kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Archive for February, 2010

Pura Dang Kahyangan Gunung PayungSumber Kehidupan dan Kemakmuran

Menemukan mata air di tengah perbukitan gersang adalah karunia yang tiada tara. Demikian pula dengan pencarian rohani seseorang akan Sang Pencipta.

Pura Dang Kahyangan Gunung Payung terletak di daerah perbukitan pesisir pantai selatan Pulau Bali. Atau kurang lebih 30 kilometer arah selatan Kota Denpasar. Pura ini berada di wilayah Desa Adat Kutuh Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung.

Lokasi pura yang berada di daerah perbukitan membuat Pura Dang Kahyangan Gunung Payung disebut pula sebagai Pura Bukit Payung. Bagaimana sebenarnya sejarah Pura Bukit Payung itu? Makna apa yang terkandung di balik berdirinya pura tersebut?

======================================================

KATA ”Payung” yang diberikan untuk nama bangunan suci ini bukanlah diambil dari lokasi perbukitan yang menyerupai payung. Akan tetapi, pemberian nama ini sangat terkait dengan perjalanan suci dari Maharesi suci Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra.

Berdasarkan pada lontar perjalanan suci (dharmayatra) Maharesi Danghyang Dwijendra, disebutkan setelah Maharesi datang ke Pura Luhur Uluwatu dan memberikan nasihat kepada masyarakat sekitar untuk memanfaatkan dan menjaganya, Danghyang Nirartha kemudian melakukan perjalanan ke arah timur melalui daerah berbukit.

Ketika tiba di sebuah daerah yang sangat indah dan memiliki vibrasi spiritual yang kuat, tepatnya di sebelah barat daya Bualu (sekarang Desa Adat Kutuh), Danghyang Nirartha bersama dengan para pengiringnya beristirahat untuk melepas lelah dan menikmati indahnya pemandangan yang ada di tempat Beliau berpijak tersebut.

Mendengar kedatangan Maharesi, masyarakat sekitar pun datang berbondong-bondong mengaturkan sembah dan mohon tuntunan agama kepada beliau. Setelah mendengarkan keluh-kesah warga dan memberikan tuntunan kepada masyarakat sekitar, maka Danghyang Nirartha berusaha untuk memenuhi permintaan warga.

Danghyang Nirartha lantas menancapkan gagang payung yang dibawanya. Berkat kekuatan spiritual yang dimiliki, secara tiba-tiba menyemburlah air suci dari tancapan gagang payungnya tersebut.

Air suci dan hening tersebut selanjutnya dimanfaatkan oleh beliau, para pengiring dan masyarakat sekitar.

Sebelum Maharesi meninggalkan desa tersebut untuk melanjutkan perjalanan suci kembali, beliau memberikan nasihat kepada masyarakat sekitar agar senantiasa menjaga air amerta (air kehidupan) yang keluar dari tancapan payung tersebut. Dan oleh masyarakat sekitar, di lokasi air suci itu didirikan sebuah pura yang kini dikenal dengan Pura Gunung Payung.

Sumber air yang berbentuk bulakan kecil sampai saat ini tetap terawat dan senantiasa tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang melanda. Air dalam bulakan inilah yang dalam kesehariannya dimanfaatkan sebagai tirta yang diberikan kepada setiap umat yang mengaturkan bakti ke Pura Dang Kahyangan Bukit Payung.

Bendesa Adat Kutuh, Kuta Selatan Wayan Litra menuturkan, pura ini diempon oleh krama Desa Adat Kutuh. Dipercaya oleh masyarakat di sana, Pura Dang Kahyangan Bukit Payung merupakan sumber kehidupan atau sumber kemakmuran krama Kutuh.

Meskipun di-empon krama Desa Adat Kutuh, fakta turun-temurun menunjukkan bahwa pura ini juga menjadi tempat pemujaan umat Hindu dari luar Desa Adat Kutuh.

Dipercaya, di pura ini berstana manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa yakni Batari Sri dan Batari Danu yang dicirikan dengan gedong linggih. Pamedek yang tangkil ke pura khususnya saat piodalan datang dari segala penjuru guna nunas kerahayuan kepada Beliau.

Oleh karena itu, berdasarkan pada fakta pustaka yang ada, maka sejak tahun 2005 lalu, keberadaan Pura Gunung Payung telah diakui dan disetujui oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Badung dan Kantor Agama Kabupaten Badung sebagai salah satu dari enam Pura Dang Kahyangan yang ada di Kabupaten Badung.

Kondisi fisik Pura Dang Kahyangan Gunung Payung beberapa waktu lalu cukup memprihatinkan. Sejumlah kerusakan di pelinggih dan bangunan pura terjadi. Selain faktor usia dan alam, kondisi ini juga tidak lepas dari keterbatasan finansial krama pangempon untuk melakukan perawatan maksimal.

Pangempon pun berembuk, berinisiatif untuk merehab dan menata Pura Dang Kahyangan Gunung Payung dengan tujuan untuk senantiasa menjaga kesucian dan kesakralan pura dan sekitarnya. Selain itu pula, untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada umat yang melakukan persembahyangan.

Di balik keterbatasan yang terjadi selama ini, maka secara bertahap krama pangempon yang berjumlah 600 KK memulai pemugaran dan penataan pura pada bulan Oktober 2007. Pemugaran menelan dana sekitar Rp 1,5 milyar, di mana dana yang digunakan berasal dari pemerintah, para donatur dan swadaya masyarakat. Pemugaran pelinggih tersebut diselesaikan sebelum piodalan di pura ini yang jatuh pada purnamaning kaulu sasih kaulu atau jatuh sekitar bulan Januari 2008 lalu.

Saat ini, demikian pula sebelumnya, krama Desa Kutuh khususnya selalu berupaya merawat pura yang punya nilai historis ini. Pangempon pura secara berkelanjutan setiap tiga bulan sekali mengadakan pembersihan di pura. Sementara untuk sehari-hari, ada beberapa jero mangku yang siap ngaturang ayah guna menjaga kesucian pura atau untuk melayani umat yang tangkil ke pura ini. (ded)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/7/bd1.htm

Pura Gunung Payung dan Danghyang Dwijendra

Yan ring pandita ksama, mudita, santosa, upeksa
ris
mardawa, sang sastrajnya, wuwusnira amrta
pada
nyangde satusteng praja. (Nitisastra.I.6).

Maksudnya:
Ciri
Pandita adalah ksama (pemaaf), mudita (berbudhi luhur), santosa (sabar), upeksa (amat teliti dan hati-hati), mardawa (lemah lembut), sastrajnya (berpengetahuan suci), wuwusnira amrta (ucapannya bagaikan air penghidupan) yang membuat senangnya banyak orang.

PADA zaman dahulu perjalanan suci seorang pandita ke tengah-tengah umat untuk melakukan swadharma-nya sebagai orang suci. Salah satu swadharma pandita adalah melakukan perjalanan untuk menyebarkan pendidikan kerohanian kepada umat. Dalam Sarasamuscaya 40 dinyatakan: panadahan upadesa. Artinya menyebarkan pendidikan kerohanian. Karena hakikat hidup adalah rohani sebagai pengendali kehidupan jasmani. Seperti dinyatakan dalam Katha Upanishad bahwa badan jasmani ini diumpamakan sebagai badannya kereta, indria diumpamakan bagaikan kuda kereta.

Pikiran bagaikan tali kekang kereta, kesadaran Budhi bagaikan kusir kereta. Sedangkan Atman diumpamakan bagaikan pemilik kereta. Ini artinya yang menentukan ke mana gerak kereta diarahkan adalah atas kehendak pemilik kereta. Selanjutnya kusir kereta dengan tali kekangnya yang mengarahkan Indria dan badan kereta. Pikiran Budhi dan Atman adalah unsur-unsur rohani dari pada manusia. Unsur-unsur rohani inilah yang wajib dikuatkan eksistensinya dengan berguru pada pandita. Karena itu pandita disebut Adi Guru Loka. Artinya guru yang utama atau guru yang terkemuka.

Sebagai Adi Guru Loka pandita itu tidaklah mereka yang hanya diupacarai sebagai pandita dan berbusana pandita melalui proses diksa. Mereka yang dinyatakan sebagai pandita hendaknya mereka yang sudah memiliki ciri-ciri seperti yang dinyatakan dalam Kekawin Nitisastra I.6 yang seperti kutipan di atas. Umat yang terpanggil untuk menjadi pandita seyogianya melalui proses pendidikan dan latihan keagamaan Hindu yang ketat.

Pendidikan dan latihan itu dapat dilakukan dalam bentuk pendidikan dan latihan yang bersifat tradisional maupun dalam bentuk pendidikan modern. Setelah adanya berbagai kemajuan di mana telah dapat diwujudkan sifat dan sikap hidup seperti apa yang dinyatakan dalam Nitisastra I.6 tersebut barulah upacara diksa dan busana pandita dikenakan.

Dengan demikian empat fungsi pandita seperti dinyatakan dalam Sarasamuscaya 40 akan lebih mudah dilakukan. Empat fungsi pandita tersebut adalah Sang Satyawadi artinya beliau yang senantiasa berbicara berdasarkan kebenaran Veda. Sang Apta artinya beliau yang dapat dipercaya oleh umat. Sang Patirthan artinya beliau yang dijadikan tempat mohon penyucian diri oleh umat dan sang Panadahan Upadesa.

Nampaknya Danghyang Dwijendra sebagai pandita telah mengamalkan petunjuk-petunjuk sastra agama Hindu tersebut sehingga beliau disebutkan Pedanda Sakti Wawu Rauh. Kata Sakti menurut Wrehaspati Tattwa 14 adalah memiliki banyak ilmu dan banyak kerja berdasarkan ilmu tersebut. Tidaklah seperti pemahaman kini di mana sakti itu dipahami mereka yang memiliki magic power yang berkonotasi negatif. Ilmu yang dimiliki itu adalah ilmu yang disebut Para Widya dan Apara Widya. Para Widya itu adalah ilmu tentang kerohanian. Sedangkan Apara Widya adalah ilmu tentang keberadaan dan pengelola dunia ini dengan baik dan benar. Dua ilmu itulah yang dibutuhkan oleh kehidupan umat manusia di dunia ini.

Demikianlah perjalanan suci Danghyang Dwijendra di Bali mendatangi umat dan memberikan kesejukan pada umat. Saat beliau datang di daerah Kuta Selatan untuk mengakhiri keberadaan beliau di dunia sekala menuju dunia niskala beliau sempat datang ke Desa Kutuh di Kuta Selatan di suatu bukit dekat pantai selatan Bali. Di tempat itu beliau menjadi sang Patirthan artinya beliau memberi prayascita atau penyucian pada umat yang datang memohon penyucian diri pada sang Pandita. Di samping itu beliau juga melakukan penadahan Upadesa, artinya memberi pendidikan kerokhanian kepada umat.

Karena kesaktian beliau itu tangkai payung yang beliau tancapkan di tanah perbukitan yang kering itu dapat menimbulkan sumur dengan air yang tiada pernah kering sampai saat ini. Di tempat inilah umat mendirikan pura yang kini disebut Pura Gunung Payung. Itu artinya di pura ini atas kedatangan Danghyang Dwijendra terdapat vibrasi kesucian yang wajib dipelihara oleh generasi selanjutnya.

Danghyang Dwijendra diyakini mencapai dunia niskala dengan moksha di Pura Luhur Uluwatu di Desa Pecatu yang tidak jauh dari Pura Gunung Payung. Pura Luhur Uluwatu adalah satu dari Pura Kahyangan Jagat sebagai pemujaan Tuhan dalam manivestasinya sebagai Dewa Rudra. Pura Luhur Uluwatu didirikan atas anjuran Mpu Kuturan pada abad ke-11 Masehi. Pendirian Pura Luhur Uluwatu dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa dengan landasan konsepsi Sad Winayaka.

Pura Luhur Uluwatu ini memiliki banyak pura prasanak atau pura jajar kemiri. Ini artinya di areal perbukitan Kuta Selatan ini sejak zaman dahulu sudah terpatri vibrasi kesucian yang dipelihara dengan adanya banyak Pura Prasanak dari Pura Luhur Uluwatu. Di antaranya adalah Pura Gunung Payung ini. Karena itu sebagai generasi penerus seyogianya dalam menata kawasan di areal Pura Luhur Uluwatu termasuk di areal Pura Gunung Payung seyogianya memperhatikan nilai-nilai spiritual yang sudah terbukti memberikan vibrasi kesucian pada areal tersebut bersinergi dengan areal suci lainnya di seluruh Bali.

Untuk memelihara vibrasi kesucian di kawasan bukit Kuta Selatan ini semua pihak hendaknya bertimbang cermat dan seimbang dengan konsep Tri Semaya. Konsep Tri Semaya itu adalah Atita, Nagata dan Wartamana. Apa pun yang dilakukan saat ini (Wartamana) hendaknya terlebih dahulu menelaah dengan cermat di masa lalu (Atita) dan dengan berpikir panjang apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang.

