kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for July, 2009

Banten Sebagai Bahasa Simbol

Posted by Adnyana under Canangsari

Banten Sebagai Bahasa Simbol

BANTEN dalam lontar Yajna Prakrti memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sacral. Dalam lontar tersebut banten disebutkan: Sahananing Bebanten Pinaka Raganta Tuwi, Pinaka Warna Rupaning Ida Bhattara, Pinaka anda Bhuvana. Dalam lontar ini ada tiga hal yang dibahasakan dalam wujud lambang oleh banten yaitu : “Pinaka Raganta Tuwi” artinya banten itu merupakan perwujudan dari kita sebagai manusia. “Pinaka Warna Rupaning Ida Bhatara” artinya banten merupakan perwujudan dari manifestasi (prabhawa) Ida Hyang Widhi. Dan “Pinaka Andha Bhuvana” artinya banten merupakan refleksi dari wujud alam semesta atau Bhuvana Agung.

Memaknai banten sebagai Raganta Tuwi ini dapat dijabarkan berdasarkan pembagian dari tubuh manusia seperti Ulu atau Kepala (Utama Angga), Badan (Madhyama Angga), Kaki atau Suku (Nistama Angga). Jika dihubungkan dengan Tri Angga ini maka banten yang memiliki fungsi sebagai ulu adalah banten yang berada di Sanggar Surya maupun Sanggar Tawang. Banten yang berfungsi sebagai badan adalah banten ayaban. Sedangkan bante yang berfungsi sebagai kaki atau suku adalah Banten yang berada dipanggungan yang letaknya dijaba. Adapun Banten Caru merupakan simbol dari perut.

Kemudian berdasarkan lapisan yang menyusun tubuh manusia yakni: Badan Kasar atau Sthula Sarira yang terdiri dari Panca Maha Bhuta, Badan Astral atau Suksma Sarira yang terdiri dari Alam Pikiran (Citta, Budhi, Manah, Ahamkara, atau Sattwam Rajas Tamas) serta Sang Hyang Atman sebagai sumber kehidupan. Jika lapisan ini dikaitkan dengan keberadan bebanten, maka banten yang mewakili Panca Maha Butha ini adalah banten yang memiliki fungsi sebagai suguhan seperti: banten soda atau ajuman, rayunan perangkatan dan sebagainya. Sedangkan banten yang berfungsi sebagai penguatan yang dijabarkan dalam berbagai bentuk pengharapan dan cita-cita adalah banten sebagai Suksma Sarira seperti banten Peras, Penyeneng, Pengambyan, Dapetan, Sesayut dan sebagainya. Sedangkan banten yang berfungsi sebagai pengurip atau pemberi jiwa seperti Banten Daksina, Banten Guru, Banten Lingga adalah merupakan simbol atman.

Banten sebagai Warna Rupaning Ida Bhatara dapat dimaknai sebagai suatu bentuk pendalaman Sraddha terhadap Hyang Widhi. Mengingat Beliau yang bersifat Nirguna, Suksma, Gaib, dan bersifat Rahasia, tentu sirat yang demikian itu sulit untuk diketahui lebih-lebih untuk dipahami. Oleh karenanya untuk memudahkan komunikasi dalam konteks bhakti maka Beliau yang bersifat Niskala itu dapat dipuja dalam wujud Sakala dengan memakai berbagai sarana, salah satunya adalah Banten. Adapun Banten yang memiliki kedudukan sebagai perwujudan Hyang Widhi adalah banten-banten yang berfungsi sebagai Lingga atau Linggih Bhatara seperti: Daksina Tapakan (Linggih), Banten Catur, Banten Lingga, Peras, Penyeneng, Bebangkit, Pula Gembal, Banten Guru dan sebagainya.

Banten sebagai Anda Bhuvana dapat dimaknai bahwa banten tersebut merupakan replica dari alam semesta ini yang mengandung suatu tuntunan agar umat manusia mencintai alam beserta isinya. Sesuai ajaran Weda, bahwa Tuhan ini tidak hanya berstana pada bhuvana alit, Beliau juga berstana pada bhuvana agung anguriping sarwaning tumuwuh. Sehingga dalam pembuatan banten itu dipergunakanlah seluruh isi alam sebagai perwujudan dari alam ini. Adapun banten sebagai lambang alam semesta ini adalah: Daksina, Suci, Bebangkit, Pula Gembal, Tanam Tuwuh dan sebagainya.* *

Oleh : Ni Made Wiratini, S.Ag

http://www.pontiana kpost.com/ berita/index. asp?Berita= Hindu&id=126193

”Banyu Pinaruh” 2 Agustus 2009 , Sucikan Pikiran dengan Air Ilmu Pengetahuan

Titik-titik bara api terlihat jelas di tengah kegelapan. Sinarnya memantul di permukaan air. Sementara desiran angin laut yang dingin mampu menebar bau harum dupa. Samar-samar terlihat bayangan orang duduk bersila dan bersimpuh. Dengan khidmat kedua tangan dicakupkan di atas ubun-ubun, doa-doa pun dipanjatkan. Kemudian, mereka menghempaskan tubuhnya ke dalam air, mandi dan keramas. Ketika sinar merah tebersit di ufuk timur pakaian mereka yang basah tampak jelas dan orang-orang pun makin banyak yang datang lengkap dengan sesajen. Demikian sekilas prosesi Banyu Pinaruh di salah satu Pantai di bali, sehari setelah perayaan Hari Saraswati.

Setelah merayakan piodalan Saraswati, pada Minggu Paing Sinta umat Hindu melanjutkannya dengan malaksanakan prosesi Banyu Pinaruh. Sarana pelaksanaan Banyu Pinaruh menggunakan air kembang (kumkuman). Kumkuman itu dibawa ke tempat-tempat sumber air seperti pancuran, segara, sungai, beji– yang diyakini sebagai tempat penyucian atau peleburan mala atau kotoran batin. Di situ umat membersihkan diri, keramas dan mandi. Tetapi jika tak sempat ke tempat-tempat seperti itu, umat bisa melakukannya di rumah. ”Semua itu dibenarkan oleh ajaran agama Hindu seperti yang tertuang dalam buku kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu I-XI,”.

Lalu, apa hakikat Banyu Pinaruh?

Banyu Pinaruh, berasal dari kata banyu (air) dan pinaruh atau pangewuruh (pengetahuan). Secara real, umat memang membersihkan badan–mandi keramas– menggunakan kembang di laut atau sumber-sumber air.

Tetapi secara filosofis Banyu Pinaruh bermakna menyucikan pikiran dengan menggunakan air ilmu pengetahuan, sebagaimana diuraikan dalam pustaka Bagavadgita sebagai berikut: ”Abhir gatrani sudyanti manah satyena sudayanti.” Artinya, badan dibersihkan dengan air sedangkan pikiran dibersihkan dengan ilmu pengetahuan.

Itu berarti, Banyu Pinaruh bukanlah hanya datang berkeramas atau mandi ke pantai atau sumber air. Tetapi, prosesi itu bermaksud membersihkan kekotoran atau kegelapan pikiran (awidya) yang melekat dalam tubuh umat dengan ilmu pengetahuan, atau mandi dengan air ilmu pengetahuan.

Hal itu sesuai dengan Bagavadgita IV.36 yang berbunyi: ”Api ced asi papebhyah, sarwabheyah papa krt tamah, sarwa jnana peavenaiva vrijinam santarisyasi.” Artinya, walau engkau paling berdosa di antara manusia yang memiliki dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan, lautan dosa akan dapat engkau seberangi.” Itu artinya Banyu Pinaruh bukan hanya bermakna simbolis belaka, tetapi sesuai dengan ajaran Hindu. ”Kita dijamin oleh kitab suci bahwa melalui mandi dan keramas menggunakan air ilmu pengetahuan, akan terbebas dari lautan kebodohan dan dosa,” .

Berangkat dari makna itulah, umat terutama generasi muda harus memaknai Saraswati dan Banyu Pinaruh sesuai dengan hakikatnya. Malam Saraswati mesti dimaknai dengan baik, melalui pembacaan sastra dan diskusi (dharmatula) tentang ajaran agama, baik di banjar-banjar, pura, sekolah, kampus dan tempat yang memungkinkan untuk itu. Keesokan paginya dilanjutkan dengan pelaksanaan Banyu Pinaruh. ”Jadi kita jangan hanya melaksanakan Saraswati atau Banyu Pinaruh karena briuk siu atau ikut-ikutan tanpa memperhatikan makna yang dikandung di dalamnya. Umat Hindu terutama anak-anak muda datang ke segara agar betul-betul melakukan Banyu Pinaruh, bukan sekadar mejeng atau tujuan lain.

Pada saat Banyu Pinaruh umat melaksanakan suci laksana, mandi dan keramas menggunakan air kumkuman di segara. Kegiatan itu bertujuan untuk ngelebur mala. ”Segara itu kan tempat peleburan dasa mala. Dengan melakukan prosesi itu diharapkan terjadi keseimbangan lahir dan batin,” . * Made Subrata

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2002/9/9/b9.htm

Saniscara Umanis Wuku Watugunung atau Sabtu (1 Agustus 2009) , segenap umat Hindu akan kembali larut dalam kekhusyukan persembahyangan Saraswati. Sebuah momen penting dalam gerak kehidupan manusia Hindu yang diyakini sebagai hari turunnya segala jenis ilmu pengetahuan yang akan mencerahkan dunia. Yang terpenting dilakukan oleh umat, pada perayaan Saraswati itu mereka juga diwajibkan melakukan moratorium. Diam sejenak untuk nyelisik bulu (instropeksi-red) apakah ilmu pengetahuan yang dimilikinya sudah diamalkan untuk kebaikan dan kemuliaan umat atau sebaliknya.

Aktivitas moratorium juga wajib dilakukan oleh para pejabat pembuat kebijakan, apakah kebijakan yang telah mereka ambil sudah berpihak kepada kepentingan rakyat banyak. Dengan kata lain, momen perayaan Saraswati tidak cukup dimaknai dengan  melaksanakan persembahyangan maupun pantangan membaca dan menulis yang sudah dilakoni umat Hindu dari generasi ke generasi.

===========================

perayaan Saraswati sebaiknya dimanfaatkan oleh umat Hindu untuk nyeliksik bulu, instrospeksi, dan bersiap diri untuk menata kehidupan yang lebih baik. Merenungi dan mengevaluasi kembali apakah ilmu pengetahuan itu sudah benar-benar diamalkan sesuai fungsinya. ”Kenapa kita diminta diam sejenak dan pantang membaca serta menulis saat hari raya Saraswati, tujuannya jelas agar kita punya ruang yang lapang untuk mengevaluasi diri,” .

Pada hari raya Saraswati, umat Hindu memuja Dewi Saraswati yang diyakini sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. Dalam berbagai lontar di Bali, Dewi Saraswati disebut sebagai ”Hyang Hyangning Pangewruh”.

Hari raya untuk memuja Saraswati dilaksanakan setiap 210 hari yaitu pada hari Saniscara Umanis Watugunung. Kesokkan harinya atau Redite Paing Wuku Sinta dilaksanakan Banyu Pinaruh yang merupakan kelanjutan dari perayaan Saraswati. Ini berarti, perayaan Saraswati mengambil dua wuku yakni Wuku Watugunung (wuku yang terakhir) dan Wuku Sinta (wuku yang pertama) atau disebut juga sebagai wuku nemugelang (pergantian dari wuku puncak menuju wuku baru-red).

”Wuku nemugelang ini diyakini sebagai momen yang sangat sakral dan mencuatkan aura spiritual yang sangat kuat. Momen yang sangat ideal untuk melakukan yoga samadhi  maupun introspeksi diri. Makanya, puncak perayaan Saraswati biasanya dimanfaatkan oleh umat Hindu  untuk melakukan samadhi,”.

Pada Saniscara Wuku Watugunung,  semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati. Di tempat pustaka yang telah ditata rapi itu diaturkan upacara Saraswati. Upacara Saraswati yang paling inti adalah banten (sesajen) Saraswati, daksina, beras wangi dan dilengkapi dengan air kumkuman (air yang diisi kembang dan wangi-wangian). Banten yang lebih besar lagi dapat pula ditambah dengan banten sesayut Saraswati dan banten tumpeng dan sodaan putih-kuning. ”Upacara ini dilangsungkan pagi hari dan tidak boleh lewat tengah hari,”.

Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari, umat tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Namun, ada juga umat yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh alias ”puasa” membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, lewat tengah hari mereka sudah dapat membaca dan menulis. Bahkan, di malam hari mereka dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi.

”Pada intinya, ada tiga tingkatan pelaksanaan upacara Saraswati. Tingkatan kanista di mana umat hanya melaksanakan persembahyangan Saraswati tanpa disertai pantangan membaca dan menulis. Tingkat madya di mana umat melakukan persembahyangan Saraswati dan pantang membaca dan menulis hingga tengah hari. Sedangkan tingkat utama, umat melakukan Brata Saraswati selama 24 jam penuh dan selama rentang waktu itu sama sekali tidak melakoni aktivitas membaca dan menulis,” .

Tiga Tingkatan

mayoritas umat Hindu di Bali umumnya merayakan Saraswati tingkat madya. Ini berarti, mereka hanya pantang membaca dan menulis selama setengah hari di mana malam harinya mereka melakukan malam sastra dan sambang samadhi. Pada malam sastra itu, umumnya diselipi dengan kegiatan dharma wacana yang bertujuan memberikan pencerahan jiwa kepada umat. Keesokan harinya atau bertepatan dengan hari pertama Wuku Sinta, mereka  melangsungkan upacara Banyu Pinaruh.

Bentuk prosesi upacara berupa mengaturkan laban nasi pradnyan air kumkuman dan loloh sad rasa (jamu mengandung enam rasa-red). Pada puncak upacara, semua sarana upacara itu diminum dan dimakan. Rangkaian upacara lalu ditutup dengan matirta. Upacara ini penuh makna yakni sebagai lambang meminum air suci ilmu pengetahuan. ”Upacara Banyu Pinaruh ini juga dirangkaikan dengan mandi di laut yang bertujuan untuk membersihkan diri, pikiran dan jiwa dari segala jenis mala (kekotoran-red),” .

Upacara dan upakara dalam agama Hindu, pada hakikatnya mengandung makna filosofis sebagai penjabaran dari ajaran agama Hindu. Secara etimologi, Saraswati berarti sesuatu yang mengalir atau makna dari ucapan. Ilmu pengetahuan itu sifatnya mengalir terus-menerus tiada henti-hentinya ibarat sumur yang airnya tiada pernah habis meskipun tiap hari ditimba untuk memberikan hidup pada umat manusia.

Saraswati juga berarti makna ucapan atau kata yang bermakna. Kata atau ucapan akan memberikan makna apabila didasarkan pada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itulah yang akan menjadi dasar orang untuk menjadi manusia yang bijaksana. ”Kebijaksanaan merupakan dasar untuk mendapatkan kebahagiaan atau ananda. Kehidupan yang bahagia itulah yang akan mengantarkan atma kembali luluh dengan Brahman,” . * w. sumatika

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2007/11/10/bd3.htm

Makna:

Dewi Saraswati turun memegang kitab suci (cakepan, lontar dan sebagainya tergantung sang pelukis): Beliau membawa misi menyebarkan ilmu pengetahuan.

tangan Sang Dewi juga membawa genitri, sebagai lambang bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang tiada henti dan tidak ada habisnya. Genitri juga alat untuk melakukan japa, aktivitas spiritual menyebut nama Tuhan berulang-ulang. Kalau Dewi Saraswati kita puja berulang-ulang berarti ilmu pengetahun kita perlukan setiap saat. Genitri menyiratkan bahwa ilmu itu harus dicari dan dipelajari tiada henti. Jangan berhenti untuk belajar dan jangan pernah merasa tua untuk belajar. Belajar seumur hidup. Inilah semangat yang disimbolkan dari genitri di tangan dewi cantik itu.

Tangan Sang Dewi membawa wina, di Bali disebut rebab. Ini adalah simbol ilmu pengetahuan itu sesuatu yang indah dan orang yang berilmu hidupnya akan indah.

Dewi Saraswati turun disertai unggas angsa, binatang cerdik yang bisa menemukan makanan di dalam lumpur. Makanan masuk ke perut, sedangkan lumpur tidak. Ilmu pengetahun juga begitu, harus disaring.

Om Saraswati namas tubhyam warade kana rupini. Ya Tuhan dalam wujud-Mu sebagai Dewi Saraswati pemberi berkah, hamba memuja-Mu.

* Putu Setia

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2007/11/10/bd2.htm 

Pura Ponjok Batu, Penyeimbang Bali Utara

Pura Ponjok Batu merupakan salah satu Penyungsungan Jagat atau Pura Dang Kahyangan, selain Pura Pulaki di Desa Banyupoh, Gerokgak. Pura ini terletak di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Memang tidak ada data pasti mengenai awal keberadaan pura ini. Namun yang diketahui, keberadaan pura ini tak bisa lepas dari sejarah kedatangan Pendeta Siwa Sidanta yaitu Danghyang Nirartha (Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke-15, saat masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Bali.

===========================================================

Pura ini memiliki rekaman sejarah yang panjang dan unik. Hal tersebut ditelusuri lewat temuan arkeologi, efigrafi dan folklore (cerita rakyat) yang hidup di tengah masyarakat Julah dan sekitarnya.

Berdasarkan kajian arkeologis, saat penggalian di lokasi perbaikan pura tahun 1995 ditemukan sarkopah/sarkopagus. Kini sarkopah itu disimpan bersama sarkopah lainnya di halaman depan Pura Duhur Desa Kayuputih, Banjar. Sarkopah (peti mayat) terbuat dari batu cadas, banyak ditemukan di beberapa daerah di Bali.

Sistem penguburan menggunakan sarkopah berlangsung sejak zaman perundagian di Bali tahun 2500-3000 SM, atau sekitar 5.000 tahun lalu. Berarti di sekitar kawasan Pura Ponjok Batu pernah dihuni masyarakat yang mendukung budaya sarkopah. Sarkopah merupakan tempat disemayamkannya jasad orang yang dihormati masyarakat. Pada zaman perundagian, masyarakat percaya pemujaan roh nenek moyang dan orang-orang yang dihormati, seperti kepala suku atau ketua adat. Seperti halnya tradisi pembuatan mumi di Mesir, Babilonia, Siria dan lainnya.

Sementara menurut kajian efigrafi atau prasasti, Desa Julah sebagai pemukiman sangat ramai. Ini diketahui dari prasasti yang dikeluarkan raja-raja dari Dinasti Warmadewa, masing-masing masa pemerintahan Raja Sang Sri Aji Ugrasena (tahun 923 M), Raja Sri Aji Tabanendra Warmadewa (955 M), Raja Sri Janasadhu Warmadewa (975 M), Raja Sri Dharma Udayana Warmadewa (1011 M), Raja Putri Sang Adnyadewi, Prabu Marakatta (1022-1026 M), Raja Sri Paduka Anak Wungsu dan Raja Sri Prabu Jayapangus (1181 M).

Raja-raja yang pernah berkuasa itu hampir semuanya pernah mengeluarkan prasasti tentang keberadaan Desa Julah. Di sana disebutkan pula bahwa tugasnya menjaga sebaik-baiknya semua pura yang ada di wilayah Desa Julah. Kendati tidak disebutkan dengan jelas tentang Pura Ponjok Batu, tetapi dipastikan Pura Ponjok Batu merupakan salah satu pura yang ikut dirawat. Di pura itu juga ditemukan beberapa patung, di antaranya patung Dewa Siwa, Nandini dan Ganesa. Ini merupakan petunjuk bahwa perhatian raja Dinasti Warmadewa terhadap Pura Ponjok Batu sangat besar.

Masa kekuasaan Warmadewa berlangsung sampai 1343, ditandai dengan jatuhnya Kerajaan Bedahulu oleh Majapahit. Selanjutnya pemerintahan di Bali dipegang Dinasti Kepakisan yang berpusat di Samprangan, lalu pindah ke Gelgel. Sampai kekuasaan Dalem Waturenggong, mulai ada perhatian terhadap Pura-pura di Bali Utara/Denbukit. Diawali dengan kedatangan Danghyang Nirartha. Saat itu Pura-pura yang ada di Bali Utara mendapat kunjungan kembali dalam bentuk dharma yatra, mulai dari Pura Pulaki dan pura lainnya, termasuk Ponjok Batu.

Danghyang Nirartha kemudian melanjutkan perjalanannya ke Lombok, setelah menolong seorang bendega atau awak perahu asal Lombok, yang sedang karam di sekitar pantai Ponjok Batu. Dikisahkan, awak perahu itu melihat batu bersinar di tengah laut. Batu didatangi, dibelah. Tetapi kemudian mereka tidak bisa berangkat sampai datang pertolongan dari Danghyang Nirartha. Batu itu hingga kini masih ada di pantai Ponjok Batu.

Sejak kedatangan Danghyang Nirartha,  nilai spiritual tempat suci kembali bangkit. Pura Ponjok Batu mulai memancarkan sinar secara terus-menerus, walaupun Danghyang Nirartha telah meninggalkan tempat itu menuju ke Lombok, seperti terungkap dalam lontar Dwijendra Tattwa.

Sementara berdasarkan folklore, Pura Ponjok Batu berasal dari cerita Ida Batara di Bali yang menimbang beratnya Bali Utara dari Pura Penimbangan di Desa Panji. Ternyata Bali Utara bagian timur lebih ringan. Maka Ida Batara menambah tumpukan batu di bagian timur Bali Utara sehingga timbangan itu menjadi seimbang.

Pura Ponjok Batu telah beberapa kali dipugar. Pemugaran terakhir dimulai 1994 hingga dilakukannya upacara Ngenteg Linggih pada Saniscara Wayang Karo, 8 Agustus 1998. Pura ini terbuat dari batu hitam yang didesain sedemikian rupa agar keberadaannya tetap kuat. Saat ini, pelinggih yang ada di Pura Ponjok Batu meliputi:

1. Padmasana

2. Pelinggih Dang Hyang Nirartha

3. Pelinggih Ciwa

4. Pelinggih Ganesa

5. Pelinggih Batara Baruna

6. Pelinggih Seluang

7. Pelinggih Ratu Ayu Pangenter

8. Pelinggih Taksu (Dewa Gede Ngurah)

9. Pelinggih Ratu Bagus Mas Pengukiran

10. Pelinggih Ratu Bagus Mas Subandar

11. Pelinggih Taksu (Ratu Bagus Penyarikan)

12. Bale Pesandekan

13. Bale Paselang

14. Bale Ongkara

15. Bale Gegitaan

16. Bale Reringgitan

17. Bale Kulkul

18. Bale Pegat

19. Bale Paninjoan

Sementara menurut pemangku di Pura Ponjok Batu Jro Mangku Ketut Ludri (50) dan Jro Mangku Nengah Widi (37), piodalan di Pura ini dilaksanakan dua kali setahun masing-masing saat Purnama Desta dan Sasih Kasa Purnama Kasa, Pangelong Ping Tiga (sasih gemuh) yang jatuh 13 Juli 2006. Sedangkan piodalan Purnama Desta nanti pada 12 Mei 2006. Menurut Jro Mangku, pada piodalan Purnama Desta, diikuti pangempon pura ini yaitu warga Desa Adat Bangkah, Tejakula. Sedangkan pada saat piodalan Sasih Kasa, diikuti warga se-Kecamatan Tejakula. Saat odalan atau Purnama Tilem, banyak warga pedek tangkil ke pura ini, termasuk para pejabat. “Biasanya banyak yang nunas tamba, melukat dan nunas keselamatan,” ujar Jro Mangku Nengah Widi.

Konsep Nyegara Gunung

Ada tradisi yang ada hingga sekarang dan masih berjalan di wilayah Pura Ponjok Batu. Pura ini memiliki hubungan dengan Pura Bukit Sinunggal di Desa Tajun, Kubutambahan. Setiap ada upacara melasti Ida Batara di Pura Bukit Sinunggal dan Pura-pura lain di Tajun, upacara pemelastian selalu diselenggarkan di Pura Ponjok Batu karena di sana terdapat sumber air tawar yang memiliki kesucian dan dikatakan sebagai air campuhan antara air darat dan laut.

