kemoning.info

Merangkai Keindahan Tali Persaudaraan Desa Adat Kemoning

Memaknai Buda Cemeng Kulawu 10 Februari 2010

Posted by Adnyana under Hari Raya Hindu on February 10, 2010 @ 3:53 am

Perayaan Buda Cemeng Kulawu = Artha yang menanyai pemiliknya

Dalam tradisi, perayaan Budha Wage Kelawu (Cemeng), sering diartikan sebagai perayaan kepada Betara Rambut Sedana; perayaan kepada `Dia’ yang mememiliki kekayaan yang sesungguhnya.

Karena itu, pada hari Rabu, Wage, Kelawu, bagi yang meyakininya, akan menghindari melakukan transaksi jual beli; sebab pada hari itu, “Dia” yang memiliki kekayaan tengah melakukan yoganya. Maka tradisi `ekonomis’ yang menarik; sebab dalam sekali waktu `uang’ tidak dipergunakan. Walau dalam sehari, alangkah menariknya jika seseorang dibebaskan dari `ketakutan’ akan ketiadaan uang. Bayangkan andai serentak terjadi dalam sehari, semua orang tidak melakukan transaksi jual beli (?) Bagaimanakah sesungguhnya memaknai posisi uang dalam kehidupan manusia saat seperti itu (?) Kekacauankah akan terjadi atau akan hadir makna baru dalam menilai uang dalam kehidupan masa kini; yang memang menilai keberhasilan seseorang dari kekayaan, jabatan; dari busana luarnya; tidak peduli asal muasal kekayaan itu; didapatkan dengan jalan suci ataukah menipu? Uang telah terbukti ` menipu’ kejujuran hati, `penguasa’ dan “tuhan” yang sesungguhnya di masa kini.

Dalam pengertian yang luas, perayaan Budha Wage Kelawu; mengingatkan kembali akan keberadaan artha dalam konteks Catur Purusaartha; ( Artha, Kama, Dharma dan Moksa). Tidak dalam pengertian sebatas kekayaan, namun artha yang berasal dari bahasa sansekerta mengandung arti pula sebagai: “tujuan, sebab, motif, makna, pengertian, dalam konteks ide kemakmuran materi’. Artha juga mencakup konsep dalam arti mencapai ketenaran, dan memiliki kedudukan sosial yang tinggi, yang akan kait mengkaitkan proses pencapaiannya dengan tiga lainnya yang ada dalam catur purusaartha, terutama kepada dharma (kebenaran).

Dalam keseharian, Artha, adalah salah satu dari empat tujuan hidup ditempatkan, sebagai tujuan mulia asalkan mengikuti perintah Veda; berdasarkan moralitas! Asalkan berdasarkan dharma (kebenaran), bukan semata karena kama (kesenangan fisik atau emosional). Nah, jika itu terpenuhi maka manusia akan menuju Moksha  (pembebasan). Dalam cara pandang yang lain, Artha ditempatkan juga sebagai salah satu (kewajiban) seseorang dalam kehidupan tahap keduanya, kewajiban mengumpulkan harta benda sebanyak mungkin, namun dengan syarat ; tanpa menjadi serakah, dengan tujuan untuk membantu dan mendukung keluarga serta masyarakatnya.

Di dalam Catur Purusartha telah diingatkan akan tujuan mutlak yang tertinggi bagi umat Hindu; yakni Moksa, yaitu pembebasan Atma dari Triguna (Satwam, Rajas dan Tamas), dapat pula tercapai melalui Reinkarnasi dengan hukum Karmanya (Karma Pala). Untuk mencapai Moksa harus dilandasi dengan Dharma; Setiap tindakan (karma) yang dilakukan harus berdasarkan Dharma; serta ajaran Dharma yang terdapat dalam Weda harus ditegakkan.

Itulah sebabnya, perayaan Budha Wage Kelawu sangatlah penting di masa sekarang ini; sebab negara dan masyarakat Indonesia tengah menonton secara nyata; tindakan korupsi yang tidak hanya dilakukan oleh satu-dua orang saja, korupsi tidak cuma dalam soal mencuri uang negara! Namun hampir disemua lapisan masyarakat telah terjadi pengkorupsian tata krama-tata nilai; nilai-nilai kemanusiaan dilenyapkan dengan cara mengakali aturan, mencari pembenaran bagi kesalahan, yang membelokan penilaian masyarakat kepada tujuan hidupnya makin jauh dari kebenaran (dharma). Kini, mereka yang fashion religius; berpura-pura suci dan taat menjalankan ajaran mulia, dikagumi dan dicontohi, walau jelas, belumlah tentu mereka yang berpura-pura suci itu menjalankan ajaran mulia, hanya `busananya’ yang religius. Dibalik perilaku fashion religius itu yang ada adalah semangat memanfaatkan ajaran agama untuk kepentingan pribadi: untuk keuntungan baik materi, status sosial dan ketenaran. Kemudian `Fashion humanis’, perilaku seolah-olah menjalankan penghormatan kepada keragaman, perilaku sayang lingkungan; tidak membeda-bedakan siapapun; namun dibalik semua itu, membiarkan terjadinya berbagai peristiwa menindas yang lemah; sibuk membangun wacana, bersilat lidah, namun membiarkan kekerasan terjadi dimana-mana baik phisik maupun psikis; baik melalui kekuasaan maupun kecendekiaan. Maka dalam bahasa putus asa; maka zaman ini pun berkata: itu semua ujungnya duit! Uanglah sebabnya!

Harta! Yang memiliki harta seolah tidak akan terkena hukum karma (?) Masyarakat melihat, bagaimana orang yang dipenjara dapat hidup mewah karena hartanya! Pelaku korupsi dapat menjadi calon pejabat publik, mantan pengguna narkoba pun dapat menjadi anggota parlemen, dst!: semuanya `disahkan’ oleh harta, oleh uang! Disucikan dan dibenarkan oleh uang! Karena itu, Artha, pada Budha Wage Kelawu ini; bagi siapa saja; dari gubernur sampai kepala desa, dari pemilik hotel sampai pemilik warung; tengah ditanyai oleh Artha itu sendiri. Benarkan kekayaanmu itu, sedikit ataukah banyak, apakah semua itu didapat berdasarkan dharma?

Jika pun engkau ragu tentang kesucian asal hartamu, lalu berusaha gagah mendandani upacaramu dengan sajen aneka rupa, dengan mengundang pendeta sakti mandraguna: hukum karma tetap menghitung dengan cermat; jika seketika hukumanya tiba, beruntunglah, karena akan segera engkau pahami apa hukumannya bagi yang memiliki artha dengan cara yang salah, jika nanti, kelak setelah engkau tiada atau pada kelahiranmu nanti hukuman itu baru tiba, melalui reinkarnasi barulah hukuman dirasakan oleh anak-cucumu; tersenyumlah saat ini, sebab engkau tertipu oleh kenikmatanmu hari ini, tak akan terbayangkan hukum karma itu bagi kelahiranmu nanti!

Karena itu, tak ada yang terlambat untuk kembali meyogakan diri pada hari Budha Wage Kelawu; segera mengoreksi kekayaan, sedikit ataukah banyak: benarkah didapatkan dengan jalan kebaikan? Berdasarkan dharmakah? Jika tidak: apa boleh buat, hukum dunia boleh ditipu, citra maya dapat mempesona, namun hukum karma berjalan tetap dengan pasti; Atmamu pun terikat pada rajas dan tamas, beribu upacara pun tak akan pernah membuat hidupmu damai, begitu yang dajarkan mengenai Artha, mengenai perayaan Budha Wage Kelawu, perayaan yang mengingatkan kembali tentang tujuan mulia.

Secara tradisi, hari Rabu Wage Kelawu ( 10 Pebruari 2010) ini diyakini: Sang Batara Rambut Sedana tengah beryoga, maka usahakan, jangan melakukan transaksi jual-beli! Tujuannya,: coba diingat-ingat; apa yang engkau pamerkan, apa yang engkau sumbangkan? Apa yang engkau makan, apa yang engkau gunakan, dst. Apakah semua itu didapat dengan jalan dharma? Atau kamu cuma percaya semua itu didapatkan dari jerih payahmu sebagai harta kerkayaanmu! Semata-mata didapatkan dibeli dari uangmu? Tarik nafaslah, heningkan diri. Semoga disaat itu, tujuan mulia menegur hati, bahwa semua kekayaan itu, tiada lain atas karuniaNya! Dan yang tak ternilai adalah jalan kebenaran (dharma) sebagai hartamu!

Selamat merayakan Buda Cemeng Kulawu.

Oleh: Cok Sawitri

Sumber Foto dari internet dan http://farm4.static.flickr.com/3420/3227424305_c9b84e1563.jpg

Perjalanan menuju Reuni SMP 1 Klungkung angkatan 85

Posted by Adnyana under Klungkung@yahoogroups.com on February 9, 2010 @ 5:00 am

Bangunan diatas memang sangat berkesan bagi sebagian besar masyarakat Klungkung, baik itu yang merupakan generasi sekarang maupun generasi jaman dulu. Masyarakat Klungkung generasi sekarang mengenali gedung diatas sebagai sebuah gedung Museum Semarajaya, dimana didalamnya di simpan pusaka bersejarah milik kerajaan Klungkung dijaman dulu yang merupakan saksi bisu yang bisa menjelaskan kebesaran kerajaan Bali jaman dulu yang berpusat di Swecapura dan di Semarapura.

Sementara masyarakat Klungkung masa kini mengenalinya sebagai Museum Semarajaya, lain halnya dengan masyarakat Klungkung jaman dulu, dimana gedung diatas merupakan gedung sekolah lanjutan di jaman belanda dan merupakan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Klungkung ketika generasi saya masih duduk di bangku sekolah SMP di tahun 1985 hingga 1988, hingga akhirnya pemerintah daerah Klungkung merekonstruksi fungsi dari keberadaan gedung diatas menjadi gedung Museum Semarajaya dan menjadi bagian dari object wisata yang terintegrasi dengan Taman Gili Kertagosa serta Pemedal Agung yang terletak di sebelahnya.

Bila melihat gedung diatas selalu terbesit bayangan ketika pernah sekolah didalamnya, yang memunculkan harapan agar suatu saat nanti bisa “mengulangi” masa-masa indah ketika sekolah dimasa remaja dan bisa bertemu kembali dengan teman-teman seangkatan ketika sekolah dikala itu lewat acara reuni. Kata “reuni” belakangan ini memang sering di dengar dan menjadi kata yang begitu populer berkat adanya website jejaring pertemanan sosial yang bernama facebook, sehingga membuat kata reuni menjadi trend saat ini dan menambah musim yang terdapat di tanah air, yaitu tidak hanya musim kemarau dan musim hujan, melainkan bertambah satu lagi menjadi “musim reuni”. Dan ini semua terjadi berkat adanya atau berkat populernya facebook dikalangan semua generasi muda dan tua.

Website jejaring Facebook yang di ciptakan oleh anak pinter nan berbakat yang masih berumur 25 tahun, yang bernama Mark Zuckerberg, selain bermanfaat untuk menambah jumlah kenalan baru di dunia maya, facebook juga bermanfaat untuk berhubungan kembali dengan teman-teman yang sudah lama tidak pernah kita jumpai. Berkat facebook pula teman-teman SMP 1 Klungkung khususnya angkatan 85 mulai terhubungkan kembali. Rasa gembira dan kangen bercampur menjadi satu ketika melihat wajah teman-teman masa sekolah ketika SMP. Rasa rindupun cukup terobati walaupun hanya dengan melihat mereka dari foto-foto.

Menggunakan momentum 25 tahun pertemanan sejak angkatan ini mulai masuk SMP 1 Klungkung di tahun 1985 dan mulai kenal satu dengan yang lainnya, akhirnya kami semua sepakat untuk mengadakan “reuni perak” tidak hanya sebatas melakukan temu kangen antar sesama teman SMP 1 Klungkung angkatan 85, tetapi juga akan melakukan temu muka dengan para guru pengajar SMP yang mengajar kami dulu. Dan reuni ini pun di sepakati akan di laksanakan di sekolah SMP 1 Klungkung pada tanggal 31 July 2010 yang bertepatan dengan hari ulang tahun SMP 1 Klungkung.

Dalam rangka mewujudkan reuni ini, salah satu teman kami Cuncun Junaidi Kusuma bersama Made Wardana berinisiatif memprakarsai pertemuan pertama untuk menyamakan pendapat, disalah satu rumah makan di denpasar pada hari minggu tanggal 24 Januari 2010.  Terlihat dari pertemuan pertama ini, penampilan teman-teman SMP memang tidak banyak yang berubah (kecuali badan mereka yang sudah mulai subur dan terawat). Melepaskan “baju” profesi yang mereka tekuni saat ini, hampir setiap individu mencoba memulai diskusi dengan topik-topik ringan sembari mengingat-ingat nama-nama teman seangkatan kami yang lainnya.

Dari sekian banyak profesi yang ditekuni teman-teman SMP saat ini, seperti menjadi dokter spesialis, dokter umum, komputer programmer, karyawan Bank, pariwisata, wiraswasta (usaha sendiri), hinga PNS pegawai negeri sipil, topik diskusi dari teman-teman SMP ini tidaklah seputar pekerjaan masing-masing yang di gelutinya sekarang ini, melainkan mendiskusikan teman-teman kami yang memiliki prestasi ketika kami masih duduk di bangku sekolah SMP 1 Klungkung dulu. Seperti Fery Suryawan, Wiwik Suryanto, Christin Tjandrawati, Ida Bagus Mahendra, yang kala itu terus beredar menjadi juara umum (juara paralel antar kelas).

Fery Surayawan, Wiwik Suryanto dan Christin Tjandrawati, bahkan sempat mengharumkan nama sekolah SMP 1 Klungkung menjadi juara cerdas tangkas P4 mewakili kabupaten Klungkung. Wiwik Suryanto bahkan menjadi Siswa Teladan terbaik yang berprestasi tidak hanya mewakili kabupaten Klungkung, tetapi juga mewakili Povinsi Bali ketingkat nasional.

Tidak hanya seputar prestasi akademik yang dimiliki oleh teman-teman SMP 1 Klungkung angkatan 85 ini, dalam hal kegiatan extra kurikuler seperti kegiatan Pramuka, teman-teman angkatan 85 ini, juga memiliki prestasi yang cukup kita banggakan. Group pramuka pria yang bernama regu Elang dan group pramuka wanita yang bernama regu Mawar, selain mengharumkan sama sekolah SMP 1 Klungkung, group pramuka ini juga ikut mengharumkan nama kabupaten Klungkung dalam ajang perlombaan pramuka tingkat provinsi Bali yang berlangsung di Blahkiuh tahun 1987. Saat itu regu Elang dan regu Mawar memang tidak bisa memenangkan Lomba Tingka Pramuka ini di tingkat provinsi sebagai syarat agar bisa melaju ke tingkat selanjutnya di tingkat nasional, karena kami di kalahkan oleh wakil dari kabupaten Buleleng, namun demikian kami cukup berbesar hati untuk menjadi juara 2. Dan yang lebih membanggakan kami adalah ketika lomba cerdas tangkas akademik yang merupakan bagian dari sekian banyak perlombaan dalam lomba tingkat pramuka ini, regu elang dan regu mawar lah yang menjadi juaranya, dimana regu elang diwakili oleh wiwik suryanto, putu adi parnama, wayan sarjana. Sementara regu mawar di waikili oleh Dewa Ayu Astari, dan kawan-kawan.

Kembali ke topik reuni, menindak lanjuti pertemuan yang pertama yang berlangsung pada hari minggu tanggal 24 januari 2010, Made Wardana bersama Wayan Sarjana berinisiatif menemui kepala sekolah SMP 1 Klungkung, yaitu bapak Drs. I Gusti Ketut Suwela, yang pada saat kami sekolah dulu di tahun 1985 masih mengajar mata pelajaran Aljabar. Pak gusti ketut suwela menyampaikan rasa bahagianya akan kunjungan wakil angkatan 85 yang masih ingat akan almamaternya (sekolah SMP 1 Klungkung), dan pihak sekolah akan berusaha kooperatif mendukung terwujudnya reuni ini.

Pada kesempatan itu, pak gusti ketut suwela juga sempat “curhat” tentang kondisi sekolah SMP 1 Klungkung yang sekarang ini serba jauh dari kondisi standard. Lab komputer yang menjadi pusat pelatihan komputer bagi anak didik siswa SMP 1 Klungkung, katanya komputernya sering ngadat dan error.  Seperti kebanyakan laboratorium dari sekolah yang ada di tanah air, para siswa bukannya melakukan praktek dan penelitian step by step seperti apa yang tertulis atau di jabarkan dalam modul yang harus di kerjakan, melainkan siswa lebih banyak menghabisakan waktunya melakukan penelitian (ngoprek memperbaiki) terhadap alat praga yang jauh dari standard (alias rusak) yang semestinya digunakan untuk meneliti percobaan tersebut. Namun demikian, dengan segala keterbatasan dari fasilitas yang ada  tersebut, disikapi oleh para pengajar SMP 1 Klungkung beserta para siswanya untuk selalu belajar dengan lebih kreatif tanpa pernah merasa mengeluh, seperti meniru kata pepatah: “a pessimist sees the difficulty in every opportunity. An optimist sees the opportunity in every difficulty“.

Berbekal dari laporan diskusi hasil kunjungan wakil alumni angkatan 85 ketika berkunjung ke SMP 1 Klungkung tanggal 4 Februari , kemudian pertemuan kedua yang sudah di sepakati pada hari minggu tanggal 7 februari 2010 dilaksanakan dengan tujuan untuk mencarikan format solusi permasalahan SMP 1 Klungkung sekaligus membahas kelanjutan persiapan reuni. Pertemuan yang berlangsung di Kusamba dirumah putu adi parnama, yang menjadi sponsor selain atas nama pribadi juga mewakili teman-teman kelas D lainnya, yaitu kelas dimana Parnama dulu berasal. Pada pertemuan ini selain terbentuk hasil yang lebih konkret, seperti diputuskannya struktur kepanitiaan umum serta kepanitiaan yang mewakili kelas masing-masing (mulai dari kelas A hingga kelas F), juga menghasilkan kesepakatan yang lain seperti program kerja jangka pendek dan program kerja jangka panjang. Yang mana diharapkan pertemanan kembali ini tidak hanya terhenti pada sebatas reuni yang akan diadakan tanggal 31 Juli 2010, tapi juga di harapkan bisa membentuk semacam perkumpulan resmi yang bisa menjadi partner dari sekolah SMP 1 Klungkung.

Lebih lanjut dalam reuni nanti, selain bisa melakukan temu kangen antar sesama teman seangkatan 85, juga diharapkan bisa terjadi interaksi antara teman angkatan 85 dengan para guru yang pernah mengajar saat itu dan para guru yang mengajar saat ini. Pada reuni nanti, teman-teman juga sepakat untuk berusaha menyumbangkan , minimal, 1 perangkat komputer PC untuk mendukung kegiatan belajar komputer di sekolah SMP 1 Klungkung. Komputer PC yang di sumbangkan akan di usahakan tanpa di lengkapi operating system. Hal ini di harapkan agar para siswa SMP 1 Klungkung yang saat ini sedang menuntut ilmu, bisa lebih kreatif dan belajar menginstall operating system  yang berbasis open source.  Bila mengalami kesulitan akan instalasi software operating system dan software aplikasi lainnya yang berbasis open source, pihak sekolah  selanjutnya diharapkan bisa bekerja sama dengan departement pendidikan klungkung yang memang saat ini juga sedang menggalakan FOSS (Free Open Source Software).

Selain menghasilkan kesepakatan diatas, pada reuni nanti juga akan di isi acara formal sambutan resmi dari wakil angkatan 85, sambutan resmi dari kepala sekolah SMP 1 Klungkung, sambutan resmi dari wakil guru yang mengajar saat itu. Disamping acara formal, acara reuni juga akan di isi dengan acara hiburan yang akan melibatkan adik-adik siswa SMP 1 Klungkung yang saat ini masih menuntut ilmu di SMP 1 KLungkung.

Sebagai kenang-kenangan bagi para peserta yang menghadiri reuni ini, baju kaos angkatan 85 pun akan di disain dan di jual bebas kepada para peserta reuni beserta pasangannya yang hadir (suami atau istrinya). Baju kaos ini di harapkan disamping dijadikan sebagai bentuk “identitas” dari angkatan 85 , juga digunakan sebagai sumber penggalian dana yang akan digunakan sebagai dana abadi angkatan, dana operational reuni, serta dana untuk pembelian komputer PC yang akan di sumbangkan ke sekolah SMP 1 Klungkung.

Merasa cukup puas dengan kemajuan dari pertemuan yang diselenggarakan di Kusamba, ketua panitia yang terpilih Wayan Sarjana bersama teman-teman yang hadir mensepakati akan mengadakan pertemuan yang ketiga yang akan di laksanakan pada hari minggu tanggak 21 Maret 2010 di Gelgel dirumah Made Wardana. Pertemuan ketiga nanti akan dilaksanakan atas nama wakil dari kelas A, oleh karena itu Amir Faisal yang merupakan bagian dari kelas A mengajak seluruh teman-teman kelas A lainnya untuk bersama-sama mensukseskan rapat pertemuan tgl 21 Maret 2010 nanti.

Akhir kata, rasa rindu setelah sekian lama tidak berjumpa dan semangat “ngayah” yang didasari niat baik untuk bisa berkontribusi kepada sekolah SMP 1 Klungkung bercampur menjadi satu. Thema yang akan di usung dalam reuni nanti, selain mengedepankan persaudaraan, teman-teman yang hadir juga sepakat untuk bisa meniru thema kampanye dari president amerika serikat yang terpilih Barack Obama ketika beliau berkampanye dengan thema “We will make a change“, Namun thema ini sepertinya dirasa terlalu berat untuk di pikul mengingat teman-teman seangkatan 85 masih berumur relatif cukup muda dan baru memulai meniti karir dan usaha. Sebagai ganti dari thema tadi angkatan 85 ini akan mencoba mengusung thema yang realistik yang sekiranya benar-benar bisa di wujud-nyatakan agar jangan sampai ibarat “jauh panggang dari api”. Untuk menyesuaikannya dengan kemampuan masing-masing  serta keterbatasan waktu yang ada dari setiap individu, thema dari Barack Obama mungkin tidak bisa di tiru sama persis, namun demikian angkatan 85 SMP 1 Klungkung ini mencoba alternatif lain meniru thema kampanye dari president SBY yang berpasangan dengan Jususf Kalla sebagai wakil presidentnya ketika pemilihan president tahun 2004 dimana thema yang di ususng saat itu adalah “Bersama kita bisa ” (….berkontribusi kepada sekolah SMP 1 Klungkung….)

