya dari saya sendiri, gubernur dan sejumlah donatur lainnya,” ujarnya. (kmb17)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/10/28/b3.htm 

Sejarah Janger

Posted by Adnyana under Tari Bali

Kapankah tari Janger diciptakan? Siapakah penciptanya? Pertanyaan ini bisa diteruskan untuk seni tari lainnya, dan kita tak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik ketika membuka pementasan Cak Kolosal di Tanah Lot, 29 September lalu, juga mempertanyakan siapakah pencipta tari Cak, dan kapan diciptakan? Kalau tahu siapa orangnya, Jero Wacik ingin memberikan penghargaan karena atas jasa dialah bisa disuguhkan Cak Kolosal yang membawa misi perdamaian ini.

Janger barangkali lebih muda dibandingkan Cak. Tetapi, saya tak tahu persis, belum pernah menemukan buku tentang sejarah Janger. Kalau drama tari Gambuh, sudah terbit buku dengan editor Maria Cristina Formaggia. Ini buku tentang Gambuh yang paling lengkap. Gambuh diperkirakan sudah ada pada abad XIV dan terus mengalami evolusi sampai abad XVII. Bentuk tarinya kemudian mengalamibalinisasidi abad XIX sampai abad XX. Lalu, ini yang menyedihkan, Gambuh nyaris mati di abad XXI ini.

Bagaimana dengan Janger? Janger Kedaton berusia 100 tahun. Itu berarti Janger sudah berusia seabad lebih, dan kita tidak tahu apakah usia sejatinya dua abad atau tiga abad. Belum ada penelitian ke arah itu, termasuk bagaimana evolusi Janger dari abad ke abad. Bahwa di Banjar Kedaton telah ada Janger sejak tahun 1906 dan terus dipelihara dari waktu ke waktu tentu merupakan prestasi tersendiri. Lestarinya kesenian di sebuah desa di Bali umumnya dikaitkan dengan hal-hal mistis. Janger Kedaton pun demikian. Masyarakat boleh beralih profesi, tetapi kesenian tetap dipertahankan karena dipayungi oleh hal-hal mistis dan sakral. Perjalanan Janger ini menjadi sisi menarik yang layak didokumentasikan.

Seni tari Janger mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Ini disebabkan pola dasar tari Janger adalah adanya dua kelompok yang bertembang saling bersautan. Di daerah-daerah lain Nusantara, jenis kesenian yang bertembang bersautan juga ada, baik berupa kidung tradisional maupun berpantun. Dan, kesenian seperti itu mengalami perubahan yang sama dengan Janger, yakni masuknya unsur-unsur aktual tentang situasi dan kondisi masyarakat pada zamannya.

Janger yang ”tradisional”, meski belum ada penelitian tentang itu, agaknya bercerita tentang kelompok muda-mudi yang lagi dimabuk asmara. Ini dilihat dari kelompok yang bercirikan gender, ada kelompok pria dan ada kelompok wanita. Mereka bertembang bersautan tentang kisah-kisah asmara, dari cara berkenalan, menanyakan identitas, dan menjurus ke rayuan. Semuanya dilakukan dengan riang gembira. Mungkin keriangan itu ciri khas Janger yang tidak mengalami perubahan.

Pada dasawarsa 1960-an, terutama menjelang tahun 1965, Janger di Bali diracuni masalah politik yang mencerminkan adanya pertentangan di tengah-tengah masyarakat. Ada Janger PKI dan ada Janger PNI dan mereka saling sindir. Pakaian penari pun, terutama kelompok pria, mengalami perubahan sesuai dengan situasi saat itu. Janger kelompok pria memakai celana dan sering di tangannya ada pedang. Jadi, gerak tarinya adalah kombinasi dari gerakan silat. Mereka berteriak dengan cara koor: ”Marhaen menang, Pancasila jaya”, itu bagi Janger PNI. Sedangkan janger PKI bernyanyi koor: ”Sama rata, sama rasa, sosialisme ala Indonesia.” Banyak lagi jargon-jargon khas zaman itu, yang saat ini menjadi sesuatu yang menggelikan untuk dikenang.

Janger politikitu tidak lagi bercerita tentang kisah asmara, tetapikisah keluarga”, melalui tembang-tembangnya. Misalnya, Janger kelompok pria bertembang tentang kepergiannya memperjuangkan nasib rakyat, kalau dia meninggal, jangan cari suami yang berlainan partai. Kelompok Janger wanita menjawab dengan tegas, bahwa ia akan melanjutkan perjuangan.

Tetapi tidak semua sekaa Janger terlibat dalampolitik praktis”. Ada yang netral, namun cara berpakaian dan isi tembang mengikuti perkembangan saat itu. Misalnya, Janger kelompok pria bernyanyi tentang kepergiannya menjadi sukarelawan. Koor yang dikumandangkan selalu diakhiri dengan jargon: ”Ganyang Malaysia”. Janger kelompok wanita bertembang tentang cinta kasih sambil menyiapkan bekal untukmengganyang Malaysia”.

Setelah meletusnya G-30-S/PKI, lama kesenian Janger menghilang. Masyarakat Bali trauma dengan Janger, seolah-olah kesenian itu adalah simbol darisisi gelapBali, betapa mudahnya orang Bali diadu-domba dan saling membunuh sesamanya. Janger baru muncul kembali di masa Orde Baru. Dan lagi-lagi Janger menjadi corong politik, kali inipolitik pembangunan”. Maka ada Janger tentang Keluarga Berencana. Meski kisah-kisah asmara masih ada, tetapi itu hanya sebagai pembuka sebelum masuk ke kisah intinya yaitu propaganda pemerintah tentang keberhasilannya. Orang tentu masih ingat, Gubernur Bali Ida Bagus Oka hampir setiap HUT Pemda Bali mengajak stafnya menari Janger.

Sejarah Janger semestinya diteliti lebih jauh. Kalaupun tak bisa menyeluruh, dimulai dari sejarah Janger lokal. Bagaimana perjalanan Janger Kedaton yang berusia 100 tahun itu, bagaimana perjalanan Janger Peliatan yang termasyur itu. Lagu bagaimana dengan kisah-kisahjanger politik” yang banyak muncul di Jembrana dan Tabanan di masa lalu. Apa kita harus menunggu penulis asing, seperti halnya tentang Gambuh, untuk membukukan riwayat Janger?

* Putu Setia

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/10/7/bd1.htm