Hubungan antara Pura Ponjok Batu dan Pura Bukit Sinunggal sangat erat. Pura Ponjok Batu sebagai zenit bawah dan Pura Bukit Sinunggak di Tajun sebagai zenit atas. Ini membuktikan adanya keserasian yang kekal antara segara dan gunung. Bali punya nilai spiritual sangat tinggi karena sepanjang pantai Bali Utara, jarak pantai dan gunung sangat berdekatan, sehingga tingkat kesucian segara sama dengan kesucian daerah pegunungan. Karena itu, upacara nyegara gunung dalam upacara pitra yadnya sangat penting dilaksanakan. (ari)

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/3/22/bd1.htm

Pura Ponjok Batu

Paropakaranam yesam, jagarti hrdaye satam
Nasyanti vipadas tesam, sampadah syuh pade pade.
(Canakya Nitisastra, XVII.15)

Maksudnya:

Beliau yang selalu dalam hatinya memikirkan kepentingan-kepentingan orang lain, segala kesulitannya musnah dan memperoleh keberuntungan dalam setiap langkahnya.

HATI nurani Resi Vyasa sangat terkesan ikut berbahagia menyaksikan dua ekor induk burung dengan penuh kasih memberikan makan pada anak-anaknya. Curahan kasih sayang induk burung dengan anak-anaknya itu sangat menggetarkan hati Resi Vyasa yang sedang merenungkan keindahan alam di tepi Sungai Gangga. Sejak itu Resi Vyasa sangat ingin berputra agar dapat menyalurkan kasih sayang dengan hati nurani yang suci.

Karena kerinduan yang suci itu Dewa Narada datang pada Resi Vyasa. Dewa Narada menyatakan bahwa kalau Resi Vyasa ingin berputra, hidupnya harus melalui upaya mewujudkan empat tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha. Empat tujuan hidup itu adalah Dharma, Artha, Kama dan barulah dapat mencapai Moksha.

Kalau Resi Vyasa tidak menempuh hidup sukla Brahmacari beliau bisa hidup dengan hanya mencapai Dharma saja terus dapat mencapai Moksha. Sejak itulah Dewa Narada mengajarkan tentang Catur Purusartha pada Resi Vyasa. Dengan Catur Purusartha itulah umat penganut Veda tujuan hidupnya menjadi sangat jelas.

Demikian juga halnya Danghyang Dwijendra ketika sedang menikmati indahnya pemandangan alam berupa lautan yang berpadu dengan daratan dipayungi oleh langit biru di sebuah tanjung di Bali Utara. Pemandangan yang menggetarkan hati nurani sang Pandita itu sekarang terkenal dengan Ponjok Batu.

Danghyang Dwijendra sangat asyik menyaksikan indahnya pemandangan yang menggetarkan batin sang Pandita. Entah berapa lama Danghyang Dwijendra duduk di atas batu yang agak besar di tanjung tersebut. Sebagai seorang Pandita swadharma beliau hanyalah memikirkan kepentingan orang lain atau masyarakat luas agar bisa hidup sejahtera dan bahagia lahir batin.

Hal itulah yang senantiasa selalu dipikirkan sebagai seorang Pandita. Danghyang Dwijendra juga sedang asyik memikirkan untuk meninjau keadaan masyarakat di Sasak (Lombok). Untuk di Bali, Beliau merasa sudah banyak membantu Raja dalam memberikan tuntutan pada masyarakat di Bali.

Saat Beliau melepaskan pandangan ke laut lepas ke arah timur laut, Beliau melihat ada perahu kandas. Tiang layar perahu yang kandas itu patah, bocor dan tali-temalinya patah semua. Awaknya sejumlah tujuh orang juga dalam keadaan pingsan semuanya. Keadaan itu menyebabkan Danghyang Dwijendra naluri kepanditaan Beliau muncul. Beliau sangat iba melihat kenyataan itu dan berusaha memberi pertolongan pada awak perahu yang nasibnya lagi sial itu.

Dengan kekuatan rohani yang sangat mumpuni Danghyang Dwijendra berhasil membuat tujuh awak perahu itu siuman kembali. Tujuh awak perahu itu sangat berterima kasih pada Danghyang Dwijendra atas pertolongan yang Beliau berikan dengan kadar keikhlasan yang amat tinggi itu. Tanpa pertolongan Pandita Sakti itu mereka sangat yakin tidak mungkin bisa hidup kembali.

Tujuh awak perahu itu pun menceritakan asal-usul terjadinya musibah yang menimpa diri mereka. Sesungguhnya mereka sangat yakin tidak mungkin bisa hidup dalam musibah tersebut. Mereka sudah sangat pasrah atas nasib yang menimpa dirinya setelah berbagai usaha dilakukan atas kecelakaan tersebut. Ketujuh orang awak perahu itu menyatakan dirinya dari Sasak.

Dang Hyang Dwijendra menganjurkan agar mereka memperbaiki perahunya dengan seksama sebelum kembali ke Sasak. Tujuh awak perahu itu pun diberikan berbagai petunjuk dalam memahami dan dan mengatasi berbagai persoalan hidup di dunia ini. Semua petunjuk itu di ikuti oleh awak perahu dari Sasak itu.

Setelah beberapa lama awak perahu itu diajak bermalam di daerah Tejakula, Buleleng Utara itu tibalah gilirannya untuk bersiap-siap kembali ke Sasak. Danghyang Dwijendra pun menyatakan ikut karena memang sudah lama beliau niatkan untuk meninjau keadaan masyarakat Sasak. Pagi hari Beliau pun ikut berangkat ke Sasak dan sampai di Sasak dengan selamat.

Batu tempat Danghyang Dwijendra bermeditasi di Bai Utara itu setiap malam mengeluarkan sinar yang sangat ajaib dan menimbulkan vibrasi spiritual yang sangat luar biasa. Karena itu, umat yang datang tidak semata-mata ingin menyaksikan batu-batu yang bersinar saja, tetapi mereka juga bersembahyang pada Hyang Widhi atau karunia itu.

Akhirnya umat mendirikan Pura yang diberi nama Ponjok Batu artinya tanjung batu. Pelinggih utama di Pura Ponjok Batu pada awalnya adalah dalam wujud Sanggar Agung. Pada mulanya Pura Ponjok Batu itu terletak di sebelah selatan jalan dengan areal yang tidak begitu luas.

Pura Ponjok Batu itu kini sudah diperluas dan berada di sebelah utara jalan dari Singaraja menuju Karangasem. Pura Ponjok Batu itu kini sudah jauh lebih megah dan luas sehingga mampu menampung umat yang cukup banyak, terutama saat ada upacara Pujawali atau hari raya keagamaan Hindu lainnya.

Mengapa sampai batu-batu tempat Danghyang Dwijendra bermeditasi dan menolong awak perahu dari Sasak itu bersinar. Hal ini mungkin dapat kita pahami kalau ditinjau dari kacamata spiritual. Seorang Pandita menurut konsep Hindu adalah orang suci yang hidupnya hanya untuk memikirkan dan memperhatikan nasib orang lain. Demikian juga mereka yang ditolong juga sangat berterima kasih dan tulus menerima. Bertemunya dua ketulusan itulah menyebabkan turunnya anugerah Tuhan berupa vibrasi kesucian dalam wujud sinar itu.

* I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/3/22/bd3.htm

Memahami Reinkarnasi

Posted by Adnyana under Tatwa Hindu

 Memahami Reinkarnasi

“Jaatasya hi dhruvo mrtyur dhruvam janma mrtasya ca, tasmaad
aparihaarye’rthe na tvam socitum arhasi”.

Sesungguhnya setiap yang lahir, kematian sudahlah pasti, demikian pula setiap yang mati kelahiran adalah pasti dan ini tiada terelakkan, karena itu tidak ada alasan engkau merasa menyesal. (Bhagavad Gita; II,27)

Demikian sabda Sri Krishna kepada Arjuna yang merupakan kata-kata indah dan mengandung spiritual tinggi. Ujaran ini ditujukan buat Arjuna yang kala itu sedang dirudung kesedihan, bingung bercampur menyesal, frustasi yang tidak tertahankan untuk menghadapi sanak famili dalam medan pertempuran yang maha dasyat. Dengan wacana yang luar biasa itu terkandung makna kelahiran sudahlah pasti bagi mereka yang pernah mengalami kematian.

Sri Krishna sosok yang diyakini secara spiritual adalah Tuhan yang lahir kedunia untuk menyelamatkan Dharma, mampu menyadarkan Arjuna yang berada dalam kebimbangan untuk bangkit dan berjuang terus dengan didasari bahwa proses punarbhawa akan mengenai diri siapa saja.

Dalam zaman kehidupan Krishna hanya beberapa orang yang meyakini beliau itu sebagai awatara, dan lebih banyak yang berpikir bertolak belakang dengan “Sang Awatara Duapara Yuga itu”, namun mereka itu hancur berkeping-keping pada akhirnya. Dan kini konsep reinkarnasi masih saja diterima setengah hati dalam bhatin manusia.

Jika dipikir dengan sederhana dalam menghayati konsep reinkarnasi maka kita akan terjebak dalam kebodohan yang kita hayalkan sendiri. Banyak masalah yang tidak bisa kita jawab dengan kalimat sederhana, sebagai contoh, mengapa kita tidak pernah merasakan kehidupan yang lalu atau sebut saja salah satu tempat di bumi ini? Mengapa jantung kita ini masih saja berdegup kencang saat cinta pertama bersemi? Padahal pada kehidupan kita yang dulu sudah pernah merasakan jatuh cinta, bercinta, menikah dan punya anak. Yang lebih tragis lagi pertanyaan yang muncul kalau manusia yang lahir sekarang ini merupakan reinkarnasi dari yang pernah hidup dulu, mengapa jumlah penduduk dunia terus meningkat? Kalau mati dua bukankah semestinya yang lahir juga dua, tetapi malah terjadi lain, penduduk dunia bertambah terus lalu dari mana yang lain datangnya?

Walaupun semua menyadari bahwa manusia lupa akan kejadian yang pernah dialami, manusia sering naif dan merasa serba tahu. Jangan jauh-jauh kejadian sepuluh hari yang lalu saja masih sulit kita ingat, apalagi kehidupan yang lalu yang tidak mungkin otak penyimpan ingatan kita sudah dimakan tanah. Namun sulit juga menyadarkan manusia yang sudah terjebak ketaraf budivada/penghayatan secara logika, karena dibutuhkan waktu cukup lama untuk meyakini reinkarnasi itu benar-benar terjadi.

Kalau kita kaji lebih jauh, pada awal penciptaan, percikan terkecil dari jiwa-jiwa yang tidak terbilang banyaknya turun ke alam jasmani dan mengenakan penutup atau tubuh yang diperlukan untuk di alam kausal, astral dan jasmani. Tubuh-tubuh itu memudarkan cahaya jiwa sehingga ia melupakan rumah sejatinya dan kemuliaannya yang semula. Jiwa-jiwa itu telah mengalami segala macam bentuk kehidupan yang sesuai dengan keinginan dan kehidupannya.

Melalui rangkaian kelahiran dan kematian yang tidak ada habisnya, kita meninggalkan tubuh yang satu untuk sekedar dilahirkan kedalam tubuh yang lain demikian seterusnya, selama kita belum bisa mencapai kebebasan atau moksa.

Dalam masa kehidupan inilah kita paling dapat menyadari dan merasakan keberadaan tubuh kita hidup di dunia ini. Maka pemahaman hakekat reinkarnasi sangat penting, karena tidak berlebihan bahwa diantara komponen panca sradha yang diketahui, reinkarnasi adalah aspek kepercayaan yang paling sulit dilogikakan.