Dengan demikian kita tidak meninggalkan begitu saja nilai-nilai luhur di masa lalu yang susah payah dikerjakan oleh para pendahulu kita. Demikian juga hendaknya kita berusaha melihat ke depan agar jangan sampai kita meninggalkan persoalan-persoalan yang membuat generasi mendatang penuh beban derita karena kesalahan kita saat ini.

Dengan konsep Atita, Nagata dan Wartamana inilah kita akan bisa hidup sejahtera dengan berkelanjutan dari generasi ke generasi selanjutnya sepanjang masa. * I Ketut Gobyah

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/7/bd2.htm

Baru

Posted by Pratama under Uncategorized

Benarkah Makna dari hari buda cemeng kelawu itu sehari tidak melakukan transaksi jual beli? begitulah yang saya baca di facebook…

Perayaan Buda Cemeng Kulawu = Artha yang menanyai pemiliknya

Dalam tradisi, perayaan Budha Wage Kelawu (Cemeng), sering diartikan sebagai perayaan kepada Betara Rambut Sedana; perayaan kepada `Dia’ yang mememiliki kekayaan yang sesungguhnya.

Karena itu, pada hari Rabu, Wage, Kelawu, bagi yang meyakininya, akan menghindari melakukan transaksi jual beli; sebab pada hari itu, “Dia” yang memiliki kekayaan tengah melakukan yoganya. Maka tradisi `ekonomis’ yang menarik; sebab dalam sekali waktu `uang’ tidak dipergunakan. Walau dalam sehari, alangkah menariknya jika seseorang dibebaskan dari `ketakutan’ akan ketiadaan uang. Bayangkan andai serentak terjadi dalam sehari, semua orang tidak melakukan transaksi jual beli (?) Bagaimanakah sesungguhnya memaknai posisi uang dalam kehidupan manusia saat seperti itu (?) Kekacauankah akan terjadi atau akan hadir makna baru dalam menilai uang dalam kehidupan masa kini; yang memang menilai keberhasilan seseorang dari kekayaan, jabatan; dari busana luarnya; tidak peduli asal muasal kekayaan itu; didapatkan dengan jalan suci ataukah menipu? Uang telah terbukti ` menipu’ kejujuran hati, `penguasa’ dan “tuhan” yang sesungguhnya di masa kini.

Dalam pengertian yang luas, perayaan Budha Wage Kelawu; mengingatkan kembali akan keberadaan artha dalam konteks Catur Purusaartha; ( Artha, Kama, Dharma dan Moksa). Tidak dalam pengertian sebatas kekayaan, namun artha yang berasal dari bahasa sansekerta mengandung arti pula sebagai: “tujuan, sebab, motif, makna, pengertian, dalam konteks ide kemakmuran materi’. Artha juga mencakup konsep dalam arti mencapai ketenaran, dan memiliki kedudukan sosial yang tinggi, yang akan kait mengkaitkan proses pencapaiannya dengan tiga lainnya yang ada dalam catur purusaartha, terutama kepada dharma (kebenaran).

Dalam keseharian, Artha, adalah salah satu dari empat tujuan hidup ditempatkan, sebagai tujuan mulia asalkan mengikuti perintah Veda; berdasarkan moralitas! Asalkan berdasarkan dharma (kebenaran), bukan semata karena kama (kesenangan fisik atau emosional). Nah, jika itu terpenuhi maka manusia akan menuju Moksha  (pembebasan). Dalam cara pandang yang lain, Artha ditempatkan juga sebagai salah satu (kewajiban) seseorang dalam kehidupan tahap keduanya, kewajiban mengumpulkan harta benda sebanyak mungkin, namun dengan syarat ; tanpa menjadi serakah, dengan tujuan untuk membantu dan mendukung keluarga serta masyarakatnya.

Di dalam Catur Purusartha telah diingatkan akan tujuan mutlak yang tertinggi bagi umat Hindu; yakni Moksa, yaitu pembebasan Atma dari Triguna (Satwam, Rajas dan Tamas), dapat pula tercapai melalui Reinkarnasi dengan hukum Karmanya (Karma Pala). Untuk mencapai Moksa harus dilandasi dengan Dharma; Setiap tindakan (karma) yang dilakukan harus berdasarkan Dharma; serta ajaran Dharma yang terdapat dalam Weda harus ditegakkan.

Itulah sebabnya, perayaan Budha Wage Kelawu sangatlah penting di masa sekarang ini; sebab negara dan masyarakat Indonesia tengah menonton secara nyata; tindakan korupsi yang tidak hanya dilakukan oleh satu-dua orang saja, korupsi tidak cuma dalam soal mencuri uang negara! Namun hampir disemua lapisan masyarakat telah terjadi pengkorupsian tata krama-tata nilai; nilai-nilai kemanusiaan dilenyapkan dengan cara mengakali aturan, mencari pembenaran bagi kesalahan, yang membelokan penilaian masyarakat kepada tujuan hidupnya makin jauh dari kebenaran (dharma). Kini, mereka yang fashion religius; berpura-pura suci dan taat menjalankan ajaran mulia, dikagumi dan dicontohi, walau jelas, belumlah tentu mereka yang berpura-pura suci itu menjalankan ajaran mulia, hanya `busananya’ yang religius. Dibalik perilaku fashion religius itu yang ada adalah semangat memanfaatkan ajaran agama untuk kepentingan pribadi: untuk keuntungan baik materi, status sosial dan ketenaran. Kemudian `Fashion humanis’, perilaku seolah-olah menjalankan penghormatan kepada keragaman, perilaku sayang lingkungan; tidak membeda-bedakan siapapun; namun dibalik semua itu, membiarkan terjadinya berbagai peristiwa menindas yang lemah; sibuk membangun wacana, bersilat lidah, namun membiarkan kekerasan terjadi dimana-mana baik phisik maupun psikis; baik melalui kekuasaan maupun kecendekiaan. Maka dalam bahasa putus asa; maka zaman ini pun berkata: itu semua ujungnya duit! Uanglah sebabnya!

Harta! Yang memiliki harta seolah tidak akan terkena hukum karma (?) Masyarakat melihat, bagaimana orang yang dipenjara dapat hidup mewah karena hartanya! Pelaku korupsi dapat menjadi calon pejabat publik, mantan pengguna narkoba pun dapat menjadi anggota parlemen, dst!: semuanya `disahkan’ oleh harta, oleh uang! Disucikan dan dibenarkan oleh uang! Karena itu, Artha, pada Budha Wage Kelawu ini; bagi siapa saja; dari gubernur sampai kepala desa, dari pemilik hotel sampai pemilik warung; tengah ditanyai oleh Artha itu sendiri. Benarkan kekayaanmu itu, sedikit ataukah banyak, apakah semua itu didapat berdasarkan dharma?

Jika pun engkau ragu tentang kesucian asal hartamu, lalu berusaha gagah mendandani upacaramu dengan sajen aneka rupa, dengan mengundang pendeta sakti mandraguna: hukum karma tetap menghitung dengan cermat; jika seketika hukumanya tiba, beruntunglah, karena akan segera engkau pahami apa hukumannya bagi yang memiliki artha dengan cara yang salah, jika nanti, kelak setelah engkau tiada atau pada kelahiranmu nanti hukuman itu baru tiba, melalui reinkarnasi barulah hukuman dirasakan oleh anak-cucumu; tersenyumlah saat ini, sebab engkau tertipu oleh kenikmatanmu hari ini, tak akan terbayangkan hukum karma itu bagi kelahiranmu nanti!

Karena itu, tak ada yang terlambat untuk kembali meyogakan diri pada hari Budha Wage Kelawu; segera mengoreksi kekayaan, sedikit ataukah banyak: benarkah didapatkan dengan jalan kebaikan? Berdasarkan dharmakah? Jika tidak: apa boleh buat, hukum dunia boleh ditipu, citra maya dapat mempesona, namun hukum karma berjalan tetap dengan pasti; Atmamu pun terikat pada rajas dan tamas, beribu upacara pun tak akan pernah membuat hidupmu damai, begitu yang dajarkan mengenai Artha, mengenai perayaan Budha Wage Kelawu, perayaan yang mengingatkan kembali tentang tujuan mulia.

Secara tradisi, hari Rabu Wage Kelawu ( 10 Pebruari 2010) ini diyakini: Sang Batara Rambut Sedana tengah beryoga, maka usahakan, jangan melakukan transaksi jual-beli! Tujuannya,: coba diingat-ingat; apa yang engkau pamerkan, apa yang engkau sumbangkan? Apa yang engkau makan, apa yang engkau gunakan, dst. Apakah semua itu didapat dengan jalan dharma? Atau kamu cuma percaya semua itu didapatkan dari jerih payahmu sebagai harta kerkayaanmu! Semata-mata didapatkan dibeli dari uangmu? Tarik nafaslah, heningkan diri. Semoga disaat itu, tujuan mulia menegur hati, bahwa semua kekayaan itu, tiada lain atas karuniaNya! Dan yang tak ternilai adalah jalan kebenaran (dharma) sebagai hartamu!

Selamat merayakan Buda Cemeng Kulawu.

Oleh: Cok Sawitri

Sumber Foto dari internet dan http://farm4.static.flickr.com/3420/3227424305_c9b84e1563.jpg

Bangunan diatas memang sangat berkesan bagi sebagian besar masyarakat Klungkung, baik itu yang merupakan generasi sekarang maupun generasi jaman dulu. Masyarakat Klungkung generasi sekarang mengenali gedung diatas sebagai sebuah gedung Museum Semarajaya, dimana didalamnya di simpan pusaka bersejarah milik kerajaan Klungkung dijaman dulu yang merupakan saksi bisu yang bisa menjelaskan kebesaran kerajaan Bali jaman dulu yang berpusat di Swecapura dan di Semarapura.

Sementara masyarakat Klungkung masa kini mengenalinya sebagai Museum Semarajaya, lain halnya dengan masyarakat Klungkung jaman dulu, dimana gedung diatas merupakan gedung sekolah lanjutan di jaman belanda dan merupakan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Klungkung ketika generasi saya masih duduk di bangku sekolah SMP di tahun 1985 hingga 1988, hingga akhirnya pemerintah daerah Klungkung merekonstruksi fungsi dari keberadaan gedung diatas menjadi gedung Museum Semarajaya dan menjadi bagian dari object wisata yang terintegrasi dengan Taman Gili Kertagosa serta Pemedal Agung yang terletak di sebelahnya.

Bila melihat gedung diatas selalu terbesit bayangan ketika pernah sekolah didalamnya, yang memunculkan harapan agar suatu saat nanti bisa “mengulangi” masa-masa indah ketika sekolah dimasa remaja dan bisa bertemu kembali dengan teman-teman seangkatan ketika sekolah dikala itu lewat acara reuni. Kata “reuni” belakangan ini memang sering di dengar dan menjadi kata yang begitu populer berkat adanya website jejaring pertemanan sosial yang bernama facebook, sehingga membuat kata reuni menjadi trend saat ini dan menambah musim yang terdapat di tanah air, yaitu tidak hanya musim kemarau dan musim hujan, melainkan bertambah satu lagi menjadi “musim reuni”. Dan ini semua terjadi berkat adanya atau berkat populernya facebook dikalangan semua generasi muda dan tua.

Website jejaring Facebook yang di ciptakan oleh anak pinter nan berbakat yang masih berumur 25 tahun, yang bernama Mark Zuckerberg, selain bermanfaat untuk menambah jumlah kenalan baru di dunia maya, facebook juga bermanfaat untuk berhubungan kembali dengan teman-teman yang sudah lama tidak pernah kita jumpai. Berkat facebook pula teman-teman SMP 1 Klungkung khususnya angkatan 85 mulai terhubungkan kembali. Rasa gembira dan kangen bercampur menjadi satu ketika melihat wajah teman-teman masa sekolah ketika SMP. Rasa rindupun cukup terobati walaupun hanya dengan melihat mereka dari foto-foto.

Menggunakan momentum 25 tahun pertemanan sejak angkatan ini mulai masuk SMP 1 Klungkung di tahun 1985 dan mulai kenal satu dengan yang lainnya, akhirnya kami semua sepakat untuk mengadakan “reuni perak” tidak hanya sebatas melakukan temu kangen antar sesama teman SMP 1 Klungkung angkatan 85, tetapi juga akan melakukan temu muka dengan para guru pengajar SMP yang mengajar kami dulu. Dan reuni ini pun di sepakati akan di laksanakan di sekolah SMP 1 Klungkung pada tanggal 31 July 2010 yang bertepatan dengan hari ulang tahun SMP 1 Klungkung.

