kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for December, 2009

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI

Posted by Adnyana under Ajeg Bali

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI.

Yang dimaksud dengan Asta Kosala adalah aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan.

Yang dimaksud dengan Asta Bumi adalah aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih.

Aturan tentang Asta Kosala dan Asta Bumi ditulis oleh Pendeta: Bhagawan Wiswakarma dan Bhagawan Panyarikan. Uraian mengenai Asta Kosala khusus untuk bangunan Padmasana telah dikemukakan pada bab: Hiasan Padmasana, Bentuk-bentuk Padmasana dan Letak Padmasana.

Asta Bumi menyangkut pembuatan Pura atau Sanggah Pamerajan adalah sebagai berikut:

1 Tujuan Asta Bumi adalah
a Memperoleh kesejahteraan dan kedamaian atas lindungan Hyang Widhi
b Mendapat vibrasi kesucian
c Menguatkan bhakti kepada Hyang Widhi
2 Luas halaman
a Memanjang dari Timur ke Barat ukuran yang baik adalah: Panjang dalam ukuran “depa” (bentangan tangan lurus dari kiri ke kanan dari pimpinan/klian/Jro Mangku atau orang suci lainnya): 2,3,4,5,6,7,11,12,14,15,19. Lebar dalam ukuran depa: 1,2,3,4,5,6,7,11,12,14,15. Alternatif total luas dalam depa: 2×1,3×2, 4×3, 5×4, 6×5, 7×6, 11×7, 12×11, 14×12, 15×14, 19×15.
b Memanjang dari Utara ke Selatan ukuran yang baik adalah: Panjang dalam ukuran depa: 4,5,6,13,18. Lebar dalam ukuran depa: 5,6,13. Alternatif total luas dalam depa: 6×5, 13×6, 18×13

Jika halaman sangat luas, misalnya untuk membangun Padmasana kepentingan orang banyak seperti Pura Jagatnatha, dll. boleh menggunakan kelipatan dari alternatif yang tertinggi. Kelipatan itu: 3 kali, 5 kali, 7 kali, 9 kali dan 11 kali.

Misalnya untuk halaman yang memanjang dari Timur ke Barat, alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah: 3x(19×15), 5x(19×15), 7x(19×15), 9x(19×15), 11x(19×15).

Untuk yang memanjang dari Utara ke Selatan, alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah: 3x(18×13), 5x(18×13), 7x(18×13), 9x(18×13), 11x(18×13).

HULU-TEBEN.

“Hulu” artinya arah yang utama, sedangkan “teben” artinya hilir atau arah berlawanan dengan hulu. Sebagaimana telah diuraikan terdahulu, ada dua patokan mengenai hulu yaitu

  1. Arah Timur, dan
  2. Arah “Kaja”

Mengenai arah Timur bisa diketahui dengan tepat dengan menggunakan kompas.

Arah kaja adalah letak gunung atau bukit.

Cara menentukan lokasi Pura adalah menetapkan dengan tegas arah hulu, artinya jika memilih timur sebagai hulu agar benar-benar timur yang tepat, jangan melenceng ke timur laut atau tenggara. Jika memilih kaja sebagai hulu, selain melihat gunung atau bukit juga perhatikan kompas. Misalnya jika gunung berada di utara maka hulu agar benar-benar di arah utara sesuai kompas, jangan sampai melenceng ke arah timur laut atau barat laut, demikian seterusnya. Pemilihan arah hulu yang tepat sesuai dengan mata angin akan memudahkan membangun pelinggih-pelinggih dan memudahkan pelaksanaan upacara dan arah pemujaan.

BENTUK HALAMAN.

Bentuk halaman pura adalah persegi empat sesuai dengan ukuran Asta Bumi sebagaimana diuraikan terdahulu. Jangan membuat halaman pura tidak persegi empat misalnya ukuran panjang atau lebar di sisi kanan - kiri berbeda, sehingga membentuk halaman seperti trapesium, segi tiga, lingkaran, dll. Hal ini berkaitan dengan tatanan pemujaan dan pelaksanaan upacara, misalnya pengaturan meletakkan umbul-umbul, penjor, dan Asta kosala.

PEMBAGIAN HALAMAN.

Untuk Pura yang besar menggunakan pembagian halaman menjadi tiga yaitu:

  1. Utama Mandala
  2. Madya Mandala
  3. Nista Mandala.

Ketiga Mandala itu merupakan satu kesatuan, artinya tidak terpisah-pisah, dan tetap berbentuk segi empat; tidak boleh hanya utama mandala saja yang persegi empat, tetapi madya mandala dan nista mandala berbentuk lain.

Utama mandala adalah bagian yang paling sakral terletak paling hulu, menggunakan ukuran Asta Bumi;

Madya Mandala adalah bagian tengah, menggunakan ukuran Asta Bumi yang sama dengan utama Mandala;

Nista Mandala adalah bagian teben, boleh menggunakan ukuran yang tidak sama dengan utama dan nista mandala hanya saja lebar halaman tetap harus sama.

Di Utama mandala dibangun pelinggih-pelinggih utama, di madya mandala dibangun sarana-sarana penunjang misalnya bale gong, perantenan (dapur suci), bale kulkul, bale pesandekan (tempat menata banten), bale pesamuan (untuk rapat-rapat), dll. Di nista mandala ada pelinggih

“Lebuh” yaitu stana Bhatara Baruna, dan halaman ini dapat digunakan untuk keperluan lain misalnya parkir, penjual makanan, dll.

Batas antara nista mandala dengan madya mandala adalah “Candi Bentar” dan batas antara madya mandala dengan utama mandala adalah “Gelung Kori”, sedangkan nista mandala tidak diberi pagar atau batas dan langsung berhadapan dengan jalan.

MENETAPKAN PEMEDAL.

Pemedal adalah gerbang, baik berupa candi bentar maupun gelung kori. Cara menetapkan pemedal sebagai berikut: 1) Ukur lebar halaman dengan tali. 2) Panjang tali itu dibagi tiga. 3) Sepertiga ukuran tali dari arah teben adalah “as” pemedal. Dari as ini ditetapkan lebarnya gerbang apakah setengah depa atau satu depa, tergantung dari besar dan tingginya bangunan candi bentar dan gelung kori. Yang dimaksud dengan teben dalam ukuran pemedal ini adalah arah yang bertentangan dengan hulu dari garis halaman pemedal. Misalnya hulu halaman Pura ada di Timur, maka teben dalam menetapkan gerbang tadi adalah utara, kecuali di utara ada gunung maka tebennya selatan, demikian seterusnya. Penetapan gerbang candi bentar dan gelung kori ini penting untuk menentukan letak pelinggih sesuai dengan asta kosala.

 

JARAK ANTAR PELINGGIH.

Jarak antar pelinggih yang satu dengan yang lain dapat menggunakan ukuran satu “depa”, kelipatan satu depa, “telung tapak nyirang”, atau kelipatan telung tapak nyirang. Pengertian “depa” sudah dikemukakan di depan, yaitu jarak bentangan tangan lurus dari ujung jari tangan kiri ke ujung jari tangan kanan. Yang dimaksud dengan “telung tampak nyirang” adalah jarak dari susunan rapat tiga tapak kaki kanan dan kiri (dua kanan dan satu kiri) ditambah satu tapak kaki kiri dalam posisi melintang. Baik depa maupun tapak yang digunakan adalah dari orang yang dituakan dalam kelompok “penyungsung” (pemuja) Pura. Jarak antar pelinggih dapat juga menggunakan kombinasi dari depa dan tapak, tergantung dari harmonisasi letak pelinggih dan luas halaman yang tersedia. Jarak antar pelinggih juga mencakup jarak dari tembok batas ke pelinggih-pelinggih. Ketentuan-ketentuan jarak itu juga tidak selalu konsisten, misalnya jarak antar pelinggih menggunakan tapak, sedangkan jarak ke “Piasan” dan Pemedal (gerbang) menggunakan depa. Ketentuan ini juga berlaku bagi bangunan dan pelinggih di Madya Mandala.

PELINGGIH (STANA) YANG DIBANGUN. Jika bangunan inti hanya Padmasana, sebagaimana tradisi yang ada di luar Pulau Bali, maka selain Padmasana dibangun juga pelinggih TAKSU sebagai niyasa pemujaan Dewi Saraswati yaitu saktinya Brahma yang memberikan manusia kemampuan belajar/mengajar sehingga memiliki pengetahuan, dan PANGRURAH sebagai niyasa pemujaan Bhatara Kala yaitu “putra” Siwa yang melindungi manusia dalam melaksanakan kehidupannya di dunia. Bangunan lain yang bersifat sebagai penunjang adalah: PIYASAN yaitu bangunan tempat bersemayamnya niyasa Hyang Widhi ketika hari piodalan, di mana diletakkan juga sesajen (banten) yang dihaturkan. BALE PAMEOSAN adalah tempat Sulinggih memuja. Di Madya Mandala dibangun BALE GONG, tempat gambelan, BALE PESANDEKAN, tempat rapat atau menyiapkan diri dan menyiapkan banten sebelum masuk ke Utama Mandala. BALE KULKUL yaitu tempat kulkul (kentongan) yang dipukul sebagai isyarat kepada pemuja bahwa upacara akan dimulai atau sudah selesai.

Jika ingin membangun Sanggah pamerajan yang lengkap, bangunan niyasa yang ada dapat “turut” 3,5,7,9, dan 11. “Turut” artinya “berjumlah”. Turut 3: Padmasari, Kemulan Rong tiga (pelinggih Hyang Guru atau Tiga Sakti: Brahma, Wisnu, Siwa), dan Taksu. Jenis ini digunakan oleh tiap keluarga di rumahnya masing-masing. Turut 5: Padmasari, Kemulan Rong Tiga, Taksu, Pangrurah, “Baturan Pengayengan” yaitu pelinggih untuk memuja ista dewata yang lain. Turut 7: adalah turut 5 ditambah dengan pelinggih Limas cari (Gunung Agung) dan Limas Catu (Gunung Lebah). Yang dimaksud dengan Gunung Agung dan Gunung Lebah (Batur) adalah symbolisme Hyang Widhi dalam manifestsi yang menciptakan “Rua Bineda” atau dua hal yang selalu berbeda misalnya: lelaki dan perempuan, siang dan malam, dharma dan adharma, dll. Turut 9 adalah turut 7 ditambah dengan pelinggih Sapta Petala dan Manjangan Saluwang. Pelinggih Sapta Petala adalah pemujaan Hyang Widhi sebagai penguasa inti bumi yang menyebabkan manusia dan mahluk lain dapat hidup. Manjangan Saluwang adalah pemujaan Mpu Kuturan sebagai Maha Rsi yang paling berjasa mempertahankan Agama Hindu di Bali. Turut 11 adalah turut 9 ditambah pelinggih Gedong Kawitan dan Gedong Ibu. Gedong Kawitan adalah pemujaan leluhur laki-laki yang pertama kali datang di Bali dan yang mengembangkan keturunan. Gedong Ibu adalah pemujaan leluhur dari pihak wanita (istri Kawitan).