Peningkatan keyakinan terhadap konsepsi reinkarnasi akan otomatis meningkatkan keyakinan pada sradha-sradha yang lainnya, sehingga manusia tidak memboroskan bentuk hidupnya yang berharga ini, yang hanya dimaksudkan untuk keinsyapan diri, dan tidak terjebak dalam bentuk kehidupan binatang berupa makan, tidur, hubungan kelamin dan membela badannya, sehingga Tuhan akan menganugrahkan tempat yang layak bagi mereka yang memiliki tanggung jawab menggunakan badan manusia untuk kegiatan kemanusiaan dan tidak sebaliknya. Penghayatan terhadap reinkarnasi adalah mengusahakan agar diri manusia keluar dari siklus re-inkarnasi itu, yaitu bebas dari peredaran kelahiran dan kematian. Resep untuk itu lebih dari sekedar pengertian teoritis. Jnana atau pengetahuan bahwa diri kita bukan badan jasmani melainkan Sang Hyang Atma tidak cukup untuk mencapai kebebasan.

Orang harus bertindak pada tingkatan atma, yang disebut Bhakti. Bhakti yang mempersembahkan hrudayam puspam bunga kesucian hati. Orang seperti itu layak mendapat predikat bhakta, Tuhan tidak pernah mencampakkan bhakta-Nya. Mereka yang berbhakti kepada-Nya harus sabar dan tenang, bahkan dalam menghadapi hal-hal yang amat menyakitkan. Kenyataannya memang orang-orang yang saleh dan takwa kepada Tuhanlah yang sering mengalami penderitaan dan kesusahan.

Karenanya kebebasan dari reinkarnasi sangatlah perlu. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian, kebebasan dari semua keterbatasan, ikatan dan perbudakan duniawi. Hal ini tercapai bila kesadaran kita manunggal dengan Tuhan.inilah tujuan akhir kehidupan manusia. Dan harus timbul dari kebijaksanaan dan watak yang baik, yang harus dibina dan diteguhkan sebagai disiplin dan pendidikan kerohanian kita.

* *Oleh: I Made Murdiasa, S.Ag* (penulis adalah Penyuluh Agama Hindu Kanwil Dep. Agama Prov. Kalbar)

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Hindu&id=153422

KARMA DAN PENJELMAAN KEMBALI (SAMSARA).

Karma berasal dari kata Sanskrit “Kr” yang artinya pekerjaan, perbuatan. Filosofi karma bersumber pada Veda yaitu pengembangan dari filosofi “Rta” yang artinya sebagai hukum Hyang Widhi atau dalam bahasa sehari-hari disebut kodrat. Kitab-kitab Upanisad menyimpulkan bahwa karma adalah perbuatan yang dilakukan yang akan mendapatkan hasil atau akibat (pahala/ phala) sesuai dengan hukum kemaha kuasan Hyang Widhi.

Dalam filosofi Rwa bhineda pahala atas karma manusia ada dua yaitu: pahala yang baik, dan pahala yang buruk. Pahala/ phala yang baik diterima sebagai akibat karma yang baik, dan pahala yang buruk diterima sebagai akibat karma yang buruk seperti apa yang disebutkan dalam Brhadaranyaka Upanisad III.2.13: Punye vai punyena karmana bhawati papah papeneti. Artinya: Yang dipuji adalah karma. Sesungguhnya yang menjadikan orang itu berkeadaan baik adalah perbuatannya yang baik, dan yang menjadikan orang itu berkeadaan buruk adalah perbuatannya yang buruk.

Ditinjau dari masa atau waktu antara karma dengan pahala yang diterima, Karma-pahala/ phala ada tiga jenis yaitu:

  1. Prarabda karma phala, yaitu karma yang dilakukan semasa hidup dan pahalanya diterima pula semasa hidup atau seketika.
  2. Kryamana karma phala, yaitu karma yang dilakukan semasa hidup dan pahalanya diterima di nirwana.
  3. Sancita karma phala, yaitu karma yang dilakukan semasa hidup dan pahalanya diterima pada reinkarnasi/ kehidupan berikutnya.

Pengertian nomor 1 dan 3 sudah jelas, artinya phala manusia itu belum sempurna sehingga atman harus ber-reinkarnasi lagi. Untuk yang nomor 2 yaitu Kryamana karma phala, Svetasvatara Upanisad, VI.4 menyatakan: Arabhya karmani gunavitani, bavan ca sarva vinoyojayed yah, tesam abhave krta-karma-nasah karmaksaye yati ya tattvato nyah. Artinya: Manusia yang melaksanakan karma sesuai dengan sifat dan kehendak Hyang Widhi (Brahman) dan menyerahkan pahalanya kepada Brahman (bukan untuk dirinya sendiri) maka Hyang Widhi akan menghentikan kewajiban karmanya dan atman orang itu disatukan dengan-Nya. Inilah hakekat MOKSA, maka atman orang itu tidak menjelma kembali, karena segala pahalanya sudah diwujudkan oleh Hyang Widhi di nirwana (SORGA).

PENJELMAAN BERULANG KALI.

Penjelmaan berulang kali dalam bahasa Sanskerta disebut sebagai: Samsara, atau Punarbhava, atau Punarjanma. Samsara terjadi sebagai pahala atas karma yang belum sempurna semasa manusia hidup. Ketidak sempurnaan karma bersumber pada MAYA yang mengikat atman. Bentuk maya antara lain kenikmatan-kenikmatan duniawi, pikiran, kemauan, dan keinginan. Dalam hal ini Svetasvatara Upanisad menyatakan: Samkalpana-sparsana-drsti-mohair, grasambhu-vrstyvivrddhi-janma, karmanugany anukramena dehi sthanesu, rupany abhi samprapadyate. Stulani suksmani bahuni caiva, rupani dehi svagunair vrnoti, kry-gunair atmagunais ca tesam, samyoga hetur aparo pidrstah. Artinya: Dengan menggunakan kemauan, pikiran, panca indria dan dengan menggelar hawa nafsu, atman menjelma kembali menjadi mahluk secara berulang-ulang sesuai dengan karmanya dan tubuhnya dewasa melalui makanan dan minuman. Atman yang menjelma sesuai sifat dan karmanya memilih tubuh sebagai wujudnya sehingga ia (atman) menjadi nampak dan keadaannya berbeda pada setiap penjelmaan.

Om Santi, Santi, Santi, Om….

http://www.babadbali.com/pustaka/ibgwdwidja/ibd.php?id=56&sub=11

Hukum Universal Karma Phala

Posted by Adnyana under Tatwa Hindu

KARMA dan WATAK

“KARMA” dapat berarti berbuat. Segala perbuatan ialah karma, dapat pula diartikan sebagai akibat dari perbuatan, yang secara batiniah dimaksudkan bahwa apa yang terjadi sekarang adalah sebab dari perbuatan-perbuatan yang lampau. Dalam falsafah timur dikemukakan bahwa pengetahuan adalah cita-cita atau tujuan hidup seseorang dan kesenangan bukanlah suatu tujuan hidup seseorang. Amatlah keliru jika kita menduga bahwa kesenangan itu adalah tujuan hidup, sebab dari sekian banyaknya kesulitan yang menimpa seseorang di dunia ini ialah karena adanya pikiran yang keliru bahwa kesenanganlah yang harus di kejar. Setiap keadaan suka dan duka, kebahagiaan dan penderitaan merupakan guru-guru bagi kita dalam upaya memperoleh suatu pengetahuan dari pengalaman, yang kemudian akan meninggalkan berbagai kesan yaitu dari baik dan buruk yang akan membentuk “karakter atau watak seseorang”.

Dalam setiap kehidupan orang-orang besar, sudah pasti mereka telah menerima pelajaran-pelajaran dari kesusahan bukan dari kesenangan, dan kemiskinan memberikan pelajaran yang lebih berarti daripada kekayaan. Semua pengetahuan baik duniawi maupun rohani, ada di dalam pikiran seseorang. Dalam banyak hal pengetahuan itu tidak diketemukan karena ia tinggal tertutup, bilamana tutupan itu perlahan-lahan di buka maka kita berkata “kita mengetahui”, dan kemajuan dari pada ilmu pengetahuan disebabkan oleh kemajuan dari proses pembukaan pikiran. Orang yang lapisan-lapisan pikirannya sudah tersingkap semuanya disebut orang yang sangat mengetahui (Waskita).

Perbuatan-perbuatan besar bisa terjadi karena gabungan-gabungan dari perbuatan-perbuatan kecil, bila kita berdiri di tepi laut dan mendengar gemuruh ombak-ombak yang mendampar batu-batu karang atau gulungan ombak yang besar-besar, padahal gulungan ombak itu terdiri dari jutaan ombak-ombak kecil yang masing-masing membuat suara sendiri-sendiri, hanya kita tak dapat menangkap suara itu, melainkan bila tergabung menjadi satu barulah kita mendengar suara gemuruh.

Jika kita sungguh ingin menimbang watak atau karakter seseorang, janganlah menilai hanya satu pekerjaan luar biasa yang dilakukannya, namun kita harus memperhatikan saat orang itu melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil sehari-harinya, karena itulah yang dapat menunjukan karakter orang yang sesungguhnya. Orang yang sesungguhnya besar adalah dia yang selalu memperlihatkan sifat-sifat agung meski di tempat manapun dia berada dan karakter-karakter itu bisa kita bentuk sejak dini, karena karma yang kita lakukan sekarang ini bisa mempengaruhi karakter kita pada kehidupan mendatang.

Karakter itu sesungguhnya dapat membangkitkan atau menggerakkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri seseorang, jika diikuti dengan kemauan, karena sebagaimana adanya karma, demikian pula perwujudan dari pada kemauan. Orang-orang yang memiliki kemauan besar adalah pekerja-pekerja yang hebat. Dalam Bhagawad Gita dijelaskan “hanya dengan perbuatanlah seseorang itu bisa memperoleh kesempurnaan, karena itu hendaknyalah pekerjaan itu dilakukan untuk pemeliharaan dunia”. Perbuatan-perbuatan yang dilakukan itu telah ditentukan oleh karma. Tidak ada seorang pun akan memperoleh sesuatu kecuali ia memang berhak mendapatkannya, inilah suatu hukum abadi. Namun kadang-kadang kita tidak berpendapat demikian, akan tetapi pada kesimpulannya haruslah kita meyakini diri kearah hukum tersebut. Karma kita memberi ketentuan apa yang patut dan apa yang dapat kita lakukan. Kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita laksanakan, apa yang kita inginkan, kita memiliki kemauan untuk menjadi apa yang kita harapkan itu. Jika apa adanya kita sekarang ini sebagai akibat dari penghidupan kita yang lampau, maka hal inipun akan berlaku pada apa yang kita inginkan di kemudian hari, dapat kita bentuk dan kerjakan pada waktu sekarang ini. Kita harus mampu melakukannya secara benar untuk tujuan yang lebih sempurna, karena kelahiran sebagai seseorang adalah suatu kesempatan yang sangat utama dengan diberikannya pikiran sehingga kita mampu berpikir kearah yang lebih baik untuk menolong diri kita sendiri dari kelahiran yang berulang-ulang.

Dalam Bhagawad Gita diterangkan tentang karma bahwa bekerja hendaklah memakai kecerdasan dan secara ilmiah, dengan mengerti bagaimana bekerja secara benar untuk memperoleh hasil yang terbesar. Kita harus tahu bahwa semua perbuatan atau pekerjaan hanyalah pembangkitan dari kekuatan pikiran yang sudah ada, untuk membangunkan sang jiwa.