Dalam rangka mewujudkan reuni ini, salah satu teman kami Cuncun Junaidi Kusuma bersama Made Wardana berinisiatif memprakarsai pertemuan pertama untuk menyamakan pendapat, disalah satu rumah makan di denpasar pada hari minggu tanggal 24 Januari 2010.  Terlihat dari pertemuan pertama ini, penampilan teman-teman SMP memang tidak banyak yang berubah (kecuali badan mereka yang sudah mulai subur dan terawat). Melepaskan “baju” profesi yang mereka tekuni saat ini, hampir setiap individu mencoba memulai diskusi dengan topik-topik ringan sembari mengingat-ingat nama-nama teman seangkatan kami yang lainnya.

Dari sekian banyak profesi yang ditekuni teman-teman SMP saat ini, seperti menjadi dokter spesialis, dokter umum, komputer programmer, karyawan Bank, pariwisata, wiraswasta (usaha sendiri), hinga PNS pegawai negeri sipil, topik diskusi dari teman-teman SMP ini tidaklah seputar pekerjaan masing-masing yang di gelutinya sekarang ini, melainkan mendiskusikan teman-teman kami yang memiliki prestasi ketika kami masih duduk di bangku sekolah SMP 1 Klungkung dulu. Seperti Fery Suryawan, Wiwik Suryanto, Christin Tjandrawati, Ida Bagus Mahendra, yang kala itu terus beredar menjadi juara umum (juara paralel antar kelas).

Fery Surayawan, Wiwik Suryanto dan Christin Tjandrawati, bahkan sempat mengharumkan nama sekolah SMP 1 Klungkung menjadi juara cerdas tangkas P4 mewakili kabupaten Klungkung. Wiwik Suryanto bahkan menjadi Siswa Teladan terbaik yang berprestasi tidak hanya mewakili kabupaten Klungkung, tetapi juga mewakili Povinsi Bali ketingkat nasional.

Tidak hanya seputar prestasi akademik yang dimiliki oleh teman-teman SMP 1 Klungkung angkatan 85 ini, dalam hal kegiatan extra kurikuler seperti kegiatan Pramuka, teman-teman angkatan 85 ini, juga memiliki prestasi yang cukup kita banggakan. Group pramuka pria yang bernama regu Elang dan group pramuka wanita yang bernama regu Mawar, selain mengharumkan sama sekolah SMP 1 Klungkung, group pramuka ini juga ikut mengharumkan nama kabupaten Klungkung dalam ajang perlombaan pramuka tingkat provinsi Bali yang berlangsung di Blahkiuh tahun 1987. Saat itu regu Elang dan regu Mawar memang tidak bisa memenangkan Lomba Tingka Pramuka ini di tingkat provinsi sebagai syarat agar bisa melaju ke tingkat selanjutnya di tingkat nasional, karena kami di kalahkan oleh wakil dari kabupaten Buleleng, namun demikian kami cukup berbesar hati untuk menjadi juara 2. Dan yang lebih membanggakan kami adalah ketika lomba cerdas tangkas akademik yang merupakan bagian dari sekian banyak perlombaan dalam lomba tingkat pramuka ini, regu elang dan regu mawar lah yang menjadi juaranya, dimana regu elang diwakili oleh wiwik suryanto, putu adi parnama, wayan sarjana. Sementara regu mawar di waikili oleh Dewa Ayu Astari, dan kawan-kawan.

Kembali ke topik reuni, menindak lanjuti pertemuan yang pertama yang berlangsung pada hari minggu tanggal 24 januari 2010, Made Wardana bersama Wayan Sarjana berinisiatif menemui kepala sekolah SMP 1 Klungkung, yaitu bapak Drs. I Gusti Ketut Suwela, yang pada saat kami sekolah dulu di tahun 1985 masih mengajar mata pelajaran Aljabar. Pak gusti ketut suwela menyampaikan rasa bahagianya akan kunjungan wakil angkatan 85 yang masih ingat akan almamaternya (sekolah SMP 1 Klungkung), dan pihak sekolah akan berusaha kooperatif mendukung terwujudnya reuni ini.

Pada kesempatan itu, pak gusti ketut suwela juga sempat “curhat” tentang kondisi sekolah SMP 1 Klungkung yang sekarang ini serba jauh dari kondisi standard. Lab komputer yang menjadi pusat pelatihan komputer bagi anak didik siswa SMP 1 Klungkung, katanya komputernya sering ngadat dan error.  Seperti kebanyakan laboratorium dari sekolah yang ada di tanah air, para siswa bukannya melakukan praktek dan penelitian step by step seperti apa yang tertulis atau di jabarkan dalam modul yang harus di kerjakan, melainkan siswa lebih banyak menghabisakan waktunya melakukan penelitian (ngoprek memperbaiki) terhadap alat praga yang jauh dari standard (alias rusak) yang semestinya digunakan untuk meneliti percobaan tersebut. Namun demikian, dengan segala keterbatasan dari fasilitas yang ada  tersebut, disikapi oleh para pengajar SMP 1 Klungkung beserta para siswanya untuk selalu belajar dengan lebih kreatif tanpa pernah merasa mengeluh, seperti meniru kata pepatah: “a pessimist sees the difficulty in every opportunity. An optimist sees the opportunity in every difficulty“.

Berbekal dari laporan diskusi hasil kunjungan wakil alumni angkatan 85 ketika berkunjung ke SMP 1 Klungkung tanggal 4 Februari , kemudian pertemuan kedua yang sudah di sepakati pada hari minggu tanggal 7 februari 2010 dilaksanakan dengan tujuan untuk mencarikan format solusi permasalahan SMP 1 Klungkung sekaligus membahas kelanjutan persiapan reuni. Pertemuan yang berlangsung di Kusamba dirumah putu adi parnama, yang menjadi sponsor selain atas nama pribadi juga mewakili teman-teman kelas D lainnya, yaitu kelas dimana Parnama dulu berasal. Pada pertemuan ini selain terbentuk hasil yang lebih konkret, seperti diputuskannya struktur kepanitiaan umum serta kepanitiaan yang mewakili kelas masing-masing (mulai dari kelas A hingga kelas F), juga menghasilkan kesepakatan yang lain seperti program kerja jangka pendek dan program kerja jangka panjang. Yang mana diharapkan pertemanan kembali ini tidak hanya terhenti pada sebatas reuni yang akan diadakan tanggal 31 Juli 2010, tapi juga di harapkan bisa membentuk semacam perkumpulan resmi yang bisa menjadi partner dari sekolah SMP 1 Klungkung.

Lebih lanjut dalam reuni nanti, selain bisa melakukan temu kangen antar sesama teman seangkatan 85, juga diharapkan bisa terjadi interaksi antara teman angkatan 85 dengan para guru yang pernah mengajar saat itu dan para guru yang mengajar saat ini. Pada reuni nanti, teman-teman juga sepakat untuk berusaha menyumbangkan , minimal, 1 perangkat komputer PC untuk mendukung kegiatan belajar komputer di sekolah SMP 1 Klungkung. Komputer PC yang di sumbangkan akan di usahakan tanpa di lengkapi operating system. Hal ini di harapkan agar para siswa SMP 1 Klungkung yang saat ini sedang menuntut ilmu, bisa lebih kreatif dan belajar menginstall operating system  yang berbasis open source.  Bila mengalami kesulitan akan instalasi software operating system dan software aplikasi lainnya yang berbasis open source, pihak sekolah  selanjutnya diharapkan bisa bekerja sama dengan departement pendidikan klungkung yang memang saat ini juga sedang menggalakan FOSS (Free Open Source Software).

Selain menghasilkan kesepakatan diatas, pada reuni nanti juga akan di isi acara formal sambutan resmi dari wakil angkatan 85, sambutan resmi dari kepala sekolah SMP 1 Klungkung, sambutan resmi dari wakil guru yang mengajar saat itu. Disamping acara formal, acara reuni juga akan di isi dengan acara hiburan yang akan melibatkan adik-adik siswa SMP 1 Klungkung yang saat ini masih menuntut ilmu di SMP 1 KLungkung.

Sebagai kenang-kenangan bagi para peserta yang menghadiri reuni ini, baju kaos angkatan 85 pun akan di disain dan di jual bebas kepada para peserta reuni beserta pasangannya yang hadir (suami atau istrinya). Baju kaos ini di harapkan disamping dijadikan sebagai bentuk “identitas” dari angkatan 85 , juga digunakan sebagai sumber penggalian dana yang akan digunakan sebagai dana abadi angkatan, dana operational reuni, serta dana untuk pembelian komputer PC yang akan di sumbangkan ke sekolah SMP 1 Klungkung.

Merasa cukup puas dengan kemajuan dari pertemuan yang diselenggarakan di Kusamba, ketua panitia yang terpilih Wayan Sarjana bersama teman-teman yang hadir mensepakati akan mengadakan pertemuan yang ketiga yang akan di laksanakan pada hari minggu tanggak 21 Maret 2010 di Gelgel dirumah Made Wardana. Pertemuan ketiga nanti akan dilaksanakan atas nama wakil dari kelas A, oleh karena itu Amir Faisal yang merupakan bagian dari kelas A mengajak seluruh teman-teman kelas A lainnya untuk bersama-sama mensukseskan rapat pertemuan tgl 21 Maret 2010 nanti.

Akhir kata, rasa rindu setelah sekian lama tidak berjumpa dan semangat “ngayah” yang didasari niat baik untuk bisa berkontribusi kepada sekolah SMP 1 Klungkung bercampur menjadi satu. Thema yang akan di usung dalam reuni nanti, selain mengedepankan persaudaraan, teman-teman yang hadir juga sepakat untuk bisa meniru thema kampanye dari president amerika serikat yang terpilih Barack Obama ketika beliau berkampanye dengan thema “We will make a change“, Namun thema ini sepertinya dirasa terlalu berat untuk di pikul mengingat teman-teman seangkatan 85 masih berumur relatif cukup muda dan baru memulai meniti karir dan usaha. Sebagai ganti dari thema tadi angkatan 85 ini akan mencoba mengusung thema yang realistik yang sekiranya benar-benar bisa di wujud-nyatakan agar jangan sampai ibarat “jauh panggang dari api”. Untuk menyesuaikannya dengan kemampuan masing-masing  serta keterbatasan waktu yang ada dari setiap individu, thema dari Barack Obama mungkin tidak bisa di tiru sama persis, namun demikian angkatan 85 SMP 1 Klungkung ini mencoba alternatif lain meniru thema kampanye dari president SBY yang berpasangan dengan Jususf Kalla sebagai wakil presidentnya ketika pemilihan president tahun 2004 dimana thema yang di ususng saat itu adalah “Bersama kita bisa ” (….berkontribusi kepada sekolah SMP 1 Klungkung….)

Dimulai dari belajar berkontribusi terhadap lingkungan yang paling kecil yaitu lingkungan keluarga, desa,  sekolah dan seterusnya, yang walaupun kecil dan sederhana namun tetap penuh makna. mengutip pidato yang pernah disampaikan oleh President Sukarno ” Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati dan menghargai jasa para pahlawannya”. Seperti inilah misi yang ingin di jalankan oleh angkatan 85 SMP 1 Klungkung disaat melakukan reuni nanti, selain melangsungkan temu kangen dengan sesama teman seangkatan juga mencoba menjalin komunikasi harmonis dengan sekolah SMP 1 Klungkung yang kami kenal sejak 25 tahun yang lalu.

Idea-idea kecil yang masih berupa “embrio” dari setiap individu teman-teman angkatan 85 SMP 1 Klungkung , kami coba rajut dan kumpulkan menjadi satu,  dengan asas kebersamaan dan gotong royong serta selalu berkeyakinan bahwa sesuatu yang di koordinasikan dan di persiapkan dengan rapi suatu saat nanti pasti bisa menjadi besar  dan dapat di wujud nyatakan, mengutip kata pepatah: “Great strategy will be nothing without execution, execution without proper preparation will also be meaning less“.

Semoga pikiran baik datang dari segala arah.

Foto diatas: Rapat persiapan ke 1 di Denpasar  January di sponsori oleh Cuncun Junaidi Kusuma

Foto diatas: Rapat persiapan ke 2 di Kusamba 7 Februari dirumah Putu Adi Parnama

Foto diatas: Rapat persiapan ke 3 di Gelgel 21 Maret 2010 di rumah Made Wardana

Foto diatas: Rapat persiapan ke 4 di Warung Be Pasih Renon  April 2010 di sponsori oleh Putu Hadi Dharmawan

Foto diatas: Rapat persiapan ke 5,   May 2010 di rumah Agung Arya di Akah Klungkung

Foto diatas: Rapat persiapan ke 6,   Juni 2010 di rumah Wayan Sarjana di Klungkung

Foto diatas: Rapat persiapan ke 7,   Juli 2010 di rumah Putu Yuda Aryawan di Senggoan  di Klungkung

Undangan REUNI 31 Juli 2010 di sekolah SMP 1 Semarapura Klungkung

Sumber Foto diatas Widnyana Sudibya dan Alumni SMP 1 Klungkung angkatan 85

Riwayat Kasta di Bali

Posted by Adnyana under Stories

Om Swastyastu. Kasta, dalam Dictionary of American English disebut: Caste is a group resulting from the division of society based on class differences of wealth, rank, rights, profession, or job. Uraian lebih luas ditemukan pada Encyclopedia Americana Volume 5 halaman 775; asal katanya adalah “Casta” bahasa Portugis yang berarti kelas, ras keturunan, golongan.

