kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Kapal Ro-Ro demikianlah nama sebuah kapal bisa memuat kendaraan yang berjalan masuk kedalam kapal dengan penggeraknya sendiri dan bisa keluar dengan sendiri juga sehingga disebut sebagai kapal roll on - roll off disingkat Ro-Ro, untuk itu kapal dilengkapi dengan pintu rampa yang dihubungkan dengan moveble bridge atau dermaga apung ke dermaga. Kapal Roro selain digunakan untuk angkutan truk juga digunakan untuk mengangkut mobil penumpang, sepeda motor serta penumpang jalan kaki. Angkutan ini merupakan pilihan populer antara Jawa dengan Sumatera di Merak - Bakauheni, antara Jawa dengan Madura dan antara Jawa dengan Bali.

Secara garis besar kapal yang termasuk jenis RoRo antara lain: kapal penyeberangan/ferry yang melayani lintasan tetap seperti Lintas Merak-Bakauheni, Lintas Ujung-Kamal, Lintas Ketapang-Gilimanuk, Lintas Padangbay-Lembar, Lintas Padangbay – Nusa Penida. Selain itu jenis kapal roro lainnya adalah kapal pengangkut mobil (car ferries), dan kapal general cargo yang beroperasi sebagai kapal RoRo. Salah satu kapal roro yang melayani lintas Padangbay – Nusa Penida yang “dioperasikan” oleh pemerintah Kabupaten Klungkung yang berkapasitas 500 Gross ton merupakan kapal buatan PT PAL Indonesia yang di pesan oleh pemerintah provinsi Bali yang serah terimanya dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2006 oleh Direktur Pengembangan Usaha PAL Indonesia kepada pimpinan kegiatan pengadaan kapal Pemerintah Provinsi Bali, serta disaksikan oleh Direktur Pembangunan Kapal PAL Indonesia dan Gubernur Propinsi Bali di galangan PAL Indonesia.


Ukuran Utama Kapal sbb. :
Panjang Keseluruhan : 39.50 m
Panjang Garis tegak : 32.50 m
Lebar : 11.60 m
Sarat Air : 2 m
Gross tonase : ± 500 GRT
Kecepatan Maksimal : 12 Knot
Kapasitas Muat : 200 penumpang , 8 truk, 6 mobil penumpang
Mesin Utama : Motor diesel 4 langkah 2 x 829 tenaga Kuda
Anak Buah Kapal : 8 orang

Kapal roro ini mulai menjadi perbincangan dimilis Klungkung@yahoogroups.com ketika salah satu anggota milis, Gusti Putu,  meminta saran kepada anggota lainnya seputar issue  kapal yang merupakan aset pemerintah daerah klungkung namun pengoperasiannya tidaklah dilakukan oleh putra daerah klungkung dalam arti selama ini tenaga pengoperasiannya masih ditangani oleh pihak ketiga, disamping itu juga daerah tujuan berlabuh dari kapal roro ini tidaklah di daerah kawasan kabupaten klungkung melainkan berlabuh di pelabuhan milik kabupaten tatangga yaitu pelabuhan padang bai. Jadi kalau di cermati lebih seksama selama bertahun-tahun terdapat kerugian ganda di pihak kabupaten klungkung.

Pertanyaan mengenai topik pengoperasian kapal roro dan ketidak siapan dermaga dipihak kabupaten klungkung di tanggapi oleh peserta diskusi di milis Klungkung berikut ini:

3.1. Gde Pandhe Wisnu Suyantara ST, yang saat ini sedang menempuh study master di Universitas Chalmers Goteborg Swedia kelahiran Desa tegak Klungkung, yang mengatakan bahwa program pembangunan dermaga dan kapal sesungguhnya sudah dicanangkan sejak tahun 2000-an. disaat pemerintahan Bupati Tjokorda Ngurah. Banyak langkah yang sudah dilakukan pemerintah beserta wakil rakyat pada saat itu untuk memajukan pembangunan di Nusa Penida, salah satunya dengan pembangunan dermaga sebagai langkah awal membuka pulau Nusa Penida. Ini ide mendasarnya., demikian dinyatakan gede Pandhe.