Cara menempatkan pelinggih-pelinggih itu sesuai dengan konsep Hulu dan Teben, di mana yang diletakkan di hulu adalah Padmasari/Padmasana, sedangkan yang diletakkan di teben adalah pelinggih berikutnya sesuai dengan turut seperti diuraikan di atas. Bila halamannya terbatas sedangkan pelinggihnya perlu banyak, maka letak bangunan dapat berbentuk L yaitu berderet dari pojok hulu ke teben kiri dan keteben kanan.

Sumber: Bhagawan Dwija

Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, Geria Tamansari Lingga Ashrama, Jalan Pantai Lingga, Banyuasri, Singaraja - Bali. Telpon: 0362-22113, 27010. HP 081-797-1986-4

http://www.babadbali.com/astakosalakosali/astakosala.htm

sumber foto: http://3.bp.blogspot.com  

Asta Kosala Kosali merupakan Fengshui-nya Bali, adalah sebuah tata cara, tata letak, dan tata bangunan untuk bangunan tempat tinggal serta bangunan tempat suci yang ada di Bali yang sesuai dengan landasan Filosofis, Etis, dan Ritual dengan memperhatikan konsepsi perwujudan, pemilihan lahan, hari baik (dewasa) membangun rumah, serta pelaksanaan yadnya.

Untuk melakukan pengukurannya pun lebih menggunakan ukuran dari Tubuh yang mpunya rumah. mereka tidak menggunakan meter tetapi menggunakan seperti

1. Musti (ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas),
2. Hasta (ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka)
3. Depa (ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan)

A Landasan Filosofis, Etis. dan Ritual

A.1. Landasan filosofis.

1.1. Hubungan Bhuwana Alit dengan Bhuwana Agung.

Pembangunan perumahan adalah berlandaskan filosofis bhuwana alit bhuwana agung. Bhuwana Alit yang berasal dari Panca Maha Bhuta adalah badan manusia itu sendiri dihidupkan oleh jiwatman. Segala sesuatu dalam Bhuwana Alit ada kesamaan dengan Bhuwana Agung yang dijiwai oleh Hyang Widhi. Kemanunggalan antara Bhuwana Agung dengan Bhuwana Alit merupakan landasan filosofis pembangunan perumahan umat Hindu yang sekaligus juga menjadi tujuan hidup manusia di dunia ini.

1.2. Unsur- unsur pembentuk.

Unsur pembentuk membangun perumahan adalah dilandasi oleh Tri Hit a Karana dan pengider- ideran (Dewata Nawasanga). Tri Hita Karana yaitu unsur Tuhan/ jiwa adalah Parhyangan/ Pemerajan. Unsur Pawongan adalah manusianya dan Palemahan adalah unsur alam/ tanah. Sedangkan Dewata Nawasanga (Pangider- ideran) adalah sembilan kekuatan Tuhan yaitu para Dewa yang menjaga semua penjuru mata angin demi keseimbangan alam semesta ini.

A.2. Landasan Etis

2.1. Tata Nilai.

Tata nilai dari bangunan adalah berlandaskan etis dengan menempatkan bangunan pemujaan ada di arah hulu dan bangunan- bangunan lainnya ditempatkan ke arah teben (hilir). Untuk lebih pastinya pengaturan tata nilai diberikanlah petunjuk yaitu Tri Angga adalah Utama Angga, Madya Angga dan Kanista Angga dan Tri Mandala yaitu Utama, Madya dan Kanista Mandala.

2.2. Pembinaan hubungan dengan lingkungan.

Dalam membina hubungan baik dengan lingkungan didasari ajaran Tat Twam Asi yang perwujudannya berbentuk Tri Kaya Parisudha

A.3. Landasan Ritual

Dalam mendirikan perumahan hendaknya selalu dilandaskan dengan upacara dan upakara agama yang mengandung makna mohon ijin, memastikan status tanah serta menyucikan, menjiwai, memohon perlindungan Ida Sang Hyang Widhi sehingga terjadilah keseimbangan antara kehidupan lahir dan batin.

B. Konsepsi perwujudan

Konsepsi perwujudan perumahan umat Hindu merupakan perwujudan landasan dan tata ruang, tata letak dan tata bangunan yang dapat dibagi dalam :

1. Keseimbangan alam
2. Rwa Bhineda, Hulu- teben, Purusa- Pradhana
3. Tri Angga dan Tri Mandala.
4. Harmonisasi dengan lingkungan.
5. Keseimbangan Alam:
Wujud perumahan umat Hindu menunjukkan bentuk keseimbangan antara alam Dewa, alam manusia dan alam Bhuta (lingkungan) yang diwujudkan dalam satu perumahan terdapat tempat pemujaan tempat tinggal dan pekarangan dengan penunggun karangnya yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.

6. Rwa Bhineda, Hulu Teben, Purusa Pradhana.

Rwa Bhineda diwujudkan dalam bentuk hulu teben (hilir). Yang dimaksud dengan hulu adalah arah/ terbit matahari, arah gunung dan arah jalan raya (margi agung) atau kombinasi dari padanya. Perwujudan purusa pradana adalah dalam bentuk penyediaan natar. sebagai ruang yang merupakan pertemuan antara Akasa dan Pertiwi.

7. Tri Angga dan Tri Mandala.

Pekarangan Rumah Umat Hindu secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian (Tri Mandala) yaitu Utama Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai utama (seperti tempat pemujaan). Madhyama Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai madya (tempat tinggal penghuni)
dan Kanista Mandala untuk penempatan bangunan yang
bernilai kanista (misalnya: kandang).
Secara vertikal masing- masing bangunan dibagi menjadi 3 bagian (Tri Angga) yaitu Utama Angga adalah atap, Madhyama angga adalah badan bangunan yang terdiri dari tiang dan dinding, serta Kanista Angga adalah batur (pondasi).

8. Harmonisasi dengan potensi lingkungan.

Harmonisasi dengan lingkungan diwujudkan dengan memanfaatkan potensi setempat seperti bahan bangunan dan prinsip- prinsip bangunan Hindu.

C. Pemilihan Tanah Pekarangan.

1. Tanah yang dipilih untuk lokasi membangun perumahan diusahakan tanah yang miring ke timur atau miring ke utara, pelemahan datar (asah), pelemahan inang, pelemahan marubu lalah(berbau pedas).

2. Tanah yang patut dihindari sebagai tanah lokasi membangun perumahan adalah :

2.1. karang karubuhan (tumbak rurung/ jalan),
2.2. karang sandang lawe (pintu keluar berpapasan dengan persimpangan jalan),
2.3. karang sulanyapi (karang yang dilingkari oleh lorong (jalan)
2.4. karang buta kabanda (karang yang diapit lorong/ jalan),
2.5. karang teledu nginyah (karang tumbak tukad),
2.6. karang gerah (karang di hulu Kahyangan),
2.7. karang tenget,
2.8. karang buta salah wetu,
2.9. karang boros wong (dua pintu masuk berdampingan sama tinggi),
2.10. karang suduk angga, karang manyeleking dan yang paling buruk adalah
2.11. tanah yang berwarna hitam- legam, berbau “bengualid” (busuk)

3. Tanah- tanah yang tidak baik (ala) tersebut di atas, dapat difungsikan sebagai lokasi membangun perumahan jikalau disertai dengan upacara/ upakara agama yang ditentukan, serta dibuatkan palinggih yang dilengkapi dengan upacara/ upakara pamarisuda.

4. Perumahan Dengan Pekarangan Sempit, bertingkat dan Rumah Susun.

C.1. Pekarangan Sempit.

Dengan sempitnya pekarangan, penataan pekarangan sesuai dengan ketentuan Asta Bumi sulit dilakukan. Untuk itu jiwa konsepsi Tri Mandala sejauh mungkin hendaknya tercermin (tempat pemujaan, bangunan perumahan, tempat pembuangan (alam bhuta).
Karena keterbatasan pekarangan tempat pemujaan diatur sesuai konsep tersebut di atas dengan membuat tempat pemujaan minimal Kemulan/ Rong Tiga atau Padma, Penunggun Karang dan Natar.

C.2. Rumah Bertingkat.

Untuk rumah bertingkat bila tidak memungkinkan membangun tempat pemujaan di hulu halaman bawah boleh membuat tempat pemujaan di bagian hulu lantai teratas.

C.3. Rumah Susun.

Untuk rumah Susun tinggi langit- langit setidak- tidaknya setinggi orang ditambah 12 jari. Tempat pemujaan berbentuk pelangkiran ditempatkan di bagian hulu ruangan.

D. Dewasa Membangun Rumah.

D.1. Dewasa Ngeruwak :

Wewaran : Beteng, Soma, Buda, Wraspati, Sukra, Tulus, Dadi.
Sasih: Kasa, Ketiga, Kapat, Kedasa.

D.2. Nasarin :

Watek: Watu.
Wewaran: Beteng, soma, Budha, Wraspati, Sukra, was, tulus, dadi,
Sasih: Kasa, Katiga, Kapat, Kalima. Kanem.

D.3. Nguwangun

Wewaran: Beteng, Soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi.

D.4. Mengatapi

Wewaran : Beteng, was, soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi.
Dewasa ala : geni Rawana, Lebur awu, geni murub, dan lain- lainnya.

D.5. Memakuh/ Melaspas

Wewaran : Beteng, soma, Budha. Wraspati, Sukra, tulus, dadi.
Sasih : Kasa, Katiga, Kapat, Kadasa.

E. Upacara Membangun Rumah.

E.1. Upacara Nyapuh sawah dan tegal.

Apabila ada tanah sawah atau tegal dipakai untuk tempat tinggal.
Jenis upakara : paling kecil adalah tipat dampulan, sanggah cucuk, daksina l, ketupat kelanan, nasi ireng, mabe bawang jae. Setelah “Angrubah sawah” dilaksanakan asakap- sakap dengan upakara Sanggar Tutuan, suci asoroh genep, guling itik, sesayut pengambeyan, pengulapan, peras panyeneng, sodan penebasan, gelar sanga sega agung l, taluh 3, kelapa 3, benang + pipis.

E.2. Upacara pangruwak bhuwana dan nyukat karang, nanem dasar wewangunan.

Upakaranya ngeruwak bhuwana adalah sata/ ayam berumbun, penek sega manca warna.
Upakara Nanem dasar: pabeakaonan, isuh- isuh, tepung tawar, lis, prayascita, tepung bang, tumpeng bang, tumpeng gede, ayam panggang tetebus, canang geti- geti.

E.3. Upakara Pemelaspas.

Upakaranya : jerimpen l dulang, tumpeng putih kuning, ikan ayam putih siungan, ikan ayam putih tulus, pengambeyan l, sesayut, prayascita, sesayut durmengala, ikan ati, ikan bawang jae, sesayut Sidhakarya, telur itik, ayam sudhamala, peras lis, uang 225 kepeng, jerimpen, daksina l, ketupat l kelan, canang 2 tanding dengan uang II kepeng. Oleh karena situasi dan kondisi di suatu tempat berbeda, maka upacara

E.4. dan upakara tersebut di atas disesuaikan dengan kondisi setempat.

