kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for October, 2009

.

I Made Suta Ambara dan Kuningan di Offenbach (Frankfurt)

.

Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach baru saja usai. Dan jalannya perayaan Kuningan di Offenbach terbilang sukses dan sangat meriah, bila di lihat dari banyaknya umat hindu beserta pasangan hidupnya yang hadir bersembahyang bersama, banyaknya pengunjung umum yang kebanyakan warga jerman yang menghadiri pertunjukkan tari-tarian bali, dekorasi interior gedung museum yang penuh pernak pernik Bali, Banten Kuningan yang tertata rapi, lengkap, dan tampak cantik, serta banyaknya reporter media jerman yang lalu lalang yang meliput yang ingin mendapatkan informasi tentang bali dan hari raya kuningan saat itu.

.

Keberhasilan perayaan Kuningan kali ini yang selain tentunya berkat kerja keras panitia perayaan kuningan dari tempek hessen (Frankfurt) yang di ketuai oleh Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani – Prior, juga berkat dukungan dari seorang pria asli jerman yang bernama Karl-Heinz Flügel (suami dari Ketut Suastiti Widhya Raksani – Flügel, seksi Banten perayaan kuningan). Ketika Ketut Suastiti selaku penanggung jawab Banten Kuningan di Offenbach sibuk mengikuti rapat koordinasi persiapan perayaan kuningan yang dipimpin oleh Ibu Made Wiyogani – Prior, Karl-Heinz Flügel dengan setia menunggui menjaga ketiga anaknya yang terbilang masih kecil-kecil dirumahnya yang terletak di tengah kota Frankfurt yaitu Putu Radithya Flügel, 11 tahun, Dwipa Williams Flügel, 9 tahun, Nyoman Yogi Diartha Flügel, 5 tahun.

.

Tidak hanya sebatas menjagai anak-anaknya, Karl-Heinz Flügel juga sangat ringan tangan membantu istrinya (Ketut Suastiti) ketika berlibur ke Bali berbelanja kebutuhan banten kuningan dan dekorasi gedung seperti kain prada, kain poleng, pajeng dan kain lontek. Dan sekembalinya dari Bali ke Jerman Karl-Heinz juga ikut membawa serta banyak bahan-bahan banten dari Bali dalam rangka mensukseskan jalannya perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach.

.

.

Di hari jumat tanggal 23 Oktober 2009, ketika semua warga bali yang berdomisili di Frankfurt dan sekitarnya sibuk mendekorasi gedung museum di Offenbach, Karl-Heinz Flügel pun ikut ber sibuk ria membantu mendekorasi gedung, sehingga interior gedung museum tampak cantik mirip sebuah art-shop di bali. Karl-Heinz juga dengan ikhlas meminjamkan semua lukisan bali yang ia miliki dirumahnya untuk di pajang di dinding museum.

.

Disaat perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 dimana terdapat ada banyak wartawan tulis yang membuntuti ketua panitia Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani – Prior untuk mendapatkan informasi seputar perayaan Kuningan ini, Karl-Heinz pun banyak turun tangan membantu menjawab setiap pertanyaan wartawan tentang apa arti dan makna dari perayaan kuningan ini , kenapa umat hindu atau warga bali yang ada di jerman merayakan kuningan ini di Jerman. Semuanya dijawab Karl-Heinz dengan sangat jelas dan detail sehingga wartawan Jerman yang mewawancarainya tampak sangat puas mendapatkan informasi dari seorang pria Jerman yang mengerti betul tentang kebudayaan Bali dan agama Hindu, sehingga memudahkan wartawan jerman tersebut untuk meng-editnya serta memuatnya di koran dimana mereka bekerja. Dan memang betul keesokan harinya berita perayaan kuningan yang diadakan di Offenbach 24 Oktober 2009 ini banyak beredar di koran-koran yang terbit di daerah Frankfurt, Offenbach, dan koran Hessen lainnya.

.

.

Ketika saya sempat mampir kerumah Ketut Suastiti untuk mendiskusikan seputar Banten dan Banten Kuningan, Karl-Heinz tampak serius mendengarkan diskusi kami, yang sekilas tampak kalau Karl-Heinz sepertinya juga mengerti tentang filosofi Banten yang di visualisasikan sebagai bahasa simbol yang di perlukan bila kita menyelengarakan sebuah acara. Seperti memaknai banten sebagai „Raganta Tuwi“ yang dapat dijabarkan berdasarkan pembagian dari tubuh manusia seperti Ulu atau Kepala (Utama Angga), Badan (Madhyama Angga), Kaki (Nistama Angga).

.

Yang jika dihubungkan dengan Tri Angga dan gedung museum tempat penyelenggaran perayaan kuningan di Offenbach ini maka banten yang memiliki fungsi sebagai ulu adalah banten yang berada di Sanggar Surya dimana banten diletakkan di altar panggung. Banten yang berfungsi sebagai badan adalah banten ayaban yang diletakkan didalam gedung. Sedangkan banten yang berfungsi sebagai kaki atau suku adalah Banten yang berada letaknya dijaba atau di luar gedung museum di offenbach.

.

Jadi bila di renungkan fungsi dari Banten sebagai bahasa simbol yang memang kaya akan konsep hidup yang bersifat universal ternyata memiliki hubungan yang sangat erat dengan Tri Hita Karana, yaitu sebuah falsafah dalam agama Hindu yang selalu menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan , manusia dengan manusia, serta manusia dengan lingkungan. Dan topik ataupun konsep ini ternyata dimengerti betul oleh Karl-Heinz Flügel, seorang pria yang terlahir dan besar di negeri maju seperti negara Jerman. Sehingga iapun berharap agar perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach bisa berjalan dengan lancar dan mendapat restu dari Tuhan, dari sesama umat manusia, dan dari lingkungan sekitarnya.

.

Karl-Heinz Flügel ketika muda

.

Bagaimana perjalanan hidup dari Karl-Heinz Flügel sehingga akhirnya bisa memiliki ketertarikan yang tinggi akan bali dan ajaran universal dari agama hindu dan bagaimana sejarah pertemuannya dengan Ketut Suastiti Widhya Raksani di Bali.

.

Ketika saya bertamu kerumahnya, Karl-Heinz Flügel yang lahir tanggal 7 Februari 1952 bercerita panjang lebar seputar kehidupannya di masa lalu dimulai dari masa mudanya yang memang memiliki hobby berpetualang ke luar negeri seperti layaknya orang jerman lainnya yang memang suka berlibur. Karl-Heinz muda banyak menghabiskan masa berliburnya di Indonesia dan Bali. Dan seluruh pelosok pedesaan di Bali hampir semua ia kenali dan pernah ia kunjungi. Karl-Heinz tertarik memang suka sekali berinteraksi dengan masyarakat pedesaan di Bali, mempelajari kehidupan masyarakat di desa di bali hingga kebudayaan dan adat istiadat yang ada di bali tidak luput dari jepretan kamera yang ia bawa kemana-mana ketika itu. Foto-foto jaman dulu ia tunjukkan sambil mengingat-ingat nama-nama orang bali yang pernah ia kenalnya di Bali. Ada yang sudah meninggal dan ada yang sekarang sudah tumbuh dewasa.

.

Ketertarikannya akan adat istiadat serta upakara di bali membuatnya ketika di bali sering menghadiri upacara dewa yadnya ataupun manusia yadnya yang di selenggarakan oleh teman-temannya di bali, sampai akhirnya ia berjumpa dengan seorang gadis bali yang bernama Ketut Suastiti Widhya Raksani di saat upacara metatah (mesangih) salah satu teman mereka ditahun 1987. Karl-Heinz Flügel ketika bertemu Ketut Suastiti yang ketika itu masih duduk di sekolah SMA Dwijendra Kapal bertegur sapa biasa saja seperti menyapa masyarakat bali lainnya.

.

Menurut penuturan Ketut Suastiti tentang Karl-Heinz Flügel yang saat itu berpakaian adat bali, sangat sibuk mendokumentasikan dengan kameranya setiap prosesi jalannya upacara manusia yadnya saat itu. Ketut Suastiti pun sangat kagum dengan „toris bule“ yang memiliki ketertarikan dengan adat istiadat bali.

.

Dan sejak upacara manusia yadnya itulah Ketut Suastiti dan Karl-Heinz Flügel menjadi kenal satu sama lain. Namun perkenalan disaat itu baru hanya sebatas teman biasa dan tidak pernah ada kontak lebih lanjut hingga akhirnya mereka berjumpa lagi di tahun 1993. Walaupun sesungguhnya Karl-Heinz Flügel datang kebali setiap tahun bahkan pernah datang kebali 2x setahun. Pertemuan berikutnya pun terjadi secara kebetulan di tahun 1993 dirumah suami sepupunya ketut suastiti. Dari pertemuan itu ketut suastiti diminta Karl-Heinz Flügel untuk mengantarkan ke Pura Besakih. Hingga akhirnya Ketut Suastiti mengundang Karl-Heinz Flügel untuk mampir kerumahnya bertamu. Dan salah satu pertanyaan yang masih di ingat ketut suastiti kepada Karl-Heinz Flügel saat itu adalah kenapa Karl-Heinz tertarik ke pura dan kenapa tertarik dengan agama Hindu.

.

.

Menjadi I Made Suta Ambara

.

Seiring berjalannya waktu, Ketut Suastiti dan Karl-Heinz Flügel akhirnya menjadi sepasang kekasih yang saling jatuh cinta hingga akhirnya mereka melangsungkan pernikahan pada tanggal 11 Juni 1997 di Bali. Namun seminggu sebelum mereka melangsungkan pawiwahan yaitu tanggal 4 Juni 1997, Karl-Heinz Flügel menjalani upacara Sudiwadani (upacara memeluk Hindu) dan berganti nama menjadi „Made Suta Ambara“.

.

Sesungguhnya proses upacara sebelum pernikahan yang dijalani Made Suta Ambara tidaklah hanya sebatas me-sudiwadani, melainkan juga upacara manusia yadnya lainnya layaknya bayi yang terlahir dari keluarga hindu, seperti upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir, diikuti dengan upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari), selanjutnya upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton), hingga upacara Potong Gigi (Metatah / Mesangih) sebagai simbol Made Suta Ambara naik remaja. Dan diakhiri dengan upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana berpasangan dengan Ketut Suastiti Widhya Raksani yang dilangsungkan pada tanggal 11 Juni 1997.

.

Dari pernikahan dengan ketut suastiti lahirlah satu persatu buah cintanya, yang pertama bernama Putu Raditya Flügel yang lahir 5 April 1998 di Bali, Dwipa Williams Flügel yang lahir 23 Mei 2000 di Frankfurt, dan yang terakhir Nyoman Yogi Diartha Flügel yang lahir 23 Maret 2004 di Frankfurt. Walaupun kedua anak terakhir mereka ( Dwipa Williams dan Nyoman Yogi) terlahir di Jerman, namun plasenta (ari-ari) dari Dwipa Williams dan Nyoman Yogi dibawanya pulang ke bali dan ditanam di rumahnya di desa Kapal Pemebetan Denpasar, dan anak-anak merekapun menjalani proses upacara yang sama seperti seorang umat hindu lainnya sedari kecil hingga sekarang. Itu semua dilakukannya dengan maksud agar generasi keluarga Made Suta Ambara selalu ingat akan tanah leluhurnya di Bali dan darah yang megalir tetaplah Hindu walaupun diluarnya berkulit Jerman , demikian penjelasan Made Suta Ambara.

.

.

Lebih lanjut disaat sekarang anak-anak mereka sudah tumbuh besar, Made Suta Ambara bersama istrinya Ketut Suastiti Widhya Raksani terus menanamkan ajaran-ajaran agama hindu kepada anak-anaknya dirumahnya di Frankfurt walaupun anak-anak mereka mendapatkan pendidikan formal di sekolah dengan budaya barat. Setiap dua tahun sekali anak-anak mereka diajaknya berlibur ke bali mengunjungi sanak saudaranya serta mengunjungi kakek dan neneknya. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak mereka bisa terus memiliki ikatan kekeluargaan dengan keluarga besar mereka dibali.

.