Kalau pas itu saja kita bisa membangun dermaga dan melobi pemerintah propinsi dan pusat untuk menyediakan dana dan kapal, kenapa sekarang tidak? saya rasa pemerintah sekarang tinggal melanjutkan. Pertanyaannya adalah sejauh mana niat dan upaya yang uda dilakukan pemerintah sekarang. Hampir 2 periode berjalan semenjak Bupati Tjok lengser dan memberikan tampuk kekuasaan kepada Bupati Candra, tetapi tetap aja program pembangunan dermaga di Klungkung daratan tidak bisa terwujud. Saya rasa masalahnya ada di Program Dermaga di Klungkung daratan. Dana sudah ada di Propinsi dan sempat di pangkas gara-gara pemda klungkung tidak memberikan upaya yang positif terhadap pembangunan dermaga ini. Kalau dermaga di Klungkung daratan sudah selesai saya rasa kapal dengan leluasa bisa kita operasikan.

Gambar Dermaga di Nusa Penida.

Dan setahu saya program ini (dermaga Nusa, dermaga Klungkung daratan, dan Kapal Roro) merupakan satu program terintegrasi. Jadi disini dirancang ketika kapal roro datang, kedua dermaga sudah siap. cuma masalahnya dermaga Klungkung tidak kurun rampung dan menyebabkan sepertinya kapal roro yang diberikan pemprop memberatkan pemda klungkung.

Saya rasa yang perlu kita lakukan adalah mempercepat program pembangunan dermaga di Klungkung daratan. Kalau kapal roro dihentikan dan dikembalikan ke Pemprop, saya rasa itu malah sebuah langkah yang sangat merugikan bagi pembangunan di Nusa Penida, padahal saat ini berbagai proyek sedang diarahkan untuk mengangangkat kesejahteraan nyama braya kita di seberang lautan sana termasuk dari Propinsi.

Memang saat ini kapal tersebut masih dioperasikan oleh pihak ketiga, dan biayanya jauh dari pendapatan yang bisa dihasilkan selama sebulan.Tapi itu lebih dikarenakan hanya ada satu trip PP dalam sehari, seandainya jumlah trip bisa ditingkatkan, salah satunya dengan pembangunan dermaga, saya rasa kita bisa mencapai BEP atau pun untung dalam beberapa tahun mendatang.

Pemerintah mengalami kerugian, saya rasa karena kesalahan pemerintah sendiri yang tidak segera membangun dermaga ini dengan berbagai alasan yang ada. Padahal kalau di track ke belakang, kita bisa liat, setelah Pemerintahan Tjok Ngurah dengan ketua DPRD I Wayan Sutena pas itu, Klungkung bisa memiliki dermaga dan kapal roro, hanya dalam jangka 5 tahun kurang. Sekarang sudah lebih dari 5 tahun, 1 dermaga pun tidak rampung, demikian Gde Pandhe mengakhiri komentarnya.

3.2. Nyoman Parsua ikut sumbang saran demi kemajuan kabupaten klungkung dengan mengatakan Tingkat perekonomian masyarakat Nusapenida meningkat sejak beroperasinya kapal roro dimaksud, tapi masalah pengoperasiannya diserahkan kepada pihak ketiga untuk memparmudah penyelesaian komisinya. tinggal menghitung jumlah persentase dikalikan nilai kontrak dan berhubungan dengan satu orang saja (pengontrak) . sama dengan 5 kapal ikan yang sudah tidak ketahuan keberadaannya juga dikontrakkan.

3.3.  Wayan Surya, menyatakan bahwa masyarakat nusa penida sepertinya sangat terbantu dengan keberadaan kapal roro ini, dan perekonomian mereka mungkin lebih meningkat. Namun bila permasalahannya terletak pada ketidaksiapan SDM dalam pengoperasian kapal roro ini kenapa tidak dikirim para PNS yang tidak punya tupoksi untuk belajar mengeoperasikannya, dan belajarnya langsung dengan pihak ketiga tersebut ?. wayan surya juga memiliki kecenderungan bahwa hal ini mungkin merupakan sebuah proses untuk lebih berkembangnya Kabupaten Klungkung, karena kemungkinan dermaga akan segera di bangun, dengan alasan tanah di sekitar daerah tersebut sudah dibebaskan juga.

3.4. Dr. Ir. Gde Pradnyana, staf ahli BP Migas kelahiran Desa Galiran Klungkung, mengomentari diskusi yang sedang berlangsung dengan mengatakan: tanpa bermaksud mengecilkan semangat membangun, Pak Gde mengatakan tidak melihat ada lokasi di Klungkung daratan yg cocok utk membangun dermaga roro. Semua pantai kita, mulai dari Banjarangkan sampai Wates semuanya curam dan berhadapan langsung dengan samudera Hindia. Jadi sekalipun dananya ada, lokasinya (rasanya) tidak ada di Klungkung. Kalaupun dipaksakan (secara teknis bisa saja dibuat, misalnya dilindungi dengan breakwater, dsb) maka biayanya akan sangat mahal dan tidak ekonomis, demikian penjelasan pak Gde Pradnyana.