Asta Kosala Kosali – Fengshui ala Bali

Tanah dan tata letak rumah berpengruh terhadap kehidupan penghuninya.lontar asta kosala kosali atau asta bumi bisa dijadikan acuan.Bagaimanakah bangunan arsitek bali yang bisa membuat penghuninya bisa nyaman dan bahagia.

Menurut ida Pandita dukuh Samyaga,perkebangan arsitektur bangunan Bali,tak lepas dari peran beberapa tokoh sejarah bali Aga berikut zaman Majapahit. Tokoh Kebo Iwa dan Mpu Kuturan yang hidup pada abad ke 11,atau zaman pemerintahan Raja Anak wungsu di Bali banyak mewarisi landasan pembanguna arsitektur Bali.
Danghyang Nirartha yang hidup pada zaman Raja Dalem Waturenggong setelah ekspidisi Gajah Mada ke Bali abad 14,juga ikut mewarnai khasanah arsitektur tersebut ditulis dalam lontar Asta Bhumi dan Asta kosala-kosali yang menganggap Bhagawan Wiswakarma sebagai dewa para arsitektur.

Penjelasan dikatakan oleh Ida Pandita Dukuh Samyaga.Lebih jauh dikemukakan,Bhagawan Wiswakarma sebagai Dewa Arsitektur,sebetulnya merupakan tokoh dalam cerita Mahabharata yang dimintai bantuan oleh Krisna untuk membangun kerjaan barunya.Dalam kisah tersebut,hanya Wismakarma yang bersatu sebagai dewa kahyangan yang bisa menyulap laut menjadi sebuah kerajaan untuk Krisna.Kemudian secara turun-temurun oleh umat Hindu diangap sebagai dewa arsitektur.

Karenanya,tiap bangunan di bali selalu disertai dengan upacara pemujaan terhadap Bhagawan Wiswakarma.Upacara demikian di lakukan mulai dari pemilihan lokasi,membuat dasar bagunan sampai bangunan selesai.Hal ini bertujuan minta restu kepada Bhagawan Wiswakarma agar bangunan itu hidup dan memancarkan vibrasi positif bagi penghuninya.Menurut kepercayaan masyarakat Hindu Bali,bangunan memiliki jiwa bhuana agung (alam makrokosmos) sedangkan manusia yang menepati bangunan adalah bagian dari buana alit (mikrokosmos). Antara manusia (mikrokosmos) dan bangunan yang ditempati harus harmonis,agar bisa mendapatkan keseimbangan anatara kedua alam tersebut.Karena itu,mebuat bagunan harus sesuai dengan tatacara yang ditulis dalam sastra Asta Bhumi dan Atas Kosala-kosali sebagai fengsui Hindu Bali.

Tanah

Membuat rumah yang dapt mendatangkan keberuntungan bagi penghuninya,bagi rohaniwan dari Banjar Semaga,Desa Penatih,Denpasar ini harus diawali dengan pemilihan lokasi (tanah) yang pas.Lokasi yang bagus dijadikan bagunan adalah tanah yang posisinya lebih rendah (miring) ke timur (sebelum direklamasi). Namun di luar lahan bukan milik kita,posisinya lebih tinggi.Demikian juga tanah bagian utaranya juga harus lebih tinggi.Bila tanah di pinggir jalan,usahakan posisinya tanah dipeluk jalan.Sangat baik bila ada air di arah selatan tetapi bukan dari sungai yang mengalir deras.Air harus berjalan pelan,tetapi posisi sungai juga harus memeluk tanah ,bukan sebaliknya menebas lokasi tanah.Diyakini,aliran air yang lambat membuat Dewa air sebagai pembawa kesuburan dan rejeki banyak terserap dalam deras.

Selain letak tanah,tekstur tanah juga harus dipastikan memiliki kualitas baik.Tanah berwarna kemerahan dan tidak berbau termasuk jenis tanah yang bagus untuk tempat tinggal.Untuk menguji tekstur tanah,cobalah genggam tanah tersebut.Jika setelah lepas dari genggaman tanah itu terurai lagi,berarti kualitas tanah tersebut cocok dipilih untuk lokasi perumahan.Cara lain untuk menguji tekstur tanah yang baik adalah dengan cara melubangi tanah tersebut sedalam 40 Cm persegi.Kemudian lubang itu diurug (ditimbun) lagi dengan tanah galian tadi.

Jika lubang penuh atau kalau bisa ada sisa oleh tanah urugan itu, berati tanah itu bagus untuk rumah.Sebaliknya jika tanah untuk menutup lubang tidak bisa memenuhi (jumlahnya kurang) berati tanah tersebut tidak bagus dan tidak cocok untuk rumah karena tergolong tanah anggker.Akan lebih baik memilih tanah yang terletak di utara jalan karena lebih mudah untuk melakukan penataan bangunan menurut konsep Asta kosala-kosali.Misalnya membuat pintu masuk rumah,letak bangunan,dan tempat suci keluarga (merajan/sanggah).Lokasi seperti ini memungkinkan untuk menangkap sinar baik untuk kesehatan.Tata letak pintu masuk yang sesuai,akan memudahkan menangkap Dewa Air mendatangkan rejeki.

Kurang Bagus

Jangan membangun rumah di bekas tempat-tempat umum seperti bekas balai banjar (balai masyarakat), bekas pura (tempat suci), tanah bekas tempat upacara ngaben massal(pengorong/peyadnyan)bekas gria (tempat tinggal pedande/pendeta) dan tanah bekas kuburan.Usahakan pula untuk tidak memilih lokasi (tanah)bersudut tiga atau lebih dari bersudut empat.Tanah di puncak ketinggian,di bawah tebing atau jalan juga kurang bagus untuk rumah karena membuat rejeki seret dan penghuninya akan sakit – sakitan.Demikian juga tanah yang terletak di pertigaan atau di perempatan jalan (simpang jalan) tidak bagus untuk tempat tinggal tetapi cocok untuk tempat usaha.Tanah jenis ini termasuk tanah angker karena merupakan tempat hunian Sang Hyang Durga Maya dan Sang Hyang Indra Balaka.

Tata Letak Bangunan

Setelah direklamasi (ditata) diusahkan bangunan yang terletak di timur,lantainya lebih tinggi sebab munurut masyarakat bali selatan umumnya,bagian timur dianggap sebagai hulu(kepala)yang disucikan.Sedangkan menurut fungsui,posisi bangunan seperti itu memberi efek positif.Sinar matahari tidak terlalu kencang,dan air tidak sampai ke bagian hulu.Bagunan yang cocok untuk ditempatkan diareal itu adalah tempat suci keluarga yg disebut merajan atau sanggah.Dapur diletakan di arah barat (barat daya) dihitung dari tempat yang di anggap sebagai hulu (tempat suci) atau di sebelah kiri pintu masuk areal rumah, karena menurut konsep lontar Asta Bumi,tempat ini sebagai letak Dewa Api.

Sumur dan lumbung tempat penyimpanan padi sedapat mungkin diletakan di sebelah timur atau utara dapur.Atau di sebelah kanan pintu gerbang masuk rumah karena melihat posisi Dewa Air.
Bangunan balai Bandung (tempat tidur) diletakan diarah utara,sedangkan balai adat atau balai gede ditempatkan disebelah timur dapur dan diselatan balai Bandung.Bangunan penunjang lainnya diletakkan di sebelah selatan balai adat.

Pintu Masuk

Selain menemukan posisinya yang tepat untuk menangkap dewa air sebagai sumber rejeki ukuran pintu masuk juga harus diatur. Jika membuat pintu masuk lebih dari satu,lebar pintu masuk utama dan lainya tidak boleh sama.Termasuk tinggi lantainya juga tidak boleh sama. Lantai pintu masuk utama (dibali berbentuk gapura/angkul – angkul) harus dibuat lebih tinggi dari pintu masuk mobil menuju garase.jika dibuat sama akan memberi efek kurang menguntungkan bagi penghuninya bisa boros atau sakit-sakitan.Akan sangat bagus bila di sebelah kiri (sebelah timur jika rumah mengadap selatan) diatur jambangan air (pot air) yang disi ikan.

Ini sebagai pengundang Dewa Bumi untuk memberi kesuburan seisi rumah.Tak menempatkan benda – benda runcing dan tajam yang mengarah ke pintu masuk rumah seperti penempatan meriam kuno,tiang bendera,listrik dan tiang telepon atau tataman yang berbatang tinggi seperti pohon palm,karena membuat penghuninya sakit sakitan akibat tertusuk.Got dan tempat pembungan kotoran sedapat mungkin di buat di posisi hilir dan lebih rendah dari pintu masuk.Kalau menempatkan kolam di pekarangan rumah hendaknya dibuat di atas permukaan tanah(bukan lobang).Kolam di buat di sebelah kanan pintu masuk dengan posisi memelu rumah,bukan berlawanan.Karena keberadaan kolam yang tidak sesuai akan mempengaruhi kesehatan penghuni rumah.

http://cvastro.com/tahukah-anda/kontraktor-bali-asta-kosala-kosali-fengshui-bali-tata-letak-ruang-rumah-bali/

sumber foto: http://www.baliaround.com/balinese-house-architecture/

Di bulan nopember dan desember, sebagian orang memang mengenalnya sebagai musim-musim kelabu … salah satu contohnya adalah masyarakat di tanah air yang mulai khawatir akan musim hujan yang berkepanjangan yang biasanya selalu menimbulkan kebanjiran. Penyanyi tanah air dian pisesha pun tidak luput mengenang bulan-bulan ini dengan lagu cintanya yang berjudul “hujan di bulan desember”.  Bulan Desember oleh kalangan tertentu memang memiliki keunikannya tersendiri, sementara masyarakat di belahan bumi garis katulistiwa menyambut bulan desember ini dengan musim hujan, lain lagi dengan masyarakat di belahan kutub utara menyambut bulan desember ini dengan turunnya hujan salju.

Beberapa orang memang khawatir akan hujan salju ini, seperti orang yang sering lalu lalang di jalan raya, karena jalanan yang mulai licin hingga banyak terjadi kecelakaan,. Tidak ketinggalan bandara internasional Frankfurt sempat di tutup dan beberapa penerbangan sempat di tunda karena alasan lebatnya hujan salju yang mengguyur kota Frankfurt. Dari sekian banyak yang khawatir akan Salju ini, namun ada juga yang menyambut hujan salju ini dengan gembira, khususnya para anak-anak yang dengan begitu gembiranya bermain di bawah rintik-rintik hujan salju.

Hujan salju di bulan desember ini menurut pengamatan sebagian besar masyarakat eropa  memang cukup dingin dan lebih lebat dari tahun-tahun sebelumnya. Turunya salju persis sebelum datangnya hari raya suci umat kristiani disambut gembira oleh warga eropa yang memang sedang menunggu-nunggu kedatangannya, dan kali ini mereka mengatakannya sebagai “White Christmas” karena hujan salju turun dimana-mana tidak hanya di negara jerman melainkan juga di negara tetangganya yaitu Belgia.