Bahkan disaat bapak dan ibu dari Ketut Suastiti Widhya Raksani yaitu Bapak I Ketut Canderi B.A dan Ibu Ni Made Murni yang juga merupakan kakek dan nenek dari ketiga anak-anaknya melakukan upacara Dwijati yaitu menjadi seorang Brahmana dan bergelar Ida Pandhita Mpu Jayareka Tanaya serta Ida Istri Pandhita Mpu Jaya Reka Tanaya, ketiga anak-anak mereka ikut menyaksikan proses upacara Catur Asrama yang terakhir ( Brahmacari Ashrama, Grhasta Ashrama, Wanaprasta Ashrama, Bhiksuka Ashrama). Sehingga ajaran Hindu benar-benar tertanam hingga kesanubari anak-anaknya yang walaupun hidup dan sekolah di jerman tapi jauh di lubuk hati ketiga anak-anaknya tertanam ajaran kuat Hindu Dharma.

.

.

Itulah sebabnya ketika perayaan kuningan 24 Oktober 2009 di selenggarakan di kota Offenbach yang tidak jauh dari kota Frankfurt dimana keluarga Made Suta Ambara berdomisili, dan kebetulan istri tercinta beliau yaitu Ketut Suastiti Widhya Raksani dalam kepanitiaan perayaan Kuningan kemaren menanggung jawabi Banten, Made Suta Ambara begitu antusias mengijinkan istrinya untuk terlibat aktif di kepengurusan panitia perayaan kuningan ini, membantu istrinya membeli keperluan Banten di Bali hingga membawanya ke Jerman, membantu mendekorasi gedung museum hingga tampak cantik, serta membantu menjembatani warga bali dengan pihak pemilik gedung museum dan juga dengan pihak wartawan tulis jerman yang ingin mendapatkan penjelasan tentang hari raya suci Kuningan.

.

Disadari atau tidak, ketika perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di gedung museum Offenbach, dimana Made Suta Ambara sangat sibuk mendokumentasikan jalannya perayaan kuningan, dan ketut Suastiti juga sibuk menjadi panitia perayaan kuningan yang menanggung jawabi perihal Banten Kuningan dan bahkan ikut serta menari Janger dan Genjek, tapi ketiga anak-anak mereka yang memang dikenal dekat dengan kedua orang tuanya dan memang cukup rewel dirumahnya namun di saat perayaan kuningan mereka tiba-tiba menjadi anak-anak yang baik dan tidak banyak permintaan kepada orang tua mereka. Anak-anak mereka seperti mengerti betul apa tugas orang tuanya yang disaat perayaan kuningan tidak bisa di ganggu sehingga anak-anak mereka mencari teman sendiri yang seumuran yang baru mereka kenal saat itu dan bermain seadanya didalam gedung museum, demikian kata Made Suta Ambara yang juga di iyakan oleh istri tercintanya Ketut Suastiti Widhya Raksani – Flügel.

.

.

Saya sungguh sangat beruntung bisa berkenalan dengan keluarga Made Suta Ambara yang sangat ramah ini. Semoga dikemudian hari akan semakin banyak lagi muncul Made Suta Ambara yang lainnya di negeri Jerman ini ataupun di benua Eropa, yang secara sadar muncul dari lubuk hati sanubarinya memiliki ketertarikan mempelajari prinsip-prinsip ajaran suci Hindu Dharma yang memang bersifat universal. Dan harapan saya semoga keluarga Made Suta Ambara selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach (Frankfurt)

.

Sabtu Kliwon wuku Kuningan tanggal 24 Oktober 2009, umat Hindu dimanapun berada kembali merayakan rerahinan Kuningan, termasuk umat Hindu yang bermukim di Jerman dan sekitarnya, turut merayakan Kuningan yang perayaannya di pusatkan di kota Offenbach, yaitu sebuah kota yang berjarak sekitar 15km dari kota Frankfurt.

.

Tradisi merayakan Kuningan bersama umat Hindu yang berdomisili di Jerman sesungguhnya sudah di mulai sejak 2006 yang di prakarsai oleh sekelompok kecil ibu-ibu bali di Hamburg. Namun seiring berjalannya waktu perayaan Kuningan di Jerman tidak hanya dilaksanakan oleh kelompok-kelompok kecil, namun dirayakan dalam suatu wadah organisasi „Nyama Braya Bali Jerman“, yang menanggung jawabi seluruh umat Hindu (Bali) yang berdomisili di Jerman dan pelaksanaan perayaan kuningannya dilaksanakan secara bergilir dan bergantian di kota-kota yang berbeda. Adapun maksud dari perayaan Kuningan ini dilakukan secara bergilir dan bergantian di kota-kota yang berbeda adalah untuk memberikan kesempatan kepada setiap umat hindu di jerman untuk belajar menjadi penyelenggara. Dan maksud dari perayaan Kuningan ini diorganisir dalam suatu wadah organisasi NBB adalah dengan tujuan agar umat Hindu yang ada di Jerman dituntut untuk selalu ingat menyamabraya serta selalu meningkatkan persatuan dan solidaritas sosial.

.

Menyadari akan pentingnya persatuan dan kerukunan hidup merantau di negeri orang, Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani – Prior, ketua panitia perayaan Kuningan kali ini, sejak 8 juli mempersiapkan perayaan kuningan ini dengan sebaik-baiknya yaitu dengan membentuk panitia kecil untuk menanggung jawabi perihal banten, konsumsi, hiburan, sehingga umat hindu yang terlahir dengan memiliki Panca Indra (penglihatan, penciuman, peraba, parasa, pendengaran) yang hadir di perayaan kuningan ini bisa „melihat“ nuansa kebalian lewat dekorasi ruangan gedung yang di penuhi pernak-pernik Bali dan bisa melihat kesenian tari-tarian bali, bisa „mencium“ bau wewangian dupa ala di Bali, bisa „meraba“ bunga, kwangen, bija seperti layaknya sembahyang di bali, bisa „merasakan“ masakan khas bali seperti di bali, bisa „mendengarkan“ dentingan suara genta, kidung wargasari, gamelan gong bali seperti layaknya piodalan di Pura di bali.

.

Untuk bisa mewujudkan keinginan diatas pada saat perayaan kuningan kali ini yang jatuh tanggal 24 Oktober 2009 yang di Jerman sudah merupakan musim gugur dimana suhu cuaca sudah mulai mendingin hingga 2 derajat celcius, tempat penyelenggaraan Kuningan akhirnya diadakan disebuah gedung Museum yang berukuran cukup besar dan terletak ditengah jantung kota Offenbach (Frankfurt) yaitu di Deutsche Ledermuseum (atau dalam bahasa inggrisnya di kenal dengan nama German Leather Museum), yang memiliki letak geografis tepat di tengah-tengah negara Jerman sehingga bisa di akses dalam waktu singkat oleh umat hindu yang berdomisili di berbagai penjuru kota di jerman seperti dari Hamburg (utara), Munchen (selatan), Köln (barat), berlin (timur).

.

.

Lebih lanjut, untuk menemukan nuansa Kebalian di dalam ruangan gedung museum yang saban harinya biasa dipakai sebagai „convention center“ tempat pertunjukkan dengan kapasitas 300 tempat duduk, umat hindu yang berdomisili di daerah Frankfurt dan sekitarnya, bekerja bersama-sama mendekorasi ruangan gedung agar tampak terlihat cantik dan memberikan segala yang mereka miliki dirumahnya (seperti lukisan bali, kain prada, kain poleng, patung bali) untuk di pajang didalam gedung menyebabkan ruangan gedung museum sekilas tampak mirip „art shop“ di bali, dan panggung pertunjukkannya pun dihias dengan altar tempat banten sehingga sekilas tampat seperti jaba pura dengan latar belakang „apit lawang“ (pintu gerbang Pura).

.

Hiasan lain yang tampak didalam ruangan gedung museum adalah Tamiang. Disamping karena disain Tamiang yang memang terlihat cantik, namun dibalik nilai seni yang tinggi yang ditunjukkannya, Tamiang juga mengandung makna spiritual didalamnya. Tamiang yang merupakan ciri khas Kuningan yang berasal dari kata tameng yang berarti alat penangkis senjata dan memiliki makna perlindungan serta memiliki makna sebagai lambang Dewata Nawa Sanga, karena menunjuk sembilan arah mata angin, menghiasi di hampir setiap sudut bangunan gedung Museum tempat terselenggaranya Perayaan Kuningan kali ini. Sehingga siapapun yang hadir di perayaan kuningan kali ini akan merasakan kenyamanan dan merasa terlindungi dari setiap godaan dan mara bahaya yang datang.

.

Selain tamiang, yang biasa didapati didalam setiap perayaan Kuningan adalah “endongan”. Namun dalam perayaan Kuningan di Offenbach kali ini, keberadaan Endongan ini oleh Ketut Suastiti Widhya Raksani – Flügel yang menanggung jawabi perihal Banten Kuningan ini, diganti dengan sekumpulan dedaunan yang mudah didapati di Jerman, sesuai dengan prinsip Desa Kala Patra. Selain menunjukkan kesejukan dari pancaran warna hijau dedaunan, terselip makna yang tersirat dari keberadaan “endongan” ini yaitu sebagai pembekalan. Dimana “bekal” yang paling utama dalam mengarungi kehidupan adalah “ilmu pengetahuan dan bhakti (jnana)”. Sementara „senjata“ yang paling ampuh adalah „ketenangan pikiran“. Ketenangan pikiran ini yang tak dapat dikalahkan oleh senjata apa pun. “Ikang manah pinaka witing indra“, yang berarti pikiran itu sumber dari indria. Oleh karenanya senjata pikiranlah yang paling ampuh dan utama dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, baik itu hidup di bali ataupun hidup merantau di jerman. Pesan moral itulah yang ingin disampaikan kepada setiap umat hindu yang hadir di perayaan kuningan di Offenbach.

.

Jadi ketika merayakan Kuningan, Batara-Batari diyakini turun dari kahyangan, dan kemudian kembali lagi ke alamnya sebelum tengah hari (jam 12 di siang hari). Karena itu pada perayaan Kuningan di Offenbach jalannya upacara sengaja di atur sehingga persembahyangan selesai tepat sebelum jam 12.00 di siang hari waktu setempat, dengan maksud agar kita sebagai umat Hindu walaupun merantau jauh hingga ke Jerman, namun tetap bisa melaksanakan „khusuknya“ perayaan Kuningan seperti apa yang tersirat dari makna perayaan Kuningan itu sendiri layaknya kita merayakan Kuningan di Bali. 

.

Jalannya Perayaan Kuningan

.

Seperti layaknya persembahyangngan di Bali, persembahyangan di Offenbach di mulai dengan tarian Rejang Dewa yang di tarikan oleh hampir setiap wanita bali yang menghadiri persembahyangan. Seperti di sebutkan dalam Lontar “Usana Bali” bahwa Tari Rejang adalah simbol widyadari atau bidadari yang turun ke dunia menuntun Ida Bhatara pada waktu melelasti. Dan makna yang tersirat dari tarian ini dihayati benar-benar oleh para wanita bali ketika menarikan tarian Rejang Dewa ini diatas panggung persis terletak didepan altar banten sehingga memancarkan vibrasi kesakralan didalam gedung Museum tempat perayaan kuningan ini.

.

.

Setelah selesainya tarian rejang dewa ini , kemudian jalannya upacara diikuti dengan mekidung bersama untuk memuji kemuliaan Ida Sang Hyang Widi Wasa, salah satunya kidung wargasari. Selanjutnya Tri Sandya dan jalannya upacara dipimpin oleh Gede Brahmantara, seorang mahasiswa yang saat ini sedang menuntut ilmu jurusan Teknik Elektro di uni Hannover Jerman. Tepat sebelum jam 12 siang, persembahyangan diakhiri dengan membawa semua Banten yang dipersiapkan oleh Ketut Suastiti Widhya Raksani – Flügel, selaku penanggung jawab Banten perayaan Kuningan ini, dibawa keliling ruangan dan halaman depan gedung museum oleh para wanita yang hadir dan di iringi dengan gamelan Bleganjur yang dimainkan oleh para laki-laki yang hadir di perayaan Kuningan, seperti tampak digambar berikut:

.

.

