kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for September, 2009

Satu lagi pilihan wisata kuliner hadir di By Pass Prof. DR. Ida Bagus Mantra, tepatnya di kilomater daerah pantai Saba, Gianyar. Rumah makan yang di rancang dengan konsep sederhana, terbuka, bersih dan nyaman untuk keluarga dan nyaman pula untuk menjamu makan para relasi bisnis dengan menawarkan sajian menu utama nasi ayam khas Bali.

Untuk melengkapi kebutuhan konsumen juga diberikan pilihan menu lain baik makanan dan minuman yang tidak kalah istimewa yang pasti dapat membuat para pelanggan dijamin merasa puas dan kangen untuk kembali mampir singgah ke warung “Men Tion”.

Menurut pemilik warung “Men Tion” yaitu Bapak I Made Muditha yang akrab dikenal dengan sebutan MOER’S yang juga memiliki asal muasal / leluhur dari desa kemoning, klungkung ini, menurut beliau bisnis ini dirintis sejak memutuskan pensiun dari pekerjaan awal di kapal pesiar, pengalaman bekerja puluhan tahun di kapal pesiar dijadikan modal untuk lebih mengenal dan memuaskan kebutuhan para pelanggan di warung “Men Tion”.

Sebagaimana menu utama nasi ayam yang ditawarkan warung “Men Tion” tentu memiliki rasa yang khas yang membedakan dengan menu nasi ayam rumah makan lain. Dari segi penyajian mengutamakan  kebersihan dan kerapian layaknya menu makanan yang disajikan di hotel berbintang atau restourant mewah namun dari segi harga sangat bersaing dan terjangkau dikarenakan lebel “warung” yang melekat dalam rumah makan ini. Menu ayam dengan pengolahan ala bumbu dan masakan bali dengan berbagaimacam bentuk seperti ayam betutu, sate ayam, ayam kering, telur bumbu bali, jukut undis dan lain-lain tentu membuat pelanggan dipastikan tidak bosan dan merasa tertanggang untuk mencoba kembali mampir di warung “Men Tion”.

Lokasi warung yang berada di pinggir jalan By Pass Prof. DR. Ida Bagus Mantra - Saba- Gianyar merupakan lokasi yang strategis dan mudah dijangkau bagi para pelanggan yang kebetulan melewati rute Denpasar-Gianyar-Klungkung-Karangasem. Dan Menurut pemiliknya Moer’s untuk memenuhi kebetuhan pelanggan warung “Men Tion” didaerah dalung, denpasar dan disekitarnya maka telah dibuka cabang warung “Men Tion” di Jalan Tibung Sari No. 15 Kwanji, Dalung Denpasar, Telp. (0361) 8854051. Sementara untuk warung “Men Tion” di Saba dengan no. telp. (0361) 8084050 / 8084060, E-mail : warungmention@yahoo.com.

Cecimpedan Bali

Posted by Adnyana under Budaya Bali

foto: http://www.baliwww.com

TEMPO dulu, waktu luang anak-anak dan muda-mudi kadang-kadang diisi dengan macecimpedan yakni bermain teka-teki. Cecimpedan menjadi sebuah mode pergaulan. Melalui macecimpedan mereka dapat memperluas pergaulan, merasa terhibur dan juga menjadi ukuran kepandaian dan gengsi seseorang. Seorang remaja yang tidak siap berteka-teki akan bengong saja. Oleh karena itu, seorang anak atau remaja berusaha membekali dirinya dengan beberapa buah cecimpedan.

Cecimpedan asal katanya cimped artinya bade atau tebak. Di-dwipurwa-kan menjadi cecimped dan mendapat akhiran an menjadi cecimpedan. Pada awalnya, cecimpedan itu dinyatakan dengan kalimat-kalimat prosa dalam bentuk pertanyaan yang tradisional dan jawaban yang tradisional pula. Jadi pertanyaan maupun jawaban itu tidak boleh menyimpang dari kebiasaan yang sudah berlaku. Akhir-akhir ini teka-teki tradisional itu banyak yang digunakan ke dalam bentuk lagu. Usaha tersebut sah-sah saja, bahkan menambah kentalnya pergaulan di antara anak-anak dan remaja.

Cara Memainkan

Adu teka-teki itu dilakukan oleh dua orang atau dua kelompok yang “berseteru”. Salah satu kelompok memulai mengajukan pertanyaan. Misalnya kelompok A: “Apa cekuk kajengitin?” (Benda apa yang dicekik lalu diberi senyum dengan memperlihatkan gigi?) Kelompok B mendapat kesempatan beberapa saat menyusun jawabannya. Kalau ia menjawab dengan caratan (kendi) berarti jawabannya benar. Apabila kelompok B tidak bisa menjawab atau jawabannya salah, maka ia wajib nebusin yaitu membalas dengan teka-teki pula. Seandainya cecimpedan nebusin itu tidak terjawab oleh kelompok A, berarti kedua kelompok itu sapih — tidak menang kalah. Akan tetapi apabila cecimpedan nebusin itu terjawab oleh kelompok A, maka skor 1-0 untuk kelompok A.

Selanjutnya giliran kelompok B yang mengeluarkan cecimpedan. Kelompok A bertugas made (menebak) atau kalau gagal, nebusin. Demikian seterusnya sehingga permainan berakhir dengan sapih atau salah satu kelompok menang. Belakangan ini muncul cecimpedan yang dinyanyikan. Isinya bukan saja teka-teki yang tradisional, tetapi juga teka-teki baru yang mungkin berasal dari luar Bali. Menggubah cecimpedan menjadi nyanyian dimaksudkan agar suasana bermain itu tidak menjemukan, dapat menggugah rasa keindahan dan tentu saja mendorong kreativitas. Memang dalam pergaulan anak-anak dan remaja di Bali selalu saja muncul kreativitas seni.

Cobalah jawab beberapa contoh cecimpedan yang dilagukan berikut ini;

(1). Raka Rai ya makulkul matumbak
Kulkul malu tumbake jang si duri
Mangkin bade cecimpedan puniki

(2). Raka Rai ya melingeb nungkayak
Melingeb misi nungkayak puyung gati
Mangkin bade cecimpedan puniki

(3). Raka Rai ya meroang mamusuh
Cerik roang di kelihne mamusuh
Mangkin bade cecimpedan puniki

* Made Taro

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2002/9/1/k3.html

Kisah Seni Mabuk

Posted by Adnyana under Tari Bali

foto: http://www.baliwww.com

Memang benar orang luar sering menyebut orang Bali itu kreatif. Jiwa seni orang Bali sudah dibawa sejak lahir, entah siapa yang mengasahnya di dalam kandungan. Akar pohon bisa menjadi patung yang mampu dijual puluhan juta rupiah. Orang mabuk pun bisa mengeluarkan jenis musik yang enak didengar. Di mana ada orang mabuk bisa menyanyi kecuali di Bali?

Itulah sejarah seni koor (jenis paduan suara) khas Bali yang disebut genjek. Empat atau lebih lelaki Bali bersepakat untuk mabuk. Mereka membeli tuak atau arak (mungkin bir terlalu mahal atau daya mabuknya kurang) lalu berkumpul minum bersama. Acara matuakan ini khas di Bali Timur (Karangasem, Bangli, Klungkung) dan sebagian Bali Utara (Buleleng) meskipun tidak begitu lazim di Kabupaten Jembrana, Tabanan dan Badung.

Dalam acara mabuk massal ini semua orang bisa ngoceh, ngomong apa adanya. Mungkin karena naluri orang Bali sudah begitu dekat dengan dunia seni, ngoceh itu kemudian berirama, sahut-bersautan, dan lama-kelamaan bisa diatur bunyinya. Seni genjek pun lahir, dan pada awalnya memang pendukung seni ini hanya bisa melampiaskan suara dengan sempurna ketika dia mabuk. Jika orang belum mabuk, dia belum berani ikut bernyanyi dengan keras, masih malu-malu, dan teman sebelahnya pasti menyodorkan minuman lebih banyak.

Ada orang kreatif lain, yang tentu saja tidak sedang mabuk, menciptakan syair-syair yang nadanya disesuaikan dengan seni mabuk tadi. Maka dalam perjalanannya seni genjek ini punya syair yang bisa bercerita, meski terbatas pada kehidupan rumah tangga. Namun, musiknya tetap musik mulut dengan pembagian tugas yang jelas: ada yang menyanyi, ada yang menirukan suara kendang, menirukan suara kempul, dan sebagainya. Semua nada dalam gamelan gong Bali dibunyikan dari mulut-mulut pemabuk ini.

Kreativitas pun terus berjalan. Masuk para wanita yang ikut menyanyi, supaya sahut-menyahut dalam lagu menjadi lebih hidup. Tiba-tiba masuk pula alat tabuh angklung bambu (gerantangan) yang biasa mengiringi tari joged. Maka seni genjek mengalami perjalanan yang demikian cepat, dari seni mabuk menjadi seni koor khas Bali dengan irama yang demikian enerjik. Apalagi unsur mabuknya kemudian berangsur dihilangkan, karena mereka kemudian sadar bahwa genjek tidak lagi seni untuk pemuas diri sendiri, seni genjek sudah bisa dijual untuk pemuas orang lain. Seni genjek akhirnya resmi menjadi seni tontonan yang tercatat dalam sejarah seni pertunjukan Bali.

Masuknya industri rekaman membuat kesenian ini menjadi terangkat. Seperti halnya musik rap di Amerika yang berawal dari pemabuk yang ngoceh, genjek segera menjadi sebuah industri yang mendatangkan duit bagi senimannya dan mendatangkan untung bagi produser rekaman. Karena seni ini berawal dari Bali Timur, maka genjek Karangasem mendominasi rekaman kaset. Syair pun berkembang. Tidak lagi hanya kehidupan rumah tangga: suami penjudi, suami selingkuh, dan sebagainya. Namun mulai merambah ke tema sosial, seperti basmi narkoba.

Iringan musik angklung dalam seni genjek kemudian menimbulkan inspirasi, bagaimana kalau paduan suara ini diselingi dengan tarian joged. Ide ini berkembang di Bali Utara dan kemudian merambah ke kabupaten lainnya. Dalam pakem seni genjek, sebuah syair akan diakhiri dengan suara serempak: tu ra rit tu jreng …sek…sek… atau irama sejenis itu, yang kemudian musik lalu diambil alih sepenuhnya oleh musik angklung. Nah, di situlah penari joged ditampilkan. Ini tabuh joged yang umum sehingga semua penari joged bisa mengapresiasi musik ini. Grup genjek dari mana pun dan penari joged asal mana pun bisa berkaloborasi. Memang, luar biasa perjalanan seni rakyat Bali.

Tetapi, apa setelah itu? Seni yang lahir dengan spontan tanpa suatu penghayatan yang dalam sama dengan mode, ia datang dengan tiba-tiba, mendadak digemari oleh banyak orang, lalu diubah dengan penambahan atau pengurangan, berkembang sesaat, namun umurnya tak bisa lama. Kuping merasa jenuh dengan irama yang nyaris seragam. Coba dengarkan kaset genjek terus-menerus, betapa pun populernya grup itu, lama-lama terasa bahwa iramanya seragam. Entah syairnya tentang putus cinta, penyesalan karena kalah berjudi, kampanye bahaya narkoba, irama tak pernah bergerak jauh dari pakem genjek.