Dimulai dari belajar berkontribusi terhadap lingkungan yang paling kecil yaitu lingkungan keluarga, desa,  sekolah dan seterusnya, yang walaupun kecil dan sederhana namun tetap penuh makna. mengutip pidato yang pernah disampaikan oleh President Sukarno ” Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati dan menghargai jasa para pahlawannya”. Seperti inilah misi yang ingin di jalankan oleh angkatan 85 SMP 1 Klungkung disaat melakukan reuni nanti, selain melangsungkan temu kangen dengan sesama teman seangkatan juga mencoba menjalin komunikasi harmonis dengan sekolah SMP 1 Klungkung yang kami kenal sejak 25 tahun yang lalu.

Idea-idea kecil yang masih berupa “embrio” dari setiap individu teman-teman angkatan 85 SMP 1 Klungkung , kami coba rajut dan kumpulkan menjadi satu,  dengan asas kebersamaan dan gotong royong serta selalu berkeyakinan bahwa sesuatu yang di koordinasikan dan di persiapkan dengan rapi suatu saat nanti pasti bisa menjadi besar  dan dapat di wujud nyatakan, mengutip kata pepatah: “Great strategy will be nothing without execution, execution without proper preparation will also be meaning less“.

Semoga pikiran baik datang dari segala arah.

Foto diatas: Rapat persiapan ke 1 di Denpasar  January di sponsori oleh Cuncun Junaidi Kusuma

Foto diatas: Rapat persiapan ke 2 di Kusamba 7 Februari dirumah Putu Adi Parnama

Foto diatas: Rapat persiapan ke 3 di Gelgel 21 Maret 2010 di rumah Made Wardana

Foto diatas: Rapat persiapan ke 4 di Warung Be Pasih Renon  April 2010 di sponsori oleh Putu Hadi Dharmawan

Foto diatas: Rapat persiapan ke 5,   May 2010 di rumah Agung Arya di Akah Klungkung

Foto diatas: Rapat persiapan ke 6,   Juni 2010 di rumah Wayan Sarjana di Klungkung

Foto diatas: Rapat persiapan ke 7,   Juli 2010 di rumah Putu Yuda Aryawan di Senggoan  di Klungkung

Undangan REUNI 31 Juli 2010 di sekolah SMP 1 Semarapura Klungkung

Sumber Foto diatas Widnyana Sudibya dan Alumni SMP 1 Klungkung angkatan 85

Riwayat Kasta di Bali

Posted by Adnyana under Stories on February 8, 2010 @ 5:28 am

Om Swastyastu. Kasta, dalam Dictionary of American English disebut: Caste is a group resulting from the division of society based on class differences of wealth, rank, rights, profession, or job. Uraian lebih luas ditemukan pada Encyclopedia Americana Volume 5 halaman 775; asal katanya adalah “Casta” bahasa Portugis yang berarti kelas, ras keturunan, golongan.

Bangsa Portugis yang dikenal sebagai penjelajah lautan adalah pemerhati dan penemu pertama corak tatanan masyarakat di India yang berjenjang dan berkelompok; mereka menamakan tatanan itu sebagai casta. Tatanan itu kemudian berkembang di Eropa terutama di Inggris, Perancis, Rusia, Spanyol, dan Portugis. Sosialisasi casta di Eropa tumbuh subur karena didukung oleh bentuk pemerintahan monarki (kerajaan) dan kehidupan agraris.

Para elit ketika itu adalah the king (raja), the prince (kaum bangsawan), dan the land lord (tuan/ pemilik tanah pertanian); rakyat jelata kebanyakan buruh tani misalnya di Rusia disebut sebagai kaum proletar adalah kelompok mayoritas yang hina, hidup susah, dan senantiasa menjadi korban pemerasan kaum elit.

Lama kelamaan tatanan ini berubah karena tiga hal utama, yaitu:

  1. Revolusi Perancis dan Bholshevik (Rusia) yang menghapuskan monarki dan the land lord
  2. Industrialisasi yang mengurangi peran sektor agraris
  3. Pengembangan Agama Kristen yang menonjolkan segi kasih sayang diantara umat manusia

Walaupun demikian casta tidak hilang sama sekali; ia berubah wujud sebagai “Class System” yang didefinisikan sebagai: a differentiation among men according to such categories as wealth, position, and power.

Class System ini dianalisis secara ilmiah oleh berbagai tokoh masyarakat; yang terkemuka adalah Karl Marx dengan teorinya: The relations of production; inilah embrio pemahaman sosialis komunis yang ingin meniadakan perbedaan kelas masyarakat, di mana pemerintah menguasai sumber-sumber kehidupan dan mengupayakan perimbangan income yang wajar diantara rakyatnya.

Peredaran zaman menuju ke abad 20 membawa Class Theory yang klasik seperti pemikiran Karl Marx berubah menuju era baru seperti apa yang disebut sebagai Class Mobility, yaitu pengelompokan sosial karena kepentingan profesi. Kini kita biasa mendengar kelompok-kelompok: usahawan, birokrat, intelektual, militer, dan rohaniawan; mereka kemudian mengikat diri lebih khusus kedalam organisasi-organisasi seperti: IKADIN, IDI, ICMI, ICHI, MUI, PHDI, dll.

India yang disebut dalam berbagai sumber sebagai asal Kasta Stelsel, sebenarnya mempunyai sekitar 3000 kelompok sosial masyarakat, namun pada umumnya dapat dibedakan menjadi empat. Pengelompokan ini di India tidak hanya ditemukan pada masyarakat yang beragama Hindu saja, tetapi juga pada masyarakat yang beragama lain misalnya penganut Islam berkelompok pada: Sayid, Sheikh, Pathan, dan Momin; penganut Kristen berkelompok pada: Chaldean Syrians, Yacobite Syrians, Latin Catholics, dan Marthomite Syrians; penganut Budha berkelompok pada: Mahayana, Hinayana, dan Theravadi.

Istilah pertama yang digunakan di India bukan kasta tetapi “varnas” Bahasa Sanskerta yang artinya warna (colour); ditemukan dalam Rig Veda sekitar 3000 tahun sebelum Masehi yaitu Brahman (pendeta), Kshatriya (prajurit dan pemerintah), Vaishya (pedagang/ pengusaha), dan Sudra (pelayan).

Tiga kelompok pertama disebut “dwij” karena kelahirannya diupacarai dengan prosesi pensucian.

Dalam Bhagavadgita percakapan ke-IV sloka ke-13 ditulis:

chatur varnyam maya srishtam, guna karma vibhagasah, tasya kartaram api mam, viddhy akartaram avyayam

artinya: catur warna adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja, tetapi ketahuilah walaupun penciptanya, Aku tidak berbuat dan mengubah diri-Ku.

Warna adalah profesi atau bidang kerja yang dilaksanakan seseorang menurut bakat dan keahliannya; tidak ada perbedaan derajat diantaranya karena masing-masing menjalankan karma dengan saling melengkapi.

Mantram-mantram dari Yajurveda sloka ke-18, 48 antara lain berbunyi:

Rucam no dhehi brahmanesu, rucam rajasu nas krdhi, rucam visyesu sudresu, mayi dhehi ruca rucam

artinya: Ya Tuhan Yang Maha Esa bersedialah memberikan kemuliaan pada para Brahmana, para Ksatriya, para Vaisya, dan para Sudra. Semoga Engkau melimpahkan kecemerlangan yang tidak habis-habisnya kepada kami.

Yajurveda Sloka ke 30, 5 berbunyi:

Brahmane brahmanam, ksatraya, rajanyam, marudbhyo vaisyam, tapase sudram

artinya: Ya Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan Brahmana untuk pengetahuan, para Ksatriya untuk perlindungan, para Vaisya untuk perdagangan, dan para Sudra untuk pekerjaan jasmaniah.

Profesi yang empat jenis itu adalah bagian-bagian (berasal) dari Tuhan Yang Maha Esa yang suci, diibaratkan sebagai anatomi tubuh manusia dalam tatanan masyarakat, sebagaimana Yajurveda sloka 31, 11 menyatakan:

Brahmano asya mukham asid, bahu rajanyah krtah, uru tadasya yad vaisyah, padbhyam sudro ajayata

artinya: Brahmana adalah mulut-Nya Tuhan Yang Maha Esa, Ksatriya lengan-lengan-Nya, Vaisya paha-Nya, dan Sudra kaki-kaki-Nya.

Selanjutnya doa yang mengandung harapan agar masing-masing profesi/ warna melaksanakan swadharma yang baik terdapat pada Yajurveda sloka 33,81:

pravakavarnah sucayo vipascitah

artinya: para Brahmana seharusnya bersinar seperti api, bijak, dan terpelajar;

Yajurveda sloka 20,25:

yatra brahma ca ksatram ca, samyancau caratah saha, tam lokam punyam prajnesam, yatra devah sahagnina

artinya: di negara itu seharusnya diperlakukan warga negaranya sebaik mungkin, di sana para Brahmana dan para Kesatriya hidup di dalam keserasian dan orang-orang yang terpelajar melaksanakan persembahan (pengorbanan).

Kesimpulannya adalah Warna itu realistis dan idealnya semua profesional berbuat sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama dan kesejahteraan umat manusia.

Warna seseorang tidak selamanya tetap apalagi turun temurun; misalnya seorang petani (berwarna sudra) karena ketekunannya berhasil menyekolahkan anaknya kemudian hari menjadi bupati maka anaknya sudah menjadi warna Ksatriya; demikian sebaliknya seorang keturunan Brahmana yang tidak lagi berprofesi sebagai Wiku tidak dapat disebut sebagai warna Brahmana.

Perubahan status pada seseorang bahkan dapat terjadi setiap saat menurut bidang tugasnya, misalnya seorang pesuruh di suatu Kantor yang merangkap menjadi Pemangku di Pura/ Sanggah Pamerajan; ketika bertugas sebagai pesuruh dia berwarna Sudra, tetapi jika bertugas nganteb piodalan di Pura dia berwarna Brahmana.

Warna yang diabadikan bahkan diwariskan turun temurun terjadi di India, sebagai usaha kelompok elit mempertahankan status quo, yang sebenarnya sudah sangat menyimpang dari ajaran suci Weda.

Gejala mengabadikan warna inilah yang dilihat oleh orang-orang Portugis sehingga timbullah istilah “casta” seperti yang diuraikan di atas.

Penerapan kasta stelsel di India menimbulkan pengkotak-kotakan masyarakat sehingga mereka saling bertikai. Dalam kondisi seperti ini jiwa nasionalisme pudar sehingga India mudah dipecah belah dan akhirnya dijajah Inggris.

Perjuangan Mahatma Gandhi membangkitkan nasionalisme India dibayar sangat mahal yaitu dengan jiwanya sendiri ketika dia ditembak oleh seorang fanatikus kasta.

Agama Hindu kemudian menyebar ke Indonesia lengkap dengan tatanan masyarakat menurut “warna” masing-masing. Mula-mula di Jawa tatanan masyarakat masih murni menurut Weda yaitu tatanan menurut profesi atau “Warna”.

Ketika Majapahit hendak meluaskan kerajaan dengan cita-cita menyatukan Nusantara yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya Gajahmada, maka Majapahit menundukkan Kerajaan Bali Dwipa pada abad ke-13.

Para “penjajah Majapahit” membawa serta kaum elit yang memimpin kerajaan Samprangan. Kaum elit itu dinamakan Triwangsa, yaitu Brahmana, Kesatria, dan Wesya. Semua penduduk Bali-asli yang dijajah, dikelompokkan sebagai Wangsa Sudra.

Tujuan politik Gajahmada adalah agar kaum Bali-asli tidak bisa eksis, sehingga kelanggengan pemerintahan Samprangan dapat berlanjut terus.

Sejak masa itulah “Warna” di Bali berubah menjadi “Wangsa” atau “Kasta” karena hak-hak kebangsawanan diturunkan kepada generasi seterusnya.

Setelah kerajaan-kerajaan di Bali runtuh, kemudian Indonesia menjadi negara Republik, hak-hak kebangsawanan mereka dengan sendirinya hilang. Namun demikian titel-titel nama depannya masih digunakan, sekedar untuk mengenang kejayaan masa lalu dan mungkin dengan alasan lain yaitu menghormati leluhur.

Sekarang tinggal masyarakat saja yang menilai kedudukan seseorang.

Tinggi rendahnya status sosial seseorang di masyarakat ditentukan pada peranan pengabdiannya kepada kepentingan masyarakat, bukan pada embel-embel predikat nama itu.

Mereka yang bijaksana akan senantiasa menjauhkan perilaku feodalisme, karena feodalisme itu membodohi diri sendiri.

Om Santih Santih Santih Om.

http://bali.stitidharma.org/bali/riwayat-kasta-di-bali/#more-578

Karnival Rosenmontag dan Festival Kesenian Klungkung

Posted by Adnyana under Klungkung@yahoogroups.com on February 5, 2010 @ 10:07 pm

Rosenmontag yang berasal dari kata “Roose” dan “Montag” artinya Hari “Green Monday”, yang merupakan perayaan Karnival terbesar yang ada di Jerman yang di selenggarakan setiap tahun. biasanya hari ini di gunakan sebagai pertanda berakhirnya musim dingin dan memasukinya musim Semi. Dan untuk tahun ini akan berlangsung pada hari senen 15 Februari 2010. Karnival ini berlangsung di negara tidak hanya di Jerman melainkan di negara-negara yang berbahasa Jerman seperti di Swiss dan Austria. di Jerman sendiri Festival ini di pusatkan di daerah Rhineland yaitu daerah yang di lalui oleh sungai Rhein seperti Mainz, Dusseldorf, Köln, dan Aachen, yang dulunya merupakan daerah pendudukan Katolik Romawi. yang mana perayaan karnival ini di persembahkan oleh pemerintahan romawi kepada para buruh yang mendiami daerah sepanjang sungai Rhein sebagai hari pesta rakyat.

perayaan Karnival seperti di Köln dan Dusseldorf benar-benar mencuri perhatian masyarakat tidak hanya dari kota tetangga tetapi juga mengundang perhatian masyarakat dari negara tetangga seperti belanda, belgia dan perancis untuk datang berduyun-duyun menonton karnival ini yang cukup membantu pemerintah kota setempat untuk mendapatkan turis musiman. yang unik dari karnival ini, tidak saja peserta karnival yang berpakaian warna-warni tetapi juga para pengunjung atau penonton juga berpakaian seperti peserta karnival, jadi serasa sulit untuk membedakan yang mana peserta karnival sesungguhnya dan yang mana merupakan penonton. Perayaan Karnival ini selain memberikan pendapatan tambahan bagi kota penyelenggara dan masyarakatnya, juga memberikan keunikan tersendiri bagi kotanya.

Hari Rosenmontag ini tidaklah merupakan hari libur nasional, tapi anak-anak sekolahan di biarkan libur sedangkan lingkungan perkantoran tetaplah buka seperti biasa tapi boleh tidak masuk (alias fakultative). Meniru keberhasilan kota Köln, Dusseldorf, Mainz, Aachen dengan karnival Rosenmontagnya, kota-kota lainya di Jerman, juga tidak mau kalah untuk turut serta  bisa mengundang wisatawan domestik ataupun manca negara untuk mengunjungi kotanya, seperti Frankfurt juga menyelenggarakan Parade Budaya di setiap bulan Juni yang juga belakangan ini terkenal sebagai “trademark” dari kota itu untuk mengumpulkan masyarakatnya untuk tumpah ruah ke jalan berbaur dengan para wisatawan. Kota lainnya yang ada di Jerman seperti kota berlin, Stuttgart, Munchen, dll juga melakukan hal serupa di setiap hari terpenting milik kota tersebut. Bahkan perayaan di kota Munchen sendiri sekarang di kenal hingga ke manca negara dengan “Oktoberfest”, dimana tradisi Pesta rakyat di Munchen ini yang di dominasi dengan penjualan minuman bir asli provinsi Bayer di selenggarakan sebulan suntuk, ibarat kota Las Vegas yang tidak kenal matinya siang dan malam.

Festival dan Karnival di Kabupaten Klungkung

Menghubungkan cerita diatas dengan peristiwa di tanah air, di Bali kita mengenal istilah Pesta Kesenian Bali yang di selenggarakan setiap bulan juni-juli selama sebulan penuh yang juga merupakan trademark dari provinsi bali untuk mengundang wisatawan untuk datang berduyun-duyun ke bali. disamping tradisi Pesta Kesenian Bali, saat ini juga mulai bertumbuhan karnival-karnival lainnya didaerah kabupaten seperti di jermbrana, Buleleng, di Sanur yang dikenal dengan Sanur Village Festival, di Kuta yang di kenal dengan Kuta Festival, dan lain-lain. di setiap sehari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi masyarakat Hindu Bali secara serempak juga menyelenggarakan Festival yang di barengi dengan perlombaan seni Ogoh-Ogoh yang turut membantu menciptakan ciri khas dan keunikan dari Bali dan masyarakatnya itu sendiri.

Sama halnya dengan festival Ogoh-Ogoh, di kabupaten Klungkung (kalau tidak salah) juga diadakan festival dan karnival di setiap perayaan 17 Agustusan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.  Namun sayang gaung promosinya kurang begitu terdengar hingga ke wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara yang datang berkunjung ke bali, ntah mungkin karena di saat yang sama di kota lainnya juga terdapat perayaan yang sama, tapi alangkah baiknya bila festival dan karnival ini di selenggarakan bersamaan dengan peringatan Hari Puputan Klungkung di setiap 28 April setiap tahunnya, sehingga disamping memiliki keunikan tersendiri juga pesan Puputan Klungkung bisa terus di sampaikan kepada masyarakat.

Tradisi bersejarah dan unik yang dirayakan dan di kemas melalui karnival sepertinya patut untuk kita lestarikan, meniru perayaaan karnival-karnival klasik dari negeri Jerman, sehingga kita bisa terus berbagi cerita dan nilai sejarah kepada anak cucu kita dengan mengajaknya menonton karnival dan mengajaknya untuk menapak tilasi perjuangan-perjuangan para leluhur kita pada puputan Klungkung 28 april 1908 , sehingga membuat kita bisa berbangga menjadi warga klungkung. dan yang terpenting lagi adalah pemerintah daerah (pemda) Klungkung bahu membahu bersama dengan masyarakatnya  membantu menggerakkan roda perekonomian daerah kabupaten klungkung dengan menyelenggarakan pesta rakyat yang unik yang bisa mengundang wisatawan untuk datang berduyun-duyun berkunjung ke kabupaten Klungkung. semoga.

Kembali ke Rosenmontag, semenjak 1823, Rosenmontag memiliki Moto (thema) yang berbeda-beda dari tahun ke tahun. Sementara di negeri maju berusaha untuk melestarikan tradisi budaya mereka yang di wariskan secara turun temurun, lain lagi di negeri kita malah sebaliknya, yaitu semakin banyaknya peraturan daerah yang baru di buat yang melarang (membatasi) pelestarian perayaan tradisi rakyat, sebagai contoh seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa kabupaten di Bali yang mengeluarkan larangan untuk tidak merayakan festival Ogoh-Ogoh sehari sebelum perayaan Nyepi dengan alasan keamanan dan ke kidhmatan perayaannya Nyepi.

