
Menelusuri Jejak Perjalanan Tari Pendet Milik Bali yang Diklaim Malaysia
Karya Anonim Harumkan Indonseia di Asean Games
Bali memang gudangnya tarian. Walaupun banyak punya jenis kreasi hasil kreatif tarian, masyarakat Bali tak lupa dengan karyanya. Makanya ketika Malaysia mengklaim tari Pendet adalah milik negeri yang menyiksa Manohara Odelia Pinot itu, seniman pulau ini berteriak.
I KETUT ARI TEJA,Denpasar
———————————————
SIANG itu sangat adem di Art Center. Namun suasana marah, mangkel dan pedih dialami sejumlah seniman. Karya seni leluhur Bali dengan pongahnya diklaim oleh Malaysia.
Raut wajah sejumlah dedengkot seni Bali seperti Prof Wayan Dibia kelihatan menegang. Begitu juga dengan yang lain. Kasus ini mengingatkan dirinya dengan masalah yang pernah muncul sebelumnya. Mulai mengambil Pulau Sipadan dan Likitan. Mengakui kesenian Reog, penyiksa TKW (tenaga kerja wanita) hingga pangeran kerajaan dituduh menyiksa anak bangsa Manohara.
Menganggap seriusnya masalah ini. Prof Dr Wayan Dibia MA sampai mengundang khusus seniman yang menjadi saksi mata perjalanan tari Pendet di Bali yakni Ni Ketut Arini. Kemudian Dibia dengan gangsa nunggal (satu alat musik Gangsa), memainkan tabuh tari Pendet. Setelah itu Ni Ketut Arini mengajak dua bocah bernama Gung Ari dan Gung Cahya menari di atas rumput, di pinggir kolam Art Center.
Kepiawain Dibia memainkan gambelan, ditambah lagi penari yang sangat menjiwai dengan dalam, membuktikan jika tarian Pendet sudah mengakar di Bali, bukan baru beberapa minggu ada di Bali. Dengan kata lain sudah mendarah daging di hati masyarakat Bali.
Seperti apa sebenarnya Pendet? Dibia membedah dengan sangat terinci. Tari Pendet adalah kesenian tradisional yang telah menjadi bagian dari tradisi budaya Hindu-Bali sejak ratusan tahun lalu. Bahkan keberadaannya hingga saat ini tidak jelas siapa penciptanya. ”Tari Pendet ada sejak ratusan tahun lalu, dan penciptanya tidak jelas sehingga tari Pendet menjadi anonim. Tanpa ada yang tahu siapa penciptanya,” kata mantan Rektor ISI Denpasar ini, berkisah.
Awalnya adalah tarian religius atau tari wali. Ditarikan setiap piodalan di pura-pura di Bali. Yang menarikan wanita dengan pakain ala kadarnya. Sebagai tari penyambutan turunnya Dewata saat piodalan.
Sama halnya dengan Tari Rejang dan Gabor. Bahkan roh Pendet, di beberapa daerah di Bali berkembang menjadi Baris Pendet, tarian-tarian kelompok yang dibawakan laki-laki. Menari sambil memaikan senjata, juga masih menjadi tari wali (sakral).
Namun dalam perjalanannya, tari Pendet mulai digali oleh seniman Bali. Sejak awal tahun 1950-an para koreografer di Bali mengambil roh Tari Pendet Wali. Untuk menjadi tarian Bali-balihan, khusus untuk menjadi tarian penyambutan seperti Tari Panyembrahma. “Bahkan tergolong tari penyambutan tertua di antara tari penyambutan,” imbuh pria yang getol membongkar aib ISI Denpasar di bawah komando Prof Rai itu.
Sejarah mencatat di balik suksesnya menjadikan tari Pendet menjadi tari penyambutan adalah seniman kelahiran Desa Sumertha, Banjar Lebah; Ni Ketut Reneng dan I Wayan Rindi. Pertama ditarikan oleh empat orang perempuan. “Pertama ditarikan tahun 1950-an adalah di Bali Hotel (Inna Bali Hotel) Jalan Veteran untuk menyambut tetamu (turis),” ungkap Dibia.