Gambar: Kapal Roro berlabuh di pelabuhan Padang Bai


Gambar: pelabuhan Padang Bai di teluk padang bai

3.5. Ir. I Dewa Nyoman Mawang, berkomentar Sebelum adanya kapal Roro transportasi dari Bali ke Nusa penida lebih sulit terutama arus barang dan mobil, kalau sekarang masyarakat Nusa Penida lebih maju baik infrastrukturnya maupun yang lainnya.

Cita cita pendahulu kita untuk memajukan klungkung yang sebagian ada di Nusa Penida tahap awal sudah ada modal awal, sehingga perlu dilanjutkan lebih serius lagi terutama pelatihan tenaga untuk pengoperasian kapal tersebut seperti yang diusulkan Pak Wayan Surya dan pengadaan Dermaga. Saya kira pemda Klungkung perlu pemikiran atau gagasan gagasan kreatif untuk melanjutkan cita-cita tsb. Terutama lobby-lobby ke pusat biar perencanaan perencanaan yang ada bisa segera terwujud.

3.6. I Made Putra Jelantik ST, kelahiran Nusa Penida yang saat ini berwirausaha di Jakarta mengatakan manfaat atas keberadaan/ serta kerugian atas ketiadaan kapal roro nusa jaya abadi (nja) dijabarkan sbb :

I. Ditinjau dari sisi orang Nusa penida

1. Keuntungan atas keberadaan kapal roro nja :
1. Masyarakat Nusa Penida sudah tidak perlu lagi bayar mahal atas barang-barang pangan/sandang/ papan
2. Arus barang produksi Nusa penida ke Bali jadi lancar sehingga harga jual/beli lebih terbuka (tdk dipermainkan tengkulak)
3. Pemuda Nusa penida saat ini bangga dengan kemajuan daerahnya
4. Pemuda Nusa Penida tidak frustasi sehingga mereka tidak meninggalkan pulaunya untuk merantau ke daerah lain
5. Pemuda Nusa Penida tidak meninggalkan pulaunya dengan melepas hak atas tanahnya kepada orang Jakarta/Surabaya
6. Sirnanya kesan terisolasi yang selama ini menekan mental orang Nusa Penida (kami sdh bosa disebut sebagai daerah tertinggal)

2. Kerugian atas ketiadaan kapal roro nja :

1. ekonomi biaya tinggi bagi masyarakat Nusa Penida
2. petani mati krn harga dipermainkan oleh tengkulak yang sebagian besar punya kapal/perahu sendiri
3. mental orang Nusa Penida akan tertekan dengan adanya kesan terisolasi
4. Pemuda akan hijrah ke daerah lain dengan sekalian menjual tanahnya kepada orang jakarta/surabaya yg mungkin bukan Hindu untuk modal usaha di daerah lain
5. Pemuda yang tetap bertahan di Nusa Penida akan bergejolak minta cerai dengan Klungkung (wacana ini sudah ada sejak dahulu tp tidak mendapat dukungan dari para sesepuh mengingat sejarah….tapi anak muda sudah tidak pernah mikirin sejarah lagi..dan mereka lebih senang gabung dengan Kab. Badung)..sepertinya sekarang geliat ingin cerai ini sudah redup karena terobati oleh adanya kapal roro nja..disinilah kecerdasan Pemda saat ini yang pinta baca apa keinginan Pemuda Nusa Penida.

Atas untung/rugi di atas coba bandingkan dengan kerugian Pemda Klungkung apa tindakan yang harus diambil? saya sebagai pemuda Nusa Penida berpikir bahwa Klungkung akan rugi besar bila meniadakan kapal roro nusa jaya abadi (tidak sebanding dengan kerugian financial yang dialami saat ini)….Pemda Klungkung di bawah pak Candra sangat cerdas dan peduli Nusa penida..beliau sudah tahu benar bahwa kerugian yang sangat besar akan dialami Klungkung (secara keseluruhan) bila kapal roro nja diberhentikan pengoperasiannya.