  • 1823 Thronbesteigung des Helden Carneval
  • 1824 Besuch der Prinzessin Venetia beim Helden Carneval
  • 1825 Der Sieg der Freude
  • 1826 Fahrt nach dem Monde
  • 1827 Die Prüfung
  • 1828 Alte und neue Zeit
  • 1829 Der große Narrentag
  • 1830 (kein Zug: Regierungsverbot)
  • 1831 Hanswursts Wiedergeburt
  • 1832 Die Kölner Messe des Jahres 1832
  • 1833 kein Zug
  • 1834 Das Orakel
  • 1835 Der Kölner Karnevals-Sprudel
  • 1836 Der Stein der Weisen
  • 1837 Carneval der Jahre Bezwinger
  • 1838 Hanswurst läßt sich erbauen ein Monument
  • 1839 Aller-Welt-Aktien-Börse
  • 1840 Das Turnier
  • 1841 Der gordische Knoten und seine Lösung
  • 1842 Die ächt kölnische olympischen Spiele
  • 1843 Die Köllsche Huhschull (Die kölnische Hochschule)
  • 1844 2 Züge: Die Großjährigkeit des Hanswurstes als Stellvertreter des Helden Carneval (Große KG) (Montag)
    Hanswurst als Emanzipierter (Allgemeine KG) (Dienstag)
  • 1845 2 Züge: Der Conkurs-Congreß aller Vereine (Große KG)
    Hanswurstliche Kirmes (Allgemeine KG)
  • 1846 Die hanswurstliche Colonie an der Weinküste
  • 1847 Jubelfeier der 25jährigen Thronbesteigung des Helden Carneval
  • 1848 Das tag- und nachtvolle, das heißt gescholtene oder Schaltjahr 1848
  • 1849 Die Reise nach Californien
  • 1850 Narren-Reichstag
  • 1851 (kein Zug: Preußische Zensur)
  • 1852 Ich hab‘s gewagt (Kappenfahrt)
  • 1853 Zug ohne Motto
  • 1854 Hanswurstliche Industrie Ausstellung
  • 1855 Zug ohne Motto („ein aus dem täglichen Leben genommenes witzreiches Allerlei“)
  • 1856 (kein Zug)
  • 1857 (kein Zug)
  • 1858 Train de Plaisier
  • 1859 Napoleon und seine Franzosen
  • 1860 Carnevals-Congreß von 1860
  • 1861 (kein Zug: Landestrauer um König Friedrich Wilhelm IV.)
  • 1862 Narren-Landtag I
  • 1863 Narren-Landtag II
  • 1864 Maskenzug, aber ohne Thema
  • 1865 Strauß bunter Ideen
  • 1866 Hanswurstliche Industrie-Ausstellung
  • 1867 Prinzessin Venetia beim Helden Karneval (wegen Regen Zug auf Karnevalsdienstag verlegt)
  • 1868 (kein Zug wegen Unwetters)
  • 1869 Verherrlichung des Weinjahres 1868
  • 1870 Die Eröffnung des Suezkanals
  • 1871 (kein Zug wg. deutsch-französischem Krieg)
  • 1872 Kein Motto
  • 1873 Die Jubelfeier der Reform von 1823 (Schnee behindert den Zug)
  • 1874 Närrische Universität
  • 1875 Närrische Lebensversicherungsanstalt
  • 1876 Ohne Motto (Internationale Gartenbau-Ausstellung 1875)
  • 1877 Festspiel der Nibelungen
  • 1878 König Wein
  • 1879 Einzug der Prinzessin Isabella 1235
  • 1880 Bunter Blumenstrauß
  • 1881 Musik aus allen Ländern (kein Zug: Starkes Schneetreiben)
  • 1882 Jan und Griet
  • 1883 Thema unbekannt
    2 Züge: Große K.G; Große Kölner am Karnevalsdienstag
  • 1884 Das Weinjahr 1883 (Vorverlegung auf Karnevalssonntag)
  • 1885 Held Carneval als Kolonisator
  • 1886 Die vier Jahreszeiten
  • 1887 Die größten Volksfeste der bedeutendsten Culturvölker (Zug bereits am Sonntag wg. Reichstagswahl)
  • 1888 Köln in alter und neuer Zeit
  • 1889 Die Künste huldigen dem Prinzen Karneval
  • 1890 Italien, Land der Sonne, huldigt dem Prinzen Karneval Zug ohne Musik wegen Tod der Kaiserwitwe Augusta
  • 1891 Närrische Ausstellung
  • 1892 Köln als Seehafen
  • 1893 Heimkehr des Prinzen Karneval aus dem Reich der Sagen und Märchen
  • 1894 Concurrenz aller Feste der Welt mit dem Kölner Carneval
  • 1895 Hervorragende Leistungen großer Männer, Dichter und Componisten
  • 1896 Zeitung – Neueste Nachrichten
  • 1897 Die Griesgramschlacht
  • 1898 Bunte Reihe Kölner Themen
  • 1899 Flüsse und Ströme als Gast bei Vater Rhein
  • 1900 Zwei Jahrtausende rheinischen Lebens
  • 1901 Was uns das neue Jahrhundert bringt
  • 1902 Schiller und Goethe auf dem Carneval zu Köln
  • 1903 Lebende Lieder
  • 1904 Des Prinzen Rheinfahrt bei seiner Heimkehr aus dem Süden
  • 1905 Eine Blütenlese aus dem Kölner Adressbuch
  • 1906 Das Prunkmahl des Prinzen Karneval
  • 1907 Bilder aus dem Kölner Leben
  • 1908 Bilder aus dem Kölner Leben
  • 1909 Die verkehrte Welt
  • 1910 Aus aller Welt
  • 1911 Verkörperte Zitate
  • 1912 Deutsche Städte huldigen der Colonia und dem Prinzen Karneval
  • 1913 Sang und Klang im Karneval
  • 1914 Weltausstellung in Köln
  • 1915 (kein Zug: Erster Weltkrieg)
  • 1916 (kein Zug)
  • 1917 (kein Zug)
  • 1918 (kein Zug)
  • 1919 (kein Zug: britische Besatzung untersagte Karnevalsumzüge (bis 1926))
  • 1920 (kein Zug)
  • 1921 (kein Zug)
  • 1922 (kein Zug)
  • 1923 (kein Zug)
  • 1924 (kein Zug)
  • 1925 (kein Zug)
  • 1926 (kein Zug)
  • 1927 Aus der Neuen Zeit (Bunte Kappenfahrt)
  • 1928 Die Pressa im Spiegel des Kölner Karnevals
  • 1929 Ab- und Aufbau im Spiegel des Kölner Karnevals
  • 1930 Die Welt im Jahre 2000
  • 1931 (kein Zug wg Weltwirtschaftskrise)
  • 1932 (kein Zug wg. Weltwirtschaftskrise)
  • 1933 Karneval wie einst
  • 1934 Kölner Bilder
  • 1935 Prinz Karneval filmt
  • 1936 Alt Kölle läv en Spröch un Zitate
  • 1937 Märchen und Sagen aus aller Welt
  • 1938 Die Welt im Narrenspiegel
  • 1939 Singendes, klingendes, lachendes Köln
  • 1940 (kein Zug wg. Zweitem Weltkrieg)
  • 1941 (kein Zug)
  • 1942 (kein Zug)
  • 1943 (kein Zug)
  • 1944 (kein Zug)
  • 1945 (kein Zug)
  • 1946 (kein Zug)
  • 1947 (kein Zug)
  • 1948 (kein Zug)
  • 1949 – „Mer sin widder do un dunn wat mer künne!“
  • 1950 – „Kölle, wie et es un wor, zick 1900 Johr“
  • 1951 – „Kölle en Dur un Moll“
  • 1952 – „Kölsche Krätzger“
  • 1953 – „Kölsch Thiater“
  • 1954 – „Dat löstige Patentamp Kölle“
  • 1955 – „Lachende Sterne über Köln“
  • 1956 – „Spaß an der Freud“
  • 1957 – „Laßt Blumen sprechen“
  • 1958 – „Mer jöcken öm de Welt“
  • 1959 – „Schlagerparodie 1959“
  • 1960 – „Jedem Dierche sie Pläsierche!“
  • 1961 – „Meer Weetschaffswunderkinder“
  • 1962 – „Wat et nit all gitt“
  • 1963 – „Köln läßt grüßen kunterbunt Presse, Fernsehen und Funk“
  • 1964 – „Kölsch Panoptikum“
  • 1965 – „Olympiade der Freude“
  • 1966 – „Kaum zu glauben“
  • 1967 – „Dat Klockespill vum Rothuusturm“
  • 1968 – „Märchen und Wunder unserer Zeit“
  • 1969 – „Köln serviert internationale Speisen a la carte“
  • 1970 – „Rosen, Tulpen und Narzissen, das Leben könnte so schön sein“
  • 1971 – „Hexenküche der Werbesprüche“
  • 1972 – „Wir sind alle kleine Sünderlein“
  • 1973 – „Fastelovend wie hä es un wor, zick 150 Johr“
  • 1974 – „Zustände wie im alten Rom“
  • 1975 – „Seid umschlungen Millionen“
  • 1976 – „Sang und Klang mit Willi Ostermann“
  • 1977 – „Mer losse de Pöppcher danze“
  • 1978 – „Flohmarkt Colonia“
  • 1979 – „Kölsche in aller Welt“
  • 1980 – „Mer losse d’r Dom verzälle“
  • 1981 – „Circus Colonia“
  • 1982 – „Karneval der Schlagzeilen – Närrische Nachrichten“
  • 1983 – „Es war einmal… Kölner Karneval wie ein Märchen“
  • 1984 – „Hits us Kölle un us aller Welt“
  • 1985 – „Ene Besuch em Zoo – Met jroße un met kleine Diere“
  • 1986 – „Fastelovend der Rekorde“
  • 1987 – „Janz Kölle dräump – un jede Jeck dräump anders“
  • 1988 – „Kölle Alaaf – COLONIA FEIERT FESTE“
  • 1989 – „Wir machen Musik – Met vill Harmonie“
  • 1990 – „Hereinspaziert, hereinspaziert – Zur größten Schau der Welt“
  • 1991 – „Kinema Colonia“ (kein offizieller Rosenmontagszug in diesem Jahr wegen Golfkrieg)
  • 1992 – „Et kütt wie et kütt“
  • 1993 – „Sinfonie in Doll“
  • 1994 – „Hokuspokus – kölsche Zauberei“
  • 1995 – „Colonia ruft die Narren aller Länder“
  • 1996 – „Typisch Kölsch“
  • 1997 – „Nix bliev wie et es – aber wir werden das Kind schon schaukeln“
  • 1998 – „Fastelovend und Dom im Jubiläumsfieber“
  • 1999 – „999 Jahre – Das waren Zeiten“
  • 2000 – „Kölle loß jon, ins neue Jahrtausend”“
  • 2001 – „Köln kann sich mit allen Messen“
  • 2002 – „Janz Kölle es e Poppespill“
  • 2003 – „Klaaf und Tratsch – auf kölsche Art“
  • 2004 – „Laach doch ens, et weed widder wäde!“
  • 2005 – „Kölle un die Pänz us aller Welt“
  • 2006 – „E Fastelovendsfoßballspill“
  • 2007 – „Mir all sin Kölle!“
  • 2008 – „Jeschenke för Kölle – uns Kulturkamelle“
  • 2009 – „Unser Fastelovend - himmlisch jeck“
  • 2010 - „In Kölle jebützt“

References: http://de.wikipedia.org/wiki/K%C3%B6lner_Rosenmontagszug

Sumber Foto-Foto diatas: diambil dari internet (terima kasih).

Kapal Roro, Dermaga, dan Galian C di Klungkung

Posted by Adnyana under Klungkung@yahoogroups.com on February 4, 2010 @ 9:03 pm

Kapal Ro-Ro demikianlah nama sebuah kapal bisa memuat kendaraan yang berjalan masuk kedalam kapal dengan penggeraknya sendiri dan bisa keluar dengan sendiri juga sehingga disebut sebagai kapal roll on - roll off disingkat Ro-Ro, untuk itu kapal dilengkapi dengan pintu rampa yang dihubungkan dengan moveble bridge atau dermaga apung ke dermaga. Kapal Roro selain digunakan untuk angkutan truk juga digunakan untuk mengangkut mobil penumpang, sepeda motor serta penumpang jalan kaki. Angkutan ini merupakan pilihan populer antara Jawa dengan Sumatera di Merak - Bakauheni, antara Jawa dengan Madura dan antara Jawa dengan Bali.

Secara garis besar kapal yang termasuk jenis RoRo antara lain: kapal penyeberangan/ferry yang melayani lintasan tetap seperti Lintas Merak-Bakauheni, Lintas Ujung-Kamal, Lintas Ketapang-Gilimanuk, Lintas Padangbay-Lembar, Lintas Padangbay – Nusa Penida. Selain itu jenis kapal roro lainnya adalah kapal pengangkut mobil (car ferries), dan kapal general cargo yang beroperasi sebagai kapal RoRo. Salah satu kapal roro yang melayani lintas Padangbay – Nusa Penida yang “dioperasikan” oleh pemerintah Kabupaten Klungkung yang berkapasitas 500 Gross ton merupakan kapal buatan PT PAL Indonesia yang di pesan oleh pemerintah provinsi Bali yang serah terimanya dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2006 oleh Direktur Pengembangan Usaha PAL Indonesia kepada pimpinan kegiatan pengadaan kapal Pemerintah Provinsi Bali, serta disaksikan oleh Direktur Pembangunan Kapal PAL Indonesia dan Gubernur Propinsi Bali di galangan PAL Indonesia.


Ukuran Utama Kapal sbb. :
Panjang Keseluruhan : 39.50 m
Panjang Garis tegak : 32.50 m
Lebar : 11.60 m
Sarat Air : 2 m
Gross tonase : ± 500 GRT
Kecepatan Maksimal : 12 Knot
Kapasitas Muat : 200 penumpang , 8 truk, 6 mobil penumpang
Mesin Utama : Motor diesel 4 langkah 2 x 829 tenaga Kuda
Anak Buah Kapal : 8 orang

Kapal roro ini mulai menjadi perbincangan dimilis Klungkung@yahoogroups.com ketika salah satu anggota milis, Gusti Putu,  meminta saran kepada anggota lainnya seputar issue  kapal yang merupakan aset pemerintah daerah klungkung namun pengoperasiannya tidaklah dilakukan oleh putra daerah klungkung dalam arti selama ini tenaga pengoperasiannya masih ditangani oleh pihak ketiga, disamping itu juga daerah tujuan berlabuh dari kapal roro ini tidaklah di daerah kawasan kabupaten klungkung melainkan berlabuh di pelabuhan milik kabupaten tatangga yaitu pelabuhan padang bai. Jadi kalau di cermati lebih seksama selama bertahun-tahun terdapat kerugian ganda di pihak kabupaten klungkung.

Pertanyaan mengenai topik pengoperasian kapal roro dan ketidak siapan dermaga dipihak kabupaten klungkung di tanggapi oleh peserta diskusi di milis Klungkung berikut ini:

3.1. Gde Pandhe Wisnu Suyantara ST, yang saat ini sedang menempuh study master di Universitas Chalmers Goteborg Swedia kelahiran Desa tegak Klungkung, yang mengatakan bahwa program pembangunan dermaga dan kapal sesungguhnya sudah dicanangkan sejak tahun 2000-an. disaat pemerintahan Bupati Tjokorda Ngurah. Banyak langkah yang sudah dilakukan pemerintah beserta wakil rakyat pada saat itu untuk memajukan pembangunan di Nusa Penida, salah satunya dengan pembangunan dermaga sebagai langkah awal membuka pulau Nusa Penida. Ini ide mendasarnya., demikian dinyatakan gede Pandhe.

Kalau pas itu saja kita bisa membangun dermaga dan melobi pemerintah propinsi dan pusat untuk menyediakan dana dan kapal, kenapa sekarang tidak? saya rasa pemerintah sekarang tinggal melanjutkan. Pertanyaannya adalah sejauh mana niat dan upaya yang uda dilakukan pemerintah sekarang. Hampir 2 periode berjalan semenjak Bupati Tjok lengser dan memberikan tampuk kekuasaan kepada Bupati Candra, tetapi tetap aja program pembangunan dermaga di Klungkung daratan tidak bisa terwujud. Saya rasa masalahnya ada di Program Dermaga di Klungkung daratan. Dana sudah ada di Propinsi dan sempat di pangkas gara-gara pemda klungkung tidak memberikan upaya yang positif terhadap pembangunan dermaga ini. Kalau dermaga di Klungkung daratan sudah selesai saya rasa kapal dengan leluasa bisa kita operasikan.

Gambar Dermaga di Nusa Penida.

Dan setahu saya program ini (dermaga Nusa, dermaga Klungkung daratan, dan Kapal Roro) merupakan satu program terintegrasi. Jadi disini dirancang ketika kapal roro datang, kedua dermaga sudah siap. cuma masalahnya dermaga Klungkung tidak kurun rampung dan menyebabkan sepertinya kapal roro yang diberikan pemprop memberatkan pemda klungkung.

Saya rasa yang perlu kita lakukan adalah mempercepat program pembangunan dermaga di Klungkung daratan. Kalau kapal roro dihentikan dan dikembalikan ke Pemprop, saya rasa itu malah sebuah langkah yang sangat merugikan bagi pembangunan di Nusa Penida, padahal saat ini berbagai proyek sedang diarahkan untuk mengangangkat kesejahteraan nyama braya kita di seberang lautan sana termasuk dari Propinsi.

Memang saat ini kapal tersebut masih dioperasikan oleh pihak ketiga, dan biayanya jauh dari pendapatan yang bisa dihasilkan selama sebulan.Tapi itu lebih dikarenakan hanya ada satu trip PP dalam sehari, seandainya jumlah trip bisa ditingkatkan, salah satunya dengan pembangunan dermaga, saya rasa kita bisa mencapai BEP atau pun untung dalam beberapa tahun mendatang.

Pemerintah mengalami kerugian, saya rasa karena kesalahan pemerintah sendiri yang tidak segera membangun dermaga ini dengan berbagai alasan yang ada. Padahal kalau di track ke belakang, kita bisa liat, setelah Pemerintahan Tjok Ngurah dengan ketua DPRD I Wayan Sutena pas itu, Klungkung bisa memiliki dermaga dan kapal roro, hanya dalam jangka 5 tahun kurang. Sekarang sudah lebih dari 5 tahun, 1 dermaga pun tidak rampung, demikian Gde Pandhe mengakhiri komentarnya.

3.2. Nyoman Parsua ikut sumbang saran demi kemajuan kabupaten klungkung dengan mengatakan Tingkat perekonomian masyarakat Nusapenida meningkat sejak beroperasinya kapal roro dimaksud, tapi masalah pengoperasiannya diserahkan kepada pihak ketiga untuk memparmudah penyelesaian komisinya. tinggal menghitung jumlah persentase dikalikan nilai kontrak dan berhubungan dengan satu orang saja (pengontrak) . sama dengan 5 kapal ikan yang sudah tidak ketahuan keberadaannya juga dikontrakkan.

3.3.  Wayan Surya, menyatakan bahwa masyarakat nusa penida sepertinya sangat terbantu dengan keberadaan kapal roro ini, dan perekonomian mereka mungkin lebih meningkat. Namun bila permasalahannya terletak pada ketidaksiapan SDM dalam pengoperasian kapal roro ini kenapa tidak dikirim para PNS yang tidak punya tupoksi untuk belajar mengeoperasikannya, dan belajarnya langsung dengan pihak ketiga tersebut ?. wayan surya juga memiliki kecenderungan bahwa hal ini mungkin merupakan sebuah proses untuk lebih berkembangnya Kabupaten Klungkung, karena kemungkinan dermaga akan segera di bangun, dengan alasan tanah di sekitar daerah tersebut sudah dibebaskan juga.

3.4. Dr. Ir. Gde Pradnyana, staf ahli BP Migas kelahiran Desa Galiran Klungkung, mengomentari diskusi yang sedang berlangsung dengan mengatakan: tanpa bermaksud mengecilkan semangat membangun, Pak Gde mengatakan tidak melihat ada lokasi di Klungkung daratan yg cocok utk membangun dermaga roro. Semua pantai kita, mulai dari Banjarangkan sampai Wates semuanya curam dan berhadapan langsung dengan samudera Hindia. Jadi sekalipun dananya ada, lokasinya (rasanya) tidak ada di Klungkung. Kalaupun dipaksakan (secara teknis bisa saja dibuat, misalnya dilindungi dengan breakwater, dsb) maka biayanya akan sangat mahal dan tidak ekonomis, demikian penjelasan pak Gde Pradnyana.

Gambar: Kapal Roro berlabuh di pelabuhan Padang Bai


Gambar: pelabuhan Padang Bai di teluk padang bai

3.5. Ir. I Dewa Nyoman Mawang, berkomentar Sebelum adanya kapal Roro transportasi dari Bali ke Nusa penida lebih sulit terutama arus barang dan mobil, kalau sekarang masyarakat Nusa Penida lebih maju baik infrastrukturnya maupun yang lainnya.

Cita cita pendahulu kita untuk memajukan klungkung yang sebagian ada di Nusa Penida tahap awal sudah ada modal awal, sehingga perlu dilanjutkan lebih serius lagi terutama pelatihan tenaga untuk pengoperasian kapal tersebut seperti yang diusulkan Pak Wayan Surya dan pengadaan Dermaga. Saya kira pemda Klungkung perlu pemikiran atau gagasan gagasan kreatif untuk melanjutkan cita-cita tsb. Terutama lobby-lobby ke pusat biar perencanaan perencanaan yang ada bisa segera terwujud.

3.6. I Made Putra Jelantik ST, kelahiran Nusa Penida yang saat ini berwirausaha di Jakarta mengatakan manfaat atas keberadaan/ serta kerugian atas ketiadaan kapal roro nusa jaya abadi (nja) dijabarkan sbb :

I. Ditinjau dari sisi orang Nusa penida

1. Keuntungan atas keberadaan kapal roro nja :
1. Masyarakat Nusa Penida sudah tidak perlu lagi bayar mahal atas barang-barang pangan/sandang/ papan
2. Arus barang produksi Nusa penida ke Bali jadi lancar sehingga harga jual/beli lebih terbuka (tdk dipermainkan tengkulak)
3. Pemuda Nusa penida saat ini bangga dengan kemajuan daerahnya
4. Pemuda Nusa Penida tidak frustasi sehingga mereka tidak meninggalkan pulaunya untuk merantau ke daerah lain
5. Pemuda Nusa Penida tidak meninggalkan pulaunya dengan melepas hak atas tanahnya kepada orang Jakarta/Surabaya
6. Sirnanya kesan terisolasi yang selama ini menekan mental orang Nusa Penida (kami sdh bosa disebut sebagai daerah tertinggal)

2. Kerugian atas ketiadaan kapal roro nja :

1. ekonomi biaya tinggi bagi masyarakat Nusa Penida
2. petani mati krn harga dipermainkan oleh tengkulak yang sebagian besar punya kapal/perahu sendiri
3. mental orang Nusa Penida akan tertekan dengan adanya kesan terisolasi
4. Pemuda akan hijrah ke daerah lain dengan sekalian menjual tanahnya kepada orang jakarta/surabaya yg mungkin bukan Hindu untuk modal usaha di daerah lain
5. Pemuda yang tetap bertahan di Nusa Penida akan bergejolak minta cerai dengan Klungkung (wacana ini sudah ada sejak dahulu tp tidak mendapat dukungan dari para sesepuh mengingat sejarah….tapi anak muda sudah tidak pernah mikirin sejarah lagi..dan mereka lebih senang gabung dengan Kab. Badung)..sepertinya sekarang geliat ingin cerai ini sudah redup karena terobati oleh adanya kapal roro nja..disinilah kecerdasan Pemda saat ini yang pinta baca apa keinginan Pemuda Nusa Penida.

Atas untung/rugi di atas coba bandingkan dengan kerugian Pemda Klungkung apa tindakan yang harus diambil? saya sebagai pemuda Nusa Penida berpikir bahwa Klungkung akan rugi besar bila meniadakan kapal roro nusa jaya abadi (tidak sebanding dengan kerugian financial yang dialami saat ini)….Pemda Klungkung di bawah pak Candra sangat cerdas dan peduli Nusa penida..beliau sudah tahu benar bahwa kerugian yang sangat besar akan dialami Klungkung (secara keseluruhan) bila kapal roro nja diberhentikan pengoperasiannya.

Saran saya…semeton sekalian mohon hati-hati atas wacana tentang Nusa Penida…kalo memang saat ini Klungkung hanya bisa numpang di Dermaga Padang Bay Karangasem silahkan lakukan ini sambil menunggu selesainya dermaga daratan Klungkung… jangan mundur ke belakang…kerugian finacial saat ini lebih kecil bila di bandingkan dengan  keuntungan (manfaat) yang dirasakan oleh masyarakat Nusa Penida atas keberadaan kapal roro nja.

Dan coba semeton berpikir seandainya semeton berada dalam posisi sebagai masyarakat Nusa Penida…… .atau coba semeton tinggal di Nusa Penida selama 1 tahun dan rasakan bagaimana rasanya???

3.7. Ketut Adnyana , kemoning,  menanggapi topik seputar  pembangunan Dermaga di Klungkung daratan, yang dikutipnya dari koran balipost, yang mana tertulis pembangunan dermaga di eks galian C sudah dimasukkan dalam program kerja bupati sekarang. Perihal kapan realisasi perwujudan Dermaganya, ini mungkin bisa di tanyakan kepada pihak Pemda Klungkung, demikian diungkapkan oleh Ketut Adnyana, yang detail artikel balipostnya bisa dibaca secara lengkap di artikel berikut:

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=28005

APBD Klungkung Defisit Rp 35,65 miliar

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Klungkung tahun 2010 dirancang defisit Rp 35,65 miliar. Belanja daerah dirancang Rp 434,542 miliar sedangkan pendapatan daerah hanya Rp 398,882 miliar yang bersumber dari Pendapatan Asli daerah (PAD), Dana Perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. Hal itu terungkap dalam pidato pengantar nota keuangan Ranperda tentang APBD Klungkung tahun 2010 yang disampaikan Bupati Klungkung, Wayan Candra kehadapan pimpinan dan anggota DPRD di Ruang Paripurna Gedung Sabha Nawa Natya DPRD Klungkung, Senin (11/1).