Bangsa Portugis yang dikenal sebagai penjelajah lautan adalah pemerhati dan penemu pertama corak tatanan masyarakat di India yang berjenjang dan berkelompok; mereka menamakan tatanan itu sebagai casta. Tatanan itu kemudian berkembang di Eropa terutama di Inggris, Perancis, Rusia, Spanyol, dan Portugis. Sosialisasi casta di Eropa tumbuh subur karena didukung oleh bentuk pemerintahan monarki (kerajaan) dan kehidupan agraris.

Para elit ketika itu adalah the king (raja), the prince (kaum bangsawan), dan the land lord (tuan/ pemilik tanah pertanian); rakyat jelata kebanyakan buruh tani misalnya di Rusia disebut sebagai kaum proletar adalah kelompok mayoritas yang hina, hidup susah, dan senantiasa menjadi korban pemerasan kaum elit.

Lama kelamaan tatanan ini berubah karena tiga hal utama, yaitu:

  1. Revolusi Perancis dan Bholshevik (Rusia) yang menghapuskan monarki dan the land lord
  2. Industrialisasi yang mengurangi peran sektor agraris
  3. Pengembangan Agama Kristen yang menonjolkan segi kasih sayang diantara umat manusia

Walaupun demikian casta tidak hilang sama sekali; ia berubah wujud sebagai “Class System” yang didefinisikan sebagai: a differentiation among men according to such categories as wealth, position, and power.

Class System ini dianalisis secara ilmiah oleh berbagai tokoh masyarakat; yang terkemuka adalah Karl Marx dengan teorinya: The relations of production; inilah embrio pemahaman sosialis komunis yang ingin meniadakan perbedaan kelas masyarakat, di mana pemerintah menguasai sumber-sumber kehidupan dan mengupayakan perimbangan income yang wajar diantara rakyatnya.

Peredaran zaman menuju ke abad 20 membawa Class Theory yang klasik seperti pemikiran Karl Marx berubah menuju era baru seperti apa yang disebut sebagai Class Mobility, yaitu pengelompokan sosial karena kepentingan profesi. Kini kita biasa mendengar kelompok-kelompok: usahawan, birokrat, intelektual, militer, dan rohaniawan; mereka kemudian mengikat diri lebih khusus kedalam organisasi-organisasi seperti: IKADIN, IDI, ICMI, ICHI, MUI, PHDI, dll.

India yang disebut dalam berbagai sumber sebagai asal Kasta Stelsel, sebenarnya mempunyai sekitar 3000 kelompok sosial masyarakat, namun pada umumnya dapat dibedakan menjadi empat. Pengelompokan ini di India tidak hanya ditemukan pada masyarakat yang beragama Hindu saja, tetapi juga pada masyarakat yang beragama lain misalnya penganut Islam berkelompok pada: Sayid, Sheikh, Pathan, dan Momin; penganut Kristen berkelompok pada: Chaldean Syrians, Yacobite Syrians, Latin Catholics, dan Marthomite Syrians; penganut Budha berkelompok pada: Mahayana, Hinayana, dan Theravadi.

Istilah pertama yang digunakan di India bukan kasta tetapi “varnas” Bahasa Sanskerta yang artinya warna (colour); ditemukan dalam Rig Veda sekitar 3000 tahun sebelum Masehi yaitu Brahman (pendeta), Kshatriya (prajurit dan pemerintah), Vaishya (pedagang/ pengusaha), dan Sudra (pelayan).

Tiga kelompok pertama disebut “dwij” karena kelahirannya diupacarai dengan prosesi pensucian.

Dalam Bhagavadgita percakapan ke-IV sloka ke-13 ditulis:

chatur varnyam maya srishtam, guna karma vibhagasah, tasya kartaram api mam, viddhy akartaram avyayam

artinya: catur warna adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja, tetapi ketahuilah walaupun penciptanya, Aku tidak berbuat dan mengubah diri-Ku.

Warna adalah profesi atau bidang kerja yang dilaksanakan seseorang menurut bakat dan keahliannya; tidak ada perbedaan derajat diantaranya karena masing-masing menjalankan karma dengan saling melengkapi.

Mantram-mantram dari Yajurveda sloka ke-18, 48 antara lain berbunyi:

Rucam no dhehi brahmanesu, rucam rajasu nas krdhi, rucam visyesu sudresu, mayi dhehi ruca rucam

artinya: Ya Tuhan Yang Maha Esa bersedialah memberikan kemuliaan pada para Brahmana, para Ksatriya, para Vaisya, dan para Sudra. Semoga Engkau melimpahkan kecemerlangan yang tidak habis-habisnya kepada kami.

Yajurveda Sloka ke 30, 5 berbunyi:

Brahmane brahmanam, ksatraya, rajanyam, marudbhyo vaisyam, tapase sudram

artinya: Ya Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan Brahmana untuk pengetahuan, para Ksatriya untuk perlindungan, para Vaisya untuk perdagangan, dan para Sudra untuk pekerjaan jasmaniah.

Profesi yang empat jenis itu adalah bagian-bagian (berasal) dari Tuhan Yang Maha Esa yang suci, diibaratkan sebagai anatomi tubuh manusia dalam tatanan masyarakat, sebagaimana Yajurveda sloka 31, 11 menyatakan:

Brahmano asya mukham asid, bahu rajanyah krtah, uru tadasya yad vaisyah, padbhyam sudro ajayata

artinya: Brahmana adalah mulut-Nya Tuhan Yang Maha Esa, Ksatriya lengan-lengan-Nya, Vaisya paha-Nya, dan Sudra kaki-kaki-Nya.

Selanjutnya doa yang mengandung harapan agar masing-masing profesi/ warna melaksanakan swadharma yang baik terdapat pada Yajurveda sloka 33,81:

pravakavarnah sucayo vipascitah

artinya: para Brahmana seharusnya bersinar seperti api, bijak, dan terpelajar;

Yajurveda sloka 20,25:

yatra brahma ca ksatram ca, samyancau caratah saha, tam lokam punyam prajnesam, yatra devah sahagnina

artinya: di negara itu seharusnya diperlakukan warga negaranya sebaik mungkin, di sana para Brahmana dan para Kesatriya hidup di dalam keserasian dan orang-orang yang terpelajar melaksanakan persembahan (pengorbanan).

Kesimpulannya adalah Warna itu realistis dan idealnya semua profesional berbuat sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama dan kesejahteraan umat manusia.

Warna seseorang tidak selamanya tetap apalagi turun temurun; misalnya seorang petani (berwarna sudra) karena ketekunannya berhasil menyekolahkan anaknya kemudian hari menjadi bupati maka anaknya sudah menjadi warna Ksatriya; demikian sebaliknya seorang keturunan Brahmana yang tidak lagi berprofesi sebagai Wiku tidak dapat disebut sebagai warna Brahmana.

Perubahan status pada seseorang bahkan dapat terjadi setiap saat menurut bidang tugasnya, misalnya seorang pesuruh di suatu Kantor yang merangkap menjadi Pemangku di Pura/ Sanggah Pamerajan; ketika bertugas sebagai pesuruh dia berwarna Sudra, tetapi jika bertugas nganteb piodalan di Pura dia berwarna Brahmana.

Warna yang diabadikan bahkan diwariskan turun temurun terjadi di India, sebagai usaha kelompok elit mempertahankan status quo, yang sebenarnya sudah sangat menyimpang dari ajaran suci Weda.

Gejala mengabadikan warna inilah yang dilihat oleh orang-orang Portugis sehingga timbullah istilah “casta” seperti yang diuraikan di atas.

Penerapan kasta stelsel di India menimbulkan pengkotak-kotakan masyarakat sehingga mereka saling bertikai. Dalam kondisi seperti ini jiwa nasionalisme pudar sehingga India mudah dipecah belah dan akhirnya dijajah Inggris.

Perjuangan Mahatma Gandhi membangkitkan nasionalisme India dibayar sangat mahal yaitu dengan jiwanya sendiri ketika dia ditembak oleh seorang fanatikus kasta.

Agama Hindu kemudian menyebar ke Indonesia lengkap dengan tatanan masyarakat menurut “warna” masing-masing. Mula-mula di Jawa tatanan masyarakat masih murni menurut Weda yaitu tatanan menurut profesi atau “Warna”.

Ketika Majapahit hendak meluaskan kerajaan dengan cita-cita menyatukan Nusantara yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya Gajahmada, maka Majapahit menundukkan Kerajaan Bali Dwipa pada abad ke-13.

Para “penjajah Majapahit” membawa serta kaum elit yang memimpin kerajaan Samprangan. Kaum elit itu dinamakan Triwangsa, yaitu Brahmana, Kesatria, dan Wesya. Semua penduduk Bali-asli yang dijajah, dikelompokkan sebagai Wangsa Sudra.

Tujuan politik Gajahmada adalah agar kaum Bali-asli tidak bisa eksis, sehingga kelanggengan pemerintahan Samprangan dapat berlanjut terus.

Sejak masa itulah “Warna” di Bali berubah menjadi “Wangsa” atau “Kasta” karena hak-hak kebangsawanan diturunkan kepada generasi seterusnya.

Setelah kerajaan-kerajaan di Bali runtuh, kemudian Indonesia menjadi negara Republik, hak-hak kebangsawanan mereka dengan sendirinya hilang. Namun demikian titel-titel nama depannya masih digunakan, sekedar untuk mengenang kejayaan masa lalu dan mungkin dengan alasan lain yaitu menghormati leluhur.

Sekarang tinggal masyarakat saja yang menilai kedudukan seseorang.

Tinggi rendahnya status sosial seseorang di masyarakat ditentukan pada peranan pengabdiannya kepada kepentingan masyarakat, bukan pada embel-embel predikat nama itu.

Mereka yang bijaksana akan senantiasa menjauhkan perilaku feodalisme, karena feodalisme itu membodohi diri sendiri.

Om Santih Santih Santih Om.

http://bali.stitidharma.org/bali/riwayat-kasta-di-bali/#more-578

Rosenmontag yang berasal dari kata “Roose” dan “Montag” artinya Hari “Green Monday”, yang merupakan perayaan Karnival terbesar yang ada di Jerman yang di selenggarakan setiap tahun. biasanya hari ini di gunakan sebagai pertanda berakhirnya musim dingin dan memasukinya musim Semi. Dan untuk tahun ini akan berlangsung pada hari senen 15 Februari 2010. Karnival ini berlangsung di negara tidak hanya di Jerman melainkan di negara-negara yang berbahasa Jerman seperti di Swiss dan Austria. di Jerman sendiri Festival ini di pusatkan di daerah Rhineland yaitu daerah yang di lalui oleh sungai Rhein seperti Mainz, Dusseldorf, Köln, dan Aachen, yang dulunya merupakan daerah pendudukan Katolik Romawi. yang mana perayaan karnival ini di persembahkan oleh pemerintahan romawi kepada para buruh yang mendiami daerah sepanjang sungai Rhein sebagai hari pesta rakyat.

perayaan Karnival seperti di Köln dan Dusseldorf benar-benar mencuri perhatian masyarakat tidak hanya dari kota tetangga tetapi juga mengundang perhatian masyarakat dari negara tetangga seperti belanda, belgia dan perancis untuk datang berduyun-duyun menonton karnival ini yang cukup membantu pemerintah kota setempat untuk mendapatkan turis musiman. yang unik dari karnival ini, tidak saja peserta karnival yang berpakaian warna-warni tetapi juga para pengunjung atau penonton juga berpakaian seperti peserta karnival, jadi serasa sulit untuk membedakan yang mana peserta karnival sesungguhnya dan yang mana merupakan penonton. Perayaan Karnival ini selain memberikan pendapatan tambahan bagi kota penyelenggara dan masyarakatnya, juga memberikan keunikan tersendiri bagi kotanya.