Sebenarnya lagu pop Bali nyaris seperti itu pada awal pertumbuhannya, tetapi untung ada musisi Bali yang bergerak mencari alternatif dengan memunculkan irama rock, reggae dan sebagainya. Para pencipta irama genjek seperti kehabisan napas dan akhirnya seni suara ini dibawa ke seni tari dengan tambahan penari joged.

Pada saat seni genjek sekarang ini pudar, rupanya muncul pemikiran ulang, genjek dikembalikan ke asal-usulnya, yakni sebuah kesenian yang sebenarnya bernama Cakepung. Kalau betul genjek berinduk pada cakepung, maka genjek bisa disebut sempalan atau pemberontakan dari cakepung. Karena cakepung sebuah seni serius, seni bertutur dengan musik ringan (gerantangan atau geguntangan) yang diiringi tarian yang juga seadanya dari pelakunya. Tari ala kadarnya ini yang membedakan cakepung dengan mabebasan (atau pesantian). Cakepung sudah mulai dibangkitkan lagi pekan lalu di Karangasem saat Festival Seni Bali, NTB, NTT.

Nah, bisakah cakepung mengulang sukses genjek? Atau bisakah genjek dan cakepung sama-sama bangkit? Sebenarnya Pesta Kesenian Bali (PKB) harus merespons hal-hal seperti ini, dan memberi tempat buat mereka untuk tampil.

Oleh: Putu Setia

http://okanila.brinkster.net/raditya/datashowfullps.asp?ID=194

Ada dua alasan untuk kembali mengedepankan masalah Tri Sandya. Pertama, masih banyak umat Hindu yang belum memahami arti dan manfaat ber-Tri Sandya. Kedua, ketetapan Maha Sabha VI tahun 1991 menugaskan kepada pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat untuk menyebarluaskan teks Tri Sandya yang telah disempurnakan itu. Tri Sandya berasal dari kata Tri dan Sandya, Tri berarti tiga. Sandya berasal dari urat kata sam dan dhi. Sam berarti berkumpul, baik, sempurna, dan dhi berarti pikiran. Jadi Sandya berarti memusatkan pikiran kepada Tuhan. Sandya dapat pula diartikan berkonsentrasi secara sungguh­-sungguh dan sempurna kepada Tuhan.

Untuk memusatkan pikiran kepada Tuhan tugas kita adalah mengendalikan kewajiban. Dan, agar proses pengendalian ini berhasil, kita harus mengatasi hambatan yang ditimbulkan oleh Tri Guna (sattwa, rajas, tamas). Kita harus sekuat mungkin bertahan dari tarikan dan desakan alami Tri Guna dengan jalan berserah kepada-Nya. Inilah kewajiban kita yang pertama dalam perjuangan mendekatkan diri dengan Tuhan.

Harus diyakini bahwa Tuhan adalah Mahasempuma. Maka unntuk mencapaiNya kita harus mendasari diri dengan kepercayaan yang sempurna pula. Bila tidak, maka kekuatan yang mengikat kita dengan Tuhan tidak dapat berkembang. Kita harus memiliki bhakti (cinta kasih) kepada Tuhan secara sungguh-sungguh agar kita dianugrahi asih-Nya. Keragu-raguan, hanyalah akan merusak azas hubungan asih dan bhakti serta menjauhkan kita dari Tuhan.

Mendekat atau duduk dekat dengan Tuhan disebut upasana atau upasthana. Tetapi jangan keliru, sebab duduk dekat atau berdekatan saja tidak cukup. Katak duduk dekat dengan bunga teratai tetapi tak bisa menikmati manisnya madu bunga teratai. Hanya merasa dekat saja tak ada gunanya, apabila tidak ada bhakti menyertainya. Sama halnya saat bersembahyang, boleh saja kita duduk dekat sekali dengan Padmasana. Akan tetapi apabila tak ada rasa bhakti yang mendalam, kedekatan phisik itu tidak berarti apa­-apa bagi kemajuan hidup rohani kita. Jadi bersamaan dengan dekatnya phisik harus disertai dengan dekatnya bathin kita kepada Tuhan,

Untuk lebih mengerti makna dekat dan bhakti pada Tuhan menarik untuk disimak contoh pembanding dalam kehidupan sehari-hari berikut.

Kalau kita bergerak ke arah matahari, maka bayangan akan berada di belakang dan mengikuti kita. Tetapi kalau kita bergerak sebaliknya maka bayangan akan jatuh di depan kita. Begitulah halnya apabila kita menghadap Tuhan, segala kegelapan alam akan ada di belakang mengikuti kita. Tetapi kalau kita membelakangi Tuhan maka kegelapan, kebodohan, yang menuntun jalan hidup kita.

Hal penting yang dapat kita simpulkan dari dari contoh-contoh di atas adalah bahwa dalam setiap keadaan suatu sifat bisa bergeser dan digantikan oleh sifat yang lain. Begitulah kalau kita dekat dan bhakti kepada Tuhan, sifat buruk yang ada pada diri kita akan hapus dan berganti dengan sifat-sifat ketuhanan.

Dalam Bhagavadgita (BG), II.45 Krishna mengajarkan kepada Arjuna agar membebaskan diri dari Tri Guna, juga dari dualisme dengan memusatkan pikiran kepada kesucian dan melepaskan diri dari ikatan duniawi sehingga bisa bersatu dengan Atman.

Disitu dengan tegas tersirat bahwa kita harus membebaskan diri dari pengarnh sattwa, rajas, tamas dan pengaruh sifat ganda yaitu susah dan senang, puji dan maki dengan cara memusatkan pikiran kepada kesucian (Tuhan).

Saat-saat Untuk Mendekat dan Berbhakti

Sudah merupakan hukum alam bahwa, pagi hari adalah periode sifat sattwik, tengah hari adalah sifat rajasik, dan sore hari atau senja merupakan periode tamasik.

Waktu fajar menyingsing (abang wetan) pikiran dibangunkan dari kegelapan tidur, pikiran dibebaskan dari keresahan dan kemurungan sehingga pikiran menjadi tenang dan jernih. ltulah sebabnya kita diperintahkan agar melakukan Pratah Sandya atau doa Sandya yang dilakukan pada dini hari. Sementara hari bertambah siang kita dirasuki oleh raja guna yakni sifat aktif, ambisi, lincah penuh usaha, dan kita memasuki lapangan kegiatan atau kerja keras. Sebelum makan siang kita diberi petunjuk agar bersembahyang lagi kepada Tuhan dan mempersembahkan pekerjaan beserta hasilnya yang kita peroleh dari pekerjaan itu. Setelah itu baru boleh makan dengan bersyukur atas karunia-Nya. Inilah yang dimaksudkan dengan madhyannikam atau pemujaan pada tengah hari. Dengan melakukan madyannikam ini raja guna dapat dikendalikan.

Sifat ketiga yang menguasai manusia adalah tamas. Ketika matahari terbenam kita bergegas pulang makan, kemudian mengantuk dan tidur. Makan dan tidur adalah kebiasaan para pemalas dan penganggur. Ketika tamas yaitu, sifat terburuk di antara ketiga sifat itu hendak menguasai kita, maka cara terbaik untuk menghindari lilitannya adalah dengan cara bersembahyang, berkumpul dengan sesama bhakta dengan mengagungkan Tuhan, dan membaca buku yang mengagungkan kebesaran-Nya. Ini merupakan sembahyang pada petang hari yang disebut Sandya Vandanam yang juga sudah ditentukan.

Karena itu pikiran dan perasaan yang bangkit dari kekosongan pada waktu tidur harus dilatih dan dibina dengan semestinya. Kita harus berusaha belajar merasakan bahwa kebahagiaan setelah bersembahyang dan rasa suka cita yang diperoleh ketika kita mengalahkan pandangan dan pikiran dari dunia luar. Hal ini jauh lebih agung dan lebih lestari jika dibandingkan dengan kenikmatan yang diperoleh dengan jalan tidur seperti yang biasa dilakukan.

Para Rsi mengatakan bahwa orang yang sepanjang hidupnya menjalankan Sandya tiga kali sehari dengan tekun ia akan menjadi manusia utama. la selalu berjaya. Ia akan mencapai kebebasan semasih hidup. Ia akan mencapai Jivan Mukti.

“Dia yang mengabdi kepada-Ku sujud dengan kebaktian yoga, ia naik ke atas melampaui guna, ia wajar bersatu dengan Brah·man”. Begitu sabda Krishna kepada Arjuna dalam BG. XlV. 26.

Pengaruh Tri Guna Terhadap Jiwa

Tri Guna yang lahir dari prakerti selalu membelenggu atma.

Sifat sattwa yang mulia memberikan cahaya, serta kesehatan membelenggu atma dengan ikatan kebahagiaan dan ilmu pengetahuan (BG. XIV 6).

Sifat rajas yang bernafsu, menjadi sumber kehausan dan keinginan akan hidup membelenggu atma dengan ikatan kerja (BG.XIV 7).

Sifat tamas yang terlahir dari ketidaktahuan membelenggu penghuni badan (atma) dengan ketololan, kemalasan dan kepalsuan (BG. XIV 8).

Sifat sattwa mengikat seseorang dengan kebahagiaan, rajas dengan kegiatan (kerja bernafsu) dan tamas mengikuti budi pekerti yang mengikatnya dengan kebingungan (BG. XIV 9).

Ketiga sifat ini ada pada tiap manusia hanya saja tingkatannya berbeda satu dengan yang lain. Setiap orang tidak dapat melepas­kan diri dari Tri Guna tersebut, biasanya salah satu dari sifat itu menonjol melebihi yang lain. Bagaimana kalau sattwa berkuasa? Bagaimana kalau manusia dikuasai oleh rajas? Dan bagaimana pula kalau sifat tamas menguasai manusia?

Jawabannya, apabila sattwa berkuasa cahaya ilmu pengetahuan menembusi semua pintu gerbang badan (BG. XlV. 11).

Apabila rajas berkuasa maka orang menjadi serakah, giat dalam usaha, gelisah, hawa nafsu merajalela (BG.XIV. 12).

Apabila tamas menguasai manusia maka kegelapan, kelesuan, ketololan, dan kekacauan pikiran timbul (BG. XIV 13).

Dari ketiganya, sifat sattwa-lah yang terbaik. Tetapi lebih tinggi dari sifat baik itu adalah jika kita dapat melampaui Tri Guna menjadi Guna Tita (orang sadhu).

Nah, melakukan Tri Sandya tidak lain maksudnya adalah untuk memperkecil pengaruh Tri Guna itu kepada jiwa kita. Yang perlu diperhatikan adalah agar Sandya itu jangan dianggap sebagai upacara rutin.