Terjadinya defisit diakibatkan besarnya belanja daerah yang melebihi pendapatan daerah. Sebagai akibat meningkatnya belanja tidak langsung yang dipengaruhi peningkatan belanja pegawai. Peningkatan belanja pegawai terjadi karena adanya kenaikan gaji pegawai sebesar 5 persen dan penambahan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang kini masih proses pengusulan Nomor Identitas Pegawai (NIP) ke BKN.

Belanja daerah Rp 434,542 miliar diantaranya dialokasikan untuk biaya tak langsung Rp 309,41 miliar yang mengalami peningkatan Rp 20,76 miliar (7,19 persen) dari APBD Induk 2009 Rp 288,64 miliar. Sedangkan untuk belanja langsung Rp 125,12 miliar. Menurun Rp 62,24 miliar (33,22 persen) dari Induk 2009 Rp 187,37 miliar. Sementara itu, pendapatan daerah yang bersumber dari PAD Rp 28,82 miliar, dana perimbangan Rp 332,81 miliar dan lain-lain pendapatan yang sah Rp 332,81 miliar.

Beberapa program prioritas yang dijabarkan dalam belanja daerah tersebut diantaranya:
1. pembangunan pasar galiran demi pertumbuhan ekonomi masyarakat,
2. kelanjutan pembangunan dermaga di eks galian C,
3. penataan alur Tukad Unda,
4. pemberantasan penyakit rabies,
5. pengadaan bulldozer untuk penanganan sampah

Sementara itu, berkaitan dengan terjadinya defisit anggaran, Candra menyebutkan hal itu akan dibiayai dari penerimaan pembiayaan daerah yang bersumber dari perkiraan sisa lebih  perhitungan anggaran tahun 2009 dengan besar yang sama yakni Rp 35,65 miliar.(kmb20)

3.8. Komang Oka Suryadhi, asal desa sampalan, menambahkan:
saya sedikit sumbang saran ,semestinya untuk menunjang penyeberangan ke atau dari nusa penida di klungkung daratan harus lebih cepat mewujudkan pelabuhan .disampingkan untuk menambah pendapatan daerah juga bisa membantu masyarakat disekitar pelabuhan  secara ekonomi dan bisa menyerap tenaga kerja.karena selama ini kapal roro beroperasi dari kabupaten tetangga sehingga pendapatan akan masuk ke kabupaten tersebut.disamping itu jadwal penyeberangnyapun akan tergantung dari jadwal penyebrangan padang bai-lembar.sebagai akhir kata semoga pelabuhan di klungkung daratan segera terwujud.
Salam

3.9. I Made Putra Jelantik ST, putra klungkung kelahiran Nusa Penida, menyatakan salut dengan rencana kerja Pemda Klungkung yang berpihak untuk kemakmuran rakyat Klungkung, yang mudah-mudahan terwujud.  Made Jelantik memperkirakan hasil dari program yang direncanakan oleh pemerintah daerah Klungkung akan nampak indah pd jangka panjang 10 tahun yang akan datang. Karena efeknya akan luar biasa dengan terwujudnya program tersebut. Mungkin akan ada ledakan ekonomi yang mengagumkan di klungkung 10 tahun yang akan datang. Dan Gunaksa (area ex. galian C) akan menjadi pusat ekonomi baru bagi Klungkung/Bali ke depannya.  Made Jelantikn juga mengajak untuk mendukung terus program pemerintah yang akan membawa dampak positif bagi kesejahteraan rakyat Klungkung.

3.10. I Nengah Sumerta SE, Banjarangkan, menyatakan sudah sewajaranya kita berterima kasih kepada pemerintah yang beritikad baik mencoba mengerahkan sedikit waktu dan pikiranya untuk memberi pelayanan ke rakyat, tapi jangan sampai itu membuat fungi kontrol kita menurun, entah apa yang membuat saya skeptikal, tapi di klungkung, sistem birokrasi dan manajemen keuangan masih jauh dari transparansi dan akuntabilitas.

3.11. I Dewa Gede Widnyana ST. MSc, asal Banjar Kartini Klungkung alumni Teknik perminyakan ITB dan master perminyakan dari Norwegia, bertanya kepada Pak Pradnyana dan tertarik untuk menanyakan lebih lanjut syarat-syarat untuk pembangunan dermaga dan teknik bangunan pantai. Serta meminta saran / alternatif lain sebagai solusi atas permasalahan penyeberangan Klungkung - Nusa Penida?

3.12. AKBP Drs. I Gede Mahendra Jaya Kusuma SH MM, putra klungkung yang saat ini bertugas di Ternate, juga menyatakan kepeduliannya akan kemajuan kabupaten Klungkung dan berharap kabupaten klungkung bisa segera memiliki dermaga sendiri dan kapal roro bisa di operasikan langsung oleh pihak ASDP klungkung. Pak Gede juga berharap suatu saat nanti kepulauan Nusa Penida bisa terhubungkan dengan kabupaten klungkung melalui sebuah jembatan, demi kesejahteraan masyarakat di Nusa Penida.

3.13. Dr. Ir. Gde Pradnyana, Staf ahli BP Migas kelahiran Desa Galiran Klungkung, menambahkan:
Berikut ini tyang forward 4 buah foto satelit yg tyang ambil dari Google-earth, memperlihatkan pantai yang ada di Klungkung serta lokasi galian-C.

Foto-foto ini menunjukan lokasi galian-C mulai dari Sampalan Kelod dan sampai Tangkas. Lokasinya agak jauh di tengah daratan dan jauh dari pantai (lihat foto-1 dan 2). Jadi kalau mau bikin “teluk” untuk membangun dermaga….kok rasanya seperti mengubah geografi pulau Bali. Bandingkan ukuran galian-C tersebut dengan teluk Padangbai. Dari foto2 ini tyang usulkan: pisahkan pemikiran antar penanganan ex Galian-C dengan pembangunan dermaga.

Gambar Teluk Padang Bai

1. Dermaga

Seperti email tyang sebelumnya, rasanya tidak ada lokasi sepanjang pantai di Klungkung yg ideal untuk dermaga roro. Kalau kita berpikir agak makro (melepaskan “baju” kedaerahan Klungkung), maka solusi praktisnya untuk dermaga ke Nusa Penida memang menggunakan Padangbai saja (foto-3). Tapi kalau mempertimbangkan aspirasi masyarakat Nusa Penida akan kebutuhan dermaga maka lokasi yg “agak pas” mungkin di Kusamba, bukan di muaranya tukad Unda (lihat foto-2). Itupun kalau menggunakan jety (seperti di Padangbai) maka harus dibangun breakwater, seperti yg dipasang di terminal BBM Manggis.

Gambar Jety Pelabuhan

Tapi untuk hal ini harus dilakukan perhitungan (simulasi) secara cermat agar keberadaan jety dan breakwater (tumpukan batu yg menjorok ke tengah laut) tidak menimbulkan gerusan dan abrasi pantai di tempat lain. Ingat bahwa pantai-pantai selatan Bali sangat rawan terhadap abrasi. Pilihan lain adalah dermaga dibangun di dalam kanal, yang digali masuk ke daratan. Tapi inipun (rasanya) membutuhkan breakwater pelindung mulut kanal tsb.

2. Penanganan Galian-C

Lihat foto-4. Galian-C ini berada di bantaran Tukad Unda dan dimasa mendatang, saat gunung Agung meletus (lagi) akan kembali tertimbun lahar dingin. Dimanapun (biasanya) kita sebaiknya tidak membuat bangunan di bantaran sungai. Pemikiran-pemikiran untuk membangun “danau buatan” untuk kapal2 yacht, dsb di bekas Galian-C rasanya harus menunggu sampai aktifitas volcanic Gunung Agung (nunas ampure) mati dulu. Hitungan2 investasi besar2n (membangun waduk dengan kapal2 pesiar dan dikelilingi rumah2 peristirahatan di sekeliling waduk) seperti itu biasanya return-nya puluhan bahkan ratusan tahun, sementara siklus erupsi Gunung Agung juga kurang-lebih periodanya sama. Jadi, menurut tyang, ex galian C sebaiknya difungsikan untuk kegiatan agri-culture saja dikombinasikan dengan perikanan tambak, dsb dimana return on investment-nya bisa lebih pendek.

Foto 1

Foto 2

Foto 3

Foto 4

3.14. dr. kadek Budhiadnya, asal Desa Dawan yang bertugas sebagai dokter di Balikpapan, mengatakan kesetujuannya dengan ide yang sangat logis dari Pak Gde Pradnyana.
Kalaupun harus membangun dermaga karena aspirasi dari warga nusa, mungkin kusamba merupakan tempat yang lebih reasonable.

3.15. Dr. Ing. Nengah Sudja, ahli kelistrikan dan Konsultan di Jakarta yang berasal dari Dawan, mengatakan:

Kalau titiang tidak salah mengerti, lepas dari persoalan teknisnya, diperlukan  penelitian dua kajian ekonomi  !..

Pertama apakah pengadaan/operasinya  Kapal Roro  secara  ekonomi sosial menguntungkan Nusa Penida, Klungkung, Bali ?.

Dengan melakukan kajian kuantitatif, tentunya bisa dihitung berapa besar pendapatan dari pertumbuhan ekonomi Klungkung/ Nusa Penida/  Bali   dibandingkan dengan biaya modal pengadaan kapal tersebut ditambah biaya operasinya untuk beberapa tahun kedepan sampai kapal tsb berhenti beroperasi ( retired).

Kedua mana yang lebih layak,  tetap mengoperasikannya dari Padang Baai  dibandingkan dengan  pembangunan dermaga di Kabupaten  Klungkung (  di Gunaksa / Kusamba) ditambah biaya pengoperasiannya dari Kabupaten Klungkung ke Nusa Penida ?.

Naluri saya memperkirakan untuk masalah:

pertama, keberadaan Kapal Roro secara ekonomis menguntungkan Nusa Penida, Klungkung, Bali . Apalagi karena kapal tsb.sudah ada ( sunk cost). Biaya kapal tak perlu diperhitungkan lagi, keberadaan kapal dengan sendirinya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Daerah.

kedua, pengoperasian dari Padang Baai secara ekonomi jelas lebih murah / layak, karena biaya pembangunan dermaga di Klungkung tak  perlu dikeluarkan lagi  dan  dana yang dialokasikan  bisa dialihkan ke sektor lain. Misalnya untuk bikin kade di Kusamba.

Seyogyanya Pemda Kabupaten Klungkung/ Propensi  Bali dapat memberi penjelasan, pertanggungjawaban  secara rinci  kepada masyarakat mengenai aspek kelayakan kedua masalah diatas.

4. Kesimpulan
(saat ini belum ada, diskusi masih berlanjut)

Beberapa ABK perahu penyeberangan Pulau Bali-Nusa Penida, menggotong barang bawaan penumpang ke tepi pantai saat mereka tiba di Pantai Kusamba, Klungkung, Bali, Kamis(27/8). Penyeberangan menggunakan perahu motor dari pantai kusamba masih menjadi pilihan bagi penumpang karena dinilai lebih cepat dan praktis dari pada kapal roro berkapasitas besar dari dermaga Padangbai yang hanya mampu melayani sekali trip dalam satu hari. (FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana) http://www.antara.co.id/foto/1/1251368059

Artikel ini adalah rangkuman dari hasil diskusi di milis Klungkung@yahoogroups.com, Sumber Foto-Foto diatas dikutip oleh penulis artikel dari internet (terima kasih).

Membaca Peluang Pengembangan Pariwisata Kerakyatan

Jika dicermati lebih jauh, motivasi wisatawan asing datang ke Bali ternyata tidak melulu datang untuk mengejar kemewahan seperti yang biasa mereka nikmati di tempat asalnya. Mereka umumnya ingin mendapatkan pengalaman berbeda dari kegiatan rutin sehari-hari, dan kondisi ini belum sepenuhnya ditangkap kalangan pelaku pariwisata Bali.

Oleh I Made Sarjana

Pandangan pengelola kepariwisataan Bali bahwa wisatawan yang berkunjung ke daerah ini mesti disambut dengan penyediaan akomodasi berupa hotel besar nan megah lengkap dengan standar kualitas layanan mewah, tampaknya harus segera ditinjau ulang. Vacantiebeurs atau pekan promosi pariwisata dunia yang berlangsung di Kota Utrecht, Belanda, 12 -17 Januari 2010 menyodorkan fakta berbeda soal motivasi wisatawan dunia bertandang ke Bali. Wisatawan ingin datang berinteraksi dengan masyarakat lokal alias bukan kemewahan yang dikejar, tetapi keunikan Bali. Peluang pengembangan pariwisata berbasis kerakyatan pun terbaca dalam ajang tersebut.

—————–

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menyebut keterlibatan Indonesia pada ajang ini dengan target menggaet kunjungan satu juta wisatawan Eropa ke Indonesia, dan 200 ribu orang di antaranya asal Belanda. Indonesia pun mengusung tema ”Moluccas Culture” atau serba Maluku untuk menarik perhatian orang Belanda yang dikenal lebih familiar dengan khazanah budaya Maluku, mengingat warga Indonesia yang menetap di Belanda terbanyak asal Maluku. Kendati demikian, Bali tetaplah magnet utama bagi wisatawan Eropa untuk berkunjung ke Indonesia. Terbukti, pengunjung stan Indonesia umumnya sangat antusias bertanya tentang Bali, bahkan di beberapa biro perjalanan dan maskapai penerbangan Eropa yang menawarkan paket wisata ke kawasan Asia Tenggara memajang ikon budaya atau memutar film pendek tentang Bali.

Pengelolaan kepariwisataan Bali saat ini memang berkiblat pada manajemen pariwisata yang dikembangkan di Spanyol seperti di Kota Barcelona di mana aktivitas pariwisata identik dengan pembangunan hotel mewah bintang lima. Kawasan Nusa Dua pun disulap sebagai kawasan hotel elite. Pemilihan model pengembangan pariwisata ini tentu berdampak kurang menguntungkan bagi masyarakat Bali yakni keberhasilan pembangunan pariwisata juga diikuti economic leakage yang sangat tinggi.

Economic leakage atau pendapatan dari aktivitas kepariwisataan yang tidak bisa dinikmati masyarakat lokal karena pendapatan itu disetorkan ke daerah lain atau ke luar negeri. Kondisi ini terjadi karena pembangunan hotel mewah cenderung menggunakan modal luar negeri, hotel berbintang umumnya memiliki jaringan internasional. Kondisi ini memicu banyaknya impor bahan makanan, mebel, juga pekerja asing bekerja untuk menjamin hotel mampu memberikan layanan kenyamanan dan kemewahan sesuai standar yang berlaku di negara asal wisatawan.

Menguapnya pendapatan pariwisata juga dapat terjadi dengan adanya maskapai penerbangan asing yang beroperasi untuk keperluan wisata tersebut (Andrew Holden, 2008). Kasus Bali, tentu economic leakage terjadi dan menguntungkan pemodal Jakarta dan luar negeri.

Jika dicermati lebih jauh, motivasi wisatawan asing datang ke Bali ternyata tidak melulu datang untuk mengejar kemewahan seperti yang biasa mereka nikmati di tempat asalnya. Mereka umumnya ingin mendapatkan pengalaman berbeda dari kegiatan rutin sehari-hari, dan kondisi ini belum sepenuhnya ditangkap kalangan pelaku pariwisata Bali. Faktanya, pada Juli tahun 2007 saat penelitian tentang subak selama tujuh hari di Desa Jatiluih, Tabanan penulis bertemu satu rombongan wisatawan Prancis yang melakukan petualangan selama 14 hari di Bali ternyata dipandu orang yang memiliki kewarganegaraan sama. Karenanya, pengakuan calon wisatawan bahwa dia ingin ke Bali untuk menikmati alam dan kebudayaan Bali bukan kemewahan kamar hotel dapat dijadikan pemantik semangat bagi pelaku dan pemegang kebijakan kepariwisataan Bali untuk membangun pariwisata yang berbasis kerakyatan yakni pariwisata pedesaan (rural tourism) dan pariwisata pertanian (agrotourism).

Aliza Fleischer (2002) memaparkan pariwisata pedesaan dan pertanian memiliki ciri sama yakni memanfaatkan situasi alam pedesaan, termasuk aktivitas pertanian sebagai atraksi wisata. Baik pariwisata pedesaan maupun pertanian juga membuka kesempatan yang lebih luas bagi rakyat kecil (petani) untuk terlibat langsung dalam aktivitas pariwisata. Pengembangan pariwisata pedesaan dan pertanian di beberapa negara Eropa seperti Inggris dan Jerman, menunjukkan petani setempat mampu meningkatkan pendapatan keluarga karena pariwisata menjadi sumber pendapatan alternatif.

Isu Lingkungan

Isu lingkungan bahwa saatnya semua umat manusia menyelamatkan bumi dari pemanasan global juga menjadi faktor pendorong pengembangan pariwisata pedesaan dan pertanian. Banyak calon wisatawan melakukan kunjungan ke daerah tujuan wisata selain untuk melepas kepenatan dari pekerjaan rutin, juga berharap bisa berpartisipasi nyata dalam upaya pengurangan emisi gas CO2. Jadi pengalaman berwisata seperti terlibat langsung mengerjakan pekerjaan petani khususnya menanam pohon akan makin diminati.

Bercermin pada tingginya minat wisatawan menjelajahi wilayah Bali, seperti rombongan wisatawan dari Prancis yang penulis temui di Jatiluih. Rombongan wisata itu mengaku membeli paket perjalanan wisata selama 14 hari keliling beberapa titik di wilayah Bali. Hari pertama, rombongan itu datang di kawasan Ubud beristirahat semalam, keesokan harinya dari pagi sampai siang jalan-jalan di kawasan Ubud, sorenya diantar dengan bus ke Jatiluih. Mereka menikmati indahnya suasana alam pedesaan pada malam dan siang hari, karena paginya wisatawan bisa memilih paket jalan-jalan di pematang sawah atau melakukan petualangan alam yang lebih berat yakni jalan kaki melintasi hutan kaki Bukit Batukaru, menuju Desa Wangaya Gede.

Paket wisata ini seterusnya ke arah barat menuju kawasan Lovina, Buleleng, dan balik ke timur singgah di Dusun Mungsengan Catur (Kintamani), selanjutnya ke timur Batur, Besakih, Candidasa. Paket perjalanan wisata semacam itu dapat dipadukan dengan kegiatan menanam pohon akan menjadi dayak tarik tersendiri bagi wisatawan. Paket wisata semacam ini perlu diciptakan lebih banyak karena memiliki fungsi ganda di samping sebagai upaya pengembangan pariwisata berbasis kerakyatan, juga sebagai upaya diversifikasi paket wisata di Bali melengkapi paket wisata tradisional yang sudah mapan.

Tantangan menciptakan paket wisata semacam ini tentu bukan di permodalan atau kualitas sumber daya manusia yang kurang memadai, tetapi adakah pelaku wisata lokal yang mau menjadi perintis. Pelaku pariwisata Bali umumnya lebih suka bekerja pada pihak lain dan hampir tidak ada yang tergerak untuk merintis hal-hal baru. Pariwisata yang pada intinya memodifikasi ruang dan waktu untuk ditawarkan sebagai paket wisata memang membutuhkan kerja keras dan kreativitas. Di samping itu dukungan pemerintah juga sangat dibutuhkan untuk pengembangan pariwisata kerakyatan.

Penulis, dosen Fakultas Pertanian Unud, kini mahasiswa M.Sc. Program Leisure, Tourism, and Environment Wageningen University dan Research (WUR) Belanda

* Isu lingkungan bahwa saatnya semua umat manusia menyelamatkan bumi dari pemanasan global juga menjadi faktor pendorong pengembangan pariwisata pedesaan dan pertanian.

* Paket perjalanan wisata dapat dipadukan dengan kegiatan menanam pohon akan menjadi dayak tarik tersendiri bagi wisatawan.

* Paket wisata semacam ini perlu diciptakan lebih banyak karena memiliki fungsi ganda di samping sebagai upaya pengembangan pariwisata berbasis kerakyatan, juga sebagai upaya diversifikasi paket wisata di Bali melengkapi paket wisata tradisional yang sudah mapan.

http://balipost.com/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=4&id=3074

sumber foto: http://www.baliwww.com

Peranan Desa Adat dalam Menunjang Pariwisata Budaya Era Globalisasi

Posted by Adnyana under Ajeg Bali on January 26, 2010 @ 4:03 am

.

Pembangunan Bali, khususnya di bidang kepariwisataan patut mendapat perhatian yang kritis dari semua pihak, utamanya dari kalangan akademisi. Dengan perhatian yang sungguh-sungguh, pembangunan diharapkan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat tanpa mengorbankan nilai-nilai luhur yang merupakan jiwa kebudayaan Bali dan umat Hindu pendukungnya.

Ajaran agama mendorong umat-Nya untuk mewujudkan kemakmuran sebesar-besarnya dengan kerja keras, tetapi senantiasa berlandaskan dharma, yakni moralitas dan etika yang luhur. Demikian pula sebagai salah satu asset bangsa, Bali sangat berperanan dalam pengembangan pariwisata di Indonesia.

Semua pihak menyadari bahwa pembangunan pariwisata di Bali memberikan dampak positif bagi kesejahtraan masyarakat, tetapi di balik dampak positif itu tentu tidak lepas dari sisi negatifnya, yang bila tidak ditangani dengan sungguh-sungguh nantinya dapat merupakan penyakit yang dapat menggerogoti budaya Bali yang akarnya adalah agama Hindu; daun, bunga, dan buahnya adalah kepariwisataan, yang telah nyata dinikmati oleh wisatawan dan profitnya dinikmati langsung oleh kalangan pengelola kepariwisataan. Bila pengembang atau investor hanya berorientasi pada profit belaka dan mengeksploitasi habis-habisan budaya Bali, tanpa memperhatikan pelestarian budaya dan masyarakat Bali, maka mereka (para investor itu) adalah drakula budaya, yang hanya mengisap darah dan potensi budaya Bali, lalu pergi seperti dinyatakan oleh Bagus (Bali Post, 23 Juni 1999).

Selanjutnya, bila kita ingin melihat Bali secara komprehensif, sorotan kita tidak dapat lepas untuk melihat masyarakat Bali sebagai satu persekutuan hukum yang disebut dengan desa pakraman yang alam perkembangannya dewasa ini lebih populer disebut dengan nama desa adat. Desa adat atau desa pakraman mengatur hubungan manusia dengan dengan Tuhan Yang Maha Esa, Para Dewata dan Leluhur disebut parhyangan, dengan sesamanya yang disebut pawongan, dan dengan alam lingkungannya disebut palemahan. Ketiga komponen ini menyatu dalam kehidupan masyarakat Bali.