Seyogyanya sebelum mengelilingkan Banten Kuningan, menurut susunan acara yang telah dipersiapkan, ketika persembahyangan manca puspa dan meketis tirta usai, selanjutnya akan diikuti dengan Dharma Wacana yang akan di isi oleh salah satu utusan umat hindu dari Belgia yang akan memperkenalkan Pura Agung Santi Bhuwana di Brugelette Belgia, namun program ini urung di selenggarakan karena umat yang telah selesai sembahyang langsung bergegas mengambil Banten untuk dibawa keliling gedung museum. Kalau ditelusuri lebih lanjut, secara tidak sadar sesungguhnya Ida Sang Hyang Widi Wasa telah pula mengingatkan kepada kita semua agar persembahyangan Kuningan di Offenbach diselesaikan tepat sebelum jam 12.00 waktu Offenbach, sehingga Batara-Batari yang kita yakini turun dari kahyangan, dan kemudian kembali lagi ke alamnya sebelum jam 12.00 tengah hari.

.

Hidangan Makanan Khas Bali

.

Setelah umat selesai mengelilingkan banten hingga kedepan gedung museum, Banten pun kembali ditempatkan di altar didepan panggung. Anak-anak kecil yang mungkin memang sudah waktunya untuk bersantap makan siang berhamburan mendekati stand konsumsi, yang diperayaan Kuningan ini ditangggung jawabi oleh Putu Ari Cahyani – Burth. Setali tiga uang dengan para orang dewasa dan para orang tua yang hadir ikut serta pula berhamburan mendekati stand konsumsi yang menyajikan menu utama Babi Guling serta Lawar Bali. Agar lawar Bali terasa hangat dan enak disantap, para laki-laki Nyama Braya Bali seperti Cokorda „lilush“ Widnyana, Wayan Pica, Komang Arnawa, Ketut Sugiri, Wayan „Abuth“ Suryana, Wayan terima, turut serta bahu membahu „ngadon“ lawar bali. Para undangan umum yang sebagian besar warga berkebangsaan jerman, yang memang tidak memiliki pantangan akan makanan khas bali, ketika baru memasuki gedung museum langsung berdiri berjejer ngantre untuk menikmati hidangan makanan khas Bali ini.

.

Sambutan dan Hiburan

.

Setelah hampir sekitar 1,5 jam lamanya waktu jeda untuk menikmati hidangan makanan siang, umat hindu beserta keluarganya yang berjumlah sekitar 100 orang lebih, ditambah undangan umum yang berjumlah sekitar 300 orang, kemudian di panggil untuk kembali ke gedung untuk meneruskan acara selanjutnya, dipandu oleh dua MC, yaitu Gusti Ayu Yunita – Purwanto (MC berbahasa Jerman) dan Yuda Yadnya (MC berbahasa Indonesia).

.

Program acara kesenian yang ditanggung jawabi oleh Ketut Sri Artini – Grosse bekerja sama dengan sanggar tari Bali Puspa Koeln ( http://www.balipuspa.de ), menyusunnya dengan diawali suguhan gamelan “Kompyang” tanpa diiringi tarian, yang dimaksudkan untuk memanggil para hadirin untuk menempati posisi duduk yang telah di sediakan dan memfokuskan perhatiannya ke panggung. Setelah itu acara dilanjutkan dengan acara pengukuhan pengurus NBB (Nyama Braya Bali) Jerman periode 2009 – 2011 dengan ketuanya yaitu Ibu Gusti Ayu Suputri Sudjiwa. Ibu Suputri dalam sambutan sepatah katanya mengajak setiap umat hindu yang ada di jerman untuk mempererat jalinan „menyama braya“ di rantau dan ikut serta memajukan organisasi Nyama Braya Bali di Jerman. Selanjutnya Kepala Perwakilan KJRI Frankfurt ( Diddy Hermawan ) yang turut hadir di perayaan kuningan dalam sambutannya mengatakan merasa bangga dengan kegiatan kelompok Nyama Braya Bali di Jerman, yang selain merayakan hari raya suci agama Hindu, juga melakukan kegiatan promosi kebudayaan dan kesenian, yang menurutnya secara tidak langsung ikut serta membantu menjalankan program pemerintah Indonesia, khususnya dibidang pariwisata. Lebih lanjut pak Diddy menambahkan, dengan telah diresmikannya kepengurusan organisasi „Nyama Braya Bali Jerman“ di hari perayaan kuningan ini, pak Diddy hermawan selaku wakil pemerintah indonesia di Jerman, akan mendaftarkan organisasi NBB agar bisa diakui oleh KBRI. Sehingga bila KBRI Jerman memiliki program acara sosial kemasyarakatan, perkumpulan „Nyama Braya Bali Jerman“ bisa dilibatkan atas nama organisasi.

.

.

Setelah acara sambutan, acara kemudian dilanjutkan dengan program hiburan dengan urutan tarian Rejang Dewa, Sekar Jagat, Mergepati, Joged Bumbung. Sebagian besar dari tarian ini di iringi dengan musik gamelan live dari sekehe gong Bali Puspa Koeln pimpinan Made Sukasta Mindhoff dan Nyoman Suyadni Mindhoff, yang sebagian besar penabuhnya adalah warga jerman.

.

.

Salah satu tarian yang ditampilkan di program hiburan sesi pertama, Tari Sekarjagat, yaitu tarian penyambutan yang menggambarkan kegembiraan para penari dalam menyamut para tamu yang hadir serta menceritakan tentang kecantikan dan keluwesan para gadis sebagai ungkapan bunga bumi (keindahan), dipentaskan oleh Nyoman Suyadni Mindhoff, bersama dua gadis kakak beradik berkewarganegaraan jerman ( Chrisi Galias, Vreni Galias). Tari Sekar Jagat yang diciptakan oleh Bapak Swasthi Widjaya Bandem (sekaligus penata busana) dan gambelan (music traditional bali ) diciptakan oleh Bapak I Nyoman Windha pada tahun 1993 dalam rangka Pembukaan Pameran Wastra Bali di Jakarta, yang lasim digunakan dalam pembukaan suatu acara, dipertunjukkan oleh Chrisi dan Vreni Galias dengan gerakan tangan yang lemah gemulai ditambah dengan senyumnya yang memang manis menunjukkan Chrisi dan Vreni mengerti betul akan makna yang tersirat dari tarian sekarjagat ini. Chrisi dan Vreni yang berlatih tari di sanggar tari Bali Puspa Köln melakukan tugasnya dengan baik dan undangan public yang sebagian besar warga jerman yang menghadiri acara hiburan perayaan Kuningan inipun terkagum-kagum dibuatnya dan „di hipnotis“ seolah-olah para penonton sedang berada di Bali.

.

.

Sebelum program hiburan sesi pertama di akhiri, tarian Joged bumbung yang memang ditunggu-tunggu hadirin baik itu warga bali ataupun para tamu, ditampilkan dengan beberapa pengibing, salah satunya yang beruntung memiliki kesempatan ngibing adalah kepala perwakilah KJRI Frankfurt Bapak Diddy Hermawan dan beberapa warga jerman.

.

.

Jeda istirahat selama 30 menit yang diperuntukkan kepada pengunjung umum dengan maksud agar mereka bisa menikmati hidangan jajanan khas bali, para tamu juga di manjakan dengan suguhan gamelan Bleganjur dari warga bali yang mengiringi para wanita bali membawa Banten keliling gedung museum. Selanjutnya program hiburan sesi kedua kemudian dimulai dengan tari Pendet, tari Telek, tari Sadripu, tari Joged serta di tutup dengan tarian Janger dan Genjek, yang tentunya suguhan tari-tarian di sesi kedua ini tidak kalah serunya dengan pertunjukkan di sesi pertama.

.

Dari beberapa tarian yang ditampilkan di sesi kedua, tampak tarian Sadripu yang dipertunjukkan oleh seorang pria berkebangsaan Jerman bernama Patric, mendapatkan applaus dari para hadirin. Bagi warga bali yang hadir, gerakan tarian dari Patric mengingatkan kita akan legendaris tari bali almarhum Wayan Maria yang lebih sering dikenal dengan nama „Mario“ yang dijaman dulu mempopulerkan tarian terompong, tari kebyar duduk, dll. Pun demikian dengan Patric yang memperagakan tarian Sadripu, yaitu tarian yang di ilhami dari 6 sifat-sifat binatang dalam diri manusia (sadripu) yakni kama (nafsu negatif), krodha (kemarahan), mada (kemabukan), lobha (kerakusan), irsya (iri/dengki) dan moha (kegelapan bathin) yang harus diatasi dan di kendalikan, memukau hadirin dengan gerakan bola matanya yang lincah dan sorotan matanya yang tajam.

.

.

Selain Tarian Sadripu yang memukau penonton, tarian Janger dan Genjek yang dipentaskan oleh sekelompok wanita Nyama Braya Bali Jerman yang sebelumnya melakukan latihan bersama di sanggar tari Bali Puspa Köln ini pun mendapatkan applaus yang cukup tinggi dari penonton. Sebagaimana banyak dikisahkan dalam tarian janger di bali, Tari Janger yang di pertunjukkan di perayaan Kuningan di Offenbach juga menceritakan tarian tentang kelompok muda-mudi yang lagi dimabuk asmara. Mereka bertembang bersautan tentang kisah-kisah asmara, dimulai dari cara berkenalan, menanyakan identitas, dan menjurus ke rayuan. Semuanya dilakukan dengan riang gembira.  Selain karena tarian Janger dan Genjek memiliki lirik lagu yang cukup sederhana dan mudah untuk di lafalkan dan di hapalkan, bahkan mudah untuk di ingat karena bahasanya yang sarat lelucon (komedi), maka penonton yang hadir pun dengan mudah pula untuk menirukan lirik lagunya, yang membuat akhir dari acara hiburan di sesi kedua ini ditutup dengan tepuk tangan yang sangat meriah. Bahkan sebagian besar dari pengunjung memohon agar program tariannya untuk dilanjutkan lagi.

.

.

Penutup

.

Tamu yang hadir yang sebagia besar adalah warga berkebangsaan jerman serasa benar-benar menemukan Bali sehari di Jerman, mulai dari dekorasi disain interior ruangan pertunjukkan yang penuh dengan pernak-pernik bali, kemudian suguhan makanan yang kental dengan khas bali didukung dengan menu utama Babi Guling khas Bali, dan yang terakhir dengan hiburan tari-tarian Bali yang sebagian besar diiringi dengan gamelan live dari sekehe gong „bali puspa“ membuat suasana didalam ruangan gedung museum sangat berkesan dihati para pengunjung. Bahkan di akhir acara pengunjung wanita jerman yang sudah lanjut usia memohon kepada Ketut Suastiti Widhya Raksani – Flügel, yang menanggung jawabi perihal Banten ini, agar boleh minta dan membawa pulang „Tamiang“ yang merupakan ciri khas perayaan kuningan.

.

Di akhir acara ketika para hadirin bersiap untuk pulang meninggalkan gedung museum, Ketut Adnyana yang sedari awal mendatangkan 100 majalah Media Hindu dari Jakarta berjaga di meja layanan di dekat pintu gerbang pintu keluar gedung museum. Adapun maksud dari menyediakan majalah Media Hindu yang berisi penjelasan tentang Pura di Belgia adalah selain untuk memberikan informasi kepada umat Hindu yang ada di Jerman yang berkumpul di acara perayaan Kuningan ini tentang keberadaan Pura Hindu yang ada di Belgia, juga untuk memperkenalkan majalah Media Hindu kepada warga bali di Jerman yang sekiranya berminat untuk berlangganan setiap bulannya agar bisa terus mendapatkan update informasi tentang kegiatan umat hindu di tanag air ataupun kegiatan umat hindu di Bali. Beberapa dari pengunjung, khususnya umat hindu, ada yang tertarik untuk berlangganan, dengan harapan agar bisa mendapatkan berita kegiatan umat ditanah air dan ada juga yang berkomentar ingin belajar tentang agama hindu melalui membaca buku-buku ataupun membaca majalah.

.

Terimakasih

.