Saran saya…semeton sekalian mohon hati-hati atas wacana tentang Nusa Penida…kalo memang saat ini Klungkung hanya bisa numpang di Dermaga Padang Bay Karangasem silahkan lakukan ini sambil menunggu selesainya dermaga daratan Klungkung… jangan mundur ke belakang…kerugian finacial saat ini lebih kecil bila di bandingkan dengan  keuntungan (manfaat) yang dirasakan oleh masyarakat Nusa Penida atas keberadaan kapal roro nja.

Dan coba semeton berpikir seandainya semeton berada dalam posisi sebagai masyarakat Nusa Penida…… .atau coba semeton tinggal di Nusa Penida selama 1 tahun dan rasakan bagaimana rasanya???

3.7. Ketut Adnyana , kemoning,  menanggapi topik seputar  pembangunan Dermaga di Klungkung daratan, yang dikutipnya dari koran balipost, yang mana tertulis pembangunan dermaga di eks galian C sudah dimasukkan dalam program kerja bupati sekarang. Perihal kapan realisasi perwujudan Dermaganya, ini mungkin bisa di tanyakan kepada pihak Pemda Klungkung, demikian diungkapkan oleh Ketut Adnyana, yang detail artikel balipostnya bisa dibaca secara lengkap di artikel berikut:

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=28005

APBD Klungkung Defisit Rp 35,65 miliar

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Klungkung tahun 2010 dirancang defisit Rp 35,65 miliar. Belanja daerah dirancang Rp 434,542 miliar sedangkan pendapatan daerah hanya Rp 398,882 miliar yang bersumber dari Pendapatan Asli daerah (PAD), Dana Perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. Hal itu terungkap dalam pidato pengantar nota keuangan Ranperda tentang APBD Klungkung tahun 2010 yang disampaikan Bupati Klungkung, Wayan Candra kehadapan pimpinan dan anggota DPRD di Ruang Paripurna Gedung Sabha Nawa Natya DPRD Klungkung, Senin (11/1).

Terjadinya defisit diakibatkan besarnya belanja daerah yang melebihi pendapatan daerah. Sebagai akibat meningkatnya belanja tidak langsung yang dipengaruhi peningkatan belanja pegawai. Peningkatan belanja pegawai terjadi karena adanya kenaikan gaji pegawai sebesar 5 persen dan penambahan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang kini masih proses pengusulan Nomor Identitas Pegawai (NIP) ke BKN.

Belanja daerah Rp 434,542 miliar diantaranya dialokasikan untuk biaya tak langsung Rp 309,41 miliar yang mengalami peningkatan Rp 20,76 miliar (7,19 persen) dari APBD Induk 2009 Rp 288,64 miliar. Sedangkan untuk belanja langsung Rp 125,12 miliar. Menurun Rp 62,24 miliar (33,22 persen) dari Induk 2009 Rp 187,37 miliar. Sementara itu, pendapatan daerah yang bersumber dari PAD Rp 28,82 miliar, dana perimbangan Rp 332,81 miliar dan lain-lain pendapatan yang sah Rp 332,81 miliar.

Beberapa program prioritas yang dijabarkan dalam belanja daerah tersebut diantaranya:
1. pembangunan pasar galiran demi pertumbuhan ekonomi masyarakat,
2. kelanjutan pembangunan dermaga di eks galian C,
3. penataan alur Tukad Unda,
4. pemberantasan penyakit rabies,
5. pengadaan bulldozer untuk penanganan sampah

Sementara itu, berkaitan dengan terjadinya defisit anggaran, Candra menyebutkan hal itu akan dibiayai dari penerimaan pembiayaan daerah yang bersumber dari perkiraan sisa lebih  perhitungan anggaran tahun 2009 dengan besar yang sama yakni Rp 35,65 miliar.(kmb20)

3.8. Komang Oka Suryadhi, asal desa sampalan, menambahkan:
saya sedikit sumbang saran ,semestinya untuk menunjang penyeberangan ke atau dari nusa penida di klungkung daratan harus lebih cepat mewujudkan pelabuhan .disampingkan untuk menambah pendapatan daerah juga bisa membantu masyarakat disekitar pelabuhan  secara ekonomi dan bisa menyerap tenaga kerja.karena selama ini kapal roro beroperasi dari kabupaten tetangga sehingga pendapatan akan masuk ke kabupaten tersebut.disamping itu jadwal penyeberangnyapun akan tergantung dari jadwal penyebrangan padang bai-lembar.sebagai akhir kata semoga pelabuhan di klungkung daratan segera terwujud.
Salam