Hari Rosenmontag ini tidaklah merupakan hari libur nasional, tapi anak-anak sekolahan di biarkan libur sedangkan lingkungan perkantoran tetaplah buka seperti biasa tapi boleh tidak masuk (alias fakultative). Meniru keberhasilan kota Köln, Dusseldorf, Mainz, Aachen dengan karnival Rosenmontagnya, kota-kota lainya di Jerman, juga tidak mau kalah untuk turut serta  bisa mengundang wisatawan domestik ataupun manca negara untuk mengunjungi kotanya, seperti Frankfurt juga menyelenggarakan Parade Budaya di setiap bulan Juni yang juga belakangan ini terkenal sebagai “trademark” dari kota itu untuk mengumpulkan masyarakatnya untuk tumpah ruah ke jalan berbaur dengan para wisatawan. Kota lainnya yang ada di Jerman seperti kota berlin, Stuttgart, Munchen, dll juga melakukan hal serupa di setiap hari terpenting milik kota tersebut. Bahkan perayaan di kota Munchen sendiri sekarang di kenal hingga ke manca negara dengan “Oktoberfest”, dimana tradisi Pesta rakyat di Munchen ini yang di dominasi dengan penjualan minuman bir asli provinsi Bayer di selenggarakan sebulan suntuk, ibarat kota Las Vegas yang tidak kenal matinya siang dan malam.

Festival dan Karnival di Kabupaten Klungkung

Menghubungkan cerita diatas dengan peristiwa di tanah air, di Bali kita mengenal istilah Pesta Kesenian Bali yang di selenggarakan setiap bulan juni-juli selama sebulan penuh yang juga merupakan trademark dari provinsi bali untuk mengundang wisatawan untuk datang berduyun-duyun ke bali. disamping tradisi Pesta Kesenian Bali, saat ini juga mulai bertumbuhan karnival-karnival lainnya didaerah kabupaten seperti di jermbrana, Buleleng, di Sanur yang dikenal dengan Sanur Village Festival, di Kuta yang di kenal dengan Kuta Festival, dan lain-lain. di setiap sehari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi masyarakat Hindu Bali secara serempak juga menyelenggarakan Festival yang di barengi dengan perlombaan seni Ogoh-Ogoh yang turut membantu menciptakan ciri khas dan keunikan dari Bali dan masyarakatnya itu sendiri.

Sama halnya dengan festival Ogoh-Ogoh, di kabupaten Klungkung (kalau tidak salah) juga diadakan festival dan karnival di setiap perayaan 17 Agustusan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.  Namun sayang gaung promosinya kurang begitu terdengar hingga ke wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara yang datang berkunjung ke bali, ntah mungkin karena di saat yang sama di kota lainnya juga terdapat perayaan yang sama, tapi alangkah baiknya bila festival dan karnival ini di selenggarakan bersamaan dengan peringatan Hari Puputan Klungkung di setiap 28 April setiap tahunnya, sehingga disamping memiliki keunikan tersendiri juga pesan Puputan Klungkung bisa terus di sampaikan kepada masyarakat.

Tradisi bersejarah dan unik yang dirayakan dan di kemas melalui karnival sepertinya patut untuk kita lestarikan, meniru perayaaan karnival-karnival klasik dari negeri Jerman, sehingga kita bisa terus berbagi cerita dan nilai sejarah kepada anak cucu kita dengan mengajaknya menonton karnival dan mengajaknya untuk menapak tilasi perjuangan-perjuangan para leluhur kita pada puputan Klungkung 28 april 1908 , sehingga membuat kita bisa berbangga menjadi warga klungkung. dan yang terpenting lagi adalah pemerintah daerah (pemda) Klungkung bahu membahu bersama dengan masyarakatnya  membantu menggerakkan roda perekonomian daerah kabupaten klungkung dengan menyelenggarakan pesta rakyat yang unik yang bisa mengundang wisatawan untuk datang berduyun-duyun berkunjung ke kabupaten Klungkung. semoga.

Kembali ke Rosenmontag, semenjak 1823, Rosenmontag memiliki Moto (thema) yang berbeda-beda dari tahun ke tahun. Sementara di negeri maju berusaha untuk melestarikan tradisi budaya mereka yang di wariskan secara turun temurun, lain lagi di negeri kita malah sebaliknya, yaitu semakin banyaknya peraturan daerah yang baru di buat yang melarang (membatasi) pelestarian perayaan tradisi rakyat, sebagai contoh seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa kabupaten di Bali yang mengeluarkan larangan untuk tidak merayakan festival Ogoh-Ogoh sehari sebelum perayaan Nyepi dengan alasan keamanan dan ke kidhmatan perayaannya Nyepi.

  • 1823 Thronbesteigung des Helden Carneval
  • 1824 Besuch der Prinzessin Venetia beim Helden Carneval
  • 1825 Der Sieg der Freude
  • 1826 Fahrt nach dem Monde
  • 1827 Die Prüfung
  • 1828 Alte und neue Zeit
  • 1829 Der große Narrentag
  • 1830 (kein Zug: Regierungsverbot)
  • 1831 Hanswursts Wiedergeburt
  • 1832 Die Kölner Messe des Jahres 1832
  • 1833 kein Zug
  • 1834 Das Orakel
  • 1835 Der Kölner Karnevals-Sprudel
  • 1836 Der Stein der Weisen
  • 1837 Carneval der Jahre Bezwinger
  • 1838 Hanswurst läßt sich erbauen ein Monument
  • 1839 Aller-Welt-Aktien-Börse
  • 1840 Das Turnier
  • 1841 Der gordische Knoten und seine Lösung
  • 1842 Die ächt kölnische olympischen Spiele
  • 1843 Die Köllsche Huhschull (Die kölnische Hochschule)
  • 1844 2 Züge: Die Großjährigkeit des Hanswurstes als Stellvertreter des Helden Carneval (Große KG) (Montag)
    Hanswurst als Emanzipierter (Allgemeine KG) (Dienstag)
  • 1845 2 Züge: Der Conkurs-Congreß aller Vereine (Große KG)
    Hanswurstliche Kirmes (Allgemeine KG)
  • 1846 Die hanswurstliche Colonie an der Weinküste
  • 1847 Jubelfeier der 25jährigen Thronbesteigung des Helden Carneval
  • 1848 Das tag- und nachtvolle, das heißt gescholtene oder Schaltjahr 1848
  • 1849 Die Reise nach Californien
  • 1850 Narren-Reichstag
  • 1851 (kein Zug: Preußische Zensur)
  • 1852 Ich hab‘s gewagt (Kappenfahrt)
  • 1853 Zug ohne Motto
  • 1854 Hanswurstliche Industrie Ausstellung
  • 1855 Zug ohne Motto („ein aus dem täglichen Leben genommenes witzreiches Allerlei“)
  • 1856 (kein Zug)
  • 1857 (kein Zug)
  • 1858 Train de Plaisier
  • 1859 Napoleon und seine Franzosen
  • 1860 Carnevals-Congreß von 1860
  • 1861 (kein Zug: Landestrauer um König Friedrich Wilhelm IV.)
  • 1862 Narren-Landtag I
  • 1863 Narren-Landtag II
  • 1864 Maskenzug, aber ohne Thema
  • 1865 Strauß bunter Ideen
  • 1866 Hanswurstliche Industrie-Ausstellung
  • 1867 Prinzessin Venetia beim Helden Karneval (wegen Regen Zug auf Karnevalsdienstag verlegt)
  • 1868 (kein Zug wegen Unwetters)
  • 1869 Verherrlichung des Weinjahres 1868
  • 1870 Die Eröffnung des Suezkanals
  • 1871 (kein Zug wg. deutsch-französischem Krieg)
  • 1872 Kein Motto
  • 1873 Die Jubelfeier der Reform von 1823 (Schnee behindert den Zug)
  • 1874 Närrische Universität
  • 1875 Närrische Lebensversicherungsanstalt
  • 1876 Ohne Motto (Internationale Gartenbau-Ausstellung 1875)
  • 1877 Festspiel der Nibelungen
  • 1878 König Wein
  • 1879 Einzug der Prinzessin Isabella 1235
  • 1880 Bunter Blumenstrauß
  • 1881 Musik aus allen Ländern (kein Zug: Starkes Schneetreiben)
  • 1882 Jan und Griet
  • 1883 Thema unbekannt
    2 Züge: Große K.G; Große Kölner am Karnevalsdienstag
  • 1884 Das Weinjahr 1883 (Vorverlegung auf Karnevalssonntag)
  • 1885 Held Carneval als Kolonisator
  • 1886 Die vier Jahreszeiten
  • 1887 Die größten Volksfeste der bedeutendsten Culturvölker (Zug bereits am Sonntag wg. Reichstagswahl)
  • 1888 Köln in alter und neuer Zeit
  • 1889 Die Künste huldigen dem Prinzen Karneval
  • 1890 Italien, Land der Sonne, huldigt dem Prinzen Karneval Zug ohne Musik wegen Tod der Kaiserwitwe Augusta
  • 1891 Närrische Ausstellung
  • 1892 Köln als Seehafen
  • 1893 Heimkehr des Prinzen Karneval aus dem Reich der Sagen und Märchen
  • 1894 Concurrenz aller Feste der Welt mit dem Kölner Carneval
  • 1895 Hervorragende Leistungen großer Männer, Dichter und Componisten
  • 1896 Zeitung – Neueste Nachrichten
  • 1897 Die Griesgramschlacht
  • 1898 Bunte Reihe Kölner Themen
  • 1899 Flüsse und Ströme als Gast bei Vater Rhein
  • 1900 Zwei Jahrtausende rheinischen Lebens
  • 1901 Was uns das neue Jahrhundert bringt
  • 1902 Schiller und Goethe auf dem Carneval zu Köln
  • 1903 Lebende Lieder
  • 1904 Des Prinzen Rheinfahrt bei seiner Heimkehr aus dem Süden
  • 1905 Eine Blütenlese aus dem Kölner Adressbuch
  • 1906 Das Prunkmahl des Prinzen Karneval
  • 1907 Bilder aus dem Kölner Leben
  • 1908 Bilder aus dem Kölner Leben
  • 1909 Die verkehrte Welt
  • 1910 Aus aller Welt
  • 1911 Verkörperte Zitate
  • 1912 Deutsche Städte huldigen der Colonia und dem Prinzen Karneval
  • 1913 Sang und Klang im Karneval
  • 1914 Weltausstellung in Köln
  • 1915 (kein Zug: Erster Weltkrieg)
  • 1916 (kein Zug)
  • 1917 (kein Zug)
  • 1918 (kein Zug)
  • 1919 (kein Zug: britische Besatzung untersagte Karnevalsumzüge (bis 1926))
  • 1920 (kein Zug)
  • 1921 (kein Zug)
  • 1922 (kein Zug)
  • 1923 (kein Zug)
  • 1924 (kein Zug)
  • 1925 (kein Zug)
  • 1926 (kein Zug)
  • 1927 Aus der Neuen Zeit (Bunte Kappenfahrt)
  • 1928 Die Pressa im Spiegel des Kölner Karnevals
  • 1929 Ab- und Aufbau im Spiegel des Kölner Karnevals
  • 1930 Die Welt im Jahre 2000
  • 1931 (kein Zug wg Weltwirtschaftskrise)
  • 1932 (kein Zug wg. Weltwirtschaftskrise)
  • 1933 Karneval wie einst
  • 1934 Kölner Bilder
  • 1935 Prinz Karneval filmt
  • 1936 Alt Kölle läv en Spröch un Zitate
  • 1937 Märchen und Sagen aus aller Welt
  • 1938 Die Welt im Narrenspiegel
  • 1939 Singendes, klingendes, lachendes Köln
  • 1940 (kein Zug wg. Zweitem Weltkrieg)
  • 1941 (kein Zug)
  • 1942 (kein Zug)
  • 1943 (kein Zug)
  • 1944 (kein Zug)
  • 1945 (kein Zug)
  • 1946 (kein Zug)
  • 1947 (kein Zug)
  • 1948 (kein Zug)
  • 1949 – „Mer sin widder do un dunn wat mer künne!“
  • 1950 – „Kölle, wie et es un wor, zick 1900 Johr“
  • 1951 – „Kölle en Dur un Moll“
  • 1952 – „Kölsche Krätzger“
  • 1953 – „Kölsch Thiater“
  • 1954 – „Dat löstige Patentamp Kölle“
  • 1955 – „Lachende Sterne über Köln“
  • 1956 – „Spaß an der Freud“
  • 1957 – „Laßt Blumen sprechen“
  • 1958 – „Mer jöcken öm de Welt“
  • 1959 – „Schlagerparodie 1959“
  • 1960 – „Jedem Dierche sie Pläsierche!“
  • 1961 – „Meer Weetschaffswunderkinder“
  • 1962 – „Wat et nit all gitt“
  • 1963 – „Köln läßt grüßen kunterbunt Presse, Fernsehen und Funk“
  • 1964 – „Kölsch Panoptikum“
  • 1965 – „Olympiade der Freude“
  • 1966 – „Kaum zu glauben“
  • 1967 – „Dat Klockespill vum Rothuusturm“
  • 1968 – „Märchen und Wunder unserer Zeit“
  • 1969 – „Köln serviert internationale Speisen a la carte“
  • 1970 – „Rosen, Tulpen und Narzissen, das Leben könnte so schön sein“
  • 1971 – „Hexenküche der Werbesprüche“
  • 1972 – „Wir sind alle kleine Sünderlein“
  • 1973 – „Fastelovend wie hä es un wor, zick 150 Johr“
  • 1974 – „Zustände wie im alten Rom“
  • 1975 – „Seid umschlungen Millionen“
  • 1976 – „Sang und Klang mit Willi Ostermann“
  • 1977 – „Mer losse de Pöppcher danze“
  • 1978 – „Flohmarkt Colonia“
  • 1979 – „Kölsche in aller Welt“
  • 1980 – „Mer losse d’r Dom verzälle“
  • 1981 – „Circus Colonia“
  • 1982 – „Karneval der Schlagzeilen – Närrische Nachrichten“
  • 1983 – „Es war einmal… Kölner Karneval wie ein Märchen“
  • 1984 – „Hits us Kölle un us aller Welt“
  • 1985 – „Ene Besuch em Zoo – Met jroße un met kleine Diere“
  • 1986 – „Fastelovend der Rekorde“
  • 1987 – „Janz Kölle dräump – un jede Jeck dräump anders“
  • 1988 – „Kölle Alaaf – COLONIA FEIERT FESTE“
  • 1989 – „Wir machen Musik – Met vill Harmonie“
  • 1990 – „Hereinspaziert, hereinspaziert – Zur größten Schau der Welt“
  • 1991 – „Kinema Colonia“ (kein offizieller Rosenmontagszug in diesem Jahr wegen Golfkrieg)
  • 1992 – „Et kütt wie et kütt“
  • 1993 – „Sinfonie in Doll“
  • 1994 – „Hokuspokus – kölsche Zauberei“
  • 1995 – „Colonia ruft die Narren aller Länder“
  • 1996 – „Typisch Kölsch“
  • 1997 – „Nix bliev wie et es – aber wir werden das Kind schon schaukeln“
  • 1998 – „Fastelovend und Dom im Jubiläumsfieber“
  • 1999 – „999 Jahre – Das waren Zeiten“
  • 2000 – „Kölle loß jon, ins neue Jahrtausend”“
  • 2001 – „Köln kann sich mit allen Messen“
  • 2002 – „Janz Kölle es e Poppespill“
  • 2003 – „Klaaf und Tratsch – auf kölsche Art“
  • 2004 – „Laach doch ens, et weed widder wäde!“
  • 2005 – „Kölle un die Pänz us aller Welt“
  • 2006 – „E Fastelovendsfoßballspill“
  • 2007 – „Mir all sin Kölle!“
  • 2008 – „Jeschenke för Kölle – uns Kulturkamelle“
  • 2009 – „Unser Fastelovend - himmlisch jeck“
  • 2010 - „In Kölle jebützt“