Siapa penari pertama yang terdiri atas empat orang itu? Koran ini berhasil menemui langsung dalam pernyataan sikap para seniman di Art Center. Salah satu dari empat itu adalah Ni Ketut Arini. perempuan yang saat ini sudah berumur 57 tahun ini mengatakan jika empat orang yang menarikan saat Tari Pendet jadi tari penyambutan adalah Ni Luh Roni, I Gusti Putu Sita, Wayan Merti, dan dirinya sendiri.
Perempuan yang dari umur tujuh tahun sudah bisa menari ini melanjutkan, cerita awalnya dari Ni Ketut Reneng dan I Wayan Rindi. Keduanya tercatat sebagai guru tari di Banjar Lebah, Denpasar. Saat duduk-duduk di banjar tercetus keinginan membuat tari penyambutan. “Kenken carane apang ngelah igelan penyanggra tamiu (Bagaimana caraya agar punya tarian penyambut tamu),” begitu Arini mengingat percakapan dengan dua tokoh yang ikut mengkreasi Tari Pendet tersebut.
Akhirnya disepakati Pendet Wali diambil rohnya untuk dijadikan tari penyambutan. Bahkan gerak inti dari tari Pendet, Arini masih ingat. Mulai nyembah atau menyampaikan salam selamat datang kepada penonton, ngagem baik dalam posisi agem kanan (agem ngawan) atau agem kiri (agem ngebot), dan ngegol yaitu berjalan perlahan sambil menggoyangkan pinggul. Bagian pangadeng diakhiri dengan gerakan ngelung yaitu merebahkan tubuh ke samping kiri dan kanan.
Pakaad adalah bagian ketiga sekaligus penutup dari tarian ini.
Yang cukup membanggakan bagi Tari Pendet, masih indah di kenangan Arini. Pada tahun 1962, I Wayan Beratha yang juga koreografer andal Bali dan kawan-kawan menciptakan tari Pendet masa, dengan jumlah penari tidak kurang dari 800 orang.
Penari Bali akhirnya diboyong ke Jakarta yang kebetulan saja Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games. Tari Pendet Bali ditampilkan secara masal untuk membuka ajang olahraga bergengsi tingkat Asia itu. “Saat itu tarian asal Bali, yaitu Tari Pendet yang diakui oleh Malaysia sekarang mengharumkan nama Indonesia dalam pembukaan Asian Games,” kenang Arini, perempuan yang salah satunya ikut dalam pembukaan Asian games tahun 1962 tersebut.
Bahkan menurut Dibia, sejarah juga mencatat yang meminta Tari Pendet menjadi tarian pembuka adalah Presiden Pertama Soekarno. “Catatan sejarah yang mungkin dilihat Malaysia saat itu, kan juga ikut Asean Games. Dan catatan sejarah itu membuktikan jika Tari Pendet milik Bali,” tuntas dia. (*)
http://jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=109835

Denpasar — Seniman Bali memprotes klaim Malaysia atas tari Pendet sebagai tarian tradisional mereka. Tari asal Pulau Dewata itu muncul dalam iklan Visit to Malaysia, yang ditayangkan di sejumlah jaringan televisi berbayar.
Seniman tari Wayan Dibia mengaku terkejut atas penayangan itu. “Pendet adalah tari yang sudah ratusan tahun dimainkan warga Bali,” kata bekas Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar tersebut.
Awalnya Pendet adalah tarian sakral yang dipertontonkan dalam upacara ritual keagamaan, yaitu untuk menyambut turunnya para dewa dari kahyangan. Namun, pada 1950, tarian ini dimodifikasi menjadi tari penyambutan tamu dan disebut tari Pendet Puja Astuti. Oleh penciptanya, Ni Ketut Reneng dan I Wayan Rindi, Pendet awalnya dibawakan empat penari dan dipertontonkan untuk para turis di Bali Hotel di Denpasar.