Bersentuhannya masyarakat Bali dengan kepariwisataan, terjadi sentuhan antara desa adat Bali dengan kepariwisataan, dan masyarakat Bali telah menetapkan kebijaksanaan pengembangan kepariwisataan yang menekankan pada kebudayaan. Pariwisata ini kemudian populer dikenal dengan istilah pariwisata budaya. Bagaimanakah interaksi antara desa adat Bali dengan kepariwisataan, merupakan hal yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Telah disebutkan sepintas pada latar belakang di atas, bahwa dengan terjadinya kontak, sentuhan atau interaksi antara desa adat Bali dengan kepariwisataan, di samping memberikan dampak yang sangat positif bagi kehidupan masyarakat Bali, tidak dapat dihindari adalah dampak negatifnya yang bila dibiarkan akan mengganggu stabilitas dan bahkan mengancam kehidupan dan kelestarian budaya dan masyarakat Bali. Berbagai permasalahan tersebut di antaranya masalah kependudukan, beralihfungsinya lahan pertanian, dilanggarnya sempadan pantai dan kawasan suci (untuk kepentingan ritual), diusiknya areal kawasan suci dengan pembangunan akomodasi (hotel atau bungalow) dan restaurant dan yang sungguh mengerikan adalah masalah kependudukan, yang dalam waktu kurang dari setahun jumlah penduduk di Bali meningkat hampir 50 % dan umumnya mereka datang dari Jawa dan Lombok, guna mengais rezeki di Bali khususnya di kawasan pariwisata.

Selanjutnya untuk memudahkan pemecahan masalah, maka beberapa permasalahan tersebut di atas kami rumuskan sebagai berikut.
(1). Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan pariwisata budaya?
(2). Bagaimanakah peranan Desa adat Bali dalam pengembangan pariwisata budaya
di era globalisasi dewasa ini, dan
(3). Mampukah Desa adat Bali menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi ini,
mengingat Bali sebagai satu daerah yang terbuka sebagai konskuensi bagian
negara kesatuan Indonesia?

Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk dapat menjelaskan tentang makna pariwisata, khususnya pariwisata budaya, mencari solusi terhadap berbagai masalah termasuk usulan untuk mengembangkan kawasan judi, sebagai salah satu alternatif pengembangan kepariwisataan sehingga diharapkan mampu menyatukan visi dan missi tentang pengembangan kepariwisataan di daerah ini. Melalui tulisan ini diharapkan muncul pemikiran dan langkah kearifan dan kebijaksanaan terhadap pelestarian budaya Bali, khususnya desa adat Bali. Di pihak lain tetap berkembangnya pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism) seperti hangat dibicarakan oleh kalangan akademisi dewasa ini.

II. GAMBARAN UMUM DESA ADAT DI BALI

2.1 Perkembangan Desa adat di Bali
Lembaga tradisional adalah institusi yang sudah ada sejak zaman dahulu, dipelihara dan ditaati secara turun-temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap masyarakat hukum adat di Indonesia mengenal atau pernah mengenal lembaga tradisional tersebut. Nama atau penyebutannya pun berbeda antara daerah yang satu dengan yang lainnya. Demikian pula sejarah timbulnya lembaga tradisional ini tentu tidaklah dalam kurun waktu yang bersamaan. Di antara lembaga-lembaga tradisional itu, ada yang telah musnah sama sekali, ada pula yang masih ajeg dan lestari yang merupakan aset bangsa yang sangat luhur. Salah satu di antara beberapa lembaga tradisional yang masih ajeg di bumi Nusantara ini, adalah desa adat Bali, yang secara tradisional dikenal oleh masyarakat Bali dengan Desa pakraman atau Desa Dresta.

Desa adat Bali, desa pakraman atau desa dresta ini memiliki sejarah sangat tua dan sudah disebutkan dalam beberapa prasasti Bali Kuno seperti prasasti Bwahan (Saka 947) di bawah raja Sri Dharmawangsa Wardhana, prasasti Bebetin (Saka 896), prasasti Sembiran bertahun Saka 987 (Oka, 1999: 2).

Pada prasasti Bwahan A (Saka 916) antara lain disebutkan: …….karaman i wingkang ranu Bwahan……..yang artinya masyarakat di desa Bintang Danu yaitu Bwahan (Goris, 1954: 83). Pada masa Bali Kuno tersebut masyarakat hidup dalam satu ikatan kesatuan yang disebut wanua, yakni satu wilayah dengan luas tertentu yang merupakan satu kesatuan hukum di bawah pimpinan Sanat, Tuha-tuha dan Tulaga yang berarti kelompok.

Prasasti trunyan (Saka 911)menyebutkan : …. Kumpi Dyah Sanat, sedang prasasti Srokadan (Saka 915) menyebutkan kelompok Sarwa Tulaga, dan lain-lain. setelah mantapnya pengaruh Hindu di Bali, istilah wanua dipakai untuk menyatakan wilayah atau disebut juga dengan nama thani seperti disebutkan dalam prasasi Serai II (Saka 915) yang memakai bahasa Bali Kuno. Dalam prasasti Bwahan A (Saka 916) terdapat kata karaman yang berarti satu kelompok masyarakat yang mendiami satu wilayah permukiman tertentu atau berarti pula sebagai kumpulan orang-orang tua (yang sudah berkeluarga).

Dari kata karaman ini kemudian menjadi kata krama yang berarti anggota (masyarakat desa) dan pakraman (Desa pakraman) yang menunjukkan wilayah. Kata desa berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna tempat atau petunjuk (Oka, 1999: 2). Dr. I Made Titib, setelah membandingkan kata krama dengan grama di dalam bahasa Sanskerta yang mengandung arti desa (village) menyatakan bahwa kata krama dalam bahasa Bali Kuno tersebut rupanya berasal dari perubahan kata grama tersebut, dan kini pun dalam bahasa Hindi, grama artinya desa (Wawancara, 11 Agustus, 1999).

Ada pun yang dimaksud dengan adat adalah istilah yang pada mulanya berasal dari bahasa Arab yang menurut ahli hukum adat bernama Van Vollenhoven berarti kebiasaan atau adat-kebiasaan (Purwita,1984:4). Selanjutnya, istilah desa adat yang sekarang dikenal, pada mulanya dikenal dengan sebutan desa saja. Akan tetapi, dengan adanya pembentukan desa yang lain oleh pemerintah Belanda, yang mempunyai tugas khusus dalam penanganan administrasi pemerintah di tingkat bawah, terjadilah kerancuan pengertian desa. Oleh karena itu, untuk memberikan pembedaan yang tegas, maka desa yang berbeda fungsi dan tugasnya tersebut diberi nama masing-masing desa adat dan desa dinas atau desa administratif. Istilah ini secara tertulis pertama kali ditemukan dalam buku I Gusti Putu Raka, tahun 1955 (Pitana,1994:139).

Batasan tentang Desa adat secara resmi (formal) telah di tuangkan dalam pasal 1 (e). Peraturan Daerah Bali No. 06 Tahun 1986 yang manyatakan bahwa desa adat adalah :

“Kesatuan masyarakat hukum adat di Propinsi Daerah Tingkat I Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun-temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga (Kahyangan Desa) yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri”.

Demikian antara beberapa istilah atau pengertian yang perlu kita pahami bersama mengingat telah terjadi jalinan yang demikian padat antara berbagai aspek kebudayaan Bali dengan agama Hindu sebagai jiwa dari kebudayaan daerah ini. Jalinan yang demikian baik hendaknya tetap terpelihara jangan sampai dirobek atau diputuskan oleh umat sendiri karena tidak memahami apa yang kita miliki.

Desa adat di Bali selama ini memegang peranan yang sangat penting dalam menata dan membina kehidupan masyarakat desa adat maupun dalam proses pembangunan. Sebagai organisasi pemerintahan, desa adat merupakan desa otonom asli, mengendalikan roda pemerintahan sendiri di dalam palemahan (wilayah)nya yang tetap hidup dan kedudukannya diakui di dalam Negara Republik Indonesia, sebagai perwujudan budaya bangsa yang perlu diayomi dan dilestarikan.

Desa adat sebagai masyarakat yang mempunyai tata susunan asli beserta banjar-banjar adat, eksistensinya diakui secara hukum berdasarkan UUD 1945 (pasal 18), dan UU Pemerintahan Desa (UU No.5 Tahun l979) yang telah dicabut dan digantikan dengan UU No.22 Tahun 1999 begitu pula dengan Permendagri No.3 Tahun 1997 tentang pemberdayaan dan pelestarian dan pengembangan adat-istiadat, kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan lembaga adat di daerah. Pengakuan terhadap desa adat berarti pula pengakuan terhadap lembaga-lembaga adat yang ditetapkan. Keberadaan lembaga-lembaga adat tersebut secara sosiologis masih dipelihara oleh masyarakat desa (krama) adat.

Berdasarkan kenyataan tersebut di atas, eksisitensi desa adat di Bali, Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali berusaha memelihara keajegan Desa adat Bali dengan menetapkan Peraturan daerah Tingkat I Bali Nomor 06 Tahun 1986 tentang kedudukan, fungsi dan peranan desa adat sebagai kesatuan masyarakat hukum adat dalam Propinsi Daerah Tingkat I Bali, tanggal 25 Juni 1986. Sebelumnya, Gubernur Kepala Daerah Propinsi Tingkat I Bali mengeluarkan sebuah Keputusan Nomor: 18/Kesra II /C/119/1979, tanggal 21 Maret 1979 tentang Majelis Pembina Lembaga Adat, sebagai sebuah badan yang statusnya semi pemerintah yang mempunyai tugas, fungsi dan wewenang antara lain sebagai badan pertimbangan, saran, usul mengenai permasalahan adat kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, dalam rangka pelaksanaan kebijakan Pemerintah Daerah dan dalam penyelesaian konflik adat yang timbul maupun kepada lembaga adat di dalam seluruh aspeknya.

2. Peranan dan Fungsi Desa adat

Masyarakat Bali yang tradisional dan penghidupannya yang bersifat agraris tampak sebagai satu kesatuan yang utuh, kepentingan bersama lebih diutamakan dibandingkan kepentingan kelompok dan individu sebagai warga masyarakat. Warga masyarakat satu dengan yang lainnya terikat berdasarkan ikatan solidaritas mekanis dan dalam masyarakat demikian, dunia kehidupan masih menyatu. Jika terjadi suatu perselisihan antar warga, masyarakat berusaha menyelesaikannya secara musyawarah mufakat (konsensus) berdasarkan pada asas kepatutan melalui lembaga sangkepan. Penyelesaian perselisihan secara musyawarah mufakat dalam forum sangkepan tersebut berfungsi untuk mengembalikan masyarakat ke dalam suasana kehidupan yang rukun dan damai (harmonis).

Suasana kehidupan harmonis, pada masyarakat tradisional yang tersebut, kini tampaknya telah berubah karena pengaruh modernisasi, industrialisasi dan lebih-lebih lagi setelah masyarakat mengalami proses globalisasi. Kehidupan non agraris dan globalisasi tersebut telah mengubah masyarakat homogen menjadi masyarakat majemuk (plural) yang di dalamnya terdapat suasana kehidupan yang hetrogen.
Di Bali, proses globalisasi telah dirasakan jauh sebelum masyarakat Indonesia lainnya mengalami hal tersebut. salah satu penyebab terjadinya proses globalisasi lebih awal di daerah ini adalah karena perkembangan pariwisata yang telah berlangsung sejak lama.

Suasana demikian, mencerminkan diferensiasi dalam berbagai bidang antara lain dalam pekerjaan, profesi, pendidikan dan kepentingan. Kemajemukan masyarakat dapat juga dilihat dari tumbuhnya berbagai kelompok dan hubungan sosial baru yang timbul sebagai tuntutan kehidupan dunia modern.

Kelompok-kelompok sosial baru tersebut umumnya menganut nilai dan norma serta kebiasaan yang berbeda dengan nilai, norma, serta kebiasaan masyarakat tradisional. Kelompok-kelompok tsb. juga mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dan sering kali juga bertentangan. Dalam suasana demikian, masyarakat tidak lagi digambarkan sebagai suatu kesatuan yang utuh melainkan terdiri dari bagian-bagian dan justru bagian-bagian inilah yang lebih menonjol dari masyarakat secara keseluruha. Solidaritas mekanis yang semula menjadi daya pengikat dalam masyarakat digantikan oleh ikatan solidaritas organis yang lebih menonjolkan ikatan dalam kelompok dan kepentingan kelompok masing-masing lebih diutamakan dibandingkan masyarakat secara keseluruhan. Orientasi nilai warga masyarakat dalam pergaulan antar sesamapun tampak mengalami pergeseran dari nilai kebersamaan ke nilai individual dan komersial. Situasi demikian memberi peluang untuk timbulnya persaingan dan konflik.

Banyak hal yang muncul sebagai sumber konflik dewasa ini antara lain: tanah, status sosial (prestise), jabatan dan peluang kerja. Di Bali, sumber konflik yang paling menonjol dewasa ini adalah, tanah, baik tanah milik perorangan, milik kolektif, milik pura/milik Desa adat dan tak terkecuali tanah untuk penguburan.
Sebelum keadaan masyarakat seperti sekarang ini, konflik yang terjadi umumnya dapat diselesaikan secara damai oleh lembaga penyelesaian konflik, baik ditingkat keluarga/kerabat maupun di tingkat masyarakat. Konflik-konflik yang timbul dapat diselesaikan secara musyawarah mufakat (konsensus) ataupun perundingan (negosiasi). Cara penyelesaian demikian benar-benar dapat mengakhiri suasana konflik antara kedua belah pihak yang berselisih, sehingga mereka dapat rukun kembali. Berbeda keadaannya dengan situasi sekarang, konflik yang terjadi di masyarakat sering kali tidak dapat diselesaiakan berdasarkan prosedur dan kebiasaan yang berlaku. Kalaupun ada upaya penyelesaian terhadap konflik yang terjadi namun sering kali penyelesaiannya dirasakan tidak memuaskan para pihak sehingga konflik tetap berlangsung berlarut-larut. Ini berarti cara-cara penyelesaian konflik adat mengalami tantangan.

Proses globalisasi telah membuka masyarakat Bali, termasuk masyarakat pedesa an ke dalam pergaulan luas pada pergaulan dunia. Hal ini ternyata telah menimbulkan banyak tantangan bagi masyarakat adat, termasuk lembaga-lembaga adatnya terutama dalam menjalankan fungsinya. Tantangan yang dihadapi tersebut antara lain telah terjadinya perubahan nilai orientasi warga masyarakat dalam bersikap dan bertindak, keefektifan awig-awig sebagai alat kontrol sosial berkurang, keputusan-keputusan yang diambil dalam penyelesaian konflik di masyarakat yang dahulu umumnya ditaati kini tidak jarang diabaikan karena dipandang tidak memuaskan. Penggunaan tanah dan hal-hal yang berkaitan dengan masalah penggunaan tanah yang dahulu jarang menimbulkan konflik, sekarang tanah menjadi sumber konflik di masyarakat.

Sebelum pergaulan luas seperti dewasa ini, pergaulan sesama warga berlangsung dalam hubungan yang akrab dan personal atas dasar nilai kebersamaan, hal tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. Warga masyarakat mempunyai orientasi nilai dan kepentingan yang sama. Kebersamaan mereka diungkapkan dengan menggunakan istilah “kita” yang menunjukkan adanya kesatuan dan tidak ada lagi yang lainnya di dalam masyarakat itu.

Kebersamaan dan kesatuan di dalam masyarakat tercermin pula dalam ketaatan warga masyarakat terhadap awig-awig (praturan) yang mereka tetapkan bersama dan dalam hal bila terjadi penyimpangan/pelanggaran terhadapnya, umumnya awig-awig sebagai alat kontrol sosial dapat berjalan efektif. Selain itu, segala keputusan yang diambil masyarakat dalam hal terjadinya konflik umumnya ditaati demi kebersamaan dan kesatuan dalam masyarakat. Peruntukkan tanah dan perolehan hak atas tanah di masyarakat diatur juga menurut adat setempat berdasarkan otonomi asli yang dimiliki oleh masyarakat Desa adat. Oleh karena peruntukkan tanah umumnya homogen untuk tanah pertanian dan hanya bagi anggota masyarakat setempat umumnya jarang menimbulkan konflik dan kalaupun ada konflik umumnya dapat ditangani melalui lembaga penyelesaian konflik.

Setelah masyarakat bergaul secara luas, warga masyarakat tidak saja bergaul dengan sesama warga masyarakat setempat, tetapi juga dengan masyarakat kota, luar daerah dan bahkan juga dengan masyarakat internasional, terutama dalam kaitannya dengan pariwisata. Dalam pergaulan demikian, hubungan yang sangat akrab mulai melonggar, sifat personal berubah ke impersonal, nilai kebersamaman yang sebelumnya melandasi pergaulan antar wargapun melemah dan berubah ke arah individual, nilai tolong-menolong dan gotong-royong yang sebelumnya mewarnai segala macam aktivitas dalam masyarakat kini telah bergeser ke arah komersial dengaan perhitungan untung rugi. Dalam bersikap dan bertindak, warga mamsyarakat mengikuti norma dan orientasi nilai yang berbeda-beda. Selain itu warga masyarakat juga mempunyai kepentingan yang berbeda-beda terhadap peruntukan tanah.

Konflik berkepanjangan yang sering tidak dapat diselesaikan di masyarakat, merupakan suatu indikator bahwa lembaga adat, khususnya lembaga penyelesaian konflik adat yang keberadaannya masih diakui ternyata eksistensinya tidak diikuti oleh keberadaannya.

Desa adat menampakkan dirinya sebagai suatu organisasi kemasyarakatn dan sekaligus merupakan suatu organisasi pemerintahan yang berdiri sendiri di wilayah Kecamatan. Desa adat adalah desa yang otonom sehingga mempunyai kewenangan untuk mengurus dan menyelenggarakan kehidupan rumah tangganya sendiri. Dalam perkembangan lebih lanjut otonomi itu hanya bersifat sosial religious dan sosial kemasyarakatan. Desa adat memiliki struktur kepengurusan yang pada umumnya disebut Prajuru dan dibeberapa desa di pegunungan umumnya disebut Dulu atau paduluan dan berfungsi untuk membantu tercapainya kepentingan para anggotanya secara maksimal, terutama sekali menyangkut kebutuhan dasar sebagai manusia (terpenuhinya kebutuhan hidup termasuk rasa aman dan nyaman).

Tentang Prajuru atau Dulu/Paduluan ini umumnya dipilih secara demokratis (musyawarah mufakat) oleh masing-masing Krama, namun di beberapa desa adat yang lebih tua, pengurus tersebut ditugaskan secara bergiliran dari yang lebih tua, digantikan nantinya oleh yang lebih muda, dilihat dari ketika mereka ikut sebagai Sekehe Taruna atau Matruna (Truna Nyoman).

Unsur-unsur Prajuru Desa adatpun bervariasi, dengan pemimpin tertinggi umumnya disebut Bendesa atau Kelihan Desa , sedang wakil, sekretaris dan pembantu disebut dengan berbagai nama, seperti Patajuh (wakil), Panyarikan (sekretaris), Kasinoman (pembantu/juru arah) dan Sedahan untuk bendahara.
Dalam rangka pelaksanaan otonomi Desa adat dilengkapi dengan kekuasaan mengatur kehidupan warganya sehingga segala kepentingan dapat dipertemukan dalam suasana yang menjamin rasa aman bagi setiap warganya. Mengenai kekuasaan Desa adat dapat dibedakan menjadi 3 macam kekuasaan, yaitu:

a. Kekuasaan untuk menetapkan aturan-aturan yang mengikat seluruh warganya, guna menjaga kehidupan organisasi secara tertib dan tenteram. Kekuasaan ini diselenggarakan bersama dan disepakati dalam rapat desa (paruman/sangkepan), seperti upaya menjaga ketertiban, ketentraman, dan keamanan masyarakat. Mewujudkan hubungan yang harmonis antar sesama warga, dengan lingkungan alam dan dengan Tuhan Yang Maha Esa, sebagai perwujudan ajaran Trihita Karana.

b. Kekuasaan untuk menyelenggarakan kehidupan organisasi yang bersifat keagamaan, sosial budaya, ekonomi dan hankam, seperti membina dan mengembangkan nilai-nilai agama Hindu, mengembangkan kebudayaa, memelihara dan melestarikan adat-istiadat yang hidup dan bermanfaat untuk pembangunan bangsa, mengembangkan ekonomi kerakyatan, memelihara kelestraian Kahyangan Tiga, mewujudkan pertahanan dan keamanan bersama dalam menghadapi kondisi tertentu.

c. Kekuasaan untuk menyelesaikan sengketa, kasus atau konflik, karena berbagai hal seperti kepentingan yang bertentangan, tidakan yang menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan, perbuatan yang menggangu ketertiban warga, dll., yang umumnya ditempuh melalui perdamaian maupun sanski adat (I Made Widnyana, 1999: 4).

Sesuai dengan hakekat pengertian otonomi desa sebagai kekuasaan untuk menyelenggarakan rumah tangganya sendiri, maka jelaslah bagi kita bahwa pelaksanaan kekuasaan seperti tersebut berlaku di wilayah desa yang bersangkutan. Selain mengikuti asas personalitet, khususnya terhadap warga desa (pangrep), yang karena suatu hal berada di luar desa nya, namun masih tetap menjalin ikatan dengan desa asalnya.

Berkenaan dengan setiap warga desa adat wajib menjunjung kekuasaan yang telah disepakati dalam rangka mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtra dan tentram seperti yang dicita-citakan, maka bentuk konkrit otonomi Desa adat dapat dilihat pada:

a. Bendesa (Kelihan) Desa adat. Dalam sturuktur pengurus Desa adat, Bendesa atau Kelihan Desa memiliki posisi sentral dan utama, sebagai orang yang dituakan oleh masyarakat (primus interpares). Dengan demikian Bendesa (Kelihan) Desa adat memiliki kharisma atau wibawa di lingkungan desa nya.

b. Paruman (Sangkepan) Desa adat. Paruman atau Sangkepan Desa adat adalah bentuk musyawarah yang sangat demokratis (demokrasi asli), karena setiap Krama (warga) Desa adat memiliki hak suara yang sama. Paruman umumnya membahas hal-hal yang dianggap perlu dan biasa diselenggarakan secara rutin (nityakala) atau juga insidental (padgatakala).

c. Awig-awig Desa adat. Awig-awig adalah aturan-aturan yang dibuat oleh Krama Desa melalui Paruman Desa adat dan umumnya banyak yang tidak disuratkan. Namun karena perkembangan, dewasa ini telah berhasil disuratkan awig-awig tersebut sebagai pedoman bagi pengurus Desa adat dalam melaksanakan kewajibannya maupun bagi warga, dan di dalam awig-awig tersebut kita jumpai sanksi-sanksi bagi warga desa yang melanggarnya. Di dalam awig-awig desa ini dapat dilihat perbuatan atau tindakan yang dilarang serta sanksi-sanksinya baik sanksi itu dijatuhkan kepada warga atau keluarganya atau dibebankan kepada masyarakat desa sendiri (I Made Widnyana, 199: 5).