Bekerja untuk kepentingan pekerjaan, sebagaimana diungkapkan dalam Bhagawad Gita bahwa “pekerjaan yang dilakukan tanpa mengikatkan diri pada hasil akan mencapai tujuan yang tertinggi”. Jika seorang bekerja tanpa mengandung tujuan dalam arti mampu mengendalikan diri dari keinginan-keinginan untuk memperoleh sesuatu, apakah kelak ia akan mendapatkan sesuatu ? Ya. Pastilah ia akan mendapatkan sesuatu yang tertinggi. Tiada mementingkan diri adalah hasil keuntungan yang paling tinggi yang akan diperolehnya, hanya saja jarang orang yang sabar melaksanakannya. Bekerja tanpa mementingkan diri akan menghasilkan kesehatan yang besar pula. Cinta kasih, kejujuran dan tidak mementingkan diri bukan hanya khayalan dalam kata-kata yang kosong, tetapi kebajikan-kebajikan tersebut sesungguhnya membentuk cita-cita hidup kita yang luhur dan mulia, didalamnya terletak kekuatan untuk diwujudkan dalam perbuatan. Siapapun dari kita boleh mengharap, cepat atau lambat jalan perjuangan hidup kita melalui pekerjaan ini, pasti akan tiba saatnya bahwa semua dari kita akan menjadi sempurna seluruhnya dan pada saat itulah kita mencapai suatu keadaan dimana diperolehnya suatu kebahagiaan yang abadi.**

Oleh I Made Murdiasa, S.Ag

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Hindu&id=129311

Hukum Universal

DALAM melangsungkan kehidupan, maka kita senantiasa melakukan bermacam-macam gerak dan aktivitas. Gerak dan aktivitas yang kita laksanakan itu pada umumnya untuk memenuhi segala kepuasan dan kenikmatan hidupnya secara lahir dan bhatin, yang disesuaikan dengan pandangan dan kebutuhan hidup masing-masing. Segala gerak atau aktivitas yang dilakukan, disengaja atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah, disadari atau diluar kesadaran, kesemuanya itu disebut dengan karma. Menurut hukum sebab akibat, maka segala sebab pasti akan membuat akibat. Demikian pulalah sebab dari suatu gerak atau perbuatan akan menimbulkan akibat, buah, hasil atau phala seperti buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Karma phala ini sangat besar sekali pengaruhnya terhadap keadaan hidup seseorang. Karena karma phala itulah yang menentukan bahagia atau menderitanya hidup seseorang, baik dalam masa hidup didunia ini, diakhirat maupun dalam penjelmaan yang akan datang. Nasib seseorang tergantung pada karmanya sendiri. Barang siapa yang berbuat baik akan mengalami kebahagiaan, yang berbuat jahat akan mendapat hukuman. Apa saja yang dibuatnya, begitulah hasilnya. Apa yang ditanam begitulah tumbuhnya. Menanam padi tentu tumbuhnya padi.

Pengaruh hukum karma itu pulalah yang menentukan corak serta nilai dari pada watak seseorang. Oleh karena karma itu bermacam-macam jenisnya dan tak terhitung banyaknya. Maka watak seseorang pun beraneka macam pula ragamnya. Karma yang baik menciptakan watak yang baik dan karma yang buruk akan mewujudkan watak yang buruk pula. Segala macam karma yang kita lakukan akan selalu tercatat dalam alam pikiran kita. Yang kemudian akan menjadi watak dan berpengaruh terhadap Atma atau Roh.

Hasil dari perbuatan itu tidak selalu langsung dapat kita rasakan dan kita nikmati, seperti halnya tangan yang menyentuh es akan seketika terasa dingin, namun menanam padi harus menunggu berbulan-bulan untuk bisa menikmati hasilnya. Setiap karma akan meninggalkan bekas, ada bekas yang nyata, ada bekas dalam angan-angan dan ada juga yang abstrak. Oleh karena itu hasil perbuatan atau phala karma yang tidak sempat kita nikmati pada saat berbuat atau pada kehidupan sekarang maka akan kita nikmati setelah meninggal dan pada kehidupan yang akan datang.

Hukum karma yang mempengaruhi seseorang bukan saja akan dinikmatinya sendiri, namun akan diwarisi juga oleh para sentananya atau keturunannya. Misalnya seseorang yang hidupnya mewah dari hasil menghalalkan segala cara, namun setelah orang itu meninggal dunia, kekayaannya diwarisi oleh para sentananya, maka tidak jarang para sentananya mempunyai watak yang akan mewarisi watak purusanya atau leluhurnya. Sehingga kekayaan tersebut tidak akan bertahan lama untuk dinikmatinya dan pada akhirnya akan jatuh miskin, melarat dan menderita. Adanya suatu penderitaan dalam kehidupan ini walaupun seseorang selalu berbuat baik (subha karma), hal itu disebabkan oleh karmanya yang lalu (sancita karma phala), terutama karma yang buruk harus dinikmati hasilnya sekarang, karena tidak sempat dinikmati pada kehidupannya yang terdahulu, sehingga mengakibatkan neraka cyuta (kelahiran dari neraka).

Begitu pula sebaliknya seseorang yang selalu berbuat tidak baik (asubha karma) namun hidupnya nampak bahagia, hal itu dikarenakan pada kehidupannya yang terdahulu ia memiliki phala karma yang baik karena ia merupakan kelahiran dari surga (swarga cyuta), akan tetapi perbuatan buruknya dalam kehidupan sekarang bisa dinikmati pada kehidupan sekarang, bisa juga dinikmati pada kehidupan yang akan datang. Oleh sebab itu marilah kita untuk senantiasa selalu dan selalu berbuat kebajikan, berjalan diatas dharma (kebenaran) sesuai dengan ajaran agama yang kita anut, semoga Hyang Widhi selalu memberikan waranugraha-Nya pada kita semua.

Itulah sebabnya mengapa Hukum Karma Phala dikatakan sebagai hukum yang bersifat universal, karena tidak ada seorangpun dan tidak ada satu mahluk hidup pun yang bisa terbebas dari hukum ini. Untuk memperoleh phala karma yang baik hendaknyalah kita memperbanyak berkarma yang baik, dan pada akhirnya kita mampu melepaskan diri dari penderitaan atau samsara (kelahiran yang berulang-ulang) menuju kebahagiaan yang abadi (Sat Cit Ananda) yaitu bersatunya Sang Atman dengan Brahman.**

http://okanila.brinkster.net/mediaFull.asp?ID=1120

TUMPEK Wayang (yang jatuh pada  hari Sabtu wuku Wayang 6 Februari 2010) merupakan hari istimewa bagi umat Hindu di Bali. Jika ada bayi lahir tepat pada hari itu, konon memiliki sifat-sifat ataupun bakat istimewa baik negatif maupun positif.

Menurut salah satu kalender Bali, orang yang lahir pada wuku Wayang memiliki sifat suka disanjung, perintahnya tak bisa dibantah. Namun, ia juga memiliki pribadi yang halus, pandai bergaul, tutur bahasanya halus dan menarik. Apakah pernyataan itu benar, tentu saja jawabannya beragam. Pasalnya, di atas bumi ini, ribuan bahkan mungkin jutaan orang yang lahir pada Tumpek Wayang dipastikan memiliki sifat yang berbeda, tergantung pada kepercayaan, kultur, bakat, lingkungan dan faktor lainnya.

Bagi umat Hindu di Bali, ada keyakinan bahwa anak yang lahir pada Tumpek Wayang memiliki sifat-sifat negatif karena hari itu dianggap memiliki nilai cemer (kotor) yang membawa sial. Anak tersebut dikhawatirkan dirundung malapetaka, akibat dikejar-kejar Dewa Kala. Menurut lontar “Sapuh Leger”, Dewa Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak yang dilahirkan pada Wuku Wayang.

Untuk memusnahkan sifat-sifat negatif pada anak tersebut serta menghindari bahaya akibat dikejar-kejar Dewa Kala, maka ada solusi yang merupakan keyakinan pula, yakni mohon tirta (air suci) penglukatan atau pengruwatan dari pertunjukan Wayang Sapuh Leger.

Apakah semua itu bisa dipercaya seratus persen? Oleh karena hal ini masalah keyakinan, tentu sulit dijawab dengan pasti. Namun yang jelas, Wayang Sapuh Leger ternyata juga menarik perhatian orang asing. Dalam buku ini ada dikemukakan, pada tahun 2005, seorang warga Prancis menanggap Wayang Sapuh Leger untuk upacara kelahiran putranya. Upacara yang digelar di rumah mertuanya di Baturiti, Tabanan, itu berlangsung khidmat. Apakah ia menanggap Wayang Sapuh Leger hanya untuk jor-joran ataukah memang ia yakin bahwa pertunjukan itu dapat menyelamatkan anaknya?

Oleh karena hal ini masalah yang bersifat irasional, maka sulit dijawab dengan mengemukakan argumenatasi secara rasional. Timbul juga pertanyaan: mengapa Wayang Sapuh Leger yang konon dianggap angker, dan penyelenggaraannya paling berat, sangat mempengaruhi pola pikir umat Hindu di Bali?

Menurut penyusun buku ini, I Dewa Ketut Wicaksana, tidak banyak orang yang menaruh perhatian untuk membuktikan serta mencari jawaban atas penyebabnya.

Kenyataan seperti itu, menurut Wicaksana, hanya diterima begitu saja, tanpa tergelitik untuk menelusuri lebih jauh, untuk menemukan apa yang terjadi di balik konsep penyelenggaraan drama ritual tersebut. Itulah sebabnya, ia tertarik untuk menelusuri, selain ingin mengetahui apa sebenarnya yang ada di balik pertunjukan Wayang Sapuh Leger, juga ingin mengkaji fungsi dan makna pertunjukan wayang tersebut dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Bali.

Dari Tesis

Penelitian Wicaksana tertuang dalam tesis yang dipertahankan di hadapan penguji Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada 1997. Tesis itulah yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku seperti ini, setelah mengalami proses editing seperlunya terutama pada masalah teknis.

Secara garis besar, buku ini terdiri dari lima bab. Bab pertama, Wicaksana menuliskan tentang latar belakang masalah, mengapa ia tertarik meneliti pertunjukan Wayang Sapuh Leger. Sebagaimana penulisan tesis pada umumnya, dalam bab ini, Wicaksana menyodorkan sejumlah teori yang digunakan untuk menjawab permasalahan.

Dalam bab berikutnya, Wicaksana mengungkap tentang genre Wayang Sapuh Leger dalam Wayang Kulit Bali, apa latar belakang dan bagaimana struktur pertunjukan tersebut. Dalam bab ini juga dikemukakan upacara lukatan yang meliputi sesajen, mantram-mantram yang dicantingkan dalam upacara tersebut, pelaku upacara, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dalang dan Dharma Pedalangan.

Dalam bab selanjutnya, Wicaksana mengungkap struktur estetik pertunjukan Wayang Sapuh Leger, dan pada bab empat, ia menganalisis fungsi dan makna pertunjukan seni sakral tersebut bagi kehidupan masyarakat Bali. Buku ini juga dilengkapi dengan lampiran mantram-mantram yang berkaitan dengan pementasan wayang.

Menurut Wicaksana dalam buku ini, secara eksplisit pertunjukan Wayang Sapuh Leger hanya berfungsi untuk upacara dalam siklus kehidupan manusia. Namun secara implisit, pertunjukan ini menyiratkan adanya upacara Panca Yadnya yakni Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya.

Foto-foto yang ditampilkan dalam buku ini meliputi pertunjukan wayang kulit Sapuh Leger, bentuk-bentuk sesajen yang digunakan, dan ada lima dalang yang ditampilkan. Mereka itu empat dalang dari Gianyar yaitu dalang I Wayan Wija, I Made Sija, I Gusti Putu Darta, I Wayan Narta dan satu dalang dari Buduk (Badung) yakni Ida Bagus Puja. Penampilan dalang tersebut dalam gambar lebih banyak terlihat sedang melakukan upacara ritual.

Buku ini tidak saja penting disimak bagi peminat budaya, ilmuwan (peneliti), tapi juga bagi umum terutama bagi mereka yang ingin menekuni dunia pedalangan. Sayang, buku ini dicetak hitam putih, sehingga foto yang ditampilkan belum memberikan gambaran yang maksimal. Jika fotonya dicetak berwarna, serta lebih banyak menampilkan foto wayang Bali, buku ini tentu saja akan lebih afdol.

* wayan supartha

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/27/bud2.html

ADA sebuah fenomena menarik di Bali berkenaan tentang kelahiran anak pada hari yang dianggap keramat yaitu pada waktu wuku Wayang. Fenomena tersebut diyakini oleh orang Bali bahwa yang dilahirkan pada hari tersebut patutlah diupacarai lukatan besar yang disebut sapuh leger. Bagi anak yang diupacarai lahir bertepatan dengan waktu itu dimaksudkan supaya ia terhindar dari gangguan (buruan) Dewa Kala.