References: http://de.wikipedia.org/wiki/K%C3%B6lner_Rosenmontagszug

Sumber Foto-Foto diatas: diambil dari internet (terima kasih).

Kapal Ro-Ro demikianlah nama sebuah kapal bisa memuat kendaraan yang berjalan masuk kedalam kapal dengan penggeraknya sendiri dan bisa keluar dengan sendiri juga sehingga disebut sebagai kapal roll on - roll off disingkat Ro-Ro, untuk itu kapal dilengkapi dengan pintu rampa yang dihubungkan dengan moveble bridge atau dermaga apung ke dermaga. Kapal Roro selain digunakan untuk angkutan truk juga digunakan untuk mengangkut mobil penumpang, sepeda motor serta penumpang jalan kaki. Angkutan ini merupakan pilihan populer antara Jawa dengan Sumatera di Merak - Bakauheni, antara Jawa dengan Madura dan antara Jawa dengan Bali.

Secara garis besar kapal yang termasuk jenis RoRo antara lain: kapal penyeberangan/ferry yang melayani lintasan tetap seperti Lintas Merak-Bakauheni, Lintas Ujung-Kamal, Lintas Ketapang-Gilimanuk, Lintas Padangbay-Lembar, Lintas Padangbay – Nusa Penida. Selain itu jenis kapal roro lainnya adalah kapal pengangkut mobil (car ferries), dan kapal general cargo yang beroperasi sebagai kapal RoRo. Salah satu kapal roro yang melayani lintas Padangbay – Nusa Penida yang “dioperasikan” oleh pemerintah Kabupaten Klungkung yang berkapasitas 500 Gross ton merupakan kapal buatan PT PAL Indonesia yang di pesan oleh pemerintah provinsi Bali yang serah terimanya dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2006 oleh Direktur Pengembangan Usaha PAL Indonesia kepada pimpinan kegiatan pengadaan kapal Pemerintah Provinsi Bali, serta disaksikan oleh Direktur Pembangunan Kapal PAL Indonesia dan Gubernur Propinsi Bali di galangan PAL Indonesia.


Ukuran Utama Kapal sbb. :
Panjang Keseluruhan : 39.50 m
Panjang Garis tegak : 32.50 m
Lebar : 11.60 m
Sarat Air : 2 m
Gross tonase : ± 500 GRT
Kecepatan Maksimal : 12 Knot
Kapasitas Muat : 200 penumpang , 8 truk, 6 mobil penumpang
Mesin Utama : Motor diesel 4 langkah 2 x 829 tenaga Kuda
Anak Buah Kapal : 8 orang

Kapal roro ini mulai menjadi perbincangan dimilis Klungkung@yahoogroups.com ketika salah satu anggota milis, Gusti Putu,  meminta saran kepada anggota lainnya seputar issue  kapal yang merupakan aset pemerintah daerah klungkung namun pengoperasiannya tidaklah dilakukan oleh putra daerah klungkung dalam arti selama ini tenaga pengoperasiannya masih ditangani oleh pihak ketiga, disamping itu juga daerah tujuan berlabuh dari kapal roro ini tidaklah di daerah kawasan kabupaten klungkung melainkan berlabuh di pelabuhan milik kabupaten tatangga yaitu pelabuhan padang bai. Jadi kalau di cermati lebih seksama selama bertahun-tahun terdapat kerugian ganda di pihak kabupaten klungkung.

Pertanyaan mengenai topik pengoperasian kapal roro dan ketidak siapan dermaga dipihak kabupaten klungkung di tanggapi oleh peserta diskusi di milis Klungkung berikut ini:

3.1. Gde Pandhe Wisnu Suyantara ST, yang saat ini sedang menempuh study master di Universitas Chalmers Goteborg Swedia kelahiran Desa tegak Klungkung, yang mengatakan bahwa program pembangunan dermaga dan kapal sesungguhnya sudah dicanangkan sejak tahun 2000-an. disaat pemerintahan Bupati Tjokorda Ngurah. Banyak langkah yang sudah dilakukan pemerintah beserta wakil rakyat pada saat itu untuk memajukan pembangunan di Nusa Penida, salah satunya dengan pembangunan dermaga sebagai langkah awal membuka pulau Nusa Penida. Ini ide mendasarnya., demikian dinyatakan gede Pandhe.

Kalau pas itu saja kita bisa membangun dermaga dan melobi pemerintah propinsi dan pusat untuk menyediakan dana dan kapal, kenapa sekarang tidak? saya rasa pemerintah sekarang tinggal melanjutkan. Pertanyaannya adalah sejauh mana niat dan upaya yang uda dilakukan pemerintah sekarang. Hampir 2 periode berjalan semenjak Bupati Tjok lengser dan memberikan tampuk kekuasaan kepada Bupati Candra, tetapi tetap aja program pembangunan dermaga di Klungkung daratan tidak bisa terwujud. Saya rasa masalahnya ada di Program Dermaga di Klungkung daratan. Dana sudah ada di Propinsi dan sempat di pangkas gara-gara pemda klungkung tidak memberikan upaya yang positif terhadap pembangunan dermaga ini. Kalau dermaga di Klungkung daratan sudah selesai saya rasa kapal dengan leluasa bisa kita operasikan.

Gambar Dermaga di Nusa Penida.

Dan setahu saya program ini (dermaga Nusa, dermaga Klungkung daratan, dan Kapal Roro) merupakan satu program terintegrasi. Jadi disini dirancang ketika kapal roro datang, kedua dermaga sudah siap. cuma masalahnya dermaga Klungkung tidak kurun rampung dan menyebabkan sepertinya kapal roro yang diberikan pemprop memberatkan pemda klungkung.

Saya rasa yang perlu kita lakukan adalah mempercepat program pembangunan dermaga di Klungkung daratan. Kalau kapal roro dihentikan dan dikembalikan ke Pemprop, saya rasa itu malah sebuah langkah yang sangat merugikan bagi pembangunan di Nusa Penida, padahal saat ini berbagai proyek sedang diarahkan untuk mengangangkat kesejahteraan nyama braya kita di seberang lautan sana termasuk dari Propinsi.

Memang saat ini kapal tersebut masih dioperasikan oleh pihak ketiga, dan biayanya jauh dari pendapatan yang bisa dihasilkan selama sebulan.Tapi itu lebih dikarenakan hanya ada satu trip PP dalam sehari, seandainya jumlah trip bisa ditingkatkan, salah satunya dengan pembangunan dermaga, saya rasa kita bisa mencapai BEP atau pun untung dalam beberapa tahun mendatang.

Pemerintah mengalami kerugian, saya rasa karena kesalahan pemerintah sendiri yang tidak segera membangun dermaga ini dengan berbagai alasan yang ada. Padahal kalau di track ke belakang, kita bisa liat, setelah Pemerintahan Tjok Ngurah dengan ketua DPRD I Wayan Sutena pas itu, Klungkung bisa memiliki dermaga dan kapal roro, hanya dalam jangka 5 tahun kurang. Sekarang sudah lebih dari 5 tahun, 1 dermaga pun tidak rampung, demikian Gde Pandhe mengakhiri komentarnya.

3.2. Nyoman Parsua ikut sumbang saran demi kemajuan kabupaten klungkung dengan mengatakan Tingkat perekonomian masyarakat Nusapenida meningkat sejak beroperasinya kapal roro dimaksud, tapi masalah pengoperasiannya diserahkan kepada pihak ketiga untuk memparmudah penyelesaian komisinya. tinggal menghitung jumlah persentase dikalikan nilai kontrak dan berhubungan dengan satu orang saja (pengontrak) . sama dengan 5 kapal ikan yang sudah tidak ketahuan keberadaannya juga dikontrakkan.

3.3.  Wayan Surya, menyatakan bahwa masyarakat nusa penida sepertinya sangat terbantu dengan keberadaan kapal roro ini, dan perekonomian mereka mungkin lebih meningkat. Namun bila permasalahannya terletak pada ketidaksiapan SDM dalam pengoperasian kapal roro ini kenapa tidak dikirim para PNS yang tidak punya tupoksi untuk belajar mengeoperasikannya, dan belajarnya langsung dengan pihak ketiga tersebut ?. wayan surya juga memiliki kecenderungan bahwa hal ini mungkin merupakan sebuah proses untuk lebih berkembangnya Kabupaten Klungkung, karena kemungkinan dermaga akan segera di bangun, dengan alasan tanah di sekitar daerah tersebut sudah dibebaskan juga.

3.4. Dr. Ir. Gde Pradnyana, staf ahli BP Migas kelahiran Desa Galiran Klungkung, mengomentari diskusi yang sedang berlangsung dengan mengatakan: tanpa bermaksud mengecilkan semangat membangun, Pak Gde mengatakan tidak melihat ada lokasi di Klungkung daratan yg cocok utk membangun dermaga roro. Semua pantai kita, mulai dari Banjarangkan sampai Wates semuanya curam dan berhadapan langsung dengan samudera Hindia. Jadi sekalipun dananya ada, lokasinya (rasanya) tidak ada di Klungkung. Kalaupun dipaksakan (secara teknis bisa saja dibuat, misalnya dilindungi dengan breakwater, dsb) maka biayanya akan sangat mahal dan tidak ekonomis, demikian penjelasan pak Gde Pradnyana.

Gambar: Kapal Roro berlabuh di pelabuhan Padang Bai


Gambar: pelabuhan Padang Bai di teluk padang bai

3.5. Ir. I Dewa Nyoman Mawang, berkomentar Sebelum adanya kapal Roro transportasi dari Bali ke Nusa penida lebih sulit terutama arus barang dan mobil, kalau sekarang masyarakat Nusa Penida lebih maju baik infrastrukturnya maupun yang lainnya.