Pada 1961, I Wayan Beratha kembali mengolah tari Pendet dengan lima penari, yang bertahan hingga saat ini. “Tahun 1962 kembali dimodifikasi sebagai tarian massal dengan 800 penari untuk pembukaan Asian Game di Jakarta,” kata Wayan.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Bali, Ida Ayu Mas, mengaku siap memfasilitasi protes para seniman. Dia juga mendesak agar ini menjadi protes resmi lembaga negara di Indonesia.
Pemerintah diminta melindungi karya-karya budaya Nusantara, antara lain dengan mengurus hak cipta komunitas budaya di Indonesia. Karya-karya itu harus dianggap sebagai kekayaan bangsa, yang tidak bisa secara sembarangan diklaim oleh bangsa lain.
Ida menegaskan, sikap Malaysia ini tidak bisa dibiarkan. “Apalagi sudah ada beberapa kejadian sebelumnya,” katanya kemarin.
Ini bukan pertama kalinya Malaysia mengklaim budaya Indonesia menjadi milik mereka. Sebelumnya, negara itu mengakui sejumlah kesenian asal Indonesia sebagai warisan leluhurnya, di antaranya lagu Rasa Sayange dari Maluku, Es Lilin dari Sunda, dan reog Ponorogo.
Alat musik angklung, batik, dan wayang kulit juga “dicuri”. Tak hanya itu, beberapa waktu lalu, bunga Rafflesia arnoldi diakui sebagai bunga asli Malaysia. Kecantikan bunga ini diklaim sebagai salah satu warisan alam Malaysia.
Bunga ini awalnya ditemukan di Bengkulu oleh Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles pada abad ke-19. Ternyata, selain di Bengkulu, bunga ini tumbuh subur di negeri lain, termasuk di hutan-hutan Malaysia. ROFIQI HASAN | DEWI RINA
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/08/23/headline/krn.20090823.174637.id.html

Seniman Bali Protest: Tari Pendet Dipakai Promosi Malaysia
Setelah Reog Ponorogo diklaim milik Malaysia, kini tari Pendet warisan budaya Bali terkesan ikut diklaim Malaysia. Akibatnya, puluhan seniman Bali memprotes tindakan Malaysia yang terkesan mengklaim tari Pendet Bali yang digunakan untuk iklan oleh negeri jiran itu.
Protes dipimpin guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof. Wayan Dibia, M.A. Protes ini disampaikan kepada Ida Ayu Agung Mas, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI) di Taman Budaya Denpasar, Sabtu (22/8) kemarin.
Tari Pendet yang dibawakan wanita berbusana adapt Bali ditayangkan berkali-kali dalam iklan Visit Malaysia Year, padahal sesungguhnya jenis tarian tersebut merupakan warisan budaya Bali secara turun-temurun. Berdasarkan pengamatan Dibia, penari Pendet dalam iklan tersebut merupakan alumnus ISI Denpasar yang bernama Lusia dan Wiwik. ‘’Pengambilan gambar tersebut dilakukan sekitar dua tahun lalu,’’ kata Prof. Dibia. Kepada pemerintah ia menyerukan protesnya agar dapat mempertahankan produk kesenian yang ada untuk kembali didata dan didaftarkan sehingga tidak mudah diklaim oleh Negara lain.
“Tari Pendet merupakan bagian dari warisan budaya kita, yang mana dalam tarian tersebut menampilkan nilainilai seni dan simbol-simbol budaya yang hanya dimiliki oleh tradisi budaya Hindu di Bali,” katanya. Sementara Ida Ayu Agung Mas mendukung bentuk protes ini dan secepatnya akan menyampaikan kepada pemerintah Malaysia. Dibia mengatakan bahwa pemerintah punya peran penting untuk mendata dan mendaftarkan kembali budaya- budaya yang terpencar, sehingga nantinya tidak mudah iklaim negara lain. Hal tersebut harus ditindaklanjuti dengan serius mengingat Malaysia telah beberapa kali melakukan klaim terhadap budaya Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan demonstrasi pementasan tari Pendet oleh penari Ibu Arini dan dua orang cucunya yakni Gung Cahya dan Gung Ari. (kmb23/ant)

http://balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=15&id=18405