Sandya harus dilakukan dengan memahami artinya dan memusatkan pikiran pada maknanya yang terpendam. Apalagi dalam mantram Tri Sandya itu terkandung ibu dari segala mantra, yaitu Gayatri.

Menurut Abinach Chandra Bose dalam bukunya Panggilan Weda, “Suatu sebab mengapa Gayatri dipandang doa yang mewakili semuanya di dalam Weda ialah karena Gayatri adalah doa untuk daya kekuatan yang dapat dimiliki orang ialah “dhi” yaitu kecerdasan yang tinggi yang memberikan padanya pengetahuan, materi dan kemampuan mengatasi hal-hal keduniawian. Sebagai halnya mata bagi badan, demikian “dhi” atau kecerdasan untuk pikiran”.

Manu menekankan hal ini secara khusus. la mengata-kan Gayatri merupakan nafas kehidupan para Brahmin. Ini adalah kebenaran.

Apakah yang lebih berguna untuk kemajuan spiritual kita selain bersembahyang atau bermeditasi kepada Tuhan yang menerangi dan memelihara akal budi manusia? Adalah yang lebih bermanfaat dari doa yang memohon agar pikiran kita diselamatkan dari kecendrungan dosa?

Bagi manusia tidak ada perisai yang lebih ampuh daripada mengembangkan sifat-sifat yang baik. Gayatri menganugrahkan kekuatan batin untuk membantu mengembangkan tenaga tersebut, maka doa ini harus dilakukan dengan cermat pada saat yang tepat. Untuk pertumbuhan tubuh, makanan yang murni dan sattwik sangat diperlukan. Demikian pula kecemerlangan matahari harus didapatkan dan diserap untuk memperkuat cahaya batin manusia dalam bentuk imajinasi yang kreatif. Bila kekuatanj jiwa bertambah. daya pengertian dan pertimbanganpun menjadi lebih aktif terarah pada jalur-jalur yang bermanfaat. Bila kekuatan berkurang maka daya pengertian dan pertimbangan melemah dan membuat kita kecewa. Jadi apabila tenaga matahari diserap pada waktu yang tepat, ia akan seperti benih yang ditanam pada musim yang tepat dan hasil panennya pun terjamin. Teknik proses ini telah ditetapkan oleh para Rsi zaman dahulu demi kebaikan semua peminat spiritual. Kalau kita mau mempelajari dan mempraktekkan pesan para Rsi tentu kita akzr kebenaran jalan yang ditempuh para Rsi melalui pengalaman kita sendiri. Karena itu marilah kita mengaktifkan untuk ber-Tri Sandya agar kita dapat menyeberangi kehidupan dengan selamat.***

Oleh : Ida Bagus Pudja
ADITYA Nomor 9, November - Desember 1994.

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=376&Itemid=79

Puja Trisandya Terjemahannya
OM, OM
OM BHUR BHUWAH SWAH,
TAT SAWITUR WARENYAM,
BHARGO DEWASYA DHIMAHI,
DHIYO YO NAH PRACHODAYAT,
Ya Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini,
Yang maha suci dan sumber segala kehidupan,
sumber segala cahaya,
semoga limpahkan pada budi nurani kami penerangan sinar cahayaMu yang maha suci.
OM NARAYANAD EWEDAM SARWAM,
YAD BHUTAM YASCA BHAWYAM,
NISKALO NIRlANO NIRWIKALPO,
NlRAKSATAH SUDDHO DEWO EKO,
NARAYANA NADWITYO ASTI KASCIT.
Ya Hyang Widhi, darimulah segala yang sudah ada dan yang akan ada di alam ini berasal dan kembali nantinya.
Engkau adaIah gaib, tiada berwujud, di atas segala kebingungan, tak termusnahkan.
Engkau adalah maha cemerlang, maha suci, maha esa dan tiada duanya.
OM TWAM SIWAH TWAM MAHADEWAH,
ISWARAH PARAMESWARA,
BRAHMA WISNUSCA RUDRASCA,
PURUSAH PARIKIRTITAH,
Engkau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma dan Wisnu dan juga Rudra.
Engkau adalah asal mula dari segala yang ada.
OM PAPO’HAM PAPAKARMAHAM ,
PAPATMA PAPASAMBHAWAH,
TRAHI MAM PUNDARIKAKSAH,
SABAHYABHYANTARA SUCIH.
Oh Hyang Widhi Wasa, hamba ini papa,
jiwa hamba papa dan kelahiran hambapun papa,
perbuatan hamba papa,
Ya Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari segala kenistaan ini, dapatlah disucikan lahir dan batin hamba.
OM KSAMA SWAMAM MAHADEWA,
SARWAPRANI HITANGKARAH,
MAM MOCCA SARWAPAPEBHYAH,
PALAYASWA SADASIWA.
Ampunilah hamba. oh Hyang Widhi, penyelamat segala makhluk.
Lepaskanlah , kiranya hamba dari segala kepapaan ini dan tuntunlah hamba, selamatkan dan lindungilah hamba oh Hyang Widhi Wasa.
OM KSANTAWYA KAYIKA DOSAH.
KSANTAWYO WACIKA MAMA,
KSANTAWYA MANASA DOSAH,
TAT PRAMADAT KSAMASWA MAM.
Oh Hyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa hamba, ampunilah dosa dari ucapan hamba dan
ampunilah pula dosa dari pikiran hamba.
Ampunilah hamba atas segaIa kelalaian hamba itu.
OM SANTI, SANTI, SANTI OM Semoga damai dihati, damai didunia, damai selalu.

http://www.babadbali.com/canangsari/aneka_mantra.htm

Dana Punia

Posted by Adnyana under Tatwa Hindu

DALAM kitab suci Slokantara dinyatakan bahwa diwaktu bulan Purnama dan bulan Mati para dermawan memberi sedekah balasanya akan diterima satu lawan sepuluh. Jika diwaktu gerhana bulan dan gerhana matahari para dermawan memberi dana maka akan dibalas seratus kali oleh Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Kuasa. Meskipun pemberian tersebut sedikit asalkan dapat mengurangi kehausan akan barang tersebut, besar faedahnya. Meskipun banyak dan dapat menghilangkan kehausan akan barang tersebut, akan tetapi jika diperoleh dengan jalan yang tidak benar, maka tidak ada gunanya pemberian itu. Jadi bukanlah jumlah yang banyak / sedikit pemberian itu yang menghasilkan banyak sedikitnya pahala, tetapi tujuan utama pemberian ituyang penting serta diperoleh atas dasar dharma.

Murah hati, suka menolong, dermawan, disabdakan oleh Hyang Widhi untuk dijadikan pedoman / panutan oleh umat manusia. Orang yang dermawan memperoleh kemuliaan. Bermacam-macam benda atau pengetahuan dapat didermakan, mulai dari yang paling murah misalnya memberikan minum air putih bagi yang kehausan, memberikan makanan kepada yang kelaparan, memberikan pendidikan kepada mereka yang memerlukan pengetahuan, adalah langka-langkah nyata untuk melatih diri mempratekan kedermawanan. Kemurahan hati adalah wujud dari dharma, yakni berupa pemberian / dana.

Svami Vivekananda menyatakan ada tiga (3) hal yang patut didermakan yaitu:

1). Dharmadana ( memberikan budi pekerti yang luhur untuk merealisasikan ajaran agama ).

2). Vidyadana ( memberikan pengetahuan )

3). Arthadana ( memberikan materi yang dibutuhkan walaupu sedikit asalkan didasari hati yang tulus iklas dan diperoleh atas dasar dharma ).

Dari ketiga macam dana punya yang menduduki kedudukan paling penting / paling tinggi adalah Dharmadana yang menengah Vidyadana terakhir Arthadana.

Dalam kitab suci Atarwaweda II. 24.5. dinyatakan sebagai berikut :

sata hasta sama hara, saha srahasta sam kira,

artinya ;wahai umat manusia , peroleh kekayaan dengan seratus tangan dan didermakanlah itu dalam kemurahan hati dengan seribu tanganmu .

Adapun yang harus diberi dana punya ialah orang yang berkelakuan baik, orang miskin, para lanjut usia yang sudah tidak mampu lagi mencari makan, orang yang betul-betul memerlukan bantuan. Pemberian dana punya jangan karena terpaksa , apalagi diikuti dengan rasa marah dengan mengucapkan kata-kata kasar , ibarat setumpuk ilalang kering yang menggunung, dijatuhi api sebesar kunang-kunang, api tersebut akan membakar angus tumpukan ilalang yang menggunung itu kemudian menjadi abu. Maka pemberian tersebut merupakan sedekah yang hina dan amat rendah pulalah pahalanya. Juga pemberian dana punya kepada orang kaya maka akan sia-sia ibarat menabur garam ke tengah samudra.

Adanya dana punya disini didasari oleh kemurahan hati, rasa sosial yang tinggi dalam ajaran agama Hindu disebut dengan” TAT TWAM ASI” yang artinya aku adalah kamu, kamu adalah aku, kita semua adalah sama. Janganlah fanatik terhadap orang lain, dunia ini bukan untuk kita sendiri.

Orang cepat marah kalau keinginannya tidak dituruti. Orang mudah iri kalau orang lain ada yang melebihi dirinya. Kalau kita cermati, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi irihati terhadap orang lain yang memiliki kelebihan dari diri kita, seperti kelebihan karena kekayaannya, ketampanan/kecantik annya, kebangsawanannya, keberuntungannya, kebahagiaannya dan kemasyuran namanya, karena kita sudah ditakdirkan dengan jatah kita masing-masing, karena itu janganlah mencoba untuk mengambil jatah orang lain lagi. Dan lebih berbahaya lagi apabila sifat-sifat irihati berkembang dalam jiwa seseorang pemimpin atau negarawan. Niscaya kebijaksanaan yang diputuskan akan ternoda oleh ketidak adilan yang berujung pada tindak kekerasan, kekejaman, penistaan dan akhirnya pembunuhan. Seperti itu pula apabila kaum agamawan dilekati hatinya oleh penyakit irihati, niscaya ajaran-ajaran agama yang suci akan ternoda karena “dibelokkan” oleh keinginan yang dipengaruhi hantu irihati. Tat Twam Asi disini adalah kesosialan yang tanpa batas. Disamping itu juga merupakan jiwa kesosialan Filsafat Hidup, dasar pedoman dari ajaran Tata Susila Hindu.

Oleh : I Made Murdiasa, S.Ag

http://www.pontiana kpost.com/ berita/index. asp?Berita= Hindu&id=120966

Pendahuluan.

Ajaran dana punia dijumpai dalam berbagai pustaka suci terutama bagian Smertinya, bahkan dalam Upanishad (Chandogya Upanishad) telah tercantum, pengamalan ajaran tersebut, secara traditional telah dilaksanakan oleh umatnya melalui kegiatan ritual keagamaan, praktek, dana punia selalu dikaitkan

Tujuan Pembangunan Nasional Indonesia adalah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur, yang sejahtera lahir batin, yang searah dengan: tujuan agama Hindu yaitu Jagathita dan moksa. Bahwa sebagai akibat dari derasnya pembangunan nasional didasarkan tumbuhnya kemampuan umat yang lebih tinggi dan di lain pihak timbullah berbagai masalah yang perlu mendapat perhatian kita melalui dana punia itu.