Cita cita pendahulu kita untuk memajukan klungkung yang sebagian ada di Nusa Penida tahap awal sudah ada modal awal, sehingga perlu dilanjutkan lebih serius lagi terutama pelatihan tenaga untuk pengoperasian kapal tersebut seperti yang diusulkan Pak Wayan Surya dan pengadaan Dermaga. Saya kira pemda Klungkung perlu pemikiran atau gagasan gagasan kreatif untuk melanjutkan cita-cita tsb. Terutama lobby-lobby ke pusat biar perencanaan perencanaan yang ada bisa segera terwujud.

3.6. I Made Putra Jelantik ST, kelahiran Nusa Penida yang saat ini berwirausaha di Jakarta mengatakan manfaat atas keberadaan/ serta kerugian atas ketiadaan kapal roro nusa jaya abadi (nja) dijabarkan sbb :

I. Ditinjau dari sisi orang Nusa penida

1. Keuntungan atas keberadaan kapal roro nja :
1. Masyarakat Nusa Penida sudah tidak perlu lagi bayar mahal atas barang-barang pangan/sandang/ papan
2. Arus barang produksi Nusa penida ke Bali jadi lancar sehingga harga jual/beli lebih terbuka (tdk dipermainkan tengkulak)
3. Pemuda Nusa penida saat ini bangga dengan kemajuan daerahnya
4. Pemuda Nusa Penida tidak frustasi sehingga mereka tidak meninggalkan pulaunya untuk merantau ke daerah lain
5. Pemuda Nusa Penida tidak meninggalkan pulaunya dengan melepas hak atas tanahnya kepada orang Jakarta/Surabaya
6. Sirnanya kesan terisolasi yang selama ini menekan mental orang Nusa Penida (kami sdh bosa disebut sebagai daerah tertinggal)

2. Kerugian atas ketiadaan kapal roro nja :

1. ekonomi biaya tinggi bagi masyarakat Nusa Penida
2. petani mati krn harga dipermainkan oleh tengkulak yang sebagian besar punya kapal/perahu sendiri
3. mental orang Nusa Penida akan tertekan dengan adanya kesan terisolasi
4. Pemuda akan hijrah ke daerah lain dengan sekalian menjual tanahnya kepada orang jakarta/surabaya yg mungkin bukan Hindu untuk modal usaha di daerah lain
5. Pemuda yang tetap bertahan di Nusa Penida akan bergejolak minta cerai dengan Klungkung (wacana ini sudah ada sejak dahulu tp tidak mendapat dukungan dari para sesepuh mengingat sejarah….tapi anak muda sudah tidak pernah mikirin sejarah lagi..dan mereka lebih senang gabung dengan Kab. Badung)..sepertinya sekarang geliat ingin cerai ini sudah redup karena terobati oleh adanya kapal roro nja..disinilah kecerdasan Pemda saat ini yang pinta baca apa keinginan Pemuda Nusa Penida.

Atas untung/rugi di atas coba bandingkan dengan kerugian Pemda Klungkung apa tindakan yang harus diambil? saya sebagai pemuda Nusa Penida berpikir bahwa Klungkung akan rugi besar bila meniadakan kapal roro nusa jaya abadi (tidak sebanding dengan kerugian financial yang dialami saat ini)….Pemda Klungkung di bawah pak Candra sangat cerdas dan peduli Nusa penida..beliau sudah tahu benar bahwa kerugian yang sangat besar akan dialami Klungkung (secara keseluruhan) bila kapal roro nja diberhentikan pengoperasiannya.

Saran saya…semeton sekalian mohon hati-hati atas wacana tentang Nusa Penida…kalo memang saat ini Klungkung hanya bisa numpang di Dermaga Padang Bay Karangasem silahkan lakukan ini sambil menunggu selesainya dermaga daratan Klungkung… jangan mundur ke belakang…kerugian finacial saat ini lebih kecil bila di bandingkan dengan  keuntungan (manfaat) yang dirasakan oleh masyarakat Nusa Penida atas keberadaan kapal roro nja.

Dan coba semeton berpikir seandainya semeton berada dalam posisi sebagai masyarakat Nusa Penida…… .atau coba semeton tinggal di Nusa Penida selama 1 tahun dan rasakan bagaimana rasanya???

3.7. Ketut Adnyana , kemoning,  menanggapi topik seputar  pembangunan Dermaga di Klungkung daratan, yang dikutipnya dari koran balipost, yang mana tertulis pembangunan dermaga di eks galian C sudah dimasukkan dalam program kerja bupati sekarang. Perihal kapan realisasi perwujudan Dermaganya, ini mungkin bisa di tanyakan kepada pihak Pemda Klungkung, demikian diungkapkan oleh Ketut Adnyana, yang detail artikel balipostnya bisa dibaca secara lengkap di artikel berikut:

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=28005

APBD Klungkung Defisit Rp 35,65 miliar

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Klungkung tahun 2010 dirancang defisit Rp 35,65 miliar. Belanja daerah dirancang Rp 434,542 miliar sedangkan pendapatan daerah hanya Rp 398,882 miliar yang bersumber dari Pendapatan Asli daerah (PAD), Dana Perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. Hal itu terungkap dalam pidato pengantar nota keuangan Ranperda tentang APBD Klungkung tahun 2010 yang disampaikan Bupati Klungkung, Wayan Candra kehadapan pimpinan dan anggota DPRD di Ruang Paripurna Gedung Sabha Nawa Natya DPRD Klungkung, Senin (11/1).

Terjadinya defisit diakibatkan besarnya belanja daerah yang melebihi pendapatan daerah. Sebagai akibat meningkatnya belanja tidak langsung yang dipengaruhi peningkatan belanja pegawai. Peningkatan belanja pegawai terjadi karena adanya kenaikan gaji pegawai sebesar 5 persen dan penambahan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang kini masih proses pengusulan Nomor Identitas Pegawai (NIP) ke BKN.

Belanja daerah Rp 434,542 miliar diantaranya dialokasikan untuk biaya tak langsung Rp 309,41 miliar yang mengalami peningkatan Rp 20,76 miliar (7,19 persen) dari APBD Induk 2009 Rp 288,64 miliar. Sedangkan untuk belanja langsung Rp 125,12 miliar. Menurun Rp 62,24 miliar (33,22 persen) dari Induk 2009 Rp 187,37 miliar. Sementara itu, pendapatan daerah yang bersumber dari PAD Rp 28,82 miliar, dana perimbangan Rp 332,81 miliar dan lain-lain pendapatan yang sah Rp 332,81 miliar.

Beberapa program prioritas yang dijabarkan dalam belanja daerah tersebut diantaranya:
1. pembangunan pasar galiran demi pertumbuhan ekonomi masyarakat,
2. kelanjutan pembangunan dermaga di eks galian C,
3. penataan alur Tukad Unda,
4. pemberantasan penyakit rabies,
5. pengadaan bulldozer untuk penanganan sampah

Sementara itu, berkaitan dengan terjadinya defisit anggaran, Candra menyebutkan hal itu akan dibiayai dari penerimaan pembiayaan daerah yang bersumber dari perkiraan sisa lebih  perhitungan anggaran tahun 2009 dengan besar yang sama yakni Rp 35,65 miliar.(kmb20)

3.8. Komang Oka Suryadhi, asal desa sampalan, menambahkan:
saya sedikit sumbang saran ,semestinya untuk menunjang penyeberangan ke atau dari nusa penida di klungkung daratan harus lebih cepat mewujudkan pelabuhan .disampingkan untuk menambah pendapatan daerah juga bisa membantu masyarakat disekitar pelabuhan  secara ekonomi dan bisa menyerap tenaga kerja.karena selama ini kapal roro beroperasi dari kabupaten tetangga sehingga pendapatan akan masuk ke kabupaten tersebut.disamping itu jadwal penyeberangnyapun akan tergantung dari jadwal penyebrangan padang bai-lembar.sebagai akhir kata semoga pelabuhan di klungkung daratan segera terwujud.
Salam

3.9. I Made Putra Jelantik ST, putra klungkung kelahiran Nusa Penida, menyatakan salut dengan rencana kerja Pemda Klungkung yang berpihak untuk kemakmuran rakyat Klungkung, yang mudah-mudahan terwujud.  Made Jelantik memperkirakan hasil dari program yang direncanakan oleh pemerintah daerah Klungkung akan nampak indah pd jangka panjang 10 tahun yang akan datang. Karena efeknya akan luar biasa dengan terwujudnya program tersebut. Mungkin akan ada ledakan ekonomi yang mengagumkan di klungkung 10 tahun yang akan datang. Dan Gunaksa (area ex. galian C) akan menjadi pusat ekonomi baru bagi Klungkung/Bali ke depannya.  Made Jelantikn juga mengajak untuk mendukung terus program pemerintah yang akan membawa dampak positif bagi kesejahteraan rakyat Klungkung.

3.10. I Nengah Sumerta SE, Banjarangkan, menyatakan sudah sewajaranya kita berterima kasih kepada pemerintah yang beritikad baik mencoba mengerahkan sedikit waktu dan pikiranya untuk memberi pelayanan ke rakyat, tapi jangan sampai itu membuat fungi kontrol kita menurun, entah apa yang membuat saya skeptikal, tapi di klungkung, sistem birokrasi dan manajemen keuangan masih jauh dari transparansi dan akuntabilitas.

3.11. I Dewa Gede Widnyana ST. MSc, asal Banjar Kartini Klungkung alumni Teknik perminyakan ITB dan master perminyakan dari Norwegia, bertanya kepada Pak Pradnyana dan tertarik untuk menanyakan lebih lanjut syarat-syarat untuk pembangunan dermaga dan teknik bangunan pantai. Serta meminta saran / alternatif lain sebagai solusi atas permasalahan penyeberangan Klungkung - Nusa Penida?

3.12. AKBP Drs. I Gede Mahendra Jaya Kusuma SH MM, putra klungkung yang saat ini bertugas di Ternate, juga menyatakan kepeduliannya akan kemajuan kabupaten Klungkung dan berharap kabupaten klungkung bisa segera memiliki dermaga sendiri dan kapal roro bisa di operasikan langsung oleh pihak ASDP klungkung. Pak Gede juga berharap suatu saat nanti kepulauan Nusa Penida bisa terhubungkan dengan kabupaten klungkung melalui sebuah jembatan, demi kesejahteraan masyarakat di Nusa Penida.

3.13. Dr. Ir. Gde Pradnyana, Staf ahli BP Migas kelahiran Desa Galiran Klungkung, menambahkan:
Berikut ini tyang forward 4 buah foto satelit yg tyang ambil dari Google-earth, memperlihatkan pantai yang ada di Klungkung serta lokasi galian-C.

Foto-foto ini menunjukan lokasi galian-C mulai dari Sampalan Kelod dan sampai Tangkas. Lokasinya agak jauh di tengah daratan dan jauh dari pantai (lihat foto-1 dan 2). Jadi kalau mau bikin “teluk” untuk membangun dermaga….kok rasanya seperti mengubah geografi pulau Bali. Bandingkan ukuran galian-C tersebut dengan teluk Padangbai. Dari foto2 ini tyang usulkan: pisahkan pemikiran antar penanganan ex Galian-C dengan pembangunan dermaga.

Gambar Teluk Padang Bai

1. Dermaga

Seperti email tyang sebelumnya, rasanya tidak ada lokasi sepanjang pantai di Klungkung yg ideal untuk dermaga roro. Kalau kita berpikir agak makro (melepaskan “baju” kedaerahan Klungkung), maka solusi praktisnya untuk dermaga ke Nusa Penida memang menggunakan Padangbai saja (foto-3). Tapi kalau mempertimbangkan aspirasi masyarakat Nusa Penida akan kebutuhan dermaga maka lokasi yg “agak pas” mungkin di Kusamba, bukan di muaranya tukad Unda (lihat foto-2). Itupun kalau menggunakan jety (seperti di Padangbai) maka harus dibangun breakwater, seperti yg dipasang di terminal BBM Manggis.

Gambar Jety Pelabuhan

Tapi untuk hal ini harus dilakukan perhitungan (simulasi) secara cermat agar keberadaan jety dan breakwater (tumpukan batu yg menjorok ke tengah laut) tidak menimbulkan gerusan dan abrasi pantai di tempat lain. Ingat bahwa pantai-pantai selatan Bali sangat rawan terhadap abrasi. Pilihan lain adalah dermaga dibangun di dalam kanal, yang digali masuk ke daratan. Tapi inipun (rasanya) membutuhkan breakwater pelindung mulut kanal tsb.