Dengan suksesnya perayaan kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach ini, sebagai warga bali yang merantau di Jerman, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada ketua panitia yaitu Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani – Prior yang telah bekerja keras „ngayah“ untuk mempertemukan kami warga bali di hari raya suci umat hindu sehingga kami bisa saling kenal dan lebih dekat menyama braya bali tidak hanya dengan warga bali yang berdomisili di Jerman, melainkan juga ada warga bali yang hadir dari Brussel Belgia, Paris Perancis, Zurich Swiss, Oslo Norwegia. Semoga amal bakti dari Ibu Gusti Ayu Made Wiyogani – Prior diberkati dan diberikan panjang umur oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa. Warga indonesia lainnya yang juga turut hadir dari berbagi kota di jerman seperti dari kota Erlangen, kota Nurnberg, juga menyampaikan kekaguman mereka akan kompaknya warga bali di Jerman dengan selalu mempromosikan kebudayaan Indonesia lewat pertunjukkan tari-tarian Bali yang memang sangat digemari warga Jerman.

.

Terimakasih juga saya alamatkan kepada Ketua organisasi Nyama Braya Bali Jerman yang baru terpilih, yaitu Ibu Gusti Ayu Suputri Sudjiwa, yang pada saat memberikan sambutan berjanji akan memajukan organisasi Nyama Braya Bali sebagai organisasi untuk memperat tali persaudaraan „menyamabraya“ di rantau di negeri Jerman. Terimakasih juga saya alamatkan kepada Karl-Heinz Flügel (suami dari Ketut Suastiti, seksi Banten Kuningan), yang sedari awal banyak membantu tidak hanya seputar Banten Kuningan tapi juga seputar dekorasi sehingga gedung museum terlihat tampak cantik. Terimakasih juga kepada Sangar tari Bali Puspa pimpinan Made Sukasta Mindhoff yang telah banyak berkorban demi mensukseskan jalannya acara kesenian perayaan kuningan di Offenbach, termasuk terimakasih atas dukungan Made Agus Wardana dan Wayan Sudiartawan yang ikut aktif sedari latihan awal mendukung Balipuspa. Dan tentunya terimakasih kepada setiap umat hindu yang telah bergotong royong bahu membahu yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah aktif mensukseskan jalannya perayaan kuningan 24 Oktober 2009 di Offenbach.

.

Renungan

.

Sebagai generasi penerus Hindu, kita memang sudah sepantasnyalah merayakan Galungan dan Kuningan tidak hanya dengan merayakannya sebagai sebuah rutinitas setiap 210 hari, ataupun hanya memaknainya sebagai sebuah kemenangan Dharma melawan Adharma. Tapi juga bisa „mengajegkan Dharma yang telah di menangkan“, yaitu dengan mengisi kegiatan sehari-hari kita dengan kegiatan yang bermanfaat buat orang banyak ataupun membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada.

.

Seperti tersirat dari makna perayaan kuningan yang sering kita jumpai dalam simbol-simbol, seperti „Tamiang“ yang berasal dari kata tameng yang berarti alat penangkis senjata. Dimana sebagai alat penangkis, tamiang berfungsi sebagai lambang perlindungan. Di samping itu, tamiang juga sebagai lambang Dewata Nawa Sanga, karena menunjuk sembilan arah mata angin. Tamiang juga melambangkan perputaran roda alam — cakraning panggilingan. Lambang itu pulalah yang mengingatkan manusia pada hukum alam. Jika masyarakat tak mampu menyesuaikan diri dengan alam, atau tak taat dengan hukum alam, risikonya akan tergilas oleh roda alam.

.

Selain tamiang, dalam perayaan Kuningan juga terdapat endongan yang bermakna perbekalan. Bekal yang paling utama dalam mengarungi kehidupan adalah ilmu pengetahuan dan bhakti (jnana). Sementara senjata yang paling ampuh adalah ketenangan pikiran. Ketenangan pikiran ini yang tak dapat dikalahkan oleh senjata apa pun.

.

Ikang manah pinaka witing indra, yang artinya pikiran itu sumber dari indria. Itu berarti senjata pikiranlah yang paling ampuh dan utama dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, baik itu hidup di indonesia ataupun hidup dirantau di negeri Jerman.

.

Lewat perayaan Kuningan 24 Oktober 2009 di Deutsche Ledermuseum Offenbach , kita semua diharapkan untuk terus mengasah ilmu pengetahuan kita sebagai bekal untuk melaju di era globalisasi ini dan menggunakan ketenangan pikiran sebagai senjata utama alam rangka untuk mencapai „santha jagadhita“ atau kerahayuan atau keharmonisan yang langgeng. Semoga.

.

.

Sumber Foto: Made Sukasta Mindhoff, Frank Gustav Mindhoff, Made Melani, Yani Prem, Isti Dhaniswara, Desak Astuti Jablotskin, Putu Alex, Ketut Sri Artini - Grosse.

Desa adat Kemoning terletak di lingkungan Semara Pura Klod, kecamatan Klungkung, kabupaten Klungkung Bali. Karena berkembangnya pusat kota, desa adat ini sekarang justru terletak di pusat kota Klungkung. Walaupun demikian desa adat Kemoning merupakan desa yang memiliki fitur-fitur sehingga masih sangat tepat disebut sebagai sebuah desa adat. Pura puseh dan bale agung yang merupakan bagian dari khayangan tiga terletak tepat di pusat desa berdampingan dengan balai desa yang megah dan bersejarah. Pura dalem terletak di sebelah barat setra diempon bersama-sama desa adat Budaga.

Terdiri dari lima banjar, Sari, Pegulingan, Kemoning, Atu dan Delod Titi, terdapat sekitar 278 Kepala Keluarga (KK) yang bersifat marep (menetap) dan sekitar 200 KK yang berdiam di luar daerah kemoning, bahkan di luar Bali yang secara rutin berinteraksi baik melalui kegiatan keagamaan maupun kegiatan sosial lainnya.

Desa adat Kemoning telah menjadi saksi perkembangan jaman mulai dari generasi dimana para penduduknya sebagian besar mengandalkan pertanian sebagai tulang punggung kehidupan. Sawah di Uma Bajing dan Uma Lemek murupakan lumbung padi yang sangat besar dengan produksi tinggi. Tukad Cangkung dan Tukad Jinah menjadi sumber air yang tidak pernah terputus mengairi areal persawahan yang selalu hijau dan kuning sepanjang tahun.

Jaman berubah, berubah pula orientasi masyarakat untuk mempertahankan hidupnya. Sawah nah luas sudah tidak lagi terbentang tergantikan oleh lokasi-lokasi pemukiman baru. Tidak ada lagi sawah yg harus dipanen seiring dengan berkurangnya minat para generasi muda untuk mewarisi keahlian orang tuanya untuk bertani. Kebanyakan kini sudah memilih dan memiliki ‘kesadaran’ akan arti pentingnya pendidikan tinggi untuk mampu bersaing di dunia global.

Dengan semakin banyaknya generasi muda warga Desa Adat Kemoning yang meneruskan pendidikannya ketingkat lebih lanjut, kemudian muncul keinginan untuk bisa berkontribusi terhadap desa tanah kelahirannya. Salah satunya dengan mencoba membuatkan website http://kemoning.info dan milis tempat berdiskusi kemoning@yahoogroups.com yang berfungsi untuk mempertemukan setiap warga Kemoning yang merantau keluar daerah untuk bisa bertukar pikiran demi kemajuan Desanya.

Banjar Internet Kemoning

Merasa tidak cukup dengan hanya berdiskusi antar sesama warga Kemoning yang merantau keluar  Desa, yang umumnya memiliki akses ke dunia internet, kemudian ada keinginan dari para muda-mudi warga Kemoning untuk bisa melibatkan warga kemoning lainnya yang berdomisili di wewengkon Desa Adat Kemoning. Namun untuk bisa melibatkannya, terlebih dahulu diperlukan usaha untuk menumbuh kembangkan minat warga kemoning lainnya dalam dunia IT. Salah satu caranya adalah dengan mewujudkan jaringan Internet HotSpot (WIFI) di Bale wantilan Desa Adat Kemoning. Pemasangan perlengkapan IT (Hardware) seperti Antena monopol, radio nano station dan sebuah router-acces point, akhirnya bisa di realisasikan setelah upacara piodalan Purnama Kapat 3 Oktober 2009. Dan diresmikan pada hari rabu tanggal 14 Oktober 2009 yang bertepatan dengan hari raya Galungan.

Peresmian di hadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Klungkung, staf Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil Kabupaten Klungkung yang banyak membantu pengembangan Jardiknas di Kabupaten
Klungkung (Bapak Wayan Sudiarsa), para Jero Klian Desa Adat Kemoning, serta warga Desa Kemoning baik yang tua maupun yang masih duduk di bangku sekolah.

Yang unik dari peresmian Jaringan Internet WIFI ini adalah hampir sebagian besar warga kemoning yang masih duduk di bangku sekolah membawa serta Laptop masing-masing. Kepala Dinas Pendidikan Klungkung dalam sambutannya menyampaikan rasa gembiranya akan minat dari generasi muda Kemoning yang tinggi akan dunia IT, serta berterimakasih kepada kelompok muda-mudi Kemoning yang secara swasembada sudah mewujudkan perangkat ITnya.

Setelah selesai acara sambutan,  acara kemudian dilanjutkan dengan demo pengenalan jaringan WIFI dengan melakukan  Video-Conference dengan salah satu warga kemoning yang merantau di Jerman dan di Jakarta. Pada kesempatan ini juga baik bapak kepala dinas pendidikan klungkung ataupun Jero Klian Desa Adat Kemoning, mengharapkan partisipasi aktif dari warga Kemoning yang merantau untuk terus bisa berbagi informasi ataupun berbagi pengalaman demi kemajuan Desa Adat Kemoning.

Dengan adanya jaringan internet WIFI di wantilan desa adat kemoning ini, menjadikan wantilan Desa Kemoning yang baru di renovasi menjadi semakin terlihat megah dan memiliki kegunaan multi fungsi. Wantilan ini tidak hanya bisa digunakan sebagai tempat berkumpulnya warga Kemoning untuk paum, sangkep, ataupun latihan megambel bagi sekehe gong dewasa, sekehe gong anak-anak, dan sekehe gong wanita. Tapi juga mulai sekarang ini menjadi tempat berkumpulnya warga untuk melakukan surfing internet.

Untuk lebih mendayagunakan keberadaan jaringan internet WIFI ini, Jero Klian Desa Adat kemoning bekerjasama dengan Sekehe Teruna Teruni Desa Adat Kemoning dan Yayasan Dharma Yasa Kertha Mandala Kemoning yang menanggung jawabi bidang pendidikan, akan menyelenggarakan program pelatihan komputer bagi warga Desa. Hal ini dimaksudkan, dengan alasan bahwa jaringan internet didesa Kemoning ini di suply oleh Dinas Pendidikan Klungkung (Jardiknas), oleh karenanya sudah sepantasnyalah keberadaan jaringan internet WIFI ini digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan warga desa Kemoning, khususnya di bidang IT. Lebih jauh dari itu, salah satu warga kemoning yang saat ini merantau di Jakarta, berkeinginan agar setiap kegiatan Paum dan Sangkep yang diadakan di wantilan Desa Adat Kemoning bisa juga di ikuti oleh warga kemoning yang merantau keluar desa, tentunya dengan menggunakan konsep tele-conference.

Bagaimana asal muasal keberadaan Internet di desa kemoning sehingga bisa diwujudkan.

Jaringan Internet WIFI yang ada di Kemoning ini adalah merupakan pilot project dari Dinas Pendidikan Klungkung, dan merupakan bagian dari program Jardiknas Kabupaten Klungkung dalam rangka memasyarakatkan ICT (Information Communication Technology) melalui jalur pendidikan masyarakat dan non-formal.  Target dari program Jardiknas ini adalah membangun “telecentre” di berbagai titik komunitas penduduk. Jadi “Banjar Internet” yang terdapat di Desa Adat kemoning ini dapat dianggap sebagai perwujudan program Telecentre Jardiknas Kabupaten Klungkung, yang di kabupaten Klungkung aktif di sosialisasikan oleh Bapak Wayan Sudiarsa ( staf Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Klungkung yang memang dikenal memiliki keahlian di bidang IT), salah satunya disosialisasikan di milis Klungkung@yahoogroups.com .

