Saniscara Umanis Wuku Watugunung tanggal 27 Februari 2010, yang merupakan perayaan Sang Hyang Aji Saraswati kembali di rayakan oleh umat Hindu dimanapun berada, tidak terkecuali oleh umat hindu yang berdomisili di Eropa (Belgia, Jerman, Belanda dan sekitarnya).
Penghormatan kepada dewi Saraswati, manifestasi Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam fungsinya sebagai dewi ilmu pengetahuan, untuk daerah Belgia dan sekitarnya di pusatkan di Pura Agung Santi Bhuana yang berlokasi di Brugelette, sekaliguas merayakan Piodalan di Pura ini. Persembahyangan Saraswati di Pura Agung Santi Bhuana Belgia ini tidaklah dirayakan di pagi hari seperti layaknya perayaan saraswati yang di selenggarakan di Bali atau ditanah air yang selesai tepat sebelum tengah hari (jam 12.00). Namun persembahyangan Saraswati di Pura di Belgia ini dÃlaksanakan sekitar jam 14.00 waktu Belgia. Hali ini di sesuaikan dengan Desa (tempat), Kala (waktu), Patra (keadaan) , dimana umat yang melakukan persembahyangan di Pura ini berdomisili “tempat” cukup berjauhan (selain umat dari Belgia, umat juga datang dari Jerman dan Belanda), Perayaan Saraswati kali ini datang di “waktu” musim semi sehingga suhu udara masih cukup dingin, “keadaan” cuaca di musim semi ini matahari bersinar cukup telat disiang hari. Dengan alasan-alasan tadi akhirnya persembahyangan saraswati kali ini dilaksanakan di siang hari. Walaupun persembahyangan saraswati yang di laksanakan di Pura Agung Santi Bhuana berlangsung dalam suasana kesederhanaan, namun tetaplah penuh makna.
Persembahyangan saraswati yang sekaligus merupakan piodalan di Pura Agung Santi Bhuana Belgia ini, bila di badingkan perayaan 7 bulan lalu yang di selenggarakan tanggal 1 Agustus 2009, dimana umat hindu yang hadir pada saat itu ada yang dari swiss, perancis, beberapa orang dari jerman dan tentunya sebagian besar dari belgia, namun kali ini dari sekitar 70 orang umat umat yang hadir , terdapat sekitar 30 umat hindu datang secara berkelompok dari Belanda. Sebelum dimulainya persembahyangan, umat hindu yang hadir di Pura Agung Santi Bhuana Belgia ini, laki ataupun perempuan bergotong royong mempersiapkan jalannya upacara. Sementara bapak-bapak sibuk membersihkan pura dan mempersiapkan gamelan bali yang di koordinatori oleh kelian banjar santi belgia Made Agus Wardana, sedangkan ibu-ibu nya sibuk mempersiapkan banten upacaranya yang di pimpin oleh Pinandita I Made Sutiawijaya MBA.
Setelah itu jalannya upacara di mulai dengan gamelan pembuka yang dimainkan oleh kaum prianya, di ikuti dengan tarian rejang dewa yang ditarikan oleh para wanitanya. Yang unik dari persembahan tari rejang dewa yang sesungguhnya merupakan simbol widyadari atau bidadari yang turun kedunia menuntun Ida Bathara, ketika di tarikan di perayaan saraswati di pura belgia ini para penarinya walaupun mengenakan pakaian kebaya bali namun di balut dengan jaket tebal, hal ini dikarenakan suhu udara kali ini memang masih terasa cukup dingin.
Setelah suguhan tari rejang dewa usai, umat kemudian melantunkan kidung warga sari bersama, yang di pimpin oleh Made Agus Wardana.
Sesegera setelah kidung usai, Pinandita selanjutnya memimpin jalannya persembahyangan bersama. Namun tepat sebelum persembahyangan muspa dimulai, Pinandita Sutiawijaya menjelaskan kepada umat yang hadir bahwa selain akan melaksanakan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa lewat muspa panca sembah, pada saat perayaan saraswati ini juga dilaksanakan pemujaan kepada Sang Hyang Aji Saraswati dan pemujaan kepada Ida Batara yang berstana di Pura Pulaki, yang merupakan pusatnya Pura Melanting.
Di akhir jalannya upacara, Pinandita sempat mejelaskan kenapa disaat melakukan muspa di tambahi dengan pemujaan kepada Ida Batara di Pulaki, karena alasan bahwa Pura Agung Santi Bhuana di belgia ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan Pura Pulaki yang merupakan pusat dari Pura Melanting di Bali. Sesuai saran dari guru spiritual Mr. Eric Domb yang ada di Bali, agar Pura yang terletak di kawasan taman wisata flora dan fauna Parc Paradision di Brugelette ini “nyungsung” Ida Bathara yang berstana di di Pura Melanting. Seperti kita ketahui bersama Pura melanting identik dengan Pura yang ada di setiap pasar yang ada di Bali, dimana Tuhan di puja oleh setiap pedagang untuk membangun sikap religius sebagai landasan moral dan mental dalam melakukan transaksi yang adil dan jujur.
Atau singkat kata, keberadaan Pura Melanting bisa memberikan tuntunan kepada setiap pedagang yang ada di Pasar untuk selalu ingat kepada sang pencipta sembari berusaha (berdagang). Filosofi inipun ingin di tiru oleh Mr. Eric Domb (pemilik Pura Agung Santi Bhuana) yang juga merupakan president dari taman wisata flora dan fauna Parc Paradision. Dengan bakatnya sebagai seorang usahawan, Mr Eric Domb juga ingin selalu diberikan tuntunan oleh Ida Bathara yang berstana di Pura Agung Santi Bhuana ini, sehingga terjadi “komunikasi” yang harmonis yang saling menunjang antara “penghuni” Pura Agung Santi Bhuana dengan “penghuni” Taman Wisata Parc Paradisio lainnya.