Menurut lontar Sapuh Leger dan Dewa Kala, Batara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku Wayang (cf. Gedong Kirtya, Va. 645). Atas dasar isi lontar tersebut, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada wuku Wayang, demi keselamatan anaknya itu, semeton Bali berusaha mengupacarainya dengan didahului mementaskan Wayang Sapuh Leger berikut aparatusnya dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen jenis wayang lainnya.

Menurut sistem perhitungan wuku, satu siklus lamanya 210 hari, karena tiap wuku lamanya 7 hari (Saptawara) dikalikan banyaknya wuku yang berjumlah 30 jenis. Satu bulan wuku lamanya 35 hari, dan setiap akhir bulan wuku itu disebut tumpek. Sehingga ada 6 jenis tumpek yaitu Tumpek Landep, Tumpek Pengarah, Tumpek Krulut, Tumpek Kuningan, Tumpek Kandang, dan Tumpek Wayang. Perhitungan Saptawara kemudian dikombinasikan pula dengan Pancawara (lima hari) dan setiap tumpek adalah jatuh pada Kliwon. Makanya, Tumpek Kliwon dirayakan secara besar di seluruh Bali, seperti Tumpek Kliwon Kuningan yang merupakan rentetan hari raya Galungan, dan diakhiri dengan Tumpek Kliwon Wayang.

Tiap anak yang lahir pada Tumpek Wayang, terutama pada Saniscara Kliwon Tumpek Wayang akan diadakan pergelaran Wayang Sapuh Leger. Kedudukan hari-hari tersebut secara spasial sangat sakral karena merupakan rentetan terakhir dari tumpek yang menurut anggapan orang Bali adalah angker dan berbahaya, karena hari itu dikuasai oleh butha dan kala. Secara mitologis wuku Wayang dianggap sebagai salah satu wuku yang tercemar/kotor, karena pada waktu inilah lahirnya seorang raksasa bernama Dewa Kala sebagai akibat pertemuan (sex relation) yang tidak wajar antara Batara Siwa dan istrinya, Dewi Uma. Mereka melakukan tidak pada tempatnya yang disebut kama salah.

Dari karakteristik hari-hari tersebut, masyarakat Bali percaya bahwa setiap anak yang lahir pada wuku Wayang harus mendapatkan penyucian yang khusus dengan upacara sapuh leger serta menggelar wayang. Pertunjukan wayang kulit yang ada sampai saat ini kenyataannya tidak dapat dilepaskan dengan upacara ritual dengan cerita mitologi. Hal ini dikisahkan karena isinya dianggap bertuah dan berguna bagi kehidupan lahir dan batin yang dipercayai serta dijunjung tinggi oleh pendukungnya.

Hipotesis yang menguatkan tentang latar belakang upacara nyapuh leger dengan media wayang kulit pada Tumpek Wayang adalah data sastra dalam naskah lontar. Salah satunya lontar Kala Purana berbunyi: ”… Muwah binuru sang Pancakumara; katekang ratri masa ning tengah wengi. Hana dalang angwayang, nemoning tumpek wayang, sang anama Mpu Leger. Sampun angrepakena wayang, saha juru redep/ gender/nya, wus pada tinabeh, merdu swaranya, manis arum….”.

Artinya, setelah dikejar sang Pancakumara oleh Dewa Kala, sampai menjelang tengah malam ada seorang pria/dalang bernama Mpu Leger mempertunjukkan wayang pada waktu Tumpek Wayang. Setelah menghadap di depan kelir segera juru gender membunyikan gamelannya, suaranya merdu dan nyaring….

Gelar Wayang Sapuh Leger pada saat Tumpek Wayang bersifat religius, magis, dan spiritual, yang berhubungan dengan wawasan mitologis, kosmologis, dan arkhais, sehingga memunculkan simbol-simbol yang bermakna bagi penghayatan dan pemahaman budaya masyarakat Bali. Simbol-simbol tersebut terungkap baik lewat lakon, sajian artistik, fungsi, sarana, dan prasarana yang digunakan. Sedangkan maknanya mengendap dan menjadikan sistem nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tinggi bagi kelakuan manusia Bali. Dalam konteks ritual, Wayang Sapuh Leger berfungsi sebagai pemurnian (furikasi) bagi anak/orang yang lahir pada hari yang oleh orang Bali dianggap berbahaya yaitu pada wuku Wayang, sehingga ia berfungsi sebagai pengukuhan atau pengesahan dari bentuk ritual keagamaan dan institusi-institusi sosial budaya masyarakat Bali. Karena salah satu perwujudan dari sistem religi mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas komunitasnya.

Tumpek Wayang juga bermakna ”hari kesenian” karena hari itu secara ritual diupacarai (kelahiran) berbagai jenis kesenian seperti wayang, barong, rangda, topeng, dan segala jenis gamelan. Aktivitas ritual tersebut sebagai bentuk rasa syukur terhadap Sang Hyang Taksu sering disimboliskan dengan upacara kesenian wayang kulit, karena ia mengandung berbagai unsur seni atau teater total. Dalam kesenian ini, semua eksistensi dan esensi kesenian sudah tercakup.

***

Tumpek Wayang dan drama ritual wayang diamati dari aspek filosofinya, berorientasi temporal, spasial dan spiritual. Secara temporal pertunjukan Wayang Sapuh Leger diselenggarakan pada saat-saat tertentu yaitu pada Tumpek Wayang, sehingga mitologi sapuh leger mengharuskan masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa dilarang bepergian pada tengai tepet (tengah hari), sandyakala (sore hari), dan tengah lemeng (tengah malam). Oleh karena diyakini waktu-waktu tersebut adalah waktu transisi yang sering mengancam keamanan seseorang saat melakukan perjalanan.

Tumpek Wayang itu sendiri merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada Sabtu/Saniscara Kajeng Kliwon, Wayang. Saniscara merupakan hari terakhir dalam perhitungan Saptawara; Kajeng adalah hari terakhir dalam perhitungan Triwara; dan Kliwon merupakan hari terakhir dalam perhitungan Pancawara. Sedangkan Tumpek Wayang adalah tumpek terakhir dari urutan enam tumpek yang ada dalam siklus kalender pawukon Bali. Dengan demikian dapat disimpulkan, Tumpek Wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu-waktu peralihan, dan oleh karenanya anak-anak yang lahir pada saat ini ditakdirkan menderita karena mengalami gangguan emosi dan menyusahkan orang lain.

Untuk melawan akibat keadaan yang tidak menguntungkan itu, orang Bali melakukan upacara ”penebusan dosa khusus” yang dinamakan lukatan sapuh leger, dengan harapan Hyang Widhi akan menganugerahkan nasib baik pada anak itu dan menjamin bahwa hari ”lahir yang tidak baik” itu tidak akan berpengaruh buruk pada perkembangan selanjutnya.

Kata ”kala” secara etimologi berarti waktu, ketika, saat, zaman. Jadi Batara Kala artinya dewa waktu atau penguasa waktu. Dari asal-usul etimologi tersebut, dapat disimpulkan bahwa mitos sapuh leger mengandung ajaran, petunjuk, dan pesan yang berdimensi temporal, yakni hendaknyalah orang dapat menguasai waktunya (sendiri) dan tidak membuang-buang waktu untuk perbuatan yang tak ada manfaatnya bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas. Mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, niscaya akan besar sekali mengaruhnya bagi keselamatan dan kesejahteraan. Amanat yang terkandung dalamnya adalah bersifat korektif berupa peringatan kepada umat manusia untuk menghargai waktu (kala), dan mewaspadai pertemuan ”transisi” dua kutub, akibatnya membawa pengaruh positif maupun negatif. Pengaruh positif apabila dua komunitas terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna, komunikasi akan berjalan baik. Apabila sebaliknya, akan terjadi miskomunikasi yang bisa berdampak negatif.

* I Dewa Ketut Wicaksana, SPP., H.Hum.,
dosen pedalangan STSI Denpasar

http://www.iloveblue.com/bali_gaul_funky/jepret/detail/35.htm

Sumber Foto-Foto diatas dari Internet dan baliwww.com dan Widnyana Sudibya.

Hari Rabu tanggal 8 Juli 2009, adalah merupakan hari yang cukup bersejarah bagi semua warga Indonesia, karena pada hari itu merupakan hari pemilihan president Indonesia (pilpres) secara langsung dari rakyat indonesia untuk memilih president Indonesia periode 2009 - 2014. Pelaksanaan pemilihan president yang berlangsung di tanah air secara LUBER (Langsung, Bebas, dan Rahasia)  juga berlangsung di kantor Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Frankfurt. Semua warga Indonesia yang berdomisili di Jerman yang memiliki hak untuk memilih menyalurkan hak pilihnya dengan datang ke KJRI Frankfurt di hari rabu tanggal 8 Juli 2009.

Di hari yang sama setelah Pemilihan President Indonesia, sekelompok warga Bali yang berasal dari Frankfurt dan sekitarnya, berkumpul di area belakang KJRI beramah tamah sembari menikmati hidangan masakan Indonesia yang di jual oleh para Ibu-ibu dharma wanita Indonesia. Sejenak setelah makan siang di KJRI,  beberapa warga bali akhirnya melanjutkan perjalanannya ke Betina strasse untuk melakukan rapat persiapan perayaan Kuningan yang akan jatuh pada hari Sabtu Kliwon tanggal 24 Oktober 2009.

Perayaan Kuningan di Jerman

Sekilas mengenai perayaan Kuningan di Jerman, sesungguhnya perayaan Kuningan ini adalah merupakan rangkaian dari perayaan Galungan dan Kuningan yang berlangsung setiap 6 bulan sekali dan di rayakan secara bergilir di kota-kota yang berbeda. Menyesuaikannya dengan Desa Kala Patra, dimana umat Hindu yang berdomisili di Jerman yang tempat tinggalnya berjauhan satu dengan yang lainnya, dan juga karena keterbatasan waktu yang di milikinya, perayaan Galungan dan Kuningan di pusatkan menjadi satu pada saat hari raya Kuningan yang juga bertepatan dengan hari sabtu. Perayaan Kuningan sebelumnya berlangsung di Jerman seperti di kota Berlin, Hamburg, Hannover, Kasel, dll. Dan untuk perayaan Kuningan yang akan datang tanggal 24 Oktober 2009 akan di selenggarakan di gedung Ledermuseum Offenbach (atau dalam bahasa inggrisnya di kenal dengan nama German Leather Museum) yang beralamat:

DLM Leather Museum Offenbach
Frankfurter Strasse 86
D-63067 Offenbach

http://www.ledermuseum.de/DLM/frames_e/hfr_05_e.html

Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 ini akan di selenggarakan oleh Tempek Hessen (Frankfurt dan sekitarnya) yang di pimpin oleh Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani Prior. Untuk mensukseskan acara perayaan Kuningan nanti, dan ketika masyarakat indonesia berkumpul di KJRI Frankfurt untuk menyalurkan hak pilihnya di hari Pemilihan President Indonesia, Ibu Made Wiyogani berinisiatif mengajak Warga Bali (umat hindu) untuk melaksanakan rapat koordinasi di sebuah tempat yang tidak jauh dari Gedung KJRI.

Rapat yang di pimpin oleh Ibu Made WIyogani, serta di hadiri oleh Ida Bagus Ngurah (Frankfurt), Ketut Sri Artini Grosse (Giessen), Burkhardt Grosse (Giessen),  Ketut Suastiti Fluegel (Frankfurt), Yasmin Asih Scheiber (Stuttgart), Komang Mawan (Rheinland-Pfals), Subie Kim (Darmstadt), Nyoman Rianasari Dewi (Stuttgart) dan Ketut Adnyana (Stuttgart), berlangsung dalam suasana kekeluargaan namun tetap serius.

Rapat di awali dengan Panganjali Umat yang di pimpin oleh Ida Bagus Ngurah (Frankfurt), kemudian di lanjutkan oleh Ibu Made Wiyogani yang menjabarkan point-point penting persiapan Perayaan Kuningan serta kebutuhan untuk membentuk seksi-seksi yang menanggung jawabi tugas-tugas yang sekiranya di perlukan dalam Perayaan nanti . Seperti Seksi Pendanaan, Seksi Banten, Seksi Konsumsi, Seksi Kesenian, Seksi Komunikasi yang menanggung jawabi perihal surat menyurat, undangan, penyusunan acara, Seksi Keamanan, serta Seksi Dokumentasi.