Program „Banjar Internet“ di Klungkung

Menurut penuturan Bapak Wayan Sudiarsa di milis Klungkung@yahoogroups.com , dalam rangka memasyarakatkan internet dan menumbuh kembangkan minat dunia IT dikalangan masyarakat Klungkung, pengembangan hotspot di “public area” perlu untuk di perbanyak. Saat ini baru terdapat HotSpot di dua lokasi di pusat kota klungkung yaitu, seputaran monumen dan lapangan umum Puputan Klungkung.

Di kemudian hari pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Klungkung berkeinginan untuk memperbanyak jumlah titik HotSpot karena memang memiliki anggaran untuk pengadaan piranti seperti ini, namun untuk sementara difokuskan untuk pemeliharaan titik jaringan yang sudah ada serta pemasangan titik baru pada SD di daratan kabupaten Klungkung (minimal 5 titik) dan 3 titik pada SMP di Nusa Penida yang belum terkoneksi ( SMP N 3 Nusa Penida dan dua SMP Satu Atap). Total sekolah yang sudah terkoneksi hingga saat ini mencapai 40 sekolah, semuanya memiliki fasilitas acces point dan bisa digunakan oleh masyarakat umum.

Dengan adanya BTS di SDN 1 Semarapura Tengah yang terletak bersebelahan dengan lapangan Puputan Klungkung, sesungguhnya di sekitar Lapangan Puputan Klungkung pun warga masyarakat khususnya anak-anak muda dapat menikmati akses internet gratis, cuman ada passwordnya. Lebih lanjut Bapak Wayan Sudiarsa menuturkan, dalam rangka pengoptimalan penggunaan internet di kalangan generasi muda dan warga masyarakat, kami juga memberi kesempatan kepada penyelenggara pendidikan non formal seperti kursus-kursus atau bimbingan belajar untuk mendapat akses internet gratis dari Jardiknas Klungkung. Wayan Sudiarsa bersama Dinas Pendidikan Klungkung juga siap duduk bersama untuk membicarakan koneksi Jardiknas ke banjar-banjar di Klungkung, dengan persyaratan : ada pengelola pasti di banjar setempat, siap mensharing jaringannya ke sekolah terdekat, siap dengan dana untuk membiayai infrastrukturnya. Kami akan sangat senang jika ada banyak banjar seperti banjar Kemoning…dan kami siap membackup semuanya dengan berbagai program ataupun bantuan yang memungkinkan.

Selain mengutarakan kesanggupan diatas, bapak Wayan Sudiarsa juga mengutarakan mimpi-mimpinya yang ingin di wujudkannya di kabupaten Klungkung, kabupaten yang wilayahnya terkecil di Bali namun dijaman Waturenggong merupakan pusat kerajaan di Bali, yakni pengembangan telecentre pada berbagai pusat kegiatan masyarakat seperti pasar, tempat rekreasi, ataupun tempat keramaian lainnya. Namun untuk sementara ini semuanya masih terkendala pada biaya untuk pengadaan hardware dan ongkos jaga brainwarenya. Dimana di setiap lokasi diperlukan masing-masing sebuah radio patchfanel sebagai receiver, antena OMNI dengan radionya untuk hotspot dan pipa monopole. Biaya pengadaan masing-masing sekitar 4 - 5 jutaan..

Keinginan lain yang ingin di wujudkan oleh Bapak Wayan Sudiarsa adalah meningkatkan akses penggunaan internet khususnya pada jam-jam sore hingga malam hari serta memeratakan akses internet ke seluruh institusi pendidikan di Kabupaten Klungkung. Tujuan ini  dilandasi oleh tantangan Pustekkom Depdiknas yang menyatakan akan menaikkan bandwith Jardiknas jika traffic pemakaiannya semakin tinggi, dan ini terbukti dengan naiknya bandwith Jardiknas Klungkung dari 1 MB menjadi 2 MB. Tujuan lainnya terkait dengan keinginan untuk mengkoneksikan seluruh sekolah di Kabupaten Klungkung dengan Jardiknas dalam rangka mendukung e-learning dan e-administration. Jika banjar sudah terkoneksi, seperti yang sudah diwujudkan di Desa Adat kemoning, maka sekolah di sekitarnya pun akan dapat terkoneksi dengan Jardiknas baik melalui wireless ataupun LAN (kebetulan di Banjar Kemoning ada TK PADU).

Demikianlah singkat cerita asal muasal keberadaan jaringan internet WIFI di wantilan Desa Adat Kemoning, yang jaringannya mendapatkan dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Klungkung lewat program Jardiknas. Ketika informasi ini disosialisasikan oleh Bapak Wayan Sudiarsa di milis Klungkung@yahoogroups.com, para muda-mudi Kemoning pun bergerak cepat untuk mewujudkannya di wantilan Desa Adat Kemoning. Bagai pucuk dicinta ulam tiba, ketika wacana ini disosialisasikan kepada Jero Klian Desa Adat kemoning serta kepada para penglingsir di lingkungan Desa Adat, gayung pun bersambut, para pinih sepuh desa adat Kemoning pun menyetujuinya dan memberikan ijin untuk di pasang di wantilan desa kemoning, dengan satu pesan keberadaan jaringan internet WIFI ini bisa digunakan untuk kegiatan yang positive dan untuk menumbuhkan minat dunia IT bagi warga kemoning,.

Tanpa bermaksud mengabaikan jenis pekerjaan bertani, yang merupakan warisan turun temurun dari masyarakat di Kemoning, bekal penguasaan IT selain tentunya bekal kemampuan berbahasa asing, diyakini para muda-mudi Kemoning suatu saat nanti akan sangat penting untuk bisa melaju mengikuti perubahan jaman.  Oleh karenanya warga kemoning nantinya memang harus bisa “menari” mengikuti irama gendangnya sang waktu.

Semoga pilot project “Banjar Internet” di desa kemoning ini bisa di ikuti jejaknya oleh desa-desa lainnya di lingkungan kabupaten klungkung ataupun desa-desa yang ada di provinsi bali ini, sehingga kedepannya akan semakin banyak sumber daya manusia Bali yang semakin berkompeten dan memiliki kualifikasi yang tinggi demi kesejahteraan kita semua.

Akhir kata, dengan diresmikannya jaringan internet WIFI di wantilan desa adat kemoning di hari raya suci umat hindu Galungan 14 Oktober 2009, semoga bisa semakin memantapkan keyakinan kita akan makna dari hari raya Galungan itu sendiri, dimana kita sebagai generasi penerus Hindu, kita telah “ngajegang dharma” yang telah di menangkan, dengan mengisi hari-hari kita dengan kegiatan yang bermanfaat buat orang banyak..

HARI ini, sehari sebelum hari raya Galungan umat Hindu di Bali umumnya menyiapkan perayaan Galungan dengan memotong hewan seperti ayam dan babi untuk pesta perayaan Galungan. Pengertian itu sesungguhnya suatu pemahaman yang sangat awam, namun hal itulah yang jauh lebih mentradisi daripada arti sesungguhnya Penampahan Galungan itu.

Penampahan Galungan dalam wujud ritual dirayakan dengan upacara Natab Sesayut Penampahan atau disebut dengan Sesayut Pamyak Kala Laramelaradan. Makna dari prosesi ritual ini adalah untuk mengingatkan umat agar membangun kekuatan Wiweka Jnyana atau membangun kekuatan diri untuk mampu membeda-bedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang buru. Mana yang patut dan mana yang tidak patut.

Dengan demikian secara tegas dapat kita menghindar dari kesalahan-kesalahan yang dapat membawa kita pada kehidupan yang adharma. Jadi penyembelihan ayam dan babi itu sesungguhnya sebagai simbol untuk menyembelih sifat-sifat serakah suka bertengkar seperti sifat buruk dari ayam dan sifat-sifat malas pengotor seperti babi. Karena binatang itu juga memiliki sifat-sifat baik secara instingtif. Tentunya akan menjadi mubazir kalau perayaan hari Penampahan ini kita rayakan hanya dengan pesta-pesta. Hendaknyalah disertai renungan untuk dengan sungguh-sungguh kita berusaha untuk menyembelih sifat-sifat malas dan serakah yang mungkin masih melekat dalam diri kita. Dengan demikian saat Galungan berikutnya kita sudah menjadi lebih baik dari Galungan sebelumnya.

Salah satu sumber penderitaan umat manusia di dunia ini adalah karena sering dibelit oleh sifat malas namun serakah. Ingin hidup enak dan senang tetapi malas berusaha. Inilah musuh manusia yang sering menyelinap dalam dirinya. Dalam merayakan hari raya Galungan sebagai hari untuk mengingatkan umat manusia agar senantiasa menyadari dirinya sering kalah melawan kemalasan dan keserakahan. Sebagai akibatnya manusia pun menderita karena sering kalah melawan sifat malas dan serakah itu. Karena itu, dalam perayaan Galungan secara terus-menerus diingatkan agar selalu waspada pada dua sifat yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan yang menderita.

Kemalasan dan keserakahan berasal dari Guna Tamas dan Guna Rajah. Sesungguhnya Guna Tamas dan Rajah itu akan menjadi positif apabila dapat dikendalikan oleh Guna Sattwam. Guna Tamas dan Guna Rajas itu akan menunjukkan aspek positifnya kalau ia berada di bawah kendali Guna Sattwam.

Karena itulah salah satu yang diingatkan dalam perayaan Galungan adalah melakukan Ngerebu saat upacara Sugian. Upacara Ngerebu menggunakan bebek sebagai lambang Guna Sattwam. Saat Sugian itulah umat diingatkan untuk memperkuat Guna Sattwam-nya. Selanjutnya saat Embang Sugian melakukan anyekuing jnyana nirmalakna. Ini artinya menyatukan kekuatan dan kesadaran diri sendiri. Dari semuanya itulah kita dapat mengalahkan kemalasan dan keserakahan.

Selanjutnya marilah buktikan dalam perayaan Galungan ini kita menang. Bagaimana membuktikannya, cobalah mulai kita menangkan produk lokal untuk digunakan sebagai sarana upacara dalam merayakan Galungan. Meskipun kualitas dan kuantitasnya masih kalah dengan produk import. Penggunaan produk lokal itu akan mendorong kita untuk mengupayakan agar produk lokal hasil karya sendiri itu lebih diupayakan peningkatan mutu dan kuantitasnya. Gunakanlah sarana hasil daerah kita untuk merayakan Galungan seperti buah-buahan, bunga-bungaan, demikian juga sarana-sarana lainnya.

Buktikanlah selama perayaan Galungan makin kecil jumlah umat yang mabuk karena merayakan Galungan. Tidak ada yang kebut-kebutan di jalan raya saat Galungan. Bahkan kita mampu menunjukkan selama perayaan Galungan pelanggaran lalu lintas menurun drastis. Merayakan Galungan dengan lebih menonjolkan pengumbaran hawa nafsu, jelas suatu kekalahan.

Kalau masih merayakan hari raya keagamaan lebih menonjolkan pengumbaran hawa nafsu jelas angka-angka negatif akan lebih menonjol dari angka-angka positif. Misalnya setiap perayaan Galungan justru statistik pelanggaran lalu lintas meningkat. Jumlah orang berkelahi karena mabuk justru meningkat saat-saat merayakan Galungan. Jumlah pengotoran lingkungan semakin banyak. Usai hari raya Galungan justru lingkungan lebih kotor dari sebelumnya. Demikian juga orang masuk rumah sakit lebih meningkat saat Galungan karena pesta-pesta yang salah kaprah.

Merayakan Galungan untuk memenangkan Dharma justru harus diupayakan dengan sadar untuk membalik angka-angka negatif menjadi angka-angka positif. Demikian juga perayaan Galungan dijadikan momentum melakukan gerakan untuk mengatasi problem sosial. Misalnya gerakan untuk tidak menjadikan tempat suci sebagai arena judi, minum-minuman keras dan pesta-pesta pora yang berlebihan.