Demikian Pinandita Sutiawijaya menjelaskan yang konon Mr. Eric Domb pun meng-iyakan saran guru spiritualnya yang ada di Bali. Dan terbukti setelah adanya Pura Agung Santi Bhuana di kompleks Taman Wisata Parc Paradisio ini, pengunjung taman wisata ini meningkat tajam (sekitar 60%) dari tahun sebelumnya. Pengunjung yang mengunjungi kompleks area taman wisata ini, selain mendapatkan informasi seputar flora dan fauna, juga mendapatkan informasi budaya dan religi.
Sebelum mengakhiri penjelasannya, Pinandita berharap kepada setiap umat hindu yang ada di eropa, agar bisa belajar dan merenungi setiap usaha dari Mr. Eric Domb dalam mempelajari kebudayaan bali dan agama Hindu yang ia buktikan dengan mengunjungi Bali serta berkonsultasi secara rutin kepada guru spiritualnya yang ada di Bali, dalam rangka mengoptimalkan keberadaan Pura Agung Santi Bhuana yang terletak di Taman Wisata Parc Paradisio ini.
Pinandita Sutiawijaya juga berangan-angan agar Pura Agung Santi Bhuana ini, suatu saat nanti bisa di “empon” di tanggung jawabi oleh seluruh umat hindu yang ada di eropa, dengan cara melaksanakan piodalan saraswati secara bergilir seperti layaknya piodalan Pura yang ada di bali, sehingga bisa timbul rasa memiliki (tanggung jawab) akan pura ini. Salah satu umat hindu yang berasal dari Belanda ketika mendengar keinginan Pinandita saat itu menyatakan kesetujuannya dan bersedia untuk dilibatkan bila umat hindu di Belanda diberikan tanggung jawab untuk melaksanakan piodalan secara bergilir. Ketut Adnyana yang juga ikut serta dalam diskusi itu, mengatakan akan menyampaikan keinginan Pinandita Sutiawijaya kepada organisasi nyama braya bali jerman, yang di ketuai oleh Ibu Gusti Ayu Suputri Sudjiwa agar bisa di diskusikan lebih lanjut.
Ketut Adnyana juga menyampaikan bahwa umat hindu di Jerman pada tanggal 22 mei 2010 akan melaksanakan perayaan kuningan yang di pusatkan di hamburg sekaligus melaksanakan pemlaspasan Pura Jagadnata yang di bangun di area Museum Völkerkunde Hamburg, dan berharap agar umat hindu yang ada di Belgia dan umat hindu di Belanda bisa turut serta menjadi “saksi hidup” jalannya upacara pemlaspasan dan upacara ngenteg linggih.
Ibarat pucuk di cinta ulam tiba, Pinandita Sutiawijaya pun menyampaikan ketertarikannya untuk menyaksikan jalannya upacara pemlaspasan dan ngenteg linggih di hamburg, sekaligus berharap bisa bertemu dengan ketua organisasi Nyama Braya Bali di Jerman untuk menyampaikan maksud ini, bila seandainya umat hindu yang ada di Jerman tertarik untuk melaksanakan Piodalan Saraswati secara bergilir yang di langsungkan di Pura Agung Santi Bhuana.
Setelah berdiskusi bertukar pikiran antar sesama umat hindu yang menghadiri perayaan saraswati sekaligus piodalan Pura Agung Santi Bhuana, umat yang hadir akhirnya di persilahkan menikmati hidangan makanan khas bali yang di sediakan oleh “tuan rumah” umat dari belgia dan beberapa bahkan ada yang di bawa oleh umat hindu dari Belanda. Puas dengan menu hidangan yang di suguhkan di akhir perayaaan saraswati, kaum laki-laki ada yang melanjutkan dengan menari “genjek” dan ada juga yang melakukan foto bersama seperti tampak di foto berikut,
Akhir kata, lewat perayaan saraswati yang datang setiap 210 hari di hari Saniscara Umanis wuku Watugunung, semoga bisa di rayakan tidak hanya sebagai sebuah rutinitas saja atau di maknai tidak hanya berhenti pada ritual saja. Melainkan dari prosesi ritual itu diharapkan terjadi perbaikan dan peningkatan ilmu pengetahuan, wawasan, mental, moral, dan spiritual dari setiap umat yang merayakan dan meyakininya.






Om swastiyastu,
Tulisan yang sangat lengkap, berbahagialah umat Hindu Bali bisa melaksanakan upacara hari saraswati di Belgia (seleruh eropa) Di India juga mereka melakukan hal yang sama.
Om shanti shanti shanti Om
Om Swati Astu. sebuah kebanggaan buat saya melihat saudara - saudara di EROPA mampu merayakan Hari Suci Saraswati dengan semangat di Belgia seperti di Indonesia walaupun tidak menggunakan janur seperti layaknya banten yang ada di Indonesia ( tidak ada janur bukan berarti upacara tdk berjalan, seperti disalah satu majalah Hindu yang diungkapkan ada umat Hindu pindah agama karena alasan tidak ada janur untuk membanten ). Semoga Hindu tetap ajeg dan jaya. Om Shanti Shanti Shanti Om
Om Swasti Astu,
Indah dan mempesona saya melihatnya berikut bangga dengan saudara saudara kita Hindu yang di Belgia. Semoga Ida Sang Hyang Widhi selalu menyertai dan memberikan jalan untuk kita semua.
Om Shanti Shanti Shanti Om
Add A Comment