Hujan salju yang mengguyur Belgia tidak hanya terjadi di ibu kota negara Belgia Brussel melainkan juga terjadi di Brugelette, dimana didalamnya terdapat Pura Agung Santi Bhuana, yaitu Pura umat Hindu yang baru saja di pelaspas tanggal 18 Mei 2009 dan piodalannya yang pertama di rayakan di hari raya Saraswati 1 Agustus 2009. Pura yang tampak megah dan angker dengan batu alamnya yang berwarna hitam yang didatangkan langsung dari tanah air, dimusim winter ini tampak keputihan di selimuti oleh salju. Pura yang dibangun dengan konsep Tri Angga yang terdiri dari Utama Mandala, Madya Mandala, Nista Mandala, tampak ketiga halamannya penuh di selimuti dengan salju.

Dalam rangka mempersiapkan rahinan rutin bulan purnama yang di bulan desember ini merupakan Purname Kepitu yang jatuh pada tanggal 31 Desember 2009, Klian Banjar umat Hindu di Belgia Made Agus Wardana, menyempatkan diri untuk melakukan survey ke Pura Agung Santi Bhuana yang terletak di tengah-tengah taman wisata Parc Paradisio.  Derasnya hujan salju serta dinginnya suhu udara di sekitar Pura tidak menciutkan semangat Made Agus Wardana selaku Klian banjar untuk ngayah ngecheck keadaan Pura yang dibangun oleh pengusaha Belgia Eric Domb untuk umat hindu di Belgia ini. Survey yang dilakukan Made Agus Wardana ini akan sangat bermanfaat buat umat hindu Belgia yang akan datang tangkil sembahyang Purname tanggal 31 Desember 2009, khususnya sangat membantu dalam menentukan jenis pakaian apa yang sekiranya patut dikenakan di saat tumpukan salju setinggi 10 cm menyelimuti semua halaman Pura dan sikap persembahyangan yang mana sekiranya akan di pilih disaat situasi seperti ini.

Secara umum di bali kita mengenal sikap persembahyangan Padmasana yaitu duduk bersila bagi laki-laki atau bersimpuh bagi wanita, namun di saat musim winter di temani dinginnya hujan salju yang turun rintik-rintik, sikap persembahyangan Pada Asana yaitu sembahyang berdiri, kemungkinan akan menjadi solusi yang tepat untuk melaksanakan persembahyangan di saat tumpukan salju masih tinggi di Pura Agung Santi Bhuana.  Apapun jenis sikap persembahnyangan yang akan dilakukan umat Hindu di Belgia, yang terpenting pikiran tetap terpusatkan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Seperti kita ketahui bersama, Ida Sang Hyang Widi Wasa itu tidak hanya Maha Penyayang dan Maha Pengampun, tapi juga “Maha Mengerti” segala situasi dan kondisi umatnya.

Melihat pemandangan yang terjadi di Pura Agung Santi Bhuana, mulai dari Meru, Bale Pengaruman, Bale Piyasan, Bale Gong, Bale Kulkul, Bale Gedong, yang kesemuanya beratapkan (raab) duk, mungkin bisa memberikan referensi baru bagi para arsitek bali serta perancang Pura yang sekiranya di kemudian hari akan membangun Pura di eropa untuk juga memperhitungkan beban salju pada struktur bangunan pelinggih.

Akhir kata, fenomena yang terjadi di eropa di bulan desember ini yang penuh dengan salju yang membuat seluruh bangunan tampak keputihan, tidak hanya memunculkan kekhusukkan bagi umat kristiani yang merayakan  “White Christmas” tapi juga memunculkan kesan baru yang sangat damai bagi umat hindu di belgia yang akan melakukan persembahyangan rahinan Purname Kepitu , wrespati pon wuku uye, tanggal 31 Desember 2009 di “white tempel” Pura Agung Santi Bhuana Belgia.

Sumber Foto: Made Agus Wardana (Belgia)

1. Sejarah Padmasana

Pemujaan Sanghyang Widhi Wasa sebagai Bhatara Siwa berkembang di Bali sejak abad ke-9. Simbol pemujaan yang digunakan adalah Lingga-Yoni. Keadaan ini berlanjut sampai abad ke-13 pada zaman Dinasti Warmadewa. Sejak abad ke-14 pada rezim Dalem Waturenggong (Dinasti Kresna Kepakisan), penggunaan Lingga-Yoni tidak lagi populer, karena pengaruh ajaran Tantri, Bhairawa, dan Dewa-Raja. Lingga-Yoni diganti dengan patung Dewa yang dipuja sehingga cara ini disebut Murti-Puja. Ketika Danghyang Niratha datang di Bali pada pertengahan abad ke-14 beliau melihat bahwa cara Murti-Puja diandaikan seperti bunga teratai (Padma) tanpa sari. Maksudnya niyasa pemujaan yang telah ada seperti Meru dan Gedong hanyalah untuk Dewa-Dewa sebagai manifestasi Sanghyang Widhi namun belum ada sebuah niyasa untuk memuja Sanghyang Widhi sebagai Yang Maha Esa, yakni Siwa. Inilah yang digambarkan sebagai padma tanpa sari. Danghyang Niratha setelah menjadi Bhagawanta (Pendeta Kerajaan) mengajarkan kepada rakyat Bali untuk membangun Padmasana sebagai niyasa Siwa, di samping tetap mengadakan niyasa dengan sistem Murti-Puja.

2. Pengertian Padmasana

Padma dalam Bahasa Bali artinya bunga teratai, dan Sana artinya duduk. Dewa Siwa digambarkan sebagai Dewa yang duduk di atas bunga teratai. Bunga teratai yang berhelai delapan tepat pula sebagai simbol delapan kemahakuasaan Sanghyang Widhi yang disebut Asta-Aiswarya. Asta-Aiswarya ini juga menguasai delapan penjuru mata angin. Keistimewaan bunga padma adalah: puncak atau mahkotanya bulat, daun bunganya delapan, tangkainya lurus, dan tumbuh hidup di tiga lapisan: lumpur, air, dan udara. Hal-hal ini memenuhi simbol unsur-unsur filsafat Ketuhanan atau Widhi Tattwa, yakni keyakinan, kejujuran, kesucian, keharuman, dan ketulusan.

3. Stana-Stana di Padmasana

Stana Sanghyang Siwa Raditya.

Dalam lontar Siwagama diuraikan bahwa Bhatara Siwa mempunyai murid-murid terdiri dari para dewa. Diantaranya ada murid yang paling pintar dan bisa meniru Siwa, murid ini adalah Bhatara Surya; oleh karena itu Bhatara Surya dianugrahi nama tambahan: Sanghyang Siwa Raditya dan berwenang sebagai wakil-Nya di dunia.

Stana Bhatara Guru.

Sebagai rasa hormat dan terima kasih Bhatara Surya atas anugerah yang diberikan, maka Siwa dipuja sebagai guru, dan selanjutnya Siwa dikenal juga sebagai Bhatara Guru.

Stana Bhatara Surya.

Bhatara Siwa acintiya. Bila manusia ingin mengetahui kemahakuasaan Bhatara Siwa, lihatlah matahari karena mataharilah sebagai salah satu contoh asta aiswarya-Nya, karena kehidupan di dunia bersumber dari kekuatan energi matahari.

Stana Sanghyang Tri Purusa.

Dalam Wrhaspati Tattwa, Sangyang  Widhi dinyatakan sebagai Tri Purusa yaitu: Parama-Siwa, Sadha-Siwa, dan Siwa. Parama-Siwa, adalah Sanghyang Widhi dalam keadaan niskala, tidak beraktivitas, tidak berawal, tidak berakhir, tenang, kekal abadi, dan memenuhi seluruh alam semesta. Sadha-Siwa, adalah Sanghyang Widhi yang beraktivitas sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur. Siwa, adalah Sanghyang Widhi yang utaprota sehingga nampak berwujud sebagai mahluk hidup.

4. Kelengkapan Niyasa Padmasana

a. Bedawangnala
Lontar Kaurawasrama menyebutkan, dasar gunung Mahameru adalah bedawangnala. Dalam bahasa Kawi, bedawangnala terdiri dari dua kata: beda artinya ruang, dan nala artinya api. Jadi bedawangnala artinya ruang yang berisi api atau magma. Lontar Agni Purana (Kurma Awatara) menyebutkan adanya perang yang sengit antara para Dewa dengan para Detya. Dalam perang itu Dewa-Dewa  dikalahkan. Para Dewa mohon agar Wisnu menyelamatkan. Bhatara Wisnu kemudian meminta kedua pihak yang berperang mengaduk lautan susu di mana gunung Mandara sebagai tangkai pengaduk dan Naga Basuki sebagai tali pengaduk. Para Dewa memegang ekor naga dan para Detya memegang kepala naga. Tetapi ketika perputaran dimulai gunung Mandara yang tidak mempunyai dasar tenggelam ke dalam lautan susu. Bhatara Wisnu yang menjelma sebagai seekor kura-kura raksasa kemudian muncul untuk menyelamatkan gunung Mandara. Oleh karena itu bedawang di Bali dilukiskan sebagai kura-kura yang moncongnya menyemburkan api.

b. Naga
Lontar Siwagama dan lontar Sri Purana Tattwa menyebutkan bahwa setelah bumi diciptakan  oleh Bhatara Siwa dan Bhatari Uma lengkap dengan segala isinya maka pada suatu ketika terjadilah bencana, di mana tumbuh-tumbuhan mati, air menyurut dan udara mengandung penyakit. Sanghyang Trimurti bermaksud menyelamatkan manusia. Brahma berwujud sebagai Naga Anantabhoga yang berwarna merah berada di dalam inti bumi; Wisnu berwujud sebagai  Naga Basuki yang berwarna hitam berada dalam laut, dan Iswara berwujud sebagai Naga Taksaka yang berwarna putih bersayap berada di udara.

c. Garuda Wisnu
Di lontar Adi Parwa diceritakan sebagai berikut: Sang Kadru dan Sang Winata adalah istri-istri dari Bhagawan Kasyapa, Sang Kadru berputra naga yang ribuan banyaknya dan Sang Winata berputra Sang Aruna dan Sang Garuda. Pada suatu ketika keduanya membicarakan Uchaisrawa (kuda putih) yang keluar dari pemuteran  gunung Mandaragiri. Sang Kadru mengatakan warna kuda itu hitam, sedangkan Sang Winata mengatakan kuda itu putih. Karena sama-sama teguh mempertahankan pendapat akhirnya mereka sepakat untuk bertaruh, bahwa siapa yang kalah akan mejadi budak dari yang menang. Para naga putra Sang Kadru tahu bahwa warna kuda itu putih. Untuk memenangkan ibunya para naga menyemprotkan bisa ke Uchaiswara sehingga berwarna hitam. Sang Winata kalah lalu  menjadi budak Sang Kadru. Anak Sang Winata, yakni Garuda, ingin membebaskan ibunya dari perbudakan. Garuda kemudian  bertanya kepada para naga, bagaimana cara membebaskan ibunya. Sang Naga memberi  tahu agar  ia mencari Tirta Amertha. Sang Garuda mencari tirta itu ke Sorga sampai berperang melawan para Dewa namun tidak berhasil. Bhatara Wisnu yang iba pada nasib Garuda bersedia memberikan Tirta Amertha, namun dengan syarat agar Garuda mau menjadi kendaraan Bhatara Wisnu. Garuda bersedia, dan bersama Wisnu terbang mencari Tirta Amertha.