Upakara / Banten Kuningan

Sarana upakara yang menjadi ciri khas dalam perayaan Kuningan adalah adanya “Tamiang” yang berasal dari kata “Tameng” yang berfungsi sebagai alat penangkis senjata atau memiliki makna perlindungan diri atau penolak Bala.  Disamping itu juga Tamiang, juga melambangkan “Dewata Nawa Sanga”, karena menunjuk sembilan arah mata angin. Tamiang juga melambangkan perputaran roda alam (cakraning panggilingan). Dimana lambang itu mengingatkan kita sebagai manusia akan hukum alam, resikonya akan tergilas oleh roda alam. Sampian Gantung itu di tempatkan di samping pintu dan di setiap sudut bangunan pelinggih atau sudut rumah.

Sarana-sarana Upakara yang tersirat pada perayaan Kuningan ini beserta sarana upakara lainnya untuk mensukseskan perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach nanti, telah di sanggupi serta akan di tanggung jawabi oleh Ibu Ketut Suastiti Fluegel. Ibu Ketut Suastiti yang di bulan Juli hingga Agustus ini akan berlibur di Bali berserta keluarganya, akan mencoba mempersiapkan seluruh sarana Upakara Kuningan dan membawanya serta dari Bali, sehingga Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 bisa berjalan dengan lancar.

Kesenian

Disamping perayaan kuningan ini di harapkan bisa berjalan dengan hening di mana umat Hindu yang berdomisili di Jerman dan sekitarnya yang ketika bersembahyang bersama di Hari raya Kuningan di Offenbach ini bisa mencapai kedamaian “Santha Jagadhita”, disaat setelah melakukan persembahyangan bersama umat Hindu yang hadir beserta para undangan juga di harapkan bisa mendapatkan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan Kebudayaan Bali serta kesenian Bali yang di suguhkan lewat tari-tarian yang akan di tanggung jawabi oleh Ibu Nyoman Suyadni Mindhoff dan Bapak Made Sukasta Mindhoff bersama sanggar tari dan gamelan “Bali Puspa“  http://www.balipuspa.de

Adapun jenis-jenis tari-tarian yang akan di persembahkan oleh Sanggar Tari dan Gamelan Bali Puspa, yang tentunya di dukung dengan iringan musik gamelan adalah sebagai berikut: Tari Rejang Dewa, Tari Pendet, Tari Sekar Jagat, Tari Margapati, Tari Telet, serta iringan musik Beleganjur.  untuk menambah keceriaan selama perayaan Kuningan nanti, Panitia perayaan Kuningan, juga akan menerima dengan senang hati sumbangan tari-tarian dari anggota Nyama Braya Bali lainnya . dan Tarian yang terakhir yang tentunya bisa ikut melibatkan partisipasi para pengunjung, tidak saja umat hindu, melainkan juga para pengunjung umum untuk ikut menari bersama, Tarian Joged Bumbung juga akan di tampilkan sebagai penutup acara perayaan Kuningan nanti.

Komunikasi

Dengan maksud untuk berbagi kebahagiaan yang kita miliki di saat kita umat hindu merayakan hari raya suci, panitian perayaan kuningan kali ini juga akan mengundang lembaga ataupun organisasi lainnya. Seperti Konsulat Jendral Republik Indonesia yang berkedudukan di Frankfurt, Direktur Leder Museum Deutschland, serta organisasi keagamaan beserta organisasi sosial lainnya yang ada di bawah naungan KJRI Frankfurt ataupun yang ada di kota Frankfurt, serta Direktur Jendral Agama Hindu yang berkedudukan di Jakarta, bila memungkinkan, akan turut pula di undang menghadiri perayaan Kuningan umat hindu di Jerman dan sekitarnya pada tanggal 24 Oktober 2009 ini .

Panitia perayaan Kuningan juga dengan senang hati mempersilahkan anggota Nyama Braya Bali lainnya bila ingin mengundang teman baiknya, atau relasi kerjanya, atau tetangga yang dikenalnya dengan baik untuk turut serta menghadiri Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 nanti. khusus untuk undangan pribadi ini, panitia mengharapkan kepada setiap umat hindu atau anggota Nyama Braya Bali (NBB) untuk melaporkannya atau mendaftarkannya terlebih dahulu kepada penitia, sehingga surat undangan yang di persiapkan oleh panitia bisa di kirimkan kepada anggota NBB.

Untuk perihal surat menyurat, undangan resmi, serta susunan acara selama berlangsungnya perayaan kuningan ini akan di tanggung jawabi oleh ketua panitia Ibu Made Wiyogani yang di bantu oleh sekertaris Nyama Braya Bali yaitu Ibu Yasmin Asih Scheiber beserta Ibu Ketut Sri Artini Grosse.

Konsumsi

Disamping pembahasan point-point penting diatas, pembahasan tentang point yang tidak kalah pentingnya yang mungkin sekiranya akan menentukan kenyamanan jalannya perayaan kuningan nanti adalah suguhan makanan chiri khas Bali, yang tidak hanya untuk mengobati rasa rindu dari umat hindu yang merantau di Eropa akan masakan Bali yang biasanya di dapati di kampung halaman di Bali, tapi juga untuk turut serta mempromosikan serta mengenalkan jenis-jenis masakan khas bali ataupun jajanan khas Bali kepada para pengunjung umum, baik itu masyarakat indonesia lainnya ataupun masyarakat Jerman serta masyarakat Eropa lainnya.

Untuk menjamin keberhasilan perayaan Kuningan nanti dari menu hidangan Bali yang akan di tawarkan Panitia, Ibu Made Wiyogani Prior selaku Ketua Panitia Perayaan Kuningan, mempercayakan tanggung jawab Konsumsi ini kepada Ibu Putu Ari Burth.

Peresmian Kepengurusan Nyama Braya Bali Jerman 2009 - 2011

Untuk lebih memperkenalkan kepada masyarakat Indonesia yang ada di Jerman ataupun di Eropa, memperkenalkan kepada lembaga Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt selaku wakil pemerintah Indonesia di Jerman,  serta memperkenalkan kepada Masyarakat Jerman dan Eropa lainnya, pada perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 nanti juga akan dilangsungkan peresmian Kepengurusan Nyama Braya Bali Jerman 2009 - 2011, yang kepengurusan ini di ketuai oleh Ibu Suputri Sudjiwa.

Peresmian serta perkenalan Pengurus lengkap Nyama Braya Bali (NBB) Jerman 2009 - 2011 ini akan di langsungkan di saat setelah selesainya acara keagamaan (persembahyangan bersama) atau tepatnya di saat acara ramah tamah yang di isi sambutan dari Ketua Panitia Perayaan Kuningan, sambutan dari Konsulat Jendral Republik Indonesia, serta sambutan dari Direktur Leder Museum Jerman selaku pemilik gedung tempat penyelenggaraan Perayaan Kuningan ini.

Akhir kata, tidak terasa waktu sudah berjalan menunjukkan jam 16.00, dan topik-topik penting yang berhubungan dengan perayaan Kuningan sudah pula semua terbahas, rapat akhirnya di tutup dengan jamuan makan yang telah di persiapkan oleh Ibu Made Wiyogani Prior dan Ibu Ketut Suastiti Fluegel. serta di ikuti oleh acara foto bersama.

Ibu Made Wiyogani Prior, selaku ketua panitia Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009, sambil memanjatkan doa kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa,  berujar beliau merasa sangat terharu dan bahagia akan semangat “ngayah” dari anggota Nyama Braya Bali di Jerman, yang bahu membahu mewujudkan pertemuan Umat Hindu yang merantau di Jerman dan di Eropa melalui acara persembahyangan bersama pada saat hari raya kuningan nanti.

Dengan menjunjung tinggi semangat kebersamaan “menyama braya” sebagai warga bali yang merantau di Jerman yang jauh dari kampung halaman di Bali,  ketulus ikhlasan berdoa kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa, serta meyakini Tuhan itu ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka), kedamaian serta kesejahteraan lahir batin “Jagadhita” akan tercapai pada setiap insan manusia.

Semoga Ida Sang Hyang Widi Wasa selalu melindungi kita semua.

Cerita Kecil Pemilu 2009

Posted by Ode under Stories

Seminggu menjelang tanggal 8 Juli…
Mommy: “Daddy, koq kita belum terima surat buat pemilu? Gimana nih? Kita nyontreng gak ni?. Jangan-jangan suratnya jatoh ke alamat kita yg lama di Chatswood loh?”
Daddy: “Gak tau! Tapi daddy udah kasi koq alamat kita yang baru ke panitia pemilunya. Tunggu aja deh, kali last minute sebelum D-day suratnya dateng”
Mommy: “Ya udah…”.

Sehari sebelum 8 Juli…
Mommy: “Daddy, kita masih belum terima surat pemilu. Besok mau nyontreng apa gak?”
Daddy: “Oya iya ya…tapi katanya boleh koq cuma bawa passport aja. Lagian daddy liat di website-nya konsulat, nama kita udah terdaftar koq!”
Mommy: “O gitu? Besok mau jam berapa kesana?”
Daddy: “Pulang kantor aja yah, kita langsung kesana”
Mommy: “Emangnya TPS-nya buka ampe jam berapa?”
Daddy: “Katanya sih ampe jam 7 malem. Jangan lupa bawain passport loh ya!”
Mommy: “Okkkeeeh, daddy”

Tanggal 8 Juli, jam 18:00….di dalam mobil, perjalanan menuju TPS
Mommy: “Dad, kita belum nentuin juga nih mau pilih sapa? Jadi tetep ama SBY gak?”
Daddy: “Wah, bingung juga, banyak juga komentar gak sedap thd SBY, misalnya ttg ricuhnya DPT. Mestinya kalo emang niat, SBY kan bisa aja langsung turun tangan  mberesin masalah krusial ini. Koq malah sibuk nyari alasan pembenaran.
Satu lagi, bapak gak sreg nih ama koalisi PD ama PKS. Selama ini PKS terlalu  keras bau agamanya. Bukannya gak suka agamanya, peace man, tapi daddy berpendapat tidak tepat kalau agama dibawa-bawa ke arena politik dan demokrasi. Politik dan demokrasi memerlukan kebebasan berpikir, berpendapat. Agama terlalu banyak sisi sensitifnya, jadinya membuat banyak hal tidak objektif!”
Mommy: “Wah, masak sih? Padahal mommy udah merasa sreg nih ama SBY. Kan udah keliatan tuh pak hasil kerjanya menunjukkan hasil. Kepemimpinannya secara pribadi terdengar lebih bersih. Lagian seberapa sih pengaruh koalisi partai dengan kebijaksanaan yang nantinya akan dibuat?
 Mommy kalo ama Mega udah off nih, dulu udah dikasi sekali kesempatan buat mimpin tapi performance-ny agak bagus, no second chance, mate! sorry”
Daddy: “Iya, Daddy ama Mega juga udah off lah! Denger-denger JK lagi naek daun. Katanya taktis dalam menyelesaikan masalah, tapi ya gak tau juga…namanya juga kampanye”
Mommy: “Ya gini deh kalo mau milih presiden dari jauh…gak ngikutin kampanyenya”
Daddy: “Kan udah liat di Youtube siarannya?”
Mommy: “Iya, tapi kan gak penuh! Tetep aja bingung”
Daddy: “Jadi mau pilih siapa nih kita?”
Mommy: “Tetep pilih SBY kali!”
Daddy: “Daddy gak tau nih….bingung juga”
Mommy: “Gimana sih? Ini udah mau nyampe ke TPS masih bingung!? Ayo buruan nyetirnya dikit pak, udah mau jam nih! Ntar keburu tutup TPS-nya”
Daddy: “Yah lucu aja ya kalo udah capek bahas-bahas capres taunya ampe sana TPS-nya tutup hahaha..”
Mommy: “Iya, hayo kebut dikit, di Moubray Rd biasanya macet soalnya”
Daddy: “Okeee mommy”

@18:40 8 Juli, Di TPS….
Daddy: “Pak, saya mau daftar milih. Cuma saya gak dapet suratnya nih, masih boleh kan ya?”
Petugas: “O gak apa-apa pak asal bawa passport. Sini saya daftarin dulu passportnya”
Daddy: “Mommy, tolong bawa sini passportnya…”
Mommy: “YAAA AMMPUUNN, DADDYY!!……Passport ketinggalan diatas meja makan lupa dibawa!!!”