Memotivasi umat Hindu untuk berdana punia terutama bagi yang mampu, kemudian secara berkoordinasi diarahkan untuk membantu mereka yang tidak mampu, adalah suatu hal yang sangat mulia untuk mewujudkan kesejahteraan sosial itu. Pengamalan ajaran dana punia yang secara tradisional dilaksanakan lewat ritual keagamaan dari kelembagaan adat, perlu diangkat ke permukaan, kemudian diarahkan kepada sasaran yang lebih luas.

Pokok Permasalahan.

  1. Bahwa sesungguhnya umat telah melaksanakan kegiatan dana punia akan tetapi masih bersifat tradisional dan lokal, seperti upacara mepedanan, sarin canang, sarin tahun dan lain- lainnya.
  2. Pengertian umat masih terbatas kepada hal- hal yang ada kaitannya dengan kegiatan keagamaan saja, pada hal masalah- masalah kemanusiaan juga merupakan tanggung jawab umat beragama.
  3. Dengan adanya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, sehingga terjadi pergaulan dan bermacam- macam umat maka terjadilah pergeseran nilai sosial sehingga perlu adanya metode yang canggih dalam menghadapi situasi perkembangan sosial.
  4. Sampai saat ini umat Hindu belum memiliki satu sistem/ badan yang bersifat nasional dalam penggalian dan pengelolaan dana sesuai dengan kebutuhan pembinaan umat.

Hasil- Hasil Pembahasan.

  1. Pengertian dana punia.
    Dana punia terdiri dan dua kata, yaitu dana yang artinya pemberian, punia, berarti selamat, baik, bahagia, indah dan suci. Jadi dana punia adalah pemberian yang baik dan suci.
    1. Landasan Filosofis : Tat Twam Asi.
    2. Landasan sastra:
      1. Weda Smrti (lontar).
      2. Manawa dharma sastra Bab IV, sloka 33, 226.
      3. Sarasamuçcaya sloka Nomor 175, 176, 192, 198, 217,
        178, 207, 210, 211, 182, 183, 184, 222, 181, 202,
        205, 206, 216, 187, 188, 191, 193,194, 212, 213,
        223,261,262,263.
      4. Sanghyang Kamahayanika, sloka 56, 57, 58.
      5. Slokantara, sloka nomor 2, 4, 5.
      6. Ramayana, sargah l, bait 5, sargah II bait 53, 54.
      7. Niti sastra, sargah III bait 8, sargah XIII bait II.
      8. Lontar Yadnya Prakerti.
    3. Jenis Dana Punia.
      Perincian dana punia yang dapat mendatangkan phala yang besar adalah:

      1. Desa; yaitu tanah.
      2. Agama; yaitu ajaran sastra, agama, dan ilmu pengetahuan.
      3. Drewya : benda- benda duniawi/material.

      Dalam Sanghyang Kamahayanika dijelaskan bentuk dana
      punia yaitu:
      a. Dana : harta benda.
      b. Atidana: Pemikiran/Ide yang baik & luhur.
      c. Mahatidana : jiwa raga.

    4. Siapa saja berkewajiban melaksanakan dana punia
      Sesuai dengan sastra agama yang berkewajiban melaksanakan dana punia adalah:

      1. Para penguasa negara/pemerintah.
      2. Para pemuka agama, pemuka- masyarakat.
      3. Penyelenggaraan yadnya (sang yajamana).
      4. Saudagar, banija, usahawan.
      5. Orang-orang yang mampu (ekomoni).
      6. Orang-orang cerdas dan cendikiawan
      7. Sewaktu- waktu diwajibkan bagi setiap umat
      8. Pegawai/Pekerja yang berpenghasilan tetap.
      9. Pegawai/Pekerja yang berpenghasilan tinggi.
    5. Yang berhak menerima dana punia:
      1. Para guru rohani/nabe.
      2. Dangacarya (sulinggih/pemangku).
      3. Orang-orang miskin yang terlantar.
      4. Orang-orang cacat.
      5. Orang-orang yang terkena musibah.
      6. Tempat suci/parahyangan.
      7. Lembaga- lembaga sosial.
      8. Rumah sakit.
      9. Pasraman/pendidikan Agama.
    6. Pelaksanaan dana punia:
      Saat yang baik melaksanakan dana punia adalah

      1. Uttarayana (Purnama Kadasa) Umat Hindu (diwajibkan melaksanakan dana punia secara serentak.
      2. Sewaktu- waktu tepatnya pada waktu Purnama dan Tilem baik Uttarayana, swakala, daksinayana (matahari menuju utara, di katulistiwa, dan menuju selatan).
      3. Saat gerhana matahari dan gerhana bulan.
      4. Dalam keadaan pancabaya.
    7. Dasarnya dana punia.
      Dalam Sarasamuçcaya sloka- ,261, 262, 263, demikian pula dalam Ramayana sargah II bait 53, 34 disebutkan bahwa harta yang didapat (hasil guna kaya) hendaknya dibagi tiga yaitu untuk kepentingan:

      1. Dharma 30%
      2. Kama 30 %
      3. Dana harta (modal usaha) 40%.

      Dalam kegiatan dana punia kepada setiap umat agar menyisihkan hartanya setengah kilogram beras yang merupakan bagian dari kegiatan dharma.

    8. Lamanya pelaksanaan dana punia:
      1. Selama dalam status grehasta untuk setiap umat wajib melakukan dana punia.
      2. Dalam rangka pembinaan untuk menumbuhkan kesadaran berdana punia di kalangan anak- anak maka perlu kegiatan dana punia dilakukan sedini mungkin.
    9. Pengelolaan dana punia.
      Untuk mencapai hasil guna yang sebesar- besarnya dipandang perlu untuk membentuk suatu badan khusus yang merencanakan dan mengelola kegiatan dana punia.

Kesimpulan.

Dari pokok hasil bahasan di atas dapat disimpulkan hal- hal sebagai berikut.

  1. Dana punia merupakan kewajiban bagi umat Hindu yang harus dilaksanakan.
  2. Bahwa ajaran dana punia mempunyai landasan Filosofis dan landasan sastra agama.
  3. Jenis dana punia dapat berwujud, ilmu agama, ilmu pengetahuan, jiwa raga, maupun harta benda.
  4. Pelaksanaan dana punia hendaknya dilakukan sedini mungkin.

http://yayasandharmasastra.wordpress.com/2008/02/01/sekilas-tentang-pengertian-dana-punia/

Terapi Ayurveda Mengendalikan Stres

Di zaman yang serba modern ini, penyebab stres semakin meningkat dan dialami oleh berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga manula. Penyebabnya pun beragam, mulai dari masalah yang disadari penyebabnya seperti masalah pekerjaan atau masalah rumah tangga, hingga penyebab stres yang kadang tidak disadari, seperti efek radiasi elektromagnetik dari penggunaan komputer, telepone seluler dan barang elektronik lain.

Seperti apakah terapi Ayurveda itu?

============ ========= ========= ========= ========= ======

Stres tak hanya dialami orang dewasa, tanpa disadari anak-anak pun mulai mengalami stres. Lalu lintas padat, pekerjaan rumah yang tak pernah berhenti, tuntutan orangtua terhadap anak-anak perlahan mengubah sifat alami anak-anak. Ditunjang dengan berbagai permainan elektronik sebagai hiburan pengganti perhatian orangtua, anak-anak tak lagi mengenal alam yang menjadikan mereka kurang peka terhadap lingkungan juga kurang dapat bersosialisasi. Hal ini perlahan menyebabkan generasi muda mulai kehilangan human touch-nya dan menjadi mekanis seperti mesin.

Penyebab utama stress adalah pikiran. Kekacauan pikiran, tak hanya menyebabkan kacaunya aktivitas sehari-hari namun juga koordinasi organ-organ tubuh, hal inilah yang menyebabkan penyakit tubuh, mulai dari flu hingga kanker. Tubuh manusia bagaikan kereta, dengan kuda panca indera, pikiran sebagai sais, dan jiwa sebagai pemilik. Untuk berjalan dengan nyaman sais harus dapat mengendalikan kuda, dan sais berada di bawah perintah pemilik. Jika salah satu baut roda kendur, maka tak hanya perjalanan yang menjadi tak nyaman, perjalanan terancam terhambat, malah terhenti. Agar perjalanan evolusi jiwa berjalan dengan lancar, paling tidak harus terjadi koordinasi yang baik antara tubuh, pikiran dan jiwa.

Ketika terjadi sebuah ketidakseimbangan, maka terjadi ketidaknyamanan, inilah yang disebut oleh bahasa modern; stres. Dan, tak seorang pun dapat luput dari stres, hal ini adalah sesuatu yang tak dapat dihindari atau dihilangkan. Yang dapat dilakukan adalah mengolah stres, dan menjaga serta mempersiapkan tubuh untuk menghadap tantangan kehidupan yang akan selalu bertemu stres.

Ketika Anda adalah seseorang dengan aktivitas 12 jam di depan komputer dan harus berkendaraan melewati padatnya jalan raya di saat berangkat dan pulang kerja, stres yang dialami bukanlah hanya pada tubuh dan pikiran, tetapi juga bawah sadar Anda. Ketika Anda menggunakan komputer, mouse, telepone seluler, jari-jari Anda berhubungan langsung dengan listrik dan elektromagnetik. Pada jari-jari Anda terdapat sarat-saraf dan titik peraba yang berhubungan langsung dengan otak Anda.

Tanpa Anda sadari, dari hari ke hari, tubuh Anda terkena radiasi elektromagnetik. Atau, pernahkah Anda memperhatikan, ketika Anda menghabiskan waktu beberapa saat duduk di sebuah kursi rotan, bersandar dan memikirkan sesuatu, mungkin masalah pekerjaan dan keluarga, dan ketika Anda bangkit berdiri, jejak anyaman rotan tercetak pada punggung mungkin juga di kaki Anda. Proses yang sama terjadi pada hal-hal lain.

Tubuh merekam seluruh peristiwa yang kita alami, dan bagi tubuh apa pun yang Anda pikirkan, merasuk, terutama ketika selalu diulang, menjadi sebuah program pada tubuh Anda. Suasana kantor yang penuh masalah, ingatan ketika dimarahi semasa kecil, dan berbagai hal lain. Anda mengira Anda santai, tetapi nyatanya, jauh di dalam sel dan membran Anda, ketegangan itu masih ada, Anda belum mampu menghapus program yang tanpa sengaja Anda ciptakan.

Menurut Ayurveda, literatur kesehatan holistik Timur Kuno, salah satu penyebab ketidakseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa berawal dari ketidakseimbangan tiga daya vital pembentuk tubuh yaitu Vata, Pitta, Kapha (angin, api dan air) yang merupakan kombinasi komposisi yang berbeda. Perbedaan komposisi inilah yang menciptakan sebuah karakter tertentu. Berdasarkan sifat-sifat alam.