d. Angsa
Angsa adalah simbul ketenangan dan warna putih bulunya adalah simbul kesucian, ketelitian memilih makanan walaupun mulutnya masuk ke lumpur yang busuk toh lumpur tidak termakan, jadi angsa merupakan simbul kebijaksanaan memilih yang baik, di samping itu pula simbul kewaspadaan sebab baik siang maupun malam seolah-olah angsa tidak penah tidur. Di lontar Indik Tetandingan disebutkan sayap angsa yang terkembang adalah simbul Ongkara: kedua sayapnya melukiskan ardha candra (bulan sabit), badannya yang bulat lukisan windhu, leher dan kepalanya yang mendongak ke atas adalah simbul nada.

e. Acintiya
Acintiya artinya tidak dapat dibayangkan. Namun niyasa Acintiya dilukiskan sebagai tubuh manusia telanjang dengan api di setiap sendinya serta kaki kanan yang terangkat, kepala tanpa bentuk wajah, dan sikap tangan dewa pratistha. Niyasa itu bermakna: tubuh manusia yang telanjang kiasan dari ciptaan Sanghyang Widhi yang utama; api di setiap sendi adalah simbol energi kehidupan; kaki kanan yang terangkat adalah simbol rotasi alam dan kehidupan yang aktif; kepala tanpa bentuk wajah adalah simbol dari keberadaan yang tidak dapat dibayangkan; sikap tangan dewa pratistha adalah simbol kecintaan Sanghyang Widhi pada hasil-hasil ciptaan-Nya.

5. Bentuk, Fungsi, dan Jenis Padmasana

Bentuk dan fungsi Padmasana ada 4, yaitu:

1. Padma Sari: mempunyai rong satu, tidak memakai Bedawangnala dengan palih telu. Stana Sanghyang Tripurusha.

2. Padmasana: mempunyai rong satu, memakai Bedawangnala, dengan palih lima. Stana Bhatara Surya

3. Padma Agung: mempunyai rong dua, memakai Bedawangnala, dengan palih lima. Stana Sanghyang Siwa Raditya

4. Padma Angelayang: mempunyai rong tiga, memakai Bedawangnala, dengan palih pitu. Stana Bhatara Guru

Jenis Padmasana berdasarkan lokasi menurut pengider-ider bhuana (penjuru mata angin) ada 9 jenis,  yaitu:

No Nama Letak di Menghadap ke
1 Padma Kencana timur (purwa) barat (pascima)
2 Padmasana selatan (daksina) utara (uttara)
3 Padmasari barat (pascima) timur (purwa)
4 Padma lingga utara (uttara) selatan (daksina)
5 Padma asta sedhana tenggara (agneya) barat laut (wayabya)
6 Padma noja barat daya (nairity) timur laut (airsaniya)
7 Padma karo barat laut (wayabya) tenggara (agneya)
8 Padma saji timur laut (airsanya) barat daya (nairity)
9 Padma kurung tengah-tengah Pura (madya) pintu keluar/ masuk (pemedal)

6. Tata Cara Membangun Padmasana

Upacara dan upakara:

Saat mulai membangun.

Caru pengeruak: yaitu caru ayam berumbun lengkap dengan runtutannya dan uripnya adalah 33, serta letaknya asanca-desa, yaitu
Di timur :  5 tanding
Di selatan :  9 tanding
Di barat : 7 tanding
Di utara : 4 tanding
Di tengah : 8 tanding.

Beralaskan sengkwi bersayap; segehan agung, kawisan, kulitnya dan lain-lain di tempatkan di tengah. Byakala , Durmangala, dan Prayascita masing-masing satu. Segehan agung lengkap dengan penyambleh.

Banten Pemakuhan: yang terdiri dari peras penyeneng, ajuman putih kuning dagingnya ayam betutu, me-ukem-ukem (di sembeleh dari punggung), daksina yang berisi uang 225, canang lengewangi-buratwangi, canang raka, nyahnyah gula kelapa dan tipat kelanan. Banten ini ditaruh di sebuah sanggar di hulu bangunan.

Banten untuk dasar bangbang: adalah tumpeng merah dua buah, dilengkapi dengan jajan, buah-buhan, lauk-pauk dengan dagingnya ayam biying yang dipanggang, sampian tangga. Banten ini dialasi kulit peras.

Canang Pendeman: adalah canang burat wangi, pengeraos, canang tubungan, dan pesucian, masing-masing satu tanding.

Alat penyugjug terdiri dari sebuah tangkai dapdap yang bercabang tiga, sebuah mangkuk kecil, cicin bermata mirah dan sebuah keris.

Sebuah bata merah bergambar bedawangnala di mana punggungnya bertulis aksara “Ang” .

Sebuah bata merah lain  bergambar padma bertulis dasa aksara: sa, ba, ta, a, i, na, ma, si, wa, ya.

Sebuah batu bulitan bertulis tri aksara: ang, ung, mang.

Sebuah klungah nyuh gading bertulis ong-kara.

Kelungah dikasturi airnya dibuang lalu ke dalamnya dimasukkan sebuah kwangen berkulit keraras, berisi uang kepeng 33 buah, bertulis ongkara-amertha. Semua banten di atas setelah diupacarai dan disembahyangi, dimasukkan ke dalam lobang dasar bangunan; selanjutnya batu-batu dan adonan semen dapat dicor di atas banten-banten itu.

Setelah bangunan selesai

Upacara Pemakuhan:
Sebagai ungkapan terima kasih kepada Bhagawan Wisma Karma (Dewa seni-bangunan) diwujudkan dengan mohon   tirta pemakuh. Peralatan tukang disertakan dalam upacara ini.

Banten Pemakuhan, peras, lis, soroan, daksina, canang lenga wangi, canang burat wangi dan ketipat kelanan. Caru ayam putih  asoroh eteh-eteh pemakuhan asoroh: bagia, orti, sapsap, ulap-ulap, paso anyar berisi air, daun lalang 11 katih, pengurip-urip darah ayam putih,  susur pekeramas, toya cendana, kumkuman, rantasan, seperadeg, semeti, pahat, uang, andel-andel berisi benang. Toya pemakuhan dari undagi  yang membuat sikut.

Urutan upacara:

Ngetok sunduk, mantra: Bhatara semara, angadegang Bhatara Ratih metemuang ageni mastu astu Ang Ah.

Ngetok lait, mantra: Ingsun anangun sawen anging I Dewa Gunung Agung magelung aningkahang anangun sawen, ana ring maca pada rambat rangkung panjang umur, jeng, jeng, jeng.

Pangurip getih ayam putih, mantra: Mangke sira patini sepisan ngurip kita satuwuk bebataran pinaka bungkah nda.
Sendi pinaka pancer nda
Adegan pinaka punyan nda
Abah-abah pinaka pangpang nda

Raab pinaka ron nda
Kelasa pinaka kembang nda
Daging nda, pinaka woh  nda, urip kita jati
Paripurna urip-urip

Penyapsap gidat sesaka, mantra: Pakulun manusan nira anggada kaken sapuha, menyapuha ganda keringetning wewangunan sidhi rastu.

Semeti, mantra: Om Upi Sangagawenku teka pada urip, teka pada urip, teka pada urip.

Baas Daksina, mantra: Om Siwa sampurna  yang namah.

Tatebus, mantra: Jaya Ang Ang Ang Ah

Upacara Melaspas:

Upacara Melaspas bertujuan mensucikan bangunan agar dapat menstanakan Ista Dewata, menyatukan   sekala dan niskala. Unsur-unsur  sekala adalah bangunan suci, dan unsur niskala adalah Sanghyang Widhi atau Ista Dewata.

Pelaksanaan:

Menghaturkan upakara pesaksian ke Surya, dan nunas tirtha pelukatan.
Nyapsap dengan daun dapdap, lalang, dan toya segara. Matatorek dengan warna merah, putih, hitam, memercikkan  tirtha pelukatan, memercikkan tirta pasupati, dan memukul bangunan tanda menguatkan pasak.
Sulinggih memuja banten pemelaspas.

Upacara Ngenteg Linggih.

Urutan upacara:

1. Memangguh

Kata memangguh berasal dari bahasa Bali: kepangguh atau kepanggih, yang artinya menemukan. Maksudnya adalah menemukan sebidang tanah secara niskala yang kemudian digunakan untuk bangunan Padmasana. Secara skala, bidang tanah diperoleh atau ditemukan dengan membeli, hibah, warisan, dll. Namun secara niskala bidang tanah itu dimohon kepada Sanghyang Widhi, sebagai pemilik dan penguasa semesta.

Banten upacara memangguh pada umumnya berdasar banten bebangkit dengan runtutannya.

2. Nyengker

Nyengker artinya memberi batas-batas bidang tanah di empat penjuru mata angin, yaitu: utara, selatan, barat dan timur. Batas ini sebagai lanjutan upacara memangguh, dengan pengertian skala dan niskala pula. Secara skala, sengker atau batas berbentuk pagar halaman, dan secara niskala, sengker adalah batas bidang tanah yang dimohonkan ke hadapan Sanghyang Widhi. Pelaksanaan upacara nyengker diwujudkan dengan membubuhkan tepung beras (putih) sekeliling pagar bidang tanah.

Bantennya: prayascita, pengulapan, pengambean.

3. Memirak

Memirak dalam bahasa Bali berasal dari kata pirak, yang artinya membeli. Memirak juga ditujukan secara niskala kepada Sanghyang Widhi, lebih dimaksudkan sebagai rasa terima kasih atas ijin dan karunia-Nya karena telah memberikan sebidang tanah. Selain itu dengan upacara memirak, kepada Sanghyang Widhi juga mepiuning (memberitahu) tentang perubahan status tanah, yang sebelumnya mungkin berupa sawah, tegalan, dll., dan kini sudah menjadi sebuah halaman Pura.

Banten upacara memirak, dasarnya suci ageng dengan runtutannya, dan seekor babi guling sebagai kelengkapannya. Sebagai stana Ida Bhatari Pertiwi, dibuat sebuah daksina lingga yang setelah upacara selesai akan dihaturkan ke Pura Subak. Setelah banten pemirak selesai dipuja oleh Sulinggih, maka bagian-bagian babi guling yakni irisan: kuping, moncong, keempat kaki, dan ekor, direcah menjadi 5, ditempatkan di 5 takir yang sudah berisi nasi jakan. Kelima takir itu diletakkan dan dihaturkan ke pertiwi masing-masing di batas bidang: utara, selatan, barat, dan timur.