Demikian, dalam operasionalnya, Desa adat senantiasa mandiri sebagai wujud dari otonomi, karena tidak ada intervensi darimanapun yang dapat dibenarkan dalam rangka mewujudkan kesejahtraan warganya.
Desa adat dengan Banjar-Banjarnya adalah lembaga masyarakat umat Hindu sepenuhnya berdasarkan keagamaan. Secara nyata dasar keagamaan itu dapat dilihat pada Kahyangan Tiga dan upacara-upacara agama yang berlangsung di Desa adat seperti upacara Tawur Kesanga, Usabha Desa dan lain-lain, Agama Hindu menjiwai dan meresapi segala kegiatan Krama Desa . (Kepala Bidang Bimas Hindu, Kanwil Depag Prop Bali , 1978:5)

Demikian pula bila kita mengkaji ajaran agama tentang upaya untuk mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagiaan hidup serta membina hubungan harmonis antara manusia yang kemudian kita kenal dengan Tri Hita Karana, maka jelaslah Desa adat tidak saja merupakan persekutuan teritorial dan persekutuan hidup atas kepentingan bersama dalam masyarakat, tetapi juga merupakan persekutuan dalam kesamaan agama dalam memuja Tuhan Yang Maha Esa. Perpaduan ketiga unsur-unsur Tri Hita Karana, yakni antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Diwujudkan dengan mendirikan pura Kahyangan Tiga atau Kahyangan-Kahyangan Desa . Mewujudkan hubungan yang harmonis antara sesama manusia yang bertempat tinggal sama dalam suatu desa melalui aturan yang berlaku sebagai anggota Desa adat atau Krama Desa dan membina hubungan yang harmonis dengan alam lingkungan dalam wilayah yang sama yakni wilayah Desa adat yakni dengan pemeliharaan bersama desa , fasilitas desa dan Banjar masing-masing dengan baik dengan Parareman atau Pasangkepan rutin. Dengan demikian Tri Hita Karana, yang menyebabkan kehidupan yang harmonis antara sesama warga Desa adat untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup merupakan landasan bagi Desa adat.

Terhadap adanya kesatuan pandangan dalam kehidupan di Desa adat kemudian di Bali kita mengenal adigium yang merupakan azas dari kebersamaan, yakni : Salulung Sabyayantaka ( sa + luhung + luhung sa + byaya (sa) + antaka) yang artinya sehidup semati atau dalam istilah Bali di sebut Beriuk Seguluk artinya sehidup senasib dan sepenanggungan. Atas dasar azas kebersamaan ini hendaknya setiap anggota Desa adat merupakan bagian dari keluarga besar Desa adat termasuk masalah kesejahteraan warganya. Bila hal ini dipahami dan dilaksanakan dengan baik, maka tidak terjadi warga umat Hindu sampai dipelihara di panti-panti asuhan yang tidak bernafaskan Hindu.

Memperhatikan landasan dan tujuan hidup manusia menurut ajaran Hindu, yakni untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan yang sejati, maka fungsi Desa adat yang paling menonjol bagi warga atau Krama-nya, adalah untuk bersama-sama meringankan beban kehidupan baik suka dan duka (dalam Pasuka-dukan Desa ). Dengan demikian fungsi atau peranan Prajuru Desa adat dalam pelaksanaan agama Hindu secara lebih detail dapat juga dirinci sebagai berikut :

a. Mengatur hubungan Krama Desa dengan Kahyangan.
b. Mengatur pelaksanaan Pañca Yajña dalam masyarakat.
c. Mengatur penguasaan Setra.
d. Mengatur hubungan antar sesama Krama Desa .
e. Mengurusi tanah, sawah dan barang-barang lainya milik Desa adat
f. Menetapkan sanksi-sanksi bagi pelanggaran terhadap hukum Adat (awig-awig).
g. Menjaga keamanan, ketertiban dan kedamaian masyarakat.
h. Memberikan perlindungan hukum bagi Krama Desa
i. Mengikat persatuan dan kesatuan antar sesama Krama Desa dengan cara gotong royong dalam bidang ekonomi, teknologi, kemasyarakatan dan keagamaan.
j. Menjunjung dan mensukseskan program pemerintah dalam memajukan desa , pendidikan dan perekonomian (MPLA Dati I Bali, 1989/1990 : 24 - 25 )

Bila Desa adat mampu melaksanakan fungsi dan peranannya, maka tujuan Desa adat untuk mewujudkan desa yang Sukertagama (masyarakat tentram karena melaksanakan ajaran agama), Tata Tentram Kertaraharja (tentram dan sejahtra) akan dapat diwujudkan untuk itu para Prajuru Desa hendaknya senantiasa mencari upaya dengan mengkaji potensi-potensi yang dimiliki oleh Desa adat termasuk sumberdaya manusia (SMD)nya untuk dapat di kembangkan sebaik-baikmya. Sabha-Sabha Desa (Musywarah Desa ) atau Sangkepan (sidang-sidang) dan Paruman Desa (rapat desa ) hendaknya diadakan secara rutin dengan memasukkan teknologi dan manajemen modern dalam mengurus Desa adat adalah sangat mutlak, sepanjang management modern itu mendukung pelaksanaan ajaran agama Hindu.

III. PERANAN DESA ADAT DALAM PARIWISATA BUDAYA

1. Pariwisata Budaya dan permasalahannya

Masyarakat dan Pemerintah Daerah Bali telah menetapkan bahwa pariwisata yang dikembangkan di daerah Bali adalah Pariwisata Budaya, yang secara tegas diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Bali, No.3 tahun 1991, tanggal 1 Februari 1991 yang disahkan oleh Kepmendagri No. 556.61.-573, tanggal 24 Juni 1991, yang secara tegas (dalam Ketentuan Umum, Bab I, Pasal 1, butir j) merumuskan pengertian Pariwisata Budaya, sebagai berikut:

“Pariwisata Budaya adalah jenis kepariwisataan yang dalam perkembangan dan pengembangannya menggunakan kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh agama Hindu yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional sebagai potensi dasar yang paling dominan, yang di dalamnya tersirat satu cita-cita akan adanya hubungan timbal balik antara pariwisata dengan kebudayaan, sehingga keduanya meningkat secara serasi, selaras dan seimbang”.

Lebih jauh tentang azas dan tujuan Pariwisata Budaya, diatur dalam Bab II , pasal 2 dan 3 sebagai berikut:

“Penyelenggaraan pariwisata budaya dilaksanakan berdasarkan azas manfaat, usaha bersama dan kekeluargaan, adil dan merata, percaya pada diri sendiri dan perikehidupan keseimbangan, keserasian serta keselarasan, yang berpedoman kepada falsafah Tri Hita Karana”

“Penyelenggaraan pariwisata budaya sebagaimana dimaksud pasal 2 (di atas) bertujuan untuk:
a. memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan dan meningkatkan mutu obyek dan daya tarik wisata;
b. memupuk rasa cita tanah air dan meningkatkan persahabatan antar bangsa;
c. memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja;
d. meningkatkan pendapatan daerah dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat;
e. mendorong pendayagunaan produksi daerah dalam rangka peningkatan produksi daerah dalam rangka peningkatan produksi nasional;
f. mempertahankan norma-norma dan nilai-nilai kebudayaan, agama dan keindahan alam Bali yang berwawasan lingkungan hidup;
g. mencegah dan meniadakan pengaruh-pengaruh negatif yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan kepariwisataan”.

Memperhatikan pengertian, azas dan tujuan Pariwisata Budaya seperti di atas, kiranya telah cukup bagi kita untuk memahami pengertian pariwisata budaya yang telah dan kini terus menerus dikembangkan. Pembangunan dan pengembangan kepariwisataan di Propinsi Bali telah menunjukkan keberhasilan dalam menunjang berbagai bidang kehidupan sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan lima tahunan daerah. Kita telah merasakan berbagai program pembangunan yang dilaksanakan telah menunjukkan keberhasilan baik di tingkat nasional maupun regional. Pertumbuhan ekonomi Bali cukup tinggi (melebihi pertumbuhan rata-rata nasonal) bila dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia, dalam situasi krisis ekonomi dan moneter saat ini. Partisipasi masyarakat sangat menentukan keberhasilan pembangunan nasional, bahwa pembangunan nasional diselenggarakan oleh masyarakat bersama pemerintah. Dalam hubungan ini pemerintah berkewajiban untuk memberi pengarahan dan bimbingan, serta menciptakan iklim yang mendorong peran serta aktif masyarakat dalam pembangunan.

Tampaknya partisipasi masyarakat dalam pembangunan di Bali tidak perlu diragukan lagi untuk menunjang keberhasilan pembangunan. Walaupun demikian diperlukan untuk melihat rahasia keberhasilannya dalam rangka pengembangannya pada PJP II yang memiliki ciri pembangunan tersendiri, yaitu ciri pembangunan yang penuh dengan kemandirian (Suyatna,1993). Dengan mengutip hasil penelitian Sutjipto et.al (1990), menyatakan bahwa tingkat partisipasi masyarakat di Bali dalam program-program pembangunan termasuk kategori partisipasi tinggi. Yang dimaksud dengan partisipasi dalam hal ini adalah keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan proses pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, penilaian, keterlibatan dalam menyumbangkan masukan, baik tenaga, uang maupun material, hingga keterlibatan memanfaatkan hasil-hasil pembangunan.

Munculnya kasus-kasus tanah dan juga kasus-kasus lainnya adalah ketika terjadinya persinggungan antara kepentingan kepariwisataan dengan sarana keagamaan khususnya tempat pemujaan (tempat-tempat suci), baik di tepi pantai, tepi mata air, di pegunungan dan sebagainya. Titik persinggungan itu, dapat terjadi karena tata ruang untuk kepentingan keagamaan dimanfaatkan untuk kepentingan kepariwisataan.

Demikianlah munculnya kasus BNR dan yang terakhir kasus Padanggalak menunjukkan hal tersebut.
Berbagai kasus muncul (dalam kaitannya dengan kepariwisataan), seperti dinyatakan oleh beberapa pakar, adalah karena kurangnya koordinasi dan komunikasi atau dalam bahasa yang lebih sederhana adalah sosialisasi program (proyek) sejak perencanaan sampai pada pelaksanaan. Di samping itu, Ibu Gedong Bagoes Oka pernah menyatakan, bahwa pengawasan dari masyarakat sangat lemah, sering masyarakat mudah terbujuk oleh investor yang membeli tanah-tanah mereka dengan harga yang mahal. Kasus-kasus tanah juga merebak dalam kaitannya dengan alih fungsi atau dijualnya tanah-tanah labapura dan ayahan desa , yang bila tidak dicermati akan menimbulkan permasalahan yang berkepanjangan.

Berdasarkan penelitian terhadap berbagai ketentuan hukum Hindu seperti yang tercantum dalam Bhàgavata Puràóa, Úaòkha Likhita Sùtra dan Paiþhinasi, dapat dinyatakan bahwa labapura mempunyai kedudukan yang strategis dan penting untuk kelangsungan sebuah pura dan kita memahami bahwa pura merupakan pusat spiritual dan kehidupan umat Hindu. Tentang admistrasi dan kelangsungan berdirinya sebuah pura, Paithìnasi seperti dikutip oleh Aparàrka mengamanatkan bahwa pemerintah (raja) tidak boleh menghapuskan keberadaan sebuah pura, demikian pula badan hukum (saýgha, di Bali disebut Pamaksan) beserta kekayaan mereka (Pandurang Vaman Kane, Vol.II, Part II, 1990: 913). Dijelaskan juga bahwa pemerintah menurut Kauþilya Arthaúàstra III.9, menunjuk pengawas kekayaan pura yang disebut “devatàdhyakûa” untuk mengawasi pengelolaan kekayaan pura (Ibid, 1990: 912).

Berdasarkan penjelasan ini, maka pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menjaga kelestarian dan kelangsungan sebuah pura termasuk pula laba puranya atau segala aset yang dimilikinya.
Permasalahan lainnya adalah penyalah gunaan simbol-simbol Hinduisme (agama Hindu), seperti bangunan yang mirip tempat pemujaan, canang sari (tidak ditempatkan semestinya), canang sari masasari bola golf, penempatan “barong” pada bangunan planet Bali, dan lain-lain, bila tidak ditangani dengan baik, akan menimbulkan ketersinggungan umat Hindu di daerah ini yang dampaknya tentu akan merusak citra Pariwisata Budaya yang tengah dan terus dikembangkan.Demikian pula masalah kependudukan yang cukup memberikan beban yang berat karena kepadatan penduduk, bila tidak dikaji dengan baik akan mengancam eksistensi kebijaksanaa pariwisata yang berkelanjutan.

2. Peranan Desa adat dalam mengembangan Pariwisata Budaya

Bila kita memperhatikan dengan seksama pengembangan Pariwisata Budaya, atau singkatnya pembangunan kepariwisataan, maka disini kami kutipkan pendapat Tri Budhi Satrio yang menyatakan:
“Pembangunan kepariwisataan yang bermodal dasar kebudayaan daerah yang dijiwai oleh agama Hindu diarahkan pada peningkatan kegiatan pariwisata agar menjadi sektor andalan yang mampu menggalakkan kegiatan ekonomi, termasuk kegiatan sektor lain yang terkait, sehingga mampu meningkatkan lapangan kerja, pendapatan masyarakat, pendapatan daerah dan pendapatan negara serta meningkatkan penerimaan devisa melalui upaya pengembangan dan pendayagunaan berbagai potensi kepariwisataan yang ada di daerah.Bersamaan dengan itu, dalam pembangunan kepariwisataan yang dilakukan haruslah dijaga tetap terpeliharanya budaya dan kepribadian bangsa serta kelestarian fungsi dan mutu lingkungan hidup.

Kepariwisataan perlu ditata secara menyeluruh dan terpadu baik antar daerah, antar sektor maupun antar usaha kepariwisataan, baik yang berskala kecil, menengah, maupun besar sehingga dapat terwujudnya pemerataan dan keseimbangan pengembangannya.

Karena Bali bukanlah bagian bagian terpisahkan dari negara kesatuan Republik Indonesia, maka pengembangan pariwisata Nusantara juga perlu mendapatkan prioritas. Pengembangan pariwisata Nusantara dilaksasnakan sejalan dengan upaya memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa serta menanamkan jiwa, semangat, dan nilai-nilai luhur bangsa dalam rangka memperkukuh persatuandan kesatuan nasional, terutama dalam bentuk penggalakkan pariwisata remaja dan pemuda dengan lebih meningkatkan kemudahan dalam memperoleh pelayanan kepariwisataan. Sedangkan daya tarik Bali, sebagai komponen tidak terpisahkan dalam Konsep Pengembangan Pariwisata Budaya Bali, perlu ditingkatkan melalui pengembangan pariwisata budaya yang dijiwai agama Hindu serta upaya pemeliharaan kebudayaan daerah yang mencerminkan ketinggian budaya dan kebesaran bangsa, serta didukung dengan promosi yang memadai” (199: 72).

Berdasarkan pernyataan tersebut, maka Desa adat Bali mempunyai peranan yang strategis dalam pengembangan pariwisata budaya. semua orang memaklumi bahwa daya tarik Bali terhadap wisatawan, tidaklah semata karena keindahan alamnya, lebih dari pada itu adalah budayanya yang dijiwai oleh agama Hindu. Dengan memantapkan peranan, fungsi,dan wewenang Desa adat, maka sesungguhnya semua aspek budaya yang didukung oleh masyarakat Bali akan menjadi daya tarik kepariwisataan yang bila dipelihara dan dikembangkan dengan baik akan menjamin kalangsungan kehidupan pariwisata (sustainable tourism) di daerah ini. Dalam Desa adat berkembang seni budaya, kehidupan masyarakat yang sejahtra, pengamalan ajaran agama dalam prilaku dan aktivitas ritual agama yang senantiasa akan menarik wisatawan sepanjang masa. Di samping itu Desa adat berperanan pula dalam pengembangan kawasan wisata, mengawasi penyalah gunaan simbol-simbol keagamaan dan juga berperanan dalam mencegah pendatang liar yang masuk ke Bali, utamanya di wilayah palemahan Desa adat di Bali.

Lebih lanjut, tentang peranan Desa adat dalam pengembangan pariwisata budaya, kami kutipkan pendapat Dr. Pitana, sebagai berikut:
In reducing actual and potential pressure associated with the rapid development of tourism in Bali, Bali must help distribute tourists to other islands. this is important, firstly, to reduce burden of Bali associatedwith tourism development, and secondly, to help other islands grow, and become growth center outside Bali. By the development of growth center outside Bali, migration to Bali, and its associated impacts can be reduced.

All players in tourism sector should remeber by heart, that it is the Balinese and their culture, who contribute significantly to the success of tourism development. Hence, there is a duty for all to respect them and help them maintain they dignity in whatever forms. This is key for the sustainable tourism development. To ease the channeling of tourism support for culture, there is a need to establish a solid bridging institution

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka Desa adat di Bali sesungguhnya sangat berperanan dalam pengembangan pariwisata budaya. Peran tersebut akan maksimal dapat dilaksanakan bila fungsi, peranan dan wewenang Desa adat berjalan dengan baik.

IV. KESIMPULAN

1. Pariwisata Budaya adalah jenis kepariwisataan yang dalam perkembangan dan pengembangannya menggunakan kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh agama Hindu yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional sebagai potensi dasar yang paling dominan, yang di dalamnya tersirat satu cita-cita akan adanya hubungan timbal balik antara pariwisata dengan kebudayaan, sehingga keduanya meningkat secara serasi, selaras dan seimbang.

2. Desa adat sangat berperanan dalam pengembangan pariwisata budaya di daerah ini bilamana fungsi, peranan dan wewenang Desa adat dapat berjalan dengan baik. Pada Desa -Desa adat yang berkembang seni budaya dan kehidupan masyarakatnya sejahtra, fungsi, peranan dan wewenang Desa adat berjalan mantap.

3. Desa adat Bali mampu menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi ini bila potensi dan pemberdayaan Desa adat dapat sepanjang pelestarian kebudayaan Bali dan lingkungannya tetap dijaga keajegannya.

Daftar Pustaka

1. Bagus, I Gusti Ngurah1999 : Awas “Drakula Budaya”, Harian Bali Post 23 Juni 1999
2. Goris, R. 1954 : Inscripties Voor Anak Wungsu, I, Univer-sitas Indonesia, Massa Baru, Bandung
3. Kepala Bidang Bimas Hindu Kanwil Dep. Agama Prop. Bali 1977/1978 : Desa adat Bali Menghapi Kepariwisataan,Proyek Penyuluhan Agama dan Penerbitan Buku/Brosur di Baali, Denpasar
4. Majelis Pembina Lembaga Adat Dati I Bali1989/1990 : Mengenal dan Pembinaan Desa adat di Bali, Proyek pemantapan Lembaga Adat Tersebar di 8 Kab. di Bali, Denpasar
5. I Gusti Ngurah Oka 1999 : Dasar Historis dan Folosofis serta tantangan ke depan, Keberadaan Desa adat di Bali, M.P.L.A. Prop.Bali, Denpasar
6. Pandurang Vaman Kane, 1990 : History of Dharmasastra, Vol .II,Part II, BarodaUniversity Press, India
7. Pitana, I Gede 199419941999 :: Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali, Penerbit Bali Post, DenpasarBalancing the opposing worlds, Reinventing Cultural Tourism as A strategy for sustainable Tourism Development in Bali, International Seminar on “Sustainable Tourism: balinese Perspective, Denpasar, 3 Agustus 1999
8. Purwita, Ida Bagus Putu1984 : Desa adat dan Banjar Adat Bali, Percetakan Kawi Sastra, Denpasar
9. Rangarajan, L.N 1987 : Kautilya, The Arthashastra, Pinguin Books,Calcuta, India
10.Tri Budhi Satrio 1999 : Pariwisata Budaya, Sebuah Konsep Omong Kosong, International Seminar on “Sustainable Tourism: balinese Perspective, Denpasar, 3 Agustus 1999
11. Widnyana, I Made 1999 : Pemberdayaan Lembaga Adat Dalam Menghadapi Era Globalisasi, Materi MatrikulasiPra-Pasca, Program Pasca Sarjana kajian Budaya,Universitas Udayana, Denpasar, 20 juli 1999

(Vol.II, Part II, 1990: 913). Dijelaskan juga bahwa pemerintah menurut Kauþilya Arthaúàstra III.9, menunjuk pengawas kekayaan pura yang disebut “devatàdhyakûa” untuk mengawasi pengelolaan kekayaan pura (Ibid, 1990: 912).

Oleh: I Wayan Nika

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=139&Itemid=29

Kuningan di Sydney 24 Oktober 2009

Posted by Adnyana under Pura di Australia on January 17, 2010 @ 11:10 pm

Perayaan Sederhana Penuh Makna

Rasanya baru kemarin menyaksikan nuansa Bali yang sedemikian meriah di halaman Old Darlington School, Sydney University. Ternyata masa itu telah berlalu 210 hari lamanya. Minggu lalu, suasana yang sama hadir kembali di tengah-tengah Komunitas Bali (Balinese Community, BC) di News South Wales (NSW), Australia.

Halaman Old Darlington School di Sydney University kembali dimeriahkan oleh nuansa Bali yang sangat kental. Hari Sabtu (24/10/2009) lalu masyarakat Bali di NSW kembali merayakan Galungan dan Kuningan dalam suasana yang penuh keakraban. Ini adalah Galungan dan Kuningan kedua dan terakhir di tahun 2009, yang jatuh pada tanggal 14 dan 24 Oktober 2009. Adalah satu tradisi bahwa peringatan dilakukan pada saat Kuningan karena jatuh pada hari Sabtu (hari libur), sementara Galungan selalu jatuh pada hari Rabu yang bukan hari libur.

Sejak pukul 09.00 waktu Sydney, masyarakat mulai berdatangan yang dipelopori oleh para pengurus BC untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ider-ider dipasang, payung/tedung didirikan dan umbul-umbul dipasang memberi kesan meriah di sekitar lokasi. Gamelan pun dikeluarkan dan disusun rapi di pinggir halaman.

Sementara itu di ujung timur laut ditempatkan meja berhiaskan kain prada khas Bali. Di sisi kiri kanannya berdiri dua tedung, memberi kesan yang tidak saja indah tetapi juga sakral. Tidak lama kemudian, meja dengan panjang sekitar 2 meter itupun penuh dengan sesajen (canang, gebogan hasil perpaduan bunga dan buah-buahan beraneka ragam) yang dibawa oleh anggota BC. Asap dupa mengepul menebar aroma yang khas.