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2003/6/17/op6.htm

TRADISI beragama Hindu di Bali wujudnya sangat lokal Bali. Tetapi, di dalamnya terkandung nilai-nilai moral yang universal. Galungan, misalnya, yang segera akan dirayakan umat Hindu, dapat dilaksanakan di mana saja dan kapan saja. Nilai yang dikandungnya tidak terbatas pada ruang dan waktu tertentu saja. Nilai yang universal diwujudkan dengan budaya lokal, agar nilai global universal itu lebih mudah diaktualkan dalam kehidupan sosial yang kontekstual dengan perkembangan ruang dan waktu. Nilai-nilai moral yang universal dalam perayaan Galungan tersurat dan tersirat dalam teks kitab sastra. Teks penjelasan Galungan tersurat dalam Lontar Sunarigama. Dalam teksnya ada yang tersurat pesan moral yang universal dan ada juga yang tersurat untuk aplikasi lokal. Galungan pada hakikatnya untuk mensinergikan kekuatan suci yang ada dalam diri setiap manusia untuk membangun jiwa yang terang untuk menghapuskan kekuatan gelap (adharma) dalam diri.

Dalam Lontar Sunarigama dinyatakan, Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang jnyana sandhi galang apadang mariakena biaparaning idep. Artinya, Galungan adalah memusatkan (patitis) pengetahuan suci (jnyana) untuk mendapatkan kekuatan yang terang (galang apadang) untuk menghilangkan kegelapan hati (mariakena biaparaning idep). Pesan moral yang universal itulah hendaknya terus-menerus kita renungkan sebagai intisari perayaan Galungan. Hal ini untuk menghindari perayaan Galungan berhenti pada kegiatan yang lebih menekankan pada hura-hura tanpa makna. Kemeriahan dan keindahan dalam merayakan Galungan memang sepatutnya kita wujudkan. Namun, kemeriahan dan keindahan itu hendaknya sebagai pengejawantahan dari pesan moral universal dari Galungan. Karena itu, sebelum puncak perayaan Galungan ada rangkaian yang disebut sugian, embang sugian, penyajaan dan penampahan. Semua istilah tersebut kedengarannya sangat lokal Bali. Tetapi, kalau kita runut teksnya ternyata mengandung nilai yang benar-benar universal.

Sugian ada tiga kali. Budha Pon wuku Sungsang Sugian Tenten. Sugian itu penyucian awal. Tenten artinya sadar atau kesadaran. Galungan hendaknya dirayakan dengan kesadaran rohani. Mengikuti tradisi hendaknya dengan kesadaran, orang yang sadar adalah orang yang bisa membeda-bedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang patut dan mana yang tidak patut dan seterusnya.

Kalau kesadaran itu dasarnya kita tidak terjebak untuk mengikuti tradisi yang sesat, justru yang harus diperkuat, tradisi yang berdasarkan kebenaran (Dharma) Wrehaspati Wage wuku Sungsang Sugian Jawa. Jawa dalam hal ini artinya jaba, di luar diri kita. Dalam lontar Sunarigama dinyatakan: Sugian Jawa mratistha bhuwana agung. Artinya, Sugian Jawa itu menyucikan bhuwana agung. Bhuana agung menyucikan alam lingkungan hidup kita ini. Sedangkan Sugian Bali pada Sukra Kliwon Sungsang. Dalam Lontar Sunarigama dinyatakan, Sugian Bali mratistha raga tahulan. Artinya, Sugian Bali adalah sebagai media untuk menyucikan diri pribadi.

Embang Sugian pada Redite Paing Wuku Dungulan. Dalam lontar dinyatakan: embang Sugian anyekung jnyana nirmalakna. Artinya, mengheningkan kesadaran diri sampai suci (nirmala). Esoknya pada hari penyajahan dinyatakan: matirtha Gocara. Artinya, memohon air suci sebagai permohonan restu pada Tuhan. Pada Anggara Wage wuku Dungulan disebut penampahan. Upacaranya natab banten sesayut pamiakala laramelaradan yang disebut Sesayut Penampahan. Natab banten ini sebagai lambang peningkatan rohani dalam tahap Wiweka Jnyana. Artinya, kondisi rohani yang sudah dapat membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Nampah dalam hal ini adalah ”menyembelih” sifat-sifat kebinatangan yang bersembunyi dalam diri kita, seperti sifat Rajah dan Tamah. Setelah dilakukan tahapan-tahapan tersebut barulah mencapai puncak Galungan.

Kata Galungan dalam bahasa Jawa bersinonim dengan kata Dungulan yang artinya menang atau unggul. Mendapatkan kemenangan yang benar dalam hidup ini merupakan sesuatu yang seharusnya kita perjuangkan. Untuk itu haruslah menempuh tahapan-tahapan hidup seperti yang dilukiskan dalam merayakan Galungan. Dari kesadaran diri, membenahi kesejahteraan alam (Bhuta Hita), membina kesucian diri, mengkonsentrasikan kesucian diri dan memohon restu pada Tuhan. Terpadunya kekuatan perjuangan manusia dengan anugerah Tuhan itulah yang akan membawa kemenangan dalam hidup ini.

Nilai-nilai itulah yang harus dijadikan membangun kondisi hidup yang harus diperjuangkan pada setiap Galungan. Lebih-lebih di zaman global ini godaan dan tantangan hidup semakin besar dan multi dimensi. Karena itu Galungan adalah salah satu tonggak peringatan setiap enam bulan agar manusia jangan sampai lupa akan nilai-nilai moral universal yang dikandung oleh tahapan-tahapan perayaan Galungan. Nilai-nilai perayaan Galungan yang tersurat dalam sastra itulah yang lebih utama kita renungkan dalam setiap merayakan Galungan.

Hari raya artinya, hari yang kita rayakan atau besarkan serta utamakan nilai-nilai hakikinya untuk direnungkan lebih dalam. Dari perenungan itu kita wujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari menjalani tahapan hidup.

http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2004/8/3/o2.htm

Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. Dengan mempelajari pustaka-pustaka, di antaranya Panji Amalat Rasmi (Jaman Jenggala) pada abad ke XI di Jawa Timur, Galungan itu sudah dirayakan. Dalam Pararaton jaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke XVI, perayaan semacam ini juga sudah diadakan. Menurut arti bahasa, Galungan itu berarti peperangan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang.

Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat angayubagia, bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.

Ngaturang maha suksmaning idép, angayubagia adalah suatu pertanda jiwa yang sadar akan Kinasihan, tahu akan hutang budi.

Yang terpenting, dalam pelaksanaan upakara pada hari-hari raya itu adalah sikap batin. Mengenai bebanten tidak kami tuliskan secara lengkap dan terinci. Hanya ditulis yang pokok-pokok saja menurut apa yang umum dilakukan oleh umat. Namun sekali lagi, yang terpenting adalah kesungguhan niat dalam batin.

Dalam rangkaian peringatan Galungan, pustaka-pustaka mengajarkan bahwa sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut:

Hari pertama = Sang Bhuta Galungan.
Galungan berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang).

Hari kedua = Sang Bhuta Dungulan.
Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan.

Hari ketiga = Sang Bhuta Amangkurat
Hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit).

Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu.

Menurut Pustaka (lontar) Djayakasunu, pada hari Galungan itu Ida Sanghyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman, dan kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Menghilangkan keletehan dari hati kita masing-masing. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu, maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma, rasa terimakasih, atas anugrah Hyang Widhi. Gembira atas anugrah tersebut, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Kuningan.

Penjor terpancang di muka rumah dengan megah dan indahnya. Ia adalah lambang pengayat ke Gunung Agung, penghormatan ke hadirat Ida Sanghyang Widhi. Janganlah penjor itu dibuat hanya sebagai hiasan semata-mata. Lebih-lebih pada hari raya Galungan, karena penjor adalah suatu lambang yang penuh arti.

Pada penjor digantungkan hasil-hasil pertanian seperti: padi, jagung, kelapa, jajanan dan lain-lain, juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Ini mempunyai arti: Penggugah hati umat, sebagai momentum untuk membangunkan rasa pada manusia, bahwa segala yang pokok bagi hidupnya adalah anugrah Hyang Widhi. Semua yang kita pergunakan adalah karuniaNya, yang dilimpahkannya kepada kita semua karena cinta kasihNya. Marilah kita bersama hangayu bagia, menghaturkan rasa Parama suksma.

Kita bergembira dan bersukacita menerima anugrah-anugrah itu, baik yang berupa material yang diperlukan bagi kehidupan, maupun yang dilimpahkan berupa kekuatan iman dan kesucian batin. Dalam mewujudkan kegembiraan itu janganlah dibiasakan cara-cara yang keluar dan menyimpang dari kegembiraan yang berdasarkan jiwa keagamaan.

Mewujudkan kegembiraan dengan judi, mabuk, atau pengumbaran indria dilarang agama. Bergembiralah dalam batas-batas kesusilaan (kesusilaan sosial dan kesusilaan agama) misalnya mengadakan pertunjukkan kesenian, malam sastra, mapepawosan, olahraga dan lain-lainnya. Hendaklah kita berani merombak kesalahan-kesalahan/ kekeliruan-kekeliruan drsta lama yang nyata-nyata tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran susila. Agama disesuaikan dengan desa, kala dan patra. Selanjutnya oleh umat Hindu di Bali dilakukan persernbahyangan bersama-sama ke semua tempat persembahyangan, misalnya: di sanggah/ pemerajan, di pura-pura seperti pura-pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya. Sedangkan oleh para spiritualis, Hari Raya Galungan ini dirayakan dengan dharana, dyana dan yoga semadhi.

Persembahan dihaturkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi dan kepada semua dewa-dewa dan dilakukan di sanggah parhyangan, di atas tempat tidur, di halaman, di lumbung, di dapur, di tugu (tumbal), di bangunan-bangunan rumah dan lain-lain.

Seterusnya di Kahyangan Tiga, di Pengulun Setra (Prajapati), kepada Dewi Laut (Samudera) Dewa Hutan (Wana Giri) di perabot-perabot / alat-alat rumah tangga dan sebagainya.

Widhi-widhananya untuk di Sanggah/ parhyangan ialah: Tumpeng penyajaan, wewakulan, canang raka, sedah woh, penek ajuman, kernbang payas serta wangi-wangian dan pesucian. Untuk di persembahyangan (piasan) dihaturkan tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan serta dengan pelengkapnya. Lauk pauknya sesate babi dan daging goreng, daging itik atau ayarn, dibuat rawon dan sebagainya. Sesudah selesai menghaturkan upacara dan upakara tersebut kemudian kita menghaturkan segehan tandingan sebagaimana biasanya, untuk pelaba-pelaba kepada Sang Para Bhuta Galungan, sehingga karena gembiranya mereka lupa dengan kewajiban- kewajibannya mengganggu dan menggoda ketentraman batin manusia.

Demikianlah hendaknya Hari Raya Galungan berlaku dengan aman dan diliputi oleh suasana suci hening, mengsyukuri limpahan kemurahan Ida Sanghyang Widhi untuk keselamatan manusia dan seisi dunia. Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok tersebut.

Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua. Demikian secara singkat keterangan-keterangan dalam merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan dalam pelaksanaan dari segi batin.

Kesimpulan:

Dalam menyambut dan merayakan hari-hari raya itu, bergembiralah atas anugrah Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama dan keprihatinan bangsa. Terangkan hati, agar menjadi Çura, Dira dan Deraka (berani, kokoh dan kuat), dalam menghadapi hidup di dunia.  Hemat dan sederhanalah dalam mempergunakan biaya.  Terakhir dan bahkan yang terpenting ialah mohon anugrah Hyang Widhi dengan ketulusan hati.

Om, sampurna ya nama swaha.
Om, sukham bhawantu.

sumber : www.babadbali.com

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=96&Itemid=79

Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.

Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.

Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:

Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.

Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.

Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.

Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.

Makna Filosofis Galungan

Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.

Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.

Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep

Artinya:

Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma.

Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).

Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.

Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.

Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi.” Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.

Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.

Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.

Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).

Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya.

Macam-macam Galungan

Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Galungan

Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.

Galungan Nadi

Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.

Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.

Galungan Nara Mangsa

Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut:

“Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran.”

Artinya:

Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.

Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut:

Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yan mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah.

Artinya:

Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.

Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta turun” yang artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen “tumpeng Galungan”. Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur keladi.

Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan adharma. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.

Galungan di India

Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya “menang”.

Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.

Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.

Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.

Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kenenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Anoman.

Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.

Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.

Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.