Vata atau api menentukan ”pergerakan’ ‘ dalam tubuh. Pitta atau angin berperan daam proses metabolisme, sedangkan Kapha atau air adalah cairan tubuh yang melindungi, menghidupi, dan menjaga organisme di dalam tubuh. Ketidakseimbangan ketiga unsur inilah yang dapat menjadi akan penyebab dari segala unsur penyakit.

Untuk mengembalikan tubuh pada keadaan yang seimbang, diperlukan perawatan menyeluruh yang mengembalikan keseimbangan tubuh, pikiran dan jiwa. Perawatan ala Ayurveda mulai dari diet makanan tertentu serta perawatan tubuh dalam bentuk pijat untuk keseimbangan unsur tubuh, latihan meditasi dan yoga, serta mengucapkan afirmasi.

Sampah-sampah pikiran dan emosi dalam bentuk amarah, kegelisahan ini terlebih dahulu harus dikeluarkan dengan teknik-teknik tertentu dipandu dengan seorang terapis yang sudah berpengalaman. Proses ini tak bisa dilakukan hanya sekali, selain karena masih ada begitu banyak lapisan juga kita beraktivitas dan menciptakan sampah baru.

Pikiran kita ibarat memori sebuah komputer, banyak file yang sebenarnya sudah tak diperlukan, namun masih terus disimpan. Detoksifikasi pikiran ini berfungsi untuk membuang semua file usang agar dapat diisi dengan yang baru.

Terapi untuk tubuh dalam Ayurveda bukanlah untuk kenyamanan, namun memperbaiki sirkulasi energi dan menstimuli kerja organ melalui titik-titik tertentu yang disebut marma, hal ini berfungsi untuk mempersiapkan tubuh untuk menghadapi tantangan selanjutnya.

Untuk mendapatkan rasa rileks yang total, seseorang harus mendapatkan perawatan tertentu. Salah satunya adalah dengan perawatan pijat. Terdapat beberapa macam perawatan pijat dalam Ayurveda. Yang paling sering disarankan adalah Abhyanga Therapy, yaitu pijat seluruh tubuh yang dilakukan sesuai dengan karakter tubuh seseorang. Dalam pemijatan ini, seluruh jaringan tubuh akan diajak untuk kembali ke sifat asalnya, dengan melancarkan aliran darah dan menstimuli titik-titik tertentu yang disebut titik marma.

Yang menjadi faktor penentu agar dapat mencapai rileksasi dalam proses terapi ini adalah terapis yang melakukan pemijatan. Seorang terapis sangat memegang peranan penting, karena kondisi seorang terapis mempengaruhi klien yang ditanganinya. Ketika seorang terapis dalam keadaan yang tidak rileks, mengerjakan terapi dengan berbagai macam pikiran di kepalanya, maka yang terjadi bukanlah rileksasi justru sebaliknya. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang terapis membutuhkan latihan-latihan yang tidak pernah berhenti untuk menjaga tubuh, pikiran dan jiwa dalam kondisi prima.

Dengan tubuh yang segar, seseorang dapat berpikir lebih jernih, dengan sendirinya dapat lebih mengembangkan potensi diri, merasakan kenikmatan hidup dan kedamaian jiwa. Seorang teman bertanya, ‘’selama ini jiwa melulu yang dibicarakan, bagaimana dengan tubuh? Masalah kecantikan dan ketampanan? Bukankah hal itu juga penting?” Ayurveda menyentuh setiap lapisan kesadaran; tubuh, pikiran, dan jiwa.

Kecantikan yang sejati berasal dari dalam hati adalah ungkapan yang dapat menjelaskan inner beauty, di mana kecantikan yang sejati terpancar dari seluruh  tubuh. Namun bagaimana untuk memunculkan kecantikan sejati ini? Bagi kaum wanita khususnya para ibu rumah tangga yang merangkap sebagai wanita karier cenderung mengalami stres yang lebih besar. Karena selain bertanggung jawab pada perusahaan tempatnya bekerja, ia pun bertanggung jawab untuk mengurus keluarga juga pada lingkungan sosial.

Sibuk mengurus segala sesuatu untuk keluarga, wanita pun cenderung melupakan kebutuhannya sendiri. Waktu libur yang seharusnya adalah kesempatan untuk membuat tubuh, pikiran dan jiwa menjadi lebih santai jarang terjadi. Pergi berdarmawisata bersama keluarga ke tempat-tempat hiburan belum menjamin tubuh, pikiran dan jiwa menjadi lebih segar, justru membuat tubuh menjadi lebih lelah. Libur atau holiday yang sesungguhnya adalah saat di mana seseorang dapat mengembalikan kesegaran tubuh, pikiran dan jiwa sehingga dapat menghadapi tantangan di kemudian hari.

Debby Sutopo
Terapis di L’Ayurveda

http://www.balipost .co.id/balipostc etak/2006/ 11/8/k3.htm

Tiga Kerangka Agama Hindu

Posted by Adnyana under Tatwa Hindu

 

Mengutip artikel berikut, Agama Hindu memiliki tri kerangka yaitu:

1. Tatwa

2. Susila 

3. Upacara.

Ketiga kerangka Agama Hindu diatas harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari oleh umat Hindu, karena menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Jika dalam kehidupan sehari-hari hanya menonjolkan hanya salah satu diantara ketiga diatas akan dapat memunculkan sifat-sifat negatif.

1. Tatwa (filsafat) tanpa  susila =muncul  sifat munafik, sombong, dan angkuh.

2. Susila tanpa upacara (dalam arti luas) = muncul  rasa fanatik.

3. Upacara tanpa didasari tatwa dan susila= muncul sifat dogmatis.

Tiga kerangka Agama Hindu diatas mirip dengan Tiga sifat manusia indonesia yang di anugerahkan TUHAN YME yaitu :

1. Jujur
2. Cerdas
3. Ingin jadi pejabat (legislatif, eksekutif, yudikatif, sipil,militer) disingkat pejabat

Namun sayangnya TUHAN YME hanya mengizinkan setiap Manusia Indonesia memiliki 2 saja dari 3 anugerah tersebut sehingga Manusia Indonesia terdiri dari 3 golongan :

1. Pejabat dan Jujur maka dapat dipastikan dia tidak cerdas
2. Pejabat dan Cerdas maka dapat dipastikan dia tidak jujur
3. Jujur dan Cerdas maka dapat dipastikan dia bukan pejabat

============ ========= ========= ======

http://www.balipost .co.id/BaliPostc etak/2006/ 9/3/b8.html

Agama Hindu mesti Dihayati Utuh

Agama Hindu mesti dihayati secara utuh. Artinya, agama tidak hanya dihayati, direnungkan, dan dicamkan. Tetapi mesti diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Agama bukan hanya diomongkan melainkan dilaksanakan dengan penuh keyakinan yang bermuara pada logika dan rasa batin (atmanastuti) . 

Hal itu dikatakan Dekan Fakultas Dharma Duta IHD Negeri Denpasar Drs. I Made Surada, M.A. saat acara yudisium Fakultas Dharma Duta IHDN, Surada didampingi Ketua Panitia I Made Suastika Ekasana, S.H., S.Ag., M.Ag. mengatakan ada dua hal yang terpadu dalam agama yaitu rasa dan rasio. Dalam perpaduan ini rasa mendominasi rasio, karena agama berpangkal pada keyakinan.

Karena itu, dalam agama yang dipentingkan adalah kesucian batin. Agama Hindu memiliki tri kerangka yaitu tatwa, susila dan upacara. Ini pun mesti diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, karena menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Jika hanya menonjolkan tatwa (filsafat) tanpa diwujudkan dengan susila akan dapat memunculkan sifat-sifat munafik, sombong, dan angkuh. Jika hanya menonjolkan susila tanpa upacara (dalam arti luas), dapat menimbulkan rasa fanatik. Apabila menonjolkan upacara saja tanpa didasari tatwa dan susila, akan bisa bersifat dogmatis. (08)

Kesenian dalam perspektif Hindu di Bali mempunyai kedudukan yang sangat mendasar, karena tidak dapat dipisahkan dari relegius masyarakat Hindu di Bali. Upacara di pura-pura (tempat suci) juga tidak lepas dari kesenian seperti seni suara, tari, karawitan, seni lukis, seni rupa, dan sastra. Candi-candi, pura-pura dan lain-lainya dibangun sedemikian rupa sebagai ungkapan rasa estetika, etika, dan sikap relegius dari para umat penganut Hindu di Bali. Pregina atau penari dalam semangat ngayah atau bekerja tanpa pamerih mempersembahkan kesenian tersebut sebagai wujud bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Di dalamnya ada rasa bhakti dan pengabdian sebagai wujud kerinduan ingin bertemu dengan sumber seni itu sendiri dan seniman ingin sekali menjadi satu dengan seni itu karena sesungguhnya tiap-tiap insan di dunia ini adalah percikan seni.

Dengan sifat religius masyarakat dan juga ajaran agama Hindu yang universal dan semua penganut dapat mengekspresikan keyakinan terhadap Hyang Maha Kuasa, maka banyaklah timbul berbagai kesenian yang dikaitkan dengan pemujaan. Banyak tumbuh suatu kesenian yang memang ditujukan untuk suatu pemujaan tertentu, atau juga sebagai pelengkap dari pemujaan tersebut. Selain itu pula berkembang suatu seni pertunjukkan yang sifatnya menghibur. Dari kebebasan berekspresi dalam rangka pemujaan maupun sebagai pendukung dari suatu ritual tertentu, maka di Bali ada digolongkan menjadi dua buah sifat pertunjukkan atau seni. Yakni seni wali yang disakralkan dan juga seni yang tidak sakral atau disebut profan yang hanya berfungsi sebagai tontonan atau hiburan belaka.

Tari sakral atau tari wali adalah tari yang dipentaskan dalam rangka suatu karya atau yadnya atau rangkaian ritual tertentu, dan tarian tersebut biasanya disucikan. Kesucian dari tarian tersebut dapat pada peralatan yang dipergunakan seperti tari pendet yakni pada canang sari, pasepan, dan tetabuhan yang dibawa. Pada tari Rejang misalnya pada gelungannya serta benang penuntun yang dililitkan pada tubuh penari (khusus rejang renteng). Topeng Sidakarya yakni pada bentuk tapel, kekereb, beras sekarura, dan lain-lainnya. Jadi semua itu tidak dapat digunakan sembarangan. Atau kesakralannya dapat juga pada si penari itu sendiri, misalnya seorang penari rejang atau penari sanghyang yang mengharuskan menggunakan penari yang masih muda dan belum pernah kawin atau belum haid. Atau dapat juga seorang penari dapat menarikan tarian sakral sebelumnya harus dilakukan pewintenan (upacara penyucian diri) terlebih dahulu.