Di berbagai tempat nampak lelaki dan perempuan bercakap-cakap akrab sambil mengenakan pakaian adat khas Bali. Perempuan berkebaya dan mengenakan kain sementara yang lelaku berbaju safari dan mengenakan udeng, ikat kepala tradisional Bali. Sementara itu, anak-anak berpakaian warna-warni sambil bermain di halaman rumput yang luas. Ada juga yang bermain di sekitar kolam yang tak jauh dari lapangan.

Sekitar jam 11 siang, sekitar 150 orang duduk tenang di halaman rumput menghadap meja tempat sesajen. Panas yang cukup terik bukanlah halangan bagi mereka untuk bersembahyang. Sesuai tradisi Kuningan, persembahyangan sudah harus rampung sebelum jam 12 siang saat matahari tepat di atas kepala.

Jero Mangku yang didaulat menjadi menuntun persembahyangan memulai tugasnya dengan merafalkan doa dan mantra, duduk bersila khusuk di hadapan sesajen. Ibu Made Sudarta terlihat melayani Jero mangku dengan penuh semangat. Sesaat kemudian berkumandanglah Mantram Tri Sandya yang dilantunkan dengan khidmat oleh 150an anggota BC besar dan kecil. Mata mereka terpejam merafalkan puja dan puji kepada Hyang Widhi.

Sesaat kemudian, Jero Mangku memimpin panca sembah, yaitu lima ritual pemujaan yang dilakukan dengan tujuan dan maksud yang berbeda. Samar-samar terdengar Jero Mangku melantunkan mantra berbeda untuk kelima tahap persembahyangan itu. Proses terakhir adalah nunas tirta (air suci) dan bija, beras yang ditempelkan di kening dan dahi. Ini adalah pertanda anugrah dan berkah dari Sang Pencipta kepada umatnya.

Konsul Jendral (Konjen) Republik Indonesia di Sydney, datang di tengah-tengah masyarakat saat persembahyangan sudah selesai. Konjen Sudaryomo Hartosudarmo yang pada awalnya menyatakan berhalangan hadir karena harus menunaikan tugas lain, ternyata tetap bisa hadir meskipun sedikit terlambat. Sudaryomo memang dikenal dekat dengan masyarakat dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap aktivitas masyarakat Indonesia di NSW dan juga negara bagian lain dalam naungan Konjen RI Sydney.

Konjen yang datang bersama Ibu segera berbaur dan memberi ucapan selamat kepada siapa saja yang dijumpai. Tata letak dan susunan acara memang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada tempat eksklusif untuk pejabat atau pihak tertentu. Konjen berserta Ibu pun dengan rendah hati berbaur menjadi satu dengan masyarakat Bali yang sedang berbahagia merayakan Kuningan. Sementara itu, tabuh khas Bali terdengar menjadi latar belakang, baik yang ditabuh secara langsung maupun dari media elektronik. Di saat berbeda, hadir juga pejabat Konjen lain yaitu Dhanny Perkasa dan Siuaji Raja.

Sekitar pukul 1 siang, hidangan pun siap untuk disantap. Berupa-rupa jenis hidangan khas Bali disediakan, baik oleh panitia maupun yang dibawa oleh masing-masing anggota BC. Semua bersemangat menikmati hidangan Bali yang tentunya tidak bisa dinikmati setiap hari di Sydney. Semua bergembira dan menyantap hidangan dengan antusias.

Konjen beserta Ibu juga turut bergabung menikmati hidangan yang tersedia sambil menunjukkan antusiasme dan apresiasi yang tinggi. Dalam percapakannya di sela-sela menikmati hidangan, Sudaryomo berserta Ibu menyampaikan rasa senang dan bangganya terhadap kerukunan masyarakat Indonesia yang bersifat lintas etnis, suku dan agama. “Ini adalah kekayaan bangsa kita,” Sudaryomo berkomentar.

Tidak hanya persembahyangan dan makanan Bali yang bisa dijumpai dalam perayaan Galungan dan Kuningan kali ini, tarian Balipun memberi warna tersendiri. Rejang Dewa adalah tari pertama yang dipentaskan oleh enam orang perempuan Bali nan elok paras dan geraknya: Kadek, Asti, Dyah, Dwi, Dana dan Nita. Ini adalah tari sakral yang merupakan persembahan dan sambutan kepada Tuhan yang berkenan hadir menerima puja umat manusia. Pakaian yang didominasi putih dan kuning terlihat cerah bercahaya karena siraman sinar matahari yang terang. Cuaca memang sangat cerah, meskipun jadi sedikit panas.

Tarian kedua adalah Cendrawasih yang dipentaskan oleh Made Murjiati dan Indah. Menariknya, dua orang ini adalah ibu dan anak yang membawakan tarian dengan sangat baik. Konjen dan Ibu memberi apresiasi khusus karena ini satu tanda keberhasilan mewariskan seni budaya kepada generasi muda. Tari Cendrawasih ini menggambarkan perilaku burung Cendrawasih yang sedang memadu kasih.

Tari selanjutnya adalah Topeng Keras yang dibawakan oleh Made Sudarta, warga Bali yang telah bermukim di Australia puluhan tahun. Topeng Keras mengisahkan seorang anggota laskar yang trengginas. Meskipun dalam garakannya ada yang terlihat diam atau bergerak minimal, setiap gerakan minimal ini merepresentasikan energi yang besar.

Setelah Topeng Keras, Tari Jauk kemudian dipertontokan oleh Wayan Sujina (Yanjin) dan menghadirkan suasana bersemangat dan juga kocak. Tarian ini menggambarkan suatu hubungan interaktif antara penari dan penabuh. Keduanya saling mempengaruhi dan keduanya bisa memberi sinyal tertentu yang bisa menghasilkan gerakan tari yang berbeda-beda. Kedua penari ini mengenakan pakaian yang menggambarkan figur yang berwibawa dan mengenakan topeng.

Tarian terakhir yang ditampilkan adalah Manuk Rawa yang menggambarkan perilaku dan gerakan gerombolan burung air yang bermain dengan nyaman dan damai di telaga di tengah hutan. Tari Manuk Rawa ini ditampilkan oleh Asti dan Dyah yang mementaskan tarian dengan lincah dan ceria, mengadirkan suasana meriah di bawah terik matahari yang kian menyengat.

Di halaman Old Darling School siang itu nampak banyak pendatang selain anggota BC. Mereka menikmati sajian gamelan dan tarian Bali dengan antusias. Selain untuk merayakan hari keagamaan, kegiatan semacam ini juga berfungsi untuk mengenalkan dan semakin mempopulerkan Indonesia dan Bali secara khusus kepada masyarakat Internasional.

Di tengah gencarnya klaim seni dan budaya dan usaha advokasi yang dilakukan Indonesia, kegiatan semacam ini di luar negeri diharapkan bisa menjadi ‘soft diplomacy’ yang efektif untuk menjaga budaya Bangsa Indonesia dengan cara yang elegan dan bermartabat. Demikian I Ketut Gede Srijaya, pria kelahiran Desa Adat Kemoning Klungkung yang lebih akrab dipanggil Ode, ketua BC, memberi penjelasan.

Meski dilakukan dengan sederhana, perayaan Galungan dan Kuningan kali ini terasa sangat bermakna. Setelah segala ritual selesai, masyarakat tetap berkumpul sambil bertukar cerita dan menikmati hidangan penutup berupa kue dan tape. Senda gurau dan obrolan ringan seperti ini yang menghadirkan suasana keakraban dan semakin mempererat tali persaudaraan. Dengan harapan yang positif, perayaan Galungan dan Kuningan berakhir sekitar pukul 16.30. Informasi tentang BC dapat diperoleh di www.balebanjar.info. [b]

oleh: Made Andi Arsana

http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2009/10/26/perayaan-sederhana-penuh-makna.html

Pura Hindu (India) di Jerman

Posted by Adnyana under Pura di Eropa on January 16, 2010 @ 12:51 pm

Dua Pura Hindu yang cukup besar  akan segera dibangun di Berlin. Menurut masyarakat India yang berdomisili di Jerman mengatakan kini terdapat dua kelompok masyarakat Hindu yang sudah mengajukan izin pembangunan Pura di Neukölln, Berlin. Pura yang pertama bernama Pura  Hindu Sri Ganesha dan Pura yang kedua bernama Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan. Adapun yang membedakan diantara kedua Pura itu adalah terletak pada dewa yang di sembah. Di Pura Hindu Sri Ganesha menyembah Dewa Ganesha yang  merupakan dewa kebijaksanaan, sedangkan di Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan, dewa yang di sembah adalah dewa Murugan, yang merupakan dewa perang dan dewa keindahan. Disamping itu juga, kedua Pura Hindu tersebut dibangun oleh dua yayasan Hindu yang berbeda.

Pura Hindu Sri Ganesha dengan ukuran panjang 18 meter x lebar 18 meter dengan ketinggian 6 meter, dan Gapura pintu masuk menara setinggi 17 meter, serta berada pada area 5.000 meter persegi didalam Taman kota Hasenheide akan menjadikannya sebagai Pura yang terbesar di Jerman dan akan menjadi Pura yang terbesar kedua di Eropa setelah Pura Hindu Shri Venkateswara, yang terletak di dekat Birmingham UK.  Pembangunan Pura Hindu Sri Ganesha ini diperkirakan akan menghabiskan biaya sekitar € 850.000. Pura ini akan mampu menampung pengunjung sembahyang hingga 300 orang sekali waktu. Sementara Pura  Hindu Mayurapathy Sri Murugan akan  menempati area seluas 200 meter persegi dengan 9 meter tinggi Gapura, di area seluas 744 meter persegi yang terletak di sudut jalan Riese di tengah kota Berlin dan diperkirakan akan menghabiskan biaya sekitar € 600.000 .

Pura Hindu Sri Ganesha

Disain Pura :
Layout bangunan Pura  akan berukuran 18 x 18 meter dengan ketinggian 6 meter. Pura akan dibangun sesuai dengan pedoman dari Veda dan Agama sastras dengan warna tradisional. Gapura pertama yang merupakan pintu masuk Pura di disain setinggi 17 meter menghadap jalan (Hasenheide) yang akan dihiasi dengan ikon dan symbol. Gapura kedua, atau dikenal dengan nama Gapura Vimana, diletakkan di atas gedung Pura yang dilambangkan sebagai tempat berstana nya dewa utama yaitu  Sri Ganesha.

Adapun yang melatar belakangi pembangunan Pura Sri Ganesha ini adalah didasari oleh keinginan murni dari masyarakat hindu yang berdomisili di Berlin agar bisa memiliki tempat persembahyangan sendiri setelah sekian lama melakukan persembahyangan doa bersama didalam flat atau diruangan bawah tanah (keller), namun keinginan ini baru dapat di wujudkan di bulan juni  2004 berkat dukungan dari walikota distrik (kabupaten) Neuköln, Heinz Buschkowsky (pejabat dari partai politik SPD), yang dengan murah hati menawarkan lokasi area di Taman Hasenheide sebagai tempat untuk berdirinya Pura tersebut dengan perjanjian kontrak tanah tempat dibangunnya Pura di taman Hasenheide di bebaskan dari sewa tanah hingga tahun 2080. Ditawarkannya area di Taman Hasenheide oleh pemerintah daerah Neuköln, disamping karena ketersediaan ruang yang cukup luas untuk proyek pembangunan Pura ini, tempat ini juga dapat di jangkau dengan sistem transportasi umum (kereta bawah tanah dan bus), dan tempat parkir mobil diarea inipun cukup  memadai serta terintegrasi dengan lingkungan sekitarnya.

Untuk mendukung terwujudnya Pura Hindu Sri Ganesha, kelompok masyarakat hindu di berlin ini membentuk sebuah yayasan dengan nama yang sama dengan nama Pura yang ingin didirikannya, yaitu yayasan Sri Ganesha Hindu Temple,  yang bertujuan untuk mendukung (mempercepat) pelaksanaan pembangunan Pura serta menjadikannya sebagai pusat kegiatan masyarakat dan kebudayaan. Yayasan ini terdaftar di berlin sebagai e.V. (non-profit organisation) pada tahun 2006, dan juga di akui oleh otoritas keuangan di Jerman sebagai sebuah organisasi amal (non profit).

Anggota masyarakat pengikut Pura  Hindu Sri Ganesha ini adalah sebagian besar masyarakat yang beragama Hindu dari seluruh India, termasuk India Tamil, dengan pimpinan yayasannya adalah Avnish Kumar Lugani. Yayasan yang mensponsori pembangunan Pura ini memperkirakan biaya konstruksi yang akan di perlukan adalah sekitar € 850.000.  Dan sesuai dengan aturan agama, pembangunan Pura ini didanai murni dari sumbangan dari anggotanya, para donatur, dan pemerhati kebudayaan india. Lebih lanjut rencana pembangunan Pura Sri Ganesha ini selain diharapkan untuk bisa menjadikannya  sebagai tempat persembahyangan yang dapat melayani kebutuhan religius masyarakat Hindu di Berlin, juga diharapkan bisa menjadikannya sebagai tempat untuk mempromosikan prinsip Hindu dan Veda, tradisi, nilai-nilai dan solidaritas, serta bisa menjadikannya sebagai pusat kebudayaan Hindu yang sesuai dengan nilai-nilai agama yang luas, demikian di ungkapkan oleh Avnish Kumar Lugani kepada harian berliner post.

Rancang bangun Pura Sri Ganesha ini di disain oleh arsitek dari India dengan harapan agar bisa menampilkan keaslian unsur kebudayaan Indianya dan bekerja sama dengan seorang arsitek jerman dengan tujuan agar sesuai dengan peraturan yang berlaku di Jerman. Bahan bangunan yang terbuat dari batu paras akan di datangkan langsung dari India. Pembangunan Pura ini sejatinya  direncanakan untuk dimulai di bulan maret tahun 2009, kemudian di undur hingga 28 oktober 2009. Namun krisis keuangan global yang sedang terjadi saat ini berdampak pada pembangunan Pura Hindu Sri Ganesha yang terletak di taman Hasenheide ini.  Donatur dari India tampaknya cukup berhati-hati dan bersikap menunggu keadaan ekonomi dunia membaik. Terhitung sejak dua tahun setelah upacara peletakan batu pertama, hingga saat ini belum ada pembangunan yang significant, walaupun izin perencanaan sudah dimilikinya, demikian dituliskan dalam harian Berliner Post.

Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan

Pengerjaan Pura yang pertama, yaitu Pura Hindu Sri ganesha,  memang belumlah benar-benar dimulai pembangunannya akibat dari dampak krisis ekonomi dunia,  yang juga berakibat pada rencana pembangunan Pura yang kedua yaitu Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan, hingga saat ini belum juga bisa di wujudkan walaupun kedua-duanya sudah memiliki ijin prinsip untuk bisa memulai konstruksi pembangunan Pura.

Vilwanathan Krishnamurthy, Wakil President dari yayasan Pura Hindu Sri Ganesha, pernah menanyakan kepada para pengikut Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan untuk bekerja sama apakah mereka ingin bergabung untuk satu proyek (Pura Hindu Sri Ganesha), namun para pengikut Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan menolak dengan alsan karena mereka ingin menyembah dewa mereka yaitu Dewa Murugan, yang menjadi symbol dewa perang dan dewa keindahan yang biasa di sembah masyarakat india suku tamil di India bagian selatan dan sri langka. Salah satu wakil dari pengikut Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak bermaksud untuk menandingi keberadaan Pura Hindu Sri Ganesha, melainkan karena alasan murni ingin menyembah Dewa Murugan.

Yayasan Hindu Mahasabhai Berlin, sebagai pendukung pembangunan Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan ini telah menyampaikan rencana kepada pemerintah daerah Neuköln untuk membangun sebuah Pura  Hindu di jalan Riesse di daerah Britz, dimana area seluas 744 meter persegi telah di beli oleh yayasan, dan Pura itu sendiri akan  menempati area seluas 180 meter persegi, demikian di ungkapkan Nadarajah Thiagarajah, juru bicara untuk yayasan Mahasabhai kepada harian Berliner Post. Pembangunan pura ini sesungguhnya sudah bisa di mulai karena ijin prinsip untuk pembangunan pura ini sudah dimilikinya dan upacara peletakan batu  pertama di hadiri oleh walikota pemerintah daerah Neuköln  Heinz Buschkowsky (pejabat dari parati politik SPD) yaitu sekitar awal November lalu.

Walaupun rencana perwujudan kedua pura tersebut sudah mendapatkan ijin prinsip dari pemerintah daerah, bukan berarti pembangunan pura  tersebut tidak mendapatkan hambatan sama sekali, selain karena alasan krisis ekonomi dunia, juga karena salah satu partai extrem kanan NPD (partai penganut paham neo-nazi)  sempat memobilisasi pengikutnya turun kejalan berdemonstrasi untuk menentang berdirinya kedua pura hindu di berlin yang dilaksanakan hampir diwaktu bersamaan itu. Namun demonstrasi ini dapat diatasi oleh pemerintah daerah Neuköln dan beberapa orang diantaranya sempat ditahan polisi setempat.

Mr. Nadarajah Thiagarajah menjelaskan, masyarakat Hindu yang tergabung dalam yayasan Mahasabhai ini sudah ada sejak tahun 1992 dan terdiri dari masyarakat Tamil yang datang dari Sri Lanka, tetapi ada juga yang dari India. Kebanyakan anggota masyarakat Tamil ini telah meninggalkan negeri mereka di pertengahan tahun ‘80-an, ketika terjadi konflik antara mayoritas Sinhala dengan  minoritas Tamil. Di Jerman saat ini terdapat sekitar  60.000 Tamil dari Sri Lanka, yang mana sekitar 45.000 orang adalah penganut Hindu.

Hingga saat ini terdapat sekitar 200 anggota yang biasa melakukan pertemuan persembahyangan bersama dilantai dasar jalan urban 176, ruangan yang sesungguhnya sudah tidak representative lagi untuk dipakai sebagai tempat berkumpulnya banyak orang, demikian kata wakil yayasan Mr. Nadarajah Thiagarajah, yang sudah berdomisili di Berlin sejak tahun 1981. Namun  permasalahan ini akan segera berakhir karena kelompok masyarakat india ini akan segera memiliki Pura sendiri di Berlin.

Menurut University of Lucerne, di Jerman saat ini terdapat sekitar  25 Pura Hindu (tempat /kelompok persembahyangan), kebanyakan diantara mereka melakukan persembahyangan di flat atau ruang bawah tanah. Sejauh ini masyarakat India sudah memiliki Pura Hindu yang cukup besar di Jerman dan juga Eropa yang boleh dikatakan terbesar di Jerman saat ini (sebelum adanya Pura yang akan berdiri di Berlin nanti) yaitu Pura yang  terletak di Hamm, North Rhine-Westphalia, yang bernama Pura skri Kamadchi Ampal.

Pura Hindu skri Kamadchi Ampal di Hamm, North Rhine-Westphalia

Pura Sri Kamadchi Ampal ini dibangun oleh kelompok Tamil Sri Lanka dan diresmikan pada bulan Juli 2002. Pura ini berukuran  700 meter persegi dan dibangun dalam gaya India Selatan. Kebaradaan Pura ini tidak hanya dijadikan sebagai tempat kegiatan keagamaan yang sangat penting bagi umat Hindu di Eropa, tetapi juga merupakan tempat tujuan wisatawan. Terdapat sekitar 15.000 hingga 20.000 pengunjung yang dengan setia datang ke Hamm ketika berlangsungnya Festival di Pura yang diadakan selama dua minggu disetiap musim panas.

Keberhasilan yayasan Pura Sri Kamadchi Ampal yang ada di Hamm ini mengadakan Festival kebudayaan India, menginspirasi yayasan pendukung Pura Sri Ganesha Hindu di Berlin untuk juga merencanakan Festival sejenis di areal Pura di Berlin, yang diperuntukkan terbuka bagi pengunjung umum. Festival yang akan di adakan di Berlin nanti akan menjadi (atau di beri nama) festival musim semi India, demikian diungkapkan oleh Avnish Kumar Lugani. Diharapkan festival ini akan dirayakan pada tanggal 17 Februari nanti di lokasi area persis dimana Pura  akan di bangun, di festival nanti sudah pasti akan banyak di jumpai masyarakat India dengan pakaian tradisional kuning khas India, demikian di ungkapkan oleh Avnish Kumar Lugani, wakil dari yayasan Sri Ganesha Hindu Tempel sembari berpromosi kepada harian Berliner Post.

Foto diatas adalah Pura Hindu Shri Venkateswara di Birmingham, England, yang diresmikan tahun 2006, yang merupakan Pura Hindu terbesar (terluas) saat ini di Eropa.

Di rangkum dari:

Sri Ganesha Hindu temple, Mayurapathy Sri Murugan Hindu Temple, Berliner Morgen Post.

Taman Bali dan Pura Hindu di Berlin

Posted by Adnyana under Pura di Eropa on January 6, 2010 @ 10:25 am

Marzahn demikianlah nama sebuah distrik (kabupaten) di daerah Berlin Timur yang berjarak sekitar 40 km dari landmark kota Berlin „Branderburgtor“, dan merupakan sebuah daerah dengan kompleks perumahan (apartment) yang terpadat di Berlin Timur (atau terpadat di negara Jerman timur jaman dulu). Namun sejak 9 May 1987, selain di kenali sebagai daerah dengan perkampungan penduduk terpadat di Berlin, Marzahn juga mulai dikenali sebagai daerah dengan taman wisata kotanya yang dikenal dengan nama „Berliner Gartenschau“ (atau Berlin Garden Show), yaitu sebuah taman wisata tempat untuk berrekreasi, yang didisain oleh Mr. Gottfried Funecke, yang menawarkan konsep menampilkan hampir semua kebudayaan yang ada di dunia ini, seperti Chinese Garden, Japanese Garde, Balinese Garden, Italianise Garden, Oriental / Midle-East (Arabic) Garden, dll, dimana taman wisata dunia ini di resmikan tanggal 9 May 1987 dalam rangka perayaan ulang tahun kota berlin yang ke 750 tahun.

Adapun maksud pemerintah daerah Marzahn membuat hampir semua kebudayaan dunia itu didalam sebuah taman wisata kota, selain sebagai bentuk hadiah dari pengelola Taman Wisata ini kepada ibukota Jerman Timur saat itu, yaitu kota Berlin Timur, yang di saat itu masih dalam suasana „perang dingin“ dengan Jerman Barat, yang tentunya agar bisa bersaing dan menandingi keberadaan Taman Wisata Britzer Garden yang ada di kota Berlin Barat. Sehingga dengan adanya Taman Wisata „Berliner Gartenschau“ negara Jerman Timur bisa menunjukkan kepada masyarakat dunia international bahwa penduduk negara Jerman timur, khususnya berlin timur, atau masyarakat distrik Marzahn yang walaupun berpaham komunis, namun selalu mengulurkan tangan terbuka dan welcome kepada tourist international untuk berkunjung kedaerah Marzahn atau berlin timur atau Jerman timur.