(Sumber: Buku “Yadnya dan Bhakti” oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)
——————————————————————————–

©Raditya2002

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=804&Itemid=79

Lebih jauh tentang ”Sugihan”

Saatnya Mulai Mengurangi Aktivitas Duniawai

HARI raya Galungan diperkirakan sudah ada di Indonesia sejak abad XI. Hal ini didasarkan atas beberapa fakta yang termuat dalam kidung Panji Malat Rasmi dan Lontar Pararaton di Kerajaan Majapahit. Di India perayaan semacam ini dinamakan hari raya Crada Wijaya Dasami. Di Bali, keberadaaan hari raya Galungan beserta rangkaiannya dipertegas lagi dalam Lontar Jayakasunu yang ada pada era pemerintahan Raja Sri Jayakasunu. Sebelumnya perayaan Galungan sempat ditiadakan yang ternyata mengakibatkan banyak rakyat pada waktu itu mengalami penderitaan.

Hari raya Galungan seperti diketahui memiliki rangkaian yang dimulai jauh sebelum hari raya itu sendiri. Dimulai dengan hari Tumpek Wariga dan selanjutnya menjelang seminggu sebelum Galungan, dikenal dengan sugihan.

Dengan demikian bisa dikatakan sugihan termasuk salah satu rangkaian upacara menyongsong Galungan. Sugihan terdiri atas tiga jenis yaitu

1. Sugihan Pangenten atau Sugihan Tenten,

2. Sugihan Jawa

3. Sugihan Bali.

Karena mengikuti perhitungan wuku, masing-masing sugihan datang tiap 210 hari sekali. Ketiga sugihan secara berturut-turut dimulai dari Buda Pon wuku Sungsang  disebut Sugihan Pangenten. Setelah Sugihan Pangenten, diikuti dengan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali.

Sugihan Pangenten bermakna ngingetin atau mengingatkan. Dalam mitologinya berhubungan dengan keadaan Mpu Bradah ke Bali menghadap pada Empu Kuturan dan usaha untuk mengangkat salah satu putra Raja Erlangga untuk menjadi raja di Bali. Namun, Empu Kuturan menolak permintaan tersebut dan Empu Baradah pun tersinggung lalu langsung meninggalkan tanpa permisi untuk kembali ke Daha.

Ketersinggungan Mpu Baradah ini menimbulkan bhuta sebagai akibat lepasnya pengendalian diri. Karena itulah, diingatkan supaya pengendalian diri itu jangan sampai lepas agar bhuta kala dapat dikendalikan. Sejak Sugihan Pangenten inilah mulai dimasukkan sebagai Nguncal Balung yaitu dari wuku Sungsang sampai wuku Pahang, terutama sejak wuku Dungulan sampai dengan Buda Kliwon Pahang.

Nguncal balung artinya tulang sebagai pengukuh tubuh pada manusia dan binatang serta tempat melekatnya otot dan daging. Tanpa tulang, tubuh tidak akan mempunyai kekuatan. Nguncal balung maksudnya melepaskan kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif yang mudah dipengaruhi oleh godaan sang kala tiga, dengan sifat-sifat kalanya, sehingga kembali ke wujud semula atau Sang Hyang Tiga Wisesa.

Dalam Siwaisme disebut Siwa, kala dalam hal ini berarti energi atau kekuatan. Sang Hyang Kala Tiga dalam wujud purusha (Kala Rudra) maupun dalam wujud pradana (Durga Murti), sehingga kembali dalam keadaan somia (tenang). Keadaan somia akan berpengruh terhadap semua ciptaannya.

Oleh sebab itu, pada saat nguncal balung ini kurang baik melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu seperti membuat rumah, tempat pemujaan termasuk penyuciaannya, membangun rumah tangga (kawin) dan sebagainya. Di samping itu, ada pula yang tidak mau membeli ternak untuk dipelihara atau dijadikan bibit.

Demikianlah pantangan-pantangan selama nguncal balung, yang pada dasarnya lebih banyak bertujuan mengurangi aktivitas-aktivitas jasmani agar dapat meningkatkan aktivitas rohani. Misalnya yang dilakukan oleh pertapa atau yogi. Orang kebanyakan dalam mengurangi aktivitas fisiknya dan lebih menekankan pada kegiatan ritualnya dapat melakukan kegiatan yang bersifat menambah pengetahuan tentang agama, kesenian, dan kemasyarakatan. Dengan kegiatan ini diharapkan umat Hindu dapat mengurangi hal-hal yang mengarah pada pemuasan hawa nafsu yang berlebih-lebihan.

Aktivitas ”Ngelawang”

Salah satu cara mencapai tujuan yang dimaksud, di beberapa daerah di Bali pada saat Sugihan Pangenten ini melaksanakan kegiatan ngelawang yaitu memakai barong dengan mengelilingi wilayah desa adatnya. Malahan ada yang sampai ke luar jauh dari wilayah desanya dengan melewati tiap lawang (pintu rumah penduduk) agar bhuta dengan segala kekuatannya kembali ke tempatnya yang semula.

Dalam filosofi Hindu, munculnya para bhuta adalah akibat kekeliruan pelaksanaan manusia dalam kehidupannya, sehingga pada saat itu Dewa Trimurti menciptakan para bhuta. Dewa Brahma diutus menjadi topeng bang, Dewa Wisnu menjadi telek dan Dewa Siwa menjadi barong. Selanjutnya dalam ngelawang ini barong itulah di-iring untuk menyelamatkan manusia terhadap godaan para bhuta dalam kehidupannya.

Sehari setelah Sugihan Pangenten disebut Sugihan Jawa. Makna sugihan ini adalah hari penyucian bhuwana agung yang disimbolkan dengan melakukan pemujaan di tempat-tempat suci dan perumahan. Penyucian dimaksud dilakukan secara sekala dan niskala. Bagi para wiku, sadaka, hal ini dilakukan dengan mengucapkan japa mantra. Sedangkan para yogin melakukan yoga semadi.

Selain penyucian juga dilaksanakan pamretistan Batara kabeh, dengan upacara marerebu di sanggah atau pemerajan yang dilengkapi dengan upacara pembersihan atau pangeresikan. Memakai sarana bunga harum. Adapun tujuannya adalah menstanakan para dewa dan pitara.

Upakara-upakaranya disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan bangunan suci yang ada. Untuk palinggih termasuk di dalamnya padmasana, meru, sanggah kemulan, taksu, panunggun karang dan lain-lainnya yang sejenis memakai pembersih (pangeresikan) berupa canang burat wangi lenga wangi, tirtha, dupa dilengkapi dengan ajuman dan daksina (disesuaikan dengan desa kala patra)

Palinggih yang lebih kecil memakai canang burat wangi lenga wangi. Sementara penyucian secara umum memakai pangerebuan yang terdiri atas satu tumpeng guru dengan alas kulit sesayut yang puncaknya diisi telur itik rebus, 3, 5, 7 buah tumpeng biasa dilengkapi dengan jajan, buah-buahan dan sampyan nagasari, sampyan peras. Dua sorohan alit 9 peras, tulung, sesayut) sangga urip, penyeneng, lis, bebuu, pangeresikan, canang genten, lauk, pauk/rerasmen yang terdiri atas daging ayam dipanggang, guling itik atau babi yang disesuaikan dengan kemampuan.

Jumlah tumpeng dan dagingnya disesuaikan dengan jumlah palinggih yang akan diupacarai marerebu. Misalnya untuk padmasana, sanggah kemulan dan sejenisnya menurut tradisi tidak dibenarkan memakai daging atau babi guling. Setelah dilaksanakan pembersihan secara sekala barulah dilaksanakan pembersihan secara niskala yaitu mengaturkan upacara pangerebuan. Apabila mempergunakan sebuah pangerebuan, diusahakan memakai guling itik yang terlebih dahulu diaturkan dari bangunan suci yang paling utama. Misalnya dari padamasana kemudian meru gedong taksu dan seterusnya sampai pada bangunan yang kecil-kecil terakhir dilebar di jaba atau halaman paling luar, disertai dengan segehan dan tetabuhan arak berem.

Sugihan Bali merupakan hari penyucian terhadap diri sendirri bhuwana alit. Upacara khusus pada hari ini sebenarnya tidak ada. Meski demikian, pada hari ini perlu dilaksanakan upacara memohon tirtha pangelukatan kehadapan sang sadaka atau sulinggih. Selain itu umat Hindu juga hendaknya melakukan sembah sebagaimana layaknya pada hari-hari kajeng kliwon yang lainnya. Semua pelaksanaan kegiatan sugihan ini hendaknya dapat dilaksanakan sesuai desa kala patra.

* Winata dari berbagai sumber

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2002/4/17/bd2.htm

Sugihan Jawa dan Bali

Hari ini, Jumat, Kliwon, Sungsang, 9 Oktober, disebut Sugihan Bali. Sedangkan Kamis (8/10), disebut Sugihan Jawa. Banyak umat Hindu masih bingung, merayakan Sugihan Jawa atau Sugihan Bali. Mereka mengira, kata Jawa dan Bali adalah nama tempat. Pada hal tidak. Kata Jawa di sini berarti “jaba” yang artinya di luar.

Dengan demikian, makna upacara Sugihan Jawa adalah penyucian makrokosmos atau buana agung atau alam semesta sebagai tempat kehidupan. Pembersihan ini secara sekala dilakukan dengan membersihkan palinggih atau tempat-tempat suci yang digunakan sebagai tempat pemujaan. Diyakini pada saat Sugihan Jawa ini, para dewa akan turun diiringi dengan para luluhur untuk menerima persembahan.

Kemudian pada hari Sugihan Bali, umat Hindu menghaturkan sesaji yang pada intinya melakukan penyucian buana alit atau diri sendiri (mikrokosmos) sehingga bersih dari perbuatan-perbuatan yang ternoda. Dengan adanya kesucian lahir dan batin itu, umat lebih bisa memaknai Hari Suci Galungan, sebagai kemenangan dharma.

Pada hari ini sebaiknya umat melakukan tirta gocara atau tirta yatra yakni dengan pergi ke samudera — sumber mata air atau bisa di merajan. Dalam praktik yoga umat Hindu pada hari ini melakukan yoga semadi yang ditujukan untuk mulat sarira. Untuk menyambut hari raya Galungan, umat seharusnya memiliki kesucian batin dengan menahan diri dari segala macam godaan indria.

Dengan demikian, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali jika dilihat dari konsepnya menyiapkan umat Hindu menghadapi berbagai gempuran dan godaan duniawai yang datang menjelang hari raya Galungan. Pada kedua sugihan ini, kekuatan rwa bhinneda diupayakan berada pada titik keseimbangan untuk menuju pada ketenangan dan kedamaian.

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=21&id=21784

Hari Sabtu 3 Oktober 2009 (Saniscara Wage wuku Julungwangi) yang bertepatan dengan Purnama sasih Kapat, bagi umat Hindu dimanapun berada merupakan hari yang di sucikan. Purnama Kapat di yakini oleh masyarakat Bali sebagai hari raya suci untuk melaksanakan Dewa Yadnya. Diyakini, selama satu bulan ke depan sejak purnama, vibrasi dari dewasa baik ini, masih pada siklus kartika massa. Momen ini di Bali disambut sebagai hari penuh berkah dan kesucian.

Di mana-mana, di pura-pura seluruh Bali termasuk di luar Bali dilaksanakan piodalan di saat Purnama sasih Kapat ini. Di antaranya di Pura Padmasana Penataran Agung Besakih, Pura Lempuyang Madya, Pura Pulaki, Pura Tirta Empul. Pura Agung Dalem Tarukan Pejeng -Tampaksiring, Pura Rambut Siwi, Pura Batu Bolong Canggu Kuta, Pura Srijong Tabanan, Pura Lempuyang Madya, Pura Puncak Mundi Nusa Penida, Pura Penataran Ped, Pura Kahyangan Jagat Kancing Gumi, Pura Bhatara Tiga Sakti Penataran Besakih, Pura Pulaki Buleleng, Pura Tirta Empul Tampak Siring, dan Pura Ulun Danu Batur di Songan Kintamani. Selain itu, piodalan juga dilaksanakan pada berbagai pura paibon, kawitan maupun merajan.