4. Mecaru

Caru dalam bahasa Bali artinya korban, sedangkan car dalam bahasa Sanskrit artinya keseimbangan dan keharmonisan. Dengan demikian maka caru artinya binatang yang dijadikan korban untuk memohon keseimbangan dan keharmonisan. Yang dimaksud dengan keseimbangan dan keharmonisan adalah Trihitakarana, yaitu tiga hal yang menjadi dasar kehidupan yang baik: parhyangan, pawongan, dan palemahan. Parhyangan adalah hubungan yang seimbang dan harmonis antara manusia dengan Sanghyang Widhi. Pawongan adalah hubungan yang seimbang dan harmonis antara manusia dengan manusia. Palemahan adalah hubungan yang seimbang dan harmonis antara manusia dengan alam. Menurut ajaran agama Hindu-Bali, tanpa ketiga keseimbangan dan keharmonisan itu manusia tidak akan menemukan mokshartam jagaditha.  Dalam kaitan ini, Padmasana sebagai stana Sanghyang Widhi, bukanlah hanya niyasa pemujaan saja, tetapi juga untuk memohon keutuhan Trihitakarana menuju mokshartam jagaditha.

Banten caru yang umumnya digunakan pada upacara ngenteg linggih Padmasana minimal Rsigana berdasar Manca sanak.

5. Mendem akah-pedagingan

Mendem artinya menanam. Akah-pedagingan terdiri dari panca-datu, yaitu : emas, perak, tembaga, besi, dan permata. Kelima unsur (panca –datu) adalah simbol isi bumi, yakni logam dan batu mulia yang diciptakan Sanghyang Widhi pada awal terbentuknya bumi. Akah-pedagingan ditanam pada dasar, dan tengah Padmasana.

6. Memasang orti dan ulap-ulap

Orti adalah sejenis jejahitan berbahan daun rontal. Makna orti adalah pemberitahuan bahwa bangunan Padmasana sudah disucikan. Ulap-ulap adalah  rerajahan pada secarik kain putih yang bermakna mensakralkan bangunan pelinggih. Orti dipasang di puncak bangunan, dan ulap-ulap dipasang di bawah orti.

7. Mendem bagia-palakerti

Bagia artinya bahagia; palakerti artinya hasil dari karma (perbuatan).
Isi bagia palakerti adalah berbagai hasil bumi: buah-buahan dan umbi-umbian (pala gantung dan pala bungkah). Bagia-palakerti ditanam di tanah belakang Padmasana bertujuan untuk memohon pahala yang baik kepada Sanghyang Widhi, karena sang maduwe karya telah melaksanakan upacara ngenteg linggih.

8. Memendak Ida Bhatara

Kata Ida Bhatara artinya “Maha Kuasa yang menyayangi dan melindungi”. Menstanakan Ida Bhatara di Padmasana, seperti yang diuraikan terdahulu, berarti menstanakan Sanghyang Widhi di bangunan niyasa untuk dipuja. Niyasa (simbol) yang digunakan sebagai pralingga dapat berbagai bentuk, misalnya pretima, gopelan, dan ampilan. Yang umum digunakan adalah ampilan, terdiri dari kotak, daksina lingga, dan runtutannya. Setelah ampilan disucikan dan dipasupati, Ida Bhatara dimohonkan berstana di ampilan itu. Prosesnya dengan muspa ngider bhuwana mulai menghadap ke timur untuk memuja Ishwara, ke selatan untuk memuja Brahma, ke barat untuk memuja Mahadewa, ke utara untuk memuja Wisnu, dan ke timur sekali lagi untuk memuja Tripurusha.

9. Mekalahyas

Dengan berpedoman pada lontar Yadnya Prakerti, diyakini bahwa wateking bhuta-kala  atau roh-roh liar selalu ingin mendapatkan tirtha amertha dalam usahanya untuk meningkatkan kesucian. Oleh karena itu roh-roh liar ini selalu bersembunyi di tempat-tempat suci dengan harapan bila ada upacara maka mereka secara tidak disengaja akan memperoleh percikan tirtha amertha dari puja-mantra Pandita. Demikian pula dengan kotak ampilan yang dimohonkan sebagai stana Sanghyang Widhi, tidak luput dari gangguan para roh liar ini. Agar hal itu tidak terjadi maka para roh liar diberikan lelabaan agar tidak mengganggu jalannya upacara dan tidak bersembunyi di niyasa kotak ampilan Ida Bhatara. Lelabaan itu disebut banten kalahyas. Kalahyas terdiri dari dua kata: kala artinya roh liar; hyas artinya menyenangkan. Jadi kalahyas artinya banten untuk menyenangkan roh-roh liar.

10. Melasti

Melasti dalam bahasa Bali terdiri dari dua kata: mala artinya kekotoran atau noda; asti artinya dibuang. Jadi melasti yang asalnya mala-asti, artinya menghanyutkan kekotoran. Upacara melasti dilakukan di laut, karena kegiatan melasti meliputi dua tujuan, yaitu: menghilangkan kekotoran, dan memohon tirtha amertha kamandalu, yakni tirtha suci yang diyakini membawa kesucian, kebaikan, kemakmuran, dan kejayaan atau umur panjang. Yang dimaksud dengan tirtha amerta kamandalu, adalah air dari tujuh buah sungai suci di India, di mana Weda diwahyukan oleh Sanghyang Widhi melalui tujuh Maha Rsi (Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa). Sungai-sungai itu adalah: Gangga, Sindhu, Saraswati, Yamuna, Godhawari, Narmada, dan Sarayu. Oleh karena kita tidak mungkin pergi ke India setiap saat untuk melasti, maka dengan pengertian bahwa ketujuh sungai suci itu bermuara ke laut, dan laut di dunia menyatu, maka diyakini laut di selatan India sebagai muara sungai-sungai suci yang telah mengandung unsur-unsur kesucian, sama dengan laut di mana saja. Oleh karena itu jika melasti ke laut dianggap sama dengan mendapatkan air dari ketujuh sungai suci itu. Karena tujuan melasti seperti yang diuraikan di atas adalah untuk menghanyutkan kekotoran dan mendapatkan tirtha suci, maka kegiatan melasti sering disebut: anganyutaken lara-roga tur sarwaning mala, lan amet tirtha amertha kamandalu ring telenging samudra, artinya menghanyutkan kekotoran dan membuang segala keburukan, serta mendapatkan air suci di tengah lautan. Hanya bila ke laut saja dapat disebut melasti, sedangkan bila ke sumber mata air atau sungai, tidak disebut melasti, tetapi mesucian. Tujuan dan faedahnya tentu berbeda.

11. Ngenteg linggih: Karya Pemungkah dan Pedudusan

Ngenteg linggih artinya: mengokohkan kedudukan Ida Bhatara secara niskala di Padmasana; Karya Pemungkah artinya:  Memohon kesediaan Ida Bhatara berstana di Padmasana; Pedudusan, yang berasal dari kata: pedius-diusan, artinya pensucian.

Prosesi upacara :

Setelah niyasa Ida Bhatara datang dari melasti, maka kotak ampilan diletakkan di sanggar tawang. Di sini Ida Bhatara dihaturi banten catur dan dipuja-mantra oleh Pandita. Setelah itu niyasa Ida Bhatara diturunkan dari sanggar tawang, melalui titi-mahmah lalu diletakkan di Bale Peselang. Kemudian Ida Bhatara dihaturi sesajen kemudian di puja-mantra oleh Pandita. Para peserta upacara, bersembahyang memuja Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan penyelamat dunia. Selanjutnya barulah niyasa Ida Bhatara di letakkan di Bale Pahiasan, untuk dihaturi sesajen dan dipuja-mantra oleh Pandita.

Makna upacara :

Meletakkan niyasa Ida Bhatara di sanggar tawang dan dihaturi banten catur, bermakna niyasa itu mendapat wara-nugraha dari Sanghyang Widhi sebagai Ishwara, Brahma, Mahadewa, dan Wisnu.
Meletakkan niyasa Ida Bhatara di bale peselang, bermakna kehadiran Sanghyang Widhi di alam bwah-loka  untuk menganugrahkan kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan kepada manusia.
Meletakkan niyasa Ida Bhatara di Pahiasan, bermakna sebagai Sanghyang Widhi yang menerima haturan, persembahan, dan pujaan dari manusia yang telah mendapatkan sinar suci-Nya.

12. Pemuspaan

Pemuspaan adalah sembahyang bersama, diawali dengan puja trisandya dan dilanjutkan dengan kramaning sembah. Setelah itu tirtha wangsuh-pada dan bija dibagikan oleh Jero Mangku. Ida Pandita mengisi waktu luang itu dengan dharma-wacana.

13. Mesida-karya

Upacara mesida-karya biasanya dilaksanakan di hari penyineban Ida Bhatara. Didahului dengan menghaturkan banten banten sida-karya, lalu sembahyang bersama, maka niyasa Ida Bhatara berupa kotak ampilan disimpan di tempat yang baik dan aman, untuk digunakan lagi di hari piodalan Ida Bhatara. Upacara ini bermakna sebagai permohonan dan piuning kehadapan Sanghyang Widhi bahwa rangkaian upacara Ngenteg Linggih telah selesai, serta memohon ampun bila dalam penyelenggaraan upacara ada kekeliruan-kekeliruan.

Sampai disini selesailah semua prosesi sejak membangun Padmasana sampai mengupacarainya, sehingga dengan demikian Padmasana sudah dapat digunakan sebagai niyasa pemujaan  Sanghyang Widhi di setiap saat.

oleh: Bhagawan Dwidja

http://stitidharma.org/main/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=317

Pis Bolong adalah jenis mata uang yang sampai saat ini memiliki arti penting bagi kehidupan beragama di Bali khususnya Agama Hindu. Melihat kegunaannya Pis Bolong pasti ada pada setiap upacara yang diselenggarakan di Bali baik itu dari Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, maupun Bhuta Yadnya.

Pis Bolong yang berbentuk uang logam dengan lubang segi empat di tengah dibuat dari campuran logam seperti perunggu, tembaga, atau kuningan. Melihat dari huruf yang tertera pada Pis Bolong ini tentunya sudah dapat diketahui dari mana asal mula Pis Bolong ini. Pis Bolong ini diperkirakan datang dari negeri Cina pada jaman kejayaan Majapahit untuk dijadikan alat pembayaran.

Kegunaan Pis Bolong pada saat ini tidak untuk alat pembayaran lagi tapi berfungsi sebagai Pis Sandangan dalam Upacara-upacara besar atau Sesari pada Kewangen. Pis Sandangan yang dibungkus dengan tapis dan diikat dengan anyaman dari bambu atau penyalin (rotan) sehingga berbentuk mirip kendi air. Jumlah keping dalam Pis Sandangan ini adalah SEPA SATUS ( Seribu Tujuh Ratus). Lebih kecil dari Pis Sandangan ini ada yang disebut Pis Andel Andel yang diikat dengan benang Tridatu sebanyak dua ratus keping. Pis Andel Andel digunakan dalam upacara yang lebih kecil.