Sampai jumpa di pemilu 2014!

(Cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kejadian atau nama yang sama dalam cerita ini,
percayalah itu hanya sebuah kebetulan belaka…sumpeee dee itu cuma kebetulan aje!)

-oDE Srijaya-


MENURUT konsep Hindu, proses belajar itu sepanjang hidup. Dari masa brahmacari, grhasta, vanaprastha sampai sanyasin asrama.

Menurut konsep kitab Agastia Parwa, dasar membangun pendidikan sepanjang masa ada dua yaitu menjadikan belajar sebagai tradisi atau kebiasaan hidup sehari-hari dan paham akan penggunaan aksara. Ilmu yang harus dicari itu adalah tentang dunia nyata atau sekala (Apara Vidya) dan ilmu tentang keberadaan dan kemahakuasaan Tuhan (Para Vidya). Mencari ilmu itu untuk bekal hidup agar bisa menata hidup sepanjang masa. Menimba ilmu bukan sekadar mengajarkan peserta didik mencari nafkah semata. Sebab, kebijakan struktural yang lebih menekankan pada pembangunan kesejahteraan material maka pendidikan pun ikut mengarah pada hal-hal lebih banyak pada yang materialistis.

Dalam konteks kekinian, masa brahmacari asrhama itu diimplementasikan ke dalam aktivitas pendidikan formal dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Namun, pendidikan formal itu saja belum cukup lantaran “kemasannya” cenderung dititikberatkan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sementara pendidikan yang ditujukan untuk pembangunan mental dan spiritual — kendati tetap diberikan porsi — dinilai belum memadai. “Kalau kita ingin mencetak insan Hindu yang berkualitas dalam arti yang sesungguhnya, segi penguasaan iptek dan spiritualitas itu harus diseimbangkan. Sebab, manusia pintar tanpa memiliki mental dan spiritualitas yang baik juga akan sia-sia dan tidak mampu membawa Bali ke kondisi yang lebih baik,”

Meningkatkan Ilmu Pengetahuan (Srada) Hindu melalui Pesraman

WACANA peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Hindu saat ini sedang menjadi perbincangan hangat. Sejumlah konsep pun ditawarkan. Khususnya dari mereka yang peduli serta mau berjuang aktif untuk kejayaan SDM Hindu di masa datang. Lantas, dari mana ayunan langkah harus dimulai untuk mewujudkan kepentingan itu?

komitmen peningkatan kualitas SDM Hindu harus dimulai sejak manusia Bali (Hindu-red) itu menginjak usia sekolah dasar. Ada baiknya seluruh SD di Bali yang mayoritas siswanya beragama Hindu mengembangkan konsep pesraman yang memberikan pendidikan agama Hindu dan budaya Bali secara lebih intensif.

Agar program itu tidak “bentrok” dengan pelaksanaan pendidikan formal, akan jauh lebih baik jika pesraman itu digelar hari Minggu atau pada hari-hari libur lainnya. Misalnya, pada liburan kenaikan kelas. “Sejumlah sekolah sudah melaksanakan program pesraman ini secara kontinu. Namun, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Pihak desa adat di sekitar lokasi sekolah itu harus memberikan dukungan nyata, agar program itu bisa jalan. Bentuk dukungan itu tidak hanya diwujudkan dalam bentuk materi atau dukungan dana semata. Namun, yang lebih penting adalah ikut menciptakan atmosfir yang kondusif bagi terlaksananya program itu.

“Dukungan yang paling sederhana, orangtua siswa rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membiayai anak-anaknya mengikuti program pesraman itu. Satu yang harus diingat, pengelola pesraman jangan sampai menggelincirkan program itu sebagai ajang profit oriented atau mengeruk keuntungan materi. Konsepnya, harus murni untuk yadnya.

Pesraman Tingkat Anak-Anak

Urgensi pesraman itu, harus difokuskan sebagai media pencerahan di bidang agama Hindu maupun pengenalan budaya Bali secara luas. Mengingat peserta didiknya adalah kelompok usia anak-anak, maka penyampaian materi-materi pelajaran harus “dikemas” dengan bahasa anak-anak sehingga mudah dipahami. “Tidak usah mereka dipaksa-paksa menghapal mantra-mantra yang njelimet. Untuk usia anak-anak seperti itu, cukuplah mereka hapal mantra Puja Trisandya dulu atau mantra-mantra sederhana lainnya. Namun, intisari dari mantra itu harus dijelaskan secara benar. Mereka juga perlu diberikan pemahaman tentang intisari dari kitab-kitab suci Hindu, sehingga bisa mereka jadikan pegangan dalam berpikir, berkata serta berbuat yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pesraman itu, peserta didik juga perlu dibekali dengan keterampilan-keterampilan yang berkaitan langsung dengan persiapan-persiapan upacara keagamaan. Misalnya, keterampilan membuat canang sari, ngulat tipat dan klakat serta kelengkapan upacara sederhana lainnya. Di bidang seni, mereka juga bisa diajari masanti, makidung, magambel serta menari. “Satu hal yang tidak boleh dilupakan, usia anak-anak itu merupakan masa bermain. Supaya mereka tidak jenuh selama mengikuti program pesraman, materi-materi pelajaran utama bisa diselingi dengan pengenalan permainan-permainan tradisional seperti magala-gala, meong-meongan dan sebagainya. Jadi, pengenalan permainan tradisional itu memiliki fungsi ganda. Di samping mengusir kejenuhan, juga untuk melestarikan permainan-permainan tradisional yang saat ini nyaris ditinggalkan karena perannya sudah digantikan oleh aneka permainan supramodern.

Pesraman Tingkat Remaja

Lantas, bagaimana konsep pesraman untuk manusia Hindu yang berusia pra-remaja/remaja atau bagi mereka yang sudah mengenyam pendidikan SLTP dan SMU? materi pelajaran tetap harus dititikberatkan pada bidang agama dan pengenalan budaya Bali. Namun, materinya jelas harus diperluas. Dia mencontohkan, kalau di pesraman anak-anak mereka hanya diajari ngulat tipat dan klakat, maka di pesraman lanjutan itu mereka sudah diajari membuat aci-aci upacara yang lebih kompleks seperti membuat aneka macam caru serta bebantenan yang lebih rumit. “Jelas harus ada perkembangan dari materi-materi yang diajarkan di pesraman untuk anak-anak SD. Jadi, tidak stagnan,” .

Manusia Bali tidak boleh gagap teknologi. Di samping mendapat pelajaran agama, mereka yang belajar di pesraman lanjutan juga perlu mendapat keterampilan lain yang bersentuhan dengan teknologi modern seperti komputer dan pengetahuan lainnya. Bekal ini, bertujuan untuk mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja. Dengan begitu, mereka tidak akan jadi pecundang dalam persaingan di tingkat global. “Karena dasar agama mereka sudah kuat, mereka tidak akan memanfaatkan kemajuan teknologi itu untuk kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Pesraman di Luar Negeri

Program peningkatan sumber daya manusia Hindu yang mulai gencar di langsungkan di Bali atau di tanah air dengan menerapkan sekolah minggu, mungkin tidaklah mudah di laksanakan di Luar Negeri. Adapun alasannya adalah selain karena jarak dari setiap keluarga orang Bali di rantau cukup jauh, juga karena kesempatan serta waktu yang dimiliki dari setiap keluarga untuk bertemu dengan sesama orang bali tidaklah banyak.

Kesempatan untuk berjumpa diantara keluarga hindu, seperti di Jerman, biasanya terjadi di saat acara kesenian tertentu atau di acara perayaan hari raya keagamaan seperti perayaan Kuningan. Ketika perayaan kuningan di Berlin yang berlangsung di bulan maret kemaren, dimana para ibu-ibu bali ataupun bapak-bapak bali, terlihat begitu riangnya bertemu handai tolan sesama dari bali atau dari satu kabupaten. ada yang mendiskusikan tentang lezatnya hidangan masakan bali ataupun harumnya kopi bali yang di hidangkan panitia, juga ada yang ngerumpi mojok kangen-kangenan serta tertawa ria dengan lelucon chiri khas  bahasa bali. Melihat pemandangan seperti itu sungguh senang rasanya akan hasil kerja panitia yang telah berhasil mempersatukan umat sedharma di rantau di luar negeri.

Disamping keceriaan yang terlihat diatas,  juga tampak beberapa orang yang duduk menyendiri.  seperti beberapa pasangan hidup dari para ibu-ibu bali atau bapak-bapak bali. Sekilas terlihat, mereka yang memang asli Jerman sebenarnya ingin berbaur dengan krama bali lainnya, dan bahasa Indonesiapun sebenarnya sudah pula mereka pelajari di rumahnya, namun karena kendala bahasa bali yang dipakai dalam percakapan saat itu serta bahasa sansekerta yang banyak di lafalkan dalam setiap mantram , yang membuat mereka tidak bisa menyatu. Oleh karena itu, untuk mengurangi “Gap” perbedaan kesenjangan keceriaan antara Nyama Braya Bali dengan penduduk asli jerman yang menikah dengan orang Bali, mungkin di Perayaan Kuningan selanjutnya ada baiknya untuk dibuatkan “Pesraman” (kursus singkat).

Model Pesraman yang mirip kursus singkat yang di selenggarakan di sela-sela acara Kuningan, dimana mereka di bagi kedalam 2 kelompok yaitu anak-anak dan dewasa, dengan materi berbahasa jerman atau bahasa Inggris yang menjelaskan kepada mereka  tentang makna  dari hari raya Kuningan itu, makna canang sari, atau makna dari tari-tarian bali yang di pentaskan, makna dari kidung wargasari, dll. sehingga di akhir acara perayaan Kuningan, tidak saja para ibu-ibu bali ataupun bapk-bapak bali yang berbahagia karena bisa melaksanakan persembahyangan bersama manca puspa serta bahagia bertemu kangen dengan Nyama Braya Bali, tapi juga para pasangan hidupnyapun bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dan informasi tentang Kebudayaan Bali dan Ajaran-ajaran Agama Hindu.

I Made Agus Wardana, seorang seniman Bali yang saat ini berdomisili di Belgia dan Staff dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belgia, sudah memberikan contoh kepada kita semua tentang pengenalan kebudayaan Bali kepada masyarakat Belgia, melalui program “interaktif Gamelan and Dance” , yang patut kita tiru dalam setiap perayaan Kuningan yang di selenggarakan di Jerman. Nyama Braya Bali di Jerman dalam setiap merayakan upacara keagamaan tidak hanya terbatas melakukan Manca Puspa dengan mantram Bali, tapi Pandita yang memimpin jalannya upacara juga bisa menjelaskan kepada warga Jerman (khususnya yang memiliki pasangan hidup orang hindu), tentang makna dari Trisandya itu, Canang Sari, dll. Pun demikian setelah pementasan kesenian tari-tarian Bali ada penjelasan tentang maksud serta makna dari Tarian tersebut dalam konteks perayaan upacara keagamaan yang sedang berlangsung:

http://www.youtube.com/watch?v=LU539419JYs&feature=related

Semoga Srada Kehinduan dan kebudayaan bali kita semua walaupun jauh dari kampung tanah kelahiran kita, namun dengan konsep “Pesaraman” berbagi Ilmu Pengetahuan Keagamaan Hindu serta Kebudayaan Bali, di setiap waktu dan kesempatan yang kita miliki, menirukan apa yang dilakukan oleh Made Agus Wardana di Belgia, kita bisa ikut serta membantu mengajegkan Bali dan mengajegkan Hindu .

Akhir kata, semoga pikiran yang baik datang dari segala arah.