Pura Dang Kahyangan Gunung Payung — Sumber Kehidupan dan Kemakmuran
Menemukan mata air di tengah perbukitan gersang adalah karunia yang tiada tara. Demikian pula dengan pencarian rohani seseorang akan Sang Pencipta.
Pura Dang Kahyangan Gunung Payung terletak di daerah perbukitan pesisir pantai selatan Pulau Bali. Atau kurang lebih 30 kilometer arah selatan Kota Denpasar. Pura ini berada di wilayah Desa Adat Kutuh Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung.
Lokasi pura yang berada di daerah perbukitan membuat Pura Dang Kahyangan Gunung Payung disebut pula sebagai Pura Bukit Payung. Bagaimana sebenarnya sejarah Pura Bukit Payung itu? Makna apa yang terkandung di balik berdirinya pura tersebut?
======================================================
KATA ”Payung” yang diberikan untuk nama bangunan suci ini bukanlah diambil dari lokasi perbukitan yang menyerupai payung. Akan tetapi, pemberian nama ini sangat terkait dengan perjalanan suci dari Maharesi suci Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra.
Berdasarkan pada lontar perjalanan suci (dharmayatra) Maharesi Danghyang Dwijendra, disebutkan setelah Maharesi datang ke Pura Luhur Uluwatu dan memberikan nasihat kepada masyarakat sekitar untuk memanfaatkan dan menjaganya, Danghyang Nirartha kemudian melakukan perjalanan ke arah timur melalui daerah berbukit.
Ketika tiba di sebuah daerah yang sangat indah dan memiliki vibrasi spiritual yang kuat, tepatnya di sebelah barat daya Bualu (sekarang Desa Adat Kutuh), Danghyang Nirartha bersama dengan para pengiringnya beristirahat untuk melepas lelah dan menikmati indahnya pemandangan yang ada di tempat Beliau berpijak tersebut.
Mendengar kedatangan Maharesi, masyarakat sekitar pun datang berbondong-bondong mengaturkan sembah dan mohon tuntunan agama kepada beliau. Setelah mendengarkan keluh-kesah warga dan memberikan tuntunan kepada masyarakat sekitar, maka Danghyang Nirartha berusaha untuk memenuhi permintaan warga.
Danghyang Nirartha lantas menancapkan gagang payung yang dibawanya. Berkat kekuatan spiritual yang dimiliki, secara tiba-tiba menyemburlah air suci dari tancapan gagang payungnya tersebut.
Air suci dan hening tersebut selanjutnya dimanfaatkan oleh beliau, para pengiring dan masyarakat sekitar.
Sebelum Maharesi meninggalkan desa tersebut untuk melanjutkan perjalanan suci kembali, beliau memberikan nasihat kepada masyarakat sekitar agar senantiasa menjaga air amerta (air kehidupan) yang keluar dari tancapan payung tersebut. Dan oleh masyarakat sekitar, di lokasi air suci itu didirikan sebuah pura yang kini dikenal dengan Pura Gunung Payung.
Sumber air yang berbentuk bulakan kecil sampai saat ini tetap terawat dan senantiasa tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang melanda. Air dalam bulakan inilah yang dalam kesehariannya dimanfaatkan sebagai tirta yang diberikan kepada setiap umat yang mengaturkan bakti ke Pura Dang Kahyangan Bukit Payung.
Bendesa Adat Kutuh, Kuta Selatan Wayan Litra menuturkan, pura ini diempon oleh krama Desa Adat Kutuh. Dipercaya oleh masyarakat di sana, Pura Dang Kahyangan Bukit Payung merupakan sumber kehidupan atau sumber kemakmuran krama Kutuh.
Meskipun di-empon krama Desa Adat Kutuh, fakta turun-temurun menunjukkan bahwa pura ini juga menjadi tempat pemujaan umat Hindu dari luar Desa Adat Kutuh.
Dipercaya, di pura ini berstana manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa yakni Batari Sri dan Batari Danu yang dicirikan dengan gedong linggih. Pamedek yang tangkil ke pura khususnya saat piodalan datang dari segala penjuru guna nunas kerahayuan kepada Beliau.
Oleh karena itu, berdasarkan pada fakta pustaka yang ada, maka sejak tahun 2005 lalu, keberadaan Pura Gunung Payung telah diakui dan disetujui oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Badung dan Kantor Agama Kabupaten Badung sebagai salah satu dari enam Pura Dang Kahyangan yang ada di Kabupaten Badung.