3.9. I Made Putra Jelantik ST, putra klungkung kelahiran Nusa Penida, menyatakan salut dengan rencana kerja Pemda Klungkung yang berpihak untuk kemakmuran rakyat Klungkung, yang mudah-mudahan terwujud.  Made Jelantik memperkirakan hasil dari program yang direncanakan oleh pemerintah daerah Klungkung akan nampak indah pd jangka panjang 10 tahun yang akan datang. Karena efeknya akan luar biasa dengan terwujudnya program tersebut. Mungkin akan ada ledakan ekonomi yang mengagumkan di klungkung 10 tahun yang akan datang. Dan Gunaksa (area ex. galian C) akan menjadi pusat ekonomi baru bagi Klungkung/Bali ke depannya.  Made Jelantikn juga mengajak untuk mendukung terus program pemerintah yang akan membawa dampak positif bagi kesejahteraan rakyat Klungkung.

3.10. I Nengah Sumerta SE, Banjarangkan, menyatakan sudah sewajaranya kita berterima kasih kepada pemerintah yang beritikad baik mencoba mengerahkan sedikit waktu dan pikiranya untuk memberi pelayanan ke rakyat, tapi jangan sampai itu membuat fungi kontrol kita menurun, entah apa yang membuat saya skeptikal, tapi di klungkung, sistem birokrasi dan manajemen keuangan masih jauh dari transparansi dan akuntabilitas.

3.11. I Dewa Gede Widnyana ST. MSc, asal Banjar Kartini Klungkung alumni Teknik perminyakan ITB dan master perminyakan dari Norwegia, bertanya kepada Pak Pradnyana dan tertarik untuk menanyakan lebih lanjut syarat-syarat untuk pembangunan dermaga dan teknik bangunan pantai. Serta meminta saran / alternatif lain sebagai solusi atas permasalahan penyeberangan Klungkung - Nusa Penida?

3.12. AKBP Drs. I Gede Mahendra Jaya Kusuma SH MM, putra klungkung yang saat ini bertugas di Ternate, juga menyatakan kepeduliannya akan kemajuan kabupaten Klungkung dan berharap kabupaten klungkung bisa segera memiliki dermaga sendiri dan kapal roro bisa di operasikan langsung oleh pihak ASDP klungkung. Pak Gede juga berharap suatu saat nanti kepulauan Nusa Penida bisa terhubungkan dengan kabupaten klungkung melalui sebuah jembatan, demi kesejahteraan masyarakat di Nusa Penida.

3.13. Dr. Ir. Gde Pradnyana, Staf ahli BP Migas kelahiran Desa Galiran Klungkung, menambahkan:
Berikut ini tyang forward 4 buah foto satelit yg tyang ambil dari Google-earth, memperlihatkan pantai yang ada di Klungkung serta lokasi galian-C.

Foto-foto ini menunjukan lokasi galian-C mulai dari Sampalan Kelod dan sampai Tangkas. Lokasinya agak jauh di tengah daratan dan jauh dari pantai (lihat foto-1 dan 2). Jadi kalau mau bikin “teluk” untuk membangun dermaga….kok rasanya seperti mengubah geografi pulau Bali. Bandingkan ukuran galian-C tersebut dengan teluk Padangbai. Dari foto2 ini tyang usulkan: pisahkan pemikiran antar penanganan ex Galian-C dengan pembangunan dermaga.

Gambar Teluk Padang Bai

1. Dermaga

Seperti email tyang sebelumnya, rasanya tidak ada lokasi sepanjang pantai di Klungkung yg ideal untuk dermaga roro. Kalau kita berpikir agak makro (melepaskan “baju” kedaerahan Klungkung), maka solusi praktisnya untuk dermaga ke Nusa Penida memang menggunakan Padangbai saja (foto-3). Tapi kalau mempertimbangkan aspirasi masyarakat Nusa Penida akan kebutuhan dermaga maka lokasi yg “agak pas” mungkin di Kusamba, bukan di muaranya tukad Unda (lihat foto-2). Itupun kalau menggunakan jety (seperti di Padangbai) maka harus dibangun breakwater, seperti yg dipasang di terminal BBM Manggis.

Gambar Jety Pelabuhan

Tapi untuk hal ini harus dilakukan perhitungan (simulasi) secara cermat agar keberadaan jety dan breakwater (tumpukan batu yg menjorok ke tengah laut) tidak menimbulkan gerusan dan abrasi pantai di tempat lain. Ingat bahwa pantai-pantai selatan Bali sangat rawan terhadap abrasi. Pilihan lain adalah dermaga dibangun di dalam kanal, yang digali masuk ke daratan. Tapi inipun (rasanya) membutuhkan breakwater pelindung mulut kanal tsb.