Erholungspark Marzahn (Taman Rekreasi Marzahn)

Setelah di resmikannya taman wisata „Berliner Gartenschau“ ini di tahun 1987, di ikuti dengan runtuhnya Tembok Berlin pada tanggal 3 Oktober 1989 yaitu tembok yang memisahkan kota Berlin Barat dengan Berlin Timur, dan selanjutnya di ikuti dengan penyatuan negara Jerman di tahun 1991, untuk meneruskan cita-cita luhur dari para pendahulu Jerman Timur, pemerintahan Jerman bersatu kemudian melanjutkan proyek „Garten der Welt“ (Taman Wisata Dunia) ini, dan nama „Berliner Gartenschau“ pun akhirnya di ganti menjadi „Erholungspark Marzahn“ yang artinya Taman Rekreasi Marzahn dengan harapan  untuk lebih mengedepankan citra „rekreasi“ pada taman ini, dan satu persatu kebudayaan dunia yang memang telah di rencanakan untuk di bangun mulailah di bangun, di mulai dari mewujudkan Chinese Garden seluas 27.000 m2 dengan nilai total proyeknya 4,5 Juta Euro, yang di resmikan pada tanggal 15 October 2000, dan merupakan Chinese garden yang terluas di Eropa. Kemudian di ikuti dengan mewujudkan  Japanese Garden seluas 2.700 m2 dengan nilai total proyeknya 1,5 Juta Euro yang  di resmikan pada tanggal 30 April 2003, dan selanjutnya di ikuti dengan mewujudkan Balinese Garden seluas 500 m2 dengan nilai proyek 385.000 Euro, dengan konsep bangunan rumah bali tradisional beserta sanggah (pemrajan) yang di disain tertutup dan diresmikan pada tanggal 18 Desember 2003.

Setelah peresmian Balinese Garden, kemudian di ikuti dengan mewujudkan  Oriental / Middle-East (arabic) Garden seluas 6.100 m2 dengan nilai total proyek 2,3 Juta Euro, yang di resmikan pada tanggal 7 July 2005. Setelah itu di ikuti dengan mewujudkan Korean Garden seluas 4000 m2 yang merupakan hadiah dari pemerintah Korea dan di resmikan pada tanggal 31 Maret 2006. Setelah Korean Garden kemudian di ikuti satu persatu dengan Hecken-Irrgarten, Pflaster-Labyrinth, Karl-Foester Staudengarten, Italian Renaisance Garden, Christlicher garden, dll, yang pembangunannya terus berlanjut hingga kini.

Balinese Garden (Taman Bali)

Balinese Garden ini di wujudkan oleh Pemerintah Jerman selain karena alasan ingin memperkenalkan salah satu kebudayaan dunia yang memiliki karakter yang kuat yang masih ada di dunia ini, juga di wujudkan sebagai bentuk kerjasama “twint-cities” antara kota Berlin dengan kota Jakarta, yaitu dengan dipersembahkannya „Kebudayaan Bali“ oleh Pemerintah Daerah Berlin di tengah-tengah kota Berlin. Sebagaimana tampak pada gambar diatas, Balinese Garden dengan konsep bangunan rumah bali tradisional beserta sanggah (pemrajan), yang di lindungi oleh atap plastic (rumah kaca) pada bagian atas, sisi kiri dan sisi kanannya, dimaksudkan agar batu bata, paras, atap (raab) duk dan ambengan (somi) yang merupakan inti dari bangunan pelinggih Pura, agar tetap terlihat cantik dan terlindungi dari dinginnya suhu udara khususnya hujan salju bila musim dingin tiba.

Balinese Garden disamping menawarkan keaslian suasana Bali, juga  menawarkan pemandangan yang eksotis tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga tropis yang banyak di jumpai di negara beriklim trofis. Disain dan rancang bangun dari  Rumah Bali dan Sanggah yang ada di Balinese Garden ini mengacu kepada aturan yang berlaku di Bali, yaitu Asta Bumi (aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, serta jarak antar pelinggih) dan Asta Kosala Kosali (aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan). Sehingga pengunjung yang memasuki rumah kaca Balinese Garden ini bisa benar-benar merasakan spirit dari kebudayaan Bali dan seolah-olah seperti sedang berada di Bali.

Pesan menarik lainnya yang juga ingin disampaikan oleh perancang Balinese Garden di Erholungspark Marzahn ini adalah Bali yang merupakan bagian dari negara Indonesia yang berpenduduk mayoritas beragama islam, namun Bali tetap exist dengan kebudayaannya tersendiri yang unique yang di wariskan secara turun temurun. Dijaman dulu ketika Agama Hindu baru dikenali oleh masyarakat Bali kuna, keyakinan ini bisa berbaur dengan adat istiadat lokal balinya, budayanya, alamnya,  hidup berdampingan satu sama lainnya secara harmony hingga akhirnya keyakinan ini dijadikan tuntunan „way of life“ yang dikenal masyarakat dengan „Tri Hita Karana“, yaitu menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan manusia, menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan lingkungan dan sekitarnya, serta menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. Ketiga prinsip keharmonisan hidup yang diyakini oleh masyarakat Bali tersebut bisa di temukan sekaligus didalam area Balinese Garden yang ada di taman Erholungspark Marzahn yang ditampilkan dalam bentuk bangunan Pura model di Bali jaman dulu dengan batu bata merahnya, Bale Piyasan di halaman rumah yang beratapkan ambengan (somi), dan tanaman  serta bunga yang banyak di jumpai di pedalaman Bali.

Informasi dan penjelasan lebih lanjut yang bisa di dapatkan oleh pengunjung dari keberadaan Balinese Garden (Taman Bali) di Taman rekreasi Marzhan (Erholungspark Marzahn) ini adalah informasi tentang model dan tata letak ruangan dari rumah bali kuna yang di bangun berdasarkan Asta Kosala-Kosali dengan dinding rumah dan dinding pekarangan yang dibangun dari campuran lumpur dan batu bata serta informasi detail dari setiap Pelinggih yang terdapat di Sanggah (Pura). Pengunjung  yang memasuki area Taman Bali ini  dituntun melalui sebuah pintu gerbang yang biasa di kenal dengan Angkul-Angkul.

Rumah dan Sanggah (Merajan)  yang terletak di pekarangan rumah dipisahkan oleh dinding tembok. Ketiga pelinggih yang terdapat didalam sanggah setiap hari diberikan persembahan bunga (sesajen), dupa, seperti layaknya sanggah yang ada di Bali. Ketiga pelinggih tersebut adalah: „Pelinggih Kemulan Rong Tiga“ yaitu pelinggih Sanghyang Trimurti, Sanghyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Brahma – Wisnu – Siwa atau disingkat Bhatara Hyang Guru, „Pelinggih Taksu“ yaitu palinggih Sanghyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati sakti (kekuatan) Dewa Brahma dengan Bhiseka Hyang Taksu yang memberikan anugrah Ilmu Pengetahuan , Pelinggih Pengrurah“ yaitu palinggih Sanghyang Widhi dalam manifestasinya sebagai  Bhatara Kala, putra Bhatara Siwa dengan Bhiseka Ratu Ngurah yang bertugas sebagai pecalang atau penjaga Sanggah. Dan pelinggih yang terletak di luar Sanggah adalah „Pelinggih Surya“ yaitu pelinggih Sanghyang Widhi dalam manifestasinya sebagai  Dewa Matahari.

Dalam tradisi kebudayaan Bali Kuna, seperti kita ketahui bersama keberadaan sebuah “taman” atau garden memang tidak di atur dalam Asta Kosala Kosali atau Asta Bumi, namun demikian tumbuh-tumbuhan yang di tanam oleh orang bali jaman dulu memang disesuaikan dengan fungsi dan kebutuhannya, seperti untuk makanan, obat-obatan, bunga persembahan, dan untuk memberikan keteduhan. Dalam Asta Kosala Kosali, selain Sanggah, Bale Daja, Bale Dangin, Bale Delod, Bale Dauh, Paon (Dapur), dan Gelebeg (Lumbung Padi), di areal kosong di belakang rumah biasanya di alokasikan sebagai “Tebe” (hutan kecil).

Di areal Taman Bali ini hutan tropis  yang merupakan ciri khas Tebe  yang ada di bali di isi dengan tumbuh-tumbuhan yang banyak di jumpai di pekarangan rumah, seperti berbagai jenis pakis, bunga kembang sepatu, dan tumbuhan bunga yang sekiranya bisa mencuri perhatian mata pengunjung, yaitu bunga anggrek yang berwarna-warni. Pohon Kamboja (Jepun), salah satu jenis tumbuhan yang dianggap suci / keramat oleh kalangan tertentu di Indonesia, dan bunganya banyak dipakai sebagai bunga persembahyangan di Bali, juga terdapat di Taman Bali ini.

Bali dengan kebudayaannya memang tidak bisa di pisahkan dengan alam dan tumbuh-tumbuhan, salah satunya di kenal adalah  perayaan hari suci Tumpek Wariga, penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan. Demikian juga dengan keberadaan Taman Bali (Balinese Garden) di Taman Erholuspark Marzahn Berlin ini, juga tidak bisa di pisahkan dengan keberadaan perkumpulan masyarakat Bali di Jerman yaitu Nyama Braya Bali Jerman.

Nyama Braya Bali Jerman dan Kuningan di Berlin

Nyama Braya Bali di Jerman, khususnya yang berdomisili di luar Berlin mulai pertama kali mengenali Taman Bali (Balinese Garden) di Erholungspark Marzhan Berlin ini ketika merayakan hari Kuningan 28 Maret 2009 yang lalu. Dimana Nyama Braya Bali Berlin selaku panitia lokal perayaan kuningan menyelenggarakan hari raya Kuningan bekerjasama dengan pengelola taman wisata rekreasi Marzahn (Erholungspark Marzahn) dengan prinsip kerjasama saling menguntungkan satu sama lainnya.

Pengelola taman selaku pemilik Taman Bali berikut Pura Hindu (Sanggah) yang ada di dalamnya, memberikan ijin tempat untuk berkumpulnya masyarakat bali (umat hindu) yang ada di Jerman untuk merayakan hari raya Kuningan, sementara pihak Nyama Braya Bali Berlin selaku panitia dan pengisi acara, selain menyelenggarakan persembahyangan bersama kuningan yang dilaksanakan di hari sabtu kliwon kuningan bagi umat hindu yang berdomisili di seluruh Jerman, juga menyelenggarakan promosi budaya / kesenian bali yang di peruntukkan bagi pengunjung umum selama 2 hari berturut-turut (sabtu 28 maret dan minggu 29 maret 2009) dengan acara utamanya adalah menampilkan hampir segala jenis tari-tarian bali, menjajakan masakan khas bali, serta menampilkan bazar yang menjual pernak-pernik cinderamata khas bali.

Masyarakat berlin dan sekitarnya yang mengunjungi Erholungspark Marzahn khususnya  Taman Balinya, di buat terkagum dan terkesan bisa mengunjungi Taman Bali sekaligus berinteraksi langsung dan mendapatkan penjelasan langsung dari orang balinya sendiri, dan tentunya bisa melihat pertunjukan live tarian bali.

Perayaan Kuningan 28 Maret 2009 saat itui memang terasa spesial, bukan hanya karena bisa membahagiakan pengelola Taman Bali di Erholungspark Marzahn berikut masyarakat Berlin dan sekitarnya yang menonton tarian Bali secara langsung, melainkan juga karena di perayaan kuningan saat itu ada utusan dari bimas Hindu Dharma jakarta yaitu bapak I Ketut Lancar, yang terbang langsung dari Jakarta, di samping untuk menyampaikan pesan dari Dirjen Hindu Dharma Jakarta,  juga untuk memimpin jalannya upacara serta membawa Tirta dari upacara Panca Wali Krama Besakih. jadi walaupun kita yang di Jerman berada jauh dari Bali, tapi juga bisa ikut merasakan sejuknya percikan tirta dari Pura Besakih.

Disamping itu juga, dalam dharma wacana saat itu yang di sampaikan oleh bapak I Ketut Lancar, beliau juga menyampaikan bahwa Dirjen Hindu Jakarta berencana memberikan sumbangan seperangkat Gamelan komplet satu barung kepada Nyama Braya Bali di Jerman, yang  saat ini sebagian (setengah barung) Gamelannya sudah tiba di Jerman, setengah barungnya lagi akan tiba sekitar bulan Juni 2010. Alasan lain kenapa Dirjen Hindu mempertimbangkan memberikan sumbangan Gamelan adalah karena organisasi NBB Nyama Braya Bali Jerman begitu aktif menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang mempertemukan umat sedharma di daratan Jerman pada khususnya, serta di daratan Eropa pada umumnya.  Tidak itu saja, Dirjen Hindu nantinya juga berencana menyumbangkan seperangkat peralatan persembahyangan seperti Bajra (Genta), sehingga kedepannya kelompok NBB di Jerman bisa memiliki pemimpin Agama yang selalu siap memimpin jalannya upacara seperti layaknya jalannya upacara di Bali atau di Indonesia.

Harapan dari Dirjen Hindu terhadap Gamelan yang di sumbangkan ini agar bisa di gunakan semaksimal mungkin tidak hanya di gunakan untuk kepentingan upacara keagamaan semata, tapi juga bisa di gunakan untuk mempererat jalinan persaudaraan diantara sesama Nyama Braya Bali di Jerman, melalui pertemuan berkala di setiap latihan, dan juga berharap bisa di gunakan untuk terus mempromosikan kebudayaan Bali pada khususnya atau Indonesia pada umumnya sehingga kedepannya akan semakin banyak warga jerman yang berniat mengunjungi pulau Bali membantu pariwisata di Bali, demikianlan Dharma Wacana saat itu yang disampaikan oleh utusan Bimas Hindu Jakarta, Bapak I Ketut Lancar.

Terlepas dari kebahagiaan bisa merayakan kuningan bersama umat hindu yang berdomisili di seluruh pelosok jerman, dimana di saat itu diselenggaraan di Taman Bali di Erholungspark Marzhan yang ada Pura Hindunya, sebagian semeton Nyama Braya Bali jerman ada juga yang berbincang-bincang dan ingin mengetahui lebih lanjut akan asal-usul serta sejarah keberadaan Taman Bali ini berikut Puranya, ada juga yang bertanya apakah sudah dilakukan serangkaian upacara memfungsikan Pura secara Niskala seperti layaknya di Bali, yaitu Upacara Pecaruan, Upacara Mendem Pedagingan, Upacara Prayascita /Pemlaspasan, hingga Upacara Ngenteg Linggih, di Pura atau Sanggah / Merajan yang ada di Taman Bali ini. Namun karena keterbatasan waktu dan padatnya acara yang berlangsung selama perayaan Kuningan 28 Maret 2009 itu, di tambah dengan kecilnya kemungkinan untuk bisa berinteraksi secara langsung dengan panitia lokal Nyama Braya Bali Berlin saat itu, akhirnya pertanyaan ini memang belum mendapatkan jawaban resmi dari pihak panitia Nyama Braya Bali Berlin ataupun dari pihak pengelola Taman Wisata Erholungspark Marzahn akan keberadaan Taman Bali berikut Pura / Sanggah / Merajannya ini.

Pura / Sanggah /Pemrajan di Taman Bali Erholungspark Marzahn

Sebagaimana pengertian Pura yang berasal dari Bahasa Sanskerta, yaitu “Phur”, artinya tempat suci, istana, kota, atau tempat persembahyangan untuk umum atau kelompok sosial tertentu yang lebih luas sifatnya dari Sanggah Pamerajan. Sementara Sanggah berasal dari Bahasa Kawi: “Sanggar”, yang berarti tempat untuk melakukan kegiatan (pemujaan suci); dan Pemrajan yang berasal dari Bahasa Kawi: “Praja”, berarti keturunan atau keluarga. Dengan demikian Sanggah Pemrajan dapat diartikan sebagai tempat pemujaan dari suatu kelompok keturunan atau keluarga. Dalam Lontar Siwagama disebutkan bahwa Palinggih utama yang ada di Sanggah Pemrajan adalah Kemulan sebagai tempat pemujaan arwah leluhur.

Walaupun Pura yang ada di Taman Bali di Erholungspark Marzahn ini di disain dengan konsep rumah bali kuna yang merupakan bagian dari tradisi kebudayaan bali, namun keberadaan Pura ini sesungguhnya bisa di optimalkan lagi. Jadi keberadaannya tidak hanya sebatas di pakai sebagai tempat untuk memperkenalkan kebudayaan bali kepada masyarakat berlin pada khususnya atau masyarakat jerman / eropa pada umumnya, namun bisa di gunakan sebagai tempat persembahyangan bagi umat hindu yang berdomisili di Berlin.

Pihak Nyama Braya Bali Berlin atau Nyama Braya Bali Jerman mungkin bisa melakukan pendekatan secara pro-active kepada pihak pengelola Taman Wisata Erholungspark untuk bisa memfungsikan keberadaan Pura Alit ini sebagai Pura yang sesungguhnya , yaitu dengan melakukan serangkaian upacara, seperti apa yang terjadi di Pura Agung Santi Bhuana di Brugelette Belgia. Sesungguhnya Pura di Belgia dan Pura yang ada di Berlin ini memiliki banyak persamaan bila di lihat dari sejarah dan tujuan di bangunnya Pura tersebut, yaitu sama-sama terletak di taman wisata di tengah kota dengan tujuan yang lebih empiris untuk memperkenalkannya kepada masyarakat eropa, dan juga sama-sama di bangun oleh masyarakat eropa. Sementara Pura di Belgia di bangun oleh Pengusaha Belgia (Mr. Eric Domb), sedangkan Pura di Berlin di bangun oleh Pemerintah Daerah Berlin.

Perbedaan diantara keduanya adalah, Pura di Berlin di buat dengan disain tertutup dan terbuat dari batu bata merah, sedangkan Pura di belgia di bangun dengan disain terbuka dan terbuat dari batu alam hitam, seperti tampak di gambar berikut:

Dalam perjalanannya, Pura di Belgia akhirnya bisa menjadi Pura yang benar-benar Pura secara sekala dan niskala seperti layaknya Pura di Bali, setelah dilakukannya upacara pemlaspasan hingga upacara ngenteg linggih pada tanggal 18 May 2009 berkat kerjasama antara pihak pengelola Taman Wisata Parc Paradisio yang di pimpin Mr. Eric Dom dengan pihak pemerintah Indonesia yang di wakili oleh pihak Kementrian Pariwisata Indonesia Bapak Jero Wacik yang mendatangkan Pedanda dan team Bantennya dari Bali. Sementara Pura yang ada di Berlin saat ini secara sekala sudahlah berwujud Pura, namun secara niskala fungsinya belumlah di optimalkan.

Belajar dari pengalaman upacara pemlaspasan yang terjadi di Pura Agung Santi Bhuana Belgia, Nyama Braya Bali Berlin atau Nyama Braya Bali Jerman atas nama organisasi, mungkin bisa meniru hal serupa dengan melakukan upacara sejenis terhadap Pura yang ada di Taman Wisata Erholungspark Marzhan ini, tentunya tidak melakukannya dengan sendiri, melainkan bekerjasama dengan pihak Dirjen Hindu Jakarta atau Pemerintah Provinsi Bali beserta department terkait. Namun bila hal ini memang dirasa terlalu sulit dan rumit bagi organisasi Nyama Braya Bali Jerman, saya yakin pastilah selalu ada jalan lebih sederhana untuk menuju kemuliaanNYA, apalagi bila di hubungkan dengan Agama Hindu yang mengajarkan Dharma Sidhi Arta dimana Iksa (Tujuan) menjadi hal yang Utama untuk kemudian diharmonikan dengan Sakti (Kemampuan), Desa (Ruang), Kala (Waktu) dan Patra (Keadaan).

Himbauan dan Harapan

Akhir kata, kelesatrian Pura yang ada di Eropa akan sangat ditentukan oleh ada tidaknya masyarakat pendukung yang membuat pura tersebut menjadi fungsional. Semegah apapun sebuah Pura, kalau dia tidak fungsional, maka lambat laut dia akan sirna. Dengan kata lain, keberadaan sebuah bangunan selalu membutuhkan masyarakat yang mempunyai pertautan nilai terhadapnya. Itulah yang menjadi alasan kenapa banyak candi dan bahkan sebuah Kota Megah di abad ke 13 di Trowulan lenyap tak berbekas. Pura / Candi bahkan Bangunan Kota hanya akan menjadi kumpulan artefak yang glantak-gluntuk tak bernyawa ketika alasan keberadaannya tak lagi bertautan erat dengan nilai dari masyarakat sekitarnya.

Semoga pihak Dirjen Hindu di tanah air ataupun pihak Parisada Hindu Dharma Indonesia bisa secara proactive membantu umatnya dimanapun berada di dunia ini, ikut berpartisipasi aktif dalam hal mewujudkan tempat suci persembahyangan bagi umatnya, meniru apa yang dilakukan oleh pemerintah China ketika mewujudkan Chinese Garden, meniru apa yang dilakukan oleh pemerintah Jepang ketika mewujudkan Japanese Garden, serta meniru apa yang dilakukan oleh pemerintah Korea ketika mewujudkan Korean Garden di Taman Wisata Erholungspak Marzahn Berlin.

Pemerintah Indonesia lewat KBRI di Berlin mungkin sudah banyak membantu dalam mewujudkan Balinese Garden (Taman Bali) di Taman Wisata Erholungspark Marzahn ini, namun demikian perlu kiranya pihak Dirjen Hindu di tanah air ataupun pihak Parisada Hindu Dharma Indonesia juga bisa bekerjasama dengan Nyama Braya Bali di Jerman mewujudkan bangunan Pura yang sudah ada di taman bali ini menjadi “fungsional” sebagaimana layaknya Pura yang ada di Bali ataupun di tanah air, yaitu dengan memberikan dukungan seperti pelaksanaan Upacara Pemlaspasan yang terjadi di Pura Agung Santi Bhuana Belgia.

Ida Sang Hyang Widi Wasa sudah memberikan jalan terang serta petunjuk kepada masyarakat eropa lewat pengusaha Belgia Eric Domb ataupun lewat pengelola Taman Wisata Erholungspark Marzahn Berlin untuk mewujudkan bangunan Pura untuk umat hindu yang ada di Eropa sehingga kita bisa merasa yakin bahwa Tuhan ada dimana-mana (wyapi wyapaka). Semoga ajaran universal dari Agama Hindu serta keterbukaan para pemeluknya bisa semakin diterima oleh masyarakat eropa. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang Widi Wasa dimanapun berada.

.
Di rangkum dari website Erholungspark Marzahn Berlin http://www.marzahn-hellersdorf.net