Kondisi fisik Pura Dang Kahyangan Gunung Payung beberapa waktu lalu cukup memprihatinkan. Sejumlah kerusakan di pelinggih dan bangunan pura terjadi. Selain faktor usia dan alam, kondisi ini juga tidak lepas dari keterbatasan finansial krama pangempon untuk melakukan perawatan maksimal.
Pangempon pun berembuk, berinisiatif untuk merehab dan menata Pura Dang Kahyangan Gunung Payung dengan tujuan untuk senantiasa menjaga kesucian dan kesakralan pura dan sekitarnya. Selain itu pula, untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada umat yang melakukan persembahyangan.
Di balik keterbatasan yang terjadi selama ini, maka secara bertahap krama pangempon yang berjumlah 600 KK memulai pemugaran dan penataan pura pada bulan Oktober 2007. Pemugaran menelan dana sekitar Rp 1,5 milyar, di mana dana yang digunakan berasal dari pemerintah, para donatur dan swadaya masyarakat. Pemugaran pelinggih tersebut diselesaikan sebelum piodalan di pura ini yang jatuh pada purnamaning kaulu sasih kaulu atau jatuh sekitar bulan Januari 2008 lalu.
Saat ini, demikian pula sebelumnya, krama Desa Kutuh khususnya selalu berupaya merawat pura yang punya nilai historis ini. Pangempon pura secara berkelanjutan setiap tiga bulan sekali mengadakan pembersihan di pura. Sementara untuk sehari-hari, ada beberapa jero mangku yang siap ngaturang ayah guna menjaga kesucian pura atau untuk melayani umat yang tangkil ke pura ini. (ded)
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/7/bd1.htm
Pura Gunung Payung dan Danghyang Dwijendra
Yan ring pandita ksama, mudita, santosa, upeksa
ris mardawa, sang sastrajnya, wuwusnira amrta
pada nyangde satusteng praja. (Nitisastra.I.6).
Maksudnya:
Ciri Pandita adalah ksama (pemaaf), mudita (berbudhi luhur), santosa (sabar), upeksa (amat teliti dan hati-hati), mardawa (lemah lembut), sastrajnya (berpengetahuan suci), wuwusnira amrta (ucapannya bagaikan air penghidupan) yang membuat senangnya banyak orang.
PADA zaman dahulu perjalanan suci seorang pandita ke tengah-tengah umat untuk melakukan swadharma-nya sebagai orang suci. Salah satu swadharma pandita adalah melakukan perjalanan untuk menyebarkan pendidikan kerohanian kepada umat. Dalam Sarasamuscaya 40 dinyatakan: panadahan upadesa. Artinya menyebarkan pendidikan kerohanian. Karena hakikat hidup adalah rohani sebagai pengendali kehidupan jasmani. Seperti dinyatakan dalam Katha Upanishad bahwa badan jasmani ini diumpamakan sebagai badannya kereta, indria diumpamakan bagaikan kuda kereta.
Pikiran bagaikan tali kekang kereta, kesadaran Budhi bagaikan kusir kereta. Sedangkan Atman diumpamakan bagaikan pemilik kereta. Ini artinya yang menentukan ke mana gerak kereta diarahkan adalah atas kehendak pemilik kereta. Selanjutnya kusir kereta dengan tali kekangnya yang mengarahkan Indria dan badan kereta. Pikiran Budhi dan Atman adalah unsur-unsur rohani dari pada manusia. Unsur-unsur rohani inilah yang wajib dikuatkan eksistensinya dengan berguru pada pandita. Karena itu pandita disebut Adi Guru Loka. Artinya guru yang utama atau guru yang terkemuka.
Sebagai Adi Guru Loka pandita itu tidaklah mereka yang hanya diupacarai sebagai pandita dan berbusana pandita melalui proses diksa. Mereka yang dinyatakan sebagai pandita hendaknya mereka yang sudah memiliki ciri-ciri seperti yang dinyatakan dalam Kekawin Nitisastra I.6 yang seperti kutipan di atas. Umat yang terpanggil untuk menjadi pandita seyogianya melalui proses pendidikan dan latihan keagamaan Hindu yang ketat.
Pendidikan dan latihan itu dapat dilakukan dalam bentuk pendidikan dan latihan yang bersifat tradisional maupun dalam bentuk pendidikan modern. Setelah adanya berbagai kemajuan di mana telah dapat diwujudkan sifat dan sikap hidup seperti apa yang dinyatakan dalam Nitisastra I.6 tersebut barulah upacara diksa dan busana pandita dikenakan.
Dengan demikian empat fungsi pandita seperti dinyatakan dalam Sarasamuscaya 40 akan lebih mudah dilakukan. Empat fungsi pandita tersebut adalah Sang Satyawadi artinya beliau yang senantiasa berbicara berdasarkan kebenaran Veda. Sang Apta artinya beliau yang dapat dipercaya oleh umat. Sang Patirthan artinya beliau yang dijadikan tempat mohon penyucian diri oleh umat dan sang Panadahan Upadesa.