2. Penanganan Galian-C

Lihat foto-4. Galian-C ini berada di bantaran Tukad Unda dan dimasa mendatang, saat gunung Agung meletus (lagi) akan kembali tertimbun lahar dingin. Dimanapun (biasanya) kita sebaiknya tidak membuat bangunan di bantaran sungai. Pemikiran-pemikiran untuk membangun “danau buatan” untuk kapal2 yacht, dsb di bekas Galian-C rasanya harus menunggu sampai aktifitas volcanic Gunung Agung (nunas ampure) mati dulu. Hitungan2 investasi besar2n (membangun waduk dengan kapal2 pesiar dan dikelilingi rumah2 peristirahatan di sekeliling waduk) seperti itu biasanya return-nya puluhan bahkan ratusan tahun, sementara siklus erupsi Gunung Agung juga kurang-lebih periodanya sama. Jadi, menurut tyang, ex galian C sebaiknya difungsikan untuk kegiatan agri-culture saja dikombinasikan dengan perikanan tambak, dsb dimana return on investment-nya bisa lebih pendek.

Foto 1

Foto 2

Foto 3

Foto 4

3.14. dr. kadek Budhiadnya, asal Desa Dawan yang bertugas sebagai dokter di Balikpapan, mengatakan kesetujuannya dengan ide yang sangat logis dari Pak Gde Pradnyana.
Kalaupun harus membangun dermaga karena aspirasi dari warga nusa, mungkin kusamba merupakan tempat yang lebih reasonable.

3.15. Dr. Ing. Nengah Sudja, ahli kelistrikan dan Konsultan di Jakarta yang berasal dari Dawan, mengatakan:

Kalau titiang tidak salah mengerti, lepas dari persoalan teknisnya, diperlukan  penelitian dua kajian ekonomi  !..

Pertama apakah pengadaan/operasinya  Kapal Roro  secara  ekonomi sosial menguntungkan Nusa Penida, Klungkung, Bali ?.

Dengan melakukan kajian kuantitatif, tentunya bisa dihitung berapa besar pendapatan dari pertumbuhan ekonomi Klungkung/ Nusa Penida/  Bali   dibandingkan dengan biaya modal pengadaan kapal tersebut ditambah biaya operasinya untuk beberapa tahun kedepan sampai kapal tsb berhenti beroperasi ( retired).

Kedua mana yang lebih layak,  tetap mengoperasikannya dari Padang Baai  dibandingkan dengan  pembangunan dermaga di Kabupaten  Klungkung (  di Gunaksa / Kusamba) ditambah biaya pengoperasiannya dari Kabupaten Klungkung ke Nusa Penida ?.

Naluri saya memperkirakan untuk masalah:

pertama, keberadaan Kapal Roro secara ekonomis menguntungkan Nusa Penida, Klungkung, Bali . Apalagi karena kapal tsb.sudah ada ( sunk cost). Biaya kapal tak perlu diperhitungkan lagi, keberadaan kapal dengan sendirinya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Daerah.

kedua, pengoperasian dari Padang Baai secara ekonomi jelas lebih murah / layak, karena biaya pembangunan dermaga di Klungkung tak  perlu dikeluarkan lagi  dan  dana yang dialokasikan  bisa dialihkan ke sektor lain. Misalnya untuk bikin kade di Kusamba.

Seyogyanya Pemda Kabupaten Klungkung/ Propensi  Bali dapat memberi penjelasan, pertanggungjawaban  secara rinci  kepada masyarakat mengenai aspek kelayakan kedua masalah diatas.

4. Kesimpulan
(saat ini belum ada, diskusi masih berlanjut)

Beberapa ABK perahu penyeberangan Pulau Bali-Nusa Penida, menggotong barang bawaan penumpang ke tepi pantai saat mereka tiba di Pantai Kusamba, Klungkung, Bali, Kamis(27/8). Penyeberangan menggunakan perahu motor dari pantai kusamba masih menjadi pilihan bagi penumpang karena dinilai lebih cepat dan praktis dari pada kapal roro berkapasitas besar dari dermaga Padangbai yang hanya mampu melayani sekali trip dalam satu hari. (FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana) http://www.antara.co.id/foto/1/1251368059

Artikel ini adalah rangkuman dari hasil diskusi di milis Klungkung@yahoogroups.com, Sumber Foto-Foto diatas dikutip oleh penulis artikel dari internet (terima kasih).

Add A Comment