Selain itu Pis Bolong juga digunakan saat Ngajum Sekah pada upacara Ngaben yang ditempatkan di atas kain putih yang telah digambari menyerupai anatomi tubuh manusia dan ditempel menggunakan jarum.

Selain sebagai alat transaksi pembayaran dan upacara, menurut penuturan para tetua di Bali bahwa Pis Bolong yang memiliki keunikan dan ciri tertentu selalu menjadi incaran. Pada saat itu dikalangan remaja ada yang gemar untuk mendapatkan PIS REJUNA yaitu uang bolong yang bergambar Tokoh Pewayangan yang paling cakap dalam memanah yaitu Sang ARJUNA. Pis Bolong bergambar Arjuna ini dipercaya bisa digunakan untuk memikat gadis yang menjadi incaran sang pemuda. Dengan simbol sang Arjuna ini diyakini akan dapat memanah Jantung Asmara sang gadis untuk dipersunting dijadikan istri. Sedemikian sulit dan kuatnya kepercayaan akan khasiat dari Pis Rejuna ini tidak sedikit di antara pemuda-pemuda yang kuat keinginannya untuk segera mempersunting gadis idaman ini berburu di malam hari ke tempat tempat yang angker untuk mendapatkan Pis Arjuna ini. Disamping Pis Arjuna ada juga yang disebut Pis Jaran yang dipercaya memiliki khasiat memberi kekuatan menyamai Kuda. Pis ini biasanya dipercaya digunakan di dalam pertandingan lari, sepak bola dan olah raga lain yang memerlukan stamina kuat untuk bertanding. Ada juga yang disebut Pis Tualen, Pis Sangut yang kegunaannya sesuai dengan karakter tokoh-tokoh yang ada dalam pewayangan itu.

Nilai Historis Pis Bolong dan Fungsi Magisnya :

Pis bolong mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1293 M semasa kejayaan Majapahit. Berasal dari perdagangan antara Majapahit dengan Cina. Ketika itu Majapahit belum mempunyai uang kartal. Maka digunakan uang kepeng sebagai alat tukar dalam perdagangan. Perdagangan di masa itu dikuasai oleh saudagar-saudagar Cina.

Pis bolong ada beberapa jenis :
- buatan Cina, dari zaman dinasti Tang, Sung dan Chin (756 M)
- buatan Jepang, dari zaman dinasti Tokugawa (1741 M)
- buatan Vietnam, tidak jelas ketika dinasti apa
- buatan Jawa dari zaman Walisongo (Islam, 1400 M) dengan huruf arab
- buatan para dukun di Bali sekitar abad ke 13

Pis bolong mula-mula digunakan sebagai uang kartal, berlaku di Bali sampai tahun 1950. Selain itu di Bali digunakan pula sebagai sarana upakara, karena dianggap pis bolong mempunyai kekuatan magis.

Kemudian setelah tidak berfungsi sebagai uang kartal, pis bolong tetap digunakan sebagai upakara hingga saat ini.

Pis bolong sebagai jimat dibuat oleh para balian/dukun di Bali disertai pemasupati. Contohnya :

- pis jaran
- pis dedari
- pis rejuna
- pis hanoman
- pis kresna

- pis tualen
- pis jring
- pis gobogan
- dll

Ada juga pis bolong yang dipandang sangat sakral karena datangnya secara gaib, misalnya melalui wong samar, paica Ida Bhatara, dll.

Di zaman sekarang, pis bolong sudah hampir punah. Maka dibuat tiruannya. PHDI Pusat sudah mengeluarkan keputusan paruman Sulinggih, bahwa pis bolong sekarang sudah bisa diganti dengan uang logam yang berlaku sah di Indonesia saat ini. Keputusan ini tertuang dalam Kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu.

http://www.babadbali.com/canangsari/pis_bolong.htm

http://stitidharma.org/main/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=199

Sekaa Manyi

Posted by Adnyana under Budaya Bali

Sawah dan Subak

Masyarakat Bali yang terlahir saat ini, pasti tidak akan lagi mengenal istilah Subak yang cakupannya cukup luas bukan cuma masalah organisasi membagi air, tetapi juga menentukan saat tanam padi, cara-cara menggarap tanah, memelihara padi, cara memanen, sampai pada urusan ritual..

Organisasi membagi air dalam Subak memunculkan istilah Telabah, Telajakan, Temuku.

Cara menghitung besaran pembagian air pun sangat rinci. Menentukan saat tanam menimbulkan istilah seperti Kertha masa, Tangluk merana, kapan harus mulai menanam padi dan kapan batas akhir menanam. Ini penting karena menyangkut hama, selain berkaitan dengan musim. Kalau menanam tidak serentak, mengusir hama jadi sulit.

Cara menggarap sawah menimbulkan sekaa (kelompok) yang unik. Ada sekaa makal (menggemburkan tanah), sekaa melasah (meratakan tanah yang sudah gembur), sekaa munduk (membuat pematang).

Memelihara padi memunculkan sekaa yang unik pula, yakni sekaa ngabut bulih (mencabut benih), sekaa nandur (menanam), sekaa mabulung (membersihkan rumput di sela padi). Ketika para orang tuanya sibuk ngabut bulih, anak-anak mereka biasanya asyik mencari capung, blawuk, klipes dan serangga sawah lainnya.

Setelah panen muncul istilah sekaa manyi (memanen), sekaa makajang (mengangkut padi dari sawah).

SEKAA manyi dibeberapa pedesaan di Bali ternyata masih ada. Anak-anak yang terlahir di kota pasti tidak tahu bagaimana mengetam padi dengan ani-ani. Di Museum Subak Kediri, Tabanan, yang bernama ani-ani atau ketam ini, barangkali sudah berdebu atau bahkan hilang dari pajangan.

Budaya agraris ini bukan saja melahirkan sekaa yang begitu aneh untuk ukuran zaman modern, tetapi juga melahirkan kesenian spontan. Ibu-ibu yang tergabung dalam sekaa mabulung terampil memainkan alat pembersih yang mirip dengan alat pel di rumah gedongan, sementara dari mulutnya keluar tembang yang sangat liar. Disebut liar karena lirik tembangnya mengenai kehidupan sehari-hari, bahkan dibuat dengan spontanitas yang tinggi, tetapi tetap dalam alur pupuh yang sudah ada.

Ketika padi sedang panen, yang memanen biasanya kaum ibu, sementara kaum lelaki bertugas mengikatnya dengan hitungan yang seragam dari urutan paling kecil sampai terbesar, yakni Pejangan (segenggam tangan), Tatap (dua pejangan), Cekel (tiga tatap), Tenah (tiga cekel) dan seterusnya.

Kesibukan di tengah sawah ini tetap diwarnai tembang-tembang, kadang saling menyambung dari petak-petak sawah, disertai cekikikan tawa riang. Pesta panen padi itu masih pula diwarnai suara seruling dari batang padi yang digemari anak-anak, ada yang menimbulkan suara dengan tangga nada, ada yang sekedar bunyi layaknya terompet.

Orang Bali di masa lalu, ketika kehidupan agraris masih menjadi urat nadi keseharian, belajar menembang di tengah sawah atau di kebun kopi. Inilah arena latihan mereka, alam yang terbuka. Tidak ada yang memburu waktu mereka, karena padi yang dipanen akan tetap dijemur di tengah sawah sampai kering. Dari arena latihan alam ini, terseleksi siapa yang merasa punya kemampuan lebih lalu ikut sekaa seni yang lebih formal, misalnya membentuk Sekaa Arja. Tetapi, tujuannya bukan materi atau alih profesi. Mereka tak akan meninggalkan kehidupannya sebagai petani. Mereka hanya menyalurkan hobi yang sederhana, yang hakikatnya mengasah rasa estetika.

***

Budaya Agraris

BUDAYA agraris sekarang sudah menjadi masa lalu. Industrialisasi masuk ke Bali dan orang mulai dipompa untuk hidup dikejar-kejar oleh waktu. Semuanya serba terburu-buru dan alat-alat modern untuk memburu waktu, juga didapat dengan mudah. Untuk apa menanam padi Bali yang baru dipanen setelah lima atau enam bulan? Kelamaan, dan diperkenalkan padi usia pendek, hanya tiga bulan sudah panen. Tanah tak perlu terlalu digemburkan, beri saja banyak pupuk. Maka kebiasaan petani untuk bergotong royong membajak sawah mulai hilang. Pupuk ditebarkan ke sawah. Rumput-rumput liar juga berkurang, sekaa mabulung menjadi lenyap. Zat kimia pupuk ini melenyapkan pula binatang kecil mainan anak-anak di masa lalu, seperti klipes, belawuk, dan capung bahkan belut sawah.

Padi berusia pendek, dan pendek pula bentuknya. Kaum ibu tak perlu lagi memanennya dengan ani-ani. Para lelakilah yang menebas padi itu langsung dari batangnya dan langsung dirontokkan di tengah sawah. Karung-karung sudah disediakan untuk menampung gabah. Tak ada suara tembang, dan nada itu pastilah tak pas dengan ritme merontokkan padi yang memerlukan tenaga dan ketergesa-gesaan.

Tak ada hitungan cekel, tatap, tenah, semuanya diganti dengan hitungan industri, berapa karung atau berapa kilogram. Padi tak lagi masuk ke lumbung, Dewi Sri sudah mulai dilupakan. Sekaa makajang? Ah, apa pula itu, yang ada deru tukang ojek dengan motornya yang siap mengangkut karung-karung gabah ke perusahaan penyosohan. Semuanya serba cepat.

Minggu lalu saya berkunjung ke rumah mertua karena mendengar sawahnya akan panen. Sudah saya bayangkan, budaya industri akan bergerak ke tengah sawah itu, akan ada laki-perempuan merontokkan padi, lalu ada tumpukan karung dan sebagainya. Saya sebenarnya sedih, karena sepuluh tahun lalu, sekaa manyi masih ada di sini. Betapa terkejutnya saya ketika menyaksikan keluarga mertua saya tenang-tenang saja di rumahnya. Katanya panen, tidak ke sawah? “Untuk apa repot-repot. Sudah ada tengkulak yang membeli padinya. Bapak beri harga Rp 4 juta, ditawar Rp 3 juta, ya… sudahlah, Wayan tak sabaran ingin punya VCD,” kata mertua saya. Luar biasa. Ini bukan lagi budaya industri, ini sudah “budaya judi”, padi belum dipanen sudah dijual dengan sistem “tebak-tebakan”.

Jika sekarang sekaa manyi masih ada, kekuatan apa yang membuat mereka bertahan dari rongrongan budaya industri? Mudah-mudahan ini panggilan Dewi Sri dan adanya kesadaran untuk berhenti sejenak dari penjajahan waktu.

* Putu Setia

http://www.balipost.com/BaliPostcetak/2004/2/7/bd3.htm

DALAM tradisi beragama Hindu di Bali nilai-nilai suci Veda yang universal diekspresikan dalam wujud lokal. Leluhur orang Hindu di Bali sudah mengamalkan berpikir universal dan berlaku lokal. Meskipun rumusan kata-kata tersebut tidak dikenalnya, tetapi sudah dilakukan dalam kehidupan beragama Hindu. Salah satu simbol yang berbentuk sangat lokal Bali itu adalah banten penyeneng.