Nampaknya Danghyang Dwijendra sebagai pandita telah mengamalkan petunjuk-petunjuk sastra agama Hindu tersebut sehingga beliau disebutkan Pedanda Sakti Wawu Rauh. Kata Sakti menurut Wrehaspati Tattwa 14 adalah memiliki banyak ilmu dan banyak kerja berdasarkan ilmu tersebut. Tidaklah seperti pemahaman kini di mana sakti itu dipahami mereka yang memiliki magic power yang berkonotasi negatif. Ilmu yang dimiliki itu adalah ilmu yang disebut Para Widya dan Apara Widya. Para Widya itu adalah ilmu tentang kerohanian. Sedangkan Apara Widya adalah ilmu tentang keberadaan dan pengelola dunia ini dengan baik dan benar. Dua ilmu itulah yang dibutuhkan oleh kehidupan umat manusia di dunia ini.
Demikianlah perjalanan suci Danghyang Dwijendra di Bali mendatangi umat dan memberikan kesejukan pada umat. Saat beliau datang di daerah Kuta Selatan untuk mengakhiri keberadaan beliau di dunia sekala menuju dunia niskala beliau sempat datang ke Desa Kutuh di Kuta Selatan di suatu bukit dekat pantai selatan Bali. Di tempat itu beliau menjadi sang Patirthan artinya beliau memberi prayascita atau penyucian pada umat yang datang memohon penyucian diri pada sang Pandita. Di samping itu beliau juga melakukan penadahan Upadesa, artinya memberi pendidikan kerokhanian kepada umat.
Karena kesaktian beliau itu tangkai payung yang beliau tancapkan di tanah perbukitan yang kering itu dapat menimbulkan sumur dengan air yang tiada pernah kering sampai saat ini. Di tempat inilah umat mendirikan pura yang kini disebut Pura Gunung Payung. Itu artinya di pura ini atas kedatangan Danghyang Dwijendra terdapat vibrasi kesucian yang wajib dipelihara oleh generasi selanjutnya.
Danghyang Dwijendra diyakini mencapai dunia niskala dengan moksha di Pura Luhur Uluwatu di Desa Pecatu yang tidak jauh dari Pura Gunung Payung. Pura Luhur Uluwatu adalah satu dari Pura Kahyangan Jagat sebagai pemujaan Tuhan dalam manivestasinya sebagai Dewa Rudra. Pura Luhur Uluwatu didirikan atas anjuran Mpu Kuturan pada abad ke-11 Masehi. Pendirian Pura Luhur Uluwatu dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa dengan landasan konsepsi Sad Winayaka.
Pura Luhur Uluwatu ini memiliki banyak pura prasanak atau pura jajar kemiri. Ini artinya di areal perbukitan Kuta Selatan ini sejak zaman dahulu sudah terpatri vibrasi kesucian yang dipelihara dengan adanya banyak Pura Prasanak dari Pura Luhur Uluwatu. Di antaranya adalah Pura Gunung Payung ini. Karena itu sebagai generasi penerus seyogianya dalam menata kawasan di areal Pura Luhur Uluwatu termasuk di areal Pura Gunung Payung seyogianya memperhatikan nilai-nilai spiritual yang sudah terbukti memberikan vibrasi kesucian pada areal tersebut bersinergi dengan areal suci lainnya di seluruh Bali.
Untuk memelihara vibrasi kesucian di kawasan bukit Kuta Selatan ini semua pihak hendaknya bertimbang cermat dan seimbang dengan konsep Tri Semaya. Konsep Tri Semaya itu adalah Atita, Nagata dan Wartamana. Apa pun yang dilakukan saat ini (Wartamana) hendaknya terlebih dahulu menelaah dengan cermat di masa lalu (Atita) dan dengan berpikir panjang apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang.
Dengan demikian kita tidak meninggalkan begitu saja nilai-nilai luhur di masa lalu yang susah payah dikerjakan oleh para pendahulu kita. Demikian juga hendaknya kita berusaha melihat ke depan agar jangan sampai kita meninggalkan persoalan-persoalan yang membuat generasi mendatang penuh beban derita karena kesalahan kita saat ini.
Dengan konsep Atita, Nagata dan Wartamana inilah kita akan bisa hidup sejahtera dengan berkelanjutan dari generasi ke generasi selanjutnya sepanjang masa. * I Ketut Gobyah
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/7/bd2.htm


Add A Comment