Kalau dilihat dari sejarah tari wali ini hampir sebagian besar dikaitkan dengan mitologi agama yang berkembang pada suatu daerah tertentu. Mitologi ini mungkin dapat dibuat bersamaan atau mungkin juga sesudah tari wali itu diciptakan, ataupun sebaliknya. Walaupun tarian tersebut adalah ciptaan manusia, namun karena sudah merupakan suatu konsensus dari masyarakat yang mendukungnya maka tari wali ini akan mendapatkan suatu tempat yang khusus dalam hati masyarakat dalam kaitannya dengan keyakinan agamanya, terutama agama Hindu. Kemunculan tari-tari wali di Bali atau di Indonesia tidak berbeda dengan tari-tari ritual di India. Dimana menurut mitologinya tarian itu diciptakan oleh Dewa Brahma dan sebagai Dewanya adalah Dewa Siwa yang terkenal dengan tarian kosmisnya yakni Siwa Nata Raja.

Dimana Dewa Siwa memutar dunia ini dengan gerakan mudranya yang mempunyai kekuatan gaib. Setiap sikap tangan dengan gerakan tubuh memiliki makna tertentu dan kekuatan tertentu sehingga tarian ini tidak semata-mata keindahan rupa atau pakaian tetapi juga mempunyai kekuatan sekala dan niskala. Namun kalau di Bali maka gerakan tangan yang disebut dengan mudra tidak sembarang digunakan. Hanyalah para sulinggih saja yang menggunakan gerakan tangan yang disebut dengan mudra tersebut. Karena hal tersebut adalah suatu hal yang sangat sakral.

Dan di Bali untuk menambah kekuatan sekala dan niskala maka seringkali disertai dengan sesajen atau banten-banten pasupati untuk penari atau perlengkapan tari tertentu. Demikian pula untuk suatu pertunjukan tari wali tertentu, didahului dengan sesajian dan tetabuhan agar tidak mendapatkan gangguan dari bhuta kala Graha dan Bhuta Kapiragan. Dan tak jarang pula tarian yang akan dipersembahkan dalam suatu ritual tertentu, dilakukan suatu prosesi pasupati. Baik itu secara sederhana dengan menggunakan banten pasupati atau juga dilakukan secara lebih khusus, lebih besar atau lebih istimewa. Dimana prosesi pasupati ini adalah untuk memohon kehadapan Ida Betara agar membimbing penari sesuai dengan kehendak beliau.

Pasupati

Pasupati berarti raja gembala hewan. Yang dimaksudkan disini adalah agar si penari bagaikan hewan gembala yang diatur dan digembalakan sepenuhnya oleh pengembalanya yakni Ida Betara. Dengan demikian maka segala gerak gerik penari tidak sepenuhnya berasal dari dirinya sendiri, namun sebagian dari gerakan tersebut dijiwai oleh Ida Betara yang dimohonkan. Sehingga tarian tersebut akan memiliki suatu kekuatan magis atau kekuatan niskala.

Sebuah tari di Bali diciptakan oleh penciptanya berdasarkan atas insting atau naluri dalam berkesenian. Apakah dengan meniru gerakan manusia, meniru gerakan air, angin, pohon dan sebagianya sehingga terangkum dalam suatu gerakan yang memiliki suatu nilai seni.

Dan pada suatu masyarakat yang kebudayaannya tinggi serta menjunjung nilai-nilai religius agraris dan mistis, seperti di Bali, maka gerakan tari disertai dengan aksen-aksen tertentu yang mempunyai kekuatan gaib. Disertai dengan bebantenan dan juga mantra-mantra tertentu untuk mengundang kekuatan sekala dan niskala. Kadangkala tarian yang dibuat tersebut dibuatlah sebuah mitologi, untuk mendukung dan menunjang kesakralan dari tari tersebut. Sehingga tidak jarang tari yang baru dibuat, namun menceritakan mitologi yang terjadi jauh sebelum tari itu dibuat.

Tari sakral dipersembahkan kehadapan Ida Betara atau Hyang Kuasa dengan ritual tertentu pada hari tertentu untuk menyenangkan Hyang Kuasa sehingga berkenan memberi berkah berupa kesejahteraan jasmani dan rohani atau sekala dan niskala. Seperti misalnya barong yang ada di pura yang diberi persembahan puja wali dan disolahkan atau ditarikan pada saat odalan atau karya tertentu adalah suatu hal yang sakral. Kesakralan akan terkait dengan sebuah ritual tertentu. Dan apabila urusannya ritual, maka ujung-ujungnya adalah keyakinan.

Sakral atau tidaknya suatu tarian atau pertunjukkan seni dapat diukur dari beberapa kategori umum seperti : Tari sakral tidak pernah diupah atau disewa untuk suatu pertunjukan hiburan atau komersial. Berfungsi sebagai pelaksana atau pemuput karya. Membawa atau menggunakan suatu perlengkapan atau peralatan yang khas. Dan orang yang akan menari juga adalah orang pilihan. Baik itu secara skala melalui pilihan dan persetujuan dari masyarakat pendukung, atau melalui suatu metuwunan yakni dengan cara mohon petunjuk niskala baik itu dengan cara kerauhan dan sebagainya.

Contoh dari tari sakral adalah tari pendet, tari baris gede, tari rejang, tari sanghyang, tari topeng dalem sidakarya, tari ketekok jago, pertunjukkan wayang lemah dan wayang sapuh leger. Sedangkan tari profan atau bukan sakral bisa diupah atau disewa. Berfungsi sebagai hiburan atau pendukung dari suatu acara tertentu. Tidak mesti menggunakan peralatan atau perlengkapan tertentu yang bersifat sakral. Contohnya adalah tarian atau pertunjukan selain yang disebutkan di atas (Joged Bumbung, dll).

Seni tari Bali pada umumnya dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu tari wali atau tari seni pertunjukan sakral, tari bebali atau seni tari pertunjukan upacara dan juga untuk hiburan pengunjung, dan tari balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.

Pakar seni tari Bali, I Made Bandem Wijaya, pda awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tarian Bali tersebut, antara lain yang tergolong ke dalam

1. Tari wali seperti Berutuk, Sang Hyang, Dedari,Rejang, Baris Gede, Sang Hyang Jaran, Janger.

2. Tari bebali antara lain tari Topeng, Gambuh, Topeng Pajegan, Wayang Wong,

3. Tari balih-balihan misalnya tari Legong, Arja, Joged Bumbung, Drama Gong, Barong, Pendet, Kecak.

.

Tari Pendet.

Tari Pendet termasuk dalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari Bali, I Nyoman Kaler, pada tahun 1970-an
yang bercerita tentang turunnya Dewi-Dewi kahyangan ke bumi. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Pendet, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif.

Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan  yang banyak diperagakan di Pura, yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam marcapada, merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”, dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang, seperti Aloha di Hawaii. Kendati demikian bukan berarti tari Pendet jadi hilang kesakralannya. Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius  dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental.

Tari Pendet Sakral

Biasanya Tari Pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih dinamis dari tari Rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih). Para penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral lainnya, dengan memakai pakaian upacara, masing-masing penari membawa perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi, cawan, dan yang lainnya.

Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar,  Wayan Dibia, menegaskan bahwa menarikan tari Pendet sudah sejak lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.

http://www.balisweethome.com/balivilla/my_baliart.php?unique=7

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/09/18/01583199/perspektif.hindu.dalam.tari.bali.dan.tari.pendet

foto: http://www.baliwww.com

Sabtu Kliwon 19 September 2009, umat Hindu kembali memperingati Tumpek Wariga. Tumpek yang memiliki nama cukup banyak — Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh dan Tumpek Pengatag — itu sangat erat kaitannya dengan dunia pertanian. Secara ritual, pada hari itu umat melaksanakan upacara persembahyangan ke hadapan Batara Sangkara — manifestasi Tuhan dalam menciptakan kesuburan tumbuh-tumbuhan. Sesungguhnya, perayaan Tumpek Bubuh salah satu komponen penting dalam mengajegkan konsep Tri Hita Karana. Tri Hita Karana, sebuah falsafah dalam agama Hindu yang selalu menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, serta manusia dengan Tuhan.

Merayakan Tumpek Wariga di hari Sabtu 19 September 2009 merupakan salah satu unsur penting dalam konsep Tri Hita Karana khususnya hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungannya — dalam kaitan ini hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan. ”Ajaran yang terkandung dalam Tumpek Bubuh ini sangat luhur. Umat bukan hanya mesti menghargai ciptaan Tuhan, tetapi sekaligus melestarikan tumbuh-tumbuhan yang telah mensejahterakan kehidupannya”.

Sementara konsep Tri Hita Karana dalam hubungan harmonis antara manusia dengan manusia, dicoba diterapkan oleh keluarga Made Sukasta Mindhoff dan Nyoman Suyadni Mindhoff pada hari Sabtu 19 September kemaren yang bertepatan dengan perayaan rainan Tumpek Bubuh, dengan mengundang beberapa Nyama Braya Bali Jerman untuk berkumpul bersama latihan menari dalam rangka persiapan Hari Raya Kuningan 24 Oktober 2009. Pada kesempatan itu juga hadir Made Agus Wardana dan Wayan Sudiartawan dari Belgia. Adapun kedatangan Made Wardana dan Wayan Sudi adalah untuk memberikan pelatihan megambel dan menari yang sekiranya akan di pertunjukkan di perayaan Kuningan nanti.

Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach nanti, tentunya selain diisi dengan acara persembahyangan bersama umat Hindu, juga akan di pergelarkan beberapa seni tari. Hal-hal yang berhubungan dengan pertunjukan kesenian di tanggung jawabi oleh Ketut Sri Artini bekerja sama dengan Sanggar Tari Bali Puspa Köln yang dipimpin oleh Made Sukasta dan Nyoman Suyadni akan menampilkan tari-tarian yang kesemuanya akan di iringi langsung dengan Gamelan Bali.

http://www.Balipuspa.de

Tari-Tarian yang akan ditampilkan nanti:

1. Tari Rejang Dewa

Dalam Lontar “Usana Bali” disebutkan bahwa Tari Rejang adalah simbol widyadari atau bidadari yang turun ke dunia menuntun Ida Bhatara pada waktu melelasti. Khusus pada tari Rejang Renteng, ada tanda yang khusus yaitu “manuntun benang” — prosesinya adalah “jempana linggih Ida Bhatara” dituntun dengan benang yang panjang, diikatkan di pinggang setiap penari rejang.

Jenis-jenis tari Rejang antara lain Rejang Renteng, Rejang Lilit, Rejang Bengkol, Rejang Oyod Padi, Rejang Ngregong, Rejang Alus, Rejang Nyangnyingan, Rejang Luk Penyalin, dan Rejang Glibag Ganjil.

Pada perayaan Kuningan nanti, Tari Rejang dengan gelung-nya dan benang penuntun yang dililitkan pada tubuh si penari akan di pentaskan oleh sekelompok penari dari Bali Puspa diatas panggung dan akan di ikuti oleh seluruh wanita yang hadir dalam persembahyangan Kuningan nanti.

2. Tari Pendet

Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-dewi ke alam marcapada sebagai pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tarian ini ditampilkan dengan membawa upakara atau alat-alat pesucian, pengeresikan, canangsari, pasepan sebagai tanda persembahan yang suci dan iklas. seiring berkembangnya jaman, Tari yang diciptakan oleh seniman I Nyoman Kaler ini diawal 1970an,  oleh para seniman Bali diubah menjadi “ucapan selamat datang”, meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Taburan bunga disebarkan di hadapan para tamu sebagai ungkapan selamat datang.