Penyeneng ini bagian dari banten tataban alit yaitu:

- peras

- penyeneng

- tulung

- sesayut.

Banten ini umumnya menyertai upacara Manusa Yadnya. Banten tataban itu saat upacara Manusa Yadnya dilangsungkan di-ayab-kan ke arah mereka yang sedang diupacarai. Saat ngayab banten penyeneng ini pimpinan upacara mengucapkan doa yang disebut pujastawa sebagai berikut:

Om kaki penyeneng nini penyeneng kajenenganing dening Brahma Wisnu Iswara.

Maksud dari pujastawa ini, semoga unsur purusha (kaki) dan unsur predana (nini) mendapatkan kehidupan dari Dewa Brahma, Wisnu dan Iswara. Dari pujastawa pengantar banten penyeneng ini dapat kita amati adanya konsep hidup yang seimbang terkemas dalam simbol banten itu.

Kaki penyeneng dan nini penyeneng ini artinya menyelenggarakan hidup di dunia ini hendaknya dilakukan dengan seimbang. Yang diseimbangkan adalah pembangunan fisik material dan mental spiritual. Kedua pembangunan diri itu tidak boleh dianaktirikan. Dalam berbagai sastra suci Hindu dinyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang bisa dianaktirikan dalam membangun hidup yang seimbang itu. Yang ada adalah perbedaan prioritas sesuai dengan pertumbuhan diri manusia itu sendiri. Kata nyeneng dalam banten penyeneng itu berasal dari bahasa Bali yang artinya hidup. Hidup haruslah diupayakan agar seimbang antara kaki (purusa) sebagai simbol jiwa dan nini (predana) simbol badan fisik. Kalau pembangunan jiwa dan raga ini sudah dilakukan seimbang dan sinergis maka akan terbentuk manusia yang berkualitas secara lahir dan batin.

Selanjutnya pujastawa banten penyeneng itu menyatakan Kejenenganing dening Brahma, Wisnu dan Iswara. Ini artinya setelah purusa (kaki) dan predana (nini) bersatu dan bersinergi lalu untuk apa hidup ini. Dalam pujastawa itu terkandung makna bahwa hidup yang berkualitas secara mental dan fisik itu untuk melakukan kreativitas Utpati, Sthiti dan Pralina. Karena Dewa Brahma adalah Tuhan sebagai pencipta (utpati), Wisnu adalah Tuhan sebagai pemelihara dan pelindung (sthiti) dan Iswara adalah Tuhan untuk mengakhiri suatu ciptaan (pemralina). Dalam hidup manusia di dunia ini tidak berarti apa-apa kalau tidak melakukan tiga hal tersebut. Agar hidup ini berarti selama di dunia ini manusia haruslah menciptakan sesuatu yang patut diciptakan. Demikian juga hidup ini haruslah didayagunakan memelihara dan melindungi apa-apa yang telah tercipta dengan baik dan benar.

Selanjutnya hidup ini juga harus menghilangkan atau mengakhiri sesuatu yang sudah usang dan tidak berguna malahan akan merusak kalau tidak di-pralina. Untuk mencipta, memelihara dan meniadakan itu bukanlah pekerjaan yang semudah teorinya. Ia harus dilakukan dengan suatu ilmu pengetahuan yang benar, dengan mental yang kuat dan konsisten. Kalau proses utpati, sthiti dan pralina tidak berjalan sesuai dengan hukumnya maka hidup ini menjadi tidak seimbang. Dalam fisik manusia saja setiap saat terjadi proses utpati, sthiti dan pralina. Ada sel yang tercipta karena manusia itu makan dan minum. Ada unsur yang sthiti artinya terpeliharanya sel dan bagian-bagian tubuh yang lainnya dengan baik, sehingga manusia punya tenaga, baik mental maupun fisik. Setiap saat ada juga sel-sel yang tidak berguna. Hal inilah yang menjadi kotoran dalam diri manusia. Untuk melakukan kehidupan dengan tiga dimensi itu (utpati, sthiti dan pralina) sangat dibutuhkan adanya kekuatan mental dan fisik yang selalu terjaga dengan baik.

Salah satu yang paling dibutuhkan adalah ketetapan hati untuk menjadikan aspek spiritual sebagai unsur pegangan dalam hidup ini. Untuk itulah umat Hindu di Bali memiliki tempat pemujaan yang disebut Pura Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman. Salah satu tujuan memuja Tuhan dalam aspeknya sebagai Tri Murti adalah untuk menguatkan kemampuan manusia dalam melakukan upaya utpati, sthiti dan pralina dalam hidup ini. Kalau tiga hal itu dapat dikerjakan dengan baik dalam hidup ini, itulah hidup yang sukses. Adanya banyak masalah yang dihadapi oleh umat manusia dewasa ini membutuhkan SDM yang kreatif mencari solusi dari berbagai persoalan yang sedang dihadapi.

Demikian juga sangat dibutuhkan SDM pelaksana atau sebagai aktor yang bijaksana untuk memelihara dan melindungi kehidupan ini dengan sebaik mungkin. Berbagai aspek dalam hidup ini ada yang sudah demikian usang dan sudah sangat membosankan. Sehingga, perlu adanya upaya yang tepat untuk menghilangkan sesuatu yang sudah sepatutnya dihilangkan.

Berbagai tradisi yang sudah jelas-jelas menghambat dan bertentangan dengan ajaran agama dan hukum masih kuat dipertahankan oleh sebagian masyarakat karena ada yang diuntungkan secara sosial dan material. Untuk mempralina tradisi itu dibutuhkan juga SDM yang memiliki kemampuan yang kuat. Untuk melakukan tiga hal itulah dibutuhkan kekuatan moral dan mental dengan memuja Tuhan sebagai Tri Murti.

Source :   Balipost

http://okanila.brinkster.net/mediaFull.asp?ID=708

Aturan Upawasa dalam Hindu

Posted by Adnyana under Susila

.

Upawasa merupakan bagian brata, dan brata bagian dari brata-yoga-tapa-samadi, yang menjadi satu kesatuan dalam konsep Nyama Brata.

.

Kewajiban warga Hindu menggelar brata-yoga-tapa-samadi diisyaratkan dalam kakawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut.

.

Hana mara janma tan papihutang brata-yoga-tapa-samadi angetul aminta wiryya suka ning Widhi sahasaika, binalikaken purih nika lewih tinemuiya lara, sinakitaning rajah tamah inandehaning prihati.”

.

Artinya:

.

Ada orang yang tidak pernah melaksanakan brata-yoga-tapa-samadi, dengan lancang ia memohon kesenangan kepada Widhi (dengan memaksa) maka ditolaklah harapannya itu sehingga akhirnya ia menemui penderitaan dan kesedihan, disakiti oleh sifat-sifat rajah (angkara murka/ambisius) dan tamah (malas dan loba), ditindih oleh rasa sakit hati. Tegasnya, bila ada orang yang tidak pernah menggelar brata-yoga-tapa-samadi lalu memohon sesuatu kepada Hyang Widhi maka permohonannya itu akan ditolak bahkan akan mendatangkan penderitaan baginya. Yang dimaksud dengan brata adalah mengekang hawa nafsu pancaindra, yoga adalah tepekur merenungi kebesaran Hyang Widhi; tapa adalah pengendalian diri; samadi adalah mengosongkan pikiran dan penyerahan diri total sepenuhnya pada kehendak Hyang Widhi.

.

Jadi berpuasa yang baik senantiasa disertai dengan kegiatan lainnya seperti di atas, tidak dapat berdiri sendiri. Upawasa batal jika melanggar/tidak melaksanakan brata-yoga-tapa-samadi. Untuk kesempurnaan berpuasa, disertai juga dengan ber-dana punia, yaitu memberikan bantuan materi kepada kaum miskin.

.

Aturan-aturan berpuasa bermacam-macam, antara lain:

.

1. Upawasa yang dilaksanakan dalam jangka panjang lebih dari sehari, di mana pada waktu siang tidak makan/minum apa pun. Yang dinamakan siang adalah sejak hilangnya bintang timur daerah timur sampai timbulnya bintang-bintang di sore hari;

.

2. Upawasa jangka panjang antara 3-7 hari dengan hanya memakan nasi putih tiga kepel setiap enam jam dan air klungah nyuh gading;

.

3. Upawasa jangka pendek selama 24 jam tidak makan/minum apa pun disertai dengan mona (tidak berbicara), dilaksanakan ketika Siwaratri dan sipeng (Nyepi);

.

4. Upawasa total jangka pendek selama 24 jam dilaksanakan oleh para wiku setahun sekali untuk menebus dosa-dosa karena memakan sesuatu yang dilarang tanpa sengaja; puasa itu dinamakan santapana atau kricchara;

.

5. Upawasa total jangka pendek selama 24 jam dilaksanakan oleh para wiku setiap bulan untuk meningkatkan kesuciannya, dinamakan candrayana.

.

Ketika akan mulai berpuasa sucikan dahulu badan dan rohani dengan upacara majaya-jaya (jika dipimpin pandita) atau maprayascita jika dilakukan sendiri. Setelah itu haturkan banten tegteg daksina peras ajuman untuk menstanakan Hyang Widhi yang dimohon menyaksikan puasa kita.

.

Ucapkan mantram:

.

Om Trayambakan ya jamahe sugandim pushti wardanam,
urwaru kam jwa bandanat, mrityor muksya mamritat,
Om ayu werdi yasa werdi, werdi pradnyan suka sriam,
dharma santana werdisyat santute sapta werdayah,
Om yawan meraustitho dewam yawad gangga mahitale candrarko gagane yawat, tawad wa wiyayi bhawet.
Om dirgayuastu tatastu astu,
Om awignamastu tatastu astu,
Om subhamastu tatastu astu,
Om sukham bawantu,
Om sriam bawantu,
Om purnam bawantu,
Om ksama sampurna ya namah,
Om hrang hring sah parama siwa aditya ya namah swaha.

.

Artinya,

.

“Ya, Hyang Widhi, hamba memuja-Mu, hindarkanlah hamba dari perbuatan dosa dan bebaskanlah hamba dari marabahaya dan maut karena hanya kepada-Mu-lah hamba pasrahkan kehidupan ini, tiada yang lain.

Semoga Hyang Widhi melimpahkan kebaikan, umur panjang, kepandaian, kesenangan, kebahagiaan, jalan menuju dharma dan perolehan keturunan, semuanya adalah tujuh pertambahan.

.

Selama Iswara bersemayam di puncak Mahameru (selama Gunung Himalaya tegak berdiri), selama Sungai Gangga mengalir di dunia ini, selama matahari dan bulan berada di angkasa, semoga selama itu hamba sujud kepada-Mu, ya Hyang Widhi.”

.

Source :   sarad-bali

http://okanila.brinkster.net/mediaFull.asp?ID=16