2. Penanganan Galian-C

Lihat foto-4. Galian-C ini berada di bantaran Tukad Unda dan dimasa mendatang, saat gunung Agung meletus (lagi) akan kembali tertimbun lahar dingin. Dimanapun (biasanya) kita sebaiknya tidak membuat bangunan di bantaran sungai. Pemikiran-pemikiran untuk membangun “danau buatan” untuk kapal2 yacht, dsb di bekas Galian-C rasanya harus menunggu sampai aktifitas volcanic Gunung Agung (nunas ampure) mati dulu. Hitungan2 investasi besar2n (membangun waduk dengan kapal2 pesiar dan dikelilingi rumah2 peristirahatan di sekeliling waduk) seperti itu biasanya return-nya puluhan bahkan ratusan tahun, sementara siklus erupsi Gunung Agung juga kurang-lebih periodanya sama. Jadi, menurut tyang, ex galian C sebaiknya difungsikan untuk kegiatan agri-culture saja dikombinasikan dengan perikanan tambak, dsb dimana return on investment-nya bisa lebih pendek.

Foto 1

Foto 2

Foto 3

Foto 4

3.14. dr. kadek Budhiadnya, asal Desa Dawan yang bertugas sebagai dokter di Balikpapan, mengatakan kesetujuannya dengan ide yang sangat logis dari Pak Gde Pradnyana.
Kalaupun harus membangun dermaga karena aspirasi dari warga nusa, mungkin kusamba merupakan tempat yang lebih reasonable.

3.15. Dr. Ing. Nengah Sudja, ahli kelistrikan dan Konsultan di Jakarta yang berasal dari Dawan, mengatakan:

Kalau titiang tidak salah mengerti, lepas dari persoalan teknisnya, diperlukan  penelitian dua kajian ekonomi  !..

Pertama apakah pengadaan/operasinya  Kapal Roro  secara  ekonomi sosial menguntungkan Nusa Penida, Klungkung, Bali ?.

Dengan melakukan kajian kuantitatif, tentunya bisa dihitung berapa besar pendapatan dari pertumbuhan ekonomi Klungkung/ Nusa Penida/  Bali   dibandingkan dengan biaya modal pengadaan kapal tersebut ditambah biaya operasinya untuk beberapa tahun kedepan sampai kapal tsb berhenti beroperasi ( retired).

Kedua mana yang lebih layak,  tetap mengoperasikannya dari Padang Baai  dibandingkan dengan  pembangunan dermaga di Kabupaten  Klungkung (  di Gunaksa / Kusamba) ditambah biaya pengoperasiannya dari Kabupaten Klungkung ke Nusa Penida ?.

Naluri saya memperkirakan untuk masalah:

pertama, keberadaan Kapal Roro secara ekonomis menguntungkan Nusa Penida, Klungkung, Bali . Apalagi karena kapal tsb.sudah ada ( sunk cost). Biaya kapal tak perlu diperhitungkan lagi, keberadaan kapal dengan sendirinya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Daerah.

kedua, pengoperasian dari Padang Baai secara ekonomi jelas lebih murah / layak, karena biaya pembangunan dermaga di Klungkung tak  perlu dikeluarkan lagi  dan  dana yang dialokasikan  bisa dialihkan ke sektor lain. Misalnya untuk bikin kade di Kusamba.

Seyogyanya Pemda Kabupaten Klungkung/ Propensi  Bali dapat memberi penjelasan, pertanggungjawaban  secara rinci  kepada masyarakat mengenai aspek kelayakan kedua masalah diatas.

4. Kesimpulan
(saat ini belum ada, diskusi masih berlanjut)

Beberapa ABK perahu penyeberangan Pulau Bali-Nusa Penida, menggotong barang bawaan penumpang ke tepi pantai saat mereka tiba di Pantai Kusamba, Klungkung, Bali, Kamis(27/8). Penyeberangan menggunakan perahu motor dari pantai kusamba masih menjadi pilihan bagi penumpang karena dinilai lebih cepat dan praktis dari pada kapal roro berkapasitas besar dari dermaga Padangbai yang hanya mampu melayani sekali trip dalam satu hari. (FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana) http://www.antara.co.id/foto/1/1251368059

Artikel ini adalah rangkuman dari hasil diskusi di milis Klungkung@yahoogroups.com, Sumber Foto-Foto diatas dikutip oleh penulis artikel dari internet (terima kasih).

Membaca Peluang Pengembangan Pariwisata Kerakyatan

Jika dicermati lebih jauh, motivasi wisatawan asing datang ke Bali ternyata tidak melulu datang untuk mengejar kemewahan seperti yang biasa mereka nikmati di tempat asalnya. Mereka umumnya ingin mendapatkan pengalaman berbeda dari kegiatan rutin sehari-hari, dan kondisi ini belum sepenuhnya ditangkap kalangan pelaku pariwisata Bali.

Oleh I Made Sarjana

Pandangan pengelola kepariwisataan Bali bahwa wisatawan yang berkunjung ke daerah ini mesti disambut dengan penyediaan akomodasi berupa hotel besar nan megah lengkap dengan standar kualitas layanan mewah, tampaknya harus segera ditinjau ulang. Vacantiebeurs atau pekan promosi pariwisata dunia yang berlangsung di Kota Utrecht, Belanda, 12 -17 Januari 2010 menyodorkan fakta berbeda soal motivasi wisatawan dunia bertandang ke Bali. Wisatawan ingin datang berinteraksi dengan masyarakat lokal alias bukan kemewahan yang dikejar, tetapi keunikan Bali. Peluang pengembangan pariwisata berbasis kerakyatan pun terbaca dalam ajang tersebut.

—————–

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menyebut keterlibatan Indonesia pada ajang ini dengan target menggaet kunjungan satu juta wisatawan Eropa ke Indonesia, dan 200 ribu orang di antaranya asal Belanda. Indonesia pun mengusung tema ”Moluccas Culture” atau serba Maluku untuk menarik perhatian orang Belanda yang dikenal lebih familiar dengan khazanah budaya Maluku, mengingat warga Indonesia yang menetap di Belanda terbanyak asal Maluku. Kendati demikian, Bali tetaplah magnet utama bagi wisatawan Eropa untuk berkunjung ke Indonesia. Terbukti, pengunjung stan Indonesia umumnya sangat antusias bertanya tentang Bali, bahkan di beberapa biro perjalanan dan maskapai penerbangan Eropa yang menawarkan paket wisata ke kawasan Asia Tenggara memajang ikon budaya atau memutar film pendek tentang Bali.

Pengelolaan kepariwisataan Bali saat ini memang berkiblat pada manajemen pariwisata yang dikembangkan di Spanyol seperti di Kota Barcelona di mana aktivitas pariwisata identik dengan pembangunan hotel mewah bintang lima. Kawasan Nusa Dua pun disulap sebagai kawasan hotel elite. Pemilihan model pengembangan pariwisata ini tentu berdampak kurang menguntungkan bagi masyarakat Bali yakni keberhasilan pembangunan pariwisata juga diikuti economic leakage yang sangat tinggi.

Economic leakage atau pendapatan dari aktivitas kepariwisataan yang tidak bisa dinikmati masyarakat lokal karena pendapatan itu disetorkan ke daerah lain atau ke luar negeri. Kondisi ini terjadi karena pembangunan hotel mewah cenderung menggunakan modal luar negeri, hotel berbintang umumnya memiliki jaringan internasional. Kondisi ini memicu banyaknya impor bahan makanan, mebel, juga pekerja asing bekerja untuk menjamin hotel mampu memberikan layanan kenyamanan dan kemewahan sesuai standar yang berlaku di negara asal wisatawan.

Menguapnya pendapatan pariwisata juga dapat terjadi dengan adanya maskapai penerbangan asing yang beroperasi untuk keperluan wisata tersebut (Andrew Holden, 2008). Kasus Bali, tentu economic leakage terjadi dan menguntungkan pemodal Jakarta dan luar negeri.

Jika dicermati lebih jauh, motivasi wisatawan asing datang ke Bali ternyata tidak melulu datang untuk mengejar kemewahan seperti yang biasa mereka nikmati di tempat asalnya. Mereka umumnya ingin mendapatkan pengalaman berbeda dari kegiatan rutin sehari-hari, dan kondisi ini belum sepenuhnya ditangkap kalangan pelaku pariwisata Bali. Faktanya, pada Juli tahun 2007 saat penelitian tentang subak selama tujuh hari di Desa Jatiluih, Tabanan penulis bertemu satu rombongan wisatawan Prancis yang melakukan petualangan selama 14 hari di Bali ternyata dipandu orang yang memiliki kewarganegaraan sama. Karenanya, pengakuan calon wisatawan bahwa dia ingin ke Bali untuk menikmati alam dan kebudayaan Bali bukan kemewahan kamar hotel dapat dijadikan pemantik semangat bagi pelaku dan pemegang kebijakan kepariwisataan Bali untuk membangun pariwisata yang berbasis kerakyatan yakni pariwisata pedesaan (rural tourism) dan pariwisata pertanian (agrotourism).

Aliza Fleischer (2002) memaparkan pariwisata pedesaan dan pertanian memiliki ciri sama yakni memanfaatkan situasi alam pedesaan, termasuk aktivitas pertanian sebagai atraksi wisata. Baik pariwisata pedesaan maupun pertanian juga membuka kesempatan yang lebih luas bagi rakyat kecil (petani) untuk terlibat langsung dalam aktivitas pariwisata. Pengembangan pariwisata pedesaan dan pertanian di beberapa negara Eropa seperti Inggris dan Jerman, menunjukkan petani setempat mampu meningkatkan pendapatan keluarga karena pariwisata menjadi sumber pendapatan alternatif.

Isu Lingkungan

Isu lingkungan bahwa saatnya semua umat manusia menyelamatkan bumi dari pemanasan global juga menjadi faktor pendorong pengembangan pariwisata pedesaan dan pertanian. Banyak calon wisatawan melakukan kunjungan ke daerah tujuan wisata selain untuk melepas kepenatan dari pekerjaan rutin, juga berharap bisa berpartisipasi nyata dalam upaya pengurangan emisi gas CO2. Jadi pengalaman berwisata seperti terlibat langsung mengerjakan pekerjaan petani khususnya menanam pohon akan makin diminati.

Bercermin pada tingginya minat wisatawan menjelajahi wilayah Bali, seperti rombongan wisatawan dari Prancis yang penulis temui di Jatiluih. Rombongan wisata itu mengaku membeli paket perjalanan wisata selama 14 hari keliling beberapa titik di wilayah Bali. Hari pertama, rombongan itu datang di kawasan Ubud beristirahat semalam, keesokan harinya dari pagi sampai siang jalan-jalan di kawasan Ubud, sorenya diantar dengan bus ke Jatiluih. Mereka menikmati indahnya suasana alam pedesaan pada malam dan siang hari, karena paginya wisatawan bisa memilih paket jalan-jalan di pematang sawah atau melakukan petualangan alam yang lebih berat yakni jalan kaki melintasi hutan kaki Bukit Batukaru, menuju Desa Wangaya Gede.

Paket wisata ini seterusnya ke arah barat menuju kawasan Lovina, Buleleng, dan balik ke timur singgah di Dusun Mungsengan Catur (Kintamani), selanjutnya ke timur Batur, Besakih, Candidasa. Paket perjalanan wisata semacam itu dapat dipadukan dengan kegiatan menanam pohon akan menjadi dayak tarik tersendiri bagi wisatawan. Paket wisata semacam ini perlu diciptakan lebih banyak karena memiliki fungsi ganda di samping sebagai upaya pengembangan pariwisata berbasis kerakyatan, juga sebagai upaya diversifikasi paket wisata di Bali melengkapi paket wisata tradisional yang sudah mapan.

Tantangan menciptakan paket wisata semacam ini tentu bukan di permodalan atau kualitas sumber daya manusia yang kurang memadai, tetapi adakah pelaku wisata lokal yang mau menjadi perintis. Pelaku pariwisata Bali umumnya lebih suka bekerja pada pihak lain dan hampir tidak ada yang tergerak untuk merintis hal-hal baru. Pariwisata yang pada intinya memodifikasi ruang dan waktu untuk ditawarkan sebagai paket wisata memang membutuhkan kerja keras dan kreativitas. Di samping itu dukungan pemerintah juga sangat dibutuhkan untuk pengembangan pariwisata kerakyatan.

Penulis, dosen Fakultas Pertanian Unud, kini mahasiswa M.Sc. Program Leisure, Tourism, and Environment Wageningen University dan Research (WUR) Belanda

* Isu lingkungan bahwa saatnya semua umat manusia menyelamatkan bumi dari pemanasan global juga menjadi faktor pendorong pengembangan pariwisata pedesaan dan pertanian.

* Paket perjalanan wisata dapat dipadukan dengan kegiatan menanam pohon akan menjadi dayak tarik tersendiri bagi wisatawan.

* Paket wisata semacam ini perlu diciptakan lebih banyak karena memiliki fungsi ganda di samping sebagai upaya pengembangan pariwisata berbasis kerakyatan, juga sebagai upaya diversifikasi paket wisata di Bali melengkapi paket wisata tradisional yang sudah mapan.

http://balipost.com/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=4&id=3074

sumber foto: http://www.baliwww.com