Pada perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 Tari Pendet ini akan di pentaskan oleh sekelompok penari dari Sanggar Bali Puspa. dan tidak menutup kemungkinan bila ada semeton Nyama Braya Bali lainnya yang ingin ngayah untuk ngaturan tarian dan juga memiliki pakaian tari pendet, partisipasinya akan diterima dengan senang hati untuk ikut bergabung menarikan pendet ini.

3. Tari Sekarjagat

Tari Sekar Jagat, sangat lasim digunakan dalam pembukaan suatu acara, tarian ini diciptakan oleh Bapak Swasthi Widjaya Bandem (sekaligus penata busana) dan gambelan (music traditional bali ) diciptakan oleh Bapak I Nyoman Windha pada tahun 1993 dalam rangka Pembukaan Pameran Wastra Bali di Jakarta. Tarian Penyambutan ini menggambarkan kegembiraan para penari dalam menyamut para tamu yang hadir serta menceritakan tentang kecantikan dan keluwesan para gadis sebagai ungkapan bunga bumi (keindahan). Pada perayaan Kuningan 24 Oktober 2009, tarian ini akan di pentaskan oleh Nyama Braya Bali yang telah berlatih menari di sanggar tari Bali Puspa.

4. Tari Margapati

Tari buah karya Bapak Nyoman Kaler ini di ciptakan di tahun 1942. Kata Marga berasal dari “Mrega” yang berarti binatang. Sedangkan “Pati” berarti raja. Gerak-gerik raja hutan yang sedang mengintai dan siap membinasakan mangsanya telah memberikan inspirasi pada penciptanya untuk menciptakan tarian ini. Jadi tari margapati menggambarkan gerak-gerik seekor Singa atau raja hutan yang sedang berkelana di tengah hutan duntuk memburu mangsanya. Pada perayaan Kuningan nanti tari ini akan di pentaskan oleh Wayan Yuadiani (istrinda Made Agus Wardana dari Belgia).

5. Tari Janger dan Genjek Bali

Tari yang bercerita tentang kelompok muda-mudi yang lagi dimabuk asmara. Bila dilihat dari kelompok yang bercirikan gender, ada kelompok pria dan ada kelompok wanita. Mereka bertembang bersautan tentang kisah-kisah asmara, dari cara berkenalan, menanyakan identitas, dan menjurus ke rayuan. Semuanya dilakukan dengan riang gembira.  Pada perayaan Kuningan nanti, tarian ini akan di pentaskan oleh Nyama Braya Bali yang telah mengikuti latihan di sangar tari Bali Puspa. Namun sayang untuk sementara penarinya masih di dominasi oleh sekelompok wanita, dan masih memiliki kekurangan dalam hal jumlah penari prianya. Sehingga dalam pementasan disaat perayaan Kuningan nanti, bila ada para pria yang bersedia ikut serta ngayah menjadi penari prianya, partisipasinya akan diterima dengan senang hati. Sesungguhnya tariannya Janger dan Genjek Bali cukup sederhana, lirik lagunya pun cukup mudah untuk di lafalkan dan di hapalkan, bahkan mudah di ingat karena bahasanya yang sarat lelucon (komedi)

6. Tari Joged Bumbung

Tari joged bumbung adalah tarian warisan leluhur sejak dulu. Tari joged ini diiringi dengan gamelan tingklik bambu berlaras Slendro yang disebut Grantang atau Gamelan Gegrantangan. Tarian ini muncul pada tahun 1946 di Bali Utara dan kini Joged Bumbung dapat dijumpai hampir di semua desa dan merupakan jenis tari joged yang paling populer di Bali. Tari ini adalah tari pergaulan untuk menambah keakraban, para penonton yang sedang menyaksikan tarian ini bisa turut serta menari diatas panggung. Sehingga membuat suasana semakin semarak. Pada perayaan Kuningan nanti Tari ini akan di iringi langsung dengan gamelan dan akan di pentaskan oleh penari dari sanggar tari Bali Puspa. Namun demikian, bila ada Nyama Braya Bali yang berkeinginan untuk ikut ngayah untuk turut serta menyumbangkan tarian ini, akan selalu di terima. sehingga dengan semakin banyak penari yang menari bergantian , hal ini tentu akan menambah semarak suasana menghibur pengunjung umum.

Demikianlah laporan jalannya persiapan kesenian yang akan di suguhkan dalam perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach, yang saya rangkum dari pertemuan informal di rumahnya Nyoman Suyadni Mindhoff, yang persiapannya hampir mendekati kesempurnaan. Namun menurut penuturan Nyoman Suyadni Mindhoff dan Made Sukasta Mindhoff, masih diperlukan sekali pertemuan lagi untuk melakukan gladi resik latihan menari dan megambel yang akan di adakan di Köln sebelum datangnya Hari Raya Kuningan ini.  Bagi yang tertarik untuk ikut serta latihan bersma, untuk bersiap-siap mengosongkan jadwal kegiatannya di hari sabtu atau minggu sebelum datangnya hari raya Kuningan 24 oktober 2009. Melihat keseriusan dari pihak Bali Puspa yang akan ngaturang ngayah menyumbangkan tari-tarian yang didukung dengan iringan musik gamelan, Ketut Sri Artini yang menanggung jawabi seksi kesenian di saat perayaan kuningan ini merasa sangat bersyukur.

Disamping perihal kesenian diatas, Ketut Suastiti Fluegel, yang menanggung jawabi perihal Bebantenan untuk perayaan Kuningan, yang juga hadir diKöln, juga menyatakan kegembiraannya dan hingga saat ini seksi Banten sudah siap untuk menyambut datangnya hari raya Kuningan 24 Oktober 2009. Sependapat dengan Ketut Suastiti, Putu Ari Burth yang menanggung jawabi seksi konsumsi di saat perayaan Kuningan nanti, juga menyatakan hal yang sama. “menu utama” dari konsumsi sudah dipersiapkan dengan matang, namun demikian pihak konsumsi tetap membuka pintu lebar-lebar kepada Nyama Braya Bali yang berkeinginan untuk maturan (dana punia) makanan agar tidak sungkan-sungkan untuk menghubunginya baik lewat email ataupun lewat telepon, karena Putu masih memiliki list yang sekiranya perlu untuk dilengkapi, seperti makanan penunjang lainnya.

Membaca berita tentang perjuangan para srikandi Bali diatas dalam mensukseskan jalannya perayaan kuningan di Offenbach 24 Oktober 2009 nanti, kita semua patut bersyukur kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Ketut Sri Artini - Grosse yang bertanggung jawab tentang kesenian bekerja sama dengan Nyoman Suyadni Mindhoff dengan sanggar tari nya Bali Puspa, Ketut Suastiti - Fluegel yang menanggung jawabi perihal Bebantenan, Putu Ari Burth yang menanggung jawabi hal-hal yang berhubungan dengan Konsumsi, sepakat untuk melaporkan kemajuan kerjanya kepada ketua panitia perayaan kuningan 24 oktober 2009,  yaitu Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani - Prior disaat rapat panitia persiapan kuningan Hessen yang sekiranya akan di jadwalkan di awal Oktober ini.

Mengingat kembali Tri Hita Karana, yaitu sebuah falsafah dalam agama Hindu yang selalu menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, serta manusia dengan Tuhan.

dimana konsep hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan sudah kita bersama terapkan melalui perayaan Tumpek Wariga , sementara hubungan harmonis antara manusia dengan manusia sudah pula kita terapkan dalam hal bekerjasama untuk mensukseskan perayaan Kuningan nanti. dan yang terakhir hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Ida Sang Hyang Widi Wasa) , saya yakin bisa kita wujudkan bersama di saat perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 nanti di Offenbach.

Lebih lanjut pada saat perayaan kuningan nanti juga akan terdapat utusan sesepuh umat hindu dari Belgia yang akan turut serta memberikan “Dharma Wacana”  disaat kita selesai melakukan persembahyangan bersama, dimana topik yang ingin disampaikan adalah tentang penjelasan Pura Agung Santi Bhuwana yang ada di Brugelete Belgia. Penjelasan detail tentang keberadaan Pura Hindu tersebut serta jadwal persembahyangan rutin yang diadakan di Pura tersebut akan menjadi informasi yang sangat bermanfaat bagi umat hindu di Jerman yang sekiranya belum sempat hadir di saat pemlaspasan Pura tersebut yang berlangsung Senin 18 May 2009 dan kedepannya ingin melakukan Tirta Yatra tangkil muspa bersama-sama umat hindu (Nyama Braya Bali jerman) ke Pura di Belgia.

Oleh karena itu, untuk melengkapi informasi tentang Pura Agung Santi Bhuwana di Belgia ini, Ketut Adnyana, telah pula mendatangkan majalah Media Hindu edisi 65 , yang mengupas tentang keberadaan Pura di Belgia ini, mulai dari sejarah berdirinya taman wisata Parc Paradisio (lokasi Pura Hindu tersebut), sejarah berdirinya Pura Hindu tersebut, Mr. Eric Domb (pemilik Parc Paradisio yang mendirikan Pura Hindu tersebut), serta jalannya upacara pemlaspasan (Mecaru, Pemlaspasan / prayascita, Mendem pedagingan,  Ngenteg linggih). Majalah Media Hindu edisi 65 sebanyak 100 majalah didatangkan dari Jakarta, harapannya  umat hindu di Jerman atau Nyama Braya Bali bisa membacanya seusai melakukan persembahyangan dan bisa bertanya secara langsung kepada utusan umat hindu dari Belgia.

Kedepannya, bila umat hindu di jerman (Nyama Braya Bali di Jerman) ada yang berkeinginan untuk berlangganan majalah Umat Hindu ini, sehingga walaupun kita berada jauh merantau di negeri Eropa tapi masih bisa mengikuti berita kegiatan umat hindu yang ada di tanah air atau di Bali atau dimanapun berada di dunia ini, Ketut Adnyana akan berusaha mengkoordinir di saat perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 nanti, sehingga majalah keumatan ini bisa di sirkulasikan di Eropa.

Akhir kata, besar harapan panitia agar perayaan Kuningan 24 Oktober 2009, bisa berjalan dengan lancar. Keinginan untuk berbagi berita bahagia ini kepada umat sedharma di Bali ataupun di Indonesia sedang dicoba untuk di wujudkan dengan mengundang wakil Dirjen Hindu di Jakarta serta Stasiun Televisi di Bali (Bali TV dan TVRI Bali).