Selain di Bali, umat Hindu di luar Bali juga menggelar piodalan di saat Purnama sasih Kapat ini seperti Pura Dukuh Segening Swantika Buana, Seputih Banyak Lampung Tengah, Pura Puseh Desa Mantawa Toili Sulawesi Tengah, Pura Penataran Agung Taman Mini Indonesia Indah Jakarta Timur, Pura Agung Surya Bhuana, Skyline Jaya Pura Papua, Pura Puseh Werdi Agung Demoga Bolang Mangondow Sulawesi Utara, Pura Meru Cakra Lombok, Puseh Werdi Agung, Demoga, Bolaang Mangondow, Sulut, Putra Satria Darma, Dompu. Pura Giri Kusuma, Sulsel, Pura Penataran Kerta Bumi.

Demikianlah Purnama sasih Kapat itu jika ditelaah dari konsep lunar-solar sistem, bulan-matahari. Keberadaan bulan kebetulan persis berada pada posisi garis lurus di atas katulistiwa. Jadi pada momen fenomena alam seperti itu, bulan bersinar penuh. Secara filosofis sangat baik untuk melaksanakan upacara Dewa Yadnya.

3 Oktober 2009 Hari Penyatuan Jerman

Lain di Bali lain Pula di Jerman. Pada hari Sabtu 3 Oktober 2009 kemaren masyarakat Jerman merayakannya bukan dalam rangka Purnama Kapat, melainkan merayakan penyatuan kembali Negara Jerman (Deutsche Wiedervereinigung) dan merupakan hari libur nasional. Hari libur nasional ini mulai terjadi sejak tanggal 3 Oktober 1990, ketika mantan daerah Republik Demokratis Jerman (Jerman Timur) digabungkan ke dalam Republik Federal Jerman (Jerman Barat) . Dan enam negara bagian Jerman Timur (Bundesländer); Brandenburg, Mecklenburg- Vorpommern, Sachsen, Sachsen-Anhalt, Thüringen, dan Berlin bersatu secara resmi bergabung dengan Republik Federal Jerman (Jerman Barat).

Masyarakat Jerman merayakan “hari suci” 3 Oktober mereka dengan mengunjungi tempat bersejarah yang merupakan saksi bisu sejarah penyatuan Jerman yang masih tersisa hingga saat ini yaitu sisa Tembok Berlin dan pusat kota Berlin di sekitar Pintu Branderburg. Diantara kerumunan masyarakat yang mengunjungi sisa tembok berlin dan Pintu Branderburg di Berlin, mungkin ada juga beberapa Nyama Braya Bali yang kebetulan berdomisili di Berlin atau Nyama Braya Bali yang berdomisili di Jerman.

3 Oktober 2009 Nyama Braya Bali di Jerman dan Bali Puspa

Bagaimana dengan komunitas masyarakat Bali yang berdomisili di Jerman di daerah Köln dan sekitarnya? Komunitas masyarakat Bali yang tergabung dalam organisasi Nyama Braya Bali melewati 3 Oktober 2009 ini dengan kegiatan latihan bersama “megambel dan menari” dalam rangka persiapan merayakan Hari Kuningan yang akan datang pada tanggal 24 Oktober 2009.

Seperti latihan sebelumnya yang dilaksanakan dihari Sabtu 19 September 2009, latihan 3 Oktober 2009 inipun juga mencoba menseragamkan gerak tangan para penari agar sesuai dengan irama gamelan bali, yang di pimpin oleh Made Agus Wardana (pelatih gambelan dari Belgia yang khusus datang ke Köln dalam rangka mensukseskan Perayaan Kuningan di frankfurt 24 Oktober 2009).

Tarian yang di latih kembali, selain Tari Janger dan Tari Genjek seperti tampak pada photo diatas, adalah Tari Rejang Dewa, Tari Pendet, Tari Sekarjagat, Tari Margapati, dan Tari Joged Bumbung. Latihan Tari Joged Bumbung saat itu terasa meriah dan lucu sekali dengan gerakan tarian yang diperagakan oleh Ni Luh Arminingsih yang biasa di panggil dengan sebutan Mbok Mimik dipadukan dengan gamelan tingklik bambu berlaras Slendro yang dimainkan oleh Made Agus Wardana. Saya yakin disaat pemantasan di perayaan kuningan 24 Oktober 2009 nanti di Offenbach penonton akan dibuat kagum akan banyaknya jenis tarian Bali yang diperagakan oleh sanggar tari Bali Puspa.

Seperti biasa pemilik sanggar tari Bali Puspa, yaitu Bli Made Sukasta Mindhoff dan Nyoman Suyadni Mindhoff selalu ramah dalam menjamu setiap orang yang berkunjung kerumahnya, baik itu untuk tujuan bertamu maupun untuk tujuan berlatih. dalam kunjungan yang kedua kali ini kerumah Bli Made Sukasta, saya dapati masakan khas bali lagi yang memang terkenal lezat dengan menu utamanya, lawar urab, sate kelapa, Babi Guling, dan lain-lain. Nyama Braya Bali yang berlatih di rumah Bli Made Sukasta selalu di manjakan dengan masakan lezat ini sehingga kelelahan karena perjalanan jauh dari stuttgart dan dari Frankfurt sirna lenyap terbawa terbang bersama aroma masakan serta aroma kopi bali.

Akhir kata. saya selaku wakil dari panitia perayaan Kuningan 24 Oktober 2009, mengucapkan syukur dan terimakasih akan kebaikan serta ketulus ikhlasan dari keluarga Mindhoff dan sanggar Bali Puspa untuk ngayah mensukseskan jalannya Perayaan Kuningan di Offenbach nanti. Semoga Ida Sang Hyang Widi Wasa selalu memberikan kelancara rejeki dan kesehatan kepada keluarga Mindhoff dan Sanggar Bali Puspa.

Perempuan yang Meruwat Jagat

Posted by Adnyana under Wanita Bali

foto: http://www.baliwww.com

KESUCIAN menjadi dambaan hampir setiap orang, karena bisa menjadi kandil kemerlap di malam pekat, menuntun langkah di jalan setapak agar tidak tersesat. Kesucian bisa juga sesuatu yang terang benderang, sehingga seseorang terhindar dari suasana remang-remang, membebaskan hati dan galau dan bimbang, karena suci itu bersih, jernih, tenang, sejuk, tawakal.

Kesucian pun diburu, menjadi tujuan. Orang-orang berharap, dengan kesucian mereka bisa memperoleh kebenaran sejati, kebahagiaan, wibawa, penghargaan, atau menjadi panutan, dan pemimpin. Orang-orang suci sering menjadi idola, namanya harum, dipuja, menjadi dewa.

Spiritualisme kemudian diminati. Hutan lebat, pesisir yang sepi, gua-gua, lembah dan ngarai, punggung gunung, puncak bukit, sening dikunjungi. Pesanggrahan, pasraman, dibangun, tempat orang-orang menyelami ajaran-ajaran mencapai kebahagiaan tertinggi. Keheningan menjadi puncak segala tuju, karena merupakan gerbang menuju kesucian.

Cerita-cerita tentang ruwatan, untuk menjadikan din bersih dan suci, pun digemari. Kegemaran ini sudah berlangsung sejak lama, merupakan peradaban tua, tapi terus menerus menyelinap dalam kehidupan masa kini. Kisah-kisah itu bertutur tentang petualangan dan perjuangan untuk lahir kembali, kaya konflik, penuh pertimbangan mengambil keputusan, banyak ujian harus dilalui. Cerita ruwatan memberi petunjuk tentang proses mencari jati diri, sebuah usaha membawa jiwa raga ke titik nol, agar bisa mengawali segala sesuatu dengan bersih dan ning.

Dalam tradisi Hindu di Bali, seseorang yang memenuhi panggilan hidup sebagai pendeta, harus melalui ruwatan ini dalam proses ‘mati raga’. Dalam upacara dwi jati, ‘mati raga’ menjadi klimaks. Jika puncak ini terlewati, Ia akan dilahirkan kembali sebagai orang suci. Dosa, kesalahan, pun hilang, blank. Orang itu, si pendeta, menjadi bayi tanpa dosa. Ruwatan pun selalu dilalui dengan ‘mati raga’. Kisah-kisah proses mati, dan lahir kembali ini, sangat digemari oleh seniman-seniman Bali dan masyarakatnya. Kisah ruwatan ini pas dengan filosofi yang disuguhkan Bhagawadgita, tentang siklus akhir dari kehidupan adalah kematian, dan akhir kematian adalah kehidupan.

Pandangan hidup ini dilakoni dengan sangat indah, sehingga peristiwa kematian melahirkan karya seni besar. Ketika ngaben, hari-hari upacara jenazah dibakar, seni kriya, nyanyi, musik, pertunjukan, digelar. Akhir hidup dan akhir mati adalah inspirasi megah dalam berkesenian. Ruwatan pun menjadi rumah seni, tempat orang-orang berupaya melahirkan bermacam gagasan.

Cerita Sri Tanjung, dipentaskan dalam drama tari oleh seniman-seniman Arti Foundation di Taman Budaya Denpasar (27-28/2/2009), juga berkisah tentang kesucian, ruwatan, dan mati untuk mencapai pembersihan diri. Kisah dari kerajaan Hindu Blambangan di ujung timur Jawa, kini Banyuwangi, tidak hanya mirip, tapi sama persis dengan yang diyakini oleh penikmat seni di Bali, seperti yang bisa dijumpai dalam karya sastra Sudamala. Kisah ini laris di Bali, tetap digemani kendati diceritakan dan dipertunjukkan berulang-ulang, dengan adegan sama maupun berbeda. Cerita Sri Tanjung menjadi sakral, dan memendam spiritualisme. Penikmat kisah ini seperti dituntun ke alam ning, sehingga menggugah orang-orang untuk terus menerus memburu kesucian.

Kesucian diperoleh lewat proses sangat panjang, tapi bisa juga didapat tiba-tiba, tanpa diduga, tidak dikehendaki. Seperti Lubdaka yang menerima pengampunan dosa karena kebetulan begadang semalam suntuk di malam Siwaratri. Sri Tanjung ditakdirkan memperoleh kesucian itu, karena ia dibunuh, dan Durga meruwatnya, menghidupkannya kembali menjadi orang suci. Tapi, mengapa kisah ini memberi peluang wanita untuk tampil sebagai tokoh suci? Dan, memberi ilham betapa kesucian itu bukan monopoli laki-laki? Cerita Sri Tanjung tidak sebatas menampilkan perempuan sebagai sosok untuk dikasihani dan menguras air mata, tapi juga menampilkannya sebagai pahlawan, panutan, sehingga laki-laki yang suka memperlakukan bini mereka secara kasar dan semena-mena, bisa berkaca.

Kisah Sri Tanjung tepat menggambarkan dunia wanita Bali. Oleh orang luar, tradisi acap kali dituding penyebab kepiluan wanita Bali, dan kesempatan sah laki-laki untuk ‘menindas’. Tapi, kebanyakan wanita Bali mengungkapkan, tradisi justru memberi tempat terhormat, sehingga mereka bisa tampil sebagai wanita bertuah: perempuan yang beruntung, bahagia, ‘sakti’, dan ‘keramat’. Bagi wanita Bali, tradisi tak cuma berarti sebuah masa, bukan sebatas wilayah, tidak cuma tempat, tapi sebuah jiwa yang menjaga. Sebuah perlindungan, sesuatu yang membedakan, sehingga memberi keunikan dan rasa damai.

Tapi, tradisi acapkali membuat hidup jadi tidak mudah. Bagi wanita Bali, tradisi merupakan sebuah dilema. Ia memberi tempat untuk menunjukkan sosok dan jati diri, menyuguhkan tuah; tapi juga sebuah medan yang memaksa mereka untuk takluk. Keputusan-keputusan penting menyangkut kehidupan desa, mengesampingkan peran wanita. Skenario upacara adat, agama, lebih banyak direkayasa oleh laki-laki.

Wanita Bali mensyukuri skenario itu. Bagi mereka, rekayasa tradisi merupakan sebuah peluang menyabet peran khas: membuat dan menghaturkan sesaji, misalnya, mengurus yang serba suci. Orang Bali pun bahagia, berubah menjadi khusyuk jika menikmati kisah-kisah wanita yang sanggup meruwat jagat, menyucikan bumi. Bali adalah sebuah tempat unik kehidupan perempuan. Di sini orang bisa menyimak wanita tak cuma fisik, juga emosi. Tak hanya ketidakberdayaan, juga peran. Nusa Ning NusaBali.

Oleh : Gde Aryantha Suthama

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1170&Itemid=79