Semoga Ida Sang Hyang Widi Wasa selalu melindungi kita semua. dan Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

Memaknai Tumpek Bubuh 19 September 2009—-
Bersyukur dan Menghargai Ciptaan Tuhan

Sabtu Kliwon 19 September 2009, umat Hindu kembali memperingati Tumpek Wariga. Tumpek yang memiliki nama cukup banyak — Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh dan Tumpek Pengatag — itu sangat erat kaitannya dengan dunia pertanian. Secara ritual, pada hari itu umat melaksanakan upacara persembahyangan ke hadapan Batara Sangkara — manifestasi Tuhan dalam menciptakan kesuburan tumbuh-tumbuhan. Dalam konteks kekinian, perayaan hari keagamaan seperti itu tentu tidak hanya berhenti pada kegitan ritual semata. Lebih dari itu, umat dituntut untuk mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Tumpek Bubuh dalam kehidupan sehari-hari.

==================================================

Sesungguhnya, perayaan Tumpek Bubuh salah satu komponen penting dalam mengajegkan konsep Tri Hita Karana. Salah satu unsur penting dalam konsep itu adalah hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungannya — dalam kaitan ini hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan. ”Ajaran yang terkandung dalam Tumpek Bubuh ini sangat luhur. Umat bukan hanya mesti menghargai ciptaan Tuhan, tetapi sekaligus melestarikan tumbuh-tumbuhan yang telah mensejahterakan kehidupannya,” kata tokoh agama Prof. Dr. I Wayan Jendra, S.U.

Alasannya, jika lingkungan khususnya tumbuh-tumbuhan secara kuantitas dan kualitas tidak sesuai dengan kebutuhan maka manusia akan menjadi sangat menderita. Karena itu, sangat wajar umat memberikan dukungan sepenuhnya kepada petani.

Tumbuh-tumbuhan, kata Jendra, telah memberikan banyak manfaat bagi umat manusia. Tumbuh-tumbuhan memberikan prana berupa oksigen, keteduhan, perlindungan dan sumber makanan bagi manusia. Bahkan, dalam Canakya Nitisastra dan sumber-sumber lainnya disebutkan, sesungguhnya hidup manusia dengan lingkungan saling mengisi atau saling melengkapi yang dikenal dengan istilah simbiosis mutualisme.

Jika lingkungan mengalami disharmoni, tentu akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Misalnya, jika hutan yang tersedia mengalami kegundulan akibat adanya penebangan liar, maka uap air sebagai cikal bakal hujan tidak akan bisa menghendap. Demikian juga bila terjadi hujan lebat, akan terjadi banjir besar karena tidak ada pohon yang menahan air.

Dikatakan, ditinjau dari nuansa religius spiritual, tumbuh-tumbuhan adalah evolusi lebih awal dari kehidupan manusia. Hal itu diakui oleh Darwin dan Maharsi Patanjali. Ditinjau dari kebutuhan manusia akan makanan, tumbuh-tumbuhan telah memberi penghidupan.

Karena itu, Tumpek Wariga ini mesti dijadikan tonggak untuk memelihara kelestarian lingkungan, khususnya tumbuh-tumbuhan. Apalagi, di Bali saat ini hutan-hutan mulai gundul, bahkah kini telah ditebang untuk pemukiman. Ini tentu akan sangat mengganggu ekosistem yang ada.

Pada Tumpek Bubuh itu manusia memberi penghargaan dan kasih sayang terhadap tumbuh-tumbuhan agar berbuah banyak, berbunga lebat dan berumbi untuk kepentingan yadnya –persembahan kepada Tuhan pada hari raya Galungan, 25 hari setelah Tumpek Bubuh.

Dikatakan, banyak yang beranggapan bahwa Tumpek Bubuh hanya ”milik” para petani di pedesaan, sehingga para pegawai tidak perlu merayakannya. Anggapan semacam ini sangat keliru karena pengertian Tumpek Bubuh tidak sesempit itu. Umat manusia, termasuk para pegawai, mesti sadar bahwa mereka juga hidup karena tumbuh-tumbuhan — kendati untuk membeli buah, sayur dan beras, mereka cukup menyediakan uang dari hasil kerjanya. ”Pernahkah kita mendoakan agar petani bisa hidup berbahagia,” tanya Jendra.

Sesungguhnya pula, kata Guru Besar Fakultas Sastra Unud ini, aplikasi nilai-nilai yang terkandung dalam Tumpek Bubuh bukan hanya untuk kepentingan umat Hindu, tetapi juga umat lain. Tanpa tumbuh-tumbuhan, umat manusia tidak akan bisa hidup. ”Jadi nilai yang terkandung dalam Tumpek Bubuh sangat universal. Karena itu, melalui perayaan Tumpek Bubuh, umat manusia mengucap syukur kepada Tuhan karena telah diberi kehidupan,” ujarnya.

Ketika nilai-nilai Tumpek Bubuh dihubungkan dengan wacana kembali ke dunia pertanian — pascaledakan bom Kuta — sesungguhnya sesuatu yang memang harus mengacu ke sana. Lagi pula, kata Jendra, pariwisata dan pertanian sangat erat hubungannya. Pariwisata sangat ditunjang oleh pertanian. Hasil pertanian sangat menunjang sektor pariwisata. Oleh karena itu, pertanian memang harus tetap dibinakembangkan secara intensif dengan menggunakan teknologi modern. Dengan demikian, dunia pertanian betul-betul memberikan kesejahteraan bagi umat manusia, khususnya para petani.

Metode

Sementara itu, Kakanwil Agama Propinsi Bali Drs. I Gusti Made Ngurah mengatakan, peringatan Tumpek Bubuh merupakan semacam metode untuk mengucap syukur kepada Tuhan karena telah diciptakan tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan telah memberikan kehidupan bagi umat manusia. Karena itu, umat wajib mengaturkan rasa angayubagia kepada Tuhan, melalui ritual Tumpek Bubuh.

Melalui peringatan itu, umat diingatkan dan disadarkan kembali bahwa dunia pertanian memang penting. ”Jadi, peringatan Tumpek Bubuh bisa dikatakan semacam metode untuk menyadari manusia akan pentingnya tumbuh-tumbuhan,” katanya.

Melalui perayaan itu umat mengaturkan rasa bakti kepada Tuhan karena telah diciptakan beragam tumbuh-timbuhan yang telah banyak membantu kehidupan manusia.

Dalam konteks wacana mesti kembali ke pertanian, kata mantan Direktur APGAH — sekarang STAH itu — seolah-olah umat sudah melupakan kawitan, ajaran asal yang adilihung. Padahal, dunia pertanian mesti tetap terpelihara. Dunia yang telah memberi kehidupan ini hendaknya tetap dibina dan dilestarikan. Kita hidup dan berkembang seperti sekarang karena tumbuh-tumbuhan. (lun)

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2003/5/21/bd1.htm

Renungan Tumpek Uduh

Lestarikan Alam Tak Ubahnya Rawat Diri Sendiri

Setiap rerahinan gumi di Bali sesungguhnya mengandung ajaran atau pesan yang amat mulia. Termasuk, rerahinan Tumpek Uduh atau Tumpek Pengatag atau dikenal juga dengan sebutan Tumpek Wariga, Sabtu (19 September 2009 ) hari ini. Rerahinan yang jatuh setiap enam bulan itu mengandung pesan pelestarian alam. Karena itu, alam perlu dirawat agar lestari. Mengawal atau melestarikan alam (makrokosmos) tak ubahnya merawat diri sendiri (mikrokosmos).

DOSEN IHDN Denpasar Drs. Made Girinata, M.Ag. dan Drs. Made Surada, M.A. mengatakan, pada rerahinan Tumpek Uduh ini umat memuja Dewa Sangkara, manifestasi Tuhan penguasa tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi itu sangat berguna bagi kehidupan manusia. Karena itu, umat mesti bersyukur kepada Sang Pencipta, melalui ritual Tumpek Uduh atau Tumpek Wariga. Dalam konteks itu yang dipuja bukanlah tumbuh-tumbuhan, tetapi umat mengaturkan bakti kepada Tuhan yang telah memberi kekuatan atau kesuburan hidup berbagai tumbuhan. Pada Tumpek Uduh, umat umumnya mengaturkan sesajen pada pohon-pohon produktif, seperti kelapa, pisang dan pohon buah-buahan lainnya - -mengucap puji syukur ke hadapan Tuhan. Pohon-pohon itu diupacarai mewakili tumbuh-tumbuhan yang lain, karena paling sering dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari atau paling ‘dekat’ dengan kehidupan umat manusia.

Girinata yang Dekan Fakultas Dharma Acarya IHDN ini menambahkan, tumbuh-tumbuhan atau pepohonan yang ada di alam semesta ini sangat membantu umat manusia. Bisa dibayangkan, jika umat hidup tanpa tumbuh-tumbuhan. Karena itu, ada etika dalam pemanfaatannya. Misalnya, ketika umat Hindu di Bali menebang pohon, ada etika yang mesti dijalankan. Sebelum pohon ditebang, umumnya umat memohon izin dulu kepada Tuhan. Setelah pohon ditumbangkan, bekas potongan itu ditancapkan ranting atau pucuk pohon. Ini sesungguhnya mengandung makna simbolik bahwa umat diingatkan melakukan penanaman kembali. Satu pohon ditebang, paling tidak di bekas tebangan itu ditanami satu pohon baru.

Hal senada dikatakan Made Surada yang Dekan Fakultas Dharma Duta IHDN. Melalui ritual Tumpek Wariga, umat Hindu sesungguhnya diingatkan agar tetap melestarikan alam. Di Bali, pesan pelestarian alam itu dikemas dengan teologi dan budaya lokal yakni Tumpek Wariga atau Tumpek Uduh. Sebab, jika alam rusak, dampaknya akan buruk bagi kehidupan manusia.

Dalam Weda disebutkan, tumbuh-tumbuhan dan air adalah pelindung manusia. Bahkan, dalam Reg Weda disebutkan, tumbuh-tumbuhan memiliki jiwa yang sama dengan manusia. Karena itu kita mesti menjalankan ajaran tatwam asi dalam memperlakukan alam. Jika alam rusak atau sakit, kita wajib mengobatinya atau merawatnya. Merusak alam berarti juga menyakiti diri sendiri. Karena itu peliharalah alam agar terjadi keharmonisan. Tumbuh-tumbuhan juga penghasil O2 yang amat diperlukan oleh manusia. ‘Dalam konteks mengantisipasi terjadinya pemanasan global (global warming), tampaknya spirit Tumpek Uduh penting dimaknai,’ kata Girinata dan Surada.

Sementara itu, dosen Unud yang Ketua Umum Pasemetonan Pangeran Mas Dalem Blambangan Provinsi Bali Ir. Ida I Dewa Oka Widyarshana, M.Si. sempat mengatakan, benteng kokoh spiritual yang senantiasa melandasi perikehidupan kita adalah tatwam asi. Spirit tatwam asi itulah yang mesti diejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam memperlakukan alam semesta (bhuwana agung) ciptaan Hyang Widhi Wasa. Menjaga dan mengawal bhuwana agung tak ubahnya merawat dan memelihara diri sendiri (bhuwana alit). Hal itu dikatakan Widyarshana saat Mahasabha I Pasemetonan Pangeran Mas Dalem Blambangan Provinsi Bali di Wantilan Pura Dalem Jawi, Puri Agung Bunutin, Bangli, Minggu lalu. (08)

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=11420